Meneladani Akhlak Nabi

(ditulis oleh: al-Ustadz Muhammad Rijal Isnain, Lc.)

Dalam sebuah hadits, Abu Hurairah z meriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ
“Sungguh aku diutus menjadi Rasul tidak lain adalah untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik).”
Pada sebagian riwayat:
لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
“Untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”

Islam adalah agama yang penuh keindahan. Ia dibangun di atas akidah tauhid yang bersih dari kesyirikan. Ia membebaskan manusia dari penghambaan kepada makhluk, hingga cinta dan peribadatan hanya untuk Allah Rabbul ‘Alamin. Allah l berfirman:
Katakanlah, “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162—163)
Ibadahnya mudah, tidak membebani. Dengannya jiwa menjadi suci dan dada menjadi lapang. Muamalahnya adil dan jauh dari kezaliman, mewujudkan suasana bantu-membantu di atas takwa dan kebaikan. Demikian pula akhlak yang dibawa oleh Islam adalah akhlak yang agung dan menakjubkan.
Tentang keindahan Islam ini, asy-Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di t (wafat tahun 1376 H) mengatakan, “Islam memerintahkan segala amalan kebaikan, akhlak-akhlak mulia, dan seluruh kemaslahatan manusia. Islam mengajarkan keadilan, keutamaan, kasih sayang dan semua kebajikan. Sebaliknya, Islam melarang kezaliman, penyimpangan, dan akhlak-akhlak yang tercela. Tidak ada satu sisi kebaikan pun yang dibawa oleh para nabi dan rasul melainkan syariat Rasulullah n menetapkannya. Demikian pula, tidak ada satu maslahat pun baik duniawi maupun ukhrawi yang diseru oleh syariat nabi-nabi terdahulu melainkan syariat Muhammad n juga menyeru kepadanya. Demikian pula segala kerusakan, syariat Islam melarangnya dan memerintahkan agar dijauhi.” (ad-Durrah al-Mukhtasharah fi Mahasini ad-Dinil Islami)
Keindahan Islam demikian terang. Keagungannya tidak pernah sirna dan padam hingga akhir zaman. Namun, seperti disabdakan Rasulullah n, Islam akan menjadi asing sebagaimana dahulu datang pertama kali. Keindahan itu seolah-olah pudar, tidak lagi dikenal oleh kebanyakan manusia. Sesungguhnya banyak sebab yang melatarbelakangi pudarnya keindahan tersebut pada benak kebanyakan manusia, kecuali sedikit dari orang yang dirahmati oleh Allah l. Ironinya, di antara sebab-sebab itu justru muncul dari tubuh kaum muslimin.
Sebagian firqah (kelompok sempalan) dalam Islam bersikap ekstrem (ghuluw) dalam berdakwah, beramar ma’ruf nahi mungkar. Mereka tidak berlaku hikmah dalam mengingkari kemungkaran, cenderung kepada kekerasan dan perusakan. Bahkan, sebagian mereka sangat mudah memberi vonis kekafiran, seperti yang muncul dari orang-orang yang berpaham Khawarij. Bukan kemungkaran yang hilang, melainkan yang muncul adalah kemungkaran yang lebih besar. Lihatlah misalnya sejarah Khawarij pada masa Utsman bin ‘Affan dan Ali c.1 Bukan kemungkaran yang mereka ingkari, namun kehormatan manusia terbaik saat itu dan persatuan kaum muslimin yang mereka nodai.
Di sisi lain, ada firqah yang meninggalkan penghidupan dunia hingga anak istri pun tidak terurus. Anehnya, mereka berdalih dengan tawakal. Hal ini seperti yang terjadi dalam firqah-firqah yang dibangun di atas akidah Sufi. Mereka meninggalkan ilmu Al-Kitab dan As-Sunnah, amar ma’ruf nahi mungkar, tidak peduli kesyirikan merajalela dengan alasan dakwah tauhid memecah-belah umat. Mereka pun tenggelam dalam kebid’ahan bahkan kesyirikan.
Lalu di manakah Islam yang sesuai dengan kehendak Allah l dan Rasul-Nya? Orang yang tidak mengerti akan bimbang menghadapi kenyataan yang ada, meskipun menara al-haq telah dipancangkan.
Keadaan semakin diperparah oleh propaganda musuh-musuh Islam yang terus berusaha merusak citra Islam dengan berbagai caci-maki dan tuduhan. Bahkan, mereka berusaha mengelabui manusia dengan memasukkan pemikiran sesat melalui institusi-institusi berlabel Islam. Tersebarlah imej bahwa Islam adalah agama yang tidak berakhlak, dakwah Ahlus Sunnah adalah dakwah yang keras dan tidak memiliki hikmah, atau tuduhan-tuduhan senada yang disandangkan kepada agama yang suci dan agung ini.
Kajian hadits berikut kami harapkan bermanfaat bagi kaum muslimin sehingga mereka bisa melihat kembali sebagian keindahan Islam yang dibawa oleh Rasulullah n, kesempurnaannya dan ketinggian akhlak yang beliau n ajarkan. Semoga Allah l membimbing kita untuk kembali pada akhlak Nabi n.

Takhrij Hadits
Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/381), Ibnu Sa’d dalam ath-Thabaqat (1/192), al-Bazzar dalam al-Musnad (no. 2740—Kasyful Astar), ath-Thahawi dalam Syarah Musykilul Atsar (no. 4432), al-Baihaqi dalam as-Sunan (10/191—192) dan Syu’abul Iman (no. 7977 dan 7978), al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad (no. 273) dan at-Tarikhul Kabir (7/188), al-Hakim dalam al-Mustadrak (2/613), al-Qudha’i dalam Musnad asy-Syihab (no. 1165), Ibnu Abi ad-Dunya dalam Makarimul Akhlaq (no. 13), serta Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhid (24/333—334).
Semua meriwayatkan hadits ini melalui jalan Muhammad bin ‘Ajlan, dari al-Qa’qa’ bin Hakim, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah z.
Sebagian meriwayatkan dengan lafadz “shalihal akhlaq” sedangkan yang lainnya dengan lafadz “makarimal akhlaq.”
Hadits di atas adalah sahih, walhamdulillah. Perawi-perawinya tsiqah. Hadits ini juga memiliki syahid (penguat) dari hadits Mu’adz bin Jabal z dalam riwayat al-Bazzar (no. 1973) dan ath-Thabarani (20/120). Demikian juga syahid dari hadits Jabir bin Abdillah z yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman (no. 7979).
Abu Abdillah al-Hakim an-Naisaburi mensahihkan hadits ini dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Lihat al-Mustadrak (2/613).
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah (1/112) berkata, “Sanad hadits ini hasan … Ibnu Abdil Barr berkata dalam at-Tamhid (24/333—334) bahwa hadits ini shahih muttashil (bersambung sanadnya) hingga Rasul n, melalui jalan-jalan yang sahih dari Abu Hurairah z dan lainnya.”

Fiqih Hadits
Al-Munawi t berkata, “Sabda Rasulullah n ‘innama bu’itstu’ maknanya adalah aku dibangkitkan—yakni diutus menjadi rasul—tidak lain untuk menyempurnakan akhlak yang saleh (baik), karena sebagian riwayat menyebutkan ‘untuk menyempurnakan akhlak yang karimah (mulia)’ (yakni aku diutus untuk menyempurnakannya) yang sebelumnya kurang, dan aku (diutus untuk) mengumpulkan yang sebelumnya tercerai-berai ….” (Lihat Faidhul Qadir, 2/572))
Memaknai hadits Abu Hurairah z di atas, Ibnu Abdil Barr t mengatakan bahwa kebaikan, agama, keutamaan, muru’ah (kemuliaan), ihsan (perbuatan baik), dan keadilan, semuanya tercakup dalam makna hadits ini. Dengan semua kebaikan inilah Rasulullah n diutus untuk menyempurnakannya. (Lihat at-Tamhid lima fil Muwaththa’ minal Ma’ani wal Asanid, 24/332)
Dengan diutusnya Nabi n, Allah l menyempurnakan agama sebagaimana dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Ayat ini merupakan dalil bahwa tidak ada satu kebaikan pun—baik amalan lahir maupun batin, akidah, ibadah, muamalah, maupun akhlak—melainkan telah diterangkan oleh Rasulullah n dengan sempurna. Demikian pula, tidak ada satu kejelekan pun melainkan Rasulullah n telah memperingatkan umat darinya.
Di antara ayat yang juga menunjukkan kesempurnaan Islam—sebagai agama yang mengajarkan semua kemuliaan dan akhlak yang baik, serta melarang segala kemungkaran dan akhlak yang buruk—adalah firman Allah l:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (an-Nahl: 90)
Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di t berkata, “Keadilan yang diperintahkan oleh Allah l dalam ayat ini mencakup adil dalam (memenuhi) hak Allah l dan adil dalam hak hamba-hamba-Nya. Adil adalah memenuhi perintah-perintah-Nya yang terkait dengan harta, badan, atau keduanya, baik terkait dengan hak Allah l maupun hak hamba-hamba-Nya. Oleh sebab itu, seorang pemimpin—apakah ia imam (khalifah), qadhi (hakim), atau wakil keduanya—wajib bergaul dengan manusia secara adil yang sempurna dengan menunaikan hak-hak orang yang di bawah tanggung jawabnya … Termasuk keadilan (yang diperintahkan) adalah adil dalam bermuamalah. Maka dari itu, seseorang wajib berlaku adil dalam muamalah jual-beli atau muamalah lainnya, dengan menunaikan semua kewajiban, tidak menahan hak-hak manusia, tidak menipu mereka, tidak mengelabui atau menzaliminya … Jadi, ayat ini mengumpulkan semua perintah dan larangan. Tidak ada satu masalah pun kecuali masuk dalam ayat ini.” (Taisir al-Karimir Rahman secara ringkas, 4/332—333)

Akhlak Rasulullah n
Sebagai Rasul yang diutus untuk menyempurnakan akhlak dan semua kebaikan, beliau n telah memberikan teladan kepada umatnya secara sempurna melalui sabda dan amal perbuatan. Seluruh sisi kehidupan dan ucapan beliau sesungguhnya merupakan teladan akan kesempurnaan akhlak dan kemuliaan amalan. Ketinggian akhlak itu tecermin dalam hadits Aisyah x:
كاَنَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ
“Akhlak Rasulullah n adalah al-Qur’an.” (HR. Muslim)
Bahkan, Allah l memuji akhlak beliau dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)
Membicarakan akhlak Rasul n, ibarat seseorang yang menyeberang lautan tak bertepi, begitu luasnya. Meskipun demikian, marilah sejenak kita menyimak beberapa kisah dalam kehidupan Rasul n bersama umatnya yang dipenuhi keindahan akhlak dan keagungan budi pekerti.
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda, beliau n adalah sosok yang sangat dekat dengan umatnya, apapun keadaan mereka. Kaya, miskin, bangsawan, atau budak. Beliau bergaul dengan umat dengan penuh kelembutan dan akhlak mulia.
Allah l menyanjung baiknya akhlak Rasul n ini dalam firman-Nya:
“Maka disebabkan oleh rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (Ali Imran: 159)
Zahir, demikian nama seorang Arab badui. Meski memiliki bentuk dan wajah yang jelek namun Rasul n mencintainya. Zahir biasa datang ke Madinah mengunjungi Rasul n membawa hadiah dari desanya. Rasul n pun membalasnya dengan menyiapkan sesuatu sebelum Zahir pulang ke desa. Rasul n bersabda, “Zahir adalah badui kita, dan kita adalah orang kotanya dia (Zahir).”
Suatu hari Zahir berada di pasar kota Madinah menjual barang dagangan. Tanpa sepengetahuannya, Rasulullah n datang memeluknya dari belakang. Berkatalah Zahir, “Siapa ini? Lepaskan aku!”
Ketika Zahir menoleh, didapatinya ternyata Nabi n yang memeluknya. Ia pun membiarkan tubuhnya tetap bersatu dengan tubuh Rasul n.
Subhanallah, betapa indahnya pemandangan ini. Duhai, seandainya para bangsawan dan orang-orang yang merasa memiliki kemuliaan itu meneladani akhlak Rasul n dalam bergaul dengan saudara-saudaranya seiman meskipun miskin dan papa.
Tiba-tiba Rasul n bergurau dengan mengatakan, “Siapa yang mau membeli hamba ini (yakni Zahir)?”
Zahir segera menimpali, “Ya Rasulullah, berarti aku adalah orang yang tidak berharga?” Rasul n pun berkata, “Tidak demikian, sungguh engkau mahal di sisi Allah.” (Lihat kisah ini dalam asy-Syama’il al-Muhammadiyah karya at-Tirmidzi, disahihkan oleh al-Albani t dalam Mukhtashar asy-Syama’il no. 204)
Beliau n bukan orang yang berperilaku kasar atau berlisan tajam menyakitkan. Beliau n adalah sosok yang sangat lembut dan penuh kasih sayang. Terkadang beliau n bersenda gurau dengan para sahabatnya hingga mereka berkata, “Ya Rasulullah, engkau bersenda gurau dengan kami?” Beliau bersabda, “Ya, (aku bersenda gurau dengan kalian). Hanya saja, aku tidak pernah berkata selain yang benar.” (HR. at-Tirmidzi dalam asy-Syama’il no. 202 dari hadits Abu Hurairah z, disahihkan oleh al-Albani)
Pernah seorang sahabat datang kepada Rasul n meminta hewan tunggangan. Beliau n bersabda, “Kalau begitu sungguh aku akan naikkan engkau pada seekor anak unta!”
Rasulullah n bermaksud memberikan unta yang kuat, tetapi beliau n bahasakan dengan “anak unta” hingga sahabat ini menyangka bahwa “anak unta” yang beliau maksud adalah unta kecil yang tidak memiliki kekuatan. Demikianlah Rasul n bergurau.
Laki-laki ini pun berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang bisa kuperbuat dengan anak unta itu?”
Rasulullah n bersabda, “Bukankah semua unta (perkasa) adalah anak dari seekor unta betina?” (HR. al-Bukhari)
Subhanallah. Lihatlah gurauan Rasul n yang menyejukkan dan jauh dari kedustaan. Bukankah sepantasnya kita menyudahi banyak gurauan kita yang dipenuhi kedustaan dan cerita-cerita karangan? Ya Allah, berikan taufik kepada kami untuk mengikuti jalan Nabi-Mu.
Saudaraku, setelah kita melihat beberapa sisi kehidupan Rasulullah n yang diliputi kemuliaan akhlak, sejenak kita simak ucapan-ucapan beliau n tentang akhlakul karimah, yang Allah l utus beliau untuk menyempurnakannya.

Sabda Rasul n tentang Akhlak
Hadits-hadits Nabi n demikian beragam berbicara tentang akhlak. Terkadang berisi perintah dan anjuran untuk berhias dengan akhlak yang terpuji dalam bergaul dengan manusia. Ada kalanya beliau n menyebut besarnya pahala akhlak mulia dan beratnya pahala akhlak dalam timbangan. Pada kesempatan yang lain, beliau n memperingatkan manusia dari akhlak yang buruk dan tercela.
Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash z meriwayatkan bahwa Rasul n pernah bersabda:
إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا
“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari, 10/378 dan Muslim no. 2321)
Dalam hadits lain, Rasul n berpesan kepada Abu Dzar al-Ghifari dan Mu’adz bin Jabal untuk bergaul dengan manusia dengan akhlak yang baik dalam sabda beliau:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kamu kepada Allah di mana pun kamu berada. Iringilah kesalahanmu dengan kebaikan, niscaya ia dapat menghapusnya. Dan pergaulilah semua manusia dengan akhlak (budi pekerti) yang baik.”2 (HR. at-Tirmidzi no. 1987, beliau mengatakan, “Hadits ini hasan.” Dalam naskah lainnya dikatakan bahwa hadits ini hasan sahih.
Rasul n mengabarkan pula bahwa akhlak yang baik mampu mengejar amalan ahli ibadah. Dalam sebuah hadits Aisyah Ummul Mukminin berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ
“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu shalat dan berpuasa.” (HR. Abu Dawud no. 4798, disahihkan oleh al-Albani)
Ummu ad-Darda’ x meriwayatkan dari suaminya, Abu ad-Darda’ z, Rasulullah n pernah bersabda:
مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ
“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam al-mizan (timbangan) daripada akhlak yang baik.” (HR. Abu Dawud no. 4799, disahihkan oleh al-Albani)
Akhlak yang baik adalah sebab seseorang memperoleh derajat yang tinggi di jannah Allah k. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah sebab seseorang terhalangi dari kenikmatan jannah.
Dari Abu Umamah z, dia berkata, Rasulullah n bersabda:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسْطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحاً، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ
“Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tepi jannah bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak. Aku juga memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tengah jannah bagi yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam senda gurau. Aku juga menjanjikan sebuah rumah di jannah tertinggi bagi yang membaguskan akhlaknya.” (HR. Abu Dawud)
Dari al-Haritsah bin Wahb z, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةْ الَجوَّاظُ، وَلَا الْجَعْظَرِيُّ
“Tidak akan masuk jannah orang yang kasar dan kaku.” (HR. at-Tirmidzi)
Alhasil, sabda-sabda Nabi n sangat banyak dan beragam dalam mengungkapkan kedudukan akhlakul karimah dan kemuliaannya. Karena pentingnya akhlak, ulama ahlul hadits berusaha mengumpulkan hadits-hadits tersebut dalam kitab-kitab mereka. Al-Bukhari menulis al-Adabul Mufrad, Abu Dawud membuat sebuah kitab tentang adab dalam as-Sunan, at-Tirmidzi membuat kitab al-Birr was-Shilah dalam Sunan-nya. Bahkan, at-Tirmidzi menulis sebuah kitab khusus tentang perikehidupan Rasul n dari segala sisi, yang beliau beri judul asy-Syamail al-Muhammadiyah. Demikian pula yang dilakukan oleh ulama-ulama ahlul hadits lainnya dalam kitab-kitab mereka.

Memohon Akhlak yang Baik dan Berlindung dari Akhlak yang Buruk
Doa adalah sebesar-besar pintu kebaikan karena Allah l telah berjanji akan mengabulkan doa hamba-Nya. Itulah pintu kebaikan yang seharusnya seluruh hamba mengetuknya.
Rasulullah n memberikan teladan kepada umatnya agar berdoa memohon akhlak yang terpuji dan berlindung dari akhlak yang tercela. Dalam sebuah hadits, Ibnu Mas’ud z berkata, Rasulullah n berdoa:
اللَّهُمَّ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي
“Ya Allah, sebagaimana Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.” (HR. Ahmad, 1/403, Ibnu Hibban no. 959)
Doa ini bebas, bisa dibaca kapan saja seorang menghendaki dan tidak terikat dengan tempat atau keadaan. Doa ini bukan doa khusus saat bercermin. Memang benar, ada beberapa jalan dari hadits ini yang menjelaskan bahwa doa tersebut dibaca saat bercermin namun jalan-jalan itu sangat lemah.
Asy-Syaikh al-Albani t berkata setelah menyebutkan riwayat-riwayat hadits yang mengkhususkan doa tersebut saat bercermin, “Nyata sudah dari penjelasan yang telah lalu bahwa jalan-jalan ini semuanya lemah. Dan tidak mungkin dikatakan bahwa jalan-jalan itu saling menguatkan karena kelemahannya yang sangat. Oleh karena itu, tidak benar berdalil dengan hadits ini dalam hal disyariatkannya doa ini saat bercermin ….” (Irwa’ul Ghalil, 1/113—115)
Adapun isti’adzah (permohonan perlindungan) yang diajarkan oleh Rasul n disebutkan dalam riwayat berikut. Dari Ziyad bin ‘Ilaqah, dari pamannya3, ia berkata, “Adalah Rasulullah n selalu membaca doa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalan-amalan yang mungkar, dan dari hawa nafsu yang menyimpang.” (HR. at-Tirmidzi no. 3591, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, 3/473)
Hadits ini berisi permohonan perlindungan kepada Allah k dari tiga kemungkaran.
1. Berlindung dari akhlak yang mungkar, karena dari akhlak yang mungkar inilah kejelekan-kejelekan menimpa seseorang.
2. Berlindung dari amalan-amalan yang mungkar, yaitu dosa-dosa dan kemaksiatan.
3. Berlindung dari hawa nafsu yang mungkar.
Sebagian ulama mengatakan bahwa kata “akhlak” dalam hadits ini artinya adalah amalan-amalan batin sedangkan “al-a’mal” adalah amalan-amalan lahir. Jadi, doa di atas isinya adalah meminta perlindungan kepada Allah l dari dosa-dosa yang lahir dan batin. (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 10/50)

Kembali kepada Akhlak Nabi n
Orang-orang yang jujur dalam mencintai Allah l akan meneladani Rasulullah n dalam hal petunjuk dan akhlaknya. Allah l berfirman:
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
Semoga pembahasan ini bermanfaat bagi kita dan mendorong diri kita untuk berusaha mencari kecintaan Allah l dengan kembali pada akhlak Nabi n. Saya ingin mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Muqaddimah Mukhtashar asy-Syamail al-Muhammadiyah, “Aku berharap dengan tulus kepada Allah l semoga kitab ini4 menjadi bimbingan bagi kaum muslimin untuk mengenal akhlak mulia pada diri Rasul n dan sifat-sifat agung yang beliau berhias dengannya, sehingga membawa mereka untuk mengikuti petunjuknya, berakhlak dengan akhlaknya, dan memetik secercah cahayanya.
Terlebih di zaman yang kaum muslimin hampir-hampir lupa dengan firman Allah l:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)
Apalagi di tengah-tengah muslimin ada dai yang merasa tidak butuh mengikuti Rasulullah n dalam banyak petunjuk dan adabnya, seperti sifat tawadhu dalam berpakaian, makan, minum, tidur, shalat, dan ibadah-ibadah beliau n. Bahkan, ada di antara mereka yang mengajari pengikutnya untuk merasa tidak membutuhkan beberapa petunjuk Rasul n, seperti ajaran Rasul n untuk makan dan minum dengan duduk, serta ajaran beliau untuk mengangkat kain di atas kedua mata kaki.
Mereka menganggap semua itu sebagai bentuk memaksakan diri dan sesuatu yang membuat lari manusia dari Islam. Engkau pun akan mendapati mereka tidak peduli menyeret bajunya menyentuh tanah dengan dalih bahwa ia melakukannya bukan karena sombong! Bahkan, ia berdalil dengan sabda Rasul n kepada Abu Bakr ash-Shiddiq:
لَسْتَ مِمَّنْ يَصْنَعُ خُيَلَاءً
“Engkau bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong.”
Mereka lalai akan perbedaan yang sangat jauh antara Abu Bakr z dan diri mereka. Abu Bakr z tidak menyengaja menjulurkan sebagian bajunya di bawah mata kaki sebagaimana sangat tampak pada ucapan beliau:
إِنَّ أَحَدَ شِقَّيْ إِزَارِي يَسْتَرْخِي
“Sesungguhnya salah satu sisi sarungku melorot (yakni tidak sengaja terjulur di bawah mata kaki, –pen.).”
Adapun mereka menyengaja memanjangkan dan menyeret baju mereka. Mereka juga bodoh atau pura-pura bodoh terhadap sifat (bentuk) baju Nabi n (yang tentu kita yakini sebagai sifat baju yang paling baik dan diridhai Allah l, –pen.) dalam sabda beliau:
هَذَا مَوْضِعُ الْإِزَارِ فَإِنْ أَبَيْتَ فَلَا حَقَّ لِلْإزَارِ فِي الْكَعْبَيْنِ
“Di sinilah (pertengahan betis inilah –al-Albani) batas kain. Jika engkau tidak bisa maka di bawahnya. Jika tidak maka tidak ada hak sedikit pun bagi dua mata kaki (untuk ditutup kain).”
Dalam hadits lain beliau n bersabda:
مَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ مِنَ الْإِزَارِ فِي النَّارِ
“Apa yang di bawah dua mata kaki dari kain maka berada di neraka.”
Al-Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu Umar c, beliau berkata, “Suatu saat aku berpapasan dengan Rasul n, sementara kain yang kupakai menurun. Beliau bersabda, ‘Wahai Abdullah, tinggikan kainmu!’ Aku pun menaikkannya. Beliau kembali bersabda, ‘Tambah lagi!’ Aku pun menambahnya. Semenjak itu, aku terus menjaga kainku (di batas yang ditentukan oleh Rasulullah n). Sebagian orang bertanya, “Wahai Ibnu Umar, sampai batas mana (Rasul memerintahkanmu mengangkat kain)?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan betis.”
Aku (al-Albani, -pen.) mengatakan, “Orang yang seperti Ibnu Umar saja—yang termasuk pemuka sahabat yang mulia dan yang paling bertakwa—Nabi n tidak mendiamkan dengan kainnya yang melorot. Beliau n memerintahkan Ibnu Umar z untuk mengangkatnya. Bukankah ini menunjukkan bahwa adab berpakaian di atas mata kaki tidak (hanya) dikaitkan dengan kesombongan?
(Jika Ibnu Umar z yang jauh dari kesombongan saja ditegur oleh Rasul), sungguh seandainya Rasulullah n melihat sebagian dai itu menyeret-nyeret kainnya pasti beliau mengingkarinya. Mereka tidak akan mampu mengelak dengan ucapan, “Kami tidak menyeretnya karena sombong!” (Tidak mungkin mereka mengelak,) karena Ibnu Umar yang zuhud lebih jujur daripada mereka mengatakan, “Aku tidak melakukannya karena sombong.” Meskipun (Ibnu Umar tidak melakukannya karena sombong), Rasul n tetap mengingkarinya. Ibnu Umar juga bersegera memenuhi seruan Rasul n. Masih adakah hari ini orang yang menerima seruan Rasul n?
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaf: 37)(Muqaddimah Mukhtashar asy-Syamail al-Muhammadiyah, hlm. 10—11)
Walhamdulillah Rabbil ‘alamin.

 

Akibat Lupa Kebaikan untuk Diri Sendiri

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal)

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?” (al-Baqarah: 44)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Mengapa kamu suruh….”
Ayat ini berbentuk pertanyaan, namun maknanya adalah menjelekkan orang yang melakukannya. (Tafsir al-Qurthubi dan Fathul Qadir)
“Kebajikan.”
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam mengungkapkan secara rinci tentang makna “al-birr” dalam ayat ini. Namun, secara umum mereka sepakat bahwa segala jenis ketaatan dalam agama disebut al-birr. (Tafsir ath-Thabari)
Al-Qurthubi berkata, “Al-birr adalah ketaatan dan amal saleh.” (Tafsir al-Qurthubi)
Al-Allamah as-Sa’di berkata, “Iman dan kebaikan.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
“Kamu melupakan.”
Maknanya adalah lupa. Akan tetapi, lupa yang dimaksud dalam ayat ini adalah meninggalkan. Ini seperti halnya firman Allah l:
“Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh berbuat yang mungkar dan melarang berbuat yang ma’ruf, serta mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik.” (at-Taubah: 67)
“Tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (al-An’am: 44)
“Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.” (al-Baqarah: 237) (Tafsir al-Qurthubi)

“Tidakkah kamu berakal?”
Yang dimaksud berakal di sini adalah memahami karena akal adalah pemahaman. As-Sa’di mengatakan, “Disebut akal karena dia mampu memahami apa yang bermanfaat baginya berupa kebaikan dan menahan diri dari yang memudaratkannya. Hal itu karena akal menganjurkan pemiliknya menjadi orang yang pertama melakukan apa yang diperintahkannya dan yang pertama pula meninggalkan apa yang dilarangnya. Oleh karena itu, siapa yang mengajak orang lain kepada kebaikan sementara dia tidak melakukannya atau dia melarang dari kejahatan namun dia justru melakukannya, ini menunjukkan bahwa dia tidak berakal dan bodoh. Terlebih lagi jika dia telah mengetahuinya sehingga telah tegak hujjah atasnya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Siapakah yang Dimaksud oleh Ayat Ini?
Mayoritas ahli tafsir menyebutkan bahwa ayat ini turun terkait dengan perbuatan ahli kitab yang menganjurkan kebaikan kepada orang lain namun mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini diriwayatkan dari Ibnu Juraij, Qatadah, dan yang lainnya. Namun penunjukan ayat ini bersifat umum untuk siapa saja termasuk umat ini.
As-Sa’di t mengatakan, “Meskipun ayat ini turun terkait dengan Bani Israil, namun bersifat umum untuk siapa saja berdasarkan firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2—3)
Setelah menjelaskan makna “al-kitab” dalam ayat tersebut yang dimaksud adalah Taurat, al-Qurthubi t menerangkan, “Demikian pula orang yang berbuat seperti perbuatan mereka, dia sama seperti mereka.” (Tafsir al-Qurthubi)

Bahaya Meninggalkan Kebaikan yang Diajarkan kepada Orang Lain
Ayat ini menjelaskan diharamkannya seseorang menganjurkan kebaikan kepada orang lain namun dia tidak melakukannya, atau melarang orang lain dari satu kemaksiatan namun dia melanggarnya. Ibnu Katsir t menjelaskan ayat ini, “Apakah layak bagi kalian, wahai ahli kitab, kalian memerintahkan manusia kepada al-birr, yaitu kumpulan kebaikan, lalu kalian melupakan diri kalian sendiri.Kalian tidak melakukan apa yang kalian perintahkan kepada manusia untuk melakukannya, padahal kalian membaca Al-Kitab dan mengetahui isinya yang menjelaskan akibat orang yang tidak menjalankan perintah-perintah Allah l? Tidakkah kalian menggunakan akal kalian terhadap perbuatan kalian agar kalian sadar dari tidur kalian dan sembuh dari kebutaan kalian?” (Tafsir Ibnu Katsir)
Di dalam ayat yang lain, Allah l berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.” (ash-Shaf: 2—3)
Diriwayatkan Anas bin Malik z, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي رِجَالاً تُقْرَضُ شِفَاهُهُمْ بِمَقَارِيضَ مِنْ نَارٍ، قُلْتُ: مَنْ هَؤُلاَءِ يَا جِبْرِيلُ؟ قَالَ: هَؤُلاَءِ خُطَبَاءُ مِنْ أُمَّتِكَ يَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَيَنْسَوْنَ أَنْفُسَهُمْ وَهُمْ يَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلاَ يَعْقِلُونَ
Aku melihat satu malam tatkala aku melakukan perjalanan isra’ beberapa lelaki yang digunting bibir-bibir mereka dengan gunting-gunting dari api neraka. Aku bertanya, “Siapakah mereka ini, wahai Jibril?” Beliau menjawab, “Mereka adalah para pengkhutbah dari kalangan umatmu. Mereka memerintahkan manusia kepada kebaikan namun mereka lupa akan diri mereka sendiri padahal mereka membaca al-kitab. Tidakkah mereka berakal?” (HR. Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Disahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah, 1/291)
Diriwayatkan pula dari hadits Usamah bin Zaid z bahwa Rasulullah n bersabda:
يُؤْتَى بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُ بَطْنِهِ فَيَدُورُ بِهَا كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِالرَّحَى فَيَجْتَمِعُ إِلَيْهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُولُونَ: يَا فُلاَنُ، مَا لَكَ؟ أَلَمْ تَكُنْ تَأْمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ؟ فَيَقُولُ: بَلَى، قَدْ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَلاَ آتِيهِ وَأَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ
Didatangkan pada hari kiamat seorang lelaki lalu dilempar ke dalam api neraka, dalam keadaan ususnya terburai keluar. Lalu dia berputar seperti keledai yang berputar pada batu penggilingnya. Penduduk neraka kemudian berkumpul mengerumuninya lalu bertanya, “Wahai fulan, ada apa denganmu? Bukankah kamu dahulu yang mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran?” Dia menjawab, “Benar. Akan tetapi, aku mengajak kepada kebaikan sementara aku tidak melakukannya dan aku mencegah dari kemungkaran sementara aku sendiri melakukannya.” (HR. Muslim)
Ibrahim an-Nakha’i z mengatakan, “Sesungguhnya aku benci bercerita karena tiga ayat ini:
“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al-Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu berakal?” (al-Baqarah: 44)
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?” (ash-Shaf: 2)
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)
Abu Umar bin Mathar mengisahkan bahwa dia menghadiri majelis Abu Utsman al-Hiri az-Zahid. Beliau keluar lalu duduk di tempat yang ia biasa duduk di atasnya untuk memberi nasihat. Beliau diam cukup lama. Lalu ada seseorang yang dikenal dengan sebutan Abul Abbas memanggilnya dan berkata, “Apakah engkau hendak mengucapkan sesuatu dengan diammu ini?”
Beliau menjawab:
وَغَيْرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ بِالتُّقَى
طَبِيْبٌ يُدَاوِي وَالطَّبِيبُ مَرِيضُ
Orang yang tidak bertakwa memerintahkan manusia untuk bertakwa
Dokter ingin mengobati sementara dokternya sendiri sedang sakit
Seketika itu terdengar suara gemuruh tangisan manusia.
Abul Aswad ad-Du’ali t mengatakan:
لاَ تَنْهَ عَنِ خُلُقٍ وَتَأْتِي مِثْلَهُ
عَارٌ عَلَيْكَ إِذَا فَعَلْتَ عَظِيمُ
وَابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَانْهَهَا عَنْ غَيِّهَا
فَإِنِ انْتَهَتْ عَنْهُ فَأَنْتَ حَكِيمُ
فَهُنَاكَ يُقْبَلُ إِنْ وَعَظْتَ وَيُقْتَدَى
بِالْقَوْلِ مِنْكَ وَيَنْفَعُ التَّعْلِيمُ
Jangan engkau melarang dari satu perangai sementara engkau sendiri melakukannya
Sungguh celaan besar bagimu jika engkau melakukannya
Mulailah dari dirimu dan cegahlah dari penyimpangannya
Jika dirimu meninggalkannya berarti engkau seorang yang bijak
Akan diterima jika engkau menasihati dan engkau akan diikuti
ucapanmu dan pengajaranmu jadi bermanfaat
(Lihat Tafsir al-Qurthubi)

Pemahaman yang Perlu Diluruskan
Sebagian orang memahami bahwa makna ayat ini menunjukkan tidak diperbolehkan bagi seorang muslim melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar sebelum dia mengamalkan apa yang dia perintahkan kepada orang lain. Ini adalah pemahaman yang keliru karena dalam hal ini ada dua perkara yang setiap muslim dituntut menegakkannya.
1. Mengamalkan perintah dan menjauhi larangan
2. Mengajak orang lain untuk menaati perintah dan larangan tersebut
Kedua hal ini harus ditegakkan oleh setiap muslim. Apabila dia tidak mengerjakan salah satunya, dia terjatuh ke dalam perbuatan dosa sesuai dengan kadar kewajiban dan larangan yang dilanggarnya. Lebih besar lagi dosanya jika dia meninggalkan keduanya. Oleh karena itu, seorang muslim tetap diperintahkan untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar meskipun dia sendiri belum menegakkannya. Jika dia tidak mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, ditambah lagi tidak menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar, dia melakukan dua pelanggaran terhadap syariat Allah k.
Al-Allamah as-Sa’di t mengatakan, “Ayat ini tidak menunjukkan bahwa jika seseorang tidak menegakkan apa yang diperintahkan, maka dia harus meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar. Sebab, ayat tersebut menunjukkan tercelanya seseorang jika ditinjau dari dua kewajiban yang wajib ia tegakkan. Sebagaimana diketahui, seseorang memiliki dua kewajiban: memerintah dan melarang orang lain, serta memerintah dan melarang dirinya sendiri. Meninggalkan salah satunya bukanlah keringanan baginya untuk meninggalkan yang lain, karena kesempurnaan iman adalah jika seseorang menegakkan keduanya, sedangkan kekurangan yang sempurna adalah jika dia meninggalkan keduanya. Adapun jika dia menegakkan salah satunya tanpa yang lain, dia berada di bawah tingkat yang pertama, namun di atas tingkat yang terakhir. Demikian pula, jiwa-jiwa manusia terbiasa untuk tidak mengikuti orang yang ucapannya menyelisihi perbuatannya. Oleh karena itu, memberi contoh kepada mereka dengan perbuatan lebih memberi pengaruh daripada memberi contoh hanya dengan ucapan semata (tanpa perbuatan).” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Ibnu Katsir t berkata, “Maksudnya, Allah l mencela mereka karena perbuatan ini dan memperingatkan mereka atas kesalahan mereka. Mereka mengajak kepada yang ma’ruf namun mereka sendiri tidak melakukannya. Bukan yang dimaksud bahwa mereka dicela karena mengajak kepada kebaikan lalu mereka sendiri meninggalkannya. Namun, mereka dicela hanya karena meninggalkannya. Sebab, beramar ma’ruf adalah kebaikan dan hal yang wajib atas seorang alim. Akan tetapi, yang wajib dan yang paling utama bagi seorang alim adalah melakukan apa yang dia perintahkan kepada yang lain dan tidak meninggalkannya, sebagaimana yang dikatakan oleh Syu’aib q:
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Hud: 88)
Oleh karena itu, setiap amar ma’ruf wajib ditegakkan. Tidak gugur salah satunya karena meninggalkan yang lain, menurut pendapat yang lebih benar dari dua pendapat para ulama kalangan salaf dan khalaf. Sebagian mereka berpendapat bahwa pelaku maksiat tidak boleh melarang yang lainnya dari melakukannya. Ini pendapat yang lemah. Lebih lemah lagi tatkala mereka menjadikan ayat ini sebagai pegangan, padahal tidak ada hujjah pada ayat tersebut yang menguatkan alasan mereka. Yang benar adalah seorang alim mengajak kepada yang ma’ruf meskipun dia tidak melakukannya, dan melarang dari kemungkaran meskipun dia sendiri melakukannya.
Malik bin Rabi’ah mengatakan, “Aku mendengar Sa’id bin Jubair berkata, ‘Seandainya seseorang tidak mengajak kepada yang ma’ruf dan tidak mencegah dari kemungkaran sampai dia tidak punya kesalahan sama sekali, maka tidak ada seorang pun yang akan mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran’.”
Malik berkata, “Benar ucapan beliau. Siapakah orang yang tidak punya kesalahan sama sekali?”
Aku (Ibnu Katsir) berkata,”Akan tetapi—kenyataannya demikian—ia dicela karena meninggalkan ketaatan dan melakukan kemaksiatan, dalam keadaan dia mengetahui dengan ilmunya. Sebab, tidaklah sama antara orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Wallahu a’lam.

Hikmah dalam Dakwah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Pengikut Rasulullah n adalah orang yang memiliki kewajiban mendakwahkan risalah suci, Islam. Mendakwahkan apa yang telah dibawa oleh Rasulullah n. Allah l berfirman:
Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)
Allah l berfirman kepada hamba dan Rasul-Nya yang Dia utus kepada manusia dan jin. Allah l memerintahkan kepada beliau n untuk mengabarkan kepada segenap manusia bahwasanya inilah jalan-Nya, yaitu thariqah (cara), jejak, dan sunnah-Nya yang menyeru dan mengajak kepada syahadah (persaksian) bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah saja. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Allah memerintahkan kepada beliau n untuk menyeru (mengajak) ke jalan Allah dengan kalimat syahadat tersebut atas dasar bashirah (ilmu), keyakinan, dan burhan (penerangan). Rasulullah n dan setiap orang yang mengikutinya, mengajak kepada apa yang didakwahkan oleh beliau n berdasarkan bashirah, keyakinan, burhan yang syar’i, dan (bisa diterima oleh) akal yang jernih. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/430)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t—ketika menjelaskan kalimat ilallah pada ayat di atas—mengatakan, “Sungguh, du’at (orang-orang yang menyeru dan mengajak) ke jalan Allah l terbagi menjadi dua bagian. Yang pertama adalah orang yang menyeru kepada Allah, sedangkan yang kedua adalah orang yang menyeru kepada selain Allah. Seorang dai yang menyeru ke jalan Allah l adalah yang benar-benar ikhlas, menginginkan terjalinnya hubungan manusia dengan Allah l. Adapun dai yang menyeru kepada selain Allah l, bisa jadi dia menyeru untuk kepentingan dirinya. Dia menyeru kepada kebenaran agar dirinya diagungkan dan dihormati oleh manusia. Karena itu, jika perintahnya tidak ditunaikan, dia pun marah.” (al-Qaulul Mufid, 1/118)
Adapun asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri hafizhahullah menyampaikan bahwa para dai dan orang-orang yang terkait dengan dakwah ada tiga golongan.
1. Ahlul bashirah
Mereka adalah orang-orang yang memahami agama Allah, mendakwahkannya dengan penuh hikmah, dan menasihati dengan cara yang baik, disertai hujjah dan burhan. Mereka adalah orang-orang yang paling bahagia. Mereka mendapatkan pujian dari Allah melalui firman-Nya kepada Nabi-Nya n:
Katakanlah, “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata.” (Yusuf: 108)
2. Dai yang jahil
Mereka memimpin lapangan dakwah namun tidak memiliki kefaqihan (pemahaman) tentang agama Allah. Kalau pun dia paham, dia masih tidak termasuk orang yang cakap dalam mengamalkan agama. Mereka adalah orang-orang yang merusak di muka bumi dan tidak melakukan upaya perbaikan. Mereka hakikatnya adalah tangga pijakan bagi para pengikut hawa nafsu.
3. Dai penyebar fitnah dan kesesatan
Mereka adalah para dai yang menyeleweng.
Maka dari itu, sangatlah berbahagia orang-orang yang termasuk golongan pertama, para dai yang menyeru ke jalan Allah di atas bashirah, bayyinah (penjelasan), dan kefaqihan tentang agama Allah l. Sungguh Rasulullah n telah bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah baik, Allah akan memahamkan padanya agama.” (HR. al-Bukhari no. 71, Muslim no. 2386) (Ithafu al-’Uqul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul hlm. 24—25)
Dakwah dengan ilmu merupakan keharusan karena sejatinya, dakwah adalah menyebarkan ilmu yang telah diwariskan oleh Rasulullah n.
Makna ‘ala bashirah dalam ayat di atas, menurut asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin adalah ilmu. Meliputi dakwah secara ikhlas dan diiringi dengan ilmu. Karena senyatanya, kebanyakan sebab timbulnya kerusakan dalam dakwah lantaran ketiadaan sikap ikhlas atau ketiadaan ilmu. yang dimaksud ilmu dalam ayat di atas bukan semata-mata ilmu syar’i, tetapi meliputi pula ilmu tentang keadaan orang yang didakwahi dan ilmu yang bisa menyampaikan kepada tujuan, yaitu berupa al-hikmah. (al-Qaulu al-Mufid, 1/119)
Makna ‘ala bashirah yang berarti atas dasar ilmu dikemukakan pula oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t. Menurut beliau t, makna ‘ala bashirah adalah dari agama. Pengertiannya atas dasar ilmu dan keyakinan, tanpa disertai syak, keraguan, dan kebimbangan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, 430)
Ketika memberikan pengantar pada kitab Manhaju al-Anbiya’ fi ad-Da’wati ilallah fihi al-Hikmah wal ‘Aql karya asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi bin ‘Umair al-Madkhali hafizhahullah, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan beberapa penopang yang menegakkan dakwah yang benar sebagaimana telah ditunjukkan oleh Al-Kitab dan As-Sunnah. Beberapa penopang tersebut secara ringkas disebutkan sebagai berikut.
1. Ilmu tentang materi yang dia dakwahkan. Seorang yang jahil (tidak memiliki pemahaman agama yang benar) tidak diperkenankan menjadi juru dakwah (dai). Allah l berfirman kepada Nabi-Nya n:
“Katakanlah, ‘Inilah jalan (agama)ku; aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah’.” (Yusuf: 108)
Yang dimaksud bashirah adalah ilmu. Sungguh, seorang dai bisa saja harus menghadapi para ulama sesat yang akan melontarkan beragam syubhat dan mendebatnya dengan cara yang batil, guna meruntuhkan kebenaran. Allah l berfirman:
“Dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)
Nabi n bersabda kepada Muadz z:
إِنَّكَ تَأْتِي قَوْمًا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ
“Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahli kitab.” (HR. al-Bukhari no. 4347)
Jika seorang dai tidak memiliki senjata yang berupa ilmu, setiap syubhat dan perdebatan yang diarahkan kepadanya bisa membuatnya terpukul mundur dan terdiam di awal langkah.

2. Mengamalkan apa yang dia serukan sehingga bisa menjadi teladan yang baik. Perbuatan-perbuatan yang ditampilkannya merupakan perwujudan dari apa yang dikatakannya. Dengan demikian, para ahli batil tidak memiliki celah (hujjah) untuk mencelanya. Allah l berfirman perihal Nabi Syu’aib q yang berkata kepada kaumnya:
“Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan.” (Hud: 88)
Allah l berfirman kepada Nabi Muhammad n:
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162-163)
Juga firman-Nya:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?’.” (Fushshilat: 33)

3. Ikhlas
Hendaknya ia ikhlas dalam berdakwah, menjadikannya untuk wajah Allah, tidak ditujukan untuk riya (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar), popularitas, kedudukan dan ketamakan dalam meraup dunia. Jika dakwah telah tercemari dengan hal-hal di atas maka dakwah tersebut bukan lagi karena Allah. Dakwah tersebut sudah berubah menjadi dakwah karena hawa nafsu dan ketamakan akan apa yang menjadi tujuan pribadinya. Allah l mengabarkan keadaan para nabi-Nya yang mengatakan kepada umat mereka:
“Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan.” (al-An’am: 90)
“Aku tiada meminta harta benda kepada kamu (sebagai upah) bagi seruanku.” (Hud: 29)

4. Memulai dengan sesuatu yang teramat penting dari yang terpenting.
Hendaknya dia mengawali dakwah dengan sesuatu yang menuju perbaikan akidah, dengan memerintahkan berbuat ikhlas kala beribadah semata-mata karena Allah l dan mencegah perbuatan syirik. Selanjutnya dia memerintahkan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, mengerjakan hal-hal yang wajib dan menjauhi hal-hal yang haram. Ini adalah cara yang ditempuh oleh seluruh rasul. Allah l berfirman:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (an-Nahl: 36)
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya “Tidak ada ilah (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (al-Anbiya: 25)
Saat Nabi n mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman, beliau berpesan, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari kalangan ahli kitab. Maka dari itu, jadikanlah pertama kali yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwasanya tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah. Jika mereka menerima seruanmu, beritahu mereka bahwa sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada mereka shalat lima waktu dalam sehari semalam ….” (HR. al-Bukhari no. 4347)
Perjalanan dakwah Nabi n adalah contoh terbaik dan manhaj (metodologi) yang paling sempurna. Saat menetap di Makkah, selama tiga belas tahun beliau n berdakwah mengajak manusia kepada tauhid dan melarang perbuatan kesyirikan. Itu dilakukan sebelum beliau n memerintahkan mereka untuk menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, dan berhaji. Juga sebelum mereka dilarang melakukan riba, zina, mencuri, dan membunuh manusia tanpa alasan yang benar.

5. Bersabar atas segala kesulitan yang dijumpai saat menunaikan dakwah menyeru ke jalan Allah. Sungguh, jalan dakwah itu bertabur onak, duri, dan bahaya. Teladan terbaik dalam hal ini adalah para rasul r yang telah mengalami gangguan dan cemoohan. Allah l berfirman:
“Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka turunlah kepada orang-orang yang mencemoohkan di antara mereka balasan (azab) olok-olokan mereka.” (al-An’am: 10)
Allah l juga berfirman:
“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka.” (al-An’am: 34)

6. Hendaknya seorang juru dakwah berhias dengan akhlak yang baik dan menggunakan (cara-cara) hikmah dan bijak dalam dakwahnya. Cara-cara semacam itu akan menjadikan dakwahnya diterima. Allah l juga memerintahkan Nabi Musa dan Nabi Harun r untuk menempuh cara-cara tersebut kala menghadapi manusia yang paling kafir di muka bumi, Fir’aun, yang mengaku sebagai tuhan. Allah memerintahkan dalam firman-Nya:
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)
Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun), “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan) dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabbmu supaya kamu takut kepada-Nya?” (an-Nazi’at: 17—19)
Allah l juga berfirman tentang Nabi Muhammad n:
“Disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)
“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

7. Seorang dai hendaknya memiliki ketangguhan dalam mewujudkan cita-cita. Tidak mudah patah arang untuk memberi pengaruh dengan dakwahnya dan menyampaikanpetunjuk kepada kaumnya. Tidak mudah berputus asa dari mengharapkan pertolongan dan bantuan Allah l meski harus menanti dalam waktu yang lama. Dalam hal ini, para rasul Allah merupakan sebaik-baik teladan. (Lihat hlm. 20-22)

Seseorang yang berdakwah dengan penuh hikmah adalah orang yang berdakwah atas dasar ilmu ang bermanfaat, amal saleh, memulai dari yang teramat penting disusul oleh hal yang penting, serta memahami karakteristik individu dan lingkungan yang didakwahi. Dengan demikian, diharapkan dakwah yang diserukan bisa diterima dengan sebaik-baiknya. Hal di atas dibarengi oleh metodologi dakwah yang menggunakan cara lemah lembut dan menanggalkan

cara-cara yang kasar dan praktik-praktik kekerasan. Dakwah hikmah yang memuat unsur kesantunan dalam bertutur kata, bersikap, dan berperilaku. Berbahagialah seseorang yang dikaruniai hikmah. Allah l berfirman:
ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯﯰ
“Dan barangsiapa yang dianugerahi al-hikmah itu, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak.” (al-Baqarah: 269)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t menyatakan, seluruh urusan tidak akan menjadi baik melainkan jika diiringi sikap hikmah, yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya. Meletakkan segala urusan pada posisi yang tepat. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 108)
Serulah ke jalan Allah dengan penuh hikmah ….
Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 65

Salah Ketik?
Pada Asy Syariah edisi 64, hlm. 83, HR. Muslim no. 2325 apakah sudah benar? Ma’wurfin atau Ma’rufin?
Abu Faqih-Sukoharjo

Anda benar. Ada kekeliruan dalam penulisan lafadz hadits tersebut. Yang benar seperti yang Anda sampaikan: bunyinya m’arufin, bukan ma’wurfin.
Semoga Allah l mengampuni kesalahan kami. Jazakallah khairan atas koreksinya.
Tentang MLM
Saya pernah beberapa kali membaca majalah Asy-Syariah, dan saya sangat tertarik, karena isi atau penjabarannya semua berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasullulah n.
Sampai saat ini saya belum pernah membaca bahasan tentang hukum dari MLM (Multi Level Marketing), saya harap Asy-Syariah dapat membantu saya untuk dapat mengirimkan pembahasan tentang hukum perdagangan dengan cara MLM tersebut, Insya Allah ini dapat bermanfaat bagi saya dan adik saya yang sekarang ini bergelut dalam dunia MLM tersebut, karena setahu saya hukum dari MLM itu haram, tapi saya tidak dapat menjelaskannya berdasarkan dalil-dalil yang ada.
Saya sangat berharap saya dapat terbantu. Semoga kita selalu dalam perlindungan Allah l. Amin.

Abu Abdillah Edy-Medan
abuabdillah003@xxxxx

MLM termasuk tema yang sering diusulkan Pembaca. Semoga tema ini bisa masuk dalam silabus tahun mendatang. Jazakumullahu khairan.
Rubrik Doa Kenapa Pindah?
Bismillah. Pada majalah baru, halaman doa sebaiknya tetap di halaman 2. Lebih menarik dengan berwarna, wallahu a’lam.
Rusydi-Situbondo, Jatim
0812349xxxxx

Kami memang tengah mencoba format baru dengan “menonjolkan” Sakinah melalui sampul belakang. Masukan senada seperti Anda banyak kami terima, insya Allah pada edisi ini, rubrik Doa kembali seperti semula. Jazakumullahu khairan.
Kupas Masalah Talak
Kapan Asy Syariah mengupas masalah talak dan memandikan jenazah? Padahal hal tersebut di depan mata.Sayang kalau kita tidak paham.
Abu Karimah – Pekalongan
081575xxxxxx

Tentang pengurusan jenazah sudah pernah dimuat secara berurutan pada lembar Sakinah, dari edisi 16 sampai edisi 23. Mulai masalah menghadapi orang sakaratul maut, memandikan, mengafani, hingga menyalatkan jenazah. Juga dibahas tentang hukum takziyah (melayat) dan ziarah kubur bagi kaum wanita. Silakan dilihat kembali.
Adapun masalah talak, semoga Allah l memudahkan kami untuk memaparkan pembahasannya.
Jazakumullah khairan atas masukan-masukannya.

Dakwah Salaf, Dakwah Hikmah

Semua tentu sepakat, salaf adalah generasi terbaik dari umat Muhammad n. Diawali dari para sahabat yang merupakan murid-murid langsung Rasulullah n, ditempa keimanan mereka dalam “madrasah” beliau n. Kemudian para sahabat mengajarkan Islam kepada generasi berikutnya yaitu tabi’in, para tabi’in lantas menularkan ilmunya kepada tabi’ut tabi’in, demikian seterusnya sehingga Islam sampai kepada kita ini.
Sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, merekalah generasi emas yang mengantarkan Islam pada masa keemasannya. Apa yang membuat baik mereka, semestinya itulah yang kita ikuti. Apa jalan yang mereka tempuh, mestinya itu yang kita tapaki. Apa yang mereka pegangi semestinya itu juga yang kita kukuhi.
Lantas apa yang didakwahkan atau diletakkan pertama kali oleh Rasulullah n di dada-dada mereka sehingga mereka demikian tunduk kepada syariat, demikian mudah menerima kebenaran, serta demikian teguh memegang ajaran Islam?
Jawabannya tak lain adalah tauhid. Yang dilakukan Rasulullah n pertama kali adalah memurnikan akidah mereka, memerdekakan mereka dari segala bentuk penyembahan kepada selain Allah l, serta menutup segala celah yang bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Tauhid inilah sesungguhnya misi yang juga diemban oleh seluruh rasul sebelum Rasulullah n. Dakwah tauhid layaknya lahan subur yang dipupuk, sehingga pohon keimanan bisa tumbuh, akarnya menancap kokoh serta berbuah ketakwaan yang tinggi.
Ketakwaanlah yang membuat Allah l menolong mereka, menjadikan musuh-musuh mereka gentar, dan Islam menjadi wibawa. Sehingga amat salah kalau ada anggapan bahwa ketertinggalan Islam disebabkan teknologi. Teknologi memang penting namun bukan yang terpenting. Nyatanya, umat Islam waktu itu justru mampu mengalahkan bangsa-bangsa dengan peradaban yang lebih tinggi. Demikian juga anggapan bahwa Islam tertinggal karena faktor ekonomi, padahal sebagian besar generasi salaf justru hidup dalam kesederhanaan bahkan kekurangan.
Kondisi ini menuntut kita untuk memahami dan mengamalkan agama ini dengan merujuk kepada mereka, generasi yang telah mendapat rekomendasi dari Allah l dan Rasul-Nya—sebagaimana dijelaskan dalam banyak ayat dan hadits. Cara memahami agama dengan merujuk kepada salaf ini adalah metode yang pasti benar dan yang paling murni dibandingkan pemahaman agama yang lahir belakangan.
Kita, yang jauh dari masa kenabian, yang keimanan, keilmuan, dan akhlak kita tidak ada apa-apanya dibandingkan generasi salaf, semestinya menjadi pengikut atau yang meniti jejak mereka dalam beragama. Sehingga ketika membincangkan dakwah salaf, yang digarisbawahi adalah metodologi (manhaj)nya, bukan individu-individu di masa sekarang yang ada di dalamnya, terlebih mereka “sebatas” berupaya meniti jejak generasi salaf. Dengan keimanan yang tidak sebanding dengan generasi salaf, maka menjadi niscaya jika dari orang-orang belakangan yang meniti jejak mereka terdapat banyak kekurangan seperti berlaku kurang adab, acap terjatuh dalam kemaksiatan, dan sebagainya.
Maka dari itu, menjadi tidak adil, jika kebencian terhadap salafi, orang-orang yang berusaha meniti jejak generasi salaf, justru membutakan hati kita dengan merembetkan kebencian pada syariat itu sendiri, enggan untuk menerima kebenaran, walaupun dalilnya telah jelas ataupun hujjahnya demikian kokoh.
Di sisi lain, menjadi cambuk bagi kita, baik dai maupun penuntut ilmu yang berada di jalan dakwah ini, untuk tidak menyulut api fitnah, membuat manusia lari dari dakwah bahkan menentang kebenaran karena semata-mata sikap kita yang kurang adab ataupun hal-hal lain yang mungkin dianggap sepele. Semestinya kita memuliakan diri dengan Islam, sebagaimana kemuliaan itu ada pada dakwah ini, dakwah salaf yang penuh hikmah.

APA DAN SIAPA AHLUS SUNNAH

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t mengatakan:

“Demikianlah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ahlul hadits. Mereka adalah para pembela agama dan kitabullah serta para pembela sunnah Rasulullah n.”

Ibnu Rajab t mengatakan:
“As-Sunnah adalah jalan/metode yang ditempuh. Ia mencakup berpegang erat dengan apa yang dahulu Rasulullah n dan para al-Khulafaur Rasyidin berada di atasnya, baik dalam masalah i’tiqad (keyakinan), amal perbuatan, maupun perkataan. Inilah (pengertian) As-Sunnah secara sempurna. Oleh sebab itu, dahulu generasi salaf tidaklah menggunakan istilah ‘As-Sunnah’ kecuali terhadap sesuatu yang mencakup (makna) itu secara keseluruhan.”

Asy-Syaikh al-‘Allamah Ibnu ‘Utsaimin t mengatakan:
“Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan sunnah dan bersatu di atasnya. Mereka tidak menoleh kepada selainnya, baik dalam urusan ilmiah i’tiqadiyah (ilmu tentang keyakinan) maupun masalah amaliyah hukmiyah.”

Ibnu Hazim t berkata:
“Ahlus Sunnah yang kita katakan mereka adalah ahlul haq dan yang selain mereka adalah ahlul bid’ah, sesungguhnya adalah para sahabat g dan setiap orang yang meniti jalan mereka dari kalangan fuqaha (ulama) dari generasi ke generasi sampai hari ini, dan juga orang-orang yang meneladani mereka.”

(Usus Manhajis Salaf fid Da’wati Ilallah,
asy-Syaikh Fawwaz bin Hulayyil bin Rabah as-Suhaimi, hlm. 26—27)