Hidayah at-Taufuq wal Ilham

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Perbedaan antara hidayah al-irsyad dan hidayah at-taufiq terlihat dari beberapa sisi. Di antaranya adalah:
1. Hidayah al-irsyad bisa dilakukan oleh siapa pun yang memiliki kemampuan menyampaikannya, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Adapun hidayah at-taufiq itu murni di tangan Allah l, Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya.
Allah l berfirman tentang Rasulullah n:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56)
2. Hidayah al-irsyad tidak selalu mendatangkan iman dan hidayah yang sempurna (taufik). Adapun hidayah at-taufiq pasti bergandengan dengan iman, karena hidayah at-taufiq itu khusus bagi orang yang beriman dan mengamalkan Islam.
Allah l berfirman:
“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam.” (al-An’am: 125)
3. Hidayah al-irsyad adalah sebab dan syarat untuk mendapatkan hidayah at-taufiq, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Adapun hidayah at-taufiq adalah hasil dan buah dari pengamalan hidayah al-irsyad.
Allah l berfirman:
“Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali Imran: 101) (Ta’liq Yasin al-Adni atas Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah, Khalil Harras, hlm. 41)

Hidayah at-taufiq ini ada dua tingkatan1.
1. Hidayah at-taufiq dari kekufuran dan kesyirikan menuju Islam dan tauhid, disebut dengan hidayah ila ath-thariq (هِدَايَةٌ إِلَى الطَّرِيقِ).
Hidayah ini didapatkan oleh seseorang yang sebelumnya kafir musyrik dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, dengan segenap ketentuan dan persyaratannya.
Allah l berfirman:
Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, “Apakah kamu (mau) masuk Islam?” Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk …. (Ali Imran: 20)
Hidayah ini bisa menyelamatkan seseorang dari kekekalan dalam api neraka, walaupun dia terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan. Apabila Allah l menghendaki, Dia akan mengampuni dosanya meskipun dia meninggal sebelum sempat bertaubat.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik. Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nisa: 48)
Tidak ada sesuatu pun yang dapat membatalkan hidayah ini, melainkan apabila seseorang melakukan salah satu pembatal keislaman dan ketauhidan yang telah dirinci oleh para ulama dalam kitab-kitab akidah.
2. Hidayah at-taufiq dari kebid’ahan menuju sunnah, dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari dosa menuju ibadah.
Hidayah inilah yang lebih utama. Inilah yang diinginkan oleh Allah l dan Rasulullah n. Ini pula yang harus dicari dan didapatkan oleh seorang hamba. Dengan inilah seorang hamba berlomba meraih pahala yang besar, kedudukan yang tinggi di sisi Allah l, dan surga dambaan setiap insan. Hidayah ini disebut hidayah fi ath-thariq (هِدَايَةٌ فِي الطَّرِيقِ).
Tidak semua orang yang diberi hidayah kepada Islam bisa mendapatkan hidayah untuk mengamalkan Islam sesuai dengan sunnah Rasulullah n. Bahkan, sunnatullah (menjadi ketetapan Allah l), banyak pihak yang menyimpang dan sesat, sedangkan yang selamat hanya sedikit.
Allah l menyatakan:
ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (Saba: 13)
Cermatilah berita Rasulullah n tentang perpecahan yang terjadi pada umat ini. Rasulullah n bersabda:
سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثَةٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ
“Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.” Beliau ditanya, “Siapakah dia, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya “Kitabul Iman Bab Iftiraqul Hadzihil Ummah”, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash c)
Hanya satu pihak yang dinyatakan selamat dari kesesatan. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa di atas Sunnah Rasulullah n. Adapun pihak-pihak yang lain dinyatakan sesat dan terancam dengan neraka. (Lihat Silsilah ash-Shahihah no. 204)
Hidayah ini merupakan konsekuensi dari hidayah at-taufiq yang pertama. Setiap orang yang telah mengucapkan syahadatain dan memeluk Islam harus mempelajari dan mengamalkan Islam sesuai dengan bimbingan Sunnah Rasulullah n. Dia harus mengaplikasikan Islam secara kaffah dalam kehidupannya. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (al-Baqarah: 208)
Inilah makna hidayah yang sesungguhnya. Hidayah di atas jalan yang lurus. Hidayah di atas As-Sunnah.
Sebagian pihak merasa telah meraih hidayah ketika sebelumnya dia kafir lalu masuk Islam, tanpa melihat Islam yang di atas Sunnah Rasul n. Cukup banyak orang kafir yang masuk Islam, namun kemudian mengikuti paham Ahmadiyah, Rafidhah, JIL, dan paham kekafiran lain yang berkedok Islam.
Tidak jarang pula orang yang sebelumnya terkungkung dalam paham sesat ekstrem lalu keluar, namun tidak keluar menuju As-Sunnah, justru menuju paham sesat lainnya semacam IM (Ikhwanul Muslimin), firqah Tabligh, Sururiyah, Haddadiyah, Hizbut Tahrir, dan firqah takfir wal jihad2.
Jenis yang pertama ibarat orang yang keluar dari mulut buaya namun masuk ke mulut harimau. Adapun pihak kedua seperti orang yang keluar dari sebuah kesesatan kemudian masuk kepada kesesatan lainnya.
Kita tidak mengingkari bahwa mereka telah mendapatkan hidayah taufik untuk memeluk Islam. Hanya saja, yang tidak ada pada mereka adalah hakikat hidayah, yaitu hidayah at-taufiq di atas Sunnah Rasulullah n.
Ada pula pihak ketiga, orang-orang yang mendapatkan hidayah at-taufiq di atas As-Sunnah, namun dalam kesehariannya masih kurang sempurna menjalankan As-Sunnah. Mereka masih sering terjatuh dalam beragam dosa dan kemaksiatan. Perbuatan mereka ini bisa mengurangi kesempurnaan hidayah, sesuai dengan kadar dosa dan maksiatnya.
Dari sisi inilah, orang-orang yang berada di atas As-Sunnah berbeda tingkat keutamaan dan kedudukannya. Barang siapa menyempurnakan pengamalan As-Sunnah dalam segala aspek, sempurnalah hidayah yang diraihnya. Semakin tinggi pula kedudukan dan keutamaannya. Sebaliknya, barang siapa yang semakin sering terjatuh dalam dosa dan kemaksiatan, akan semakin berkurang kesempurnaan hidayah yang diraihnya. Bahkan, mungkin akan pudar dan hilang apabila dia terjatuh dalam jurang penyimpangan dan kesesatan. Bahkan, bisa jadi luput pula darinya hidayah Islam, apabila dia murtad atau melakukan pembatal keislaman dan ketauhidan.

Dua Jenis Kesesatan
Sebagaimana hidayah, kesesatan (ضَلَالَةٌ) juga terbagi dua.
1. Dhalalun kulli (ضَلَالٌ كُلِّيٌّ)
Kesesatan secara total yang mengeluarkan pelakunya dari Islam, dalam bentuk kekufuran, kesyirikan, kemurtadan, dan kezindiqan (kemunafikan akbar).
2. Dhalalun juz’i (ضَلَالٌ جُزْئِيٌّ)
Kesesatan secara parsial, terjadi pada orang yang masuk Islam, dalam bentuk kesesatan pada akidah dan manhaj, yang tidak mengeluarkannya dari Islam. (ats-Tsabat ‘ala as-Sunnah hlm. 3—4, al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah)

Hidayah dalam Surat al-Fatihah
Ibnu Qayyim al-Jauziyah t dalam Badai’ul Fawaid (2/190) menjelaskan bahwa hidayah yang diminta oleh seseorang setiap kali membaca al-Fatihah pada ayat:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 6—7)
adalah meliputi al-irsyad wal bayan dan hidayah at-taufiq wal ilham.

Mengapa Seseorang Tetap Meminta Hidayah al-Irsyad dan Hidayah at-Taufiq, Padahal Dia Sudah Meraihnya?
Beberapa ahli tafsir, semisal al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah memohon bantuan kepada Allah l agar meneguhkan dan menegarkan dirinya di atas hidayah, istiqamah, dan semakin menyempurnakan hidayah yang telah dia peroleh.
Ibnul Qayyim t berkomentar bahwa jawaban di atas hanyalah salah satu cabang dari makna ayat di atas. Beliau t menguraikan bahwa seorang hamba tidak akan pernah meraih hidayah yang sempurna sesuai yang dia harapkan, kecuali apabila terpenuhi enam hal yang sangat dibutuhkah olehnya.
1. Mengetahui hidayah tersebut dalam semua yang dia lakukan dan yang dia tinggalkan.
Hal ini terwujud dengan dia melakukan apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah l, serta menjauhi apa yang dibenci dan dimurkai oleh-Nya.
Bila ilmu dan pengetahuan seseorang tentang hal ini berkurang, akan berkurang pula hidayah sesuai dengan kadarnya.
2. Memiliki kehendak dan azam (tekad) yang kuat untuk melaksanakan apa yang dicintai oleh Allah l dan meninggalkan apa yang dilarang dan dibenci oleh-Nya, baik secara global maupun terperinci sesuai dengan kondisi masing-masing.
3. Mengamalkan hidayah tersebut, baik berupa melakukan sesuatu maupun meninggalkan sesuatu.
Apabila pengamalan seorang hamba berkurang, akan berkurang pula kadar hidayahnya.
Ibnul Qayyim t menegaskan bahwa tiga poin di atas merupakan prinsip hidayah, sedangkan tiga poin berikut ini adalah pelengkap dan penyempurnanya.
4. Seseorang mungkin telah meraih hidayah tentang beberapa hal secara global, namun dia tidak mendapatkan hidayah tentangnya secara detail. Oleh karena itu, dia membutuhkan hidayah tentang hal tersebut secara detail.
5. Seseorang mungkin telah mendapatkan hidayah tentang beberapa hal dari satu sisi saja, tetapi belum mendapatkan hidayah tentangnya dari sisi yang lain. Oleh karena itu, dia membutuhkan hidayah secara sempurna dari semua sisinya.
6. Seseorang mungkin telah mendapatkan hidayah tentang beberapa hal, secara detail dari segala sisinya. Dalam keadaan seperti ini, dia membutuhkan istiqamah dan kontinuitas berada di atas hidayah tersebut.
Keenam poin di atas terkait dengan suatu hal yang hendak dikerjakan atau ditinggalkan olehnya. Ada poin ketujuh yang terkait dengan hal-hal yang telah dilakukannya di masa lalu, yaitu tindakan-tindakan yang terjadi tidak di atas prinsip istiqamah (yakni dia menyimpang). Untuk hal-hal ini, dia perlu meralatnya dengan cara bertaubat dari hal tersebut dan menggantinya dengan amalan lainnya di atas prinsip istiqamah.
Ibnul Qayyim t menyimpulkan, apabila enam poin di atas sudah tercapai maka yang diminta adalah istiqamah di atas hidayah. Namun, apabila poin-poin di atas belum diraih secara sempurna maka yang diminta adalah prinsip-prinsip hidayah tersebut secara kontinu, memohon ilmu, azam dan kehendak kuat, kemampuan untuk beramal, serta kesempurnaan hidayah dan istiqamah di atasnya. (Badai’ul Fawaid, 2/190—191)

Penggunaan Lafadz Hidayah
Lafadz hidayah (هِدَايَةٌ) dan pecahannya memiliki beberapa keadaan.
1. Muta’addi3 dengan sendirinya tanpa bantuan huruf jar.
Dalam keadaan ini, lafadz hidayah secara makna meliputi hidayah al-irsyad, seperti firman Allah l:
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)
juga mengandung makna hidayah at-taufiq, seperti firman Allah l:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56)
2. Muta’addi dengan huruf jar ila (إِلَى).
Dalam keadaan ini, maknanya adalah hidayah al-irsyad. Contohnya adalah firman Allah l:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)
Demikian juga firman Allah l:
“Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus.” (an-Nahl: 121)
3. Muta’addi dengan huruf jar lam (اللَّامُ).
Dalam keadaan ini, lafadz hidayah bermakna hidayah at-taufiq. Contohnya adalah firman Allah l:
“Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini.” (al-A’raf: 43) (Tafsir Ibnu Katsir, pada surat al-Fatihah)

Pembaca yang terhormat ….
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan terkait dengan masalah hidayah. Di antaranya adalah:

1. Mahalnya nilai hidayah
Hidayah at-taufiq yang telah dianugerahkan oleh Allah l kepada kita sangat mahal nilainya. Tidak mungkin hidayah tersebut—hidayah kepada Islam, terlebih lagi hidayah kepada As-Sunnah—ditukar dengan harta, wanita, kedudukan, jabatan, ketenaran, atau urusan-urusan duniawi lainnya.
Mari kita renungkan hal-hal berikut ini yang menunjukkan betapa hidayah adalah anugerah yang agung, nikmat yang besar, dan pemberian yang tiada tara.
a. Hidayah at-taufiq tidak diberikan oleh Allah l kepada semua hamba, namun diberikan secara khusus kepada makhluk-makhluk yang dipilih oleh-Nya.
Berapa jumlah mukallaf di muka bumi ini? Miliaran manusia. Berapa jumlah orang yang diberi hidayah at-taufiq memeluk agama Islam? Sekitar satu miliar saja.
Manakala Anda menyadari bahwa Anda termasuk dalam rombongan muslimin, artinya Anda termasuk hamba pilihan yang mendapatkan anugerah besar, hidayah kepada Islam, tanpa melihat apakah Anda termasuk golongan sabiqun bil khairat, muqtashid, atau zhalimun linafsih4. Allah l berfirman tentang ketiga golongan ini:
“Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)
Kemudian, berapa banyak jumlah muslimin di muka bumi ini? Sekitar satu miliar saja. Berapa jumlah orang yang berpegang teguh dengan Al-Qur’an, As-Sunnah, dan pemahaman salafus shalih? Jutaan atau mungkin ratusan ribu saja. Semakin sedikit jumlahnya. Satu pihak yang selamat di tengah-tengah 72 sekte yang sesat, belum lagi beragam sekte dari kalangan orang-orang kafir sejagat.
Apabila Anda termasuk kafilah Ahlus Sunnah, salafiyin, yang terus berupaya istiqamah di atas As-Sunnah, Anda adalah orang yang berhasil meraih hakikat hidayah. Artinya, Anda adalah hamba pilihan yang dianugerahi oleh Allah l kenikmatan di atas kenikmatan. Kenikmatan Islam dan kenikmatan As-Sunnah, diselamatkan dari berbagai kesesatan di dunia dan insya Allah diselamatkan dari neraka jahannam di akhirat. Anda termasuk orang yang paling berbahagia di dunia dan di akhirat.
Apalagi jika Anda termasuk pihak yang menghabiskan umur untuk mempelajari, mengamalkan, dan mendakwahkan As-Sunnah di tengah-tengah umat, Anda termasuk segelintir salafiyin pilihan kategori terbaik, sebagai pewaris nabi dan penerus perjuangan dakwah para nabi.
b. Renungkanlah kisah para nabi dan rasul. Lebih banyak mana antara orang yang beriman dan orang yang membangkang?
Allah l memberitakan dalam firman-Nya:
“Dan sebagian besar manusia tidak akan beriman, walaupun kamu sangat menginginkannya.” (Yusuf: 103)
Perhatikanlah sabda Rasul n berikut ini.
عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلَيْنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ ….
“Ditampakkan seluruh umat kepadaku. Aku melihat seorang nabi dan bersamanya ada ar-rahthu (sekelompok yang berjumlah 3—9 orang). Ada juga seorang nabi yang bersamanya hanya satu-dua orang. Ada pula seorang nabi yang tidak ada seorang pun bersamanya ….” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752 dan Muslim no. 220 dari Ibnu Abbas c)
Nabi Nuh q adalah seorang rasul dari kalangan ulul ‘azmi, tetapi anak dan istri beliau kafir. Nabi Ibrahim q, bergelar Khalilur Rahman (kekasih ar-Rahman), namun ayah beliau termasuk tokoh orang-orang kafir. Demikian pula Nabi Luth q, istri beliau adalah orang kafir. Bahkan, kedua orang tua Nabi kita Muhammad n, kakek beliau (Abdul Muththalib) dan paman beliau (Abu Thalib) juga kafir. Mereka semua tidak diberi anugerah oleh Allah l, padahal mereka sangat dekat hubungan kekerabatannya dengan makhluk-makhluk Allah l yang terbaik.
Resapilah kisah detik-detik akhir kehidupan Abu Thalib. Yang mentalqin kalimat La ilaha illallah kepadanya adalah sebaik-baik makhluk Allah l. Dengan mengucapkan kalimat syahadat saja, dia akan masuk Islam dan meraih khusnul khatimah. Akan tetapi, hidayah memang mahal harganya. Abu Thalib tidak termasuk hamba pilihan. Walaupun yang mentalqinnya adalah Rasulullah n, tetap saja kalimat tersebut sangat sulit diucapkan oleh kedua bibirnya. Akhirnya, ia meninggal di atas kesyirikannya.
Jika kita melihat diri kita, kalimat syahadat sudah biasa kita ucapkan. Dengan mudah kita melantunkannya. Gampang pula kita mentalqin kalimat syahadat kepada orang lain. Tidakkah kita menyadari keagungan nikmat hidayah ini?!
c. Telaahlah sejarah para sahabat nabi-nabi terdahulu dan sahabat Nabi Muhammad n.
Terlalu banyak di antara mereka yang disiksa dan dianiaya. Bahkan, ada yang dibunuh karena mempertahankan hidayah yang telah mereka raih. Di antara mereka ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga badannya terbelah dua. Ada pula yang disisir rambutnya dengan sisir dari besi tajam hingga tergerus daging dan otaknya. Ada juga yang dimasukkan ke dalam parit api, dan berbagai kisah lainnya.
Mereka semua sabar diperlakukan demikian, karena mereka mengetahui mahalnya nilai hidayah, agungnya anugerah hidayah, dan besarnya keutamaan orang-orang yang istiqamah di atas hidayah.
Penderitaan yang dialami oleh sahabat Bilal, juga Yasir dan keluarganya, Sumayyah dan Ammar g, begitu pula para sahabat lain yang disiksa oleh kaum musyrikin Quraisy kala itu, tidak menggoyahkan iman mereka. Mereka rela disiksa dan dibunuh karena mempertahankan hidayah iman.
Bandingkanlah dengan keadaan mayoritas kita. Kita terlahir di dunia ini di lingkungan kaum muslimin. Sejak kecil sudah menikmati anugerah hidayah ini tanpa ada tekanan, gangguan, siksaan, ataupun pembunuhan.
Alangkah besarnya nikmat hidayah yang selama ini kita rasakan! Seyogianya kita terus menjaga kesempurnaan hidayah ini dan tetap teguh di atasnya, dengan cara semakin bersemangat mengkaji bimbingan As-Sunnah, mengamalkannya dalam kehidupan keseharian, dan mendakwahkannya kepada umat sesuai dengan kemampuan kita.
2. Mencari dan mengejar hidayah
Hidayah at-taufiq memang murni anugerah dari Allah l. Dia memberikannya kepada siapa yang dikehendaki oleh-Nya. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kita pasif dan berpangku tangan menunggu datangnya hidayah. Termasuk tuntunan as-salafush shalih adalah aktif mencari dan mengejar hidayah, mengorbankan segala yang ada, baik harta maupun nyawa, untuk meraih hidayah.
Kisah Salman al-Farisi z adalah pelajaran berharga bagi pendamba kebahagiaan dunia dan pengharap surga.
Al-Imam Ahmad t dalam Musnad-nya (5/441) meriwayatkan perjalanan panjang seorang Salman al-Farisi z dalam mencari hidayah. Disebutkan bahwa Salman dulunya adalah penyembah api. Ayahnya, selaku kepala suku, menugaskan Salman untuk menjaga api agar terus menyala, tidak boleh padam. Salman pun tidak pernah keluar dari rumahnya, layaknya gadis pingitan.
Suatu hari, Salman disuruh oleh ayahnya untuk mengurus kebun dan menyelesaikan beberapa tugas. Di tengah perjalanan, Salman melewati sebuah gereja. Dia mendengar suara-suara merdu dari dalam gereja. Dia pun masuk dan menyaksikan apa yang dilakukan oleh kaum Nasrani. Salman takjub dan ingin memeluk agama mereka. Dia pun tertahan di situ hingga matahari tenggelam. Salman pun menanyakan asal-usul agama tersebut yang ternyata berasal dari Syam.
Ketika pulang, Salman langsung diinterogasi dan dimarahi oleh ayahnya. Dia lalu ditahan di kamar dengan kaki terlilit belenggu dari besi. Walhasil, akhirnya Salman berhasil kabur dari rumah. Berangkatlah ia menuju Syam bersama kafilah dagang dari Syam yang singgah di daerahnya. Di Syam inilah, Salman memulai sejarah perjalanannya mencari hidayah: agama Islam yang haq, Islam yang dibawa oleh Rasulullah n.
Di Syam, Salman tinggal bersama seorang pendeta di gereja. Ternyata pendeta tersebut adalah orang yang jelek. Di akhir kisah, umat Nasrani menyalib pendeta tersebut.
Salman lalu tinggal bersama seorang pendeta lain yang menggantikan posisi pendeta sebelumnya. Pendeta tersebut adalah orang yang saleh dan baik. Namun, tidak lama berselang, pendeta tersebut tiba ajalnya. Sebelum wafat, dia berwasiat kepada Salman untuk mendatangi seorang saleh di negeri Maushil.
Salman pun segera berangkat ke Maushil dan tinggal bersama orang saleh tersebut. Akan tetapi, tidak lama kemudian orang tersebut wafat. Sebelum meninggal, dia berwasiat kepada Salman agar datang kepada seorang yang saleh di negeri Nashibin.
Tanpa membuang waktu, Salman bergegas menuju Nashibin dan bertemu dengan orang saleh tersebut. Salman lalu tinggal bersamanya. Namun dengan takdir Allah l, cepat pula ajal menjemput orang ini. Dia pun wafat, setelah sebelumnya memberitahu Salman tentang seorang saleh di daerah Ammuriyah.
Di Ammuriyah, Salman bertemu dan tinggal bersama orang saleh tersebut dalam waktu yang cukup lama. Salman bahkan sempat mencari usaha hingga memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Tatkala ajal tiba, orang saleh tersebut memberitakan bahwa tidak ada lagi di muka bumi ini orang yang saleh seperti dirinya. Namun, dia memberitahu Salman bahwa waktu itu telah datang masa munculnya nabi akhir zaman. Disebutkannya pula ciri-ciri nabi itu: nabi itu muncul di negeri Arab, lalu berhijrah ke daerah yang diapit oleh dua bukit berbatu hitam, di tengahnya terdapat pohon-pohon kurma, nabi itu mau memakan hadiah tetapi tidak mau memakan sedekah, dan di antara kedua pundaknya ada tanda kenabian.
Setelah orang saleh itu wafat, Salman masih tinggal di Ammuriyah beberapa lama. Ketika datang kafilah dagang dari kabilah Kalb, Salman meminta mereka membawanya ke tanah Arab dengan bayaran seluruh sapi dan kambing yang dia miliki. Mereka pun menyetujuinya dan membawa serta Salman. Namun, setibanya mereka di Wadi Qura, mereka menjual Salman sebagai budak kepada seorang Yahudi. Salman pun tinggal di sana beberapa waktu.
Tidak seberapa lama, datanglah sepupu Yahudi itu dari Bani Quraizhah Madinah. Dia pun membeli Salman dan membawanya ke kota Madinah. Sesampainya di sana, Salman langsung mengenali Madinah sebagaimana kriteria yang disebutkan oleh orang saleh dari Ammuriyah.
Di Madinah, Salman disibukkan oleh statusnya sebagai budak. Bersamaan dengan itu, Rasulullah n sudah diutus sebagai nabi di Makkah, lalu berhijrah ke Madinah.
Singkat kisah, Salman pun berhasil menemui Rasulullah n di Quba, lalu menemuinya lagi di Madinah untuk melihat ciri-ciri kenabian beliau n. Semuanya telah dia ketahui, kecuali satu hal: tanda kenabian di antara kedua pundak beliau.
Pada suatu hari, beliau n mengantarkan jenazah seorang sahabat ke pekuburan Baqi’. Beliau n duduk di antara para sahabat. Datanglah Salman lalu mengucapkan salam kepada beliau n. Tidak sabar, Salman pun langsung berputar ke belakang punggung beliau n untuk melihat apakah ada tanda kenabian seperti yang disebutkan oleh orang saleh dari Ammuriyah.
Tatkala Rasulullah n tahu bahwa Salman sedang memastikan sesuatu, beliau pun melepaskan kainnya dari pundak. Salman pun melihat dan mengenali tanda kenabian beliau n. Salman langsung memeluk beliau sambil menangis dan menceritakan perjalanan panjangnya mencari hidayah, hingga akhirnya Allah l mempertemukannya dengan Rasulullah n.
Rasulullah n takjub dengan kisah Salman dan memintanya untuk menceritakannya kepada para sahabat.
Hadits ini dihasankan oleh asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ ash-Shahih (1/85).
Begitu pula kisah Zaid bin Amr bin Nufail, ayah salah seorang sahabat yang diberi kabar gembira dengan surga, yaitu Sa’id bin Zaid z.
Zaid mencari agama yang haq dan mendatangi tempat-tempat ahli kitab, dari Khaibar hingga ke negeri Syam. Setelah pengembaraan panjang mencari kebenaran, ternyata dia mendapatkan bahwa yang dicarinya ada di negerinya sendiri. Salah seorang tua yang saleh dari negeri Jazirah menyebutkan bahwa telah datang masa kenabian dan akan muncul di tanah Arab, kampung halaman Zaid bin Amr. Namun tatkala Rasulullah n diangkat sebagai nabi, Zaid telah tiada. Rasulullah n bersabda:
يُبْعَثُ أُمَّةً وَاحِدَةً
“Dia akan dibangkitkan sebagai umat tersendiri.” (HR. Abu Ya’la 6/732, al-Bazzar 3/283—Kasyful Astar, dihasankan oleh asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ ash-Shahih, 1/181—182)

Masih banyak lagi kisah semisal dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka. Semuanya menyimpan segudang ibrah dan faedah serta kilauan hikmah dari upaya pencarian hidayah.
3. Manfaat dan keutamaan hidayah kembali kepada hamba sendiri
Allah l memerintahkan segenap hamba untuk menempuh bimbingan hidayah guna meraih taufik dan kemuliaan-Nya. Ketika seorang hamba memenuhi panggilan Allah l, mencari dan mengejar hidayah, mengorbankan segala yang dimilikinya, baik harta maupun nyawa, lalu Allah l menganugerahkan taufik kepadanya sehingga dia meraih kenikmatan dan keutamaan yang tiada tara di dunia, dan di akhirat dimasukkan ke dalam surga, yang merasakan semua ini adalah si hamba sendiri. Allah l Mahakaya, tidak membutuhkan apa pun dari sang hamba.
Allah l berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Wahai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu kebenaran (Al-Qur’an) dari Rabbmu. Oleh sebab itu, barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya (petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah seorang penjaga terhadap dirimu.” (Yunus: 108)

 

Catatan Kaki:

1 Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman pada surat al-Fatihah dan Syifa’ul ‘Alil (hlm. 194).

2 Penjelasan tentang penyimpangan kelompok-kelompok tersebut bisa Pembaca lihat pada edisi-edisi terdahulu.

3 Fi’il (kata kerja) yang membutuhkan maf’ul bih (objek), terkadang dengan sendirinya dan terkadang dengan bantuan huruf jar.

4 Lihat catatan kaki no. 4 rubrik “Manhaji”.

 

Hidayah al-Irsyad wal Bayan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Yang dimaksud adalah hidayah dengan makna bimbingan dan penjelasan tentang jalan kebaikan dan kejelekan, jalan keselamatan dan kebinasaan. Bimbingan kepada jalan kebaikan itu untuk ditapaki, sedangkan penjelasan tentang jalan kejelekan itu untuk dihindari dan dijauhi.
Allah l berfirman:
“Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (al-Balad: 10)
Maksudnya adalah jalan kebaikan dan jalan kejelekan. Allah l telah memberi hidayah, yakni bimbingan dan penjelasan, tentang jalan keselamatan dan jalan kesesatan kepada setiap insan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, surat al-Balad: 10)
Hidayah dengan makna di atas hanya diberikan kepada para mukallaf, yakni manusia dan jin, karena merekalah yang diberi beban meniti jalan keselamatan dan menjauh dari jalan penyimpangan. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 191)
Al-Qur’an dan As-Sunnah telah menyebutkan beberapa pihak yang dapat memberikan hidayah ini.

1. Allah l
Allah l menjelaskan bahwa Dialah yang memberi hidayah kepada mukallaf, lalu di antara mereka ada yang bersyukur dan ada yang kufur. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.” (al-Insan: 3)

2. Rasulullah n
Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

3. Al-Qur’anul Karim
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus….” (al-Isra: 9)

4. Pengikut para nabi
Rasulullah n bersabda kepada Ali bin Abi Thalib z:
فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ
“Sungguh, demi Allah, apabila Allah memberi hidayah kepada satu orang saja melalui (petunjuk)mu, itu lebih baik bagimu daripada unta merah.” (HR. al-Bukhari no. 3701 dan Muslim no. 2406, dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z) [Syarh al-’Aqidah al-Wasithiyah karya Khalil Harras hlm. 41, dengan ta’liq Yasin al-’Adni]
Yang perlu dicermati dari dalil-dalil di atas dan dalil-dalil lain yang berbicara tentang hidayah al-irsyad wal bayan wa ad-da’wah adalah bahwa hidayah Allah l, Rasulullah n, Al-Qur’an, dan para pengikut nabi adalah hidayah kepada ash-shirathal mustaqim (jalan yang lurus) serta kepada petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Oleh karena itu, barang siapa yang menyeru (berdakwah) kepada Allah l, Rasul dan petunjuk Al-Qur’an, dialah orang yang disebut dengan pemberi hidayah al-irsyad wal bayan. Adapun yang menunjuki orang lain kepada selain jalan Allah l dan Rasul-Nya serta petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, dia tidak disebut sebagai pemberi hidayah, tetapi dijuluki sebagai penyeru kesesatan.
Hidayah inilah yang dikenal sebagai hujjah Allah l atas segenap makhluk-Nya. Allah l tidak akan mengazab siapa pun sebelum hidayah ini ditegakkan. Allah l berfirman:
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (al-Isra: 15)
Allah l juga berfirman:
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi ….” (at-Taubah: 115) [lihat Syifa’ul ‘Alil hlm. 191)
Ibnul Qayyim t menjelaskan bahwa hidayah ini adalah sebab sekaligus syarat, bukan sebuah konsekuensi yang mengharuskan. (Badai’ul Fawaid, 2/190)
Maksudnya, hidayah ini merupakan sebab dan syarat untuk mendapatkan taufik dari Allah l, tercapainya keimanan, serta masuk ke dalam surga. Terkadang syarat tersebut terpenuhi, terkadang tidak.
Ketika Allah l, Rasul n, dan Al-Qur’an menyampaikan hidayah kepada segenap mukallaf, tidak semua dari mereka diberi taufik oleh Allah l untuk menerimanya. Ada yang menerima dan ada yang tidak. Lihat pembahasan tentang surat al-Insan ayat 3 yang telah lalu.
“Oleh karena itu, siapa saja yang berpegang teguh dengan agama yang lurus ini dan mengikuti hidayah yang dibawa oleh Nabi n yang mulia ini, berarti dia diberi taufik kepada shirathal mustaqim (jalan yang lurus), jannah (surga) yang abadi, dan kenikmatan yang kekal,” demikian penjelasan al-Imam as-Safarini al-Hambali dalam kitabnya Lawami’ul Anwar as-Saniyah (1/169, cet. I, Maktabah ar-Rusyd, KSA, tahun 1421 H/2000 M)
Siapa saja yang tidak menerima dan mengikuti hidayah ini, berarti dia masih dalam kekufuran atau kesesatannya, tidak mendapatkan taufik dari Allah l dan tidak memegang kunci untuk masuk surga.
Cermatilah firman Allah l berikut ini.
“Adapun (kepada) kaum Tsamud mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk itu ….” (Fushshilat: 17)
Jadi, hidayah al-irsyad wal bayan tidak mesti mendatangkan taufik, karena hidayah al-irsyad adalah upaya memberikan bimbingan dan penjelasan, sedangkan taufik itu murni di tangan Allah l. Allah l memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah l menegaskan dalam firman-Nya:
“Tetapi, Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (an-Nahl: 93)
Prinsip inilah yang diingkari oleh paham sesat Mu’tazilah. Menurut mereka, hidayah al-irsyad adalah sebuah konsekuensi yang pasti mendatangkan taufik dan keimanan. Apabila Allah l menjelaskan dan membimbing dengan hidayah al-irsyad wal bayan, maka konsekuensinya Allah l harus memberinya hidayah taufik dan keimanan. Prinsip ini mereka sebut sebagai “hidayah mushilah” (هِدَايَةٌ مُوصِلَةٌ). Dalam kamus mereka, hidayah hanya ada satu, tidak ada perbedaan antara hidayah al-bayan dan hidayah taufik. (Lawami’ul Anwar as-Saniyah, 1/167)
Uraian di atas sudah cukup sebagai bantahan atas paham sesat ini.
1. Hidayah al-irsyad wal bayan berbeda dengan hidayah taufik.
2. Taufik itu murni di tangan Allah l.
3. Orang-orang yang belum diberi taufik oleh Allah l ada dua kemungkinan:
a. Sebab dan syarat hidayah belum dia penuhi/belum sempurna.
b. Adanya faktor penghalang hidayah.
Semua itu kembali kepada kehendak Allah l, Dzat Yang Mahakuasa. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 190)

Hidayah Umum bagi Setiap Makhluk

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Segenap makhluk di sini meliputi manusia, jin, dan hewan. Allah l berfirman:
“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), yang menentukan kadar (masing-masing), dan yang memberi petunjuk.” (al-A’la: 1—3)
Yang dimaksud dengan hidayah dalam ayat di atas adalah hidayah umum kepada segenap makhluk hidup dan kemaslahatan hidup mereka. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 163)
Asy-Syaikh as-Sa’di t dalam tafsirnya menegaskan, “Inilah hidayah umum yang bermakna bahwa Allah l menunjuki segenap makhluk kepada kemaslahatannya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, surat al-A’la: 3)
Allah l juga berfirman:
Musa berkata, “Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.” (Thaha: 50)
Al-Hasan al-Bashri t dan Qatadah t menafsirkan, “Allah l memberikan kemaslahatan kepada segala sesuatu dan menunjukinya kepada kemaslahatan tersebut.”
Adapun Adh-Dhahhak t dan yang lainnya menafsirkan, “Allah l memberikan bentuk dan rupa kepada segala sesuatu yang sesuai dengan kemanfaatannya, seperti tangan untuk memegang dengan kuat, kaki untuk berjalan, lisan untuk berbicara, mata untuk melihat, dan telinga untuk mendengar.” (Fathul Qadir, asy-Syaukani, pada tafsir surat Thaha: 50. Lihat Syifa’ul ‘Alil hlm. 186—187)
Ibnu Abbas c menjelaskan, “Allah l menciptakan pasangan hidup bagi segala sesuatu, lalu mengarahkannya kepada pernikahan, makan dan minumnya, serta tempat tinggal dan kelahirannya.” (Tafsir ath-Thabari, pada surat Thaha: 50)
Semua penafsiran di atas mengandung satu makna, yaitu hidayah umum bagi segenap makhluk.
As-Sa’di t dalam tafsirnya menegaskan, “Inilah hidayah umum yang dapat disaksikan pada seluruh makhluk. Anda akan mendapati segenap makhluk melakukan aktivitas yang bermanfaat baginya dan menghindari mudarat (bahaya) dari dirinya, sesuai kodrat penciptaannya.”
Hidayah ini tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah iman dan kafirnya seseorang. Tidak pula terkait dengan pahala dan dosa, atau surga dan neraka. Hidayah ini hanyalah bersinggungan dengan ciptaan Allah l, kesempurnaan penciptaan segenap makhluk, dan petunjuk Allah l bagi segenap makhluk dalam melakukan aktivitas kehidupannya.
Hidayah ini sangatlah luas dan beragam. Untuk mengetahuinya secara detail, seseorang harus menyibak keajaiban-keajaiban yang ada pada setiap makhluk di muka bumi ini. Artinya, dia harus mencermati ayat-ayat Allah l yang kauniyah dan membongkar rahasia yang terkandung di dalamnya.
Allah l berfirman tentang lebah:
Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah, “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia. Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Rabbmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah ) bagi orang-orang yang memikirkan. (an-Nahl: 68—69)
Hidayah Allah l kepada lebah sangat banyak, di antaranya:
1. Rumah yang dibuat oleh lebah, di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan rumah lebah yang dibuat oleh manusia. Rumahnya sangat bagus, kokoh, tidak ada celah yang rusak sehingga mudah dimasuki musuh.
2. Makanan lebah. Lebah bisa memakan semua jenis buah-buahan dan bunga, lalu menghasilkan madu sesuai dengan jenis nektarnya.
3. Allah l memudahkan lebah menempuh perjalanan berat dan panjang. Menyusuri lembah-lembah nan luas, gunung-gunung yang menjulang, dan daratan yang ganas, lalu pulang kembali ke sarangnya tanpa tersesat. Bahkan, lebah bisa membawa serta sarang dan madunya berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain.
Ibnul Qayyim t menegaskan bahwa lebah adalah hewan yang paling banyak manfaat dan berkahnya. Oleh karena itu, Allah l anugerahkan kepadanya ilham dan hidayah secara khusus. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 167, lihat Tafsir Ibnu Katsir pada surat an-Nahl: 69)
Coba cermati kisah Nabi Sulaiman q dengan semut, yang diabadikan oleh Allah l dalam Al-Qur’an.
Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia, dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan). Hingga apabila mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, “Wahai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (an-Naml: 17—18)
Keajaiban semut cukup banyak, di antaranya adalah:
1. Semut adalah hewan yang suka menasihati untuk kemaslahatan bangsa semut.
2. Nasihat yang disampaikan oleh seekor semut pada ayat di atas didengar oleh semua kalangan semut. Hal ini memiliki dua kemungkinan:
a. Suaranya didengar langsung oleh semut-semut lain di lembah tersebut. Ini berarti Allah l menganugerahkan pendengaran yang luar biasa kepada mereka. Ini adalah keajaiban yang sangat menakjubkan.
b. Suaranya didengar oleh sebagian semut yang ada di sekitarnya, lalu disampaikan kepada semut-semut lain hingga tersebar ke seluruh penjuru lembah. (Taisir al-Karim ar-Rahman, pada surat an-Naml: 17—18)
3. Semut memiliki sarang khusus untuk masing-masing jenis. Masing-masing jenis tidak masuk ke sarang jenis semut yang lain. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 168—169)
Ibnul Qayyim t menuturkan bahwa semut adalah hewan yang paling giat dan rajin. Semut menjadi contoh tentang perwujudan etos kerja yang tinggi. Semut juga dikenal sebagai hewan yang sangat ekonomis, tidak suka menghambur-hamburkan apa yang dimilikinya. Selain itu, semut juga dianugerahi oleh Allah l daya cium yang sangat tajam. Semut mampu mencium keberadaan makanannya dari jarak yang jauh. Semut juga dikenal sebagai hewan yang suka bergotong-royong, berjiwa sosial yang tinggi, memerhatikan kepentingan umum, dan tidak egois. Tidak ada istilah “korupsi makanan untuk kepentingan pribadi”. Hewan yang penyabar, pantang menyerah, dan panjang akal (cerdas). Yang lebih menakjubkan, meskipun semut tidak memiliki pemimpin yang mengatur layaknya bangsa lebah, namun mereka memiliki sifat-sifat tersebut di atas. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 168—171)
Masih banyak lagi keajaiban-keajaiban yang ada pada makhluk ciptaan Allah l. Semua itu menunjukkan keluasan dan keragaman hidayah (petunjuk) Allah l kepada makhluk-Nya, sekaligus sebagai bukti kekuasaan dan kebesaran Pencipta alam semesta. Allah l berfirman:
“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Rabb-lah mereka dihimpunkan.” (al-An’am: 38) (lihat Syifa’ul ‘Alil hlm. 163—189, Kitab al-Adzkiya hlm. 263—373, karya Ibnul Jauzi t)
Ibnul Qayyim t dalam kitabnya, Badai’ul Fawaid (2/189), menyimpulkan, “Barang siapa merenungkan sebagian hidayah (petunjuk) Allah l yang tersebar di alam raya ini, dia akan mempersaksikan bahwa tiada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah l. Dialah Dzat Yang Maha Mengetahui urusan yang ghaib dan yang tampak, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”
Wallahu a’lam.

 

Menggapai Hidayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Afifuddin)

Sudah menjadi kesepakatan para nabi dan rasul, tertera pula dalam seluruh kitab suci, bahwa Allah l menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menganugerahkan hidayah kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Barang siapa yang disesatkan oleh Allah l maka tidak ada seorang pun yang mampu memberinya hidayah. Adapun orang yang telah diberi hidayah oleh Allah l maka tiada seorang pun yang sanggup menyesatkannya. Yang mendapatkan hidayah dan yang sesat adalah hamba. Adapun yang memberikannya adalah Pencipta hamba (Allah l). (Syifa’ul ‘Alil hlm. 161, cet. 2 tahun 1997 M, Kairo)
Menurut Ibnul Qayyim t, ketetapan dan anugerah nikmat paling afdhal yang dianugerahkan oleh Allah l kepada seorang hamba adalah hidayah, sedangkan musibah terbesar yang Dia timpakan kepada seorang hamba adalah kesesatan. Semua kenikmatan yang dirasakan oleh seorang hamba, posisinya masih di bawah nikmat hidayah. Begitu pula, segenap musibah yang dirasakan oleh seorang hamba jauh lebih ringan dibandingkan dengan musibah kesesatan. (Syifa’ul ‘Alil hlm. 161)
Oleh karena itu, sudah semestinya hidayah menjadi dambaan setiap insan beriman, sebagaimana kesesatan menjadi momok yang sangat menakutkan siapa pun yang memiliki akal pikiran.
Betapa tidak. Hidayah adalah kunci kebahagiaan dunia dan jalan menuju surga. Sebaliknya, kesesatan adalah biang kesengsaraan di dunia dan titian menuju neraka. Maka dari itu, tiada cita-cita yang lebih mulia dan aktivitas yang lebih berharga selain perjuangan menggapai hidayah untuk meraih ‘tiket’ menuju surga.
Pembaca yang budiman, para ulama kita menyebutkan empat penggunaan kata hidayah dalam Al-Qur’an.
1. Hidayah umum untuk segenap makhluk
2. Hidayah al-irsyad wal bayan
3. Hidayah at-taufiq wal ilham
4. Hidayah bagi ahlul jannah (penduduk surga) untuk masuk ke dalam surga, dan hidayah bagi ahlun nar (penduduk neraka) untuk masuk ke dalamnya.

Meraih Hidayah dengan Dakwah Salafiyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc.)

Nikmat Hidayah di Tengah Beragam Dakwah
Hidayah merupakan nikmat yang paling berharga dalam kehidupan ini. Setiap muslim sejati pasti mendambakan hidayah. Dengan hidayah itu, ia akan berbahagia dalam kehidupan dunia yang sedang dijalaninya dan dalam kehidupan akhirat yang kelak akan dihadapinya. Terlebih belakangan ini, manakala beragam dakwah semakin meruak di tengah umat. Masing-masing menyeru kepada manhaj (prinsip beragama) yang diusung dan mengklaim sebagai satu-satunya jalan menuju hidayah. Ikhwanul Muslimin (IM) dengan ‘Tarbiyah’-nya, Hizbut Tahrir (HT) dengan gerakan ‘Syabab’-nya, Jama’ah Tabligh (JT) dengan aktivitas ‘Khuruj’-nya, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dengan gebyar ‘Penegakan Syariat Islam’-nya, JIL (Jaringan Islam Liberal) dengan ‘Islam warna-warni’-nya, dan sebagainya. Semuanya saling berlomba untuk mengenalkan dakwahnya dan menyeru umat kepadanya.
Fenomena di atas—tak bisa dimungkiri—cukup membingungkan kebanyakan ‘orang awam’. Bahkan, sebagian pegiat dakwah (dai) tidak mampu memilahnya. Berbagai ungkapan kebingungan pun muncul, “Saya harus ikut yang mana?” atau, “Saya jadi bingung, karena penampilannya sepintas mirip”, “Mana yang benar?”, “Mana yang dapat mengantarkan kepada hidayah?” dan berbagai kalimat lainnya.
Namun, tak semua orang bisa mendapatkan nikmat hidayah, karena hidayah adalah milik Allah l. Dia l Maha Berhak memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Allah l berfirman:
“Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
Tidak mengherankan, Allah l memerintahkan setiap hamba untuk memohon hidayah tersebut di setiap rakaat dalam shalatnya.
“Berilah kami hidayah (kepada) jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)
Bahkan Allah l memerintahkannya untuk memohon keteguhan hati (istiqamah) di atas hidayah tersebut manakala telah diraihnya.
“Wahai Rabb kami, janganlah Engkau sesatkan hati-hati kami setelah Engkau beri kami hidayah dan karuniakanlah kepada kami kasih sayang dari sisi-Mu.

Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Pemberi.” (Ali Imran: 8)

Dakwah Salafiyah, Jalan Menuju Hidayah
Para pembaca yang mulia, sesungguhnya dakwah yang harus diikuti dan dapat mengantarkan kepada hidayah hanyalah dakwah salafiyah. Mengapa? Karena dakwah salafiyah adalah kelanjutan dakwah Rasulullah n, bukan dakwah yang muncul belakangan. Asasnya adalah Al-Qur’anul Karim, bimbingan (sunnah) Rasulullah n, dan prinsip salafush shalih (pendahulu terbaik umat ini dari kalangan sahabat Rasulullah n, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in). Misinya adalah mengajak umat manusia untuk memahami dan menjalani agama Islam sebagaimana yang dipahami dan dijalani Rasulullah n dan as-salafush shalih.
Rasulullah n bersabda:
سَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلاَثَةٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلاَّ وَاحِدَةً. قِيلَ: مَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِيْ
“Umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan. Semuanya masuk neraka, kecuali satu golongan.” Beliau ditanya, “Siapakah dia, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Golongan) yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya “Kitabul Iman Bab Iftiraqul Hadzihil Ummah”, dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-‘Ash c)1
Targetnya di dunia adalah terciptanya kehidupan Islami yang penuh barakah, bersendikan iman dan amal saleh. Sebagaimana firman Allah k:
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah hanya kepada-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan-Ku.” (an-Nur: 55)
Adapun targetnya di akhirat adalah mendapatkan ridha Allah l dan masuk ke dalam surga (al-Jannah) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Sebagaimana firman Allah k:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari kalangan sahabat Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah, dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga (al-Jannah) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah kesuksesan yang agung.” (at-Taubah: 100)2
Syiar utamanya adalah kembali kepada Al-Qur’anul Karim dan bimbingan (sunnah) Rasulullah n, dengan pemahaman as-salafush shalih (pendahulu terbaik umat ini dari kalangan sahabat Rasulullah n, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in) dalam setiap permasalahan agama. Sebagaimana firman Allah k:
“Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)
“Dan barang siapa menentang Rasul setelah jelas baginya petunjuk, dan mengikuti selain jalan orang-orang yang beriman3, Kami biarkan ia leluasa bergelimang dalam kesesatan dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”(an-Nisa’: 115)
Demikian pula sabda Rasulullah n:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيْرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ
“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku nanti, niscaya akan melihat perselisihan yang banyak (dalam memahami agama ini). Oleh karena itu, wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnah (bimbingan)ku dan sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang terbimbing. Gigitlah ia dengan gigi-gigi geraham kalian (maksudnya, berpeganglah erat-erat dengannya, pen.)… (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, ad-Darimi, Ibnu Majah, dan yang lainnya dari sahabat al-‘Irbadh bin Sariyah z. Lihat Irwa’ul Ghalil, hadits no. 2455)
Seruannya senantiasa tegak di atas ilmu (bashirah). Allah k berfirman:
“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku menyeru (kalian) kepada Allah dengan ilmu yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik’.” (Yusuf: 108)
Adapun jalan (thariqah)nya senantiasa terbimbing di atas hikmah, pengajaran yang baik, dan diskusi ilmiah dengan cara yang baik pula. Allah k berfirman:
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pengajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)
Lebih dari itu, dakwah salafiyah adalah dakwah bijak yang sangat memerhatikan hubungan antara hamba dengan Allah l dan hamba dengan sesamanya. Sifatnya terbuka untuk seluruh umat manusia sepanjang masa (universal), dan tidak bersifat eksklusif atau kekelompokan (hizbiyah).
Dengan dakwah salafiyah, umat manusia—yang sebelumnya berada dalam jurang kejahiliahan— terbimbing meraih hidayah. Sekian banyak orang yang sebelumnya tenggelam dalam bid’ah dan kesesatan mendapatkan hidayah kepada as-Sunnah. Dua kekaisaran adikuasa dunia saat itu (Romawi dan Persia) dapat ditaklukkan dan tidak sedikit dari mereka yang mendapatkan hidayah Islam. Demikian pula negeri-negeri kafir yang sebelumnya dipenuhi kesyirikan dan kemaksiatan berubah menjadi negeri tauhid dan takwa yang berlimpah rahmat.
Demikianlah dakwah salafiyah. Tidaklah masuk kepada sebuah pribadi kecuali membuatnya penuh rahmat. Tidaklah masuk ke dalam keluarga kecuali membuat mereka penuh rahmat. Tidaklah masuk kepada suatu kaum kecuali membuat mereka penuh rahmat. Bahkan, tidaklah masuk ke sebuah negeri melainkan membuatnya penuh rahmat. Sejarah telah mencatat bahwa dakwah salafiyah merupakan rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Dakwah Salafiyah di Mata Sebagian Masyarakat
Di mata sebagian masyarakat, dakwah salafiyah tak ubahnya aliran atau sekte sesat. Terkhusus belakangan ini, seiring semakin berkembangnya berbagai aliran dan sekte sesat, baik yang baru atau sekadar berganti baju. Dengan informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah, mereka cenderung emosi atau mengedepankan sikap curiga dengan dalih kewaspadaan. Prinsip ‘pukul rata’ dengan dalil-dalil keumuman atau hukum mayoritas pun menjadi alasan dalam menyikapi semua itu.
Para pembaca yang mulia, alasan atau cara pandang sebagian masyarakat dalam menilai dan menyikapi dakwah salafiyah di atas, tidak bisa dibenarkan secara syar’i. Adalah dilarang dalam agama kita yang mulia untuk menilai dan menyikapi sesuatu dengan informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah. Bahkan, Islam membimbing umatnya agar mengedepankan sikap ilmiah dan proporsional dalam menilai serta bersikap. Semua itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban di sisi Allah l Rabb semesta alam. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)
Demikianlah, Islam melarang umatnya menilai dan bersikap dengan menggunakan dalil-dalil keumuman atau hukum mayoritas, karena itu merupakan prinsip kaum jahiliah yang dahulu dijadikan alasan untuk menentang dakwah para rasul yang mulia.
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara prinsip kaum jahiliah adalah menilai kebenaran dengan jumlah mayoritas dan kesalahan dengan jumlah minoritas. Menurut mereka, segala sesuatu yang diikuti kebanyakan orang berarti benar, sedangkan yang diikuti segelintir orang berarti salah. Inilah patokan yang ada pada mereka dalam menilai kebenaran dan kesalahan. Padahal patokan tersebut tidak benar, karena Allah l berfirman:
“Dan jika kamu menuruti mayoritas orang-orang yang ada di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah k).” (al-An’am: 116)
Allah l juga berfirman:
“Tetapi mayoritas manusia itu tidak mengetahui.” (al-A’raf: 187)
“Dan Kami tidak mendapati mayoritas mereka memenuhi janji. Sesungguhnya Kami mendapati mayoritas mereka orang-orang yang fasik.” (al-A’raf: 102)
dan sebagainya.” (Syarh Masail al-Jahiliyyah, hlm. 60)
Maka dari itu, sedikitnya pengikut suatu dakwah, tidak lazimnya cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang), atau penampilan yang berbeda dengan keumuman, bukanlah alasan untuk memvonis salah atau sesatnya sebuah dakwah. Bukankah dakwah para rasul yang mulia—di awal kemunculannya—juga tidak umum dan tidak lazim di mata kaumnya?! Bukankah tidak sedikit dari para rasul tersebut yang dimusuhi dan ditentang dakwahnya? Sebagian mereka hanya diikuti segelintir orang. Bahkan, sebagian lainnya tak ada yang mengikutinya! Namun, semua itu tidak mengurangi nilai dakwah yang mereka emban. Tidak pula menjadikan dakwah mereka divonis salah atau sesat. Allah l berfirman:
“Dan tidaklah beriman bersamanya (Nuh) kecuali sedikit.” (Hud: 40)
Rasulullah n bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ اْلأُمَمُ، فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ، وَالنَّبِيَّ وَمعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ، وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ
“Telah ditampakkan kepadaku beberapa umat, maka aku melihat seorang nabi yang bersamanya kurang dari sepuluh orang, seorang nabi yang bersamanya satu atau dua orang, dan seorang nabi yang tidak ada seorang pun yang bersamanya.” (HR. al-Bukhari no. 5705, 5752, dan Muslim no. 220, dari sahabat Abdullah bin Abbas c)
Asy-Syaikh Sulaiman bin Abdullah Alusy Syaikh t berkata, “Hadits ini mengandung bantahan terhadap orang yang berdalil dengan hukum mayoritas dan beranggapan bahwa kebenaran itu selalu bersama jumlah yang banyak. Padahal tidaklah demikian adanya. Yang semestinya adalah mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah bersama siapa saja dan di mana saja.” (Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 106)

Menelisik Kehidupan Komunitas Salafi
Pembahasan tentang komunitas salafi (orang-orang yang menyambut dakwah salafiyah dan berupaya meniti jejak as-salafush shalih dalam kehidupan beragama) tidak bisa dipisahkan dengan dakwah salafiyah, karena keduanya saling terkait.
Dalam kehidupan bermasyarakat, tak bisa dimungkiri bahwa komunitas salafi sering mendapatkan perlakuan yang berbeda di tengah masyarakatnya. Sebabnya bermacam-macam. Bisa jadi, karena informasi yang sangat terbatas atau setengah-setengah tentang mereka. Bisa jadi, karena dianggap tidak lazim cara ibadah yang dilakukan (tidak seperti kebanyakan orang). Bisa jadi, karena penampilan mereka yang berbeda dengan keumuman. Bisa jadi pula, karena anggapan bahwa mereka seperti malaikat, yang tak mungkin terjatuh dalam dosa dan maksiat.
Sebab yang pertama, kedua, dan ketiga, alhamdulillah telah dibahas dalam sub judul sebelum ini. Adapun sebab yang ketiga, berikut inilah pembahasannya.
Para pembaca yang mulia, sesungguhnya manusia—setinggi apapun keimanannya—tak sama dengan malaikat. Manusia adalah makhluk yang berkarakter dasar amat zalim (zhalum) dan amat bodoh (jahul). Bahkan, mayoritas mereka lalai dari ayat-ayat Allah l. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)
“Dan sesungguhnya mayoritas dari manusia benar-benar lalai dari ayat-ayat Kami.” (Yunus: 92)
Adapun malaikat adalah makhluk yang tak pernah mendurhakai Allah l sesaat pun. Mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Bahkan, mereka selalu bertasbih kepada Allah l malam dan siang tiada henti-hentinya. Allah l berfirman:
“(Para malaikat itu) tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
“Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (al-Anbiya: 20)
Demikian pula dengan komunitas salafi. Layaknya manusia, mereka tidak akan luput dari kesalahan dan dosa. Di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri. Ada yang pertengahan dan ada pula yang lebih dahulu berbuat kebaikan. Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah l:
“Kemudian Kitab (Al-Qur’an) itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri, di antara mereka ada yang pertengahan, dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan4 dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Mereka semua termasuk yang dipilih Allah l untuk mewarisi Al-Kitab (Al-Qur’an), walaupun tingkatan dan keadaan mereka berbeda-beda. Masing-masing mendapatkan porsi tertentu untuk mewarisi Al-Kitab, termasuk orang yang menganiaya diri sendiri. Karena prinsip keimanan, ilmu tentang keimanan, dan pengamalan tentang keimanan yang masih tersisa pada diri orang (yang menganiaya diri sendiri) tersebut merupakan bentuk pewarisan Al-Kitab tersebut. Karena maksud dari mewarisi Al-Kitab di sini adalah mengilmui dan mengamalkannya, mempelajari lafadz-lafadznya, dan mendulang makna yang dikandungnya.” (Taisir al-Karimirrahman, tafsir surah Fathir: 32)
Mungkin ada yang menyoal, “Apa ruginya jika dianggap seperti malaikat, bukankah itu sebagai rekomendasi?”
Memang, sepintas lalu terkesan sebagai rekomendasi. Namun, jika dicermati dengan saksama justru sebaliknya. Anggapan tersebut malah merugikan komunitas salafi itu sendiri. Bahkan, merugikan dakwah salafiyah yang merupakan jalan menuju hidayah.
Mengapa demikian? Karena anggapan tersebut berawal dari sikap berlebihan (ghuluw) dalam merekomendasi. Adalah nyata bahwa kesudahan ghuluw adalah petaka.
Berikutnya, ketika anggapan tersebut menjadi keyakinan di masyarakat, kemudian di antara komunitas salafi ada yang terjatuh dalam kesalahan atau dosa, masalahnya justru akan berbeda. Berbagai ungkapan kekecewaan akan bermunculan. “Masak orang salafi demikian?!” atau “Kelihatannya saja alim, tapi nyatanya zalim!”, “Penampilannya layaknya malaikat, tapi hakikatnya penjahat!”
Rekomendasi berbalik menjadi isolasi (pemboikotan). Kepercayaan berbalik menjadi kebencian. Dakwah salafiyah pun jadi perbincangan. Padahal sekiranya pelakunya itu anggota masyarakat selain mereka, kemungkinan besar tidak ada ungkapan seperti itu.
Para pembaca yang mulia, apabila kita memerhatikan dengan saksama fenomena di atas, ada beberapa pelajaran berharga yang dapat kita ambil. Di antaranya:
1. Bagi komunitas salafi, hendaknya menjaga nama baik dakwah salafiyah, dengan berupaya menjalankan segala ketaatan dan menjauhkan diri dari segala kemaksiatan. Berakhlak mulia, berkata santun, bijak dalam berdakwah, dan tidak menjadi juru fitnah yang membuat orang lari dari dakwah salafiyah.

2. Bagi masyarakat, hendaknya tidak berlebihan menyikapi komunitas salafi. Tidak berlebihan dalam merekomendasi dan tidak berlebihan pula mengkritisi mereka. Sikap ilmiah dan proporsional sangat dibutuhkan dalam semua itu.
3. Kesalahan oknum dari komunitas salafi tidak berarti dakwah salafiyah yang diikutinya salah atau sesat, karena keadaan oknum dapat berubah-ubah seiring naik dan turunnya keimanan. Adapun keadaan dakwah salafiyah tidak berubah dan senantiasa di atas kemuliaan.
Demikianlah yang dapat kami sajikan dalam kesempatan kali ini. Semoga menjadi pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk bagi pencari kebenaran.
Amin, ya Rabbal ‘Alamin…

 

Catatan Kaki:

1 Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad ad-Dahlawi al-Madani t berkata, “Hadits ini adalah nash (dalil, pen.) bagi apa yang diperselisihkan karena dengan tegas Rasul n menjelaskan tiga hal:
1. Umat Islam sepeninggal beliau akan berselisih serta bergolong-golongan yang berbeda pemahaman dan pendapat dalam memahami agama. Semuanya masuk neraka, karena masih berselisih dalam permasalahan agama walaupun telah datang (kepadanya) keterangan dari Rabb semesta alam.
2. Ada satu golongan yang diselamatkan oleh Allah l karena mereka berpegang teguh dengan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah n, serta mengamalkan keduanya tanpa takwil dan penyimpangan.
3. Rasulullah n telah menentukan golongan yang selamat di antara sekian banyak golongan itu. Golongan yang selamat itu hanya satu. Mereka memiliki ciri-ciri yang khusus, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Rasulullah n sendiri (dalam hadits tersebut) yang tidak lagi membutuhkan takwil dan tafsir. (Tarikh Ahlil Hadits, hlm. 78—79)
Tentunya, golongan yang ditentukan Rasulullah n itu adalah yang mengikuti dakwah salafiyah karena jalan yang mereka tempuh dalam kehidupan beragama ini adalah jalan Rasulullah n dan para sahabatnya (as-salafush shalih).

2 Dalam ayat ini Allah l tidak mengkhususkan ridha dan jaminan al-Jannah (surga)-Nya untuk para sahabat Muhajirin dan Anshar (as-Salaf) semata. Akan tetapi, orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik pun mendapatkan ridha Allah l dan jaminan al-Jannah seperti mereka.
3 Al-Imam Ibnu Abi Jamrah al-Andalusi t berkata, “Para ulama telah menjelaskan makna firman Allah l (di atas) bahwa yang dimaksud orang-orang mukmin di sini adalah para sahabat Rasulullah n dan generasi pertama dari umat ini.” (al-Marqat fi Nahjis Salaf Sabilun Najah, hlm. 36—37)

4 Yang dimaksud dengan orang yang menganiaya dirinya sendiri ialah orang yang lemah dalam mengerjakan suatu kewajiban dan masih melakukan sesuatu yang diharamkan. Yang dimaksud pertengahan ialah orang-orang yang mengerjakan semua kewajiban dan meninggalkan semua yang diharamkan, namun terkadang dia meninggalkan sesuatu yang sunnah dan mengerjakan sesuatu makruh. Adapun yang dimaksud dengan orang-orang yang lebih dahulu dalam berbuat kebaikan ialah orang-orang yang mengerjakan semua kewajiban dan yang disunnahkan, serta meninggalkan segala sesuatu yang haram, makruh, dan sebagian hal yang mubah. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surah Fathir ayat 32)

 

 

Surat Pembaca edisi 64

Halaman Bersambung Tidak Mengapa
Afwan menurut ana majalah Asy-Syariah sudah bagus susunan halamannya. Keluhan beberapa pembaca tentang halaman yang bersambung sebenarnya kurang beralasan karena halaman terusannya sudah ditulis keterangannya dan mudah dicari. Jika para ulama saja menjelajahi satu atau beberapa negeri untuk mendapat satu hadits, kenapa kita mengeluh sekadar membuka beberapa lembar halaman berisi ilmu yang ada di depan mata?

Abu Yahya
085228xxxxxx

Jazakumullahu khairan atas masukannya. Kami tetap berupaya menyuguhkan tampilan yang lebih baik dari waktu ke waktu, insya Allah.

Antarjenis atau Sesama Jenis?
Dalam edisi IAIN Vol. VI/No. 63/1431 H/2010 hlm. 34, penggunaan istilah “kawin antarjenis” terasa kurang tepat karena yang dimaksud adalah sejenis.

Ummu Shafiyah-Lampung
081397xxxxxx

Anda benar, yang dimaksudkan memang kawin sesama jenis. Karena kekurangcermatan kami dalam mengedit, hal tersebut luput dari perhatian kami. Jazakillahu khairan.

Kalimat Rancu
Pada hlm. 41 tertulis, “Liberalisme sangat berbahaya apabila masuk dalam arena agama. Bukan hanya Islam yang terancam, bahkan semua agama.” Terpahami bahwa semua agama benar dan menjadi rusak dengan sebab liberalisme, apakah demikian? Mohon penjelasannya.

Abu Muhammad-Ngawi
081946xxxxxx

Kalimat tersebut untuk menunjukkan bahwa liberalisme dibenci oleh semua pemeluk agama dan semua merasa terancam dengannya. Ini berarti semua sepakat termasuk non-muslim (orang-orang kafir) bahwa liberalisme adalah perusak. Jazakumullahu khairan.

Rubrik “Jejak” Agar Dibukukan
Untuk rubrik surat pembaca, kemana mengirimnya? Ana sangat berharap agar Asy-Syariah membuat bundel atau membukukan rubrik “Jejak”, sangat bagus dan membangkitkan semangat.

Abu Atthayyar-Dumai
087892xxxxxx

Masukan, kritik, ataupun saran kepada redaksi yang dimuat di “Surat Pembaca”, dapat dikirim melalui SMS, email, ataupun surat. Nomor HP Redaksi, alamat email, dan alamat kantor bisa Pembaca lihat di halaman pertama majalah kita ini.
Tentang rencana membukukan sejumlah rubrik dari majalah Asy-Syariah, termasuk rubrik “Jejak”, insya Allah sudah kami agendakan. Semoga apa yang Anda usulkan bisa kami realisasikan segera.
Jazakumullahu khairan.

 

BERJUANG MENGGAPAI HIDAYAH

Memperoleh hidayah memeluk Islam adalah nik-mat besar yang dikaruniakan Allah l kepada kita. Dari sekian miliar manusia yang hidup di muka bumi ini, alhamdulillah, kita menjadi bagian dari sekitar satu miliar manusia yang memeluk Islam. Yang lebih patut untuk disyukuri, kita terlahir di dunia ini sudah berada dalam lingkungan Islam. Sejak kecil kita telah menikmati anugerah hidayah ini tanpa ada tekanan, ancaman, gangguan, ataupun siksaan.

Namun, tidak lantas semuanya berhenti hingga di sini. Kita mesti meraih hidayah yang lebih agung dan khusus yakni hidayah As-Sunnah. Tidak semua orang yang diberi hidayah kepada Islam bisa mendapatkan hidayah untuk mengamalkan Islam sesuai dengan sunnah Rasulullah n. Bahkan, telah menjadi ketetapan Allah l, banyak kaum muslimin yang justru menyimpang, menjauh dari ajaran Rasulullah n. Padahal, setiap orang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan memeluk Islam dituntut untuk mempelajari serta mengamalkan Islam sesuai dengan bimbingan Sunnah Rasulullah n. Dia harus mengaplikasikan Islam secara kaffah dalam kehidupannya.
Inilah makna hidayah yang sesungguhnya. Hidayah di atas jalan yang lurus. Hidayah di atas As-Sunnah. Meski tentu saja, tingkat keutamaan dan kedudukan manusia yang berada di atas hidayah ini, akan berbeda satu sama lain tergantung pengamalan sunnahnya serta dosa dan kemaksiatan yang dilakukannya. Bahkan, tak menutup kemungkinan, hidayah ini akan pudar dan hilang dari dirinya apabila dia terjatuh dalam jurang penyimpangan dan kesesatan. Bisa jadi pula luput dari hidayah Islam, jika ia murtad atau melakukan pembatal keislaman dan ketauhidan.
Hidayah taufik sendiri memang murni di tangan Allah l. Allah l memberikannya kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Akan tetapi, tidak berarti bahwa kita pasif dan berpangku tangan menunggu datangnya hidayah. Termasuk tuntunan salafus shalih adalah aktif mencari dan mengejar hidayah, mengorbankan segala yang ada, baik harta maupun nyawa, untuk meraih hidayah. Betapa banyak kisah kesabaran mereka dalam mempertahankan hidayah, karena mereka mengetahui mahalnya nilai hidayah, agungnya anugerah hidayah, serta besarnya keutamaan orang-orang yang istiqamah di atas hidayah.
Maka dari itu, setiap hamba disyariatkan untuk menjalani hal-hal yang membuahkan hidayah. Adapun hasil akhirnya, Allah l lah yang menentukan. Orang-orang yang menerima hidayah dan istiqamah di atasnya hingga akhir hayat, akan diberi petunjuk masuk ke dalam surga sebagai buah perjuangan mereka. Oleh karena itu, di samping menjalani sebab hidayah, kita semua tidak boleh lupa untuk selalu memanjatkan doa agar diberikan keistiqamahan.
Seyogianya pula kita terus menjaga kesempurnaan hidayah ini dan tetap teguh atau istiqamah di atasnya, dengan cara semakin bersemangat mengkaji bimbingan As-Sunnah, mengamalkannya dalam kehidupan keseharian, dan mendakwahkannya kepada umat sesuai dengan kemampuan kita.
Tegasnya, hidayah harus terus diperjuangkan, terlebih ada semangat syariat yang mesti digelorakan!

DOA MEMOHON HIDAYAH

“Berilah kami petunjuk kepada jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 6)
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon selalu dari-Mu hidayah, takwa, sikap ‘iffah, dan kekayaan.” (HR. Muslim no. 4898)
DOA MEMOHON ISTIQAMAH

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan kalbu, tetapkanlah kalbuku di atas agama-Mu.” (HR. at-Tirmidzi no. 2140)