Amalan Penduduk Surga dan Penduduk Neraka

Apa saja amalan ahlul jannah dan apa pula perbuatan yang menyebabkan seseorang menjadi penghuni neraka?

Jawab:
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjawab, “Alhamdulillah. Secara ringkas, amalan ahlul jannah (penghuni surga) adalah iman, takwa, dan amal saleh yang lain. Adapun perbuatan penghuni neraka ketika di dunia adalah kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan.
Amalan ahlul jannah adalah beriman kepada Allah l, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, percaya adanya hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk. Amalan lainnya adalah mengucapkan syahadatain; Laa ilaha illallah dan Muhammad Rasulullah, menegakkan shalat, membayar zakat, puasa di bulan Ramadhan, dan haji ke Baitullah. Demikian pula, seorang ahlul jannah ketika di dunia adalah seorang muhsin (berbuat ihsan). Maksudnya, beribadah kepada Allahlseakan-akan engkau melihat-Nya, kalaupun engkau tidak bisa melihat-Nya maka sungguh Dia pasti melihatmu.
Jujur dalam ucapan juga termasuk amalan ahlul jannah. Demikian pula menunaikan amanat, memenuhi janji, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung hubungan rahim, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, dan budak yang dimiliki atau hewan peliharaan.
Termasuk amalan penduduk surga adalah ikhlas kepada Allah l, tawakal kepada-Nya, cinta kepada-Nya dan kepada rasul-Nya serta takut kepada Allah l, berharap rahmat-Nya, kembali kepada-Nya, dan bersabar atas hukum-Nya, di samping mensyukuri kenikmatan-Nya. Demikian pula membaca Al-Qur’an, zikrullah, berdoa kepada-Nya, meminta-Nya dan berharap kepada-Nya, termasuk amalan penghuni surga. Tak tertinggal, amar ma’ruf nahi mungkar, berjihad di jalan Allahlmelawan orang-orang kafir dan munafik, menyambung hubungan dengan orang yang memutuskan hubungan, memberi kepada orang yang enggan memberi (menghalangi pemberian) kepadamu, serta memaafkan orang yang menzalimimu.
Semua ini termasuk amal saleh yang dilakukan orang-orang bertakwa. Allahltelah menjanjikan surga bagi mereka yang gemar berbuat kebaikan. Sifat-sifat mereka di antaranya:
“Orang-orang yang berinfak dalam keadaan mereka lapang ataupun dalam keadaan sempit, mereka suka menahan marah dan memaafkan manusia. Dan Allah mencintai orang-orang yang berbuat ihsan.” (Ali Imran: 134)
Berbuat adil dalam seluruh perkara dan kepada seluruh makhluk, sampai pun kepada orang-orang kafir, adalah amalan ahlul jannah. Masih banyak contoh yang lain.
Adapun perbuatan penghuni neraka di antaranya berbuat syirik kepada Allah l, mendustakan para rasul, kufur/ingkar, hasad/iri dengki, dusta, khianat, zalim, berbuat fahisyah/keji, melanggar kesepakatan/janji, memutus hubungan rahim, penakut dari turut serta dalam jihad, kikir, berbedanya batin dengan lahirnya, putus asa dari rahmat Allah l, merasa aman dari makar Allah l, berkeluh kesah ketika mendapat musibah, sombong/membanggakan diri, merasa bangga ketika beroleh nikmat, meninggalkan kewajiban-kewajiban yang Allahlbebankan, melampaui batasan-batasan Allah l, melanggar keharaman-Nya, takut, berharap, dan bertawakal kepada makhluk tidak hanya kepada Allah l, beramal karena riya dan sum’ah (ingin amalannya dilihat dan didengar oleh manusia), menyelisihi Al-Qur’an dan as-Sunnah, taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta, fanatik dengan kebatilan, mengejek ayat-ayat Allah l, menentang al-haq, menyembunyikan ilmu dan persaksian yang seharusnya ditampakkan.
Termasuk amalan ahlun nar (penduduk neraka) adalah sihir, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allahluntuk dibunuh tanpa haq, makan harta anak yatim, makan riba, lari dari peperangan saat bertemunya dua pasukan, menuduh zina terhadap perempuan baik-baik yang tidak berpikir berbuat keji lagi beriman.
Merinci masing-masing dari amalan kedua golongan ini, ahlul jannah dan ahlun nar, tidak memungkinkan (karena sangat banyaknya). Akan tetapi, cukuplah menjadi patokan bahwa amalan-amalan ahlul jannah seluruhnya termasuk dalam urusan ketaatan kepada Allahldan Rasul-Nya. Adapun amalan-amalan ahlun nar seluruhnya termasuk dalam urusan maksiat kepada Allahldan Rasul-Nya.
“Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dalam keadaan mereka kekal di dalamnya. Yang demikian itu adalah keberuntungan yang besar. Dan siapa yang bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya lagi melampaui batasan-batasan-Nya niscaya Allah akan masukkan dia ke dalam neraka dalam keadaan kekal di dalamnya dan untuknya di dalam neraka itu azab yang hina.” (an-Nisa: 13—14)
Wallahu a’lam.
(Majmu’ Fatawa, Syaikhil Islam Ibnu Taimiyah, 10/422)

Menjaga Kebersihan Tubuh dan Pakaian

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyyah)

Saudariku muslimah!
Allahltelah melimpahkan kepada kita nikmat yang banyak yang tiada terhitung dan terbilang. Di antara nikmat yang diberikan-Nya adalah anggota tubuh kita yang disebut hidung. Dengan nikmat hidung ini kita bisa mencium berbagai aroma dan wewangian. Bau yang harum akan menyenangkan hati kita. Sebaliknya, bau busuk atau tak sedap membuat kita menutup hidung dan menjauh.
Dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama insan, kita dapati ada orang yang memerhatikan kesehatan serta kebersihan tubuh dan pakaiannya sehingga jarang, atau bahkan tidak pernah, kita temui darinya bau yang tak sedap. Tentunya orang yang seperti ini menyenangkan kita saat berdekatan dengannya. Apalagi jika disertai oleh ketakwaan, kesalehan, dan kemuliaan akhlak yang melekat pada dirinya.
Ada pula tipe orang yang membuat manusia lain menjauh. Enggan lama berdekatan dengannya karena ia tidak perhatian terhadap kebersihan tubuh dan pakaiannya. Jika itu menimpa seorang wanita, lebih besar lagi perkaranya. Apalagi jika si wanita telah bersuami dan ia tidak perhatian dengan kebersihan, tak terbayang bagaimana reaksi suami saat berdekatan dengannya. Oleh karena itu, dalam pembahasan kali ini, kami mencoba berbicara tentang pentingnya kebersihan tubuh dan pakaian, terkhusus bagi wanita.
Perkara yang telah kita maklumi bersama bahwa dari seseorang yang tidak menjaga kebersihan tubuh dan pakaiannya akan keluar bau yang tidak sedap dari dirinya. Apabila seseorang tidak pernah lupa menjaga kebersihan sebagian anggota tubuhnya, namun meluputkan anggota yang lain, niscaya ia tidak akan selamat dari bau yang tak sedap, lebih-lebih seseorang yang sama sekali tidak memerhatikan kebersihan seluruh tubuhnya.
Tubuh yang banyak bergerak dan bersentuhan dengan hawa panas niscaya akan mengalir keringat dari seluruh bagiannya. Mungkin sedikit dan bisa pula banyak, tergantung masing-masing individu. Baunya pun beragam, ada yang menyengat, ada yang tidak. Bau keringat yang keluar dari beberapa bagian tubuh ada yang lebih tajam daripada keringat yang keluar di bagian lain. Oleh karena itu, bagian yang menyengat tadi harus beroleh perhatian yang khusus.

1. Ketiak
Bagian tubuh ini termasuk paling banyak mengeluarkan keringat sehingga harus diberi perhatian ekstra. Rambut yang tumbuh di daerah ketiak tidak boleh dibiarkan, tetapi harus dihilangkan demi berpegang dengan aturan Rasulullah n.
Beliau memberikan tuntunan kepada umatnya untuk menjalankan perkara-perkara fitrah. Di antaranya adalah mencabut rambut yang tumbuh di daerah ketiak. Beliau n bersabda:
خَمْسٌ مِنَ الْفِطْرَةِ: الْخِتَانُ، وَالْاِسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الْأَظْفَارِ، وَنَتْفُ الْإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ
“Lima hal termasuk perkara fitrah: khitan, mencukur rambut kemaluan, menggunting kuku, mencabut rambut ketiak, dan memotong kumis.” (HR. al-Bukhari no. 5889 dan Muslim no. 596)
Orang yang tidak memerhatikan bagian tubuh yang satu ini, Anda akan dapati darinya bau tak sedap yang menyengat hidung. Tentu hal ini akan mengganggu orang lain, padahal agama mengajarkan agar kita tidak menyakiti dan mengganggu orang lain.

2. Mulut, Gigi, Gusi, dan Lidah
Kita memakan beragam makanan. Semuanya melewati mulut kita: lidah, gigi, dan gusi. Ada sisa makanan yang tertinggal dalam mulut sehingga apabila mengabaikan kebersihannya, niscaya makanan yang tertinggal/menempel tersebut akan menjadi lahan subur bakteri. Akibatnya, keluarlah dari mulut, aroma yang membuat orang lain memalingkan wajahnya untuk menjauh. Aroma itu biasanya tidak tercium oleh si empunya, namun orang-orang di sekitarnya terganggu dengannya. Belum lagi kerusakan gigi dan terganggunya gusi akibat sisa makanan yang membusuk.
Kebersihan mulut ini tidak boleh diabaikan seorang wanita yang masih ‘sendiri’, apalagi yang telah bersuami. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan dan kebersihan mulut kita.
a. Membersihkan gigi-geligi dengan siwak1 setiap waktu, lebih-lebih lagi di waktu-waktu berikut ini:
– sebelum mengerjakan shalat
– ketika hendak berwudhu
– saat hendak membaca Al-Qur’an
– bangun dari tidur2
– ketika bau mulut berubah, bisa jadi karena tidak makan dan minum, mengonsumsi makanan yang beraroma tidak sedap, diam dalam waktu lama, atau banyak berbicara. Demikian yang diterangkan oleh al-Imam an-Nawawi, semoga Allah lmerahmati beliau. (al-Minhaj, 3/135)
Siwak digosokkan dari depan, dari belakang, dan di atas gigi. Jika tidak ada siwak, bisa menggunakan sikat gigi dengan pasta gigi3.
b. Memberikan perhatian kepada lidah secara khusus dan membersihkannya karena lidah dipakai untuk merasakan makanan.
Rasulullah n tidak lupa memerhatikan kebersihan lidah beliau, sebagaimana yang digambarkan oleh Abu Musa al-Asy’ari z dengan ucapannya:
أَتَيْتُ النَّبِيَّ n فَوَجَدْتُهُ يَسْتَنُّ بِسِوَاكٍ بِيَدِهِ يَقُوْلُ: أُعْ، أُعْ؛ وَالسِّوَاكُ فِي فِيْهِ كَأَنَّهُ يَتَهَوَّعُ
Aku mendatangi Nabi n yang ternyata sedang bersiwak dengan siwak yang ada di tangannya. Keluar dari mulut beliau suara, “Ugh… ugh…”, sementara siwak ada dalam mulut beliau, seakan-akan beliau mau muntah. (HR. al-Bukhari no. 244)
Dalam riwayat Muslim:
دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ n وَطَرْفُ السِّوَاكِ عَلَى لِسَانِهِ
“Aku masuk menemui Nabi n, dalam keadaan ujung siwak di atas lidahnya.” (HR. Muslim no. 591)
Perhatikanlah kesungguh-sungguhan Rasulullah n dalam menggunakan siwak. Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam Fathul Bari (1/463), “Diambil faedah dari hadits ini tentang disyariatkannya bersiwak di atas lisan (menggosok lidah dengan siwak).”
Oleh karena itu, hendaklah seorang muslim memerhatikan sunnah bersiwak ini dan bersungguh-sungguh ketika menggunakannya.
c. Tidak merokok karena bau yang ditimbulkan dari mulut si perokok busuk dan membuat orang ‘lari’, merusak kesehatan pelakunya dan orang di sekitar, serta yang paling penting tentunya merokok adalah perkara yang diharamkan. Seorang muslim harusnya menjauhi perkara yang haram.
d. Kalau ada kelapangan bisa mendatangi dokter gigi untuk memeriksakan kondisi kesehatan mulut, gigi, dan gusi.

3. Perut
Ketika seseorang makan sebagian makanan yang beraroma tajam, aroma makanan itu akan keluar lewat mulut dan terkadang lewat keringat yang banyak diproduksi oleh ketiak. Bau yang keluar lewat mulut ini akan mengganggu orang yang berbicara dengannya. Oleh karena itu, alangkah baiknya menghindari makanan yang beraroma tajam tersebut. Kalaupun tetap ingin memakannya, hendaklah setelahnya memakan makanan lain yang dapat meringankan aromanya, atau dimakan dalam keadaan telah dimasak terlebih dahulu (karena bau yang menusuk timbul jika memakannya dalam keadaan mentah).
Rasulullah n bersabda:
مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثَّوْمَ وَ الْكُرَّاثَ، فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ
“Siapa yang makan bawang merah, bawang putih, dan daun bawang (luncang), janganlah sekali-kali ia mendekati masjid kami ini karena para malaikat terganggu dengan sesuatu/bau yang mengganggu anak Adam (manusia).” (HR. al-Bukhari no. 854 dan Muslim no. 1254)
Umar ibnul Khaththab z berkata:
لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ n إِذَا وَجَدَ رِيْحَهُمَا مِنَ الرُّجُلِ فِي الْمَسْجِدِ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ إِلَى الْبَقِيْعِ. فَمَنْ أَكَلَهُمَا فَلْيُمِتْهُمَا طَبْخًا
“Sungguh aku pernah melihat Rasulullah n ketika mendapati bau bawang merah dan bawang putih pada seseorang yang berada di dalam masjid, beliau pun menyuruh agar orang tersebut dikeluarkan dari masjid dan menjauh sampai ke Baqi’. Maka dari itu, siapa yang hendak memakannya, hendaklah ia menghilangkan bau bawang tersebut dengan memasaknya.” (HR. Muslim no. 1258)
Ketika dihidangkan makanan dan di dalamnya ada jenis-jenis yang disebutkan, Rasulullah n tidak memakannya, sebagaimana disebutkan dalam hadits Jabir z:
وَإِنَّهُ أُتِيَ بِقِدْرٍ فِيْهِ خَضِرَاتٌ مِنْ بُقُوْلٍ فَوَجَدَ لَهَا رِيْحًا، فَسَأَلَ فَأُخْبِرَ بِمَا فِيْهَا مِنَ الْبُقُوْلِ فَقَالَ: قَرِّبُوْهَا؛ إِلَى بَعْضِ أَصْحَاِبِه. فَلَمَّا رَآهُ كَرِهَ أَكْلَهَا قَالَ: كُلْ، فَإِنِّي أُنَاجِي مَنْ لَا تُنَاجِي
Didatangkan bakul berisi sayur-sayuran ke hadapan Rasulullah n. Beliau dapati aroma yang tajam dari sayur-mayur tersebut. Beliau lalu menanyakannya. Disampaikanlah kepada beliau macam sayuran yang ada dalam bakul tersebut. Beliau pun bersabda, “Dekatkanlah sayur-mayur itu,” kepada sebagian sahabat beliau. Tatkala beliau melihatnya, beliau tidak suka memakannya dan bersabda, “Makanlah, karena aku berbicara dengan malaikat yang engkau tidak pernah berbincang dengannya4.” (HR. al-Bukhari no. 855 & 5452 dan Muslim no. 1253)
Mengisi perut saat pagi hari (sarapan pagi) merupakan kebiasaan yang baik. Bisa pula menggunakan sesuatu yang dapat mewangikan bau mulut dan perut, karena perut yang kosong dari makanan menimbulkan aroma tak sedap dan mengganggu orang lain, kecuali seorang yang puasa5.

4. Wajah
Wajah selalu dikedepankan saat berbincang dengan orang lain padahal wajah tidak tertutup dari udara dan debu serta apa yang ada di udara sehingga berpotensi menjadi tempat penumpukan kotoran dan minyak. Karena itu, semestinya wajah beroleh perhatian lebih. Seorang muslim tentunya kurang lebih lima kali sehari membasuh wajahnya saat berwudhu untuk shalat fardhu.

5. Kulit kepala dan rambut
Penumpukan minyak dan keringat, ditambah kulit kepala yang telah mati/mengelupas berpotensi menimbulkan bau yang tidak sedap. Anda bisa mendapati bau ini pada orang yang tidak memberikan perhatian kepada kulit kepala dan rambutnya. Yang semestinya, kepala dan rambut rutin dicuci menggunakan pembersih yang khusus (sampo). Selain dicuci/dikeramas, juga ditata dengan baik/rapi, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi n kita. Beliau menyisir rambutnya dan meminyakinya.
Sungguh, beliau n adalah seorang yang sangat tampan dan sangat memerhatikan kebersihan, kerapian, dan keindahan.
6. Pakaian
Seorang muslim harus memerhatikan pakaian yang dikenakannya dari sisi kebersihan, kerapian, keserasian, dan kesesuaiannya. Oleh karena itu, sangat disayangkan ada sebagian orang yang tidak peduli dengan kebersihan pakaian mereka sehingga tercium dari pakaian mereka bau yang tidak sedap dan aroma keringat yang tidak enak. Padahal dalam masalah kebersihan pakaian, Islam memberikan perhatian khusus. Kita mengetahui bahwa Allahlmemerintahkan dalam Al-Qur’an kepada ahlul masajid (kaum lelaki yang diwajibkan shalat berjamaah di masjid) untuk mengenakan perhiasan mereka, yaitu pakaian yang bersih, saat datang ke masjid menghadiri shalat berjamaah.
ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ ﭖ ﭗ ﭘ
“Wahai orang-orang yang beriman, pakailah perhiasan (pakaian) kalian setiap kalian menuju ke masjid.” (al-A’raf: 31)
Rasulullah n juga memerintahkan agar kita tidak meninggalkan mandi, paling tidak setiap hari Jum’at, terkhusus bagi yang menghadiri shalat Jum’at. Beliau bersabda:
غَسْلُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلى كُلِّ مُحْتَلِمٍ
“Mandi pada hari Jum’at wajib bagi setiap orang yang telah baligh.” (HR. al-Bukhari no. 857 & 895 dan Muslim no. 1954)
Semuanya ini dimaksudkan agar seorang muslim berada dalam sebaik-baik penampilan.
Adalah Rasulullah n memberikan perhatian kepada pakaian yang beliau kenakan sebagaimana kabar yang banyak kita dapatkan dalam as-Sunnah.
Disebutkan pula dari sebagian salaf, mereka sengaja berhias untuk bertemu dengan saudara-saudara mereka di jalan Allah.

7. Minyak wangi
Sebagian orang tidak peduli dengan minyak wangi apa yang mereka gunakan. Mereka tidak bisa memilih mana minyak wangi yang tepat untuk digunakannya. Terkadang, bau minyak wanginya yang tajam membuat orang lain mual. Oleh karena itu, kata orang Arab, “Janganlah minyak wangimu membuatmu dicela.”
Ibnul Jauzi t berkata dalam masalah keindahan ini, “Adalah Nabi n manusia yang paling bersih dan paling baik. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah n pernah mengangkat kedua tangan beliau hingga tampak putihnya kedua ketiak beliau6.
Siwak tidak pernah terpisah dari Rasulullah n. Beliau tidak suka tercium dari diri beliau bau yang tidak sedap7.
Beliau menganggap lebih utama shalat yang didahului dengan bersiwak daripada shalat tanpa bersiwak.8 Dengan demikian, orang yang menjaga kebersihan berarti ia telah memberikan kenikmatan kepada dirinya dan mengangkat harkat dirinya.
Seorang suami yang memerhatikan kebersihan dirinya tentu akan menyenangkan istrinya, karena wanita itu saudara kandung lelaki. Jika seorang lelaki/suami tidak menyukai sesuatu dari istrinya, demikian pula seorang wanita/istri bisa pula tidak menyukai sesuatu dari suaminya. Bisa jadi, seorang suami bersabar dengan apa yang tidak disukainya, namun si wanita mungkin tidak bisa bersabar.
Ibnu Abbas c berkata, “Aku senang berdandan untuk istriku sebagaimana aku suka ia berdandan untukku.”
Betapa buruknya seorang berakal yang menyia-nyiakan dirinya.
Syariat telah mengingatkan untuk memerhatikan seluruh upaya guna menjaga kebersihan tubuh dengan menyebutkan beberapa contohnya. Syariat pun memerintahkan untuk menggunting kuku, mencabut rambut ketiak, dan mencukur rambut kemaluan. Syariat melarang makan bawang putih dan bawang merah yang mentah karena bau yang ditimbulkan. Selebihnya seseorang harusnya mengiaskan (seperti rokok dan selainnya) dan berupaya mencapai puncak kebersihan dan keindahan.
Rasulullah n menyukai minyak wangi9. Kedatangan beliau diketahui dengan terciumnya aroma yang semerbak. Adalah beliau n mencapai puncak dalam hal kebersihan dan kesucian. (Dinukil dari buletin/selebaran berbahasa Arab yang diterbitkan di KSA, dalam materi berjudul “Hatta Takuna Maqbulan”)
Sebagai penutup, hendaknya kita mengingatkan agar seorang muslim benar-benar memerhatikan kebersihan yang sempurna pada tubuhnya, baik dari dalam maupun dari luar, sehingga ia berada pada keadaan yang paling sempurna tatkala bermunajat dengan Rabbnya, dalam shalatnya, dan di hadapan saudara-saudaranya. Perhatikanlah hal ini, wahai muslimah!
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Siwak secara bahasa mengandung dua makna. Bisa yang dimaksud adalah perbuatan bersiwak, bisa pula yang dimaksud adalah alat berupa kayu/miswak yang digunakan untuk membersihkan gigi. (Fathul Bari, 1/443, Subulus Salam, 1/63)
Menurut pandangan syariat, siwak berarti menggunakan kayu dan semisalnya untuk menghilangkan bau mulut, plak (warna kekuningan yang menempel di gigi), dan semisalnya. (al-Majmu’, Nailul Authar, 1/152)
2 Abu Hudzaifah z mengabarkan:
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n إِذَا قَامَ لِيَتَهَجَّدَ يَشُوْصُ فَاهُ بِالسِّوَاكِ
“Adalah Rasulullah n ketika bangun dari tidur malam beliau menggosok mulut dengan siwak.” (HR. al-Bukhari no. 245 dan Muslim no. 592)
Demikianlah yang dicontohkan Nabi kita n, karena kita tahu bagaimana bau mulut orang yang bangun tidur.
3 Memang, kebanyakan hadits yang menyinggung tentang siwak menyebutkan bahwa bersiwak itu menggunakan alat berupa kayu tertentu. Namun, jika kita kembali kepada pengertian yang ada, segala alat/sarana yang bisa menghilangkan kotoran/bau mulut bisa digunakan, seperti kain perca yang kasar, jari yang kasar, dan sikat gigi. Namun, tentu yang paling bagus adalah menggunakan kayu arak yang tidak terlalu kering yang bisa melukai gusi dan tidak pula terlalu basah yang tidak bisa menghilangkan kotoran dan semisalnya. (Subulus Salam, 1/64)

4 Jibril q bisa mendatangi beliau n sewaktu-waktu. Jika sampai beliau memakan makanan yang mengakibatkan bau mulut tidak sedap tentu akan mengganggu malaikat Allahlyang mengajak bicara beliau.
5 Rasulullah n bersabda:
لَخُلُوْفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ
“Bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allahlpada hari kiamat kelak daripada wanginya misik.”

6 Ini menunjukkan bahwa beliau membersihkan ketiak beliau dari rambut-rambut yang tumbuh di sekitarnya.
7 Satu contohnya adalah peristiwa pengharaman madu terhadap diri beliau sendiri yang menjadi sebab turunnya surah at-Tahrim. Kisahnya, Rasulullah n tertahan beberapa lama di rumah istri beliau, Zainab bintu Jahsyin x, karena meminum madu yang disuguhkan Zainab. Hal ini membuat cemburu Aisyah x. Ia pun bekerja sama dengan Hafshah x. Mereka menyatakan bahwa Rasulullah n memakan buah maghafir karena mereka mendapati baunya dari mulut beliau, padahal beliau tidak suka bila tercium dari diri beliau bau tidak sedap. Buah maghafir mengandung bau tidak enak, maka beliau menyatakan bahwa beliau minum madu. Mereka berkata bahwa mungkin Rasulullah n minum madu yang lebahnya mengisap sari bunga pohon maghafir. Akhirnya Rasulullah n sampai mengharamkan madu. (Kisah lengkapnya disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya)

8 Beliau n bersabda:
لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ صَلاَةٍ
“Seandainya tidak memberatkan umatku, niscaya aku akan memerintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat.” (HR. Muslim no. 588)
9 Beliau n bersabda:
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمْ: الطِّيبُّ وَالنِّسَاءُ
“Dicintakan kepadaku dari dunia kalian (dua perkara): minyak wangi dan wanita.”

Kita Selalu Butuh Kepada Nya (bagian 1)

(ditulis oleh:  Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Rumah tangga yang bergelimang materi bukanlah jaminan kebahagiaan. Betapa sempit pandangan seseorang ketika mengukur kebahagiaan dengan serpihan dunia. Penilaian kebahagiaan itu sesungguhnya terletak pada dekat atau jauhnya sebuah rumah tangga dengan ajaran agama yang mulia ini. Dengan demikian, rumah tangga yang bahagia adalah yang berjalan di atas tuntunan syariat, diterapkan di dalamnya tarbiyah usrah (pendidikan keluarga) yang islami kepada anggota-anggotanya, baik untuk ayah, ibu, maupun anak-anak. Dengan tarbiyah tersebut, diharapkan anggota-anggota keluarga memiliki suluk yang islami dan akhlak karimah.
Seorang ayah, sebagai qawwam (pemimpin) dalam keluarganya, bertanggung jawab untuk memberikan tarbiyah ini secara langsung kepada istri dan anak-anaknya. Dia bertindak sebagai ‘guru’ bagi mereka, tentunya jika dia memiliki ilmunya. Bisa jadi, dia memberi tarbiyah secara tidak langsung, misalnya dengan menyiapkan sarana tarbiyah untuk mereka. Seperti mencarikan ‘guru ngaji atau guru agama’ untuk keluarganya atau mengantarkan keluarganya ke tempat tarbiyah diniyah, majelis taklim misalnya.
Suami sebagai kepala keluarga tentu tidak boleh melalaikan dirinya sendiri dalam hal mencari ilmu din sehingga ia punya bekal untuk membawa dan membimbing keluarganya kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Jangan sampai ia menyuruh anak istrinya belajar agama namun ia sendiri melalaikan dirinya, sibuk mengejar serpihan dunia. Alangkah indahnya gambaran sebuah keluarga yang ayah, ibu, dan anak-anaknya, semua bersemangat mempelajari agama Allah l. Tentu tarbiyah diniyah dalam keluarga tersebut berjalan seperti yang diharapkan.
Di antara materi tarbiyah yang penting dan tak boleh terlewatkan untuk ditanamkan dalam benak setiap individu dalam keluarga adalah perasaan butuh kepada Allah k. Mengapa masalah ini penting untuk diingatkan? Karena semua hamba bergantung kepada Allahldalam seluruh keadaan mereka dan butuh bantuan-Nya dalam seluruh urusan mereka. Dia lah yang mengadakan mereka dari semula tidak ada. Dia yang memelihara mereka dengan nikmat-nikmat-Nya. Dia yang menunjukkan mereka hal-hal yang memberi manfaat bagi kehidupan, sebagaimana Dia palingkan mereka dari perkara yang membahayakan mereka. Kira-kira bagaimana jadinya makhluk jika tanpa Sang Pencipta?
Setiap keluarga muslim hendaklah mengetahui bahwa Al-Qur’an yang mulia banyak memuat ayat-ayat yang menunjukkan ‘butuhnya hamba kepada Allah l’. Hendaknya mereka mentadabburi apa yang mereka baca dan dengar dari Kalamullah sehingga mereka tahu hakikat kefakiran mereka kepada Allah l. Hendaknya pula mereka sadar, betapa banyak anugerah dan keutamaan Allahlyang terlimpah kepada mereka. Diharapkan, semua itu menggiring mereka untuk mengagungkan-Nya, bersyukur kepada-Nya, dan beribadah dengan baik kepada-Nya.
Seorang suami atau ayah, seorang istri atau ibu, dan anak-anak yang tumbuh di tengah keduanya, serta kita semua, hendaknya menyadari bahwa kita adalah hamba-hamba Allahlyang tidak bisa lepas dari-Nya. Senantiasa kita menadahkan tangan meminta kepada-Nya dengan lisanul maqal atau lisanul hal dan Dia terus memberi dengan kemurahan-Nya.
Tak sekedip mata pun kita dapat lepas dari membutuhkan-Nya, di tempat mana pun dan di waktu kapan pun. Walau bagaimana pun besarnya kekuatan kita dan tingginya kedudukan kita, namun kita adalah fuqara (orang-orang fakir) di hadapan-Nya, dan sedikit pun Dia tidak membutuhkan kita.
Hendaknya kita, sebagai bagian dari anggota keluarga muslim, melihat sisi-sisi berikut sebagai penggambaran betapa kita membutuhkan-Nya.

1. Dialah yang menciptakan kita dan tidak membutuhkan kita.
Tidaklah Dia menciptakan kita karena ingin memperbanyak apa yang ada di sisi-Nya yang semula sedikit. Tidak pula untuk menambah kekuatan-Nya yang semula lemah. Dengan demikian, kita diciptakan-Nya semata-mata karena keutamaan dari-Nya.

“Dia menciptakan kalian dalam perut ibu kalian kejadian demi kejadian (dari satu ciptaan ke ciptaan yang berikutnya) dalam tiga kegelapan. (Kegelapan dalam perut, kegelapan rahim, dan kegelapan dalam selaput yang menutupi janin).” (az-Zumar: 6)
Telah lewat masa yang panjang sebelum kita diciptakan di muka bumi ini dan ketika itu kita belum menjadi sesuatu yang bisa disebut. Allahlberfirman:

“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu sedangkan sebelumnya ia tidak ada sama sekali?” (Maryam: 67)

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangkan dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (al-Insan: 1)
Dengan keutamaan dari Allah k, Dia menciptakan bapak moyang manusia, Adam q. Dari Adam, Dia menciptakan anak keturunannya yang banyak hingga memenuhi bumi.
Tatkala Nabi Zakariya q diberi kabar gembira akan beroleh anak setelah sekian lama beliau mengharapkannya, beliau merasa heran. Bagaimana mungkin beliau punya anak dalam keadaan usia beliau telah lanjut sementara itu istri beliau sendiri mandul? Sebagai jawabannya, Allahlmenyatakan dalam Al-Qur’an:

Berfirmanlah Rabbmu, “Hal itu mudah bagi-Ku dan sungguh Aku telah menciptakanmu sebelum itu padahal kamu sebelumnya tidak ada sama sekali.” (Maryam: 9)

2. Setelah kita butuh kepada Allahldalam hal penciptaan kita sebagai manusia, kita butuh pula kepada-Nya dalam hal menjaga keberadaan kita di muka bumi.
Allah Mahamampu membinasakan kita jika Dia menghendaki dan menggantikan kita dengan makhluk-Nya yang lain yang mau beribadah kepada-Nya serta sama sekali tidak bermaksiat kepada-Nya. Hal ini dinyatakan Al-Qur’an dalam banyak ayat, di antaranya:
“Dan Rabbmu Mahakaya lagi memiliki rahmat. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kalian dan menggantikan kalian dengan siapa yang dikehendaki-Nya setelah kalian musnah, sebagaimana Dia telah menjadikan kalian dari keturunan orang-orang yang lain (yang datang sebelum kalian).” (al-An’am: 133)
“Jika Allah menghendaki niscaya Dia memusnahkan kalian wahai manusia dan Dia datangkan umat yang lain (sebagai pengganti kalian). Dan adalah Allah Mahakuasa berbuat demikian.” (an-Nisa: 133)
“Wahai manusia, kalianlah yang butuh kepada Allah padahal Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji. Jika Dia menghendaki niscaya Dia memusnahkan kalian dan mendatangkan makhluk yang baru untuk menggantikan kalian. Dan yang demikian itu sama sekali tidak sulit bagi Allah.” (Fathir: 15—17)

3. Kita butuh kepada Allahluntuk memberikan hidayah dan menjaga keislaman serta keimanan kita.
Kita pun butuh bantuan-Nya untuk bisa beribadah kepada-Nya. Seandainya bukan karena Allah l, niscaya kita tidak bisa berislam, tidak pula beriman, tidak bisa mengerjakan shalat, puasa, dan amalan saleh lainnya. Bahkan, kita pun tidak mampu menjauhi perkara-perkara yang haram. Akan tetapi, Allahllah semata yang melimpahkan anugerah berupa hidayah-Nya kepada kita, sebagaimana firman-Nya:
Mereka merasa telah memberikan nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah, “Janganlah kalian merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislaman kalian. Sebenarnya Allah lah yang melimpahkan nikmat kepada kalian dengan menunjuki kalian kepada keimanan jika kalian adalah orang-orang yang benar.” (al-Hujurat: 17)
Dalam hadits qudsi, Allahlberfirman:
يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri hidayah/petunjuk. Oleh karena itu, mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku berikan kepada kalian.”
Sangat pantas tentunya kita memuji dan membesarkan-Nya dengan nikmat hidayah ini sebagaimana datang perintah untuk mensyukuri dan mengingat nikmat hidayah dalam ayat-ayat yang berbicara tentang manasik haji:
“Dan ingatlah kepada-Nya sebagaimana Dia telah memberikan hidayah-Nya kepada kalian dan sungguh sebelum itu kalian benar-benar termasuk orang-orang yang sesat (tidak mengerti petunjuk).” (al-Baqarah: 198)
Juga dalam ayat-ayat puasa:
“Dan hendaklah kalian membesarkan (mengagungkan) Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepada kalian, mudah-mudahan kalian mau bersyukur.” (al-Baqarah: 185)
Betapa banyak orang yang sesat jalannya, tidak sampai kepada keimanan karena tidak ada yang memberinya petunjuk. Adapun kita dipilih-Nya menjadi orang-orang yang beriman, sementara sedikit hamba-hamba-Nya yang beriman. Lantas, apakah yang demikian ini bukan kenikmatan?
Jika Dia telah menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya, tidak ada seorang pun yang sanggup memberinya petunjuk, sebagaimana firman-Nya:
“Barang siapa yang disesatkan oleh Allah maka tidak ada seorang pun yang bisa memberi petunjuk kepadanya. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan.” (al-A’raf: 186)
Allah Mahamampu untuk memberikan hidayah kepada seluruh manusia, namun hikmah-Nya menolak hal tersebut karena mereka harus diuji. Tentang hal ini, Allahlberfirman:
“Dan jikalau Rabbmu menghendaki tentulah beriman semua orang yang ada di muka bumi ini. Maka dari itu, apakah kamu hendak memaksa manusia agar menjadi orang-orang yang beriman semuanya? Tidak ada seorang pun yang dapat beriman melainkan dengan izin Allah….” (Yunus: 99—100)

4. Kita terus butuh kepada Allahluntuk tetap di atas keimanan dan kokoh di atas Islam
Kita tidak bisa tsabat (tetap kokoh) di atas Islam melainkan dengan pertolongan dan taufik dari-Nya. Oleh sebab itu, di antara doa yang dipanjatkan orang-orang yang mendalam ilmunya adalah seperti yang Dialsebutkan dalam Al-Qur’an:
Mereka berdoa, “Wahai Rabb kami! Janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami….” (Ali Imran: 8)
Orang yang shalat dalam setiap rakaat pastilah membaca doa yang diberkahi yang terangkum dalam surat al-Fatihah.
“Berikanlah kami petunjuk kepada jalan yang lurus!” (al-Fatihah: 6)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
(Insya Allah bersambung)

Hukum Bekerja dengan Orang Kafir

Bolehkah bekerja dengan orang kafir dan apakah bekerja dengan orang kafir berarti berloyal dengan mereka?

Jawab:
Untuk menjawabnya, perlu dirinci perihal pekerjaan tersebut, yang terbagi menjadi dua, yaitu:
1. Berserikat dengan orang nonmuslim (kafir) dalam suatu usaha.
2. Orang kafir menyewa tenaga muslim.
Untuk yang kedua ini bisa dalam bentuk:
a. Seorang muslim menjadi pembantu rumah tangga, yang bertugas menyiapkan makan, mencuci, menyapu, membersihkan kotoran, membukakan pintu, dsb.
b. Seorang muslim menjadi tukang dalam suatu pekerjaan, seperti mengecat rumahnya, membuat pagar, dsb.
c. Seorang muslim mendapat pesanan barang atau proyek tertentu, seperti membuat kursi, menjahit pakaian anak-anak, dsb.
Masing-masing gambaran di atas ada hukumnya. Namun, sebelum diterangkan, ada beberapa garis besar perihal bekerjanya seorang muslim untuk orang kafir.
• Tidak diperbolehkan membantu orang kafir, baik secara sukarela (tanpa memungut bayaran) maupun dengan bayaran, dalam hal yang haram menurut agama. Misalnya, memelihara babi dan memasarkannya, memproduksi minuman keras (khamr) dan segala yang memabukkan, transaksi yang mengandung riba, pembangunan gereja, memata-matai muslimin, membantu penyerangan terhadap muslimin, serta yang sejenisnya. Allah l telah berfirman:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)
• Tidak boleh memudaratkan muslim itu sendiri atau merugikannya, seperti dilarang melakukan shalat. (Umdatul Qari, syarh Shahih al-Bukhari)
• Tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan yang mengandung kehinaan seorang muslim di hadapan orang kafir.
Selanjutnya mari kita simak ulasan hukum pada masalah-masalah di atas.

Berserikat dalam Usaha
Masalah ini diperbolehkan menurut pendapat yang rajih (kuat). Dalilnya, Nabi n pernah melakukan perjanjian dengan Yahudi Khaibar, agar mereka mengelola tanah Khaibar dengan ketentuan separuh hasilnya untuk mereka. Dari Abdullah ibnu Umar, ia berkata:
أَعْطَى رَسُولُ اللهِ n خَيْبَرَ الْيَهُودَ أَنْ يَعْمَلُوهَا وَيَزْرَعُوهَا وَلَهُمْ شَطْرُ مَا يَخْرُجُ مِنْهَا
Rasulullah n memberikan Khaibar kepada Yahudi agar mereka mengelola dan menanaminya, serta mereka mendapat setengah dari hasilnya.” (Sahih, HR. al-Bukhari, dan beliau memberikan judul yang artinya “Berserikat dengan Orang Kafir Dzimmi dan Musyrik”)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan mengatakan, “Seorang muslim diperbolehkan berserikat dengan orang kafir, dengan syarat orang kafir tersebut tidak berkuasa penuh mengaturnya. Bahkan, orang kafir tersebut harus berada di bawah pengawasan muslim agar tidak melakukan transaksi riba atau keharaman yang lain jika ia berkuasa penuh.” (al-Mulakhkhash al-Fiqhi)
Ishaq bin Mansur al-Marwazi bertanya kepada Sufyan, “Apa pandanganmu tentang berserikat dengan seorang Nasrani?”
Beliau menjawab, “Adapun pada sesuatu yang kamu (muslim) tidak lihat, saya tidak menyukainya.”
Al-Imam Ahmad t berkomentar, “Pendapatnya bagus.” (Masail al-Imam Ahmad dan Ibnu Rahuyah)

Orang Kafir Menyewa Tenaga Muslim
Ada beberapa gambaran tentang hal ini.
Gambaran (a) Seorang muslim menjadi pembantu rumah tangga yang menyiapkan makan, mencuci, menyapu, membersihkan kotoran, membukakan pintu, dsb.
Menurut pendapat yang lebih kuat (rajih), tidak boleh karena mengandung kehinaan bagi seorang muslim, padahal Allah l berfirman:
“Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (an-Nisa: 141)
Ini adalah pendapat pengikut mazhab Maliki, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal (Hanbali) pada salah satu riwayat dari beliau. Namun, riwayat yang lain dari al-Imam Ahmad membolehkan. Adapun pendapat pengikut mazhab Hanafi mengatakan makruh karena mengandung penghinaan.
Al-Muhallab t mengatakan, “Allah l telah memerintahkan hamba-Nya yang beriman agar berada di atas orang-orang musyrik. Allah l berfirman:
‘Janganlah kamu lemah dan meminta damai padahal kamulah yang di atas.’ (Muhammad: 35)
Oleh karena itu, tidak sah bagi seorang muslim untuk menghinakan dirinya dengan menjadi pelayan orang kafir kecuali dalam keadaan terpaksa, maka sah.” (Syarh al-Bukhari karya Ibnu Baththal)

Gambaran (b) Seorang muslim menjadi tukang dalam suatu pekerjaan, seperti mengecat rumahnya, membuat pagar, dsb.
Pekerjaan semacam ini diperbolehkan. Khabbab mengatakan:
“Aku dahulu bekerja sebagai pandai besi pada al-Ash bin Wail. Hingga terkumpullah gajiku dan tertahan pada dirinya. Aku pun mendatanginya untuk menagihnya. Dia justru menjawab, ‘Tidak, demi Allah. Aku tidak akan memberikan upahmu sampai kamu kafir terhadap Muhammad.’ Aku katakan, ‘Demi Allah sampai kamu mati lalu kamu dibangkitkan, aku tidak akan kafir.’ ‘Aku akan mati lalu aku akan dibangkitkan lagi?’ tukasnya. Aku pun menjawab. ‘Ya.’ Dia pun berujar, ‘Kalau begitu nanti aku akan punya harta di sana dan punya anak. Aku akan memberi upahmu di sana.’ Allah l lalu menurunkan ayat, ‘Kabarkan kepadaku tentang seorang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami, lalu ia mengatakan, ‘Pasti aku akan diberi harta dan anak’. (Maryam: 77)”
Dalam hadits yang lain dari Ka’b bin Ujrah z:
أَتَيْتُ النَّبِيَّnفَرَأَيْتُهُ مُتَغَيِّراً فَقُلْتُ: بِأَبِي أَنْتَ، مَا لِي أَرَاكَ مُتَغيِّراً؟ قَالَ: مَا دَخَلَ جَوْفِي مَا يَدْخُلُ جَوْفَ ذَاتِ كَبِدٍ مُنْذُ ثَلاَثٍ. قَالَ: فَذَهَبْتُ فَإِذَا يَهُوْدِيٌّ يَسْقِي إِبِلاً لَهُ فَسَقَيْتُ لَهُ عَلَى كُلِّ دَلْوٍ بِتَمْرَةٍ فَجَمَعْتُ تَمْراً فَأَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّnفَقَالَ: مِنْ أَيْنَ لَكَ، يَا كَعْبُ؟ فَأَخْبَرْتُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ n: أَتُحِبُّنِيْ يَا كَعْبُ؟ قُلْتُ: بِأَبِيْ أَنْتَ، نَعَمْ

Aku menghadap Nabi n, aku pun melihat beliau sudah berubah (tubuhnya). “Kutebus engkau dengan ayahku, mengapa kulihat Anda berubah?” Beliau menjawab, “Tidak masuk dalam perutku sesuatu yang masuk ke perut makhluk yang memiliki hati (makhluk hidup) sejak tiga hari.” (Ka’b berkata) Aku pun pergi. Ternyata ada seorang Yahudi yang sedang memberi minum seekor unta miliknya. Aku pun membantunya memberi minum dengan upah satu butir kurma setiap satu timba, hingga aku berhasil mengumpulkan beberapa butir kurma. Lantas aku datang kepada Nabi n. Beliau pun mengatakan, “Dari mana kurma ini, wahai Ka’b?” Aku pun memberitahukan asalnya kepada beliau. Kemudian beliau mengatakan, “Apakah kamu mencintai aku, wahai Ka’b?” “Iya, kutebus engkau dengan ayahku….” (Hasan, HR. ath-Thabarani. Dihasankan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab Shahih at-Targhib 3/150 no. 3271)
Nabi n tidak mengingkari pekerjaan Ka’b.
Demikian pula ayat:
Yusuf berkata, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir), sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (Yusuf: 55)
Al-Qurthubi t mengatakan, “Dengan ayat ini, para ulama berdalil diperbolehkan bagi orang yang punya keutamaan untuk bekerja pada seorang yang tidak baik serta pada seorang kafir. Dengan syarat, dia mengetahui bahwa akan diserahkan kepadanya pekerjaan yang ia tidak ditentang sehingga ia bisa berbuat baik sekehendaknya. Namun, apabila pekerjaannya itu harus menuruti kemauan orang yang tidak baik tersebut dan seleranya, maka tidak boleh.” (Tafsir al-Qurthubi)
Nabi n juga penah menggembalakan kambing milik orang-orang musyrik. Dari Abu Hurairah z, ia berkata, “Dari Nabi n, beliau bersabda,
مَا بَعَثَ اللهُ نَبِيًّا إِلاَّ رَعَى الْغَنَمَ. فَقَالَ أَصْحَابُهُ: وَأَنْتَ؟ فَقَالَ: نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia pernah menggembala kambing.” Para sahabat beliau bertanya, “Anda juga?” Beliau menjawab, “Ya. Aku dahulu menggembala kambing milik orang Makkah dengan upah beberapa karat emas (dinar)’.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Gambaran (c) Seorang muslim mendapat pesanan barang atau proyek tertentu, seperti membuat kursi, menjahit pakaian anak-anak, dsb.
Yang seperti ini lebih diperbolehkan oleh para ulama, karena ini pekerjaan yang lepas (tidak terikat) dan tidak mengandung kerendahan sama sekali dari seorang muslim terhadap orang kafir.
Ibnul Munayyir t mengatakan, “Mazhab-mazhab menetapkan, para produsen di toko-toko boleh memproduksi sesuatu untuk ahlu dzimmah (orang kafir) yang tinggal bersama muslimin di negeri muslimin. Ini tidak termasuk kerendahan. Berbeda halnya bilamana dia melayaninya di rumahnya dan bergantung kepadanya.” (Umdatul Qari syarh Shahih al-Bukhari)
Ibnu Qudamah t mengatakan, “Adapun jika ia menyewakan dirinya pada seorang kafir dalam sebuah pekerjaan tertentu dalam tanggungannya, semacam menjahitkan baju dan memotongnya, hal itu diperbolehkan tanpa adanya perbedaan pendapat yang kami ketahui.” (al-Mughni)
Dari keterangan di atas, tampak bahwa pekerjaan-pekerjaan yang diperbolehkan tersebut tidak termasuk berloyal kepada orang kafir.
(Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

Buah Keimanan (bagian 2)

Iman dan amal saleh—yang merupakan cabang dari keimanan—akan membuahkan kehidupan yang baik di dunia dan di akhirat.
Allah l berfirman:
“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)
Hal itu karena keistimewaan iman. Iman akan membuahkan thu’maninah (ketenangan) dan ketenteraman kalbu, qanaah (merasa cukup) dengan apa yang dikaruniakan oleh Allah l, dan tidak tergantung kepada selain Allah l. Inilah yang dimaksud dengan kehidupan yang lebih baik.
Buah keimanan yang lain, seluruh amalan dan ucapan akan sah dan sempurna sesuai dengan keimanan dan keikhlasan yang ada di dalam hati pelakunya.
Oleh karena itu, Allah l menyebutkan syarat yang merupakan asas bagi setiap amalan ini dalam firman-Nya:
“Barang siapa yang mengerjakan amalan saleh sedangkan ia beriman, maka tidak ada pengingkaran terhadap amalan-amalannya itu dan sesungguhnya Kami menuliskan amalan itu untuknya.” (al-Anbiya’: 94)
Maksudnya, amalannya tidak akan diingkari dan disia-siakan, bahkan akan dilipatgandakan sesuai dengan kekuatan imannya. Allah l berfirman:
“Barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedangkan dia seorang mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik.” (al-Isra’: 19)
Berusaha untuk akhirat adalah mengerjakan setiap amalan yang akan mendekatkan kepada akhirat, yaitu amalan-amalan yang disyariatkan oleh Allah l melalui lisan Nabi Muhammad n.
Jika amalan-amalan itu dibangun di atas iman, usahanya akan diterima, dibalasi, dilipatgandakan, dan tidak akan disia-siakan sedikit pun.
Adapun amalan yang tidak disertai iman, walaupun pelakunya menghabiskan waktu siang dan malam, amalannya tidak akan diterima. Allah l berfirman:
“Kami hadapi segala amalan yang mereka kerjakan. Lalu Kami jadikan amalan itu bagaikan debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)
Hal itu karena amalannya tidak dilandasi oleh keimanan kepada Allah l dan Rasul-Nya, yang intinya adalah keikhlasan dalam beribadah kepada Allah l dan mengikuti Rasulullah n. Allah l berfirman:
“Katakanlah, ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka berbuat sebaik-baiknya. Mereka itu orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan perjumpaan dengan Dia, maka hapuslah amalan-amalan mereka. Kami tidak mengadakan penilaian bagi amalan mereka pada hari kiamat.” (al-Kahfi: 103—105)
Ketika mereka kehilangan iman dan mengingkari Allah l dan ayat-ayat-Nya, terhapuslah amalan-amalannya. Allah l berfirman:
“Jika kamu berbuat syirik, sungguh amalanmu akan terhapus.” (az-Zumar: 65)
“Seandainya mereka berbuat syirik, sungguh akan terhapus apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 88)
Oleh karena itu, berlepas dari keimanan akan menghapus seluruh amal saleh, sebagaimana masuk ke dalam Islam dan beriman, akan menutupi (menghapus) kejelekan yang dilakukan sebelumnya walaupun besar.
Bertobat dari dosa-dosa yang dapat menghapuskan iman, merusaknya, dan menguranginya, akan menghapuskan (kejelekan) sebelumnya.
(Diambil dari kitab at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman karya asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di dengan sedikit perubahan oleh al-Ustadz Abdul Jabbar)

 

Sifat Shalat Nabi (bagian ke 15)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq)

Tata Cara Ruku’ Bagi Wanita
Mazhab Hanafiyah, Syafi’iyah, dan selain mereka berpandangan bahwa wanita tidak menjauhkan dua sikunya dari rusuknya saat ruku’ dan sujud, namun ia menempelkan dua siku tersebut pada dua rusuk. Adapun Ibnu Hazm t dalam al-Muhalla dan yang lainnya menyamakan lelaki dan wanita dalam hal tata cara ini. Al-Imam Ibnu Hazm berkata, “Seandainya wanita memiliki hukum yang berbeda dengan lelaki, niscaya Nabi n tidak akan lupa/lalai untuk menjelaskannya.”
Adapun hadits dalam masalah ini (yang membedakan wanita dan lelaki dalam hal tata cara ruku’ dan sujud) tidak ada satu pun yang sahih. Al-Imam Abu Dawud t meriwayatkannya dalam al-Marasil dari Yazid ibnu Abi Hubaib. Demikian juga, al-Imam al-Baihaqi meriwayatkannya dalam as-Sunan al-Kubra dari dua jalan yang maushul. Akan tetapi, kedua jalannya matruk sebagaimana disebutkan dalam kitab al-Ashl (2/637) karya asy-Syaikh al-Albani t. Disebutkan dalam hadits tersebut bahwa Rasulullah n melewati dua wanita yang sedang shalat. Beliau n bersabda,
إِذَا سَجَدْتُمَا فَضُمَّا بَعْضَ اللَّحْمِ إِلَى الْأَرْضِ، فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي ذَلِكَ لَيْسَتْ كَالرَّجُلِ
“Apabila kalian berdua sujud, tempelkan sebagian daging/tubuh kalian ke tanah, karena wanita dalam hal ini tidak sama dengan lelaki.”

5. Punggung Rasulullah n saat ruku’ terbentang dan lurus, sehingga jika dituang air ke atas punggungnya niscaya air itu akan menetap/tidak jatuh.
Hal ini sebagaimana berita dari sekelompok sahabat, di antaranya Ali bin Abi Thalib, Anas bin Malik, Abdullah ibnu Abbas, dan Abu Barzah al-Aslami g. Semua hadits mereka mengandung kelemahan, tetapi dengan banyaknya jalan dapat terangkat ke derajat sahih. Demikian yang dikuatkan oleh al-Imam al-Albani t dalam al-Ashl (2/637—638).
Rasulullah n pernah bersabda,
لاَ تُجْزِئُ صَلاَةُ الرَّجُلِ حَتَّى يُقِيْمَ ظَهْرَهُ فِي الرُّكُوْعِ وَالسُّجُوْدِ
“Tidak mencukupi shalat seseorang hingga ia meluruskan/meratakan punggungnya dalam ruku’ dan sujud.” (HR. Abu Dawud no. 855 dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amr al-Badri z, disahihkan juga dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

6. Saat ruku’, Rasulullah n tidak menundukkan kepalanya dan tidak pula mengangkatnya lebih tinggi daripada punggungnya.
Dalam hadits Aisyah x yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim t (no. 1110) disebutkan:
وَكَانَ إِذَا رَكَعَ لَمْ يُشْخِصْ رَأْسَهُ وَلَمْ يُصَوِّبْهُ، وَلَكِنْ بَيْنَ ذَلِكَ
“Jika Rasulullah n ruku’, beliau tidak mengangkat kepalanya dan tidak pula menundukkannya. Akan tetapi, kepala beliau berada di antara dua posisi tersebut (tidak tunduk dan tidak pula lebih tinggi, namun rata dengan punggungnya).”

Perintah Thuma’ninah dan Menyempurnakan Ruku’
Rasulullah n memerintahkan thuma’ninah ketika ruku’. Hal ini disebutkan dalam hadits Rifa’ah ibnu Rafi’ z yang dikenal sebagai hadits al-musi’u shalatahu:
ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ
“Kemudian ia ruku’ hingga thuma’ninah/tenang persendiannya (anggota-anggota tubuh menetap pada tempatnya).” (HR. al-Bukhari no. 793)
Al-Hafizh t dalam Fathul Bari (2/363) berkata, “Hadits ini dijadikan dalil akan wajibnya thuma’ninah dalam rukun-rukun shalat.”
Demikian pendapat jumhur.
Rasulullah n memerintahkan,
أَتِمُّوْا الرُّكُوْعَ وَالسُّجُوْدَ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنِّي لَأَرَاكُمْ مِنْ بَعْدِ ظَهْرِي إِذَا مَا رَكَعْتُمْ وَإِذَا مَا سَجَدْتُمْ
“Sempurnakanlah ruku’ dan sujud! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku melihat kalian dari belakang punggungku ketika kalian ruku’ dan sujud.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik z)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “(Kemampuan seperti) ini termasuk mukjizat Nabi n.”
Suatu ketika, Rasulullah n melihat seseorang shalat dengan tidak menyempurnakan ruku’nya dan mematuk dalam sujudnya. Beliau n lalu bersabda,
لَوْ مَاتَ هَذَا عَلىَ حَالِهِ هذِهِ، مَاتَ عَلَى غَيْرِ مِلَّةِ مُحَمَّدٍ n، يَنْقُرُ صَلاَتَهُ كَمَا يَنْقُرُ الْغُرَابُ الدَّمَ، مَثَلُ الَّذِي لاَ يَتِمُّ رُكُوْعَهُ وَيَنْقُرُ فِي سُجُوْدِهِ مَثَلُ الْجَائِعِ الَّذِي يَأْكُلُ التَّمْرَةَ وَالتَّمْرَتَيْنِ، لاَ يُغْنِيَانِ عَنْهُ شَيْئًا
“Seandainya orang ini mati dalam keadaan seperti ini, niscaya ia mati di atas selain agama Muhammad n. Ia mematuk ketika shalatnya sebagaimana burung gagak mematuk darah. Permisalan orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan mematuk dalam sujudnya adalah seperti orang lapar yang makan sebutir atau dua butir kurma, tidak mencukupinya sedikit pun.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir 1/192/1, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 340 dan 349/1. Al-Mundziri mengatakan dalam at-Targhib 1/182 dan diikuti oleh al-Haitsami 2/121, “Sanadnya hasan.” Al-Imam al-Albani t berkata, “Hadits ini sebagaimana yang dikatakan keduanya.”)

Zikir-Zikir Ruku’
Rasulullah n dalam amalan rukun ini pernah membaca beberapa zikir dan doa. Beliau n terkadang membaca yang ini, di kali lain membaca yang itu. Al-Allamah Shiddiq Hasan Khan t berkata dalam Nazlul Abrar (hlm. 84, sebagaimana dinukil dalam al-Ashl, 2/649), “Sekali waktu beliau n membaca zikir ini, di kali lain zikir yang lain. Aku belum pernah melihat satu dalil pun yang menyatakan bahwa beliau n mengumpulkan zikir-zikir tersebut dalam satu shalat3. Adalah Rasulullah n dahulu tidak pernah mengumpulkan zikir-zikir dalam satu rukun. Justru sekali waktu beliau membaca ini dan di waktu lain membaca yang itu. Ittiba’ (mengikuti) lebih baik daripada ibtida’ (mengada-adakan sendiri).”
Al-Imam Ahmad, Abu Hanifah, dan asy-Syafi’i, serta jumhur ulama, semoga Allah l merahmati mereka semua, memandang bertasbih dalam ruku’ dan sujud hukumnya sunnah, tidak wajib. Mereka berargumen dengan hadits al-musi’u shalatahu, yang menyebutkan bahwa Rasulullah n tidak memerintahkan orang tersebut untuk bertasbih saat ruku’ dan sujud. Seandainya hal itu wajib, niscaya Rasulullah n akan memerintahkannya. (al-Minhaj, 4/421)
Ini adalah pendapat yang rajih (kuat) menurut penulis.
Sementara itu, al-Imam Ahmad t dan sekelompok imam ahlul hadits berpendapat bahwa wajib berpegang dengan zahir hadits yang memerintahkan bertasbih. Mereka juga berdalil dengan sabda Rasulullah n:
صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُنِي أُصَلِّي
“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!” (HR. al-Bukhari)
Zikir-zikir yang pernah dibaca Rasulullah n saat ruku’ adalah sebagai berikut.
1. Beliau membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
“Mahasuci Rabbku Yang Mahaagung.” (tiga kali)
Bacaan ini diriwayatkan oleh sejumlah sahabat, di antaranya Hudzaifah ibnul Yaman z (diriwayatkan oleh Ibnu Majah), Jubair Ibnu Muth’im z (diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan ath-Thabarani), Abu Bakrah z (diriwayatkan oleh al-Bazzar dan ath-Thabarani), dll. Beberapa hadits diperbincangkan/ada kelemahan di dalamnya, namun hadits yang banyak keseluruhannya menunjukkan pasti dan tetapnya jumlah tiga kali.
Al-Imam at-Tirmidzi t berkata, “Yang diamalkan oleh ahlil ilmi adalah mereka menganggap sunnah seseorang bertasbih dalam ruku’ dan sujud, tidak kurang dari tiga kali.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/164)
Terkadang Rasulullah n mengulang-ngulang lebih dari tiga kali. Sekali waktu dalam shalat lail, Rasulullah n terus-menerus mengulangnya sehingga lama ruku’nya mendekati lama berdirinya. Padahal, saat berdiri beliau n membaca tiga surat yang panjang, yaitu al-Baqarah, an-Nisa’, dan Ali Imran, dengan diselingi doa dan istighfar, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh hadits Hudzaifah ibnul Yaman z yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim t dengan lafadz, “Kemudian beliau ruku’ dan membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ
‘Mahasuci Rabbku Yang Mahaagung.’
Adalah ruku’ beliau hampir sama dengan berdirinya.” (no. 1811)

2. Beliau membaca:
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
“Mahasuci Rabbku Yang Mahaagung dan dengan pujian kepada-Nya.” (tiga kali)
Tambahan wabihamdihi ini datang dari sekelompok sahabat dengan sanad yang diperselisihkan, namun sebagiannya menguatkan sebagian yang lain, seperti hadits Ibnu Mas’ud z yang diriwayatkan oleh ad-Daraquthni. (al-Ashl, 2/658)

3. Beliau n membaca:
سُبُّوْحٌ قُدُّوْسٌ رَبُّ المْلَائِكَةِ وَالرُّوْحِ
“Mahasuci Dia dari segala kejelekan, Maha Memberi berkah, Rabb para malaikat dan ruh.”
“Rasulullah n mengucapkan zikir ini dalam ruku’ dan sujud beliau,” kata Aisyah x. (HR. Muslim no. 1091)

4. Beliau n membaca:
سُبْحَانَك َاللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْلِي
“Mahasuci Engkau, ya Allah, wahai Rabb kami! Dan segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku!”
Rasulullah n sering mengucapkan zikir di atas dalam ruku’ dan sujudnya, dalam rangka mengamalkan perintah Allah l kepada beliau n dalam Al-Qur’an, yaitu firman-Nya:
“Maka bertasbihlah memuji Rabbmu dan mintalah ampun kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Menerima taubat.” (an-Nashr: 3)
Kabar tentang zikir ini juga datang dari Aisyah x sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari (no. 794) dan Muslim (no. 1085).
Hadits ini merupakan dalil bolehnya berdoa dalam ruku’. Hal ini tidak bertentangan dengan hadits:
فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِيْهِ الدُّعَاءَ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Adapun ruku’ maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena sangat pantas doa kalian dikabulkan.” (HR. Muslim no. 1074)

5. Beliau n membaca:
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ، أَنْتَ رَبِّي، خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَمُخِّي وَعَظَمِي وَعَصَبِي وَمَا اسْتَقَلَّتْ بِهِ قَدَمِيْ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
“Ya Allah, hanya untuk-Mu aku ruku’, hanya kepada-Mu aku beriman, dan hanya untuk-Mu aku berserah diri. Engkau adalah Rabbku. Pendengaran, penglihatan, otak, tulang, urat sarafku, dan apa yang diangkat oleh telapak kakiku, tunduk kepada Allah, Rabb semesta alam.”
Zikir di atas adalah potongan hadits Ali z yang diriwayatkan oleh ath-Thahawi, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan Ahmad (1/119). Sanadnya sahih di atas syarat Muslim (al-Ashl, 2/664).

6. Beliau n membaca:
اللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ وَبِكَ آمَنْتُ وَلَكَ أَسْلَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، أَنْتَ رَبِّي، خَشَعَ سَمْعِي وَبَصَرِي وَدَمِي وَلَحْمِيْ وَعَظَمِي وَعَصَبِي لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Ya Allah, hanya untuk-Mu aku ruku’, hanya kepada-Mu aku beriman, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dan hanya kepada-Mu aku bertawakal. Engkaulah Rabbku. Pendengaran, penglihatan, darah, daging, tulang, dan urat sarafku, tunduk kepada Allah, Rabb semesta alam.”
Zikir ini disebutkan dalam hadits Jabir bin Abdillah c. (HR. an-Nasa’i no. 1051, disahihkan dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

7. Beliau n membaca:
سُبْحَانَ ذِيْ الْجَبَرُوْتِ وَالْمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
“Mahasuci Dzat yang memiliki kekuasaan untuk memaksa dan pemilik segala sesuatu (yang melakukan segala tindakan di alam ini), yang memiliki kesombongan dan keagungan.”
Demikian disebutkan dalam hadits Auf bin Malik al-Asyja’i z yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya no. 873 dan disahihkan dalam Shahih Sunan Abi Dawud.

Memanjangkan Ruku’
Ketika shalat, Rasulullah n menjadikan ruku’, bangkit setelah ruku’, sujud, dan duduk di antara dua sujudnya hampir sama lamanya. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits al-Bara’ ibnu ‘Azib z yang diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 792) dan Muslim (no. 1057).

Larangan Membaca Al-Qur’an Saat Ruku’
Ibnu Abbas c menyebutkan bahwa Rasulullah n bersabda,
أَلاَ، وَإِنِّي نُهِيْتُ أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا، فَأَمَّا الرُّكُوْعُ فَعَظِّمُوْا فِيْهِ الرَّبَّ عَزَّ وَجَلَّ، وَأَمَّا السُّجُوْدُ فَاجْتَهِدُوْا فِيْهِ الدُّعَاءَ، فَقَمِنٌ أَنْ يُسْتَجَابَ لَكُمْ
“Sungguh, aku dilarang untuk membaca Al-Qur’an ketika ruku’ dan sujud. Adapun ketika ruku’ maka agungkanlah Rabb di dalamnya. Adapun saat sujud, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa karena pantas doa kalian dikabulkan.” (HR. Muslim no. 1074)
Ali bin Abi Thalib z berkata:
نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ n أَنْ أَقْرَأَ الْقُرْآنَ رَاكِعًا أَوْ سَاجِدًا
“Rasulullah n melarangku membaca Al-Qur’an dalam keadaan aku ruku’ atau sujud.” (HR. Muslim no. 1076)
Al-Imam at-Tirmidzi t mengatakan, “Ini adalah pendapat ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi n, tabi’in, dan orang-orang setelah mereka. Mereka semua memakruhkan (mengharamkan) qiraah (membaca Al-Qur’an) ketika ruku’ dan sujud.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/165)
Al-Khaththabi t berkata dalam al-Ma’alim (1/214), “Larangan Rasulullah n dari qiraah saat ruku’ dan sujud, menguatkan pendapat Ishaq dan mazhabnya tentang wajibnya berzikir ketika ruku’ dan sujud. Tempat ruku’ dan sujud dikosongkan dari qiraah agar keduanya menjadi tempat untuk berzikir dan berdoa.”
Al-Imam asy-Syaukani t berkata, “Larangan ini menunjukkan haramnya qiraah dalam ruku’ dan sujud. Namun, ada perbedaan pendapat tentang batal atau tidaknya shalat karena membaca Al-Qur’an saat ruku’ dan sujud.” (Nailul Authar, 2/108)
Al-Imam ash-Shan’ani t juga menyebutkan haramnya membaca Al-Qur’an saat ruku’ dan sujud. (Subulus Salam, 2/208)
Wallahu a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

 

Nabi Ibrahim dan Sarah di Mesir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Kisah ini diceritakan oleh Rasulullah n dalam hadits yang sahih dari Abu Hurairah z. Kisah ini menyangkut bapak kita, Ibrahim q, bersama istrinya, Sarah, ketika berada di negeri yang saat itu dalam kekuasaan penguasa yang bengis dan zalim.
Dalam kesempatan ini akan kita petik sebagian faedah yang berkaitan dengan tauriyah dan sejenisnya, di masa Rasulullah n dan para sahabat serta salaf yang saleh.
Abu Hurairah z berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ q إِلَّا ثَلَاثَ كَذَبَاتٍ، ثِنْتَيْنِ مِنْهُنَّ فِي ذَاتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَوْلُهُ: إِنِّي سَقِيمٌ؛ وَقَوْلُهُ: بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا؛ وَقَالَ بَيْنَا هُوَ ذَاتَ يَوْمٍ وَسَارَةُ إِذْ أَتَى عَلَى جَبَّارٍ مِنَ الْجَبَابِرَةِ فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ هَا هُنَا رَجُلًا مَعَهُ امْرَأَةٌ مِنْ أَحْسَنِ النَّاسِ. فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ فَسَأَلَهُ عَنْهَا فَقَالَ: مَنْ هَذِهِ؟ قَالَ: أُخْتِي. فَأَتَى سَارَةَ، قَالَ: يَا سَارَةُ، لَيْسَ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مُؤْمِنٌ غَيْرِي وَغَيْرَكِ، وَإِنَّ هَذَا سَأَلَنِي فَأَخْبَرْتُهُ أَنَّكِ أُخْتِي، فَلاَ تُكَذِّبِينِي. فَأَرْسَلَ إِلَيْهَا فَلَمَّا دَخَلَتْ عَلَيْهِ ذَهَبَ يَتَنَاوَلُهَا بِيَدِهِ فَأُخِذَ فَقَالَ: ادْعِي اللهَ لِي وَلاَ أَضُرُّكِ. فَدَعَتِ اللهَ فَأُطْلِقَ، ثُمَّ تَنَاوَلَهَا الثَّانِيَةَ فَأُخِذَ مِثْلَهَا أَوْ أَشَدَّ فَقَالَ: ادْعِي اللهَ لِي وَلَا أَضُرُّكِ. فَدَعَتْ فَأُطْلِقَ فَدَعَا بَعْضَ حَجَبَتِهِ فَقَالَ: إِنَّكُمْ لَمْ تَأْتُونِي بِإِنْسَانٍ، إِنَّمَا أَتَيْتُمُونِي بِشَيْطَانٍ فَأَخْدَمَهَا هَاجَرَ، فَأَتَتْهُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فَأَوْمَأَ بِيَدِهِ مَهْيَا قَالَتْ: رَدَّ اللهُ كَيْدَ الْكَافِرِ -أَوْ الْفَاجِرِ- فِي نَحْرِهِ وَأَخْدَمَ هَاجَرَ. قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: تِلْكَ أُمُّكُمْ، يَا بَنِي مَاءِ السَّمَاءِ

“Tidak pernah Ibrahim q ‘berdusta’ kecuali tiga kali. Dua di antaranya dalam Dzat Allah k, yaitu ucapan beliau (dalam ayat—ed.): إِنِّي سَقِيمٌ (kemudian ia berkata, “Sesungguhnya aku sakit”), juga ucapan beliau (sebagaimana dalam ayat—ed.): بَلْ فَعَلَهُ كَبِيرُهُمْ هَذَا (“Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya”).
Beliau (n) melanjutkan, “Pada suatu hari, Ibrahim dan Sarah masuk ke (wilayah) salah seorang penguasa zalim. Dikatakan kepada penguasa itu, ‘Sesungguhnya di sini (wilayahmu) ada seorang pria bersama seorang wanita yang sangat cantik.’ Dia pun menemuinya dan menanyakan tentang wanita itu, ‘Siapakah wanita ini?’
Ibrahim berkata, ‘Dia saudara perempuanku.’ Lalu beliau (Ibrahim q) menemui Sarah dan berkata, ‘Wahai Sarah, di dunia ini tidak ada yang beriman selain aku dan engkau. Raja zalim ini menanyaiku lalu aku mengatakan kepadanya bahwa engkau adalah saudara perempuanku, maka janganlah engkau mendustakanku.’
Kemudian datanglah raja itu menjemput Sarah. Setelah Sarah masuk, dia mulai menjulurkan tangannya berusaha menyentuh Sarah, tetapi tiba-tiba dia tertahan. Raja itu berkata, ‘Doakanlah aku kepada Allah, aku tidak akan menyakitimu.’ Sarah berdoa kepada Allah, lalu dia pun terlepas.
Kemudian dia mencoba menyentuh kedua kalinya, tetapi tertahan seperti yang pertama bahkan lebih keras. Raja itu berkata, ‘Doakanlah aku kepada Allah, aku tidak akan menyakitimu.’ Sarah berdoa kepada Allah, lalu dia pun terlepas.
Lalu dia memanggil sebagian pengawalnya, dan berkata, ‘Sungguh, kamu bukannya membawa manusia kepadaku, tetapi setan.’ Raja itu pun menyerahkan Hajar kepada Sarah sebagai pelayan. Kemudian dia menemui Ibrahim yang sedang shalat. Ibrahim memberi isyarat, ‘Ada apa?’
Sarah berkata, ‘Allah mengembalikan tipu daya orang kafir—atau orang fajir—itu ke jantung mereka sendiri dan menyerahkan Hajar sebagai pelayan’.”
Abu Hurairah berkata, “Itulah ibunda kalian, wahai putra air langit (Zamzam).”1
Dalam riwayat al-Bukhari, sahabat Abu Hurairah z mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda,
Ibrahim q hijrah membawa Sarah sampai ke sebuah negeri yang dikuasai oleh seorang raja atau penindas. Dikatakan kepadanya, “Ibrahim sudah masuk (negeri ini) membawa seorang wanita yang sangat cantik.”
Lalu datanglah utusan kepada Ibrahim dan bertanya, “Wahai Ibrahim, siapakah wanita yang bersamamu ini?”
“Saudara perempuanku,” kata Ibrahim. Kemudian Ibrahim kembali kepada Sarah dan berkata, “Jangan engkau mendustakan ucapanku, karena sesungguhnya aku telah mengabarkan kepada mereka bahwa engkau adalah saudara perempuanku. Demi Allah, tidak ada yang beriman di muka bumi ini, selain aku dan engkau.”
Lalu utusan itu membawa Sarah kepada raja itu.
Tak lama, raja itu bangkit hendak menemui Sarah. Sementara itu, Sarah berwudhu, lalu shalat dan berdoa, “Ya Allah, jika (benar) aku beriman kepada-Mu dan kepada rasul-Mu serta memelihara kehormatanku selain terhadap suamiku, janganlah Engkau beri kekuasaan kepada orang kafir ini terhadapku.” Tiba-tiba raja itu terhenti napasnya, hingga jatuh bertekuk lutut.
Dalam riwayat lain, Abu Hurairah z mengatakan, “Sarah pun berkata, ‘Ya Allah, kalau dia mati, akan dikatakan bahwa wanita itulah yang membunuhnya.’ Demikianlah, raja itu berusaha mendekat dua atau tiga kali. Kemudian raja itu berkata, ‘Demi Allah, bukan manusia yang kalian bawa kepadaku, melainkan setan. Kembalikan dia kepada Ibrahim dan serahkan Hajar kepadanya.’
Akhirnya, Sarah kembali kepada Ibrahim q, dan ia berkata, ‘Apakah engkau tahu bahwa Allah telah menghinakan orang kafir itu dan menyerahkan seorang pelayan wanita?’.”2
Bandingkan dengan dongeng yang disebutkan dalam Kitab Kejadian (12:14) bahwa Nabi Ibrahim q menyerahkan Sarah lalu menerima hadiah dari raja tersebut. Baru setelah tidak mampu mendekati Sarah, raja itu mengembalikannya kepada Ibrahim q. Mahasuci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
Dalam sabda Nabi n di atas:
لَمْ يَكْذِبْ إِبْرَاهِيمُ
“Nabi Ibrahim tidak berdusta….”
Menurut al-Maziri, seperti yang dinukil oleh an-Nawawi t dalam Syarahnya terhadap Shahih Muslim bahwa kedustaan dalam tugas penyampaian risalah Allah l, para nabi itu ma’shum (terjaga), baik sedikit maupun banyak. Adapun yang tidak terkait dengan urusan dakwah, seperti hal-hal yang remeh dalam urusan dunia, kemungkinan terjadi kesalahan atau tidaknya pada mereka, ada dua pendapat di kalangan ulama, baik salaf maupun khalaf.
Dalam kisah di atas, pada hadits yang pertama, tentang ‘dusta’ yang pertama, yaitu perkataan beliau q ketika diajak kepada sesembahan mereka, sebagaimana dalam ayat tersebut, “Sesungguhnya saya sakit.”
Sakit itu bukan sakit yang menimpa fisik beliau, melainkan jiwa beliau. Risau hati dan pikirannya, serta berduka melihat kesyirikan masyarakatnya, lebih-lebih mereka tidak mau menerima seruannya. Jadi, sebetulnya beliau tidaklah berdusta ketika mengatakan bahwa beliau sakit, tetapi melakukan tauriyah.
Sebelum itu, beliau memandang ke arah bintang-bintang, lalu mengatakan ucapan tersebut. Masyarakatnya tidak menyangka apa-apa, karena mereka berkeyakinan bahwa bintang-bintang itu berpengaruh terhadap sakit dan sehatnya seseorang, bahkan bahagia atau tidaknya manusia. Akhirnya, beliau dibiarkan tinggal, tidak ikut serta merayakan hari raya penduduk negeri itu.
Setelah penduduk pergi meninggalkan rumah-rumah mereka, tempat ibadah pun sepi. Tidak ada seorang pun yang menjaganya. Nabi Ibrahim q memasuki rumah ibadah mereka sambil menenteng sebilah kapak. Mulailah beliau menghancurkan berhala-berhala yang disembah masyarakatnya tanpa ada satu pun yang beliau biarkan utuh selain berhala yang paling besar. Kemudian, beliau meletakkan kapak itu di tangan berhala yang paling besar. Beliau berharap, mudah-mudahan kaumnya menyangka patung besar itulah yang menghancurkan semua berhala lainnya, karena tidak rela disembah bersama berhala yang kecil-kecil.
Ketika penduduk sudah kembali, mereka segera menuju rumah ibadah mereka. Namun, mereka tersentak. Sebagian histris melihat patung-patung sesembahan mereka kini tinggal kepingan-kepingan batu tak berarti. Sambil berteriak marah, mereka bertanya-tanya siapa yang berani berbuat zalim terhadap tuhan-tuhan mereka yang selama ini mereka puja-puja?
Demikianlah kebodohan para penyembah segala sesuatu selain Allah l, baik berhala yang diberi nama dengan nama orang-orang yang saleh, berupa kuburan orang saleh, maupun pohon-pohon; dan sebagainya. Akal mereka telah hilang.
Bagaimana tidak?
Semua yang mereka sembah selain Allah l, baik benda mati maupun benda hidup, adalah ciptaan Allah Yang Maha Memiliki kesempurnaan dari sisi mana pun. Mereka tidak berdaya apa-apa, sedekat apa pun kedudukan mereka kepada Allah l. Allah l berfirman:
“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?” (ath-Thur: 35)
Ketika sahabat Jubair bin Muth’im z yang belum masuk Islam mendengar ayat ini dibaca oleh Rasulullah n, beliau mengatakan, “Hampir saja jantungku melompat dari rongga dadaku….”
Itulah fitrah yang masih bersih sehingga mudah menerima kebenaran, dan akhirnya beliau beriman.
Renungkan juga apa yang dialami sahabat Anshar, ‘Amr bin Jumuh z. Ketika masyarakat, keponakan, dan saudara-saudaranya sudah masuk Islam, dia masih tetap beribadah kepada berhala Manah yang sangat dipujanya.
Suatu ketika, pemuda-pemuda Anshar yang sudah masuk Islam ingin membuka mata beliau agar menerima kenyataan bahwa patung yang disembahnya adalah benda mati tak berharga.
Pada malam hari, beberapa pemuda itu mengambil Manah yang ada di sudut rumah ‘Amr dan melemparkannya ke tempat pembuangan kotoran penduduk Madinah. Setelah itu, mereka pun kembali ke rumah masing-masing sambil menunggu berita, apa yang terjadi pada ‘Amr, paman yang mereka cintai.
Pagi hari, seperti biasa, ‘Amr sambil terpincang-pincang, menuju Manah untuk beribadah. Setiba di tempat pemujaan, dia terbelalak kaget, “Di mana Manah? Siapa yang mengambilnya? Siapa yang berani menzaliminya?”
Sambil tetap marah-marah, ‘Amr berkeliling mencari Manah kesayangannya. Tiba-tiba, dia terpekik kaget karena Manah terbaring di tempat pembuangan kotoran.
Dengan penuh kasih sayang, dia mengangkat Manah, membersihkannya, lalu memberinya wewangian, “Oh, siapakah yang telah menzalimi engkau?” Kemudian diletakkannya kembali di tempat pemujaannya.
Setibanya di rumah, Manah disandarkannya ke sudut rumah tempat pemujaannya. Kemudian dia membawa sebilah pedang dan meletakkannya di pinggang Manah, seraya berkata, “Nah, ini pedangmu. Bunuhlah siapa saja yang berbuat zalim kepadamu!”
Pada malam hari, pemuda yang kemarin melarikan Manah kembali beraksi. Mereka mengangkat Manah dari tempat pemujaannya dan mereka bawa ke tempat pembuangan kotoran (comberan) penduduk Madinah sambil membelitkan bangkai seekor anjing.
Seperti biasa, pagi harinya ‘Amr datang ingin menyembah patung bisu itu. Sekali lagi, dia terpekik kaget karena Manah tidak ada di tempat. Bagaimana mungkin? Bukankah sudah diberinya pedang?
Akhirnya dia pergi mencari Manah. Dia menemukannya di comberan bersama bangkai seekor anjing. ‘Amr tertegun….
Sadarlah dia, kalau patung ini punya kekuatan, mengapa dia tidak membunuh orang yang menzaliminya, dan sekarang malah berduaan dengan bangkai seekor anjing?
“Kalau kau adalah tuhan, mengapa tidak menolong dirimu sendiri, dan mengapa kau tidur dengan bangkai anjing. Celakalah kau!” batinnya.
Akhirnya, dia semakin sadar betapa bodohnya dia. Patung batu yang dibuatnya sendiri, sudah diberinya pedang, ternyata tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan orang lain?
Mahasuci Allah. Sungguh, di dalam Al-Qur’an terdapat banyak perumpamaan yang menunjukkan hal ini.
Kita kembali kepada kisah Ibrahim q dan kaumnya.
Setelah mereka kembali dan melihat semua patung itu hancur kecuali yang besar, mereka berkata, “Siapa yang melakukan kekejian ini terhadap tuhan-tuhan kita? Sungguh dia adalah orang yang zalim.”

Mereka menyaksikan penghinaan luar biasa, yang sebenarnya menampakkan kepada mereka bahwa benda-benda tersebut tidak layak dijadikan tumpuan harapan, tempat meminta, syafaat, atau apa pun.
Dengan cepat, mereka memastikan bahwa ini ulah Ibrahim, karena tidak ada yang tertinggal di situ selain dia. Akhirnya, mereka menangkap Nabi Ibrahim q dan bertanya, “Engkaukah yang berbuat seperti ini terhadap tuhan-tuhan kami, wahai Ibrahim?”
Nabi Ibrahim menjawab, “Bahkan yang melakukannya adalah yang paling besar itu.”
Seolah-olah beliau menyuruh mereka agar menanyakannya kepada tuhan-tuhan mereka itu, kalau mereka memang bisa berbicara. Inilah alasan mengapa beliau q mengucapkan kalimat tersebut. Jadi, sebetulnya bukan sebuah kedustaan.
(Insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 3358.

2 HR. al-Bukhari no. 2217.

Sebelum Memutuskan Cerai

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Syaikhul Islam t berkata, “Talak (perceraian) itu pada asalnya termasuk perkara yang dibenci oleh Allah l, dan hal itu adalah perkara halal yang paling dibenci oleh Allah l1. Hanya saja Allah l membolehkan sebagiannya sesuai dengan kebutuhan manusia terhadapnya. Sebagaimana dimubahkan perkara-perkara yang diharamkan karena kebutuhan yang mendesak.
Oleh karena itu, Allah l mengharamkan seorang istri (atas suami) setelah jatuhnya talak yang ketiga, sampai dia menikah dengan laki-laki lain sebagai hukuman atas perbuatan suami yang bermudah-mudah dalam menjatuhkan talak.
Apabila seorang suami telah menalaknya dan wanita itu masih berada pada masa ‘iddahnya (selama tiga kali haid), maka suami tetap menjadi pemiliknya, dan wanita tersebut akan mewarisi harta suaminya (jika meninggal). Demikian pula suami tetap akan mewarisi harta istrinya (jika meninggal), sehingga suami tidak akan mendapatkan keuntungan dengan ketergesa-gesaannya dalam menjatuhkan talak sebelum waktunya.” (Majmu’ al-Fatawa 33/21)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Perceraian di dalam Islam apabila diterapkan tatkala suami membutuhkan, maka jadilah perceraian itu adalah upaya penyelesaian yang selamat. Permisalannya seperti obat yang digunakan sesuai dengan dosis yang tepat, niscaya akan bermanfaat dengan izin Allah l. Namun jika digunakan dengan dosis yang salah, maka akan membahayakan.” (Tashilul Islam 5/5)
Oleh karena itu, Allah l dan Rasul-Nya n membimbing kita agar tidak tergesa-gesa dalam menjatuhkan talak. Ketika kita mendapati kedurhakaan sebagian istri-istri kita dalam suatu perkara, Allah l berfirman dalam kitab-Nya yang mulia:
“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (ketidaktundukan)nya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.” (an-Nisa’: 34)
Rasulullah n bersabda,
“Ketahuilah dan wasiatilah para istri itu dengan wasiat yang baik. Karena mereka itu di sisi kalian hanyalah seperti para tawanan yang kalian tidak memiliki sesuatu pun dari mereka selain hal itu (bisa bersenang-senang dengannya, menjaga suami, baik pada hartanya walaupun dirinya, dan perkara-perkara yang wajib atas mereka/para istri untuk membantu suaminya), kecuali apabila mereka melakukan suatu perkara yang keji (seperti mendurhakai suami) dengan jelas. Apabila mereka melakukan hal itu, maka boikotlah mereka di dalam tempat tidur (tidak digauli) dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai/menjadikan cedera. Kemudian apabila mereka telah menaati kalian (dengan tahapan-tahapan tersebut), maka janganlah kalian mencari-cari perkara (yang lain) atas mereka.” (HR. at-Tirmidzi dari Amr bin al-Ahwash z)
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di t berkata, “Para istri yang enggan menaati suaminya, mereka mendurhakai para suaminya baik dalam bentuk perkataan atau perbuatan, hendaknya para suami memberi pelajaran/adab dengan yang paling mudah (dan ringan). Pelajaran berikutnya, (maka nasihatilah mereka) maknanya dengan menjelaskan hukum-hukum Allah l tentang kewajiban taat kepada suaminya, dan haramnya durhaka kepada mereka, membangkitkan kesadaran untuk taat serta menakut-nakuti mereka tatkala durhaka. Apabila mereka telah sadar dan meninggalkan kedurhakaannya, itulah yang diharapkan. Jika mereka belum sadar, maka boikotlah mereka di dalam kamar, dengan tidak tidur bersamanya atau tidak menggaulinya, sekadar upaya menyadarkannya. Jika belum sadar juga, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai atau menjadikan cedera. Apabila telah didapatkan apa yang diinginkan (sadarnya mereka) dengan salah satu dari tahapan-tahapan ini dan mereka telah kembali menaati kalian, maka janganlah kalian mencari perkara-perkara lainnya. (Tafsir Karim ar-Rahman hlm. 177)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Allah l menyebutkan (pada yang disebutkan di atas tadi) keadaan yang pertama, yaitu apabila terjadi ketidaktaatan dan kedurhakaan seorang istri terhadap suaminya, kemudian pada ayat berikutnya Allah l menyebutkan keadaan yang kedua, yaitu apabila terjadi perselisihan di antara keduanya, maka Allah l berfirman:
“Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang juru pendamai dari keluarga laki-laki dan seorang juru pendamai dari keluarga perempuan. Jika kedua orang juru pendamai itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (an-Nisa’: 35)
Ahli fikih rahimahumullah berkata, ‘Apabila terjadi perselisihan di antara suami istri, maka seorang hakim berusaha untuk menenangkan keduanya dengan menyerahkan kepada orang yang tsiqah (orang yang dipercaya) yang benar-benar memerhatikan perkara yang terjadi dan melarang pihak yang zalim dari kezalimannya. Apabila perkaranya justru semakin bertambah runyam dan perselisihan semakin meruncing, maka hakim itu akan mengutus orang yang dipercaya dari keluarga pihak istri dan pihak suami agar keduanya berkumpul untuk mencari solusinya. Apakah sebaiknya dengan jalan cerai atau dengan jalan menyatukan kedua pihak kembali. Allah l (pembuat syariat) mengarahkan untuk mengumpulkan (keduanya dengan pernikahannya). Oleh karena itu, Dia l berfirman:
‘Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami istri itu.’ (an-Nisa’: 35).” (Tafsir Al-Qur’anil ‘Azhim 4/35)

Faedah
Tentang orang tua yang memerintah anaknya untuk mencerai istrinya, Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wad’i t berkata, “Pendapat yang dinyatakan oleh al-Mubarakfuri t tentang wajibnya menalak jika kedua orang tua atau salah satunya memerintah anak laki-lakinya untuk menalak istrinya, dalam hal ini jumhur ulama berbeda dengan pendapatnya. Bahkan, menurut mereka perkara tersebut dianggap sunnah, sebagaimana dalam kitab Dalilul Falihin (2/176). Yang benar (menurut beliau t) adalah beramal sebagaimana zahir hadits (wajib), karena Allah l sungguh mengiringkan syukur kepada keduanya dengan syukur kepada-Nya. Sebagaimana firman Allah l:
‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu.’ (Luqman: 14)
dan mengiringkan perintah untuk berbuat baik kepada keduanya dengan perintah untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman Allah l:
‘Dan beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua.’ (an-Nisa’: 36)
Kemudian wajib bagi anak tersebut untuk memerhatikan faktor penyebabnya. Jika sebabnya adalah wanita (istri) itu menyelisihi perintah Allah l, atau tidak mau berbuat baik kepadanya, atau karena keduanya tidak menyenangi tabiatnya, itulah alasan yang mewajibkan si anak menalak istrinya). Akan tetapi, jika wanita tersebut adalah wanita salehah dan orang tua (dari suaminya) yang rusak, misalnya wanita tersebut tidak suka alat-alat musik, sedangkan orang tua suaminya justru menyukainya, atau wanita itu tidak suka ikhtilath (berkumpulnya lelaki dan wanita yang bukan mahram dalam satu tempat), sedangkan orang tua suaminya memaksanya dan dia tidak suka kalau menantunya tidak mau pergi bekerja dan ber-ikhtilath dengan laki-laki yang bukan mahramnya, atau wanita tersebut tidak memiliki ijazah, sedangkan orang tua suaminya senang kalau menantunya memiliki ijazah untuk bisa bekerja; (yang seperti ini tidak ditaati, -red).’
Ala kulli hal, hadits ini (tentang perintah ‘Umar z memerintah kepada Ibnu Umar untuk menceraikan istrinya, lalu ia pun melaksanakannya) dikaitkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim dari ‘Ali bin Abi Thalib z, dari Nabi n bersabda,
لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
‘Tidak ada ketaatan dalam hal kemaksiatan kepada Allah. Ketaatan itu hanya dalam hal yang baik’.” (Ijabatus Sail, hlm. 231—232)
“Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat penjelasan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin tentang hal ini dalam artikel “Akibat yang Sering Muncul dalam Perceraian”.

 

Akibat yang Sering Muncul dalam Perceraian

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Perselisihan dan perpecahan secara umum adalah suatu kejelekan. Termasuk dalam hal ini adalah perselisihan yang terjadi di antara suami istri yang berujung pada perceraian. Allah l berfirman:
“Dan jika mereka bersikeras untuk talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 227)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata, “Pada asalnya talak itu suatu perkara yang dibenci. Dalilnya adalah firman Allah l tentang orang-orang yang meng-‘ila’ (bersumpah untuk tidak menggaulinya selama empat bulan atau lebih). Allah l berfirman:
“Kemudian jika mereka kembali (kepada istrinya), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 226)
Adapun tentang talak, Allah l berfirman:
“Dan jika mereka bersikeras untuk talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 227)
Pada firman Allah l ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ terdapat suatu ancaman. Adapun berkaitan dengan fa’i (seorang suami kembali menggauli istrinya yang telah di-‘ila’). Allah l berfirman ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ . Hal ini menunjukkan bahwa talak itu tidak dicintai oleh Allah l dan pada dasarnya talak itu makruh. Adapun hadits:
أَبْغَضُ الْحَلَالِ عِنْدَ اللهِ الطَّلَاقُ
“Perkara halal yang paling dibenci di sisi Allah adalah talak.”
adalah hadits yang dha’if dan tidak sahih pula maknanya. Akan tetapi, firman Allah l:
“Dan jika mereka bersikeras untuk talak, maka sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 227)
sudah cukup menjadi dalil dalam masalah ini (sehingga tidak membutuhkan hadits yang dha’if). (asy-Syarhul Mumti’ 7/167)
Di antara akibat buruk yang sering ditimbulkan karena perceraian:
1. Perceraian menghancurkan kehidupan rumah tangga serta memupus berbagai macam tujuan dan harapan pernikahan.
Allah l berfirman:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Perceraian adalah amalan yang disukai iblis la’natullah.
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ إِبْلِيسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شَيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيءُ أَحَدُهُمْ فَيَقُولُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتَّى فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيهِ مِنْهُ وَيَقُولُ: نِعْمَ أَنْتَ
“Sesungguhnya iblis meletakkan singgasananya di atas air. Ia mengutus pasukan-pasukannya. Yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar fitnahnya. Salah satu pasukannya datang kemudian berkata, ‘Aku telah melakukan demikian dan demikian.’ Iblis menjawab, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Kemudian salah satu dari pasukannya berkata, ‘Tidaklah aku meninggalkan seorang suami sampai aku berhasil menceraikan antara dia dan istrinya.’ Iblis pun mendekatkannya sambil berkata, ‘Sebaik-baik pasukan adalah kamu’.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdillah c)
Perceraian menyebabkan lahirnya berbagai macam kebencian, permusuhan, dan kezaliman antara keduanya, sehingga saling berusaha menjatuhkan dan menyebarkan kekurangan-kekurangannya, padahal itu merupakan perkara yang diharamkan. Rasulullah n bersabda,
يَا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يَدْخُلِ الْإِيمَانُ قَلْبَه،ُ لَا تَغْتَابُوا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوا عَوْرَاتِهِمْ، فَإِنَّهُ مَنْ يَتَّبِعْ عَوْرَاتِهِمْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ، وَمَنْ يَتَّبِعِ اللهُ عَوْرَتَهُ يَفْضَحْهُ فِي بَيْتِهِ
“Wahai sekalian orang-orang yang beriman dengan lisannya dan belum menembus ke dalam hatinya, janganlah menyakiti orang-orang muslim. Janganlah kalian menjelek-jelekkan mereka, dan janganlah mencari-cari kekurangan-kekurangan mereka! Barang siapa mencari-cari kekurangan saudaranya (muslim), niscaya Allah l akan mencari-cari kekurangannya. Barang siapa yang Allah mencari-cari kekurangannya, niscaya Allah akan membongkarnya walaupun (kekurangan itu dilakukan) di dalam rumahnya.” (HR. at-Tirmidzi dari Ibnu Umar c)
Perceraian sering menyebabkan telantarnya anak-anak yang terlahir dari keduanya. Seorang ayah tidak lagi memiliki kepedulian terhadap anak-anaknya, baik dalam hal makan, minum, maupun pakaiannya, lebih-lebih dalam permasalahan pendidikan mereka. Padahal itu semuanya tetap menjadi kewajibannya walaupun telah terjadi perceraian di antara keduanya.
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)
Rasulullah n juga bersabda,
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ رَاعٍ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin. Seorang lelaki adalah pemimpin atas keluarganya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suami dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar c)
Demikian pula sabda Rasulullah n yang lain:
كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ
“Cukuplah seorang itu berdosa (dengan sebab) menelantarkan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud dan lainnya dari Abdullah bin Amr c)
Perceraian sering menyebabkan putusnya silaturahim di antara keluarga besar, yaitu keluarga dari pihak suami dengan keluarga dari pihak istri. Semestinya ikatan persaudaraan itu tidak boleh putus walaupun telah terjadi perpisahan atau perceraian, karena tetap ada ikatan persaudaraan melalui agama yang mulia ini. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (al-Hujurat: 10)
Rasulullah n bersabda,
حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ. قِيْلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا لَقِيْتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللهَ فَشَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فاَتَّبِعْهُ
“Hak seorang muslim atas saudara muslim ada enam.” Ditanyakan kepada beliau, “Apa saja itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Apabila bertemu dengannya, ucapkan salam atasnya; apabila dia mengundangmu, penuhilah undangannya; apabila ia meminta nasihat kepadamu, nasihatilah dia; apabila dia bersin kemudian dia mengucapkan, ‘Alhamdulillah,’ doakanlah, ‘Yarhamukallah.’; apabila dia sakit, jenguklah; dan apabila dia mati, ikutilah (antarkanlah) jenazahnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Rasulullah n tetap berbuat baik dan terus menjaga persaudaraan terhadap keluarga Khadijah x dan kerabat-kerabatnya setelah meninggalnya Khadijah x.
‘Aisyah x berkata, “Aku tidak pernah cemburu terhadap istri-istri Nabi n sebagaimana aku cemburu terhadap Khadijah x, padahal aku tidak pernah melihatnya sama sekali. Akan tetapi, Rasulullah n sering menyebutnya. Beliau n kadang menyembelih seekor kambing dan mengirimnya kepada teman-teman yang dikasihi oleh Khadijah x. Terkadang aku berkata kepada Rasulullah n, ‘Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah x.’ Rasulullah n menjawab, ‘Karena dia demikian dan demikian, dan dari dialah aku mendapatkan anak’.” (Muttafaqun ‘alaih)
Wallahu a’lam.

 

Tidak Mesti Solusinya Perceraian

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Al-Muhsin adalah salah satu dari nama-nama Allah Yang Mahamulia dan Mahasempurna1. Dia memerintahkan untuk berbuat ihsan (baik) kepada siapa pun dengan dasar syariat yang sempurna. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kalian) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (an-Nahl: 90)
Allah l juga berfirman:
“Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)
Demikian pula Rasulullah n bersabda,
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيْحَتَهُ
“Sesungguhnya Allah l mewajibkan ihsan (berbuat baik) dalam segala hal. Apabila kalian hendak membunuh, bunuhlah dengan baik. Apabila kalian hendak menyembelih (hewan), sembelihlah dengan baik pula. Hendaknya seseorang menajamkan pisaunya dan memberi kemudahan bagi sembelihannya.” (HR. Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Rajab t berkata, “Hadits ini menunjukkan wajibnya berbuat baik dalam seluruh amalan. Akan tetapi, kebaikan itu tergantung pada setiap pelaku. Kebaikan di dalam melakukan kewajiban-kewajiban yang lahir dan yang batin adalah melakukannya secara total sehingga kadar ini hukumnya wajib. Adapun kebaikan dalam amalan yang lahir dan batin dengan menyempurnakan hal-hal yang sunnah, hal tersebut bukan perkara yang wajib, melainkan sunnah.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/381)
Al-Imam Nawawi t berkata, “Hadits ini adalah salah satu hadits yang mengandung dasar-dasar agama, karena menunjukkan keumuman berbuat baik (ihsan). Bisa jadi, perintah berbuat baik terhadap orang yang akan dibunuh atau hewan yang akan disembelih (di dalam hadits ini) hanyalah sekadar contoh atau sekadar untuk menjelaskan.”
Di antara orang-orang yang berhak kita beri kebaikan adalah istri-istri kita. Atas bantuan mereka, dengan izin Allah l, kita bisa melakukan kebaikan dan mendapatkan keutamaan. Allah l berfirman:
“Tidak ada balasan kebaikan melainkan kebaikan (pula).” (ar-Rahman: 60)
Kemudian Rasulullah n bersabda,
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيْمَاناً أَحْسَنُهُمْ خُلُقاً، وَخَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِنِسَائِهِمْ
“Orang-orang yang beriman yang paling sempurna imannya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap istrinya.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dari Abu Hurairah z, disahihkan oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1232)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Orang yang paling baik adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya, karena keluarga adalah orang-orang yang terdekat dan paling berhak mendapat kebaikan. Jika engkau memiliki suatu kebaikan, hendaknya keluargamu yang paling merasakan kebaikan itu.
Hal ini berkebalikan dengan perbuatan sebagian orang di zaman sekarang ini. Ada orang yang berbuat buruk terhadap keluarganya, namun bisa berbuat baik terhadap orang lain. Ini adalah kesalahan yang sangat besar. Semestinya, keluarga adalah orang-orang yang paling berhak menerima kebaikan dari anggota keluarganya. Maka dari itu, hendaknya seseorang berbuat baik kepada keluarganya, karena mereka bersamanya pada waktu malam dan siang, baik dalam keadaan sepi maupun ramai. Jika engkau mendapatkan suatu hal yang bermanfaat, berbagilah dengan mereka. Jika engkau berbahagia, mereka pun akan bersama dalam kebahagiaanmu. Jika engkau sedih, mereka juga akan bersama dalam kesedihanmu. Hendaknya muamalahmu kepada mereka lebih baik dibandingkan kepada selainnya.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin 2/64)
Berbuat baik kepada mereka terbagi menjadi dua macam:
1. Lahir, seperti nafkah (makan dan minum), pakaian, tempat tinggal, dan lain sebagainya.
Allah l befirman:
“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu (istri) dengan cara yang ma’ruf (baik).” (al-Baqarah: 233)
Rasulullah n bersabda,
وَلَهُنَّ عَلَيْكُمْ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan mereka (para istri) memiliki hak yang wajib kalian tunaikan, yaitu hak nafkah (makan dan minum) dan pakaian dengan cara yang ma’ruf.” (HR. Muslim dari Jabir z)
Dari Hakim bin Mu’awiyah, dari ayahnya (Mu’awiyah bin Haidah) z, ia berkata:
يَا رَسُولَ اللهِ، مَا حَقُّ زَوْجَةِ أَحَدِنَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: أَنْ تُطْعِمَهَا إِذَا طَعَمْتَ وَتَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَيْتَ وَلَا تَضْرِبِ الْوَجْهَ وَلَا تُقَبِّحْ وَلَا تَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْتِ
“Aku bertanya kepada Rasulullah n, ‘Wahai Rasulullah, apa hak seorang istri terhadap suaminya?’ Beliau menjawab, ‘Kamu beri makan apabila kamu makan, kamu beri pakaian apabila kamu berpakaian. Jangan pukul wajahnya, jangan menjelek-jelekkan dia (seperti ‘Mudah-mudahan Allah menjadikanmu jelek’), dan jangan boikot dia (karena kedurhakaannya) selain di dalam rumah’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani dalam ash-Shahihah)
Namun, hak-hak itu wajib ditunaikan oleh para suami sesuai dengan kemampuan mereka dengan cara yang baik.
Allah l berfirman,
“Hendaklah orang yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Allah berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” (ath-Thalaq: 7)

2. Batin, seperti pendidikan (tarbiyah), muamalah, dan lainnya.
Allah l berfirman,
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)
Rasulullah n bersabda,
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ مَا فِي الضِّلْعِ أَعْلَاهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ
“Berwasiatlah kalian kepada para istri dengan wasiat yang baik, karena wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Tulang rusuk yang paling bengkok adalah yang paling atas. Jika kamu memaksa meluruskannya, niscaya akan patah. Jika kamu membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Maka dari itu, berwasiatlah kepada istri (dengan wasiat yang baik).” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Ummu Abdillah hafizhahallah berkata, “Termasuk wasiat yang paling mulia dan agung bagi istri adalah mengajarinya dan berusaha memahamkannya tentang urusan agama. Tarbiyah tersebut hendaknya dilakukan dengan lemah lembut karena Nabi n bersabda, ‘Tidaklah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu melainkan akan menjadikannya tampak indah, dan tidaklah kelemahlembutan itu dicabut dari sesuatu melainkan akan menjadikannya tampak jelek’.”
Sebagian suami—semoga Allah l memberikan petunjuk kepada mereka—kurang bagus dalam hal mendidik istrinya. Dia mengajarkan sesuatu kepada istrinya materi-materi yang bukan tingkatannya. Jika istri tersebut tidak melakukannya, maka akan celaka. Oleh karena itu, hendaknya suami bertakwa kepada Allah l (dalam mendidik istrinya), dan hendaknya dia menyadari bahwa Allah l lebih berkuasa daripada dirinya di dalam mengatur seorang wanita yang lemah. Nabi n pun menyerupakan wanita seperti botol kaca (yang mudah pecah), sedangkan sirah (sejarah) Nabi n yang wangi semerbak tidak pernah terwarnai dengan kekerasan terhadap istri, bahkan lemah lembut, santun, dan mudah. (Nashihati lin Nisa’, 164—165)
Demikian pula hak mereka untuk mendapatkan sikap-sikap yang baik, yang Allah l berfirman,
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228)
Rasulullah n bersabda,
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga dia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (Muttafaqun alaih dari Anas bin Malik z)
Ibnu Abbas c berkata, “Sungguh, aku senang berdandan untuk istriku sebagaimana aku senang dia berdandan untukku.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim)

Mereka Bukan Makhluk yang Sempurna
Istri-istri yang salehah adalah harapan dan dambaan setiap muslim, sebagaimana Allah l berfirman,
“Wanita yang salehah adalah yang taat kepada Allah dan menjaga dirinya ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).” (an-Nisa’: 34)
Rasulullah n juga bersabda,
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan kehidupan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Amr c)
Namun, harus kita sadari bahwa sebaik-baik wanita di dunia tetaplah manusia biasa yang tidak akan lepas dari kekurangan. Bahkan, istri merupakan ujian dan cobaan bagi suaminya yang diberikan oleh Allah l. Sebagaimana Allah l berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia,
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya istri-istri dan anak-anak kalian bisa menjadi musuh kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kalian memaafkan, tidak memarahi, dan mengampuni (mereka), maka Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (at-Taghabun: 14)
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ لَنْ تَسْتَقِيمَ لَكَ عَلَى طَرِيقَةٍ، فَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَبِهَا عِوَجٌ، وَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيمُهَا كَسَرْتَهَا وَكَسْرُهَا طَلَاقُهَا
“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Dia tidak akan senantiasa lurus di atas suatu jalan seperti keinginanmu. Jika kamu bersenang-senang dengannya, dalam keadaan ada pada dirinya kebengkokan, dan apabila kamu memaksa untuk meluruskannya, niscaya kamu akan mematahkannya, dan mematahkannya berarti menalaknya.”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Seorang wanita jika suaminya ingin bersenang-senang dengannya, berarti dia bersenang-senang dengan istrinya dalam kebengkokan (kekurangan) sehingga dia rela dengan yang dia dapatkan. Apabila ia ingin benar-benar meluruskannya, maka sang istri tidak akan senantiasa lurus dan suami tidak mampu meluruskannya. Jika sang istri lurus/istiqamah dalam agamanya, maka dia tidak akan lurus dalam perkara yang tabiat asli menuntutnya. Sang istri tidak akan terus-menerus lurus sesuai dengan yang dikehendaki oleh suaminya, bahkan pasti ada penyelisihan dan kekurangan dari dirinya.” (Syarh Riyadh as-Shalihin 2/56)
Tatkala kita mendapati kekurangan dan kekeliruan pada istri-istri kita, kita harus sadar bahwa mereka adalah manusia biasa, bukan makhluk yang sempurna. Allah l memerintahkan kepada kita untuk bersikap adil secara umum, termasuk bersikap adil terhadap istri-istri kita. Sebagaimana di dalam firman-Nya:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Maidah: 8)
Demikian pula Rasulullah n membimbing kita, bagaimana kita menghadapi kekurangan-kekurangan istri kita dalam sabdanya:
لاَ يَفْرُكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
“Janganlah seorang mukmin (suami) membenci seorang mukminah (istrinya). Apabila dia membenci/tidak menyukai suatu kepribadian/perangai darinya, niscaya dia akan ridha/senang terhadap kepribadian yang lainnya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin t berkata, “Jika seorang istri pada suatu ketika membantah perintahmu, akan tetapi (ingatlah) dia telah berbuat baik dengan sekian banyak kebaikan. Apabila dia pada suatu malam mendurhakaimu, akan tetapi (ingatlah) dia telah menaatimu pada sekian banyak malam. Apabila dia telah berbuat sesuatu yang tidak semestinya kepada anak-anakmu, namun (ingatlah) dia telah banyak berbuat baik kepada mereka. Demikianlah sikap yang semestinya terhadap mereka. Apabila istrimu berbuat jelek kepadamu, maka jangan kamu lihat perbuatan jeleknya pada waktu itu, akan tetapi perhatikan perbedaan dia yang telah lalu dan juga yang akan datang, kemudian hukumilah dengan adil!” (Syarh Riyadh as-Shalihin 2/59)
Oleh karena itu, jika keributan, perselisihan, dan ketidaksamaan dalam satu perkara diselesaikan dengan perceraian, belum tentu merupakan solusi yang tepat.

Catatan kaki:

1 Nabi n bersabda,
إِنَّ اللهَ مُحْسِنٌ فَأَحْسِنُوا
“Sesungguhnya Allah adalah Muhsin (Yang Maha berbuat kebaikan), maka berbuat baiklah kalian.” (HR. Ibnu Abi Ashim dan disahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ ash-Shaghir no. 1823 dan Silsilah ash-Shahihah no. 469)

Noda-noda Hitam dalam Pernikahan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Masa Jahiliah
Pernikahan sebelum datangnya Islam telah ada, namun nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Rasulullah n pun telah menghapus segala bentuk pernikahan jahiliah dan menetapkan yang sesuai dengan Islam. Telah diceritakan oleh Aisyah x sebagaimana dalam riwayat al-Imam al-Bukhari di dalam Shahih-nya (no. 4834). Beliau x berkata, “Pernikahan di masa jahiliah ada empat bentuk:
1. Pernikahan seperti yang kita kenal sekarang ini. Seorang lelaki datang mengkhitbah (melamar) kepada wali wanita atau kepada wanitanya, lalu sepakat untuk kemudian melangsungkan pernikahan.
2. Seorang suami berkata kepada istrinya, ‘Bila engkau telah suci dari haid maka pergilah engkau ke fulan dan berhubunganlah engkau dengannya!’ Suami tersebut menjauhi istrinya dan tidak menggaulinya sampai istrinya benar-benar hamil dari laki-laki tersebut. Jika benar-benar hamil dan dia menyukainya, dia terima. Hal ini dia lakukan supaya mendapatkan anak bangsawan.
Pernikahan ini disebut dengan nikah istibdha’.
3. Beberapa lelaki berkumpul untuk mendatangi seorang wanita. Jika wanita tersebut hamil dan melahirkan, setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, semua lelaki itu tidak boleh menolak untuk dikumpulkan di hadapan wanita tersebut. Wanita itu berkata, ‘Kalian sudah mengetahui perkaranya dan (bayi) telah lahir. Dia adalah putramu (menunjuk seseorang yang diinginkan oleh wanita tersebut).’
Kemudian anak itu diikutkan kepadanya dan laki-laki tersebut tidak boleh menolak.
4. Seorang wanita didatangi oleh banyak lelaki dan wanita tersebut tidak boleh menolak siapa pun yang datang kepadanya. Mereka adalah wanita-wanita pelacur. Mereka memasang tanda pengenal (bendera). Jika hamil dan melahirkan, mereka—para lelaki—yang mendatanginya berkumpul, lantas melihat bayinya mirip dengan siapa. Jika mereka menemukan (kemiripan), mereka ikutkan kepadanya (laki-laki yang paling mirip) dan dia (sang laki-laki) tidak bisa menolaknya.
Tatkala Allah l mengutus Rasulullah n, beliau menghapus segala bentuk pernikahan tersebut kecuali pernikahan seperti sekarang ini.”
Di sisi lain, kaum jahiliah dengan kesyirikan yang mereka perbuat meyakini lebih banyak hal, terkhusus tentang pernikahan. Mereka meyakini adanya hari-hari dan bulan yang mengandung banyak kejelekan atau kesialan. Akhirnya, mereka meyakini jika menikah pada hari atau bulan itu akan menuai kerugian dan kecelakaan. Di antara bentuknya, mereka meninggalkan segala bentuk aktivitas pada hari Rabu (Lihat Mausu’at Tauhid Rabbil’ Abid 5/56). Bahkan, mereka tidak melakukan pernikahan pada hari-hari antara dua ied (Idul Fitri dan Idul Adha). (Lihat Syarah Masail Jahiliah hlm. 214)
Mereka juga tidak melakukan aktivitas pernikahan pada bulan Syawwal, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali t. Mereka beranggapan, bulan tersebut mengandung kejelekan dan kesialan. Mereka juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu pada bulan Shafar karena menurut mereka, bulan Shafar mengandung segudang kesialan. Mereka menahan diri (menunda) untuk berpergian, melakukan perniagaan, dan membangun rumah tangga (pernikahan) pada waktu tersebut. (Lihat Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid 2/515 dan I’anatul Mustafid Bi Syarah Kitab Tauhid 2/9)

Pernikahan dalam Islam
Dalam pembahasan-pembahasan akidah dalam edisi yang telah lewat sering disinggung tentang meratanya amal kesyirikan dalam segenap lini kehidupan kaum muslimin. Tidak ada satu celah pun yang akan mengantarkan kepada untung dan rugi, bahagia dan sengsara, selamat dan celaka, baik dan buruk, melainkan ada amalan kesyirikan di sana.
Contohnya, ketika seseorang akan menimbang adanya untung dan rugi, melalui sebuah usaha perdagangan, pertanian, perternakan, dan sebagainya, semuanya akan berujung pada apa yang dipetuahkan sang dukun. Jika sang dukun mengatakan akan ada keuntungan besar dalam usaha ini, dia dengan penuh semangat berjuang dan berkorban untuk merealisasikannya. Jika sebaliknya, dia akan mengakhirkan langkah tanpa berpikir panjang.
Pernikahan yang jelas-jelas ada syariatnya dan jelas bimbingannya, mulai dari rencana sampai pelaksanaannya, sampai pun perjalanan hidup kedua insan telah ada aturannya dalam agama, tetap tidak lepas dari amalan-amalan kesyirikan. Saat seseorang ingin membangun rumah tangga, sang dukun menjadi pemutus semua perkara dalam pelaksanaannya, dari kapan waktu yang terbaik, tepat, dan menguntungkan, baik harinya maupun bulannya, baik penanggalan hijriah atau masehi, seolah-olah dukun mengetahui rahasia hidup setiap manusia. Semuanya jelas-jelas bertentangan dengan Islam.
Tidak luput juga terkait dengan calon yang akan dijadikan pasangan, sudah barang tentu akan meminta petuah sang dukun. Cocokkah? Layakkah? Akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari atau malah mendatangkan marabahaya? Akan menguntungkan atau tidak? Akan menjadi orang kaya jika menikah dengannya atau malah menjadi miskin?
Sekali lagi, Allah l mereka anggap bukan lagi satu-satunya tempat mengadu dan mengeluh. Bahkan, ketika akad telah selesai, sang wanita tidak boleh masuk ke rumah sang lelaki melainkan didahului acara menyembelih di hadapan sang wanita, agar ketika memasuki rumah sang suami tidak terkena gangguan jin dan mata jahat. (Lihat al-Ighatsah Syarah Utsul Tsalatsah hlm. 23)
Jika Allah l menakdirkan hamil, ada acara mandi pada bulan ketujuh di sebuah tempat untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan serta agar janin tersebut terpelihara dari segala macam gangguan; yang diistilahkan oleh orang Jawa: mitoni.
Demikian pula memakai jimat-jimat ketika hamil, baik yang dipasang di tangan, kaki, maupun di pinggang, baik dari lingkaran benang maupun akar-akar kayu. Semuanya adalah perbuatan yang menyelisihi akidah yang benar.

Adat Istiadat
Segala bentuk penyimpangan dari akidah di atas, sangat ditopang oleh adat istiadat yang berlaku di sebuah daerah. Siapa pun yang akan melakukan pernikahan dipersyaratkan melalui tata cara adat tersebut. Jika ada yang mencoba menentangnya karena adat tersebut menyelisihi norma-norma agama, pernikahan itu bisa dibatalkan. Sampai sedemikan rupa kekuatan hukum adat dalam menata kehidupan manusia. Dari manakah sesungguhnya hukum adat tersebut?
Jika didalami dan dikaji, adat istiadat sesungguhnya merupakan aturan peninggalan para leluhur dan nenek moyang yang mengandung ketidakjelasan status agama dan keyakinan mereka. Jika dicermati dengan saksama, kita akan menemukan berbagai macam adat itu bermuara pada adat istiadat jahiliah sebagaimana contoh di atas, yaitu adanya anggapan sial dengan hari, bulan, dan tempat tertentu, lantas mengembalikan segala urusan hidup kepada paranormal alias dukun. Bahkan, bisa dikatakan banyak adat istiadat dalam kehidupan kaum muslimin yang banyak kemiripan dengan agama di luar Islam seperti agama Hindu dan Budha.
Saudaraku kaum muslimin, mari kita membersihkan segala bentuk amaliah kita dari noda-noda kesyirikan yang akan menghancurkan masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Allah l mengutus para rasul untuk melakukan perbaikan di muka bumi ini dan termasuk mandat yang pertama dan utama yang mereka emban dari Allah l adalah agar menyerukan kepada tauhidullah dan mengingkari segala bentuk kesyirikan.
Wallahu a’lam.

Menangkal Perzinaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Allah l menciptakan manusia berpasang-pasangan sebagaimana halnya makhluk yang lain. Hal ini mengandung hikmah bahwa manusia itu membutuhkannya. Kebutuhan akan hal itu termasuk dalam kebutuhan biologis yang sangat besar dan mendasar. Dengan penciptaaan manusia berpasang-pasangan inilah lahir hikmah-hikmah besar di baliknya, seperti saling mencintai, menyayangi, mengasihi, saling mengenal, dan berlangsungnya keturunan manusia.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat: 13)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Untuk mewujudkan cinta dan kasih sayang yang lurus, Allah l meletakkan sebuah aturan dalam hidup yaitu agar pertemuan lawan jenis tersebut tidak melahirkan dosa dan kemaksiatan, namun justru sebaliknya yaitu mendatangkan pahala bila dijadikan sebagai ladang ibadah. Melalui tali pernikahan, sesungguhnya banyak hikmah yang akan bisa dipetik, di antaranya:
– Terjaganya pandangan dan kemaluan sehingga diletakkan pada jalan yang halal
– Terpeliharanya kehormatan
– Terwujudnya keturunan yang sah
– Mengetahui nasab
– Terjaganya sendi waris-mewarisi
– Tegaknya syariat agama, dan sebagainya.

Wanita, Godaan Syahwat Terbesar
Pembaca yang budiman, kerusakan moral dan kehancuran budi pekerti yang menimpa umat ini sesungguhnya diakibatkan karena pergaulan bebas yang tiada batas, adanya tuntutan kemerdekaan bagi kaum wanita untuk tidak mau lagi terikat dengan norma-norma agama dan menuntut adanya persamaan hak dengan kaum lelaki dalam segala bidang, tuntutan perubahan terhadap undang-undang agama yang mengikat dan membatasi gerak mereka, serta anggapan bahwa agama sebagai pengekang kebebasan, kemerdekaan, dan perampas hak-hak kaum wanita. Sosialisasi budaya jahiliah sedang disuarakan oleh para setan untuk segera menjadi aturan dalam kehidupan, dan suara-suara kebebasan wanita pun sedang gencar dikampanyekan di mana-mana. Sejarah kehidupan jahiliah akan terulang kembali kendatipun simbol-simbol yang dipakai adalah berbeda. Itulah agama kekufuran.
Semuanya ini terjadi karena jauhnya kaum muslimin dari pengajaran agama yang benar dan berkuasanya ideologi-ideologi Barat yang tidak bisa dibendung lagi oleh kaum muslimin, lebih-lebih ideologi-ideologi tersebut menjajah sistem pendidikan kaum muslimin. Di samping itu, terdapatnya kepincangan pendidikan, aturan, pengawasan, perhatian dari kedua orang tua sebagai peletak pertama dan pencetak utama kepribadian anak. Dengan kepincangan ini semua, mendorong anak untuk menjadi hidup merdeka serta lepas dari aturan agama dan aturan rumah tangga. Rasulullah n telah mengisyaratkan:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan fitnah (godaan) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada godaan kaum wanita.” (HR. al-Bukhari 5096 dan Muslim 2740 dari Usamah bin Zaid c)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Di dalam hadits tersebut terkandung penjelasan bahwa fitnah (godaan) kaum wanita lebih berbahaya daripada godaan lainnya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah l yang maknanya:
ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ
‘Telah dihiasi kepada manusia kecintaan terhadap syahwat pada kaum wanita.’ (Ali ‘Imran: 14)
Allah l menjadikannya termasuk dalam cinta syahwat dan Allah l memulai dengan kaum wanita sebelum yang lain. Ini mengisyaratkan bahwa kaum wanita merupakan pangkal kecintaan syahwat.
Sebagian ahli hikmah berkata, ‘Wanita tersebut semuanya buruk dan akibatnya yang paling jelek yaitu seseorang tidak pernah merasa puas dari mereka. Di samping itu, kaum wanita kurang akal dan kurang agamanya yang akan menyeret kaum lelaki untuk melakukan sesuatu sebagai dampak kurang akal dan kurang agama, seperti tersibukkan dalam hal mencari dunia hingga lalai mencari ilmu agama dan menyeretnya menuju kebinasaan. Ini adalah bentuk kerusakan yang paling besar’.” (Fathul Bari 9/138)
Al-Mubarak Furi dalam syarahnya terhadap Sunan at-Tirmidzi berkata, “Kecenderungan tabiat manusia kepada kaum wanita ini sering menyebabkannya terjatuh dalam keharaman. Bahkan, berakibat terjadinya pertikaian, dan munculnya permusuhan. Akibat yang paling ringan adalah dia menjadi rakus terhadap dunia karena wanita. Lantas, adakah kerusakan yang lebih besar dari ini semua?” (Tuhfatul Ahwadzi 15/74)
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu adalah manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah l menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya untuk melihat apa yang kalian perbuat. Oleh karena itu, berlindunglah kalian dari (godaan) dunia dan berlindunglah kalian dari (godaan) wanita, karena sesungguhnya fitnah (ujian) pertama kali yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanita.” (HR. Muslim no. 2742 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Berlindunglah kalian dari (godaan) dunia dan berlindunglah kalian dari (godaan) wanita. Artinya, berhati-hatilah kalian dari godaan dunia dan godaan kaum wanita. Masuk dalam lafadz wanita adalah para istri dan selain mereka. Yang paling banyak godaannya adalah para istri, karena godaannya terus-menerus.
Nabi n bersabda:
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf kaum lelaki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang; dan sebaik-baik shaf kaum wanita adalah yang paling belakang dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim no. 440)
Hal tersebut karena shaf yang paling belakang bagi kaum wanita adalah yang paling jauh dari kaum lelaki, sehingga wanita mendapatkan kebaikan tersebut karena jauh dari kaum lelaki. Ini merupakan dalil bahwa jauhnya kaum wanita dari kaum lelaki dan sebaliknya, termasuk maqashid (tujuan-tujuan) syariat karena akan menutup pintu kejahatan yang banyak. (Lihat Ifadatis Syar’iyyah fii Ba’dhi al-Masail at-Thibbiyyah hlm. 7)

Tersebarnya Perzinaan, Tanda-Tanda Kiamat
Dari Anas z, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, menyebarnya kejahilan, diminumnya khamr, dan perzinaan menjadi tampak.” (HR. al-Bukhari no. 80 dan Muslim no. 2671 dari Anas z)
Dalam riwayat yang lain, Anas z, berkata tatkala ajal beliau telah dekat:
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللهِ n، لَا يُحَدِّثُكُمْ بِهِ أَحَدٌ عَنْهُ بَعْدِي؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِnيَقُولُ: لَا تَقُومُ السَّاعَةُ -أَوْ قَال: إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ- أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَفْشُوَ الزِّنَا، وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ ، وَيَبْقَى النِّسَاءُ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ.
“Maukah aku sampaikan satu hadits dari Rasulullah n dan tidak ada seorang pun yang akan menyampaikannya kepada kalian sepeninggalku? Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Tidak akan terjadi hari kiamat atau termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, diminumnya khamr, menebarnya perzinaan, hilangnya (menurunnya populasi) kaum lelaki, dan tetapnya kaum wanita sehingga lima puluh wanita dipimpin oleh seorang lelaki.”

Dalam riwayat yang lain:
يَظْهَرُ الزِّنَا، وَيَقِلُّ الرِّجَالُ، وَيَكْثُرُ النِّسَاءُ
“Munculnya perzinaan, sedikitnya kaum lelaki, dan banyaknya kaum wanita.”
Terjadinya perzinaan di mana-mana karena godaan wanita adalah jerat-jerat setan. Bersamaan dengan itu, mereka adalah makhluk yang kurang akalnya dan kurang pula agamanya.
Menyebarnya perbuatan zina juga merupakan sinyalemen empat belas abad yang silam melalui lisan Rasulullah n:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أَمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Benar-benar akan muncul satu kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. al-Bukhari no. 5268)

 

Talak dengan Ucapan Kinayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

وَعَنْ عَائِشَةَ x أَنَّ ابْنَةَ اَلْجَوْنِ لَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ n وَدَنَا مِنْهَا، قَالَتْ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ. قَالَ: لَقَدْ عُذْتِ بِعَظِيمٍ، الْحَقِي بِأَهْلِكِ

Dari ‘Aisyah x: Saat Ibnatul Jaun hendak dipertemukan dengan Rasulullah n dan beliau n mendekatinya, ia (Ibnatul Jaun) berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Rasulullah n bersabda, “Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!”

Takhrij Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari (3/458), an-Nasai (2/98), Ibnu Majah (2050), Ibnul Jarud (738), ad-Daraquthni (437), dan al-Baihaqi (7/39, 234), seluruhnya dari jalur al-Auza’i. Ia berkata bahwa ia pernah bertanya kepada az-Zuhri, “Siapakah istri Rasulullah n yang pernah memohon perlindungan dari beliau?” Az-Zuhri menjawab, “Urwah menyampaikan kepadaku dari ‘Aisyah bahwasanya ketika Ibnatul Jaun hendak dipertemukan dengan Rasulullah n dan beliau n mendekatinya, ia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari engkau.’ Rasulullah n pun bersabda, ‘Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!’.”
Al-Bukhari t mengeluarkan riwayat dari Hamzah bin Abi Usaid, dari Abu Usaid, ia berkata, “Kami pernah keluar menemani Rasulullah n, sampai tiba di sebuah dinding kebun bernama asy-Syauth. Kami tiba dan duduk di antara dua dinding kebun.
Rasulullah n bersabda, ‘Duduklah di sini saja!’ Beliau pun masuk, dan seorang wanita dari keturunan Jaun telah didatangkan. Wanita itu ditempatkan di sebuah rumah yang terbuat dari pohon kurma, di rumah Umaimah binti an-Nu’man bin Syarahbil. Wanita tersebut disertai ibu pengasuhnya.
Ketika wanita itu bertemu Rasulullah n dan mendekat, Rasulullah n bersabda, ‘Serahkanlah dirimu untukku!’
Ia menjawab, ‘Apakah seorang ratu hendak menyerahkan dirinya kepada orang rendahan?’
Rasulullah n lalu bermaksud meletakkan tangan pada wanita tersebut untuk menenangkannya. Namun, ia justru berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’
Rasulullah n pun bersabda, ‘Sungguh engkau telah berlindung kepada Dzat yang memberikan perlindungan.’
Rasulullah n lalu keluar meninggalkannya. Rasulullah n bersabda kepada Abu Usaid, ‘Wahai Abu Usaid, berikan dua helai pakaian raziqiyah untuknya dan kembalikan dia kepada keluarganya!’.” (Irwa’ul Ghalil, al-Albani)

Siapakah Ibnatul Jaun?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang nama Ibnatul Jaun. Bahkan, perbedaan tersebut sangat panjang. Namun, kesimpulan yang diberikan oleh al-Imam ash-Shan’ani t cukup memuaskan. Beliau berkata (Subulus Salaam, “Kitab Talak”), “Manfaatnya kecil untuk memastikan namanya. Oleh karena itu, kita tidak perlu sibuk untuk menukilkan.”
Ibnu Sa’d mengeluarkan riwayat dari jalan Abdul Wahid bin ‘Aun, ia bercerita, “An-Nu’man bin Abil Jaun al-Kindi datang untuk menemui Rasulullah n di kota Madinah. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah n, berkenankah Anda jika aku nikahkan dengan wanita tercantik di kalangan Arab? Dahulu, wanita itu menjadi istri sepupunya sendiri, lalu suaminya meninggal. Ia pun sangat menginginkan Anda.’
Rasulullah n menjawab, ‘Ya.’
An-Nu’man berkata, ‘Kalau begitu, utuslah seseorang untuk menjemputnya.’ Rasulullah n kemudian mengutus Abu Usaid as-Sa’idi.
Abu Usaid bercerita, “Aku pun tinggal di sana selama tiga hari. Setelah itu, aku membawa wanita tersebut dengan menggunakan usungan tandu. Setibanya di Madinah, wanita itu aku turunkan di kampung Bani Sa’idah. Aku pun segera mengirim berita kepada Rasulullah n. Saat itu, Rasulullah n sedang berada di kampung Bani ‘Amr bin ‘Auf.”
Ibnu Abi ‘Aun menambahkan, “Peristiwa itu terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, tahun ketujuh.” (Subulus Salam, ash-Shan’ani)
Ibnu Abdil Barr t berkata, “Ulama telah menetapkan ijma’, wanita yang dinikahi Rasulullah n adalah al-Jauniyah (Ibnatul Jaun). Namun, mereka berbeda pendapat tentang sebab Rasulullah n menalaknya.
Qatadah t berkata, ‘Ketika Rasulullah n masuk menemuinya, beliau memanggilnya. Tetapi ia malah berkata, ‘Engkaulah yang kemari!’ Lalu, Rasulullah n menalaknya. Ada pula yang berpendapat bahwa ia ditalak karena memiliki bekas luka.’
Sebagian ulama mengatakan, ‘(Sebab ditalaknya) adalah karena wanita tersebut mengatakan, ‘Aku berlindung kepada Allah l darimu.’ Rasulullah n lalu bersabda, ‘Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Agung. Allah telah memberikan perlindungan kepadamu dariku’.’
Ia (Ibnu Abdil Barr) berkata, “Hal ini batil. Yang mengucapkan perkataan ini adalah seorang wanita dari Bani ‘Anbar (bukan Ibnatul Jaun). Wanita tersebut sangat cantik. Istri-istri Rasulullah n khawatir jika wanita itu mengalahkan mereka. Mereka pun berpesan kepadanya, sesungguhnya Rasulullah n sangat senang jika disampaikan kepada beliau, ‘Kami berlindung kepada Allah darimu.’ Wanita itu pun melakukan apa yang dipesankan. Lalu, Rasulullah n menalaknya.
Namun al-Hafizh Ibnu Hajar t membantah, “Saya tidak mengerti. Mengapa ia memberikan hukum tentang cerita tersebut sebagai cerita batil? Padahal, banyak riwayat yang menjelaskan dan menetapkannya, seperti pada hadits Aisyah dalam Shahih al-Bukhari.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

Makna Hadits
Ath-Thahawi t berkata, “Hadits ini merupakan dalil mendasar tentang penggunaan lafadz kinayah (kiasan) dalam talak, karena Rasulullah n mengucapkan, ‘Kembalilah kepada keluargamu!’ ketika menalak Ibnatul Jaun. Sementara itu, Ka’b bin Malik juga mengatakan hal yang sama kepada istrinya, ‘Kembalilah kepada keluargamu!’ pada saat Rasulullah n memerintahkan Ka’b untuk menjauhi istrinya. Akan tetapi, ucapan Ka’b tersebut tidak dihukumi sebagai talak. Dengan demikian, kisah Ka’b bin Malik menunjukkan bahwa pernyataan semacam ini membutuhkan niat. Barang siapa mengatakan kepada istrinya, ‘Kembalilah ke keluargamu!’ tidak dapat diputuskan melainkan dengan niat orang yang melafadzkan. Jika ia tidak meniatkan talak, berarti bukan talak. Ini adalah pendapat Malik, penduduk Kufah, dan asy-Syafi’i.” (Syarah al-Bukhari, Ibnu Baththal)
Hadits di atas merupakan dalil bahwa ucapan seorang suami kepada istrinya, “Kembalilah ke keluargamu!” termasuk talak, sebab tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah n mengucapkan kata-kata lain. Jadi, jika lafadz kinayah diniatkan sebagai talak, talak pun jatuh.
Bukti yang menunjukkan bahwa pernyataan, “Kembalilah kepada keluargamu!” termasuk lafadz kinayah adalah kisah Ka’b bin Malik yang terkenal (kisah Perang Tabuk). Saat itu, Ka’b bin Malik diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Ka’b mengatakan, “Kembalilah kepada keluargamu! Tinggallah di sana bersama mereka!” Namun, Ka’b tidak berniat untuk menjatuhkan talak dengan lafadz ini. Oleh karena itu, terhadap istrinya pun tidak jatuh talaknya. Pendapat inilah yang dipilih oleh imam yang empat dan lainnya.
Adapun azh-Zhahiriyah berpendapat, ucapan seorang suami kepada istrinya, “Kembalilah kepada keluargamu!” tidak menyebabkan jatuh talak. Mereka beralasan, “Nabi Muhammad n belum mengadakan akad nikah dengan Ibnatul Jaun. Beliau hanyalah mengutus orang untuk melamar, karena adanya perbedaan riwayat dalam kisah. Yang menunjukkan Rasulullah n belum mengadakan akad nikah dengan Ibnatul Jaun adalah riwayat dalam Shahih al-Bukhari, beliau berkata, ‘Serahkanlah dirimu untukku.’ Lalu, Ibnatul Jaun berkata, ‘Apakah seorang ratu akan menyerahkan dirinya kepada orang rendahan?’ Permintaan Nabi n agar Ibnatul Jaun menyerahkan dirinya menunjukkan bahwa beliau belum mengadakan akad nikah dengannya.”
Hanya saja, pendapat azh-Zhahiriyah cukup jauh dari kebenaran berdasarkan beberapa alasan, antara lain:
1. Riwayat, “Rasulullah n hendak meletakkan tangan pada wanita tersebut.”
2. Riwayat, “Kemudian Rasulullah n masuk padanya.”
Dua hal di atas, tidaklah terjadi selain pada istri sendiri. Adapun sabda Nabi n, “Serahkanlah dirimu untukku!”, kata-kata ini diucapkan Nabi n hanyalah untuk menyenangkan dan menarik hatinya. Atau bisa juga dijawab, “Serahkanlah dirimu untukku!” adalah panggilan seorang suami kepada istrinya.
Diperkuat lagi dengan adanya riwayat, “Ia pun sangat menginginkan Anda.” Demikian juga riwayat yang menjelaskan kesepakatan dirinya dengan ayahnya tentang besarnya mahar. Hal-hal ini, meskipun tidak secara sharih (jelas) menunjukkan adanya akad nikah, namun kemungkinan inilah yang terkuat. (Subulus Salam, ash-Shan’ani)

Lafadz Talak
Lafadz talak ada dua:
1. Sharih (kata yang jelas dan dapat dimengerti)
Yakni lafadz-lafadz yang memang digunakan untuk menjatuhkan talak dan tidak mengandung kemungkinan makna selain talak. Yaitu, lafadz “thalaq” dan pecahan katanya. Misalnya, “Saya talak kamu.” Demikian pula kata “cerai”.
2. Kinayah (kiasan/sindiran)
Yaitu lafadz-lafadz yang mengandung makna talak dan makna yang lain. Misalnya, “Kamu saya lepas”, “Kamu bebas”, atau “Pergilah, kembalilah kepada keluargamu!”
Contoh lain lafadz kinayah dalam talak, “Kumpulkan pakaianmu, saya tidak lagi membutuhkanmu”, “Tidak ada tali pernikahan antara kita”, “Tidak ada lagi kesempatan untukmu”, “Pergilah, saya tidak lagi berhak”, “Jangan berhias lagi untuk diriku”, “Tidak ada lagi halal haram di antara kita”, atau “Menyingkirlah dariku!” (Syarah al-Bukhari, Ibnu Baththal)
Perbedaan talak dengan lafadz sharih dan lafadz kinayah adalah jika lafadz sharih diucapkan, terhitung sebagai talak meskipun ia tidak meniatkan talak. Adapun lafadz kinayah, tidak terhitung sebagai talak melainkan dengan meniatkan talak, sebab lafadz kinayah masih mengandung makna selain talak. Oleh karena itu, diharuskan adanya niat untuk menjatuhkan talak. Namun, ada tiga keadaan yang dikecualikan:
a. Jika ia mengucapkan lafadz kinayah saat terjadi pertengkaran dengan istrinya.
b. Jika ia mengucapkan lafadz kinayah saat marah.
c. Jika ia mengucapkan lafadz kinayah untuk menjawab permintaan talak istrinya.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Pada tiga keadaan ini, talak telah jatuh meskipun dengan lafadz kinayah walaupun ia beralasan, ‘Saya tidak meniatkannya.’ Alasannya, ada qarinah (tanda) yang menunjukkan bahwa ia memang meniatkannya. Maka dari itu, ucapannya, ‘Saya tidak meniatkannya’ tidak dapat dibenarkan. Wallahu a’lam.” (al-Mulakhkhash hlm. 333—334, Taudhihul Ahkam 5/509)
Asy-Syaikh al-Utsaimin t berkata, “Akan tetapi, pendapat yang benar adalah lafadz kinayah tidak dihitung talak melainkan jika didasari niat menalak, walaupun pada tiga keadaan di atas. Sebab, mungkin saja seorang suami dalam keadaan marah berkata, ‘Keluarlah!’ atau ucapan semisalnya, dan dia sama sekali tidak meniatkan talak. Ia hanya ingin istrinya menyingkir dari hadapannya sampai reda amarahnya.
Bisa juga seorang istri berkata, ‘Talaklah aku! Talaklah aku!’ Lalu si suami menjawab, ‘Thaaliq,’ dan suami tidak meniatkan talak. Yang ia maksud dengan kata ‘thaaliq’ adalah lepas dari ikatan. Atau ia mengatakan, ‘Kamu saya talak, jika saya jatuhkan talak’ dengan menyebutkan syarat. Intinya, talak tidak jatuh melainkan jika disertai niat’.” (Syarhul Mumti’, Bab “Talak”)
Asy-Syaikh Muqbil t pernah ditanya tentang bentuk talak. Beliau t menjawab, “Talak dapat dilakukan dengan lafadz apa pun. Ia bisa mengatakan, ‘Kamu saya talak’ atau ‘Kembalilah kepada keluargamu!’, dan disertai niat, atau, ‘Kamu terputus,’ atau, lafadz-lafadz lain yang dapat dipahami sebagai talak, hanya saja membutuhkan niat. Jika lafadznya sharih, itu sudah cukup. Jika lafadznya tidak sharih, harus disertai niat. Rasulullah n berkata kepada seorang wanita, ‘Kembalilah kepada keluargamu!’ lalu memerintahkan seorang sahabat untuk memberikan hadiah untuknya.” (Fatawa al-Mar’ah Muslimah, hlm. 228)
Ibnul Qayyim t berkata, “Pembagian lafadz talak menjadi lafadz sharih dan kinayah, meskipun secara asal adalah pembagian yang benar, hanya saja kenyataannya berbeda tergantung kepada kebiasaan orang, waktu, dan tempat. Maka dari itu, setiap lafadz tidak menjadi hukum yang pasti. Mungkin saja, satu kata dinilai sebagai lafadz sharih menurut sebagian orang, tetapi menurut orang lain termasuk lafadz kinayah. Bisa jadi, pada waktu (masa) dan tempat tertentu sebuah kata dinilai sebagai lafadz sharih, namun menjadi lafadz kinayah pada waktu dan tempat lain. Kenyataan adalah saksinya.
Asy-Syaikh Ali bin Isa, qadhi (hakim)negeri Syaqra’, berkata, “Sesungguhnya, pada masa sekarang, lafadz ‘Tikhlaah’ termasuk lafadz sharih, menurut kebiasaan yang berlaku di kalangan kami.”
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Yang benar, lafadz-lafadz untuk menalak tidak terbatas pada kata-kata tertentu. Setiap lafadz yang menunjukkan makna talak dapat menjadi lafadz talak, sebagaimana hal ini berlaku pada muamalah lainnya. Wallahu a’lam.” (Taudhihul Ahkam, 5/510)

Faedah Lain
Dalam penjelasan hadits:
مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللهِ فَأَعِيْذُوهُ
“Barang siapa memohon perlindungan kepada Allah, berikanlah perlindungan untuknya.” (HR. Abu Dawud [2/622], Ahmad [no. 2248])
Al-Albani t mengatakan, “Hadits ini sanadnya jayyid (bagus), insya Allah.” (ash-Shahihah, 1/453)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Maknanya, ia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Engkau wajib untuk memberikan perlindungan untuknya karena ia telah memohon perlindungan kepada Dzat Yang Mahaagung. Oleh sebab itu, ketika Ibnatul Jaun berkata kepada Rasulullah n, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu’, Rasulullah n menjawab, ‘Sungguh, engkau telah meminta perlindungan kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!’.”
Akan tetapi, ada yang dikecualikan. Misalnya, seseorang yang diwajibkan untuk melakukan sesuatu lalu ia meminta perlindungan (agar tidak mengerjakannya). Yang seperti ini tidak boleh engkau beri perlindungan. Misalnya, engkau mengharuskan dia untuk menegakkan shalat berjamaah, lalu ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.”
Demikian pula halnya, jika engkau mengharuskan dia untuk berhenti dari berbuat haram, lalu ia meminta perlindungan kepada Allah l darimu. Engkau tidak boleh memenuhinya karena akan membantunya dalam hal dosa dan permusuhan. Di samping itu, Allah l tidak memberikan perlindungan kepada pelaku dosa. Seharusnya, pelaku dosa berhak mendapatkan hukuman, bukan dibantu dan dilindungi.
Demikian juga orang yang meminta perlindungan ke tempat yang dibenarkan secara syar’i untuk meminta perlindungan, meskipun ia tidak mengatakan, “Aku memohon perlindungan kepada Allah.” Engkau wajib memberikan perlindungan untuknya. Sebagaimana yang dikatakan ahlul ilmi, “Umpamanya, seseorang berbuat kejahatan lalu ia berlindung di tanah Haram, maka tidak dapat ditegakkan hukum hadd dan qishash terhadapnya di tanah Haram. Akan tetapi, ia ditekan: tidak boleh berjual beli dengannya atau muamalah upah-mengupah, sampai ia keluar. Berbeda halnya dengan orang yang melakukan pelanggaran terhadap kesucian tanah Haram dengan berbuat kejahatan di tanah Haram. Orang tersebut tidak mendapatkan perlindungan dari tanah Haram, karena ia telah melanggar kehormatan tanah Haram.” (al-Qaul al-Mufid, Ibnu Utsaimin 2/892)

Penutup
Al-Imam al-Bukhari t meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya. Beliau mengatakan, Utsman bin al-Haitsam telah menyampaikan hadits kepada kami, ‘Auf telah menyampaikan hadits kepada kami, dari al-Hasan, dari Abu Bakrah. Ia berkata, “Sungguh, pada hari-hari pertempuran Jamal, Allah l telah memberikan manfaat untuk diriku dengan sebuah sabda yang pernah aku dengar dari Rasulullah n. Padahal, sebelumnya hampir saja aku turut serta dalam pertempuran Jamal dan berperang bersama mereka.”
Abu Bakrah melanjutkan, “Ketika terdengar berita oleh Rasulullah n bahwa orang-orang Persia mengangkat putri Kisra sebagai raja, beliau bersabda, ‘Tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat seorang perempuan sebagai penguasa’.”
Semoga hadits Ibnatul Jaun di atas serta penjelasan ringkas yang menyertainya, dapat bermanfaat suatu saat nanti.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Mut’ah untuk Wanita yang Dicerai

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya) menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)

Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thabari t dalam tafsirnya menyebutkan pendapat sebagian ulama bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ucapan seorang muslim yang menyatakan, “Kami tidak akan melakukan itu (memberikan mut’ah [pemberian] kepada wanita yang dicerai, -pent.) melainkan jika kami ingin berbuat kebajikan,” ketika turun ayat:
“Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka (istri yang dicerai). Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian yang patut. Hal itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Baqarah: 236)

Penjelasan Mufradat Ayat
“Wanita-wanita yang diceraikan….”
Asy-Syinqithi t berkata, “Yang dimaksud ‘wanita-wanita yang diceraikan’ dalam ayat ini umum, baik seorang istri yang telah digauli maupun belum, baik yang sudah ditentukan mahar/maskawinnya maupun belum. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah l:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, mari, kuberikan kepadamu mut’ah (pemberian) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (al-Ahzab: 28)
Juga firman Allah l:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (al-Ahzab: 21)
Telah menjadi suatu ketetapan dalam ilmu ushul bahwa suatu percakapan yang khusus kepada Nabi n, maka hukum (yang ada padanya) berlaku umum untuk seluruh umatnya, hingga ada dalil yang menunjukkan pengkhususannya.”
“Mut’ah (pemberian).”
Mut’ah adalah pemberian kepada wanita yang telah dicerai sesuai dengan kemampuan suami.
Ibnu Jarir ath-Thabari t mengatakan, “Kata ﮊ menurut orang Arab adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati/diambil manfaatnya, baik penghidupan, pakaian, perhiasan, kelezatan, maupun yang lainnya. Dengan demikian, Allah l telah menjadikan kehidupan setiap makhluk hidup sebagai harta benda (pemberian) baginya untuk dinikmati/dimanfaatkan di masa hidupnya. Bagi manusia, bumi merupakan pemberian di masa hidupnya. Mereka tinggal di bumi, memakan berbagai makanan pokok dan buah-buahan yang dikeluarkan oleh Allah l darinya, serta merasakan berbagai kelezatan yang diciptakan oleh Allah l di bumi. Pun setelah meninggal, Allah l menjadikan bumi sebagai tempat manusia dikumpulkan. Allah l menjadikan bumi sebagai tempat peristirahatan dan kediaman. Kata mata’ mencakup semua hal itu.”
Beliau juga menjelaskan, mata’ juga bermakna segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya, seseorang merasa senang dengannya, berupa pakaian, nafkah (biaya hidup), dan budak.
Ibnul Jauzi mengatakan dalam tafsirnya, “Mata’ adalah nama bagi segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya.”
Hukum Mut’ah (Pemberian untuk Wanita yang Dicerai)
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mut’ah: wajib atau sunnah.
1. Pendapat yang mengatakan wajibnya mut’ah.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atha’, Jabir bin Zaid, Sa’id bin Jubair, Sa’id bin al-Musayyab, al-Hasan al-Bashri, al-Imam asy-Syafi’i—dalam salah satu pendapatnya—, al-Imam Ahmad, dan Ishaq.
Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang keadaan wanita yang diceraikan.
Pendapat pertama, apa pun keadaannya—apakah diceraikan dalam keadaan sudah dicampuri atau belum, sudah ditentukan maharnya atau belum—tetap mendapatkan mut’ah. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ali bin Abi Thalib z, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, Abul ‘Aliyah, az-Zuhri rahimahumullah. As-Suyuthi t dalam ad-Durrul Mantsur menyebutkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib z yang dikeluarkan oleh Ibnul Mundzir t. Ali mengatakan bahwa setiap wanita mukminah yang dicerai (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya), baik dia wanita merdeka maupun budak perempuan1. Lalu beliau membaca ayat:
“Wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya) menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)
Qatadah meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan Abul ‘Aliyah, keduanya berpendapat bahwa setiap wanita yang dicerai hendaklah (wajib) diberi mut’ah oleh suaminya, baik sudah dicampuri maupun belum, walaupun mahar sudah ditentukan. Dalam riwayat lain, al-Hasan al-Bashri t berkata, “Setiap wanita yang dicerai wajib diberi mut’ah, meskipun ia belum dicampuri dan belum ditentukan maharnya.” Sa’id bin Jubair t berkata, “Setiap wanita yang dicerai hendaklah diberi mut’ah oleh suaminya menurut kadar yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”
Pendapat kedua, suami wajib memberi mut’ah kepada istri yang dicerai, kecuali istri yang dicerai itu belum dicampuri dan sudah ada penentuan mahar, maka tidak ada mut’ah untuknya. Akan tetapi, suami berkewajiban membayar setengah dari mahar yang telah ditentukan.
Pendapat ini disandarkan kepada Abdullah bin Umar, Sa’id bin al-Musayyab, al-Qashim bin Muhammad, Syuraih, dan Ibrahim rahimahumullah. Diriwayatkan dari Mujahid t, ia mengatakan bahwa suami wajib memberikan mut’ah kepada istri yang dicerai, kecuali istri yang dicerai itu belum dicampuri dan sudah ada penentuan mahar, maka tidak ada mut’ah untuknya. Adapun riwayat dari Syuraih, “Wanita yang dicerai dan belum dicampuri namun sudah ada penentuan mahar, dia mendapatkan mut’ah setengah dari mahar yang akan diberikan.”
Pendapat ketiga, wanita yang dicerai sebelum dicampuri dan belum ada penentuan mahar, maka tidak ada mut’ah untuknya. Yang ada adalah pemberian mahar yang semisal. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Auza’i, ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan al-Imam Ahmad.
2. Pendapat yang menyatakan sunnahnya mut’ah, tidak wajib atas siapa pun, baik wanita yang sudah ditentukan maharnya maupun belum, yang sudah dicampuri maupun belum.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Imam Malik, al-Laits bin Sa’d, dan Ibnu Abi Laila. Mereka berpendapat, perintah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajib, tetapi hanya sunnah atau mustahab. Alasannya, Allah l menyebutkan bahwa mut’ah itu adalah ketentuan bagi orang-orang yang ingin berbuat kebajikan. Inilah yang menjadi faktor yang memalingkan makna perintah wajib kepada sunnah.
Setelah menyebutkan beberapa pendapat ulama dalam hal ini, Ibnu Jarir t berkata, “Menurut saya, pendapat yang benar adalah pendapat yang menyatakan wajibnya setiap wanita yang dicerai diberi mut’ah, karena Allah l menyebutkan:
“Wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya) menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)
Dalam ayat ini, Allah memberlakukan (hukum ini) terhadap setiap wanita yang dicerai, tidak mengkhususkan sebagian mereka. Maka dari itu, tidak boleh seorang pun memalingkan keumuman ayat di atas kepada pengkhususan kecuali dengan sebuah hujjah yang bisa diterima.”
Sebagian ulama berpendapat, wanita yang khulu’ dan mula’anah tidak mendapatkan mut’ah karena mereka yang menghendaki perceraian. Ibnul Qasim t berkata, tidak ada mut’ah dalam hal pernikahan yang di-fasakh (dibatalkan). Adapun ayat:
“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 241)
berlaku pada wanita yang ditalak, bukan wanita yang di-fasakh (digugurkan akad nikahnya), seperti khulu’ dan mula’anah.
Adapun ulama yang lain, seperti at-Tirmidzi, Atha’, dan an-Nakha’i rahimahumullah, berpendapat bahwa wanita yang khulu’ mendapat mut’ah. Di sisi lain, ashabu ra’yi berpendapat bahwa wanita mula’anah mendapat mut’ah.

Ukuran Mut’ah
Para ulama berbeda pendapat dalam hal penentuan kadar mut’ah.
Ibnu Abbas c berpendapat, yang paling tinggi (maksimum) adalah mendapatkan budak, yang menengah adalah tiga macam pakaian: pakaian di dalam rumah, kerudung, dan kain penutup badan/sejenis jubah, serta yang paling rendah adalah pakaian.
Pendapat serupa dikatakan oleh Sa’id bin al-Musayyab, asy-Sya’bi, dan az-Zuhri rahimahumullah. Ini juga pendapat al-Imam asy-Syafi’i t, dan beliau menambahkan, yang paling rendah (minimum) adalah sesuatu yang memiliki nilai harga walaupun sedikit.
Pada riwayat yang lain, Ibnu Abbas c berkata, “Yang paling tinggi adalah budak, kemudian pakaian, kemudian nafkah.”
Atha’ t berkata, “Yang sedang/pertengahan adalah pakaian dalam rumah, kerudung, dan pakaian sejenis jubah.”
Al-Imam asy-Syaukani t dalam Fathul Qadir menyebutkan riwayat yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi, dari Jabir bin ‘Abdillah z. Beliau berkata bahwa ketika Hafsh bin al-Mughirah menalak istrinya, Fathimah, ia datang kepada Nabi n. Beliau n berkata kepada si suami, “Berilah mut’ah kepadanya.” Si suami menjawab, “Aku tidak memiliki sesuatu yang dapat aku berikan kepadanya.” Nabi n berkata, “Sesungguhnya mut’ah adalah suatu keharusan. Berikanlah mut’ah kepadanya walaupun hanya setengah sha’ kurma.”
Beliau juga menyebutkan perkataan al-Imam Malik dan al-Imam asy-Syafi’i rahimahumallah yang berpendapat bahwa mut’ah tidak ada batasnya. Adapun Abu Hanifah t berpendapat, jika terjadi perselishan antara suami dan istri tentang mut’ah, tidak boleh kurang dari lima dirham karena beliau berpendapat bahwa mahar tidak boleh kurang dari sepuluh dirham.
Al-Imam al-Qurthubi t dalam tafsirnya menyebutkan pendapat al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad rahimahumallah, bahwa mut’ah itu sebatas kemudahan dan kesulitan suami. Dengan demikian ukurannya tergantung ijtihad seorang hakim. Al-Imam Ahmad t juga berkata, “Ukuran mut’ah setara dengan perkara (pakaian) yang untuk shalat, seperti pakaian resmi, pakaian wanita dalam rumah, dan kerudung.” Adapun al-Imam Malik t mengatakan, “Menurut pendapat kami, tidak ada batasan banyak dan sedikitnya mut’ah.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Al-Qurthubi mengatakan, ulama bersepakat tentang disyariatkannya mut’ah bagi wanita yang merdeka. Adapun budak perempuan yang dicerai sebelum dicampuri dan ditentukan maharnya, jumhur berpendapat ia wajib mendapat mut’ah. Sebagian ulama lain, seperti al-Auza’i dan ats-Tsauri, berpendapat tidak ada mut’ah untuknya, karena ia menjadi milik tuannya.

Tanya Jawab Ringkas edisi 72

Adakah Zakat atas Penjualan Tanah?
Ana menjual tanah untuk membangun rumah, bagaimana cara membayar zakatnya?
UD. Al-Barakah

Hasil penjualan tanah dan yang semisalnya tidak ada zakatnya. Hanya saja, uang hasil penjualan tanah itu jika nilainya mencapai nishab perak (595 gram), yaitu sekitar Rp3.368.000,00 dan bertahan sampai akhir tahun (menurut hitungan bulan qamariah dan tahun hijriah), berarti terkena zakat uang. Zakatnya wajib dikeluarkan di akhir tahun saat sempurna periode setahun (haul) sebesar 2,5%. Lihat rinciannya pada Problema Anda tentang Zakat Uang di Majalah Asy-Syariah edisi 45.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Tukang Servis TV
Profesi sebagai montir alat-alat eletronik (TV, tape, alat-alat hiburan) itu syar’i apa tidak?

Tidak syar’i dan penuh dengan syubhat. Televisi jelas haram dan merusak moral, tidak boleh saling membantu dalam perbuatan dosa. Adapun tape dan semacamnya yang tidak bergambar memiliki fungsi ganda. Artinya, bisa digunakan untuk mendengar musik/lagu dan ini maksiat, bisa pula untuk mendengar murattal (bacaan) Al-Qur’an, ceramah Islami atau hal lainnya yang bermanfaat.
Dengan demikian, yang seperti ini ada rinciannya. Jika Anda tahu atau berprasangka kuat (dengan indikasi yang ada) bahwa alat itu digunakan pemiliknya untuk mendengar musik/lagu, tidak boleh melayaninya karena berarti membantu dalam hal maksiat. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Adakah Zakat Setiap Gajian?
Saya menerima gaji (tiap bulan) sebesar Rp3.300.000,00. Apakah gaji saya tersebut sudah terkena wajib zakat mal 2,5%? Apakah bayar zakatnya setiap gajian seperti petani setiap panen?
********@gmail.com

Tidak ada zakat gaji atau zakat profesi dalam syariat Islam. Gaji Anda tidak terkena wajib zakat mal setiap kali gajian. Hanya saja, jika akumulasi gaji Anda—setelah dikurangi berbagai pengeluaran tentunya—mencapai nishab perak (595 gram), yaitu sekitar Rp3.368.000,00 dan nilai tersebut bertahan sampai akhir tahun (menurut hitungan bulan qamariah dan tahun hijriah), berarti terkena zakat uang. Zakatnya wajib dikeluarkan di akhir tahun saat genap periode setahun (haul) sebesar 2,5% dari seluruh uang yang Anda miliki. Lihat rinciannya pada Problema Anda tentang Zakat Uang di Majalah Asy-Syariah edisi 45.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Menjual Barang dengan Dua Harga
Ana mau tanya, bagaimana hukumnya kita menjual suatu barang dengan dua harga? Gambarannya, saya menjual sebuah handphone. Jika pembeli membayar kontan, harganya Rp1,5 juta. Tetapi, jika pembeli membayarnya satu minggu setelah waktu pengambilan barang, atau 1 bulan kemudian, harganya menjadi Rp1,6 juta. Mohon penjelasannya, ustadz! Soalnya kami ini orang lapangan yang sering kali mengalami hal ini. Syukran atas penjelasannya!
********@gmail.com

Boleh, selama ada penentuan salah satunya pada saat akad. Jadi, transaksinya hanya satu pada saat akad, apakah yang pertama atau yang kedua. Hal ini menurut pendapat yang rajih.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Sepupu Bisa Menjadi Wali?
Insya Allah saya akan menikah dalam waktu dekat ini. Tetapi, saya bingung masalah walinya. Ayah saya sudah meninggal. Abang ayah saya juga sudah meninggal. Saya juga tidak punya saudara laki-laki kandung.
Adat di kampung saya mengatakan bahwa sepupu saya yang dari pihak ayah bisa menjadi wali. Tetapi, ada juga yang bilang bahwa sepupu ayah saya juga bisa menjadi wali. Jadi, pilihannya ada dua: sepupu ayah yang laki-laki dari garis keturunan laki-laki, atau sepupu saya yang laki-laki garis ayah saya.
Setahu saya mereka itu bukan mahram saya dan tidak bisa menjadi wali. Mohon penjelasan dari Asy-Syariah. Saya tunggu balasannya. Terima kasih.
**********@ymail.com

Ya, benar apa yang Anda sampaikan bahwa sepupu bukan mahram. Akan tetapi, sepupu laki-laki dari garis ayah bisa menjadi wali nikah. Begitu pula, sepupu ayah yang laki-laki dari garis keturunan laki-laki bisa menjadi wali. Yang lebih berhak di antara keduanya adalah sepupu laki-laki Anda karena lebih dekat.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Membeli Rumah Secara Kredit
Bismillah. Ana membeli sebuah rumah sederhana. Rumah tersebut dikelola dan dijual oleh perusahaan pengembang dan bank. Oleh bank, diberikan dua pilihan, yaitu membeli dengan mengangsur atau tunai. Karena ana tidak mampu membeli dengan harga tunai, ana memilih untuk membelinya dengan cara mengangsur, yang harga rumahnya jatuhnya lebih tinggi dibandingkan dengan harga tunai. Yang ingin ana tanyakan, apakah perbedaan harga tersebut termasuk bantu-membantu dalam riba? Jika hal tersebut haram, bagaimana cara taubatnya kepada Allah l? Jazakumullah khairan katsiran.
Abu Furqan

Dapat dipastikan bahwa sistem transaksi kredit tersebut mengandung riba, meskipun kami tidak melihat surat akad perjanjiannya. Kami memastikan demikian berdasarkan apa yang telah diketahui bersama bahwa bank tidak pernah terlepas dari sistem riba. Kami juga yakin bahwa sistem angsurannya mesti disertai dengan denda jika menunggak. Kalau demikian, berarti termasuk dalam kategori transaksi dua harga dalam satu akad dan hal ini adalah riba yang dimaksud oleh hadits yang sahih.
Di sisi lain, kalau pembayaran angsurannya ke perusahaan yang bersangkutan melalui bank, hal ini juga mengandung riba dan termasuk dalam kategori transaksi ‘inah yang
terlarang dalam hadits yang sahih. Hendaklah Anda bertaubat kepada Allah l dan berusaha membatalkan akad yang ada tanpa menanggung kerugian, jika memungkinkan.
Jika tidak memungkinkan, berusahalah melunasinya tanpa terkena denda disertai taubat yang nashuh (benar).
Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Khulu’ yang Tercela

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Tidak boleh meminta khulu’ melainkan karena alasan takut tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah l.
Dalilnya adalah firman Allah l:
“Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (al-Baqarah: 229)
Ayat ini secara jelas menyatakan haramnya khulu’ yang dilakukan bukan dengan alasan takut tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah l. Selanjutnya Allah l berfirman:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Ayat ini menyiratkan bahwa keduanya terkena dosa jika khulu’ dilakukan bukan dengan alasan takut tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah l. Berikut Allah l menutup ayat-Nya dengan ancaman keras bagi pelakunya, Allah l berfirman:
“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)
Telah datang pula ancaman keras dalam hadits Tsauban z:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ
“Siapa saja wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa ada apa-apa maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya, disahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 2035)
Hadits ini menunjukkan bahwa hal itu adalah dosa besar, sebagaimana kata Ibnu ‘Utsaimin.
Kedua dalil tersebut menunjukkan secara jelas haramnya khulu’ yang dilakukan tanpa ada tuntutan hajat untuk itu, sebab hal itu mengandung mudarat terhadap keduanya dan menghilangkan maslahat pernikahan tanpa adanya tuntutan hajat. Karena hal itu merupakan amalan yang tidak syar’i, maka tidak sah dan tebusan dikembalikan. Rasulullah n bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
“Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama ini yang bukan darinya maka perkara itu tertolak.” (Muttafaq ‘alaih dari ‘Aisyah x)
Dalam riwayat Muslim dengan lafadz:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dalam agama ini maka amalannya tertolak.”
Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad dan pendapat Dawud azh-Zhahiri, dirajihkan Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah, dan Ibnu ‘Utsaimin.

Pendapat kedua, hal itu makruh dan sah. Ini adalah mazhab Hanbali dan jumhur ulama.
Namun, pendapat pertama lebih kuat.

Kesimpulannya, yang benar khulu’ tidak sah dan tebusan dikembalikan.
Namun, apakah bisa jatuh sebagai talak? Terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini.
– Menurut mazhab Hanbali, jika dijatuhkan dengan lafadz talak yang khas atau selainnya dengan niat talak berarti jatuh sebagai talak.
– Menurut Ibnu ‘Utsaimin, tidak terjadi sesuatu pada seluruh rincian tersebut, baik dijatuhkan dengan lafadz khas talak maupun selainnya yang disertai niat talak. Khulu’ tidak terjadi karena tidak ada tebusan (tebusan tidak dianggap). Talak juga tidak terjadi karena khulu’ selamanya adalah fasakh dan tidak bisa sebagai talak.
Wallahu a’lam.

 

Hukum Khulu’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Syariat Khulu’ dan Hikmahnya
Terdapat dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah tentang disyariatkannya khulu’, di antaranya adalah:
1. Firman Allah l:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)

2. Hadits Ibnu ‘Abbas c:
جَاءَتْ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ n فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْر (إِنِّي لاَ أَعْتِبُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ وَلَكِنِّي لاَ أُطِيقُه). فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ. فَرَدَّتْ عَلَيْهِ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا.
Istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada Nabi n dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, tetapi aku takut kekufuran.” (Pada riwayat lain, “Sesungguhnya aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, tetapi aku tidak sanggup bersamanya.”)
Nabi n bersabda kepadanya, “Apakah kamu sanggup mengembalikan kebunnya?”
Ia menjawab, “Ya.”
Ia lalu mengembalikan kebunnya kepada Tsabit dan Nabi n pun memerintahkan Tsabit memisahnya. Dia pun memisahnya.” (HR. al-Bukhari dan lainnya)
Kekufuran yang dimaksud dalam hadits ini adalah kufur (durhaka) terhadap suami, yaitu tidak mensyukuri kebaikannya dengan menaati dan menunaikan haknya, tetapi ingkar terhadapnya dengan melalaikan hak-haknya.

Kedua dalil di atas menunjukkan bahwa hikmah disyariatkannya khulu’ adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum-hukum Allah l dalam kehidupan suami istri akibat kebencian seorang istri terhadap akhlak, agama (amalan), ataupun fisik suami.

Masalah: Kekhawatiran akan terjadinya pelanggaran hukum-hukum Allah l dalam kehidupan suami istri akibat kebencian seorang istri terhadap akhlak, agama (amalan), atau fisik suami, sudah cukup menjadi alasan meminta khulu’.
Tidak dipersyaratkan harus terjadinya nusyuz (kedurhakaan istri kepada suami) atau perlakuan suami yang tidak baik (tidak memberi hak istri) sebagai alasan yang membolehkan meminta khulu’. Inilah pendapat jumhur dan yang dipilih oleh asy-Syaukani dalam as-Sail al-Jarrar.

Masalah: Yang tampak dari ayat di atas, khulu’ tidak boleh dilakukan kecuali jika ada kekhawatiran pada keduanya (suami dan istri)
Artinya, si istri khawatir tidak dapat menaati suaminya sebagaimana mestinya dan suaminya pun khawatir tidak dapat berlaku baik kepada istrinya. Namun, hadits Ibnu ‘Abbas c menunjukkan bahwa adanya kekhawatiran dari pihak istri saja cukup sebagai alasan dibolehkannya khulu’. Jadi, tidak dipersyaratkan harus ada kekhawatiran dari kedua belah pihak. Wallahu a’lam.

Hukum Istri Meminta Khulu’ dan Hukum Suami Menanggapinya
Khulu’ terkait dengan dua pihak, yaitu pihak istri selaku yang menuntut khulu’ dan pihak suami selaku yang menjatuhkan khulu’. Untuk itu, masalah ini kami urai menjadi dua pembahasan.

1. Hukum istri meminta khulu’
Seluruh ulama sepakat akan bolehnya khulu’, selain pendapat syadz (ganjil) dari Abu Bakr al-Muzani yang memandang tidak boleh dengan klaim bahwa ayat tersebut telah mansukh (dihapus) hukumnya. Pendapat ini gugur secara dalil, karena tidak boleh mengklaim suatu nash telah mansukh (dihapus hukumnya) hanya dengan dugaan tanpa dalil. Di sini, tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu.
Hadits Ibnu ‘Abbas c menunjukkan bahwa istri Tsabit bin Qais meminta khulu’ karena membenci fisik suaminya yang jelek sehingga khawatir durhaka terhadap suaminya karena tidak sanggup hidup bersamanya.
Ucapan istri Tsabit pada hadits tersebut, “Aku tidak mencela Tsabit perihal agama dan akhlaknya” menunjukkan bahwa merupakan hal biasa bagi seorang istri meminta khulu’ jika ia membenci akhlak atau agama (amalan) suaminya yang jelek. Ini diterangkan oleh al-Imam Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzil Jalali wal Ikram.
Oleh karena itu, boleh seorang istri meminta khulu’ dari suaminya jika ia membenci akhlak, agama (amalan), atau fisik suaminya, serta khawatir tidak mampu menegakkan hak-hak suaminya yang wajib ditunaikannya ketika hidup bersamanya.
Kelemahan dan kejelekan agama yang dimaksud di sini adalah yang tidak sampai taraf kekafiran. Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam asy-Syarh al-Mumti’, “Kejelekan agama yang dimaksud adalah kejelekan agama yang tidak sampai pada taraf menjadikan pelakunya kafir, seperti suaminya melalaikan shalat jamaah, minum khamr (minuman beralkohol yang memabukkan), merokok, mencukur jenggot, atau semisalnya.”
Abu Thalib (salah seorang ulama mazhab Hanbali) menukil dari al-Imam Ahmad, “Jika seorang istri membenci suaminya sedangkan suaminya mencintainya, saya tidak menyuruhnya meminta khulu’ dan sepatutnya dia bersabar.”
Al-Qadhi membawa nash ucapan al-Imam Ahmad ini kepada hukum mustahab (sunnah), karena al-Imam Ahmad telah membolehkan khulu’ pada beberapa tempat. Artinya, boleh meminta khulu’, tetapi bersabar lebih baik (utama). Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memilih kuatnya hukum makruh meminta khulu’ pada kondisi ini.
Akan tetapi, jika khawatir terkena dampak negatif dari kejelekan agama suami, semakin kuat bolehnya meminta khulu’. Maka dari itu, ketika al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz ditanya tentang hukum seorang istri minta khulu’ dari suaminya yang peminum khamr, mereka berfatwa—sebagaimana dalam Fatawa al-Lajnah—, “Jika suaminya tidak mau berhenti minum khamr, ia boleh meminta khulu’ darinya agar terhindar dari efek negatif terhadap dirinya dan anak-anaknya.”
Adapun jika kejelekan agama suami sampai pada taraf kekafiran dan tidak bisa lagi dinasihati, ia wajib meminta khulu’ karena haram baginya bersuamikan orang kafir, berdasarkan Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’.
Ini ditegaskan oleh as-Sa’di, Ibnu ‘Utsaimin, dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai Ibnu Baz.
Termasuk di dalamnya jika suami menganut akidah bid’ah yang bertentangan dengan akidah Islam dan membatalkan keislaman, seperti akidah Rafidhah1, akidah hululiyah dan ittihadiyah2, serta akidah Jahmiyah3.
Termasuk pula jika suami tidak melaksanakan shalat wajib lima waktu dan meninggalkannya sama sekali, menurut salah satu pendapat ulama yang menganggapnya kafir (murtad).
Oleh karena itu, Ibnu ‘Utsaimin dan al-Lajnah berfatwa wajibnya seorang istri meminta khulu’ dari suami yang meninggalkan shalat fardhu lima waktu karena mereka berpendapat bahwa seorang muslim yang meninggalkan shalat wajib lima waktu adalah kafir (murtad).
Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam asy-Syarh al-Mumti’, “Wajib bagi istrinya berpisah darinya dengan segala kemampuan yang dimiliki. Seluruh kaum muslimin berkewajiban membantunya dengan harta (untuk melakukan khulu’).”
Bahkan, as-Sa’di dalam al-Fatawa as-Sa’diyyah berfatwa bahwa istri wajib meminta khulu’ dari suami yang tidak menjaga kesucian dan kehormatan dirinya dengan perzinaan (tidak ‘iffah) jika ia tidak bisa lagi dinasihati. Hal ini kuat, mengingat haramnya menikah dengan pezina, wallahu a’lam.

2. Hukum suami menanggapi permintaan khulu’ istri
Jika istri meminta khulu’ dalam bentuk yang dibolehkan oleh syariat’, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang hukum suami dalam menanggapinya dan mengkhulu’nya.
a. Pendapat yang mengatakan wajib.
Alasannya, inilah yang tampak dari perintah Rasulullah n kepada Tsabit bin Qais. Di samping itu, kebersamaan wanita itu bersama suaminya akan bermudarat terhadapnya, sedangkan mencegah mudarat serta meniadakannya dari seorang muslimah adalah wajib.
Pendapat ini dirajihkan oleh ash-Shan’ani dan al-‘Utsaimin. Berdasarkan hal ini, hakim berwenang memaksanya agar mengkhulu’ istrinya jika dia enggan.
b. Pendapat yang mengatakan tidak wajib.
Alasannya, perintah Rasulullah n kepada Tsabit adalah arahan semata, bukan perintah wajib. Berdasarkan hal ini, hakim hanya sekadar memberi arahan dan menasihatinya. Jika dia menyambut, itulah yang diinginkan. Jika dia enggan, dibiarkan saja.
Tampaknya pendapat pertama lebih kuat, wallahu a’lam.
Adapun jika dikhawatirkan wanita itu akan nekat bunuh diri, nekat mencelakai orang lain, atau bentuk kenekatan lainnya yang bisa saja terjadi akibat sakit hati yang dideritanya bersama suami yang dibencinya, tidak diragukan lagi bahwa wajib atas suaminya menyambut permintaan khulu’nya dan memisahkannya. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin.

Besar Kecilnya Tebusan
Jumhur (mayoritas) ulama serta empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad) berpendapat boleh bagi si suami mengambil tebusan lebih besar dari mahar yang telah dia berikan kepada istrinya. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan, Ibnu ‘Umar, dan Ibnu ‘Abbas g.
Dalilnya adalah keumuman firman Allah l:
ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫﯬ
“Tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Kata مَا ( ma’) pada ayat tersebut adalah isim maushul yang berfungsi secara bahasa untuk menunjukkan makna yang umum. Ini berarti secara umum meliputi seluruh jenis tebusan, ragam, nilai, dan tata cara pembayarannya.
Akan tetapi, jumhur berbeda pendapat tentang makruh atau tidaknya. Masalahnya, datang riwayat tambahan pada hadits Ibnu ‘Abbas c dengan lafadz:
أَنَّ جَمِيلَةَ بِنْتَ سَلُولَ أَتَتْ النَّبِيَّ n فَقَالَتْ: وَاللَّهِ مَا أَعْتِبُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ, وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلاَمِ لاَ أُطِيقُهُ بُغْضًا. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ n: أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ n أَنْ يَأْخُذَ مِنْهَا حَدِيقَتَهُ وَلاَ يَزْدَادَ.
“Jamilah bintu Salul telah mendatangi Nabi n lantas berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mencela Tsabit atas agama dan akhlaknya, tetapi aku benci kekufuran dalam Islam karena aku tidak sanggup menahan kebencianku kepadanya.’ Nabi n pun bersabda kepadanya, ‘Apakah kamu sanggup mengembalikan kebunnya?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Maka Nabi n memerintahkan Tsabit untuk mengambil kebunnya dari wanita itu dan tidak mengambil lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi)
Riwayat ini dihukumi sahih oleh al-Albani.4
Terdapat pula penguat yang semakna dengannya dari riwayat mursal ‘Atha’ dari Rasulullah n yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dan mursal Abi Zubair dari Rasulullah n yang dikeluarkan ad-Daraquthni.5
Adapun riwayat mursal Abu Zubair lafadznya sebagai berikut.
فَقَالَ النَّبِيُّ n: أَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيْقَتَهُ الَّتِيْ أَعْطَاكِ؟ قَالَتْ: نَعْمْ، وَزِيَادَةً. فَقَالَ النَّبِيُّ n:

أَمَّا الزِّيّادَةُ فَلاَ، وَلَكِنْ حَدِيْقَتَهُ. قَالَتْ: نَعَمْ.
“Nabi n berkata, ‘Apakah kamu sanggup mengembalikan kebunnya yang telah diberikannya kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Ya, bahkan kuberi tambahan.’ Nabi n berkata, ‘Adapun tambahannya tidak usah, tetapi kembalikan kebunnya saja.’ Ia menjawab, ‘Ya’.”
Ibnul Qayyim t juga menguatkan hadits ini.
Oleh karena itu, Ahmad berpendapat hal itu boleh tetapi makruh, berdasarkan perpaduan makna ayat dan hadits tersebut. Ini dirajihkan oleh Ibnul Qayyim dan Ibnu ‘Utsaimin.
Sementara itu, asy-Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah rahimahumullah berpendapat tidak makruh dengan alasan hadits tersebut lemah. Seandainya hadits tersebut tsabit (tetap), larangan Nabi n itu kemungkinannya sebagai saran dan bimbingan saja kepadanya agar tidak menyusahkan diri dengan memberi lebih dari maharnya. Meskipun begitu, al-Imam Malik t mengatakan bahwa hal itu bertentangan dengan keluhuran akhlak.
Sepertinya, yang terkuat adalah pendapat yang mengatakan makruh, wallahu a’lam.6

 

Catatan Kaki:

1 Rafidhahnya Khumaini (Khomeini) yang sesat dan kafir, tokoh Syiah Rafidhah Iran. Lihat pembahasan tentang Syiah Rafidhah pada Rubrik Manhaji edisi 05.
2 Keduanya adalah aliran ekstrem kaum Sufi. Hululiyah dipelopori oleh al-Husain al-Hallaj. Adapun ittihadiyah (paham wihdatul wujud) oleh Ibnu Arabi yang sesat dan kafir.
3 Akidah Jahm bin Shafwan yang sesat dan kafir.

4 Lihat kitab Shahih Ibnu Majah (no. 2086) dan al-Irwa’ (no. 2037).
5 Riwayat mursal adalah riwayat seorang tabi’in (pengikut sahabat) dari Rasulullah n. Riwayat seperti ini tergolong dha’if (lemah) karena putus antara tabi’in tersebut dengan Rasulullah n, tetapi bisa jadi syahid (penguat) dalam penguatan hadits.

6 Ada juga yang berpendapat haram, dan ini yang dirajihkan oleh asy-Syaukani, berdalil dengan hadits tersebut.

Hakikat Khulu’ Sabagai Fasakh

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Definisi Khulu’
Secara etimologi (tinjauan bahasa), khulu’ berasal dari kata خَلَعَ الثَّوْبَ (melepas pakaian), karena istri adalah pakaian bagi suaminya secara maknawi.
Allah l berfirman:
“Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah: 187)
Khulu’ diistilahkan pula dengan fida’, iftida’, dan fidyah, yang artinya tebusan, karena istri yang melakukan khulu’ menebus dirinya dengan bayaran kepada suami. Allah l berfirman:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Adapun definisi khulu’ secara terminologi (menurut istilah) adalah perpisahan dengan istri yang ditebus dengan bayaran dari istri atau dari selainnya.
Jadi, khulu’ berkonsekuensi dua perkara: bayaran (tebusan) dan perpisahan.
1. Bayaran (tebusan)
Yang berkewajiban membayar tebusan tersebut adalah istri. Namun, sah dibayarkan oleh walinya. Bahkan, sah dibayarkan oleh orang lain, menurut pendapat yang benar. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin.
Ibnu Taimiyah berkata—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa dan al-Ikhtiyarat—, “Khulu’ boleh dilakukan seorang wanita dari pihak/orang lain, menurut empat imam mazhab dan jumhur. Jadi, boleh bagi orang lain menebus si istri dari suaminya, sebagaimana bolehnya menebus tawanan dan menebus budak dari tuannya untuk dimerdekakan. Oleh karena itu, dipersyaratkan bertujuan untuk membebaskannya dari tangan suaminya demi maslahat wanita tersebut.”
Contohnya, seorang istri butuh melakukan khulu’ karena tidak mencintai suaminya, tetapi tidak punya harta untuk menebus dirinya. Jika ada orang lain yang membayarkan tebusannya, berarti ia telah berbuat baik demi maslahat wanita itu. Jadi, siapa pun yang dianggap sah mengeluarkan hartanya tanpa imbalan, sah baginya mengeluarkan hartanya untuk pembayaran tebusan khulu’.

2. Perpisahan
Pisah khulu’ hanya terjadi jika dijatuhkan oleh suami atau selainnya yang berwenang menjatuhkannya2 atas permintaan istri dengan mengucapkan lafadz khulu’ atau yang semakna dengannya. Tanpa dijatuhkan dengan lafadz khulu’ atau yang semakna dengannya, khulu’ tidak jatuh menurut pendapat yang rajih—sebagaimana akan diterangkan nanti.
Adapun perpisahan yang diinginkan sendiri oleh suami dan dijatuhkannya tanpa bayaran (tebusan), diistilahkan sebagai pisah talak.

Masalah: Khulu’ tidak jatuh tanpa dijatuhkan oleh suami
Khulu’ hanya jatuh jika suami menjatuhkannya dengan mengucapkan lafadz khulu’ atau yang semakna dengannya. Tanpa dijatuhkan dengan lafadz, maka khulu’ tidak jatuh. Inilah pendapat yang rajih.
Ibnu Qudamah t menegaskannya berdasarkan alasan berikut.
1. Khulu’ adalah tindakan terkait dengan kepentingan biologis, sehingga tidak sah tanpa dilafadzkan oleh suami, seperti halnya pernikahan dan talak.
2. Mengambil harta yang diberikan istri adalah semata menggenggam tebusan. Ini tidak berkedudukan mewakili penjatuhan khulu’.
Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Abbas c tentang kasus permintaan khulu’ istri Tsabit bin Qais bin Syammas yang diriwayatkan oleh al-Bukhari pada kitab Shahih-nya. Rasulullah n berkata kepada Tsabit:
وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا
“Nabi n memerintah Tsabit memisahnya, maka dia pun memisahnya.”
Pada riwayat al-Bukhari lainnya dengan lafadz:
اقْبَلِ الْحَدِيْقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيْقَةً.
“Terimalah kebun itu dan talaklah dia.”3
Riwayat-riwayat ini jelas menunjukkan bahwa lafadz suami menjatuhkan khulu’ adalah syarat jatuhnya khulu’.
Oleh karena itu, as-Sa’di berfatwa dalam al-Fatawa as-Sa’diyyah bahwa khulu’ belum jatuh dan perpisahan belum terjadi dengan sebatas perbincangan untuk khulu’ dan kesepakatan bahwa suaminya akan menjatuhkan khulu’ jika istrinya membayar tebusan senilai harga yang disepakati. Dalam hal ini, boleh baginya menarik kembali niatnya untuk menjatuhkan khulu’.

Lafadz Khulu’
Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa— menjelaskan, “Khulu’ dan talak sah dengan selain bahasa Arab, menurut kesepakatan imam-imam umat ini.”

Khulu’ adalah fasakh (pembatalan akad) dan ‘iddahnya satu kali haid
Yang benar, khulu’ dengan lafadz apa saja adalah fasakh (pembatalan akad), baik dengan lafadz-lafadz yang khas untuk khulu’ seperti; khulu’, fida’, iftida’, fasakh4, maupun dengan lafadz lainnya.5 Hal ini tidak dihitung sebagai talak sama sekali.
Dalilnya adalah sebagai berikut.
1. Firman Allah l:
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Pada ayat ini, setelah menyebutkan bahwa talak raj’i (yang dapat dirujuk) hanya dua kali, Allah l menyebutkan hukum iftida’ (khulu’) sebagai hukum tersendiri selain talak, karena Allah l berfirman selanjutnya:
“Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia menikah dengan suami yang lain.” (al-Baqarah: 230)
Allah l menerangkan bahwa jika si suami menalaknya lagi setelah dua talak sebelumnya (yang disebutkan di awal ayat), ini dianggap talak tiga. Artinya, fida’ (khulu’) tersebut tidak diperhitungkan sebagai bagian dari talak sama sekali. Sebab, seandainya dianggap sebagai bagian dari talak, tentu hal ini terhitung sebagai talak keempat, sedangkan seorang istri terpisah dari suaminya sama sekali—yang disebut bainunah kubra’ (perpisahan besar)—hanya dengan talak tiga.
Tampak jelas dari ayat ini bahwa khulu’ bukan talak, melainkan fasakh. Allah l menetapkannya sebagai fasakh (pembatalan akad) secara umum, baik dengan lafadz-lafadz khulu’ yang khusus maupun dengan lafadz lainnya.

2. Hadits ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x
Ia berkata:
اخْتَلَعْتُ مِنْ زَوْجِي، ثُمَّ جِئْتُ عُثْمَانَ فَسَأَلْتُ مَاذَا عَلَيَّ مِنْ الْعِدَّةِ؟ فَقَالَ: لاَ عِدَّةَ عَلَيْكِ إِلاَّ أَنْ تَكُونِي حَدِيثَةَ عَهْدٍ بِهِ فَتَمْكُثِي حَتَّى تَحِيضِي حَيْضَةً. قَالَ: وَأَنَا مُتَّبِعٌ فِي ذَلِكَ قَضَاءَ رَسُولِ اللَّهِ n فِي مَرْيَمَ الْمَغَالِيَّةِ كَانَتْ تَحْتَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ فَاخْتَلَعَتْ مِنْهُ.
“Aku khulu’ dari suamiku, lalu aku mendatangi Utsman lantas bertanya akan kewajiban ‘iddah yang harus aku jalani. Utsman menjawab, ‘Tidak ada kewajiban ‘iddah atasmu, kecuali jika kamu baru saja berpisah dengannya, maka hendaklah kamu menanti hingga haid satu kali.’
Utsman berkata, ‘Dalam hal ini, saya mengikuti hukum Rasulullah n terhadap Maryam al-Maghaliyah, yang sebelumnya sebagai istri Tsabit bin Qais bin Syammas lalu khulu’ darinya’.” (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani dan al-Wadi’i)6
Hadits ini begitu jelas menunjukkan bahwa khulu’ itu adalah fasakh walaupun dijatuhkan dengan lafadz talak, sebab ‘iddah dengan satu kali haid adalah urusan fasakh, bukan urusan talak.
Adapun perintah Rasulullah n kepada Tsabit bin Qais bin Syammas untuk mencerai istrinya yang meminta khulu’ dengan lafadz:
اقْبَلِ الْحَدِيْقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيْقَةً.
“Terimalah kebun itu dan talaklah dia.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas c)
tidak menunjukkan bahwa khulu’ dengan lafadz talak adalah talak.
Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—berkata, “Adapun hadits ‘Talaklah dia’ maksudnya izin dari Nabi n kepada Tsabit untuk menalaknya satu kali talak dengan bayaran (tebusan) dan larangan lebih dari satu kali.”7
Artinya, tidak boleh menjatuhkan khulu’ lebih dari satu kali sekaligus dalam satu majelis seperti halnya larangan Nabi n menalak tanpa bayaran (tebusan) lebih dari satu kali sekaligus dalam satu majelis.
Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah t berkata, “Nabi n memerintahkan agar tidak menjatuhkan talak dengan tebusan lebih dari satu kali (sekaligus), tetapi hanya satu kali saja. Sebagaimana halnya menalak hanya satu kali, tidak lebih dari itu (sekaligus). Namun, talak dengan tebusan adalah talak yang terikat, bermakna fidyah (khulu’) dan perpisahan ba’in (utuh tanpa dapat dirujuk), bukan talak mutlak yang terdapat dalam Al-Qur’an yang bermakna raj’i (dapat di ruju’).”
Ini jika hadits tersebut sahih sebagaimana telah disahihkan oleh al-Bukhari dan al-Albani.8
Yang benar, ‘iddahnya adalah satu kali haid. Ini adalah istibra’, yaitu pembebasan rahim dari anak yang dikandung. Dalilnya adalah hadits ar-Rubayyi’ x di atas. Hal ini karena tujuannya semata untuk mengetahui terbebasnya rahim dari kehamilan yang tercapai dengan satu kali haid saja. Tidak perlu diperpanjang untuk memberi kesempatan yang cukup agar bisa ruju’ (kembali), karena tidak ada kesempatan rujuk pada khulu’.
Berbeda halnya dengan ‘iddah istri yang ditalak sampai tiga kali haid, karena bertujuan memberi kesempatan yang cukup lama bagi suami agar bisa rujuk jika mau.
Inilah pendapat Ibnu ‘Abbas dan murid-muridnya, salah satu riwayat dari Ahmad, serta yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, ash-Shan’ani, as-Sa’di, al-‘Utsaimin, dan al-Wadi’i, guru besar kami.9
Konsekuensi hukum dari khulu’ sebagai fasakh
Terdapat beberapa hukum sebagai konsekuensi khulu’ (fasakh).
1. Jika seorang suami telah menjatuhkan khulu’ atas istrinya dengan tebusan yang disepakati dan tebusannya telah dibayarkan, terjadilah perpisahan antara keduanya dan putuslah hubungan keduanya yang diistilahkan bainunah shughra’ (perpisahan kecil).10
Artinya, dia tidak punya hak rujuk (kembali) dan tidak halal baginya untuk rujuk, sebab bayaran yang diberikannya kepada suaminya adalah penebusan diri. Dengan itu, dia telah menebus dirinya sehingga terlepas dari genggaman kuasa suaminya. Namun, dia bisa menikahinya kembali dengan akad yang baru, baik dalam masa ‘iddah maupun setelahnya. Ini adalah mazhab empat imam mazhab bersama jumhur ulama, yang dibenarkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani, as-Sa’di, dan al-‘Utsaimin. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad berkata, “Amalan kaum muslimin berjalan di atas hukum ini.”11
Inilah yang benar, insya Allah.
Begitu pula halnya jika khulu’ telah dijatuhkan oleh suami dengan tebusan yang disepakati dan tinggal penyerahan tebusan saja, fasakh telah jatuh dan sudah tidak boleh rujuk (kembali). Ini ditegaskan oleh as-Sa’di dalam al-Fatawa as-Sa’diyah.

2. Khulu’ tidak dihitung sebagai salah satu dari tiga talak yang ditetapkan dalam syariat.12
Artinya, tidak mengurangi kesempatan menalak yang diizinkan sampai tiga kali. Dengan demikian, jika suami sudah menalaknya dua kali lalu dia mencerainya dengan khulu’, perpisahan yang terjadi hanya bainunah shugra’ dan dia bisa menikahinya kembali secara langsung (tanpa syarat telah digauli suami yang lain). Sebab, ini bukan talak tiga melainkan fasakh. Dalam hal ini, kesempatan untuk menalaknya tetap tersisa satu kali, karena dua talak sebelumnya tetap terhitung meskipun telah diselingi akad pernikahan baru akibat khulu’ (fasakh) tersebut. Ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat di atas.
Khulu’ berulang kali tidak menjadikan istri haram atasnya untuk dinikahi kembali secara langsung. Walaupun telah dikhulu’ sampai sepuluh kali—atau lebih dari itu tanpa batas—, tetap boleh baginya menikahinya kembali dengan akad baru, tanpa syarat telah dinikahi dan digauli suami lain.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Fasakh adalah pembatalan akad nikah, bukan cerai. (-ed)

2 Yang berwenang menjatuhkannya adalah suami atau pihak lainnya yang berhak menjatuhkan talak. Lihat uraian pihak-pihak yang berwenang menjatuhkan talak pada “Yang Berwenang Menjatuhkan Talak dan Lafadz-Lafadznya”.
3 Akan kami terangkan perselisihan ahli hadits tentang kebenaran riwayat ini.
4 Yaitu dengan mengatakan, “Saya mengkhulu’ kamu dengan tebusan itu”, “Saya melepasmu dengan tebusan itu”, atau “Saya memfasakh (membatalkan) akad nikah kita dengan tebusan tersebut”.

5 Yaitu dengan mengatakan, “Saya menalakmu dengan tebusan tersebut”, “Saya menceraimu dengan tebusan tersebut”, “Saya memisahkanmu dengan bayaran tersebut”, atau semisalnya.

6 Pada sanadnya terdapat Muhammad bin Ishaq, seorang mudallis, tetapi ia telah mempertegas bahwa dirinya mendengar hadits ini dari syaikhnya. Lihat kitab Shahih Sunan an-Nasa’i (Kitab “ath-Thalaq Bab ‘iddah al-Mukhtali’ah” no. 3498) dan al-Jami’ ash-Shahih (Kitab “an-Nikah wath-Thalaq Bab ‘iddah al-Mukhtali’ah” 3/97).
7 Lihat Majmu’ al-Fatawa (32/310).
8 Al-Albani mensahihkannya dalam al-Irwa’ (no. 2036). Sementara itu, sebagian ahli hadits menganggap cacat riwayat ini dengan irsal. Artinya, yang benar pada riwayat ini adalah jalan riwayat yang mursal (tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi n) tanpa penyebutan Ibnu ‘Abbas. Yang benar pada periwayatan hadits Ibnu ‘Abbas adalah tanpa riwayat talak. Di antara ahli hadits yang membenarkan hal ini adalah asy-Syaukani dalam Nailul Authar (pada “Kitab al-Khul’i”) dan guru besar kami, Muqbil al-Wadi’i, dalam Ijabah as-Sa’il (hlm. 699). Lihat pula Fathul Bari karya Ibnu Hajar (pada Kitab “ath-Thalaq Bab al-Khul’i”).
9 Pendapat kedua yang memiliki sisi kekuatan yang patut diperhitungkan adalah yang merinci:
– jika dengan lafadz-lafadznya yang khas, jatuh sebagai fasakh meskipun diniatkan talak.
– jika dengan lafadz talak (yang jelas) atau dengan lafadz kiasan disertai niat talak, jatuh sebagai talak ba’in yang dianggap sah dalam perhitungan talak, berdasarkan riwayat, “Dan talaklah dia.”

Ibnu Taimiyah berkata, “Lafadz khulu’, fida’, dan fasakh dengan bayaran (tebusan) adalah lafadz-lafadz yang jelas sebagai fasakh, sehingga tidak bisa digunakan sebagai lafadz kiasan untuk talak.”
Berdasarkan ini, tampaklah kelemahan pendapat lainnya yang sama dengan pendapat kedua ini, tetapi mengatakan jatuh sebagai talak jika menggunakan lafadz-lafadz khas tersebut yang diniatkan talak.
10 Ini pula hukumnya menurut pendapat lainnya (yang merinci) jika jatuh sebagai talak karena dijatuhkan dengan lafadz talak (yang jelas) atau kiasan disertai niat talak.
11 Bersama dengan ini, secara tinjauan makna, Ibnul Qayyim mendukung pendapat yang membolehkan rujuk dalam masa ‘iddah, sebagaimana pendapat Sa’id bin al-Musayyib dan az-Zuhri, yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam kitab al-Mushannaf.
12 Adapun menurut pendapat yang merinci; jika dijatuhkan dengan lafadz talak (yang jelas) atau lafadz kiasan disertai niat talak, berarti jatuh sebagai talak tiga pada contoh tersebut dan perpisahan yang terjadi adalah bainunah kubra’. Dia tidak bisa lagi menikahinya kembali melainkan jika telah dinikahi dan digauli oleh suami lain. Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa (32/289).

Mempersaksikan Talak dan Ruju’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Mempersaksikan Talak
Disyariatkan mempersaksikan talak yang dijatuhkan kepada dua saksi pria yang ‘adl; istiqamah (tidak fasik). Dalilnya adalah hadits ‘Imran bin Hushain z:
أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ امْرَأَتَهُ, ثُمَّ يَقَعُ بِهَا وَلَمْ يُشْهِدْ عَلَى طَلَاقِهَا وَلاَ عَلَى رَجْعَتِهَا. فَقَالَ: طَلَّقْتَ لِغَيْرِ سُنَّةٍ وَرَاجَعْتَ لِغَيْرِ سُنَّةٍ، أَشْهِدْ عَلَى طَلَاقِهَا وَعَلَى رَجْعَتِهَا وَلَا تَعُدْ
“Imran bin Hushain ditanya tentang seorang lelaki yang menalak istrinya, kemudian ia menggaulinya (merujuknya) dalam keadaan tidak mempersaksikan talak dan rujuknya. ‘Imran berkata, ‘Kamu telah menalak tanpa mengikuti sunnah dan rujuk tidak menurut sunnah. Persaksikanlah talakmu dan rujukmu (sekarang), dan janganlah kamu ulangi hal itu!’.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Disahihkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)1
Pada hadits ini ‘Imran bin Hushain z menisbahkan talak dan rujuk dengan persaksian sebagai sunnah. Maksudnya adalah sunnah Nabi n, bukan selainnya.
Hal ini dikuatkan dengan firman Allah l:
“Apabila mereka telah mendekati akhir ‘iddahnya, rujuklah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik, serta persaksikanlah dengan dua orang saksi yang istiqamah (tidak fasik) di antara kalian, dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” (ath-Thalaq: 2)
Ini apabila perintah Allah l, “Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang istiqamah (tidak fasik)” dianggap tertuju pada talak dan rujuk, sebagaimana tafsir yang dipilih oleh as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman.
Menurut tafsir lainnya, perintah tersebut hanya tertuju kepada rujuk sehingga ayat ini bukan dalil. Tafsir ini yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Alasan mereka, perintah tersebut datang setelah perintah melakukan rujuk dengan baik.
Terdapat dua pendapat tentang hukumnya:
1. Ada yang berpendapat bahwa mempersaksikan talak hukumnya wajib, berdasarkan perintah yang ada pada dua dalil tersebut karena tampaknya perintah itu bersifat wajib.

2. Jumhur berpendapat sunnah dan tidak wajib.
Yang menunjukkan bahwa mempersaksikan talak hukumnya tidak wajib adalah hadits Ibnu ‘Umar c tentang kasus perceraiannya dengan istrinya yang dijatuhkannya saat haid, karena Nabi n tidak mempertanyakan talaknya apakah dia mempersaksikannya atau tidak?
Adapun hadits ‘Imran z, yang hukumnya marfu’ (dinisbahkan sebagai sunnah Nabi n) adalah mempersaksikan talak dan rujuk yang boleh jadi wajib dan boleh jadi sunnah. Perintah yang ada pada hadits itu adalah ucapan ‘Imran sendiri yang bisa jadi hasil ijtihadnya. Wallahu a’lam.
Yang jelas, mempersaksikan talak dapat dilakukan saat menjatuhkan talak atau disusulkan setelah talak jatuh sebagaimana ditunjukkan hadits ‘Imran bin Hushain z.

Mempersaksikan Rujuk
Disyariatkan pula mengumumkan dan mempersaksikan rujuk kepada dua saksi laki-laki yang ‘adl (istiqamah) berdasarkan hadits ‘Imran bin Hushain dan ayat di atas.
Terdapat dua pendapat tentang hukumnya.
1. Ada yang berpendapat wajib, berdasarkan perintah yang ada pada dua dalil tersebut karena tampaknya perintah itu bersifat wajib.
2. Jumhur ulama berpendapat sunnah dengan alasan-alasan berikut.
a. Rujuk adalah hak suami menggenggam kembali miliknya tanpa dipersyaratkan kerelaan istri sehingga tidak wajib mempersaksikannya.
b. Pada hadits Ibnu ‘Umar c, Nabi n bersabda kepada ‘Umar:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا
“Perintahkan kepadanya agar merujuk istrinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Di sini Nabi n memerintahnya agar rujuk tanpa memerintahkan untuk mempersaksikan rujuknya itu.
c. Rujuk adalah pasangan talak, dan mempersaksikan talak hukumnya hanya sunnah, tidak wajib. Demikian pula hukum mempersaksikan rujuk.
Adapun hadits ‘Imran, yang marfu’ (disandarkan kepada Nabi n) telah dijawab di atas.
As-Sa’di dan Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzil Jalal wal Ikram merajihkan pendapat jumhur. Namun, dalam asy-Syarh al-Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin memberi rincian:
– Jika suaminya merujuknya dengan kehadiran istrinya, tidak wajib mempersaksikannya.
– Jika ia merujuknya tanpa kehadirannya, wajib mempersaksikannya karena dikhawatirkan ia baru mengabari istrinya tentang hal tersebut setelah habis masa ‘iddahnya dan ternyata istrinya mengingkari sehingga menjadi kasus.
Inilah yang rajih, insya Allah.
Yang jelas, mempersaksikan rujuk dapat dilakukan saat rujuk atau disusulkan setelah rujuk terjadi, sebagaimana pada hadits ‘Imran bin Hushain z. Tidak mesti dilakukan saat rujuk karena jatuhnya rujuk tidak bergantung pada adanya saksi. Jika ia merujuknya dengan senggama disertai niat rujuk, tidak mungkin mempersaksikannya saat rujuk.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab Bulughul Maram (Kitab “an-Nikah Bab ar-Raj’ah”) dan al-Irwa’ no. 2078

Hukum Ruju’ dan Tata Caranya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Hukum Rujuk
Rujuk adalah hak mutlak suami di masa ‘iddah wanita yang ditalak raj’i. Hak mutlak artinya tanpa syarat kerelaan istri untuk dirujuk.
Dalilnya adalah:
1. Firman Allah l:
“Dan suami-suaminya lebih berhak merujuknya dalam masa ‘iddah itu, jika mereka (para suami) menghendaki perbaikan.” (al-Baqarah: 228)
2. Firman Allah l:
“Apabila kalian menalak istri-istri kalian, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (al-Baqarah: 231)
3. Hadits ‘Umar z:
أَنَّ النَّبِيَّ n طَلَّقَ حَفْصَةَ، ثُمَّ رَاجَعَهَا.
“Nabi n menalak Hafshah, kemudian merujuknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim, dan lainnya. Al-Hakim mensahihkannya menurut syarat al-Bukhari-Muslim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, serta disahihkan oleh al-Albani dan al-Wadi’i)1
4. Hadits Ibnu ‘Umar c ketika menalak istrinya, dan Rasulullah n bersabda kepada ‘Umar z:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا
“Perintahkan kepadanya agar merujuk istrinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Para ulama sepakat bahwa lelaki yang merdeka jika menalak istrinya yang merupakan wanita merdeka setelah menggaulinya dengan talak satu atau talak dua, dia lebih berhak merujuknya (di masa ‘iddah) walaupun istrinya tidak suka dirujuki. Jika dia tidak merujuknya sampai masa ‘iddahnya berakhir, wanita itu bukan lagi istrinya dan tidak halal lagi untuknya kecuali dengan akad nikah yang baru.”
Ijma’ ini juga telah dinukil oleh Ibnu Qudamah dan Ibnul Mundzir.
Jadi, hak rujuk bagi suaminya berlaku meskipun istrinya tidak rela dirujuki. Artinya, kerelaan istri bukan syarat sahnya rujuk. Ini berdasarkan keumuman dalil-dalil di atas yang tidak mempersyaratkannya.
Hal itu karena wanita yang ditalak raj’i masih berlaku atasnya hukum-hukum istri—kecuali hukum pembagian jatah gilir dalam kehidupan poligami. Lagi pula, rujuk sifatnya mempertahankan kedudukannya sebagai istri dan ini lebih kuat daripada pernikahan baru, sehingga tidak dipersyaratkan adanya kerelaan istri. Karena kerelaan istri bukan syarat sahnya rujuk, maka tidak dipersyaratkan pula bahwa istrinya mengetahui saat dirujuki.

Tata Cara Rujuk
Merujuki istri yang ditalak haruslah ditempuh dengan tata cara yang syar’i, baik dalam hal niat maupun prosesnya.

1. Niat rujuk
Dalam merujuk istri harus dengan niat untuk memperbaiki kembali hubungan yang retak, sehingga rujuk diharamkan dengan niat untuk memudaratkannya. Ini berdasarkan dua ayat yang telah disebutkan di atas (al-Baqarah ayat 228 dan 231).
Akan tetapi, terdapat silang pendapat di antara ulama apakah niat untuk perbaikan merupakan syarat sahnya rujuk atau tidak.
1. Yang masyhur dalam mazhab Hanbali, hal itu bukan syarat sahnya rujuk, walaupun pelakunya berdosa bila bertujuan untuk memudaratkannya.
2. Yang dipilih Ibnu Taimiyah, ash-Shan’ani, dan Ibnu ‘Utsaimin, hal itu adalah syarat sahnya rujuk.
Niatnya akan tampak jika seseorang menalak istrinya, kemudian ketika di pertengahan haid ketiga ia pun merujuknya untuk memperpanjang ‘iddahnya. Setelah itu, ia bermaksud menalaknya lagi dan melakukan hal yang sama sampai talak yang ketiga jatuh, agar ‘iddahnya yang dijalaninya panjang. Dengan cara ini, ‘iddahnya jadi sembilan haid.

2. Proses rujuk
Proses rujuk terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut.
a. Ucapan, menurut kesepakatan ulama.
Yang benar, rujuk sah dengan setiap lafadz yang menunjukkan makna rujuk disertai niatnya. Sebab, yang diperhitungkan pada suatu lafadz adalah maknanya. Contohnya:
– “Aku telah merujuk istriku.”
– “Aku telah mengembalikan istriku ke sisiku.”
– “Aku telah menginginkan istriku lagi.”

b. Menggaulinya disertai niat rujuk, menurut pendapat yang benar.
Ini adalah pendapat Malik dan salah satu riwayat dari Ahmad, yang dirajihkan Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin. Keumuman dalil-dalil yang ada meliputi rujuk dengan ucapan dan rujuk dengan perbuatan (senggama disertai niat rujuk).
Berdasarkan hal ini, haram menggaulinya tanpa niat rujuk, sebab hakikat rujuk adalah mengembalikan istri yang ditalak ke posisi semula sebagai istri yang tidak ditalak, sementara hal ini tidak tercapai dengan sekadar menggaulinya.
Lebih-lebih dalam hal menggauli wanita, ini bisa dilakukan pula oleh pezina yang menggauli wanita lain. Suami yang menalaknya ini mungkin saja dikuasai oleh syahwat, atau dia melihatnya dalam keadaan berdandan sehingga tidak mampu menahan diri untuk menggaulinya, kemudian dia menggaulinya dalam keadaan tidak ingin merujuknya sama sekali. Oleh karena itu, menggaulinya tidak sah sebagai rujuk tanpa diniatkan.

Tampaklah dengan ini kelemahan pendapat lainnya yang masyhur pada mazhab Hanbali bahwa rujuk terjadi dengan sekadar menggaulinya tanpa niat rujuk.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab al-Irwa’ no. 2077 dan al-Jami’ ash-Shahih (3/98). Hadits ini memiliki syawahid (penguat-penguat).