PENGKHIANATAN ISTRI NABI NUH DAN NABI LUTH

Allah l berfirman dalam surah at-Tahrim:
“Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya….” (at-Tahrim: 10)
Dalam perkara apakah kedua istri tersebut berkhianat?

Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjawab pertanyaan di atas sebagai berikut.
“Ayat yang mulia ini adalah sebuah permisalan yang dibuat oleh Allah l tentang berkumpul dan bercampurnya seorang yang kafir dengan seorang muslim, dalam keadaan si kafir itu tidak beroleh manfaat dengan pergaulannya bersama seorang muslim, selama dia tidak mau masuk Islam. Di hari kiamat nanti ia berada dalam neraka. Pergaulan dan percampurannya dengan si muslim sama sekali tidak bermanfaat. Demikian pula, persahabatan dan hubungan yang terjalin antara dia dan si muslim akan terputus karena dia bukan seorang muslim.
Adapun pengkhianatan yang terjadi pada istri Nabi Nuh q dan istri Nabi Luth q adalah pengkhianatan dalam hal agama karena istri Nabi Nuh dan Nabi Luth e keduanya kafir. Artinya, keduanya mengkhianati suami mereka dalam masalah agama. Keduanya enggan masuk ke dalam agama suami mereka. Perbuatan istri yang seperti ini teranggap pengkhianatan. Dengan demikian, pengkhianatan mereka berdua bukan dalam masalah kehormatan1 karena istri-istri para nabi ma’shumah2.
Tidak mungkin seorang nabi menikah dengan wanita yang berkhianat dalam masalah kehormatannya3 karena para nabi adalah orang-orang yang ma’shum dari hal semacam itu, maka pasangan hidup mereka juga ma’shumah.
Dengan demikian, pastilah yang dimaksudkan di sini adalah khianat dalam hal agama.
Ada yang mengatakan, pengkhianatan kedua istri tersebut adalah istri Nuh suka menceritakan kepada orang-orang kafir tentang rahasia-rahasia Nabi Nuh q. Ia mengatakan suaminya itu gila. Adapun istri Nabi Luth memberi tahu kaumnya tentang tamu-tamu Nabi Luth4 agar mereka bisa berbuat fahisyah/liwath (homoseksual) dengan tamu-tamu tersebut.
Kedua perempuan ini telah mengkhianati amanat suami mereka dari sisi keharusan istri menjaga rahasia suami dan tidak memberi tahu orang lain tentang sesuatu yang mengandung rahasia suami, tamu-tamu suami, dan lainnya. Inilah macam pengkhianatan yang terjadi.
Kesimpulannya, pengkhianatan kedua istri ini bukan dalam hal kehormatan, tetapi dalam hal agama atau dalam hal tidak menjaga rahasia suami. Wallahu a’lam.” (Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan, 1/130—131)

Catatan Kaki:

1 Misalnya berselingkuh dengan lelaki lain, zina, dan semisalnya. Na’udzu billah min dzalik. (–pen.)
2 Terjaga dari berbuat fahisyah (kekejian) seperti selingkuh, dsb.
3 Allah l berfirman:
“Laki-laki yang berzina tidak akan menikah selain dengan perempuan yang berzina atau perempuan musyrik. Dan perempuan yang berzina tidak akan dinikahi melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki yang “Perempuan-perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah untuk perempuan-perempuan yang keji pula. (Sebaliknya), perempuan-perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk perempuan-perempuan yang baik pula.” (an-Nur: 26)
4 Kisah tentang tamu-tamu ini disebutkan oleh Allah l dalam al-Qur’an, di antaranya dalam surah Hud ayat 77—83, berikut kabar kebinasaan negeri kaum Luth beserta penghuninya yang kafir, termasuk istri Luth q.

Pensyari’atan Mahram Merupakan Kemuliaan Bagi Wanita

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Dalam agama Islam, kaum wanita benar-benar beroleh kemuliaan yang tidak didapatkan dalam agama dan peradaban mana pun. Banyak contoh yang membuktikan hal tersebut. Satu di antaranya adalah adanya ketentuan mahram bagi wanita. Ketika safar atau bepergian keluar kota meninggalkan tempat bermukim, syariat mewajibkan adanya mahram yang mendampingi si wanita. Hal ini bertujuan untuk menjaga si wanita dari kemudaratan yang mungkin ditemuinya dalam perjalanan, untuk membantu keperluannya dalam perjalanan, dan melindunginya dari hal-hal yang tidak dikehendaki atau tidak terduga.

Pengertian Mahram1
Sebelum lebih jauh berbicara tentang masalah ini, kita lihat dahulu apa yang dimaksud dengan mahram. Secara bahasa, mahram diambil dari kata hurmah, yang artinya adalah sesuatu yang tidak halal dilanggar. Jika disebut huram-mu, maknanya adalah wanita-wanitamu dan apa yang engkau lindungi. Mereka disebut maharim, dan bentuk tunggalnya adalah mahrumah. (al-Qamusul Muhith, Fashl al-Ha’u, bab al-Mim dan al-Mu’jamul Wasith, 1/169)
Menurut syariat, kata al-Kasani2 dalam Bada’iush Shana’i (2/124), “Mahram seorang wanita adalah lelaki yang tidak boleh menikahi si wanita selama-lamanya. Bisa jadi, karena hubungan nasab antara keduanya3, atau hubungan persusuan4, atau hubungan yang terjadi karena pernikahan5.
Ibnu Qudamah t mengatakan, “Mahram adalah suami seorang wanita atau lelaki yang haram menikahi si wanita selama-lamanya karena ada hubungan darah/nasab atau dengan sebab mubah. Contoh mahram seorang wanita adalah ayahnya, anak laki-lakinya, saudara laki-laki, keponakan laki-laki dari saudara laki-laki atau dari saudara perempuan, kakek, paman dari pihak ayah (‘ammu) atau pihak ibu (khal), ayah mertua, menantu (suami dari putrinya).” (al-Mughni)
Ucapan Ibnu Qudamah t ‘dengan sebab mubah’ mengeluarkan ibu dari wanita yang dizinai atau anak perempuan dari wanita yang dizinai, sehingga keduanya tidak menjadi mahram bagi lelaki yang menzinai karena ‘hubungan’ yang terjadi antara si wanita dan si lelaki tidak dibolehkan oleh syariat. Demikian pendapat jumhur fuqaha berdalil dengan ayat al-Qur’an:
“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita yang pernah dinikahi oleh ayah kalian (istri ayah).” (an-Nisa: 22)
“Dan ibu-ibu dari istri-istri kalian (ibu mertua)….” (an-Nisa: 22—23)
Wanita-wanita yang disebutkan dalam dua ayat di atas, termasuk istri ayah dan ibu mertua, haram dinikahi oleh seorang lelaki karena lelaki tersebut merupakan mahram bagi mereka. Sebutan “istri ayah” dan “ibu mertua” muncul karena terjalinnya hubungan pernikahan yang sah antara seorang lelaki dan seorang wanita. Jika, na’udzubillah, sampai terjadi hubungan badan antara seorang lelaki dan seorang wanita di luar nikah, si wanita tidaklah disebut istri dari si lelaki sehingga ibu si wanita tidak bisa pula disebut sebagai ibu mertua si lelaki. (Lihat al-Muhadzdzab oleh asy-Syairazi dengan al-Majmu’, 16/219, al-Mughni dan al-Umm, “Kitabun Nikah”, “Ma Yahrumu minan Nisa’i bil Qarabah”).
Mahram ini dipersyaratkan sudah baligh dan berakal. Adapun orang gila atau kurang akal dan anak laki-laki yang masih kecil tidak bisa mengurusi dirinya sendiri, maka bagaimana mungkin dia bisa menemani wanita dari keluarganya ketika safar? Sementara itu, maksud adanya mahram adalah untuk menjaga wanita. Hal ini tidak akan tercapai melainkan ketika lelaki yang menemaninya sebagai mahram sudah baligh dan berakal.
Demikian pendapat yang dipegangi oleh jumhur fuqaha (lihat al-Mughni), selain mazhab Malikiyah yang tidak mempersyaratkan baligh tetapi cukup si lelaki sudah tamyiz dan ada kifayah (kemampuan memberi penjagaan dan bantuan).
Orang kafir dan Majusi (kaum penyembah api) tidak bisa menjadi mahram bagi seorang muslimah karena si muslimah tidak aman bersama keduanya.

Wajibnya Mahram bagi Wanita Saat Safar
Hadits-hadits yang menunjukkan wajib adanya mahram bagi wanita saat safar (bepergian meninggalkan kampung, kota, atau negeri tempat bermukim) demikian jelas. Namun, sangat disesalkan, bersamaan dengan jelasnya nash/dalil tersebut, justru banyak terjadi pelanggaran. Kita dapati banyak wanita muslimah bepergian ke luar kota sendirian, atau bersama rombongan namun tidak ada mahramnya, atau hanya ditemani sopir. Ini adalah kebodohan terhadap aturan Penetap syariat, atau sikap masa bodoh, tidak mau tahu, dan berpaling. Kemuliaan yang diberikan Islam kepada wanita malah dikoyak dan dicampakkan. Akhirnya, kehinaan yang diperoleh, yaitu banyaknya pelecehan terhadap kaum wanita, terjadinya perselingkuhan dalam rumah tangga, pemerkosaan, dan perzinaan. Inilah akibat meninggalkan aturan Allah l dan Rasul-Nya n.

Hadits tentang Wajibnya Mahram Saat Safar
Apabila kita melihat hadits-hadits yang mewajibkan adanya mahram bagi wanita saat safar, kita dapati adanya perbedaan ketentuan. Ada yang menyebut safar/perjalanan tiga hari tiga malam, ada yang dua hari dua malam, dan ada pula sehari semalam. Bahkan, ada yang menetapkan jarak satu barid, kurang lebih 12 mil atau sekitar 21,25 km. Jarak ini, menurut an-Nawawi t, bisa ditempuh dalam waktu setengah hari. (al-Minhaj, 9/108)
Untuk jelasnya, kita lihat hadits-hadits tersebut.
1. Ibnu Umar c menyampaikan dari Nabi n:
لاَ تُسَافِرُ الْمَرْأَةُ فَوْقَ ثَلاَثٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَم
“Seorang wanita tidak boleh safar lebih dari tiga hari melainkan bersamanya ada mahramnya.” (HR. Muslim no. 3246)
2. Dari Ibnu Umar c juga, ia mengabarkan dari Nabi n:
لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ ثَلاَثِ لَيَالٍ إِلاَّ وَمَعَهَا ذُوْ مَحْرَم
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar selama tiga malam melainkan bersamanya ada mahramnya.” (HR. Muslim no. 3247)
3. Abu Sa’id al-Khudri z pernah mendengar Rasulullah n bersabda:
أَنْ لاَ تُسَافِرَ الْمَرْأَةُ مَسِيْرَةَ يَوْمَيْنِ لَيْسَ مَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ ذُوْ مَحْرَمٍ
“Tidak boleh seorang wanita melakukan perjalanan dua hari dalam keadaan tidak ada suaminya bersamanya atau mahramnya (yang lain).” (HR. al-Bukhari no. 1864 dan Muslim no. 3248)
4. Abu Hurairah z berkata bahwa Rasulullah n bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ تُسَافِرُ مَسِيْرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ عَلَيْهَا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir safar sehari semalam melainkan bersama mahramnya.” (HR. al-Bukhari no. 1088 dan Muslim no. 3255)
5. Dalam riwayat Abu Dawud, dari Abu Hurairah z, disebutkan, ia berkata bahwa Rasulullah n bersabda:
لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ بَرِيْدًا
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari akhir melakukan safar (tanpa mahram) dengan jarak satu barid.” (Hadits ini dikatakan syadz [ganjil] oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih Abi Dawud)
6. Ibnu Abbas c berkata, “Nabi n bersabda:
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذِيْ مَحْرَمٍ
“Tidak boleh seorang wanita safar melainkan bersama mahramnya.” (HR. al-Bukhari no. 1862 dan Muslim no. 3259)
Hadits-hadits di atas bisa dikompromikan, tidak ada pertentangan antara satu dan yang lain.
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata dalam Fathul Bari menukilkan ucapan Ibnul Munayyir bahwa perbedaan lafadz-lafadz (yang ada dalam hadits-hadits di atas) disebabkan oleh perbedaan orang-orang yang bertanya dan perbedaan tempat. Dalam larangan safar tiga hari, tidak ada keterangan yang sharih/jelas yang menyebutkan boleh jika hanya sehari semalam atau sejarak satu barid.
Hadits-hadits ini menunjukkan, seluruh safar dilarang bagi wanita jika tidak didampingi suami atau mahramnya berdasarkan riwayat Ibnu Abbas c yang menyebutkan secara mutlak:
لاَ تُسَافِرِ الْمَرْأَةُ إِلاَّ مَعَ ذي مَحْرَمٍ
“Tidak boleh seorang wanita melakukan safar….”
Larangan ini berkonsekuensi perbuatan tersebut harus ditinggalkan, dan seorang wanita tidak halal (berdosa) melakukan safar kecuali apabila ditemani mahramnya.
Al-Imam al-Baihaqi t berkata, “Seakan-akan, Rasulullah n ditanya, apakah seorang wanita boleh safar tiga hari tanpa ada mahram yang menyertainya? Beliau menjawab, ‘Tidak boleh.’ Beliau juga ditanya tentang safar wanita selama sehari, beliau menjawab, ‘Tidak boleh.’ Demikian pula satu barid. Artinya, setiap perawi menyampaikan apa yang ia dengar. Perbedaan lafadz yang disampaikan oleh seorang perawi antara satu riwayat dan riwayatnya yang lain itu terjadi karena ia mendengar hadits tersebut pada beberapa kesempatan. Sekali waktu ia meriwayatkan seperti ini, di waktu yang lain seperti itu, dan semuanya sahih. Dalam seluruh riwayat, tidak ada penyebutan batasan minimal sebuah perjalanan bisa dinamakan safar dan memang tidak didapatkan kabar dari Nabi n tentang hal tersebut.” (al-Minhaj, 9/108)
Ibnu Hazm t berkata, “Berita Ibnu Abbas c dari Nabi n, ‘Seorang wanita tidak boleh melakukan safar melainkan bersama mahramnya’, mencakup seluruh safar.”
Ibnu Hazm t menetapkan wajibnya keberadaan mahram ini dalam safar si wanita. Ia berkata, “Kami di atas keyakinan tentang haramnya safar bagi wanita melainkan apabila ia ditemani oleh suami atau mahramnya.” (al-Muhalla, 7/48)
Para fuqaha menetapkan, lama safar tiga atau dua hari adalah sama saja6, karena yang dimaksud dengan safar adalah jarak perjalanan yang ditempuh. Apabila jarak tersebut bisa ditempuh kurang dari waktu yang disebutkan karena cepatnya alat transportasi masa kini, atau karena sebab lain, orang yang melakukannya terkena hukum musafir. Berdasarkan hal ini, wajib bagi wanita ditemani mahramnya selama safarnya, baik safar tersebut jaraknya dekat (semata-mata keluar dari negeri tempat bermukim) maupun jauh, baik safar tersebut bisa ditempuh dalam waktu yang singkat maupun waktu yang lama.

Hikmah Adanya Mahram
Pensyariatan mahram tentu sangat banyak hikmahnya. Di antaranya, adanya mahram dalam safar disyariatkan guna menjaga wanita dan anak keturunan/generasi yang akan datang, dan ini termasuk tujuan syariat. Bagaimana pun bagus sarananya, safar tetaplah tidak lepas dari bahaya atau aral melintang yang akan menghadang sehingga bisa menjadi sebab terputusnya safar tersebut. Bisa jadi pula menjadi mudarat bagi wanita, jika ia tidak berpegang dengan aturan syariat.
Adanya mahram yang menemani wanita tatkala safarnya memiliki pengaruh yang besar, baik secara kejiwaan maupun daya indra. Semua pengaruh itu kembali kepada individu dan masyarakat.
Di antara pengaruhnya adalah:
1. Memberi rasa tenang kepada wanita dengan keberadaan mahramnya bersamanya
Si wanita merasa mahramnya akan menjaga dan melindunginya dari kejelekan apa pun. Sementara itu, si mahram memiliki rasa tanggung jawab dengan adanya wanita yang ditemaninya. Ibaratnya, ia rela bergadang demi memberi kenyamanan kepada wanita yang ditemaninya, bersedia melindunginya dengan pengorbanan darah sekalipun, dan menghindarkannya dari bercampur baur dengan para lelaki, terlebih lagi orang-orang yang memiliki penyakit syahwat dalam hatinya yang membuat mereka mudah terseret kepada kejelekan.
2. Mahram berfungsi sebagai salah satu wasilah/sarana untuk menjaga individu dan masyarakat dari terjadinya perbuatan fahisyah/keji dan kriminalitas yang telah merata di masyarakat kita dengan berbagai ragamnya.
Islam memang meletakkan penghalang-penghalang guna menjaga agar seorang hamba tidak jatuh dalam kejelekan. Siapa yang berhenti di sisi penghalang tersebut dan tidak melampauinya, dia akan selamat dari kehinaan dan kerendahan.
3. Mahram adalah benteng yang kokoh bagi seorang wanita yang akan menghalangi orang lain untuk meragukan si wanita atau menuduhnya dengan tuduhan tidak senonoh.
Apabila seorang wanita terus ditemani oleh mahramnya dalam safarnya, hal ini akan memberi kebaikan kepada si wanita dan lebih selamat akibatnya.
4. Termasuk tujuan syariat Islam adalah menjaga keturunan. Sementara itu, hukum-hukum syariat saling menguatkan dan menekankan. Pewajiban mahram merupakan penjagaan terhadap kehormatan dan nasab.
5. Rasulullah n mengatakan:
السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ
“Safar itu bagian dari azab. Seseorang akan terhalang (terganggu) makan, minum, dan tidurnya.” (HR. al-Bukhari no. 1804 dan Muslim)
Keberadaan mahram akan meringankan si wanita. Si mahram akan membantu keperluannya dalam perjalanan dan menyiapkan kebutuhannya. (Mazhahir Takrimil Mar’ah fisy Syari’ah al-Islamiyyah, hlm. 122)7

Dari keterangan di atas, menjadi jelaslah bahwa pensyariatan mahram adalah bentuk pemuliaan terhadap wanita dan masyarakatnya.
Penyimpangan dari tabiat yang difitrahkan oleh Allah l pada diri wanita (dengan melakukan safar sendirian) dan pelanggaran aturan masyarakat Islami merupakan sikap penyia-nyiaan terhadap hukum Allah l di muka bumi-Nya. Hal ini menyebabkan munculnya berbagai penyakit kejiwaan dan fisik, serta mengantarkan sebagian orang kepada kesulitan hidup. Tidak ada jalan untuk mengembalikan kebahagiaan, ketenangan, ketenteraman, dan kemuliaan hidup selain berpegang dengan hukum Allah l dan menjalani hidup sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah l.

Sebagai penutup, kita yakin bahwa pewajiban mahram adalah penjagaan, benteng, kesucian, dan pemuliaan bagi kaum wanita, keluarga, anak keturunan, dan masyarakatnya. Apakah Anda mendapatkan ada aturan yang lebih memuliakan wanita dan mengagungkan kedudukannya selain aturan syariat Islam? Sungguh, wanita dimuliakan oleh Islam, baik sebagai anak perempuan, istri, ibu, wanita yang masih muda, remaja, maupun telah berusia senja.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Hawwa’ Bintu Yazid

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Rasulullah n memulai dakwahnya secara terang-terangan, menyerukan tauhid kepada seluruh manusia. Musim haji adalah saat yang tepat untuk mendakwahkan agama Allah l ini kepada seluruh manusia, saat berbagai kabilah dari berbagai penjuru Jazirah Arab datang ke Baitullah di negeri Makkah. Pada saat seperti ini, Rasulullah n mendatangi kabilah-kabilah itu. Beliau ajak mereka masuk Islam.
Di musim haji itu, datang pula beberapa orang dari Yatsrib (Madinah). Setelah bertemu dengan Rasulullah n, mereka menyatakan diri masuk Islam. Mereka pun pulang ke Yatsrib sebagai muslimin. Namun, kondisi negeri mereka membuat mereka masih harus menyembunyikan keislamannya. Di saat cahaya Islam mulai memancar di negeri Yatsrib ini, Allah l membuka hati seorang wanita untuk menerima keimanan. Dia adalah Hawwa’ bintu Yazid bin Sinan bin Kurz bin Za’ura’ bin Abdil Asyhal al-Anshariyah.
Seperti yang lain, Hawwa’ harus menyembunyikan jatidirinya sebagai muslimah. Terlebih suaminya, Qais ibnul Khathim, masih di atas agama nenek moyangnya.
Namun, suatu waktu, ketika Hawwa’ sedang shalat, suaminya masuk. Qais amat berang. Melihat istrinya sujud, diinjaknya kepala istrinya.
“Kamu memeluk agama yang tidak diketahui agama apa itu?!” hardiknya.
Sejak itu, Qais ibnul Khathim tak henti-henti menghalangi dan menindas istrinya.
Sementara itu, di negeri Makkah, Rasulullah n senantiasa mencari tahu keadaan kaum muslimin yang ada di Yatsrib. Sampailah berita tentang Hawwa’ dan penentangan suaminya kepada beliau.
Tahun kedua setelah kenabian. Pada musim haji berikutnya, datang dua belas tokoh negeri Yatsrib untuk berhaji. Mereka bertemu dengan Rasulullah n, masuk Islam dan menyatakan janji setia untuk membela beliau dan dakwah beliau. Tercetuslah Bai’at Aqabah yang pertama. Mereka pulang dan mulai mengajak penduduk Yatsrib untuk berislam. Tersebarlah Islam di negeri itu.
Pada musim haji itu, Qais ibnul Khathim juga tengah berada di Makkah untuk menyelesaikan keperluannya. Bertepatan saat Qais berada di pasar Dzul Majaz, Rasulullah n menemuinya. Beliau mengajaknya masuk Islam.
“Alangkah bagusnya apa yang kauserukan,” ujar Qais setelah mendengar penjelasan Rasulullah n tentang Islam. “Yang kauserukan ini benar-benar bagus. Tetapi, aku terlalu sibuk berperang sehingga tak bisa mengikuti perkara ini,” lanjutnya.
Rasulullah n tak berhenti berusaha dan mendesak Qais. Namun, Qais berkali-kali menolak dengan alasannya itu.

Akhirnya, Rasulullah n mengatakan kepadanya, “Wahai Abu Yazid, kudengar tentang istrimu, Hawwa’. Engkau selalu berbuat jelek kepadanya sejak dia meninggalkan agamamu. Takutlah kepada Allah! Berjanjilah kepadaku bahwa kau tak akan menghalanginya lagi.”
“Baiklah, demi kemuliaan!” Qais bersumpah menyetujui permintaan Rasulullah n. “Aku akan melaksanakan apa yang kauinginkan. Aku tak akan menghalanginya lagi.”
Qais pulang membawa janjinya.
“Wahai Hawwa’,” katanya kepada istrinya, “Aku bertemu dengan temanmu, Muhammad. Dia memintaku berjanji untuk berbuat baik padamu. Dan aku—demi Allah—akan memenuhi janjiku kepadanya. Lakukan apa pun yang kauinginkan. Demi Allah, kau tak akan mendapatkan gangguanku selamanya!”
Sejak itu, Hawwa’ menampakkan keislamannya yang dahulu selalu disembunyikannya. Qais tak pernah menghalanginya sedikit pun.
Orang-orang pernah menegur Qais atas perbuatannya itu. “Wahai Abu Yazid, istrimu itu sudah mengikuti agama Muhammad!”
Qais menjawab, “Aku telah berjanji kepada Muhammad tidak akan berbuat jelek kepada istriku, dan aku akan memenuhi janjiku padanya.”
Hawwa’ bintu Yazid, semoga Allah l meridhainya…
Sumber Bacaan:
al- Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/93—95)
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam al-Mizzi (305—306)

Mengatasi Problematika Remaja

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Setiap manusia pasti melalui jenjang-jenjang usia dalam rentang waktu kehidupannya. Mulai dari bayi neonatus (baru lahir), lalu memasuki masa batita, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, kemudian masa tua. Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Kemudian Kami keluarkan kalian sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kalian sampai pada kedewasaan, di antara kalian ada yang diwafatkan, dan (ada pula) di antara kalian yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya.” (al-Hajj: 5)
Saat seseorang beranjak dari masa kanak-kanak menuju dewasa, tepatnya pada masa remaja, banyak perubahan yang terjadi pada dirinya, baik fisik maupun psikis. Ini semua ditetapkan oleh Allah l sebagai persiapan bagi dirinya untuk memasuki dunia dewasa. Di antaranya, mulai tumbuh kecenderungan jiwanya terhadap lawan jenis.
Ironinya, masih banyak orang tua yang belum mengerti apa yang harus dilakukan ketika menghadapi hal ini. Apalagi, pergaulan yang bebas antara anak laki-laki dan perempuan makin dianggap sesuatu yang lumrah. Ikhtilath (campur baur lelaki dan perempuan), bahkan khalwat (berduaan dengan lawan jenis) tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dikhawatirkan menurut mereka. Toh cuma sekadar teman biasa, begitu pikir mereka.
Lebih-lebih lagi berbagai teori psikologi Barat turut melegalkan pergaulan semacam ini. Bahkan, hal ini dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial remaja. Akibatnya, orang tua merasa semakin ‘bisa mengerti dunia anak remajanya’ dengan cara membebaskan mereka ber-ikhtilath. Lebih jauh lagi, mereka menjadi sponsor dan fasilitator bagi anak mereka yang ingin berpacaran. Nas’alullah as-salamah (kita memohon keselamatan kepada Allah l).
Padahal senyatanya, dari sanalah justru pangkal segala kerusakan. Makin berjalan waktu, pergaulan yang bebas antara anak laki-laki dan perempuan makin dianggap wajar. Pemisahan antara laki-laki dan perempuan dianggap sebagai gaya hidup kolot dan tempo doeloe.
Akan tetapi, akibatnya kian memiriskan hati. Remaja adalah masa mulai bergejolak naluri seksual. Namun, alih-alih mendapatkan sesuatu yang meredakan sehingga tersalurkan dengan benar, situasi dan kondisi di sekeliling justru mendorong pelampiasannya secara salah. Jika terjadi sesuatu yang tak diharapkan, tinggallah si remaja menjadi kambing hitam. Sementara itu, orang tua seringkali tak merasa bersalah sama sekali.
Alangkah baiknya jika kita mendengar dan tunduk kepada syariat Allah l. Allah l dan Rasul-Nya n telah mengabarkan tentang haramnya ikhtilath dan khalwat. Bukankah sesuatu yang haram pasti berujung pada kejelekan, kerusakan, dan kebinasaan? Bukankah lebih baik mencegah kejelekan, kerusakan, dan kebinasaan dengan melaksanakan syariat Allah l daripada di belakang hari menuai penyesalan?
Untuk itu, alangkah baiknya jika kita simak bimbingan seorang alim yang telah puluhan tahun menghabiskan hidupnya sebagai seorang pendidik. Beliau memberikan arahan kepada kita—orang tua—tentang cara menghadapi problematika remaja yang tengah bergejolak naluri seksualnya.
Beliau, asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu t, menuliskan hal ini di tengah lembaran-lembaran kitab kecil yang beliau susun, Kaifa Nurabbi Auladana. Beliau katakan, “Sesungguhnya solusi paling utama bagi problematika remaja ini adalah menikah, jika memang hal ini memungkinkan dan jalannya pun mudah, seperti tersedianya mahar. Hal ini sebagai pengamalan sabda Rasul n:
يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَة فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَر وَأَحْصَنُ لِلْفَرْج، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu, hendaknya dia menikah, karena hal itu akan lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu, hendaknya dia berpuasa, karena puasa itu tameng baginya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Tameng di sini maksudnya meredakan syahwat (keinginan) untuk jima’.
Jangan sampai pernikahan terhalang oleh keinginan menyelesaikan pendidikan, jika memang si pemuda itu dari keluarga kaya dan memiliki orang tua yang dapat mencukupi kebutuhannya, atau dia sendiri memiliki kekayaan/pekerjaan.
Begitu pun orang tua. Seyogianya mereka tidak menunda pernikahan anaknya ketika telah mencapai usia baligh, apabila memang mereka ini kaya. Ini lebih baik daripada membiarkan anaknya membujang sehingga terseret untuk berbuat keji dan merusak nama baik atau kehormatan orang tuanya. Ujungnya, si anak berbuat dosa, baik pada dirinya maupun orang tuanya.
Di sisi lain, si anak hendaknya meminta dengan lemah lembut kepada orang tuanya agar diizinkan menikah, jika memang orang tuanya adalah ‘orang yang berada’. Dia pun hendaknya bersemangat mencari ridha orang tuanya dan senantiasa bersikap baik kepada mereka. Sebaliknya, sang ayah hendaknya membantu sejauh kemampuannya agar hal ini terwujud.
Hendaknya setiap orang menyadari bahwa Allah l tidaklah mengharamkan sesuatu melainkan pasti menghalalkan hal lain yang dapat menggantikannya. Contohnya, Allah l mengharamkan riba dan menghalalkan jual beli, Allah l mengharamkan zina dan menghalalkan pernikahan. Menikah adalah solusi terbaik bagi problematika para pemuda.
Namun, jika belum ada kemudahan untuk menikah, mungkin karena fakir sehingga tak memiliki sesuatu untuk mahar atau nafkah, solusi yang terbaik adalah:
Melaksanakan Puasa Sesuai Ajaran Syariat
Hal ini sebagai pengamalan hadits di atas:
وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصِّيَامِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Barang siapa belum mampu, hendaknya ia berpuasa karena puasa itu tameng baginya.”
Maksudnya, puasa itu akan menjaga si pemuda karena akan meredakan syahwatnya.
Puasa tidak hanya menahan diri dari makan dan minum, namun mencakup pula menahan diri dari melihat segala yang haram, bercampur dengan wanita, menyaksikan film-film porno, bacaan-bacaan cabul, dan berinteraksi dengan lawan jenis.
Hendaknya seorang pemuda juga bisa menjaga pandangannya untuk tidak melihat wanita. Allah l menjadikan kesehatan dengan sebab menjaga diri. Allah l menjadikan sakit dan berbagai musibah lain dengan sebab mengikuti syahwat yang tak bisa dia kendalikan. Tidak boleh syahwat itu disalurkan melainkan melalui jalan yang dibenarkan baginya, dan jalannya adalah menikah. Pernikahan itu akan menjaga kehormatannya dan memberi pengaruh yang baik kepadanya.
Melakukan Aktivitas Rohani
Para ahli jiwa menyatakan bahwa gejolak seksual dalam diri seseorang dapat diredakan. Jika seseorang belum mampu menikah, hendaknya jangan sampai mendekati perbuatan keji. Hendaknya dia berlomba dengan dirinya sendiri untuk melaksanakan berbagai aktivitas rohani, seperti shalat, puasa, membaca al-Qur’an, hadits nabawi, biografi, dan sebagainya. Bisa pula dia menyibukkan diri bekerja, sibuk mengadakan penelitian, mengisi waktu dengan menggambar dan berbagai kesibukan, seperti menggambar panorama sungai, pepohonan, pegunungan tanpa gambar manusia, atau yang lainnya.
Olahraga
Ini adalah aktivitas jasmani. Melakukan olahraga, memerhatikan latihan tubuh, bergabung dengan klub-klub yang bebas ikhtilath, semua ini akan mengalihkan pikirannya dari gejolak seksualnya. Selain itu, hal-hal ini juga akan menjauhkannya dari zina yang akan membahayakan fisik, akhlak, dan agamanya.
Saat seorang pemuda merasakan gejolak seksual, dia harus melakukan aktivitas jasmani untuk menyalurkan energinya. Ia bisa melakukan lari jarak jauh, angkat berat, gulat, berlomba, belajar memanah, berenang, mengikuti perlombaan ilmiah, dan sebagainya yang dapat meredakan syahwatnya.
Membaca Buku-Buku Agama
Yang terpenting adalah membaca al-Qur’anul Karim dan hadits-hadits nabawi serta kitab-kitab tafsir. Kemudian berusaha menghafal al-Qur’an dan hadits, membaca sejarah hidup Nabi n, biografi al-Khulafa ar-Rasyidin dan para ulama, mendengarkan ceramah ilmiah dan keagamaan, serta mendengarkan bacaan al-Qur’an dari Idza’atul Qur’anil Karim (radio siaran milik pemerintah Saudi Arabia, pen.) atau yang lainnya.
Singkatnya, solusi yang paling bermanfaat bagi para pemuda adalah menikah. Jika ternyata belum mampu, bisa dengan berpuasa, melakukan aktivitas rohani, olahraga, menekuni ilmu yang bermanfaat—yang merupakan penenang dan sesuatu yang kuat yang dapat memberi manfaat tanpa merugikan—kemudian menjaga pandangan dari segala sesuatu yang dilarang oleh Allah l, dan memohon hanya kepada Allah l terutama di malam hari agar Allah l memudahkan mereka untuk menikah.” (Dinukil dari Kaifa Nurabbi Auladana hlm. 30—32)
Wallahu ta’ala a’lam.

Kita Selalu Butuh Kepada Nya (bagian 2)

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Telah kita sebutkan empat sisi yang menunjukkan betapa kita membutuhkan Allah l dan mengapa keyakinan ini harus tertanam dalam benak setiap keluarga muslim. Sebagai kelanjutannya, berikut ini kami sampaikan sisi-sisi yang lainnya.

5. Seorang suami, ayah, istri, ibu, dan anak-anak, serta kita semua butuh kepada Allah l untuk beroleh rezeki karena tidak ada yang memberikan rezeki melainkan Dia.
Yang namanya makhluk, walau mencapai puncak kekuatan dan kedudukan, tidaklah dapat menanggung rezekinya sendiri, apalagi rezeki yang lainnya. Allah l berfirman:
“Dan tidak ada satu hewan melata pun di bumi, melainkan Allah-lah yang memberinya rezeki.” (Hud: 6)
“Dan berapa banyak hewan yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepada kalian; dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Ankabut: 60)
Katakanlah, “Siapakah yang memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa menciptakan pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, serta siapakah yang mengatur segala urusan?” Mereka akan menjawab, “Allah.” Katakanlah, “Mengapa kalian tidak bertakwa kepada-Nya?!” (Yunus: 31)
Seorang suami atau ayah yang bekerja mencari nafkah untuk keluarganya tidak mungkin mendapat apa yang dicarinya jika Allah l tidak menggiring rezeki yang dicari kepadanya.
Jika ia seorang pedagang, siapakah yang mendatangkan orang-orang yang membeli barang dagangannya, kalau bukan Allah l?
Jika ia seorang pekerja atau pegawai yang mendapat gaji/upah dari perusahaan/instansinya, siapakah yang memudahkannya menunaikan tugasnya sehingga ia mendapat gaji tersebut, kalau bukan Allah l?
Hakikatnya, bukanlah instansi/perusahaan yang memberinya uang, tetapi Allahllah yang memberinya sebagai rezeki untuknya. Adapun makhluk hanyalah sebab.
Jika ia seorang pejabat dengan gaji yang tak sedikit setiap bulannya, siapakah yang memberinya jabatan tersebut, kalau bukan Allah l?
Segala puji untuk ar-Razzaq atas segala nikmat-Nya.
Ketika sebuah keluarga diberi limpahan materi, tentu tak patut mereka merasa sombong dengan itu. Apa yang mereka dapatkan bukanlah karena jerih payah mereka, bukan karena kehebatan mereka, bukan pula karena kepandaian atau kepantasan mereka. Namun, itu semua semata-mata fadhl atau keutamaan dari Allah l. Dialah pemilik semua itu secara hakiki. Kapan Dia mau, dengan mudah akan diambil-Nya kembali.
Adapun keluarga yang diuji dengan kesempitan rezeki, mereka tidak boleh berkecil hati. Sesungguhnya, di atas mereka dan di atas seluruh makhluk, ada Dzat yang amat penyayang yang menanggung rezeki hamba-hamba-Nya. Yang harus mereka lakukan adalah menempuh usaha dan tidak lupa berdoa, memohon kepada-Nya rezeki disertai tawakal.
Betapa tenteramnya kehidupan seorang insan yang menyadari hal ini. Betapa tenangnya perasaan seorang ayah yang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi anak istrinya ketika ia sadar bahwa ada Allah l yang menanggung rezeki dirinya, istri, dan anak-anaknya. Betapa bersyukurnya seorang istri jika ia mengetahui nilai keutamaan Allah l yang terlimpah kepada keluarganya.
Dalam banyak ayat, Allah l menggabungkan kebutuhan kita kepada-Nya dalam penciptaan dengan kebutuhan beroleh rezeki, karena kita tidak bisa tegak dan mustahil tetap bertahan di muka bumi setelah Allah l menciptakan kita melainkan dengan sebab rezeki yang diberikan-Nya kepada kita. Allah l berfirman:
“Allah-lah yang menciptakan kalian, kemudian memberikan rezeki, dan mematikan kalian, kemudian menghidupkan kalian kembali.” (ar-Rum: 40)
Allah l memerintah kita agar terus mengingat nikmat yang agung ini dan tidak melupakannya, sebagaimana firman-Nya:
“Wahai manusia, ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian. Adakah pencipta selain Allah yang dapat memberi rezeki kepada kalian dari langit dan bumi? Tidak ada sesembahan yang patut disembah selain Dia, maka mengapakah kalian berpaling (dari mentauhidkan-Nya)?” (Fathir: 3)
Apabila Dia menahan rezeki kita, siapa lagi yang mampu memberikannya? Allah l berfirman:
“Atau siapakah orang yang dapat memberi rezeki kepada kalian jika Allah menahan rezeki-Nya?” (al-Mulk: 21)
Rezeki hanyalah diminta kepada Dzat yang memilikinya dan mampu memberinya. Hanya di tangan Allah l perbendaharaan langit-langit dan bumi. Oleh karena itu, Dia berfirman kepada orang-orang yang menyembah selain-Nya:
“Sesungguhnya, apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala dan kalian membuat-buat kedustaan. Sesungguhnya, yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian. Maka dari itu, carilah rezeki itu di sisi Allah (mintalah kepada-Nya saja), ibadahilah Dia, dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan.” (al-Ankabut: 17)

6. Kita membutuhkan Allah l dalam hal penyediaan makanan, minuman, dan pakaian kita. Demikian pula dalam hal kesehatan dan penyembuhan penyakit yang kita derita, serta dalam seluruh urusan kita.
Allah l berfirman dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ، فَاسْتَهْدُوْنِي أَهْدِكُمْ. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلاَّ مَنْ أَطْعَمْتُهُ، فَاسْتَطْعِمُوْنِي أُطْعِمْكُمْ. يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ عَارٍ إِلاَّ مَنْ كَسَوْتُهُ، فَاسْتَكْسُوْنِي أَكْسُكُمْ
“Wahai hamba-hamba-Ku, semua kalian itu sesat kecuali orang yang Aku beri petunjuk, maka mintalah petunjuk kepada-Ku niscaya Aku akan beri petunjuk kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, semua kalian itu lapar kecuali orang yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku akan beri makan kepada kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, semua kalian itu telanjang kecuali orang yang Aku beri pakaian maka mintalah pakaian kepada-Ku, niscaya Aku akan beri pakaian kepada kalian.” (HR. Muslim)
Kebutuhan kita kepada Allah l selalu menyertai kita. Setiap gerak dan diam kita semua dengan takdir dan pengaturan Allah l. Orang yang sadar akan mengakuinya sehingga akan tunduk beribadah kepada Maulanya Yang Mahamulia. Dengan begitu, termasuklah dia ke dalam golongan orang-orang yang beruntung lagi selamat. Adapun yang mencoba mengingkarinya dengan cara sombong (enggan) dari beribadah kepada-Nya, ia termasuk orang-orang yang binasa lagi diazab.
Oleh karena itu, kita harus mengetahui hak Allah l, mengakui keutamaan-Nya, serta berlepas dari segala kemampuan dan kekuatan selain pertolongan Allah l, Laa haula wa laa quwwata illa billah. Kalimat ini adalah perbendaharaan surga karena di dalamnya ada pengakuan hamba tentang butuhnya dia selalu kepada Allah l.
Abu Musa z menyampaikan bahwa Nabi n bersabda kepadanya:
يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى كَلِمَةٍ هِيَ كَنْزٌ مِنْ كُنُوْزِ الْجَنَّةِ؟ لاَ حَوْلَا وَ لاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
“Wahai Abdullah bin Qais (nama Abu Musa, red.), maukah aku tunjukkan kepadamu satu kata yang merupakan salah satu perbendaharaan surga? Yaitu kalimat ‘laa haula walaa quwwata illa billah’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Allah l berfirman:
“Dan hanya milik-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi. Dan hanya untuk-Nya ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kalian bertakwa kepada selain Allah? Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka datangnya dari Allah. Bila kalian ditimpa kemudaratan maka hanya kepada-Nya-lah kalian memohon pertolongan. Kemudian ketika Dia telah menghilangkan kemudaratan itu dari kalian, tiba-tiba sebagian kalian mempersekutukan Rabbnya dengan yang lain. Biarlah mereka mengingkari nikmat yang telah Kami berikan kepada mereka, maka silakan kalian bersenang-senang, namun kelak kalian akan mengetahui akibatnya.” (an-Nahl: 52—55)

Para Rasul Membutuhkan Allah l
Teladan umat manusia adalah para rasul Allah l dan termasuk sifat mereka adalah menampakkan rasa butuh kepada Allah l, mengakui kelemahan dan kefakiran diri di hadapan-Nya, merasa lemah dan berhajat kepada-Nya, serta berlepas diri dari segala kemampuan dan kekuatan selain dengan pertolongan-Nya. Kita bisa mendapatkan contoh berikut ini.

1. Khalilullah Ibrahim q berlepas diri dari berhala-berhala kaumnya dan mengumumkan butuhnya dirinya kepada Allah l dalam segala urusan duniawi dan ukhrawinya.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Kitabullah:
Ibrahim berkata, “Tidakkah kalian memerhatikan apa yang selalu kalian sembah, kalian dan nenek moyang kalian yang dahulu. Karena sesungguhnya apa yang kalian sembah itu adalah musuhku, kecuali Rabb semesta alam (yaitu) Dzat yang telah menciptakan aku maka Dialah yang menunjuki aku. Dan Rabbku yang telah memberikan makan dan minum kepadaku.Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku kembali. Dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (asy-Syu’ara: 75—82)
Beliau q mengakui keutamaan Allah l yang diberikan kepadanya. Beliau umumkan kefakiran dan hajat beliau kepada-Nya. Tidak lupa pula beliau menyebut-nyebut nikmat Allah l yang terlimpah kepadanya.

2. Nabi dan rasul kita Muhammad n adalah orang yang paling menunjukkan rasa butuhnya kepada Allah l, sangat mengakui keutamaan-Nya, selalu menyebut-nyebut nikmat-Nya, bergantung kepada-Nya dan mengiba-iba ketika memohon kepada-Nya.
Rasulullah n mendidik anak keturunannya dan umat beliau untuk berakhlak demikian.
Anas z meriwayatkan bahwa Nabi n berkata kepada Fathimah x, putri beliau:
مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوْصِيْكِ بِهِ، أَنْ تَقُوْلِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang aku wasiatkan kepadamu? Hendaknya saat berada di pagi dan sore hari engkau mengucapkan, ‘Wahai Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata’.” (HR. al-Hakim dan ia menyatakan sahih, disepakati oleh adz-Dzahabi, 1/545. Lihat Shahih at-Targhib wat Tarhib, 1/273)
Kita membutuhkan Allah l dalam hal memperbaiki hati-hati kita, menyucikan amal-amal kita, untuk istiqamah di atas agama kita. Semua itu di tangan Allah l karena hati-hati kita berada di antara dua jari-jemari-Nya yang Dia bolak-balikkan sekehendak-Nya.
Kita membutuhkan-Nya dalam hal menjaga jiwa kita, anak-anak, dan harta kita dari sakit, kecelakaan, dan bencana.
Kita membutuhkan-Nya agar rasa aman terus menyertai kita. Kita juga membutuhkan-Nya dalam hal menjaga negeri kita dan negeri kaum muslimin lainnya dari makar orang-orang kafir dan munafik.
Kita membutuhkan-Nya agar kenikmatan yang dilimpahkan-Nya kepada kita terus langgeng karena Dia lah yang mampu mengekalkan nikmat tersebut atau menghilangkannya.
Betapa butuhnya kita kepada Allah l untuk memperbaiki penghuni rumah kita. Kita sangat membutuhkan Allah l agar suami, istri-istri, dan anak-anak tetap istiqamah di atas urusan yang bermanfaat bagi mereka di dunia dan di akhirat.
Betapa butuhnya kita kepada pemaafan dan rahmat-Nya, agar kita terbebas dari api neraka dan mendapat keridhaan-Nya.
Adalah keharusan bagi kita agar tidak tertipu dengan kedudukan, harta, anak, kesehatan, dan kenikmatan hidup yang kita peroleh karena semua itu adalah bukti yang paling nyata tentang kefakiran kita. Kita tenggelam dalam nikmat yang diberikan-Nya dalam keadaan kita tidak mampu berpisah dengan nikmat tersebut. Sementara itu, tidak ada yang mampu mengekalkan nikmat itu untuk kita selain Allah l. Oleh karena itu, pantas sekali kita merasa butuh kepada-Nya agar Dia mencukupi kita. Jangan kita gantungkan kebutuhan kita kepada selain-Nya lalu kita merasa cukup. Jika seperti itu, tentu kita akan binasa. Wallahu ta’ala a’lam.

Kita Pasti akan Mendatanginya

“Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Rabbmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.” (Maryam: 71)
Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Dan tidak ada seorang pun dari kalian.”
Ini adalah kalimat sumpah. Al-wawu (وَ) pada awal kalimat ini mengandung makna sumpah. (Tafsir al-Qurthubi dan al-Baghawi)
Dengan demikian, maknanya adalah, “Demi Allah, tidak seorang pun dari kalian.”
Yang menunjukkan bahwa kalimat ini mengandung sumpah adalah hadits Rasulullah n:
لَا يَمُوتُ لِمُسْلِمٍ ثَلَاثَةٌ مِنَ الْوَلَدِ فَيَلِجَ النَّارَ إِلاَّ تَحِلَّةَ الْقَسَمِ
“Tidaklah seorang muslim masuk ke dalam neraka—jika tiga orang anaknya meninggal—melainkan sekadar penebus sumpah.” (Muttafaq ‘alaihi dari hadits Abu Hurairah z)
Namun, asy-Syinqithi t membantah pendapat ini. Beliau t berkata, “Yang tampak bagi saya—wallahu a’lam—ayat ini tidak jelas mengandung makna sumpah, sebab tidak terdapat padanya salah satu tanda yang menunjukkan sumpah. Tidak ada penguat yang jelas menunjukkan sumpah, tidak pula mengikuti lafadz sumpah sebelumnya. Oleh karena itu, menghukumi sesuatu dalam kitabullah bahwa ia mengandung sumpah tanpa ada penguat yang jelas, adalah bentuk penambahan makna terhadap Kalamullah tanpa dalil yang bisa menjadi rujukan.
Adapun hadits Abu Hurairah z yang disebutkan dalam riwayat yang muttafaq alaihi, tidak jelas menunjukkan bahwa di dalam ayat mengandung makna sumpah. Hal ini karena dalam bahasa Arab, ‘tahillatul qasam’ adalah sebuah ungkapan yang bermakna ‘sangat sedikit’, meskipun tidak disertai sumpah sama sekali. Mereka berkata, ‘Aku tidak melakukan hal ini melainkan hanya tahillatul qasam.’ Maksud mereka adalah perbuatan yang sangat sedikit, sekadar seseorang yang bersumpah yang ingin menebus sumpahnya. Ini adalah metode yang telah dikenal dalam bahasa Arab.” (Adhwa’ul Bayan, asy-Syinqithi, 3/482)
Adapun lafadz (إِنْ) dalam ayat ini bermakna (مَا) yang berfungsi menafikan. Artinya, “Tidak seorang pun di antara kalian.”
“Melainkan ia pasti mendatanginya.”
Terjadi perselisihan di kalangan ahli tafsir dalam hal menjelaskan makna “wariduha”, sebagaimana yang akan disebutkan. Adapun dhamir/kata ganti (هَا) di sini kembali kepada “neraka”.
“Suatu kemestian yang sudah ditetapkan.”
Maknanya, sesuatu yang telah ditetapkan dan pasti akan terjadi.

Tafsir Ayat
Al-Allamah as-Sa’di t menjelaskan, “(Ayat) ini adalah penjelasan kepada seluruh makhluk, yang baik dan yang buruk, yang mukmin dan yang kafir, bahwa tidak seorang pun dari mereka melainkan pasti akan mendatangi neraka, sebagai satu hukum yang telah ditetapkan oleh Allah l atas diri-Nya. Dia telah menjanjikan-Nya kepada para hamba-Nya sehingga hukum itu pasti terlaksana, tidak mungkin dihindari.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Apakah Setiap Makhluk Pasti Masuk Neraka?
Dalam hal ini, para ahli tafsir berselisih ketika menjelaskan makna “wariduha” (memasukinya) dalam ayat ini. Ada beberapa pendapat tentang tafsirannya.

1. Yang dimaksud adalah masuk ke dalamnya.
Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Khalid bin Ma’dan, Ibnu Juraij, dan yang lainnya. Alasan mereka adalah dalil yang diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah z bahwa Rasulullah n bersabda:
الْوُرُودُ الدُّخُولُ لاَ يَبْقَى بَرٌّ وَلاَ فَاجِرٌ إِلاَّ دَخَلَهَا فَتَكُونُ عَلَى الْمُؤْمِنِ بَرْداً وَسَلاَماً كَمَا كَانَتْ عَلَى إِبْرَاهِيمَ حَتَّى إِنَّ لِلنَّارِ-أَوْ قَالَ: لِجَهَنَّمَ-ضَجِيجاً مِنْ بَرْدِهِمْ، ثُمَّ يُنَجِّي اللهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَيَذَرُ الظَّالِمِينَ فيها جِثِيًّا
“Al-wurud adalah memasukinya. Tidak seorang pun, yang baik atau yang jahat, melainkan dia pasti masuk ke dalamnya. Lantas bagi seorang mukmin, (neraka) menjadi dingin dan keselamatan, seperti yang dialami oleh Ibrahim q, sehingga neraka itu (atau Jahannam) mengeluarkan suara karena dinginnya mereka. Allah k kemudian menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim dalam keadaan berlutut.” (HR. Ahmad, al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, Abdul Ghani al-Maqdisi dalam Juz Dzikrin Naar, dari hadits Jabir z)
Namun, dalam sanad hadits ini ada seorang perawi yang bernama Abu Sumayyah, yang majhul (tidak dikenal). Oleh karena itu, al-Albani t menyatakan lemah riwayat ini, sebagaimana yang beliau jelaskan dalam adh-Dha’ifah (10/no. 4761).
Dalil mereka yang lain adalah hadits Jabir z, ia berkata: Ummu Mubasysyir telah memberitakan kepada kami bahwa ia mendengar Nabi n bersabda di samping Hafshah x:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا
“Tidak masuk neraka, insya Allah, orang-orang yang berbaiat di bawah pohon tersebut.”
Lalu Hafshah bertanya tentang firman Allah k (yang artinya) “dan tidak seorang pun dari kalian melainkan dia akan mendatanginya.”
Nabi n menjawab dengan membaca kelanjutan ayat di atas:
“Lalu Kami menyelamatkan orang- orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim dalam keadaan berlutut di dalamnya. (Maryam: 72)” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh al-Albani t menerangkan, “Hafshah x menyebutkan bahwa ayat tersebut adalah dalil bahwa beliau memahami makna ‘wurud’ adalah masuk ke dalamnya, dan bersifat umum bagi orang yang saleh dan yang buruk.” (al-Ayat al-Bayyinat: 32)
Demikian pula, sekian banyak ayat yang disebutkan dalam al-Qur’an yang menyebutkan lafadz “wurud”, maka yang dimaksud adalah memasukinya. Di antaranya:
“Sesungguhnya kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah, adalah umpan Jahanam, kalian pasti masuk ke dalamnya.” (al-Anbiya: 98)
“Andaikata berhala-berhala itu sesembahan yang benar, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan semuanya akan kekal di dalamnya.” (al-Anbiya: 99)
“Ia berjalan di muka kaumnya di hari kiamat lalu memasukkan mereka ke dalam neraka. Neraka itu seburuk-buruk tempat yang didatangi.” (Hud: 98)
dan ayat-ayat lainnya.
Pendapat ini dikuatkan pula oleh asy-Syaukani, al-Qurthubi, dan al-Albani.

2. Yang dimaksud adalah lewat di atas shirath.
Pendapat ini juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Ibnu Mas’ud, Ka’b al-Ahbar, as-Suddi, al-Hasan al-Bashri, dan yang lainnya.
Mereka berhujjah dengan beberapa dalil, di antaranya firman Allah k:
“Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan dari neraka.” (al-Anbiya’: 101)
Mereka berkata, “Tidak akan masuk neraka orang yang telah diberi jaminan oleh Allah k untuk dijauhkan darinya.”
Hal ini dikuatkan pula dengan hadits yang sahih bahwa Rasulullah n bersabda:
ثُمَّ يُضْرَبُ الْجِسْرُ عَلَى جَهَنَّمَ وَتَحِلُّ الشَّفَاعَةُ وَيَقُولُونَ: اللَّهُمَّ سَلِّمْ، سَلِّمْ. قِيلَ: يا رَسُولَ اللهِ، وَمَا الْجِسْرُ؟ قَالَ: دَحْضٌ مَزِلَّةٌ فِيهِ خَطَاطِيفُ وَكَلَالِيبُ وَحَسَكٌ تَكُونُ بِنَجْدٍ فِيْهَا شُوَيْكَةٌ يُقَالُ لَهَا السَّعْدَانُ، فَيَمُرُّ الْمُؤْمِنُونَ كَطَرْفِ الْعَيْنِ وَكَالْبَرْقِ وَكَالرِّيحِ وَكَالطَّيْرِ وَكَأَجَاوِيدِ الْخَيْلِ وَالرِّكَابِ، فَنَاجٍ مُسَلَّمٌ، وَمَخْدُوشٌ مُرْسَلٌ، وَمَكْدُوسٌ فِي نَارِ جَهَنَّمَ
“Kemudian dibentangkan jembatan (shirath) di atas Jahannam dan diperbolehkan syafaat. Mereka berkata, ‘Ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah.’ Ada yang bertanya, ‘Apakah jembatan (shirath) itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tempat yang licin dan mudah menggelincirkan. Ia memiliki penyambar-penyambar dan kawat besi yang kokoh, seperti yang ada di Najd yang memiliki kawat-kawat besi yang disebut Sa’dan. Kemudian kaum mukminin ada yang melewatinya dalam sekejap mata, ada yang seperti kilat, ada yang seperti angin, ada yang seperti burung yang terbang, ada yang berlari seperti kuda yang kencang, dan ada yang seperti orang yang berkendaraan. Ada muslim yang selamat, ada pula yang disambar oleh besi-besi penyambar lalu dilepas, dan ada pula yang terjerumus ke dalam neraka Jahannam.” (HR. Muslim dari Abu Sa’id al-Khudri z)
Dalam hadits ini disebutkan bahwa di antara kaum mukminin ada yang hanya lewat di atasnya, dan tidak masuk ke dalamnya.
Demikian pula dengan sabda Rasulullah n:
لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا
“Tidak masuk neraka insya Allah dari orang-orang yang berbaiat di bawah pohon tersebut.” (HR. Muslim dari Ummu Mubasysyir x)
Rasulullah n mengabarkan bahwa mereka tidak masuk ke dalam neraka.
Demikian juga sabda Rasulullah n:
فَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ عَلَى النَّارِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلاَّ اللهُ؛ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللهِ
“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas neraka orang yang mengatakan, ‘La ilaha illallah’, karena mengharapkan wajah Allah.” (Muttafaq ‘alaihi dari Itban bin Malik z)
Diharamkan atasnya neraka menunjukkan bahwa mereka tidak masuk ke dalamnya.
Pendapat ini juga dikuatkan oleh ath-Thabari, dan menjadi pilihan asy-Syaikh Ibnu Baz t.

3. Yang dimaksud adalah melihat dan mendekatinya
Hal ini terjadi tatkala mereka berada di tempat penghisaban, yang terletak di dekat Jahannam. Mereka melihatnya ketika sedang dihisab. Orang-orang yang bertakwa lantas diselamatkan oleh Allah k dari apa yang mereka lihat, lalu dibawa menuju surga.
Alasan mereka bahwa lafadz “warada” dalam bahasa Arab tidak bermakna memasukinya. Hal ini seperti firman Allah k:
ﭝ ﭞ ﭟ ﭠ
“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan….” (al-Qashash: 23)
Maksud “warada” di sini adalah mendekatinya, bukan masuk ke dalamnya.

4. Yang dimaksud adalah penyakit demam yang dialami oleh seorang mukmin di dunia
Diriwayatkan dari Mujahid bahwa beliau berkata, “Wurud-nya kaum mukminin di neraka adalah penyakit demam yang menimpa seorang mukmin di dunia. Diriwayatkan dari Abu Hurairah z bahwa Rasulullah n menjenguk orang sakit bersama Abu Hurairah z. Orang itu mengalami demam yang tinggi. Rasulullah n bersabda:
أَبْشِرْ، إِنَّ اللهَ يَقُولُ: هِيَ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا لِيَكُونَ حَظَّهُ مِنَ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ
“Bergembiralah, karena Allah l berfirman, ‘(Demam) itu adalah nerakaku, yang Aku berikan kepada hamba-Ku yang mukmin di dunia, agar menjadi (pengganti) bagian neraka yang dia dapatkan di akhirat’.” (HR. Ahmad, dari Abu Bakr bin Abi Syaibah. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani, lihat ash-Shahihah karya al-Albani, 2/557)

5. Yang dimaksud adalah melihat neraka di alam kubur (barzakh), lalu seorang mukmin yang berbahagia diselamatkan darinya
Adapun orang yang telah ditetapkan masuk ke dalamnya dari kaum muslimin, dia akan memasukinya, lalu dikeluarkan darinya dengan syafaat atau rahmat Allah k lainnya.
Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah n:
إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَإِنَّهُ يُعْرَضُ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ، فَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ
“Ketika salah seorang kalian meninggal, akan diperlihatkan kepadanya tempat duduknya (di akhirat) di waktu pagi dan sore. Jika dia termasuk dari kalangan ahli surga, dia dari ahli surga. Jika termasuk ahli neraka, dia termasuk ahli neraka.” (Muttafaq ‘alaihi dari Abdullah bin Umar c)
Namun yang tampak, hadits di atas menunjukkan bahwa seorang mukmin yang ditetapkan sebagai ahli surga, dia akan melihat surga sebagai tempat tinggalnya, bukan melihat neraka. Wallahul muwaffiq.
Yang dimaksud ayat ini adalah masuk ke dalamnya. Namun, menurut mereka, ayat ini ditujukan kepada orang-orang kafir, bukan kepada kaum mukminin.
Seakan-akan dikatakan pada ayat ini, “Katakan kepada mereka, wahai Muhammad.” Pendapat ini diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas z.
Yang tampak dari seluruh pendapat ini, yang lebih dekat kepada kebenaran adalah pendapat pertama dan kedua, meskipun penulis lebih condong kepada pendapat yang kedua, yang dimaksud wurud adalah melewatinya. Lewat di atas shirath tersebut diungkapkan dengan bahasa masuk ke dalamnya (wurud), wallahu ta’ala a’lam.

Hal ini dikuatkan pula oleh sabda Rasulullah n:
يَرِدُ النَّاسُ النَّارَ ثُمَّ يَصْدُرُونَ مِنْهَا بِأَعْمَالِهِمْ، فَأَوَّلُهُمْ كَلَمْحِ الْبَرْقِ، ثُمَّ كَالرِِّيحِ، ثُمَّ كَحُضْرِ الْفَرَسِ، ثُمَّ كَالرَّاكِبِ في رَحْلِهِ، ثُمَّ كَشَدِّ الرَّجُلِ، ثُمَّ كَمَشْيِهِ
“Manusia akan mendatangi neraka, lalu mereka terselamatkan darinya dengan amalan-amalan mereka. Yang pertama di antara mereka lewat seperti kilat, yang berikutnya seperti angin, lalu seperti langkah kuda, seperti berkendaraan dalam perjalanannya, seperti orang berlari, dan seperti orang yang berjalan.” (HR. at-Tirmidzi dan ad-Darimi, dari Abdullah bin Mas’ud z. Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)
Semoga Allah k menyelamatkan kita dari siksaan-Nya.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 73

Utang ke Bank Syariah

Zaman sekarang ini, utang ke orang tanpa bunga sangat sulit. Apakah dibolehkan utang ke bank syariah model yang ada sekarang ini?

Tidak boleh, karena setahu kami bank syariah tidak ada bedanya dengan bank konvensional, dalam hal sama-sama menjalankan sistem riba. Penamaan tidak dapat mengubah hakikat suatu perkara. Selama ada bunganya (riba/margin), dalam arti nilai yang dibayar lebih besar dari nilai utang itu sendiri, hal itu adalah riba. Kaidahnya,
كُلُّ قَرْضٍ جَرَّ مَنْفَعَةً فَهُوَ رِباً.
“Setiap piutang yang menarik manfaat adalah riba.”
Bank adalah bank yang terlaknat meskipun dinamai bank syariah. Wallahul musta’an.
Berusahalah dengan usaha kecil-kecilan terlebih dahulu dan hiduplah dengan cara sederhana. Jika terdesak kebutuhan darurat, carilah orang baik yang mau membantu mengutangi tanpa bunga (riba). Bersabarlah, Allah l bersama (menolong) orang-orang yang bersabar. Bersabar lebih baik daripada mendapat laknat Allah l dengan praktik riba. Wallahul muwaffiq.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Minyak Wangi Beralkohol
Bolehkah memakai minyak wangi yang mengandung alkohol?
Abu Faqih – Cirebon

Dalam hal ini perlu rincian. Tidak boleh menggunakan minyak wangi yang kandungan alkoholnya besar sehingga efeknya masih tampak pada bau, warna, atau rasanya. Begitu pula, seandainya diminum dalam jumlah yang banyak akan memabukkan.
Adapun jika kandungan alkoholnya sedikit sehingga efeknya tidak tersisa lagi, boleh menggunakannya. Jika ragu, tinggalkan demi bersikap wara’. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Sahur Hampir Siang
Ustadz, saya mau tanya. Waktu puasa Ramadhan saya terlambat bangun sehingga makan sahur hampir siang. Dalam keadaan ragu-ragu, saya pun terpaksa tidak puasa. Apakah saya wajib mengqadha puasa saya?

Ya, Anda wajib mengqadhanya. Wallahu a’lam.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Menikah dengan Adik Ibu Tiri
Afwan, saya mau tanya. Bagaimana hukum:
1. Menikah dengan adik ibu tiri?
2. Menikah dengan besan (status anak mereka masih dalam pernikahan)?

1. Menikah dengan adik ibu tiri boleh.
2. Menikah dengan besan juga boleh, meskipun anak mereka masing-masing masih dalam pernikahan.
al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Menikah ketika Hamil Karena Zina
Ana punya keponakan. Dia melakukan zina, kemudian hamil. Keduanya lantas menikah saat hamil. Yang ana tanyakan:
1. Saat hamil apa boleh menikah?
2. Status perwaliannya bila anak yang lahir wanita bagaimana?
3. Hukum warisnya bagaimana?

1. Tidak boleh dan tidak sah. Status pernikahan tersebut nikah syubhat. Keduanya harus berpisah, lalu memperbarui pernikahan apabila anak hasil zinanya telah lahir.
Jika telanjur ada anak berikutnya yang lahir dari pernikahan syubhat tersebut, anak itu adalah anak yang sah bagi keduanya secara syariat.
2. Anak hasil zina tidak punya ayah secara syariat, dia hanya punya ibu yang melahirkannya. Dengan demikian, anak wanita hasil zina tidak punya wali nikah. Oleh karena itu, yang menikahkannya adalah wali hakim (penghulu KUA).
3. Karena dia tidak punya ayah secara syariat, maka tidak ada hukum waris dari jalur kekerabatan ayah. Hukum warisnya hanya berlaku dari jalur kekerabatan ibunya.
Wallahu a’lam.
Lihat rincian dalil masalah ini pada jawaban rubrik “Problema Anda” edisi 26 dan 39.

Nishab Zakat Uang
Ana ingin menanyakan mengenai zakat uang. Saat ini 1 gr emas=Rp358.000,00 sedangkan 1 gr perak=Rp5.660,00. Jika mengikuti nishab emas, nishabnya adalah 85gr x Rp358.000,00=Rp30.430.000,00 Adapun jika mengikuti nishab perak maka nishabnya adalah 595 gr x Rp5.660,00=Rp3.367.700,00.
Melihat perbandingan yang jauh ini (hampir 10 : 1), timbul kebingungan harus mengikuti nishab yang mana? Sementara itu, yang rajih dari fatwa ulama nishab perak tidak bisa disatukan dengan nishab emas, masing-masing memiliki nishab sendiri-sendiri. Jika menilik teori ekonomi, uang yang beredar saat ini sebenarnya hanyalah memiliki “nilai khayal” yang dibuat oleh pemerintah dan pasar. Pemerintah memiliki cadangan emas nyata sebagai back-up untuk setiap uang rupiah yang dicetak. Hal ini sudah dimaklumi dalam teori ekonomi. Jadi, uang yang beredar saat ini disandarkan kepada emas dan bukan kepada perak. Karena itu, ana ingin bertanya mengenai alasan/dalil sebagian ulama menjadikan nishab uang dihitung berdasarkan nishab perak, padahal praktik ekonomi sekarang menunjukkan bahwa uang di tiap negara di-back-up dengan cadangan emas.
mxxxxxxx@gmail.com

Permasalahan zakat uang telah kami jawab secara tuntas pada rubrik “Problema Anda” pada edisi 45. Kesimpulannya, dalam perhitungan nishab-nya, para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz dan yang lainnya, mengembalikannya kepada salah satu dari nishab emas (dinar) dan perak (dirham). Yang mana pun dari kedua nishab tersebut yang tercapai, maka uang itu dianggap mencapai nishab. Hal itu disebabkan dua hal:
Uang dengan berbagai jenis mata uang yang ada pada masa sekarang dan mendominasi muamalah kaum muslimin sebenarnya menggantikan posisi emas (dinar) dan perak (dirham) yang dipungut zakatnya pada masa Rasulullah n. Uang sebagai pengganti emas (dinar) dan perak (dirham) menjadi tolok ukur dalam menilai harga suatu barang sebagaimana halnya dinar dan dirham pada masa itu.
Seandainya harga emas lebih rendah dari harga perak sehingga nilai uang yang dimilikinya mencapai harga 85 gr emas murni dan tidak senilai dengan harga 595 gr perak murni, maka nishabnya adalah nishab emas. Seandainya harga perak lebih rendah sehingga nilai uang yang dimilikinya mencapai harga 595 gr perak murni dan tidak senilai dengan harga 85 gr emas murni, maka nishabnya adalah nishab perak.
Jadi, posisi emas sebagai back-up terhadap uang yang dicetak tidak memiliki pengaruh dalam perhitungan nishab uang, karena yang dilihat dan diperhitungkan adalah makna dan kedudukan uang itu sendiri sebagai pengganti makna dan kedudukan emas (dinar) dan perak (dirham) yang ada pada masa Rasul n.
Memerhatikan kepentingan kaum fakir miskin yang sangat membutuhkan santunan zakat, maka yang diperhitungkan dari dua nishab tersebut adalah yang terbaik bagi kaum fakir miskin. Artinya, apabila mencapai salah satu dari dua nishab tersebut dan tidak mencapai nishab yang lainnya, maka dianggap mencapai nishab sehingga kaum fakir miskin mendapatkan zakat dari harta tersebut.
Ini yang kami ketahui dalam permasalahan ini, wallahu a’lam.
Puasa Sunnah di Bulan Sya’ban
Berapa harikah kita berpuasa sunnah di bulan Sya’ban dan bolehkah berpuasa tanpa makan sahur?

Disunnahkan berpuasa sunnah sebanyak-banyaknya di bulan Sya’ban sebagaimana amalan Rasulullah n yang memperbanyak puasanya di bulan Sya’ban. Bahkan, beliau berpuasa pada mayoritas hari-hari bulan Sya’ban. Namun, terdapat larangan berpuasa sehari atau dua hari sebelum Ramadhan, kecuali yang bertepatan dengan kebiasaannya berpuasa sunnah, seperti puasa Senin Kamis atau kebiasaan puasa sunnah lainnya. Dengan demikian, jika telah masuk tanggal 28 Sya’ban berhentilah berpuasa, kecuali jika Anda ingin berpuasa sunnah yang sudah menjadi kebiasaan Anda sebelumnya.
Berpuasa tanpa makan sahur boleh. Tetapi, yang utama adalah berpuasa dengan makan sahur, karena sahur merupakan sunnah Nabi n dan pembeda antara puasa umat ini dengan puasa ahli kitab, serta hikmah-hikmah lainnya.
Lihat pembahasan lengkap dua masalah ini dalam buku kami, Fikih Puasa Lengkap, yang merupakan syarah dari Kitab ash-Shaum dari Kitab Manhajus Salikin wa Taudhih al-Fiqhi fi ad-Din (yang akan terbit, insya Allah).
Wallahu a’lam.

 

 

Mizan, yang Kita Nantikan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Makna Mizan
Mizan secara etimologi (bahasa) adalah alat yang digunakan untuk mengukur (bobot) segala sesuatu, sehingga benda tersebut dapat diketahui beratnya.
Adapun makna mizan menurut syariat adalah timbangan yang Allah l letakkan pada hari kiamat nanti untuk menimbang amalan para hamba-Nya. (Syarh Lum’atul I’tiqad hlm. 120)

Dalil-Dalil Adanya Mizan
Dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan adanya mizan pada hari kiamat cukup banyak jumlahnya. Tidak mungkin disebutkan semuanya di sini. Di antara dalil-dalil tersebut adalah:
1. Allah l berfirman:
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (al-Anbiya: 47)
2. Allah l juga berfirman:
“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-A’raf: 8)
3. Rasulullah n mengisahkan dalam hadits bithaqah (selembar kartu) yang masyhur, yang beliau n bersabda:
Sesungguhnya Allah l akan menyelamatkan/membebaskan seseorang dari umatku di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, yang dipampangkan kepadanya 99 catatan amalannya, setiap catatan amalan panjangnya sejauh mata memandang.
Dia (Allah l) berkata kepadanya, “Apakah engkau akan mengingkari sesuatu dari catatan-catatan ini? Apakah para malaikat-Ku yang bertugas mencatat amal menzalimimu?”
Dia menjawab, “Tidak, wahai Rabbku.”
Allah l berkata, “Apakah engkau memiliki uzur (alasan) atau kebaikan?”
Orang tersebut bingung, kemudian dia menjawab, “Tidak, wahai Rabbku.”
Allah l kemudian berkata, “Justru engkau memiliki satu kebaikan di sisi-Ku. Tidak ada sedikit pun kezaliman yang akan menimpamu pada hari ini.”
Kemudian dikeluarkan satu kartu (bithaqah) miliknya yang ada padanya ucapan syahadatnya. Allah l berkata, “Datangkanlah kartu itu!”
Orang itu berkata, “Wahai Rabbku, apa artinya kartu ini dibandingkan dengan lembaran catatan amalan itu?”
Allah l menjawab, “Sesungguhnya engkau tidak akan dizalimi.”
Kemudian diletakkan lembaran-lembaran tersebut di salah satu sisi timbangan, sedangkan kartu itu diletakkan di sisi timbangan lainnya. Sisi timbangan yang ada lembaran-lembaran naik dan bagian lain yang berisi kartu turun. (HR. at-Tirmidzi)
Rasulullah n juga bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ
“Bersuci itu setengah dari iman, ucapan ‘alhamdulillah’ itu memenuhi mizan….” (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari z)

Jumlah Mizan untuk Menimbang Amalan
Kalau kita perhatikan seluruh dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan adanya mizan, kita akan mendapatkan bahwa lafadz mizan kadang disebutkan jamak (banyak) dan kadang disebutkan mufrad (tunggal). Bagaimana cara mendudukkan masalah ini?
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Penyebutan lafadz mizan dalam bentuk jamak adalah berdasarkan amalan yang akan ditimbang. Amalan yang ditimbang banyak jumlahnya. Adapun penyebutan dalam bentuk tunggal adalah berdasarkan jumlah mizan (timbangan), yaitu satu.” (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2/139)
Demikian pula arahan al-Imam Ibnu Katsir t tatkala menafsirkan ayat ke-47 dari surat al-Anbiya. Beliau berkata, “Kami (Allah l) meletakkan timbangan amal yang adil nanti pada hari kiamat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa jumlah mizan hanya satu. Hanya saja, disebut dalam bentuk jamak berdasarkan jumlah amalan yang akan ditimbang.” (Tafsir Ibnu Katsir 3/161)

Ciri-Ciri Mizan
Berdasarkan dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah, para ulama menjelaskan ciri-ciri mizan tersebut.
Di antara ulama yang menjelaskan ciri-ciri mizan adalah asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah.
Beliau berkata, “Penimbangan amalan-amalan hamba benar-benar akan terjadi dengan mizan hakiki yang memiliki dua daun timbangan, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits-hadits. Akan tetapi, Allah lebih tahu tentang kaifiahnya (bentuknya), karena hal ini termasuk perkara gaib yang akan terjadi di akhirat. Adapun makna yang jelas, yaitu mizan hakiki memiliki dua daun timbangan. Amalan kebaikan akan diletakkan pada satu sisi, sedangkan amalan kejelekan diletakkan pada sisi yang lain. Pemiliknya akan mendapatkan balasan yang baik atau buruk sesuai dengan amalan yang lebih berat.” (Syarhul Lum’ah hlm. 205)
Al-Hafizh Ibnu Hajar t berkata bahwa Abu Ishaq az-Zajjaj t mengatakan, “Ahlus Sunnah bersepakat mengimani adanya mizan dan bahwa amalan para hamba akan ditimbang dengannya pada hari kiamat. Mizan tersebut memiliki lisan (neraca) dan dua daun timbangan. Salah satunya akan turun karena amalan-amalan (yang diletakkan padanya).” (Fathul Bari 13/548)
Yasin bin Ali al-‘Adni berkata di dalam catatan kakinya terhadap Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah karya Muhammad Khalil Harras t, “Di antara dalil yang menunjukkan bahwa mizan memiliki dua daun timbangan adalah hadits bithaqah yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2639) dan lainnya. Hadits ini disebutkan dalam kitab ash-Shahihul Musnad dari sahabat Abdullah bin ‘Amr c.”
Adapun dalil yang menunjukkan bahwa mizan tersebut memiliki “lisan”, sebatas kemampuan kami dalam meneliti rujukan-rujukannya, kami belum menemukannya selain riwayat dari Ibnu Abbas c dalam kitab Syu’abul Iman lil Baihaqi (1/263).
Akan tetapi, (riwayat tersebut) dari jalan al-Kalbi, dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas c. Al-Kalbi bernama Muhammad bin as-Sa’ib, seorang perawi yang muttaham bil kadzib (dituduh berdusta).
Adapun riwayat Abu Shalih dari Ibnu Abbas adalah riwayat yang terputus sanadnya. Nama beliau adalah Badam.

Apa Saja yang Ditimbang?
Allah Maha Mengetahui amalan para hamba secara rinci sebelum Dia menciptakannya dengan ilmu-Nya yang sempurna, walaupun tanpa hisab dan mizan. Hanya saja, Allah l dengan hikmah-Nya yang sempurna berkehendak menunjukkan keadilan-Nya di hadapan seluruh makhluk-Nya.
Berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasulullah n, yang akan ditimbang dengan mizan itu di akhirat adalah:

1. Amalan yang baik dan yang buruk
Allah l berfirman:
“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka. Barang siapa yang melakukan kebaikan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Barang siapa yang melakukan kejahatan seberat zarah, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (az-Zalzalah: 6—8)
Rasulullah n bersabda:
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang dicintai ar-Rahman yang keduanya ringan dalam ucapan, tetapi berat di dalam timbangan (di akhirat); yaitu, ‘Subhanallah wa bihamdihi dan subhanallahil ‘azhim’.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)

2. Catatan-Catatannya
Hal ini berdasarkan hadits bithaqah yang masyhur yang telah disebutkan sebelumnya.

3. Orangnya
Al-Imam al-Bukhari t meriwayatkan di dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah z, dari Rasulullah n, beliau bersabda:
“Sungguh, pada hari kiamat akan datang seseorang yang gemuk dan besar. (Kemudian dia ditimbang), ternyata beratnya di sisi Allah l tidak lebih dari berat sehelai sayap nyamuk.” Beliau n berkata, “Bacalah, ‘Maka Kami tidak akan menegakkan bagi mereka timbangan pada hari kiamat.’ (al-Kahfi: 105).”
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Ada tiga hal yang akan ditimbang: amal, orang yang beramal, dan catatan amal.
Sebagian ulama berkata, ‘Untuk mendudukkan riwayat itu semua, bisa dikatakan bahwa untuk sebagian orang, yang ditimbang adalah amalannya. Orang yang lain ditimbang catatan amalannya. Yang lain lagi ditimbang dirinya/pemiliknya.’
Sebagian ulama berpendapat, ‘Untuk mendudukkan riwayat itu semua, dikatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ditimbang amalannya adalah amalan yang dicatat di dalam lembaran-lembaran catatan amal itu. Adapun ditimbangnya pemilik amalan hanya terjadi pada sebagian orang’.”
Kemudian beliau t berkomentar, “Akan tetapi, ketika diteliti, kita akan mendapati bahwa mayoritas dalil menunjukkan bahwa yang ditimbang adalah amalan dan sebagian orang yang dikhususkan. Dengan demikian, yang ditimbang adalah catatan-catatan amalannya atau pemilik amalan itu sendiri.”
Adapun hadits kisah Ibnu Mas’ud z (tentang ditimbangnya manusia) dan hadits bithaqah (ditimbangnya catatan amal), hal ini adalah sesuatu yang dikhususkan oleh Allah l bagi hamba-Nya yang Dia kehendaki. (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2/143)

Amalan yang Akan Memenuhi dan Memberati Timbangan
Secara umum, seluruh amalan yang baik dengan berbagai jenisnya, baik amalan hati maupun anggota badan, baik ucapan hati maupun ucapan lisan, akan memenuhi dan mengisi timbangan. Terlebih lagi, kalau Allah l dengan rahmat dan keutamaan-Nya melipatgandakan amalan-amalan seorang hamba yang Dia kehendaki.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (an-Nisa: 40)
Rasulullah n meriwayatkan dari Rabbnya l:
إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسِّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ، وَمَنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً، فَإِنْ هُوَ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللهُ لَهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً
“Sungguh, Allah telah menetapkan kebaikan dan keburukan lalu menjelaskannya. Barang siapa meniatkan satu kebaikan, namun tidak melakukannya, Allah mencatat satu kebaikan penuh baginya di sisi-Nya. Jika dia meniatkannya lalu melakukannya, Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, hingga jumlahnya berkali-kali lipat. Barang siapa meniatkan satu keburukan, namun tidak melakukannya, Allah mencatat satu kebaikan penuh baginya di sisi-Nya. Jika dia meniatkannya lalu melakukannya, Allah mencatat baginya satu keburukan saja.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas c)
Adapun amalan kebaikan yang dinyatakan oleh Rasulullah n secara tegas dan jelas akan memenuhi dan memberatkan timbangan adalah sebagai berikut.

1. Ucapan dua kalimat syahadat yang benar dan ikhlas dari hatinya
Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits bithaqah di atas.

2. Akhlak yang baik
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَثْقَلَ شَيْءٍ فِي مِيْزَانِ الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ خُلُقٌ حَسَنٌ، وَإِنَّ اللهَ يَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِئَ
“Sesungguhnya sesuatu yang paling berat yang akan diletakkan di dalam timbangan amalan seorang hamba pada hari kiamat adalah akhlak yang baik, dan sesungguhnya Allah l membenci orang yang keji dan jelek ucapannya.” (HR. Abu Dawud dan Ahmad, lihat ash-Shahihah no. 876)

3. Berzikir kepada Allah l, seperti tahmid dan tasbih
Rasulullah n bersabda:
كَلِمَتَانِ حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ، خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ، ثَقِيلَتَانِ فِي الْمِيزَانِ: سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ، سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang dicintai oleh ar-Rahman, ringan di lisan, berat di mizan: Subhanallahi wabihamdihih dan Subhanallahil ‘azhim.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Rasulullah n juga bersabda:
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ
“Bersuci itu setengah dari iman, ucapan ‘alhamdulillah’ itu memenuhi mizan….” (HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari z)

4. Memelihara kuda untuk berjihad di jalan Allah l
Rasulullah n bersabda:
مَنِ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللهِ إِيمَانًا بِاللهِ وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ وَرَوْثَهُ وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa memelihara dan mempersiapkan seekor kuda untuk berperang fi sabilillah karena iman kepada Allah l dan membenarkan janji-Nya, maka kenyang dan tidak hausnya (kuda itu), kotoran dan air kencingnya menjadi kebaikan-kebaikan yang akan (diletakkan) di dalam timbangan amalannya pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah z)

Adakah Mizan bagi Orang Kafir?
Allah l berfirman:
“Barang siapa yang ringan timbangannya, mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam.” (al-Mu’minun: 103)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Orang-orang kafir adalah orang yang akan mendapatkan kerugian (di akhirat). Mereka tidak mendapatkan manfaat sedikit pun dari keberadaan mereka di dunia yang fana ini. Bahkan, mereka tidak akan mendapatkan apa pun selain kerugian. Di akhirat, mereka akan rugi dengan harta-hartanya karena mereka tidak bisa mengambil manfaat dengannya. Meskipun mereka memberikan harta kepada orang lain untuk mendapatkan pahala, harta tersebut tidak akan bermanfaat bagi mereka di akhirat.
Firman Allah l:
“Tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya, dan mereka tidak beribadah melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (at-Taubah: 54)
Mereka juga akan rugi dengan keluarganya karena mereka berada di neraka. Penghuni neraka tidak akan mendapatkan kebahagiaan dengan sebab keluarganya. Mereka justru terkunci di dalamnya. Mereka tidak akan melihat seorang pun yang lebih dahsyat azabnya daripada dirinya.
Yang dimaksud dengan “lebih ringan dalam timbangan” adalah tatkala amalan-amalan yang jelek itu lebih berat daripada amalan-amalan yang baik, atau amalan yang baik sama sekali tidak ada.
Hal ini berdasarkan pendapat bahwa orang-orang kafir akan ditimbang amalannya, sebagaimana yang tampak dalam ayat yang mulia ini dan yang semisalnya. Ini adalah salah satu pendapat dari dua pendapat ulama dalam masalah ini.
Adapun pendapat kedua menyatakan bahwa orang-orang kafir tidak akan ditimbang amalan-amalannya. Mereka berdalilkan dengan firman Allah l:
“Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (al-Kahfi: 105) (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2/145—146)
Dari penjelasan asy-Syaikh t di atas, disimpulkan bahwa terjadi perbedaan pendapat di antara ulama Ahlus Sunnah tentang hisab orang-orang kafir di akhirat.
Al-Imam al-Qurthubi t merajihkan pendapat yang pertama bahwa orang-orang kafir tetap akan ditimbang amalan mereka, sebagaimana ucapan beliau t dalam kitabnya, at-Tadzkirah, berikut ini.
Allah l berfirman:
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat.” (al-Anbiya: 47)
Allah l (terkhusus dalam ayat ini) tidak membedakan antara satu jiwa dan yang lain dalam hal mizan. Kebaikan mereka akan ditimbang dan akan dibalas. Hanya saja, Allah l mengharamkan surga bagi mereka sehingga balasan bagi kebaikan bagi mereka adalah diringankan azabnya (di dalam Jahannam).
Hal ini berdasarkan kisah Abu Thalib, paman Rasulullah n. Beliau n pernah ditanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Thalib senantiasa melindungi dan menolongmu. Apakah hal itu bermanfaat baginya?”
Rasulullah n menjawab, “Ya, aku melihatnya dalam kesengsaraan di neraka. Kemudian aku keluarkan dia ke derajat yang paling ringan (di neraka). Kalau bukan karena aku, niscaya dia akan berada di dalam kerak yang paling dalam.” (at-Tadzkirah hlm. 363)
Demikian pula al-Imam Ibnu Katsir t merajihkan pendapat yang pertama. Beliau menyatakannya tatkala menafsirkan firman Allah l:
“Mereka itu orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Rabb mereka dan (kafir terhadap) perjumpaan dengan-Nya. Maka hapuslah amalan-amalan mereka, dan Kami tidak mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.” (al-Kahfi: 105)
Maksudnya menurut beliau adalah Allah l tidak akan menjadikan berat timbangan amalan-amalan mereka karena tidak ada kebaikannya.
Beliau t mendasari pendapat ini dengan hadits Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda, ‘Sungguh akan datang nanti pada hari kiamat orang yang gemuk dan besar, namun tidak lebih berat di sisi Allah l daripada sehelai sayap nyamuk.’ (HR. al-Bukhari).” (Tafsir Ibnu Katsir 3/97)
Beliau t juga menyatakan, “Amalan orang-orang kafir juga akan ditimbang, walaupun mereka tidak memiliki kebaikan-kebaikan yang bermanfaat bagi mereka yang sebanding dengan kekafirannya. (Akan tetapi, ditimbangnya amalan mereka) untuk menunjukkan kecelakaan dan mempermalukan mereka di hadapan seluruh makhluk.” (an-Nihayah hlm. 246)

Syubhat Mu’tazilah
Golongan sesat Mu’tazilah dengan akalnya yang rusak dan logikanya yang terbalik, mengingkari adanya mizan di akhirat. Di antara syubhat-syubhat (kerancuan berpikir) mereka adalah sebagai berikut.
1. Di akhirat tidak ada mizan yang hakiki karena tidak dibutuhkan. Allah l telah mengetahui amalan para hamba dan telah menghitungnya. Akan tetapi, yang dimaksud dengan mizan adalah mizan (timbangan) maknawi, yaitu keadilan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Tidak ada keraguan bahwa pernyataan Mu’tazilah tersebut batil karena bertentangan dengan zahir lafadz mizan (dalam dalil-dalil al-Qur’an dan as-Sunnah) serta ijma’ salaf (para ulama terdahulu). Di samping itu, kalau yang dimaksud dengan ‘mizan’ adalah ‘keadilan’, maka tidak perlu diungkapkan dengan sebutan ‘mizan’.Cukuplah diungkapkan dengan ‘keadilan’ karena ungkapan ‘keadilan’ itu lebih disenangi oleh jiwa daripada kata ‘mizan’.
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan.” (an-Nahl: 90) (Syarh Aqidah Wasithiyah 2/139—140)
2. Syubhat yang lain: Amalan adalah perkara maknawi yang tidak berjasad sehingga tidak mungkin bisa ditimbang. Yang bisa ditimbang adalah benda-benda yang ada wujudnya. Sampai-sampai mereka berani menyatakan, “Tidak ada yang membutuhkan mizan (timbangan) selain para penjual sayur atau kacang.”
Asy-Syaikh Muhamad Khalil Harras t berkata, “Di akhirat, Allah l akan mengubah amalan-amalan para hamba yang maknawi dan tidak berwujud menjadi amalan yang berwujud dan memiliki berat. Lalu diletakkanlah amalan yang baik di salah satu sisi timbangan dan amalan yang jelek di sisi lainnya.”
Allah l berfirman:
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat.” (al-Anbiya: 47) (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah hlm. 211)
3. Syubhat berikutnya: Sebagian mereka mengatakan bahwa hadits-hadits yang menunjukkan adanya mizan adalah hadits-hadits ahad, bukan mutawatir, sehingga tidak memberikan faedah keyakinan dalam masalah akidah.
Asy-Syaikh al-Albani t berkata, “Sesungguhnya mizan (yang akan diletakkan pada hari kiamat untuk menimbang amalan) adalah sesuatu yang benar-benar akan terjadi. Mizan tersebut memiliki dua daun timbangan. Hal ini merupakan keyakinan Ahlus Sunnah. Berbeda halnya dengan keyakinan Mu’tazilah dan para pengikutnya di masa kini yang tidak meyakini perkara akidah yang ada dalam hadits-hadits sahih, karena menganggap hadits-hadits tersebut adalah hadits ahad yang tidak memberikan faedah berupa keyakinan. Sungguh, saya telah menjelaskan kebatilan anggapan ini di dalam kitab saya Bersama al-Ustadz ath-Thanthawi.” (as-Silsilah as-Shahihah 1/260)
Kita memohon kesehatan dan keselamatan kepada Allah l.
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Qishash, Keadilan di Akhirat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Adil adalah salah satu sifat Allah l yang mulia dan sempurna. Oleh karena itu, Allah l mengharamkan kezaliman atas diri-Nya dan di antara hamba-hamba-Nya.
Allah l berfirman di dalam hadits qudsi:
يَا عِبَادِي، إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا
“Wahai hamba-Ku, Aku mengharamkan kezaliman bagi diri-Ku dan Aku menjadikannya haram di antara kalian. Maka dari itu, janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim dari Abu Dzar z)
Bahkan, kezaliman adalah salah satu sebab yang akan mendatangkan kesulitan bagi pelakunya nanti di hadapan Allah l, ketika kezaliman tersebut belum terselesaikan di dunia.
Rasulullah n bersabda:
اتَّقُوا الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Hindarilah perbuatan zalim, karena kezaliman itu akan mendatangkan kegelapan (kesulitan) pada hari kiamat nanti.” (HR. Muslim dari Jabir c)
Di antara kegelapan (kesulitan) yang akan menimpa pelaku kezaliman pada hari kiamat adalah diberlakukannya qishash (pembalasan yang sepadan). Para pelaku kezaliman yang bisa selamat di dunia, tidak akan selamat di akhirat kelak.
Sebagian ulama Ahlus Sunnah membagi qishash yang akan terjadi di akhirat nanti—berdasarkan dalil-dalilnya dari sunnah Rasulullah n yang sahih—menjadi dua macam:

1. Umum
Qishash secara umum, yang terjadi di antara orang-orang zalim, baik orang-orang yang beriman maupun orang-orang kafir.
Hal ini terjadi sebelum shirath. Ada yang berpendapat pada waktu hisab.
Adapun dalil yang menunjukkan terjadinya qishash secara umum adalah sebagai berikut.
Dari Abdullah bin Mas’ud z, Rasulullah n bersabda,
أَوَّلُ مَا يُقْضَى فِيهِ بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ
“Perkara pertama yang akan diputuskan di antara umat manusia pada hari kiamat adalah masalah darah.” (Muttafaqun alaih)
مَنْ كَانَتْ عِنْدَهُ مَظْلَمَةٌ لِأَخِيهِ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهَا، فَإِنَّهُ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُؤْخَذَ لِأَخِيهِ مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَسَنَاتٌ أُخِذَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَخِيهِ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ
“Barang siapa yang telah melakukan kezaliman terhadap saudaranya (muslim), hendaknya dia meminta kehalalan dari saudaranya (dimaafkan), karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar atau dirham. (Akan ditegakkan qishash). Pada awalnya, akan diambil kebaikan-kebaikan dari pihak yang menzalimi dan diberikan kepada saudaranya yang dizalimi. Apabila orang yang zalim itu sudah tidak memiliki kebaikan, kejelekan-kejelekan orang yang dizalimi akan diambil dan diberikan kepadanya (orang yang menzaliminya).” (Muttafaqun alaih)
Rasulullah n pernah bertanya:
أَتَدْرُونَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوا: الْمُفْلِسُ فِينَا مَنْ لَا دِرْهَمَ لَهُ وَلَا مَتَاعَ. فَقَالَ: إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ
“Tahukah kalian, siapakah orang yang bangkrut itu?”
Para sahabat menjawab, “Orang yang sudah tidak memiliki dirham atau dinar.”
Rasulullah n berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku (kaum muslimin) adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, puasa, dan zakat. Akan tetapi, dia juga membawa dosa-dosa (karena) dia telah mencela orang ini, memakan harta orang ini, menumpahkan darah orang ini, dan memukul orang ini. Lantas, orang yang dizalimi ini diberi sebagian kebaikan-kebaikannya, dan yang lain juga diberi sebagian kebaikan-kebaikannya. Apabila kebaikannya sudah habis dan seluruh kewajibannya belum tertunaikan, maka sebagian dosa-dosa mereka (orang-orang yang dizaliminya) akan dipikulkan kepadanya, lalu dia dilempar ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Hadits ini tidaklah berarti seorang muslim yang zalim akan kekal di dalam neraka. Namun, dia akan diazab sesuai dengan kadar perbuatan kezalimannya terhadap orang lain yang belum tertunaikan sehingga diberikan kejelekan-kejelekan orang lain itu kepadanya. Setelah itu, dia akan masuk ke dalam surga, karena seorang muslim tidak akan kekal di dalam neraka. Akan tetapi, (yang harus kita ingat) neraka itu apinya sangat panas. Seseorang tidak mungkin bisa sabar bertahan menghadapi panas api di dunia walaupun hanya sesaat saja, apalagi api neraka. Mudah-mudahan Allah l menyelamatkan kita semua darinya.” (Syarh Riyadhus Shalihin 1/532)

2. Khusus
Qishash yang khusus itu akan terjadi setelah shirath. Qishash ini khusus bagi orang-orang beriman yang sudah selamat dari shirath dan akan masuk ke dalam surga.
Rasulullah n bersabda:
يَخْلُصُ الْمُؤْمِنُونَ مِنَ النَّارِ فَيُحْبَسُونَ عَلَى قَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيُقَصُّ لِبَعْضِهِمْ مِنْ بَعْضٍ مَظَالِمُ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا هُذِّبُوا وَنُقُّوا أُذِنَ لَهُمْ فِي دُخُولِ الْجَنَّةِ، فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَأَحَدُهُمْ أَهْدَى بِمَنْزِلِهِ فِي الْجَنَّةِ مِنْهُ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا
“Orang-orang beriman yang telah selamat dari api neraka akan tertahan di Qantharah (sebuah tempat di antara surga dan neraka). Kemudian ditegakkanlah qishash terhadap sebagian mereka akibat kezaliman yang terjadi di antara mereka di dunia. Setelah dibersihkan dan dibebaskan (dari kezaliman), barulah mereka diizinkan masuk surga. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh salah seorang di antara mereka lebih paham terhadap tempat tinggalnya di surga daripada tempat tinggalnya di dunia.” (HR. al-Bukhari)

Syubhat Mu’tazilah
Al-Imam al-Qurthubi t berkata, “Sebagian orang-orang yang lalai, yaitu orang-orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah l karena memuja-muja akalnya serta menghukumi kitabullah dan sunnah Nabi-Nya Muhammad n dengan akal yang lemah dan dengan pemahaman-pemahaman yang lemah pula, mengatakan, ‘Tidak mungkin terjadi pada hikmah dan keadilan-Nya bahwa Dia l memberikan kejelekan orang yang melakukannya kepada orang yang tidak melakukannya, lalu diambil kejelekan itu dari pemiliknya kemudian diberikan kepada orang yang tidak melakukannya.’
Menurut anggapan mereka, ini adalah tindakan penganiayaan. Mereka menakwil firman Allah l:
“Seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (al-Isra: 15)
Mereka berkata, ‘Bagaimana hadits-hadits ini menjadi sahih, padahal menyelisihi zahir al-Qur’an, ditambah lagi hal tersebut mustahil menurut akal?’.”
Jawabannya, kata beliau t, “Allah l tidak membangun agama ini di atas akal-akal para hamba. Dia tidak berjanji dan tidak pula mengancam menurut sesuatu yang dianggap mungkin oleh akal mereka atau menurut pemahaman yang mampu mereka jangkau. Justru, mereka diberi janji-janji yang sesuai dengan kehendak dan keinginan-Nya. Allah l memerintah dan melarang sesuai dengan hikmah-Nya. Seandainya seluruh perkara yang tidak mampu dijangkau oleh akal itu tidak bisa diterima, niscaya mayoritas syariat itu mustahil, kalau diukur dengan akal para hamba’.”
Misalnya, Allah l mewajibkan mandi karena keluarnya air mani. Padahal, air mani itu suci, menurut sebagian para sahabat dan para imam.
Dia l mewajibkan bersuci/istinja’ karena buang air besar, sebuah masalah yang tidak ada khilaf tentang najis, kotor, dan bau busuknya, di antara para imam dan orang-orang yang berakal sehat.
Dia l juga mewajibkan wudhu karena keluarnya angin dari dubur, sebagaimana Allah l juga mewajibkan wudhu karena keluarnya air besar yang banyak dan menjijikkan.
Lantas, dengan akal yang mana hal ini bisa sebanding? Logika mana yang mewajibkan penyamaan antara angin yang tidak ada wujudnya dengan buang air besar yang ada wujudnya, berbau busuk, dan kotor/najis?
Allah l mewajibkan hukum potong tangan karena mencuri seharga sepuluh dirham, atau menurut sebagian ahli fikih tiga dirham, atau kurang dari itu. Hukum potong tangan karena mencuri dengan kadar ini disamakan dengan potong tangan bagi yang mencuri berkadar seratus ribu dinar. Keduanya sama-sama diberikan hukuman potong tangan.
Misal yang lain. Seorang ibu mendapat warisan dari anaknya yang meninggal sebanyak sepertiga dari hartanya. Apabila anak yang meninggal itu memiliki saudara, ibu itu hanya mendapat seperenam. Padahal saudara-saudaranya tidak mendapatkan warisan darinya sedikit pun.
Dengan akal mana seseorang bisa menjangkau hal-hal ini?
Tidak ada yang bisa dilakukan selain berserah diri dan tunduk terhadap Pemilik syariat.
Demikian pula logika tentang qishash terhadap amalan yang baik dan buruk. Allah l telah berfirman dalam hal ini, sedangkan firman-Nya adalah benar.
Allah l berfirman:
“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang sedikit pun. Jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun pasti Kami mendatangkan (pahala) nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat perhitungan.” (al-Anbiya’: 47)
Orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman, “Ikutilah jalan kami, dan nanti kami akan memikul dosa-dosamu.” Mereka (sendiri) sedikit pun tidak (sanggup) memikul dosa-dosa mereka. Sesungguhnya mereka adalah benar-benar orang pendusta. (al-‘Ankabut: 12)
“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.” (an-Nahl: 25)
Firman Allah l ini menjelaskan makna firman-Nya:
“Dan seorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (al-Isra: 15)
Maknanya, kata beliau t, “Kamu tidak akan memikul beban/dosa orang lain apabila kamu tidak berbuat zalim. Adapun apabila kamu berbuat zalim, maka akan dipikulkan kejelekan-kejelekan itu dan akan diambil kebaikan-kebaikan itu tanpa persetujuanmu.” (at-Tadzkirah, hlm. 310—311)
Wallahu a’lam.

Hisab, Pasti Terjadi

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Allah l akan datang pada hari kiamat untuk memutuskan hukum di antara para hamba-Nya: siapa yang berhak mendapatkan rahmat dan ampunan-Nya dan siapa yang berhak mendapatkan kemurkaan dan azab-Nya. Hal ini sebagaimana yang diberitakan oleh Allah l dalam kitab-Nya yang mulia:
“Tiada yang mereka nanti-nantikan kecuali datangnya Allah dan malaikat (pada hari kiamat) dalam naungan awan, dan diputuskanlah perkaranya. Dan hanya kepada Allah dikembalikan segala urusan.” (al-Baqarah: 210)
Di antara urusan yang menakutkan dan mengerikan yang akan terjadi setelah datangnya Allah k adalah dihisabnya amalan setiap hamba selama hidupnya di dunia.

Makna Hisab dan Dalil-Dalilnya
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Nashir ar-Rasyid t berkata, “Maksud hisab menurut syariat adalah dihadapkan dan diingatkannya para hamba terhadap seluruh amalannya yang baik dan yang buruk, sebelum mereka pergi dari Mahsyar, selain sebagian hamba-Nya yang beriman yang diistimewakan oleh Allah l (sehingga masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab). Hal ini benar-benar akan terjadi pada hari kiamat berdasarkan al-Qur’an, as-Sunnah, dan ijma’. Oleh karena itu, wajib beriman dengannya dan meyakini terjadinya.” (at-Tanbihatus Saniyah hlm. 231)
Allah l berfirman:
“Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan, manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri.” (al-Qiyamah: 13—14)
Allah l juga berfirman:
“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.” (al-Hijr: 92—93)
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, kecuali ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis).” Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang pun. (al-Kahfi: 49)
Rasulullah n bersabda:
مَنْ نُوقِشَ الْحِسَابَ عُذِّبَ. قَالَتْ: قُلْتُ: أَلَيْسَ يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: {فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَابًا يَسِيرًا}؟ قَالَ: ذَلِكِ الْعَرْضُ
“Barang siapa yang diperinci dan detail saat dihisab, niscaya dia akan diazab. Aisyah x berkata, ‘Bukankah Allah l berfirman (yang artinya), [Maka dia akan dihisab dengan hisab yang mudah].’ Beliau n bersabda, ‘Itu al-’ardh (yaitu dipampangkan amalan-amalan seorang hamba di hadapannya sehingga dia mengakuinya, kemudian Allah l menutupi kesalahan-kesalahannya)’.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah x)

Hisab Orang-Orang yang Beriman
Keadaan orang-orang yang beriman dalam hal ini berbeda-beda sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaannya. Semakin sempurna keimanan dan ketakwaan mereka, maka kadar keimanan yang mereka dapatkan di akhirat semakin sempurna. Sebaliknya, semakin berkurang kadar keimanan dan ketakwaan mereka karena kemaksiatan dan kezaliman yang mereka lakukan tatkala hidup di dunia, maka jaminan keamanan mereka di akhirat juga akan berkurang.
Hal ini sebagaimana firman Allah l:
“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)
Keadaan orang-orang yang beriman dalam hal hisab terbagi menjadi tiga golongan.
1. Sebagian orang yang beriman tidak dihisab dan tidak diazab karena kesempurnaan iman mereka.
Rasulullah n memberitakan tentang mereka dalam sabdanya:
فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي: انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ الْآخَرِ. فَإِذَا سَوَادٌ عَظِيمٌ فَقِيلَ لِي: هَذِهِ أُمَّتُكَ، وَمَعَهُمْ سَبْعُونَ أَلْفًا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ وَلَا عَذَابٍ
“Aku melihat ke ufuk, di sana ada satu rombongan yang sangat besar. Kemudian dikatakan kepadaku, ‘Lihatlah ke ufuk yang lain.’ Kemudian diberitahukan kepadaku, ‘Inilah umatmu. Di antara mereka ada 70.000 orang yang akan masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab’.”
Kemudian Rasulullah n menjelaskan ciri-ciri mereka,
هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَلَا يَكْتَوُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta di-kai, tidak meramalkan nasib dengan burung, dan hanya kepada Rabbnya mereka bertawakal.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Abbas c)

2. Sebagian orang yang beriman dihisab dengan hisab yang mudah.
Firman-Nya:
“Adapun orang yang diberikan kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia akan diperiksa dengan hisab yang mudah.” (al-Insyiqaq: 7—8)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ فَيَقُولُ: أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا؟ فَيَقُولُ: نَعَمْ، أَيْ رَبِ. حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ هَلَكَ قَالَ: سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَأَنَا أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ. فَيُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ
“Sesungguhnya Allah l akan mendekatkan seorang hamba mukmin, kemudian menempatkannya di samping-Nya. Allah l menutupinya (dari para hamba yang lain) kemudian bertanya, ‘Apakah kamu mengetahui dosa ini? Apakah kamu mengetahui dosa ini?’, Hamba tersebut menjawab, ‘Benar, wahai Rabbku.’ Sampai Allah l menjadikan hamba tersebut mengakui dosa-dosanya dan dia yakin bahwa dirinya akan binasa, lalu Dia l berkata, ‘Aku telah menutupinya tatkala kamu hidup di dunia dan Aku akan mengampuninya pada hari ini untuk kebaikanmu.’ Kemudian dia diberi kitab catatan amalan kebaikannya.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar c)

3. Sebagian orang yang beriman lainnya diperinci dan dipersulit hisabnya sesuai dengan dosanya.
Mereka kemudian diazab di neraka akibat dosa-dosa yang Allah l tidak mengampuninya karena keadilan-Nya, namun mereka tidak kekal di dalamnya.
Rasulullah n bersabda:
لَيْسَ أَحَدٌ يُحَاسَبُ إِلَّا هَلَكَ
“Tidaklah seorang pun yang dihisab (dengan hisab yang rinci dan detail) nanti pada hari kiamat melainkan akan binasa.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah x)

Kisah Tiga Orang yang Binasa dan Celaka karena Hisabnya yang Sulit
Dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda,
“Sesungguhnya golongan pertama yang akan diputuskan hukumnya pada hari kiamat nanti adalah: Pertama, seorang yang dipersaksikan mati syahid. Didatangkanlah orang itu, kemudian Allah l mengingatkannya tentang nikmat-nikmat-Nya, sehingga dia mengingatnya, Dia l bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan dengan (nikmat-nikmat tersebut)?’ Dia menjawab, ‘Aku berperang karena-Mu sampai aku mati syahid.’ Dia l berkata, ‘Kamu dusta. Kamu berperang supaya dijuluki sebagai pemberani. Sungguh, julukan tersebut telah diberikan.” Kemudian dia diperintahkan untuk diseret dalam keadaan tertelungkup lalu dilempar ke neraka.
Kedua, orang yang mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya, serta membaca al-Qur’an. Didatangkanlah dia. Allah l mengingatkan nikmat-nikmat-Nya sehingga dia pun mengingatnya. Allah l bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan dengannya?’ Dia menjawab, ‘Aku mempelajari ilmu agama dan mengajarkannya. Aku pun membaca al-Qur’an (karena Allah)’. Allah l berkata, ‘Kamu dusta. Kamu belajar supaya dikatakan bahwa kamu seorang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya dikatakan bahwa kamu adalah qari’ (pembaca al-Qur’an). Sungguh, julukan tersebut telah diberikan.’ Kemudian dia diperintahkan untuk diseret dalam keadaan tertelungkup lalu dilempar ke neraka.
Ketiga, orang yang Allah l melimpahkan hartanya dan mengaruniainya berbagai jenis harta. Orang tersebut didatangkan, lalu Dia l mengingatkan nikmat-nikmat-Nya. Dia pun mengingatnya. Allah l bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan karenanya?’ Dia menjawab, ‘Aku tidak meninggalkan satu jalan pun yang Engkau cintai untuk berinfak padanya, melainkan aku pun berinfak padanya karena-Mu.’ Allah l menjawab, ‘Kamu dusta. Kamu melakukannya supaya dijuluki sebagai orang yang dermawan. Sungguh, julukan tersebut telah dikatakan.” Kemudian dia diperintahkan untuk diseret dalam keadaan telungkup lalu dilempar ke neraka.” (HR. Muslim)

Hisab Orang-Orang Kafir
Orang-orang kafir yang mati dalam keadaan kafir tidak ada harganya dan tidak memiliki hak untuk dihargai. Mereka hina di dunia dan di akhirat karena kekafirannya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayyinah: 6)
Allah l menghinakan mereka ketika menghisab amalan-amalannya pada hari kiamat. Allah l memberitakan dalam kitab-Nya:
“Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.” (Fushshilat: 50)
Dia l juga berfirman:
“Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-Mulk: 11)
Rasulullah n menjelaskan tentang hisab orang-orang kafir dengan sabdanya,
وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيُنَادَى بِهِمْ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى اللهِ
أَلاَ لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الظَّالِمِيْنَ
“Adapun orang-orang kafir dan orang-orang munafik akan diseru di hadapan seluruh makhluk. Mereka adalah orang-orang yang mendustakan Rabbnya. Ketahuilah, laknat Allah l pasti akan menimpa orang-orang yang zalim.” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar c)
Syaikhul Islam t berkata, “Orang-orang kafir tidak akan dihisab sebagaimana hisab orang yang beriman. Orang yang beriman akan ditimbang amalan-amalan baiknya dengan amalan-amalan jeleknya. Orang-orang kafir sudah tidak memiliki kebaikan. Akan tetapi, amalan mereka akan dihitung dan dicatat lalu dihadapkan kepada mereka serta mereka akan mengakuinya.” (al-Aqidah al-Wasithiyah)

Umat Muhammad n, Rombongan Pertama yang Dihisab
Rasulullah n bersabda:
نَحْنُ الْآخِرُونَ السَّابِقُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْمَقْضِيُّ لَهُمْ قَبْلَ الْخَلَائِقِ
“Kita adalah umat yang terakhir, namun yang pertama diputuskan hukumannya pada hari kiamat sebelum umat-umat lainnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, ini adalah lafadz Muslim)
Al-Imam Ibnu Majah t meriwayatkan dalam Sunan-nya dari Ibnu Abbas c dari Nabi n bersabda:
نَحْنُ آخِرُ الْأُمَمِ وَأَوَّلُ مَنْ يُحَاسَبُ
“Kita adalah umat yang terakhir dari umat-umat (yang diciptakan di muka bumi) dan yang pertama yang akan dihisab (pada hari kiamat).” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah no. 2374)

Amalan yang Pertama Kali Dihisab
Seluruh amalan hamba, apakah amalan yang baik atau amalan yang jelek, apakah amalan tersebut berkaitan dengan hak-hak Allah l dan Rasul-Nya n atau berkaitan dengan hak orang dan makhluk lainnya—bahkan amalanyang tidak terkait dengan pihak yang lainnya—semua itu akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah l. Firman-Nya:
“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (at-Takatsur: 8)
Dari Abu Barzah Nadhlah bin ‘Ubaid al-Aslami z berkata, Rasulullah n bersabda,
لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ، وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ، وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ، وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ
“Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia ditanya tentang umurnya untuk apa dihabiskan; tentang ilmunya, apa yang dia amalkan; tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan pada perkara apa dia infakkan (belanjakan); serta tentang badannya, pada perkara apa dia gunakan.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau katakan, “Hadits hasan sahih.” Lihat Silsilah ash-Shahihah 2/666)
Meskipun demikian, ada amalan-amalan yang diprioritaskan dan didahulukan hisabnya.
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا، هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الْفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ
“Amalan-amalan seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah shalat. Apabila shalatnya bagus, niscaya dia akan mendapatkan kebahagiaan dan keberhasilan. Namun, apabila shalatnya rusak, sungguh dia akan kecewa dan rugi. Apabila shalat wajibnya ada suatu kekurangan, Rabb k berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah?’ Lantas, kekurangan shalat wajibnya akan disempurnakan dengannya, kemudian seluruh amalannya seperti itu.” (HR. at-Tirmidzi dan an-Nasa’i dari Abu Hurairah z, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wat Tarhib)
Rasulullah n juga bersabda:
أَوَّلُ مَا يُقْضَى بَيْنَ النَّاسِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي الدِّمَاءِ

“Masalah yang pertama kali akan diputuskan di antara manusia adalah masalah darah (yang terjadi di antara mereka di dunia).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud z)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t menjelaskan dua hadits yang mulia di atas, “Karena shalat adalah ibadah badan yang paling mulia, sedangkan darah adalah kejahatan yang paling besar yang terkait dengan hak-hak anak Adam.” (Syarh al-Aqidah al-Wasithiyah 2/156)
Oleh karena itu, Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab z menasihati kita agar hisab kita menjadi mudah di hadapan Allah l.
“Hitung-hitunglah (amalan-amalan) yang ada pada diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah amalan kalian sebelum kalian ditimbang, karena hal itu akan meringankan hisab kalian besok (pada hari kiamat), yaitu kalian menghitung-hitung (amalan) yang ada pada diri kalian pada hari ini dan menimbang-nimbangnya untuk mempersiapkan diri menghadapi hari waktu dipampangkannya seluruh amalan. (Firman Allah): ‘Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Rabbmu), tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi-Nya).’ (al-Haqqah: 18).” (Diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd dan Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, serta Ibnu Abid Dunya dalam Muhasabatun Nafs)
Akhirnya, penulis mengatakan,
اللَّهُمَّ حَاسِبْنِي حِسَابًا يَسِيْرًَا
“Ya Allah, hisablah kami dengan hisab yang mudah!”