Menuju Ilmu Hadits

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Pada umur sekitar dua puluh tahun, suatu hari pandangan beliau tertuju kepada majalah al-Manar terbitan Muhammad Rasyid Ridha1 di salah satu toko. Dibukanya lembaran-lembaran majalah tersebut. Terhentilah beliau pada makalah Muhammad Rasyid Ridha yang melakukan studi kritik terhadap kitab Ihya’ Ulumuddin dan hadits-haditsnya. “Pertama kali aku dapati kritik ilmiah semacam ini,” kata beliau.
Hal yang membuatnya penasaran untuk merujuk langsung ke kitab yang khusus membahas hadits-hadits dalam kitab Ihya’, yaitu kitab al-Mughni ‘an Hamlil Asfar, karya al-Iraqi. Namun, kondisi ekonomi tak mendukung beliau membeli kitab tersebut. Menyewa kitab, itulah alternatifnya. Kitab yang sekarang tercetak dalam tiga jilid itu pun beliau salin dengan goresan penanya yang indah dan rapi, dari awal hingga akhir. Itulah karya hadits pertama beliau, sebuah salinan kitab. Tentu, proses pembacaan dan penyalinan membekas dalam dada beliau, yang artinya pengetahuan tentang hukum semakin memperlebar wawasan agamanya, sekaligus ilmu hadits menjadi daya tarik baru baginya.
Ilmu hadits begitu luar biasa memikatnya. Akhirnya, wawasan hukum ala mazhab Hanafi pun semakin memudar saat ia dapati sebagiannya tidak sesuai dengan sunnah Nabi n. Bermodal hadits-hadits Nabi n—dan itu adalah modal terbaik—, beliau membuka dialog dengan sang ayah—tentu tanpa mengurangi rasa hormatnya—pada masalah-masalah yang mazhab Hanafi menyalahinya. Penampilan ittiba’ (selalu mengikuti) hadits Nabi n dan tidak fanatik terhadap golongan tertentu semakin tampak menjadi ciri khas beliau, sejalan dengan semakin dalamnya menyelami lautan hadits Nabi n.
Semakin gandrung dan terpikat dengan hadits Nabi n, tampaknya itulah kata yang tepat untuk beliau. Bagaimana tidak, tempat reparasi jamnya telah berubah menjadi tempat berkumpulnya para penuntut ilmu, saat beliau mulai dikenal umat. Bagian belakang toko itu pun ikut berubah menjadi perpustakaan pribadinya. Bahkan, beliau merelakan mengorbankan waktu kerjanya demi ilmu.
Beliau bercerita, “Di antara taufik Allah l dan karunia-Nya kepadaku adalah ketika Allah l mengarahkan aku sejak awal masa mudaku pada keahlian reparasi jam. Itu adalah profesi lepas, tidak berbenturan dengan upayaku mempelajari hadits-hadits Nabi n. Kuberikan waktu untuk pekerjaan tersebut tiga jam setiap hari selain hari Rabu dan Jumat. Dengan waktu tersebut, cukup bagiku untuk mendapatkan maisyah pokok untukku dan keluargaku pada kadar sekadar cukup.”
Waktu selebihnya beliau gunakan untuk hidup di antara buku-buku dalam perpustakaannya, membaca dan mempelajarinya. Umumnya, delapan belas jam per hari beliau gunakan untuk membaca dan menelaah. Untuk di perpustakaan besar azh-Zhahiriyah Damaskus saja, beliau alokasikan waktu 6—8 jam per harinya. Subhanallah, keuletan yang sangat langka. Semoga Allah l merahmatinya.
Melihat kesungguhan beliau yang luar biasa, seorang sejarawan sekaligus pakar hadits di kota Halab, Syria, yaitu asy-Syaikh Muhammad ath-Thabbakh, memberinya ijazah hadits dengan sanad-sanad yang melalui beliau.
Semakin mendalam, semakin ahli dalam bidang hadits, hingga ribuan hadits beliau pelajari dengan studi ilmiah yang penuh kejelian dan ketelitian. Karya-karya beliau—yang lebih dari dua ratus karya, baik yang kecil maupun besar, dan berjilid-jilid, baik yang sudah lengkap maupun yang belum—menjadi bukti. Pantaslah apabila kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz dengan benar mengatakan, “Tak pernah kuketahui di bawah kolong langit ini seorang yang berilmu di masa ini dalam bidang hadits seperti asy-Syaikh al-Albani.”

Ibadah dan Tawadhu Beliau
“Ilmu berkonsekuensi amal. Apabila tidak, ilmu akan menjadi bencana bagi pemiliknya,” demikian ungkap beliau.
Sebuah ungkapan yang menjadi pedomannya dalam mengarungi kehidupan ilmiah ini. Karena itu, beliau bukan sosok alim yang hanya bisa bicara dan menulis tanpa terlihat bekas ucapan dan tulisannya dalam kepribadiannya. Bahkan, beramal dan beribadah senantiasa menghiasinya dalam aktivitas kesehariannya, sikap tawadhu pun menambahnya semakin indah dipandang mata.
Puasa Senin dan Kamis, hampir-hampir tak pernah terlewatkan baik di musim panas maupun dingin, kecuali saat beliau safar atau sakit. Di hari Jumat, sambil menunggu khatib datang, shalat sunnah mutlak, dua rakaat dua rakaat, senantiasa beliau lakukan. Tiap tahun beliau tak pernah ketinggalan berhaji. Beliau berhaji hingga tiga puluh kali, yang terakhir pada tahun 1410 H. Umrahnya juga demikian, bahkan terkadang dua kali dalam setahun.
Tak jarang beliau menangis, lebih-lebih dalam kondisi-kondisi yang menyentuh kalbunya. Sekian kali beliau menangis saat menyampaikan hadits Nabi n, “Orang yang pertama kali dibakar dalam api neraka adalah seorang yang berilmu, tetapi tidak ikhlas,” sebagaimana dalam riwayat at-Tirmidzi dan yang lain.
Suatu saat beliau duduk dalam mobilnya. Tiba-tiba seseorang datang menghampirinya sambil mengatakan, “Anda asy-Syaikh al-Albani?”
Beliau justru menangis. Saat ditanya sebab tangisannya, beliau menjawab, “Semestinya setiap orang melawan dirinya dan tidak terlena (berbangga diri) dengan isyarat tangan manusia kepadanya.”
Saat beliau sakit, salah seorang muridnya—dahulu—menjenguknya dan mengucapkan kalimat penghibur, “Orang yang besar ujiannya tidak akan ringan. Orang besar ujiannya seukuran dengan kebesarannya. Engkau, wahai guru kami, adalah orang yang besar. Allah l telah membesarkanmu dengan ilmu dan fikih yang Dia berikan kepadamu. Oleh karena itu, ujianmu seukuran dengan kebesaran yang disandangkan oleh Allah l kepadamu dan seukuran dengan ilmu yang Dia berikan kepadamu.”
Mendengar kata itu, beliau tersenyum, namun diiringi aliran butiran-butiran air mata di pipinya. Beliau lalu mengatakan, “Ya Allah, ampunilah aku dalam hal-hal yang tidak mereka ketahui. Jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangka. Janganlah Engkau menghukumku dengan sebab apa yang mereka ucapkan.”
Kata yang senantiasa beliau ucapkan saat mendengar pujian untuknya, mengikuti pendahulunya, Abu Bakr ash-Shiddiq. Betapa tawadhu beliau.Tak jarang beliau menyifati dirinya, “Saya hanya seorang penuntut ilmu yang masih kecil.” Semoga Allah l merahmatinya.

Gemar Beramar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
“Berulang-ulang ayat yang mulia dalam kalamullah memerintahkan agar ada sebuah umat dan sekelompok manusia yang melakukan kewajiban amar ma’ruf dan nahi mungkar. Ini adalah masalah yang tidak ada perbedaan pendapat tentangnya di antara kaum muslimin,” demikian beliau mengungkapkan keyakinannya.
Menjadi ciri khas beliau, suka mengajak kepada yang baik dan mencegah perbuatan yang jelek. Siapa pun yang mendengar kaset-kaset beliau, membaca bukunya, apalagi yang diberi keutamaan bisa berkumpul bersama beliau, akan melihat secara nyata ciri khas ini.
Terdengar dari kaset rekaman beliau, saat beliau hendak berceramah, terlihat para hadirin tidak duduk merapat, namun berpencar-pencar. Beliau pun mengingatkan mereka dengan sabda Nabi n,
مَا لِي أَرَاكُمْ عِزِينَ
“Mengapa kulihat kalian berpencar-pencar?” (Sahih, HR. Muslim)
Beberapa menit beliau menerangkan sunnah merapatkan tempat duduk dalam majelis. Setelahnya, barulah beliau memulai apa yang hendak beliau sampaikan.
Tak heran apabila ini menjadi ciri khasnya. Saat sakit pun beliau masih sempat melakukannya. Waktu itu, seorang dokter atau perawat masuk untuk mengobatinya. Tampaknya dokter tersebut dengan keawamannya tidak memelihara jenggotnya. Namun, tabiat baik dirinya tampak pada penghormatannya terhadap asy-Syaikh. Selepas mengobati, dia berkata, “Wahai Syaikh, tolong doakan saya.”
Beliau mendoakannya, “Semoga Allah memperindah dirimu dengan apa yang Allah memperindah kaum lelaki dengannya (yakni jenggot, -red.).”
Sebuah catatan dari beliau dalam medan amar ma’ruf dan nahi mungkar, “Tidaklah perintah kepada kebaikan menjadi baik kecuali jika kemaslahatan yang timbul darinya lebih dominan dari mafsadah yang ditimbulkannya.”
Oleh karena itu, kami katakan, tidak sepantasnya bagi individu atau kelompok melakukan perbuatan/gerakan yang termasuk dalam kategori amar ma’ruf nahi mungkar tanpa memerhatikan kaidah tersebut. Tidak sepantasnya pula bagi individu atau kelompok untuk melakukan perubahan apabila hal itu mengakibatkan kerusakan yang lebih dominan dari maslahat yang diharapkan…. Oleh karena itu, kami senantiasa mengulang-ulang dan menasihati mereka di setiap negeri agar menelusuri sunnah Nabi n dalam hal perbaikan, yang beliau tidak memulai dakwah kepada Islam, iman, dan tauhid dengan kekerasan, tetapi dengan ucapan, hujah, dan keterangan.”

Kedermawanan
Tak sedikit kisah kedermawanannya. Sampai-sampai salah seorang dekat beliau, Muhammad al-Khathib, mengatakan, “Betapa banyak saya menganjurkan syaikh untuk membangun masjid, memberi orang fakir, janda, atau pengemis, dan beliau tidak pernah menolaknya.”
Muhammad al-Khathib menceritakan beberapa kisah. Salah satunya, ada seseorang yang sakit datang kepada beliau dan membutuhkan pengobatan dengan suntik. Satu kali suntikan biayanya dua puluh dinar, sementara itu dia membutuhkan lima belas suntikan. Syaikh lalu meminta aku pergi ke rumahnya untuk mengecek kebenaran kondisinya. Ketika kami tahu kebenaran ucapannya, beliau memberikan biayanya. Kami pun membelikan suntikan untuknya.

Catatan Kaki:

1 Ini tidak berarti bahwa manhaj Muhammad Rasyid Ridha seperti asy-Syaikh al-Albani atau sebaliknya, karena M. Rasyid Ridha ternyata memegangi hal-hal yang tidak sesuai dengan sunnah.

Asy Syaikh al-Bani Pakar Ilmu Hadits Abad Ini

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Dari Asma’ bintu Yazid, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
مَنْ ذْبَّ عَنْ عِرْضِ أَخِيْهِ بِالْغَيْبَةِ كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُعْتِقَهُ مِنَ النَّارِ
“Barang siapa membela kehormatan saudaranya bukan di hadapannya, maka pasti Allah l akan membebaskannya dari neraka.” (Sahih, HR. Ahmad, Ibnu Abid Dunya, ath-Thabarani, dan yang lain. Lihat Shahih at-Targhib no. 2847)

Orangnya sangat berwibawa, namun begitu dekat dengan orang lain. Kecakapannya dalam berbicara membuat orang tak bosan bermajelis dengannya. Posturnya tinggi, gagah, bertopikan kopiah, dadanya bidang. Warna kulitnya putih kemerahan, layaknya orang-orang Eropa. Jenggot putih menghiasi penampilannya, apalagi saat dipoles dengan semir merah kecokelatan, semakin menambah ketampanannya. Langkah kakinya lebar, selaras dengan tubuhnya yang besar. Tak mudah seseorang mengimbanginya, walau ia telah berusia senja.
Dialah asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani bin Nuh Najati, berkuniah dengan Abu Abdurrahman. Al-Albani adalah nisbat kepada negeri asalnya, Albania.
Beliau dilahirkan di kota Ashqadar, ibu kota Albania pada waktu itu, pada tahun 1333 H atau 1914 M. Beliau tinggal di kota tersebut selama kurang lebih sembilan tahun. Ayah beliau adalah seorang ulama di negeri tersebut, ahli fikih Hanafi, yang dahulunya belajar ilmu syar’i di Istanbul.
Saat komunis menguasai daerah tersebut di bawah kepemimpinan Ahmet Zogu, sang ayah mengajak keluarganya untuk berhijrah, demi keselamatan agama mereka, yaitu saat sang pemimipin mulai menerapkan pola hidup ala Barat, serta menebarkan kerusakan moral dan pemahaman yang sesat. Bahkan, dia berangsur-angsur mengebiri syariat Islam, sampai pada tingkatan mengganti lafadz azan dengan bahasa Albania.
Damaskus, ibu kota Syria yang di masa dahulu masuk wilayah Syam, menjadi tujuan ayahnya. Daerah ini menjadi pilihan ayahnya karena dahulu Nabi n menyebut-nyebut keutamaan negeri Syam.
Al-Albani kecil mulai tumbuh besar, memulai lembaran barunya bersama keluarga di negeri keduanya. Ayahnya memasukkannya di madrasah al-Is’af al-Khairiyah al-Ibtidaiyah—setingkat sekolah dasar—di Damaskus, lalu ayahnya memindahkannya ke madrasah lain. Di situlah ia menyelesaikan pendidikan tingkat dasarnya.
Ayahnya tidak memasukkannya ke sekolah tingkat lanjutan, karena beliau memandang bahwa sekolah akademik tidak memberikan manfaat yang besar, selain sekadar seorang anak belajar membaca dan menulis. Namun, bukan berarti ayahnya berhenti mendidiknya. Bahkan, hal itu demi program pendidikan pribadi yang lebih terarah. Ayahnya pun membuatkan untuknya kurikulum yang lebih fokus. Melalui kurikulum tersebut, beliau belajar al-Qur’an dan tajwidnya, ilmu sharaf, dan fikih melalui mazhab Hanafi karena ayahnya termasuk ulama mazhab tersebut. Selain belajar kepada ayah sendiri, tak luput pula beliau belajar kepada beberapa syaikh dan ulama teman-teman ayahnya.
Kecerdasan begitu tampak dalam proses belajarnya. Semasa ibtidaiyah, tak jarang gurunya menjadikannya sasaran terakhir sebuah pertanyaan di saat murid-murid yang lain tidak mampu menjawab. Membaca adalah hobi yang sangat digandrunginya sejak masa kecil. Waktu-waktu luang tidak beliau biarkan berlalu tanpa membaca. Sampai suatu saat beliau berkata mengenang masa kecilnya, “Di awal usiaku, aku baca sesuatu yang dapat dibaca, dan yang tak dapat dibaca.” Dua modal pokok ini, kecerdasan dan hobi membaca, terus menyertainya hingga akhir hayatnya.
Proses belajar terus dijalaninya. Seiring dengan usianya yang semakin dewasa, tak lupa ayahnya membekalinya keahlian dalam hal pekerjaan untuk menjadi modal maisyah (penghidupan)nya kelak. Tukang kayu, itulah profesi awalnya. Namun, berjalan sekian waktu, pekerjaan tersebut tidak begitu menjanjikan baginya. Akhirnya, ayahnya menawarinya untuk mengikuti profesi sang ayah: menjadi tukang reparasi jam. Ilmu sang ayah dalam profesi ini dia warisi hingga akhirnya beliau sangat mahir dalam keahlian ini. Beliau lantas membuka sendiri toko untuk reparasi jam. Julukan tukang jam atau as-sa’ati pun tersematkan pada beliau saat itu.

Perseteruan Sepanjang Masa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin)

Perseteruan antara al-haq dan al-batil akan senantiasa ada dan terus berlangsung. Al-haq dan al-batil memiliki penyokong masing-masing. Masing-masing memiliki bala tentara yang siap tanding. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, “Sungguh Allah l telah menjelaskan dalam kitab-Nya dan sunnah Rasul-Nya n bahwa Allah l telah memiliki para wali dari kalangan manusia. Begitu pun setan, ia memiliki para wali dari kalangan manusia. Oleh karena itu, terbedakanlah antara para wali Ar-Rahman dan para wali setan.”
Allah l berfirman,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Yunus: 62—64)
Allah l berfirman,
“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Sementara itu, orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya menuju kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 257)
Penyebutan para wali setan telah pula ada. Firman-Nya,
“Apabila kamu membaca al-Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk. Sesungguhnya setan ini tidak memiliki kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Rabbnya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (an-Nahl: 98—100)
Firman-Nya,
“(Ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kepada Adam!’ maka mereka sujud kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Rabbnya. Patutkah kamu mengambil dia dan turunan-turunannya sebagai pemimpin selain-Ku, sedangkan mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis itu sebagai pengganti (Allah) bagi orang-orang yang zalim.” (al-Kahfi: 50)
Ibrahim q berkata (dalam firman-Nya),
“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Rabb Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi setan.” (Maryam: 45)
Apabila telah diketahui bahwa ada sekelompok manusia yang menjadi wali-wali Ar-Rahman dan sekelompok lain menjadi wali-wali setan, dua kelompok tersebut wajib dibedakan, sebagaimana Allah l dan Rasul-Nya telah membedakan mereka.
Para wali Allah l adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa, seperti dalam firman-Nya,
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (Yunus: 62—63)
Dalam hadits yang sahih dari Abu Hurairah z, dari Nabi n, beliau bersabda, “Allah berfirman, ‘Barang siapa yang memusuhi para wali-Ku, sungguh dia telah menantang-Ku berperang—atau sungguh Aku telah mengumandangkan perang kepadanya. Tiadalah seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku seperti ketika dia menunaikan sesuatu yang telah Aku wajibkan atasnya. Senantiasa pula hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan (amal-amal) nawafil (sunnah) hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku adalah pendengarannya yang dengannya dia mendengar, penglihatannya yang dengannya dia melihat, tangannya yang dengannya dia memukul, dan kakinya yang dengannya dia berjalan (melangkah). Sungguh jika dia meminta kepada-Ku pasti Aku memberinya, dan jika dia memohon perlindungan kepada-Ku pasti Aku melindunginya.” (HR. al-Bukhari no. 6502) (Lihat al-Furqan baina Auliya’u ar-Rahman wa Auliya’u asy-Syaithan, hlm. 25—28)
Perseteruan itu terus berkobar. Dalam kehidupan para nabi tampak perseteruan tersebut. Tiap nabi Allah l ada musuhnya. Mereka memusuhi, bahkan memerangi para nabi Allah l lantaran al-haq (kebenaran) yang diemban dan didakwahkannya. Allah l menggambarkan siapa musuh para nabi-Nya melalui firman-Nya,
“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)
Lihatlah sikap arogan, sombong yang dilakukan kaum Nabi Nuh q. Mereka diseru untuk menaati Allah l, tetapi ajakan tersebut tidak dihiraukan. Sikap angkuh menyebabkan mereka menolak kebenaran. Mereka adalah benar-benar kaum yang ingkar. Al-Qur’an mengisahkan hal itu,
“Nuh berkata, ‘Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya, menutupkan bajunya (ke mukanya), serta mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat’.” (Nuh: 5—7)
Telah menjadi sebuah ketetapan bahwa pembawa dakwah al-haq akan berbenturan dengan pemuja kebatilan. Nabi Ibrahim q berhadapan dengan Namrud dan ayahnya sendiri karena Namrud dan ayahnya enggan menerima apa yang didakwahkan oleh al-Khalil q. Begitu pula Nabi Musa q mesti menghadapi ketakaburan Fir’aun yang mengaku tuhan. Dakwah Nabi Musa q pun ditolaknya. Ternyata tak sebatas penolakan. Lebih dari itu, Musa q dan para pengikutnya hendak dibinasakan walau akhir dari ketakaburan Fir’aun dan bala tentaranya adalah ditenggelamkan di lautan. Itulah kisah para nabi Allah l yang memberi banyak faedah bagi insan yang mau berpikir dan mengambil pelajaran.
Begitu pula kisah dan perjuangan dakwah Rasulullah n. Kisah nan sarat perseteruan antara kebenaran melawan kebatilan. Antara dakwah tauhid melawan kesyirikan. Antara sinar kemilau Islam menghadapi kejahiliahan nan gulita. Pergumulan melawan kebatilan senantiasa ada dan akan terus ada hingga kiamat nanti.
Sungguh, kaum musyrik Quraisy benar-benar membarakan permusuhan kepada Rasulullah n dan para sahabatnya g. Kaum musyrikin Quraisy dengan segala cara dan tipu daya berusaha membungkam dakwah yang mulia. Tak sebatas itu, kaum musyrikin Quraisy pun berusaha keras membunuh Rasulullah n. Demikian pula terhadap para sahabatnya, mereka tak segan membinasakannya.
Menegakkan kebenaran diwarnai oleh tetesan darah. Diwarnai pula oleh pengorbanan harta benda yang tak sedikit. Allah l berfirman,
“(Ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap, memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Sementara itu, Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)
Tiadalah perseteruan itu sedemikian dahsyat melainkan lantaran mereka beriman kepada Allah l dengan keimanan yang sebenar-benarnya. Ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah l,
“Mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Buruj: 8—9)
Kehidupan ulama sebagai pewaris para nabi pun tak luput dari pergulatan melawan kesyirikan, bid’ah, dan penyimpangan lainnya. Kerasnya pertentangan mengantarkan beberapa ulama memasuki penjara. Tidak hanya itu, ada pula dari kalangan ulama yang harus bersabar menghadapi cemeti para penguasa. Ujian para ulama dalam memperjuangkan kebenaran sedemikian berat. Kisah masyhur keteguhan, kesabaran, keikhlasan, dan ketawakalan al-Imam Ahmad bin Hanbal t tentu menjadi cermin bagi kaum muslimin. Walau harus hidup di balik terali besi, al-Imam Ahmad t tidak goyah pendirian. Meski siksaan mendera tubuhnya, al-Imam Ahmad t tak lantas menuruti apa yang dimau oleh para musuh dakwah. Al-Imam Ahmad t tetap bersikukuh bahwa al-Qur’an adalah kalamullah. Al-Qur’an bukan makhluk. Pendirian dan keyakinannya kokoh dipeluk.
Permusuhan kalangan ahlu hawa dan ahlu bida’ bisa ditilik pula melalui kisah al-Imam al-Hasan al-Barbahari t. Pernyataannya yang tegas terhadap ahlu hawa dan ahlu bida’ membawa al-Imam al-Hasan al-Barbahari t diasingkan. Beliau hidup dalam keadaan terisolasi. Dalam riwayat dikisahkan, saat al-Imam al-Barbahari t meninggal dunia yang berdiri menyalatkan jenazah beliau hanya satu orang. Beliau dishalatkan dalam sebuah rumah yang pintunya terkunci rapat. Ketika prosesi shalat jenazah berlangsung, wanita pemilik rumah itu mencoba mengamat-amati dari satu celah. Ternyata dia melihat di dalam rumah tersebut dipenuhi oleh para lelaki. Mereka mengenakan pakaian putih dan hijau. Setelah shalat ditutup salam, selesailah sudah shalat jenazah ditunaikan. Wanita itu pun tak melihat seorang pun di dalam rumah itu. Wanita itu lalu meminta agar jenazahnya dikebumikan di rumahnya. (Syarhu as-Sunnah, al-Imam al-Barbahari, tahqiq Khalid bin Qasim ar-Raddadi, hlm. 20—21)
Selama dakwah tauhid memberantas kesyirikan dan bid’ah terus berlangsung, maka kedengkian dan permusuhan terhadap para ulama dan pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah pun tetap terjadi. Tuduhan-tuduhan keji pun sering ditimpakan kepada para ulama yang istiqamah dalam menegakkan as-Sunnah. Sebut saja sosok ulama Ahlu sunnah wal Jamaah seperti asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab bin Sulaiman bin Ali at-Tamimi an-Najdi t. Di antara tuduhan keji terhadap beliau adalah memiliki pemikiran aneh dan bukan seorang alim. Tuduhan ini dinyatakan oleh pentolan Hizbut Tahrir, Muhammad al-Mis’ari. (Untuk selengkapnya lihat Asy-Syariah, Vol. II/No. 22/1427 H/2006)
Hanya orang-orang jahil yang akan mencela para ulama. Kerusakan daya pikir. Akibat telah tercelup pemikiran yang memusuhi dakwah tauhid, menjadikan seseorang membenci para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di antara kelompok yang memusuhi asy-Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab t dan dakwah yang beliau sebarkan, yaitu; kelompok Shufiyyah (Sufi), Syi’ah Rafidhah, Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, dan al-Qaedah. (Asy-Syariah, Vol. II/No. 22/1427 H/2006)
Padahal para ulama yang tegak di atas as-Sunnah memperjuangkan dan berusaha menghidupkannya adalah orang-orang yang wajib dihormati. Mereka ditinggikan derajatnya karena ilmu dan amal yang ada pada dirinya, di samping lantaran upaya kerasnya mendakwahkan kebaikan ke hadapan umat. Para ulama adalah sosok yang diselimuti ketakwaan kepada Allah l, sekaligus sosok yang banyak memiliki keutamaan. Allah l berfirman,
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Sementara itu, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Mujadilah: 11)
Para ulama adalah sosok yang menjaga diri dari perbuatan-perbuatan durhaka kepada Allah l. Sosok yang memiliki rasa takut kepada Allah l. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an,
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 28)
Meski demikian, penyikapan terhadap para ulama tidak boleh sampai berlebihan. Sebagaimana hal yang dilakukan kelompok shufiyyah yang bersikap ghuluw (ekstrem, berlebihan) dalam memperlakukan orang-orang yang dianggap alim di kalangan mereka. Bahkan sampai menjadikan kubur-kubur mereka sebagai sesuatu yang diibadahi. Wal ‘iyadzubillah.
Dari ‘Aisyah x bahwa Ummu Salamah x pernah menceritakan kepada Rasulullah n tentang gereja yang pernah dilihat di negeri Habasyah. Di dalam gereja tersebut ada gambar (bernyawa). Maka Rasulullah n bersabda, “Apabila ada orang atau hamba yang saleh di antara mereka meninggal, mereka membangun masjid (tempat ibadah) pada kuburan tersebut dan membuat gambar-gambar di dalamnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk di sisi Allah.” (HR. al-Bukhari no. 434)
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n sungguh-sungguh bersabda, “Semoga Allah l membinasakan Yahudi. Mereka menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai tempat ibadah.” (HR. al-Bukhari no. 347)
Allah l berfirman,
“Wahai Ahli Kitab, janganlah melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah mengatakan sesuatu kepada Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al-Masih, Isa putra Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga.’ Berhentilah (dari ucapan itu), (itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Rabb Yang Maha Esa, Mahasuci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pemelihara.” (an-Nisa’: 171)

Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah berkata, “Yahudi dan Nasrani melampaui batas dalam menyikapi para nabi mereka dan dalam menunaikan agama mereka. Sikap melampaui batas terhadap para nabi dari sisi: Nasrani menyatakan terhadap al-Masih bahwa dia adalah anak Allah. Mereka meninggikan kedudukan al-Masih melebihi kedudukannya sebagai manusia dan mendudukkannya sampai setingkat rububiyah, disebut sebagai ar-Rabb (Tuhan). Adapun Yahudi melampaui batas dalam menyikapi Uzair. Mereka katakan, ‘Uzair adalah anak Allah’.” (I’anatu al-Mustafid bi Syarhi Kitabi at-Tauhid, hlm. 245)
Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 77

Hukum-Hukum Poligami
Bagaimana apabila Asy-Syariah membahas tentang masalah poligami dan hukum-hukum serta amalan yang berlaku pada kehidupan poligami. Hal ini penting bagi mereka yang hidup dan menjalani poligami.
0853267xxxxx

Ta’addud (istilah umumnya poligami) insya Allah sudah menjadi agenda kami untuk diangkat di edisi-edisi mendatang. Jadi, mohon bersabar. Jazakumullahu khairan.
Judul Sampul Sakinah Beda
Mengapa judul materi Sakinah berbeda dengan sampul, “Mencari Wanita Idaman”?
0815754xxxxx

Judul sampul belakang adalah tema unggulan Sakinah. Sebagaimana juga Asy-Syariah, judul sampul memang tidak mesti sama dengan judul materi di dalamnya meskipun tetap mewakili isinya. Kebijakan ini memang kami tempuh untuk lebih menarik minat Pembaca untuk membuka materi-materi di dalamnya. Jika ada Pembaca yang merasa tidak nyaman dengan hal ini, Redaksi meminta maaf. Adapun tentang kriteria wanita idaman, bisa dibaca pada rubrik Mengayuh Biduk edisi tersebut.
Catatan Khutbah Jumat
Sekarang di akhir rubrik “Khutbah Jumat” selalu diberi catatan: “kami tidak mencantumkan….”. Apakah kalimat ini jujur? Atau karena terbatasnya ruang?
0815556xxxxx

Catatan tersebut selalu kami cantumkan bukan karena terbatasnya ruang. Hal ini karena doa-doa khutbah jumat memang tidak ada yang tertentu dari Rasulullah n, sehingga dikhawatirkan ada anggapan bahwa doa yang kami cantumkan adalah doa yang tsabit (tetap) berasal dari Rasulullah n.
Artikel Sangat Menyentuh
Artikel dengan judul Sepenggal Doa Ibunda dalam Kajian Utama edisi 76 sangat menyentuh, tanpa mengenyampingkan artikel lainnya. Muat kembali kisah nyata masa kini sesuai tema kajian.
Abu Adam-Indramayu
0852943xxxxx

Jazakumullahu khairan atas masukannya, akan kami pertimbangkan.
Ralat Rubrik Doa Edisi 76
Afwan pada Asy Syariah edisi 76, Doa Ketika Ditimpa Kesulitan, tertulis “kullihi”, bukankah seharusnya “kullahu” sebagai tabi’ bagi lafadz sya’ni yang manshub sebagai maf’ul bihi dari fi’il “ashlih”?
Mufadhdhal-Batam
0853766xxxxx

Anda benar. Ada kesalahan dari redaksi dalam mengharakati lafadz doa tersebut. Jazakumullah khairan atas koreksinya.

Pengaburan MAKNA Ulama

Mendefinisikan ulama memang sangat subjektif. Tanpa merujuk dalil, standar kapasitas keilmuan—seperti memahami ilmu hadits, mengerti kaidah bahasa Arab, atau yang terpenting apakah ulama tersebut berada di atas akidah yang benar—umumnya menjadi perkara belakangan. Yang muncul adalah ulama versi masing-masing. Yang di luar kelompoknya, dinistakan dengan membabi buta. Saat ini, asal seide, sepemahaman, atau hanya karena separtai, demikian mudahnya gelar ulama atau ustadz disematkan. Kesesatan yang diajarkan, akidah menyimpang yang digemakan, atau kebid’ahan yang diserukan, diabaikan begitu saja. Yang lebih miris, dalil (ayat al-Qur’an atau hadits sahih) justru ditolak. Demikianlah jika fanatisme telah kokoh bertakhta di hati orang-orang yang taklid.
Lebih memilukan, ada “ulama” instan karena sering muncul di televisi, laris bak artis. Jangankan memahami ilmu hadits dan sanad-sanadnya, bahasa Arab saja nol besar. Lantas bagaimana mereka bisa memahami agama ini dengan benar? Alhasil, muncullah ustadz-ustadz “instan” yang tak hanya miskin ilmu, tetapi gegabah dalam berfatwa.
Padahal apabila berkaca pada ulama-ulama salaf yang keilmuannya tak diragukan, mereka sangat berhati-hati dalam berfatwa. Sementara itu, apabila kita melihat fakta sekarang, demikian mudah fatwa itu dilontarkan. Ustadz selebritas, tokoh masyarakat yang hanya baca satu dua buku terjemahan, hingga kalangan awam yang bisa dikatakan jauh dari memahami apa itu Islam dengan entengnya berfatwa. Kadang tanpa disertai dalil atau menggunakan dalil namun tidak pada tempatnya, berfatwa dengan logika, bahkan tak jarang emosional.
Sebagai seorang muslim, kita memang dituntut bersikap proporsional. Di satu sisi kita tidak boleh menistakan ulama, namun di sisi lain kita dilarang berlebih-lebihan dalam memuliakannya. Mereka tidaklah maksum layaknya rasul. Kesalahan sebagai manusia mesti mengiringi langkah mereka. Kekeliruan dalam ijtihad bisa saja lahir dari fatwa mereka. Oleh karena itu, sangat mungkin ada dari kita ketika posisi i’tidal tangannya bersedekap karena mengikuti asy-Syaikh Ibnu Baz. Namun, dalam menggerak-gerakkan telunjuk ketika tasyahud lebih sependapat dengan asy-Syaikh al-Albani. Namun, sekali lagi, itu semua tidak lantas menjadi cacat ulama, karena perbedaan yang terjadi memang bukan dalam hal-hal prinsip dalam Islam, bukan perkara akidah yang perlu disikapi secara tersendiri.
Jangan sampai kita bersikap seperti kalangan pergerakan Islam yang tutup mata dengan penyimpangan-penyimpangan “ulama” mereka, bahkan mencari pembenaran bagi “ulama-ulama” mereka. Alih-alih kritis terhadap fatwa mereka, kesesatan akidah “ulama-ulama” mereka justru dianggap angin lalu.
Orang-orang yang hendak menyatukan Islam dan kekafiran (Syiah Rafidhah) diulamakan dan disebut bapak persaudaraan; yang mencela sahabat Rasulullah n dipuja-puja—bahkan digelari asy-syahid—; tokoh yang lisannya mengafirkan para sahabat g serta menyerukan permusuhan terhadap Ahlus Sunnah, justru dielu-elukan sebagai bapak revolusi Islam, orang yang menyerukan liberalisasi Islam justru disebut cendekiawan muslim, dan sebagainya.
Umat pun dibuat bingung. Umat justru menjauh dari ulama-ulama Rabbani; ulama-ulama yang benar-benar berjuang menegakkan syariat-Nya dan sunnah Nabi-Nya, ulama-ulama yang lebih mencintai hadits daripada politik praktis, serta ulama yang lantang menyuarakan kebenaran bahkan rela pasang badan melawan kesesatan. Alhasil, ulama dan definisi ulama menjadi kian kabur.

Adab berteman ketika menuntut ilmu

Asy-Syaikh Muhammad Syakir t mengatakan,
“Wahai anakku, apabila ada seorang temanmu yang merasa sulit memahami sebuah masalah lantas meminta penjelasan kepada ustadz, dengarkanlah jawaban ustadzmu. Bisa jadi, dengan pengulangan penjelasan itu engkau mendapatkan sebuah pelajaran yang sebelumnya tidak engkau ketahui.
Hati-hatilah, jangan sampai engkau mengucapkan perkataan yang menunjukkan penghinaan kepadanya, atau engkau menampakkan raut muka yang meremehkan daya pikirnya.
Wahai anakku, pernah ditanyakan kepada al-Imam Abu Hanifah t, ‘Dengan apa Anda bisa mencapai derajat ilmu seperti ini?’ Beliau menjawab, ‘Aku tidak bakhil untuk memberi faedah ilmu, tidak pula enggan meminta orang lain memberi faedah ilmu kepadaku’.”

(Washaya al-Aba’ lil Abna’ hlm. 28—29)