Noda-noda Hitam dalam Pernikahan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Masa Jahiliah
Pernikahan sebelum datangnya Islam telah ada, namun nyata-nyata bertentangan dengan syariat Islam. Rasulullah n pun telah menghapus segala bentuk pernikahan jahiliah dan menetapkan yang sesuai dengan Islam. Telah diceritakan oleh Aisyah x sebagaimana dalam riwayat al-Imam al-Bukhari di dalam Shahih-nya (no. 4834). Beliau x berkata, “Pernikahan di masa jahiliah ada empat bentuk:
1. Pernikahan seperti yang kita kenal sekarang ini. Seorang lelaki datang mengkhitbah (melamar) kepada wali wanita atau kepada wanitanya, lalu sepakat untuk kemudian melangsungkan pernikahan.
2. Seorang suami berkata kepada istrinya, ‘Bila engkau telah suci dari haid maka pergilah engkau ke fulan dan berhubunganlah engkau dengannya!’ Suami tersebut menjauhi istrinya dan tidak menggaulinya sampai istrinya benar-benar hamil dari laki-laki tersebut. Jika benar-benar hamil dan dia menyukainya, dia terima. Hal ini dia lakukan supaya mendapatkan anak bangsawan.
Pernikahan ini disebut dengan nikah istibdha’.
3. Beberapa lelaki berkumpul untuk mendatangi seorang wanita. Jika wanita tersebut hamil dan melahirkan, setelah berlalu beberapa malam dari melahirkan, semua lelaki itu tidak boleh menolak untuk dikumpulkan di hadapan wanita tersebut. Wanita itu berkata, ‘Kalian sudah mengetahui perkaranya dan (bayi) telah lahir. Dia adalah putramu (menunjuk seseorang yang diinginkan oleh wanita tersebut).’
Kemudian anak itu diikutkan kepadanya dan laki-laki tersebut tidak boleh menolak.
4. Seorang wanita didatangi oleh banyak lelaki dan wanita tersebut tidak boleh menolak siapa pun yang datang kepadanya. Mereka adalah wanita-wanita pelacur. Mereka memasang tanda pengenal (bendera). Jika hamil dan melahirkan, mereka—para lelaki—yang mendatanginya berkumpul, lantas melihat bayinya mirip dengan siapa. Jika mereka menemukan (kemiripan), mereka ikutkan kepadanya (laki-laki yang paling mirip) dan dia (sang laki-laki) tidak bisa menolaknya.
Tatkala Allah l mengutus Rasulullah n, beliau menghapus segala bentuk pernikahan tersebut kecuali pernikahan seperti sekarang ini.”
Di sisi lain, kaum jahiliah dengan kesyirikan yang mereka perbuat meyakini lebih banyak hal, terkhusus tentang pernikahan. Mereka meyakini adanya hari-hari dan bulan yang mengandung banyak kejelekan atau kesialan. Akhirnya, mereka meyakini jika menikah pada hari atau bulan itu akan menuai kerugian dan kecelakaan. Di antara bentuknya, mereka meninggalkan segala bentuk aktivitas pada hari Rabu (Lihat Mausu’at Tauhid Rabbil’ Abid 5/56). Bahkan, mereka tidak melakukan pernikahan pada hari-hari antara dua ied (Idul Fitri dan Idul Adha). (Lihat Syarah Masail Jahiliah hlm. 214)
Mereka juga tidak melakukan aktivitas pernikahan pada bulan Syawwal, sebagaimana disebutkan oleh al-Imam Ibnu Rajab al-Hambali t. Mereka beranggapan, bulan tersebut mengandung kejelekan dan kesialan. Mereka juga tidak melakukan perbuatan-perbuatan tertentu pada bulan Shafar karena menurut mereka, bulan Shafar mengandung segudang kesialan. Mereka menahan diri (menunda) untuk berpergian, melakukan perniagaan, dan membangun rumah tangga (pernikahan) pada waktu tersebut. (Lihat Fathul Majid Syarah Kitabut Tauhid 2/515 dan I’anatul Mustafid Bi Syarah Kitab Tauhid 2/9)

Pernikahan dalam Islam
Dalam pembahasan-pembahasan akidah dalam edisi yang telah lewat sering disinggung tentang meratanya amal kesyirikan dalam segenap lini kehidupan kaum muslimin. Tidak ada satu celah pun yang akan mengantarkan kepada untung dan rugi, bahagia dan sengsara, selamat dan celaka, baik dan buruk, melainkan ada amalan kesyirikan di sana.
Contohnya, ketika seseorang akan menimbang adanya untung dan rugi, melalui sebuah usaha perdagangan, pertanian, perternakan, dan sebagainya, semuanya akan berujung pada apa yang dipetuahkan sang dukun. Jika sang dukun mengatakan akan ada keuntungan besar dalam usaha ini, dia dengan penuh semangat berjuang dan berkorban untuk merealisasikannya. Jika sebaliknya, dia akan mengakhirkan langkah tanpa berpikir panjang.
Pernikahan yang jelas-jelas ada syariatnya dan jelas bimbingannya, mulai dari rencana sampai pelaksanaannya, sampai pun perjalanan hidup kedua insan telah ada aturannya dalam agama, tetap tidak lepas dari amalan-amalan kesyirikan. Saat seseorang ingin membangun rumah tangga, sang dukun menjadi pemutus semua perkara dalam pelaksanaannya, dari kapan waktu yang terbaik, tepat, dan menguntungkan, baik harinya maupun bulannya, baik penanggalan hijriah atau masehi, seolah-olah dukun mengetahui rahasia hidup setiap manusia. Semuanya jelas-jelas bertentangan dengan Islam.
Tidak luput juga terkait dengan calon yang akan dijadikan pasangan, sudah barang tentu akan meminta petuah sang dukun. Cocokkah? Layakkah? Akan mendatangkan kebahagiaan di kemudian hari atau malah mendatangkan marabahaya? Akan menguntungkan atau tidak? Akan menjadi orang kaya jika menikah dengannya atau malah menjadi miskin?
Sekali lagi, Allah l mereka anggap bukan lagi satu-satunya tempat mengadu dan mengeluh. Bahkan, ketika akad telah selesai, sang wanita tidak boleh masuk ke rumah sang lelaki melainkan didahului acara menyembelih di hadapan sang wanita, agar ketika memasuki rumah sang suami tidak terkena gangguan jin dan mata jahat. (Lihat al-Ighatsah Syarah Utsul Tsalatsah hlm. 23)
Jika Allah l menakdirkan hamil, ada acara mandi pada bulan ketujuh di sebuah tempat untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan serta agar janin tersebut terpelihara dari segala macam gangguan; yang diistilahkan oleh orang Jawa: mitoni.
Demikian pula memakai jimat-jimat ketika hamil, baik yang dipasang di tangan, kaki, maupun di pinggang, baik dari lingkaran benang maupun akar-akar kayu. Semuanya adalah perbuatan yang menyelisihi akidah yang benar.

Adat Istiadat
Segala bentuk penyimpangan dari akidah di atas, sangat ditopang oleh adat istiadat yang berlaku di sebuah daerah. Siapa pun yang akan melakukan pernikahan dipersyaratkan melalui tata cara adat tersebut. Jika ada yang mencoba menentangnya karena adat tersebut menyelisihi norma-norma agama, pernikahan itu bisa dibatalkan. Sampai sedemikan rupa kekuatan hukum adat dalam menata kehidupan manusia. Dari manakah sesungguhnya hukum adat tersebut?
Jika didalami dan dikaji, adat istiadat sesungguhnya merupakan aturan peninggalan para leluhur dan nenek moyang yang mengandung ketidakjelasan status agama dan keyakinan mereka. Jika dicermati dengan saksama, kita akan menemukan berbagai macam adat itu bermuara pada adat istiadat jahiliah sebagaimana contoh di atas, yaitu adanya anggapan sial dengan hari, bulan, dan tempat tertentu, lantas mengembalikan segala urusan hidup kepada paranormal alias dukun. Bahkan, bisa dikatakan banyak adat istiadat dalam kehidupan kaum muslimin yang banyak kemiripan dengan agama di luar Islam seperti agama Hindu dan Budha.
Saudaraku kaum muslimin, mari kita membersihkan segala bentuk amaliah kita dari noda-noda kesyirikan yang akan menghancurkan masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat. Allah l mengutus para rasul untuk melakukan perbaikan di muka bumi ini dan termasuk mandat yang pertama dan utama yang mereka emban dari Allah l adalah agar menyerukan kepada tauhidullah dan mengingkari segala bentuk kesyirikan.
Wallahu a’lam.

Menangkal Perzinaan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Allah l menciptakan manusia berpasang-pasangan sebagaimana halnya makhluk yang lain. Hal ini mengandung hikmah bahwa manusia itu membutuhkannya. Kebutuhan akan hal itu termasuk dalam kebutuhan biologis yang sangat besar dan mendasar. Dengan penciptaaan manusia berpasang-pasangan inilah lahir hikmah-hikmah besar di baliknya, seperti saling mencintai, menyayangi, mengasihi, saling mengenal, dan berlangsungnya keturunan manusia.
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujurat: 13)
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, serta dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)
Untuk mewujudkan cinta dan kasih sayang yang lurus, Allah l meletakkan sebuah aturan dalam hidup yaitu agar pertemuan lawan jenis tersebut tidak melahirkan dosa dan kemaksiatan, namun justru sebaliknya yaitu mendatangkan pahala bila dijadikan sebagai ladang ibadah. Melalui tali pernikahan, sesungguhnya banyak hikmah yang akan bisa dipetik, di antaranya:
– Terjaganya pandangan dan kemaluan sehingga diletakkan pada jalan yang halal
– Terpeliharanya kehormatan
– Terwujudnya keturunan yang sah
– Mengetahui nasab
– Terjaganya sendi waris-mewarisi
– Tegaknya syariat agama, dan sebagainya.

Wanita, Godaan Syahwat Terbesar
Pembaca yang budiman, kerusakan moral dan kehancuran budi pekerti yang menimpa umat ini sesungguhnya diakibatkan karena pergaulan bebas yang tiada batas, adanya tuntutan kemerdekaan bagi kaum wanita untuk tidak mau lagi terikat dengan norma-norma agama dan menuntut adanya persamaan hak dengan kaum lelaki dalam segala bidang, tuntutan perubahan terhadap undang-undang agama yang mengikat dan membatasi gerak mereka, serta anggapan bahwa agama sebagai pengekang kebebasan, kemerdekaan, dan perampas hak-hak kaum wanita. Sosialisasi budaya jahiliah sedang disuarakan oleh para setan untuk segera menjadi aturan dalam kehidupan, dan suara-suara kebebasan wanita pun sedang gencar dikampanyekan di mana-mana. Sejarah kehidupan jahiliah akan terulang kembali kendatipun simbol-simbol yang dipakai adalah berbeda. Itulah agama kekufuran.
Semuanya ini terjadi karena jauhnya kaum muslimin dari pengajaran agama yang benar dan berkuasanya ideologi-ideologi Barat yang tidak bisa dibendung lagi oleh kaum muslimin, lebih-lebih ideologi-ideologi tersebut menjajah sistem pendidikan kaum muslimin. Di samping itu, terdapatnya kepincangan pendidikan, aturan, pengawasan, perhatian dari kedua orang tua sebagai peletak pertama dan pencetak utama kepribadian anak. Dengan kepincangan ini semua, mendorong anak untuk menjadi hidup merdeka serta lepas dari aturan agama dan aturan rumah tangga. Rasulullah n telah mengisyaratkan:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan fitnah (godaan) sepeninggalku yang lebih berbahaya bagi kaum lelaki daripada godaan kaum wanita.” (HR. al-Bukhari 5096 dan Muslim 2740 dari Usamah bin Zaid c)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Di dalam hadits tersebut terkandung penjelasan bahwa fitnah (godaan) kaum wanita lebih berbahaya daripada godaan lainnya. Hal ini diperkuat oleh firman Allah l yang maknanya:
ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ
‘Telah dihiasi kepada manusia kecintaan terhadap syahwat pada kaum wanita.’ (Ali ‘Imran: 14)
Allah l menjadikannya termasuk dalam cinta syahwat dan Allah l memulai dengan kaum wanita sebelum yang lain. Ini mengisyaratkan bahwa kaum wanita merupakan pangkal kecintaan syahwat.
Sebagian ahli hikmah berkata, ‘Wanita tersebut semuanya buruk dan akibatnya yang paling jelek yaitu seseorang tidak pernah merasa puas dari mereka. Di samping itu, kaum wanita kurang akal dan kurang agamanya yang akan menyeret kaum lelaki untuk melakukan sesuatu sebagai dampak kurang akal dan kurang agama, seperti tersibukkan dalam hal mencari dunia hingga lalai mencari ilmu agama dan menyeretnya menuju kebinasaan. Ini adalah bentuk kerusakan yang paling besar’.” (Fathul Bari 9/138)
Al-Mubarak Furi dalam syarahnya terhadap Sunan at-Tirmidzi berkata, “Kecenderungan tabiat manusia kepada kaum wanita ini sering menyebabkannya terjatuh dalam keharaman. Bahkan, berakibat terjadinya pertikaian, dan munculnya permusuhan. Akibat yang paling ringan adalah dia menjadi rakus terhadap dunia karena wanita. Lantas, adakah kerusakan yang lebih besar dari ini semua?” (Tuhfatul Ahwadzi 15/74)
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
“Sesungguhnya dunia itu adalah manis dan hijau, dan sesungguhnya Allah l menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya untuk melihat apa yang kalian perbuat. Oleh karena itu, berlindunglah kalian dari (godaan) dunia dan berlindunglah kalian dari (godaan) wanita, karena sesungguhnya fitnah (ujian) pertama kali yang menimpa Bani Israil adalah pada kaum wanita.” (HR. Muslim no. 2742 dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Berlindunglah kalian dari (godaan) dunia dan berlindunglah kalian dari (godaan) wanita. Artinya, berhati-hatilah kalian dari godaan dunia dan godaan kaum wanita. Masuk dalam lafadz wanita adalah para istri dan selain mereka. Yang paling banyak godaannya adalah para istri, karena godaannya terus-menerus.
Nabi n bersabda:
خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik shaf kaum lelaki adalah yang pertama dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang; dan sebaik-baik shaf kaum wanita adalah yang paling belakang dan sejelek-jeleknya adalah yang paling depan.” (HR. Muslim no. 440)
Hal tersebut karena shaf yang paling belakang bagi kaum wanita adalah yang paling jauh dari kaum lelaki, sehingga wanita mendapatkan kebaikan tersebut karena jauh dari kaum lelaki. Ini merupakan dalil bahwa jauhnya kaum wanita dari kaum lelaki dan sebaliknya, termasuk maqashid (tujuan-tujuan) syariat karena akan menutup pintu kejahatan yang banyak. (Lihat Ifadatis Syar’iyyah fii Ba’dhi al-Masail at-Thibbiyyah hlm. 7)

Tersebarnya Perzinaan, Tanda-Tanda Kiamat
Dari Anas z, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda,
إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا
“Sesungguhnya termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, menyebarnya kejahilan, diminumnya khamr, dan perzinaan menjadi tampak.” (HR. al-Bukhari no. 80 dan Muslim no. 2671 dari Anas z)
Dalam riwayat yang lain, Anas z, berkata tatkala ajal beliau telah dekat:
أَلَا أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا عَنْ رَسُولِ اللهِ n، لَا يُحَدِّثُكُمْ بِهِ أَحَدٌ عَنْهُ بَعْدِي؟ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِnيَقُولُ: لَا تَقُومُ السَّاعَةُ -أَوْ قَال: إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ- أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ، وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ، وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ، وَيَفْشُوَ الزِّنَا، وَيَذْهَبَ الرِّجَالُ ، وَيَبْقَى النِّسَاءُ، حَتَّى يَكُونَ لِخَمْسِينَ امْرَأَةً قَيِّمٌ وَاحِدٌ.
“Maukah aku sampaikan satu hadits dari Rasulullah n dan tidak ada seorang pun yang akan menyampaikannya kepada kalian sepeninggalku? Aku telah mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Tidak akan terjadi hari kiamat atau termasuk dari tanda-tanda hari kiamat adalah terangkatnya ilmu, kebodohan merajalela, diminumnya khamr, menebarnya perzinaan, hilangnya (menurunnya populasi) kaum lelaki, dan tetapnya kaum wanita sehingga lima puluh wanita dipimpin oleh seorang lelaki.”

Dalam riwayat yang lain:
يَظْهَرُ الزِّنَا، وَيَقِلُّ الرِّجَالُ، وَيَكْثُرُ النِّسَاءُ
“Munculnya perzinaan, sedikitnya kaum lelaki, dan banyaknya kaum wanita.”
Terjadinya perzinaan di mana-mana karena godaan wanita adalah jerat-jerat setan. Bersamaan dengan itu, mereka adalah makhluk yang kurang akalnya dan kurang pula agamanya.
Menyebarnya perbuatan zina juga merupakan sinyalemen empat belas abad yang silam melalui lisan Rasulullah n:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أَمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَّ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
“Benar-benar akan muncul satu kaum dari umatku yang akan menghalalkan zina, sutra, khamr, dan alat-alat musik.” (HR. al-Bukhari no. 5268)

 

Talak dengan Ucapan Kinayah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar)

وَعَنْ عَائِشَةَ x أَنَّ ابْنَةَ اَلْجَوْنِ لَمَّا أُدْخِلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ n وَدَنَا مِنْهَا، قَالَتْ: أَعُوذُ بِاللهِ مِنْكَ. قَالَ: لَقَدْ عُذْتِ بِعَظِيمٍ، الْحَقِي بِأَهْلِكِ

Dari ‘Aisyah x: Saat Ibnatul Jaun hendak dipertemukan dengan Rasulullah n dan beliau n mendekatinya, ia (Ibnatul Jaun) berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.” Rasulullah n bersabda, “Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!”

Takhrij Hadits
Hadits ini dikeluarkan oleh al-Bukhari (3/458), an-Nasai (2/98), Ibnu Majah (2050), Ibnul Jarud (738), ad-Daraquthni (437), dan al-Baihaqi (7/39, 234), seluruhnya dari jalur al-Auza’i. Ia berkata bahwa ia pernah bertanya kepada az-Zuhri, “Siapakah istri Rasulullah n yang pernah memohon perlindungan dari beliau?” Az-Zuhri menjawab, “Urwah menyampaikan kepadaku dari ‘Aisyah bahwasanya ketika Ibnatul Jaun hendak dipertemukan dengan Rasulullah n dan beliau n mendekatinya, ia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah dari engkau.’ Rasulullah n pun bersabda, ‘Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!’.”
Al-Bukhari t mengeluarkan riwayat dari Hamzah bin Abi Usaid, dari Abu Usaid, ia berkata, “Kami pernah keluar menemani Rasulullah n, sampai tiba di sebuah dinding kebun bernama asy-Syauth. Kami tiba dan duduk di antara dua dinding kebun.
Rasulullah n bersabda, ‘Duduklah di sini saja!’ Beliau pun masuk, dan seorang wanita dari keturunan Jaun telah didatangkan. Wanita itu ditempatkan di sebuah rumah yang terbuat dari pohon kurma, di rumah Umaimah binti an-Nu’man bin Syarahbil. Wanita tersebut disertai ibu pengasuhnya.
Ketika wanita itu bertemu Rasulullah n dan mendekat, Rasulullah n bersabda, ‘Serahkanlah dirimu untukku!’
Ia menjawab, ‘Apakah seorang ratu hendak menyerahkan dirinya kepada orang rendahan?’
Rasulullah n lalu bermaksud meletakkan tangan pada wanita tersebut untuk menenangkannya. Namun, ia justru berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’
Rasulullah n pun bersabda, ‘Sungguh engkau telah berlindung kepada Dzat yang memberikan perlindungan.’
Rasulullah n lalu keluar meninggalkannya. Rasulullah n bersabda kepada Abu Usaid, ‘Wahai Abu Usaid, berikan dua helai pakaian raziqiyah untuknya dan kembalikan dia kepada keluarganya!’.” (Irwa’ul Ghalil, al-Albani)

Siapakah Ibnatul Jaun?
Terjadi perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang nama Ibnatul Jaun. Bahkan, perbedaan tersebut sangat panjang. Namun, kesimpulan yang diberikan oleh al-Imam ash-Shan’ani t cukup memuaskan. Beliau berkata (Subulus Salaam, “Kitab Talak”), “Manfaatnya kecil untuk memastikan namanya. Oleh karena itu, kita tidak perlu sibuk untuk menukilkan.”
Ibnu Sa’d mengeluarkan riwayat dari jalan Abdul Wahid bin ‘Aun, ia bercerita, “An-Nu’man bin Abil Jaun al-Kindi datang untuk menemui Rasulullah n di kota Madinah. Ia berkata, ‘Wahai Rasulullah n, berkenankah Anda jika aku nikahkan dengan wanita tercantik di kalangan Arab? Dahulu, wanita itu menjadi istri sepupunya sendiri, lalu suaminya meninggal. Ia pun sangat menginginkan Anda.’
Rasulullah n menjawab, ‘Ya.’
An-Nu’man berkata, ‘Kalau begitu, utuslah seseorang untuk menjemputnya.’ Rasulullah n kemudian mengutus Abu Usaid as-Sa’idi.
Abu Usaid bercerita, “Aku pun tinggal di sana selama tiga hari. Setelah itu, aku membawa wanita tersebut dengan menggunakan usungan tandu. Setibanya di Madinah, wanita itu aku turunkan di kampung Bani Sa’idah. Aku pun segera mengirim berita kepada Rasulullah n. Saat itu, Rasulullah n sedang berada di kampung Bani ‘Amr bin ‘Auf.”
Ibnu Abi ‘Aun menambahkan, “Peristiwa itu terjadi pada bulan Rabi’ul Awwal, tahun ketujuh.” (Subulus Salam, ash-Shan’ani)
Ibnu Abdil Barr t berkata, “Ulama telah menetapkan ijma’, wanita yang dinikahi Rasulullah n adalah al-Jauniyah (Ibnatul Jaun). Namun, mereka berbeda pendapat tentang sebab Rasulullah n menalaknya.
Qatadah t berkata, ‘Ketika Rasulullah n masuk menemuinya, beliau memanggilnya. Tetapi ia malah berkata, ‘Engkaulah yang kemari!’ Lalu, Rasulullah n menalaknya. Ada pula yang berpendapat bahwa ia ditalak karena memiliki bekas luka.’
Sebagian ulama mengatakan, ‘(Sebab ditalaknya) adalah karena wanita tersebut mengatakan, ‘Aku berlindung kepada Allah l darimu.’ Rasulullah n lalu bersabda, ‘Sungguh, engkau telah berlindung kepada Dzat Yang Agung. Allah telah memberikan perlindungan kepadamu dariku’.’
Ia (Ibnu Abdil Barr) berkata, “Hal ini batil. Yang mengucapkan perkataan ini adalah seorang wanita dari Bani ‘Anbar (bukan Ibnatul Jaun). Wanita tersebut sangat cantik. Istri-istri Rasulullah n khawatir jika wanita itu mengalahkan mereka. Mereka pun berpesan kepadanya, sesungguhnya Rasulullah n sangat senang jika disampaikan kepada beliau, ‘Kami berlindung kepada Allah darimu.’ Wanita itu pun melakukan apa yang dipesankan. Lalu, Rasulullah n menalaknya.
Namun al-Hafizh Ibnu Hajar t membantah, “Saya tidak mengerti. Mengapa ia memberikan hukum tentang cerita tersebut sebagai cerita batil? Padahal, banyak riwayat yang menjelaskan dan menetapkannya, seperti pada hadits Aisyah dalam Shahih al-Bukhari.” (Fathul Bari, Ibnu Hajar)

Makna Hadits
Ath-Thahawi t berkata, “Hadits ini merupakan dalil mendasar tentang penggunaan lafadz kinayah (kiasan) dalam talak, karena Rasulullah n mengucapkan, ‘Kembalilah kepada keluargamu!’ ketika menalak Ibnatul Jaun. Sementara itu, Ka’b bin Malik juga mengatakan hal yang sama kepada istrinya, ‘Kembalilah kepada keluargamu!’ pada saat Rasulullah n memerintahkan Ka’b untuk menjauhi istrinya. Akan tetapi, ucapan Ka’b tersebut tidak dihukumi sebagai talak. Dengan demikian, kisah Ka’b bin Malik menunjukkan bahwa pernyataan semacam ini membutuhkan niat. Barang siapa mengatakan kepada istrinya, ‘Kembalilah ke keluargamu!’ tidak dapat diputuskan melainkan dengan niat orang yang melafadzkan. Jika ia tidak meniatkan talak, berarti bukan talak. Ini adalah pendapat Malik, penduduk Kufah, dan asy-Syafi’i.” (Syarah al-Bukhari, Ibnu Baththal)
Hadits di atas merupakan dalil bahwa ucapan seorang suami kepada istrinya, “Kembalilah ke keluargamu!” termasuk talak, sebab tidak ada riwayat yang menjelaskan bahwa Rasulullah n mengucapkan kata-kata lain. Jadi, jika lafadz kinayah diniatkan sebagai talak, talak pun jatuh.
Bukti yang menunjukkan bahwa pernyataan, “Kembalilah kepada keluargamu!” termasuk lafadz kinayah adalah kisah Ka’b bin Malik yang terkenal (kisah Perang Tabuk). Saat itu, Ka’b bin Malik diperintahkan untuk menjauhi istrinya. Ka’b mengatakan, “Kembalilah kepada keluargamu! Tinggallah di sana bersama mereka!” Namun, Ka’b tidak berniat untuk menjatuhkan talak dengan lafadz ini. Oleh karena itu, terhadap istrinya pun tidak jatuh talaknya. Pendapat inilah yang dipilih oleh imam yang empat dan lainnya.
Adapun azh-Zhahiriyah berpendapat, ucapan seorang suami kepada istrinya, “Kembalilah kepada keluargamu!” tidak menyebabkan jatuh talak. Mereka beralasan, “Nabi Muhammad n belum mengadakan akad nikah dengan Ibnatul Jaun. Beliau hanyalah mengutus orang untuk melamar, karena adanya perbedaan riwayat dalam kisah. Yang menunjukkan Rasulullah n belum mengadakan akad nikah dengan Ibnatul Jaun adalah riwayat dalam Shahih al-Bukhari, beliau berkata, ‘Serahkanlah dirimu untukku.’ Lalu, Ibnatul Jaun berkata, ‘Apakah seorang ratu akan menyerahkan dirinya kepada orang rendahan?’ Permintaan Nabi n agar Ibnatul Jaun menyerahkan dirinya menunjukkan bahwa beliau belum mengadakan akad nikah dengannya.”
Hanya saja, pendapat azh-Zhahiriyah cukup jauh dari kebenaran berdasarkan beberapa alasan, antara lain:
1. Riwayat, “Rasulullah n hendak meletakkan tangan pada wanita tersebut.”
2. Riwayat, “Kemudian Rasulullah n masuk padanya.”
Dua hal di atas, tidaklah terjadi selain pada istri sendiri. Adapun sabda Nabi n, “Serahkanlah dirimu untukku!”, kata-kata ini diucapkan Nabi n hanyalah untuk menyenangkan dan menarik hatinya. Atau bisa juga dijawab, “Serahkanlah dirimu untukku!” adalah panggilan seorang suami kepada istrinya.
Diperkuat lagi dengan adanya riwayat, “Ia pun sangat menginginkan Anda.” Demikian juga riwayat yang menjelaskan kesepakatan dirinya dengan ayahnya tentang besarnya mahar. Hal-hal ini, meskipun tidak secara sharih (jelas) menunjukkan adanya akad nikah, namun kemungkinan inilah yang terkuat. (Subulus Salam, ash-Shan’ani)

Lafadz Talak
Lafadz talak ada dua:
1. Sharih (kata yang jelas dan dapat dimengerti)
Yakni lafadz-lafadz yang memang digunakan untuk menjatuhkan talak dan tidak mengandung kemungkinan makna selain talak. Yaitu, lafadz “thalaq” dan pecahan katanya. Misalnya, “Saya talak kamu.” Demikian pula kata “cerai”.
2. Kinayah (kiasan/sindiran)
Yaitu lafadz-lafadz yang mengandung makna talak dan makna yang lain. Misalnya, “Kamu saya lepas”, “Kamu bebas”, atau “Pergilah, kembalilah kepada keluargamu!”
Contoh lain lafadz kinayah dalam talak, “Kumpulkan pakaianmu, saya tidak lagi membutuhkanmu”, “Tidak ada tali pernikahan antara kita”, “Tidak ada lagi kesempatan untukmu”, “Pergilah, saya tidak lagi berhak”, “Jangan berhias lagi untuk diriku”, “Tidak ada lagi halal haram di antara kita”, atau “Menyingkirlah dariku!” (Syarah al-Bukhari, Ibnu Baththal)
Perbedaan talak dengan lafadz sharih dan lafadz kinayah adalah jika lafadz sharih diucapkan, terhitung sebagai talak meskipun ia tidak meniatkan talak. Adapun lafadz kinayah, tidak terhitung sebagai talak melainkan dengan meniatkan talak, sebab lafadz kinayah masih mengandung makna selain talak. Oleh karena itu, diharuskan adanya niat untuk menjatuhkan talak. Namun, ada tiga keadaan yang dikecualikan:
a. Jika ia mengucapkan lafadz kinayah saat terjadi pertengkaran dengan istrinya.
b. Jika ia mengucapkan lafadz kinayah saat marah.
c. Jika ia mengucapkan lafadz kinayah untuk menjawab permintaan talak istrinya.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Pada tiga keadaan ini, talak telah jatuh meskipun dengan lafadz kinayah walaupun ia beralasan, ‘Saya tidak meniatkannya.’ Alasannya, ada qarinah (tanda) yang menunjukkan bahwa ia memang meniatkannya. Maka dari itu, ucapannya, ‘Saya tidak meniatkannya’ tidak dapat dibenarkan. Wallahu a’lam.” (al-Mulakhkhash hlm. 333—334, Taudhihul Ahkam 5/509)
Asy-Syaikh al-Utsaimin t berkata, “Akan tetapi, pendapat yang benar adalah lafadz kinayah tidak dihitung talak melainkan jika didasari niat menalak, walaupun pada tiga keadaan di atas. Sebab, mungkin saja seorang suami dalam keadaan marah berkata, ‘Keluarlah!’ atau ucapan semisalnya, dan dia sama sekali tidak meniatkan talak. Ia hanya ingin istrinya menyingkir dari hadapannya sampai reda amarahnya.
Bisa juga seorang istri berkata, ‘Talaklah aku! Talaklah aku!’ Lalu si suami menjawab, ‘Thaaliq,’ dan suami tidak meniatkan talak. Yang ia maksud dengan kata ‘thaaliq’ adalah lepas dari ikatan. Atau ia mengatakan, ‘Kamu saya talak, jika saya jatuhkan talak’ dengan menyebutkan syarat. Intinya, talak tidak jatuh melainkan jika disertai niat’.” (Syarhul Mumti’, Bab “Talak”)
Asy-Syaikh Muqbil t pernah ditanya tentang bentuk talak. Beliau t menjawab, “Talak dapat dilakukan dengan lafadz apa pun. Ia bisa mengatakan, ‘Kamu saya talak’ atau ‘Kembalilah kepada keluargamu!’, dan disertai niat, atau, ‘Kamu terputus,’ atau, lafadz-lafadz lain yang dapat dipahami sebagai talak, hanya saja membutuhkan niat. Jika lafadznya sharih, itu sudah cukup. Jika lafadznya tidak sharih, harus disertai niat. Rasulullah n berkata kepada seorang wanita, ‘Kembalilah kepada keluargamu!’ lalu memerintahkan seorang sahabat untuk memberikan hadiah untuknya.” (Fatawa al-Mar’ah Muslimah, hlm. 228)
Ibnul Qayyim t berkata, “Pembagian lafadz talak menjadi lafadz sharih dan kinayah, meskipun secara asal adalah pembagian yang benar, hanya saja kenyataannya berbeda tergantung kepada kebiasaan orang, waktu, dan tempat. Maka dari itu, setiap lafadz tidak menjadi hukum yang pasti. Mungkin saja, satu kata dinilai sebagai lafadz sharih menurut sebagian orang, tetapi menurut orang lain termasuk lafadz kinayah. Bisa jadi, pada waktu (masa) dan tempat tertentu sebuah kata dinilai sebagai lafadz sharih, namun menjadi lafadz kinayah pada waktu dan tempat lain. Kenyataan adalah saksinya.
Asy-Syaikh Ali bin Isa, qadhi (hakim)negeri Syaqra’, berkata, “Sesungguhnya, pada masa sekarang, lafadz ‘Tikhlaah’ termasuk lafadz sharih, menurut kebiasaan yang berlaku di kalangan kami.”
Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berkata, “Yang benar, lafadz-lafadz untuk menalak tidak terbatas pada kata-kata tertentu. Setiap lafadz yang menunjukkan makna talak dapat menjadi lafadz talak, sebagaimana hal ini berlaku pada muamalah lainnya. Wallahu a’lam.” (Taudhihul Ahkam, 5/510)

Faedah Lain
Dalam penjelasan hadits:
مَنِ اسْتَعَاذَ بِاللهِ فَأَعِيْذُوهُ
“Barang siapa memohon perlindungan kepada Allah, berikanlah perlindungan untuknya.” (HR. Abu Dawud [2/622], Ahmad [no. 2248])
Al-Albani t mengatakan, “Hadits ini sanadnya jayyid (bagus), insya Allah.” (ash-Shahihah, 1/453)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Maknanya, ia berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu.’ Engkau wajib untuk memberikan perlindungan untuknya karena ia telah memohon perlindungan kepada Dzat Yang Mahaagung. Oleh sebab itu, ketika Ibnatul Jaun berkata kepada Rasulullah n, ‘Aku berlindung kepada Allah darimu’, Rasulullah n menjawab, ‘Sungguh, engkau telah meminta perlindungan kepada Dzat Yang Mahaagung. Kembalilah kepada keluargamu!’.”
Akan tetapi, ada yang dikecualikan. Misalnya, seseorang yang diwajibkan untuk melakukan sesuatu lalu ia meminta perlindungan (agar tidak mengerjakannya). Yang seperti ini tidak boleh engkau beri perlindungan. Misalnya, engkau mengharuskan dia untuk menegakkan shalat berjamaah, lalu ia berkata, “Aku berlindung kepada Allah darimu.”
Demikian pula halnya, jika engkau mengharuskan dia untuk berhenti dari berbuat haram, lalu ia meminta perlindungan kepada Allah l darimu. Engkau tidak boleh memenuhinya karena akan membantunya dalam hal dosa dan permusuhan. Di samping itu, Allah l tidak memberikan perlindungan kepada pelaku dosa. Seharusnya, pelaku dosa berhak mendapatkan hukuman, bukan dibantu dan dilindungi.
Demikian juga orang yang meminta perlindungan ke tempat yang dibenarkan secara syar’i untuk meminta perlindungan, meskipun ia tidak mengatakan, “Aku memohon perlindungan kepada Allah.” Engkau wajib memberikan perlindungan untuknya. Sebagaimana yang dikatakan ahlul ilmi, “Umpamanya, seseorang berbuat kejahatan lalu ia berlindung di tanah Haram, maka tidak dapat ditegakkan hukum hadd dan qishash terhadapnya di tanah Haram. Akan tetapi, ia ditekan: tidak boleh berjual beli dengannya atau muamalah upah-mengupah, sampai ia keluar. Berbeda halnya dengan orang yang melakukan pelanggaran terhadap kesucian tanah Haram dengan berbuat kejahatan di tanah Haram. Orang tersebut tidak mendapatkan perlindungan dari tanah Haram, karena ia telah melanggar kehormatan tanah Haram.” (al-Qaul al-Mufid, Ibnu Utsaimin 2/892)

Penutup
Al-Imam al-Bukhari t meriwayatkan sebuah hadits dalam Shahih-nya. Beliau mengatakan, Utsman bin al-Haitsam telah menyampaikan hadits kepada kami, ‘Auf telah menyampaikan hadits kepada kami, dari al-Hasan, dari Abu Bakrah. Ia berkata, “Sungguh, pada hari-hari pertempuran Jamal, Allah l telah memberikan manfaat untuk diriku dengan sebuah sabda yang pernah aku dengar dari Rasulullah n. Padahal, sebelumnya hampir saja aku turut serta dalam pertempuran Jamal dan berperang bersama mereka.”
Abu Bakrah melanjutkan, “Ketika terdengar berita oleh Rasulullah n bahwa orang-orang Persia mengangkat putri Kisra sebagai raja, beliau bersabda, ‘Tidak akan bahagia suatu kaum yang mengangkat seorang perempuan sebagai penguasa’.”
Semoga hadits Ibnatul Jaun di atas serta penjelasan ringkas yang menyertainya, dapat bermanfaat suatu saat nanti.
Wallahu a’lam bish-shawab.

Mut’ah untuk Wanita yang Dicerai

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin)

“Wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya) menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)

Abu Ja’far Ibnu Jarir ath-Thabari t dalam tafsirnya menyebutkan pendapat sebagian ulama bahwa ayat ini turun berkaitan dengan ucapan seorang muslim yang menyatakan, “Kami tidak akan melakukan itu (memberikan mut’ah [pemberian] kepada wanita yang dicerai, -pent.) melainkan jika kami ingin berbuat kebajikan,” ketika turun ayat:
“Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka (istri yang dicerai). Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian yang patut. Hal itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Baqarah: 236)

Penjelasan Mufradat Ayat
“Wanita-wanita yang diceraikan….”
Asy-Syinqithi t berkata, “Yang dimaksud ‘wanita-wanita yang diceraikan’ dalam ayat ini umum, baik seorang istri yang telah digauli maupun belum, baik yang sudah ditentukan mahar/maskawinnya maupun belum. Hal ini berdasarkan keumuman firman Allah l:
Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, “Jika kamu sekalian menginginkan kehidupan dunia dan perhiasannya, mari, kuberikan kepadamu mut’ah (pemberian) dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik.” (al-Ahzab: 28)
Juga firman Allah l:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu.” (al-Ahzab: 21)
Telah menjadi suatu ketetapan dalam ilmu ushul bahwa suatu percakapan yang khusus kepada Nabi n, maka hukum (yang ada padanya) berlaku umum untuk seluruh umatnya, hingga ada dalil yang menunjukkan pengkhususannya.”
“Mut’ah (pemberian).”
Mut’ah adalah pemberian kepada wanita yang telah dicerai sesuai dengan kemampuan suami.
Ibnu Jarir ath-Thabari t mengatakan, “Kata ﮊ menurut orang Arab adalah segala sesuatu yang dapat dinikmati/diambil manfaatnya, baik penghidupan, pakaian, perhiasan, kelezatan, maupun yang lainnya. Dengan demikian, Allah l telah menjadikan kehidupan setiap makhluk hidup sebagai harta benda (pemberian) baginya untuk dinikmati/dimanfaatkan di masa hidupnya. Bagi manusia, bumi merupakan pemberian di masa hidupnya. Mereka tinggal di bumi, memakan berbagai makanan pokok dan buah-buahan yang dikeluarkan oleh Allah l darinya, serta merasakan berbagai kelezatan yang diciptakan oleh Allah l di bumi. Pun setelah meninggal, Allah l menjadikan bumi sebagai tempat manusia dikumpulkan. Allah l menjadikan bumi sebagai tempat peristirahatan dan kediaman. Kata mata’ mencakup semua hal itu.”
Beliau juga menjelaskan, mata’ juga bermakna segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya, seseorang merasa senang dengannya, berupa pakaian, nafkah (biaya hidup), dan budak.
Ibnul Jauzi mengatakan dalam tafsirnya, “Mata’ adalah nama bagi segala sesuatu yang dapat diambil manfaatnya.”
Hukum Mut’ah (Pemberian untuk Wanita yang Dicerai)
Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mut’ah: wajib atau sunnah.
1. Pendapat yang mengatakan wajibnya mut’ah.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atha’, Jabir bin Zaid, Sa’id bin Jubair, Sa’id bin al-Musayyab, al-Hasan al-Bashri, al-Imam asy-Syafi’i—dalam salah satu pendapatnya—, al-Imam Ahmad, dan Ishaq.
Akan tetapi, mereka berbeda pendapat tentang keadaan wanita yang diceraikan.
Pendapat pertama, apa pun keadaannya—apakah diceraikan dalam keadaan sudah dicampuri atau belum, sudah ditentukan maharnya atau belum—tetap mendapatkan mut’ah. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah Ali bin Abi Thalib z, Sa’id bin Jubair, al-Hasan al-Bashri, Abul ‘Aliyah, az-Zuhri rahimahumullah. As-Suyuthi t dalam ad-Durrul Mantsur menyebutkan sebuah riwayat dari Ali bin Abi Thalib z yang dikeluarkan oleh Ibnul Mundzir t. Ali mengatakan bahwa setiap wanita mukminah yang dicerai (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya), baik dia wanita merdeka maupun budak perempuan1. Lalu beliau membaca ayat:
“Wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya) menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)
Qatadah meriwayatkan dari al-Hasan al-Bashri dan Abul ‘Aliyah, keduanya berpendapat bahwa setiap wanita yang dicerai hendaklah (wajib) diberi mut’ah oleh suaminya, baik sudah dicampuri maupun belum, walaupun mahar sudah ditentukan. Dalam riwayat lain, al-Hasan al-Bashri t berkata, “Setiap wanita yang dicerai wajib diberi mut’ah, meskipun ia belum dicampuri dan belum ditentukan maharnya.” Sa’id bin Jubair t berkata, “Setiap wanita yang dicerai hendaklah diberi mut’ah oleh suaminya menurut kadar yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.”
Pendapat kedua, suami wajib memberi mut’ah kepada istri yang dicerai, kecuali istri yang dicerai itu belum dicampuri dan sudah ada penentuan mahar, maka tidak ada mut’ah untuknya. Akan tetapi, suami berkewajiban membayar setengah dari mahar yang telah ditentukan.
Pendapat ini disandarkan kepada Abdullah bin Umar, Sa’id bin al-Musayyab, al-Qashim bin Muhammad, Syuraih, dan Ibrahim rahimahumullah. Diriwayatkan dari Mujahid t, ia mengatakan bahwa suami wajib memberikan mut’ah kepada istri yang dicerai, kecuali istri yang dicerai itu belum dicampuri dan sudah ada penentuan mahar, maka tidak ada mut’ah untuknya. Adapun riwayat dari Syuraih, “Wanita yang dicerai dan belum dicampuri namun sudah ada penentuan mahar, dia mendapatkan mut’ah setengah dari mahar yang akan diberikan.”
Pendapat ketiga, wanita yang dicerai sebelum dicampuri dan belum ada penentuan mahar, maka tidak ada mut’ah untuknya. Yang ada adalah pemberian mahar yang semisal. Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Auza’i, ats-Tsauri, Abu Hanifah, dan al-Imam Ahmad.
2. Pendapat yang menyatakan sunnahnya mut’ah, tidak wajib atas siapa pun, baik wanita yang sudah ditentukan maharnya maupun belum, yang sudah dicampuri maupun belum.
Di antara ulama yang berpendapat demikian adalah al-Imam Malik, al-Laits bin Sa’d, dan Ibnu Abi Laila. Mereka berpendapat, perintah dalam ayat ini tidak menunjukkan wajib, tetapi hanya sunnah atau mustahab. Alasannya, Allah l menyebutkan bahwa mut’ah itu adalah ketentuan bagi orang-orang yang ingin berbuat kebajikan. Inilah yang menjadi faktor yang memalingkan makna perintah wajib kepada sunnah.
Setelah menyebutkan beberapa pendapat ulama dalam hal ini, Ibnu Jarir t berkata, “Menurut saya, pendapat yang benar adalah pendapat yang menyatakan wajibnya setiap wanita yang dicerai diberi mut’ah, karena Allah l menyebutkan:
“Wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberi) mut’ah (oleh suaminya) menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)
Dalam ayat ini, Allah memberlakukan (hukum ini) terhadap setiap wanita yang dicerai, tidak mengkhususkan sebagian mereka. Maka dari itu, tidak boleh seorang pun memalingkan keumuman ayat di atas kepada pengkhususan kecuali dengan sebuah hujjah yang bisa diterima.”
Sebagian ulama berpendapat, wanita yang khulu’ dan mula’anah tidak mendapatkan mut’ah karena mereka yang menghendaki perceraian. Ibnul Qasim t berkata, tidak ada mut’ah dalam hal pernikahan yang di-fasakh (dibatalkan). Adapun ayat:
“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 241)
berlaku pada wanita yang ditalak, bukan wanita yang di-fasakh (digugurkan akad nikahnya), seperti khulu’ dan mula’anah.
Adapun ulama yang lain, seperti at-Tirmidzi, Atha’, dan an-Nakha’i rahimahumullah, berpendapat bahwa wanita yang khulu’ mendapat mut’ah. Di sisi lain, ashabu ra’yi berpendapat bahwa wanita mula’anah mendapat mut’ah.

Ukuran Mut’ah
Para ulama berbeda pendapat dalam hal penentuan kadar mut’ah.
Ibnu Abbas c berpendapat, yang paling tinggi (maksimum) adalah mendapatkan budak, yang menengah adalah tiga macam pakaian: pakaian di dalam rumah, kerudung, dan kain penutup badan/sejenis jubah, serta yang paling rendah adalah pakaian.
Pendapat serupa dikatakan oleh Sa’id bin al-Musayyab, asy-Sya’bi, dan az-Zuhri rahimahumullah. Ini juga pendapat al-Imam asy-Syafi’i t, dan beliau menambahkan, yang paling rendah (minimum) adalah sesuatu yang memiliki nilai harga walaupun sedikit.
Pada riwayat yang lain, Ibnu Abbas c berkata, “Yang paling tinggi adalah budak, kemudian pakaian, kemudian nafkah.”
Atha’ t berkata, “Yang sedang/pertengahan adalah pakaian dalam rumah, kerudung, dan pakaian sejenis jubah.”
Al-Imam asy-Syaukani t dalam Fathul Qadir menyebutkan riwayat yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi, dari Jabir bin ‘Abdillah z. Beliau berkata bahwa ketika Hafsh bin al-Mughirah menalak istrinya, Fathimah, ia datang kepada Nabi n. Beliau n berkata kepada si suami, “Berilah mut’ah kepadanya.” Si suami menjawab, “Aku tidak memiliki sesuatu yang dapat aku berikan kepadanya.” Nabi n berkata, “Sesungguhnya mut’ah adalah suatu keharusan. Berikanlah mut’ah kepadanya walaupun hanya setengah sha’ kurma.”
Beliau juga menyebutkan perkataan al-Imam Malik dan al-Imam asy-Syafi’i rahimahumallah yang berpendapat bahwa mut’ah tidak ada batasnya. Adapun Abu Hanifah t berpendapat, jika terjadi perselishan antara suami dan istri tentang mut’ah, tidak boleh kurang dari lima dirham karena beliau berpendapat bahwa mahar tidak boleh kurang dari sepuluh dirham.
Al-Imam al-Qurthubi t dalam tafsirnya menyebutkan pendapat al-Imam asy-Syafi’i dan al-Imam Ahmad rahimahumallah, bahwa mut’ah itu sebatas kemudahan dan kesulitan suami. Dengan demikian ukurannya tergantung ijtihad seorang hakim. Al-Imam Ahmad t juga berkata, “Ukuran mut’ah setara dengan perkara (pakaian) yang untuk shalat, seperti pakaian resmi, pakaian wanita dalam rumah, dan kerudung.” Adapun al-Imam Malik t mengatakan, “Menurut pendapat kami, tidak ada batasan banyak dan sedikitnya mut’ah.”
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Al-Qurthubi mengatakan, ulama bersepakat tentang disyariatkannya mut’ah bagi wanita yang merdeka. Adapun budak perempuan yang dicerai sebelum dicampuri dan ditentukan maharnya, jumhur berpendapat ia wajib mendapat mut’ah. Sebagian ulama lain, seperti al-Auza’i dan ats-Tsauri, berpendapat tidak ada mut’ah untuknya, karena ia menjadi milik tuannya.

Tanya Jawab Ringkas edisi 72

Adakah Zakat atas Penjualan Tanah?
Ana menjual tanah untuk membangun rumah, bagaimana cara membayar zakatnya?
UD. Al-Barakah

Hasil penjualan tanah dan yang semisalnya tidak ada zakatnya. Hanya saja, uang hasil penjualan tanah itu jika nilainya mencapai nishab perak (595 gram), yaitu sekitar Rp3.368.000,00 dan bertahan sampai akhir tahun (menurut hitungan bulan qamariah dan tahun hijriah), berarti terkena zakat uang. Zakatnya wajib dikeluarkan di akhir tahun saat sempurna periode setahun (haul) sebesar 2,5%. Lihat rinciannya pada Problema Anda tentang Zakat Uang di Majalah Asy-Syariah edisi 45.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Tukang Servis TV
Profesi sebagai montir alat-alat eletronik (TV, tape, alat-alat hiburan) itu syar’i apa tidak?

Tidak syar’i dan penuh dengan syubhat. Televisi jelas haram dan merusak moral, tidak boleh saling membantu dalam perbuatan dosa. Adapun tape dan semacamnya yang tidak bergambar memiliki fungsi ganda. Artinya, bisa digunakan untuk mendengar musik/lagu dan ini maksiat, bisa pula untuk mendengar murattal (bacaan) Al-Qur’an, ceramah Islami atau hal lainnya yang bermanfaat.
Dengan demikian, yang seperti ini ada rinciannya. Jika Anda tahu atau berprasangka kuat (dengan indikasi yang ada) bahwa alat itu digunakan pemiliknya untuk mendengar musik/lagu, tidak boleh melayaninya karena berarti membantu dalam hal maksiat. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Adakah Zakat Setiap Gajian?
Saya menerima gaji (tiap bulan) sebesar Rp3.300.000,00. Apakah gaji saya tersebut sudah terkena wajib zakat mal 2,5%? Apakah bayar zakatnya setiap gajian seperti petani setiap panen?
********@gmail.com

Tidak ada zakat gaji atau zakat profesi dalam syariat Islam. Gaji Anda tidak terkena wajib zakat mal setiap kali gajian. Hanya saja, jika akumulasi gaji Anda—setelah dikurangi berbagai pengeluaran tentunya—mencapai nishab perak (595 gram), yaitu sekitar Rp3.368.000,00 dan nilai tersebut bertahan sampai akhir tahun (menurut hitungan bulan qamariah dan tahun hijriah), berarti terkena zakat uang. Zakatnya wajib dikeluarkan di akhir tahun saat genap periode setahun (haul) sebesar 2,5% dari seluruh uang yang Anda miliki. Lihat rinciannya pada Problema Anda tentang Zakat Uang di Majalah Asy-Syariah edisi 45.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Menjual Barang dengan Dua Harga
Ana mau tanya, bagaimana hukumnya kita menjual suatu barang dengan dua harga? Gambarannya, saya menjual sebuah handphone. Jika pembeli membayar kontan, harganya Rp1,5 juta. Tetapi, jika pembeli membayarnya satu minggu setelah waktu pengambilan barang, atau 1 bulan kemudian, harganya menjadi Rp1,6 juta. Mohon penjelasannya, ustadz! Soalnya kami ini orang lapangan yang sering kali mengalami hal ini. Syukran atas penjelasannya!
********@gmail.com

Boleh, selama ada penentuan salah satunya pada saat akad. Jadi, transaksinya hanya satu pada saat akad, apakah yang pertama atau yang kedua. Hal ini menurut pendapat yang rajih.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Sepupu Bisa Menjadi Wali?
Insya Allah saya akan menikah dalam waktu dekat ini. Tetapi, saya bingung masalah walinya. Ayah saya sudah meninggal. Abang ayah saya juga sudah meninggal. Saya juga tidak punya saudara laki-laki kandung.
Adat di kampung saya mengatakan bahwa sepupu saya yang dari pihak ayah bisa menjadi wali. Tetapi, ada juga yang bilang bahwa sepupu ayah saya juga bisa menjadi wali. Jadi, pilihannya ada dua: sepupu ayah yang laki-laki dari garis keturunan laki-laki, atau sepupu saya yang laki-laki garis ayah saya.
Setahu saya mereka itu bukan mahram saya dan tidak bisa menjadi wali. Mohon penjelasan dari Asy-Syariah. Saya tunggu balasannya. Terima kasih.
**********@ymail.com

Ya, benar apa yang Anda sampaikan bahwa sepupu bukan mahram. Akan tetapi, sepupu laki-laki dari garis ayah bisa menjadi wali nikah. Begitu pula, sepupu ayah yang laki-laki dari garis keturunan laki-laki bisa menjadi wali. Yang lebih berhak di antara keduanya adalah sepupu laki-laki Anda karena lebih dekat.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Membeli Rumah Secara Kredit
Bismillah. Ana membeli sebuah rumah sederhana. Rumah tersebut dikelola dan dijual oleh perusahaan pengembang dan bank. Oleh bank, diberikan dua pilihan, yaitu membeli dengan mengangsur atau tunai. Karena ana tidak mampu membeli dengan harga tunai, ana memilih untuk membelinya dengan cara mengangsur, yang harga rumahnya jatuhnya lebih tinggi dibandingkan dengan harga tunai. Yang ingin ana tanyakan, apakah perbedaan harga tersebut termasuk bantu-membantu dalam riba? Jika hal tersebut haram, bagaimana cara taubatnya kepada Allah l? Jazakumullah khairan katsiran.
Abu Furqan

Dapat dipastikan bahwa sistem transaksi kredit tersebut mengandung riba, meskipun kami tidak melihat surat akad perjanjiannya. Kami memastikan demikian berdasarkan apa yang telah diketahui bersama bahwa bank tidak pernah terlepas dari sistem riba. Kami juga yakin bahwa sistem angsurannya mesti disertai dengan denda jika menunggak. Kalau demikian, berarti termasuk dalam kategori transaksi dua harga dalam satu akad dan hal ini adalah riba yang dimaksud oleh hadits yang sahih.
Di sisi lain, kalau pembayaran angsurannya ke perusahaan yang bersangkutan melalui bank, hal ini juga mengandung riba dan termasuk dalam kategori transaksi ‘inah yang
terlarang dalam hadits yang sahih. Hendaklah Anda bertaubat kepada Allah l dan berusaha membatalkan akad yang ada tanpa menanggung kerugian, jika memungkinkan.
Jika tidak memungkinkan, berusahalah melunasinya tanpa terkena denda disertai taubat yang nashuh (benar).
Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Khulu’ yang Tercela

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Tidak boleh meminta khulu’ melainkan karena alasan takut tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah l.
Dalilnya adalah firman Allah l:
“Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (al-Baqarah: 229)
Ayat ini secara jelas menyatakan haramnya khulu’ yang dilakukan bukan dengan alasan takut tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah l. Selanjutnya Allah l berfirman:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Ayat ini menyiratkan bahwa keduanya terkena dosa jika khulu’ dilakukan bukan dengan alasan takut tidak bisa menjalankan hukum-hukum Allah l. Berikut Allah l menutup ayat-Nya dengan ancaman keras bagi pelakunya, Allah l berfirman:
“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kalian melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)
Telah datang pula ancaman keras dalam hadits Tsauban z:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيهَا رَائِحَةُ الجَنَّةِ
“Siapa saja wanita yang meminta cerai dari suaminya tanpa ada apa-apa maka haram baginya bau surga.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan lainnya, disahihkan oleh al-Albani dalam al-Irwa’ no. 2035)
Hadits ini menunjukkan bahwa hal itu adalah dosa besar, sebagaimana kata Ibnu ‘Utsaimin.
Kedua dalil tersebut menunjukkan secara jelas haramnya khulu’ yang dilakukan tanpa ada tuntutan hajat untuk itu, sebab hal itu mengandung mudarat terhadap keduanya dan menghilangkan maslahat pernikahan tanpa adanya tuntutan hajat. Karena hal itu merupakan amalan yang tidak syar’i, maka tidak sah dan tebusan dikembalikan. Rasulullah n bersabda,
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ.
“Barang siapa mengada-adakan perkara baru dalam urusan agama ini yang bukan darinya maka perkara itu tertolak.” (Muttafaq ‘alaih dari ‘Aisyah x)
Dalam riwayat Muslim dengan lafadz:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ.
“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dalam agama ini maka amalannya tertolak.”
Ini adalah salah satu riwayat dari Ahmad dan pendapat Dawud azh-Zhahiri, dirajihkan Ibnul Mundzir, Ibnu Qudamah, dan Ibnu ‘Utsaimin.

Pendapat kedua, hal itu makruh dan sah. Ini adalah mazhab Hanbali dan jumhur ulama.
Namun, pendapat pertama lebih kuat.

Kesimpulannya, yang benar khulu’ tidak sah dan tebusan dikembalikan.
Namun, apakah bisa jatuh sebagai talak? Terdapat perbedaan pendapat dalam hal ini.
– Menurut mazhab Hanbali, jika dijatuhkan dengan lafadz talak yang khas atau selainnya dengan niat talak berarti jatuh sebagai talak.
– Menurut Ibnu ‘Utsaimin, tidak terjadi sesuatu pada seluruh rincian tersebut, baik dijatuhkan dengan lafadz khas talak maupun selainnya yang disertai niat talak. Khulu’ tidak terjadi karena tidak ada tebusan (tebusan tidak dianggap). Talak juga tidak terjadi karena khulu’ selamanya adalah fasakh dan tidak bisa sebagai talak.
Wallahu a’lam.

 

Hukum Khulu’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Syariat Khulu’ dan Hikmahnya
Terdapat dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah tentang disyariatkannya khulu’, di antaranya adalah:
1. Firman Allah l:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)

2. Hadits Ibnu ‘Abbas c:
جَاءَتْ امْرَأَةُ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ إِلَى النَّبِيِّ n فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا أَنْقِمُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ إِلاَّ أَنِّي أَخَافُ الْكُفْر (إِنِّي لاَ أَعْتِبُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ وَلَكِنِّي لاَ أُطِيقُه). فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: فَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ؟ فَقَالَتْ: نَعَمْ. فَرَدَّتْ عَلَيْهِ، وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا.
Istri Tsabit bin Qais bin Syammas datang kepada Nabi n dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, tetapi aku takut kekufuran.” (Pada riwayat lain, “Sesungguhnya aku tidak mencela Tsabit dalam hal agama dan akhlaknya, tetapi aku tidak sanggup bersamanya.”)
Nabi n bersabda kepadanya, “Apakah kamu sanggup mengembalikan kebunnya?”
Ia menjawab, “Ya.”
Ia lalu mengembalikan kebunnya kepada Tsabit dan Nabi n pun memerintahkan Tsabit memisahnya. Dia pun memisahnya.” (HR. al-Bukhari dan lainnya)
Kekufuran yang dimaksud dalam hadits ini adalah kufur (durhaka) terhadap suami, yaitu tidak mensyukuri kebaikannya dengan menaati dan menunaikan haknya, tetapi ingkar terhadapnya dengan melalaikan hak-haknya.

Kedua dalil di atas menunjukkan bahwa hikmah disyariatkannya khulu’ adalah untuk mencegah terjadinya pelanggaran hukum-hukum Allah l dalam kehidupan suami istri akibat kebencian seorang istri terhadap akhlak, agama (amalan), ataupun fisik suami.

Masalah: Kekhawatiran akan terjadinya pelanggaran hukum-hukum Allah l dalam kehidupan suami istri akibat kebencian seorang istri terhadap akhlak, agama (amalan), atau fisik suami, sudah cukup menjadi alasan meminta khulu’.
Tidak dipersyaratkan harus terjadinya nusyuz (kedurhakaan istri kepada suami) atau perlakuan suami yang tidak baik (tidak memberi hak istri) sebagai alasan yang membolehkan meminta khulu’. Inilah pendapat jumhur dan yang dipilih oleh asy-Syaukani dalam as-Sail al-Jarrar.

Masalah: Yang tampak dari ayat di atas, khulu’ tidak boleh dilakukan kecuali jika ada kekhawatiran pada keduanya (suami dan istri)
Artinya, si istri khawatir tidak dapat menaati suaminya sebagaimana mestinya dan suaminya pun khawatir tidak dapat berlaku baik kepada istrinya. Namun, hadits Ibnu ‘Abbas c menunjukkan bahwa adanya kekhawatiran dari pihak istri saja cukup sebagai alasan dibolehkannya khulu’. Jadi, tidak dipersyaratkan harus ada kekhawatiran dari kedua belah pihak. Wallahu a’lam.

Hukum Istri Meminta Khulu’ dan Hukum Suami Menanggapinya
Khulu’ terkait dengan dua pihak, yaitu pihak istri selaku yang menuntut khulu’ dan pihak suami selaku yang menjatuhkan khulu’. Untuk itu, masalah ini kami urai menjadi dua pembahasan.

1. Hukum istri meminta khulu’
Seluruh ulama sepakat akan bolehnya khulu’, selain pendapat syadz (ganjil) dari Abu Bakr al-Muzani yang memandang tidak boleh dengan klaim bahwa ayat tersebut telah mansukh (dihapus) hukumnya. Pendapat ini gugur secara dalil, karena tidak boleh mengklaim suatu nash telah mansukh (dihapus hukumnya) hanya dengan dugaan tanpa dalil. Di sini, tidak ada dalil yang menunjukkan hal itu.
Hadits Ibnu ‘Abbas c menunjukkan bahwa istri Tsabit bin Qais meminta khulu’ karena membenci fisik suaminya yang jelek sehingga khawatir durhaka terhadap suaminya karena tidak sanggup hidup bersamanya.
Ucapan istri Tsabit pada hadits tersebut, “Aku tidak mencela Tsabit perihal agama dan akhlaknya” menunjukkan bahwa merupakan hal biasa bagi seorang istri meminta khulu’ jika ia membenci akhlak atau agama (amalan) suaminya yang jelek. Ini diterangkan oleh al-Imam Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzil Jalali wal Ikram.
Oleh karena itu, boleh seorang istri meminta khulu’ dari suaminya jika ia membenci akhlak, agama (amalan), atau fisik suaminya, serta khawatir tidak mampu menegakkan hak-hak suaminya yang wajib ditunaikannya ketika hidup bersamanya.
Kelemahan dan kejelekan agama yang dimaksud di sini adalah yang tidak sampai taraf kekafiran. Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam asy-Syarh al-Mumti’, “Kejelekan agama yang dimaksud adalah kejelekan agama yang tidak sampai pada taraf menjadikan pelakunya kafir, seperti suaminya melalaikan shalat jamaah, minum khamr (minuman beralkohol yang memabukkan), merokok, mencukur jenggot, atau semisalnya.”
Abu Thalib (salah seorang ulama mazhab Hanbali) menukil dari al-Imam Ahmad, “Jika seorang istri membenci suaminya sedangkan suaminya mencintainya, saya tidak menyuruhnya meminta khulu’ dan sepatutnya dia bersabar.”
Al-Qadhi membawa nash ucapan al-Imam Ahmad ini kepada hukum mustahab (sunnah), karena al-Imam Ahmad telah membolehkan khulu’ pada beberapa tempat. Artinya, boleh meminta khulu’, tetapi bersabar lebih baik (utama). Bahkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah memilih kuatnya hukum makruh meminta khulu’ pada kondisi ini.
Akan tetapi, jika khawatir terkena dampak negatif dari kejelekan agama suami, semakin kuat bolehnya meminta khulu’. Maka dari itu, ketika al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz ditanya tentang hukum seorang istri minta khulu’ dari suaminya yang peminum khamr, mereka berfatwa—sebagaimana dalam Fatawa al-Lajnah—, “Jika suaminya tidak mau berhenti minum khamr, ia boleh meminta khulu’ darinya agar terhindar dari efek negatif terhadap dirinya dan anak-anaknya.”
Adapun jika kejelekan agama suami sampai pada taraf kekafiran dan tidak bisa lagi dinasihati, ia wajib meminta khulu’ karena haram baginya bersuamikan orang kafir, berdasarkan Al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’.
Ini ditegaskan oleh as-Sa’di, Ibnu ‘Utsaimin, dan al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai Ibnu Baz.
Termasuk di dalamnya jika suami menganut akidah bid’ah yang bertentangan dengan akidah Islam dan membatalkan keislaman, seperti akidah Rafidhah1, akidah hululiyah dan ittihadiyah2, serta akidah Jahmiyah3.
Termasuk pula jika suami tidak melaksanakan shalat wajib lima waktu dan meninggalkannya sama sekali, menurut salah satu pendapat ulama yang menganggapnya kafir (murtad).
Oleh karena itu, Ibnu ‘Utsaimin dan al-Lajnah berfatwa wajibnya seorang istri meminta khulu’ dari suami yang meninggalkan shalat fardhu lima waktu karena mereka berpendapat bahwa seorang muslim yang meninggalkan shalat wajib lima waktu adalah kafir (murtad).
Ibnu ‘Utsaimin berkata dalam asy-Syarh al-Mumti’, “Wajib bagi istrinya berpisah darinya dengan segala kemampuan yang dimiliki. Seluruh kaum muslimin berkewajiban membantunya dengan harta (untuk melakukan khulu’).”
Bahkan, as-Sa’di dalam al-Fatawa as-Sa’diyyah berfatwa bahwa istri wajib meminta khulu’ dari suami yang tidak menjaga kesucian dan kehormatan dirinya dengan perzinaan (tidak ‘iffah) jika ia tidak bisa lagi dinasihati. Hal ini kuat, mengingat haramnya menikah dengan pezina, wallahu a’lam.

2. Hukum suami menanggapi permintaan khulu’ istri
Jika istri meminta khulu’ dalam bentuk yang dibolehkan oleh syariat’, terdapat perbedaan pendapat di antara ulama tentang hukum suami dalam menanggapinya dan mengkhulu’nya.
a. Pendapat yang mengatakan wajib.
Alasannya, inilah yang tampak dari perintah Rasulullah n kepada Tsabit bin Qais. Di samping itu, kebersamaan wanita itu bersama suaminya akan bermudarat terhadapnya, sedangkan mencegah mudarat serta meniadakannya dari seorang muslimah adalah wajib.
Pendapat ini dirajihkan oleh ash-Shan’ani dan al-‘Utsaimin. Berdasarkan hal ini, hakim berwenang memaksanya agar mengkhulu’ istrinya jika dia enggan.
b. Pendapat yang mengatakan tidak wajib.
Alasannya, perintah Rasulullah n kepada Tsabit adalah arahan semata, bukan perintah wajib. Berdasarkan hal ini, hakim hanya sekadar memberi arahan dan menasihatinya. Jika dia menyambut, itulah yang diinginkan. Jika dia enggan, dibiarkan saja.
Tampaknya pendapat pertama lebih kuat, wallahu a’lam.
Adapun jika dikhawatirkan wanita itu akan nekat bunuh diri, nekat mencelakai orang lain, atau bentuk kenekatan lainnya yang bisa saja terjadi akibat sakit hati yang dideritanya bersama suami yang dibencinya, tidak diragukan lagi bahwa wajib atas suaminya menyambut permintaan khulu’nya dan memisahkannya. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin.

Besar Kecilnya Tebusan
Jumhur (mayoritas) ulama serta empat imam mazhab (Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad) berpendapat boleh bagi si suami mengambil tebusan lebih besar dari mahar yang telah dia berikan kepada istrinya. Pendapat ini diriwayatkan dari ‘Utsman bin ‘Affan, Ibnu ‘Umar, dan Ibnu ‘Abbas g.
Dalilnya adalah keumuman firman Allah l:
ﯦ ﯧ ﯨ ﯩ ﯪ ﯫﯬ
“Tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Kata مَا ( ma’) pada ayat tersebut adalah isim maushul yang berfungsi secara bahasa untuk menunjukkan makna yang umum. Ini berarti secara umum meliputi seluruh jenis tebusan, ragam, nilai, dan tata cara pembayarannya.
Akan tetapi, jumhur berbeda pendapat tentang makruh atau tidaknya. Masalahnya, datang riwayat tambahan pada hadits Ibnu ‘Abbas c dengan lafadz:
أَنَّ جَمِيلَةَ بِنْتَ سَلُولَ أَتَتْ النَّبِيَّ n فَقَالَتْ: وَاللَّهِ مَا أَعْتِبُ عَلَى ثَابِتٍ فِي دِينٍ وَلاَ خُلُقٍ, وَلَكِنِّي أَكْرَهُ الْكُفْرَ فِي الْإِسْلاَمِ لاَ أُطِيقُهُ بُغْضًا. فَقَالَ لَهَا النَّبِيُّ n: أَتَرُدِّينَ عَلَيْهِ حَدِيقَتَهُ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَأَمَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ n أَنْ يَأْخُذَ مِنْهَا حَدِيقَتَهُ وَلاَ يَزْدَادَ.
“Jamilah bintu Salul telah mendatangi Nabi n lantas berkata, ‘Demi Allah, aku tidak mencela Tsabit atas agama dan akhlaknya, tetapi aku benci kekufuran dalam Islam karena aku tidak sanggup menahan kebencianku kepadanya.’ Nabi n pun bersabda kepadanya, ‘Apakah kamu sanggup mengembalikan kebunnya?’ Ia menjawab, ‘Ya.’ Maka Nabi n memerintahkan Tsabit untuk mengambil kebunnya dari wanita itu dan tidak mengambil lebih dari itu.” (HR. Ibnu Majah dan al-Baihaqi)
Riwayat ini dihukumi sahih oleh al-Albani.4
Terdapat pula penguat yang semakna dengannya dari riwayat mursal ‘Atha’ dari Rasulullah n yang dikeluarkan oleh al-Baihaqi dan mursal Abi Zubair dari Rasulullah n yang dikeluarkan ad-Daraquthni.5
Adapun riwayat mursal Abu Zubair lafadznya sebagai berikut.
فَقَالَ النَّبِيُّ n: أَتَرُدِّيْنَ عَلَيْهِ حَدِيْقَتَهُ الَّتِيْ أَعْطَاكِ؟ قَالَتْ: نَعْمْ، وَزِيَادَةً. فَقَالَ النَّبِيُّ n:

أَمَّا الزِّيّادَةُ فَلاَ، وَلَكِنْ حَدِيْقَتَهُ. قَالَتْ: نَعَمْ.
“Nabi n berkata, ‘Apakah kamu sanggup mengembalikan kebunnya yang telah diberikannya kepadamu?’ Ia menjawab, ‘Ya, bahkan kuberi tambahan.’ Nabi n berkata, ‘Adapun tambahannya tidak usah, tetapi kembalikan kebunnya saja.’ Ia menjawab, ‘Ya’.”
Ibnul Qayyim t juga menguatkan hadits ini.
Oleh karena itu, Ahmad berpendapat hal itu boleh tetapi makruh, berdasarkan perpaduan makna ayat dan hadits tersebut. Ini dirajihkan oleh Ibnul Qayyim dan Ibnu ‘Utsaimin.
Sementara itu, asy-Syafi’i, Malik, dan Abu Hanifah rahimahumullah berpendapat tidak makruh dengan alasan hadits tersebut lemah. Seandainya hadits tersebut tsabit (tetap), larangan Nabi n itu kemungkinannya sebagai saran dan bimbingan saja kepadanya agar tidak menyusahkan diri dengan memberi lebih dari maharnya. Meskipun begitu, al-Imam Malik t mengatakan bahwa hal itu bertentangan dengan keluhuran akhlak.
Sepertinya, yang terkuat adalah pendapat yang mengatakan makruh, wallahu a’lam.6

 

Catatan Kaki:

1 Rafidhahnya Khumaini (Khomeini) yang sesat dan kafir, tokoh Syiah Rafidhah Iran. Lihat pembahasan tentang Syiah Rafidhah pada Rubrik Manhaji edisi 05.
2 Keduanya adalah aliran ekstrem kaum Sufi. Hululiyah dipelopori oleh al-Husain al-Hallaj. Adapun ittihadiyah (paham wihdatul wujud) oleh Ibnu Arabi yang sesat dan kafir.
3 Akidah Jahm bin Shafwan yang sesat dan kafir.

4 Lihat kitab Shahih Ibnu Majah (no. 2086) dan al-Irwa’ (no. 2037).
5 Riwayat mursal adalah riwayat seorang tabi’in (pengikut sahabat) dari Rasulullah n. Riwayat seperti ini tergolong dha’if (lemah) karena putus antara tabi’in tersebut dengan Rasulullah n, tetapi bisa jadi syahid (penguat) dalam penguatan hadits.

6 Ada juga yang berpendapat haram, dan ini yang dirajihkan oleh asy-Syaukani, berdalil dengan hadits tersebut.

Hakikat Khulu’ Sabagai Fasakh

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Definisi Khulu’
Secara etimologi (tinjauan bahasa), khulu’ berasal dari kata خَلَعَ الثَّوْبَ (melepas pakaian), karena istri adalah pakaian bagi suaminya secara maknawi.
Allah l berfirman:
“Mereka adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka.” (al-Baqarah: 187)
Khulu’ diistilahkan pula dengan fida’, iftida’, dan fidyah, yang artinya tebusan, karena istri yang melakukan khulu’ menebus dirinya dengan bayaran kepada suami. Allah l berfirman:
“Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Adapun definisi khulu’ secara terminologi (menurut istilah) adalah perpisahan dengan istri yang ditebus dengan bayaran dari istri atau dari selainnya.
Jadi, khulu’ berkonsekuensi dua perkara: bayaran (tebusan) dan perpisahan.
1. Bayaran (tebusan)
Yang berkewajiban membayar tebusan tersebut adalah istri. Namun, sah dibayarkan oleh walinya. Bahkan, sah dibayarkan oleh orang lain, menurut pendapat yang benar. Ini adalah pendapat Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin.
Ibnu Taimiyah berkata—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa dan al-Ikhtiyarat—, “Khulu’ boleh dilakukan seorang wanita dari pihak/orang lain, menurut empat imam mazhab dan jumhur. Jadi, boleh bagi orang lain menebus si istri dari suaminya, sebagaimana bolehnya menebus tawanan dan menebus budak dari tuannya untuk dimerdekakan. Oleh karena itu, dipersyaratkan bertujuan untuk membebaskannya dari tangan suaminya demi maslahat wanita tersebut.”
Contohnya, seorang istri butuh melakukan khulu’ karena tidak mencintai suaminya, tetapi tidak punya harta untuk menebus dirinya. Jika ada orang lain yang membayarkan tebusannya, berarti ia telah berbuat baik demi maslahat wanita itu. Jadi, siapa pun yang dianggap sah mengeluarkan hartanya tanpa imbalan, sah baginya mengeluarkan hartanya untuk pembayaran tebusan khulu’.

2. Perpisahan
Pisah khulu’ hanya terjadi jika dijatuhkan oleh suami atau selainnya yang berwenang menjatuhkannya2 atas permintaan istri dengan mengucapkan lafadz khulu’ atau yang semakna dengannya. Tanpa dijatuhkan dengan lafadz khulu’ atau yang semakna dengannya, khulu’ tidak jatuh menurut pendapat yang rajih—sebagaimana akan diterangkan nanti.
Adapun perpisahan yang diinginkan sendiri oleh suami dan dijatuhkannya tanpa bayaran (tebusan), diistilahkan sebagai pisah talak.

Masalah: Khulu’ tidak jatuh tanpa dijatuhkan oleh suami
Khulu’ hanya jatuh jika suami menjatuhkannya dengan mengucapkan lafadz khulu’ atau yang semakna dengannya. Tanpa dijatuhkan dengan lafadz, maka khulu’ tidak jatuh. Inilah pendapat yang rajih.
Ibnu Qudamah t menegaskannya berdasarkan alasan berikut.
1. Khulu’ adalah tindakan terkait dengan kepentingan biologis, sehingga tidak sah tanpa dilafadzkan oleh suami, seperti halnya pernikahan dan talak.
2. Mengambil harta yang diberikan istri adalah semata menggenggam tebusan. Ini tidak berkedudukan mewakili penjatuhan khulu’.
Hal ini ditunjukkan oleh hadits Ibnu ‘Abbas c tentang kasus permintaan khulu’ istri Tsabit bin Qais bin Syammas yang diriwayatkan oleh al-Bukhari pada kitab Shahih-nya. Rasulullah n berkata kepada Tsabit:
وَأَمَرَهُ فَفَارَقَهَا
“Nabi n memerintah Tsabit memisahnya, maka dia pun memisahnya.”
Pada riwayat al-Bukhari lainnya dengan lafadz:
اقْبَلِ الْحَدِيْقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيْقَةً.
“Terimalah kebun itu dan talaklah dia.”3
Riwayat-riwayat ini jelas menunjukkan bahwa lafadz suami menjatuhkan khulu’ adalah syarat jatuhnya khulu’.
Oleh karena itu, as-Sa’di berfatwa dalam al-Fatawa as-Sa’diyyah bahwa khulu’ belum jatuh dan perpisahan belum terjadi dengan sebatas perbincangan untuk khulu’ dan kesepakatan bahwa suaminya akan menjatuhkan khulu’ jika istrinya membayar tebusan senilai harga yang disepakati. Dalam hal ini, boleh baginya menarik kembali niatnya untuk menjatuhkan khulu’.

Lafadz Khulu’
Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa— menjelaskan, “Khulu’ dan talak sah dengan selain bahasa Arab, menurut kesepakatan imam-imam umat ini.”

Khulu’ adalah fasakh (pembatalan akad) dan ‘iddahnya satu kali haid
Yang benar, khulu’ dengan lafadz apa saja adalah fasakh (pembatalan akad), baik dengan lafadz-lafadz yang khas untuk khulu’ seperti; khulu’, fida’, iftida’, fasakh4, maupun dengan lafadz lainnya.5 Hal ini tidak dihitung sebagai talak sama sekali.
Dalilnya adalah sebagai berikut.
1. Firman Allah l:
“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kalian mengambil kembali sesuatu dari yang telah kalian berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kalian khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya akan bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (al-Baqarah: 229)
Pada ayat ini, setelah menyebutkan bahwa talak raj’i (yang dapat dirujuk) hanya dua kali, Allah l menyebutkan hukum iftida’ (khulu’) sebagai hukum tersendiri selain talak, karena Allah l berfirman selanjutnya:
“Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia menikah dengan suami yang lain.” (al-Baqarah: 230)
Allah l menerangkan bahwa jika si suami menalaknya lagi setelah dua talak sebelumnya (yang disebutkan di awal ayat), ini dianggap talak tiga. Artinya, fida’ (khulu’) tersebut tidak diperhitungkan sebagai bagian dari talak sama sekali. Sebab, seandainya dianggap sebagai bagian dari talak, tentu hal ini terhitung sebagai talak keempat, sedangkan seorang istri terpisah dari suaminya sama sekali—yang disebut bainunah kubra’ (perpisahan besar)—hanya dengan talak tiga.
Tampak jelas dari ayat ini bahwa khulu’ bukan talak, melainkan fasakh. Allah l menetapkannya sebagai fasakh (pembatalan akad) secara umum, baik dengan lafadz-lafadz khulu’ yang khusus maupun dengan lafadz lainnya.

2. Hadits ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x
Ia berkata:
اخْتَلَعْتُ مِنْ زَوْجِي، ثُمَّ جِئْتُ عُثْمَانَ فَسَأَلْتُ مَاذَا عَلَيَّ مِنْ الْعِدَّةِ؟ فَقَالَ: لاَ عِدَّةَ عَلَيْكِ إِلاَّ أَنْ تَكُونِي حَدِيثَةَ عَهْدٍ بِهِ فَتَمْكُثِي حَتَّى تَحِيضِي حَيْضَةً. قَالَ: وَأَنَا مُتَّبِعٌ فِي ذَلِكَ قَضَاءَ رَسُولِ اللَّهِ n فِي مَرْيَمَ الْمَغَالِيَّةِ كَانَتْ تَحْتَ ثَابِتِ بْنِ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ فَاخْتَلَعَتْ مِنْهُ.
“Aku khulu’ dari suamiku, lalu aku mendatangi Utsman lantas bertanya akan kewajiban ‘iddah yang harus aku jalani. Utsman menjawab, ‘Tidak ada kewajiban ‘iddah atasmu, kecuali jika kamu baru saja berpisah dengannya, maka hendaklah kamu menanti hingga haid satu kali.’
Utsman berkata, ‘Dalam hal ini, saya mengikuti hukum Rasulullah n terhadap Maryam al-Maghaliyah, yang sebelumnya sebagai istri Tsabit bin Qais bin Syammas lalu khulu’ darinya’.” (HR. an-Nasa’i dan Ibnu Majah, dihasankan oleh al-Albani dan al-Wadi’i)6
Hadits ini begitu jelas menunjukkan bahwa khulu’ itu adalah fasakh walaupun dijatuhkan dengan lafadz talak, sebab ‘iddah dengan satu kali haid adalah urusan fasakh, bukan urusan talak.
Adapun perintah Rasulullah n kepada Tsabit bin Qais bin Syammas untuk mencerai istrinya yang meminta khulu’ dengan lafadz:
اقْبَلِ الْحَدِيْقَةَ وَطَلِّقْهَا تَطْلِيْقَةً.
“Terimalah kebun itu dan talaklah dia.” (HR. al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas c)
tidak menunjukkan bahwa khulu’ dengan lafadz talak adalah talak.
Ibnu Taimiyah—sebagaimana dalam Majmu’ al-Fatawa—berkata, “Adapun hadits ‘Talaklah dia’ maksudnya izin dari Nabi n kepada Tsabit untuk menalaknya satu kali talak dengan bayaran (tebusan) dan larangan lebih dari satu kali.”7
Artinya, tidak boleh menjatuhkan khulu’ lebih dari satu kali sekaligus dalam satu majelis seperti halnya larangan Nabi n menalak tanpa bayaran (tebusan) lebih dari satu kali sekaligus dalam satu majelis.
Lebih lanjut, Ibnu Taimiyah t berkata, “Nabi n memerintahkan agar tidak menjatuhkan talak dengan tebusan lebih dari satu kali (sekaligus), tetapi hanya satu kali saja. Sebagaimana halnya menalak hanya satu kali, tidak lebih dari itu (sekaligus). Namun, talak dengan tebusan adalah talak yang terikat, bermakna fidyah (khulu’) dan perpisahan ba’in (utuh tanpa dapat dirujuk), bukan talak mutlak yang terdapat dalam Al-Qur’an yang bermakna raj’i (dapat di ruju’).”
Ini jika hadits tersebut sahih sebagaimana telah disahihkan oleh al-Bukhari dan al-Albani.8
Yang benar, ‘iddahnya adalah satu kali haid. Ini adalah istibra’, yaitu pembebasan rahim dari anak yang dikandung. Dalilnya adalah hadits ar-Rubayyi’ x di atas. Hal ini karena tujuannya semata untuk mengetahui terbebasnya rahim dari kehamilan yang tercapai dengan satu kali haid saja. Tidak perlu diperpanjang untuk memberi kesempatan yang cukup agar bisa ruju’ (kembali), karena tidak ada kesempatan rujuk pada khulu’.
Berbeda halnya dengan ‘iddah istri yang ditalak sampai tiga kali haid, karena bertujuan memberi kesempatan yang cukup lama bagi suami agar bisa rujuk jika mau.
Inilah pendapat Ibnu ‘Abbas dan murid-muridnya, salah satu riwayat dari Ahmad, serta yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, ash-Shan’ani, as-Sa’di, al-‘Utsaimin, dan al-Wadi’i, guru besar kami.9
Konsekuensi hukum dari khulu’ sebagai fasakh
Terdapat beberapa hukum sebagai konsekuensi khulu’ (fasakh).
1. Jika seorang suami telah menjatuhkan khulu’ atas istrinya dengan tebusan yang disepakati dan tebusannya telah dibayarkan, terjadilah perpisahan antara keduanya dan putuslah hubungan keduanya yang diistilahkan bainunah shughra’ (perpisahan kecil).10
Artinya, dia tidak punya hak rujuk (kembali) dan tidak halal baginya untuk rujuk, sebab bayaran yang diberikannya kepada suaminya adalah penebusan diri. Dengan itu, dia telah menebus dirinya sehingga terlepas dari genggaman kuasa suaminya. Namun, dia bisa menikahinya kembali dengan akad yang baru, baik dalam masa ‘iddah maupun setelahnya. Ini adalah mazhab empat imam mazhab bersama jumhur ulama, yang dibenarkan oleh Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani, as-Sa’di, dan al-‘Utsaimin. Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad berkata, “Amalan kaum muslimin berjalan di atas hukum ini.”11
Inilah yang benar, insya Allah.
Begitu pula halnya jika khulu’ telah dijatuhkan oleh suami dengan tebusan yang disepakati dan tinggal penyerahan tebusan saja, fasakh telah jatuh dan sudah tidak boleh rujuk (kembali). Ini ditegaskan oleh as-Sa’di dalam al-Fatawa as-Sa’diyah.

2. Khulu’ tidak dihitung sebagai salah satu dari tiga talak yang ditetapkan dalam syariat.12
Artinya, tidak mengurangi kesempatan menalak yang diizinkan sampai tiga kali. Dengan demikian, jika suami sudah menalaknya dua kali lalu dia mencerainya dengan khulu’, perpisahan yang terjadi hanya bainunah shugra’ dan dia bisa menikahinya kembali secara langsung (tanpa syarat telah digauli suami yang lain). Sebab, ini bukan talak tiga melainkan fasakh. Dalam hal ini, kesempatan untuk menalaknya tetap tersisa satu kali, karena dua talak sebelumnya tetap terhitung meskipun telah diselingi akad pernikahan baru akibat khulu’ (fasakh) tersebut. Ini sebagaimana ditunjukkan oleh ayat di atas.
Khulu’ berulang kali tidak menjadikan istri haram atasnya untuk dinikahi kembali secara langsung. Walaupun telah dikhulu’ sampai sepuluh kali—atau lebih dari itu tanpa batas—, tetap boleh baginya menikahinya kembali dengan akad baru, tanpa syarat telah dinikahi dan digauli suami lain.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Fasakh adalah pembatalan akad nikah, bukan cerai. (-ed)

2 Yang berwenang menjatuhkannya adalah suami atau pihak lainnya yang berhak menjatuhkan talak. Lihat uraian pihak-pihak yang berwenang menjatuhkan talak pada “Yang Berwenang Menjatuhkan Talak dan Lafadz-Lafadznya”.
3 Akan kami terangkan perselisihan ahli hadits tentang kebenaran riwayat ini.
4 Yaitu dengan mengatakan, “Saya mengkhulu’ kamu dengan tebusan itu”, “Saya melepasmu dengan tebusan itu”, atau “Saya memfasakh (membatalkan) akad nikah kita dengan tebusan tersebut”.

5 Yaitu dengan mengatakan, “Saya menalakmu dengan tebusan tersebut”, “Saya menceraimu dengan tebusan tersebut”, “Saya memisahkanmu dengan bayaran tersebut”, atau semisalnya.

6 Pada sanadnya terdapat Muhammad bin Ishaq, seorang mudallis, tetapi ia telah mempertegas bahwa dirinya mendengar hadits ini dari syaikhnya. Lihat kitab Shahih Sunan an-Nasa’i (Kitab “ath-Thalaq Bab ‘iddah al-Mukhtali’ah” no. 3498) dan al-Jami’ ash-Shahih (Kitab “an-Nikah wath-Thalaq Bab ‘iddah al-Mukhtali’ah” 3/97).
7 Lihat Majmu’ al-Fatawa (32/310).
8 Al-Albani mensahihkannya dalam al-Irwa’ (no. 2036). Sementara itu, sebagian ahli hadits menganggap cacat riwayat ini dengan irsal. Artinya, yang benar pada riwayat ini adalah jalan riwayat yang mursal (tabi’in meriwayatkan langsung dari Nabi n) tanpa penyebutan Ibnu ‘Abbas. Yang benar pada periwayatan hadits Ibnu ‘Abbas adalah tanpa riwayat talak. Di antara ahli hadits yang membenarkan hal ini adalah asy-Syaukani dalam Nailul Authar (pada “Kitab al-Khul’i”) dan guru besar kami, Muqbil al-Wadi’i, dalam Ijabah as-Sa’il (hlm. 699). Lihat pula Fathul Bari karya Ibnu Hajar (pada Kitab “ath-Thalaq Bab al-Khul’i”).
9 Pendapat kedua yang memiliki sisi kekuatan yang patut diperhitungkan adalah yang merinci:
– jika dengan lafadz-lafadznya yang khas, jatuh sebagai fasakh meskipun diniatkan talak.
– jika dengan lafadz talak (yang jelas) atau dengan lafadz kiasan disertai niat talak, jatuh sebagai talak ba’in yang dianggap sah dalam perhitungan talak, berdasarkan riwayat, “Dan talaklah dia.”

Ibnu Taimiyah berkata, “Lafadz khulu’, fida’, dan fasakh dengan bayaran (tebusan) adalah lafadz-lafadz yang jelas sebagai fasakh, sehingga tidak bisa digunakan sebagai lafadz kiasan untuk talak.”
Berdasarkan ini, tampaklah kelemahan pendapat lainnya yang sama dengan pendapat kedua ini, tetapi mengatakan jatuh sebagai talak jika menggunakan lafadz-lafadz khas tersebut yang diniatkan talak.
10 Ini pula hukumnya menurut pendapat lainnya (yang merinci) jika jatuh sebagai talak karena dijatuhkan dengan lafadz talak (yang jelas) atau kiasan disertai niat talak.
11 Bersama dengan ini, secara tinjauan makna, Ibnul Qayyim mendukung pendapat yang membolehkan rujuk dalam masa ‘iddah, sebagaimana pendapat Sa’id bin al-Musayyib dan az-Zuhri, yang diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dalam kitab al-Mushannaf.
12 Adapun menurut pendapat yang merinci; jika dijatuhkan dengan lafadz talak (yang jelas) atau lafadz kiasan disertai niat talak, berarti jatuh sebagai talak tiga pada contoh tersebut dan perpisahan yang terjadi adalah bainunah kubra’. Dia tidak bisa lagi menikahinya kembali melainkan jika telah dinikahi dan digauli oleh suami lain. Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa (32/289).

Mempersaksikan Talak dan Ruju’

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Mempersaksikan Talak
Disyariatkan mempersaksikan talak yang dijatuhkan kepada dua saksi pria yang ‘adl; istiqamah (tidak fasik). Dalilnya adalah hadits ‘Imran bin Hushain z:
أَنَّ عِمْرَانَ بْنَ حُصَيْنٍ سُئِلَ عَنِ الرَّجُلِ يُطَلِّقُ امْرَأَتَهُ, ثُمَّ يَقَعُ بِهَا وَلَمْ يُشْهِدْ عَلَى طَلَاقِهَا وَلاَ عَلَى رَجْعَتِهَا. فَقَالَ: طَلَّقْتَ لِغَيْرِ سُنَّةٍ وَرَاجَعْتَ لِغَيْرِ سُنَّةٍ، أَشْهِدْ عَلَى طَلَاقِهَا وَعَلَى رَجْعَتِهَا وَلَا تَعُدْ
“Imran bin Hushain ditanya tentang seorang lelaki yang menalak istrinya, kemudian ia menggaulinya (merujuknya) dalam keadaan tidak mempersaksikan talak dan rujuknya. ‘Imran berkata, ‘Kamu telah menalak tanpa mengikuti sunnah dan rujuk tidak menurut sunnah. Persaksikanlah talakmu dan rujukmu (sekarang), dan janganlah kamu ulangi hal itu!’.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah. Disahihkan sanadnya oleh Ibnu Hajar dan al-Albani)1
Pada hadits ini ‘Imran bin Hushain z menisbahkan talak dan rujuk dengan persaksian sebagai sunnah. Maksudnya adalah sunnah Nabi n, bukan selainnya.
Hal ini dikuatkan dengan firman Allah l:
“Apabila mereka telah mendekati akhir ‘iddahnya, rujuklah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik, serta persaksikanlah dengan dua orang saksi yang istiqamah (tidak fasik) di antara kalian, dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.” (ath-Thalaq: 2)
Ini apabila perintah Allah l, “Persaksikanlah dengan dua orang saksi yang istiqamah (tidak fasik)” dianggap tertuju pada talak dan rujuk, sebagaimana tafsir yang dipilih oleh as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman.
Menurut tafsir lainnya, perintah tersebut hanya tertuju kepada rujuk sehingga ayat ini bukan dalil. Tafsir ini yang dipilih oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, Ibnu Katsir, dan asy-Syaukani dalam Fathul Qadir. Alasan mereka, perintah tersebut datang setelah perintah melakukan rujuk dengan baik.
Terdapat dua pendapat tentang hukumnya:
1. Ada yang berpendapat bahwa mempersaksikan talak hukumnya wajib, berdasarkan perintah yang ada pada dua dalil tersebut karena tampaknya perintah itu bersifat wajib.

2. Jumhur berpendapat sunnah dan tidak wajib.
Yang menunjukkan bahwa mempersaksikan talak hukumnya tidak wajib adalah hadits Ibnu ‘Umar c tentang kasus perceraiannya dengan istrinya yang dijatuhkannya saat haid, karena Nabi n tidak mempertanyakan talaknya apakah dia mempersaksikannya atau tidak?
Adapun hadits ‘Imran z, yang hukumnya marfu’ (dinisbahkan sebagai sunnah Nabi n) adalah mempersaksikan talak dan rujuk yang boleh jadi wajib dan boleh jadi sunnah. Perintah yang ada pada hadits itu adalah ucapan ‘Imran sendiri yang bisa jadi hasil ijtihadnya. Wallahu a’lam.
Yang jelas, mempersaksikan talak dapat dilakukan saat menjatuhkan talak atau disusulkan setelah talak jatuh sebagaimana ditunjukkan hadits ‘Imran bin Hushain z.

Mempersaksikan Rujuk
Disyariatkan pula mengumumkan dan mempersaksikan rujuk kepada dua saksi laki-laki yang ‘adl (istiqamah) berdasarkan hadits ‘Imran bin Hushain dan ayat di atas.
Terdapat dua pendapat tentang hukumnya.
1. Ada yang berpendapat wajib, berdasarkan perintah yang ada pada dua dalil tersebut karena tampaknya perintah itu bersifat wajib.
2. Jumhur ulama berpendapat sunnah dengan alasan-alasan berikut.
a. Rujuk adalah hak suami menggenggam kembali miliknya tanpa dipersyaratkan kerelaan istri sehingga tidak wajib mempersaksikannya.
b. Pada hadits Ibnu ‘Umar c, Nabi n bersabda kepada ‘Umar:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا
“Perintahkan kepadanya agar merujuk istrinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Di sini Nabi n memerintahnya agar rujuk tanpa memerintahkan untuk mempersaksikan rujuknya itu.
c. Rujuk adalah pasangan talak, dan mempersaksikan talak hukumnya hanya sunnah, tidak wajib. Demikian pula hukum mempersaksikan rujuk.
Adapun hadits ‘Imran, yang marfu’ (disandarkan kepada Nabi n) telah dijawab di atas.
As-Sa’di dan Ibnu ‘Utsaimin dalam Fath Dzil Jalal wal Ikram merajihkan pendapat jumhur. Namun, dalam asy-Syarh al-Mumti’, Ibnu ‘Utsaimin memberi rincian:
– Jika suaminya merujuknya dengan kehadiran istrinya, tidak wajib mempersaksikannya.
– Jika ia merujuknya tanpa kehadirannya, wajib mempersaksikannya karena dikhawatirkan ia baru mengabari istrinya tentang hal tersebut setelah habis masa ‘iddahnya dan ternyata istrinya mengingkari sehingga menjadi kasus.
Inilah yang rajih, insya Allah.
Yang jelas, mempersaksikan rujuk dapat dilakukan saat rujuk atau disusulkan setelah rujuk terjadi, sebagaimana pada hadits ‘Imran bin Hushain z. Tidak mesti dilakukan saat rujuk karena jatuhnya rujuk tidak bergantung pada adanya saksi. Jika ia merujuknya dengan senggama disertai niat rujuk, tidak mungkin mempersaksikannya saat rujuk.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab Bulughul Maram (Kitab “an-Nikah Bab ar-Raj’ah”) dan al-Irwa’ no. 2078

Hukum Ruju’ dan Tata Caranya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini)

Hukum Rujuk
Rujuk adalah hak mutlak suami di masa ‘iddah wanita yang ditalak raj’i. Hak mutlak artinya tanpa syarat kerelaan istri untuk dirujuk.
Dalilnya adalah:
1. Firman Allah l:
“Dan suami-suaminya lebih berhak merujuknya dalam masa ‘iddah itu, jika mereka (para suami) menghendaki perbaikan.” (al-Baqarah: 228)
2. Firman Allah l:
“Apabila kalian menalak istri-istri kalian, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka. Barang siapa berbuat demikian, sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.” (al-Baqarah: 231)
3. Hadits ‘Umar z:
أَنَّ النَّبِيَّ n طَلَّقَ حَفْصَةَ، ثُمَّ رَاجَعَهَا.
“Nabi n menalak Hafshah, kemudian merujuknya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, Ibnu Majah, al-Hakim, dan lainnya. Al-Hakim mensahihkannya menurut syarat al-Bukhari-Muslim dan disetujui oleh adz-Dzahabi, serta disahihkan oleh al-Albani dan al-Wadi’i)1
4. Hadits Ibnu ‘Umar c ketika menalak istrinya, dan Rasulullah n bersabda kepada ‘Umar z:
مُرْهُ فَلْيُرَاجِعْهَا
“Perintahkan kepadanya agar merujuk istrinya.” (Muttafaq ‘alaih)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata, “Para ulama sepakat bahwa lelaki yang merdeka jika menalak istrinya yang merupakan wanita merdeka setelah menggaulinya dengan talak satu atau talak dua, dia lebih berhak merujuknya (di masa ‘iddah) walaupun istrinya tidak suka dirujuki. Jika dia tidak merujuknya sampai masa ‘iddahnya berakhir, wanita itu bukan lagi istrinya dan tidak halal lagi untuknya kecuali dengan akad nikah yang baru.”
Ijma’ ini juga telah dinukil oleh Ibnu Qudamah dan Ibnul Mundzir.
Jadi, hak rujuk bagi suaminya berlaku meskipun istrinya tidak rela dirujuki. Artinya, kerelaan istri bukan syarat sahnya rujuk. Ini berdasarkan keumuman dalil-dalil di atas yang tidak mempersyaratkannya.
Hal itu karena wanita yang ditalak raj’i masih berlaku atasnya hukum-hukum istri—kecuali hukum pembagian jatah gilir dalam kehidupan poligami. Lagi pula, rujuk sifatnya mempertahankan kedudukannya sebagai istri dan ini lebih kuat daripada pernikahan baru, sehingga tidak dipersyaratkan adanya kerelaan istri. Karena kerelaan istri bukan syarat sahnya rujuk, maka tidak dipersyaratkan pula bahwa istrinya mengetahui saat dirujuki.

Tata Cara Rujuk
Merujuki istri yang ditalak haruslah ditempuh dengan tata cara yang syar’i, baik dalam hal niat maupun prosesnya.

1. Niat rujuk
Dalam merujuk istri harus dengan niat untuk memperbaiki kembali hubungan yang retak, sehingga rujuk diharamkan dengan niat untuk memudaratkannya. Ini berdasarkan dua ayat yang telah disebutkan di atas (al-Baqarah ayat 228 dan 231).
Akan tetapi, terdapat silang pendapat di antara ulama apakah niat untuk perbaikan merupakan syarat sahnya rujuk atau tidak.
1. Yang masyhur dalam mazhab Hanbali, hal itu bukan syarat sahnya rujuk, walaupun pelakunya berdosa bila bertujuan untuk memudaratkannya.
2. Yang dipilih Ibnu Taimiyah, ash-Shan’ani, dan Ibnu ‘Utsaimin, hal itu adalah syarat sahnya rujuk.
Niatnya akan tampak jika seseorang menalak istrinya, kemudian ketika di pertengahan haid ketiga ia pun merujuknya untuk memperpanjang ‘iddahnya. Setelah itu, ia bermaksud menalaknya lagi dan melakukan hal yang sama sampai talak yang ketiga jatuh, agar ‘iddahnya yang dijalaninya panjang. Dengan cara ini, ‘iddahnya jadi sembilan haid.

2. Proses rujuk
Proses rujuk terjadi dengan salah satu dari dua cara berikut.
a. Ucapan, menurut kesepakatan ulama.
Yang benar, rujuk sah dengan setiap lafadz yang menunjukkan makna rujuk disertai niatnya. Sebab, yang diperhitungkan pada suatu lafadz adalah maknanya. Contohnya:
– “Aku telah merujuk istriku.”
– “Aku telah mengembalikan istriku ke sisiku.”
– “Aku telah menginginkan istriku lagi.”

b. Menggaulinya disertai niat rujuk, menurut pendapat yang benar.
Ini adalah pendapat Malik dan salah satu riwayat dari Ahmad, yang dirajihkan Ibnu Taimiyah, asy-Syaukani, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin. Keumuman dalil-dalil yang ada meliputi rujuk dengan ucapan dan rujuk dengan perbuatan (senggama disertai niat rujuk).
Berdasarkan hal ini, haram menggaulinya tanpa niat rujuk, sebab hakikat rujuk adalah mengembalikan istri yang ditalak ke posisi semula sebagai istri yang tidak ditalak, sementara hal ini tidak tercapai dengan sekadar menggaulinya.
Lebih-lebih dalam hal menggauli wanita, ini bisa dilakukan pula oleh pezina yang menggauli wanita lain. Suami yang menalaknya ini mungkin saja dikuasai oleh syahwat, atau dia melihatnya dalam keadaan berdandan sehingga tidak mampu menahan diri untuk menggaulinya, kemudian dia menggaulinya dalam keadaan tidak ingin merujuknya sama sekali. Oleh karena itu, menggaulinya tidak sah sebagai rujuk tanpa diniatkan.

Tampaklah dengan ini kelemahan pendapat lainnya yang masyhur pada mazhab Hanbali bahwa rujuk terjadi dengan sekadar menggaulinya tanpa niat rujuk.
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab al-Irwa’ no. 2077 dan al-Jami’ ash-Shahih (3/98). Hadits ini memiliki syawahid (penguat-penguat).