Salah Asuh

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

قَال رَسُولُ اللهِ فِي الْبَحْرِ: هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang laut, “Airnya suci dan bangkainya halal.” (Sahih, HR. Abu Dawud no. 83, at-Tirmidzi no. 69, an-Nasai no. 50 dan 176, serta Ibnu Majah no. 386 dan 3246) Lanjutkan membaca Salah Asuh

Dakwah Kubur Perusak Umat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Dakwah para rasul adalah dakwah kepada tauhid, menyeru umat untuk beribadah hanya kepada Allah l dan melarang mereka dari kesyirikan. Allah l berfirman:
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut itu.” (an-Nahl: 36)
Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya, “Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah Aku olehmu sekalian.” (al-Anbiya: 25)
Inilah manhaj para rasul, mengajak untuk beribadah kepada Allah l saja dan meninggalkan peribadatan kepada selain Allah l.
Nabi Muhammad n telah menjaga umatnya dari kesyirikan dengan berbagai upaya yang beliau lakukan. Buktinya adalah firman Allah l:
“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at-Taubah: 128)
Beliau menyeru umatnya untuk meninggalkan dan menjauhi kesyirikan. Bahkan, beliau n menghancurkan patung-patung ketika Fathu Makkah dan mengutus para sahabatnya untuk menghancurkan berhala-berhala yang dijadikan sesembahan selain Allah l. Di antara hal yang juga beliau ingatkan untuk dijauhi oleh umatnya adalah ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang saleh dan mengagungkan kubur mereka.
Rasulullah n menyatakan bahwa para penyembah kuburan adalah orang-orang terjelek. Ketika Ummu Salamah x menceritakan perbuatan kaum Nasrani yang beliau lihat di Habasyah, Rasulullah n berkata:
أُولَئِكَ قَوْمٌ إِذَا مَاتَ فِيهِمُ الْعَبْدُ الصَّالِحُ أَوِ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا وَصَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّوَرَ، أُولَئِكَ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
“Mereka itu, jika ada orang saleh (meninggal) di antara mereka, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan membuat gambarnya. Mereka adalah orang-orang terjelek di sisi Allah l.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t menerangkan, “Maksud ucapan Rasulullah n ini adalah peringatan agar perbuatan mereka tidak diikuti. Namun, ada dari umat ini yang terjatuh dalam perbuatan tersebut. Yang paling banyak melakukannya adalah Syiah Rafidhah yang ghuluw terhadap ahlul bait.” (Syarah Kitabut Tauhid, hlm. 105)
Lima hari menjelang wafat, beliau n berkata:
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ وَصَالِحِيهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ إِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketahuilah, orang-orang sebelum kalian telah menjadikan kuburan pra nabi dan orang saleh sebagai masjid. Ketahuilah, janganlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid karena aku melarang dari hal tersebut.” (HR. Muslim)
Bahkan, ketika sedang sakaratul maut, beliau n berkata:
لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ؛ يُحَذِّرُ مَا صَنَعُوا
“Laknat Allah l atas Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid. Beliau memperingatkan (agar jangan sampai meniru) perbuatan mereka….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Haram Menjadikan Kuburan sebagai Masjid
Dari penjelasan di atas bisa kita simpulkan bahwa menjadikan kuburan sebagai masjid adalah haram. Asy-Syaikh Muhammad al-Imam mengatakan, “Dalil-dalil masalah ini banyak dan kami cukup menyebutkan sebagiannya. Nash-nash tersebut mengandung banyak hal penting:
1. Menjadikan kuburan nabi dan orang saleh adalah tuntunan/perbuatan Yahudi dan Nasrani. Barang siapa melakukannya berarti dia telah menghidupkan perbuatan mereka.
2. Orang yang menjadikan kuburan para nabi dan orang saleh sebagai masjid telah terjatuh ke dalam laknat, padahal Allah l berfirman:
“Barang siapa yang dilaknat (dikutuki) Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.” (an-Nisa: 52)
3. Orang yang menjadikan kuburan para nabi dan orang saleh sebagai masjid tergolong orang-orang terjelek di dunia dan akhirat.

Makna menjadikan kuburan sebagai masjid adalah:
1. Membangun bangunan masjid di atasnya.
2. Melakukan shalat dan ibadah lainnya di kuburan walaupun tidak membangun bangunan masjid di atasnya.
3. Memasukkan kuburan ke dalam bangunan masjid. (Lihat Tahdzirul Muslimin minal ghuluw fi Qubur ash-Shalihin, hlm. 61—65)
Ghuluw terhadap Kuburan Orang Saleh adalah Pangkal Kesyirikan
Syaikhul Islam t mengatakan bahwa kesyirikan bani Adam kebanyakan muncul dari dua hal pokok. Yang pertama adalah mengagungkan kuburan orang saleh, membuat gambar dan patung mereka untuk tabaruk (mencari barakah). Inilah sebab pertama yang dengannya manusia melakukan kebid’ahan dan ini adalah syirik kaum Nuh q.

Asy-Syaikh al-Albani t mengatakan, “Adalah sangat penting agar seorang muslim mengetahui bagaimana awal munculnya kesyirikan pada kaum mukminin setelah mereka menjadi muwahidin.”
Telah teriwayatkan dari sejumlah salaf riwayat yang banyak dari tafsir firman Allah l:
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23)
Kelima nama tersebut adalah hamba-hamba yang saleh. Ketika mereka meninggal, setan pun memberikan wangsit kepada kaum mereka untuk beri’tikaf di kubur-kubur mereka. Kemudian setan memberikan wangsit kepada generasi setelah mereka untuk membuat patungnya. Lalu setan memberikan wangsit kepada generasi ketiga untuk menyembah mereka. (Disarikan dari Tahdzirus Sajid hlm. 150)
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam t mengatakan, “Penetapan bahwa pangkal kesyirikan adalah penyembahan kubur tidak diperselisihkan. Seseorang yang menelaah sejarah manusia sejak peristiwa penyembahan kubur yang dilakukan kaum Nuh q hingga diutusnya Nabi kita Muhammad n, akan mendapati bahwa penyembahan kubur adalah dasar kesyirikan. Inilah sejarah singkat penyembahan kubur yang dilakukan manusia setelah kaum Nuh q.
1. Falasifah (ahli filsafat)
Ar-Razi menyatakan, jika murid-murid Aristoteles tertimpa musibah, mereka mendatangi kuburnya untuk meminta “bantuan”.
2. Hindu
Mereka mengklaim bahwa di India ada kubur Adam, istri dan ibu Adam. Semua kuburan tersebut disembah dengan dilakukan thawaf di sana dan diusap-usap.
Alangkah bodohnya mereka. Dari mana datangnya ibu Adam?
3. Orang-orang Budha
Mereka menyembah Budha. Makna Budha menurut mereka adalah orang alim.
4. Yahudi dan Nasrani
Banyak hadits Rasulullah n yang menyebutkan bahwa Yahudi dan Nasrani menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid.
5. Bangsa Arab
Orang Arab di masa jahiliah menyembah patung. Ini adalah kenyataan yang sudah diketahui. Di antara dalil yang menunjukkan bahwa mereka menyembah kubur adalah hadits Buraidah dalam Shahih Muslim, Rasulullah n berkata:
نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا
“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur sekarang berziarahlah kalian.”
Para ulama memberikan alasan bahwa larangan berziarah kubur di awal-awal Islam karena dikhawatirkan kaum muslimin akan terpengaruh dengan kebiasaan jahiliah menyembah kubur dan untuk menutup jalan kejelekan. Ketika disyariatkan ziarah kubur, Rasulullah n berkata:
وَلَا تَقُولُوا هُجْرًا
“Dan janganlah kalian berkata hujra.”
Yakni, jangan kalian mengucapkan ucapan kotor/keji, dan ucapan yang paling keji adalah ucapan syirik kepada Allah l.
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam berkata, “Para penyembah kubur di tengah-tengah kaum muslimin adalah pewaris agama-agama terdahulu yang telah disebutkan. Inilah balasan bagi orang yang tidak mengambil bimbingan Rasulullah n.” (Disadur dari Tahdzirul Muslimin hlm. 14—15)

Kelompok Pertama dalam Islam yang Menyeru kepada Penyembahan Kubur
Islam adalah agama yang memerangi segala bentuk kesyirikan dan penyembahan berhala. Tidaklah Rasulullah n meninggal melainkan setelah menyampaikan semua risalah dan menunaikan amanah serta memerangi kesyirikan. Sampai-sampai beliau n berkata:
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَيِسَ أَنْ يَعْبُدَهُ الْمُصَلُّونَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ وَلَكِنْ فِي التَّحْرِيشِ بَيْنَهُمْ
“Sesungguhnya setan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang shalat di Jazirah Arab. Akan tetapi, dia bersemangat dalam memecah-belah (mengadu domba) di antara kalian.” (HR. Muslim dari sahabat Jabir z)
Sepeninggal beliau n, umat Islam selamat dari kesyirikan. Zaman salaf (sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in) adalah masa yang paling bersih dari kesyirikan. Mereka adalah generasi yang paling bertakwa.
Beberapa saat setelah habisnya masa salafus shalih, muncul para dai khurafat dan mengikuti prasangka. Yang pertama kali mencetuskan peribadatan kubur adalah kaum Bathiniah ketika menguasai negeri Mesir. Mereka juga yang pertama kali membuat pusara al-Husain di Mesir. Padahal ini jelas merupakan kedustaan karena al-Husain meninggal di Karbala dan tidak ada dalil yang menunjukkan dipindahkannya makam beliau. (Tahdzirul Muslimin hlm.16)

Syiah dan Sufi Menyebarkan Dakwah Kubur
Syiah dan Shufiyah (Sufi) mempunyai andil besar dalam menyebarkan dakwah peribadatan kubur. Ketika berdiri daulah Syiah di Irak dan Iran, pemimpin mereka, Ahmad bin Bawaeh, menyeru semua laki-laki dan perempuan untuk memakai pakaian berkabung, menutup pasar dan toko-toko, serta mengharamkan jual-beli. Semuanya meratap menuju kubur al-Husain bin Ali c. Bahkan, sebagian mereka meyakini bahwa kubur al-Husain lebih tinggi kedudukannya daripada Ka’bah.
Tatkala Syiah membangun kubah-kubah, monumen-monumen, serta masjid di atas kuburan, kaum sufi pun mengikuti mereka. Satu contoh, yakni kubur Ma’ruf al-Karkhi yang dinamai oleh para penyembah kubur, khususnya dari kalangan shufiyah, at-Tiryaq al-Mujarrab… Para penyembah kubur menjadikan kubur al-Karkhi ini sebagai sumber untuk melakukan bid’ah dan khurafat, membangun masjid-masjid di atas kuburan, serta memilih tempat ibadah di sisi kubur. (Lihat Tahdzirul Muslimin hlm. 25—27)

Musuh-Musuh Islam Bersemangat Menyebarkan Dakwah Kuburiyah
Asy-Syaikh Muhammad al-Imam mengatakan, “Ketika telah kokoh kekuatan komunis di Yaman Selatan, mereka pun memerangi para penyembah kubur. Akan tetapi, kami kaget dengan dibiarkannya orang-orang penyembah kubur melakukan kesyirikan dan khurafat di kemudian hari. Kami mendapat berita bahwa tokoh-tokoh Rusia telah mencerca kalangan komunis di Yaman yang telah memerangi para penyembah kubur karena mereka tidaklah membahayakan. Bahkan mereka menyibukkan manusia dengan maulid-maulid sehingga tidak berpikir untuk menghadapi musuh atau memperbaiki keadaan muslimin.”
Penulis al-Uluhiyah fi Aqa’idi asy-Syi’ah mengatakan, “Oleh karena itu, kita jangan merasa heran ketika para penjajah memberikan kedudukan dan meteri yang banyak kepada shufiyah….” (Lihat Tahdzirul Muslimin hlm. 17)

Menutup Semua Celah yang Menggiring kepada Kesyirikan
Ketika kita telah mengetahui dahsyatnya gelombang dakwah kepada kesyirikan—terutama pengagungan kepada kubur—dan banyaknya faktor yang menjerumuskan orang kepada kesyirikan, yang harus dilakukan untuk menyelamatkan diri dan masyarakat adalah menutup segala celah yang akan menggiring kepada perbuatan syirik. Di antara celah (jalan) kesyirikan yang harus kita jauhi adalah sebagai berikut.
1. Ghuluw kepada orang saleh
Ghuluw kepada orang saleh adalah sarana kesyirikan yang paling besar sebagaimana telah dijelaskan di atas. Ibnu Abdil Hadi t mengatakan, “Sesungguhnya, lembah kesyirikan yang paling luas adalah pengultusan individu.”
2. Melakukan ziarah kubur yang tidak sesuai dengan cara yang dituntunkan Rasulullah n.
Ziarah yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat seringkali mengandung banyak kemaksiatan, kebid’ahan, dan kesyirikan.
3. Menjadikan sebagian kubur sebagai ied.
Padahal Rasulullah n telah berkata:
اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ
“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan kuburanku sebagai berhala yang disembah.” (HR. Ahmad)
4. Shalat menghadap kubur atau shalat di atasnya.
Ini adalah lorong yang mengantarkan kepada kebid’ahan dan kesyirikan.
5. Memilih berdoa di sisi kubur
Ini juga salah satu sarana yang akan mengantarkan kepada kesyirikan.
6. Menjadikan kubur sebagai masjid.
7. Membangun bangunan di atas kubur.
8. Memberatkan diri/bersusah payah melakukan safar ke tempat-tempat peninggalan (petilasan, red.) orang saleh.
Melakukan safar untuk mengunjungi kuburan orang-orang saleh adalah adat kebiasaan jahiliah. Syariat menetapkan tidak boleh mengkhususkan bepergian melainkan menuju ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsha.
9. Mencari barakah di tempat-tempat yang tidak disyariatkan.
10. Beribadah di tempat orang musyrikin berbuat syirik
Melakukan ibadah di tempat tersebut akan menghidupkan kembali kesyirikan.
11. Membaca buku-buku yang menganjurkan beribadah kepada kuburan.
12. Belajar kepada dai-dai kuburi (penyeru penyembahan kepada kubur).
13. Meniru orang-orang kafir dalam masalah akidah dan ibadah mereka.

Inilah beberapa hal yang harus kita jauhi karena semua ini adalah jalan yang akan mengantarkan seseorang kepada kesyirikan. (Lihat Tahdzirul Muslimin hlm. 69—72)
Kemudian, kita juga harus berlepas diri dan memusuhi orang-orang yang berbuat syirik, terutama para dai yang mengajak kepada kesyirikan. Allah l berfirman tentang Nabi Ibrahim q:
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah l, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4 )
Kita harus membekali diri dengan ilmu. Para penyeru kepada kesyirikan terus menyebarkan syubhat-syubhat mereka untuk mengajak orang menyembah dan mengagungkan kuburan-kuburan tertentu. Dan ilmulah yang menjadi senjata seorang yang bertauhid dalam menghadapi mereka.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab mengatakan, “Seorang awam yang bertauhid bisa mengalahkan seribu ulama musyirikin. Namun, yang dikhawatirkan adalah seorang muwahid yang berjalan dalam keadaan tidak memiliki senjata (yakni ilmu).” (Lihat Kasyfus Syubhat)
Seorang muslim tidak boleh berbasa-basi dalam masalah agamanya. Allah l berfirman:
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah sesembahan yang aku sembah, dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah sesembahan yang aku sembah. Untukmu agamamu dan untukkulah agamaku.” (al-Kafirun: 1—6)
Ketahuilah, tidaklah seorang teranggap sebagai bertauhid hingga dia mengingkari sesembahan selain Allah l yang disembah oleh orang musyrikin. Rasulullah n bersabda:
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَكَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُونِ اللهِ حَرُمَ مَالُهُ وَدَمُهُ وَحِسَابُهُ عَلَى اللهِ
“Barang siapa mengucapkan Laa ilaha illallah dan mengingkari sesembahan selain Allah l, telah terjaga harta dan darahnya. Adapun hisabnya diserahkan kepada Allah k.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t menyatakan, “Seseorang tidak cukup sekadar mengucapkan laa ilaha illallah. Ia harus mengucapkannya, mengetahui maknanya, meyakininya, hanya beribadah kepada Allah l, dan mengingkari sesembahan selain Allah l.” (Lihat Kitabut Tauhid)
Beliau berkata tentang definisi Islam, “Berserah diri kepada Allah l dengan mentauhidkan-Nya, tunduk patuh menaati-Nya, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang yang berbuat syirik.” (Lihat Ushuluts Tsalatsah)

Jangan Hinakan Kuburan Muslimin
Ketika syariat melarang pengagungan kuburan tidak berarti boleh menghinakan kuburan muslimin. Kedua hal ini sama-sama terlarang. Rasulullah n berkata:
لَأَنْ يَجْلِسَ أَحَدُكُمْ عَلَى جَمْرَةٍ فَتُحْرِقَ ثِيَابَهُ فَتَخْلُصَ إِلَى جِلْدِهِ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَجْلِسَ عَلَى قَبْرٍ
“Sungguh, salah seorang kalian duduk di atas bara api hingga membakar pakaiannya sampai menembus kulitnya lebih baik baginya daripada duduk di atas kuburan.” (HR. Muslim)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sesungguhnya kuburan muslimin memiliki kehormatan sebagaimana disebutkan dalam Sunnah Rasulullah n karena kuburan adalah rumah orang yang telah meninggal. Tidak boleh dibiarkan ada najis di atasnya, menurut kesepakatan ulama. Tidak boleh pula diinjak atau menjadikannya tempat bertelekan, menurut pendapat kami dan pendapat jumhur (mayoritas) ulama.”
Asy-Syaikh Muqbil t berkata, “Kuburan teranggap rumah orang-orang yang telah meninggal. Tidak boleh seorang pun duduk di atasnya atau menjadikannya tempat lalu lalang kendaraan….”
Asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi mengatakan, “Pemerintah hendaknya mencegah orang-orang zalim yang menjadikan kuburan-kuburan sebagai jalan, pasar, dan tempat duduk-duduk mereka.” (Lihat al-Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid hlm. 195—196)
Sebagai penutup, penulis ingin menyampaikan ucapan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berikut ini.
Kubur (seorang muslim) mempunyai dua hak atas kita.
1. Kita tidak boleh meremehkan kewajiban menghormatinya, yakni tidak boleh menghinakannya, tidak boleh pula duduk di atasnya.
2. Kita tidak ghuluw terhadapnya … (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid, 1/260)
Mudah-mudahan Allah l menjauhkan kita dan anak keturunan kita dari kesyirikan. Kita berdoa seperti ucapan Nabi Ibrahim q:
“(Wahai Rabbku), jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)
Mudah-mudahan Allah l memberikan khusnul khatimah kepada kita.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

Surat Pembaca Edisi 69

Asy-Syariah Antireformasi?

Pada edisi 60 Asy-Syariah membahas tentang kejelekan reformasi, padahal yang namanya reformasi tentunya mengarah kepada sesuatu yang lebih baik. Mohon tanggapannya!

0813285xxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Reformasi sebagaimana yang digemakan pada tahun 1998 sebenarnya tak lebih dari intrik politik melawan pemerintah berkuasa waktu itu, namun menggunakan jargon-jargon reformasi. Rentetan proses yang mengandung sekian banyak kemungkaran berikut dampaknya yang dirasakan umat hingga sekarang inilah yang kemudian kami sorot.

Secara istilah, reformasi memang mengandung muatan kebaikan atau setidaknya menuju yang lebih baik. Namun kala reformasi digunakan sebagai kedok untuk melampiaskan hawa nafsu kekuasaan, terlebih jika reformasi dikendalikan oleh kepentingan asing untuk menyusupkan ideologi-ideologi kekufuran, tentu istilah reformasi ini menjadi kosong dari makna.

Reformasi birokrasi yang belakangan dicanangkan pemerintah adalah salah satu contoh penggunaan istilah reformasi. Jika memang dengan itu pemerintah meniatkan untuk mewujudkan aparatur negara yang bersih dan profesional, maka reformasi seperti ini yang perlu kita dukung. Wallahu a’lam.

 

Ishaq bin Rahawaih=Ishaq bin Rahuyah?

Bismillah. Mohon dijelaskan, di Asy-Syariah edisi 61 pada rubrik “Manhaji” hlm. 7 kolom 2 disebutkan Ishaq bin Rahawaih, sedangkan pada “Kajian Utama” hlm. 15 kolom 2 disebut Ishaq bin Rahuyah. Apakah itu nama satu orang yang sama atau berbeda?

Ummu Waroqoh-Bekasi

0812887xxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Keduanya adalah memang nama yang sama. Sebagian ulama membaca Rahawaih, sedangkan yang lain membacanya Rahuyah. Huruf-hurufnya sama dalam bahasa Arab. Jazakillahu khairan.

 

Syair yang Didendangkan

Di Asy-Syariah Vol VI/No. 61 rubrik “Jejak”, tertulis “Anak-anak itu dengan gembira mendendangkan nyanyian: telah muncul purnama kepada kami dari Tsaniyatil Wada’…” Sedangkan di Asy-Syariah “Hidup Tanpa Musik” (Vol IV/No. 40) hlm. 20 dijelaskan bahwa hadits tersebur dhaif. Apakah hadits dimaksud sama atau ada hadits lain yang sahih tentang hal itu pada perang Tabuk? Bukankah menyanyi itu haram?

Ummu ‘Aisyah-Magelang

0813286xxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Yang benar, itu adalah syair yang didendangkan, bukan nyanyian sebagaimana yang dipahami.

Ahli sirah (sejarah) sendiri memang tidak seketat ahli hadits dalam menyaring riwayat, sehingga terkadang ada riwayat lemah yang tercantum dalam bukubuku sirah. Kisah ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma’ad (3/551). Ibnul Qayyim sendiri menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa syair ini didendangkan ketika menyambut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pulang dari Perang Tabuk, bukan saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah dari hijrah. Wallahu a’lam.

Benang Kusut Madzhab IAIN

Sudah menjadi sunnatullah bahwa musuh-musuh Islam akan senantiasa menyalakan kebencian terhadap agama ini. Berbagai cara akan ditempuh hingga kaum muslimin mau meninggalkan agamanya. Minimalnya, membuat ragu terhadap agamanya sendiri. Tanpa disadari oleh umat, proyek pendangkalan Islam ini tengah gencar digarap musuh-musuh Islam melalui Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), seperti STAIN, IAIN, UIN, Fakultas Agama Islam di perguruan tinggi umum, atau di PTAI swasta. Lanjutkan membaca Benang Kusut Madzhab IAIN

Bukti Cinta Kepada Allah

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, ‘Telah berdusta orang yang mengaku mencintai-Ku, namun ketika gelapnya malam menyelimutinya dia justru terlelap dari (beribadah) kepada-Ku. Bukankah setiap pecinta menyukai menyepi berdua dengan kekasihnya?

lilin

Inilah Aku, mendatangi para pecinta-Ku dengan serta-merta mengawasinya. Sesungguhnya mereka pun telah berdiri di hadapan-Ku dengan menggambarkan-Ku berada di depan mata mereka.

Mereka berbicara kepada-Ku dalam keadaan (membayangkan) tengah menyaksikan-Ku dengan mata kepala mereka, mereka berbincang-bincang dengan-Ku dalam keadaan hadir menghadap.

Esok Aku akan menyejukkan mata-mata mereka itu di dalam surga-surga-Ku’.”

(Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2/374)