Pengaruh Aqidah Asy’ariyah terhadap Umat

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Paham Asy’ariyah sangat kental sekali dalam tubuh umat Islam dan akidah tersebut terus menyebar di tengah kaum muslimin. Mereka tidak menyadari bahwa paham yang mereka anut adalah paham yang menyimpang dari akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, paham yang baru ada setelah berakhirnya generasi utama umat ini: sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in.

Penyebab Tersebarnya Pemikiran Asy’ariyah
Jika kita telaah, berkembangnya paham Asy’ariyah di berbagai negeri disebabkan beberapa faktor, di antaranya:
1. Anggapan bahwa paham Asy’ariyah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Padahal kita telah ketahui betapa banyak penyimpangan Asy’ariyah dalam masalah akidah, sehingga para ulama menyatakan Asy’ariyah bukanlah Ahlus Sunnah.
2. Di sejumlah negara, paham ini didukung oleh para penguasa. Di kawasan Asia, aliran Asy’ariyah dijadikan aliran resmi Dinasti Gaznawi di India (abad 11-12 M) yang didirikan oleh Mahmud Gaznawi. Berkat jasa Mahmud Gaznawi itulah, aliran ini menyebar dari India, Pakistan, Afghanistan, hingga Indonesia. Aliran Asy’ariyah berkembang sangat pesat pada abad ke-11 M, tepatnya pada masa kekuasaan Aip Arsalan dan Dinasti Seljuk (abad 11-14 M). Menurut sejarah, sang khalifah dibantu oleh perdana menteri yang begitu setia mendukung aliran Asy’ariyah, yakni Nizam al-Mulk. Pada masa itu, penyebaran paham Asy’ariyah mengalami kemajuan yang sangat pesat melalui lembaga pendidikan bernama Madrasah Nizamiyah yang didirikan oleh Nizam al-Mulk.
3. Paham Asy’ariyah juga tersebar seiring menyebarnya Shufiyah (sufi).
4. Paham ini banyak dianut tokoh-tokoh di mazhab fikih. Sebagai contoh, al-Baqilani, adalah tokoh Asy’ariyah yang merupakan tokoh mazhab Maliki.
5. Tersebarnya buku-buku Asy’ariyah, bahkan dijadikan kurikulum standar di lembaga pendidikan, pondok pesantren, dan lainnya.
6. Kedustaan atas nama al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari.
7. Adanya sebagian orang yang masih memasukkan Asy’ariyah dalam kelompok Ahlus Sunnah.
8. Difigurkannya sebagian tokoh Asy’ariyah.
9. Menyebarnya kelompok dakwah yang membawa fikrah Asy’ariyah, seperti Jamaah Tabligh dan thariqat-thariqat (tarekat-tarekat) shufiyah.
10. Banyak lembaga pendidikan baik perguruan tinggi maupun lainnya memasukkan akidah Asy’ariyah dalam kurikulum mereka.
(Lihat Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyairah)

Paham Asy’ariyah Tersebar di Masyarakat Kita
Sangat disayangkan di negeri kita yang merupakan negara berpenduduk muslim terbesar, paham Asy’ariyah sangatlah kental. Mayoritas muslimin menganggap bahwa yang dimaksud Ahlus Sunnah adalah paham Asy’ariyah. Mereka tidak paham dan tidak menyadari penyimpangan Asy’ariyah dari akidah Ahlus Sunnah dan prinsip al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t.
Bukti kuatnya pengaruh Asy’ariyah di masyarakat kita:
1. Paham Asy’ariyah diajarkan sejak dini di surau, masjid, majelis taklim, TPA, dan lainnya. Kita ingat dan mendengar bagaimana anak-anak kecil didikte untuk menghafal sifat dua puluh. Sifat dua puluh mulai diperkenalkan oleh seorang Asy’ari, yaitu as-Sanusi.

2. Buku-buku berpaham Asy’ariyah dijadikan kurikulum baku di lembaga-lembaga pendidikan. Sebagai contoh: Diajarkannya sifat dua puluh di sekolah-sekolah.

3. Tokoh-tokoh Asy’ariyah menjadi figur banyak kaum muslimin, bahkan karya-karya mereka menjadi rujukan.
Di antara tokoh-tokoh Asy’ariyah yang masyhur di negeri ini adalah al-Baqilani, Abu Hamid al-Ghazali, ar-Razi, as-Sanusi, Muhammad Nawawi al-Bantani, Said Hawa, al-Juwaini, dan Sirajudin Abas.
Sebagian peneliti mengungkapkan bahwa al-Juwaini adalah penganut Asy’ariyah tulen. Sementara itu, sebagian yang lain meyakini bahwa ia pengikut Mu’tazilah. Kelompok pertama memberikan argumen bahwa al-Juwaini pernah belajar kepada Abu Qasim al-Isframi, seorang ahli teologi Asy’ariyah. Ia juga pernah berguru kepada tokoh Asy’ariyah yang lain, yakni al-Baqilani.
Bukti lain keterkaitan al-Juwaini dengan aliran Asy’ariyah adalah ia pernah mengajar di Madrasah Nizamiyah Nisyapur selama 23 tahun. “Kesuksesan” al-Juwaini dalam mendidik murid-muridnya di Madrasah Nizamiyah itu diungkap secara terperinci dalam buku Al-Juwaini, Peletak Dasar Teologi Rasional dalam Islam karangan Tsuroya Kiswati (Guru Besar Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya).

4. Di pondok-pondok pesantren, diajarkan di sana kitab-kitab yang berpemikiran Asy’ariyah, misalnya:
• Aqidatul Awam yang diajarkan di pondok-pondok pesantren, mengajar sifat dua puluh yang merupakan prinsip Asy’ariyah
• Tafsir Jalalain, terutama dalam hal sifat-sifat Allah l
• Ihya Ulumudin
• Ummu Barahin
• Kasyifah al-Haji
• Qathr Ghaits
• Masail al-Laits

5. Banyaknya kelompok dakwah yang membawa paham Asy’ariyah, di antaranya:
• Jamaah Tabligh, mereka ini sebagaimana dikatakan asy-Syaikh al-Albani adalah shufiyah (sufi) abad ini.
• Ikhwanul Muslimin, kita telah tahu bahwa pergerakan ini didirikan di atas thariqat, karena Hasan al-Banna adalah pengikut tarekat dan banyak tokoh IM mendakwahkan paham Asy’ariyah.
• Tarekat-tarekat shufi.

Bagaimana Membendung Arus Pemikiran Asy’ariyah?
a. Mengajak umat untuk kembali mempelajari ilmu dari sumber yang murni yakni al-Qur’an dan as-Sunnah dengan merujuk kepada kitab-kitab salaf (ulama terdahulu).
b. Meninggalkan taklid, mengajak mereka untuk menjauhkan diri dari taklid.
c. Membacakan dan menyampaikan biografi Abul Hasan secara utuh dan pemikiran-pemikirannya.
d. Menyadarkan umat dan memberikan pemahaman kepada mereka bahwa Asy’ariyah bukanlah Ahlus Sunnah dan Ahlus Sunnah bukan Asy’ariyah.
Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang konsekuen dengan istiqamah di atas manhaj Rasulullah n dan sahabat beliau, sebagaimana dalam hadits, “(Mereka) adalah yang mengikuti jalanku dan jalan para sahabatku.”
Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi sedikit pencerahan bagi kaum muslimin, dan mudah-mudahan Allah l memberikan kemudahan bagi kaum muslimin untuk memahami agamanya, untuk kemudian mengamalkan ajaran Islam yang mulia ini.

Kullabiyah, Pendahulu Asy’ariyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Siapakah Kullabiyah?
Kullabiyah adalah orang-orang yang menisbahkan diri kepada Abdullah bin Said bin Kullab, masyhur dengan Ibnu Kullab.
Al-Imam adz-Dzahabi berkata, “Dia adalah tokoh ahlul kalam (filsafat) dari Bashrah di zamannya.”

Pemikiran Ibnu Kullab
Ibnu Kullab menafikan sifat-sifat yang berkaitan dengan masyiah dan iradah (kehendak), seperti datang, cinta, benci, dan lain-lain.
Mereka menyatakan bahwa sifat kalam itu seperti sifat ilmu dan qudrah, tidak dengan huruf atau suara dan tidak terbagi. Al-Qur’an adalah hikayat (ungkapan) kalamullah. Dia menyatakan bahwa iman hanyalah ma’rifah dan ikrar dengan lisan. (Lihat Mauqif Ibnu Taimiyah minal Asya’irah)

Murid-Murid Ibnu Kullab
Al-Imam adz-Dzahabi t mengisyaratkan, di antara murid Ibnu Kullab adalah Dawud azh-Zhahiri dan Harits al-Muhasibi.

Sikap Ulama Ahlus Sunnah terhadap Kullabiyah
Ibnu Khuzaimah t berkata ketika ditanya oleh Abu Ali ats-Tsaqafy, “Apa yang kau ingkari, wahai ustadz, dari mazhab kami supaya kami bisa rujuk darinya?”
Ibnu Khuzaimah berkata, “Karena kalian condong kepada pemahaman Kullabiyah. Ahmad bin Hanbal termasuk orang yang paling keras terhadap Abdullah bin Said bin Kullab dan teman-temannya, seperti Harits dan lainnya.”
Al-Imam Ahmad t pernah memerintahkan kaum muslimin untuk mengisolir Harits al-Muhasibi, sehingga tidak ada yang shalat bersama Harits kecuali empat orang.
Ibnu Taimiyah t berkata, “Adapun Harits al-Muhasibi dia digolongkan sebagai pengikut Ibnu Kullab. Oleh karena itu, al-Imam Ahmad t memerintahkan mengisolirnya, al-Imam Ahmad memang memperingatkan umat dari Ibnu Kullab dan pengikutnya.”
Abu Abdurrahman as-Sulami juga mengecam Kullabiyah.

Hubungan Kullabiyah dengan Asyariyah
Ibnu Taimiyah t berkata, “Kullabiyah adalah guru-guru orang Asy’ariyah, karena Abul Hasan al-Asy’ari mengikuti jalan Abu Muhammad bin Kullab….” (Kitab Istiqamah)
Dalam Majmu’ Fatawa beliau berkata, “Abul Hasan menempuh jalan Ibnu Kullab dalam masalah keyakinan terhadap sifat Allah….” (Majmu Fatawa, 12/178)

Asy’ariyah, bukan Pengikut abul Hasan Al-Asy’ari

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Telah kita ketahui bahwa Asy’ariyah adalah kelompok ahlul kalam yang muncul setelah berakhirnya masa generasi utama. Kelompok ini menisbahkan diri mereka kepada Abul Hasan al-Asy’ari t.
Dalam pembahasan sebelumnya, kita mengetahui bahwa Asy’ariyah bukanlah Ahlus Sunnah dan telah kita ketahui beberapa penyimpangan mereka dari as-Sunnah, maka dalam tulisan ini kami ingin menunjukkan bahwa paham mereka pun berbeda dengan akidah Abul Hasan al-Asy’ari.
Jika kita bandingkan akidah mereka dengan akidah al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari, akan kita dapatkan bahwa nisbah (penyandaran) mereka kepada Abul Hasan al-Asy’ari hanyalah pengakuan semata. Nyatanya, mereka banyak menyelisihi akidah al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t.
Sebelum kita membuktikan penyimpangan Asy’ariyah dari Ahlus Sunnah wal Jamaah, kami akan menyebutkan beberapa ucapan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari yang menjelaskan prinsip akidah beliau.

Dalam Kitab al-Ibanah
Beliau t berkata, “Pendapat yang kami yakini dan agama yang kami beragama dengannya, ‘Berpegang teguh dengan kitab Rabb kita dan sunnah nabi kita Muhammad n dan yang diriwayatkan dari para sahabat, tabiin, dan aimatul (para imam) hadits. Kami berpegang teguh dengannya dan dengan pendapat yang diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal—mudah-mudahan Allah l menyinari wajahnya dan mengangkat derajatnya serta memberinya pahala yang banyak—, dan kami menjauhkan diri dari pendapat-pendapat yang menyelisihi prinsip al-Imam Ahmad bin Hanbal, karena beliau adalah imam yang memiliki keutamaan, seorang tokoh yang dengannya Allah l menjelaskan al-haq, menolak kebatilan, menjelaskan manhaj serta menghancurkan kebid’ahan ahlul bid’ah, penyimpangan orang-orang yang menyimpang dan menghilangkan keraguan orang-orang yang ragu….”
Kemudian beliau t berkata:
• Allah l memiliki wajah, namun tidak boleh menanyakan bagaimananya, sebagaimana dalam firman-Nya:
‘Dan tetap kekal wajah Rabbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.’ (ar-Rahman: 27)
• Allah l memiliki dua tangan, namun tidak boleh ditanyakan bagaimananya, sebagaimana dalam firman-Nya:
Allah berfirman, ‘Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku….’ (Shad: 75)
‘(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka.’ (al-Maidah: 64)
• Allah memiliki dua mata, namun tidak boleh ditanyakan bagaimananya, sebagaimana firman Allah l:
‘Yang berlayar dengan penglihatan dua mata kami.’ (al-Qamar: 14).”

Dalam Kitab Maqalat al-Islamiyin
Beliau menjelaskan secara global akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Ahlul Hadits, dan beliau menegaskan bahwa beliau meyakininya dan beragama dengannya, “Inilah nukilan pendapat Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah, sejumlah (prinsip) yang diyakini oleh Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah secara global:
• Beriman kepada Allah l, malaikat-Nya, kitab-kitab dan rasul-rasul-Nya, serta mengimani semua yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya melalui jalan orang-orang tepercaya, tidak menolaknya sedikit pun.
• Allah l adalah satu, tempat bergantung makhluk-Nya, tidak ada sesembahan yang benar selain Dia, tidak memiliki istri atau anak, Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya;
• Beriman bahwa surga dan neraka adalah haq, kiamat pasti akan datang.
• Beriman bahwa Allah l akan membangkitkan penghuni kubur.
• Mengimani bahwa Allah l di atas Arsy-nya, sebagaimana firman-Nya:
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pengasih, Yang breistiwa di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)
• Mengimani bahwa Allah l memiliki dua tangan, namun jangan ditanya bagaimananya, sebagaimana dalam firman-Nya:
“Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku.” (Shad: 75)
• Allah l memiliki dua mata, namun jangan ditanya bagaimananya, sebagaimana dalam firman-Nya:
‘Yang berlayar dengan penglihatan dua mata kami.’
• Allah l memiliki wajah, namun jangan ditanya bagaimananya, sebagaimana dalam firman-Nya:
‘(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka.’ (al-Maidah: 64)
Beliau t juga mengatakan bahwa:
• Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
• Membenarkan hadits-hadits yang menyebutkan bahwa Allah l turun ke langit dunia lalu berfirman, ‘Apakah ada yang meminta ampun sehingga Aku memberinya ampunan?’ sebagaimana dalam hadits yang sahih.
• Berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana dalam firman-Nya:
ﰀ ﰁ ﰂ ﰃ ﰄ ﰅ ﰆ ﰇ
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya).” (an-Nisa: 59)
• Berpendapat untuk mengikuti salaf umat ini dan tidak berbuat bid’ah dalam agama yang tidak diizinkan oleh Allah l.”
Kemudian beliau t berkata, “Kami berpendapat dan bermazhab dengan semua pendapat mereka yang telah kami sebutkan di atas, tidaklah datang taufik kepada kita melainkan dari Allah l. Dialah pencukup kami dan Dia adalah sebaik-baik tempat bertawakal. Kepada-Nya kita meminta tolong dan bertawakal, serta kepada-Nya kita kembali.” (Maqalat al-Islamiyin)

Dalam Suratnya kepada Penduduk Perbatasan
Beliau t berkata, “Mereka telah ijma’ menetapkan sifat hidup bagi Allah l, terus-menerus hidup, Allah l memiliki sifat ilmu dan terus-menerus berilmu, memiliki sifat kuasa dan terus-menerus berkuasa, memiliki sifat kalam, dan tetap memilikinya, memiliki kehendak dan terus-menerus berkehendak, memiliki sifat mendengar dan melihat, serta Dia terus-menerus Maha Mendengar dan Melihat.”
Beliau t berkata, “Mereka ijma’ bahwasanya Allah l mendengar dan melihat, memiliki dua tangan yang terbentang, bumi digenggam-Nya pada hari kiamat dan matahari terlipat di tangan kanan-Nya, namun tidak seperti anggota tubuh manusia dan dua tangan-Nya bukanlah nikmat, dan ini menunjukkan kemuliaan yang Dia berikan kepada Adam yang diciptakan dengan tangan-Nya, dan cercaan-Nya kepada Iblis karena sombong tidak mau sujud kepada Adam, yang telah diberi kemuliaan oleh Allah l dengan firman-Nya:
Allah berfirman, ‘Hai iblis, apakah yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tangan-Ku….’ (Shad: 75)
Mereka ijma’ bahwa Allah l datang di hari kiamat dalam keadaan malaikat bershaf-shaf, ketika ditampakkan umat-umat untuk dihisab…. Allah l mengampuni orang yang berdosa bagi yang dikehendaki-Nya dan menyiksa orang yang dikehendaki-Nya.”
Beliau t berkata, “Allah l ada di atas Arsy-nya, tidak di bumi. Ini telah ditunjukkan oleh firman Allah l:
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di atas langit bahwa dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?” (al-Mulk: 16)
Firman Allah l:
“Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya, kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya, dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras, dan rencana jahat mereka akan hancur.” (Fathir: 10)
Firman Allah l:
“(Yaitu) Rabb Yang Maha Pemurah, yang bersemayam di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5) [Dinukil dari Ta’kidat Musalamat Salafiyat]
Sekarang kita buktikan bahwa akidah Asy’ariyah berbeda dengan akidah Abul Hasan al-Asy’ari.
1. Abul Hasan menyatakan Allah l memiliki wajah, tangan, dan dua mata yang sesuai dengan kemuliaan-Nya.
Adapun Asy’ariyah menafikannya, mereka melakukan takwil dalam memaknakan nash-nash yang ada tentang masalah tersebut.
2. Abul Hasan mengimani semua yang datang dari Allah l dan Rasul-Nya melalui jalan orang-orang tepercaya, tidak menolaknya sedikit pun.
Adapun Asy’ariyah, mereka menolak nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah yang menurut mereka bertentangan dengan akal.
Ibnu Taimiyah t berkata, “Ucapan ini—yaitu mendahulukan akal dari nash al-Qur’an dan as-Sunnah—asalnya adalah ucapan Jahmiyah, Mu’tazilah, dan semisal mereka, bukanlah ucapan Abul Hasan al-Asy’ari dan sahabatnya….” (Darut Ta’arudh, 7/97) (Lihat Ta’kidat Musalamat hlm. 21)
3. Abul Hasan mengimani bahwa Allah l di atas Arsy-Nya.
Adapun Asy’ariyah, kebanyakan mereka menyatakan Allah l ada di mana-mana.
4. Abul Hasan berkata, “Iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.”
Adapun Asy’ariyah menyatakan bahwa iman hanya pembenaran dengan hati.
5. Abul Hasan berkata membenarkan hadits-hadits yang menyebutkan Allah l turun ke langit dunia.”
Adapun Asy’ariyah, mereka tidak menetapkan sifat-sifat fi’liyah (perbuatan).
6. Abul Hasan menetapkan sifat istiwa’ bagi Allah.
Adapun Asy’ariyah tidak menetapkan sifat istiwa’. Mereka menakwilnya menjadi kekuasaan, sebagaimana dilakukan ar-Razi dan al-Amidi.
7. Abul Hasan berkata, “Mereka (Ahlus Sunnah) ijma’ bahwa Allah l datang di hari kiamat dalam keadaan malaikat bershaf-shaf.”
Asy’ariyah tidak menetapkannya, mereka menakwilnya dengan takwilan batil.
Inilah sebagian penyelisihan Asy’ariyah terhadap al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari. Mudah-mudahan apa yang kami sampaikan cukup sebagai bukti bahwa Asy’ariyah bukanlah pengikut Abu Hasan al-Asy’ari t.
Mengapa Asy’ariyah Terjatuh ke dalam Takwil?
Ibnu Taimiyah t berkata, “Barang siapa yang menyatakan Abul Hasan al-Asy’ari menafikan sifat dan beliau memiliki dua pendapat dalam menakwilkan sifat Allah l, maka orang tersebut telah berdusta atas nama Abul Hasan t.
Yang melakukan takwil seperti ini adalah pengikutnya yang belakangan seperti Abul Ma’ali dan lainnya. Mereka memasukkan ushul (akidah/prinsip pokok) Mu’tazilah ke dalam mazhabnya.” (Majmu Fatawa, 12/203)

 

Ulama yang Menyatakan Asy’ariyah Bukan Ahlus Sunnah

1. Al-Imam Ahmad bin Hanbal t
Ibnu Khuzaimah t ditanya oleh Abu Ali ats-Tsaqafi, “Apa yang kau ingkari, wahai ustadz, dari mazhab kami supaya kami bisa rujuk darinya?”
Beliau menjawab, “Kalian condong kepada pemahaman Kullabiyah. Ahmad bin Hanbal termasuk orang yang paling keras terhadap Abdullah bin Said bin Kullab dan teman-temannya, seperti Harits dan lainnya.”
Perlu diketahui bahwa Kullabiyah adalah masyayikh (guru-guru/senior) Asy’ariyah.
Ibnu Taimiyah t berkata, “Kullabiyah adalah guru-guru orang Asy’ariyah….” (Kitab Istiqamah)
2. Ibnu Qudamah t
Beliau berkata, “Kami tidak mengetahui kelompok ahlul bid’ah yang menyembunyikan pemikiran-pemikirannya dan tidak berani menampakkannya selain Zanadiqah dan Asy’ariyah.”
3. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t
Beliau berkata, “Asya’irah (Asy’ariyah), Maturidiyah, dan yang semisal mereka bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah.”
4. Asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi
Pendapat yang benar, Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk kelompok ahlul bid’ah, tidak boleh seorang pun menyatakan Asy’ariyah adalah Ahlus Sunnah. Barang siapa yang menyatakan dua kelompok ini Ahlus Sunnah wal Jamaah berarti telah menjerumuskan dirinya dalam kesalahan fatal dan bahaya yang besar. (at-Ta’kid hlm. 7)
5. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk Ahlus Sunnah?”
Beliau menjawab, “Mereka tidak teranggap sebagai Ahlus Sunnah. Tidak ada seorang pun yang menggolongkan mereka ke dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka memang menamakan diri mereka termasuk Ahlus Sunnah akan tetapi mereka bukanlah Ahlus Sunnah.” (Lihat Ta’kid Musallamat Salafiyah, hlm. 19—30)

Penyimpangan-penyimpangan Asy’ariyah

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Setelah kita menelusuri sosok Imam Abul Hasan al-Asy’ari, ternyata beliau adalah salah seorang ulama Ahlus Sunnah, bahkan dengan tegas beliau menyatakan berakidah seperti akidah al-Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal t.
Sekarang masih ada satu pertanyaan yang perlu kita jawab, yaitu Benarkah Asy’ariyah termasuk golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah?
Untuk menjawab masalah ini kita harus mengetahui hakikat kelompok ini dan pemikiran-pemikirannya.

Siapakah Asy’ariyah?
Kelompok Asy’ariyah adalah kelompok yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah dan menganut paham al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t.
Benarkah pengakuan mereka? Karena banyak yang mengaku dirinya sebagai Ahlus Sunnah, padahal akidahnya jauh dari akidah Ahlus Sunnah.
Allah l berfirman:
“Datangkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 111)
Kata pepatah Arab:
Semua orang mengaku sebagai kekasih Laila
Padahal Laila tidak mengakui mereka sebagai kekasihnya

Sejarah Munculnya Paham Asy’ariyah
Telah kita ketahui bahwa bibit pemikiran Asy’ariyah muncul ketika Abul Hasan al-Asy’ari mengkritisi pemikiran Mu’tazilah ayah tirinya yakni Abu Ali al-Jubba’i, padahal itu terjadi jauh setelah masa generasi utama berakhir, bahkan setelah zaman Imam Ahlus Sunnah al-Imam Syafi’i t.
Berarti, di zaman sahabat, tabiin, tabiut tabiin, bahkan di zaman al-Imam Malik, Abu Hanifah, dan al-Imam Syafi’i, belum ada yang namanya paham Asy’ariyah. Telah kita ketahui pula bahwa Abul Hasan al-Asy’ari sendiri telah rujuk dari pendapatnya, menegaskan bahwa beliau di atas akidah al-Imam Ahmad bin Hanbal t.
Jadi siapakah panutan Asy’ariyah, jika imam yang empat saja tidak mengenal paham mereka?!

Sumber Ilmu Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah satu kelompok ahlul kalam, yakni mereka yang berbicara tentang Allah l dan agama-Nya tidak berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah, mereka mengutamakan ra’yu (akal) mereka dalam membahas perkara agama. Oleh karena itu, kita akan mendapatkan penyimpangan mereka dalam ber-istidlal (pengambilan dalil).
Di antara prinsip mereka yang menyimpang dalam berdalil:
1. Dalil-dalil sam’i adalah dalil-dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah mutawatir, bukan hadits-hadits ahad, karena hadits ahad bukanlah hujah dalam masalah akidah.
Ar-Razi berkata dalam Asasut Tadqis, “Adapun berpegang dengan hadits ahad dalam mengenal Allah l tidaklah diperbolehkan.”
2. Mendahulukan akal daripada dalil
Hal ini telah disebutkan oleh al-Juwaini, ar-Razi, al-Ghazali, dan lainnya
Sebagai contoh: Ar-Razi menjelaskan dalam Asasut Taqdis, “Jika nash bertentangan dengan akal maka harus mendahulukan akal.”
3. Nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah dhaniyatud dalalah (kandungannya hanya bersifat kira-kira), tidak menetapkan keyakinan dan kepastian.
4. Menakwil nash-nash al-Qur’an dan as-Sunnah tentang nama-nama dan sifat Allah l.
5. Sering menukil ucapan falasifah (orang-orang filsafat), ini kental sekali dalam kitab-kitab mereka sepeti Ihya Ulumudin.
(Lihat Ta’kid Musallamat Salafiyah, Mauqif Ibnu Taimiyah Minal Asyairah)

Penyimpangan-Penyimpangan Asy’ariyah
Allah l menjelaskan bahwa jalan kebenaran hanya satu, Allah l berfirman:
“Dan inilah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia.” (al-Anam: 153)
Rasulullah n menjelaskan bahwa jalan tersebut adalah jalannya dan jalan yang telah ditempuh para sahabatnya, beliau n bersabda:
“Umatku terpecah menjadi 73 golongan: 72 di neraka dan 1 yang selamat. Mereka adalah al-jama’ah.”
dalam riwayat lain:
”(mereka adalah yang berjalan) di atas jalanku dan jalan sahabatku.” merekalah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Ahlul Hadits.
Ketika Asy’ariyah menyelisihi jalan Ahlus Sunnah wal Jamaah maka mereka pun terjatuh dalam penyimpangan-penyimpangan dalam prinsip agama.
Di antara penyimpangan mereka:
1. Dalam masalah tauhid
Asy’ariyah menyatakan tauhid adalah (sekadar) menafikan berbilangnya pencipta… sehingga umumnya mereka menafsirkan kalimat tauhid hanya sebatas tauhid rububiyah, yaitu tidak ada pencipta atau tidak ada yang bisa mencipta selain Allah l. Mayoritas mereka tidak mengenal tauhid uluhiyah.
Adapun Ahlus Sunnah meyakini bahwa tauhid ada tiga: tauhid rububiyah, uluhiyah, dan asma wa sifat.
Ahlus Sunnah meyakini bahwa tauhid adalah kewajiban pertama atas seorang hamba, terkhusus tauhid uluhiyah, karena untuk itulah manusia diciptakan. Allah l berfirman:
“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (adz-Dzariat: 56)

2. Dalam masalah iman
Asy’ariyah dalam masalah iman di atas mazhab Murji’ah Jahmiyah. Mereka menyatakan iman hanyalah tasdiq bilqalbi (pembenaran dengan hati).
Mereka menyatakan bahwa iman hanyalah membenarkan. Mereka tidak menyatakan amal termasuk dari iman dan tidak memvonis seseorang telah terjatuh dalam kekafiran dengan semata kesalahan amalan anggota badan.
Mereka pun akhirnya terjatuh dalam menakwilkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah n.
Adapun Ahlus Sunnah menyatakan bahwa iman adalah keyakinan dengan hati, ucapan dengan lisan, dan amalan dengan anggota badan, bisa bertambah dan berkurang. Iman bertambah dengan melaksanakan ketaatan dan berkurang dengan sebab perbuatan maksiat.

3. Dalam masalah asma wa sifat
Asy’ariyah memiliki kebid’ahan dengan menetapkan sifat ma’ani tujuh sifat saja. Dasar mereka dalam menetapkannya adalah akal. Tujuh sifat yang mereka tetapkan pun tidak bermakna seperti makna yang ditetapkan Ahlus Sunnah.
Kemudian ditambah oleh seorang tokoh mereka yakni as-Sanusi menjadi dua puluh. Mereka mengingkari sifat-sifat lainnya yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka tidak menetapkan satu pun sifat fi’liyah bagi Allah l (seperti istiwa, nuzul, cinta, ridha, marah, dan lainnya).
Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah menetapkan semua nama Allah l dan sifat-sifat-Nya yang telah disebutkan dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tanpa tahrif, takwil (penyelewengan), dan tamtsil (penyerupaan dengan makhluk).

4. Dalam masalah al-Qur’an
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Dalil-dalil tentang masalah ini sangatlah banyak. Allah l berfirman:
“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam Allah (yakni al-Qur’an).” (at-Taubah: 6)
Rasulullah n bersabda:
“Adakah kaum yang mau membawa dan melindungiku, karena sesungguhnya Quraisy telah mencegahku untuk menyampaikan kalam Rabbku (al-Qur’an).”
Dalam masalah inilah para ulama Ahlus Sunnah dizalimi. Al-Imam Ahmad dan para ulama Ahlus Sunnah lainnya mendapatkan cobaan yang dahsyat.
Orang-orang Mu’tazilah berhasil menghasut penguasa ketika itu sehingga menjadikan paham Mu’tazilah sebagai akidah resmi dan memaksa semua orang untuk mempunyai keyakinan ini.
Berapa banyak para ulama Ahlus Sunnah meninggal dalam mempertahankan akidah Ahlus Sunnah dan sebagian lainnya terzalimi (di antaranya dengan dipenjara).
Ahlus Sunnah wal Jamaah meyakini bahwa semua yang tertulis dalam mushaf, dihafal di dada adalah al-Qur’an. Ahlus Sunnah meyakini bahwa kalamullah adalah dengan huruf dan suara, dapat didengar dan dapat dimengerti.
Al-Imam Ahmad t berkata, “Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk. Jangan engkau lemah untuk mengatakan, ‘Bukan makhluk.’ Sesungguhnya kalamullah itu bukanlah sesuatu yang terpisah dari Dzat Allah l, dan sesuatu yang berasal dari Dzatnya itu bukanlah makhluk. Jauhilah berdebat dengan orang yang hina dalam masalah ini dan golongan lafzhiyah (ahlul bid’ah yang mengatakan, ‘Lafadzku ketika membaca al-Qur’an adalah makhluk’) dan lainnya atau dengan orang yang tawaquf (abstain) dalam masalah ini yang berkata, ‘Aku tidak tahu al-Qur’an itu makhluk atau bukan makhluk, tetapi yang jelas al-Qur’an itu adalah kalamullah’. Orang ini (yang tawaquf) adalah ahlul bid’ah sebagaimana halnya orang yang mengatakan bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Ketahuilah, (keyakinan Ahlus Sunnah adalah) al-Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk.” (Lihat Ushulus Sunnah)
Mu’tazilah telah sesat dalam masalah ini dan lainnya. Kesesatan Mu’tazilah karena mereka menyatakan al-Qur’an adalah makhluk bukan kalamullah.
Adapun penyimpangan Asy’ariyah karena mereka mencocoki Ahlus Sunnah dari satu sisi dan menyepakati Mu’tazilah dari sisi lainnya.
Kaum Asy’ariyah berkata, “Al-Qur’an maknanya adalah kalamullah, adapun lafadznya adalah hikayat (ungkapan) dari kalamullah, artinya lafadz al-Qur’an, menurut mereka, adalah makhluk.”
Hal ini karena dalam pandangan Mu’tazilah, Allah l tidak berbicara, dan dalam pandangan Asy’ariyah Allah l berbicara tapi hanya dalam jiwanya, tidak terdengar.
5. Dalam masalah takdir
Mereka jabriyah dalam masalah takdir, hanya menetapkan iradah (kehendak) kauniyah dan tidak menetapkan iradah syar’iyah. Menurut mereka, seorang hamba tidak memiliki qudrah (kuasa), mereka hanya menetapkan kemampuan dan qudrah seorang hamba ketika berbuat saja, mereka menafikan adanya qudrah hamba sebelum berbuat.
Adapun Ahlus Sunnah menetapkan adanya iradah kauniyah dan syar’iyah, menetapkan masyiah dan qudrah bagi hamba.

6. Penyimpangan Asy’ariyah dalam masalah takwil/penyelewengan
Sebagai contoh, ar-Razi dan al-Amidy menakwilkan makna istiwa menjadi: menguasai, mengalahkan, serta pasti terjadinya takdir dan hukum ilahiyah. (Asasut Taqdis dan Ghayatul Maram)
Contoh lain, menakwilkan sifat wajah. Al-Baghdadi berkata, “Yang sahih menurut kami yang dimaksud wajah adalah dzat.” (Ushuluddin)
Disebutkan oleh Ibnu Taimiyah bahwa takwil yang ada di tengah-tengah manusia seperti takwil yang disebutkan oleh Ibnu Faurak dalam kitab Takwil, Muhammad bin Umar ar-Razi dalam kitabnya Ta’sisut Taqdis, juga ada pada Abul Wafa Ibnu Aqil dan Abu Hamid al-Ghazali, takwil-takwil tersebut adalah takwil yang bersumber dari Bisyr al-Marisi, seorang tokoh Mu’tazilah. (Lihat Majmu Fatawa: 5/23)

7. Penyimpangan Asy’ariyah dalam masalah illat (sebab/hikmah) dalam perbuatan Allah l
Mereka tidak menetapkan ‘ilat (sebab) dan hikmah bagi perbuatan Allah l.
Adapun Ahlus Sunnah menyatakan semua yang Allah l lakukan mengandung hikmah yang sangat tinggi.

8. Orang-orang Asy’ariyah setelah masa Abul Ma’ali al-Juwaini mengingkari bahwa Allah l di atas makhluk-Nya.

9. Mereka memperluas permasalahan karamah hingga menyatakan bahwa mukjizat para nabi mungkin saja terjadi atas para wali.

10. Menetapkan Allah l dilihat tanpa dari arah. Hingga akhir ucapan mereka mengingkari ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah l di akhirat)

11. Menyatakan akal tidak bisa menetapkan baik buruknya sesuatu.

12. Menyatakan tidak sah keislaman seseorang setelah mukallaf sampai ragu terlebih dahulu.
(Lihat Takidat Musallamat Salafiyah hlm. 35—36, dan Mauqif Ibnu Taimiyah minal Asya’irah)

 

MEMILIH TEMAN YANG BAIK

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib z bahwa beliau mengatakan,
عَنِ الْمَرْءِ لاَ تَسْأَلْ وَسَلْ عَنْ قَرِيْنِهِ
فَكُلُّ قَرِينٍ بِالْمُقَارِنِ يَقْتَدِي
Jangan engkau tanya tentang seseorang, tanyalah tentang temannya,
karena setiap orang itu akan meneladani temannya
Diriwayatkan juga bahwa beliau z berkata,
وَلاَ تَصْحَبْ أَخَا الْجَهْلِ وَإِيَّاكَ وَإِيَّاهُ
فَكَمْ مِنْ جَاهِلٍ أَرْدَى حَلِيمًا حِيْنَ يَلْقَاهُ
يُقَاسُ الْمَرْءُ بِالْمَرْءِ إِذَا مَا هُوَ مَاشَاهُ
وَلِلشَّيْءِ عَلَى الشَّيْءِ مَقَايِيْسُ وَأَشْبَاهُ
وَلِلْقَلْبِ عَلَى الْقَلْبِ دَلِيْلٌ حِيْنَ يَلْقَاهُ
Janganlah engkau berteman dengan orang bodoh, hati-hatilah darinya
Betapa banyak orang bodoh membinasakan seorang santun ketika keduanya bertemu
Seseorang disamakan dengan orang lain ketika ia berjalan bersamanya
Sesuatu itu dengan sesuatu yang lain memiliki kesamaan dan keserupaan
Hati itu dengan hati yang lain ada penunjuk ketika berjumpa

(Adabul ‘Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah, Abul Barakat al-Ghazzi)

Napak Tilas Perjalanan Hidup al-Imam Abul Hasan Al-asy’ari

(ditulis oleh: Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi, Lc.)

Mengkaji biografi ulama dan becermin dari perjalanan hidup mereka adalah bekal utama menjalani kehidupan. Padanya terdapat berbagai pengajaran berharga (ibrah) dan nilai-nilai keteladanan yang sangat berguna bagi setiap insan. Betapa banyak jiwa yang lalai menjadi taat, yang sekarat menjadi sehat, yang lemah menjadi kuat, dan yang tersesat menjadi terbimbing di atas jalan kebenaran.
Di antara para ulama yang mulia itu adalah al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t, sang pencari kebenaran. Beliau adalah seorang ulama terkemuka dari keturunan sahabat Abu Musa al-Asy’ari z yang asal-usulnya dari negeri Yaman. Perjalanan hidup beliau pun sangat menarik untuk disimak dan dijadikan bahan renungan, mengingat ada tiga fase keyakinan yang beliau lalui. Fase pertama bersama Mu’tazilah, fase kedua bersama Kullabiyah, dan terakhir bersama Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah setelah mendapatkan hidayah dari ar-Rahman.
Nama beliau kesohor di berbagai penjuru dunia sebagai panutan mazhab Asy’ari (yang hakikatnya adalah mazhab Kullabiyah), padahal itu adalah fase kedua dalam kehidupan beragama yang telah beliau tinggalkan. Beliau pun wafat dalam keadaan berpegang teguh dengan manhaj salaf, Ahlus Sunnah wal Jamaah, satu-satunya jalan kebenaran yang diwariskan oleh Rasulullah n dan para sahabatnya yang budiman.

Nama dan Garis Keturunan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari
Beliau adalah Ali bin Ismail bin Ishaq (Abu Bisyr) bin Salim bin Ismail bin Musa bin Bilal bin Abu Burdah bin Abu Musa al-Asy’ari. Beliau lahir di Bashrah (Irak) pada tahun 260 H dan wafat di Baghdad (Irak) pada tahun 324 H. Beliau dikenal dengan sebutan Abul Hasan al-Asy’ari. Abul Hasan adalah kuniah beliau.1 Adapun al-Asy’ari adalah nisbah (penyandaran) kepada kabilah al-Asy’ar2, salah satu kabilah besar di negeri Yaman, yang berpangkal pada diri Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Laqab (julukan) beliau adalah Nashiruddin (pembela agama).3
Ayah beliau, Ismail bin Ishaq, adalah seorang sunni yang mencintai ilmu hadits dan berpegang teguh dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana penuturan Abu Bakr Ibnu Furak. Bahkan, menjelang wafatnya, sang ayah dengan penuh antusias berwasiat agar Abul Hasan kecil dibimbing oleh al-Hafizh Abu Yahya Zakaria bin Yahya as-Saji, seorang pakar fikih dan hadits kota Bashrah yang berpegang teguh dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. (Lihat Jamharah Ansabil Arab karya al-Imam Ibnu Hazm 1/163, al-Ansab karya al-Imam as-Sam’ani 1/266, Nihayatul Arab fi Ma’rifatil Ansab karya al-Qalqasandi, Tabyin Kadzibil Muftari karya al-Imam Ibnu Asakir, hlm. 35, dan Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 45)
Ditinjau dari garis keturunannya, al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari adalah keturunan dari sahabat Abdullah bin Qais bin Hadhdhar al-Asy’ari al-Yamani z, yang dikenal dengan sebutan Abu Musa al-Asy’ari z. Beliau adalah salah seorang sahabat Nabi n yang terkenal akan keilmuan dan keindahan suaranya dalam membaca al-Qur’an. Adapun pernyataan Abu Ali al-Hasan bin Ali bin Ibrahim al-Ahwazi dalam kitabnya Matsalib Ibni Abi Bisyr bahwa al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari bukan keturunan Abu Musa al-Asy’ari z, namun keturunan Yahudi yang kakeknya diislamkan oleh sebagian orang dari kabilah al-Asy’ar, menurut al-Imam Ibnu Asakir t hal ini merupakan kedustaan dan kebodohan yang nyata. (Lihat al-Ansab karya al-Imam as-Sam’ani 1/266, Tahdzibut Tahdzib karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani 5/362, dan Tabyin Kadzibil Muftari karya al-Imam Ibnu Asakir, hlm. 147)

Kepribadian al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari
Al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t adalah seorang yang berbudi pekerti luhur dan terkenal kejeniusannya. Pola hidupnya sederhana, selalu diiringi oleh sifat zuhud (tidak tamak terhadap dunia), qana’ah (bersyukur dengan apa yang ada), penuh ta’affuf (jauh dari sifat meminta-minta), wara’ (sangat berhati-hati dalam urusan dunia), dan sangat antusias terhadap urusan akhirat. Di sisi lain, beliau adalah seorang yang suka humor dan tidak kaku. (Lihat Tarikh Baghdad karya al-Khathib al-Baghdadi 11/347, Siyar A’lamin Nubala 15/86 dan al-‘Ibar fi Khabari Man Ghabar karya al-Imam adz-Dzahabi 2/203, Tabyin Kadzibil Muftari, hlm. 141—142, serta al-Fihristi karya Ibnun Nadim, hlm. 257)

Menelusuri Tiga Fase Keyakinan yang Dilalui oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari
Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam membentuk keyakinan dan kepribadian seseorang, terkhusus lingkungan intern keluarga, yaitu ayah dan ibu. Rasulullah n bersabda:
“Tidaklah seorang anak itu dilahirkan melainkan di atas fitrah (naluri keislaman). Kedua orang tuanya yang sangat berperan dalam menjadikannya Yahudi, Nasrani, dan Majusi. Ini seperti halnya seekor binatang (pada umumnya) melahirkan anaknya dalam keadaan sempurna fisiknya. Apakah kalian melihat pada anak binatang yang baru dilahirkan itu cacat di telinga atau anggota tubuhnya yang lain?” Kemudian sahabat Abu Hurairah z berkata, “Jika kalian mau, bacalah firman Allah l (yang artinya), ‘(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.’ (ar-Rum: 30)” (HR. Muslim no. 2658, dari sahabat Abu Hurairah z)
Demikian pula keadaan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t. Pada usia belia, beliau hidup di bawah asuhan seorang ayah yang berpegang teguh dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah. Bahkan, menjelang wafatnya sang ayah berwasiat agar Abul Hasan kecil tumbuh di bawah bimbingan al-Hafizh Abu Yahya Zakaria bin Yahya as-Saji, seorang pakar fikih dan hadits kota Bashrah yang berpegang teguh dengan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Sepeninggal ayah beliau, sang ibu menikah lagi dengan seorang tokoh Mu’tazilah yang bernama Abu Ali al-Jubba’i. Kondisi pun berubah. Abul Hasan kecil tumbuh dan berkembang di bawah asuhan ayah tiri yang berpaham Mu’tazilah tersebut dan dididik dengan doktrin keilmuan ala Mu’tazilah yang sesat. Cukup lama al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari berguru kepada Abu Ali al-Jubba’i. Semakin erat hubungan antara keduanya hingga al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari menjadi pewaris ilmu Abu Ali al-Jubba’i dan berposisi sebagai tokoh muda Mu’tazilah yang disegani di kalangan kelompoknya. Dalam banyak kesempatan Abu Ali al-Jubba’i mewakilkan urusan keagamaan kepada al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t. Bahkan, tak sedikit karya tulis yang beliau luncurkan untuk kepentingan kelompok Mu’tazilah dan menyerang orang-orang yang berseberangan dengannya.
Demikianlah fase pertama dari tiga fase keyakinan yang dilalui oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t. Fase kehidupan sebagai seorang mu’tazili (berpaham Mu’tazilah) yang berjuang keras demi tersebarnya akidah sesat tersebut.4 (Lihat Tabyin Kadzibil Muftari, hlm. 35, dan Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 46—47)
Fase kedua adalah fase bertaubatnya al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari dari akidah sesat Mu’tazilah, setelah berlalu empat puluh tahun dari perjalanan hidup beliau t, tepatnya pada tahun 300 H. Tidak tanggung-tanggung, taubat dan sikap berlepas diri itu beliau umumkan di atas mimbar Masjid Jami’ kota Bashrah, seusai shalat Jumat. Bahkan, beliau meluncurkan beberapa karya tulis untuk membantah syubhat-syubhat Mu’tazilah dan kesesatan mereka. Selang beberapa lama setelah pengumuman taubat tersebut, al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari meninggalkan Bashrah dan berdomisili di Baghdad. (Lihat Tabyin Kadzibil Muftari, hlm. 39, Wafayatul A’yan karya al-Qadhi Ibnu Khallikan 3/285, dan Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 19)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Sungguh, Abul Hasan al-Asy’ari dahulunya adalah seorang yang berakidah Mu’tazilah kemudian bertaubat di kota Bashrah. Beliau mengumumkan taubat tersebut di atas mimbar. Setelah itu beliau membongkar berbagai kesesatan dan kejelekan Mu’tazilah.” (al-Bidayah wan Nihayah 11/187)
Al-Imam adz-Dzahabi t berkata, “Ketika (al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari, pen.) telah mendalami hakikat Mu’tazilah, muncullah kebencian beliau terhadapnya. Beliau lalu berlepas diri darinya. Beliau naik ke atas mimbar (untuk mengumumkan sikapnya itu, pen.) dan bertaubat kepada Allah l. Kemudian beliau meluncurkan bantahan terhadap Mu’tazilah dan membongkar penyimpangan-penyimpangan mereka.” (Siyar A’lamin Nubala’ 15/86)
Al-Qadhi Ibnu Khallikan t berkata, “Dahulu, Abul Hasan al-Asy’ari adalah seorang yang berakidah Mu’tazilah kemudian bertaubat darinya.” (Wafayatul A’yan 3/285)
Pada fase kedua ini al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t condong kepada para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, namun belum berpemahaman Ahlus Sunnah wal Jamaah. Beliau lebih terpengaruh dengan kelompok Kullabiyah yang saat itu tergolong gencar dalam membantah kelompok sesat Mu’tazilah.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t berkata, “Ketika keluar dari mazhab Mu’tazilah, Abul Hasan al-Asy’ari mengikuti jalan Ibnu Kullab dan condong kepada Ahlus Sunnah wal Hadits.” (Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naqli, 2/16)
Al-Imam al-Maqrizi t berkata, “Sesungguhnya, setelah al-Asy’ari keluar dari Mu’tazilah dan melontarkan bantahan terhadap mereka, beliau mengikuti akidah Abu Muhammad Abdullah bin Muhammad bin Said bin Kullab al-Qaththan dan berpijak di atas kaidah-kaidahnya.” (al-Khuthath karya al-Imam al-Maqrizi 4/191)
Lebih rinci, al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Fase kedua (yang dilalui oleh Abul Hasan al-Asy’ari) adalah menetapkan tujuh sifat ‘aqliyah bagi Allah l, yaitu al-hayat, al-ilmu, al-qudrah, al-iradah, as-sam’u, al-bashar, dan al-kalam. Di sisi lain, beliau menakwilkan (memalingkan dari makna yang sebenarnya) sifat khabariyah, seperti wajah, kedua tangan, kaki, betis, dan yang semisalnya.” (Thabaqatul Fuqaha’‘Indas Syafi’iyyah, dinukil dari Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 35)
Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t, Ibnu Kullab (baca: kelompok Kullabiyah) menetapkan sifat-sifat wajib bagi Allah l, seperti al-ilmu, al-qudrah, al-hayat, dan yang semisalnya, namun mengingkari sifat-sifat fi’liyah (perbuatan) Allah l yang berkaitan dengan kehendak dan takdir-Nya, seperti sifat datang dan yang semisalnya. (Lihat Dar’u Ta’arudhil Aqli wan Naqli, 2/6)
Dari sini dapat disimpulkan bahwa pada fase kedua ini al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t menetapkan sebagian sifat bagi Allah l (sifat wajib yang tujuh), menakwilkan sifat khabariyyah, dan mengingkari sifat fi’liyah (perbuatan) Allah l yang berkaitan dengan kehendak dan takdir-Nya. Jadi, beliau berada di antara kelompok Mu’tazilah yang mengingkari semua sifat Allah l dan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang menetapkan semua sifat-sifat Allah l.
Setelah berlalu sekian masa, al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t semakin mendekat kepada para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akhirnya, beliau meninggalkan akidah Kullabiyah dan berpegang teguh dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Itulah fase ketiga kehidupan beragama beliau.
Pada fase ketiga ini, beliau banyak berguru kepada para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, seperti al-Muhaddits al-Musnid Abu Khalifah al-Fadhl al-Jumahi al-Bashri, al-Qadhi Abul Abbas Ahmad bin Suraij al-Baghdadi—panutan mazhab Syafi’i di masa itu—, al-Imam al-Hafizh Abu Yahya Zakaria bin Yahya as-Saji—pakar hadits Kota Bashrah—, dan al-Faqih Abu Ishaq Ibrahim bin Ahmad bin Ishaq al-Marwazi—rujukan utama dalam hal fatwa dan ilmu di masa itu. (Lihat Tabyin Kadzibil Muftari, hlm. 35, dan Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 46—47)
Al-Imam Ibnu Katsir t berkata, “Fase ketiga (yang dilalui oleh Abul Hasan al-Asy’ari) adalah menetapkan semua sifat-sifat Allah l, tanpa menganalogikan dan menyamakannya dengan sesuatu pun, sebagaimana prinsip as-salafush shalih. Demikianlah prinsip yang beliau torehkan dalam kitab al-Ibanah5, karya beliau yang terakhir.” (Thabaqatul Fuqaha’‘Indas Syafi’iyyah, dinukil dari Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 35)
Asy-Syaikh Muhibbuddin al-Khatib t berkata, “Kemudian al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t membersihkan jalan yang ditempuhnya dan mengikhlaskannya karena Allah l dengan rujuk (kembali) secara total kepada jalan yang ditempuh oleh as-salafush shalih… dan para ulama yang menyebutkan biografi beliau t menyatakan bahwa al-Ibanah adalah karya tulis beliau yang terakhir.” (Catatan kaki kitab al-Muntaqa min Minhajil I’tidal hlm. 41, dinukil dari Muqaddimah kitab Risalah ila Ahlits Tsaghr bi Babil Abwab, hlm. 36)
Keterangan di atas adalah bantahan terhadap orang yang mengklaim bahwa al-Ibanah adalah kitab yang dipalsukan atas nama al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t. Demikian pula, ini adalah bantahan terhadap orang yang mengklaim bahwa al-Ibanah bukanlah karya tulis beliau yang terakhir. Tujuan mereka tiada lain adalah pengaburan sejarah agar umat tetap berada di atas mazhab Asy’ari yang hakikatnya adalah mazhab Kullabiyah—sebuah mazhab yang telah ditinggalkan oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t.
Setelah menyebutkan beberapa nukilan dari para imam terkemuka6 tentang sahnya penyandaran kitab al-Ibanah kepada al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t, asy-Syaikh Hammad bin Muhammad al-Anshari t mengatakan, “Beberapa nukilan yang tegas dari para imam terkemuka ini—yang dua ekor kambing tidak saling beradu tanduk karenanya dan dua orang takkan berselisih karenanya pula—menunjukkan bahwa kitab al-Ibanah bukanlah kitab yang dipalsukan atas nama al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t, sebagaimana halnya klaim para anak muda dari kalangan ahli taklid. Bahkan, kitab tersebut merupakan karya tulis beliau yang terakhir. Beliau tetap kokoh di atas kandungan kitab tersebut, yaitu akidah salaf yang bersumber dari al-Qur’anul Karim dan Sunnah Nabi n.” (al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari, hlm. 72)
Satu hal yang penting untuk diingatkan bahwa mazhab yang hingga hari ini dikenal dengan sebutan mazhab Asy’ari atau ASWAJA, tiada lain adalah kelanjutan dari mazhab Kullabiyah, yang telah ditinggalkan oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari sendiri. Bahkan, dengan tegas beliau menyatakan bahwa beliau berada di atas jalan Rasulullah n dan as-salafush shalih, sejalan dengan al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal t, dan menyelisihi siapa saja yang berseberangan dengan beliau7. Hal ini sebagaimana yang beliau torehkan dalam kitab al-Ibanah.
Bisa jadi, di antara pembaca ada yang bertanya, bisakah disebutkan contoh pernyataan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t yang ditorehkan dalam kitab al-Ibanah itu?
Jika demikian, perhatikanlah dengan saksama pernyataan beliau berikut ini, “Prinsip yang kami nyatakan dan agama yang kami yakini adalah berpegang teguh dengan Kitab Suci (al-Qur’an) yang datang dari Rabb kami k dan Sunnah Nabi Muhammad n, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabi’in, dan para imam Ahlul Hadits. Kami berprinsip dengannya dan menyatakan seperti apa yang dinyatakan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal—semoga Allah l menyinari wajahnya, mengangkat derajatnya, dan membesarkan pahalanya. Kami menyelisihi siapa saja yang berseberangan dengan beliau karena beliau adalah seorang imam yang mulia dan pemimpin yang utama. Allah l menampakkan kebenaran dengan beliau di kala muncul kesesatan. Dengan sebab beliau pula, Allah l memperjelas jalan yang lurus, menghancurkan bid’ah yang diciptakan oleh ahli bid’ah, penyimpangan orang-orang yang menyimpang, dan keraguan orang-orang yang bimbang. Semoga rahmat Allah l selalu tercurahkan kepada beliau, imam yang terkemuka, mulia lagi agung, dan besar lagi terhormat.” (al-Ibanah hlm. 20—21)
Bisa jadi pula, ada yang bertanya, semisal apakah prinsip keyakinan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t yang sejalan dengan prinsip salaf, Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan bertentangan dengan prinsip Mu’tazilah (fase pertama beliau) dan prinsip Kullabiyah/Asy’ariyah/ASWAJA (fase kedua beliau)?
Tentang hal ini, al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t menyebutkannya secara terperinci dalam kitab al-Ibanah. Di antaranya adalah keyakinan beliau bahwa Allah l dapat dilihat di akhirat kelak dengan mata kepala, keyakinan bahwa al-Qur’an adalah kalamullah (firman Allah l) bukan makhluk, keyakinan bahwa Allah l berada di atas Arsy bukan di mana-mana, dan sebagainya. Semua itu bertentangan dengan prinsip Mu’tazilah (fase pertama beliau) dan juga prinsip Kullabiyah/Asy’ariyah/ASWAJA (fase kedua beliau). Untuk lebih rincinya, silakan Anda membaca kitab al-Ibanah.
Oleh karena itu, tidaklah adil manakala menyandarkan suatu keyakinan/prinsip/mazhab kepada al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t selain apa yang beliau torehkan dalam kitab al-Ibanah yang mulia, mengingat bahwa itulah potret akhir dari kehidupan beragama yang beliau yakini. Beliau pun berharap bertemu dengan Allah l di atasnya.
Para pembaca yang mulia. Demikianlah tiga fase keyakinan yang dilalui oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t dalam kehidupan beragama yang penuh kesan. Perjalanan hidup yang sarat akan pengajaran berharga (ibrah) dan renungan. Dari satu keyakinan menuju keyakinan berikutnya, demi mencari kebenaran. Semuanya beliau lalui dengan penuh kesungguhan dan kesabaran. Manakala tampak bagi beliau sebuah kebatilan, tiada enggan beliau tinggalkan. Manakala tampak sebuah kebenaran, tiada enggan pula beliau berpegang teguh dengannya selama hayat masih dikandung badan. Begitulah seharusnya yang terpatri dalam sanubari setiap insan dalam menyikapi kebatilan dan kebenaran di tengah kehidupan dunia yang penuh cobaan.
Akhir kata, sungguh rajutan kata-kata seputar al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t di atas belum cukup menggambarkan sosok seorang imam terkemuka yang diliputi oleh keutamaan dan kemuliaan. Namun, semoga yang sedikit ini dapat bermanfaat dan berkesan bagi setiap insan yang haus akan kebenaran.
Wallahul musta’an.

Catatan Kaki:

1 Kuniah adalah sebutan untuk seseorang selain nama dan julukannya, seperti Abul Hasan dan Ummul Khair. Kuniah biasanya didahului oleh kata abu (ayah), ummu (ibu), ibnu (putra), akhu (saudara laki-laki), ukhtu (saudara perempuan), ammu (paman dari pihak ayah), ammatu (bibi dari pihak ayah), khalu (paman dari pihak ibu), atau khalatu (bibi dari pihak ibu). Terkadang, kuniah disebutkan bersama nama dan julukan seseorang, dan terkadang pula disebutkan secara tersendiri. Di kalangan bangsa Arab, kuniah digunakan sebagai panggilan kehormatan bagi seseorang. (Lihat al-Mu’jamul Wasith 2/802)
2 Al-Asy’ar adalah julukan bagi Nabt bin Udad bin Zaid bin Yasyjub bin ‘Uraib bin Zaid bin Kahlan bin Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan. Al-Asy’ar artinya seorang yang banyak rambutnya. Ia disebut demikian karena tubuhnya ditumbuhi oleh rambut sejak dilahirkan oleh ibunya. (Lihat Nasab Ma’d wal Yaman al-Kabir 1/27)

3 Julukan tersebut muncul di hari kematian beliau, saat manusia saling berucap, “Telah meninggal dunia pada hari ini Nashiruddin (Pembela Agama).” (Lihat Tabyin Kadzibil Muftari karya al-Imam Ibnu Asakir, hlm. 375)

4 Untuk mengetahui hakikat kelompok sesat Mu’tazilah, silakan baca rubrik “Manhaji” Majalah Asy-Syari’ah Vol. 1/No. 09/1425 H/2004.

5 Judul lengkapnya adalah al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah.

6 Di antara mereka adalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Imam Ibnu Asakir, al-Imam al-Baihaqi, al-Imam Ibnul Qayyim, dll.
7 Perlu diketahui, mazhab Asy’ari atau ASWAJA atau Kullabiyah, semuanya berseberangan dengan prinsip yang diyakini oleh al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal t. Dengan demikian, berseberangan pula dengan prinsip yang diyakini oleh al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t. Tajuddin as-Subki t—seorang tokoh mazhab Syafi’i—berkata, “Abul Hasan al-Asy’ari adalah tokoh besar Ahlus Sunnah setelah al-Imam Ahmad bin Hanbal. Akidah beliau adalah akidah al-Imam Ahmad t, tiada keraguan dan kebimbangan padanya. Inilah yang ditegaskan berkali-kali oleh Abul Hasan al-Asy’ari dalam beberapa karya tulis beliau.” (Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra 4/236)

Siapakah Abul Hasan Al-Asy’Ari?

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Penjelasan Singkat tentang Abul Hasan al-Asy’ari
Abul Hasan al-Asy’ari adalah sosok yang sangat terkenal di negeri kita ini. Mengapa demikian? Karena banyak orang yang menisbahkan pemahaman mereka kepada beliau t. Tulisan ini berusaha mengenalkan beliau dan akidah yang diyakininya. Setelah itu, kita akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan: Benarkah beliau seorang ulama Ahlus Sunnah? Dan benarkah pengakuan sebagian orang yang mengaku pengikut beliau?

Tiga Fase Kehidupan Abul Hasan al-Asy’ari
Nama beliau adalah Ali bin Ismail bin Ishaq bin Salim bin Ismail bin Musa al-Asy’ari. Beliau lahir pada tahun 260 H/873M dan wafat pada tahun 935 M.
Perlu diketahui, Abul Hasan al-Asy’ari t melalui tiga marhalah (fase) dalam kehidupannya.
Fase pertama: Beliau berakidah Mu’tazilah, dididik oleh ayah tirinya, Abu Ali al-Jubba’i, dalam pendidikan Mu’tazilah. Beliau berada dalam akidah Mu’tazilah ini selama empat puluh tahun.
Fase kedua: masa peralihan. Ketika itu beliau dalam posisi antara akidah Mu’tazilah tulen yang tidak mengimani sifat-sifat Allah dan akidah Ahlus Sunnah yang murni. Di masa tersebut beliau mulai mengkritisi pemikiran-pemikiran Mu’tazilah dan sering beradu argumen dengan ayah tirinya. Namun, beliau belum kembali kepada akidah Ahlus Sunnah secara total.
Fase ketiga: Beliau kembali memeluk akidah Ahlus Sunah wal Jamaah dan mengikuti prinsip-prinsip al-Imam Ahmad bin Hanbal. Hal ini beliau tegaskan di dalam kitab-kitabnya bahwa beliau di atas akidah yang didakwahkan al-Imam Ahmad bin Hanbal t.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t menyebutkan tiga marhalah kehidupan Abul Hasan tersebut sebagai berikut.
Marhalah i’tizal: Beliau memeluk pemahaman Mu’tazilah selama empat puluh tahun, kemudian rujuk dan menyatakan sesatnya Mu’tazilah.
Marhalah antara Mu’tazilah tulen dan Ahlus Sunnah yang murni, beliau mengikuti jalan Abu Muhammad Abdullah bin Said bin Kullab.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan, “Asy’ari (al-Imam Abul Hasan) dan semisalnya adalah sekelompok orang yang berada di antara salaf dan Jahmiyah. Mereka mengambil dari salaf pendapat yang benar dan mengambil dari Jahmiyah prinsip-prinsip yang mereka sangka benar padahal rusak.”
Marhalah berpegang dengan mazhab Ahlus Sunnah wal Hadits, mengikuti al-Imam Ahmad bin Hanbal t, sebagaimana beliau jelaskan dalam kitabnya al-Ibanah fi Ushulid Diyanah. (Lihat al-Qawa’idul Mutsla karya asy-Syaikh Ibnu Utsaimin)
Di antara ucapan Abul Hasan al-Asy’ari t dalam kitab tersebut yang menunjukkan beliau di atas manhaj salaf adalah pengakuan kembali kepada manhaj al-Imam Ahmad bin Hanbal t.
Abul Hasan al-Asy’ari t berkata, “Pendapat yang kami yakini dan agama yang kami beragama dengannya: ‘Berpegang teguh dengan kitab Rabb kita dan sunnah Nabi kita, Muhammad n, serta apa yang diriwayatkan dari para sahabat, tabiin, dan imam ahlul hadits. Kami berpegang teguh dengannya dan dengan pendapat yang diucapkan oleh Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal—mudah-mudahan Allah l menyinari wajahnya dan mengangkat derajatnya serta memberinya pahala yang banyak—, dan kami menjauhkan diri dari pendapat-pendapat yang menyelisihi prinsip al-Imam Ahmad bin Hanbal, karena beliau adalah imam yang memiliki keutamaan, seorang tokoh yang dengannya Allah l menjelaskan al-haq, menolak kebatilan, menjelaskan manhaj dan menghancurkan kebid’ahan ahlul bid’ah, penyimpangan orang-orang yang menyimpang, serta menghilangkan keraguan orang-orang yang ragu…’.” (Lihat al-Ibanah fi Ushul ad-Diyanah)

Sebab Taubat Abul Hasan al-Asy’ari
Asy-Syaikh Hammad al-Anshari menyebutkan sebab bertaubatnya Abul Hasan t.
Dihikayatkan dari Abul Hasan, “Sejak beberapa malam, di dadaku muncul (ganjalan) tentang masalah-masalah akidah. Aku pun bangun melaksanakan shalat dua rakaat dan meminta agar Allah l memberi hidayah jalan yang lurus kepadaku. Kemudian aku pun tidur. Ketika tidur aku bermimpi melihat Rasulullah. Aku keluhkan kepada beliau sebagian masalahku. Rasulullah n berkata kepadaku, ‘Wajib atasmu berpegang dengan sunnahku’, lalu aku terbangun.” (Lihat Abul Hasan al-Asy’ari karya asy-Syaikh Hammad al-Anshari)

Pengakuan Para Ulama tentang Rujuknya Beliau
Asy-Syaikh Hammad al-Anshari telah menukilkan penjelasan para ulama tentang rujuknya Abul Hasan ke manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Di antara yang beliau sebutkan adalah:
a. As-Subki berkata, “Abul Hasan al-Asy’ari adalah tokoh besar Ahlus Sunnah setelah al-Imam Ahmad bin Hanbal. Akidah beliau sama dengan akidah al-Imam Ahmad dan ini adalah perkara yang tidak diragukan lagi. Abul Hasan al-Asy’ari telah menegaskan dalam tulisan-tulisannya dan sering beliau sebutkan, ‘Akidahku adalah akidah al-Imam Ahmad bin Hanbal’.”
b. Abul Abas Syamsudin Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakr bin Khalqan t berkata, “Abul Hasan dahulunya Mu’tazilah kemudian bertaubat.”
c. Ibnu Katsir t berkata, “Sesungguhnya Abul Hasan al-Asy’ari dahulunya Mu’tazilah kemudian beliau bertaubat di Bashrah, setelah itu beliau tampil membongkar borok-borok Mu’tazilah.”
d. Al-Imam adz-Dzahabi t berkata, “Abul Hasan dahulunya berpemahaman Mu’tazilah. Ia mengambilnya dari Abu Ali al-Jubba’i. Beliau lalu membuangnya dan membantah al-Jubba’i. Beliau pun berbicara dengan sunnah, mencocoki para imam ahli hadits….” (al-Uluw) (Lihat risalah Abul Hasan al-Asy’ari karya asy-Syaikh Hammad al-Anshari)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t berkata, “Abul Hasan al-Asy’ari t di akhir usianya berada di atas manhaj Ahlus Sunnah wal Hadits yaitu menetapkan (nama dan sifat-sifat) yang Allah l tetapkan untuk diri-Nya atau ditetapkan melalui lisan rasul-Nya, tanpa tahrif, takyif, dan tamtsil.” (al-Qawaidul Mutsla)
Kesimpulan
Dari pembahasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa asy-Syaikh Abul Hasan al-Asy’ari adalah seorang Ahlus Sunnah, sebagaimana disebutkan oleh para ulama di atas dan Abul Hasan al-Asy’ari t tuliskan dalam kitab-kitabnya, di antaranya di dalam kitab beliau al-Ibanah fi Ushuli Diyanah.
Adapun pengakuan orang yang mengaku-aku mengikuti beliau (kelompok Asya’riyah) adalah pengakuan yang keliru, karena pada hakikatnya mereka mengikuti pemahaman beliau sebelum rujuk kepada manhaj Ahlus Sunnah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Orang-orang belakangan yang menisbahkan diri kepada beliau (yakni Abul Hasan al-Asy’ari) hanya mengambil marhalah kehidupan beliau yang kedua.” (Lihat al-Qawaidul Mutsla)

Surat Pembaca edisi 74

Judul Sakinah
Bismillah. Afwan, di lembar Sakinah tertulis Saat Dirinya Tumbuh Dewasa, maksud tulisan tersebut apakah judul dari bahasan “Mengayuh Biduk” atau bagaimana? Karena saya cari di lembar Sakinah tidak ada.
0852347xxxxx

Kami menonjolkan rubrik “Permata Hati” sebagai bahasan unggulan atau semacam “headline” lembar Sakinah edisi 73, yang selama ini memang didominasi oleh rubrik “Mengayuh Biduk”. Mengenai judul yang tidak sama, kami memang menyengaja membuat judul yang memancing keingintahuan pembaca, tanpa harus sama persis dengan judul artikel itu sendiri. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Terjemahan Hadits Kurang
Terjemahan hadits pada hlm. 56 ada yang kurang. Tertulis tujuh bagian, seharusnya tujuh puluh.
0815787xxxxx

Anda benar yang benar adalah “tujuh puluh”, jazakumullahu khairan. Jawaban ini sekaligus ralat dari Redaksi.

Tema tentang Zina
Bismillah. Afwan minta tolong dibahas bahaya zina, bahaya menonton televisi, film, dan bahaya gambar.
Ummu Abdillah
0877387xxxxx

Mengenai kajian tentang zina secara khusus, insya Allah akan dibahas di edisi 76, jadi mohon bersabar. Adapun tentang televisi, film, atau gambar makhluk bernyawa, insya Allah sudah sering kami singgung, silakan buka kembali majalah Asy-Syariah edisi-edisi lama. Di rubrik “Permata Hati” edisi 74 ini, kami juga sedikit menyinggung apa yang Anda tanyakan. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Artikel Wirausaha dan Kesehatan
Bismillah. Bagaimana kalau majalah Asy-Syariah memuat tips menciptakan lapangan kerja sendiri, contohnya cara berternak ikan dan lainnya, karena bisa membantu para ikhwan dalam mencari maisyah.
Hasan Mubarak-Bengkulu
0853829xxxxx

Bismillah. Mohon artikel kesehatan pada rubrik “Info Praktis” sering ditampilkan karena sangat bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari.
Fulanah
0852273xxxxx

Akan kami pertimbangkan, jazakumullahu khairan atas masukannya.
Salah Tulis Lafadz Hadits
Asy Syariah Vol. VII no. 73, hlm 90, HR. al-Hakim, tertulis “yirahmatika”. Mohon dicek kembali.
085643xxxxxx

Anda benar. Ada kesalahan tulis dari kami, yang benar adalah “birahmatika”. Jazakumullah khairan atas koreksinya.

Asy’ariyah = Ahlus Sunnah?

Selama ini, umat acap dibuai dengan istilah atau klaim-klaim keagamaan yang tidak pada tempatnya. Saking lengketnya, menjadikan istilah itu terkristal di benak sebagian besar umat. Sebutlah istilah mazhab Syafi’i di negeri ini. Sejarah atau pelajaran agama di sekolah, materi-materi pengajian, berita-berita media, semua seakan mengamini bahwa mayoritas muslim Indonesia bermazhab Syafi’i. Benarkah kita merujuk akidah, fikih, akhlak, muamalah, yang dikukuhi al-Imam asy-Syafi’i t? Pertanyaan ini akan terjawab jika kita mau menelusuri biografi beliau, mempelajari kitab-kitabnya untuk mengetahui bagaimana akidah dan pemahaman beliau.
Demikian juga istilah Ahlus Sunnah. Perkara ini lebih besar lagi urusannya. Ahlus Sunnah, dalam Islam, adalah pemilik kebenaran di antara sekian puluh kelompok dalam Islam. Dari namanya, semestinya yang pertama terbetik di benak adalah istilah as-Sunnah, yakni segala yang diriwayatkan dari Rasulullah n baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
Oleh karena itu, yang berhak menyandangnya tentu saja adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi) para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah n serta “menggigitnya” kuat-kuat. Mendahulukan al-Qur’an dan as-Sunnah atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan akidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik, dan sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah l kepada Rasul-Nya Muhammad n.
Jadi, Ahlus Sunnah bukanlah semata perkara klaim-mengklaim. Sebagai seorang muslim, kita semestinya menisbahkan diri kepada Ahlus Sunnah dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mewujudkan dalam diri kita karakter Ahlus Sunnah. Inilah yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Jika kepribadian Ahlus Sunnah itu tidak tecermin dalam akidahnya, perkaranya menjadi lebih berbahaya lagi. Bahkan, akidah yang dipegangi tersebut bisa jadi menjadikannya tak pantas menyandang sebutan Ahlus Sunnah, karena ia sudah memosisikan dirinya dalam barisan yang menentang dan memusuhi sunnah.
Oleh karena itu, ketika kelompok Asy’ariyah “numpang beken” mengaku sebagai Ahlus Sunnah, kita mesti menelusuri biografi al- Imam Abul Hasan al-Asy’ari t, ulama yang “dipinjam namanya” sebagai nisbah kelompok ini. Bagaimana akidah beliau yang sesungguhnya? Benarkah akidah beliau sama dengan Asy’ariyah yang “beredar” sekarang? Benarkah cara beragama mereka sama dengan al-Imam Abul Hasan al-Asy’ari t? Benarkah Asy’ariyah yang bergelut dengan bid’ah, meneguhkan diri dengannya, mengabaikan sunnah Rasulullah n, bahkan berkubang dalam lumpur keyakinan dan ritual-ritual yang bersumber dari agama di luar Islam, tak mau merujuk kepada dalil, lebih mendahulukan ucapan ustadz/kyainya daripada hadits-hadits Rasulullah n, mengedepankan fanatisme kelompok, layak disebut Ahlus Sunnah?
Itulah pertanyaan yang mesti kita cari jawabannya.