Membantu Kebutuhan Seorang Muslim

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc)

Adalah sikap tercela manakala seseorang hanya memikirkan maslahat dirinya sendiri tanpa peduli dengan nasib saudaranya. Bahkan, seseorang tidak akan dikatakan sebagai mukmin yang sempurna imannya apabila tidak menyukai kebaikan bagi saudaranya seperti apa yang ia suka untuk dirinya. Nabi n bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang kalian sampai ia mencintai bagi saudaranya apa yang ia cintai bagi dirinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik z)
Hal itu karena masyarakat muslimin seperti satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, anggota tubuh yang lainnya akan ikut merasakannya. Seorang muslim yang baik niscaya akan bahagia ketika muslim yang lainnya berada dalam keadaaan yang baik. Sebaliknya, apabila mengetahui saudaranya berada dalam kondisi kesulitan, dia bersedih dan ikut memikirkan upaya melepaskan penderitaan saudaranya.
Sungguh, apabila seseorang bisa menyuguhkan kebaikan bagi saudaranya seiman berarti dia telah mengukir kemuliaan dalam hidupnya yang kelak akan senantiasa terkenang. Dia juga akan meraih predikat sebaik-baik orang. Nabi n bersabda,
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
“Sebaik-baik orang adalah yang paling berguna bagi orang lain.” (HR. al-Qudha’i dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 426)
Usaha orang seperti ini tidak akan sia-sia, sebagaimana firman Allah l,
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (al-Muzzammil: 20)
Bantuan dari Allah l akan terus mengalir kepadanya selama dia mau membantu saudaranya karena balasan itu sesuai dengan perbuatan.

Memberi Syafaat
Di antara kebaikan yang dianjurkan dan besar keutamaannya tersebut adalah memberi syafaat untuk seseorang di hadapan orang lain. Yang dimaksud dengan syafaat di sini adalah permohonan kebaikan untuk orang lain. Artinya, seseorang menjadikan dirinya sebagai perantara untuk mengemukakan hajat/kebutuhan saudaranya di hadapan orang lain untuk mewujudkan tujuan saudaranya. Syafi’ (pemberi syafaat/perantara) ini biasanya orang yang terpandang di tengah-tengah masyarakat sehingga kemungkinan besar permintaannya untuk saudaranya akan dikabulkan oleh penguasa dan semisalnya.
Hendaknya kedudukan yang dimiliki seseorang bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan nasib saudaranya-saudaranya seiman. Nabi n bersabda,
اشْفَعُوا فَلْتُؤْجَرُوا
“Berilah syafaat niscaya kalian akan diberi pahala.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Abu Musa al-Asy’ari z)
Hadits ini mengandung faedah yang besar, yaitu seorang hamba seyogianya berusaha dalam perkara-perkara kebaikan. Sama saja, apakah usaha ini akan membuahkan hasil yang maksimal atau sesuai yang diharapkan, atau sebagiannya atau bahkan hasilnya nihil. Di antara usaha tersebut adalah memberi syafaat bagi orang lain di hadapan penguasa, pembesar, dan orang-orang yang memiliki kebutuhan terkait dengan mereka.
Umumnya, orang malas untuk memberi syafaat/menjadi perantara bagi orang lain apabila dia belum yakin akan diterima syafaatnya. Sikap ini menyebabkan seseorang melewatkan kebaikan yang besar, yaitu pahala dari Allah l. Selain itu, ia juga melewatkan kesempatan untuk berbuat baik kepada saudaranya. Oleh karena itu, Nabi n memerintah para sahabat untuk membantu tercapainya kebutuhan saudaranya agar mereka bersegera meraih pahala di sisi Allah l.
Syafaat yang baik itu dicintai oleh Allah l sebagaimana dalam firman-Nya,
“Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) darinya.” (an-Nisa: 85)
Dengan syafaat ini, seseorang telah bersegera meraup pahala dari Allah l dan bersegera menyuguhkan kebaikan bagi saudaranya. Bisa jadi, syafaatnya menjadi sebab tercapainya seluruh kebutuhan saudaranya atau sebagiannya, dan seperti itu memang kenyataannya. Dengan syafaat ini pula, seseorang telah menutup pintu yang mengarah kepada sikap pesimis, karena mencari dan usaha adalah pertanda adanya harapan tercapainya tujuan. (Lihat Bahjatul Qulub karya asy-Syaikh as-Sa’di syarah hadits ke-14)

Tidak Memberi Syafaat pada Urusan yang Haram
Anjuran untuk menjadi perantara agar tercapainya kebutuhan seorang sebagaimana disebutkan di atas, hanyalah pada urusan kebaikan dan yang tidak mengandung pelanggaran syariat. Oleh karena itu, apabila seseorang memberi syafaat untuk orang lain di hadapan penguasa—misalnya—agar orang tersebut diberi izin membangun tempat-tempat maksiat, syafaat ini haram hukumnya dan dia ikut menanggung dosanya. Hal ini sebagaimana firman Allah l,
“Dan barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) darinya.” (an-Nisa: 85)
Termasuk syafaat yang haram adalah yang mengandung bentuk pemudaratan. Misalnya, kita merekomendasikan seseorang kepada pemegang kebijakan agar orang tersebut menduduki jabatan tertentu yang telah dipegang oleh orang yang mumpuni. Apabila kita melakukan hal ini, berarti kita telah ikut menzalimi hak saudara kita dan ikut andil meretakkan sendi-sendi ukhuwah (persaudaraan) di tengah-tengah umat.
Di antara syafaat lain yang haram adalah syafaat yang mengandung satu bentuk perlindungan kepada pelaku kriminal yang layak dihukum agar dia tidak dihukum. Nabi n bersabda,
مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُوْنَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ فَقَدْ ضَادَ اللهُ
“Barang siapa syafaatnya menghalang-halangi suatu had (hukuman yang ada ketentuannya dalam syariat) Allah l, dia telah menentang Allah l.” (HR. Abu Dawud, dll. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 6196)
Dahulu ada seorang wanita dari Bani Makhzum mencuri. Hukuman potong tangan akan diberlakukan terhadapnya. Keluarga wanita itu lalu menemui sahabat Nabi n yang bernama Usamah bin Zaid c, orang yang dicintai oleh Nabi n. Mereka meminta Usamah untuk menyampaikan kepada Nabi n agar beliau menggugurkan hukuman tersebut. Usamah pun menyampaikannya kepada Nabi n. Nabi n lalu menegurnya dengan mengatakan, “Apakah kamu akan memberi syafaat pada salah satu hukum had Allah?!”
Nabi n kemudian berdiri dan menyampaikan ceramahnya (yang artinya), “Wahai manusia, hanyalah yang menjadikan orang sebelum kalian tersesat adalah karena apabila ada orang yang berkedudukan mencuri, mereka membiarkannya, sedangkan apabila yang mencuri adalah orang biasa, mereka menegakkan (hukuman) atasnya. Demi Allah, andaikata Fatimah putri Muhammad mencuri, niscaya Muhammad akan memotong tangannya.” (Lihat Shahih al-Bukhari no. 6788)
Ulama mengatakan bahwa larangan memberi syafaat dalam perkara seperti ini berlaku apabila pelaku kejahatan tersebut telah dihadirkan di hadapan penguasa. Adapun apabila belum sampai dihadirkan dan diupayakan adanya mediasi untuk tidak dipotong atau korban pencurian memaafkan, hukuman bisa gugur dari pencuri tersebut. Lebih-lebih apabila si pencuri itu menyesal dan bukan orang yang terkenal jahat.” (Lihat Fathul Bari 12/87—96 cetakan pertama, terbitan as-Salafiyah)
Al-Qadhi ‘Iyadh t berkata, “Adapun orang yang terus-menerus melakukan kejahatan dan terkenal kebatilannya (baca: residivis, -red.) tidak boleh diberi syafaat (pembelaan agar tidak dihukum). Hal ini untuk memunculkan efek jera.” (Fathul Bari 10/451)

Apabila Syafaat Ditolak
Orang yang memberi syafaat saudaranya akan meraih pahala meski syafaatnya tidak diterima. Dengan syafaat ini dia telah membuktikan kecintaan dan kepeduliannya terhadap problem saudaranya. Adapun urusan keberhasilan usahanya tidak menjadi tanggung jawabnya. Orang yang ditolak syafaatnya tidak perlu kecewa, apalagi memendam kebencian kepada pihak yang menolaknya. Rasulullah n pun, pemimpin seluruh manusia, pernah tidak diterima syafaatnya.
Dahulu Barirah dan suaminya, Mughits, menyandang status sebagai budak. Lalu Barirah dimerdekakan oleh tuannya. Ketentuannya, apabila seorang istri telah merdeka dan suaminya masih berstatus budak, wanita itu punya pilihan. Dia diberi kebebasan untuk memilih, melanjutkan hubungan rumah tangga atau bercerai/berpisah dengan suaminya. Barirah memilih berpisah dengan Mughits. Mengetahui hal ini, Mughits tidak kuasa menahan air mata. Dia begitu berat berpisah dengan Barirah karena sangat mencintainya. Mughits, sambil menangis, mondar-mandir di belakang Barirah.
Melihat hal itu, Rasulullah n iba kepada Mughits. Beliau pun memanggil Barirah seraya memberi tawaran kepadanya untuk kembali kepada Mughits.
Barirah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ini perintah dari Anda kepadaku?”
Beliau menjawab, “Saya hanya memberi syafaat.”
Barirah mengatakan, “Aku tidak ingin kembali kepadanya.” (Lihat Shahih al-Bukhari no. 5283)
Di antara faedah kisah tersebut adalah:
1. Bolehnya seseorang tidak mengikuti saran orang lain, dalam urusan yang bukan wajib.
2. Disunnahkan memasukkan perasaan bahagia pada diri seorang muslim.
3. Orang yang memberi syafaat mendapat pahala meskipun permintaannya tidak dikabulkan. (Fathul Bari 9/414)
Disebutkan dalam biografi al-Imam Muhammad bin Ahmad bin Qudamah t bahwa ia banyak menuliskan syafaat bagi orang-orang yang datang (meminta) kepadanya untuk disampaikan kepada penguasa.
Pada suatu hari, petugas yang mengurusi (permohonan-permohonan) mengatakan kepada Ibnu Qudamah, “Sesungguhnya Anda menulis kepada kami (permohonan) orang-orang yang kami tidak ingin menerima syafaat bagi mereka, namun kami (juga) tidak kuasa menolak tulisanmu.”
Ibnu Qudamah berkata, “Saya telah membantu keinginan orang yang datang meminta bantuan kepada saya, tapi itu terserah Anda. Jika Anda ingin mengabulkan permohonan saya (maka terimalah), dan jika tidak, juga tidak mengapa.”
Petugas tersebut mengatakan, “Kami tidak akan menolaknya selama-lamanya.” (Dinukil dalam kitab Ma’alim fi Thariqi Thalabil Ilmi hlm. 161 dari kitab Dzail Thabaqat al-Hanabilah)

Berzakat dengan Kedudukan
Membantu orang lain tak selamanya harus dengan harta atau tenaga, bahkan kedudukan yang kita miliki bisa kita manfaatkan untuk memperjuangkan nasib saudara kita.
Dahulu ada seorang alim bernama al-Hasan bin Sahl t. Seseorang menemuinya untuk meminta syafaat darinya dalam satu keperluan. Al-Hasan mengabulkan keinginannya. Lalu orang tersebut datang mengucapkan terima kasih kepadanya. Al-Hasan bin Sahl lalu mengatakan, “Mengapa engkau berterima kasih kepada kami, padahal kami memandang bahwa kedudukan (juga) ada zakatnya seperti harta!” Lalu al-Hasan menyebutkan syairnya yang artinya kurang lebih sebagai berikut:
Diwajibkan atasku memberi zakat yang dimiliki tanganku
sedangkan zakat kedudukan adalah dengan membantu dan memberi syafaat.
Apabila engkau punya (harta) maka berdermalah, dan jika belum mampu,
curahkan segala daya dan upayamu untuk memberi manfaat.

(al-Adab asy-Syar’iyyah)
Disebutkan dalam biografi Abdullah bin ‘Utsman (‘Abdan) t, syaikh (guru) al-Imam al-Bukhari t bahwa ia mengatakan, “Tidaklah seorang meminta suatu kebutuhan kepadaku melainkan aku membantunya dari diriku sendiri. Apabila tidak terpenuhi, aku bantu dengan hartaku. Ketika belum terpenuhi juga, aku meminta bantuan teman-temanku. Apabila belum terpenuhi pula, aku meminta bantuan kepada penguasa.”
Al-Imam Ibnu Muflih t menyebutkan bahwa al-Imam Ibnul Jauzi t berkata, “Adalah Harun ar-Raqqi telah berjanji kepada Allah l untuk tidak menolak seorang pun yang meminta syafaat kepadanya melainkan ia menuliskannya. Seorang lelaki pernah menemuinya dan mengatakan bahwa anaknya tertawan di Romawi. Dia meminta Harun untuk menulis kepada Raja Romawi agar melepaskan anaknya. Ar-Raqqi mengatakan, ‘Aduh kamu, dari mana raja Romawi mengenalku? Jika ia bertanya tentang aku, dan dijawab bahwa aku seorang muslim, bagaimana dia akan mengabulkan hakku?!’ Orang tersebut mengatakan, ‘Ingatlah janjimu kepada Allah l.’ Akhirnya, ar-Raqqi menuliskan syafaat untuknya kepada Raja Romawi.
Tatkala Sang Raja membaca tulisannya, ia bertanya, ‘Siapa orang ini?’ Dijawab bahwa ia adalah orang yang telah berjanji kepada Allah l bahwa tidaklah dia diminta menuliskan syafaat melainkan ia akan menuliskannya, kepada siapa pun. Sang Raja berkata, ‘Orang ini berhak dikabulkan. Lepaskanlah tawanannya….’.” (al-Adab asy-Syar’iyah 2/172)

Mu’awiyah Bin abi Sufyan dan Ahlul Bait

(ditulisoleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Para sahabat Rasulullah n adalah generasi terbaik umat ini karena mereka lebih dahulu masuk Islam, memiliki keutamaan bersahabat dengan Rasulullah n, berjihad bersama beliau, dan menerima syariat dari beliau, kemudian menyampaikannya kepada orang-orang setelah mereka. Allah l berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)
Dalam ayat lain, Allah l menyebutkan,
“Bagi orang fakir yang berhijrah, diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya serta mereka menolong Allah dan Rasul-Nya, mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, merekalah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 8—9)
Rasulullah n berkata,
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ.
“Janganlah kalian mencerca sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, kalau kalian berinfak emas satu Gunung Uhud niscaya tidak cukup untuk menandingi satu sha’ infak para sahabat, bahkan tidak menyamai setengah sha’ infak para sahabat.” (HR. al-Bukhari no. 3673, lihat Kitab at-Tauhid, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan)

Siapakah yang Dimaksud Sahabat?
Sahabat Rasulullah n adalah seseorang yang pernah berjumpa dengan Rasulullah n dalam keadaan beriman dan meninggal dalam keadaan beriman. (Nukhbatul Fikr)

Akidah Ahlus Sunnah dalam Masalah Sahabat Rasulullah n
Ibnu Taimiyah t berkata, “Di antara pokok prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah hati dan lisan mereka selamat (tulus) terhadap para sahabat Rasulullah n. Hal ini sebagaimana yang Allah l sebutkan sifat mereka dalam firman-Nya,
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami. Jangan Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)
Selain itu, juga demi menaati sabda Nabi n,
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ ، وَلاَ نَصِيفَهُ.
“Janganlah kalian mencerca sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, jika salah seorang kalian berinfak seperti Gunung Uhud tidak akan menyamai satu mudnya, bahkan setengah mud infak mereka.” (HR. al-Bukhari no. 3673)
Ahlus Sunnah adalah orang yang mengakui kemuliaan dan keutamaan para sahabat Rasulullah n. Tidak ada kedengkian di hati mereka kepada sahabat Rasulullah n, apalagi sampai lancang mengafirkan para sahabat Rasulullah n, seperti yang dilakukan oleh Rafidhah dan Khawarij.

Di Antara Ciri Ahlul Bid’ah adalah Mencerca Para Sahabat
Sebagian ahlul bid’ah mencerca dan mencaci maki para sahabat, bahkan sampai lancang mengafirkan sebagian sahabat Rasulullah n, seperti yang dilakukan oleh Rafidhah dan Khawarij.
Rafidhah memiliki prinsip-prinsip yang batil, di antaranya tidak ada wala selain dengan adanya bara’.
Maksudnya, di antara akidah sesat Rafidhah adalah tidaklah akan terwujud loyalitas kepada ahlul bait melainkan dengan berlepas diri dari para sahabat Rasulullah n.
Bahkan, di antara kekonyolan Syi’ah Rafidhah, mereka tidak mau menyebut angka sepuluh atau melakukan sesuatu yang berjumlah sepuluh karena mereka membenci sepuluh sahabat yang dipastikan masuk surga, termasuk Ali. (Lihat Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah)
Ibnu Taimiyah t berkata, “Ahlus Sunnah berlepas diri dari Rafidhah yang mengultuskan Ali bin Abi Thalib z dan berlepas diri pula dari Nawashib yang memancang permusuhan kepada ahlu bait Rasulullah n.” (lihat al-Aqidah al-Wasithiyah)

Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, Seorang Sahabat Rasul n
Di antara sahabat Rasulullah n yang harus kita hormati dan cintai adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Beliau adalah salah seorang sahabat yang mulia dan memiliki banyak keutamaan. Semua dalil yang menunjukkan keutamaan sahabat juga menjadi dalil tentang keutamaan Mu’awiyah karena beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah n.
Di antara ucapan para ulama yang menunjukkan keutamaan beliau adalah sebagai berikut.
• Ibnu Qudamah t berkata, “Mu’awiyah adalah paman kaum muslimin, penulis wahyu, dan salah satu pemimpin muslimin.
• Ibnu Abil Izzi t berkata, “Mu’awiyah adalah raja pertama dan yang terbaik pada kaum muslimin.”
• Ditanyakan kepada Ibnul Mubarak t, “Siapa yang lebih utama, Mu’awiyah atau Umar bin Abdil Aziz?” Ibnul Mubarak menjawab, “Sungguh debu yang ada di hidung Mu’awiyah lebih baik dan lebih utama daripada Umar bin Abdil Aziz.”
• Al-Mu’afa bin Imran ditanya siapa yang lebih afdal antara Mu’awiyah dan Umar bin Abdul Aziz. Al-Muafa marah dan bertanya kepada penanya, “Apakah engkau hendak menjadikan seorang sahabat layaknya seorang tabi’in? Mu’awiyah adalah sahabat Rasulullah n dan ipar beliau.”
• Ibnul Mubarak t berkata, “Aku tidak pernah melihat Umar bin Abdul Aziz memukul seorang pun selain orang yang telah mencela Mu’awiyah. Beliau memukulnya dengan cemeti.”
• Abu Taubah Rabi’ bin Nafi’ al-Halabi berkata, “Mu’awiyah adalah tabir para sahabat Rasulullah n. Jika seseorang telah berani membuka tabir itu (yakni dengan mencela Mu’awiyah, -pen.), ia akan lancang kepada yang ditutupnya (yakni berani mencaci maki sahabat yang lainnya, -pen.).” (Lihat Min Aqwalil Munshifin karya asy-Syaikh Abdul Muhsin)
Demikianlah ucapan salafus saleh ketika memuji Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan melarang mencerca beliau z.

Siapakah Ahlul Bait?
Asy-Syaikh Abdul Muhsin hafizhahullah berkata, “Pendapat yang benar, ahlul bait adalah orang-orang yang diharamkan memakan sedekah. Mereka terdiri dari istri-istri Rasulullah n dan anak keturunan beliau serta seluruh muslim dan muslimah dari keturunan Abdul Muththalib. Mereka adalah Bani Hasyim bin Abdu Manaf.”
Ibnu Katsir t berkata, “Ahlul bait adalah keluarga Nabi n yang diharamkan menerima sedekah, sebagaimana penafsiran perawi hadits. Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga ‘Aqil, keluarga Abbas, serta Bani Harits bin Abdul Muthalib, sebagaimana telah ada tafsirnya dalam Shahih Muslim. Termasuk di dalamnya adalah istri-istri Rasulullah n. Istri-istri beliau n adalah ahlul baitnya, sebagaimana ditunjukkan oleh konteks ayat dalam surat al-Ahzab. Demikianlah yang ditegaskan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan selain keduanya.”
Asy-Syaikh Khalil Harras berkata, “Ahlul bait Rasulullah n adalah orang-orang yang diharamkan menerima zakat. Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Ja’far, keluarga Aqil, dan keluarga Abbas. Mereka semua adalah Bani Hasyim. Bani Muththalib juga disamakan hukumnya dengan mereka berdasarkan ucapan Rasulullah n,
“Mereka tidak berpisah dengan kita dalam keadaan jahiliah dan Islam.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Istri-istri beliau termasuk ahlul bait Rasulullah n berdasarkan nash al-Qur’an (yakni dalam surat al-Ahzab: 28—33 -pen.).”

Akidah Ahlus Sunnah Berkaitan dengan Ahlul Bait
Ibnu Taimiyah t berkata, “Ahlus Sunnah mencintai ahli bait Rasulullah n, berwala’ kepada mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah n tentang mereka ketika berkata di hari Ghadir Khum, ‘Aku ingatkan kalian dengan keagungan Allah l tentang (perintah untuk memuliakan dan hak-hak) ahli baitku’.” (HR. Muslim no. 2408)
Ibnu Katsir t berkata, “Kita tidak mengingkari wasiat tentang ahlul bait dan perintah untuk berbuat baik, menghormati, dan memuliakan mereka. Karena mereka adalah keturunan dari orang yang suci serta berasal dari rumah yang terbaik dari sisi nasab dan kemuliaan. Apalagi apabila mereka mengikuti sunnah Nabi n yang sahih dan jelas, sebagaimana yang dilakukan oleh salaf mereka, seperti al-Abbas dan keturunannya, Ali dan ahlul bait, serta keturunannya.”

Ahlus Sunnah di Atas Kebenaran dalam Masalah Ahlul Bait
Ahlus Sunnah berwala kepada seluruh muslim dan muslimah dari keturunan Abdul Muthalib dan istri-istri Nabi n. Ahlus sunnah mencintai mereka semua, memuji mereka semua, serta mendudukkan mereka pada kedudukannya dengan adil dan inshaf, bukan dengan hawa nafsu.
Ahlus Sunnah mengakui keutamaan orang yang terkumpul padanya keutamaan iman dan nasab.
Ahlus Sunnah mencintai ahlul bait yang masuk dalam golongan sahabat Rasulullah n karena keimanan, ketakwaan, dan kedudukannya sebagai sahabat serta kerabat Rasulullah n. Adapun terhadap ahlul bait yang bukan sahabat Rasulullah n, Ahlus Sunnah tetap mencintai mereka karena keimanan, ketakwaan, dan hubungan kerabatnya dengan Rasulullah n.
Ahlus Sunnah meyakini bahwa kemuliaan dengan sebab nasab itu mengiringi kemuliaan dengan sebab iman. Barang siapa yang Allah l mengumpulkan pada dirinya dua kemuliaan tersebut, berarti dia telah mengumpulkan dua kebaikan.
Adapun ahlul bait yang tidak mendapat taufik untuk beriman, maka kemuliaan nasab tidak berfaedah baginya sedikit pun. Allah l berfirman,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)
Rasulullah n bersabda,
وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ
“Barang siapa yang amalannya lambat, nasabnya tak akan bisa mempercepatnya.” (HR. Muslim)

Perbandingan Akidah Ahlus Sunnah dengan Selain Mereka dalam Masalah Sahabat dan Ahlul Bait
Telah jelas dari pembahasan di atas bahwa akidah Ahlus Sunnah dalam masalah sahabat dan ahlul bait. Ahlus Sunnah mencintai seluruh ahlul bait yang beriman, berwala kepada mereka, tidak bersikap kaku kepada seorang pun dari mereka, dan tidak ghuluw (berlebihan) kepada seorang pun dari mereka. Ahlus Sunnah juga mencintai seluruh sahabat dan berwala kepada mereka. Ahlus Sunnah menggabungkan antara kecintaan kepada sahabat Rasulullah n dan kecintaan kepada kerabat Rasulullah n.
Hal ini berbeda dengan ahlul bid’ah dari kalangan Syiah dan semisalnya yang bersikap ghuluw kepada ahlul bait namun bersikap kaku terhadap banyak sahabat Rasulullah n. Akidah Ahlus Sunnah juga berbeda dengan akidah Nawashib yang membenci ahlul bait Rasulullah n dan para sahabat g.
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Akidah Ahlus Sunnah tentang ahlul bait adalah:
• Ahlus Sunnah mencintai ahlul bait, berwala kepada mereka, dan menjaga wasiat Rasulullah n yang mengingatkan mereka (untuk memuliakan dan berbuat baik) terhadap ahlul bait. Ahlus Sunnah tidak memosisikan mereka lebih tinggi dari kedudukan yang semestinya.
• Ahlus Sunnah berlepas diri dari orang-orang yang ghuluw terhadap ahlul bait, bahkan sebagian mereka sampai bersikap ghuluw dalam hal uluhiyah, seperti yang dilakukan Abdullah bin Saba’ terhadap Ali bin Abi Thalib z dengan mengatakan kepada beliau z, “Engkau adalah Allah.” (Syarah al-Aqidah al-Wasithiyah)
Dari pembahasan ini kita dapatkan beberapa kesimpulan.
1. Sahabat Rasulullah n adalah generasi terbaik umat ini yang memiliki banyak keutamaan sebagaimana disebutkan di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.
2. Ahlus Sunnah wal Jamaah mencintai dan menghormati para sahabat Rasulullah n.
3. Di antara sahabat Rasul n yang mendapatkan keutamaan para sahabat adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
4. Ahlul bait Rasulullah n adalah orang-orang yang tidak boleh menerima sedekah/zakat.
5. Istri-istri Rasulullah n termasuk ahlul bait beliau n.
6. Ahlul bait yang memiliki keutamaan adalah yang beriman dan mengikuti Rasulullah n.
7. Ahlus Sunnah menggabungkan kecintaan mereka kepada sahabat dan kecintaan kepada ahlul bait. Inilah satu kekhususan Ahlus Sunnah yang membedakan mereka dengan kelompok-kelompok sempalan, seperti Syiah Rafidhah dan Khawarij.

Benarkah Hadits Menghujat Mu’awiyah Bin Abi Sufyan?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Isma’il Muhammad Rijal, Lc.)

Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali berkata, “Tidak ada satu pun hadits sahih dari Nabi n tentang keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”
Takhrij Atsar1
Atsar Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali t diriwayatkan oleh Ibnu Asakir t dalam Tarikh Dimasyq (59/106) dan Ibnul Jauzi t dalam al-Maudhu’at (2/24) melalui jalan Zhahir bin Thahir, dari Ahmad bin al-Hasan al-Baihaqi, dari Abu Abdillah al-Hakim, dari Abul Abbas Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf al-‘Asham, dari bapaknya, dari Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, yang lebih dikenal dengan nama Ishaq bin Rahuyah t.
Atsar ini dha’if (lemah) baik dari tinjauan sanad maupun matannya.
Dalam sanad, ada seorang perawi bernama Zhahir bin Thahir Abul Qasim asy-Syahhami.
Tentangnya, adz-Dzahabi t berkata, “Sama’ (pengambilan riwayatnya) sahih, namun ia menyia-nyiakan shalatnya sehingga banyak huffazh (ahli hadits) meninggalkan riwayat darinya.” (Mizanul I’tidal, 3/95)
Adapun matannya, sangat tampak keganjilan. Bagaimana tidak, atsar Ishaq ini menyelisihi sekian banyak hadits marfu’ dari Rasulullah n dan bertentangan dengan atsar-atsar sahih tentang keutamaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Ibnu Asakir t mengisyaratkan penyelisihan tersebut. Beliau berkata setelah meriwayatkan atsar Ishaq, “Riwayat paling sahih tentang keutamaan Mu’awiyah z adalah hadits Abu Hamzah dari Ibnu Abbas c bahwa Mu’awiyah adalah sekretaris Nabi n, diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.
Kemudian hadits Irbadh (bin Sariyah z), (Rasulullah n mendoakan Mu’awiyah),
اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الْكِتَابَ
“Ya Allah, ajarilah Mu’awiyah al-Kitab.”
Juga hadits Ibnu Abi ‘Amirah z (Rasulullah n mendoakan Mu’awiyah),
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا
“Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah seorang yang mendapat hidayah dan terbimbing.” (Tarikh Dimasyq [59/106])
Sebagian riwayat sahih tersebut cukup sebagai bantahan bagi mereka yang menyatakan tidak ada sama sekali riwayat mengenai keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.2

Mempermainkan Hadits-Hadits Nabi n adalah Jalan Ahli Bid’ah
Hadits dan atsar maudhu’ (palsu) atau dhaif (lemah), seringkali dijadikan alat memerangi Islam, bahkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits sahih tidak ketinggalan dipelintir makna dan pemahamannya kepada makna batil, menurut hawa nafsu mereka.
Atsar Ishaq bin Rahuyah dapat kita jadikan sebagai sebuah contoh. Kandungan riwayat Ishaq adalah vonis bahwa tidak ada satu pun hadits sahih menetapkan keutamaan Mu’awiyah z. Jadilah atsar ini sebagai dalih untuk mendhaifkan semua riwayat tentang keutamaan beliau z.
Syubhat ini sudah barang tentu memberikan pengaruh buruk, terutama bagi mereka yang tidak mengetahui hadits-hadits Nabi n. Lebih-lebih ucapan ini dinisbatkan kepada seorang pemuka ahli hadits, Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad al-Hanzhali Abu Muhammad bin Rahuyah al-Marwazi t (wafat 238 H), sahabat karib al-Imam Ahmad bin Hanbal asy-Syaibani t (wafat 241 H).
Akan tetapi, alhamdulillah, syubhat ini terbantah dengan terbuktinya kelemahan riwayat baik dari sisi matan maupun sanadnya.
Bahkan, seandainya pun atsar ini sahih, bisa ditakwilkan kepada makna bahwa Ishaq mungkin saja mengucapkannya ketika belum mengetahui riwayat-riwayat sahih tentang keutamaan Mu’awiyah z. Takwil ini kita tetapkan karena telah terbukti banyak riwayat sahih tentang keutamaan Mu’awiyah z. Selain itu, ahlul hadits juga bersepakat tentang kemuliaan beliau sebagai salah seorang sahabat Rasulullah n.
Pembaca rahimakumullah, untuk lebih jelas melihat sepak terjang musuh-musuh Allah l—seperti Syiah Rafidhah—dalam hal mempermainkan riwayat, kita akan telaah bersama beberapa hadits lemah yang mereka jadikan sandaran untuk mencela Mu’awiyah. Di samping itu, kita juga akan menelaah beberapa hadits atau atsar sahih yang mereka selewengkan maknanya demi menjatuhkan kehormatan Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Sebagian riwayat tersebut sengaja ditampilkan sebagai peringatan bagi seluruh kaum muslimin dari pemikiran pengikut hawa nafsu dan semoga menjadi bekal agar kita tidak lagi memedulikan bualan orang-orang yang berpenyakit. Hal ini karena di balik kefasihan yang mereka miliki, ada racun yang demikian berbahaya bagi hati seorang mukmin. Wallahul musta’an.

Di antara Hadits-Hadits Lemah berisi Celaan kepada Mu’awiyah z
Hadits Pertama: Rasulullah n memerintahkan sahabat membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Diriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمْ مُعَاوِيَةَ عَلَى مِنْبَرِي فَاقْتُلُوهُ
“Apabila kalian melihat Mu’awiyah di atas mimbarku, bunuhlah ia!”
Syiah Rafidhah dan musuh-musuh Allah l yang bersama mereka menonjolkan hadits ini untuk memuaskan kedengkian mereka kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Hadits ini mereka jadikan sebagai salah satu dalil untuk mengafirkan Mu’awiyah z.
Sebagai jawabannya, kita katakan, “Wahai Rafidhah, kalian adalah kaum yang telah tersesat dari jalan kebenaran. Buku-buku kalian dipenuhi celaan kepada Islam, sahabat, bahkan istri-istri Rasul n dan ahlul bait. Oleh karena itu, kami tidak percaya dengan ucapan yang muncul dari mulut-mulut kotor kalian, termasuk hadits yang kalian bawakan ini.
Wahai Rafidhah, bagaimana mungkin kita menerima celaan kalian atas Mu’awiyah z padahal salaful ummah, para ulama ahlul hadits, dan kaum muslimin telah bersepakat tentang keutamaan Mu’awiyah z? Bahkan, tidak ada seorang pun ulama Ahlus Sunnah yang mencela beliau, apalagi berkeyakinan halalnya pembunuhan atas beliau.
Terkait dengan hadits yang kalian bawakan, ketahuilah bahwa hadits ini maudhu’ (palsu). Seluruh jalan periwayatannya batil.
Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani t menyebutkan jalan-jalan hadits ini dalam Silsilah adh-Dha’ifah dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri, Abdullah bin Mas’ud, Sahl bin Hanif, dan secara mursal dari al-Hasan al-Bashri.3
Seluruh ulama hadits menganggapnya sebagai kedustaan. Di antara mereka adalah Ayyub as-Sikhtiyani sebagaimana disebutkan Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil fi Dhu’afa ar-Rijal (5/101), al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam al-‘Ilal (hlm. 138), Abu Zur’ah ar-Razi sebagaimana dinukil dalam adh-Dhu’afa (2/427), al-Bukhari dalam Tarikh al-Ausath (1/256), Ibnu Hibban al-Busti dalam al-Majruhin (1/157, 250 dan 2/172), Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil (2/146, 209, 5/101, 200, 314 dan 7/83), Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq (59/155—158), Ibnul Jauzi dalam al-Maudhu’at (2/24), demikian pula adz-Dzahabi dalam al-Mizan, dan Ibnu Katsir rahimahumullah.
Al-Bukhari t berkata setelah menyebutkan illat (cacat) hadits ini dari jalan yang paling masyhur,
لَيْسَ لَهَا أُصُولٌ، وَلاَ يَثْبُتُ عَنِ النَّبِيِّ n خَبَرٌ عَلَى هَذَا النَّحْوِ فِي أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n، إِنَّمَا يَقُولُهُ أَهْلُ الضَّعْفِ.
“Hadits ini tidak ada asalnya. Tidak ada satu kabar pun yang semisal ini (berisi perintah membunuh atau celaan) dari Nabi n terhadap seorang sahabat pun. Hanyalah orang-orang lemah yang berbicara seperti itu.” (Tarikh al-Ausath 1/256)
Al-Jauzaqani berkata, “Hadits ini maudhu’ (palsu), batil, tidak ada asalnya dalam hadits-hadits (Rasulullah n). Hadits ini tidak lain adalah hasil perbuatan ahli bid’ah para pemalsu hadits. Semoga Allah l menghinakan mereka di dunia dan akhirat. Barang siapa meyakini (kandungan) hadits palsu ini dan yang semisalnya, atau terbetik dalam hatinya bahwa hadits-hadits ini keluar dari lisan Rasulullah n, sungguh ia adalah seorang zindiq….” (al-Abathil wal Manakir 1/200)
Tindak-tanduk pengikut hawa nafsu memang sangat membingungkan, sekaligus menunjukkan kerusakan akal dan hatinya. Mereka berhujah dengan hadits maudhu’ (palsu) di atas, sementara itu mereka menutup mata terhadap hadits-hadits sahih tentang keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Pujian dan doa Rasulullah n untuk sahabat Mu’awiyah disembunyikan. Kedudukan Mu’awiyah sebagai saudara ipar Rasulullah n juga mereka lupakan. Seolah-olah tidak ada berita itu. Justru berita-berita palsu ditampakkan dan disebarkan. Inikah sikap keadilan?
Hadits palsu ini, kalau dicermati lebih dalam, justru mengandung celaan kepada seluruh sahabat, bahkan ahlul bait, semisal al-Hasan bin ‘Ali c. Sebuah kejadian tarikh yang masyhur dilalaikan oleh para pencela Mu’awiyah z, yaitu ‘Amul Jama’ah (Tahun Persatuan) ketika al-Hasan bin Ali c menyerahkan kekhilafahan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dan berbai’at kepada beliau pada tahun 41 H. Padahal, al-Hasan memiliki pasukan yang besar dan mampu mengobarkan pertempuran yang hebat.
Wahai Rafidhah, mengapa al-Hasan bin Ali c tidak membunuh Mu’awiyah bin Abi Sufyan c serta melaksanakan perintah dan wasiat kakeknya, Rasulullah n—kalau hadits ini memang benar?4
Terakhir, wahai Syiah Rafidhah, ketahuilah bahwa hadits maudhu’ ini diriwayatkan pula dengan lafadz,
إِذَا رَأَيْتُمْ مُعَاوِيَةَ عَلَى مِنْبَرِي فَاقْبَلُوهُ
“Jika kalian melihat Mu’awiyah di atas mimbarku, terimalah ia.”
Mengapa kalian tidak mengambil riwayat yang kedua ini, sebagaimana kalian memakai riwayat pertama yang sama-sama berita dusta?
As-Suyuthi dalam al-La’ali al-Mashnu’ah (1/389) berkata, “Sesungguhnya riwayat kedua ini lebih masuk akal daripada riwayat pertama.”
Hadits Kedua: Mu’awiyah z difitnah sebagai ahli maksiat, memakai baju sutra, dan menghamparkan kulit harimau sebagai tempat duduk.
Tuduhan keji ini dilandasi oleh sebuah riwayat panjang, yang dikeluarkan oleh al-Imam Abu Dawud dalam as-Sunan, Bab “Julud an-Numur wa as-Siba’ (Kulit-Kulit Harimau dan Hewan Buas)” (11/176 no. 3602). Dalam hadits itu dikatakan,
…. قَالَ: يَا مُعَاوِيَةُ، إِنْ أَنَا صَدَقْتُ فَصَدِّقْنِي، وَإِنْ أَنَا كَذَبْتُ فَكَذِّبْنِي. قَالَ: أَفْعَلُ. قَالَ: فَأَنْشُدُكَ بِاللهِ، هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ n نَهَى عَنْ لُبْسِ الذَّهَبِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَنْشُدُكَ بِاللهِ، هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ n نَهَى عَنْ لُبْسِ الْحَرِيرِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَنْشُدُكَ بِاللهِ، هَلْ تَعْلَمُ أَنَّ رَسُولَ اللهِ n نَهَى عَنْ لُبْسِ جُلُودِ السِّبَاعِ وَالرُّكُوبِ عَلَيْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَوَاللهِ، لَقَدْ رَأَيْتُ هَذَا كُلَّهُ فِي بَيْتِكَ، يَا مُعَاوِيَةُ. فَقَالَ مُعَاوِيَةُ: قَدْ عَلِمْتُ أَنِّي لَنْ أَنْجُوَ مِنْكَ، يَا مِقْدَامُ
Miqdam z berkata,“Wahai Mu’awiyah, jika aku benar katakan benar, namun jika aku salah, katakanlah salah.” Mu’awiyah menjawab, “Baiklah.” Kata Miqdam, “Dengan nama Allah, tahukah engkau bahwa Rasulullah n telah melarang untuk memakai emas (yakni bagi kaum lelaki, -pen.)?” Mu’awiyah berkata, “Benar.” Kata Miqdam, “Dengan nama Allah, tahukah engkau bahwa Rasulullah n telah melarang untuk memakai sutra?” Mu’awiyah berkata, “Benar.” Kata Miqdam, “Dengan nama Allah, tahukah engkau bahwa Rasulullah n telah melarang memakai kulit hewan buas dan mendudukinya?” Mu’awiyah berkata, “Benar.” Lalu Miqdam berkata, “Demi Allah, sungguh aku menyaksikan semua itu ada di rumahmu, wahai Mu’awiyah.” Berkatalah Mu’awiyah, “Sungguh aku tahu, aku tidak akan selamat darimu, wahai Miqdam!”
Kisah ini dha’if (lemah), dalam sanadnya ada Baqiyyah bin al-Walid. Dia seorang mudallis dan melakukan tadlis taswiyah5, lebih-lebih ia meriwayatkan hadits ini dengan ‘an’anah dari gurunya.6
Seandainya pun hadits ini sahih, wajib bagi kita berhusnuzhan kepada seluruh sahabat Rasulullah n karena mereka adalah kaum yang telah diridhai oleh Allah l. Demikianlah adab yang dicontohkan oleh salaf. Tidak ada seorang pun ulama Ahlus Sunnah yang memahami bahwa hadits riwayat Abu Dawud di atas adalah celaan terhadap Mu’awiyah z.
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah ketika mensyarah perkataan al-Miqdam bin al-Aswad z,
فَوَاللهِ، لَقَدْ رَأَيْتُ هَذَا كُلَّهُ فِي بَيْتِكَ، يَا مُعَاوِيَةُ
“Demi Allah, sungguh aku menyaksikan semua itu ada di rumahmu, wahai Mu’awiyah.”
Maksud Miqdam z, beliau melihat kemungkaran pada sebagian saudara atau keluarga Mu’awiyah. Telah diketahui bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan c tidak menyetujui hal itu dan tidak meridhainya. (Adapun masih adanya kemungkaran pada sebagian keluarga beliau), bisa jadi beliau tidak mengetahui kemungkaran tersebut atau beliau mengetahuinya dan telah melarangnya. Jika ada berita seperti ini tentang sahabat, kita wajib membawanya kepada makna yang baik sebagai bentuk husnuzhan kepada mereka. (Syarah Sunan Abu Dawud, asy-Syaikh Abdul Muhsin)

Hadits Ketiga: Mu’awiyah z dituduh mencela Ali bin Abi Thalib z dan memerintahkan rakyatnya mencela Ali z.
Tuduhan keji terhadap Mu’awiyah z ini mereka dasari dengan sebuah riwayat sahih yang mereka pelintir maknanya sesuai dengan hawa nafsu mereka. Dari ‘Amir bin Sa’d bin Abi Waqqash, ia berkata,
أَمَرَ مُعَاوِيَةُ سَعْدًا فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا تُرَابٍ؟ قَالَ: أَمَا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ رَسُولُ اللهِ، فَلَنْ أَسُبَّهُ، لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ لَهُ وَقَدْ خَلَّفَهُ فِي بَعْضَ مَغَازِيهِ فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ، تُخَلِّفُنِي مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ: أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَرُونَ مِنْ مُوسَى إِلاَّ أَنَّهُ لاَ نُبُوَّةَ بَعْدِي. وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فِي يَوْمِ خَيْبَرٍ: لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ.
Mu’awiyah memanggil Sa’d lalu bertanya, “Apa yang menghalangimu mencela Abu Turab?”7 Sa’d menjawab, “Apa yang aku sebutkan tentang tiga hal yang semuanya diucapkan oleh Rasulullah n kepada Ali z sehingga aku tidak mencelanya. Seandainya aku mendapatkan salah satu saja dari ketiganya, itu lebih baik bagiku daripada unta merah… Aku mendengar Rasulullah bersabda kepada Ali—ketika beliau tugaskan Ali tinggal di Madinah pada sebagian peperangan, dan saat itu Ali berkata, ‘Wahai Rasulullah n, apakah engkau tinggalkan aku beserta kaum wanita dan anak-anak kecil (dan aku tidak bisa ikut berperang)?’ Lalu beliau n bersabda, ‘Tidakkah engkau ridha, wahai Ali, kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa? Hanya saja (engkau bukan nabi), tidak ada kenabian sesudahku.’ Aku juga mendengar beliau n bersabda saat Perang Khaibar, ‘Sungguh esok aku akan berikan panji peperangan kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya, ia pun dicintai oleh Allah l dan Rasul-Nya’.”
Hadits ini tidak diragukan kesahihannya, dikeluarkan oleh al-Imam Muslim t dalam ash-Shahih no. 2404.
Musuh-musuh Allah l dan Rasul-Nya melihat ada celah dalam hadits ini untuk dibawa kepada makna yang batil. Sisi tersebut adalah pertanyaan Mu’awiyah kepada Sa’d bin Abi Waqqash z:
مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا تُرَابٍ؟
“(Wahai Sa’d) apa yang menghalangimu mencela Abu Turab (julukan Ali bin Abi Thalib z)?”
Segera Syiah Rafidhah mengambil kesimpulan keji dari pertanyaan itu bahwa Mu’awiyah membenci Ali bin Abi Thalib serta mengajak manusia membenci dan mencela Ali bin Abi Thalib z.
Tidak ada seorang pun ulama Ahlus Sunnah yang memahami riwayat ini sebagai celaan atas Mu’awiyah z. Coba kalian sebutkan, wahai Rafidhah, siapakah ulama yang memaknai hadits ini dengan celaan kepada Mu’awiyah?
Sebaliknya, riwayat ini justru menyanjung Mu’awiyah dan Daulah Umawiyah, karena ada tuduhan dari kalangan Rafidhah bahwasanya Bani Umayyah telah berbuat makar dengan menyembunyikan dan melarang disampaikannya hadits-hadits Nabi tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib z.
Hadits Muslim di atas justru sebaliknya. Dalam kisah di atas tampak bagaimana Mu’awiyah z menetapkan keutamaan Ali bin Abi Thalib yang disampaikan oleh Sa’d bin Abi Waqqash z. Hadits ini pun sampai kepada kita setelah melalui zaman yang cukup panjang, termasuk zaman Bani Umayyah.
Akan tetapi, Rafidhah dan pengikut mereka—sebagaimana biasanya—menyimpang dari jalan salaf (sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in) dan memilih jalan kesesatan. Mereka memalingkan maknanya kepada pemahaman yang sama sekali tidak pernah tebersit dalam benak ulama salaf.
Pembaca, mari kita simak keterangan salah seorang ulama Syafi’iyah, al-Imam an-Nawawi t. Beliau berkata, “Tidak ada (dalam perkataan Mu’awiyah) perintah kepada Sa’d untuk mencela Ali. Yang ada hanyalah pertanyaan kepada Sa’d tentang sebab yang menghalanginya dari mencela Ali. (Makna pertanyaan Mu’awiyah), “Wahai Sa’d, engkau menjauhkan diri dari mencela Ali, apakah (kau tinggalkan itu) karena wara’ (yakni karena Allah) atau karena takut (manusia)? Apabila engkau meninggalkannya karena wara’, engkau benar dan telah berbuat baik. Namun, apabila engkau meninggalkannya karena takut (manusia), urusannya lain.”
Sepertinya, Mu’awiyah menanyakan hal ini karena Sa’d (saat itu) berada di tengah-tengah kaum (Khawarij) yang mencela Ali bin Abi Thalib z, namun tidak mengikuti mereka. Maka dari itu, Mu’awiyah mengajukan pertanyaan ini. (Syarh Shahih Muslim, 15/175—176 atau 184—185)

Hadits Keempat: Mu’awiyah z dituduh memerintah pengikutnya memakan harta dengan cara yang batil dan memerintahkan mereka untuk bunuh diri.
Sekali lagi, ini adalah salah satu fitnah keji yang ditujukan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, penulis wahyu Allah l dan orang kepercayaan Rasulullah n.
Dalam upaya menegakkan syubhat ini, mereka ketengahkan sebuar atsar sahih berikut. Seseorang berkata kepada Abdullah bin ‘Amr bin al-Ash c,
إِنّ ابْنَ عَمِّكَ مُعَاوِيَةَ يَأْمُرُنَا أَنْ نَأْكُلَ أَمْوَالَنَا بَيْنَنَا بِالْبَاطِلِ وَنَقْتُلَ أَنْفُسَنَا. فَسَكَتَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو سَاعَةً ثُمَّ قَالَ: أَطِعْهُ فِي طَاعَةِ اللهِ وَاعْصِهِ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ
“Sesungguhnya anak pamanmu, Mu’awiyah, menyuruh kami untuk memakan (merampas) harta sebagian kita dengan batil, dan memerintahkan kita untuk membunuh diri kita.” Abdullah bin ‘Amr terdiam sejenak (atas pertanyaan itu) lalu berkata, “Taatilah Mu’awiyah dalam hal ketaatan kepada Allah dan ingkarilah dalam hal kemaksiatan kepada Allah.”
Atsar ini sahih, al-Imam Muslim t meriwayatkannya dalam Shahih-nya “Kitabul Imarah”, bab “Wujubil Wafa’ bi Bai’ihi al-Khalifah al-Awwal fal Awwal” (no. 1844).
Sebagai jawaban atas syubhat ini, kita cukupkan keterangan al-Imam an-Nawawi t dalam Syarh Shahih Muslim (12/476). Beliau t berkata, “Sang penanya, ketika mendengar Abdullah bin Amr bin al-Ash c menyebutkan hadits tentang haramnya memberontak kepada khalifah yang pertama, sedangkan khalifah yang kedua dibunuh (karena menentang penguasa pertama), muncul dalam benak penanya bahwa sifat ini ada pada Mu’awiyah karena Ali telah dibai’at sebagai khalifah. Sang penanya menyangka bahwa biaya yang dikeluarkan oleh Mu’awiyah untuk para prajurit dan pengikutnya dalam peperangan berhadapan dengan Ali z (dahulu dalam Perang Shiffin, -pen.) termasuk memakan harta dengan batil dan termasuk bunuh diri, karena peperangan itu (Shiffin) adalah perang yang tidak haq….”
Telah berlalu dalam pembahasan Perang Shiffin bahwa perang tersebut adalah perang fitnah. Terjadi karena perbedaan ijtihad dua sahabat mulia dalam masalah penegakan qishash atas para pembunuh Utsman bin Affan z. Mereka berdua berhak mendapatkan pahala mujtahid, bukan celaan, sebagaimana dilontarkan oleh kaum Rafidhah yang telah buta mata hati mereka, wal ‘iyadzu billah.

Hadits Kelima: Mu’awiyah z didoakan kejelekan oleh Rasulullah n.
Dari Ibnu Abbas c, ia berkata,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كُنْتُ أَلْعَبُ مَعَ الصِّبْيَانِ فَجَاءَ رَسُولُ اللهِ n فَتَوَارَيْتُ خَلْفَ بَابٍ، قَالَ: فَجَاءَ فَحَطَأَنِي حَطْأَةً وَقَالَ: اذْهَبْ وَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ. قَالَ: فَجِئْتُ فَقُلْتُ: هُوَ يَأْكُلُ. قَالَ: ثُمَّ قَالَ لِي: اذْهَبْ، فَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ. قَالَ: فَجِئْتُ فَقُلْتُ: هُوَ يَأْكُلُ. فَقَالَ: لَا أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَهُ. قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى: قُلْتُ لِأُمَيَّةَ: مَا حَطَأَنِي؟ قَالَ: قَفَدَنِي قَفْدَةً
Saat aku bermain bersama anak-anak kecil, datanglah Rasulullah n. Aku pun bersembunyi di balik pintu. Beliau pun memegangku seraya berkata, “Pergilah engkau, panggil Mu’awiyah kepadaku.” (Aku pergi) lalu aku datang dan kukatakan, “Ia sedang makan.” Beliau lagi, “Pergilah engkau, panggil Mu’awiyah kepadaku.” (Aku pergi) lalu aku datang dan kukatakan, “Ia sedang makan.” Rasul pun bersabda,
لَا أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَهُ
“Allah tidak akan mengenyangkan perutnya.”
Hadits ini sahih, diriwayatkan oleh Muslim (no. 4713).
Al-Imam Muslim t memahami sebagaimana yang dipahami oleh ulama salaf, ahlul hadits, bahwa Mu’awiyah bukan orang yang pantas mendapatkan doa kejelekan—lebih-lebih telah kita dengar hadits-hadits berisi pujian Rasulullah n kepada Mu’awiyah. Oleh karena itu, al-Imam Muslim menganggap hadits ini termasuk keutamaan Mu’awiyah z.
Sepintas, hadits ini memang doa kejelekan untuk Mu’awiyah bin Abu Sufyan z. Namun, salafus saleh justru memahaminya sebagai keutamaan sahabat yang mulia ini.
Oleh karena itu, Muslim mengeluarkan hadits ini untuk menetapkan keutamaan sahabat Mu’awiyah z. Beliau menyebutkan hadits ini dalam bab “Orang yang dilaknat atau dicerca atau didoakan kejelekan oleh Nabi n dan ia bukan orang yang pantas mendapatkannya, maka doa itu menjadi kesucian, pahala, dan rahmat Allah l.”
Hal ini berdasarkan sabda beliau dalam Shahih Muslim,
إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أَرْضَى كَمَا يَرْضَى الْبَشَرُ، وَأَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُ الْبَشَرُ، فَأَيُّمَا أَحَدٍ دَعَوْتُ عَلَيْهِ مِنْ أُمَّتِي بِدَعْوَةٍ لَيْسَ لَهَا بِأَهْلٍ أَنْ تَجْعَلَهَا لَهُ طَهُورًا وَزَكَاةً وَقُرْبَةً تُقَرِّبُهُ بِهَا مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Sungguh, aku hanya seorang manusia yang bisa ridha sebagaimana manusia ridha dan bisa marah sebagaimana manusia marah. Maka dari itu, siapa pun dari umatku yang aku doakan kejelekan yang ia tidak pantas mendapatkannya, jadikanlah doaku itu sebagai kebersihan, kesucian, dan kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah l di hari kiamat.”
An-Nanawi t berkata dalam syarah hadits ini7, “Apa yang terucap dari Rasul n berupa celaan atau doa semisal ini tidaklah beliau maksudkan. Akan tetapi, hal tersebut adalah sesuatu yang biasa terucap dalam adat orang Arab, yaitu ucapan tanpa niat, seperti ucapan (تَرِبَتْ يَمِينُكَ) “Celaka tanganmu!” … dan hadits Mu’awiyah (لاَ أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَهُ) “Allah tidak akan mengenyangkan perutnya”, dan semisalnya.
Orang Arab tidak memaksudkan sedikit pun hakikat (makna yang terkandung) dari kalimat tersebut. Rasulullah n (sebagai manusia biasa) pun khawatir seandainya (muncul dari beliau ucapan yang tidak beliau niatkan) kemudian doa tersebut dikabulkan. Oleh karena itu, beliau meminta Rabbnya dan mengharap kepada-Nya agar ucapan tersebut dijadikan sebagai rahmat, penghapus dosa, kebaikan, kesucian, dan pahala (bagi orang yang mendapatkan perkataan tanpa maksud tersebut).
Ucapan seperti itu hanya terjadi sesekali dan sangat jarang. Beliau n bukan seorang yang kasar, kotor ucapan, suka melaknat, atau membalas dendam untuk membela diri beliau.”8
Ibnu Katsir t berkata, “Sungguh, Mu’awiyah sangat mengambil manfaat dari doa ini di dunia dan di akhirat. Adapun di dunia, semenjak beliau menjadi gubernur di Syam, beliau makan sehari tujuh kali. Dihidangkan di hadapan beliau nampan besar berisi daging yang banyak dan bawang. Beliau makan dari nampan tersebut. Dalam sehari, beliau makan tujuh kali dengan daging, kue-kue, dan buah-buahan yang banyak (dan beliau tidak kekenyangan). Bahkan, beliau berkata, ‘Demi Allah aku tidak kenyang, namun aku berhenti karena letih.’ Ini hakikatnya adalah nikmat yang didambakan banyak raja.” (al-Bidayah wan Nihayah)
Adapun kebaikan di akhirat tampak dalam sabda Rasulullah n,
فَأَيُّمَا أَحَدٍ دَعَوْتُ عَلَيْهِ مِنْ أُمَّتِي بِدَعْوَةٍ لَيْسَ لَهَا بِأَهْلٍ أَنْ تَجْعَلَهَا لَهُ طَهُورًا وَزَكَاةً وَقُرْبَةً تُقَرِّبُهُ بِهَا مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ.
“Maka dari itu, siapa pun dari umatku yang aku doakan kejelekan yang ia tidak pantas mendapatkannya, jadikanlah doaku itu sebagai kebersihan, kesucian, dan kebaikan yang mendekatkannya kepada Allah l di hari kiamat.”9

Khatimah
Di antara kaum yang paling getol melakukan berbagai kebusukan adalah Syiah Rafidhah bersama dengan barisan musuh-musuh Islam. Tarikh membuktikan andil mereka yang sangat besar dalam membuat kerusakan di muka bumi dan bagaimana mereka terus berupaya mengusik kemurnian Islam dengan kesyirikan dan kebid’ahan.
Fakta ini tidak bisa ditutupi atau dimungkiri. Lisan-lisan mereka mengucapkannya. Buku dan tulisan menjadi saksi kedengkian mereka kepada para sahabat, istri-istri Rasulullah n, bahkan diri Rasulullah n. Permusuhan mereka terhadap Islam secara umum sangat tampak, lebih-lebih permusuhan terhadap Ahlus Sunnah. Hadits-hadits palsu dan lemah, demikian pula tafsiran-tafsiran ngawur terhadap hadits-hadits sahih yang telah kita kaji bersama adalah salah satu dari sekian banyak hadits yang dipakai oleh Rafidhah untuk mencela sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Permusuhan Rafidhah terus berlangsung sejak agama Rafidhah dibangun oleh Abdullah bin Saba’ al-Yahudi hingga saat ini, dan hingga masa yang dikehendaki oleh Allah l. Kalau bukan ruang yang membatasi, ingin sesungguhnya kita nukilkan ucapan-ucapan kotor salah seorang tokoh Syiah Rafidhah, yaitu Khomeini, yang banyak dipenuhi caci maki, celaan, dan cercaan kepada para sahabat, istri-istri Rasul, bahkan Nabi Muhammad n. Ucapan-ucapan kufurnya tertulis dalam buku-buku Syi’ah yang tidak mungkin mereka mungkiri.
Semoga Allah l menyelamatkan hati kita dari kedengkian kepada Islam dan kaum muslimin, terkhusus generasi terbaik, sahabat Rasulullah n. Semoga Allah l menyelamatkan kita dari fitnah yang datang seperti potongan malam yang gelap gulita. Amin.

Catatan Kaki:

1 Atsar adalah ucapan yang disandarkan kepada sahabat Nabi n atau generasi setelahnya. Adapun hadits adalah apa yang disandarkan kepada Rasulullah n baik berupa ucapan, perbuatan, taqrir (persetujuan), maupun sifat.

2 Beberapa riwayat marfu’ dan atsar tentang keutamaan Mu’awiyah z bisa dilihat kembali pada Kajian Utama edisi ini berjudul Keutamaan Mu’awiyah, Kesepakatan Ahlus Sunnah Sepanjang Zaman.

3 Lihat juz 10/605—611 hadits no. 4930.

4 Berhujah dengan hadits “Bunuhlah Mu’awiyah,” artinya mencela seluruh sahabat Nabi n yang melihat Mu’awiyah. Termasuk yang dicela adalah ahlul bait, di antaranya Ali bin Abi Thalib z dan al-Hasan bin Ali, karena tidak ada seorang pun dari mereka melaksanakan perintah Rasulullah n membunuh Mu’awiyah. Sebaliknya, mereka justru berbai’at dan mengiringi Mu’awiyah berjihad dalam futuhat (pembukaan wilayah baru Islam).

5Tadlis taswiyah adalah jenis tadlis yang paling berat. Orang yang melakukan tadlis taswiyah menggugurkan perawi yang dhaif di antara dua orang tsiqah yang salah seorang di antara keduanya mendengar dari yang lain.
6 Hadits ini dikeluarkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/132). Dalam riwayat Ahmad, Baqiyyah terang-terangan mendengar hadits dari gurunya, Bahir bin Sa’d, namun tidak cukup untuk menguatkan bagian yang terkait dengan kisah Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.

7 Lihat juga al-Bidayah wan-Nihayah, Ibnu Katsir (11/402) dan adz-Dzahabi dalam as-Siyar (3/124 dan 14/130).

8 Makna yang benar tentang hadits ini disebutkan pula oleh al-Albani dalam as-Silsilah ash-Shahihah (1/164—167, hadits no.82, 83, dan 84).
9 Lihat rubrik Manhaji edisi ini tentang penjelasan hadits di atas.

Keutamaan Mu’awiyah Bin abi Sufyan dalam Al-Qur’an

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal)

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadid: 10)
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Penaklukan.”
Mayoritas ahli tafsir menjelaskan bahwa yang dimaksud “al-fath” di sini adalah Fathu Makkah, yang menunjukkan kemenangan kaum muslimin dengan berhasilnya Rasulullah n dan para sahabatnya g.
Di antara yang menyebutkan penafsiran ini adalah Qatadah dan Zaid bin Aslam rahimahumallah. (Lihat Tafsir al-Qurthubi 20/240, Tafsir Ibnu Katsir 13/411)
Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud adalah Perjanjian Hudaibiyah. Pendapat ini diriwayatkan dari asy-Sya’bi dan az-Zuhri, serta dikuatkan oleh al-Allamah as-Sa’di rahimahumullah dalam Taisir al-Karim ar-Rahman.
Yang menguatkan pendapat yang kedua ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad t dari Anas bin Malik z yang berkisah, “Pernah terjadi perselisihan antara Khalid bin Walid dan Abdurrahman bin Auf c. Khalid berkata kepada Abdurrahman, ‘Engkau merasa bangga di hadapan kami dengan hari-hari yang kalian telah mendahului kami padanya.’ Sampailah berita kepada kami bahwa ucapan itu disampaikan kepada Nabi n.
Beliau n pun bersabda,
دَعُوا لِي أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنْفَقْتُمْ مِثْلَ أُحُدٍ أَوْ مِثْلَ الْجِبَالِ ذَهَباً مَا بَلَغْتُمْ أَعْمَالَهُمْ
“Biarkanlah para sahabatku untukku. Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud atau sebesar gunung-gunung, kalian tidak akan bisa melampaui amalan mereka.” (HR. Ahmad 3/266, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 3386)
Ibnu Katsir t menerangkan, “Sebagaimana diketahui, Khalid bin Walid z yang kepadanya tertuju ucapan ini, masuk Islam di antara Perdamaian Hudaibiyah dan Fathu Makkah. Perselisihan yang terjadi di antara keduanya adalah dalam hal menyikapi Bani Judzaimah, kabilah yang Rasulullah n mengutus Khalid bin Walid kepada mereka setelah Fathu Makkah.
Mereka (Bani Judzaimah) berkata, ‘Kami telah berganti agama. Kami telah berganti agama).’ Mereka belum pandai mengatakan, ‘Kami telah masuk Islam.’
Khalid bin Walid lantas memerintahkan untuk membunuh mereka dan membunuh yang tertawan dari mereka. Sementara itu, Abdurrahman bin Auf, Abdullah bin Umar, dan yang lainnya g berbeda pendapat. Akhirnya, terjadilah perselisihan antara Khalid dan Abdurrahman karena hal tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 13/412)

“(Balasan) yang lebih baik.”
Al-Husna yang dimaksud adalah al-jannah (surga), seperti halnya firman Allah l,
“Orang-orang yang berbuat baik akan mendapatkan al-husna….” (Yunus: 26)
Firman Allah l,
“Orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (al-Anbiya: 101)

Tafsir Ayat
Al-Allamah Abdurrahman As-Sa’di t menerangkan, “Yang dimaksud al-fath di sini adalah kemenangan di Hudaibiyah, yaitu ketika terjadi perdamaian antara Rasulullah n dan kaum Quraisy. Perdamaian itu menjadi sebab kemenangan besar yang dicapai oleh Islam, berbaurnya kaum muslimin dengan orang-orang kafir, mendakwahkan dien tanpa ada yang menghalangi. Hal ini menyebabkan manusia berbondong-bondong masuk Islam ketika itu. Kemuliaan dan keagungan Islam pun menjadi tampak.
Padahal, sebelum al-Fath, kaum muslimin tidak mampu mendakwahkan dien selain di daerah yang penduduknya telah memeluk Islam, seperti kota Madinah dan sekitarnya. Sementara itu, penduduk Makkah dan lainnya yang telah masuk Islam dan berada di daerah yang masih dikuasai oleh kaum musyrikin selalu diganggu dan diteror. Oleh karena itu, yang masuk Islam sebelum al-Fath (Hudaibiyah -pen.) lalu berinfak dan berjihad, lebih besar pahala dan ganjarannya daripada orang yang belum masuk Islam, berjihad, dan berinfak setelahnya. Ini sejalan dengan hikmah-Nya. Orang-orang lebih dahulu masuk Islam dan para sahabat yang mulia, mayoritas berislam sebelum al-Fath.
Boleh jadi, penyebutan rincian ini menimbulkan kesan mengurangi dan merendahkan kedudukan orang yang lebih rendah. Oleh karena itu, disebutkan dalam lanjutan ayat, ‘dan setiap mereka telah dijanjikan Allah l dengan al-jannah.’ Artinya, orang-orang yang masuk Islam, berjihad, dan berinfak baik sebelum maupun sesudah al-Fath, tetap mendapatkan janji jannah dari Allah l.
Hal ini sekaligus menunjukkan keutamaan seluruh sahabat g, yang Allah l mempersaksikan keimanan mereka dan menjanjikan mereka dengan surga. ‘Allah Maha Mengetahui apa yang kalian amalkan,’ dan setiap amalan yang kalian kerjakan akan dibalas.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Di dalam ayat ini ada yang tidak diungkapkan. Apabila dimunculkan, maknanya, “Orang yang berinfak dan berperang sebelum al-Fath tidak sama dengan orang yang berinfak dan berperang setelah al-Fath.”
Ucapan tersebut tidak disebutkan karena jelasnya makna ayat ini.
Di samping itu, dikuatkan juga oleh lafadz ayat setelahnya,
“Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu.”
Para ulama juga menjadikan ayat ini sebagai penjelasan tentang keutamaan orang yang lebih dahulu masuk Islam, berinfak, dan berjihad bersama Rasulullah n sebelum al-Fath. Para ulama menjelaskan bahwa sebab keutamaan tersebut adalah besarnya kedudukan pertolongan yang mereka berikan kepada Rasulullah n dengan jiwa dan harta, dalam kondisi jumlah kaum muslimin yang sedikit serta orang kafir masih memiliki kekuatan dan jumlah yang besar.
Oleh karena itu, bantuan dan pertolongan ketika itu lebih dibutuhkan daripada setelah al-Fath, ketika Islam telah kuat dan kekufuran telah melemah. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah l,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100) (at-Tafsir al-Kabir, 29/190)

Keutamaan Para Sahabat
Ayat ini menunjukkan keutamaan seluruh sahabat, dan sahabat yang lebih awal masuk Islam lebih utama daripada yang masuk Islam belakangan. Namun, tidak satu pun dari mereka yang tercela, bahkan mereka seluruhnya telah mendapatkan janji jannah dari Allah l.
Rasulullah n bersabda,
لَا تَسُبُّوا أَحَدًا منْ أَصْحَابِي، فِإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ
“Jangan kalian mencela seorang pun dari para sahabatku, karena sesungguhnya apabila salah seorang kalian berinfak emas sebesar Bukit Uhud, itu tidak akan mencapai satu mud infak mereka, tidak pula setengahnya.” (HR. Muslim no. 2541)
Hadits ini menunjukkan larangan mencela seorang pun dari kalangan sahabat g, tanpa membedakan antara sahabat yang awal masuk Islam dan yang masuk Islam setelah Fathu Makkah.
Selain itu, ayat ini menjelaskan keutamaan para sahabat yang pertama kali masuk Islam. Di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq z.
Al-Imam Malik t berkata, “Sepantasnya orang yang memiliki tekad dan keutamaan itu didahulukan.”
Al-Kalbi t menerangkan bahwa ayat ini turun tertuju pada diri Abu Bakr. Ayat ini adalah dalil yang jelas tentang diutamakan dan didahulukannya Abu Bakr z karena beliau adalah orang pertama yang masuk Islam.
Ibnu Mas’ud z berkata, “Orang pertama yang menampakkan Islam dengan pedangnya adalah Rasulullah n dan Abu Bakr z. Beliau (Abu Bakr) adalah orang pertama yang memberi infak kepada Rasulullah n.”
Ali bin Abi Thalib z berkata, “Nabi n telah mendahului, lalu Abu Bakr memimpin shalat, dan Umar pemimpin yang ketiga. Tidaklah didatangkan kepadaku seseorang yang lebih mengutamakan aku daripada Abu Bakr melainkan akan aku cambuk dengan hukuman (yang ditimpakan kepada) seseorang yang memfitnah, yaitu delapan puluh kali cambukan dan ditolak persaksiannya.” (Tafsir al-Qurthubi)
Ar-Razi t berkata, “Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang pertama kali berinfak di jalan Allah l dan berperang melawan musuh-musuh Allah l sebelum al-Fath lebih mulia daripada yang melakukan kedua amalan ini setelah al-Fath. Telah dimaklumi bahwa ahli infak adalah Abu Bakr z dan ahli perang adalah Ali z. Allah l lebih mendahulukan penyebutan ahli infak daripada ahli perang. Di sini ada isyarat tentang didahulukannya Abu Bakr z(daripada Ali) karena infak adalah bentuk kasih sayang. Berbeda halnya dengan perang yang merupakan bagian dari kemarahan. Selain itu, Allah l berfirman (dalam hadits qudsi),
إِنَّ رَحْمَتِي سَبَقَتْ غَضَبِي
“Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemarahan-Ku.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah z)
Oleh karena itu, ahli infak lebih didahulukan.
Jika ada yang berkata, ahli infak adalah Ali z berdasarkan firman Allah l,
“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insan: 8)
kami katakan, penyebutan secara mutlak sebagai ahli infak tidak teranggap melainkan jika dia menginfakkan harta yang banyak pada berbagai peristiwa besar. Disebutkan pula oleh al-Wahidi bahwa Abu Bakr z adalah orang yang pertama berperang atas nama Islam. Adapun Ali z pada awal Islam masih berstatus anak kecil dan belum menjadi ahli perang. Abu Bakr z beliau adalah seorang syaikh yang terkemuka dan senantiasa membela Islam hingga sempat terluka yang hampir mengantarnya kepada kematian.” (at-Tafsir al-Kabir, ar-Razi, 29/190)

Mu’awiyah bin Abi Sufyan Termasuk Sahabat yang Mulia
Telah terjadi perbedaan pendapat di kalangan ahli sejarah tentang kapan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z masuk Islam.
Ada ulama yang menyebutkan bahwa beliau termasuk sahabat yang masuk Islam di masa penaklukan kota Makkah. Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu Katsir, Ibnu Abdil Barr, an-Nawawi, Ibnul Qayyim, dan yang lainnya.
Ibnul Qayyim t berkata, “Tidak ada perselisihan bahwa Abu Sufyan dan Mu’awiyah masuk Islam pada Fathu Makkah di tahun kedelapan hijriah.” (al-Bidayah wan-Nihayah 12/102, al-Isti’ab, Ibnu Abdil Barr, 2346, Syarah Muslim, an-Nawawi, 8/231, Zadul Ma’ad 1/110)
Ulama yang lain menyebutkan bahwa beliau telah masuk Islam beberapa saat sebelum Fathu Makkah. Ada yang menyebutkan pada tahun al-Ghadhiyyah (tahun ketujuh hijriah) saat beliau berusia 18 tahun. Di antara yang berpendapat seperti itu adalah Abu Nu’aim al-Asbahani dalam Ma’rifatus Shahabah (5/2496) dan Abul Qasim Ali bin Hasan dalam Tarikh Madinati Dimasyq (59/60).
Perbedaan tersebut disebabkan Mu’awiyah z telah masuk Islam sebelum Fathu Makkah, namun menyembunyikan Islamnya. Hal ini sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Sa’d dalam Thabaqat-nya (1/131).
Inilah yang dipastikan oleh adz-Dzahabi. Ia berkata, “Beliau masuk Islam sebelum ayahnya pada masa umrah qadha, yaitu tahun ketujuh. Ia masih takut kepada ayahnya untuk keluar mendatangi Rasulullah n.” Ia juga mengatakan, “Beliau menampakkan Islamnya pada Fathu Makkah.” (Tarikh al-Islam, 4/308)
Diriwayatkan bahwa Mu’awiyah berkata, “Sungguh, aku telah masuk Islam di masa umrah qadha, namun aku takut untuk keluar. Ibuku berkata kepadaku, ‘Jika engkau keluar, kami akan memutus pemberian nafkah kepadamu’.” (Tahdzibul Kamal, al-Mizzi, 28/177)
Yang jelas, baik beliau masuk Islam saat Fathu Makkah maupun sebelumnya, beliau tetap termasuk dalam keumuman ayat Allah l yang menjanjikan al-husna, yaitu surga, untuk para sahabat.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan z pernah didoakan oleh Nabi n,
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ
“Ya Allah, jadikanlah ia (Mu’awiyah) sebagai pembimbing dan terbimbing, serta berilah hidayah (kepada manusia) melalui perantaraannya.” (HR.at-Tirmidzi dari Abdurrahman bin Abi Umairah z. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah, 4/1969).
Rasulullah n juga pernah mendoakan beliau,
اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ
“Ya Allah, ajarkanlah Mu’awiyah al-kitab dan perhitungan, serta peliharalah dia dari siksaan.” (HR. Ahmad [4/127] dari al-Irbadh bin Sariyah z. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3227)
Tatkala menjelaskan firman Allah l,
“Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya. Mudah-mudahan Rabbmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengannya; sedangkan cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan, ‘Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu’.” (at-Tahrim: 8)
Al-Ajurri t berkata, “Allah l telah memberi jaminan kepadanya bahwa Dia tidak akan menghinakannya karena beliau termasuk orang yang beriman kepada Rasulullah n.” (asy-Syari’ah, al-Ajurri, 5/2432)

 

Tanya Jawab Ringkas edisi 78

Janji Menceraikan yang Dibatalkan
Ada pasangan yang menikah karena terpaksa. Baru sekitar seminggu, si istri meminta cerai. Karena kasihan dan ingin menjaga nama baik keluarga, suami mau menceraikannya setelah setahun. Istri pun setuju. Setelah setahun, suami mengingatkan istrinya bahwa permintaan cerainya dulu telah sampai waktunya. Akan tetapi, si istri meminta maaf dan membatalkan permintaan cerainya. Suami tersebut setuju. Apakah hal tersebut sudah termasuk perceraian? Kalau termasuk, bagaimana cara rujuknya?
+6281541XXXXXX

Talak tidak jatuh dengan sebatas kemauan menalak setelah setahun. Akan tetapi, jika ia menggantungkan jatuhnya dengan waktu setahun, talak jatuh dengan tibanya waktu setahun tersebut.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Ragu, Bernazar atau Tidak
Sebelum diangkat menjadi karyawan tetap, seseorang bernazar ingin membagikan uang kepada saudaranya dalam jumlah banyak. Hanya saja dia lupa, sudah diucapkan lewat lisan atau belum karena sudah lama. Namun, dia pernah berdoa seperti itu. Alhamdulillah, dia diangkat menjadi karyawan tetap. Apakah nazarnya harus dipenuhi atau tidak?
+628567XXXXXX

Jika Anda ragu antara bernazar (mengucapkannya) dan tidak, hukum asalnya adalah tidak. Itulah yang meyakinkan. Perlu diingat, nazar bukan sesuatu yang dianjurkan untuk mencapai suatu tujuan, bukan pula faktor (sebab) yang dapat bermanfaat untuk mewujudkannya. Setidaknya, hukumnya makruh. Sebaiknya dia tetap bersedekah kepada saudara-saudaranya yang membutuhkan tanpa harus benazar.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Wanita yang Dinikahkan oleh Hakim
Bagaimana hukum pernikahan seorang janda yang dinikahkan oleh hakim, padahal ayah dari janda tersebut masih hidup dan dekat (tidak darurat)? Pernikahan itu sendiri terjadi tanpa sepengetahuan orang tuanya. Bagaimana jika pernikahan tersebut sudah terjadi?
+6285269XXXXXX

Jika tidak ada alasan yang dibenarkan syariat untuk beralih ke wali hakim (penghulu KUA), pernikahan itu tidak sah dan harus diulangi.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Haid Tidak Teratur
Saya seorang wanita yang tidak pernah mengalami istihadhah. Setelah menikah, haid saya kurang teratur. Pada haid kali ini, saya mengalami haid hingga sepuluh hari yang tidak teratur keluar darah haidnya. Misalnya, subuh suci, tetapi waktu dhuha haid, sampai berulang lagi. Apa yang harus saya lakukan?
+6281327XXXXXX

Itu adalah haid yang terputus-putus. Selama tidak ada lendir putih (tanda suci) yang keluar saat darah berhenti, maka itu adalah haid, kecuali jika darah berhenti lebih dari 24 jam menurut pendapat Ibnu Qudamah dan Ibnu ‘Utsaimin. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini
Mensyaratkan Menikah 2 Tahun Lagi
Saya pertama kali ta’aruf dengan seorang wanita melalui perantaraan kakak saya. Akhirnya, saya diterima dengan syarat pernikahan diadakan dua tahun kemudian. Apakah saya harus menunggu sampai waktu yang ditentukan?
+6283846XXXXXX

Tidak ada keharusan bagi Anda untuk menunggunya. Tergantung maslahat Anda, mana yang lebih baik antara menunggu dan tidak.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Menikahi Keponakan Istri
Bolehkah menikah dengan keponakan istri (anak dari kakak istri yang perempuan)? Benarkah jika orang yang sudah dizinai harus dinikahi?
+6285727XXXXXX

1. Jika Anda sudah berpisah dengan istri, boleh menikahi keponakannya tersebut. Adapun memadunya (poligami) dengan keponakannya, maka tidak boleh.
2. Tidak ada keharusan menikahi wanita yang telah dizinai. Tetapi, ia hanya boleh dinikahi ketika sudah bertobat dan melewati masa pembebasan rahim dari janin: sekali haid jika tidak hamil atau setelah melahirkan jika hamil.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Berjima’ dengan Istri yang Sudah Diniati untuk Ditalak
Bagaimana hukumnya berjima’ dengan istri yang sudah diniati untuk ditalak (baru dalam hati)?
+623177XXXXXX

Sebatas niat hendak menalak tidak dianggap sebagai talak. Keduanya tetap boleh berhubungan intim.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Izin Istri Pertama untuk Poligami
Apakah orang yang akan berpoligami harus meminta izin istri pertama terlebih dahulu?
+6285727XXXXXX

Izin dan ridha istri pertama bukan syarat untuk melakukan poligami.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Qadha Puasa bagi yang Sering Sakit
Saya mempunyai adik yang sudah wajib puasa Ramadhan, tetapi dia kurus dan sering sakit. Apakah dia boleh tidak berpuasa dan hanya membayar fidyah saja?
+6281998XXXXXX

Jika adik Anda mempunyai penyakit yang menurut diagnosis dokter spesialis tepercaya biasanya tidak ada harapan sembuh, kewajibannya adalah membayar fidyah sebagai pengganti puasa. Jika sakitnya tetap ada harapan sembuh dan terberatkan dengan puasa, ada keringanan berbuka dan wajib mengqadhanya jika telah sehat kembali.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Berbuka Puasa Menggugurkan Shalat Maghrib Berjamaah?
Apakah berbuka puasa menggugurkan kewajiban shalat maghrib berjamaah?
+628568XXXXXX

Pada asalnya, berbuka puasa tidak menggugurkan kewajiban shalat berjamaah. “Rasulullah n biasa berbuka dengan beberapa biji kurma segar sebelum shalat. Jika tidak ada, dengan beberapa kurma kering. Jika tidak ada, dengan beberapa teguk air.” (HR. Ahmad dan lainnya dari Anas z)
Namun, seandainya ada orang berpuasa yang sangat lapar dan tidak mampu menahan diri untuk langsung makan besar (nasi dan lauknya) padahal telah terhidang, tidak mengapa apabila ia ketinggalan shalat jamaah karenanya.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Orang Tua Tidak Suka Calon Istri Bercadar
Apa yang harus dilakukan jika saya akan menikah sedangkan orang tua tidak setuju karena saya tidak cukup kaya/mapan dan karena calon istri saya bercadar serta bukan sarjana? Saya sudah menasihati orang tua, tetapi mereka tetap menolak. Mohon nasihatnya.
+6287859XXXXXX

Jika demikian, Anda tidak harus menaati orang tua dalam hal memilih calon istri. Tetaplah menikah dengan wanita salehah yang berhijab dan bercadar. Kalau ada jalan, usahakan akhwat yang sarjana untuk melegakan orang tua dari segi ini, semoga Allah l membuka kalbu orang tua Anda suatu hari nanti.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Safar di Bulan Ramadhan, Puasa atau Tidak?
Ketika safar di bulan Ramadhan mana yang lebih utama, apakah berbuka (tidak berpuasa) dengan alasan mengambil rukhsah atau tetap berpuasa jika dirasa mampu?
+6285259XXXXXX

Musafir yang keadaannya sama saja baginya antara berpuasa dan tidak, yang afdal adalah yang termudah baginya terkait qadha puasanya. Jika berpuasa saat itu lebih mudah daripada mengqadha, afdal berpuasa. Jika mengqadha lebih mudah baginya, afdal berbuka. Ini yang rajih (kuat).
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Membayar Kafarat Dosa Ayah
Apakah boleh saya sebagai anak melakukan kafarat atas dosa yang ayah saya lakukan, yaitu memberi makan enam puluh orang miskin dan lainnya, karena ayah saya sudah tua dan pikun?
+6281327XXXXXX

Kalau ayah Anda mempunyai harta untuk membayar kafarat memberi makan enam puluh orang fakir miskin, bayarkan dari hartanya tersebut. Jika tidak ada, tidak ada tanggung jawab lagi atasnya.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Motor Terkena Zakat Mal?
Apakah motor dikenai wajib zakat mal 2,5% dari harga beli atau harga jual? Apakah zakat mal itu setiap tahun?
+6281578XXXXXX

Motor dan fasilitas lainnya yang dimiliki seseorang tidak terkena zakat mal. Jadi, motor Anda tidak terkena zakat.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Abu Sufyan Digugat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Al-ghayah tubarriru al-wasilah. Maknanya, tujuan menghalalkan segala cara. Apapun jalannya, baik atau buruk, zalim atau tidak, halal atau haram, yang penting tujuan tercapai. Demikianlah salah satu prinsip pengekor hawa nafsu, kapan pun dan di mana pun mereka berada.
Kaidah setan ini menjadi keledai tunggangan Rafidhah dan musuh-musuh Islam lainnya dalam upayanya mencela Mu’awiyah z. Untuk lebih menjatuhkan sahabat Mu’awiyah, mereka mencela pula ayahandanya, Abu Sufyan z. Namanya adalah Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf al-Umawi z. Sekian banyak celaan tertuju pada pribadi Abu Sufyan z sampai taraf pengafiran.
Untuk menepis syubhat ini, cukuplah kita sebutkan sebagian manaqib (keutamaan) Abu Sufyan z. Insya Allah apa yang sedikit ini bisa menjadi peringatan bagi orang yang masih memiliki kalbu dan mau memerhatikannya dengan mengharap ridha Allah l.
Ahlus Sunnah bersepakat bahwa Abu Sufyan z termasuk sahabat Rasulullah n. Beliau masuk Islam pada tahun Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah) sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat-riwayat yang sahih.
Beliau adalah mertua Rasulullah n. Putrinya, Ummu Habibah, Ramlah bintu Abi Sufyan, menjadi Ummul Mukminin jauh sebelum masuk Islamnya Abu Sufyan.
Di antara manaqib Abu Sufyan z, ketika Fathu Makkah Rasulullah n bersabda,
مَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَن دَخَلَ الْحَرَمَ فَهُوَ آمِنٌ، وَمَنْ أَغْلَقَ بَابَهُ فَهُوَ آمِنٌ
“Siapa yang masuk rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa yang masuk ke dalam Masjidil Haram, dia aman. Siapa yang mengunci pintu rumahnya, dia aman.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud no. 3023)
Tidak diragukan lagi keutamaan Abu Sufyan z dalam hadits ini. Rasulullah n memberikan penghormatan kepada Abu Sufyan z dan memuliakannya dengan memberikan keamanan kepada siapa saja yang masuk ke dalam rumahnya.
Di antara keutamaan Abu Sufyan z, Rasulullah n menjadikan putranya, Mu’awiyah z, sebagai sekretaris beliau dan pencatat wahyu. Sebuah tugas yang sangat penting dan strategis dalam perjalanan dakwah Rasulullah n.
Adapun permusuhan Abu Sufyan z terhadap Rasulullah n dan kaum muslimin, semua itu terjadi sebelum keislamannya. Peperangan-peperangan besar dan penting, seperti Perang Uhud dan Khandaq dipimpin oleh Abu Sufyan untuk memerangi Rasulullah n. Adapun setelah hidayah Islam memenuhi kalbunya, sungguh beliau termasuk sahabat terdepan dalam jihad fi sabilillah bersama Rasulullah n.
Orang yang mengungkit-ungkit permusuhan Abu Sufyan dengan Rasulullah n dan kaum muslimin sebelum keislamannya menunjukkan kebodohan dan kejahilannya terhadap rahmat Allah Yang Mahaluas. Tidakkah ia tahu, Islam menghapus dosa-dosa yang telah lalu seberapa pun besarnya? Rasulullah n bersabda,
الْإِسْلاَمُ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ مِنَ الذُّنُوبِ
“Islam menghapuskan segala dosa sebelumnya.”1
Permusuhan Abu Sufyan terjadi sebelum keislamannya. Adapun setelah masuk Islam, beliau menjadi pembela Islam yang sangat gigih dalam perjuangan dan berlomba meraih keutamaan bersama para sahabat lain yang telah mendahuluinya di atas keislaman.
Marilah kita lihat sebagian perjuangan Abu Sufyan z.
Rasulullah n mengutus Abu Sufyan bersama Mughirah bin Syu’bah untuk menghancurkan berhala al-Latta.2
Bersama dengan Rasulullah n, Abu Sufyan mengikuti Perang Hunain dan Perang Thaif.
Ibnu Hajar t mengisahkan bahwa az-Zubair meriwayatkan dari jalan Sa’id bin Ubaid ats-Tsaqafi berkata, “Saat perang Thaif berkecamuk, mata Abu Sufyan z terkena anak panah. Datanglah ia kepada Nabi n lalu berkata, ‘Mataku terluka di jalan Allah l.’ Rasulullah n bersabda,
إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ فَرُدَّتْ عَلَيْكَ، وَإِنْ شِئْتَ فَالْجَنَّةُ. قَالَ: الْجَنَّةُ
“Jika engkau suka aku akan mendoakanmu dan Allah l akan mengembalikan matamu. Namun, jika engkau suka (bersabarlah dan engkau akan mendapatkan) surga Allah l.”
Abu Sufyan berkata, “Aku memilih surga.” (al-Ishabah 3/413)
Jihad menegakkan kalimat Allah l dilanjutkan setelah wafatnya Rasulullah n. Ibnu Sa’d meriwayatkan dalam ath-Thabaqat al-Kubra dengan sanad yang sahih dari Sa’id bin al-Musayyib, dari bapaknya, yakni Musayyib3, ia berkata, “Aku kehilangan semua suara saat Perang Yarmuk kecuali suara seorang lelaki yang berseru,
يَا نَصْرَ اللهِ اقْتَرِبْ، الثَّبَاتُ، الثَّباَتُ يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ
“Pertolongan Allah telah dekat! Tetap teguhlah kalian. Tetap teguhlah kalian, wahai kaum muslimin!”
Musayyib berkata, “Aku pun melihat lelaki itu. Ternyata dia adalah Abu Sufyan yang berada di bawah bendera putranya, Yazid.”4
Di antara keutamaan Abu Sufyan sekaligus bantahan terhadap pernyataan Rafidhah bahwa Abu Sufyan seorang yang kafir adalah kesepakatan umat menerima hadits Abu Sufyan z. Al-Bukhari t meriwayatkan hadits Abu Sufyan yang panjang, yang menceritakan kisahnya dengan Heraklius. Hadits Abu Sufyan tentang dialognya bersama Heraklius diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, an-Nasa’i, dan at-Tirmidzi.
Sebagai penutup kita katakan, “Tidak ada seorang ulama sunnah pun yang menyatakan kekafiran Abu Sufyan. Sebaliknya, semua justru mengakui beliau sebagai sahabat. Bahkan, kaum muslimin bersepakat menerima riwayat Abu Sufyan dengan kesepakatan mereka menerima riwayat ash-Shahihain.”
Beliau meninggal pada tahun 33 H atau 34 H, tahun yang sama dengan meninggalnya al-Miqdad bin al-Aswad. Beliau meninggal pada usia 88 tahun atau 90 tahun dan dishalati oleh Utsman bin Affan z. (Lihat al-Wafayat 1/53, Syadzarat adz-Dzahab 1/31, dan Tahdzibul Kamal 13/121)

Catatan Kaki:

1 Hadits Amr bin al-Ash z yang panjang, diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (4/205),
لَمَّا أَلْقَى اللهُ عَزَّوَجَلَّ فِي قَلْبِي الْإِسْلَامَ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ n لِيُبَايِِعَنِي فَبَسَطَ يَدَهُ إِلَيَّ فَقُلْتُ: لاَ أُبَايِعُكَ، يَا رَسُولَ اللهِ، حَتَّى تَغْفِرَ لِي مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِي. قَالَ: فَقَالَ لِي رَسُولُ اللهِ n: يَا عَمْرُو، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْهِجْرَةَ تَجُبُّ مَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ؟ يَا عَمْرُو، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَجُبُّ مَا كَانَ قَبْلَهُ مِنَ الذُّنُوبِ؟
Ketika Allahlmemasukkan Islam dalam hatiku, aku menemui Rasulullah n agar beliau membai’atku. Ketika beliau ulurkan tangannya, aku berkata, “Aku tidak akan berbai’at kepadamu, wahai Rasulullah, sampai diampuni apa yang telah lalu dari dosa-dosaku.” Rasulullah n bersabda, “Wahai Amr, tidakkah engkau tahu bahwa hijrah menghapuskan dosa yang telah lalu? Wahai Amr, tidakkah engkau tahu bahwa Islam menghapuskan dosa-dosa yang telah lalu?”
2 Ibnu Hisyam (4/249).
3 Al-Musayyib termasuk sahabat yang berbai’at kepada Rasulullah n dalam Ba’iat Ridhwan.
4 Diriwayatkan pula oleh Ibnu ‘Asakir t dalam Tarikh Dimasyq (2/157), serta dinukilkan oleh Ibnu Hajar t dalam Tahdzibut Tahdzib (4/321) dan al-Ishabah (3/413).

Perang Shiffin, Celah Munafiqin Mencela Amirul Mu’minin

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Celaan kepada sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z dimunculkan pula dari sebuah peristiwa besar, Perang Shiffin. Peperangan dua barisan kaum muslimin itu dimanfaatkan oleh orang-orang munafik untuk mencela generasi terbaik, tanpa memahaminya dengan pemahaman salaful ummah.
Mereka menuduh Mu’awiyah z berkehendak merebut kekhilafahan Ali bin Abi Thalib z dalam perang itu. Mereka juga mengatakan bahwa perang antara Ali dan Mu’awiyah dalam Perang Shiffin sama dengan peperangan antara Ali dan kaum Khawarij. Mereka, kaum zindiq berkesimpulan, Mu’awiyah adalah pemberontak sebagaimana kaum Khawarij. Benarkah tuduhan itu? Bagaimana Ahlus Sunnah wal Jamaah menyikapi fitnah Perang Shiffin?

Perang Itu Akan Terjadi
Debu Shiffin membumbung ke angkasa. Perang besar antara dua barisan besar kaum muslimin tidak mungkin dielakkan sebagai ketetapan Rabbul ‘Alamin.
Perang Shiffin adalah perang fitnah dua barisan kaum mukminin. Allah l menakdirkan perang itu dengan hikmah yang sangat mendalam. Di antaranya, sebagai ujian bagi manusia dalam menyikapinya, apakah dia menyikapinya sesuai dengan bimbingan Rasulullah n dan mengikuti jalan salafus saleh atau ia binasa mengikuti gelombang kerusakan.
Allah l berfirman,
“Supaya Allah memisahkan (golongan) yang buruk dari yang baik dan menjadikan (golongan) yang buruk itu sebagiannya di atas sebagian yang lain, lalu kesemuanya ditumpukkan-Nya, dan dimasukkan-Nya ke dalam neraka Jahannam. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (al-Anfal: 37)
Perang Shiffin telah dikabarkan Rasulullah n dalam sabdanya,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ
“Tidak akan tegak hari kiamat hingga terjadi peperangan antara dua kelompok besar. Korban besar terjadi di antara keduanya. Kedua kelompok itu memiliki seruan yang sama (yakni keduanya dari kaum muslimin, -pen).” (HR. al-Bukhari, “Kitab al-Fitan” 13/88 no. 6588, Fathul Bari, Muslim 18/13 “Kitab al-Fitan wa Asyrathus Sa’ah” dari sahabat Abu Hurairah z)
Dua kelompok besar yang dimaksud dalam hadits ini—sebagaimana diterangkan oleh para ulama—adalah sahabat Ali z bersama barisannya dari penduduk Irak dan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z bersama barisannya dari penduduk Syam.1
Berita gaib dari Rasulullah n ini benar-benar terwujud sebagai salah satu mukjizat beliau yang terjadi pada masa awal Islam (yakni di saat para sahabat masih hidup).2
Shiffin adalah sebuah daerah yang berdekatan dengan negeri Riqqah di tepian sungai Efrat (=Furat, sungai di Irak). Di sanalah terjadi perang antara penduduk Irak di barisan sahabat yang mulia Ali bin Abi Thalib z dan penduduk Syam di barisan sahabat yang mulia Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, pada bulan Shafar 37 H. Sangat besar jumlah kaum muslimin yang terbunuh dalam Perang Shiffin. Tujuh puluh ribu muslimin, bahkan dikatakan lebih dari itu, harus mengembuskan napas terakhirnya di sahara Shiffin. Semoga Allahlmerahmati mereka.

Sikap Ahlus Sunnah dalam Perang Shiffin
Tidak diragukan, Perang Shiffin adalah ujian berat bagi kaum muslimin saat itu dan yang sesudahnya hingga hari kiamat.
Perang Shiffin, dalam tarikh Islam ibarat pedang bermata dua yang sangat tajam. Siapa yang berhati-hati memegangnya, ia akan selamat dan memperoleh kemenangan. Akan tetapi, siapa yang gegabah dan menzalimi dirinya dalam mencerna dan menyikapinya, pedang itu akan berbalik menusuk dadanya, merobek jantungnya hingga dia terkapar, binasa, dan terempas badai fitnah sembari membawa kemurkaan Allah l, Rabbul ‘Alamin.
Bagaimana seorang muslim menyikapi Perang Shiffin? Jawaban atas pertanyaan ini adalah: Wajib bagi seorang mukmin mengikuti bimbingan Rasulullah n dan menyusuri jejak para sahabat serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan dalam menyikapi fitnah Shiffin.
Allah l berfirman,
“Barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa: 115)
Ulama ahlul hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, menegaskan bahwa salah satu akidah yang dengannya seorang berbenteng dari terpaan fitnah adalah menahan diri membicarakan persengketaan yang terjadi di antara para sahabat.
Sesungguhnya, apa yang ditegaskan dan disepakati oleh salaf adalah bagian dari wasiat Rasulullah n dalam banyak sabda beliau. Di antaranya,
إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا
“Jika disebut-sebut tentang (perselisihan) sahabatku, tahanlah diri kalian (dari mencela mereka).” (HR. ath-Thabarani 2/78/2, Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam al-Hilyah 4/108, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani t dalam ash-Shahihah [1/75 no. 34])
Demikian pula sabda beliau n,
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Jangan kalian mencela sahabat-sahabatku. Jangan kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menandingi satu mud sedekah mereka atau setengahnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, ini adalah lafadz Muslim)
Inilah adab yang diajarkan oleh Allah lkepada kita dalam bersikap terhadap para sahabat Rasulullah n. Kita tidak berkata tentang mereka selain kebaikan dan kita selalu mendoakan mereka.
Allah lberfirman,
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang’.” (al-Hasyr: 10)
Suatu saat, al-Imam Ahmad t ditanya tentang apa yang terjadi antara dua sahabat mulia, Ali dan Mu’awiyah c. Beliau pun menjawab dengan membacakan firman Allah l,
“Itu adalah umat yang telah lalu, baginya apa yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan dimintai pertanggungjawaban tentang apa yang telah mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 141)
Benar, mereka adalah kaum yang telah berlalu membawa amalan-amalan yang menyebabkan Allah l ridha. Mereka telah mencurahkan segala kemampuan untuk kebaikan Islam. Adapun kesalahan yang terjadi pada diri mereka adalah hal yang bisa terjadi, karena tidak ada seorang sahabat pun yang maksum. Hanya saja, Allah l telah mengampuni dan meridhai mereka semua.

Alasan Wajibnya Menahan Diri Membicarakan Fitnah antara Sahabat
Kewajiban menjaga diri dari membicarakan fitnah yang terjadi di antara sahabat adalah prinsip Ahlus Sunnah yang sangat mendasar. Siapa yang melanggar prinsip ini, ia telah keluar dari jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ada beberapa sebab yang mendasari kewajiban menahan diri dari membicarakan fitnah yang terjadi di antara sahabat—termasuk Perang Shiffin, peperangan antara sahabat Ali dan Mu’awiyah c—di antaranya,
1. Rasulullah n memerintahkan kita untuk diam dan menahan diri ketika sahabat-sahabat Rasul n dibicarakan.
Rasulullah n bersabda,
إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا
“Jika disebut-sebut sahabatku (dengan kejelekan –pen.), tahanlah diri kalian!” (HR. ath-Thabarani 2/78/2, Abu Nu’aim al-Ashbahani dalam al-Hilyah 4/108, dan dinyatakan sahih oleh al-Albani t dalam ash-Shahihah [1/75 no. 34])
2. Membicarakan fitnah yang terjadi di tengah sahabat—tanpa diiringi ketakwaan dan akidah yang sahih—tidak memberikan faedah, baik ilmu maupun amal.
Lihatlah al-Khawarij dan Rafidhah, misalnya. Khawarij memandang dua kelompok yang berperang, yaitu sahabat Ali dan Mu’awiyah c kafir. Adapun Rafidhah mengafirkan Mu’awiyah z. Padahal dengan tegas Rasulullah n menyifati kedua kelompok itu dengan keimanan. Demikian pula, salaf bersepakat bahwa dua barisan tersebut adalah kaum muslimin. Perhatikan sabda beliau,
دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ
“Kedua kelompok itu memiliki seruan yang sama (yakni keduanya dari kaum muslimin).” (HR. al-Bukhari)
3. Membicarakan fitnah yang terjadi di tengah sahabat boleh jadi justru mengantarkan seseorang kepada akibat buruk yang tidak diharapkan, seperti pencelaan terhadap para sahabat Rasul n.
Hal ini menyebabkan dia tergelincir dengan munculnya kebencian terhadap sebagian atau banyak sahabat hingga ia pun binasa. Maka dari itu, hendaknya pintu ini ditutup. Di samping itu, termasuk pokok-pokok syariat adalah saddu adz-dzari’ah, menutup jalan yang akan mengantarkan kepada kebinasaan.
4. Tarikh (sejarah) fitnah yang terjadi di tengah-tengah sahabat telah disusupi kebatilan oleh ahlul bid’ah, kaum munafik, Rafidhah, dan musuh-musuh Islam.
Hal ini sebagaimana telah kita gambarkan dalam Kajian Utama Konspirasi Mencabik Kehormatan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Kenyataan ini tentu membuat seseorang khawatir untuk masuk kepada pembahasan fitnah. Boleh jadi, ia membangun sebuah kesimpulan atau keyakinan (i’tiqad) di atas berita yang dusta atau lemah sehingga rusaklah agamanya.
5. Fitnah di antara sahabat telah terjadi di zaman yang sangat jauh dari zaman kita. Sangat susah bagi kita sampai kepada hakikat sesungguhnya dari fitnah yang terjadi, bahkan mustahil kita mengetahui kejadian itu secara detail.
Tidakkah kita renungkan sejarah negeri kita, sejarah perjuangan kemerdekaan misalnya atau sejarah gerakan komunis PKI yang tidak jauh dari masa kita, tahun 60-an. Untuk mengetahui segala rentetan peristiwa dengan detail adalah perkara yang rumit. Lalu apa pendapat Anda tentang sejarah Perang Shiffin yang telah berlalu empat belas abad silam, dalam keadaan sejarah telah dimasuki oleh berita-berita dusta. Tidakkah seorang mengkhawatirkan diri dan agamanya ketika gegabah masuk ke dalamnya?
Inilah beberapa sebab yang mengharuskan seseorang tidak masuk dalam pembahasan fitnah melainkan jika diperlukan. Itu pun harus diiringi dengan akidah yang benar, akhlak mulia, dan rambu-rambu yang selalu diikuti dengan melihat penjelasan ulama ahlul hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta selalu menimbang berita dengan timbangan dan kaidah ulama.
Sepintas Kronologi Perang Shiffin
Orang-orang yang bodoh dari penduduk Mesir terhasut bujukan Ibnu Saba’ al-Yahudi untuk berserikat menggulingkan Utsman bin ‘Affan z dari kekhilafahan hingga berakhir dengan pembunuhan Khalifah ar-Rasyid.3
Wafatnya Utsman bin Affan z menjadi awal cobaan dan fitnah bagi kaum muslimin, sebagaimana dikabarkan beritanya oleh Rasulullah n dalam sabda beliau,
وَإِذَا وَقَعَ عَلَيْهِمُ السَّيْفُ لَمْ يُرْفَعْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Jika pedang telah dijatuhkan atas kaum muslimin, pedang itu tidak akan diangkat hingga hari kiamat.”4
Kondisi daulah menjadi genting dan sangat mencekam. Musuh-musuh Islam dari berbagai kalangan, seperti munafikin dan orang kafir, semakin mengintai. Demikian pula kelompok-kelompok sempalan yang sesat, seperti sekte Khawarij dan Syiah Rafidhah, memanfaatkan keadaan yang semakin tidak menentu. Hari-hari fitnah yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah n pun datang bergelombang.
Semenjak wafatnya Utsman bin Affan z, Ali bin Abi Thalib z menjadi manusia termulia di muka bumi dengan kesepakatan sahabat. Kaum muslimin, sahabat Muhajirin dan Anshar, berbai’at kepada Ali sebagai Amirul Mukminin, menggantikan Utsman bin Affan z5 di tengah-tengah kondisi negeri yang membutuhkan kesabaran.
Setelah Ali bin Abi Thalib z menjadi amirul mukminin, sekelompok sahabat menginginkan agar kasus pembunuhan Utsman bin Affan z segera dituntaskan dengan menegakkan qishash atas para pembunuh beliau karena mereka telah mencoreng kehormatan darah, kehormatan tanah haram, dan kehormatan bulan haram. Apalagi, manusia yang dibunuh adalah sahabat Utsman bin Affan z.
Di antara sahabat yang berpendapat demikian adalah Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Ummul Mukminin Aisyah g. Berbeda halnya dengan Ali bin Abi Thalib z. Beliau z berpandangan untuk menunda kasus pembunuhan Utsman hingga kondisi negara membaik.
Mu’awiyah bin Abi Sufyan—sebagai wali Utsman bin ‘Affan secara syariat—berhak menuntut qishash dari pembunuh Utsman sebagaimana firman Allah l,
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.” (al-Isra’: 33)
Mu’awiyah z memandang qishash harus segera dilakukan, tidak boleh ditunda. Ijtihad Mu’awiyah z berseberangan dengan ijtihad Ali bin Abi Thalib z. Oleh sebab itu, beliau menunda bai’at sampai para pembunuh Utsman z diserahkan untuk ditegakkan qishash. Ketika itu, Mu’awiyah z adalah gubernur Syam di masa khalifah Utsman bin Affan z. Dengan perbedaan ijtihad ini, tertundalah bai’at Mu’awiyah z dan penduduk Syam.
Ibnu Katsir t berkata, “Ketika bai’at telah kokoh untuk Ali bin Abi Thalib z, beberapa sahabat seperti Thalhah, az-Zubair, dan para pemuka sahabat g mengunjungi Ali z. Mereka meminta Ali z segera menegakkan had (qishash) dan menuntut balas darah Utsman z. Namun, Ali z menyampaikan uzur (untuk tidak secepat itu menegakkan qishash, -pen.) karena pembunuh-pembunuh Utsman z memiliki bala bantuan dan kroni-kroni, sehingga belum memungkinkan ditegakkan qishash saat itu. (al-Bidayah 7/239)
Kondisi daulah semakin diperparah dengan terjadinya Perang Jamal, yang sesungguhnya adalah bagian dari makar orang-orang Khawarij dan konspirasi para pembunuh Utsman bin Affan z. Perang Jamal juga semakin menunjukkan betapa bahayanya kondisi daulah karena makar para penyulut fitnah.
Perang Jamal terjadi pada 36 H. Sebab terjadinya perang ini diawali oleh keinginan baik Ummul Mukminin Aisyah x untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) antara dua barisan kaum muslimin. Berangkatlah Aisyah menuju Bashrah bersama Thalhah bin Ubaidillah, az-Zubair bin al-‘Awwam, dan sejumlah kaum muslimin dengan tujuan ishlah. Berjumpalah dua barisan besar kaum muslimin—barisan Ali dan Aisyah. Perdamaian pun terjadi di antara kedua belah pihak. Malam itu pun menjadi malam yang sangat indah dan tenang karena terwujudnya perdamaian.
Namun, para penyulut fitnah tidak tinggal diam. Mereka melakukan makar dengan membuat penyerangan dari dua kubu sekaligus. Akhirnya, pecahlah kekacauan. Khalifah Ali bin Abi Thalib menyangka beliau diserang sehingga harus membela diri. Demikian pula Aisyah, ia menyangka diserang sehingga harus membela diri. Terjadilah peperangan yang sesungguhnya tidak diinginkan. Yang harus diketahui, tidak ada sahabat yang ikut dalam fitnah tersebut melainkan beberapa orang saja.6
Kondisi yang semakin parah dan fitnah yang semakin meruncing, demikian pula makar Khawarij, Syiah Rafidhah, dan kaum munafik yang terus diembuskan, membuat Khalifah Ali bin Abi Thalib z semakin berat menegakkan qishash dan semakin kokoh mempertahankan ijtihad beliau demi kemaslahatan kaum muslimin.
Perlu menjadi perhatian, Ali bin Abi Thalib z sesungguhnya tidak menyelisihi keinginan wali Utsman dan para sahabat yang menghendaki ditegakkannya qishash. Beliau sepakat dan berniat untuk menegakkan qishash. Namun, masalahnya tidak sesederhana yang dibayangkan—menangkap pembunuh Utsman lalu memenggalnya. Tidak sesederhana itu. Orang-orang yang mengepung rumah Utsman bin Affan z dan berperan dalam pembunuhan beliau sangat banyak dan berpencar di tubuh kaum muslimin.
Ijtihad Mu’awiyah bin Abi Sufyan c tidak sejalan dengan ijtihad sahabat Ali bin Abi Thalib z. Ali memiliki sisi pandang yang berbeda dengan Mu’awiyah z. Beliau z melihat bahwa masa itu adalah zaman fitnah. Pembunuhan Utsman bin ‘Affan z benar-benar merupakan fitnah yang demikian besar. Keadaan dan kondisi daulah benar-benar rumit dan membahayakan, baik internal maupun eksternal. Musuh-musuh Islam dari luar selalu mengintai dan melihat kelengahan kaum muslimin. Di samping itu, kaum munafik yang berada di dalam tubuh kaum muslimin juga mengintai dan menanti saat untuk menghancurkan Islam.
Dengan latar belakang kondisi daulah yang seperti ini, ‘Ali z melihat untuk memperbaiki kondisi daulah lebih dahulu agar situasi menjadi tenang dan normal setelah kepiluan dan mendung kelabu menimpa kaum muslimin. Baru setelah itu qishash atas darah Utsman berusaha ditegakkan apabila memang wali Utsman menghendaki atau mungkin memaafkan dan diganti dengan diyat.
ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barang siapa yang mendapat suatu pemaafan dari saudaranya, hendaklah (yang memaafkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi maaf) membayar (diat) kepada yang memberi maaf dengan cara yang baik (pula). Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Rabb kamu dan suatu rahmat. Barang siapa yang melampaui batas sesudah itu, maka baginya siksa yang sangat pedih.” (al-Baqarah: 178)
Terjadilah surat-menyurat antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Beliau mengutus Jarir bin Abdilah al-Bajali z mengantar surat kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan c yang berisi pemberitahuan bahwa sahabat Muhajirin dan Anshar telah memberikan bai’at kepada Ali. Beliau sangat mengharap Mu’awiyah segera berbai’at kepada Ali sebagaimana manusia yang lain.
Sesampainya surat ke tangan Mu’awiyah, dipanggillah Amr bin al-Ash z dan pemuka-pemuka Syam untuk dimintai pendapat. Berakhirlah musyawarah Mu’awiyah dengan tetap menolak bai’at sampai Ali membunuh para pembunuh Utsman bin Affan z atau menyerahkannya kepada penduduk Syam. Kembalilah Jarir bin Abdillah z dengan hasil ijtihad Mu’awiyah bin Abi Sufyan tersebut….
Dua hari berlalu kedua sahabat mulia tidak melakukan surat-menyurat.
Ali bin Abi Thalib mengutus Basyir bin ‘Amr al-Anshari, Sa’id bin Qais al-Hamdani, dan Syabts bin Rib’i at-Tamimi menemui Mu’awiyah. “Pergilah kalian kepadanya. Ajak dia dalam ketaatan dan jamaah. Kalian dengarkan jawaban Mu’awiyah.”
Setelah mereka bertemu Mu’awiyah, perbincangan tetap berakhir pada kekokohan Mu’awiyah di atas ijtihad beliau untuk menuntut darah pembunuh Utsman sebelum memberikan bai’at kepada Ali bin Abi Thalib z.7
Akhirnya, kedua pasukan bertemu. Perang tidak dapat dielakkan. Terjadilah seperti apa yang pernah dikabarkan oleh Rasulullah n dalam sabdanya,
لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَقْتَتِلَ فِئَتَانِ عَظِيمَتَانِ يَكُونُ بَيْنَهُمَا مَقْتَلَةٌ عَظِيمَةٌ دَعْوَتُهُمَا وَاحِدَةٌ
“Tidak akan tegak hari kiamat hingga terjadi peperangan antara dua kelompok besar. Korban besar terjadi di antara keduanya. Kedua kelompok itu memiliki seruan yang sama (yakni keduanya dari kaum muslimin, -pen.).”

Akhir Peperangan
Korban kaum muslimin dari dua belah pihak berjatuhan. Jumlah muslimin yang terbunuh sangat besar, seperti berita ar-Rasul n puluhan tahun silam. Di tengah peperangan, penduduk Syam mengangkat mushaf-mushaf al-Qur’an dengan tombak mereka seraya berseru, “Al-Qur’an di antara kita dan kalian. Sungguh manusia telah binasa. Lantas siapa yang akan menjaga perbatasan Syam sepeninggal penduduk Syam? Siapa pula yang akan menjaga perbatasan Irak sepeninggal penduduk Irak?”
Di saat manusia melihat mushaf-mushaf diangkat, semua tersadar bahwa perang yang terjadi adalah perang fitnah. Korban yang berjatuhan adalah kaum muslimin. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kedua belah pihak kemudian mengutus seorang yang arif dan tepercaya untuk bermusyawarah memutuskan urusan kaum muslimin. Diutuslah Amr bin al-Ash z dari pihak Mu’awiyah bin Abi Sufyan z dan Abu Musa al-‘Asy’ari z dari pihak Ali bin Abi Thalib z. Keduanya bersepakat bahwa dua pasukan besar kaum muslimin menyudahi fitnah dan segera kembali ke tempat masing-masing. Selanjutnya, akan diadakan pembicaraan dan musyawarah setelah segala sesuatunya tenang dan pulih.
Demikianlah yang terjadi, fitnah berakhir dengan keutamaan dari Allah l. Setelahnya, tidak terjadi sesuatu pun antara Ali bin Abi Thalib dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Khalifah Ali bin Abi Thalib z terus menyibukkan diri mengemban amanat sebagai Amirul Mukminin dan memerangi kaum Khawarij sesuai dengan perintah Rasulullah n hingga terjadi pertempuran Nahrawan pada 39 H. Sebuah perang besar memberantas kaum Khawarij.

Tahun Jama’ah, Kemuliaan al-Hasan c & Keutamaan Mu’awiyah z
Pada tahun 40 H, musibah kembali menimpa kaum muslimin. Khalifah Ali bin Abi Thalib z dibunuh oleh Abdurrahman bin Muljam al-Khariji.8 Sepeninggal Ali bin Abi Thalib, kaum muslimin membai’at al-Hasan bin Ali z menggantikan posisi ayahandanya.
Kekuatan kaum muslimin masih terpecah menjadi dua barisan. Perpecahan masih terus membayangi perjalanan Daulah Islamiyah. Namun, dengan pertolongan Allah l, pada tahun 41 H terjadi sebuah peristiwa besar yang sangat membahagiakan. Kaum muslimin bersatu dalam satu kepemimpinan. Bersatu pula hati mereka yang sebelumnya berselisih.
Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib c mendamaikan dua golongan besar kaum muslimin dengan menyerahkan kekhilafahan kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Terwujudlah berita Rasulullah n tiga puluhan tahun sebelum tahun jamaah.
Al-Hasan z berkata,
وَلَقَدْ سَمِعْتُ أَباَ بَكْرَةٍ قَالَ: بَيْنَا النَّبِيُّ n يَخْطُبُ جَاءَ الْحَسَنُ، فَقَالَ النَبِيُّ n: إِنَّ ابْنِي هَذَا لَسَيِّدٌ، وَلَعَلَ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مَنْ الْمُسْلِمِينَ.
Sungguh aku mendengar Abu Bakrah berkata, “Suatu hari ketika Nabi n berkhutbah, al-Hasan datang. Beliau lantas bersabda, ‘Sesungguhnya anakku ini benar-benar sayyid (seorang pemimpin), dan Allah akan mendamaikan dengan sebab dia dua kelompok besar dari kaum muslimin’.” (HR. al-Bukhari no. 6692–2557)
Al-Hafizh Ibnu Katsir asy-Syafi’i t berkata, “Ketika itu, masyarakat seluruhnya bersatu atas bai’at kepada Mu’awiyah pada tahun 41 H … Pemerintahan beliau terus berlangsung hingga wafatnya. Selama itu pula, jihad ke negeri musuh ditegakkan dan kalimat Allah l ditinggikan. Harta rampasan perang terus mengalir ke baitul mal. Bersama beliau, kaum muslimin berada dalam kelapangan dan keadilan.” (al-Bidayah wan Nihayah 8/122)

Syubhat Terkait dengan Perdamaian al-Hasan bin Ali c dan Mu’awiyah z
Lembaran tarikh yang sangat indah ini dikotori oleh para pendengki kebaikan dari kalangan Rafidhah dan yang semisalnya dengan tuduhan keji kepada al-Hasan. Mereka mengatakan bahwa al-Hasan terpaksa melakukan perdamaian karena dikhianati para pengikutnya. Digambarkan bahwa pasukan al-Hasan meninggalkan beliau sehingga terpaksa ia memberikan kekhilafahan kepada Mu’awiyah z.
Tidak, demi Allah. Perdamaian yang diberikan oleh al-Hasan adalah karena kedalaman ilmu dan ketakwaan beliau yang luar biasa. Ilmu dan ketakwaan seorang yang telah ditetapkan sebagai pemimpin para pemuda surga.
Beliau memberikan perdamaian untuk menjaga darah kaum muslimin dan untuk meninggikan kalimat Allah l, bukan karena takut. Terwujudlah sabda Rasul n bahwa al-Hasan adalah sayyid (pemuka).
Riwayat al-Imam al-Hakim dalam al-Mustadrak mempertegas keadaan sesungguhnya dari perdamaian al-Hasan dengan Mu’awiyah c. Al-Hasan z berkata,
قَدْ كَانَ جَمَاجِمُ الْعَرَبِ فِي يَدِي يُحَارِبُونَ مَنْ حَارَبْتُ وَيُسَالِمُونَ مَنْ سَالَمْتُ، تَرَكْتُهَا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ تَعَالَى وَحَقْنَ دِمَاءِ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ n
“Sungguh kekuatan Arab ada pada tanganku. Mereka siap memerangi orang yang ingin aku perangi. Mereka pun akan memberikan jaminan keamanan kepada orang yang aku beri jaminan. Namun, aku meninggalkannya demi mengharap wajah Allah dan mencegah tertumpahnya darah umat Muhammad n….” (HR. al-Hakim dalam al-Mustadrak no. 4795. Al-Hakim berkata, “Sanad hadits ini sahih menurut syarat Syaikhain dan disepakati oleh adz-Dzahabi dalam at-Talkhish.”)

Kesimpulan dan Hakikat Penting yang Harus Dimengerti
Ahlus Sunnah meyakini bahwa sahabat tidaklah maksum. Akan tetapi, keutamaan, ibadah, dan istighfar mereka, serta sebab-sebab lainnya menjadikan dosa mereka gugur terpendam dalam lautan kemuliaan.
Mu’awiyah z sama sekali tidak bermaksud mencabut ketaatan kepada Ali atau merebut tampuk kekhilafahan. Beliau hanya berijtihad menunda bai’at hingga ditegakkan qishash. Beliau pun tidak menyangka bahwa ijtihad tersebut mengakibatkan terjadinya peperangan besar yang memakan banyak korban.
Perang Shiffin sama sekali tidak diinginkan, baik oleh Ali maupun Mu’awiyah. Dua sahabat yang mulia berijtihad dengan ijtihad yang mereka pandang paling baik bagi kaum mukminin.
Dengan demikian, mereka semua mendapatkan pahala dari ijtihad mereka sesuai dengan sabda Rasulullah n, “Yang benar ijtihadnya mendapatkan dua pahala dan yang salah mendapatkan satu pahala atas ijtihadnya.”
Abu Bakr Ibnu Abid Dunya berkata, “Abbad bin Musa bercerita kepadaku, Ali bin Tsabit al-Jazari berkata kepadaku, dari Sa’id bin Abi ‘Arubah, dari Umar bin Abdul Aziz t, beliau berkata,
رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ n فِي الْمَنَامِ وَأَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ جَالِسَاهُ عِنْدَهُ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ وَجَلَسْتُ، فَبَيْنَمَا أَنَا جَالِسٌ إِذْ أُتِيَ بِعَلِيٍّ وَمُعَاوِيَةَ، فَأُدْخِلَا بَيْتًا وَأُجِيفَ الْبَابُ وَأَنَا أَنْظُرُ، فَمَا كَانَ بِأَسْرَعَ مِنْ أَنْ خَرَجَ عَلِيٌّ وَهُوَ يَقُولُ: قُضِيَ لِي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ. ثُمَّ مَا كَانَ بِأَسْرَعَ مِنْ أَنْ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ وَهُوَ يَقُولُ: غُفِرَ لِي وَرَبِّ الْكَعْبَةِ.
Aku melihat Rasulullah n dalam mimpi duduk bersama Abu Bakr dan Umar. Aku ucapkan salam kepada beliau lalu duduk. Ketika aku duduk, dihadapkan Ali dan Mu’awiyah. Keduanya lantas dimasukkan ke dalam sebuah rumah dan ditutuplah pintunya. Aku pun menanti. Tidak lama kemudian keluarlah Ali seraya berseru, “Urusanku dibenarkan, demi Rabb Ka’bah.” Tidak selang lama keluarlah Mu’awiyah seraya berseru, “Aku telah diampuni, demi Rabb Ka’bah.”
Sahabat yang berselisih tidak saling merendahkan satu dengan lainnya, bahkan mereka tetap saling mencintai di atas kecintaan kepada Allah l.9
Dalam Perang Shiffin, tidak ada sahabat yang ikut serta melainkan sangat sedikit. Kebanyakan mereka meninggalkan kancah dan menjauh dari fitnah, seperti Sa’d bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Muhammad bin Maslamah, Abu Bakrah Nufai’ bin al-Harits, Abu Musa al-Asy’ari, Salamah bin al-Akwa’, Usamah bin Zaid, Abu Mas’ud al-Anshari, dan sahabat lainnya, g.
Sa’d bin Abi Waqqash z berkata ketika diajak berperang,
لاَ أُقَاتِلُ حَتَّى يَأْتُونِي بِسَيْفٍ لَهُ عَيْنَانِ وَلِسَانٌ وَشَفَتَانِ يَعْرِفُ الْكَافِرَ مِنَ الْمُؤْمِنِ
“Aku tidak akan berperang sampai ada seorang datang membawa pedang untukku, yang memiliki dua mata, lisan, dan dua bibir yang bisa mengerti siapa yang kafir dan siapa yang mukmin.” (HR. al-Hakim 4/444. Ia berkata, “Hadits ini sahih sesuai dengan syarat Syaikhain.” Ini disepakati oleh adz-Dzahabi t.)

Dua Kelompok yang Bertikai Adalah Kaum Mukminin
Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah n di atas. Hadits yang lebih tegas menunjukkan bahwa kedua pasukan adalah kaum mukminin, adalah hadits Abi Bakrah z tentang keutamaan al-Hasan bin Ali c. Rasulullah n bersabda,

إِنَّ ابْنِي هَذَا لَسَيِِّدٌ، وَلَعَلَّ اللهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ.
“Sesungguhnya anakku ini benar-benar sayyid (seorang pemimpin) dan Allah akan mendamaikan dengan sebab ia dua kelompok besar dari kaum muslimin.” (HR. al-Bukhari no. 6692 – 2557)
Perang di antara mukminin mungkin terjadi sebagaimana firman Allah l,
“Jika ada dua golongan dari orang-orang mukmin berperang, damaikanlah keduanya.” (al-Hujurat: 9)
Dua golongan besar kaum muslimin bersatu pada 41 H, yang dikenal sebagai ‘Amul Jama’ah (tahun persatuan), atas jasa al-Hasan bin Ali c, cucu Rasulullah n, pemimpin pemuda ahlul jannah.

Catatan Kaki:

1 Lihat Fathul Bari (13/92).
2 Syarah Shahih Muslim, an-Nawawi (18/13).

3 Sejarah terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan z dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah No. 57/V/1431 H/2010, Meluruskan Sejarah Memurnikan Akidah.
4 HR. Abu Dawud no. 4252 dan Ibnu Majah no. 3952, serta dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no.1773.
5 Selain Mu’awiyah sebagai gubernur Syam, demikian pula penduduk Syam menunda bai’at hingga ditegakkan qishash atas para pembunuh Utsman.

6 Lihat Tasdid al-Ishabah fima Syajara Bainash Shahabah, oleh Dziyab bin Sa’d al-Ghamidi dengan pengantar asy-Syaikh Prof. Dr. Shalih bin Fauzan.

7 Lihat Tarikh al-Umam wal Muluk karya Ibnu Jarir ath-Thabari (4/573) dan al-Bidayah wan Nihayah karya Ibnu Katsir (7/280).

8 Kisah meninggalnya Ali bin Abi Thalib z dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah No. 57/V/1431 H/2010, “Meluruskan Sejarah Memurnikan Akidah”, Rubrik Kajian Utama berjudul Manusia Paling Celaka adalah Pembunuhmu, Wahai Ali!

9 Al-Intishar lish Shahabatil Akhyar, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, hlm. 173—178.

 

 

Keutamaan Mu’awiyah Kesepakatan Ahlussunah Sepanjang Zaman

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z adalah perkara yang sangat jelas menurut para sahabat, tabi’in, dan atba’ut tabi’in. Demikian pula dalam pandangan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.
Keutamaan Mu’awiyah z adalah kesepakatan umat. Tidak ada seorang ulama pun yang mencela Mu’awiyah z, apalagi mengeluarkan beliau dari wilayah Islam. Justru sebaliknya, ulama bersepakat bahwa Mu’awiyah z adalah sahabat Rasulullah n, generasi terbaik yang beliau n puji. Adapun dalil-dalil kaum zindiq (munafik) untuk menyudutkan Mu’awiyah z, semua adalah dalil-dalil palsu, lemah, atau riwayat sahih yang disimpangkan maknanya menurut akal mereka yang rusak.
Dalam ruang yang terbatas mari kita telaah bersama beberapa keutamaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan z. Semoga Allah l memberkahi setiap langkah kita dan membimbing kita di atas jalan-Nya yang lurus. Amin.

Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, Paman Kaum Mukminin
Beliau adalah Amirul Mukminin, Abu Abdirrahman Mu’awiyah bin Abi Sufyan—Harb—bin Umayyah bin Abdisy Syams bin Abdi Manaf al-Umawi z.
Nasabnya yang mulia bertemu dengan nasab Utsman bin Affan z pada Umayyah bin Abdisy Syams, dan bertemu dengan nasab Rasulullah n pada kakeknya, Abdu Manaf.
Beliau masuk Islam sebelum Fathu Makkah. Ibnu Asakir t meriwayatkan dalam Tarikh Dimasyq dengan sanadnya sampai kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, ia berkata, “Aku telah masuk Islam lebih dahulu dari itu (Fathu Makkah), tetapi aku menyembunyikan keislamanku… Demi Allah, ketika Rasulullah n meninggalkan Hudaibiyah, saat itulah aku beriman kepada beliau.”1
Mu’awiyah z memiliki kedekatan dengan Rasulullah n. Saudarinya seayah, Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan z, dipersunting oleh Rasulullah n menjadi salah satu ummahatul mukminin, ahlu bait Rasulullah n. Mu’awiyah pun menjadi saudara ipar Nabi n dan mendapat julukan “Khal al-Mukminin”, paman kaum mukminin.
Diriwayatkan dengan sanad yang sahih bahwa al-Imam Ahmad bin Hanbal t (wafat 241 H) berkata, “Mu’awiyah adalah paman kaum mukminin. Demikian pula, Ibnu Umar adalah paman kaum mukminin.” (as-Sunnah, al-Khallal, 2/433)
Seseorang bertanya kepada al-Hakam bin Hisyam al-Kufi, “Apa pendapatmu tentang Mu’awiyah?”
Ia berkata, “Dia adalah paman seluruh kaum mukminin.” Al-‘Ijli meriwayatkan atsar ini dalam ats-Tsiqat (1/314)—dan Ibnu Asakir (15/88) meriwayatkan melalui jalan beliau dengan sanad yang sahih.

Mu’awiyah z Adalah Sahabat Rasulullah n Berdasarkan Ijma’
Telah menjadi ijma’ ulama Ahlus Sunnah dan seluruh kaum muslimin bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan z termasuk sahabat Rasulullah n. Artinya, ulama bersepakat bahwa beliau adalah seorang yang berjumpa dengan Nabi n, beriman kepada beliau, dan meninggal di atas keislaman.2
Di antara bukti kesepakatan tersebut, seluruh ulama ahlul hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, menerima riwayat hadits Mu’awiyah z dari Rasulullah n.
Bukti lain, al-Bukhari dan Muslim mengeluarkan hadits-hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan z dalam ash-Shahihain. Sementara itu, kaum muslimin bersepakat bahwa semua hadits dalam dua kitab ini adalah sahih. Dengan demikian, umat Islam bersepakat bahwa Mu’awiyah z adalah seorang sahabat, yang riwayatnya diterima tanpa perselisihan.
Bukti lain atas kesepakatan ini, kita mendapatkan ulama ahlul hadits, ulama sirah (sejarah), penulis kitab-kitab thabaqat (biografi para ulama berdasarkan tahun), biografi, dan kitab-kitab hadits, memasukkan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dalam thabaqat (level)sahabat Rasulullah n.
Tidak ada yang menyelisihi kesepakatan ini selain Rafidhah. Mereka justru memasukkan Mu’awiyah z dalam deretan orang-orang kafir, termasuk pula ayahnya, Abu Sufyan z. Sebaliknya, Abu Thalib yang mati dalam keadaan kafir sebagaimana ditunjukkan dalam riwayat-riwayat sahih dan mu’tabar malah diangkat tinggi-tinggi, bahkan dikatakan sebagai mukmin sejati.
Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani t berkata, “Aku telah membaca sebuah kitab hadits dari kalangan Syi’ah Rafidhah. Di dalamnya termuat banyak hadits lemah seputar masuk Islamnya Abu Thalib. Namun, tidak ada satu pun yang sahih, wa billahit taufiq. Aku telah meringkasnya dalam kitab al-Ishabah pada biografi Abu Thalib.” (Fathul Bari 7/234)
Kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan c termasuk sahabat Rasulullah n adalah sisi terpenting dalam menepis segala syubhat yang berusaha menjatuhkan sahabat yang mulia ini. Sebab, semua dalil tentang keutamaan sahabat Rasulullah n, maka Mu’awiyah z masuk ke dalamnya menurut kesepakatan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Demikian pula semua dalil tentang larangan mencela sahabat Rasulullah n, maka termasuk pula di dalamnya Mu’awiyah bin Abi Sufyan z.
Sahabat Rasulullah n tanpa kecuali adalah manusia terbaik setelah para nabi dan rasul. Hal ini ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah. Allah l berfirman,
“Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, serta beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)
Tidak diragukan bahwa ayat ini pertama kali ditujukan kepada para sahabat Rasulullah n. Allah l mengabarkan bahwa mereka adalah umat terbaik.
Di samping itu, Rasulullah n juga memberikan rekomendasi dalam sabda beliau n,
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi sesudahnya, kemudian generasi sesudahnya.” (HR. al-Bukhari no. 2652 dari Abdullah bin Mas’ud z)
Kemuliaan sahabat akan terus kokoh bersama kekokohan al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’. Walaupun para pendengki terus berusaha merobek lembaran keutamaan itu, tetapi perjuangan sahabat bersama Nabi n akan selalu dikenang sepanjang masa. Pahala akan terus mengalir kepada mereka, generasi yang gigih memperjuangkan syariat Allah l dan membelanya. Nama mereka akan selalu harum.
Adapun pihak yang membenci mereka, demi Allah, akan tenggelam dalam kehinaan akibat kebencian mereka kepada generasi yang diridhai oleh Allah l ini.
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia,3 adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya. Tunas itu pun menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya. Tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir….” (al-Fath: 29)

Seluruh Sahabat ‘Adil (Tepercaya) dan Dijanjikan al-Jannah
Ahlus Sunnah wal Jamaah bersepakat bahwasanya seluruh sahabat Nabi n, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, adalah orang tepercaya dan mulia. Mereka adalah kaum yang diakui ‘adalah (kesalehan dan ketsiqahan)nya.
Seluruh sahabat Nabi n mendapatkan janji al-Jannah, baik yang beriman sebelum Fathu Makkah atau sesudahnya. Hal ini sebagaimana firman Allah l,
“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka semua (balasan) yang lebih baik. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Hadid: 10)
“Al-Khusna” dalam firman Allah l adalah al-Jannah (surga), sebagaimana penafsiran Mujahid bin Jabr al-Makki dan Qatadah rahimahumallah. Dengan demikian, makna ayat di atas adalah seperti apa yang diterangkan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari t, “Mereka semua yang menafkahkan hartanya sebelum Fathu Makkah dan berjihad, serta yang menafkahkan hartanya sesudahnya dan berperang, Allah l menjanjikan mereka dengan al-jannah.” (Tafsir ath-Thabari)
Al-Khathib al-Baghdadi t dalam kitabnya, al-Kifayah, setelah menyebutkan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah tentang kemuliaan seluruh sahabat dan ‘adalah mereka, beliau berkata, “Ini adalah mazhab seluruh ulama dan fuqaha yang diakui ucapannya.” (al-Kifayah, hlm. 67)
Kesepakatan ulama tentang ‘adalah sahabat—tanpa kecuali, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c—dinukil oleh banyak ahli ilmu. Di antara mereka adalah al-Juwaini, al-Ghazali, Ibnu ash-Shalah, an-Nawawi, Ibnu Katsir, al-‘Iraqi, Ibnu Hajar, as-Sakhawi, al-Alusi, dan lainnya.
Sisi ini sesungguhnya cukup untuk membantah seluruh syubhat yang dilontarkan terhadap beliau. Namun, karena musuh-musuh Allah l terus berusaha menyebarkan kebencian kepada sahabat Mu’awiyah z di tengah-tengah umat dengan berbagai syubhat, melalui berbagai media, maka dengan memohon pertolongan Allah l, kita akan melihat beberapa sisi kemuliaan lain dari sosok Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.

Mu’awiyah z, Tirai bagi Para Sahabat Rasulullah n
Mu’awiyah z menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah dan ulama ahlul hadits adalah tirai yang melindungi kehormatan seluruh sahabat Nabi n. Sikap seseorang terhadap Mu’awiyah adalah barometer yang menunjukkan sikapnya terhadap para sahabat lainnya. Abu Taubah ar-Rabi’ bin Nafi’ t berkata,
مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سِتْرَ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n فَإِذَا كَشَفَ الرَّجُلُ السِّتْرَ اجْتَرَأَ عَلَى مَا وَرَاءَهُ
“Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi sahabat-sahabat Rasulullah n. Siapa yang berani menyingkap tirai itu, niscaya ia akan berbuat lancang terhadap yang berada di baliknya.” (Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi t dalam Tarikh Baghdad [1/209] dan Ibnu Asakir t dalam Tarikh Dimasyq [59/209])
Benarlah kata Abu Taubah. Siapa yang berani membicarakan sahabat Mu’awiyah z dengan kejelekan niscaya ia akan lancang membicarakan sahabat lainnya karena tirai telah tersingkap, sebagaimana tirai rumah yang apabila terbuka akan terlihatlah apa yang ada di baliknya.
Oleh karena itu, al-Imam Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi t berkata,
مُعَاوِيَةُ عِنْدَنَا مِحْنَةٌ، فَمَنْ رَأَيْنَاهُ يَنْظُرُ إِلَى مُعَاوِيَةَ شَرًّا اتَّهَمْنَاهُ عَلَى الْقَوْمِ، أَعْنِي عَلَى أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ n
“Mu’awiyah di sisi kami (Ahlus Sunnah, ahlul hadits) adalah ujian (sebagai barometer). Siapa yang kita lihat ia memandang Mu’awiyah dengan pandangan jelek, kita berprasangka bahwa orang ini juga berpandangan jelek kepada seluruh sahabat Muhammad n.” (Tarikh Dimasyq 59/209)
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad hafizhahullah memberikan komentar atas dua ucapan di atas ketika membantah kesesatan seorang Syiah Rafidhah, Hasan al-Maliki, “Benar perkataan Abu Taubah dan Ibnul Mubarak—semoga Allah l merahmati keduanya. Sesungguhnya ketika al-Maliki berani membicarakan Mu’awiyah dengan kejelekan, mencaci, dan mengeluarkan beliau dari barisan sahabat, ia pun lancang kepada sahabat lainnya dan mengatakan bahwa semua yang menyertai Rasulullah n sesudah perjanjian Hudaibiyah bukan sahabat. Lebih parah lagi, ia mencela kekhilafahan Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta meragukan kekhilafahan mereka. Tidak diragukan bahwa penyelewengan akan membuahkan berpalingnya hati, sebagaimana firman Allah l,
‘Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka.’ (ash-Shaff: 5).” (al-Intishar lish Shahabatil Akhyar fi Raddi Abathil Hasan al-Maliki hlm. 99)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Seseorang tidak boleh melaknat dan mencerca salah seorang pun dari para sahabat Nabi n. Barang siapa melaknat salah seorang sahabat Nabi n, seperti Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Amr bin al-Ash, dan yang semisal keduanya, atau yang lebih afdal dari keduanya, seperti Abu Musa al-Asy’ari, Abu Hurairah, dan lainnya, atau yang lebih utama dari mereka, seperti Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, atau Aisyah Ummul Mukminin, atau sahabat-sahabat Nabi n lain g, sungguh orang ini berhak mendapatkan hukuman berat dengan kesepakatan ulama-ulama Islam. Hanya saja, para ulama berbeda pendapat dalam bentuk apa hukuman berat itu, dibunuh atau yang lebih ringan.”4

Mu’awiyah z, Penulis Wahyu
Di antara keutamaan Mu’awiyah z adalah mendapat kepercayaan dari Rasulullah n mencatat wahyu Allah l. Ini adalah sebuat amanat yang besar dan keutamaan yang sangat agung. Keutamaan tersebut dapat dilihat dalam banyak riwayat yang sahih, di antaranya riwayat al-Imam Muslim dalam Shahih-nya bab “Fadha’il Abi Sufyan bin Harb” no. 2501.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata bahwa Mu’awiyah z adalah salah seorang penulis wahyu Rasulullah n. Tulisannya sangat indah. Ia fasih pula berbicara, lagi lembut, dan sangat berwibawa.” (al-Ishabah 9/232)
Pembaca rahimakumullah, mencela Mu’awiyah z pada hakikatnya adalah mencela Rasulullah n yang telah memercayainya menulis wahyu. Seakan-akan ia berkata, “Wahai Muhammad, mengapa engkau berikan tugas paling penting ini kepada orang yang tidak pantas dan bukan ahlinya?” Bahkan, ini adalah celaan kepada Allah l, seakan-akan ia berkata, “Mengapa Allah l membiarkan Nabi-Nya memberikan tugas menulis wahyu kepada orang yang tidak dipercaya?”
Sungguh, tidaklah Rasulullah n memberikan kepercayaan mencatat wahyu Allahlmelainkan kepada orang yang telah beliau ridhai. Tidaklah yang beliau lakukan itu melainkan berdasar wahyu Allah l.
Posisi Mu’awiyah yang sangat strategis dan sangat mulia sebagai salah seorang pencatat wahyu Allahl membuat musuh-musuh Islam semakin getol berusaha mencoreng kemuliaan Mu’awiyah. Tidak lain tujuan akhirnya adalah menanamkan keraguan terhadap al-Qur’an karena ternyata salah satu penulisnya adalah Mu’awiyah z. Abu Zur’ah ar-Razi t berkata,
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَنْتَقِصُ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ زِنْدِيقٌ، وَذَلِكَ أَنَّ الرَّسُولَ عِنْدَنَا حَقٌّ وَالْقُرْآنَ حَقٌّ وَإِنَّمَا أَدَّى إِلَيْنَا هَذَا الْقَرْآنَ وَالسُّنَنَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللهِ، وَإِنَّمَا يُرِيدُونَ أَن يَجْرَحُوا شُهُودَنَا لِيُبْطِلُوا الْكِتَابَ وَالسَّنَّةَ، وَالْجَرْحُ بِهِمْ أَوْلَى وَهُمْ زَنَادِقَةٌ
“Apabila engkau melihat seseorang mencela salah seorang sahabat Rasulullah n (siapa pun sahabat itu), ketahuilah sesungguhnya dia adalah zindiq. Hal itu karena Rasulullah n adalah haq di sisi kita, demikian pula al-Qur’an adalah haq. Sementara itu, yang menyampaikan al-Qur’an dan sunnah tidak lain adalah sahabat-sahabat Rasulullah. (Sungguh) yang mereka kehendaki adalah mencela saksi-saksi kita (yakni para sahabat) demi menolak al-Qur’an dan as-Sunnah. Merekalah yang lebih pantas dicela. Mereka adalah kaum zindiq.”5

Mu’awiyah z, Kepercayaan Generasi Terbaik
Di antara keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, beliau mendapat kepercayaan para sahabat setelah Rasulullah n memberikan kepercayaan kepadanya untuk sebuah tugas yang sangat agung, mencatat wahyu Allah l.
Di masa Abu Bakr ash-Shiddiq z, Mu’awiyah diangkat sebagai komandan perang, di hadapan para pembesar sahabat, as-sabiqunal awwalun dari kalangan Muhajirin dan Anshar.
Pada masa Umar bin al-Khaththab z, beliau dipercaya sebagai amir (gubernur) Syam. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ketika Yazid bin Abi Sufyan meninggal di masa kekhilafahan Umar, beliau (Umar) mengangkat saudaranya—Mu’awiyah bin Abi Sufyan—(sebagai amir). Sesungguhnya Umar bin al-Khaththab termasuk manusia yang paling kuat firasatnya, paling mengerti keadaan manusia, dan paling teguh berpegang kepada al-haq.”6
Demikian pula di masa Utsman bin Affan z, beliau memberikan kepercayaan kepada Mu’awiyah z menjadi amir (gubernur) wilayah Syam.
Al-Qadhi Abu Bakr ibnul ‘Arabi )wafat 543 H( berkata, “… Cobalah Anda semua perhatikan rangkaian ini. Alangkah kuatnya ikatan beliau. Tidak ada seorang pun yang dikaruniai anugerah seperti ini setelah mereka.” (al-‘Awashim min al-Qawasim, hlm. 81)
Genap empat puluh tahun Mu’awiyah memimpin dan mendapatkan kepercayaan generasi terbaik. Dua puluh tahun sebagai gubernur di Syam dan dua puluh tahun memegang kekhilafahan. Pada masa kekhilafahan beliau, tidak ada sedikit pun masalah yang berarti. Hal ini menunjukkan keutamaan beliau dan kearifan beliau dalam memimpin kaum muslimin.

Mu’awiyah z, Mujahid dan Tokoh Besar Futuhat Islamiyah (Perluasan Wilayah Islam)
Ini adalah keutamaan lain dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan z yang lembut, namun tegas dan kokoh dalam memegang al-haq. Tidak ada yang melupakan atau mengingkari keutamaan ini selain orang yang jahil, tidak mengerti tarikh Islam, atau hatinya telah dipenuhi kedengkian kepada sahabat Rasulullah n.
Wilayah Islam sepeninggal al-Khulafa ar-Rasyidin sangat luas, sementara itu rongrongan musuh-musuh Allah l sangat kuat, baik dari dalam maupun dari luar. Kita tidak bisa melupakan fitnah besar yang berakibat syahidnya Utsman bin Affan z dan Ali bin Abi Thalib z. Bermunculan pula pada masa itu firqah-firqah sesat, seperti Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, dan lainnya.
Tugas besar menanti di hadapan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
1. Beliau harus menstabilkan kondisi daulah yang diliputi oleh fitnah;
2. Beliau harus mempertahankan wilayah Islam dari rongrongan musuh;
3. Melanjutkan risalah jihad, menyebarkan dan mendakwahkan Islam, memperluas wilayah Islam, mengeluarkan manusia dari kegelapan syirik menuju cahaya tauhid.
Semua itu—walhamdulillah— beliau tunaikan dengan baik. Fitnah-fitnah teredam, rongrongan musuh Islam dihentikan. Wilayah Islam pun meluas bersamaan dengan meluasnya dakwah tauhid.
Sebagai seorang ahli strategi, Mu’awiyah bin Abi Sufyan c segera merapikan pasukan perang. Beliau membagi pasukan menjadi dua. Pasukan yang berperang di musim dingin dan pasukan yang berperang di musim panas. Dengan demikian, perluasan wilayah pun berlanjut dan berkesinambungan.
Negeri Persia berusaha melepaskan dirinya dari jizyah yang harus mereka bayar. Mereka mulai membuat fitnah pada masa pemerintahan Mu’awiyah z dalam rangka memerangi hukum Islam. Pasukan Mu’awiyah z pun harus menghadapi ancaman ini dan memadamkannya. Perjalanan perjuangan perluasan negeri dilanjutkan ke arah timur. Sungai Jaihan (=Amu Darya, salah satu sungai terpanjang di Asia Tengah) diseberangi sehingga terbukalah wilayah Bukhara, Samarkand, dan Turmudz.
Pada waktu yang bersamaan, kerajaan Romawi juga melakukan rangkaian penyerangan untuk mempersempit wilayah Islam dengan cara menyerang wilayah barat laut. Oleh karena itu, Mu’awiyah z mempersiapkan armada laut yang berkekuatan 1.700 kapal. Angkatan laut yang besar ini, dengan izin Allah l, berhasil menaklukkan wilayah Siprus, Rhodes (salah satu pulau di Yunani), dan kepulauan lainnya yang masuk dalam wilayah kekaisaran Romawi.
Pembaca, sejenak kita melihat ke belakang dan membuka lembaran sejarah pembentukan pasukan laut. Dahulu, tidak pernah terbayang bahwa para sahabat akan berperang di tengah lautan. Namun, sabda Rasulullah n menyingkap tirai gaib bahwa umat ini akan berperang di atas lautan.
Jasa Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dalam pembentukan angkatan laut tidak bisa dilupakan dalam tarikh Islam. Pembentukan angkatan laut pertama terwujud di zaman Utsman bin Affan z. Saat itu, Mu’awiyah menjabat gubernur Syam dan diberi kepercayaan penuh memimpin armada laut. Bahkan, Utsman bin Affan z memerintah Mu’awiyah untuk membawa serta istrinya—Fakhitah bintu Qaradzah—berperang di atas laut untuk membuktikan keberanian, kesiapan, dan tanggung jawab Mu’awiyah membawa pasukan kaum muslimin.
Keutamaan Mu’awiyah z ini tampak dalam hadits Rasulullah n ketika menyebutkan umatnya akan berperang di laut. Anas bin Malik z berkata,
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n كَانَ يَدْخُلُ عَلَى أُمِّ حَرَامٍ بِنْتِ مِلْحَانَ فَتُطْعِمُهُ وَكَانَتْ أُمُّ حَرَامٍ تَحْتَ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ، فَدَخَلَ عَلَيْهَا رَسُولُ اللهِ n يَوْمًا فَأَطْعَمَتْهُ ثُمَّ جَلَسَتْ تَفْلِي رَأْسَهُ فَنَامَ رَسُولُ اللهِ n ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللهِ يَرْكَبُونَ ثَبَجَ هَذَا الْبَحْرِ، مُلُوكًا عَلَى الْأَسِرَّةِ –أَوْ: مِثْلَ الْمُلُوكِ عَلَى الْأَسِرَّةِ؛ يَشُكُّ أَيَّهُمَا قَالَ- قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. فَدَعَا لَهَا ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ فَنَامَ ثُمَّ اسْتَيْقَظَ وَهُوَ يَضْحَكُ، قَالَتْ: فَقُلْتُ: مَا يُضْحِكُكَ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: نَاسٌ مِنْ أُمَّتِي عُرِضُوا عَلَيَّ غُزَاةً فِي سَبِيلِ اللهِ-كَمَا قَالَ فِي الْأُولَى-قَالَتْ: فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، ادْعُ اللهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: أَنْتِ مِنَ الْأَوَّلِينَ. فَرَكِبَتْ أُمُّ حَرَامٍ بِنْتُ مِلْحَانَ الْبَحْرَ فِي زَمَنِ مُعَاوِيَةَ فَصُرِعَتْ عَنْ دَابَّتِهَا حِينَ خَرَجَتْ مِنَ الْبَحْرِ فَهَلَكَتْ
Rasulullah n pernah menemui Ummu Haram binti Milhan7, lalu beliau disuguhi makanan olehnya. Saat itu, Ummu Haram adalah istri Ubadah bin ash-Shamit z. Suatu hari, Rasulullah datang menemuinya lalu disuguhi makanan, kemudian wanita itu duduk sambil mencari kutu dari kepala beliau hingga tertidurlah Rasulullah n. Tiba-tiba beliau terbangun dan tersenyum.
Ummu Haram bertanya, “Apakah yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah?”
Rasulullah n menjawab, “Beberapa orang dari umatku diperlihatkan kepadaku sedang berperang di jalan Allah l dengan menaiki kapal di tengah lautan, raja-raja yang duduk di atas dipan-dipan—atau seperti raja-raja yang duduk di atas dipan-dipan.”—Perawi ragu antara keduanya.
Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkan kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka.”
Lalu beliau mendoakannya dan segera meletakkan kepalanya lagi lalu tertidur kembali. Ketika terbangun, beliau tersenyum lagi.
Ummu Haram berkata, “Aku bertanya lagi, ‘Apakah yang membuat engkau tersenyum, wahai Rasulullah?’
Rasulullah n menjawab, ‘Beberapa orang dari umatku diperlihatkan kepadaku mereka sedang berperang di jalan Allah (dst, seperti yang beliau sabdakan sebelumnya).’
Ummu Haram berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, mohonkanlah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka’.”
Rasulullah n bersabda, “Engkau termasuk orang-orang yang pertama.”
Kemudian berlayarlah Ummu Haram pada masa Mu’awiyah. Namun, ketika hendak keluar dari kapal, ia terjatuh dari hewan tunggangannya sehingga wafat. (Shahih Muslim no. 3535)
Al-Bukhari meriwatkan dalam Shahih-nya (6/102 no. 2924 bersama dengan Fathul Bari) dari Ummu Haram al-Anshariyah x, ia mendengar Rasulullah n bersabda,
أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا. قَالَتْ أُمَّ حَرَامٍ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَا فِيْهِمْ؟ قاَلَ: أَنْتِ فِيهِمْ. ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ n: أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ مَدِينَةَ قَيْصَرَ مَغْفُورٌ لَهُمْ. فَقُلْتُ: أَنَا فِيْهِمْ، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: لاَ.
Pasukan perang pertama dari umatku yang berperang di atas lautan, sungguh telah wajib atas mereka (yakni mereka melakukan amalan besar yang mengantarkan kepada al-Jannah).
Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bersama dengan mereka (pasukan pertama yang berperang di atas laut)?”
Rasulullah bersabda, “Engkau termasuk mereka.” Beliau bersabda kembali, “Pasukan perang pertama umatku yang memerangi kota Kaisar (yakni Konstantinopel), mereka diampuni dosanya.”
Aku berkata, “Apakah aku bersama mereka, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Tidak.”
Muhallab bin Abi Shufrah t (wafat 435 H) berkata, “Hadits ini mengandung dalil tentang keutamaan Mu’awiyah karena beliaulah orang pertama yang berperang di atas laut. Di samping itu, hadits ini juga menunjukkan keutamaan putranya, Yazid, karena dialah yang pertama kali memerangi kota Kaisar.” (Dinukilkan oleh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari)
Az-Zubair bin Abu Bakr t berkata, “Mu’awiyah membelah lautan, berperang bersama kaum muslimin di zaman kekhilafahan Utsman menuju Siprus. Ummu Haram, istri Ubadah, ikut dalam perang tersebut. Ketika Ummu Haram mengendarai bagalnya keluar dari kapal, ia terjatuh dan meninggal—seperti kabar Rasulullah n. Ibnul Kalbi t berkata, ‘Perang yang dipimpin oleh Mu’awiyah tersebut terjadi pada tahun 28 H’.” (Ibnu Baththal 5/9)
Di zaman pemerintahan Mu’awiyah, angkatan laut diperbesar sehingga semakin kokohlah kekuatan muslimin dan semakin tangguh mempertahankan wilayah dan usaha futuhat, walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.
Menceritakan tarikh perjuangan beliau membutuhkan lembaran yang banyak untuk menunaikan haknya. Namun, yang sedikit ini semoga mengingatkan hati yang lalai akan jasa generasi sahabat g secara umum, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c secara khusus.
Wahai kaum muslimin, tidakkah kita menimbang betapa buruknya mulut-mulut pendusta yang mencerca sahabat Mu’awiyah z? Apa jasa mereka terhadap Islam? Demi Allah, andil mereka hanyalah ucapan-ucapan kotor yang membantu Iblis dan balatentaranya untuk meruntuhkan Islam. Para pencela Mu’awiyah sesungguhnya adalah kaki tangan Iblis.
Lihatlah, wahai kaum muslimin, betapa besar jasa Mu’awiyah z. Lihat pula perjuangannya memimpin kaum muslimin puluhan tahun, memadamkan api-api fitnah, mempertahankan wilayah Islam, dan menegakkan jihad mengajak manusia memeluk agama Allah l. Keamanan pun terwujud, darah-darah kaum muslimin terjaga, ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah tersebar. Namun, hanya manusia berakal sajalah yang bisa menimbang, sedangkan manusia semacam Rafidhah, hati mereka memang sudah dipenuhi kebencian kepada seluruh sahabat, istri-istri Rasulullah n, dan agama Islam yang mulia. Allahul musta’an.

Mu’awiyah, Periwayat Hadits-Hadits Rasulullah n
Di tengah kesibukan memimpin daulah, Mu’awiyah z tidak lupa menunaikan tugas menyampaikan ilmu, meriwayatkan hadits-hadits Rasulullah n. Beliau pun memperoleh keutamaan doa Rasulullah n dalam sebuah hadits mutawatir,
نَضَّرَ اللهُ عَبْدَا سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا فَبَلَغَهَا مَنْ لَمْ يَسْمَعْهَا
“Semoga Allah memberikan cahaya kepada seorang hamba yang mendengar ucapanku kemudian ia memahami dan menghafalnya, lalu ia sampaikan kepada orang yang belum mendengarnya.”
Tidak ada kitab-kitab hadits melainkan kita dapatkan sebagian besar kitab tersebut memuat hadits-hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Di antara hadits-hadits yang beliau riwayatkan disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim.8
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, “Hadits-hadits Mu’awiyah z ada dalam Shahihain dan selainnya. Al-Khazraji dalam al-Khulashah berkata, ‘Mu’awiyah z dalam Kutub as-Sittah memiliki 130 hadits, empat di antaranya disepakati oleh al-Bukhari dan Muslim. Al-Bukhari meriwayatkan empat hadits dari Mu’awiyah secara tersendiri, sedangkan Muslim lima hadits.’ Dalam Musnad al-Imam Ahmad, hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah mencapai seratus sebelas hadits, mulai no. 16828 hingga no. 16938 (dan satu hadits tambahan riwayat Abdullah bin al-Imam Ahmad, yakni no. 16939, -pen.).” (al-Intishar lish Shahabatil Akhyar hlm. 99)
Di antara hadits yang diriwayatkan oleh Mu’awiyah adalah sabda Rasulullah n,
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan atasnya, Allah akan memahamkan dia dalam hal agama.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Beliau juga meriwayatkan hadits,
أَلَا، إِنَّ رَسُولَ اللهِ n قَامَ فِينَا فَقَالَ: أَلَا، إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً ، وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ
“Ketahuilah, sesungguhnya Rasulullah n pernah berdiri di hadapan kita dan bersabda, ‘Ketahuilah sungguh kaum sebelum kalian dari ahlul kitab berpecah menjadi 72 golongan. Sungguh, umat ini akan terpecah menjadi 73 golongan. Tujuh puluh dua golongan dalam neraka dan satu berada di jannah. Mereka (yang satu) adalah al-Jamaah’.” (HR. Abu Dawud no. 3981)
Hadits-hadits Mu’awiyah diriwayatkan oleh banyak sahabat dan tabi’in. Semua ini tentu menunjukkan keutamaan beliau dari sisi periwayatan hadits.
Banyak sahabat mengambil hadits dari Mu’awiyah z, di antaranya Usaid bin Zhuhair, Malik bin Yakhamir, Mu’awiyah bin Hudaij, an-Nu’man bin Basyir, Wail bin Hujr, Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif, Abu ad-Darda’, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Sa’id al-Khudri, dan Abul Ghadiyah al-Asy’ari, semoga Allah l meridhai mereka semua.
Adapun tabi’in yang menjadi murid beliau adalah Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh, Ishaq bin Yasar, Aslam maula Umar, Aifa’ bin Abdin al-Kala’i, Iyas bin Abi Ramlah asy-Syami, Ayyub bin Abdillah bin Yasar, Ayyub bin Maisarah bin Halbas, Bisyr Abu Qais al-Qanasrini, Tsabit bin Sa’d ath-Tha’i, Abu Sya’tsa’ Jabir bin Zaid al-Bashri, Jubair bin Nufair al-Hadhrami, al-Hasan al-Bashri, Hakim bin Jabir, Humran bin Aban maula ‘Utsman bin ‘Affan, Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf, Hanzhalah bin Khuwailid, Abu Qabil Huyai bin Hani’, Khalid bin ‘Abdilah bin Rabah, dan sekumpulan lain yang cukup banyak jumlahnya.
Dari sini, kita juga mengerti maksud buruk yang terselip di balik celaan munafik kepada sahabat pada umumnya dan perawi hadits secara khusus, seperti Abu Hurairah dan Mu’awiyah, yaitu untuk menjatuhkan hadits-hadits Rasulullah n sebagai sumber hukum dan sendi-sendi Islam.

Beberapa Riwayat Marfu’ dan Mauquf Tentang Keutamaan Mu’awiyah
Diriwayatkan dengan sanad yang sahih, Nabi n bersabda kepada Mu’awiyah bin Abi Sufyan z,
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ
“Ya Allah, jadikanlah Mu’awiyah sebagai orang yang memberi petunjuk dan mendapat hidayah serta jadikanlah manusia mendapat hidayah melalui dirinya.” (HR. at-Tirmidzi, 5/687, beliau berkata tentang hadits ini, “Hadits hasan gharib.”)
Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (4/615). Beliau berkata, “Para perawinya seluruhnya tsiqat (tepercaya) yang termasuk perawi Shahih Muslim. Selayaknya at-Tirmidzi menyatakannya sahih (tidak cukup hanya menyatakan hasan, -pen.).”
Diriwayatkan pula, Rasulullah n mendoakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c:
اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ
“Ya Allah, ajarilah Mu’awiyah al-Kitab, berhitung, dan lindungilah ia dari azab.” (HR. Ahmad no. 4/127 dan no. 28/383, no. 1752, cetakan ar-Risalah, al-Bazzar [no. 977, Kasyful Asytar], Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban, dari Irbadh bin Sariyah z. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 3327)
Riwayat lain mengenai keutamaan Mu’awiyah adalah hadits dari Ummu Haram z, Rasulullah n bersabda,
أَوَّلُ جَيْشٍ مِنْ أُمَّتِي يَغْزُونَ الْبَحْرَ قَدْ أَوْجَبُوا. قَالَتْ أُمُّ حَرَامٍ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَا فِيهِمْ؟ قَالَ: أَنْتِ فِيهِمْ
“Pasukan pertama yang berperang di atas lautan, sungguh telah wajib atas mereka (yakni mereka melakukan amalan yang memasukkan mereka ke dalam al-Jannah).” Ummu Haram berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk mereka?” Kata Rasul n, “Ya, kamu termasuk….” (HR. al-Bukhari no. 2707, Ma Qila Fi Qitali ar-Rum)
Al-Muhallab t berkata, “Hadits ini menunjukkan keutamaan Mu’awiyah z karena beliaulah yang pertama kali memerangi Romawi (di atas lautan).” (Syarah Ibnu Baththal 5/107)
Adalah Ali bin Abi Thalib z sekembalinya beliau dari Shiffin berkata,
أَيُّهَا النَّاسُ، لاَ تَكْرَهُوا إِمَارَةَ مُعَاوِيَةَ، فَإِنَّكُمْ لَوْ فَقَدْتُمُوهُ رَأَيْتُمُ الرُّؤُوسَ تَنْدُرُ عَنْ كَوَاهِلِهَا كَأَنَّهَا الْحَنْظَلُ.
“Wahai manusia, jangan sekali-kali kalian membenci kepemimpinan Mu’awiyah. Sungguh, jika kalian kehilangan Mu’awiyah niscaya kalian akan melihat kepala-kepala manusia berguguran dari badan-badan mereka seperti buah hanzhal.” (al-Bidayah wan Nihayah 8/125)
Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, seseorang bertanya kepada Ibnu Abbas c, putra paman Rasulullah n dan ulama umat ini, “Wahai Ibnu Abbas, adakah engkau (berkomentar) tentang Amirul Mukminin Mu’awiyah, karena ia tidaklah melakukan witir melainkan hanya satu rakaat?”
Ibnu Abbas c berkata,
دَعْهُ، فَإِنَّهُ قَدْ صَحِبَ رَسُولَ اللهِ n قَالَ: أَصَابَ إِنَّهُ فَقِيهٌ
“Tinggalkan (komentarmu kepada) Mu’awiyah, sungguh ia seorang (sahabat) yang telah menyertai Rasulullah n.” Kemudian berkata, “Mu’awiyah benar, ia seorang yang faqih.” (“Kitab Fadha’il Shahabah”, bab “Penyebutan Mu’awiyah z”, Fathul Bari [7/103] no. 3765)

Atsar Salaf dan Ulama tentang Keutamaan Mu’awiyah
Mujahid bin Jabr al-Makki t, salah seorang ulama tabi’in dan tokoh tafsir berkata,
لَوْ رَأَيْتُمْ مُعَاوِيَةَ لَقُلْتُمْ: هَذَا الْمَهْدِيُّ.
“Seandainya kalian melihat Mu’awiyah niscaya kalian akan berkata, ‘Dia adalah al-Mahdi’.” (Diriwayatkan oleh al-Khallal t dalam as-Sunnah [1/438] dan disebutkan oleh Ibnu Katsir t dalam al-Bidayah wan Nihayah [8/137])
Al-Khathib al-Baghdadi t meriwayatkan dalam Tarikh-nya dari Rabah bin al-Jarrah al-Maushili, ia berkata, “Aku mendengar seorang bertanya kepada al-Mu’afa bin ‘Imran, ‘Wahai Abu Mas’ud, bagaimana perbandingan Umar bin Abdul ‘Aziz dengan Mu’awiyah bin Abi Sufyan?’
Marahlah al-Mu’afa seraya berkata, ‘Tidak seorang pun boleh dikiaskan dengan sahabat Rasulullah n. Mu’awiyah seorang sahabat, beliau juga ipar Rasulullah n, sekretaris dan kepercayaan Rasul atas wahyu yang diturunkan oleh Allah l kepada beliau. Sungguh Rasulullah n telah bersabda, -Biarkan sahabat-sahabatku dan kerabatku (jangan kalian cela mereka). Siapa mencaci mereka, ia mendapatkan laknat Allah l, para malaikat, dan manusia-’.” (Tarikh Baghdad 1/209, asy-Syariah, al-Ajurri t 5/167, Syarh Ushul I’tiqad, al-Lalikai t. Sanad hadits ini sahih sampai kepada al-Mu’afa t)
Ketika al-Mu’afa ditanya, “Mu’awiyah yang lebih mulia atau Umar bin Abdul ‘Aziz?”
Al-Mu’afa berkata, “Sungguh Mu’awiyah lebih mulia enam ratus kali daripada Umar bin Abdul ‘Aziz.” (as-Sunnah, al-Khallal, 1/437)
Di masa Daulah Abbasiyah, sebagian manusia menjadikan pemerintahan Umar bin Abdul ‘Aziz t sebagai permisalan yang paling tinggi dalam hal keadilan. Kepada mereka, al-Imam Sulaiman bin Mihran al-A’masy t berkata, “(Jika kalian kagum dengan keadilan Umar bin Abdul ‘Aziz –pen.), lantas bagaimana jika kalian berjumpa dengan Mu’awiyah (tentu kalian lebih kagum)?” Mereka berkata, “Apakah dari sisi kelembutannya?” Al-A’masy berkata, “Bukan hanya itu, demi Allah, bahkan dalam hal keadilannya.” (Diriwayatkan oleh al-Khallal dalam as-Sunnah [1/437] dan Minhajus Sunnah [3/185])
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Jika masa kepemimpinan Mu’awiyah dibandingkan dengan masa sesudahnya, tidak ada dalam sejarah penguasa Islam yang lebih baik dari Mu’awiyah z. Tidak pula ada masyarakat dalam sejarah kerajaan Islam, yang lebih baik daripada masyarakat di zaman Mu’awiyah….” (Minhajus Sunnah 3/185)
Keutamaan Mu’awiyah adalah kesepakatan ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ibnu Taimiyah t berkata, “Para ulama bersepakat bahwa Mu’awiyah adalah raja (penguasa) yang paling mulia dari umat ini, karena empat sahabat sebelumnya adalah khilafah nubuwah. Adapun beliau adalah raja pertama. Adalah pemerintahan beliau kerajaan dan rahmat.” (Majmu’ Fatawa 4/478)
Al-Hafizh Ibnu Katsir asy-Syafi’i t berkata, “Masyarakat ketika itu (termasuk di antaranya para sahabat, demikian pula tabi’in –pen.) seluruhnya bersatu atas bai’at kepada Mu’awiyah pada tahun 41 H…. Pemerintahan beliau terus berlangsung hingga tahun wafatnya. Selama itu pula, jihad ke negeri musuh ditegakkan, kalimat Allah l ditinggikan, harta rampasan perang terus mengalir kepada baitul mal, dan kaum muslimin bersama beliau berada dalam kelapangan dan keadilan. (al-Bidayah wan Nihayah 8/122)
Atsar dari salaf dan ucapan para ulama tentang kemuliaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c sangatlah banyak. Kiranya cukup atsar di atas sebagai isyarat bagi orang yang memiliki hati yang bersih dan akal sehat untuk segera memuliakan seluruh sahabat tanpa kecuali, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan z.

Tulisan-Tulisan Pembelaan terhadap Mu’awiyah
Pembelaan para ulama terhadap kemuliaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c juga menunjukkan keutamaan beliau. Sangat banyak ulama Ahlus Sunnah yang menulis baik secara umum maupun khusus untuk membela kemuliaan sahabat Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Di antara tulisan yang bersifat umum adalah al-Bidayah an-Nihayah karya Ibnu Katsir t, al-‘Awashim minal Qawashim karya Abu Bakr Ibnul Arabi t, dan Minhajus Sunnah karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah t.
Adapun tulisan-tulisan yang secara khusus ditulis untuk membersihkan nama baik Mu’awiyah z dan membela kehormatan beliau, di antaranya:
1. Akhbar Mu’awiyah dan Hikamu Mu’awiyah, ditulis oleh Ibnu Abid Dunya t (wafat 281 H)
2. Juz fi Fadha’il Mu’awiyah, karya Muhammad as-Saqathi t (wafat 604 H)
3. Tanzih Khal al-Mukminin dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Abu Ya’la al-Hanbali t (wafat 458 H)
4. Syarhu ‘Aqdi Ahlil Iman fi Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Abu Ya’la al-Ahwazi t (wafat 446 H)
5. Su’al fi Mu’awiyah bin Abi Sufyan karya Ibnu Taimiyah t (wafat 728 H)
6. Tathhirul Jinan wal Lisan karya Ibnu Hajar al-Haitami t (wafat 973 H), dll.
Semoga Allah l memberi taufik kepada kita untuk mencintai seluruh sahabat Rasulullah n, senantiasa mendoakan mereka, serta diselamatkan dari kedengkian dan hasad, sebagaimana firman Allah l,
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar), mereka berdoa, “Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (al-Hasyr: 10)

Catatan Kaki:

1 Mu’awiyah bin Abi Sufyan z meninggal di bulan Rajab tahun 60 H dalam usia mendekati delapan puluh tahun, setelah dua puluh tahun menjadi Amirul Mukminin dengan penuh keadilan, kearifan, dan kelembutan.

2 Inilah definisi sahabat, sebagaimana disebutkan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar dalam kitabnya al-Ishabah (1/7—8).

3 Yakni para sahabat.

4 Dinukil oleh asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad dalam tulisan beliau Min Aqwalil Munshifin fish Shahabi al-Khalifah Mu’awiyah hlm. 21.

5 Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Kifayah (hlm. 98) dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq (38/32).
6 Makna ucapan ini, apabila Mu’awiyah z bukan orang yang mulia dan disepakati kemuliaannya, tidak mungkin seorang seperti Umar bin al-Khaththab z akan memberikan kepercayaan kepadanya.

7 Ibnul Jauzi menukil dari Yahya bin Ibrahim, Rasulullah n membolehkan Ummu Haram mencari kutu di kepala beliau n karena dia masih memiliki hubungan mahram dari arah bibi-bibi beliau n. Karena, ibu Abdul Muththalib (kakek Nabi n) berasal dari Bani Najjar (kabilah orang-orang Anshar). Ini adalah salah satu jawaban terhadap masalah yang mungkin dianggap janggal ini. Di samping itu, masih ada beberapa jawaban lain dari para ulama, hanya saja perlu dikaji lebih lanjut. (lihat Kasyful Musykil min Hadits ash-Shahihain, -red.)

8 Telah dimaklumi, umat bersepakat bahwa Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab paling sahih di muka bumi setelah al-Qur’an. Artinya, Mu’awiyah z disepakati oleh umat sebagai sahabat yang tepercaya penukilannya dari Rasulullah n karena hadits-hadits beliau diriwayatkan dalam Shahihain.

Konspirasi Mencabik Kehormatan Mu’awiyah Bintu Abi Sofyan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

Sahabat Rasulullah n adalah kaum yang telah mengorbankan harta, jiwa, dan segala yang mereka miliki fi sabilillah saat kebanyakan manusia memerangi agama Allah l. Sepeninggal Rasulullah n, mereka tidak menghentikan langkah menegakkan kalimat Allah l. Pengorbanan, keberanian, dan sikap kesatria terus menghiasi lembaran-lembaran tarikh (sejarah).
Mengikuti jejak sahabat dan mencintai mereka adalah bagian penting akidah dan salah satu pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dengannya, umat mencapai kemuliaan dan selamat dari kesesatan. Dalam sebuah hadits, Rasulullah n bersabda,
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيْرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّيْنَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Sungguh, di antara kalian yang hidup sesudahku akan melihat berbagai perselisihan, maka berpegang teguhlah kalian dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang diberi petunjuk. Peganglah kuat-kuat sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah ajaran-ajaran yang baru (dalam agama) karena semua bid’ah adalah sesat.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan sahih.”)
Ketika Rasulullah n bercerita tentang perpecahan umat, beliau ditanya tentang golongan yang selamat. Beliau n menjawab,
مَا أَنَا عَلَيْهِ الْيَوْمَ وَأَصْحَابِي
“(Yaitu orang yang berjalan pada) jalan yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.”
Al-Imam Malik t berkata,
لَنْ يَصْلُحَ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلاَّ مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا
“Akhir dari umat ini tidak akan baik melainkan dengan menempuh jalan yang menyebabkan generasi awal (sahabat) menjadi baik.”
Musuh-musuh Islam mengerti faktor kejayaan ini. Mereka paham bahwa menjadikan sahabat sebagai suri teladan adalah pokok mendasar bagi umat Islam untuk meraih kejayaan. Maka dari itu, tidaklah mengherankan apabila mereka dengan gigih berusaha menjauhkan kaum muslimin dari generasi sahabat.
Segala cara ditempuh. Manipulasi sejarah, celaan, dan cercaan, tak kunjung henti tertuju kepada sahabat-sahabat Rasul n. Makar musuh Islam merusak citra sahabat telah dipraktikkan oleh pemimpin kaum munafik di zaman Rasulullah n, Abdullah bin Ubai bin Salul. Dia menebarkan fitnah seputar tuduhan zina terhadap Aisyah x.1
Konspirasi menggulung kemuliaan sahabat adalah makar besar musuh-musuh Islam: Yahudi, Syiah Rafidhah, para orientalis, dan sekutunya. Demi Allah, tidak sedikit sahabat yang menjadi sasaran celaan dan caci maki, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Demikian kenyataan yang harus kita hadapi. Mereka membuat makar, kita pun harus berjuang membela kehormatan generasi mulia yang telah berjasa terhadap umat ini. Kita tidak boleh berputus asa menegakkan prinsip yang agung ini. Sesungguhnya Allah l pasti membalas makar mereka.
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali Imran: 54)
“Dan sesungguhnya mereka telah membuat makar yang besar padahal di sisi Allah-lah (balasan) makar mereka itu….” (Ibrahim: 46)

Kedengkian Musuh Allah l Menyaksikan Kejayaan Islam
Pada masa sahabat, kekuatan daulah islamiyah kokoh di muka bumi. Kekuatan politik Islam dan tentara-tentara Allah l menjadi kekuatan yang sangat ditakuti. Kekaisaran Romawi dan Persia pun harus bertekuk lutut di hadapan tentara-tentara Allah l. Futuhat islamiyah (perluasan wilayah Islam) tidak bisa dibendung di masa al-Khulafa’ ar-Rasyidin, termasuk di zaman pemerintahan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c yang telah memimpin kaum muslimin dengan penuh keadilan selama dua puluh tahun (41—60 H).
Cahaya tauhid terus menyebar ke seluruh penjuru barat dan timur dunia, berjalan pasti bersama langkah kaki generasi paling mulia, mewujudkan kabar gembira ar-Rasul n dalam sabdanya,
إِنَّ اللهَ زَوَى لِيَ الْأَرْضَ، فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا، وَإِنَّ أُمَّتِي سَيَبْلُغُ مُلْكُهَا مَا زُوِيَ لِي مِنْهَا، وَأُعْطِيتُ الْكَنْزَيْنِ: الْأَحْمَرَ وْالْأَبْيَضَ
“Sesungguhnya Allah l mengumpulkan bumi untukku hingga aku bisa melihat timur dan baratnya. Sungguh kekuasaan umatku akan mencapai bagian bumi yang digulungkan di hadapanku, dan aku diberi Allah dua perbendaharaan, emas dan perak (yakni Romawi dan Persia, -pen).” (HR. Muslim 4/2215 no. 2889 dari Tsauban z)
Kejayaan Islam tentu tidak diharapkan oleh musuh-musuh Islam. Kedengkian telah merasuki dada mereka. Perjuangan sahabat semakin bersinar, sementara itu musuh-musuh Islam semakin geram dan sesak dada menyaksikan kemuliaan Islam. Hal ini sesuai dengan permisalan sahabat yang disebutkan oleh Allah l dalam firman-Nya,
“Sifat-sifat mereka dalam Injil yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir….” (al-Fath: 29)
Mereka tidak berdaya memerangi muslimin dengan kekuatan fisik. Upaya yang mereka anggap bermanfaat adalah dengan merusak akidah Islam dalam dada para pemeluknya, memperburuk citra Islam di tengah-tengah manusia, dan berusaha mencerai-beraikan barisan muslimin, serta mewujudkan keragu-raguan tentang agama yang mulia ini.
Makar demi makar muncul. Di antara makar besar yang pengaruhnya masih tampak hingga saat ini adalah makar Abdullah bin Saba’ al-Yahudi. Pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan z adalah buah makar Ibnu Saba’, demikian pula fitnah-fitnah berikutnya. Munculnya sekte Rafidhah pun tidak lepas dari peran sosok Ibnu Saba’ al-Yahudi.2
Hadits-hadits Rasulullah n dan tarikh Islam tidak luput dari makar. Mereka menebarkan hadits-hadits palsu dan menyusupkan kedustaan demi kedustaan, terutama terkait dengan tarikh sahabat Rasulullah n.
Demikianlah kaum zindiq (munafik) membuat makar. Mereka menyusup di tengah-tengah kaum muslimin sembari menyebarkan berita-berita dusta dalam hal akidah, ibadah, akhlak, muamalah, atau perkara halal haram. Semua itu untuk sebuah tujuan: merusak agama Islam dan memecah belah barisan kaum muslimin.
Riwayat Palsu adalah Makar Musuh Islam
Di antara makar musuh Islam adalah menyebarkan banyak riwayat maudhu’ (palsu) untuk merusak syariat dan prinsip-prinsip Islam. Oleh karena itu, para ulama menganggap penting untuk mengumpulkan hadits-hadits maudhu’ tersebut dalam buku-buku khusus, di antaranya kitab al-Maudhu’at karya al-Imam Ibnul Jauzi t, sebagai peringatan bagi umat, walhamdulillah.
Perhatikan contoh hadits palsu berikut sebagai bukti makar orang kafir.
إِنَّ اللهَ خَلَقَ خَيْلًا فَأَجْرَاهَا فَعَرَقَتْ فَخَلَقَ نَفْسَهُ مِنْ ذَلِكَ الْعَرْقِ
“Allah menciptakan kuda, lalu kuda itu dijalankan hingga berkeringat. Allah lalu menciptakan Diri-Nya dengan keringat itu.”
A’udzubillahi minasy syaithanir rajim! Demi Allah, ini adalah kalimat kekafiran yang sengaja diembuskan oleh kaum zindiq untuk merusak akidah muslim tentang Rabb-Nya.
Ibnul Jauzi t berkata, “Hadits ini tidak diragukan kepalsuannya. Tidak mungkin ada seorang muslim pun memalsukan hadits seperti ini.” (al-Maudhu’at 1/105)
Mereka juga membuat kedustaan tentang kerasulan. Muhammad bin Sa’id asy-Syami al-Mashlub, misalnya.3 Pendusta ini telah memalsukan riwayat yang merusak salah satu pokok Islam tentang rasul terakhir. Melalui jalan Humaid, dari Anas z, Muhammad bin Sa’d al-Mashlub meriwayatkan sabda Rasulullah n,
أَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِي إِلاَّ أَنْ يَشَاءَ اللهُ
“Aku penutup para nabi, tidak ada nabi sesudahku melainkan apabila Allah menghendaki.” (Dikeluarkan Ibnul Jauzi dalam al-Mudhu’at 1/279)
Kalimat “melainkan apabila Allah menghendaki” yang ia dustakan atas nama Nabi n membuka celah adanya nabi sesudah beliau n.
Saudaraku muslim, jika musuh-musuh Islam berani merusak akidah tentang Allah l dan Rasul-Nya, lebih tidak mustahil lagi mereka menebarkan kedustaan untuk mencoreng kehormatan sahabat dan merusak tarikh mereka yang gemilang, baik kedustaan itu tertuju pada sahabat secara umum (sebagai sebuah generasi) atau individu sahabat, seperti Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Abu Hurairah, Amr bin al-Ash, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, Abu Sufyan, Khalid bin al-Walid, Abu Musa al-Asyari, dan lainnya g.
Setan manusia dan setan jin bahu-membahu dalam makar menebar dusta ini, seperti dalam firman Allah l,
“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)….” (al-An’am: 112)

Mu’awiyah bin Abi Sufyan z, Target Makar Musuh Allah l
Di antara hadits palsu yang dimaksudkan untuk mencerca beberapa individu sahabat adalah hadits-hadits tentang Mu’awiyah z. Diriwayatkan bahwa Rasulullah n bersabda,
إِذَا رَأَيْتُمْ مُعَاوِيَةَ عَلَى مِنْبَرِي فَاقْتُلُوهُ
“Apabila kalian melihat Mu’awiyah berada di atas mimbarku, bunuhlah ia.”
Teks hadits ini lahiriahnya berisi celaan atas Mu’awiyah z, bahkan tidak berlebihan seandainya sebagian manusia mengafirkan Mu’awiyah dengan hadits ini. Namun, ternyata hadits ini adalah sebuah kedustaan yang diatasnamakan Rasul n.
Tentang hadits ini dan beberapa hadits lain yang ditebarkan musuh-musuh Islam untuk mencela Mu’awiyah z sebagai jembatan mencela generasi sahabat, akan kita khususkan pembahasannya dalam rubrik “Hadits” kali ini dengan judul Benarkah Hadits-Hadits Rasulullah n Menghujat Mu’awiyah z?

Pentingnya Pembahasan tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyan
Mu’awiyah bin Abi Sufyan c menjadi topik pembahasan penting. Di antara sebabnya adalah musuh-musuh Islam, baik yang kafir maupun yang munafik, seringkali mengupas sejarah Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dengan tidak adil dan jauh dari kaidah-kaidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan menyelisihi ijma’ (kesepakatan) ulama.
Membahas akidah Ahlus Sunnah tentang sahabat Mu’awiyah z sangatlah mendesak, lebih-lebih di zaman kita, saat media-media semakin maju. Di dunia maya, musuh-musuh Islam dengan leluasa berbicara seenaknya mencaci-maki Mu’awiyah bin Abi Sufyan z. Racun-racun yang ditebarkan menyebabkan banyak debu menutupi pemikiran sebagian muslimin tentang sahabat ini. Akhirnya, beliau dipandang sebelah mata atau malah benar-benar menjadi bahan cemoohan dan caci maki.
Syiah Rafidhah termasuk makhluk buruk yang paling doyan mencerca sahabat. Kenyataan ini tidak bisa mereka mungkiri karena bukti-bukti celaan tersebut nyata tertera dalam buku-buku rujukan mereka, termasuk tulisan dan ucapan tokoh-tokoh terdepan mereka semacam Khomeini. Mereka mengafirkan Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, bahkan seluruh sahabat, kecuali beberapa orang yang bisa dihitung dengan jari.
Tidak lupa pula kita ingatkan kepada pembaca, mereka—Rafidhah—juga mencela Aisyah x dan menuduhnya berbuat keji (zina). Padahal para ulama telah bersepakat tentang kafirnya orang yang menuduh Aisyah melakukan perbuatan itu karena ia telah mengingkari al-Qur’an yang dengan tegas membebaskan Aisyah dari tuduhan tersebut.
Maka dari itu, tidak heran ketika kita saksikan Rafidhah bersama barisan Yahudi, orientalis, dan munafik berupaya keras mencabik kehormatan Mu’awiyah z. Jangankan sosok Mu’awiyah z, Aisyah binti Abu Bakr c yang adalah ibunda kaum mukminin, mereka berani mengobok-obok nama baik beliau, wal ‘iyadzu billah.
Sebelum kita memasuki pembahasan tentang sahabat Mu’awiyah z lebih dalam, perlu disadari bahwa pembelaan terhadap kehormatan Mu’awiyah z adalah pembahasan yang sangat penting di zaman ini. Sebab, akidah tentang sahabat menjadi sebuah masalah yang asing bagi kebanyakan kaum muslimin.4
Adapun pemilihan tema pembelaan terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan, banyak alasan yang mendasarinya sebagaimana diisyaratkan di atas.
Di samping itu, beberapa alasan lain yang patut disebutkan di sini di antaranya:
1. Ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits, menjadikan sikap terhadap Mu’awiyah bin Abi Sufyan z sebagai salah satu barometer akidah seorang muslim tentang sahabat Nabi n.
Artinya, sikap jelek yang ditampakkan seseorang terhadap Mu’awiyah z adalah pertanda buruk akan sikapnya yang tidak baik kepada sahabat secara umum. Demikianlah kebiasaan yang berlaku. Jika ada seseorang mencela Mu’awiyah z, ia akan berani mencela sahabat lainnya karena Mu’awiyah bin Abi Sufyan c bagian dari sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah l.
Ar-Rabi’ bin Nafi’ t mengatakan,
مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سِتْرُ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n فَإِذَا كَشَفَ الرَّجُلُ السِّتْرَ اجْتَرَأَ عَلَى مَا وَرَاءَهُ
“Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah tirai bagi sahabat-sahabat Rasulullah n. Siapa berani menyingkap tirai itu, niscaya ia akan berbuat lancang atas apa yang ada di baliknya (yakni dia akan lancang mencela sahabat lainnya).” (Khatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad [1/209] dan Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimasyq [59/209])
2. Kehormatan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z sering dicemarkan dalam berbagai kajian, kurikulum pendidikan, atau mata kuliah sejarah. Dengan demikian, kita mengharapkan para pelajar, lebih-lebih para guru dan dosen sejarah, takut kepada Allah l ketika membicarakan sahabat yang mulia dan segera kembali kepada jalan salafus saleh.
3. Beliau dituduh sebagai raja yang zalim, suka menumpahkan darah, nepotisme, ahli maksiat, dan sebagainya. Bahkan, sebagian orang yang celaka berani mengeluarkan beliau dan ayahnya dari keislaman.
Sungguh jauh penilaian ini dengan penilaian ahlul hadits dan ahli sejarah Islam yang lurus akidahnya. Para sahabat, tabi’in, dan ulama Ahlus Sunnah bersepakat bahwa beliau dan ayahnya adalah sahabat Rasulullah n dan orang yang mulia.
4. Banyak kaum muslimin—karena kejahilan—lebih menempatkan Umar bin Abdul Aziz t sebagai khalifah kelima—setelah al-Khulafa’ ar-Rasyidin—dan melupakan Mu’awiyah bin Abi Sufyan z. Seolah-olah, di alam ini tidak terlahir seorang pun bernama Mu’awiyah bin Abi Sufyan c.
Penilaian tersebut tentu tidak benar. Keutamaan Mu’awiyah z sebagai sahabat Rasulullah n tidak bisa dibandingkan dengan Umar bin Abdul Aziz t, seorang tabi’in. Bahkan, pemerintahan Mu’awiyah jauh lebih adil dan lebih sentosa dibandingkan dengan pemerintahan Umar bin Abdul Aziz t.
5. Syiah Rafidhah sangat gencar melancarkan makarnya untuk menjatuhkan nama baik Mu’awiyah z dan seluruh sahabat Rasulullah n.
Mu’awiyah divonis kafir oleh para penganut agama Syiah Rafidhah. Mu’awiyah dituduh sebagai pemberontak, tokoh yang selalu mencaci-maki Ali, bahkan dianggap sebagai dalang pembunuhan sahabat Ali, peminum khamr, ahli maksiat, dan sekian tuduhan buruk tertuju pada beliau.
Semua tuduhan itu dihiasi dengan pemutarbalikan fakta, berita-berita palsu, dan penafsiran ngawur tentang beberapa peristiwa tarikh. Bahkan, dihiasi pula dengan dalil-dalil dari hadits yang sebagiannya akan kita bahas dalam rubrik hadits edisi ini. Semua itu mereka lakukan untuk merobek kehormatan Mu’awiyah dan seluruh sahabat Rasulullah n.
6. Adanya beberapa tokoh pergerakan Islam yang sangat tersohor, melontarkan pernyataan-pernyataan miring tentang sahabat, termasuk Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dengan sebab kebodohan.
Sebut saja sebagai misal adalah Sayyid Quthub. Dalam tulisannya, al-‘Adalah al-Ijtima’iyah hlm. 206, ia mencela sahabat Utsman bin Affan z dengan perkataannya, “Kami condong kepada penetapan bahwa kekhilafahan Ali adalah perpanjangan dari kekhilafahan syaikhain (yakni Abu Bakr dan Umar) sebelumnya. Adapun kekhilafahan Utsman bin Affan hanyalah celah (kekosongan) antara keduanya.”
Lihatlah, wahai kaum muslimin, kekhilafahan Utsman bin Affan z sejak tahun 23—35 H tidak dianggap oleh seorang Sayyid Quthub. Padahal pemerintahan beliau adalah mata rantai yang tidak bisa dilepas dari sejarah perjuangan Islam.
Ia juga berbicara tentang Mu’awiyah bin Abi Sufyan c, menyematkan sifat dusta, khianat, dan kemunafikan pada pribadi beliau. Dalam tulisannya, al-Kutub wa Syakhshiyat (hlm. 242), ia mengatakan, “… dan ketika Mu’awiyah dan temannya (yakni Amr bin al-‘Ash) telah condong kepada kedustaan, penipuan, pengkhianatan, kemunafikan, suap, dan menjual tanggung jawab (amanat-amanat),….”
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz t mengomentari ucapan Sayyid Quthub di atas, “Ini adalah ucapan kotor. Ini adalah ucapan yang kotor, mencela Mu’awiyah dan mencela Amr bin al-Ash.” (Dari kaset Aqwal al-Ulama fi Muallafati Sayyid Quthub, Tasjilat Minhajus Sunnah, Riyadh)

Lebih menyedihkan lagi ketika Sayyid Quthub berbicara tentang Abu Sufyan bin Harb z. Ia berkata meragukan keislaman Abu Sufyan, “Keislamannya adalah Islam di bibir dan lisan, bukan keimanan dalam hati. Keislaman belumlah masuk ke dalam kalbu laki-laki itu….” Ucapannya ini terlontar di Majalah al-Muslimun edisi ketiga tahun 1371 H.
Lihatlah, betapa berbahaya ucapan Sayyid Quthub ini. Anehnya, tokoh seperti Sayyid Quthub ini justru sangat dielu-elukan oleh sebagian firqah (kelompok sempalan), seperti Ikhwanul Muslimin.
Sungguh aneh, ketika Sayyid Quthub dikritik, mereka marah. Namun, ketika sahabat Utsman bin Affan z, Dzun Nurain (pemilik dua cahaya), penyandang janji surga, dicela oleh Sayyid Quthub, demikian pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan c dan ayahnya, mereka duduk manis tidak bergeming. Demikian parahkah kerusakan al-wala’ wal bara’ yang ada dalam timbangan Ikhwanul Muslimin?
Allahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 Ibnu Salul mencemarkan nama baik keluarga Rasulullah n dengan menebar berita dusta (haditsul ifk) bahwa Ummul Mukminin Aisyah x melakukan perbuatan keji dengan sahabat Shafwan ibnu Mu’aththal z. Berita dusta itu ditebarkan seusai Perang Bani Musthaliq, bulan Sya’ban 5 H. Kedustaannya tersingkap dengan turunnya surat an-Nur yang membebaskan Aisyah x dari tuduhan tersebut.

2 Keberadaan Ibnu Saba’ dan makarnya dapat dilihat kembali pada Asy-Syariah No. 57/V/1431 H/2010, “Meluruskan Sejarah Memurnikan Akidah”, Rubrik Kajian Utama berjudul Kontroversi Ibnu Saba’ al-Yahudi.
3 Ats-Tsauri dan Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Muhammad bin Sa’id adalah kadzdzab (pendusta).”
Dalam sebagian riwayat, al-Imam Ahmad berkata, “Ia dibunuh oleh Abu Ja’far (yang berjuluk al-Manshur, seorang khalifah Abbasiyah) karena kezindikannya. Hadits-haditsnya adalah hadits maudhu’.”

4 Alhamdulillah, pembahasan tentang sahabat telah banyak diangkat di Majalah Asy-Syariah. Pembaca dapat merujuk pada edisi-edisi yang telah lalu.

 

Jangan Mencela Sahabat Nabi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin)

Tubuh tinggi, kulit putih, dan tampan; itulah sosok Mu’awiyah z, seorang sahabat nan mulia. Dia memeluk Islam sebelum sang ayah, Abu Sufyan bin Harb, berislam. Walaupun untuk itu ia harus menyembunyikan keislamannya hingga Fathu Makkah.
Mu’awiyah z adalah saudara seayah Ummul Mukminin Ummu Habibah Ramlah bintu Abi Sufyan x. Ayahnya (Abu Sufyan) termasuk pemuka Quraisy. Begitu pun ibunya, Hindun bintu Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawiyah al-Qurasyiyah adalah sosok wanita pejuang di masa jahiliah dan di masa setelah memeluk Islam.
Abu Abdirrahman Mu’awiyah digelari Amirul Mukminin, Malikul Islam. Begitulah sosok Mu’awiyah bin Abi Sufyan Shakhr bin Harb bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf al-Umawi al-Quraisyi.
Aslam, maula Umar, bercerita, “Mu’awiyah berkunjung ke tempat kami. Dia adalah pria berkulit halus, bertubuh gempal berisi. Dia yang paling gagah dan elok.”
Diungkapkan pula tentang kebagusan fisiknya oleh Abi Abdi Rabb. Katanya, “Saya penah melihat Mu’awiyah memakai semir rambut berwarna kuning, seakan janggutnya adalah emas.”
Ibnu Abi ad-Dunya t menyebutkan, “Sungguh, Mu’awiyah adalah sosok bertubuh jangkung, berkulit putih, dan tampan. Jika tertawa, bergeraklah bibir atasnya. Dia pria bersemir rambut.” (Siyar A’lami an-Nubala’, al-Imam adz-Dzahabi, 3/380)
Mu’awiyah z adalah orang yang pandai menulis, ahli hisab, dan fasih berbahasa. Dia memiliki kecerdasan dan sifat wibawa. Tak mengherankan apabila Khalifah Umar bin Khaththab z menetapkan Mu’awiyah z sebagai penguasa Syam. Mu’awiyah ditunjuk oleh Umar bin Khaththab z sebagai penguasa Syam setelah saudaranya, Yazid bin Abi Sufyan c, meninggal dunia. Penetapan ini terus berlanjut hingga masa kekhalifahan beralih kepada Utsman bin Affan z.
Mu’awiyah z memangku keamiran selama dua puluh tahun dan dua puluh tahun pula memangku jabatan khalifah. Dia senantiasa melakukan shalat witir satu rakaat. Dia seorang yang fakih. (al-Ishabah fi Tamyizi ash-Shahabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, 5/164)
Semasa Rasulullah n hidup, Zaid bin Tsabit z adalah penulis wahyu dan Mu’awiyah z adalah sekretaris untuk urusan Nabi n dengan kalangan orang Arab. Mu’awiyah z menuliskan urusan-urusan Rasulullah n. Beliau adalah sosok sahabat yang dekat dengan Rasulullah n. Berdasar hadits dari Abdullah bin Abbas c terungkap bentuk kedekatan tersebut. Kata Ibnu Abbas c, “Saat aku bermain bersama anak-anak, Rasulullah n datang. Aku pun bersembunyi di balik pintu. Lantas Nabi n menyentuh punggungku seraya berkata,
اذْهَبْ وَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ
“Pergilah. Panggilkan Mu’awiyah untuk (menghadap) saya.”
Setelah itu, aku pun datang (menghadap Rasulullah n setelah memanggil Mu’awiyah). Aku katakan, “Dia sedang makan.” Lantas Nabi n menyuruh saya kembali untuk memanggil Mu’awiyah z untuk kali kedua. Sabda Nabi n,
اذْهَبْ وَادْعُ لِي مُعَاوِيَةَ
“Pergilah. Panggilkan Mu’awiyah untuk (menghadap) saya.”
Setelah saya memanggil Mu’awiyah z, saya pun mendatangi Nabi n dan menyampaikan bahwa dia sedang makan. Lantas Rasulullah n bersabda,
لاَ أَشْبَعَ اللهُ بَطْنَهُ
“Semoga Allah tak akan mengenyangkan perutnya.” (HR. Muslim, no. 2604)
Terkait hadits di atas, ada yang berpendapat bahwa pernyataan Rasulullah n yang artinya, “Semoga Allah l tak akan mengenyangkan perutnya” mengandung pengertian bahwa pada hari kiamat kelak dia bukanlah termasuk orang yang lapar. Ini didasarkan pada pernyataan Rasulullah n,
أَطْوَلُ النَّاسِ شَبْعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Manusia yang paling lama kenyang di dunia, mereka adalah yang paling lama lapar pada hari kiamat nanti.” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 1199, 1577, 4491. Hadits dari Salman al-Farisi z)
Menurut al-Imam adz-Dzahabi t, pendapat tersebut tidaklah benar. Memberi takwil (penafsiran) kepada makna itu adalah sesuatu yang lemah. (Siyar A’lami an-Nubala’, 3/382)
Oleh karena itu, pendapat tersebut dinyatakan tidak kuat. Adapun al-Imam an-Nawawi t saat memberi penjelasan terhadap hadits di atas (HR. Muslim, no. 2604), beliau menyebutkan bahwa (al-Imam) Muslim t telah memahami perihal hadits tersebut. Sesungguhnya Mu’awiyah bukanlah orang yang berhak mendapatkan doa kejelekan. Karena itu, beliau memasukkan hadits ini dalam pembahasan “Bab Man La’anahu an-Nabi n au Sabbahu au Da’a ‘alaih wa Laisa Ahlan li Dzalika Kana Zakatan wa Ajran wa Rahmatan (Bab Siapa yang dilaknat atau dicerca oleh Nabi n padahal di tidak pantas mendapatkannya maka hal itu adalah penyuci, pahala, dan rahmat baginya)”.
Di samping itu, beliau menjadikan hadits ini sebagai dalil yang menunjukkan kedudukan terpuji Mu’awiyah z. Karena, hakikat dari pernyataan Nabi n pada hadits Abdullah bin Abbas c adalah doa kebaikan untuk Mu’awiyah. (Lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 16/371)
Dalam hadits yang dituturkan oleh al-Irbadh bin Sariyah dan lainnya c, ia pernah mendengar Nabi n berdoa tatkala sahur pada bulan Ramadhan. Doa yang dipanjatkan berkenaan dengan Mu’awiyah z,
اللَّهُمَّ عَلِّمْ مُعَاوِيَةَ الْكِتَابَ وَالْحِسَابَ وَقِهِ الْعَذَابَ
“Ya Allah, karuniakanlah ilmu al-Kitab dan al-hisab kepada Mu’awiyah serta selamatkanlah dari siksa (neraka).” (Majma’ az-Zawaid, 9/356 dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 3227)
Rabi’ah bin Yazid t menyebutkan bahwa dirinya telah mendengar seorang sahabat bernama Abdurrahman bin Abi ‘Amirah z berkata, “Saya telah mendengar Rasulullah n berdoa untuk Mu’awiyah,
اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ
“Ya Allah, jadikanlah dia sebagai orang yang memberi petunjuk, yang diberi petunjuk, dan berilah hidayah (petunjuk) kepadanya.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam ash-Shahihah, no. 1969. Lihat Siyar A’lam an-Nubala, 3/382)
Segenap ungkapan yang telah disebutkan di muka menunjukkan manqabah (kedudukan terpuji) Mu’awiyah z. Sosok sahabat yang dipercaya oleh Rasulullah n menjadi juru tulis dalam urusan dengan bangsa Arab.
Namun, ada segolongan yang tidak menyukainya. Di antara orang-orang yang mencela Mu’awiyah adalah kalangan Saba’iyah. Mereka adalah para pengikut ajaran Abdullah bin Saba. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang masyhur, Abdullah bin Saba’ adalah sosok Yahudi yang lahir di kota Shan’a, Yaman. Dia adalah seorang munafik, berpura-pura memeluk Islam, tetapi hatinya penuh permusuhan dan kedengkian terhadap Islam dan kaum muslimin.
Abdullah bin Saba’ adalah sosok provokator. Dia menggerakkan massa untuk mengepung kediaman Khalifah Utsman bin Affan z. Dari aksi demonstrasi yang digagas Abdullah bin Saba’ al-Yahudi ini, terbunuhlah sahabat mulia, Khalifah Utsman bin Affan z. Khalifah terbunuh melalui tikaman senjata tajam dari massa yang melakukan aksi demonstrasi di kediamannya. Perjalanan sejarah umat Islam telah ditulis dengan darah. Semua ini lantaran ulah Abdullah bin Saba’ yang menumpahkan nafsu amarah.
Kelompok Saba’iyah mengklaim sebagai pengikut setia ahlul bait. Seakan-akan mereka adalah kumpulan orang-orang yang mencintai Ali bin Abi Thalib z dan keturunannya. Ternyata, pengakuan mereka ditampik dan dibantah oleh ahlul bait sendiri. Sikap berlepas diri dari ahlul bait kalangan Saba’iyah (yang kemudian lebih dikenal dengan kaum Syiah Rafidhah) diungkapkan oleh al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib z.
Kata al-Hasan, “Demi Allah, jika Allah l menghendaki, sungguh kami akan memotong tangan dan kaki kalian serta tidak akan menerima taubat kalian. Rafidhah telah menusuk kami sebagaimana kaum Haruriyah (Khawarij) telah menusuk Ali bin Abi Thalib.” (asy-Syariah, al-Imam al-Ajurri t. Lihat Taudhihu an-Naba’an Mu’assis asy-Syi’ah Abdullah bin Saba’, Ali bin Ahmad ar-Razihi, hlm. 30)
Saat sekelompok orang Rafidhah datang kepada Zaid bin Ali t (salah seorang ahlul bait) untuk meminta Zaid bin Ali berlepas diri dari Abu Bakr dan Umar c, Zaid t berucap,
إِنَّهُمَا وَزِيْرَا جَدِّي
“Sesungguhnya keduanya (Abu Bakr dan Umar c) adalah wazir (pendamping) kakekku (Ali bin Abi Thalib z).”
Lantas mereka menimpali,
إِذًا نَرْفَضَكَ
“Kalau demikian, kami menolakmu (sebagai pemimpin).”
Jawab Zaid bin Ali t,
اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الرَّافِضَةُ
“Pergilah, karena kalian adalah kaum Rafidhah.”
Sejak itulah nama Rafidhah mencuat dan disematkan kepada orang-orang yang segaris dan sepemahaman dengan mereka. Di antara pemahaman mereka adalah adanya keyakinan bahwa mencaci maki para sahabat adalah sebuah kebajikan. Mereka sangat bernafsu mencaci maki Abu Bakr, Umar, Utsman, Abu Hurairah, Mu’awiyah, dan para sahabat lainnya g. Begitulah keyakinan (i’tiqad) yang bersemayam dalam dada mereka. Mencela para sahabat adalah agama mereka.
Di antara i’tiqad mereka, “Barang siapa yang melaknat Abu Bakr dan Umar satu kali pada setiap pagi, tidak akan ditulis dosanya pada hari itu hingga sore hari. Barang siapa melaknat keduanya pada sore hari dengan satu kali laknat, tidak akan ditulis dosa untuknya pada malam hari hingga subuh.” (Taudhihu an-Naba’, hlm. 123)
Mereka juga menafsirkan ayat semau mereka. Firman Allah l,
“Hai orang-orang beriman janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima).” (al-Baqarah: 264)
Menurut al-Iyasyi, seorang pengikut Syi’ah, dalam at-Tafsir (1/148), ayat tersebut diturunkan terkait Utsman bin Affan z. Dalam kitab tafsir yang sama (2/116 cetakan Teheran) dan Biharu al-Anwar karya al-Majlisi (7/37) disebutkan, “Siapakah musuh Allah?” Ia menjawab, “Berhala yang empat.” Ditanyakan kepadanya, “Siapakah berhala yang empat itu?” Jawabnya, “Abul Fashil (Abu Bakr), Rama’ (Umar), Na’tsal (Utsman), Mu’awiyah, dan siapa pun yang memeluk agama mereka. Barang siapa memusuhi mereka, sungguh telah memusuhi musuh Allah l.” (Taudhihu an-Naba’, hlm. 123).
Kaum Syiah Rafidhah tak semata-mata mencaci maki Mu’awiyah. Mereka pun mencela dan melaknat pula para sahabat yang lain. Perbuatan mencela dan melaknat tak akan pernah berhenti, bahkan akan terus mereka lakukan. Ini karena apa yang mereka perbuat diyakini sebagai ibadah. Padahal perbuatan mereka sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah n. Rasulullah n telah melarang mencela seorang pun dari para sahabatnya. Sabda beliau,
لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا، مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela salah seorang pun dari sahabatku. Sungguh, andai salah seorang dari kalian menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, niscaya tidak akan bisa menyamai salah seorang dari sahabat satu mud1 pun dan tidak pula bisa menyamainya walau setengahnya.” (HR. Muslim, no. 2541 hadits dari Abu Hurairah zdan lainnya)
Jika mereka mencintai Rasulullah n dan ahlul bait, semestinya mereka mengikuti perintah Rasul-Nya n. Oleh karena itu, bukti seseorang taat dan mencintai Rasulullah n adalah dengan menunaikan sunnah beliau dan apa yang beliau perintahkan. Allah l berfirman,
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)
Allah l berfirman,
“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya), serta ikutilah aku supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158)
Kebaikan adalah setiap yang baik dalam hal ittiba’ (mengikuti) beliau, berhukum pada syariat dan sunnah beliau. Adapun kejelekan adalah setiap yang jelek dalam hal menyelisihi petunjuk Nabi-Nya dan menjauh dari sunnah Rasul-Nya n. (Haqqu an-Nabi n, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari, hlm. 26)
Rasulullah n bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبِى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan itu?” Jawab Nabi n, “Barang siapa yang menaatiku, ia akan masuk surga; dan barang siapa yang bermaksiat (durhaka) kepadaku, sungguh dia telah enggan.” (HR. al-Bukhari, no. 7280)
Itulah Syiah Rafidhah. Kebencian terhadap Mu’awiyah z begitu mendalam. Perintah Nabi n pun dicampakkan, namun hawa nafsu yang membumbung tinggi justru diikuti. Kebencian itu pun dialamatkan kepada para sahabat lainnya, terutama Abu Bakr ash-Shidiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Abu Hurairah, dan istri Nabi n, ‘Aisyah g.
Kemunculan Syiah Rafidhah tidak bisa lepas dari kiprah tangan Abdullah bin Saba’. Kehadiran Abdullah bin Saba’ dalam lintasan sejarah Islam tak bisa dilepaskan dari latar belakang pemikiran dan keyakinannya yang busuk terhadap Islam dan kaum muslimin. Abdullah bin Saba’ adalah seorang Yahudi. Allah l telah memperingatkan permusuhan Yahudi (dan Nasrani) terhadap kaum muslimin. Firman-Nya,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.” (al-Baqarah: 120)
Abdullah bin Saba’ tak hanya disebutkan oleh para ulama Ahlus Sunnah. Abdullah bin Saba’ diakui pula sepak terjangnya oleh kaum Syiah, seperti al-Mahdi, yaitu Ahmad bin Yahya al-Murtadha. Dia adalah salah seorang ulama sepuh dari kalangan Zaidiyah di Yaman, wafat tahun 840 H.
Al-Mahdi menyatakan bahwa as-Saba’iyah—para pengikut Abdullah bin Saba’—meyakini Ali adalah tuhan. Kemudian Ali mengusir Abdullah bin Saba’ ke beberapa kota. Para pengikut Abdullah bin Saba’ tetap berkeyakinan bahwa Ali z berada di awan. Guntur adalah suara Ali dan petir adalah cemetinya.
Salah seorang ulama mereka lainnya, al-Qumi (wafat 301 H) menyebutkan, “Kelompok ini dinamakan Saba’iyah, yaitu para pengikut Abdullah bin Saba’. Abdullah bin Saba’ adalah orang pertama yang melancarkan celaan terhadap Abu Bakr, Umar, Utsman, dan para sahabat lainnya g. Abdullah bin Saba’ berlepas diri dari para sahabat.”
Begitulah pernyataan para ulama Syiah terkait keberadaan Abdullah bin Saba’. Pernyataan para ulama Syiah tersebut dinukil dari kitab karya mereka. (Lihat Taudhihu an-Naba’, hlm. 89—90 dan Rafidhatu al-Yaman ‘ala Marri az-Zaman, asy-Syaikh Abu Nashr Muhammad bin Abdillah al-Imam, hlm. 45—46)
Memuliakan para sahabat Nabi n adalah keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Adapun mencela mereka termasuk perbuatan yang menyalahi syariat. Para sahabat adalah orang-orang yang telah mendapat ridha Allah l. Allah l berfirman,
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 100)
Memuliakan orang mulia adalah sikap mulia. Semua ini dititahkan dalam Islam sebagai ajaran mulia.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Satu mud adalah takaran seukuran gabungan dua talapak tangan yang sedang.