Antara Cinta dan Benci

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Cinta dan benci adalah dua kata yang bertolak belakang. Kurang lebih sepadan dengan “suka dan tidak suka” atau “sudi dan tidak sudi.” Cinta akan datang jika segala keinginan tercapai dan segala kemauan tersalurkan. Benci datang apabila tidak tercapai apa yang diinginkan dan muncul sesuatu yang tidak disukai.
Jika cinta itu datang dan muncul, pasti Anda akan mempersiapkan diri untuk menyerahkan segala pengorbanan yang dituntut oleh cinta tersebut. Namun, jika benci itu datang, Anda pasti akan mempersiapkan langkah-langkah untuk membalas dan meluapkan rasa benci Anda. Itu adalah hal yang telah menghiasi langkah setiap manusia. Allah l telah menjelaskannya hal ini dalam sebuah firman-Nya:
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Ali Imran: 14)
Di dalam ayat ini, Allah l memberitakan kondisi manusia yang lebih mencintai urusan dunia daripada urusan akhirat. Allah l juga menjelaskan adanya perbedaan yang besar antara kedua negeri tersebut. Allah l memberitakan bahwa semua hal ini telah dihias-hiasi sehingga mata manusia terbelalak melihatnya. Perhiasan yang memikat hati. Setiap jiwa terlena dalam kelezatannya. Setiap orang cenderung kepada bagian dunia yang disebutkan sehingga menitikberatkan keinginannya pada hal tersebut. Itulah batas ilmunya, padahal itu adalah kenikmatan yang sedikit dalam masa yang singkat. (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 102)
Lalu, untuk dan karena siapa cinta dan benci yang ada pada diri Anda?
Inilah yang perlu dijawab dan dicari jalan keluarnya agar cinta dan benci tidak salah dalam penerapan. Jika penerapan cinta dan benci salah, akan menimbulkan banyak pelanggaran.
– Meremehkan aturan-aturan Allah l dan Rasul-Nya, yang penting keinginannya bisa tercapai.
– Menodai cinta dan benci itu sendiri, padahal keduanya adalah salah satu bentuk ibadah batin.
– Menjadikan lawan sebagai kawan dan kawan sebagai lawan.
Munculnya dampak yang besar ini jika terjadi salah aplikasi, menyebabkan hal ini harus diluruskan dan diperjelas.

Cinta dan Benci sebagai Ibadah
Tahukah Anda bahwa kedua kata yang bertolak belakang ini, cinta dan benci, bisa menjadi ibadah batin kepada Allah l?
Jika Anda telah mengetahuinya, tahukah Anda, siapa yang harus kita cintai dan yang harus kita benci?
Kita mencintai Allah l dan Rasul-Nya. Konsekuensinya, kita harus mencintai siapa saja yang mencintai dan dicintai oleh Allah l dan Rasul-Nya. Kita mencintai para rasul, para malaikat, dan orang-orang yang beriman. Sebaliknya, kita harus membenci siapa saja yang membenci Allah l dan Rasul-Nya atau yang menjadi musuh Allah l dan Rasul-Nya. Kita membenci orang-orang kafir, pelaku kesyirikan, pelaku kebid’ahan, dan pelaku kemaksiatan.
Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 54)
Bahwa cinta dan benci itu adalah ibadah, telah dijelaskan oleh Rasulullah n dalam sabdanya:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ الْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tali iman yang paling kokoh adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah k.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir no. 10531 dan 10537 dari sahabat Abdullah bin Mas’ud z, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani di dalam Shahih al-Jami’ no. 2537 dan ash-Shahihah no. 1728)
مَنْ أَحَبَّ لِلهِ وَأَبْغَضَ لِلهِ وَأَعْطَى لِلهِ وَمَنَعَ لِلهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ
“Barang siapa mencintai karena Allah l dan membenci karena Allah l, memberi karena Allah l dan tidak memberi juga karena Allah l, sungguh dia telah menyempurnakan keimanan.” (HR. Abu Dawud no. 4681 dari sahabat Abu Umamah z, disahihkan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5841 dan ash-Shahihah no. 380)

Cinta dan Benci adalah Amalan Hati
Kita telah mengetahui definisi ibadah, yakni segala bentuk ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah l, baik yang lahiriah maupun batiniah. Termasuk dalam deretan ibadah batiniah adalah cinta dan benci.
Jenis ibadah batiniah lebih banyak dilanggar daripada ibadah lahiriah karena kebanyakan orang tidak mengetahuinya, atau salah menerapkannya. Kesalahan ini adalah sesuatu yang “wajar” terjadi, terlebih lagi di masa ini yang kebanyakan manusia jauh dari ilmu agama dan para ulama. Kalaupun banyak orang alim di tempat tertentu, namun minat dan keingintahuan masyarakat terhadap agama sangat minim, atau mungkin sang alim tidak pernah menyinggung hal tersebut.
Jika seseorang benar dalam menerapkan cinta dan bencinya, sungguh dia telah merealisasikan konsekuensi iman yang tinggi.
As-Sa’di t berkata, “Fondasi tauhid dan ruhnya adalah mengikhlaskan kecintaan kepada Allah l semata. Terlebih lagi, ini adalah landasan pengabdian dan penghambaan diri. Bahkan, ini adalah hakikat ibadah. Tidak akan sempurna tauhid seseorang hingga ia menyempurnakan cintanya kepada Allah l dan kecintaannya kepada Allah l lebih besar dan mengalahkan kecintaannya kepada selain-Nya. Kecintaan kepada-Nya menjadi poros hukum atas semua bentuk kecintaan. Artinya, semua bentuk kecintaan kepada hamba harus mengikuti kecintaan kepada Allah l yang merupakan tanda kebahagiaan dan keberuntungan seorang hamba.” (al-Qaulus Sadid hlm. 110)
Ibnu Abbas c berkata, “Barang siapa cinta dan benci karena Allah l, berloyalitas dan memusuhi juga karena Allah l, dia akan mendapatkan kasih sayang Allah l. Seseorang tidak akan merasakan manisnya iman meskipun sering melakukan shalat dan puasa, hingga dia memiliki sifat di atas. Adapun mayoritas persaudaraan di kalangan manusia hanya karena urusan dunia yang tidak akan bermanfaat sedikit pun bagi pemiliknya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir)
Yahya bin Mu’adz t berkata, “Hakikat cinta karena Allah l ialah bahwa cinta itu tidak bertambah meskipun yang dicintainya berbuat kebaikan kepadanya, tidak pula berkurang ketika yang dicintainya bersikap kasar kepadanya.”
Cinta adalah realisasi tauhid sehingga harus diluruskan dan dijelaskan agar tidak menyelisihi tauhid. Oleh karena itu, kita harus mengetahui macam-macam cinta.
Macam-Macam Cinta
Cinta ada empat macam.
1. Cinta yang bersifat ibadah, yang merupakan landasan iman dan tauhid
2. Cinta yang syirik, yaitu mencintai selain Allah l sama atau melebihi kecintaannya kepada Allah l sebagaimana kecintaan kaum musyrikin kepada tuhan-tuhan mereka.
3. Cinta yang maksiat, yaitu cinta yang membuahkan sikap berani melanggar larangan-larangan Allah l dan meninggalkan segala perintahnya.
4. Cinta yang merupakan tabiat, yaitu cinta yang setiap orang tidak lepas darinya, seperti cinta kepada makanan, minuman, pernikahan, pakaian, keluarga, harta-benda, istri, anak, dan sebagainya.
Cinta yang merupakan ibadah dan cinta syirik telah kita bahas pada Asy Syariah edisi 3. Pembahasan kali ini akan menitikberatkan pada dua jenis cinta, yaitu cinta tabiat manusiawi dan cinta maksiat.

Cinta Tabiat
Setiap makhluk memiliki jenis cinta ini, sampai pun makhluk yang tidak berakal. Orang yang beriman akan berusaha menjadikan jenis cinta ini tidak hanya berkedudukan pada hukum mubah. Ia berusaha menjadikannya bernilai di sisi Allah l. Usaha yang dia lakukan adalah melihat dan mengkaji, karena siapakah dia mencintai?
Dia mengubah cinta tabiat menjadi cinta yang berpahala di sisi Allah l. Dia mencintai harta bendanya. Bersamaan dengan cintanya itu, dia mempergunakan hartanya untuk menopang ketaatan dirinya kepada Allah l dengan bersedekah, berinfaq, membantu fakir-miskin, dan orang yang membutuhkan. Harta-benda yang dia cintai tidak melalaikannya dari akhirat.
Dia mencintai anak dan istrinya. Namun, kecintaannya itu tidak menjadikannya berani melanggar norma-norma agama. Dia justru menganggap istri dan anak sebagai amanat dari Allah l yang harus dijaga dan ditunaikan, diluruskan, dididik, dan diajari. Kecintaannya tidak kemudian melalaikannya dari Allah l.
Dia mencintai makanan dan minuman. Namun, dia menjadikan makanan dan minuman sebagai penguat dalam pengabdian dirinya kepada Allah l.
Dia mengetahui peringatan Allah l di dalam Al-Qur’an tentang harta-benda, anak, dan istri yang dicintainya. Allah l berfirman:
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka). Maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 14—15)
Akan tetapi, yang sering terjadi justru sebaliknya. Mayoritas kaum muslimin tidak mengindahkan peringatan tersebut. Yang terjadi adalah kecintaan yang sebatas tabiat, yang terkadang menyebabkan terjatuh dalam kesalahan yang lebih besar.
Dia mencintai harta-bendanya. Tatkala Dzat yang menitipkan harta mengujinya dengan hancur atau hilangnya, dia tidak kembali kepada Allah l. Justru ia menjauh dari-Nya. Bukan cerita aneh lagi jika dia lantas gantung diri, menjadi gila, atau membawa masalahnya kepada para dukun, tukang ramal, dan tukang tenung. Tidak sampai di sini, dia juga berusaha mengadukan harta bendanya yang berkurang, hilang, atau rusak kepada kuburan-kuburan atau jin-jin dengan mendekatkan diri kepadanya.
Dia mencintai anak dan istrinya. Ternyata cintanya itu menyebabkannya terjatuh dalam kemaksiatan: menipu, mencuri, bermuamalah dengan riba, korupsi, dan berbagai kemaksiatan lain karena ingin mewujudkan cintanya kepada istri dan anaknya. Ketika Allah l mengujinya dengan menimpakan penyakit kepada mereka, dia membawanya ke dukun, tukang ramal, dan semacamnya. Bahkan, demi kesembuhan istri atau anaknya, ia mendatangi kuburan-kuburan—yang katanya mengandung sejuta bentuk kekeramatan—atau tempat yang mengandung keberkahan, dengan harapan musibah yang melilitnya hilang.
Tidak ada yang menyebabkan mereka terjatuh dalam semua hal ini selain kejahilan tentang agama dan jauhnya mereka dari ulama.
Orang yang beriman akan mencintai Allah l dan Rasul-Nya di atas segala kecintaannya kepada yang lain. Ia mencintai orang-orang yang beriman dan yang melaksanakan kebaikan.
“Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)
Rasulullah n bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْأَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal yang barang siapa ketiganya ada pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari selain keduanya; dia mencintai seseorang dan tidak mencintainya melainkan karena Allah; dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dia darinya sebagaimana kebenciannya untuk dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Jauhnya seseorang dari ilmu agama dan aturan-aturan Allah l mengubah cinta tabiat menjadi cinta buta dan hawa nafsu. Jika hawa nafsu yang mengendalikan, tiada lagi halal dan haram atau boleh dan tidak boleh. Semuanya akan diukur dengan hawa nafsu. Allah l menceritakan kisah Nabi Yusuf q:
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)
As-Sa’di t berkata, “Karena nafsu sering memerintahkan pemiliknya kepada kejelekan, yakni perbuatan keji dan dosa. Sesungguhnya nafsu adalah tunggangan setan. Melalui perantaraannya, setan masuk kepada setiap manusia.” (Tafsir as-Sa’di hlm. 356)
Ibnu Qayyim t berkata tatkala menyebutkan sifat hati yang mati, “Jika dia mencintai, dia mencintai karena nafsunya. Jika dia benci, dia pun benci karena hawa nafsu. Jika dia memberi, juga karena nafsu. Jika dia tidak memberi, karena hawa nafsu pula. Hawa nafsunya lebih ia utamakan dan lebih ia cintai daripada ridha Allah l. Akibatnya, hawa nafsu menjadi imamnya, syahwat menjadi pemandunya, kebodohan menjadi pengemudinya, dan kelalaian menjadi kendaraannya.” (Mawaridul Aman hlm. 36)
Cinta yang dilandasi oleh hawa nafsu inilah yang sering menjerumuskan seseorang kepada cinta yang maksiat.

Cinta yang Maksiat
Tatkala cinta tabiat itu menghalangi seseorang berbuat kebajikan dan mendorongnya melanggar perintah Allah l serta melaksanakan larangan-Nya,, inilah yang disebut cinta maksiat.
Cinta yang maksiat dilandasi dan didasari oleh dorongan hawa nafsu. Ini menyebabkan cinta tabiat tersebut ternodai oleh nafsu sehingga keluar dari norma agama dan aturan syariat.
Anda mencintai istri, anak, dan harta benda, ini adalah sesuatu yang wajar. Namun, ketika istri, anak, dan harta tersebut menyebabkan Anda melanggar syariat, yang tadinya wajar-wajar saja menjadi sesuatu yang membuahkan dosa.
Orang sering menjadikan agama sebagai alat untuk menghalalkan keharaman dan menjadikannya sebagai pelaris dalam kemaksiatan. Istilah “pacaran Islami” atau pacaran ala Islam sesungguhnya adalah sebuah kamuflase untuk melariskan kemaksiatan tersebut. Tujuannya adalah membolehkan cinta meskipun bermaksiat.

Benci
Jika Anda membenci saudara Anda, atas dasar apa Anda membencinya dan karena siapakah Anda membencinya?
Jika Anda membenci saudara Anda karena dia adalah orang yang jahat, gandrung bermaksiat kepada Allah l dan Rasul-Nya, dan Anda membencinya karena Allah l, maka Anda akan mendapatkan nilai amal saleh dari sisi Allah l. Anda telah membencinya karena Allah l.
Jika Anda membencinya karena dia lari dari diri Anda yang sedang bermaksiat dan meninggalkan dunia hitam yang menyelimuti hidupnya lalu menjadi baik, atau membenci orang yang melaksanakan bimbingan agama, kebencian Anda tersebut akan mendatangkan dosa.
Memberikan kecintaan kepada orang yang dianjurkan oleh Allah l dan Rasul-Nya untuk dicintai dan membenci orang yang harus dibenci, termasuk tali iman yang kokoh dan jalan yang benar yang telah dilalui oleh pendahulu kita yang saleh. Mereka cinta karena Allah l dan benci karena Allah l.

Harga Mati Cinta dan Benci karena Allah l
Asal-muasal segala perbuatan dan gerak yang terjadi di alam ini adalah cinta dan keinginan. Keduanya merupakan pendorong adanya perbuatan dan gerak, sebagaimana marah dan benci adalah dasar diam dan tidak berbuat. Cintalah yang mendorong seseorang sampai kepada apa yang dicintainya (Lihat Mawaridul Aman hlm. 390)
Karena cinta dan benci itu mesti ada, agama membimbing dan mengarahkannya agar tidak salah meletakkannya. Jika salah, kawan bisa menjadi lawan dan sebaliknya lawan bisa menjadi kawan. Bimbingan agama terhadap dua hal ini sesungguhnya telah dipraktikkan oleh Rasul kita, Muhammad n. Kecintaan beliau n terhadap para sahabatnya terbukti dari ucapan dan perbuatan. Begitu juga rasa tidak suka dan benci beliau n.
Lalu, apa yang menjadi harga mati sebuah kecintaan karena Allah l? Mari kita ikuti dialog bersama asy-Syaikh al-Albani t.
Penanya: Apakah orang yang mencintai karena Allah l wajib mengatakan, “Aku cinta kepadanya karena Allah l?”
Asy-Syaikh al-Albani: Ya. Hanya saja, cinta karena Allah l memiliki harga yang sangat mahal. Sedikit sekali orang yang bisa membayarnya. Tahukah Anda, apa yang menjadi harga mahal sebuah kecintaan karena Allah l? Apakah ada salah seorang dari Anda yang mengetahui harganya? Siapa yang mengetahuinya silakan memberikan jawaban kepada kami.
Penanya: Rasulullah bersabda, “Tujuh golongan orang yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allah l pada hari tidak ada naungan melainkan dari Allah l (dan di antara mereka adalah) dua orang yang saling mencintai karena Allah l, berkumpul karena Allah l dan berpisah juga karena Allah l.”
Asy-Syaikh al-Albani: Itu memang benar. Namun, bukan itu jawaban atas pertanyaan saya. Ini kurang lebih definisi cinta karena Allah l, bukan definisi yang meliputi banyak hal. Pertanyaan saya, apa sesungguhnya harga yang harus dibayar oleh dua orang yang saling mencintai karena Allah l kepada yang lain? Saya tidak memaksudkan imbalan kelak di akhirat. Yang saya maukan dari pertanyaan ini, apa bukti nyata wujud cinta karena Allah l di antara dua orang yang saling mencintai karena-Nya? Terkadang, ada dua orang yang saling mencintai hanya sebatas lahiriah, bukan hakiki. Mana dalil yang menunjukkan cinta yang hakiki?
Penanya: Dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.
Asy-Syaikh al-Albani: Ini sifat cinta atau sebagian sifat cinta?
Penanya: Allah l berfirman:
“Katakan, ‘Jika kalian benar-benar cinta kepada Allah maka ikutilah aku niscaya Allah akan mencintai kalian’.” (Ali Imran: 31)
Asy-Syaikh al-Albani: Ini jawaban yang benar untuk pertanyaan yang lain.
Penanya: Hadits sahih, “Tiga hal yang barang siapa ada pada diri seseorang niscaya dia akan merasakan manisnya iman. Di antaranya adalah dua orang yang saling mencintai karena Allah.”
Asy-Syaikh al-Albani: Ini adalah buah cinta karena Allah l yaitu manisnya iman yang dia dapatkan di dalam hatinya.
Penanya: Firman Allah l:
“Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)
Asy-Syaikh al-Albani: Bagus, inilah jawabannya. Penjelasannya, jika saya mencintai Anda karena Allah l niscaya saya akan mengiringinya dengan nasihat. Anda pun akan melakukan hal yang sama. Iringan nasihat sangat sedikit terjadi di antara dua orang yang mengaku saling mencintai karena Allah l. Hal ini karena cinta yang seperti ini harus dibangun di atas keikhlasan. Saat keikhlasan tidak sempurna, terkadang muncul kekhawatiran jika (setelah dinasihati) dia marah, takut jika dia lari, dan sebagainya. Maka dari itu, dalam cinta karena Allah l kedua pihak mengikhlaskan niat untuk menegakkan nasihat kepada yang lain, senantiasa menegakkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Menasihati saudaranya lebih berguna daripada (sekadar) dia melindunginya. Oleh karena itu, telah sahih bahwa termasuk dari adab para sahabat jika mereka bertemu setelah berpisah, mereka membacakan ayat ini kepada yang lain.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Lihat Fatawa asy-Syaikh al-Albani hlm. 185—186 )
Wallahu a’lam.

 

Merajut Cinta Mengurai Benci, karena Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Dari Ibnu Abbas c, Rasulullah n bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali iman yang terkuat adalah muwalah (berkasih sayang) karena Allah l dan mu’adah (bermusuhan) karena Allah l. Cinta karena Allah, benci pun karena Allah l.”
Hadits Ibnu Abbas c di atas diriwayatkan oleh al-Imam ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabiir (11537) melalui jalur Hanasy, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas c.
Hadits ini juga datang dari beberapa sahabat lain, seperti hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh ath-Thayalisi (378), ath-Thabarani, dan yang lain; hadits al-bara’ yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad (4/286) dan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Iman (110).
Asy-Syaikh al-Albani t berkata, “Hadits tersebut, dengan seluruh jalur periwayatannya, naik menjadi derajat hasan, minimalnya. Wallahu a’lam.” (ash-Shahihah 4/306 nomor 1728)

Makna al-Wala’ dan al-Bara’
Al-wala’ adalah pembelaan, cinta, penghormatan, memuliakan, dan kebersamaan. Adapun al-bara’ adalah kebencian, permusuhan, menjauhi, dan berlepas diri.
Al-wala’ bagi seorang muslim adalah cinta kepada Allah l, Rasul-Nya, agama Islam, dan kaum muslimin; membela dan menolong Allah l, Rasul-Nya, agama Islam, dan kaum muslimin. Adapun al-bara’ bagi seorang muslim adalah membenci thaghut (peribadatan selain Allah l), kekafiran, dan para pengikut kekafiran serta memusuhi mereka.
Asy-Syaikh al-Fauzan berkata, “…Setiap muslim wajib meyakini akidah Islam, berwala’ kepada orang yang berakidah Islam dan memusuhi orang yang menentangnya. Ia mencintai orang yang bertauhid dan ikhlas serta berwala’. Ia membenci pelaku kesyirikan dan memusuhi mereka.”
Beliau melanjutkan pembicaraan tentang bentuk wala’ (loyalitas) seorang mukmin, “Kaum mukminin, dari awal penciptaan hingga akhirnya, meskipun tempat tinggalnya berjauhan dan dipisahkan oleh waktu, mereka adalah bersaudara yang saling mencintai. Yang datang belakangan mengikuti yang sebelumnya. Mereka saling mendoakan kebaikan dan saling memohonkan ampun.” (al-Wala’ wal Bara’, hlm. 1—2)

Hakikat al-Wala’ dan al-Bara’
Syaikhul Islam t berkata, “Al-wilayah adalah lawan dari al-‘adawah. Dasar al-wilayah adalah cinta dan taqarrub (mendekatkan diri). Adapun dasar al-‘adawah adalah benci dan menjauh.” (al-Furqan, 1/82)
Asy-Syaikh as-Sa’di berkata, “Karena al-wala’ dan al-bara’ terkait dengan cinta dan benci, dasar keimanan adalah engkau mencintai segenap nabi dan para pengikutnya, karena Allah l. Engkau pun membenci musuh-musuh Allah l dan musuh-musuh seluruh nabi, karena Allah l.” (Fatawa as-Sa’diyyah, 1/98)
Syaikhul Islam t berkata, “Seorang mukmin, wajib berwala’ dan bara’ karena Allah l. Jika ada seorang mukmin yang lain, ia wajib mencintainya, meskipun ia dizalimi. Karena, perbuatan zalim tidak dapat memutuskan cinta yang berdasarkan keimanan. Apabila satu orang memiliki kebaikan dan keburukan sekaligus, ketaatan dan kedurhakaan, maksiat, sunnah dan bid’ah, ia tetap berhak mendapatkan cinta sesuai dengan kebaikan yang ada padanya. Ia pun berhak mendapatkan kebencian dan hukuman sesuai dengan kadar keburukan yang ada padanya.” (Majmu’ Fatawa, 28/208—209)

Letak Prinsip al-Wala’ dan al-Bara’ dalam Islam
Akidah al-wala’ dan al-bara’ memiliki kedudukan yang sangat urgen dan strategis dalam keislaman seseorang. Ia sangat kuat terhubung dengan keimanan. Bahkan, al-wala’ dan al-bara’ adalah wujud dari hakikat kalimat syahadat La Ilaha Illallah dan Muhammad Rasulullah n.
Ibnu Umar c berkata, “Cinta dan bencilah karena Allah l, kasihi dan musuhi karena Allah l pula. Karena, sesungguhnya engkau tidak akan meraih cinta Allah l melainkan dengan cara demikian. Seorang hamba tidak akan mendapatkan rasa keimanan, walau banyak shalat dan puasanya, melainkan dengan cara tadi.” (Hilyatul Auliya, 1/312)
Syaikhul Islam t berkata, “Hati tidak akan merasakan kebahagiaan dan kelezatan melainkan dengan cara mencintai Allah l dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan hal-hal yang Dia cintai. Cinta kepada Allah l tidak akan terlaksana melainkan dengan berpaling dari kekasih selain Allah l. Inilah hakikat La Ilaha Illallah. Inilah millah (agama) Ibrahim al-Khalil q dan seluruh nabi serta rasul. Semoga shalawat dan salam Allah l terlimpah untuk mereka semua.
Adapun syahadat bagian kedua, Muhammad utusan Allah l, maknanya adalah benar-benar hanya mengikuti setiap perintah beliau dan menjauhi semua yang beliau larang. Dari sinilah, Laa Ilaha Illallah menjadi bentuk al-wala’ dan al-bara’, nafyan (bentuk penafian) dan itsbatan (bentuk penetapan).” (Majmu’ Fatawa 28/32)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Menjadi jelaslah bahwa makna La Ilaha Illallah adalah mentauhidkan Allah l dengan mengikhlaskan ibadah hanya kepada-Nya, dan berlepas diri dari selain-Nya. Allah l telah menjelaskan bahwa bara’ (berlepas diri) semacam ini dan wala’ (cinta) semacam ini adalah wujud syahadat La Ilaha Illallah.” (Fathul Majid hlm. 79)

Bersama Keindahan Islam dalam al-Wala’ dan al-Bara’
Sebagian orang menyangka, prinsip al-wala’ dan al-bara’ mendidik umat Islam untuk tumbuh dan hidup dalam kebencian. Dalam anggapan mereka, Islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan dan buas, tidak mengenal kompromi, dan mengajarkan kezaliman terhadap sesama.
Berikut ini adalah contoh-contoh sikap, cermin dari akidah al-wala’ dan al-bara’, yang membuktikan bahwa ada keindahan dan kenyamanan dalam berprinsip al-wala’ dan al-bara’.

Pertama: Tidak ada paksaan bagi siapa pun untuk masuk Islam.
Allah l berfirman:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah.” (al-Baqarah: 256)
Oleh sebab itu, banyak wilayah yang dikuasai Islam terjaga darah penduduknya dan mereka masih tetap memeluk agama mereka sendiri. Namun, mereka berkewajiban untuk menunaikan jizyah. Jizyah adalah sejumlah harta yang ditentukan oleh penguasa muslim, diwajibkan bagi penduduk nonmuslim yang menetap di daerah muslim untuk menunaikannya, tanpa memberatkan atau menzalimi. (Ahkam Ahli Dzimmah 1/34—39)
Jizyah tidak boleh memudaratkan ahli dzimmah sehingga sama sekali tidak diambil dari anak kecil, wanita, atau orang gila. Tentang hal ini, telah dinukilkan adanya ijma’ (kesepakatan ulama). Demikian pula, jizyah tidak diambil dari orang fakir. Bahkan, orang fakir dari kalangan ahli dzimmah mendapatkan santunan dari baitul mal kaum muslimin. Jizyah juga tidak diambil dari orang tua yang renta, orang yang berpenyakit menahun, orang buta, dan orang sakit yang tidak diharapkan kesembuhannya, walaupun mereka mampu untuk membayar jizyah. Jizyah juga tidak diambil dari pendeta yang menghabiskan waktunya untuk bersembahyang. (Ahkam Ahli Dzimmah, Ibnul Qayyim, 1/42—51, al-Ijma’ Ibnul Mundzir nomor 230)

Kedua: Seorang ahli dzimmah diperkenankan untuk berpindah-pindah di negeri kaum muslimin, sesuai dengan keinginannya.
Tidak ada wilayah yang terlarang baginya selain tanah al-Haram. Mereka pun boleh menetap di wilayah mana pun yang dikuasai oleh kaum muslimin, selain jazirah Arab. Semua hal ini adalah ijma’ ulama. (Ahkam Ahli Dzimmah 1/175—191, Maratibul Ijma’, Ibnu Hazm, no. 122)

Ketiga: Menjaga kesepakatan yang telah dibuat oleh kaum muslimin dengan orang-orang kafir.
Allah l berfirman:
“Kecuali orang-orang musyirikin yang kamu mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (at-Taubah: 4)
Abu Rafi’ mengatakan bahwa kaum Quraisy pernah mengutusnya untuk menemui Rasulullah n. Setelah bertemu dan melihat beliau n, muncul keinginan dalam hatinya untuk masuk Islam. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya saya tidak ingin kembali kepada mereka selama-lamanya.” Rasulullah n bersabda:
إِنِّي لَا أَخِيسُ بِالْعَهْدِ وَلَا أَحْبِسُ الْبُرُدَ وَلَكِنِ ارْجِعْ فَإِنْ كَانَ فِي نَفْسِكَ الَّذِي فِي نَفْسِكَ الْآنَ فَارْجِعْ
“Sesungguhnya aku tidak bersifat melanggar kesepakatan yang telah dibuat atau menahan utusan musuh. Kembalilah kepada mereka. Jika nanti masih ada keyakinan seperti saat ini, kembalilah kemari.”
Setelah itu, aku kembali kepada kaum Quraisy. Aku lalu kembali menemui Rasulullah n dan masuk Islam. Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (no. 23857), Abu Dawud (no. 2752), an-Nasai (no. 8621), dan disahihkan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (no. 702).
Tentang menjaga kesepakatan yang telah dibuat antara kaum muslimin dan orang-orang kafir ini, Ibnu Hazm t menyebutkan adanya ijma’. (Maratibul Ijma’, no. 123)

Keempat: Haramnya darah ahli dzimmah dan orang kafir mua’had (yang terikat perjanjian dengan kaum muslimin), selama mereka menunaikan kewajiban-kewajiban sebagai ahli dzimmah dan kafir mu’ahad.
Rasulullah n bersabda:
مَنْ قَتَلَ مُعَاهَدًا لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ، وَإِنَّ رِيْحَهَا يُوْجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ أَرْبَعِينَ عَاماً
“Barang siapa membunuh seorang kafir mu’ahad, ia tidak akan mencium harumnya surga. Padahal, sesungguhnya harumnya surga dapat tercium dari jarak (perjalanan) empat puluh tahun.” (HR. al-Imam Bukhari no. 3166)
Ibnu Hazm t berkata, “Mereka bersepakat bahwa darah seorang ahli dzimmah yang tidak melanggar adalah haram.” (Maratibul Ijma’, 138)

Kelima: Perbedaan agama tidak menghilangkan hak kerabat.
Allah l berfirman:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, serta ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15)
Asma’ bintu Abi Bakr c berkata, “Ibuku yang masih musyrik datang menjengukku setelah terjadi perjanjian dengan orang-orang Quraisy. Aku pun memohon fatwa dari Rasulullah n. ‘Wahai Rasulullah, ibuku datang menjengukku dalam keadaan senang. Apakah aku boleh menyambung hubungan dengannya?’ Rasulullah n menjawab:
نَعَمْ، صِلِي أُمَّكِ
“Benar, sambunglah hubungan dengan ibumu.” (HR. al-Bukhari 2620 dan Muslim 1003)
Rasulullah n juga menjenguk pamannya, Abu Thalib, saat sakit. Ini sebagaimana keterangan Ibnu Abbas c dalam riwayat Ahmad (no. 2008).
Al-Imam al-Bukhari t menyebutkan sebuah riwayat dalam Shahih-nya (no. 886) bahwa Rasulullah n pernah memberi hadiah kepada Umar bin al-Khaththab z sebuah pakaian sutra yang sangat mahal. Kemudian Umar bin al-Khaththab z menghadiahkan pakaian tersebut kepada seorang saudaranya yang masih musyrik di kota Makkah.

Keenam: Berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang kafir yang tidak memerangi kaum muslimin atau menampakkan permusuhan terhadap kaum muslimin, selama tidak merugikan.
Allah l berfirman:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Mumtahanah: 8—9)
Al-Imam Ibnu Jarir t berkata, “Maksudnya, Allah l tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir, dari seluruh jenis agama dan keyakinan, yang tidak memerangi kalian karena agama. Berbuat baik dan berlaku adil yang dilakukan oleh seorang mukmin terhadap mereka, baik yang memiliki hubungan kerabat/nasab maupun tidak, bukanlah sesuatu yang diharamkan atau dilarang. Selama hubungan tersebut tidak menjadikan mereka mengetahui kekurangan kaum muslimin atau membantu orang-orang kafir dengan perlengkapan dan persenjataan.”
Adapun berlaku adil, wajib hukumnya terhadap siapa pun, terhadap musuh sekalipun. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang akan kamu kerjakan.” (al-Maidah: 8)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)
Oleh karena itu, kita tidak diperbolehkan berbuat khianat terhadap orang yang mengkhianati. Sebab, khianat bukan termasuk sikap adil.

Antara Sikap Bara’ terhadap Orang Kafir dan Perintah Berbuat Baik terhadap Ahli Dzimmah
Dari sedikit penjelasan di atas, tentu akan muncul anggapan, “Mengapa ajaran Islam saling bertentangan? Di satu sisi terdapat perintah untuk membenci dan berlepas diri dari orang kafir. Namun, dalam kesempatan yang lain ada juga perintah untuk berbuat baik kepada orang kafir.”
Sungguh, ajaran Islam tidak akan mengalami kontradiksi dan penyimpangan karena Islam diturunkan dari sisi Allah, Dzat Yang Mahabenar dan Mahabijaksana. Islam disampaikan dan diajarkan oleh Rasulullah n, yang tidak berbicara berdasarkan hawa nafsu. Semua adalah wahyu, yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.
Anggapan di atas, sesungguhnya telah ditepis dan dijawab oleh para ulama. Intinya, masing-masing sikap perwujudan al-wala’ dan al-bara’ hendaknya diletakkan tepat pada tempatnya. Benci dan cinta hendaknya diberikan pada saatnya masing-masing.
Di dalam al-Furuq (3/15—16), Syihabuddin al-Qarafi menjelaskan bahwa apabila demikian ketentuan terhadap hak dzimmah, menjadi sebuah kepastian bagi kita untuk berbuat baik terhadap mereka (ahli dzimmah) dengan sikap lahiriah yang tidak menunjukkan kecintaan hati, sekaligus tanpa sikap yang menunjukkan ta’zhim (pengagungan) terhadap syi’ar kekafiran.
Jika sikap baik terhadap mereka berakibat pada salah satu dari dua hal tersebut, sikap tersebut dilarang oleh ayat atau dalil lainnya.
Hal ini akan semakin jelas dengan contoh. Mengosongkan tempat untuk mereka (ahli dzimmah) ketika datang, bangkit menyambut kedatangan mereka, atau memanggil mereka dengan nama-nama besar yang akan mengangkat derajat, semua ini adalah haram. Demikian juga, jika kita bertemu mereka di jalan, lalu memberi mereka sisi jalan yang luas, baik, dan datar, kemudian kita sendiri memilih jalan yang sempit, tidak baik, dan tidak rata, hal ini juga terlarang.
Di antara yang terlarang juga, memberi mereka kesempatan untuk menduduki pos-pos pemerintahan yang penting dan strategis. Mereka pun tidak boleh menjadi wakil bagi penguasa di dalam penentuan hukum kaum muslimin.
Adapun contoh sikap berbuat baik kepada mereka yang diperintahkan dan tidak menunjukkan kecintaan hati adalah lemah lembut kepada orang lemah di antara mereka, membantu orang fakir, memberi makan yang lapar, memberi pakaian, santun dalam berkata sebagai bentuk rahmat—bukan karena takut atau terhina—, menahan diri ketika diganggu dalam bertetangga (padahal mampu membalas, sebagai bentuk rahmat, bukan karena takut atau hormat), mendoakan hidayah untuk mereka, menjaga harta dan hak-hak mereka, memberi nasihat dan sebagainya.
Kita pun harus selalu mengingat bahwa mereka selalu membenci kita dan mendustakan Nabi Muhammad n. Andai mampu, mereka tentu akan menghancurkan kita dan menghalalkan darah serta harta kita. Mereka adalah makhluk yang paling besar kedurhakaannya kepada Allah l. Kita berbuat baik, seperti contoh di atas, karena melaksanakan perintah Allah l dan Nabi-Nya n, bukan karena cinta dan menghormati mereka.

Sikap Ekstrem dalam al-Wala’ dan al-Bara’
Dalam hal al-wala’ dan al-bara’, terjadi beberapa bentuk sikap ekstrem yang dilarang. Di antaranya:
1. Menghalalkan darah dan harta orang-orang kafir yang telah mendapatkan jaminan keamanan, seperti kafir mu’ahad dan ahli dzimmah; atau bersikap kasar dan zalim kepada mereka tanpa sebab yang syar’i.
2. Menentang akidah al-wala’ dan al-bara’, bahkan menuntut penghapusannya. Alasannya, akidah ini mengajarkan umat Islam untuk membenci orang lain.
3. Memerangi akidah al-wala’ dan al-bara’ dengan taklid (membebek) dan menyebarkan adat orang-orang kafir di tengah-tengah kaum muslimin.
(al-Wala’ wal-Bara’ bainas Samahah wal Ghuluw)

Keberlangsungan Akidah al-Wala’ dan al-Bara’
Akidah al-wala’ dan al-bara’ tetap berlangsung wujudnya bersamaan dengan keberadaan Islam itu sendiri. Selama di muka bumi ini masih ada seorang muslim, al-wala’, cinta, dan loyalitas wajib diberikan untuknya. Ia wajib dibela, ditolong, dan dibantu karena muslim satu dengan yang lain ibarat sebuah bangunan yang tiap-tiap bagiannya saling mendukung dan menopang. Seorang muslim harus merasakan kesedihan dan kesempitan yang dialami oleh saudaranya yang lain. Ia pun harus turut berbahagia di atas kebahagiaan saudaranya. Ia tidak boleh menzalimi, menyakiti, dan melanggar kehormatannya. Harta dan darahnya harus dijaga.
Akidah al-bara’ juga akan selalu berlaku selama di muka bumi masih terdapat satu orang kafir sekalipun. Ia wajib dibenci. Ia tidak boleh diberi cinta dan loyalitas. Setiap muslim harus selalu mengingat dan menyadari bahwa kebencian orang kafir terhadap umat Islam sangatlah mendalam. Mereka selalu berharap dan menunggu kelemahan serta kehancuran umat Islam. Mereka tidak akan pernah ridha, meskipun sesaat, sampai kita mau mengikuti jalan mereka. Segala daya dan upaya, waktu dan tenaga, biaya serta dana, diusahakan untuk memerangi umat Islam, dengan berbagai cara, baik kita sadari maupun tidak.
Maka dari itu, seorang muslim dituntut untuk selalu meningkatkan kekuatan akidah dan keimanan. Caranya adalah dengan memperdalam pengetahuan tentang Islam, bersemangat menuntut ilmu, dan memperbanyak ibadah berdasarkan ilmu yang telah ia peroleh. Dengan demikian, diharapkan ia mampu menempatkan prinsip al-wala’ dan al-bara’ tepat pada tempat dan timbangannya.
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Berbuat Baik Berbeda dengan Berkasih Sayang

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin)

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu, sebagai kawanmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al Mumtahanah: 8—9)
Sebab Turunnya Ayat
Al-Alusi t mengatakan, ayat ini turun berkaitan dengan sikap Asma’ bintu Abu Bakr c terhadap ibu kandungnya, Qutailah1 bintu Abdil Uzza. Ia adalah seorang perempuan yang musyrik, istri Abu Bakr z di masa jahiliah yang kemudian dicerai. Sebagian ulama berpendapat bahwa Qutailah adalah bibi Asma’ bintu Abu Bakr, sedangkan penyebutan ibu hanya pengiasan. Namun, pendapat yang benar adalah bahwa beliau merupakan ibu kandung Asma’ yang sebenarnya.
Al-Hasan dan Abu Shalih berkata bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Bani Khuza’ah, Bani al-Harits bin Ka’b, Kinanah, Muzainah, dan beberapa kabilah Arab yang lain. Mereka melakukan perjanjian damai dengan Rasulullah n, tidak memerangi beliau, dan tidak menolong orang-orang yang akan memerangi beliau n.
Qurrah al-Hamdani dan ‘Athiyyah al-‘Aufi rahimahumallah mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Bani Hasyim, yang al-Abbas termasuk di dalamnya.
Abdullah bin Zubair t mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan para wanita dan anak-anak dari kalangan orang-orang kafir.
Adapun Mujahid t mengatakan bahwa ayat ini turun terhadap orang-orang Makkah yang beriman namun tidak ikut berhijrah sehingga orang-orang Muhajirin dan Anshar serba sulit menyikapinya. Mereka ingin berbuat baik kepada saudaranya, namun di sisi lain mereka adalah orang-orang yang tidak ikut berhijrah.
Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini turun kepada orang-orang yang lemah dari kalangan kaum mukminin yang tidak ikut berhijrah. (Tafsir al-Alusi, (20/465)
Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i t, seorang ulama ahli hadits dari negeri Yaman, dalam kitabnya, ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul, “Demikian pula ayat ‘Allah tiada melarang kamu …’, penyebutan (kisah Asma’ bersama ibu kandungnya) sebagai sebab turunnya ayat ini diriwayatkan dari jalan Sufyan bin Uyainah, namun hanya sebatas ucapan beliau. Hal ini seperti yang tertera dalam Shahih al-Bukhari (13/17). Demikian pula dalam kitab al-Adabul Mufrad hlm. 23. Kisah ini juga diriwayatkan dari jalan lain oleh (Abu Dawud) ath-Thayalisi, Abu Ya’la, Ibnu Jarir, dan yang lainnya. Hanya saja, pada sanadnya terdapat seorang perawi yang bernama Mush’ab bin Tsabit, seorang yang dilemahkan dalam meriwayatkan hadits, sebagaimana yang tersebut dalam kitab al-Mizan. Oleh sebab itu, saya (yakni asy-Syaikh Muqbil, -red.) tidak mencantumkan (kisah tersebut dalam asbabun nuzul/sebagai sebab turunnya ayat).” (lihat ash-Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul hlm. 244—245)
Namun, tidak berarti bahwa riwayat tersebut adalah lemah. Riwayat tersebut sahih, sebagaimana dalam hadits Asma’ bintu Abu Bakr c, ia berkata:
قَدِمَتْ عَلَيَّ أُمِّي وَهِيَ مُشْرِكَةٌ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللهِ n فَاسْتَفْتَيْتُ رَسُولَ اللهِ n قُلْتُ: وَهِيَ رَاغِبَةٌ أَفَأَصِلُ أُمِّي؟ قَالَ: نَعَمْ صِلِي أُمَّكِ
Pada masa hidup Rasulullah n, ibuku yang musyrik datang menemuiku. Aku meminta fatwa kepada Rasulullah n. Aku berkata, “Ibuku menemuiku dalam keadaan penuh harap. Apakah aku harus bersikap baik kepadanya?” Nabi bersabda, “Ya, bersikap baiklah kepada ibumu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Akan tetapi yang dikritik adalah menjadikan kisah ini sebagai sebab turunnya ayat ke-8 dari surat al-Mumtahanah. Hal ini karena yang meriwayatkan kisah ini sebagai turunnya ayat tersebut adalah Sufyan bin Uyainah t, seorang tabi’ut tabi’in (generasi setelah tabi’in). Dengan demikian, sanad hadits ini tidak bersambung. Keadaan riwayat semacam ini disebut mu’dhal, yaitu hilang atau gugurnya dua orang perawi atau lebih pada sanad hadits. Sebagian ulama, di antaranya al-Khatib al-Baghdadi t menyatakan bahwa hukum riwayat yang mu’dhal sama dengan hukum riwayat yang mursal (yakni hukumnya lemah).

Penjelasan Mufradat Ayat
“Allah tiada melarang kamu dari orang-orang ….”
Ulama ahli tafsir berbeda pendapat tentang siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang tidak dilarang bagi kaum mukminin untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka. Berikut ini beberapa pendapat ulama ahli tafsir.
a. Yang dimaksud ayat ini adalah orang-orang yang beriman di Makkah dan tidak ikut melakukan hijrah. Allah l mengizinkan kaum mukminin untuk berbuat baik kepada mereka. Hal ini berdasarkan penafsiran Mujahid.
b. Yang dimaksud adalah orang-orang selain penduduk Makkah, yang tidak ikut melakukan hijrah. Hal ini berdasarkan sebuah riwayat dari jalan Mush’ab bin Tsabit, dari pamannya, Amir bin Abdillah bin Zubair, dari ayahnya, ia berkata bahwa di masa jahiliah, Asma’ bintu Abi Bakr memiliki ibu kandung yang bernama Qutailah bintu Abdul Uzza, seorang perempuan musyrik. Suatu ketika ia menjenguk putrinya (Asma’) sambil membawa hadiah berupa susu kental dan minyak samin. Asma’ berkata, “Aku tidak akan menerima hadiah ini dan tidak mengizinkannya masuk (ke rumah) hingga ada izin dari Rasulullah n.” Kejadian ini diceritakan oleh Aisyah kepada Rasulullah n. Turunlah ayat, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil …” (al-Mumtahanah: 8)
c. Yang dimaksud adalah orang-orang musyrikin Quraisy, yang tidak memerangi kaum mukminin dan tidak mengusir mereka dari negerinya. Setelah itu, Allah l menghapus hukum ayat ini dengan perintah untuk memerangi mereka (kaum musyrikin). Qatadah t mengatakan bahwa ayat ini dihapus hukumnya dengan ayat:
“Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka.” (at-Taubah: 5)
Setelah menyebutkan masalah di atas, Ibnu Jarir ath-Thabari t menyatakan bahwa pendapat yang benar dalam memaknai ayat “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu…” (al-Mumtahanah: 8) bahwa ayat ini berlaku bagi seluruh jenis aliran dan agama karena Allah l menyebutkan secara umum meliputi siapa pun yang tidak memerangi dan tidak mengusir kaum mukminin, tidak ada pengkhususan. Ayat ini tidaklah dihapuskan hukumnya (mansukh), karena seorang mukmin tidak diharamkan atau tidak dilarang berbuat baik kepada orang kafir harbi, baik yang ada hubungan nasab kekerabatan maupun tidak, jika hal itu tidak mengakibatkan mereka menyingkap rahasia kaum muslimin atau menguatkan mereka dengan kuda-kuda perang atau senjata.

Penjelasan Ayat
Ketika menjelaskan bab yang disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam kitab Shahih-nya, “Bab al-Hadiyyah lil Musyrikin, wa Qaulillah l:
“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani t mengatakan, “Maksud ayat ini adalah menjelaskan siapa saja yang diperbolehkan untuk diperbuat baik kepadanya. Juga menjelaskan bahwa tentang diperbolehkannya memberi hadiah atau tidak kepada orang musyrik, tidak dapat dihukumi secara umum (mutlak). Di antara ayat yang serupa dengan ayat ini adalah:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)
Berbuat baik (berbakti), menyambung hubungan kekerabatan, dan berbuat ihsan (kebaikan) tidak mengharuskan terjadinya saling mencintai dan berkasih sayang karena hal ini dilarang oleh syariat, sebagaimana dalam firman Allah l:
“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (al Mujadilah: 22)
Ayat ini berlaku umum, meliputi orang kafir yang memerangi (kaum mukminin karena agama) ataupun tidak. Wallahu a’lam. (lihat al-Fath 5/261)
Asy-Syaikh as-Sa’di t berkata dalam Tafsir-nya, ayat ini bermakna bahwa Allah l tidak melarang kamu (wahai kaum mukminin) untuk berbuat baik, menyambung hubungan kekerabatan, dan memberi hadiah dengan baik, serta berlaku adil terhadap orang-orang musyrik dari kerabat kalian ataupun bukan, selama mereka tidak memerangi kalian karena agama dan mengusir kalian dari negeri kalian. Sikap semacam ini tidak membahayakan dan tidak pula menimbulkan mafsadah (kerusakan). Seperti firman Allah l tentang kedua orang tua yang musyrik, jika anaknya muslim (untuk berbuat baik kepada keduanya), “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)
Adapun ayat Allah l, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu.”
Makna larangan berloyal atau menjadikan mereka sebagai teman adalah larangan memberikan kasih sayang dan menolong mereka, baik ucapan maupun perbuatan. Adapun bakti dan perbuatan baik kalian yang tidak menimbulkan sikap loyal kepada orang-orang musyrik, Allah l tidak melarangnya. Bahkan, hal ini termasuk dalam keumuman perintah untuk berbuat baik kepada kerabat dan yang lainnya, dari manusia maupun yang lain.
Adapun makna “Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”, yaitu kezaliman sebatas loyalitas yang dilakukan. Jika loyalitasnya penuh (total), bisa mengakibatkan kekafiran dan mengeluarkan seseorang dari Islam. Jika tidak penuh, ada tingkatannya, ada yang parah dan ada yang di bawahnya. (Lihat Taisir Karim ar-Rahman, pada tafsir surat al-Mumtahanah: 8—9)
Athiyyah Muhammad Salim dalam Titimmah Adhwa’il Bayan menyatakan, sebagian ulama ahli tafsir menganggap bahwa ayat yang pertama (al-Mumtahanah: 8) adalah rukhsah (keringanan) dari ayat di awal surat:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia…”
Akan tetapi, sebenarnya pada ayat ini (ayat 8—9) terdapat penjelasan adanya dua golongan (musuh Islam) dan dua macam perlakuan terhadap mereka.
Golongan yang pertama adalah musuh (Islam) yang tidak memerangi kaum muslimin karena agama dan mengusir kaum muslimin dari negerinya. Golongan ini disebutkan haknya oleh Allah l dalam firman-Nya, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu ….”
Golongan yang kedua adalah musuh (Islam) yang memerangi kaum muslimin karena agama, mengusir mereka dari negeri mereka, dan membantu (orang lain) untuk mengusir mereka. Allah l menyebutkan golongan dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan orang-orang yang memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu, sebagai kawanmu ….”
Artinya, mereka adalah dua golongan yang berbeda dan memiliki hukum (perlakuan) yang berbeda pula, meskipun dua golongan ini tidak keluar dari keumuman sebagai musuh Allah l dan musuh kaum muslimin, sebagaimana yang tersebut pada ayat pertama dari surat al-Mumtahanah.
Sebagian ahli tafsir juga ada yang berpendapat, ayat ini (al-Mumtahanah: 8) di-mansukh (dihapuskan hukumnya) oleh ayat perang atau yang lainnya. Adapun ayat yang kedua (al-Mumtahanah: 9) menjadi penguat terhadap larangan pada ayat pertama dari surat al-Mumtahanah.
Sebagian ahli tafsir membantah pendapat yang menyatakan bahwa ayat yang pertama (ayat ke-8) mansukh. Para ahli tafsir juga berselisih, ditujukan kepada siapa ayat ini turun dan siapa yang dimaksud. Pada hakikatnya, kedua ayat ini (al-Mumtahanah: 8—9) membagi keumuman musuh Islam yang tersebut pada ayat:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia…”,
serta menjelaskan setiap golongan berikut hukumnya. Hal ini ditunjukkan oleh qarinah (fakor penghubung) pada ayat yang pertama (ayat 1) dan pada ayat 8—9.
Terhadap golongan (musuh Islam) yang pertama dalam ayat ini, diperbolehkan untuk berbuat baik dan berlaku adil. Adapun terhadap yang kedua, dilarang menjadikan mereka sebagai teman setia. Dalam hal ini Allah l membedakan kebolehan berbuat baik dan berlaku adil, dan larangan menjadikannya sebagai teman dan berkasih sayang. Yang menguatkan pembagian ini adalah adanya faktor penghubung yang ada pada ayat pertama, yaitu mereka disifati secara umum dengan sifat kufur (ingkar kepada kebenaran), dan disifati dengan sifat khusus, yaitu pengusiran mereka terhadap Rasul n dan kaum muslimin. Perlu diketahui, mengusir Rasul n dan kaum muslimin dari negeri mereka adalah akibat dari peperangan dan gangguan mereka. Golongan inilah yang terlarang diberikan loyalitas kepada mereka karena sikapnya yang senantiasa memusuhi kaum muslimin. Juga karena sikap memusuhi berlawanan dengan sikap berteman.
Adapun golongan yang umum, mereka adalah orang-orang yang ingkar terhadap kebenaran yang datang kepada mereka. Hanya saja, mereka tidak memusuhi kaum muslimin. Mereka tidak pula memerangi dan mengusir kaum muslimin dari negerinya. Golongan ini, dari satu sisi bukan golongan yang dilarang untuk diperbuat baik dan diperlakukan adil.
Dari sini diketahui bahwa tidak ada pembahasan yang baru pada ayat yang kedua (ayat 9), selain pembahasan yang ada pada ayat 1.
Adapun pembahasan tentang ayat yang pertama (ayat 8), ditinjau dari dua sisi.
Sisi yang pertama, tentang maknanya.
Sisi yang kedua, tentang hukumnya.
Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama ahli tafsir pada dua sisi ini. Pembahasan ini sangat penting dan dibutuhkan oleh umat setiap saat, khususnya pada masa sekarang yang hubungan perdamaian di alam sedemikian kuatnya dan terlalu mendalamnya hubungan (antarnegara). Demikian juga, ikatan satu negara dengan yang lain dalam segala hal, serta tidak memungkinkannya satu negara terpisah (tidak berhubungan) sama sekali dengan negara lainnya, semakin menambah pentingnya perhatian terhadap masalah ini.
Saya memohon pertolongan kepada Allah l dalam memaparkan pendapat para ulama tentang tafsir ayat ini. Kesimpulan dari pendapat mereka ada dua.
1. Pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini mansukh (dihapus hukumnya, pent.) sebagaimana yang dinukil oleh al-Imam al-Qurthubi dari Abu Zaid, beliau berkata, “Ayat ini berlaku pada permulaan Islam. Pada masa itu, yang berlaku adalah perdamaian dan belum ada perintah berperang. Ayat ini kemudian di-mansukh oleh ayat, “Maka bunuhlah orang-orang musyrikin di mana saja kamu jumpai mereka.” (at-Taubah: 5)
2. Pendapat yang mengatakan bahwa ayat ini muhkamah (dikukuhkan hukumnya).
Al-Imam al-Qurthubi t mengatakan bahwa mayoritas ahli tafsir berpendapat bahwa ayat ini tetap berlaku hukumnya. Di antara dalilnya adalah kisah ibu Asma’ bintu Abi Bakr. Namun, dari pembahasan mereka, kisah ini sebenarnya tidak menunjukkan bahwa ayat ini di-mansukh atau tidak.
Akan tetapi, yang menguatkan bahwa ayat ini tidak mansukh adalah apa yang dinukil oleh al-Imam al-Qurthubi t dari mayoritas ahli tafsir yang berpendapat bahwa ayat ini muhkamah (tetap berlaku). Demikian juga tafsir ulama terhadap ayat:
”Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (teman akrab, pemimpin, pelindung, penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, selain karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (Ali Imran: 28)
Ayat ini menjadi rukhsah (keringanan untuk berloyal dengan orang kafir selain kaum mukminin) apabila kaum mukminin dalam keadaan takut, khawatir, dan lemah, dengan syarat selamatnya keyakinan mereka. Dipahami dari ayat ini, apabila kaum mukminin dalam keadaan kuat, tidak takut, aman, tidak diperangi, dan sangat terjamin keselamatannya, tidak mengapa mereka berbuat baik kepada orang-orang kafir, dengan cara berlaku adil (tanpa berloyal) terhadap mereka. Hal ini termasuk yang mengangkat ketinggian Islam dan kaum muslimin. Bahkan mengandung seruan (ajakan) kepada Islam dengan cara muamalah yang bagus, ta’liful qulub (membujuk hati) dengan membalas kebaikan orang yang telah berbuat baik, tidak membenci dan memusuhi orang yang tidak memusuhi.
Di antara bukti yang menguatkan bahwa ayat ini tidak mansukh adalah tidak ada bentuk pertentangan antara ayat ini dengan ayat yang memerintahkan untuk berperang. Karena, syarat (suatu masalah) dikatakan mansukh adalah jika terjadi pertentangan antara dua dalil, tidak mungkin untuk digabungkan, dan mengetahui waktu kejadian atau kapan turunnya ayat. Dalam masalah ini, penggabungan masih mungkin untuk dilakukan. Pertentangan juga tidak ada. Hal itu karena perintah untuk memerangi tidak menghalangi seseorang untuk melakukan perbuatan baik sebelumnya. Sebagaimana kenyataan yang terjadi, kaum muslimin tidakklah tiba-tiba memerangi orang kafir melainkan setelah adanya seruan (ajakan) untuk memeluk Islam terlebih dahulu. Hal ini bisa dipastikan termasuk kebaikan dalam Islam. Selain itu, Islam menerima upeti dari kalangan ahli kitab dan memperlakukan ahli dzimmah dengan berbagai kebaikan dan keadilan.
Dalam Tafsir Ayat Ahkam karya al-Imam asy-Syafi’i t, terdapat sebuah pembahasan yang penting berkaitan dengan masalah ini. Allah l berfirman, “Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil …”
Al-Imam asy-Syafi’i t berkata, “Wallahu a’lam, dikatakan bahwa sebagian kaum muslimin merasa berdosa karena hubungan yang terjadi dengan kaum musyrikin. Saya kira, hal itu karena turunnya perintah jihad (perang) dan diputusnya hubungan mereka dengan kaum musyrikin, dan turunlah ayat al-Mujadilah ayat 22 (yang berisi larangan mencintai dan berkasih sayang dengan kaum musyrikin). Mereka khawatir bahwa menjalin hubungan dengan harta akan dianggap sebagai bentuk berkasih sayang dengan mereka. Maka dari itu, turunlah ayat al-Mumtahanah ayat 8—9. Menjalin hubungan melalui harta, kebaikan, berlaku adil, lunak/halus dalam berbicara, surat-menyurat tentang hukum Allah l, tidak termasuk dalam larangan berloyal dengan orang-orang yang dilarang, dan tidak termasuk membantu mereka untuk memusuhi kaum muslimin. Allah l membolehkan berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang musyrik yang tidak membantu memusuhi muslimin. Hal ini tidak diharamkan. Allah l menyebut orang-orang yang membantu dalam permusuhan terhadap kaum muslimin dan melarang berloyal dengan mereka. Berloyal dengan mereka berbeda dengan berbuat baik dan berbuat adil…”.
Pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir dan Imam asy-Syafi’i rahimahumallah (bahwa ayat ini muhkamah) adalah pendapat yang dikehendaki oleh roh Islam. Alasan bahwa pembahasan ini harus mendapatkan perhatian khusus adalah karena kaum muslimin di masa kini terlibat dalam hubungan kemaslahatan yang bersifat universal. Terjadi ikatan dengan berbagai negara di dunia ini, baik dari kalangan kaum musyrikin maupun ahli kitab. Tidak mungkin umat menjalani hidup dengan memisahkan diri (tidak berhubungan dengan) berbagai negara yang ada. Demikian juga semakin mendalam dan kuatnya hubungan kemaslahatan, terlebih dalam bidang perekonomian. Kehidupan masa kini sangat terikat dengan adanya produksi, industri, dan perdagangan. Dari sinilah, ayat dalam pembahasan ini sangat membantu dalam hal menjelaskan bolehnya (musuh Islam) bersama kaum muslimin dan saling menukar dalam hal yang bermaslahat. Berdasarkan apa yang dikatakan al-Imam Asy Syafi’i dan Ibnu Jarir, semua itu diperbolehkan jika terdapat keselamatan hati, yaitu hati tidak boleh condong (kepada mereka).

Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Demikian yang disebutkan dalam Muqaddimah Fathul Bari hlm. 331. Adapun dalam Usdul Ghabah disebutkan bahwa namanya adalah Qailah.

Bentuk-bentuk Muwalah Terhadap Orang Kafir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Bahaya memberikan muwalah kepada orang-orang kafir sangat jelas bagi kaum muslimin secara umum. Kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar dari sekadar kerusakan karena mengubah akidah alias pindah agama. Namun demikian, dosa bermuwalah terhadap orang kafir itu bertingkat-tingkat. Ada yang merupakan dosa besar, ada pula yang sampai pada tingkat kekafiran.Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengetahui bentuk-bentuk muwalah terhadap orang-orang kafir. Berikut ini perincian dari hal tersebut.
1. Ridha dengan kekafiran orang-orang kafir dan tidak mengafirkannya, atau ragu-ragu terhadap kekafirannya, atau bahkan cenderung membenarkan jalan hidupnya.
2. Memberikan loyalitas kepada mereka secara umum, atau mengambilnya sebagai penolong, pembela, pemimpin, atau bahkan malah memeluk agamanya. Allah l berfirman:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Hanya kepada Allah kembali(mu).” (Ali Imran: 28)
Ibnu Jarir t dalam Tafsir-nya berkata, “Siapa saja yang menjadikan orang-orang kafir sebagai penolong, pembantu, dan mencintai agamanya, berarti dia telah bara’ (berlepas diri) dari Allah l. Allah l pun bara’ darinya lantaran ia telah murtad dari agama dan masuk ke dalam kekafiran.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)
3. Beriman kepada sebagian kekufuran yang ada pada diri mereka, atau menjadikan mereka sebagai hakim (pemutus perkara). Allah l berfirman:
”Apakah kamu tidak memerhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada jibt (sihir) dan thaghut (sesembahan selain Allah), serta mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (an-Nisa: 51)
4. Menyayangi dan mencintai orang-orang kafir.
Allah l telah melarang hal ini dalam firman-Nya:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)
Dalam ayat ini, Allah l mengabarkan bahwa tidak akan didapati seorang mukmin memberikan kasih sayang atau kecintaan kepada orang-orang yang memerangi Allah l dan Rasul-Nya, karena sesungguhnya pengaruh keimanan akan menafikan kecintaan yang seperti ini.
Jika ada keimanan, hilanglah yang menjadi lawannya yaitu loyalitas kepada musuh-musuh Allah l. Jika ada seseorang yang memberikan loyalitas kepada musuh-musuh Allah l dengan hatinya, itu merupakan tanda ketiadaan keimanan yang seharusnya ada. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus.” (al-Mumtahanah: 1)
5. Condong atau memihak kepada mereka.
Allahlberfirman:
“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (Hud: 113)
Al-Imam al-Qurthubi t berkata, “Condong atau memihak hakikatnya adalah bersandar dan bertumpu serta cenderung kepada sesuatu dan ridha kepadanya.”
Menurut al-Imam Qatadah t, makna ayat ini adalah “Jangan kalian berikan kecintaan kepada mereka dan jangan kalian menaatinya.”
Adapun menurut Ibnu Juraij t dari Ibnu Abbas c, “Janganlah kalian condong kepada mereka.”
6. Bersikap lunak, tenggang rasa, dan penuh basa-basi.
Hal ini sering menimpa kaum muslimin yang umumnya memberikan penilaian bahwa musuh-musuh Allah l melebihinya dalam kekuatan materi. Bahkan, ada yang sudah sampai pada tingkatan menyebut musuh-musuh Allah l sebagai simbol kehebatan dan kemajuan. Akhirnya, tidak sedikit yang mulai melirik dan meniru cara beragama mereka demi menggapai sebuah “kemajuan”. Hal ini dilakukan agar musuh-musuh Allah l tidak menganggapnya sebagai muslim yang fanatik terhadap agamanya. Allah l berfirman:
“Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak (pula kepadamu).” (al-Qalam: 9)
Sungguh benar sabda Rasulullah n:
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ
”Kalian pasti akan mengikuti tata cara (beragama) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai kalau mereka masuk lubang dhabb, kalian pun akan mengikutinya.” (HR. al-Bukhari)
7. Menjadikan mereka sebagai teman dekat atau istimewa.
Allahlberfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” (Ali Imran: 118)
Di dalam Sunan Abi Dawud, Rasulullah n bersabda:
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“Seseorang itu diukur melalui agama temannya. Maka dari itu, lihatlah dengan siapa salah seorang kalian berteman.”
Keterangan di atas menunjukkan keharusan membenci dan tidak bersikap loyal (setia) kepada orang-orang kafir dan pelaku maksiat dari kalangan ahlul bid’ah serta yang semisalnya. Berkawan dekat dengan orang-orang kafir dan condong kepada mereka berarti kekufuran atau kemaksiatan, karena pergaulan hal itu tidaklah terjadi melainkan karena adanya kecintaan. Allah l berfirman:
“Dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, kalau terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun terhadap Kami.” (al-Isra: 74—75)

8. Menaati perintahnya.
Allah k dengan jelas melarang perbuatan itu. Allah l berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Rabbnya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (al-Kahfi: 28)
“Wahai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 149)
Allah l juga berfirman:
“Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata dalam Tafsir-nya, “Jika kalian menaati mereka, pasti kalian menjadi musyrik. Karena dengan itu, berarti kalian beralih dari perintah Allah l dan syariat-Nya kepada ucapan yang lain. Kalian lebih cenderung mendahulukannya daripada Allah l. Inilah kemusyrikan, seperti dalam firman Allah l:
”Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)
9. Duduk dan bergabung bersama mereka, pada saat mereka mengolok-olok ayat Allah l.
Allah l berfirman:
“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka mengalihkan pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di dalam Jahannam.” (an-Nisa: 140)
Ibnu Jarir t berkata, “Maksud dari ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ adalah apabila kalian duduk bersama orang-orang yang mengufuri ayat-ayat Allah l serta mengolok-oloknya dan kalian mendengarnya, berarti kalian sama seperti mereka jika kalian tidak meninggalkan mereka pada saat itu, karena dengan begitu kalian telah bermaksiat kepada Allah l.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
10. Ridha dengan segala perbuatan mereka dan meniru gaya hidupnya (tasyabbuh).
11. Membantu dan membela kezalimannya.
12. Memuji dan menyebarkan kelebihan-kelebihannya.
13. Menyukseskan program-programnya yang batil, membeberkan kelemahan kaum muslimin, dan berperang di barisan mereka.
14. Pindah dari negeri Islam ke negeri kafir karena membenci kaum muslimin dan mencintai orang-orang kafir, dll.

Penutup
Al-wala’ wal bara’ adalah bentuk realisasi sebuah keyakinan. Allah l berfirman:
”Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)
Allah k menghendaki kemuliaan bagi seorang muslim, bahkan seluruh muslim di muka bumi ini. Maka dari itu, ketika seorang muslim memberikan wala’ kepada Allah l, Rasul-Nya, agama-Nya, dan kepada kaum mukminin, tentu dengan demikian ia akan mendapatkan kemuliaan dengan sebenar-benarnya.
Pengetahuan seorang muslim terhadap al-wala’ wal bara’ akan mendorongnya untuk memberikan wala’, kecintaan, dan pembelaan kepada kaum mukminin seluruhnya. Ia akan senantiasa bersama saudara-saudaranya kaum mukminin dengan hati, lisan, darah, dan hartanya. Ia akan merasakan sakit di saat saudara-saudaranya sakit. Ia pun akan merasakan kegembiraan di saat saudara-saudaranya gembira.
Di samping itu, ia akan memberikan bara’ dan kebenciannya kepada seluruh orang kafir, murtad, atau munafik. Ia akan berjihad melawan mereka semua dengan jiwa, harta, lisan, dan tulisan sesuai dengan kemampuannya.
Intinya, seorang muslim yang mengetahui hakikat al-wala’ wal bara’ akan mengetahui kepada siapa ia harus memberikan wala’ dan kepada siapa dia harus menampakkan bara’. Dia akan mengetahui apa yang diinginkan oleh Islam dari dirinya dan sikap apa yang diinginkan oleh Islam terhadap musuh-musuhnya. Dia pun menjadi seorang muslim sejati dengan kemuliaan dari Allah l karena dia yakin bahwa Allah l bersamanya. Dia-lah yang telah berfirman:
”Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (Ali Imran: 139)
Wallahu a’lam.

Bentuk-bentuk Muamalah yang Dibolehkan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

1. Jual-Beli
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Secara hukum asal tidak diharamkan bagi manusia untuk melakukan semua muamalah yang dibutuhkannya, kecuali jika ada keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengharamkannya. Seperti halnya ibadah, tidak disyariatkan bagi siapa pun untuk melakukannya dalam rangka mendekatkan dirinya kepada Allah l, melainkan jika ada keterangan dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, karena agama adalah apa yang disyariatkan oleh Allah l dan yang haram adalah apa yang diharamkan oleh Allah l.” (as-Siyasah asy-Syar’iyah hlm. 155)
Berangkat dari kaidah ini, bermuamalah dengan orang-orang kafir dalam jual-beli dan hadiah, tidak termasuk dalam kategori muwalah. Artinya, boleh melakukan transaksi jual-beli dengan mereka.
Diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam “Bab Jual-Beli dengan Orang-Orang Musyrik dan Musuh” di kitab Shahih-nya (4/410 no. 2216) dari Abdurrahman bin Abi Bakr c, ia berkata, “Ketika kami tengah bersama dengan Nabi n, datanglah seorang laki-laki musyrik yang rambutnya panjang dan tidak rapi sambil menuntun seekor kambing. Nabi n bertanya kepadanya, ‘Apakah ini untuk dijual atau hadiah?’ Dia menjawab, ‘Tidak, ini hanya untuk dijual.’ Lalu Nabi n membeli kambing itu darinya.”
Ibnu Baththal t mengemukakan, “Bermuamalah dengan orang kafir boleh-boleh saja, selain menjual sesuatu yang dapat membantu orang-orang kafir/musuh untuk memudaratkan kaum muslimin.” (Fathul Bari, 4/410)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Apabila seseorang melakukan safar ke negeri musuh untuk membeli sesuatu, hal itu dibolehkan menurut hemat kami. Dasarnya adalah hadits sahabat Abu Bakr z pergi berdagang ke negeri Syam sewaktu Rasulullah n masih hidup, sementara Syam waktu itu statusnya adalah negeri musuh. Adapun jika seorang muslim menjual sesuatu kepada mereka (orang-orang kafir) seperti makanan, pakaian, wewangian di hari raya mereka, atau bahkan mengirim hadiah (parsel), ini mengandung unsur membantu memeriahkan dan mewujudkan hari raya mereka yang diharamkan.” (Iqtidha’ ash-Shirathil Mustaqim hlm. 229)

2. Mengambil manfaat dari orang-orang kafir dan produk mereka
Sesungguhnya Islam memberikan keluasan bagi seorang muslim untuk mengambil suatu urusan dunia yang bermanfaat dari nonmuslim, seperti ilmu kimia, fisika, ilmu falak, kedokteran, pertanian, manajemen perkantoran, dan sebagainya. Terlebih ketika tidak ada seorang muslim yang baik/bertakwa yang dapat memberikan faedah ilmu-ilmu tersebut. (Majmu’ Fatawa, 4/114)
Demikian pula, seorang muslim boleh mengambil manfaat dari hasil produksi orang kafir seperti senjata, pakaian, dan sebagainya yang dibutuhkan manusia secara umum. Demikian juga hal-hal lumrah yang sama-sama dimanfaatkan oleh muslim dan nonmuslim (kafir).
Persoalan mengambil manfaat dari orang-orang kafir ini sebenarnya telah diterangkan dalam sunnah Rasulullah n. Bahkan, beliau n pernah menyewa seorang musyrik, seperti dalam hadits riwayat al-Imam al-Bukhari t dalam Shahih-nya (4/442 no. 2263, “Kitabul Ijarah”).
Ibnu Baththal t mengatakan, “Mayoritas ahli fiqih memandang bolehnya menyewa orang-orang musyrik dalam keadaan darurat dan selainnya karena hal tersebut sebenarnya mengandung unsur merendahkan mereka. Yang dilarang adalah seorang muslim menyewakan dirinya kepada orang musyrik, karena hal itu mengandung unsur menghinakan diri.” (Fathul Bari, 4/442)
Nabi n juga pernah memanfaatkan tenaga orang-orang Yahudi dengan mempekerjakannya mengolah ladang di Khaibar dan hasilnya dibagi dua. (HR. al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya “Kitabul Muzara’ah”, “Bab Muzara’ah ma’al Yahud” jilid 5 no. 2331)

3. Bertetangga
Tetangga mempunyai hak untuk mendapatkan perlakuan yang baik, apalagi Allah l mewasiatkan secara khusus agar seseorang berlaku baik terhadap tetangganya. Allah l berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, serta hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (an-Nisa: 36)
Demikian pula, Rasulullah n menerangkan hal ini dalam banyak hadits. Sekalipun si tetangga itu kafir, ia tetap mendapatkan hak sebagai tetangga dan tidak boleh disakiti. Bahkan, kalau dia fakir, kita dibolehkan memberinya sedekah dan hadiah serta menyampaikan nasihat yang bermanfaat, karena bisa jadi, hal itu menjadi sebab timbulnya kecintaan dan masuknya yang bersangkutan ke dalam Islam.
Menurut asy-Syaikh Ibnu Baz t dalam Fatawa Nur ‘alad Darb, tidak mengapa bertakziah jika ada salah seorang dari anggota keluarganya meninggal dunia, namun jangan sekali-kali mendoakan si mayit. Doakan bagi yang masih hidup agar mendapatkan hidayah. Tidak mengapa pula sekadar menanyakan keadaannya dan keadaan anak-anaknya. (Lihat Wajadilhum Billati Hiya Ahsan hlm. 94)

4. Mendonorkan Darah
Asy-Syaikh Abdul Aziz Ibnu Baz t mengatakan, ”Jika ada orang kafir mua’had atau kafir musta’man—yaitu yang tidak terlibat peperangan dengan muslimin—sangat membutuhkan darah, tidak mengapa mendonorkan darah kita untuk mereka. Saya tidak melihat adanya larangan dalam hal itu. Bahkan, Anda akan mendapat pahala. Anda tidak berdosa jika membantu meringankan beban orang yang membutuhkan.” (Fatawa Nur ’alad Darb. Lihat Wajadilhum hlm. 95)
5. Menjawab Salam
Apabila ada orang kafir yang mengucapkan salam ketika berjumpa dengan orang-orang Islam, sebagai bentuk keadilan dan muamalah yang baik, Islam mewajibkan menjawab salam tersebut. Inilah yang dipegangi oleh mayoritas ulama berdasarkan sebuah hadits yang disabdakan oleh Rasulullah n (yang artinya), ”Apabila orang-orang Yahudi mengucapkan salam kepada kalian, biasanya sebagiannya mengatakan, ‘As-sam ‘alaikum (Kebinasaan atas kalian).’ Oleh karena itu, jawablah, ‘Wa’alaika (Atas kalian juga)’.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya, “Kitabul Isti’dzan” 11/42, no. 6257, Muslim dalam Shahih-nya, 4/1706, no. 2164).
Rasulullah n juga bersabda, “Jika para ahli kitab mengucapkan salam kepada kalian, maka jawablah dengan ‘Wa ‘alaikum’.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya, “Kitabul Isti’dzan” 11/42, no. 6258, dan Muslim dalam Shahih-nya, 4/1705 no. 2163)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t mengemukakan dalam Syarh Riyadhus Shalihin, “Seandainya orang kafir itu mengucapkan salam dengan sempurna seperti salam kaum muslimin, sebagai bentuk keadilan adalah menjawabnya sesuai dengan ucapan salamnya.”
6. Masuk Masjid
Sebagian umat Islam beranggapan bahwa orang-orang kafir dilarang keras memasuki masjid-masjid kaum muslimin, sekalipun untuk keperluan bertanya tentang Islam atau bahkan untuk menyatakan keislamannya.
Anggapan yang seperti ini jelas keliru. Islam tidak pernah mengajarkan yang demikian. Rasulullah n justru pernah mengikat seorang kafir di masjidnya di Madinah. Bahkan, beliau n membiarkan utusan Bani Tsaqif ketika mereka masuk ke masjid. Utusan orang-orang Nasrani pun memasuki masjid beliau n.
Ini semua menunjukkan bolehnya orang-orang kafir masuk ke masjid-masjid kaum muslimin, termasuk Masjid Nabawi, jika ada keperluan, seperti bertanya tentang Islam, mendengarkan ceramah Islam, dan keperluan lainnya yang bermaslahat.
Namun mereka tidak diperbolehkan memasuki Masjidil Haram. Seluruh orang kafir dengan segala macam kekafiran dilarang untuk memasukinya. Allah l telah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. Janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini. Dan jika kamu khawatir menjadi miskin, maka Allah nanti akan memberimu kekayaan kepadamu dari karunia-Nya, jika Dia menghendaki. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 28)1. Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 2/76, no. 6876 dan 2922
Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam memahami ayat ini. Sebagian ulama berpendapat bahwa hukum ini juga berlaku pada masjid-masijd selain Masjidil Haram. Perbedaan pendapat ini dinukilkan oleh asy-Syaukani dalam Fathul Qadir dan al-Qurthubi dalam Tafsir-nya.

Antara Muwalah dan Muamalah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Muamalah dengan orang kafir adalah masalah tersendiri dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan kecintaan dan sikap loyal/setia (muwalah) kepada mereka. Yang mendasari masalah ini adalah firman Allah l:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil”. (al-Mumtahanah: 8)
Demikian juga hadits yang telah disebutkan sebelumnya tentang kisah Asma’ x dengan ibunya yang musyrik, yang Rasulullah n menyuruh Asma’ x untuk menyambung/menerima silaturahim ibunya.
Ibnu Hajar t menyatakan bahwa kebajikan, silaturahim, dan berbuat baik, tidaklah berkonsekuensi pada timbulnya kecintaan dan kasih sayang yang terlarang dalam firman Allah l:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22) (Fathul Bari, 5/233)
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Allah l mencela orang-orang yang memutuskan tali silaturahim dengan ibunya. Allah l justru mewajibkan untuk menunaikan haknya meskipun ia seorang wanita kafir. Ini berdasarkan firman Allah l:
ﭨﭩ
”…dan (peliharalah) hubungan silaturrahim…” (an-Nisa: 1)
Rasulullah n bersabda:
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَاطِعُ رَحِمٍ
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahim.” (HR. al-Imam Bukhari no. 5984, “Kitabul Adab”, Muslim no. 2556, “Kitab al-Bir wa ash-Shilah”)
Maka dari itu, silaturahim adalah wajib walaupun kepada orang kafir.
Allah l juga menetapkan bahwa kerabat itu mempunyai hak sekalipun ia kafir. Kekafiran tidaklah menjatuhkan hak-haknya di dunia. Allah l berfirman:
“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (an-Nisa: 36) (Ahkam Ahli Dzimmah, 2/417—418)
Dengan demikian, jelaslah bahwa muwalah yang berwujud kecintaan dan pertolongan atau pembelaan adalah satu hal tersendiri, sedangkan pemberian nafkah1, silaturahim, dan berbuat baik kepada kerabat yang kafir adalah hal yang lain. Bahkan, kelembutan Islam juga sangat kentara saat Islam memberikan muamalah/perlakuan khusus kepada para tawanan, orang tua, anak-anak, dan kaum wanita dalam peperangan.

Muamalah dengan Orang Kafir
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t menegaskan bahwa persoalan ini termasuk persoalan yang cukup dalam dan riskan, terutama bagi para pemuda. Sebagian mereka mengira bahwa segala sesuatu yang ada hubungannya dengan orang-orang kafir, berarti memberikan, muwalah (kecintaan) kepada mereka padahal tidak demikian. (Liqa’ al-Bab al-Maftuh 3/466, Liqa’ 67, soal no. 1507, lihat Wajadilhum Billati Hiya Ahsan hlm. 93)
Asy-Syaikh Ibnu Baz dalam Nur ‘alad Darb mengingatkan bahwa setiap muslim wajib menampakkan sikap bara’ dari orang-orang musyrik (kafir) dan membencinya karena Allah l, namun tidak boleh menyakiti dan mencelakainya. Tidak boleh pula melampaui batasan terhadapnya dengan cara yang tidak benar.
Meski begitu, tetap tidak boleh menjadikan mereka sebagai teman dekat. Jika kebetulan bersama-sama mereka menyantap sebuah makanan tanpa ada kedekatan, kecintaan, dan pembelaan, hal tersebut tidaklah mengapa. (Lihat Wajadilhum Billati Hiya Ahsan hlm. 93—94). Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Pemberian nafkah kepada kerabat yang nonmuslim diperselisihkan oleh para ulama.
Ada yang berpendapat bahwa kerabat yang nonmuslim berhak dinafkahi.
Ada yang berpendapat bahwa kerabat yang nonmuslim tidak berhak dinafkahi.
Ada pula yang berpendapat bahwa kerabat yang nonmuslim dari kalangan asal-usul dan keturunan berhak mendapatkan nafkah sedangkan kerabat yang nonmuslim lainnya tidak berhak.
Hal ini dapat dilihat dalam kitab-kitab fiqih yang menukilkan perbedaan pendapat pada pembahasan “Kitab an-Nafaqat”.

Salah Kaprah Al-Wala’ wal Bara’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Penerapan al-wala’ wal bara’ membutuhkan pengetahuan dan ilmu yang cukup. Jika tidak, yang terjadi adalah satu dari dua kemungkinan: menolak dan mengubur akidah ini dengan alasan bertolak belakang dengan prinsip Islam lainnya (prinsip berbuat baik); atau mengakui akidah ini dan menegakkannya, namun melampaui batas syar’i alias berlebihan atau ghuluw. Semua ini disebabkan oleh kebodohan.

Berlebihan dalam al-Wala’ wal Bara’
Sikap ghuluw dalam al-wala’ wal bara’, dilatarbelakangi oleh dua hal yang paling mendasar, yaitu:
Pertama, vonis kafir terhadap amalan-amalan yang secara lahirnya menyelisihi tuntutan akidah al-wala’ wal bara’.
Ini disebabkan ketidakpahaman terhadap letak atau ruang lingkup jatuhnya vonis kafir dalam bab al-wala’ wal bara’. Sekadar membantu pekerjaan orang-orang kafir belum menyebabkan pelakunya dikafirkan dan dianggap melanggar akidah al-wala’ wal bara’ karena ada kemungkinan ia tetap mencintai agama Islam dan berharap dapat membelanya. Tetapi, keimanannya yang lemah menyebabkannya mendahulukan urusan dunia dan maslahat pribadinya yang segera.
Adapun letak atau ruang lingkup jatuhnya vonis kafir dalam bab ini sebenarnya berkaitan dengan amalan hati. Untuk urusan hati, tidak ada yang mengetahuinya selain Allah l. Oleh karena itu, seseorang tidak dapat divonis kafir hanya dengan tuduhan telah hilang akidah ini (al-wala’ wal bara’) dalam hatinya.
Namun, jika seseorang menegaskan dan berterus-terang menyatakan kecintaan kepada agama orang-orang kafir atau bertekad membela agamanya, pernyataannya ini merupakan bentuk kekufuran sehingga ia dikafirkan karenanya, meskipun batinnya bisa jadi menyelisihi keadaan lahirnya. Namun, kita menghukumi lahirnya dan Allah l lah yang mengurusi keadaan batinnya.
Perbuatan yang lahirnya menyelisihi tuntutan al-wala’ wal bara’—walaupun tidak termasuk bentuk kekafiran—merupakan dosa dan maksiat. Akan semakin besar dosa dan maksiat ini ketika kepentingan membantu orang-orang non-Islam lebih utama didahulukan. Bahkan, bisa jadi masuk dalam bentuk kekafiran apabila disertai kecintaan kepada agama orang-orang kafir atau keinginan untuk membela agama mereka.
Dalil yang menjelaskan masalah ini adalah hadits yang memuat kisah Hathib ibnu Abi Balta’ah z. Kisahnya, dia menulis surat kepada orang-orang kafir di Makkah secara sembunyi-sembunyi, membocorkan rencana Rasulullah n yang hendak menyerang mereka (dalam Fathu Makkah, red.). Surat ini hendak disampaikan oleh seseorang kepada orang-orang kafir Makkah.
Rasulullah n lalu memanggil Hathib z seraya berkata, “Wahai Hathib, apa yang engkau lakukan ini?”
Ia menjawab, “Wahai Rasulullah, jangan terburu-buru menghukumi saya. Sesungguhnya saya mempunyai kerabat yang tinggal di tengah orang-orang Quraisy. Saya tinggalkan mereka dalam keadaan tidak ada yang melindunginya. Orang-orang yang berangkat hijrah bersamamu mempunyai kerabat yang akan melindungi keluarganya. Ketika saya tidak bisa melakukan hal itu, saya berkeinginan agar mereka melindungi kerabat saya. Saya tidak melakukan ini karena kekafiran, tidak pula karena telah murtad dari agama saya, tidak pula karena rela dengan kekafiran setelah Islam.”
Nabi n pun berkata, “Benar.”
Umar z lalu berkata, ”Biar saya penggal leher orang munafik ini, wahai Rasulullah’.”
Beliau menjawab, ”Ia ikut serta dalam Perang Badr. Tidakkah engkau mengetahui, sesungguhnya Allah l telah mengetahui keadaan Ahlul Badr (veteran Perang Badr)?” (HR. al-Bukhari no. 3007, 3081, 4274, 4890, 6259, 6939, dan Muslim no. 2494, 2495)
Dalam riwayat lain: Seraya menyebut firman Allah l kepada orang-orang yang ikut Perang Badr, “Berbuatlah sekehendak kalian, sungguh Aku telah mengampuni kalian.” (HR. al-Bukhari no. 3008, 3081, 4274, 4890, 6259, 6939, Muslim no. 2494, 2495)
Apa yang dilakukan sahabat Hathib z ini bukanlah kekafiran, namun sebuah dosa besar. Hanya saja keikutsertaannya dalam Perang Badr lebih agung daripada (dosa tersebut) sehingga pahala amalannya yang telah lalu melebihi dosa yang terjadi kemudian.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menegaskan bahwa apa yang terjadi pada Hathib ibnu Abi Balta’ah z adalah dosa, namun bukan kekafiran. (Majmu Fatawa, 7/522—523)
Ibnu Katsir t berkata, “Rasulullah n menerima alasan Hathib yang menjelaskan bahwa ia melakukan hal itu sekadar berpura-pura di depan orang-orang Quraisy agar apa yang menjadi miliknya terjaga di sisi mereka, seperti harta dan anak-anak.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/410)
Kedua, yang melatarbelakangi ghuluw dalam al-wala’ wal bara’ adalah penerapan yang salah dalam hal bara’ dari orang-orang kafir. Di antaranya, menghalalkan darah dan harta milik kafir dzimmi atau mu’ahad, atau menampakkan muamalah yang cenderung keras dan kaku tanpa sebab yang membolehkan hal. Itu semata-mata lantaran semangat yang menggebu-gebu dan keyakinan (tanpa ilmu) bahwa hal-hal tadi merupakan tuntutan dari al-wala’ wal bara’. Padahal bersikap lembut dan baik terhadap mereka juga diperintahkan, dengan catatan tidak menunjukkan ketinggian dan kemuliaan orang-orang kafir daripada orang Islam.
Tidak diragukan bahwa menampakkan muamalah yang keras dan kaku seperti yang disebutkan tadi bukan bagian dari al-wala’ wal bara’. Prinsip al-bara’ justru menuntut adanya bara’ (benci dan berlepas diri) dari perbuatan yang berlebihan tersebut.
Sikap ghuluw dalam penerapan al-bara’ ini disebabkan oleh dua hal.
1. Pemahaman yang sempit terhadap dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Di samping begitu jelasnya akidah al-wala’ wal bara’, ada juga perintah untuk memperlihatkan adab dan akhlak ketika bermuamalah dengan nonmuslim. Tidak dibenarkan jika dalam bersikap hanya bertumpu pada satu sisi dan mengesampingkan sisi lainnya. Hal inilah yang menuntun kepada penerapan al-bara’ yang keliru yang tidak diakui oleh agama karena tanpa landasan dan ketentuan yang benar.
2. Tidak ada perhatian dan pengetahuan yang benar terhadap fiqih maslahat dan mafsadah (pemahaman yang mendalam dalam mengukur akibat sebuah perbuatan, apakah lebih dominan sisi kebaikannya atau kerusakannya).
Padahal fiqih maslahat dan mafsadah adalah pembahasan yang agung sekali dalam bab fiqih Islam. Bahkan, seluruh tuntunan syariat ini berpijak di atasnya.
Akan tetapi, untuk mengetahui dan menerapkannya fiqih ini harus dengan cara yang benar, bukan kemampuan setiap orang. Dengan demikian, masalah ini harus dikembalikan kepada para ulama, orang-orang yang alim dan faqih tentang ilmu agama Allah l. Maka dari itu, mengetahui perkembangan dan kondisi kaum muslimin dalam hal tersebut sangatlah penting. Jika tidak, akan menjadi penyebab terlalaikannya fiqih maslahat dan mafsadah.

Meremehkan dan Menolak al-Wala’ wal Bara’
Meremehkan dan menolak al-wala’ wal bara’ berarti menghancurkan dan melenyapkan akidah ini dari kaum muslimin. Ironinya, sebagian orang melakukannya dengan alasan menjaga persatuan, toleransi, dan kebersamaan umat. Mereka berusaha kuat menyebarkan adat, kebiasaan, dan gaya hidup orang-orang kafir di tengah-tengah kaum muslimin, lalu menyemangati umat untuk tasyabbuh (meniru) segala hal yang menjadi ciri khas orang-orang kafir.
Di sisi lain, begitu banyak dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menerangkan akidah ini, sebagaimana telah berlalu pembahasannya. Demikian pula, Allah l telah menetapkan syariat untuk kita terkait hukum-hukum yang melandasi larangan meniru gaya hidup orang-orang kafir (tasyabbuh) dan perintah untuk menyelisihinya. Ini semua diterangkan dalam dalil-dalil yang sangat banyak. Silakan lihat kembali pembahasan tentang tasyabbuh di Majalah Asy Syariah edisi 11. Jadi, tindakan meremehkan dan menolak akidah al-wala’ wal bara’ ini pada intinya karena kebodohan dan dangkalnya pemahaman terhadap syariat. Wallahu a’lam.

Al-Wala’ wal Bara’ dan Kelembutan Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Sebagian orang mempunyai anggapan bahwa jika akidah al-wala’ wal bara’ diterapkan dan ditegakkan akan menggugurkan prinsip Islam yang lain, yaitu berbuat baik, toleransi, dan penuh kelembutan. Akibatnya, anggapan ini mendorong mereka untuk menggugurkan akidah al-wala’ wal bara’ serta cenderung berlebihan dalam menerapkan prinsip Islam lainnya, seperti kasih sayang tanpa batas, toleransi tanpa batas, dan kelembutan tanpa batas.
Padahal tidak ada pertentangan antara akidah al-wala’ wal bara’ dengan prinsip Islam yang menjunjung tinggi sikap toleransi, kasih sayang, dan kelembutan. Keduanya adalah bagian dari agama Allah l (Islam). Islam adalah agama yang berlandaskan keadilan dan pertengahan antara sikap berlebihan (ghuluw) dan sikap meremehkan serta menganggap enteng. Allah l berfirman:
”Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)
“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (al-Baqarah: 143)
Kata الْوَسَطُ (pertengahan) dalam ayat ini ditafsirkan oleh Nabi n dengan “keadilan”, sebagaimana dalam hadits riwayat Ahmad (no. 11068, 11271, 11283, dan 11558).
Berkenaan dengan ayat ini pula, Ibnu Jarir t dalam Tafsir-nya mengemukakan, “Sesungguhnya Allah l menyifati mereka sebagai ahlul wasath semata-mata karena sikap pertengahannya dalam agama. Mereka bukanlah orang-orang yang berlebihan (ghuluw) seperti kaum Nasrani yang bersikap ghuluw terhadap pendeta-pendetanya (rahib) dan terhadap Isa. Mereka bukan pula orang-orang yang bersikap meremehkan dan cenderung menganggap enteng, seperti kaum Yahudi yang bersikap seperti itu sehingga berani mengubah kitab Allah l, membunuh para nabi, mendustakan dan kufur terhadap Allah l. Semua ini menunjukkan bahwa yang paling disukai oleh Allah l dalam setiap urusan adalah yang tengah-tengah.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allah l berfirman:
“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (al-Hajj: 78)
“Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (al-Baqarah: 185)
Rasulullah n bersabda:
إِنِّي بُعِثْتُ بِالْحَنِيفِيَّةِ السَّمْحَةِ
“Sesungguhnya aku diutus membawa agama yang lurus lagi mudah.” (HR. Ahmad no. 24855 dari ‘Aisyah x, dikuatkan oleh riwayat lain dari sahabat Ibnu Abbas c. Hadits ini diriwayatkan juga oleh al-Imam al-Bukhari t secara mu’allaq dalam Shahih-nya “Kitabul Iman, Bab Agama Itu Mudah”)
Bukti tidak adanya pertentangan antara al-wala’ wal bara’ dan kelembutan dienul Islam adalah sebagai berikut.
1. Islam tidak memaksa seorang kafir pun untuk masuk Islam.
Allah l berfirman:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam), sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)
Oleh karena itu, di masa pemerintahan Islam yang silam, rakyat yang hidup di bawah pemerintahannya tetap terlindungi darahnya, meski mereka tetap memilih agamanya yang selain Islam.
Adapun yang diperangi bukan semata-mata karena memilih agama selain Islam. Mereka diperangi karena permusuhan dan penentangan mereka terhadap Islam.
2. Islam memberikan kebebasan kepada orang-orang kafir dzimmi untuk bertempat tinggal dan berpindah ke tempat mana pun dari belahan negeri Islam, selain tanah suci dan jazirah Arab.

3. Islam menjaga perjanjian yang ditetapkan dengan orang-orang kafir, selama mereka tetap menjaganya.
Allah l berfirman:
”Kecuali orang-orang musyrikin yang kamu telah mengadakan perjanjian (dengan mereka) dan mereka tidak mengurangi sesuatu pun (dari isi perjanjian)mu dan tidak (pula) mereka membantu seseorang yang memusuhi kamu, maka terhadap mereka itu penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (at-Taubah: 4)

4. Islam melindungi darah kafir dzimmi dan mu’ahad (yang terikat perjanjian) jika mereka menunaikannya dengan baik.
Nabi n bersabda, “Siapa pun yang memberikan jaminan perlindungan kepada jiwa seseorang, tetapi kemudian ia membunuhnya, aku berlepas diri darinya, walaupun (kenyataannya) yang dibunuh itu seorang kafir.” (HR. Ahmad no. 21946, 21947, 21948 dan Ibnu Majah no. 2688, dll)
Ibnu Hazm t menyatakan, “(Ulama) telah bersepakat bahwa darah kafir dzimmi yang tidak menggugurkan dzimmah (jaminannya) adalah haram (untuk ditumpahkan).” (Maratib al-Ijma’, no. 138)

5. Islam tidak mengabaikan penunaian hak terhadap kerabat meskipun berbeda agama.
Allah l berfirman:
”Dan jika keduanya (ibu-bapak) memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Luqman: 15)
Diriwayatkan dari Asma’ bintu Abi Bakr c, ia berkata, “Ibuku datang menemuiku sedangkan dia seorang musyrik. Aku segera meminta fatwa kepada Rasulullah n, ’Wahai Rasulullah, ibuku datang kepadaku dalam keadaan ingin menyambung tali silaturahim. Apakah aku harus menerimanya?’ Rasulullah n menjawab, ’Ya, terima dan sambung tali silaturahim dengan ibumu’.” (HR. al-Bukhari no. 2620, 3183, 5978, 5979 dan Muslim no. 1003)
Dari sahabat Ibnu Abbas c, ia berkata:
مَرِضَ أَبُو طَالِبٍ فَجَعَلَ النَّبِيُّ يَعُودُهُ
“Suatu ketika Abu Thalib paman Nabi sakit, lalu Nabi n menjenguknya.” (HR. Ahmad no. 2008, 3419, at-Tirmidzi no. 3232, Ibnu Hibban no. 6686, al-Hakim 2/432, dan beliau mensahihkannya)

6. Islam memandang bahwa berbuat baik dan bersikap adil adalah hak bagi siapa pun yang tidak memerangi kaum muslimin.
Allah l berfirman:
“Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Mumtahanah: 8—9)
Sikap adil wajib ditegakkan kepada setiap orang, sekalipun terhadap orang yang kita harus membencinya, dengan cara yang benar, seperti kalangan orang-orang kafir yang memusuhi dan memerangi kita. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Maidah: 8)
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)
Untuk itulah, Nabi n mewanti-wanti kita agar berhati-hati dari doa orang yang dizalimi walaupun seorang kafir. Beliau n bersabda:
اتَّقُوا دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ وَإِنْ كَانَ كَافِرًا فَإِنَّهُ لَيْسَ دُونَهَا حِجَابٌ
“Berhati-hatilah kalian dari doa orang yang dizalimi, walaupun ia seorang kafir, karena tidak ada penghalang di balik doanya. (HR. Ahmad no. 12549. Hadits ini mempunyai penguat dari riwayat lain, lihat Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 767. Ibnu Hajar t juga memberikan komentar terhadap hadits ini dalam Fathul Bari 1/535)
Nyata jelas hubungan antara al-wala’ wal bara’ dan perbuatan baik dalam Islam. Hal ini tentu semakin mengukuhkan bahwa agama ini tegak di atas keadilan dan memerintahkan untuk menegakkan keadilan terhadap musuh sekalipun.
Maka dari itu, Islamlah satu-satunya agama yang pantas dianut oleh seluruh manusia, dijadikan tempat bernaung, dan solusi dari segala masalah di bumi Allah l dan antara hamba-hamba Allah l.
Wallahu a’lam.

 

Hakikat Al-Wala’ wal Bara’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf)

Memahami ajaran Islam secara menyeluruh adalah bagian dari manhaj Islam itu sendiri. Kita diperintahkan untuk menyelami seluk-beluk Islam, mulai dari hal yang sangat penting dan mendasar seperti akidah atau tauhid, hingga masalah hukum, ibadah, muamalah, dan lain-lain. Allah l berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan yang hak) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (Muhammad: 19)
“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (al-A’raf: 30)
Salah satu ajaran Islam yang dewasa ini nyaris ditinggalkan dan dianggap tabu oleh sebagian orang, serta oleh sebagian lainnya digembar-gemborkan secara membabi-buta tanpa bimbingan dan ketentuan syar’i, adalah al-muwalah (sikap loyal/setia) dan al-mu’adah (permusuhan), atau yang diistilahkan dengan al-wala’ wal bara’.

Pengertian al-Wala’ wal Bara’
Al-wala’ atau disebut juga al-walyu, secara bahasa mengandung arti berdekatan. Seluruh arti dari kata al-wala’ pada prinsipnya kembali kepada makna dasar ini, yaitu berdekatan. Kata al-wala’ dalam bahasa Arab merupakan bentuk mashdar. Kata ini sering pula digunakan untuk memaknai wujud pertolongan dan pembelaan. Adapun al-bara’ atau disebut juga bari’a mengandung arti membebaskan atau melepaskan dan menjauh. Ini adalah salah satu makna dasarnya, di samping makna dasar yang lain yaitu al-khalqu yang berarti penciptaan. Oleh karena itu, salah satu nama Allah l adalah al-Bari.
Para ulama menggunakan dua kata ini, al-wala’ wal bara’, dalam masalah akidah atau keyakinan. Hal ini didasarkan pada dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah. Semua dalil, baik dalam Al-Qur’an maupun As-Sunnah, memaknai kata al-wala’ dengan kecintaan dan pertolongan atau sikap loyal/setia. Adapun al-bara’ adalah kebalikan dari keduanya.
Dengan demikian, al-wala’ secara istilah adalah kecintaan dan sikap loyal kepada Allah l, Rasul-Nya, dienul Islam, dan para pemeluknya dari kalangan kaum muslimin. Adapun al-bara’ adalah membenci segala sesuatu yang diibadahi selain Allah l, membenci kekafiran berikut seluruh ajarannya, dan membenci para pemeluknya serta menampakkan permusuhan kepada semua itu.
Inilah makna al-wala’ wal bara’ dalam Islam. Ia merupakan akidah atau keyakinan dalam hati, yang harus tampak wujudnya melalui perbuatan yang dilakukan oleh anggota badan, seperti keyakinan-keyakinan lainnya yang tidak diakui keberadaannya dalam hati tanpa terlihat wujudnya dalam perbuatan anggota badan.
Apabila semakin menguat wujud akidah ini dalam hati, semakin bertambah pula bukti yang menunjukkan hal tersebut pada perbuatan seorang hamba. Sebaliknya, jika akidah ini melemah, akan berkurang pula bukti keberadaannya pada perbuatan seorang hamba. Selanjutnya, jika akidah ini hilang sama sekali dari hati, hilanglah keimanan secara keseluruhan. Tidak akan tampak wujud keimanan pada anggota badan.
Dengan demikian, kecintaan, pertolongan, dan sikap loyal yang merupakan makna al-wala’, serta kebencian dan pemusuhan yang merupakan makna dari al-bara’, berkaitan dengan hati.

Dalil-dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah serta Ijma’ tentang Akidah al-Wala’ wal Bara’
Sesungguhnya akidah al-wala’ wal bara’ adalah sesuatu yang harus diyakini secara pasti, tidak boleh ada keraguan sedikit pun tentangnya. Berikut ini dalil-dalil yang menjelaskan hal tersebut.
Di antara dalil dari Al-Qur’an adalah firman Allah l tentang al-wala’ wal bara’ adalah sebagai berikut.
”Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya tunduk (kepada Allah). Barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 55—56)
Ibnu Jarir ath-Thabari t (wafat tahun 310 H) mengemukakan, “Wahai orang-orang yang beriman, kalian tidak punya penolong selain Allah l, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman. Adapun orang-orang Yahudi dan Nasrani—yang Allah l telah memerintahkan kalian untuk bara’ (berlepas diri) dari mereka dan melarang kalian untuk menjadikan mereka sebagai penolong—bukanlah pemimpin dan penolong kalian. Justru sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian lainnya. Oleh karena itu, jangan sekali-kali kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin dan penolong.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allah l juga berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)
Ibnu Jarir t menerangkan, “Kaum mukminin dan mukminah adalah orang-orang yang beriman kepada Allah l, Rasul-Nya, ayat-ayat-Nya, serta beriman kepada kitab-kitab-Nya. Ciri khas mereka adalah sebagiannya menjadi penolong bagi sebagian yang lain.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)
Allahlberfirman:
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Oleh karena itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)
Ayat yang mulia ini menjelaskan bahwa persaudaraan yang berlandaskan dien akan melahirkan kecintaan, kasih sayang, pembelaan, dan saling menolong. Di samping itu, ayat ini juga menerangkan hakikat hubungan antara kaum mukminin yang menyamai atau bahkan terkadang melebihi hubungan nasab, sehingga tidak ada ukhuwah (persaudaraan) sejati melainkan antara kaum mukminin.
Kemudian tentang al-bara’, Allah l berfirman:
“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali (penolong) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri-Nya (untuk murka terhadap kalian). Dan hanya kepada Allah kembali (kalian).” (Ali Imran: 28)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)
Ibnu Jarir t mengatakan, “Sesungguhnya Allah l melarang seluruh kaum mukminin untuk menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai penolong dan pemimpin atas orang-orang yang beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya. Allah l juga mengabarkan bahwa sebagian orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi penolong bagi sebagian yang lain sehingga hendaklah sebagian kalian (orang yang beriman) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Kemudian Allah l menegaskan bahwa barang siapa memberikan kecintaan kepada Yahudi dan Nasrani, ia dicap sebagai bagian dari mereka.” (Tafsir ath-Thabari dalam Maktabah Syamilah)

Dalil-Dalil dari As-sunnah
Dalil dari As-Sunnah tentang al-wala’ antara lain sabda Nabi n:
الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا
“Seorang mukmin bagi mukmin lainnya ibarat sebuah bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari no. 2446 dan Muslim no. 2585)
Rasulullah n bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَمْرٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman dan kalian tidak akan beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian sesuatu yang kalau kalian lakukan niscaya kalian akan saling mencintai? Yaitu, sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no.54)
Adapun dalil tentang al-bara’, di antaranya hadits Jarir bin Abdillah al-Bajali z, ketika dia datang untuk berbaiat kepada Nabi n atas Islam. Nabi n bersabda, “Aku membaiatmu agar engkau beribadah kepada Allah l dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan menasihati setiap muslim, serta memisahkan diri dari orang musyrik.
Dalam riwayat lain:
“Berlepas diri (bara’) dari orang kafir.” (HR. Ahmad no. 19153, 19162, 19163, 19165, 19182, 19219, 19233 dan an-Nasai 7/147—148, no. 4175, 4176, 4177)
إِنَّ أَوْسَطَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ وَتُبْغِضَ فِي اللهِ
“Sesungguhnya cabang keimanan yang paling pokok adalah kamu mencintai sesuatu karena Allah l dan membenci juga karena Allah l.” (HR. Ahmad no. 17793)
Rasulullah n bersabda, “Janganlah kalian tinggal bersama orang-orang musyrik, jangan pula bergabung dengan mereka. Barang siapa tinggal dan bergabung bersama mereka, dia bagian dari mereka.” (HR. al-Hakim 2/141—142, dari Samurah bin Jundub z)
Masih banyak dalil lainnya yang menyebutkan perintah Rasulullah n untuk menyelisihi orang-orang kafir dalam banyak hal.

Dalil Ijma’
Ibnu Hazm t mengatakan, “Memang benar bahwa firman Allah l:
”Barang siapa di antara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, sesungguhnya dia termasuk golongan mereka….” (al-Maidah: 51)
itu sesuai dengan kenyataannya, yakni dihukumi kafir, masuk ke dalam golongan orang-orang kafir. Masalah ini adalah sesuatu yang tidak ada perselisihan pendapat, meski oleh dua orang dari kaum muslimin.” (al-Muhalla, 11/138)
Allah l berfirman:
“Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (al-Fatihah: 6—7)
Para ahli tafsir sepakat bahwa orang-orang yang dimurkai adalah Yahudi dan orang-orang yang sesat adalah Nasrani.
Ini adalah doa yang dipanjatkan oleh setiap muslim pada tiap rakaat shalatyang wajib dan sunnah. Ia memohon agar Allah k menunjukinya sehingga dapat menempuh jalan orang-orang yang beriman dalam hal akidah, ucapan, dan amalannya. Ia memohon pula agar dijauhkan dari jalan orang-orang Yahudi, Nasrani, dan yang semisalnya.
Ini adalah jenis al-wala’ wal bara’ yang sangat jelas, karena mengandung ketundukan kepada Allah l agar dapat mewujudkannya dalam hati setiap muslim. (Lihat al-Wala’ wal Bara’ baina as-Samahah wal Ghuluw)

Hubungan al-Wala’ wal Bara’ dengan Landasan Iman
Akidah al-wala’ wal bara’ dalam Islam berhubungan dengan wujud keislaman. Selama di muka bumi ini ada seorang muslim, bertauhid, dan ada seorang kafir atau musyrik, selama itu pula harus ada wujud al-wala’ wal bara’. Oleh karena itu, al-wala’ wal bara’ adalah akidah, keyakinan, bahkan tuntutan dari kalimat tauhid La Ilaha Ilallah.
Akidah al-wala’ wal bara’ mempunyai kedudukan yang tinggi, terkait dengan dasar-dasar keimanan. Tidak seperti anggapan dan sikap sebagian orang yang menganggapnya sebagai sesuatu yang tabu sehingga sengaja menolak dan melupakannya. Padahal tidak akan tersisa iman seseorang tanpa ada al-wala’ wal bara’. Hilangnya al-wala’ wal bara’ berarti hilangnya keimanan. Allah l berfirman:
“Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi (Musa), dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Maidah: 80—81)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t (wafat tahun 728 H) mengatakan, “Keimanan yang ada harus mendorong seseorang untuk tidak menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin atau penolong, karena keimanan dan menjadikan mereka sebagai penolong (adalah dua hal) yang tidak dapat bersatu dalam hati. Maka dari itu, siapa pun yang menjadikan mereka sebagai pemimpin atau penolong berarti belum mewujudkan keimanan yang seharusnya terhadap Allah l, Nabi-Nya, dan apa yang telah diturunkan kepadanya.” (Kitabul Iman hlm. 14)
Allah l berfirman:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)
Korelasi atau hubungan antara dasar keimanan dengan al-wala’ wal bara’ adalah sesuatu yang diakui oleh fitrah manusia. Oleh karena itu, Al-Qur’an menegaskan bahwa nonmuslim menyimpan permusuhan dalam hatinya terhadap kaum muslimin dan menanamkan kecintaan kepada sesamanya. Hal ini menuntut kaum muslimin untuk memberikan kecintaan (wala’) kepada kaum mukminin dan menanam kebencian (bara’) kepada orang-orang kafir. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata, ’Kami beriman’; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka), ’Matilah kamu karena kemarahanmu itu.’ Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati.” (Ali-Imran: 118—119)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Rabbmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barang siapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti(mu), serta mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir.” (al-Mumtahanah: 1—2)
Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah, ”Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar).” Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (al-Baqarah: 120)
“Sebagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (al-Baqarah: 109)
“Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka). Maka janganlah kamu jadikan di antara mereka penolong-penolong(mu), hingga mereka berhijrah pada jalan Allah. Jika mereka berpaling (dari berhijrah), tawan dan bunuhlah mereka di mana saja kamu menemuinya1, dan janganlah kamu ambil seorang pun di antara mereka menjadi pelindung, dan jangan (pula) menjadi penolong.” (an-Nisa: 89)
Wallahu a’lam bish-shawwab.

Catatan Kaki:

1 Ayat ini turun berkaitan dengan sekelompok orang yang mengaku masuk Islam, namun kemudian bergabung dengan sebuah negeri kafir harbi karena penentangannya. Ayat ini tidak berbicara tentang kaum munafik yang hidup bersama kaum mukminin di Madinah. (Zubdatut Tafsir)

Mencintai Orang Beriman dan Membenci Orang Kafir Tali KeimananTerkokoh dalam Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi)

Sudah menjadi ketetapan ilahi (sunnatullah) bahwa kebenaran (al-haq) dan kebatilan (al-batil) tidak akan pernah bersatu. Keduanya laksana dua kutub yang selalu berseberangan. Demikian pula para pengusungnya, mereka akan terus berseteru hingga akhir zaman nanti. Para pengusung kebenaran (ahlul haq) adalah para wali Allah l dari kalangan orang beriman, sedangkan para pengusung kebatilan (ahlul batil) adalah para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.

Kecintaan dan Kebencian di Ranah Keimanan
Kecintaan (al-hubbu) dan kebencian (al-bughdhu) merupakan amalan hati yang tak bisa dipisahkan dari kehidupan seseorang. Demikian pula dalam kehidupan beragama, keduanya tak bisa dipisahkan dari ranah keimanan seseorang. Secara kelaziman, kecintaan (al-hubbu) akan mewariskan sikap loyal/setia (al-muwalah), sedangkan kebencian (al-bughdhu) akan mewariskan sikap permusuhan (al-mu’adah).1
Keempat amalan tersebut akan terbilang sebagai amalan mulia, bahkan sebagai tanda bukti kecintaan seorang hamba kepada Rabbnya l manakala dilakukannya karena Allah l (fillah), bukan karena hawa nafsu atau kepentingan tertentu.2 Tak heran bila kemudian dikukuhkan sebagai tali keimanan terkokoh dan salah satu prinsip keyakinan (akidah) terpenting dalam Islam. Rasulullah n bersabda:
أَوْثَقُ عُرَى الْإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ
“Tali keimanan terkokoh adalah bersikap loyal (setia) karena Allah l dan memusuhi karena Allah l, mencintai karena Allah l dan membenci karena Allah l.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir no.11537 dari sahabat Abdullah bin Abbas c, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 1728)
Di antara bentuk kecintaan dan sikap loyal (setia) karena Allah l (fillah) adalah mencintai para wali Allah l dari kalangan orang beriman dan bersikap loyal (setia) kepada mereka. Adapun di antara bentuk kebencian dan sikap permusuhan karena Allah l (fillah) adalah membenci dan memusuhi para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Al-Imam Ibnul Qayyim t dalam kitabnya, ad-Da’ wad Dawa’, menegaskan bahwa kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada orang beriman tersebut tidaklah sah jika tidak diiringi dengan kebencian dan sikap permusuhan terhadap musuh-musuh Allah l dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Prinsip keyakinan di atas, sungguh telah terpatri pada jiwa para sahabat Nabi n selaku generasi terbaik umat ini, bahkan menjadi simbol kepribadian mereka yang diabadikan dalam Al-Qur’anul Karim. Hal ini sebagaimana dalam firman Allah l:
“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya sangatlah keras terhadap orang-orang kafir, namun berkasih sayang sesama mereka.” (al-Fath: 29)

Kewajiban Mencintai Orang Beriman dan Membenci Orang Kafir
Manakala perseteruan antara para wali Allah l dari kalangan orang beriman selaku pengusung kebenaran (ahlul haq) dengan para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya selaku pengusung kebatilan (ahlul batil) tidak pernah berhenti hingga akhir zaman nanti, maka di antara norma luhur dan keadilan yang ditanamkan oleh Islam kepada umatnya—sebagai konsekuensi keimanan—adalah kewajiban mencintai para wali Allah l dari kalangan orang beriman dan bersikap loyal (setia) kepada mereka. Sebagaimana pula Islam menanamkan kebencian dan sikap permusuhan kepada para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya.
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya, al-Wala’ wal Bara’ fil Islam, berkata, “Sesungguhnya setelah mencintai Allah l dan Rasul-Nya n, wajib mencintai para wali Allah l dan memusuhi musuh-musuh-Nya.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Sesungguhnya orang-orang beriman itu adalah para wali Allah l, sebagian mereka adalah pembela bagi sebagian yang lain. Adapun orang-orang kafir adalah musuh Allah l dan musuh orang-orang beriman. Allah l mewajibkan sikap loyal (setia) terhadap sesama orang-orang beriman dan menjadikannya sebagai konsekuensi keimanan, sebagaimana pula Dia l melarang orang-orang beriman dari sikap loyal (setia) kepada orang-orang kafir.” (Majmu’ Fatawa 28/190)
Di antara dalil wajibnya mencintai para wali Allah l dari kalangan orang beriman dan bersikap loyal (setia) kepada mereka adalah firman Allah l:
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Maka dari itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudara kalian itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kalian mendapat rahmat.” (al-Hujurat: 10)
“Sesungguhnya penolong kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman sebagai penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 55—56)
“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, ‘Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (al-Hasyr: 10)3
Di antara dalil wajibnya membenci para wali setan dari kalangan orang kafir dan para pembelanya adalah firman Allah l:
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuhmu sebagai teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang.” (al-Mumtahanah: 1)
“Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, ‘Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian ibadahi selain Allah, kami ingkari (kekafiran) kalian, dan telah nyata permusuhan dan kebencian antara kami dan kalian selama-lamanya, sampai kalian mau beriman kepada Allah semata’.” (al-Mumtahanah: 4)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin-pemimpin(mu), sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian yang menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 51)
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai para pemimpin, jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan barang siapa di antara kalian menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (at-Taubah: 23)
“Kalian tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadilah: 22)4

Fenomena Berinteraksi dengan Orang Kafir
Para Pembaca yang mulia, dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa membenci orang kafir dan memusuhinya karena Allah l ialah tali keimanan terkokoh dalam Islam. Adapun mencintai orang kafir dan bersikap loyal (setia) kepadanya adalah perbuatan yang diharamkan dalam syariat Islam. Namun, realitas menunjukkan bahwa berinteraksi dengan orang kafir merupakan sebuah fenomena dalam kehidupan ini. Baik dengan orang kafir yang tinggal di negeri muslim dengan segala hak dan kewajibannya (dzimmi), orang kafir yang terikat perjanjian damai dengan kaum muslimin (mu’ahad), orang kafir yang mendapatkan jaminan keamanan untuk tinggal di negeri muslim (musta’man), maupun orang kafir yang sedang bermusuhan dengan kaum muslimin (harbi). Bagaimanakah bimbingan Islam mengompromikan masalah ini? Untuk mengetahuinya, ikuti dengan saksama bahasan berikut.

a. Hukum berinteraksi (muamalah) dengan orang kafir
Para Pembaca yang mulia, Islam dengan segala kesempurnaan dan keadilannya senantiasa membimbing umatnya agar bersikap adil dan menjauhkan diri dari perbuatan zalim, termasuk dalam masalah menyikapi orang kafir.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t menjelaskan bahwa setiap muslim wajib berlepas diri dari orang-orang musyrik (kafir) dan menampakkan kebencian kepada mereka karena Allah l. Namun, ia tidak boleh menyakiti, mencelakai, dan berbuat semena-mena terhadap mereka dengan cara yang tidak benar, khususnya dari jenis yang tidak memerangi kita (bukan harbi). Meski demikian, tetap tidak boleh menjadikan mereka sebagai kawan dekat ataupun sebagai saudara. (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz 6/420)
Adapun berinteraksi (muamalah) dengan orang kafir merupakan permasalahan tersendiri dalam Islam yang tidak ada kaitannya dengan kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada mereka. Secara hukum asal, berinteraksi (muamalah) dengan orang kafir karena suatu kebutuhan (dengan batasan-batasannya) diperbolehkan dalam Islam. Lebih dari itu, tidak ada dasar pengharamannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan bahwa secara hukum asal tidak diharamkan bagi semua manusia untuk melakukan interaksi (muamalah) yang dibutuhkannya, melainkan jika ada dasar pengharamannya dari Al-Qur’an dan As-Sunnah. (Lihat as-Siyasah asy-Syar’iyah hlm. 155)
Maka dari itu, Allah l tidak melarang kaum muslimin untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang kafir yang tidak menyakiti dan memerangi mereka. Hal ini sebagaimana dalam firman-Nya l:
“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangi kalian karena agama dan tidak (pula) mengusir kalian dari negeri kalian. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Mumtahanah: 8)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya al-Wala’ wal Bara’ fil Islam berkata, “Maksud dari ayat ini adalah bahwa orang kafir yang tidak menyakiti kaum muslimin, tidak memerangi mereka, dan tidak pula mengusir mereka dari negeri-negeri mereka, tidak mengapa bagi kaum muslimin membalas kebaikan tersebut dan berlaku adil dalam urusan duniawi, namun tidak mencintainya dalam hati. Karena yang disebutkan Allah l dalam firman-Nya l adalah, ‘Untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada mereka’ bukan ‘Bersikap loyal (setia) dan mencintai mereka’. —hingga ucapan beliau—Maka dari itu, berinteraksi dan membalas kebaikan duniawi berbeda dengan kecintaan karena berinteraksi dan berbuat baik dapat menyebabkan ketertarikan kepada Islam, dan ini adalah bagian dari dakwah. Berbeda dengan kecintaan dan sikap loyal (setia), keduanya sarat akan persetujuan dan keridhaan terhadap orang kafir tersebut, dan ini tidak membuatnya tertarik dengan Islam.” (al-Wala’ wal Bara’ fil Islam)
Seiring dengan itu, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengingatkan agar kita semua berhati-hati ketika berinteraksi (bermuamalah) dengan orang-orang kafir tersebut. (Lihat al-Muntaqa 2/45, fatwa no. 6901)

b. Hukum berjual-beli dengan orang kafir
Berjual-beli dengan orang kafir termasuk jenis interaksi (muamalah) yang diperbolehkan dalam Islam dan bukan termasuk kecintaan serta sikap loyal (setia) kepada mereka karena tidak adanya dalil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah yang mengharamkannya. Jual-beli hanyalah sebuah proses transaksi untuk memenuhi suatu kebutuhan yang hakikatnya tidak ada unsur kecintaan dan sikap loyal (setia). Lebih dari itu, Rasulullah n pernah membeli seekor kambing dari seorang lelaki musyrik. Hal ini sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam kitab Shahih-nya. Kalaulah jual-beli dengan orang kafir itu termasuk dari kecintaan dan sikap loyal (setia) kepadanya, niscaya tidak akan dilakukan oleh Rasulullah n. Kalaulah jual-beli dengan orang kafir itu dilarang secara mutlak dalam Islam, niscaya tidak akan dicontohkan oleh Rasulullah n.
Bagaimana dengan safar (bepergian) ke negeri kafir (musuh) dalam rangka membeli barang atau berdagang? Safar ke negeri kafir (musuh) dalam rangka membeli barang atau berdagang diperbolehkan. Hal ini sebagaimana pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Seseorang bersafar ke negeri kafir (musuh) dalam rangka membeli barang atau berdagang adalah diperbolehkan, menurut hemat kami. Dasarnya adalah riwayat tentang berdagangnya sahabat Abu Bakr z di masa hidup Rasulullah n ke negeri Syam yang statusnya ketika itu sebagai negeri kafir (musuh).” (Iqtidha’ ash-Shiratil Mustaqim, hlm. 229)
Tidak berbeda pula dengan mengimpor barang dari negeri kafir. Hal itu juga diperbolehkan, sebagaimana fatwa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam kitabnya, al-Wala’ wal Bara’ fil Islam. Di antara dasar yang beliau sebutkan adalah bahwa kaum muslimin sejak zaman dahulu telah melakukan hal itu, dan semuanya dilakukan dengan transaksi pembayaran yang jelas. Oleh karena itu, dalam hal ini tidak ada sama sekali unsur utang jasa atau yang semisalnya terhadap mereka. Tidak pula ada sebagai sebab kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada mereka.
Adapun menjual sesuatu kepada orang kafir yang dapat membantu mereka (musuh) untuk memudaratkan kaum muslimin—seperti menjual persenjataan, red.—, al-Imam Ibnu Baththal t menegaskan bahwa hal itu hukumnya haram. (Lihat Fathul Bari, 4/410)
Sama halnya dengan menjual sesuatu seperti makanan, pakaian, dan wewangian di hari raya orang kafir, juga diharamkan. Mengapa? Karena mengandung unsur saling menolong dengan orang kafir dalam memeriahkan dan mewujudkan hari raya mereka yang diharamkan itu. Demikianlah yang ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t dalam kitab Iqtidhaush Shirathil Mustaqim (hlm. 229).

c. Hukum memboikot produk orang kafir
Bagaimana dengan ajakan memboikot produk orang kafir yang seringkali dimunculkan oleh pihak-pihak tertentu?
Menyikapi hal ini, hendaknya kaum muslimin tidak mudah terpancing dengan ajakan boikot tersebut. Masalah boikot produk tertentu yang beredar di negeri muslim, baik milik orang kafir maupun lainnya, bukan kewenangan pribadi atau kelompok tertentu. Ia adalah kewenangan pemerintah kaum muslimin. Walau demikian, hendaknya kaum muslimin tidak bermudah-mudahan membeli produk kafir, terlebih jika produk yang sama juga dimiliki oleh orang muslim. Membeli produk orang muslim tentunya lebih utama. Sama halnya dengan membeli sesuatu di toko milik orang kafir. Hukum asalnya diperbolehkan, dan tidak termasuk kecintaan atau sikap loyal kepadanya. Namun, jika sesuatu yang diinginkan itu ternyata ada di toko milik orang muslim, membeli dari saudara muslim tentunya lebih utama. Wallahu a’lam.

d. Hukum menjalin hubungan silaturahim dengan orang tua yang kafir
Menjalin hubungan silaturahim dengan orang tua yang kafir dan bergaul dengan baik terhadapnya, diperbolehkan dalam Islam (dengan batasan-batasannya). Hal ini sebagaimana dalam firman Allah l:
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kalian mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman: 15)
Di dalam “Kitabul Hibah” dari Shahih al-Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah n membimbing Asma’ bintu Abi Bakr x untuk menjalin tali silaturahim dengan ibunya yang masih musyrik, ketika sang ibu mendatanginya dan meminta jalinan tali silaturahimnya.
Al-Hafizh Ibnu Hajr t menegaskan dalam Fathul Bari (5/233) bahwa berbakti, silaturahim, dan berbuat baik tidaklah mengharuskan adanya kecintaan dan kasih sayang yang dilarang dalam firman Allah l:
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadilah: 22)

e. Hukum menjenguk orang kafir yang sakit dan bertakziah saat meninggal dunia
Menjenguk orang kafir yang sakit diperbolehkan dalam Islam jika dipandang ada maslahatnya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan dalam “Kitabul Jana’iz” dari Shahih al-Bukhari bahwa Rasulullah n melakukannya terhadap seorang anak muda Yahudi yang biasa membantu beliau n, hingga berujung pada masuk Islamnya anak muda tersebut. Demikian pula terhadap paman beliau n Abu Thalib (yang masih musyrik) pada sakit menjelang kematiannya walaupun akhirnya tidak mau masuk Islam.

Al-Imam Ibnu Baththal t mengatakan, “Hal itu disyariatkan jika si sakit bisa diharapkan untuk masuk Islam. Akan tetapi, jika kecil kemungkinannya, tidak disyariatkan.”
Adapun al-Hafizh Ibnu Hajar t memandang bahwa hal itu tergantung tujuan menjenguk tersebut, karena terkadang ada maslahat lain (selain keislamannya) yang bisa diraih dari tindakan tersebut. (Lihat Fathul Bari, 10/119)
Adapun bertakziah kepada salah seorang dari mereka yang meninggal dunia, hal itu diperbolehkan jika dipandang ada maslahatnya, dan diperbolehkan pula mendoakan yang hidup dari mereka agar mendapatkan hidayah dari Allah l. Namun, tidak boleh mendoakan si mayit dengan ampunan ataupun rahmat. Demikianlah yang dijelaskan oleh asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz sebagaimana dalam Fatawa Nur ‘Alad Darb, pada penjelasan tema al-Wala’ wal Bara’.
Wallahu a’lam bish-shawab.5

 

Catatan Kaki:

1 Lihat Qa’idah fil Mahabbah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hlm. 198.
2 Lihat Ma’arijul Qabul karya asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami 1/383.

3 Di antara bentuk kecintaan dan sikap loyal terhadap orang-orang beriman: (1) Berhijrah dari negeri kafir (yang ditinggalinya) ke negeri kaum muslimin demi menyelamatkan agama. (2) Membela dan membantu mereka dengan jiwa, harta, dan lisan dalam hal yang mereka butuhkan, baik terkait dengan urusan agama maupun dunia. (3) Turut merasakan suka dan duka yang mereka rasakan. (4) Menyampaikan nasihat (masukan) kepada mereka, menginginkan kebaikan untuk mereka, tidak berbuat curang dan melakukan tipu muslihat terhadap mereka. (5) Menghormati dan menghargai, serta tidak merendahkan mereka. (6) Satu hati bersama mereka dalam kondisi sulit dan mudah, sempit dan lapang. (7) Mengunjungi mereka, senang bertemu dengan mereka, dan bergabung dengan mereka. (8) Menghargai hak-hak mereka dan berlemah lembut dengan kalangan lemah di antara mereka. (9) Mendoakan kebaikan untuk mereka dan memohonkan ampun atas kesalahan mereka (kepada Allah l). (Diringkas dari kitab al-Wala’ wal Bara’ fil Islam karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)

4 Di antara bentuk kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada orang kafir yang diharamkan oleh Allah l adalah: (1) Tasyabbuh (menyerupai cara hidup) orang kafir dalam hal berpakaian, ucapan, dan yang lainnya. (2) Tinggal di negeri kafir tanpa adanya upaya untuk pindah (hijrah) dalam rangka menyelamatkan agamanya. (3) Pergi ke negeri kafir dalam rangka rekreasi dan mencari ketenangan jiwa. (4) Membantu orang kafir dalam memerangi kaum muslimin, memuji-muji, dan membela mereka. (5) Meminta pertolongan kepada mereka (dengan penuh kehinaan), percaya penuh dengan mereka, memberikan jabatan strategis terkait dengan urusan intern/rahasia kaum muslimin, menjadikan mereka sebagai kawan dekat dan penasihat. (6) Ikut merayakan hari raya mereka, membantu pelaksanaannya, memberikan ucapan selamat hari raya, atau menghadiri acara ritual hari raya mereka. (7) Membanggakan mereka dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, terkesima dengan perangai dan kepandaian mereka tanpa melihat sisi akidah dan agama mereka yang batil. (8) Menggunakan nama-nama mereka sebagai nama identitas. (9) Memintakan ampunan dan mendoakan rahmat untuk mereka. (Diringkas dari kitab al-Wala’ wal Bara’ fil Islam karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan)
Apabila kecintaan dan sikap loyal (setia) kepada orang kafir sampai pada tingkat keberpihakan kepada mereka atas kaum muslimin, atau membela mereka dengan mengaburkan berbagai kekafiran mereka bahkan berbangga dengannya, hal itu dapat mengeluarkan seseorang dari Islam (murtad). (Lihat al-Muntaqa karya asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan 2/45 dan Fatwa al-Lajnah ad-Da’imah no. 6901)

 

Surat Pembaca edisi 68

Pengingkar Azab Kubur
Bismillah. Apakah Asy-Syariah pernah membahas tentang azab kubur guna membantah pemahaman sesat Hizbut Tahrir yang banyak di penjuru negeri ini?
0878908xxxxx

Tentang azab kubur bisa dilihat kembali di Vol. 51/V/1430 H/2009. Adapun kajian khusus yang berisi bantahan ilmiah terhadap kelompok yang mengingkari azab kubur bisa dikaji di rubrik “Tafsir” pada edisi yang sama. Jazakumullahu khairan.
Teks Arab Kurang
Bismillah. Afwan, pada edisi 67 hlm. 10, sepertinya teks Arab (hadits) kurang lengkap, pada artinya disebutkan, “Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani…” sedangkan pada teks Arab tidak ada kata “nashara”.
Ummu Habibah-Indramayu
0821270xxxxx

Anda benar, jazakillahu khairan atas koreksinya. Jawaban ini sekaligus sebagai ralat dari kami. Atas kesalahan ini, Redaksi memohon maaf kepada seluruh Pembaca.
Tentang Pakaian di Atas Mata Kaki
Mohon dijelaskan tentang hukum dari tata cara berpakaian untuk kaum laki-laki, tentang larangan berpakaian sampai menutupi kedua mata kaki, apakah itu benar-benar atau hanya keyakinan kelompok sendiri-sendiri.
0857414xxxxx

Larangan mengenakan pakaian yang menutup mata kaki (isbal) berasal dari Rasulullah n yang terekam dalam banyak hadits yang sahih, jadi bukan merupakan keyakinan “kelompok” tertentu. Para ulama juga telah menjelaskan bahwa hadits-hadits tentang pelarangan isbal mencapai derajat mutawatir makna, tercantum dalam kitab-kitab Shahih, Sunan, ataupun Musnad, diriwayatkan dari sekelompok sahabat dalam jumlah yang banyak. Mereka juga telah menulis banyak bantahan terhadap pendapat yang membolehkan isbal dengan dalih “selama tidak sombong”.
Asy-Syariah sendiri memang belum membahas secara khusus dan panjang lebar tentang “isbal” ini, namun untuk menambah wawasan keilmuan, Anda bisa buka kembali Asy-Syariah Vol. VI/No. 65/1431 H/2010 pada rubrik “Hadits” atau di Vol. IV/No. 39/1429 H/2008 rubrik “Permata Hati”. Jazakumullahu khairan.
Ayah Hisyam bin Urwah
Masukan untuk Asy-Syariah terbaru, edisi 67, hlm. 29, rubrik Kajian Utama, tertulis, “Al-Imam Ibnu Abi Hatim meriwayatkan sebuah hadits dari Hisyam bin Urwah, bahwa ayahnya, Abdullah bin az-Zubair ….”
Tampaknya ayah Hisyam bukan Abdullah bin az-Zubair. Mungkin Urwah bin az-Zubair. Tolong dicek.

Anda benar. Seharusnya ditulis, “Hisyam bin Urwah menceritakan dari ayahnya, Urwah bin az-Zubair, bahwa Abdullah bin az-Zubair berkata ….”
Jazakallah khairan atas masukannya. Surat pembaca ini sekaligus sebagai ralat.

 

Islam yang Rahmatan lil Alamin

Sikap seorang muslim terhadap nonmuslim telah gamblang digariskan dalam syariat. Sebagai agama pertengahan (seimbang), sikap Islam terhadap nonmuslim pun proporsional, bersikap lembut tapi pada tempatnya dan bersikap keras atau tegas juga pada tempatnya. Masing-masingnya tidak dilakukan secara berlebihan. Lembut tapi tidak berarti berkasih sayang kepada mereka hingga menerabas batas-batas akidah, bersikap keras pun tidak berarti bermudah-mudah dalam menumpahkan darah mereka. Semua itu terangkum dalam apa yang disebut dengan akidah al-wala’ wal bara’.
Memang tak bisa dimungkiri, ada kalangan Islam yang kebenciannya terhadap nonmuslim acap kebablasan. Setiap ada permasalahan sekecil apa pun yang muncul dengan tetangganya yang nonmuslim—misalnya—aksi fisik atau senjata tajamlah yang kemudian berbicara. Di pihak lain, ada yang merepresentasikan orang kafir dengan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Maka setiap kepentingan atau aset yang ”berbau” negara tersebut, bahkan setiap orang yang dianggap antek AS—baik muslim maupun nonmuslim— di mana pun, diyakini harus dilibas habis. Muncullah kemudian aksi-aksi teror yang mengatasnamakan jihad.
Walaupun tindakan AS dan sekutunya selama ini memang benar-benar menzalimi kaum muslimin atau menerapkan standar ganda terhadap Islam—dan demikianlah sunnatullah berbicara tentang orang-orang kafir—, namun semestinya sikap kita tetap mendasarkan pada tuntunan syariat. Lebih-lebih aksi-aksi teror yang maksud hati mengangkat kemuliaan Islam namun pada kenyataannya justru menjatuhkan kemuliaan dan citra Islam. Kebencian terhadap Islam justru kian menyala di dada-dada musuh Islam. Sementara bagi muslim yang imannya lemah, justru kian agamanya. Islam, bagi mereka, dianggap agama yang tidak memberikan kedamaian, namun justru keresahan.
Dampak lebih jauh, ajaran-ajaran pluralisme kian mendapat angin segar dan tumbuh subur di negeri ini. Kalangan liberal—yang rajin mengampanyekan paham tersebut—kian gemar melontarkan pernyataan-pernyataan: “semua agama baik”, ”semua agama tidak mengajarkan kekerasan”, ”semua agama mengajarkan kedamaian”, dan semacamnya. Inti dari pernyataan-pernyataan tersebut tak lain; semua agama adalah benar, hilangkan istilah kafir di antara pemeluk agama, karena yang dinamakan kafir adalah orang-orang yang tidak mengakui adanya Tuhan.
Tak hanya itu, dalam praktiknya kemudian, dengan mengusung jargon kerukunan atau toleransi antarumat beragama, doa lintas agama atau lintas keyakinan pun marak digelar di daerah-daerah.
Di sisi lain, ada sebuah partai yang mengaku Islam justru membuka diri terhadap orang-orang kafir, memberikan peluang bagi mereka untuk menduduki jabatan sebagai anggota legislatif ataupun jabatan lainnya. Sudah terjerat dalam sistem demokrasi yang bertentangan dengan Islam, lantas tercebur dalam lumpur politik kotor yang acap membenamkan syariat di bawah kepentingan-kepentingan politik praktis. Lebih lucu lagi, mereka dengan bodohnya membanggakan diri sebagai orang-orang terdepan yang memperbaiki umat. Orang-orang di luar partai dianggap tidak berbuat apa-apa. Aktivitas dakwah—tentunya yang di luar garis partai—dianggap tidak mampu membuahkan hasil nyata. Na’udzubillah!
Sudah keblingerkah mereka dengan partai dan sudah teracunikah mereka dengan demokrasi, sehingga kebijakan partai yang merangkul orang-orang kafir diamini dan ditaklidi dengan bangga? Di manakah akal sehat mereka sebagai orang-orang muslim? Dibuang kemana ayat-ayat Al-Qur’an yang melarang menjadikan mereka sebagai pemimpin, penolong/pembela, atau orang-orang kepercayaan?
Di sinilah pentingnya kita memahami akidah al-wala’ wal bara’ sehingga kita bisa bertindak secara tepat sesuai syariat. Lebih dari itu, kita pun bisa mendudukkan Islam sebagai agama yang rahmatan lil ’alamin secara benar.