Surat Pembaca edisi 76

Kupas Tuntas Penentuan 1 Syawal
Afwan, ana mau usul bagaimana kalau Asy-Syariah membahas secara detail tentang ketaatan umat terhadap pemerintah dalam hal awal Ramadhan dan Idul Fitri?
Abu Azam-Majenang Cilacap

Ketidaksatuan umat Islam dalam penentuan awal bulan hijriah memang memprihatinkan kita semua. Pembahasan ini sebenarnya telah kami muat pada edisi 03 (Edisi Khusus Ramadhan), yang bisa dilihat pada Bundel Asy-Syariah Edisi 01—06. Semoga kami dimudahkan untuk mengangkatnya kembali.
Rubrik Kewanitaan Ditambah
Ana sangat senang dengan majalah Asy-Syariah karena membimbing ana kepada Islam yang benar. Ana mempunyai sedikit usulan, dapatkah Asy-Syariah memuat pembahasan tentang wanita lebih banyak, tentang fikih wanita, adab-adab, dan masakan-masakan agar menambah kaum hawa dalam memahami agamanya.
Putri Linda Sari-Aceh Pidie

Akan kami pertimbangkan, jazakumullahu khairan.
Koreksi Dalil
Afwan pada Asy-Syariah 74 hlm. 21 Allah l memiliki wajah namun dalilnya tentang Allah l memiliki dua tangan (al-Maidah: 64)?
03517xxxxx

Anda benar, seharusnya adalah surat ar-Rahman ayat 27:
Jazakumullahu khairan atas koreksinya.
Memperuncing Perbedaan?
Mudah-mudahan Asy-Syariah selalu menjadi majalah yang membimbing umat kepada Islam yang benar. Ana harap Asy-Syariah tidak memperuncing perbedaan di dalam tubuh Islam karena ini adalah makar orang-orang kafir untuk melemahkan umat, saling membenci antara saudara kita sesama Islam, tetapi hendaknya berupaya mencari persamaan agar menimbulkan kecintaan antara sesama kita.
Dewi Sazkia-Medan

Kami hanya berusaha memberikan bimbingan kepada umat untuk mempelajari agama ini secara ilmiah, beramal di atas dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Perbedaan di tengah umat meruncing disebabkan fanatisme masing-masing kelompok, tidak mau kembali kepada dalil yang benar dan memahaminya sesuai dengan pemahaman tiga generasi utama.
Oleh karena itu, persatuan tidaklah mungkin tumbuh jika tidak ada keinginan untuk menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai hakim dari segala perkara yang diperselisihkan, lebih-lebih jika yang muncul justru sikap menolak dalil.
Memang ada perbedaan yang perlu kita tolerir seperti hal-hal yang bersifat ijtihadiyah dalam gerakan shalat—contohnya adalah rubrik Seputar Hukum Islam edisi ini—, namun ada juga hal-hal prinsip yang harus kita luruskan, seperti dalam hal akidah.
Persatuan tidak bisa terwujud dengan mendiamkan kemungkaran dan kesesatan. Di mana tanggung jawab kita dalam amar ma’ruf nahi mungkar jika ada yang mendakwahkan akidah yang sesat? Tidak sayangkah kita kepada sekian banyak kaum muslimin yang bisa terseret paham tersebut? Wallahu a’lam.

SEKS BEBAS MENGEPUNG KITA

Menjamurnya lokalisasi, warung remang-remang, hotel “short-time” atau losmen “esek-esek”, salon plus plus, panti pijat plus, sauna plus, karaoke plus plus, atau diskotek dengan layanan khusus/VIP, setidaknya bisa dijadikan cermin perilaku (seks) masyarakat kita. Layaknya hukum dagang yang mengacu pada permintaan dan penawaran, demikian juga yang terjadi dalam layanan plus plus. Tingginya jumlah pria hidung belang, maka menjamur pula wanita jalang pemburu uang.
“Industri” seks pun merambah berbagai profesi: kapster, SPG, counter girl, sales marketing, hostes, caddy, bartender, waitress restoran, scoregirl, sekretaris, fotomodel, peragawati, artis, mahasiswi hingga siswi SMU, siap menjadi gadis-gadis order, yang siap “dibawa” para “kumbang”. Terjunnya mereka di dunia seks komersial umumnya dilatarbelakangi ekonomi, meski ada juga yang awalnya “telanjur” karena pernah jadi “korban” lelaki. Bahkan, faktanya dalam hal melacurkan diri ini, kini bukan hanya persoalan perut, bukan soal “menafkahi” keluarga, namun sudah perkara memenuhi gaya hidup. Hedonisme menjadikan mereka memburu kesenangan belaka. Asal bisa gonta-ganti HP dan kendaraan, membeli busana bermerek dan aksesori mahal, mereka rela mengorbankan kehormatan diri atau menjadi simpanan bos-bos dan om-om.
Tuturan di atas baru sebatas “jual beli”. Yang melakukan seks atas dasar suka sama suka, sex just for fun, atau sekadar mencari kepuasan pribadi, tentunya lebih banyak. Remaja/wanita hamil di luar nikah ada di kanan kiri kita, perselingkuhan sudah sering kita dengar, video mesum juga sudah bukan berita heboh lagi. Masyarakat seakan sudah abai atau malah justru permisif. Jika dahulu orang tua seperti dicoreng aibnya ketika anak perempuannya hamil di luar nikah, sekarang banyak orang tua yang justru bersikap biasa saja, bahkan cuek. Pacaran zaman sekarang juga jauh lebih “canggih”, karena remaja sekarang lebih paham tentang hal-hal yang terkait reproduksi, bahkan paham bagaimana menghindari cara dan waktu berhubungan seks yang berpotensi kehamilan.
Tak berhenti hingga di sini. Seks bebas juga berkembang menjadi perilaku seks menyimpang: pesta seks, arisan seks, private party, incest (hubungan seks sedarah), hingga homoseksual. Lebih ironis, komunitas “maho” (manusia homo) berkedok demokrasi seks malah melembaga di negeri ini, mewujud dalam organisasi GAYa NUSANTARA.
Padahal, yang namanya kasus-kasus menyimpang soal seks seperti fenomena gunung es; di permukaan saja sudah memiriskan hati, apalagi yang tidak tampak. Perkembangan teknologi (TV, internet, HP, dsb) yang mengekspos budaya mempertontonkan aurat menjadi sarana “ampuh” dalam menimbun hasrat seksual para remaja. Alih-alih disalurkan pada tempatnya (baca: menikah), yang terjadi, kejahatan seksual seperti pemerkosaan dan sodomi, malah merebak di mana-mana.
Sistem pendidikan yang menempatkan agama sebagai suplemen, menjadikan anak bangsa ini miskin ilmu dan iman. Hal ini juga didukung dengan lemahnya pengawasan orang tua dan minimnya amar ma’ruf nahi mungkar.
Ironi memang sedemikian bebasnya seks bebas di negeri yang mayoritas muslim ini. Bagi orang tua yang membiarkan putrinya bebas bergaul dengan laki-laki, bagi “ustadz-ustadz cinta” yang menghalalkan pacaran, bagi “dai-dai gaul” yang diam seribu bahasa dengan maraknya perzinaan di negeri ini, sadarlah, seks bebas mengepung kita!

URGENSI HARTA DAN KESEHATAN DALAM MEMBENTENGI AGAMA

Sufyan ats-Tsauri t berkata, “Harta pada zaman dahulu adalah sesuatu yang dibenci. Adapun pada hari ini, harta adalah perisai seorang mukmin. Kalau saja bukan karena dinar-dinar ini, niscaya para penguasa menjadikan kita sebagai sapu tangan-sapu tangan mereka.”
Beliau juga berkata, “Siapa saja yang memiliki harta benda, hendaklah ia mengembangkannya dengan baik karena ini adalah suatu masa yang apabila seseorang didera oleh kebutuhan, sesuatu yang pertama kali dia korbankan adalah agamanya.”

Al-Munawi t berkata, “Sesungguhnya, badan yang sehat merupakan pendukung aktivitas peribadatan. Oleh karena itu, kesehatan adalah harta berlimpah yang tiada taranya. Adapun si sakit adalah orang yang lemah. Sementara itu, umur yang diberikan akan menguatkan. Kesehatan bersama kefakiran lebih baik daripada kekayaan bersama kelemahan. Orang yang lemah itu ibarat mayat.”
Beliau juga mengatakan, “Kekayaan tanpa ketakwaan adalah kebinasaan karena seseorang akan mengumpulkannya bukan dari jalan yang benar dan akan menahan atau memberikannya bukan pada sasaran yang benar.”
(Syarah Shahih al-Adabil Mufrad lil Imam al-Bukhari, 1/394–395)