JANGAN MEREMEHKAN SATU KEBAIKANPUN

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Barangkali kita sering menganggap bahwa perbuatan yang bernilai adalah yang besar dan berat, sebagaimana diriwayatkan:
الْأَجْرُ عَلَى قَدْرِ الْمَشَقَّةِ
“Pahala itu tergantung kepada tingkat kesulitan.”
Kelirunya kalau kita jadi sering meremehkan perbuatan-perbuatan kecil. Padahal, sekecil apa pun, jika dikerjakan dengan ikhlas nilainya berlipat ganda di sisi Allah l.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ، وَلاَ يَصْعَدُ إِلَى اللهِ إِلاَّ الطَّيِّبُ، فَإِنَّ اللهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ، ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهَا كمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ، حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ
“Siapa yang bersedekah dengan separuh kurma dari usaha yang baik (halal)—dan tidak akan naik kepada Allah melainkan yang baik—sesungguhnya Allah akan menerimanya dengan Kanan-Nya, kemudian mengembangkannya untuk pemiliknya seperti salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya hingga menjadi sebesar gunung.”1
Berapa banyak amalan yang sedikit namun berlipat ganda nilainya di sisi Allah l. Sebaliknya, banyak pula amalan besar yang akhirnya menjadi debu yang beterbangan. Terlebih jika diselingi dengan syirik, besar atau kecil.
Allah l berfirman:
Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu berbuat syirik, niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)
Allah l berfirman:
Katakanlah, “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (al-Kahfi: 103—104)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعْمَتَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدتُ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لِأَنْ يُقَالَ: جَرِيءٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ، فَأُتِيَ بِهِ، فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيكَ الْقُرْآنَ. قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ، وَقَرَأْتَ الْقُرْآنَ لِيُقَالَ: هُوَ قَارِئٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِيَ فِي النَّارِ، وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَأَعْطَاهُ مِنْ أَصْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ، فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا، قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا؟ قَالَ: مَا تَرَكْتُ مِنْ سَبِيلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيهَا لَكَ. قَالَ: كَذَبْتَ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ: هُوَ جَوَادٌ، فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ، ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ
Sesungguhnya orang yang mula-mula diputuskan perkaranya adalah; (pertama), seseorang yang mati syahid, dihadapkan (kepada Allah) lalu diperlihatkan kepadanya nikmatnya, dan dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat dengan kenikmatan itu?”
Orang itu berkata, “Saya berperang demi Engkau hingga mati syahid.”
Allah berkata, “Engkau dusta. Sebetulnya engkau berperang agar dikatakan pemberani, dan itu sudah diucapkan (orang),” lalu dia dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya sampai dilemparkan ke dalam neraka.
(Yang kedua) orang yang menuntut ilmu (syar’i), mengajarkannya, dan membaca Al-Qur’an. Dia dibawa ke hadapan Allah, diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat padanya?”
“Saya mencari ilmu dan mengajarkannya serta membaca Al-Qur’an karena Engkau,” jawabnya.
Kata Allah, “Kamu dusta. Sebetulnya engkau mencari ilmu agar dikatakan alim dan membaca Al-Qur’an agar digelari qari`. Sungguh, semua itu sudah diucapkan (orang).” Dia pun dibawa dalam keadaan diseret di atas mukanya lalu dilemparkan ke dalam neraka.
(Yang ketiga), orang yang telah diberi kecukupan dan harta oleh Allah, dia dihadapkan kepada Allah, dan diperlihatkan nikmatnya, lalu dia mengenalnya. Allah bertanya, “Apa yang engkau perbuat padanya?”
“Tidak saya biarkan satu jalan yang Engkau cintai saya berinfak padanya, melainkan saya melakukannya karena Engkau,” katanya.
Allah berkata, “Kamu dusta. Sebetulnya kamu berbuat demikian agar dikatakan dermawan, dan itu sudah diucapkan (orang),” lalu dia diseret di atas mukanya hingga dilemparkan ke dalam neraka.2
Lihatlah betapa sia-sia amalan mereka. Perbuatan mulia dan besar yang mereka kerjakan, ternyata berujung di neraka.

Di antara Faedah Tauhid
Tauhid, yakni keikhlasan, demikian tinggi dan penting dalam hidup seorang manusia. Terlebih lagi bagi seorang mukmin. Sampai pun dosa yang besar sekalipun, lebur dengan adanya tauhid dan keikhlasan yang murni dalam hati seseorang.
Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari Anas z, bahwa Rasulullah n bersabda, “Allah l berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Hai anak Adam, seandainya engkau datang kepada-Ku membawa dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menghadap-Ku tanpa menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun, sungguh, Aku pasti datangkan kepadamu ampunan sepenuh itu pula.”
Kisah berikut ini adalah salah satu buah tauhid dan keikhlasan dalam diri seseorang. Hal itu, karena tidak mungkin perbuatan ringan seperti yang akan diceritakan di sini membuahkan hasil begitu besar, yaitu ampunan Allah l.
Allah l berfirman:
“Jika kamu kafir, maka sesungguhnya Allah tidak memerlukanmu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (az-Zumar: 7)
Abu Hurairah z bercerita, “Rasulullah n bersabda:
بَيْنَمَا كَلْبٌ يُطِيفُ بِرَكِيَّةٍ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ إِذْ رَأَتْهُ بَغِيٌّ مِنْ بَغَايَا بَنِي إِسْرَائِيلَ فَنَزَعَتْ مُوقَهَا فَسَقَتْهُ فَغُفِرَ لَهَا بِهِ
“Ketika seekor anjing berputar-putar di sekeliling sebuah sumur, dalam keadaan dia hampir mati kehausan. Tiba-tiba, dia terlihat oleh seorang baghiy (pelacur) di kalangan Bani Israil. Kemudian wanita itu melepas sepatunya lalu memberi minum anjing tersebut. Karena itu, dia diampuni oleh Allah.”3
Di siang terik itu, tanah dan batu bagai tungku api raksasa. Ia membakar semua yang di atasnya. Seekor anjing, berjalan tertatih-tatih sambil menjulurkan lidahnya. Namun, itu bukan sekadar kebiasaannya.
Semangat hidupnya seolah terbangkit ketika mencium bau air yang segar. Dia pun berjalan mengitari sebuah sumur yang ada di tanah sunyi itu, mencari jalan untuk meminum airnya. Tentu saja tidak mungkin. Air itu jauh di dasar sumur.
Akhirnya, anjing itu hanya berputar-putar di sekelilingnya. Bagaimana caranya agar dia dapat minum? Adakah jalan untuk menuruni sumur itu? Berkali-kali dia mengitari sumur itu dengan rasa panik karena kehausan. Apakah dia akan mati di tepi sumur itu?

Jangan dikira dia sekadar berusaha. Anjing juga makhluk Allah l, yang malah lebih mulia dari kebanyakan makhluk yang berpakaian. Anjing juga hamba-hamba Allah l. Bahkan, ada yang lebih taat kepada Allah l daripada sebagian orang yang bersorban.
Pernah dinukil dari Ibnu ‘Abbas z, beliau mengatakan, “Anjing yang tepercaya lebih baik daripada manusia yang khianat.”
Itulah seekor anjing. Dia juga bertasbih, beribadah, berdoa dengan cara yang ditentukan oleh Allah l bagi mereka. Allah l berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka….” (al-Isra: 44)
Sambil berputar-putar dia tetap berdoa dengan cara yang hanya dimengerti oleh Penciptanya l. Keadaan darurat yang dialami anjing itu sudah merupakan ungkapan permohonan sendiri.
Allah l adalah Dzat Yang Maha Pengasih lagi Penyayang kepada hamba-hamba-Nya, siapa pun dia, makhluk apa pun dia. Apa pun pekerjaannya, dan bagaimanapun statusnya.
Semua yang ada di bumi dan di langit, Allah l yang mengatur rezeki mereka. Walaupun seekor anjing, Allah l tetap memerhatikan kebutuhannya.
Tak berapa lama, lewatlah seorang wanita Bani Israil. Wanita ini dikenal sebagai baghiy (pelacur). Dari kejauhan, dia melihat seekor anjing berputar-putar di sebuah sumur. Ada apa dengan anjing tersebut? Mengapa dia berputar-putar di sekeliling sumur itu? Apakah makanannya terjatuh ke dalam sumur itu? Atau ada anjing lain yang terjatuh ke dalamnya? Ada apa?
Akan tetapi, karena dia juga kehausan, dia pun melangkah menuju sumur itu. Ternyata, itulah sumur satu-satunya di jalan yang sunyi itu. Semakin dekat, wanita itu baru mengerti kalau anjing itu ternyata hampir mati kehausan.
Wanita itu melihat-lihat adakah sesuatu yang dapat dipakai untuk mengambil air di dalam sumur tersebut? Ternyata tidak ada. Akhirnya, dia nekat menuruni sumur itu sambil membawa sepatunya untuk mengambil air.
Tak lama, wanita itu keluar dari dalam sumur sambil menenteng sepatunya yang berisi air. Setelah itu dia meminumkannya kepada anjing itu. Tidak diceritakan berapa kali dia naik turun mengambil air. Paling tidak dengan hanya sebuah sepatu, tentu tidak cukup menghilangkan haus anjing itu.
Dengan telaten dia meminumkannya kepada anjing tersebut sementara dia sendiri juga kehausan. Tak lama anjing itu pun segar kembali.
Rasulullah n mengatakan bahwa Allah l mengampuninya. Hanya karena memberi minum seekor anjing, wanita itu diampuni oleh Allah l. Padahal, pekerjaannya selama ini bukanlah pekerjaan yang mulia. Dosa besar. Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, serta jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)
Tentu saja, semua ini didasari oleh keimanannya yang murni, sebagaimana ditegaskan dalam hadits Anas z di atas. Kalau tidak, belum tentu semua baghiy akan memperoleh ampunan hanya karena memberi minum seekor anjing. Renungkan kembali hadits tentang tiga orang yang dilemparkan ke dalam neraka pertama kali.
Mudah-mudahan Allah l memelihara keikhlasan itu dalam hati kita sampai kita menghadap-Nya. Amin.
Wallahu a’lam.

 

Catatan Kaki:

1   HR. al-Bukhari (2/134) (1410) dan Muslim (3/85) (1014) (64).

2 HR. Muslim (1905).

3 HR. al-Bukhari (4/216 [2467]) dan Muslim (2245).

 

Abu Bakr Menunaikan Haji

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Pada tahun 9 H, Rasulullah n, mengutus Abu Bakr z haji bersama kaum muslimin. Pelaksanaan haji ini sangat kuat pengaruhnya, terutama sesudah Pembebasan Makkah. Pintu-pintu mulai terbuka menyambut kaum muslimin berhaji dan umrah, silih berganti.
Peristiwa haji ini dapat dikatakan sebagai persiapan menghadapi haji akbar, yaitu haji wada’. Pada haji Abu Bakr z ini, diumumkan batalnya semua perjanjian yang ada dengan kaum musyrikin dan dimulainya tahapan baru kehidupan di jazirah Arab. Karena itu, tidak ada pilihan lain bagi manusia selain menerima syariat Allah l. Setelah ultimatum ini tersebar, kabilah-kabilah Arab mulai yakin urusan ini bukan main-main. Paganisme sudah hancur. Mulailah mereka mengirim utusan menyatakan terang-terangan keislaman mereka.
Abu Bakr z bertolak dari Madinah bersama tiga ratus orang menuju Tanah Haram yang sudah dibersihkan oleh Allah l dari berhala dan tempat-tempat pemujaan. Abu Bakr z berangkat membawa lima ekor unta untuk korban, sedangkan Rasulullah n mengirim pula 25 ekor yang beliau tandai sendiri.
Termasuk karunia Allah l kepada Rasul-Nya n dan kaum muslimin adalah mengembalikan kesucian Bait-Nya sebagaimana dahulu Ibrahim q meninggikan fondasinya bersama putra tercinta, Ismail q. Lalu turunlah firman-Nya:
“Dan (inilah) suatu permakluman dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia pada hari haji akbar, bahwa sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrikin….” (at-Taubah: 3)
Firman Allah l:
“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan masjid-masjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka. Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 17—18)
Dan firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, janganlah mereka mendekati Masjidilharam sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, Allah nanti akan memberikan kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 28)
Tak lama, Rasulullah n mengutus ‘Ali bin Abi Thalib z menyusul Abu Bakr z.
‘Ali bin Abi Thalib pun bertemu dengan Abu Bakr z di ‘Araj. Abu Bakr bertanya, “Apakah Rasulullah n menunjukmu memimpin haji?”
“Tidak, “ kata ‘Ali, “Hanya saja saya diutus oleh beliau n untuk membacakan kepada seluruh manusia bara’ah (surah at-Taubah) dan mengembalikan semua kesepakatan kepada pemiliknya.”
Pada waktu itu, perjanjian antara Rasulullah n dan kaum musyrikin berlaku selama setahun dan khusus. Dalam satu tahun tidak boleh seorang pun dihalangi dari Baitullah dan tidak boleh seorang pun merasa takut di bulan-bulan haram. Adapun yang khusus adalah perjanjian antara Rasulullah n dan kabilah-kabilah Arab sampai pada waktu tertentu. Dan merupakan tradisi Arab jika membatalkan sebuah perjanjian, dilakukan oleh kerabat terdekat dari orang yang ingin membatalkannya. Itulah sebabnya Rasulullah n mengutus ‘Ali z.
Uraian ini sekaligus bantahan terhadap kaum Rafidhah yang mengatakan bahwa Rasulullah n mencopot kedudukan Abu Bakr z sebagai Amirul Haj dan menggantinya dengan ‘Ali bin Abi Thalib z.
Setelah itu, Abu Bakr z tetap memimpin kaum muslimin haji sementara ‘Ali z membacakan bara-ah itu (pernyataan putus hubungan) kepada manusia pada hari nahar, dekat jamrah.
Ketika orang banyak berkumpul di Mina menunaikan manasik haji, ‘Ali bin Abi Thalib z berdiri di sebelah Abu Hurairah z lalu membacakan ayat-ayat pertama surat at-Taubah.
Selesai membacakannya, ‘Ali z diam sejenak lalu melanjutkan, “Hai manusia, tidak akan masuk surga orang yang kafir. Tidak boleh berhaji sesudah tahun ini seorang musyrik pun. Tidak boleh pula seorang pun thawaf dalam keadaan telanjang. Siapa yang masih mempunyai kesepakatan dengan Rasulullah n, itu berlaku sampai waktunya….”
Kemudian semua diberi waktu selama empat bulan sejak hari itu, agar setiap orang kembali dengan aman ke negeri mereka.
Sejak saat itu, sempurnalah kesucian Baladul Amin (Makkah) dari kekotoran. Sesudah hari itu, tidak ada seorang musyrik pun yang datang haji ke Makkah. Tidak pula ada seorang kafir pun menetap di sana. Akhirnya, cahaya kebenaran dan iman menembus seluruh pelosok jazirah sampai waktu yang dikehendaki Allah l.

Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab t menerangkan, “Rasulullah n menunda hajinya dan mengutus Abu Bakr z agar berhaji bersama kaum muslimin, karena beberapa alasan. Di antaranya:
Bangsa Arab sebagiannya masih dalam kebiasaan jahiliah mereka. Ada yang masih menampakkan kesyirikan terang-terangan di Tanah Suci, thawaf dalam keadaan telanjang, dan masih adanya perjanjian antara Rasulullah n dan Quraisy serta musyrikin lainnya. Itulah sebagian alasan, mengapa Rasulullah n menunda haji hingga turun surat al-Bara’ah, lalu beliau n memaklumkan bahwa Baitullah saat ini dan seterusnya dalam kekuasaan tauhid serta di bawah aturan Rasulullah n.
Wallahu a’lam.

 

Tradisi Baik yang Tinggal Kenangan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Segala puji syukur bagi Allah l semata yang telah melimpahkan berbagai kenikmatan dan keutamaan kepada para hamba-Nya, baik nikmat dunia maupun agama, terutama nikmat diutusnya Rasul-Nya n yang mulia dengan membawa syariat yang sempurna. Allah l berfirman:
“Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama meskipun orang-orang musyrik benci.” (ash-Shaff: 9)
Allah l juga memberikan kesempurnaan bagi syariat yang mulia ini, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ
“Sesungguhnya tidak ada seorang nabi pun yang diutus sebelumku melainkan wajib baginya untuk menunjukkan kepada umatnya seluruh kebaikan yang ia ketahui dan memperingatkan mereka dari seluruh kejelekan yang ia ketahui.” (HR. Muslim dari Ibnu Umar c)
Beliau n juga menyampaikan dan menjelaskan syariat ini kepada umatnya dengan sempurna, sebagaimana sabdanya:
مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ ويُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ، إِلاَّ وَقَدْ بُيِّنَ لَكُمْ
“Tidaklah tersisa sesuatu pun yang dapat mendekatkan diri ke jannah dan menjauhkan dari api neraka melainkan sungguh telah dijelaskan kepada kalian.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir)
Oleh karena itu, al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya, “Ini adalah nikmat Allah l yang paling agung bagi umat ini. Allah l telah menyempurnakan agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan agama yang lainnya (dalam beribadah kepada-Nya). Mereka juga tidak membutuhkan nabi yang lain selain Nabi n yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu, Allah l menjadikan beliau n sebagai penutup para nabi dan mengutus beliau n kepada seluruh alam, baik golongan jin maupun manusia (sampai datangnya hari kiamat). Maka dari itu, tidak ada sesuatu yang halal selain apa yang beliau n halalkan. Tidak ada pula sesuatu yang haram selain yang beliau n haramkan. Tidak ada agama selain apa yang beliau n syariatkan. Berita apapun yang telah beliau n sampaikan (kepada umatnya) adalah benar dan tidak mengandung kedustaan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/14)
Allah l mengabarkan hakikat diutusnya Rasulullah n dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)
Al-Imam Ibnu Katsir t menjelaskan makna ayat ini, “Allah l mengutus beliau n sebagai rahmat bagi mereka semua. Barang siapa menerima rahmat ini dan mensyukuri nikmat ini niscaya ia akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat. Barang siapa menolak dan menentangnya niscaya akan rugi di dunia dan akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/179)
Beliau n diutus kepada umatnya dalam keadaan kerusakan akidah, ibadah, dan muamalah telah merata tersebar. Meskipun demikian, masih ada beberapa tradisi baik yang mereka warisi dari nenek moyangnya, seperti menghormati kedua orangtua, saudara, tetangga, dan tamu. Demikian pula kepribadian suka membantu, memberi hadiah, dan lainnya.
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْاَخْلَاقِ
“Hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adabul Mufrad, Ibnu Sa’d, dan al-Hakim dari Abu Hurairah z, dihasankan oleh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 45)
Seperti itu juga keadaan bangsa Indonesia pada umumnya yang terdiri dari berbagai suku dan beragam bahasa. Mereka juga memiliki banyak tradisi, mayoritasnya berbau kesyirikan, khurafat, dan tahayul yang bertentangan dengan agama Islam yang mulia.
Di masyarakat kita, masih ada beberapa tradisi yang secara global dibenarkan oleh syariat, meskipun penerapannya harus diluruskan agar tidak melampaui batasan agama. Di antara tradisi-tradisi yang baik yang ditetapkan oleh syariat Islam secara global adalah sebagai berikut.

1. Menghormati orang tua
Menghormati orang tua mencakup kedua orang tua, yaitu bapak-ibu dan orang yang lebih tua umurnya. Diajarkan oleh orang-orang tua untuk beradab atau bersopan-santun terhadap mereka, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Sampai-sampai, dalam bahasa Jawa, ada tingkatan-tingkatan berbahasa. Bahasa yang dipakai oleh seseorang terhadap teman seumurnya berbeda dengan bahasa yang dia pakai kepada kedua orang tuanya, orang yang lebih tua umurnya, atau yang lebih tinggi kedudukannya dalam hal jabatan atau keilmuan.
Demikian juga dalam hal perbuatan. Ada ketentuan-ketentuan tradisi yang cukup hanya diluruskan penerapannya, seperti jika berbicara tidak boleh sambil mengangkat tangan dan duduk di tempat yang lebih tinggi atau sama, tidak boleh makan dan minum mendahului mereka. Ini adalah beberapa sisi kebaikan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan.
Allah l berfirman:
“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu-bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil’.” (al-Isra: 23—24)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t menjelaskan, “Firman Allah l ﮝ ﮞ maknanya adalah berbuat baiklah kalian kepada keduanya dengan segala jenis kebaikan, baik berupa ucapan maupun perbuatan, karena dengan perantaraan keduanya Allah l mewujudkan seorang hamba. Oleh karena itu, keduanya memiliki hak kecintaan, kebaikan, dan kedekatan (dari anak tersebut), yaitu hal-hal yang menuntut untuk lebih dikuatkan akan haknya mereka dan wajibnya berbuat baik terhadap mereka.”
Adapun firman Allah l:
“Janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’…”
Beliau t mengatakan, “Ini adalah hal teringan yang menyakitkan mereka (sehingga Allah l melarangnya). Dengan larangan ini, Dia l memperingatkan akan hal-hal lain yang menyakiti (hati keduanya). Dengan demikian, maknanya adalah jangan engkau menyakiti keduanya dengan sesuatu yang paling ringan sekalipun.
Adapun firman Allah l:
“Dan ucapkanlah kepada mereka berdua perkataan yang mulia…”
maknanya, kata beliau t, “Berbicaralah dengan ucapan yang dicintai oleh keduanya. Beradablah serta berlemah-lembutlah dengan ucapan yang sopan dan bagus yang menyenangkan hati keduanya. Jadikanlah jiwa keduanya tenang dengannya. Cara mewujudkannya berbeda-beda tergantung perbedaan keadaan, sarana, dan waktu.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 456)
Rasulullah n juga menuntunkan satu adab yang mulia, yaitu adab terhadap orang yang lebih tua umurnya, sebagaimana dalam sabdanya:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
“Bukan dari kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati orang tua.” (HR. at-Tirmidzi dan lainnya dari Anas bin Malik z, disahihkan oleh al-Albani dengan keseluruhan jalurnya dalam ash-Shahihah no. 2196)
Termasuk adab terhadap orang yang lebih tua adalah tidak mendahului mereka dalam berbicara. Itulah adab yang diajarkan oleh Rasulullah n. Dari Abu Sa’id Samurah bin Jundub z, ia berkata:
قَدْ كُنْتُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ n غُلَامًا فَكُنْتُ أَحْفَظُ عَنْهُ فَمَا يَمْنَعُنِي مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا أَنَّ هَا هُنَا رِجَالًا هُمْ أَسَنُّ مِنِّي
“Sungguh di masa Rasulullah n aku adalah anak kecil. Aku menghafal dari beliau. Tidak ada yang menghalangi aku untuk berbicara selain bahwa masih ada orang-orang yang lebih tua umurnya daripada diriku.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dalam pemberian hadiah pun orang yang lebih tua umurnya didahulukan, sebagaimana sabda Rasulullah n:
أَرَانِي فِي الْمَنَامِ أَتَسَوَّكُ بِسِوَاكٍ فَجَذَبَنِي رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا أَكْبَرُ مِنَ الْآخَرِ فَنَاوَلْتُ السِّوَاكَ الْأَصْغَرَ مِنْهُمَا فَقِيلَ لِي: كَبِّرْ؛ فَدَفَعْتُهُ إِلَى الْأَكْبَرِ
“Aku bermimpi dalam tidurku bahwa aku sedang bersiwak. Kemudian datang kepadaku dua orang laki-laki, salah satunya lebih tua. Aku berikan siwakku kepada yang lebih muda, namun dikatakan kepadaku, ‘Dahulukan yang lebih tua.’ Akhirnya, aku memberikan siwak itu kepada yang lebih tua.” (HR. Muslim)
Tatkala makan dan minum, hendaknya orang yang lebih tua juga didahulukan, lebih-lebih jika banyak jumlahnya, kecuali jika yang tua berada di sebelah kiri orang yang memberi. Dari Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z:
أُتِيَ بِشَرَابٍ فَشَرِبَ مِنْهُ وَعَنْ يَمِينِهِ غُلَامٌ وَعَنْ يَسَارِهِ الْأَشْيَاخُ فَقَالَ لِلْغُلَامِ: أَتَأْذَنُ لِي أَنْ أُعْطِيَ هَؤُلَاءِ؟ فَقَالَ الْغُلَامُ: لَا وَاللهِ، يَا رَسُولَ اللهِ، لَا أُوثِرُ بِنَصِيبِي مِنْكَ أَحَدًا. قَالَ: فَتَلَّهَ رَسُولُ اللهِ ى فِي يَدِهِ
“Diambilkan minuman untuk Rasulullah n, beliau pun meminum sebagiannya. Di sebelah kanan beliau ada anak kecil dan di sebelah kiri ada beberapa orang tua. Beliau n berkata kepada anak kecil tersebut, ‘Apakah engkau mengizinkan aku memberikan (minuman ini) kepada mereka?’ Anak tersebut menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.’ Kemudian Rasulullah n meletakkan minuman itu di tangan anak kecil tersebut.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Gotong-royong
Dalam kehidupan masyarakat kita, ketika membangun sarana dan prasarana umum seperti masjid, jalan, saluran, jembatan, dan yang lain, mereka mengerjakannya dengan cara gotong-royong (ta’awun). Bahkan, mereka memiliki slogan ‘Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.’
Hal ini termasuk tradisi yang baik yang harus dipertahankan dan ditingkatkan karena syariat Islam yang mulia dan sempurna membenarkan dan meluruskannya.
Allah l memerintah hamba-hamba-Nya;
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, serta jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)
Rasulullah n membuat permisalan ta’awun kaum muslimin dalam kebaikan dan ketakwaan sebagaimana bangunan yang sebagiannya mengokohkan sebagian yang lain. Beliau n bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Orang mukmin terhadap orang mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (Muttafaqun ‘alaih)
Bukan itu saja. Kepedulian mereka terhadap tetangga, saling menghormati di antara mereka, diwujudkan dengan saling menolong, saling memberi hadiah, saling mengunjungi, dan lainnya.
Rasulullah n bersabda:
مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
“Permisalan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, saling merahmati, dan saling mengasihi, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuh tersebut merintih sakit, rasa sakit tersebut juga akan dirasakan oleh seluruh anggota tubuh lainnya. Ia pun tidak bisa tidur di waktu malam dan tubuhnya demam.” (Muttafaqun ‘alaih dari an-Nu’man bin Basyir c)
Dari Ibnu Umar c, dari Aisyah x, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ
“Jibril q senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sampai-sampai aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisi.” (Muttafaqun ‘alaih)
Rasulullah n juga bersabda:
يَا أَبَا ذَرٍّ، إِذَا طَبَخْتَ مَرَقَةً فَأَكْثِرْ مَاءَهَا وَتَعَاهَدْ جِيرَانَكَ
“Wahai Abu Dzar, jika engkau memasak daging, perbanyaklah kuahnya dan berikanlah (sebagiannya) kepada tetanggamu.” (HR. Muslim dari Abu Dzar z)
Rasulullah n bersabda:
واللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“Allah l senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba itu membantu saudaranya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Demikian juga upaya memelihara ketertiban dengan amar ma’ruf nahi mungkar dan menjaga keamanan bersama dengan melakukan ronda (siskamling). Ini adalah salah satu realisasi sabda Rasulullah n:
مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا. فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا
“Permisalan orang yang mengingkari kemungkaran dan orang yang melakukannya seperti suatu kaum yang menaiki sebuah kapal. Sebagian mereka berada di bagian atas dan sebagian berada di bawah. Ketika orang-orang yang di bawah meminta air minum kepada orang-orang yang di atas, mereka tidak menghiraukannya. Orang-orang yang di bawah lalu berkata, ‘Kalau kita membuat satu lubang saja di tempat kita ini, kita tidak akan mengganggu orang-orang yang ada di atas kita.’ Apabila orang-orang yang di atas membiarkan apa yang mereka inginkan, akan binasalah mereka semua. Namun, jika orang-orang yang di atas menghalanginya, mereka semua akan selamat.” (HR. al-Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir c)
Rasulullah n juga melarang seseorang menyakiti tetangganya dengan ucapan atau perbuatan. Beliau n bersabda:
وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللهِ لَا يُؤْمِنُ. قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ
“Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman! Demi Allah, tidak beriman!” Lalu ditanyakan kepada beliau n, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau n menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguan-gangguannya.” (Muttafaqun ‘alaih dari Abu Hurairah z)

3. Musyawarah
Asy-Syaikh Hammad bin Ibrahim t, “Tidak ada keraguan dan kebimbangan bahwa musyawarah—yaitu berserikatnya orang-orang yang berakal dalam keilmuan dan pemahaman mereka—termasuk sebab mendapatkan pendapat yang benar dan tepat, karena sekumpulan ulama itu lebih pantas untuk benar (pendapatnya) daripada orang yang sendirian (dengan pendapatnya). Juga karena orang yang diajak bermusyawarah itu seringkali mengingatkanmu akan hal-hal yang engkau lupa.” (ash-Shawarif, hlm. 150)
Tatkala terjadi suatu kejadian atau permasalahan dalam kehidupan masyarakat, para pemuka akan segera mengadakan musyawarah dengan warganya untuk mencari solusi yang terbaik dengan dasar ‘musyawarah untuk mufakat’, yaitu memusyawarahkan sesuatu untuk mencari solusi dengan kata sepakat dalam masalah tersebut.
Langkah ini dibenarkan oleh Allah l, sebagaimana Allah l sendiri memerintah Rasul-Nya n dalam firman-Nya:
“Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, bertawakallah kepada Allah.” (Ali Imran: 159)
Allah l juga berfirman:
ﮞ ﮟ ﮠ
“Dan urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka.” (asy-Syura: 38)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t dalam tafsirnya mengatakan, “Urusan-urusan mereka yang terkait dengan agama dan dunia dimusyawarahkan di antara mereka. Bukan satu orang mengambil keputusan dengan pendapatnya dalam urusan bersama. Hal ini tidak terjadi melainkan sebagai perwujudan dari persatuan umum, persaudaraan, kasih sayang, dan kecintaan di antara mereka, serta sempurnanya pendapat-pendapat mereka.”
Al-Izz bin Abdis Salam t berkata, “Sesungguhnya Allah l tidak mengumpulkan seluruh kebenaran dan ketepatan itu pada satu orang. Oleh karena itu, disyariatkan musyawarah karena kebenaran dan ketepatan itu terkadang tampak jelas bagi satu kaum tetapi tidak diketahui oleh kaum yang lain. Sungguh al-Imam asy-Syafi’i t ditanya, ‘Di mana ilmu itu semuanya?’ Beliau t menjawab, ‘Di alam semuanya.’ Maksudnya, Allah l memisah-misahkan ilmu itu pada para hamba-Nya dan tidak mengumpulkannya pada diri satu orang saja.” (Ahkamul Jihad, hlm. 95)
Gotong-royong (ta’awun) dan musyawarah adalah wujud kepedulian, ketertiban, ketenangan, dan kecintaan dalam kehidupan masyarakat. Adapun pola kehidupan liberal dan individual akan merusak tatanan kehidupan bermasyarakat yang baik, sopan, dan beradab, sehingga menjadi beringas, brutal, dan anarkis. Nas’alullaha al-‘afiyah was salamah minal khudzlan (Kita memohon kepada Allah l kesehatan dan keselamatan dari kehinaan).

4. Rasa malu
Secara umum, pendidikan atau tarbiyah yang dilakukan oleh para orang tua—sebelum terjadi pergeseran dan penyimpangan—kepada anak-anaknya, laki-laki atau perempuan, khususnya anak gadis mereka, baik di Jawa maupun di luar Jawa, menanamkan rasa malu (al-haya) pada diri anak-anaknya. Rasa malu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang akan menjatuhkan harkat dan martabat mereka.
Al-Imam an-Nawawi t mengatakan bahwa para ulama berkata, “Hakikat rasa malu adalah akhlak (kepribadian) yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan-perbuatan yang jelek dan menghalanginya dari perbuatan mengurangi hak setiap yang memiliki hak.”
Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu tidaklah mendatangkan selain kebaikan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Imran bin Hushain z)
Dalam riwayat al-Imam Muslim yang lain:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
“Rasa malu itu baik semuanya.”
Al-Hafizh Ibnu Rajab t berkata, “Ketahuilah bahwa rasa malu (al-haya) ada dua macam.
a. Rasa malu yang menjadi tabiat asli seseorang
Rasa malu yang seperti ini adalah perangai mulia yang dilimpahkan oleh Allah l kepada seorang hamba. Oleh karena itu, Nabi n bersabda:
الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidak akan mendatangkan selain kebaikan.”
Hal ini karena rasa malu tersebut akan menghalangi seseorang melakukan hal-hal yang buruk dan hina. Selain itu, rasa malu ini juga akan mendorong pemiliknya melakukan berbagai bentuk kepribadian yang tinggi dan mulia sehingga hal ini termasuk bagian dari iman.
b. Rasa malu yang timbul karena mengenal Allah l, keagungan-Nya, dan keyakinan bahwa Allah l sangat dekat dengan para hamba-Nya.
Dia l senantiasa melihat dan mendengar (seluruh aktivitas para hamba). Ilmu-Nya meliputi perkara yang tampak dan tidak tampak. Maka dari itu, rasa malu yang tumbuh dari keyakinan yang seperti ini termasuk keimanan yang tinggi. Bahkan, termasuk derajat (agama yang paling tinggi) yaitu al-ihsan. (al-Jami’, hlm. 501)
Namun, tradisi-tradisi yang baik tersebut tinggal kenangan. Ia telah berubah menjadi kerusakan, kebobrokan, kerendahan, dan kehinaan. Anak-anak sudah tidak memiliki adab sopan-santun kepada orang tua. Orang tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan tetangganya. Demikian juga, rasa malu telah hilang dari diri mereka, kecuali orang yang dirahmati oleh Allah l.
Allah l berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Jika rasa malu sudah dicabut dari hati, akan muncul berbagai perbuatan kerusakan, kerendahan, dan kehinaan. Rasulullah n bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya termasuk perkara yang masih didapati oleh manusia dari para nabi terdahulu adalah: Apabila engkau sudah tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu Mas’ud z)
Rusaknya tatanan kehidupan masyarakat disebabkan oleh kejahilan dan kemaksiatan serta miskinnya kepedulian para orangtua dalam mendidik anak-anaknya dengan didikan agama. Terlebih lagi, lembaga-lembaga pendidikan yang ada, dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, sangat kurang perhatiannya terhadap penanaman akidah yang benar dan akhlak yang baik.
Keadaan yang sangat memprihatinkan ini, masih ditambah oleh media massa seperti televisi, radio, internet, koran, tabloid, dan majalah yang penuh dengan acara dan hal-hal yang merusak moral kaum muslimin, karena mayoritas media tersebut mengemban misi Yahudi dan Nasrani. Allah l berfirman:
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)
Wallahu a’lam.

 

Penyimpangan Akidah Disekitar Kita

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Semua muslim tentu mengetahui bahwa tujuan dirinya diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)
Ibadah kepada Allah l adalah menaati Allah l dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Itulah hakikat agama Islam. (Taisir al-’Azizil Hamid hlm. 31)
Ibadah merupakan hak Allah l atas seluruh hamba-Nya, sebagaimana dalam hadits Muadz bin Jabal z, Rasulullah n berkata:
حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
“Hak Allah l atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Definisi Ibadah
Ibnu Taimiyah t menyatakan, “Ibadah adalah satu nama yang mencakup semua urusan yang diridhai dan dicintai oleh Allah l, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin.”
Beliau t juga berkata, “Ibadah adalah menaati Allah l dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan para rasul.” (Lihat Taisir ‘Azizil Hamid hlm. 30 dan Ma’arijul Qabul)
Ibadah dibangun di atas tiga hal:
1. Merendahkan diri di hadapan Allah l.
2. Mencintai Allah l.
3. Khauf, takut akan azab Allah l.
Ibnu Katsir berkata, “Ibadah adalah satu perkara yang menggabungkan tadzallul (merendahkan diri), mahabbah (cinta), dan khauf (rasa takut).” (Lihat Taisir ‘Azizil Hamid hlm. 31 dan Ma’arijul Qabul)

Ibadah hanya untuk Allah l
Ibadah apa pun yang dilakukan oleh seorang muslim haruslah diikhlaskan hanya untuk Allah l. Inilah dakwah para rasul, dari Nuh q sampai Nabi Muhammad n. Allah l berfirman:
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah thaghut.” Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (an-Nahl: 36)
Sebagaimana kita wajib beribadah kepada Allah l, kita pun dilarang berbuat syirik dalam melakukan ibadah. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Perintah Allah l yang paling agung adalah perintah tauhid dan larangan yang paling besar adalah syirik. Allah l berfirman:
“Beribadahlah kalian kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (an-Nisa: 36)
Beliau t juga berkata, “Barang siapa memberikan ibadahnya kepada selain Allah l, ia telah kafir karena Allah l berfirman:
“Dan barang siapa menyembah ilah (sesembahan) yang lain bersama Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung. (al-Mu’minun: 117) (Lihat Tsalatul Ushul)

Bahaya Syirik
Banyak sekali dallil yang menerangkan bahaya perbuatan syirik. Di antara dalil-dalil tersebut adalah sebagai berikut.
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan dia mengampuni segala dosa selain dari syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (an-Nisa: 48)
Sungguh telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam.” Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israil, sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, pasti Allah mengharamkan baginya surga dan tempatnya ialah neraka. Tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolong pun.”(al-Maidah: 72)
Dalam ayat lain, Allah l berfirman:
Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan Allah, niscaya akan gugurlah amal-amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65—66)
Allah l berfirman juga:
Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Luqman: 13)
Banyak pula ayat lain yang menerangkan bahaya syirik.
Adapun dari hadits, di antaranya dari Jabir z, Rasulullah n berkata:
مَنْ لَقِيَ اللهَ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ لَقِيَهُ يُشْرِكُ بِهِ دَخَلَ النَّارَ
“Barang siapa berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak menyekutukan Allah dengan apapun, ia akan masuk surga. Barang siapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan berbuat syirik, ia masuk neraka.” (HR Muslim)
Al-Imam an-Nawawi t berkata, “Masuk nerakanya seorang musyrik berlaku secara umum, dia akan masuk neraka dan kekal di dalamnya. Tidak ada perbedaan antara ahlul kitab kalangan Yahudi, Nasrani, dan para penyembah patung serta seluruh orang kafir dari kalangan orang-orang murtad dan Mu’aththilah (golongan yang meniadakan nama dan sifat Allah l) …” (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid)
Apabila telah mengetahui bahaya perbuatan syirik, hendaknya kita tidak meremehkan syirik. Nabi Ibrahim q saja berdoa kepada Allah l agar dijauhkan dari syirik, sebagaimana dalam firman Allah l:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Wahai Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala.” (Ibrahim: 35)
Jika Nabi Ibrahim q saja berdoa agar dijauhkan dari kesyirikan, siapa yang merasa aman dari perbuatan syirik?!

Kesyirikan yang Dianggap Tradisi
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, di tengah-tengah masyarakat kita masih banyak sekali praktik kesyirikan yang merusak bahkan membatalkan tauhid. Perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan oleh sebagian orang dengan dalih bahwa amalan tersebut adalah tradisi dan adat-istiadat peninggalan leluhur. Padahal perbuatan tersebut adalah bentuk kesyirikan yang membahayakan agama mereka. Di antara perbuatan-perbuatan tersebut adalah:

1. Tathayyur
Tathayyur adalah beranggapan sial dengan waktu tertentu, tempat tertentu, atau sesuatu yang dilihat, didengar, atau diketahui. (al-Qaulul Mufid)
Di sebagian daerah, penduduk membangun rumah menghadap arah tertentu. Mereka juga memulai membangun dan menempatinya di hari tertentu, dengan keyakinan akan mendatangkan keberuntungan dan menjauhkan kesialan. Ada pula yang tidak mau berdagang di hari tertentu dan melarang pernikahan di bulan tertentu. Semua ini adalah bentuk tathayyur syirik, harus dijauhi oleh seorang muslim. Rasulullah n berkata:
الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ
“Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik.” (HR. Abu Dawud no. 3910, lihat al-Qaulul Mufid)

2. Tamimah
Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan pada seorang anak untuk menolak ‘ain atau musibah.
Sering kita melihat benda-benda yang digantungkan di rumah, mobil, toko, atau dipakaikan pada anak dengan niat menolak bala. Semua ini termasuk jenis tamimah yang syirik. Orang yang melakukannya terjatuh dalam kesyirikan. (Lihat al-Qaulul Mufid)

3. Tiwalah
Ia adalah sesuatu yang dibuat untuk membuat suami/seorang lelaki mencintai istrinya/seorang wanita atau sebaliknya.
Adapun dublah (cincin yang dipakai oleh seseorang setelah menikah) dengan keyakinan bahwa selama cincin emas tersebut dipakai maka pernikahannya akan tetap langgeng, ini adalah keyakinan yang syirik, karena tidak ada yang bisa membolak-balikan hati manusia selain Allah l.
Memakai cincin seperti ini minimal tasyabbuh (menyerupai) orang kafir, haram hukumnya. Bisa juga terjatuh ke dalam kesyirikan, jika dia berkeyakinan bahwa cincin itu bisa menjadi sebab langgengnya pernikahan. (Lihat al-Qaulul Mufid Syarah Kitabut Tauhid)

4. Jampi-jampi/mantra
Yang dimaksud adalah ruqyah (bacaan-bacaan) yang syirik, yang mengandung permintaan bantuan kepada jin.
Rasulullah n telah melarang tiga hal di atas dalam hadits beliau:
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, tamimah, dan tiwalah adalah syirik.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Adapun ruqyah yang dibenarkan oleh syariat adalah yang memenuhi tiga syarat berikut.
– Bacaan dari Al-Qur’an, As-Sunnah, dan doa-doa yang baik.
– Menggunakan bahasa Arab dan dimengerti maknanya.
– Diyakini hanya semata-mata sebagai sebab, tidak bisa berpengaruh selain dengan kehendak Allah l. (Lihat Fathul Majid)

5. Perdukunan
Ini adalah musibah yang melanda banyak kaum muslimin. Banyak orang menjadi pelanggan dukun dalam keadaan senang ataupun susah, padahal ancaman bagi dukun dan yang mendatanginya sangat besar. Rasulullah n berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.” (HR. Muslim)
Dalam hadits lain, beliau n berkata:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
“Barang siapa mendatangi dukun dan bertanya sesuatu kemudian membenarkannya, dia telah mengkufuri apa yang diturunkan kepada Muhammad n.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t menegaskan bahwa mendatangi dukun ada beberapa rincian hukum.
1. Datang dan bertanya kepadanya, maka tidak diterima shalatnya empat puluh hari.
2. Datang, bertanya kepadanya, dan membenarkan ucapannya, maka ia telah ingkar kepada apa yang diturunkan kepada Rasulullah n.
3. Datang untuk membongkar kesesatannya, diperbolehkan. (Lihat al-Qaulul Mufid)
Adapun tentang kafirnya dukun, asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami menyebutkan sembilan alasan kafirnya dukun. Di antara yang beliau sebutkan adalah bahwa seorang dukun telah menjadi wali setan. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya….” (al-An’am: 121)
Padahal setan tidak akan menjadikan seorang menjadi wali selain seorang yang kafir. (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 423—424)

6. Sembelihan untuk selain Allah l
Rasulullah n telah memberitakan bahwa termasuk orang yang dilaknat adalah seorang yang melakukan sembelihan untuk selain Allah l.
Dari Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah n berkata:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا وَلَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat orang yang melaknat (mencerca) dua orang tuanya. Allah melaknat orang yang melindungi pelaku pelanggaran syar’i. Dan Allah melaknat orang yang mengubah-ubah batas tanah.” (HR. Muslim)
Di antara sembelihan yang dipersembahkan untuk selain Allah l adalah berbagai bentuk sembelihan untuk jin.

a. Larung (sedekah laut)
Di antara sembelihan syirik adalah sembelihan tahunan yang dipersembahkan untuk selain Allah l, baik untuk laut (sedekah laut), sungai, gunung, maupun yang lainnya.

b. Sembelihan untuk pengantin
Di sebagian tempat ada sebuah tradisi penyembelihan ketika ada pernikahan. Kedua mempelai diperintahkan untuk menginjakkan kedua kaki mereka di darah sembelihan tersebut sebelum memasuki rumahnya.

c. Sembelihan untuk rumah baru
Di sebagian daerah, ketika telah selesai membangun rumah, mereka menyembelih seekor hewan. Sebagian mereka bahkan menanam kepala hewan tersebut di rumah barunya. Ini juga termasuk sembelihan yang syirik.

d. Memenuhi keinginan jin yang masuk pada tubuh seseorang
Ketika ada orang kerasukan jin kemudian diruqyah, jin terkadang minta disembelihkan hewan untuk dirinya. Jika terjadi hal demikian, permintaan jin itu tidak boleh ditunaikan, karena hal tersebut adalah sembelihan untuk jin. (Lihat al-Qaulul Mufid, asy-Syaikh Muhammad al-Wushabi)

7. Kesyirikan di kuburan
Di antara perbuatan syirik yang dianggap biasa adalah perbuatan-perbuatan di pekuburan sebagai berikut.
a. Berdoa kepada penghuni kubur
b. Nadzar untuk penghuni kubur
c. Isti’anah, meminta tolong kepada penghuni kubur
d. Isti’adzah, meminta perlindungan kepada penghuni kubur
e. Istighatsah, meminta dihilangkan bencana kepada penghuni kubur
Ketahuilah, semua hal di atas adalah kemungkaran yang harus diingkari. Rasulullah n berkata:
مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ
“Barang siapa melihat kemungkaran hendaknya dia ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, dengan lisannya. Jika tidak mampu juga maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim) (Lihat Ma’arijul Qabul, Ighatsatul Lahafan, Tahdzirul Muslimin)

8. Mencari berkah dari benda-benda tertentu
Sebagian orang mencari berkah kepada pohon, kuburan, atau benda-benda yang mereka miliki, seperti keris dan cincin.

Faedah
Tidak boleh bertabarruk (mencari berkah) dari diri seseorang, dengan tubuh atau bagian tubuh seseorang tertentu, selain Rasulullah n.
Seorang muslim tidak boleh mencari berkah dengan diri seseorang yang dianggap saleh, baik ludah, rambut maupun bagian tubuh lainnya. Hal ini berdasarkan beberapa alasan.
a. Hal tersebut kekhususan bagi Rasulullah n.
b. Tidak ada seorang pun setelah Rasulullah n wafat yang meminta berkah dengan bagian tubuh Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali bin Abi Thalib, dan sahabat lainnya. Seandainya hal tersebut dibolehkan, niscaya akan dilakukan oleh orang-orang di zaman mereka.
c. Akan menyebabkan fitnah dan ujub (bangga diri) dari orang yang dimintai berkah. (Lihat Taisir al-‘Azizil Hamid, hlm. 144—145)

9. Sihir
Sihir adalah satu amalan kufur yang harus dijauhi oleh seorang muslim. Seseorang yang belajar dan mengajarkan sihir telah terjatuh dalam kekufuran.
Allah l berfirman:
“Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir). Hanya setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (al-Baqarah: 102) (Lihat Ma’arijul Qabul hlm. 407—411)

10. Sedekah bumi
Sedekah bumi yaitu memberikan sesuguh/sesaji ketika hendak panen padi dan lainnya. Menurut mereka, sesaji itu dipersembahkan untuk Dewi Sri. Ini pun termasuk bentuk kesyirikan.

11. Sesajen
Yakni memberikan sesuguh untuk karuhun ketika hendak melaksanakan acara tertentu.

12. Memberikan penghormatan dengan membungkuk
Ibnu Taimiyah t berkata, “Membungkuk ketika memberikan penghormatan adalah perbuatan yang dilarang. Hal ini sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dari Nabi n, bahwa mereka bertanya tentang seseorang yang berjumpa dengan temannya lalu membungkuk kepadanya. Beliau n berkata, “Tidak boleh.”
Juga karena ruku dan sujud tidak boleh dilakukan selain untuk Allah l, walaupun hal ini menjadi bentuk penghormatan pada syariat sebelum kita, sebagaimana dalam kisah Yusuf q:
ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ
Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Yusuf pun berkata, “Wahai ayahku, inilah ta’bir mimpiku yang dahulu itu.” (Yusuf: 100)
Adapun dalam syariat kita, bersujud tidak diperbolehkan selain untuk Allah l. (Lihat Majmu’ al-Fatawa, 1/259)
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, apa yang kami sampaikan hanyalah sebagian amalan syirik yang ada di tengah-tengah masyarakat kita. Semuanya harus kita jauhi. Kita juga harus memperingatkan umat Islam untuk menjauhi amalan-amalan syirik.
Ketahuilah, semoga Allah l merahmati Anda, segala adat-istiadat dan kebiasaan masyarakat harus tunduk kepada syariat Allah l.
Allah l berfirman:
“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa: 65)
Janganlah kita seperti orang-orang jahiliah yang tidak mau beriman kepada Rasul n dengan alasan mengikuti amalan nenek moyang. Allah l berfirman tentang keadaan kaum musyrikin:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak mendapat petunjuk? (al-Baqarah: 170)
Seorang muslim harus mendahulukan syariat Allah l di atas segala hal. Dia harus mengutamakan syariat daripada hawa nafsu, adat-istiadat, dan pendapat akalnya. Allah l telah mencela orang yang lebih mendahulukan hawa nafsunya.Allah l berfirman:
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (al-Jatsiyah: 23)
Mudah-mudahan tulisan yang ringkas ini bisa menjadi nasihat dan menjadi salah satu sebab musnahnya praktik-praktik kesyirikan yang telah menyebar di negeri kita ini.

Taklid, Budaya Jahiliyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal)

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan oleh Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apa pun dan tidak mendapat petunjuk?” (al-Baqarah: 170)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Jika dikatakan kepada mereka.”
Para ulama berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan kata “mereka” dalam ayat ini.
Sebagian mengatakan, “Yang dimaksud adalah bangsa Arab yang kafir.”
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas c, “(Ayat ini) diturunkan tentang kaum Yahudi.”
Ath-Thabari t berkata, “Yang dimaksud adalah manusia secara umum yang terdapat dalam ayat sebelumnya (al-Baqarah: 168).” (Tafsir ath-Thabari, Tafsir al-Qurthubi)

“Mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah,” dengan ucapan dan perbuatan.

“Kami mendapati,” maknanya sama dengan kalimat وَجَدْنَا.

Penjelasan Ayat
Al-Allamah as-Sa’di t mengatakan, “Allah l mengabarkan tentang keadaan kaum musyrikin tatkala mereka diperintahkan untuk mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya. Mereka pun membenci hal itu dan berkata, ‘Justru kami mengikuti apa yang kami dapatkan dari nenek moyang kami.’ Mereka merasa cukup dengan mengikuti nenek moyang mereka dan berpaling dari beriman kepada para nabi-Nya, padahal nenek moyang mereka adalah manusia yang paling bodoh dan yang paling keras kesesatannya. Ini adalah syubhat yang sangat lemah untuk menolak kebenaran. Ini juga merupakan dalil bahwa mereka telah berpaling dari kebenaran dan membencinya, serta sikap ketidakadilan mereka. Seandainya mereka diberi petunjuk dan memiliki niat yang baik, tentu kebenaranlah yang menjadi tujuannya. Barang siapa menjadikan kebenaran sebagai tujuannya dan membandingkan antara kebenaran dengan yang lainnya, pasti kebenaran itu akan menjadi jelas baginya. Dia pun akan mengikutinya jika bersikap adil.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Ath-Thabari t tatkala menjelaskan makna ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ mengatakan, “Beramallah dengan apa yang diturunkan oleh Allah l dalam kitab-Nya kepada Rasul-Nya. Halalkanlah apa yang Dia halalkan, haramkanlah apa yang Dia haramkan. Jadikanlah beliau n sebagai imam yang kalian ikuti dan penuntun yang kalian ikuti hukum-hukumnya.” (Tafsir ath-Thabari, 3/43)
Beliau t lalu berkata, “Wahai sekalian manusia, mengapa kalian mengikuti apa yang kalian dapati dari nenek moyang kalian dan meninggalkan apa yang diperintahkan oleh Rabb kalian? Padahal nenek moyang kalian itu tidak memahami perintah Allah l sedikit pun. Mereka juga tidak berada di jalan yang benar. Tidak pula mereka mendapat bimbingan petunjuk. Hal ini karena seseorang yang diikuti adalah orang yang memiliki pengetahuan terhadap sesuatu yang akan dimanfaatkan untuk dirinya. Orang yang jahil (bodoh, tidak mengetahui) tidak diikuti (dalam hal-hal yang tidak diketahuinya) melainkan oleh orang yang tidak memiliki akal dan pembeda.” (Tafsir ath-Thabari, 3/44)
Larangan Taklid
Al-Qurthubi t menjelaskan bahwa kekuatan lafadz yang terdapat pada ayat ini menjelaskan batilnya taklid, seperti halnya firman Allah l:
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah dan mengikuti Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya.” Apakah mereka tetap akan mengikuti nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (al-Maidah: 104)
Ayat ini sangat berhubungan dengan ayat sebelumnya. Pada ayat-ayat sebelumnya, Allah k mengabarkan tentang kejahilan bangsa Arab terhadap apa yang mereka tetapkan dengan cara pandang mereka yang bodoh, yaitu al-bahirah, as-saibah, dan al-washilah1. Lalu mereka berhujjah bahwa itu adalah urusan yang mereka dapatkan dari nenek moyang mereka. Mereka pun mengikutinya sekaligus meninggalkan apa yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya dan yang diperintahkan oleh agamanya. (Tafsir al-Qurthubi, 3/15—16)
Yang dimaksud dengan taklid adalah mengikuti ucapan seseorang tanpa mengetahui dalilnya. (Majmu’ al-Fatawa, 35/233, Mukhtashar ash-Shawa’iq al-Mursalah hlm. 621)

Jenis Taklid yang Tercela
Para ulama menyebutkan jenis-jenis taklid yang tercela sebagai berikut.
1. Berpaling dari apa yang diturunkan oleh Allah k dan memilih mengikuti nenek moyang.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Allah l mencela orang yang berpaling dari apa yang diturunkan-Nya lalu bertaklid kepada nenek moyang. Para ulama salaf dan imam yang empat akan bersepakat bahwa taklid semacam ini tercela dan haram.”
2. Taklid kepada orang yang bukan ahlinya dengan mengambil ucapannya.
Allah l berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)
3. Taklid kepada ucapan yang menyelisihi firman Allah l dan Rasul-Nya, siapa pun dia.
Allah l berfirman:
ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu.” (al-A’raf: 3)
4. Taklid kepada seseorang setelah jelas kebenaran dan dalilnya.
5. Taklid seorang mujtahid yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dan memiliki keluangan waktu untuk membahasnya.
6. Taklid kepada seorang mujtahid dalam seluruh pendapat dan ijtihadnya. (Ma’alim fi Ushulil Fiqhi, hlm. 498)

Perbedaan antara Taklid dan Ittiba’
Para ulama membedakan istilah taklid dengan ittiba’. Ittiba’ adalah beramal dengan dalil, sedangkan taklid adalah mengikuti perkataan seseorang tanpa hujjah.
Telah dinukil dari Abu Abdillah bin Khuwaiz Mandad al-Bashri al-Maliki bahwa beliau berkata, “Makna taklid dalam syariat adalah mengambil sebuah pendapat di mana orang yang berpendapat dengannya tidak membawa hujjah. Hal ini terlarang dalam syariat. Adapun ittiba’ adalah yang ditetapkan dengan hujjah.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Bar, 2/173, Ikhtiyarat Ibnil Qayyim al-Ushuliyah, Muhammad Ali Firqaus, 2/744—745)
Dia juga berkata pada bagian akhir kitabnya, “Setiap orang yang engkau ikuti ucapannya tanpa ada dalil yang mengharuskanmu untuk menerimanya, berarti engkau telah taklid kepadanya. Dan taklid di dalam agama Allah k tidak dibenarkan. Setiap orang yang mengharuskanmu untuk mengikuti ucapannya berdasarkan dalil, berarti engkau ber-ittiba’ kepadanya. Ittiba’ di dalam agama diperbolehkan, sedangkan taklid terlarang.” (Jami’ Bayanil ‘Ilmi, 2/173)
Al-Imam Abu Dawud t juga menukilkan ucapan al-Imam Ahmad t yang didengarnya dari beliau t, “Ittiba’ adalah seseorang mengikuti apa yang datang dari Nabi n dan dari para sahabatnya. Adapun yang datang dari kalangan tabi’in setelah mereka, dia diberi pilihan.” (Ikhtiyarat Ibnil Qayyim al-Ushuliyah, 2/745)
Ibnul Qayyim t berkata tatkala menjelaskan kewajiban ber-ittiba’, “Sikap ittiba’ yang tulus kepada yang ma’shum (Rasulullah) n berbeda dengan sikap membuang dan meninggalkan perkataan para ulama. Ittiba’ yang tulus adalah engkau tidak mendahulukan ucapan seseorang dan pendapatnya di atas apa yang datang dari beliau n, dalam keadaan apapun. Namun, hendaknya yang pertama kali engkau lihat adalah kesahihan sebuah hadits. Jika sahih, hal yang kedua adalah engkau perhatikan maknanya. Jika telah jelas bagimu, janganlah engkau berpaling darinya meskipun yang menyelisihimu adalah semua orang dari timur ke barat. Tidak mungkin umat bersepakat dalam menyelisihi apa yang dibawa oleh Nabi n. Pasti ada di kalangan umat ini yang sejalan dengan riwayat tersebut meskipun engkau tidak mengetahuinya. Maka dari itu, janganlah engkau menjadikan ketidaktahuanmu tentang orang yang sejalan dengannya sebagai hujjah untuk menolak apa yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya n. Hendaknya engkau tetap berpegang kepada nash. Janganlah engkau merasa lemah.” (Ikhtiyarat Ibnil Qayyim al-Ushuliyah, 2/743)

Adakah Taklid yang Diperbolehkan?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Yang menjadi sikap jumhur (mayoritas) umat ini bahwa ijtihad diperbolehkan secara global dan taklid diperbolehkan secara global. Mereka tidak mengharuskan setiap orang untuk berijtihad dan mengharamkan taklid. Mereka juga tidak mengharuskan setiap orang untuk bertaklid dan mengharamkan ijtihad. Ijtihad diperbolehkan bagi orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad dan taklid diperbolehkan bagi orang yang lemah/ tidak mampu berijtihad.” (Majmu’ al-Fatawa, 20/204)
Oleh karena itu, taklid diperbolehkan jika terpenuhi syarat-syarat berikut:
1. Ia jahil, tidak memiliki kemampuan untuk mengenal hukum Allah l dan Rasul-Nya n.
2. Ia bertaklid kepada orang yang dikenal berilmu dan berijtihad, dari kalangan orang yang memiliki agama dan kesalehan.
3. Kebenaran belum tampak bagi orang yang taklid ini. Ia tidak mengetahui mana yang lebih kuat dari silang pendapat yang terjadi di kalangan ulama. Adapun jika telah tampak baginya kebenaran, tidak diperbolehkan lagi taklid baginya.
4. Dalam bertaklid ia tidak diperbolehkan menyelisihi nash/dalil syariat yang jelas atau ijma’ para ulama.
5. Tidak diperbolehkan bagi orang yang taklid untuk berpegang kepada pendapat satu imam dalam seluruh permasalahan. Hendaknya dia berusaha untuk mencari yang lebih mendekati kebenaran dan lebih mendekatkan dirinya kepada ketakwaan kepada Allah l.
6. Tidak diperbolehkan bagi seorang muqallid (yang bertaklid) untuk berpindah dari satu pendapat ke pendapat lainnya dengan tujuan mencari pendapat yang lebih ringan dan lebih sejalan dengan hawa nafsunya. (Lihat Ma’alim fi Ushul al-Fiqh, hlm. 497—498)
Syaikhul Islam t berkata, “Adapun kewajiban untuk mengikuti seluruh ucapan seseorang tanpa menyebutkan dalil tentang kebenarannya, ini tidaklah benar. Bahkan, ini adalah kedudukan Rasul n yang tidak diperbolehkan selain hanya untuk beliau n.” (Majmu’ al-Fatawa, 35/121)
Wallahul muwaffiq.

Catatan Kaki:

1 Al-bahirah adalah unta betina yang telah beranak lalu dibelah telinganya, kemudian dilepaskan. Ia tidak boleh ditunggangi dan tidak boleh diambil air susunya karena air susunya dipersembahkan untuk berhala-berhala mereka. As-saibah adalah unta betina yang dilepaskan kemana pun maunya karena nadzar seseorang. Al-washilah adalah hewan yang melahirkan anak betina secara berturut-turut kemudian menjadi milik mereka. Namun, jika melahirkan jantan, menjadi milik sesembahan mereka.

Kesempurnaan Islam Sebagai Prinsip Hidup, Dasar untuk Meninggalkan Tradisi dan Adat-Istiadat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Pendahuluan
Ada pelajaran penuh hikmah dalam peristiwa hijrah ke Habasyah yang menjadi ibrah berharga. Untaian kisah yang dibawakan melalui rantaian perawi dari mereka yang mengalami peristiwa tersebut hingga masa ini. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t mengeluarkannya dalam al-Musnad, karya besar beliau, dengan sanad yang sahih.
Kala itu para sahabat meninggalkan Makkah, tempat kelahiran dan tanah kampung halaman, demi melaksanakan seruan Allah l dan Rasul-Nya n. Secara diam-diam mereka akhirnya tiba di negeri Habasyah dengan penuh harap dapat menegakkan ajaran Islam. Ajaran yang dibawa oleh penutup para nabi dan rasul, Muhammad n. Namun, pernahkah Iblis mendiamkan kebaikan dan tidak mengganggunya? Adakah hamba yang hendak mencerminkan ketaatan dalam hidupnya lalu tidak diusik oleh bala tentaranya?
Utusan Quraisy datang menyusul ke Habasyah dan menghadap raja Najasyi. Setelah menyuap para pendeta, mereka melontarkan tuduhan-tuduhan keji terhadap kaum muslimin. Mereka memalsukan dan mengarang kedustaan di atas kedustaan agar Raja Najasyi berkenan mengembalikan kaum muslimin ke Makkah.
Dengan penuh keadilan dan penghormatan kepada tamu, Raja Najasyi memerintahkan agar kaum muslimin menghadap. Beliau ingin mendengar langsung jawaban kaum muslimin.
Setelah tiba, Raja Najasyi bertanya, “Ajaran apakah ini yang membuat kalian meninggalkan kaum kalian namun kalian juga tidak masuk ke dalam agamaku ataupun agama lain?”
Juru runding kaum muslimin, Ja’far bin Abi Thalib z, menjawab dengan penuh hikmah berdasarkan ilmu.
“Wahai Baginda Raja, kami dahulu adalah sebuah bangsa dalam kejahiliahan. Kami beribadah kepada berhala. Kami memakan bangkai, melakukan perbuatan-perbuatan keji, memutus tali silaturahim, menyakiti tetangga, dan orang kuat di antara kami memangsa yang lemah. Kami dalam keadaan demikian sampai Allah l mengutus kepada kami seorang rasul yang berasal dari kalangan kami sendiri. Kami telah mengenal nasab, kejujuran, amanah, dan kehormatannya. Rasul itu mengajak kami kepada Allah l, mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan yang kami dan nenek moyang kami lakukan, seperti peribadatan kepada pepohonan dan patung berhala. Rasul itu mengajak kami untuk jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, menyambung tali silaturahim, bertetangga dengan baik, tidak melakukan hal-hal terlarang, dan menumpahkan darah. Rasul tersebut melarang kami melakukan perbuatan-perbuatan keji, berbicara dusta, memakan harta anak yatim, dan menuduh wanita yang baik. Rasul itu juga memerintahkan kami hanya beribadah kepada Allah l dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun. Beliau memerintahkan kami untuk shalat, zakat, puasa, dan hal-hal lain.
Kami membenarkannya, beriman kepadanya, dan mengikuti ajarannya. Kami beribadah hanya kepada Allah l saja, tidak mempersekutukan-Nya sedikit pun dengan apa pun. Kami mengharamkan hal-hal yang diharamkan olehnya, menghalalkan apa-apa yang dihalalkan olehnya. Setelah itu, kaum kami memusuhi kami. Mereka menyiksa dan mengganggu kami agar kami kembali kepada peribadatan patung berhala serta menghalalkan hal-hal buruk yang dulu pernah kami halalkan. Ketika mereka menekan, menzalimi, menyakiti kami, dan berusaha menghalangi dari keyakinan kami, kami pun keluar menuju negeri Anda. Kami memilih Anda daripada yang lain. Kami senang berada di samping Anda. Kami pun berharap tidak terzalimi di sisi Anda, wahai Baginda Raja.”
Raja lalu Najasyi bertanya, “Adakah sesuatu yang bisa engkau tunjukkan tentang ajaran rasul tersebut dari Allah?”
Ja’far z menjawab, “Ada.”
Berkatalah Najasyi, “Bacakanlah untukku!”
Ja’far z lalu membacakan awal surat Maryam. Raja Najasyi pun menangis hingga basah janggutnya. Menangis pula para pendeta di sampingnya sampai membasahi kitab-kitab mereka saat mendengar ayat-ayat yang dibacakan.”
Kisah ini dibawakan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sirah an-Nabawiyah.

Islam adalah Syariat Terbaik
Najasyi adalah seorang raja yang dianugerahi kearifan dan keadilan. Beliau dikenal sebagai ahli ilmu dan ahli ibadah di kalangan penganut agama Nasrani. Beliau mengerti dan menguasai ayat-ayat yang disebutkan di dalam Injil dan Taurat. Dengan demikian, ketika beliau mendengar firman Allah l dalam Al-Qur’an yang dibacakan oleh Ja’far bin Abi Thalib z, beliau berkata, “Sungguh, demi Allah, apa yang engkau bacakan benar-benar berasal dari cahaya yang sama dengan yang dibawa oleh Musa.”
Untuk beliau pula diturunkan ayat ke-83 dari surah al-Maidah.
Al-Imam Ibnu Abi Hatim t meriwayatkan sebuah hadits dari Hisyam bin Urwah bahwa ayahnya, Abdullah bin az-Zubair c berkata, “Ayat ini diturunkan untuk Najasyi dan para pengikutnya:
Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad n).” (al-Maidah: 83)
Tahun kesembilan hijriah pada saat Najasyi meninggalkan dunia fana, Rasulullah n mengajak segenap sahabat untuk keluar menuju lapangan di kota Madinah, guna melaksanakan shalat jenazah Najasyi secara gaib. Rasulullah n bersabda hari itu, “Hari ini telah meninggal dunia seorang laki-laki yang saleh. Bangkitlah dan dirikanlah shalat untuk saudara kalian, Ashamah.”
Demikianlah sikap seorang insan yang menghambakan dirinya kepada Dzat Pencipta. Ia tunduk mutlak kepada aturan-aturan Ilahi. Ketaatan dan kepatuhan yang utuh dalam melaksanakan setiap ketetapan syariat. Perintah-perintah dikerjakan, seluruh larangan ditinggalkan, dengan penuh keyakinan bahwa syariat Islam adalah syariat terbaik yang menutup sekaligus menghapuskan syariat-syariat sebelumnya. Tidak ada kebaikan melainkan Islam telah mengajarkannya dan setiap keburukan telah tuntas Islam memperingatkannya.
Al-Hafizh Ibnu Katsir t ketika menjelaskan firman Allah l dalam surat al-Maidah ayat ke-3 berkata, “Hal tersebut adalah nikmat Allah l yang terbesar bagi umat ini, karena Allah l telah menyempurnakan agama (Islam) untuk mereka. Mereka tidak lagi memerlukan agama selain Islam, tidak pula membutuhkan seorang nabi selain Nabi mereka (Muhammad n).
Oleh karena itulah, Allah l menjadikan Nabi Muhammad n sebagai penutup para nabi. Allah l mengutus beliau n kepada manusia dan jin. Tidak ada yang halal selain apa yang telah beliau halalkan. Tiada pula sesuatu yang haram melainkan apa yang telah beliau n haramkan. Tidak ada agama selain yang beliau n syariatkan. Segala yang beliau beritakan pastilah haq dan benar, tidak mengandung sedikit pun unsur kedustaan atau penyimpangan. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Telah sempurnalah kalimat Rabbmu (Al-Qur’an); kebenaran dan keadilannya.” (al-An’am: 115)
Maksud “telah sempurna kebenarannya” ialah kebenaran berita-beritanya. Adapun “sempurna keadilannya” adalah keadilan perintah dan larangannya. Saat agama ini telah sempurna bagi mereka, menjadi sempurnalah nikmat untuk mereka.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terkait dengan ayat ini)

Pelajaran Berharga
Secara garis besar, ada beberapa pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kisah di atas. Di antaranya adalah:
1. Dakwah para nabi dan rasul adalah dakwah tauhid.
Tujuan utamanya adalah mengajak dan menyeru umat manusia untuk menyerahkan ibadah dengan segala bentuknya hanya kepada Allah l. Konsekuensinya adalah meninggalkan seluruh bentuk peribadatan kepada selain Allah l serta berlepas diri dari orang-orang yang mempersekutukan Allah l dengan selain-Nya, dengan apa pun.
Ini terambil dari pernyataan Ja’far bin Abi Thalib z yang berulang kali menyebutkan ajaran tauhid sebagai misi utama Rasulullah n. Hal ini menunjukkan bahwa Rasulullah n benar-benar menekankan tauhid dalam dakwahnya.

2. Sebagai bentuk kesempurnaan tauhid, setiap hamba diharuskan meninggalkan seluruh bentuk tradisi, adat-istiadat, dan ajaran yang diwarisi secara turun-temurun dari nenek moyangnya, yang bertentangan dengan ajaran Islam.
Ini terambil dari pernyataan Ja’far bin Abi Thalib z kepada Najasyi, “Rasul itu mengajak kami kepada Allah l, mentauhidkan dan beribadah kepada-Nya, meninggalkan peribadatan yang kami dan nenek moyang kami lakukan, seperti peribadatan kepada pepohonan dan patung berhala.”

3. Ketundukan yang utuh dari seorang hamba dalam menerima kebenaran syariat Islam dan ketaatan penuh untuk meninggalkan keyakinan sebelumnya adalah amal besar.
Hanya orang-orang terpilih yang mampu melaksanakannya. Meskipun ia tergolong sebagai tokoh ataupun pembesar kaumnya, penerimaannya terhadap syariat Islam akan membuatnya semakin mulia di sisi Allah l.
Ini terambil dari keadaan pribadi Najasyi. Beliau adalah seorang raja yang beragama Nasrani. Ia terpandang sebagai orang pandai dan berilmu. Harta dan takhta beliau miliki. Namun, semua itu tidak menyebabkan beliau menolak kebenaran Islam. Akhirnya, kebaikan yang sempurnalah untuk Najasyi. Ia beriman dan tunduk kemudian meninggalkan dunia membawa iman. Semoga Allah l meridhainya.

4. Lemah lembut dan bersikap hikmah dalam upaya mengubah tradisi masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam.
Dalam mengubah tradisi dan adat masyarakat yang menyimpang dari ajaran Islam, seseorang dituntut untuk selalu mengedepankan rahmat dan hikmah. Tentunya, untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang telah mendarah daging dan diwariskan secara turun-temurun oleh tiap generasi membutuhkan sebuah proses. Di dalam setiap proses itulah dibutuhkan hikmah: meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ الرِّفْقَ لَا يَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلَّا زَانَهُ
“Sungguh, tidaklah sikap rifq (lemah lembut dan hikmah) terdapat pada sesuatu melainkan ia akan memperindahnya.” (HR. Muslim dari Aisyah x)
Pelajaran ini terambil dari perintah Rasulullah n untuk berhijrah ke Habasyah. Pada saat itu, Rasulullah n memilih untuk menghindari front terbuka dengan kaum musyrikin. Beliau n tidak berkenan melakukan perlawanan langsung secara fisik. Beliau n membimbing para sahabat untuk bersikap sabar dan rela meninggalkan kampung halaman beserta masyarakatnya. Semua keputusan beliau n selalu didasari oleh hikmah dan rahmat.

5. Kesiapan dan ketaatan hamba dalam menerima syariat Islam secara utuh dengan meninggalkan tradisi dan adat-istiadat yang tidak sesuai dengan ajaran Islam, pasti mendatangkan berkah.
Pelajaran ini terambil dari sikap para sahabat. Dengan penuh keyakinan, mereka meninggalkan ajaran dan tradisi nenek moyang yang tidak selaras dengan ajaran Islam. Allah l pun mengaruniakan kebahagiaan dunia dan akhirat kepada mereka. Allah l juga memberikan kekayaan, kemuliaan, kekuasaan, dan ketenangan untuk mereka.
Semoga Allah l memberikan jalan-jalan kemudahan dalam melaksanakan syariat-Nya.
Amin ya Arhamar Rahimin.

 

Tradisi Menyembelih di Masyarakat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Ribuan nelayan dan masyarakat lainnya di pesisir timur Lampung begitu antusias mengikuti Nadran atau Pesta Laut 2010 yang puncaknya diadakan Rabu (28/4/2010) di Labuhan Maringgai, Lampung Timur.
Ritual ini diisi dengan penaburan sesaji ke tengah laut. Sesaji ini berupa kepala kerbau, makanan, dan alat-alat rumah tangga. Perahu pembawa sesaji dan kapal-kapal pengiring didesain meriah dengan ragam hiasan janur kuning, padi, dan umbul-umbul.
Pada acara ini, masyarakat yang hadir sempat terlihat berebutan mengambil air yang diyakini berkhasiat tinggi. Air di dalam bak besar ini telah didoakan terlebih dahulu dan dicelupi sebilah keris pusaka. Jika air ini disiramkan ke perahu, diyakini bisa mendatangkan rezeki.
Diadakannya ritual Nadran ini pun bertepatan dengan mulai masuknya musim timur. Musim ini, di kalangan nelayan, dikenal sebagai musim sulit atau paceklik. Musim yang laut dianggap tidak bersahabat dan kerap berombak tinggi ini, biasanya berlangsung hingga Desember.
Di tempat lain di Pulau Jawa, tepatnya Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta sesajian lainnya diantarkan ke laut. Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Sura). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari nahas sehingga nelayan tidak boleh melaut.
Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya bahwa menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya. Itulah pemuncak acara hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu.
Sekilas gambaran dari dua acara di atas adalah contoh tradisi sedekah laut yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia, dengan perbedaan dan ragam nama serta istilah tentunya. Masing-masing mengusung alasannya. Tradisi sedekah laut ataupun sedekah bumi, atau tradisi-tradisi serupa, seringkali dilaksanakan dengan proses penyembelihan hewan tertentu. Syariat Islam menilai tradisi-tradisi semacam itu sebagai tradisi yang mesti dihilangkan. Apa sebabnya? Marilah bersama kita menyimak sedikit penjelasan di bawah ini.

Kebodohan, Sumber Petaka
Kebodohan terhadap prinsip-prinsip dasar beragama bak kabut tebal yang menyelimuti kehidupan kaum muslimin. Semakin jauh kita dari masa kenabian, semakin dalam kita terperosok dalam kubangan kejahilan. Setiap berlalu sebuah zaman, pastilah zaman berikutnya lebih buruk. Berita yang benar, tanpa kedustaan dan keraguan, menerangkan bahwa umat Islam akan mengikuti pola kehidupan kaum Yahudi dan Nasrani, sejengkal demi sejengkal, sehasta lalu sehasta. Sampai-sampai jika mereka masuk mengikuti berkeloknya lubang binatang tanah, pastilah akan diikuti oleh umat Islam. Sungguh sangat menyedihkan.
Pantas sekali jika seorang muslim—yang benar-benar memahami tujuan diangkatnya Muhammad n sebagai seorang nabi dan rasul—merasa sesak dada dan bersedih hati ketika menyaksikan kenyataan pahit yang menimpa umat Islam. Yang baik dianggap buruk, yang buruk diperjuangkan atas nama kebaikan. Sebagian umat tidak mampu lagi mengenal hal ma’ruf sebagai sesuatu yang ma’ruf, tidak pula mengingkari sesuatu yang mungkar. Orang jujur seringkali didustakan, sementara orang berdusta dianggap jujur. Sikap khianat pada seseorang malah terhitung amanah, sementara banyak orang yang mempertahankan amanah justru dituduh berkhianat. Sungguh benar sabda Rasulullah n.
Dari sekian macam bentuk kebodohan sekaligus upaya pembodohan umat adalah masih dipertahankannya upacara-upacara, ritual, dan perayaan dalam bentuk menyembelih hewan atau binatang untuk selain Allah l. Sesaji-sesaji yang kental dengan warna kepercayaan animisme, persembahan-persembahan yang nyata menjadi warisan dari agama Hindu dan Budha, dan tuntutan dari dukun dan paranormal untuk menyembelih jenis hewan tertentu adalah sesuatu yang akrab di telinga. Kewajiban kita adalah memerangi bentuk-bentuk kesyirikan semacam ini, yaitu penghambaan kepada makhluk yang lemah dengan mengalirkan darah hewan sembelihan.

Haramnya Menyembelih Hewan untuk selain Allah l
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushabi membuat bab dengan judul “Diharamkannya menyembelih untuk selain Allah.” Kemudian beliau membawakan firman Allah l:
ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ ﯞ ﯟﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162—163)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Wa nusuki maknanya adalah sembelihanku….” (Taisir al-Karim ar-Rahman hlm. 282)
Juga firman Allah l:
ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah.” (al-Kautsar: 2)
Dari Ali bin Abi Thalib z, Rasulullah n bersabda:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ
“Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim no. 1978)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Wushabi berkata, “Dari dalil-dalil di atas dapat diambil pemahaman bahwa menyembelih adalah ibadah, dan ibadah tidak boleh dilakukan selain untuk Allah l. Barang siapa memalingkannya untuk selain Allah l, dia telah melakukan syirik akbar. Barang siapa menyembelih untuk selain Allah l, seperti untuk jin, kuburan, atau yang lain, dia pantas mendapatkan laknat dan dijauhkan dari rahmat Allah l, melainkan jika dia bertaubat karena siapa yang bertaubat, Allah l akan menerima taubatnya.” (al-Qaulul Mufid hlm. 126)

Masuk Neraka karena Seekor Lalat
Dari Thariq bin Syihab, (beliau menceritakan) bahwa Rasulullah n pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat. Ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.”
Mereka (para sahabat) bertanya, “Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?”
Beliau n menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki sesembahan selain Allah k. Tidak ada seorang pun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berkorban sesuatu untuk sesembahan tersebut. Mereka mengatakan kepada salah satu di antara dua lelaki itu, ‘Berkorbanlah.’ Dia menjawab, ‘Aku tidak punya apa-apa untuk dikorbankan.’ Mereka pun mengatakan, ‘Berkorbanlah walaupun dengan seekor lalat.’ Dia pun berkorban dengan seekor lalat sehingga mereka pun memperbolehkannya lewat dan meneruskan perjalanan. Karena itulah, dia masuk neraka. Mereka juga mengatakan kepada lelaki yang kedua, ‘Berkorbanlah.’ Dia menjawab, ‘Tidak pantas bagiku berkorban untuk sesuatu selain Allah k.’ Mereka pun memenggal lehernya dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad dalam az-Zuhd [no. 15 & 16], Abu Nu’aim dalam al-Hilyah [1/203], dari Thariq bin Syihab, dari Salman al-Farisi z secara mauquf dengan sanad yang sahih)
Perhatikanlah hadits di atas dengan baik!
Tradisi atau ritual penyembelihan binatang adalah ibadah sehingga harus dilaksanakan sesuai dengan aturan Allah l, baik dalam hal tujuan, waktu, tempat, maupun niatnya. Adalah sebuah dosa besar, bahkan dosa terbesar, saat seorang hamba menyembelih hewan untuk selain Allah l. Entah untuk memohon bantuan makhluk gaib, harmonisasi manusia dengan alam, meredakan amarah makhluk halus, atau sebab-sebab kesyirikan lainnya.
Menyembelih hewan dalam rangka ritual adalah perbuatan yang tidak boleh dipersembahkan kepada selain Allah l. Barang siapa melakukannya, Allah l akan melaknatnya. Pelakunya telah melakukan kemusyrikan. Apabila ia mati dalam keadaan tidak bertaubat, ia akan dihukum kekal di dalam neraka. Surga haram baginya. Seluruh amalnya akan musnah bagaikan debu yang beterbangan. Penyesalan dan kesedihan, itulah kesudahan yang akan dia rasakan pada hari kemudian.
Dari sini, kita bisa mengetahui bahwa tradisi atau ritual semacam ini adalah tindakan yang sangat membahayakan. Perbuatan yang mereka lakukan bukan menolak bala, tetapi justru mengundang murka Allah l.
Contoh terbaru adalah ritual penyembelihan korban terkait dengan bencana meletusnya gunung Merapi. Paguyuban Kebatinan Tri Tunggal (PKTT) Yogyakarta menggelar ritual tolak bala pada Senin (8/11/2010) malam. Ritual yang bernama asli Kuat Maheso Luwung Saji Rojosunya tersebut dimaksudkan agar warga Yogyakarta dan sekitarnya terhindar dari marabahaya akibat letusan Merapi. Ritual yang dipusatkan di sekitar kawasan Tugu ini diawali dengan mengarak kerbau bule. Puncak acara diisi dengan pemotongan seekor kerbau bule dan sembilan ayam jago jurik kuning sebagai sesaji untuk makhluk-makhluk halus. Kepala kerbau dan sembilan jago jurik kuning itu rencananya akan dibawa ke lereng Merapi untuk ditanam di sana.

Apakah Alasan Mereka?
Sebagian pelaku kesyirikan dalam bentuk menyembelih untuk selain Allah l terkadang mengemukakan beberapa alasan untuk membenarkan perbuatan mereka. Di antaranya adalah pernyataan, “Bagaimana mungkin perbuatan ini dikatakan syirik, padahal ketika menyembelih saya mengucapkan ‘Bismillah’?”
Yang pasti, orang semacam ini tidak mengerti hakikat syirik, sebagaimana halnya ia tidak mengerti tentang tauhid. Dalam hal ini, hukum tidak hanya ditetapkan berdasarkan mengucapkan basmalah atau tidak. Namun, niat dan tujuan pun mengambil peran besar. Apalah arti kalimat basmalah yang diucapkan, apabila di dalam hati, seseorang yang menyembelih berniat dan bertujuan untuk mendekatkan diri, mengagungkan, menghormati, dan memohon pertolongan kepada makhluk. Ia berharap keinginannya terkabul, dan takut jika hal yang diinginkan tidak terwujud. Hatinya berpaling kepada selain Allah l.
Syaikhul Islam t berkata, ”Telah diketahui bahwa sesuatu (hewan yang disembelih) yang diperuntukkan bagi selain Allah l yang disebutkan secara jelas adalah diharamkan. Demikian pula jika hanya diniatkan karena hal ini sama dengan niat-niat lain dalam ibadah. Meskipun dengan melafadzkan lebih kuat, namun yang menjadi hukum asal adalah tujuan.” (al-Iqtidha, hlm. 286)
Syaikhul Islam t berkata, ”Dengan demikian, jika dia menyembelih hewan untuk selain Allah l dalam rangka mendekatkan diri, hal tersebut diharamkan meskipun dia mengucapkan ‘bismillah’, sebagaimana yang dilakukan oleh sekelompok kaum munafik umat ini. Mereka adalah orang-orang yang mendekatkan diri kepada para wali dan bintang-bintang dengan cara menyembelih serta membakar dupa, atau yang semisalnya.” (al-Iqtidha hlm. 291)
Ash-Shan’ani t berkata, ”Apabila orang tersebut beralasan bahwa ia menyembelih dan menyebut nama Allah atasnya, jawablah, ‘Jika memang sembelihan tersebut untuk Allah l, apa alasannya engkau mendekatkan hewan sembelihanmu di pintu kubur orang yang engkau pilih dan engkau yakini? Apakah engkau ingin mengagungkannya?’ Jika ia menjawab, ‘Ya,’ sampaikanlah kepadanya, ‘Penyembelihan ini untuk selain Allah l. Bahkan, engkau telah mempersekutukan Allah l bersama yang lain. Jika engkau tidak ingin mengagungkannya, apakah engkau ingin mengotori pintu kubur dan menyebabkan najisnya orang-orang yang masuk ke dalamnya?! Engkau, sebenarnya mengetahui secara yakin bahwa pada dasarnya engkau tidak menginginkan hal tersebut. Engkau tidak berniat selain niat yang pertama. Tidak pula engkau keluar meninggalkan rumahmu selain untuk tujuan tersebut dan untuk berdoa kepada mereka.’ Hal yang mereka lakukan ini adalah kesyirikan, tanpa diragukan sedikitpun.” (Tathhirul I’tiqad hlm. 72—73)
Asy-Syaikh ar-Rajihi menambahkan dalam catatan kaki, “Karena sebagian kaum musyrikin terkadang mengucapkan ‘bismillah.’ Apabila dia mengucapkan ‘bismillah’—namun dengan hewan sembelihan tersebut dia bermaksud taqarrub (mendekatkan diri) kepada penghuni kubur, jin, malaikat, atau yang lain—dia adalah pelaku kesyirikan. Meskipun dia mengucapkan ‘bismillah’ seribu kali, tidak ada gunanya karena yang menjadi ukuran adalah keyakinan dan tujuan, bukan sekadar pengucapan.”

Benarkah sebagai Bentuk Syukur?
Sebagai contoh kasus adalah pawai budaya dan larung sesaji berisi kepala kambing yang mewarnai tradisi Kupatan dan sedekah laut di Perairan Rembang, Jawa Tengah.
Usai pawai budaya, sesaji yang berisi antara lain kepala kambing, tumpeng, kembang tiga rupa, dan rantang makanan, dilarung ke laut. Kepala kambing yang dilarung harus dari kambing jantan. Dipilihnya kambing untuk larung sesaji, karena hewan tersebut menurut anggapan mereka adalah simbol cita-cita nelayan setempat untuk mendapatkan berkah dari Tuhan Yang Mahakuasa.
Masyarakat setempat meyakini bahwa usai larung sesaji hasil tangkapan ikan akan melimpah. Sebagian lainnya mengatakan bahwa prosesi larung sesaji di Perairan Rembang itu adalah bentuk syukur nelayan karena mendapatkan hasil tangkapan ikan yang cukup menggembirakan selama setahun terakhir.
Melihat alasan sebagian mereka bahwa larung tersebut adalah bentuk syukur, ada beberapa hal yang janggal dan aneh yang patut dipertanyakan.
1. Benarkah pawai budaya dan larung sesaji sebagai tanda syukur?
2. Seperti itukah Islam mengajarkan untuk bersyukur?
3. Syukur adalah ibadah. Adakah tuntunan dari Rasulullah n untuk bersyukur dalam bentuk larung sesaji?
Islam menentukan bentuk-bentuk syukur dengan sempurna dan lengkap. Syukur diwujudkan dengan hati, lisan, dan perbuatan anggota badan. Semuanya harus dilakukan dengan hal-hal yang diperintahkan oleh Allah l dan dibimbingkan oleh Rasulullah n. Tidak ada satu pun ayat dan hadits yang menjelaskan bentuk syukur dalam bentuk pawai budaya dan larung sesaji. Di masa hidup Nabi Muhammad n, sering dan terlalu banyak kenikmatan yang diberikan oleh Allah l, padahal wilayah Islam luas membentang, menyeberang lautan, menguasai sungai dan daratan. Namun, beliau n tidak pernah mencontohkan perbuatan larung sesaji! Ini jika Islam dijadikan tolok ukur berpikir.
Alasan lain, Sumber Pendapatan Daerah
Alasan lain untuk tetap mengadakan tradisi ritual dalam bentuk sesaji, menyembelih hewan tertentu, adalah sebagai objek wisata dan sumber pendapatan daerah. Contohnya adalah acara Pati Ka Ata Mata, Ritual di Puncak Kelimutu, Kawasan Taman Nasional Kelimutu, Kabupaten Ende, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Bentuknya adalah upacara adat memberi makan bagi arwah leluhur atau orang yang sudah meninggal.
Prosesi ritual diawali oleh sembilan mosalaki yang mewakili sembilan suku dengan pakaian tradisional membawa sesaji ke dakutatae, sebuah batu alam sebagai tugu tempat sesaji. Sesaji yang dipersembahkan adalah nasi, daging hewan kurban (babi), moke (semacam tuak lokal), rokok, sirih pinang, dan kapur.
Setelah pemberian makan leluhur yang dilakukan oleh para mosalaki, para pengunjung kemudian ditawari oleh mosalaki untuk turut menikmati sesaji sebagai tanda bersukaria bersama para leluhur. Tahapan ritual itu lalu dilanjutkan dengan gawi, menari bersama para mosalaki tersebut mengelilingi tugu batu.
Sejumlah pelaksana ritual mengatakan, Pati Ka Ata Mata yang digelar dimaksudkan untuk menaikkan doa kepada arwah leluhur—selain untuk menolak bala, juga agar wilayah Ende dijauhkan dari bencana serta disuburkan alamnya sehingga dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.
Dari mitos yang diyakini turun-temurun oleh masyarakat Ende Lio, kawasan puncak Danau Kelimutu adalah tempat tinggal atau berkumpulnya para arwah orang yang sudah meninggal. Pintu gerbang (pere konde) Danau Kelimutu dijaga oleh Konde Ratu, sang penguasa.
Kegiatan ini digelar sebagai bentuk pelestarian budaya daerah. Dari upacara adat yang telah berlangsung turun-temurun, pemberian makan kepada leluhur yang hanya dilakukan di tiap rumah warga, kampung, atau suku, kini menjelma menjadi upacara adat di puncak Kelimutu yang melibatkan suku-suku Lio. Selanjutnya, ritual ini akan digelar rutin setiap tahun. Tradisi ini juga menjadi agenda pariwisata Ende.
Mahasuci Allah dari apa yang mereka perbuat! Apakah lubang dan lorong sempit kesyirikan dijadikan sebagai sumber pendapatan? Perilaku durhaka dan sikap menantang Dzat Pencipta dipilih sebagai jalan untuk meraih kemakmuran dunia? Tidak! Tidak akan mungkin! Justru bencana dan malapetaka yang akan dituai. Kesempitan hidup dan kebinasaan yang akan menjemput.
Seandainya penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, niscaya berkah dari langit dan bumi akan dibuka seluas-luasnya.
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜ
“Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (al-A’raf: 96)
Sungguh menyedihkan. Ya Allah, kami berlepas diri dari apa yang mereka lakukan.

Mengharap Berkah dari Jalan yang Halal
Mencari sumber penghasilan dan pendapatan adalah sesuatu yang lumrah. Bahkan, syariat Islam memerintahkannya, dengan cara-cara yang baik dan halal. Menciptakan lapangan kerja dan mengembangkan potensi ekonomi daerah adalah perbuatan terpuji. Namun, yang harus diperhatikan bentuk-bentuknya haruslah sesuai dengan ketentuan Allah l dan Rasul-Nya n.
Allah l berfirman:
ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada Allah kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)
Allah l juga berfirman:
ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭﭮ
Katakanlah, “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” (al-A’raf: 32)
Kedua ayat di atas adalah dasar berpikir bahwa penghasilan, ekonomi, dan pendapatan untuk daerah haruslah berasal dari sumber-sumber yang baik. Lalu, kebaikan apa yang hendak dicari untuk pendapatan daerah dengan cara mengembangkan dan melestarikan situs-situs sejarah yang dikeramatkan? Apakah demi pendapatan daerah, akidah kaum muslimin terjual murah—dengan memberikan kesempatan dan peluang bagi mereka untuk berharap dan meminta kepada selain Allah l?
Lihat dan perhatikanlah! Berapa jumlah dana yang dikucurkan? Betapa besar biaya yang dikeluarkan. Untuk apa, wahai saudaraku? Hanya untuk mendirikan dan memperindah situs-situs kuburan yang dikeramatkan. Hanya demi merenovasi dan memperhias lokasi-lokasi pemujaan dan pengagungan makhluk. Untuk peribadatan kepada selain Allah l. Sungguh menyedihkan sekali.
Tidak mungkin berkah dan rahmat menyelimuti negeri ini jika ekonomi dan pendapatan daerahnya diambil dari jalan-jalan kemusyrikan. Karena berkah dan rahmat hanyalah diturunkan oleh Allah l untuk hamba-Nya yang beriman dan bertakwa, mentauhidkan Allah l, tidak mempersekutukan-­Nya dengan sesuatu pun.

Contoh Tradisi Menyembelih di Luar Syariat Islam
Sebagai contoh adalah acara simah laut yang diadakan di Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Upacara adat para nelayan ini digelar setiap tahun, saat memasuki musim angin barat. Upacara ini menurut mereka adalah bentuk permohonan keselamatan bagi para nelayan, selain sebagai pengharapan agar hasil tangkapan ikan lebih banyak. Selama tiga hari setelah acara simah laut dilangsungkan, para nelayan pantang melaut. Baru pada hari keempat para nelayan itu boleh kembali melaut mencari ikan.
Prosesnya dimulai dengan menyiapkan sebuah perahu. Di dalam perahu tersebut diletakkan aneka wadai (sebutan masyarakat setempat untuk kue tradisional seperti cucur, apem), wajik, bubur merah, bubur putih, dan juga telur. Kepala kerbau juga menjadi salah satu kelengkapan sesajian yang akan dihanyutkan ke laut menggunakan perahu kecil.
Setelah itu, salah satu pemuka masyarakat membacakan doa. Selepas didoakan, beberapa nelayan mengangkat perahu yang berisi sesaji mendekati pantai. Dari arah laut, perahu-perahu nelayan merapat menjemput sesajian tersebut.
Dikawal perahu-perahu nelayan, perahu berisi sesajian itu diangkat ke salah satu kapal kayu dan dibawa berlayar menjauhi pantai. Kapal sesajian itu kemudian dilayarkan ke tengah laut pada jarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai.
Kaum perempuan bergotong royong memasak aneka penganan untuk sesaji dan daging dari hewan kurban. Pemilihan hewan kurban disesuaikan dengan kemampuan warga, bisa kambing atau sapi. Bagian kepala hewan kurban ini kemudian dihanyutkan ke tengah laut, sementara daging dimasak untuk kemudian disantap bersama oleh penduduk dan pengunjung yang hadir.
Contoh selanjutnya adalah Macceratasi, sebuah upacara adat masyarakat nelayan tradisional di Kabupaten Kota Baru, Kalimantan Selatan. Upacara ini sudah berlangsung sejak lama dan terus dilakukan secara turun-temurun setahun sekali. Beberapa waktu lalu, upacara ini kembali digelar di Pantai Gedambaan atau disebut juga Pantai Sarang Tiung.
Prosesi utama Macceratasi adalah penyembelihan kerbau, kambing, dan ayam di pantai kemudian darahnya dialirkan ke laut dengan maksud memberikan darah bagi kehidupan laut. Dengan pelaksanaan upacara adat ini, masyarakat yang tinggal sekitar pantai dan sekitarnya berharap mendapatkan rezeki yang melimpah dari kehidupan laut. Kerbau, kambing, dan ayam dipotong. Darahnya dilarungkan ke laut. Itulah bagian utama dari prosesi Macceratasi.
Contoh berikutnya adalah tradisi adat masyarakat Karempuang, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan. Di sana, ayam adalah sajian utama termasuk dalam hal hewan sesajian.
Masyarakat Karempuang memang memiliki tradisi memotong ayam secara massal pada acara selamatan tahunan. Selamatan ini dilakukan sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang melimpah dan pertanda musim awal cocok tanam.
Dalam ritual ini, masyarakat adat berpuasa selama tujuh hari, tidak memakan makanan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Ayam yang akan dijadikan sesaji dalam ritual ini adalah sepasang ayam jantan dan betina pilihan, berbulu merah, putih, hitam, dan kuning. Sebelum ayam dipotong, pemangku adat wanita, sanro, terlebih dahulu melakukan ritual yang juga dihadiri pemangku adat tertinggi, pengelak. Berbagai bahan untuk keperluan ritual disiapkan, di antaranya minyak kemiri dan beras.
Dupa dan kemenyan pun dibakar. Pemangku adat lalu membacakan mantra dan doa-doa meminta berkah dan keselamatan. Ritual ini berlangsung selama hampir dua jam.
Ritual pun selesai dilakukan. Kaum laki-laki membawa ayam ini menuju bukit batu yang letaknya tidak jauh dari rumah adat. Di atas bukit inilah ayam dipotong dan isi perutnya dibersihkan. Darah yang menetes dari leher ayam ditampung dengan daun dan mangkok.
Darah ayam adalah persembahan untuk roh leluhur penjaga hutan, dengan harapan hutan tetap memberi kesuburan.

Bahan untuk Diskusi Ringan
Di sekitar kita sebenarnya masih banyak tradisi dan ritual dalam bentuk menyembelih binatang. Apa pun alasannya, selama kegiatan tersebut tidak ditopang dan dilandasi oleh ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad n, kegiatan tersebut bukan bagian dari ajaran Islam. Islam memerintahkan untuk memerangi serta berupaya untuk memberantas tradisi dan ritual semacam itu.
Sebagai penutup, saya akan menghadirkan beberapa pertanyaan sebagai bahan diskusi. Pertanyaan ini sangat membantu pembuktian bahwa tradisi dan ritual menyembelih binatang semacam itu mengandung unsur-unsur kesyirikan.
1. Benarkah di dalam tradisi dan ritual tersebut binatang disembelih karena dan untuk Allah l?
2. Apakah benar tidak ada keyakinan adanya kekuatan lain yang mendatangkan manfaat maupun mudarat selain Allah l? Jika benar, bagaimana jika acara tersebut tidak dilakukan? Bukankah di dalam hati akan timbul kekhawatiran dan kecemasan bahwa hasil panen atau melaut akan berkurang, selalu jauh dari keselamatan, bala dan musibah datang silih berganti?
3. Apakah yang terjadi jika binatang yang disembelih tidak sesuai dengan kriteria yang ditetapkan? Atau, jika acara tersebut dilaksanakan bukan pada waktunya?
Pastinya, bagi para pelaku dan pengikut tradisi dan ritual tersebut, rasa berharap dan takutnya telah mendua. Meski ia mengaku melakukannya untuk dan karena Allah l, namun harapan, sikap pengagungan, dan sikap takutnya, ia berikan pula kepada selain Allah l.
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari noda-noda kesyirikan.
Ya Allah, curahkanlah rahmat dan taufik-Mu agar kami dan saudara-saudara kami tetap berada di atas jalan-Mu yang lurus.

ANTARA TRADISI dan SENDI-SENDI TAUHID, Gugatan Ilmiah Terhadap Usaha Pelestarian Situs dan Tradisi Bersejarah yang Menyimpang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

Kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari kebudayaan, tradisi, dan adat-istiadat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kebudayaan adalah hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat-istiadat. Adapun tradisi adalah adat kebiasaaan turun-temurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan dalam masyarakat. Adat-istiadat adalah tata-kelakuan yang kekal dan turun-temurun dari generasi satu ke generasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya dengan pola perilaku masyarakat.
Perselisihan akan selalu terlahir setiap saat jika kebenaran ditentukan oleh kebudayaan, tradisi, atau adat-istiadat. Pertentangan terhadap Islam, dalam sejarah, malah terfondasikan pada kejumudan dan sikap fanatik mempertahankan tradisi serta adat-istiadat yang berlaku pada tatanan masyarakat. Sering, untuk memusuhi dakwah Nabi n, kaum musyrikin beralasan dengan berpegang kokoh kepada ajaran nenek moyang. Allah l berfirman tentang mereka:
Mereka berkata, “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah oleh nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami bukti yang nyata.” (Ibrahim: 10)
Begitu pula yang dinyatakan oleh kaum Nabi Syu’aib, Nabi Nuh, Nabi Shalih, dan kaum para nabi lainnya r. Setiap kaum berkata kepada nabi yang diutus kepada mereka, “Apakah kamu melarang kami untuk menyembah apa yang disembah oleh bapak-bapak kami?”
Memang, tidak semua bentuk tradisi dan adat-istiadat berjalan berlawanan dengan hukum-hukum Islam. Tidak seluruh tradisi dan adat-istiadat yang berlaku di masyarakat kemudian ditentang dan hendak dihapuskan oleh Islam. Namun, apa pun bentuk dan cara penilaian yang ada, haruslah tunduk dan sesuai dengan syariat yang diemban oleh Rasulullah n, termasuk tradisi dan adat-istiadat.
Dalam pembahasan ringkas kali ini, kita hanya membatasi pembicaraan pada dua tradisi besar dalam masyarakat Indonesia yang bertentangan dengan syariat Islam. Memang banyak sekali tradisi dan adat-istiadat yang tidak sejalan dengan bimbingan Rasulullah n sehingga membutuhkan pembahasan yang lebih luas. Banyaknya tradisi dan adat-istiadat yang bertentangan dengan Islam memberikan sebuah pembelajaran bagi kita bahwa betapa masyarakat muslimin sangat membutuhkan pelajaran tentang tauhid lalu mengamalkannya dan pengetahuan tentang kesyirikan agar dijauhi dan ditinggalkan.
Dua hal terkait dengan tradisi yang akan diangkat dalam pembahasan kali ini adalah:
Pertama, usaha pelestarian situs dan tradisi bersejarah.
Kedua, tradisi menyembelih (larung, sedekah laut, dan sedekah bumi).

Tapak Tilas Situs Bersejarah, Usaha Iblis Memperjuangkan Kesesatan
Ada banyak alasan yang dikemukakan untuk melestarikan situs-situs bersejarah. Sekadar mengenang sejarah, misalnya. Alasan lain, menghormati jasa pahlawan atau pendahulu, sumber pendapatan daerah, menarik investasi, mengembangkan pariwisata daerah, mengenalkan daerah kepada masyarakat luas, dan seterusnya. Namun, sebuah fakta dan kenyataan yang ada bahwa usaha tersebut telah memberikan peluang besar dan membuka pintu selebar-lebarnya bagi setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam lubang dosa, yaitu kesyirikan.
Apa pun pernyataan yang diungkapkan dalam rangka membela diri, tetap saja usaha pelestarian situs-situs bersejarah telah menempatkan manusia dalam keadaan meyakini keagungan tempat-tempat tersebut. Akhirnya, sebagian orang terdorong mendatangi tempat-tempat tersebut dalam rangka bertabarruk.
Tabarruk maknanya mencari berkah. Berkah itu sendiri maknanya adalah adanya kebaikan dan bertambahnya kebaikan tersebut pada sesuatu. Mencari berkah haruslah dari Dzat yang memiliki dan menguasainya, yaitu Allah l. Dia-lah yang menurunkan berkah dan memberikannya. Makhluk tidak dapat memberikan berkah apalagi membuatnya. Maka dari itu, suatu tempat atau seseorang dinyatakan mempunyai berkah, haruslah didasarkan keterangan dari Allah l dan Rasul Nya n. Demikian pula cara dan bentuk mencari berkah. Semuanya haruslah tunduk pada ketentuan yang ditetapkan Allah, Dzat Yang Maha Memberi berkah.
Tabarruk dengan tempat, petilasan, atau orang (hidup atau mati) tidak diperbolehkan. Hal tersebut adalah kesyirikan, jika ia meyakini bahwa hal itu dapat memberikan berkah; atau menjadi wasilah (sarana) kepada kesyirikan, jika ia meyakini bahwa kedatangannya, tamassuh (mengusap bagian-bagian tertentu), dan ibadahnya pada tempat tersebut hanyalah sebagai sebab datangnya berkah dari Allah l.

Bagaimana dengan Perbuatan Sahabat terhadap Nabi n?
Perbuatan para sahabat bertabarruk dengan rambut Nabi n, air ludah beliau n, ataupun hal-hal lainnya adalah kekhususan untuk Nabi n pada zat diri beliau n saja. Buktinya, para sahabat tidak bertabarruk dengan kamar atau kubur beliau n setelah wafatnya. Para sahabat juga tidak melaksanakan shalat pada tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Nabi n untuk shalat atau duduk dalam rangka bertabarruk. Apalagi tempat-tempat yang digunakan oleh selain Nabi n!
Para sahabat tidak bertabarruk dengan orang-orang yang saleh semisal Abu Bakr, Umar, dan sahabat mulia yang lain g. Tidak pada masa hidup mereka apalagi setelah meninggalnya. Mereka juga tidak bepergian menuju goa Hira untuk shalat atau berdoa.
Demikian juga tempat-tempat yang pernah digunakan oleh Nabi n untuk shalat, baik di Makkah maupun di Madinah. Tidak ada seorang salaf pun yang mencium atau mengusap-usapnya.
Jika tempat yang pernah diinjak oleh kedua telapak kaki Nabi n yang mulia dan pernah digunakan Nabi n untuk shalat tidak disyariatkan untuk dicium dan diusap, bagaimana mungkin disyariatkan pada tempat yang digunakan untuk shalat atau tidur oleh selain beliau n? (al-Irsyad, asy-Syaikh al-Fauzan)
Bandingkan dengan apa yang dilakukan dan diyakini oleh para peziarah dalam acara Grebeg Syawal, sebuah acara ziarah yang diselenggarakan oleh keluarga Kraton Kanoman, Cirebon. Acara ini dilakukan sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri. Grebeg Syawal adalah saat keluarga keraton Kanoman Cirebon, berziarah ke makam leluhur, yakni ke komplek pemakaman Sunan Gunung Jati, di Gunung Sembung, sekitar lima kilometer arah utara dari pusat kota Cirebon.
Selain dengan tujuan berziarah, sebagian pengunjung memanfaatkan kesempatan hari itu untuk mencari berkah. Seperti
kuburan dan lokasi-lokasi lain yang dianggap keramat, pemakaman Gunung Jati tidak luput dari orang-orang bermaksud demikian, baik untuk mendapat tempat “basah” dalam pekerjaan di kantor, mendapat jodoh, maupun agar dagangan laris. Sebagian peziarah juga mengambil beberapa benda dari dalam komplek, seperti bunga ziarah di atas makam, ranting pohon, abu bekas kemenyan, dan apa saja yang dianggap mempunyai “kekuatan”, serta mencuci muka dari air yang tersedia. Sebagian pengunjung bersujud di depan pintu. Ada pula yang melempar uang sekadarnya.
Contoh lain, di Kota Mataram. Masyarakat biasanya datang ke dua tempat, yaitu Makam Bintaro dan Makam Loang Baloq. Dua makam itu dipandang cukup keramat. Dalam ziarah kubur, warga sejatinya tidak hanya memanjatkan doa, tetapi juga melakukan beragam ritual keagamaan dan atraksi simbolik. Misalnya, di dua makam yang dianggap keramat tadi pengunjung menyempatkan mencukur rambut bayinya (ngurisan). Bayi yang dicukur rambutnya di tempat tersebut diyakini akan menjadi anak yang saleh dan sukses di masa yang akan datang.
Tentunya, bagi orang yang berakal dan menginginkan kebenaran, cukuplah baginya beberapa dalil berikut ini. Dalil-dalil yang menjelaskan bahwa ritual-ritual tersebut dan yang semisalnya adalah pintu-pintu kesyirikan yang dilarang dalam agama Islam.

Dalil-Dalil Naqli
1. Al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Ummu Salamah x. Beliau pernah menceritakan kepada Rasulullah n tentang sebuah bangunan gereja yang dilihatnya di negeri Habasyah serta lukisan-lukisan di dalamnya. Lantas Rasulullah n bersabda:
أُولَئِكِ إِذَا مَاتَ مِنْهُمُ الرَّجُلُ الصَّالِحُ بَنَوْا عَلَى قَبْرِهِ مَسْجِدًا ثُمَّ صَوَّرُوا فِيهِ تِلْكَ الصُّورَةَ أُولَئِكِ شِرَارُ الْخَلْقِ عِنْدَ اللهِ
“Jika ada orang baik di antara mereka meninggal dunia, mereka membangun masjid di atas kuburnya dan membuat gambar lukisannya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk di sisi Allah.”
Yang dimaksud masjid dalam hadits di atas tidak terbatas pada pengertian masjid yang sehari-hari kita ketahui. Namun, meliputi setiap bangunan yang didirikan di atas atau di sekeliling kuburan.
Sangat kontras dengan yang dilakukan oleh sebagian umat pada masa kita ini. Sungguh, kita melihat dan mendengar secara langsung, kuburan dikeramatkan. Terjadi usaha, bahkan perlombaan, untuk mendirikan bangunan di sekitar kuburan, memasang dan menjual foto atau lukisan orang-orang yang dianggap wali. Bahkan, hal ini dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah. Mahasuci Allah l dari yang mereka perbuat.
Sebagian pelaku kesyirikan bahkan menamakannya sebagai “wisata ziarah” atau “wisata religi”. Kita bisa melihatnya pada makam Wali Songo, misalnya. Kuburan yang mewah, indah, lengkap fasilitasnya, dan beberapa kali direnovasi. Hal seperti ini adalah bentuk kesyirikan yang nyata.
Buktinya, hati para peziarah merasa lebih tenang dan khusyu saat berada di makam dan kuburan orang yang dikeramatkan. Adakah ketenangan dan kekhusyuan itu dirasakan kala mereka melakukan shalat di masjid-masjid Allah l?
Syaikhul Islam t berkata, “Oleh karena itu, engkau pasti dapat menyaksikan para pelaku kesyirikan akan merasakan ketenangan, kekhusyuan, dan kepasrahan kala berada di sisi kubur. Mereka beribadah dengan hati. Padahal, mereka tidak merasakan hal demikian ketika berada di masjid, rumah Allah l. Mereka berharap berkah shalat dan doa yang tidak mereka harapkan ketika melakukannya di masjid.” (Fathul Majid)

2. Al-Hafizh Ibnu Katsir t menjelaskan dalam al-Bidayah wan Nihayah (2/60) bahwa Yunus bin Bukair meriwayatkan dari Muhammad bin Ishaq, dari Abu Khalid bin Dinar, bahwa Abul Aliyah pernah menyampaikan kepada kami, “Saat menaklukkan daerah Tustar, kami mendapatkan sebuah ranjang di rumah al-Hurmuzan. Di atas ranjang tersebut ada sesosok jenazah. Di samping kepalanya ada sebuah kitab. Kami mengambil kitab tersebut kemudian menyampaikannya kepada Umar bin al-Khaththab z. Selanjutnya, Umar memanggil Ka’b dan memintanya untuk menerjemahkannya ke bahasa Arab. Ia berkata, ‘Akulah orang Arab pertama yang membacanya. Aku baca seperti halnya aku membaca Al-Qur’an’.”
Aku pun bertanya kepada Abul Aliyah, “Apa yang disebutkan dalam kitab tersebut?”
Ia menjawab, “Perjalanan hidup kalian, perkara dan kesalahan berbicara kalian serta hal-hal yang akan terjadi.”
Aku bertanya lagi, “Lantas apa yang kalian perbuat pada jenazah tersebut?”
Abul Aliyah menjawab, “Siang harinya, kami menggali tiga belas buah lubang pada tempat yang berbeda. Malam harinya, kami mengubur jenazah tersebut dengan meratakan ketiga belas lubang itu agar tidak diketahui oleh orang yang ingin membongkarnya.”
Aku bertanya lagi, “Apa yang mereka harapkan dari perbuatan tersebut?”
Beliau menjawab, “Dahulu, apabila langit tidak menurunkan hujan, mereka mengeluarkan jenazah itu dengan ranjang tidurnya. Lalu hujan pun turun untuk mereka.”
Kembali aku bertanya, “Menurut kalian, siapakah orang tersebut?”
Abul Aliyah menjawab, “Seseorang yang kerap dipanggil dengan nama Danial.”
Aku bertanya lagi, “Sudah berapa lama ia meninggal semenjak kalian menemukannya?”
Ia menjawab, “Sudah 300 tahun sebelumnya.”
Aku bertanya heran, “Tidak ada sedikitpun yang berubah pada jasadnya?”
Abul Aliyah menjawab, “Tidak. Hanya beberapa helai rambut belakangnya. Sesungguhnya jasad para nabi tidak dihancurkan oleh bumi dan tidak dimakan oleh binatang buas.”
Setelah membawakan kisah ini, Ibnu Katsir t berkata, “Kisah ini sanadnya sahih sampai kepada Abul Aliyah.” Kisah ini juga dibawakan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang sahih (no. 33813) dari Anas bin Malik z.
Perhatikanlah bimbingan para sahabat. Pada saat menemukan jasad tersebut, mereka tidak menjadikan tempat tersebut sebagai tempat berziarah. Mereka juga tidak membuat bangunan di atasnya, tidak pula membenarkan perbuatan orang-orang Persia yang menggunakan jasad tersebut untuk memohon turunnya hujan. Yang mereka lakukan justru menutup cerita, menghilangkan kuburnya, dan memutus urat nadi fitnah. Andai saja cara berfikir orang Yahudi yang mereka tempuh, tentu mereka akan segera mengagungkan tempat tersebut, menjadikannya sebagai tempat beribadah, dan menetapkan acara tahunan untuk berziarah. Berbeda halnya dengan keadaan sekitar kita bukan?
Marilah kita ambil sebuah contoh lain. Makam Syiah Kuala (Abdurrauf Singkel atau Abdurrauf Fansuri) yang terletak di daerah Nanggroe Aceh Darussalam. Setelah rusak terkena bencana tsunami beberapa waktu yang lalu, kini makam itu kembali dipugar. Lebih indah dan bertambah mewah. Semua dilakukan dengan menelan biaya besar. (Serambi Indonesia)
Manakah yang lebih baik dan lebih tinggi derajatnya? Seorang nabi bernama Danial ataukah seseorang yang dikenal sebagai Syiah Kuala?
Siapakah yang lebih mencintai dan memahami ajaran Islam? Para sahabat yang masih hidup ketika jasad Nabi Danial ditemukan ataukah pihak-pihak yang memperjuangkan agar Syiah Kuala dibangun makamnya?
Mengapa penglihatan, pendengaran, dan hati mereka tidak dipergunakan untuk tunduk kepada bimbingan generasi terbaik umat ini?
Masih banyak dan tidak terbilang jumlahnya situs-situs bersejarah yang dipugar dan dilestarikan. Entah itu berupa makam raja-raja, makam kasultanan, makam wali, atau tempat-tempat pemujaan kepada selain Allah l. Kami berlepas diri dari perbuatan semacam itu, ya Allah.

3. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khaththab z muncul gejala pada sebagian kaum muslimin yang memiliki ketergantungan kepada barang-barang peninggalan dan situs-situs sejarah yang tidak tercantum dalam nash/dalil. Fenomena ini dapat memengaruhi keagamaan mereka. Oleh karena itu, Umar bin al-Khaththab z dan para sahabat melarang serta memperingatkan manusia dari perbuatan tersebut.
Diriwayatkan dari al-Ma’rur bin Suwaid, ia bercerita, “Kami pergi mengerjakan haji bersama Umar bin al-Khaththab. Di tengah perjalanan, tampak sebuah masjid di depan kami. Orang-orang lalu bergegas untuk mengerjakan shalat di dalamnya. Umar z pun bertanya, ‘Ada apa dengan mereka itu?’ Orang-orang menjawab, ‘Itu adalah bangunan masjid yang Rasulullah n pernah mengerjakan shalat di situ.’ Umar z pun berkata:
إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَنَّهُمْ اتَّخَذُوا آثَارَ أَنْبِيَائِهِمْ بِيَعًا، مَنْ مَرَّ بِشَيْءٍ مِنَ الْمَسَاجِدِ فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُصَلِّ وَإِلاَّ فَلْيَمْضِ
“Wahai manusia, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa lantaran menjadikan tempat-tempat yang pernah dilalui oleh nabi mereka sebagai tempat ibadah. Siapa saja yang menjumpai shalat wajib maka shalatlah di situ. Kalau tidak, lewatilah saja.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazaq dalam al-Mushannaf 2/118—119, dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 2/376—377)
Syaikhul Islam t berkata tentang atsar ini, “Nabi n tidaklah bermaksud mengkhususkan shalat pada tempat tersebut. Beliau shalat di tempat itu karena memang di tempat itulah kebetulan beliau n berhenti. Maka dari itu, Umar z memandang bahwa mengikuti bentuk perbuatan Nabi n tanpa adanya kesamaan tujuan tidak termasuk mutaba’ah (mencontoh Nabi n). Bahkan, mengkhususkan shalat di tempat tersebut adalah bid’ah ahlul kitab yang menyebabkan kebinasaan mereka. Beliau n sendiri melarang kaum muslimin untuk tasyabbuh (menyerupai) ahlul kitab. Pelakunya menyerupai Nabi n dalam hal perbuatan, namun menyerupai Yahudi dan Nasrani dalam hal tujuan, yaitu amalan hati.” (Majmu’ al-Fatawa 1/281)
Bayangkan, betapa mendalam keilmuan Umar bin al-Khaththab z. Sungguh kuat prinsip beliau di dalam menjalankan bimbingan dan tuntunan Nabi Muhammad n. Beliau z melarang kaum muslimin untuk sengaja mendatangi tempat yang secara kebetulan pernah disinggahi oleh Rasulullah n kemudian shalat di tempat tersebut. Umar z melarang kaum muslimin sengaja datang dan shalat di tempat tersebut.
Lalu bagaimanakah kiranya kemarahan Umar bin al-Khaththab z jika melihat dan menyaksikan kondisi sebagian kaum muslimin sekarang, yang sengaja mencari dan mendatangi tempat-tempat yang dianggap keramat dan mendatangkan berkah, dengan alasan bahwa tempat tersebut pernah digunakan oleh wali atau orang saleh untuk menyendiri dan beribadah?

4. Ibnu Wahdhah juga meriwayatkan bahwasanya Umar bin al-Khaththab z memerintahkan untuk menebang sebuah pohon di tempat para sahabat membaiat Rasulullah n di bawah naungannya (pohon dalam kisah Bai’at ar-Ridhwan). Alasannya, banyak manusia mendatangi tempat tersebut untuk melaksanakan shalat di bawah pohon itu. Beliau z mengkhawatirkan timbulnya fitnah pada mereka nantinya seiring perjalanan waktu. (al-Bida’ wan Nahyu ‘anha hlm. 42, al-I’tisham 1/346)
Al-Hafizh t berkata dalam Fathul Bari (7/448), “Aku menemukan dalam (kitab) Ibnu Sa’d dengan sanad yang sahih dari Nafi’ bahwa Umar z mendengar berita tentang orang-orang yang mendatangi pohon tersebut untuk menunaikan shalat di sampingnya. Umar z kemudian mengancam mereka dan memerintahkan agar pohon tersebut ditebang. Pohon tersebut pun akhirnya ditebang.”
Al-Imam al-Bukhari t meriwayatkan dari Ibnu Umar c bahwa beliau berkata, “Pada tahun berikutnya, kami kembali ke tempat tersebut. Tidak ada seorang pun yang sepakat tentang letak pohon tempat kami berbaiat di bawahnya. Hal itu adalah rahmat dari Allah l.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Hikmahnya adalah agar tidak terjadi fitnah karena pernah terjadi kebaikan di bawah pohon tersebut. Andai saja pohon itu tetap ada, tentu tidak dirasa aman dari bentuk pengagungan terhadap pohon tersebut oleh sebagian orang-orang jahil. Bahkan, mungkin saja akan mendorong mereka untuk meyakini bahwa pohon tersebut dapat mendatangkan manfaat atau menolak mudarat, sebagaimana hal tersebut kita saksikan pada zaman ini terhadap sesuatu yang lebih rendah kedudukannya. Tentang hal inilah Ibnu Umar c memberikan isyarat, ‘Hal tersebut adalah rahmat.’ Artinya, tersembunyinya pohon tersebut adalah rahmat dari Allah l.”
Apa pun keadaannya, pohon tersebut tidak lagi diketahui secara pasti letaknya. Apakah karena kekuasaan Allah l sebagai rahmat dari-Nya—sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu Umar c—atau hal tersebut terjadi melalui tangan Umar bin al-Khaththab z. Yang jelas, hal ini menunjukkan bahwa mencari jejak petilasan nabi atau orang saleh, demikian juga mengagungkan tempat-tempat terjadinya peristiwa besar, bukan termasuk ajaran Islam.

Dalil Aqli
Di antara faktor yang menunjukkan bahwa tabarruk dengan atsar-atsar (jejak petilasan) tidak disyariatkan dan merupakan perkara baru yang diada-adakan adalah sebagai berikut.
1. Ziarah atau tabarruk semacam ini tidak pernah terjadi pada masa Rasulullah n. Tidak ada satu pun kabar yang benar, tidak dengan isnad yang sahih, hasan, bahkan dhaif sekalipun. Tidak pernah diriwayatkan bahwa seseorang bertabarruk dengan jejak beliau n di sebidang tanah pada zamannya.
Terhadap Rasulullah n saja, makhluk terbaik dan termulia di sisi Allah l, tidak diperbolehkan. Lalu bagaimana jika dilakukan dan diberikan kepada selain Nabi n? Tentu lebih tidak boleh lagi.
2. Berkah diri para nabi dan rasul tidak menular ke tempat-tempat di bumi. Jika tidak demikian, semestinya setiap jengkal tanah yang mereka injak, atau duduki, atau jalan yang mereka lalui, bisa dicari berkahnya dan dapat dijadikan tempat mencari berkah.
Ini adalah sebuah konsekuensi yang pasti batil. Ini tampak jelas bagi orang yang mau memikirkan kemungkinan meluas dan sambung-menyambungnya dimensi ini.
3. Mencari berkah dengan tempat-tempat di bumi menyelisihi sunnah seluruh nabi sebelum Nabi kita Muhammad n. Mereka tidak mengutamakan bekas-bekas para nabi di bumi sebelum mereka, tidak pula menyuruh seseorang untuk mengutamakannya. Maka dari itu, segala sesuatu yang berbeda dengannya berarti termasuk yang hal dibuat-buat oleh orang-orang zaman ini yang mengerjakan sesuatu yang tidak diperintahkan setelah wafatnya para nabi mereka. Ketika aturan-aturan syariat menyulitkan mereka, mereka gemar melakukan tabarruk yang bid’ah dalam rangka memohon ampunan dari dosa-dosa dan bertambahnya kebaikan. Maka dari itu, Umar z pernah berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena perbuatan seperti ini. Mereka mencari-cari petilasan (jejak) para nabi mereka.”
4. Tempat-tempat di bumi tidak ada berkahnya melainkan dengan adanya ketaatan yang terjadi secara terus-menerus di sana. Ini menjadi sebab diturunkannya berkah dari Allah l. Masjid-masjid diberkahi juga karena ketaatan itu. Berkahnya pun akan hilang bersama dengan sirnanya ketaatan darinya.
Di antara yang bisa dijadikan contoh adalah masjid-masjid yang dapat ditundukkan oleh orang-orang kafir harbi lalu mereka jadikan sebagai gereja. Hilanglah darinya berkah masjid yang terjadi ketika Allah l ditaati di dalamnya. Setelah syirik muncul dan ibadah untuk selain Allah l dilakukan di sana, berkah itu tercabut. Ini adalah kebenaran yang tidak dapat dibantah dan diperselisihkan. (Hadzihi, asy-Syaikh Shalih Alusy Syaikh)

Penutup
Mudah-mudahan sedikit pemaparan di atas, yang dilandasi oleh dalil-dalil naqli dan aqli, dapat memberikan manfaat dan pencerahan dalam berpendapat. Pastinya, kebenaran itu hanyalah yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya n. Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu sebagai kebenaran dan bimbinglah kami untuk mengikutinya. Ya Allah, tunjukkanlah pula untuk kami kebatilan itu sebagai kebatilan dan tuntunlah kami untuk menjauhinya.
Kabulkanlah, ya Arhamar Rahimin.

 

SAJEN, Tradisi Sesaji Menyelisihi Syar’i

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Pendem adalah nama sebuah desa di Kecamatan Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah. Di desa inilah letak sebuah bukit yang khalayak ramai menyebutnya Gunung Kemukus. Malam Jumat Pon adalah malam keramaian. Manusia berdatangan ke Gunung Kemukus dalam rangka menjalani laku tirakat ngalap berkah di makam yang ada di tempat itu.
Makam di perbukitan yang berada di tengah Waduk Kedungombo ini, konon merupakan makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan. Ritual ngalap berkah di Gunung Kemukus diawali dengan prosesi penyucian di Sendang Ontrowulan. Setelah itu, dengan dipandu juru kunci, para peziarah dibimbing guna melakukan ritual sajen. Yaitu, menyerahkan uborampe (perlengkapan sajen) dalam bentuk sebungkus kembang telon, dupa ratus atau kemenyan, dan uang wajib. Dengan uborampe inilah juru kunci akan memohon kepada yang mbaurekso di Gunung Kemukus. (Sajen dan Ritual Orang Jawa, Wahyana Giri MC, hlm. 94—96)
Berbeda dengan yang terjadi di Yogyakarta. Perilaku mistik sebagian orang Yogyakarta bisa ditemukan pada upacara Labuhan. Asal kata labuhan yaitu labuh, artinya membuang. Upacara Labuhan adalah sesaji ritual bertujuan melestarikan hubungan yang telah lama terjalin antara beberapa pihak dan penguasa laut selatan yaitu Kanjeng Ratu Kidul. Upacara Labuhan lainnya juga dilakukan di Gunung Merapi, dan Gunung Lawu (Karanganyar, Jawa Tengah).
Sesaji untuk penguasa laut selatan diadakan di Parangkusumo. Sesaji diletakkan pada satu tempat yang disebut petilasan, yaitu tempat terjadinya pertemuan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul yang memiliki patih bernama Nyai Rara Kidul. Antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul terjalin perjanjian di mana Kanjeng Ratu Kidul berjanji melindungi Panembahan Senopati beserta seluruh keturunannya.
Pelaksanaan doa dilakukan di tempat tersebut dan sesaji pun ditaruh di tempat itu. Juru kunci Parangkusumo mengucapkan, “Perkenankanlah saya, Kanjeng Ratu Kidul untuk menyampaikan sesaji Labuhan kepada Paduka, … untuk keselamatan hidup, kehormatan kerajaan, dan keselamatan rakyat serta negeri Ngayogyakarta Hadiningrat.” Setelah mengucapkan mantra, sesaji itu pun dibawa ke laut. Beberapa sesaji diempaskan ombak kembali ke pantai dan diperebutkan oleh masyarakat. Mereka berkeyakinan bahwa sesaji tersebut memiliki daya untuk memberikan keselamatan, kesehatan, dan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang mendapatkannya.
Ritual Labuhan lainnya dilaksanakan setiap tanggal 30 Rejeb (penanggalan Jawa). Upacara ritual ini banyak dikunjungi oleh orang guna ngalap berkah. Sesaji ditujukan kepada Eyang Kanjeng Pangeran Sapujagad, Pangeran Anom Suryangalam, Eyang Kyai Udononggo, Nyai Udononggo, dan Kyai Jurutaman. Tempat tinggal mereka ada di beberapa tempat di Merapi, seperti di Turgo, Plawangan, dan Wukir Rinenggo di dekat Selo. Upacara doa dilakukan di Kinahrejo, dipimpin oleh abdi dalem kraton, Mas Ngabehi Suraksohargo alias Mbah Maridjan. Sesaji diletakkan di satu tempat bernama Kendit, letaknya di lereng selatan Gunung Merapi. Uborampe (perlengkapan sesaji) terdiri dari kain, setagen, minyak wangi, kemenyan, dan lain-lain.
Ritual Labuhan lainnya dilakukan di Desa Nano, letaknya di lereng Gunung Lawu. Sesaji dikirim ke desa tersebut lalu dibawa oleh delapan orang penduduk asli daerah tersebut. Dipilihnya delapan orang dari penduduk asli daerah itu karena mereka memiliki hubungan spiritual dengan yang mbaurekso (penguasa) Gunung Lawu. (Upacara Tradisional Jawa Menggali Untaian Kearifan Lokal, Dr. Purwadi M. Hum, hlm. 75—78)
Upacara ritual semacam yang dipaparkan di atas terjadi di mana-mana. Sebut saja upacara ritual Yudnya Kasada yang dilakukan masyarakat Tengger di kawasan Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Upacara ini dilakukan pada setiap purnama bulan Kasada. Upacara dilakukan menjelang fajar. Saat itulah, masyarakat Tengger (terkhusus yang menganut agama Hindu) mengangkut ongkek (wadah) berisi sesajen yang akan dilarung ke kawah Bromo. Uborampe sesajen ini berisi pisang, labu, cabai, jagung, dan hasil pertanian lainnya.
Di Pelabuhan Lorens Say, Maumere, masyarakat Nasrani di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, mengadakan upacara Parehoba, yaitu menyuguhkan sesajen berupa telur, arak, dan beras kepada penguasa laut dan roh leluhur. Mereka meminta keselamatan kepada penguasa laut dan roh leluhurnya.
Upacara sejenis terjadi di Kabupaten Subang, Jawa Barat, tepatnya di Muara Belanakan. Masyarakat nelayan di daerah ini melakukan ruwatan atau sedekah laut. Bentuknya dengan menyuguhkan sajen berupa kepala kerbau dan darahnya, serta makanan lainnya.
Di Flores Tengah, kalangan Suku Lio juga mengadakan ritual semacam ini. Sesajen atau kuwiroe (menurut istilah masyarakat Suku Lio) adalah sebentuk ritual yang ditujukan kepada para dewa, roh, atau arwah nenek moyang. Tujuannya tentu saja dengan sebuah keyakinan bahwa dengan kuwiroe tersebut diharapkan arwah-arwah leluhur bisa memberi perlindungan hidup kepada mereka.
Semoga Allah l memberikan hidayah dan taufik-Nya kepada pemerintah untuk menghilangkan segala tradisi yang mengandung kesyirikan.
Sajen, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah makanan (bunga-bungaan dan sebagainya) yang disajikan untuk makhluk halus. Sajen adalah satu bentuk laku spiritual. Sebagaimana diketahui, seseorang tidak ingin mendapatkan gangguan apa pun dalam kehidupannya. Seseorang selalu ingin hidup yang diwarnai oleh harmoni. Dalam tujuan menggapai harmoni inilah sebagian manusia lantas melakukan laku spiritual sajen. Dengan laku spiritual tersebut, diharapkan yang mbaurekso (menguasai) tempat tertentu tidak mengganggu mereka, menimpakan malapetakan dan bencana. Dengan demikian, akan tercipta kehidupan yang penuh harmoni. Itulah filosofi orang-orang yang melakukan laku spiritual dalam bentuk sajen. Filosofi ini tentu berakar pada kepercayaan animisme, yaitu sebuah paham yang mendasarkan keyakinan pada peranan makhluk halus atau roh-roh (anima). Makhluk halus atau roh-roh inilah yang sering dibahasakan dengan sebutan yang mbaurekso: Kanjeng Ratu Kidul, Nyai Roro Kidul, dan sebagainya. Sering dibahasakan pula dengan istilah ‘penunggu’. Apabila di satu tempat keadaannya angker dan mistis, orang-orang di sekitar tempat itu mengatakan bahwa tempat tersebut ada penunggunya.
Pada zaman Rasulullah n, ada berhala yang bernama al-‘Uzza. Ini disebutkan dalam Al-Qur’an:
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata, al-‘Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (an-Najm: 19—20)
Al-‘Uzza adalah berhala yang disembah masyarakat Arab musyrikin. Berhala ini merupakan pohon as-Salam yang terletak di Lembah Nakhlah, antara Makkah dan Thaif. Berhala ini diselimuti kain dan memiliki juru kunci. Bahkan, di situ didiami pula oleh jin (yang mbaurekso/penunggu). Orang-orang yang jahil (tidak paham agama) akan beranggapan bahwa pohon tersebut bisa berbicara. Berhala ini adalah sesembahan orang-orang Quraisy dan penduduk Makkah yang musyrik serta orang-orang sekitar kota Makkah.
Saat terjadi Fathu Makkah, Rasulullah n mengutus Khalid ibnul Walid z ke Lembah Nakhlah guna menghancurkan berhala al-‘Uzza. Khalid ibnul Walid z pun menebang habis pohon tersebut. Setelahnya, ia kembali ke Makkah untuk melaporkan apa yang diperbuatnya kepada Rasulullah n. Namun, Rasulullah n menyuruhnya kembali ke tempat berhala al-‘Uzza, karena tugas yang diberikan kepadanya belum tuntas dia tunaikan. Khalid ibnul Walid z pun kembali ke tempat berhala al-‘Uzza dan memburu yang mbaurekso tempat itu untuk membunuhnya. Akhirnya, Khalid ibnul Walid z berhasil melibas habis yang mbaurekso, yang senyatanya adalah jinniyah (jin wanita). (Syarh al-Qawa’id al-Arba’, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hlm. 35—36)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab t menjelaskan bahwa apa yang dipertuhankan oleh manusia sangat beragam. Ada di antara mereka yang menyembah para malaikat. Allah l berfirman:
“Dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan.” (Ali Imran: 80)
Ada di antara mereka yang menyembah para nabi. Allah l berfirman:
Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, ‘Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah’?” Isa menjawab, “Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib.” (al-Maidah: 116)
Ada juga di antara mereka yang menyembah orang-orang saleh. Allah l berfirman:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.” (al-Isra: 57)
Di antara manusia ada pula yang menyembah matahari dan bulan. Allah l berfirman:
“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (Fushshilat: 37)
Ada pula di antara manusia yang menyembah pohon dan batu. Allah l berfirman:
“Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) menganggap al-Lata, al-‘Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)?” (an-Najm: 19—20)
Bahkan, manusia yang menyembah jin pun ada. Allah l berfirman:
“Bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba: 41)
“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (al-Jin: 6)
Terhadap segala bentuk penyembahan walau yang disembah berbeda satu dengan yang lain, Nabi n tidak membedakannya. Nabi n memerangi segala bentuk kesyirikan. Firman-Nya:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al-Anfal: 39)
Menurut Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t, yang dimaksud fitnah dalam ayat ini adalah kesyirikan. Dengan demikian, maksud ayat tersebut:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah….”
adalah sampai tidak ada lagi perbuatan syirik kepada Allah l, dan menjadikan agama itu semata-mata hanya bagi Allah l. (Lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, hlm. 21)
Sungguh tingkat kesyirikan yang diperbuat oleh orang-orang pada masa ini lebih rusak dan dahsyat. Kesyirikan yang dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang lebih berat dibandingkan dengan kesyirikan musyrikin Quraisy dahulu. Orang-orang musyrik pada masa dahulu melakukan perbuatan syirik ketika dalam keadaan lapang dan tidak ditimpa oleh kesusahan. Adapun jika ditimpa oleh kesusahan, mereka mengikhlaskan peribadahan (doa) hanya kepada Allah l. Berbeda halnya dengan orang-orang musyrik masa kini. Mereka berbuat syirik, beribadah, berdoa kepada selain Allah l kala ditimpa oleh kesulitan ataupun dalam keadaan lapang, tidak ada kesusahan yang menimpanya.
Allah l berfirman:
“Maka apabila mereka naik kapal mereka berdoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah).” (al-Ankabut: 65) (Lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, hlm. 41)
Bagaimana pula dengan orang-orang yang melakukan kesyirikan sekaligus melakukan pula zina, yang termasuk dosa-dosa yang paling besar? Lihat, kasus kesyirikan yang berpadu dengan kabair (dosa-dosa besar) sebagaimana terjadi di Gunung Kemukus, Sragen. Sungguh, keadaan orang-orang musyrikin sekarang lebih parah dan lebih rusak daripada musyrikin zaman dahulu. Allahul musta’an.
Dari tradisi sesajen, nyata terlihat betapa prosesi ritual sesajen telah menyelisihi sendi-sendi tauhid. Penyembelihan hewan yang disajikan kepada yang mbaurekso tempat tertentu adalah tindakan yang menyelisihi tauhid. Allah l berfirman:
Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (al-An’am: 162—163)
“Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah.” (al-Kautsar: 2)
Dari Ali bin Abi Thalib z, beliau berkata, “Rasulullah n berbicara kepadaku tentang empat hal:
لَعَنَ اللهُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِ اللهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ لَعَنَ وَالِدَيْهِ، وَلَعَنَ اللهُ مَنْ غَيَّرَ الْمَنَارَ
Allah l melaknat orang yang menyembelih karena selain Allah l, Allah l melaknat orang yang memberi perlindungan kepada pelaku kriminal, Allah l melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya, dan Allah l melaknat orang yang mengubah batas tanah.” (HR. Muslim, 3/1567)
Umat pun melakukan tabarruk yang menyelisihi syariat. Dari Abi Waqid al-Laitsi z, dia menyatakan, “Kami keluar (pergi) bersama Rasulullah n ke Hunain. Kami berbincang-bincang (tentang keadaan kami) semasa masih kafir (karena baru masuk Islam). Orang-orang musyrik memiliki pohon sidr (bidara) yang mereka biasa menetap dan menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Pohon tersebut disebut sebagai Dzatu Anwath (yang memiliki gantungan). Tatkala kami melewati pohon sidr itu, kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, buatkan bagi kami dzatu anwath sebagaimana orang-orang musyrik memilikinya.’ Rasulullah n pun bersabda, ‘Allahu akbar. Itulah tradisi (orang-orang sebelum kalian). Kalian telah mengatakan—demi Dzat yang diriku ada di tangan-Nya—sebagaimana Bani Israil telah mengatakan kepada Musa, ‘Buatkan untuk kami sesembahan sebagaimana mereka memiliki sesembahan.’ Lantas Musa berkata, ‘Sesungguhnya kalian adalah kaum yang tidak mengerti.’ (al-A’raf: 138) Sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian’.” (HR. at-Tirmidzi, 6/343)
Tujuan menggantungkan senjata-senjata tersebut adalah untuk tabarruk (mencari keberkahan) dari pohon tersebut. Nabi n pun mengingkari apa yang mereka inginkan. (al-Qaulul Mufid Syarh Kitabit Tauhid, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, hlm. 130)
Lalu, bagaimana pula dengan orang-orang yang berniat ngalap berkah ke tempat-tempat yang dianggap sakral? Sungguh, ini adalah tipudaya setan yang menggiring orang jahil (tidak mengerti al-haq) ke tempat yang nista.
Rasulullah n bersikap keras terhadap orang-orang yang melakukan ibadah yang disyariatkan seperti shalat, sedekah, dan sebagainya, di seputar kuburan orang-orang saleh. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dari Aisyah x:
لَعَنَ اللهُ الْيَهُودَ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka menjadikan kubur para nabi mereka sebagai tempat-tempat ibadah (masjid).” (HR. al-Bukhari 1/155 dan Muslim 1/375)
Lalu bagaimana dengan orang-orang yang datang ke kuburan bukan orang saleh dan di sana ia melakukan kemaksiatan, menebar sesajen, melakukan perzinaan, atau kemaksiatan lainnya dengan keyakinan hal itu bisa mendatangkan keberuntungan? Sungguh, ini adalah tindakan yang paling dungu dan teramat dungu.
Melakukan ibadah yang disyariatkan, tetapi di seputar kuburan orang yang saleh saja mendapat laknat, apatah lagi bagi orang yang melakukan maksiat di seputar kuburan bukan orang saleh. Hanya orang-orang yang berakal yang akan mengambil pelajaran ini.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 

Surat Pembaca Edisi 67

Bencana Perusakan Akidah
Teruslah berjuang. Bencana perusakan akidah semakin parah, Asy Syariah jalan terus, semoga khusnul khatimah, saya usul ada bahasan fiqhud da’wah.
Muhajir-Kebumen

Jazakallahu khairan. Mengenai fiqhud da’wah, sudah kami angkat sebagai tema utama di edisi 19, Berdakwah seperti Rasulullah n. Sebagai pelengkap, Anda juga bisa mengkaji sajian utama kami pada edisi 65.

Tampilan Lebih Menawan
Alhamdulillah, majalah Asy Syariah vol. VI/no. 66/1431 H/2010 sudah tersebar di kota kami. Saya rasakan bahwa tampilan majalah kali ini lebih cerah dan menawan dari sebelumnya. Pesan kami, tetap dipertahankan.
Ibnu Abdillah-Batu VI, Medan

Jazakallahu khairan atas masukannya.

Kesalahan Nomor Ayat
Bismillah, pada kolom permata salaf terdapat kesalahan ayat surah al-Ahzab 3, mestinya al-Ahzab ayat 4.
Abu Farih-Lumajang

Anda benar, jazakallahu khairan atas koreksinya. Jawaban ini sekaligus sebagai ralat dari Redaksi.

Info Praktis Plus
Alhamdulillah, membaca rubrik “Info Praktis” (Tips Melahirkan) yang ditampilkan di Asy Syariah Vol VI/No. 64/1431 H/2010, menjadi “tidak biasa”, istimewa, karena berbalut tausiyah sesuai syariat. Mohon sering ditampilkan info-info praktis sejenis.
Ummu Habibah-Lampung

Jazakillahu khairan atas masukannya.

Pohon Sanad Ditampilkan Lagi
Saya usul bagaimana kalau ‘‘pohon sanad’’ dalam rubrik Hadits di majalah ini ditampilkan kembali? Sebab, saya sangat suka dengan pembahasan sanad walaupun saya bukan santri ma’had. Dengan adanya ‘‘pohon sanad’’, pembahasan sanad hadits tampaknya lebih mudah.
Abu Abdillah-Situbondo

Jazakallahu khairan atas masukannya.

Rubrik Bersambung Hilang?
Mengapa Asy Syariah tidak lagi menyajikan rubrik Jejak/Ibrah? Padahal rubrik ini sangat diminati oleh ikhwan yang gemar mengambil pelajaran dari kisah-kisah.
Rahmat-Muna

Redaksi menerima banyak pertanyaan senada. Rubrik Jejak atau Ibrah, tidaklah kami hilangkan. Rubrik-rubrik tersebut masih ada, hanya saja tidak bisa rutin tampil pada setiap penerbitan karena pertimbangan ruang yang ada. Sebagaimana yang pernah kami sampaikan, beberapa rubrik memang akan naik-turun sesuai dengan ruang yang tersisa. Mohon maaf jika hal ini, terutama pada rubrik bersambung, menimbulkan ketidaknyamanan di hati Pembaca. Jazakallahu khairan.