Mengobati Jiwa dengan Menentang Keinginan Jeleknya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim t bahwa di samping muhasabah, obat yang lain bagi jiwa yang ammarah bis-su’ adalah mukhalafah, yakni menentang hawa nafsu atau keinginan jeleknya. Allah l berfirman,
“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).” (an-Nazi’at: 40—41)
Al-Qurthubi t menafsirkan, “Maksudnya, memperingatkan jiwanya dari perbuatan maksiat dan perbuatan yang haram.”
Sahl t mengatakan, “Meninggalkan keinginan buruk jiwa adalah kunci surga, karena Allah l berfirman,
‘Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya)’.” (an-Nazi’at: 40—41)
Abdullah bin Mas’ud z mengatakan, “Kalian sekarang berada pada zaman yang kebenaran menuntun hawa nafsu. Akan datang nanti sebuah masa ketika hawa nafsu yang justru menuntun kebenaran. Kita berlindung kepada Allah l dari zaman tersebut.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)
Al-Alusi t dalam tafsirnya juga menerangkan, “…. (Arti ayat di atas) adalah memperingatkan jiwanya dan menahannya dari kemauan-kemauan yang membinasakan, yaitu condong kepada syahwat, serta meluruskannya dengan kesabaran, membiasakannya untuk mengutamakan kebaikan, tidak membiasakannya dengan hiasan dunia dan kembang-kembangnya, tidak terkecoh oleh gemerlapnya dan hiasan-hiasannya karena mengetahui betapa jeleknya akibatnya. Ibnu Abbas c dan Muqatil t mengatakan bahwa maksud ayat tersebut adalah seseorang yang berkeinginan melakukan maksiat dan teringat kedudukannya saat dihisab di hadapan Rabbnya lalu takut serta meninggalkan maksiatnya.
Kata al-hawa (seperti dalam ayat) asalnya bermakna al-mail (kecondongan, kemauan, keinginan, hasrat). Namun, kata ini menjadi populer untuk menyatakan makna kecondongan atau keinginan kepada syahwat. Dengan demikian, segala keinginan kepada syahwat disebut al-hawa (Ind: nafsu syahwat), (kata kerja hawa juga bermakna terjun, sehingga nafsu syahwat dinamakan demikian) karena hal itu akan mengempaskannya kepada segala yang lemah di dunia dan kepada jurang yang dalam di akhirat.
Oleh karena itu, orang yang menentang hawa nafsunya menjadi terpuji. Sebagian ahli hikmah mengatakan, ‘Apabila engkau ingin kebenaran, lihatlah hawa nafsumu lalu selisihilah.’ Al-Fudhail t mengatakan, ‘Seutama-utama amalan adalah menentang hawa nafsu….’
Hampir-hampir keburukan mengikuti hawa nafsu dan kebaikan dalam hal menyelisihinya adalah dua hal yang mesti. Akan tetapi, orang yang tidak menurutinya hanya sedikit, selain para nabi dan beberapa ash-shiddiqin (yang sangat jujur dalam beriman). Beruntunglah orang yang selamat darinya.” (Ruhul Ma’ani)
Mengendalikan jiwa adalah sifat orang yang cerdas. Ibnul Jauzi t mengatakan, “Orang yang cerdas akan menahan jiwanya dari sebuah kenikmatan yang menyisakan kepedihan dan syahwat yang mewariskan penyesalan. Cukuplah ukuran ini sebagai pujian bagi kecerdasan dan celaan bagi hawa nafsu.” (Dzammul Hawa)
Nabi Yusuf q adalah salah satu teladan dalam hal menentang hawa nafsu dan keinginan jiwa yang tidak baik.
Ibnu Taimiyyah t menerangkan, “Nabi Yusuf tergolong ‘orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya’.”
Sesungguhnya, Yusuf waktu itu adalah seorang yang muda dan bujang, tertawan di negeri musuh, tidak ada di sana kerabat dan teman yang ia merasa malu dari mereka apabila melakukan perbuatan keji. Karena, sebagian besar manusia akan terhalangi melakukan perbuatan-perbuatan jelek oleh rasa malunya dari orang yang dia kenal.
Jadi, apabila mengasingkan diri, seseorang akan melakukan apa saja yang diingini oleh hawa nafsunya. Nabi Yusuf q juga saat itu hanya berdua sehingga tidak takut kepada siapa pun. Menurut hukum nafsu ammarah—apabila nafsu beliau demikian—mestinya beliaulah yang merayu-rayu (istri raja). Bahkan, mestinya beliaulah yang membuat tipu daya untuk meraihnya, sebagaimana kebiasaan mayoritas orang yang berhasrat kepada wanita-wanita bangsawan apabila tidak mampu secara langsung mengajaknya ‘berbuat’. Adapun apabila dia diajak atau diminta, walaupun yang meminta itu seorang wanita pembantu, tentu dia menyambutnya dengan segera. Lantas, bagaimana apabila yang memintanya adalah tuan yang menguasainya, yang dia takut menyelisihi perintahnya?
Ditambah lagi suaminya—yang seharusnya marah besar kepada istrinya—ternyata tidak menghukumnya, bahkan Yusuf lah yang diperintah untuk menyingkir, sebagaimana seorang dayyuts (yang tidak punya cemburu) berteriak. Apalagi, wanita tersebut meminta bantuan wanita-wanita lain dan memenjarakan Yusuf.
Namun, Nabi Yusuf q mengatakan sebagaimana firman Allah,
“Yusuf berkata, ‘Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh’.” (Yusuf: 33)
Hendaknya seorang yang cerdas memerhatikan faktor-faktor yang mendorong wanita tersebut untuk mengajak Yusuf kepada apa yang dia ajak: terpenuhinya segala sarana dan kuatnya ajakan sang wanita, tiada yang memalingkannya apabila dia melakukannya, tidak ada pula makhluk yang menyelamatkannya dari perbuatan tersebut (namun Nabi Yusuf q tetap menolaknya –pen.). Ini semua untuk menjelaskan bahwa ujian yang diberikan kepada Yusuf q termasuk ujian yang sangat besar, dan bahwa ketakwaan dan kesabarannya menahan diri dari maksiat termasuk kebaikan dan ketaatan terbesar. Sungguh, jiwa Yusuf q termasuk jiwa yang paling bersih. Bagaimana dia mau mengatakan,
“Aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)
Allah Mahatahu bahwa jiwanya bersih, bukan jiwa yang ammarah bis-su’ (suka menyuruh kepada kejelekan). Bahkan, jiwa beliau termasuk jiwa yang paling suci. Hasrat yang sempat ada pada beliau justru menambah kesucian jiwa dan ketakwaannya. Dengan sempat munculnya hasrat itu lantas beliau tinggalkan karena Allah l, sungguh menambah satu kebaikan yang termasuk kebaikan yang sangat besar yang menyucikan jiwa. (Majmu’ Fatawa bagian tafsir dengan sedikit diringkas)
Itulah salah satu gambaran indah dalam hal melawan keinginan jiwa. Dengan itu, jiwa semakin suci, kedudukan di sisi Allah l pun semakin tinggi. Bahkan, untuk mencapai tingkatan yang lebih sempurna tidak cukup hanya melawan kemauan jeleknya, tetapi dibutuhkan upaya yang sungguh-sungguh untuk membekali jiwa dengan amalan-amalan saleh. Itulah yang diistilahkan oleh Ibnul Qayyim t dengan jihadun nafs.
Ibnul Qayyim t menerangkan bahwa jihadun-nafs melalui empat tingkatan:
1. Memacu jiwa untuk mempelajari petunjuk dan agama yang benar, yang tiada keberuntungan bagi jiwa dan tiada kebahagiaan baginya, baik dalam kehidupan dunia maupun kehidupan akhirat selain dengannya. Apabila jiwa tersebut terlewatkan darinya, ia akan sengsara di dunia dan akhirat.
2. Memacu jiwa untuk mengamalkan petunjuk tersebut setelah mengetahuinya.
Apabila tidak demikian, sekadar ilmu tanpa amal, kalau tidak mencelakakannya, tentu tidak memberinya manfaat.
3. Memacu jiwa untuk mendakwahkan dan mengajarkannya kepada orang yang belum mengetahuinya
Apabila tidak demikian, ia tergolong orang yang menyembunyikan petunjuk dan keterangan yang diturunkan oleh Allah l. Ilmunya tidak memberinya manfaat dan tidak menyelamatkannya dari siksa Allah l.
4. Mengusahakan jiwa untuk bersabar terhadap kesulitan-kesulitan dalam berdakwah dan dalam menghadapi gangguan makhluk serta menanggung beban itu semua karena Allah l.
Apabila seseorang menyempurnakan empat tingkatan ini, ia akan menjadi golongan rabbani, karena sesungguhnya salaf (para pendahulu) bersepakat bahwa seorang alim tidak berhak untuk disebut rabbani hingga dia mengetahui kebenaran, mengamalkannya, dan mengajarkannya. Barang siapa mengetahui dan mengamalkannya, dia akan disebut sebagai orang besar di kerajaan langit. (Zadul Ma’ad, 3/9)
Jihadun nafs ini bukan hal sepele. Ini adalah awal dari semua langkahnya dalam segala amalan, termasuk amalan-amalan besar. Bahkan, jihad melawan musuh yang kafir yang merupakan puncak dari punuknya Islam adalah cabang dari jihadun nafs.
Ibnul Qayyim t juga menjelaskan, “Karena jihad melawan musuh-musuh Allah l di luar adalah cabang dari jihadun nafs (usaha hamba menundukkan jiwa), Nabi n mengatakan, ‘Mujahid adalah orang yang mengusahakan dirinya untuk selalu taat kepada Allah l, dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah l.’ (HR. )
Maka dari itu, jihadun nafs lebih diutamakan daripada jihad melawan musuh yang di luar dirinya. Jihadun nafs adalah asal-usul dari jihad melawan musuh. Hal ini karena orang yang tidak melakukan jihadun nafs terlebih dahulu agar melakukan apa yang diperintahkan oleh Allah l dan meninggalkan hal-hal yang dilarang oleh-Nya lalu memerangi jiwanya karena Allah l, tidak mungkin ia akan berjihad melawan musuh di luar dirinya….” (Zadul Ma’ad, 3/5—6)
Ibnul Jauzi t mengatakan, “Ketahuilah, jihadun nafs lebih besar daripada jihad melawan musuh, karena jiwa itu adalah sesuatu yang disukai dan ajakannya juga disukai. Sebab, jiwa tidak mengajak selain kepada sesuatu yang sesuai dengan nafsu (keinginan/syahwat). Sementara itu, menyesuaikan dengan sesuatu yang disukai dalam hal yang pada dasarnya tidak menyenangkan itu saja tetap disukai, lebih-lebih jika dia mengajak kepada sesuatu yang menyenangkan. Apabila keadaannya dibalik, dan jiwa yang disukai tadi ditentang ajakannya, jihad/perlawanan terhadapnya semakin berat dan masalah semakin sulit.
Berbeda halnya dengan jihad melawan orang-orang kafir karena tabiat dan watak manusia (pada dasarnya) adalah memusuhi lawan.
Ibnul Mubarak t mengatakan ketika menafsirkan firman Allah l,
‘Orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.’ (al-Ankabut: 69)
Maksudnya adalah jihad untuk menundukkan jiwa dan hawa nafsu.”
Semoga Allah l memberikan taufik-Nya kepada kita semua untuk menuju jiwa yang suci.

Mengobati Jiwa dengan Muhasabah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Ketika jiwa ammarah bis-su’ menguasai kalbu, berarti kalbu dalam bahaya yang sangat mengkhawatirkan. Oleh karena itu, sangat diperlukan upaya pengobatannya. Ibnul Qayyim t menjelaskan bahwa pengobatannya dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan cara muhasabah dan mukhalafah. Mukhalafah artinya menentang jiwa al-ammarah, tidak menuruti kemauannya. Adapun muhasabah artinya senantiasa mengintrospeksi diri.
Ibnul Qayyim t mengatakan, “Kehancuran kalbu adalah dengan tidak melakukan muhasabah dan memperturutkan kemauannya.”
Dari sini, kita mengetahui betapa pentingnya peran muhasabah dalam mengobati jiwa. Tak heran apabila kita dapati para pendahulu kita sangat memerhatikan dan menganjurkannya. Umar ibnul Khaththab z mengatakan,
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَزِنُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوزَنُوا، فَإِنَّهُ أَهْوَنُ فِي الْحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسِبُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ
“Bermuhasabahlah kalian pada diri kalian sebelum amal kalian dihisab, timbanglah amal diri kalian sebelum kalian ditimbang. Sesungguhnya hal itu lebih ringan bagi kalian besok di akhirat dengan kalian hisab diri kalian pada hari ini….” (Ighatsatul Lahafan)
Abu Musa z mengatakan,
حَاسِبْ نَفْسَكَ فِي الرَّخَاءِ قَبْلَ حِسَابِ الشِّدَّةِ
“Bermuhasabahlah pada dirimu dalam keadaan lapang, sebelum hisab di saat yang susah.” (Ghidza’ul Albab, 2/350)
Al-Hasan al-Bashri t mengatakan, “Engkau tidak akan menjumpai seorang mukmin melainkan dia akan mengintrospeksi dirinya, ‘Wahai jiwaku, apa yang hendak kau lakukan?’ ‘Wahai jiwaku, apa yang hendak engkau makan, apa yang hendak engkau minum (haram atau halal –pen.)?’ Sementara itu, seorang pendosa akan berlalu saja tanpa mengintrospeksi dirinya.
Beliau t juga mengatakan, “Sesungguhnya seorang hamba tetap dalam keadaan baik selama masih ada penasihat dari jiwanya dan muhasabah selalu menjadi pikirannya.”
Maimun bin Mihran t mengatakan, “Seseorang tidak dikatakan bertakwa sampai dia menghisab dirinya melebihi seorang pengusaha mengoreksi teman serikat usahanya. Oleh karena itu, dikatakan, ‘Jiwa itu bagaikan teman serikat kerja yang pengkhianat. Kalau engkau tidak benar-benar mengawasinya, dia akan membawa pergi hartamu’.”
Ibnul Qayyim t menjelaskan bahwa muhasabah ada dua macam: sebelum melakukan amalan dan setelah melakukannya.

1. Muhasabah sebelum beramal
Hendaknya seseorang berhenti sejenak di saat awal keinginannya, tidak segera beramal sampai jelas baginya kebaikan mengamalkannya daripada meninggalkannya.
Al-Hasan t mengatakan, “Semoga Allah l merahmati seorang hamba yang berhenti sejenak (berpikir) saat ingin berbuat. Apabila amalnya ikhlas karena Allah l, ia lanjutkan. Apabila bukan karena Allah l, ia mengurungkannya.”
Sebagian ulama menerangkan maksud beliau bahwa ketika jiwa tergerak untuk mengamalkan sebuah amalan dan bertekad melakukannya, ia menahan diri dan berpikir: apakah amalan tersebut dalam batas kemampuannya atau tidak? Apabila ternyata di luar kemampuannya, ia tidak melanjutkannya.
Apabila masih dalam kemampuan, ia tetap menahan diri dan berpikir kembali: apakah melakukannya lebih baik dari meninggalkannya atau meninggalkannya lebih baik dari melakukannya? Apabila yang akan terjadi adalah yang kedua, ia tidak melanjutkannya.
Apabila yang akan terjadi adalah kemungkinan pertama, ia berhenti untuk ketiga kalinya dan berpikir lagi: apakah yang mendorong amalan tersebut adalah menginginkan wajah Allah l dan pahala dari-Nya atau menginginkan kedudukan, pujian, dan berharap materi dari makhluk?
Apabila jawabannya adalah yang kedua, ia tidak melanjutkannya walaupun perbuatannya akan menyampaikan dirinya kepada keinginannya. Hal ini dilakukan agar jiwanya tidak terbiasa berbuat syirik dan merasa ringan untuk beramal karena selain Allah l. Karena, seukuran dengan ringannya beramal untuk selain Allah l, akan berat baginya untuk beramal karena Allah l. Akhirnya, keikhlasan menjadi sesuatu yang paling berat baginya.
Apabila jawabannya adalah yang pertama, yakni karena ikhlas, ia berhenti lagi dan berpikir: apakah akan ada yang membantunya dan menolongnya apabila amalan itu membutuhkan bantuan, atau tidak? Apabila tidak ada yang membantunya, ia tidak melanjutkannya… Apabila ia mendapatkan penolong, ia melanjutkannya, dan tentu dia akan mendapat pertolongan.
Kesuksesan tidak akan luput kecuali apabila terlewatkan salah satu dari bagian-bagian (muhasabah) ini. Sebaliknya, dengan terpenuhinya tahapan-tahapan tersebut, tidak akan terlewatkan kesuksesannya.

2. Muhasabah setelah beramal
Muhasabah jenis ini ada ada tiga macam.
a. Muhasabah terhadap jiwa dalam hal ketaatan yang ia tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna terhadap hak Allah l.
Hak Allah l dalam hal amal ketaatan ada enam, yaitu (1) ikhlas dalam beramal, (2) berbuat yang terbaik untuk Allah l, (3) mengikuti Rasul-Nya dalam ketaatan tersebut, (4) melaksanakan ihsan (betul-betul merasa diawasi oleh Allah l), (5) merasakan karunia Allah l terhadapnya, dan (6) merasakan kekurangannya dalam melaksanakannya.
b. Muhasabah terhadap dirinya atas segala amalan yang ditinggalkannya lebih baik daripada yang dikerjakannya.
c. Muhasabah terhadap amalan yang mubah atau terbiasa dilakukan, mengapa dia melakukannya?
Apakah ia meniatkannya karena Allah l dan negeri akhirat sehingga mendapat keberuntungan, ataukah karena dunia sehingga ia merugi dan tidak mendapatkan keberuntungan?

Praktiknya, pertama, dia melakukan muhasabah terhadap dirinya dalam hal amal-amal yang wajib. Apabila dia ingat ada kekurangan padanya, segera dia susul dengan qadha atau dengan memperbaikinya.
Selanjutnya, ia melakukan muhasabah terhadap dirinya dalam hal larangan-larangan Allah l. Apabila dia tahu bahwa dia telah melakukan sebagiannya, segera ia susul dengan bertaubat dan beristighfar, serta dengan amalan-amalan saleh yang dapat menghapusnya.
Berikutnya, dia melakukan muhasabah terhadap dirinya dalam hal kelalaiannya. Apabila dia telah lalai dari tujuan dia diciptakan (yakni ibadah), segera ia menyusulnya dengan berzikir dan menghadapkan dirinya kepada Allah l.
Kemudian, ia melakukan muhasabah terhadap apa yang diucapkan (oleh mulutnya), langkah kedua kakinya, apa yang diperbuat dengan kedua tangannya, atau yang didengar oleh kedua telinganya. Ia meneliti, apa tujuannya, apa niatnya, dan bagaimana cara melakukannya.
Hendaknya dia mengetahui bahwa dalam setiap gerak dan ucapannya akan ada dua catatan. Yang pertama, untuk siapa engkau melakukannya? Yang kedua, bagaimana engkau melakukannya?
Yang pertama adalah pertanyaan tentang keikhlasannya, sedangkan yang kedua adalah pertanyaan tentang ittiba’nya. Allah l berfirman,
“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (al-Hijr: 92—93)
“Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami), maka sesungguhnya akan Kami kabarkan kepada mereka (apa-apa yang telah mereka perbuat), sedangkan (Kami) mengetahui (keadaan mereka), dan Kami sekali-kali tidak jauh (dari mereka).” (al-A’raf: 6—7)
“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih.” (al-Ahzab: 8)
Apabila orang-orang yang jujur dan benar saja ditanya dan dihisab atas kejujurannya, lantas bagaimana dengan para pendusta?
Qatadah t mengatakan, “Dua kalimat yang orang-orang terdahulu dan orang-orang belakangan akan ditanya tentangnya: Apa yang kalian ibadahi? Bagaimana kalian manyambut para rasul? Setiap orang akan ditanya tentang sesembahannya dan bagaimana ibadahnya.

Memetik Buah Muhasabah
Muhasabah, amal baik pengobat jiwa ini, tentu sangat bermanfaat buahnya. Muhasabah yang benar akan menghasilkan buah yang sangat dirasakan oleh jiwa yang baik. Di antara buahnya adalah sebagai berikut.
1. Mengetahui cacat atau kekurangan jiwa
Barang siapa tidak mengetahui cacat dan kekurangan dirinya, ia tidak mungkin menghilangkannya. Apabila sebuah jiwa yang baik mengetahui aib dirinya, dia akan marah terhadap dirinya karena Allah l.
Al-Imam Ahmad t mengatakan, “Seseorang tidak akan menjadi faqih yang sebenar-benarnya hingga ia marah terhadap orang-orang karena Allah l. Lantas ia kembali melihat dirinya, dan ternyata dia lebih marah terhadap dirinya.”
Bakr bin Abdillah al-Muzani t mengatakan, “Ketika aku memandangi jamaah haji di Arafah, aku mengira mereka telah diberi ampunan kalau bukan karena aku di tengah-tengah mereka.”
Ayyub as-Sikhtiyani t mengatakan, “Apabila disebutkan tentang orang-orang saleh, aku begitu jauh dari mereka.”
Muhammad bin Wasi’ t mengatakan, “Andai dosa itu berbau, tidak ada seorang pun akan mampu duduk di sampingku.”
Marah terhadap diri sendiri karena Allah l dan karena teringat aib-aibnya adalah sifat orang-orang yang jujur dalam hal beriman. Dengan itu, seorang hamba akan mendekat kepada Allah l dalam sesaat berkali-kali lipat lebih jauh dari mendekatnya kepada Allah l dengan amalan.
2. Mengetahui hak Allah l
Adapun orang yang tidak mengetahui hak Allah l atas dirinya, ibadahnya hampir-hampir tidak bermanfaat baginya. Ibadahnya sedikit sekali manfaatnya.
Di antara hal yang sangat bermanfaat untuk kalbu adalah melihat hak Allah l atas hamba-Nya. Hal itu akan mewariskan kemarahan terhadap jiwanya sendiri dan merendahkannya, serta akan menyelamatkan dirinya dari sifat bangga diri dan merasa sudah berbuat (baik). Selain itu juga akan membuka pintu ketundukan, kerendahan diri, dan penyesalan untuknya di hadapan Rabbnya, lalu akan putus asa dari dirinya. Sungguh, keselamatan tidak akan dia dapatkan selain dengan ampunan dari Allah l, maghfirah, dan rahmat-Nya. Sesungguhnya, di antara hak-Nya adalah Dia ditaati dan tidak dimaksiati, Dia diingat dan tidak dilupakan, serta Dia disyukuri dan tidak dikufuri.
Barang siapa melihat hak Rabbnya yang semacam ini atas dirinya, tentu dia mengetahui secara yakin bahwa dia belum menunaikan haknya sebagaimana mestinya. Ia juga akan mengetahui bahwa tiada peluang baginya selain (mencari) ampunan dan maaf-Nya. Ia akan mengetahui pula apabila dia diserahkan kepada amalnya sendiri, pasti dirinya akan hancur.
Inilah pusat renungan orang-orang yang mengenal Allah l dan mengenal jiwanya. Inilah yang membuat mereka putus asa dari diri mereka, lantas menggantungkan seluruh harapannya kepada ampunan Allah l dan rahmat-Nya.
Apabila Anda perhatikan keadaan mayoritas manusia, Anda akan dapati mereka berlawanan dengan hal itu. Mereka justru melihat hak mereka atas Allah l, namun tidak melihat hak Allah l atas mereka. Dari sinilah mereka terputus dari Allah l. Kalbu mereka tertutup untuk mengenal Allah l dan mencintai-Nya, merindukan perjumpaan dengan-Nya, dan merasa nikmat saat mengingat-Nya. Ini adalah puncak kebodohan manusia terhadap Rabbnya dan terhadap jiwanya.

Jadi, muhasabah terhadap jiwa, adalah—pertama—seorang hamba melihat hak Allah l atas dirinya, lalu—kedua—apakah dirinya telah melakukannya sebagaimana mestinya? Sebaik-baik berpikir adalah berpikir dalam hal ini.
Dengan cara ini, kalbu akan berjalan menuju Allah l lalu akan menjatuhkan dirinya di hadapan-Nya dalam keadaan terhina, tunduk, menyesal dengan penyesalan yang menjadi obat penyesalannya, dalam keadaan butuh dengan rasa butuh yang akan mencukupinya, dalam keadaan terhina dengan penghinaan yang menjadi tempat kemuliaannya, andai dia beramal dengan apa pun kiranya yang dia amalkan. Namun, apabila dia kehilangan hal itu, kebaikan yang terlewatkannya lebih baik daripada kebaikan yang dia lakukan. (diringkas dari Ighatsatul Lahafan)

Prinsip-prinsip Tazkiyatun Nufus

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Dari beberapa penjelasan sebelumnya, dapat dijelaskan beberapa prinsip tazkiyah. Di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Takhliyah dan Tahliyah
Artinya, menanggalkan dan menghiasi. Inilah dua prinsip utama dalam tazkiyatun nufus, yakni menanggalkan segala hal yang menyimpang dari syariat Allah l apabila hal itu ada pada diri kita, dengan cara menjauhi segala maksiat, dari yang terbesar—yaitu syirik kepada Allah l—, yang dibawahnya, sampai kepada hal-hal yang makruh. Apabila hal-hal tersebut tidak ada pada kita, caranya adalah dengan kita berusaha senantiasa menjaga diri dari maksiat.
Allah l berfirman,
“Katakan kepada kaum mukmin agar mereka menundukkan pandangan-pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka itu lebih suci bagi mereka….” (an-Nur: 30)
Allah l juga mengatakan,
“Surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itu adalah balasan bagi orang yang membersihkan diri.” (Thaha: 76)
Maksudnya, menyucikan dari syirik, kekafiran, kefasikan, dan maksiat, dengan tidak melakukannya sama sekali, atau bertaubat dari dosa-dosa tersebut yang pernah dilakukannya. Selain itu, ia menyucikan diri dan menumbuhkannya dengan iman dan amal saleh. Demikian ungkap asy-Syaikh as-Sa’di t.
Lalu, dengan tahliyah—menghiasi diri dengan banyak amal saleh—dari yang terbesar, yaitu mentauhidkan Allah l sampai yang terkecil, yaitu menyingkirkan gangguan dari jalan. Allah l berfirman,
“Kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu. Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkan dirinya.” (al-Lail: 17—18)

2. Allah l lah yang menyucikan jiwa
Ketika kita mengetahui bahwa tazkiyah itu dengan amal saleh dan menjauhi maksiat, kita pun menyadari bahwa itu semua tidak dapat kita lakukan selain dengan taufik dari Allah l kepada kita semua. Bagaimana tidak, Nabi n sendiri mengatakan,
وَاللهِ، لَوْلاَ اللهُ مَا اهْتَدَيْنَا وَلاَ تَصَدَّقْنَا وَلاَ صَلَّيْنَا، فَأَنْزِلَنْ سَكِينَةً عَلَيْنَا وَثَبِّتِ الْأَقْدَامَ إِنْ لاَقَيْنَا
“Demi Allah, kalau bukan karena Allah, kami tidak mendapat petunjuk, kami tidak bisa shalat, dan kami tidak dapat memberi sedekah. Oleh karena itu, (ya Allah), turunkanlah kepada kami ketenteraman jiwa dan kokohkanlah kaki-kaki kami apabila kami bertemu musuh.” (Sahih, HR. al-Bukhari)
Allah l pulalah yang menerangkan segala sarana dan fasilitas menuju kesucian jiwa. Kalaulah tidak Dia terangkan, niscaya kita akan buta terhadap segala sarana tersebut. Oleh karena itu, dalam sebuah ayat, Allah l berfirman,
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah setan. Barang siapa yang mengikuti langkah-langkah setan, sesungguhnya setan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (an-Nur: 21)
Maksudnya, tidak ada seorang pun yang bersih dari mengikuti langkah-langkah setan. Hal ini karena setan dan bala tentaranya selalu berusaha mengajak kepada langkah-langkahnya dan menampilkannya dengan gambaran yang indah. Leboh-lebih lagi, jiwa itu condong kepadanya, bahkan memerintahkan untuk mengikutinya. Kekurangan pun menguasai hamba dari segala sisi. Iman pun tidak kuat. Apabila segala faktor pendorong ini dibiarkan (tanpa mendapat rahmat Allah l –pen.), niscaya tidak seorang pun bersih dari dosa dan kejelekan, serta tidak akan berkembang dengan melakukan kebaikan. Akan tetapi, karunia Allah l dan rahmat-Nya menuntut kesucian sebagian dari kalian. (Taisir al-Karimir Rahman, dengan sedikit diringkas)
Oleh karena itu, hendaknya seseorang banyak berdoa dan memohon kepada Allah l agar diberi taufik untuk menyucikan jiwanya. Nabi n telah mencontohkan dengan sebuah doa yang beliau panjatkan,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ، اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا
“Ya Allah, seseungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat penakut, sifat pelit, pikun, dan azab kubur. Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketakwaannya dan sucikanlah dia. Engkaulah sebaik-baik Dzat Yang menyucikan, Engkaulah walinya dan maulanya. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, kalbu yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak merasa puas, dan doa yang tidak terkabul.” (HR. Muslim)
Nabi n juga berlindung kepada Allah l dari kejelekan jiwa sebagaimana telah diterangkan pada pembahasan sebelumnya.

3. Ittiba’ kepada Nabi n
Mengikuti Nabi Muhammad n adalah satu-satunya jalan untuk meraih tazkiyatun nafs (kesucian jiwa) karena memang salah satu tujuan pengutusan beliau adalah untuk tazkiyah (penyucian). Menyucikan jiwa manusia yang sebelumnya telah terkotori oleh noda-noda jahiliah. Allah l berfirman,
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran: 164)
Ini adalah nikmat terbesar yang diberikan oleh Allah l kepada hamba-hamba-Nya. Bahkan, ia adalah pangkal segala nikmat, yaitu pemberian karunia kepada mereka dengan datangnya Rasul n yang mulia. Dengannya, Allah l menyelamatkan mereka dari kesesatan dan melindungi mereka dari kebinasaan. Allah l berfirman, “Ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri,” yang mereka mengenal nasab, perangai, dan tutur katanya. Rasul itu berasal dari kaum dan suku mereka. Ia adalah seorang yang beritikad baik untuk kaumnya, belas kasih terhadap mereka, membacakan ayat-ayat Allah l kepada mereka, mengajari mereka lafadz-lafadz dan makna-maknanya, dan (menyucikan mereka) dari kesyirikan, maksiat, berbagai kerendahan, dan seluruh akhlak tercela. (Tafsir as­-Sa’di)
Oleh karena itu, Allah l hanya akan menerima tazkiyah yang dilakukan sesuai dengan cara yang Dia syariatkan melalui Rasul-Nya. Rasul n bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan agama ini, amalan itu tertolak. (Sahih, HR. Muslim)
Allah l telah mencanangkan tujuan, yaitu tazkiyah. Allah l pun telah memberikan sarananya melalui keterangan Rasul-Nya. Maka dari itu, siapa saja yang hanya ingin mencapai tujuan tanpa sarana yang digariskan, ia tidak akan sampai ke tujuan.

4. Tidak mengklaim diri telah suci
Ghurur, terkecoh oleh kondisi diri sendiri. Itulah kata yang tepat bagi seseorang yang telah menganggap dirinya suci. Sesungguhnya, kesucian diri kita belum terjamin. Yang kita lakukan hanya sebatas usaha dan tentu hasilnya secara pasti baru akan diketahui di akhirat kelak. Allah l lah yang paling mengetahui kondisi diri kita. Oleh karena itu, Allah l berfirman,
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32)
Allah l mencela mereka yang menganggap suci diri mereka padahal hakikatnya tidak demikian.
“Apakah kamu tidak memerhatikan orang yang menganggap dirinya bersih? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak teraniaya sedikit pun.” (an-Nisa: 49)
Atas dasar itulah, ketika ada seorang sahabiyah bernama Barrah, yang artinya orang yang baik, Nabi n menegurnya dan menggantinya dengan nama Zainab, yang kemudian menjadi salah seorang istri beliau n. Al-Imam Muslim t meriwayatkan cerita Zainab x,
سُمِّيتُ بَرَّةَ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ. فَقَالُوا: بِمَ نُسَمِّيهَا؟ قَالَ: سَمُّوهَا زَيْنَبَ.
Aku diberi nama Barrah. Rasulullah n mengatakan, “Janganlah kalian menganggap suci diri kalian, Allah lebih tahu orang yang baik di antara kalian.” Mereka mengatakan, “Dengan apa kami memberi nama dia?” Beliau menjawab, “Berilah nama Zainab.”
Bahkan, sampai dalam hal memuji pun, Nabi n menyuruh kita berhati-hati agar tidak terjerumus dalam larangan ini. Beliau n berkata,
مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَادِحًا أَخَاهُ لاَ مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلاَنًا، وَاللهُ حَسِيبُهُ، وَلاَ أُزَكِّي عَلَى اللهِ أَحَدًا، أَحْسِبُهُ كَذَا وَكَذَا-إِنْ كَانَ يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنْهُ
Siapa saja di antara kalian yang mau tidak mau memuji saudaranya, hendaknya mengatakan, “Perkiraanku Fulan (demikian), dan Allah l lah yang lebih mengetahui tentangnya, dan aku tidak mendahului Allah l dalam menganggap suci seseorang secara pasti. Menurut saya demikian dan demikian—bila dia mengetahui hal itu darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Oleh karena itu, para sahabat dahulu adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat merasa suci. Mereka justru khawatir kalau diri mereka ternyata masih kotor.
Ibnu Abi Mulaikah t mengatakan,
أَدْرَكْتُ ثَلاَثِينَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِي n كُلُّهُمْ يَخَافُ النِّفَاقَ عَلَى نَفْسِهِ
“Aku telah bertemu dengan tiga puluh orang sahabat Nabi n, semuanya khawatir terhadap kemunafikan atas diri mereka.”
Ibrahim at-Taimi t mengatakan,
مَا عَرَضْتُ قَوْلِي عَلَى عَمَلِي إِلاَّ خَشِيتُ أَنْ أَكُونَ مُكَذَّبًا
“Tidaklah kubandingkan ucapanku dengan amalanku melainkan aku khawatir aku khawatir nanti menjadi orang yang didustakan.”
Disebutkan pula bahwa al-Hasan al-Bashri t dahulu mengatakan,
مَا خَافَهُ إِلاَّ مُؤْمِنٌ، وَلاَ أَمِنَهُ إِلاَّ مُنَافِقٌ
“Tidaklah seseorang khawatir (dari kemunafikan) melainkan dia seorang mukmin, dan tidaklah merasa aman (dari kemunafikan) melainkan dia adalah munafik.”
Ketiga riwayat di atas dikeluarkan oleh al-Bukhari t dalam bab “Khauful Mu’min an Yuhbatha ‘Amaluhu….”
Wallahu a’lam bish-shawab.

Dengan Apa Jiwa Menjadi Suci

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

As-Sa’di t mengatakan, “Tazkiyah (penyucian) memiliki dua makna: pembersihan dari kotoran dan membekalinya dengan kebaikan.” (Tafsir as-Sa’di, surat Thaha: 76)
Ibnu Taimiyyah t mengatakan, “Jiwa akan suci dengan meninggalkan hal yang diharamkan dan melaksanakan yang diperintahkan oleh Allah l.” (az-Zuhd wal Wara’)
“Demi jiwa dan penyempurnaannya (ciptaannya) maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 7—10)
Ibnu Taimiyah t menjelaskan ayat berikut,
“Sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya.” (an-Nur: 21)
“Allah l menerangkan bahwa kesucian hanyalah akan diperoleh dengan meninggalkan perbuatan keji. Oleh karena itu, Allah l berfirman,
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’ (an-Nur: 30)
Hal itu karena meninggalkan kejelekan-kejelekan adalah amalan jiwa. Jiwa mengetahui bahwa amal jelek adalah tercela dan dibenci memperbuatnya. Maka dari itu, jiwa hendaknya melawan saat dirinya mengajak kepadanya, jika ia benar-benar beriman dengan kitab Rabbnya dan beriman dengan apa yang datang dari Nabinya. Jadi, percaya, iman, benci, dan melawan hawa nafsu adalah amalan jiwa yang suci sehingga akan semakin suci dengan melakukannya. Berbeda halnya bilamana dia melakukan berbagai kejelekan. Jiwa akan ternodai dengannya dan tidak berkembang, ibarat tanaman yang di sekelilingnya tumbuh semak-semak yang lebat.” (az-Zuhd wal Wara’)
Beliau juga mengatakan, “Oleh karena itu, tauhid dan iman adalah amalan terbesar yang membuat jiwa bersih dan berkembang. Sebaliknya, syirik adalah sebab terbesar yang akan mengotorinya. Jiwa akan semakin suci dan berkembang dengan amal saleh dan sedekah. Ini semua telah disebutkan oleh ulama salaf. Mereka menafsirkan firman Allah l,
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri.” (al-A’la: 14)
bahwa maknanya adalah bersuci dari perbuatan syirik dan maksiat dengan bertaubat.
Abu Sa’id, ‘Atha, dan Qatadah menafsirkan bahwa maksudnya adalah zakat fitrah.
Mereka tidak membatasi bahwa ayat tersebut hanya bermakna demikian. Akan tetapi, maksud mereka adalah orang yang menunaikan zakat fitrah dan melakukan shalat id telah tercakup oleh ayat tersebut dan yang setelahnya. Oleh karena itu, setiap kali keluar untuk shalat, Yazid bin Abi Habib t keluar membawa sedekah untuk ia berikan sebelum shalat, walaupun ia tidak mendapatkan selain hanya sepotong bawang.
Allah l berfirman,
‘Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.’ (at-Taubah: 103)
Artinya, membersihkan dari dosa dan akhlak yang hina, segala yang jelek, mengembangkan dan menambahkan kepada mereka akhlak yang baik, amal yang saleh, serta menambahkan pahala mereka yang duniawi atau ukhrawi, juga amal mereka bertambah. (Tafsir as-Sa’di dan az-Zuhd wal Wara’)
Allah l juga berfirman,
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat’.” (an-Nur: 30)
As-Sa’di t menjelaskan, “Allah l membimbing kaum mukminin (dengan memerintah Nabinya untuk) mengatakan kepada mereka yang memiliki iman yang dapat mencegah mereka dari terjatuh kepada sesuatu yang mencacat iman mereka agar ‘menundukkan pandangan mereka’ dari memandang aurat wanita yang bukan mahram, (memandang dengan syahwat –pen.) amrad (anak laki-laki yang belum berjenggot), yang dengan itu dikhawatirkan mereka tergoda kepada maksiat. Demikian pula memandang perhiasan dunia yang melenakan sehingga menjatuhkannya dalam larangan.
Selain itu juga agar mereka ‘menjaga kemaluan mereka’ dari zina, menggauli pada dubur (sodomi), dan sejenisnya, serta mencegah mereka pula agar tidak memiliki peluang dan kesempatan melakukannya, dengan melarang menyentuh dan memandang hal-hal tersebut. ‘Hal itu’ yakni menjaga pandangan dan kemaluan, ‘lebih suci bagi mereka’, maksudnya, lebih baik dan bersih, selain juga lebih menambah berkembangnya amal mereka. Karena, orang yang menjaga kemaluan dan pandangannya berarti telah membersihkan jiwa dari kotoran yang telah mengotori para pelaku perbuatan keji. Amal mereka akan suci dan berkembang karena meninggalkan yang haram, yang jiwa berharap melakukannya dan mengajak kepadanya.
Maka dari itu, barang siapa meninggalkan sesuatu karena Allah l, niscaya Dia akan menggantikan dengan yang lebih baik. Barang siapa menundukkan pandangannya dari yang haram, Allah l akan menerangi mata batinnya. Sebab, apabila seorang hamba menjaga kemaluan dan pandangannya dari yang haram dan dari pendahuluan-pendahuluannya, padahal syahwat mendorong kepadanya, berarti dia lebih bisa menjaga dari yang lain. (Tafsir as Sa’di)
Ibnu Katsir t menjelaskan firman Allah l,
Bisa jadi, makna “telah beruntung seseorang yang menyucikan dirinya” adalah dengan taat kepada Allah l—sebagaimana dikatakan oleh Qatadah t—dan membersihkannya dari akhlak yang rendah dan hina.
Pada firman Allah l,
Ibnu Katsir t mengatakan, “Maksudnya, membersihkan dirinya dari akhlak yang hina dan mengikuti apa yang diturunkan oleh Allah l kepada Rasul-Nya.” (Tafsir al-Qur’anil ‘Azhim)
As-Sa’di t menafsirkan, “Sungguh, telah beruntung seseorang yang menyucikan jiwanya dan membersihkannya dari syirik, kezaliman, dan akhlak yang jelek.” (Taisir al-Karimir Rahman)
Atas dasar itu, seseorang yang menghendaki kesucian jiwanya hendaknya menegakkan tauhid dan akidah yang benar dalam dirinya, menghiasi dirinya dengan rukun iman yang enam dan perinciannya, selalu tunduk kepada Allah l, bersabar, bersyukur, merasa cukup dengan pemberian Allah l (qana’ah), zuhud terhadap dunia, ridha atas ketetapan Allah l, tawakal kepada-Nya, takut hanya kepada-Nya, berharap kepada-Nya, bertaubat kepada-Nya, menghinakan diri di hadapan-Nya, mengikhlaskan untuk-Nya segala ibadahnya, mengamalkan rukun Islam dengan sempurna, berbakti kepada kedua orang tua, bersilaturahmi dengan karib kerabatnya, berbuat baik kepada tetangga, memuliakan tamu, menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, berbelas kasih kepada fakir dan miskin, bahkan kepada binatang sekalipun.
Selain itu, ia juga berjihad menundukkan jiwanya untuk taat kepada Allah l, berjihad membantah pemutarbalikan berita dari orang munafik, berjihad melawan godaan setan, dan berjihad melawan orang-orang kafir yang memerangi muslimin. Di samping itu pula, ia bersyahadat dengan kalimat syahadatain, membaca al-Qur’an, membasahi bibir dengan ucapan-ucapan zikir, memberi nasihat kepada oarng lain, beramar ma’ruf dan nahi mungkar, dan tidak bertutur kata selain yang baik, apabila tidak bisa, dia diam.
Demikian pula, dia meninggalkan kesyirikan, menyekutukan Allah l, meninggalkan kekafiran dalam bentuk apa pun, meninggalkan kemunafikan, membersihkan kalbunya dari iri, dengki, bangga diri, sombong, riya’, cinta kedudukan dan dunia tanpa bimbingan iman, merasa telah banyak beramal (ghurur), tamak, ambisi terhadap kedudukan, kemarahan bukan pada tempatnya, memusuhi muslimin, bakhil, dan berpaling dari mengingat Allah l.
Dia juga menjauhi perbuatan zalim, mengganggu tetangga, memutus silaturahmi, durhaka kepada orang tua, menyakiti sesama, memukul, membunuh, merendahkan kehormatan, menyakiti perasaan, ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), mencuri, merampok, menipu, dan berkhianat. Demikian pula ia meninggalkan zina, pacaran, dan segala hal yang mengarah kepadanya, mabuk, berjudi, melakukan riba, menyiksa walaupun terhadap binatang, mengumbar pandangan, mendengar obrolan orang yang tidak suka untuk didengarkan, mencari-cari kesalahan orang, dan seluruh perbuatan mungkar, baik dengan kalbu, tangan, lidah, maupun seluruh anggota badannya. Ini semua hanya contoh. Rinciannya adalah Islam ini secara total.
Tujuh anggota badan yang harus senantiasa diawasi adalah mata, telinga, mulut, lidah, kemaluan, tangan, dan kaki.
Kata Ibnul Qayyim t, “Ini adalah kendaraan menuju kebinasaan atau keselamatan. Akibat tujuh anggota badan ini binasalah orang yang binasa karena membiarkannya dan melepasnya, dan selamatlah orang yang selamat dengan sebab menjaga dan mengawasinya. Menjaganya adalah modal segala kebaikan, sedangkan melepasnya tanpa kendali adalah modal segala kejelekan.” (Ighatsatul Lahafan)

Hubungan Jiwa dengan Kalbu

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Kalbu, yang sebenarnya bermakna jantung (Inggris: heart), adalah motor dari gerak langkah anggota badan. Ada yang mengatakan bahwa kalbu adalah raja bagi anggota badan. Anggota badan adalah tentaranya yang senantiasa patuh kepadanya, langsung bergerak karena taat kepadanya dalam rangka menjalankan perintahnya, tidak pernah durhaka atas perintahnya sedikit pun. Dengan demikian, apabila sang raja baik, tentaranya akan baik. Sebaliknya, apabila sang raja rusak, tentaranya juga akan rusak. (Jami’ul Ulum wal Hikam)
Permisalan itu adalah kandungan hadits Nabi n,
أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, dalam jasad ada segumpal daging. Apabila ia baik, akan menjadi baik pula seluruh jasadnya. Apabila daging itu rusak, akan menjadi rusak juga seluruh jasadnya. Ketahuilah bahwa daging itu adalah kalbu.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Ibnu Rajab t mengatakan, “Hadits di atas menerangkan bahwa kebaikan perilaku seorang hamba pada anggota badannya, jauhnya dia dari hal-hal yang haram dan syubhat, adalah seukuran/sebanding dengan kebaikan gerakan kalbunya.”
لاَ يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلاَ يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ
“Tidaklah iman seorang hamba akan istiqamah hingga kalbunya istiqamah. Dan kalbunya tidak akan istiqamah hingga lisannya istiqamah.” (Sahih, HR. Ahmad, lihat ash-Shahihah no. 2841)
Istiqamahnya iman artinya istiqamahnya amalan anggota badan, sementara itu anggota badan tidak akan istiqamah selain dengan keistiqamahan kalbu. Adapun makna keistiqamahan kalbu adalah dipenuhinya kalbu itu dengan rasa cinta kepada Allah l, mencintai ketaatan kepada-Nya, dan benci kepada kemaksiatan terhadap-Nya. Demikian keterangan Ibnu Rajab t.
Nabi n telah menggambarkan akibat kebaikan kalbu atau kerusakannya dalam sebuah hadits,
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا، لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلاَّ مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
“Godaan-godaan dosa ditawarkan kepada kalbu-kalbu seperti (anyaman) tikar, sehelai demi sehelai. Kalbu mana pun yang menyerapnya, maka akan tertitik padanya sebuah noktah hitam. Adapun kalbu mana pun yang menolaknya, maka akan tertitik padanya titik putih. Akhirnya, akan menjadi dua macam kalbu, ada yang putih bagaikan batu yang halus (tidak ada kotoran yang hinggap, -pen.) sehingga tidak mencelakakannya godaan-godaan apa pun selama langit dan bumi ada. Sementara itu, kalbu yang lain hitam kelabu (dan) bagaikan gelas yang terbalik. Ia tidak mengenal hal yang baik dan tidak mengingkari hal yang mungkar. Ia tidak mengetahui selain apa yang diserap oleh hawa nafsunya.” (Sahih, HR. Muslim)
Sedemikian rupa bahayanya kalbu ketika rusak, benar-benar membuat rusak amalan. Begitu pula ketika kalbu itu baik, benar-benar membuat baik segala amalan.
Lantas, apa yang memengaruhi kalbu sehingga menjadi baik atau menjadi jelek? Jiwa, itulah yang memengaruhinya. Ketika jiwa baik, kalbu akan baik. Ketika jiwa buruk, kalbu pun akan menjadi buruk.
Ibnul Qayyim t menjelaskan, “Sesungguhnya seluruh penyakit kalbu itu muncul dari arah jiwa. Segala benih rusak tertuang padanya. Darinya, merebaklah kepada anggota badan. Yang pertama terkena adalah kalbu….” (Ighatsatul Lahafan hlm. 82)
Karena pengaruh jiwa ini, kalbu terbagi menjadi tiga.
1. Kalbu yang selamat, hidup sehat.
2. Kalbu yang sakit, hidup namun sakit.
3. Kalbu yang mati.

Kalbu yang hidup sehat disebut juga al-qalbu as-salim, kalbu yang selamat. Ia adalah kalbu yang selamat dari segala nafsu yang menyelisihi perintah dan larangan Allah l, selamat dari segala syubhat (kesamaran) yang bertentangan dengan berita-Nya, sehingga selamat dari peribadahan kepada selain-Nya dan selamat dari berhukum kepada selain Rasulullah n….
Ibadahnya murni untuk Allah l. Niat, cinta, tawakal, taubat, tunduk, takut, berharap, dan amalnya pun hanya untuk-Nya. Apabila ia mencintai, ia cinta karena Allah l. Apabila ia benci, benci pun karena Allah l. Apabila memberi, ia memberi karena-Nya, dan apabila tidak memberi, ia juga tidak memberi karena-Nya. Bahkan, tidak hanya ini, sampai dia selamat dari mematuhi dan berhukum kepada siapa saja selain Rasulullah n, sehingga kalbunya meyakini bersamanya sebuah keyakinan yang kokoh untuk berteladan hanya kepadanya saja, tidak kepada selainnya, siapa pun dia baik dalam hal berkata maupun beramal….
Kalbu yang sakit, adalah kalbu yang memiliki kehidupan, namun berpenyakit. Dia memiliki dua unsur. Sesekali, unsur kehidupan yang mengisinya, dan pada kesempatan yang lain unsur penyakit yang mengisinya. Kalbu tersebut tergantung kepada unsur mana yang dominan menguasainya. Ada padanya rasa cinta kepada Allah l, keimanan terhadap-Nya, dan keikhlasan kepada-Nya, serta tawakal kepada-Nya. Ini menjadi unsur kehidupannya. Akan tetapi, ada juga padanya cinta syahwat, mendahulukannya, serta semangat untuk memperolehnya. Ada pula padanya, dengki, sombong, bangga diri, senang unggul (merendahkan yang lain), merusak di bumi dengan kepemimpinannya, yang itu semua adalah unsur kehancurannya.
Jadi, kalbu ini diuji di antara dua penyeru: penyeru pertama mengajaknya kepada Allah l dan Rasul-Nya serta negeri akhirat; penyeru kedua mengajaknya kepada dunia. Ia akan menyambut seruan yang pintunya paling dekat kepadanya dan yang lebih dekat bertetangga dengannya. (Diringkas dari keterangan Ibnul Qayyim t)
Tentang kalbu yang mati, Ibnul Qayyim menyebutnya kering dan mati. Ia adalah kalbu yang tiada kehidupan padanya. Ia tidak mengenal Rabbnya, tidak mengibadahi-Nya dengan perintah-Nya, hal-hal yang dicintai-Nya dan diridhai-Nya. Ia justru senantiasa berdampingan dengan nafsunya dan kelezatannya walaupun mengandung kemurkaan dan kemarahan Rabbnya. Dia tidak akan peduli selama syahwat dan bagiannya terpenuhi. Allah l ridha atau murka (ia tidak peduli). Dia telah menghambakan dirinya kepada selain Allah l dengan cinta, takut, harap, ridha, marah, pengagungan dan penghinaan dirinya.
Kalau dia mencintai, maka cinta itu demi nafsunya. Kalau dia membenci, benci itu demi nafsunya pula. Kalau ia memberi, ia memberi demi nafsunya, sedangkan kalau ia tidak memberi, pun karena nafsunya. Hawa nafsunya lebih ia utamakan dan lebih ia cintai daripada Rabbnya. Hawa nafsu menjadi pemimpinnya. Syahwat menjadi pemandunya. Kebodohan menjadi pengemudinya. Kelalaian menjadi tunggangannya. Pikirannya terbenam dalam usaha memperoleh kepentingan-kepentingan duniawinya, tertutup oleh mabuk cinta nafsu dan dunia.
Dari jauh ia diseru menuju Allah l dan negeri akhirat, namun tidak mau menyambut seruan sang penasihat yang berkeinginan baik. Ia justru mengekor di belakang setiap setan yang durhaka. Dunialah yang membuatnya cinta atau benci. Nafsulah yang membuatnya tuli dan buta selain kepada kebatilan….
Berbaur dengan pemilik kalbu ini adalah penyakit. Bergaul dengannya adalah racun. Duduk-duduk bersamanya adalah kebinasaan. (Ighatsatul Lahafan)
Pemilik kalbu ini tidak akan selamat. Pemilik kalbu yang sakit dekat kepada kehancuran. Tidak ada yang benar-benar selamat di hari kiamat selain pemilik kalbu yang salim, yang datang kepada Allah l dengannya,
“(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, melainkan orang-orang yang menghadap Allah dengan kalbu yang bersih.” (asy-Syu’ara: 88—89)
Oleh karena itu, Nabi n berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وَحُسْنَ عِبَادَتِكَ وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا وَلِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kekokohan dalam agama ini, dan agar bertekad untuk selalu terbimbing. Aku juga memohon untuk bersyukur atas nikmat-Mu, kebaikan dalam ibadah kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu kalbu yang selamat dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu dari kebaikan yang Engkau ketahui, serta berlindung kepada-Mu dari kejelekan yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampunan atas dosa yang Engkau ketahui.” (Sahih, HR. an-Nasa’i, lihat ash-Shahihah no. 3228)
Tentu sangat pantas bagi kita untuk senantiasa memanjatkan doa ini. Al-Hasan t mengatakan,
دَاوِ قَلْبَكَ؛ فَإِنَّ حَاجَةَ اللهِ إِلَى الْعِبَادِ صَلَاحُ قُلُوبِهِمْ
“Obatilah kalbumu. Sesungguhnya, kebutuhan Allah l kepada hamba-Nya itu dalam hal kebaikan kalbunya.” (Jami’ul Ulum wal Hikam)

Macam-Macam Jiwa
“Sesungguhnya, jiwa itu satu. Akan tetapi, jiwa tersebut memiliki beberapa sifat sehingga diberi nama ditinjau dari tiap-tiap sifatnya.” (ar-Ruh, Ibnul Qayyim t)
“Allah l telah menyifati jiwa dalam al-Qur’an dengan tiga sifat: al-muthma’innah, al-ammarah bis su’, dan al-lawwamah.” (Ighatsatul Lahafan)
Firman Allah l,
“Hai jiwa yang tenang (al-muthma’innah), kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (al Fajr: 27—30)
Jiwa yang muthma’innah adalah yang tenteram menuju Rabbnya, tenteram dengan berzikir kepada-Nya, kembali kepada-Nya, rindu untuk berjumpa dengan-Nya, dan tenang ketika dekat dengan-Nya. Jiwa itulah yang dipanggil saat wafatnya,
“Hai jiwa yang tenang (al-muthma’innah). Kembalilah kepada Rabbmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.” (al-Fajr: 27—28)
Ibnu Abbas c menafsirkannya, “Maksudnya, yang membenarkan.”
Qatadah t mengatakan, “Jiwanya tenteram dengan janji Allah l.”
Hakikat ketenteraman adalah ketenangan dan kemapanan. Dia tenang menuju Rabbnya dan taat kepada-Nya, mengikuti perintah-Nya, dan selalu mengingat-Nya. Ia tidak merasa tenteram kepada selain-Nya, namun tenteram dengan cinta kepada-Nya, ibadah kepada-Nya, serta mengingat-Nya. Ia tenteram dengan perintah-Nya, larangan-Nya, dan berita-Nya.
Ia tenteram dengan perjumpaan dengan-Nya dan janji-Nya. Ia pun tenteram dengan mengimani hakikat nama-nama dan sifat-Nya, tenteram dengan ridha kepada Allah l sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul. Ia tenteram dengan qadha dan qadar-Nya, tenteram dengan perlindungan dan jaminan-Nya. Jiwa tersebut tenteram dengan keyakinan-Nya bahwa Allah l adalah satu-satu-Nya Rabbnya, sesembahannya, tujuan ibadahnya, Penguasanya, yang mengurusi segala urusannya, dan ke sanalah tempat kembalinya, serta ia tidak dapat lepas darinya walau sekejap mata.
Adapun jiwa ammarah bis-su’, Allah l berfirman,
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)
Ammarah bis-su’, yakni yang sering memerintahkan kepada yang jelek. Jadi, jiwa ini memiliki sifat yang berlawanan dengan jiwa yang muthma’innah. Jiwa ini memerintahkan pemiliknya sesuai dengan kemauan nafsunya. Nafsu yang melampaui batas, mengikuti yang batil. Ia menjadi tempat mangkal setiap kejelekan. Kalau pemiliknya tunduk kepadanya, ia akan memerintahnya kepada setiap yang jelek.
Adapun jiwa lawwamah, Allah l berfirman,
“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri (al-lawwamah).” (al-Qiyamah: 2)
Sa’id bin Jubair t pernah bertanya kepada Ibnu Abbas c, “Apa maksudnya lawwamah?” Beliau menjawab, “Yaitu jiwa yang selalu mencela dirinya.”
Mujahid t mengatakan, “Yaitu jiwa yang menyesali apa yang telah berlalu dan mencela dirinya karena itu.”
Ibnu Abbas c mengatakan juga, “Setiap jiwa akan mencela dirinya pada hari kiamat. Jiwa yang baik mencela dirinya karena tidak memperbanyak berbuat baik. Adapun jiwa yang jelek mencela dirinya karena tidak kembali dari kejelekannya.”
Al-Hasan t mengatakan, “Sesungguhnya, seorang mukmin—demi Allah—engkau tidak melihatnya melainkan dia mencela dirinya dalam segala kondisi. Ia menganggapnya kurang dalam segala hal yang diperbuatnya sehingga ia menyesali dan mencela dirinya. Adapun orang yang jahat, dia akan terus berlalu tanpa mencela dirinya.” (Ighatsatul Lahafan)
Ibnul Qayyim t berkata, “Bisa jadi, sebuah jiwa terkadang menjadi jiwa yang ammarah, terkadang menjadi jiwa yang lawwamah, dan terkadang menjadi jiwa yang muthma’innah. Bahkan, dalam satu waktu dan satu saat, penilaian terhadap jiwa tersebut tergantung pada apa yang dominan menguasainya. Sifat muthma’innah adalah pujian dan ammarah bis-su’ adalah sifat tercela. Adapun lawwamah mengandung sifat pujian dan celaan, tergantung kepada jiwa itu, apa yang disesali dan dicelanya? (Ighatsatul Lahafan)

Keutamaan Jiwa yang Suci
Memiliki jiwa yang suci adalah karunia besar dari Allah l. Jiwa itulah yang pantas meraih surga-Nya. Allah l berfirman,
“Adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya). (an-Nazi’at: 40—41)
“(Yaitu) surga ‘Adn yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Itu adalah balasan bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan).” (Thaha: 76)
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia beribadah.” (al-A’la: 14—15)
As-Sa’di t mengatakan, “Sungguh, telah menang dan beruntung seseorang yang menyucikan dan membersihkan jiwanya dari syirik, kezaliman, dan akhlak yang jelek.”
Kesucian yang ia upayakan keuntungannya tidak lain kembali kepada dirinya. Allah l berfirman,
“Barang siapa yang menyucikan dirinya, sesungguhnya ia menyucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Kepada Allah-lah kembali (mu).” (Fathir: 18)
Ibnu Katsir t mengatakan, “Maksudnya, barang siapa yang beramal saleh, manfaatnya akan kembali kepada dirinya.” (Tafsir Ibnu Katsir)
As-Sa’di t menafsirkan, “Barang siapa yang menyucikan dirinya dengan membersihkannya dari aib, seperti riya, sombong, dusta, curang, makar, menipu, kemunafikan, dan akhlak hina yang sejenisnya, lantas dia hiasi dirinya dengan akhlak yang indah seperti jujur, ikhlas, tawadhu’, lunak, suka menasihati sesama, bersihnya dada dari iri, dengki dan akhlak buruk selain keduanya, manfaat penyucian dirinya akan kembali kepadanya. Tujuannya akan sampai kepadanya. Amalannya tidak akan hilang sedikit pun.
Sementara itu, jiwa yang kotor pantasnya bertempat di neraka.
“Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 10)
As-Sa’di t mengatakan, “Maksudnya, mengotorinya dengan akhlak yang rendah, mendekatkannya kepada aib, melakukan dosa-dosa, meninggalkan sesuatu yang menyempurnakannya dan mengembangkannya, serta melakukan sesuatu yang membuatnya jelek dan kotor.” (Tafsir as-Sa’di)
Lihatlah bagaimana nasib pemilik jiwa yang tidak diberi kesucian oleh Allah l.
“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu al-Kitab, dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah). Mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya kecuali api. Dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat, tidak akan menyucikan mereka, dan bagi mereka siksa yang amat pedih.” (al-Baqarah: 174)
Maksudnya, Allah l tidak menyucikan mereka dari akhlak yang rendah, dan mereka tidak memiliki amal saleh yang pantas untuk dipuji, diridhai, dan diberi balasan. Allah l tidak menyucikan mereka karena mereka melakukan hal-hal yang menyebabkan ketidaksucian. Di antara sebab kesucian yang terbesar adalah mengamalkan kitabullah, menelusuri bimbingannya, dan mengajak kepadanya. Akan tetapi, mereka justru menyingkirkan kitabullah, berpaling darinya, memilih kesesatan daripada petunjuk, dan memilih siksa daripada ampunan. Tidak ada yang pantas bagi mereka selain neraka. Bagaimana mereka akan bersabar di neraka dan bagaimana mereka akan sanggup menahan siksanya? (Tafsir as-Sa’di)

Menuju Kesucian Jiwa

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc)

Era globalisasi semakin menjauhkan manusia dari kesucian jiwa. Jiwa yang suci menjadi barang yang langka. Pencemaran batin dengan berbagai maksiat dalam bentuk kekafiran, kesyirikan, dan syahwat birahi, merambah deras melalui sarana media elektronik dan media cetak. Kini, apa pun yang dimaukan dan segala yang digandrungi oleh jiwa telah berada dalam jangkauan. Bahkan, dunia berikut gemerlapnya ibarat dalam genggaman tangan. Semuanya dapat dinikmati melalui sebuat alat komunikasi mini bernama telepon genggam.
Iman yang semakin menipis, kebodohan yang kian menebal, diiringi oleh semakin mudahnya segala fasilitas maksiat, semakin murah lagi canggih. Apa jadinya? Tak lain, jiwa semakin ternoda, noktah bahkan bercak hitam kian melekat dalam kalbu. Membuatnya semakin buta akan kebenaran, semakin buta akan kebaikan, hingga tak kenal yang baik dan tak mengingkari yang mungkar. Lebih parah lagi, noda-noda itu telah membalik pola berpikirnya sehingga yang baik dia anggap jelek, yang jelek dianggap baik, hal yang tabu dianggap biasa, dan rasa malu nyaris sirna.
Sungguh benar sabda Nabi n,
إِذَا لَمْ تَسْتَحِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Apabila engkau tidak lagi punya rasa malu, berbuatlah sesukamu!” (HR. al-Bukhari)

Memang, apabila benteng iman telah roboh, tak tersisa selain benteng malu. Apabila benteng malu pun ikut roboh, tak ada penghalang bagi seseorang untuk melakukan maksiat walaupun di depan orang, di siang bolong dan terang benderang. Inikah buah dari modernisasi dan globalisasi yang kebablasan? Kalau ini buahnya, lantas apa yang dibanggakan darinya? Akankah kita membanggakan dekadensi moral yang semakin hari kian terpuruk, iman yang kian menipis, serta kebodohan yang kian menutupi akal pikiran dan hati nurani? Apa artinya kecanggihan teknologi apabila tidak tersisa nilai religi?
Kemanakah jiwa-jiwa suci itu? Apakah itu hanya ada di masa dahulu, yang kini tinggal cerita dan kenangan? Ataukah itu hanya sebuah kebanggaan yang kita banggakan dan hanya sebatas itu, tanpa kita mencontohnya? Atau menjadi kebanggaan pun tidak, karena kini kebanggaan orang-orang telah beralih kepada bintang-bintang film, atlet, dan selebritas walaupun kehidupan mereka kelam? Sungguh celaka apabila hal ini yang terjadi. Mereka telah kehilangan teladan.
Sampai kapankah ini semua akan berlangsung? Tidakkah kita segera mengakhirinya sebelum semakin jauh? Tidakkah sudah datang waktunya kita terbangun dari ‘mimpi indah’ dalam buaian setan, dan tersadar dari mabuk gemerlapnya dunia? Allah l telah berseru,
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan tunduk kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (al-Hadid: 16)
Toh, dunia seisinya tak ada nilainya dibandingkan dengan kenikmatan surga yang kekal abadi.
Toh, beratnya mengekang jiwa tak sebanding dengan beratnya menahan siksa neraka.
Untukmu, mari menuju jiwa yang suci…

Definisi Tazkiyatun Nufus
Tazkiyatun nufus adalah rangkaian dari dua kata: tazkiyah dan nufus. Tazkiyah memiliki makna suci dan berkembang. (Mu’jam Maqayis al-Lughah dan Tahdzibul Lughah)
Adapun nufus adalah bentuk jamak dari kata nafs, yang artinya jiwa.
Jadi, pembahasan tazkiyatun nufus atau tazkiyatun nafs artinya pembahasan mengenai penyucian jiwa dan pengembangannya, agar semakin bersih dan suci sehingga berkembang dengan semakin tunduk kepada Rabbnya, serta berkembang dengan banyak beramal.
Ibnu Taimiyyah t juga menjelaskan, “Asal makna zakah (atau tazkiyah, –pen.) adalah penambahan dalam kebaikan. Dari kata ini, muncul ungkapan, ‘Zaka az-zar’u,’ artinya tumbuhan itu berkembang. Demikian pula, ‘Zaka al-maalu,’ artinya harta itu bertambah. Kebaikan itu tidak akan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, sebagaimana tumbuhan tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari semak dan gulma di sekelilingnya. Begitu pula jiwa dan amalan, tidak akan berkembang melainkan dengan dibersihkan dari segala yang berlawanan dengannya. Seseorang juga tidak akan bersih dan berkembang melainkan dengan meninggalkan kejelekan, karena kejelekan itu akan menodainya.” (az-Zuhd wal Wara’)

Makna Nafs dan Pentingnya Pembahasan Tazkiyatun Nufus
Apa hakikat nafs yang biasa kita terjemahkan dengan jiwa?
Tentang hal ini, para pakar Islam dari kalangan ulama fikih dan akidah serta ulama ahli tafsir dan bahasa, telah banyak membahasnya, baik dalam literatur tafsir maupun mu’jam, yakni kamus-kamus Arab.
Ringkas kata, Ibnul Qayyim t telah membahas masalah ini juga dalam kitabnya, al-Arwah, yang kesimpulannya bahwa mayoritas pakar Islam berpendapat bahwa nafs atau jiwa dalam hal ini maksudnya adalah ruh.
“Hakikat keduanya adalah satu. Mereka yang berpendapat demikian adalah jumhur (mayoritas) ulama,” ungkap Ibnul Qayyim.
Meskipun demikian, dalam penggunaan kata nafs dan ruh terkadang memiliki maksud yang lain. Namun, yang dimaksud dalam kajian tazkiyatun nufus adalah ruh.
Makna ini telah didukung oleh banyak dalil, baik dari al-Qur’an maupun al-Hadits. Dalil-dalil tersebut menyebutkan kata nafs dengan makna ruh. Bahkan, disebut pula bahwa ruh ada yang baik (thayyibah) ada pula yang jelek (khabitsah). Dalam sebuah hadits, Nabi n menceritakan proses pencabutan ruh seorang manusia oleh malaikat. Apabila manusia itu mukmin yang baik, malaikat mengatakan,
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الطَّيِّبَةُ، اخْرُجِي إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنَ اللهِ وَرِضْوَانٍ
“Wahai jiwa yang baik, keluarlah engkau menuju ampunan dari Allah l dan keridhaan-Nya.”
Lantas dibawalah nyawa tersebut oleh para malaikat ke langit, dengan bau yang sangat harum semerbak. Setiap kali melewati kumpulan para malaikat, mereka pun berkata,
مَا هَذَا الرُّوحُ الطَّيِّبُ؟
“Ruh siapakah yang baik ini?”
Para malaikat pembawa ruh tersebut mengatakan,“Fulan bin Fulan,” disebutlah namanya yang terbaik semasa hidup di dunia.
Sebaliknya, apabila manusia itu adalah seorang kafir atau munafik, para malaikat mengatakan,
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْخَبِيثَةُ اخْرُجِى إِلَى سَخَطٍ مِنَ اللهِ وَغَضَبٍ
“Wahai jiwa yang jelek, keluarlah menuju kemurkaan Allah l dan kemarahan-Nya.”
Para malaikat kemudian membawa ruh tersebut menuju langit, dengan bau yang sangat busuk. Setiap ruh tersebut melewati kumpulan para malaikat, mereka mengatakan,
مَا هَذَا الرُّوحُ الْخَبِيثُ؟
“Ruh siapa yang jelek ini?”
Para malaikat pembawa ruh tersebut menjawab, “Fulan bin Fulan,” dengan menyebutkan namanya yang terjelek ketika dia hidup di dunia.
Demikianlah Nabi n menjelaskan adanya jiwa yang baik dan jiwa yang buruk. Dalam hadits yang lain, beliau juga mengisyaratkan adanya ruh yang baik dan yang buruk.
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَفَ
“Ruh-ruh itu berkelompok-kelompok yang banyak. Yang cocok di antara mereka akan saling sepakat, dan yang tidak cocok akan saling menjauh.” (Sahih, HR. Muslim)
Ulama menjelaskan, “Yang baik akan cenderung kepada yang baik, dan yang jelek akan cenderung kepada yang jelek.” (Syarah Jami’ Shagir, an-Nihayah fi Gharibil Hadits, dll.)
Oleh karena itulah, dalam pembukaan khutbah, dahulu Nabi n sering berlindung kepada Allah l dari kejelekan jiwa. Sabdanya,
إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا
“Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah, kami memohon pertolongan kepada-Nya, memohon ampunan kepada-Nya, dan memohon perlindungan

dari kejelekan-kejelekan jiwa kami.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain)
Beliau n pun mengajari seseorang untuk berdoa,
اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي
“Ya Allah, lindungilah aku dari kejahatan jiwaku, dan kokohkan tekadku pada urusanku yang paling lurus.”
Masih ada lagi doa-doa lain untuk minta perlindungan kepada Allah l dari jiwa yang jelek.
Melihat kenyataan yang ada, tentu amat penting bagi kita untuk senantiasa mengontrol kondisi jiwa kita serta mengusahakan segala hal untuk menggapai kesucian jiwa dan membebaskannya dari segala yang mengotorinya.
Ibnul Jauzi t mengatakan saat mengomentari hadits bahwa ruh itu berkelompok-kelompok, “Diambil dari hadits tersebut sebuah faedah, yaitu apabila seseorang mendapatkan pada jiwanya sikap lari dari seorang yang saleh, seyogianya ia mencari tahu sebabnya, lalu ia berusaha untuk membebaskan dirinya dari sifat tercela ini.” (dinukil dari kitab Dalil al-Falihin)

Hidup Kumuh Ala Sufi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Faruq Ayip Syafruddin)

Sebagian masyarakat ternyata masih ada yang menyimpan cara pandang yang salah terhadap tasawuf. Sebagian mereka memersepsikan bahwa bergelut dengan tasawuf bisa menapaki jalan kesucian. Tasawuf mampu membersihkan keadaan jiwa yang kumuh. Cara pandang semacam ini melekat kuat pada sebagian masyarakat. Tak mengherankan apabila banyak orang yang mengalami kekeringan spiritual lantas memasuki kubangan tasawuf.
Cara pandang yang salah ini terus berkembang. Bahkan, pada taraf memberi penilaian bahwa apabila ada seseorang yang bersikap zuhud, tekun beribadah, halus budi pekerti, berpenampilan sederhana, dan terkesan menjauhi dunia, maka digelari sebagai sufi. Keadaan orang yang demikian dinilai sebagai manusia yang tengah menempuh kehidupan tarekat. Padahal nyatanya, orang tersebut melakukan amaliah seperti itu semata-mata karena kecintaannya pada sunnah-sunnah Nabi n. Tak tebersit dalam dirinya keinginan mengamalkan ajaran tasawuf. Apalagi bercita-cita ingin menjadi seorang sufi.
Klaim yang menyatakan bahwa orang yang melakukan proses tazkiyatun nufus (penyucian jiwa) dengan melakukan amaliah terpuji adalah aktualisasi paham sufi tentu tidak benar. Sebab, betapa banyak orang yang tidak menceburkan diri ke dalam kubangan tarekat sufi, ternyata mampu menampilkan suluk (perilaku) terpuji. Mereka mampu beribadah secara tekun dan khusyuk. Mereka bisa menampilkan sikap hidup zuhud. Mereka mampu menampakkan ketaatan kepada Allah l. Semua ini adalah hasil dari proses pembersihan jiwa.
Para sahabat Rasulullah n adalah manusia terbaik. Manusia yang memiliki karakter dan jiwa yang bersih. Perbuatan sehari-harinya mencerminkan kebersihan jiwa. Selisiklah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Umar bin al-Khaththab z. Malam demi malam ia lalui dengan sedikit tidur. Malam demi malam ia lalui dengan banyak beribadah kepada Rabbnya.
Salim z berkata, “Adalah Abdullah tidak tidur pada malam hari melainkan sedikit.”
Disebutkan pula oleh Hafshah x, “Sesungguhnya Abdullah adalah pria saleh.” (HR. al-Bukhari, no. 3840, 3841)
Apakah dengan amal seperti itu lantas sahabat Abdullah bin Umar diklaim sebagai seorang sufi? Tentu, sebuah klaim yang tidak patut.
Begitu pula saat Ibnu Abi Mulaikah bertutur tentang tiga puluh orang sahabat yang ditemuinya. Seluruh sahabat itu merasa khawatir apabila penyakit kemunafikan muncul dalam hati mereka. Ini adalah sikap demi menjaga kebersihan jiwa, bersih dari noda kemunafikan. Kata Ibnu Abi Mulaikah t, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang sahabat Nabi n. Mereka semua merasa takut apabila kemunafikan tumbuh pada dirinya.” (HR. al-Bukhari, no. 36)
Apakah dengan sikap takut para sahabat itu lantas dinyatakan bahwa mereka adalah sufi? Jelas, ini klaim yang tidak pada tempatnya. Para sahabat melakukan amal berlandaskan ittiba’ (mengikuti) Nabi n. Adapun para pemuja tarekat sufi banyak beramal di atas landasan yang menyelisihi sunnah Nabi n. Oleh karena itu, tidak sepantasnya amaliah sahabat diklaim sebagai amaliah para sufi. Apalagi mengklaim sosok sahabat Nabi n sebagai seorang tokoh sufi.
Jika kenyataannya demikian, untuk menempuh laku lampah bersih jiwa tak harus bergelut dengan tasawuf. Tidak harus bergabung ke dalam dunia tarekat sufi. Seseorang yang terjun ke dunia tasawuf justru tidak akan meraih apa yang dia inginkan. Alih-alih berhasil melakukan proses pembersihan jiwa, malah ia mendapatkan kekumuhan jiwa. Betapa tidak, tasawuf yang ia pelajari menjadikan dirinya malas mencari nafkah, padahal dirinya memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya. Bisa jadi pula, tasawuf yang ia pelajari menjadikan ia berpenampilan lusuh, berpakaian compang-camping, enggan menyantap daging, minum dari air yang kotor, badan kurus, dan sakit-sakitan. Selain itu, dengan tasawuf yang didalami, berarti ia harus menyerahkan ketaatan secara total, mutlak kepada mursyid (syaikh)-nya. Sebagai murid, tak ubahnya seperti mayat di hadapan yang memandikannya. Begitulah ia harus taat kepada sang mursyid. Ia tidak perlu menilai benar atau salah apa yang dititahkan dan dilakukan oleh sang mursyid. Di samping itu, bisa jadi tasawuf yang ia yakini malah menanamkan sikap taqdis (mengkuduskan/menyucikan) sang mursyid. Akibatnya, saat sang mursyid telah dimakamkan, kuburannya disembah-sembah. Dalam bahasa mereka, diziarahi untuk dimintai berkahnya. Yang lebih buruk lagi, manakala tasawuf yang ia peluk menyirami pikiran dan hatinya dengan pemahaman ittihad wal-hulul, manunggaling kawula Gusti, Allah l menyatu dalam dirinya.
Apabila seperti itu keadaannya, mempelajari tasawuf tidak akan bisa mewujudkan jiwa nan bersih. Bahkan sebaliknya, tasawuf mengarahkan hidup seseorang bergelimang dalam kekumuhan. Akidah, akhlak, suluk (perilaku), serta pemikiran menjadi tercemar dan kotor. Hati pun penuh noda. Segenap perbuatan diselimuti oleh noda; mulai noda syirik hingga noda maksiat. Begitulah hidup kumuh ala sufi. Wal ‘iyadzu billah.
Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah saat menjelaskan ayat,
ﭟ ﭠ ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ
“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini.” (at-Taubah: 28)
menyebutkan bahwa yang dimaksud najis dalam ayat tersebut adalah najis kesyirikan, bukan najis yang melekat pada badan (bersifat fisik). Najis kesyirikan adalah najis yang bersifat maknawi, bukan bersifat fisik. Najis kemusyrikan tak bisa disucikan atau dibersihkan dengan air. Walaupun orang musyrik mandi dengan air sebanyak air di samudra, niscaya tak akan sirna najis kesyirikan pada dirinya. Najis tersebut hanya akan lenyap manakala dibasuh dengan kalimat tauhid, syahadat bahwa tidak ada ilah (sesembahan) yang berhak diibadahi selain Allah l dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah l.
Kalimat inilah yang akan membersihkan najis kesyirikan. Adapun najis yang bersifat fisik, maka najis semacam ini dibersihkan atau disucikan dengan air. (Tashilu al-Ilmam bi Fiqhi lil Ahadits min Bulughi al-Maram, 1/83)
Hal yang selaras dengan pendapat di atas dikemukakan pula oleh asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t. Beliau menyebutkan bahwa kata “najasun” pada ayat di atas maksudnya adalah kejelekan dalam hal ‘aqaid (keyakinan-keyakinan) dan amal-amal mereka. Penyebutan najis ditujukan kepada orang yang melakukan peribadahan kepada Allah l, namun diiringi dengan peribadahan kepada sesembahan selainnya. Tentu saja sesembahan lainnya ini tidak akan bisa memberi manfaat, tak bisa pula mendatangkan mudarat. Sesembahan lainnya itu tak akan mampu mencukupi sesuatu pun. Adapun kejelekan amal-amal mereka, diarahkan untuk memerangi Allah l, menghalangi dari jalan-Nya, membantu kebatilan, menolak kebenaran, dan berbuat kerusakan di muka bumi, serta tidak untuk menciptakan kebaikan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, hlm. 333)
Oleh karena itu, misi utama para rasul Allah l adalah melakukan proses tazkiyah (menyucikan/membersihkan) umat dari berbagai kejelekan, baik bersifat i’tiqadiyah (keyakinan) maupun amalan. Allah l berfirman,
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan Hikmah (as-sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (al-Jumu’ah: 2)
Ibnu Katsir t menjelaskan surat al-Jumu’ah ayat 2 di atas bahwa dahulu orang-orang Arab berpegang pada agama Nabi Ibrahim al-Khalil q. Lantas mereka mengubah, mengganti, dan menyelisihi agama Nabi Ibrahim q. Mereka mengganti tauhid menjadi agama kesyirikan. Mengganti sesuatu yang yakin dengan sesuatu yang meragukan. Mereka pun mengada-adakan sesuatu yang tidak diizinkan oleh Allah l. Demikian pula dua kelompok ahlul kitab, mereka mengubah kitab-kitab mereka.
Allah l kemudian mengutus Muhammad n. Beliau diutus dengan membawa syariat yang agung, sempurna, dan universal (menyeluruh) bagi segenap makhluk. Syariat tersebut memuat petunjuk bagi mereka. Syariat tersebut memuat pula penjelasan seluruh hal yang mereka butuhkan, mulai dari urusan kehidupan mereka, dakwah kepada segala perkara yang mendekatkan pada surga dan keridhaan Allah l atas mereka, juga segenap larangan yang bakal menjauhkan mereka dari neraka dan murka Allah l. Syariat itu menjadi hakim yang memilah antara syubhat dan sesuatu yang meragukan, baik dalam hal yang prinsip maupun yang bersifat furu’ (cabang masalah).
Seluruhnya bagi Allah l, segala puja dan puji hanya bagi-Nya. Syariat tersebut mengandung banyak kebaikan dari yang sebelumnya. Diberikan kepada Rasulullah n sesuatu yang sebelumnya tidak diberikan kepada siapa pun. (Tafsirul Qur’anil ‘Azhim, 8/89)
Kalimat “menyucikan mereka” dalam ayat di atas adalah untuk mendorong mereka (kaum muslimin) agar berakhlak yang utama dan mencegah akhlak yang rendah. (Taisiru al-Karimi ar-Rahman, hlm. 862)
Inilah salah satu misi utama Rasulullah n di tengah-tengah umatnya. Dengan demikian, tazkiyatun nufus akan mengangkat seseorang menjadi makhluk yang berakhlak unggul, mulia, dan tinggi. Bukan proses tarbiyatun nafsiyah atau riyadhah ar-ruhiyah (pendidikan jiwa atau pelatihan rohani) ala kelompok-kelompok sempalan. Apa yang mereka sebut sebagai pendidikan jiwa atau olah rohani tak lebih dari menanamkan kesyirikan, bid’ah, dan khurafat. Alih-alih jiwa atau rohani menjadi suci atau bersih, malah terkotori, tercemar, dan menjadi kumuh karena apa yang diajarkan tak selaras dengan ketentuan Allah l dan Rasul-Nya.
Oleh karena itu, manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah menuntunkan bahwa melakukan proses tazkiyatun nufus harus bersandar pada ajaran Allah l dan Rasul-Nya n. Kesucian jiwa akan terjaga manakala seseorang mengikuti apa yang dituntunkan oleh Rasulullah n. Allah l berfirman,
“Taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Ali ‘Imran: 132)
“Berimanlah kamu kepada Allah, Rasul-Nya, dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (at-Taghabun: 8)
“Supaya kamu sekalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, menguatkan (agama)-Nya, dan membesarkan-Nya. Dan bertasbih kepada-Nya di waktu pagi dan petang.” (al-Fath: 9)
Rasulullah n, berdasarkan hadits dari Abu Hurairah z, bersabda,
كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى
“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah yang enggan?” Jawab Rasulullah, “Barang siapa menaatiku, ia akan masuk surga, dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh dia telah enggan.” (HR. al-Bukhari, no. 7280)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa penyifatan dengan kata “enggan” karena adanya penolakan. Jika penolakan itu karena kekafiran, ia tidak akan masuk surga selamanya. Jika ia adalah seorang muslim, awalnya ia tercegah masuk surga selain orang yang dikehendaki oleh Allah l. Abdullah bin Mas’ud z menyebutkan,
الِْاقْتِصَادُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الْاِجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ
“Sederhana dalam (menunaikan) as-Sunnah lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam (mengamalkan) bid’ah.” (Lihat Haqqu an-Nabi n, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdirrahim al-Bukhari, hlm. 27 dan 29)
Dikisahkan, ada tiga orang sahabat yang menginginkan derajat terbaik dalam beribadah. Dengan penuh semangat, mereka mencari cara dengan bertanya kepada istri-istri Rasulullah n. Kala mereka telah diberi tahu tentang ibadah yang dilakukan oleh Nabi n, mereka melakukan introspeksi diri. Terletup pada diri mereka, “Bagaimana kedudukan (ibadah) kami dibandingkan dengan ibadah yang telah dilakukan oleh Rasulullah n? Padahal dosa beliau yang telah lalu dan yang akan datang telah mendapatkan pengampunan. Adapun kami?”
Lantas, salah satu dari mereka berucap, “Jika seperti ini, aku akan senantiasa shalat malam dan tidak akan tidur.” Yang lainnya menyatakan, “Adapun aku akan terus berpuasa dan tidak akan berbuka.” Yang ketiga berkata, “Kalau aku, tidak akan menikahi wanita (yakni, meninggalkan kehidupan dunia untuk terus beribadah).” Dalam riwayat lain disebutkan, “Aku tidak akan makan daging (untuk meninggalkan kesenangan duniawi dan menjaga kesucian jiwa).”
Nabi n pun mendengar apa yang dinyatakan oleh ketiganya. Beliau berkata, “Apakah kalian yang menyatakan begini dan begini? Demi Allah, aku adalah orang yang lebih tahu dan paling takut kepada Allah k dibandingkan dengan kalian. Walau begitu, aku tetap shalat (malam) dan juga tidur. Aku berpuasa dan berbuka. Aku juga menikahi wanita. Barang siapa tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.”
Kisah hadits di atas dinukil asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah—dalam I’anatu al-Mustafid bi Syarhi Kitabi at-Tauhid, hlm. 245—untuk memberi contoh sikap berlebihan dalam beragama. Satu sikap melampaui batas dari ketentuan yang disyariatkan, inilah sikap berlebihan yang dilarang oleh Nabi n.
Praktik tazkiyatun nufus menggunakan tarekat sufi (metode tasawuf) bisa menggelincirkan seseorang pada amaliah terlarang. Bentuk amaliah terlarang itu di antaranya bersikap berlebihan terhadap pembimbing spiritual, mursyid, atau syaikh sufi. Sikap seperti ini disebut al-ghuluw fi asy-syakhshi. Praktik taqdis terhadap mursyid atau menyerahkan ketaatan secara totalitas, mutlak, tanpa koreksi pada sang mursyid adalah amaliah terlarang. Ini adalah taklid yang membelenggu. Allah l berfirman,
“Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)
Rasulullah n berdasarkan hadits dari ‘Aisyah x bersabda,
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa yang beramal tanpa didasari atas perintah kami, amalan itu tertolak.” (HR.Muslim, no. 1718)
Al-Imam Malik t selepas memberi pelajaran menyatakan,
كُلُّ كَلَامٍ فِيْهِ مَقْبُولٌ وَمَرْدُودٌ إِلاَّ كَلَامَ صَاحِبِ هَذَا الْقَبْرِ
“Setiap perkataan bisa diterima dan bisa ditolak, selain perkataan penghuni kubur ini (yakni, Rasulullah n).” (Siyar A’lami an-Nubala, 8/93)
Hal yang sama diucapkan pula oleh al-Imam Ahmad bin Hanbal t, “Pendapat seseorang bisa diambil dan ditinggalkan, selain (apa yang dari) Nabi n (wajib diterima atau diambil).” (Masa’il al-Imam Ahmad, no. 1786. Lihat Ithafu al-‘Uqul bi Syarhi ats-Tsalatsatil Ushul, asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah al-Jabiri, hlm. 9)
Bentuk amaliah terlarang lainnya dalam metode tasawuf adalah al-ghuluw fi ad-din (sikap berlebihan dalam masalah agama). Tak sedikit ditemukan penyimpangan pada metode tasawuf. Para sufi menyibukkan diri dengan ibadah dan zikir dengan penuh semangat, namun tanpa bimbingan al-Qur’an dan as-Sunnah sehingga meninggalkan kewajiban agama yang lain. Teguran Nabi n terhadap tiga orang—pada kisah hadits di atas—menjadi dalil bahwa sikap al-ghuluw fi ad-din adalah terlarang. Perbuatan semacam itu tidak boleh dilakukan oleh orang yang mengaku mencintai Allah l dan Rasul-Nya. Allah l berfirman,
Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)
Asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menyatakan bahwa sesungguhnya Islam memerintahkan sikap pertengahan dan seimbang dalam segala hal, tidak bersikap berlebihan dan tidak bersikap meremehkan. Terkait dengan sikap zuhud terhadap dunia, Islam menuntunkan sikap pertengahan. Sikap tengah antara sikap rakus dan tamak Yahudi yang berlebihan terhadap dunia dan sikap kaum rahbaniyyah (kependetaan) Nasrani yang meremehkan menjalani berbagai sebab, serta duduk berpangku tangan tak mau bekerja dan berbuat apa-apa.
Kata beliau hafizhahullah selanjutnya, “Sikap zuhud yang dilakukan dalam batasan ittiba’ (mengikuti tuntunan Rasulullah n) adalah perbuatan terpuji dalam Islam karena Nabi n adalah orang pertama dari kalangan kaum zuhud. Begitu pula Abu Bakr, Umar, dan kalangan sahabat lainnya.
Walau bersikap zuhud, tidak menjadikan mereka malas bekerja dan berdiam diri menanti uluran tangan orang lain. Bahkan, tatkala dunia mendatangi mereka, tak segan mereka menginfakkannya di jalan kebaikan. Mereka tidak meninggalkan berbagai kebaikan kecuali jika ada uzur. Apabila mereka memperoleh sesuatu yang bisa diambil manfaatnya, mereka menikmatinya. Nabi n menikahi wanita dan menyukai parfum. Beliau n memakan daging, berpuasa lalu berbuka, shalat malam, tidur, bekerja, berjihad menghukumi berbagai perkara yang muncul di antara kaum muslimin, mengajarkan al-Qur’an, dan kebaikan kepada kaum muslimin.
Adapun zuhud ala sufi adalah meninggalkan pekerjaan yang halal dan bermanfaat, menanti uluran tangan orang lain, serta menengadahkan telapak tangan dan meminta-minta. Sikap lainnya, menyusahkan diri dengan tampilan lahir berupa pakaian yang lusuh, robek-robek, atau compang-camping agar terlihat zuhud.
Jadilah ia orang yang menyelisihi sunnah Nabi n. Nabi n bersabda,
فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي
“Barang siapa tidak menyukai sunnahku, ia tidak termasuk golonganku.” (Muttafaqun ‘alaih)
Nabi n memakan daging. Beliau menyukai paha kambing. Sementara itu, sebagian sufi terjatuh pada ambang yang membahayakan mereka. Sebagian mereka makan abu dan tanah kemudian sengaja minum air kotor, menjauhi air yang bersih dan dingin dengan alasan tidak mampu mensyukurinya. Ini adalah alasan yang lemah. Apakah ketika ia meninggalkan air bersih dan dingin kemudian dia mampu bersyukur kepada Allah l atas sebagian nikmat lainnya, seperti penglihatan, pendengaran, kesehatan, dan lainnya? Justru dengan perbuatan tersebut ia telah melakukan dosa. Sebab, ia telah melakukan perbuatan yang membahayakan kesehatan tubuhnya. Dengan minum air yang tidak higienis itu, dia melakukan satu tindakan yang membinasakan. Allah l berfirman,
“Janganlah membunuh diri kalian. Sungguh Allah Maha Penyayang kepada kalian.” (an-Nisa’: 29)
Firman Allah l pula,
“Allah menghendaki kemudahan bagi kalian dan tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.” (al-Baqarah: 185)
Telah diperkenankan bagi seorang muslim berbuka di bulan Ramadhan ketika ia dalam keadaan safar (bepergian) atau sedang sakit, sebagai bentuk kasih sayang Allah l kepada kita. Hanya bagi Allah l segala pujian. (Haqiqatu ash-Shufiyyah, hlm. 30—32)
Oleh karena itu, zuhud tak identik dengan kekumuhan. Zuhud tak identik dengan kemelaratan. Bisa saja seseorang hidup zuhud, tetapi secara lahir ia menampilkan hidup bersih, rapi, dan nyaman dipandang. Bisa saja seseorang hidup zuhud walau ia kaya raya. Harta melimpah ruah yang ada padanya disalurkan di jalan Allah l. Ia tidak kikir dan bakhil mengeluarkan harta miliknya untuk Islam dan kaum muslimin. Kekayaan menjadikan dirinya semakin tawadhu’, tidak menjadikan dirinya takabur.
Hidup menjadi orang kaya itu tidak terlarang. Nabi n pernah mendoakan Anas bin Malik z menjadi orang yang banyak harta. Dari Anas bin Malik z, ia berkata,
قَالَتْ أُمِّي: يَا رَسُولَ اللهِ، خَادِمُكَ أَنَسٌ، ادْعُ اللهَ لَهُ. فَقَالَ: اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ، وَوَلَدَهُ وَبَارِكْ لَهُ فِيْمَا أَعْطَيْتَهُ
“Ibuku memohon, ‘Wahai Rasulullah, pembantumu Anas, mohon doakanlah kepada Allah baginya.’ Beliau mendoakannya, ‘Ya Allah, perbanyaklah hartanya, anaknya, dan berkahilah ia pada apa saja yang telah Engkau berikan padanya’.” (HR. al-Bukhari, no. 6344)
Para sahabat yang memiliki akhlak utama tetap mengembangkan bisnisnya. Mereka memiliki kekayaan yang tidak sedikit, seperti Utsman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, dan az-Zubair bin al-‘Awam g. (Lihat Haqiqatu ash-Shufiyyah fi Dhau’i al-Kitab wa as-Sunnah, asy-Syaikh Dr. Muhammad bin Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, hlm. 31)
Oleh karena itu, jauhilah hidup kumuh ala sufi!
Wallahu a’lam.

 

Surat Pembaca edisi 79

Majalah Lama Harganya Sama?
Afwan, ana mau tanya, kenapa majalah Asy-Syariah edisi lama harganya tetap sama? Tidak seperti majalah yang lain?
Abu Harits-Surabaya
085733xxxxxx

Majalah Asy-Syariah insya Allah bukan majalah berita atau politik yang isinya cepat basi, juga bukan majalah yang hanya menjual iklan karena saking banyaknya —yang terkadang malah tidak Islami. Majalah kami insya Allah sarat dengan ilmu agama yang tentunya tak bakal usang dimakan zaman. Oleh karena itu, mohon maaf, kami mengambil kebijakan untuk tidak menurunkan harga bagi majalah edisi-edisi lama. Jazakumullahu khairan.
Rubrik “Khazanah” Dibukukan
Bismillah. Semoga Allah l merahmati segenap redaksi Asy-Syariah. Ana sangat kagum akan topik bahasan asmaul husna dalam majalah Asy-Syariah. Mohon dibukukan lembar khazanah yang membahas tentang asmaul husna tulisan al-Ustadz Qomar Suaidi. Lebih baik lagi jika buku tersebut lengkap dalam menafsirkan 99 asmaul husna.
082183xxxxxx

Jazakumullahu khairan atas masukannya, akan kami pertimbangkan.

Lembar Anak
Bisakah jika Asy-Syariah membuat lembaran untuk anak, seperti lembaran Sakinah di belakang Asy-Syariah?
085742xxxxxx
Jazakumullahu khairan atas masukannya, akan kami pertimbangkan.
Tema “Arab Saudi”
Ana usul bagaimana kalau Asy-Syariah sekali waktu mengangkat edisi khusus “Mengenal Negeri Arab Saudi” secara utuh, objektif, dan ilmiah, dengan harapan menjadi pembelaan terhadap berbagai tuduhan, sekaligus sebagai referensi bagi semua pihak dalam beragama, berbangsa, dan bernegara.
08136xxxxxx

Masukan yang bagus. Arab Saudi, sebagai sebuah negara, memang acap terseret dalam polemik keagamaan antarkelompok Islam. Dari yang alergi dan antipati—bahkan kadang merembet pada penistaan syariat—, hingga yang memersepsikan secara berlebihan sebagai sebuah negara yang sempurna. Semoga kami bisa membahasnya pada kesempatan mendatang. Jazakumullahu khairan.
Wafat asy-Syaikh al-Albani & Wasiatnya
Pada edisi 77 disebutkan bahwa asy-Syaikh al-Albani meninggal tanggal 22 Jumadil Akhir 1420 H, namun wasiatnya tertanggal 27 Jumadil Ula 1410 H. Apakah benar antara wasiat dengan wafat asy-Syaikh al-Albani jaraknya hampir sepuluh tahun? Atau ini salah tulis?
Abu Musa-Lampung Utara
085378xxxxxx

Kami telah mengecek kopi surat wasiat beliau, dan demikianlah adanya.

 

Bersihkan Hati Secara Islami

Di tengah karut-marut kehidupan dunia, ketenangan jiwa menjadi oase yang didamba banyak orang. Pelbagai macam metode “pencerahan” jiwa yang tersuguh di hadapan masyarakat kita, tak pelak menjadi sesuatu yang ditunggu, laris manis. Bujet besar yang dikeluarkan bukan halangan, asal bisa ikut pelatihan ini atau training itu, yang penting “ketenangan” jiwa bisa diraih dalam sekejap.
ESQ, pelatihan motivasi, dan aktivasi otak kanan adalah contohnya. Walaupun seringnya diakui sebagai training manajemen bukan training agama, namun praktiknya sering menggunakan istilah agama, mengutip ayat atau hadits. Parahnya, selain tidak mendudukkan pada tempatnya, para trainer atau motivator ada yang mengutip hadits palsu. Alhasil, agama dijadikan kedok untuk membenarkan metode mereka yang konon katanya dikembangkan untuk mendukung penggalian potensi diri manusia itu.
Pada akhirnya, para peserta baru sampai pada tahap “merasa” sudah berubah, mendapat “pencerahan”, atau “disuntiki” energi positif. Tentu sebuah kemustahilan “perubahan” hanya bisa dicapai dalam beberapa jam pelatihan. Para peserta sejatinya tengah ditipu, di dalam pelatihan yang selalu menguras duit yang cukup besar ini, mereka diindoktrinasi bahwa mereka hebat dan punya kekuatan besar di dalam diri mereka yang tengah tidur, yang harus dibangunkan untuk meraih apa yang dinamakan “sukses dan kaya”.
Selain soal doktrin yang salah kaprah, beberapa metode “pencerahan” jiwa seperti model mujahadah, zikir berjamaah, perenungan (kontemplasi), riyadhah, atau meditasi, banyak dipengaruhi tasawuf (ajaran sufi). Selain itu, ESQ dan sebangsanya disusupi liberalisme yang menafsirkan al-Qur’an dan as-Sunnah secara bebas, mengajarkan bahwa pada dasarnya ajaran seluruh agama adalah benar dan sama, semua pemeluk agama punya kesamaan, yakni sama-sama punya hati, mempergunakan suara hati yang terdalam sebagai sumber kebenaran, serta menganggap para nabi mencapai kebenaran melalui pengalaman dan pencarian. Melalui buku-buku “tazkiyatun nufus (penyucian jiwa)” yang beredar, masyarakat juga dicekoki beragam cerita takhayul dan khurafat tasawuf yang menyesatkan, hanya berlandaskan pada pengalaman/kontemplasi tokoh-tokoh sufi.
Pertanyaannya, tak cukupkah al-Qur’an dan as-Sunnah kita jadikan rujukan? Mana yang lebih bisa dipegangi dan selamat untuk diikuti, al-Qur’an dan as-Sunnah ataukah cerita picisan model sufi?
Secara kemasan, training atau pelatihan semacam ESQ kadang menarik, lebih-lebih didukung penggunaan multimedia. Namun, orang yang cerdas tentu tidak menilai sesuatu berdasarkan kemasan semata, tetapi juga melihat isi dan substansi yang diajarkannya.
Inilah problem “dakwahtainment” dewasa ini. Cara-cara dan subtansi dakwah yang diajarkan Rasulullah n justru ditinggalkan. Alih-alih memprioritaskan tauhid dan ajaran yang benar, aksi panggung artis “dakwahtainment” juga kering dari dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih. Asal bikin orang memerhatikan isi ceramahnya, asal bisa diterima, bahkan asal bikin audien terpingkal-terpingkal, substansi menjadi nomer dua. Di kampung-kampung, malah muncul dai yang isinya hanya menyanyi qasidah/lagu-lagu gubahan, dari awal hingga akhir. Kalau sudah begini, bagaimana masyarakat awam “melek” agama?
Tentu ironis jika jalan tazkiyatun nufus yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah dianggap kurang bisa memikat masyarakat yang didakwahi, dianggap cara-cara klasik, tidak keren, dsb. Tugas dai adalah menyampaikan, perkara hidayah adalah urusan Allah l. Selama kita mendakwahkan substansi yang benar sekaligus menggunakan cara-cara yang benar, insya Allah dakwah itu akan beberkah. Oleh karena itu, mari bersihkan hati dengan cara Islami, raih ketakwaan, amalkan Islam secara ikhlas dan sesuai as-Sunnah, insya Allah kebersihan hati akan kita raih.

MERAIH MANISNYA IMAN

Abdullah bin al-Abbas bin Abdil Muththalib c berkata,
مَنْ أَحَبَّ فِي اللهِ وَأَبْغَضَ فِي اللهِ وَوَالَى فِي اللهِ وَعَادَى فِي اللهِ، فَإِنَّمَا تَنَالُ وِلَايَةَ اللهُ بِذَلِكَ، وَلَنْ يَجِدَ عَبْدٌ طَعْمَ الْإِيْمَانِ-وَإِنْ كَثُرَتْ صَلَاتُهُ وَصَوْمُهُ-حَتَّى يَكُونَ كَذَلِكَ، وَقَدْ صَارَتْ عَامَّةُ مُؤَاخَاةِ النَّاسِ عَلَى أَمْرِ الدُّنْيَا، وَذَلِكَ لاَ يُجْدِي عَلَى أَهْلِهِ شَيْئًا
“Barang siapa mencintai karena Allah l, membenci karena Allah l, membela karena Allah l, dan memusuhi karena Allah l, dengan itu ia peroleh kecintaan Allah l.
Seorang hamba juga tidak akan mendapatkan manisnya iman meskipun banyak shalat dan puasanya hingga ia memiliki sifat-sifat itu.
Sungguh, kebanyakan persaudaraan manusia adalah karena urusan dunia (bukan lagi karena Allah l), dan yang seperti itu tidaklah memberi manfaat sedikit pun pada dirinya.”
(Riwayat Abu Dawud, “Kitab as-Sunnah” no. 4681, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 380)