Sepeninggal Rasulullah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Sikap Ali z Terhadap Kekhalifahan ash-Shiddiq z
Sebagian orang bersandar pada beberapa riwayat tentang keterlambatan Ali membai’at Abu Bakr bahwa Ali tidak senang akan kekhalifahan ash-Shiddiq z. Mereka menyatakan bahwa bai’at yang dilakukan Ali hanya satu kali, yaitu sesudah Fathimah x wafat.
Sebetulnya, tidaklah demikian, karena Ali berbai’at kepada Abu Bakr dua kali. Yang pertama ketika kaum muslimin membai’at Abu Bakr di Saqifah (gubug)Bani Sa’idah, yang kedua adalah sesudah wafatnya Fathimah bintu Rasulullah n.
Inilah yang diisyaratkan oleh Ibnu Katsir t dalam kitab al-Bidayah, setelah terjadinya bai’at yang kedua, banyak orang mengira bahwa Ali belum berbai’at selain hari itu. Padahal, sudah dimaklumi oleh mereka yang memahami kaidah fikih, bahwa yang menetapkan didahulukan dari yang meniadakan. Wallahu a’lam.
Bai’at Ali yang pertama, diriwayatkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri z, yang mengisahkan sebagai berikut.
Setelah Rasulullah n wafat, beberapa ahli pidato Anshar berbicara, salah seorang dari mereka mengatakan, “Hai kaum Muhajirin, sesungguhnya jika Rasulullah n mengangkat petugas dari kalangan kalian, beliau menyertakan pula salah seorang dari kami sebagai pendamping. Oleh karena itu, kami memandang bahwa urusan (kekhalifahan) ini harus ditangani dua orang, satu dari kalian dan satunya dari kami.”
Akhirnya, berturut-turut berdirilah beberapa ahli pidato Anshar mendukung gagasan ini. Kemudian, bangkitlah Zaid bin Tsabit z lalu berkata, “Sesungguhnya Rasulullah n berasal dari golongan Muhajirin sehingga imam (pemimpin) harus dari kaum Muhajirin. Adapun kita adalah Anshar (para penolong/pembela) khalifah itu, sebagaimana dahulu kita adalah Anshar Rasulullah n.”
Setelah itu bangkitlah Abu Bakr z, lalu berkata, “Semoga Allah memberi kalian balasan yang baik, wahai golongan Anshar, mengokohkan pembicara kalian. Seandainya kalian tidak berbuat demikian, tentu kami tidak akan berunding dengan kalian.”
Tiba-tiba Zaid bin Tsabit z memegang tangan Abu Bakr dan berkata, “Inilah khalifah kalian. Kalian bai’atlah dia!” Lalu, mereka pun berbai’at.
Setelah Abu Bakr duduk di atas mimbar, dia memerhatikan kaum muslimin, tetapi tidak melihat Ali. Abu Bakr menanyakan di mana Ali. Beberapa orang Anshar segera berdiri dan memanggil Ali ke hadapan Abu Bakr.
Abu Bakr berkata, “Putra paman Rasulullah n dan menantu beliau. Apakah engkau mau memecah belah persatuan kaum muslimin?”
Ali berkata, “Tidak ada celaan, wahai khalifah Rasulullah.” Ali pun berbai’at.
Kemudian Abu Bakr menanyakan di mana Zubair bin ‘Awam z, karena tidak melihatnya di antara kaum muslimin. Setelah Zubair datang, Abu Bakr bertanya, “Putra bibi Rasulullah n, apakah engkau mau memecah belah persatuan kaum muslimin?”
Zubair juga menjawab seperti jawaban Ali, lalu dia pun berbai’at. Menurut al-Hakim, riwayat ini sahih, sesuai dengan syarat Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim) tetapi keduanya tidak mencantumkan dalam kitab mereka.
Mengapa Ali perlu memperbarui bai’atnya hingga wafatnya Fathimah?
Hal itu karena Fathimah sangat bersedih atas kepergian ayahandanya, Rasulullah n. Kesedihan itu semakin bertambah berat ketika muncul ganjalan dalam hatinya melihat Abu Bakr bersikukuh dengan hadits yang didengarnya dari Rasulullah n, ayahandanya, bahwa para nabi dan rasul tidak mewariskan harta. Apa yang mereka tinggalkan adalah sedekah.
Fathimah belum puas dengan jawaban Abu Bakr, dan tetap mendesak. Abu Bakr ash-Shiddiq tetap bertahan, dan dengan lemah lembut menerangkan bahwa harta yang ditinggalkan oleh Rasulullah n tidak berlaku sebagai warisan untuk anak cucu beliau, tetapi sedekah bagi kaum muslimin.
Sejak saat itu, beliau menutup diri dari orang banyak. Kesedihan yang bertumpuk membuat beliau x akhirnya tidak bisa tertawa lagi sampai beliau wafat—enam bulan sesudah Rasulullah n wafat. Keadaan Fathimah x ini menyebabkan Ali tertahan untuk menemui orang banyak, lebih-lebih khalifah Rasulullah n. Ali selalu mendampingi dan menghibur Fathimah.
Melihat kejadian ini, orang-orang yang tidak mengerti, terutama kaum munafikin mulai mengembuskan kabar bohong bahwa Ali tidak pernah keluar karena tidak suka Abu Bakr dibai’at sebagai khalifah. Setelah Ali membai’at Abu Bakr, hilanglah berita itu dan jelaslah bagaimana sikap Ali khususnya, dan ahli bait umumnya.
Sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa ketika Fathimah sakit, Abu Bakr sempat membesuknya dan meminta keridhaannya, lalu Fathimah pun meridhainya.
Apa pun, bagi kita kaum muslimin, kita meyakini bahwa tidak mungkin Fathimah menyimpan kebencian dan dendam terhadap ash-Shiddiq, lelaki yang sangat dicintai oleh ayahandanya, Rasulullah n. Bahkan, seandainya Rasulullah n mengangkat seorang manusia sebagai khalil (kedudukan cinta yang paling tinggi), niscaya beliau akan mengambil Abu Bakr sebagai khalil.
Suatu hari, Fathimah x, pernah diutus oleh istri-istri Rasulullah n yang lain untuk meminta keadilan. Ketika itu, Rasulullah n sedang berada dalam rumah ‘Aisyah, putri ash-Shiddiq c. Setelah menyampaikan keperluannya, Rasulullah n bertanya kepada sang putri yang paling dicintainya itu, “Wahai putriku. Apakah engkau mencintai apa yang Ayah cintai?”
“Tentu,” jawab Fathimah. Lalu beliau x kembali menemui istri-istri Ayahandanya yang lain.1
Fathimah tidak mungkin mendustai Ayahandanya yang sangat dipuja dan dicintainya, bahwa dia mencintai pula apa-apa yang dicintai oleh Ayahandanya. Fathimah tidak mungkin menyelisihi Ayahandanya, apalagi mengingkari beliau n dalam setiap ketetapan dan tindakan beliau. Lebih-lebih lagi, salah satu bukti cinta adalah mencintai apa yang dicintai oleh kekasih yang kita cintai. Oleh sebab itu, tidak mungkin pula Fathimah membenci ‘Aisyah, apalagi ayahnya, ash-Shiddiq z, yang sangat diistimewakan oleh Rasulullah n. Begitu pula Ali bin Abi Thalib dan ahli bait lainnya.
Hanya orang-orang yang kurang akal, baik dari kalangan Syi’ah maupun orientalis, yang bersikukuh dengan kebohongan yang muncul seputar kisah ini. Semoga Allah l tidak memperbanyak mereka.

Melepas Pasukan Usamah z
Sementara itu, pasukan Usamah masih belum berangkat karena wafatnya Rasulullah n. Setelah jasad suci Rasulullah n dikuburkan, Abu Bakr dibai’at sebagai khalifah, beliau kembali menyiapkan pasukan Usamah dan memerintahkan mereka agar segera berangkat.
Para sahabat kembali mengingatkan beliau. Dalam suasana tegang, saat beberapa kabilah di sekitar Madinah mulai murtad dan ingin memberontak, seharusnya pasukan Usamah tetap bertahan di Madinah.
Akan tetapi, sekali ash-Shiddiq selamanya ash-Shiddiq. Beliau pernah menyatakan tidak akan meninggalkan sesuatu yang pernah dikerjakan oleh Rasulullah n, khawatir kalau dia meninggalkannya, dia pasti binasa. Beliau pun berkata, “Demi Allah, seandainya anjing-anjing kota Madinah menggigiti baju istri-istri Rasulullah n, aku tetap akan melepas pasukan Usamah yang sudah disiapkan oleh Rasulullah n.”
Akhirnya, para sahabat menerimanya. Setelah itu sambil berjalan kaki, Khalifah Rasulullah n keluar ikut mengantar pasukan itu ke gerbang kota Madinah. Kemudian, Abu Bakr meminta kesediaan Usamah sebagai panglima untuk mengizinkan ‘Umar bin al-Khaththab tinggal sebagai teman bermusyawarah. Usamah mengabulkan permintaan Khalifah.
Berangkatlah pasukan Usamah menuju daerah tempat ayahandanya, Zaid bin Haritsah z, terbunuh. Sesampainya di sana, tidak terjadi pertempuran berarti. Akhirnya pasukan itu kembali dengan aman.
Beberapa kabilah ‘Arab yang ingin menyerang Madinah segera mengurungkan niatnya ketika mendengar keberangkatan pasukan Usamah. Kalau kaum muslimin mampu mengirim pasukan, berarti di dalam kota masih ada pasukan lain yang berjaga-jaga. Itulah dugaan mereka.
Demikianlah pertolongan Allah l kepada kaum muslimin.
Setelah Rasulullah n wafat, orang-orang munafik mulai berani menampakkan jati diri. Beberapa kabilah ‘Arab juga sudah ada yang murtad. Orang-orang Yahudi dan Nasrani juga diam-diam mengintai kelemahan kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin bagai anak ayam kehilangan induk hingga Allah l menyatukan mereka di bawah kepemimpinan Abu Bakr z.

Musailamah al-Kadzdzab (Si Pendusta)
Belum berbilang hari sejak Rasulullah n wafat, kaum muslimin mulai dihadapkan pada berbagai cobaan. Bahkan, belum lagi Rasulullah n wafat, sudah mulai muncul fitnah.
Suatu ketika, datang dua utusan Musailamah menemui Rasulullah n dan menyerahkan surat dari Musailamah. Rasulullah n bertanya kepada keduanya, “Apakah kamu berdua mengakui bahwa saya adalah Rasul Allah?”
“Kami mengakui bahwa Musailamah adalah utusan Allah,” jawab mereka.
Rasulullah n berkata, “Demi Allah, seandainya bukan karena larangan membunuh utusan, niscaya saya penggal leher kamu berdua.”
Isi surat Musailamah itu berbunyi:
Bismillahirrahmanirrahim, dari Musailamah utusan Allah, kepada Muhammad (n) utusan Allah. Sesungguhnya aku diberi kedudukan yang sama denganmu, jadi dunia ini separuh untuk kami dan separuh untuk Quraisy, tetapi orang-orang Quraisy melampaui batas.
Rasulullah n membalas surat itu.
Bismillahirrahmanirrahim. Keselamatan atas mereka yang mengikuti petunjuk. Amma ba’du, bumi ini milik Allah l, Dia mewariskannya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya, dan kesudahan yang baik itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.2
Ketika Musailamah datang bersama Bani Hanifah, Rasulullah n pernah berkata kepadanya, “Engkaulah yang kulihat dalam mimpi. Tsabit yang akan menjawab keperluanmu.”
Kemudian beliau n meninggalkannya.
Ibnu ‘Abbas c, bertanya-tanya apa maksud ucapan Rasulullah n, ‘Engkaulah yang kulihat dalam mimpi’?
Abu Hurairah z menerangkan kepadanya bahwa Rasulullah n pernah bermimpi melihat di tangannya ada dua buah gelang emas, lalu beliau meniup kedua gelang itu hingga lenyap. Kemudian beliau menakwilkannya, yang satu adalah pendusta dari Yamamah, sedangkan yang satunya adalah pendusta dari Shan’a.3
Seperti telah diuraikan bahwa Musailamah sudah berani mengaku-aku sebagai nabi, sejak Rasulullah n masih hidup.
Sebelum ‘Amr bin al-‘Ash masuk Islam, dia pernah bertemu dengan Musailamah al-Kadzdzab. Musailamah bertanya kepadanya, “Apa yang sudah turun kepada orang ini (Muhammad n)?”
“Turun kepadanya satu surat pendek yang sangat indah bahasanya,” kata ‘Amr.
Musailamah meminta ‘Amr menyebutkannya. ‘Amr yang ketika itu belum masuk Islam membacakan surat al-‘Ashr sampai selesai.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh serta nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1—3)
Setelah ‘Amr membacakannya, Musailamah berpikir sejenak, lalu berkata, “Diturunkan juga kepadaku yang serupa itu.”
“Apakah itu?” kata ‘Amr.
Kemudian Musailamah mengucapkan,
يَا وَبْرُ يَا وَبْرُ إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَفْرٌ نَقْرٌ
“Wahai marmut, wahai marmut. Engkau hanyalah dua daun telinga dan dada. Adapun selebihnya adalah hina dan berpenyakit.”
Lalu dia melanjutkan, “Bagaimana menurutmu, hai ‘Amr?”
Dengan tegas ‘Amr menyatakan di hadapan Musailamah, “Demi Allah, sungguh engkau sudah tahu bahwa aku tahu kalau engkau dusta.”
Bahkan, salah seorang pengikut Musailamah sendiri, Thalhah an-Namari, berkata kepada Musailamah, “Saya bersaksi bahwa engkau dusta, sedangkan Muhammad (n) adalah orang yang jujur. Tetapi, pendusta dari suku Rabi’ah (kabilah Musailamah) lebih aku sukai daripada orang jujur dari Mudhar (kabilah Rasulullah n).”

Menumpas Orang-Orang Murtad
Sepeninggal Rasulullah n, beberapa kabilah Arab mulai enggan menunaikan zakatnya. Kata mereka, “Kalau Muhammad (n) itu seorang nabi, tentu dia tidak akan mati.”
Orang-orang yang cerdik pandai di antara mereka berusaha menasihati dan mengingatkan, “Coba terangkan tentang nabi-nabi yang dahulu. Apakah kamu mengakui nubuwah mereka?”
“Ya,” kata orang-orang yang murtad itu.
Orang-orang yang cerdik pandai itu bertanya lagi, “Apakah mereka mati?”
“Ya,” kata orang-orang yang murtad itu lagi.
“Lantas, apa yang kalian ingkari dari nubuwah Muhammad (n)?”
Ternyata, nasihat dan peringatan itu sia-sia, mereka tetap dalam kemurtadan. Akhirnya, Abu Bakr z menyiapkan pasukan untuk memerangi masing-masing kabilah yang murtad; satu kabilah diserang oleh sepasukan tentara kaum muslimin. Padahal, saat itu, kaum muslimin sedang memusatkan diri pada pengiriman pasukan Usamah yang sudah dilepas oleh Rasulullah n sebelum wafat.
Mulanya, para sahabat mempertanyakan apa alasan Abu Bakr memerangi mereka yang murtad atau yang tidak mau menunaikan zakat itu. Abu Bakr menjelaskan bahwa zakat adalah hak harta yang harus ditunaikan. Seandainya mereka tidak mau memberikan seutas tali yang dahulu pernah mereka tunaikan kepada Rasulullah n, Abu Bakr tetap akan memerangi mereka. Akhirnya, para sahabat menerima alasan Abu Bakr z.
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 2581 dan Muslim no. 2442.

2 Kejadian ini di akhir tahun kesepuluh hijriyah, menurut Ibnu Ishaq. Wallahu a’lam.
3 HR. al-Bukhari no. 4373 dan Muslim no. 2274.

 

Meneladani Akhlak Pewaris Para Nabi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc)

Bulan Dzulhijah adalah bulan yang memiliki banyak keutamaan. Di bulan inilah kaum muslimin melaksanakan ibadah haji. Di bulan ini juga ada hari Arafah, puasa di hari tersebut memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah n pernah ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, “(Puasa Arafah) menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang tersisa.” (HR. Muslim)
Di bulan Dzulhijah juga terdapat hari yang besar yakni hari Idul Adha, bahkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah n berkata,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ-يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari yang amalan saleh lebih dicintai oleh Allah l selain hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dll, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Di bulan ini pulalah, yakni 10—13 Dzulhijah—hari Ied dan hari-hari Tasyriq—, kaum muslimin melaksanakan ibadah yang agung, salah satu syiar Islam yaitu menyembelih hewan kurban.
Pembaca yang dirahmati Allah l, tatkala kita memasuki bulan Dzulhijah, kita akan mengingat seorang panutan yang harus kita kenali dan kita mesti beruswah kepadanya dalam bertauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah l. Satu sosok yang telah berkorban dengan segala yang dimilikinya, hanya untuk Allah l. Senantiasa taat kepada Allah l walau harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya.
Dialah Ibrahim q. Seorang nabi yang mulia, teladan yang baik bagi orang-orang setelahnya. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya….” (al-Mumtahanah: 4)
Bahkan, Allah l menjelaskan bahwa beliau adalah tokoh muwahid,
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (bertauhid, berpaling dari selain Allah dan hanya menghadap kepada-Nya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (an-Nahl: 120)
Allah l berkata kepada Nabi Muhammad n,
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik.” (an-Nahl: 123)
Pembaca yang budiman, marilah kita kembali mengingat sejarah kehidupan beliau dan mengambil ibrahnya. Beliau sangat patuh dan taat serta kokoh dalam menjalankan perintah Allah l.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Islam adalah berserah diri kepada Allah l dengan mentauhidkannya, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang berbuat syirik.”
Kalau kita membaca kembali kisah dan sirah Nabi Ibrahim q niscaya akan kita dapati beliau adalah seorang yang memiliki sifat-sifat tersebut, bahkan beliau adalah suri teladan bagi kita.
Allah l berfirman dalam salah satu firman-Nya:
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Ali Imran: 67)
Beliau adalah seorang yang sangat taat dan tunduk kepada perintah Allah l. Bahkan ketika beliau diperintah untuk menyembelih anak yang dicintainya pun, beliau tetap melaksanakan perintah tersebut. Kemudian Allah l pun mengganti putra Ibrahim yang hendak disembelih tersebut dengan hewan sembelihan yang besar. Allah l berfirman,
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (ash-Shafat: 102—107)
Inilah tauhid, lebih mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Allah l dari segala kecintaan kepada selain-Nya.
Seorang muwahid, cintanya kepada Allah l melebihi rasa cintanya kepada siapa pun, sehingga hal terpenting baginya adalah mengamalkan apa yang dicintai Allah l walau harus mengorbankan apa pun, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim q.
Rasulullah n berkata,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا …
“Tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman: Allah l dan Rasul-Nya lebih dia cintai selain dari keduanya….” (HR. Bukhari-Muslim)
Seorang muwahid kecintaannya kepada selain Allah l pun merupakan kecintaan karena Allah l dan di jalan Allah l. Rasulullah n berkata,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ ….
“Ada tiga hal yang barang siapa ketiganya ada pada diri seseorang, ia akan merasakan lezatnya iman: ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah….” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Kebencian dan Permusuhan Nabi Ibrahim q Hanya Karena Allah l
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja….” (al-Mumtahanah: 4)
Demikianlah seorang muwahid hanya berdasarkan agama Allah l. Allah l berfirman,
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka….” (al-Mujadilah: 22)

Sangat Bersemangat Mendakwahi Orang Tua dan Kaumnya kepada Tauhid
Dalam surat Maryam, Allah l berfirman,
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 41—45)
Demikianlah seorang muwahid, ketika telah mengetahui keutamaan tauhid dan mengamalkannya, dia pun berusaha mengajak orang lain untuk bertauhid.
Oleh karena itu, ketika asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t memulai kitab beliau—Kitab at-Tauhid—dengan bab keutamaan tauhid dan yang berkaitan dengannya, beliau pun membuat bab “Berdakwah kepada Syahadat La Ilaha Illallah”.
Asy-Syaikh Alu Syaikh t berkata, “Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t membuat bab ini untuk menunjukkan bahwa di antara yang menunjukkan rasa takut seseorang dari kesyirikan dan bukti kesempurnaan tauhidnya adalah ketika dia mendakwahi orang lain untuk bertauhid, karena tidaklah sempurna tauhid di dalam hati sampai seorang berdakwah kepada orang lain untuk bertauhid.” (Lihat at-Tamhid)

Berdoa untuk Keselamatan Akidah Anak Keturunannya
Allah l berfirman mengisahkan doa Ibrahim q,
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 35—36)
Seorang yang kuat tauhidnya akan senantiasa berdoa kepada Allah l agar dijauhkan dari kesyirikan, karena mereka paham bahayanya syirik.
Ibrahim at-Taimi t berkata, “Siapa yang merasa aman dari bahaya syirik, padahal Nabi Ibrahim q saja takut anak keturunannya terjatuh ke dalam syirik?”
Asy-Syaikh Abdurahman Alu Syaikh berkata, “Tidak ada yang merasa aman dari kesyirikan selain orang yang bodoh tentang kesyirikan dan bodoh tentang perkara yang menyelamatkannya dari kesyirikan.” (Fathul Majid)

Wasiatnya untuk Bertauhid
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 32)
Demikianlah keadaan muwahid, sepanjang hidupnya berdakwah kepada tauhid. Nabi kita Muhammad n sejak berdakwah sampai menjelang wafatnya berdakwah kepada tauhid dan meperingatkan umatnya dari bahaya syirik.
Dari Jundub bin Abdillah z, “Aku mendengar Rasulullah n berkata—lima hari sebelum meninggal, “Aku mengingkari kalau ada khalilku dari kalian, karena Allah l telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil. Kalau seandainya aku menjadikan salah seorang dari umatku sebagai khalil niscaya aku akan jadikan Abu Bakr sebagai khalil. Ketahuilah, orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid. Janganlah kalian jadikan kuburan sebagai masjid karena aku melarang kalian darinya.” (HR. Muslim no. 532)
Dari Ummul Mukminin Aisyah x, Ketika turun kepada Rasulullah malaikat maut (sakratul maut), beliau meletakkan kain di wajahnya ketika beliau susah bernapas. Beliau lantas menyingkirkan kain khamishah tersebut. Beliau pun berkata dalam keadaan demikian, “Laknat Allah kepada Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari no. 435, Muslim no. 531)
Oleh karena itu, di antara ciri dakwah Ahlus Sunnah adalah terus menyeru kepada tauhid, sebaliknya di antara ciri dakwah yang menyimpang adalah meremehkan perkara tauhid.
Menghancurkan Sarana Kesyirikan
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata, “Sebenarnya Rabb kalian ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.” Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata, “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata, “Sesungguhnya kalian semua adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata, “Maka mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kalian?” Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami? (al-Anbiya: 51—67)

Tawakal & Sabar Menghadapi Ujian
Ibnu Abbas c berkata, “Kalimat,
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung,” diucapkan oleh Nabi Ibrahim q ketika dilemparkan ke api dan diucapkan oleh Nabi Muhammad n ketika kaum munafik berkata kepadanya,
“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 173)
Seorang muwahid yang berusaha di atas tauhid dan mendakwahkan tauhid pastilah akan mendapatkan berbagai macam ujian dari kaumnya.
Ketika Ummul Mukminin Khadijah x mengajak Rasulullah n bertemu Waraqah bin Naufal, Waraqah bin Naufal berkata, “Tidaklah ada seorang pun yang membawa seperti yang kamu bawa melainkan akan dimusuhi oleh kaumnya.” (HR. al-Bukhari no. 3)
Demikianlah sebagian sejarah dan kisah tentang Nabi Ibrahim. Mudah-mudahan kita bisa mengambil ibrah dari kisah Ibrahim tersebut, hingga ilmu dan amal saleh kita. Di antara pelajaran yang kita dapatkan dari sirah Nabi Ibrahim q:
1. Tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah l.
2. Mengutamakan kecintaan kepada Allah l dari segala hal.
3. Tegas dalam menunjukkan keimanan, tidak seperti sebagian orang yang minder untuk menunjukkan keislamannya.
4. Tegas dalam memegang prinsip akidah, berbeda dengan sebagian orang yang banyak berbasa-basi dengan orang-orang musyrikin dan orang menyimpang lainnya.
5. Menegakkan prinsip al-wala wal bara, cinta karena Allah l dan benci karena Allah l semata.
6. Sabar dalam melaksanakan ketaatan, walau harus berkorban apa pun karena mengharapkan balasan Allah l semata.
7. Bersemangat dalam mendakwahkan tauhid terutama kepada keluarga terdekat.
8. Tidak merasa aman dari perbuatan syirik dan penyimpangan lainnya.
Mudah-mudahan apa yang kami paparkan ini bermanfaat bagi kita semua.
Walhamdulillah.

 

Pelajaran akidah dalam Kisah Nabi Ibrahim

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Bulan Dzulhijah adalah bulan yang memiliki banyak keutamaan. Di bulan inilah kaum muslimin melaksanakan ibadah haji. Di bulan ini juga ada hari Arafah, puasa di hari tersebut memiliki keutamaan yang besar. Rasulullah n pernah ditanya tentang puasa Arafah, beliau menjawab, “(Puasa Arafah) menghapuskan dosa satu tahun yang telah lalu dan satu tahun yang tersisa.” (HR. Muslim)
Di bulan Dzulhijah juga terdapat hari yang besar yakni hari Idul Adha, bahkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah memiliki keistimewaan tersendiri. Rasulullah n berkata,
مَا مِنْ أَيَّامٍ الْعَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ الأَيَّامِ-يَعْنِى أَيَّامَ الْعَشْرِ
“Tidak ada hari yang amalan saleh lebih dicintai oleh Allah l selain hari-hari ini. Yakni sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dll, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Di bulan ini pulalah, yakni 10—13 Dzulhijah—hari Ied dan hari-hari Tasyriq—, kaum muslimin melaksanakan ibadah yang agung, salah satu syiar Islam yaitu menyembelih hewan kurban.
Pembaca yang dirahmati Allah l, tatkala kita memasuki bulan Dzulhijah, kita akan mengingat seorang panutan yang harus kita kenali dan kita mesti beruswah kepadanya dalam bertauhid dan memurnikan ketaatan hanya kepada Allah l. Satu sosok yang telah berkorban dengan segala yang dimilikinya, hanya untuk Allah l. Senantiasa taat kepada Allah l walau harus mengorbankan sesuatu yang dicintainya.
Dialah Ibrahim q. Seorang nabi yang mulia, teladan yang baik bagi orang-orang setelahnya. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya….” (al-Mumtahanah: 4)
Bahkan, Allah l menjelaskan bahwa beliau adalah tokoh muwahid,
“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif (bertauhid, berpaling dari selain Allah dan hanya menghadap kepada-Nya). Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” (an-Nahl: 120)
Allah l berkata kepada Nabi Muhammad n,
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif” dan bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik.” (an-Nahl: 123)
Pembaca yang budiman, marilah kita kembali mengingat sejarah kehidupan beliau dan mengambil ibrahnya. Beliau sangat patuh dan taat serta kokoh dalam menjalankan perintah Allah l.
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t berkata, “Islam adalah berserah diri kepada Allah l dengan mentauhidkannya, tunduk kepada-Nya dengan penuh ketaatan, serta berlepas diri dari kesyirikan dan orang-orang berbuat syirik.”
Kalau kita membaca kembali kisah dan sirah Nabi Ibrahim q niscaya akan kita dapati beliau adalah seorang yang memiliki sifat-sifat tersebut, bahkan beliau adalah suri teladan bagi kita.
Allah l berfirman dalam salah satu firman-Nya:
“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik.” (Ali Imran: 67)
Beliau adalah seorang yang sangat taat dan tunduk kepada perintah Allah l. Bahkan ketika beliau diperintah untuk menyembelih anak yang dicintainya pun, beliau tetap melaksanakan perintah tersebut. Kemudian Allah l pun mengganti putra Ibrahim yang hendak disembelih tersebut dengan hewan sembelihan yang besar. Allah l berfirman,
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, “Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia, “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (ash-Shafat: 102—107)
Inilah tauhid, lebih mendahulukan dan mengutamakan kecintaan kepada Allah l dari segala kecintaan kepada selain-Nya.
Seorang muwahid, cintanya kepada Allah l melebihi rasa cintanya kepada siapa pun, sehingga hal terpenting baginya adalah mengamalkan apa yang dicintai Allah l walau harus mengorbankan apa pun, seperti yang dicontohkan Nabi Ibrahim q.
Rasulullah n berkata,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الْإِيمَانِ، أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا …
“Tiga perkara yang jika ketiganya ada pada diri seseorang, maka dia akan merasakan manisnya iman: Allah l dan Rasul-Nya lebih dia cintai selain dari keduanya….” (HR. Bukhari-Muslim)
Seorang muwahid kecintaannya kepada selain Allah l pun merupakan kecintaan karena Allah l dan di jalan Allah l. Rasulullah n berkata,
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ: مَنْ كَانَ يُحِبُّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ ….
“Ada tiga hal yang barang siapa ketiganya ada pada diri seseorang, ia akan merasakan lezatnya iman: ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah….” (HR. al-Bukhari & Muslim)

Kebencian dan Permusuhan Nabi Ibrahim q Hanya Karena Allah l
Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja….” (al-Mumtahanah: 4)
Demikianlah seorang muwahid hanya berdasarkan agama Allah l. Allah l berfirman,
“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka….” (al-Mujadilah: 22)

Sangat Bersemangat Mendakwahi Orang Tua dan Kaumnya kepada Tauhid
Dalam surat Maryam, Allah l berfirman,
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? Wahai ayahku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah setan. Sesungguhnya setan itu durhaka kepada Rabb Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka engkau menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 41—45)
Demikianlah seorang muwahid, ketika telah mengetahui keutamaan tauhid dan mengamalkannya, dia pun berusaha mengajak orang lain untuk bertauhid.
Oleh karena itu, ketika asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t memulai kitab beliau—Kitab at-Tauhid—dengan bab keutamaan tauhid dan yang berkaitan dengannya, beliau pun membuat bab “Berdakwah kepada Syahadat La Ilaha Illallah”.
Asy-Syaikh Alu Syaikh t berkata, “Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab t membuat bab ini untuk menunjukkan bahwa di antara yang menunjukkan rasa takut seseorang dari kesyirikan dan bukti kesempurnaan tauhidnya adalah ketika dia mendakwahi orang lain untuk bertauhid, karena tidaklah sempurna tauhid di dalam hati sampai seorang berdakwah kepada orang lain untuk bertauhid.” (Lihat at-Tamhid)

Berdoa untuk Keselamatan Akidah Anak Keturunannya
Allah l berfirman mengisahkan doa Ibrahim q,
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata, “Ya Rabbku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan dari manusia. Barang siapa yang mengikutiku, maka sesungguhnya orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ibrahim: 35—36)
Seorang yang kuat tauhidnya akan senantiasa berdoa kepada Allah l agar dijauhkan dari kesyirikan, karena mereka paham bahayanya syirik.
Ibrahim at-Taimi t berkata, “Siapa yang merasa aman dari bahaya syirik, padahal Nabi Ibrahim q saja takut anak keturunannya terjatuh ke dalam syirik?”
Asy-Syaikh Abdurahman Alu Syaikh berkata, “Tidak ada yang merasa aman dari kesyirikan selain orang yang bodoh tentang kesyirikan dan bodoh tentang perkara yang menyelamatkannya dari kesyirikan.” (Fathul Majid)

Wasiatnya untuk Bertauhid
Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata), “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati melainkan dalam memeluk agama Islam.” (al-Baqarah: 32)
Demikianlah keadaan muwahid, sepanjang hidupnya berdakwah kepada tauhid. Nabi kita Muhammad n sejak berdakwah sampai menjelang wafatnya berdakwah kepada tauhid dan meperingatkan umatnya dari bahaya syirik.
Dari Jundub bin Abdillah z, “Aku mendengar Rasulullah n berkata—lima hari sebelum meninggal, “Aku mengingkari kalau ada khalilku dari kalian, karena Allah l telah menjadikanku sebagai khalil sebagaimana telah menjadikan Ibrahim sebagai Khalil. Kalau seandainya aku menjadikan salah seorang dari umatku sebagai khalil niscaya aku akan jadikan Abu Bakr sebagai khalil. Ketahuilah, orang-orang sebelum kalian menjadikan kubur nabi mereka sebagai masjid. Janganlah kalian jadikan kuburan sebagai masjid karena aku melarang kalian darinya.” (HR. Muslim no. 532)
Dari Ummul Mukminin Aisyah x, Ketika turun kepada Rasulullah malaikat maut (sakratul maut), beliau meletakkan kain di wajahnya ketika beliau susah bernapas. Beliau lantas menyingkirkan kain khamishah tersebut. Beliau pun berkata dalam keadaan demikian, “Laknat Allah kepada Yahudi dan Nasrani karena mereka telah menjadikan kubur nabi-nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari no. 435, Muslim no. 531)
Oleh karena itu, di antara ciri dakwah Ahlus Sunnah adalah terus menyeru kepada tauhid, sebaliknya di antara ciri dakwah yang menyimpang adalah meremehkan perkara tauhid.
Menghancurkan Sarana Kesyirikan
Dan sesungguhnya telah Kami anugerahkan kepada Ibrahim hidayah kebenaran sebelum (Musa dan Harun), dan adalah Kami mengetahui (keadaan)nya. (Ingatlah), ketika Ibrahim berkata kepada ayahnya dan kaumnya, “Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadah kepadanya?” Mereka menjawab, “Kami mendapati bapak-bapak kami menyembahnya.” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya kalian dan bapak-bapak kalian berada dalam kesesatan yang nyata.” Mereka menjawab, “Apakah kamu datang kepada kami dengan sungguh-sungguh ataukah kamu termasuk orang-orang yang bermain-main?” Ibrahim berkata, “Sebenarnya Rabb kalian ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya, dan aku termasuk orang-orang yang dapat memberikan bukti atas yang demikian itu.” Demi Allah, sesungguhnya aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu sesudah kamu pergi meninggalkannya. Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar (induk) dari patung-patung yang lain; agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata, “Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang zalim.” Mereka berkata, “Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim.” Mereka berkata, “(Kalau demikian) bawalah dia dengan cara yang dapat dilihat orang banyak, agar mereka menyaksikan.” Mereka bertanya, “Apakah kamu, yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, hai Ibrahim?” Ibrahim menjawab, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya, maka tanyakanlah kepada berhala itu, jika mereka dapat berbicara.” Maka mereka telah kembali kepada kesadaran dan lalu berkata, “Sesungguhnya kalian semua adalah orang-orang yang menganiaya (diri sendiri)”, kemudian kepala mereka jadi tertunduk (lalu berkata), “Sesungguhnya kamu (hai Ibrahim) telah mengetahui bahwa berhala-berhala itu tidak dapat berbicara.” Ibrahim berkata, “Maka mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudarat kepada kalian?” Ah (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka apakah kalian tidak memahami? (al-Anbiya: 51—67)

Tawakal & Sabar Menghadapi Ujian
Ibnu Abbas c berkata, “Kalimat,
حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung,” diucapkan oleh Nabi Ibrahim q ketika dilemparkan ke api dan diucapkan oleh Nabi Muhammad n ketika kaum munafik berkata kepadanya,
“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (Ali Imran: 173)
Seorang muwahid yang berusaha di atas tauhid dan mendakwahkan tauhid pastilah akan mendapatkan berbagai macam ujian dari kaumnya.
Ketika Ummul Mukminin Khadijah x mengajak Rasulullah n bertemu Waraqah bin Naufal, Waraqah bin Naufal berkata, “Tidaklah ada seorang pun yang membawa seperti yang kamu bawa melainkan akan dimusuhi oleh kaumnya.” (HR. al-Bukhari no. 3)
Demikianlah sebagian sejarah dan kisah tentang Nabi Ibrahim. Mudah-mudahan kita bisa mengambil ibrah dari kisah Ibrahim tersebut, hingga ilmu dan amal saleh kita. Di antara pelajaran yang kita dapatkan dari sirah Nabi Ibrahim q:
1. Tunduk dan patuh kepada setiap perintah Allah l.
2. Mengutamakan kecintaan kepada Allah l dari segala hal.
3. Tegas dalam menunjukkan keimanan, tidak seperti sebagian orang yang minder untuk menunjukkan keislamannya.
4. Tegas dalam memegang prinsip akidah, berbeda dengan sebagian orang yang banyak berbasa-basi dengan orang-orang musyrikin dan orang menyimpang lainnya.
5. Menegakkan prinsip al-wala wal bara, cinta karena Allah l dan benci karena Allah l semata.
6. Sabar dalam melaksanakan ketaatan, walau harus berkorban apa pun karena mengharapkan balasan Allah l semata.
7. Bersemangat dalam mendakwahkan tauhid terutama kepada keluarga terdekat.
8. Tidak merasa aman dari perbuatan syirik dan penyimpangan lainnya.
Mudah-mudahan apa yang kami paparkan ini bermanfaat bagi kita semua.
Walhamdulillah.

 

Menempatkan ‘Ulama Pada Kedudukannya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal, Lc.)

عَنْ عَائِشَةَ x قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ n: أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Dari Aisyah x, ia berkata bahwasanya Rasulullah n bersabda, “Tempatkanlah manusia sesuai dengan kedudukan mereka!”

Takhrij Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud dalam as-Sunan pada Kitab “al-Adab” no. 4842, Abu Nu’aim dalam Mustakhraj ‘ala Shahih Muslim (1/89 no. 57) dan Hilyatul Auliya’ (4/379), serta Abu Syaikh al-Ashbahani dalam Amtsalul Hadits (1/89).
Semua meriwayatkan hadits Aisyah x melalui jalan Yahya bin al-Yaman, dari Sufyan ats-Tsauri, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Maimun bin Abi Syabib. Hadits ini diriwayatkan dengan sebuah kisah yang bisa disimak berikut ini.
أَنَّ عَائِشَةَ x مَرَّ بِهَا سَائِلٌ فَأَعْطَتْهُ كِسْرَةً وَمَرَّ بِهَا رَجُلٌ عَلَيْهِ ثِيَابٌ وَهَيْئَةٌ فَأَقْعَدَتْهُ فَأَكَلَ فَقِيلَ لَهَا فِي ذَلِكَ فَقَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ n: أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Aisyah xdidatangi seorang pengemis, lantas beliau memberinya sepotong roti. Kemudian datang seseorang dengan pakaian dan keadaan yang baik, maka Aisyah mempersilakan dan memberinya makan. Ditanyalah Aisyah tentang hal itu (yakni pemberian yang berbeda terhadap kedua orang tersebut). Aisyah x berkata, “Rasulullah n bersabda, ‘Tempatkanlah manusia sesuai dengan kedudukan mereka’.”
Sanad hadits ini dha’if (lemah). Al-Imam al-Albani t menyatakan hadits ini dhaif dalam Silsilah al-Ahadits adh-Dhaifah (4/368 no. 1894).
Ada tiga illat (cacat) yang melemahkan hadits Aisyah x di atas.
1. Sanad hadits ini munqathi’ (terputus).
Maimun bin Abi Syabib tidak berjumpa dengan Aisyah x. Abu Dawud berkata sesudah meriwayatkan hadits di atas, “Maimun tidak berjumpa dengan Aisyah.”
Bahkan, Ibnu Rajab al-Hambali t dalam Jami’ul Ulum wal Hikam (1/396) mengatakan bahwa Maimun tidak mendengar satu hadits pun dari seorang sahabat Rasulullah n.
2. Habib bin Abi Tsabit adalah seorang mudallis (sering menyembunyikan nama gurunya yang—biasanya—lemah) dan dalam hadits ini ia meriwayatkan dengan ‘an’anah (menggunakan kata ‘an [dari] yang tidak secara tegas menunjukkan bahwa dia mendengar langsung dari gurunya). Dengan demikian, riwayatnya tidak diterima.
Ibnu Hajar t berkata tentangnya dalam at-Taqrib, “Tsiqatun, faqihun, jalilun, wa kana katsirul irsal wat tadlis (tepercaya, fakih, terhormat, namun sering meriwayatkan hadits mursal dan sering menggelapkan sanad hadits).”
3. Dalam sanad hadits ini ada riwayat Yahya bin al-Yaman dari Sufyan ats-Tsauri.
Al-Imam Ahmad bin Hanbal t berkata, “Haddatsana ‘an ats-Tsauri bi ‘ajaib (Yahya bin al-Yaman meriwayatkan kepada kami dari ats-Tsauri riwayat-riwayat yang aneh.” (Tahdzibut Tahdzib 4/401—402).
Inilah tiga illat (cacat) dalam hadits Aisyah x.
Perlu menjadi perhatian, al-Imam Muslim t menyebutkan hadits Aisyah x di atas dalam Muqaddimah ash-Shahih (1/54) secara mu’allaq dengan shighat tamridh. Beliau berkata,
وَذُكِرَ عَنْ عَائِشَةَ x قَالَتْ: أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ n أَنْ نُنَزِّلَ النَّاسَ مَنَازِلَهُمْ
Disebutkan dari Aisyah x, ia berkata, “Rasulullah n memerintah kami untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukan mereka.”
Bisa jadi, karena penyebutan al-Imam Muslim t dalam Muqaddimahnya inilah yang menyebabkan al-Imam Abu Abdillah al-Hakim an-Naisaburi t menyatakan hadits ini sahih dalam Ma’rifah Ulumil Hadits (1/95).

Makna Hadits
Meskipun hadits Aisyah x di atas lemah dari tinjauan sanad, namun makna yang terkandung ditunjukkan oleh dalil-dalil sahih yang lain. Hadits tersebut menunjukkan bahwa manusia memiliki kedudukan yang tidak sama. Mereka memiliki hak-hak yang berbeda sehingga semua harus didudukkan dan diperlakukan sesuai dengan haknya.
Para nabi dan rasul tentu berbeda kedudukannya dengan orang saleh biasa, tentu hak mereka lebih besar. Para ulama juga memiliki kedudukan yang berbeda dengan manusia biasa, maka tentunya hak para ulama melebihi manusia umumnya. Demikian pula orang tua, kedudukannya berbeda dengan manusia yang tidak memiliki hubungan darah sama sekali.
Asy-Syaikh Abdurrahman Nashir as-Sa’di t menjelaskan hadits ini, “… Di dalamnya terkandung dorongan bagi umat untuk selalu memerhatikan hikmah, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya dan mendudukkan segala sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Allah l memiliki kesempurnaan hikmah dan hukum dalam penciptaan dan takdir-Nya, syariat-Nya, serta perintah-perintah dan larangan-larangan-Nya….
Misalnya adalah hadits ini. Rasulullah n memerintahkan kita untuk menempatkan manusia sesuai dengan kedudukan mereka, dalam segala bentuk muamalah, pembicaraan, menuntut ilmu, atau menyampaikannya….
Sesungguhnya, manusia digolongkan menjadi dua.
1. Golongan yang memiliki hak khusus, seperti kedua orang tua, anak-anak, kerabat karib, tetangga, sahabat, para ulama, dan orang-orang yang memiliki kebaikan (budi) sesuai dengan kebaikan mereka, baik yang bersifat umum maupun khusus.
Mendudukkan golongan ini sesuai dengan kedudukannya adalah dengan menunaikan hak-hak mereka….
2. Orang yang tidak memiliki keistimewaan berupa hak-hak khusus, namun mereka memiliki hak Islam dan hak manusia. (Bahjah Qulubil Abrar hadits ke-15)

Tunaikan Semua Hak Manusia
Kisah Salman al-Farisi dan Abu ad-Darda’ c berikut juga menunjukkan wajibnya menunaikan semua hak yang telah ditetapkan Allah l, baik hak yang bersifat khusus—seperti hak ulama, keluarga, tetangga, dan tamu—maupun hak-hak yang bersifat umum.
Dari Abu Juhaifah z, ia mengatakan bahwa Rasulullah n mempersaudarakan Salman al-Farisi dan Abu ad-Darda’ c. Suatu saat, Salman mengunjungi Abu ad-Darda’. Ia mendapati Ummu ad-Darda’ (istri Abu ad-Darda’, –pen.) memakai baju kerja (lusuh dan tidak mengurus diri). Salman pun berkata, “Ada apa dengan engkau, wahai Ummu ad-Darda’?” Ummu ad-Darda’ berkata, “Sesungguhnya saudaramu (yakni Abu ad-Darda, –pen.) selalu shalat sepanjang malam dan berpuasa di siang hari hingga tidak ada sedikit pun hajat kepada dunia.”
Kemudian Abu ad-Darda’ datang. Disambutlah Salman dengan hangat dan dihidangkan untuknya jamuan. Salman berkata, “Makanlah (bersamaku, wahai Abu ad-Darda).” Abu ad-Darda berkata, “Aku sedang berpuasa.” Salman menimpali, “Dengan nama Allah, engkau harus makan, Aku tidak akan makan hingga engkau makan!” Abu ad-Darda pun membatalkan puasanya, makan bersama Salman.
Salman bermalam di rumah Abu ad-Darda. Ketika malam menjelang, Abu ad-Darda’ bangkit hendak shalat. Salman pun menahannya (mengajaknya untuk tetap tidur, –pen.) dan berkata, “Wahai Abu ad-Darda’, sesungguhnya jasadmu memiliki hak atasmu. Rabbmu memiliki hak atasmu. Tamumu juga memiliki hak atasmu. Istrimu juga memiliki hak atasmu. Berpuasalah engkau dan berbukalah juga, shalat malamlah engkau tetapi datangi juga istrimu. Berikanlah hak semua yang memiliki hak atasmu.”
Ketika menjelang subuh, berkatalah Salman kepada Abu ad-Darda’, “Ayo, bangunlah sekarang jika engkau mau.” Keduanya bangkit, berwudhu, kemudian shalat (di akhir malam) hingga keduanya keluar rumah untuk shalat subuh. Abu ad-Darda z lalu menghadap Rasulullah n dan menceritakan kepada beliau tentang perintah Salman kepadanya. Rasulullah n pun bersabda,
يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ، إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلَضَيْفِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، صُمْ وَأَفْطِرْ، وَصَلِّ وَائْتِ أَهْلَكَ، وَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ
“Wahai Abu ad-Darda’, sesungguhnya jasadmu memiliki hak atasmu, Rabbmu memiliki hak atasmu, tamumu juga memiliki hak atasmu, dan istrimu memiliki hak atasmu. Oleh karena itu, berpuasalah engkau dan berbukalah juga, shalat malamlah engkau dan datangi istrimu juga, berikanlah hak semua yang memiliki hak atasmu.”
Seperti apa yang diucapkan Salman. Dalam sebagian riwayat, Rasulullah n bersabda, “Salman benar.”1

Siapakah Ulama?
Ulama termasuk golongan manusia yang memiliki hak-hak khusus yang wajib ditunaikan.
Di antara sebab kejelekan umat manusia adalah ketika mereka tidak lagi mendudukkan ulama pada kedudukan yang diletakkan oleh Allah l. Dalam hal ini, manusia terbagi menjadi tiga kelompok besar. Di antara manusia ada yang benar-benar meremehkan ulama dan menghinakannya (jafa’), ada pula yang berlebihan mengagungkannya (ghuluw). Adapun golongan yang selamat adalah yang menempatkan ulama sesuai dengan kedudukan yang Allah l menempatkan mereka, serta menjauhkan diri dari ghuluw dan jafa’.
Ulama yang kita maksud tentu ulama dalam arti yang sesungguhnya, yaitu mereka yang disanjung oleh Allah l dalam al-Qur’an dan dipuji oleh Rasulullah n dalam Sunnahnya. Di antaranya adalah firman Allah l,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)
Demikian pula sabda Rasulullah n,
إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا
“Sesungguhnya, Allah tidaklah mencabut ilmu dengan serta-merta dari para hamba-Nya. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika Allah tidak menyisakan lagi seorang alim pun, manusia menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin. Mereka ditanya, dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu hingga mereka sesat dan menyesatkan.”2
Ulama yang kita maksud adalah mereka yang berilmu, menyibukkan dirinya dengan ilmu al-Kitab dan as-Sunnah, serta mengikuti jejak as-salaf ash-shalih dalam memahami keduanya.
Ulama adalah orang-orang yang menyertakan amalan dalam ilmu yang mereka ketahui. Selain itu, mereka bersungguh-sungguh mendakwahkan risalah Rasulullah n kepada umat, serta bersabar di atas ilmu, amal, dan dakwah.
Mereka adalah kaum yang berusaha mewujudkan sifat-sifat mulia yang tertera dalam surat al-Ashr.
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, selain orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.”
Termasuk para ulama adalah para sahabat Nabi n, bahkan merekalah ulama yang paling mulia. Berikutnya adalah para tabi’in, atba’ut tabi’in, dan orang-orang yang mengikuti para sahabat dengan baik, seperti para ulama ahlul hadits, sepanjang zaman.
Ulama dalam pengertian sesungguhnya bukanlah sekadar gelar yang disematkan pada sebagian manusia yang kenyataannya sangat jauh dari sifat-sifat ulama.
Di banyak negara, dengan mudahnya gelar ulama disandangkan pada sebagian tokoh, padahal sangat tampak pada dirinya sifat-sifat yang jauh dari ulama. Justru ia adalah tokoh yang mengajak kepada kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan. Ucapannya jauh dari al-Kitab dan as-Sunnah, penuh dengan caci-maki terhadap Islam, bahkan kotor dan kufur, menyatakan semua agama benar, membenci ahlul Islam dan menjalin kasih sayang dengan zionis. Lebih menyedihkan lagi, ketika ia mati, kuburnya diagungkan dan dia dianggap sebagai wali yang mendekatkan manusia kepada Allah l. Wal ‘iyadzu billah (Kita meminta perlindungan kepada Allah l).

Hak-Hak Ulama
Ulama memiliki hak yang besar atas kita. Di antara hak-hak tersebut adalah penghormatan dan kecintaan kepada mereka karena kedudukan mereka yang tinggi di sisi Allah l.
Rasulullah n mengabarkan bahwasanya ulama adalah pewaris nabi, mewarisi ilmu syariat. Di dalam al-Qur’an, Allah l menyebutkan ulama secara khusus bersama dengan Diri-Nya dan para malaikat-Nya sebagai saksi-saksi Allah l yang mempersaksikan kalimat tauhid—sebuah persaksian yang paling agung. Allah l berfirman,
“Allah mempersaksikan bahwasanya tidak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mempersaksikan yang demikian itu). Tak ada Ilah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Ali Imran: 18)
Karena hak yang besar itulah, ahlul hadits menjadikan kecintaan kepada para ulama sebagai tanda yang membedakan antara Ahlus Sunnah dan ahlul ahwa’ (pengikut hawa nafsu).
Di antara hak ulama adalah doa kebaikan untuk mereka serta permohonan rahmat dan ampunan untuk mereka. Allah l berfirman,
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)
Ulama memang kaum yang berhak untuk didoakan dan dimintakan ampun. Bukan hanya kita, bahkan hewan pun mendoakan mereka. Rasulullah n bersabda,
الْخَلْقُ كُلُّهُمْ يُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّم الْخَيْرِ حَتَّى حِيْتَانُ الْبَحْرِ
“Seluruh makhluk mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan, sampai pun ikan-ikan di laut.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah [4/467 no. 1852])
Termasuk hak para ulama adalah meneladani mereka dan menjadikannya sebagai referensi—tempat untuk bertanya—dalam urusan agama, lebih-lebih dalam masalah nawazil (peristiwa kontemporer) serta berbagai masalah besar yang menyangkut kaum muslimin dan darah mereka. Hal ini sebagaimana perintah Allah l dalam firman-Nya,
ﭑ ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘﭙ ﭚ ﭛ ﭜ ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ ﭡ
“Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu selain beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)
Termasuk hak mereka adalah menyikapi mereka sesuai dengan bimbingan syariat dan menempatkan mereka dengan adil, tidak ghuluw ataupun jafa’.

Fenomena Jafa’ terhadap Ulama
Jafa’ artinya meremehkan dan menghinakan. Sikap ini tampak di tengah-tengah masyarakat yang jauh dari ilmu, lebih-lebih di zaman kita yang semakin dekat dengan hari kiamat, yang kebodohan merajalela dan ilmu semakin sedikit. Rasulullah n bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ وَيَفْشُوَ الزِّنَا وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ
“Sesungguhnya, di antara tanda-tanda kiamat adalah diangkatnya ilmu, merajalelanya kebodohan, zina, dan khamr.” (HR. Muslim no. 4835)
Di antara bentuk jafa’ adalah sikap manusia yang berpaling dari para ulama rabbani, tidak merasa butuh dengan mereka, dan tidak bertanya kepada mereka. Padahal Allah l memerintahkan kita untuk bertanya kepada ulama.
Di antara bentuk jafa’ pula adalah hinaan dan celaan yang ditujukan kepada ulama, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Sikap ini mirip dengan perbuatan orang-orang munafik di zaman Rasulullah n ketika mengolok-olok beliau n dan para sahabat saat Perang Tabuk. Dengan enteng dan berdalih senda gurau, mereka mengatakan tentang Rasulullah n dan para sahabat—ulama terbaik umat ini—dengan ucapan,
مَا رَأَيْنَا مِثْلَ قُرَّائِنَا هَؤُلاَءِ، أَرْغَبُ بُطُونًا، وَلاَ أَكْذَبُ أَلْسُنًا، وَلاَ أَجْبَنُ عِنْدَ اللِّقَاءِ
“Kami belum pernah melihat ahli baca Qur’an seperti mereka (yakni Rasulullah dan sahabatnya), paling rakus makannya, paling dusta lisannya, dan paling penakut ketika berperang.”
Ayat pun turun menyatakan kemurtadan mereka dari Islam dengan sebab mengolok-olok Rasulullah n dan sahabatnya. Allah l berfirman,
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman….” (at-Taubah: 65—66)
Ketahuilah, dosa mencela ulama lebih berat daripada dosa mencela seorang muslim biasa. Hal ini karena penghinaan kepada ulama—di samping bahayanya kembali kepada si pelaku penghinaan—juga berakibat buruk kepada umat, yakni membuat mereka akan menjauh dari para ulama dan ilmu syariat yang mereka bawa.
Di antara celaan yang terdengar di zaman ini adalah ucapan-ucapan miring yang sangat kental dengan penghinaan terhadap para ulama. Sebagian pencela menyifati ulama-ulama Ahlus Sunnah semisal asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Ibnu Utsaimin sebagai “ulama haid dan nifas”, atau “pembahasan mereka tidak lebih dari seputar darah haid”, “mereka tidak mengerti fiqhul waqi’ (masalah kekinian/kontemporer)”.”
Kita katakan kepada para pencela, “Bertakwalah kalian kepada Allah! Takutlah akan azab-Nya! Mengapa kalian mencela para ulama karena mereka membahas haid dan nifas? Apakah kalian menyangka pembahasan haid dan nifas adalah satu aib? Apakah kalian menganggap bahwa pembahasan haid dan nifas tidak penting? Subhanallah! Betapa banyak wanita yang belum mengerti hukum-hukum haid dan nifas dengan baik! Sadarkah kalian, Allah l menyebutkan hukum-hukum haid dalam kitab suci-Nya. Demikian pula, Rasulullah n sangat bersemangat membahas haid dan nifas. Allah l berfirman,
Dan mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, “Haid itu adalah kotoran.” Oleh sebab itu, hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan oleh Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (al-Baqarah: 222)
Seseorang yang mengagungkan Allah l semestinya berusaha untuk tidak mengucapkan perkataan selain yang telah ia renungkan akibatnya, karena lisan bisa menjadi sumber kebinasaan. Rasulullah n bersabda,
وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَتَكَلَّمُ باِلْكَلِمَةِ لاَ يُلْقِي بِهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفَا
“Sungguh, seseorang mengucapkan satu kalimat yang tidak ia renungkan, maka kalimat itu melemparkannya ke dalam neraka sejauh tujuh puluh tahun.” (HR. at-Tirmidzi no. 2314)
Berkenaan julukan “ulama haid dan nifas” yang disematkan kepada ulama Ahlus Sunnah, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan bahwa mereka yang mengatakan julukan-julukan itu dikhawatirkan sampai kepada riddah (kemurtadan).3 (Dari ceramah beliau, Syarah Bulughul Maram, bab “Haid”)

Fenomena Ghuluw Terhadap Ulama
Banyak ragam atau bentuk ghuluw terhadap para ulama atau orang-orang saleh, di antaranya:
1. Melampaui batas dalam hal memuji dan menyanjung mereka.
Rasulullah n peringatkan hal ini dalam sabdanya,
لاَ تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ، إِنَّمَا أَنَا عَبْدٌ، فَقُولُوا: عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ
“Janganlah kalian melampaui batas menyanjungku sebagaimana kaum Nasrani telah melampaui batas menyanjung Ibnu Maryam. Aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah tentang diriku: Hamba Allah dan Rasul-Nya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari Ibnu Umar c)
Ghuluw dalam bentuk sanjungan yang berlebihan banyak dilakukan oleh orang-orang Rafidhah dan diikuti kaum Sufi ekstrem. Bahkan, sikap melampaui batas ini mengantarkan mereka kepada syirik akbar dalam hal rububiyah, sebuah dosa yang mengeluarkan pelakunya dari Islam. Sebagian mereka terjatuh pada keyakinan bahwa orang saleh adalah “wali” yang mengatur alam semesta, mereka mampu mendengar dan mengabulkan doa para pecintanya, memberikan manfaat dan mudarat, serta mengetahui urusan gaib.

2. Membuat patung atau gambar para ulama dan orang saleh.
Membuat patung dan gambar makhluk hidup diharamkan oleh Rasulullah n, bahkan pelakunya diancam dengan azab yang pedih. Lebih-lebih lagi, apabila yang digambar adalah ulama atau orang saleh.
Ketahuilah, awal mula manusia terjatuh dalam lembah kesyirikan adalah dari patung dan gambar. Allah l berfirman,
Dan mereka berkata, “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (Nuh: 23)
Ibnu Abbas c berkata, “Nama-nama ini (Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr) adalah nama orang-orang saleh dari kaum Nuh. Ketika mereka meninggal, setan membisiki kaumnya untuk memancangkan patung-patung di bekas majelis orang-orang saleh itu dan dinamai seperti nama mereka. Manusia pun menaatinya. Mulanya, patung-patung itu tidak disembah. Namun, ketika mereka (generasi pembuat patung, -red.) telah mati dan ilmu telah dilupakan, disembahlah berhala-berhala tersebut.”

3. Di antara bentuk ghuluw kepada ulama dan orang saleh adalah tabarruk, ngalap berkah kepada/dengan ulama.
Tabarruk kepada ulama adalah anggapan bahwa ulama atau orang saleh bisa memberikan berkah dengan sendirinya atau menjadi sebab berkah Allah l, dengan mengusap-usap tubuhnya atau menggunakan sisa air wudhu, air minum, atau pakaiannya. Sebagian orang mencium dan mengusap kuburannya, atau beribadah kepada Allah l di sisi kuburan mereka dengan keyakinan bahwa hal itu menjadi sebab mendapatkan berkah. Semua ini termasuk kesyirikan, sebagiannya syirik akbar dan sebagiannya syirik kecil.4
Kaum muslimin rahimakumullah, semoga pembahasan hadits Aisyah x ini mengingatkan kita akan kewajiban memenuhi hak-hak seluruh manusia, termasuk ulama dan orang-orang saleh, sesuai dengan bimbingan syariat, dan jauh dari berbagai penyimpangan pengikut hawa nafsu.
Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, dan al-Baihaqi, dengan lafadz yang berbeda-beda. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini sahih.”

2 HR. al-Bukhari (1/186), Muslim no. 4828, dari sahabat Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash c.

3 Karena mereka telah mengolok-olok ulama dengan meremehkan salah satu bagian syariat Allah l.

4 Pembahasan tabarruk membutuhkan rincian, lebih-lebih kaum penyembah kubur memiliki dalil (baca: syubhat) atas perbuatan kesyirikan dan kebid’ahan mereka. Pembaca bisa melihat pada risalah at-Tawassul wal Wasilah yang ditulis oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani t. Pembahasan tabarruk juga pernah dimuat di Rubrik “Akidah”, Majalah Asy-Syariah Vol I/No. 07. Adapun tentang kuburan yang diagungkan bisa dibaca pada rubrik yang sama, Vol. I/No. 10 dan No. 12.

 

Ilmu adalah Takut kepada Allah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal)

“Sesungguhnya hanyalah yang takut kepada Allah di antara para hamba-Nya adalah ulama.” (Fathir: 28)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Sesungguhnya hanyalah.”
Lafadz ini menunjukkan pembatasan. Pembatasan dalam satu kalimat bermakna istitsna’ (pengecualian/pengkhususan). Adapun istitsna’ dalam konteks kalimat penafian, menurut jumhur ulama, mengandung makna penetapan (itsbat). (Lihat Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 16/177)
“Ulama.”
Ia adalah bentuk jamak dari alim. Yang dimaksud adalah orang yang berilmu tentang syariat Allah l serta mengerti tentang hukum halal dan haram. Inilah yang dimaksud ilmu apabila disebut secara mutlak (tanpa pengait) dalam kitabullah dan sunnah Rasul n. Ini pula ilmu yang jika kita mempelajari dan mengamalkannya akan mendapat keutamaan. Hal ini karena selain ilmu syariat, tidak ada perbedaan dalam mengetahuinya antara seorang mukmin dan kafir.
Al-Hafizh Ibnu Rajab t menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah yang menunjukkan dua perkara:
1. Ma’rifatullah (mengenal Allah l), Asmaul Husna yang dimiliki-Nya, sifat-sifat-Nya Yang Mahaagung, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menakjubkan.
Hal ini menumbuhkan sikap pengagungan, pemuliaan, rasa takut kepada-Nya, rasa cinta, berharap, bertawakal, dan ridha dengan ketetapan-Nya, serta bersabar atas musibah yang menimpa.
2. Berilmu tentang apa yang dicintai dan diridhai-Nya, serta apa yang dibenci dan dimurkai-Nya, berupa berbagai keyakinan, amalan, dan ucapan, baik yang lahir maupun batin. (Lihat Fadhlu Ilmis Salaf, al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hambali t, hlm. 73)
Syaikhul Islam t berkata menjelaskan ayat ini, “Mereka adalah para ulama yang beriman kepada apa yang dibawa oleh para rasul. Merekalah yang takut kepada-Nya.” (Majmu’ al-Fatawa, 16/177)

Tafsir Ayat
Ayat Allah l yang mulia ini menjelaskan bahwa orang yang takut kepada Allah l adalah seorang yang alim (berilmu). Sebaliknya, seseorang yang tidak memiliki rasa takut kepada Allah l adalah orang yang jahil.
Rasa takut manusia kepada Allah l bertingkat-tingkat sesuai dengan kadar keilmuan dan keyakinan seseorang kepada Rabbnya.
Mujahid t berkata, “Sesungguhnya, orang yang alim adalah yang takut kepada Allah l.”
Beliau t juga berkata, “Orang yang fakih adalah orang yang takut kepada Allah l.”
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud z bahwa beliau berkata, “Cukuplah rasa takut seseorang kepada Allah l sebagai ilmu, dan cukuplah kelalaian seseorang kepada-Nya sebagai kejahilan.”
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib z bahwa beliau berkata, “Sesungguhnya, orang fakih yang sebenar-benarnya adalah orang yang tidak menyebabkan manusia putus asa dari rahmat Allah l, tidak memberi kemudahan kepada mereka untuk bermaksiat kepada-Nya, tidak memberi rasa aman kepada mereka dari siksaan-Nya, serta tidak menyebabkan manusia meninggalkan al-Qur’an dan mencari alternatif selainnya. Sesungguhnya, tidak ada kebaikan dalam satu ibadah yang tidak dibarengi ilmu, tidak pula ada kebaikan pada satu ilmu yang tidak terkandung pemahaman, dan tidak ada kebaikan dalam membaca al-Qur’an yang tidak disertai tadabbur.” (Lihat atsar-atsar ini dalam Tafsir Ibnu Katsir tatkala menjelaskan ayat ini)
Syaikhul Islam t berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Tidaklah seseorang takut kepada Allah l kecuali dia seorang alim. Oleh karena itu, setiap yang takut kepada Allah l maka dialah alim. Demikianlah konteks ayat ini. Para ulama salaf dan kebanyakan para ulama mengatakan bahwa setiap alim berarti dia takut kepada Allah l, sebagaimana ayat yang lain juga menunjukkan bahwa siapa yang bermaksiat kepada Allah l berarti dia jahil.
Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Abul Aliyah t, ‘Aku bertanya kepada para sahabat Muhammad n tentang firman Allah l,
“Sesungguhnya, tobat di sisi Allah hanyalah tobat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan.” (an-Nisa: 17)
Mereka (para sahabat Nabi n) berkata kepadaku, ‘Setiap orang yang bermaksiat kepada Allah l maka dia jahil.’
Demikian pula yang dikatakan oleh Mujahid, al-Hasan al-Bashri, dan yang lainnya dari kalangan ulama tabi’in dan yang setelahnya, rahimahumullah.” (Majmu Fatawa, 16/176—177)
As-Sa’di t berkata, “Semakin seseorang berilmu tentang Allah l, semakin besar pula rasa takut kepada-Nya. Rasa takutnya kepada Allah l menyebabkannya meninggalkan kemaksiatan serta mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti. Ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu, karena ia akan menumbuhkan rasa takut kepada Allah l. Orang-orang yang takut kepada-Nya adalah orang-orang yang mendapatkan kemuliaan-Nya, sebagaimana firman-Nya,
“Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Hal itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (al-Bayyinah: 8) (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Al-Hafizh Ibnu Katsir t mengatakan, “Sesungguhnya, yang takut kepada Allah l dengan sebenar-benarnya adalah para ulama yang memiliki ma’rifat (pengetahuan) tentang-Nya. Hal ini karena setiap kali bertambah pengetahuan seseorang kepada Yang Mahaagung, Mahakuasa, dan Maha Berilmu, yang memiliki sifat-sifat kesempurnaan dengan asmaul husna, semakin bertambah dan sempurna pengetahuan seseorang kepada-Nya. Maka dari itu, rasa takut kepada-Nya pun semakin bertambah dan semakin kuat.” (Tafsir Ibnu Katsir)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata menjelaskan ayat ini, “Maknanya, tidak ada yang takut kepada-Nya selain seorang alim. Sungguh, Allah l telah mengabarkan bahwa setiap yang takut kepada Allah l berarti dia adalah seorang alim, sebagaimana firman-Nya di dalam ayat yang lain,
(Apakah kamu, hai orang musyrik, yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedangkan ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Rabbnya? Katakanlah, “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (az-Zumar: 9)
Rasa takut (khasy-yah) selalu mengandung sifat berharap (raja’). Jika tidak demikian, dia akan menjadi seorang yang berputus asa (dari rahmat-Nya). Sejalan dengan itu, perasaan berharap mengharuskan adanya rasa takut, sebab ketiadaan hal tersebut dapat menyebabkan seseorang merasa aman (dari kemurkaan-Nya). Jadi, orang yang memiliki rasa takut dan berharap kepada Allah l adalah para ulama yang dipuji oleh Allah l.” (Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam, 7/21)
Tanda Ilmu adalah Khasy-yah
Ayat ini menjelaskan bahwa ilmu yang hakiki, yang akan memberi manfaat kepada pemiliknya, adalah yang menumbuhkan rasa takut seorang hamba kepada Allah l. Semakin bertambah ilmu yang bermanfaat yang dimiliki oleh seorang hamba, semakin besar pula rasa takutnya kepada Allah l. Oleh karena itu, para nabi, orang-orang saleh, para shiddiqin, dan para syuhada, memiliki rasa takut kepada Allah l yang lebih daripada selain mereka yang tingkat keimanannya lebih rendah.
Disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari hadits Aisyah x yang mengatakan bahwa apabila Rasulullah n memerintah kaum muslimin, beliau memerintah mereka dengan sesuatu yang mampu mereka lakukan. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami tidak seperti engkau, wahai Rasulullah. Sesungguhnya, Allah l telah mengampuni apa yang telah lalu dari dosamu dan yang akan datang.” Rasulullah n marah mendengar hal itu hingga kemarahan tersebut tampak di wajah beliau n, lalu bersabda:
إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللهِ أَنَا
“Sesungguhnya orang yang paling bertakwa dan paling berilmu tentang Allah l adalah aku.” (HR. al-Bukhari, 1/20)
Dalam riwayat Muslim t dengan lafadz,
وَاللهِ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَخْشَاكُمْ لِلهِِ وَأَعْلَمَكُمْ بِمَا أَتَّقِي
“Demi Allah, sesungguhnya aku berharap menjadi orang yang paling takut kepada Allah l dan yang paling berilmu dengan apa yang aku tinggalkan.” (HR. Muslim no. 1110)
Dalam riwayat Muslim t dari hadits Ummu Salamah x,
أَمَا وَاللهِ إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلهِ وَأَخْشَاكُمْ لَهُ
“Ketahuilah, demi Allah, sesungguhnya aku adalah hamba yang paling bertakwa di antara kalian dan yang paling takut kepada-Nya.” (HR. Muslim no. 1108)
Rasulullah n menggandengkan rasa takutnya kepada Allah l dengan ilmu.
Al-Allamah asy-Syinqithi t berkata, “Telah dimaklumi bahwa para nabi r dan para sahabatnya adalah orang yang berilmu tentang Allah l dan paling mengetahui tentang hak-hak dan sifat-sifat-Nya, serta pengagungan yang menjadi hak Allah l. Bersamaan dengan itu, mereka menjadi hamba yang paling banyak ibadahnya kepada Allah l dan yang paling takut serta berharap mendapat rahmat-Nya.” (Adhwaul Bayan, 2/325)
Tumbuhnya rasa khasy-yatullah dalam diri seorang hamba akan memberikan pengaruh pada keimanan dan amalannya. Di antara pengaruh tersebut adalah:
1. Ia akan semakin giat menjalankan ibadah dengan penuh rasa takut dan berharap.
2. Ia akan meninggalkan kemaksiatan baik di keramaian maupun saat sendirian.
3. Senantiasa mengingat Allah l dengan berzikir, membaca al-Qur’an, dan yang semisalnya.
4. Tidak memasukkan ke dalam perutnya sesuatu yang diharamkan oleh Allah l.
5. Merasa yakin dengan apa yang dijanjikan oleh Allah l berupa kenikmatan bagi orang yang bertakwa dan siksaan bagi yang durhaka.
6. Tidak berkata tanpa ilmu dalam urusan agama.

Gelar Bukan Ilmu
Sebagian orang menyangka bahwa tanda seorang yang berilmu adalah jika dia memiliki banyak hafalan dan riwayat. Sebagian lagi ada yang menyangka bahwa tanda seorang alim adalah jika dia memiliki gelar akademis seperti Lc, MA, doktor, profesor, dan yang lain. Ini adalah pemahaman yang keliru.
Jika seseorang memiliki semua yang disebutkan, namun ilmu yang dimilikinya tidak menumbuhkan rasa takut kepada Allah l dalam dirinya dan tidak memberikan perubahan ke arah yang baik dalam kehidupannya—dengan menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai pedoman hidupnya—, dia bukanlah seorang yang berilmu. Ilmu yang dimilikinya justru akan menjadi hujah yang dapat membinasakannya. Wallahul musta’an.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud z bahwa beliau berkata, “Ilmu itu bukanlah dengan banyak meriwayatkan hadits, namun ilmu adalah khasy-yah.”
Al-Imam Malik t berkata, “Ilmu itu bukan dengan sekadar banyak menghafal riwayat, namun ilmu adalah cahaya yang diletakkan oleh Allah l pada hati seorang hamba.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/555)
Abu Hayyan at-Taimi berkata, “Ulama itu ada tiga: (1) seorang yang berilmu tentang Allah l dan tentang perintah Allah l, (2) seorang yang berilmu tentang Allah l, namun tidak berilmu tentang perintah Allah l, dan (3) seorang yang berilmu tentang perintah Allah l, namun tidak berilmu tentang Allah l.
Yang berilmu tentang Allah l dan perintah-Nya, dialah yang takut kepada Allah l, sekaligus mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.
Adapun yang berilmu tentang Allah l, namun tidak berilmu tentang perintah Allah l, dia adalah orang yang takut kepada Allah l, namun tidak mengerti tentang sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya.
Sementara itu, yang berilmu tentang perintah Allah l, namun tidak berilmu tentang Allah l, adalah orang yang mengerti sunnah-Nya, batasan-batasan-Nya, dan apa-apa yang diwajibkan-Nya, namun dia tidak takut kepada-Nya.” (Jami’ Bayani Ilmi wa Fadhlihi, Ibnu Abdil Barr, 2/47)
Al-Allamah Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t mengingatkan para pelajar yang belajar agama di bangku universitas, “Hal yang menyedihkan di zaman kita sekarang ini adalah yang menjadi tolok ukur menentukan keilmuan manusia adalah gelar-gelar. Anda punya gelar, maka Anda akan diberi pekerjaan dan jabatan sesuai dengan gelar tersebut. Bisa jadi, seseorang bergelar doktor lalu diberi pekerjaan sebagai pengajar di sebuah universitas, padahal dia adalah orang yang paling jahil.
Sementara itu, ada seorang pelajar setingkat sekolah menengah yang jauh lebih baik darinya, dan ini kenyataan. Sekarang ini, ada orang yang bergelar doktor namun dia tidak mengerti ilmu sedikit pun. Bisa jadi, dia lulus dengan cara menipu atau lulus dalam keadaan ilmu tersebut belum melekat pada dirinya. Namun, dia tetap diangkat sebagai pegawai karena memiliki ijazah doktor. Di sisi lain, ada seorang penuntut ilmu yang baik, lebih baik daripada manusia lainnya dan lebih baik seribu kali daripada doktor ini, namun dia tidak diberi jabatan. Dia tidak mengajar di perguruan tinggi. Mengapa? Karena dia tidak berijazah doktor.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 3/436). Wallahul muwaffiq.

Tanya Jawab Ringkas edisi 77

Zakat Perhiasan Emas
Kalau kita punya emas lebih dari 80 gram, tetapi dipakai sebagai perhiasan, apakah harus dikeluarkan zakatnya?

Emas yang dipakai sebagai perhiasan wajib dikeluarkan zakatnya menurut pendapat yang rajih (kuat) dengan dua syarat:
1. Mencapai nishab senilai 85 gram emas murni.
2. Nishab ini telah melewati periode setahun menurut hitungan bulan qamariah (tahun hijriah) tanpa pernah berkurang dari nishab tersebut.
Lihat Majalah Asy-Syari’ah edisi 54, “Muslim Taat Bayar Zakat”.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

KB untuk Menunda Kehamilan
Kami sekarang punya dua anak. Waktu hamil pertama, istri masuk rumah sakit, opname, karena sakit DBD & hepatitis, sedangkan waktu hamil kedua opname karena perdarahan dari rahim. Dengan kondisi seperti itu apakah boleh ikut KB untuk menunda kehamilan sambil menunggu kondisi fisik istri siap dan kuat untuk hamil?

Tidak mengapa, insya Allah. Namun, pilih yang tidak memudaratkan dan tidak menyingkap aurat.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Wanita Mimpi Berhubungan Intim
Saya mau tanya. Saya terkadang bermimpi melakukan hubungan intim dengan suami hingga merasakan puncak kenikmatan. Apakah setelah bangun tidur ketika saya akan shalat harus mandi janabah?

Jika Anda melihat ada air mani yang keluar, wajib mandi. Jika tidak ada, tidak wajib mandi. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah x tentang kisah Ummu Sulaim x yang menanyakan masalah ini (Muttafaq ‘alaih).
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Tidak Bisa Menunaikan Nazar Puasa
Bismillah. Saya pernah sakit kira-kira selama sepuluh tahun. Kemudian saya bernazar, apabila disembuhkan oleh Allah l dari sakit, saya akan menjalankan semua puasa sunnah terus-menerus sampai ajal tiba. Namun ternyata saya tidak sanggup menjalankannya. Apa solusinya? Apakah ada kafarat bagi saya?

Alhamdulillah. Masalah yang serupa telah pernah kami jawab lengkap dengan dalil-dalilnya pada Problema Anda yang berjudul “Hukum Nazar Ketaatan yang Tidak Sanggup Ditunaikan” edisi 2.
Kesimpulannya, nazar Anda termasuk dalam kategori nazar ketaatan yang juga dinamakan nazar tabarrur, yaitu nazar untuk melakukan suatu amalan saleh dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah l. Jenis nazar seperti ini wajib ditunaikan dan tidak bisa dibayar dengan kafarat untuk meninggalkannya.
Namun, apabila Anda sudah berusaha melaksanakan nazar tersebut dan ternyata tersiksa dengannya lantas berakibat Anda kesulitan menunaikan kewajiban-kewajiban syariat lainnya sebagaimana biasanya, berarti Anda termasuk dalam kategori orang yang tidak mampu melaksanakan nazar tersebut.
Dengan demikian, nazar Anda dikategorikan sebagai nazar atas sesuatu yang tidak mampu dilaksanakan, yang dapat ditebus dengan membayar kafarat.
Adapun kafaratnya adalah sama dengan kafarat sumpah yang tersebut dalam surat al-Maidah: 89, yang dapat dilihat keterangannya pada jawaban kami yang diisyaratkan di atas.
Berikutnya, berpuasalah Anda semampunya dengan puasa-puasa yang bermanfaat bagi Anda tanpa mudarat dan tidak mengakibatkan Anda lalai dari kewajiban-kewajiban syariat yang lebih dicintai oleh Allah l daripada nazar tersebut. Wallahul muwaffiq.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Utang Puasa Sampai Datang Ramadhan Berikutnya
Pada bulan Ramadhan tahun lalu, saya memiliki utang puasa sebanyak 26 hari karena waktu itu saya sedang hamil dengan kondisi yang tidak memungkinkan untuk berpuasa. Saya termasuk yang mengikuti pendapat wajib meng-qadha puasa yang ditinggalkan tersebut. Namun, hingga saat ini saya belum mengqadhanya karena menyusui, sedangkan anak saya tidak mau diberi susu formula padahal bulan Ramadhan akan tiba sekitar satu bulan lagi. Bagaimanakah solusinya?

Anda tidak dituntut untuk menyapih anak Anda agar bisa mengqadha puasa tersebut, apalagi jika hal itu akan memudaratkan bayi Anda. Tetaplah menyusuinya dan dengan itu Anda tetap beruzur untuk tidak meng-qadha-nya selama belum mampu karena menyusui, walaupun melewati Ramadhan berikutnya. Simak masalah ini secara lengkap dalam buku kami Fikih Puasa Lengkap.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Wanita Hamil, Qadha atau Fidyah?
Kami ingin bertanya, perempuan hamil boleh tidak berpuasa, apakah dia harus ganti atau cukup bayar fidyah?

Perempuan hamil yang punya kekuatan untuk berpuasa tanpa merasa berat dan tidak khawatir berpengaruh buruk terhadap janinnya, wajib berpuasa. Adapun jika ia mengkhawatirkan keadaan dirinya atau janinnya, boleh berbuka (tidak berpuasa). Jika demikian, dia wajib meng-qadha-nya di hari lain. Simak masalah ini secara lengkap dalam buku kami Fikih Puasa Lengkap. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Perbedaan Mani dengan Keputihan
Saya terkadang mengalami keputihan dan waswas bahwa itu air mani, maka saya mandi. Padahal saya tidak ihtilam atau habis jima’ dengan suami. Bagaimana cara membedakannya?

Tidak perlu waswas. Jika Anda tidak habis jima’ dan tidak pula ihtilam, berarti Anda tidak wajib mandi. Inilah hukumnya meskipun cairan itu air mani, tetapi keluarnya tanpa syahwat dan yang seperti ini tidak mewajibkan mandi—menurut pendapat yang rajih—. Wallahu a’lam.
Sifat air mani wanita berwarna kuning dan encer, berbeda dengan sifat air mani laki-laki yang putih dan kental, sebagaimana sabda Nabi n dalam hadits yang sahih. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Warisan bagi “Anak Haram”
Seorang laki-laki menikahi wanita yang dihamilinya dengan zina, lalu lahirlah anak. Apakah anak tersebut mendapatkan warisan? Mohon dalilnya.
Ada rinciannya:
– Anak tersebut mendapat warisan dari jalur ibu yang melahirkannya.
– Anak tersebut tidak mendapat warisan dari jalur ayah karena dia tidak mempunyai bapak secara syariat. Laki-laki tersebut bukan ayahnya secara syariat sehingga tidak ada hubungan warisan antara keduanya.
Lihat pembahasan tentang hal ini pada “Problema Anda” edisi 26 dengan judul Status Anak Zina. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Infak Gaji dan Pembelian Barang
Ustadz, saya mau tanya:
1. Gaji suami saya setiap bulan jumlahnya hanya seukuran UMR. Apakah harus dikeluarkan infak 2,5% atau tidak?
2. Suami saya membeli sepeda motor bekas seharga 3 juta, apakah diwajibkan infak?
3. Apakah setiap kali membeli apa pun diharuskan infak?

1. Tidak wajib. Tidak ada zakat profesi dalam Islam walaupun diistilahkan sebagai infak 2,5% setiap kali gajian. Namun, jika uang gaji itu jumlahnya mencapai harga 595 gram perak yang ada di pasaran, berarti mencapai nishab uang. Jika kemudian nishab itu bertahan sampai akhir tahun hijriah, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 2,5%.
2. Tidak.
3. Tidak.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Jima’ dalam Keadaan Istri Haid Tanpa Sepengetahuan Suami Istri
Seorang suami menjima’i istrinya dalam keadaan istri tidak mengetahui saat itu datang haid. Si istri yakin bahwa dia dalam keadaan suci. Suami juga tidak mengetahui bahwa istri dalam keadaan seperti itu. Ia baru mengetahuinya ketika akan mandi junub. Apakah ada hukuman bagi keduanya? Keduanya adalah orang yang kurang mampu.

Hal itu dimaafkan, insya Allah.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Memperbarui Akad Nikah karena Tidak Sah
Bismillah. Pada edisi 73, di bagian tanya jawab ditulis bahwa pernikahan saat hamil itu tidak sah. Jika seorang wanita dinikahi ketika sedang hamil dan setelah tiga tahun pernikahan baru ia mengetahui hukum tersebut, bahkan anaknya telah berumur dua tahun, apa yang harus dilakukan? Di sisi lain, untuk menceritakan kepada orang lain, keduanya merasa malu dan takut. Sementara itu, tidak ada sebuah dosa yang luput dari Allah l.

Keduanya harus bertobat dan berpisah sampai diperbarui kembali akad nikahnya tanpa harus diketahui oleh KUA. Cukup dinikahkan oleh wali atau yang mewakilinya dengan minimal dua orang saksi yang istiqamah.
al-Ustadz Muhammad Sarbini

Musuh Dakwah Asy Syaikh Al-Bani

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Para musuh dakwah beliau tak lepas dari salah satu dari sifat-sifat berikut ini,
1. Al-hadatsah (kemudaan)
2. Kedangkalan ilmu
3. Bid’ah
4. Suka untuk tampil
5. Merasa sebagai syaikh
Berbagai tuduhan tak berdasar dilontarkan kepada beliau dari beraneka ragam musuh dakwahnya. Tetapi, itu adalah sebuah risiko yang mesti terjadi di saat seseorang menjalankan sunnah Nabi n. Itulah yang terjadi pada asy-Syaikh al-Albani. Kami akan buktikan, insya Allah, bahwa berbagai tuduhan dan tudingan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Namun, saya di sini akan memfokuskan pada beberapa hal saja dan terkhusus yang tersebar di negeri kita, karena keterbatasan waktu dan ruang.
Di antara tuduhan tersebut adalah sebagai berikut.

Tuduhan Berpemahaman Murji’ah
Tak diragukan bahwa tuduhan tentulah berasal dari orang-orang yang berpemahaman takfir atau terpengaruh oleh pemahaman mereka. Akan tetapi, yang lebih menyakitkan adalah ketika tuduhan itu juga dilontarkan oleh orang yang dianggap sebagai salafi juga. Asal tuduhan ini, karena asy-Syaikh al-Albani adalah tokoh yang sangat keras menentang pemikiran takfir (mengafirkan kaum muslimin) dan gerakan kelompok takfir, sehingga beliau tentu menjadi sasaran tudingan mereka. Safar al-Hawali, seorang yang berpemahaman Ikhwanul Muslimin atau takfir, menjadi salah satu pelopor tuduhan ini dalam bukunya, Zhahiratul Irja’. Tuduhan itu pun semakin tenar sehingga tak sedkit yang membeo mengikuti jejak Safar al-Hawali.
Benarkah tuduhan itu?
Siapakah yang disebut Murji’ah? Mereka adalah yang meyakini bahwa amal bukan termasuk iman, iman tidak bertambah serta berkurang, serta perbuatan dosa tidak menurunkan iman.
Dari keterangan siapakah yang disebut Murji’ah, sama sekali syaikh al-Albani tidak masuk dalam kategori mereka. Lihatlah keyakinan beliau dalam hal iman. Amal adalah bagian penting dalam iman dan dengan hanya pelanggaran anggota badan, seseorang bisa lepas sama sekali dari iman. Dua hal ini termasuk yang sangat membedakan antara Ahlus Sunnah dengan Murji’ah dalam hal iman. Sebagai bukti dalam al-Aqidah ath-Thahawiyah pada poin no. 58 dan 62.
Ketika ath-Thahawi mengatakan, “Dan kami tidak mengatakan ‘Tidak bermudarat dengan adanya iman dosa apa pun bagi orang yang melakukannya’.”
Beliau memberikan komentar, saya katakan, “Hal itu karena ucapan tersebut merupakan pendapat orang-orang Murji’ah yang mengarah kepada pendustaan terhadap ayat-ayat ancaman dan hadits-haditsnya yang datang (menerangkan) tentang para ahli maksiat dari umat ini, dan bahwa kelompok-kelompok dari mereka yang maksiat itu akan masuk ke neraka lalu keluar darinya dengan syafaat atau yang lainnya.
Juga ketika ath-Thahawi t menjelaskan tentang iman dan beliau keliru padanya yaitu, “Iman adalah ikrar dengan lisan dan pembenaran dengan kalbu.”
Beliau memberikan komentar, “Ini adalah mazhab Hanafiyyah dan Maturidiyyah. Berbeda dengan mazhab salaf dan mayoritas para imam seperti al-Imam Malik, Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, dan yang lain, karena mereka menambahkan pada ikrar dengan (lisan) dan pembenaran itu dengan tambahan pengamalan dengan anggota badan.”
Kiranya dua kutipan ini saja sudah cukup sebagai bukti lepasnya beliau dari tuduhan berdosa tersebut bagi orang yang adil dan berakal.
Alhamdulillah para ulama telah bersaksi atas lurusnya akidah dan keyakinan beliau, di antaranya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin, beliau t berkata, “Barang siapa menuduh asy-Syaikh al-Albani sebagi Mur’jiah maka dia telah salah, mungkin dia tidak tahu apa itu Murji’ah atau siapa itu al-Albani.”

Tuduhan Penulis Blog Jamaah Tabligh
Dalam blog Jamaah Tabligh, dengan bahasa yang sangat merendahkan, penulis meremehkan ilmu haditsnya, dengan mengatakan, “Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”).”
Rasanya tak perlu saya jawab panjang lebar, karena terlalu rendah omongannya. Maklum, omongan orang yang tidak tahu ilmu hadits, tentu saja tidak menghargai ahli hadits. Begitulah seseorang apabila bicara bukan pada bidangnya. Adapun orang-orang yang paham ilmu hadits tidak akan meragukan keilmuannya. Bias jadi, penulis tersebut tidak pernah membaca Silsilah ash-Shahihah dan kitab beliau yang lain. Bisa jadi pula, dia tidak bisa membaca kitab gundul, atau tidak paham pembahasan mushthalah. Maklumlah, kesibukan Jamaah Tabligh (JT) dalam urusan lain.

Celaannya Terhadap Profesi Reparasi Jam
Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang “ngawur”).
Demikian tertulis dalam blog JT tersebut. Aneh bila kerjaan yang halal itu dicela, padahal Nabi n telah menganjurkan makan dari hasil kerja sendiri dan untuk berkerja yang halal walupun tampak sepele,
لَأَنْ يَحْتَزِمَ أَحَدُكُمْ حُزْمَةَ حَطَبٍ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا خَيْرٌ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ رَجُلاً فَيُعْطِيَهُ أَوْ يَمْنَعَهُ.
“Seseorang mengikat seikat kayu bakar lalu menggendongnya di atas punggungnya lebih baik daripada meminta-minta kepada seseorang, yang mungkin memberinya atau tidak memberinya.” (Sahih, HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Tidaklah seseorang memperoleh suatu penghasilan yang lebih bagus dari kerjaan tangannya sendiri.” (Sahih. HR. an-Nasa’i dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Bagaimana dengan dua hadits di atas? Apakah kamu tidak akan menerima lantaran saya sebutkan bahwa yang menyatakan sahih adalah asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani?
Sungguh, pekerjaan tersebut lebih baik dari pada seseorang menjadi direktur bank atau kantor pajak. ”Nabi Zakariya dahulu adalah seorang tukang kayu,” (Sahih, HR. Muslim)

Tidak Berguru kepada Ahli Hadits
Tentu itu hanya sebatas tuduhan. Selintas, pada biografi singkat telah dijelaskan bahwa beliau tumbuh dalam keluarga yang agamis dan sejak berusia dini telah belajar dasar-dasar ilmu agama. Bahkan, ayahnya tidak memasukkannya ke sekolah lanjutan demi untuk diajari khusus ilmu agama oleh ayahnya dan teman-teman ayahnya, yang mereka bukan guru biasa, bahkan terhitung ulama di kalangan mereka.
Beliau pun ikut serta dalam seminar-seminar seorang ulama besar semacam Muhammad Bahjat al-Baithar. Dengan demikian, ketika menginjak dewasa dan mengarungi lautan ilmu, beliau bukan seperti orang buta yang berenang di lautan. Bahkan, ia melihat dan telah memiliki berbagai macam alat dan dasar-dasar teknik mengarunginya. Ilmu alat dan kunci-kunci ilmu telah beliau miliki.
Dalam ilmu hadits, lihat saja pengakuan ahli hadits dan al-musnid (ahli sanad) di negeri itu, asy-Syaikh Muhammad Raghib at-Thabbakh, yang kagum kepada beliau dalam bidang hadits sehingga memberikan ijazah sanad-sanad hadits kepada beliau, yaitu al-Anwar al-Jaliyyah fi Mukhtashar al-Atsbat al-Hanbaliyyah. Jadi, telaah dan ketekunan beliau dalam mengarungi lautan ilmu adalah pengembangan dan aplikasi dari dasar-dasar ilmu yang selama ini telah tertanam dalam diri beliau.

Menyerupakan Allah l dengan Makhluk
Penulis pada blog Jamaah Tabligh menuliskan, “Menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dia sebutkan dalam kitabnya berjudul Almukhtasar al Uluww hal. 7, 156, 285.”
Dengan merujuk kepada halaman yang disebutkan, tampaknya si penuduh tidak paham sama sekali atau mungkin tidak membaca dan hanya taklid kepada pencela al-Albani yang lain, atau mungkin tidak bisa membaca Arab gundul.
Pada halaman tersebut sama sekali tidak ada pernyataan beliau yang menyerupakan Allah l dengan makhluk. Bisa jadi, yang dia maksud adalah ketika asy-Syaikh al-Albani menceritakan mazhab ahlul hadits dan Hanabilah dalam hal mengimani kalamullah. Mereka mengimani al-Qur’an itu kalamullah, dan kalam Allah l itu terdengar karena itu suara dan huruf. Bisa jadi, dipahami bahwa ini berarti beliau menyerupakan Allah l dengan makhluk. Dianggap olehnya bahwa suara adalah seperti suara makhluk dan huruf seperti huruf makhluk.
Ya, maaf, itu salah paham yang cukup berat. Pertama, justru pikiran Anda yang menyerupakan Allah l dengan makhluk. Saat Anda membaca ungkapan itu, langsung Anda hukumi menyerupakan Allah l dengan makhluk. Tidak ada dalam pikiran Anda saat orang menyatakan ‘kalam Allah l dengan suara’ selain gambaran seperti suara manusia atau makhluk lain. Jadi pikiran Andalah yang sudah terkotori oleh tasybih (penyerupaan Allah l dengan makhluk).
Sungguh benar pernyataan ulama dahulu “Setiap orang yang menolak sifat Allah l, pastilah dia juga musyabbih (menyerupakan Allah dengan mahluk).” karena sebelum dia tolak sifat Allah l tersebut, penyerupaan tersebut telah tergambar dahulu dalam pikirannya. Setelahnya, dia menolak hal itu. Apa yang kita bahas menjadi bukti kebenaran pernyataan itu.
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah, tidak tergambar hal itu karena pikiran mereka tidak kotor dengan tasybih (penyerupaan Allah l dengan makhluk). Oleh karena itu, ketika mereka menyatakan bahwa kalam Allah l dengan suara dan huruf, artinya suara Allah l yang sama sekali tidak serupa dengan suara makhluk dan huruf makhluk. Begitu pula saat menetapkan sifat-sifat Allah yang lain yang ada dalam al-Qur’an atau al-Hadits, seperti cinta, benci, melihat, tangan, dan lain-lain.
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)
Adapun landasan Ahlus Sunnah bahwa kalam Allah l dengan suara dan huruf, sangat banyak. Saya akan cukupkan dengan dua saja di sini.
Dari Jabir dari Abdullah bin Unais z, ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah n bersabda,
يَحْشُرُ اللهُ الْعِبَادَ فَيُنَادِيهِمْ بِصَوْتٍ يَسْمَعُهُ مَنْ بَعُدَ كَمَا يَسْمَعُهُ مَنْ قَرُبَ: أَنَا الْمَلِكُ، أَنَا الدَّيَّانُ
“Allah mengumpulkan hamba-hamba-Nya, lalu Allah l memanggil mereka dengan suara yang didengar oleh yang jauh seperti yang didengar oleh yang dekat, ‘Akulah Sang Raja. Akulah Yang Maha Membalasi’.” (Sahih, HR. al-Bukhari secara mu’allaq dan Ahmad)
Dari Abdullah bin Mas’ud ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ.
“Barang siapa yang membaca satu huruf dari kitabullah maka dengannya dia akan mendapat satu kebaikan. Satu kebaikan dilipatkan menjadi sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan bahwa alif lam mim satu huruf. Akan tetapi, alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (Sahih, HR. at-Tirmidzi)
Itu adalah pernyataan Ahlus Sunnah, dan itulah ijma’ mereka.
Asy-Syaikh al-Albani termasuk ulama yang sangat menentang tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk). Ini terbukti ketika ath-Thahawi menyatakan dalam kitab Aqidah-nya pada poin no. 9, “Dan para makhluk tidaklah menyerupai-Nya.” Asy-Syaikh al-Albani berkomentar, “Pada ucapannya terdapat bantahan terhadap pendapat musyabbihah (orang-orang yang menyerupakan al-Khaliq dengan makhluk). Mahasuci Allah dan Mahatinggi.
Allah berfirman,
ﭡ ﭢ ﭣﭤ ﭥ ﭦ ﭧ
“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (asy-Syura: 11)
Beliau kemudian menukil ucapan Abu Hanifah, “Allah tidak menyerupai sedikit pun dari makhluk-Nya, dan tidak pula sesuatu pun dari makhluk-Nya menyerupai-Nya.”
Abu Hanifah melanjutkan, “Dan semua sifat-Nya berbeda dengqn sifat-sifat makhluk. Allah Maha berilmu, namun tidak seperti ilmu kita. Allah Mahamampu, namun tidak seperti kemampuan kita. Allah Maha Melihat, namun tidak seperti penglihatan kita.” (Syarh wa Ta’liq ‘ala al-Aqidah ath-Thahawiyah)

Mengafirkan Orang-Orang yang Tawassul
Penulis blog mengatakan, “Mengafirkan orang-orang yang bertawassul dan beristighatsah dengan para Nabi n dan orang-orang soleh seperti dalam kitabnya at-Tawassul.”
Demikian dengan ringkasnya tuduhan itu dilontarkan untuk membuat momok pada asy-Syaikh al-Albani. Sebetulnya, tuduhan itu adalah tanggung jawab penuduh, karena Allah l bakal menanyainya. Apalagi tuduhan mengafirkan, jangan dianggap sepele! Maka dari itu, semestinya dia tunjukkan dengan jelas pada halaman mana dari kitab tersebut.
Saya dengan segala keterbatasan, mencoba melihat-lihat kembali kitab tersebut (at-Tawassul Anwa’uhu wa Ahkamuhu), namun saya belum dapatkan apa yang mereka sebutkan. Yang saya dapatkan, beliau menuliskan, “Muncullah dari qiyas yang rusak dan pendapat yang tak laku ini kesesatan terbesar tersebut dan musibah terbesar, yang banyak kaum muslimin yang awam, bahkan sebagian orang khususnya, terjatuh padanya. Ketahuilah, itu adalah istighatsah, memohon pertolongan kepada para Nabi n dan orang-orang saleh selain Allah l di saat kesulitan dan musibah….” (hlm. 137)
Lalu beliau menukilkan ucapan sebagian ulama yang mencap bahwa ini perbuatan kekafiran dan kesyirikan.
Jadi, penjelasan beliau ini adalah dalam masalah istighatsah, mohon pertolongan kepada selain Allah l. Kalau tawassul ini sampai pada tingkatan tersebut, yaitu meminta dan berdoa kepada selain Allah l, tentu kafir.
Bagaimana menurut kalian? Apakah kalian sepakat dengan mereka dalam masalah ini?
Apabila kalian sepakat, mengapa kalian mencela al-Albani?
Kalau menurut kalian boleh, berarti kalian membolehkan berdoa kepada selain Allah l, yang itu adalah syirik. Sayangilah agama kalian!
Adapun tawassul dengan para nabi yang tidak sampai kepada tingkatan ini, tetapi bertawassul dengan kedudukannya, misalnya mengucapkan, “Aku mohon kepadamu, ya Allah, dengan kedudukan Nabi n Muhammad,” saya tidak mendapati beliau mengafirkannya, tetapi kata beliau, “Tidak boleh. Tidak disyariatkan karena tidak ada dalil yang pantas jadi landasannya.” (hlm. 46)
Beliau juga menyebutkan bahwa ini adalah bid’ah karena tidak ada satu pun dalam doa al-Qur’an dan hadits yang sahih! Jadi, ini bukan ajaran Nabi n dan amalan para sahabat. Apabila kalian menganggap sunnah sehingga senantiasa mendendangkannya, tunjukkan dalilnya yang sahih! Kami tunggu.
Adapun tawassul dengan Nabi n dan orang saleh saat masih hidup dengan doanya, asy-Syaikh al-Albani membolehkannya. Beliau mengatakan, “Tawassul yang disyariatkan dan ditunjukkan oleh nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah, dan diamalkan oleh as-salafush shalih serta disepakati oleh muslimin yaitu:
1. Tawassul dengan salah satu nama Allah l atau salah satu sifat-Nya,
2. Tawasssul dengan amal saleh yang dilakukan orang yang berdoa,
3. Tawassul doa orang saleh.” (hlm. 46)
Inilah ucapan beliau, lantas dari mana celanya, wahai penuduh?
Tawassul itu sesuatu yang Allah l syariatkan sebagaimana dalam salah satu ayat, bagaimana kalian mengamalkan ayat itu? Dengan sesuatu yang Nabi n contohkan atau dengan karangan kalian sendiri?

Melarang Ziarah Kubur
Kata penulis blog JT, “Mengharamkan umat Islam mengunjungi sesamanya dan berziarah kepada orang yang telah meninggal di makamnya.”
Tuduhan ini pun tidak jauh dari yang sebelumnya, murahan dan tidak ilmiah. Mestinya, dia menukilkan sumber sekaligus kutipan yang lengkap. Ingat, kalian akan ditanya oleh Allah l nanti.
Mari kita menyimak penjelasan asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani tentang ziarah dalam kitabnya Ahkamul Janaiz, “Disyariatkan berziarah kubur untuk mengambil pelajaran dan untuk mengingatkan akhirat, dengan syarat dalam ziarahnya tidak mengucapkan kata-kata yang dimurkai oleh Allah l, seperti berdoa kepada orang yang dikubur tersebut, atau memohon pertolongan kepadanya selain Allah l, atau mentazkiyah serta memastikannya masuk surga.” (hlm. 227)
Kontradiksi dalam Menghukumi Hadits
Sebagian orang mengungkapkannya dengan bahasa rendahan, seperti ucapan Abu Salafy, “Syeikh agung mereka yang sering linglung dalam mentashih atau mentadh’if hadis!”
Bahkan, sebagian orang menganggap beliau tidak berhak menghukumi suatu hadits dengan mengatakan, “Sebetulnya, kapasitas ilmu tukang reparasi jam ini sangat meragukan (kalau tak mau dibilang ‘ngawur’).”
Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah. Meskipun demikian, dia berani mentashih dan mentadh’ifkan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafizh (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).”
Inilah tuduhan penulis blog JT. Tuduhan ini berasal dari orang yang tidak tahu kapasitas dirinya. Mestinya, apabila menuduh hendaknya yang ilmiah sehingga tidak memalukan, tidak hanya asal bicara. Semestinya, mereka mempelajari ribuan hadits yang beliau hukumi, baru setelahnya mereka mengeluarkan kesimpulannya. Atau sebelum itu, mereka sudah bisa membaca Arab gundul atau belum? Ataukah mereka hanya membeo kepada orang Timur Tengah yang mengkritik beliau?
Alhamdulillah, tuduhan ini telah disanggah oleh para ulama. Di antaranya asy-Syaikh Muhammad Umar Bazmul dalam kitabnya al-Intishar li Ahlil Hadits. Kesimpulan beliau, ini adalah tuduhan kebodohan atau pura-pura bodoh. Ketahuilah, yang disepakati Ahlus Sunnah—mungkin Abu Salafy tidak ikut kesepakatan ini, -red.—bahwa kemaksuman tidak tetap bagi seorang pun dari umat ini, selain Rasulullah n.
Oleh karena itu, kekeliruan adalah sesuatu yang mungkin terjadi pada siapa saja. Jangankan beliau, ulama dan para hafizh pun tidak lepas darinya. Tetapi, apakah kekeliruan yang sifatnya manusiawi dalam hal yang ijtihadi dan dalam jumlah yang lumrah, menjatuhkan kapasitas ilmiahnya? Tidak seorang pun yang beranggapan demikian selain orang yang bodoh.
Perbedaan penilaian atau hukum dalam beberapa hadits yang terjadi pada beliau tidak keluar dari beberapa hal berikut ini.
1. Perubahan hukum beliau terhadap beberapa hadits disebabkan perkembangan ilmu beliau.
Misalnya, ditemukannya kitab yang baru tercetak, atau sanad lain, mutaba’ah, dan syawahid, atau tersingkapnya kelemahan hadits yang sebelumnya tidak diketahui. Hal ini cukup banyak, seperti yang beliau ungkapkan sendiri dalam mukadimah kitab Shahih Jami’ ash-Shaghir. Alhamdulillah, sekarang telah terbit buku Taraju’at al-Albani, yang menerangkan hadits-hadits yang asy-Syaikh al-Albani mengubah penghukuman beliau terhadap hadits tersebut dari sahih menjadi dhaif atau menjadi hukum yang lain.
2. Hadits yang dalam derajat hasan lighairihi.
Pembahasan hadits hasan lighairihi termasuk maslaah yang paling sulit dalam ilmu hadits. Oleh karena itu, kalau ijtihad ulama suatu saat berubah, itu adalah hal yang sangat wajar, baik pada al-Albani atau yang lain.
Simak penegasan adz-Dzahabi yang tak diragukan keilmuannya dalam ilmu hadits dan para rawi, “Jangan engkau harap bahwa hadits hasan memiliki kaidah yang semua hadits hasan dapat masuk ke dalamnya. Saya putus asa untuk itu. Betapa banyak hadits yang para hafizh ragu dalam hal ini, apakah itu hasan, dhaif, ataukah sahih. Bahkan, seorang hafizh terkadang berubah ijtihadnya dalam menghukumi satu hadits. Suatu hari ia menyatakan sahih, hari yang lain menyatakan hasan, atau justru menyatakannya dhaif. Dan ini benar….” (al-Muqizhah, hlm. 28—29)
3. Hadits-hadits yang beliau dianggap kontradiksi dalam menghukuminya, padahal justru si penuduhnya yang tidak bisa menilai.
4. Hadits-hadits yang asy-Syaikh al-Albani berbeda dalam menghukuminya karena keterbatasan yang sifatnya manusiawi yang tidak ada seorang pun lepas darinya. Yang seperti itu jumlahnya sedikit sekali apabila dibanding ribuan hadits yang beliau hukumi.
Kesimpulan akhir asy-Syaikh Muhammad Bazmul, “Vonis bahwa asy-Syaikh al-Albani kontradiksi dalam menghukumi hadits, dan upaya menghilangkan kepercayaan terhadap ilmu dan buku-bukunya adalah omong kosong belaka, dari orang yang dengki. Tidak ada bobotnya dalam timbangan kebenaran sedikit pun. “ (lihat hlm. 211—216 dengan sedikit penambahan dan ringkasan)
مَنْ ذَا الَّذِي تُرْضَى سَجَايَاهُ كُلُّهَا
كَفَى بِالْمَرْءِ نَبْلاً أَنْ تُعَدَّ مَعَايِبُهُ
Siapakah yang seluruh tabiatnya diridhai
Cukuplah sebagai kemuliaan seseorang itu dapat dihitung cacatnya.
Adapun ucapan penulis dalam blog JT di atas, saya anggap itu ucapan anak ingusan yang tidak tahu ilmu musthalah sama sekali. Siapa yang mensyaratkan orang harus hafal sepuluh hadits dengan sanadnya sampai kepada Rasulullah n, apalagi sanad dari zaman sekarang sampai kepada Rasulullah n?
Siapa yang mensyaratkan untuk menghafal ratusan ribu hadits, baru boleh menghukumi suatu sanad hadits sahih dan dhaifnya?!
Datangkan satu saja pensyaratan dari ulama mutaqaddimin (terdahulu)dalam hal ini, saya tunggu.

Tuduhan Abu Salafy
Ya, Abu Salafy sebutannya, tetapi jangan Anda mengira dia salafi. Mungkin anaknya yang salafi, semoga saja….
Dia katakan, “Syeikh Albani menukil pendapat sebagin kaum Musyabbihah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya) seraya membenarkan bahwa:
1. “Barang siapa berkata tentang Allah, ‘Dia dilihat tidak di sebuah jihah/sudut/sisi tertentu,’ hendaknya ia mengoreksi akalnya. Albani berkata, “Jika yang dimaksud dengan jihah adalah perkara ketiadaan dan dia adalah di atas alam semesta ini, di sana tidak ada selain Allah sendirian.”
Abu Salafy berkata, “Demikianlah akidah Salafi yang dibanggakan kaum Salafiyyun Wahhabiyyun yang diyakini Syeikh agung mereka yang sering linglung dalam mentashih atau mentadh’if hadis!
Coba bandingkan dengan akidah ulama Islam seperti yang dirangkum oleh al-Imam ath-Thahawi dalam Aqidah-nya, “Allah tidak dimuat oleh enam sisi seperti halnya makhluk.”
Maksudnya, Mahasuci Allah dari berada di sisi tertentu, sebab yang demikian itu meniscayakan bertempat dan dibatasi oleh batas dan segala konsekuensinya, seperti gerak, diam dll dari sifat makhluk.
Dengan omongannya itu, Syeikh Albani telah menuduh para ulama Islam tidak berakal. Dan pada waktu yang sama ia telah membuktikan bahwa ia telah menyimpang dari akidah Islam yang diyakini para imam Ahlusunnah.

Bantahan
Saya merujuk pada tiga halaman yang dia tunjuk sebagai sumber tuduhannya (Mukhtashar al-‘Uluw, hlm. 7, 156, 285) dalam kitab Mukhtashar al-‘Uluw yang saya miliki. Kitab yang saya miliki adalah cetakan kedua, terbitan al-Maktabul Islami. Akan tetapi, di semua halaman yang disebutkan di atas, tidak ada kata-kata tersebut.
Anehnya, dalam blog JT pada bahasan yang berbeda, yaitu asy-Syaikh al-Albani menyerupakan Allah l dengan makhluk, juga persis menunjuk buku dan halaman itu. Ada kesepakatan apa antara Abu Salafy dengan penulis di blog JT tersebut? Siapa mereka?
Juga pada referensi kedua, kitab (al-Aqidah ath-Thahawiyah Syarah wa Ta’liq al-Albani, hlm. 25) juga tidak saya dapati pada buku saya, cetakan kedua terbitan al-Maktabul Islami. Entah dia merujuk ke cetakan mana? Atau ini kritik ‘ilmiah’ yang bagaimana?
Yang jelas—tanpa saya tunjukkan, biar mereka cari sendiri dan itu mudah—, nukilan itu memang ada dalam buku asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani—semoga Allah l senantiasa membelanya dari rongrongan para musuh sunnah. Yang pertama adalah ucapan Ibnu Abil Izzi al-Hanafi yang dianggap musyabbih oleh Abu Salafy, bukan ucapan al-Albani.
Menjawab kritikan Abu Salafy, saya katakan, maksud dari perkataan yang pertama adalah membantah mazhab Asy’ariyah. Menurut Asy’ariyah, Allah nanti dilihat, tetapi tidak pada arah tertentu. Memang membingungkan, dilihat tapi tidak pada arah tertentu.
Maka dari itu, beliau katakan, “Coba koreksi akalnya.”
Mengapa mereka mengatakan demikian? Mereka mengatakan ‘dapat dilihat’ karena haditsnya banyak, tidak dapat dimungkiri. Di sisi lain, mereka mengatakan ‘tidak dari arah tertentu’ karena mereka tidak meyakini ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Padahal, dalil bahwa Allah l di atas makhluk-Nya jauh lebih banyak daripada dalil bahwa Allah l dilihat dalam surga, tetapi mengapa yang ini justru diingkari? Alhasil, paduan dari dua keyakinan tadi, “Allah nanti dilihat, tetapi tidak pada arah tertentu.”
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah (aswaja) meyakini bahwa Allah l di atas makhluk-Nya sehingga Allah l akan dilihat oleh hamba-Nya di atas mereka seperti hamba melihat bulan, sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits yang mutawatir.
Adapun ucapan kedua, tampaknya sengaja dia potong untuk membuat bingung pembacanya. Padahal ucapan selengkapnya tidak demikian. Sebelum saya nukil, sedikit akan saya terangkan duduk masalahnya.
Tentang masalah “jihah” yang artinya arah atau sisi, apakah boleh dikatakan Allah pada jihah tertentu? Sebagian kelompok menolak untuk mengatakan bahwa Allah l berada pada jihah tertentu. Tetapi, di balik penolakan itu mereka ingin mengingkari ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Sebagian lagi mengatakan bahwa Allah pada jihah, apabila yang mengatakan demikian adalah ulama salaf, yang mereka maksud adalah jihah fauqiyah, yakni Allah l di atas makhluk-Nya.
Yang paling tepat adalah mazhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengatakan, “Allah di atas makhluk-Nya sebagaimana tersebut dalam ayat dan hadits.” Adapun kata jihah, karena lafadz ini tidak terdapat dalam al-Qur’an dan hadits terkait dengan sifat Allah l, kita menjauhinya.
Karena semua ini, asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ringkas kata dalam hal jihah, apabila yang dimaksud adalah sesuatu yang ada selain Allah l maka itu makhluk, padahal Allah l adalah di atas makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun dari makhluk yang meliputi-Nya dan membatasi-Nya, karena Dia terpisah dari makhluk sebagaimana akan disebutkan keterangannya dari sejumlah imam. Akan tetapi, apabila yang dimaksud dengan jihah itu adalah sesuatu yang tidak ada dan itu di atas alam ini, maka tidak ada di atas alam ini selain Allah l.”
Dari kutipan di atas, jelas bahwa beliau sedang mendudukkan sikap yang benar terhadap jihah.
Kembali menanggapi Abu Salafy, dari keterangan di atas, rasanya tidak tepat apabila penjelasan al-Albani diadu dengan ucapan ath-Thahawi karena beliau tidak sedang menetapkan jihah secara mutlak. Bagaimana bisa kemudian diadukan dengan pernyataan ath-Thahawi yang tidak menetapkan jihah? Paham, Abu Salafy?
Asy-Syaikh al-Albani meyakini ketinggian Allah l, Allah l di atas hamba-Nya. Ini pun diyakini oleh ath-Thahawi, seperti dalam ucapannya, “Muhiithun bi kulli syai’in wa fauqahu (Mencakup segala sesuatu dan berada di atasnya).”
Adapun ucapan beliau “tidak diliputi oleh enam arah,” maksud beliau adalah Allah l tidak diliputi oleh makhluk-makhluk-Nya. Beliau tidak meniadakan ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Dengan demikian, tidak ada kontradiksi antara ucapan al-Albani dengan ath-Thahawi. Hanya saja penggunaan ath-Thahawi terhadap kata-kata tersebut yang tidak ada dalam ayat dan hadits lebih baik dihindari.
Hal ini karena bisa saja orang lain akan mengklaim beliau sebagai orang yang kontradiktif: di satu sisi mengatakan Allah l di atas segala sesuatu, di sisi lain mengatakan tidak diliputi oleh enam arah. Padahal maksud beliau dari kata yang terakhir seperti yang telah dijelaskan, bukan menafikan ketinggian Allah l di atas makhluk-Nya. Maka dari itu, semestinya ath-Thahawi mencukupkan dengan lafadz-lafadz yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
Abu Salafy berkata, “Dengan omongannya itu Syeikh Albani telah menuduh para ulama Islam tidak berakal. Dan pada waktu yang sama ia telah membuktikan bahwa ia telah menyimpang dari akidah Islam yang diyakini para imam Ahlusunnah.
Alhamdulillah, al-Albani tidak menuduh para ulama tidak berakal. Beliau hanya meminta mereka yang mengingkari ketinggian Allah l—bukan para ulama sunnah—untuk mengecek akal mereka. Beliau tidak menyimpang dari akidah para imam Ahlus Sunnah, bahkan sejalan dengan mereka. Justru Anda, wahai Abu Salafy, yang menyimpang dari para imam Ahlus Sunnah.
Nah, sebagai bukti saya akan bertanya. Apakah Abu Salafy mengimani akan ketinggian Allah l atau tidak?
Abu Salafy mengatakan, “Maksudnya Mahasuci Allah dari berada di sisi tertentu.”
Menurut Anda, apakah Allah l tidak di atas makhluk-Nya?
Saya tunggu jawabannya.
(disusun dari berbagai sumber, di antaranya Muhadditsul ‘Ashr al-Albani, kaset-kaset rekaman ceramah beliau, Majalah al-Ashalah, dan buku-buku beliau yang lain)

Pujian “ulama Terhadap Beliau

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz ditanya tentang hadits Nabi n,
إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada pengujung tiap seratus tahun seseorang yang memperbarui untuk umat ini agamanya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Beliau ditanya, “Siapakah pembaru pada abad ini?”
Beliau menjawab, “Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani. Beliaulah pembaru abad ini menurut keyakinanku. Wallahu a’lam.”
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin t mengatakan, “Yang saya ketahui tentang syaikh (al-Albani), dari sela-sela pertemuanku dengannya yang sedikit, beliau sangat bersemangat dalam mengamalkan sunnah dan memerangi bid’ah, baik dalam hal akidah maupun amal. Adapun dari sela-sela bacaanku pada karya-karyanya, aku telah mengetahui hal itu dari beliau. Beliau memiliki ilmu yang luas dalam bidang ilmu hadits, baik secara riwayat maupun dirayat (fikihnya). Selain itu, Allah l telah memberikan manfaat kepada banyak manusia dengan tulisan beliau, dari sisi ilmu, manhaj, dan kecondongan kepada ilmu hadits. Hal ini tentu merupakan buah yang besar bagi kaum muslimin. Milik Allah l lah segala pujian. Adapun dari sisi penelitian dan ketelitian ilmiah dalam bidang hadits, cukuplah engkau dengannya.
Asy-Syaikh Muhammad Amin asy-Syinqithi t, penulis kitab tafsir Adhwa’ul Bayan, juga sangat menghargainya.
Abdul Aziz al-Haddah mengatakan, “Sesungguhnya al-‘Allamah (yang sangat berilmu) asy-Syinqithi menghormati asy-Syaikh al-Albani dengan penghormatan yang luar biasa. Sampai-sampai apabila beliau melihat asy-Syaikh al-Albani lewat ketika beliau sedang mengajar di Masjid Nabawi, beliau memutus pelajarannya, lalu berdiri dan memberinya salam dalam rangka menghargainya.”
Asy-Syaikh Muqbil t mengatakan, “Yang saya yakini bahwa asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, semoga Allah l menjaganya, tergolong pembaru, yang tepat baginya sabda Rasul n,
إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا
“Sesungguhnya Allah akan membangkitkan pada pengujung tiap seratus tahun seseorang yang memperbarui untuk umat ini agamanya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

 

Wafat Beliau (AsySyaik Al-Bani)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Di akhir-akhir masa usianya, beliau mengalami sakit keras dan sempat beberapa kali keluar masuk rumah sakit. Sesekali beliau keluar dari rumah sakit dalam kondisi tampak sehat. Namun, apabila Allah l menetapkan sesuatu maka Dia tentu akan menyiapkan sebab-sebabnya. Pada sakit akhirnya, beliau pun dimasukkan ke rumah sakit di negeri ketiganya, Yordania, untuk menjalani perawatan. Namun, semua itu hanya sebuah upaya, yang tidak mungkin mengubah takdir, apabila Allah l telah menetapkan.
Pada hari Sabtu 22 Jumadil Akhir 1420 H yang bertepatan dengan 2 Oktober 1999 M beberapa saat sebelum maghrib, Allah l mengambil titipan-Nya. Matahari itu kini tenggelam. Jangan engkau kira hanya jasad yang engkau kubur, bahkan ilmu yang luas engkau kuburkan.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia, tetapi dengan wafatnya para ulama.” (Muttafaqun alaih)
Al-Albani, semoga Allah l merahmatimu dan membalasimu dengan sebaik-baik balasan atas jasamu, serta menempatkanmu di rumah kemuliaan-Nya yang luas.
Ya Allah, berikan kami pahala atas musibah yang menimpa kami dan berikan kepada kami yang lebih baik darinya.
Sungguh, air mata berlinang dan sungguh kalbu benar-benar sedih, namun kami tidak mengatakan melainkan apa yang membuat ridha Rabb kami. Kami benar-benar sedih dengan perpisahan denganmu, wahai al-Albani….
Sesegera mungkin jenazahnya dipersiapkan sesuai wasiatnya, tanpa memberikan pemberitahuan selain hanya kepada orang-orang tertentu yang menyiapkan jenazahnya. Namun, telah sekitar lima ribu orang telah menyalati beliau dan mengiringi jenazahnya karena begitu cepatnya berita menyebar. Hal ini mengingatkan kita kepada ucapan al-Imam Ahmad bin Hanbal t,
قُوْلُوا لِأَهْلِ اْلبِدَعِ: بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ يَوْمَ اْلجَنَازَةِ
“Katakan kepada ahli bid’ah, ‘(Bukti) antara kami dan kalian adalah saat hari jenazah’.”
Beliau pun dishalati dengan sembilan takbir, sebagaimana salah satu tuntunan Nabi n dalam shalat jenazah.
Di atas pundak-pundak kemudian jenazahnya dipikul menuju makam.
Sebelum meninggal, beliau telah menuliskan wasiat. Berikut ini isi wasiat tersebut.

Bismillahirrahmanirrahim.
Aku wasiatkan kepada istriku, anak-anakku, sahabat-sahabatku dan semua yang mencintaiku, apabila sampai kepadanya berita kematianku, hendaknya mendoakan agar aku diampuni dan diberi rahmat-Nya. Ini yang pertama. Di samping itu, hendaknya mereka tidak menangisi aku dengan tangisan ratapan dan suara yang keras.
Kedua, hendaknya mereka menyegerakan pemakamanku dan tidak memberitakan kematianku kepada kerabat-kerabat dan saudara-saudaraku selain sebatas untuk melaksanakan kewajiban menyiapkan jenazahku. Selain itu, hendaknya yang memandikan aku adalah Izzat Khidir Abu Abdillah, tetanggaku dan temanku yang tulus, serta yang dia pilih untuk membantu pelaksanaannya.
Ketiga, aku memilih untuk dimakamkan di tempat terdekat agar tidak perlu bagi yang membawa jenazahku untuk meletakkannya di mobil, lalu yang mengiringinya pun menaiki mobil. Hendaknya pula pekuburan itu adalah pekuburan lama yang besar kemungkinan tidak akan dipugar.
Bagi orang-orang yang berada di daerah tempat aku wafat, hendaknya mereka tidak mengabarkan kepada anak-anakku yang di luar daerah, apalagi kepada yang lain, selain setelah jenazahku dipikul, agar perasaan tidak menguasai dan berbuat terhadap mereka sehingga menjadi sebab ditundanya jenazahku.
(Aku tulis wasiat ini) dengan memohon kepada Allah l untuk berjumpa dengannya dalam keadaan Dia telah mengampuni dosaku, apa yang telah lalu dan yang terjadi belakangan.
Kemudian aku wasiatkan agar perpustakaanku semuanya, baik buku yang tercetak maupun fotokopian, atau manuskrip tulisanku atau tulisan orang lain, untuk disumbangkan kepada perpustakaan Universitas Islam di al-Madinah al-Munawwarah.
Hal ini karena aku memiliki kenangan-kenangan indah di sana dalam berdakwah kepada al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan pemahaman manhaj as-salafush shalih saat aku menjadi dosen di sana.
(Hal ini) diiringi harapan agar Allah l memberi manfaat dengannya kepada para pengunjungnya, sebagaimana memberikan manfaat dengan pemilik kitab-kitab tersebut kepada mahasiswa-mahasiswanya ketika itu.
Di samping itu agar Allah l memberikan manfaat kepadaku karena keikhlasan mereka dalam mendoakan aku.
27 Jumadil Ula 1410 H
Ditulis oleh yang sangat membutuhkan rahmat Rabbnya:
Muhammad Nashiruddin al-Albani
“Wahai Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada-Mu dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (al-Ahqaf: 15)

 

Dakwah Kepada Sunnah dan Memerangi Taklid

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Orang seperti beliau tentu aktif di medan dakwah, kendati ayahnya cenderung mengarahkannya kepada mazhab Hanafi untuk menjadi ulamanya. Namun, Allah l mengehendaki lain. Ketekunan terhadap ilmu hadits menyebabkan beliau tidak mau terikat dengan mazhab tertentu. Bahkan, beliau terikat dengan empat mazhab sekaligus dalam hal prinsip mereka, yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih dengan pemahaman as-salafush shalih, para pendahulu yang saleh. Karena itu, jangan heran apabila beliau termasuk ulama yang sangat getol menyerukan paham salaf. Ini bukan hal baru dari beliau. Tidak lain beliau hanya mengikuti pendahulunya dan imam pertamanya, yaitu Rasulullah n.
Simaklah tutur katanya, “Sesungguhnya kata salaf sangat dikenal dalam bahasa Arab dan syariat. Yang kami anggap penting di sini adalah pembahasannya dari sisi syariat. Sungguh, telah sahih dari Nabi n bahwa beliau berpesan kepada putrinya, Sayyidah Fathimah x, di saat sakitnya yang berakhir dengan kematiannya, ‘Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah, sebaik-baik salaf untukmu adalah aku’.
Ulama pun sangat sering menggunakan kata ini. Terlalu banyak untuk dihitung. Cukup bagi kita satu contoh, yaitu apa yang mereka pakai sebagai hujah dalam memerangi bid’ah,
Segala kebaikan adalah dengan mengikuti orang salaf (yang terdahulu)
Dan segala kejelekan adalah dalam hal perbuatan bid’ah orang-orang belakangan
Akan tetapi, ada sebagian orang yang menganggap dirinya sebagai ulama mengingkari penyebutan ini (salafi) dengan dalih bahwa itu tidak ada dasarnya. Katanya, ‘Tidak boleh seorang muslim mengatakan, ‘Saya salafi’.’ Seolah-olah dia mengatakan, ‘Tidak boleh seorang muslim mengatakan, ‘Saya mengikuti as-salafush shalih dalam hal akidah, ibadah, atau suluk mereka.’
Tidak diragukan bahwa pengingkaran semacam ini—kalau dia benar-benar sengaja—maka konsekuensinya adalah berlepas diri dari Islam yang benar, yang para pendahulu kita yang saleh berada padanya, yang pada ujungnya adalah Rasulullah n seperti diisyaratkan oleh hadits Nabi n yang mutawatir yang terdapat dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, serta selain keduanya,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
‘Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian orang-orang yang setelah mereka kemudian orang-orang yang setelah mereka.’
Maka dari itu, seseorang justru tidak boleh berlepas diri dari penisbatan kepada as-salafush shalih.”
Beliau sadar bahwa siapa pun yang menelusuri jalan ini, pastilah menghadapi berbagai penentangan, bahkan celaan, cercaan, dan tuduhan yang tidak sepantasnya. Namun, itu semua tidak membuat beliau gentar.
Dengan penuh kesadaran sekaligus kesiapan, beliau ungkapkan, “Sungguh, ketika aku canangkan manhaj ini pada diriku, yaitu berpegang teguh dengan sunnah yang sahih, dan kupraktikkan dalam buku-buku karyaku, aku sadar bahwa kelak semua kelompok dan mazhab tidak akan ridha terhadapnya. Bahkan, sebagian atau mayoritas kelak akan mengarahkan celaan dan tulisan yang mencacatku. Akan tetapi, itu tidak masalah bagiku, karena aku juga tahu bahwa mencari ridha manusia adalah sebuah tujuan yang tidak mungkin dicapai dan bahwa, “Barang siapa yang mencari ridha manusia dengan melakukan hal yang dimurkai oleh Allah maka Allah akan menyerahkannya kepada manusia,”1sebagaimana disabdakan Rasulullah n.
Sungguh indah ucapan seseorang yang mengatakan,
Dan aku tidak akan selamat dari ucapan orang yang mencela
Walaupun aku berada di dalam gua, di atas gunung yang berlumpur
Siapakah yang selamat dari ucapan manusia
Walaupun bersembunyi dari mereka di antara dua sayap burung elang.
Namun, yang sangat menyakitkan beliau adalah bilamana permusuhan itu muncul dari seorang yang mengaku bermanhaj salaf juga. “Sungguh aku terzalimi oleh banyak orang yang mengaku berilmu, bahkan bisa jadi sebagiannya adalah dari orang yang disangka bahwa dia bersama kita di atas manhaj salaf. Tapi bila memang benar dia di atas manhaj salaf, bararti dia adalah orang yang hatinya telah dimakan oleh kebencian dan iri.”

Hasil Karyanya
“Apabila jiwa-jiwa itu besar, niscaya jasmani-jasmani pun letih saat mengikuti kemauannya.”
Itulah yang terjadi pada beliau, beliau telah letihkan tubuhnya demi mengikuti kemauan jiwanya. Namun itu semua bukan dalam hal yang hampa atau sia-sia. Buktinya, lihatlah hasil kerja kerasnya. Tercatat kurang lebih dua ratus karya mulai ukuran satu jilid kecil, besar, hingga yang berjilid-jilid, baik dalam bentuk karya tulis pena beliau, takhrij (koreksi hadits) pada karya orang lain, buku khusus takhrij hadits, maupun tahqiq, yaitu penelitian atas kitab tertentu dari segala sisinya, lalu dituangkan dalam catatan kaki pada kitab tersebut. Sebagiannya telah lengkap, namun sebagian yang lain belum sempurna.
Di antara yang paling populer adalah:
1. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah wa Syai’un min Fiqhiha wa Fawaidiha, sampai jilid 9
Karya ini berisikan studi ilmiah terhadap hadits-hadits Nabi n untuk dinyatakan sahih, melalui ilmu musthalah hadits. Berdasarkan penomeran terakhir dari kitab itu, jumlah hadis yang tertera adalah 4.035 buah.

2. Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah wa Atsaruha as-Sayyi’ alal Ummah, sampai jilid 14
Karya ini berisikan studi ilmiah atas hadits-hadits untuk dinyatakan lemah atau palsu (maudhu’). Rata-rata setiap jilid berisi lima ratus hadits.

3. Irwa’ul Ghalil, 8 jilid
Kitab ini berisikan takhrij (studi ilmiah) atas hadits-hadits dalam kitab Manarus Sabil. Berdasarkan penomeran terakhir di jilid terakhir, jumlah haditsnya sebanyak 2.707 buah.

4. Shahih & Dha’if Jami’ ash-Shaghir wa Ziyadatihi
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh as-Suyuthi lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah sahih atau dhaif. Yang sahih berjumlah 8.202 hadits dan yang tidak sahih berjumlah 6.452 hadits.

5. Shahih Sunan Abi Dawud dan Dhaif Sunan Abi Dawud
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Abu Dawud lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah sahih, dhaif, atau yang lain, dengan jumlah hadits sebanyak 5.274 buah.

6. Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Dhaif Sunan at-Tirmidzi
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh at-Tirmidzi lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai apakah sahih, dhaif, atau yang lain, dengan jumlah hadits mencapai 3.956 buah.

7. Shahih Sunan an-Nasa’i dan Dhaif Sunan an-Nasa’i
Keduanya berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh an-Nasa’i, lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai, apakah sahih, dhaif, atau yang lain, sebanyak 5.774 hadits.

8. Shahih Sunan Ibnu Majah dan Dhaif Sunan Ibnu Majah
Kedua kitab ini berisikan hadits-hadits yang dikumpulkan oleh Ibnu Majah lalu beliau berikan hukum pada setiap hadits dengan hukum yang sesuai apakah sahih atau dhaif, jumlah haditsnya sebanyak 4.341 buah.
Bayangkan, dari kitab ini saja, sudah berapa ribu hadits yang beliau kaji secara ilmiah. Belum lagi buku-buku yang lain. Semuanya itu beliau lakukan dalam kurun waktu sekitar 65 tahun sejak usia 20-an tahun hingga akhir hayatnya. Sungguh umur yang berkah.
Semua ini sebagai realisasi proyek beliau yang besar, yang beliau sebut Taqribus Sunnah Baina Yadayil Ummah, “Mendekatkan sunnah ke hadapan umat.” Tujuannya adalah memudahkan umat secara umum untuk mengambil hadits Nabi n yang sahih secara instan, tanpa kepayahan untuk mempelajarinya dahulu.
Semoga Allah l membalasi jerih payahnya, niatan yang tulus, dari seorang yang mencintai sunnah. Sungguh, kemudahan itu betul-betul dirasakan oleh para penuntut ilmu, bahkan ulama dan bahkan musuh dakwahnya sekalipun yang mengambil faedah dari takhrij (studi hadits) beliau.
Prestasi yang Dicapai
Tentu bukan prestasi duniawi yang beliau cari, dan Allah l tentu lebih tahu. Namun, bagaimana pun dan siapa pun yang memuliakan sunnah Nabi n, Allah l akan memuliakannya di dunia dan di akhirat. Allah l akan memberikan kepadanya bagian dari ayat-Nya.
“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.” (Alam Nasyrah: 4)
Hal ini sebagai balasan yang segera di dunia.
Berikut ini beberapa prestasi yang beliau capai.
1. Dipilih oleh Fakultas Syari’ah Universitas Damaskus untuk melakukan studi hadits dalam fikih jual beli dalam Mausu’ah (ensiklopedi) Fiqh Islami.
2. Terpilih sebagai anggota Dewan Hadits yang dibentuk di masa persatuan antara Mesir dan Syria untuk mengawasi penyebaran buku-buku hadits dan tahqiqnya.
3. Diminta menjadi dosen di Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia, 1381—1383 H.
4. Terpilih sebagai anggota al-Majlis al-A’la, majelis tertinggi di Univesitas Islam Madinah, 1395—1398 H.
5. Ditawari untuk menjadi pengawas pada bagian pascasarjana di Universitas Ummul Qura Makkah, namun beliau menolaknya.
6. Perguruan Tinggi Jami’ah Salafiyyah Binaris (Varanasi) di India menawari beliau untuk menjadi guru besar hadits, namun beliau menolaknya.
7. Mendapat kehormatan untuk memperoleh piagam penghargaan (international award) Raja Faishal pada 1419 H karena karya-karya beliau dalam ilmu hadits.