Alam Semesta di Bawah Kekuasaan Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

عَنْ عَائِشَةَ x أَنَّهَا قَالَتْ لِرَسُولِ اللهِ n : يَا رَسُولَ اللهِ، هَلْ أَتَى عَلَيْكَ يَوْمٌ كَانَ أَشَدَّ مِنْ يَوْمِ أُحُدٍ؟ فَقَالَ: لَقَدْ لَقِيْتُ مِنْ قَوْمِكَ، وَكَانَ أَشَدَّ مَا لَقِيتُ مِنْهُمْ يَوْمَ الْعَقَبَةِ، إِذْ عَرَضْتُ نَفْسِي عَلَى ابْنِ عَبْدِ يَالِيلَ بْنِ عَبْدِ كُلَالٍ فَلَمْ يُجِبْنِي إِلَى مَا أَرَدْتُ فَانْطَلَقْتُ وَأَنَا مَهْمُومٌ عَلَى وَجْهِي، فَلَمْ أَسْتَفِقْ إِلاَّ بِقَرْنِ الثَّعَالِبِ، فَرَفَعْتُ رَأْسِي فَإِذَا أَنَا بِسَحَابَةٍ قَدْ أَظَلَّتْنِي، فَنَظَرْتُ فَإِذَا فِيهَا جِبْرِيلُ، فَنَادَانِي فَقَالَ: إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَمَا رَدُّوا عَلَيْكَ، وَقَدْ بَعَثَ إِلَيْكَ مَلَكَ الْجِبَالِ لِتَأْمُرَهُ بِمَا شِئْتَ فِيْهِمْ. قَالَ: فَنَادَانِي مَلَكُ الْجِبَالِ وَسَلَّمَ عَلَيَّ، ثُمَّ قَالَ: يَا مُحَمَّدُ، إِنَّ اللهَ قَدْ سَمِعَ قَوْلَ قَوْمِكَ لَكَ وَأَنَا مَلَكُ الْجِبَالِ، وَقَدْ بَعَثَنِي رَبُّكَ إِلَيْكَ لِتَأْمُرَنِي بِأَمْرِكِ، فَمَا شِئْتَ؟ إِنْ شِئْتَ أَنْ أُطْبِقَ عَلَيْهِمُ الْأَخْشَبَيْنِ. فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ n : بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللهَ وَحْدَهُ، لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
Aisyah x bertanya kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, pernahkah engkau mengalami hari yang lebih pedih dari hari Perang Uhud?” Rasulullah n menjawab, “Aku sering mendapatkan (gangguan) dari kaummu. Yang paling menyakitkan adalah peristiwa Hari Aqabah, saat aku mengajak Ibnu Abdi Yalil bin Abdu Kulal masuk Islam namun ia tidak menyambut ajakan yang kuinginkan. Aku pun beranjak pergi dengan hati yang sedih. Tidaklah aku tersadar melainkan setelah tiba di Qarnu Tsa’alib1. Aku tengadahkan kepalaku ke langit, tiba-tiba tampak segumpal awan menaungiku. Aku angkat kepalaku, ternyata Jibril berada di sana dan berseru kepadaku. Jibril berkata, ‘Sungguh Allah telah mendengar ucapan kaummu dan jawaban mereka terhadapmu. Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung kepadamu agar engkau memerintahnya sesuai dengan kehendakmu terhadap mereka (orang-orang kafir).’ Malaikat gunung kemudian berseru kepadaku serta mengucapkan salam, lalu berkata, ‘Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar ucapan kaummu kepadamu. Aku adalah malaikat gunung yang telah diutus oleh Rabbmu kepadamu agar engkau memerintahkan kepadaku sesuai dengan perintahmu. (Wahai Muhammad,) apa yang engkau inginkan? Jika engkau menghendaki, aku akan menimpakan dua gunung itu kepada mereka2’.” Rasulullah n lalu menjawab, “Tidak. Aku justru berharap agar Allah mengeluarkan dari keturunan mereka orang-orang yang akan menyembah Allah saja dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apa pun.”
Abu Dzar al-Ghifari z berkata:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ z؛ أَنَّ النَّبِيَّ n قَالَ يَوْمًا: أَتْدُرونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟ قَالُوا: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: إِنَّ هَذِهِ الشَّمْسَ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ تَحْتَ الْعَرْشِ فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، فَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ، تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَخِرُّ سَاجِدَةً، وَلَا تَزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يُقَالَ لَهَا: ارْتَفِعِي، ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ. فَتَرْجِعُ فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَطْلَعِهَا، ثُمَّ تَجْرِي لَا يَسْتَنْكِرُ النَّاسُ مِنْهَا شَيْئًا حَتَّى تَنْتَهِيَ إِلَى مُسْتَقَرِّهَا ذَاكَ، تَحْتَ الْعَرْشِ، فَيُقَالُ لَهَا: ارْتَفِعِي، أَصْبِحِي طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِكَ. فَتُصْبِحُ طَالِعَةً مِنْ مَغْرِبِهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: أَتَدْرُونَ مَتَى ذَاكُمْ؟ ذَاكَ حِيْنَ ﭳ }
Suatu hari Nabi n bersabda, “Tahukah kalian ke mana matahari pergi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya matahari ini berjalan hingga berada di bawah ‘Arsy, lalu ia tersungkur sujud kepada Allah. Dia terus dalam keadaan sujud hingga dikatakan kepadanya, ‘Naiklah engkau, kembalilah dari mana engkau datang!’ Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi dia terbit lagi dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan hingga berakhir pada tempat menetapnya di bawah ‘Arsy, lalu bersujud dan tetap dalam keadaan demikian, sampai dikatakan kepadanya, ‘Naiklah, kembalilah dari mana engkau datang!’ Matahari pun kembali, sehingga di waktu pagi muncul dari tempat terbitnya. Kemudian ia berjalan lagi tanpa sedikit pun manusia menyadarinya, hingga berakhir pada tempat menetapnya itu di bawah ‘Arsy, lalu dikatakan kepadanya, ‘Naiklah, dan terbitlah engkau dari barat!’ Keesokan harinya, matahari terbit dari sebelah barat. Rasulullah n melanjutkan, “Tahukah kalian, kapan itu terjadi? Itu terjadi di hari (yang difirmankan oleh Allah l):
‘Tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau ia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya’.” (al-An’am: 158)

Takhrij Hadits Aisyah x dan Abu Dzar z
Hadits Aisyah x muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam ash-Shahih, “Kitab Bad’il Khalq” (3/1180 no. 3059), dan “Kitab at-Tauhid bab firman Allahl” no. 6954.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim t dalam ash-Shahih, “Kitabul Jihad was Siyar” (3/1420 no. 1795).
Keduanya meriwayatkan hadits Aisyah x melalui jalan Abdullah bin Wahb bin Muslim al-Qurasyi, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, dari Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah x. Lafadz di atas adalah lafadz Muslim t.
Adapun hadits Abu Dzar z diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, “Kitab Bad’il Khalqi” no. 3199, juga beliau keluarkan di beberapa tempat dalam ash-Shahih, no. 4802, 4803, 7424, 7433.
Hadits ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya “Kitab al-Iman” (1/138 no.159) dan lafadz di atas adalah lafadz Muslim.
At-Tirmidzi juga meriwayatkan hadits ini dalam as-Sunan, “Kitabul Fitan” no. 2186 dan “Kitab Tafsir Al-Qur’an” no. 3227. Beliau berkata, “Ini adalah hadits yang hasan sahih.”
Abu Dawud juga meriwayatkannya dalam as-Sunan “Kitab al-Huruf wal Qira’at” no. 4002 dengan kisah yang berbeda, yaitu Rasulullah n bertanya kepada Abu Dzar z di saat beliau memboncengkannya di atas keledai.
Semua meriwayatkan hadits Abu Dzar z melalui jalan Ibrahim bin Yazid bin Syarik Abu Asma’ al-Kufi, dari ayahnya Yazid bin Syarik bin Thariq at-Taimi al-Kufi, dari Abu Dzar al-Ghifari Jundub bin Junadah z.
Semua perawinya tsiqah (tepercaya sekaligus kuat hafalannya), hanya saja Ibrahim seorang mudallis3. Akan tetapi, sebagian sanad hadits menunjukkan bahwa Ibrahim mendengar langsung dari ayahnya.
Dalam sebagian riwayat Muslim, Abu Dzarzberkata,
دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ وَرُسُولُ اللهِ n جَالِسٌ، فَلَمَّا غَابَتِ الشَّمْسُ قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ، هَلْ تَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ: فَإِنَّهَا تَذْهَبُ فَتَسْتَأْذِنُ فِي السُّجُودِ فَيُؤْذَنْ لَهَا، وَكَأَنَّهَا قَدْ قِيلَ لَهَا: ارْجِعِيْ مِنْ حَيْثُ جِئْتِ، فَتَطْلَعُ مِنْ مَغْرِبِهَا.
Aku masuk masjid sementara Rasulullah n duduk. Ketika matahari terbenam beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tahukah engkau ke manakah matahari pergi?” Aku berkata, “Allah dan Rasul-Nya yang mengetahui.” Beliau n berkata, “Sesungguhnya ia pergi meminta izin untuk sujud, lalu diizinkan, seolah-olah dikatakan kepadanya, ‘Kembalilah engkau dari tempat kedatanganmu.’ Terbitlah matahari dari tempat tenggelamnya’.”

Perdebatan Seputar Hadits Abu Dzar z
Penulis Tafsir al-Manar (Muhammad Rasyid Ridha, murid Muhammad Abduh) memberikan komentar terhadap hadits Abu Dzar z tentang berjalannya matahari dan sujudnya kepada Allah l di bawah ‘Arsy dengan komentar yang menyelisihi al-haq (kebenaran). Ia mengatakan bahwa matan (teks) hadits ini membingungkan. Di samping itu, menurutnya ada kelemahan dalam sanadnya.
Ia berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim melalui jalan dari Ibrahim bin Yazid bin Syarik at-Taimi dari Abu Dzar z.”4 Meskipun Ibrahim seorang yang tsiqah sebagaimana penilaian ahlul hadits, namun ia perawi yang mudallis.
Al-Imam Ahmad (wafat 241H) berkata, “Ia tidak berjumpa dengan Abu Dzar z.”
Ad-Daruquthni (385 H) berkata, “Ia tidak mendengar dari Hafshah x tidak pula dari Aisyah x, bahkan ia tidak mendapati zaman keduanya.”
Ali bin al-Madini (234 H) berkata, “Ia tidak mendengar hadits dari Ibnu Umar c, demikian pula dari Ibnu Abbas c….”
(Dalam hadits ini, Ibrahim meriwayatkan dari Abu Dzar z, yang dikatakan oleh al-Imam Ahmad bahwa Ibrahim tidak menjumpainya. Artinya, Ibrahim meriwayatkan dengan perantara, yang boleh jadi adalah orang yang tidak tsiqah, –pen.). Lihat Tafsir al-Manar (8/211—212).

Apa Jawabnya?
Terhadap hadits Abu Dzar z tentang sujudnya matahari, demikian pula hadits Aisyah x tentang malaikat penjaga gunung dan hadits-hadits tentang urusan gaib yang semisal, bisa saja seseorang seenaknya berkomentar, “Hadits ini memang sahih sanadnya, tapi teksnya janggal. Susah bagi akal untuk mencernanya!”
Oleh sebagian kalangan, kalimat ini dianggap sah-sah saja, padahal kalimat ini sungguh merupakan ungkapan yang luar biasa berbisa. Dengan kalimat ini, hadits-hadits yang sahih diabaikan dan diingkari, walaupun disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim.
Kita katakan kepada mereka, “Wahai para pemuja akal, apakah setiap hal yang tidak masuk akal berarti itu dusta dan mustahil? Kalau kaidah ini kalian terapkan dalam menyikapi hadits-hadits Rasul n, sungguh kalian akan menyimpang sejauh-jauhnya. Ingatkah kalian saat Rasulullah n kembali dari perjalanan Isra’? Tidak genap satu malam Rasulullah n telah melintasi sahara dari Makkah ke Baitul Maqdis, yang seharusnya ditempuh dua bulan perjalanan kala itu. Bahkan, Rasulullah n telah menembus tujuh lapis langit dan kembali lagi ke Makkah.
Berita besar ini disampaikan kepada penduduk Makkah sehingga terjadilah apa yang terjadi. Mereka bertepuk tangan, berjingkrak-jingkrak menertawakan berita Rasul n dan mengejeknya. Mereka anggap semua itu mustahil. Adapun Abu Bakr z justru bertambah kokoh keimanannya, tidak sedikit pun bergeser dari iman hingga beliau beroleh gelar ash-Shiddiq.
Sejenak pena berhenti menanti jawaban para pengagum akal. Apakah mereka hendak mengikuti jalan musyrikin Quraisy dalam menyikapi berita Rasul n, atau jalan Abu Bakr ash-Shiddiq dan kaum mukminin? Sepertinya terlalu lama kita menanti jawaban mereka. Semoga Allah l memberi hidayah kepada kita semua.
Menyangkut kritikan terhadap sanad al-Bukhari dan Muslim, kita katakan, “Penulis tafsir al-Manar seharusnya dengan teliti melihat kembali apa yang dibacanya, agar tidak terjatuh kepada kesalahan yang sangat fatal. Apalagi dilanjutkan dengan perkataannya, ‘Apabila hadits yang dikeluarkan al-Bukhari dan Muslim saja ada yang memiliki illat (cacat) seperti ini, bagaimana halnya dengan hadits yang tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim serta penulis kitab-kitab as-Sunan?’.” (Tafsir al-Manar)
Sanad hadits Abu Dzar z yang disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim adalah Ibrahim bin Yazid at-Taimi, dari ayahnya Yazid bin Syarik at-Taimi, dari Abu Dzar z. Sanad ini muttashil (bersambung) dengan rawi-rawi yang tsiqah. Keadaan Ibrahim sebagai seorang mudallis tidak membahayakan karena dalam sebagian sanad Muslim tampak bahwa Ibrahim mendengar dari ayahnya. Dengan demikian, tidak ada ‘illat dalam hadits Abu Dzar z seperti tuduhan penulis Tafsir al-Manar. Walhamdulillah.

Mengimani Berita-Berita Gaib dari Rasulullah n
Saudaraku, semoga Allah l merahmati Anda.
Alam semesta yang demikian besar menyimpan berjuta rahasia yang tidak mungkin disingkap oleh akal manusia. Hanya berita-berita gaib para rasul Allah l yang mampu menembus rahasia itu, tentu saja dengan wahyu dari Allah l. Allah l berfirman:
“Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, dan (Kami memperlihatkannya) agar Ibrahim itu termasuk orang-orang yang yakin.” (al-An’am: 75)
“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu, kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya. Maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26—27)
Seorang yang jujur dalam persaksian imannya niscaya selalu tunduk di hadapan sabda-sabda Rasulullah n, baik berupa berita, perintah, maupun larangan. Ia akan selalu beribadah kepada Allah l dengan tuntunan beliau n dan tidak beribadah dengan kebid’ahan. Tidak ada sedikit pun keraguan dalam sanubarinya atau rasa berat hati terhadap keputusan Rasulullah n yang sesungguhnya adalah wahyu dari Allah l yang mutlak kebenarannya.
Di hadapan hadits Aisyah dan Abu Dzar c, seseorang diuji, apakah ia beriman atau mengingkari berita-berita Rasulullah n? Seorang yang beriman tentu akan mengambil semua yang datang dari Rasulullah n.
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah, dan bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (al-Hasyr: 7)
Berbeda halnya dengan orang-orang yang menyimpan keraguan, berita-berita Rasulullah n akan mereka singkirkan atau sepelekan. Lebih-lebih jika kabar Rasulullah n tersebut menyelisihi hawa nafsunya, berbeda dengan kepentingannya, berseberangan dengan adat istiadatnya, atau berbeda dengan hasil penelitian dan olah pikir manusia. Di situlah akan semakin tampak siapa yang lebih mengutamakan hawa nafsunya daripada keimanan kepada Allah l dan Rasul-Nya n.
Sebelum berlarut, marilah kita kembali pada dua hadits yang mengawali pembahasan kita. Dalam hadits Aisyah x, Rasulullah n mengabarkan bahwa di antara malaikat-malaikat Allah l ada yang ditugaskan sebagai penjaga gunung. Mereka adalah makhluk Allah l yang sangat kuat. Dengan izin Allah l mereka mampu membalikkan gunung dan menimpakannya kepada siapa saja yang Allah l kehendaki. Semua itu dengan perintah Allah l dan tidak lepas dari pengaturan-Nya.
Perhatikan kedatangan malaikat gunung kepada Rasulullah n. Ia berkata kepada Rasul n bahwa Allah l memerintahkannya untuk mendengar perintah Rasulullah n. Jika beliau berkehendak, dua gunung akan dia timpakan kepada kaum musyrikin. Malaikat tersebut tidak serta-merta datang kepada Rasul n tanpa perintah Allah l, atau tiba-tiba mengangkat gunung dan menimpakannya kepada manusia yang ingkar tanpa perintah dari-Nya. Sungguh, mereka adalah makhluk yang taat dan tidak sedikit pun bermaksiat kepada Allah l.
“(Mereka malaikat-malaikat Allah) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Subhanallah, gunung-gunung yang menjulang, Engkau tetapkan para penjaganya dari kalangan malaikat-malaikat-Mu yang senantiasa menanti perintah-Mu. Hadits Aisyah x menyingkap sebuah rahasia dari berjuta rahasia alam semesta.
Adapun hadits Abu Dzar al-Ghifari z mengabarkan berita gaib lain dari keajaiban alam. Beliau n mengabarkan bahwa matahari yang berada di atas kita tidaklah diam. Ia terus berjalan, menuju satu tempat di bawah Arsy untuk bersujud kepada-Nya, menanti perintah serta izin-Nya untuk terbit dan tenggelam dari tempat biasanya ia terbit dan tenggelam.
Hingga datang satu masa di akhir zaman nanti, Allah l, Rabbul ‘Alamin, tidak lagi mengizinkannya untuk terbit dari timur. Dia akan memerintahkannya terbit dari sebelah barat, tempat tenggelamnya. Itulah sebagian tanda Rabb yang dimaksud dalam firman Allah l:
Yang mereka nanti-nanti tidak lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka), kedatangan Rabbmu, atau kedatangan sebagian tanda-tanda Rabbmu. Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Rabbmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang bagi dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum) mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah, “Tunggulah olehmu, sesungguhnya kami pun menunggu (pula).” (al-An’am: 158)
Saat itulah, tidak akan bermanfaat iman seseorang yang baru beriman. Demikian pula, seorang yang baru bertaubat tidak diterima taubatnya, sebagaimana ditunjukkan dalam sabda Rasulullah n :
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ باِللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُع الشَمْسَ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sesungguhnya Allah k membentangkan tangan-Nya di malam hari untuk memberikan ampunan bagi mereka yang berdosa di siang hari dan Dia membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk mengampuni mereka yang berdosa di malam hari, hingga terbit matahari dari tempat tenggelamnya.”5
Hadits Abu Dzarztegas menunjukkan batilnya perkataan bahwa matahari diam tidak berjalan. Teori manusia mengatakan matahari sebagai pusat tata surya itu diam, hanya berputar pada porosnya. Kekuatan daya tarik gravitasi yang dimilikinya mampu menarik sekian banyak planet termasuk bumi untuk mengitari dirinya. Adapun ia sendiri diam, tidak berjalan.
Saudaraku, anggapan bahwa matahari diam, tidak berjalan, dan hanya perputar pada porosnya, adalah teori manusia. Adapun seorang mukmin akan berkata sesuai dengan firman Allah l dan sabda Rasul-Nya n bahwa matahari berjalan menuju tempat di bawah ‘Arsy. Ia tidak diam di tempatnya, sebagaimana hal ini tampak dari pertanyaan Rasulullah n kepada para sahabatnya:
أَتَدْرُونَ أَيْنَ تَذْهَبُ هَذِهِ الشَّمْسُ؟
“Tahukah kalian, ke mana matahari ini pergi?”
Wahai Rabb kami, itu berita Rasul-Mu. Kami beriman dan tidak ada sedikit pun keraguan di hati kami.
“Wahai Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan, dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan-Mu).” (Ali Imran: 53)

Gunung, Matahari, dan Seluruh Alam di Bawah Kekuasaan serta Pengaturan Allah l
Matahari berjalan secara teratur dengan perintah Allah l. Dia berfirman:
“Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” (Yasin: 38)
Gunung-gunung yang kokoh juga berada dalam perintah dan pengawasan Allah l. Allah l menetapkan para penjaga dari kalangan malaikat-Nya untuk menjalankan semua ketetapan dan perintah tersebut.
Demikian pula lautan serta segala apa yang di langit dan di bumi, mereka semua adalah makhluk Allah l yang berada di bawah pengawasan dan pengaturan-Nya.
“Allah lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya, supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan mudah-mudahan kamu bersyukur. Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) dari-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir.” (al-Jatsiyah: 12—13)
Bumi tempat kita berpijak dan langit yang mengatapi kita, keduanya taat dan tunduk kepada Allah l. Dia berfirman:
Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat hari. (Penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-orang yang bertanya. Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih berupa asap, lalu Dia berkata kepada langit dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat: 10—11)
Gemuruhnya guntur juga tidak lepas dari perintah Allah l.
أَقْبَلَتْ يَهُودٌ عَلَى النَّبِيِّ n فَقَالُوا: يَا أَبَا الْقَاسِمِ، أَخْبِرْنَا عَنِ الرَّعْدِ مَا هُوَ؟ قَالَ: مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، مَعَهُ مَخَارِيقُ مِنْ نَارٍ يَسُوقُ بِهَا السَّحَابَ حَيْثُ شَاءَ اللهُ. فَقَالُوا: فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِي نَسْمَعُ؟ قَالَ: زَجْرَةٌ بِالسَّحَابِ إِذَا زَجَرَهُ حَتَّى يَنْتَهِيَ إِلَى حَيْثُ أَمَرَ
Sekelompok Yahudi datang kepada Nabi n, mereka bertanya, “Wahai Abul Qasim, kabarkan kepada kami tentang guntur, apa itu?” Nabi berkata, “Ada salah satu malaikat Allah l yang diberi tanggung jawab atas awan. Ia membawa cemeti dari api yang dengannya ia menggiring awan ke arah yang dikehendaki oleh Allah.” Yahudi berkata, “Suara yang kita dengar, apakah itu?” Nabi berkata, “Itu hardikan malaikat saat menggiring awan menuju tempat yang Dia perintahkan.” (al-Hadits)6

Musibah Bukan Sekadar Fenomena Alam
Belum lepas dari ingatan kita berbagai musibah yang menimpa manusia di negeri ini: gempa bumi, tsunami, dan letusan berikut awan panas “wedus gembel” Merapi.
Hal yang tidak boleh lepas dari sanubari adalah keyakinan bahwa musibah itu tidak terjadi begitu saja tanpa perintah Allah l. Merapi tidak serta-merta meletus tanpa perintah. Lempengan bumi pun tidak begitu saja bergerak tanpa kehendak Sang Pencipta. Demikian pula, air laut tidak begitu saja meluap menenggelamkan manusia tanpa perintah Allah, Rabbul ‘Alamin.
Alam semesta adalah makhluk Allah l yang diatur dan diperintah. Allah l yang memerintahkan air bah menenggelamkan kaum Nuh q. Dia pula yang memerintahkan malaikat membalik bumi tempat kaum Luth tinggal. Dia juga yang memerintahkan Laut Merah memusnahkan Fir’aun beserta bala tentaranya. Inilah hakikat yang tidak boleh terlupakan dalam akidah seorang muslim.
Hendaknya manusia juga menyadari bahwa kerusakan tersebut sesungguhnya buah dari kezaliman manusia. Allah l tidak zalim. Akan tetapi, manusialah yang menzalimi diri-diri mereka. Allah l menimpakan semua itu agar manusia menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah l yang lemah. Hamba yang harus segera kembali kepada Allah l, bertaubat dari dosa dan kesalahannya. Demikian juga, agar mereka mengerti bahwa hanya Allah l lah, Dzat yang berhak diibadahi.
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Sejenak kita buka sejarah kaum Nuh q. Saat Allah l menghendaki kebinasaan atas kaum durhaka, tidak ada satu pun usaha yang bermanfaat walaupun seseorang pergi ke atas gunung yang tinggi.
Dan Nuh berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah, selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya. Jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 41—43)
Dialah yang Berhak Diibadahi
Jika alam semesta ini di bawah pengaturan Allah l, semua tunduk kepada Allah l, lantas pantaskah sesuatu selain Allah l yang diibadahi? Tentu jawabannya tidak.
Dalam ayat-ayat Al-Qur’an, manusia sering diingatkan bahwa Allah l adalah satu-satunya Dzat yang mengatur alam semesta, menciptakan, dan memberi rezeki, agar mereka menyadari bahwa hanya Allah l sajalah yang berhak untuk diibadahi. Tidak pantas manusia menyekutukan Allah l dengan para makhluk-Nya ketika beribadah. Allah l berfirman:
“Wahai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (al-Baqarah: 21—22)
Dalam Al-Qur’an, Allah l sering menampakkan kebatilan peribadatan kepada selain Allah l dengan mengingatkan manusia bahwa sesembahan selain Allah l adalah makhluk yang diatur, bukan yang mengatur; makhluk yang diciptakan dan tidak menciptakan. Makhluk yang demikian lemah dan fakir, apakah pantas diibadahi?
Katakanlah, “Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah/sesembahan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu andil pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.” (Saba’: 22)
Saat bencana menimpa, seharusnya manusia segera kembali kepada Allah l, bertobat kepada-Nya, dan mentauhidkan-Nya, tidak justru semakin bergantung kepada selain Allah l. Dengan ketakwaan, Allah l akan menjadikan sebuah negeri sebagai negeri yang diberkahi oleh Allah l. Jangan seperti negeri-negeri yang ingkar, yang membanggakan kecerdasan otaknya untuk menghadapi musibah. Alam bukan di tangan manusia tetapi di tangan Allah l. Dialah yang memerintah, Dia pula yang memutuskan.
Belum lepas dari ingatan kita gempa bumi yang menimpa Kota Kobe (Jepang) di tahun 90-an. Tidak ada yang memungkiri kemajuan Jepang dalam teknologi. Mata dunia terbelalak dengan kehebatan Jepang dalam teknologi. Kobe sejatinya sudah dipersiapkan sebagai kota antigempa. Semua konstruksi bangunan disiapkan dengan canggih untuk menghadapi gempa hingga lebih dari 8 Skala Richter (8 SR). Tetapi itu hanya angan manusia belaka. Di hadapan kekuasaan Allah l, tidak satu makhluk pun yang bisa menengadahkan kepalanya untuk sombong dan berbangga. Gempa dengan skala “hanya” lima koma sekian SR merayapi Kota Kobe. Dalam hitungan detik, tidak ada satu bangunan pun selamat. Gedung pencakar langit, jembatan layang, dan seluruh bangunan yang ada harus luluh lantak tertelan gempa.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain? Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah selain orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 96—99)
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari akibat perbuatan jelek diri kami!
Amin, ya Rabbal ‘Alamin.

 

Catatan Kaki:

1 Qarnu ats-Tsa’alib adalah Qarnu al-Manazil, miqat bagi penduduk Najd untuk melakukan ibadah haji atau umrah. Jaraknya sekitar 94 km dari Makkah, saat ini dikenal dengan nama as-Sailul Kabir.

2 Dua gunung yang dimaksud adalah gunung Abu Qubais dan gunung yang di hadapannya.

3 Mudallis adalah orang yang menampakkan hadits yang terputus sanadnya seakan-akan bersambung.
4 Sanad yang benar adalah Ibrahim bin Yazid, dari ayahnya yakni Yazid, dari Abu Dzar al-Ghifari z.

5 HR. Muslim “Kitabut Taubah” bab “Qabulut Taubati minadz Dzunub wa in Takarrarat adz-Dzunub wat Taubah (Bab Diterimanya Taubat Walaupun Dosa dan Taubatnya Terulang)” (4/2113 no. 2759) dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari z.

6 HR. at-Tirmidzi (4/257 no. 5121) dari Abdullah bin Abbas c. At-Tirmidzi berkata, “Hadits hasan sahih gharib.” Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/274). Asy-Syaikh Ahmad Syakir t dalam tahqiq beliau mengatakan, “Sanad hadits ini sahih.” Asy-Syaikh al-Albani t mengatakan tentang hadits ini, “Paling rendahnya, hadits ini berderajat hasan.” Lihat takhrijnya dalam ash-Shahihah (4/491–493).

Allah Memaafkan Hambanya Tapi Keras Siksaannya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
Para ulama ahli tafsir menyebutkan, ketika ayat ini turun, Rasulullah n bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah (musibah yang menimpa pada seorang hamba) berupa goresan kayu (yang melukai badan), salah urat, terkena batu, terkilir, melainkan karena dosa, dan apa yang Dia maafkan dari dosa itu lebih banyak.” Riwayat ini diriwayatkan oleh Hannad secara mursal pada kitab az-Zuhud melalui al-Hasan al-Bashri.
Riwayat ini dikuatkan oleh riwayat dari Abu Musa al-Asy’ari yang dikeluarkan oleh at-Tirmidzi dengan lafadz, “Tidaklah suatu musibah berat atau ringan, menimpa seorang hamba melainkan karena dosa, dan yang Dia l maafkan lebih banyak.”
Juga riwayat dari al-Bara’ bin Azib yang dikeluarkan oleh ath-Thabarani. Al-Imam as-Suyuthi t dalam kitabnya ad-Durrul Mantsur menisbahkan riwayat tersebut dikeluarkan oleh Sa’id bin Manshur, Abd bin Humaid, Ibnul Mundzir, dan Abu Hatim.
Ibnu Sa’d meriwayatkan dari Abu Mulaikah, dari Asma’ bintu Abu Bakr ash-Shiddiq c, beliau pernah pusing kemudian meletakkan tangannya di kepala seraya berkata, “Ini karena dosaku dan apa yang Allah l ampuni lebih banyak.”

Penjelasan Mufradat Ayat
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu.”
Yaitu, segala musibah yang menimpa manusia di dunia ini, baik pada jiwa, keluarga, maupun harta, seperti sakit dan yang lainnya.
“… adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.”
Artinya, disebabkan oleh dosa-dosa yang kalian lakukan. Al-Baghawi t berkata, “Orang-orang Syam membaca ayat ini tanpa huruf fa’ بِمَا كَسَبَتْ, demikian pula yang tertulis pada mushaf mereka. Huruf مَا yang ada di awal ayat bermakna الَّذِي sebagai isim mausul (bermakna ‘yang’).” Dihikayatkan dari Ibnu Malik t bahwa beliau berkata, “Perbedaan dua bacaan dalam ayat ini menunjukkan bahwa مَا pada awal ayat adalah isim maushul, terkadang pada khabarnya ada fa’ dan terkadang tidak.”
Asy-Syaukani berkata dalam tafsirnya Fathul Qadir, “Termasuk yang membaca tanpa fa’ dalam ayat ini adalah Nafi’ dan Ibnu Amir. Adapun yang lainnya memakai fa’. Huruf مَا pada awal ayat adalah syarthiyah. Oleh karena itu, fa’ masuk pada jawabu syarth, menurut bacaan jumhur qurra’. Menurut Sibawaih dan jumhur, fa’ dalam ayat ini (secara aturan bahasa Arab) tidak boleh dibuang/dihapus. Adapun al-Akhfas membolehkannya, semacam firman Allah l:
tanpa huruf fa’ sebelum ﮔ .

“(Dan) Allah memaafkan sebagian besar.”
Ibnu Katsir t berkata, “Maksudnya, (memaafkan) kesalahan-kesalahan sehingga tidak menghukum kalian atas dosa-dosa (tersebut), namun justru memaafkannya. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“(Dan) kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini suatu makhluk yang melata pun (manusia).” (Fathir: 45)
Demikian pula sabda Rasulullah n:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)

Penjelasan Ayat
Al-Imam ath-Thabari t memaparkan ucapan Ibnu Abbas tentang tafsir ayat ini, “Allah l menjadikan hukuman bagi orang-orang mukmin karena dosa-dosa mereka (di dunia) dan tidak akan menyiksa mereka di akhirat karena dosa.”
Al-Hasan al-Bashri t mengatakan bahwa ayat ini diterapkan pada permasalahan hukum-hukum had (seperti qishash, rajam, dan yang lain, -pen.).
Al-Alusi t mengatakan bahwa ayat ini tertuju secara khusus kepada para pelaku dosa dari kalangan kaum muslimin dan selain mereka. Hal ini karena orang yang tidak punya dosa, seperti para nabi, terkadang juga tertimpa musibah. Dalam hadits Nabi n:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya.” (HR. al-Imam al-Hakim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan yang lain)
Jadi, musibah yang menimpa mereka adalah untuk mengangkat derajat atau untuk hikmah lain yang tidak kita ketahui.
Anak-anak dan orang gila tidak masuk dalam pembicaraan ayat ini, karena ayat ini ditujukan bagi orang-orang yang mukallaf (dibebani hukum syariat). Anggaplah mereka termasuk dalam ayat ini, tetapi mereka bukanlah termasuk para pelaku dosa, sehingga musibah yang menimpa mereka memiliki hikmah tersendiri yang tidak diketahui, bukan karena dosa.
Ada yang berpendapat, musibah yang menimpa anak-anak adalah untuk mengangkat derajat mereka dan derajat kedua orang tuanya, atau orang yang memberi kasih sayang kepada mereka dengan kesabaran yang indah.
Musibah terkadang juga menjadi hukuman atas suatu dosa dan balasan atasnya, yang kelak di hari kiamat ia tidak akan disiksa.
Asy-Syaikh as-Sa’di berkata dalam Tafsir-nya, “Dalam ayat ini, Allah l menyatakan bahwasanya musibah apa pun yang menimpa hamba (manusia) baik pada badan, harta, maupun anak-anak mereka terhadap apa saja yang mereka senangi yang mana hal itu merupakan perkara yang sangat mereka cintai, kecuali karena perbuatan tangan mereka sendiri berupa kesalahan/dosa dan yang Allah l maafkan darinya (kesalahan dan dosa) lebih banyak, karena Allah l tidak menganiaya hamba (manusia). Akan tetapi, mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri.” Allah l berfirman:
“(Dan) kalau sekiranya Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini suatu makhluk yang melata pun (manusia)” (Fathir: 45).
Diakhirkannya hukuman oleh Allah l itu tidak berarti mereka dibiarkan (tidak diazab kelak di hari kiamat). Tidak pula berarti bahwa Allah l tidak mampu mengazabnya.

Di Antara Kisah Umat Terdahulu
Barang siapa yang membaca Al-Qur’an akan mendapati bahwa ia memuat janji dan ancaman (al-wa’du wal wa’id), penyemangat dan pemberi rasa takut (at-targhib wa tarhib), nasihat dan peringatan (mau’izhah wa tadzkir), kisah keadaan umat yang telah lalu beserta berbagai bencana dan azab yang menimpa mereka. Semua itu bertujuan memperingatkan manusia tentang amal dan perbuatan mereka, supaya manusia menjauhi jalan yang mereka tempuh. Dengan demikian, manusia selamat dari sebab-sebab yang mengakibatkan kebinasaan dan kehancuran.
Al-Qur’an menyebutkan berbagai macam musibah, bencana, azab, dan sebab terjadinya. Di antara ayat yang paling rinci menyebutkan tentang gempa, baik dari sisi sebab kejadian, kekuatan, akibat yang ditimbulkan, maupun arah munculnya adalah firman Allah l:
”Sesungguhnya orang-orang sebelum mereka telah mengadakan makar, maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (an-Nahl: 26)
Di antara keajaiban surat an-Nahl adalah penyebutan gempa bumi secara detil. Manusia diancam dengan terjadinya gempa, jika mereka mengadakan makar yang jahat. Padahal, an-Nahl merupakan surat yang paling banyak menyebutan nikmat-nikmat Allah l baik yang bersifat maknawi maupun hissi (fisik), berikut rincian manfaatnya. Sampai-sampai, seorang ulama tabi’in yang mulia, Qatadah bin Di’amah as-Sadusi t menamai dengan “Suratun Ni’am” (surat yang menyebutkan banyak kenikmatan) karena banyaknya ayat yang menyebutkan tentang kenikmatan.
Di antara nikmat yang bersifat maknawi dalam surat ini adalah wahyu, Al-Qur’an, adz-dzikr, tauhid, agama yang lurus, penjagaan dari setan, dan yang lainnya. Adapun nikmat yang bersifat hissi (yang tampak) antara lain penciptaan, rezeki, pendengaran, penglihatan, hati, makanan, minuman, pakaian, tunggangan, tempat tinggal, pernikahan, hewan ternak, matahari, rembulan, bintang, lautan, dan yang lain.
Karena itu, tidakkah manusia membayangkan bahwa surat yang dipenuhi dengan penyebutan nikmat Allah l ini, enam ayat menyebutkan lafadz nikmat. Setelah penyebutannya, Allah l berfirman:
“(Dan) jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.” (an-Nahl: 18)
Kemudian Allah l menutup penyebutan berbagai nikmat-Nya ini dengan perintah untuk mensyukurinya. Allah l berfirman:
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan oleh Allah kepadamu, dan syukurilah nikmat Allah, jika hanya kepada-Nya kamu beribadah.” (an-Nahl: 114)
Allah l kemudian menyebutkan sosok seseorang yang dapat mensyukuri nikmat Allah l, yaitu Nabi Ibrahim q supaya menjadi contoh teladan bagi yang lain. Allah l berfirman:
”(Lagi) yang mensyukuri nikmat nikmat Allah.” (an-Nahl: 121)
Di dalam surat ini pula Allah l menyebutkan golongan lain yang kehidupannya berlawanan. Mereka tidak mau mensyukuri nikmat Allah l. Mereka disebutkan dalam tiga ayat, yaitu firman Allah l:
“Maka mengapa mereka mengingkari nikmat Allah?” (an-Nahl: 71)
“Maka mengapakah mereka beriman kepada yang batil dan mengingkari nikmat Allah?” (an-Nahl: 72)
“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir.” (an-Nahl: 83)
Setelah itu, Allah l memberi contoh suatu negeri yang penduduknya tidak mau mensyukuri nikmat. Allah l berfirman:
“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat nikmat Allah. Oleh karena itu, Allah merasakan atas mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat.” (an-Nahl: 112)
Faedah yang dapat kita ambil dari pemaparan surat ini antara lain bahayanya mengkufuri nikmat Allah l dan bahayanya melakukan sesuatu yang menjadi penyebab turunnya hukuman, siksaan, dan azab, yang kesalahan dan dosa merupakan sebab terjadinya gempa.
Pada surat ini, Allah l mengaitkan terjadinya gempa dengan makar jahat yang dilakukan manusia. Makar jahat adalah melakukan tipu muslihat. Termasuk dalam hal ini adalah melakukan tipu muslihat terhadap syariat, yaitu upaya untuk meruntuhkan syariat, atau menghalalkan yang haram, atau memalingkan dalil-dalil Al-Qur’an dengan menafsirkan dan memaknai menurut selera manusia.

Pelajaran yang Bisa Diambil
a. Segala bentuk musibah yang menimpa manusia sebabnya adalah dosa.
b. Musibah itu bersifat umum, baik yang bersifat hissi maupun maknawi, yang berat maupun yang ringan, seperti tertusuk duri, pusing, dan yang semisalnya.
c. Allah l memaafkan sebagian besar kesalahan manusia, dan tidak menyiksa atas semua kesalahan mereka.
d. Banyak kesalahan yang dimaafkan tidak berarti jaminan keselamatan atas hukuman/siksaan di hari kemudian. Bisa jadi, itu sebuah penundaan.
Firman Allah l:
“Dan kalau Allah menyiksa manusia disebabkan usahanya, niscaya Dia tidak akan meninggalkan di atas permukaan bumi ini satu pun makhluk yang melata (manusia), akan tetapi Allah menangguhkan (penyiksaan) mereka, sampai waktu yang tertentu. Apabila datang ajal mereka, sesungguhnya Allah adalah Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (Fathir: 45)
e. Allah Maha Pengampun, memaafkan banyak kesalahan dan dosa, akan tetapi siksaan-Nya sangat keras dan seringnya merata. Allah l berfirman:
“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.” (al-Anfal: 25)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber:
– al-Maktabah asy-Syamilah
– Tafsir as-Sa’di
– Risalah al-‘Uqubat ar-Rabbaniyyah

Solusi dari Musibah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Kehidupan dunia adalah tempat kesusahan dan kepayahan, bukan tempat untuk bernikmat-nikmat dan bersenang-senang tanpa rintangan. Allah l menciptakan makhluk-Nya agar mereka beribadah hanya kepada-Nya. Dia menguji mereka dengan kebaikan dan keburukan agar diketahui siapa yang paling baik amalannya. Dia menguji untuk mengangkat derajat dan memperbesar pahala mereka, serta memisahkan orang yang buruk dari yang baik, memisahkan orang mukmin dari orang munafik.
Allah l berfirman:
“Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan golongan yang buruk itu sebagian di atas sebagian yang lain, lalu semuanya Dia tumpuk, kemudian Dia masukkan ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Anfal: 37)
Musibah apa pun yang menimpa manusia, daerah dan negeri mana pun yang dilanda, telah ditetapkan dan ditakdirkan oleh Allah l. Sakit yang diderita dan bencana merata yang menimpa adalah karena perbuatan tangan manusia.
Manusia telah melakukan berbagai upaya untuk mencari solusi dari musibah dan bencana. Untuk menghadapi musibah yang akan terjadi, dibuatlah berbagai solusi berdasarkan pengalaman yang telah lalu. Untuk bencana tsunami, mereka membuat suatu alat yang berfungsi mengeluarkan peringatan jika terdapat ancaman tsunami di wilayah tertentu. Di wilayah sekeliling Samudra Pasifik, mereka memiliki PTWC (Pacific Tsunami Warning Centre). Di Indonesia, juga dikembangkan sistem peringatan dini tsunami: InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System) yang berpusat di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jakarta. Sistem ini dibantu oleh seismograf (alat pencatat gempa), yang melalui satelit, informasi gempa (kekuatan, lokasi, waktu kejadian) dikirimkan ke BMKG Jakarta.
Menghadapi letusan gunung berapi, pemerintah membuat rambu-rambu peringatan sebagai isyarat akan terjadinya bahaya. Dibuatlah derajat keaktifan gunung berapi di Indonesia: normal (tidak ada gejala aktivitas tekanan magma), waspada (ada aktivitas apa pun bentuknya), siaga (sedang bergerak ke arah letusan/ada bencana), dan awas (sedang terjadi letusan atau keadaan kritis).
Hampir semua pihak berusaha mencari solusi dari musibah dan bencana agar didapatkan keamanan dan keselamatan, tidak ada kerugian dalam bentuk apa pun. Namun, bertolak dari sikap kebanyakan orang terhadap musibah dan bencana—yang menganggapnya sebatas fenomena dan proses alam semata—kebanyakan solusi yang ditempuh juga sebatas tinjauan materi, dunia, dan keselamatan nyawa, tanpa memerhatikan sisi keselamatan akidah atau agama. Betul, setiap orang pasti ingin menyelamatkan jiwa dan harta bendanya. Namun, apabila hal itu menyebabkan binasa akhiratnya, apalah arti sebuah kehidupan baginya?
Perlu diketahui bersama, bukanlah maksud dan tujuan yang paling utama dalam masalah ini adalah semata-mata keselamatan badan atau perbaikan sisi duniawi/lahiriah. Bahkan, yang lebih penting dari itu semua adalah keselamatan hati (perbaikan sisi batiniah). Jika hatinya baik dan istiqamah, seseorang akan memperoleh keselamatan jiwa dan hati, di dunia dan akhirat. Namun, jika hati telah rusak, keinginan hawa nafsu akan menguasai dirinya dan menuntutnya untuk memenuhi segala hal yang menjadi kesenangannya, walaupun Allah l tidak menyukainya. Urusannya bisa sampai pada menghadapi kemurkaan Allah l dan hukuman-Nya. Tipu daya dan usaha apa pun yang dia lakukan untuk menyelamatkan badan dari malapetaka dan bencana, tidak mungkin mampu mencegah azab Allah l, jika telah ditetapkan bahwa ia terkena azab karena dosanya, meskipun ia membuat tempat tinggalnya semua dari besi atau dibangun di lapisan bumi yang paling dalam. Hal ini tidak bermanfaat karena ia telah meninggalkan penjagaan yang bersifat syar’i. Andaikata Allah l menyelamatkannya di dunia, ia telah menawarkan dirinya untuk azab akhirat. Padahal, azab akhirat lebih keras dan lebih menghancurkan.
Oleh sebab itu, tatkala terjadi gempa di Madinah di masa Umar bin al-Khaththab z, beliau berkhutbah. Isinya tidak mengarahkan manusia ke tempat perlindungan (tempat pengungsian), mendirikan bangunan dengan sifat tertentu (seperti rumah antigempa, dan sebagainya). Beliau z justru mengarahkan manusia menuju perkara yang lebih penting, yaitu bertaubat karena yang menyebabkan terjadinya gempa adalah kemaksiatan. Demikian pula apa yang diucapkan oleh Abdullah bin Mas’ud z ketika terjadi gempa bumi di masa beliau. Beliau z berkata, “Sesungguhnya Rabb kalian meminta—dengan gempa ini—supaya kalian kembali kepada apa yang menjadi keridhaan-Nya.”
Hal ini tidak berarti mengesampingkan usaha-usaha yang bersifat materi karena keselamatan jiwa juga dijaga oleh Islam. Itu semua termasuk usaha yang penting. Namun, ada yang lebih penting dan tidak boleh dikesampingkan, yaitu apa yang akan disebutkan di bawah ini.
Perhatian yang bersifat materi, semata-mata hanya untuk keselamatan badan dan mengharapkan tetap hidup termasuk sifat orang-orang kafir, sebagaimana firman Allah l:
“Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba/tamak kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)
Seorang mukmin yang benar imannya akan menempuh jalan menuju keridhaan Allah l meskipun dengan risiko kehilangan nyawa dan rusaknya badan, seperti yang terjadi pada orang yang berjihad fi sabilillah.
Berikut ini beberapa solusi dari musibah.
1. Taubat dan istighfar
Sebab terbesar untuk menggapai rahmat Allah l dan memperoleh kebaikan serta berkah adalah bertaubat kepada Allah l dan memohon ampun kepada-Nya. Nabi Nuh q berkata ketika mengingatkan kaumnya, sebagaimana firman Allah l:
“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Rabbmu—sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun—, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anakmu, serta mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai’.” (Nuh: 10—12)
Hal yang semisal juga dilakukan oleh Nabi Shalih dan Nabi Syu’aib e kepada kaumnya. Nabi kita Muhammad n pun memperbanyak istighfar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dari Ibnu Umar c, ia berkata, “Kami menghitung istighfar Rasulullah n dalam satu kali majelis sebanyak seratus kali. Beliau membaca:
رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ، إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Pennyayang.”
‘Aisyah berkata, “Adalah Rasulullah n memperbanyak dalam istighfarnya sebelum beliau meninggal dengan membaca:
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
”Mahasuci Engkau ya Allah, Rabb kami, dengan memuji-Mu ya Allah, ampunilah aku.”
Kemudian, istighfar dengan lisan tanpa disertai meninggalkan dosa tidaklah cukup. Ibnul Qayyim t berkata, ”Orang yang terang-terangan melakukan dosa lalu memohon kepada Allah l ampunan-Nya, ini tidak termasuk bentuk istighfar yang mutlak. Oleh karena itu, hal ini tidak menghalangi (pembacanya) dari berbuat dosa.”

2. Menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar
Allah l berfirman:
“Maka mengapa tidak ada dari umat-umat yang sebelum kamu orang-orang yang mempunyai keutamaan yang melarang (mengerjakan) kerusakan di muka bumi, melainkan sebagian kecil di antara orang-orang yang telah Kami selamatkan di antara mereka, dan orang-orang yang zalim hanya mementingkan kenikmatan yang mewah yang ada pada mereka, dan mereka adalah orang-orang yang berdosa. Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedangkan penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Hud: 116—117)
Al-Hafizh dalam al-Fath menukil ucapan sebagian ahlul ilmi, “Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi mungkar adalah orang-orang mukmin yang sesungguhnya. Tidak akan dikirim azab bahkan kepada mereka. Karena merekalah Allah l menjauhkan azab.”

3. Berjihad di jalan Allah l
Berjihad di jalan Allah l dengan jiwa dan harta adalah solusi penolak bala.

4. Sedekah dan berbuat ihsan
Memperbanyak sedekah dan berbuat ihsan (baik), juga menjadi sebab tertolaknya bencana.
Dari Abu Umamah z, Rasulullah n bersabda:
صَنَائِعُ الْمَعْرُوفِ تَقِي مَصَارِعَ السُّوءِ، وَصَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ تَزِيدُ فِي الْعُمُرِ
“Penyeru kebaikan mencegah pengajak keburukan, sedekah yang dirahasiakan akan meredam kemurkaan Rabb, menyambung tali silaturahim akan menambah umur.” (HR. ath-Thabarani)

5. Berlindung hanya kepada Allah l
Termasuk perkara yang menjadi sebab keberuntungan dan solusi dari musibah adalah kesungguhan dalam memohon hanya kepada Allah l, merendahkan diri kepada-Nya, berlindung hanya kepada-Nya, dan meminta tolong hanya kepada-Nya.
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus (rasul-rasul) kepada umat-umat sebelum kamu, kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) kesengsaraan dan kemelaratan, supaya mereka memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.” (al-An’am: 42)

Sebab Musibah Menimpa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Banyak manusia yang tidak mengetahui tentang berbagai hal yang menjadi sebab terjadinya musibah, hikmah Allah l dalam hal ini, dan berbagai pengaruh bencana serta musibah—yang syar’i atau qadari (alami)—terhadap orang yang terkena musibah. Yang perlu dipahami, bukanlah suatu kemestian bahwa musibah menimpa sebagian orang karena dosa mereka lebih besar ketimbang dosa selain mereka yang tidak terkena musibah.
Musibah yang terjadi di negeri muslim dan tidak terjadi di negeri-negeri yang zalim, tidak menunjukkan bahwa negeri zalim itu selamat dari bencana. Ketahuilah, bencana yang terjadi tidak hanya berwujud gempa, tsunami, letusan gunung berapi, badai, dan yang lainnya. Akan tetapi, bencana bisa berwujud kekacauan keamanan, lemahnya perekonomian, menyebarnya penyakit, kebakaran yang menakutkan, peperangan yang menghancurkan, yang semuanya berujung pada kematian sekian ribu jiwa. Semua ini terjadi di negeri-negeri zalim yang secara lahir selamat dari bencana alam. Berapa ratus ribu jiwa penduduk Eropa yang mati selama dua kali perang dunia? Berapa banyak Amerika dan Rusia kehilangan tentaranya pada tahun-tahun terakhir invasi yang mereka lakukan?
Britania Raya (Inggris) dulu dikenal sebagai negara yang tidak pernah matahari tenggelam di sana. Uni Soviet terkenal dengan berpuluh-puluh negara bagiannya. Namun, tiba-tiba kedua negara tersebut tercerai-berai menjadi negara-negara kecil. Berapa banyak negara yang dahulu mereka cerai-beraikan serta berapa banyak mereka dahulu melakukan penindasan dan kezaliman?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Sesungguhnya mayoritas manusia pada hari ini mengaitkan musibah yang terjadi—baik dalam hal perekonomian, keamanan, maupun politik—dengan sebab yang bersifat materi saja. Tidak diragukan, hal ini menunjukkan dangkalnya pemahaman, lemahnya keimanan, serta kelalaian mereka dari menelaah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Sesungguhnya, di balik sebab-sebab tersebut ada sebab lain yang bersifat syar’i. Sebab yang syar’i ini lebih kuat dan lebih besar pengaruhnya daripada sebab-sebab yang bersifat materi. Namun, sebab yang bersifat materi terkadang menjadi perantara untuk terjadinya musibah atau azab karena adanya tuntutan dari sebab yang syar’i. Allah l berfirman:
ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋ ﰌ ﰍ
”Telah tampak kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan oleh perbuatan tangan manusia. Allah ingin merasakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Kehidupan manusia yang semakin jauh dari bimbingan agama mengakibatkan terbentuknya pola pikir yang senantiasa berorientasi kepada keduniaan dan materi semata. Berbagai bencana dan musibah yang terjadi sering dicermati sebatas kejadian (fenomena) alam dan keterkaitannya dengan materi, tanpa dihubungkan dengan kehendak Allah Yang Mahakuasa, kemudian disebabkan oleh perbuatan tangan (dosa, kesalahan) manusia.
Menurut para ahli geologi, bencana adalah suatu kejadian alam. Disebut bencana apabila mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, sarana dan prasarana, serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan dan masyarakat. Penebangan hutan menjadi penyebab utama banjir. Namun, apabila kejadian alam itu tidak sampai mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, apalagi kerugian harta benda dan kerusakan sarana/prasarana lain, kejadian alam itu disebut sebagai fenomena alam biasa.
Bencana alam sebenarnya merupakan proses alam dengan intensitas yang melebihi normal, seperti gempa bumi, letusan gunung api, longsoran, dan gelombang badai.
Bencana dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik alam maupun oleh aktivitas manusia. Faktor alam yang menyebabkan bencana ada yang berasal dari luar, seperti banjir, erosi, gerakan tanah, kekeringan, dan ada yang berasal dari dalam seperti gempa bumi, gelombang pasang, letusan gunung api (hujan abu, aliran lahar panas dan dingin). Adapun bencana yang diakibatkan oleh aktivitas manusia, di antaranya adalah menurunnya kualitas lingkungan, penggundulan hutan yang mengakibatkan bencana kekeringan, erosi/banjir, gempa bumi akibat pembangunan dan penurunan tanah/amblesan, longsoran, dan akibat tindakan manusia (yang mengembangkan wilayah tanpa berwawasan lingkungan).
Menurut mereka, gempa bumi adalah getaran atau goncangan yang terjadi di permukaan bumi yang biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Para ahli gempa mengklasifikasikan gempa menjadi dua katagori: gempa intralempeng (intraplate) yaitu gempa yang terjadi di dalam lempeng itu sendiri dan gempa antarlempeng (interplate) yaitu gempa yang terjadi di batas antara dua lempeng. Ditinjau dari proses terjadinya, ahli geologi membagi gempa bumi menjadi lima jenis.
1. Gempa bumi vulkanik (gunung api)
Menurut mereka, gempa ini disebabkan oleh aktivitas magma yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Jika keaktifannya semakin tinggi, akan menimbulkan ledakan yang mengakibatkan gempa bumi. Getaran terkadang dapat dirasakan oleh manusia dan hewan di sekitar gunung berapi itu. Salah satu perkiraan meletusnya gunung tersebut ditandai dengan sering terjadinya getaran-getaran gempa vulkanik.
2. Gempa bumi tektonik
Menurut mereka, gempa ini disebabkan oleh aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng tektonik secara mendadak, yang mempunyai kekuatan bervariasi dari sangat kecil hingga sangat besar. Gempa bumi ini sering menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi. Getaran gempa yang kuat mampu menjalar ke seluruh bagian bumi. Seperti yang diketahui, kulit bumi terdiri dari lempeng-lempeng tektonik yang terdiri dari lapisan-lapisan batuan. Tiap-tiap lapisan memiliki kekerasan dan massa jenis yang berbeda. Lapisan kulit bumi tersebut mengalami pergeseran akibat arus konveksi yang terjadi di dalam bumi.
3. Gempa bumi runtuhan
Biasanya terjadi di daerah kapur atau pertambangan. Gempa bumi ini bersifat lokal dan jarang terjadi. Gempa runtuhan atau terban adalah gempa yang terjadi karena adanya runtuhan tanah atau batuan. Lereng gunung, pantai yang curam, kawasan tambang atau terowongan tambang bawah tanah, memiliki energi potensial yang besar ketika runtuh yang dapat menimbulkan getaran di sekitar daerah runtuhan. Namun, dampaknya tidak begitu membahayakan. Justru dampak yang berbahaya adalah akibat timbunan batuan atau tanah longsor itu sendiri.
4. Gempa jatuhan
Menurut mereka, gempa ini disebabkan oleh benda-benda dari luar atmosfir bumi yang jatuh dan kadang sampai ke permukaan bumi. Benda yang jatuh ini akan menimbulkan getaran bumi jika massanya cukup besar. Getaran ini disebut getaran jatuhan dan jarang sekali terjadi.
5. Gempa buatan
Gempa buatan ialah gempa bumi yang disebabkan oleh aktivitas manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir, atau palu yang dipukulkan ke permukaan bumi. Suatu percobaan peledakan nuklir bawah tanah atau bawah laut dapat menimbulkan getaran bumi yang dapat tercatat oleh seismograf di seluruh permukaan bumi, tergantung kekuatan ledakan. Ledakan dinamit di bawah permukaan bumi juga dapat menimbulkan getaran meskipun efeknya sangat kecil.
Menurut catatan sejarah, letusan gunung berapi yang paling dahsyat yang pernah diketahui dan hampir memusnahkan generasi kehidupan di masa itu adalah letusan yang terjadi di Indonesia dari Toba supervolcano (sekarang menjadi Danau Toba). Letusan itu tidak bisa dibandingkan dengan apa pun yang telah dialami di bumi ini. Bahkan, Krakatau yang menyebabkan puluhan ribu korban jiwa hanyalah sebuah sendawa kecil jika dibandingkan dengannya. Padahal, Krakatau memiliki daya ledak setara dengan 150 megaton TNT (Trinitrotoluena, satu jenis bahan peledak, -red.). Sebagai perbandingan, ledakan Bom nuklir Hiroshima hanya memiliki daya ledak 0,015 megaton. Walhasil, secara perhitungan daya musnah bom nuklir Hiroshima 10.000 kali lebih lemah dibandingkan Krakatau.
Tsunami, menurut sebagian orang, kata ini berasal bahasa Jepang, tsu: pelabuhan, dan name: gelombang. Secara harfiah berarti “ombak besar di pelabuhan.” Penyebabnya adalah perpindahan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal (tegak) secara tiba-tiba. Perubahan ini bisa disebabkan gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau hantaman meteor di laut.
Banyak orang memandang semua kejadian di atas dari sisi ilmu pengetahuan alam semata. Mereka menyatakan bahwa ini hanya merupakan proses alam, tidak ada hubungannya dengan azab.
Pada hakikatnya, semua yang terjadi tidak lepas dari kehendak Allah l. Dengan demikian, musibah dan bencana bukan proses alam semata. Kalau saja proses alam itu mampu memberi manfaat (berbuat), sungguh ia akan bermanfaat dengan sendirinya. Proses alam tidak memiliki daya pengaruh melainkan dengan izin Allah l dan kehendak-Nya. Alam yang berupa tanah (baik yang padat, keras, tandus, bebatuan, lembek, maupun gembur), gunung, laut, dan yang lainnya adalah makhluk Allah l yang tergolong benda mati. Akan tetapi, jika Allah l menghendaki bumi bernapas, akan terjadi pula. Hal ini seperti dalam firman Allah l:
”Dan apabila bumi diratakan, dan ia memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, dan ia patuh kepada Rabbnya, dan sudah semestinya bumi itu patuh, (pada waktu itu manusia akan mengetahui akibat perbuatannya).” (al-Insyiqaq: 3—5)
Sesungguhnya, Allah l telah menjadikan segala sesuatu memiliki sebab. Kebaikan memiliki sebab, demikian pula keburukan. Barang siapa menjalani sebab kebaikan, ia akan dekat untuk mencapai kebaikan. Sebaliknya, siapa yang menempuh jalan keburukan dan mengambil sebab-sebabnya, akan terjatuh padanya pula. Sebab-sebab yang disebutkan dalam syariat menjelaskan bahwa barang siapa yang terlibat dengannya, pantas diturunkan hukuman atasnya.
Di antara perkara yang menjadi sebab terjadinya musibah adalah sebagai berikut.
1. Syirik dan mendustakan (ajaran) para rasul
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t berkata dalam nasihat beliau seputar masalah gempa bumi, “Abu Syaikh al-Ashbahani telah meriwayatkan dari Mujahid t tentang tafsir ayat:
Katakanlah, ‘Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan azab kepadamu, dari atas kamu.’ (al-An’am: 65)
Ia berkata, ‘Yaitu suara keras yang mengguntur, batu, dan angin.’
‘Atau dari bawah kaki kalian.’
Ia berkata, ‘Yaitu gempa bumi, dibenamkan ke dalam bumi (beserta segala sesuatu yang ada di atasnya)’.”
Tidak diragukan bahwa gempa bumi yang terjadi pada hari-hari ini di berbagai tempat termasuk bagian dari tanda-tanda (kekuasaan Allah l). Dengannya, Allah l ingin menakut-nakuti para hamba-Nya. Segala yang terjadi di alam ini—baik gempa bumi maupun yang lain—yang membahayakan dan merugikan manusia serta menyebabkan timbulnya berbagai macam bahaya, kesusahan, kerugian, hal yang menyakitkan, semua itu terjadi karena kesyirikan dan kemaksiatan.”
Adapun para rasul, Allah l menguatkan kedudukan mereka melalui ayat-ayat yang hissi (indrawi) maupun maknawi (abstrak) dengan berbagai argumen yang mematahkan hujjah lawan, hujjah yang tak terbantahkan, baik yang tersebar di alam luas maupun yang terdapat di dalam jiwa manusia. Allah l berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar.” (Fushshilat: 53)
Allah l menjanjikan kenikmatan yang tetap kepada orang-orang yang beriman kepada para rasul. Di sisi lain, Dia mengancam orang-orang yang menyelisihi (mereka) dengan azab dan siksaan di dunia dan akhirat.
Di antara ayat yang memberitakan tentang peristiwa yang menimpa umat yang terdahulu adalah:
“Maka mereka mendustakan Nabi Nuh. Kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam kapal (bahtera) dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (al-A’raf: 64)

2. Dosa dan kemaksiatan
Allah l berfirman:
“Maka masing-masing Kami siksa disebabkan dosanya. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil. Di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. Di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (al-‘Ankabut: 40)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Di antara perkara yang dimaklumi bersama tentang sebagian tanda (kekuasan) Allah l yang Dia tampakkan kepada kita di segala tempat, pada diri kita, dan apa yang dinyatakan oleh Allah l dalam Al-Qur’an adalah bahwa dosa dan kemaksiatan merupakan penyebab terjadinya musibah.”
Ka’b berkata, “Gempa di bumi hanya terjadi apabila dilakukan kemaksiatan di sana.”

3. Menyuburkan riba, memusnahkan sedekah (zakat)
Dalam hadits disebutkan:
مَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلاَّ ابْتَلَاهُمُ اللهُ بِالسِّنِينَ
“Tidaklah suatu kaum menahan zakat, melainkan Allah l menurunkan bencana musim paceklik.” (HR. ath-Thabarani dari Abdullah bin Buraidah, dari ayahnya)
وَلَا مَنَعَ قَوْمٌ الزَّكَاةَ إِلَّا حَبَسَ اللهُ عَنْهُمُ الْقَطْرَ
“Dan tidaklah suatu kaum menahan zakat, melainkan Allah l menahan dari mereka turunnya hujan.” (HR. al-Hakim, Ibnu Majah, dan al-Baihaqi, dari sahabat Ibnu Umar c)
Utsman bin Affan z berkata, ”Tidaklah satu kaum menghalalkan riba melainkan Allah l menimpakan kefakiran dan kebutuhan kepada mereka.”
Ibnul Qayyim t mengatakan, ”Perhatikanlah hikmah Allah l ketika menahan turunnya hujan kepada para hamba-Nya dan menimpakan kekeringan kepada mereka ketika mereka tidak mengeluarkan zakat serta menghalangi orang-orang miskin dari haknya. Bagaimana bisa mereka memandang boleh menahan hak orang-orang miskin yang ada pada mereka berupa makanan, dengan risiko Allah l menahan materi yang menjadi sebab keluarnya makanan dan rezeki, Allah l menghalanginya dari mereka. Seakan-akan, Allah l berfirman kepada mereka, ‘Kalian telah menahan hak orang-orang miskin maka hujan pun ditahan dari kalian. Lalu mengapa kalian tidak meminta turunnya hujan dengan mengeluarkan milik Allah l yang ada pada kalian?’.”

4. Ketika umat tidak beramar ma’ruf nahi mungkar
Apabila umat terdiam dan meninggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, hal itu menjadi sebab hukuman bagi seluruhnya, termasuk orang-orang yang saleh di antara mereka.
Dalam sebuah riwayat dari jalan Qais bin Abi Hazim: Aku mendengarkan Abu Bakr berkata di atas mimbar, “Wahai manusia, aku memerhatikan kalian menafsirkan ayat ini:
‘Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah yang sesat itu memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.’ (al-Maidah: 105)
Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Sesungguhnya, apabila kemaksiatan telah terjadi di tengah-tengah manusia dan tidak ada yang mengingkarinya, Allah l akan menimpakan hukuman (musibah) yang merata kepada mereka’.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, an-Nasa’i, al-Baihaqi, dan Ibnu Hibban)

5. Munculnya kebid’ahan (perkara baru) dalam agama
Ketika terjadi gempa bumi di Madinah pada masa kekhalifahan Umar bin al-Khaththab z, beliau berkata, “Kalian telah mengada-adakan perkara baru dalam agama! Demi Allah, kalau ini kembali berulang, aku akan pergi dari tengah-tengah kalian.”

6. Munculnya berbagai kekejian
Dari Abdullah bin Umar c, beliau berkata, “Suatu ketika Rasulullah n menghadapkan wajah kepada kami, lalu bersabda, ‘Wahai segenap kaum Muhajirin, ada lima perkara yang jika kalian diuji dengannya—dan aku berlindung kepada Allah l agar kalian tidak sampai menjumpainya—tidaklah bermunculan perbuatan keji pada suatu kaum lalu mereka melakukannya terang-terangan melainkan akan menyebar di kalangan mereka penyakit tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi pada pendahulu mereka di masa lalu’.” (HR. al-Hakim dan Ibnu Majah)

7. Musik dan minuman keras
Dari Imran bin Hushain z, Rasulullah n bersabda:
“Pada umat ini akan ada azab berupa pembenaman (ke dalam bumi), pengubahan wujud mereka, dan hujan batu.” Salah seorang kaum muslimin bertanya, “Kapan itu terjadi, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apabila bermunculan biduanita, alat-alat musik, dan khamr banyak diminum.” (HR. at-Tirmidzi)

Sikap Muslim dalam Menghadapi Musibah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Berbagai bencana yang terjadi, baik di masa silam maupun sekarang, menjadi salah satu tanda terbesar atas keagungan Allah l. Dalam waktu yang singkat, bencana yang menimpa, seperti gempa, tsunami, banjir, badai (angin topan), gunung meletus, dan yang lain, telah menghancurkan berbagai tempat di belahan muka bumi ini. Sekian ratus ribu jiwa melayang, baik manusia maupun hewan yang berada di daratan dan lautan.
Hanya beberapa detik saja bencana tersebut terjadi, sekian ribu mil daerah yang berada dari pusat bencana terkena imbasnya. Ini baru beberapa detik, bagaimana halnya jika lebih lama waktunya? Bencana ini terjadi di sebagian tempat, bagaimana jika terjadi di berbagai tempat bencana yang serupa?! Ini baru bencana bumi yang terjadi di dunia sekarang, bagaimana halnya dengan bencana yang akan terjadi pada hari kiamat yang akan datang?!
Allah l berfirman:
“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit, dan mereka semuanya (di Padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa.” (Ibrahim: 48)
“Apabila matahari digulung, apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan.” (at-Takwir: 1—3)
“Apabila langit terbelah, apabila bintang-bintang jatuh berserakan, dan apabila lautan dijadikan meluap.” (al-Infithar: 1—3)
“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya (yang dahsyat) dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya.” (az-Zalzalah: 1—2)
Jika berbagai bencana dan musibah terjadi, tidak bisa dimungkiri, sebuah kepastian di hari kemudian—hari yang semua manusia tidak akan bisa menghindar dari ketetapan yang telah ditentukan—akan terjadi berbagai peristiwa yang tak terbayangkan.
Semoga semua yang berlalu menjadi pelajaran, bukan hanya catatan atau dongeng. Hendaknya semua yang telah berlalu itu mewariskan sikap dalam diri seorang muslim yang beriman untuk kelangsungan hidup dirinya dan semua insan; sesuatu yang bermanfaat untuk pribadi, agama, dan umat secara keseluruhan.
Beberapa sikap yang hendaknya dimiliki oleh seorang muslim dalam menghadapi musibah adalah sebagai berikut.
1. Menganggapnya sebagai pelajaran, peringatan, bukan sekadar fenomena alam biasa
Berbagai bencana, perubahan alam, dan azab yang terjadi zaman sekarang, seperti gempa, badai, banjir, kekeringan, kemarau, paceklik, kelaparan, dan kejadian (bencana) yang baru, hari demi hari semakin bertambah. Sudah sepantasnya setiap muslim mengambil pelajaran darinya.
Nasihat dan peringatan dari Al-Qur’an akan lebih mudah menggerakkan hati yang hidup dan membekas padanya. Pemiliknya akan menetapkan segala kenikmatan yang telah dikaruniakan oleh Allah l dan mengakui kekurangan dalam memenuhi hak-Nya.
Allah l berfirman:
“Dan tiadalah mendapat pelajaran selain orang-orang yang kembali (kepada Allah).” (al-Mu’min: 13)
“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedangkan dia menyaksikannya.” (Qaf: 37)
Adapun seseorang yang mati hatinya karena tertutupi oleh syubhat, berkarat karena syahwat, ia tidak akan tergerak dan terpengaruh oleh nasihat atau peringatan. Tidak pula ia merasa takut terhadap suatu ancaman, hingga azab tiba-tiba menimpanya dalam keadaan tidak sadar. Bahkan, karena seringnya terjadi bencana dan susul-menyusul, hati manusia banyak yang mati meskipun jasadnya hidup. Ketahuilah, berbagai bencana yang terjadi, petaka dan azab yang menimpa, ditampakkan oleh Allah l untuk menakut-nakuti hamba-Nya.
Allah l berfirman:
“(Dan) tidaklah Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (al-Isra’: 59)
Bencana banjir, banyak orang berkomentar, “Sekarang memang lagi musimnya (hujan)!” Bencana gempa, orang mengatakan, “Ini proses alam semata.” Akhirnya, banyak bencana yang melanda, namun sedikit manusia yang mau memerhatikan dan mengambil pelajaran. Andaikata mereka mau memerhatikan dengan saksama kerugian yang diakibatkan sebuah bencana, terhadap keluarga, rumah, dan harta, niscaya mereka akan mengetahui kadar musibah yang telah menimpa.
Apabila di antara kita ada yang tertimpa musibah dengan meninggalnya salah seorang dari keluarganya atau orang yang disayangi, ia akan sangat sedih. Hatinya akan selalu teringat, sampai waktu yang dikehendaki oleh Allah l. Andai sempat terlupa, tentu teringat kembali pada waktu yang lain. Bahkan, bisa jadi sampai terbawa dalam mimpi. Mungkin tidurnya sering bermimpi melihat atau berjumpa dengannya. Ini baru kehilangan satu nyawa, bagaimana kalau semua keluarganya binasa karena suatu bencana yang menimpa, tinggal ia hidup sebatang kara, tanpa famili dan saudara?
Kalau saja seorang di antara kita ditimpa kerugian separuh hartanya, ia akan merasakan kesusahan untuk mencukupi kehidupannya. Dadanya pun terasa sesak dan sempit. Kelezatan dan kenyamanan tidur, makan, dan minum, tidak ia dapatkan. Bagaimana dengan orang yang kehilangan seluruh rumah dan hartanya? Di tengah hamparan yang luas, sendiri ia berada, dalam keadaan linglung, miskin, dan tidak punya apa-apa. Padahal sebelumnya ia seorang yang punya harta, rumah, dan keluarga?!
Sebab itu, apabila seseorang tidak mengambil pelajaran dengan apa yang dia lihat, dia dengar, dari bencana yang terjadi, kapan dia akan mengambil pelajaran dan menjadikannya sebagai peringatan?

2. Tidak merasa aman
Seringkali seseorang merasa aman dari suatu musibah atau bencana karena merasa bahwa dirinya berada di radius aman.
Hal ini mengingatkan kita akan kisah yang terjadi pada masa silam. Kisah tentang putra Nabi Nuh q yang kafir—sebagian menyebutkan namanya Kan’an, sedangkan Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya menyebutkan namanya adalah Yam—ketika terjadi luapan air yang terpancar dari permukaan bumi dan munculnya topan hingga terjadi gelombang yang sangat tinggi laksana gunung. Nabi Nuh q memerintahkan mereka semua naik ke dalam bahtera yang telah dibuatnya. Hanya saja, salah satu anak Nabi Nuh yang kafir berkata, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkanku (baca: di radius aman).” Aman sebatas pegetahuan dan perkiraan seseorang tidak menjamin aman dari ancaman dan musibah.
Allah l berfirman:
(Dan) Nuh berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berla-buhnya. Sesungguhnya Rabbku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Dan) bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah berada bersama orang-orang kafir!” Anaknya menjawab, ”Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menjagaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Dia saja Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 41—43)
Beragam bencana belum lama melanda di negeri kita: gempa di Papua, tsunami di Mentawai-Sumatra, dan letusan Gunung Merapi di Pulau Jawa. Banyak korban terjadi meskipun mereka menyangka telah berada pada radius aman. Mereka mengira bencana telah berlalu, tidak mungkin terulang, atau terjadi musibah susulan yang baru. Atau sesumbar mereka, musibah tidak mungkin mengarah kepada dirinya.
Ketahuilah, musibah seringkali datang dalam keadaan tiba-tiba. Ia datang dari tempat yang tidak diduga, dalam keadaan tidak disangka-sangka.
Allah l berfirman:
“Kemudian datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (an-Nahl: 26)
“Maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedangkan mereka tidak menyadarinya.” (al-A’raf: 95)
Bencana bisa terjadi kapan pun. Bahkan, seringnya terjadi malam hari ketika manusia sedang terlelap tidur. Atau, di pagi hari ketika manusia sedang bermain. Mengapa seseorang tidak takut, cemas, dan khawatir akan datangnya suatu bencana yang menimpa, sebagaimana telah menimpa orang lain, yang mengakibatkan hilangnya segala sesuatu darinya dalam waktu sekejap?
Allah l berfirman:
“Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur? Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain. Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah orang-orang yang merasa aman dari azab Allah melainkan orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 97—99)

3. Bencana adalah suatu ketetapan
Yang harus diyakini oleh setiap muslim dan tidak boleh ada keraguan sedikit pun dalam hal ini, yaitu prinsip bahwa segala bencana yang menimpa sesungguhnya telah ditentukan oleh Allah l sebelum alam dan seisinya tercipta. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah l tentang keumuman qadha dan qadar-Nya dalam ayat berikut.
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri, melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)
Ayat ini mencakup seluruh musibah (bencana) yang menimpa manusia, baik berupa kebaikan maupun keburukan, yang kecil maupun yang besar. Semuanya telah tertulis di Lauhul Mahfuzh. Hal ini merupakan perkara yang agung, akal tidak mampu mengetahui keseluruhannya. Bahkan, hati seorang yang berakal pun akan bingung memikirkannya. Meskipun demikian, semua itu adalah mudah bagi Allah l.
Allah l memberitakan hal ini kepada para hamba-Nya supaya mereka menetapkan suatu prinsip (bahwa segala bencana yang menimpa, semuanya telah ditentukan, tertulis di Lauhul Mahfuzh),dan menjadikannya sebagai pijakan (dalam menyikapi segala musibah yang menimpa, baik kebaikan maupun keburukan).
Semua itu telah dijelaskan oleh Allah l sehingga manusia tidak berdukacita terhadap apa telah mereka lihat namun luput dari mereka karena segalanya telah ditetapkan. Juga agar mereka tidak terlalu gembira dengan apa yang telah diberikan oleh Allah l dengan kegembiraan yang berlebihan, yang menyebabkan kesombongan dan kejelekan sehingga lupa kepada Allah l. Semua itu semata-mata hanya karunia Allah l, bukan atas daya dan upayanya. Jadi, sudah sepantasnya manusia bersyukur kepada Allah l atas segala karunia-Nya.
Pada ayat lain, Allah l memberitakan bahwa semua musibah yang menimpa, baik pada badan, harta, anak, maupun segala yang dicintai, adalah disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri. Allah l berfirman:
“(Dan) apa saja musibah yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
Jika berbagai bencana yang menimpa, musibah yang melanda, sebabnya adalah kesalahan manusia, itu salah dan dosa siapa?!
Muslim yang beriman tidak akan menyatakan bahwa ini semua karena kesalahan si fulan dan fulan, atau si A dan si B. Jika masing-masing introspeksi diri, melihat kesalahan pribadi, mereka akan mengetahui bahwa tidaklah musibah menimpa suatu negeri melainkan disebabkan oleh kesalahan dan dosa penduduknya.

4. Sikap lapang dada
Telah disebutkan di atas bahwa seluruh musibah dan bencana telah ditetapkan oleh Allah l sebelum segalanya diciptakan dan segala sesuatu yang telah Dia l tetapkan, pasti akan terjadi dengan izin-Nya. Oleh karena itu, seorang muslim harus ridha atas ketetapan-Nya dan tidak boleh marah serta mencela. Semua harus dihadapi dengan kerelaan, kesabaran, kelapangan dada, tidak berkeluh-kesah atau larut dalam kegelisahan.
Allah l berfirman:
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang melainkan dengan izin Allah. Barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. (Dan) Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)
Ibnu Abbas c berkata, “Maksud ayat di atas ‘dengan izin Allah’ adalah dengan perintah Allah l, yakni takdir (ketentuan) dan kehendak-Nya. Artinya, barang siapa yang tertimpa musibah, hendaknya ia menyadari bahwa semua itu terjadi karena keputusan dan ketentuan Allah l (qadha dan qadar), kemudian dia bersabar sekaligus mengharap pahala semata-mata dari-Nya, tunduk kepada keputusan-Nya l, niscaya Allah l memberi petunjuk kepada hatinya. Allah l akan mengganti hal-hal duniawi yang telah luput darinya dengan memberi petunjuk kepada hatinya, keyakinan yang benar. Terkadang, Allah akan mengganti sesuatu yang hilang darinya dengan yang semisal atau yang lebih baik darinya.”

5. Tidak berburuk sangka
Hendaknya seseorang berbaik sangka kepada Allah l atas musibah yang menimpa dan menghilangkan buruk sangka kepada-Nya.
Allah l berfirman:
”Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah.” (Ali ‘Imran: 154)
Allah l berfirman:
“Supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan serta orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah.” (al-Fath: 6)
Dari Jabir bin Abdillah z, beliau mendengar Nabi n bersabda:
لَا يَمُوتُ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ
“Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan dia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah l.” (HR. Muslim)
Al-Qurthubi t berkata, “Kematian mengandung peringatan dan persiapan. Sudah sepantasnya seseorang menjadikan dirinya senantiasa takut (kepada Allah l) atas dosa yang telah dia perbuat dan sangat berharap ampunan Rabbnya. Rasa takut di waktu sehatnya hendaknya lebih diperkuat, karena ia tidak tahu dengan apa hidupnya akan berakhir (kebaikan atau keburukan, pen.). Hendaknya pula rasa harap lebih diperkuat pada dirinya saat kematian akan datang, supaya dapat berprasangka baik kepada Allah l, sebagaimana sabda Rasulullah n, ‘Janganlah salah seorang di antara kalian meninggal melainkan dia dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah l’, yaitu bahwa Dia akan merahmati dan mengampuni dosanya.”

6. Istirja’
Sa’id bin Jubair dan Muqatil bin Hayyan berkata, “Makna ayat ‘barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya’ yakni, memohon perlindungan Allah l dengan mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.”
Firman Allah l:
“(Dan) berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.” (al-Baqarah: 155—156)
Sebuah kisah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Auf bin Abdillah. Ia berkata bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud berjalan, tiba-tiba terputus tali sandalnya. Spontan beliau berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dikatakan, “Hanya karena seperti ini engkau mengucapkan (kalimat itu)?” Beliau menjawab, “Ini musibah.”

6. Sedih dan menangis yang sewajarnya
Al-Imam al-Bukhari t menyebutkan dalam ”Kitabul Janaiz”, sebuah judul: Bab ucapan Nabi n, “Sesungguhnya kami sedih berpisah denganmu.” Kemudian beliau menyebutkan hadits dari Anas bin Malik:
Kami pergi bersama Rasulullah n menemui Abu Saif, suami inang (ibu susuan, red.) Ibrahim (putra Nabi). Rasulullah n meraih Ibrahim, menciumnya. Kemudian kami masuk ke rumah Abu Saif. Saat itulah Ibrahim mengembuskan napasnya yang terakhir. Rasulullah n berlinangan air mata. Abdurrahman bin ‘Auf berkata, “Ya Rasulullah, ternyata Anda pun menangis.” Nabi bersabda, ”Wahai Ibnu ‘Auf, ini adalah rahmat.” Nabi tetap menangis dan berkata, “Sesungguhnya mata menangis, hati bersedih, namun kami tidak akan mengatakan apa pun selain yang diridhai oleh Rabb kami, wahai Ibrahim! Sesungguhnya kami sedih berpisah denganmu.”
Menurut Ibnu Baththal t dan yang lainnya, hadits ini menjelaskan tentang tangisan dan kesedihan yang diperbolehkan, yaitu menangis dengan berlinang air mata dan kelembutan hati (sedih) tanpa kemurkaan terhadap ketetapan Allah l.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Hadits ini mengandung faidah bolehnya memberitakan kesedihan, namun lebih utama jika menyembunyikannya.”
Pada bab yang lain, al-Imam al-Bukhari t berkata, “Bab ‘Siapa yang Tidak Memperlihatkan Tanda Dukacita atau Kesedihan Ketika Ditimpa oleh Musibah’, kemudian beliau menyebutkan hadits Anas bin Malik z: Salah seorang anak Abu Thalhah sakit dan meninggal dunia. Pada saat itu, Abu Thalhah sedang tidak berada di rumah. Ketika istrinya melihat anaknya telah meninggal, ia segera mengurusnya (memandikan dan mengafaninya) serta membaringkannya di sebuah tempat di rumahnya. Ketika Abu Thalhah tiba, ia bertanya, ‘Bagaimana keadaan ananda?’ Istrinya menjawab, ‘Ia telah tenang. Aku berharap ia menemukan kedamaian.’ (Abu Thalhah) melewatkan malam itu dan pagi harinya mandi (junub). Ketika ia bersiap untuk pergi, istrinya memberitahunya bahwa anaknya telah meninggal. Abu Thalhah shalat subuh bersama Nabi n dan memberitahu Nabi n tentang yang terjadi pada mereka berdua. Rasulullah n bersabda, ‘Semoga Allah l memberi berkah pada malam kalian berdua.’ (Sufyan mengatakan) bahwa seorang lelaki dari suku Anshar berkata, ‘Mereka (Abu Thalhah dan istrinya) dikaruniai sembilan anak laki-laki yang semuanya hafal Al-Qur’an’.”

7. Sabar
”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (az-Zumar: 10)
Al-Imam al-Bukhari t dalam kitabnya berkata, “Bab ‘Sabar di Saat Awal Kali Musibah Menimpa’.”
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata, “Yaitu waktu pertama kali musibah menimpa seseorang. Hal itu diserupakan dengan benturan, tabrakan, karena musibah menimpa (menabrak) manusia, seolah-olah ada sesuatu yang telah menabraknya. Barang siapa yang tertimpa musibah dan mampu bersabar di awal kejadian, ini adalah kesabaran sempurna yang hakiki.
Adapun yang tidak mampu bersabar di awal musibah menimpa, kemudian setelah itu ia tersadar, mampu menahan diri dari kegelisahan, keputusasaan, yang seperti ini juga dikatakan sabar, tetapi bukan sabar yang sempurna yang pantas dipuji dengan pujian yang sempurna.”
Dari Abu Umamah z, dari Nabi n, beliau bersabda bahwa Allah l berfirman:
ابْنَ آدَمَ، إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ
”Wahai Bani Adam, jika kamu sabar dan mengharapkan pahala semata saat pertama kali musibah terjadi, tidak ada balasan yang Aku ridhai untukmu selain surga.” (HR. Ibnu Majah, dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani)

8. Sikap peduli
Allah l berfirman:
”Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.” (al-Hujurat: 10)
Demikian pula firman Allah l:
”(Dan) tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa.” (al-Maidah: 2)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang meringankan kesulitan saudaranya mukmin dari kesulitan dunia, Allah l akan meringankan kesulitannya di hari kiamat.” (Muttafaqun alaihi, dari Abu Hurairah z)
Satu perkara yang tidak boleh terhadap saudara Anda yang muslim yang tertimpa musibah adalah kepedulian terhadap mereka. Kepedulian bukan hanya diukur dengan materi saja. Namun, doa dan dorongan motivasi untuk tetap sabar serta ridha akan takdirnya juga tidak kalah nilainya dengan bantuan materi.
Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لِأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: وَلَكَ بِمِثْلٍ
“Tidaklah seorang hamba muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuannya melainkan malaikat akan berdoa untuknya, ‘Untukmu seperti (apa yang kamu mintakan untuk saudaramu)’.” (HR. Muslim)

 

Hikmah di Balik Musibah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Allah l memiliki hikmah yang indah. Di antaranya ada yang dipahami dan ada yang tidak dipahami oleh siapa pun selain-Nya. Tidaklah Allah l menamai diri-Nya dengan Hakim-Dzat Yang Mahabijaksana- melainkan karena semua takdir dan syariat-Nya penuh hikmah. Demikian samarnya maksud terjadinya musibah yang menimpa manusia hingga membutuhkan renungan yang lama dan pandangan yang saksama. Meskipun demikian, terkadang manusia tidak memahami apa yang terjadi. Kadang, ada yang memahami sebagian kecilnya, yang lain dimudahkan memahami sebagian besarnya.
Yang wajib, kita harus memahami bahwa Allah l memiliki banyak hikmah dalam pengaturan makhluk-Nya; tersamarkan dari pemahaman kebanyakan para ulama, lebih-lebih orang awam. Dia memiliki hikmah sesuai dengan keluasan ilmu-Nya yang mutlak. Manusia juga memiliki hikmah, namun sesuai dengan sedikitnya ilmu mereka.
Kaidah (memahami) hikmah-hikmah ini telah disebutkan oleh Allah l secara global. Namun, hikmah dari akibat musibah dan bencana bagi manusia, banyak yang dirahasiakan oleh-Nya l. Oleh karena itu, tampak oleh manusia satu hikmah, akan tetapi tersamarkan olehnya sekian banyak hikmah lain. Dalam hal ini, manusia sesuai dengan keyakinannya kepada Allah l dan kekuatan imannya terhadap nama-nama Allah l dan makna yang dikandungnya (di antaranya: al-Hakim, al-Lathif, al-Khabir, al-Qawi, al-‘Aziz, dan al-Jabbar). Barang siapa yang keyakinannya kepada Allah l disertai oleh ilmu dan pengetahuan terhadap nama-nama Allah l dan sifat-sifat-Nya, ia akan mampu memahami sesuatu yang tidak dipahami oleh orang lain. Oleh karena itu, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ لِلهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Sesungguhnya Allah l memilki 99 nama. Barang siapa yang mengetahui, memahami, dan mengamalkan konsekuensinya, ia akan masuk ke dalam surga.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah z)
Hal lain yang perlu dipahami, beragam musibah dan bencana baik yang kecil maupun yang besar, yang tampak maupun yang tidak, tidaklah terjadi melainkan karena perbuatan dosa. Namun, hikmah yang terjadi berbeda-beda. Pada satu musibah, Allah l memiliki kelembutan (keindahan) di satu sisi dan kehancuran di sisi lain. Pengaruhnya akan tampak bagi orang yang paham dan merenungkan keadaan. Secara umum, manusia lebih tahu tentang dirinya sendiri daripada orang lain. Kaidah ini telah dijelaskan Allah l di banyak tempat dalam kitab-Nya. Demikian pula, Rasulullah n telah menjelaskannya dalam sabdanya.
Allah l berfirman:
“Dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri.” (an-Nisa’: 79)
Rasulullah n bersabda dalam hadits Abu Hurairah z:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)
Terkadang, ada bencana dan musibah yang terjadi tanpa diketahui penyebab yang mengharuskan musibah itu terjadi. Misalnya, seseorang gelisah tanpa tahu asal-muasalnya karena kelalaian akibat kesalahan-kesalahannya. Oleh karena itu, Allah l berfirman menghikayatkan keadaan para sahabat setelah musibah terjadi pada Perang Uhud:
ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ ﰋﰌ ﰍ ﰎ ﰏ ﰐ ﰑ ﰒ ﰓ
Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada Perang Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada Perang Badr), kamu berkata, “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah, “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri.” Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (Ali ‘Imran: 165)
Jadi, segala bentuk musibah, meskipun sangat kecil, asalnya adalah dari hamba dan disebabkan oleh dosanya. Dari Aisyah x, Nabi n bersabda:
مَا مِنْ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الْمُسْلِمُ إِلَّا كُفِّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا
“Tidaklah suatu musibah menimpa seseorang melainkan Allah l menghapuskan dosanya dengan sebab itu, sampai pun duri yang menusuknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Sebuah kisah diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari Auf bin Abdillah. Ia berkata bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud berjalan, tiba-tiba terputus tali sandalnya. Spontan beliau berkata, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Dikatakan kepada beliau, “Hanya karena seperti ini engkau mengucapkan (kalimat itu)?” Beliau menjawab, “Ini musibah.”
Terkadang musibah menimpa orang-orang yang saleh dan paling mulia di antara manusia. Akan tetapi, di balik musibah tersebut terdapat pengaruh dan hikmah yang berbeda bagi yang tertimpa. Allah l berfirman tentang para sahabat Nabi n:
“Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa oleh musibah, mereka mengucapkan, ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’.” (al-Baqarah: 155—156)
Abd bin Humaid dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Atha’ yang berkata, “(Orang yang dimaksud dalam ayat ini) adalah para sahabat Nabi Muhammad n.”
Ayat ini mengandung peringatan dan pengajaran bagi kaum muslimin bahwa kesempurnaan nikmat dan kemuliaan derajat di sisi Allah l tidak menjadi penghalang antara mereka dan musibah dunia yang akan menimpa. Adakalanya seseorang terkena musibah, sedangkan orang lain yang lebih besar dosanya selamat, atau terkena musibah juga tetapi lebih ringan. Semua ini berdasarkan hikmah Allah lyang bertingkat-tingkat dan tidak sama.
Ketika tertimpa musibah, sebagian manusia merasa sangat terbebani, akhirnya marah dan tidak sabar sehingga diharamkan mendapatkan pahala. Oleh karena itu, pengaruh (dampak) musibah terhadap orang yang mampu bersabar lebih besar daripada orang yang marah/berkeluh kesah, meskipun musibah yang menimpanya sama. Pada sebagian manusia, musibah menjadi rahmat baginya sehingga ia kembali kepada Allah l. Ibnu Jarir dalam Tafsir-nya meriwayatkan pendapat Ibnu Abbas tentang surat as-Sajdah ayat 21:
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (kepada ketaatan).”
bahwa makna azab yang dekat adalah musibah.
Musibah yang menimpa manusia sendiri bermacam-macam. Ada yang tampak, ada yang tersembunyi. Demikian pula dari sisi jenis dan kadarnya. Sebagian manusia diuji dengan musibah yang tidak tampak, namun sejatinya lebih besar jika dibandingkan dengan musibah yang tampak pada orang lain. Allah l mengkhususkan dengan musibah yang demikian, karena hal itu lebih sesuai untuk menjadi penghapus dosanya. Dari Aisyah x, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda:
إِذَا كَثُرَتْ ذُنُوبُ الْعَبْدِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ مَا يُكَفِّرُهَا مِنَ الْعَمَلِ ابْتَلَاهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِالْحُزْنِ لِيُكَفِّرَهَا عَنْهُ
“Apabila telah banyak dosa seorang hamba, dan ia tidak memiliki amalan yang menjadi penghapusnya, Allah l mengujinya dengan kesedihan supaya dosanya terhapuskan.” (HR. Ahmad)
Kemampuan akal dan pemahaman manusia cenderung memahami keumuman sebab dan akibat. Itulah kelemahan sisi manusiawinya. Akan tetapi, Allah l menanamkan kepadanya akal yang mampu memikirkan apa yang tersembunyi dari musibah itu sehingga ia mampu memetik hikmah yang samar dan sebab yang tersembunyi dari suatu keumuman. Oleh karena itu, semakin banyak merenungkan hikmah ilahiah, ia akan mampu memahami perkara yang tidak mampu dipahami oleh yang lainnya tentang agungnya kelembutan Allah l.
Di antara hikmah dari musibah adalah:
1. Sebagai peringatan
Allah l berfirman:
“Dan Kami memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakuti.” (al-Isra’: 59)
Qatadah t menerangkan, “Sesungguhnya Allah l menakuti manusia dengan tanda-tanda (bencana, petaka, pen.) apa pun yang Dia l kehendaki. Mudah-mudahan mereka mengambil pelajaran, menjadi ingat kepada Allah l, kemudian kembali kepada-Nya.”
Beliau menyatakan, “Telah sampai kepada kami berita bahwa di masa Abdullah bin Mas’ud masih hidup, terjadi gempa di Kufah. Beliau mengingatkan kepada manusia, seraya berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya Rabb kalian meminta—dengan adanya bencana—agar kalian kembali kepada apa yang menjadi keridhaan-Nya. Maka dari itu, bertaubatlah!’.”

2. Hukuman
Firman Allah l:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
As-Sa’di t berkata, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut, yaitu rusak dan berkurangnya mata pencaharian mereka dan terjadinya bencana alam. Diri mereka juga terserang penyakit, wabah, dan yang lainnya. Semua itu terjadi karena kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), berupa perbuatan yang rusak dan merusak. Hal ini supaya mereka mengetahui bahwa Allah l membalas amal perbuatan dan membuat contoh/pelajaran untuk mereka dari balasan amal mereka di dunia, agar mereka kembali ke jalan yang benar. Mahasuci Allah, Dzat yang menganugerahkan nikmat kepada hamba-Nya melalui cobaan-Nya serta memuliakan hamba-Nya dengan hukuman-Nya. Jika tidak, kalau saja Allah l merasakan (azab) kepada mereka disebabkan apa yang mereka perbuat, niscaya Ia tidak membiarkan di atas permukaan bumi ini satu pun makhluk yang melata (manusia).”

3. Penghapus dosa
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tidaklah menimpa kepada seorang muslim suatu musibah berupa kesalahan, rasa sakit, kegundahan, kesusahan, gangguan dan tidak pula dukacita, sampai duri yang menusuknya, melainkan Allah l akan menghapuskan dengannya dari kesalahan-kesalahannya.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari Abu Sa’id dan Abu Hurairah c)

4. Pahala yang mulia
Rasulullah n bersabda:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي فِي طَرِيقٍ إِذْ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ
“Tatkala seorang laki-laki berjalan tiba-tiba ia mendapati ranting berduri berada di jalan lalu ia menyingkirkannya, Allah l memberikan kepadanya pahala dan mengampuninya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah z)

Musibah Cobaan atau Azab?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

Pengertian Musibah
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Kata musibah (dalam bahasa Arab) berasal dari kata yang bermakna lemparan dengan anak panah. Kemudian kata itu digunakan untuk setiap bencana, musibah, dan malapetaka.”
Ar-Raghib berkata, “Kata أَصَابَ digunakan pada perihal kebaikan dan keburukan yang menimpa.”
Allah l berfirman:
“Jika kamu ditimpa oleh suatu kebaikan, mereka menjadi tidak senang karenanya; dan jika kamu ditimpa oleh suatu bencana ….” (at-Taubah: 50)
Ada yang berpendapat, kata musibah (dalam bahasa Arab) jika digunakan pada perihal kebaikan, berasal dari kata الصَّوْبُ yang artinya hujan. Maksudnya, hujan yang turun sebatas keperluan, tidak membahayakan dan merugikan. Jika digunakan pada perihal keburukan, ia berasal dari kata إِصَابَةُ السَّهْمِ artinya bidikan atau sasaran anak panah.
Al-Kirmani berkata, “Kata musibah jika ditinjau dari segi bahasa, bermakna apa saja yang menimpa manusia secara mutlak (umum). Jika ditinjau dari segi istilah, bermakna peristiwa-peristiwa tertentu yang tidak disukai yang terjadi. Makna inilah yang dimaksud dalam pembahasan ini.” (Fathul Bari, dalam Kitabul Mardha)
Ahli bahasa berkata, “Pada kata musibah dikatakan: مَصُوبَةٌ – مُصَابَةٌ – مُصِيبَةٌ Hakikatnya adalah perkara yang tidak disukai yang menimpa manusia.”
Al-Qurthubi t menerangkan, ”Musibah adalah segala sesuatu yang menyakitkan, merugikan, menyusahkan orang mukmin, dan menimpa dirinya.”

Perbedaan Musibah dan Cobaan
Musibah adalah suatu hal yang menyebabkan manusia kehilangan nikmat-nikmat Allah l yang telah Dia l anugerahkan kepadanya, berupa anak, orang tua, saudara, harta. Sakit yang menimpanya atau hal yang serupa dengan itu disebut musibah.
Adapun cobaan, lebih umum daripada musibah. Cobaan terkadang berbentuk kenikmatan. Hal seperti ini, bisa jadi lebih sulit dibandingkan dengan cobaan dalam bentuk musibah karena seringnya menyebabkan seseorang lupa akan akhirat, lupa kepada Rabbnya. Kebanyakan manusia hatinya tetap baik jika diuji dengan kefakiran, sakit, musibah, tetapi justru rusak jika diuji dengan kenikmatan. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Ketahuilah, sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup.” (al-‘Alaq: 6—7) (Syarh Kitab at-Tauhid, oleh asy-Syaikh al-Ghunaiman)

Definisi Azab
Adapun pengertian azab adalah siksaan dan hukuman. Dikatakan dengan kalimat عَذَّبْتُهُ تَعْذِيبًا وَعَذَابًا, yakni “Aku menyiksanya.”
Sekilas, banyak orang mengira bahwa azab merupakan istilah yang digunakan hanya untuk azab yang besar, berat, dan mengerikan. Hal ini karena penyebutan azab dalam Al-Qur’an seringnya berupa azab yang keras, pedih, hina, besar, berat, kekal, dan sebagainya. Semua itu sebagai bentuk ancaman bagi mereka yang terjerumus dalam syahwat, syubhat, kesesatan, dan pelanggaran.
Namun, Al-Qur’an juga menyebutkan bahwa Allah l mengancam orang-orang yang menentang dan membuat kerusakan dengan suatu azab selain azab yang besar. Dengan harapan, mereka mau kembali dari kesesatan kepada ketaatan dan tersadarkan dari perbuatannya. Allah l menjelaskan bahwa bencana dan malapetaka yang menimpa orang-orang yang menentang di dunia ini itu hanya azab yang dekat (kecil).
Allah l berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali (kepada ketaatan).” (as-Sajdah: 21)
Para ulama ahli tafsir berbeda pendapat dalam memaknai “azab yang dekat”.
1. Maknanya adalah musibah dunia, penyakit, bencana yang menimpa jiwa dan harta, yang Allah l menjadikannya sebagai ujian bagi hamba-Nya agar mereka bertaubat.
Ulama yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu Abbas, Abdullah bin Mas’ud, Ubay bin Ka’b, Abul Aliyah, adh-Dhahhak, al-Hasan, Ibrahim an-Nakha’i, Alqamah, Athiyah, Mujahid, dan Qatadah, semoga Allah l merahmati mereka semua. Mereka memandang bahwa apa yang telah berlalu, baik berupa bathsyah (hantaman), sebagaimana dalam firman Allah l:
“(Ingatlah) hari (ketika) Kami menghantam mereka dengan hantaman yang keras, sesungguhnya Kami benar-benar menimpakan hukuman.” (ad-Dukhan: 16)
atau lizam (kebinasaan), sebagaimana dalam firman Allah l:
“Sesungguhnya kalian telah mendustakan-Nya, kelak akan menjadi kebinasaan bagi kalian.” (al-Furqan: 77)
atau dukhan (kabut), sebagaimana dalam ayat:
“Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata.” (ad-Dukhan: 10)
Demikian pula yang menimpa orang-orang kafir Quraisy, berupa pembunuhan dan penawanan pada Perang Badar, termasuk azab yang diisyaratkan di sini.Itu semua merupakan musibah-musibah dunia.
Dalam Tafsir-nya, as-Suyuthi t menyebutkan riwayat yang dikeluarkan oleh Ibnu Mardawaih dari Ibnu Idris al-Khaulani, ia berkata, “Aku bertanya kepada Ubadah bin ash-Shamit z tentang ayat ini. Beliau menjawab, ‘Aku pernah menanyakan ayat ini kepada Rasulullah n. Beliau n bersabda, ‘Itu adalah musibah, sakit, dan kesusahan, sebagai azab di dunia bagi orang yang melampaui batas sebelum datang azab akhirat.’ Aku bertanya kembali kepada Rasulullah n, ‘Wahai Rasulullah, apa yang kita peroleh jika semua itu menimpa kita?’ Beliau menjawab, ‘Suci dan bersih’.”

2. Maknanya adalah azab kubur.
Pendapat ini diriwayatkan dari al-Bara’ bin ‘Azib, Abu ‘Ubaidah, dan Mujahid.

3. Maknanya adalah hukum-hukum had.
Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Ibnu ‘Abbas c.

4. Maknanya adalah pedang, sebagaimana diriwayatkan dari ‘Abdullah bin al-Harits bin Naufal.
Beliau berkata, “Maksudnya adalah dibunuh dengan pedang. Segala sesuatu yang Allah l mengancam umat ini dengan ancaman azab yang dekat, maksudnya adalah pedang.”
Ibnu Jarir t memandang bahwa pendapat yang paling utama dalam masalah ini adalah bahwa Allah l mengancam orang-orang fasik dan pendusta dengan ancaman-Nya di dunia berupa azab yang dekat, agar Dia merasakan azab tersebut kepada mereka sebelum azab yang besar. Azab ini adalah apa yang terjadi di dunia, yaitu bencana, kelaparan yang mematikan, pembunuhan, atau musibah lain yang menimpa. Terkadang, Allah l mengancam hamba-Nya dengan salah satu jenis azab, terkadang dengan semuanya.
Adapun hakikat azab yang dekat adalah setiap azab yang dengannya Allah l mengazab suatu umat atau individu, di dunia atau di alam kubur, baik bersifat merata seperti yang menimpa kaum Nuh maupun secara khusus, seperti yang menimpa Qarun.
Azab kadang bersifat hissi (fisik, tampak) seperti ditenggelamkan ke air, dibenamkan ke dalam bumi, diubah bentuk atau rupa (menjadi kera atau babi), gempa, suara keras yang mengguntur. Namun, terkadang azab juga bersifat maknawi (abstrak), seperti dilenyapkan penglihatannya (buta mata), ditutup, dan dikunci mata hatinya (buta hati), ditolak doanya, dan dikuasai oleh setan. Sama saja, dosa yang dilakukan berupa sikap congkak, melampaui batas terhadap sang Pencipta, seperti syirik dan mendustakan para rasul; atau melampaui batas terhadap hak manusia, seperti membunuh orang-orang yang lemah atau curang dalam menimbang.
Allah l terkadang menyegerakan azab dan menimpakannya secara tiba-tiba karena suatu dosa. Adakalanya Ia menunda azab duniawi dalam keadaan orang yang tertipu menyangka bahwa ia berada di atas kebaikan. Apalagi jika ia melihat nikmat dan karunia-Nya datang terus-menerus dan silih berganti. Ia tidak tahu bahwa jarak antara dirinya dengan azab Allah l hanya sekejap mata, sebagaimana azab yang menimpa kaum Nabi Luth q.
Semua yang terjadi itu menjadi tanda kekuasaan Allah l bagi semesta alam, nasihat bagi orang-orang yang bertakwa, dan peringatan serta contoh bagi siapa saja yang meniru amalan/perbuatan orang-orang yang berbuat dosa.
Allah l terkadang mengakhirkan azab hingga di negeri akhirat supaya siksaan itu bertambah. Orang kafir menyangka, penangguhan azab Allah l terhadapnya lebih baik baginya.
“Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan.” (Ali ‘Imran: 178)
Orang yang tidak berilmu menyangka bahwa orang kafir berada di atas kebenaran dengan kenikmatan hidup yang mereka dapati dan keselamatan mereka dari azab di dunia. Ia tidak mengira bahwa kenikmatan hidup yang mereka dapati itu hanya bagian dari disegerakannya balasan atas perbuatan mereka.
Ibnu Katsir t menafsirkan surat al-Ahqaf ayat 20, “Mereka dibalas sesuai dengan amalannya. Sebagaimana mereka lebih suka memuaskan hawa nafsu, menyombongkan diri dari mengikuti kebenaran, senang melakukan kefasikan dan kemaksiatan, Allah l pun membalas mereka dengan azab kehinaan, yaitu kehinaan, kerendahan, rasa sakit yang menyakitkan, penyesalan yang terus-menerus, dan tempat tinggal di lapisan neraka yang mengerikan.”

Perbedaan Musibah sebagai Cobaan dan Azab
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t pernah ditanya, “Kapan seorang hamba mengetahui bahwa musibah yang menimpa itu merupakan cobaan atau azab (siksaan)? Jika seseorang diuji dengan sakit atau musibah jelek yang menimpa jiwa atau hartanya, bagaimana ia tahu bahwa musibah itu adalah cobaan atau kemurkaan dari sisi Allah l?”
Beliau menjawab, “Allah l menguji para hamba-Nya dengan kesenangan dan penderitaan, kesempitan dan kelapangan.
Allah l terkadang mengujinya untuk mengangkat derajat, meninggikan nama, dan melipatgandakan pahala mereka, seperti yang Ia lakukan terhadap para nabi, rasul, dan hamba-Nya yang saleh. Hal ini sebagaimana termuat dalam riwayat dari jalan Mush’ab bin Sa’d bin Abi Waqqash, dari ayahnya Sa’d bin Abi Waqqash z. Ia bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa manusia yang berat cobaannya?” Beliau n bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ بَلَاءً الْأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian yang semisal mereka, kemudian yang semisal.” (HR. al-Imam al-Hakim, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan yang lain)
Terkadang, Allah l menimpakan hal itu karena kemaksiatan dan dosa sehingga musibah itu menjadi hukuman yang disegerakan. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“(Dan) apa saja musibah yang menimpamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
Keumuman manusia menyepelekan dan tidak menunaikan kewajiban. Jadi, musibah apa pun yang menimpa adalah karena dosa dan sikap mereka menyepelekan perintah Allah l.
Sebab itu, apabila seorang hamba yang saleh diuji dengan sakit atau semisalnya, hal ini sejenis dengan ujian yang diberikan kepada para nabi dan rasul. Tujuannya adalah meninggikan derajat, membesarkan pahala, dan agar menjadi teladan bagi yang lain dalam kesabaran dan keikhlasan.

Kesimpulan
1. Terkadang cobaan itu untuk meninggikan derajat dan memperbesar pahala.
Hal ini sebagaimana yang telah Allah l perbuat terhadap para nabi dan sebagian orang pilihan (musibah sebagai cobaan).

2. Cobaan tersebut kadang bermaksud untuk menghapuskan dosa-dosa (musibah sebagai kaffarah), sebagaimana firman Allah l:
“Barang siapa yang mengerjakan keburukan niscaya akan diberi balasan akibat keburukan itu.” (an-Nisa’: 123)
Demikian juga sabda Nabi n:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan segala kesalahan dan dosanya dengan musibah itu, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)
Demikian pula sabda beliau n:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرا يُصِبْ مِنْهُ
“Barang siapa yang Allah l inginkan kebaikan, Allah l menimpakan musibah kepadanya.”(HR. al-Bukhari, no. 5321)

3. Terkadang, azab itu disegerakan karena kemaksiatan dan tidak segeranya bertaubat (musibah sebagai hukuman/kemurkaan).
Hal ini sebagaimana dalam hadits Rasulullah n:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah l menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, disegerakanlah hukuman baginya di dunia. Jika Allah l menghendaki kejelekan pada hamba-Nya, Allah l akan menahan dia lantaran dosa-dosanya hingga (dibalas) secara sempurna kelak pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2396) (al-‘Adzabul Adna, karya Muhammad bin ‘Abdillah as-Suhaim).
Wallahu a’lam

Musibah Membawa Berkah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Bumi diguncang. Gunung-gunung menghamburkan isinya. Angin bertiup teramat kencang, memorak-porandakan hunian manusia. Gelombang air laut menggunung, menggulung apa yang ada di daratan. Bencana menerpa. Mengguncang kehidupan umat manusia. Tiada yang mampu menerka, kapan bencana itu tiba, kapan pula mereda. Tiada pula yang mampu menerka, berapa kerugian yang bakal ada. Sungguh, kala itu manusia tiada daya. Hanya tangis yang terdengar telinga. Ratapan demi ratapan menggugah rasa. Seakan tipis asa untuk memperbaiki kehidupan yang senyatanya fana.
“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa: 28)
“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah.” (al-Ma’arij: 19—20)
Allah l yang mencipta alam semesta, Allah l pula yang mengaturnya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 189)
“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia naik di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang. (Masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)
“Allah-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia naik di atas ‘Arsy, serta menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Rabbmu.” (ar-Ra’d: 2)
Namun, ada di antara manusia yang memahami berbagai bencana semata-mata dari akalnya. Jelajah akalnya yang sangat terbatas dipaksa untuk memutus keterkaitan berbagai fenomena alam dengan kehendak Allah l. Tak ada bahasa keimanan yang mencuat dari dirinya. Berbagai kejadian yang menimpa kehidupan manusia dianggap semata-mata karena hukum alam. Seakan-akan semua terlepas dari kekuasaan Allah l. Lepas, tak terkait takdir yang telah ditetapkan oleh Allah l. Padahal, beragam fenomena yang terjadi di alam ini adalah atas izin Allah l. Allah l berfirman:
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran. Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (al-A’raf: 57—58)
“Dan apakah tidak menjadi petunjuk bagi mereka, berapa banyak umat sebelum mereka yang telah Kami binasakan sedangkan mereka sendiri berjalan di tempat-tempat kediaman mereka itu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah). Maka, apakah mereka tidak mendengarkan (memerhatikan)? Dan apakah mereka tidak memerhatikan, bahwasanya Kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanam-tanaman yang darinya (dapat) makan binatang-binatang ternak mereka dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memerhatikan?” (as-Sajdah: 26—27)
Perhatikanlah, beragam bencana (musibah) yang menimpa umat manusia dan terjadi di muka bumi ini adalah sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah l. Semuanya telah tercatat dalam Lauhul Mahfuzh. Allah l berfirman:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)
Allah l menyebutkan pula, betapa musibah (bencana) yang menimpa seseorang adalah atas perkenan-Nya. Firman Allah l:
“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at-Taghabun: 11)
Dengan memahami dan merenungi ayat-ayat di atas, apakah pantas jika manusia angkuh dengan mengatakan bahwa bencana yang terjadi hanya lantaran hukum alam? Hanya sebuah fenomena yang berasal dari alam itu sendiri tanpa izin Allah l? Dengan bahasa yang seakan-akan ilmiah, mereka mengatakan bahwa gempa bumi terjadi lantaran pergerakan lempeng bumi, tanpa mengaitkan itu semua dengan kehendak Allah l. Atau, mereka mengatakan bahwa gempa bumi terjadi lantaran pergerakan magma di gunung berapi, tanpa menghubungkan bahwa semua fenomena alam itu adalah atas ketentuan dari Allah l. Terlalu angkuh dan lancang jika manusia berani berbuat hal itu. Dirinya terlampau mengedepankan akal, sementara dia tidak memiliki kecerdasan dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dirinya jahil sehingga tidak mampu membersitkan bahasa keimanan dari lubuk hatinya. Yang dia mampu hanya membahasakan hal-hal yang bersifat materi. Adapun hal-hal gaib tidak mampu dicerna. Betapa banyak manusia terjebak pemikiran akalnya semata dalam melihat fenomena di muka bumi ini. Kala musibah (bencana) mencuat lantaran disulut pergolakan politik, ekonomi, atau sosial, hingga manusia hidup penuh ketidakpastian, diliputi rasa takut yang mencekam, tak sedikit manusia yang hanya melihat dari sisi materi (tidak dikaitkan dengan sebab-sebab syar’i).
Sebagaimana diungkapkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t, “Sungguh, banyak manusia pada masa sekarang mengaitkan berbagai macam musibah yang menimpa mereka, baik musibah dalam hal ekonomi, keamanan, maupun politik. Semuanya hanya dianggap sebab yang bersifat materialistis. Sebab ini dikaitkan pada sebab-sebab perubahan politik, ekonomi, atau hukum. Tak diragukan lagi bahwa hal ini adalah kedangkalan pemahaman dan kelemahan iman mereka. Mereka lalai dari memahami dan merenungi Kitabullah serta Sunnah Rasulullah n. Di balik sebab tersebut, ada sebab syar’i. Justru sebab syar’i inilah yang paling kuat dan besar pengaruhnya dibandingkan dengan sebab yang bersifat materialistis. Akan tetapi, terkadang beberapa penyebab yang bersifat materialistis menjadi perantara terjadinya sebab-sebab yang bersifat syar’i. Allah l berfirman:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41) (Atsaru adz-Dzunub wa Ma’ashi ‘ala al-Fardi wa al-Mujtama’, hlm. 9. Lihat al-‘Adzabu al-Adna Haqiqatuhu Anwa’uhu, Asbabuhu, Dr. Muhammad bin Abdullah bin Shalih as-Suhaim, hlm. 10)
Selisiklah, melalui ayat-ayat berikut, betapa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah l mampu menimpakan angin yang teramat kencang, membenamkan apa yang ada di permukaan bumi, atau mendatangkan air bah yang dahsyat, yang semuanya merupakan fenomena alam, kejadian-kejadian yang bisa dilihat secara kasatmata. Semua fenomena tersebut akan menampakkan bencana (musibah) sebagai ujian bagi orang-orang yang beriman agar mereka bersabar dan bertawakal. Namun, bisa juga sebagai bentuk azab bagi orang-orang yang kafir kepada Allah l.
Allah l telah menimpakan angin kepada kaum ‘Ad, yakni kaum Nabi Hud q, selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Mereka akhirnya mati bergelimpangan. Allah l mengisahkan hal ini sebagai pelajaran bagi hamba-hamba-Nya, khususnya orang-orang yang beriman. Firman-Nya:
“Adapun kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul-tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk).” (al-Haqqah: 6—7)
Lihat pula apa yang terjadi dengan kaum Saba’ di negeri Yaman. Mereka enggan bersyukur dan sangat kufur atas anugerah rezeki yang dilimpahkan oleh Allah l. Mereka berpaling dan kufur. Saat mereka dalam keadaan yang demikian, Allah l mendatangkan air bah yang dahsyat. Banjir besar melanda kaum Saba’. Al-Qur’an mengisahkan hal ini agar diambil pelajaran darinya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun.’ Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon atsl dan sedikit dari pohon sidr. Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (Kepada mereka dikatakan), ‘Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Rabbmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Rabbmu) adalah Rabb Yang Maha Pengampun’.” (Saba’: 15—17)
Petiklah pelajaran dari kisah Qarun. Wujud manusia materialistis yang membanggakan harta kekayaan, mengedepankan kehidupan dunia. Angkuh dengan apa yang telah dimilikinya hingga dia mengatakan, sebagaimana dalam firman Allah:
“Sesungguhnya aku diberi harta itu hanyalah karena ilmu yang ada padaku.” (al-Qashash: 78)
Lantas Allah l membenamkan Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Tiada baginya seorang penolong pun atas balasan Allah l yang ditimpakan kepadanya.
“Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golongan pun yang menolongnya dari azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).” (al-Qashash: 81)
Salah satu pelajaran yang bisa diambil dari kisah-kisah di atas, fenomena alam yang berupa angin kencang, banjir besar, dan pembenaman ke dasar bumi tidak semata-mata terjadi lantaran hukum alam. Lebih dari itu, semua fenomena alam tersebut ada yang mengatur, menggerakkan, dan melakukan. Tidak terjadi dengan sendirinya. Tetapi semua itu atas kehendak Allah l.
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Ali ‘Imran: 189)
Sisi lain, saat musibah (bencana) melanda, ada sebagian umat manusia yang menyikapi peristiwa tersebut sebagai peristiwa metaempiris yang didasari mitos dan kepercayaan terhadap roh-roh halus. Bencana yang terjadi merupakan bentuk kemurkaan roh para leluhur dan makhluk halus. Contoh kasus ini adalah hal yang diyakini sebagian masyarakat terkait dengan erupsi Gunung Merapi. Guna menghadapi hal yang tidak diinginkan, sebagian masyarakat terutama penduduk sekitar Merapi mengadakan upacara ritual dengan menyuguhkan sesaji. Tujuannya adalah memberi sedekah kepada para roh leluhur dan para makhluk halus agar memberi keselamatan dan kesejahteraan lahir dan batin. (Merapi dan Orang-Orang Jawa, Persepsi dan Kepercayaannya, L. Sasongko Triyoga, hlm. 156—157)
Mitos dan kepercayaan semacam ini tentu saja menggiring sebagian manusia kepada sikap irasional dan tidak ilmiah. Sarana untuk menjauhkan manusia dari Yang Maha Mencipta dan Maha Mengatur alam semesta ini, Allah l. Mereka terjatuh pada pelanggaran syariat yang telah ditetapkan Allah l. Di antara pelanggaran itu, munculnya keyakinan yang salah dalam peribadahan. Mereka melakukan perbuatan syirik, meminta bantuan atau pertolongan kepada selain Allah l. Padahal Allah l berfirman:
“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.” (al-Fatihah: 5)
Dengan ritual yang mereka lakukan, senyatanya mereka melakukan penyembahan kepada jin. Sebagaimana diketahui bahwa sebagian masyarakat Merapi meyakini bahwa Merapi dihuni makhluk halus, dengan segala macam nama seperti roh leluhur, lelembut, banaspati, wewe, genderuwo, peri, jrangkong, wedhon, buto, thethekan, atau gundul pringis. (Merapi dan Orang-Orang Jawa, hlm. 72—75)
Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa ada di antara manusia yang melakukan penyembahan terhadap jin. Firman Allah l:
Malaikat-malaikat itu menjawab, “Mahasuci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka. Bahkan mereka telah menyembah jin, kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (Saba: 41)
“Bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” (al-Jin: 6)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengungkapkan bahwa kadang Allah l melakukan hal itu (memberikan musibah/bencana) disebabkan oleh kemaksiatan dan dosa. Maka, (jadilah musibah tersebut) sebagai hukuman yang disegerakan. Allah l terangkan pada firman-Nya:
“Musibah apa saja yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (asy-Syura: 30)
Pada umumnya, manusia bersikap meremehkan dan tidak mau menunaikan kewajibannya. Karenanya, tidak akan terjadi musibah itu melainkan disebabkan oleh dosa-dosa dan sikap meremehkan perintah Allah l.
Selanjutnya beliau t menyatakan, “Apabila musibah tersebut menimpa hamba-hamba-Nya yang saleh, dalam bentuk diberi penyakit dan selainnya, yang seperti ini merupakan jenis ujian yang menimpa para nabi dan rasul. Ujian (musibah) semacam ini bisa menaikkan derajat dan sebagai sarana untuk mendapat pahala yang agung, sebagaimana telah ditetapkan oleh Allah l pada para nabi dan sebagian orang pilihan-Nya.
Musibah kadang diberikan sebagai kaffarah (penghapus) dosa dari kesalahan yang telah lalu. Allah l berfirman:
“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.” (an-Nisa: 123)
Nabi n bersabda:
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
“Tiadalah seorang muslim yang ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan, dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan darinya segala kesalahan dan dosa, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa.” (HR. al-Bukhari, no. 5318)
Nabi n juga bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ
“Barangsiapa yang Allah l kehendaki pada dirinya kebaikan, niscaya dia akan ditimpakan musibah.” (HR. al-Bukhari, no. 5321)
Kadang, terjadinya hukuman (dari Allah l) yang disegerakan (di dunia) adalah disebabkan perbuatan maksiat, tidak adanya kemauan untuk segera bertobat sebagaimana disebutkan hadits Nabi n. Sesungguhnya beliau n bersabda:
إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Apabila Allah l menghendaki kebaikan pada hamba-Nya, disegerakanlah hukuman baginya di dunia. Jika Allah l menghendaki kejelekan pada hamba-Nya, Allah l akan menahan dia lantaran dosa-dosanya hingga (dibalas) secara sempurna kelak pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2396) (Majmu’ Fatawa asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, 2/478—488. Dinukil dari al-‘Adzabu al-Adna, hlm. 20—21)
Bencana yang terus menerpa, kini hendaknya menjadi cermin untuk introspeksi diri. Sejauh manakah manusia mau tunduk kepada Allah l, memurnikan peribadahan, merujuk pada syariat, dan mengikis setiap maksiat. Ketika kebebasan berzina dibiarkan, pornografi dikembangpesatkan, beragam kemungkaran lepas tiada kendali, maka bencana pun akan tiba atas kehendak Allah l. Sudah saatnya manusia kembali ke jalan-Nya yang lurus. Mempelajari, memahami, dan mengamalkan syariat-Nya. Mudah-mudahan dengan itu semua, Allah l mencurahkan kebaikan. Kalaupun Allah l menimpakan musibah, kita berharap musibah itu membawa berkah.
Wallahu a’lam.

 

Surat Pembaca edisi 69

Makin “Berani”
Saya satu dari sekian banyak penggemar Asy-Syariah. Kami sangat bersyukur kepada Allah l, dari sekian banyak majalah Islam saat ini, saya tertarik dan takjub dengan Asy-Syariah karena pembahasannya yang sangat ilmiah dan terbuka. Dengan keterbukaan ini, Asy-Syariah tampil sangat “berani” dalam menyajikan ilmu yang memang wajib dibaca dan ditelaah oleh masyarakat umum.
Bolehkah ana usul agar majalah Asy-Syariah menyajikan kajian utama tentang “Beginilah Seharusnya Kita Bermanhaj” (mengenai siapakah salaf, ciri-ciri, dan contoh pegangan para ulama Ahlus Sunnah, pendapat, dan dalilnya). Yang ke-2 adalah “Fenomena Bid’ah dan Permasalahannya” (ciri-ciri, contoh-contoh dalam masyarakat, serta cara penanggulangannya, berdasarkan pendapat ulama, dan dalilnya). Ana doakan semoga Asy-Syariah makin “berani” dalam kewajibannya berdakwah menegakkan As-Sunnah sebagai syariat yang lurus. Amin!
Muhammad Ajumain-Sultra
085241xxxxxx

Beberapa hal yang Anda sampaikan sebenarnya pernah kami angkat di edisi-edisi awal Syariah—sebelum bernama Asy-Syariah—di antaranya edisi 02—04. Tentang bid’ah, kami juga pernah mengangkatnya sebagai tema utama di Asy-Syariah Vol. I/No. 03/1424 H/2003. Namun tidak berarti tema tentang manhaj ataupun prinsip-prinsip pokok lain berhenti sampai di situ. Pada edisi yang telah lalu ataupun yang akan datang—insya Allah—manhaj atau prinsip pokok Islam lain tetap kami singgung, terlebih jika hal tersebut memang tuntutan dari tema utama yang kami angkat. Jazakumullahu khairan.

Menyoal Rubrik “Akidah”
Ana usul kepada Asy-Syariah agar rubrik akidah tidak hanya diisi seputar masalah mentauhidkan Allah l, namun juga masalah akidah yang lain, seperti mencintai para sahabat, asma’ wa sifat, dan lain-lain. Asy-Syariah semakin hari semakin bagus isinya, terutama edisi tentang tradisi yang meruntuhkan sendi-sendi tauhid.
Abu Luqman-Rembang
085292xxxxxx

Rubrik Akidah merupakan salah satu rubrik yang memang disiapkan untuk mendukung tema utama, artinya tema rubrik “Akidah” tidak akan jauh-jauh dari tema utama, meskipun dalam beberapa edisi, tema “Akidah” memang sedikit “menyimpang”. Apa yang Anda sampaikan sebenarnya sudah sering kami angkat, baik dalam “Kajian Utama” maupun rubrik-rubrik lainnya—bukan di rubrik “Akidah”. Namun, apa yang Anda usulkan tetap menjadi catatan berharga bagi kami. Jazakumullahu khairan.

Memetik Hikmah dari Musibah

Sejarah belum lelah untuk mengingatkan manusia bagaimana banjir besar yang menenggelamkan kaum Nuh q, angin kencang yang membinasakan kaum ‘Ad, dan beragam musibah lainnya. Semua musibah itu semestinya menyentak kesadaran kita bahwa setiap musibah niscaya berhubungan dengan ulah atau dosa manusia.
Kalau kita mau becermin, di muka bumi ini, niscaya lebih banyak penentang Allah l daripada pembela-Nya. Betapa Allah l lebih banyak dimaksiati daripada ditaati. Betapa kemaksiatan telah dianggap biasa bahkan ada yang menjadi adat/tradisi. Sementara itu, bendera tauhid tidak bisa tegak berkibar. Semua telah terbalik, yang tauhid dianggap syirik, sementara yang syirik dianggap tauhid. Tuntunan (sunnah) Rasulullah n dianggap bid’ah, aneh, atau sesat, sedangkan kebid’ahan justru dianggap sunnah dan syariat Islam.
Sementara itu, amat minim dari kalangan dai yang melakukan pengingkaran terhadap itu semua. Dai sekarang bak selebritas, lebih mementingkan “dakwah”-nya bisa diterima semua kalangan; sehingga masalah isi jadi nomor kesebelas. Tak heran jika ada “ustadz” cinta, “ustadz” zikir berjamaah, dsb. Dakwah para rasul yang mengajak kepada tauhid dan meninggalkan kesyirikan justru dihindari dan dijauhi, bahkan dianggap memecah-belah umat dan mau benar sendiri. Na’udzubillah!
Dengan semua itu, semestinya kita sadar, manusia memang sangat pantas mendapat kemurkaan-Nya. Ketika tidak ada amar ma’ruf nahi mungkar, Allah l pun meratakan azab-Nya, menimpakannya kepada siapa saja, orang yang baik dan yang jelek. Yang disayangkan, dengan semua rentetan musibah tersebut, manusia tak kunjung jera, justru ada yang kian menjauh dari agamanya. Masih banyak yang bergelimang kemaksiatan. Masih banyak seruan-seruan yang menentang Allah l dan syariat-Nya. Masih banyak yang lebih mengutamakan kepentingan duniawi atau politiknya. Masih terlampau banyak syiar-syiar kesyirikan menggema di negeri ini. Na’udzubillah!
Lebih memilukan lagi, musibah kemudian menjadi komoditas politik. Barak-barak pengungsian dikepung oleh posko parpol berikut atribut partainya. Mereka bangga-banggakan kepada publik bahwa partainyalah yang paling tanggap bencana. Para pengungsi pun menjadi tambang suara, sebagai alat untuk meraup simpati berbuah kursi. Ketulusan mereka pun dipertanyakan ketika mereka enggan menanggalkan atribut partai atau menyerahkan bantuan dengan mengundang (ekspos) media.
Di sisi lain, LSM-LSM dadakan berlomba membuat posko, yang difoto untuk lampiran proposal demi kucuran dana dari lembaga-lembaga donor. Yang lebih miris, ada pihak-pihak yang membuka pintu masuknya orang-orang asing (baca: LSM nonmuslim) ke tempat pengungsian yang berujung pada praktik kristenisasi.
Di lain pihak, dalam setiap peristiwa bencana, pemerintah hampir pasti selalu disudutkan. Selain dituding lamban, kurang tanggap, pendistribusian yang tidak merata, hingga soal penggelapan bantuan, bencana dianggap azab yang timbul karena semata-mata ulah elite birokrasi dan politik. Padahal faktor munculnya azab, kalau kita sadari, adalah karena kerusakan kita semua. Oleh karena itu, semua harus berkaca diri dan mencari solusi bersama, tidak menimpakan kesalahan kepada satu pihak (pemerintah) dan mengecilkan perannya dalam penanggulangan bencana.
Pada beberapa peristiwa, pemerintah sudah jauh-jauh hari memberikan peringatan. Akan tetapi, senyatanya banyak masyarakat yang lebih percaya kepada tokoh klenik tertentu, lebih percaya ramalan dukun, dan sebagainya. Namun ketika terjadi musibah, lagi-lagi pemerintah yang disalahkan.
Yang patut kita garis bawahi dalam hal ini, dengan itu semua, bisa dibayangkan, tanpa musibah, betapa manusia akan demikian sombong, tidak menyadari ada Dzat Yang Mahakuasa, lantas merasa aman dari azab-Nya. Oleh karena itu, apa yang Allah l berikan, harus diterima dengan lapang dada dan penuh kesabaran. Kita harus yakin bahwa di balik itu semua ada hikmah yang besar.
Wallahul musta’an.