Ar-Rafiq

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Di antara Al-Asma’ul Husna adalah nama Allah Ar-Rafiq. Nama Allah l ini tidak terdapat dalam ayat Al-Qur’an, namun dalam hadits Nabi n. Dari Aisyah x, ia berkata,
اسْتَأْذَنَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: السَّامُ عَلَيْكَ. فَقُلْتُ: بَلْ عَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ. فَقَالَ: يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِى الْأَمْرِ كُلِّهِ. قُلْتُ: أَوَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا؟ قَالَ: قُلْتُ: وَعَلَيْكُمْ.
Sekelompok Yahudi meminta izin menemui Nabi n. Mereka mengatakan, “Assamu ‘alaikum (artinya: kematian atas dirimu).” Aku menjawab, “Bahkan ‘Alaikumussam (kematian atas kalian), demikian pula laknat.” Nabi n berkata, “Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Rafiq dan mencintai kelembutan dalam segala urusan.” Aku pun mengatakan, “Tidakkah engkau mendengar apa yang mereka katakan?” Nabi menjawab, “Aku sudah menjawab, ‘Wa ‘alaikum (dan atas kalian juga)’.” (Sahih, HR. al-Bukhari)
Dari Aisyah x, istri Nabi n, bahwa Rasulullah n bersabda:
يَا عَائِشَةُ، إِنَّ اللهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَا لاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ
“Wahai Aisyah, sesungguhnya Allah Maha Rafiq. Allah l mencintai kelembutan dan memberikan kepada kelembutan apa yang tidak Allah l berikan kepada kekerasan, dan yang tidak Allah l berikan kepada selainnya.” (Sahih, HR. Muslim)
Al-Harras berkata, “Kata (الرَّفِيقُ) Ar-Rafiq terambil dari kata (الرِّفْقُ) Ar-Rifq yang berarti perlahan-lahan dalam sebuah urusan dan bertahap padanya. Lawannya adalah (الْعُنْفُ) al-‘unf yang berarti keras dan terburu-buru dalam urusan tersebut (jadi, Allah Ar-Rafiq, memiliki sifat rifq dalam perbuatan-perbuatan dan syariat-syariat-Nya).
Allah l bersifat lembut, perlahan-lahan, dan bertahap dalam perbuatan-Nya. Dia menciptakan makhluk seluruhnya dengan bertahap, sedikit demi sedikit beriringan dengan hikmah dan sifat rifq-Nya, padahal Allah l mampu menciptakannya sekaligus dengan sekejap.
Allah l bersifat lembut, perlahan-lahan, dan bertahap dalam perintah dan larangan-Nya, sehingga tidak membebani hamba-Nya dengan beban-beban yang berat sekaligus. Bahkan, dengan bertahap dari satu keadaan menuju keadaan yang lain, sehingga jiwa mereka lekat dengannya dan tabiat mereka merasa tenteram dengannya. Ini sebagaimana Allah l menetapkan kewajiban puasa, pengharaman khamr, riba, dan semisalnya. (Maka dari itu, barang siapa yang memerhatikan makhluk-makhluk dan syariat-syariat, cara Allah l menetapkannya setahap demi setahap, dia akan menyaksikan sesuatu yang sangat ajaib)
Oleh karena itu, seseorang yang bersikap perlahan-lahan serta mengerjakan urusan-urusannya dengan bertahap dan tenang, dalam rangka mengikuti aturan-aturan kauniah Allah l serta mengikuti petunjuk Rasulullah n, urusan-urusannya akan menjadi mudah. Urusan-urusan yang sulit pun akan tunduk kepadanya. Terlebih seseorang yang tampil mendakwahi manusia kepada kebenaran, ia harus menjiwai kelembutan dan kehati-hatian (tidak terburu-buru), sebagaimana firman Allah l:
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” (Fushshilat: 34) (Syarah Nuniyah karya al-Harras, 2/93 dengan beberapa tambahan dari Syarh al-Asma wash Shifat kumpulan penjelasan as-Sa’di)
Sufyan ats-Tsauri t berkata,
لَا يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ إِلاَّ مَنْ كَانَ فِيْهِ خِصَالٌ ثَلاَثٌ: رَفِيْقٌ بِمَا يَأْمُرُ رَفِيْقٌ بِمَا يَنْهَى، عَدْلٌ بِمَا يَأْمُرُ عَدْلٌ بِمَا يَنْهَى، عَالمٌِ بِمَا يَأْمُرُ عَالِمٌ بِمَا يَنْهَى
“Tidak boleh melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar—memerintahkan kepada yang baik dan melarang dari yang mungkar—melainkan orang yang memiliki tiga sifat: lembut dan tidak tergesa dalam memerintahkan dan melarang, adil dalam memerintahkan dan adil dalam melarang, serta mengilmui yang dia perintahkan dan yang dia larang.”
Ibnu Rajab t berkata,
وَبِكُلِّ حَالٍ يَتَعَيَّنُ الرِّفْقُ فِي الْإِنْكَارِ
“Bagaimana pun keadaannya, wajib perlahan-lahan dan tidak tergesa dalam mengingkari.”
As-Sa’di berkata, “Demikian pula seseorang yang disakiti oleh orang-orang dengan kata-kata kotor, namun dia menjaga lisannya dari mencela mereka. Dia membela dirinya dengan kehati-hatian dan kelembutan. Dengan begitu, gangguan mereka akan tercegah. Lain halnya bila dihadapi dengan sikap yang sama. Ditambah lagi, dengan begitu dia juga memperoleh kelapangan jiwa, ketenteraman, kestabilan, dan kesabaran.”
Kelembutan, kehati-hatian, dan ketidaktergesaan seorang hamba tidak berarti menghilangkan tekad dan keteguhan. Oleh karena itu, seseorang hendaknya tetap bersikap lembut dan tidak tergesa-gesa dalam urusan-urusannya, namun tidak pula melewatkan kesempatan ketika ada dan tidak menyia-nyiakannya ketika datang.

Buah Mengimani Nama Allah Ar-Rafiq
Dengan kita mengimani nama Allah l tersebut, kita mengetahui betapa besar perhatian Allah l akan kondisi dan kemampuan hamba-hamba-Nya, sehingga Allah l tidak begitu saja menetapkan suatu hukum, namun dengan perlahan-lahan sesuai dengan kesiapan mereka. Ini mengajari kita untuk juga bersikap demikian dalam mendidik dan memberikan beban.

Kita juga mengetahui betapa besar kasih sayang Allah l kepada kita, sehingga menuntut kita senantiasa bersyukur kepada-Nya, sekaligus mengajari kita untuk bersikap belas kasih terhadap sesama hamba Allah l. Pelajaran amat penting yang bisa kita ambil adalah bahwa seorang da’i atau juru dakwah—secara khusus—hendaknya memiliki sifat rifq dengan makna yang lengkap, yaitu kelembutan, kehati-hatian, ketidaktergesaan, dan bertahap dalam segala urusan, terlebih menyangkut urusan umat. Dengan memiliki sifat ini segala urusan akan menjadi mudah, insya Allah, sebagaimana dijelaskan para ulama di atas.
Wallahu a’lam.

Ghibah buah Majelis

(Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujurat: 12)
Ini termasuk qiyas tamtsili (perumpamaan) yang terbaik. Dalam perumpamaan ini, Allah l menyerupakan tindakan merobek kehormatan saudara dengan mencabik-cabik dagingnya. Ketika seseorang mengumpat berarti dia merobek kehormatan saudaranya yang tidak berada di hadapannya. Dia bagai orang yang memotong-motong daging saudaranya di saat rohnya telah hilang karena mati.
Tatkala orang yang diumpat tidak mampu membela dirinya, karena dia tidak di hadapannya untuk membalas celaannya, dia pun bagai mayat yang dipotong-potong dagingnya dan tidak mampu membela dirinya.
Manakala konsekuensi dari sebuah persaudaraan adalah saling mengasihi, saling menyambung hubungan, dan saling menolong, tetapi orang yang mengumpat justru menggantungkan sebuah celaan dan tikaman pada ikatan persaudaraan itu, maka hal itu bagai memotong-motong daging saudaranya sendiri. Padahal persaudaraan menuntut untuk menjaga dan membela saudaranya.
Ketika orang yang mengumpat menikmati kehormatan saudaranya, ia jadikan buah majelisnya dengan mengumpat dan mencelanya saat tidak di hadapannya, serta dia menghiasi dirinya dengan perbuatannya tersebut, dia disamakan dengan seseorang yang memakan daging saudaranya (dan menikmatinya) setelah memotong-motongnya.
Selain itu, ketika dia menyukai hal itu dan bangga dengannya, dia pun disamakan dengan orang yang menyukai memakan bangkai saudaranya. Bahkan, kesukaannya terhadap hal itu lebih dari sekadar memakannya, sebagaimana memakannya itu lebih dari sekadar mencabik-cabiknya.
Perhatikanlah perumpamaan dan permisalan ini, juga ketepatan sasarannya serta kesesuaiannya antara gambaran dan kenyataan. Perhatikan pula pemberitaan-Nya bahwa mereka sendiri tidak suka memakan daging saudaranya yang telah menjadi bangkai. Perhatikan juga penyifatan-Nya bahwa mereka tidak menyukainya, bersamaan dengan pengingkaran-Nya di awal ayat bahwa seseorang dari mereka akan menyukai hal tersebut. Apabila hal ini sangat tidak disukai oleh tabiat mereka, bagaimana mereka menyukai hal yang semisalnya atau sejenisnya?!
Allah l membantah mereka dengan apa yang mereka membencinya atas apa yang mereka menyukainya. Allah l menyerupakan apa yang mereka sukai itu dengan sesuatu yang paling mereka benci dan paling mereka jauhi, (yaitu memakan bangkai saudara sendiri). Oleh karena itu, akal sehat, fitrah yang suci, dan sikap bijaksana mengharuskan mereka sangat menjauhi perbuatan yang sejenis dengannya (mengumpat). Allah l lah yang memberi taufik.
(I’lamul Muwaqqi’in, 1/222—223, diterjemahkan oleh Qomar Suaidi)

Kisah Sebuah Batu (Membela Kesucian Nabi Musa alaihissallam)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Manusia itu berbeda-beda keadaannya, baik dalam hal bentuk fisik maupun sifat. Karena itulah, di antara manusia ada yang elok rupa dan perawakannya, ada pula yang tidak.

Ada di antara mereka yang tinggi, ada yang pendek. Ada yang sempurna anggota tubuhnya, ada pula yang cacat, demikian seterusnya. Begitu pula sifat dan kepribadian masing-masing. Ada yang tidak mempunyai kepribadian, akhlak, etika, perasaan halus, dan sebagainya, ada pula yang berwatak mulia, bercita-cita tinggi, tekad yang luhur, dan seterusnya.
Para nabi adalah golongan manusia yang memiliki berbagai kesempurnaan sebagai seorang manusia, baik jasmani maupun rohani. Mengapa? Karena Allah k memang memilih mereka untuk diri-Nya, sehingga sudah pasti memilih orang-orang yang paling baik dan sempurna; hati, akhlak, kepribadian, dan sebagainya.
Allah l berfirman:
“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (al-An’am: 124)
Allah l berfirman:
“Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikannya beberapa derajat.” (al-Baqarah: 253)
Namun, bukan berarti kesempurnaan fisik para nabi dan rasul sebagai manusia, menunjukkan mereka berada dalam satu keadaan yang sama. Kesempurnaan yang ada pada mereka juga berbeda-beda. Itulah salah satu bukti keindahan karya dan kesempurnaan kekuasaan Allah Yang Maha Esa. Allah l berfirman:
“(Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu.” (an-Naml: 88)
Artinya, Dia melakukan sesuatu dengan kekuasaan-Nya yang besar dan mengokohkan segala sesuatu yang telah diciptakan-Nya.
Rasulullah n pernah menceritakan tentang perawakan fisik sebagian nabi, di antaranya tentang Nabi Musa q, yang dikatakan beliau seperti laki-laki dari suku Himyar (Yaman), tinggi, dan berkulit gelap.1 Nabi ‘Isa q, seorang laki-laki yang bertubuh sedang, dengan rambut basah seolah-olah baru keluar dari kamar mandi.2
Para sahabat juga pernah menerangkan kepada kita tentang sebagian ciri-ciri Nabi n, kata mereka, “Beliau laki-laki yang paling gagah, rupawan, tidak terlalu tinggi, dan tidak pula pendek. Dadanya bidang, pipinya halus, rambutnya sangat hitam, dan sepasang matanya bercelak. Warna kulitnya cerah, tidak terlalu putih seperti bule dan tidak gelap (sawo matang). Rambutnya tidak terlalu keriting dan tidak pula lurus.”3
Adapun kesempurnaan sikap, kepribadian, watak, perasaan, dan sebagainya, mereka juga berada pada tingkatan paling sempurna sebagai manusia. Cukuplah pujian Allah k terhadap mereka dalam banyak ayat-Nya di dalam Al-Qur’an.
Allah l berfirman tentang Khalil-Nya Ibrahim q:
“Sesungguhnya Ibrahim itu benar-benar seorang yang penyantun lagi pengiba, dan suka kembali kepada Allah.” (Hud: 75)
Allah l berfirman menceritakan pujian anak perempuan laki-laki saleh di Madyan tentang pribadi Nabi Musaq:
“Wahai ayah, ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” (al-Qashash: 26)
Namun, kesempurnaan itu hanya tinggal sebagai cerita yang dibaca. Banyak di antara manusia yang tidak menempatkan kesempurnaan itu pada tempatnya. Ada yang melampaui batas, hingga menjadikan pemilik kesempurnaan itu sederajat dengan Zat yang memberi kesempurnaan tersebut, yaitu Allah k. Artinya, kesempurnaan itu menjadi alasan bagi mereka untuk menyerahkan peribadatan kepada para nabi dan rasul. Mereka meminta syafaat, berkah, keselamatan, kemuliaan, kesehatan, dan rezeki kepada para nabi dan rasul. Ada pula yang menyembelih korban, shalat, puasa, sedekah, nazar, dan sebagainya untuk para nabi tersebut. Subhanallah.
Sebaliknya, ada pula yang tidak peduli, hingga merendahkan para nabi tersebut, seperti tindakan orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Kalau kita membalik lembaran-lembaran kitab mereka, tentu kita akan melihat kitab yang mereka katakan sebagai pedoman hidup itu, penuh dengan tuduhan-tuduhan keji yang dialamatkan kepada para nabi tersebut. Hampir tidak satu pun nabi yang selamat dari kata-kata mereka yang tidak senonoh. Tak hanya itu, Allah l yang telah menciptakan dan menyelamatkan mereka dari kehinaan, juga tidak luput dari ejekan mereka.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya Allah miskin dan kami kaya’.” (Ali ‘Imran: 181)
Juga firman Allah l:
“Orang-orang Yahudi berkata, ‘Tangan Allah terbelenggu’, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu.” (al-Maidah: 64)
Inilah beberapa kejelekan yang dituduhkan oleh ahli kitab kepada para nabi dan rasul yang pernah hidup bersama mereka.
1. Mereka menuduh Nabi Harun q membuatkan patung anak sapi lalu disembah oleh Bani Israil (Kitab Keluaran 32:1). Padahal, Al-Qur’an dengan tegas mengungkapkan bahwa yang membuat patung anak sapi adalah Samiri. Nabi Harun q justru menentang perbuatan mereka, sampai-sampai mereka hampir membunuh beliau.
2. Nabi Ibrahim q menyerahkan istrinya Sarah kepada Pharao (Fir’aun) sehingga memperoleh hadiah (Kitab Kejadian 12:14). Sementara itu, Rasulullah n mengisahkan kepada kita, Nabi Ibrahim q memasuki Mesir yang ketika itu diperintah oleh seorang raja zalim, yang tidak pernah membiarkan seorang wanita cantik yang bersuami, melainkan membunuh suaminya lalu merampas wanita itu untuk dirinya. Setelah Nabi Ibrahim q ditanya tentang Sarah, beliau mengatakan bahwa itu adalah saudaranya, yakni saudara se-Islam. Rasulullah n menerangkan pula bahwa Allah l memelihara Sarah ketika dibawa kepada raja tersebut, hingga dia tidak dapat didekati sama sekali oleh raja zalim tersebut.
3. Mereka menuduh Nabi Luth q meminum tuak sampai mabuk lalu menyetubuhi kedua putrinya (Kitab Kejadian 19:30). Mahasuci Allah, tidak mungkin Nabi Luth q berbuat demikian. Beliaulah yang sepanjang hidupnya selalu mengajak kepada kemuliaan dan memerangi perbuatan hina kaumnya. Akan tetapi, kedengkian kaum Yahudi mendorong mereka menutup-nutupi kemuliaan yang beliau miliki.
4. Tuduhan mereka terhadap Nabi Ya’qub q, bapak moyang mereka sendiri, sebagai pencuri ternak dari kandangnya, lantas membawa keluarganya tanpa memberitahu (Kitab Kejadian 31:17).
5. Mereka menuduh Dawud q berzina dengan istri prajuritnya, kemudian melakukan tipudaya agar membunuh laki-laki itu. Akhirnya prajurit itu tewas, dan Dawud menikahi wanita tersebut hingga melahirkan Sulaiman (Kitab Samuel II 11:1).
6. Mereka menuduh Sulaiman q murtad di akhir usianya dan menyembah berhala serta membangun kuil-kuil peribadatan (Kitab Raja-Raja I 11:5).
7. Yesus bersaksi bahwa nabi-nabi yang sebelum dia di kalangan Bani Israil adalah perampok dan pencuri. (Injil Yohannes, 10:8)
Itulah sebagian perbuatan hina yang dinisbatkan oleh bangsa yang paling dilaknat ini kepada para nabi Allah l yang suci. Mahasuci Allah dari apa yang mereka ada-adakan. Namun, kebusukan jiwa membuat mudah menisbatkan kehinaan itu kepada manusia pilihan Allah l, agar mudah pula bagi mereka melakukan perbuatan dosa sesuai dengan selera mereka.
Tidak sampai di situ, bahkan ada pula yang mereka bunuh.
Nabi Musa q, salah seorang nabi dan rasul paling mulia yang diutus memimpin mereka, tak luput dari ejekan mereka. Mereka pernah mengatakan kepada beliau agar membuatkan satu sesembahan untuk mereka, seperti dalam firman Allah l:
“Bani Israil berkata, ‘Wahai Musa, buatlah untuk kami sebuah sesembahan, sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan’.” (al-A’raf: 138)
Atau mengatakan, “Kami tidak akan beriman kepadamu sampai kami melihat Allah dengan terang-terangan.” Sebagaimana Allah l ceritakan:
“Dan (ingatlah), ketika kamu berkata, ‘Wahai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang’, karena itu kamu disambar halilintar, sedangkan kamu menyaksikannya.” (al-Baqarah: 55)
Atau berkata kepada beliau, “Pergilah engkau bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua. Sungguh, kami akan duduk di sini (menunggu).”
Abu Hurairah z berkata, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ مُوسَى كَانَ رَجُلاً حَيِيًّا سِتِّيرًا لاَ يُرَى مِنْ جِلْدِهِ شَيْءٌ اسْتِحْيَاءً مِنْهُ فَآذَاهُ مَنْ آذَاهُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَقَالُوا: مَا يَسْتَتِرُ هَذَا التَّسَتُّرَ إِلاَّ مِنْ عَيْبٍ بِجِلْدِهِ، إِمَّا بَرَصٌ وَإِمَّا أُدْرَةٌ وَإِمَّا آفَةٌ. وَإِنَّ اللهَ أَرَادَ أَنْ يُبَرِّئَهُ مِمَّا قَالُوا لِمُوسَى فَخَلاَ يَوْمًا وَحْدَهُ فَوَضَعَ ثِيَابَهُ عَلَى الْحَجَرِ ثُمَّ اغْتَسَلَ فَلَمَّا فَرَغَ أَقْبَلَ إِلَى ثِيَابِهِ لِيَأْخُذَهَا وَإِنَّ الْحَجَرَ عَدَا بِثَوْبِهِ فَأَخَذَ مُوسَى عَصَاهُ وَطَلَبَ الْحَجَرَ فَجَعَلَ يَقُولُ: ثَوْبِي حَجَرُ، ثَوْبِي حَجَرُ. حَتَّى انْتَهَى إِلَى مَلَأٍ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ فَرَأَوْهُ عُرْيَانًا أَحْسَنَ مَا خَلَقَ اللهُ وَأَبْرَأَهُ مِمَّا يَقُولُونَ وَقَامَ الْحَجَرُ فَأَخَذَ ثَوْبَهُ فَلَبِسَهُ وَطَفِقَ بِالْحَجَرِ ضَرْبًا بِعَصَاهُ، فَوَاللهِ إِنَّ بِالْحَجَرِ لَنَدَبًا مِنْ أَثَرِ ضَرْبِهِ ثَلاَثًا أَوْ أَرْبَعًا أَوْ خَمْسًا، فَذَلِكَ قَوْلُهُ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لاَ تَكُونُوا كَالَّذِينَ آذَوْا مُوسَى فَبَرَّأَهُ اللهُ مِمَّا قَالُوا وَكَانَ عِنْدَ اللهِ وَجِيهًا
Sesungguhnya Musa adalah seorang pemalu, menutup rapat tubuhnya hingga tidak terlihat kulitnya sedikitpun karena malu. Karena itulah beberapa orang dari Bani Israil menyakiti beliau, kata mereka, “Dia menutup diri seperti itu, tidak lain karena cacat pada kulitnya, entah itu sopak (belang), udrah4, atau penyakit lain.”
Dan sesungguhnya Allah k ingin membersihkan beliau dari tuduhan yang mereka lontarkan kepada Musa. Pada suatu hari, beliau menyepi sendirian dan meletakkan pakaiannya di atas sebuah batu, lalu mandi.
Setelah selesai, beliau mendekati batu itu untuk memungut pakaiannya. Ternyata, batu itu berlari membawa pakaian beliau. Nabi Musa q pun mengambil tongkatnya mengejar batu itu sambil berseru, ‘Pakaianku, hai batu! Pakaianku, hai batu!’ sampai di dekat sekumpulan orang-orang Bani Israil. Akhirnya, mereka pun melihat beliau dalam keadaan tidak berpakaian dan tubuh yang paling bagus. Allah k membersihkan beliau dari ejekan yang pernah mereka ucapkan.
Batu itu pun berhenti dan Nabi Musa q segera mengenakan pakaiannya, kemudian mulai memukul batu itu dengan tongkatnya. Demi Allah, masih ada bekas tiga, empat, atau lima pukulan pada batu tersebut.
Itulah yang Allah l firmankan:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa; maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan terhormat di sisi Allah.”5 (al-Ahzab: 69)
Akan tetapi, demikianlah watak orang-orang Yahudi.
Ketika Nabi Musa q sendirian, lalu keluar dari dalam air, beliau tidak melihat bajunya yang diletakkan di atas sebongkah batu. Beliau pun mengejar batu tersebut agar tidak terlihat oleh seorang pun bahwa beliau dalam keadaan tidak berpakaian. Namun, ternyata ada sekelompok Bani Israil duduk-duduk di sekitar situ, maka terpaksa beliau melewati mereka.
Melihat keadaan Nabi Musa q itu, mereka pun menyadari ketidakbenaran tuduhan mereka. Ternyata, Nabi Musa q memiliki tubuh yang sempurna tanpa cacat.
Walhamdu lillah.

 

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 3394 dan Muslim no. 172 & 178.

2 HR. al-Bukhari no. 3394.
3 HR. al-Bukhari (3547, 3548) dan Muslim (2347), lihat juga Shahihul Jami’ (4/199).

4 Udrah, pembengkakan scrotum (kemaluan) –red.

5 HR. al-Imam al-Bukhari no. 278, 3404, dan 4799, Muslim (1/183) dari Abu Hurairah z.

Tahun Perutusan (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Karena banyaknya utusan yang datang pada tahun itu, sangatlah pantas tahun itu dinamakan Tahun Perutusan. Selain itu, para utusan tersebut adalah bukti nyata gema Islam telah menembus tembok-tembok keangkuhan jahiliah yang selama ini bertakhta di sanubari bangsa Arab ketika itu. Tatkala mereka mendengar panggilan Islam itu, mereka merasa tenteram lalu menyambutnya dengan antusias. Akhirnya, mereka pun masuk Islam secara berduyun-duyun.

Utusan Bani Tamim
Di antara para utusan yang paling baik adalah utusan Bani Tamim. Setelah bertemu dengan Rasulullah n, mereka mulai berbicara, “Kami utusan dari Tamim, datang bersama ahli syair dan orasi. Kami mengajak Anda bersyair dan saling membanggakan diri.”
Rasulullah n berkata, “Bukan dengan syair kami diutus, dan bukan pula untuk berbangga kami diperintah.”
Setelah selesai shalat zhuhur, berkumpullah di sekeliling beliau para utusan itu saling membanggakan dirinya dan pendahulu mereka. Lalu mereka meminta agar beliau n mengizinkan ahli pidato dan penyair mereka berbicara. Beliau mengizinkan.
Ahli pidato mereka waktu itu adalah ‘Utharid bin Hajib. Dia mulai berpidato, katanya, “Segala puji hanya milik Allah, yang mempunyai karunia dan pemberian yang wajib atas kami (mensyukurinya), dan Dialah yang pantas. Dialah yang telah menjadikan kami sebagai raja-raja. Dia memberi kami harta yang berlimpah, agar kami berbuat baik dengannya. Dia menjadikan kami penduduk timur yang paling mulia, paling banyak, dan paling mudah bekalnya. Siapakah yang menyamai kami di antara manusia? Bukankah kami layak menjadi pemimpin manusia dan lebih utama dari mereka? Siapa yang hendak menyaingi kami, sebutlah apa yang telah kami sebutkan.”
Rasulullah n pun berkata kepada Tsabit bin Qais bin Syammas z, “Berdirilah, jawablah pidatonya.”
Dengan tenang Tsabit z berdiri lalu berbicara, “Segala puji hanya milik Allah. Dzat Yang di langit dan di bumi ada ciptaan-Nya. Dia menetapkan pada keduanya dengan perintah-Nya. Kemudian, di antara kekuasaan-Nya, Dia menjadikan kami sebagai raja-raja dan memilih makhluk-Nya yang paling baik sebagai rasul… lalu menurunkan kepada beliau Kitab-Nya, serta memercayakan kepada beliau urusan makhluk-Nya, hingga jadilah beliau pilihan Allah di antara seluruh manusia. Kemudian, beliau mengajak manusia agar beriman kepadanya, maka berimanlah kepada Rasulullah, kaum Muhajirin di antara kaumnya. Lalu kami pun, kaum Anshar, Para Pembela Allah, pembantu Rasul-Nya, juga beriman. Kami memerangi orang lain sampai mereka beriman kepada Allah. Siapa yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, terjagalah harta dan darahnya. Siapa yang kafir, kami perangi dia di jalan Allah, selama-lamanya dan itu mudah bagi kami…
Saya mengatakan hal ini dan mohon ampun kepada Allah untuk saya dan kaum mukminin, laki-laki dan perempuan.”
Lalu berdirilah Zibarqan bin Badr melantunkan syairnya di hadapan Rasulullah n dan kaum muslimin:
Kami orang-orang mulia, tak ada yang menyamai
Kamilah para raja dan kepada kami bai’at digelar
Tak ada yang menyamai kami yang kami tahu
Mereka akan kembali sedangkan beritanya terdengar
Kami menolak, dan tak seorang pun menolak kami
Itulah kami dengan kebanggaan, kami mulia
Setelah Zibarqan selesai membacakan syair yang mengangkat derajat kaumnya setingkat para raja dan menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang menyamai mereka dalam hal itu, Rasulullah n berkata kepada Hassan bin Tsabit, “Berdirilah, hai Hassan. Balaslah syairnya.”
Hassan pun berdiri dan berkata,
Dzawaib berasal dari Fihr dan saudaranya
Mereka mengadakan sunnah yang diikuti
Yang diridhai oleh semua yang jalan hidupnya
bertakwa kepada Allah dan berbuat baik
Akhirnya mereka masuk Islam dan baik keislaman mereka. Mereka menetap di Madinah beberapa hari mempelajari Al-Qur’an dan mendalami ajaran Islam.

Kisah Dhimam bin Tsa’labah
Di antara utusan itu, ada seorang badui bernama Dhimam bin Tsa’labah, dari Bani Sa’d bin Bakr. Kedatangannya menemui Rasulullah n bukan bertanya tentang Islam sebagai sesuatu yang baru, tetapi untuk memantapkan keimanan yang sudah bersemi di dalam hatinya.
Itulah Dhimam bin Tsa’labah. Kata-katanya didengar oleh masyarakatnya dan ditaati. Sebab itulah, mereka menyambut seruannya ketika dia mengajak mereka kepada Islam sekembalinya dari Madinah menemui Nabi n.
Inilah kisahnya.1
Seorang laki-laki telah sampai di Madinah, segera menuju Masjid Nabawi. Setibanya di depan pintu masjid, dia turun dari untanya lalu menambatkannya. Setelah itu dia masuk ke masjid. Saat itu, Rasulullah n sedang duduk-duduk bersama para sahabat.
Dhimam adalah seorang laki-laki kekar dengan rambut dijalin menjadi dua. Dhimam melangkah masuk sampai berdiri di depan Rasulullah n. Dengan suara lantang, Dhimam bertanya, “Siapa di antara kalian putra Abdul Muththalib?”
Rasulullah n berkata, “Sayalah putra Abdul Muththalib.”
Dhimam mengejar, “Apakah (kamu) Muhammad?”
“Ya,” kata beliau.
Suara Dhimam kembali memecah keheningan, “Hai putra Abdul Muththalib. Sungguh, aku akan menanyaimu dan keras kepadamu dalam masalah ini. Karena itu, janganlah kamu menyimpan sesuatu terhadapku dalam hatimu.”
“Tidak ada sesuatu dalam hati saya. Tanyakanlah apa yang ingin Anda tanyakan,” kata beliau.
“Saya sumpahi kamu demi Allah, Ilahmu dan Ilah orang-orang sebelum kamu, serta Ilah (sesembahan) orang-orang yang datang sesudah kamu. Betulkah Allah telah mengutus kamu kepada kami sebagai rasul?” tanya Dhimam dengan tegas.
Dengan tenang tetapi tegas, Rasulullah n menjawab, “Ya Allah. Benar.”
Dhimam melanjutkan, “Saya sumpahi kamu demi Allah. Benarkah Allah memerintahkan kamu agar menyuruh kami menyembah-Nya satu-satunya, tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun juga? Dan agar kami meninggalkan tandingan-tandingan yang dahulu biasa disembah (dipuja-puja, dijadikan tempat bergantung, ed.) oleh bapak moyang kami di samping Allah?”
“Ya Allah. Benar,” kata beliau.
Kemudian Dhimam menyebutkan beberapa kewajiban dalam Islam, seperti shalat lima waktu sehari semalam, puasa, zakat, dan haji, serta beberapa syariat Islam lainnya. Semua itu ditanyakannya sambil bersumpah, seolah-olah menuntut agar Rasulullah n menjawab dengan jujur. Itulah sebagian watak kaum badui: lugas, terus terang, sederhana, dan berani.
Setelah semua dijawab oleh Rasulullah n, Dhimam berkata, “Sesungguhnya, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Aku beriman dengan ajaran yang engkau bawa. Aku tidak akan menambah atau menguranginya sedikitpun. Aku adalah utusan kaumku, aku adalah Dhimam bin Tsa’labah dari Bani Sa’d bin Bakr.”
Lalu, Dhimam berbalik menuju unta yang ditambatkan, dan bersiap meninggalkan Madinah menuju kampungnya. Perjalanan yang menyenangkan, hati yang ringan dan lapang. Seribu satu harapan Dhimam dari kaumnya, Bani Sa’d yang dicintainya dan mencintainya. Semoga mereka mau menerima Islam, mungkin itulah bisikan doa dalam hatinya untuk kaumnya.
Rasulullah n bersabda:
لَئِنْ صَدَقَ لَيَدْخُلَنَّ الْجَنَّةَ
“Kalau dia jujur, pasti dia masuk surga.”
Tak terasa, sampailah Dhimam di kampungnya. Kalimat pertama yang terucap dari lisannya adalah, “Alangkah buruknya Latta dan ‘Uzza.”
Mendengar ucapan itu, kaumnya terperanjat dan berseru, “Diamlah, hai Dhimam. Awas, kau bisa tertimpa sopak dan kusta, atau gila!”
Kata Dhimam, “Celakalah kalian. Dua patung ini—demi Allah—sama sekali tidak dapat memberi manfaat ataupun mudarat. Sungguh, Allah telah mengutus seorang rasul dan menurunkan sebuah Kitab kepada-Nya, yang akan menyelamatkan kamu dari apa yang kamu anut. Sungguh, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah, satu-satunya, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Aku datang dari hadapan beliau, membawa perintah dan larangan beliau.”
Mereka terkesima mendengar penuturan Dhimam. Tidak sampai sore, penduduk Sa’d bin Bakr, laki-laki dan perempuan semuanya masuk Islam. Allahu Akbar.
Itulah Dhimam, tidak ada utusan yang lebih utama daripada dia. Seperti itu pula penilaian Ibnu ‘Abbas c.
Wallahu a’lam.
(Insya Allah bersambung)

Berbuat Curang dalam Menakar dan Menimbang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdulmu’thi, Lc)

Menegakkan keadilan dan kejujuran dalam pergaulan sesama manusia merupakan bagian terpenting yang diseru oleh agama Islam. Keadilan dan kejujuran adalah fondasi kokoh untuk tetap tegaknya sebuah peradaban sebagaimana kezaliman adalah faktor utama terpuruknya umat, hancurnya berbagai peradaban, lenyapnya ketenangan, dan datangnya kemurkaan Allah l. Allah l berfirman:
“Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu atas kebinasaan mereka.” (al-Kahfi: 59)
Kezaliman dalam bentuk apa pun kesudahannya sangat mengerikan. Andaikan suatu gunung berbuat zalim kepada gunung yang lain niscaya gunung yang zalim akan dihancurkan Allah l. Ini adalah atsar sahabat Ibnu ‘Abbas c seperti dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 457.
Gunung yang isinya adalah batu-batu besar dan keras akan dihancurkan bila berlaku aniaya. Bagaimana kiranya manusia yang lemah seperti ini?
Di antara kezaliman yang meretakkan sendi-sendi kehidupan adalah berbuat curang dalam menakar hak orang, menimbang, mengukur, dan yang sejenisnya.
Kalau kezaliman tersebut dilakukan oleh orang kafir kiranya “bisa dipahami”, karena ketidakpercayaan mereka dengan hari pembalasan menjadi sebab terbesar terjerumusnya mereka dalam kejahatan tersebut. Tetapi alangkah memilukannya bila kecurangan itu dilakukan oleh orang yang mengaku dirinya muslim. Apakah dia belum tahu bahwa di antara sebab binasanya kaum Nabi Syu’aib q adalah kecurangan mereka dalam menakar dan menimbang?!
Allah l berfirman:
Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan, saudara mereka, Syu’aib. Ia berkata, “Wahai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Rabbmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, serta janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi sesudah Allah memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman.” (al-A’raf: 85)
Ternyata peringatan Nabi Syu’aib q tidak dihiraukan dan mereka terus menekuni kebiasaan jahat mereka hingga Allah l menurunkan azab-Nya. Allah l menyebutkan tentang azab yang ditimpakan kepada mereka sebagaimana firman-Nya:
“Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka.” (al-A’raf: 91)
Kehancuran kaum Nabi Syu’aib q memang telah berlalu, namun disebutkan dalam Al-Qur’an agar orang-orang yang setelah mereka mengambil pelajaran.

Terjaganya Harta Seorang Muslim
Secara umum dan dalam bentuk apa pun, seseorang diharamkan untuk melenyapkan dan merampas harta orang lain tanpa alasan yang dibenarkan oleh syariat. Nabi n bersabda:
لَا يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلَّا بِطِيْبِ نَفْسٍ مِنْهُ
“Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan dari dirinya.” (HR. Abu Dawud dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)
Bahkan di saat perkumpulan akbar, ketika haji wada’ (perpisahan), Rasulullah n menyampaikan khutbahnya di hadapan manusia yang jumlahnya berpuluh-puluh ribu, yang di antara isinya adalah haramnya menumpahkan darah kaum muslimin dan merampas harta mereka sebagaimana kesucian hari Arafah, di bulan Dzul Hijjah, dan di tanah suci Makkah. (lihat Shahih Muslim no. 1218)
Pesan-pesan Nabi n dalam khutbah di Arafah tergolong wasiat beliau yang terakhir. Tidak lebih dari empat bulan setelah itu beliau meninggal dunia.
Sesungguhnya di antara tuntutan keimanan adalah menginginkan kebaikan untuk saudaranya sebagaimana ia inginkan bagi dirinya. Seseorang tidak dikatakan sebagai muslim sejati apabila muslim yang lainnya tidak terhindar dari kejahatan lisan dan tangannya.

Kecurangan dan Ancamannya
Allah l telah membuka pintu-pintu usaha yang halal bagi para hamba agar mereka bisa mencukupi kebutuhan hidupnya.
Hanya orang-orang jahatlah yang menganggap usaha halal belum mampu untuk mencukupi kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu, mereka tidak peduli dengan cara apa memperoleh harta.
Lantas apa gunanya kekayaan yang menumpuk bila ujungnya masuk neraka yang menyala-nyala? Allah l berfirman:
“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.” (al-Muthaffifin: 1—3)
Wahai para pedagang! Wahai orang-orang yang melaksanakan akad jual-beli! Jadikanlah ayat-ayat tersebut selalu terpampang di hadapan Anda, agar Anda mengetahui bahwa apabila Anda berbuat curang dalam menakar, menimbang, mengukur, dan semisalnya, maka kecelakaan hidup selalu menyertai Anda. Janganlah kesenangan Anda di dunia yang sebentar ini Anda tukar dengan azab neraka yang tak terbayangkan kedahsyatannya. Demi Allah, masih banyak rezeki Allah l yang bertebaran dan belum digali. Bersabarlah meniti usaha yang jujur dan mohonlah selalu kepada Allah l akan barakah-Nya. Andai Anda belum mendapatkan hasil sesuai yang diharapkan, janganlah bersedih hati. Biarpun sedikit tetapi diberkahi Allah l. Itu jauh lebih mulia daripada mendapat banyak harta, namun kesudahannya adalah kehancuran.
Bila Anda ingin tetap termasuk golongan umat Nabi n, buanglah jauh-jauh keinginan berbuat curang. Nabi n bersabda:
مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا
“Barangsiapa menipu maka dia tidak termasuk golongan kami.” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani)
Ingatlah, jika daging Anda tumbuh dari sesuatu yang haram maka doa dan permohonan Anda kepada Allah l sangat jauh dari dikabulkan. Demikian pula, apabila pakaian dan minuman Anda dari sesuatu yang haram. Allah l tidaklah menyelisihi janji-Nya untuk mengabulkan permohonan hamba-Nya, namun syarat dan adab berdoa tetap harus dipenuhi.

Sebab-Sebab Terjerumus ke dalam Kecurangan
Ada beberapa faktor yang mendorong seorang untuk berani berbuat curang. Di antaranya:
1. Rakus terhadap harta.
Jalan yang terang menjadi gelap di hadapan orang yang rakus. Yang ada pada dirinya adalah bagaimana hasrat dirinya terpenuhi. Telah hilang dari dirinya sifat belas kasihan terhadap orang lain dan tak memedulikan agamanya menjadi korban. Nabi n bersabda:
مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِى غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ
“Dua serigala yang lapar yang dilepas pada (kerumunan) kambing tidak lebih merusak daripada ambisi seseorang terhadap harta dan kedudukan (dalam merusak) agamanya.” (HR. Ahmad dan at-Tirmidzi)

2. Lemahnya iman.
Tatkala Allah l menyebutkan celaan terhadap orang-orang yang berlaku curang dalam menakar dan menimbang, Allah l menjelaskan hal yang mendorong mereka melakukan hal tersebut, sebagaimana firman-Nya:
“Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam?” (al-Muthaffifin: 4—6)
Yang membuat mereka berani melakukan kecurangan adalah ketidakpercayaan mereka terhadap hari akhir, padahal seandainya mereka mengimaninya dan mengetahui bahwa mereka akan berdiri di hadapan-Nya—Dzat yang akan menghitung seluruh perbuatannya baik sedikit maupun banyak—niscaya ia akan berhenti dari perbuatannya dan bertobat. (Lihat Tafsir as-Sa’di)
Jawaban apa yang akan dikemukakan nanti di hari kiamat saat seseorang ditanyai Allah l tentang asal-usul hartanya? Nabi n bersabda:
لَا تَزُوْلُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ: عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَ أَفْنَاهُ، وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَ أَبْلَاهُ، وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتسَبَهُ وَفِيْمَ أَنْفَقَهُ، وَما ذَا عَمِلَ فِيْما عَلِمَ
“Tidak akan bergeser kaki manusia dari sisi Rabbnya pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima hal: Tentang umurnya, untuk apa ia habiskan? Tentang masa mudanya, untuk apa ia pergunakan? Tentang hartanya, dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan? Dan apa yang ia amalkan dari ilmunya?” (Disahihkan al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2416)

3. Minimnya bimbingan agama.
Segala kesesatan yang ada di muka bumi ini pada dasarnya tidak keluar dari salah satu dari dua hal: kebodohan, dan mengikuti hawa nafsu. Oleh karena itu, tugas para ulama dan da’i sangat besar untuk menyadarkan manusia dari setiap penyimpangan. Sungguh, ruang untuk memberikan bimbingan keagamaan sangatlah luas. Bisa berupa tulisan, ceramah, dan semisalnya. Apabila bimbingan digalakkan, kebaikan akan menebar, dan kejelekan akan meredup. Ini merupakan tugas mulia yang dengannya umat ini meraih predikat sebaik-baik umat. Allah l berfirman:
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
Berangkat dari keimanan yang dalam dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap umat, para ulama hendaknya bersemangat memainkan perannya dalam mengajak umat kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Inilah kewajiban yang dipikulkan oleh Allah l di pundak mereka, sebagaimana firman-Nya:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)
Asy-Syaikh as-Sa’di t mengatakan, “Ini adalah bimbingan Allah l terhadap para mukminin agar ada dari mereka sekelompok orang yang terjun di medan dakwah, mengajak manusia ke jalan-Nya, serta mengarahkan mereka kepada agama-Nya. Masuk dalam kelompok ini para ulama yang mengajarkan agama dan para juru nasihat yang mengajak para pemeluk agama (selain Islam) untuk masuk ke dalam Islam. Mereka mengajak manusia yang menyimpang kepada jalan yang lurus, berjihad di jalan Allah l, terjun untuk mengawasi kondisi manusia, dan mengharuskan kepada manusia agar berpegang teguh dengan agama seperti shalat lima waktu, zakat, puasa, haji, dan lainnya dari syariat Islam. (Mereka juga terjun) memeriksa takaran dan timbangan, memantau para pedagang di pasar, serta mencegah mereka dari penipuan dan transaksi yang batil.” (Taisir al-Karimir Rahman)
Bila kewajiban ini diabaikan hingga kemungkaran merajalela, petaka akan menimpa siapa saja seperti sabda Nabi n (yang artinya), “Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran dan tidak mengubahnya maka telah dekat untuk Allah l meratakan azab-Nya.” (HR. Ahmad dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani)

4. Lemahnya pengawasan pemerintah.
Kekuasaan adalah amanah yang diemban untuk mengatur kehidupan manusia agar selalu berada pada jalan yang lurus. Menebarkan keadilan serta mewujudkan rasa aman dan nyaman pada diri rakyat, harta, dan kehormatan mereka adalah tanggung jawab pemerintah. Demikian pula hendaknya mereka menindak setiap kezaliman dan menutup celah yang akan mengantarkan kepada terganggunya stabilitas masyarakat.
Pada suatu saat, Rasulullah n melewati suatu tumpukan makanan. Lalu beliau memasukkan tangannya ke dalam tumpukan makanan tersebut. Ternyata, beliau mendapatkan bagian tengah makanan itu basah. Rasulullah n bertanya kepada penjual, “Apa ini?”
“Terkena hujan, wahai Rasulullah,” jawab penjual.
Rasulullah n bersabda, “Mengapa kamu tidak letakkan di atas, agar orang melihatnya? Barang siapa yang menipu, tidak termasuk golonganku.” (HR. Muslim)
Ketegasan penguasa dalam menindak para penipu dan para pelaku kecurangan bisa mengekang gelombang aksi penipuan. Bila di masa Nabi n ada pedagang yang berusaha menipu pembeli demi meraih keuntungan, tentu di zaman sekarang sudah menjadi rahasia umum justru kebanyakan pedagang melakukan praktik demikian. Anda dapatkan sebagian mereka meletakkan buah-buahan yang busuk di antara buah yang bagus dan segar untuk mengelabui pembeli. Ada yang mencampur BBM dengan bahan lain demi meraup keuntungan berlipat. Ada yang timbangan dan takarannya dibuat berbeda untuk membeli dan menjual, serta masih banyak lagi contohnya.
Maka dari itu, pemerintah tidak boleh menganggap ringan permasalah ini, bila dibiarkan maka krisis agama tak bisa dihindarkan sebelum terjadi krisis ekonomi.
Wallahu a’lam.

 

Menjemput Hidayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Al-haq dan al-batil merupakan dua perkara yang bertolak belakang, tidak akan bisa bertemu apalagi menyatu. Al-haq adalah sesuatu yang sudah jelas sebagaimana jelasnya al-batil, sehingga tidak ada pertengahan di antara keduanya.

Allah l telah berfirman:
“Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan.” (Yunus: 32)
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)
As-Sa’di berkata, “Kami menunjukkan kepadanya dua jalan yaitu jalan kebaikan dan jalan kejelekan serta Kami jelaskan antara petunjuk dan kesesatan serta antara kebenaran dan penyimpangan. Nikmat yang besar ini menuntut agar setiap hamba melaksanakan hak-hak Allah l dan mensyukuri nikmat-Nya serta tidak mempergunakannya dalam bermaksiat kepada Allah l, namun manusia tidak mau melaksanakannya.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 855)
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)
As-Sa’di berkata, “Kemudian Allah l mengutus kepada manusia para rasul dan menurunkan kepada mereka kitab-kitab dan Allah l memberikan hidayah kepada jalan yang akan menyampaikan kepada-Nya, menjelaskannya dan menganjurkan dengannya, dan Dia telah menerangkan apa yang akan didapatkan bila telah sampai kepada-Nya. Kemudian Allah l menjelaskan jalan kebinasaan dan memperingatkan darinya, serta memberitakan apa yang didapatkan bila dia menempuh jalan kebinasaan dan malapetaka tersebut.
Manusia pun terbagi. Ada yang mensyukuri nikmat Allah l dan melaksanakan segala apa yang merupakan hak-hak Allah l. Ada pula yang kufur terhadap nikmat Allah l. Allah l telah menganugerahinya nikmat agama dan dunia, namun dia menolaknya dan kufur kepada Rabb-nya. Dia justru menempuh jalan menuju kebinasaan.” (Tafsir as-Sa’di)
Kejelasan dua jalan yang berbeda ini sesungguhnya bagaikan matahari di siang bolong dan bulan purnama di malam hari. Akan tetapi, hanya sedikit orang yang mengenalnya apalagi mengilmuinya. Hal ini karena beberapa faktor, di antaranya:
1. Kebodohan yang menguasai setiap muslim.
2. Kelalaian manusia sehingga tidak mau mencari dan mempelajarinya.
3. Tidak memiliki niat untuk mendapatkannya.
4. Munculnya para penyeru kesesatan yang mengaku pengikut Rasulullah n namun berjiwa iblis.
Masih banyak lagi faktor lain yang menyebabkan tidak jelasnya kebenaran dan kebatilan. Apabila kita memerhatikan dengan saksama, kita bisa menyimpulkan bahwa seseorang bisa mendapatkan al-haq, berjalan di atasnya, dan terjauhkan dari kebatilan, adalah semata hidayah dari Sang Pencipta.

Hakikat Hidayah dan Macamnya
Kata hidayah berasal dari kata al-hadyu yang bermakna bimbingan hidup, perilaku, dan jalan, sebagaimana dalam firman Allah l:
“Sebagai pembimbing hidup bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
Ali z berkata, “Rasulullah berkata kepadaku:
يَا عَلِيُّ سَلِ اللهَ الْهُدَى
‘Wahai ‘Ali, mintalah bimbingan kepada Allah l’.” (HR. al-Imam an-Nasa’i no. 5225 dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan an-Nasa’i no. 5210)
Dalam hadits yang lain disebutkan:
إِنَّ أَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sesungguhnya sebaik-baik bimbingan adalah bimbingan Rasulullah n.” (HR. al-Bazzar dalam Musnad-nya no. 2076, asalnya dalam riwayat Muslim no. 867 dari sahabat Jabir bin Abdullah z)
إِنَّ الْهَدْيَ الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالْاِقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
“Bimbingan yang baik dan perilaku yang baik serta berlaku lurus adalah satu bagian dari 25 bagian kenabian.” (Lihat Shahih wa Dhaif al-Jami’ no. 3756 dari sahabat Ibnu Abbas c)
Kita mengetahui bahwa salah satu nama Allah l adalah “Al-Haadi” yang artinya Dialah yang telah memperlihatkan dan mengajarkan jalan untuk mengenal-Nya sehingga mereka mengakui rububiyah Allah l. Dialah yang membimbing makhluk kepada apa yang dibutuhkannya untuk mempertahankan hidupnya.
Terkadang al-hadyu berarti ketaatan, sebagaimana firman Allah l:
“Mereka itulah orang-orang yang telah dibimbing menuju ketaatan, maka ikutilah ketaatan mereka.” (al-An’am: 90) (Lihat al-Qamus bab “Ha” dan an-Nihayah karya Ibnu Atsir 5/253)
Ada dua macam bentuk hidayah.
1. Hidayah al-irsyad (ad-dilalah) dan al-bayan
Hidayah ini artinya penjelasan dan keterangan kepada sebuah jalan. Hidayah ini dimiliki oleh Allah l dan oleh makhluk-Nya. Allah l berfirman tentang Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)
Allah l menjelaskan tentang Nabi-Nya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)
“Orang yang beriman itu berkata, ‘Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar’.” (Ghafir: 38)

2. Hidayah taufik
Hidayah ini hanya dimiliki oleh Allah l semata. Dia akan memberikannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberikannya kepada yang tidak dikehendaki-Nya pula.
Tentang hidayah ini, Allah l berfirman:
“Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus.” (al-Baqarah: 142)
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56)
Orang yang bertakwa kepada Allah l telah mendapatkan kedua jenis hidayah ini. Adapun selain orang yang bertakwa tidak mendapatkan hidayah taufik. Tentu saja, hidayah bayan tanpa hidayah taufik untuk mengamalkannya, maka dia bukanlah hidayah yang hakiki dan sempurna.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 23)
Syaikhul Islam bin Taimiyah t mengatakan, “Jika hanya sekadar berilmu tentang kebenaran tanpa mengamalkannya maka dia belum mendapatkan hidayah.” (Amradhul Qulub hlm. 32)
Contoh riil kedua jenis hidayah ini adalah ketika Allah l dan Rasul-Nya menjelaskan tentang keharaman sesuatu perkara melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Lalu seorang dai menyampaikan ilmunya kepada umat tentang keharaman hal ini. Ini termasuk jenis hidayah yang pertama, hidayah dilalah dan bayan. Apabila umat ini menaati larangan tersebut dengan meninggalkannya, inilah hidayah taufik dari Allah l.
Abu Thalib, paman Rasulullah n sekaligus pembela beliau dalam berdakwah, mendapatkan hidayah ad-dilalah dan al-bayan dari Rasulullah n. Dia mengetahui agama yang benar. Namun, dia tidak mendapatkan hidayah taufik dari Allah l, sekalipun dia dekat dengan Rasul dari sisi nasab dan usaha untuk melindunginya. Hal itu bukan penjamin untuk dia beriman kepada Allah l.

“Ya Allah, tunjukilah kami ke jalan Engkau yang lurus”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Kendatipun manusia mengaku bahwa Muhammad adalah rasul Allah l dan Al-Qur’an adalah benar secara global, namun dia tidak mengetahui berbagai ilmu tentang hal yang bermanfaat dan yang memudaratkannya. Dia tidak mengetahui segala perintah dan larangan berikut segala cabangnya secara rinci. Kalaupun ada yang telah diketahuinya, sangat jauh dari pengamalan. Jika ditakdirkan sampai kepadanya segala perintah dan larangan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, maka Al-Qur’an dan As-Sunnah hanya menjelaskan hal-hal yang bersifat umum dan menyeluruh. Tidak mungkin selainnya, tidak disebutkan segala hal yang menjadi kekhususan setiap hamba.
Berdasarkan ini semua, Allah l memerintahkan manusia untuk meminta hidayah ke jalan-Nya yang lurus. Hidayah kepada jalan yang lurus mencakup pengetahuan tentang segala yang dibawa oleh Rasulullah n secara rinci. Termasuk pula mengilmui segala perintahnya secara menyeluruh. Bahkan, mencakup pula ilham untuk mengamalkan ilmu tersebut, karena jika hanya mengilmui kebenaran tanpa mengamalkannya maka itu bukanlah hidayah.
Oleh karena itu, Allah l berfirman kepada Nabi-Nya setelah perdamaian Hudaibiyah:
“Sesungguhnya Kami telah membukakan kemenangan yang nyata bagimu agar Allah mengampuni dosamu yang telah lewat dan yang akan datang serta agar Allah menyempurnakan nikmatnya atasmu dan memberimu hidayah kepada jalan yang lurus.” (al-Fath: 1—2)
Allah l berfirman tentang nabi Musa dan Harun e:
“Dan Kami telah memberi keduanya kitab yang jelas, dan Kami menunjuki keduanya ke jalan yang lurus.” (ash-Shaffat: 117—118)
Akan tetapi, kaum muslimin berselisih tentang berita yang datang dari Allah l, ilmu yang terkait dengan keyakinan dan amalan, padahal mereka bersepakat bahwa Muhammad adalah haq dan Al-Qur’an adalah haq. Jika masing-masing mereka mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus niscaya mereka tidak akan berselisih. Bahkan, kebanyakan orang mengetahui perintah Allah l, namun mereka memaksiatinya. Sekiranya mereka mendapatkan hidayah kepada jalan yang lurus, niscaya mereka akan mengamalkan segala perintah tersebut dan meninggalkan segala yang dilarang. Orang-orang yang telah mendapatkan hidayah Allah l dari umat ini, merekalah wali-wali Allah yang bertakwa. Termasuk salah satu sebab besar mereka mendapatkan hidayah itu adalah doa mereka kepada Allah l setiap shalat. Mereka juga mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang yang membutuhkan hidayah kepada jalan yang lurus.” (Amradhul Qulub hlm. 31—33)
Ibnul Qayyim t berkata, “Tunjukilah kami ke jalan yang lurus adalah hidayah al-bayan dan ad-dilalah kemudian taufik dan ilham. Hidayah taufik dan ilham ini datang setelah hidayah dilalah dan bayan. Tidak mungkin seseorang sampai kepada ad-dilalah dan al-bayan melainkan melalui para rasul. Apabila terwujud al-bayan dan ad-dilalah, lalu diilmui maka akan terwujud hidayah taufik. Allah l akan menjadikan iman di dalam hati, mencintainya, menghiasinya, dan menjadikan hati itu mengutamakan iman tersebut, ridha dan berloyalitas kepadanya. Semua ini merupakan wujud dua hidayah (al-bayan wad-dilalah dan taufik). Keberhasilan tidak akan terwujud melainkan dengan keduanya.
Kedua hidayah ini mengandung ilmu terhadap kebenaran yang telah diketahuinya baik secara rinci maupun global, serta ilham dalam kebenaran dan menjadikan kita termasuk orang yang mengikutinya baik dalam bentuk lahiriah maupun batiniah, kemudian diberi kemampuan untuk melaksanakan konsekuensi dari petunjuk tersebut baik dengan ucapan, perbuatan, maupun tekad yang kuat. Hal ini terjadi secara berkesinambungan dan kokoh sampai kita meninggal dunia. Berdasarkan hal ini, diketahui bahwa seorang hamba sangat butuh untuk meminta melalui doa di atas: Tunjukilah kami ke jalan yang lurus.
Dari sini pula diketahui kekeliruan orang yang mengatakan, “Apabila kita telah mendapatkan hidayah, untuk apa kita memintanya?”
Sungguh, kebenaran yang tidak kita ketahui lebih banyak daripada yang kita ketahui. Apa yang tidak ingin kita kerjakan karena malas atau menggampangkannya sama banyak dengan apa yang kita inginkan, atau lebih banyak, atau lebih sedikit. Apa yang kita inginkan namun tidak mampu kita lakukan juga demikian. Demikian juga apa yang tidak kita ketahui secara global dan tidak mendapatkan hidayah secara rinci, tidak terhitung.
Oleh karena itu, kita membutuhkan hidayah yang sempurna. Barang siapa telah mendapatkan kesempurnaan dalam masalah ini, maka meminta hidayah artinya meminta kekokohan dan selalu berada di atasnya.” (Lihat Tafsir al-Qayyim karya Ibnul Qayyim hlm. 9)

Hidayah Akan Memisahkan antara Hati yang Hidup dan Mati
Hati disifati dengan hidup dan mati. Hati memiliki tiga keadaan, sehat (selamat), berpenyakit, atau mati. Dari ketiga jenis hati ini, orang yang paling celaka adalah orang yang memiliki hati yang mati.
Banyak definisi dari ulama tentang hati yang sehat (selamat). Akan tetapi, definisi yang paling mencakup adalah hati yang selamat dari dorongan syahwat yang menyelisihi perintah Allah l dan larangan-Nya, serta selamat dari segala syubhat yang mengotori berita (dari Allah dan Rasul-Nya), selamat dari bentuk penghambaan kepada selain Allah l, selamat dari berhukum kepada selain Allah l, selamat dalam cintanya kepada Allah l dengan menjadikan hukum Rasulullah n sebagai aturan dalam takut, harap, dan tawakalnya kepada Allah l, bertaubat kepada-Nya, menghinakan diri di hadapan-Nya, mengutamakan ridha-Nya dalam setiap kondisi, dan menjauhkan diri dari murka-Nya dengan berbagai cara.
Inilah hakikat ubudiyah yang tidak boleh diberikan melainkan kepada Allah l.
Hati yang berpenyakit adalah hati yang hidup namun berpenyakit. Hati ini memiliki dua unsur. Terkadang unsur satu yang menariknya dan terkadang yang lain, tergantung mana yang sedang berkuasa.
Hati yang mati adalah hati yang tidak memiliki kehidupan. Hati yang tidak mengenal Rabbnya, tidak menyembah-Nya dengan perintah-Nya, tidak mencintai dan menerima-Nya. Hati yang selalu bersama syahwat dan kelezatannya, sekalipun hal itu mengandung kemurkaan dan kebencian Allah l.
Apabila telah melampiaskan diri dengan syahwat dan segala keinginannya, dia tidak peduli apakah Allah l ridha atau murka. Hati ini berada dalam ketundukan kepada selain Allah l. Demikian pula cinta, rasa takut, harap, senang, benci, pengagungan, dan penghambaan dirinya. Jika mencintai sesuatu, dia mencintainya karena hawa nafsunya. Jika marah, dia marah juga karena hawa nafsu. Jika memberi, dia pun memberi karena hawa nafsu. Demikian pula jika dia tidak memberi, karena hawa nafsu. Hawa nafsulah yang lebih mendominasinya. Hawa nafsu lebih dia cintai daripada kecintaan Allah l. Hawa nafsu pun menjadi pemimpinnya, syahwat menjadi pemandunya, kebodohan menjadi pengemudinya, dan kelalaian menjadi kendaraannya.” (Lihat Mawaridul Aman Muntaqa min Ighatsatul Lahafan hlm. 33—37)
Hidayah dari Allah l akan membedakan ketiga sifat hati tersebut dan akan tampak jelas pemilik-pemiliknya.

Agung dan Mahalnya Hidayah
Dari penjelasan di atas, tampak betapa agungnya hidayah yang diberikan oleh Allah l kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Apakah setelah hidayah yang agung dan besar ini Anda akan mau menukarnya dengan dunia? Apakah Anda akan mau menukarnya dengan kedudukan? Apakah Anda mau menukarnya dengan wanita? Apakah Anda mau menukarnya dengan harta kekayaan?
Tentu, orang yang beriman mengetahui bahwa harga hidayah itu adalah surga dan melihat Allah l. Dia tidak akan mau menukarnya dengan apa pun. Bahkan, jika darah atau nyawa harus dikorbankan untuk mempertahankannya, dia akan memberikannya. Prinsip hidupnya, keselamatan agama dan diri tidak akan bisa ditukar oleh apa pun.
Lalu bagaimana dengan mahalnya?
Pembaca yang budiman ….
Kita mengetahui bahwa hidayah taufik hanya milik Allah l semata. Allah l akan memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Jika demikian keadaannya, maka tidak ada seorang pun yang akan bisa membeli hidayah, dengan harga berapa pun; atau memaksakan kehendak kepada Allah l agar dia mendapatkannya, walaupun dia adalah orang yang terkaya sejagat, keturunan bangsawan, keturunan raja, atau bahkan keturunan Rasulullah n.
Beliau n telah diperintah oleh Allah l:
“Dan berikanlah peringatan kepada karib kerabatmu terdekat.” (asy-Syu’ara: 214)
Itulah kehendak yang dimiliki oleh Allah l. Tidak ada ikatan, kaitan, atau campur tangan dari keinginan hamba-Nya. Allah l tidak memberinya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah l pun memberinya kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
Kita mengenal golongan kaum budak dan kaum fakir miskin seperti keluarga Ammar bin Yasir, Bilal bin Rabah, dan sebagainya. Kepada merekalah Allah l memberikan hidayah-Nya. Di sisi lain, Allah l tidak memberikannya kepada keluarga dekat Rasulullah n.

Menjemput Hidayah
Sekali lagi, hidayah taufik hanya milik Allah l semata. Dia menganugerahkannya kepada seseorang sebagai karunia dan rahmat-Nya. Dia tidak memberikannya kepada hamba-Nya yang lain, ini adalah sebuah keadilan dan kebijaksanaan-Nya. Dia Maha Mengetahui siapa yang berhak mendapatkannya dan siapa yang tidak.
“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
Termasuk hikmah-Nya, Allah l mengikat antara sebab dan akibat. Allah l tidak memberitahukan tentang sebuah sebab melainkan Dia telah menjelaskan serta memberitahukan bahwa di antara sebab-sebab itu ada yang disyariatkan dan ada pula yang diharamkan-Nya. Termasuk juga sebab-sebab mendapatkan hidayah. Di antaranya adalah:
1. Beriman kepada Allah l dengan keimanan yang benar, sebagaimana keimanan pendahulu kita yang saleh.
Allah l berfirman:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk.” (al-Baqarah: 137)
2. Membaca Al-Qur’an, mendalaminya, dan mengamalkan kandungannya, karena salah satu dari hikmah diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk bagi manusia.
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa.” (al-Baqarah: 2)
3. Berdoa dan memintanya kepada Allah l, sebagaimana diperintahkan dalam surat al-Fatihah.
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)
4. Menaati Rasulullah n dalam semua aspek kehidupan.
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)
5. Bersemangat mengkaji ilmu agama.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barang siapa Allah l kehendaki baginya kebaikan, niscaya Dia menjadikannya faqih dalam agama.” (HR. al-Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037)
Wallahu a’lam.

 

Hidayah adalah Anugerah Terbaik

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifa’i)

Rasulullah n bersabda:
مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثاَمِهِمْ شَيْئًا
“Barang siapa mengajak kepada hidayah maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barang siapa mengajak kepada kesesatan maka ia akan mendapat dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa mereka.”
Al-Imam al-Albani berkata tentang hadits ini dalam as-Silsilah ash-Shahihah (2/548), “Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (8/62), Abu Dawud (2/262), at-Tirmidzi (2/112), ad-Darimi (1/126—127), Ibnu Majah (1/91), dan Ahmad (2/397) dari hadits Abu Hurairah z, secara marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah n). At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan shahih.”

Makna Hidayah
Lafadz al-huda serta pecahan katanya dalam Al-Qur’an disepakati oleh ulama sebagai kata yang paling banyak bentuk maknanya. Muqatil bin Sulaiman al-Balkhi dalam kitab al-Asybah wan Nazhair, Yahya bin Sallam dalam kitab at-Tasharif, dan as-Suyuthi dalam kitab al-Itqan, menyebutkan tujuh belas makna lafadz al-huda. Adapun Ibnul Jauzi di dalam kitab Nuzahatul A’yun menyebutkan 24 makna lafadz al-huda.
Al-Fairuz Abadi menjelaskan bahwa hidayah yang diberikan Allah l untuk manusia ada empat tingkatan.
1. Hidayah yang diberikan oleh Allah l kepada seluruh makhluk mukallaf (jin dan manusia), seperti akal, kecerdasan, dan pengetahuan tentang hal-hal yang bersifat dharuri (sebuah kemestian). Ini sebagaimana firman Allah l:
Musa berkata, “Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha: 50)
2. Hidayah yang dibawa dan diemban para nabi untuk dijelaskan kepada manusia dan jin, sebagaimana firman Allah l:
“Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami.” (al-Anbiya: 73)
3. Hidayah berupa taufik untuk tunduk dan mengikuti kebenaran. Hidayah ini dikhususkan bagi hamba yang beriman dan menerima syariat Allah l. Sebagaimana firman Allah l:
“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya.” (at-Taghabun: 11)
4. Hidayah untuk masuk ke dalam surga pada hari kiamat nanti. Inilah yang dimaksud dengan firman Allah l:
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.” (al-A’raf: 43)

Keempat tingkatan hidayah ini bertahap sifatnya. Seorang hamba yang belum mencapai tingkatan kedua tidak akan mendapatkan hidayah tingkatan yang ketiga. Untuk mencapai tingkatan hidayah keempat, ia harus melalui tingkatan yang ketiga. (Basha’ir, 5/313)

Syarah Hadits
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan hadits ini, “Hadits ini dan yang semisalnya mengandung anjuran untuk menyeru kepada hidayah dan kebaikan, keutamaan seorang dai, peringatan dari perbuatan menyeru kepada kesesatan dan penyimpangan, serta besarnya dosa dan akibat yang akan ditanggungnya.”
Hidayah adalah ilmu yang bermanfaat dan amalan saleh. Setiap orang yang mengajarkan satu bentuk ilmu atau mengarahkan para penuntut ilmu untuk menempuh jalan dalam memperoleh ilmu, dia adalah seorang dai kepada hidayah. Setiap orang yang mengajak kepada amalan saleh yang terkait dengan hak Allah l atau hak makhluk, baik secara umum maupun khusus, dia adalah seorang dai kepada hidayah. Setiap orang yang menyampaikan nasihat agama maupun dunia yang akan mendatangkan manfaat secara din (agama), dia adalah seorang dai kepada hidayah. Setiap orang yang mendapatkan hidayah dalam hal ilmu dan amal lalu dia diikuti oleh orang lain, dia adalah dai kepada hidayah. Setiap orang yang membantu orang lain melakukan amalan kebaikan atau kegiatan yang manfaatnya dirasakan secara umum, dia pun termasuk dalam nash hadits ini. Adapun yang berlawanan dengan semua hal di atas maka dia adalah dai kepada kesesatan.
Para penyeru kepada hidayah adalah pemimpin kaum yang bertakwa dan kaum mukminin pilihan. Adapun para penyeru kesesatan adalah orang-orang yang mengajak kepada neraka.
Setiap orang yang membantu orang lain dalam amalan kebaikan dan takwa, dia termasuk dai kepada hidayah. Adapun orang yang membantu orang lain dalam perbuatan dosa dan permusuhan, dia tergolong penyeru kepada kesesatan. (Bahjatul Qulub, hlm. 36—37)
Asy-Syaikh al-‘Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menerangkan bahwa yang dimaksud dengan “mengajak kepada hidayah” artinya menjelaskan hidayah dan mengajak orang lain kepadanya. Misalnya, ia menjelaskan kepada orang lain bahwa dua rakaat shalat dhuha hukumnya sunnah dan seyogianya seorang muslim mengerjakannya. Kemudian penjelasannya ini diikuti oleh orang lain sehingga mereka pun mengerjakan shalat dhuha. Maka dari itu, ia akan mendapatkan pahala mereka tanpa mengurangi sedikitpun pahala milik mereka, karena keutamaan yang diberikan oleh Allah l amat luas.
Contoh lain misalnya, ia menyampaikan kepada orang lain, “Hendaknya kalian menjadikan witir sebagai akhir shalat di malam hari. Janganlah kalian tidur melainkan telah mengerjakan witir. Akan tetapi, barang siapa ingin sekali mengerjakannya pada akhir malam, hendaknya ia mengerjakannya pada akhir malam.” Lantas ia diikuti oleh orang lain dalam hal ini, ia memperoleh pahala mereka. Artinya, setiap orang yang diberi hidayah oleh Allah l untuk mengerjakan witir melalui sebabnya, ia akan memperoleh pahalanya. Demikian juga halnya amalan saleh yang lain.

Keterangan Ulama tentang Hidayah
Ibnul Qayyim t menjelaskan bahwa hidayah dimulai dengan keterangan dan penjelasan, setelah itu taufik dan ilham. Hal ini setelah adanya keterangan dan penjelasan. Tidak ada jalan untuk mencapai tahap keterangan dan penjelasan kecuali melalui para rasul. Apabila tahap keterangan dan penjelasan telah tercapai, hidayah taufik bisa terwujud. (Fathul Bari 1/211)
Ibnul Jauzi t berkata, “Demi Allah, pendidikan orang tua tidak akan bermanfaat jika tidak didahului oleh pilihan Allah l terhadap anak tersebut. Sesungguhnya, jika Allah l memilih seorang hamba maka Allah l akan menjaganya semenjak ia kecil. Allah l juga memberinya hidayah menuju jalan kebenaran serta membimbingnya ke arah yang lurus. Allah l akan membuatnya menyenangi hal-hal yang baik dan akan menjadikan dirinya membenci hal-hal yang buruk.” (Shaidul Khathir hlm. 299)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Setiap hamba benar-benar sangat membutuhkan kontinuitas hidayah Allah l kepada dirinya ke jalan yang lurus. Sebagai hamba, ia sangat membutuhkan maksud dari doa ini, karena tidak ada jalan keselamatan dari azab dan tidak ada jalan untuk mencapai kebahagiaan melainkan dengan hidayah ini. Hidayah ini pun tidak mungkin terwujud melainkan dengan petunjuk dari Allah l.” (al-Fatawa, 14/37)
Ibnul Qayyim t berkata, “Hidayah akan mendatangkan hidayah berikutnya sebagaimana kesesatan akan mendatangkan kesesatan lainnya. Amalan-amalan kebaikan akan membuahkan hidayah. Semakin bertambah amalan kebaikan seseorang, hidayah pun akan bertambah. Sebaliknya, amalan-amalan kejelekan pun akan membuahkan kesesatan. Hal ini karena Allah l mencintai amalan-amalan kebaikan sehingga Dia membalasnya dengan hidayah dan kemenangan, dan Allah l membenci amalan-amalan kejelekan sehingga membalasnya dengan kesesatan dan kecelakaan.” (Tanwir al-Hawalik, 1/338)
Ibnul Qayyim t juga berkata, “Jika seorang hamba beriman kepada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidayah secara umum, ia menerima perintah-perintah di dalamnya dan membenarkan berita-beritanya. Hal ini akan menjadi sebab baginya meraih hidayah lain dengan lebih terperinci lagi, karena hidayah itu tidak ada ujungnya meskipun seorang hamba telah mencapai tingkat hidayah setinggi-tingginya.
“Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk.” (Maryam: 76) (Tanwir al-Hawalik 1/177)

Mahalnya Nilai Hidayah
Di antara rangkaian peristiwa perang Ahzab yang tersebut dalam riwayat-riwayat yang sahih adalah keikutsertaan Rasulullah n dalam penggalian dan pembuatan parit sebagai benteng kokoh kota Madinah dari serangan musuh-musuh Allah l. Bersama para sahabat, secara aktif beliau n terlibat langsung menggali, memindahkan, atau mengangkat batu. Dalam suasana yang penuh berkah tersebut, kebersamaan iman, dan ukhuwah, Rasulullah n mengingatkan para sahabat akan sebuah nikmat agung. Nikmat terbesar pemberian Allah l untuk hamba-Nya, yaitu hidayah. Terucapkan dengan bentuk bait-bait syair:
Ya Allah, kalau bukan karena Engkau, tidak mungkin kami mendapatkan hidayah
Tidak mungkin pula kami bersedekah dan melaksanakan shalat
Maka turunkanlah ketenangan untuk kami
Dan kokohkanlah kaki-kaki kami saat bertemu musuh
Sesungguhnya mereka telah berbuat melampaui batas terhadap kami
Dan jika mereka memaksakan fitnah, kami tentu akan menolaknya
Dalam surat-surat yang dikirim oleh Rasulullah n kepada para raja dan pembesar beberapa negeri—sebagai bukti semangat Nabi Muhammad n mengajak manusia kepada hidayah—disebutkan di permulaan surat tentang tingginya nilai hidayah. Di antaranya adalah surat yang ditujukan kepada Heraklius. Mua’wiyah bin Abi Sufyan c meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersurat:
“Bismillahirrahmanirrahim, dari Muhammad hamba Allah l dan Rasul-Nya kepada Heraklius penguasa Romawi, keselamatan hanyalah untuk yang mengikuti hidayah.” (HR. al-Bukhari no. 7 dan Muslim no. 1773)
Hal ini tidak lain karena jalan keselamatan hanya satu, tidak berbilang. Hidayah adalah nikmat terbesar, nikmat yang paling agung. Oleh karena itu, Nabi Muhammad n ingin menyampaikan hidayah kepada setiap makhluk.
Di masa hidup Rasulullah n, sebagian orang-orang Yahudi berusaha agar bisa bersin di dekat Rasulullah n karena mereka berharap Rasulullah n akan mendoakan mereka, “Semoga Allah l merahmatimu.” Namun, Rasulullah n justru mendoakan mereka, “Semoga Allah l memberikan hidayah untuk kalian dan memperbaiki keadaan kalian.”
Tentang hal ini, al-Imam Abu Dawud t meriwayatkan sebuah hadits melalui riwayat Abu Musa al-Asy’ari z. Beliau z bercerita:
كَانَ الْيَهُودُ يَتَعَاطَسُونَ عِنْدَ النَّبِيِّ n يَرْجُونَ أَنْ يَقُولَ لَهُمْ: يَرْحَمُكُمُ اللهُ؛ فَيَقُولُ: يَهْدِيكُمُ اللهُ وَيُصْلِحُ بَالَكُمْ
“Dahulu orang-orang Yahudi berusaha keras untuk dapat bersin di dekat Nabi Muhammad karena berharap beliau mendoakan mereka, ‘Semoga Allah l merahmati kalian.’ Akan tetapi, Nabi Muhammad justru mendoakan, ‘Semoga Allah l memberikan hidayah untuk kalian dan memperbaiki keadaan kalian’.”
Disebutkan dalam syarah hadits ini, orang-orang Yahudi berusaha agar mereka bisa bersin di dekat Nabi Muhammad n karena mereka berharap beliau n mendoakan rahmat bagi mereka. Namun, karena rahmat Allah l hanyalah khusus bagi kaum mukminin, Rasulullah n mendoakan agar keadaan mereka menjadi lebih baik dengan memperoleh hidayah, taufik, dan iman. (Tuhfatul Ahwadzi dalam syarah hadits ini)
Hidayah adalah milik Allah l dan di tangan Allah l. Hanya hamba yang terpilih yang beruntung mendapatkannya. Ada di antara hamba yang mengharap hidayah dan Allah l mengaruniakannya kepadanya. Ada pula di antara hamba yang mengharapkan hidayah namun Allah l tidak memberinya karena keadilan dan ilmu Allah l tentang kejujuran serta kebenaran harapannya. Di antara hamba juga ada yang telah merasakan lezatnya hidayah namun ia tidak menjaganya. Akhirnya, hidayah pun terlepas dari dirinya. Ada juga di antara mereka yang pernah menikmati hidayah kemudian terlepas. Karena rahmat Allah l semata, hidayah itu kembali kepadanya. Bertaubat dan istighfar (memohon ampun) merupakan jalan terbaik. Banyak hamba yang akhirnya menangis bahagia dengan bertaubat atas dosa-dosa. Ia kembali bersimpuh sebagai tanda ketundukannya di hadapan Allah l. Ia merasakan kesenangan tiada tara seakan-akan terlahir kembali. Seolah-olah ia hidup setelah kematian yang panjang.

Bersabar Menyerukan Hidayah
Sifat sabar mutlak harus dimiliki oleh seseorang yang hendak menyerukan dan menyampaikan hidayah. Tentu tantangan dan ujian akan datang silih berganti. Maksud hati menginginkan hidayah bagi orang yang kita cintai namun justru dibalas dengan penentangan dan permusuhan. Adalah sunnatulah, setiap seruan kepada hidayah kebaikan akan dihadang dengan pengingkaran dan penentangan. Maka dari itu, kesabaran harus menjadi bekal utama seorang dai.
Seorang dai yang menyerukan hidayah tugasnya hanya menyampaikan. Adapun hidayah dan taufik sepenuhnya kembali kepada kehendak Allah l. Para nabi dan rasul adalah suriteladan bagi setiap penyeru hidayah. Rasulullah n pernah menggambarkan keadaan para nabi pada hari kiamat nanti. Ada seorang nabi yang datang membawa puluhan pengikut. Ada nabi yang datang hanya dengan dua orang pengikut. Ada pula nabi yang hanya datang dengan seorang pengikut. Bahkan, ada seorang nabi yang datang pada hari kiamat nanti tanpa seorang pengikut pun.
Nabi Ibrahim q tidak dapat mengajak ayahnya untuk menerima hidayah. Nabi Nuh q tidak mampu mengarahkan anaknya ke jalan yang lurus. Nabi Luth q dimusuhi oleh istrinya sendiri. Nabi Muhammad n yang telah berusaha sekuat tenaga agar pamannya Abu Thalib mau menerimah hidayah akhirnya pun harus menerima kenyataan bahwa pamannya meninggal di atas kekafiran.
Sungguh di antara firman Allah l yang harus selalu diingat oleh seorang penyeru hidayah adalah:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (al-Qashash: 56)
Seorang dai yang mengajak kepada hidayah tidak boleh berkecil hati ataupun bersedih. Allah l tidak akan menyia-nyiakan pahala hamba-Nya. Allah l akan meninggikan derajatnya dan mempersiapkan pahala yang terbaik baginya. Ia harus berprasangka baik kepada Allah l. Barangkali hari ini orang lain menentang dan memusuhinya, mungkin setelahnya orang tersebut akan menjadi teman dan penolongnya. Al-Imam Ahmad t meriwayatkan sebuah hadits dari Abdullah bin Umar c bahwa Rasulullah n pernah mendoakan kejelekan untuk empat orang. Kemudian Allah l pun menurunkan firman-Nya:
“Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah l menerima taubat mereka atau mengazab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.” (Ali Imran: 128)
Lalu Allah l memberikan hidayah kepada mereka. (HR. Ahmad 2/104)

Khatimah
Harapan tentu bukanlah hanya sekadar harapan. Setiap harapan memiliki sebuah konsekuensi: usaha meraihnya. Harapan agar Allah l senantiasa mencurahkan hidayah kepada kita di dunia dan di akhirat adalah harapan besar. Karena hidayah adalah sesuatu yang sangat mahal, tentu kita akan selalu berusaha agar hidayah itu tidak terlepas dari diri kita dan tidak lepas pula dari orang-orang yang kita cintai. Maka dari itu, selalu bersyukur dengan menyerahkan hidup dan mati kita hanya untuk Allah l dalam bingkai ibadah dan amal saleh, adalah langkah terbaik.
Demikian juga doa. Doa sangat bermanfaat sebagai senjata seorang mukmin. Tentang hal ini, al-Imam Abu Dawud t meriwayatkan sebuah hadits dari sahabat Rafi’ bin Sinan z. Ketika beliau masuk Islam, istrinya menolak untuk masuk Islam. Istrinya lantas menemui Nabi n dan berkata, “Anak itu adalah putriku.” Sementara Rafi’ berkata, “Anak itu adalah putriku.” Kemudian Nabi n bersabda kepada Rafi’, “Duduklah di ujung sana.” Demikian pula Nabi n berkata kepada istri Rafi’, “Duduklah di ujung sana.” Kemudian Nabi n memerintahkan putri mereka duduk di antara keduanya. Setelah itu Nabi n bersabda, “Panggillah putri kalian.” Ternyata anak itu lebih memilih ibunya. Lalu Nabi n berdoa, “Ya Allah, berikanlah hidayah kepadanya.” Kemudian anak itu pun memilih ayahnya. Lantas Rafi’ pun membawanya pergi. Hadits ini disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Abi Dawud (2/422).
Akhirnya, banyaklah memohon hidayah. Dari Abdullah bin Umar c, Rasulullah n sering membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon selalu dari-Mu hidayah, takwa, sikap ‘iffah, dan kekayaan.” (HR. Muslim no. 4898)
Walhamdulillah Rabbil ‘alamin.

 

Akhir Sebuah Hidayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Hidayah yang keempat adalah hidayah ahlul jannah (penduduk surga) untuk masuk ke dalam surga dan hidayah ahlun nar (penduduk neraka) untuk masuk ke dalam jahannam.
Inilah garis finis perjalanan panjang pencapaian hidayah. Orang-orang yang menerima hidayah dan istiqamah di atasnya hingga akhir hayat, akan diberi petunjuk masuk ke dalam surga sebagai buah perjuangan mereka. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya. Di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (Yunus: 9)
Allah l juga menyebutkan pernyataan ahlul jannah saat mereka sudah berada di dalamnya.
Dan mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk ….” (al-A’raf: 43)
Adapun orang-orang yang menolak hidayah dan tidak diberi hidayah at-taufiq oleh Allah l, sehingga dia mati di atas kekufurannya, tempat tinggal mereka adalah neraka. Allah l berfirman:
(Kepada malaikat diperintahkan), “Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat mereka dan sembahan-sembahan yang selalu mereka sembah, selain Allah; maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka.” (ash-Shaffat: 22—23)
Walhasil, ada dua ketentuan agar seseorang mencapai garis finis yang baik dengan mendapatkan surga.
1. Menempuh ash-shirathal mustaqim selama hidup di dunia, sehingga di akhirat akan diberi petunjuk melewati shirath (jembatan) yang terbentang di atas neraka jahannam dan masuk ke dalam surga—dengan izin Allah l.
2. Istiqamah di atasnya hingga embusan nafas yang terakhir, sehingga meraih khusnul khatimah yang akhirnya dimasukkan oleh Allah l ke dalam surga-Nya.

Tentang dua hal ini, umat menusia terbagi menjadi beberapa golongan.
1. Orang yang hidup di bawah naungan hidayah hingga akhir hayatnya. Inilah hamba yang terbaik.
2. Orang yang hidup di bawah naungan kesesatan dan penyimpangan sampai nyawa lepas dari jasad. Ini adalah hamba yang terburuk.
3. Orang yang hidup di bawah naungan kesesatan dan penyimpangan, namun di akhir hidupnya meraih hidayah at-taufiq sampai ujung kehidupannya. Ini adalah hamba yang beruntung.
4. Orang yang hidup di bawah naungan hidayah, namun pada saat-saat terakhir kehidupannya dia justru terjatuh dalam kesesatan dan penyimpangan. Ini adalah hamba yang malang.
Semua itu tidak lepas dari ketentuan takdir Allah l. Hamba disyariatkan untuk menjalani sebab hidayah, sedangkan hasil akhirnya Allah l yang menentukan. Kaidahnya:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ
“Amalan itu tergantung pungkasannya.”
Oleh karena itu, di samping menjalani sebab hidayah, kita semua tidak boleh lupa untuk selalu memanjatkan doa:
“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قُلُوبَنَا عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, kokohkanlah hati-hati kami di atas agama-Mu.”
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ حُسْنَ الْخَاتِمَةِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ سُوءِ الْخَاتِمَةِ
“Ya Allah, kami memohon kepada-Mu khusnul khatimah, dan kami berlindung kepada-Mu dari su’ul khatimah.”
Wallahu a’lam bish-shawab.

Penghalang Hidayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Penjelasan tentang penghalang hidayah bisa kita gali dari sejarah kaum para nabi dan rasul yang tidak mau beriman dan menolak ajakan bertauhid. Ada beberapa sebab yang menghalangi mereka menerima hidayah. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Taklid buta dan fanatik kepada adat nenek moyang.
Ini adalah penghalang terbesar dan argumentasi kuno seluruh orang kafir dari dahulu sampai akhir zaman. Allah l berfirman:
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf: 23)
Lafadz ﭗ (negeri) dan ﭙ (pemberi peringatan) pada ayat di atas bentuknya nakirah (نَكِرَةٌ) dan terletak setelah konteks نَفْيٌ (peniadaan). Menurut kaidah ushul, mengandung makna umum, mencakup semua negeri dari masa ke masa dan semua pemberi peringatan dari zaman ke zaman.
Asy-Syaikh as-Sa’di t menegaskan, “Argumentasi kaum musyrikin yang sesat dengan taklid kepada bapak-bapak mereka yang sesat juga, tidaklah bermaksud mengikuti kebenaran dan petunjuk. Itu adalah fanatisme semata untuk membela kebatilan mereka.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

2. Menolak hidayah karena pengikutnya sedikit, sedangkan pengikut kebatilan banyak jumlahnya dari segi harta, anak, maupun jumlah massa.
Ini juga salah satu sebab terbesar yang menghalangi hidayah. Cermatilah ayat berikut ini.
Dan Kami tidak mengutus kepada suatu negeri seorang pemberi peringatan pun, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mengingkari apa yang kamu diutus untuk menyampaikannya.” Dan mereka berkata, “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (Saba: 34—35)
Perhatikan pula ucapan kaum Nabi Shalih q kepada beliau dalam ayat berikut ini.
“Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia saja di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam keadaan sesat dan gila.” (al-Qamar: 24)
Simak juga ucapan Fir’aun kepada kaumnya tentang Nabi Musa q dan kaum beliau dalam ayat berikut.
(Fir’aun berkata), “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil.” (asy-Syu’ara: 54)
Semua ucapan di atas bertujuan menolak kebenaran dan hidayah.

3. Menolak hidayah karena pengikutnya adalah orang-orang lemah dan jelata, sedangkan pengikut kebatilan adalah orang-orang terpandang, kuat, dan ningrat.
Inilah yang menghalangi kaum Nabi Nuh dari hidayah. Allah l menyebutkan dalam Al-Qur’an:
Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (asy-Syu’ara: 111)
Kaum Nuh q juga mengatakan sebagaimana dalam ayat:
Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat kamu melainkan seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina-dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (Hud: 27)
Orang-orang kafir Quraisy juga memiliki alasan serupa untuk menolak hidayah. Allah l berfirman:
Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?” (Maryam: 73)
Sebab-sebab penghalang hidayah yang lain masih banyak, bisa ditelaah dalam kitab Masail al-Jahiliyah karya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi t.
Meskipun ayat-ayat di atas berbicara tentang kaum-kaum terdahulu, namun lafadz-lafadznya umum, mencakup siapa pun yang memiliki perangai serupa hingga hari penghabisan. Selain itu, ayat-ayat di atas disebutkan dalam Al-Qur’an untuk diambil ibrah bagi umat sekarang.
Di samping itu, ada pula sebab-sebab penghalang hidayah yang tidak diambil dari sejarah umat terdahulu. Orang yang mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an akan menemukan banyak sebab lain. Silakan periksa ayat-ayat yang menyebutkan lafadz هُدًى, يَهْدِي, يَهْتَدِي, يَهِدِّي, مُهْتَدُونَ, dan pecahan-pecahan katanya.
Wallahul muwaffiq.

Sebab-sebab Mendapatkan Hidayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
إِنَّ السَّفِينَةَ لَا تَجْرِي عَلَى الْيَبَسِ
“Engkau mendambakan hidayah namun tidak menempuh jalannya
sesungguhnya kapal itu tidak mungkin berlayar di atas samudra yang kering”

Cukup banyak jalan dan sebab meraih hidayah yang disebutkan oleh Allah l dalam ayat-ayat Al-Qur’an. Kita akan menyebutkannya semampu kita dengan taufik dan pertolongan dari Allah l.

1. Berpegang teguh dengan agama Allah l.
Allah l berfirman:
“Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101)
Ibnu Katsir t menjelaskan ayat di atas, “Berpegang teguh dengan (agama) Allah l dan bertawakal kepada-Nya merupakan pegangan dalam hidayah, bekal untuk menjauhi kesesatan, sarana menuju jalan petunjuk, jalan yang lurus, dan tercapainya cita-cita.” (Tafsir Ibnu Katsir)
2. Menaati dan mengikuti Rasulullah n dengan menjalankan perintah beliau dan menjauhi larangannya, mengkaji dan mengamalkan sunnahnya.
Allah l berfirman:
ﭡ ﭢ ﭣﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ
“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk. Dan tidak lain kewajiban rasul itu melainkan menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.” (an-Nur: 54)
“Tidak ada jalan bagi kita untuk meraih hidayah melainkan dengan cara menaati Rasulullah n. Tanpa itu maka tidak mungkin, bahkan mustahil,” tutur asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t dalam Tafsir-nya.
Allah l juga berfirman:
“… Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158)
3. Menelusuri jejak langkah salafush shalih dalam hal keilmuan dan berpegang dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Allah l berfirman:
“Maka jika mereka beriman kepada apa yang kalian telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk ….” (al-Baqarah: 137)
Maksudnya, tidak ada jalan bagi ahli kitab untuk mendapatkan hidayah melainkan dengan keimanan kepada apa yang diimani oleh para sahabat—kaum mukminin yang ada pada masa itu—yaitu keimanan kepada segenap nabi dan rasul, tidak membedakan di antara mereka, juga beriman kepada kitab-kitab suci yang diturunkan kepada mereka. (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Ahli kitab tidak mungkin mendapatkan hidayah melainkan dengan mengikuti jejak langkah para sahabat dalam hal keimanan.
Meskipun ayat di atas berkenaan dengan ahli kitab, namun lafadznya umum mencakup siapa pun yang mendambakan hidayah. Yang teranggap adalah keumuman lafadz, bukan kekhususan sebab.
Maka dari itu, tidak ada jalan bagi siapa pun, untuk meraih hidayah melainkan dengan meniti jejak langkah salafush shalih dari kalangan para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in.

4. Mengikuti bimbingan para ulama As-Sunnah
Perhatikan firman Allah l berikut ini tentang seruan Nabi Ibrahim q kepada ayahnya.
ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ
“Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.” (Maryam: 43)
Asy-Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah dalam kitabnya Makanatul ‘Ilmi wal ‘Ulama (hlm. 18) tatkala menyebutkan beberapa keutamaan ulama, mengatakan, “Termasuk keutamaan mereka adalah bahwa mengikuti mereka merupakan (sebab) hidayah kepada jalan yang lurus.” Beliau kemudian membawakan ayat di atas, juga surat al-An’am ayat 53. Beliau kemudian menegaskan, “Barang siapa yang mengikuti ulama maka dia telah mengikuti jalan yang lurus, sedangkan barang siapa yang menyelisihi ulama dan menyia-nyiakan hak mereka maka dia telah keluar menuju jalan setan dan berpisah dari jalan lurus yang ditelusuri oleh Rasul n dan para pengikutnya ….”
Cermati pula firman Allah l tentang ucapan orang yang beriman dari keluarga Fir’aun.
Orang yang beriman itu berkata, “Wahai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar.” (Ghafir: 38)

5. Merenungkan firman Allah l berikut ini.
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (al-’Ankabut: 69)
Ayat di atas menjelaskan kepada kita beberapa sebab mendapatkan hidayah, di antaranya:
a. Bersungguh-sungguh mengikuti jalan keridhaan Allah l
b. Berjihad fi sabilillah melawan musuh-musuh Allah l sesuai dengan ketentuan syariat, mengharapkan keridhaan Allah l semata.
c. Berbuat baik dengan menjalankan perintah Allah l.
d. Bersungguh-sungguh menimba ilmu syar’i.
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t menjelaskan ayat di atas, “(Ayat tersebut) juga menunjukkan bahwa orang yang bersemangat dan bersungguh-sungguh menimba ilmu syar’i, dia akan mendapatkan hidayah dan pertolongan dari Allah l untuk menggapai apa yang dicarinya. Pertolongan ini berbentuk petunjuk-petunjuk Ilahi yang di luar batas kesungguhan seseorang dan kemudahan-kemudahan menggapai ilmu. Karena, menimba ilmu syar’i termasuk jihad fi sabilillah, bahkan salah satu dari dua jenis jihad yang tidak dilakukan melainkan oleh orang-orang khusus, yaitu jihad dengan ucapan dan lisan melawan orang kafir dan munafik, jihad mengajarkan bimbingan agama, dan jihad dengan membantah orang-orang yang menyelisihi kebenaran meskipun dari kalangan muslimin.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Yang dimaksud dengan orang-orang yang berjihad dalam ayat di atas adalah Rasulullah n, para sahabat, dan para pengikut beliau hingga akhir zaman, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya.
Hidayah yang dimaksud dalam ayat ini meliputi hidayah al-irsyad dan hidayah at-taufiq, di dunia dan di akhirat. (Tafsir Ibnu Katsir)