Menemani Hijrah Rasulullah (bagian 3)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Semakin berat tekanan kaum musyrikin Quraisy terhadap kaum muslimin, lebih-lebih orang-orang yang lemah di antara mereka. Orang-orang kaya dan para pemuka Quraisy tak segan-segan menangkapi dan menyiksa budak-budak mereka yang masuk Islam. Mereka dengan bengis menyeret budaknya di atas pasir dan kerikil yang sedang membara di siang hari. Bahkan sebagiannya mereka tindih dengan batu besar lalu dijemur di bawah terik matahari.
Kejadian itu tentu saja membuat pilu hati Rasulullah n dan sahabat lainnya. Tetapi Allah l menyayangi mereka. Dia menggerakkan hati Abu Bakr membelanjakan hartanya membeli budak-budak yang sudah masuk Islam dan disiksa oleh majikannya. Seperti yang dialami oleh Bilal bin Rabah, ‘Amir bin Fuhairah, Zinnir, an-Nahdiyah, dan kedua putrinya, serta Ummu ‘Abis g.
Itulah yang sering dilakukan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq z. Bahkan semua itu dilakukannya hanya mengharap Wajah Allah l dan negeri akhirat.
“Aku ingin berbuat apa yang aku mau,” demikian jawabnya ketika ditegur oleh Abu Quhafah, ayahandanya agar tidak sembarangan membebaskan budak yang lemah.
Allah l menurunkan pula firman-Nya memuji ash-Shiddiq,
“Maka Kami memperingatkan kamu dengan neraka yang menyala-nyala. Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka, yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman). Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, padahal tidak ada seorang pun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mengharap Wajah Rabbnya Yang Mahatinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.” (al-Lail: 14—21)

Hijrah
Tekanan kaum musyrikin Quraisy semakin berat dirasakan oleh kaum muslimin. Akhirnya, datanglah perintah hijrah dari Rasulullah n. Beliau mengarahkan kaum muslimin ke Habasyah, karena di sana berkuasa seorang raja yang adil dan berbudi, Najasyi.
Abu Bakr pun tergerak untuk berangkat hijrah mencari tempat agar leluasa beribadah kepada Allah l. Beliau pun bersiap-siap.
Akhirnya berangkatlah Abu Bakr z hingga tiba di Barkilghamad. Di sana Abu Bakr bertemu dengan Ibnu Daghinah, pemuka al-Qarah. Ibnu Daghinah bertanya, “Hendak ke mana Anda, wahai Abu Bakr?”
“Masyarakatku mengusirku. Aku ingin berkelana mencari tempat untuk menyembah Rabbku.”
“Orang seperti Anda tidak layak diusir dan tidak boleh keluar. Anda suka menolong orang yang kesulitan, menyambung silaturahmi, membantu yang lemah, dan menjamu tamu. Aku akan memberi perlindungan untukmu. Kembalilah, sembahlah Rabbmu di negerimu sendiri.”
Akhirnya, Abu Bakr kembali bersama Ibnu Daghinah.
Ibnu Daghinah segera berkeliling menemui para pemuka Quraisy dan menyebutkan kebaikan Abu Bakr. Ternyata, tidak seorang pun yang mengingkari perkataannya. Tetapi, mereka meminta, “Suruh Abu Bakr beribadah di rumahnya saja. Jangan mengganggu kami dan jangan menampakkannya kepada kami, supaya anak dan istri kami tidak terpengaruh.”
Permintaan ini disampaikan oleh Ibnu Daghinah kepada Abu Bakr dan diterima oleh beliau.
Mulailah Abu Bakr mengerjakan ibadah dan membaca al-Qur’an di dalam rumahnya. Tetapi itu tidak lama, karena suatu kali tergerak hati Abu Bakr membuat tempat ibadah di halaman rumahnya.
Sejak itu, mulailah Abu Bakr shalat dan membaca al-Qur’an di masjid halaman rumahnya.
Adalah Abu Bakr seorang yang lembut dan perasa. Dia tidak dapat menahan air matanya setiap kali membaca ayat-ayat Allah l. Hal itu sering terjadi dan menarik perhatian beberapa wanita dan anak-anak kaum musyrikin. Mereka semakin tertarik dan suka menunggu-nunggu, kapan Abu Bakr akan shalat dan membaca lagi?
Akan tetapi, peristiwa ini segera diketahui oleh para pembesar Quraisy. Mereka menemui Ibnu Daghinah dan meminta agar dia mengingatkan Abu Bakr, karena Abu Bakr tidak beribadah di dalam rumahnya, tetapi justru membuat masjid di halaman rumahnya sehingga membuat goncang anak-anak dan wanita musyrikin.
Ibnu Daghinah segera menemui Abu Bakr z dan mengingatkan, “Anda sudah tahu kesepakatan saya dengan Anda. Terserah Anda, apakah Anda mengembalikan jaminan itu kepada saya atau menuruti permintaan saya. Saya tidak ingin orang-orang Arab mengatakan bahwa saya mengkhianati orang yang saya beri jaminan.” Mendengar permintaannya, Abu Bakr malah mengatakan, “Saya kembalikan jaminanmu. Saya ridha dengan jaminan dari Allah.”
Sejak saat itu Abu Bakr kembali diganggu dan disakiti di jalan Allah l.

Ke Madinah Bersama Nabi n
Sebetulnya, sejak ada perintah hijrah ke Madinah, Abu Bakr sudah bersiap untuk berangkat. Akan tetapi, Rasulullah n menahannya. Abu Bakr berpikir bahwa mungkin Rasulullah n ingin dia menemani beliau hijrah ke Madinah. Kalau benar demikian, alangkah senang hatinya.
Siang itu, sinar matahari demikian panas menyengat. Hampir tidak ada seorang pun yang keluar saat itu. Mereka lebih suka berdiam di rumah.
Biasanya, Rasulullah n datang berkunjung ke rumah Abu Bakr, kalau tidak pagi hari, tentu petang harinya. Akan tetapi, saat itu, Abu Bakr melihat Rasulullah n sudah di depan rumahnya. Segera saja Abu Bakr beranjak dari tempat duduknya mempersilakan beliau duduk.
“Suruh keluar siapa saja yang ada di rumahmu,” kata Rasulullah n kepadanya.
“Mereka hanya putri-putriku. Ayah ibuku tebusanmu, ada apa, ya Rasulullah?”
“Saya sudah diizinkan untuk hijrah.”
“Saya temani, ya Rasulullah?”
“Ya, engkau temani.” Abu Bakr menangis karena gembira dapat menemani Rasulullah n hijrah ke Madinah.
“Ya Nabi Allah, ini dua kendaraan yang sudah saya persiapkan untuk hijrah, ambillah.”
“Baik, dengan harga,” lalu Rasulullah n memilih salah satu dari unta tersebut.
Abu Bakr juga menyewa penunjuk jalan bernama ‘Abdullah bin Uraiqith yang masih musyrik. Kemudian beliau menyerahkan kedua unta itu agar dipelihara dan dibawa pada hari yang sudah disepakati.
Mulailah ‘Aisyah dan Asma’ mempersiapkan bekal Rasulullah n dan Abu Bakr. Asma’ memotong kain pengikat pinggangnya menjadi dua, yang satu untuk membawa bekal, yang lain untuk membelit pinggangnya. Sejak saat itulah dia dikenal sebagai Dzatu Nithaqain (wanita pemilik dua ikat pinggang).
Sebelumnya, para pemuka Quraisy sudah merencanakan untuk membunuh Nabi n. Mereka menyewa dari setiap kabilah seorang pemuda yang kekar dan kuat, lengkap dengan pedang yang tajam. Para pemuda itu diminta mengepung rumah Nabi n dan membunuh beliau dengan satu kali tebasan atau tikaman, sehingga darah suci beliau menjadi tanggungan masing-masing kabilah. Menurut mereka, dengan cara ini, Bani Hasyim tentu tidak akan sanggup menuntut balas dan bersedia menerima tebusan.
Sampai jauh malam, para pemuda itu masih mengintai rumah Nabi n.
Setelah tiba waktunya, Rasulullah n menyuruh ‘Ali tidur di pembaringan beliau dengan selimut yang biasa digunakan beliau. Adapun para pemuda yang mengepung rumah beliau sudah dibuat tertidur oleh Allah k.
Akhirnya, Rasulullah n keluar dengan aman menuju Gua Tsur. Di tengah perjalanan, beliau bertemu dengan Abu Bakr. Dalam perjalanan itu, sesekali Abu Bakr berjalan di depan Rasulullah n, kadang dia berjalan di belakang beliau.
Rasulullah n menanyakan hal itu kepadanya dan kata Abu Bakr, “Ya Rasulullah, kalau saya teringat para pengejar, saya berjalan di belakang Anda, dan kalau teringat akan pengintai, saya berjalan di depan Anda.”
Semua itu menunjukkan kecintaan Abu Bakr terhadap Rasulullah n, dan dia tidak ingin Rasulullah n terkena bahaya. Oleh sebab itulah, dia menyiapkan diri menjadi perisai bagi Rasulullah n.
Sesampainya di pintu gua, Abu Bakr meminta izin mendahului Rasulullah n untuk memeriksa keadaan gua. Abu Bakr khawatir ada bahaya yang mengancam keselamatan Rasulullah n.
Dengan cepat, Abu Bakr membersihkan gua itu dari binatang berbisa dan menyiapkan tempat agar Rasulullah n beristirahat.
Setelah selesai, Rasulullah n memasuki gua itu lalu tertidur.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan, pada waktu itu, Rasulullah n tidur di atas paha Abu Bakr. Tiba-tiba Rasulullah n terbangun karena wajah beliau terkena tetesan air (air mata Abu Bakr, red.).
Rasulullah n bertanya, kepada Abu Bakr apa yang menyebabkan dia menangis. Abu Bakr mengatakan bahwa dia kesakitan menahan gigitan ular dari lubang yang belum sempat dibersihkannya. Dia tidak ingin mengganggu istirahat Rasulullah n, sehingga membiarkan nyeri itu menyerangnya.
Akhirnya, Rasulullah n melihat kaki Abu Bakr dan mengobatinya lalu mendoakannya agar segera sembuh.
Sementara itu, di Makkah, para pemuda yang mengepung rumah Rasulullah n segera terbangun dan masuk ke dalam rumah. Akan tetapi, mereka hanya menemukan ‘Ali yang tidur di atas pembaringan Rasulullah n.
Penduduk Makkah mulai heboh dan menyebar para pencari jejak untuk menangkap Rasulullah n dan Abu Bakr. Bahkan, mereka menjanjikan hadiah seratus ekor unta bagi siapa saja yang dapat membawa Rasulullah n dan Abu Bakr, hidup atau mati.
Rasulullah n dan Abu Bakr pun bersembunyi di dalam gua itu selama tiga hari tiga malam. Setiap hari, ‘Abdullah putra Abu Bakr, sengaja menggembalakan kambing-kambingnya di sekitar gua itu di siang hari. Malamnya, ‘Abdullah sengaja bergabung dengan orang-orang Quraisy untuk mendapatkan berita rencana mereka terhadap Rasulullah n dan ayahnya. Setelah menyampaikan berita kepada Rasulullah n dan Abu Bakr, menjelang pagi, ‘Abdullah kembali ke tengah-tengah penduduk Makkah.
Begitulah yang dilakukannya selama tiga hari.
Orang-orang Quraisy tidak berhenti mencari keduanya. Bahkan, para pencari jejak, sudah pula tiba di mulut gua. Melihat hal ini, Abu Bakr semakin khawatir, bukan terhadap dirinya, melainkan pribadi Rasulullah n. Dengan cemas, dia berbisik kepada Rasulullah n, “Seandainya mereka melihat ke arah kaki mereka, pasti mereka melihat kita, ya Rasulullah.”
“Apa dugaanmu, hai Abu Bakr dengan dua orang, sedangkan Allah yang ketiganya? Jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Itulah yang disebutkan Allah l dalam firman-Nya,
“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Makkah) mengeluarkannya (dari Makkah) sedangkan Dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu Dia berkata kepada temannya, ‘Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.’ Maka Allah menurunkan ketenangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Allah menjadikan seruan orang-orang kafir itulah yang rendah, dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 40)
Akhirnya para pencari itu kembali ke Makkah dengan tangan hampa.
Abu Jahl yang saat itu menjadi tokoh masyarakat Makkah segera mendatangi rumah Abu Bakr.
Asma’ yang kebetulan di rumah menemui mereka. Abu Jahl dengan garang menanyakan di mana Abu Bakr. Asma’ hanya menjawab tidak tahu. Abu Jahl semakin marah dan menampar pipi Asma’. Dengan sengit Asma’ membalasnya dengan cercaan.
Karena tak mendapatkan jawaban, Abu Jahl meninggalkan tempat itu.
Seluruh pelosok kota Makkah sampai ke arah dataran tinggi sekitarnya, telah dijelajahi, bahkan mereka sudah tiba di depan Gua Tsur, tetapi jejak Rasulullah n dan Abu Bakr bagai hilang ditelan bumi.
Akhirnya, mereka sepakat menjanjikan hadiah seratus ekor unta bagi yang membawa Muhammad n dan Abu Bakr, hidup atau mati.
Setelah tiga hari tiga malam bersembunyi di gua Tsur, Rasulullah n dan Abu Bakr pun keluar lalu berangkat dengan pembantunya, ‘Amir bin Fuhairah, dan dipandu oleh ‘Abdullah bin Uraiqith yang membawa mereka mengambil jalan dekat pantai melewati perkampungan Bani Mudlij, tempat Suraqah bin Malik bin Ju’syum.
Sebelum bertolak meninggalkan Makkah, Rasulullah n berdiri sambil memandang kota Makkah, kata beliau, “Demi Allah. Sungguh, engkau adalah bumi Allah yang paling baik dan paling dicintai oleh Allah, seandainya aku tidak dikeluarkan darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.”
Dalam perjalanan itu, mereka singgah di tenda Ummu Ma’bad, sebagaimana telah diceritakan dalam episode Hijrah ke Madinah.
Sementara itu, kaum muslimin di Madinah sudah mendengar kabar keberangkatan Rasulullah n menuju negeri mereka. Setiap hari, mereka keluar dari rumah-rumah mereka menuju perbatasan menjemput rombongan Rasulullah n. Akan tetapi, sampai tengah hari yang panas, belum juga terlihat tanda-tanda Rasulullah n akan tiba.
Akhirnya, mereka kembali ke rumah masing-masing. Keesokan harinya mereka kembali menuju gerbang kota Madinah untuk menyongsong rombongan Rasulullah n, tetapi kembali mereka dihalau oleh panas matahari yang menyengat. Mereka terpaksa pulang kembali.
Senin bulan Rabi’ul Awwal, di saat mereka sudah berada di bawah terik matahari menyongsong Rasulullah n dan rombongannya, kemudian bersiap hendak pulang, seorang Yahudi yang sedang berada di atas lotengnya tak mampu menahan diri. Dengan suara keras Yahudi itu berteriak, “Hai orang-orang Arab, itu orang yang kalian tunggu-tunggu sudah datang.”
Mendengar teriakan itu, kaum muslimin segera mengambil senjata mereka lalu keluar menuju sahara menyambut rombongan Rasulullah n dan Abu Bakr. Kemudian, rombongan berbelok menuju perkampungan Bani ‘Auf dan singgah di sana serta menetap di rumah Abu Ayyub al-Anshari. Abu Bakr sendiri singgah di tempat Kharijah bin Zaid dari suku Khazraj.
Sebagian sahabat dari kalangan Anshar yang belum mengenal Rasulullah n memberi salam kepada Abu Bakr. Melihat hal ini, Abu Bakr berdiri menaungi Rasulullah n dari panas matahari, akhirnya mereka mengenali beliau.
Hari itu adalah hari bahagia penduduk Madinah. Sejak hari itu mulailah babak baru perjuangan Islam. Adapun Abu Bakr tetap setia menjadi pembantu utama Rasulullah n dalam setiap keadaan sampai Rasulullah n wafat.
Suka duka selama mendampingi Rasulullah n telah berlalu. Kini, dengan bekal keteladanan yang dipetiknya dari kehidupan pribadi Rasulullah n, Abu Bakr mulai menatap masa depan. Bukan bagi dirinya, melainkan bagi Islam dan kaum muslimin. Apa yang harus dilakukannya agar warisan utama Rasulullah n ini semakin berkembang.
Wallahu a’lam.

 

Tinggalkanlah Perbuatan Keji

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Allah l dengan hikmah dan rahmat-Nya yang sempurna senantiasa menghendaki keselamatan dan kebahagiaan bagi para hamba-Nya, baik di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, Dia l mengharamkan berbagai macam perbuatan keji dan kotor seperti: zina, homoseks, dan lesbi; sekaligus memerintahkan para hamba-Nya menjaga kehormatannya dari perbuatan tersebut.
Allah l mengabarkan di dalam kitab-Nya yang mulia sifat-sifat orang yang beriman yang akan menjadi pewaris surga firdaus-Nya. Pada awal surat al-Mu’minun disebutkan salah satu sifat mereka,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5—7)
Rasulullah n menegaskan,
مَنْ حَفِظَ مَا بَيْنَ فَقْمَيْهِ وَرِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Barang siapa yang menjaga lisan dan kemaluannya (kehormatannya), niscaya dia akan masuk surga.” (Shahih al-Jami’, no. 6202)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Orang-orang yang menjaga kehormatannya dari perbuatan haram sehingga tidak terjatuh pada perbuatan yang dilarang oleh Allah l, seperti zina dan homoseks.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/213)
Karena Allah l yang menciptakan hamba-Nya, Dia-lah yang paling mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan oleh mereka, khususnya yang berkaitan dengan syahwat biologis mereka. Oleh karena itu, disyariatkanlah pernikahan untuk menyalurkan syahwat mereka dengan jalan yang halal.
Rabb kita l berfirman,
ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐ ﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖﮗ ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ
“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Rasulullah n bersabda,
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai sekalian para pemuda, barang siapa di antara kalian yang sudah mampu menikah, maka hendaknya menikah. Karena menikah itu akan memudahkan untuk menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Barang siapa yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa. Karena puasa itu akan meredakan nafsu/syahwatnya.” (Muttafaqun alaih dari Abdullah bin Mas’ud z)

Haramnya Zina, Homoseks, Lesbi, dan Menyetubuhi Binatang
Dari penjelasan di atas, kita semakin yakin bahwa zina, homo, lesbi, dan menyetubuhi binatang adalah perbuatan yang melampaui batas.
Allah l melarang para hamba-Nya dari perbuatan zina dalam firman-Nya,
“Janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)
Rabb kita l mengharamkan homoseks dalam firman-Nya,
“(Kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kamu mengerjakan perbuatan fahisyah (keji) itu, yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun (di dunia ini) sebelummu?’ Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melampiaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kamu ini adalah kaum yang melampaui batas.” (al-A’raf: 80—81)
Allah l pun mengharamkan perbuatan lesbi dan menyetubuhi binatang berdasarkan keumuman firman-Nya dalam surat al-Mu’minun ayat 5—7 di atas. Demikian pula sabda Rasulullah n,
أَكْثَرُ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ الْفَمُ وَالْفَرْجُ
“Mayoritas perkara yang menyebabkan manusia masuk ke dalam neraka adalah lisan dan kemaluan.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah z, dinyatakan hasan oleh al-Albani)
Adapun hadits,
وَمَنْ وَجَدْتُمُوهُ وَقَعَ عَلَى بَهِيمَةٍ فَاقْتُلُوهُ وَاقْتُلُوا الْبَهِيمَةَ
“Siapa yang kalian dapati bersetubuh dengan binatang maka bunuhlah dia dan binatang itu.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan)
terjadi perbedaan pendapat di antara para ulama ahlul hadits tentang kesahihannya. Sebagian mereka menyatakannya sahih, seperti asy-Syaikh al-Albani t. Namun, hadits ini dianggap dhaif oleh para ulama mutaqaddimin (terdahulu), seperti Ibnu Ma’in, al-Bukhari, dan Abu Dawud rahimahumullah. Al-Imam Ibnu Qayyim juga merajihkan kedhaifannya dalam kitab ad-Da’ wad Dawa’ (hlm. 252—253).

Tingkatan Dosa Zina Sesuai dengan Kerusakan yang Ditimbulkannya
1. Berzina dengan seorang bujang lebih ringan hukumnya dibandingkan dengan seorang wanita yang bersuami.
Demikian pula sebaliknya, seorang lelaki yang belum menikah lebih ringan hukumnya dibandingkan dengan seorang yang beristri.
Allah l berfirman tentang hukum laki-laki dan wanita yang belum pernah menikah berbuat zina,
“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah. Jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhirat, hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.” (an-Nur: 2)
Adapun hukuman bagi orang yang sudah menikah (muhshan) yang berbuat zina adalah rajam (dilempari batu sampai mati). Rasulullah n bersabda (yang artinya), “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku akan memutuskan di antara kalian berdua dengan kitabullah. Budak perempuan dan kambing-kambing ini kembali kepada kalian. Adapun anak laki-lakimu hukumannya dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. Berangkatlah segera, wahai Unais, menuju istri orang ini. Apabila dia mengakui telah berbuat zina, rajamlah.” (Muttafaqun ‘alaih)

2. Budak yang berbuat zina hukumnya separuh (dicambuk 50 kali) dari hukum orang merdeka dan tidak dirajam.
Allah l berfirman,
“Apabila mereka telah menjaga diri dengan menikah, kemudian mereka mengerjakan perbuatan yang keji (zina), maka bagi mereka separuh hukuman dari hukuman wanita-wanita merdeka yang bersuami.” (an-Nisa’: 25)

3. Berzina dengan istri tetangga lebih besar dosanya daripada dengan selainnya.
Dari Ibnu Mas’ud z, dari Nabi n,
أَنَّهُ سُئِلَ: أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلهِ نِدّاً وَهُوَ خَلَقَكَ. قِيلَ: ثُمَّ أَيٌ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ تَخَافُ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ. قِيلَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ
Beliau n ditanya, “Dosa apa yang paling besar?” Beliau n menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah l padahal Dia menciptakanmu.” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau n menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut dia akan makan bersamamu (menjadikanmu semakin miskin).” Beliau ditanya lagi, “Kemudian apa?” Jawab beliau, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” (Muttafaqun alaih)
Bahkan, Rasulullah n bersabda,
لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعْشْرِ نِسْوَةٍ أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ
“Sungguh, seorang laki-laki berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan dosanya daripada dia berzina dengan istri tetangganya.” (HR. Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 5043)
Zina itu haram dan termasuk dosa besar. Namun, berzina dengan istri tetangga itu lebih besar dosanya karena menyakiti tetangganya sendiri.
Rasulullah n bersabda,
لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
“Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

4. Berzina dengan saudari perempuan lebih besar dosa dan kerusakannya daripada dengan selainnya
Syaikhul Islam t ditanya mengenai hukuman bagi seseorang yang berzina dengan saudarinya. Jawab beliau, orang yang berzina dengan saudarinya padahal dia tahu tentang haramnya hal ini, maka dia wajib dibunuh.
Dalilnya adalah riwayat dari al-Bara’ bin Azib z yang berkata, “Pamanku, Abu Burdah, berpapasan denganku sambil membawa sebuah bendera. Aku bertanya, ‘Kemana engkau akan pergi, wahai Paman?’ Beliau menjawab, ‘Rasulullah n mengutusku untuk mendatangi seorang laki-laki yang menikahi istri bapaknya. Kemudian beliau n memerintahkanku untuk memenggal lehernya dan mengambil hartanya’.” (HR. Abu Dawud no. 4457, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani t di dalam al-Irwa’ no. 2351)

Kerusakan dan Kerugian Zina
Tidak ada satu pun perbuatan dosa kecuali pasti akan menimbulkan berbagai kerusakan dan kerugian, baik bagi pelaku maupun lingkungan. Bahkan, kerusakannya dirasakan oleh seluruh alam, di dunia dan akhirat.
Allah l berfirman,
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)
Asy-Syaikh ‘Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Ditampakkan kerusakan di darat dan laut, yaitu rusaknya kehidupan mereka, timbulnya berbagai musibah, dan berbagai penyakit akan menimpa mereka. Semuanya disebabkan oleh perbuatan dosa mereka, seperti amalan-amalan yang rusak dan merusak kehidupan.”
Sa’d bin Ubadah z berkata, “Kalau aku melihat seorang lelaki (yang bukan mahram) bersama istriku, sungguh aku akan tebas dia dengan sisi pedang yang tajam.”
Berita itu sampai kepada Nabi n. Beliau bersabda,
أَتَعْجَبُوْنَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّيْ
“Apakah kalian heran terhadap kecemburuan Sa’d? Sungguh, aku lebih cemburu dibandingkan dia, dan Allah l lebih cemburu dibandingkan denganku.” (HR. al-Bukhari)
Rasulullah n bersabda,
لَا يَحِلُّ دَمُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إلَّا بِإِحْدَى ثَلَاثٍ: الثَّيِّبُ الزَّانِي، وَالنَّفْسُ بِالنَّفْسِ، وَالتَّارِكُ لِدِينِهِ الْمُفَارِقُ لِلْجَمَاعَةِ
“Tidak halal darah seorang muslim melainkan dengan salah satu dari tiga sebab: orang yang sudah menikah berzina, membunuh orang lain, serta orang yang keluar agamanya dan memisahkan diri dari jamaah (kaum muslimin).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud z)
Al-Imam Ibnul Qayyim t menjelaskan hadits di atas, “Hadits ini mengiringkan penyebutan hukum zina dengan hukum murtad dan membunuh jiwa (secara sengaja), sebagaimana halnya surat al-Furqan ayat 28. Rasulullah n memulai penyebutan hukum perbuatan yang paling sering terjadi (zina), kemudian yang berikutnya. Zina adalah perbuatan yang lebih sering terjadi daripada pembunuhan, sedangkan pembunuhan adalah lebih sering terjadi daripada kemurtadan. Jadi, dalam hadits di atas Rasulullah n menyebutkan masalah yang besar, kemudian berpindah ke yang lebih besar.
Kerusakan yang ditimbulkan oleh zina bertentangan dengan kemaslahatan dan kebaikan alam semesta. Apabila seorang wanita berbuat zina, berarti dia telah mendatangkan aib/malu bagi keluarga, suami, dan sanak saudaranya. Selain itu, dia menyebabkan kepala mereka tertunduk malu di hadapan umat manusia apabila hamil (karena zina). Apabila dia membunuh anak hasil zinanya, berarti dia telah menggabungkan dosa zina dan membunuh. Apabila dia menasabkan kepada suaminya, berarti dia telah memasukkan keturunan orang lain dalam keluarga suaminya dan keluarganya, padahal anak itu bukan ahli warisnya. Demikian pula, anak itu akan melihat dan berkhalwat dengan mereka, serta menasabkan diri kepada mereka, padahal ia bukan dari mereka. Masih banyak lagi kerusakan yang ditimbulkan oleh perbuatan zinanya.
Adapun apabila seorang lelaki berbuat zina, berarti ia merusak nasabnya sendiri, merusak wanita yang terjaga, serta menghadapkannya kepada kebinasaan dan kerusakan di dunia dan di akhirat. (ad-Da’ wad Dawa’, hlm. 232)
Dari penjelasan al-‘Allamah Ibnu Qayyim t di atas dan uraian sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa perbuatan zina akan menimbulkan banyak kerusakan dan kerugian di dunia, di antaranya:
Jatuhnya kehormatan pada perkara yang menjijikkan.
Rusaknya nasab.
Menimbulkan kebencian, permusuhan, dan pembunuhan.
Memutus hubungan silaturahim
Memberikan warisan kepada yang tidak berhak menerimanya.
Menyakiti tetangga.
Timbul dan menyebarnya berbagai penyakit yang menakutkan, seperti AIDS, GO, sipilis, dan lainnya; bahkan sebagian dokter berpendapat bahwa di antara penyebab kanker rahim adalah zina.
Kerusakan moral masyarakat yang begitu nyata.
Adapun azab di akhirat lebih keras dan menyakitkan, bagi siapa saja yang tidak mau bertobat dari perbuatan itu.
Oleh karena itu, barang siapa yang terjatuh ke dalam perbuatan kotor dan menjijikkan ini, hendaknya dia segera bertobat kepada Allah l, sebagaimana Dia l perintahkan,
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (at-Tahrim: 8)
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Kehancuran Dibalik Kebebebasan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Allah Yang Mahaadil, Mahabijaksana, Maha Pemurah, Maha Penyayang, dan Yang Maha Berilmu telah menganugerahkan akal kepada manusia untuk membedakan mereka dengan makhluk yang lain di muka bumi ini. Selain itu, akal yang dibimbing oleh syariat adalah alat untuk mengetahui segala yang akan mendatangkan maslahat dan yang akan menimbulkan mudarat pada dirinya. Namun, mayoritas manusia menyalahgunakan anugerah tersebut.
Allah l telah menciptakan mereka di atas fitrah (kesucian), namun manusia sendirilah yang menodai dan mengotorinya. Allah l juga menyusun organ tubuhnya dengan nafsu dan syahwat untuk meraih segala yang bermanfaat, namun manusia salah menggunakannya.
Apabila kita kembali kepada hukum “akal yang sehat tidak akan bertentangan dengan dalil yang sahih”, niscaya kita akan mengetahui bahwa wahyu yang diturunkan oleh Allah l sesuai dengan hikmah anugerah akal tersebut.
Demikian juga fitrah, “tidak akan menolak segala kebenaran yang datang dari wahyu.” Saat akal telah rusak, fitrah telah ternodai, dan nafsu telah ditunggangi oleh iblis, ketika itulah semuanya akan menolak segala ketentuan wahyu dan menuntut kebebasan hidup. Ingin lepas dari aturan Allah l dan ingin merdeka dari syariat-Nya. Inilah pintu kebinasaan dan kehancuran manusia.
Rasulullah n telah menegaskan hal tersebut dalam sabdanya,
لَقَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى مِثْلِ الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا إِلاَّ هَالِكٌ
“Sungguh, telah aku tinggalkan kalian di atas (hujah) yang putih (bersih), malamnya bagaikan siangnya. Tidak ada seseorang yang menyimpang darinya melainkan binasa.” (Shahih at-Targhib wa Tarhib no. 59 dari sahabat Irbadh bin Sariyah z)
Qatadah t berkata, “Sesungguhnya umat Islam sedikit di tengah umat yang banyak, maka berbaik sangkalah kalian kepada Allah l. Angkatlah harapan yang besar kepada-Nya, dan jadikanlah rahmat Allah l atas kalian melebihi amal-amal kalian karena tidak ada orang yang selamat melainkan dengan rahmat Allah l dan tidak ada seorang pun binasa melainkan karena amalnya sendiri.” (Syu’abil Iman no. 4301)
Rasulullah n juga bersabda,
وَلاَ يَهْلِكُ عَلَى اللهِ إِلاَّ هَالِكٌ
“Tidak ada yang akan dibinasakan oleh Allah l selain orang yang pantas binasa.” (HR. Muslim no. 131)

Bukti-Bukti Tuntutan Kebebasan
Seruan menuju kebebasan hidup adalah seruan kaum kafir yang ingin terbebas dari aturan Allah l. Mereka dipimpin oleh iblis yang menolak perintah Allah l, menuntut kebebasan dari aturan-Nya, dan meminta peluang untuk mencari pengikut.
Bukti tuntutan mereka terhadap kebebasan adalah komentar mereka terhadap wahyu dan pengutusan para rasul. Menurut mereka, seorang yang diutus menjadi rasul itu haruslah orang yang kaya raya dan berpengaruh.
Mereka berkata, “Mengapa al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini?” (az-Zukhruf: 31)
Tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, selain perkataan mereka, “Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasul?” Katakanlah, “Seandainya ada malaikat-malaikat yang berjalan-jalan sebagai penghuni di bumi, niscaya Kami turunkan dari langit kepada mereka seorang malaikat menjadi rasul.” (al-Isra’: 94—95)
Bukti lain bahwa mereka menantang para utusan tersebut—jika sanggup melakukan apa yang mereka syaratkan, mereka mau beriman—adalah firman-Nya,
Mereka berkata, “Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kami. Atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit, dan kami sekali-kali tidak akan memercayai kenaikanmu itu hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca.” Katakanlah, “Mahasuci Rabbku, bukankah aku ini hanya seorang manusia yang menjadi rasul?” (al-Isra’: 90—93)
Mereka mencela status pengutusan tersebut dengan mencela nabi secara langsung atau mencelanya karena orang-orang yang mengikutinya.
Demikianlah, tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” (adz-Dzariyat: 52)
Mereka berkata, “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” (asy-Syuara’: 111)
Berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, “Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta.” (Hud: 27)
Bukti lain bahwa mereka memerangi para utusan tersebut, bahkan tidak segan membunuhnya, seperti yang mereka lakukan terhadap Nabi Yahya dan Nabi Zakariya e, adalah firman-Nya,
Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kepada al-Qur’an yang diturunkan Allah.” Mereka berkata, “Kami hanya beriman kepada apa yang diturunkan kepada kami.” Dan mereka kafir kepada al-Qur’an yang diturunkan sesudahnya, sedangkan al-Qur’an itu adalah (kitab) yang haq, yang membenarkan apa yang ada pada mereka. Katakanlah, “Mengapa kamu dahulu membunuh nabi-nabi Allah jika benar kamu orang-orang yang beriman?” (al-Baqarah: 91)
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang memang tak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil. Maka berikanlah kabar gembira kepada mereka dengan siksaan yang pedih.” (Ali ‘Imran: 21)

Kehancuran di Balik Tuntutan Kebebasan
Tuntutan mereka menuju kebebasan hidup ternyata berakibat malapetaka dan kebinasaan di dunia sebelum di akhirat. Allah l telah menceritakan akibat tuntutan kebebasan tersebut dalam banyak ayat di dalam al-Qur’an, di antaranya:

1. Kehancuran kaum ‘Ad
Al-Qur’an menyebutkan bahwa wilayah kaum ‘Ad berada di daerah al-Ahqaf, bentuk jamak dari al-hiqf yang artinya padang pasir. Al-Hafizh Ibnu Katsir t menjelaskan bahwa mereka mendiami al-Ahqaf, yaitu gunung pasir yang dekat dengan daerah Hadramaut di negeri Yaman. Zaman kaum ‘Ad adalah setelah kaum Nabi Nuh q, sebagaimana firman Allah l,
“Ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Rabbmu telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu).” (al-A’raf: 69)
Karena memiliki kekuatan tubuh dan perawakan, kuat berkerja, kuat dari sisi perekonomian, rezeki yang banyak, harta benda yang melimpah ruah, dan kebun-kebun, mereka menyembah kepada selain Allah l. Allah l lalu mengutus kepada mereka seorang rasul, Hud q. Beliau memberi peringatan dan kabar gembira, serta menyeru mereka agar hanya menyembah Allah l semata. Selain itu, beliau juga memperingatkan mereka dari murka dan azab Allah l.
Akan tetapi, mereka menentang seruan tersebut dan menuntut kebebasan. Mereka tidak mau terikat dengan wahyu yang dibawa untuk mereka. Allah l pun menghukum mereka.
Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, berkatalah mereka, “Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.” (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih. Yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Rabbnya. Maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.” (al-Ahqaf: 24—25)
“Maka Kami meniupkan angin yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang naas, karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksaan yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan sesungguhnya siksa akhirat lebih menghinakan sedangkan mereka tidak diberi pertolongan.” (Fushilat: 16)
ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ
“Adapun kaum ‘Ad, maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. Yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus. Maka kamu lihat kaum ‘Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorang pun yang tinggal di antara mereka.” (al-Haqqah: 6—8)

2. Kehancuran kaum Tsamud
Kaum Tsamud tinggal di daerah al-Hijr. Saat ini daerah pegunungan tersebut dinamai Mada’in Shalih. Allah l berfirman tentang mereka,
“Terhadap kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah.” (al-Fajr: 9)
Mereka ahli memahat batu pegunungan dan menjadikannya sebagai tempat tinggal. Selain itu, mereka juga pandai mengolah tanah datar dan mengubahnya menjadi istana.
“Ingatlah ketika Dia menjadikan kalian khalifah-khalifah setelah kaum ‘Ad dan menempatkan kalian di bumi. Di tempat yang datar kalian dirikan istana-istana dan di bukit-bukit kalian pahat menjadi rumah-rumah.” (al-A’raf: 74)
Negeri mereka memiliki keistimewaan dengan kesuburan tanahnya, selain letak geografisnya yang berada di jalur perdagangan antara Syam dan Yaman. Hal itu membuat sumber kehidupan mereka melimpah. Namun, kaum Tsamud membalas semua kenikmatan itu dengan penyimpangan dari jalan Allah l. Mereka menuntut kebebasan dari ajaran yang dibawa oleh Nabi Shalih q.
Akhirnya, Allah l menghukum mereka,
“Maka tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shalih beserta orang-orang yang beriman bersama dia dengan rahmat dari Kami dan dari kehinaan di hari itu. Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu, lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, sesungguhnya kaum Tsamud mengingkari Rabb mereka. Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (Hud: 66—68)

Tuntutan Kebebasan, Suara Iblis
Mari kita dengarkan dialog iblis dengan Rabb kita yang menuntut kebebasan dari perintah-Nya l. Hal ini diabadikan oleh Allah l di dalam al-Qur’an yang dibaca dan ditelaah agar kita bisa mengambil pelajaran bahwa tidak ada seorang pun yang menuntut kebebasan dari aturan syariat melainkan ia telah masuk dalam perangkap iblis dan jaringannya. Ia akan binasa di dunia sebelum di akhirat.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu (Adam), lalu Kami bentuk tubuhmu, kemudian Kami katakan kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada Adam!” Maka mereka pun bersujud kecuali iblis, dia tidak termasuk mereka yang bersujud. Allah berfirman, “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah berfirman, “Turunlah kamu dari surga itu, karena kamu tidaklah sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya. Keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” Iblis menjawab, “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan.” Allah berfirman, “Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (al-A’raf: 11—18)
Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama, kecuali iblis. Ia enggan ikut besama-sama (malaikat) yang sujud itu. Allah berfirman, “Wahai iblis, apa sebabnya kamu tidak (ikut sujud) bersama-sama mereka yang sujud itu?” Iblis berkata, “Aku sekali-kali tidak akan sujud kepada manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.” Allah berfirman, “Keluarlah dari surga, karena sesungguhnya kamu terkutuk, dan sesungguhnya kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat.” Iblis berkata, “Ya Rabbku, (kalau begitu) beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan.” Allah berfirman, “(Kalau begitu) maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan.” Iblis berkata, “Ya Rabbku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka.” Allah berfirman, “Ini adalah jalan yang lurus, kewajiban-Kulah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat. Dan sesungguhnya jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut setan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. (al-Hijr: 30—44)
Demikian pula, Allah l telah menceritakan dalam surat-surat yang lain, seperti dalam surat al-Isra’ ayat 61—64 dan surat Shad ayat 71—85. Semuanya menjelaskan bahwa Iblis dan bala tentaranya menuntut kebebasan dari syariat Allah l, yang berakibat petaka besar di dunia sebelum di akhirat.

Kesudahan Bagi Orang yang Tunduk Terhadap Syariat Allah l
Kesudahan bagi orang yang menerima segala aturan syariat Allah l adalah kemuliaan di dunia dan kebahagiaan kelak di akhirat. Dalam sejarah manusia, Allah l telah menceritakan orang-orang yang selamat dari murka-Nya bersama para rasul-Nya dan orang-orang yang mendapatkan kebinasaan.
Hal ini mengajak kita untuk mengikuti langkah mereka yang selamat dan meninggalkan sebab-sebab yang membinasakan orang yang celaka.
Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah keturunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah, dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.” (Ali Imran: 195)
Rasulullah n bersabda,
مَا نَهَيتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ، وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ كَثْرَةُ مَسَائِلِهِمْ وَاخْتِلَافُهُمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ
“Apa yang aku larang kalian maka tinggalkanlah dan apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah sesuai dengan kemampuan kalian. Sesungguhnya yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah banyaknya bertanya dan menyelisihi nabi-nabi mereka.” (HR. al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337)
Ibnu Rajab t mengatakan, “Kesimpulannya, barang siapa mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Nabi n di dalam hadits ini, meninggalkan apa yang dilarangnya, dan dia menyibukkan diri dengannya, maka akan terwujud keselamatan di dunia dan akhirat.” (Lihat Jami’ Ulum wal Hikam hlm. 127)

 

Katakan Tidak Untuk Pacaran

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifa’i)

وَلَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ، فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ
“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahram) karena sesungguhnya yang menjadi pihak ketiga adalah setan.”
Hadits dan Takhrijnya
Hadits di atas adalah penggalan dari hadits Jabir bin Samurah z. Secara lengkap, di dalam hadits tersebut Rasulullah n bersabda, “Berbuat baiklah kepada para sahabatku, kemudian kepada generasi setelahnya, lalu generasi yang berikutnya. Kemudian, akan datang sekelompok orang, salah seorang di antara mereka bersumpah sebelum ia diminta untuk bersumpah. Ia memberikan persaksian sebelum diminta untuk bersaksi. Barang siapa di antara kalian yang menginginkan buhbuhatal jannah (bagian tengah, terluas, dan terindah), berpeganglah ia dengan al-jama’ah, karena setan bersama orang yang sendiri. Ia lebih jauh dari orang yang berdua. Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita (yang bukan mahram), karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan. Barang siapa di antara kalian yang gembira karena kebaikan yang dilakukannya dan bersedih karena kejelekan yang diperbuatnya, dia adalah seorang mukmin.”
Asy-Syaikh al-Albani t berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2/64); ath-Thahawi dalam Syarhul Ma’ani (2/284—285); Ibnu Hibban (no. 2282) tanpa sabda Nabi n, ‘Barang siapa di antara kalian yang menginginkan….’; ath-Thayalisi (hlm. 7 no. 31); Ahmad (1/177); dan Abu Ya’la dalam Musnad-nya (1/45, cetakan al-Maktab al-Islami) dari jalur Jarir, dari Abdul Malik bin Umair, dari Jabir bin Samurah z. Beliau bercerita bahwa Umar z pernah menyampaikan khutbah di hadapan kaum muslimin di daerah al-Jabiyah. Beliau menyatakan, ‘Sesungguhnya Rasulullah n pernah berdiri tepat di tempat aku berdiri saat ini, beliau bersabda seperti hadits tadi’.” (as-Silsilah ash-Shahihah, 1/717)
Adapun lafadz di atas adalah lafadz yang dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad t.
Sanad hadits ini sahih, seluruh perawinya adalah perawi kutubus sittah.
Al-Hakim t memberikan isyarat adanya ‘illah (cacat) dalam al-Mustadrak (1/114), namun beliau tidak menyebutkannya. Barangkali yang dimaksud adalah perbincangan tentang Abdul Malik bin Umair mengenai ikhtilath dan perubahan hafalannya. Akan tetapi, hadits di atas sahih.
Hadits ini diriwayatkan dari jalan lain yang dikeluarkan oleh Ahmad (1/114), at-Tirmidzi (3/207), al-Hakim yang menyatakannya sahih, dan al-Baihaqi (7/91), dari jalur Abdullah bin al-Mubarak, dari Muhammad bin Sauqah, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, dari Umar bin al-Khaththab z. Al-Hakim t berkata, “Sahih menurut syarat Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim).” Al-Imam adz-Dzahabi t sepakat dengan beliau.

Menjaga Diri dari Godaan Setan
Al-Munawi t dan Mubarakfuri t menjelaskan makna hadits di atas, “Sebab, setan akan menggoda dengan membisikkan waswas, membangkitkan gairah hingga akhirnya menjerumuskan mereka berdua dalam perbuatan zina atau perbuatan lainnya yang mengantarkan kepada zina.” (at-Taisir dan Tuhfatul Ahwadzi)
Amr bin Qais al-Mula’i t berkata, “Ada tiga hal yang tidak sepantasnya seorang laki-laki merasa mampu menjaga diri dari salah satunya. Pertama, janganlah ia bermajelis dengan orang-orang yang menyimpang karena dikhawatirkan Allah l akan menghukumnya dengan hati yang berpaling seperti mereka. Kedua, janganlah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita. Ketiga, jika seorang penguasa memanggilmu untuk membacakan al-Qur’an untuknya, jangan engkau lakukan.” (Syarah Ibnu Baththal)
Meskipun ringkas, hadits ini menggambarkan kepada kita secara utuh tentang ajaran Islam yang begitu memerhatikan dan menjaga kaum wanita. Allah l menciptakan laki-laki memiliki kecenderungan terhadap wanita, pun sebaliknya. Allah l juga menetapkan hubungan antara dua jenis manusia ini haruslah di atas akad nikah atau kepemilikan budak.
Allah l berfirman,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5—7)
Apabila telah terjadi akad nikah, hubungan antara seorang lelaki dan seorang wanita menjadi istimewa dan khusus.
“Mereka itu adalah pakaian bagi kalian, kamu pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah: 187)
Sebelum masing-masing menjadi pakaian bagi yang lain dengan akad nikah, seorang wanita adalah ajnabiyah (asing/tidak halal) bagi seorang laki-laki.

Melalui Sabda Nabi n, Islam Membatasi Pergaulan
Laa haula wala quwwata illa billah. Seolah-olah semua pihak turut mengamini terjadinya pergeseran pandangan: yang haram dianggap halal, yang halal justru dimusuhi. Padahal Allah l telah menutup setiap celah yang dapat menyebabkan seorang hamba tergoda kepada wanita melalui jalan yang haram. Allah l telah memberikan batasan dalam hal pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Allah l berfirman,
ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ
Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya.” (an-Nur: 30)
Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangan mereka.” (an-Nur: 31)
Apa yang akan kita ucapkan ketika menyaksikan para penghuni zaman ini dan faktanya, saat membaca hadits Nabi n berikut? Rasulullah n bersabda,
أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ
“Siapa pun wanita yang menggunakan parfum kemudian keluar melewati sekelompok laki-laki agar mereka dapat mencium wanginya, maka wanita tersebut adalah seorang pezina.” (HR. an-Nasai no. 5126, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ghayatul Maram)
Sungguh, Islam sangat berkeinginan untuk memberikan jalan keselamatan dari godaan-godaan setan. Dalam sebuah hadits dari Ali bin Abi Thalib z, tentang kisah pelaksanaan haji Nabi n. Rasulullah n memalingkan wajah al-Fadhl ibnu Abbas c ketika ia memerhatikan seorang gadis dari suku Khats’am yang bertanya kepada Nabi Muhammad n. Rasulullah n bersabda,
رَأَيْتُ شَابًّا وَشَابَّةً فَلَمْ آمَنْ الشَّيْطَانَ عَلَيْهِمَا
“Aku melihat seorang pemuda dan seorang gadis, maka aku tidak merasa aman dari setan atas keduanya.” (HR. at-Tirmidzi no. 885)
Hanya melihat dan memerhatikan, tidak lebih dari itu, Rasulullah n mengkhawatirkannya. Itu pun terjadi pada sahabat, kaum yang paling beriman. Apakah dapat diterima alasan sebagian orang, “Pacaran kan untuk menjajaki calon pasangan. Mereka tentu dapat menjaga diri.” Alasan yang dibisikkan oleh setan, Allahul musta’an.
Di dalam hadits lain, dari Ibnu Abbas c, Rasulullah n bersabda,
“Janganlah seorang lelaki berduaan dengan seorang wanita, dan janganlah seorang wanita melakukan safar melainkan ia disertai oleh mahramnya.” Seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, aku telah tercatat dalam sebuah pasukan perang, padahal istriku akan berangkat haji.” Rasulullah n bersabda, “Berangkatlah haji bersama istrimu!” (HR. al-Bukhari no. 2844 dan Muslim no. 1341)
Demikian juga Rasulullah n bersabda di dalam hadits Uqbah bin ‘Amr z,
“Berhati-hatilah kalian. Jangan menemui (berduaan) dengan wanita!” Seorang sahabat dari Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang al-hamwu?” Rasulullah n menjawab, “Al-Hamwu adalah kematian.” (HR. al-Bukhari no. 4934 dan Muslim no. 2172)
An-Nawawi t menjelaskan, al-hamwu adalah kerabat laki-laki suami, seperti kakak, adik, paman, sepupu, dan keponakan.
Astaghfirullah, bagaimana dengan keadaan kita dan keadaan kaum muslimin? Sangat bermudah-mudahan dalam pergaulan dengan alasan, “Kan keluarga sendiri, bukan orang lain”, “Sok suci kamu!”, “Dengan saudara sendiri kok jual mahal!” serta alasan-alasan hawa nafsu lainnya. Sungguh, sering terjadi perzinaan dilakukan oleh sesama saudara, ipar atau kerabat dekat, entah kakak, adik, bibi, tante, atau yang lain. Na’udzubillah!
Islam benar-benar menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Simaklah hadits Jabir z, Rasulullah n bersabda,
أَلاَ لاَ يَبِيتَنَّ رَجُلٌ عِنْدَ امْرَأَةٍ ثَيِّبٍ إِلاَّ أَنْ يَكُونَ نَاكِحًا أَوْ ذَا مَحْرَمٍ
“Ketahuilah! Janganlah sekali-kali seorang laki-laki menginap di rumah seorang janda melainkan ia telah menikah dengannya atau mahramnya.” (HR. Muslim no. 2171)
An-Nawawi t menerangkan, “Disebutkannya wanita yang berstatus janda karena secara umum merekalah yang biasa ditemui. Adapun wanita yang masih gadis, biasanya terjaga dan terpelihara. Mereka benar-benar dijauhkan dari kaum lelaki sehingga tidak perlu disebutkan, sebab hadits ini termasuk bab peringatan. Artinya, jika terhadap wanita yang telah berkeluarga saja—yang biasanya dianggap ringan untuk menemuinya—terlarang, lebih-lebih lagi terhadap gadis.” (Syarah Shahih Muslim 14/153)
Disebutkan dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash c, beberapa orang dari Bani Hasyim menemui Asma’ x. Kemudian, datanglah Abu Bakr ash-Shidiq z, suami Asma’. Saat melihat mereka, Abu Bakr tampak tidak senang. Beliau lalu menceritakannya kepada Rasulullah n. Beliau n berkata, “Aku tidak melihat selain hanya kebaikan.” Kemudian Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya Allah l telah menyucikannya dari hal tersebut.”
Lalu, Rasulullah n bangkit berdiri di atas mimbar dan bersabda,
لاَ يَدْخُلَنَّ رَجُلٌ بَعْدَ يَوْمِي هَذَا عَلَى مُغِيبَةٍ إِلاَّ وَمَعَهُ رَجُلٌ أَوِ اثْنَانِ
“Setelah hari ini, janganlah seorang laki-laki menemui seorang wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya, melainkan ia ditemani seorang laki-laki lain atau dua orang laki-laki.” (HR. Muslim no. 2173)
Al-Qurthubi t berkata, “Peristiwa ini terjadi pada saat Abu Bakr sedang pergi. Akan tetapi, kepergian Abu Bakr masih dalam jarak mukim, bukan safar. Selain itu, ini terjadi pada orang-orang yang diketahui sebagai orang baik dan saleh. Ditambah lagi, mereka memiliki akhlak yang baik sejak sebelum masa Islam yang tidak asal menuduh dan menilai. Hanya saja, Abu Bakr mengingkari hal tersebut berdasarkan cemburu tabiat dan agama. Pada saat beliau menceritakannya kepada Rasulullah n, beliau bersabda berdasarkan pengetahuan tentang orang-orang tersebut dan Asma’, ‘Aku tidak melihat selain kebaikan.’
Beliau tujukan hal ini kepada kedua belah pihak karena beliau mengetahui setiap individunya. Mereka adalah kaum muslimin dari Bani Hasyim. Kemudian, Rasulullah n mengkhususkan Asma’ dengan persaksian, ‘Sesungguhnya, Allah telah menyucikannya dari hal itu.’ Artinya, menyucikannya dari perasaan yang muncul dalam diri Abu Bakr. Hal ini adalah keutamaan besar bagi Asma’, bahkan yang terbesar.
Tidak hanya ini, Rasulullah n juga mengumpulkan para sahabat dan berdiri di atas mimbar untuk melarang mereka serta menjelaskan yang diperbolehkan, “Setelah hari ini, janganlah seorang laki-laki menemui seorang wanita yang sedang ditinggal pergi suaminya, kecuali ia ditemani seorang laki-laki lain atau dua orang laki-laki.”
Hal ini untuk menutup celah khalwat dan mencegah munculnya tuduhan.
Rasulullah n hanya menyebutkan satu atau dua orang laki-laki (untuk menemani) karena mereka adalah orang-orang yang saleh. Sebab, tuduhan tidak akan terjadi dengan bilangan tersebut. Adapun hari ini, bilangan ini belumlah cukup, harus dalam jumlah orang yang banyak karena kerusakan yang telah menyebar dan tujuan-tujuan yang buruk. Semoga Allah l merahmati al-Imam Malik yang bersikap keras dalam hal ini.” (al-Mufhim, 5/502)
Saudara pembaca….
Al-Qurthubi, Abul Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim, lahir pada tahun 578 H dan meninggal pada tahun 656 H. Beliau menjelaskan hal ini pada masanya. Lantas, apa yang akan beliau katakan jika hidup dan menyaksikan dunia kita di abad kelima belas hijriah ini?!
An-Nawawi t berkata, “Pada hadits ini dan hadits-hadits berikutnya, terdapat dalil tentang diharamkannya berkhalwat (berduaan) dengan wanita ajnabiyah, dan bolehnya berkhalwat dengan wanita mahram. Kedua hal ini telah menjadi ijma’ (kesepakatan).” (Syarah Muslim 14/153)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t telah menyebutkan ijma’ tentang hal ini (Fathul Bari 4/77). Demikian juga al-Imam ash-Shan’ani t dalam Subulus Salam.
Berpacaran Tentu Saling Bersentuhan
Aisyah x, ibunda kaum mukminin, menyebutkan,
وَلاَ وَاللهِ مَا مَسَّتْ يَدُ رَسُولِ اللهِ يَدَ امْرَأَةٍ
“Tidak. Demi Allah, tidak pernah tangan Rasulullah menyentuh tangan seorang wanita.” (HR. al-Bukhari no. 4609 dan Muslim no. 1866)
Demikian pula hadits Umaimah binti Ruqaiqah tentang baiat kaum muslimah. ”Wahai Rasulullah, mengapa Anda tidak menjabat tangan kami?”
Rasulullah n bersabda,
إِنِّي لاَ أُصَافِحُ النِّسَاءَ
“Sesungguhnya aku tidak menjabat tangan kaum wanita.” (HR. Malik 2/982, at-Tirmidzi 4/151, an-Nasai 7/149, Ahmad 6/401. Lihat as-Silsilah ash-Shahihah no. 529)
Ingat-ingatlah hadits Nabi n dari sahabat Ma’qil bin Yasar z, Rasulullah n bersabda,
لَأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِِ أَحَدِكُمْ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمُسَّ امْرَأَةً لاَ تَحِلُّ لَهُ
“Sungguh, kepala salah seorang di antara kalian ditusuk dengan jarum besi lebih baik baginya daripada menyentuh seorang wanita yang tidak halal untuknya.” (HR. ath-Thabarani dan al-Baihaqi, lihat as-Silsilah ash-Shahihah 226)

Ucapkanlah, “Astaghfirullah!”
Fakta mengejutkan diungkapkan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Data yang dimiliki BKKBN menunjukkan, sejak tahun 2010 diketahui sebanyak 50 persen remaja perempuan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) sudah tidak perawan karena pernah melakukan hubungan seks pranikah.
Di Jakarta, 51 persen remaja perempuannya sudah tidak perawan. Di Surabaya mencapai 54 persen, di Medan 52 persen, Bandung 47 persen, dan Yogyakarta 37 persen.
BKKBN juga menjelaskan bahwa seks pranikah adalah salah satu pemicu meningkatnya kasus HIV/AIDS. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, pada pertengahan 2010 jumlah kasus HIV/AIDS di Indonesia mencapai 21.770 kasus AIDS positif dan 47.157 kasus HIV positif dengan persentase pengidap usia 20—29 tahun (48,1 persen) dan usia 30—39 tahun (30,9 persen).
Kemudian, ada fakta lain yang mengejutkan. Lembar fakta yang diterbitkan oleh PKBI, UNFPA, dan BKKBN menyebutkan bahwa setiap tahun terdapat sekitar 15 juta remaja berusia 15—19 tahun melahirkan. Masih menurut lembar fakta tersebut, sekitar 2,3 juta kasus aborsi juga terjadi di Indonesia dan 20 persennya dilakukan oleh remaja.
Saudara pembaca…
Islam menginginkan jalan kebaikan bagi umatnya dan tidak mengajarkan hal-hal yang bisa mendatangkan mudarat. Melalui pembahasan di atas, kita melihat betapa Islam membatasi pergaulan antara pria dan wanita, untuk menghindarkan keburukan dunia dan akhirat. Berbahagialah seorang hamba yang tunduk dan taat kepada ajaran Islam.
Sebagai penutup, kami akan membawakan sebuah berita yang telah diucapkan oleh baginda Nabi n ribuan tahun lalu. Anas bin Malik z mengatakan,
لَأُحَدِّثَنَّكُمْ حَدِيثًا لَا يُحَدِّثُكُمْ أَحَدٌ بَعْدِي، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ: مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يَقِلَّ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا وَتَكْثُرَ النِّسَاءُ وَيَقِلَّ الرِّجَالُ حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً الْقَيِّمُ الْوَاحِدُ
“Sungguh, aku akan menyampaikan sebuah hadits kepada kalian yang tidak akan ada orang lain setelahku yang bisa menyampaikannya kepada kalian. Aku mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Di antara tanda-tanda hari kiamat: berkurangnya ilmu, menyebarnya kejahilan, menyebarnya perbuatan zina, dan jumlah wanita sangat banyak sedangkan laki-laki lebih sedikit. Sampai-sampai lima puluh wanita diurus oleh seorang laki-laki’.” (HR. al-Bukhari)
Semoga Allah l memberikan taufik kepada segenap kaum muslimin untuk menjaga putra-putri mereka dari kehancuran. Semoga Allah l membimbing kita menjadi orang tua yang memilihkan jalan iman daripada jalan dunia penuh materi. Ya Rabb kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan Allah l).
Amin ya Mujibas sa’ilin.

 

Tanya Jawab Ringkas edisi 76

Keutamaan Surat al-Fatihah
Mengapa saat kita melakukan suatu hal harus membaca basmalah? Mengapa setiap shalat dan membaca al-Qur’an harus diawali dengan surat al-Fatihah?
085640XXXXXX

Membaca basmalah memiliki kandungan ‘memohon pertolongan kepada-Nya’.
Membaca al-Qur’an tidak harus didahului dengan al-Fatihah. Adapun di dalam shalat, al-Fatihah didahulukan karena hukumnya termasuk rukun shalat; sedangkan surat lain itu hukumnya sunnah.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Mengaku Perjaka untuk Poligami
Apakah dibenarkan berpoligami disertai dengan berdusta untuk menjaga legalitas hukum di negara? Misal, untuk membuat surat nikah dengan mengaku-aku masih perjaka.
082127XXXXXX

Hendaknya tetap jujur, insya Allah ada jalan.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Hukum Mihrab
Apakah mihrab adalah bid’ah ataukah al-mashlahatul mursalah?
081520XXXXXX

Bid’ah, menurut pendapat yang rajih. Nabi n dan para sahabat tidak pernah membuatnya padahal mereka sangat mampu untuk membuatnya. Alasan di masa kini untuk membuatnya, bisa juga dilontarkan di masa dahulu, namun hal itu tidak membuat mereka lantas membuat mihrab. Bahkan, Ibnu Mas’ud z pernah mengatakan, “Hati-hati dari mihrab-mihrab ini.”
Adapun shalat di dalamnya, sebagian ulama membolehkan, apalagi dalam kondisi tertentu ketika dibutuhkan.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Istri Menolak Jima’ dengan Suami
Bolehkah seorang istri menolak keinginan suami untuk berjima’ saat si istri sedang kurang sehat, sedangkan suami sangat berhasrat untuk melakukannya?
082135XXXXXX

Kalau hal tersebut bermudarat terhadap istri, suami tidak boleh memaksa, sedangkan istri boleh menolak apabila memang tidak mampu melayani. Akan tetapi, kalau masih mampu melayani dan tidak bermudarat, jangan menolak. Atau solusi lain, dibolehkan masturbasi dengan tangan istri.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Membaca al-Qur’an atau Dzikrus Shabah pada Bulan Ramadhan?
Manakah yang lebih utama di bulan Ramadhan, membaca al-Qur’an atau dzikrus shabah (zikir pagi) bila tidak memungkinkan untuk melaksanakan keduanya?
087757XXXXXX

Dzikrus shabah.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Ukuran Tuma’ninah dalam Shalat
Berapa lama ukuran tuma’ninah dalam shalat? Apakah setiap selesai membaca wirid shalat harus berhenti/diam sebelum melakukan gerakan berikutnya?
081390XXXXXX

Tuma’ninah, berhenti dengan sempurna baru membaca bacaan yang paling minimal. Ini ukuran minimal tuma’ninah, semakin lama berarti semakin tuma’ninah.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Hukum Pergi ke Pantai
Bolehkah kita pergi ke kebun binatang/pantai? Apakah hal tersebut termasuk maksiat?
087738XXXXXX

Boleh, dengan menjaga diri dari maksiat. Pilih waktu dan tempat yang mendukung minimnya maksiat, misalnya di waktu sepi.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Darah Nyamuk & Waktu Shalat Fajar
Apakah termasuk najis apabila darah nyamuk mengenai bagian tubuh kita? Kapan waktunya shalat sunnah fajar?
085868XXXXXX

Darah nyamuk tidak najis, sedangkan shalat sunnah fajar = qabliyah subuh. Jadi, waktunya setelah masuk subuh.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Qunut Witir
Bagaimana hukum qunut witir? Apakah dilakukan secara berjamaah atau sendiri-sendiri?
081541XXXXXX

Qunut witir dilakukan secara berjamaah jika dalam shalat jamaah witir.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Pakaian Terkena Najis yang Langsung Dijemur
Apakah pakaian yang terkena najis (misal air kencing) yang tidak dicuci dan hanya dijemur sampai kering sudah dianggap suci?
085728XXXXXX

Pakaian tersebut belum suci karena biasanya bau najis tersebut masih ada.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Syafaat untuk Firqah Sesat
Apakah firqah sesat juga akan mendapatkan syafaat di akhirat kelak? Bukankah syafaat rasul itu tidak untuk pelaku dosa-dosa besar?
085736XXXXXX

Perorangan dari firqah sesat bisa jadi termasuk orang yang tidak mendapatkannya, terutama firqah yang mengingkari syafaat. Akan tetapi, mungkin saja ada yang mendapatkannya. Allah Yang Mahatahu.
Pertanyaan kedua kami anggap kurang tepat karena syafaat Rasul n justru banyak diperuntukkan bagi pelaku dosa besar.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Shaf di Antara Tiang
Bagaimana hukumnya shalat berjamaah sedangkan shaf berada di antara tiang?
085654XXXXXX

Shaf antara dua tiang dalam jamaah tidak diperbolehkan selain dalam keadaan darurat, misalkan karena penuh.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Tata Cara Doa Qunut
Ketika melakukan doa qunut witir, apakah disunnahkan mengangkat tangan kita? Bolehkah makmum mengamininya dengan jahr?
085221XXXXXX

Saat doa qunut witir/nazilah mengangkat tangan dan boleh diaminkan dengan jahr. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Fungsi Ucapan “Wallahu a’lam”
Mohon dijelaskan maksud dan fungsi dibubuhkannya kata ‘wallahu a’lam’ di setiap akhir penulisan artikel. Mengingat banyak sebagian pembaca yang menyangkanya sebagai hal yang mengandung keraguan terhadap kebenaran argumen/artikel yang ditulis.
08978XXXXX

Ucapan “wallahu a’lam” pada akhir rubrik bukan karena keraguan terhadap isinya. Hal itu adalah salah satu bentuk sikap tawadhu’ karena bagaimanapun ilmu kita, Allah l lebih mengetahui.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Posisi Duduk Saat Berdoa
Bagaimana posisi duduk saat berdoa yang sesuai sunnah?
085735XXXXXX

Duduk saat berdoa tidak ada ketentuan tata caranya. Yang penting sopan dan baik.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Takaran Zakat Fitrah
Berapa jumlah takaran zakat fitrah yang tepat? Karena fatwa Hai’ah Kibaril Ulama’ menyatakan bahwa untuk konversi jumlah takaran zakat per sha’ adalah 3 kg, sedangkan biasanya hanya 2,5 kg sudah dianggap cukup.
085643XXXXXX

Ya, menurut Lajnah Daimah 1 sha’=3 kg, tetapi menurut asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 2,04 kg. Adapun dalam buku “Ukuran ash-Sha’ antara Timbangan Dahulu dan Sekarang” (edisi bahasa Arab) disebutkan bahwa ukurannya 2,035 kg. Insya Allah antara itu sudah sah karena memang tidak ada ketentuan secara pasti.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Shalat Iftitah Tarawih
Mau tanya, di tempat saya, setelah isya sebelum tarawih dilakukan shalat iftitah secara berjamaah dengan bacaan tidak dikeraskan, namun jamaah tidak melakukan shalat rawatib Isya. Pertanyaannya, apakah shalat iftitah memang ada tuntunannya dalam as-Sunnah?
Yang kedua, apakah dalam setiap shalat tarawih, doa iftitah selalu dibaca atau bacaan iftitah pada shalat Isya/rakaat shalat tarawih yang pertama sudah mencukupi?

Dua rakaat ringan yang dilakukan oleh Nabi n sebelum shalat malam diperselisihkan oleh ulama tentang hakikatnya. Sebagian ulama mengatakan bahwa dua rakaat itu sebetulnya dua rakaat ba’diyah isya’. Pendapat ini yang dikuatkan oleh asy-Syaikh al-Albani.
Pendapat kedua mengatakan bahwa itu memang dua rakaat ringan sebagai muqaddimah (iftitah/pembukaan) shalat malam beliau yang panjang.
Namun, wallahu a’lam, sebatas yang saya tahu, kalaupun ini sebagai pembukaan, Nabi n tidak terus menerus melakukannya karena ‘Aisyah, istri beliau n yang senantiasa mengetahui shalat malam beliau n pernah mengatakan bahwa beliau tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas rakaat. Selain itu, beliau melakukannya sendirian, tidak berjamaah.
Doa iftitah atau istiftah pada shalat malam atau shalat tarawih dibaca pada rakaat yang pertama saja. Hal ini karena walaupun terpisah-pisah, tetapi pada hakikatnya rakaat-rakaat itu adalah satu rangkaian shalat.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Berdoa Setelah Shalat Fardhu
Apakah boleh berdoa setelah shalat fardhu? Mengingat dalam sunnah, setelah shalat fardhu, Rasulullah n hanya berzikir.
03317XXXXXX

Setelah shalat fardhu ada doa-doa yang diajarkan Nabi n, tetapi tidak dilakukan secara berjamaah.
al-Ustadz Qomar Suaidi
Waktu Shalat Dzuhur bagi Wanita pada Hari Jumat
Kapankah waktu yang disyariatkan bagi wanita untuk menunaikan shalat dzuhur pada hari Jumat? Ada yang mengharuskan seusai para laki-laki shalat Jumat, namun ada yang mengatakan tidak mengapa bersamaan dengan berlangsungnya shalat Jumat.
081358XXXXXX

Selama sudah memasuki waktu dzuhur, maka diperbolehkan shalat tanpa menunggu shalat Jumat selesai.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Kurban dan Akikah bagi Orang yang Sudah Mati
Bolehkah orang yang sudah mati berkurban atau akikah (mengakikahi dirinya dengan wasiat)?
085797XXXXXX

Akikah untuk orang yang telah mati diperbolehkan, sedangkan kurban boleh bila berwasiat, atau secara otomatis masuk ke keluarga orang yang berkurban.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Maksud Hadits ‘Tidak Menjaga dari Air Seni’
Apakah yang dimaksud dengan ‘tidak menjaga dari air seni’ dalam sabda Rasul n yang menyebutkan bahwa ada dua golongan yang mendapatkan siksa kubur?
085328XXXXXX

Azab kubur karena tidak menjaga dari cipratan air seninya atau tidak membersihkannya.
al-Ustadz Qomar Suaidi

 

Sepenggal Doa Ibunda

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

“Masa silam saya kelam,” ucap anak muda itu mengenang masa lalunya. Penampilannya yang necis tak membersitkan sedikit pun sebagai mantan pecandu obat terlarang. Rambut lurus bagai kucai dipotong pendek. Sisirannya yang dibelah tengah menambah tampilan lebih apik. Semburat wajahnya menyimpan keteduhan.
“Dulu, ganja, putaw, atau sabu adalah teman setia saya,” lanjut pemuda itu. Awal dirinya berkenalan dengan barang-barang terlarang adalah dari teman bergaul. Beberapa teman sepermainan menyeretnya untuk coba-coba mengisapnya. Satu, dua kali hingga akhirnya menjadi candu. Dirinya menemukan suasana lain setelah mengonsumsi obat-obat tersebut, fly. Semakin hari, dari waktu ke waktu, intensitas pemakaian obat itu pun bertambah. Akhirnya, dia merasakan, apabila tidak mendapatkan obat terkutuk tersebut, dia merasa tersiksa.
“Bahkan, sampai saya harus menyilet lengan saya lalu saya isap darah yang keluar. Itu jika saya tak bisa mendapatkan barang setan tersebut,” tuturnya datar seraya memperlihatkan bagian kedua lengannya yang diiris-iris untuk diisap darahnya.
Beragam obat terlarang pernah masuk ke dalam tubuhnya. Mulai yang diisap hingga yang disuntikkan. Saat itu, dirinya benar-benar terjerat sekawanan setan. Tidak bisa lepas. Teramat sangat sulit untuk memisahkan diri dari mereka. Setiap saat seakan-akan dirinya dikuntit, terus disodori barang-barang terlarang.
Nasihat dari orang tuanya tidak pernah dihiraukannya. Begitu pula nasihat dari saudara-saudara atau sanak famili, didengarnya, tetapi tidak pernah digubris. Ia pun tetap bergelut dengan narkoba. Bisik rayu setan lebih ampuh baginya dibandingkan dengan nasihat. Perangkap Iblis benar-benar mencengkeramnya.
“Karena saya tidak pernah menghiraukan nasihat, ada saudara orang tua saya yang mengusulkan agar saya tidak lagi diakui sebagai anak,” akunya. “Namun, ibu saya tidak setuju,” paparnya sendu mengenang hal itu.
Akibat perbuatannya, nama baik keluarga tercoreng di hadapan masyarakat. Apalagi ibunya adalah seorang pegiat dakwah. Ibunya sering diminta mengisi berbagai pengajian. Tidak sedikit masyarakat yang mencemooh dan melecehkan orang tuanya, terutama ibunya. Bisa mengajari orang lain, tetapi anak kandungnya sendiri terjerat nafsu setan. Begitulah di antara kata-kata yang terlontar.
Sungguh, orang tuanya benar-benar sedang diuji. Tidak mengherankan apabila saudara-saudaranya mengusulkan agar dirinya dibuang, dikeluarkan dari anggota keluarga, dan tidak diakui lagi sebagai anak. Ini semua karena beratnya menanggung malu. Ya, malu karena nama baik keluarga tercoreng.
Di tengah cemooh, cercaan, dan hinaan sebagian orang, ibunya tetap sabar. “Setiap ada waktu, ibu selalu menasihati saya. Ibu selalu memberi kelembutan kepada saya,” kenangnya. Mata anak muda itu mulai berkaca-kaca. Ia berusaha untuk tidak menitikkan air mata. Ia berupaya tegar saat mengenang ibunya yang penyabar. Anak muda itu menghela napas panjang. Suasana sunyi. Daun di pepohonan bergoyang tersentuh angin. Langit biru tersaput tipis awan putih.
Satu malam, ibunya terbangun. Seperti biasa, ibunya menunaikan shalat tahajud. Malam demi malam dilaluinya dengan munajat kepada Allah l. Malam demi malam ditaburinya dengan rukuk, sujud, zikir, dan doa. “Saat ibu tengah bermunajat, saya terbangun. Saya tatap ibu yang berselubung mukena putih. Seakan-akan mata tak mau berkedip. Saya tatap terus ibu,” ucapnya sungguh-sungguh.
Ia melanjutkan, “Saat saya menatap ibu, saya seperti diingatkan. Malam itu, kesadaran menyelinap ke dalam hati. Malam itu, saya bertobat,” kisahnya mengenang detik-detik tobatnya.
Sejak peristiwa itu, kehidupan anak muda tersebut berubah drastis. Semangat hidupnya mencuat kembali. Kepedulian terhadap agama pun tumbuh. Ibadahnya mulai berlangsung teratur. Pemuda itu telah insaf, meniti kembali jalan yang benar. Kegelapan yang selama ini menyelimuti, sirna. Ia berada dalam cahaya terang benderang. Ia yakin, semua ini tak luput dari sepenggal doa ibunda, setelah kehendak Allah l.
Kisah di atas nyata, diungkapkan langsung kepada penulis sekitar tahun 1980-an.
Rasulullah n bersabda,
ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ: دَعْوَةُ الْمَظْلُومِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ
“Tiga doa yang dikabulkan: doa orang yang dizalimi, doa orang yang sedang safar (dalam perjalanan), dan doa orang tua terhadap anaknya.” (HR. at-Tirmidzi no. 3448 dari Abu Hurairah z, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam ash-Shahihah no. 598 dan 1797)
Setiap orang tua tentu menghendaki anaknya tumbuh menjadi orang yang baik, tidak menyusahkannya, apalagi membuat ulah di masyarakat. Namun, terkadang antara harapan dan kenyataan tidak selaras. Anak yang dicita-citakan berkepribadian indah ternyata rusak ditelan oleh laju zaman. Walau orang tua telah mengupayakan pendidikan yang cukup, namun anak salah mengambil teman bergaul. Ia pun terseret kepada pola perilaku yang tidak baik. Hedonis; yang hanya ingin hidup bergaya, tampilan wah, gaya mewah ala borjuis, prinsipnya hanya ingin senang. Ia tidak mau hidup prihatin, apalagi hidup susah penuh perjuangan. Ia berusaha memenuhi setiap keinginannya walau harus dengan cara melanggar syariat. Atau, anak terseret menjadi “gali” (gabungan anak liar). Hidup di jalanan, memalak orang lain guna memenuhi kebutuhannya. Bisa jadi pula, ia terperangkap mafia narkoba, dan beragam kenakalan serta kejahatan bisa dilakukan oleh seorang anak. Nas’alullaha al-‘afiyah (Kita memohon keselamatan kepada Allah saja).
Semua itu bisa disebabkan oleh sikap mental yang rapuh, tidak mampu berpikir dewasa dan bijak. Bisa jadi pula, hal itu tumbuh karena dipengaruhi oleh teman. Dengan istilah lain, disebabkan oleh pergaulan bebas. Pergaulan yang tidak memberi rangsangan untuk menumbuhkan sikap dan perilaku yang baik.
Allah l telah menyebutkan bahwa anak dan harta adalah cobaan. Firman-Nya,
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu); di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)
Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk mendoakan, mendidik, membimbing, dan mengarahkan anak. Manakala tugas tersebut telah tertunaikan secara baik dan sungguh-sungguh, namun anaknya tetap berperilaku tidak sesuai dengan yang diharap, tentu orang tua tidak lantas patah arang, berputus asa. Hendaknya orang tua menyadari, sesungguhnya Allah-lah yang memberi hidayah. Firman-Nya,
“Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 178)
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah merinci perihal hidayah. Pertama, hidayah yang disebut sebagai al-huda (petunjuk) dengan makna ad-dalalah (tuntunan) dan al-bayan (penjelasan). Ini sebagaimana yang dijelaskan oleh firman-Nya,
“Dan adapun kaum Tsamud maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) dari petunjuk itu, maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.” (Fushshilat: 17)
Kedua, hidayah yang berbentuk al-huda (petunjuk) dengan makna at-taufiq dan al-ilham. Hidayah dengan makna ini hanyalah Allah l yang memberi. Adapun manusia, termasuk Rasulullah n, tidak memiliki kekuasaan untuk memberinya. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (al-Qashash: 56) (Syarh al-‘Aqidah al-Wasithiyyah, hlm. 8—9)
Rasulullah n sangat menginginkan agar paman beliau, Abu Thalib, berislam dan mengucapkan kalimat tauhid menjelang akhir kehidupannya. Namun, sampai ajal tiba, Abu Thalib tetap kafir. Rasulullah n tidak memiliki kekuasaan untuk memberi hidayah at-taufiq bagi pamannya. Karena itu, turunlah ayat di atas (al-Qashash: 56). (Lihat Shahih al-Bukhari no. 4772, hadits dari Sa’id bin al-Musayyab)
Demikianlah. Rasulullah n telah berusaha semaksimal mungkin agar paman beliau menjadi seorang muslim. Nasihat, bimbingan, dan arahan beliau kepada sang paman sebegitu intensif. Namun, Allah l berkehendak lain. Hidayah at-taufiq tidak turun kepada paman beliau.
“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.” (Fathir: 8)
Demikian pula Nabi Ibrahim q. Beliau terus-menerus menasihati ayahnya agar mau menerima dakwah tauhid dan menaati Allah l. Beliau n berbicara, “Wahai ayahku… wahai ayahku… wahai ayahku….”
Perhatikanlah firman Allah l,
Ingatlah ketika ia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 42—45)
Akan tetapi, usaha sungguh-sungguh Nabi Ibrahim q tidak membuahkan apa yang diharap. Ayahnya justru membalas nasihat Nabi Ibrahim q dengan ucapan yang dikisahkan oleh al-Qur’an,
Ayahnya berkata, “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, niscaya kamu akan kurajam, dan tinggalkanlah aku untuk waktu yang lama.” (Maryam: 46)
Pelajaran pun bisa dipetik dari kisah Nabi Nuh q dengan anaknya. Allah l berfirman,
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya sedangkan anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab, “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata, “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang.” Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (Hud: 42—43)
Setelah anaknya tenggelam, Nabi Nuh q memohon kepada Allah l, sebagaimana dalam firman-Nya,
Dan Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu lah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” (Hud: 45)
Namun, kemudian Allah l menjelaskan kepada Nabi Nuh q perihal kedudukan anaknya. Firman-Nya,
Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sungguh (perbuatannya) perbuatan yang tidak baik. Oleh sebab itu, janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakikat) nya. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (Hud: 46)
Lantas, Nabi Nuh q memohon ampun kepada Allah l.
Nuh berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakikat) nya. Sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi.” (Hud: 47)
Para nabi Allah l pun tidak bisa memberi hidayah at-taufiq kepada orang-orang terdekatnya. Meskipun demikian, kisah para nabi tersebut memberikan pelajaran, betapa mereka telah berupaya keras membimbing orang-orang terdekatnya. Mereka sangat kuat menghendaki orang terdekatnya berada di atas jalan Allah l, bukan jalan kesesatan. Akan tetapi, hidayah itu di tangan Allah k.
Segenap upaya untuk membebaskan buah hati dari lingkungan yang tidak baik tentu memerlukan kesabaran. Sabar dalam hal menghadapi beragam aral merintang, baik kendala itu datang dari anak sendiri maupun dari lingkungan masyarakat. Hakikat itu semua adalah untuk menguji sejauh mana taraf kesabaran kita. Bisa jadi, seorang ayah atau ibu akan menghadapi cemooh dan cercaan dari orang-orang atas perbuatan anaknya. Namun, semua itu adalah ujian. Sabarkah ia menerima takdir yang telah ditetapkan oleh Allah l?
“Berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (al-Baqarah: 155)
Rasulullah n bersabda,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكِ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan urusan seorang yang beriman. Sungguh, seluruh urusannya baik baginya. Tidaklah ada seorang pun (yang seperti itu) melainkan hanya seorang mukmin. Jika ia ditimpa sesuatu yang menyenangkan, ia bersyukur. Sikap syukurnya itu membawa kebaikan baginya. Jika ia ditimpa mudarat, ia bersabar. Sikap sabarnya itu membawa kebaikan baginya.” (HR. Muslim no. 64)
Dengan kesabaran, kita menepis keputusasaan. Dengan kesabaran, kita menebar banyak harapan. Dengan kesabaran, kita menuai kebaikan.
الصَّبْرُ ضِيَاءٌ
“Sabar itu kemilau cahaya.” (HR. Muslim “Kitabu az-Zakat”, “Bab Fadhlu at-Ta’affuf wash Shabr” dari Abu Malik al-Harits bin ‘Ashim al-Asy’ari z)
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sabar. Amin.
Wallahu a’lam.

 

Pergaulan Bebas Menebar Budaya Syahwat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Jangan terkejut dan heran apabila pada masa sekarang dijumpai anak berusia sepuluh tahun—atau bahkan lebih rendah—mampu bertutur secara lancar dan tanpa malu masalah hubungan suami istri. Jangan kaget dan heran pula jika dijumpai anak-anak usia sekolah dasar mengetahui beberapa kosakata terkait masalah seksual. Masalah yang masih relatif dianggap sebagai barang sensitif dan tabu. Pertanyaannya, mengapa anak-anak yang masih relatif ingusan itu bisa mengetahui hal-hal yang dianggap sensitif dan tabu tersebut?
Dari survei yang ada, ternyata mereka mengenal masalah seputar seks dari media, seperti situs internet, majalah, novel, cakrampadat (CD), dan telepon seluler (HP). Bahkan, telepon seluler menempati urutan pertama sebagai media yang bisa diakses untuk mendapat informasi masalah seks. (Pornografi Dilarang Tapi Dicari, Azimah Soebagijo, hlm. 84)
Kini, melalui kemajuan teknologi yang ada, siapa pun bisa dengan mudah teracuni barang haram. Berdasar laporan American Demographics Magazine, yang mengutip data sextracker.com, disebutkan bahwa jumlah situs porno meningkat pesat dari 22.100 pada 1997 menjadi 280.300 pada 2000. Dalam kurun waktu tiga tahun telah terjadi lonjakan 10 kali lipat. (Pornografi Dilarang Tapi Dicari hlm. 9)
Ini baru dari media internet. Media lainnya, seperti VCD porno, koran, majalah, buku/novel, telepon seluler, dan film tentu akan menjadikan para orang tua, pendidik, dan ustadz lebih miris lagi. Keadaan masyarakat tidak lagi dikepung oleh pornografi, bahkan telah disuguhi langsung masalah itu di hadapannya. Tinggal mengunduh. Jadi, sangat masuk akal sekali apabila anak-anak usia sekolah dasar banyak pengetahuannya tentang pornografi. Bagaimana dengan kalangan remaja?
Kalangan remaja pun tak jauh berbeda. Meningkatnya kenakalan remaja merupakan salah satu dampak media informasi. Misalnya, program televisi yang tidak mendidik. Televisi telah menjadi sarana tersampaikannya pesan-pesan pergaulan bebas. Itu bisa dilihat dari tayangan yang mengandung unsur pornografi, kekerasan, dan budaya hedonisme. Industri sinetron dan film lebih senang menyusupkan unsur-unsur pornografi, kekerasan, dan budaya hedonisme ke dalam alur ceritanya. Dengan demikian, secara sadar atau tidak, masyarakat dididik untuk menirunya. Dengan tayangan semacam itu, jangan terkejut jika perilaku sebagian remaja perkotaan—bahkan perdesaan—berubah menjadi liar dan beringas. Tayangan pergaulan bebas sudah menjadi menu utama, seperti tayangan mengonsumsi obat-obat terlarang, berpakaian minim, setengah telanjang, seksi, goyang sensual/erotis para pedangdut, kisah percintaan hingga seks bebas, atau dalam bentuk ucapan-ucapan yang bermuatan porno, memaki, menghina, kasar, dan bentuk-bentuk ucapan sarkasme lainnya. Akibat dari suguhan tontonan yang demikian, bentuk penyimpangan perilaku pada remaja pun terjadi. Mereka diberi contoh, mereka meniru. (Anakku Diasuh Naruto, Imam Musbikin, hlm. 42—43)
Dari pesan-pesan pergaulan bebas yang ditayangkan di berbagai media, terjadilah berbagai kasus. Di Gemolong, Sragen—sebuah kecamatan di pinggiran utara Solo—sampai pertengahan tahun 2011 ini telah terjadi dua puluh kasus pernikahan karena ‘kecelakaan’. Yang menjadi salah satu sebab adalah lingkungan yang permisif. Nilai-nilai dalam masyarakat, terutama nilai ajaran Islam, semakin longgar. Jumlah tersebut berdasarkan surat keterangan dari Puskesmas setempat yang terlampir dalam persyaratan permohonan nikah di Kantor Urusan Agama (KUA). (Espos, 20 Juli 2011)
Di Klaten pun terjadi kasus yang sama. Berdasar laporan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klaten, rata-rata setiap bulan terjadi 2—3 kasus hamil sebelum menikah. (Espos, 20 Maret 2011)
Data Lembaga Pemasyarakatan Anak Tangerang pada 2006 menunjukkan bahwa tindak pidana dengan pelaku anak-anak, yang tertinggi adalah kasus narkoba. Kasus kejahatan seksual merupakan urutan kedua tertinggi. Sementara itu, Yayasan Kita dan Buah Hati juga menemukan data yang mencengangkan, yaitu dari 1.705 murid Sekolah Dasar (SD) yang menjadi responden penelitian, ternyata 25% dari mereka terbiasa mengakses pornografi. (Pornografi Dilarang Tapi Dicari, hlm. 134)
Pergaulan bebas memicu lonjakan kasus HIV/AIDS. Dilaporkan untuk tahun 2011 ini sampai bulan April, di Solo telah ada korban terinfeksi HIV/AIDS. Kalangan ibu rumah tangga yang terkena tercatat 141 orang. Mereka terkena melalui kontak dengan suami yang suka “jajan”. Adapun pria tercatat 242 orang. Kemudian yang terkena melalui narkoba suntik sebanyak 78 orang. Kalangan wanita tuna susila 58 orang. Sekali lagi, ini adalah akibat pergaulan bebas. Ini baru yang terdata, belum yang dilakukan secara liar sehingga tak bisa didata. (Espos, 7 Juni 2011)
Perubahan global yang berlangsung dewasa ini telah membuka sekat-sekat antarruang. Perubahan tersebut melahirkan implikasi yang serius terhadap tatanan nilai yang telah dianut oleh suatu masyarakat. Perubahan itu tentu saja akan membentuk satu pola perilaku tertentu yang sama sekali baru yang sebelumnya tak ada. Peralihan pola perilaku itulah yang sedikit banyak akan memunculkan ketegangan-ketegangan dalam kehidupan masyarakat.
Tindakan aborsi adalah salah satu hasil dari tatanan nilai peralihan, meskipun aborsi itu sendiri bukan merupakan satu pola perilaku yang baru atau sebelumnya tidak pernah ada. Tindak aborsi merupakan salah satu dari sekian banyak fenomena yang menunjukkan bukti telah terjadinya konflik-konflik kepentingan internal individu, meski sebenarnya tindak aborsi ini merupakan rentetan panjang dari sebuah proses keterpurukan moral masyarakat. Apabila pola perilaku ini semakin menggelombang, tidak menutup kemungkinan akan terbentuk satu peradaban yang meluluhlantakkan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Dari berbagai hasil temuan disebutkan bahwa di Jakarta, tidak kurang dari 5.000 orang per tahun melakukan aborsi. Rinciannya, 48% berusia 20 tahun ke atas, 46,5% berusia 16—19 tahun, dan 5,5% berusia 12—15 tahun. Ini data pada 1992.
Di Yogyakarta, selama Januari sampai Oktober 1993 diperoleh angka yang menyebutkan bahwa 328 pelajar dan mahasiswa melakukan aborsi. Jumlah tersebut menunjukkan peningkatan 300% lebih dari jumlah tindak aborsi sebelumnya. Pada tahun 1992, jumlah pelajar dan mahasiswa yang melakukan aborsi tercatat 97 orang, dengan rincian Januari hingga Juli sebanyak 35 orang dan Juli hingga Desember sebanyak 62 orang. Data tersebut belum termasuk aborsi yang dilakukan sendiri menggunakan obat atau jamu tradisional, atau melalui bantuan dukun. Seluruh alasan pelaku tindak aborsi adalah karena kehamilan yang tidak dikehendaki (zina). (Republika, 30 Agustus 1994)
Di Medan, pada tahun 1990 tercatat 80 remaja usia 14—24 tahun hamil sebelum menikah. Prediksi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah aborsi di Indonesia mencapai 1,5 juta janin per tahun, sedangkan keguguran alamiah mencapai 750 ribu atau 15% dari lima juta kehamilan setiap tahunnya. (Republika, 13 Juni 1998)
Angka kematian ibu di Indonesia menduduki posisi teratas di kawasan Asia Tenggara. Pada 2005, angka kematian tercatat 365 dari 100.000 orang. Yang memprihatinkan, penyebab kematian itu adalah komplikasi kehamilan dan melahirkan, infeksi, dan pendarahan akibat aborsi. Angka total dari upaya aborsi yang dilakukan pada tahun 2005 mencapai 51% dari jumlah kematian ibu. Sebesar 12% di antaranya dilakukan oleh remaja yang berusia di bawah 21 tahun. (Pornografi Dilarang Tapi Dicari, hlm. 73)
Mencermati angka-angka di atas, tampak adanya penonjolan secara kuantitas di kalangan remaja dalam melakukan tindakan aborsi. Fenomena-fenomena yang ada tersebut terjadi saat keberadaan media internet, VCD, HP belum sedahsyat sekarang ini. Apatah jadinya apabila data terkait masalah itu diambil pada tahun terakhir ini, ketika sarana untuk menumbuhsuburkan pergaulan bebas merebak tak terkendali. Sungguh, ini merupakan fenomena sosial yang menjadikan para pecinta kebaikan mengelus dada.
Pergaulan bebas akan mendorong sikap desakralisasi seks, yaitu suatu konsep yang merujuk pada penolakan atas prinsip bahwa seks adalah sesuatu yang suci dan hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan. Ini berarti bahwa seks dapat dilakukan secara bebas, baik sesama jenis maupun lain jenis, di luar pernikahan. Apabila desakralisasi seks ini telah menjadi budaya, akan berdampak banyak secara sosial. Salah satu yang utama adalah hancurnya lembaga pernikahan. Lembaga pernikahan menjadi tidak penting. Tidak ada keharusan pada seseorang untuk hanya setia kepada pasangan tetap dalam lembaga (ikatan) pernikahan. Akibatnya, orang bisa bersama dengan orang lain dalam waktu tertentu tanpa perlu menikah (kumpul kebo, -pen.). Tanpa ikatan pernikahan, maka tanggung jawab terhadap pasangan juga melemah. Begitu salah satu pasangan terpesona dengan orang lain, dengan mudah ia akan meninggalkan pasangannya sebelumnya tanpa harus “terbelenggu” oleh ikatan apa pun.
Hal serupa juga dapat menimpa mereka yang sudah “kepalang” menikah. Desakralisasi seks membuat hubungan di luar nikah menjadi seolah-olah “tidak haram”. Suami atau istri tidak akan merasa berdosa berhubungan seks dengan orang lain. Kondisi inilah yang rentan mendatangkan masalah. Karena, betapa pun rasionalnya masyarakat, perilaku berpindah-pindah pasangan semacam itu lazim dianggap sebagai “pengkhianatan”. Biasanya, solusi utama dari kondisi pernikahan saat salah satu pasangan merasa dikhianati adalah perceraian.
Hancurnya lembaga pernikahan pada gilirannya akan memunculkan anak-anak yang tumbuh tidak dalam keluarga yang “lengkap”, yang biasanya dikenal dengan single parenthood. Keluarga tidak lengkap ini umumnya tanpa ayah. Apabila ini terjadi, yang akan terbebani umumnya adalah ibu. Dalam kondisi ini, sang ibu akan terpaksa bekerja untuk menafkahi dirinya dan anaknya. Sementara itu, anak hidup dan tumbuh tanpa figur ayah dan ibu yang sudah sedemikian sibuk mencari nafkah. Akibatnya, praktis sang anak dibesarkan oleh lingkungan yang tidak kondusif, bahkan tak menutup kemungkinan anak dibesarkan di jalanan, tanpa bekal pendidikan yang cukup, perhatian, dan kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Dampak lain dari desakralisasi seks adalah meningkatnya penyakit menular seksual, HIV/AIDS. Tanpa kesetiaan kepada pasangannya dalam sebuah lembaga pernikahan, orang akan dengan mudah berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks. Jadi, desakralisasi seks sangat potensial mendorong peningkatan penyebaran HIV/AIDS. Selain itu, desakralisasi seks menyuburkan pula tumbuhnya kehamilan remaja (di luar nikah), pemerkosaan, dan pelacuran. Dalam hal pelacuran, desakralisasi seks menurunkan sensitivitas masyarakat terhadap bentuk perzinaan satu ini. Karena seks bukanlah sesuatu yang suci, tindakan untuk melarang pelacuran bukanlah sesuatu yang sangat dikutuk. Masyarakat akan berlogika, “Biarkan saja, toh mereka melakukan atas dasar suka sama suka. Lagi pula, mereka melakukannya tanpa mengganggu masyarakat lainnya.” Tentu, ini sebuah logika yang sangat naif, terlalu dangkal, sangat picik, sempit, dan tidak berwawasan jauh ke depan. Logika tidak bermoral, tumpul dalam memandang nilai kebaikan dan kebenaran. (Pornografi Dilarang Tapi Dicari, hlm. 69—72)
Allah l berfirman,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5—7)
Terkait masalah di atas, Ibnu Katsir t menyebutkan dalam tafsirnya bahwa mereka adalah orang yang menjaga kemaluannya dari yang haram. Mereka tidak meletakkannya pada sesuatu yang dilarang oleh Allah l, seperti difungsikan untuk berzina, atau melakukan hubungan sesama jenis (homoseks). Tidaklah mereka mendekati selain para istri mereka atau budak yang mereka miliki. (Tafsir Ibnu Katsir, 5/475)
Rasulullah n memberikan pendidikan kepada para sahabat dalam perkara tersebut. Dalam hadits Abu Dzar z, disebutkan bahwa beberapa orang dari kalangan sahabat Rasulullah n mengadu kepada beliau n,
يَا رَسُولَ اللهِ، ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالْأُجُورِ، يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ، وَيَتَصَدَّقُونَ بِفُضُولِ أَمْوَالِهِمْ. قَالَ: أَوَ لَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُونَ، إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةً، وَكُلِّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةً، وَأَمْرٍ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةً، وَنَهْيٍ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةً، وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيَأْتِي أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُونُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ؟ قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ أَكَانَ عَلَيْه وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِي الْحَلَالِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ
“Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu telah pergi membawa pahala mereka. Mereka tunaikan shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Mereka bisa bersedekah dengan kelebihan hartanya yang mereka miliki.” Rasulullah n menanggapi pernyataan mereka, “Bukankah Allah l telah menjadikan bagimu sesuatu yang bisa kalian sedekahkan? Sungguh, tiap kali bertasbih itu adalah sedekah. Setiap kali bertakbir itu adalah sedekah. Setiap kali bertahmid itu adalah sedekah. Setiap kali bertahlil itu adalah sedekah. Memerintahkan kepada hal yang ma’ruf adalah sedekah. Mencegah dari kemungkaran pun sedekah. Kemaluanmu juga merupakan sedekah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah jika kami menyalurkan hasrat syahwatnya menjadikan dapat pahala dalam hal itu?” Jawab Beliau n, “Apa pendapatmu jika seseorang menyalurkan syahwatnya di tempat yang haram menjadikannya menuai dosa? Demikian pula apabila seseorang menyalurkan syahwatnya pada tempat yang halal, niscaya dia akan meraup pahala.” (HR. Muslim no. 1006)
Hadits di atas mengungkap keluhan orang-orang fakir dari kalangan sahabat kepada Nabi n. Keluhan lantaran didorong semangat untuk berbuat kebaikan, berlomba dalam amal kebaikan dengan kalangan orang berpunya dari para sahabat. Dalam hadits ini, Rasulullah n menjelaskan kepada para sahabat perihal penyaluran syahwat yang benar yang kelak akan mendatangkan pahala. Melalui metode tanya jawab yang cerdas, Rasulullah n memberikan analogi (qiyas), perbandingan: jika mengumbar syahwat secara bebas pada sesuatu yang haram adalah dosa, menyalurkan hasrat seksual pada yang halal tentu akan mendulang pahala.
Masalah hubungan suami istri adalah masalah yang sangat privasi. Islam menempatkan hal demikian dan melarang secara keras untuk membuka ke ruang publik. Apalagi sampai direkam lantas beredar di tengah masyarakat. Nas’alullaha as-salamah wal ‘afiyah (kita memohon keselamatan kepada Allah).
Abu Sa’id al-Khudri z pernah berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
إِنَّ شَرَّ النَّاسِ مَنْزِلَةً عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الرَّجُلُ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ وَتُفْضِي إِلَيْهِ ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا
“Sungguh, manusia yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah l pada hari kiamat adalah seseorang yang bercampur dengan istrinya dan istrinya bercampur dengannya, kemudian dia menyebarkan rahasianya.” (HR. Muslim no. 1437)
Menurut al-Imam an-Nawawi t, hadits ini mengandung pengharaman menyebarkan apa yang telah terjadi antara sepasang suami istri terkait dengan urusan istimta’ (hubungan suami istri), baik sekadar mengungkapkan dalam hal sifat maupun rinciannya. Tidak boleh menyebarluaskan apa yang terjadi pada istri, baik dalam bentuk perkataan, perbuatan, atau bentuk lainnya. (al-Minhaj, Syarh Shahih Muslim, 10/250)
Jadi, hanya orang yang sudah tidak memiliki rasa malu yang akan melakukan perbuatan tidak senonoh itu. Di manakah martabatnya sebagai manusia?
Telah menjadi fitrah bagi setiap manusia untuk tertarik kepada lawan jenisnya. Namun, apabila ketertarikan terhadap lawan jenis tersebut dibiarkan bebas lepas tiada kendali, justru hanya akan merusak kehidupan manusia. Pandangan mata yang dibiarkan liar, bebas menatap lawan jenis yang tidak halal baginya, tentu banyak menimbulkan dampak negatif. Sama halnya pandangan mata yang dibiarkan menerawang, menatap sesuatu yang mengandung unsur pornografi. Ini tak ubah seperti menyiramkan bahan bakar ke dalam bara api, membakar. Menyalakan gejolak syahwat. Maka dari itu, manakala dorongan-dorongan syahwat menuntut untuk dipenuhi, bagi sebagian orang yang lupa diri kadang mengambil jalan pintas. Ada yang terjatuh melakukan masturbasi (onani) atau mendatangi sesuatu yang tak halal baginya. Nas’alullaha as-salamah wal ‘afiyah.
Zaman telah berubah drastis. Nilai, norma, dan cara pandang dalam masyarakat sudah menjadi longgar. Kemaksiatan pun kukuh mencengkeram kehidupan masyarakat. Serasa kehidupan ini diselimuti kegelapan nan sekelam malam. Beruntunglah manusia yang dijaga oleh Allah l, dilindungi dari arus budaya syahwat, dan diselamatkan dari pusaran maksiat yang menghinakan. Sungguh beruntung saat dirinya mampu tegak berjalan mengamalkan firman-Nya,
“Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.” (al-Mu’minun: 5—7)
Agar tidak terjebak arus budaya syahwat yang menyimpang, Islam telah memberikan arahan yang sangat transparan dan praktis. Di antara yang dituntunkan adalah:
1. Islam mendidik umatnya untuk senantiasa pandai menjaga pandangannya.
Allah l berfirman,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Hal itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” Katakanlah kepada wanita yang beriman, “Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya melainkan yang (biasa) tampak darinya.” (an-Nur: 30—31)
Dari Jarir z,
سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ n عَنْ نَظَرِ الْفَجْأَةِ فَقَالَ: اصْرِفْ بَصَرَكَ
“Aku bertanya kepada Rasulullah n mengenai pandangan pertama yang tiba-tiba. Beliau n menjawab, ‘Palingkan pandanganmu’.” (HR. Muslim, no. 45)

2. Islam mendidik manusia untuk tidak melakukan ikhtilath (bercampur dengan lawan jenis yang bukan mahram) dan berkhalwat (berdua-duaan dengan lawan jenis yang bukan mahram).
Allah l berfirman,
“Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), mintalah dari belakang tabir.” (al-Ahzab: 53)
Dari ‘Uqbah bin Amir z, sesungguhnya Rasulullah n bersabda,
إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ؟ قَالَ: الْحَمْوُ الْمَوْتُ
“Hendaknya kalian berhati-hati masuk ke kalangan wanita.” Seorang lelaki Anshar bertanya, “Apa pendapatmu mengenai saudara ipar?” Beliau n menjawab, “Saudara ipar adalah maut (kematian).” (HR. al-Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 20)

3. Islam mendidik (khususnya kaum wanita) untuk berpakaian menutup seluruh tubuhnya.
Allah l berfirman,
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Hal itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (al-Ahzab: 59)

4. Islam mengatur etika berhias
Berhias berarti usaha untuk memperindah dan mempercantik diri agar bisa berpenampilan menawan. Karena sesungguhnya telah menjadi tabiat manusia untuk berpenampilan indah, menawan, dan nikmat dipandang orang. Allah l berfirman,
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (al-A’raf: 31)
Islam menganjurkan agar pemeluknya senantiasa tampil rapi, bersih, cantik, menawan, dan penuh pesona. Namun, perlu dipahami pula bahwa Islam telah mengatur kapan saatnya berhias, mengapa seseorang harus berhias, apa saja yang diperbolehkan dan dilarang dalam berhias, dan bagaimana cara berhias bagi laki-laki dan wanita, serta apa saja etika berhias yang harus diterapkan. Berbeda halnya dengan sebagian orang pada masa ini yang berdalih bahwa Islam tidak melarang berhias, lantas mereka berhias, memamerkan tubuhnya kepada yang bukan haknya. Mereka (kaum wanita) ber-tabarruj, memajang sederet perhiasan pada tubuhnya dan memperlihatkan kecantikan wajahnya. Ia berjalan dengan memikat sehingga semua yang ada dalam dirinya memesona dan mampu menggoda laki-laki. Padahal tujuan berhias dalam Islam tidaklah demikian. Allah l berfirman,
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliah yang dahulu.” (al-Ahzab: 33)
Ketentuan-ketentuan seperti ini ditanamkan pada masyarakat adalah untuk kebaikan masyarakat itu sendiri. Termasuk apabila setiap individu menunaikannya dalam rangka ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya, tentu akan memberikan banyak kebaikan bagi individu itu sendiri. Jangan sampai sikap dan perilaku keji itu tersebar di masyarakat.
Allah l berfirman,
“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (an-Nur: 19)
Menurut asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t, salah satu makna “suka menyebarkan perbuatan keji (al-fahisyah) di kalangan orang-orang beriman” adalah menyukai tersebarnya al-fahisyah di tengah-tengah masyarakat muslim, termasuk dalam hal ini menyebarkan film-film porno serta media cetak (majalah, tabloid, selebaran, pamflet, dan yang sejenis, red.) yang jelek, jahat, dan porno. Sungguh, media-media semacam ini tanpa diragukan lagi termasuk yang menghendaki tersebarnya al-fahisyah di komunitas muslim. Orang-orang yang terlibat di dalamnya menginginkan timbul gejolak fitnah (kerusakan dan malapetaka) pada agama seorang muslim. Tentu, melalui apa yang mereka sebarkan di majalah, surat kabar porno yang merusak dan media-media lainnya (seperti internet, TV, dan HP). Barang siapa menyukai tersebarnya al-fahisyah (keji) pada orang tertentu (bersifat individu), bukan dalam lingkup masyarakat Islam secara menyeluruh, balasannya adalah azab yang pedih di dunia dan akhirat. (Syarhu Riyadhi as-Shalihin, 1/598)
Kini perbuatan al-fahisyah (keji) melalui media massa sudah amat dahsyat. Selera buka-bukaan untuk mempertontonkan aurat wanita menjadi bumbu wajib. Jika tidak menampilkan gemulai tubuh wanita, seakan-akan tidak ada daya tarik. Sedemikian rendah dan hinakah wanita dieksploitasi? Yang jelas, tampilan sebuah media merupakan cermin orang-orang yang berada di belakang media itu sendiri.
Wallahu a’lam.

 

Punk Gaya Hidup Anak Jalanan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Di jalan, sering kita temukan pemandangan, segerombolan anak muda—bahkan bisa dikatakan remaja—mengenakan kaos hitam, berjaket lusuh, celana jin robek, sepatu boots, bertato, ditindik dengan rambut gaya mohawk; mencukur tipis atau sampai habis bagian kanan kiri rambut dan membiarkan bagian tengahnya tetap memanjang. Bisa juga dengan model rambut deathhawk yang membiarkan sedikit rambut dekat telinga menjuntai ke bawah sehingga menimbulkan kesan lusuh, urakan, dan seram.
Dandanan mereka terkadang dilengkapi dengan aksesori kalung salib terbalik atau logo nazi-swastika. Sebagian mereka hidup secara liar, tidak memiliki hunian yang tetap. Hidup mereka dari jalan ke jalan. Tidak sedikit ditemukan dari kalangan mereka terjerat narkoba, suka mabuk-mabukan, dan memalak; meminta uang secara paksa kepada masyarakat. Jika mereka hendak bepergian atau beralih tempat, mereka cukup bergerombol menghentikan kendaraan bak terbuka lalu menumpanginya. Kesan di masyarakat, mereka adalah gerombolan anak muda yang hidup bebas tanpa aturan, semau gue. Masyarakat mengenal mereka sebagai gerombolan punk (baca: pang).
Punk tumbuh empat puluh tahun lalu. Berawal dari satu generasi di Amerika dan Inggris yang kemudian menyebar ke berbagai belahan bumi. Menurut Profane Existence, sebuah fanzine (publikasi internal) asal Amerika menyebutkan bahwa Indonesia dan Bulgaria adalah negara dengan tingkat perkembangan punk peringkat teratas di dunia.
Di Indonesia sendiri, punk masuk sekitar dekade 80-an melalui musik dan fesyen. Generasi punk mulai membiak seiring penampilan kelompok musik punk, Sex Pistol, yang banyak digandrungi oleh kawula muda dan remaja. Mulailah budaya meniru menjalar. Beberapa anak muda di Bandung menjiplak mentah-mentah budaya impor tersebut. Mereka tiru dandanan punk, seperti rambut gaya mohawk dan kelengkapan aksesori lainnya. Banyak anak muda terpincut punk, tentu tidak bisa lepas dari peran musik.
Sebagian orang menyangka bahwa musik adalah sarana untuk bersenang-senang semata. Sekadar pengisi waktu luang dan pengisi sepi. Kenyataannya, sangkaan tersebut keliru. Melihat apa yang terjadi dari perkembangan generasi punk, musik memiliki peran yang teramat mendalam. Bahkan, bagi generasi punk, musik telah mampu menjadi perantara bagi perubahan haluan hidup mereka. Berawal dari menyukai musik, gaya hidup mereka berubah. Jiwa mereka berubah. Orientasi hidup mereka berubah. Bahkan, gaya berpakaian, aksesoris, rambut, wajah, hingga bersepatu semuanya berubah. Itulah dampak musik.
Telah menjadi fakta, musik mampu mengubah suasana hati manusia. Kala musik melankolis mengalun, maka suasana hati orang akan teraduk, sedih, dan pilu. Melalui musik, hati terasa tersayat. Kala nada musik bernuansa histeria menyeruak masuk ke dalam telinga, jiwa manusia menjadi meluap, emosi menjadi tidak terkendali, berjingkrak, berteriak, menangis, dan tertawa. Jeritan nan melengking terkadang menjadi ekspresi yang tiba-tiba, sontak terjadi. Sekonyong-konyong manusia menjadi histeris.
Musik bisa menjungkirbalikkan perasaan manusia. Begitu kuat musik bisa memengaruhi manusia. Yang paling berbahaya, manakala melalui musik, prinsip, akidah, akhlak, dan bentuk perilaku manusia berubah. Jika hal ini terjadi, tujuan hidup manusia di dunia ini bisa berubah. Nas’alullaha as-salamah (kita memohon keselamatan kepada Allah l).
Rasulullah n bersabda,
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Sungguh akan terjadi pada umatku, beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutra, minuman keras, dan musik.” (HR. al-Bukhari no. 5590. Pembahasan musik secara lebih rinci bisa dilihat di Asy Syari’ah edisi 40)
Punk adalah perilaku yang lahir dari sifat melawan, tidak puas hati, marah, dan benci pada sesuatu yang tidak pada tempatnya (sosial, ekonomi, politik, budaya, bahkan agama), terutama tindakan yang menindas. (Punk, Ideologi yang Disalahpahami, hlm. 15)
Gaya hidup generasi punk adalah cerminan dari ketidakberdayaan menghadapi perubahan zaman. Persaingan global, keadaan jiwa yang masih labil—karena mayoritas kelompok mereka masih remaja—dan tidak memiliki bekal ilmu yang cukup guna menghadapi situasi yang cepat berubah, menjadikan mental mereka mudah terpuruk. Mereka hidup terombang-ambing penuh ketidakpastian. Mereka menjadi manusia frustasi yang menyerah kalah oleh keadaan.
Maka dari itu, tatkala ide punk bergulir, mereka seakan-akan mendapat wadah untuk mengekspresikan kekesalan jiwanya. Bosan melihat situasi rumah yang selalu hiruk pikuk dengan konflik dan ketidakharmonisan, mereka lantas lari dari rumah dan mencari situasi baru. Mereka berteman dan bergaul dengan orang-orang yang memiliki nasib yang sama, bosan dengan rumah, bosan dengan segala aturan yang mengikat, bosan dengan situasi yang tidak pernah berubah. Jadilah generasi punker, generasi yang tidak suka kemapanan, selalu berubah dan mengikuti arus zaman.
Mereka bisa bergaul bebas, lantaran tak memiliki prinsip dan pandangan hidup yang kokoh. Mereka suka menerobos norma yang ada, karena mereka tak memiliki figur yang pantas untuk membimbing mereka ke jalan yang benar. Kehampaan demi kehampaan, kekecewaan demi kekecewaan, kegalauan demi kegalauan menumpuk, terakumulasi dalam jiwa yang akhir muaranya adalah hidup menjadi anak jalanan. Sebagian masyarakat melabeli mereka dengan “sampah masyarakat”. Mereka benar-benar terbuang dari kehidupan bermasyarakat yang sehat. Bagai seonggok sampah yang dibuang karena sudah tidak berguna.
Oleh karena itu, menanamkan pemahaman Islam yang benar sangat diperlukan. Meneguhkan prinsip al-wala’ wal bara’, siapa yang harus diikuti dan dijadikan teman seiring, siapa pula yang mesti dijauhi dan ditinggalkan serta tidak dijadikan teman seiring. Tanpa prinsip ini, seseorang akan menjadi manusia gaul, bebas bergumul dengan siapa pun, tanpa menakar dengan syariat Allah l dan Rasul-Nya n. Rasulullah n bersabda,
مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيْرِ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يَحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيثَةً
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan buruk seperti penjual minyak wangi dan pandai besi. (Seseorang yang duduk bersama) penjual minyak wangi bisa jadi engkau diberi minyak wangi olehnya, bisa jadi pula engkau akan membeli darinya, dan bisa pula engkau hanya sekadar mendapatkan keharumannya. Adapun yang duduk bersama pandai besi, bisa jadi bajumu terbakar atau bisa pula dirimu mendapati bau yang tak sedap darinya.” (HR. al-Bukhari no. 5534 dan Muslim no. 146)
Teman bergaul akan memberi warna pada sikap seseorang. Lebih dari itu, teman bergaul akan memengaruhi keadaan agama seseorang. Teman yang baik akan mengokohkan agama seseorang. Adapun teman yang buruk akan menyusutkan nilai agama seseorang. Manakala seseorang bergaul bebas tanpa batas, akan runtuh bangunan agama yang ada padanya. Karena itu, berhati-hatilah memilih teman.
الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
“(Keadaan) seseorang itu berada di atas agama (perangai) temannya. Perhatikanlah siapa yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Dawud no. 4833 dan at-Tirmidzi no. 2395)
Dalam kondisi mental remaja yang masih labil dan proses pencarian pribadi, maka saat menemukan sesuatu yang baru mereka terdorong untuk meniru dan memilikinya. Proses meniru budaya punk menjadi mudah terkristal. Terbentuklah sikap mental punk yang sangat asing bagi masyarakat muslimin. Budaya meniru terhadap sesuatu yang tidak benar dan tidak baik telah diingatkan oleh Rasulullah n,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟
“Sungguh, kalian akan mengikuti jalan yang telah ditempuh oleh orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. (Sampai-sampai) seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhab (sejenis biawak) pasti kalian akan mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Jawab beliau n, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari no. 7319)
Di dalam al-Qur’an, Allah l berfirman,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Hadid: 16)
Seorang muslim memiliki kepribadian tersendiri yang bersumber dari ajaran Rasulullah n. Tidak semua perubahan yang terjadi sekarang ini lantas boleh ditiru oleh setiap muslim, termasuk dalam hal ini adalah gaya hidup punk, gaya hidup anak jalanan sebagaimana yang diperlihatkan oleh para punkers dewasa ini. Gaya hidup hasil sebuah pergulatan sosial perkotaan. Apa yang terjadi dari sejarah kemunculan punk, ada beberapa sisi kesamaan dengan anak jalanan yang hidup di kota London. (Dalam: Streetboys, Kisah 7 Anak Jalanan, 2 Bocah Muslim + 5 Bocah Kristen Berjuang Melawan Kerasnya Kehidupan, Tim Pritchard, Penerbit Edelweiss)
Ketujuh anak laki-laki yang lahir dari keluarga broken home, terjerumus kepada kehidupan gelap kota London. Mereka membentuk geng jalanan. Dalam upaya mempertahankan hidup, mereka terpasung mafia narkoba dan termakan sisi gelap premanisme. Pergaulan bebas telah mengarahkan tujuh bocah tadi ke dalam kehidupan keras dan kelam.
Di tengah kehidupan yang karut-marut, celah untuk terjerumus pergaulan bebas semakin menganga. Tidak hanya untuk kalangan remaja atau pemuda, para orang tua pun tidak sedikit yang tersungkur dalam arena pergaulan bebas. Betapa banyak kehidupan rumah tangga yang telah dibina bertahun-tahun lalu kandas di tengah jalan. Apa masalahnya? Ternyata sang suami berselingkuh. Kesetiaan sang istri dikhianati. Karena suami main gila, berzina dengan wanita lain, tentu sang istri tidak terima. Mahligai rumah tangga terkoyak. Bahtera itu pun terempas badai. Pupus sudah keharmonisan. Tersisalah kegetiran hidup yang mesti ditanggung.
Akibat pergaulan bebas, banyak anak remaja menghadapi masa depan suram. Ketergantungan terhadap obat-obat terlarang menjadikan mereka rapuh, tidak mampu tegak menghadapi kenyataan hidup. Untuk memenuhi kebutuhan terhadap obat-obat terlarang tersebut tidak sedikit yang lantas mengambil jalan pintas: mencuri, merampas, atau merampok harta orang. Semua ini dilakukan lantaran dirinya butuh dana untuk keperluan membeli obat-obat terlarang. Pergaulan bebas menyebabkan seseorang terjerat kemaksiatan demi kemaksiatan.
Akibat pergaulan bebas, praktik aborsi bagai jamur di musim hujan. Mengapa harus aborsi? Sebabnya adalah kehamilan yang tidak dikehendaki. Kehamilan akibat pergaulan bebas hingga terjadi perzinaan dan hamil. Untuk menutup malu, maka diambil jalan pintas: aborsi! Nas’alullah al-‘afiyah (kita memohon keselamatan kepada Allah).
Melihat akibat pergaulan bebas yang sedemikian dahsyat, hati pun miris dan risau. Demikian buruk keadaan masyarakat. Semakin berkembang teknologi dan kehidupan sosial masyarakat, ternyata semakin membawa dampak yang tidak sederhana. Masalah semakin kompleks dan proses penyelesaiannya pun tentu tak sesederhana yang dibayangkan. Meskipun demikian, Islam membimbing setiap pribadi untuk menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka. Allah l berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat. Apabila setiap keluarga dalam satu kampung baik, diharapkan bahwa kehidupan kampung itu pun akan baik. Inilah yang menjadi dambaan setiap insan. Untuk mewujudkan semua itu, bekal pemahaman Islam yang lurus, benar, dan baik sangat dibutuhkan. Kata kuncinya, kembali kepada Islam sebagaimana yang telah diajarkan oleh Rasulullah n.
Wallahu a’lam.

Kaum Hedonis

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Islam adalah ajaran yang sempurna, sebuah sistem dan cara pandang hidup yang lengkap, praktis, dan mudah. Islam memberikan tuntunan terkait hal yang bersifat individu dan yang menyangkut masalah kemasyarakatan. Semua itu telah diatur oleh Islam. Allah l berfirman,
“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untukmu agamamu, telah Ku-cukupkan untukmu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)
Islam mengajak manusia ke alam nan bercahaya, terang benderang. Islam menarik manusia dari kegelapan dan mengarahkannya menuju kehidupan yang penuh makna. Islam membebaskan manusia dari kehampaan hidup, kekeringan jiwa, dan kehilangan arah kendali hidup. Melalui Islam, manusia menjadi tercerahkan. Kebodohan yang tergumpal di dada manusia terbuncah, memberai lalu sirna. Islam dengan sinarnya yang kemilau memupus kebodohan yang meliputi umat. Karena itu, berbahagialah manusia yang telah diliputi oleh petunjuk, berpegang teguh dengan Islam dan menepis setiap nilai jahiliah.
Adapun orang-orang yang berpaling dan tidak mau peduli terhadap kebenaran Islam, sungguh mereka adalah orang-orang yang merugi. Hawa nafsu menjadi landasan pacu amalnya. Perilakunya senantiasa diwarnai oleh noda hitam pekat, tidak merujuk kepada Islam, dan lebih menyukai bersandar kepada sistem nilai kekufuran.
“Barang siapa yang mencari tuntunan selain Islam, maka tidak akan diterima (amal perbuatannya) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi.” (Ali Imran: 85)
Lantaran keadaan mereka yang gersang dari ajaran Islam, tanpa pemahaman dan amal yang lurus dan benar, mereka lebih condong bergelut dengan beragam maksiat. Kehidupan dunia telah banyak memerdayakannya. Mereka berlomba mereguk materi sebanyak-banyaknya tanpa memerhatikan nilai kebenaran walaupun semua itu semu, tidak terkecuali dari kalangan kaum muda Islam. Dengan slogan kata ‘modern’, mereka bergumul meraup dunia. Mereka meninggalkan batas-batas dan menerobos rambu-rambu agama. Halal-haram tak lagi menjadi pertimbangan dalam bersikap. Bagai dikebiri, mereka terjerat siasat Yahudi dan Nasrani. Tidak ada lagi kecemburuan terhadap Islam. Ghirah untuk menampilkan diri sebagai sosok muslim taat pun mandul. Mata, hati, dan pendengaran sudah tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Mereka tidak ubahnya bagai binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.
Allah l menggambarkan fenomena ini dalam ayat-Nya,
“Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak digunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah). Mereka mempunyai mata, (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (al-A’raf: 179)
Karena keadaan hati yang buta dan tuli, banyak manusia menolak kebenaran. Bahkan, tidak sedikit yang melontarkan caci maki terhadap Islam dan kaum muslimin yang taat kepada ajarannya. Bagi mereka, Islam dianggap sebagai ajaran yang kolot, kuno, dan ortodoks. Islam hanya akan mengekang kebebasan manusia dalam berbuat, berekspresi, dan berperilaku. Orang-orang yang setia dan mengagungkan Islam mereka tuduh sebagai manusia picik. Singkat kata, Islam hanya akan memberangus apa yang diinginkannya dan hanya akan menyulitkan manusia. Islam hanya akan mempersempit ruang gerak kehidupannya, memasung kebebasannya, dan mengebiri pergaulannya. Padahal Allah l berfirman,
“Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)
“Thaha. Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).” (Thaha: 1—3)
Celoteh mereka hakikatnya menunjukkan bahwa mereka tidak memahami Islam secara baik dan benar. Bisa jadi, hal itu karena kedengkian yang ada pada hati mereka. Kemungkinan-kemungkinan itu bisa saja terjadi. Namun, yang jelas sikap apriori mereka terhadap Islam sangat merugikan. Celah ini dimanfaatkan oleh musuh-musuh Islam dan kaum muslimin. Upaya mereka untuk memadamkan cahaya Islam seakan mendapat angin segar. Inilah gerakan yang disinyalir melalui firman-Nya,
“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)
Akibat sikap buruk terhadap Islam, mereka pun mematri aturan-aturan hidup yang bersumber dari hawa nafsu. Mereka bangga melaksanakannya meskipun kemudian menimbulkan kerusakan di semua lini kehidupan. Dalam pergaulan antarjenis manusia, kerusakan kronis telah begitu kuat mencengkeram. Kebebasan seksual, perilaku kerahiban (hidup membujang), homoseks, lesbian, dan perilaku penyimpangan seksual lainnya telah dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Hubungan yang bercampur baur antara pria dan wanita yang bukan mahram tidak lagi dianggap sebagai dosa yang harus dijauhi.
Anehnya, tidak sedikit dari kalangan umat Islam yang meniru dan bangga dengan hal itu. Tanpa rasa takut kepada Allah l, tanpa malu, dan tanpa risih mereka tiru mentah-mentah perbuatan yang menyelisihi Allah l dan Rasul-Nya n. Nabi n berkata,
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْـِي فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya dari apa yang telah manusia peroleh dari perkataan kenabian yang pertama, ‘Jika engkau tak memiliki rasa malu, berbuatlah sekehendakmu’.” (HR. al-Bukhari no. 6120 dari sahabat Abu Mas’ud z)
Menjelaskan hadits di atas, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizahullah berkata, “Malu adalah perangai yang agung. Sikap malu menyebabkan seseorang tercegah dari sesuatu yang akan mengantarkan kepada hal yang tak patut, seperti perbuatan-perbuatan yang rendah dan hina, serta akhlak buruk. Oleh karena itu, sikap malu ini termasuk dari cabang keimanan.” (al-Minhatu ar-Rabbaniyyah fi Syarhi al-Arba’in an-Nawawiyah, hlm. 181)
Jika malu sudah tidak lagi ada di dada, sikap tidak nyaman lantaran melanggar ketentuan Allah l dan Rasul-Nya n menjadi sesuatu yang biasa. Tidak ada lagi kata risih. Jangankan malu, risih saja tidak.
Dengan berbuat seperti itu, seakan-akan mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang menerapkan sistem modern. Kalau tidak berbuat dan menerapkan hal demikian, bakal merugikan kehidupannya, masa depannya, dan segenap usahanya. Apa yang dilakukannya seakan-akan merupakan langkah yang baik, selaras dengan prinsip hidup modern, dan sesuai dengan kondisi masyarakat. Fenomena ini digambarkan oleh Allah l dalam firman-Nya,
Katakanlah, “Apakah akan Kami beri tahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (al-Kahfi: 103—104)
“Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)
Padahal, apa yang dibanggakannya bisa menjadi sumber bencana. Prinsip-prinsip yang menggayut dalam benaknya adalah pemantik petaka dan perantara turunnya azab Allah l. Firman-Nya,
“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)
Maka dari itu, yang sekiranya hal itu merupakan perbuatan yang dilarang, hendaknya dijauhi. Sekiranya itu merupakan perintah untuk dipraktikkan, maka tunaikanlah. Sesungguhnya Rasulullah n bersabda,
مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ
“Apa yang telah kularang padamu darinya, tinggalkanlah (jauhilah). Apa yang telah kuperintahkan dengannya, tunaikanlah semampumu.” (HR. al-Bukhari no. 7288 dan Muslim no. 1337 dari sahabat Abu Hurairah z)
Meskipun demikian, masih ada sekelompok manusia yang menyandarkan falsafah hidupnya hanya untuk meraup kesenangan. Ia tidak peduli kesenangan yang didapat dia tempuh dengan cara apa. Baginya, kesenangan adalah satu-satunya kebaikan. Prinsip hidup “asal senang” ini adalah prinsip hidup kaum hedonis. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, hedonisme diartikan sebagai pandangan hidup yang menganggap bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama dalam hidup. Doktrin hedonisme (asal katanya adalah hedone, bahasa Yunani yang berarti kesenangan) digulirkan oleh salah seorang murid Socrates yang bernama Aristippus.
Filsafat hedonisme mengajarkan prinsip “Apa yang dilakukan dalam rangka meraup kesenangan atau menghindari penderitaan. Kesenangan adalah satu-satunya kebaikan, dan mencapai puncak kesenangan adalah satu-satunya kebajikan.” (Sejarah Pemahaman Psikologi dari Masa Kelahiran sampai Masa Modern, Dr. C. George Boeree, hlm. 55)
Pemahaman ini diusung pula oleh Sigmund Freud, seorang keturunan Yahudi yang melontarkan ide Principle of Pleasure (Prinsip-Prinsip Kenikmatan). Freud melemparkan ide bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia akan bermuara pada soal ekspresi dan nafsu seks. Dengan demikian, atas dasar kenikmatan dan kesenangan ini, tanpa memerhatikan norma yang ada, serbuan pemahaman yang bertitik tekan pada kesenangan dan kenikmatan hidup semata menyeruak masuk ke benak sebagian manusia. Tidak mengherankan apabila kemudian di tengah masyarakat muncul iklan-iklan yang diwarnai oleh citra seksual. Begitu pula di sisi kehidupan media massa lainnya. Berita dan cerita yang beraroma nafsu birahi cenderung meningkat dan digandrungi. Sadar atau tidak, gaya hidup hedonis telah merembes dan menjadi bagian hidup sebagian masyarakat.
Gaya hidup hedonis membentuk sikap mental manusia yang rapuh, mudah putus asa, cenderung tidak mau bersusah payah, selalu ingin mengambil jalan pintas, tidak hidup prihatin, dan bekerja keras. Seseorang yang terjebak gaya hidup hedonis akan mengambil bagian yang menyenangkan saja. Adapun hal yang bakal memayahkannya, dia hindari. Dia tidak mau peduli bagaimana orang tuanya bekerja keras siang dan malam, sementara itu dirinya hanya bisa nongkrong di mal, berkumpul dengan kalangan berduit, selalu memilih barang berharga mahal meskipun menggunakan barang yang relatif murah sebenarnya bisa. Apa yang melekat pada dirinya harus selalu terkesan mewah dan elegan.
Gaya hidup hedonis identik dengan gaya hidup glamor, hura-hura, foya-foya, dan bersenang-senang. Gaya hidup hedonis akan mengantarkan seseorang pada sikap mental yang tidak mau peduli dan peka melihat keberagaman hidup, tidak memiliki sensitivitas terhadap kesulitan hidup orang lain. Singkat kata, gaya hidup hedonis melahirkan manusia-manusia yang tumpul sikap sosialnya, melahirkan jenis manusia asosial.
Padahal hidup di dunia ini hanyalah main-main dan sendau gurau belaka. Adapun kampung akhirat adalah hal yang lebih utama. Allah l berfirman,
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (al-An’am: 32)
Rasulullah n mengibaratkan kehidupan dunia bagai seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon. Kala lelah telah sirna dari tubuhnya, pengelana itu pun melanjutkan perjalanannya. Pohon tempatnya berteduh dia tinggalkan. Itulah dunia beserta kehidupan di dalamnya, sekadar tempat rehat sesaat. Nabi n bersabda,
مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apalah arti dunia bagiku. Tiadalah (bagi) aku dalam perkara dunia melainkan seperti seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon, lalu setelah itu meninggalkan (pohon) tersebut.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani menyatakan hadits ini sahih dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatuhu no. 5669)
Dalam sebuah hadits dari Abul Abbas Sahl bin Sa’d as-Sa’idi z disebutkan,
أَتَى النَّبِيَّ n رَجُلٌ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّكَ النَّاسُ
“Seorang lelaki datang kepada Nabi n. Laki-laki itu berkata kepada Nabi n, ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku satu amalan yang apabila aku mengamalkannya Allah akan mencintaiku dan manusia akan mencintaiku.’ Jawab Rasulullah n, ‘Zuhudlah dalam urusan dunia, Allah akan mencintaimu dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia, niscaya manusia akan mencintaimu’.” (HR. Ibnu Majah no. 4102, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani t. Lihat ash-Shahihah no. 944)
Sikap zuhud bisa dilakukan oleh seorang hamba yang fakir ataupun yang memiliki harta kekayaan yang melimpah. Bagi orang fakir, hendaknya dia berzuhud dengan tetap bersemangat mencurahkan segenap kemampuannya bagi kehidupan akhiratnya. Adapun bagi yang diberi limpahan harta kekayaan, dia berzuhud dengan segenap kemampuan dari hartanya guna kepentingan Islam dan kaum muslimin. Harta yang disalurkan untuk hal itu akan membawa kebaikan baginya dan tidak akan membinasakannya. (asy-Syaikh Muhammad al-Imam, Tahdzirul Basyar, hlm. 95)
Menyikapi kehidupan dunia dengan bimbingan syariat, niscaya akan menyelamatkan hamba dari tekanan hedonisme. Seseorang tidak akan diperbudak oleh dunia, tidak pula silau oleh kemilau dunia yang menipu. Dunia hanyalah tempat singgah sementara, sedangkan kampung akhirat adalah tempat tujuan yang hakiki, tujuan nan abadi.

“Adapun kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (al-A’la: 17)
Saat seseorang meninggalkan dunia fana ini menuju kampung akhirat, segenap harta kekayaan yang telah dikumpulkan selama hidupnya tidak akan dibawanya, kecuali kain kafan yang menyelimutinya. Hal ini dinyatakan oleh Rasulullah n,
يَتْبَعُ الْمَيَّتَ ثَلَاثَةٌ: أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى وَاحِدٌ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَيَبْقَى عَمَلُهُ
“Orang yang meninggal dunia itu diikuti oleh tiga hal: keluarganya, hartanya, dan amalnya. Yang dua akan kembali, adapun yang satu tetap tinggal. Yang kembali adalah keluarganya dan hartanya. Adapun yang tetap (bersamanya) adalah amalnya.” (HR. al-Bukhari no. 6514 dan Muslim no. 5)
Begitulah dunia, dia tidak akan selalu bersama pemiliknya. Dia akan terpisah, meninggalkan pemiliknya. Kaum hedonis amat sukar menerima kenyataan ini.
Wallahu a’lam.

 

Pergaulan Bebas

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.)

Pergaulan bebas adalah bahaya laten yang melanda umat. Dengan potret kehidupan bermasyarakat yang bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan (termasuk syariat) yang ada, akan tercipta sebuah kehidupan yang amburadul, tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya untuk bergerak, berbicara, dan berbuat dengan leluasa. Dalam kondisi semacam ini akhirnya hawa nafsu dituhankan, syariat Islam dicampakkan, dan rasa malu nyaris tak tersisakan. Dengan demikian, tak ubahnya kehidupan yang dijalani seperti kehidupan binatang ternak, bahkan lebih sesat darinya. Wallahul musta’an.

Memaknai Pergaulan Bebas
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan bahwa kata pergaulan bermakna kehidupan bermasyarakat. Adapun kata bebas mempunyai beberapa makna, di antaranya adalah:
– Lepas sama sekali tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya sehingga boleh bergerak berbicara, berbuat, dan sebagainya dengan leluasa.
– Lepas dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan sebagainya.
– Tidak terikat atau terbatas oleh aturan-aturan, dan sebagainya.
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pergaulan bebas adalah kehidupan bermasyarakat yang lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan yang ada, sehingga tidak terhalang, terganggu, dan sebagainya untuk bergerak, berbicara, dan berbuat dengan leluasa.
Dari sini pula dapat disimpulkan bahwa pergaulan bebas hakikatnya tidak terbatas pada apa yang terjadi di antara para kawula muda pria dan wanita semata.
Topik pergaulan bebas mencakup semua bentuk kehidupan bermasyarakat yang bersifat bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan yang ada.

Menilik dari Kacamata Syariat
Para pembaca yang mulia, tidak bisa dimungkiri bahwa kehidupan bermasyarakat secara bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan (termasuk syariat) yang ada adalah fenomena yang terjadi pada sebagian manusia. Padahal apabila dirunut hakikat dan ihwalnya, tidak sepantasnya mereka memilih kehidupan yang bersifat bebas tersebut.
Betapa tidak. Dengan segala hikmah dan keadilan-Nya, Allah l menciptakan manusia sebagai makhluk yang dilingkupi oleh segala kelemahan dan keterbatasan. Ia mengawali kehidupannya dalam keadaan lemah, kemudian sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Allah l berfirman,
“Dan manusia diciptakan dalam keadaan (bersifat) lemah.” (an-Nisa’: 28)
“Allah, Dialah yang menciptakan kalian dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kalian) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54)
Sungguh, tanpa nikmat, karunia, pertolongan, dan kekuatan dari Allah l, tidak mungkin manusia bisa menjalani pahit getirnya kehidupan ini dengan selamat. Oleh karena itu, Allah l mengingatkan mereka dengan firman-Nya,
“Hai sekalian manusia, kalianlah yang amat butuh kepada Allah, dan Allah Dia-lah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (Fathir: 15)
Demikianlah manusia dengan segala kelemahan dan keterbatasannya. Semua hakikatnya dalam perjalanan menuju Rabb-nya, sedangkan kemampuan beramal sangat terbatas pada umur yang Dia l tentukan. Saat kematian tiba, tak seorang pun dapat menghindar atau tertangguhkan darinya. Allah l berfirman,
“Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (al-Munafiqun: 11)
Ditinjau dari sudut keimanan, kehidupan dunia yang dijalani oleh manusia itu bukanlah akhir perjalanannya. Masih ada dua kehidupan berikutnya; di alam barzah (kubur) dan di alam akhirat. Di alam barzah (kubur), setiap manusia akan menghuninya seorang diri tanpa ditemani oleh kawan atau orang yang dicintainya. Segudang harta yang telah lama ditimbunnya di dunia tak lagi setia di sampingnya. Dengan hanya mengenakan kain kafan yang melilit tubuh, berbaring di atas seonggok tanah yang tak beralas di liang lahat yang sempit, masing-masing akan mendapatkan azab kubur atau nikmat kubur sesuai dengan perhitungannya di sisi Allah l.
Di alam akhirat, masing-masing akan menghadap Allah l seorang diri pula guna mempertanggungjawabkan segala amal perbuatan yang dikerjakannya selama hidup di dunia. Ia akan diberi balasan yang setimpal oleh Allah l atas segala yang diperbuatnya itu. Allah lberfirman,
“Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” (Maryam: 95)
“Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja (berbuat) dengan penuh kesungguhan menuju Rabb-mu, maka pasti kamu akan menemui-Nya (untuk mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang dilakukan).” (al-Insyiqaq: 6)
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah (semut yang sangat kecil) pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejelekan seberat zarrah (semut yang sangat kecil) pun, niscaya dia akan melihat balasannya.” (az-Zalzalah: 7—8)
Jika demikian, tak diragukan lagi bahwa kehidupan bermasyarakat secara bebas, lepas sama sekali dari kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dan berbagai aturan (termasuk syariat) yang ada hukumnya adalah haram. Oleh karena itu, dari sisi manakah uzur manusia untuk memilih kehidupan bermasyarakat secara bebas tersebut? Pantaskah perilaku buruk tersebut ditujukan kepada Allah l, Pencipta alam semesta ini?! Betapa naifnya manusia (siapa pun dia) apabila memilih kebebasan dalam kehidupan bermasyarakatnya dengan menuhankan hawa nafsu, melepaskan diri dari ikatan syariat Islam yang mulia, dan mencampakkan fitrah yang suci.

Mengapa Muncul Pergaulan Bebas?
Pergaulan bebas tidaklah terjadi begitu saja. Segala sesuatu ada sebab yang melatarbelakanginya. Adakalanya dilatarbelakangi oleh persepsi yang salah dalam memahami hakikat kehidupan. Bisa jadi, mereka berpandangan bahwa kehidupan itu tidak lain kehidupan di dunia saja dan tidak ada yang akan membinasakan selain masa. Dengan demikian, setelah tiba kematian, selesailah kehidupan tanpa ada pertanggungjawaban. Di samping itu, bisa jadi hal ini dilatarbelakangi oleh kurangnya ilmu dan iman. Adakalanya karena meniru budaya barat (baca: kafir) dan lainnya. Ujungnya, ayat-ayat Allah l dicampakkan dan hawa nafsu dituhankan hingga rasa malu tak tersisakan. Akhirnya, laju kehidupan tak terkendalikan.
Manakala sebuah kehidupan tak lagi mengindahkan rambu-rambu ilahi yang suci dan semakin nyata bentuk penentangan terhadap sang Pencipta Yang Mahakuasa, maka Allah l akan membiarkan pelakunya tersesat berdasarkan ilmu-Nya. Allah akan l mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya. Allah l berfirman,
“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? Dan mereka berkata, ‘Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa,’ dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, tidak ada bantahan mereka selain dari mengatakan, ‘Datangkanlah nenek moyang kami jika kalian adalah orang-orang yang benar.’ Katakanlah, ‘Allahlah yang menghidupkan kalian kemudian mematikan kalian, setelah itu mengumpulkan kalian pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui’.” (al-Jatsiyah: 23—26)
Jadi, dapat disimpulkan bahwa kehidupan ini tak bisa dijalani begitu saja tanpa tatanan dan aturan yang harus diikuti. Sebagai pribadi muslim, tatanan dan aturan yang harus diikuti adalah syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah n, bukan hawa nafsu, adat istiadat, atau budaya suatu negeri.
Demikianlah bimbingan Allah l terhadap Rasul-Nya yang mulia, sebagaimana dalam firman-Nya,
“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (rincian aturan hidup yang harus dijalani) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.” (al-Jatsiyah: 18)
Mengapa yang dijadikan sebagai tatanan dan aturan itu adalah syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah n, bukan hawa nafsu, adat istiadat, atau budaya suatu negeri?
Ya, karena syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah n itu selain sempurna dan memenuhi segala kebutuhan hidup umat manusia, ia pun sangat sesuai dengan fitrah yang suci. Syariat tersebut tidak memiliki kesempitan dan bukan belenggu yang memberatkan. Hal ini sebagaimana firman Allah l,
“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t dalam ceramah agama yang bertajuk asy-Syari’ah al-Islamiyyah wa Mahasinuha wa Dharuratu al-Basyar Ilaiha mengatakan, “Syariat ini dipenuhi oleh kemudahan, toleransi, kasih sayang, dan kebaikan. Selain itu, syariat ini juga dipenuhi oleh maslahat yang tinggi dan senantiasa memerhatikan berbagai sisi yang mengantarkan para hamba kepada kebahagiaan dan kehidupan yang mulia di dunia serta di akhirat.”
Dengan demikian, sangatlah berbeda kondisi orang-orang yang hidup di bawah naungan syariat Islam dengan orang-orang yang hatinya membatu. Allah l berfirman,
“Maka apakah orang-orang yang Allah lapangkan dadanya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah, mereka itu dalam kesesatan yang nyata.” (az-Zumar: 22)
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t berkata, “Apakah orang yang Allah l melapangkan dadanya untuk menyambut agama Islam, siap menerima dan menjalankan segala hukum (syariat) yang dikandungnya dengan penuh kelapangan, bertebar sahaja, dan di atas kejelasan ilmu (inilah makna firman Allah l, ‘ia mendapat cahaya dari Rabbnya’), sama dengan selainnya? Yaitu, orang-orang yang membatu hatinya terhadap Kitabullah, enggan mengingat ayat-ayat-Nya, dan berat hatinya untuk menyebut (nama)-Nya. Bahkan, kondisinya selalu berpaling dari (ibadah kepada) Rabbnya dan mempersembahkan (ibadah tersebut) kepada selain Allah l. Merekalah orang-orang yang ditimpa oleh kecelakaan dan kejelekan yang besar.” (Taisir al-Karimirrahman, hlm. 668)
Betapa indahnya syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah n itu. Syariat yang memerhatikan hubungan antara hamba dengan Allah l, Sang Pencipta. Syariat yang memosisikan-Nya sebagai tumpuan dalam hidup ini, berserah diri kepada-Nya, tunduk dan patuh kepada-Nya, memurnikan ibadah hanya untuk-Nya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Di samping itu, syariat ini memerhatikan hubungan antara hamba dan sesamanya, dengan cara menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, menyantuni yang lemah, membantu orang yang tertimpa musibah, menyambung tali silaturahim, menjaga hubungan baik dengan tetangga, memuliakan tamu, jujur dalam berbuat dan berkata, serta hal-hal lainnya. Syariat ini bersifat adil dan tepat, tidak berlebihan dan tidak bermudah-mudahan dalam segala aspeknya.
Atas dasar itu, setiap pribadi muslim wajib berpegang teguh dengan agama Islam dan syariatnya yang sempurna selama hayat masih dikandung badan. Setiap muslim seharusnya mengedepankannya di atas segala dorongan hawa nafsu, adat istiadat/budaya negerinya, dan yang selainnya. Selain itu, seorang muslim juga senantiasa menaati Rasulullah n dan tak menentangnya sedikit pun. Dengan demikian, ia akan terbimbing untuk masuk ke al-jannah (surga) dan diselamatkan dari azab Allah l yang amat pedih.
Rasulullah n bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk ke dalam al-Jannah (surga) kecuali yang enggan.” Para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah orang yang enggan itu?” Rasulullah menjawab, “Barang siapa yang taat kepadaku pasti masuk ke dalam al-jannah (surga), dan barang siapa menentangku maka dialah orang yang enggan.” (HR. al-Bukhari no. 7280 dari sahabat Abu Hurairah z)

Dampak Pergaulan Bebas Bagi Masyarakat
Para pembaca yang mulia, pergaulan bebas dengan pengertian di atas sangat berdampak bagi masyarakat. Betapa tidak, manakala sebuah masyarakat menuhankan hawa nafsu, sementara itu syariat dicampakkan begitu saja dan tak berbekas dalam kalbu, setiap individu mereka akan hidup tanpa rambu-rambu, tidak terhalang untuk bergerak dan berbicara serta leluasa berbuat segala sesuatu tanpa rasa malu. Akhirnya, kehidupan masyarakat yang seperti itu tak ubahnya seperti kehidupan binatang ternak, bahkan lebih sesat darinya.
Hal ini sebagaimana firman Allah l,
ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ ﯲ ﯳ ﯴ ﯵ ﯶ ﯷ ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗﭘ ﭙ ﭚ ﭛ ﭜﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ
“Tidakkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 43—44)
Bisa dibayangkan, betapa hancurnya sebuah masyarakat manakala kehidupannya sama dengan kehidupan binatang ternak, bahkan lebih sesat darinya. Di antara mereka ada yang bergelimang dalam kesyirikan, ada yang tenggelam dalam kebid’ahan, ada yang berbuat zina, minum minuman keras (miras), narkoba, berjudi dengan segala modelnya, pornoaksi, pornografi, dan berbagai kemaksiatan lainnya. Sementara itu, pembunuhan, perampokan, penjambretan, pencurian, korupsi, penipuan, dan berbagai tindakan kriminalitas lainnya menjamur di mana-mana.
Di antara contoh kasus dari dampak pergaulan bebas itu adalah apa yang terjadi pada para pemuda dan pemudi yang tergabung dalam kelompok punk. Sebuah kelompok yang ekstrem mengampanyekan hidup secara bebas. Perhatikanlah kehidupan mereka! Mereka tak pernah memerhatikan kebersihan dan kesehatan diri sendiri, apalagi lingkungan sekitarnya. Dengan penampilan rambut yang khas, tubuh yang kotor, dan pakaian yang lusuh, bebas bergerak ke sana dan kemari, dari satu kota ke kota lainnya tanpa memedulikan norma-norma agama, bimbingan orang tua, dan aturan pemerintah. Mereka berkumpul, bahkan tidur di perempatan-perempatan jalan, campur baur antara lelaki dan perempuan secara bebas tanpa ada rasa malu.
Sebuah realitas kehidupan yang menyedihkan. Padahal para pemuda dan pemudi itu adalah aset utama setiap umat. Merekalah generasi penerus bangsa dan pemeran utama dalam banyak lini kehidupan bermasyarakat. Apabila kondisi para pemuda dan pemudinya seperti itu, bisa dibayangkan betapa buruknya kondisi suatu umat, generasi, dan bangsa. Berdasarkan hal ini, dapat diketahui bahwa pergaulan bebas adalah bahaya laten yang harus selalu diwaspadai oleh setiap pribadi muslim. Keberadaannya di tengah umat sangat berdampak bagi kehidupan masyarakatnya.
Akhir kata, semoga sajian “Manhaji” kali ini dapat bermanfaat bagi kita semua, menyinari jiwa yang gelap karena belenggu hawa nafsu, melunakkan hati yang membatu karena karat-karat dosa, dan menyejukkan pandangan para pencari kebenaran.
Amin, ya Rabbal ‘alamin.