Godaan Dunia dan Wanita

Abu Sa’id al-Khudri z, seorang sahabat yang mulia, berkata:
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ n: إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةُ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ، فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Rasulullah n bersabda, “Sungguh dunia itu manis lagi hijau, dan sungguh Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di dalamnya, maka Dia akan melihat bagaimana yang kalian amalkan (apa perbuatan kalian). Berhati-hatilah kalian dari dunia dan berhati-hatilah dari para wanita karena ujian pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanitanya.” (HR. Muslim)
Dalam hadits di atas, Rasulullah n mengabarkan keadaan dunia dan sifatnya yang meluluhkan hati orang-orang yang memandang dan merasakannya. Kemudian Rasulullah n mengabarkan bahwa Allah l menjadikan dunia sebagai fitnah (ujian dan cobaan) bagi para hamba. Setelahnya, beliau n menyuruh kita menempuh sebab-sebab yang akan menjaga dan melindungi kita dari terjerumus ke dalam fitnahnya.
Pengabaran Rasulullah n bahwa dunia itu manis lagi hijau mencakup seluruh sifat dunia beserta apa yang ada di atasnya. Maka dari itu, dunia itu manis dalam hal rasanya, kelezatan, dan kesenangannya. Dunia itu hijau dalam hal keindahan dan kebagusannya yang tampak. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Dijadikan indah bagi manusia kecintaan kepada syahwat/kesenangan-kesenangan dunia berupa wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, demikian juga kuda-kuda yang ditambatkan, hewan-hewan ternak, dan sawah ladang….” (Ali Imran: 14)
“Sesungguhnya Kami menjadikan apa yang ada di atas bumi sebagai perhiasan bagi bumi untuk Kami menguji mereka; siapakah di antara mereka yang paling baik amalannya.” (al-Kahfi: 7)
Kelezatan yang beraneka ragam dan warna ada di dunia. Demikian pula pemandangan yang memesona. Allah l menjadikan semua itu sebagai ujian dan cobaan dari-Nya. Dia l juga menjadikan para hamba turun-temurun menguasainya, generasi demi generasi, agar Dia melihat apa yang mereka lakukan di atasnya.
Siapa yang mengambil perhiasan dunia dan meletakkannya sesuai dengan hak atau tempat yang semestinya, serta menjadikan perhiasan itu sebagai pembantu untuk menunaikan ubudiyah (peribadatan kepada Allah l) sebagai tujuan penciptaannya, niscaya perhiasan dunia tersebut menjadi bekal baginya. Perhiasan dunia akan menjadi tunggangan menuju negeri yang lebih mulia dan lebih kekal daripada dunia. Dengan begitu, sempurnalah baginya kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Namun, siapa yang menjadikan dunia sebagai cita-citanya yang paling besar dan puncak ilmu serta keinginannya, padahal dia tidak akan diberi dari dunia ini selain sebatas apa yang telah ditetapkan baginya1, niscaya akhir kesudahannya adalah kesengsaraan. Dia tidak bisa menikmati kelezatan dan syahwat (kesenangan) dunia selain hanya dalam waktu yang singkat, karena dunia itu memang kelezatannya sedikit sedangkan kesedihannya panjang.
Segala macam kelezatan dunia adalah fitnah (godaan) dan ujian. Namun, fitnah (ujian) dunia yang paling besar dan paling dahsyat adalah wanita. Fitnah wanita sangatlah besar. Terjatuh ke dalam fitnah wanita sangatlah genting dan amat besar bahayanya karena wanita adalah umpan dan jeratan setan. Betapa banyak orang yang baik, sehat, dan merdeka yang diberi umpan para wanita oleh setan. Orang itu pun menjadi tawanan dan budak syahwatnya. Dia tergadai oleh dosanya (menjadi jaminan bagi dosanya). Sungguh sulit baginya untuk lepas dari fitnah tersebut. Dosanya itu adalah dosa akibat ulahnya sendiri karena tidak berhati-hati dan tidak menjaga diri dari bala tersebut. Jika dia menjaga dirinya dan berhati-hati dari fitnah wanita, tidak mencoba-coba masuk ke tempat-tempat masuknya tuduhan/prasangka, tidak menantang fitnah, disertai meminta pertolongan dengan berpegang teguh kepada Allah l, niscaya dia akan selamat dari fitnah ini dan terbebas dari ujian ini.
Karena demikian besarnya fitnah wanita, dalam hadits ini Nabi n sampai memberikan peringatan dengan secara khusus menyebutkan wanita dari sekian banyak fitnah dunia. Beliau n memberitakan apa yang terjadi pada umat sebelum kita (yang rusak karena wanita –pent.) karena hal itu mengandung pelajaran bagi orang-orang yang mau mengambil pelajaran dan nasihat bagi orang-orang yang bertakwa. Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan oleh Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Bahjatu Qulubil Abrar wa Qurratu ‘Uyunil Akhyar fi Syarhi Jawami’il Akhbar, karya al-Allamah asy-Syaikh Abdurrahman ibnu Nashir as-Sa’di t, hlm. 187—188, hadits ke-78)

Catatan Kaki:

1 Sebagaimana disebutkan oleh hadits Anas z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ كاَنَتِ الْأَخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ؛ وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ، جَعَلَ اللهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا قُدِّرَ لَهُ
“Siapa yang menjadikan akhirat sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kekayaannya dalam hatinya dan Allah akan mengumpulkan urusannya yang tercerai-berai, bersamaan dengan itu dunia datang kepadanya dalam keadaan hina dan rendah. Sebaliknya, siapa yang menjadikan dunia sebagai maksud dan tujuannya, niscaya Allah l akan menjadikan kefakirannya di hadapan kedua matanya, dan Allah l akan mencerai-beraikan urusannya yang semula terkumpul, sementara dunia tidak datang kepadanya selain sebatas apa yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam ash-Shahihah no. 949)

 

 

MAKNA MENYAMBUNG SILATURAHIM AKAN MEMANJANGKAN UMUR

Apa makna sabda Nabi n:
مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ فِي رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan rahimnya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Anas z)
Apakah maknanya seseorang mempunyai umur tertentu jika ia menyambung rahimnya dan umur yang lain lagi jika ia tidak menyambung rahimnya?
Jawab:
Kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t, “Hadits ini tidaklah bermakna bahwa seseorang memiliki dua umur yang berbeda; umur jika ia menyambung rahimnya dan umur jika ia tidak menyambung rahimnya. Setiap orang hanya memiliki satu umur dan yang ditetapkan baginya juga hanya satu. Seseorang yang ditakdirkan oleh Allah l akan menyambung rahimnya, ia pasti akan menyambung rahimnya. Adapun orang yang ditakdirkan oleh Allah l memutus hubungan rahimnya, pasti dan mesti, tidak mungkin tidak, ia akan memutus rahimnya. Akan tetapi, Rasulullah n ingin mendorong umat beliau untuk melakukan amalan yang mengandung kebaikan. Sebagaimana kita katakan, ‘Siapa yang ingin punya anak, hendaklah ia menikah.’ Urusan menikah sudah ditetapkan, demikian pula anak. Jika Allah l menghendaki engkau memiliki anak niscaya Dia menginginkan engkau menikah, bersamaan dengan itu menikah dan memiliki anak masing-masingnya telah ditetapkan.
Demikian pula tentang rezeki yang telah dicatat dan ditetapkan dari asalnya. Telah pula ditetapkan bahwa engkau akan menyambung rahimmu. Akan tetapi, engkau tidak tahu tentang hal ini. Maka dari itu, Nabi n mendorong dan menerangkan kepadamu bahwa jika engkau menyambung rahimmu, Allah l akan membentangkan rezekimu dan memanjangkan umurmu. Walaupun segala sesuatu telah ditetapkan, namun karena silaturahim adalah hal yang semestinya ditunaikan oleh setiap insan, Nabi n memberi dorongan untuk melakukannya, dengan pernyataan beliau bahwa jika seseorang ingin rezekinya dilapangkan dan umurnya dipanjangkan, hendaknya ia menyambung rahimnya. Di sisi lain, perbuatan orang yang menyambung hubungan rahim telah ditetapkan dan telah pula ditetapkan umurnya sampai batas yang dikehendaki oleh Allah l.
Kemudian, ketahuilah bahwa panjangnya umur dan lapangnya rezeki adalah urusan yang nisbi (relatif). Oleh karena itu, kita mendapati sebagian orang yang menyambung rahimnya rezekinya lapang pada beberapa urusan, namun umurnya pendek. Ini adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Kita katakan bahwa umurnya pendek padahal dia telah menyambung hubungan rahim. Seandainya dia tidak menyambung rahimnya, niscaya umurnya lebih pendek lagi. Akan tetapi, Allah l telah menetapkan sejak zaman azali bahwa orang ini akan menyambung rahimnya dan telah menetapkan akhir umurnya sampai waktu tertentu.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/111—112, fatwa no. 210)

WAS-WAS RIYA’ DALAM BERAMAL

Ketika seseorang berkeinginan untuk beramal kebaikan, setan datang memberikan was-was kepadanya dengan mengatakan, “Engkau melakukan itu karena riya dan sum’ah.” Karena omongan ini, akhirnya ia urung melakukan amalan kebaikan. Bagaimanakah cara menjauhi was-was semacam ini?
Jawab:
“Caranya adalah memohon perlindungan kepada Allah l dari setan yang terkutuk dan terus melanjutkan beramal kebaikan, tanpa menoleh kepada was-was yang menghalangi/mencegahnya dari berbuat kebaikan tersebut. Jika ia berpaling dan tidak memedulikan omongan itu, serta berlindung kepada Allah l dari setan yang terkutuk, niscaya akan hilang darinya was-was tersebut dengan izin Allah l.”
Demikian bimbingan Fadhilatusy Syaikh ibnu al-Utsaimin t (2/209, fatwa no. 277).

SIHIR UNTUK MERUKUNKAN SUAMI-ISTRI

Apa hukumnya merukunkan suami istri menggunakan sihir?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih Al-Utsaimin t menjawab, “Hal tersebut diharamkan dan tidaklah diperbolehkan. Sihir yang bertujuan demikian dinamakan ‘athf. Adapun sihir yang bisa memisahkan antara suami dan istri (atau dua orang yang saling mencintai), yang dinamakan sharf, juga diharamkan. Bahkan, hukumnya bisa kafir dan syirik. Allah l berfirman:
“Tidaklah mereka berdua mengajarkan sesuatu kepada seorang pun sebelum mengatakan, ‘Sesungguhnya kami hanya cobaan bagimu maka janganlah engkau kafir.’ Maka mereka mempelajari dari keduanya itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang suami dengan istrinya. Dan mereka (tukang sihir itu) tidak dapat memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun selain dengan izin Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang dapat memberi mudarat kepada mereka dan tidak memberi manfaat. Dan sungguh mereka telah meyakini bahwa barangsiapa menukar Kitabullah dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat….” (al-Baqarah: 102) (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin, 2/177—178, fatwa no. 254)
Beliau t juga ditanya tentang macam-macam sihir. Beliau t menjawab, “Sihir terbagi dua.
1. Sihir yang berupa ikatan dan jampi-jampi
Sihir ini adalah bacaan dan mantra-mantra yang diucapkan oleh tukang sihir untuk menyenangkan setan dan meminta bantuan kepadanya dengan tujuan menimpakan bahaya/kejelekan kepada orang yang hendak disihir. Allah l berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir, mereka mengajarkan sihir kepada manusia….” (al-Baqarah: 102)
2. Obat-obatan dan ramuan-ramuan yang dapat memberi pengaruh kepada orang yang disihir, memengaruhi akalnya, keinginan, dan kecondongannya.
Inilah yang dinamakan ‘athf dan sharf. Tukang sihir ini menjadikan seseorang mencintai istrinya atau wanita lain hingga ia seperti binatang ternak yang bisa digiring oleh si wanita sekehendaknya. Adapun sharf adalah sebaliknya, membuat seseorang membenci istrinya. Obat-obatan tersebut memberi pengaruh pada tubuh orang yang disihir dengan melemahkannya sedikit demi sedikit hingga ia binasa. Sihir ini juga memengaruhi pandangannya. Dikhayalkan pada dirinya urusan-urusan yang menyelisihi hakikatnya.”
(Majmu’ Fatawa wa Rasail, 2/178, fatwa no. 255)

Qutailah bintu Shaifi

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman)

Di antara sekian banyak sosok shahabiyat, dia mungkin tak banyak dikenal. Namun, bagi orang yang menelaah kitab hadits, dia akan menjumpai nama wanita mulia ini. Dia, Qutailah bintu Shaifi al-Juhaniyah x. Dia termasuk para wanita yang berhijrah ke Negeri Habasyah pada hijrah yang pertama.
Tercatat satu hadits yang dia riwayatkan dari Rasulullah n. Qutailah menuturkan, pernah datang seorang pendeta Yahudi kepada Rasulullah n.
“Hai Muhammad!” ujar pendeta itu, “Kalian ini kaum yang paling baik seandainya kalian tidak berbuat syirik.”
“Bagaimana itu?” tanya Rasulullah n.
“Salah seorang di antara kalian bila bersumpah mengatakan ‘Demi Ka’bah’.” kata si pendeta.
Rasulullah n diam sejenak. Lalu beliau menyatakan, “Barang siapa bersumpah, hendaknya bersumpah dengan nama Rabb Ka’bah!”
“Hai Muhammad!” ujar pendeta itu lagi, “Kalian adalah umat terbaik seandainya kalian tidak menjadikan tandingan bagi Allah.”
“Bagaimana itu?” tanya Rasulullah n.
“Kalian mengatakan ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’.” kata si pendeta.
Rasulullah n kembali diam sejenak. Setelah itu beliau menyatakan, “Barang siapa ingin mengatakan ucapan itu, hendaknya mengatakan ‘Atas kehendak Allah kemudian kehendakmu’.”1

Sumber bacaan:
– Al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/284)
– Ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (10/292)
– Tahdzibul Kamal, al-Imam al-Mizzi (35/270—272)

Catatan Kaki:

1 Hadits ini diriwayatkan oleh al-Imam an-Nasa’i dalam al-Mujtaba (7/6) dan ‘Amalul Yaum wal Lailah no. 986, al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya (6/371 & 372), al-Imam ath-Thahawi dalam Musykilul Atsar (1/91 & 357), al-Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/297), beliau mensahihkannya dan disepakati oleh al-Imam adz-Dzahabi. Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam al-Ishabah (8/284), “Hadits sahih.”

Faktor Pendukung Pendidikan Anak (bagian ke 3)

40. Menjadi pendengar yang baik dan membuat anak merasa diperhatikan ucapannya

Orang tua seperti ini lebih baik daripada orang tua yang sibuk dan tidak memerhatikan anaknya, selalu membuang muka dan enggan mendengarkan pembicaraan si anak. Karena itu, sudah semestinya orang tua mendengarkan baik-baik bila anak sedang berbicara—terutama anak-anak yang masih kecil—dan menunjukkan perhatian kepada pembicaraan itu. Misalnya menunjukkan ekspresi terkejut, bersuara, atau memperlihatkan gerakan yang menunjukkan bahwa kita mendengarkan, memerhatikan, dan merasa takjub. Seperti mengatakan, “Bagus!” atau “Benar!”, atau berdiri spontan, atau menganggukkan kepala tanda membenarkan, atau menjawab segala pertanyaan anak, dan sebagainya.
Tindakan-tindakan semacam ini memiliki banyak dampak positif. Di antaranya adalah:
a. Mengajari anak untuk mengungkapkan pembicaraan dengan baik.
b. Membantu anak untuk berpikir sistematis.
c. Melatih anak untuk mau mendengarkan dan memahami apa yang didengarnya dari orang lain.
d. Menumbuhkan dan mengasah pribadi anak.
e. Memperkuat daya ingat dan membantu anak mengingat kembali peristiwa yang telah lampau.
f. Menambah kedekatan anak dengan orang tuanya.

41. Mencari tahu dan mengawasi keadaan anak dari jauh
Ada beberapa hal yang harus dilakukan:
a. Mengawasi penunaian ibadah si anak, seperti shalat, wudhu, dan sebagainya
b. Mengawasi penggunaan pesawat telepon rumah.
c. Melihat isi kantong dan laci tanpa sepengetahuan mereka, seperti ketika mereka pergi ke sekolah atau tidur, kemudian mengambil tindakan yang sesuai dengan apa yang dilihat.
d. Menanyakan keadaan teman-temannya.
e. Mengawasi berbagai bacaan anak, melarangnya membaca buku-buku yang dapat merusak agama dan akhlak, sekaligus membimbingnya untuk membaca buku-buku yang bermanfaat.

42. Menghargai persahabatan anak dengan teman-teman yang baik
Hal ini dilakukan dengan mendorong anak untuk terus berteman dengan mereka, menyambut mereka saat datang mengunjungi si anak, bahkan meminta mereka untuk datang. Juga mempersiapkan kedatangan mereka dengan berbagai sambutan yang baik, seperti memuliakan mereka dengan segala sesuatu yang layak untuk mereka dapatkan, menyambut mereka dengan senang disertai ucapan selamat datang, membuat mereka merasa dihargai, menjawab ucapan mereka dengan kata-kata yang baik, serta menanyakan keadaan orang tua dan keluarga mereka.
Sikap-sikap seperti ini akan membuat teman-teman si anak merasa seperti di rumah sendiri. Si anak pun akan merasa dihargai dan dianggap. Selanjutnya, anak akan terdorong untuk menaati dan menghormati orang tuanya, sebagaimana dia pun terdorong untuk terus membina persahabatan dengan mereka dan menjauhi teman-teman yang jelek.

43. Bersikap hikmah saat menjauhkan anak dari teman-teman yang jelek
Tidak sepantasnya orang tua terburu-buru menggunakan kekerasan dalam hal ini. Hendaknya orang tua tidak terburu-buru menjelekkan teman-teman itu di hadapan anak atau segera mengusir begitu mereka datang, karena si anak merasa dekat dan senang berteman dengan mereka.
Sepatutnya orang tua mengambil langkah bertahap. Pertama kali, berbicara kepada si anak tentang jeleknya dan bahayanya persahabatan itu bagi dirinya. Setelah itu barulah memberikan ancaman serta menyadarkan si anak bahwa orang tuanya berusaha untuk menjauhkan dirinya dari teman-temannya, dan nanti akan mendatangi orang tua teman-temannya itu agar menjauhkan anak-anak mereka darinya. Jika orang tua telah memperingatkan si anak dan bertindak sejauh kemampuannya, bahkan segala upaya telah ditempuh, dan orang tua melihat persahabatan anaknya dengan teman-temannya itu benar-benar membahayakan, maka orang tua bisa menjauhkan si anak dari mereka dengan tindakan yang sesuai dengan kondisi yang ada.

44. Berpura-pura tidak melihat—namun tidak mengabaikan—kelalaian atau kesalahan anak
Ini termasuk salah satu metode pendidikan. Inilah pula sikap awal yang diambil oleh orang yang berakal dalam bergaul dengan anak-anak ataupun orang lain pada umumnya. Seorang yang berakal tentu tidak senantiasa menginterogasi dan membuat bawahan atau orang-orang yang bergaul dengannya merasa bahwa dia harus mengetahui keadaan mereka sekecil apa pun. Kalau seperti itu sikapnya, tentu akan hilang kewibawaannya dari lubuk hati mereka.
Tidaklah pantas orang bodoh menjadi orang yang memimpin kaumnya,
tetapi orang yang memimpin kaumnya adalah orang yang pura-pura bodoh.
Selanjutnya, sikap ini dijadikan sebagai acuan untuk memberikan nasihat, namun tidak langsung diberikan saat terjadi kesalahan.

45. Tidak memperbesar kesalahan
Yang seharusnya dilakukan orang tua adalah menindak kesalahan, bukan memperbesar kesalahan. Orang tua harus meletakkan kesalahan itu pada tempatnya dan memahami bahwa tidak ada seorang pun bisa luput dari kesalahan. Kesalahan pasti ada dalam rumah tangga manapun. Hanya saja, ada yang sedikit dan ada yang banyak. Memecahkan kaca atau perabotan, atau menelantarkan beberapa barang tidaklah menimbulkan kerusakan besar. Ini bisa terjadi pada setiap orang.
46. Bersikap mengalah
Jika ibu sedang bersikap keras terhadap anak maka ayah bersikap lunak. Begitu pula jika ayah sedang bersikap keras maka ibu bersikap lembut. Misalnya si anak berbuat kesalahan, lalu sang ayah memarahinya sehingga membuat si anak lari bersembunyi karena takut dihukum. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya sang ibu datang menenangkan hati si anak dan menjelaskan kesalahannya dengan lembut. Seketika anak akan merasa bahwa orang tuanya benar dan bisa menerima kemarahan ayahnya serta menjaga kebaikan ibunya. Dia pun akan menjauhi kesalahan itu pada kesempatan yang lain.

47. Mendidik dengan hukuman
Asalnya, mendidik anak dilakukan dengan kelemahlembutan. Namun, terkadang hukuman diperlukan dengan syarat tidak dilandasi kebodohan atau emosi. Juga tidak dilakukan selain dalam keadaan yang mendesak, tidak menghukum anak atas kesalahan yang pertama kali dilakukannya, tidak menghukumnya atas kesalahan yang mengakibatkan si anak sakit, dan tidak dilakukan di depan orang lain.
Di antara bentuk hukuman adalah hukuman yang bersifat psikis, seperti tidak memberikan pujian pada anak, membuat si anak merasa bahwa orang tuanya tidak ridha, mencelanya, dan sebagainya. Ada pula hukuman fisik yang tidak menyakitkan dan tidak membahayakannya.

48. Memberi kesempatan kepada anak untuk memperbaiki kesalahan
Satu hal yang pantas untuk diperhatikan dalam mendidik anak adalah memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Dengan demikian, anak akan bisa menjadi lebih baik dan menjadikan kesalahan sebagai jalan untuk mendapatkan kebenaran. Terlebih lagi, anak kecil mudah dibimbing dan mudah patuh, sebagaimana kata Zuhair bin Abi Salma:
Jika orang tua berbuat salah, maka setelah itu baginya tiada kemurahan hati
namun seorang pemuda, setelah kesalahannya masih ada kemurahan hati

49. Berupaya untuk saling memahami antara kedua orang tua
Ayah dan ibu harus sama-sama mengupayakan dan menempuh segala cara untuk bisa saling memahami. Mereka harus sama-sama menghindari berbagai hal yang menggiring kepada percekcokan, tidak saling menyalahkan di depan anak, sehingga tercipta ketenangan dan kerukunan dalam rumah tangga. Anak pun akan menemukan kenyamanan, kedamaian, keakraban, dan kesenangan di dalam rumah sehingga lebih betah di rumah daripada berkeliaran di jalan.

50. Bertakwa kepada Allah l kala terjadi perceraian
Apabila kedua orang tua tidak harmonis dan terjadi perceraian dengan takdir Allah l, hendaknya masing-masing bertakwa kepada Allah l. Jangan sampai anak terimbas dengan perceraian yang terjadi. Masing-masing pihak tidak boleh menghasut si anak untuk membenci pihak yang lain. Bahkan, seharusnya ayah dan ibu membantu anak-anak mereka untuk tetap mendapatkan yang terbaik dan selalu menasihati anak untuk tetap berbakti pada ayah dan ibunya.
Tidak boleh mereka menghasut dan menyalakan dendam di hati anak, saling menuduh dan mengajari anak untuk bermusuhan. Kalau ini semua dilakukan, akibat yang sering terjadi justru anak akan durhaka kepada ayah dan ibunya. Penyebabnya adalah kedua orang tua sendiri. Kalau sudah begini, jangan masing-masing mencela selain dirinya sendiri.

51. Memilihkan sekolah yang sesuai bagi anak dan berupaya memberikan pengawasan terhadap anak di sekolah
Orang tua harus berusaha memilihkan tempat belajar yang sesuai bagi anak, baik dari sisi murid-murid, lembaga, pengajar, maupun metodenya. Orang tua hendaknya memilih sekolah yang memerhatikan keistiqamahan, akhlak, dan kepribadian murid-muridnya, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Hal ini karena umumnya anak akan memilih teman sekelasnya di sekolah yang memiliki pembawaan dan tabiat yang mirip dengan dirinya.
Di samping itu, orang tua tetap harus terus-menerus mengawasi anak di sekolahnya sampai yakin benar bahwa keadaan si anak baik dan istiqamah. Ini perlu dilakukan agar orang tua tidak dikejutkan tiba-tiba oleh keadaan si anak yang jauh dari harapan dan dambaan orang tua. Juga agar si anak memahami bahwa tanpa sepengetahuannya, orang tua akan selalu menanyakan tentang dirinya dan mengawasinya.

52. Mengadakan halaqah ilmu di rumah
Ini dilakukan dengan mengadakan halaqah yang terjadwal. Di situ dibacakan buku-buku yang sesuai untuk anak-anak, belajar membaca Al-Qur’an, juga belajar mendengarkan dengan baik dan berdialog dengan penuh adab.

53. Mengadakan lomba pengetahuan berhadiah
Hal ini akan menambah semangat anak-anak, melatih daya ingat, juga melatih mereka untuk membahas dan memahami kitab-kitab para ulama, serta membantu kemajuan mereka.

54. Membuat perpustakaan sederhana di rumah
Perpustakaan ini berisi buku-buku maupun kaset-kaset yang sesuai dengan tingkatan usia dan pemahaman anak. Perpustakaan adalah sarana terbesar untuk mengembangkan wawasan pengetahuan.

55. Mengakrabkan anak dengan majelis zikir
Yang dimaksud majelis zikir adalah ceramah, pertemuan yang diadakan di masjid, dan sebagainya. Ini akan memperkaya pengetahuan anak, mendatangkan kebaikan dan membantu anak lebih siap menghadapi kehidupan, serta memberikan jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang bermunculan dalam benaknya. Seiring dengan itu, hal ini juga menanamkan dan mengikatkan keimanan dalam hati anak, serta mendidiknya agar mengerti adab mendengarkan pembicaraan.

56. Bepergian bersama anak
Misalnya ke kota Makkah al-Mukarramah, Madinah an-Nabawiyah, atau kota-kota lain yang boleh dikunjungi. Dalam perjalanan ini, orang tua akan bisa mengenalkan banyak hal kepada si anak. Di samping itu, mereka akan terhibur dan senang, mendapatkan berbagai hal baru, dan masih banyak lagi faedahnya.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(insya Allah bersambung)

(Diterjemahkan oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran dari Arba’atu Akhtha’ fi Tarbiyatil Abna’ karya Muhammad bin Ibrahim al-Hamd dengan sedikit perubahan)

Kesalahan yang Harus Diperbaiki

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Merinci pembicaraan kita dalam edisi yang lalu, berikut ini kita mencoba menyebutkan beberapa kesalahan yang ada pada suami.

1. Tidak memedulikan pengajaran diniyah (agama) untuk istri
Mendidik istri adalah tanggung jawab suami, sebagai perwujudan firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu….” (at-Tahrim: 6)
Termasuk bentuk menjaga keluarga dari api neraka adalah menjaga istri dengan memberikan pengajaran agama kepadanya. Seperti kata Ali ibnu Abi Thalib z, “Didik dan ajarilah mereka.” Ibnu Abbas c berkata, “Amalkanlah ketaatan kepada Allah l, takutlah berbuat maksiat kepada Allah l, dan perintahkanlah keluarga kalian untuk berzikir, niscaya Allah l akan menyelamatkan kalian dari api neraka.” Qatadah mengatakan, “Engkau memerintahkan mereka agar taat kepada Allah l dan melarang mereka bermaksiat. Engkau menegakkan mereka dengan perintah Allah l. Engkau menyuruh dan membantu mereka mengerjakan perintah Allah l. Apabila melihat mereka berbuat maksiat, hendaknya engkau melarang dan memperingatkan mereka.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim, 8/133)
Karena suami yang bersikap ‘masa bodo’ atau pura-pura bodoh ini, dijumpai adanya istri yang tidak mengetahui cara shalat yang benar. Ada yang tidak mengerti hukum haid dan nifas. Bahkan, ada yang tidak mengetahui cara bergaul dengan suaminya yang sesuai dengan syariat. Demikian pula bagaimana cara yang baik dan Islami dalam mendidik anak-anaknya, dan seterusnya. Yang lebih parah, ada istri yang terjatuh dalam kesyirikan tanpa mereka sadari, seperti mendatangi dukun dan tukang sihir, memercayai khurafat, takhayul, jimat-jimat, dan sebagainya.
Untuk urusan masak-memasak, istri sampai mencurahkan waktu dan perhatiannya untuk belajar masakan Eropa, Jepang, atau lainnya karena suami menuntutnya harus pandai dari sisi ini. Namun, bagaimana cara shalat yang benar, yang didahului oleh wudhu yang sempurna, suaminya tidak peduli. Suami yang seperti ini jelas tidak bertanggung jawab, padahal di hari akhir nanti setiap orang akan dimintai pertanggungjawabannya. Rasulullah n bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ … وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan ditanya tentang apa yang dipimpinnya … Dan suami adalah pemimpin atas keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat an-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ تَعَالَى سَائِلٌ كُلَّ رَاعٍ عَمَّا اسْتَرْعاَهُ، أََحَفِظَ ذَلِكَ أَمْ ضَيَّعَ، حَتَّى يَسْأَلَ الرَّجُلَ عَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ
“Sesungguhnya Allah akan menanyai setiap pemimpin tentang apa yang dipimpinnya, apakah dia menjaganya ataukah menyia-nyiakannya, hingga seorang suami akan ditanyai tentang keluarganya.” (Disahihkan oleh al-Imam al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 1636)
Rasulullah n sendiri mementingkan pengajaran ilmu kepada wanita sehingga menyempatkan waktu beliau n yang diberkahi untuk mengajari wanita sebagaimana ditunjukkan dalam hadits berikut.
Abu Sa’id al-Khudri z berkata, “Seorang wanita datang kepada Rasulullah n, lalu berkata:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، ذَهَبَ الرِّجَالُ بِحَدِيْثِكَ، فَاجْعَلْ لَنَا مِنْ نَفْسِكَ يَوْمًا نَأْتِكَ فِيْهِ تُعَلِّمُنَا مِمَّا عَلَّمَكَ اللهُ. فَقَالَ: اجْتَمِعْنَ فِي يَوْمِ كَذَا وَكَذا، فِي مَكَانِ كَذَا. فاَجْتَمَعْنَ فَأَتَاهُنَّ فَعَلَّمَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَهُ اللهُ
“Wahai Rasulullah! Kaum lelaki telah pergi membawa haditsmu. Maka dari itu, berikanlah untuk kami satu hari khusus yang kami dapat mendatangimu untuk belajar kepadamu dari ilmu yang telah diajarkan oleh Allah kepadamu.”
Beliau pun bersabda, “Berkumpullah kalian pada hari ini dan itu, di tempat ini (beliau menyebutkan waktu dan tempat tertentu).”
Mereka pun berkumpul pada hari dan tempat yang telah dijanjikan. Rasulullah mendatangi mereka dan mengajarkan kepada mereka dari ilmu yang diajarkan oleh Allah kepada beliau. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Beliau n juga tidak mengecilkan pengajaran ilmu syar’i terhadap para istri. Oleh karena itu, pernah beliau n menikahkan seorang wanita dengan seorang pria dengan mahar berupa ayat Al-Qur’an, sementara Al-Qur’an adalah sumber ilmu.
Dikisahkan dalam hadits Sahl ibnu Sa’id z bahwa ada seorang wanita yang menghibahkan dirinya1 kepada Rasulullah n, namun beliau n tidak menginginkan wanita tersebut. Akhirnya, salah seorang yang hadir di tempat itu meminta agar beliau n menikahkannya dengan wanita tersebut. Rasulullah n lalu bertanya, “Apakah engkau punya sesuatu untuk dijadikan mahar?”
“Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah,” jawabnya.
“Pergilah kepada keluargamu dan lihatlah. Mungkin engkau mendapatkan sesuatu,” kata Rasulullah n.
Laki-laki itu pun pergi. Tidak berapa lama ia kembali dan mengatakan, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.
Rasulullah n bersabda, “Lihatlah lagi dan carilah, walaupun hanya cincin dari besi.”
Laki-laki itu pergi lagi. Tidak berapa lama ia kembali. Ia mengatakan, “Demi Allah, wahai Rasulullah! Saya tidak mendapatkan meskipun hanya cincin dari besi. Tetapi, ini ada izar (sarung) saya. Setengahnya untuknya (sebagai mahar).”
Kata Rasulullah n, “Apa yang dapat engkau perbuat dengan izarmu? Jika engkau memakainya, tidak ada sama sekali izar ini pada istrimu. Jika ia memakainya, berarti engkau tidak memakainya sama sekali.”
Laki-laki itu pun duduk hingga berlalu waktu yang lama, lalu ia bangkit. Rasulullah n melihatnya berbalik pergi. Beliau n lalu menyuruh seseorang memanggilnya. Ketika telah berada di hadapan Rasulullah n, beliau bertanya, “Ada yang engkau hafal dari Al-Qur’an?”
“Saya hafal surah ini dan surah itu,” jawabnya.
“Benar-benar engkau menghafalnya di dalam hatimu?” tegas Rasulullah n.
“Iya,” jawabnya.
“Jika demikian, pergilah, sungguh aku telah menikahkan engkau dengan wanita ini dengan mahar berupa surah-surah Al-Qur’an yang engkau hafal,” kata Rasulullah n. (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Apabila suami tidak bisa memberikan pengajaran agama secara langsung kepada istrinya karena keterbatasan yang ada, dia bisa menempuh cara lain agar tertunaikan kewajiban yang satu ini. Di antaranya, membawa istrinya ke majelis-majelis ilmu yang mungkin diadakan di masjid, atau di rumah, ataupun di tempat lain. Dia bisa memberikan dorongan kepada istrinya agar mencintai ilmu dan majelis ilmu. Dia menyiapkan buku-buku agama yang bisa dibaca oleh istrinya atau kaset-kaset ceramah, CD ilmiah, dan semisalnya sesuai dengan kemampuan yang ada.

2. Mencari-cari kesalahan dan menyelidik aib/cacat istri
Rasulullah n melarang seorang suami yang sekian lama meninggalkan istrinya (bepergian keluar kota) untuk kembali ke rumah dan keluarganya secara tiba-tiba tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apatah lagi jika pulangnya malam hari. Jabir bin Abdillah c berkata:
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ n أَنْ يَطْرُقَ الرُّجُلُ أَهْلَهُ لَيْلاً
“Rasulullah n melarang seorang suami yang bepergian meninggalkan keluarganya untuk kembali mendatangi keluarganya pada malam hari.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Mengapa demikian aturannya? Karena, jika suami pulang pada malam hari tanpa memberi kabar sebelumnya, dikhawatirkan ia akan mendapatkan aib keluarganya. Mungkin istrinya dilihatnya berpenampilan yang tidak sedap dipandang mata karena belum mandi dan tidak berpakaian rapi. Bisa jadi, berpakaian ala kadarnya sebagaimana keadaan istri ketika suami tidak berada bersamanya di rumahnya. Mungkin, rumahnya kotor dan berantakan karena belum sempat dibersihkan dan dirapikan, atau keadaan-keadaan lainnya yang tidak disukainya.
Apalagi jika suami melakukannya bertujuan agar bisa menangkap basah istrinya, mengetahui aib, cacat, cela, dan kekurangannya. Padahal Rasulullah n menyatakan siapa yang mencari-cari aurat/keburukan saudaranya sesama muslim, niscaya Allah l akan mencari-cari aibnya. Barang siapa yang dicari-cari auratnya oleh Allah l niscaya Allah l akan membukanya walaupun ia berada di tengah-tengah rumahnya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Umar c, ia berkata, “Rasulullah n naik mimbar lalu berseru dengan suara yang tinggi. Beliau n bersabda:
ياَ مَعْشَرَ مَنْ أَسْلَمَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُفْضِ الْإِيْمَانُ إِلَى قَلْبِهِ، لاَ تُؤْذُوا الْمُسْلِمِيْنَ وَلاَ تُعَيِّرُوْهُمْ وَلاَ تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ تَتَّبَعَ عَوْرَةَ أَخِيْهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ تَتَّبَعَ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ رَحْلِهِ
“Wahai sekalian orang-orang yang berislam dengan lisannya namun iman belum menembus ke dalam hatinya, janganlah kalian menyakiti kaum muslimin. Janganlah menjelekkan dan mencari-cari cela mereka. Barang siapa mencari-cari cela saudaranya sesama muslim, niscaya Allah akan mencari-cari celanya. Barang siapa yang dicari-cari celanya oleh Allah, niscaya Allah akan membeberkannya walaupun ia berada di tengah-tengah tempat tinggalnya.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan dalam al-Misykat no. 5044 dan Shahih Sunan at-Tirmidzi)

3. Menzalimi istri dengan menjatuhkan hukuman yang tidak semestinya
Di antara bentuk hukuman yang tidak semestinya adalah sebagai berikut.
a. Memukul istri padahal belum ditempuh jalan nasihat dan hajr (boikot).
Allah l berfirman:
“Wanita-wanita yang kalian khawatirkan nusyuznya, nasihatilah mereka dan tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian, maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (an-Nisa: 34)
Ayat di atas menunjukkan bahwa jika seorang istri berbuat nusyuz kepada suaminya, seperti tidak mau taat dalam urusan kebaikan yang diperintahkan oleh suami, hendaknya yang pertama kali dilakukan oleh suami adalah menasihati istri. Jangan langsung memukulnya. Jika nasihat tidak mempan, suami naik ke tahap berikutnya, yaitu mendiamkan si istri dan memunggunginya di tempat tidur.
Aturan ini juga dinyatakan oleh Rasulullah n dalam hadits berikut:
أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُْمْ، لَيْسَ تَمْلِكُوْنَ مِنْهُنََّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ إِلاَّ أَنْ يَأْتِيْنَ بِفَاحِشَةٍ مُبَيِّنَةٍ، فَإِنْ فَعَلْنَ فَاهْجُرُوْهُنَّ فيِ الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ضَرْبًا غَيْرَ مُبَرِّحٍ
“Ketahuilah, berpesan-pesan baiklah kalian kepada para wanita (istri)2, karena mereka hanyalah tawanan di sisi kalian. Tidaklah kalian menguasai dari mereka sedikitpun selain itu3, melainkan jika mereka melakukan perbuatan keji yang nyata4. Jika mereka melakukannya, jauhilah mereka di tempat tidurnya, dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras.” (HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi)
b. Menampar wajah istri, mencerca, dan menjelekkannya.
Mu’awiyah bin Haidah z berkata, “Aku pernah bertanya:
يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمْتَ وَتَكْسُوْهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ، وَلاَ تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلاَ تُقَبِّح وَلاَ تَهْجُرْ إِلاَّ فِي الْبَيْتِ
“Wahai Rasulullah, apakah hak istri salah seorang dari kami terhadap suaminya?” Rasulullah n menjawab, “Engkau memberi makan istrimu jika engkau makan, dan engkau memberi pakaian jika engkau berpakaian. Jangan engkau memukul wajahnya, jangan engkau menjelekkannya5, dan jangan menghajr/memboikotnya selain di dalam rumah6.” (HR. Abu Dawud, disahihkan asy-Syaikh Muqbil t dalam al-Jami’ush Shahih, 3/86)

4. Mengurangi nafkah istri
Nafkah yang diberikan oleh seorang suami kepada istrinya adalah suatu kewajiban yang tersebut dalam Al-Qur’an, sunnah serta ijma’/kesepakatan ulama. Allah l berfirman:
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 233)
Pengertian ma’ruf adalah yang dianggap baik menurut syariat, tidak berlebih-lebihan, dan tidak pula kikir, namun sesuai dengan kebiasaan yang berlangsung dan apa yang biasa diterima oleh wanita semisalnya. Tentunya hal ini sesuai dengan kemampuan suami dalam keluasan dan kesempitannya. (Tafsir Ibni Katsir, 1/371)
Jika seorang istri diuji dengan mendapatkan suami kikir yang menahan haknya dalam nafkah tanpa kebolehan syar’i, ia diperkenankan mengambil harta suaminya sekadar yang mencukupinya dengan ma’ruf, meskipun suami tidak tahu. Hindun x, seorang sahabiyah yang mulia, pernah mengadu kepada Rasulullah n:
ياَ رَسُوْلَ اللهِ، إِنَّ أَبَا سُفْيَانَ رَجُلٌ شَحِيْحٌ وَلَيْسَ يُعْطِيْنِي مَا يَكْفِيْنِي وَوَلَدِيْ إِلاَّ مَا أَخَذْتُ مِنْهُ وَهُوَ لاَ يَعْلَمُ. فَقَالَ: خُذِيْ مَا يَكْفِيْكِ وَوَلَدَكِ بِالْمَعْرُوْفِ
“Wahai Rasulullah, sungguh Abu Sufyan (suaminya, -red.) adalah seorang yang kikir7. Ia tidak memberiku nafkah yang mencukupiku dan anakku, melainkan jika aku mengambil uangnya tanpa sepengetahuannya8.” Rasulullah n bersabda, “Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits di atas, kata al-Imam an-Nawawi t, memberi faedah wajibnya menafkahi istri. (al-Minhaj, 11/234)
Andai para suami menyadari bahwa nafkah yang diberikannya kepada istri dan anak-anaknya adalah sedekah, karena Rasulullah n bersabda:
إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً يَحْتَسِبُهَا فَهِيَ لَهُ صَدَقَةٌ
“Apabila seseorang menafkahi keluarganya dengan mengharapkan pahala, itu adalah sedekah baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain, Rasulullah n bersabda:
أَفْضَلُ دِيْنَارٍ دِيْنَارٌ يُنْفِقُهُ الرَّجُلُِ عَلَى عِيَالِهِ
“Seutama-utama dinar adalah dinar yang diinfakkan (dibelanjakan) oleh seseorang untuk keluarganya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Lebih rincinya, Rasulullah n menyatakan:
دِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيْلِ اللهِ، وَدِيْناَرًا أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِيْنَارًا تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِيْنٍ، وَدِيْنَارًا أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
“Satu dinar yang engkau nafkahkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau nafkahkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada seorang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu, yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau nafkahkan untuk istri/keluargamu.” (HR. Muslim no. 995)

5. Bersikap keras, kaku, dan tidak lembut kepada istri.
Rasulullah n bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling bagus akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya9.” (HR. at-Tirmidzi, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 284 dan asy-Syaikh Muqbil t dalam ash-Shahihul Musnad, 2/336—337)
Di antara bentuk sikap lembut seorang suami terhadap istrinya adalah memberikan kegembiraan kepadanya dengan permainan dan hiburan yang diperbolehkan syariat. Nabi n bersabda:
كُلُّ شَيْءٍ لَيْسَ مِنْ ذِكْرِ اللهِ لَهْوٌ أَوْ سَهْوٌ إِلاَّ أَنْ يَكُوْنَ أَرْبَعُ خِصَالٍ … –مِنْهَا: مُلَاعَبَةُ الرَّجُلِ أَهْلَهُ
“Segala sesuatu yang tidak termasuk zikrullah adalah sia-sia atau melalaikan, selain empat hal… —di antaranya, permainan/senda gurau suami dengan istrinya.” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, ath-Thabarani dalam al-Kabir, sanadnya sahih sebagaimana dalam ash-Shahihah no. 315)
Untuk menunjukkan kelembutan dan cintanya kepada Aisyah x, Rasulullah n pernah mengajak Aisyah adu cepat dalam berlari. Kata beliau kepada sang istri:
تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ. قُلْتُ: فَسَابَقَنِيْ فَسَبَقْتُهُ
“Marilah, aku akan berlomba (lari) denganmu.” Aisyah berkata, “Lalu beliau berlomba denganku. Aku pun dapat mendahului beliau.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, dan selainnya. Disahihkan dalam Irwa’ul Ghalil no. 1502)
Memanggil istri dengan nama atau sebutan yang menyenangkan hatinya termasuk bentuk kelemahlembutan terhadapnya. Rasulullah n, sang suami teladan, telah mencontohkannya. Suatu ketika, beliau memanggil Aisyah x dengan sebutannya:
ياَ حُمَيْرَاءُ، أَتُحِبِّيْنَ أَنْ تَنْظُرِيْ إِلَيْهِمْ؟
“Wahai Humaira’10 (wanita yang putih kemerah-merahan), apakah engkau suka melihat mereka?” (HR. an-Nasa’i dalam Isyratun Nisa’, disahihkan dalam Adabuz Zafaf hlm. 272)
Pernah pula Rasulullah n memanggil sang istri dengan menyingkat namanya:
يَا عَائِشُ، هَذَا جِبْرِيْلُ يُقْرِئُكِ السَّلاَمَ
“Wahai Aisy, ini Jibril datang menyampaikan salam untukmu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kami:

1 Ini adalah kekhususan bagi Nabi n.

2 Maknanya, Nabi n menyatakan, “Aku wasiatkan kalian untuk berbuat kebaikan kepada para istri. Maka dari itu, terimalah wasiatku ini.” Demikian dijelaskan dalam Tuhfatul Ahwadzi.
3 Maksudnya selain istimta’ (bersenang-senang), menjaga diri untuk suaminya, menjaga harta suami dan anaknya, serta menunaikan kebutuhan suami dan melayaninya. (Bahjatun Nazhirin, 1/361)
4 Seperti berbuat nusyuz (tidak taat kepada suami), buruk pergaulannya dengan suami, dan tidak menjaga kehormatan dirinya. (Tuhfatul Ahwadzi)
5 Maksudnya, mengucapkan ucapan yang buruk kepada istri, mencaci-makinya, atau mengatakan kepadanya, “Semoga Allah menjelekkanmu,” atau ucapan semisalnya. (Aunul Ma’bud, “Kitab an-Nikah, bab Fi Haqqil Mar’ah ‘ala Zaujiha”)
6 Memboikot istri dilakukan ketika istri tidak mempan dinasihati atas kemaksiatan yang dilakukannya. Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat berikut.
“Dan istri-istri yang kalian khawatirkan nusyuznya maka berilah nasihat kepada mereka, hajr/boikotlah mereka di tempat tidur….” (an-Nisa: 34)
Pemboikotan ini bisa dilakukan di dalam atau di luar rumah, seperti yang ditunjukkan oleh hadits Anas bin Malik z tentang kisah Rasulullah n meng-ila’ istrinya (bersumpah untuk tidak ‘mendatangi’ istri-istrinya) selama sebulan dan selama itu beliau n tinggal di masyrabahnya (kamar yang tinggi; untuk menaikinya perlu tangga). (HR. al-Bukhari)
Penerapan hal ini tentunya melihat keadaan. Jika memang diperlukan boikot di luar rumah maka dilakukan. Namun, jika tidak, cukup di dalam rumah. Bisa jadi, boikot dalam rumah lebih mengena dan lebih menyiksa

perasaan si istri daripada boikot di luar rumah. Bisa juga sebaliknya. Akan tetapi, yang dominan adalah boikot di luar rumah lebih menyiksa jiwa, khususnya jika yang menghadapinya adalah kaum wanita karena lemahnya jiwa mereka. (Fathul Bari, 9/374)
Al-Imam an-Nawawi t berkata berkenaan dengan kisah Rasulullah n meng-ila’ istri-istrinya, “Suami berhak memboikot istrinya dan memisahkan diri dari istrinya ke rumah lain apabila ada sebab yang bersumber dari si istri.” (al-Minhaj, 10/334)
7 Hindun x tidaklah menyatakan bahwa suaminya bersifat pelit dalam seluruh keadaan. Dia hanya sebatas menyebutkan keadaannya bersama suaminya bahwa suaminya sangat menyempitkan nafkah untuknya dan anaknya. Dengan demikian, tidak berarti bahwa Abu Sufyan memiliki sifat pelit secara mutlak. Betapa banyak tokoh pemuka masyarakat yang melakukan hal tersebut kepada istri/keluarganya dan lebih mementingkan (baca: dermawan kepada) orang lain. Demikian disebutkan dalam Fathul Bari (9/630).
8 Dalam riwayat Muslim, Hindun x bertanya, “Apakah aku berdosa jika melakukan hal tersebut?”

9 Nabi n menyatakan, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istri-istrinya,” karena para wanita/istri adalah makhluk Allah l yang lemah sehingga sepantasnya menjadi tempat curahan kasih sayang. (Tuhfatul Ahwadzi, 4/273)
10 Humaira adalah bentuk tashghir dari hamra’ yang bermakna wanita yang putih kemerah-merahan.

AIR HUJAN BERASAL DARI UAP AIR LAUT?

Apakah benar teori yang mengatakan bahwa air hujan berasal dari uap air yang menguap dari air laut?
Dijawab oleh al-Ustadz Abu ‘Abdillah Muhammad as-Sarbini al-Makassari
Alhamdulillah, masalah ini telah diterangkan oleh para ulama dengan dalil-dalilnya. Di antaranya adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Imam Ibnul Qayyim, dan al-Imam Ibnu Baz t.
Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (24/262), “Hujan yang turun diciptakan oleh Allah l di angkasa dari awan. Dari awan itulah hujan tercurah, sebagaimana firman Allah l:
“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kalian minum. Kaliankah yang menurunkannya dari awan atau Kamikah yang menurunkannya?” (al-Waqi’ah: 68—69)
Begitu pula firman Allah l:
“Dan Kami turunkan dari awan air yang banyak tercurah.” (an-Naba’: 14)
Demikian pula firman Allah l:
“Maka engkau pun melihat hujan keluar dari celah-celahnya.” (an-Nur: 43)
Yakni dari celah-celah awan.
Firman Allah l pada beberapa ayat lainnya: ﭬ ﭭ , artinya dari atas. Kata as-sama’ adalah isim jenis1 untuk sesuatu yang tinggi (di atas). Boleh jadi maknanya adalah untuk di atas ‘Arsy2, atau bermakna benda-benda angkasa, atau atap rumah. Hal itu tergantung perangkat bahasa yang bergandeng dengan kata tersebut. Substansi (zat) asal air hujan terkadang diciptakan dari udara yang ada di angkasa dan terkadang diciptakan dari uap air yang menguap dari bumi. Inilah yang disebutkan oleh ulama muslimin dan ahli filsafat3 pun sependapat dengan ini.”
Asy-Syaikh Ibnu Baz t berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (13/87), “Ulama menyebutkan (penciptaan air hujan) bahwasanya uap air yang menguap dari lautan bisa jadi terkumpul darinya air di awan dan Allah l mengubah rasanya yang asin menjadi tawar. Bisa jadi pula, Allah l menciptakan air di angkasa (awan), kemudian tercurah sebagai air hujan yang menyirami manusia dengan perintah Allah l. Dialah yang Mahakuasa atas segala sesuatu sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ Maka terjadilah ia.” (Yasin: 82)
Makna ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab Miftah Dar as-Sa’adah, dan disebutkan pula oleh selainnya. Telah tsabit (tetap) dalam hadits-hadits sahih bahwa air memancar keluar dari sela-sela jari-jemari Nabi n di Madinah dan di luar Madinah, lalu orang-orang minum dan berwudhu darinya. Hal itu termasuk dari ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah l yang besar, yang menunjukkan kemahasempurnaan kekuasaan Allah l, ilmu, rahmat, dan karunia-Nya, serta kebenaran Rasul-Nya n.”
FUNGSI PETIR MENURUT SYARIAT
Petir itu menurut syariat fungsinya apa? Melempar setan?
Via sms
Yang berfungsi untuk melempar setan adalah bintang yang dijatuhkan oleh Allah l. Ini adalah salah satu fungsi diciptakannya bintang-bintang di langit, sebagaimana dikabarkan oleh Allah l dalam Al-Qur’an.
Adapun fungsi petir dan kilat, sebagai jawabannya kami nukilkan keterangan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa (24/263—264), “Adapun petir dan kilat, terdapat keterangan pada hadits marfu’ (disandarkan sebagai sabda Nabi n) yang diriwayatkan dalam kitab Sunan at-Tirmidzi dan lainnya, Rasulullah n ditanya tentang ar-ra’d (petir). Beliau n menjawab:
مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ ناَرٍ يَسُوقُهَا بِهَا حَيْثُ شَاءَ اللهُ
“Malaikat dari malaikat-malaikat Allah yang ditugasi mengatur urusan awan di tangannya ada alat (cambuk)4dari api untuk mengarak awan menurut kehendak Allah.”5
Pada kitab Makarim al-Akhlaq karya al-Kharaithi, terdapat atsar dari Ali z:
أَنَّهُ سُئِلَ عَنِ الرَّعْدِ، فَقَالَ: مَلَكٌ. وَسُئِلَ عَنِ الْبَرْقِ، فَقَالَ: مَخَارِيْقُ بِأَيْدِي الْمَلاَئِكَةِ. وَفِيْ رِوَايَةٍ عَنْهُ: مَخَارِيْقُ مِنْ حَدِيْدٍ بِيَدِهِ.
Beliau ditanya tentang petir, maka beliau menjawab, “Malaikat.” Beliau ditanya lagi tentang kilat, beliau menjawab, “Cambuk-cambuk di tangan para malaikat.” Pada riwayat lain beliau berkata, “Cambuk-cambuk dari besi di tangan malaikat.”
Telah diriwayatkan pula atsar-atsar yang semakna dengan ini.
Begitu pula telah diriwayatkan keterangan lain dari beberapa salaf yang tidak menyelisihi keterangan di atas, seperti ucapan sebagian mereka, “Sesungguhnya petir itu adalah (suara) benturan subtansi-subtansi (zat-zat) awan akibat adanya tekanan udara dalam awan.” Keterangan ini tidaklah kontradiksi dengan keterangan di atas karena ar-ra’d (petir/guruh) adalah mashdar dari رَعَدَ (ra’ada artinya telah berguruh), يَرْعُدُ (yar’udu artinya sedang/akan berguruh), رَعْدًا (ra’dan artinya guruh/petir).
Demikian pula الرَّاعِدُ (ar-ra’id artinya yang berguruh) dinamakan (رَعْدًا) ra’dan (petir/guruh), seperti halnya الْعَادِلُ (al-‘adil artinya yang adil) dinamakan عَدْلاًً (‘adlan artinya adil).
Gerakan yang ada mengharuskan keluarnya suara, sementara para malaikatlah yang menggerakkan (mengarak) awan. Mereka memindahkannya dari satu tempat ke tempat lainnya. Seluruh gerakan yang terjadi di alam atas dan alam bawah, yang mengaturnya adalah para malaikat. Suara manusia pun bersumber dari benturan anggota-angota tubuhnya, yaitu kedua bibirnya, lidahnya, gigi-giginya, anak lidah (anak tekak), dan tenggorokan. Bersama dengan itu, manusia disifati bahwa dia bertasbih kepada Rabbnya, memerintahkan kepada yang kebaikan dan melarang dari kemungkaran. Jika begitu, petir adalah suara menghardik awan.6
Begitu pula halnya dengan kilat. Telah dikatakan, “(Kilat itu) kilauan air atau kilauan api.” Hal ini pun tidak menafikan (menampik) bahwa kilat itu adalah cambuk yang ada di tangan malaikat, karena api yang berkilau di tangan malaikat seperti cambuk, seperti penggiring hujan. Malaikat menggiring (mengarak) awan seperti halnya penunggang menggiring binatang tunggangannya.”

Catatan Kaki:

1 Istilah dalam ilmu nahwu.
2 Yaitu tempat Allah l berada.
3 Ibnu Taimiyah t menyebutkan pendapat ahli filsafat di sini bukan dalam rangka mengangkat kedudukan mereka, karena ilmu filsafat dan ilmu kalam tidak berasal dari Islam tetapi dari Yunani yang menyusup ke dalam tubuh kaum muslimin. Ilmu filsafat dan ilmu kalam tercela dan haram. Kata Abu Yusuf al-Qadhi, “Barang siapa menuntut agama (syariat) ini dengan ilmu kalam (filsafat), dia akan menjadi zindiq (munafik).”

4 Lihat penjelasan makna makhariq (alat semacam cambuk) dalam an-Nihayah fi Gharib al-Atsar karya Ibnul Atsir.
5 Setelah itu beliau ditanya lagi tentang suara petir yang terdengar itu. Beliau n menjawab:
زَجْرُهُ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أُمِرَ
“Hardikannya terhadap awan jika ia menghardiknya (untuk mengaraknya) hingga berhenti di tempat yang diperintahkannya.”

Ini adalah hadits Ibnu ‘Abbas c dengan riwayat at-Tirmidzi (pada Kitab Tafsir al-Qur’an, Bab Wa min Surah ar-Ra’d no. 3117) tentang kedatangan sekelompok Yahudi menemui Rasulullah n dan bertanya tentang petir. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, ath-Thabarani, adh-Dhiya’ al-Maqdisi, dan lainnya dengan lafadz:
أَقْبَلَتْ يَهُودُ إِلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ، نَسْأَلُكَ عَنْ أَشْيَاءَ إِنْ أَجَبْتَنَا فِيْهَا اتَّبَعْنَاكَ وَصَدَّقْنَاكَ وَآمَنَّا بِكَ … فَأَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: الرَّعْدُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ (بِيَدَيْهِ -أَوْ فِيْ يَدِهِ- مِخْرَاقٌ مِنْ نَارٍ يَزْجُرُ بِهِ السَّحَابَ) وَالصَّوْتُ الَّذِيْ يُسْمَعُ مِنْهُ زَجْرُهُ السَّحَابَ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أَمَرَهُ
Sekelompok orang Yahudi menemui Nabi n dan berkata, “Wahai Abul Qasim, kami akan bertanya kepadamu tentang beberapa hal. Jika engkau menjawabnya, kami akan mengikutimu, membenarkanmu dan beriman kepadamu … Kabarkan kepada kami tentang petir, apakah itu?'”
Nabi n bersabda, “Petir adalah salah satu malaikat Allah yang ditugasi mengurus awan, (di kedua tangannya—atau di tangannya—ada cambuk dari api untuk menghardik awan), dan suara yang terdengar darinya adalah hardikannya terhadap awan jika ia menghardiknya hingga berhenti di tempat yang diperintahkannya.”
Yang dalam kurung adalah tambahan lafadz dari adh-Dhiya’ pada salah satu riwayatnya. Dinyatakan berderajat sahih oleh al-Albani. Lihat ash-Shahihah (no. 1872).
6 Ini sesuai dengan sabda Rasul n pada kelanjutan hadits Ibnu ‘Abbas c di atas.

 

Sifat Shalat Nabi (bagian 12)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq al-Atsari)

Surah dan Ayat yang Pernah Dibaca oleh Rasulullah n dalam Shalat Lima Waktu
Surah dan ayat-ayat yang dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat lima waktu ketika mengimami manusia berbeda-beda. Terkadang bacaannya panjang, terkadang pendek. Ahlu ilmi berkata, “Perbedaan kadar bacaan dalam hadits-hadits tersebut sesuai dengan keadaan. Adalah Nabi n mengetahui keadaan makmum. Ketika mereka mengutamakan shalat yang panjang, beliau n pun memanjangkan bacaannya. Namun, kala mereka tidak menginginkan shalat yang panjang karena satu uzur dan yang semisalnya, beliau pun meringankan bacaannya.” (al-Majmu’, 3/348)
Dalam shalat berjamaah seorang imam harus pandai melihat keadaan makmumnya. Petunjuk Rasulullah n dalam hal ini adalah hendaknya imam tidak memberatkan makmumnya, namun justru meringankan mereka. Karenanya, beliau n bersabda:
إِذَا أَمَّ أَحَدُكُمُ النَّاسَ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيْهِمُ الصَّغِيْرَ وَالْكَبِيْرَ وَالضَّعِيْفَ وَالْمَرِيْضَ، فَإِذَا صَلَّى وَحْدَهُ فَلْيُصَلِّ كَيْفَ شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kalian mengimami manusia, hendaknya ia meringankan shalat tersebut, karena di antara makmum ada anak kecil, orang lanjut usia, orang yang lemah, dan orang sakit. Kalau ia shalat sendirian, silakan ia shalat sekehendaknya (dipanjangkan atau dipendekkan)1.” (HR. al-Bukhari no. 703 dan Muslim no. 1046)
Namun, yang perlu menjadi catatan adalah bahwa ringan di sini adalah sesuatu yang nisbi. Artinya, batasan ringan itu kembali kepada apa yang dilakukan Nabi n dan yang menjadi kebiasaan beliau, bukan dikembalikan kepada selera makmum. Hal ini karena beliau n tidak pernah memerintahkan satu urusan kepada umatnya lalu beliau n menyelisihinya. Beliau n pasti melakukan apa yang beliau n perintahkan. Ketika mengimami manusia, beliau n mengetahui bahwa di antara makmum ada orang lanjut usia, ada orang yang lemah, dan orang yang memiliki hajat. Apa yang beliau n lakukan itulah batasan ringan yang beliau n perintahkan, meskipun menurut perasaan orang, shalat yang beliau n lakukan itu panjang. Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam hadits Ibnu Umar c, ia berkata:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n يَأْمُرُنَا بِالتَّخْفِيْفِ وَيَؤُمُّنَا بِالصَّافّاَتِ
“Adalah Rasulullah n memerintahkan kami meringankan bacaan dalam shalat (ketika mengimami manusia) dan beliau n mengimami kami dengan membaca surah ash-Shaffat.” (HR. an-Nasa’i no. 826, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)
Membaca surah ash-Shaffat—yang terdiri dari 182 ayat—ketika mengimami manusia, berarti termasuk bacaan ringan yang beliau n perintahkan.2
Walaupun tidak ada keharusan membaca surah tertentu dalam shalat fardhu seperti yang telah disebutkan di atas, namun kita perlu mengetahui surah apa saja yang pernah dibaca Rasulullah n dalam shalatnya, sebagaimana yang dikabarkan oleh para sahabat beliau n yang mulia. Berikut ini kita memulai penyebutannya.

1. Shalat Fajar/Subuh
Rasulullah n biasa membaca surah mufashshal yang panjang sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah z. Ia berkata, “Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya paling mirip (dengan shalat Rasulullah n, pen.) daripada si Fulan—seorang imam yang ada di Madinah—.” Sulaiman bin Yasar t yang mendengar ucapan Abu Hurairah z ini mengatakan, “Aku pun shalat di belakang imam yang disebut oleh Abu Hurairah z. Ia memanjangkan bacaannya pada dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur dan meringankan dalam dua rakaat yang terakhir. Ia meringankan shalat ashar (lebih pendek dari shalat zhuhur, pen.). Dalam dua rakaat shalat maghrib, ia membaca surah mufashshal yang pendek-pendek. Ia juga membaca surah mufashshal yang pertengahan (tidak panjang dan tidak juga pendek, pen.) dalam dua rakaat yang awal dari shalat isya. Adapun dalam shalat subuh, ia membaca surah mufashshal yang panjang.”
Adh-Dhahhak t mengatakan, “Orang yang mendengar dari Anas bin Malik z menyampaikan kepadaku ucapan Anas, ‘Aku tidak pernah melihat seseorang yang shalatnya paling mirip dengan Rasulullah n daripada anak muda ini—yang dimaksudkan adalah Umar ibnu Abdil Aziz’.” Adh-Dhahhak t mengatakan, “Aku pun shalat di belakang Umar ibnu Abdil Aziz. Ternyata dia melakukan sebagaimana yang dikatakan oleh Sulaiman bin Yasar.” (HR. an-Nasa’i no. 982, 983 dan Ahmad 2/300, 329—330. Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam Bulughul Maram hadits no. 309, “Sanadnya sahih.”)
Surah-surah lain yang pernah dibaca oleh Rasulullah n dalam shalat subuh bisa dirinci sebagai berikut:
1. Surah al-Waqi’ah dan semisalnya
Hal ini tersebut dalam hadits Jabir bin Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Hakim (1/240) dan Ahmad (5/104). Al-Hakim t berkata, “Sahih menurut syarat Muslim,” dan disepakati oleh adz-Dzahabi. Al-Imam al-Albani t mengatakan dalam al-Ashlu (2/431) bahwa keadaan hadits ini adalah sebagaimana yang dikatakan oleh keduanya.
2. Ketika menunaikan haji Wada’, Rasulullah n membaca surah ath-Thur
Ini seperti dikabarkan oleh Ummu Salamah x, yang dibawakan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya secara mu’allaq, ”Bab al-Jahru bi Qira’ati Shalatil Fajr”. Ummu Salamah x mengatakan, “Aku thawaf di belakang orang-orang dan Nabi n sedang mengerjakan shalat dengan membaca ath-Thur.”3
3. Surah Qaf dan semisalnya pada rakaat pertama
Ini disebutkan oleh hadits Jabir ibnu Samurah z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1027 dan 1028).
4. Surah-surah mufashshal yang pendek semacam at-Takwir
Ini disebutkan oleh riwayat ‘Amr ibnu Huraits z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1023).
5. Sekali waktu Rasulullah n membaca surah al-Zalzalah dalam dua rakaat (dibaca dalam rakaat pertama dan dibaca lagi dalam rakaat kedua)
Sampai-sampai perawi yang membawakan riwayat ini mengatakan, “Aku tidak tahu, apakah Nabi n lupa atau beliau mengulang bacaannya dengan sengaja4.” (HR. Abu Dawud no. 816, disahihkan sanadnya oleh al-Imam an-Nawawi t dalam al-Majmu’. Kata al-Imam Albani t, “Semua perawinya adalah perawi Syaikhani, selain Mua’dz ibnu Abdillah al-Juhani. Dia tsiqah, menurut pendapat Ibnu Ma’in, Abu Dawud, dan selainnya. al-Ashlu, 2/435)
6. Dalam suatu safar, Rasulullah n membaca al-Mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Naas)
Ini sebagaimana disebutkan oleh hadits ‘Uqbah ibnu ‘Amir z. (HR. Abu Dawud no. 1462 dengan sanad yang hasan, al-Ashlu, 2/437)
7. Terkadang Rasulullah n membaca surah yang lebih panjang sejumlah 60—100 ayat
Ini seperti tersebut dalam hadits Abu Barzah al-Aslami z yang dikeluarkan al-Imam Muslim (no. 1031 dan 1032).
8. Surah ar-Rum
Ini disebutkan dalam hadits al-Aghra al-Muzani z yang diriwayatkan oleh al-Bazzar. Haditsnya hasan dengan syahid (pendukung) yang diriwayatkan oleh an-Nasa’i (no. 947) dari seorang sahabat Rasulullah n dan sanadnya hasan (al-Misykat, 295).
9. Sekali waktu saat Rasulullah n mengerjakan shalat subuh di Makkah, beliau membaca surah al-Mu’minun. Ketika sampai pada ayat yang menyebutkan Musa dan Harun5 atau Isa6—ada keraguan pada perawi—Rasulullah n batuk, beliau pun ruku’.
Ini disebutkan oleh hadits Abdullah ibnus Sa’ib z yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari secara mu’allaq dalam Shahih-nya, “Kitabul Adzan, Bab al-Jam’u bainas Suratain fir Rak’ah” dan Muslim (no. 1022).
10. Surah ash-Shaffat
Ini seperti disebutkan oleh hadits Ibnu Umar c yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (2/40) dengan sanad yang hasan (al-Ashlu, 2/443).
11. Di waktu fajar hari Jum’at, pada rakaat pertama Rasulullah n membaca surah as-Sajdah dan rakaat kedua membaca al-Insan.
Ini sebagaimana tersebut dalam banyak hadits, di antaranya hadits Abu Hurairah z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 891) dan Muslim (no. 2031)7.

2. Shalat Zhuhur
Dalam shalat zhuhur, Rasulullah n memanjangkan rakaat yang pertama lebih dari rakaat yang kedua. Ini sebagaimana yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z:
كَانَ النَّبِيُّ n يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الْأُوْلَيَيْنِ مِنَ الصَّلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ، يَطُوْلُ فِي الْأُوْلى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ وَيُسْمِعُ الْآيَةَ أَحْيَانًا …
“Adalah Nabi n dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah. Beliau memanjangkan qiraah dalam rakaat yang pertama dan memendekkannya dalam rakaat kedua. Terkadang beliau memperdengarkan kepada kami ayat yang beliau baca ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
Terkadang beliau n sangat memanjangkan bacaan dalam rakaat pertama. Sampai-sampai ada seseorang yang pergi ke Baqi’ saat diserukan iqamah shalat zhuhur guna menunaikan hajatnya, lalu ia pulang ke rumahnya, berwudhu, dan datang ke masjid lagi dalam keadaan Rasulullah n masih di rakaat pertama. (HR. Muslim no. 1020 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Menurut dugaan para sahabat g, Rasulullah n memanjangkan demikian agar orang-orang yang belum datang bergabung dalam jamaah sempat mendapati rakaat pertama. Demikian yang ditunjukkan oleh hadits Abu Qatadah z yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 800) dan hadits ini sahih sebagaimana dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
Diperkirakan bacaan Rasulullah n pada rakaat pertama dan kedua sekitar 30 ayat seperti membaca surah as-Sajdah. Hal ini dikabarkan oleh Abu Said al-Khudri z. Beliau z berkata, “Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n dalam shalat zhuhur dan ashar. Dalam dua rakaat pertama shalat zhuhur, kami perkirakan Rasulullah n berdiri sekadar bacaan 30 ayat, seperti kadar membaca surat Tanzil as-Sajdah. Adapun berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir kami perkirakan separuh dari itu (kira-kira bacaan 15 ayat). Kami memperkirakan berdirinya Rasulullah n pada dua rakaat yang awal dari shalat ashar sekitar setengah dari itu8. Kami perkirakan berdirinya beliau dalam dua rakaat yang akhir sekitar separuh dari dua rakaat yang pertama.” (HR. Ahmad 3/2 dan ini adalah lafadz beliau, Muslim [no. 1014] dan al-Bukhari dalam Juz Qira’ah-nya hlm. 25)
Para sahabat g sayup-sayup pernah mendengar Rasulullah n membaca surah al-A’la dan al-Ghasyiyah, sebagaimana tersebut dalam hadits Anas bin Malik z yang diriwayatkan oleh adh-Dhiya’ al-Maqdisi dalam al-Mukhtarah. (Sanadnya sahih menurut syarat Muslim, al-Ashlu, 2/462)
Pernah pula Rasulullah n membaca surah al-Buruj dan ath-Thariq, serta surah semisal keduanya. (HR. al-Bukhari dalam Juz Qira’ah hlm. 21, Abu Dawud no. 805, dan selainnya, dari Jabir bin Samurah z. Haditsnya hasan sahih, lihat Shahih Sunan Abi Dawud)
Demikian pula, beliau n pernah membaca surah al-Lail dan semisalnya. (HR. Abu Dawud no. 806 dari Jabir bin Samurah z, dan haditsnya sahih)

Dua Rakaat yang Akhir
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pada dua rakaat yang akhir dari shalat zhuhur, Rasulullah n menjadikannya lebih pendek dari dua rakaat yang pertama sekitar separuhnya, yaitu sekadar membaca lima belas ayat.
Di sini, disenangi membaca surah selain al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir. Namun surah yang dibaca lebih ringan atau lebih pendek daripada dua rakaat yang pertama. Boleh juga mencukupkan dengan membaca al-Fatihah saja.
Dalam masalah ini ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Apakah mustahab membacanya dalam dua rakaat yang akhir dari shalat ruba’iyah (empat rakaat) dan rakaat yang ketiga dari shalat tsulatsiyah (tiga rakaat/ maghrib), atau tidak. Para sahabat pun berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian mereka membacanya, seperti Abu Bakr ash-Shiddiq z, sebagaimana tersebut dalam al-Muwaththa’ (1/177) dengan sanad yang sahih. Di sana disebutkan bahwa pada rakaat ketiga dari shalat maghrib, setelah membaca al-Fatihah, Abu Bakr z membaca ayat:
(Mereka berdoa), “Ya Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (Ali Imran: 8)
Al-Baihaqi t dalam satu riwayatnya tentang perbuatan Abu Bakr z ini menambahkan: Sufyan ibnu Uyainah t mengatakan, “Tatkala Umar ibnu Abdil Aziz t mendengar hal ini dari Abu Bakr z, ia berkata, ‘Semula aku tidak mengamalkan yang seperti ini. Ketika aku mendengar bahwa ini (dilakukan oleh Abu Bakr z), aku pun mengambil pendapat ini’.” (2/64 dan 391)
Al-Imam al-Albani t menyatakan bahwa Abul Hasanat al-Laknawi mengambil pendapat ini. Beliau juga mengatakan keganjilan pendapat sebagian orang yang menghukumi wajibnya sujud sahwi jika membaca surah dalam dua rakaat yang akhir. Ini telah dibantah oleh Ibrahim al-Halabi, Ibnu Amir Hajj al-Halabi, dan selain keduanya dengan bantahan yang sangat bagus. Dengan demikian, tidak diragukan bahwa orang yang berpendapat demikian belumlah sampai kepadanya hadits yang menyebutkan bolehnya membaca surah dalam dua rakaat yang akhir tersebut. Seandainya sampai kepada mereka, niscaya mereka tidak berfatwa yang menyelisihinya. (al-Ashlu, 2/468—469)

Sebagian sahabat tidak membaca surah setelah al-Fatihah dalam dua rakaat yang akhir (atau rakaat setelah tasyahud pertama), sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam ath Thahawi t dalam Syarhu Ma’anil Atsar (1/267 & 271—272) dari Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, Zaid bin Tsabit, Jabir bin Abdillah, dan Abud Darda’ g.

3. Shalat Ashar
Pembicaraan qiraah dalam shalat ashar ini sama dengan shalat zhuhur. Dalam dua rakaat yang awal, Rasulullah n membaca surah al-Fatihah dan dua surah yang lain (satu surah pada masing-masing rakaat) seperti dalam hadits Abu Qatadah z:
وَكَانَ يَقْرَأُ فِي الْعَصرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ …
“Adalah Nabi n dalam dua rakaat yang awal dari shalat ashar membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surah ….” (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)
Kadar bacaan Rasulullah n dalam masing-masing dari dua rakaat tersebut sekitar lima belas ayat, yaitu separuh dari bacaan beliau dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur. Untuk dua rakaat yang akhir, bacaannya separuh dari dua rakaat yang awal, sebagaimana hal ini disebutkan oleh hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang telah lewat penyebutannya dalam pembahasan qiraah shalat zhuhur.
Terkadang Rasulullah n memperdengarkan bacaan beliau kepada para sahabatnya. Adapun ayat/surah-surah yang dibaca oleh beliau n sama dengan yang disebutkan dalam shalat zhuhur.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 Dalam riwayat al-Bukhari disebutkan:
وَإِِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ
“Apabila salah seorang dari kalian shalat sendirian, silakan ia panjangkan shalat semaunya.”

2 Sebagaimana beliau n juga pernah menganjurkan membaca surat-surat yang lebih pendek, seperti Sabbihisma Rabbikal a’la (surah al-A’la).

3 Di tempat lain dalam Shahih-nya, riwayat ini dibawakan oleh al-Bukhari secara maushul (dengan sanad yang bersambung). Demikian pula al-Imam Muslim dalam Shahih-nya. Disebutkan, Ummu Salamah x mengadu kepada Rasulullah n bahwa ia sedang sakit, sementara ia belum thawaf di Baitullah. Rasulullah n memberikan arahan, “Thawaflah engkau di belakang orang-orang dalam keadaan engkau berada di atas tunggangan.” Ummu Salamah x berkata, “Aku pun thawaf dengan menaiki untaku dan ketika itu Rasulullah n sedang shalat di sisi Baitullah membaca surah ath-Thur.”
Namun riwayat yang maushul ini tidak menyebutkan shalat fajar. Yang menyebutkannya adalah riwayat lain yang juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Ummu Salamah x, ia mengabarkan bahwa Rasulullah n saat di Makkah dan ingin keluar meninggalkan Makkah (untuk kembali ke Madinah), Ummu Salamah x juga ingin keluar meninggalkan Makkah namun ia belum thawaf di Baitullah. Rasulullah n bersabda kepadanya, “Apabila telah ditegakkan shalat subuh, thawaflah di atas untamu sementara manusia mengerjakan shalat.”
4 Namun yang tampak, Rasulullah n melakukannya dengan sengaja sebagai tasyri’ (penetapan syariat) bolehnya hal tersebut. (al-Ashlu, 2/435)
5 Yaitu ayat yang berbunyi:
“Kemudian Kami utus Musa dan saudaranya Harun dengan membawa tanda-tanda (kebesaran) Kami, dan bukti yang nyata.” (al-Mu’minun: 45)
6 Yaitu ayat yang berbunyi:

“Dan telah Kami jadikan (Isa) putra Maryam beserta ibunya suatu bukti yang nyata bagi (kekuasaan Kami), dan Kami melindungi mereka di suatu tanah tinggi yang datar yang banyak terdapat padang-padang rumput dan sumber-sumber air bersih yang mengalir.” (al-Mu’minun: 50)
7 Rasulullah n membaca dua surah ini karena keduanya memuat penyebutan tentang awal penciptaan makhluk dan tempat kembalinya, penciptaan Adam dan penyebutan tentang masuk surga dan neraka. Itu semua telah dan akan terjadi pada hari Jum’at. Rasulullah n membacanya pada subuh hari Jum’at untuk mengingatkan umatnya akan kejadian tersebut.

8 Yaitu setengah dari lama berdirinya beliau dalam dua rakaat yang awal dari shalat zhuhur.

 

Jika Ilmu Menyentuh Kalbu

(ditulis oleh: Ibnul Qayyim)

Allah l berfirman:
“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya. Arus itu membawa buih yang mengambang. Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang batil. Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya. Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (ar-Ra’du: 17)
Allah l menyerupakan ilmu yang Dia turunkan kepada Rasul-Nya dengan air yang Dia turunkan dari langit karena keduanya menghasilkan sebuah kehidupan dan kebaikan bagi manusia dalam maisyah mereka dan kembalinya mereka nanti. Allah l menurunkan wahyu demi kehidupan kalbu, pendengaran, dan penglihatan. Di sisi lain, Allah l menurunkan air demi hidupnya bumi dengan tumbuhan. Lalu Allah l menyerupakan kalbu dengan lembah. Kalbu yang besar akan menampung ilmu yang banyak, ibarat lembah yang luas menampung air yang banyak. Sebaliknya, kalbu yang kecil hanya menampung ilmu yang sedikit. Ibarat lembah yang sempit, hanya menampung air yang sedikit pula. Allah l menjelaskan:
“Maka lembah-lembah itu mengalirkan sesuai ukurannya. Arus itu pun membawa buih yang mengambang.” (ar-Ra’du: 17)
Perumpamaan ini diberikan oleh Allah l untuk ilmu saat menyentuh kalbu yang lapang sehingga kalbu itu membawa ilmu dan petunjuk sesuai dengan ukurannya. Maka dari itu, sebagaimana arus air ketika menyapu bumi dan melewatinya akan membawa kotoran serta buih, demikian pula petunjuk dan ilmu ketika bersentuhan dengan kalbu. Ilmu akan merangsang kalbu untuk mengeluarkan syubhat dan syahwat yang ada padanya, kemudian mencabut dan melenyapkannya. Ibarat obat saat diserap oleh tubuh, ia merangsangnya untuk mengeluarkan kotoran-kotorannya, sehingga peminumnya merasa pening. Padahal, itu adalah kesempurnaan manfaat pengaruh obat yang nanti (kotoran itu) akan dibuang oleh obat tersebut karena keduanya (obat dan penyakit) tidak akan bersatu. Demikianlah perumpaan kebenaran dan kebatilan. Ilmu akan melenyapkan buih-buih syubhat kebatilan dari kalbu sehingga syubhat itu hanya mengambang di permukaannya, sebagaimana arus air menyapu lembah tersebut sehingga muncul buih yang mengambang di atas air. Allah l mengabarkan bahwa buih itu hanya mengambang di atas air, tidak menetap di tanah lembah itu. Seperti itu jugalah syubhat-syubhat yang batil bila telah disapu oleh ilmu. Ia hanya mengambang di permukaan kalbu, tidak akan menetap padanya. Bahkan, syubhat-syubhat itu akhirnya terlempar sirna sehingga yang tinggal dalam kalbu hanyalah yang bermanfaat baginya dan bagi manusia, berupa hidayah dan agama yang benar, layaknya air yang menetap di lembah tersebut dalam keadaan jernih dan telah sirna buihnya. Dengan demikian, orang-orang dapat mengambil air minum, bercocok tanam, dan memberi minum ternak mereka darinya.
Tidak ada seorang pun yang memahami perumpamaan yang diberikan oleh Allah l selain orang-orang yang berilmu.
Allah l lalu memberikan perumpamaan yang lain bagi (manfaat ilmu). Allah l berfirman:
“Dan dari apa yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.” (ar-Ra’du: 17)
Maksudnya, sesuatu yang dilebur oleh Bani Adam baik berupa emas, perak, tembaga maupun besi, akan keluar kotoran darinya. Kotoran itu adalah buih yang dibuang oleh api dan dikeluarkan oleh api itu dari perhiasan tersebut saat bercampur dengan api itu. Jadi, yang tertinggal hanyalah hiasan yang murni. Demikianlah, iman yang murni dan bersih—yang bermanfaat bagi pemiliknya dan orang lain pun bisa memanfaatkannya1—akan menetap dalam kalbu.
Allah l membuat perumpamaan dengan air karena air mengandung kehidupan, kesejukan, dan manfaat. Di sisi ain, Allah l membuat perumpamaan dengan api karena api mengandung cahaya, sinar, dan sifat membakar. Ayat-ayat Al-Qur’an menghidupkan kalbu seperti hidupnya bumi dengan sebab air. Di sisi lain, ayat-ayat Al-Qur’an membakar kejelekan kalbu, syubhat, syahwat, dan kotoran hitamnya seperti api membakar sesuatu yang dilemparkan ke dalamnya sehingga memisahkan yang baik dari kotorannya, memisahkan emas, perak, dan tembaga dari kotorannya.
Inilah beberapa pelajaran dan ilmu yang terkandung dalam perumpamaan yang agung ini. Allah l berfirman:
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya selain orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabut: 43)
Wallahu a’lam.
(Diterjemahkan dan disusun oleh Qomar Suaidi dari at-Tafsirul Qayyim dan I’lamul Muwaqqi’in karya Ibnul Qayyim)

Catatan Kaki:

1 As-Sa’di t mengatakan, “Demikian juga syubhat dan syahwat. Kalbu akan terus membenci dan melawannya dengan keterangan-keterangan yang benar dan tekad yang kuat sehingga syubhat dan syahwat itu pun sirna.

Kalbu pun menjadi bersih dan murni. Tidak ada di dalamnya selain apa yang bermanfaat bagi manusia, yaitu ilmu tentang kebenaran, dan mendahulukan serta mencintainya. Yang batil akan sirna dan dilenyapkan oleh kebenaran.
“Sesungguhnya kebatilan itu akan sirna.” (al-Isra: 81)
Allah l berfirman:
“Demikianlah Allah memberikan perumpamaan-perumpamaan,” agar tampak kebenaran dari kebatilan dan menjadi jelas petunjuk dari kesesatan.

JANGAN MEREMEHKAN SATU KEBAIKANPUN

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Barangkali kita sering menganggap bahwa perbuatan yang bernilai adalah yang besar dan berat, sebagaimana diriwayatkan:
الْأَجْرُ عَلَى قَدْرِ الْمَشَقَّةِ
“Pahala itu tergantung kepada tingkat kesulitan.”
Kelirunya kalau kita jadi sering meremehkan perbuatan-perbuatan kecil. Padahal, sekecil apa pun, jika dikerjakan dengan ikhlas nilainya berlipat ganda di sisi Allah l.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَصْعَدُ إِلَى اللهِ إِلاَّ الطَّيِّبُ، فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهَا كمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ
“Siapa yang bersedekah dengan separuh kurma dari usaha yang baik (halal)—dan tidak akan naik kepada Allah melainkan yang baik—sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan Kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya hingga menjadi sebesar gunung.”1
Berapa banyak amalan yang sedikit namun berlipat ganda nilainya di sisi Allah l. Sebaliknya, banyak pula amalan besar yang akhirnya menjadi debu yang beterbangan. Terlebih jika diselingi dengan syirik, besar atau kecil.
Allah l berfirman:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)
Allah l berfirman:
Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Sesungguhnya orang yang mula-mula diputuskan perkaranya adalah; (pertama), seseorang yang mati syahid, dihadapkan (kepada Allah) lalu diperlihatkan kepadanya nikmatnya, dan dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan kenikmatan itu?”
Orang itu berkata, “Saya berperang demi Engkau hingga mati syahid.”
Allah berkata, “Engkau dusta. Sebetulnya engkau berperang agar dikatakan pemberani, dan itu sudah diucapkan (orang),” lalu dia dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka.
(Yang kedua) orang yang menuntut ilmu (syar’i), mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Dia dibawa ke hadapan Allah, diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat padanya?”
“Saya mencari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena Engkau,” jawabnya.
Kata Allah, “Kamu dusta. Sebetulnya engkau mencari ilmu agar dikatakan alim dan membaca Al-Qur’an agar digelari qari`. Sungguh, semua itu sudah diucapkan (orang).” Dia pun dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya lalu dilemparkan ke dalam neraka.
(Yang ketiga), orang yang telah diberi kecukupan dan harta oleh Allah, dia dihadapkan kepada Allah, dan diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat padanya?”
“Tidak saya biarkan satu jalan yang Engkau cintai saya berinfak padanya, melainkan saya melakukannya karena Engkau,” katanya.
Allah berkata, “Kamu dusta. Sebetulnya kamu berbuat demikian agar dikatakan dermawan, dan itu sudah diucapkan (orang),” lalu dia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam neraka.2
Lihatlah betapa sia-sia amalan mereka. Perbuatan mulia dan besar yang mereka kerjakan, ternyata berujung di neraka.

Di antara Faedah Tauhid
Tauhid, yakni keikhlasan, demikian tinggi dan penting dalam hidup seorang manusia. Terlebih lagi bagi seorang mukmin. Sampai pun dosa yang besar sekalipun, lebur dengan adanya tauhid dan keikhlasan yang murni dalam hati seseorang.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Anas z, bahwa Rasulullah n bersabda, “Allah l berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menghadap-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, sungguh, Aku pasti datangkan kepadamu ampunan sepenuh itu pula.”
Kisah berikut ini adalah salah satu buah tauhid dan keikhlasan dalam diri seseorang. Hal itu, karena tidak mungkin perbuatan ringan seperti yang akan diceritakan di sini membuahkan hasil begitu besar, yaitu ampunan Allah l.
Allah l berfirman:
“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (az-Zumar: 7)
Abu Hurairah z bercerita, “Rasulullah n bersabda:
بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ
“Ketika seekor anjing berputar-putar di sekeliling sebuah sumur, dalam keadaan dia hampir mati kehausan. Tiba-tiba, dia terlihat oleh seorang baghiy (pelacur) di kalangan Bani Israil. Kemudian wanita itu melepas sepatunya lalu memberi minum anjing tersebut. Karena itu, dia diampuni oleh Allah.”3
Di siang terik itu, tanah dan batu bagai tungku api raksasa. Ia membakar semua yang di atasnya. Seekor anjing, berjalan tertatih-tatih sambil menjulurkan lidahnya. Namun, itu bukan sekadar kebiasaannya.
Semangat hidupnya seolah terbangkit ketika mencium bau air yang segar. Dia pun berjalan mengitari sebuah sumur yang ada di tanah sunyi itu, mencari jalan untuk meminum airnya. Tentu saja tidak mungkin. Air itu jauh di dasar sumur.
Akhirnya, anjing itu hanya berputar-putar di sekelilingnya. Bagaimana caranya agar dia dapat minum? Adakah jalan untuk menuruni sumur itu? Berkali-kali dia mengitari sumur itu dengan rasa panik karena kehausan. Apakah dia akan mati di tepi sumur itu?

Jangan dikira dia sekadar berusaha. Anjing juga makhluk Allah l, yang malah lebih mulia dari kebanyakan makhluk yang berpakaian. Anjing juga hamba-hamba Allah l. Bahkan, ada yang lebih taat kepada Allah l daripada sebagian orang yang bersorban.
Pernah dinukil dari Ibnu ‘Abbas z, beliau mengatakan, “Anjing yang tepercaya lebih baik daripada manusia yang khianat.”
Itulah seekor anjing. Dia juga bertasbih, beribadah, berdoa dengan cara yang ditentukan oleh Allah l bagi mereka. Allah l berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka….” (al-Isra: 44)
Sambil berputar-putar dia tetap berdoa dengan cara yang hanya dimengerti oleh Penciptanya l. Keadaan darurat yang dialami anjing itu sudah merupakan ungkapan permohonan sendiri.
Allah l adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, siapa pun dia, makhluk apa pun dia. Apa pun pekerjaannya, dan bagaimanapun statusnya.
Semua yang ada di bumi dan di langit, Allah l yang mengatur rezeki mereka. Walaupun seekor anjing, Allah l tetap memerhatikan kebutuhannya.
Tak berapa lama, lewatlah seorang wanita Bani Israil. Wanita ini dikenal sebagai baghiy (pelacur). Dari kejauhan, dia melihat seekor anjing berputar-putar di sebuah sumur. Ada apa dengan anjing tersebut? Mengapa dia berputar-putar di sekeliling sumur itu? Apakah makanannya terjatuh ke dalam sumur itu? Atau ada anjing lain yang terjatuh ke dalamnya? Ada apa?
Akan tetapi, karena dia juga kehausan, dia pun melangkah menuju sumur itu. Ternyata, itulah sumur satu-satunya di jalan yang sunyi itu. Semakin dekat, wanita itu baru mengerti kalau anjing itu ternyata hampir mati kehausan.
Wanita itu melihat-lihat adakah sesuatu yang dapat dipakai untuk mengambil air di dalam sumur tersebut? Ternyata tidak ada. Akhirnya, dia nekat menuruni sumur itu sambil membawa sepatunya untuk mengambil air.
Tak lama, wanita itu keluar dari dalam sumur sambil menenteng sepatunya yang berisi air. Setelah itu dia meminumkannya kepada anjing itu. Tidak diceritakan berapa kali dia naik turun mengambil air. Paling tidak dengan hanya sebuah sepatu, tentu tidak cukup menghilangkan haus anjing itu.
Dengan telaten dia meminumkannya kepada anjing tersebut sementara dia sendiri juga kehausan. Tak lama anjing itu pun segar kembali.
Rasulullah n mengatakan bahwa Allah l mengampuninya. Hanya karena memberi minum seekor anjing, wanita itu diampuni oleh Allah l. Padahal, pekerjaannya selama ini bukanlah pekerjaan yang mulia. Dosa besar. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, serta jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)
Tentu saja, semua ini didasari oleh keimanannya yang murni, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Anas z di atas. Kalau tidak, belum tentu semua baghiy akan memperoleh ampunan hanya karena memberi minum seekor anjing. Renungkan kembali hadits tentang tiga orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali.
Mudah-mudahan Allah l memelihara keikhlasan itu dalam hati kita sampai kita menghadap-Nya. Amin.
Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

1   HR. al-Bukhari (2/134) (1410) dan Muslim (3/85) (1014) (64).

2 HR. Muslim (1905).

3 HR. al-Bukhari (4/216 [2467]) dan Muslim (2245).

 

Abu Bakr Menunaikan Haji

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Pada tahun 9 H, Rasulullah n, mengutus Abu Bakr z haji bersama kaum muslimin. Pelaksanaan haji ini sangat kuat pengaruhnya, terutama sesudah Pembebasan Makkah. Pintu-pintu mulai terbuka menyambut kaum muslimin berhaji dan umrah, silih berganti.
Peristiwa haji ini dapat dikatakan sebagai persiapan menghadapi haji akbar, yaitu haji wada’. Pada haji Abu Bakr z ini, diumumkan batalnya semua perjanjian yang ada dengan kaum musyrikin dan dimulainya tahapan baru kehidupan di jazirah Arab. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi manusia selain menerima syariat Allah l. Setelah ultimatum ini tersebar, kabilah-kabilah Arab mulai yakin urusan ini bukan main-main. Paganisme sudah hancur. Mulailah mereka mengirim utusan menyatakan terang-terangan keislaman mereka.
Abu Bakr z bertolak dari Madinah bersama tiga ratus orang menuju Tanah Haram yang sudah dibersihkan oleh Allah l dari berhala dan tempat-tempat pemujaan. Abu Bakr z berangkat membawa lima ekor unta untuk korban, sedangkan Rasulullah n mengirim pula 25 ekor yang beliau tandai sendiri.
Termasuk karunia Allah l kepada Rasul-Nya n dan kaum muslimin adalah mengembalikan kesucian Bait-Nya sebagaimana dahulu Ibrahim q meninggikan fondasinya bersama putra tercinta, Ismail q. Lalu turunlah firman-Nya:
“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin….” (at-Taubah: 3)
Firman Allah l:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17—18)
Dan firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 28)
Tak lama, Rasulullah n mengutus ‘Ali bin Abi Thalib z menyusul Abu Bakr z.
‘Ali bin Abi Thalib pun bertemu dengan Abu Bakr z di ‘Araj. Abu Bakr bertanya, “Apakah Rasulullah n menunjukmu memimpin haji?”
“Tidak, “ kata ‘Ali, “Hanya saja saya diutus oleh beliau n untuk membacakan kepada seluruh manusia bara’ah (surah at-Taubah) dan mengembalikan semua kesepakatan kepada pemiliknya.”
Pada waktu itu, perjanjian antara Rasulullah n dan kaum musyrikin berlaku selama setahun dan khusus. Dalam satu tahun tidak boleh seorang pun dihalangi dari Baitullah dan tidak boleh seorang pun merasa takut di bulan-bulan haram. Adapun yang khusus adalah perjanjian antara Rasulullah n dan kabilah-kabilah Arab sampai pada waktu tertentu. Dan merupakan tradisi Arab jika membatalkan sebuah perjanjian, dilakukan oleh kerabat terdekat dari orang yang ingin membatalkannya. Itulah sebabnya Rasulullah n mengutus ‘Ali z.
Uraian ini sekaligus bantahan terhadap kaum Rafidhah yang mengatakan bahwa Rasulullah n mencopot kedudukan Abu Bakr z sebagai Amirul Haj dan menggantinya dengan ‘Ali bin Abi Thalib z.
Setelah itu, Abu Bakr z tetap memimpin kaum muslimin haji sementara ‘Ali z membacakan bara-ah itu (pernyataan putus hubungan) kepada manusia pada hari nahar, dekat jamrah.
Ketika orang banyak berkumpul di Mina menunaikan manasik haji, ‘Ali bin Abi Thalib z berdiri di sebelah Abu Hurairah z lalu membacakan ayat-ayat pertama surat at-Taubah.
Selesai membacakannya, ‘Ali z diam sejenak lalu melanjutkan, “Hai manusia, tidak akan masuk surga orang yang kafir. Tidak boleh berhaji sesudah tahun ini seorang musyrik pun. Tidak boleh pula seorang pun thawaf dalam keadaan telanjang. Siapa yang masih mempunyai kesepakatan dengan Rasulullah n, itu berlaku sampai waktunya….”
Kemudian semua diberi waktu selama empat bulan sejak hari itu, agar setiap orang kembali dengan aman ke negeri mereka.
Sejak saat itu, sempurnalah kesucian Baladul Amin (Makkah) dari kekotoran. Sesudah hari itu, tidak ada seorang musyrik pun yang datang haji ke Makkah. Tidak pula ada seorang kafir pun menetap di sana. Akhirnya, cahaya kebenaran dan iman menembus seluruh pelosok jazirah sampai waktu yang dikehendaki Allah l.

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab t menerangkan, “Rasulullah n menunda hajinya dan mengutus Abu Bakr z agar berhaji bersama kaum muslimin, karena beberapa alasan. Di antaranya:
Bangsa Arab sebagiannya masih dalam kebiasaan jahiliah mereka. Ada yang masih menampakkan kesyirikan terang-terangan di Tanah Suci, thawaf dalam keadaan telanjang, dan masih adanya perjanjian antara Rasulullah n dan Quraisy serta musyrikin lainnya. Itulah sebagian alasan, mengapa Rasulullah n menunda haji hingga turun surat al-Bara’ah, lalu beliau n memaklumkan bahwa Baitullah saat ini dan seterusnya dalam kekuasaan tauhid serta di bawah aturan Rasulullah n.
Wallahu a’lam.

 

Tradisi Baik yang Tinggal Kenangan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Segala puji syukur bagi Allah l semata yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan dan keutamaan kepada para hamba-Nya, baik nikmat dunia maupun agama, terutama nikmat diutusnya Rasul-Nya n yang mulia dengan membawa syariat yang sempurna. Allah l berfirman:
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (ash-Shaff: 9)
Allah l juga memberikan kesempurnaan bagi syariat yang mulia ini, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun yang diutus sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya seluruh kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari seluruh kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar c)
Beliau n juga menyampaikan dan menjelaskan syariat ini kepada umatnya dengan sempurna, sebagaimana sabdanya:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidaklah tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri ke jannah dan menjauhkan dari api neraka melainkan sungguh telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir)
Oleh karena itu, al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya, “Ini adalah nikmat Allah l yang paling agung bagi umat ini. Allah l telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lainnya (dalam beribadah kepada-Nya). Mereka juga tidak membutuhkan nabi yang lain selain Nabi n yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu, Allah l menjadikan beliau n sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau n kepada seluruh alam, baik golongan jin maupun manusia (sampai datangnya hari kiamat). Maka dari itu, tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau n halalkan. Tidak ada pula sesuatu yang haram selain yang beliau n haramkan. Tidak ada agama selain apa yang beliau n syariatkan. Berita apapun yang telah beliau n sampaikan (kepada umatnya) adalah benar dan tidak mengandung kedustaan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/14)
Allah l mengabarkan hakikat diutusnya Rasulullah n dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)
Al-Imam Ibnu Katsir t menjelaskan makna ayat ini, “Allah l mengutus beliau n sebagai rahmat bagi mereka semua. Barang siapa menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Barang siapa menolak dan menentangnya niscaya akan rugi di dunia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/179)
Beliau n diutus kepada umatnya dalam keadaan kerusakan akidah, ibadah, dan muamalah telah merata tersebar. Meskipun demikian, masih ada beberapa tradisi baik yang mereka warisi dari nenek moyangnya, seperti menghormati kedua orangtua, saudara, tetangga, dan tamu. Demikian pula kepribadian suka membantu, memberi hadiah, dan lainnya.
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْاَخْلَاقِ
“Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, Ibnu Sa’d, dan al-Hakim dari Abu Hurairah z, dihasankan oleh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 45)
Seperti itu juga keadaan bangsa Indonesia pada umumnya yang terdiri dari berbagai suku dan beragam bahasa. Mereka juga memiliki banyak tradisi, mayoritasnya berbau kesyirikan, khurafat, dan tahayul yang bertentangan dengan agama Islam yang mulia.
Di masyarakat kita, masih ada beberapa tradisi yang secara global dibenarkan oleh syariat, meskipun penerapannya harus diluruskan agar tidak melampaui batasan agama. Di antara tradisi-tradisi yang baik yang ditetapkan oleh syariat Islam secara global adalah sebagai berikut.

1. Menghormati orang tua
Menghormati orang tua mencakup kedua orang tua, yaitu bapak-ibu dan orang yang lebih tua umurnya. Diajarkan oleh orang-orang tua untuk beradab atau bersopan-santun terhadap mereka, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Sampai-sampai, dalam bahasa Jawa, ada tingkatan-tingkatan berbahasa. Bahasa yang dipakai oleh seseorang terhadap teman seumurnya berbeda dengan bahasa yang dia pakai kepada kedua orang tuanya, orang yang lebih tua umurnya, atau yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal jabatan atau keilmuan.
Demikian juga dalam hal perbuatan. Ada ketentuan-ketentuan tradisi yang cukup hanya diluruskan penerapannya, seperti jika berbicara tidak boleh sambil mengangkat tangan dan duduk di tempat yang lebih tinggi atau sama, tidak boleh makan dan minum mendahului mereka. Ini adalah beberapa sisi kebaikan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan.
Allah l berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (al-Isra: 23—24)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t menjelaskan, “Firman Allah l ﮝ ﮞ maknanya adalah berbuat baiklah kalian kepada keduanya dengan segala jenis kebaikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena dengan perantaraan keduanya Allah l mewujudkan seorang hamba. Oleh karena itu, keduanya memiliki hak kecintaan, kebaikan, dan kedekatan (dari anak tersebut), yaitu hal-hal yang menuntut untuk lebih dikuatkan akan haknya mereka dan wajibnya berbuat baik terhadap mereka.”
Adapun firman Allah l:
“Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’…”
Beliau t mengatakan, “Ini adalah hal teringan yang menyakitkan mereka (sehingga Allah l melarangnya). Dengan larangan ini, Dia l memperingatkan akan hal-hal lain yang menyakiti (hati keduanya). Dengan demikian, maknanya adalah jangan engkau menyakiti keduanya dengan sesuatu yang paling ringan sekalipun.
Adapun firman Allah l:
“Dan ucapkanlah kepada mereka berdua perkataan yang mulia…”
maknanya, kata beliau t, “Berbicaralah dengan ucapan yang dicintai oleh keduanya. Beradablah serta berlemah-lembutlah dengan ucapan yang sopan dan bagus yang menyenangkan hati keduanya. Jadikanlah jiwa keduanya tenang dengannya. Cara mewujudkannya berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan, sarana, dan waktu.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 456)
Rasulullah n juga menuntunkan satu adab yang mulia, yaitu adab terhadap orang yang lebih tua umurnya, sebagaimana dalam sabdanya:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR. at-Tirmidzi dan lainnya dari Anas bin Malik z, disahihkan oleh al-Albani dengan keseluruhan jalurnya dalam ash-Shahihah no. 2196)
Termasuk adab terhadap orang yang lebih tua adalah tidak mendahului mereka dalam berbicara. Itulah adab yang diajarkan oleh Rasulullah n. Dari Abu Sa’id Samurah bin Jundub z, ia berkata:
قَدْ كُنْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ n غُلَامًا فَكُنْتُ أَحْفَظُ عَنْهُ فَمَا يَمْنَعُنِي مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا أَنَّ هَا هُنَا رِجَالًا هُمْ أَسَنُّ مِنِّي
“Sungguh di masa Rasulullah n aku adalah anak kecil. Aku menghafal dari beliau. Tidak ada yang menghalangi aku untuk berbicara selain bahwa masih ada orang-orang yang lebih tua umurnya daripada diriku.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam pemberian hadiah pun orang yang lebih tua umurnya didahulukan, sebagaimana sabda Rasulullah n:
أَرَانِي فِي الْمَنَامِ أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ فَجَذَبَنِي رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الْآخَرِ فَنَاوَلْتُ السِّوَاكَ الْأَصْغَرَ مِنْهُمَا فَقِيلَ لِي: كَبِّرْ؛ فَدَفَعْتُهُ إِلَى الْأَكْبَرِ
“Aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku sedang bersiwak. Kemudian datang kepadaku dua orang laki-laki, salah satunya lebih tua. Aku berikan siwakku kepada yang lebih muda, namun dikatakan kepadaku, ‘Dahulukan yang lebih tua.’ Akhirnya, aku memberikan siwak itu kepada yang lebih tua.” (HR. Muslim)
Tatkala makan dan minum, hendaknya orang yang lebih tua juga didahulukan, lebih-lebih jika banyak jumlahnya, kecuali jika yang tua berada di sebelah kiri orang yang memberi. Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z:
أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ: أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ الْغُلَامُ: لَا وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ، لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا. قَالَ: فَتَلَّهَ رَسُولُ اللهِ ى فِي يَدِهِ
“Diambilkan minuman untuk Rasulullah n, beliau pun meminum sebagiannya. Di sebelah kanan beliau ada anak kecil dan di sebelah kiri ada beberapa orang tua. Beliau n berkata kepada anak kecil tersebut, ‘Apakah engkau mengizinkan aku memberikan (minuman ini) kepada mereka?’ Anak tersebut menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.’ Kemudian Rasulullah n meletakkan minuman itu di tangan anak kecil tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Gotong-royong
Dalam kehidupan masyarakat kita, ketika membangun sarana dan prasarana umum seperti masjid, jalan, saluran, jembatan, dan yang lain, mereka mengerjakannya dengan cara gotong-royong (ta’awun). Bahkan, mereka memiliki slogan ‘Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.’
Hal ini termasuk tradisi yang baik yang harus dipertahankan dan ditingkatkan karena syariat Islam yang mulia dan sempurna membenarkan dan meluruskannya.
Allah l memerintah hamba-hamba-Nya;
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, serta jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)
Rasulullah n membuat permisalan ta’awun kaum muslimin dalam kebaikan dan ketakwaan sebagaimana bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain. Beliau n bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)
Bukan itu saja. Kepedulian mereka terhadap tetangga, saling menghormati di antara mereka, diwujudkan dengan saling menolong, saling memberi hadiah, saling mengunjungi, dan lainnya.
Rasulullah n bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Permisalan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling merahmati, dan saling mengasihi, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh tersebut merintih sakit, rasa sakit tersebut juga akan dirasakan oleh seluruh anggota tubuh lainnya. Ia pun tidak bisa tidur di waktu malam dan tubuhnya demam.” (Muttafaqun ‘alaih dari an-Nu’man bin Basyir c)
Dari Ibnu Umar c, dari Aisyah x, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril q senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisi.” (Muttafaqun ‘alaih)
Rasulullah n juga bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak daging, perbanyaklah kuahnya dan berikanlah (sebagiannya) kepada tetanggamu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar z)
Rasulullah n bersabda:
واللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah l senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu membantu saudaranya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Demikian juga upaya memelihara ketertiban dengan amar ma’ruf nahi mungkar dan menjaga keamanan bersama dengan melakukan ronda (siskamling). Ini adalah salah satu realisasi sabda Rasulullah n:
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Permisalan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang melakukannya seperti suatu kaum yang menaiki sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas dan sebagian berada di bawah. Ketika orang-orang yang di bawah meminta air minum kepada orang-orang yang di atas, mereka tidak menghiraukannya. Orang-orang yang di bawah lalu berkata, ‘Kalau kita membuat satu lubang saja di tempat kita ini, kita tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di atas kita.’ Apabila orang-orang yang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan, akan binasalah mereka semua. Namun, jika orang-orang yang di atas menghalanginya, mereka semua akan selamat.” (HR. al-Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir c)
Rasulullah n juga melarang seseorang menyakiti tetangganya dengan ucapan atau perbuatan. Beliau n bersabda:
وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Lalu ditanyakan kepada beliau n, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau n menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)

3. Musyawarah
Asy-Syaikh Hammad bin Ibrahim t, “Tidak ada keraguan dan kebimbangan bahwa musyawarah—yaitu berserikatnya orang-orang yang berakal dalam keilmuan dan pemahaman mereka—termasuk sebab mendapatkan pendapat yang benar dan tepat, karena sekumpulan ulama itu lebih pantas untuk benar (pendapatnya) daripada orang yang sendirian (dengan pendapatnya). Juga karena orang yang diajak bermusyawarah itu seringkali mengingatkanmu akan hal-hal yang engkau lupa.” (ash-Shawarif, hlm. 150)
Tatkala terjadi suatu kejadian atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat, para pemuka akan segera mengadakan musyawarah dengan warganya untuk mencari solusi yang terbaik dengan dasar ‘musyawarah untuk mufakat’, yaitu memusyawarahkan sesuatu untuk mencari solusi dengan kata sepakat dalam masalah tersebut.
Langkah ini dibenarkan oleh Allah l, sebagaimana Allah l sendiri memerintah Rasul-Nya n dalam firman-Nya:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159)
Allah l juga berfirman:
ﮞ ﮟ ﮠ
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (asy-Syura: 38)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t dalam tafsirnya mengatakan, “Urusan-urusan mereka yang terkait dengan agama dan dunia dimusyawarahkan di antara mereka. Bukan satu orang mengambil keputusan dengan pendapatnya dalam urusan bersama. Hal ini tidak terjadi melainkan sebagai perwujudan dari persatuan umum, persaudaraan, kasih sayang, dan kecintaan di antara mereka, serta sempurnanya pendapat-pendapat mereka.”
Al-Izz bin Abdis Salam t berkata, “Sesungguhnya Allah l tidak mengumpulkan seluruh kebenaran dan ketepatan itu pada satu orang. Oleh karena itu, disyariatkan musyawarah karena kebenaran dan ketepatan itu terkadang tampak jelas bagi satu kaum tetapi tidak diketahui oleh kaum yang lain. Sungguh al-Imam asy-Syafi’i t ditanya, ‘Di mana ilmu itu semuanya?’ Beliau t menjawab, ‘Di alam semuanya.’ Maksudnya, Allah l memisah-misahkan ilmu itu pada para hamba-Nya dan tidak mengumpulkannya pada diri satu orang saja.” (Ahkamul Jihad, hlm. 95)
Gotong-royong (ta’awun) dan musyawarah adalah wujud kepedulian, ketertiban, ketenangan, dan kecintaan dalam kehidupan masyarakat. Adapun pola kehidupan liberal dan individual akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat yang baik, sopan, dan beradab, sehingga menjadi beringas, brutal, dan anarkis. Nas’alullaha al-‘afiyah was salamah minal khudzlan (Kita memohon kepada Allah l kesehatan dan keselamatan dari kehinaan).

4. Rasa malu
Secara umum, pendidikan atau tarbiyah yang dilakukan oleh para orang tua—sebelum terjadi pergeseran dan penyimpangan—kepada anak-anaknya, laki-laki atau perempuan, khususnya anak gadis mereka, baik di Jawa maupun di luar Jawa, menanamkan rasa malu (al-haya) pada diri anak-anaknya. Rasa malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang akan menjatuhkan harkat dan martabat mereka.
Al-Imam an-Nawawi t mengatakan bahwa para ulama berkata, “Hakikat rasa malu adalah akhlak (kepribadian) yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang jelek dan menghalanginya dari perbuatan mengurangi hak setiap yang memiliki hak.”
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Imran bin Hushain z)
Dalam riwayat al-Imam Muslim yang lain:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
“Rasa malu itu baik semuanya.”
Al-Hafizh Ibnu Rajab t berkata, “Ketahuilah bahwa rasa malu (al-haya) ada dua macam.
a. Rasa malu yang menjadi tabiat asli seseorang
Rasa malu yang seperti ini adalah perangai mulia yang dilimpahkan oleh Allah l kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Nabi n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidak akan mendatangkan selain kebaikan.”
Hal ini karena rasa malu tersebut akan menghalangi seseorang melakukan hal-hal yang buruk dan hina. Selain itu, rasa malu ini juga akan mendorong pemiliknya melakukan berbagai bentuk kepribadian yang tinggi dan mulia sehingga hal ini termasuk bagian dari iman.
b. Rasa malu yang timbul karena mengenal Allah l, keagungan-Nya, dan keyakinan bahwa Allah l sangat dekat dengan para hamba-Nya.
Dia l senantiasa melihat dan mendengar (seluruh aktivitas para hamba). Ilmu-Nya meliputi perkara yang tampak dan tidak tampak. Maka dari itu, rasa malu yang tumbuh dari keyakinan yang seperti ini termasuk keimanan yang tinggi. Bahkan, termasuk derajat (agama yang paling tinggi) yaitu al-ihsan. (al-Jami’, hlm. 501)
Namun, tradisi-tradisi yang baik tersebut tinggal kenangan. Ia telah berubah menjadi kerusakan, kebobrokan, kerendahan, dan kehinaan. Anak-anak sudah tidak memiliki adab sopan-santun kepada orang tua. Orang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan tetangganya. Demikian juga, rasa malu telah hilang dari diri mereka, kecuali orang yang dirahmati oleh Allah l.
Allah l berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Jika rasa malu sudah dicabut dari hati, akan muncul berbagai perbuatan kerusakan, kerendahan, dan kehinaan. Rasulullah n bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya termasuk perkara yang masih didapati oleh manusia dari para nabi terdahulu adalah: Apabila engkau sudah tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud z)
Rusaknya tatanan kehidupan masyarakat disebabkan oleh kejahilan dan kemaksiatan serta miskinnya kepedulian para orangtua dalam mendidik anak-anaknya dengan didikan agama. Terlebih lagi, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, sangat kurang perhatiannya terhadap penanaman akidah yang benar dan akhlak yang baik.
Keadaan yang sangat memprihatinkan ini, masih ditambah oleh media massa seperti televisi, radio, internet, koran, tabloid, dan majalah yang penuh dengan acara dan hal-hal yang merusak moral kaum muslimin, karena mayoritas media tersebut mengemban misi Yahudi dan Nasrani. Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)
Wallahu a’lam.

 

Penyimpangan Akidah Disekitar Kita

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Semua muslim tentu mengetahui bahwa tujuan dirinya diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)
Ibadah kepada Allah l adalah menaati Allah l dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Itulah hakikat agama Islam. (Taisir al-’Azizil Hamid hlm. 31)
Ibadah merupakan hak Allah l atas seluruh hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Muadz bin Jabal z, Rasulullah n berkata:
حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Hak Allah l atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Definisi Ibadah
Ibnu Taimiyah t menyatakan, “Ibadah adalah satu nama yang mencakup semua urusan yang diridhai dan dicintai oleh Allah l, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.”
Beliau t juga berkata, “Ibadah adalah menaati Allah l dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan para rasul.” (Lihat Taisir ‘Azizil Hamid hlm. 30 dan Ma’arijul Qabul)
Ibadah dibangun di atas tiga hal:
1. Merendahkan diri di hadapan Allah l.
2. Mencintai Allah l.
3. Khauf, takut akan azab Allah l.
Ibnu Katsir berkata, “Ibadah adalah satu perkara yang menggabungkan tadzallul (merendahkan diri), mahabbah (cinta), dan khauf (rasa takut).” (Lihat Taisir ‘Azizil Hamid hlm. 31 dan Ma’arijul Qabul)

Ibadah hanya untuk Allah l
Ibadah apa pun yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah diikhlaskan hanya untuk Allah l. Inilah dakwah para rasul, dari Nuh q sampai Nabi Muhammad n. Allah l berfirman:
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (an-Nahl: 36)
Sebagaimana kita wajib beribadah kepada Allah l, kita pun dilarang berbuat syirik dalam melakukan ibadah. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Perintah Allah l yang paling agung adalah perintah tauhid dan larangan yang paling besar adalah syirik. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)
Beliau t juga berkata, “Barang siapa memberikan ibadahnya kepada selain Allah l, ia telah kafir karena Allah l berfirman:
“Dan barang siapa menyembah ilah (sesembahan) yang lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (al-Mu’minun: 117) (Lihat Tsalatul Ushul)

Bahaya Syirik
Banyak sekali dallil yang menerangkan bahaya perbuatan syirik. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan dia mengampuni segala dosa selain dari syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa: 48)
Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam.” Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”(al-Maidah: 72)
Dalam ayat lain, Allah l berfirman:
Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan gugurlah amal-amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65—66)
Allah l berfirman juga:
Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)
Banyak pula ayat lain yang menerangkan bahaya syirik.
Adapun dari hadits, di antaranya dari Jabir z, Rasulullah n berkata:
مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ
“Barang siapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apapun, ia akan masuk surga. Barang siapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan berbuat syirik, ia masuk neraka.” (HR Muslim)
Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Masuk nerakanya seorang musyrik berlaku secara umum, dia akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Tidak ada perbedaan antara ahlul kitab kalangan Yahudi, Nasrani, dan para penyembah patung serta seluruh orang kafir dari kalangan orang-orang murtad dan Mu’aththilah (golongan yang meniadakan nama dan sifat Allah l) …” (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid)
Apabila telah mengetahui bahaya perbuatan syirik, hendaknya kita tidak meremehkan syirik. Nabi Ibrahim q saja berdoa kepada Allah l agar dijauhkan dari syirik, sebagaimana dalam firman Allah l:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)
Jika Nabi Ibrahim q saja berdoa agar dijauhkan dari kesyirikan, siapa yang merasa aman dari perbuatan syirik?!

Kesyirikan yang Dianggap Tradisi
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, di tengah-tengah masyarakat kita masih banyak sekali praktik kesyirikan yang merusak bahkan membatalkan tauhid. Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih bahwa amalan tersebut adalah tradisi dan adat-istiadat peninggalan leluhur. Padahal perbuatan tersebut adalah bentuk kesyirikan yang membahayakan agama mereka. Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah:

1. Tathayyur
Tathayyur adalah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (al-Qaulul Mufid)
Di sebagian daerah, penduduk membangun rumah menghadap arah tertentu. Mereka juga memulai membangun dan menempatinya di hari tertentu, dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan. Ada pula yang tidak mau berdagang di hari tertentu dan melarang pernikahan di bulan tertentu. Semua ini adalah bentuk tathayyur syirik, harus dijauhi oleh seorang muslim. Rasulullah n berkata:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Abu Dawud no. 3910, lihat al-Qaulul Mufid)

2. Tamimah
Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah.
Sering kita melihat benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko, atau dipakaikan pada anak dengan niat menolak bala. Semua ini termasuk jenis tamimah yang syirik. Orang yang melakukannya terjatuh dalam kesyirikan. (Lihat al-Qaulul Mufid)

3. Tiwalah
Ia adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat suami/seorang lelaki mencintai istrinya/seorang wanita atau sebaliknya.
Adapun dublah (cincin yang dipakai oleh seseorang setelah menikah) dengan keyakinan bahwa selama cincin emas tersebut dipakai maka pernikahannya akan tetap langgeng, ini adalah keyakinan yang syirik, karena tidak ada yang bisa membolak-balikan hati manusia selain Allah l.
Memakai cincin seperti ini minimal tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, haram hukumnya. Bisa juga terjatuh ke dalam kesyirikan, jika dia berkeyakinan bahwa cincin itu bisa menjadi sebab langgengnya pernikahan. (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid)

4. Jampi-jampi/mantra
Yang dimaksud adalah ruqyah (bacaan-bacaan) yang syirik, yang mengandung permintaan bantuan kepada jin.
Rasulullah n telah melarang tiga hal di atas dalam hadits beliau:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Adapun ruqyah yang dibenarkan oleh syariat adalah yang memenuhi tiga syarat berikut.
– Bacaan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan doa-doa yang baik.
– Menggunakan bahasa Arab dan dimengerti maknanya.
– Diyakini hanya semata-mata sebagai sebab, tidak bisa berpengaruh selain dengan kehendak Allah l. (Lihat Fathul Majid)

5. Perdukunan
Ini adalah musibah yang melanda banyak kaum muslimin. Banyak orang menjadi pelanggan dukun dalam keadaan senang ataupun susah, padahal ancaman bagi dukun dan yang mendatanginya sangat besar. Rasulullah n berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, beliau n berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu kemudian membenarkannya, dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t menegaskan bahwa mendatangi dukun ada beberapa rincian hukum.
1. Datang dan bertanya kepadanya, maka tidak diterima shalatnya empat puluh hari.
2. Datang, bertanya kepadanya, dan membenarkan ucapannya, maka ia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah n.
3. Datang untuk membongkar kesesatannya, diperbolehkan. (Lihat al-Qaulul Mufid)
Adapun tentang kafirnya dukun, asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami menyebutkan sembilan alasan kafirnya dukun. Di antara yang beliau sebutkan adalah bahwa seorang dukun telah menjadi wali setan. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya….” (al-An’am: 121)
Padahal setan tidak akan menjadikan seorang menjadi wali selain seorang yang kafir. (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 423—424)

6. Sembelihan untuk selain Allah l
Rasulullah n telah memberitakan bahwa termasuk orang yang dilaknat adalah seorang yang melakukan sembelihan untuk selain Allah l.
Dari Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah n berkata:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat (mencerca) dua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku pelanggaran syar’i. Dan Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas tanah.” (HR. Muslim)
Di antara sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah l adalah berbagai bentuk sembelihan untuk jin.

a. Larung (sedekah laut)
Di antara sembelihan syirik adalah sembelihan tahunan yang dipersembahkan untuk selain Allah l, baik untuk laut (sedekah laut), sungai, gunung, maupun yang lainnya.

b. Sembelihan untuk pengantin
Di sebagian tempat ada sebuah tradisi penyembelihan ketika ada pernikahan. Kedua mempelai diperintahkan untuk menginjakkan kedua kaki mereka di darah sembelihan tersebut sebelum memasuki rumahnya.

c. Sembelihan untuk rumah baru
Di sebagian daerah, ketika telah selesai membangun rumah, mereka menyembelih seekor hewan. Sebagian mereka bahkan menanam kepala hewan tersebut di rumah barunya. Ini juga termasuk sembelihan yang syirik.

d. Memenuhi keinginan jin yang masuk pada tubuh seseorang
Ketika ada orang kerasukan jin kemudian diruqyah, jin terkadang minta disembelihkan hewan untuk dirinya. Jika terjadi hal demikian, permintaan jin itu tidak boleh ditunaikan, karena hal tersebut adalah sembelihan untuk jin. (Lihat al-Qaulul Mufid, asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi)

7. Kesyirikan di kuburan
Di antara perbuatan syirik yang dianggap biasa adalah perbuatan-perbuatan di pekuburan sebagai berikut.
a. Berdoa kepada penghuni kubur
b. Nadzar untuk penghuni kubur
c. Isti’anah, meminta tolong kepada penghuni kubur
d. Isti’adzah, meminta perlindungan kepada penghuni kubur
e. Istighatsah, meminta dihilangkan bencana kepada penghuni kubur
Ketahuilah, semua hal di atas adalah kemungkaran yang harus diingkari. Rasulullah n berkata:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa melihat kemungkaran hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) (Lihat Ma’arijul Qabul, Ighatsatul Lahafan, Tahdzirul Muslimin)

8. Mencari berkah dari benda-benda tertentu
Sebagian orang mencari berkah kepada pohon, kuburan, atau benda-benda yang mereka miliki, seperti keris dan cincin.

Faedah
Tidak boleh bertabarruk (mencari berkah) dari diri seseorang, dengan tubuh atau bagian tubuh seseorang tertentu, selain Rasulullah n.
Seorang muslim tidak boleh mencari berkah dengan diri seseorang yang dianggap saleh, baik ludah, rambut maupun bagian tubuh lainnya. Hal ini berdasarkan beberapa alasan.
a. Hal tersebut kekhususan bagi Rasulullah n.
b. Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah n wafat yang meminta berkah dengan bagian tubuh Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Seandainya hal tersebut dibolehkan, niscaya akan dilakukan oleh orang-orang di zaman mereka.
c. Akan menyebabkan fitnah dan ujub (bangga diri) dari orang yang dimintai berkah. (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 144—145)

9. Sihir
Sihir adalah satu amalan kufur yang harus dijauhi oleh seorang muslim. Seseorang yang belajar dan mengajarkan sihir telah terjatuh dalam kekufuran.
Allah l berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102) (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 407—411)

10. Sedekah bumi
Sedekah bumi yaitu memberikan sesuguh/sesaji ketika hendak panen padi dan lainnya. Menurut mereka, sesaji itu dipersembahkan untuk Dewi Sri. Ini pun termasuk bentuk kesyirikan.

11. Sesajen
Yakni memberikan sesuguh untuk karuhun ketika hendak melaksanakan acara tertentu.

12. Memberikan penghormatan dengan membungkuk
Ibnu Taimiyah t berkata, “Membungkuk ketika memberikan penghormatan adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dari Nabi n, bahwa mereka bertanya tentang seseorang yang berjumpa dengan temannya lalu membungkuk kepadanya. Beliau n berkata, “Tidak boleh.”
Juga karena ruku dan sujud tidak boleh dilakukan selain untuk Allah l, walaupun hal ini menjadi bentuk penghormatan pada syariat sebelum kita, sebagaimana dalam kisah Yusuf q:
ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ
Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Yusuf pun berkata, “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf: 100)
Adapun dalam syariat kita, bersujud tidak diperbolehkan selain untuk Allah l. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/259)
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, apa yang kami sampaikan hanyalah sebagian amalan syirik yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Semuanya harus kita jauhi. Kita juga harus memperingatkan umat Islam untuk menjauhi amalan-amalan syirik.
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, segala adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat harus tunduk kepada syariat Allah l.
Allah l berfirman:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)
Janganlah kita seperti orang-orang jahiliah yang tidak mau beriman kepada Rasul n dengan alasan mengikuti amalan nenek moyang. Allah l berfirman tentang keadaan kaum musyrikin:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah: 170)
Seorang muslim harus mendahulukan syariat Allah l di atas segala hal. Dia harus mengutamakan syariat daripada hawa nafsu, adat-istiadat, dan pendapat akalnya. Allah l telah mencela orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya.Allah l berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23)
Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa menjadi nasihat dan menjadi salah satu sebab musnahnya praktik-praktik kesyirikan yang telah menyebar di negeri kita ini.

Taklid, Budaya Jahiliyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (al-Baqarah: 170)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Jika dikatakan kepada mereka.”
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan kata “mereka” dalam ayat ini.
Sebagian mengatakan, “Yang dimaksud adalah bangsa Arab yang kafir.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, “(Ayat ini) diturunkan tentang kaum Yahudi.”
Ath-Thabari t berkata, “Yang dimaksud adalah manusia secara umum yang terdapat dalam ayat sebelumnya (al-Baqarah: 168).” (Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi)

“Mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah,” dengan ucapan dan perbuatan.

“Kami mendapati,” maknanya sama dengan kalimat وَجَدْنَا.

Penjelasan Ayat
Al-Allamah as-Sa’di t mengatakan, “Allah l mengabarkan tentang keadaan kaum musyrikin tatkala mereka diperintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya. Mereka pun membenci hal itu dan berkata, ‘Justru kami mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek moyang kami.’ Mereka merasa cukup dengan mengikuti nenek moyang mereka dan berpaling dari beriman kepada para nabi-Nya, padahal nenek moyang mereka adalah manusia yang paling bodoh dan yang paling keras kesesatannya. Ini adalah syubhat yang sangat lemah untuk menolak kebenaran. Ini juga merupakan dalil bahwa mereka telah berpaling dari kebenaran dan membencinya, serta sikap ketidakadilan mereka. Seandainya mereka diberi petunjuk dan memiliki niat yang baik, tentu kebenaranlah yang menjadi tujuannya. Barang siapa menjadikan kebenaran sebagai tujuannya dan membandingkan antara kebenaran dengan yang lainnya, pasti kebenaran itu akan menjadi jelas baginya. Dia pun akan mengikutinya jika bersikap adil.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Ath-Thabari t tatkala menjelaskan makna ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ mengatakan, “Beramallah dengan apa yang diturunkan oleh Allah l dalam kitab-Nya kepada Rasul-Nya. Halalkanlah apa yang Dia halalkan, haramkanlah apa yang Dia haramkan. Jadikanlah beliau n sebagai imam yang kalian ikuti dan penuntun yang kalian ikuti hukum-hukumnya.” (Tafsir ath-Thabari, 3/43)
Beliau t lalu berkata, “Wahai sekalian manusia, mengapa kalian mengikuti apa yang kalian dapati dari nenek moyang kalian dan meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Rabb kalian? Padahal nenek moyang kalian itu tidak memahami perintah Allah l sedikit pun. Mereka juga tidak berada di jalan yang benar. Tidak pula mereka mendapat bimbingan petunjuk. Hal ini karena seseorang yang diikuti adalah orang yang memiliki pengetahuan terhadap sesuatu yang akan dimanfaatkan untuk dirinya. Orang yang jahil (bodoh, tidak mengetahui) tidak diikuti (dalam hal-hal yang tidak diketahuinya) melainkan oleh orang yang tidak memiliki akal dan pembeda.” (Tafsir ath-Thabari, 3/44)
Larangan Taklid
Al-Qurthubi t menjelaskan bahwa kekuatan lafadz yang terdapat pada ayat ini menjelaskan batilnya taklid, seperti halnya firman Allah l:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Apakah mereka tetap akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (al-Maidah: 104)
Ayat ini sangat berhubungan dengan ayat sebelumnya. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah k mengabarkan tentang kejahilan bangsa Arab terhadap apa yang mereka tetapkan dengan cara pandang mereka yang bodoh, yaitu al-bahirah, as-saibah, dan al-washilah1. Lalu mereka berhujjah bahwa itu adalah urusan yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Mereka pun mengikutinya sekaligus meninggalkan apa yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya dan yang diperintahkan oleh agamanya. (Tafsir al-Qurthubi, 3/15—16)
Yang dimaksud dengan taklid adalah mengikuti ucapan seseorang tanpa mengetahui dalilnya. (Majmu’ al-Fatawa, 35/233, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah hlm. 621)

Jenis Taklid yang Tercela
Para ulama menyebutkan jenis-jenis taklid yang tercela sebagai berikut.
1. Berpaling dari apa yang diturunkan oleh Allah k dan memilih mengikuti nenek moyang.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Allah l mencela orang yang berpaling dari apa yang diturunkan-Nya lalu bertaklid kepada nenek moyang. Para ulama salaf dan imam yang empat akan bersepakat bahwa taklid semacam ini tercela dan haram.”
2. Taklid kepada orang yang bukan ahlinya dengan mengambil ucapannya.
Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)
3. Taklid kepada ucapan yang menyelisihi firman Allah l dan Rasul-Nya, siapa pun dia.
Allah l berfirman:
ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” (al-A’raf: 3)
4. Taklid kepada seseorang setelah jelas kebenaran dan dalilnya.
5. Taklid seorang mujtahid yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dan memiliki keluangan waktu untuk membahasnya.
6. Taklid kepada seorang mujtahid dalam seluruh pendapat dan ijtihadnya. (Ma’alim fi Ushulil Fiqhi, hlm. 498)

Perbedaan antara Taklid dan Ittiba’
Para ulama membedakan istilah taklid dengan ittiba’. Ittiba’ adalah beramal dengan dalil, sedangkan taklid adalah mengikuti perkataan seseorang tanpa hujjah.
Telah dinukil dari Abu Abdillah bin Khuwaiz Mandad al-Bashri al-Maliki bahwa beliau berkata, “Makna taklid dalam syariat adalah mengambil sebuah pendapat di mana orang yang berpendapat dengannya tidak membawa hujjah. Hal ini terlarang dalam syariat. Adapun ittiba’ adalah yang ditetapkan dengan hujjah.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Bar, 2/173, Ikhtiyarat Ibnil Qayyim al-Ushuliyah, Muhammad Ali Firqaus, 2/744—745)
Dia juga berkata pada bagian akhir kitabnya, “Setiap orang yang engkau ikuti ucapannya tanpa ada dalil yang mengharuskanmu untuk menerimanya, berarti engkau telah taklid kepadanya. Dan taklid di dalam agama Allah k tidak dibenarkan. Setiap orang yang mengharuskanmu untuk mengikuti ucapannya berdasarkan dalil, berarti engkau ber-ittiba’ kepadanya. Ittiba’ di dalam agama diperbolehkan, sedangkan taklid terlarang.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 2/173)
Al-Imam Abu Dawud t juga menukilkan ucapan al-Imam Ahmad t yang didengarnya dari beliau t, “Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi n dan dari para sahabatnya. Adapun yang datang dari kalangan tabi’in setelah mereka, dia diberi pilihan.” (Ikhtiyarat Ibnil Qayyim al-Ushuliyah, 2/745)
Ibnul Qayyim t berkata tatkala menjelaskan kewajiban ber-ittiba’, “Sikap ittiba’ yang tulus kepada yang ma’shum (Rasulullah) n berbeda dengan sikap membuang dan meninggalkan perkataan para ulama. Ittiba’ yang tulus adalah engkau tidak mendahulukan ucapan seseorang dan pendapatnya di atas apa yang datang dari beliau n, dalam keadaan apapun. Namun, hendaknya yang pertama kali engkau lihat adalah kesahihan sebuah hadits. Jika sahih, hal yang kedua adalah engkau perhatikan maknanya. Jika telah jelas bagimu, janganlah engkau berpaling darinya meskipun yang menyelisihimu adalah semua orang dari timur ke barat. Tidak mungkin umat bersepakat dalam menyelisihi apa yang dibawa oleh Nabi n. Pasti ada di kalangan umat ini yang sejalan dengan riwayat tersebut meskipun engkau tidak mengetahuinya. Maka dari itu, janganlah engkau menjadikan ketidaktahuanmu tentang orang yang sejalan dengannya sebagai hujjah untuk menolak apa yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya n. Hendaknya engkau tetap berpegang kepada nash. Janganlah engkau merasa lemah.” (Ikhtiyarat Ibnil Qayyim al-Ushuliyah, 2/743)

Adakah Taklid yang Diperbolehkan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Yang menjadi sikap jumhur (mayoritas) umat ini bahwa ijtihad diperbolehkan secara global dan taklid diperbolehkan secara global. Mereka tidak mengharuskan setiap orang untuk berijtihad dan mengharamkan taklid. Mereka juga tidak mengharuskan setiap orang untuk bertaklid dan mengharamkan ijtihad. Ijtihad diperbolehkan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dan taklid diperbolehkan bagi orang yang lemah/ tidak mampu berijtihad.” (Majmu’ al-Fatawa, 20/204)
Oleh karena itu, taklid diperbolehkan jika terpenuhi syarat-syarat berikut:
1. Ia jahil, tidak memiliki kemampuan untuk mengenal hukum Allah l dan Rasul-Nya n.
2. Ia bertaklid kepada orang yang dikenal berilmu dan berijtihad, dari kalangan orang yang memiliki agama dan kesalehan.
3. Kebenaran belum tampak bagi orang yang taklid ini. Ia tidak mengetahui mana yang lebih kuat dari silang pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Adapun jika telah tampak baginya kebenaran, tidak diperbolehkan lagi taklid baginya.
4. Dalam bertaklid ia tidak diperbolehkan menyelisihi nash/dalil syariat yang jelas atau ijma’ para ulama.
5. Tidak diperbolehkan bagi orang yang taklid untuk berpegang kepada pendapat satu imam dalam seluruh permasalahan. Hendaknya dia berusaha untuk mencari yang lebih mendekati kebenaran dan lebih mendekatkan dirinya kepada ketakwaan kepada Allah l.
6. Tidak diperbolehkan bagi seorang muqallid (yang bertaklid) untuk berpindah dari satu pendapat ke pendapat lainnya dengan tujuan mencari pendapat yang lebih ringan dan lebih sejalan dengan hawa nafsunya. (Lihat Ma’alim fi Ushul al-Fiqh, hlm. 497—498)
Syaikhul Islam t berkata, “Adapun kewajiban untuk mengikuti seluruh ucapan seseorang tanpa menyebutkan dalil tentang kebenarannya, ini tidaklah benar. Bahkan, ini adalah kedudukan Rasul n yang tidak diperbolehkan selain hanya untuk beliau n.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/121)
Wallahul muwaffiq.

Catatan Kaki:

1 Al-bahirah adalah unta betina yang telah beranak lalu dibelah telinganya, kemudian dilepaskan. Ia tidak boleh ditunggangi dan tidak boleh diambil air susunya karena air susunya dipersembahkan untuk berhala-berhala mereka. As-saibah adalah unta betina yang dilepaskan kemana pun maunya karena nadzar seseorang. Al-washilah adalah hewan yang melahirkan anak betina secara berturut-turut kemudian menjadi milik mereka. Namun, jika melahirkan jantan, menjadi milik sesembahan mereka.

Kesempurnaan Islam Sebagai Prinsip Hidup, Dasar untuk Meninggalkan Tradisi dan Adat-Istiadat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Pendahuluan
Ada pelajaran penuh hikmah dalam peristiwa hijrah ke Habasyah yang menjadi ibrah berharga. Untaian kisah yang dibawakan melalui rantaian perawi dari mereka yang mengalami peristiwa tersebut hingga masa ini. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t mengeluarkannya dalam al-Musnad, karya besar beliau, dengan sanad yang sahih.
Kala itu para sahabat meninggalkan Makkah, tempat kelahiran dan tanah kampung halaman, demi melaksanakan seruan Allah l dan Rasul-Nya n. Secara diam-diam mereka akhirnya tiba di negeri Habasyah dengan penuh harap dapat menegakkan ajaran Islam. Ajaran yang dibawa oleh penutup para nabi dan rasul, Muhammad n. Namun, pernahkah Iblis mendiamkan kebaikan dan tidak mengganggunya? Adakah hamba yang hendak mencerminkan ketaatan dalam hidupnya lalu tidak diusik oleh bala tentaranya?
Utusan Quraisy datang menyusul ke Habasyah dan menghadap raja Najasyi. Setelah menyuap para pendeta, mereka melontarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap kaum muslimin. Mereka memalsukan dan mengarang kedustaan di atas kedustaan agar Raja Najasyi berkenan mengembalikan kaum muslimin ke Makkah.
Dengan penuh keadilan dan penghormatan kepada tamu, Raja Najasyi memerintahkan agar kaum muslimin menghadap. Beliau ingin mendengar langsung jawaban kaum muslimin.
Setelah tiba, Raja Najasyi bertanya, “Ajaran apakah ini yang membuat kalian meninggalkan kaum kalian namun kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku ataupun agama lain?”
Juru runding kaum muslimin, Ja’far bin Abi Thalib z, menjawab dengan penuh hikmah berdasarkan ilmu.
“Wahai Baginda Raja, kami dahulu adalah sebuah bangsa dalam kejahiliahan. Kami beribadah kepada berhala. Kami memakan bangkai, melakukan perbuatan-perbuatan keji, memutus tali silaturahim, menyakiti tetangga, dan orang kuat di antara kami memangsa yang lemah. Kami dalam keadaan demikian sampai Allah l mengutus kepada kami seorang rasul yang berasal dari kalangan kami sendiri. Kami telah mengenal nasab, kejujuran, amanah, dan kehormatannya. Rasul itu mengajak kami kepada Allah l, mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan yang kami dan nenek moyang kami lakukan, seperti peribadatan kepada pepohonan dan patung berhala. Rasul itu mengajak kami untuk jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, tidak melakukan hal-hal terlarang, dan menumpahkan darah. Rasul tersebut melarang kami melakukan perbuatan-perbuatan keji, berbicara dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita yang baik. Rasul itu juga memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah l dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Beliau memerintahkan kami untuk shalat, zakat, puasa, dan hal-hal lain.
Kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti ajarannya. Kami beribadah hanya kepada Allah l saja, tidak mempersekutukan-Nya sedikit pun dengan apa pun. Kami mengharamkan hal-hal yang diharamkan olehnya, menghalalkan apa-apa yang dihalalkan olehnya. Setelah itu, kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa dan mengganggu kami agar kami kembali kepada peribadatan patung berhala serta menghalalkan hal-hal buruk yang dulu pernah kami halalkan. Ketika mereka menekan, menzalimi, menyakiti kami, dan berusaha menghalangi dari keyakinan kami, kami pun keluar menuju negeri Anda. Kami memilih Anda daripada yang lain. Kami senang berada di samping Anda. Kami pun berharap tidak terzalimi di sisi Anda, wahai Baginda Raja.”
Raja lalu Najasyi bertanya, “Adakah sesuatu yang bisa engkau tunjukkan tentang ajaran rasul tersebut dari Allah?”
Ja’far z menjawab, “Ada.”
Berkatalah Najasyi, “Bacakanlah untukku!”
Ja’far z lalu membacakan awal surat Maryam. Raja Najasyi pun menangis hingga basah janggutnya. Menangis pula para pendeta di sampingnya sampai membasahi kitab-kitab mereka saat mendengar ayat-ayat yang dibacakan.”
Kisah ini dibawakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sirah an-Nabawiyah.

Islam adalah Syariat Terbaik
Najasyi adalah seorang raja yang dianugerahi kearifan dan keadilan. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah di kalangan penganut agama Nasrani. Beliau mengerti dan menguasai ayat-ayat yang disebutkan di dalam Injil dan Taurat. Dengan demikian, ketika beliau mendengar firman Allah l dalam Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ja’far bin Abi Thalib z, beliau berkata, “Sungguh, demi Allah, apa yang engkau bacakan benar-benar berasal dari cahaya yang sama dengan yang dibawa oleh Musa.”
Untuk beliau pula diturunkan ayat ke-83 dari surah al-Maidah.
Al-Imam Ibnu Abi Hatim t meriwayatkan sebuah hadits dari Hisyam bin Urwah bahwa ayahnya, Abdullah bin az-Zubair c berkata, “Ayat ini diturunkan untuk Najasyi dan para pengikutnya:
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad n).” (al-Maidah: 83)
Tahun kesembilan hijriah pada saat Najasyi meninggalkan dunia fana, Rasulullah n mengajak segenap sahabat untuk keluar menuju lapangan di kota Madinah, guna melaksanakan shalat jenazah Najasyi secara gaib. Rasulullah n bersabda hari itu, “Hari ini telah meninggal dunia seorang laki-laki yang saleh. Bangkitlah dan dirikanlah shalat untuk saudara kalian, Ashamah.”
Demikianlah sikap seorang insan yang menghambakan dirinya kepada Dzat Pencipta. Ia tunduk mutlak kepada aturan-aturan Ilahi. Ketaatan dan kepatuhan yang utuh dalam melaksanakan setiap ketetapan syariat. Perintah-perintah dikerjakan, seluruh larangan ditinggalkan, dengan penuh keyakinan bahwa syariat Islam adalah syariat terbaik yang menutup sekaligus menghapuskan syariat-syariat sebelumnya. Tidak ada kebaikan melainkan Islam telah mengajarkannya dan setiap keburukan telah tuntas Islam memperingatkannya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir t ketika menjelaskan firman Allah l dalam surat al-Maidah ayat ke-3 berkata, “Hal tersebut adalah nikmat Allah l yang terbesar bagi umat ini, karena Allah l telah menyempurnakan agama (Islam) untuk mereka. Mereka tidak lagi memerlukan agama selain Islam, tidak pula membutuhkan seorang nabi selain Nabi mereka (Muhammad n).
Oleh karena itulah, Allah l menjadikan Nabi Muhammad n sebagai penutup para nabi. Allah l mengutus beliau n kepada manusia dan jin. Tidak ada yang halal selain apa yang telah beliau halalkan. Tiada pula sesuatu yang haram melainkan apa yang telah beliau n haramkan. Tidak ada agama selain yang beliau n syariatkan. Segala yang beliau beritakan pastilah haq dan benar, tidak mengandung sedikit pun unsur kedustaan atau penyimpangan. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an); kebenaran dan keadilannya.” (al-An’am: 115)
Maksud “telah sempurna kebenarannya” ialah kebenaran berita-beritanya. Adapun “sempurna keadilannya” adalah keadilan perintah dan larangannya. Saat agama ini telah sempurna bagi mereka, menjadi sempurnalah nikmat untuk mereka.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terkait dengan ayat ini)

Pelajaran Berharga
Secara garis besar, ada beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah di atas. Di antaranya adalah:
1. Dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid.
Tujuan utamanya adalah mengajak dan menyeru umat manusia untuk menyerahkan ibadah dengan segala bentuknya hanya kepada Allah l. Konsekuensinya adalah meninggalkan seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah l serta berlepas diri dari orang-orang yang mempersekutukan Allah l dengan selain-Nya, dengan apa pun.
Ini terambil dari pernyataan Ja’far bin Abi Thalib z yang berulang kali menyebutkan ajaran tauhid sebagai misi utama Rasulullah n. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah n benar-benar menekankan tauhid dalam dakwahnya.

2. Sebagai bentuk kesempurnaan tauhid, setiap hamba diharuskan meninggalkan seluruh bentuk tradisi, adat-istiadat, dan ajaran yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyangnya, yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ini terambil dari pernyataan Ja’far bin Abi Thalib z kepada Najasyi, “Rasul itu mengajak kami kepada Allah l, mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan yang kami dan nenek moyang kami lakukan, seperti peribadatan kepada pepohonan dan patung berhala.”

3. Ketundukan yang utuh dari seorang hamba dalam menerima kebenaran syariat Islam dan ketaatan penuh untuk meninggalkan keyakinan sebelumnya adalah amal besar.
Hanya orang-orang terpilih yang mampu melaksanakannya. Meskipun ia tergolong sebagai tokoh ataupun pembesar kaumnya, penerimaannya terhadap syariat Islam akan membuatnya semakin mulia di sisi Allah l.
Ini terambil dari keadaan pribadi Najasyi. Beliau adalah seorang raja yang beragama Nasrani. Ia terpandang sebagai orang pandai dan berilmu. Harta dan takhta beliau miliki. Namun, semua itu tidak menyebabkan beliau menolak kebenaran Islam. Akhirnya, kebaikan yang sempurnalah untuk Najasyi. Ia beriman dan tunduk kemudian meninggalkan dunia membawa iman. Semoga Allah l meridhainya.

4. Lemah lembut dan bersikap hikmah dalam upaya mengubah tradisi masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam.
Dalam mengubah tradisi dan adat masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam, seseorang dituntut untuk selalu mengedepankan rahmat dan hikmah. Tentunya, untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang telah mendarah daging dan diwariskan secara turun-temurun oleh tiap generasi membutuhkan sebuah proses. Di dalam setiap proses itulah dibutuhkan hikmah: meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
“Sungguh, tidaklah sikap rifq (lemah lembut dan hikmah) terdapat pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya.” (HR. Muslim dari Aisyah x)
Pelajaran ini terambil dari perintah Rasulullah n untuk berhijrah ke Habasyah. Pada saat itu, Rasulullah n memilih untuk menghindari front terbuka dengan kaum musyrikin. Beliau n tidak berkenan melakukan perlawanan langsung secara fisik. Beliau n membimbing para sahabat untuk bersikap sabar dan rela meninggalkan kampung halaman beserta masyarakatnya. Semua keputusan beliau n selalu didasari oleh hikmah dan rahmat.

5. Kesiapan dan ketaatan hamba dalam menerima syariat Islam secara utuh dengan meninggalkan tradisi dan adat-istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, pasti mendatangkan berkah.
Pelajaran ini terambil dari sikap para sahabat. Dengan penuh keyakinan, mereka meninggalkan ajaran dan tradisi nenek moyang yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Allah l pun mengaruniakan kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka. Allah l juga memberikan kekayaan, kemuliaan, kekuasaan, dan ketenangan untuk mereka.
Semoga Allah l memberikan jalan-jalan kemudahan dalam melaksanakan syariat-Nya.
Amin ya Arhamar Rahimin.

 

Tradisi Menyembelih di Masyarakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Ribuan nelayan dan masyarakat lainnya di pesisir timur Lampung begitu antusias mengikuti Nadran atau Pesta Laut 2010 yang puncaknya diadakan Rabu (28/4/2010) di Labuhan Maringgai, Lampung Timur.
Ritual ini diisi dengan penaburan sesaji ke tengah laut. Sesaji ini berupa kepala kerbau, makanan, dan alat-alat rumah tangga. Perahu pembawa sesaji dan kapal-kapal pengiring didesain meriah dengan ragam hiasan janur kuning, padi, dan umbul-umbul.
Pada acara ini, masyarakat yang hadir sempat terlihat berebutan mengambil air yang diyakini berkhasiat tinggi. Air di dalam bak besar ini telah didoakan terlebih dahulu dan dicelupi sebilah keris pusaka. Jika air ini disiramkan ke perahu, diyakini bisa mendatangkan rezeki.
Diadakannya ritual Nadran ini pun bertepatan dengan mulai masuknya musim timur. Musim ini, di kalangan nelayan, dikenal sebagai musim sulit atau paceklik. Musim yang laut dianggap tidak bersahabat dan kerap berombak tinggi ini, biasanya berlangsung hingga Desember.
Di tempat lain di Pulau Jawa, tepatnya Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta sesajian lainnya diantarkan ke laut. Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Sura). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari nahas sehingga nelayan tidak boleh melaut.
Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya bahwa menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya. Itulah pemuncak acara hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu.
Sekilas gambaran dari dua acara di atas adalah contoh tradisi sedekah laut yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, dengan perbedaan dan ragam nama serta istilah tentunya. Masing-masing mengusung alasannya. Tradisi sedekah laut ataupun sedekah bumi, atau tradisi-tradisi serupa, seringkali dilaksanakan dengan proses penyembelihan hewan tertentu. Syariat Islam menilai tradisi-tradisi semacam itu sebagai tradisi yang mesti dihilangkan. Apa sebabnya? Marilah bersama kita menyimak sedikit penjelasan di bawah ini.

Kebodohan, Sumber Petaka
Kebodohan terhadap prinsip-prinsip dasar beragama bak kabut tebal yang menyelimuti kehidupan kaum muslimin. Semakin jauh kita dari masa kenabian, semakin dalam kita terperosok dalam kubangan kejahilan. Setiap berlalu sebuah zaman, pastilah zaman berikutnya lebih buruk. Berita yang benar, tanpa kedustaan dan keraguan, menerangkan bahwa umat Islam akan mengikuti pola kehidupan kaum Yahudi dan Nasrani, sejengkal demi sejengkal, sehasta lalu sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk mengikuti berkeloknya lubang binatang tanah, pastilah akan diikuti oleh umat Islam. Sungguh sangat menyedihkan.
Pantas sekali jika seorang muslim—yang benar-benar memahami tujuan diangkatnya Muhammad n sebagai seorang nabi dan rasul—merasa sesak dada dan bersedih hati ketika menyaksikan kenyataan pahit yang menimpa umat Islam. Yang baik dianggap buruk, yang buruk diperjuangkan atas nama kebaikan. Sebagian umat tidak mampu lagi mengenal hal ma’ruf sebagai sesuatu yang ma’ruf, tidak pula mengingkari sesuatu yang mungkar. Orang jujur seringkali didustakan, sementara orang berdusta dianggap jujur. Sikap khianat pada seseorang malah terhitung amanah, sementara banyak orang yang mempertahankan amanah justru dituduh berkhianat. Sungguh benar sabda Rasulullah n.
Dari sekian macam bentuk kebodohan sekaligus upaya pembodohan umat adalah masih dipertahankannya upacara-upacara, ritual, dan perayaan dalam bentuk menyembelih hewan atau binatang untuk selain Allah l. Sesaji-sesaji yang kental dengan warna kepercayaan animisme, persembahan-persembahan yang nyata menjadi warisan dari agama Hindu dan Budha, dan tuntutan dari dukun dan paranormal untuk menyembelih jenis hewan tertentu adalah sesuatu yang akrab di telinga. Kewajiban kita adalah memerangi bentuk-bentuk kesyirikan semacam ini, yaitu penghambaan kepada makhluk yang lemah dengan mengalirkan darah hewan sembelihan.

Haramnya Menyembelih Hewan untuk selain Allah l
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushabi membuat bab dengan judul “Diharamkannya menyembelih untuk selain Allah.” Kemudian beliau membawakan firman Allah l:
ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162—163)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Wa nusuki maknanya adalah sembelihanku….” (Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 282)
Juga firman Allah l:
ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah.” (al-Kautsar: 2)
Dari Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah n bersabda:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim no. 1978)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushabi berkata, “Dari dalil-dalil di atas dapat diambil pemahaman bahwa menyembelih adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh dilakukan selain untuk Allah l. Barang siapa memalingkannya untuk selain Allah l, dia telah melakukan syirik akbar. Barang siapa menyembelih untuk selain Allah l, seperti untuk jin, kuburan, atau yang lain, dia pantas mendapatkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah l, melainkan jika dia bertaubat karena siapa yang bertaubat, Allah l akan menerima taubatnya.” (al-Qaulul Mufid hlm. 126)

Masuk Neraka karena Seekor Lalat
Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah n pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat. Ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”
Beliau n menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah k. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk sesembahan tersebut. Mereka mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.’ Mereka pun mengatakan, ‘Berkorbanlah walaupun dengan seekor lalat.’ Dia pun berkorban dengan seekor lalat sehingga mereka pun memperbolehkannya lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah, dia masuk neraka. Mereka juga mengatakan kepada lelaki yang kedua, ‘Berkorbanlah.’ Dia menjawab, ‘Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah k.’ Mereka pun memenggal lehernya dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad dalam az-Zuhd [no. 15 & 16], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [1/203], dari Thariq bin Syihab, dari Salman al-Farisi z secara mauquf dengan sanad yang sahih)
Perhatikanlah hadits di atas dengan baik!
Tradisi atau ritual penyembelihan binatang adalah ibadah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan Allah l, baik dalam hal tujuan, waktu, tempat, maupun niatnya. Adalah sebuah dosa besar, bahkan dosa terbesar, saat seorang hamba menyembelih hewan untuk selain Allah l. Entah untuk memohon bantuan makhluk gaib, harmonisasi manusia dengan alam, meredakan amarah makhluk halus, atau sebab-sebab kesyirikan lainnya.
Menyembelih hewan dalam rangka ritual adalah perbuatan yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah l. Barang siapa melakukannya, Allah l akan melaknatnya. Pelakunya telah melakukan kemusyrikan. Apabila ia mati dalam keadaan tidak bertaubat, ia akan dihukum kekal di dalam neraka. Surga haram baginya. Seluruh amalnya akan musnah bagaikan debu yang beterbangan. Penyesalan dan kesedihan, itulah kesudahan yang akan dia rasakan pada hari kemudian.
Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa tradisi atau ritual semacam ini adalah tindakan yang sangat membahayakan. Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, tetapi justru mengundang murka Allah l.
Contoh terbaru adalah ritual penyembelihan korban terkait dengan bencana meletusnya gunung Merapi. Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta menggelar ritual tolak bala pada Senin (8/11/2010) malam. Ritual yang bernama asli Kuat Maheso Luwung Saji Rojosunya tersebut dimaksudkan agar warga Yogyakarta dan sekitarnya terhindar dari marabahaya akibat letusan Merapi. Ritual yang dipusatkan di sekitar kawasan Tugu ini diawali dengan mengarak kerbau bule. Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor kerbau bule dan sembilan ayam jago jurik kuning sebagai sesaji untuk makhluk-makhluk halus. Kepala kerbau dan sembilan jago jurik kuning itu rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana.

Apakah Alasan Mereka?
Sebagian pelaku kesyirikan dalam bentuk menyembelih untuk selain Allah l terkadang mengemukakan beberapa alasan untuk membenarkan perbuatan mereka. Di antaranya adalah pernyataan, “Bagaimana mungkin perbuatan ini dikatakan syirik, padahal ketika menyembelih saya mengucapkan ‘Bismillah’?”
Yang pasti, orang semacam ini tidak mengerti hakikat syirik, sebagaimana halnya ia tidak mengerti tentang tauhid. Dalam hal ini, hukum tidak hanya ditetapkan berdasarkan mengucapkan basmalah atau tidak. Namun, niat dan tujuan pun mengambil peran besar. Apalah arti kalimat basmalah yang diucapkan, apabila di dalam hati, seseorang yang menyembelih berniat dan bertujuan untuk mendekatkan diri, mengagungkan, menghormati, dan memohon pertolongan kepada makhluk. Ia berharap keinginannya terkabul, dan takut jika hal yang diinginkan tidak terwujud. Hatinya berpaling kepada selain Allah l.
Syaikhul Islam t berkata, ”Telah diketahui bahwa sesuatu (hewan yang disembelih) yang diperuntukkan bagi selain Allah l yang disebutkan secara jelas adalah diharamkan. Demikian pula jika hanya diniatkan karena hal ini sama dengan niat-niat lain dalam ibadah. Meskipun dengan melafadzkan lebih kuat, namun yang menjadi hukum asal adalah tujuan.” (al-Iqtidha, hlm. 286)
Syaikhul Islam t berkata, ”Dengan demikian, jika dia menyembelih hewan untuk selain Allah l dalam rangka mendekatkan diri, hal tersebut diharamkan meskipun dia mengucapkan ‘bismillah’, sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok kaum munafik umat ini. Mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada para wali dan bintang-bintang dengan cara menyembelih serta membakar dupa, atau yang semisalnya.” (al-Iqtidha hlm. 291)
Ash-Shan’ani t berkata, ”Apabila orang tersebut beralasan bahwa ia menyembelih dan menyebut nama Allah atasnya, jawablah, ‘Jika memang sembelihan tersebut untuk Allah l, apa alasannya engkau mendekatkan hewan sembelihanmu di pintu kubur orang yang engkau pilih dan engkau yakini? Apakah engkau ingin mengagungkannya?’ Jika ia menjawab, ‘Ya,’ sampaikanlah kepadanya, ‘Penyembelihan ini untuk selain Allah l. Bahkan, engkau telah mempersekutukan Allah l bersama yang lain. Jika engkau tidak ingin mengagungkannya, apakah engkau ingin mengotori pintu kubur dan menyebabkan najisnya orang-orang yang masuk ke dalamnya?! Engkau, sebenarnya mengetahui secara yakin bahwa pada dasarnya engkau tidak menginginkan hal tersebut. Engkau tidak berniat selain niat yang pertama. Tidak pula engkau keluar meninggalkan rumahmu selain untuk tujuan tersebut dan untuk berdoa kepada mereka.’ Hal yang mereka lakukan ini adalah kesyirikan, tanpa diragukan sedikitpun.” (Tathhirul I’tiqad hlm. 72—73)
Asy-Syaikh ar-Rajihi menambahkan dalam catatan kaki, “Karena sebagian kaum musyrikin terkadang mengucapkan ‘bismillah.’ Apabila dia mengucapkan ‘bismillah’—namun dengan hewan sembelihan tersebut dia bermaksud taqarrub (mendekatkan diri) kepada penghuni kubur, jin, malaikat, atau yang lain—dia adalah pelaku kesyirikan. Meskipun dia mengucapkan ‘bismillah’ seribu kali, tidak ada gunanya karena yang menjadi ukuran adalah keyakinan dan tujuan, bukan sekadar pengucapan.”

Benarkah sebagai Bentuk Syukur?
Sebagai contoh kasus adalah pawai budaya dan larung sesaji berisi kepala kambing yang mewarnai tradisi Kupatan dan sedekah laut di Perairan Rembang, Jawa Tengah.
Usai pawai budaya, sesaji yang berisi antara lain kepala kambing, tumpeng, kembang tiga rupa, dan rantang makanan, dilarung ke laut. Kepala kambing yang dilarung harus dari kambing jantan. Dipilihnya kambing untuk larung sesaji, karena hewan tersebut menurut anggapan mereka adalah simbol cita-cita nelayan setempat untuk mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Mahakuasa.
Masyarakat setempat meyakini bahwa usai larung sesaji hasil tangkapan ikan akan melimpah. Sebagian lainnya mengatakan bahwa prosesi larung sesaji di Perairan Rembang itu adalah bentuk syukur nelayan karena mendapatkan hasil tangkapan ikan yang cukup menggembirakan selama setahun terakhir.
Melihat alasan sebagian mereka bahwa larung tersebut adalah bentuk syukur, ada beberapa hal yang janggal dan aneh yang patut dipertanyakan.
1. Benarkah pawai budaya dan larung sesaji sebagai tanda syukur?
2. Seperti itukah Islam mengajarkan untuk bersyukur?
3. Syukur adalah ibadah. Adakah tuntunan dari Rasulullah n untuk bersyukur dalam bentuk larung sesaji?
Islam menentukan bentuk-bentuk syukur dengan sempurna dan lengkap. Syukur diwujudkan dengan hati, lisan, dan perbuatan anggota badan. Semuanya harus dilakukan dengan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah l dan dibimbingkan oleh Rasulullah n. Tidak ada satu pun ayat dan hadits yang menjelaskan bentuk syukur dalam bentuk pawai budaya dan larung sesaji. Di masa hidup Nabi Muhammad n, sering dan terlalu banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah l, padahal wilayah Islam luas membentang, menyeberang lautan, menguasai sungai dan daratan. Namun, beliau n tidak pernah mencontohkan perbuatan larung sesaji! Ini jika Islam dijadikan tolok ukur berpikir.
Alasan lain, Sumber Pendapatan Daerah
Alasan lain untuk tetap mengadakan tradisi ritual dalam bentuk sesaji, menyembelih hewan tertentu, adalah sebagai objek wisata dan sumber pendapatan daerah. Contohnya adalah acara Pati Ka Ata Mata, Ritual di Puncak Kelimutu, Kawasan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Bentuknya adalah upacara adat memberi makan bagi arwah leluhur atau orang yang sudah meninggal.
Prosesi ritual diawali oleh sembilan mosalaki yang mewakili sembilan suku dengan pakaian tradisional membawa sesaji ke dakutatae, sebuah batu alam sebagai tugu tempat sesaji. Sesaji yang dipersembahkan adalah nasi, daging hewan kurban (babi), moke (semacam tuak lokal), rokok, sirih pinang, dan kapur.
Setelah pemberian makan leluhur yang dilakukan oleh para mosalaki, para pengunjung kemudian ditawari oleh mosalaki untuk turut menikmati sesaji sebagai tanda bersukaria bersama para leluhur. Tahapan ritual itu lalu dilanjutkan dengan gawi, menari bersama para mosalaki tersebut mengelilingi tugu batu.
Sejumlah pelaksana ritual mengatakan, Pati Ka Ata Mata yang digelar dimaksudkan untuk menaikkan doa kepada arwah leluhur—selain untuk menolak bala, juga agar wilayah Ende dijauhkan dari bencana serta disuburkan alamnya sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Dari mitos yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat Ende Lio, kawasan puncak Danau Kelimutu adalah tempat tinggal atau berkumpulnya para arwah orang yang sudah meninggal. Pintu gerbang (pere konde) Danau Kelimutu dijaga oleh Konde Ratu, sang penguasa.
Kegiatan ini digelar sebagai bentuk pelestarian budaya daerah. Dari upacara adat yang telah berlangsung turun-temurun, pemberian makan kepada leluhur yang hanya dilakukan di tiap rumah warga, kampung, atau suku, kini menjelma menjadi upacara adat di puncak Kelimutu yang melibatkan suku-suku Lio. Selanjutnya, ritual ini akan digelar rutin setiap tahun. Tradisi ini juga menjadi agenda pariwisata Ende.
Mahasuci Allah dari apa yang mereka perbuat! Apakah lubang dan lorong sempit kesyirikan dijadikan sebagai sumber pendapatan? Perilaku durhaka dan sikap menantang Dzat Pencipta dipilih sebagai jalan untuk meraih kemakmuran dunia? Tidak! Tidak akan mungkin! Justru bencana dan malapetaka yang akan dituai. Kesempitan hidup dan kebinasaan yang akan menjemput.
Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, niscaya berkah dari langit dan bumi akan dibuka seluas-luasnya.
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (al-A’raf: 96)
Sungguh menyedihkan. Ya Allah, kami berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.

Mengharap Berkah dari Jalan yang Halal
Mencari sumber penghasilan dan pendapatan adalah sesuatu yang lumrah. Bahkan, syariat Islam memerintahkannya, dengan cara-cara yang baik dan halal. Menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan potensi ekonomi daerah adalah perbuatan terpuji. Namun, yang harus diperhatikan bentuk-bentuknya haruslah sesuai dengan ketentuan Allah l dan Rasul-Nya n.
Allah l berfirman:
ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)
Allah l juga berfirman:
ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭﭮ
Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (al-A’raf: 32)
Kedua ayat di atas adalah dasar berpikir bahwa penghasilan, ekonomi, dan pendapatan untuk daerah haruslah berasal dari sumber-sumber yang baik. Lalu, kebaikan apa yang hendak dicari untuk pendapatan daerah dengan cara mengembangkan dan melestarikan situs-situs sejarah yang dikeramatkan? Apakah demi pendapatan daerah, akidah kaum muslimin terjual murah—dengan memberikan kesempatan dan peluang bagi mereka untuk berharap dan meminta kepada selain Allah l?
Lihat dan perhatikanlah! Berapa jumlah dana yang dikucurkan? Betapa besar biaya yang dikeluarkan. Untuk apa, wahai saudaraku? Hanya untuk mendirikan dan memperindah situs-situs kuburan yang dikeramatkan. Hanya demi merenovasi dan memperhias lokasi-lokasi pemujaan dan pengagungan makhluk. Untuk peribadatan kepada selain Allah l. Sungguh menyedihkan sekali.
Tidak mungkin berkah dan rahmat menyelimuti negeri ini jika ekonomi dan pendapatan daerahnya diambil dari jalan-jalan kemusyrikan. Karena berkah dan rahmat hanyalah diturunkan oleh Allah l untuk hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mentauhidkan Allah l, tidak mempersekutukan-­Nya dengan sesuatu pun.

Contoh Tradisi Menyembelih di Luar Syariat Islam
Sebagai contoh adalah acara simah laut yang diadakan di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Upacara adat para nelayan ini digelar setiap tahun, saat memasuki musim angin barat. Upacara ini menurut mereka adalah bentuk permohonan keselamatan bagi para nelayan, selain sebagai pengharapan agar hasil tangkapan ikan lebih banyak. Selama tiga hari setelah acara simah laut dilangsungkan, para nelayan pantang melaut. Baru pada hari keempat para nelayan itu boleh kembali melaut mencari ikan.
Prosesnya dimulai dengan menyiapkan sebuah perahu. Di dalam perahu tersebut diletakkan aneka wadai (sebutan masyarakat setempat untuk kue tradisional seperti cucur, apem), wajik, bubur merah, bubur putih, dan juga telur. Kepala kerbau juga menjadi salah satu kelengkapan sesajian yang akan dihanyutkan ke laut menggunakan perahu kecil.
Setelah itu, salah satu pemuka masyarakat membacakan doa. Selepas didoakan, beberapa nelayan mengangkat perahu yang berisi sesaji mendekati pantai. Dari arah laut, perahu-perahu nelayan merapat menjemput sesajian tersebut.
Dikawal perahu-perahu nelayan, perahu berisi sesajian itu diangkat ke salah satu kapal kayu dan dibawa berlayar menjauhi pantai. Kapal sesajian itu kemudian dilayarkan ke tengah laut pada jarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.
Kaum perempuan bergotong royong memasak aneka penganan untuk sesaji dan daging dari hewan kurban. Pemilihan hewan kurban disesuaikan dengan kemampuan warga, bisa kambing atau sapi. Bagian kepala hewan kurban ini kemudian dihanyutkan ke tengah laut, sementara daging dimasak untuk kemudian disantap bersama oleh penduduk dan pengunjung yang hadir.
Contoh selanjutnya adalah Macceratasi, sebuah upacara adat masyarakat nelayan tradisional di Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Upacara ini sudah berlangsung sejak lama dan terus dilakukan secara turun-temurun setahun sekali. Beberapa waktu lalu, upacara ini kembali digelar di Pantai Gedambaan atau disebut juga Pantai Sarang Tiung.
Prosesi utama Macceratasi adalah penyembelihan kerbau, kambing, dan ayam di pantai kemudian darahnya dialirkan ke laut dengan maksud memberikan darah bagi kehidupan laut. Dengan pelaksanaan upacara adat ini, masyarakat yang tinggal sekitar pantai dan sekitarnya berharap mendapatkan rezeki yang melimpah dari kehidupan laut. Kerbau, kambing, dan ayam dipotong. Darahnya dilarungkan ke laut. Itulah bagian utama dari prosesi Macceratasi.
Contoh berikutnya adalah tradisi adat masyarakat Karempuang, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Di sana, ayam adalah sajian utama termasuk dalam hal hewan sesajian.
Masyarakat Karempuang memang memiliki tradisi memotong ayam secara massal pada acara selamatan tahunan. Selamatan ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan pertanda musim awal cocok tanam.
Dalam ritual ini, masyarakat adat berpuasa selama tujuh hari, tidak memakan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Ayam yang akan dijadikan sesaji dalam ritual ini adalah sepasang ayam jantan dan betina pilihan, berbulu merah, putih, hitam, dan kuning. Sebelum ayam dipotong, pemangku adat wanita, sanro, terlebih dahulu melakukan ritual yang juga dihadiri pemangku adat tertinggi, pengelak. Berbagai bahan untuk keperluan ritual disiapkan, di antaranya minyak kemiri dan beras.
Dupa dan kemenyan pun dibakar. Pemangku adat lalu membacakan mantra dan doa-doa meminta berkah dan keselamatan. Ritual ini berlangsung selama hampir dua jam.
Ritual pun selesai dilakukan. Kaum laki-laki membawa ayam ini menuju bukit batu yang letaknya tidak jauh dari rumah adat. Di atas bukit inilah ayam dipotong dan isi perutnya dibersihkan. Darah yang menetes dari leher ayam ditampung dengan daun dan mangkok.
Darah ayam adalah persembahan untuk roh leluhur penjaga hutan, dengan harapan hutan tetap memberi kesuburan.

Bahan untuk Diskusi Ringan
Di sekitar kita sebenarnya masih banyak tradisi dan ritual dalam bentuk menyembelih binatang. Apa pun alasannya, selama kegiatan tersebut tidak ditopang dan dilandasi oleh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad n, kegiatan tersebut bukan bagian dari ajaran Islam. Islam memerintahkan untuk memerangi serta berupaya untuk memberantas tradisi dan ritual semacam itu.
Sebagai penutup, saya akan menghadirkan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi. Pertanyaan ini sangat membantu pembuktian bahwa tradisi dan ritual menyembelih binatang semacam itu mengandung unsur-unsur kesyirikan.
1. Benarkah di dalam tradisi dan ritual tersebut binatang disembelih karena dan untuk Allah l?
2. Apakah benar tidak ada keyakinan adanya kekuatan lain yang mendatangkan manfaat maupun mudarat selain Allah l? Jika benar, bagaimana jika acara tersebut tidak dilakukan? Bukankah di dalam hati akan timbul kekhawatiran dan kecemasan bahwa hasil panen atau melaut akan berkurang, selalu jauh dari keselamatan, bala dan musibah datang silih berganti?
3. Apakah yang terjadi jika binatang yang disembelih tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan? Atau, jika acara tersebut dilaksanakan bukan pada waktunya?
Pastinya, bagi para pelaku dan pengikut tradisi dan ritual tersebut, rasa berharap dan takutnya telah mendua. Meski ia mengaku melakukannya untuk dan karena Allah l, namun harapan, sikap pengagungan, dan sikap takutnya, ia berikan pula kepada selain Allah l.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari noda-noda kesyirikan.
Ya Allah, curahkanlah rahmat dan taufik-Mu agar kami dan saudara-saudara kami tetap berada di atas jalan-Mu yang lurus.

ANTARA TRADISI dan SENDI-SENDI TAUHID, Gugatan Ilmiah Terhadap Usaha Pelestarian Situs dan Tradisi Bersejarah yang Menyimpang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari kebudayaan, tradisi, dan adat-istiadat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat-istiadat. Adapun tradisi adalah adat kebiasaaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Adat-istiadat adalah tata-kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat.
Perselisihan akan selalu terlahir setiap saat jika kebenaran ditentukan oleh kebudayaan, tradisi, atau adat-istiadat. Pertentangan terhadap Islam, dalam sejarah, malah terfondasikan pada kejumudan dan sikap fanatik mempertahankan tradisi serta adat-istiadat yang berlaku pada tatanan masyarakat. Sering, untuk memusuhi dakwah Nabi n, kaum musyrikin beralasan dengan berpegang kokoh kepada ajaran nenek moyang. Allah l berfirman tentang mereka:
Mereka berkata, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (Ibrahim: 10)
Begitu pula yang dinyatakan oleh kaum Nabi Syu’aib, Nabi Nuh, Nabi Shalih, dan kaum para nabi lainnya r. Setiap kaum berkata kepada nabi yang diutus kepada mereka, “Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?”
Memang, tidak semua bentuk tradisi dan adat-istiadat berjalan berlawanan dengan hukum-hukum Islam. Tidak seluruh tradisi dan adat-istiadat yang berlaku di masyarakat kemudian ditentang dan hendak dihapuskan oleh Islam. Namun, apa pun bentuk dan cara penilaian yang ada, haruslah tunduk dan sesuai dengan syariat yang diemban oleh Rasulullah n, termasuk tradisi dan adat-istiadat.
Dalam pembahasan ringkas kali ini, kita hanya membatasi pembicaraan pada dua tradisi besar dalam masyarakat Indonesia yang bertentangan dengan syariat Islam. Memang banyak sekali tradisi dan adat-istiadat yang tidak sejalan dengan bimbingan Rasulullah n sehingga membutuhkan pembahasan yang lebih luas. Banyaknya tradisi dan adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam memberikan sebuah pembelajaran bagi kita bahwa betapa masyarakat muslimin sangat membutuhkan pelajaran tentang tauhid lalu mengamalkannya dan pengetahuan tentang kesyirikan agar dijauhi dan ditinggalkan.
Dua hal terkait dengan tradisi yang akan diangkat dalam pembahasan kali ini adalah:
Pertama, usaha pelestarian situs dan tradisi bersejarah.
Kedua, tradisi menyembelih (larung, sedekah laut, dan sedekah bumi).

Tapak Tilas Situs Bersejarah, Usaha Iblis Memperjuangkan Kesesatan
Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk melestarikan situs-situs bersejarah. Sekadar mengenang sejarah, misalnya. Alasan lain, menghormati jasa pahlawan atau pendahulu, sumber pendapatan daerah, menarik investasi, mengembangkan pariwisata daerah, mengenalkan daerah kepada masyarakat luas, dan seterusnya. Namun, sebuah fakta dan kenyataan yang ada bahwa usaha tersebut telah memberikan peluang besar dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lubang dosa, yaitu kesyirikan.
Apa pun pernyataan yang diungkapkan dalam rangka membela diri, tetap saja usaha pelestarian situs-situs bersejarah telah menempatkan manusia dalam keadaan meyakini keagungan tempat-tempat tersebut. Akhirnya, sebagian orang terdorong mendatangi tempat-tempat tersebut dalam rangka bertabarruk.
Tabarruk maknanya mencari berkah. Berkah itu sendiri maknanya adalah adanya kebaikan dan bertambahnya kebaikan tersebut pada sesuatu. Mencari berkah haruslah dari Dzat yang memiliki dan menguasainya, yaitu Allah l. Dia-lah yang menurunkan berkah dan memberikannya. Makhluk tidak dapat memberikan berkah apalagi membuatnya. Maka dari itu, suatu tempat atau seseorang dinyatakan mempunyai berkah, haruslah didasarkan keterangan dari Allah l dan Rasul Nya n. Demikian pula cara dan bentuk mencari berkah. Semuanya haruslah tunduk pada ketentuan yang ditetapkan Allah, Dzat Yang Maha Memberi berkah.
Tabarruk dengan tempat, petilasan, atau orang (hidup atau mati) tidak diperbolehkan. Hal tersebut adalah kesyirikan, jika ia meyakini bahwa hal itu dapat memberikan berkah; atau menjadi wasilah (sarana) kepada kesyirikan, jika ia meyakini bahwa kedatangannya, tamassuh (mengusap bagian-bagian tertentu), dan ibadahnya pada tempat tersebut hanyalah sebagai sebab datangnya berkah dari Allah l.

Bagaimana dengan Perbuatan Sahabat terhadap Nabi n?
Perbuatan para sahabat bertabarruk dengan rambut Nabi n, air ludah beliau n, ataupun hal-hal lainnya adalah kekhususan untuk Nabi n pada zat diri beliau n saja. Buktinya, para sahabat tidak bertabarruk dengan kamar atau kubur beliau n setelah wafatnya. Para sahabat juga tidak melaksanakan shalat pada tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Nabi n untuk shalat atau duduk dalam rangka bertabarruk. Apalagi tempat-tempat yang digunakan oleh selain Nabi n!
Para sahabat tidak bertabarruk dengan orang-orang yang saleh semisal Abu Bakr, Umar, dan sahabat mulia yang lain g. Tidak pada masa hidup mereka apalagi setelah meninggalnya. Mereka juga tidak bepergian menuju goa Hira untuk shalat atau berdoa.
Demikian juga tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Nabi n untuk shalat, baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak ada seorang salaf pun yang mencium atau mengusap-usapnya.
Jika tempat yang pernah diinjak oleh kedua telapak kaki Nabi n yang mulia dan pernah digunakan Nabi n untuk shalat tidak disyariatkan untuk dicium dan diusap, bagaimana mungkin disyariatkan pada tempat yang digunakan untuk shalat atau tidur oleh selain beliau n? (al-Irsyad, asy-Syaikh al-Fauzan)
Bandingkan dengan apa yang dilakukan dan diyakini oleh para peziarah dalam acara Grebeg Syawal, sebuah acara ziarah yang diselenggarakan oleh keluarga Kraton Kanoman, Cirebon. Acara ini dilakukan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Grebeg Syawal adalah saat keluarga keraton Kanoman Cirebon, berziarah ke makam leluhur, yakni ke komplek pemakaman Sunan Gunung Jati, di Gunung Sembung, sekitar lima kilometer arah utara dari pusat kota Cirebon.
Selain dengan tujuan berziarah, sebagian pengunjung memanfaatkan kesempatan hari itu untuk mencari berkah. Seperti
kuburan dan lokasi-lokasi lain yang dianggap keramat, pemakaman Gunung Jati tidak luput dari orang-orang bermaksud demikian, baik untuk mendapat tempat “basah” dalam pekerjaan di kantor, mendapat jodoh, maupun agar dagangan laris. Sebagian peziarah juga mengambil beberapa benda dari dalam komplek, seperti bunga ziarah di atas makam, ranting pohon, abu bekas kemenyan, dan apa saja yang dianggap mempunyai “kekuatan”, serta mencuci muka dari air yang tersedia. Sebagian pengunjung bersujud di depan pintu. Ada pula yang melempar uang sekadarnya.
Contoh lain, di Kota Mataram. Masyarakat biasanya datang ke dua tempat, yaitu Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq. Dua makam itu dipandang cukup keramat. Dalam ziarah kubur, warga sejatinya tidak hanya memanjatkan doa, tetapi juga melakukan beragam ritual keagamaan dan atraksi simbolik. Misalnya, di dua makam yang dianggap keramat tadi pengunjung menyempatkan mencukur rambut bayinya (ngurisan). Bayi yang dicukur rambutnya di tempat tersebut diyakini akan menjadi anak yang saleh dan sukses di masa yang akan datang.
Tentunya, bagi orang yang berakal dan menginginkan kebenaran, cukuplah baginya beberapa dalil berikut ini. Dalil-dalil yang menjelaskan bahwa ritual-ritual tersebut dan yang semisalnya adalah pintu-pintu kesyirikan yang dilarang dalam agama Islam.

Dalil-Dalil Naqli
1. Al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah x. Beliau pernah menceritakan kepada Rasulullah n tentang sebuah bangunan gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah serta lukisan-lukisan di dalamnya. Lantas Rasulullah n bersabda:
أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
“Jika ada orang baik di antara mereka meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan membuat gambar lukisannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.”
Yang dimaksud masjid dalam hadits di atas tidak terbatas pada pengertian masjid yang sehari-hari kita ketahui. Namun, meliputi setiap bangunan yang didirikan di atas atau di sekeliling kuburan.
Sangat kontras dengan yang dilakukan oleh sebagian umat pada masa kita ini. Sungguh, kita melihat dan mendengar secara langsung, kuburan dikeramatkan. Terjadi usaha, bahkan perlombaan, untuk mendirikan bangunan di sekitar kuburan, memasang dan menjual foto atau lukisan orang-orang yang dianggap wali. Bahkan, hal ini dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah. Mahasuci Allah l dari yang mereka perbuat.
Sebagian pelaku kesyirikan bahkan menamakannya sebagai “wisata ziarah” atau “wisata religi”. Kita bisa melihatnya pada makam Wali Songo, misalnya. Kuburan yang mewah, indah, lengkap fasilitasnya, dan beberapa kali direnovasi. Hal seperti ini adalah bentuk kesyirikan yang nyata.
Buktinya, hati para peziarah merasa lebih tenang dan khusyu saat berada di makam dan kuburan orang yang dikeramatkan. Adakah ketenangan dan kekhusyuan itu dirasakan kala mereka melakukan shalat di masjid-masjid Allah l?
Syaikhul Islam t berkata, “Oleh karena itu, engkau pasti dapat menyaksikan para pelaku kesyirikan akan merasakan ketenangan, kekhusyuan, dan kepasrahan kala berada di sisi kubur. Mereka beribadah dengan hati. Padahal, mereka tidak merasakan hal demikian ketika berada di masjid, rumah Allah l. Mereka berharap berkah shalat dan doa yang tidak mereka harapkan ketika melakukannya di masjid.” (Fathul Majid)

2. Al-Hafizh Ibnu Katsir t menjelaskan dalam al-Bidayah wan Nihayah (2/60) bahwa Yunus bin Bukair meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq, dari Abu Khalid bin Dinar, bahwa Abul Aliyah pernah menyampaikan kepada kami, “Saat menaklukkan daerah Tustar, kami mendapatkan sebuah ranjang di rumah al-Hurmuzan. Di atas ranjang tersebut ada sesosok jenazah. Di samping kepalanya ada sebuah kitab. Kami mengambil kitab tersebut kemudian menyampaikannya kepada Umar bin al-Khaththab z. Selanjutnya, Umar memanggil Ka’b dan memintanya untuk menerjemahkannya ke bahasa Arab. Ia berkata, ‘Akulah orang Arab pertama yang membacanya. Aku baca seperti halnya aku membaca Al-Qur’an’.”
Aku pun bertanya kepada Abul Aliyah, “Apa yang disebutkan dalam kitab tersebut?”
Ia menjawab, “Perjalanan hidup kalian, perkara dan kesalahan berbicara kalian serta hal-hal yang akan terjadi.”
Aku bertanya lagi, “Lantas apa yang kalian perbuat pada jenazah tersebut?”
Abul Aliyah menjawab, “Siang harinya, kami menggali tiga belas buah lubang pada tempat yang berbeda. Malam harinya, kami mengubur jenazah tersebut dengan meratakan ketiga belas lubang itu agar tidak diketahui oleh orang yang ingin membongkarnya.”
Aku bertanya lagi, “Apa yang mereka harapkan dari perbuatan tersebut?”
Beliau menjawab, “Dahulu, apabila langit tidak menurunkan hujan, mereka mengeluarkan jenazah itu dengan ranjang tidurnya. Lalu hujan pun turun untuk mereka.”
Kembali aku bertanya, “Menurut kalian, siapakah orang tersebut?”
Abul Aliyah menjawab, “Seseorang yang kerap dipanggil dengan nama Danial.”
Aku bertanya lagi, “Sudah berapa lama ia meninggal semenjak kalian menemukannya?”
Ia menjawab, “Sudah 300 tahun sebelumnya.”
Aku bertanya heran, “Tidak ada sedikitpun yang berubah pada jasadnya?”
Abul Aliyah menjawab, “Tidak. Hanya beberapa helai rambut belakangnya. Sesungguhnya jasad para nabi tidak dihancurkan oleh bumi dan tidak dimakan oleh binatang buas.”
Setelah membawakan kisah ini, Ibnu Katsir t berkata, “Kisah ini sanadnya sahih sampai kepada Abul Aliyah.” Kisah ini juga dibawakan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih (no. 33813) dari Anas bin Malik z.
Perhatikanlah bimbingan para sahabat. Pada saat menemukan jasad tersebut, mereka tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berziarah. Mereka juga tidak membuat bangunan di atasnya, tidak pula membenarkan perbuatan orang-orang Persia yang menggunakan jasad tersebut untuk memohon turunnya hujan. Yang mereka lakukan justru menutup cerita, menghilangkan kuburnya, dan memutus urat nadi fitnah. Andai saja cara berfikir orang Yahudi yang mereka tempuh, tentu mereka akan segera mengagungkan tempat tersebut, menjadikannya sebagai tempat beribadah, dan menetapkan acara tahunan untuk berziarah. Berbeda halnya dengan keadaan sekitar kita bukan?
Marilah kita ambil sebuah contoh lain. Makam Syiah Kuala (Abdurrauf Singkel atau Abdurrauf Fansuri) yang terletak di daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Setelah rusak terkena bencana tsunami beberapa waktu yang lalu, kini makam itu kembali dipugar. Lebih indah dan bertambah mewah. Semua dilakukan dengan menelan biaya besar. (Serambi Indonesia)
Manakah yang lebih baik dan lebih tinggi derajatnya? Seorang nabi bernama Danial ataukah seseorang yang dikenal sebagai Syiah Kuala?
Siapakah yang lebih mencintai dan memahami ajaran Islam? Para sahabat yang masih hidup ketika jasad Nabi Danial ditemukan ataukah pihak-pihak yang memperjuangkan agar Syiah Kuala dibangun makamnya?
Mengapa penglihatan, pendengaran, dan hati mereka tidak dipergunakan untuk tunduk kepada bimbingan generasi terbaik umat ini?
Masih banyak dan tidak terbilang jumlahnya situs-situs bersejarah yang dipugar dan dilestarikan. Entah itu berupa makam raja-raja, makam kasultanan, makam wali, atau tempat-tempat pemujaan kepada selain Allah l. Kami berlepas diri dari perbuatan semacam itu, ya Allah.

3. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khaththab z muncul gejala pada sebagian kaum muslimin yang memiliki ketergantungan kepada barang-barang peninggalan dan situs-situs sejarah yang tidak tercantum dalam nash/dalil. Fenomena ini dapat memengaruhi keagamaan mereka. Oleh karena itu, Umar bin al-Khaththab z dan para sahabat melarang serta memperingatkan manusia dari perbuatan tersebut.
Diriwayatkan dari al-Ma’rur bin Suwaid, ia bercerita, “Kami pergi mengerjakan haji bersama Umar bin al-Khaththab. Di tengah perjalanan, tampak sebuah masjid di depan kami. Orang-orang lalu bergegas untuk mengerjakan shalat di dalamnya. Umar z pun bertanya, ‘Ada apa dengan mereka itu?’ Orang-orang menjawab, ‘Itu adalah bangunan masjid yang Rasulullah n pernah mengerjakan shalat di situ.’ Umar z pun berkata:
إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا، مَنْ مَرَّ بِشَيْءٍ مِنَ الْمَسَاجِدِ فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَإِلاَّ فَلْيَمْضِ
“Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa lantaran menjadikan tempat-tempat yang pernah dilalui oleh nabi mereka sebagai tempat ibadah. Siapa saja yang menjumpai shalat wajib maka shalatlah di situ. Kalau tidak, lewatilah saja.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam al-Mushannaf 2/118—119, dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2/376—377)
Syaikhul Islam t berkata tentang atsar ini, “Nabi n tidaklah bermaksud mengkhususkan shalat pada tempat tersebut. Beliau shalat di tempat itu karena memang di tempat itulah kebetulan beliau n berhenti. Maka dari itu, Umar z memandang bahwa mengikuti bentuk perbuatan Nabi n tanpa adanya kesamaan tujuan tidak termasuk mutaba’ah (mencontoh Nabi n). Bahkan, mengkhususkan shalat di tempat tersebut adalah bid’ah ahlul kitab yang menyebabkan kebinasaan mereka. Beliau n sendiri melarang kaum muslimin untuk tasyabbuh (menyerupai) ahlul kitab. Pelakunya menyerupai Nabi n dalam hal perbuatan, namun menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam hal tujuan, yaitu amalan hati.” (Majmu’ al-Fatawa 1/281)
Bayangkan, betapa mendalam keilmuan Umar bin al-Khaththab z. Sungguh kuat prinsip beliau di dalam menjalankan bimbingan dan tuntunan Nabi Muhammad n. Beliau z melarang kaum muslimin untuk sengaja mendatangi tempat yang secara kebetulan pernah disinggahi oleh Rasulullah n kemudian shalat di tempat tersebut. Umar z melarang kaum muslimin sengaja datang dan shalat di tempat tersebut.
Lalu bagaimanakah kiranya kemarahan Umar bin al-Khaththab z jika melihat dan menyaksikan kondisi sebagian kaum muslimin sekarang, yang sengaja mencari dan mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat dan mendatangkan berkah, dengan alasan bahwa tempat tersebut pernah digunakan oleh wali atau orang saleh untuk menyendiri dan beribadah?

4. Ibnu Wahdhah juga meriwayatkan bahwasanya Umar bin al-Khaththab z memerintahkan untuk menebang sebuah pohon di tempat para sahabat membaiat Rasulullah n di bawah naungannya (pohon dalam kisah Bai’at ar-Ridhwan). Alasannya, banyak manusia mendatangi tempat tersebut untuk melaksanakan shalat di bawah pohon itu. Beliau z mengkhawatirkan timbulnya fitnah pada mereka nantinya seiring perjalanan waktu. (al-Bida’ wan Nahyu ‘anha hlm. 42, al-I’tisham 1/346)
Al-Hafizh t berkata dalam Fathul Bari (7/448), “Aku menemukan dalam (kitab) Ibnu Sa’d dengan sanad yang sahih dari Nafi’ bahwa Umar z mendengar berita tentang orang-orang yang mendatangi pohon tersebut untuk menunaikan shalat di sampingnya. Umar z kemudian mengancam mereka dan memerintahkan agar pohon tersebut ditebang. Pohon tersebut pun akhirnya ditebang.”
Al-Imam al-Bukhari t meriwayatkan dari Ibnu Umar c bahwa beliau berkata, “Pada tahun berikutnya, kami kembali ke tempat tersebut. Tidak ada seorang pun yang sepakat tentang letak pohon tempat kami berbaiat di bawahnya. Hal itu adalah rahmat dari Allah l.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Hikmahnya adalah agar tidak terjadi fitnah karena pernah terjadi kebaikan di bawah pohon tersebut. Andai saja pohon itu tetap ada, tentu tidak dirasa aman dari bentuk pengagungan terhadap pohon tersebut oleh sebagian orang-orang jahil. Bahkan, mungkin saja akan mendorong mereka untuk meyakini bahwa pohon tersebut dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, sebagaimana hal tersebut kita saksikan pada zaman ini terhadap sesuatu yang lebih rendah kedudukannya. Tentang hal inilah Ibnu Umar c memberikan isyarat, ‘Hal tersebut adalah rahmat.’ Artinya, tersembunyinya pohon tersebut adalah rahmat dari Allah l.”
Apa pun keadaannya, pohon tersebut tidak lagi diketahui secara pasti letaknya. Apakah karena kekuasaan Allah l sebagai rahmat dari-Nya—sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Umar c—atau hal tersebut terjadi melalui tangan Umar bin al-Khaththab z. Yang jelas, hal ini menunjukkan bahwa mencari jejak petilasan nabi atau orang saleh, demikian juga mengagungkan tempat-tempat terjadinya peristiwa besar, bukan termasuk ajaran Islam.

Dalil Aqli
Di antara faktor yang menunjukkan bahwa tabarruk dengan atsar-atsar (jejak petilasan) tidak disyariatkan dan merupakan perkara baru yang diada-adakan adalah sebagai berikut.
1. Ziarah atau tabarruk semacam ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah n. Tidak ada satu pun kabar yang benar, tidak dengan isnad yang sahih, hasan, bahkan dhaif sekalipun. Tidak pernah diriwayatkan bahwa seseorang bertabarruk dengan jejak beliau n di sebidang tanah pada zamannya.
Terhadap Rasulullah n saja, makhluk terbaik dan termulia di sisi Allah l, tidak diperbolehkan. Lalu bagaimana jika dilakukan dan diberikan kepada selain Nabi n? Tentu lebih tidak boleh lagi.
2. Berkah diri para nabi dan rasul tidak menular ke tempat-tempat di bumi. Jika tidak demikian, semestinya setiap jengkal tanah yang mereka injak, atau duduki, atau jalan yang mereka lalui, bisa dicari berkahnya dan dapat dijadikan tempat mencari berkah.
Ini adalah sebuah konsekuensi yang pasti batil. Ini tampak jelas bagi orang yang mau memikirkan kemungkinan meluas dan sambung-menyambungnya dimensi ini.
3. Mencari berkah dengan tempat-tempat di bumi menyelisihi sunnah seluruh nabi sebelum Nabi kita Muhammad n. Mereka tidak mengutamakan bekas-bekas para nabi di bumi sebelum mereka, tidak pula menyuruh seseorang untuk mengutamakannya. Maka dari itu, segala sesuatu yang berbeda dengannya berarti termasuk yang hal dibuat-buat oleh orang-orang zaman ini yang mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan setelah wafatnya para nabi mereka. Ketika aturan-aturan syariat menyulitkan mereka, mereka gemar melakukan tabarruk yang bid’ah dalam rangka memohon ampunan dari dosa-dosa dan bertambahnya kebaikan. Maka dari itu, Umar z pernah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena perbuatan seperti ini. Mereka mencari-cari petilasan (jejak) para nabi mereka.”
4. Tempat-tempat di bumi tidak ada berkahnya melainkan dengan adanya ketaatan yang terjadi secara terus-menerus di sana. Ini menjadi sebab diturunkannya berkah dari Allah l. Masjid-masjid diberkahi juga karena ketaatan itu. Berkahnya pun akan hilang bersama dengan sirnanya ketaatan darinya.
Di antara yang bisa dijadikan contoh adalah masjid-masjid yang dapat ditundukkan oleh orang-orang kafir harbi lalu mereka jadikan sebagai gereja. Hilanglah darinya berkah masjid yang terjadi ketika Allah l ditaati di dalamnya. Setelah syirik muncul dan ibadah untuk selain Allah l dilakukan di sana, berkah itu tercabut. Ini adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah dan diperselisihkan. (Hadzihi, asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh)

Penutup
Mudah-mudahan sedikit pemaparan di atas, yang dilandasi oleh dalil-dalil naqli dan aqli, dapat memberikan manfaat dan pencerahan dalam berpendapat. Pastinya, kebenaran itu hanyalah yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya n. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan bimbinglah kami untuk mengikutinya. Ya Allah, tunjukkanlah pula untuk kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan tuntunlah kami untuk menjauhinya.
Kabulkanlah, ya Arhamar Rahimin.

 

SAJEN, Tradisi Sesaji Menyelisihi Syar’i

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Pendem adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah. Di desa inilah letak sebuah bukit yang khalayak ramai menyebutnya Gunung Kemukus. Malam Jumat Pon adalah malam keramaian. Manusia berdatangan ke Gunung Kemukus dalam rangka menjalani laku tirakat ngalap berkah di makam yang ada di tempat itu.
Makam di perbukitan yang berada di tengah Waduk Kedungombo ini, konon merupakan makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan. Ritual ngalap berkah di Gunung Kemukus diawali dengan prosesi penyucian di Sendang Ontrowulan. Setelah itu, dengan dipandu juru kunci, para peziarah dibimbing guna melakukan ritual sajen. Yaitu, menyerahkan uborampe (perlengkapan sajen) dalam bentuk sebungkus kembang telon, dupa ratus atau kemenyan, dan uang wajib. Dengan uborampe inilah juru kunci akan memohon kepada yang mbaurekso di Gunung Kemukus. (Sajen dan Ritual Orang Jawa, Wahyana Giri MC, hlm. 94—96)
Berbeda dengan yang terjadi di Yogyakarta. Perilaku mistik sebagian orang Yogyakarta bisa ditemukan pada upacara Labuhan. Asal kata labuhan yaitu labuh, artinya membuang. Upacara Labuhan adalah sesaji ritual bertujuan melestarikan hubungan yang telah lama terjalin antara beberapa pihak dan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Upacara Labuhan lainnya juga dilakukan di Gunung Merapi, dan Gunung Lawu (Karanganyar, Jawa Tengah).
Sesaji untuk penguasa laut selatan diadakan di Parangkusumo. Sesaji diletakkan pada satu tempat yang disebut petilasan, yaitu tempat terjadinya pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki patih bernama Nyai Rara Kidul. Antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul terjalin perjanjian di mana Kanjeng Ratu Kidul berjanji melindungi Panembahan Senopati beserta seluruh keturunannya.
Pelaksanaan doa dilakukan di tempat tersebut dan sesaji pun ditaruh di tempat itu. Juru kunci Parangkusumo mengucapkan, “Perkenankanlah saya, Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan sesaji Labuhan kepada Paduka, … untuk keselamatan hidup, kehormatan kerajaan, dan keselamatan rakyat serta negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.” Setelah mengucapkan mantra, sesaji itu pun dibawa ke laut. Beberapa sesaji diempaskan ombak kembali ke pantai dan diperebutkan oleh masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa sesaji tersebut memiliki daya untuk memberikan keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang mendapatkannya.
Ritual Labuhan lainnya dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb (penanggalan Jawa). Upacara ritual ini banyak dikunjungi oleh orang guna ngalap berkah. Sesaji ditujukan kepada Eyang Kanjeng Pangeran Sapujagad, Pangeran Anom Suryangalam, Eyang Kyai Udononggo, Nyai Udononggo, dan Kyai Jurutaman. Tempat tinggal mereka ada di beberapa tempat di Merapi, seperti di Turgo, Plawangan, dan Wukir Rinenggo di dekat Selo. Upacara doa dilakukan di Kinahrejo, dipimpin oleh abdi dalem kraton, Mas Ngabehi Suraksohargo alias Mbah Maridjan. Sesaji diletakkan di satu tempat bernama Kendit, letaknya di lereng selatan Gunung Merapi. Uborampe (perlengkapan sesaji) terdiri dari kain, setagen, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain.
Ritual Labuhan lainnya dilakukan di Desa Nano, letaknya di lereng Gunung Lawu. Sesaji dikirim ke desa tersebut lalu dibawa oleh delapan orang penduduk asli daerah tersebut. Dipilihnya delapan orang dari penduduk asli daerah itu karena mereka memiliki hubungan spiritual dengan yang mbaurekso (penguasa) Gunung Lawu. (Upacara Tradisional Jawa Menggali Untaian Kearifan Lokal, Dr. Purwadi M. Hum, hlm. 75—78)
Upacara ritual semacam yang dipaparkan di atas terjadi di mana-mana. Sebut saja upacara ritual Yudnya Kasada yang dilakukan masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upacara ini dilakukan pada setiap purnama bulan Kasada. Upacara dilakukan menjelang fajar. Saat itulah, masyarakat Tengger (terkhusus yang menganut agama Hindu) mengangkut ongkek (wadah) berisi sesajen yang akan dilarung ke kawah Bromo. Uborampe sesajen ini berisi pisang, labu, cabai, jagung, dan hasil pertanian lainnya.
Di Pelabuhan Lorens Say, Maumere, masyarakat Nasrani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengadakan upacara Parehoba, yaitu menyuguhkan sesajen berupa telur, arak, dan beras kepada penguasa laut dan roh leluhur. Mereka meminta keselamatan kepada penguasa laut dan roh leluhurnya.
Upacara sejenis terjadi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tepatnya di Muara Belanakan. Masyarakat nelayan di daerah ini melakukan ruwatan atau sedekah laut. Bentuknya dengan menyuguhkan sajen berupa kepala kerbau dan darahnya, serta makanan lainnya.
Di Flores Tengah, kalangan Suku Lio juga mengadakan ritual semacam ini. Sesajen atau kuwiroe (menurut istilah masyarakat Suku Lio) adalah sebentuk ritual yang ditujukan kepada para dewa, roh, atau arwah nenek moyang. Tujuannya tentu saja dengan sebuah keyakinan bahwa dengan kuwiroe tersebut diharapkan arwah-arwah leluhur bisa memberi perlindungan hidup kepada mereka.
Semoga Allah l memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada pemerintah untuk menghilangkan segala tradisi yang mengandung kesyirikan.
Sajen, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan untuk makhluk halus. Sajen adalah satu bentuk laku spiritual. Sebagaimana diketahui, seseorang tidak ingin mendapatkan gangguan apa pun dalam kehidupannya. Seseorang selalu ingin hidup yang diwarnai oleh harmoni. Dalam tujuan menggapai harmoni inilah sebagian manusia lantas melakukan laku spiritual sajen. Dengan laku spiritual tersebut, diharapkan yang mbaurekso (menguasai) tempat tertentu tidak mengganggu mereka, menimpakan malapetakan dan bencana. Dengan demikian, akan tercipta kehidupan yang penuh harmoni. Itulah filosofi orang-orang yang melakukan laku spiritual dalam bentuk sajen. Filosofi ini tentu berakar pada kepercayaan animisme, yaitu sebuah paham yang mendasarkan keyakinan pada peranan makhluk halus atau roh-roh (anima). Makhluk halus atau roh-roh inilah yang sering dibahasakan dengan sebutan yang mbaurekso: Kanjeng Ratu Kidul, Nyai Roro Kidul, dan sebagainya. Sering dibahasakan pula dengan istilah ‘penunggu’. Apabila di satu tempat keadaannya angker dan mistis, orang-orang di sekitar tempat itu mengatakan bahwa tempat tersebut ada penunggunya.
Pada zaman Rasulullah n, ada berhala yang bernama al-‘Uzza. Ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata, al-‘Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (an-Najm: 19—20)
Al-‘Uzza adalah berhala yang disembah masyarakat Arab musyrikin. Berhala ini merupakan pohon as-Salam yang terletak di Lembah Nakhlah, antara Makkah dan Thaif. Berhala ini diselimuti kain dan memiliki juru kunci. Bahkan, di situ didiami pula oleh jin (yang mbaurekso/penunggu). Orang-orang yang jahil (tidak paham agama) akan beranggapan bahwa pohon tersebut bisa berbicara. Berhala ini adalah sesembahan orang-orang Quraisy dan penduduk Makkah yang musyrik serta orang-orang sekitar kota Makkah.
Saat terjadi Fathu Makkah, Rasulullah n mengutus Khalid ibnul Walid z ke Lembah Nakhlah guna menghancurkan berhala al-‘Uzza. Khalid ibnul Walid z pun menebang habis pohon tersebut. Setelahnya, ia kembali ke Makkah untuk melaporkan apa yang diperbuatnya kepada Rasulullah n. Namun, Rasulullah n menyuruhnya kembali ke tempat berhala al-‘Uzza, karena tugas yang diberikan kepadanya belum tuntas dia tunaikan. Khalid ibnul Walid z pun kembali ke tempat berhala al-‘Uzza dan memburu yang mbaurekso tempat itu untuk membunuhnya. Akhirnya, Khalid ibnul Walid z berhasil melibas habis yang mbaurekso, yang senyatanya adalah jinniyah (jin wanita). (Syarh al-Qawa’id al-Arba’, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 35—36)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menjelaskan bahwa apa yang dipertuhankan oleh manusia sangat beragam. Ada di antara mereka yang menyembah para malaikat. Allah l berfirman:
“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)
Ada di antara mereka yang menyembah para nabi. Allah l berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’?” Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib.” (al-Maidah: 116)
Ada juga di antara mereka yang menyembah orang-orang saleh. Allah l berfirman:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (al-Isra: 57)
Di antara manusia ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Allah l berfirman:
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Fushshilat: 37)
Ada pula di antara manusia yang menyembah pohon dan batu. Allah l berfirman:
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata, al-‘Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (an-Najm: 19—20)
Bahkan, manusia yang menyembah jin pun ada. Allah l berfirman:
“Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba: 41)
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (al-Jin: 6)
Terhadap segala bentuk penyembahan walau yang disembah berbeda satu dengan yang lain, Nabi n tidak membedakannya. Nabi n memerangi segala bentuk kesyirikan. Firman-Nya:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al-Anfal: 39)
Menurut Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kesyirikan. Dengan demikian, maksud ayat tersebut:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah….”
adalah sampai tidak ada lagi perbuatan syirik kepada Allah l, dan menjadikan agama itu semata-mata hanya bagi Allah l. (Lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, hlm. 21)
Sungguh tingkat kesyirikan yang diperbuat oleh orang-orang pada masa ini lebih rusak dan dahsyat. Kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang lebih berat dibandingkan dengan kesyirikan musyrikin Quraisy dahulu. Orang-orang musyrik pada masa dahulu melakukan perbuatan syirik ketika dalam keadaan lapang dan tidak ditimpa oleh kesusahan. Adapun jika ditimpa oleh kesusahan, mereka mengikhlaskan peribadahan (doa) hanya kepada Allah l. Berbeda halnya dengan orang-orang musyrik masa kini. Mereka berbuat syirik, beribadah, berdoa kepada selain Allah l kala ditimpa oleh kesulitan ataupun dalam keadaan lapang, tidak ada kesusahan yang menimpanya.
Allah l berfirman:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (al-Ankabut: 65) (Lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, hlm. 41)
Bagaimana pula dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan sekaligus melakukan pula zina, yang termasuk dosa-dosa yang paling besar? Lihat, kasus kesyirikan yang berpadu dengan kabair (dosa-dosa besar) sebagaimana terjadi di Gunung Kemukus, Sragen. Sungguh, keadaan orang-orang musyrikin sekarang lebih parah dan lebih rusak daripada musyrikin zaman dahulu. Allahul musta’an.
Dari tradisi sesajen, nyata terlihat betapa prosesi ritual sesajen telah menyelisihi sendi-sendi tauhid. Penyembelihan hewan yang disajikan kepada yang mbaurekso tempat tertentu adalah tindakan yang menyelisihi tauhid. Allah l berfirman:
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162—163)
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah.” (al-Kautsar: 2)
Dari Ali bin Abi Thalib z, beliau berkata, “Rasulullah n berbicara kepadaku tentang empat hal:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
Allah l melaknat orang yang menyembelih karena selain Allah l, Allah l melaknat orang yang memberi perlindungan kepada pelaku kriminal, Allah l melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan Allah l melaknat orang yang mengubah batas tanah.” (HR. Muslim, 3/1567)
Umat pun melakukan tabarruk yang menyelisihi syariat. Dari Abi Waqid al-Laitsi z, dia menyatakan, “Kami keluar (pergi) bersama Rasulullah n ke Hunain. Kami berbincang-bincang (tentang keadaan kami) semasa masih kafir (karena baru masuk Islam). Orang-orang musyrik memiliki pohon sidr (bidara) yang mereka biasa menetap dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Pohon tersebut disebut sebagai Dzatu Anwath (yang memiliki gantungan). Tatkala kami melewati pohon sidr itu, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami dzatu anwath sebagaimana orang-orang musyrik memilikinya.’ Rasulullah n pun bersabda, ‘Allahu akbar. Itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan—demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya—sebagaimana Bani Israil telah mengatakan kepada Musa, ‘Buatkan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.’ Lantas Musa berkata, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengerti.’ (al-A’raf: 138) Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian’.” (HR. at-Tirmidzi, 6/343)
Tujuan menggantungkan senjata-senjata tersebut adalah untuk tabarruk (mencari keberkahan) dari pohon tersebut. Nabi n pun mengingkari apa yang mereka inginkan. (al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 130)
Lalu, bagaimana pula dengan orang-orang yang berniat ngalap berkah ke tempat-tempat yang dianggap sakral? Sungguh, ini adalah tipudaya setan yang menggiring orang jahil (tidak mengerti al-haq) ke tempat yang nista.
Rasulullah n bersikap keras terhadap orang-orang yang melakukan ibadah yang disyariatkan seperti shalat, sedekah, dan sebagainya, di seputar kuburan orang-orang saleh. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah x:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah (masjid).” (HR. al-Bukhari 1/155 dan Muslim 1/375)
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang datang ke kuburan bukan orang saleh dan di sana ia melakukan kemaksiatan, menebar sesajen, melakukan perzinaan, atau kemaksiatan lainnya dengan keyakinan hal itu bisa mendatangkan keberuntungan? Sungguh, ini adalah tindakan yang paling dungu dan teramat dungu.
Melakukan ibadah yang disyariatkan, tetapi di seputar kuburan orang yang saleh saja mendapat laknat, apatah lagi bagi orang yang melakukan maksiat di seputar kuburan bukan orang saleh. Hanya orang-orang yang berakal yang akan mengambil pelajaran ini.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

Surat Pembaca Edisi 67

Bencana Perusakan Akidah
Teruslah berjuang. Bencana perusakan akidah semakin parah, Asy Syariah jalan terus, semoga khusnul khatimah, saya usul ada bahasan fiqhud da’wah.
Muhajir-Kebumen

Jazakallahu khairan. Mengenai fiqhud da’wah, sudah kami angkat sebagai tema utama di edisi 19, Berdakwah seperti Rasulullah n. Sebagai pelengkap, Anda juga bisa mengkaji sajian utama kami pada edisi 65.

Tampilan Lebih Menawan
Alhamdulillah, majalah Asy Syariah vol. VI/no. 66/1431 H/2010 sudah tersebar di kota kami. Saya rasakan bahwa tampilan majalah kali ini lebih cerah dan menawan dari sebelumnya. Pesan kami, tetap dipertahankan.
Ibnu Abdillah-Batu VI, Medan

Jazakallahu khairan atas masukannya.

Kesalahan Nomor Ayat
Bismillah, pada kolom permata salaf terdapat kesalahan ayat surah al-Ahzab 3, mestinya al-Ahzab ayat 4.
Abu Farih-Lumajang

Anda benar, jazakallahu khairan atas koreksinya. Jawaban ini sekaligus sebagai ralat dari Redaksi.

Info Praktis Plus
Alhamdulillah, membaca rubrik “Info Praktis” (Tips Melahirkan) yang ditampilkan di Asy Syariah Vol VI/No. 64/1431 H/2010, menjadi “tidak biasa”, istimewa, karena berbalut tausiyah sesuai syariat. Mohon sering ditampilkan info-info praktis sejenis.
Ummu Habibah-Lampung

Jazakillahu khairan atas masukannya.

Pohon Sanad Ditampilkan Lagi
Saya usul bagaimana kalau ‘‘pohon sanad’’ dalam rubrik Hadits di majalah ini ditampilkan kembali? Sebab, saya sangat suka dengan pembahasan sanad walaupun saya bukan santri ma’had. Dengan adanya ‘‘pohon sanad’’, pembahasan sanad hadits tampaknya lebih mudah.
Abu Abdillah-Situbondo

Jazakallahu khairan atas masukannya.

Rubrik Bersambung Hilang?
Mengapa Asy Syariah tidak lagi menyajikan rubrik Jejak/Ibrah? Padahal rubrik ini sangat diminati oleh ikhwan yang gemar mengambil pelajaran dari kisah-kisah.
Rahmat-Muna

Redaksi menerima banyak pertanyaan senada. Rubrik Jejak atau Ibrah, tidaklah kami hilangkan. Rubrik-rubrik tersebut masih ada, hanya saja tidak bisa rutin tampil pada setiap penerbitan karena pertimbangan ruang yang ada. Sebagaimana yang pernah kami sampaikan, beberapa rubrik memang akan naik-turun sesuai dengan ruang yang tersisa. Mohon maaf jika hal ini, terutama pada rubrik bersambung, menimbulkan ketidaknyamanan di hati Pembaca. Jazakallahu khairan.