Pembagian Kitab Catatan Amal

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Dengan hikmah dan keadilanyang sempurna, Allah l memerintah sebagian malaikat-Nya untuk mencatat seluruh amalan hamba selama hidup di dunia, baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang lahir maupun batin, yang dilakukan terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi.
Semua itu akan dicatat oleh para malaikat pencatat yang mulia, sebagaimana yang diberitakan oleh Allah l di dalam Al-Qur’an:
ﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ
“Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan Hari Pembalasan. Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (perbuatanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (amalan-amalanmu itu), mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (al-Infithar: 9—12)
Allah l juga berfirman:
ﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ ﮃ ﮄﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ
“Apakah mereka mengira, bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) Kami selalu mencatat di sisi mereka.” (az-Zukhruf: 80)
Demikian juga, Allah l berfirman:
ﭡ ﭢ ﭣ ﭤ ﭥ ﭦ ﭧ ﭨ ﭩ ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ
“(Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya kecuali ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 17—18)
Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di t berkata, “Malaikat yang di sebelah kanan seorang hamba mencatat amalan-amalan yang baik, sedangkan yang di sebelah kirinya mencatat amalan-amalan yang buruk.” (Tafsir Karimir Rahman hlm. 805)
Rasulullah n meriwayatkan dari Allah k yang berfirman,
إِذَا هَمَّ عَبْدِي بِسَيِّئَةٍ فَلَا تَكْتُبُوهَا عَلَيْهِ، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا سَيِّئَةً، وَإِذَا هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا فَاكْتُبُوهَا حَسَنَةً، فَإِنْ عَمِلَهَا فَاكْتُبُوهَا عَشْرًا
“Apabila hamba-Ku berniat melakukan satu amalan yang jelek, janganlah kalian menulisnya. Apabila dia melakukannya, tulislah satu kejelekan. Apabila dia berniat melakukan satu kebaikan, kemudian tidak jadi melakukannya, tulislah (baginya) satu kebaikan. Apabila dia melakukannya tulislah (baginya) sepuluh kebaikan.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah z)
Dalam riwayat yang lainnya, “Sampai tujuh ratus kebaikan.”
Para malaikat pencatat amalan tersebut akan melaksanakan perintah Allah l dan tidak akan mendurhakai-Nya. Ini adalah sifat para malaikat yang mulia, sebagaimana dalam firman-Nya:
ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ
“(Mereka) tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Jika demikian, di mana tempat kita bersembunyi? Kapan kita bisa melakukan satu perbuatan yang mereka tidak mengetahui, padahal Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat, dan Maha Mendengar? Demikian juga, para malaikat pencatat amal senantiasa mengikuti kita di mana pun berada dan selalu siap mencatat amalan kita?
Allah l berfirman:
ﭪ ﭫ ﭬ ﭭ ﭮ ﭯ ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹﭺ ﭻ ﭼ ﭽ ﭾ ﭿ ﮀ
“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak meridhai. Dan adalah Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (an-Nisa: 108)
Asy-Syaikh Abdur Rahman as-Sa’di t berkata, “Kalian harus senantiasa mengevaluasi semua amal kalian karena Allah l sungguh telah memerintah para malaikat pencatat amal yang mulia untuk mencatat ucapan dan perbuatan kalian, dalam keadaan mereka mengetahui perbuatan-perbuatan kalian itu, termasuk amalan hati dan anggota badan. Sudah sepantasnya kalian menghormati dan memuliakan mereka.” (Tafsir Karim ar-Rahman hlm. 914)

Pembagian Kitab Catatan Amalan
Di antara peristiwa mencekam yang akan terjadi pada hari kiamat adalah dibuka dan dibagikannya kitab-kitab catatan amal kepada para pemiliknya. Pembagian ini adalah penentu, apakah seorang hamba termasuk golongan yang mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan yang hakiki lagi abadi, atau justru mendapatkan kecelakaan dan kesengsaraan yang hakiki serta abadi pula.
Allah l berfirman:
ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ
“Tiap-tiap manusia telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. ‘Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu’.” (al-Isra’: 12—14)
Allah l juga berfirman:
ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ
“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) Kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barang siapa diberi kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikit pun.” (al-Isra’: 71)
Yang dimaksud dengan ﮥﮦ adalah kitab-kitab catatan amalan mereka. Ini adalah pendapat Ibnu Abbas c, Mujahid, Abul ‘Aliyah, al-Hasan al-Basri, dan ad-Dhahhak rahimahumullah.
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Pendapat ini adalah yang paling kuat/benar.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3/49)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Setiap orang akan diberi kitab catatan amalnya. Kitab itu penuh dengan catatan.Dia akan membacanya sendiri. Orang yang beriman diberi kitab catatan amalnya dan diterima dengan tangan kanannya, sebagaimana firman Allah l:
ﮘ ﮙ ﮚ ﮛ ﮜ ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ
Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kanannya, maka dia berkata, “Ambillah, bacalah kitabku (ini).” (al-Haqqah: 19)
Si mukmin akan bahagia. Ia pun senang ketika orang-orang melihat kitab catatan amalnya karena dia sangat bahagia.
Allah l menceritakan hamba-Nya yang beriman di dalam kitab-Nya:
ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ
“Sesungguhnya aku yakin bahwa aku akan menemui hisab terhadap diriku.” (al-Haqqah: 20)
Maksudnya, “Aku beriman dan yakin bahwa aku akan menemui hari hisab, maka aku mempersiapkan diri untuk menghadapi hari itu dengan amal-amal saleh.”
Allah l berfirman:
ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮ ﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕ ﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ ﯜ ﯝ
Maka orang itu berada dalam kehidupan yang diridhai, dalam surga yang tinggi. Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), “Makan dan minumlah dengan nikmat disebabkan amalan yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu.” (al-Haqqah: 21—24)
Adapun orang kafir, dia akan diberi kitab catatan amalnya dan diterima dengan tangan kiri, dari balik punggungnya, wal ‘iyadzu billah. Firman-Nya:
ﯞ ﯟ ﯠ ﯡ ﯢ ﯣ ﯤ ﯥ ﯦ ﯧ ﯨ
Dan adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata, “Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini).” (al-Haqqah: 25)
Dia pun berangan-angan seandainya dia tidak diberi kitab catatan amalnya dan tidak diperlihatkan kitab tersebut di hadapannya karena dia malu dan kecewa. Firman-Nya:
ﯩ ﯪ ﯫ ﯬ ﯭ ﯮ ﯯ ﯰ ﯱ
“Aku tidak mengetahui apa hisab terhadap diriku. Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu.” (al-Haqqah: 26—27)
Maknanya, “Aduhai, kiranya aku tidak dibangkitkan. Aduhai, kematian itu akhir dari (segala urusan).”
Allah l memberitakan ucapannya:
ﯲ ﯳ ﯴ ﯵﯶ ﯷ ﯸ ﯹ ﯺ ﯻ ﯼ ﯽ ﯾ ﯿ ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ ﰈ ﰉ ﰊ
“Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dariku.” (Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta.” (al-Haqqah: 28—32)
Semua ini terjadi setelah diterimanya kitab catatan amal dengan tangan kanan atau tangan kiri. (Syarah Lum’atul I’tiqad hlm. 206)

Cara Menerima Kitab Catatan Amal
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t menerangkan, “Yang tampak dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, umat manusia akan mengambil/menerima kitab catatan amal mereka dengan tiga cara: dengan tangan kanan, dengan tangan kiri, dan dari balik punggung.”
Akan tetapi, yang tampak, ini adalah perbedaan sifat saja. Orang yang menerima kitab catatan amal dari balik punggungnya ialah orang yang menerima kitab catatan amalnya dengan tangan kirinya. Artinya, dia menerima dengan tangan kiri sembari menjulurkannya ke arah belakang punggungnya karena ia termasuk golongan kiri. Adapun ia mengambil kitab catatan amal itu balik punggungnya karena ketika di dunia, Kitabullah mendatanginya namun dia membalikkan punggungnya. Jadi, adalah adil baginya jika kitab catatan amal diletakkan di balik punggungnya pada hari kiamat. (Syarah Aqidah Wasithiyah, 2/150—151)

Hal-Hal yang Menghapus Lembaran-Lembaran Kelam
Dengan rahmat-Nya yang sempurna, Allah l melarang hamba-hamba-Nya yang telah melakukan berbagai kemaksiatan dan kezaliman, sebesar dan sebanyak apa pun, untuk berputus asa dari rahmat dan ampunan-Nya. Berbagai catatan kelam bisa terhapuskan dengan sebab rahmat Allah l.
Allah l berfirman:
ﮤ ﮥ ﮦ ﮧ ﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮﮯ ﮰ ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ ﯗ ﯘ ﯙ ﯚ ﯛ
“Katakanlah, ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (az-Zumar: 53)
Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ النَّهَارِ، وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ، حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا
“Sungguh, Allah k membentangkan tangan-Nya di malam hari agar orang yang berbuat kejelekan di siang hari mau bertaubat. Dia juga membentangkan tangan-Nya di siang hari agar orang yang berbuat kejelekan di malam hari mau bertaubat; hingga matahari terbit dari barat.” (HR. Muslim dari Abu Musa al-Asy’ari z)
Adapun amalan-amalan yang dapat menghapus catatan-catatan kelam adalah sebagai berikut.
1. Tauhid yang bersih dari syirik dan kotoran lainnya
Allah l berfirman:
ﮄ ﮅ ﮆ ﮇ ﮈ ﮉ ﮊ ﮋ ﮌ ﮍ ﮎ ﮏ ﮐﮑ ﮒ ﮓ ﮔ ﮕ ﮖ ﮗ ﮘ ﮙ
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa: 116)
Allah k juga berfirman di dalam hadits qudsi:
يَا ابْنَ آدَمَ، إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً
“Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku membawa dosa sebesar bumi kemudian engkau menemui-Ku dalam keadaan tidak berbuat syirik terhadap-Ku, sungguh Aku akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula.” (HR. at-Tirmidzi dari Anas bin Malik z)

2. Taubat dan istighfar
Allah l berfirman setelah menyebutkan beberapa dosa besar dan ancamannya:
ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷ ﭸ ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽﭾ ﭿ ﮀ ﮁ ﮂ
“Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh, maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Furqan: 70)
Rasulullah n bersabda:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau saja kalian tidak berbuat dosa, sungguh Allah l akan membinasakan kalian dan mendatangkan kaum lainnya yang mereka berbuat dosa kemudian mereka memohon ampun kepada Allah k dan Dia pun mengampuni mereka.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

3. Amalan-amalan kebaikan, seperti shalat, puasa, sedekah, dan lain-lain
Allah l berfirman:
ﮱ ﯓ ﯔ ﯕﯖ
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (Hud: 114)
Rasulullah n bersabda:
الصَّلَوَاتِ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ لِمَا بَيْنَهُنَّ مَا اجْتُنِبَتْ الْكَبَائِرُ
“Di antara shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, dan puasa Ramadhan ke bulan Ramadhan berikutnya, akan menjadi penghapus dosa-dosa di antaranya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah z)

4. Menutupi aurat atau kejelekan saudaranya
Rasulullah n bersabda:
وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa menutupi aurat atau kejelekan saudaranya (muslim), niscaya Allah l akan menutupi kejelekannya nanti pada hari kiamat.”
Akhirnya, penulis mengatakan,
اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي وَآمِنْ رَوْعَاتِي
“Ya Allah, tutupilah aurat atau kejelekan-kejelekan kami, dan berilah rasa aman dari seluruh rasa takut kami.”

Telaga Nabi yang Dijanjikan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan)

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menerangkan, “Ahlus Sunnah berbeda pendapat dalam hal urutan al-Haudh (telaga), syafaat, dan ash-shirath: manakah yang lebih awal?
Al-Imam al-Bukhari t—sebagaimana dijelaskan oleh al-Hafizh Ibnu Hajar t—mengisyaratkan tentang urutannya, bahwa al-Haudh itu setelah shirath dan hisab, serta setelah itu semuanya.
Namun, banyak ulama yang menyelisihinya. (Mereka berpendapat) al-Haudh-lah yang pertama, sebelum peristiwa ash-shirath, hisab, mizan, bahkan sebelum itu semua, karena manusia keluar (dari kuburan mereka) dalam keadaan haus, sebagaimana berita di dalam hadits yang sahih.” (Syarh Aqidatus Salaf, hlm. 153)

Makna al-Haudh
Secara etimologi, al-Haudh adalah tempat terkumpulnya air dalam jumlah yang banyak, yakni telaga. Adapun makna al-Haudh secara syar’i adalah sebuah telaga di Mahsyar, yang airnya bersumber dari sungai al-Kautsar (yang dikaruniakan) kepada Nabi n. (Syarh Lum’atul I’tiqad li Ibnu ‘Utsaimin hlm. 123)
Dalil-Dalil Adanya al-Haudh
Asy-Syaikh Hafizh bin Ahmad al-Hakami t berkata, “Sungguh, terdapat dalil tentang penyebutan al-Haudh, yaitu tafsiran al-Kautsar dengan makna al-Haudh, keberadaan dan sifat-sifatnya, dari sanad-sanad para sahabat g dari Nabi n, yaitu hadits-hadits yang masyhur dengan sanad-sanad yang banyak bahkan sampai derajat mutawatir. Hadits-hadits tersebut termuat dalam kitab-kitab hadits, seperti kitab-kitab Shahih, Hasan, Musnad, dan Sunan.” (Ma’arijul Qabul 2/871)
Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi t berkata, “Hadits-hadits yang menyebutkan al-Haudh mencapai derajat mutawatir. Ada lebih dari tiga puluh sahabat g yang meriwayatkannya. Guru kami, ‘Imaduddin Ibnu Katsir, benar-benar telah membahas sanad-sanadnya di bagian akhir kitab sejarah yang besar yang berjudul al-Bidayah wan Nihayah.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 309)
Di antara dalil as-Sunnah yang menunjukkan adanya telaga milik Nabi n adalah:
إِنِّي فَرَطُكُمْ عَلَى الْحَوْضِ، مَنْ مَرَّ عَلَيَّ شَرِبَ وَمَنْ شَرِبَ لَمْ يَظْمَأْ أَبَدًا، وَلَيَرِدَنَّ عَلَيَّ أَقْوَامٌ أَعْرِفُهُمْ وَيَعْرِفُونِي ثُمَّ يُحَالُ بَيْنِي وَبَيْنَهُمْ، فَأَقُولُ: إِنَّهُمْ مِنِّي. فَيُقَالُ: إِنَّكَ لَا تَدْرِي مَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ. فَأَقُولُ: سُحْقًا، سُحْقًا لِمَنْ غَيَّرَ بَعْدِي
“Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga itu. Barang siapa yang melewatiku, dia akan minum di telaga itu, dan barang siapa yang berhasil minum darinya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya. Sungguh, beberapa kaum akan berusaha melewatiku. Aku mengenal mereka dan mereka mengenaliku. Kemudian dipisahkan antara aku dengan mereka.” Nabi n berkata, “Aku katakan, ‘Sesungguhnya mereka dari golonganku!’ Dikatakan kepadaku, ‘Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu!’ Aku katakan, ‘Amat jauh (telagaku) bagi orang yang mengubah (agamaku) sepeninggalku’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abu Hurairah z, Nabi n bersabda,
إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُومِ، وَإِنِّي لَأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ. قَالُوا: يَا ر َسُولَ اللهِ، أَتَعْرِفُنَا يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: نَعَمْ، لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ، تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ
“Sesungguhnya telagaku lebarnya lebih jauh daripada jarak Ailah1 ke Aden. Sungguh warna airnya lebih putih daripada salju, lebih manis daripada madu dicampur susu, dan bejana-bejana untuk meminumnya jumlahnya lebih banyak daripada jumlah bintang-bintang di langit. Sungguh aku akan menghalangi orang-orang darinya (orang yang tidak berhak meminumnya), sebagaimana seorang penggembala unta menghalangi unta orang lain dari telaganya.” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau akan mengenali kami pada saat itu?” Beliau n menjawab, “Tentu, kalian memiliki tanda-tanda yang tidak dimiliki oleh seorang pun dari umat-umat terdahulu. Kalian akan mendatangiku dalam keadaan wajah, tangan, dan kaki kalian putih bersinar karena wudhu.” (HR. Muslim)

Telaga Rasulullah n Sudah Ada
Rasulullah n mengabarkan kepada kita,
إِنِّي فَرَطٌ لَكُمْ وَأَنَا شَهِيدٌ عَلَيْكُمْ، وَإِنِّي وَاللهِ لَأَنْظُرُ إِلَى حَوْضِي الْآنَ
“Sesungguhnya aku akan mendahului kalian di telaga. Aku sebagai saksi atas kalian dan sesungguhnya aku—demi Allah—sedang memandang telagaku sekarang.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah bin Amir z)

Apakah Nabi Selain Rasulullah n Juga Memiliki Telaga?
Rasulullah n bersabda,
إِنَّ لِكُلِّ نَبِيٍّ حَوْضًا وَإِنَّهُمْ يَتَبَاهَوْنَ أَيُّهُمْ أَكْثَرُ وَارِدَةً، وَإِنِّي أَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَكْثَرَهُمْ وَارِدَةً
“Sesungguhnya setiap nabi r memiliki telaga di akhirat dan sungguh mereka saling berbangga-bangga, siapakah di antara mereka yang paling banyak peminum/pengunjungnya. Sungguh, aku berharap kepada Allah bahwa telagakulah yang paling banyak pengunjungnya.” (HR. al-Bukhari dalam at-Tarikh, ath-Thabarani, dan lainnya. Al-Albani mengatakan dalam ash-Shahihah no. 1589, “Kesimpulannya, hadits ini dengan segenap jalan-jalannya adalah hasan atau sahih. Wallahu a’lam.”)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Sebagaimana Allah l telah mengaruniai Rasulullah n sebuah telaga— dengan hikmah dan keadilan-Nya l—yang akan didatangi dan diminum oleh orang-orang yang beriman dari umatnya, Dia l juga mengaruniai setiap nabi sebuah telaga. Dengan demikian, orang-orang yang beriman akan mendapatkan manfaat dari para nabi yang diutus kepada mereka (sebelum umat ini). Akan tetapi, telaga yang paling agung adalah telaga Nabi kita, Muhammad n.” (Syarh Aqidah Washitiyah 2/159—160)

Sifat-Sifat Telaga Nabi n
Al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi t berkata, “Kesimpulan yang dapat diambil dari hadits-hadits sahih yang menyebutkan sifat-sifat telaga Nabi n adalah sebagai berikut.
Telaga Nabi n adalah sebuah telaga yang agung
Tempat yang mulia
Dialiri dari air minum yang berada di surga dari sungai al-Kautsar
Warnanya lebih putih daripada susu
Suhunya lebih dingin daripada salju/es
Lebih manis daripada madu
Lebih wangi daripada misik
Telaga yang sangat luas, panjang dan lebarnya sama.
Panjang setiap sisinya sejarak perjalanan satu bulan.” (Syarh Aqidah ath-Thahawiyah hlm. 311)
Adapun di antara dalil yang menunjukkan sifat-sifat telaga Nabi n yang disimpulkan oleh al-Imam Ibnu Abil ‘Izzi t adalah:
a. Rasulullah n bersabda,
أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ، يَغُتُّ فِيهِ مِيزَابَانِ يَمُدَّانِهِ مِنَ الْجَنَّةِ أَحَدُهُمَا مِنْ ذَهَبٍ وَالْآخَرُ مِنْ وَرِقٍ
“Warna airnya lebih putih daripada susu dan rasanya lebih manis daripada madu. Dua pancuran yang bersumber dari sungai surga (al-Kautsar) yang mengalirinya: satu pancuran dari emas dan pancuran lainnya dari perak.” (HR. Muslim dari Tsauban z)
b. Rasulullah n juga bersabda,
حَوْضِي مَسِيرَةُ شَهْرٍ مَاؤُهُ أَبْيَضُ مِنَ اللَّبَنِ، وَرِيحُهُ أَطْيَبُ مِنَ الْمِسْكِ، وَكِيزَانُهُ كَنُجُومِ السَّمَاءِ، مَنْ شَرِبَ مِنْهَا فَلَا يَظْمَأُ أَبَدًا
“Telagaku (lebar dan panjangnya) sejauh perjalanan satu bulan. Airnya lebih putih daripada perak, baunya lebih harum daripada misik, dan bejana-bejananya sejumlah bintang-bintang di langit. Barang siapa yang meminumnya, niscaya dia tidak akan merasa haus selamanya.”(HR. Muslim dari Abdullah bin Amr c)

Kaum yang Dihalangi dari Telaga Nabi n
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Yang akan datang dan minum dari telaga Nabi n adalah orang-orang yang beriman kepada Allah l dan Rasul-Nya n, yaitu orang yang mengikuti syariat beliau n. Adapun orang yang enggan dan sombong untuk mengikuti syariatnya, niscaya akan diusir dari telaga Nabi n.” (Syarh Aqidah al-Wasithiyah 2/158)
Dari Asma’ bintu Abu Bakr c, Rasulullah n bersabda,
إِنِّي عَلَى الْحَوْضِ حَتَّى أَنْظُرَ مَنْ يَرِدُ عَلَيَّ مِنْكُمْ، وَسَيُؤْخَذُ نَاسٌ دُونِي فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، مِنِّي وَمِنْ أُمَّتِي. فَيُقَالُ: هَلْ شَعَرْتَ مَا عَمِلُوا بَعْدَكَ، وَاللهِ مَا بَرِحُوا يَرْجِعُونَ عَلَى أَعْقَابِهِمْ
“Sungguh, aku (akan menunggu) di telaga hingga aku bisa melihat orang yang datang kepadaku dari kalian (kaum muslimin). Beberapa orang akan diambil sebelum sampai kepadaku. Aku lantas mengatakan, ‘Wahai Rabbku, mereka dari golonganku dan dari umatku.’ Lalu dikatakan kepadaku, ‘Apakah engkau mengerti apa yang mereka lakukan sepeninggalmu? Demi Allah, mereka telah murtad dari agamanya’.” (HR. Muslim)
يَرِدُ عَلَيَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ رَهْطٌ مِنْ أَصْحَابِي فَيُحَلَّئُونَ عَنِ الْحَوْضِ فَأَقُولُ: يَا رَبِّ، أَصْحَابِي. فَيَقُولُ: إِنَّكَ لَا عِلْمَ لَكَ بِمَا أَحْدَثُوا بَعْدَكَ
“Satu rombongan dari sahabatku akan melewatiku nanti pada hari kiamat. Namun, mereka diusir dari telaga itu. Aku katakan, ‘Wahai Rabbku, mereka adalah para sahabatku.’ Allah l menjawab, ‘Sesungguhnya engkau tidak tahu apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu’.” (HR. Muslim)
Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah menerangkan, “Yang dimaksud oleh hadits ini adalah satu kaum yang murtad dari agamanya. Mereka bukan para sahabat g. Oleh karena itu, dikatakan kepada beliau n, ‘Sesungguhnya engkau tidak mengetahui apa yang mereka ada-adakan sepeninggalmu.’ Adapun para sahabat g tidak mengadakan sedikit pun perkara yang baru (dalam agama) setelah Rasulullah n wafat. Bahkan, mereka menyebarkan agama (ke seluruh dunia) dan menyampaikan risalah beliau sebagaimana mestinya.” (Syarh Aqidatus Salaf hlm. 152)
Al-Imam al-Qurthubi t berkata, “Para ulama kita hafizhahumullah mengatakan, ‘Setiap orang yang murtad dari agamanya atau mengada-adakan suatu perkara baru dalam agama (bid’ah) yang tidak diizinkan dan diridhai oleh Allah l, maka dia termasuk golongan orang-orang yang diusir atau dihalangi dari telaga Nabi n. Adapun yang paling keras diusir adalah setiap orang yang menyelisihi jamaah kaum muslimin dan memisahkan diri (menyempal) dari mereka, seperti Khawarij beserta sekte-sektenya, Syiah Rafidhah beserta sempalan-sempalannya, dan Mu’tazilah beserta pecahan-pecahannya. Merekalah orang-orang yang mengganti agamanya.” (at-Tadzkirah hlm. 352)
Sebagai penutup, kita panjatkan doa,
اللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas agama-Mu!”

Catatan Kaki:

1 Sebuah kota pelabuhan di wilayah Jordania. Jaraknya dengan Aden lebih dari 2.000 km. (-red.)

Surga dan Neraka Kekal

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Kesesatan demikian beragam dan tak henti membiak. Di samping ada pihak yang mengingkari surga dan neraka, ada juga pihak yang tak memercayai kekekalan keduanya. Padahal petunjuk telah demikian gamblang diungkap dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Dicampakkan ke manakah keimanan?

Saat kaku sejenak merambah badan. Napas pun mendesak tenggorokan. Sakratul maut ada di hadapan. Kala itu bakal ada perpisahan. Berpisah dari dunia yang selama ini didambakan. Dia segera menghadap Rabb yang telah menciptakan. Mempertanggungjawabkan segenap perbuatan semasa ruh dikandung badan. Sungguh beruntung bagi yang beriman lagi berbuat kebajikan. Duhai, sungguh celaka bagi yang tiada iman, berbuat kemungkaran dan berpaling dari kebenaran. Hari itu yang tersisa hanyalah penyesalan. Andai Allah l memberi lagi kehidupan, tentu dia akan bersegera beramal kebajikan, menumpuk setinggi mungkin amalan. Namun, penyesalan hanyalah tinggal penyesalan.
Semestinya tumbuh kesadaran kala ada kehidupan bahwa dunia ini hanya sebatas tempat persinggahan. Bagai pengelana yang berteduh di bawah pepohonan. Sejenak rehat, lalu melanjutkan perjalanan.
Dunia hanya sebuah persinggahan. Tujuan akhir adalah kampung akhirat nan diliputi keabadian. Karenanya, taburilah hidup dengan amal kesalehan, agar di akhir tak ada penyesalan. Sungguh, tentang hal ini manusia telah banyak diingatkan. Allah l berfirman:
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kalian dikembalikan.” (al-Anbiya’: 35)
“Sekali-kali jangan. Apabila napas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke tenggorokan, dan dikatakan (kepadanya), ‘Siapakah yang dapat menyembuhkan?’, dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dengan betis (kanan), kepada Rabbmulah pada hari itu kamu dihalau.” (al-Qiyamah: 26—30)
“Pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam dan pada hari itu ingatlah manusia, akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya. Dia mengatakan, ‘Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini.’ Maka pada hari itu tiada seorang pun yang menyiksa seperti siksa-Nya, dan tiada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (al-Fajr: 23—26)
Rasulullah n pun mengingatkan:
مَا لِي وَللِدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apalah arti dunia bagiku. Tiadalah (bagi) aku dalam masalah dunia kecuali seperti seorang pengelana yang beristirahat di bawah pohon, lalu setelah itu meninggalkan (pohon) tersebut.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, dan al-Hakim; dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’ ash-Shagir wa Ziyadatuhu, no. 5669)
Sungguh teguh para sahabat memegang agama. Upaya untuk senantiasa menyuburkan as-Sunnah tetap ada, walau jasad telah terbujur tanpa nyawa. Ini adalah bentuk penjagaan diri dari siksa api neraka. Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka, serta selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)
Ya, upaya untuk memelihara diri dan keluarga dari api neraka tetap dilakukan walau ajal telah tiba. Dari ‘Amr bin Sa’d bin Abi Waqqash, sungguh ayahnya telah menyampaikan pesan saat sakit yang mengantarkan pada kematiannya, “Buatkanlah liang lahat untukku. Letakkanlah sebuah batu bata saja (di atas pusara/makam) sebagaimana yang telah dilakukan oleh Rasulullah n.” (Dikeluarkan oleh Muslim dan al-Baihaqi, 3/407, serta selain keduanya)
Diriwayatkan pula dari Abi Burdah z, dia berkata:
“Abu Musa z telah memberi wasiat saat tanda-tanda kematian menghampirinya. Dia berpesan, ‘Jika kalian membawa jenazahku, lakukanlah dengan berjalan cepat. Jangan kalian ikuti (jenazah)ku dengan bara dupa. Jangan ada pembatas (pemisah) antara aku (jasad) dan tanah pada liang lahat. Jangan jadikan kuburanku sebagai bangunan. Saksikanlah, sesungguhnya aku berlepas diri dari setiap wanita yang mencukur rambut kepalanya (saat tertimpa musibah), wanita yang berteriak-teriak seraya memukul-mukul wajahnya (saat ditimpa musibah kematian), dan wanita yang merobek-robek pakaiannya (kala mendapat musibah kematian).’ Mereka pun bertanya, ‘Apakah engkau pernah mendengar tentang hal ini (dari Rasulullah n)?’ Abu Musa z menjawab, ‘Ya, (aku telah mendengarnya) dari Rasulullah n’.” (HR. Ahmad 4/397, al-Baihaqi 3/395, dan Ibnu Majah dengan sanad hasan)
Hudzaifah z berkata, “Apabila aku mati, jangan kalian umumkan (kematianku) kepada siapa pun, karena aku khawatir terjatuh pada perbuatan menyebarluaskan berita kematian (yang dilarang oleh Rasulullah n). Sungguh, aku telah mendengar Rasulullah n melarang perbuatan an-na’yu (menyebar berita kematian dengan cara jahiliah).”1 (HR. at-Tirmidzi 2/129. Lihat Ahkamul Janaiz wa Bida’uha hlm. 17—18, asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani)
Demikian sikap penjagaan para sahabat terhadap sunnah Rasulullah n. Keinginannya yang kuat untuk senantiasa berada di atas al-haq, tak semata saat mereka hidup. Namun, keinginan itu pun tetap diupayakan hidup walau dirinya telah wafat. Kematiannya tak menjadikan sunnah terhenti mati, bahkan terus berdenyut hidup. Maka, keadaan pusara mereka menjadi bukti betapa sunnah itu tetap lekat kuat.
Didikan Rasulullah n guna berada di atas sunnah sedemikian tertanam kokoh. Dalam sebuah riwayat disebutkan Rasulullah n pernah menasihati seorang sahabat agar terus-menerus mengamalkan sunnah.
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash c, Rasulullah n bersabda:
يَا عَبْدَ اللهِ، لاَ تَكُنْ مِثْلَ فُلَانَ، كَانَ يَقُومُ اللَّيْلَ فَتَرَكَ قِيَامَ اللَّيْلِ
“Wahai Abdullah, janganlah kamu seperti fulan. Dahulu dia mengerjakan shalat malam, kemudian dia tinggalkan amalan shalat malam itu.” (HR. al-Bukhari, no. 1152 dan Muslim, no. 185)
Bagi seorang muslim, dunia ini hanyalah ladang amal. Segenap ibadah dicurahkan demi menggapai kebahagiaan di akhirat kelak. Apa yang dia lakukan di dunia merupakan investasi bagi kehidupan akhirat saja. Segenap yang ada pada dirinya diarahkan guna memetik hasil di kampung akhirat. Jadi, seorang muslim melihat kehidupan ini tidak sesempit seperti hanya hidup di dunia semata. Namun, pandangan hidup muslim mengarahkan bahwa umur manusia jauh ke alam akhirat. Karenanya, dunia ini merupakan tempat persinggahan, serta dia dipacu untuk meraih ampunan dan surga yang disediakan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Allah l berfirman:
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (al-Hadid: 21)
Sungguh terhunjamnya keimanan kepada Hari Akhir pada diri seseorang akan mengarahkan perilaku dan sikap hidup dirinya menuju perilaku dan sikap hidup yang baik. Dia akan senantiasa berupaya agar menaati perintah Allah l dan Rasul-Nya n karena semuanya akan dipertanggungjawabkan di Hari Akhir kelak.
Tidaklah demikian keadaan seseorang yang terikat dengan segala peraturan yang dibuat oleh manusia. Segenap undang-undang dan peraturan yang dibuat manusia tak akan memberikan pengaruh dalam pembentukan perilaku dan sikap mental hidup manusia, maka akan nyata sekali adanya garis pembeda antara aturan hidup manusia yang ditata berdasar akal pikiran manusia dengan aturan yang berdasarkan wahyu. Karena, ketika manusia menjalankan apa yang telah diwahyukan melalui Rasul-Nya Muhammad n, dirinya berbuat dilandasi oleh keimanan. Dia meyakini dengan keimanannya bahwa apa yang dilakukannya merupakan amal kebaikan yang akan mendapat balasan di Hari Akhir. Dia menyadari bahwa dunia adalah ladang akhirat, karenanya dia mengumpulkan bekal dalam wujud takwa.
Allah l berfirman:
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku, wahai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197)
Berbeda dengan manusia yang lalai dan tidak mengimani Hari Akhir. Pikirannya hanya sebatas dunianya. Dia bergiat dalam dunia semata untuk menumpuk harta kekayaan dan bersenang-senang. Tolok ukurnya hanya dunia. Umurnya dihabiskan demi mengejar ambisi keduniaannya. Tak ada sentuhan untuk beribadah. Allah l berfirman:
Bahkan manusia itu hendak berbuat maksiat terus-menerus. Ia bertanya, “Bilakah hari kiamat itu?” (al-Qiyamah: 5—6)
Allah l berfirman:
“Tentu mereka akan mengatakan (pula), ‘Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan’.” (al-An’am: 29)
Betapa dangkal pikiran orang yang tak mengimani Hari Akhir. Kebodohan telah meliputi dirinya sehingga tak mampu melepas belenggu dunia. Dirinya tertipu dengan apa yang ada di dunia. Dirinya mengira tak akan dikembalikan kepada Yang Maha Pencipta. Allah l berfirman:
“Maka apakah kalian mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kalian secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (al-Mu’minun: 115)
Akan didapati pada sekelompok manusia pemuja dunia, semangat yang teramat sangat untuk hidup. Mereka seakan tak akan mati, rakus pada dunia, loba kepada kehidupan dunia yang senyatanya fana. Sikap hidup semacam ini lantaran hampa dari keimanan kepada Hari Akhir. Lalai kalau dirinya akan menemui Hari Kebangkitan, saat manusia dibangkitkan dari kuburnya, dikumpulkan mereka di Padang Mahsyar. Dihisab, dihitung amalnya. Mempertanggungjawabkan segenap perbuatan saat di dunia. Manusia yang loba, rakus pada dunia, menginginkan hidup seribu tahun lagi. Padahal hidup nan panjang tiada akan menyelamatkannya dari siksa. Semua ini lantaran tiada iman kepada Hari Akhir.
Allah l berfirman:
“Sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (al-Baqarah: 96)
Ayat ini berkaitan dengan orang musyrik yang tak mengharapkan kebangkitan setelah kematian. Dia menginginkan kehidupan yang panjang. Adapun orang Yahudi, mereka telah mengetahui kehinaan yang akan menjadi bagian mereka di akhirat lantaran apa yang mereka lakukan terhadap ilmu yang dimilikinya. (Tafsir Ibnu Katsir, 1/184. Lihat Asyratu as-Sa’ah, Yusuf bin Abdillah bin Yusuf al-Wabil, hlm. 31—32)
Termasuk keyakinan Ahlus Sunnah, yaitu mengimani surga dan neraka. Keduanya adalah makhluk yang tidak akan rusak selamanya. Sebagaimana disebutkan al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman ash-Shabuni t bahwa Ahlus Sunnah bersaksi dan meyakini bahwa surga dan neraka adalah makhluk. Keduanya kekal dan tidak akan rusak selamanya. Sesungguhnya penghuni surga tidaklah keluar dari surga selama-lamanya. Demikian penghuni neraka, mereka adalah penghuninya dan telah dicipta baginya, tidaklah akan keluar dari neraka selama-lamanya. Didatangkan kematian (maut) lalu disembelih di atas dinding batas antara surga dan neraka. Pada hari itu, ada yang menyeru, “Wahai penghuni surga yang kekal dan tidak mati! Wahai penghuni neraka yang kekal dan tidak mati!” Berdasarkan kabar yang sahih dari Rasulullah n. (Aqidatu as-Salaf wa Ashabu al-Hadits, hlm. 77)
Berkaitan dengan keyakinan Ahlus Sunnah di atas, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan, “Demikianlah keyakinan-keyakinan Ahlus Sunnah yang membedakan dengan para pelaku kesesatan. Sesungguhnya Ahlus Sunnah mengimani bahwa surga dan neraka adalah makhluk. Maka seluruh kelompok sempalan meyakini bahwa ada surga dan neraka. Namun, Mu’tazilah dengan akal-akal mereka yang rusak menyatakan bahwa surga dan neraka hingga kini belum diciptakan. Karena apabila keduanya telah diciptakan di dunia sebelum adanya (hari) balasan dengan surga atau neraka, maka tentu yang seperti ini adalah hal yang sia-sia. Semoga Allah l membinasakan mereka!”
Adapun dalil dari al-Kitab dan as-Sunnah perihal masalah surga dan neraka sebagai makhluk berjumlah cukup banyak. Dari al-Qur’an, Allah k berfirman tentang neraka, yaitu saat menantang orang-orang kafir untuk mendatangkan semisal al-Qur’an:
“Jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat (nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (al-Baqarah: 24)
Penggalan ayat ﰃ yang bermakna sungguh Allah l telah menyediakannya, maka berarti telah ada. Adapun firman Allah l dalam ayat yang berbunyi:
“Disediakan bagi orang-orang kafir.”
Dalil dari hadits yang menunjukkan bahwa surga dan neraka telah ada, di antaranya Rasulullah n telah memerintahkan untuk menunda waktu shalat sejenak hingga dingin, saat cuaca dalam keadaan panas menyengat. Rasulullah n bersabda:
“Apabila cuaca panas menyengat, hendaklah kalian tunda sejenak waktu shalat hingga dingin, karena sesungguhnya panas yang amat sangat itu adalah panas dari Jahannam. Neraka pun mengadu kepada Rabbnya seraya berucap, ‘Wahai Rabb, sebagianku telah memakan sebagian yang lain. Maka, Allah memberi izin kepadanya dengan dua napas (embusan). Napas pada musim dingin dan napas pada musim panas. Maka, apa yang kalian dapati saat panas akan terasa sangat menyengat dan apa yang kalian dapati dari keadaan dingin akan terasa sangat dingin’.” (HR. al-Bukhari, no. 573 dan Muslim, no. 617 hadits dari Abu Hurairah z)
Jadi, keadaan yang amat menyengat sangat panas itu berasal dari panas neraka, karena neraka memang sudah ada. Begitu pula adanya dingin yang teramat sangat yang berasal dari dinginnya, karena neraka itu memang sudah ada.
Dalil lain yang menunjukkan surga itu makhluk dan neraka itu makhluk yang telah berwujud (ada), di antaranya firman Allah l:
“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (an-Najm: 13—15)
Rasulullah n telah melihat Jibril di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal. Hal itu menunjukkan keberadaan surga secara nyata.
Adapun ayat-ayat yang berkaitan dengan kekekalan penghuni surga dan neraka juga cukup banyak. Yang dimaksud khuluduma, yaitu kekekalan, keduanya senantiasa ada, dan tidak bersifat fana (rusak). Dalilnya adalah firman Allah l:
“Balasan mereka di sisi Rabb mereka adalah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya.” (al-Bayinah: 8)
Adapun firman Allah l yang menjadi dalil kekekalan neraka:
“Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”
Pemaknaannya, yaitu selalu dan terus-menerus (ada), tidak terputus dan rusak binasa. Tidak surga, tidak pula neraka. Kemudian firman Allah l:
“Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. (al-Jin: 23)
Di antara lagi firman-Nya:
“Kemudian dia tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup.” (al-A’la: 13)
Firman-Nya:
“Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.” (az-Zukhruf: 75)
Yaitu, tidak terputus.
Firman-Nya pula:
“Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka.” (al-Baqarah: 167)
Maksud ayat di atas, yakni terus-menerus mereka di dalam neraka. Ini adalah dalil atas kekekalannya dan terus-menerus keberadaan neraka. Sementara itu, dalil dari hadits Rasulullah n adalah:
“Apabila penduduk surga telah ke surga dan penduduk neraka telah ke neraka, didatangkan kematian (maut) hingga berada di antara surga dan neraka. Kemudian (kematian) itu disembelih. Lantas ada yang menyeru, ‘Wahai penghuni surga, tak ada lagi kematian! Wahai penghuni neraka, tak ada lagi kematian!’ Akhirnya, kegembiraan penghuni surga semakin bertambah. Sebaliknya, kesedihan penghuni semakin menjadi.” (HR. al-Bukhari, no. 6548 dan Muslim, no. 2850 hadits dari Abdullah bin Umar c)
Inti dari penjelasan di muka, sejatinya Ahlus Sunnah wal Jamaah berbeda dari kalangan sesat. Ahlus Sunnah meyakini dan bersaksi sesungguhnya surga dan neraka itu makhluk. Ini masalah (pertama). Adapun masalah kedua, sesungguhnya surga dan neraka tidak akan binasa (kekal). Sementara itu, kelompok Jahmiyah menyatakan bahwa surga dan neraka akan musnah (tidak kekal). Mengenai keyakinan dua perkara ini (surga dan neraka), kelompok sesat ini telah mendustakan kitabullah, yang tidak mengandung kebatilan dari depan dan belakangnya, serta mendustakan sunnah Rasulullah n. Al-Qur’an dan as-Sunnah telah menetapkan sesungguhnya penghuni surga—yang mereka menetapinya—tidaklah akan keluar dari surga. Demikian pula penghuni neraka—yang mereka menetap di dalamnya—tidak akan keluar dari neraka. Surga dan neraka bersifat ada senantiasa (terus-menerus ada). Sementara itu, dalam masalah azab (siksa) terhadap orang-orang kafir itu pun berlangsung terus-menerus. Allah l berfirman:
“Tidak diringankan azab itu dari mereka dan mereka di dalamnya berputus asa.” (az-Zukhruf: 75)
Maka, jelaslah sudah kebenaran dari hal yang bersifat batil dengan nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah. (Syarhu Aqidah as-Salaf Ashabi al-Hadits, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali hafidzahullah, hlm. 164—166)
Beriman kepada Hari Akhir merupakan perkara yang sangat mendasar bagi seorang muslim. Mengingkarinya berarti menjatuhkannya pada kekafiran. Di dalam al-Qur’an, banyak sekali ayat yang mengaitkan keimanan kepada Allah l dengan keimanan kepada Hari Akhir.
Firman Allah l:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan para nabi.” (al-Baqarah: 177)
Firman Allah l pula:
“Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaq: 2)
Adapun dalam hadits, misal hadits dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berbicara yang baik atau hendaknya diam.” (HR. al-Bukhari, no. 6018 dan Muslim no. 75)
Beriman kepada Hari Akhir meliputi keimanan kepada Hari Kiamat, Hari Kebangkitan, hari dikumpulkannya seluruh makhluk oleh Allah l sebagaimana pada penciptaan mereka pertama kalinya, mengumpulkan mereka seluruhnya di tempat yang satu dari awal hingga akhir mereka, menghisab amalan mereka, mengeluarkan kitab-kitab (catatan-catatan amal) mereka yang berisi catatan amal mereka di dunia. Bagi seorang mukmin akan diberikan kitabnya melalui tangan kanan dan orang kafir akan diberikan kitabnya dengan tangan kiri dari balik punggungnya—wal ‘iyadzu billah—sebagai bentuk penghinaan atasnya.
Selain itu, beberapa hal yang terjadi pada Hari Akhir, seperti: timbangan amal, haudh (telaga), ash-shirath (jembatan), surga dan neraka, serta segala hal yang telah diberitakan oleh Allah l dan Rasul-Nya n dari segala peristiwa yang terjadi pada Hari Akhir, maka beriman kepada semua hal di atas adalah rukun. Seorang hamba yang beriman tidak boleh mendustakannya. Termasuk dalam hal itu, yaitu perkara setelah kematian adanya penetapan penghuni surga di surga dan penghuni neraka di neraka. Barang siapa yang mengingkari Hari Kebangkitan, maka dia telah kafir kepada Allah l. Firman-Nya:
“Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak akan dibangkitkan. Katakanlah, ‘Tidak demikian, demi Rabbku, benar-benar kamu akan dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan’. Hal itu adalah mudah bagi Allah.” (at-Taghabun: 7)
Demikian pula orang yang mengingkari perkara-perkara akhirat yang telah pasti, sungguh dia telah kafir. Barang siapa yang mengingkari surga dan neraka, mengingkari adanya hisab, mengingkari pemberian lembaran-lembaran (catatan amal), atau mengingkari adanya timbangan amal, maka dia kafir. Maka dari itu, konsekuensi beriman kepada Hari Akhir adalah mengimani setiap peristiwa akhirat yang telah sahih dikabarkan oleh Allah l dan Rasul-Nya n. (Durus min al-Qur’an al-Karim, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, hlm. 139—140)
Wallahu a’lam.

Catatan Kaki:

1 Kalangan Arab jahiliah, apabila ditimpa musibah kematian, lantas salah seorang dari mereka menaiki kuda kemudian berjalan seraya mengumumkan kematian seseorang kepada khalayak ramai yang dilaluinya. (Lihat Tuhfatu al-Ahwadzi 4/34—35 terkait hadits Hudzaifah ibnul Yaman z di atas). Itulah bentuk perbuatan an-na’yu yang dikenal di kalangan orang-orang jahiliah. Wallahu a’lam.
Adapun sekadar memberi tahu agar orang lain mengurusi jenazah atau menyalatinya, atau memberi tahu kerabat dan teman tanpa cara-cara yang dilakukan di masa jahiliah, maka diperbolehkan.

Surat Pembaca edisi 73

Bonus Stiker dan Kenaikan Harga
Afwan di sampul depan edisi sekarang (edisi 72, red.) tertulis sekarang 112 halaman, padahal edisi yang lalu (edisi 71) saya lihat 112 halaman juga, katanya ongkos naik karena tambah halaman. Bagaimana ini?

0852277xxxxx

Afwan, pada Asy-Syariah edisi 72 tertulis bonus stiker tapi tidak ada stikernya, tolong kalau stiker belum jadi jangan keburu ditulis bonus.

Abu Mariyyah-Lumajang
0813364xxxxx

Terkait dengan kenaikan harga majalah menjadi Rp11.000,00 mulai edisi 72, kami meminta maaf kepada para pembaca jika hal ini kurang tersosialisasikan dengan baik. Sebelumnya pihak manajemen telah menyosialisasikan kenaikan harga ini kepada para agen dengan maksud agen menginformasikan kenaikan harga ini kepada para pembaca di daerah. Kenaikan harga ini sendiri merupakan konsekuensi dari penambahan jumlah halaman yang semula 104 halaman menjadi 112 halaman dan peningkatan kualitas sampul majalah. Sebenarnya penambahan halaman itu sudah kami mulai sejak edisi 60 (dari 96 halaman menjadi 104 halaman dengan sampul jilid binding) dan edisi 71 (dari 104 halaman menjadi 112 halaman) tanpa diikuti kenaikan harga.
Mengenai bonus stiker di edisi 72, kami meminta maaf jika ada pembaca yang mendapatkan majalah dalam keadaan tanpa bonus stiker. Stiker tersebut sebenarnya telah kami masukkan sejak dari percetakan, dan kami, insya Allah, telah mendistribusikannya sebaik mungkin agar tidak ada bonus stiker yang tercecer. Jika ada Pembaca yang belum mendapatkannya, Pembaca dapat menghubungi agen terdekat/tempat Anda membeli.

Ada Surga dan Neraka

Judul di atas bisa jadi sangat menggelitik. Mengapa? Bukankah keyakinan tentang akhirat—berikut segala kehidupan di dalamnya—dalam akidah Islam sudah final? Banyak kaum muslimin yang memang “nyaman” dengan pemahaman demikian. Namun kenyataan berbicara lain. Masih dan akan terus ada yang berupaya melucuti ajaran-ajaran Islam yang telah baku di kalangan umat. Salah satunya adalah kehidupan akhirat.
Ada kalangan yang mereduksi semua gambaran akhirat yang telah digambarkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Surga dan neraka dalam benak mereka hanyalah sebatas gambaran dunia metafisik. Dengan kata lain, surga dan neraka hanyalah fantasi atau dongeng. Oleh karena itu, setiap muslim tak perlu “merisaukan” kehidupan akhirat tersebut.
Intinya, mereka—yang di antaranya adalah kalangan Islam liberal—hendak menafikan eksistensi surga dan neraka secara fisik seperti disebut al-Qur’an. Bagi mereka, surga, neraka, ash-shirath, dsb, adalah pesan-pesan agama yang bersifat simbolis, jadi (lagi-lagi) perlu dipahami secara kontekstual. Misalnya, ash-shirath yang digambarkan syariat sebagai titian di atas neraka yang lebih halus daripada rambut namun lebih tajam daripada pedang—setebal rambut dibelah tujuh tidak ada riwayatnya, red.—, lantas dimaknai sebagai highways (berbentuk jamak) yang diterjemahkan sebagai jalan-jalan raya menuju kebenaran.
Di pihak lain, memang tak bisa dimungkiri beredar komik masa kecil yang lancang dalam menyuguhkan naturalisasi alam akhirat. Surga dan neraka diilustrasikan secara ngawur. Alhasil, sampai ada gambaran penyiksaan di neraka yang menggunakan setrika layaknya di dunia. Karena kala itu setrika listrik belum jamak digunakan, tentu saja ilustrasinya dengan setrika “djadoel” alias setrika arang.
Di satu sisi, ada juga yang coba mengayunkan gagasan keagamaan menyimpang yang lain. Menurut paham yang tak kalah aneh ini, umat nonmuslim juga mempunyai kesempatan untuk masuk surga, jika mereka beramal saleh serta beriman kepada Allah l dan hari akhir.  Padahal kita tahu mereka tidak menyembah Allah l dan mengimani Rasulullah n, juga tidak melakukan ibadah-ibadah yang disyariatkan dalam Islam. Ini sama artinya meruntuhkan seluruh syariat Islam. Alhasil, tak ada bedanya Islam dengan aliran kebatinan yang cuma bermodal “eling”.
Abaikan sejenak semua yang aneh-aneh itu. Yang perlu kita yakini, surga dan neraka berikut kehidupan akhirat adalah janji Allah l yang pasti. Tak semua berita Allah l lantas harus dilogika, tak perlu pula kita penat berfilsafat. Meskipun demikian, tidak ada berita Ilahi yang bertolak belakang dengan logika yang sehat. Terkadang keterbatasan logika kita yang justru menghambat. Oleh karena itu, cukuplah keimanan kita kedepankan untuk membenarkan berita-berita yang dikabarkan Allah l dan Rasul-Nya tanpa “bersusah payah” menyelewengkan maknanya.
Lebih-lebih, hari akhir telah membentang, sudahkah kita menatap diri, akan menuju ke manakah kita, surga atau neraka? Ataukah kita justru menjadi para pengingkar, menganggap dunia adalah “surga” yang sesungguhnya, lantas tak pernah mengakui adanya surga dan neraka di akhirat,—na’udzubillah. Wallahu a’lam.

 

Mewaspadai Sikap SOMBONG KARENA ILMU

Wahb bin Munabbih t berkata, “Sesungguhnya ilmu dapat membuat sombong sebagaimana harta.”
Masruq t berkata, “Cukuplah seseorang dikatakan berilmu jika ilmu tersebut membuahkan rasa takut kepada Allah k. Sebaliknya, cukuplah seseorang dianggap bodoh tatkala membanggakan diri dengan ilmunya.”
Abu Wahb al-Marwazi t berkata, “Aku bertanya kepada Ibnul Mubarak tentang kesombongan. Beliau menjawab, ‘(Kesombongan) adalah engkau meremehkan dan merendahkan manusia.’ Kemudian aku bertanya kepadanya mengenai ujub (bangga diri). Beliau pun menjawab, ‘(Ujub) adalah engkau memandang bahwa dirimu memiliki sesuatu yang tidak ada pada selainmu’.”
Ibnu Abdil Barr t berkata, “Di antara adab seorang alim yang paling utama adalah bersikap rendah hati (tawadhu’) dan tidak ujub, yakni merasa sombong, bangga, dan terkagum-kagum terhadap ilmu yang dimilikinya. Adab berikutnya, ia berusaha menjauhi kecintaan akan kepemimpinan dengan sebab ilmunya.”
Al-Baihaqi t berkata, “Ketahuilah, fondasi dari suatu kedudukan adalah senang tersebarnya reputasi, cinta ketenaran, dan kemasyhuran, padahal itu merupakan bahaya yang sangat besar. Adapun keselamatan itu terdapat pada lawannya, yakni menjauhi ketenaran.”
Para ulama tidak bertujuan mencari kemasyhuran. Tidak pula mereka menampakkan dan menawarkan diri untuk tujuan tersebut. Mereka juga tidak menempuh sebab-sebab yang menyampaikan ke arah sana. Apabila ternyata kemasyhuran tersebut datang dari sisi Allah l, mereka berusaha melarikan diri darinya. Mereka lebih mengutamakan ketidaktenaran.
(an-Nubadz fi Adabi Thalabil Ilmi hlm. 185—186)