Wasiat Nabi Kepada Anak Pamannya

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Suatu hari Abdullah ibnu Abbas c yang masih belia beroleh wasiat dari sepupunya yang mulia, Nabi n:
يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ؛ وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ؛ وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ؛ رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Wahai anak1, sungguh aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat; Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau meminta (suatu keperluan) maka mintalah kepada Allah dan jika engkau meminta pertolongan maka minta tolonglah kepada Allah. Ketahuilah, andai umat ini berkumpul untuk memberikan suatu kemanfaatan kepadamu, niscaya mereka tidak akan bisa memberikannya selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudaratan kepadamu niscaya mereka tidak akan bisa melakukannya, selain sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu. Telah diangkat pena dan telah kering lembaran catatan.”2
Dalam riwayat lain, Nabi n bersabda kepadanya:
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ، وَاعْلَمْ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ، وَماَ أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرَبِ وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau akan dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah dalam keadaan engkau lapang niscaya Dia akan mengenalimu saat engkau dalam kesempitan. Ketahuilah, apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu. Ketahuilah, pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan itu bersama kesulitan, dan bersama kesulitan itu ada kemudahan.”3
Wasiat yang tersampaikan lewat lisan Rasul n ini adalah wasiat yang sangat bermanfaat. Sepantasnya setiap muslim menghafalkan dan mengamalkannya karena mengamalkannya akan mendatangkan kebahagiaan dan kesuksesan.
Wasiat pertama: Rasulullah n bersabda, “Jagalah Allah niscaya Allah akan menjagamu.”
Menjaga Allah l adalah menjaga syariat agama-Nya dan batasan-batasan-Nya, yakni seseorang menjaga ketaatan kepada Allah dan menegakkan batasan-batasan Allah. Jika batasan tersebut berupa kewajiban maka ia tidak melampauinya. Jika berupa keharaman, ia meninggalkan dan menjauh darinya. Siapa yang menjaga Allah niscaya Allah akan menjaga agama, keluarga dan hartanya.
Menegakkan ketaatan kepada Allah adalah sebab dijaganya agama seorang hamba hingga ia wafat. Di samping itu, ia juga menjadi sebab terjaganya keluarga seseorang ketika hidupnya dan setelah matinya sehingga tidak terjadi sesuatu yang tak disukai pada keluarga yang ditinggalkan. Disebutkan dalam surah al-Kahfi tentang perjalanan Nabi Musa q dan Nabi Khidhir q, saat Nabi Khidhir menegakkan dinding yang hampir roboh karena di bawahnya ada harta yang tersimpan milik dua anak yatim yang akan dikeluarkan oleh Allah apabila keduanya telah dewasa. Disebutkan bahwa ayah kedua anak tersebut adalah seorang yang saleh.
“Adalah ayah keduanya seorang yang saleh.” (al-Kahfi: 82)
Ini menjadi bukti penjagaan Allah l terhadap keturunan seorang hamba yang saleh.
Menjaga batasan Allah juga menjadi sebab terjaganya harta seorang hamba. Bukankah Allah l telah berfirman:
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, Dia akan jadikan jalan keluar baginya dan Dia beri rezki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2—3)
Betapa banyak orang yang diberkahi hartanya, dijaga dari penyakit-penyakit dan gangguan karena ia menjaga batasan-batasan Allah.

Wasiat kedua: Sabda Rasulullah n, “Jagalah Allah niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu.”
Termasuk manfaat yang diperoleh hamba dengan ia menjaga batasan-batasan Allah adalah Allah ada di hadapan si hamba. Allah l memberi hidayah kepadanya berupa hal-hal mengandung kebaikan si hamba. Allah l juga memudahkan urusannya sehingga tidak ia dapatkan sebuah urusan pun melainkan menjadi mudah dan ringan.

Wasiat ketiga: “Kenalilah Allah dalam keadaan lapang niscaya Dia akan mengenalimu di saat sempit.”
Tabiat umumnya manusia, saat lapang ia bersenang-senang dan melupakan hak-hak Allah. Adapun orang-orang yang diberikan taufik, mereka mengetahui bahwa kelapangan tidaklah terus-menerus dirasakan. Pasti ada saatnya seseorang jatuh dalam kesempitan dan kesulitan—paling tidak kesulitan saat kematian: berpisah dengan harta, istri dan anak. Maka dari itu, ketika lapang mereka melakukan amalan yang bisa menolong mereka di saat sempit. Di saat lapang mereka mengenali Rabb mereka dengan cara menunaikan ketaatan kepada-Nya. Allah l tidak kehilangan mereka dari mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka. Allah l pun tidak mendapati mereka mengerjakan apa yang dilarang oleh-Nya. Siapa yang mengenal Allah dalam keadaan senang, di saat sehat, atau di saat hidup dalam kekayaan, niscaya Allah akan mengenalinya dalam keadaan sempit.
Kesempitan bisa berupa kefakiran, sakit, atau rasa takut. Kesempitan paling besar yang akan dialami seorang hamba adalah saat kematian, karena kematian adalah saat berpisah dengan dunia dan menuju ke negeri akhirat. Dalam keadaan seperti ini, yang paling dia butuhkan adalah kelembutan Allah l dan rahmat-Nya. Di saat kematian datang menjemputnya, terkumpul padanya berbagai kesulitan: kesulitan berpisah dengan dunia, istri, anak, dan harta. Demikian juga kesulitan berupa rasa sakit yang menimpanya saat itu (sakaratul maut), kesulitan berupa ngerinya pemandangan yang ada, ditambah oleh kesulitan untuk tetap kokoh di atas iman. Hal ini karena setan sangat berambisi untuk menyimpangkan hamba dan menyesatkannya saat itu. Saat tersebut adalah poros penentu kebahagiaan seorang hamba atau celakanya. Bisa jadi, di saat genting demikian, ditawarkan kepada si hamba agama Yahudi dan Nasrani atau selainnya sebagai fitnah (ujian) baginya. Jika si hamba mengenali Rabbnya di saat lapang, Allah akan mengenalinya dalam kesempitan, mengokohkannya, dan menutup umurnya dengan akhir yang baik (husnul khatimah).
Wasiat keempat dan kelima: Sabda Rasulullah n, “Apabila engkau meminta maka mintalah kepada Allah, dan bila engkau minta tolong maka minta tolonglah kepada Allah.”
Siapa yang ingin kebutuhannya terpenuhi tanpa harus berutang budi kepada seseorang selain Allah saja dan tanpa beroleh kesulitan, hendaknya ia memohon kepada Allah l, minta keutamaan, dan bersandar hanya kepada-Nya.
Nabi n telah membaiat sejumlah sahabat beliau agar tidak meminta apapun kepada manusia. Sampai-sampai ada salah seorang dari mereka yang cambuk atau tali kekang untanya jatuh, namun ia tidak meminta seorang pun untuk mengambilkannya. (HR. Muslim)
Kalaupun kita terpaksa minta tolong kepada makhluk dalam hal yang makhluk mampu melakukannya, yakinlah bahwa itu hanyalah sebab. Adapun yang menetapkannya dan menolong secara hakiki adalah Dia Yang di Atas. Maka dari itu, jangan lupakan Dia ketika Dia menolongmu lewat perantara seseorang dari kalangan hamba-Nya.
Di akhir sabdanya, Nabi n menerangkan bahwa umat ini tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepadamu atau memudaratkanmu selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah l bagimu. Apa yang telah ditetapkan oleh Allah atasmu, pasti akan menimpamu karena ketentuan takdir telah selesai. Semuanya telah tercatat.
Setelahnya, Rasulullah n berkata kepada sepupunya agar ia tahu bahwa pertolongan itu datang bersama kesabaran. Siapa yang bersabar, ia akan menang dan mencapai tujuannya. Kelapangan itu bersama kesulitan. Kapan saja kesulitan itu semakin besar menimpamu dan urusannya terasa sempit bagimu, menghadaplah kepada Rabbmu. Nantikanlah kelapangan dari-Nya karena sungguh kelapangan itu sangat dekat. Dan kesulitan itu bersama kemudahan. Kesulitan itu dilingkupi oleh dua kemudahan, kemudahan yang telah lewat dan kemudahan yang akan datang. Allah l berfirman:
“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)4
Oleh karena itu, satu kesulitan tidak mungkin mengalahkan dua kemudahan, kata Ibnu Abbas c.
Demikianlah wasiat Nabi n kepada anak pamannya. Hafalkan, realisasikan dan amalkanlah, mudah-mudahan kita termasuk orang yang beruntung.
Sebagai penutup, kita akan menyimpulkan beberapa faedah dari hadits di atas.
1. Rasulullah n memiliki sifat lembut kepada orang yang kedudukannya di bawah beliau n. Dalam hal ini, beliau menyapa sepupunya dengan kalimat, “Wahai anak!”
2. Sebelum menyampaikan sesuatu yang penting, hendaknya seseorang mengawali dengan kalimat yang menarik perhatian pendengar. Rasulullah n mengatakan, “Wahai anak, aku ingin mengajarkan kepadamu beberapa kalimat.”
3. Siapa yang menjaga Allah l, niscaya Allah akan menjaganya.
4. Siapa yang menyia-nyiakan agama Allah, Allah pun akan menyia-nyiakannya, tidak menjaganya. Allah l berfirman:
“Janganlah kalian menjadi seperti orang-orang yang melupakan Allah maka Allah jadikan mereka melupakan diri-diri mereka. Mereka itulah orang-orang fasik.” (al-Hasyr: 19)
5. Siapa yang menjaga Allah, Allah akan memberi hidayah dan menunjukkan kebaikan kepadanya. Konsekuensi penjagaan Allah adalah Allah akan menghalangi kejelekan dari si hamba.
6. Jika seseorang membutuhkan pertolongan, hendaklah ia meminta tolong kepada Allah.
7. Manusia/makhluk yang ada tidak akan mampu memberikan kemanfaatan kepada seseorang melainkan apabila Allah l telah menetapkannya. Demikian pula sebaliknya, manusia tidak mampu memudaratkan seseorang melainkan jika Allah telah menentukannya.
8. Seseorang wajib menggantungkan harapannya kepada Allah dan tidak menoleh kepada makhluk karena makhluk tidak bisa memberi manfaat dan tidak pula dapat menolak kemudaratan.
9. Segala sesuatu telah tercatat dalam catatan takdir karena seperti kata Rasulullah n dalam hadits yang sahih bahwa takdir makhluk telah Allah tetapkan 50.000 tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi. (HR. Muslim)
10. Urusan yang telah ditetapkan oleh Allah akan diperoleh oleh seseorang, pasti dia akan mendapatkannya, tidak akan luput darinya. Sebaliknya, apa yang ditetapkan oleh Allah tidak akan diperoleh si hamba, selamanya ia tidak akan didapatkannya.
11. Kabar gembira yang agung bagi orang-orang yang bersabar, yakni dekatnya pertolongan Allah l untuknya karena pertolongan itu selalu bergandengan dengan kesabaran.
12. Kabar gembira besar yang lain, bahwa kesulitan itu pasti akan hilang karena kelapangan selalu bergandengan dengan kesulitan itu sendiri. Dengan demikian, manakala seorang hamba mengalami kesulitan dalam suatu urusan niscaya Allah l akan memberikan kelapangan kepadanya setelah kesulitan tersebut.
13. Kabar gembira yang ketiga adalah jika seseorang ditimpa oleh kesulitan maka hendaklah ia menanti datangnya kemudahan karena Allah telah menyebutkan hal tersebut dalam Al-Qur’anul Karim. Dia Yang Mahasuci berfirman:
“Maka sungguh bersama kesulitan ada kemudahan. Sungguh bersama kesulitan ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)
Jika urusan yang engkau hadapi terasa sulit, berdoalah kepada Allah sembari menantikan kemudahan dari-Nya dan membenarkan janji-Nya.
14. Hiburan bagi hamba tatkala terjadi musibah dan terluput dari urusan yang diidamkannya. Rasulullah n bersabda (yang artinya), “Ketahuilah apa yang telah ditetapkan luput darimu niscaya tidak akan menimpamu. Dan apa yang ditetapkan menimpamu niscaya tidak akan luput darimu.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Dinukil secara ringkas dari adh-Dhiya’ul Lami’ minal Khuthabil Jawami’, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, 6/264—268, dan Syarhul Arba’in an-Nawawiyah, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 224—229)

Catatan Kaki:

1 Nabi n wafat sementara Ibnu Abbas baru berusia sekitar 15 atau 16 tahun atau lebih kecil lagi.
2 HR. at-Tirmidzi dalam Sunan-nya, Kitab Shifatul Qiyamah, no. 2516, Ahmad dalam Musnad­-nya, 1/293. Hadits ini sahih, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi, al-Misykat no. 5302, dan Zhilalul Jannah, 316—318.
3 HR. Ahmad 1/307, al-Hakim dalam al-Mustadrak, 3/624.

4 Kesulitan yang disebutkan dalam ayat pertama sama dengan kesulitan yang disebutkan dalam ayat berikutnya. Penyebutannya diulangi menggunakan alif lam lil ‘ahd adz-dzikri. Namun, kemudahan yang disebutkan dalam ayat yang awal berbeda dengan kemudahan yang disebutkan dalam ayat berikutnya karena keduanya disebutkan dengan lafadz nakirah (tak tertentu). Dengan demikian, satu kesulitan akan dihadapi oleh dua kemudahan. (Lihat Tafsir al-Qur’anil Karim, Juz ‘Amma, hal. 253, karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t)

JENIS KELAMIN JANIN TERMASUK URUSAN GAIB?

Bagaimana cara mendudukkan ilmu kedokteran sekarang yang dengan penemuan alat canggih dapat melihat jenis kelamin janin yang dikandung oleh seorang ibu apakah lelaki atau perempuan, dengan firman Allah l:
“Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (Luqman: 34)
Demikian pula keterangan yang ada dalam Tafsir Ibni Jarir dari Mujahid bahwasanya ada seseorang bertanya kepada Nabi n tentang apa yang akan dilahirkan oleh istrinya. Lalu Allah l menurunkan ayat dalam surah Luqman tersebut. Demikian pula penafsiran Qatadah. Apakah ada yang mengkhususkan keumuman firman Allah l:
“Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (Luqman: 34)
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab,
“Sebelum kita berbicara tentang permasalahan ini, saya ingin menerangkan bahwa tidak mungkin selama-lamanya ada pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an yang sharih (jelas) dengan waqi’ (kenyataan). Namun, jika secara zahir tampak ada pertentangan antara keduanya maka bisa jadi kenyataan itu hanya pengakuan tanpa ada hakikatnya, atau bisa jadi Al-Qur’anul Karim tidak secara sharih menyelisihinya, karena memang Al-Qur’anul Karim yang sharih dan hakikat waqi’ (realitas) adalah hal yang qath’i (pasti). Dan dua hal yang qath’i selamanya tidak mungkin saling bertentangan. Jika hal ini telah jelas maka kita beralih kepada permasalahan yang ditanyakan.
Dinyatakan bahwa mereka sekarang dapat menyingkap apa yang ada di dalam rahim dan dapat mengetahui apakah yang di dalam rahim itu perempuan atau lelaki dengan bantuan alat-alat yang canggih. Jika yang dinyatakan itu batil/omong kosong maka tak ada pembicaraan lagi (masalahnya selesai). Namun, jika yang dikatakan itu benar maka hal itu tidaklah bertentangan dengan ayat yang disebutkan (dalam surah Luqman). Ayat tersebut menunjukkan satu dari lima hal gaib1 yang ada dalam ilmu Allah l. Adapun urusan gaib yang berkaitan dengan janin adalah menyangkut kadar lamanya berada dalam perut ibunya, kehidupannya, amalnya kelak, rezekinya, dan celaka atau bahagianya. Termasuk dalam hal ini, apakah janin itu lelaki atau perempuan. Semua ini tidaklah diketahui sebelum janin itu diberi bentuk.
Adapun setelah dibentuk, pengetahuan tentang janin itu lelaki ataukah perempuan bukan lagi termasuk ilmu gaib. Dengan dibentuknya janin, pengetahuan tentangnya menjadi ilmu syahadah2 (nyata). Hanya saja, janin itu masih tertutup dalam tiga kegelapan atau tiga penutup3. Seandainya penutup tersebut bisa disingkap, niscaya akan jelas urusannya. Tidaklah mustahil di antara sinar yang diciptakan oleh Allah l ada sinar kuat yang dapat menembus kegelapan tersebut hingga tampaklah jenis kelamin janin yang dikandung, apakah laki-laki atau perempuan. Ayat tersebut tidak secara terang-terangan menyebutkan bahwa pengetahuan tentang jenis kelamin lelaki dan perempuan (sebagai ilmu gaib). Demikian pula, tidak ada dari As-Sunnah tentang hal tersebut.
Adapun penukilan penanya dari Ibnu Jarir dari Mujahid tentang seseorang yang bertanya kepada Nabi n tentang apa yang dikandung oleh istrinya, lalu Allah l menurunkan ayat ini, riwayat ini munqathi’ (terputus sanadnya) karena Mujahid dari kalangan tabi’in (sehingga tidak bertemu dengan Nabi n).
Adapun tafsir Qatadah mungkin dibawa kepada pemahaman adanya pengkhususan ilmu Allah l tentang hal tersebut4 di saat janin belum diberi bentuk. Adapun setelah dibentuk, ilmu tentang hal tersebut diketahui juga oleh selain Allah l. Ibnu Katsir t berkata ketika menafsirkan ayat surah Luqman ini, “Demikianlah, tidak ada selain Allah l yang mengetahui apa yang ada di dalam rahim berupa apa yang hendak Dia ciptakan. Akan tetapi, apabila Dia telah memerintahkan keberadaan janin tersebut lelaki atau perempuan, celaka atau bahagia, malaikat yang ditugaskan mengurusi janin pun mengetahuinya. Demikian pula siapa yang Dia kehendaki dari kalangan makhluk-Nya.”
Pertanyaan Anda tentang yang mengkhususkan keumuman firman Allah l:
“Dan Dia mengetahui apa yang ada di dalam rahim.” (Luqman: 34)
Kami menyatakan, jika ayat tersebut mencakup ilmu tentang jenis kelamin janin setelah pembentukannya (sebagai ilmu gaib) maka yang mengkhususkannya (mengeluarkannya dari bagian ilmu gaib) adalah perkara inderawi dan waqi’ (kenyataan)5. Ulama ushul menyebutkan bahwa yang mengkhususkan keumuman Al-Kitab dan As-Sunnah bisa berupa nash (dalil lain), atau ijma’, atau qiyas, atau hal inderawi, atau akal. Ucapan ulama ushul dalam hal ini sudah dikenal.
Akan tetapi, jika ayat tersebut tidak mencakup setelah pembentukan janin, namun yang diinginkan hanyalah sebelum pembentukannya (merupakan ilmu gaib) maka tidak ada pertentangan dengan perkembangan ilmu kedokteran yang bisa mengetahui janin itu lelaki atau perempuan.
Alhamdulilah, tidak didapatkan dan tidak akan pernah didapatkan dalam waqi’ ini ada sesuatu yang menyelisihi Al-Qur’anul Karim yang sharih. Hujatan musuh-musuh kaum muslimin terhadap Al-Qur’anul Karim tentang terjadinya beberapa peristiwa yang secara zahir bertentangan dengan Al-Qur’anul Karim, hanyalah karena kedangkalan pemahaman mereka terhadap Kitabullah, atau peremehan mereka karena jeleknya niat mereka. Akan tetapi, ahli agama dan ahli ilmu memiliki pembahasan yang bisa menyampaikan kepada hakikat sehingga dapat mematahkan syubhat mereka. Hanya untuk Allah lah segala pujian, dan hanya Dia yang melimpahkan anugerah.
Manusia dalam masalah ini6 berada pada dua sisi yang bertentangan, dan ada golongan ketiga yang bersikap pertengahan.
Sisi yang pertama, mereka yang berpegang dengan zahir Al-Qur’anul Karim yang tidak sharih dan mengingkari seluruh waqi’ yang meyakinkan yang menyelisihinya. Sikap ini membawa kepada celaan terhadap dirinya karena kedangkalan ilmunya atau karena sikap taqshirnya, atau malah celaan diarahkan kepada Al-Qur’anul Karim karena menurutnya Al-Qur’an menyelisihi waqi’ yang meyakinkan.
Golongan yang satu lagi (berada pada sisi yang berseberangan). Mereka berpaling dari apa yang ditunjukkan Al-Qur’anul Karim dan hanya mengambil hal-hal materi. Dengan demikian, mereka termasuk orang-orang yang menyimpang (mulhid).
Adapun golongan yang pertengahan mengambil penunjukan Al-Qur’anul Karim dan membenarkan waqi’. Mereka mengetahui bahwa keduanya benar. Tidak mungkin ayat-ayat Al-Qur’an yang sharih bertentangan dengan hal yang diketahui dengan pandangan mata. Mereka pun mengumpulkan pengamalan hal yang naqli (berdasarkan wahyu) dan yang ma’qul (rasional). Dengan sikap seperti ini, selamatlah agama dan akal mereka. Allah l memberi hidayah kepada al-haq terhadap orang-orang yang beriman terkait dengan hal yang mereka perselisihkan dan Dia memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki kepada jalan yang lurus. Semoga Allah memberi taufik kepada kita dan saudara-saudara kita kepada hal tersebut dan menjadikan kita orang-orang yang memberikan bimbingan lagi terbimbing, dan pimpinan terdepan yang mengajak kepada kemaslahatan. Tidak ada taufik yang kuperoleh melainkan dengan pertolongan Allah l. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan hanya pada-Nya pula aku kembali.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Fatwa no. 23 dari Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatisy Syaikh Muhammad ibn al-Utsaimin t, 1/68—70)

Catatan Kaki:

1 Lima urusan gaib yang disebutkan dalam ayat 34 surah Luqman adalah pengetahuan tentang hari kiamat, turunnya hujan, apa yang ada di dalam rahim, apa yang diusahakan seorang hamba, dan di mana seorang hamba diwafatkan. –pent.

2 Lawan dari ilmu gaib. –pent.
3 Sebagaimana disebutkan dalam surah az-Zumar ayat 6:
“Dia menjadikan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan.”
Al-Hafizh Ibnu Katsir t menerangkan dalam tafsirnya bahwa yang dimaksud dengan tiga kegelapan adalah kegelapan rahim, kegelapan selaput yang menutup anak di dalam rahim, dan kegelapan perut. (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim, 7/63) –pent.
4 Apakah janin itu lelaki atau perempuan. –pent.
5 Maksudnya, pengetahuan tentang janin itu lelaki atau perempuan setelah dibentuk di dalam rahim bukan lagi termasuk ilmu gaib karena bisa ditunjukkan oleh inderawi/pandangan mata dan kenyataan yang terjadi. –pent.

6 Antara Al-Qur’anul Karim dan waqi’.–pent.

Sama dalam Meraih Janji

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Telah kita ketahui bahwa wanita dalam Islam memperoleh kemuliaan sebagaimana kaum lelaki. Oleh karena itu, tidak benar pernyataan bahwa Islam mengecilkan keberadaan wanita, Islam memojokkan wanita dan berpihak kepada kaum lelaki saja. Memang di satu sisi derajat lelaki ditempatkan oleh syariat di atas wanita, sebagaimana Allah l berfirman:
“Dan kaum lelaki berada satu derajat di atas kaum wanita.” (al-Baqarah: 228)
Karena kelebihan ini, lelakilah yang berhak memimpin wanita sebagaimana dalam firman-Nya:
“Kaum lelaki adalah pemimpin bagi kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lelaki) di atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (lelaki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa: 34)
Maksudnya, lelakilah yang bertanggung jawab memberikan nafkah kepada keluarganya, dan mencukupi kebutuhan mereka. Dia pula yang menanggung mahar untuk wanita yang dinikahinya. (Tafsir ath-Thabari, 4/59)
Akan tetapi, hal ini tidak berarti meremehkan keberadaan wanita dalam Islam.
Dalam meraih janji Allah l di akhirat nanti, Allah l menyamakan kaum wanita dengan kaum lelaki. Allah l menyebutkan kedua jenis ini dalam tanzil-Nya secara bergandengan tanpa membedakan keduanya. Kita lihat ayat Al-Qur’an berikut ini.
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang jujur/memenuhi perjanjian yang diberikan kepadanya, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang menjaga kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak berzikir kepada Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Ahzab: 35)
Disebutkan bahwa Ummu Umarah al-Anshariyah x pernah mendatangi Nabi n lalu mengatakan:
مَا أَرَى كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ لِلرِّجَالِ وَمَا أَرَى النِّسَاءَ يُذْكَرْنَ بِشَيْءٍ. فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ: {ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ } الْآيَةَ
“Tidaklah aku melihat segala sesuatu terkecuali untuk kaum lelaki dan aku tidak melihat kaum wanita disebut sedikitpun.” Lalu turunlah ayat ini, “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin….” (HR. at-Tirmidzi no. 3211, disahihkan asy-Syaikh al-Muhaddits Muqbil al-Wadi’i t dalam ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, hlm. 187—188)
Dalam riwayat al-Imam Ahmad t disebutkan bahwa Ummu Salamah x, istri Nabi n, berkata kepada Nabi n:
مَا لَنَا لاَ نُذْكَرُ فِي الْقُرْآنِ كَمَا يُذْكَرُ الرِّجَالُ؟
“Kenapa kami tidak disebut dalam Al-Qur’an sebagaimana kaum lelaki disebut dalam Al-Qur’an?”
Ketika Ummu Salamah x sedang menyisir rambutnya, ia mendengar Rasulullah n bersabda di sisi mimbarnya:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ تَعَالَى يَقُوْلُ: { ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ } الْآيَةَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah l berfirman, ‘Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin…’.”
Riwayat ini disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam tafsirnya sebagai sebab turunnya ayat (sabubun nuzul) surah al-Ahzab tersebut. Beliau t juga membawakan jalan-jalan lain dari hadits ini. (Tafsir Ibni Katsir, 6/252—253)
Demikianlah, syariat Islam bersemangat untuk membersihkan pemeluknya dan menegakkan kehidupan pemeluknya di atas kelurusan yang dibawa oleh Islam. Lelaki dan perempuan dalam hal ini sama. Allah l menyebutkan secara rinci sifat-sifat yang dengannya terwujud kelurusan tersebut. Allah l menyebutkan sepuluh sifat dalam ayat ini, yang semuanya saling membantu dalam membentuk jiwa yang tunduk yaitu Islam, iman, qunut (taat), shidiq (jujur), sabar, khusyuk, bersedekah, puasa, menjaga kemaluan, dan banyak berzikir kepada Allah l. Masing-masing sifat tersebut memiliki andil dalam membangun kepribadian seorang muslim, baik ia lelaki maupun wanita.
Di dalam ayat ini, wanita disebut berdampingan dengan lelaki sebagai bukti pengangkatan nilai seorang wanita dan pemberian kedudukan yang sama dengan lelaki dalam hubungan dengan Allah l. Demikian pula dalam pengajaran akidah berupa pembersihan diri, ibadah, dan perangai yang lurus dalam kehidupan agar mereka semua secara bersama-sama dapat mencapai kehidupan yang kekal dalam surga-surga yang seluas langit dan bumi, yang disiapkan untuk kaum lelaki dan kaum wanita. Sama sekali tidak dikurangi pahala mereka dengan sebab kaum wanita. (Mazhahir Takrimil Mar’ah fi asy-Syariah al-Islamiyah, sebuah risalah yang diajukan untuk meraih gelar magister, karya Dr. Su’ad Muhammad, hlm. 40—41)
Dalam ayat di atas, Allah l memuji wanita bersama dengan lelaki.
Pertama, karena keislaman mereka, yaitu tunduk dan terikat dengan perintah Allah l. Kedua, karena keimanan mereka, yaitu pembenaran, benarnya keyakinan, dan kesesuaian lahir dengan batin. Islam dan iman memiliki hubungan yang sangat erat karena tidak ada iman bagi orang yang tidak berislam dan tidak ada Islam bagi orang yang tidak beriman. Seorang mukmin harus terlebih dahulu berislam sehingga terwujud keimanannya. Seorang muslim juga harus memiliki iman sehingga mengesahkan keislamannya. (Tafsir al-Khazin1/Lubabut Ta’wil fi Ma’anit Tanzil, 3/426)
Disebutnya iman dan Islam bersama-sama menunjukkan bahwa iman itu berbeda dengan Islam. Iman bersifat lebih khusus. Allah l berfirman tentang orang-orang A’rab (Badui):
Orang-orang A’rab (Badui) itu berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah (kepada mereka), “Kalian belum beriman tetapi katakanlah, ‘kami telah berislam’, karena iman itu belum masuk ke dalam hati kalian.” (al-Hujurat: 14)
Setelah iman dan Islam, Allah l menyebutkan sifat yang ketiga yaitu qunut. Maknanya adalah beribadah dengan penuh ketaatan. Allah l berfirman memuji hamba-Nya yang qanit:
“(Apakah kalian wahai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang dia takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya?” (az-Zumar: 9)
Sifat qunut ini tumbuh dari keislaman dan keimanan.
Sifat keempat adalah shidq/kejujuran. Sifat ini terkait dengan ucapan. Kejujuran adalah perangai yang terpuji. Oleh karena itulah, di antara sahabat Rasulullah n tidak pernah berdusta baik di masa jahiliahnya (sebelum berislam), apalagi setelah masuk Islam. Kejujuran adalah tanda keimanan sebagaimana dusta tanda kemunafikan. Barang siapa yang jujur, dia akan selamat. Sebaliknya, barang siapa berdusta dia akan celaka. Rasulullah n bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُوْرِ، وَإِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيْقًا، وَلاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا
“Wajib bagi kalian untuk bersifat jujur karena jujur akan membimbing kepada kebaikan, dan sungguh kebaikan akan membimbing kepada surga. Berhati-hatilah kalian dari dusta karena dusta mengantarkan kepada kefajiran, dan sungguh kefajiran akan mengantarkan ke neraka. Terus-menerus seseorang berlaku jujur dan membiasakan kejujuran hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang jujur. Dan terus-menerus seseorang berdusta dan membiasakan dusta hingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sifat sabar ditempatkan setelahnya. Orang sabar yang dipuji dalam ayat ini adalah orang yang sabar mengekang syahwat dan sabar menjalankan ketaatan, baik dalam keadaan tidak suka maupun dalam keadaan giat/bersemangat.
Demikian pula sabar menghadapi musibah. Ia menyadari bahwa apa yang telah ditakdirkan pasti terjadi, tidak mungkin luput darinya. Ia menghadapi takdir tersebut dengan sabar dan tabah. Sabar yang paling berat adalah ketika waktu pertama terjadinya (hal yang tidak disukai), sebagaimana dalam hadits:
إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدَمَةِ الْأُوْلَى
“Hanyalah kesabaran itu pada pukulan yang pertama.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Adapun setelahnya, lebih mudah.
Khusyuk adalah sifat yang berikutnya. Maknanya adalah diam, tenang, dan tunduk. Yang mendorong seseorang berlaku demikian adalah perasaan takut kepada Allah l dan merasakan pengawasan-Nya.
Selanjutnya, Allah l memuji lelaki dan perempuan yang bersedekah. Mereka adalah orang-orang yang berbuat baik kepada orang lemah yang keadaan ekonominya minim, dengan memberikan kelebihan harta yang ada, dalam rangka taat kepada Allah l. Dalam Shahihain disebutkan Rasulullah n bersabda:
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ –فَذَكَرَ مِنْهُمْ– وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لاَ تَعْلَمُ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ
“Ada tujuh golongan yang Allah naungi mereka dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya…—(lalu beliau menyebutkan ketujuh golongan tersebut dan di antara mereka adalah)—seseorang yang bersedekah dalam keadaan sembunyi-sembunyi, sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya.” (HR. al-Bukhari no. 1423 dan Muslim no. 2377)
Berikutnya, lelaki dan wanita yang berpuasa. Allah l memuji mereka karena ibadah puasa yang mereka lakukan. Hal ini karena amalan puasa merupakan penolong terbesar untuk mematahkan syahwat. Rasulullah n bersabda:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَة فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْج، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْم، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang memiliki kemampuan maka hendaklah ia menikah, karena menikah lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Siapa yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa karena puasa adalah perisai baginya.” (HR. al-Bukhari no. 1905 dan Muslim no. 3384)
Setelah menyebutkan lelaki dan wanita yang berpuasa yang syahwat akan terkekang dengannya, sesuai sekali disebutkan orang yang menjaga kemaluan dari yang haram dan dosa, baik kalangan lelaki maupun wanita.
Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang menjaga/memelihara kemaluan mereka kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak-budak yang mereka miliki, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa yang mencari di balik itu, mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Ma’arij: 29—31)
Sifat terakhir yang mendapatkan janji kebaikan adalah banyak berzikir kepada Allah l, baik lelaki maupun perempuan.
Abu Sa’id al-Khudri z berkata, “Sungguh Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَيْقَظَ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَيَا رَكْعَتَيْنِ كُتِبَا تِلْكَ اللَّيْلَةَ مِنَ الذَّاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالذَّاكِرَاتِ
“Apabila seorang suami membangunkan istrinya di waktu malam, lalu keduanya mengerjakan shalat sunnah dua rakaat, pada malam tersebut keduanya akan dicatat termasuk lelaki dan wanita yang banyak berzikir (mengingat) Allah.” (HR. Ibnu Abi Hatim, Abu Dawud no. 1309, disahihkan oleh al-Imam al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 333)
Untuk mereka yang disebutkan dalam ayat di atas, Allah l telah menyediakan ampunan dari dosa dan pahala yang besar yaitu surga. (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 14/120, Tafsir Ibni Katsir, 6/254—256)
Demikianlah kita dapatkan agama Islam ini menyamakan lelaki dan wanita dalam hal meraih kedudukan yang tinggi di sisi Allah l. Islam tidak membedakan keduanya dalam hal beroleh tempat yang diridhai di sisi Pencipta langit dan bumi.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Karya Alauddin Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi asy-Syafi’i t, yang masyhur dengan sebutan al-Khazin, wafat 725 H. Tafsir ini adalah ringkasan dari tafsir Ma’alimut Tanzil karya al-Imam al-Baghawi t dengan tambahan penukilan dan tambahan ringkasan dari tafsir-tafsir sebelumnya. (at-Tafsir wal Mufassirun, 1/ 220—221)

Ummul Mundzir Al-Anshariyyah

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu ‘Imran)

Namanya adalah Ummul Mundzir bintu Qais bin ‘Amr bin ‘Ubaid bin Malik bin ‘Adi bin ‘Amir bin Ghanm bin ‘Adi bin an-Najjar al-Anshariyah an-Najjariyah x. Ibunya bernama Raghibah bintu Zurarah bin ‘Adas bin ‘Abid bin Tsa’labah bin Ghanm bin Malik bin an-Najjar. Ia bersaudara kandung dengan Salith bin Qais z, sahabat mulia yang turut dalam pertempuran Badr.
Ummul Mundzir disunting oleh Qais bin Sha’sha’ah bin Wahb bin ‘Adi bin Malik bin ‘Adi bin Ghanm bin ‘Adi bin an-Najjar. Allah menganugerahkan kepada pasangan ini seorang anak bernama al-Mundzir.
Ketika dakwah mulai menyebar di Madinah, Ummul Mundzir masuk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah n.
Berbagai keutamaan terkumpul pada dirinya. Salah satunya, dia berkerabat dengan Rasulullah n dari pihak ibu beliau, Aminah, yang juga berasal dari Bani an-Najjar.
Selain itu, Ummul Mundzir pernah shalat bersama Rasulullah n menghadap ke dua kiblat. Pada tahun kedua hijriyah, peristiwa besar ini terjadi. Kaum muslimin semula shalat menghadap ke Baitul Maqdis, kiblat yang sama dengan kaum Yahudi. Rasulullah n sangat menginginkan agar kiblat kaum muslimin dipalingkan ke arah Ka’bah. Allah l mengabulkan keinginan beliau yang mulia. Ummul Mundzir x yang biasa shalat bersama Rasulullah n pun turut menyaksikan peristiwa besar ini.
Masih tentang kemuliaan Ummul Mundzir x, Rasulullah n pernah datang ke rumahnya bersama Ali bin Abi Thalib z. Waktu itu Ali z baru saja sembuh dari sakitnya.
Di rumah Ummul Mundzir tergantung setandan kurma muda. Rasulullah n mengambil dan memakan kurma itu. Ali z hendak turut memakannya. Rasulullah n segera mencegahnya. “Tunggu, engkau baru saja sembuh dari sakit,” kata Rasulullah n. Ali z pun duduk, sementara Rasulullah n tetap makan.
Lalu Ummul Mundzir x membuat hidangan terbuat dari gandum yang dicampur silq, sejenis sayuran. Ummul Mundzir menghidangkan makanan itu kepada Rasulullah n. Melihat hidangan itu, Rasulullah n pun mengatakan, “Nah, ini lebih cocok bagimu.”
Seorang wanita mulia yang tertulis namanya dalam kitab-kitab para ulama. Periwayatannya diambil oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Ummul Mundzir bintu Qais al-Anshariyah, semoga Allah meridhainya….

Sumber bacaan:
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu Sa’d (10/392—393)
al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/480—481)
al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/599)
Mukhtashar Siratir Rasul, al-Imam Muhammad bin ‘Abdil Wahhab
Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/387—388)

Suami, Antara Dua Kekeliruan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Islam telah mengajarkan bagaimana seharusnya menjadi seorang istri dan bagaimana seharusnya menjadi suami yang baik. Namun, disayangkan aturan Islam yang demikian adil, arif dan sempurna banyak dilanggar oleh pemeluknya termasuk dalam hal yang satu ini. Pelanggaran yang terjadi bisa karena kesengajaan, atau sikap masa bodo terhadap apa yang dimaukan syariat, atau lebih banyaknya karena memang jahil alias tidak paham.
Kali ini pembicaraan kita akan menyinggung tentang kesalahan yang ada pada suami dalam berbuat dan bersikap terhadap istrinya: dua posisi yang berlawanan, antara yang berlebih-lebihan dan yang menyia-nyiakan. Kenapa yang dibicarakan dari sisi suami, bukan kesalahan istri? Kami jawab bahwa sebelum ini pembahasan di lembar Sakinah sudah sering menyinggung kesalahan istri. Bagaimana seharusnya menjadi seorang istri shalihah, kewajiban yang harus ditunaikan terhadap suami, dan semisalnya. Oleh karena itu, sekarang tiba saatnya kita berbicara tentang suami.
Jika seorang suami mempunyai kesalahan dan kekurangan, Islam akan menegur dan mengarahkannya kepada kebaikan dan hal yang semestinya. Untuk bisa mengambil pelajaran dan melakukan perbaikan diri, tidak ada salahnya kita menengok kekeliruan yang terjadi lalu kita melihat sikap yang seharusnya dan semestinya dilakukan oleh seorang suami.
Kekeliruan yang pertama: Suami menghinakan istri, merendahkan dan melanggar hak-haknya. Ia membiarkan istrinya tanpa bimbingan dan arahan sehingga istri tidak tahu apa yang diwajibkan oleh Allah l terhadap dirinya. Akibatnya, si istri sering menyelisihi aturan-aturan Allah l, dan bisa jadi merusak keluarganya serta memenuhi seruan setiap orang yang mengajaknya kepada kejelekan. Sikap suami yang meremehkan istri dan tidak mengerti arti penting istri ini tidak dibolehkan oleh syariat. Syariat justru memberikan kemuliaan kepada wanita dan meninggikan kedudukannya. Al-Qur’an yang mulia turun memerintahkan suami untuk bergaul dengan baik kepada istrinya:
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Jika kalian tidak menyukai mereka (bersabarlah), karena bisa jadi kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa: 19)
Rasulullah n dalam haji Wada’ tidak lupa menganjurkan para suami agar memperbaiki pergaulan mereka dengan istri-istri mereka. Di saat kaum muslimin berkumpul dalam jumlah yang besar tersebut, beliau n bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا
“Berwasiatlah kalian dengan kebaikan kepada para wanita (para istri).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kekeliruan yang kedua: Mereka melepaskan tali kendali para istri, memberikan kebebasan kepadanya sebebas-bebasnya, dan membiarkannya lepas begitu saja kemana si istri suka. Akibatnya, si istri bebas bepergian tanpa mahram, bercampur baur dengan lelaki lain di tempat-tempat umum, di tempat kerja, dan sebagainya. Padahal Allah l telah mengangkat suami sebagai qawwam, sebagaimana firman-Nya:
“Para lelaki adalah pimpinan bagi para wanita.” (an-Nisa: 34)
Sebagai pemimpin, suami bertanggung jawab mengarahkan istrinya, membimbingnya kepada kebaikan, dan tidak membiarkannya begitu saja1.
Sikap suami pada dua keadaan yang berlawanan ini akan menimbulkan akibat yang buruk. di antaranya:
1. Perceraian
Kita mengetahui konsekuensi dari perceraian ini: tercerai-berainya keluarga dan tersia-siakannya anak. Parahnya akibat yang ditimbulkan oleh sebuah perceraian sehingga membuat ikatan keluarga menjadi terurai ini adalah target utama Iblis. Hal ini sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah n:
إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيْئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُوْلُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيْئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ
“Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air kemudian ia mengirim tentara-tentaranya. Yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah (kerusakan) yang ditimbulkannya. Salah seorang dari mereka datang seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.” Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.” Lalu datang yang lain seraya berkata, “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.” Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut dengan dirinya dan memujinya, “Engkaulah yang terbaik.” (HR. Muslim)
2. Timbulnya berbagai problem suami-istri
Akibat yang jelas dari munculnya problem dalam rumah tangga adalah keluarga tidak bisa menjadi tempat pengasuhan dan pendidikan yang baik bagi generasi yang lahir di tengah-tengahnya.
Sikap suami dalam dua keadaan yang berlawanan ini adalah dosa yang akan dituntut di hadapan Allah l karena Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ… وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya… Dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat an-Nasai disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعاَهُ، أََحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya. Sampai-sampai seorang suami pun akan ditanyai tentang keluarganya.” (Disahihkan oleh al-Imam al-Albani dalam ash Shahihah no. 1636)
Bukankah seorang suami berkewajiban menjaga dirinya dan keluarganya dari api neraka, sebagai pengamalan dari firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…” (at-Tahrim: 6)
Dari sini kita mendapatkan kesimpulan bahwa sikap yang semestinya dari seorang suami adalah ia menjalankan fungsinya sebagai qawwam di tengah keluarganya. Hendaknya ia memuliakan istrinya dengan memberikan hak-haknya. Ia juga hendaknya memberikan pengajaran aturan-aturan syariat, hukum Allah l, dan Sunnah Rasul-Nya kepada sang istri secara langsung ataupun lewat perantara, karena ia bertanggung jawab menyelamatkan istri dan anak keturunannya dari api neraka.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Lihat Muqaddimah asy-Syaikh al-Fadhil al-Imam Muqbil ibnu Hadi al-Wadi’i terhadap kitab Nashihati lin Nisa’ karya putri beliau, Ummu Abdillah al-Wadi’iyah.

KEWAJIBAN MENJAGA LISAN

Khutbah Pertama:
الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِي أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا وَهُوَ عَلى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ، أَحَاطَ عِلْمَهُ بِالظَّاهِرِ وَالخَفِيِّ وَالقَرِيْبِ وَالبَعِيْدِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ فَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيْدُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَعَبْدُهُ أَفْضَلَ العَبِيْدِ، صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ فِي هَدْيِهِمُ الرَّشِيْدِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا، أَمَّا بَعْدُ:
أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَتَحْفَظُوْا مِنْ أَلْسِنَتِكُمْ فَإِنَّ كَلاَمَكُمْ مَحْفُوْظٌ عَلَيْكُمْ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji bagi Allah l yang telah menciptakan manusia dan memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk menjaga ucapan dan perkataannya. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak untuk diibadahi kecuali hanya Allah l semata dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah senantiasa mengaruniakan shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad dan keluarganya serta kaum muslimin yang senantiasa mengikuti petunjuknya.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah l dengan senantiasa menjaga lisan kita untuk tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai-Nya. Ingatlah, bagi setiap manusia telah ditugaskan dua malaikat yang berada di sebelah kanan dan kirinya. Salah satunya akan mencatat dan menulis setiap kebaikan yang dilakukannya. Adapun yang satunya akan mencatat setiap perbuatan jeleknya. Allah l berfirman:
“(Yaitu) ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya, salah satunya duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17—18)
Berdasarkan ayat ini, setiap perkataan, baik yang diucapkan dengan keras maupun lirih, begitu pula setiap perbuatan, baik yang dilakukan di hadapan orang maupun sembunyi-sembunyi akan ditulis dan dimintai pertanggungjawabannya serta akan diperlihatkan di akhirat nanti kepada para pelakunya. Allah l berfirman:
“Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu.” (al-Isra’: 13—14)

Hadirin rahimakumullah,
Setiap muslim tentu mengimani hal tersebut. Namun, kenyataannya banyak di antara kita yang kurang berhati-hati menjaga lisan sehingga terjatuh pada ketergelinciran. Betapa banyak orang-orang yang menyibukkan dirinya dengan pembicaraan yang sesungguhnya tidak ada kepentingan bagi dirinya. Yang dilakukan hanyalah semata-mata mencampuri urusan orang lain, tidak meringankan atau membantu, apalagi menyelesaikan masalah. Justru pembicaraannya bisa menyebabkan semakin keruh keadaan. Hal ini tentunya termasuk ketergelinciran lisan dan menyelisihi sabda Nabi n:
مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ
“Termasuk baiknya Islam seseorang adalah ia meninggalkan apa yang tidak ada urusannya dengan dirinya.” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Termasuk kesalahan lisan yang sering dilakukan oleh seseorang adalah larut dalam pembicaraan yang tidak benar, seperti pembicaraan yang berisi kemaksiatan atau pembicaraan yang belum jelas kebenarannya. Akibatnya, perkataan yang berupa kemaksiatan atau kejelekan yang dilakukan oleh sebagian kaum muslimin menjadi bahan pembicaraan yang tersebar di mana-mana. Tentu saja hal ini akan menyenangkan dan menguntungkan orang-orang yang menyukai kemaksiatan, orang-orang munafik, dan musuh-musuh Islam. Allah l telah mengancam orang-orang yang suka menyebarkan kejelekan sebagian kaum muslimin dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang senang agar (berita tentang saudaranya) yang berbuat kemaksiatan itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka adzab yang pedih di dunia dan di akhirat, dan Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)

Hadirin rahimakumullah,
Terkadang ada orang yang berprasangka tidak baik terhadap saudaranya, padahal baru sebatas dugaan yang sangat lemah. Namun, dia terburu-terburu menyampaikan kepada yang lainnya sehingga tanpa disadari dia telah menyakiti saudaranya dengan perbuatannya tersebut. Maka dari itu, dikhawatirkan perbuatan tersebut memasukkan dirinya dalam hadits Nabi n:
وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللهِ لاَ يُلْقِي لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ
“Sungguh seorang hamba berbicara dengan satu kalimat yang menyebabkan kemurkaan Allah dalam keadaan dia tidak peduli dengan ucapan tersebut sehingga menyebabkan dia dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. al-Bukhari)
Oleh karena itu, yang semestinya dilakukan oleh seorang muslim ketika mendapatkan saudaranya seiman berbuat kemaksiatan adalah mengingatkan dan menasihatinya. Adapun menjadikan ketergelinciran atau kesalahan saudaranya sebagai bahan pembicaraan semata ketika berkumpul dengan orang, hal tersebut adalah perbuatan yang tercela. Ingatlah sabda Nabi kita n:
يَا مَعْشَرَ مَنْ قَدْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِينَ وَلاَ تُعَيِّرُوهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَبَّعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِى جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai orang-orang yang telah menyatakan Islam dengan lisan namun iman belum masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin dan menjelek-jelekkan mereka serta jangan pula mencari-cari kejelekannya. Karena barang siapa mencari-cari kejelekan saudaranya, Allah akan mencari kejelekannya pula. Dan barang siapa yang Allah mencari kejelekannya, pasti akan terbongkar kejelekannya meskipun dia melakukannya sembunyi-sembuyi di dalam rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani)
Maka dari itu, marilah kita memikirkan apa yang akan kita ucapkan. Tidakkah kita takut, apabila di akhirat kelak ditanya: Bukankah engkau telah mengatakan demikian dan demikian? Atas dasar apa engkau mengatakannya dan dari mana engkau mendapatkannya? Sementara urusannya belum jelas bagi kita. Sungguh, bisa jadi apa yang kita sampaikan adalah berita yang dusta atau tidak benar semuanya. Betapa banyak kejadian yang disebabkan ketidakhati-hatian dalam menerima dan menyampaikan berita sehingga menimbulkan permusuhan di antara kaum muslimin.

Hadirin rahimakumullah,
Termasuk kesalahan lisan adalah mengucapkan kata-kata yang berbentuk cercaan, celaan, dan cacian. Oleh karena itu, sungguh sangat disayangkan ada orang yang bermudah-mudahan dan terbiasa mengucapkan kata-kata laknat dan cercaan, baik kepada orang lain maupun kepada kendaraan yang dinaikinya atau yang semisalnya. Padahal Nabi n bersabda:
وَلَعْنُ الْمُؤْمِنِ كَقَتْلِهِ
“Melaknat seorang mukmin seperti membunuhnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dahulu ada seorang wanita yang melaknat kendaraan untanya. Kemudian Nabi n bersabda:
خُذُوا مَا عَلَيْهَا وَدَعُوهَا فَإِنَّهَا مَلْعُونَةٌ
“Ambillah barang yang ada di atas (unta tersebut) dan biarkan dia sendirian karena dia adalah kendaraan yang sudah dilaknat.” (HR. Muslim)
Sebagian orang, ketika ada permasalahan dengan saudaranya, begitu mudahnya mengeluarkan kata-kata yang tidak sepantasnya diucapkan kepada saudaranya seiman. Dirinya yang lemah tidak menyadari bahwa dengan ucapan tersebut justru dia telah berbuat zalim kepada dirinya sendiri dan telah memikul dosa yang berat.

Jama’ah jum’ah rahimakumullah,
Di antara kesalahan lisan adalah memperolok-olok dan merendahkan manusia. Baik dengan ucapan, seperti mengejek orang atau menertawakannya; dengan isyarat dan perbuatan, seperti mengejek dengan mencibir; atau dengan pandangan matanya. Allah l berfirman:
“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (al-Humazah: 1)
Akhirnya, marilah kita berupaya untuk menjaga lisan-lisan kita dan membasahinya dengan zikir serta ucapan yang baik. Mudah-mudahan Allah l senantiasa memberikan hidayah-Nya kepada kita semua.
Khutbah Kedua:
الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعلى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْماً كَثِيْراً، أَمَّا بَعْدُ:
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita bertakwa kepada Allah l dengan senantiasa mengingat bahwa kita akan dimintai pertanggungjawaban atas setiap perkataan yang kita ucapkan.

Hadirin rahimakumullah,
Ketahuilah bahwa kesalahan lisan akan menjatuhkan pelakunya kepada kebinasaan. Nabi n bersabda:
وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِى النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلاَّ حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ؟
“Bukankah yang menyebabkan manusia diseret ke neraka tertelungkup di atas wajah-wajah mereka adalah akibat perkataan yang keluar dari lisan-lisan mereka?” (HR. at-Tirmidzi dan disahihkan asy-Syaikh al-Albani)
Oleh karena itu, seseorang harus senantiasa berhati-hati dalam berbicara. Apalagi di antara kesalahan lisan ada yang berupa kekafiran dan bisa menyebabkan pelakunya keluar dari agamanya. Seperti ucapan yang memperolok-olok Allah l, kitab-Nya, agama, dan Rasul-Nya. Bahkan, ada ucapan yang barangkali seseorang mengucapkannya dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar namun karena tidak memikirkan akibat ucapannya, dia menghinakan orang lain dan tidak beradab kepada Allah l. Hasilnya, bukan rahmat Allah l yang dia dapatkan. Justru Allah l menggugurkan seluruh amalannya. Nas’alullah as-salamah (Kita meminta keselamatan kepada Allah). Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jundab z bahwa Rasulullah n bersabda:
أَنَّ رَجُلاً قَالَ: وَاللهِ، لاَ يَغْفِرُ اللهُ لِفُلاَنٍ؛ وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَيََّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّي قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ
Ada seseorang yang mengatakan, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni kesalahan orang itu.” Allah pun berkata: “Siapa yang bersumpah mendahului Aku dan menyatakan bahwa Aku tidak akan mengampuni dosa orang itu? Sungguh Aku telah mengampuni-Nya, dan sungguh Aku telah menggugurkan amalanmu.” (HR. Muslim)
Demikianlah beberapa jenis kesalahan lisan serta akibatnya. Masih ada beberapa jenis lainnya, seperti ghibah, namimah (adu domba), berdusta, berlebihan dalam bercanda, dan sebagainya. Semua ini harus ditinggalkan, karena kesalahan-kesalahan lisan tersebut sering kurang diperhatikan. Padahal, di antara kesalahan lisan ada yang berupa dosa besar, bahkan berupa syirik dan pembatal Islam. Hal ini semua menunjukkan pentingnya menjaga lisan dan berfikir sebelum berbicara agar tidak terjatuh pada kesalahan-kesalahan.

Catatan Kaki:

Kami tidak mencantumkan doa pada rubrik “Khutbah Jumat” agar khatib yang ingin membaca doa memilih doa yang sesuai dengan keadaan masing-masing.

 

Sedang Shalat Sunnah, Muadzin Kumandangkan Iqamat

Bagaimana hukumnya jika muadzin mengumandangkan iqamat ketika masih ada jamaah yang shalat sunnah qabliyah? Ia beralasan bahwa yang shalat sunnah itu datangnya terlambat, yaitu setelah yang lainnya selesai shalat sunnah, dan ia ingin segera mendirikan shalat pada awal waktu (tidak mau menunggu lama-lama). Tolong ustadz, berikan solusi dan penjelasannya.
085284xxxxxx
Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.
Peristiwa semacam ini tidak jarang terjadi. Dalam kondisi semacam ini, banyak pihak yang merasa bingung. Imam dan muadzin bingung, karena ingin mengumandangkan iqamat namun masih ada jamaah yang shalat sunnah. Jamaah juga bingung karena ingin shalat sunnah sementara jamaah lain sudah terlalu lama menunggu dan seakan-akan sudah mau iqamat, sehingga kalau dia melaksanakan shalat sunnah takut terkejar-kejar iqamat. Begitulah kondisi yang ada. Semua kebingungan ini terjadi karena mayoritas jamaah shalat—termasuk pula muadzin dan imam—belum mengetahui hukum iqamat dan shalat sunnah dalam kondisi semacam ini. Untuk itu saya akan mencoba menjelaskan beberapa hukum yang semoga bisa menjadi pencerahan yang memberikan solusi bagi banyak kaum muslimin yang belum mengetahui masalah ini.
Yang pertama harus kita ketahui adalah bahwa iqamat merupakan hak imam. Dialah yang menentukan iqamat, bukan muadzin apalagi jamaah. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh para ulama, di antaranya al-Imam at-Tirmidzi t. Beliau t mengatakan, “Sebagian ahli ilmu mengatakan bahwa muadzin lebih berhak dalam hal azan, sedangkan imam lebih berhak dalam hal iqamat.”
Dalam kitab al-Mughni (2/72) karya Ibnu Qudamah disebutkan, “Tidak boleh dikumandangkan iqamat sampai imam mengizinkannya.”
Dalam kitab al-Majmu’ (3/138) karya an-Nawawi disebutkan, “Asy-Syafi’i berkata dalam kitab al-Umm, ‘Wajib bagi imam untuk mengontrol keadaan para muadzin agar mereka azan di awal waktu dan tidak menunggu mereka dalam hal iqamat. Imam juga wajib memerintahkan muadzin untuk mengumandangkan iqamat pada waktunya.’ Ini teks ucapan beliau. Ulama yang semazhab dengan kami berkata, ‘Waktu azan diserahkan kepada pandangan muadzin. Ia tidak perlu bertanya dulu kepada imam. Adapun waktu iqamat diserahkan kepada imam, sehingga muadzin tidak boleh mengumandangkan iqamat melainkan dengan isyarat dari imam’.”
Dalam kitab Musykil al-Atsar karya ath-Thahawi disebutkan, “Iqamat diserahkan kepada imam, bukan kepada muadzin.”
Pernyataan para ulama tersebut berdasarkan apa yang mereka pahami dari hadits-hadits Nabi n. Di antaranya hadits Jabir bin Samuroh z, ia berkata:
كَانَ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللهِ n يُمْهِلُ فَلاَ يُقِيمُ حَتَّى إِذَا رَأَى رَسُولَ اللهِ n قَدْ خَرَجَ أَقَامَ الصَّلاَةَ حِينَ يَرَاهُ
“Adalah muadzin Rasulullah n menunggu sehingga ia tidak mengumandangkan iqamat sampai ia melihat Rasulullah keluar (dari rumahnya). Ia mengumandangkan iqamat saat melihat beliau n.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi, Abwabu ash-Shalah, Bab Annal Imam Ahaq bil Imamah, dan dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Demikian pula hadits Ibnu Abbas c, (ia berkata):
أَخَّرَ النَّبِىُّ n هَذِهِ الصَّلاَةَ فَجَاءَ عُمَرُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، رَقَدَ النِّسَاءُ وَالْوِلْدَانُ
“Nabi n mengakhirkan shalat ini (isya). Umar lalu mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, wanita-wanita dan anak-anak telah tertidur’.” (Sahih, HR. al-Bukhari)
Beberapa ulama berdalil dengan hadits ini dalam masalah ini. Tampak dari kejadian tersebut bahwa para sahabat menunggu Rasulullah n dalam hal iqamat karena beliau adalah imam. Sampai-sampai Umar z mengabarkan kepada Rasulullah n bahwa para wanita dan anak-anak telah tertidur, menunjukkan bahwa waktu sudah cukup malam. Setelah itu Rasulullah n keluar lalu melaksanakan shalat isya.
Terdapat pula riwayat dari sahabat Ali z:
الْمُؤَذِّنُ أَمْلَكُ بِالْأَذَانِ وَالْإِمَامُ أَمْلَكُ بِالْإِقَامَةِ
“Muadzin lebih berhak dalam hal azan, dan imam lebih berhak dalam hal iqamat.” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah dalam kitab al-Mushannaf, Abu Hafsh al-Kattani, dan al-Baihaqi dalam as-Sunan ash-Shughra. Riwayat ini disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah pada pembahasan hadits no. 46691. Lihat takhrijnya pada kitab tersebut)
Di antara hikmahnya adalah terkadang terjadi sesuatu pada imam, atau ada kebutuhan tertentu padanya, dia juga yang menentukan waktunya agar tepat menurut Sunnah Nabi n dan selaras dengan kondisi makmum. Oleh karena itu, adalah pantas jika iqamat tersebut menunggu izin atau perintahnya. (Mathalibu Ulin Nuha, Kasysyaful Qina’ dan Syarh Zadul Mustaqni’ karya al-Hamd)
Atas dasar ini, ketika imam memerintahkan atau mengizinkan muadzin untuk iqamat, hendaknya segera dikumandangkan, baik saat itu ada jamaah yang sedang shalat sunnah maupun tidak. Tidak mesti menunggu jamaah menyelesaikan shalat sunnahnya. Jadi, waktu iqamat diserahkan kepada imam dan pertimbangannya.
Yang kedua, masalah makmum: apa sikap makmum setelah muadzin mulai mengumandangkan iqamat?
Makmum bisa kita bagi menjadi dua.
1. Makmum yang tidak sedang melaksanakan shalat sunnah
2. Makmum yang sedang melaksanakan shalat sunnah.
Makmum yang tidak sedang melaksanaan shalat sunnah tidak boleh memulai shalat sunnah sementara muadzin sudah memulai iqamat. Hal itu berdasarkan hadits Nabi n dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau n bersabda:
إِذَا أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَلاَ صَلاَةَ إِلاَّ الْمَكْتُوبَةُ
“Jika telah ditegakkan shalat maka tidak ada shalat selain shalat yang wajib.” (Sahih, HR. Muslim)
Dalam riwayat Ahmad disebutkan dengan lafadz:
إِلاَّ الَّتِي أُقِيْمَتْ
“… Selain shalat yang ditegakkan.”
Makna ditegakkan shalat yakni dikumandangkan iqamat, sebagaimana hal ini dijelaskan oleh para ulama, di antaranya al-Mubarakfuri t. Beliau t mengatakan, “Itulah makna yang dikenal. Al-Iraqi mengatakan, ‘Itulah yang langsung terpahami oleh pikiran tentang hadits ini’.” (Tuhfatul Ahwadzi)

Dilarangnya Shalat tersebut Apakah sejak Awal Iqamat atau Akhirnya?
Al-Iraqi menjawab, “Tampaknya yang dimaksud adalah ketika (muadzin) memulai iqamat agar makmum bersiap-siap mendapatkan takbiratul ihram bersama imam. Di antara yang menunjukan hal ini adalah hadits Abu Musa z dalam riwayat ath-Thabarani bahwa Nabi n melihat seseorang shalat dua rakaat sunnah fajar ketika muadzin memulai iqamat.” Al-Iraqi mengatakan, “Sanad hadits ini bagus.” Hal ini juga dipertegas oleh al-Mubarakfuri dalam Syarah at-Tirmidzi.
Dari sini, an-Nawawi t menyimpulkan, “Hadits-hadits ini mengandung larangan yang tegas untuk memulai shalat sunnah setelah iqamat shalat dikumandangkan, sama saja baik sunnah rawatib seperti sunnah subuh, zuhur, dan asar, maupun yang lainnya.” (al-Minhaj Syarah Shahih Muslim)
Ibnu Hajar t juga mengatakan, “Hadits itu mengandung larangan melakukan shalat sunnah setelah dimulainya iqamat shalat, sama saja baik itu sunnah rawatib maupun selainnya.” (Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari)
Menurut an-Nawawi, ini adalah pendapat al-Imam asy-Syafi’i t dan jumhur ulama. Adapun Abu Hanifah berpendapat bahwa bagi yang belum shalat dua rakaat sunnah (qabliyah) subuh hendaknya shalat di masjid setelah iqamat, selama tidak khawatir tertinggal rakaat kedua.
Dalam hal ini, ada sembilan pendapat sebagaimana diterangkan oleh asy-Syaukani dalam kitabnya Nailul Authar dan dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi. Namun, pendapat asy-Syafi’i dan jumhur itulah yang dikuatkan oleh al-Mubarakfuri. Dengan demikian, dua rakaat qabliyah subuh pun tidak boleh dilakukan, walaupun keutamaan shalat tersebut sangat besar. Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut ini.
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ سِرْجِسٍ، وَكَانَ قَدْ أَدْرَكَ النَّبِيَّ n أَنَّ رَسُولَ اللهِ n صَلَّى الْفَجْرَ، فَجَاءَ رَجُلٌ فَصَلَّى خَلْفَهُ رَكْعَتَيِ الْفَجْرِ، ثُمَّ دَخَلَ مَعَ الْقَوْمِ، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللهِ n صَلَاتَهُ قَالَ لِلرَّجُلِ: أَيُّهُمَا جَعَلْتَ صَلَاتَكَ، الَّتِي صَلَّيْتَ وَحْدَكَ، أَوِ الَّتِي صَلَّيْتَ مَعَنَا؟
Dari Abdullah bin Sirjis z—dan beliau telah berjumpa dengan Rasulullah n—bahwa Rasulullah n shalat fajar. Datanglah seseorang lalu shalat dua rakaat (sunat) fajar di belakang beliau. Dia kemudian masuk (shalat bersama jamaah). Ketika Nabi n selesai dari shalatnya, beliau n mengatakan kepada orang tersebut, “Shalat yang mana yang engkau anggap sebagai shalatmu: yang engkau shalat sendirian, atau yang engkau shalat bersama kami!?” (Sahih, HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, Ahmad, Ibnu Hibban dan yang lain. Hadits tersebut adalah lafadz Ibnu Hibban, dan disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani t)
Dari Ibnu Abbas c, ia berkata:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: كُنْتُ أُصَلِّي وَأَخَذَ الْمُؤَذِّنُ فِي الْإِقَامَةِ، فَجَذَبَنِي النَّبِيُّ n وَقَالَ: أَتُصَلِّي الصُّبْحَ أَرْبَعًا؟
Aku shalat sementara muadzin mulai mengumandangkan iqamat. Nabi n lalu menarikku dan mengatakan, “Apakah engkau mau shalat subuh empat rakaat?!” (HR. Abu Dawud ath-Thayalisi dan al-Hakim, beliau mengatakan, “Sahih sesuai dengan syarat Muslim.”)
Adapun sikap makmum yang sedang melakukan shalat sunnah sementara muadzin mengumanangkan iqamat adalah sebagai berikut.
Secara ringkas, jika ia melanjutkan shalatnya akan menyebabkannya tertinggal takbiratul ihram maka hendaknya ia membatalkan shalatnya. Akan tetapi, kalau tersisa dari shalat sunnahnya kurang dari satu rakaat, hendaknya dia mempercepat dan tidak membatalkannya agar mendapatkan takbiratul ihram imam.
Hal ini berdasarkan hadits-hadits yang lalu yang mengandung larangan mengerjakan shalat sunnah setelah dikumandangkannya iqamat. Berikut ini saya tambahkan juga beberapa keterangan ulama.
Ibnu Rajab t mengatakan, “Jika seseorang telah memulai shalat sunnah sebelum iqamat, lalu iqamat dikumandangkan, dalam hal ini ada dua pendapat. Salah satunya, ia tetap menyempurnakan shalatnya. Pendapat yang kedua, ia memutusnya.” (Fathul Bari Syarah Shahih al-Bukhari, dengan diringkas)
Yang berpendapat memutus adalah Said bin Jubair (seorang tabi’in), dan salah satu riwayat dari asy-Syafi’i serta Ahmad. Ini juga pendapat Zhahiriyah. Al-Lajnah ad-Daimah juga memfatwakan agar shalat sunnahnya diputus sehingga mendapatkan takbiratul ihram. (Fatwa no. 3763)
Ibnu Abdir Bar t mengatakan, “Yang jadi hujjah saat perselisihan adalah sunnah Nabi n. Oleh karena itu, barang siapa berhujjah dengannya, dialah yang beruntung. Barang siapa menggunakannya, dialah yang selamat. Tidaklah aku diberi taufiq selain oleh Allah.” (at-Tamhid)
Muhammad bin Sirin t (seorang ulama tabi’in) mengatakan, “Mereka tidak menyukai untuk shalat dua rakaat jika iqamat telah dikumandangkan.” Beliau t juga mengatakan, “Apa yang tertinggal dari shalat yang wajib lebih saya sukai daripada kedua rakaat sunnah tersebut.” (at-Tamhid karya Ibnu Abdil Bar)
Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Hal itu karena apabila muadzin memulai iqamat berarti telah wajib masuk shalat bersamanya dan jamaah itu wajib. Maka dari itu, tidak boleh seseorang tersibukkan dengan selainnya yang lebih rendah nilainya …
Barang siapa melakukan shalat setelah iqamat selain shalat yang wajib, seolah-olah ia menambah dalam shalat wajib, atau seolah-olah ia melakukan shalat wajib dua kali.
Oleh karena itu, wallahu a’lam, Rasulullah n mengisyaratkan dengan sabdanya, “Apakah subuh itu empat rakaat?!”
Demikian pula sabdanya, “Shalat yang mana yang engkau anggap, shalatmu yang sendirian atau shalatmu bersama kami?”
Sebab, tidak ada shalat setelah iqamat melainkan shalat yang ditegakkan dengan iqamat tersebut. Demikian pula, shalat-shalat sunnah itu mungkin diqadha setelah shalat wajib. Adapun yang tertinggal dari batas awal shalat wajib dan selanjutnya dari shalat di belakang imam walaupun setelah satu rakaat secara berjamaah tidak mungkin diganti dengan qadha. Jelas bahwa menjaga yang tidak mungkin diqadha lebih utama daripada yang mungkin diqadha. Apa yang didapat berupa takbiratul ihram, ucapan amin, dan ruku’, itu lebih bagus dari seluruh shalat sunnah.” (Syarhul Umdah)
Asy-Syaikh Ubaidullah ar-Rahmani mengatakan, “Yang kuat menurut saya adalah ia memutus shalatnya saat iqamat dikumandangkan jika masih tersisa satu rakaat2 karena paling sedikitnya shalat itu satu rakaat. Nabi n mengatakan, ‘Tidak ada shalat setelah iqamat selain shalat yang wajib.’ Oleh karena itu, tidak boleh shalat satu rakaat pun setelah iqamat. Adapun jika iqamat dikumandangkan sementara dia sedang sujud atau tasyahhud maka tidak mengapa apabila dia tidak memutusnya dan tetap menyempurnakannya, karena dalam kondisi tersebut tidak disebut shalat satu rakaat setelah iqamat. (Syarah Misykatul Mashabih)
Ini pula yang difatwakan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t dalam Majmu Fatawa beliau (11/389).
Al-Imam Ahmad ditanya tentang seseorang yang belum shalat dua rakaat sunnah subuh, sementara muadzin telah mengumandangkan iqamat, “Apa yang lebih engkau sukai, apakah ia mengikuti imam lalu mengqadha dua rakaat tersebut, atau dia shalat dua rakaat dahulu baru masuk bersama imam?”
Beliau t menjawab, “Sunnah Nabi n dalam hal ini adalah jika telah dikumandangkan iqamat shalat, tidak boleh sama sekali shalat dua rakaat fajar di masjid. Kalau dia shalat di rumah sebelum keluar, kuharap ada kelonggaran baginya. Akan tetapi, sebagian ulama juga membenci hal itu. Tidak melakukannya lebih aku sukai.
Jika seseorang sudah memulai dua rakaat fajar lalu muadzin memulai iqamat, dan harapannya jika ia mempercepat akan mendapatkan takbiratul ihram bersama imam, ia boleh melanjutkannya.” (Masa’il al-Imam Ahmad dan al-Imam Ishaq bin Rahuyah)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Ada juga yang meriwayatkan ucapan tersebut dari Nabi n (marfu’). Akan tetapi, riwayat tersebut lemah. Riwayat tersebut dilemahkan oleh para ulama, di antaranya asy-Syaikh al-Albani dalam adh-Dha’ifah no. 4669. Yang sahih, itu ucapan Ali z.

2 Yakni—wallahu a’lam—satu rakaat terhitung sampai batas ruku. Adapun setelah ruku, itu kurang dari satu rakaat. Dengan demikian, apabila iqamat dikumandangkan sedangkan yang tersisa dari shalatnya kurang dari satu rakaat, hendaknya ia menyempurnakannya segera dengan tetap thuma’ninah, tidak membatalkannya.

Sifat Shalat Nabi (bagian ke 11)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)

Membaca Surah Al-Qur’an Setelah al-Fatihah
Setelah membaca al-Fatihah, Rasulullah n membaca surah-surah yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hukum qiraah (membaca surah-surah Al-Qur’an) setelah al-Fatihah adalah mustahab (sunnah) menurut pendapat mayoritas ulama, di antaranya Malik, ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan Ahmad. (al-Majmu’ 3/353—354, al-Mughni, Kitab ash-Shalah, “Fashl Saktatul Imam Ba’dal Fatihah, mas’alah: Qala Tsumma Yaqra’ Suratan fi Ibtida’iha …”)
Jika shalat fardhu itu dikerjakan pada malam hari, yaitu maghrib dan isya1 serta shalat subuh, demikian pula shalat Jum’at, shalat ‘Iedain, shalat dua gerhana (gerhana matahari dan bulan), shalat istisqa’, dan shalat nafilah seperti shalat tarawih, beliau mengeraskan bacaan beliau (jahr). Adapun dalam shalat fardhu di siang hari, zhuhur dan ashar2, juga shalat nafilah seperti shalat rawatib, shalat dhuha, dan selainnya, Rasulullah n tidak mengeraskan bacaan beliau (sirr).
Tentang masalah shalat fardhu yang bacaannya jahr dan sirr, al-Imam an-Nawawi t telah menyebutkan adanya ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan khalaf (generasi belakangan) maupun salaf (generasi terdahulu yang saleh). Terlebih lagi, banyak hadits sahih yang menunjukkan hal ini. (al-Majmu’, 3/355)
Demikian pula pendapat Ibnu Hazm t sebagaimana dalam Maratibul Ijma’. (hlm. 60)

Hikmah Jahr dan Sirr dalam Bacaan Shalat
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Perbedaan jahr dan sirr antara shalat malam hari dan shalat siang hari sungguh merupakan puncak keselarasan dan hikmah. Hal ini karena malam hari (yang bacaan diucapkan dengan jahr, pen.) adalah saat suara-suara menjadi tenang, gerakan pun tenang, dan hati kosong dari berbagai kesibukan. Begitu pula, konsentrasi yang terpencar pada siang hari dapat terkumpul di waktu malam. Adapun siang hari adalah tempat kesibukan yang panjang bagi hati dan badan. Malam adalah tempat bertemunya hati dengan lisan dan bertemunya lisan dengan telinga.
Oleh karena itulah, As-Sunnah mengajarkan bacaan pada shalat fajar (shalat subuh) lebih panjang daripada bacaan dalam shalat-shalat fardhu yang lain. Dalam shalat subuh, Rasulullah n membaca sekitar 60—100 ayat. Abu Bakr ash-Shiddiq z membaca surah al-Baqarah dalam shalat fajar. Umar ibnul Khaththab z membaca surah an-Nahl, Hud, Bani Israil, dan Yunus serta surah-surah semisalnya. Saat itu adalah saat seseorang bangun dari tidurnya, hati sangat kosong dari berbagai kesibukan. Oleh karena itu, jika yang pertama kali mengetuk pendengaran hati adalah Kalamullah yang berisi kebaikan seluruhnya, bertepatan dengan kosongnya hati dari berbagai kesibukan, tentu kebaikan tersebut akan mendapatkan tempat di dalam hati dengan mapan, tanpa ada yang mendesaknya.
Adapun siang hari, keadaannya berlawanan dengan apa yang kita sebutkan di atas sehingga bacaan shalat di siang hari itu dilakukan dengan sirr. Namun, bacaan sirr ini dilakukan jika tidak berhadapan dengan hal lain yang lebih kuat, seperti adanya kumpulan orang banyak dalam dua shalat Id dan shalat Jum’at, shalat istisqa’ dan kusuf (gerhana). Menjahrkan bacaan ketika itu lebih bagus dan lebih pantas agar tujuan tercapai dan lebih bermanfaat bagi banyak orang. Sementara salah satu tujuan risalah yang paling agung adalah membacakan Kalamullah kepada mereka dan menyampaikannya pada kumpulan manusia yang banyak. Wallahu a’lam. (I’lamul Muwaqqi’in, 2/91)

Berita para Sahabat g tentang Bacaan Nabi n
Para sahabat g bisa mengetahui Rasulullah membaca surah Al-Qur’an dalam shalat sirriyah dari gerakan jenggot beliau. Hal ini dikabarkan oleh sejumlah sahabat, seperti Khabbab ibnul Arat z ketika ditanyakan kepadanya apakah Nabi n membaca surah ketika shalat zhuhur dan ashar. Khabbab mengiyakan dan menyatakan bahwa mereka mengetahui hal tersebut dari gerakan jenggot beliau n. (HR. Al-Bukhari no. 760)
Surah yang dibaca Rasulullah n juga diketahui dari bacaan yang terkadang beliau perdengarkan kepada para sahabat yang shalat di belakang beliau. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Qatadah z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya (no. 759) yang akan dibawakan dalam bacaan shalat zhuhur, insya Allah.
Terkadang Rasulullah n membaca surah yang panjang. Namun, pada kesempatan yang lain beliau membaca surah yang pendek. Bisa jadi, karena sedang dalam perjalanan/safar, atau beliau sedang sakit, atau beliau memutus bacaannya karena batuk. Pernah pula beliau n memendekkan shalat dan bacaannya karena mendengar tangisan anak kecil yang ibunya ikut shalat di belakang beliau. Hal ini diceritakan oleh Anas bin Malik z:
“Suatu hari dalam shalat fajar, Rasulullah n meringankan shalat. Beliau n membaca surah yang paling pendek dari dua surah dalam Al-Qur’an. Ditanyakan kepada beliau:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، لِمَ جَوَّزْتَ؟ قَالَ: سَمِعْتُ بُكَاءَ صَبِيٍّ فَظَنَنْتُ أَنَّ أُمَّهُ مَعَنَا تُصَلِي، فَأَرَدْتُ أَنْ أُفْرِغَ لَهُ أُمَّهُ
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau memendekkan/meringankan pelaksanaan shalat?” Beliau menjawab, “Aku mendengar tangisan anak kecil. Aku sangka ibunya ikut shalat bersama kita sehingga aku ingin memberikan kesempatan kepada ibunya untuk anaknya.” (HR. Ahmad 3/257, sanadnya sahih menurut syarat Syaikhani [al-Bukhari dan Muslim, red.], kecuali Ali bin Zaid, riwayatnya mutaba’ah (dalam kitab Shahih hanya sebagai pendukung), sebagaimana kata al-Imam al-Albani t dalam Ashlu Shifah Shalatin Nabi n, 1/ 391)
Dalam riwayat al-Bukhari (no. 708) disebutkan bahwa Anas bin Malik z berkata:
مَا صَلَّيْتُ خَلْفَ إِمَامٍ أَخَفَّ صَلاَةً مِنْ رَسُوْلِ اللهِ n وَلاَ أَتَمَّ، وَإِنْ كَـانَ رَسُوْلُ اللهِ n لَيَسْمَعُ بُكاَءَ الصَّبِيِّ فَيُخَفِّفُ مَخَافَةَ أَنْ تُفْتَنَ أُمُّهُ
“Aku tidak pernah shalat di belakang imam yang paling ringan namun paling sempurna shalatnya daripada Rasulullah n. Pernah beliau mendengar tangisan anak kecil, beliau pun meringankan shalat karena khawatir tangisan bayi tersebut memfitnah3 ibunya.”
Kebiasaan Rasulullah n ketika membaca surah dalam Al-Qur’an adalah memulai dari awal surah. Sering kali beliau membaca satu surah sampai selesai dalam satu rakaat. (Zadul Ma’ad, 1/209)
Terkadang pula beliau n membagi satu surah dalam dua rakaat. Bahkan, pernah pula beliau n mengulangi satu surah secara sempurna dalam rakaat kedua padahal telah dibaca dalam rakaat pertama4. Kadang-kadang dalam satu rakaat beliau menggabungkan dua surah atau lebih. Hal ini beliau lakukan dalam shalat sunnah. Akan tetapi, dalam shalat fardhu tidak didapatkan (riwayat) bahwa beliau n melakukannya. (Zadul Ma’ad, 1/209)
Disebutkan, ada seorang lelaki dari kalangan Anshar yang bernama Kultsum ibnul Hidm atau Kultsum ibnu Zahdam atau Kurz ibnu Zahdam5. Ia biasa mengimami mereka di masjid Quba’. Setiap kali hendak membaca bacaan Al-Qur’an dalam shalat setelah membaca al-Fatihah, ia mengawalinya dengan membaca surah al-Ikhlas sampai selesai. Setelahnya, barulah ia membaca surah yang lain. Demikian yang dilakukannya dalam setiap rakaat. Teman-temannya pun menegurnya. Namun, ia bersikukuh untuk meneruskan kebiasaannya tersebut sembari mempersilakan mereka mencari imam yang lain. Orang-orang lalu mengadukan hal ini kepada Rasulullah n. Beliau n lalu berkata:
يَا فُلاَنُ، مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تَفْعَلَ مَا يَأْمُرُكَ بِهِ أَصْحَابُكَ؟ وَمَا يَحْمِلُكَ عَلَى لُزُوْمِ هَذِهِ السُّوْرَةِ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ؟ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّهَا. قَالَ: حُبُّكَ إِيَّاهَا أَدْخَلَكَ الْجَنَّةَ
“Wahai Fulan (Rasulullah menyebut namanya), apa yang menghalangimu untuk melakukan saran teman-temanmu? Apa yang mendorongmu untuk senantiasa membaca surah al-Ikhlas dalam setiap rakaat?” Dia menjawab, “Aku mencintai surah tersebut.” Beliau n pun bersabda, “Kecintaanmu kepada surah tersebut memasukkanmu ke dalam surga.” (HR. al-Bukhari no. 774)

Penggabungan Surah-Surah Mufashshal
Rasulullah n pernah menggabungkan dua surah mufashshal6 yang semakna dalam hal nasihat, atau hukum, atau kisah yang ada di dalamnya. Surah-surah yang pernah dibaca bersama dalam satu rakaat itu adalah sebagai berikut.
1. Ar-Rahman (78 ayat) dan an-Najm (62 ayat)
2. Al-Qamar (55 ayat) dan al-Haqqah (52 ayat)
3. Ath-Thur (49 ayat) dan adz-Dzariyat (60 ayat)
4. Al-Waqi’ah (96 ayat) dan al-Qalam (52 ayat)
5. Al-Ma’arij (44 ayat) dan an-Nazi’at (46 ayat)
6. Al-Muthaffifin (36 ayat) dan ‘Abasa (42 ayat)
7. Al-Mudatstsir (56 ayat) dan al-Muzammil (20 ayat)
8. Al-Insan (31 ayat) dan al-Qiyamah (40 ayat)
9. An-Naba’ (40 ayat) dan al-Mursalat (50 ayat)
10. Ad-Dukhan (59 ayat) dan at-Takwir (29 ayat)
Demikian yang disebutkan oleh hadits Ibnu Mas’ud z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 775) dan Muslim (no. 1910), tanpa perincian surah-surah di atas. Perinciannya disebutkan oleh riwayat Abu Dawud (no. 1396).
Terkadang Rasulullah n menggabungkan surah-surah yang panjang dalam satu rakaat, seperti yang pernah beliau n lakukan dalam shalat malam. Dalam satu rakaat, beliau n membaca surah al-Baqarah, an-Nisa, dan Ali Imran7. Rasulullah n pernah bersabda:
أَفْضَلُ الصَّلاَةِ طُوْلُ الْقِيَامِ
“Shalat yang paling utama adalah yang panjang berdirinya.” (HR. Muslim no. 1765)
Ketika Rasulullah n membaca surah al-Qiyamah dan sampai pada ayat yang akhir:
“Bukankah (Allah yang berbuat) demikian berkuasa (pula) menghidupkan orang mati?” (al-Qiyamah: 40)
Beliau n mengatakan:
سُبْحَانَكَ فَبَلَى
“Mahasuci Engkau, tentu Engkau mampu.”
Jika beliau n membaca:
”Sucikanlah nama Rabbmu Yang Mahatinggi.” (al-A’la: 1)
Setelahnya beliau berkata:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى
“Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi.” (HR. Abu Dawud no. 883 dari Ibnu Abbas c)
Al-Imam al-Albani t menyatakan, secara zahir mengucapkan seperti ini hukumnya mustahab bagi setiap orang yang shalat kecuali makmum dalam shalat jahriyah, karena kalau ia mengucapkan سُبْحَانَ رَبِّيَ الأَعْلَى ia akan tersibukkan dari mendengarkan bacaan imam. Sementara Allah l berfirman:
“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an maka dengarkanlah dan diamlah kalian, mudah-mudahan kalian dirahmati.” (al-A’raf: 204) (Ashlu Shifat Shalatin Nabi n, 1/408)

Bolehnya Mencukupkan Qiraah dengan al-Fatihah saja
Telah disebutkan di atas bahwa hukum qiraah setelah al-Fatihah adalah mustahab. Oleh karena itu, jika ada orang shalat hanya membaca surah al-Fatihah dan tidak membaca surah yang lain setelahnya maka dia tidak disalahkan. Bahkan hal ini hukumnya boleh, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat berikut ini.
Adalah Mu’adz ibnu Jabal z biasa shalat isya bersama Rasulullah n. Setelah itu, ia pulang ke tempatnya dan mengimami teman-temannya. Suatu malam, ia pulang dari shalat jamaah bersama Rasulullah n lalu mengimami orang-orang seperti biasanya. Sulaim, seorang pemuda dari Bani Salamah, ikut shalat bersama orang-orang tersebut. Ketika shalat Mu’adz terasa panjang oleh si pemuda, ia pun keluar dari jamaah lalu shalat sendirian di sisi masjid. Kemudian ia keluar dan memegang tali kekang untanya. Selesai shalat, hal tersebut disampaikan kepada Mu’adz. “Sungguh ada kemunafikan pada dirinya! Aku pasti akan mengabarkan perbuatannya kepada Rasulullah n,” kata Mu’adz. Si pemuda juga mengatakan, “Aku pun sungguh akan mengabarkan perbuatan Mu’adz kepada Rasulullah n.”
Keesokan harinya, mereka mendatangi Rasulullah n. Mu’adz mengabarkan kepada beliau perbuatan si pemuda. Si pemuda pun berkata, “Wahai Rasulullah, Mu’adz lama berada di sisimu. Kemudian dia pulang ke tempat kami untuk mengimami kami, lalu dipanjangkannya shalat.”
Mendengar keluhan si pemuda, Rasulullah n menegur Mu’adz, “Apakah engkau hendak menjadi juru fitnah, wahai Mu’adz?”
Beliau n juga mengatakan kepada si pemuda, “Engkau wahai anak saudaraku, apa yang engkau perbuat (engkau baca) bila engkau shalat?”
“Aku membaca Fatihatul Kitab (surah al-Fatihah) dan aku memohon surga kepada Allah serta berlindung dari neraka8. Aku tidak tahu apa yang sayup-sayup diucapkan olehmu, begitu pula yang diucapkan oleh Mu’adz!” jawab si pemuda.
Rasulullah n menjawab, “Aku dan Mu’adz di antara dua ini atau yang semisalnya.”
Si pemuda berkata, “Akan tetapi, Mu’adz akan mengetahui jika kaum yang akan menyerang telah datang.”
Sungguh dikabarkan bahwa musuh telah datang. Mereka pun maju menghadapi musuh, termasuk si pemuda. Akhirnya, ia menemui syahidnya. Setelahnya, Rasulullah n berkata kepada Mu’adz, “Apa yang telah dilakukan oleh pemuda yang mendebatku dan mendebatmu?” Mu’adz menjawab, “Wahai Rasulullah, Mahabenar Allah, sedangkan aku telah salah. Pemuda itu syahid.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 1634 dan al-Baihaqi. Al-Imam al-Albani menyatakan sanadnya jayyid [bagus])
Abu Dawud dalam Sunan-nya (no. 793) meriwayatkan pula ucapan si pemuda dalam shalatnya dan haditsnya disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud. Asal kisah ini ada dalam Shahihain.

Tidak Ada Keharusan Membaca Surah Tertentu dalam Shalat
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Rasulullah n tidak mengharuskan membaca surah tertentu dalam shalat sehingga tidak boleh membaca selainnya, selain dalam shalat Jum’at dan dua shalat Id. Adapun shalat-shalat yang lain, Abu Dawud menyebutkan hadits Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, ‘Tidak ada satu pun surah mufashshal, baik yang pendek maupun yang panjang, melainkan aku pernah mendengar Rasulullah n mengimami manusia dengan membacanya dalam shalat wajib9’.” (Zadul Ma’ad, 1/209)
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 Pada dua rakaat yang pertama.
2 Demikian pula rakaat ketiga dari shalat maghrib dan dua rakaat yang terakhir dari shalat isya.

3 Maksudnya, mengacaukan shalat ibunya sehingga tidak bisa khusyuk karena risau memikirkan anaknya yang terus menangis.
4 Insya Allah akan disebutkan dalilnya.
5 Silakan melihat perbedaan pendapat tentang namanya ini dalam Fathul Bari (2/334).
6 Dinamakan mufashshal karena banyaknya pemisah antara surah dan basmalah. Banyak pendapat tentang surah-surah mufashshal. Namun, yang sahih, awal mufashshal adalah surah Qaf sampai akhir surah dalam Al-Qur’an. (Fathul Bari, 2/335)

7 Hal ini akan disebutkan dalam pembahasan tentang bacaan shalat malam, insya Allah.

8 Ucapan pemuda yang didiamkan oleh Rasulullah n inilah yang menjadi dalil dalam permasalahan ini.
9 HR. Abu Dawud no. 814, namun didhaifkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Dhaif Sunan Abi Dawud.

Ar-Raqib

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Nama Allah l Ar-Raqib tersebut dalam firman-Nya:
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (an-Nisa: 1)
Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu, “Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu,” dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al-Maidah: 117)
Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras berkata, “Salah satu al-Asma’ul Husna adalah Ar-Raqib. Nama Allah l tersebut maknanya sama dengan nama asy-Syahid. Keduanya menunjukkan bahwa Dia mengawasi makhluk-Nya, mendengar apa yang mereka perbincangkan, melihat apa yang mereka lakukan, mengetahui gerak-gerik mereka, mengetahui apa yang terlintas dalam pikiran, dan apa yang tebersit dalam kalbu, serta mengetahui perpindahan perhatian mereka. Tidak terlewatkan sedikitpun dari urusan mereka, baik yang mereka katakan maupun yang mereka lakukan, sebagaimana firman Allah l:
“Kamu tidak berada dalam suatu keadaan dan tidak membaca suatu ayat dari Al-Qur’an dan kamu tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu kamu melakukannya. Tidak luput dari pengetahuan Rabbmu biarpun sebesar semut kecil di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Yunus: 61)
“Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah yang keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah yang keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara (jumlah) yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Mujadalah: 7)
“Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)
Dalam hadits yang sahih disebutkan:
صَرِيحُ الْإِيْمَانِ أَنْ تَعْلَمَ أَنَّ اللهَ مَعَكَ حَيْثُ كُنْتَ
“Iman yang nyata adalah engkau mengetahui bahwa Allah l bersamamu di manapun kamu berada.”
Oleh karena itu, sikap al-muraqabah (merasa diawasi oleh Allah l), yang merupakan salah satu amalan kalbu yang paling agung, adalah bentuk penghambaan kepada Allah l sebagai bentuk refleksi dengan nama Allah l ar-Raqib dan asy-Syahid. Dengan demikian, ketika seorang hamba mengetahui bahwa gerak-geriknya yang lahir dan yang batin telah diketahui oleh Allah l seutuhnya, dan ia menyadari hal ini setiap saat, niscaya akan muncul pada dirinya penjagaan batin dari segala pikiran dan bisikan yang dimurkai oleh Allah l, penjagaan lahirnya dari segala ucapan dan perbuatan yang membuat murka Allah l, serta memunculkan sikap penghambaan pada taraf ihsan, sehingga ia beribadah kepada Allah l seolah-olah ia melihat-Nya dan apabila tidak melihat-Nya maka Allah l melihatnya.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Dialah Yang Maha Mengawasi pikiran-pikiran dan lirikan-lirikan. Lalu, bagaimana halnya dengan perbuatan anggota badan?!” Maksudnya, apabila Allah l mengawasi hal-hal yang detail dan tersembunyi, mengetahui rahasia kalbu dan niatnya, tentu lebih mengetahui yang lahir dan jelas, yaitu perbuatan anggota badan. (Syarh Nuniyyah, 2/89, hal ini dijelaskan pula sebelumnya oleh as-Sa’di. Lihat Syarh al-Asma’ul Husna)
Al-Qurthubi t mengatakan, “(Raqib) adalah salah satu dari sifat-sifat Dzat-Nya. Sifat ini kembali kepada ilmu, pendengaran, dan penglihatan-Nya. Sesungguhnya Allah l mengawasi segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang suci dari kelupaan. Dia mengawasi segala sesuatu yang dapat dilihat dengan pandangan-Nya yang tidak pernah kantuk ataupun tidur. Dia juga mengawasi segala sesuatu yang dapat didengar dengan pendengaran-Nya yang dapat menangkap segala gerakan dan ucapan. Allah l mengawasi semuanya dengan sifat-sifat-Nya tersebut. Berada di bawah pengawasan-Nya segala yang inti dan yang rinci, serta segala yang tersembunyi di bumi dan langit. Tidak ada sesuatu yang tersembunyi dari-Nya. Bahkan, semua yang ada adalah sama, di bawah pengawasan-Nya yang merupakan sebagian dari sifat-Nya. (al-Kitabul Asna. Dinukil dari kitab Shifatullah karya Alwi bin Abdul Qadir, hlm. 131)
Sebagian ulama mengatakan, makna Ar-Raqib adalah Al-Hafizh.
Ibnu Manzhur dalam Kamus Lisanul Arab mengatakan, “Ar-Raqiib, sesuai wazan (timbangan) فَعِيلٌ yang maknanya adaah فَاعِلٌ (sebagai pelaku). Artinya adalah al-Hafizh, yang tidak terlewatkan dari-Nya suatu apapun (yakni segala sesuatu dijaga dan dipelihara oleh-Nya).” (Lisanul Arab)
Demikian pula dikatakan Ibnul Atsir t dalam kitabnya, Jami’il Ushul, dan Az-Zajjaj dalam kitabnya, Syarh al-Asma’ul Husna. (lihat kitab Shifatullah karya Alwi bin Abdul Qadir hlm. 131)

Buah Mengimani Nama Allah l ar-Raqiib
Dengan mengimani nama Allah l tersebut, akan tumbuh dalam diri seseorang pengawasan dan kontrol terhadap perbuatan lahiriahnya, sebagaimana juga terhadap amalan batinnya. Hal ini karena dia menyadari bahwa Allah l mengawasi semuanya, yang lahir ataupun yang batin, yang besar ataupun yang kecil, ucapan ataupun perbuatan, bahkan juga niatan.
Semoga Allah l senantiasa menganugerahkan taufik-Nya kepada kita semua dan kaum muslimin untuk selalu taat kepada-Nya.
Wallahu a’lam.

 

Munafik Kehilangan Cahaya di Tengah Kegelapan

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyah)

Allah l berfirman:
“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah menghilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat. Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). Atau seperti (orang-orang yang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; mereka menyumbat telinganya dengan anak jarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir.” (al-Baqarah: 17—19)
Allah l menyebutkan dua permisalan bagi orang-orang munafik—sesuai dengan keadaan mereka—, permisalan api dan permisalan air karena keduanya mengandung sinar, cahaya dan kehidupan. Api adalah sumber cahaya dan air adalah sumber kehidupan. Allah l telah menjadikan wahyu yang Ia turunkan dari langit mengandung kehidupan bagi kalbu dan keterangan baginya. Oleh karena itu, Allah l menamakan wahyu dengan roh dan cahaya sehingga Dia menjadikan penerimanya sebagai orang-orang yang hidup dalam cahaya, sedangkan orang yang tidak tergerak sama sekali Dia jadikan sebagai orang yang mati dalam kegelapan.
Allah l mengabarkan keadaan orang-orang munafik terkait dengan bagian mereka dari wahyu bahwa mereka bagaikan orang yang menyalakan api untuk menyinarinya dan mengambil manfaat darinya.
Hal ini karena mereka telah masuk ke dalam agama Islam sehingga mereka mendapatkan cahaya dan manfaatnya. Mereka beriman dengannya. Mereka pun berbaur dengan kaum muslimin. Akan tetapi, manakala pembauran mereka dengan muslimin tidak dilandasi oleh sumber cahaya Islam dalam kalbu mereka, cahaya itu pun padam. Allah l pun melenyapkan cahaya mereka.
Allah tidak mengatakan “Allah melenyapkan api mereka” karena api itu bersifat menyinari dan membakar. Allah l hanya menghilangkan sinarnya namun menyisakan sifat membakarnya. Lalu Allah l membiarkan mereka dalam kegelapan sehingga mereka tidak dapat melihat.
Inilah keadaan seseorang yang dahulu melihat lalu menjadi buta. Dahulu mengenal yang baik lalu ingkar, dan dahulu memasuki agama Islam lalu memisahkan diri darinya dengan kalbunya. Dia tidak akan kembali kepadanya. Oleh karena itu, Allah l berfirman:
ﭦ ﭧ ﭨ
“Maka mereka tidak kembali.”1
Kemudian Allah l menjelaskan keadaan mereka dengan permisalan air (hujan). Allah l menyerupakan mereka dengan orang-orang yang tertimpa hujan, yang turun dari langit membawa kegelapan, halilintar, dan kilat.
(Allah l menyerupakan petunjuk dengan hujan, karena dengan hidayah, kalbu menjadi hidup sebagaimana hidupnya bumi dengan hujan. Allah l juga menyerupakan bagian seorang munafik dari hidayah tersebut seperti bagian seseorang yang tidak mendapatkan dari hujan selain kegelapan, halilintar dan kilatnya. Ia tidak mendapatkan manfaat di balik hujan tersebut yang merupakan tujuan turunnya hujan, yaitu hidupnya suatu negeri dan penduduknya, tumbuh-tumbuhan serta hewan-hewan. Adapun kegelapan yang beserta hujan, halilintar dan kilat itu punya tujuan lain, yakni sebagai sarana menuju kesempurnaan pemanfaatan hujan tersebut. Maka dari itu, seorang yang bodoh, karena sangat bodohnya dia hanya merasakan kegelapan, halilintar, kilat, dan rasa dingin yang sangat dari hujan tersebut. Demikian juga tertundanya perjalanan seorang musafir dan terhentinya pekerjaan seorang tukang. Dia tidak punya pandangan (jauh) yang bisa menerobos akibat baik hujan tersebut berupa kehidupan dan manfaat yang menyeluruh.)
Karena lemahnya pandangan dan akal mereka (orang-orang munafik), peringatan-peringatan Al-Qur’an terasa berat bagi mereka. Ancaman-ancaman, perintah-perintah, larangan-larangan, dan pembicaraan Al-Qur’an bagi mereka laksana halillintar. Karena itu, kondisi mereka seperti orang yang tertimpa hujan yang disertai kegelapan, halilintar dan kilat. Karena kelemahan dan ketakutannya terhadap halilintar yang akan menyambarnya, ia meletakkan dua jarinya di telinganya serta menutupkan kedua matanya.
Kata Ibnul Qayyim selanjutnya, “Sungguh, kami telah menyaksikan sebagaimana orang yang lain menyaksikan, banyak para banci anak didik aliran Jahmiyah dan ahli bid’ah jika mendengar sebagian ayat dan hadits yang menyebutkan sifat-sifat Allah yang (tentu saja) tidak sesuai dengan bid’ah mereka—aku perhatikan—mereka berpaling bagaikan keledai-keledai yang lari menyelamatkan diri dari singa.
Salah seorang dari mereka mengatakan, “Tutuplah pembahasan ini dari kami. Bacalah ayat selain ini.” Engkau perhatikan bahwa kalbu mereka berpaling. Mereka marah karena akal dan kalbu mereka berat untuk mengenal Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Demikian pula orang-orang musyrik dengan kesyirikan mereka yang beraneka ragam. Jika dihunuskan kepada mereka pembahasan tauhid dan engkau bacakan kepada mereka ayat-ayat yang membantah kesyirikan mereka, kalbu mereka membeku dan terasa berat bagi mereka. Andai mereka dapat menutup telinga mereka tentu mereka akan melakukannya. Oleh karena itu, engkau dapati orang-orang yang memusuhi para sahabat Nabi n jika mendengar ayat-ayat yang memuji al-Khulafa ar-Rasyidin dan para sahabat g, mereka merasa sangat berat dan kalbu mereka mengingkarinya.
Ini semua adalah keserupaan yang nyata dan perumpamaan yang telah terbukti pada saudara-saudara mereka, orang-orang munafik, yang disebutkan oleh Allah l dengan permisalan air (hujan).
Ketika kalbu mereka serupa, kelakuan mereka pun serupa.
(I’lamul Muwaqqi’in ‘an Rabbil ‘alamin, 1/200, dan at-Tafsirul Qayyim, disusun dan diterjemahkan oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

 

Catatan Kaki:

1 Oleh karena itu, kondisi orang-orang munafik di akhirat adalah seperti yang diceritakan oleh Allah l dalam surat al-Hadid ayat 12—14:
(Yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedangkan cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka), “Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang banyak. Pada hari ketika orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu.” Dikatakan (kepada mereka), “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu).” Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa. Orang-orang munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata, “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab, “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong hingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu.

Kisah Bani Israil

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Dari Abu Hurairah z, dia berkata, Rasulullah n bersabda:
Ada salah seorang nabi melakukan peperangan. Ia berkata kepada kaumnya, “Jangan ikut orang yang memiliki kehormatan seorang wanita (baru menikah) dalam keadaan dia ingin membina rumah tangga dengannya dan belum melakukannya. Jangan pula ikut orang yang membangun rumah tetapi belum memasang atapnya. Jangan pula ikut seseorang yang membeli seekor kambing atau unta yang sedang bunting dan dia sedang menunggu anaknya.”
Dia pun berperang dan mendekati sebuah desa ketika masuk atau hampir masuk waktu ‘ashar. Dia pun berkata kepada matahari, “Engkau diperintah, saya pun diperintah. Ya Allah, tahanlah dia terhadap kami.” Matahari itu pun ditahan sampai Allah l memberinya kemenangan. Kemudian dia mengumpulkan ghanimah. Lalu datanglah—api—untuk membakarnya, tetapi tidak melalap ghanimah tersebut.
Beliau berkata, “Sungguh, di antara kamu ada yang ghulul (menggelapkan ghanimah). Hendaklah setiap orang dari satu kabilah berbai’at kepadaku.”
Lalu menempellah tangan seorang laki-laki pada tangannya. Beliau pun berkata, “Di kabilahmu ada yang ghulul. Hendaklah kabilahmu berbai’at kepadaku.”
Lalu menempellah tangan dua atau tiga orang laki-laki dari kabilah tersebut.
Beliau pun berkata, “Kamu melakukan ghulul.”
Lalu dibawalah emas sebesar kepala seekor sapi dan beliau meletakkannya. Kemudian api itu datang dan membakarnya.
Jadi, ghanimah itu tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelum kita, kemudian Allah l menghalalkannya untuk kita karena melihat kelemahan dan ketidakmampuan kita. (HR. al-Imam al-Bukhari no. 3124 dan Muslim no. 1747)
Hadits ini mengandung mukjizat yang besar. Nabi n menceritakan salah seorang di antara para nabi shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim yang memerangi suatu kaum. Nabi itu memerintahkan berjihad menghadapi mereka. Tetapi, ia melarang ikut semua orang yang sudah melakukan akad nikah dengan seorang wanita dalam keadaan belum menggaulinya, juga yang sedang membangun rumah dan belum memasang atapnya, serta mereka yang sudah membeli kambing atau unta yang bunting dan sedang menunggu anaknya.
Hal itu karena mereka ini disibukkan oleh pikiran mereka. Orang yang meninggikan rumahnya, belum memasang atapnya, pikirannya disibukkan oleh rumah yang ingin ditempatinya bersama istrinya. Demikian pula pemilik kambing dan unta yang sedang bunting, pikirannya tersita untuk anak kambing atau unta yang ditungguinya.
Adapun jihad itu harus dihadapi seseorang dalam keadaan pikirannya tenang. Tidak ada yang mengisi pikirannya selain jihad. Itulah sebabnya Allah l berfirman:
“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (asy-Syarh: 7)
Artinya, kalau engkau selesai dari urusan dunia, tidak disibukkan olehnya, kerjakanlah sungguh-sungguh ibadah itu.
Nabi n bersabda:
لَا صَلَاةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ وَلَا هُوَ يُدَافِعُهُ الْأَخْبَثَانِ
“Tidak sah shalat di hadapan makanan (yakni ketika makanan telah terhidang). Tidak sah pula ketika dia didesak oleh dua hal yang kotor (BAB dan BAK, –red).”
Semua ini menunjukkan, jika seseorang ingin mengerjakan ketaatan seharusnya hatinya dikosongkan dan fisiknya tertuju kepada ketaatan tersebut. Dengan demikian, dia mengerjakannya dalam keadaan rindu kepada ibadah itu dan menunaikannya dengan perlahan dan tenang serta lapang dada.
Nabi itu berperang dan singgah di suatu kaum sesudah ashar. Malam mulai datang dan beliau khawatir kalau hari gelap akan sulit meraih kemenangan. Karena itu, beliau berkata kepada matahari, “Engkau diperintah dan aku pun diperintah.” Akan tetapi, perintah untuk matahari adalah kauni (mesti terjadi demikian, red.) sedangkan perintah untuk beliau adalah syar’i.
Beliau diperintah berjihad, sedangkan matahari diperintah berjalan sebagaimana Allah k perintahkan. Allah l berfirman:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)
Sejak Allah k menciptakannya, dia selalu berjalan kemana pun diperintah, tidak mendahului, tidak pula tertinggal, tidak naik, dan tidak pula turun.
Nabi itu berdoa, “Ya Allah, tahanlah dia atas kami.” Allah l pun menahan matahari itu hingga tidak terbenam pada waktunya, sampai nabi itu selesai berperang dan memperoleh ghanimah yang sangat banyak. Setelah itu, ghanimah pun dikumpulkan di satu tempat menunggu api yang turun dari langit melahapnya. Itulah ketetapan untuk umat terdahulu. Ghanimah itu tidak halal bagi mereka. Adapun umat ini, ghanimah dihalalkan bagi mereka sebagai karunia Allah dan keutamaan mereka. Walillahil hamdu. Adapun umat terdahulu, mereka mengumpulkan ghanimah itu lalu turun api dari langit membakarnya.
Ghanimah itu lalu dikumpulkan. Akan tetapi, api tidak juga datang membakarnya. Kata beliau, “Di antara kamu ada yang ghulul.”
Kemudian ia memerintahkan masing-masing kabilah maju satu persatu berbai’at kepada beliau untuk tidak berbuat ghulul. Setelah masing-masing orang dari setiap kabilah berbai’at, menempellah tangan dua atau tiga orang di antara mereka. Ia pun berkata, “Kamu berbuat ghulul.” Lalu dibawalah ghanimah yang disembunyikan itu.
Ghulul ialah mencuri ghanimah, dengan menyembunyikan sebagiannya. Ternyata, mereka memang menyembunyikan emas sebesar kepala sapi. Setelah dibawakan dan diletakkan bersama ghanimah lainnya, datanglah api membakarnya. Inilah sebagian tanda kekuasaan Allah k.
Dalam hadits ini terdapat dalil tentang beberapa faedah. Di antaranya:
1. Jihad itu disyariatkan pada umat sebelumnya sebagaimana pada umat ini.
Hal ini ditegaskan oleh Allah l dalam firman-Nya:
“Dan betapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).” (Ali ‘Imran: 146)
Demikian pula kisah Thalut dan Jalut serta Dawud q dalam surat al-Baqarah (ayat 246—252).
2. Adanya dalil tentang keagungan Allah k dan Dia-lah yang mengatur alam semesta ini.
Dia-lah yang menjalankan berbagai hal berlawanan dengan sifat alaminya. Misalnya, dengan menguatkan rasul atau menghindarkan kejelekan darinya, kalau tidak untuk kemaslahatan dalam Islam.
Yang jelas, mukjizat para nabi itu menguatkan mereka dengan cara bagaimanapun. Karena matahari, berdasarkan sifat alami yang telah diciptakan Allah l baginya, selalu berjalan, tidak berhenti, maju atau mundur, melainkan dengan perintah Allah l. Akan tetapi, di sini Allah l memerintahkannya berhenti, sehingga semakin panjanglah waktu antara shalat ashar sampai maghrib hingga Allah l memberi kemenangan kepada nabi tersebut.
Di sini juga terdapat bantahan terhadap ahli ilmu-ilmu alam yang berpendapat bahwa alam ini tidak berubah. Mahasuci Allah! Siapakah yang telah menciptakan alam tersebut? Allah k! Karena itu, Dzat yang telah menciptakannya, tentu Mahakuasa mengubahnya. Akan tetapi, mereka berpendapat bahwa alam ini berjalan sesuai dengan sifat alaminya, tanpa ada satu pun yang mengaturnya, wal’iyadzu billah, karena mereka mengingkari adanya Pencipta.
Ayat-ayat dari Al-Kitab dan Sunnah menegaskan bahwa falak ini berubah karena perintah Allah l. Nabi ini, beliau berdoa kepada Allah l, lalu matahari pun berhenti.
Nabi Muhammad, Rasul Allah, diminta oleh kaum musyrikin mendatangkan satu bukti yang menunjukkan kebenarannya. Beliau n pun memberi isyarat kepada bulan, lalu terbelahlah bulan hingga dapat mereka saksikan. Satu di atas bukit Shafa dan yang lain di atas Marwah.
Tentang inilah Allah k berfirman:
Telah dekat (datangnya) saat itu dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat sesuatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.” (al-Qamar: 1—2)
Orang-orang musyrik itu mengatakan, “Muhammad menyihir kita. Bulan itu tidak terbelah, dia hanya merusak pandangan dan mata kita.” Sebab, orang kafir itu—wal ‘iyadzu billah—yang sudah pasti terhadapnya Kalimat Allah, tetap tidak akan beriman:
“Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman, meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan.” (Yunus: 96—97)
3. Hati manusia ada di antara dua jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pengasih). Dia membolak-balikkannya sebagaimana dikehendaki-Nya dan memalingkannya sekehendak-Nya.
Orang-orang yang sudah pasti ketetapan azab terhadapnya, selamanya tidak akan beriman walaupun segala macam keterangan datang kepadanya. Sebab itulah mereka meminta satu tanda dari Rasul n. Lalu beliau n memperlihatkan kepada mereka ayat yang menakjubkan ini, yang tidak satu pun kuasa terhadapnya. Akan tetapi, kata mereka, “(Ini adalah) sihir yang terus-menerus.”
4. Dalam hadits ini terdapat keterangan tentang nikmat Allah l terhadap umat ini dengan menghalalkan ghanimah yang mereka peroleh dari orang-orang kafir, padahal pernah diharamkan bagi umat sebelumnya.
Hal itu karena ghanimah ini mengandung banyak kebaikan bagi umat Islam dan membantu mereka berjihad. Mereka memperoleh harta ghanimah dari orang-orang kafir sebagai bekal untuk memerangi orang-orang kafir itu pada kesempatan lain. Semua ini adalah bagian dari karunia Allah l, sebagaimana sabda Nabi n:
أُعْطِيْتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي… وَأُحِلَّتْ لِي الْغَنَائِمُ
“Saya diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku.” Beliau menyebutkan, “Dihalalkan ghanimah bagiku dan tidak dihalalkan bagi siapa pun sebelumku.”1
5. Dalam hadits ini terdapat salah satu tanda kekuasaan Allah l, bahwa orang-orang yang ghulul, tangan mereka menempel pada tangan nabi tersebut.
Ini menyelisihi kebiasaan yang ada. Tapi Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Karena biasanya, jika dua tangan saling berjabatan, dia akan lepas.
6. Faedah lainnya, para nabi tidak mengetahui urusan gaib dan ini masalah yang jelas, kecuali apa yang diperlihatkan kepada mereka. Jadi, mereka sama sekali tidak mengetahui perkara gaib.
Bukti akan hal ini sangat banyak. Seperti yang dialami Nabi kita Muhammad n, banyak hal yang tersembunyi atas beliau. Sebagaimana Allah l berfirman:
Lalu Hafshah bertanya, “Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?” Nabi menjawab, “Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (at-Tahrim: 3)
Beliau sendiri sama sekali tidak tahu urusan gaib.
Para sahabat juga demikian; tidak mengetahuinya. Suatu hari, Abu Hurairah z bersama beliau, tiba-tiba dia menghilang karena junub. Nabi n bertanya kepadanya ketika dia sudah kembali dari mandi junub, “Kemana engkau tadi, wahai Abu Hurairah?” Artinya, Rasulullah n tidak mengetahui urusan gaib. Tidak ada satu pun makhluk mengetahuinya, sebagaimana Allah l berfirman:
“(Dialah Rabb) yang mengetahui yang gaib. Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)
7. Faedah lainnya, dalil akan kekuasaan Allah l bahwa api itu tidak diketahui dari mana datangnya.
Dia turun dari langit, bukan dari pohon atau ranting yang ada di bumi, tapi dari langit. Allah l memerintahkannya turun dan membakar ghanimah yang sudah dikumpulkan.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 419 dan Muslim no. 810.

Tahun Perutusan (bagian ke 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Utusan Suku Thayyi’
Mereka datang bersama pemimpin mereka, Zaid al-Khail. Kedatangan mereka disambut oleh Rasulullah n.
Zaid al-Khail aslinya bernama Zaid bin Muhalhil. Beliau dikenal sebagai seorang yang mulia. Ketika Rasulullah n melihatnya, beliau berkata, “Hai Zaid, setiap orang yang diceritakan kepadaku sifat-sifatnya tentu kurang dari yang sebenarnya kecuali engkau. Ternyata sifat-sifatmu melampaui apa yang diceritakan kepadaku.”
Pada waktu itu, Rasulullah n memanggilnya Zaid al-Khair. Sahabat ini masuk Islam dan berbai’at kepada Rasulullah n. Dalam perjalanan pulang, Zaid meninggal dunia karena demam yang berat.

Islamnya ‘Adi bin Hatim z
‘Adi bercerita, “Aku datang ke Madinah langsung menemui Rasulullah n yang sedang di Masjid. Kemudian aku memberi salam.”
“Siapakah ini?” tanya beliau.
“Adi bin Hatim,” kataku.
Kemudian Rasulullah n membawaku ke rumahnya. Di tengah jalan seorang wanita tua menahan beliau mengadukan persoalannya. Aku tertegun melihat kejadian ini dan berkata dalam hati, “Demi Allah, ini bukan watak seorang raja.”
Setelah tiba di rumah, beliau menawarkan bantal agar aku duduk di atasnya. Aku menolak dan meminta agar beliau yang duduk di atasnya. Namun, beliau tetap mendesak, hingga aku duduk di atasnya, sementara beliau di atas tanah.
Aku pun berkata dalam hati, “Demi Allah, ini bukan raja.”
Ketika aku sedang berbincang-bincang dengan beliau, datanglah seseorang mengadukan kemiskinannya. Lalu ada lagi yang mengadukan adanya gangguan di jalanan.
Setelah itu, Rasulullah n berkata, “Hai ‘Adi, pernahkah engkau melihat negeri al-Hairah? Kalau panjang umurmu, engkau akan melihat seorang wanita bepergian dari al-Hairah hingga thawaf di Ka’bah. Tidak ada yang ditakutinya selain Allah l. Sungguh, kalau panjang umurmu, engkau pasti akan membuka perbendaharaan Kisra Persia. Dan kalau panjang umurmu, engkau akan melihat seseorang membawa segenggam emas dan perak untuk diinfakkan, tetapi tidak dia dapati seorang pun yang mau menerimanya ….”1
Sepeninggal Rasulullah n, ‘Adi melihat semua kejadian itu, kecuali yang terakhir. Beliau z berkata, “Demi Allah, pasti akan terjadi juga yang ketiga; berlimpahnya harta hingga tak ada yang mau menerimanya.”

Utusan dari Najran
Datanglah enam puluh utusan kaum Nasrani Najran. Tiga di antaranya adalah pemimpin mereka, yaitu ‘Abdulmasih, al-Aiham, dan seorang uskup bernama Abu Haritsah bin ‘Alqamah dari Bani Bakr bin Wail.
Abu Haritsah ini dimuliakan oleh penguasa Romawi yang beragama Nasrani. Dia diberi harta, kedudukan, dan dibangunkan sebuah gereja besar oleh penguasa tersebut.
Ketika hendak berangkat ke Madinah menemui Rasulullah n, bighal Kurz, saudara Abu Haritsah, tergelincir. Serta merta, Kurz mencela Rasulullah n. Abu Haritsah yang mendengarnya menegur, “Engkaulah yang celaka.”
Kurz heran, mengapa saudaranya malah mencelanya, “Mengapa begitu, hai saudaraku?”
Abu Haritsah berkata, “Demi Allah, sungguh, dia adalah nabi yang ummi, yang kita tunggu-tunggu.”
Kurz mengejar, “Lalu apa yang menghalangimu menemui beliau, padahal engkau mengetahuinya?”
Kata Abu Haritsah, “Semua itu karena kebaikan penguasa Romawi. Mereka sudah memuliakan kita, memberi kita harta, sedangkan mereka tidak suka mengikuti beliau. Kalau aku masuk Islam, pasti mereka akan mengambil semua yang ada ini.”
Kurz menyimpan apa yang dikatakan saudaranya sampai akhirnya dia masuk Islam.
Setelah mereka tiba di Madinah dan bertemu dengan Rasulullah n, mereka berbincang-bincang dengan beliau.
Rasulullah n mengajak mereka kepada Islam dan membacakan ayat Al-Qur’an kepada mereka, tetapi mereka menolak. Mereka bertanya kepada Nabi n tentang ‘Isa q. Rasulullah n tidak segera menjawab sampai turun firman Allah l:
Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya, “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), itulah yang benar, yang datang dari Rabbmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya), “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (Ali ‘Imran: 59—61)
Keesokan harinya, Rasulullah n menyampaikan kepada mereka perihal ‘Isa sebagaimana dijelaskan Allah l dalam ayat tersebut. Mereka minta diberi kesempatan berpikir. Beliau memberi mereka waktu tiga hari. Setelah itu mereka menemui beliau dan menyatakan menolak keterangan beliau tentang ‘Isa.
Akhirnya, Rasulullah n mengajak mereka bermubahalah (saling mendoakan laknat). Beliau pun datang membawa al-Hasan, al-Husain, dan Fathimah.
Melihat kesungguhan beliau n, utusan Najran bermusyawarah, akhirnya kata mereka, “Jangan turuti. Demi Allah, kalau dia seorang nabi dan kita saling mendoakan laknat dengannya, kita pasti hancur. Tidak satu pun rambut dan kuku yang tumbuh melainkan pasti binasa.”
Kemudian mereka setuju untuk menerima keputusan hukum Rasulullah n. Akhirnya, beliau bersedia menerima upeti dan berdamai dengan mereka. Setiap tahun, dua kali beliau menerima 2.000 pakaian yang masing-masing berisi satu uqiyah perak, yaitu pada bulan Rajab dan Shafar. Imbalannya, beliau memberi jaminan dari Allah l dan Rasul-Nya kepada mereka sepenuhnya, termasuk urusan ibadah mereka.
Setelah mereka kembali, perlahan-lahan berita tentang Islam menyebar di kalangan mereka. Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa pemimpin mereka, Sayyid dan ‘Aqib telah masuk Islam setibanya di Najran.
Begitu Islam mulai diterima, Rasulullah n mengutus ‘Ali bin Abi Thalib z memungut zakat dari kaum muslimin di antara mereka dan upeti dari mereka yang belum memeluk Islam.

Hikmah Kisah Ini
Ibnul Qayyim t menyebutkan bahwa salah satu hikmah kisah ini adalah bolehnya berdialog dengan ahli kitab dan mendebat mereka. Bahkan, wajib jika maslahatnya lebih jelas ….
Kalau bukan karena khawatir memperpanjang pembahasan, beliau akan menceritakan alasan-alasan yang menuntut pengakuan ahli kitab bahwa Muhammad n adalah Rasul Allah. Alasan-alasan itu adalah keterangan yang ada di dalam kitab mereka sendiri. Mereka meyakininya dan tidak mungkin menolaknya.
Lebih dari seratus jalan yang membuktikannya dan sudah beliau sendirikan dalam kitab Hidayatul Hayara.
Dalam sebagian diskusinya dengan ulama ahli kitab, Ibnul Qayyim t menyebutkan:
Kritikan kalian terhadap kenabian Muhammad n tidak lengkap kecuali dengan mengkritik dan mengecam Allah l, serta menisbatkan kezaliman, kebodohan, dan kerusakan yang sangat besar kepada-Nya. Mahasuci Allah dari hal yang demikian.
Pendeta itu menjawab, “Mengapa begitu?”
Ibnul Qayyim mengatakan, “Bahkan lebih parah lagi, pengingkaran kalian terhadap kenabian Muhammad n tidak akan sempurna melainkan dengan mengingkari wujud Allah l.”
Adapun penjelasannya, sebagai berikut.
Kalau Muhammad n bukan nabi yang benar (jujur), apalagi menurut keyakinan kalian, beliau adalah raja yang zalim, berarti beliau telah mengada-adakan kebohongan terhadap Allah l. Mengatakan sesuatu tentang Allah l tanpa ilmu. Itu terus berlanjut hingga kalian menghalalkan (apa yang diharamkan-Nya), mengharamkan (apa yang dihalalkan-Nya), menetapkan kewajiban (yang tidak ditetapkan-Nya), menetapkan syariat (tanpa seizin Allah l), menghapus agama sebelumnya, membantai manusia, membunuh pengikut para rasul, padahal mereka orang-orang yang benar, menawan wanita dan anak-anak mereka, merampas harta dan rumah mereka sebagai ghanimah. Hal itu berlangsung selama 23 tahun, sedangkan Allah l tetap membela, menolong, dan memenangkan urusan beliau.
(Selama itu pula), Allah l memberi beliau jalan kemenangan yang jauh di luar dugaan manusia. Lebih mengherankan lagi, dalam keadaan beliau (menurut kalian adalah raja yang zalim), Allah l mengabulkan doa beliau. Dia hancurkan musuh-musuhnya tanpa usaha dari beliau sendiri, bahkan tanpa sebab. Kadang hanya karena doa beliau, dan kadang mereka dihancurkan oleh Allah l meskipun tanpa ada doa dari beliau.
Selain itu, Allah l juga selalu memenuhi kebutuhan beliau setiap kali beliau memintanya kepada Allah l. Dia memberi janji yang baik, bahkan membuktikan janji tersebut. Akan tetapi, semua ini kalian anggap sebagai kedustaan dan kezaliman yang hebat. Padahal, tidak ada kedustaan yang lebih buruk daripada kedustaan terhadap Allah l dan terus-menerus melakukannya. Tidak ada kezaliman yang lebih berat daripada membatalkan syariat para nabi dan rasul-Nya, serta berbuat kerusakan di muka bumi….
Akan tetapi, ternyata Allah l menyetujui perbuatan beliau n. Tidak menghukum beliau, padahal beliau menyampaikan wahyu dari Allah l yang berfirman:
Tidak ada yang lebih zalim daripada mereka yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, atau mengatakan, “Telah diturunkan wahyu kepadaku,” padahal tidak ada sesuatu pun yang diwahyukan kepadanya. (al-An’am: 93)
Semua ini mengharuskan kalian, wahai orang-orang yang mendustakan kerasulan beliau, menerima salah satu dari dua konsekuensi logis ini, yaitu:
Yang pertama, kamu meyakini tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini. Kalau alam semesta ini ada yang menciptakan dan mengaturnya, Mahakuasa lagi Mahabijaksana, pasti Dia akan menghukum dan memberi balasan yang setimpal serta menjadikannya pelajaran bagi orang-orang yang zalim. Tidak ada yang layak bagi para raja selain bertindak demikian. Terlebih lagi Penguasa langit dan bumi, dan Hakim yang seadil-adilnya.
Konsekuensi kedua, menganggap Allah l zalim, jahat, bodoh, menyesatkan manusia selama-lamanya, membela orang yang berdusta, memberinya kekuasaan di muka bumi, mengabulkan doanya, menjaga urusannya sepeninggalnya, meninggikan kalimatnya, memenangkan dakwahnya, mempersaksikan kenabiannya generasi demi generasi di hadapan seluruh manusia sepanjang masa. Kalau sudah demikian, di manakah sifat-Nya sebagai hakim yang seadil-adilnya, Penyayang dari semua yang menyayangi?
Sungguh, kalian sudah mengecam dan mengkritik Pencipta dan Penguasa alam semesta dengan seburuk-buruknya ….
Kami mengakui orang-orang zalim itu banyak, berkuasa, dan memiliki kekuatan. Akan tetapi, urusan mereka tidak ada yang sempurna dan utuh. Allah l memberi kekuatan kepada para rasul untuk menguasai mereka, melenyapkan pengaruh mereka dan memusnahkan mereka. Inilah ketetapan Allah k pada hamba-hamba-Nya sejak dunia ini ada sampai Dia mewarisinya.

Ibnul Qayyim berkata, “Ketika mendengar perkataan ini, mereka berseru:
“Mahasuci Allah, kami tidak mengatakan beliau zalim dan pendusta. Siapa saja yang jujur dan adil di kalangan ahli kitab pasti mengakui bahwa orang-orang yang mengikuti jejak beliau dan menempuh jalannya adalah orang-orang yang selamat dan berbahagia di akhirat.”
“Bagaimana mungkin kalian anggap orang-orang yang menempuh jalan beliau dan mengikuti jejaknya berbahagia? Kalau begitu, tidak ada jalan selain mengakui kerasulannya ….”
Akhirnya, mereka terdiam dan pergi dengan segera.2
Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

1 Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

2 Lihat Zadul Ma’ad, 3/640-642.

Membalas Kebaikan Orang Lain

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

Berterima kasih atas pemberian orang lain adalah perangai terpuji. Setiap muslim hendaknya menghiasi diri dengannya. Allah l berfirman:
“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (ar-Rahman: 60)
Adalah Rasulullah n memerintahkan umatnya agar membalas kebaikan orang lain, sebagaimana sabdanya:
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفٌ فَلْيَجْزِهِ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ مَا يَجْزِيْهِ فَلْيُثْنِ عَلَيْهِ، فَإِنَّهُ إِذَا أَثْنَى عَلَيْهِ فَقَدْ شَكَرَهُ وَإِنْ كَتَمَهُ فَقَدْ كَفَرَهُ …
“Barangsiapa diperlakukan baik (oleh orang), hendaknya ia membalasnya. Apabila dia tidak mendapatkan sesuatu untuk membalasnya, hendaknya ia memujinya. Jika ia memujinya maka ia telah berterimakasih kepadanya namun jika menyembunyikannya berarti dia telah mengingkarinya ….” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, lihat Shahih al-Adab al-Mufrad no. 157)
Pada umumnya, seseorang merasa berat hati untuk mengeluarkan tenaga, harta, waktu, dan yang semisalnya jika tidak ada imbal balik darinya. Oleh karena itu, barangsiapa yang mencurahkan semua itu untuk saudaranya dengan hati yang tulus, orang seperti ini berhak dibalas kebaikannya dan disyukuri pemberiannya.
Apabila kita diperintahkan untuk berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat kepada kita dan memaafkannya, tentu balasan orang yang berbuat baik kepada kita hanyalah kebaikan.
Perlu diketahui juga, dalam Islam orang yang memberi lebih baik daripada orang yang menerima. Nabi n bersabda:
الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى
“Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima pemberian).” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, hendaknya kita menjadi umat yang suka memberi daripada banyak menerima. Jika kita menerima pemberian, berbalas budilah, karena seperti itulah contoh dari Rasulullah n. ‘Aisyah x berkata, “Adalah Rasulullah menerima hadiah (pemberian selain shadaqah) dan membalasnya.” (Shahih al-Bukhari no. 2585)
Berbalas budi—di samping merupakan perangai yang disukai oleh Islam dan terpuji di tengah masyarakat—adalah salah satu cara untuk mencegah timbulnya keinginan mengungkit-ungkit pemberian yang bisa membatalkan amal pemberiannya.
Bentuk Balas Budi
Bentuk membalas kebaikan orang sangat banyak ragam dan bentuknya. Tentu saja setiap orang membalas sesuai dengan keadaan dan kemampuannya. Jika seseorang membalas dengan yang sepadan atau lebih baik, inilah yang diharapkan. Jika tidak maka memuji orang yang memberi di hadapan orang lain, mendoakan kebaikan dan memintakan ampunan baginya, juga merupakan bentuk membalas kebaikan orang.
Dahulu, orang-orang Muhajirin datang kepada Nabi n dengan mengatakan, “Wahai Rasulullah, orang-orang Anshar telah pergi membawa seluruh pahala. Kami tidak pernah melihat suatu kaum yang paling banyak pemberiannya dan paling bagus bantuannya di saat kekurangan selain mereka. Mereka juga telah mencukupi kebutuhan kita.” Nabi n menjawab, “Bukankah kalian telah memuji dan mendoakan mereka?” Para Muhajirin menjawab, “Iya.” Nabi bersabda, “Itu dibalas dengan itu.” (HR. Abu Dawud dan an-Nasai, lihat Shahih at-Targhib no. 963)
Maksudnya, selagi orang-orang Muhajirin memuji orang-orang Anshar karena kebaikan mereka, para Muhajirin telah membalas kebaikan mereka.
Di antara bentuk pujian yang paling bagus untuk orang yang berbuat baik adalah ucapan:
جَزاكَ اللهُ خَيْرًا
“Semoga Allah membalas kamu dengan kebaikan.”
Nabi n bersabda:
مَنْ صُنِعَ إِلَيْهِ مَعْرُوْفٌ فَقَالَ لِفَاعِلِهِ: جَزَاكَ اللهُ خَيْرًا؛ فَقَدْ أَبْلَغَ فِى الثَّنَاءِ
Barang siapa diperlakukan baik lalu ia mengatakan kepada pelakunya, “Semoga Allah membalas kamu dengan kebaikan”, dia telah tinggi dalam memujinya.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2035, cet. al-Ma’arif)

Mensyukuri yang Sedikit Sebelum yang Banyak
Seseorang belum dikatakan mensyukuri Allah l jika belum berterimakasih terhadap kebaikan orang. Hal ini seperti yang disabdakan oleh Nabi n:
لَا يَشْكُرُ اللهَ مَنْ لَا يَشْكُرُ النَّاسَ
“Tidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterimakasih kepada manusia.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dari sahabat Abu Hurairah z, dan Abu Dawud dalam Sunan-nya)
Hadits ini mengandung dua pengertian:
1. Orang yang tabiat dan kebiasaannya tidak mau berterimakasih terhadap kebaikan orang, biasanya dia juga mengingkari nikmat Allah l dan tidak mensyukuri-Nya.
2. Allah l tidak menerima syukur hamba kepada-Nya apabila hamba tidak mensyukuri kebaikan orang, karena dua hal ini saling berkaitan.
Ini adalah makna ucapan al-Imam al-Khaththabi seperti disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud (13/114, cet. Darul Kutub al-Ilmiyah).
Orang yang tidak bisa mensyukuri pemberian orang meskipun hanya sedikit, bagaimana ia akan bisa mensyukuri pemberian Allah l yang tak terbilang?! Allah l berfirman:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (an-Nahl: 18)
Orang-orang yang Harus Disyukuri Pemberiannya
Di antara manusia yang wajib disyukuri kebaikannya adalah kedua orang tua. Ini sebagaimana firman Allah l:
“Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu.” (Luqman: 14)
Kedua orang tua telah mengorbankan semua miliknya demi kebaikan anaknya. Mereka siap menanggung derita karena ada seribu asa untuk buah hatinya. Oleh karena itu, sebaik apa pun seorang anak menyuguhkan berbagai pelayanan kepada kedua orang tuanya, belumlah mampu membalas kebaikan mereka, kecuali apabila mereka tertawan musuh atau diperbudak lalu sang anak membebaskannya dan memerdekakannya. Hak kedua orang tua sangatlah besar sehingga sangat besar pula dosa yang ditanggung oleh seseorang manakala mendurhakai kedua orang tuanya.
Demikian pula, kewajiban seorang istri untuk berterimakasih kepada suaminya sangatlah besar. Seorang suami telah bersusah-payah mencarikan nafkah serta mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Oleh karena itu, seorang istri hendaknya pandai-pandai berterimakasih atas kebaikan suaminya. Jika tidak, dia akan diancam dengan api neraka.
Dahulu ketika melakukan shalat gerhana, diperlihatkan surga dan neraka kepada Rasulullah n. Diperlihatkan kepada beliau n api neraka yang ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Nabi n menyebutkan bahwa sebabnya adalah mereka banyak melaknat dan mengingkari kebaikan suaminya. (Lihat Shahih Muslim no. 907)
Nabi n bersabda:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنَ الْإِسْتِغْفَارِ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ
“Wahai para wanita, bersedekahlah kalian dan perbanyaklah istighfar (meminta ampunan kepada Allah), karena aku melihat kalian terbanyaknya penghuni neraka.”
Ketika Nabi n menyampaikan wasiat tersebut, ada seorang wanita bertanya, “Mengapa kami (para wanita) menjadi mayoritas penghuni neraka?” Beliau menjawab, “Kalian banyak melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami.” (Mukhtashar Shahih Muslim no. 524)
Apabila seorang istri disyariatkan untuk mengingat kebaikan suaminya, demikian pula seorang suami hendaknya mengingat-ingat kebaikan istrinya.
Adalah Rasulullah n senantiasa mengingat-ingat jasa dan perjuangan istrinya tercinta, Khadijah bintu Khuwailid x. Hal ini seperti yang disebutkan oleh ‘Aisyah x, “Aku belum pernah merasa cemburu terhadap istri-istri Nabi seperti cemburuku atas Khadijah x, padahal aku belum pernah melihatnya. Akan tetapi, Nabi sering menyebutnya. Terkadang beliau menyembelih kambing lalu memotong bagian kambing itu dan beliau kirimkan kepada teman-teman Khadijah. Terkadang aku berkata kepada Nabi, ‘Seolah tidak ada wanita di dunia ini kecuali selain Khadijah!’ Nabi n lalu bersabda, ‘Sesungguhnya Khadijah dahulu begini dan begitu (beliau menyebut kebaikannya dan memujinya). Saya juga mempunyai anak darinya’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Di sini, Nabi n mengingat-ingat kebaikan istri beliau yang pertama yang memiliki setumpuk kebaikan. Dialah Khadijah. Ia termasuk orang yang pertama masuk Islam, membantu Nabi n dengan hartanya, dan mendorong Nabi n untuk senantiasa tegar menghadapi setiap masalah. Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim selalu menjaga kebaikan istrinya, temannya, dan kawan sepergaulannya dengan mengingat-ingat kebaikan mereka dan memujinya.

Ada contoh lain dari praktik salaf umat ini dalam membalas kebaikan orang lain. Sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali z sangat kagum dengan pengorbanan orang-orang Anshar. Oleh karena itu, ketika melakukan perjalanan dengan sahabat Anas bin Malik z—yang termasuk orang Anshar—, sahabat Jarir z memberikan pelayanan dan penghormatan kepada Anas z, padahal Jarir z lebih tua darinya. Anas menegur Jarir supaya tidak memperlakukan dirinya dengan perlakuan istimewa. Akan tetapi, Jarir z beralasan bahwa orang-orang Anshar telah banyak berbuat baik kepada Rasulullah n sehingga ia (Jarir) bersumpah akan memberikan pelayanan dan pernghormatan kepada orang-orang Anshar. (Lihat Shahih Muslim no. 2513)
Wallahu a’lam.

Meluruskan Aqidah Persiapan Menegakkan Hukum Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Sungguh Allah l telah membuka peluang seluas-luasnya bagi setiap hamba untuk meraih yang terbaik dalam hidupnya. Allah l juga menuangkan kasih sayang kepada mereka melebihi kasih sayang mereka terhadap diri mereka sendiri. Hal ini sebagaimana ucapan Nabi n kepada seorang sahabat:
فَاللهُ أَرْحَمُ بِكَ مِنْكَ بِهِ وَهُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
“Allah l lebih sayang kepada dirimu daripada sayangmu kepada dia (anakmu) dan Dia adalah Dzat yang paling penyayang di antara para penyayang.” (Shahih al-Adabil Mufrad no. 290)
Tidak ada hal sekecil apa pun yang akan membuahkan kebahagiaan melainkan Allah l telah melimpahkannya kepada hamba-hamba-Nya. Yang menjadi pertanyaan, berapakah jumlah hamba-Nya yang mengetahui bahwa Allah l menyayanginya? Pertanyaan selanjutnya, berapa jumlah hamba-Nya yang berusaha meraih kasih sayang tersebut?
“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf: 156)
As-Sa’di t mengatakan, “Rahmat Allah l mencakup segala yang di atas dan di bawah, pelaku kebaikan dan pelaku maksiat, mukmin dan kafir. Tidak ada satu makhluk pun melainkan rahmat Allah l sampai kepadanya, demikian pula karunia serta kebaikan-Nya meliputi mereka. Namun, kasih sayang yang bersifat menyeluruh, yang melahirkan kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak akan diberikan kepada seorang pun (melainkan orang-orang yang diridhai-Nya). Oleh karena itu, Allah l berfirman:
“Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami. (Yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi n yang ummi.” (al-A’raf: 156—157)

Kasih Sayang yang Tidak Terhingga
Bagi orang yang beriman, tidak ada yang terbetik dalam benak, terlintas dalam sanubari, tergambar dalam ingatan, ataupun terbayang di pelupuk mata, selain bahwa hidup di dunia ini akan berakhir dan ia pasti akan menghadap Dzat yang Mahakuasa. Allah l telah mempersiapkan seratus rahmat. Satu di antaranya telah diturunkan ke dunia dan yang 99 disimpan di akhirat bagi orang yang beriman.
Salah satu bentuk kasih sayang Allah l di dunia, Dia mengutus para nabi dan rasul kepada mereka, menurunkan kitab-kitab kepada mereka, dan menurunkan agama untuk mereka anut. Namun, sangat sedikit dari mereka yang mau menyambut kasih sayang ini. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, yang ingkar dan kufur lebih banyak daripada yang beriman.
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba: 13)
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.” (al-An’am: 116)
Mengingat hal ini, dengan gembira dan lapang dada, orang-orang yang beriman akan menyambut segala seruan para rasul yang diutus kepada mereka dan mengaplikasikan segala bimbingan di dalam kitab tersebut dan berjalan dalam aturan agama yang dianutnya. Satu rahmat di dunia ini mereka jadikan jembatan untuk mendapatkan 99 rahmat yang dipersiapkan di akhirat kelak.

Islam, Sebuah Rahmat dan Aturan yang Kokoh
Pernahkah Anda melihat bangunan yang kokoh dan megah? Anda mungkin akan menjawab, “Ya.” Lalu, apakah komentar Anda? Mungkin Anda tidak berkomentar selain mengungkapkan rasa heran, “Betapa megah dan indahnya banguan ini.” Keheranan semata tidak akan membuahkan pengetahuan bahwa bangunan yang kokoh dan megah ini memiliki syarat-syaratnya. Oleh karena itu, mari kita menyadari bahwa bangunan yang kokoh dan megah ini pasti berdiri di atas fondasi yang kuat dan andal. Jika bangunan tersebut mengandung manipulasi keindahan dan terlihat kokoh tetapi tidak di atas fondasi yang kuat, niscaya tidak akan berumur panjang. Bangunan itu niscaya tidak akan bertahan lama, dia akan segera hancur dan runtuh.
Islam sebagai agama rahmat dan aturan yang kokoh merupakan fondasi hidup menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Islam adalah sebuah bangunan yang indah dan sempurna. Di samping itu, Islam juga menyempurnakan agama-agama sebelumnya. Kekokohan bangunan Islam berdiri di atas lima fondasi yang kuat, dan masing-masingnya menjadi penopang yang lain. Rasulullah n telah bersabda:
بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ؛ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيْتَاءِ الزَّكَاةِ، وَالْحَجِّ، وَصَوْمِ رَمَضَانَ
“Islam dibangun di atas lima fondasi, yaitu (1) persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang benar selain Allah l dan Muhammad adalah rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) menunaikan zakat, (4) berhaji, dan (5) puasa pada bulan Ramadhan.” (Muttafaqun ‘alaih dari sahabat Abdullah bin Umar c)
Ibnu Rajab al-Hanbali t menegaskan, “Yang dimaksud oleh hadits ini adalah bahwa Islam dibangun di atas lima landasan. Kelimanya bagaikan fondasi dan pilar-pilar sebuah bangunan. Maksud perumpamaan ini, bangunan tidak akan berdiri kokoh (tanpa lima dasar tersebut), sedangkan bagian-bagian agama yang lain adalah penyempurna bangunan ini. Jika (bagian-bagian agama) kurang maka akan mengakibatkan kekurangan pada bangunan itu, tetapi bangunan tetap berdiri. Berbeda keadaannya jika fondasi yang lima ini tidak ada, Islam akan hilang tanpa diragukan lagi.” (Jami’ Ulumul al-Hikam hlm. 62)
Akidah adalah Asas Fondasi Islam
Allah l telah mengutus para rasul membawa misi yang sama, yaitu mengajak mereka untuk beribadah kepada Allah l semata dan meninggalkan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah l. Hal ini telah ditegaskan oleh Allah l di dalam firman-Nya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut itu.” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (an-Nahl: 36)
Kesamaan misi para rasul ini sesungguhnya adalah pemberitahuan umum dari Allah l kepada seluruh hamba bahwa:
– Kehancuran hidup dan kebinasaannya akan terselesaikan dengan pemurnian tauhid kepada Allah l.
– Kehinaan dan kerendahan akan hilang dengan dibersihkannya tampilan lahiriah dan keadaan batiniah oleh akidah.
– Kerusakan dalam segala bidang dan aspek, politik, perekonomian, aturan kenegaraan antara pemimpin dan rakyat, akan terselesaikan dengan landasan akidah yang kokoh.
– Kesiapan untuk menerima segala beban syariat dan menerima segala hukum-hukum Allah l dan Rasul-Nya harus dimulai dari pembenahan akidah.
– Landasan hidup menuju kebahagiaan yang hakiki di dunia dan di akhirat adalah akidah yang benar.
Pembaca yang budiman, Allah l mengutus rasul pertama kali ke muka bumi ini, Nabi Nuh q membawa mandat untuk memurnikan akidah yang telah rusak. Allah l berfirman:
Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan), “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih.” Nuh berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku.” (Nuh: 1—3)
Tugas besar yang diemban oleh Nabi Nuh q mendapatkan tantangan yang keras dari kaumnya. Bahkan, kaumnya sempat mengatakan kepada beliau, “Sesungguhnya kami melihat engkau berada dalam kesesatan yang nyata.”
Tidak ada seorang rasul pun yang diutus oleh Allah l kepada suatu kaum melainkan dalam keadaan rusaknya semua lini kehidupan mereka. Allah Maha Mengetahui obat kerusakan tersebut sehingga setiap rasul yang Dia utus diperintahkan untuk memulai dakwahnya dengan memurnikan tauhid kepada Allah l. Tugas yang diemban oleh Nabi Nuh q ditutup oleh Nabi kita, Muhammad n, yang diutus kepada kaum yang juga ingkar dan kufur kepada Allah l.

Akibat Kerusakan Akidah
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Penyimpangan dari akidah yang benar adalah kebinasaan dan kehancuran karena akidah yang benar adalah pendorong yang kuat untuk melakukan amal yang bermanfaat. Jika seseorang tidak berada di atas akidah yang benar, niscaya dia akan menjadi penampung segala waham dan keraguan. Bisa jadi, keraguan itu menguasai hidupnya sehingga menjadikan kehidupannya sempit. Dia lalu berusaha melepaskan diri dari kesempitan hidup itu dengan bunuh diri, sebagaimana yang terjadi pada beberapa orang yang tidak mendapatkan hidayah berupa akidah yang benar. Jika sebuah masyarakat tidak melandasi hidup mereka dengan akidah yang benar, niscaya akan terwujud kehidupan yang layaknya binatang. Akan hilang manfaat segala hal yang menunjang terwujudnya kehidupan yang bahagia. Kemampuan material yang mereka miliki justru akan menggiring mereka menuju kebinasaan. Hal ini bisa disaksikan di negeri-negeri kafir.
Kekuatan materi harus ditopang oleh bimbingan dan arahan sehingga bisa mewujudkan kehidupan yang istimewa dan bermanfaat. Tidak ada yang bisa memandu ke arah ini selain akidah yang benar. Allah l berfirman:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mu’minun: 51)
Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Dawud karunia dari Kami. (Kami berfirman), “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud”, dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya, dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula), serta Kami alirkan cairan tembaga baginya. Dan sebagian dari jin ada yang bekerja di hadapannya (di bawah kekuasaannya) dengan izin Rabbnya. Dan siapa yang menyimpang di antara mereka dari perintah Kami, Kami rasakan kepadanya azab neraka yang apinya menyala-nyala. Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah, hai keluarga Dawud untuk bersyukur (kepada Allah l), dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih.” (Saba: 10—13)
Maka dari itu, kekuatan akidah wajib ada sebagai penopang kekuatan materi. Jika kekuatan materi terlepas darinya maka ia menjadi perantara menuju kehancuran dan kebinasaan sebagaimana yang bisa disaksikan di negara-negara kafir yang memiliki kekuatan materi namun tidak memiliki akidah yang benar.” (Aqidah at-Tauhid hlm. 13)

Periode Makkah
Sebelum Nabi n kita diutus oleh Allah l, sungguh kita mengetahui bagaimana kehidupan orang-orang jahiliah. Kerusakan menimpa mereka pada segala sisi sehingga kehormatan, darah, dan harta benda tidak memiliki harga sedikitpun. Islam memberikan perhatian yang sangat besar terhadap hal-hal tersebut. Dalam keadaan kerusakan pada segala sisi inilah Allah l memilih Rasul-Nya n sebagai utusan-Nya kepada mereka. Dari manakah Allah l memerintahkan beliau untuk memulai? Allah l menjelaskannya di dalam firman-Nya:
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan) selain Allah.” (Muhammad: 19)
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.” (al-Hijr: 94)
Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda:
أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَشْهَدُوا أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ وَيُقِيْمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ إِلَّا بِحَقِّ الْإِسْلَامِ وَحِسَابُهُمْ عَلَى اللهِ
“Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mempersaksikan bahwa tidak ada sesembahan yang benar melainkan Allah dan Muhammad adalah rasul Allah. Mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan bila mereka melakukan semuanya, niscaya mereka telah memelihara darah dan harta mereka kecuali dengan hak Islam dan hisab mereka di sisi Allah.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Umar c)
Al-Imam Ahmad dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Rabi’ah bin ‘Abbad ad-Daili, yang mengalami masa jahiliah lalu masuk Islam. Ia berkata, “Pada masa jahiliah, saya melihat Rasulullah n di pasar Dzil Majaz mengatakan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُولُوا: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ؛ تُفْلِحُوا
“Wahai sekalian manusia, ucapkanlah kalimat La ilaha illallah niscaya kalian akan beruntung.” (Lihat Shahih Sirah an-Nabawiyah karya asy-Syaikh al-Albani hlm. 142)
Tapak tilas dakwah Rasulullah n di kota Makkah benar-benar menjadi bukti sejarah Islam masa bahwa problema hidup dengan segala kerusakan dan kehancurannya bisa diselesaikan oleh akidah dan tauhid. Dari sini kita mengetahui bahwa jika sebuah bangunan berdiri tanpa fondasi yang kokoh, pasti akan hancur. Demikian juga, apabila kehidupan ini tidak dilandasi oleh akidah yang benar, niscaya akan binasa. Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata, “Akidah yang benar adalah asas berdirinya agama. Dengannya pula amalan akan diterima, sebagaimana firman Allah l:
“Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (al-Kahfi: 110)
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Allah) niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)
“Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah -lah agama yang bersih (dari syirik).” (az-Zumar: 2—3)
Ayat-ayat ini dan yang semakna dengannya—yang banyak jumlahnya—menunjukkan bahwa semua amalan akan diterima apabila bersih dari kesyirikan. Dari sinilah perhatian pertama kali para rasul adalah memperbaiki akidah. Yang pertama kali mereka serukan kepada kaumnya adalah beribadah kepada Allah l semata dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya, sebagaimana firman Allah l:
“Sungguh kami telah mengutus pada setiap umat seorang rasul (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah l dan jauhilah oleh kalian thaghut itu’.” (an-Nahl: 36) (Lihat Aqidah at-Tauhid hlm. 9)

Periode Madinah
Tiga belas tahun Rasulullah n berdakwah di kota Makkah mengembalikan ajaran bapak tauhid, Ibrahim q, yang sudah hilang. Beliau n mengibarkan bendera tauhid dan meruntuhkan tahta berhalaisme dalam kalbu sebelum menghancurkan wujudnya. Beliau n juga membangun fondasi kehidupan yang kokoh di atas akidah yang suci dan mengembalikan fitrah yang sudah rusak karena ajaran Amr bin Lu’ai al-Khuza’i. Meskipun beliau n menghadapi tantangan yang sangat dahsyat, namun satu orang demi satu orang, bahkan satu keluarga, membesarkan jiwa para pengikut agama dalam keasingannya.
Allah l lalu memerintahkan mereka melakukan hijrah. Negeri yang dipilihkan oleh Allah l sebagai tempat bernaung dan mengatur strategi adalah kota Madinah yang dulunya bernama Yatsrib. Dalam perjalanan berjalan kaki menuju negeri yang jauh ini, kaum kafir Quraisy tidak berhenti berupaya membendung dakwah Nabi n. Mereka berusaha memadamkannya dengan cara menangkap beliau baik dalam kondisi masih hidup maupun mati. Namun, makar jahat mereka ada yang mengawasinya. Mereka tidak bisa mengelak dari kehendak Allah l. Allah l pun menimpakan kegagalan kepada mereka.
Sesampainya di Yatsrib, hidup baru mulai dijalani. Strategi hidup mulai dirancang dan bendera tauhid semakin berkibar. Fondasi hidup pun tersusun dengan rapi dan kokoh. Para pembela dan penolong agama berdiri tegak. Kesucian lahiriah dan batiniah menghiasi diri mereka, yang dipimpin oleh Rasulullah n. Negara Islam pun berdiri. Hukum-hukum Allah l dijalankan dengan penuh ketundukan, didasari oleh:
1. Keberhasilan dakwah Nabi Muhammad n yang dimulai dari pemurnian akidah.
2. Kebersihan hidup lahiriah dan batiniah, disertai kebagusan hubungan mereka dengan Allah l.
3. Kesiapan yang sangat mendukung dari pemimpin dan rakyatnya yang semuanya berada pada jalan yang diridhai oleh Allah l.
4. Ilmu agama yang murni.
Di kota inilah semua ajaran Islam disempurnakan oleh Allah l. Dengan kesempurnaannya, sempurnalah pula tugas Rasulullah n sebagai utusan yang telah memperbarui tatanan kehidupan. Allah l menjadikan umatnya sebagai umat yang paling mulia dibandingkan dengan umat-umat sebelumnya. Generasi yang hidup bersama beliau n pun menjadi generasi terbaik.
Dari pembahasan yang singkat ini, kita menyimpulkan bahwa tidaklah sebuah Negara Islam akan berdiri melainkan harus berlandaskan akidah yang benar. Tidak akan tegak hukum-hukum Allah l di muka bumi melainkan dengan memurnikan tauhid kepada Allah l. Dengan misi yang sama inilah Allah l mengutus para rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya. Wallahu a’lam.

 

Berkah Allah dalam Hukum Hadd

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Dari Ubadah bin ash-Shamit z, beliau berkata:
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ n فِي مَجْلِسٍ فَقَالَ: تُبَايِعُونِي عَلَى أَنْ لَا تُشْرِكُوا بِاللهِ شَيْئًا وَلَا تَزْنُوا وَلَا تَسْرِقُوا وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ إِلَّا بِالْحَقِّ فَمَنْ وَفَى مِنْكُمْ فَأَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَعُوقِبَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ وَمَنْ أَصَابَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ فَسَتَرَهُ اللهُ عَلَيْهِ فَأَمْرُهُ إِلَى اللهِ، إِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ وَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُ
Kami pernah berada dalam sebuah majelis bersama Rasulullah n. Beliau bersabda, “(Maukah) kalian memberikan bai’at kepadaku untuk tidak mempersekutukan Allah l dengan apa pun, tidak berbuat zina, tidak mencuri dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah l kecuali dengan haknya. Barang siapa menunaikannya di antara kalian ia mendapatkan pahala dari Allah l. Adapun yang melanggarnya lalu ia dihukum, (hukuman itu) adalah kaffarah untuknya. Barang siapa yang melanggarnya lalu Allah l menutupinya, urusannya kembali kepada Allah l. Jika Allah l menghendaki maka Allah l akan mengampuninya, dan jika Allah l berkehendak maka Allah l akan mengazabnya.”
Derajat Hadits
Al-Albani berkata dalam as-Silsilah ash-Shahihah (6/1267) , “Hadits ini adalah hadits Ubadah bin ash-Shamit z. Ada tiga jalur periwayatan dari beliau:
1. Jalur pertama sekaligus yang termasyhur, dari Abu Idris ‘Aidz bin Abdillah al-Khaulani, bahwa Ubadah bin ash-Shamit—seorang sahabat yang mengikuti Perang Badr bersama Rasulullah n dan termasuk sahabat yang berbai’at pada malam Aqabah—mengabarkan bahwa Rasulullah n pernah bersabda, dalam keadaan di sekeliling beliau ada para sahabat, kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Ubadah berkata, ‘Aku pun membai’at Nabi atas hal-hal tersebut.’
Riwayat ini dikeluarkan oleh al-Bukhari (1/45—48, 7/176, 8/518, 12/69—70, 13/173) dan teks hadits di atas adalah salah satu riwayatnya, Muslim (5/127), at-Tirmidzi (no. 1439), an-Nasai (2/182—183), ad-Darimi (2/220) dan Ahmad (5/314, 340).
2. Jalur periwatan kedua adalah dari ash-Shunabihi dari Ubadah secara ringkas. Riwayat ini dikeluarkan oleh al-Bukhari (7/176—178), Muslim, dan Ahmad (5/321).
3. Jalur ketiga adalah dari Abul Asy’ats ash-Shan’ani yang dikeluarkan oleh Muslim, Ahmad (5/320), dan Ibnu Majah (2/129).”

Syariat Islam adalah Demi Maslahat Umat
Al-Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Umar bin al-Khaththab z, beliau bertutur:
قَدِمَ عَلَى رَسُولِ اللهِ n بِسَبْيٍ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ تَبْتَغِي إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا رَسُولُ اللهِ n: أَتَرَوْنَ هَذِهِ الْمَرْأَةَ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ؟ قُلْنَا: لَا وَاللهِ وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: لَلهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا
Ada sekelompok tawanan yang dibawa menghadap Rasulullah n. Di antara mereka ada seorang wanita yang terlihat sedang gelisah mencari sesuatu. Tiba-tiba wanita tersebut menemukan bayi di tengah-tengah tawanan, langsung saja wanita tersebut menggendongnya lalu mendekapnya di dadanya dan menyusuinya. Kemudian Rasulullah n bertanya kepada para sahabat, “Menurut kalian, apakah wanita ini tega melemparkan anaknya ke dalam kobaran api?” Kami menjawab, “Demi Allah, tidak mungkin ia tega untuk melakukannya.” Lalu Rasulullah n bersabda, “Sungguh Allah lebih Penyayang kepada hamba-Nya daripada kasih sayang wanita ini terhadap anaknya.”
Hadits di atas menunjukkan bahwa cinta dan kasih sayang Allah l kepada hamba-hamba-Nya lebih besar dan lebih luas daripada cinta hamba kepada diri mereka sendiri. Oleh karena itu, seluruh syariat yang ditetapkan oleh Allah l merupakan bentuk cinta dan kasih sayang Allah l terhadap hamba-Nya. Seluruh syariat adalah demi kemaslahatan dan kepentingan hamba sendiri. Setiap perintah berbuat baik adalah untuk kepentingan hamba. Demikian pula, setiap larangan dari perbuatan buruk juga untuk kepentingan hamba itu sendiri.
Syariat yang ditetapkan oleh Allah l selalu tepat dan sesuai dengan perubahan zaman dan perbedaan tempat, karena Allah l-lah yang mencipta, mengatur, dan menguasai. Ilmu Allah l meliputi apa yang telah berlalu, yang sedang terjadi, dan yang akan datang. Maka dari itu, amatlah merugi dan sungguh celaka hamba yang memandang hukum Allah l itu merugikan, buas, atau hanya dapat diberlakukan di masa lampau. Celaka pula seorang hamba yang menilai bahwa syariat Allah l hanya dapat diwujudkan di tanah Arab atau menganggap hukum Allah l tidak lagi cocok di masa ini.

Syariat Allah Amat Luas
Syariat Allah l adalah syariat yang sempurna. Tidak ada sedikit pun kebaikan yang terlewatkan, sebagaimana tidak pula ada keburukan melainkan telah diperingatkan. Apa pun yang dibutuhkan oleh hamba di dunia atau di akhirat telah dijelaskan di dalam Al-Qur’an dan diterangkan oleh Rasulullah n dalam sunnahnya. Allah l berfirman:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agamamu.” (al-Maidah: 3)
Al-Izz bin Abdissalam menerangkan, “Allah l mengenalkan kepada mereka semua hal yang mengandung petunjuk dan kebaikan bagi mereka sehingga mereka melaksanakannya. Allah l juga mengenalkan setiap hal yang mengandung kesesatan dan keburukan sehingga mereka menghindarinya. Allah l mengabarkan pula kepada mereka bahwa setan adalah musuh mereka sehingga mereka memusuhi dan menentangnya. Jadi, Allah l menetapkan kemaslahatan-kemaslahatan dunia dan akhirat melalui ketaatan kepada-Nya dan menjauhi kemaksiatan terhadap Nya.” (Qawa’idul Ahkam hlm. 5)
Syariat Allah l sangatlah luas, mencakup seluruh jenis ibadah dan muamalah, ucapan, perbuatan, serta keyakinan. Oleh karena itu, syariat Allah l tidaklah dimaknai sempit sebatas pelaksanaan hukum hadd. Zikir dan membaca Al-Qur’an adalah bagian dari syariat Islam. Termasuk syariat Islam juga adalah pelaksanaan shalat sunnah, puasa sunnah, infaq, dan shadaqah. Bahkan, senyum dan berwajah manis ketika bertemu dengan sesama muslim pun termasuk syariat Islam. Berbagi hadiah sesama tetangga, mengucapkan salam dan mendoakan kaum muslimin adalah bagian dari syariat Islam. Syariat Islam mencakup seluruh ajaran dan bimbingan yang telah diwariskan oleh Rasulullah n berupa wahyu Al-Qur’an maupun hadits-hadits beliau. Hanya saja, pembicaraan kita saat ini terfokus pada hikmah pelaksanaan hukum hadd.

Hikmah Pelaksanaan Hukum Hadd
Al-Hudud (bentuk jamak/plural dari kata al-hadd) adalah hukuman yang ditentukan secara syar’i karena satu perbuatan maksiat agar perbuatan maksiat itu tidak dilakukan. Syaikhul Islam t berkata, “Al-Hudud adalah hukum yang berlaku sebagai rahmat dan kebaikan bagi makhluk. Oleh sebab itu, sudah seharusnya tujuan penegakan hukuman terhadap orang lain karena kemaksiatan yang dilakukannya adalah untuk kebaikan dan sebagai bentuk kasih sayang. Hal ini sebagaimana seorang ayah yang ingin mendidik putranya atau seorang dokter yang hendak mengobati orang sakit.” (Minhajus Sunnah, dinukil dari al-Mulakhkhas)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Hikmah pelaksanaan syariat hudud adalah untuk menahan diri, sebagai hukuman, dan pembersih sekaligus. Al-Hudud adalah hukuman yang ditentukan untuk menunaikan hak Allah l, juga untuk kemaslahatan masyarakat. Allah l mewajibkannya terhadap para pelaku dosa yang sesuai dengan tabiat asal manusia. Dengan demikian, pelaksanaan hukum hadd termasuk maslahat terbesar bagi kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Ketetapan seorang raja tidak akan sempurna tanpa adanya hukuman bagi para pelaku kejahatan. Dengan adanya hukuman, pelaku kejahatan akan menahan diri. Akan tenanglah orang yang baik. Keadilan pun akan terwujud di muka bumi sehingga umat manusia akan merasakan ketenteraman dalam jiwa, kehormatan, dan harta mereka. Hal ini telah disaksikan secara nyata dalam masyarakat yang menegakkan hukum hadd.
Pada masyarakat yang menegakkan hukum hadd, benar-benar terwujud keamanan, ketenteraman, dan kehidupan yang harmonis. Tidak ada seorang pun yang mampu mengingkari hal ini. Berbeda halnya dengan masyarakat yang meniadakan hukum hadd yang ditetapkan Allah l, bahkan menyakini bahwa hukum hadd itu buas sehingga tidak relevan lagi diterapkan di zaman ini. Masyarakat yang demikian akan jauh dari keadilan ilahiah, jauh dari keamanan dan ketenteraman, meskipun memiliki persenjataan dan perlengkapan canggih. Semua hal itu tidak akan berfungsi sedikitpun sampai hukum-hukum Allah l ditegakkan.” (al-Mulakhkhash, 2/442)
Syarat dan ketentuan pelaksanaan hukum hadd telah dijelaskan oleh syariat Islam, sebagaimana telah dipaparkan pula secara lengkap dan gamblang oleh para ulama berdasarkan dalil-dalil naqli.

Faedah Hadits
Untuk hadits ini, an-Nawawi membuat judul bab dengan nama “Pelaksanaan hukum hadd adalah kaffarah (pengugur dosa) bagi pelakunya.”
Dalam syarah hadits, an-Nawawi menyebutkan beberapa faedah dari hadits di atas, “Di antaranya, diharamkannya hal-hal yang tersebut di dalam hadits serta yang semakna dengannya.
Di antaranya adalah keterangan tentang mazhab ahlul haq bahwa kemaksiatan berbeda dengan kekufuran, sehingga pelaku kemaksiatan tidak dapat dipastikan masuk ke dalam neraka jika ia meninggal dalam keadaan belum bertaubat. Dia berada di bawah kehendak Allah l. Jika Allah l menghendaki maka ia akan memperoleh pengampunan. Namun, jika Allah l menginginkan, Allah l akan mengazabnya. Hal ini berbeda dengan paham Khawarij dan Mu’tazilah. Khawarij menghukumi pelaku kemaksiatan sebagai orang kafir, sedangkan Mu’tazilah tidak mengatakan dia kafir di dunia, hanya saja ia akan kekal di dalam neraka. Pembahasan tentang hal ini telah lewat dalam Kitabul Iman, lengkap dengan dalil-dalilnya.
Di antara faedah hadits ini juga, pelaku kemaksiatan yang terdapat hukum hadd padanya lalu dilaksanakan hukum hadd itu terhadapnya, dosanya gugur karenanya. Al-Qadhi ‘Iyadh berkata, “Mayoritas ulama berpendapat bahwa pelaksanaan hukum hadd adalah kaffarah (penggugur dosa) berdasarkan dalil hadits ini.”
Al-Qadhi ‘Iyadh melanjutkan, “Sebagian ulama berpegang dengan hadits Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n bersabda, ‘Aku tidak mengetahui bahwa pelaksanaan hukum hadd adalah kaffarah’.” Namun, hadits Ubadah yang sedang kita bahas lebih kuat kesahihannya sehingga tidak ada kontradiksi antara kedua hadits tersebut. Mungkin sekali bahwa hadits Abu Hurairah z disabdakan oleh Nabi n sebelum hadits Ubadah z, sehingga maknanya bahwa semula beliau tidak mengetahui kemudian beliau mengetahuinya.” (Syarah Shahih Muslim)
Asy-Syaikh al-Albani menjelaskan bahwa di antara faidah hadits ini, “Menurut ulama, di dalam hadits tersebut ada sebuah jawaban bagi kaum Khawarij yang menghukumi kafirnya seseorang karena kemaksiatan, sekaligus jawaban terhadap kaum Mu’tazilah yang mengharuskan adanya azab bagi pelaku kefasikan apabila ia meninggal tanpa bertaubat sebelumnya. Hal itu karena Nabi Muhammad n mengabarkan bahwa pelaku dosa berada di bawah kehendak Allah. Nabi n tidak menyatakan bahwa ia harus diazab.”
Sama halnya dengan hadits di atas adalah firman Allah l yang membedakan kesyirikan dengan dosa-dosa lainnya. Allah l mengabarkan bahwa dosa kesyirikan tidak akan diampuni oleh-Nya, sedangkan selain dosa syirik berada di bawah kehendak-Nya. Jika Allah l menghendaki, dia akan diazab dan jika Allah l hendak mengampuninya, Allah l akan mengampuni-Nya. Ayat dan hadits tersebut harus dipahami untuk pelaku kesyirikan yang belum bertaubat karena pelaku kesyirikan yang bertaubat tentu akan memperoleh ampunan, lebih-lebih lagi dosa selain kesyirikan. Sementara, ayat telah membedakannya.
Dengan dasar hadits inilah, saya berhujjah tentang sebuah pemikiran yang tumbuh di zaman ini. Sebuah pemikiran yang menganggap kafirnya kaum muslimin disebabkan dosa besar yang mereka lakukan. Terkadang mereka berani memastikan bahwa dosa besar tidak berada di bawah kehendak Allah l dan tidak akan mungkin diampuni selain dengan taubat. Mereka hendak menyamakan antara dosa syirik dan dosa-dosa lainnya. Hal ini jelas menyelisihi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Pada saat saya menyampaikan hadits ini kepada mereka dalam beberapa kesempatan, bahkan pada banyak pertemuan, sebagian mereka rujuk (kembali) kepada kebenaran. Akhirnya, mereka pun menjadi pemuda-pemuda salafiyin terbaik. Semoga Allah l memberikan hidayah untuk sebagian lainnya.” (as-Silsilah ash-Shahihah, 6/1267)

Bentuk Keadilan dan Rahmat dalam Penegakan Hukum Hadd
Ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati dalam pelaksanaan hukum hadd, yaitu terkait dengan keadilan dan rahmat Allah l di dalamnya. Di antaranya:
1. Keadilan Islam yang tidak membedakan kedudukan dalam pelaksanaan hukum hadd. Al-Imam al-Bukhari membuat sebuah bab dengan judul “Pelaksanaan hukum hadd bagi orang yang memiliki kedudukan maupun orang rendahan.” Setelah itu, beliau menyebutkan sebuah hadits dari Aisyah:
أَنَّ أُسَامَةَ كَلَّمَ النَّبِيَّ n فِي امْرَأَةٍ فَقَالَ: إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا يُقِيمُونَ الْحَدَّ عَلَى الْوَضِيعِ وَيَتْرُكُونَ الشَّرِيفَ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ فَعَلَتْ ذَلِكَ لَقَطَعْتُ يَدَهَا
Usamah bin Zaid memohonkan syafaat (rekomendasi keringanan) untuk seorang wanita terpandang (dari Bani Makhzum). Menanggapi permohonan tersebut, Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya kehancuran umat-umat sebelum kalian adalah karena mereka menegakkan hukum hadd terhadap orang-orang rendahan namun tidak melaksanakannya terhadap orang-orang yang terpandang. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya Fathimah (putri kandung beliau n) mencuri tentu aku akan memotong tangannya.”
Bahkan, Islam mencela tindakan membedakan antara orang yang berkedudukan dengan yang tidak.
Al-Imam Muslim t meriwayatkan sebuah hadits dari al-Bara’ bin ‘Azib, bahwasanya Rasulullah n pernah menyaksikan seorang Yahudi yang lewat dalam keadaan dihitamkan wajahnya dan didera. Lalu Rasulullah n memanggil mereka dan bertanya, “Apakah seperti ini hukuman yang kalian dapatkan di dalam Taurat bagi pelaku zina?” Mereka menjawab, “Benar.” Kemudian Rasulullah n mengundang salah satu ulama mereka dan bertanya, “Dengan nama Allah yang telah menurunkan Taurat untuk Musa, aku menyumpahimu, apakah memang demikian kalian mendapatkan hukuman bagi pelaku zina di dalam kitab suci kalian?” Ia menjawab, “Bukan demikian. Kalau engkau tidak bersumpah demikian, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu. Sebenarnya, hukuman bagi pelaku zina yang kami dapatkan di dalam Taurat adalah rajam. Namun, perbuatan zina sering terjadi di kalangan orang-orang terpandang kami. Maka dari itu, jika kami mendapati pelakunya orang terpandang maka kami tinggalkan hukuman tersebut. Jika yang melakukannya adalah orang lemah maka kami akan menegakkan hukum tersebut. Setelah itu kami sepakat, ‘Marilah kita bersepakat untuk menentukan sebuah hukuman yang dapat kita tegakkan untuk orang terpandang dan orang lemah di antara kita.’ Lalu kami pun menetapkan bahwa bentuk hukumannya adalah dengan menghitamkan wajahnya lalu menderanya sebagai pengganti rajam.” Lalu Rasulullah n bersabda, “Ya Allah, sesungguhnya akulah yang pertama kali menghidupkan perintah-Mu setelah mereka mematikannya.”

2. Pelaksanaan hukum hadd merupakan bentuk taubat terbaik dari pelaku kejahatan. Dengan ditegakkannya hukum hadd atas dirinya, seorang pelaku maksiat akan terbebas dari hukuman akhirat. Asy-Syaikh al-Utsaimin berkata, “Hikmahnya adalah, pertama agar dia atau orang lain tidak melakukan perbuatan yang sama untuk kedua kalinya. Yang kedua adalah bentuk penyucian dan kaffarah, karena jika seorang hamba melakukan satu bentuk dosa lalu ditegakkan hukum hadd terhadapnya, Allah akan menggugurkan dosa tersebut. Allah l tidak akan menggabungkan untuknya hukuman di dunia dan hukuman akhirat.” (asy-Syarhul Mumti’)
Al-Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Imran bin Hushain z, bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menemui Rasulullah n dalam keadaan hamil karena zina. Wanita tersebut berkata, “Ya Rasulullah, aku telah melanggar hadd. Tegakkanlah hukum hadd atasku!”
Rasulullah n lalu memanggil wali dari wanita tersebut dan berpesan, “Bersikaplah baik kepada wanita ini. Apabila ia telah melahirkan, bawalah ia menemuiku kembali.” Pesan Rasulullah n itu dilaksanakan oleh walinya. Setelah melahirkan, wanita itu dibawa kemudian pakaiannya diikat kencang lalu dirajam. Rasulullah n kemudian menshalatkan jenazahnya. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, apakah Anda menshalatkannya padahal ia telah berbuat zina?” Rasulullah n bersabda:
لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلهِ تَعَالَى؟
”Sesungguhnya wanita ini telah sungguh-sungguh bertaubat. Seandainya taubat wanita ini dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, tentulah akan mencukupi mereka. Apakah engkau dapat menemukan taubat yang lebih baik dibandingkan penyerahan dirinya hanya kepada Allah l?”

Pelaksanaan Hukum Hadd adalah Hak Penguasa
Sesuatu yang tidak boleh dilupakan, pelaksanaan hukum hadd adalah hak dan wewenang penguasa sehingga akan mendatangkan ketenangan dan ketenteraman hidup bermasyarakat. Apabila masing-masing individu masyarakat atau sekelompok dari mereka merasa berhak menegakkannya, hanya kekacauan dan kerusuhan yang akan timbul. Akan terjadi perselisihan dan kehancuran. Oleh karena itu, hanya pemerintah yang berwenang menegakkan hukum hadd. Hal ini adalah sebuah keadilan dan rahmat Allah l dalam pelaksanaan hukum hadd. Ibnu Qudamah dalam al-‘Umdah (2/163, bersama syarah) berkata, “Tidak diperkenankan menegakkannya selain imam (penguasa) atau yang mewakilinya.”
Semoga Allah l senantiasa memberikan taufik dan hidayah untuk kaum muslimin sehingga mereka kembali kepada syariat Allah l yang hakiki.
Amin ya Arham ar-Rahimin.

QISHASH, jaminan Kelangsungan Hidup Manusia

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 179)
Penjelasan Mufradat Ayat
Sebagian ahlul ilmi berpendapat, kata الْقِصَاص berasal dari kata قَصَّ الْأَثَرَ , artinya mengikuti jejak (nya). Jadi, seolah-olah pelaku pembunuhan mengikuti atau menempuh jejak suatu pembunuhan. Hal ini sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah l:
“Musa berkata, ‘Itulah (tempat) yang kita cari; lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula’.” (al-Kahfi: 64)
Sebagian ada yang berpendapat bahwa kata ini berasal dari الْقَصُّ artinya memotong atau memisahkan. Ini seperti yang terdapat pada kalimat قَصَصْتُ مَا بَيْنَهُمْ artinya “Saya meng-qishash sesuatu di antara keduanya,” yakni saya memotong atau memisahkannya. (Lihat Fathul Qadir, 1/227, al-Qurthubi, 2/245)
Al-Alusi t dalam kitab tafsirnya, Ruhul Ma’ani (2/113), mengatakan, “Bentuk kata الْقِصَاص adalah isim ma’rifah yang menggunakan الْ menunjukkan jenis, bermakna tentang hakikat hukum ini yang meliputi hukuman balasan berupa pukulan, pencederaan, pembunuhan dan lainnya.”
Maka dari itu, qishash adalah salah satu bentuk pidana (hukuman) yang ditetapkan sebagai bentuk pembalasan yang sepadan terhadap suatu perbuatan berupa pembunuhan atau pencederaan.
“(Jaminan kelangsungan) hidup.”
Mujahid berkata, “Maknanya adalah suatu (siksaan atau hukuman) yang dijadikan peringatan bagi orang lain.”
Qatadah mengatakan, “Yaitu hukuman dan peringatan bagi manusia yang kurang berakal dan bodoh.”
Ar-Rabi’ berkata, “Sebagai ibrah (pelajaran/peringatan).”
Ibnu Juraij mengatakan, “Yaitu sebagai kekuatan pencegahan.”
Abu Shalih, as-Suddi, ats-Tsauri, dan Ibnu Zaid mengatakan, “Maknanya adalah ketetapan dan kekekalan.”
Adh-Dhahhak mengatakan, “Yaitu kebaikan dan keadilan.”
Lihat Tafsir ath-Thabari (3/381—383).
Al-Alusi berkata dalam tafsirnya, Ruhul Ma’ani (2/1130), mengatakan, “Makna qishash sebagai jaminan kelangsungan hidup adalah kelangsungan hidup di dunia dan di akhirat. Jaminan kelangsungan hidup di dunia telah jelas karena dengan disyariatkannya qishash berarti seseorang akan takut melakukan pembunuhan. Dengan demikian, qishash menjadi sebab berlangsungnya hidup jiwa manusia yang sedang berkembang. Adapun kelangsungan hidup di akhirat adalah berdasarkan alasan bahwa orang yang membunuh jiwa dan dia telah diqishash di dunia, kelak di akhirat ia tidak akan dituntut memenuhi hak orang yang dibunuhnya.”

Hukum Qishash
Sebagaimana yang tersebut dalam ayat sebelum ayat di atas, Allah l menetapkan (mewajibkan) hukum qishash di antara manusia.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba dan wanita dengan wanita. Barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diyat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Hal itu adalah suatu keringanan dan rahmat dari Rabb kalian. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, baginya siksa yang sangat pedih.” (al-Baqarah: 178)
Berikut ini adalah beberapa dalil yang menunjukkan disyariatkannya hukum qishash.
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (al-Maidah: 45)
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah (membunuhnya) melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (al-Isra: 33)
Adapun di antara hadits yang menunjukkan masalah ini adalah riwayat dari Abdullah bin Mas’ud z, Rasulullah n bersabda:
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ؛ النَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالْمَارِقُ مِنْ الدِّينِ التَّارِكُ لِلْجَمَاعَةِ
“Darah seorang muslim yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah, tidak boleh ditumpahkan melainkan karena tiga hal: jiwa dibalas dengan jiwa, orang yang telah menikah yang melakukan zina, orang yang murtad dari Islam dan meninggalkan persatuan bersama kaum muslimin.” (Muttafaqun ‘alaih)
Hukum Qishash Juga Berlaku dalam Agama Terdahulu
Pada dasarnya, qishash adalah ketetapan hukum yang juga berlaku dalam agama-agama terdahulu sebelum Islam. Allah l berfirman:
“Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qishashnya.” (al-Maidah: 45)
Ibnu Abbas berkata, “Dahulu di masa Bani Israil, orang yang membunuh diberlakukan hukum qishash dan tidak ada diyat (bayar denda).”
Qatadah berkata, “Dahulu yang berlaku bagi para pengikut Taurat adalah qishash dan pemaafan, tidak ada diyat (membayar denda). Adapun bagi para pengikut Injil hanya berlaku pemaafan. Adapun bagi umat ini, Allah l menetapkan hukum adanya qishash, pemaafan dan diyat.”

Pelaksana Hukum Qishash
Al-Imam al-Quthubi mengatakan, “Para ulama bersepakat bahwa qishash tidaklah ditegakkan melainkan oleh penguasa. Mereka diperintah menegakkan qishash, dan hukuman-hukuman yang lain. Hal ini karena Allah l berbicara (memerintahkan) agar hukum qishash diberlakukan kepada seluruh kaum muslimin. Kemudian Allah l tidak mempersiapkan kaum muslimin seluruhnya untuk berkumpul, melaksanakan (menegakkan) hukum qishash. Akan tetapi, mereka menunjuk (menyerahkan) kepada penguasa untuk menegakkan hukum qishash dan hukuman-hukuman yang lain.”
Di tempat lain, beliau t menukil riwayat dari jalan Sufyan, dari as-Suddi, dari Abu Malik, beliau berkata bahwa makna ayat di atas adalah “Sebagian mereka tidak boleh menerapkan qishash (membunuh) terhadap sebagian yang lain. Para ulama bersepakat bahwa tidak boleh seorang pun menerapkan qishash, selain penguasa. Tidak diperbolehkan bagi manusia untuk menerapkan qishash terhadap yang lain. Urusan ini adalah hanya wewenang penguasa atau pihak yang ditunjuk oleh penguasa. Dari situlah, Allah menjadikan penguasa berkuasa terhadap rakyatnya. Demikian pula, telah disepakati oleh para ulama bahwa apabila seorang penguasa melakukan tindakan pembunuhan atau penganiayaan terhadap rakyatnya, maka dia mengqishash dirinya karena ia termasuk bagian dari mereka. Hanya saja, ada sisi perbedaan jika ditinjau dari sisi bahwa mereka (penguasa) adalah sebagai wakil rakyat. Namun, dilihat dari sisi bahwa mereka adalah bagian individu dari masyarakat, tidak ada perbedaan dalam penerapan hukum-hukum Allah l. Hal ini berdasarkan firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh.”
(Tafsir al-Qurthubi, 2/245—256)

Pemberlakuan dan Gambaran Qishash
Qishash diberlakukan terhadap pelaku pembunuhan atau pencederaan, bukan terhadap selain pelaku. Al-Imam al-Qurthubi (2/245) menyebutkan gambaran qishash sebagai berikut. Seseorang yang melakukan pembunuhan ditegakkan terhadapnya hukum qishash, apabila wali pembunuhan pasrah kepada perintah Allah l dan tunduk kepada hukum qishash yang disyariatkan. Wali dari orang yang terbunuh diwajibkan menetapkan qishash terhadap orang yang membunuh dan tidak melampaui batas kepada selainnya. Bukan seperti yang dilakukan oleh bangsa Arab dahulu. Mereka melakukan perbuatan melampaui batas sehingga membunuh orang yang bukan pelaku pembunuhan. Nabi n bersabda:
إِنَّ مِنْ أَعْتَى النَّاسِ عَلَى اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثَلَاثَةً؛ رَجُلٌ قَتَلَ غَيْرَ قَاتِلِهِ، وَرَجُلٌ قَتَلَ فِي الْحَرَمِ، وَرَجُلٌ أَخَذَ بِذُحُولِ الْجَاهِلِيَّةِ
“Manusia yang paling durhaka kepada Allah l pada hari kiamat ada tiga. Pertama, seseorang yang melakukan qishash pembunuhan terhadap orang yang bukan pelakunya. Kedua, seseorang yang melakukan pembunuhan di tanah al-haram (Makkah dan Madinah). Ketiga, seseorang yang membunuh karena dendam jahiliah.” (HR. Ahmad)
Demikian pula, dalam qishash keadilan tetap diperhatikan. Artinya, orang yang merdeka dengan orang yang merdeka, budak dengan budak, dan wanita dengan wanita. (lihat Tafsir Ibnu Katsir 1/489)

Hikmah Qishash
Allah l menetapkan hukum qishash (hukuman mati) bagi orang yang membunuh jiwa. Namun, pada hakikatnya qishash itu sendiri adalah kelangsungan hidup bagi jiwa manusia. Hal ini ditinjau dari akibatnya, yaitu apabila hukum qishash diberlakukan, manusia terhalangi untuk melakukan pembunuhan terhadap manusia yang lain. Dengan demikian, kelangsungan hidup manusia akan tetap terjaga. (Lihat Fathul Qadir 1/228)
Hukuman yang dinamakan qishash (yang kenyataannya adalah hukuman mati), pada hakikatnya adalah jaminan keberlangsungan hidup bagi manusia. Karena apabila seseorang mengetahui, bahwa ia akan dibunuh secara qishash (dihukum mati) jika melakukan pembunuhan terhadap orang lain, ia akan menahan diri dari melakukan pembunuhan. Ia menahan diri untuk tidak bergegas/bersegera melakukannya. Ia juga akan menahan diri agar tidak terjatuh dalam perbuatan tersebut. Hal ini diibaratkan seperti pemberian jaminan kelangsungan hidup bagi jiwa manusia.
Al-Imam asy-Syinqithi t berkata dalam tafsir ayat:
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus.” (al-Isra: 9)
Salah satu hal yang menunjukkan bahwa Al-Qur’an memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus adalah masalah qishash. Jika seseorang sedang marah kemudian berkeinginan untuk melakukan pembunuhan, ia ingat/sadar bahwa membunuh seseorang akan mengakibatkan dirinya juga akan dibunuh. Dengan demikian, ia menjadi takut. Akhirnya, keinginan membunuh ia tinggalkan. Dengan ini pula, menjadi hiduplah orang yang sebelumnya ingin dia bunuh. Hidup pulalah dirinya, karena ia tidak jadi membunuh sehingga qishash pun tidak berlaku padanya. Oleh karena itu, pembunuhan terhadap seorang yang membunuh jiwa (sebagai bentuk balasan yang setimpal) menjadi sebab berlangsungnya kehidupan bagi banyak jiwa, tidak ada yang mengetahui selain Allah l. Allah l berfirman:
“Dan dalam qishash itu ada (jaminan kelangsungan) hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 179)

Tidak diragukan bahwa ini adalah cara yang paling adil dan paling lurus. Oleh karena itu, telah disaksikan di seluruh daerah di muka bumi ini, baik masa dahulu maupun sekarang, jumlah pembunuhan di negeri yang menerapkan hukum Allah (Islam) sedikit. Hal ini karena hukum qishash menjadi sebab penghalang terjadinya pembunuhan, sebagaimana yang disebutkan Allah l pada ayat di atas. Adapun pernyataan yang diucapkan oleh musuh-musuh Islam bahwasanya qishash tidak sesuai dengan hikmah—karena mengandung unsur yang membuat kegelisahan dan kerisauan bagi sebagian masyakat dengan dibunuhnya pelaku pembunuhan—sehingga hukuman yang sepantasnya (diberikan kepada pelaku pembunuhan) bukanlah qishash, namun dipenjara saja. Menurut mereka, dengan dipenjara bisa jadi akan lahir darinya seorang anak sehingga bertambahlah jumlah jiwa penduduk.
Akan tetapi, semua itu adalah pendapat yang keliru dan salah. Tidak ada hikmahnya sama sekali. Hukuman penjara tidak akan menjadi sebab yang akan menghalangi seorang melakukan pembunuhan. Jika demikian halnya, pembunuhan akan semakin banyak karena perbuatan orang-orang yang jelek budinya. Hasilnya, jumlah penduduk justru berkurang berlipat ganda akibat pembunuhan yang merajalela. (Adhwa’ul Bayan, 3/285)
Wallahu a’lam.

 

Upaya Penegakan Syari’at Islam Mengapa Gagal?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Luqman Baabduh)

Permasalahan ini adalah salah satu pokok penting yang harus segera dijawab demi tercapainya upaya dan cita-cita kita menegakkan syariat Islam. Berbagai upaya untuk menegakkannya telah dilakukan oleh banyak pihak dengan beragam cara dan sistem, namun tidak ada hasil selain kegagalan dan kegagalan. Bahkan, yang muncul adalah berbagai efek negatif yang merugikan umat Islam.
Dalam pembahasan kali ini kita akan mencoba mendiskusikan sebab-sebab yang mengantarkan kepada kegagalan, untuk kemudian dicarikan solusinya sesuai dengan bimbingan ilmu dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta contoh teladan dari generasi as-salafush shalih.

Sebab-sebab Kegagalan
1. Kebanyakan upaya penegakan syariat Islam yang dilakukan pada masa kini masih jauh dari ilmu dan bimbingan para ulama mujtahidin generasi as-salafush shalih serta para ulama yang mengikuti jejak mereka hingga hari ini.
Akibatnya, yang muncul adalah logika-logika yang saling bertentangan satu sama lain. Kondisi ini semakin memperlemah barisan kaum muslimin dan semakin memperkuat para penentang penegakan syariat Islam. Tidak ada jalan dan sistem yang lebih baik dibandingkan dengan tuntunan generasi as-salafush shalih. Ketika Rasulullah n ditanya tentang kelompok yang selamat atau sukses, beliau n menjawab:
مَنْ كَانَ عَلَى مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِيْ
“Barang siapa yang berada di atas (prinsip) yang aku dan para sahabatku berada di atasnya pada hari ini.”1
Hal ini sebagaimana ungkapan yang sering disebutkan oleh para ulama:
كُلُّ خَيْرٍ فِي اتِّبَاعِ مَنْ سَلَفَ وَكُلُّ شَرٍّ فِي ابْتِدَاعِ مَنْ خَلَفَ
“Segala kebaikan terletak pada sikap meneladani generasi salaf, dan segala kejelekan terletak pada amalan yang diada-adakan oleh generasi khalaf (belakangan).”
Atas dasar itu, hendaknya semua pihak yang menginginkan dengan sungguh-sungguh penerapan syariat Islam segera mengoreksi sistem dan berbagai cara yang mereka terapkan berdasarkan bimbingan dan teladan generasi terbaik tersebut. Jangan sampai seperti ungkapan yang sering disebutkan oleh para ulama:
تَرْجُو النَّجَاةَ وَلَمْ تَسْلُكْ مَسَالِكَهَا
إِنَّ السَّفِيْنَةَ لاَ تَجْرِيْ عَلَى الْيَبَسِ
“Anda menginginkan keselamatan namun Anda tidak menempuh jalan-jalannya.
Sesungguhnya bahtera tidak akan pernah bisa berlayar di atas (tempat) yang kering.”

2. Belum adanya upaya at-tashfiyah dan at-tarbiyah
Upaya at-tashfiyah yang dimaksud adalah upaya membersihkan dan menjauhkan generasi umat Islam ini dari berbagai paham yang mengotori akidah, iman, ibadah, dan akhlak mereka. Adapun at-tarbiyah adalah upaya mendidik generasi Islam di atas iman dan akhlak yang mulia serta semangat beramal dan beribadah yang tinggi.
Masih banyak didapati di tengah-tengah masyarakat muslim—baik pribadi maupun kelompok pergerakan, bahkan lembaga pendidikan umat Islam— berbagai paham dan akidah yang menyimpang dari bimbingan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman as-salafush shalih. Di antaranya seperti kesesatan akidah al-Jahmiyah dan al-Mu’tazilah2 yang menafikan (menolak) dan mengingkari sifat-sifat Allah l yang telah ditetapkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. Begitu pula, kesesatan akidah dan paham al-Qadariyah3 (para pengingkar takdir) masih menyelimuti akidah sebagian umat Islam dan tokoh-tokohnya.
Tak luput pula paham syi’ah4 dan tashawwuf5 yang telah mencabik-cabik akidah umat dan beberapa lembaga pendidikan umat Islam dengan berbagai khurafat, takhayul, dan keyakinan-keyakinan bernuansa syirik. Belum lagi paham khawarij6 dengan bendera yang berbeda-beda dan masing-masing dipimpin oleh amir jamaah sendiri dengan bai’at tersendiri, serta suara “perjuangan” sendiri, terus menebarkan akidah pengafiran dengan obyek yang berbeda-beda.
Kaum liberalis pun tak kalah gencar menanamkan akar-akar liberalisme di tengah-tengah masyarakat dan berbagai lembaga pendidikan kaum muslimin.
Semua hal di atas sangat membutuhkan upaya at-tashfiyah yang sangat mendesak. Keberadaan berbagai akidah menyimpang yang sebagiannya kami sebutkan di atas adalah penghalang terbesar turunnya pertolongan Allah l bagi umat ini. Sudah barang tentu, upaya at-tashfiyah ini harus dipimpin dan dibimbing langsung oleh para ulama umat yang mengikuti jejak generasi as-salafush shalih dan kepada merekalah urusan umat dikembalikan.
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu segera menyiarkannya, kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri), kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentulah kalian mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يُنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الْغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الْجَاهِلِيْنَ
“Ilmu agama ini akan terus dibawa oleh orang-orang adil (tepercaya) dari tiap-tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari: (1) Tahriful ghalin (pemutarbalikan pengertian agama yang dilakukan oleh orang-orang yang menyimpang), (2) Intihalul mubthilin (tipu daya ahlul batil), (3) Ta’wilul jahilin (pentakwilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil).” (HR. Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil, dari sahabat Abu Hurairah z dan ‘Abdullah bin ‘Umar c, dan al-Baihaqi dari sahabat Ibrahim bin ‘Abdirrahman al-’Adzari z)

Sudah Siapkah Umat Islam Menerapkan Syariat Islam?
Pertanyaan ini sangat penting dan mendesak untuk segera dijawab karena hal ini adalah salah satu sebab kegagalan upaya penerapan syariat Islam. Keberhasilan penerapan syariat Islam sangat bergantung kepada kemauan dan sikap kaum muslimin sendiri untuk menjadikan syariat Islam sebagai sumber hukum dan perundang-undangan dalam seluruh aspek kehidupan mereka.
Jika kaum muslimin memiliki kemauan dan kejujuran serta keimanan yang tulus untuk megamalkan syariat Islam pada kehidupan pribadi, rumah tangga, dan masyarakat, baik dalam hal akidah, akhlak, ibadah, maupun muamalah mereka dalam keseharian, pasti Allah akan mewujudkan tegaknya syariat Islam di bumi dan negeri mereka tinggal. Allah berfirman:
“Sungguh Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa sungguh Dia (Allah) akan menjadikan mereka sebagai pihak yang berkuasa di muka bumi, sebagaimana Allah telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Allah akan mengokohkan bagi mereka agama mereka yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Allah benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka dahulu dalam ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap beribadah kepada-Ku dengan tidak mempersekutukan Aku dengan sesuatu apapun, dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (an-Nur: 55)
Akan tetapi, apabila kaum muslimin tetap enggan untuk beramal dan berhukum dengan syariat Islam pada diri, rumah tangga, dan masyarakat mereka, baik dalam urusan akidah, akhlak, ibadah, maupun muamalah dalam keseharian, Allah l tidak akan pernah mewujudkan impian mereka berupa tegaknya syariat Islam di bumi mereka. Allah l justru akan memberikan kepada mereka para pemimpin atau penguasa yang zalim dan cenderung bermaksiat, sesuai dengan keadaan dan kondisi mereka. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Dan demikianlah Kami jadikan sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Di antara makna ayat ini adalah jika para hamba telah banyak melakukan kezaliman dan kerusakan, serta keengganan untuk menunaikan kewajiban, pasti akan berkuasa atas mereka para penguasa zalim yang akan menimpakan azab (hukuman) yang berat kepada mereka. Penguasa itu akan menyiksa mereka dengan penuh kezaliman dan kebengisan melebihi keengganan mereka untuk memenuhi hak-hak Allah atau hak-hak hamba-Nya … Sebagaimana pula jika para hamba tersebut beramal saleh dan istiqamah, pasti Allah l akan membenahi para pemimpin mereka dan menjadikannya sebagai para penguasa yang adil dan sportif, bukan para penguasa yang zalim dan bengis.” (Taisirul Karimirrahman)
Bahkan, Allah l mengancam pihak-pihak yang berpaling dari syariat-Nya dengan berbagai ancaman yang sangat berat, sebagaimana telah kami jelaskan di atas pada pembahasan sebelumnya.
Khusus kepada pihak-pihak yang lebih dikenal sebagai para aktivis pergerakan, hendaknya mereka menjadi orang-orang yang terdepan dalam mengamalkan syariat Islam pada diri, keluarga, dan masyarakatnya. Hendaklah mereka berupaya melakukan at-tashfiyah (upaya penjernihan) terhadap akidah, akhlak, dan cara ibadah, serta bermuamalah mereka.
Hendaknya mereka membersihkan akidahnya dari berbagai paham menyimpang yang sebagiannya telah kami sebutkan di atas, sebagaimana pula mereka wajib membersihkan cara ibadahnya dari berbagai bentuk amalan yang tidak pernah dibimbingkan oleh Rasulullah n.
Tak kalah penting, mereka juga harus membersihkan rumah tangganya dari berbagai perbuatan yang tidak diridhai oleh Allah l. Hendaklah para istri dan putra-putri mereka terbimbing dengan bimbingan syariat Islam dalam hal akidah, akhlak, dan ibadah mereka.
Sengaja kami menyampaikan himbauan ini karena kami masih mendapati beberapa pihak yang menyerukan penegakan syariat Islam namun belum melakukan upaya at-tashfiyah, pada diri, keluarga, dan lingkungan terdekatnya. Bahkan, tidak sedikit dari mereka yang tidak melakukan upaya at-tashfiyah kepada anggota kelompok atau pergerakannya.
Jika berbagai hal di atas belum mereka lakukan, janganlah berkhayal akan terwujud penerapan syariat Islam di bumi mereka tinggal. Ini sebagaimana ungkapan yang sering disebutkan oleh sebagian:
أَقِمْ دَوْلَةَ الْإِسْلاَمِ فِيْ نَفْسِكَ تُقَمْ فِيْ أَرْضِكَ
“Terapkanlah dahulu negara Islam pada diri Anda sendiri, pasti (negara Islam tersebut) akan ditegakkan (oleh Allah) di bumi Anda.”
Keterpurukan umat Islam tidak kunjung usai melainkan jika mereka semua berupaya dengan sungguh-sungguh kembali kepada bimbingan syariat Islam sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah n:
إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ
“Jika kalian berjual beli dengan sistem ‘inah (sistem riba), dan kalian telah sibuk dengan ekor-ekor sapi (pertanian), dan kalian juga rela (senang) dengan perkebunan, serta meninggalkan jihad, pasti Allah akan menimpakan kepada kalian kehinaan yang tidak akan pernah dicabut oleh Allah sampai kalian semua kembali kepada (syariat) agama kalian.” (HR. Abu Dawud, al-Baihaqi, dan selain keduanya, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c)
Rasulullah n juga bersabda:
وَلَمْ يَنْقُصُوا الْمِكْيَالَ وَالْمِيْزَانَ إِلاَّ أُخِذُوْا بِالسِّنِيْنَ وَشِدَّةِ الْمَئُوْنَةِ وَجَوْرِ السُّلْطَانِ عَلَيْهِمْ
“Tidaklah mereka (umat ini) mengurangi takaran dan timbangan melainkan akan ditimpakan kepada mereka paceklik, kehidupan yang sulit, dan kekejaman penguasa terhadap mereka.” (HR. Ibnu Majah, Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, dari sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar c. Lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah)

Syariat Islam Versi Siapa?
Ketika kita berbincang tentang syariat Islam di masa kita hidup ini, tentu ada sebuah pertanyaan penting yang juga harus segera dijawab. Pertanyaan itu adalah syariat Islam menurut pandangan dan kacamata siapa yang akan ditegakkan?
Pertanyaan ini mungkin nampak aneh bagi sebagian pihak. Namun, hal ini tidak boleh diabaikan karena kita hidup di masa yang penuh dengan perpecahan dan perbedaan akidah dalam memahami Islam dan syariat Islam itu sendiri. Di tengah-tengah muslimin telah hidup berbagai kelompok dan mazhab yang memiliki cara pandang dan akidah yang berbeda-beda. Tentu hal itu akan mempengaruhi sistem penerapan syariat Islam yang akan mereka tegakkan.
Berbagai paham menyimpang bermunculan di tengah masyarakat muslim. Mulai dari paham sesat Syi’ah, Sufi, Mu’tazilah, Qadariyah, Jahmiyah, Khawarij, sampai kaum liberalis telah mengotori akidah kaum muslimin. Belum lagi adanya berbagai kelompok seperti HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) yang bernuansa paham Mu’tazilah. Kemudian muncul pula kelompok HDI (Hizb Dakwah Islam) yang konon adalah sempalan kelompok HTI yang sama-sama mengklaim ingin memperjuangkan tegaknya Khilafah Islamiyah ‘ala Manhajin Nubuwwah—entah apa sebabnya mereka berselisih, padahal masih belum terwujud khilafah yang mereka impikan.
Begitu pula kelompok MMI (Majelis Mujahidin Indonesia) yang pada awalnya dipimpin oleh Abu Bakar Ba’asyir (ABB). Kemudian terjadilah perselisihan yang sengit antarpembesar kelompok ini. ABB kemudian memisahkan diri dan mendirikan kelompok baru yang diberi nama Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) dengan struktur kepemimpinan dan bai’at tersendiri. Konon, kata ABB, sebab keluarnya adalah sistem organisasi yang diterapkan di MMI masih menggunakan sistem/sunnah Yahudi, yaitu sistem demokrasi. Adapun yang benar, menurut ABB, adalah sistem al-Jama’ah wal Imamah (JI). Dengan kata lain, kelompok MMI tidak lagi menerapkan syariat Islam atau tidak lagi berhukum dengan hukum Islam dalam sistem keorganisasian dan kepemimpinannya.
Di sini akan muncul pertanyaan, kafirkah kelompok MMI dengan sebab itu? Tentu sebuah pertanyaan yang sulit dijawab oleh kelompok MMI sendiri maupun JAT. Dua kelompok yang tadinya satu payung berselisih paham sebelum terwujudnya impian mereka. Jika demikian, syariat Islam dalam pandangan kelompok mana yang pantas diterapkan?
Tidak jauh berbeda, kondisi kelompok IM (Ikhwanul Muslimin), LDII, dan rival beratnya JAMUS (Jama’atul Muslimin) yang saling mengklaim bahwa keamiran dan bai’atnya sajalah yang sah, semakin membikin suram permasalahan. Tak kalah pula kelompok Khilafatul Muslimin yang beraliran paham Khawarij semisal MMI dan JAT, ikut meramaikan suasana perpecahan yang terjadi.
Mayoritas kelompok di atas memiliki sistem keamiran, bai’at, dan cara pandang terhadap syariat Islam serta cara perwujudannya yang berbeda-beda. Masing-masing mengklaim bahwa kelompok, sistem keamiran, dan bai’atnya sajalah yang sah.
Semua itu semakin mengaburkan gambaran syariat Islam yang hakiki. Dengan demikian, pertanyaan “Syariat Islam versi siapa yang akan ditegakkan?” adalah pertanyaan penting yang harus selalu diajukan.
Kita akan merasakan semakin pentingnya hal ini ketika kita mencoba menengok sejarah di masa al-Imam Ahmad bin Hanbal yang hidup di bawah pemerintahan al-Ma’mun. Al-Ma’mun banyak dipengaruhi oleh para tokoh mazhab Jahmiyah dan Mu’tazilah. Mereka berhasil menanamkan akidah sesatnya kepada Sang Khalifah bahwa Al-Qur’an itu adalah makhluk, bukan kalamullah. Sebuah akidah yang sangat bertentangan dengan syariat yang diturunkan oleh Allah l serta bertentangan dengan akidah dan pengamalan generasi as-salafush shalih. Sebuah akidah yang para ulama generasi as-salafush shalih, di antaranya al-Imam Malik, al-Imam asy-Syafi’i, al-Imam Ahmad, al-Imam Sufyan ats-Tsauri, al-Imam Waki’, al-Imam Abu Hatim, al-Imam Abu Zur’ah, dan lain-lain berkata:
مَنْ زَعَمَ أَنَّ الْقُرْآنَ مَخْلُوْقٌ فَقَدْ كَفَرَ
“Barang siapa yang berkeyakinan bahwa Al-Qur’an itu makhluk (yakni bukan kalamullah), sungguh dia telah kafir.”
Tragisnya, kaum Mu’tazilah dan Jahmiyah berhasil mempengaruhi Khalifah. Akhirnya, Khalifah pun menetapkan akidah yang sesat dan menyesatkan itu sebagai salah satu prinsip utama dalam khilafahnya yang harus diyakini oleh semua rakyat. Tidak sedikit dari para ulama terbaik umat ini yang terpaksa harus dibunuh karena menentang kebijakan pemerintahan al-Ma’mun. Tidak sedikit pula di antara mereka yang harus merasakan siksaan di penjara khilafah. Di antara mereka adalah seorang imam yang mulia dan gigih membela tauhid serta syariat Islam, yaitu al-Imam Ahmad.
Tidak cukup beliau disiksa dan dipenjara pada masa Khalifah al-Ma’mun saja. Penderitaan beliau t bahkan berlanjut pada masa Khalifah al-Mu’tashim hingga Khalifah al-Watsiq. Dalam keadaan kaum Mu’tazilah dan khalifah pada waktu itu merasa telah menegakkan syariat Islam dan membelanya. Sungguh sangat tragis.
Di masa kita hidup pun, kita mendengar beberapa negara mengatasnamakan dirinya sebagai negara Islam.
Sebagai contoh, negara Iran yang memproklamirkan dirinya sebagai negara Islam. Berbagai kelompok pergerakan yang sedang mengimpikan penegakan syariat Islam serta merta memuji dan menyanjung negara Iran dan Khumaini sebagai pemimpin teladan umat ini, tanpa mau meninjau syariat bentuk apa yang dicanangkan oleh negara Iran. Kenyataannya, Islam yang dimaukan dan diterapkan di sana adalah paham Syi’ah yang menyesatkan. Jadilah syiar-syiar akidah warisan si Yahudi Abdullah bin Saba’ itu sangat dijunjung tinggi di negeri tersebut.
Pertanyaan di atas kembali terlintas di benak kita, “Syariat Islam versi siapa yang akan ditegakkan?”
Syariat Islam versi HTI? Syariat Islam versi HDI? Syariat Islam versi MMI? Syariat Islam versi JAT? Syariat Islam versi Syi’ah? Begitu seterusnya, tak kunjung usai.

Kaum Liberalis Penentang Syariat Islam
Kondisi di atas menggambarkan kepada kita betapa carut-marutnya keadaan para penyeru syariat Islam. Hal ini semakin diperparah dengan keberadaan kaum liberalis yang tidak henti-hentinya siang dan malam mempropagandakan gerakan anti syariat Islam dengan cara yang sistematis. Mulai dari paham pluralisme, sistem penafsiran hermeneutika, desakralisasi Al-Qur’an, perkawinan beda agama, kesetaraan gender, poligami, dukungan untuk perkawinan sesama jenis, dan sebagainya, hingga pelecehan terhadap Allah l, Rabb semesta alam. Lihat sekelumit penjelasan tentang kaum liberalis pada majalah Asy Syari’ah Vol. VI/No. 63/1431 H/2010 yang bertema Benang Kusut Madzhab IAIN.
Mereka dengan penuh kegigihan terus menanamkan syubhat anti syariat kepada masyarakat muslim. Dengan itu, dapat dipastikan bahwa mereka telah bekerja untuk kepentingan kaum kuffar, baik Yahudi, Nasrani, dan yang lainnya, untuk menghancurkan Islam dan menjauhkan kaum muslimin dari syariat Islam.
Maka dari itu, kepada seluruh kaum muslimin, baik sebagai rakyat maupun pemerintah, hendaknya mewaspadai bahaya gerakan kaum liberalis dan segera mengambil langkah untuk melindungi putra-putri muslimin dan para aparatur pemerintah dari bahaya paham liberalisme yang telah menyerang berbagai lembaga pendidikan serta ormas-ormas di negeri ini. Jika kaum liberalis dan paham liberalisme ini dibiarkan tumbuh subur, kita semua—rakyat ataupun pemerintah—akan berhadapan dengan Allah, Sang Pemilik alam semesta, sebagaimana yang telah kami sebutkan pada pembahasan sebelumnya.

Jangan Menjadikan Slogan Penerapan Syariat Islam Sebagai Komoditi Politik Untuk Memikat Hati Umat
Sebelum kami mengakhiri tulisan ini, perlu kami sampaikan sebuah nasihat untuk saudara kami semua agar masing-masing kita merasa bertanggung jawab terhadap nama baik dan kemuliaan syariat Islam, baik di hadapan pemeluknya maupun di hadapan kaum kuffar.
Janganlah seruan penerapan syariat Islam hanya dijadikan sebagai komoditi politik untuk memikat hati umat demi sebuah kepentingan duniawi yang sedang dikejarnya. Tidak jarang, beberapa kelompok atau partai politik yang menampakkan dirinya berasaskan syariat Islam. Namun, realitasnya slogan ini hanya dijadikan sebagai tunggangan untuk mencapai target-target politiknya. Amaliah keseharian mereka, kelompok, dan partainya sangat jauh dari norma-norma Islam.
Sebagai contoh adalah MMI, salah satu kelompok yang sangat getol meneriakkan syariat Islam, bahkan sering menamakan dirinya sebagai ‘mujahidin’. Ternyata, salah satu pejabat terasnya menyandarkan ‘sikap dakwah’ atau lebih tepat dikatakan sikap politiknya kepada ramalan Ronggowarsito, salah satu dukun terbesar di negeri ini, dengan mencalonkan amir kelompoknya kala itu, yaitu ABB, sebagai calon presiden independen Indonesia. Konon pejabat teras ini dipecat dari kelompok MMI, namun akhirnya dirangkul kembali oleh ABB ke dalam kelompok barunya, JAT.
Sungguh sangat naif. Sebuah kelompok yang tidak jarang mencela bahkan mengafirkan pihak-pihak yang berhukum dengan selain hukum Allah l, namun salah satu pimpinan terasnya terjatuh ke dalam amal kesyirikan yang sangat bertentangan dengan tauhid dan syariat Islam itu sendiri.
Tentu sangat berbeda jika perbuatan dosa besar di atas dilakukan oleh seorang awam yang tidak pernah meneriakkan penerapan syariat Islam. Atau dilakukan oleh anggota baru dari kelompok tersebut yang belum memegang jabatan tertentu.
Tidak jauh berbeda dari kondisi di atas adalah PKS (Partai Keadilan Sejahtera) sebagai partai yang menjadikan seruan penerapan syariat Islam sebagai komoditi politiknya. Ternyata, di antara tokoh-tokoh partai tersebut mempercayai khurafat angka 8 sebagai angka keberuntungan untuk mempromosikan partainya. Partai politik ini semula mengumumkan Islam sebagai asasnya dan penerapan syariat Islam sebagai slogannya. Akan tetapi, ternyata pada hari-hari ini mereka—dengan penuh kebodohan dan kesombongan, serta tanpa malu—mengumumkan bahwa partainya bukanlah partai Islam dan membuka kesempatan bagi kaum kuffar untuk bersama-sama berjuang dalam bingkai partainya tersebut.
Ketahuilah, berbagai pelanggaran mendasar yang dapat merobohkan sendi-sendi tauhid di atas—di samping telah mencoreng nama Islam sebagai syariat dan sumber hukum—adalah penghalang turunnya pertolongan Allah l kepada umat ini dalam meraih kemuliaan hidup di dunia dan akhirat dengan penerapan syariat Islam di negeri mereka tinggal.
Wallahu a’lam.

 

Ancaman Bagi Pihak yang Mengabaikan Penerapan Syariat Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Luqman Baabduh)

Telah kita ketahui bersama bahwa Allah tidak rela jika hamba-hamba-Nya menjadikan selain hukum-Nya sebagai sumber hukum yang mengatur kehidupan mereka. Maka dari itu, Allah l mengancam orang-orang yang enggan berhukum dengan syariat-Nya dengan berbagai ancaman yang akan membuat seorang hamba yang beriman dengan sebenar-benar iman bertaubat dari kebiasaan berhukum kepada selain hukum Allah l.
Beberapa ancaman tersebut antara lain:

Kehidupan yang Sempit di Dunia dan Akhirat
Kita sebagai umat Islam sering mengeluhkan kesempitan hidup, kekurangan lapangan pekerjaan, kemerosotan ekonomi dan moral bangsa, instabilitas politik dan keamanan nasional, semakin maraknya kemaksiatan dengan segala bentuknya, pencurian, perampokan, pembunuhan, korupsi, kezaliman penguasa, dan lain-lain.
Kalau kita mau jujur mengoreksi kembali perjalanan hidup kita, pasti kita akan mengetahui bahwa ternyata semua kesempitan dan problem di atas tidak lain disebabkan oleh dosa-dosa kita dan keengganan kita untuk menerapkan syariat dan hukum Islam pada diri kita masing-masing.
Allah l berfirman:
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya penghidupan yang sempit, dan sungguh Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: Wahai Rabbku, mengapa Engkau himpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulu adalah seorang yang melihat? Allah berkata: Demikianlah, sungguh telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, kemudian kamu melupakannya, maka begitu pula pada hari ini kamupun dilupakan. Demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Rabbnya, dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.” (Thaha: 124—127)

Kekalahan dan Kegagalan
Di antara akibat dari sikap enggan menerapkan syariat Islam adalah kekalahan kaum muslimin dari musuh-musuhnya dan kegagalan untuk menerapkan syariat Islam di bumi mereka. Tidak dapat dimungkiri bahwa kemenangan kita terhadap seluruh musuh-musuh kita, serta keberhasilan kita untuk menegakkan syariat Islam di bumi kita ini tidak mungkin terwujud selain dengan pertolongan Allah.
Asy-Syaikh ‘Abdul Muhsin al-’Abbad, mantan Rektor Universitas Islam Madinah, dalam salah satu karyanya yang berjudul Luzumu Iltizamil Muslim bi Ahkamisy Syari’ah Al-Islamiyyah (Kewajiban setiap muslim untuk berpegang teguh dengan hukum syariat Islam) berkata, “Jika kaum muslimin berpegang teguh kepada hukum-hukum syariat mereka yang hanif (lurus) dan ketentuan-ketentuan agamanya yang lurus ini, sungguh itu adalah pokok dasar kesuksesan dan tanda kebahagiaan mereka, serta sebab kemuliaan dan kemenangan mereka atas musuh-musuhnya. Hal itu juga merupakan sumber keamanan dan ketenteraman hidup mereka. Namun, apabila kondisi kaum muslimin ini berbalik, pasti mereka akan mengalami kerugian dan kehancuran, serta kehinaan dan kekalahan. Sungguh, Allah l telah bersumpah dengan masa bahwa kerugian akan menimpa setiap anak manusia kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling berwasiat kepada kebenaran dan kesabaran.
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya telah dipenuhi oleh berbagai nash yang menjelaskan realitas ini. Begitu pula pelajaran yang dicatat oleh sejarah tentang terwujudnya kemuliaan bagi orang-orang yang taat kepada Allah l. Sejarah telah mencatat pula bahwa kehinaan akan dialami oleh orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. Tentu realitas yang kita saksikan dan kita alami adalah sebaik-baik bukti. Allah l berfirman:
“Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Ali ‘Imran: 101)
“Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad: 7)
“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (al-Hajj: 40—41)
Kemudian beliau melanjutkan, “Jika seorang yang berakal di masa ini ingin mengetahui bukti-bukti sejarah yang menunjukkan kebenaran berbagai hakekat tersebut—bahwa kaum muslimin menang disebabkan sikap berpegang teguh mereka terhadap syariat Islam yang telah dipilih oleh Allah untuk mereka, dan kalah ketika enggan beramal dengan

syariat Islam serta jauhnya dari aturan-aturannya—sungguh orang tersebut tidak akan mendapatkan bukti yang lebih jelas dibandingkan munculnya akibat buruk dari peperangan yang terjadi antara negara-negara Arab melawan Yahudi yang telah benar-benar tampak hakekatnya. Negara-negara Arab dahulu telah dimuliakan oleh Allah dengan sebab Islam. Namun, ketika mereka pada masa ini tidak mau lagi berpegang teguh kepada syariat Allah—selain negara-negara tertentu saja yang Allah kehendaki—dan tidak mau lagi berhukum dengan wahyu yang dibawa oleh Jibril dari Allah, bahkan cenderung memilih berhukum kepada hukum-hukum buatan (manusia) yang Allah l tidak menurunkan satu keterangan pun (yang membenarkannya), kekalahan dan kehinaan pun menimpa mereka di hadapan suatu kaum yang sebenarnya telah dihinakan oleh Allah l (yakni Yahudi).
Adakah bentuk kehinaan dan kerendahan yang lebih parah dibandingkan kehinaan dan kerendahan ini? Sungguh, sejarah akan mencatat hal tersebut untuk pelajaran bagi generasi yang akan datang, sebagaimana sejarah juga mencatat segala kebaikan atau keburukan yang terjadi pada generasi sebelum ini. Sungguh, tidak akan pernah tegak (negara Islam) bagi kaum muslimin melainkan jika mereka semua mau kembali berpegang teguh kepada agama Allah serta mengamalkan syariatnya.
Aku memohon kepada Allah Yang Mahamulia, Rabb ‘Arsy yang agung, agar membimbing seluruh kaum muslimin di setiap tempat kepada sebab-sebab yang mengantarkan mereka kepada kebahagiaan dan kemuliaan di dunia dan akhirat. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan (doa).” –Selesai perkataan asy-Syaikh Abdul Muhsin al-’Abbad–.

Islam adalah Agama dan Sumber Hukum yang Sempurna

(ditulis oleh: Al-Ustadz Luqman Baabduh)

Wajib diimani oleh setiap muslim bahwa Islam dan syariatnya adalah agama dan sumber hukum yang sempurna, lengkap, dan abadi. Tidak ada satu amalan atau aturan yang mendatangkan kebaikan bagi umat manusia dalam kehidupan dunia dan akhirat melainkan telah dijelaskan di dalamnya. Tidak pula ada satu amalan pun yang membahayakan kehidupan mereka melainkan telah diperingatkan untuk ditinggalkan dan dijauhi, sebagaimana firman Allah l dalam surat al-Maidah ayat 3 di atas.
Ayat ini mengandung berita tentang nikmat Allah l yang terbesar untuk umat Islam, yaitu ketika Allah l menjadikan agama yang mereka yakini sebagai agama yang sempurna, lengkap, dan menyeluruh sehingga umat Islam tidak lagi membutuhkan syariat dan sumber hukum selain yang telah diturunkan oleh Allah l untuk mengatur kehidupan mereka. Syariat Islam yang diturunkan oleh Allah l adalah syariat yang penuh dengan kebenaran pada seluruh berita yang dikandungnya. Syariat Islam juga merupakan syariat yang adil, universal, jujur, dan jauh dari kezaliman serta kepentingan tertentu pada seluruh hukum dan aturan yang diberlakukannya.
Tidak ada satu pihak pun yang mampu menciptakan atau membuat aturan dan perundangan-undangan selengkap, sesempurna, seadil, dan sejujur syariat Islam yang diturunkan oleh Allah l. Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Telah sempurnalah syariat Rabbmu (Al-Qur’an) sebagai syariat yang benar dan adil. Tidak ada satu pihak pun yang mampu mengubah syariat-syariat-Nya dan Dialah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-An’am: 115)
“Yang tidak datang kepadanya (Al-Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (Fushshilat: 42)
“Sementara Dialah yang telah menurunkan kitab (Al-Qur’an) kepada kalian dengan terperinci” (al-An’am: 114)
Asy-Syaikh al-’Allamah ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Maksudnya, (Al-Qur’an berfungsi) sebagai penjelas tentang hukum halal dan haram, serta berbagai hukum syariat. Demikian pula berbagai hukum agama ini, baik yang bersifat pokok maupun cabang. Tidak ada satu syariat dan hujjah pun yang lebih jelas dibandingkan dengannya. Tidak ada pula satu hukum pun yang lebih baik serta lebih lurus dibandingkan dengannya karena berbagai hukum dalam syariat Islam mengandung hikmah dan kasih sayang.” (Lihat kitab Taisirul Karimir Rahman, hlm. 270)
Begitu pula firman Allah l:
“Dan telah Kami turunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (an-Nahl: 89)
Sahabat Abdullah bin Mas’ud z berkata, “Segala ilmu dan segala sesuatu telah dijelaskan kepada kita di dalam Al-Qur’an.”
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Penjelasan Abdullah bin Mas’ud di atas bersifat lebih umum dan lebih universal, karena Al-Qur’an mencakup segala bentuk ilmu yang bermanfaat, baik dalam bentuk berita tentang berbagai kejadian yang telah lalu maupun ilmu tentang segala sesuatu yang akan datang. Al-Qur’an juga mengandung penjelasan tentang seluruh hukum yang halal dan haram serta penjelasan tentang segala sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia, baik dalam urusan dunia maupun agama mereka.” (Tafsir Ibni Katsir)
Rasulullah n pun bersabda:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun yang diutus sebelumku melainkan wajib atasnya untuk menunjukkan umatnya kepada segala kebaikan yang dia ketahui untuk umat mereka. Wajib pula atasnya untuk memperingatkan umatnya dari segala kejelekan yang dia ketahui yang dapat membahayakan umatnya.” (HR. Muslim, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash c)
Dikatakan kepada sahabat Salman al-Farisi z:
قَدْ عَلَّمَكُمْ نَبِيُّكُمْ كُلَّ شَيْءٍ حَتَّى الْخِرَاءَةَ؟
“Apakah benar bahwa Nabi kalian n telah mengajarkan segala sesuatu, sampai pun permasalahan buang hajat?”
Beliau z pun mengatakan:
أَجَلْ، لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ
“Tentu. Sungguh Nabi kami telah melarang kami menghadap kiblat ketika buang air besar dan buang air kecil. Beliau juga melarang kami beristinja’ dengan tangan kanan, melarang beristinja’ menggunakan batu kurang dari tiga buah, dan melarang kami beristinja’ menggunakan kotoran hewan atau tulang.” (HR. Muslim, dari sahabat Salman al-Farisi z)
Dari penjelasan singkat di atas, sudah barang tentu seorang muslim—yang benar-benar mencintai Islam sebagai agamanya, berserah diri kepada Sang Khaliq dan mengakui Islam sebagai satu-satunya agama yang benar, sempurna, abadi dan diridhai oleh Allah—hanya akan berhukum dengan hukum Islam dan tidak akan rela selain hukum Islam sebagai dasar hukum bagi diri dan negaranya.

Mengamalkan Syariat Islam adalah Salah Satu Kewajiban Setiap Muslim yang Paling Mendasar
Syariat Islam adalah syariat yang diturunkan oleh Allah l, Dzat Yang Mahaadil, Mahabijak, Maha Mengetahui semua makhluk ciptaan-Nya dan karakter mereka, serta Maha Mengetahui semua kepentingan dan kebutuhan mereka yang banyak dan beragam, baik pada masa lampau, sekarang, maupun yang akan datang, di bumi manapun mereka berada.
Oleh karena itu, hukum yang diturunkan oleh Allah l berbeda dengan berbagai hukum dan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia. Manusia adalah makhluk yang sangat lemah. Ia membuat hukum dalam rangka melindungi kelemahannya. Ia juga sangat zalim sehingga dia membuat hukum dalam rangka mengambil hak dan menzalimi orang lain. Ditambah lagi, ia sangat jahil sehingga tidak mengetahui kemaslahatan dan kemadaratan yang hakiki untuk dirinya serta orang lain. Dalam Al-Qur’an, Allah l menyebutkan beberapa sifat asli manusia, antara lain:
“Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)
Karena itu, sudah barang tentu sikap dan kebijakan yang diambil oleh manusia lebih didominasi oleh kebodohan dan kecenderungan untuk menzalimi. Allah l juga berfirman:
“Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (al-’Alaq: 6—7)
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalianlah yang sangat butuh kepada Allah, dan Dialah Allah yang Maha tidak butuh (kepada segala sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan bersifat lemah.” (an-Nisa’: 28)
Kedua ayat di atas menegaskan bahwa manusia itu sangat lemah, miskin, dan sangat membutuhkan pertolongan Allah l dalam mengatasi kelemahan dirinya. Termasuk dalam hal ini adalah kelemahan mereka dalam menentukan hukum yang mengatur kehidupan mereka. Maka dari itu, adalah suatu kepastian bahwa mereka sangat membutuhkan hukum dan aturan hidup dari Penciptanya Yang Maha Sempurna.
Dalam ayat lain, Allah l berfirman:
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (al-Ma’arij: 19—21)
Pada ayat di atas, dengan tegas Allah l menyebutkan bahwa manusia itu tidak pernah puas. Ia cenderung mengeluh ketika tertimpa musibah atau kekurangan. Di saat itu, dia akan meneriakkan kepentingannya. Namun, di saat mendapatkan keberuntungan, dia akan kikir dan enggan menolong pihak yang lemah. Dengan demikian, sudah tentu berbagai peraturan dan perundang-undangan yang dibuatnya akan diwarnai oleh sifat-sifat asli tersebut.
Manusia juga tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa yang akan datang sehingga berbagai hukum dan perundang-undangan yang dibuatnya harus mengalami peninjauan ulang dan berbagai pembenahan.
Setelah kita mengetahui secara singkat sifat dasar dan karakter asli manusia, seseorang yang berakal jernih dan beriman dengan sebenar-benar iman tentu tidak akan pernah mau berhukum kepada hukum buatan manusia yang maha kurang dan maha lemah, kemudian ia meninggalkan hukum yang diturunkan oleh Allah l sebagai sumber hukum yang jauh dari segala kekurangan. Allah l berfirman:
“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an dengan seksama? Sekiranya Al-Qur’an itu (turun) dari selain Allah, tentulah mereka akan mendapati pertentangan yang banyak padanya.” (an-Nisa’: 82)
Dari ayat di atas, kita mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah sumber hukum dan syariat yang lengkap, sesuai, dan tidak ada pertentangan sedikit pun antara satu ketentuan dengan ketentuan yang lainnya. Adapun hukum-hukum dan perundang-undangan yang dibuat oleh selain Allah l penuh dengan kekurangan, ketidaksesuaian, dan pertentangan.
Apakah dengan itu, kita masih akan berhukum kepada perundang-undangan buatan manusia, dan berpaling dari hukum yang diturunkan oleh Rabb semesta alam?
Allah l berfirman:
“Yaa siin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah. Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari rasul-rasul (yang diutus oleh Allah). (Yang berada) di atas jalan yang lurus. (Sebagai syariat) yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (Yasin: 1—5)
“Kitab (Al-Qur’an ini) diturunkan oleh Allah yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (az-Zumar: 1)
“Haa miim. Diturunkan kitab ini (Al-Qur’an) dari Allah yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Ghafir: 1—2)
“Haa Miim. Diturunkan dari Rabb yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Adalah sebuah kitab yang telah dijelaskan ayat-ayatnya secara rinci.” (Fushshilat: 1—3)
Dari beberapa penjelasan di atas, menjadi sebuah kepastian bagi setiap pribadi muslim bahwa kewajiban beramal dan menegakkan syariat Islam, baik pada kehidupan pribadi maupun rumah tangga, bahkan kehidupan bermasyarakat dan bernegara, adalah salah satu pokok dasar Islam yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
Dalil-dalil Penegas Kewajiban Menjadikan Hukum Allah l Sebagai Sumber Hukum
Agar kita semakin mengenal kedudukan syariat Islam serta kewajiban kita sebagai pemeluknya untuk memuliakan syariat Islam dan mengamalkannya, kali ini kami sajikan beberapa dalil syar’i yang menegaskan kewajiban berhukum kepada syariat Islam bagi pemeluknya. Kami harap tulisan ini semakin menggugah kemauan dan keinginan kita untuk menegakkannya pada diri, masyarakat, dan negara kita. Allah l berfirman:
“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya, dan sebagai tolok ukur kebenaran kitab-kitab sebelumnya, maka putuskanlah perkara mereka menurut ketentuan hukum yang diturunkan oleh Allah l dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (syariat) yang telah datang kepadamu.” (al-Maidah: 48)
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut hukum yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka, dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian syariat yang telah diturunkan Allah kepadamu, jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki untuk menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka, dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 49—50)
Ayat-ayat di atas mengandung perintah tegas terhadap hamba-hamba Allah l untuk berhukum dengan hukum yang telah diturunkan oleh Allah l dan mengamalkan syariat yang telah digariskan-Nya, sekaligus meninggalkan hawa nafsu dan ambisi mayoritas manusia yang dapat memalingkan diri kita dari upaya berhukum kepada hukum Allah l.
Seorang mukmin yang mau memerhatikan ayat-ayat di atas dan bertafakkur dengan saksama, dia akan mengetahui bahwasanya Allah l menekankan kewajiban berhukum kepada syariat-Nya dengan beberapa bentuk penekanan. Di antaranya adalah:
1. Kalimat perintah pada ayat:
“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut hukum yang diturunkan oleh Allah.” (al-Maidah: 49)
Kalimat perintah ini menunjukkan bahwa amalan tersebut wajib hukumnya. Apabila ditinggalkan, pelakunya berdosa.
Ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi perintah untuk berhukum kepada hukum yang diturunkan oleh Allah l banyak sekali, antara lain:
“Ikutilah syariat yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan janganlah kalian mengikuti pemimpin-pemimpin selainnya. Sungguh sangat sedikit kalian mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf: 3)
Ketika menafsirkan ayat di atas, al-Imam Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya, janganlah kalian keluar meninggalkan hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah n menuju sumber hukum yang lain. Dengan begitu, kalian telah keluar dari hukum Allah l kepada hukum selainnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Allah l juga berfirman:
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama ini), maka ikutilah syariat tersebut dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 18)

2. Larangan Allah l menjadikan hawa nafsu mayoritas manusia serta ambisi mereka dalam semua kondisi sebagai penghalang untuk kita berhukum kepada hukum Allah.
Hal ini sebagaimana ayat ke-48 surat al-Maidah di atas:
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran (syariat) yang telah datang kepadamu.”
Kemudian pada ayat ke-49, kembali Allah l menegaskan:
“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.”
Larangan mengikuti hawa nafsu orang-orang yang berhukum kepada selain hukum Allah l sengaja diulangi oleh Allah l dua kali karena sikap tersebut memang sangat berbahaya dan banyak memalingkan kaum mukminin dari berhukum dengan syariat Allah l kepada hukum-hukum jahiliah. (Lihat Taisirul Karimirrahman)

3. Peringatan keras dari Allah l agar berhati-hati dari sikap enggan berhukum kepada syariat-Nya, baik dalam urusan yang sedikit maupun banyak, dalam perkara yang kecil maupun besar.
Hal ini sebagaimana firman-Nya:
“Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebagian syariat yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (al-Maidah: 49)

4. Sikap tidak mau berhukum dengan hukum Allah l serta kecenderungan menolaknya adalah dosa yang sangat besar, yang dapat mengundang azab yang pedih.
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh ayat ke-49 surat al-Maidah di atas:
“Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki untuk menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka.”
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah l juga mengancam:
“Maka hendaklah waspada orang-orang yang menyelisihi perintahnya (syariat Rasulullah), akan menimpa kepada mereka fitnah atau azab yang pedih.” (an-Nur: 63)
Ketika menjelaskan ayat di atas, al-Imam Ibnu Katsir berkata, “Yakni orang-orang yang menyelisihi jalan, sistem, sunnah, dan syariat beliau n. Maka dari itu, seluruh perkataan dan perbuatan (manusia) ditimbang dengan perkataan dan perbuatan beliau. Segala sesuatu yang sesuai dengannya, diterima. Adapun segala sesuatu yang menyelisihinya, ditolak, siapapun pengucap dan pelakunya. Hal ini sebagaimana hadits sahih yang diriwayatkan dalam ash-Shahihain dan selain keduanya, bahwasanya Rasulullah n berkata:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang bukan atas perintahku, amalan tersebut tertolak.”
Oleh sebab itu, hendaklah waspada dan takut orang-orang yang menyelisihi syariat (hukum) Rasulullah n—baik penyelisihan secara batin maupun secara zahir— bahwa mereka akan tertimpa fitnah. Kalbu-kalbu mereka tertimpa fitnah kekufuran, kemunafikan, dan kebid’ahan, atau mereka aka tertimpa azab yang pedih di dunia ini, baik dalam bentuk pembunuhan, tindakan hukum pidana, atau penjara, dan yang semisalnya.” (Tafsir Ibnu Katsir)

5. Per-ingatan keras dari Allah l untuk tidak terpesona dengan mayoritas manusia yang berpaling dari hukum Allah l.
Pada ayat ke-49 surat al-Maidah di atas, Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.”
Mereka digolongkan oleh Allah l sebagai orang-orang yang fasik karena enggan untuk berhukum dengan syariat dan perundang-undangan yang diturunkan oleh Allah l.
Di zaman ini pun kita menyaksikan realitas yang disebutkan oleh Allah l itu, yaitu kebanyakan manusia—bahkan kaum muslimin sendiri—baik sebagai pribadi, masyarakat, ataupun pemerintah, enggan berhukum kepada syariat Allah l. Maka dari itu, janganlah kita tertipu dengan jumlah mayoritas sehingga kita ikut meninggalkan dan menanggalkan hukum Allah l.
Allah l juga menyebutkan ayat semisal di atas, yaitu firman-Nya:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

6. Allah l menjuluki berbagai hukum selain hukum yang diturunkan oleh Allah l sebagai hukum jahiliah.
Allah l berfirman:
“Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki.” (al-Maidah: 50)
Al-Imam Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t—ketika menjelaskan tentang hukum jahiliah—berkata, “Yaitu semua jenis hukum yang menyelisihi syariat yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, tidak ada jenis hukum selain hukum Allah melainkan hukum jahiliah. Barang siapa yang berpaling dari jenis yang pertama (hukum Allah), pasti dia akan berhukum kepada jenis yang kedua (yaitu hukum jahiliah) yang ditegakkan di atas kejahilan, kezaliman, dan kesesatan. Oleh karena itu, Allah menisbatkan jenis hukum yang kedua ini sebagai hukum jahiliah, sedangkan hukum Allah adalah hukum yang ditegakkan di atas ilmu, keadilan, serta cahaya, dan petunjuk.” (Taisirul Karimirrahman)

7. Penegasan Allah l bahwa hukum yang diturunkan-Nya adalah hukum yang terbaik dan perundang-undangan yang paling adil serta paling sempurna.
Hal ini sebagaimana firman-Nya pada ayat ke-50 surat al-Maidah di atas :
“Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah.”
Maka dari itu, adalah suatu kepastian bahwa tidak ada satu hukum pun di muka bumi ini yang lebih baik dan lebih sempurna dibandingkan dengan hukum yang diturunkan Allah l. Jika demikian, sungguh tidak pantas apabila hamba-hamba Allah l yang mengklaim dirinya beriman kepada-Nya tidak mau dan enggan menjadikan hukum Allah l dan Rasul-Nya n sebagai rujukan dan sumber hukum yang dianut dalam kehidupannya. Tentu dia tidak akan pernah rela menjadikan hukum-hukum jahiliah sebagai sumber hukum yang mengatur kehidupan pribadi, masyarakat, dan negaranya.

8. Seorang mukmin yang memiliki sifat yakin atas kebenaran Allah l dan Islam sebagai agama pasti akan mengetahui dan meyakini bahwasanya hukum perundang-undangan yang diturunkan oleh Allah l adalah hukum yang paling sempurna dan adil serta abadi. Bersamaan dengan itu, ia akan meyakini bahwa sikap tunduk dan patuh, rela dan berserah diri kepada hukum Allah l adalah suatu kewajiban yang pasti atas setiap muslim yang tidak boleh ditawar-tawar lagi.
Hal ini karena pada akhir ayat ke-50 surat al-Maidah di atas, Allah l menyatakan:
“Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”
Maksudnya, seseorang yang telah memiliki keyakinan sebenar-benarnya atas syariat Islam, pasti akan meyakini bahwa tidak ada hukum yang lebih baik, sempurna, dan adil dibandingkan dengan hukum Allah. Sebaliknya, orang yang masih meyakini adanya hukum buatan manusia yang lebih baik atau setara dengan syariat Islam yang diturunkan oleh Allah l kepada Nabi-Nya, sungguh dia tergolong orang yang kalbunya memiliki penyakit keraguan terhadap kebenaran Islam itu sendiri sebagai agama.
Oleh sebab itu, Allah l mengulang berkali-kali perintah kepada seluruh hamba-Nya untuk berhukum kepada hukum dan syariat yang diturunkan-Nya, dan melarang mereka untuk berhukum kepada hukum dan perundang-undangan buatan manusia. Bahkan, Allah l menekankan dan menegaskan perintah tersebut dengan berbagai bentuk penegasan selain yang telah kami sebutkan di atas, antara lain:
“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada hukum yang diturunkan kepadamu dan kepada hukum yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut tersebut, dan sesungguhnya syaithan sangat berambisi menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 60)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t mendefinisikan thaghut dengan, “Semua pihak yang berhukum kepada selain syariat Allah l, itu adalah thaghut.”
Al-Imam Ibnu Katsir t ketika menjelaskan tentang ayat ini berkata, “Ini adalah pengingkaran Allah l terhadap pihak-pihak yang mengklaim keimanan terhadap syariat yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya dan para nabi terdahulu, namun bersama itu dia masih berkeinginan untuk berhukum kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya dalam menyelesaikan berbagai perselisihan.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Pelajaran yang bisa kita ambil dari ayat di atas adalah jangan sampai kita menjadi orang-orang yang mengklaim keimanan kepada syariat Allah l dan Rasul-Nya, namun dia masih berhukum kepada hukum-hukum jahiliah, baik hukum adat, hukum pidana dan perdata, maupun yang lainnya. Masih saja kita mengedepankan logika dan hawa nafsu untuk menjadikan hukum dan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia sebagai tandingan bagi hukum Allah l dan Rasul-Nya. Sungguh dengan itu, kita akan tergolong ke dalam orang-orang yang disesatkan oleh setan dengan kesesatan yang sejauh-jauhnya.
Perhatikan dengan saksama ayat-ayat berikut ini dan mohonlah petunjuk kepada Allah l untuk bisa mengamalkannya.
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan hukum yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)
Dalam ayat di atas:
1. Allah l memulai perkataan-Nya dengan sumpah atas nama Dzat-Nya Yang Mahamulia. Ini menunjukkan bahwa permasalahan yang akan disebutkan-Nya adalah permasalahan besar.
2. Allah l meniadakan keimanan seorang hamba kalau dia tidak mau berhukum kepada hukum Rasulullah n dalam semua urusannya.
3. Allah l tidak menerima sikap tunduk kepada hukum Rasulullah n secara zahir saja. Bahkan, Allah l menuntut kepada hamba tersebut untuk menerimanya secara batin dengan penuh keikhlasan dan ketulusan hati.
Demikian pula firman Allah l:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, masih akan ada bagi mereka pilihan hukum (yang lain) tentang urusan mereka, dan barang siapa mendurhakai (hukum) Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)
Al-Imam Ibnu Katsir berkata, “Ayat ini bersifat umum meliputi semua urusan, yaitu jika Allah dan Rasul-Nya telah memutuskan sebuah hukum, tak seorang pun yang boleh menyelisihinya. Tidak pula ada pilihan apapun baginya (selain hukum Allah). Tidak ada juga logika atau pendapat (lain yang boleh diikuti).” (Tafsir Ibnu Katsir)
Untuk memperjelas beberapa keterangan di atas, berikut ini kita akan mengikuti dengan saksama fatwa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, salah seorang ulama besar umat ini yang mengikuti jejak generasi as-salafush shalih.
Dalam fatwanya beliau t berkata, “Wajib atas seluruh kaum muslimin untuk berhukum kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, Muhammad, dalam semua urusan, dan agar mereka tidak berhukum kepada berbagai ketetapan adat istiadat dan ketentuan-ketentuan suku (kabilah). Tidak pula kepada perundang-undangan yang dibuat oleh manusia. Allah l berfirman:
“Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Rabbku, kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali.” (asy-Syura: 10)
Kemudian beliau juga menyebutkan ayat ke-60 dalam surat an-Nisa’ di atas.
Beliau melanjutkan, “Allah l juga berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa’: 59)
Berdasarkan hal itu, wajib atas setiap muslim untuk tunduk dan patuh kepada hukum Allah l dan Rasul-Nya n serta tidak mengedepankan selain hukum Allah l dan Rasul-Nya. Sebagaimana seluruh peribadatan hanya milik Allah l satu-satunya, demikian pula berhukum, wajib hanya kepada hukum Allah l satu-satunya. Ini sebagaimana firman l Allah:
“Tidaklah (hak penentuan) hukum kecuali hanya milik Allah.” (Yusuf: 40)
Dengan demikian, berhukum kepada selain Kitabullah dan selain Sunnah Rasulullah n termasuk jenis kemungkaran yang terbesar dan kemaksiatan yang terjelek. Bahkan, seseorang yang berhukum kepada selain Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya n bisa menjadi kafir jika ia meyakini perbuatan berhukum kepada selain hukum Allah adalah halal (boleh), atau ia meyakini bahwasanya hukum selain hukum Allah l dan Rasul-Nya n adalah lebih baik. Allah l berfirman (kemudian beliau menyebutkan ayat ke-65 surat an-Nisa’1).
Maka dari itu, tidak ada iman bagi siapa saja yang tidak berhukum kepada Allah l dan Rasul-Nya, baik dalam berbagai permasalahan pokok dalam agama ini maupun permasalahan cabang dan dalam berbagai jenis hak. Dengan demikian, barang siapa yang berhukum kepada selain hukum Allah l dan Rasul-Nya n sungguh dia telah berhukum kepada thaghut.” (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah li Samahatisy Syaikh Abdil ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz, 8/272)
Pada kesempatan lain, ketika beliau ditanya tentang hadits:
لَتُنْقَضَنَّ عُرَى اْلإِسْلاَمِ عُرْوَةً عُرْوًةً، فَكُلَّمَا انْتَقَضَتْ عُرْوَةٌ تَشَبَّثَ النَّاسُ بِالَّتِيْ تَلِيْهَا، فَأَوَّلُهُنَّ نَقْضاً الْحُكْمُ وَآخِرُهُنَّ الصَّلاَةُ
“Sungguh pasti akan terlepas tali-tali pengikat Islam, ikatan demi ikatan. Pada saat terlepas satu ikatan, manusia pun bersegera untuk berpegang dengan ikatan yang berikutnya. Tali ikatan yang pertama kali terlepas adalah hukum, dan yang paling terakhir adalah shalat.”2
Beliau t berkata, “Makna hadits ini sangatlah jelas, yaitu tentang sikap tidak berhukum pada syariat Allah l. Inilah realitas masa kini yang terjadi pada mayoritas negara yang menisbatkan dirinya kepada Islam. Sudah menjadi suatu hal yang telah diketahui bahwasanya wajib atas semua pihak untuk berhukum kepada syariat Allah l pada semua urusan. Hendaknya setiap pribadi juga waspada dari sikap berhukum kepada perundang-undangan yang dibuat oleh manusia atau hukum-hukum adat yang menyelisihi syariat yang suci ini, dengan dalil firman Allah l (kemudian beliau menyebutkan ayat ke-65 surat an-Nisa’3 dan ayat ke-49 serta ke-50 surat al-Maidah4).”
Kemudian beliau melanjutkan, “Juga ayat-ayat dalam surat al-Maidah berikut:
“Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut hukum syariat yang diturunkan oleh Allah l, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (al-Maidah: 44)
“Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut hukum syariat yang diturunkan oleh Allah l, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 45)
“Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut hukum syariat yang diturunkan oleh Allah l, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 47)
Para ulama pun telah menjelaskan tentang kewajiban atas seluruh pemerintah kaum muslimin untuk berhukum kepada syariat Allah l dalam semua urusan kaum muslimin dan semua masalah yang mereka perselisihkan dalam rangka mengamalkan ayat-ayat yang mulia di atas.
Para ulama tersebut juga menjelaskan bahwa seorang hakim yang memutuskan hukum dengan selain syariat yang diturunkan oleh Allah l, ia telah kafir dengan bentuk kekufuran yang mengeluarkannya dari agama Islam, jika ia meyakini bahwa perbuatan itu halal (boleh). Namun, apabila ia tidak meyakini hal itu sebagai perbuatan yang halal, dan ia berhukum kepada selain syariat Allah l hanya sebatas disebabkan oleh adanya suap atau kepentingan tertentu lainnya, ia juga tetap beriman bahwa berhukum kepada selain syariat Allah l adalah tidak boleh dan bahwa berhukum kepada syariat Allah l adalah wajib, dalam kondisi seperti ini dia menjadi kafir dengan jenis kufran ashghar (kekafiran kecil)5 dan menjadi zalim dengan jenis zhulman ashghar (kezaliman kecil) dan menjadi fasik dengan jenis fisqan ashghar (kefasikan kecil).
Kami memohon kepada Allah l agar memberikan bimbingan kepada seluruh pemerintah muslimin untuk mau berhukum kepada syariat-Nya dan mengembalikan seluruh keputusan hukum kepada-Nya, sekaligus mengharuskan kepada masyarakatnya untuk berhukum kepada syariat Allah, dan agar mereka waspada dari sikap menyelisihi hukum Allah. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah li Samahatisy Syaikh ‘Abdil ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz 9/205)

 

Catatan Kaki:

1 Lihat beserta penjelasannya pada hlm. 22.
2 HR. Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim, dari shahabat Abu Umamah al-Bahili z.

3 Lihat beserta penjelasannya pada hlm. 22.
4 Lihat beserta penjelasannya pada hlm. 20—21
5 Kufur ashghar adalah jenis kekafiran yang tidak mengeluarkan pelakunya dari keislaman. Namun, jangan ada seorang pun yang menganggap dosa ini sebagai dosa kecil, karena pada hakekatnya kufrun ashghar adalah salah satu jenis dosa besar yang paling besar. Ia lebih besar daripada dosa zina, judi, mencuri, korupsi, dan yang semisalnya.

 

Kewajiban Penerapan Syari’at Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Luqman Baabduh)

Segala puji kesempurnaan hanya milik Allah l, Rabb semesta alam, Yang telah menjadikan Islam sebagai satu-satunya agama yang diridhai dan disempurnakan-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (al-Maidah: 3)
Allah l juga yang telah menjadikan Islam sebagai agama satu-satunya yang diterima dan diakui di sisi-Nya, sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Ali ‘Imran: 19)
“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran: 85)
Shalawat dan salam untuk Nabi kita, Muhammad n, yang telah bersabda:
وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِى أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak ada seorang Yahudi ataupun Nasrani yang telah mendengar (tentang diutusnya aku) kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak mau beriman kepada syariat yang aku bawa, melainkan pasti dia menjadi penduduk an-Nar (neraka).” (HR. Muslim, dari sahabat Abu Hurairah z)
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا، مَا وَسِعَهُ إِلاَّ أَنْ يَتَّبِعَنِي
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Nabi Musa hidup, niscaya tidak boleh baginya kecuali mengikuti (syariat)ku.” (HR. Ahmad, dari sahabat ‘Umar bin al-Khaththab z)
Bahkan, dalam berbagai hadits dijelaskan bahwa di saat Nabi ‘Isa diturunkan oleh Allah l ke muka bumi pada akhir zaman, beliau mengikuti dan mengamalkan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad n. Beliau tidak lagi berhukum dengan syariat Injil. Rasulullah n bersabda:
وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا مُقْسِطًا فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh telah dekat masanya untuk turun kepada kalian (‘Isa) bin Maryam sebagai seorang hakim yang adil. Dia (Nabi ‘Isa) akan mematahkan salib, membunuh babi, dan tidak lagi menerima pembayaran jizyah (dari orang-orang kafir). Pada saat itu harta akan berlimpah hingga tak seorang pun yang mau menerimanya.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari sahabat Abu Hurairah z)
Al-Hafizh an-Nawawi meletakkan sebuah bab terkait hadits di atas dengan judul Bab Penjelasan tentang Turunnya Nabi ‘Isa bin Maryam (di akhir zaman) sebagai Hakim (Penegak Hukum) Berdasarkan Syariat Nabi Kita Muhammad n. Ketika menjelaskan lafadz حَكَمًا pada hadits di atas beliau t berkata, “Yakni bahwa dia (Nabi Isa) akan turun sebagai hakim (penegak hukum) berdasarkan syariat ini, bukan dengan syariat tersendiri atau syariat yang menghapuskan (syariat Muhammad n). Bahkan, beliau menjadi salah satu hakim di antara para hakim umat ini.” (Syarh Shahih Muslim karya an-Nawawi)
Topik pembahasan kita kali ini adalah upaya mengenal hakikat syariat Islam dan kedudukannya di hadapan seluruh agama serta aturan-aturan yang dibuat oleh manusia, sekaligus upaya mengenal kewajiban setiap pribadi muslim terhadap Islam dan syariatnya.
Pembahasan ini adalah salah satu pembahasan terpenting dalam kehidupan seorang muslim yang wajib diketahuinya, karena dengannya dia dapat meraih jannah Allah l dan keridhaan-Nya. Dengannya pula akan lahir kehidupan yang hakiki, tenteram, dan aman di dunia maupun di akhirat. Kehidupan yang selamat dari berbagai kecemasan dan ketakutan yang dapat memusnahkan ketenteraman hidup seorang pribadi dan sebuah masyarakat, sebagaimana insya Allah akan kita rinci.