Surat Pembaca edisi 78

Adab Shalat Jumat
Alhamdulillah Asy-Syariah tambah ilmiah di atas sunnah. Saya punya usul agar Asy-Syariah mengupas tuntas masalah adab shalat Jumat karena minimnya ilmu tentang hal ini. Misalnya, masih banyak kaum muslimin yang berbicara saat imam sudah naik di atas mimbar.
Abu Arkan

Tentang adab-adab shalat Jumat insya Allah akan kami angkat di edisi 82, jadi mohon bersabar. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Koreksi Kesalahan
Pada Asy-Syari’ah Edisi 77 hlm. 41 tertulis “Wa Kana Katsirul Irsal wat Tadlis”, tidakkah sebaiknya ditulis “Wa Kana Katsiral Irsal wat Tadlis” sebagai khabar kana?
Ibnu Suyadi-Gresik

Anda benar. Selain apa yang Anda sampaikan, kami juga melakukan kesalahan lain di halaman 10 dan 28.
Di halaman 10, tertulis مَنْ ذْبَّ dengan sukun pada dzal, seharusnya مَنْ ذَبَّ dengan fathah. Adapun di halaman 28, pada bait syair tertulis نَبْلًا dengan fathah pada nun, seharusnya نُبْلًا dengan dhammah.

Jangan Bahas Poligami
Saya sangat senang dengan kehadiran Asy-Syariah, mudah-mudahan mampu memperbaiki muslimin dengan pemahaman yang benar. Saya minta agar tidak memperbanyak membahas poligami karena banyak laki-laki yang tidak paham hukum-hukumnya sehingga kami merasa dirugikan dan dihancurkan hati kami. Bukan kami menolak syariat ini, namun kami tidak mau rumah tangga kami hancur hanya karena lelaki yang bersemangat, namun tidak paham hukumnya.
Ummu Ali-Aceh Timur

Buruknya praktik poligami, baik di kalangan awam maupun kalangan yang dianggap lebih paham agama, justru menjadi pemacu kami untuk membahasnya agar syariat ta’addud (poligami) tidak makin terkesan buruk hanya karena pelaku-pelakunya jauh dari ilmu. Ini tentunya menjadi tanggung jawab ilmiah kami untuk menerangkan kepada umat bagaimana sesungguhnya poligami indah yang sesuai dengan sunnah. Insya Allah pembahasan lebih lengkap tentang ta’addud bisa Anda simak di edisi 85. Insya Allah edisi tersebut juga akan memuat nasihat-nasihat untuk orang yang melakukan ta’addud secara sembrono dan cenderung menelantarkan wanita.

Rindu Tata Letak Edisi Awal
Membaca Asy-Syariah, saya rindu pada tata letak edisi-edisi awal. Perwajahan dan pemilihan jenis huruf untuk judul begitu artistik sehingga menambah minat baca. Sekarang, hal itu hanya ada di halaman judul Sakinah.
085878xxxxxx

Tata letak memang menjadi problem yang kami hadapi. Di edisi-edisi awal, materi memang tidak sepadat sekarang yang menyebabkan kami masih leluasa “memainkan” spasi (space, -red.) yang kosong. Sekarang, kami harus pandai-pandai menyiasati tata letak untuk mengompromikannya dengan padatnya naskah. Oleh karena itu, ke depan, tak menutup kemungkinan tata letak semacam ini akan kami ubah demi memberikan kenyamanan kepada Pembaca. Jazakumullahu khairan.

Siapa Kita, Siapa Mu’awiyah?

Salah satu cara “halus” yang digunakan oleh musuh-musuh Islam demi memadamkan cahaya Allah l adalah merusak citra para sahabat Rasulullah n. Dikatakan “halus” karena banyak dari kalangan muslim yang terpengaruh ikut-ikutan larut dalam “settingan” ini. Sebutlah Sayyid Quthub—tokoh Ikhwanul Muslimin—yang menyudutkan Utsman bin Affan, Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dan Amr bin Ash g; bahkan mencela Nabiyullah Musa q. Demikian juga Abul A’la al-Maududi yang mencitrakan sosok Mu’awiyah dengan sangat buruk. Sementara itu, dari luar Islam, Syiah Rafidhah—selain mengafirkan hampir seluruh sahabat—adalah kelompok yang paling getol mencaci maki Mu’awiyah.
Dengan menyusupkan berita dusta dan hadits-hadits palsu, Mu’awiyah digambarkan oleh para pencela sahabat sebagai pribadi yang penuh khianat, licik, ambisius, dsb.
Padahal, kalangan Islam telah bersepakat bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah seorang sahabat. Oleh karena itu, jika ada ayat atau hadits yang mengungkapkan tentang kemuliaan sahabat secara umum, beliau termasuk di dalamnya. Secara khusus, hadits-hadits yang sahih juga menyebutkan keutamaan-keutamaan Mu’awiyah bin Abi Sufyan c. Di antaranya, beliau adalah salah satu sahabat yang dipercaya menjadi penulis wahyu, beliau dijamin masuk jannah, seorang yang faqih, dsb.
Patut digarisbawahi di sini, mencela sahabat sendiri bukanlah perkara remeh. Ini sudah masuk ranah akidah. Sahabat Rasulullah n adalah perantara kita dengan Rasulullah n. Merekalah pembawa kabar-kabar dari Rasulullah n. Semua ilmu agama, baik bersumber dari al-Qur’an maupun hadits, sampai kepada kita melalui perantaraan mereka. Tak heran jika musuh-musuh Islam dan yang terpengaruh oleh mereka, mencela para sahabat ini dengan cerita-cerita dusta, hadits-hadits lemah dan palsu, bahkan yang tidak ada asalnya sama sekali, demi menjadikan umat Islam ragu terhadap para sahabat Rasulullah n. Ujung-ujungnya, mereka meragukan al-Qur’an atau hadits yang sampai kepada mereka walaupun hadits-hadits tersebut sahih, terutama jika diriwayatkan oleh sahabat yang mereka cela.
Alhasil, menjadi penting bagi kita untuk terus menyuarakan pembelaan terhadap para sahabat yang niscaya penistaan terhadap mereka tak akan berhenti sampai kapan pun. Lucunya, ada kalangan Islam yang meradang ketika pelecehan terhadap sahabat dilakukan oleh orang liberal semacam Faraj Fouda atau Thaha Husain, tetapi ketika yang melakukannya adalah Sayyid Quthub yang mereka idolakan, mereka tutup mata dan membela idolanya mati-matian. Ketika pengagum Faraj Fouda menggelari idolanya dengan Syahid al-Kalimah atau Syahid al-Fikr, demikian juga pengagum Sayyid Quthub menggelari idolanya dengan asy-Syahid, gelar yang tentunya teramat tidak pantas disandang para pencela sahabat Rasulullah n.
Seorang muslim semestinya menahan lisannya dari mencela sahabat Rasulullah n. Bagaimana mungkin seorang muslim sampai hati memberikan gambaran yang sangat tidak beradab tentang sahabat Rasulullah n dan mempertajam citra buruk mereka, padahal Allah l telah memuji mereka dalam firman-Nya? Apa keuntungan yang kita cari dengan mengumbar fitnah dan caci maki kepada sahabat Nabi n? Atau jangan-jangan, para penghujat merasa lebih mulia dari para sahabat, generasi yang Allah l ridha kepada mereka? Na’udzubillah.

POKOK HIKMAH ADALAH DIAM

Muhammad bin ‘Ajlan t mengatakan,

“Ucapan manusia ada empat macam: (1) berzikir mengingat Allah l, (2) membaca al-Qur’an, (3) bertanya tentang sebuah ilmu lalu ia diberi tahu, dan (4) berkata tentang urusan dunia yang diperlukan.
Seseorang berkata kepada Salman al-Farisi z, ‘Berilah aku wasiat!’
Salman mengatakan, ‘Engkau jangan berbicara.’
Lelaki itu menjawab, ‘Orang yang hidup di tengah-tengah manusia tidak mungkin tidak berbicara.’
Salman menukas, ‘Jika demikian, kalau engkau berbicara, bicaralah yang benar. Kalau tidak, diamlah.’
Abdullah bin Mas’ud z mengatakan, ‘Demi Allah, yang tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang lebih pantas dipenjara dalam waktu yang lama selain lisan.’
Wahb bin Munabbih t mengatakan, ‘Para ahli hikmah bersepakat bahwa pokok hikmah adalah diam’.”

(Jami’ al-‘Ulum wal Hikam hlm. 178)