Sikap yang Keliru Saat Sakit (bagian ke 2)

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Kekeliruan berikutnya yang dilakukan oleh sebagian orang yang sedang diuji oleh Allah l dengan penyakit adalah:

7. Minta bantuan kepada tukang sihir, dukun, atau “orang pintar”.
Perkara paling berbahaya yang dilakukan oleh orang yang sakit adalah pergi ke tukang sihir, dukun, atau “orang pintar” guna beroleh kesembuhan. Mengapa dikatakan paling berbahaya? Karena taruhannya adalah iman. Barang siapa mendatangi para thaghut tersebut, memercayai, dan membenarkan apa yang mereka katakan berarti ia telah kafir, na’udzubillah. Nabi n pernah bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُوْلُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ n
“Siapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun, lantas membenarkan apa yang dikatakannya, berarti ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad n.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dll, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 5939)

8. Tidak mau berdoa
Sakit yang menimpa seorang hamba adalah dengan takdir Allah l dan Dia Mahamampu untuk mengangkat dan menghilangkan sakit tersebut. Karena itu, si sakit harus berdoa kepada Allah l. Doa adalah senjata seorang mukmin.
Rasulullah n pernah bersabda:
الدُّعَاءُ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ، فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ بِالدُّعَاءِ
“Doa bermanfaat untuk mengatasi apa yang telah menimpa dan yang belum, maka semestinya kalian, wahai hamba-hamba Allah, berdoa kepada Allah.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahihul Jami’ no. 3409)
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Doa adalah obat yang paling bermanfaat. Ia merupakan musuh bagi musibah, yang akan menolak dan menghilangkannya, yang mencegah turunnya, mengangkatnya, atau meringankannya apabila sudah menimpa. Doa adalah senjata orang beriman. Bersama musibah, doa memiliki tiga posisi:
1. Ia lebih kuat daripada bala, maka tertolaklah bala tersebut olehnya.
2. Ia lebih lemah daripada musibah sehingga mengalahkannya.
Akibatnya, bala pun menimpa si hamba. Akan tetapi, terkadang doa tersebut menjadikannya ringan walaupun doa sendiri dalam posisi lemah.
3. Sama/seimbang antara doa dan bala, sehingga masing-masing saling menolak. (Doa berupaya menolak bala, sebagaimana bala pun mengalahkan doa). (ad-Da’u wad Dawa’, hlm. 11)
Jika demikian posisi doa saat berhadapan dengan bala, lantas mengapa ada orang sakit yang lalai atau enggan berdoa, menganggapnya remeh dan tidak perlu?

9. Berpaling dari ruqyah yang syar’i1
Allah l berfirman:
“Dan Kami menurunkan dari al-Qur’an ini apa yang merupakan penyembuh/obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (al-Isra: 82)
Dalam as-Sunnah, pengobatan dengan al-Qur’an adalah sesuatu yang diakui. Rasulullah n pernah melakukannya, demikian pula para sahabat beliau.
Al-Imam Ibnul Qayyim t mengatakan, “Dimaklumi bahwa ada di antara ucapan yang memiliki kekhususan dan kemanfaatan yang teruji. Lalu, apa kira-kira persangkaan terhadap kalam/ucapan Rabbul Alamin, yang ucapan-Nya itu dilebihkan-Nya di atas seluruh ucapan, sebagaimana kelebihan Allah l di atas seluruh makhluk-Nya? Kalam-Nya adalah penyembuh/obat yang sempurna, penjagaan yang bermanfaat, dan cahaya yang memberikan petunjuk serta rahmat yang umum. Andai kalam-Nya tersebut Dia turunkan kepada gunung, niscaya gunung akan hancur karena keagungan dan kemuliaannya.” (ath-Thibbun Nabawi, hlm. 138)
Dalam Zadul Ma’ad (4/287), Ibnul Qayyim t menegaskan, “Al-Qur’an adalah penyembuh yang sempurna dari seluruh penyakit hati dan jasmani, sebagaimana pula penyembuh seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidaklah setiap orang diberi keahlian dan taufik untuk menjadikannya sebagai obat.
Jika seorang yang sakit konsisten berobat dengannya dan meletakkan pada sakitnya dengan penuh kejujuran dan keimanan, kepasrahan secara total, keyakinan yang kokoh dan penunaian syaratnya yang sempurna, niscaya penyakit apa pun tidak akan mampu menghadapinya selama-lamanya. Bagaimana mungkin penyakit tersebut mampu menghadapi firman Dzat yang memiliki langit dan bumi? Kalam yang jika diturunkan kepada gunung, ia akan hancur. Atau jika diturunkan kepada bumi, akan terbelahlah ia.
Maka dari itu, tidak satu pun jenis penyakit, baik penyakit hati maupun jasmani, melainkan dalam al-Qur’an ada cara yang membimbing kepada obat dan sebab (kesembuhan)nya.”
Ibnul Qayyim t juga mengatakan, “Ketahuilah, pengobatan ilahiah bermanfaat terhadap penyakit setelah terjadinya penyakit tersebut dan bisa mencegah terjadinya penyakit (apabila belum mengenai seorang hamba). Jika ternyata penyakit tetap datang, tidaklah sampai memudaratkan, sekalipun menyakitkan (memberi rasa sakit).” (ath-Thibbun Nabawi, hlm. 142)
Ruqyah dan ta’awwudzat (bacaan/doa yang berisi permohonan perlindungan kepada Allah l) tidak hanya bisa menghilangkan penyakit2. Bahkan, ia bisa menjaga kesehatan (sebelum penyakit datang). Sebagai buktinya adalah apa yang ditunjukkan dalam hadits Aisyah x yang dalam Shahihain, Aisyah x berkata,
كَانَ رَسُوْلُ اللهِ n إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ نَفَثَ فِي كَفَّيْهِ بِـ{قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ} وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ، ثُمَّ يَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ وَمَا بَلَغَتْ يَدُهُ مِنْ جَسَدِهِ
“Apabila telah berada di tempat tidurnya, Rasulullah n meniup pada kedua telapak tangannya dengan membaca Qul huwallahu ahad dan al-mu’awwidzatain (surah al-Falaq dan an-Nas). Setelahnya, dengan kedua telapak tangan tersebut beliau mengusap wajahnya dan seluruh tubuhnya yang bisa dicapai oleh tangannya.”
Dalam Shahihain pula disebutkan hadits:
مَنْ قَرَأَ الْآيَتَيْنِ مِنْ آخِرِ سُوْرَةِ الْبَقَرَةِ فِي لَيْلَةٍ كَفَتَاهُ
“Siapa yang membaca dua ayat terakhir dari surah al-Baqarah pada waktu malam, niscaya kedua ayat tersebut mencukupinya.”
Dalam Shahih Muslim disebutkan dari Nabi n:
مَنْ نَزَلَ مَنْزِلاً فَقَالَ: أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ؛ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْءٌ حَتَّى يَرْتَحِلَ مِنْ مَنْزِلِهِ ذَلِكَ
“Siapa yang singgah di suatu tempat, lalu ia membaca doa:
أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
‘Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejelekan apa yang diciptakan-Nya,’ tidak ada sesuatu pun yang dapat membahayakannya sampai ia meninggalkan tempatnya tersebut.”
Karena itu, hendaknya orang yang sedang ditimpa sakit tidak melupakan pengobatan yang merupakan petunjuk Nabi n ini, yaitu berobat dengan bacaan al-Qur’anul Karim, zikir-zikir, dan doa-doa yang diajarkan serta dilakukan oleh Nabi n saat sakit. Jangan sampai yang ada di pikirannya hanyalah minum obat dari dokter atau yang dibeli di apotek, tanpa ingin mencoba pengobatan nabawi.
Namun, yang perlu kita ketahui saat melakukan pengobatan dengan ruqyah adalah pengobatan ini butuh penerimaan dari yang diobati dan kekuatan dari yang mengobati, serta tidak ada penghalang yang mencegah keberhasilan pengobatan tersebut. (ad-Da’u wad Dawa’u, hlm. 8)
Oleh karena itu, masing-masing (pihak yang mengobati dan yang diobati) harus yakin, bersih hatinya dari ketergantungan kepada selain Allah l, berpegang dengan tauhid, jauh dari kesyirikan, dan tunduk serta merendah kepada Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Insya Allah dengan demikian pengaruh ruqyah akan tampak.
10. Tidak memerhatikan wasiat
Apabila di tangan kita ada hak orang lain atau kita punya hak pada orang lain, dan tidak ada tanda bukti hitam di atas putih, kita harus membuat wasiat agar hak tersebut tidak tersia-siakan. Wasiat ini bisa dilakukan secara lisan meskipun tertulis lebih baik, sebagaimana halnya ditunjukkan oleh hadits yang akan disebutkan.
Rasulullah n bersabda:
مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُرِيْدُ أَنْ يُوْصِيَ فِيْهِ يَبِيْتُ لَيْلَتَيْنِ إِلاَّ وَوَصِيِّتُهُ مَكْتُوْبَةٌ عِنْدَهُ
“Tidak pantas bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan untuk melewati dua malamnya melainkan wasiatnya itu tertulis di sisinya.” (Muttafaqun ‘alaih)
Dengan demikian, bersegera menulis wasiat termasuk sunnah Nabi n.
Ada orang sakit yang merasa enggan menulis wasiat. Dengan wasiat tersebut, ia merasa seolah-olah ajalnya sudah dekat, padahal ia masih menginginkan sembuh dari sakitnya dan hidup lebih lama lagi. Sungguh, penulisan wasiat tidaklah mendekatkan ajal si sakit. Sebaliknya, tidak menulis wasiat tidak pula menjauhkan ajal si sakit. Tidak ada seorang pun yang tahu kapan kematian akan mendatanginya.
Yang jelas, kita semua meyakini firman Allah l:
“Setiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (Ali Imran: 185)
Apabila di saat sakit kita ingin berwasiat terkait dengan harta yang kita miliki, wasiat tersebut tidak boleh lebih dari sepertiga jumlah harta, sebagaimana tuntunan Rasulullah n. Jika kita menetapkannya lebih dari itu, berarti kita telah berlaku zalim terhadap hak ahli waris. Di samping itu, tidak boleh pula berwasiat memberi harta kepada ahli waris karena mereka sudah punya bagian tersendiri yang diatur oleh syariat. Wasiat hanyalah untuk selain ahli waris.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Lihat pembahasan ruqyah pada edisi no. 24/1427 H/2006.
2 Contohnya, kisah sahabat yang meruqyah seorang kepala suku yang disengat hewan berbisa dengan membacakan surah al-Fatihah, sebagaimana dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri z yang dibawakan dalam Shahihain. Obat berupa bacaan al-Fatihah ini telah memberi pengaruh terhadap penyakit yang diderita si kepala suku sehingga hilanglah penyakit tersebut seakan-akan tidak pernah menimpa. Ini adalah pengobatan yang sangat mudah dilakukan. Andai seorang hamba melakukan pengobatan dengan bacaan al-Fatihah dengan baik, niscaya ia akan melihat pengaruh yang menakjubkan dalam penyembuhan. Demikian keterangan al-Imam Ibnul Qayyim t. Beliau juga menyebutkan pengalamannya ketika terkena sakit saat tinggal di Makkah. Tidak ada tabib dan obat yang beliau dapat. Beliau lantas mengobati dirinya sendiri dengan bacaan al-Fatihah. Setelahnya, beliau melihat pengaruh yang menakjubkan terhadap sakit yang beliau derita. Ketika beliau menceritakan pengalamannya tersebut kepada orang-orang yang mengeluh sakit, banyaklah yang mengamalkannya. Ternyata, dengan izin Allah l, banyak dari mereka yang cepat sembuh. (ath-Thibbun Nabawi, hlm. 8)

Orang yang Jahil tentang Tauhid

Apakah seseorang yang tidak mengetahui urusan yang berkaitan dengan tauhid diberi uzur?
Jawab:
Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t menjawabnya sebagai berikut.
Pemberian uzur karena jahil (bodoh) adalah satu hal yang pasti dalam seluruh urusan agama seorang hamba. Hal ini berdasarkan firman Allah l:
“Sesungguhnya Kami wahyukan kepadamu sebagaimana Kami wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya.”
sampai firman-Nya:
“Para rasul yang memberi kabar gembira dan memberi peringatan, agar tidak ada lagi bagi manusia alasan setelah pengutusan para rasul.” (an-Nisa: 163—165)
Allah l juga berfirman:
“Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (al-Isra: 15)
Demikian pula firman-Nya:
”Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.” (at-Taubah: 115)
Hal ini juga berdasar sabda Nabi n:
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي وَاحِدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ، يَهُوْدِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ لاَ يُؤْمِنُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah mendengar tentang aku seorang pun dari umat ini, baik ia Yahudi maupun Nasrani, kemudian ia tidak beriman dengan apa yang aku datang membawanya, melainkan ia termasuk penghuni neraka.”5
Nash (dalil) dalam masalah ini banyak jumlahnya6.
Oleh karena itu, orang yang jahil tidak dihukum (dikenai dosa) karena kebodohannya dalam urusan apa pun dari agama ini. Akan tetapi, kita wajib mengetahui bahwa ada di antara orang-orang yang bodoh yang pada dirinya ada semacam penentangan. Yakni, pernah disebutkan kepadanya al-haq/kebenaran, tetapi ia tidak berusaha mencarinya dan tidak pula mengikutinya. Ia justru tetap berpegang dengan ajaran guru-gurunya serta orang yang mereka agungkan dan mereka jadikan panutan. Jika seperti ini, hakikatnya ia bukanlah orang yang patut diberi uzur karena hujah telah sampai kepadanya. Paling tidak, keadaannya dianggap sebagai syubhat (hal yang samar) yang perlu dicari hingga kebenaran menjadi jelas baginya.
Keadaan orang yang mengagungkan panutannya seperti ini7 layaknya orang yang disebutkan Allah l dalam firman-Nya:
Bahkan, mereka berkata, “Sesungguhnya, kami mendapati bapak-bapak kami menganut satu agama/ajaran dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mendapat petunjuk dengan mengikuti jejak mereka.” (az-Zukhruf: 22)
dan ayat yang berikutnya:
Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan sesungguhnya kami adalah pengikut jejak-jejak mereka.” (az-Zukhruf: 23)
Yang penting untuk dipahami, kebodohan/ketidaktahuan yang diberi uzur adalah ketika seseorang sama sekali tidak mengetahui kebenaran dan tidak pernah ada orang yang menyebutkan kebenaran itu kepadanya. Dosa orang yang seperti ini diangkat (maksudnya, ia tidak berdosa akibat penyelisihan yang dilakukannya karena kebodohan). Hukum terhadap pelakunya sesuai dengan kandungan amalannya.
Berikutnya, jika ia adalah seorang yang mengaku muslim dan bersaksi la ilaha illallah dan Muhammadan Rasulullah, ia teranggap sebagai bagian kaum muslimin. Namun, jika ia tidak termasuk orang yang mengaku muslim, hukumnya adalah hukum pemeluk agama yang dianutnya di dunia. Adapun di akhirat, keberadaan orang yang tidak mengetahui al-haq ini sama dengan keadaan ahlul fatrah8, urusannya diserahkan kepada Allah l pada hari kiamat nanti. Pendapat yang paling sahih tentang mereka adalah mereka akan diuji dengan apa yang Allah l kehendaki. Siapa yang taat, ia akan masuk surga. Sebaliknya, siapa yang durhaka, ia masuk neraka.
Akan tetapi, hendaklah diketahui bahwa di hari ini kita berada pada satu masa yang hampir-hampir tidak ada satu tempat pun di muka bumi ini melainkan dakwah Nabi n telah menjangkaunya, dengan perantaraan media komunikasi yang beragam dan interaksi antarmanusia. Dengan demikian, secara umum kekafiran yang ada disebabkan oleh penentangan (tidak mau menerima kebenaran). Wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/127—129)

Catatn Kaki:

5 HR. Muslim dalam Shahih-nya.
6 Semua dalil di atas menunjukkan keharusan disampaikannya hujah terlebih dahulu kepada hamba atau ilmu sama sekali kepadanya, barulah ia pantas dihukumi. Apabila hujah atau ilmu belum sampai kepadanya, ia diberi uzur.
7 Merasa cukup dengan orang yang diikutinya selama ini tanpa peduli dengan al-haq yang datang kepadanya.

8 Orang-orang yang menemui masa kekosongan pengutusan rasul sehingga bumi dipenuhi oleh kegelapan. Orang yang menginginkan kebenaran tidak mengetahui jalan untuk bisa sampai kepadanya.

Ibadah Disertai Riya

Apa hukum ibadah yang disertai riya?

awab:
Berikut ini jawaban Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin t terhadap pertanyaan di atas.
Riya yang menyertai ibadah itu ada tiga macam:
1. Riya yang sejak awal mendorong seseorang untuk melakukan ibadah.
Contohnya, seseorang melaksanakan shalat untuk Allah l dengan tujuan mendapat pujian/sanjungan manusia atas shalatnya. Riya yang seperti ini membatalkan ibadah.

2. Riya menyertai ibadah di tengah-tengah pelaksanaan ibadah.
Artinya, di awal ibadah ia ikhlas melakukannya karena Allah l, kemudian di tengah ibadah datanglah riya. Ibadah seperti ini tidak luput dari dua kemungkinan:
a. Ibadah yang awal tidak berkaitan dengan akhir ibadah, maka yang awal (yang ikhlas semata karena Allah l) sah sedangkan yang didatangi riya batal.
Misalnya, seseorang memiliki uang seratus riyal yang ingin disedekahkan. Pada kesempatan pertama, ia mengeluarkan sedekah lima puluh riyal dengan ikhlas. Ketika hendak mengeluarkan lima puluh riyal yang tersisa, datanglah riya. Untuk kasus yang semacam ini, sedekah yang awal sahih dan diterima, sedangkan sedekah yang belakangan adalah sedekah yang batil karena keikhlasannya telah dicampuri riya.
b. Ibadah yang awal berkaitan dengan yang akhir.
Pada ibadah yang seperti ini, seseorang tidak lepas dari dua keadaan:
(1) Ia berusaha menolak riya tersebut dan tidak merasa tenang dengannya. Bahkan, ia berusaha berpaling dari riya dan membencinya.
Jika seperti ini, riya tersebut tidak berpengaruh sedikit pun terhadap ibadah, berdasar sabda Nabi n:
إِنَّ اللهَ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي مَا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسُهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَتَكَلَّمْ
“Sesungguhnya, Allah memaafkan dari umatku apa yang diucapkan oleh jiwanya (betikan hati) selama belum diamalkannya1 atau diucapkannya (dengan lisan).”2
(2) Ia merasa tenang-tenang saja dengan riya yang muncul tersebut dan tidak berusaha menolaknya.
Apabila demikian keadaannya, batallah seluruh ibadahnya karena ibadah yang awal bergandengan dengan yang akhirnya.
Contoh kasusnya, seseorang memulai shalatnya dengan ikhlas karena Allah l. Datang riya pada rakaat yang kedua (tanpa ia berusaha melawan dan melepaskan diri darinya), maka batallah seluruh shalatnya karena bagian yang awalnya bergandengan dengan yang akhirnya.

3. Riya datang setelah selesai melakukan ibadah.
Hal ini tidak memengaruhi ibadah yang telah selesai dilakukan dan tidak membatalkannya karena ibadah tadi telah selesai. Ibadah tersebut sah, tidak rusak disebabkan oleh riya yang muncul setelahnya.
Yang perlu diketahui, tidak termasuk riya ketika seseorang merasa gembira saat ada orang yang mengetahui ibadahnya karena hal itu muncul setelah ia selesai melakukan ibadah. Tidak pula termasuk riya ketika seseorang merasa senang dengan ketaatan yang telah dilakukannya karena hal itu justru menjadi bukti akan keimanannya. Nabi n bersabda:
مَنْ سَرَّتْهُ حَسَنَتُهُ وَسَاءَتْهُ سَيِّئَتُهُ فَذَلِكَ الْمُؤْمِنُ
“Siapa yang kebaikannya menggembirakannya dan kejelekannya menyusahkannya, maka dia adalah seorang mukmin.”3
Nabi n pernah ditanya tentang hal tersebut. Beliau n bersabda:
تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ
“Itu adalah kabar gembira yang disegerakan untuk seorang mukmin.”4
(Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/206—207)

Catatan Kaki:

1 Oleh anggota badan.
2 HR. Ahmad dalam Musnad-nya, al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan selain keduanya.

3 HR. ath-Thabarani dan dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 6294.
4 HR. Muslim dalam Shahih-nya.

Wanita Surga dalam Sebutan Sunnah yang Mulia

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Tak akan kita dapatkan kalimat yang tepat saat berbicara tentang kenikmatan surga. Bagaimana bisa kita menuturkan sebuah kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tiada pula pernah tebersit di hati manusia?
Sebuah kenikmatan nyata yang pasti dijumpai, yang menorehkan rasa rindu di dada insan beriman, kapan kiranya berjumpa dengan kenikmatan jannah?
Setelah kita membahas salah satu kenikmatan surga berupa beroleh pasangan hidup yang sempurna, bidadari nan jelita, sesuai dengan kabar al-Qur’an, berikut ini kita lihat gambaran as-Sunnah tentangnya.
Al-Imam Ahmad t membawakan dalam Musnad-nya hadits Abu Hurairah z dari Rasulullah n:
لِلرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ زَوْجَتَانِ مِنَ الْحُوْرِ الْعِيْنِ، عَلَى كُلِّ وَاحِدَةٍ سَبْعُوْنَ حُلَّةٍ يُرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ وَرَاءِ الثِّيَابِ
“Seorang lelaki penghuni surga akan mendapatkan dua istri dari hurun ‘in1. Pada setiap bidadari tersebut ada tujuh puluh pakaian/perhiasan. Terlihat sumsum betisnya dari balik pakaiannya.” (Dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 2564)
Dalam riwayat Muslim (no. 7076) disebutkan, saat Abu Hurairah z ditanya, “Pria ataukah wanita yang paling banyak di surga?”
Abu Hurairah z menjawab, “Bukankah Abul Qasim n telah bersabda:
إِنَّ أَوَّلَ زَمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ بَدْرٍ، وَالَّتِي تَلِيْهَا عَلَى أَضْوَاءِ كَوْكَبٍ دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ، لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ اثْنَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوْقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ، وَمَا فِي الْجّنَّةِ عَزَبٌ
‘Sesungguhnya, rombongan pertama yang masuk surga berada di atas bentuk bulan pada malam purnama. Rombongan berikutnya di atas bentuk bintang yang paling bersinar terang di langit. Masing-masing beroleh dua istri2 yang terlihat sumsum betis keduanya dari balik daging3. Di dalam surga tidak ada orang yang membujang’.”
Anas bin Malik z menyampaikan bahwa Rasulullah n bersabda:
لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيْلِ اللهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا، وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ أَوْ مَوْضِعُ قِيْدٍ –يَعْنِي سَوْطَهُ- خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا. وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيْحًا، وَلَنَصِيْفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا
“Keluar di sore hari atau di pagi hari (untuk berjihad) di jalan Allah lebih baik daripada dunia seisinya. Tempat anak panah salah seorang dari kalian atau tempat cambuknya dari surga (kelak) lebih baik daripada dunia seisinya. Seandainya seorang wanita dari kalangan penghuni surga melihat ke penduduk bumi, niscaya ia akan menyinari apa yang ada di antara keduanya dan ia akan memenuhi bumi dengan aroma yang wangi. Kerudung yang ada di atas kepalanya lebih baik daripada dunia berikut isinya.” (HR. al-Bukhari no. 2796)
Ibnu Umar c memberitakan dari Rasulullah n bahwa:
إِنَّ أَزْوَاجَ أَهْلِ الْجَنَّةِ لَيُغَنِّيْنَ أَزْوَاجَهُنَّ بِأَحْسَنِ أَصْوَاتٍ، مَا سَمِعَهَا أَحَدٌ قَطُّ. إِنَّ مِمَّا يُغْنِيْنَ بِهِ:
نَحْنُ الْخَيْرَاتُ الْحِسَانُ، أَزْوَاجُ قَوْمٍ كِرَامٍ
يَنْظرْنَ بِقُرَّةِ أَعْيَانٍ
وَإِنَّ مِمَّا يُغْنِيْنَ بِهِ:
نَحْنُ الْخَالِدَاتُ فَلاَ نَمُتْنَ
نَحْنُ الْآمِنَاتُ فَلاَ نَخَفْنَ
نَحْنُ الْمُقِيْمَاتُ فَلاَ نَظْعَنَّ
“Istri-istri penduduk surga sungguh akan mendendangkan nyanyian dengan suara paling merdu. Sama sekali tidak pernah seorang pun mendengar suara sebagus itu. Di antara yang mereka dendangkan:
‘Kami adalah wanita yang baik akhlaknya lagi cantik-cantik parasnya. Istri-istri dari kaum yang mulia
Yang terlihat sebagai penenteram/penyejuk mata’
Termasuk yang mereka dendangkan pula:
‘Kami adalah wanita-wanita yang kekal tidak akan mati
Kami adalah wanita-wanita yang aman tidak merasa takut
Kami adalah wanita-wanita yang berdiam di tempat, tidak pernah bepergian jauh’.” (HR. ath-Thayalisi, dinyatakan sahih dalam Shahihul Jami’ no. 1561)
Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah t dalam Nuniyah-nya yang terkenal menggambarkan penduduk surga dengan ungkapan:
وَرَأَوْا عَلَى بُعْدٍ خِيَامًا مُشْرِفَا تٍ مُشْرِقَاتِ النُّوْرِ وَالْبُرْهَانِ
فَتَيَمَّمُوْا تِلْكَ الْخِيَامَ فَأَنَسُوا
فِيْهِنَّ أَقْمَارًا بِلاَ نُقْصَانِ
مِنْ قَاصِرَاتِ الطَّرْفِ لاَ تَبْغِي سِوَى
مَحْبُوْبِهَا مِنْ سَائِرِ الشُّبَّانِ
وَيَقُوْلُ لـَمَّا أَنْ يُشَاهِدَ حُسْنَهَا
سُبْحَانَ مُعْطِي الْحُسْنِ وَالْإِحْسَانِ
وَالطَّرْفُ يَشْرَبُ مِنْ كُؤُوْسِ جَمَالِهَا
فَتَرَاهُ مِثْلَ الشَّارِبِ النَّشَوَانِ
كَمُلَتْ خَلاَئِقُهَا وَأُكْمِلَ حُسْنُهَا
كَالْبَدْرِ لَيْلَ السِّتِّ بَعْدَ ثَمَانِ
Mereka melihat dari kejauhan kemah-kemah yang tinggi
yang bersinar dengan cahaya dan burhan
Mereka pun menuju kemah-kemah tersebut, dan ternyata mereka merasa betah (senang)
karena di dalamnya ada rembulan-rembulan yang tidak memiliki kekurangan
Berupa wanita-wanita yang menundukkan pandangan, yang tidak menginginkan selain
orang yang dicintainya dari seluruh pemuda (suaminya)
Berkatalah suaminya tatkala menyaksikan keindahan bidadarinya
Mahasuci Dzat yang memberikan kebagusan dan kebaikan
Pandangan mata pun minum dari gelas-gelas kecantikannya
maka engkau melihatnya seperti orang yang minum hingga mabuk kepayang
Sempurna penciptaan sang bidadari dan sempurna pula keindahannya
ibarat rembulan pada malam keenam setelah lewat delapan malam4

Bagaimana dengan Pasangan Wanita Penduduk Dunia di Surga Kelak?
Pernah ditanyakan kepada Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin t beberapa pertanyaan berikut ini.
1. Disebutkan bahwa kaum lelaki di surga kelak akan mendapatkan hurun ‘in (bidadari bermata jeli), lalu bagaimana dengan kaum wanita?
2. Apabila seorang wanita ahlul jannah saat di dunia belum sempat menikah atau ia menikah hanya saja suaminya tidak masuk surga, siapakah yang menjadi pasangan/suaminya di surga?
3. Apabila seorang wanita pernah menikah dua kali di dunia (punya dua suami), nanti di surga si wanita bersama suami yang mana? Mengapa Allah l menyebutkan adanya istri-istri bagi para lelaki di surga, namun tidak ada penyebutan suami-suami untuk para wanita?
Fadhilatusy Syaikh t menjawab satu persatu pertanyaan di atas:
1. Allah l berfirman tentang kenikmatan yang diperoleh penduduk surga:
“Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan beroleh pula di dalamnya apa saja yang kalian minta. Sebagai hidangan (persembahan) bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31—32)
Dia Yang Mahatinggi juga berfirman:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
Dimaklumi bahwa menikah (mendapat pasangan hidup) termasuk hal yang paling didamba oleh setiap jiwa. Dengan demikian, hal itu pun akan didapatkan di surga oleh penghuninya, laki-laki atau perempuan. Jadi, kelak di surga, Allah l akan menikahkan (memasangkan) seorang wanita dengan suaminya di dunia, sebagaimana firman-Nya (tentang doa para malaikat untuk orang-orang yang beriman):
“Wahai Rabb kami, masukkanlah mereka ke dalam surga ‘Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka dan orang-orang yang saleh di antara bapak-bapak mereka, dan istri-istri mereka serta anak keturunan mereka semuanya. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Memiliki hikmah.” (Ghafir: 8)

2. Jawaban pertanyaan (yang kedua ini) diambil dari keumuman firman Allah l:
“Di dalamnya kalian memperoleh apa saja yang kalian inginkan dan beroleh pula di dalamnya apa saja yang kalian minta. Sebagai hidangan (persembahan) bagi kalian dari Rabb Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31—32)
Dia Yang Mahatinggi juga berfirman:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
Dengan demikian, jika seorang wanita menjadi penghuni surga padahal di dunia ia belum menikah atau suaminya bukan ahlul jannah, di surga tentu ada pula kaum lelaki yang di dunia belum sempat menikah. Para lelaki inilah yang akan beroleh istri-istri dari kalangan bidadari dan juga istri-istri dari kalangan wanita penduduk dunia, jika para lelaki ini menghendaki dan jiwa mereka berhasrat. Demikian pula yang kita katakan tentang wanita yang ketika di dunia tidak memiliki suami atau suaminya tidak masuk surga bersamanya. Jika si wanita menghendaki untuk menikah, pasti ia akan dapatkan apa yang dikehendakinya, berdasarkan keumuman ayat di atas.
Adapun nash khusus terkait dengan hal ini, sekarang belum tampak bagi kami. Ilmunya ada di sisi Allah l.

3. Jika seorang wanita memiliki dua suami ketika di dunia (pernah menikah dua kali), pada hari kiamat di surga kelak ia akan diberi pilihan di antara kedua suaminya. Jika di dunia si wanita belum sempat menikah, Allah l akan menikahkannya dengan seseorang yang menyenangkan pandangan matanya di surga.
Kenikmatan di surga pun tidaklah hanya dirasakan oleh kaum pria, namun oleh semuanya, baik pria maupun wanita. Di antara sejumlah nikmat tersebut adalah mendapat pasangan (menikah).
Pertanyaan penanya: Allah l menyebutkan tentang hurun ‘in yang menjadi istri-istri lelaki ahlul jannah, namun Allah l tidak menyebutkan pasangan bagi kaum wanita.
Kami jawab, Allah l hanya menyebutkan istri-istri bagi para suami karena seorang prialah yang mencari dan menginginkan wanita (bukan wanita yang mencari pasangan hidupnya, dia adalah pihak yang dicari). Oleh karena itu, Allah l menyebutkan istri-istri bagi para pria di dalam surga dan tidak menyebutkan suami-suami bagi para wanita. Akan tetapi, tidaklah berarti bahwa para wanita tidak memiliki suami di surga kelak. Mereka punya suami dari kalangan Bani Adam (manusia). (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin, 2/51—53)

Kita memohon kepada Allah l agar memasukkan kita ke dalam negeri kenikmatan yang kekal abadi, yang dikatakan-Nya:
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diinginkan oleh jiwa dan sedap dipandang mata, kalian pun kekal di dalamnya.” (az-Zukhruf: 71)
dan dinyatakan Rasul-Nya n sebagai kenikmatan yang tidak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tiada pula pernah tebersit di hati manusia.
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Catatan Kaki:

1 Bidadari yang bermata jeli, bagian hitam matanya sangat hitam dan bagian putihnya sangat putih, sebagaimana keterangan al-Imam al-Bukhari t dalam Shahihnya, Kitabul Jihad was Sair, Bab “al-Hurun ‘In wa Shifatihinna”.
2 Yang tampak, hadits ini menunjukkan bahwa wanitalah yang paling banyak menghuni surga. Dalam hadits lain disebutkan bahwa wanita paling banyak menjadi penghuni neraka. Menurut al-Qadhi t, ini menunjukkan bahwa mayoritas keturunan Adam itu perempuan. Ada pula kabar yang menyatakan bahwa ada penduduk surga yang beroleh bidadari surga dalam jumlah yang banyak (al-Minhaj, 17/170), seperti yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi t bahwa orang yang mati syahid akan mendapatkan tujuh puluh lebih bidadari.

3 Menggambarkan keindahan mereka.

4 Yakni enam ditambah delapan, malam keempat belas.

 

 

Arwa bintu ‘Abdi Muthalib

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Dari namanya jelas terbaca, dia adalah bibi Rasulullah n. Putranya telah mengetuk hatinya untuk menerima Islam. Allah l pun membukakan pintu hatinya untuk tunduk dalam keimanan.
Arwa bintu ‘Abdil Muththalib bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin Qushai al-Hasyimiyah. Ibunya bernama Fathimah bintu ‘Amr bin ‘Aid bin ‘Imran bin Makhzum.
Di masa jahiliah, dia disunting oleh ‘Umair bintu Wahb bin ‘Abd bin Qushai. Dari pernikahan mereka, lahir seorang anak laki-laki, Thulaib bin ‘Umair. Setelah berpisah dengan ‘Umair, Arwa menikah dengan Arthah bin Syarahbil bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf bin ‘Abdid Dar bin Qushai. Pasangan ini dikaruniai seorang putri bernama Fathimah.
Dakwah Rasulullah n mulai merebak di negeri Makkah. Satu per satu para sahabat menyatakan keislamannya di rumah al-Arqam bin Abil Arqam al-Makhzumi. Di sanalah Rasulullah n mengajarkan Islam kepada mereka di awal dakwah beliau.
Begitu pula Thulaib yang kala itu telah beranjak dewasa. Dia masuk Islam bersama sahabat yang lain. Setelah masuk Islam, Thulaib segera keluar dari rumah al-Arqam untuk menemui ibunya.
“Aku telah masuk Islam dan mengikuti Muhammad,” Thulaib mengaku di hadapan ibunya.
“Memang sesungguhnya orang yang paling berhak kaubantu dan kaubela adalah anak pamanmu itu!” tutur Arwa.
“Demi Allah!” lanjut Arwa, “Seandainya kami punya kemampuan sebagaimana yang dimiliki lelaki, sungguh kami akan mengikuti dan membelanya pula.”
“Lalu apa yang membuatmu tak mau masuk Islam dan mengikutinya, wahai Ibu? Padahal saudaramu, Hamzah, pun sudah masuk Islam,” desak Thulaib.
“Aku akan menunggu apa yang dilakukan saudari-saudariku. Aku akan mengambil jalan yang sama dengan mereka,” ujar Arwa.
Thulaib terus mendesak ibunya, “Aku meminta kepadamu dengan nama Allah. Datangilah Muhammad, ucapkan salam kepadanya dan benarkanlah dia! Lalu bersaksilah bahwa tak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah!”
Akhirnya terucaplah persaksian Arwa bahwa tidak ada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah l dan Muhammad n adalah utusan Allah l.
Setelah keislamannya itu, Arwa senantiasa membela Rasulullah n dengan lisannya. Tak hanya itu, dia juga mendorong putranya untuk membela dan membantu Rasulullah n.
Suatu hari, Abu Jahl bersama beberapa orang kafir Quraisy menghadang Rasulullah n. Mereka mulai mengganggu beliau. Melihat itu, Thulaib tidak tinggal diam. Bergegas dia berdiri di hadapan Abu Jahl. Pukulannya melayang mengenai Abu Jahl dan melukai kepalanya. Orang-orang pun segera menangkap dan membelenggu Thulaib. Abu Jahl berdiri di hadapan Thulaib dan melepaskannya.
Peristiwa ini didengar oleh Arwa. Orang-orang mengatakan kepadanya, “Tidakkah kau lihat anakmu menjadikan dirinya tameng bagi Muhammad?” Arwa memuji putranya, “Sebaik-baik hari Thulaib adalah hari ketika dia membela anak pamannya. Sesungguhnya dia datang membawa kebenaran dari sisi Allah l.”
Orang-orang terperanjat mendengar jawaban Arwa. “Kamu sudah mengikuti Muhammad?”
“Ya,” jawab Arwa.
Ada di antara mereka yang mengabarkan hal itu pada Abu Jahl. “Arwa telah mencelamu!” kata mereka.
Betapa berang Abu Jahl. Segera ditemuinya Arwa dan dicaci-maki. “Aku benar-benar heran kepadamu! Bisa-bisanya engkau ikuti Muhammad dan engkau tinggalkan agama ‘Abdul Muththalib!”
“Itu sudah terjadi,” jawab Arwa dengan tenang.
“Datanglah ke hadapan anak saudaramu itu,” lanjut Arwa, “Kalau telah jelas urusannya, kau bisa memilih masuk Islam bersamanya atau tetap dalam agamamu. Kalaupun tidak, kau bisa memaafkan anak saudaramu itu.”
Namun, kesombongan telah menutupi hati Abu Jahl. Dia menolak mentah-mentah.
“Bagaimana mungkin?! Kami mempunyai kekuatan di hadapan seluruh kalangan bangsa Arab, sedangkan dia datang membawa agama baru!” tukasnya.
Inilah syair Arwa, seorang ibu yang menyenandungkan pujian kepada Thulaib, putranya, akan kecintaannya kepada Rasul yang mulia:
Sesungguhnya Thulaib telah menolong anak pamannya
Membantunya dengan darah dan hartanya
Arwa bintu ‘Abdil Muththalib, semoga Allah l meridhainya….

Sumber bacaan:
al-Ishabah, al-Hafizh Ibnu Hajar al-’Asqalani (8/8—9)
al-Isti’ab, al-Imam Ibnu ‘Abdil Barr (2/481—482)
ath-Thabaqatul Kubra, al-Imam al-Mizzi (10/42—43)

Seluk Beluk Mendidik Anak Perempuan

(ditulis oleh: Al-Ustadzah Ummu Abdirrahman bintu Imran)

Memiliki anak-anak perempuan bukanlah sebuah kekurangan bagi seseorang. Bisa jadi, ia justru menjadi anugerah yang amat indah baginya, manakala dia bisa menunaikan segala kewajiban memelihara dan mendidik mereka.

Bagi orang tua yang dianugerahi anak-anak perempuan, pemberian Allah l ini sebenarnya merupakan karunia yang amat besar dari-Nya. Dia bisa berharap janji Rasulullah n:
مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ وَضَمَّ أَصَابِعَهُ
“Barang siapa yang memelihara dua anak perempuan hingga dewasa, dia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan aku dan dia (seperti ini).” Beliau menggabungkan jari-jemarinya. (HR. Muslim no. 2631)
Juga pada janji beliau n yang lainnya:
مَنِ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ
“Barang siapa diuji dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, kelak mereka akan menjadi penghalang dari api neraka.” (HR. al-Bukhari no. 1418 dan Muslim no. 2629)
Kita juga mengingat penuturan ‘Aisyah x tentang seorang wanita miskin yang datang kepadanya. ‘Aisyah x mengisahkan:
جَاءَتْنِي مِسْكِيْنَةٌ تَحْمِلُ ابْنَتَيْنِ لَهَا فَأَطْعَمْتُهَا ثَلاَثَ تَمْرَاتٍ فَأَعْطَتْ كُلَّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا تَمْرَةً وَرَفَعَتْ إِلَى فِيْهَا تَمْرَةً لِتَأْكُلَهَا فَاسْتَطْعَمَتْهَا ابْنَتَاهَا فَشَقَّتِ التَّمْرَةَ الَّتِي تُرِيْدُ أَنْ تَأْكُلَهَا بَيْنَهُمَا، فَأَعْجَبَنِي شَأْنُهَا فَذَكَرْتُ الَّذِي صَنَعَتْ لِرَسُوْلِ اللهِ n، فَقَالَ: إِنَّ اللهَ قَدْ أَوْجَبَ لَهَا بِهَا الْجَنَّةَ وَأَعْتَقَهَا بِهَا مِنَ النَّارِ
“Seorang wanita miskin datang kepadaku membawa dua orang anak perempuannya. Kuberikan kepadanya tiga butir kurma. Ia lalu memberikan kepada setiap anaknya sebutir kurma. Sebutir yang lain ia angkat ke mulutnya untuk dia makan. Namun, kedua anak perempuannya meminta kurma itu. Lantas dibaginya kurma yang hendak dia makan itu untuk kedua anaknya. Aku pun merasa kagum terhadap perbuatannya, lalu kuceritakan apa yang dilakukannya kepada Rasulullah n. Beliau pun berkata, ‘Sesungguhnya Allah telah menetapkan baginya surga dengan kurma yang diberikannya itu dan membebaskannya dari neraka’.” (HR. Muslim no. 2630)
Begitu pun kalau kita cermati, pendidikan terhadap anak perempuan memiliki peran yang amat strategis. Tentu saja, karena hal ini akan sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat dan generasinya kelak. Bagaimana tidak! Seorang anak perempuan akan menjadi seorang istri bagi suaminya, akan menjadi ibu dan pendidik bagi anak-anaknya. Selain itu, dia akan mengemban berbagai tugas lain yang telah menanti.
Jika dia baik, dia akan menunaikan berbagai perannya ini dengan baik. Dia akan berkhidmah di balik kesibukan suaminya dengan sebaik-baiknya serta memberikan dorongan dan pengaruh yang baik bagi sang suami. Dia akan memelihara serta menjaga fisik dan psikis anak-anaknya yang kelak akan menjadi generasi pengganti, juga mengajari mereka dengan berbagai hal yang positif. Dia juga akan menjaga kehormatan diri dan keluarganya. Selanjutnya, dia pun mengerti tanggung jawab dan amanat yang harus dia tunaikan dalam setiap tugas yang diembannya. Dengan demikian, baiklah masyarakatnya—insya Allah.
Sebaliknya, anak perempuan yang tak terdidik dengan baik tidak akan bisa membantu dan mendukung kebaikan suaminya. Anak-anaknya pun telantar, tidak terurus karena dia tidak mengerti hak anak-anaknya. Tingkah laku anak-anaknya pun akan jauh dari sebutan beradab. Lebih-lebih lagi, dia akan menjadi sumber kerusakan yang bisa menghancurkan tatanan masyarakat.
Tentu kita tidak ingin memiliki anak perempuan sebagaimana gambaran terakhir ini. Kita mohon keselamatan kepada Allah l….
Kalau begitu, kita perlu menelisik seluk-beluk mendidik anak perempuan ini—dengan terus memohon pertolongan dan kemudahan dari Allah l—untuk mewujudkan impian dan harapan kita.

Mengajarkan Agama kepada Mereka
Bekal yang paling berharga bagi anak-anak, termasuk anak perempuan, adalah agama. Bahkan, seorang wanita dipilih karena agamanya, sebagaimana anjuran Rasulullah n:
تُنْكَحُ النِّسَاءُ لِأَرْبَعَةٍ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَلِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ
“Wanita itu dinikahi karena empat hal: bisa jadi karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka dari itu, pilihlah wanita yang baik agamanya. Jika tidak, engkau akan celaka.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 3620)
Menanamkan agama kepada anak-anak tentu saja harus bertahap. Pada tahap awal, saat anak-anak mulai mengerti pembicaraan, kita bisa mengenalkan mereka pada Rabbnya. Kita tuntun mereka menunjuk ke langit sambil kita katakan, “Allah.” (Nashihati lin Nisa’, hlm. 65)
Ketika tiba saat anak dapat berbicara, mereka dituntun untuk mengucapkan kalimat tauhid:
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ
Jadikanlah yang pertama kali mengetuk pendengarannya adalah pengenalan kepada Allah l, pengesaan-Nya, dan bahwa Allah l di atas ‘Arsy-Nya, Allah l melihat dan mendengar segala ucapan mereka, Dia selalu bersama mereka di mana pun berada. (Tuhfatul Maudud, hlm. 195)
Saat berusia sekitar satu setengah tahun, ketika mereka mulai belajar bicara, kita tuntunkan mereka untuk mengucapkan basmalah sebelum makan dan minum. Kita biasakan sampai mereka terbiasa mengucapkannya sendiri setiap hendak makan dan minum. (Nashihati lin Nisaa’, hlm. 65)
Ini sebagaimana halnya Rasulullah n mengajarkan basmalah kepada ‘Umar bin Abi Salamah yang berada dalam asuhan beliau:
يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللهَ، وَكُلْ بِيَمِيْنِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيْكَ
“Nak, ucapkan bismillah. Makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu!” (HR. al-Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)
Ketika mereka mulai bisa memahami, kita ajari mereka rukun Islam, rukun iman, dan rukun ihsan. Pengajaran tentang hal ini tidak bisa dibatasi mulai usia tertentu, tergantung kemampuan pemahaman dan bicara anak.
Ajari serta biasakan mereka untuk berwudhu dan shalat saat berusia tujuh tahun. Pukullah mereka jika meninggalkan shalat pada usia sepuluh tahun. Pada usia ini pula, pisahkan tempat tidur antara anak laki-laki dan anak perempuan. Demikian yang diperintahkan oleh Rasulullah n kepada setiap orang tua dalam sabda beliau:
مُرُوا أَوْلاَدَكُمْ بِالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِيْنَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي المَضَاجِعِ
“Perintahlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan pukullah mereka jika enggan melakukannya pada usia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (HR. Ahmad dan dikatakan oleh asy-Syaikh al-Albani t dalam Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 5744, “Hadits ini hasan.”)
Jika mereka telah mampu, kita latih mereka untuk berpuasa agar terbiasa kelak ketika dewasa. Hal seperti ini telah dilakukan oleh para ibu dari kalangan shahabiyah, sebagaimana yang dituturkan oleh ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz x:
وَنُصَوِّمُ صِبْيَانَنَا وَنَجْعَلُ لَهُمُ اللُّعْبَةَ مِنَ الْعِهْنِ، فَإِذَا بَكَى أَحَدُهُمْ عَلَى الطَّعَامِ أَعْطَيْنَاهُ ذَاكَ حَتَّى يَكُوْنَ عِنْدَ الْفِطْرِ
“Kami menyuruh puasa anak-anak kami. Kami buatkan untuk mereka mainan dari perca. Jika mereka menangis karena lapar, kami berikan mainan itu kepadanya hingga tiba waktu berbuka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim) (Nashihati lin Nisa’, hlm. 66—67)
Kemudian diajari pula mereka akidah yang benar, sebagaimana halnya Rasulullah n mengajari anak pamannya, ‘Abdullah bin ‘Abbas c:
احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، وَإِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الْأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ
“Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan dapati Dia ada di hadapanmu. Apabila engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat ini berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu, mereka tidak akan dapat memberikannya selain apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagimu. Seandainya mereka berkumpul untuk menimpakan mudarat kepadamu, mereka tidak akan dapat menimpakannya selain apa yang telah Allah tetapkan menimpamu. Telah diangkat pena, dan telah kering lembaran-lembaran.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/2043 dan al-Misykat no. 5302)
Kita ajarkan pula hal-hal yang terkandung dalam wasiat Luqman kepada anaknya yang dikisahkan oleh Allah l dalam al-Qur’an, Surat Luqman ayat 13—19.
Selain itu, mereka harus pula mengetahui perkara-perkara yang harus dijauhi dalam syariat sehingga mereka dapat menghindarinya. Ini telah dicontohkan oleh Rasulullah n:
أَخَذَ الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ تَمْرَةً مِنْ تَمْرِ الصَّدَقَةِ فَجَعَلَهَا فِي فِيْهِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: كِخْ كِخْ، ارْمِ بِهَا، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّا لاَ نَأْكُلَ الصَّدَقَةَ؟
Al-Hasan bin ‘Ali c memungut sebutir kurma dari kurma sedekah, lalu dia masukkan kurma itu ke mulutnya. Rasulullah n pun bersabda, “Kikh, kikh1! Buang kurma itu! Apa kau tidak tahu, kita ini tidak boleh makan sedekah?” (HR. Muslim no. 1069)
Selanjutnya, seiring dengan bertambahnya usia, kita ajarkan mereka satu demi satu syariat Islam yang mulia ini—terutama hal-hal yang khusus berkenaan dengan wanita— sebagai bekal utama bagi mereka dalam menghadapi kehidupan.
Memupuk Kesadaran Mereka Sebagai Seorang Wanita
Sedari awal, anak perempuan harus diberi pengertian bahwa mereka berbeda dari anak laki-laki. Hal yang termudah untuk mengenalkan perbedaan ini adalah dari sisi pakaian. Mereka dilarang mengenakan pakaian yang biasa dipakai anak laki-laki. Selain pakaian, sikap dan perilaku pun demikian. Anak perempuan diajari sikap dan perilaku yang khas anak perempuan. Mereka harus diberi pengertian bahwa Rasulullah n melarang mereka menyerupai anak laki-laki, sebagaimana dalam hadits:
لَعَنَ رَسُولُ اللهِ n الْمُتَشَبِّهِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ بِالنِّسَاءِ وَالْمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بِالرِّجَالِ وَلَعَنَ الْمُخَنَّثِيْنَ مِنَ الرِّجَالِ وَالْمُتَرَجِّلاَتِ مِنَ النِّسَاءِ
“Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. Beliau melaknat laki-laki yang berperilaku seperti wanita dan wanita yang berperilaku seperti laki-laki.” (HR. al-Bukhari no. 5885)
Difatwakan oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t, “Tasyabbuh (penyerupaan) laki-laki dengan perempuan termasuk dosa besar, demikian pula penyerupaan perempuan dengan laki-laki. Dalilnya, ‘Rasulullah n melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’. Di samping itu, penyerupaan seperti ini akan merusak sunnah Allah l terhadap ciptaan-Nya, karena Allah l telah menciptakan kekhususan tersendiri bagi wanita dan kekhususan tersendiri pula bagi laki-laki. Jika wanita menyerupai laki-laki dan laki-laki menyerupai perempuan, tentu sunnah yang telah diciptakan oleh Allah l ini akan hilang dan sirna sehingga terjadilah sesuatu yang bertentangan dengan penciptaan dan hikmah Allah l.” (Fatawa ‘Ulama al-Balad al-Haram, hlm. 1761—1762)
Membiasakan Mereka dengan Adab dan Akhlak Mulia
Di masa sekarang, banyak anak perempuan kaum muslimin yang kehilangan pesonanya sebagai seorang muslimah. Makan dengan tangan kiri, bersuara lantang di depan khalayak, keluyuran di pusat perbelanjaan, dan berdesakan di tengah keramaian tidak lagi dipandang sebagai aib. Bisa jadi pula, mereka bahkan terlepas dari perhatian orang tua. Rasa malu mulai tanggal dari diri mereka.
Di sisi yang lain, ada orang tua yang merasa perlu menyekolahkan anaknya di ‘sekolah etika’ agar anak perempuannya tampil anggun dan penuh etika.
Sebenarnya, seorang muslimah bisa tampil santun dan penuh pesona manakala dia berpegang dengan adab dan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Becermin kepada pribadi Rasulullah n, ummahatul mukminin, dan para shahabiyah.
Di samping itu, sejak dini mereka harus dikenalkan dan dibiasakan dengan adab-adab yang diajarkan oleh Islam. Ini sebagaimana dikatakan oleh sahabat yang mulia, ‘Ali bin Abi Thalib z:
أَدِّبُوْهُمْ، عَلِّمُوْهُمْ
“Ajarilah mereka adab dan ajarilah mereka ilmu!”
Adab terhadap orang tua, tetangga, tamu, adab makan dan minum, adab berpakaian, adab meminta izin, dan sekian banyak adab yang diajarkan oleh Islam—hingga yang sekecil-kecilnya, seperti memotong kuku, membersihkan badan dan pakaian, serta menunaikan hajat—perlu mereka ketahui dan amalkan. Adab dan akhlak yang mulia akan menjadi perhiasan bagi mereka.

Membiasakan Mereka Berpakaian Sesuai Syariat
Tidak selayaknya kita memakaikan mereka pakaian yang jauh dari tuntunan syariat, rok mini atau hot pants misalnya. Dinasihatkan oleh Fadhilatusy Syaikh al-‘Utsaimin t, “Tidak pantas orang tua memakaikan anak perempuannya pakaian seperti ini (pakaian yang pendek, –pen.) semasa kanak-kanak. Karena jika terbiasa, hal ini akan melekat dan dianggap remeh olehnya. Apabila yang seperti ini menjadi kebiasaannya, keadaan ini akan terus dia bawa hingga dewasa. Yang saya nasihatkan kepada para saudari saya kaum muslimah, hendaknya mereka meninggalkan busana wanita asing dari kalangan musuh-musuh agama ini. Hendaknya pula mereka membiasakan anak-anak perempuan mereka untuk mengenakan pakaian yang menutup aurat dan senantiasa merasa malu karena malu itu termasuk keimanan.” (Fatawa asy-Syaikh Muhammad ash-Shalih al-’Utsaimin, 2/845—846)
Bahkan, kita harus mendorong mereka untuk menutup aurat sejak masih kanak-kanak agar mereka terbiasa ketika dewasa kelak. Sejak umur tujuh tahun, kita biasakan mereka mengenakan kain kerudung untuk menutup kepala. Ketika telah baligh, kita perintahkan untuk menutup wajahnya, mengenakan pakaian panjang dan lapang yang akan menjaga kehormatannya.
ﮝ ﮞ ﮟ ﮠ ﮡ ﮢ ﮣ ﮤ ﮥ ﮦ ﮧﮨ ﮩ ﮪ ﮫ ﮬ ﮭ ﮮﮯ
“Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan seluruh wanita kaum mukminin agar mereka mengulurkan jilbab-jilbab mereka. Ini lebih layak bagi mereka untuk dikenali (sebagai wanita baik-baik) hingga mereka tidak diganggu.” (al-Ahzab: 59)
Allah l juga telah melarang para wanita mukminah membuka wajah serta menampakkan kecantikan dan perhiasan pada selain mahramnya. Allah l berfirman:
ﭹ ﭺ ﭻ ﭼ ﭽﭾ
“Dan janganlah kalian menampakkan perhiasan sebagaimana kaum jahiliah dahulu.” (al-Ahzab: 33) (Kaifa Nurabbi Auladana, hlm. 26)

Mengajari Berbagai Keterampilan Rumah Tangga
Anak perempuan harus dibekali dan dibiasakan melakukan segala pekerjaan rumah. Hal ini nanti akan dibutuhkannya ketika mulai memasuki rumah tangga bersama suaminya. Banyak hal harus dia ketahui: cara bergaul dengan suami dan mengurus rumah tangga, seperti memasak, mengatur rumah, dan sebagainya.
Kadang ada keluarga yang kurang memerhatikan sisi ini. Anak perempuannya tidak dibekali dengan keterampilan yang memadai untuk terjun dalam rumah tangga. Tatkala si anak mulai berumah tangga, ternyata dia tak bisa memasak atau membereskan rumah. Bahkan, ia tak mengerti bagaimana bergaul dengan baik dan santun dengan suaminya. Yang lebih menyedihkan jika sang suami adalah seorang yang tak sabaran dan cepat naik pitam. Akhirnya, muncullah berbagai problem rumah tangga sejak awal perjalanannya yang terkadang harus berakhir dengan perpisahan. Kita memohon keselamatan kepada Allah l.
Alangkah indah nasihat seorang ibu untuk putrinya yang hendak dinikahkan dengan al-Harits bin ‘Amr al-Kindi. Dia pesankan,
“Wahai putriku, sesungguhnya jikalau wasiat tak lagi diberikan untuk seorang yang beradab dan bernasab mulia, tentu takkan kuberikan wasiat ini untukmu. Namun, wasiat adalah pengingat bagi orang yang berakal dan pemberi peringatan bagi orang yang lalai.

Wahai putriku, seandainya seorang anak perempuan tak lagi membutuhkan suami karena ayah bundanya telah mencukupinya, sesungguhnya engkau orang yang paling tak butuh terhadap suami. Namun, kita ini diciptakan untuk kaum laki-laki, sebagaimana pula diciptakan kaum laki-laki untuk kita.
Wahai putriku, engkau hendak berpisah dengan tanah tempat kelahiranmu, meninggalkan kehidupan yang dahulu engkau tumbuh di sana, menuju tempat yang tak kau kenal bersama teman yang asing bagimu. Dengan kepemilikannya atas dirimu, dia menjadi penguasa atasmu. Berlakulah layaknya hamba sahayanya, niscaya dia akan menjadi sahaya yang tunduk kepadamu. Jagalah sepuluh hal yang akan menjadi simpanan berharga bagimu:
1. Bergaullah dengannya dengan penuh qana’ah karena qana’ah akan melapangkan hati.
2. Dengar dan taatlah engkau dengan baik karena pada kedua hal ini ada keridhaan Rabbmu.
3. Berupayalah menjaga pandangan mata dan penciumannya, jangan sampai kedua matanya memandang sesuatu yang buruk darimu dan hidungnya mencium sesuatu darimu selain aroma yang semerbak wangi.
4. Kenakanlah selalu celak dan air karena celak adalah sebaik-baik perhiasan dan air adalah sebaik-baik wewangian.
5. Jagalah selalu waktu makannya, karena panasnya rasa lapar akan mudah membangkitkan kemarahan.

6. Ciptakan suasana tenang saat tidurnya karena tidur yang terganggu akan menimbulkan amarah.
7. Berusahalah selalu menjaga rumah dan hartanya karena mampu menjaga harta termasuk sebaik-baik kemampuan.
8. Jagalah selalu hubungan dengan keluarganya karena kemampuan menjaga hubungan dengan kerabat termasuk sebaik-baik pengaturan.
9. Jangan engkau sebarkan rahasianya karena jika engkau lakukan, niscaya engkau takkan aman dari pengkhianatannya.
10. Jangan pernah kau durhakai perintahnya, karena jika kau mendurhakai perintahnya, berarti engkau buat menggelegak dadanya.
Semakin kau agungkan dia, dia pun makin memuliakanmu. Semakin sering engkau seia-sekata dengannya, dia pun semakin baik kepadamu.
Ketahuilah, engkau takkan bisa melakukan semua ini sampai engkau utamakan keinginannya di atas keinginanmu, dan engkau utamakan keridhaannya di atas keridhaanmu, baik dalam hal-hal yang kau sukai maupun yang engkau benci.
Hati-hatilah, jangan sampai engkau bergembira di hadapannya manakala dia sedang gundah gulana, dan jangan bermuram durja di hadapannya tatkala dia sedang gembira.” (Takrimul Mar’ah fil Islam, hlm. 96—97)
Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Catatan Kaki:

1 Ini adalah perkataan untuk memperingatkan anak-anak dari sesuatu yang kotor. Maknanya, “Tinggalkan dan buang barang itu!”

 

Memujudkan Rumah Tangga Bahagia (bagian 1)

(ditulis oleh: al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah)

Pembicaraan tentang pernikahan sudah sering berulang. Bahkan, majalah yang semoga diberkahi ini pernah memuat kajian utama yang menyorot tentang pernikahan Islami. Namun, apabila kita membaca tulisan-tulisan ilmiah dari orang yang berilmu—baik dari ulama maupun penuntut ilmu syar’i—tentang masalah ini, sepertinya ada saja sisi yang menarik untuk disampaikan kepada Pembaca dan perlu diingatkan kepada insan yang akan atau telah melangsungkan pernikahan. Untuk yang akan menikah, maka semoga bisa menjadi bahan renungan sebelum melangkah. Adapun bagi yang sudah menikah, diharap bisa menjadi bahan introspeksi untuk mempertahankan apa yang telah dijalani dan dapat membawa bahtera ke ‘pulau bahagia’ yang diimpikan.
Tulisan di bawah ini pun idenya berawal dari hasil membaca artikel yang cukup panjang tentang rumah tangga dan pernikahan karya asy-Syaikh Salim al-‘Ajmi hafizhahullah yang dimuat di Muntadayat al-Ukht as-Salafiyyah, sebuah situs internet yang khusus ditujukan untuk para muslimah. Muncul rasa ingin berbagi kepada pembaca muslimah….
Dengan menengadahkan kedua tangan memohon kepada Rabbul Alamin agar dianugerahi keikhlasan dalam berbuat, kami pun menyusun nukilan-nukilan dari tulisan tersebut ditambah narasumber yang lain. Semoga bisa memberi manfaat untuk sesama.
Ketahuilah wahai muslimah!
Berdirinya sebuah rumah yang dipenuhi kebahagiaan adalah tujuan yang ingin dicapai dan cita-cita yang ingin diwujudkan oleh setiap orang. Rumah adalah tempat berdiam yang selalu dituju setelah diterpa kelelahan dan kepenatan di luar sana. Apabila seseorang pulang ke rumahnya, lalu didapatinya rumah yang tenang dan dirasakannya ketenteraman di dalamnya, berarti kebahagiaan ada bersamanya. Betapa banyak rumah yang kecil dan sempit, namun kebahagiaan menjadikannya luas lagi lapang.
Sebaliknya, betapa banyak kediaman yang besar dan luas, namun kegersangan menjadikannya lebih sempit daripada lubang jarum. Tidak ada keinginan penghuninya selain meninggalkan rumah tersebut. Tidak ada kebetahan berdiam di dalamnya. Mereka berusaha mengobati rasa sempit mereka dengan lari dari sebab-sebabnya. Ternyata, rumah mereka telah ‘roboh’ diempas oleh badai kesengsaraan.
Untuk mewujudkan sebuah ‘rumah bahagia’, sudah merupakan keniscayaan seorang lelaki menggandeng tangan seorang wanita untuk hidup bersamanya di rumah tersebut dalam ikatan yang suci. Kebersamaan ini merupakan tujuan agung, yang dengannya terwujud kasih sayang, kedekatan, dan persahabatan.
Kebersamaan dalam nikah termasuk kenikmatan terbesar yang diberikan oleh Allah l kepada para hamba. Dengannya, dihasilkanlah ketenangan yang dapat memenuhi hati sepasang insan.
Sungguh, tidak ada kebersamaan insan yang menyamai pernikahan. Karena itulah, Allah l berfirman mengingatkan nikmatnya tersebut, sementara Dia adalah Dzat yang paling benar ucapan-Nya:
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya; Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari diri-diri kalian, agar kalian merasakan ketenangan kepadanya dan Dia jadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mau berpikir.” (ar-Rum: 21)
Perhatikanlah. Di dalam ayat di atas Allah l menyebutkan dengan lafadz ﮑ ﮒ yang berarti “agar kalian merasakan ketenangan kepadanya”, tidak dengan lafadz لِتَسْكُنُوا مَعَهَا (sakan ma’a) karena sakan ma’a (bersama) sesuatu bisa disertai kecintaan kepadanya dan bisa pula tidak. Adapun sakan ila (kepada) sesuatu mengandung makna yang lebih besar daripada kedekatan, cinta, kecondongan, dan ketenangan.
Sepanjang apa pun pencarian seseorang dalam hidupnya guna beroleh teman yang dapat membuatnya tenang dan tenteram jiwanya saat berdekatan, dia tidak akan mendapatkan teman yang semisal seorang istri. Sebaliknya, seorang wanita pun tidak akan beroleh teman semisal suami. Inilah fitrah insan yang kita tidak bisa lari dan lepas darinya.
Allah l berfirman:
“Dialah yang menciptakan kalian dari jiwa yang satu (Adam) dan dari jiwa yang satu itu Dia jadikan pasangannya (Hawa) agar si jiwa yang satu merasa tenang dengan keberadaan pasangannya.” (al-A’raf: 189)
Seandainya Allah l menjadikan anak Adam itu seluruhnya laki-laki dan dijadikan-Nya perempuan mereka dari jenis yang lain, bukan jenis manusia, mungkin dari jenis jin atau hewan, niscaya tidak mungkin terjalin kedekatan di antara mereka. Yang terjadi justru yang satu akan lari menjauh dari yang lain.
Di samping menjadikan pasangan manusia adalah manusia juga, pria berpasangan dengan wanita sebagai istrinya, Allah l juga menyempurnakan nikmat-Nya kepada anak Adam dengan ditumbuhkan-Nya rasa cinta dan kasih sayang di antara suami istri tersebut. Seorang lelaki tetap menahan seorang wanita dalam ikatan pernikahan dengannya, bisa jadi karena dia mencintai istrinya tersebut, atau dia menyayanginya dengan adanya anak yang terlahir dari si istri, atau karena istrinya butuh kepadanya untuk beroleh infak/belanja, atau adanya kedekatan di antara keduanya. (Tafsir Ibni Katsir, 6/171)
Siapa yang merenungkan hal ini niscaya dia akan berusaha dengan serius mencari belahan dirinya yang hilang. Barangkali, belahan jiwanya bisa didapatkan pada seseorang yang menenteramkan pandangan matanya, menenangkan jiwanya, dan membahagiakan dirinya. Sesuatu yang sekian lama dirasakannya sebagai ruang yang belum terisi dalam hatinya. Tatkala pada akhirnya dia mengakhiri kesendiriannya dengan menikah, tertutuplah kekosongan ruang tersebut. Kini, telah ada yang mengisi kebahagiaan hatinya.
Saat seorang lelaki yang saleh mencari tambatan hatinya, tentu tidak pernah lupa menghadirkan sabda Rasulullah n yang mulia:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتاَعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia itu perhiasan1 dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salehah.” (HR. Muslim no. 3638 dari Abdullah ibnu Amr ibnul Ash c)
Kata Rasul n, dunia berikut isinya tidak lain hanyalah kesenangan dan perhiasan. Sebaik-baik kesenangan yang bisa dinikmati oleh seorang hamba di dunia ini adalah wanita salehah, yang akan menjadi perhiasan bagi rumahnya. Apabila dia memandangnya, dia merasa senang. Apabila dia pergi, si wanita akan menjaga dirinya untuknya dan menjaga hartanya.
Karena itulah, seorang penyair Arab berkata,
أَفْضَلُ مَا نَالَ الْفَتَى بَعْدَ الْهُدَى وَالْعَافِيَةِ
قَرِيْنَةٌ مُسْلِمَةٌ عَفِيْفَةٌ مُوَاتِيَةٌ
Yang paling utama yang diperoleh seorang pemuda setelah petunjuk dan afiah/kesehatan/kelapangan
adalah teman muslimah yang menjaga kehormatan dirinya
Rasulullah n pernah bersabda tentang kebahagiaan dan kesengsaraan. Beliau menyatakan:
ثلَاَثٌ مِنَ السَّعَادَةِ وَثَلاَثٌ مِنَ الشَّقاوة. فَمِنَ السَّعَادَةِ: الْمَرْأَةُ تَرَاهَا تُعْجِبُكَ، وَتَغِيْبُ فَتَأْمَنَهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ، وَالدَّابَّةُ تَكُوْنُ وَطِيْنَةٌ فَتُلْحِقُكَ بِأَصْحَابِكَ، وَالدَّارُ تَكُوْنُ وَاسِعَةً كَثِيْرَةَ الْمَرَافِقِ؛ وَمِنَ الشَّقَاوَةِ: الْمَرْأَةُ تَرَاهَا فَتَسُوؤُكَ، وَتَحْمِلُ لِسَانَهَا عَلَيْكَ، وَإِنْ غِبْتَ عَنْهَا لَمْ تَأْمَنْهَا عَلَى نَفْسِهَا وَمَالِكَ، وَالدَّابَّةُ تَكُوْنُ قُطُوْفًا، فَإِنْ ضَرَبْتَهَا أَتْعَبَتْكَ، وَإِنْ تَرَكَهَا لَمْ تُلْحِقْكَ بِأَصْحَابِكَ، وَالدَّارُ تَكُوْنُ ضَيِّقَةً قَلِيلَةَ الْمَرَافِقِ.
“Tiga perkara termasuk kebahagiaan dan tiga perkara termasuk kesengsaraan. Yang termasuk kebahagiaan adalah wanita salehah, yang apabila engkau lihat akan mengagumkanmu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau merasa aman dari (pengkhianatan/perselingkuhan) nya (karena dia menjaga dirinya untukmu) dan aman hartamu (karena dia menjaga hartamu). (Yang kedua) tunggangan yang jinak/tangkas (enak ditunggangi) sehingga dia menyusulkanmu dengan teman-temanmu (tidak membuatmu tertinggal dari rombongan), dan (yang ketiga) rumah yang luas lagi banyak ruangannya.
Termasuk kesengsaraan adalah istri yang apabila engkau melihatnya tidak menyenangkanmu, lisannya menyakitimu, apabila engkau pergi meninggalkannya engkau tidak merasa aman dari pengkhianatannya dan tidak aman hartamu (karena ia tidak menjaganya, bahkan berkhianat dalam hal dirinya dan harta suami). (Yang kedua) tunggangan yang lambat, tidak nyaman dinaiki. Apabila engkau memukulnya, dia akan membuatmu capek, namun apabila engkau biarkan, dia tidak bisa menyusulkanmu dengan teman-temanmu (membuatmu tertinggal dari rombongan). (Yang ketiga) rumah yang sempit lagi sedikit ruangannya.” (HR. al-Hakim 2/162, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah no. 1047)
Ali bin Abi Thalib z, sahabat Rasulullah n yang utama, sekaligus saudara misan dan menantu beliau, pernah berkata,
مِنْ سَعَادَةِ الرَّجُلِ أَنْ تَكُوْنَ زَوْجَتُهُ صَالِحَةً، وَأَوْلاَدُهُ أَبْرَارًا، وَإِخْوَانُهُ شُرَفَاءَ، وَجِيْرَانُهُ صَالِحِيْنَ، وَأَنْ يَكُوْنَ رِزْقُهُ في بَلَدِهِ
“Termasuk kebahagiaan seorang lelaki apabila ia memiliki istri yang salehah, anak-anak yang berbakti, saudara-saudara yang mulia, dan tetangga yang baik, ditambah lagi rezekinya bisa diperoleh di negerinya sendiri (tidak perlu merantau untuk mencari rezeki).”
Rasulullah n bersabda kepada Umar ibnul Khaththab z:
أَلآ أُخْبِرُكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ؟ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِذَا أَمَرَها أَطَاعَتْهُ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ
“Maukah aku beri tahukan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki? Yaitu istri salehah yang apabila dipandang akan menyenangkannya2, apabila diperintah3 akan menaatinya4, dan apabila ia pergi si istri akan menjaga dirinya untuk suaminya.” (HR. Abu Dawud no. 1417, dinyatakan sahih menurut syarat Muslim dalam al-Jami’ush Shahih 3/57)
Ketika Umar ibnul Khaththab z menanyakan harta terbaik yang dimiliki seorang insan, Rasulullah n menjawab:
لِيَتَّخِذَ أَحَدُكُمْ قَلْبًا شَاكِرًا، وَلِسَانًا ذَاكِرًا، وَزَوْجَةً مُؤْمِنَةً تُعِيْنُ أَحَدَكُمْ عَلَى أَمْرِ الْأَخِرَةِ
“Hendaklah salah seorang dari kalian memiliki hati yang bersyukur, lisan yang berzikir, dan istri mukminah yang membantunya dalam urusan akhiratnya.” (HR. Ibnu Majah no. 1856, dinyatakan sahih dalam Shahih Ibni Majah)
Merupakan kemestian bagi seorang wanita, apabila datang seorang lelaki kepada walinya, hendaknya ia memerhatikan kebaikan agama dan akhlak si lelaki tersebut. Hal ini karena orang yang diterimanya sebagai teman hidupnya nanti adalah surga dan nerakanya. Ini sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasul n kepada bibi Hushain ibnu Mihshan z kala mendorongnya untuk membaikkan pergaulannya terhadap suaminya:
هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Dia adalah surga dan nerakamu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan yang lainnya, dinyatakan sahih dalam ash-Shahihah hlm. 285)
Sungguh, termasuk kebahagiaan terbesar bagi seorang wanita apabila dianugerahi suami yang saleh, yang menjadi pelipur laranya, teman berbagi suka dan derita, yang selalu melapangkan diri untuk menolong pekerjaannya, menjadi penopang yang kuat dalam hidupnya, yang melindunginya saat dia merasa takut, yang mengisi harinya dengan kasih sayang dan kelembutan.
(insya Allah bersambung)

Catatan kaki:

1 Tempat untuk bersenang-senang. (Syarh Sunan an-Nasa’i, al-Imam as-Sindi, 6/69)

2 Karena keindahan dan kecantikannya secara lahir, atau karena akhlaknya yang bagus secara batin, atau karena si istri senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa kepada Allah l. (Ta’liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul Baqi, Kitabun Nikah, Bab “Afdhalun Nisa”, 1/596, ‘Aunul Ma’bud 5/56)
3 Untuk melakukan urusan syar’i atau urusan biasa. (‘Aunul Ma’bud 5/56)
4 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya. (‘Aunul Ma’bud 5/56)

 

Lelaki menikahi anak hasil zinanya sendiri

Tolong jelaskan hukumnya dengan dalil yang lengkap. Seseorang berzina kemudian punya anak perempuan. Setelah anak itu dewasa mau dinikahi oleh si bapak tersebut, soalnya ada dalil yang membolehkannya, katanya.

Jay—Denpasar

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini al-Makassari

Hal itu tidak benar. Satu-satunya dalil yang bisa dijadikan hujah untuk membolehkan hal itu adalah hadits:
لاَ يُحَرِّمُ الْحَرَامُ، إِنَّمَا يُحَرِّمُ مَا كَانَ بِنِكَاحٍ حَلاَلٍ.
“Percampuran yang haram tidaklah mengharamkan. Sesungguhnya yang mengharamkan hanyalah pernikahan yang halal (sah).” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Ausath, Ibnu ‘Adi dalam al-Kamil, Ibnu Hibban dalam adh-Dhu’afa’, ad-Daraquthni, dan al-Baihaqi)
Namun, hadits ini dihukumi sebagai hadits yang batil oleh al-Imam al-Muhaddits al-Albani dalam adh-Dha’ifah, karena pada sanadnya terdapat:
• Utsman bin ‘Abdirrahman al-Waqqashi yang kadzdzab (pendusta) sebagaimana kata Ibnu Ma’in.
• Al-Mughirah bin Isma’il yang majhul (tidak dikenal) sebagaimana kata adz-Dzahabi.
Kata al-Albani dalam adh-Dha’ifah, “Fuqaha mazhab Syafi’i dan lainnya berdalil dengan hadits ini untuk menghalalkan seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya, padahal Anda telah mengetahui bahwa hadits ini dha’if (lemah) sehingga tidak ada hujah dalam hal ini.”
Sebaliknya, sebagian ulama yang berpendapat bahwa hal itu tidak boleh juga berdalil dengan hadits yang tidak ada asal usulnya, yaitu hadits:
مَا اجْتَمَعَ الْحَلاَلَ وَالْحَرَامَ إِلاَّ غَلَبَ الْحَرَامُ.
“Tidaklah berkumpul antara yang halal dan yang haram melainkan yang haram menang.”
Kata al-Albani dalam adh-Dha’ifah, “Hadits ini tidak ada sumbernya. Hal ini dinyatakan oleh al-Hafizh al-‘Iraqi pada kitab Takhrij al-Minhaj, kemudian dinukil oleh al-Munawi pada kitab Faidhul Qadir dan ia menyetujuinya. Hadits ini dijadikan dalil tentang haramnya seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya, dan ini adalah pendapat fuqaha mazhab Hanafi. Meskipun pendapat ini benar ditinjau dari sisi makna, tetapi tidak boleh berdalilkan dengan hadits batil semisal ini.”
Berikutnya, al-Albani berkata dalam adh-Dha’ifah, “Masalah ini telah diperselisihkan di kalangan salaf. Setiap pihak tidak memiliki nash sebagai dalilnya, tetapi tinjauan makna dan qiyas (analogi) menuntut haramnya hal itu. Ini adalah mazhab Ahmad dan selainnya, serta dirajihkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.”1
Pendapat ini juga yang dikuatkan oleh al-Imam al-Faqih Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat ini dinisbatkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah kepada jumhur (mayoritas) ulama, dan inilah yang benar. Tinjauan makna dan qiyas (analogi) menuntut haramnya hal itu.
Adapun tinjauan makna, hal itu haram karena anak itu adalah darah dagingnya sendiri yang berasal dari air maninya sehingga merupakan anaknya secara hukum kauni qadari (ketetapan takdir Allah l), meskipun secara hukum syar’i (ketentuan syariat) anak itu bukan anaknya karena lahir di luar pernikahan yang sah.
Adapun tinjauan secara qiyas (analogi), hal itu haram seperti haramnya seorang lelaki menikahi anak susuannya yang disusui oleh istrinya. Jika anak susuan seseorang haram atasnya, padahal faktornya hanyalah karena anak itu meminum air susu istrinya yang terproduksi dengan sebab digauli olehnya sehingga hamil dan melahirkan, tentulah seorang anak zina yang berasal dari air maninya, yang merupakan darah dagingnya sendiri, lebih pantas untuk dinyatakan haram atasnya. Wallahu a’lam.2

Peringatan
Pada kesempatan ini kami hendak mengingatkan kesalahan sebagian orang yang menisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i t bahwa beliau hanya berpendapat makruh (tidak haram).
Kata al-Imam al-Albani dalam kitab Tahdzir as-Sajid (hlm. 37), “Benar-benar telah keliru orang yang menisbatkan kepada al-Imam asy-Syafi’i bahwa beliau berpendapat bolehnya seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya dengan hujah bahwa al-Imam asy-Syafi’i telah menegaskan makruhnya hal itu, sedangkan hukum makruh yang bersifat tanzih (untuk membersihkan diri dari hal-hal yang dibenci tetapi tidak haram) tidaklah berkontradiksi dengan hukum mubah (boleh).”
Al-Albani kemudian menukil ucapan Ibnul Qayyim t dari kitab I’lam al-Muwaqqi’in, “Asy-Syafi’i menegaskan bahwa makruh (dibenci) bagi seorang lelaki menikahi anak perempuan hasil zinanya. Beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa hal itu boleh (mubah/ja’iz). Yang selaras dengan kemuliaan dan keimaman serta kedudukan yang disandangnya dalam agama ini, yang beliau maksud dengan makruh (dibenci) di sini adalah makruh yang bersifat haram. Beliau memutlakkan kata makruh (menggunakannya secara lepas) dalam masalah ini, karena di sisi Allah l dan Rasul-Nya perkara yang haram itu adalah sesuatu yang makruh. Allah l berfirman menyebutkan hal-hal yang haram mulai dari ayat:
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia.” (al-Isra’: 23)
Sampai firman Allah l:
“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (al-Isra’: 33)
Sampai firman Allah l:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (al-Isra’: 36)
Sampai akhir ayat ke-37, kemudian Allah l berfirman:
“Semua itu kejelekannya amat dibenci (makruh) di sisi Rabb-mu.” (al-Isra’: 38)
Dalam kitab ash-Shahih3 Rasulullah n bersabda:
إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثاً: قِيْلَ وَقاَلَ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ، وَإِضَاعَةَ الماَلِ.
“Sesungguhnya Allah membenci tiga perkara untuk kalian: ucapan ini dan itu (ucapan sia-sia), banyak meminta dan bertanya, serta membuang harta dengan sia-sia.”
Jadi, kaum salaf terbiasa menggunakan kata makruh (dibenci) dengan makna yang digunakan dalam ucapan Allah l dan Rasul-Nya. Akan tetapi, orang-orang belakangan menjadikan kata makruh sebagai istilah untuk masalah yang tidak haram tetapi sebaiknya ditinggalkan. Kemudian ada di antara mereka yang menggiring ucapan imam-imam Islam ke makna yang sesuai dengan istilah baru tersebut sehingga dia pun keliru karenanya.
Yang lebih parah kesalahannya daripada ini adalah yang menggiring kata ‘makruh’ dan ‘la yanbaghi’ (tidak sepantasnya) dari ucapan Allah l dan Rasul-Nya ke makna yang sesuai dengan istilah baru tersebut.”4
Wal ‘ilmu ‘indallah.

Catatan Kaki:

1 Lihat kitab adh-Dha’ifah (1/565—566).
2 Lihat kitab Majmu’ Fatawa (32/134—137, 138—140), al-Akhbar al-‘Ilmiyyah min al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyyah hlm. 303, asy-Syarhul Mumti’ (5/170).

3 Maksudnya Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim (muttafaq ‘alaih) dari sahabat al-Mughirah bin Syu’bah z. Hadits ini memiliki syahid (penguat) dari hadits Abu Hurairah z yang dikeluarkan oleh Muslim.
4 Lihat kitab I’lam al-Muwaqqi’in (2/80—81, cetakan Dar Ibnil Jauzi).

Asy-Syakir

(ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.)

Asy-Syakir (الشَّاكِرُ) adalah salah satu nama Allah l yang agung, al-Asma’ul Husna. Nama tersebut termaktub pada beberapa ayat dalam kitab suci al-Qur’an. Di samping itu, hadits Nabi-Nya yang mulia juga menyebutkan bahwa Allah l memiliki sifat tersebut.
Di dalam al-Qur’an juga disebutkan nama yang mulia, asy-Syakur (الشَّكُورُ):
“Dan barang siapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 158)
“Dan Allah itu Syakur lagi Maha Penyantun.” (at-Taghabun: 17)
Kedua nama di atas sama-sama berasal dari kata asy-syukr (الشُّكْرُ). Kata asy-syukr itu sendiri berarti menyanjung seseorang atas kebaikan yang dilakukannya kepadamu. Dikatakan pula bahwa hakikat asy-syukr adalah ridha dengan sesuatu yang sedikit. (Mu’jam Maqayis al-Lughah karya Ibnu Faris)
Asy-Syaikh as-Sa’di menjelaskan, “Di antara nama Allah l adalah asy-Syakir dan asy Syakur. Maknanya, Allah l mensyukuri amalan sedikit yang ikhlas, bersih, bermanfaat, dan memaafkan banyak kesalahan, serta tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. Bahkan, Allah l melipatgandakan pahalanya dengan jumlah yang banyak tanpa hitungan.
Di antara bentuk syukur Allah kepada hamba-Nya, Dia membalasi satu kebaikan dengan 10 kali lipatnya sampai 700 kali lipat, bahkan sampai kelipatan yang banyak. Bisa jadi, Allah l membalasi amalan seorang hamba dengan berbagai pahala yang disegerakan sebelum yang tertunda, padahal Allah l tidak terbebani kewajiban membalas atas amalan hamba-Nya. Akan tetapi, Allah l yang mewajibkan atas diri-Nya sendiri sebagai wujud kedermawanan dan kemurahan-Nya.
Allah l juga tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang beramal apabila mereka berbuat baik dalam amalan tersebut dan ikhlas. Karena itu, apabila seorang hamba melakukan perintah Allah l dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya, Dia akan membantunya untuk itu, memujinya, dan menyanjungnya, serta memberinya ganjaran dengan cahaya, iman, dan kelonggaran pada kalbunya. Selain itu, Allah l juga akan memberikan balasan berupa kekuatan dan semangat dalam tubuhnya, tambahan keberkahan dalam segala keadaannya, dan tambahan taufik dalam hal perbuatannya. Setelahnya, Allah l memberikan pahala yang ditunda tersebut di sisi-Nya dalam keadaan lengkap, tidak terkurangi.
Di antara bentuk syukur Allah l kepada hamba-Nya, seseorang yang meninggalkan sesuatu karena Allah l maka Dia akan menggantikan yang lebih baik darinya….” (Tafsir Asma wa ash-Shifat)
Al-Hulaimi mengatakan, “Asy-Syakir maknanya adalah Dzat yang memuji orang yang menaati-Nya, yang menyanjung-Nya, dan memberi pahala atas ketaatannya, semata-mata karena karunia dari-Nya. Adapun asy-Syakur adalah Dzat yang syukurnya terus-menerus dan meliputi setiap orang yang taat, baik ketaatan yang kecil maupun yang besar.” (al-Asma wash Shifat karya al-Baihaqi)
Al-Harras mengatakan, “Nama Allah asy-Syakur terdapat bersamaan dengan nama Allah al-Ghafur dalam firman-Nya yang menceritakan ucapan penghuni surga:
Mereka berkata, “Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan dukacita dari kami. Sesungguhnya Rabb kami benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (Fathir: 34)
Selain itu, nama tersebut juga didapati bersamaan dengan nama Allah al-Halim dalam firman-Nya:
“Dan Allah Maha Pembalas jasa lagi Maha Penyantun.” (at-Taghabun: 17)
Makna asy-Syakur adalah Dzat yang menerima amalan para hamba-Nya, meridhainya, dan mengganjarnya, bahkan melipatgandakannya dalam jumlah yang banyak sesuai dengan keikhlasan dan ketekunannya. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan (nya) dengan baik.” (al-Kahfi: 30)
Allah l telah mengumpamakan infak di jalan-Nya dengan sebuah biji yang tumbuh menjadi tujuh tangkai dan pada setiap tangkainya ada seratus biji. Lalu Allah l menyebutkan pada akhirnya:
“Allah melipatgandakannya bagi siapa yang Dia kehendaki.” (al-Baqarah: 261)
Firman-Nya di atas adalah pemberitahuan bahwa kelipatan tersebut bisa jadi melebihi ukuran tersebut, bagi siapa yang dikehendaki oleh Allah l. Dalam hadits yang sahih disebutkan, “Barang siapa yang menyedekahkan senilai satu butir kurma dari penghasilan yang baik—dan Allah tidak menerima selain yang baik—, Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya lalu mengembangkannya sebagaimana seseorang di antara kalian membesarkan anak kudanya hingga berkembang menjadi seperti gunung yang besar.”
Mahasuci Allah yang memberikan taufik-Nya kepada kaum mukminin untuk melakukan sesuatu yang Dia ridhai, lalu Dia mensyukurinya atas perbuatan tersebut dengan pahala-Nya yang bagus dan pemberian-Nya yang banyak, sebagai keutamaan yang murni dari-Nya, bukan kewajiban sebagai (timbal balik atas) amal seorang hamba. Bahkan, hal itu karena kewajiban yang Dia wajibkan atas diri-Nya sebagai wujud kemurahan dan kedermawanan-Nya. (Syarah Nuniyyah)

Buah Mengimani Nama Allah asy-Syakir
Mengimani nama Allah l tersebut akan semakin menumbuhkan rasa cinta kita kepada Allah l karena timbulnya kesadaran akan kebesaran karunia-Nya. Selain itu, beriman kepada nama Allah l tersebut akan menambahkan rasa syukur kita kepada-Nya karena amal kita yang sedikit akan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah l, dengan syarat ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah n. Dengan keimanan kepada nama Allah itu, mestinya seseorang semakin taat kepada Allah l dalam rangka bersyukur kepada-Nya, karena orang yang bersyukur adalah yang membalas kebaikan dengan kebaikan.
Lihatlah bagaimana Nabi n bersyukur kepada Allah l atas karunia-Nya. Beliau semakin bersungguh-sungguh dalam hal ibadah hingga membengkak kakinya karena shalat malamnya. Saat Aisyah x, sang istri, muncul rasa belas kasihnya kepada beliau ketika melihat hal itu, dia pun bertanya, “Mengapa engkau melakukan demikian, padahal Allah l telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab, “Tidakkah aku suka untuk menjadi hamba yang bersyukur?”
Wallahu a’lam.

 

Mengapa Kalian Membuat Sekutu bagi Allah?

Allah l berfirman:

“Dia membuat perumpamaan untukmu dari dirimu sendiri. Apakah ada di antara hamba sahaya yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang telah Kami berikan kepadamu, maka kamu sama dengan mereka dalam (hak mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang berakal. Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolong pun.” (ar-Rum: 28—29)
Ini adalah dalil kias. Dengan dalil ini, Allah l berhujah terhadap orang-orang musyrik yang mempersekutukan Allah l dengan makhluk-Nya. Allah l menegakkan hujah yang telah mereka ketahui kebenarannya, tidak perlu yang lain untuk menegakkan hujah tersebut. Sungguh termasuk hujah yang paling kuat, (jika) seseorang mengambilnya dari (keadaan) dirinya, lalu dia berhujah terhadap dirinya dengan sesuatu yang telah dia akui dan telah dia ketahui.
Allah l pun mengatakan (yang maknanya), “Apakah kalian memiliki budak-budak, baik yang laki-laki maupun perempuan serta menjadi serikat kalian dalam pemilikan harta dan keluarga?”
Yakni, menyertai kalian dalam hal kepemilikan harta dan keluarga sehingga kalian dan mereka sederajat. Kalian tentu khawatir kalau mereka membagi harta kalian setengah-setengah bersama mereka, dan mereka mendahulukan diri mereka daripada kalian pada sebagiannya, sebagaimana lazimnya seorang serikat khawatir terhadap teman serikatnya.
Ibnu Abbas c menafsirkan, “(Yakni) kalian khawatir mereka mewarisi harta kalian sebagaimana halnya sebagian kalian mewarisi harta yang lain.”
Maknanya, apakah seseorang di antara kalian rela apabila budaknya menjadi serikatnya dalam memiliki harta dan keluarga kalian sehingga menyamai kalian dalam menggunakannya? Tentu dia khawatir, nanti budak itu akan menguasai sendiri hartanya dan menggunakannya sekehendaknya, sebagaimana halnya serikat yang merdeka mengkhawatirkan hal itu. Kalau kalian tidak rela hal yang seperti itu terhadap diri kalian sendiri, mengapa kalian menjadikan sesuatu dari makhluk-Ku sebagai serikat bagi-Ku, padahal dia adalah milik-Ku?! Kalau kalian menilai, ini adalah sesuatu yang tidak benar menurut fitrah dan akal kalian, padahal itu bisa dan mungkin terjadi pada diri kalian—karena budak kalian pada hakikatnya bukan milik kalian, melainkan saudara kalian sendiri yang dijadikan oleh Allah l berada di bawah kekuasaan kalian, dan kalian juga mereka adalah hamba-Ku—, mengapa kalian menganggap boleh hukum tersebut untuk-Ku? Padahal yang kalian jadikan sebagai serikat-Ku adalah hamba-Ku, milik-Ku, dan ciptaan-Ku.
Sungguh, ini termasuk sesuatu yang sangat mengherankan dan sangat menunjukkan kebodohan seseorang yang menjadikan serikat dan tandingan bagi Allah l. Sesungguhnya, apa yang ia jadikan sebagai serikat itu bakal sirna. Tidak akan bisa menyamai Allah l dan tidak berhak mendapatkan ibadah sedikit pun.
“Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat”, yakni menjelaskannya dengan permisalan-permisalan, “Bagi orang-orang yang berakal”, yakni memahami hakikat sesuatu dan mengetahuinya. Adapun seorang yang tidak berakal, bagaimanapun diterangkan mengenai ayat-ayat-Nya, niscaya ia tidak memiliki kemampuan untuk memahami penjelasannya. Untuk orang-orang yang berakallah ditujukan pembicaraan dan keterangan.
Apabila telah diketahui dari permisalan ini bahwa seseorang yang telah menjadikan selain Allah l sebagai tandingan bagi-Nya, lalu ia mengibadahinya, bertawakal kepadanya dalam segala urusannya, dia tidak memiliki sisi kebenaran sedikit pun. Lantas, apa yang menyebabkannya berani melakukan sesuatu yang batil dan telah dijelaskan kebatilannya serta tampak buktinya?
Sesungguhnya, yang mendorong mereka berbuat demikian adalah ketundukan kepada hawa nafsu. Oleh karena itu, Allah l berfirman:
“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan.” (ar-Rum: 29)
Yakni nafsu mereka yang bodoh. Kebodohannya tampak dari sesuatu yang nafsunya bergantung padanya. Nafsu tersebut menginginkan sesuatu yang telah dipastikan rusaknya oleh akal. Fitrah pun pasti menolaknya, tanpa ilmu yang membimbing mereka dan bukti yang menuntun mereka.
“Maka siapa yang dapat memberi petunjuk orang yang telah Allah l sesatkan”, yakni, kalian jangan heran apabila mereka tidak mendapatkan hidayah karena Allah l telah menyesatkan mereka dengan sebab kezaliman diri mereka sendiri. Tiada jalan untuk menunjuki orang yang disesatkan oleh Allah l karena tidak ada seorang pun yang dapat menentang dan melawan-Nya dalam hal kekuasaan-Nya.
(Diterjemahkan dari I’lam al Muwaqqi’in oleh al-Ustadz Qomar Suaidi dengan penambahan dari Tafsir as-Sa’di)

Asal Usul Zam-zam dan Manasik Haji (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Sebagian ulama menyebutkan beberapa alasan Nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Isma’il q. Akan tetapi, semua itu bukan bersumber dari riwayat yang sahih dari Rasulullah n. Oleh sebab itu, kita kembalikan kepada asalnya, bahwa Nabi Ibrahim q membawa Hajar adalah karena perintah dari Allah l. Inilah yang sesuai dengan riwayat yang sahih dari Ibnu ‘Abbas c, dari Nabi n.

Hijrah ke Makkah
Wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah Ummu Isma’il (Hajar). Benda itu digunakannya untuk menyembunyikan tanda-tanda (kehamilan)nya dari Sarah. Setelah Isma’il lahir, bertambahlah kecintaan Ibrahim terhadap ibu dan anak itu. Akan tetapi, rasa cinta itu tidak mampu menggeser kecintaannya kepada Allah l.
Allah l berkehendak mengatur segalanya sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Allah Maha Melakukan apa yang diinginkan-Nya. Tidak seorang pun berhak dan pantas untuk bertanya mengapa Allah l melakukannya, tetapi merekalah yang pantas untuk ditanya mengapa berbuat ini dan itu.
Setelah jelas mendapat perintah untuk membawa Hajar dan putranya, Nabi Ibrahim q pun mulai berangkat melintasi sahara yang panas. Dari Palestina ke Makkah, menembus padang pasir dan kerikil yang membara. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan.
Berbekal tekad melaksanakan perintah Allah l, yang pasti mengandung kebaikan, Ibrahim membawa Hajar bersama putranya yang sedang disusuinya sampai di dekat Baitullah, di dekat sebatang pohon besar, di atas cikal bakal sumur Zamzam di bagian masjid yang tertinggi. Saat itu tak ada seorang pun berada di Makkah selain mereka. Tidak pula ada air.
Begitu tiba di lokasi yang kemudian dibangun di atasnya Baitullah (Ka’bah), Ibrahim segera meninggalkan keduanya sambil meletakkan sebuah kantung berisi kurma dan tempat minum. Setelah itu, Nabi Ibrahim q berbalik meninggalkan Hajar dan putranya.
Hajar heran melihat Ibrahim pergi begitu saja tanpa berkata sepatah pun. Dengan cepat dia mengejar Ibrahim sambil bertanya, “Hai Ibrahim, Anda hendak ke mana? Apakah Anda hendak meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak ada apa-apanya?”
Ibrahim tak menoleh sedikit pun. Hajar semakin heran, tetapi tetap mengikuti langkah Ibrahim dan bertanya. Ibrahim masih diam.
Akhirnya kata Hajar, “Apakah Allah yang menyuruhmu demikian?”
“Ya,” jawab Ibrahim tegas.
Mendengar jawaban tersebut, Hajar berkata, “Kalau begitu, Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Dengan tenang, Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim terus berjalan. Hingga ketika tiba di dekat sebuah tikungan dan sudah tak terlihat lagi oleh mereka, Ibrahim berhenti dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Baitullah, lalu berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, seperti diceritakan oleh Allah l dalam firman-Nya:
“Wahai Rabb Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)
Setelah itu, Ibrahim kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Palestina.
Hajar yang ditinggalkan di tempat sunyi itu mulai menyusui Isma’il dan meminum air yang ada dalam perbekalan mereka. Tak lama, air itu mulai habis. Hajar mulai kehausan. Bayi mungil itu pun mulai kehausan.
Di lembah yang tandus dan sunyi itu, seorang wanita muda dengan bayinya menghadapi kesulitan. Kalau bukan karena keyakinannya kepada Allah l, tidak mungkin Hajar rela ditinggal sendirian oleh Ibrahim, suaminya, bersama anaknya pula, yang masih membutuhkan perawatan dan kasih sayang.
Isma’il kecil mulai menangis tak tahan merasakan panas di lembah tandus itu. Semakin pilu hati Hajar melihat keadaan anaknya, sementara dia tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada anaknya. Air susunya sudah kering, bekal pun habis.
Hajar menoleh ke sana ke mari, mencari-cari sesuatu yang dapat menghentikan tangis anaknya. Akhirnya, dia pun beranjak dari situ karena tak tahan melihat keadaan putranya, Isma’il.
Dia memandang ke depan, dan dia lihat bukit Shafa di hadapannya adalah bukit yang terdekat dengannya. Hajar pun melangkah mendaki bukit itu. Setelah berada di atas dia memandang ke arah lembah apakah ada orang di sekitar situ? Tetapi, dia tak melihat siapa-siapa. Akhirnya, Hajar turun dari Shafa. Hingga ketika tiba di perut lembah, dia mengangkat ujung kainnya dan berjalan secepat-cepatnya sampai melewati lembah, menuju bukit Marwah yang berhadapan dengannya dan mendaki bukit itu.
Setelah tiba di atas, dia kembali melihat-lihat apakah ada orang di sekitar situ. Tujuh kali Hajar turun naik antara Shafa dan Marwah.
Perbuatan Hajar ini, akhirnya diabadikan dalam syariat Islam sebagai salah satu amalan haji dan umrah yang sangat penting, yaitu sa’i.1
Setelah berada di puncak Marwah, Hajar sayup-sayup mendengar suara, tetapi dia membantah, “Diamlah,” maksudnya ditujukan kepada dirinya sendiri (khawatir halusinasi). Kemudian dia kembali mengamati keadaan di sekelilingnya dan kembali mendengar suara.
Akhirnya Hajar berkata, “Anda sudah memperdengarkannya. Kalau memang Anda memiliki air.…”
Ketika melihat ke arah putranya, ternyata dia melihat malaikat di dekat lokasi Zamzam. Malaikat itu sedang mengorek sesuatu dengan sayapnya hingga tampaklah air. Hajar pun mendekat dan segera membendung air itu dengan tangannya. Mulailah dia menuangkan air itu ke dalam tempat minumnya, sementara air itu terus memancar sesudah diciduk.
Kata Ibnu ‘Abbas c, “Nabi n bersabda, ‘Semoga Allah l merahmati Ummu Isma’il. Seandainya dia membiarkan Zamzam—atau kata beliau, ‘Seandainya Hajar tidak menciduknya,’—pastilah Zamzam menjadi mata air yang terus mengalir.”
Hajar mulai minum sepuasnya dan menyusui putranya. Malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut tersia-sia karena di sini akan dibangun Baitullah oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”
Rumah itu di tempat tinggi seperti bukit yang dilewati aliran air di kiri kanannya.
Tahun demi tahun berlalu. Isma’il semakin besar, sedangkan keadaan di sekitar itu tak banyak berubah.

Masyarakat Baru
Suatu ketika, serombongan bangsa Jurhum datang dari arah Kida’ dan singgah di bagian bawah Makkah. Tiba-tiba, mereka melihat burung-burung menuju ke satu arah. Salah seorang dari mereka mengatakan, “Burung-burung ini pasti menuju tempat air, padahal kita sudah sering melewati tempat ini dan tidak pernah ada air di sini.”
Karena penasaran, akhirnya mereka mengutus satu atau dua pencari air, dan ternyata mereka menemukannya. Mereka segera kembali dan menceritakan apa yang mereka lihat. Rombongan itu pun bersiap-siap untuk mendekat ke tempat air. Pada waktu itu, Ummu Isma’il kebetulan berada di dekat sumur Zamzam.
Melihat Hajar di sana, rombongan itu berkata, “Apakah Anda mengizinkan kami tinggal di sini?”
Hajar yang menyukai kebersamaan, segera saja menerima, “Ya, tetapi kalian tidak punya hak atas air ini.”
“Baiklah,” kata mereka.
Mereka pun turun dan menetap di sana. Sesudah itu, mereka mulai mengundang keluarga mereka dan tinggal bersama di lembah itu.
Semakin lama semakin banyaklah keluarga bangsa Jurhum itu pindah dan bermukim di sana, sementara pemuda Isma’il pun tumbuh dan belajar bahasa Arab dari mereka. Hal ini mengagumkan dan menyenangkan mereka.
Melihat Isma’il sudah beranjak menjadi pemuda gagah dan cerdas serta berbudi, mereka pun berniat menikahkannya dengan salah seorang gadis di kalangan mereka.
Tak lama, sesudah pernikahan itu Ummu Isma’il meninggal dunia. Tetapi, tidak ada riwayat menjelaskan apakah Ibrahim datang menjenguk ketika istrinya ini wafat.
Selang beberapa waktu setelah itu, datanglah Ibrahim yang ingin melihat putranya yang bertahun-tahun ditinggalkannya. Sesampainya di Makkah, Ibrahim tidak menemukan Isma’il, maka dia bertanya kepada istri Isma’il.
Wanita itu pun menjawab, “Isma’il sedang pergi mencari nafkah.” Kemudian Ibrahim menanyakan tentang penghidupan dan keadaan mereka.
Wanita itu menjawab, “Kami dalam kesulitan dan kesempitan.” Dia mengeluhkan keadaannya kepada Ibrahim. Nabi Ibrahim q melihat kekurangan pada menantunya ini. Wanita ini tidak pandai bersyukur, banyak mengeluh, dan tidak pandai menutupi kekurangan keluarga, terkhusus suami.
Ini bukanlah akhlak yang baik. Akhirnya, Nabi Ibrahim q pun berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepadanya agar menukar cagak pintunya.” Lalu Nabi Ibrahim q pergi meninggalkan Makkah, kembali ke Palestina yang jaraknya satu bulan perjalanan.
Sesampainya Isma’il di rumah, dia seperti merasakan ada orang asing yang pernah datang ke rumahnya. Dia pun bertanya, “Adakah seseorang yang datang mengunjungi kalian?”
“Ya,” kata istrinya, “Seorang pria tua, begini dan begitu. Dia bertanya kepada kami tentang kamu, lalu saya ceritakan. Dia menanyakan pula bagaimana kehidupan kita, maka saya katakan kami dalam kesulitan dan kesusahan.”
“Apakah dia memesankan sesuatu?” tanya Isma’il.
“Ya. Dia menyuruhku menyampaikan salam buatmu dan berpesan agar kamu menukar cagak pintumu.”
Kata Isma’il, “Dia adalah ayahku, dan menyuruhku menceraikanmu. Susullah keluargamu.” Isma’il pun menceraikan wanita itu dan menikah lagi dengan gadis lain dari suku tersebut.
Tinggallah Nabi Ibrahim q jauh dari mereka, sebagaimana dikehendaki oleh Allah l. Kemudian, beliau kembali mengunjungi mereka, tetapi tidak bertemu dengan Isma’il. Beliau pun mendengar bahwa Isma’il sudah menikah dengan wanita lain dari suku tersebut. Karena tidak bertemu dengan putranya, beliau mendatangi menantunya dan menanyakan tentang Isma’il.
“Dia keluar mencari nafkah untuk kami,” jawab wanita itu.
“Bagaimana mata pencarian dan keadaan kalian?” tanya Ibrahim.
“Alhamdulillah. Kami, dalam keadaan baik dan lapang,” kata wanita itu.
“Apa makanan kalian?”
“Daging.”
“Apa minuman kalian?”
“Air.”
Ibrahim pun berdoa, “Ya Allah, berilah berkah untuk mereka pada daging dan air ini.”
Wanita itu ternyata seorang istri yang salehah. Tahu bagaimana bersyukur kepada Allah l, menghargai pekerjaan suaminya. Dia sudah merasa cukup dengan keadaan yang dirasakannya, bahkan menganggap sangat baik sehingga dia menampakkannya kepada orang lain.
Pada waktu itu belum ada biji-bijian. Seandainya sudah ada, tentu beliau akan mendoakannya juga.
Melihat sikap santun wanita itu, Nabi Ibrahim q berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah dia agar meneguhkan cagak pintunya.”
Setibanya di rumah, Isma’il merasakan ada bekas-bekas orang asing datang ke rumahnya. Dia pun bertanya, “Apakah ada seseorang yang mengunjungi kalian?”
“Ya. Seorang pria tua yang gagah, dia menanyaiku tentang dirimu, lalu saya ceritakan kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, maka saya ceritakan bahwa kita dalam keadaan baik.”
“Apakah dia menitipkan pesan?”
“Ya. Dia menitipkan salam buatmu dan menyuruhmu agar meneguhkan cagak pintumu.”
Isma’il pun menerangkan, “Dia adalah ayahku, dan engkau adalah cagak pintu itu. Beliau menyuruhku agar aku tetap menahanmu (sebagai istri).”

Mulai Membangun Ka’bah
Tinggallah Ibrahim jauh dari putranya Isma’il selama yang dikehendaki oleh Allah l. Beberapa waktu kemudian, beliau kembali berkunjung ke Makkah. Pada waktu itu, Isma’il sedang meruncingkan panahnya di bawah sebatang pohon besar dekat Zamzam.
Begitu melihat ayahandanya, Isma’il segera menyambut dan memeluk ayahnya.
Setelah keduanya melepaskan rindu antara ayah dan anak, Ibrahim berkata, “Hai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku.”
“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Dan engkau membantuku?”
“Saya akan membantu ayah.”
“Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun sebuah rumah di sini,” kata Ibrahim sambil menunjuk dataran yang lebih tinggi dari sekelilingnya.
Sejak saat itu mulailah keduanya menaikkan dasar-dasar rumah itu. Isma’il membawakan batu, sementara Ibrahim memasangnya. Setelah agak tinggi, Isma’il datang membawa sebuah batu untuk tempat berdiri Ibrahim. Terus demikian; Ibrahim memasang, Isma’il memberikan batunya. Keduanya tak henti-hentinya berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah amalan ini dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Beliau berdua terus bekerja sambil mengitari rumah itu tanpa berhenti berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah amalan ini dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Itulah rumah pertama yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Isma’il, sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah l.
Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang awal mula pembangunan Ka’bah. Benarkah Ibrahim yang mula-mula membangunnya ataukah sudah ada sebelum itu?
Tidak ada riwayat yang sahih yang menjelaskan bahwa malaikatlah yang membangun Ka’bah yang mulia. Kalaupun ada pendapat yang sahih sampai generasi tabi’in atau sesudah mereka (tabi’ut tabi’in), tidak lebih dari kisah Israiliyat.
(insya Allah bersambung)

 

Abu Bakr AshShidiq Masuk Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits )

Pada suatu malam, Abu Bakr bermimpi melihat bulan turun ke Makkah lalu pecah ke seluruh rumah dan tempat di kota Makkah. Setiap rumah dimasuki oleh sekeping dari bulan itu. Abu Bakr melihat seolah-olah bulan itu menjadi satu di pangkuannya.
Setelah bangun dari tidurnya, Abu Bakr menceritakan mimpinya kepada seorang rahib di Syam, Buhaira namanya. Pendeta itu bertanya, “Dari manakah Anda?”
“Dari Makkah,” jawab Abu Bakr.
“Dari suku apa?”
“Saya dari Quraisy.”
“Apa pekerjaan Anda?”
“Saya pedagang.”
Kemudian kata Buhaira, “Kalau Allah membenarkan mimpi Anda, sesungguhnya akan diutus seorang nabi dari kaum Anda, sedangkan Anda akan menjadi pembantu utamanya di masa hidupnya, dan khalifah (pengganti) sepeninggalnya.”
Keterangan ini disimpan rapat-rapat oleh Abu Bakr, hingga tiba waktunya. Abu Bakr masih ingat—sebagaimana dikisahkan oleh as-Suyuthi—ketika dia mendengar sahabatnya, Muhammad n, mulai berdakwah, dia segera menemuinya dan berkata, “Ya Muhammad, apa buktinya ajaran yang engkau bawa ini?”
Sahabatnya, Muhammad n tersenyum sambil menjawab, “Mimpi yang engkau lihat di negeri Syam.”
Mendengat jawaban itu, Abu Bakr memeluk sahabatnya dan mencium keningnya sambil berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.”
Demikianlah, ketika Rasulullah n mengajak Abu Bakr kepada Islam, tanpa ragu-ragu dan menunda-nunda, Abu Bakr pun menyambut seruan tersebut. Setelah memeluk Islam, Abu Bakr menampakkannya terang-terangan, bahkan ikut berdakwah mengajak kaum kerabatnya atau orang-orang yang biasa duduk bersamanya kepada Islam. Melalui ajakan beliau, masuk Islam pula beberapa tokoh Quraisy yang termasuk sepuluh orang yang dijamin oleh Rasulullah n masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, sebagaimana telah diceritakan pada edisi lalu.
Kesungguhan Abu Bakr memeluk Islam tidak hanya didasari oleh mimpi, tetapi juga fitrah dan akalnya yang masih bersih. Ditambah lagi hubungan persahabatannya dengan pribadi Muhammad n yang agung, akhirnya menempatkan dirinya dalam hati Rasulullah n cukup istimewa. Di kemudian hari, ketika terjadi perselisihan antara Abu Bakr dan ‘Umar bin al-Khaththab c, Rasulullah n mengungkapkan salah satu keutamaan Abu Bakr z:
إِنَّ اللهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ: كَذَبْتَ؛ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: صَدَقْتَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي
“Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, tetapi kalian mengatakan, ‘Engkau dusta,’ sedangkan Abu Bakr mengatakan, ‘Anda benar.’ Dia pun telah membantuku dengan diri dan hartanya, apakah kalian mau membiarkan untukku sahabatku ini?”1
Abu Bakr kembali terkenang, waktu dia berjalan-jalan di pasar ‘Ukazh. Ketika itu para penyair Arab dari berbagai suku berlomba mengungkapkan syair-syair mereka. Saat itu tampillah Qais bin Sa’idah mengucapkan syairnya dari atas untanya yang berwarna putih.
Kata Qais, “Hai manusia, dengar dan hafalkanlah. Jika kalian sudah menghafalnya, ambillah manfaatnya. Sesungguhnya, siapa yang hidup pasti mati, dan siapa yang mati, tentu lenyap. Semua yang akan terjadi pasti tiba. Sesungguhnya di langit terdapat berita, sedangkan di bumi ada pelajaran. Hamparan (bumi) yang dibentangkan, atap (langit) yang ditinggikan, bintang-bintang yang beredar, lautan yang tak pernah kering, malam yang gelap, langit yang penuh gugusan bintang. Qais bersumpah, Allah mempunyai agama yang lebih dicintai-Nya daripada agama yang kalian yakini ini. Mengapa saya lihat manusia pergi, tak pernah kembali? Apakah mereka senang tinggal lalu berdiri, ataukah mereka dibiarkan lalu tertidur?”
Pada mereka yang mula-mula pergi dari beberapa kurun ada peringatan untuk kita
Ketika kulihat tempat-tempat kematian tak ada jalan untuk kembali
Kulihat kaumku menuju ke sana, besar dan kecil
Aku pun yakin bahwa aku pasti menuju ke mana mereka kembali
Semua kejadian masa lalu terekam dalam benak Abu Bakr. Pergaulannya yang erat dengan Nabi n membuatnya banyak melihat keanggunan pribadi beliau n. Abu Bakr benar-benar mengenal Rasulullah n sebelum diutus menjadi Rasul, apalagi sesudahnya. Bagi Abu Bakr, tidak mungkin Muhammad bin ‘Abdullah ini akan berdusta atas nama Allah l, karena dia tidak pernah sekali pun berdusta kepada manusia mana pun. Tidak mungkin dia mengkhianati risalah yang diberikan oleh Allah kepadanya, karena dia tidak pernah menyelewengkan amanah yang dititipkan orang kepadanya.
Benarlah kata-kata Khadijah x tentang pribadi Rasulullah n, ketika beliau merasa gamang (cemas) melihat keadaan dirinya. Apakah dia terkena gangguan jin ataukah sedang mengalami goncangan jiwa? Tidak, orang sebaik itu tidak mungkin disia-siakan oleh Allah l.
Itulah pribadi Muhammad bin ‘Abdullah n yang dikenal oleh Abu Bakr. Karena itu, tanpa ragu-ragu sedikit pun dia menerima dakwah sahabatnya tersebut.
Dengan islamnya Abu Bakr, bertambah gembira hati Nabi n. Dalam masa pertumbuhan Islam itu, beliau z menjadi pembantu utama Rasulullah n dan teman diskusi dalam hampir setiap persoalannya.
Ilmu nasab dan sejarah Arab yang dimiliki Abu Bakr membuka peluang baginya untuk berdakwah. Beberapa pemuda Quraisy yang masih polos dan cerdas sering mendatangi majelisnya untuk menimba kedua ilmu yang di kalangan Arab ini sangat penting. Ditambah pula kedudukannya di kalangan pemuka Quraisy cukup disegani.
Mulailah Abu Bakr mengajak orang-orang yang hadir di majelisnya kepada Islam. Masuk Islam pula di tangan beliau orang-orang yang kemudian menjadi cikal bakal pembela dan pendukung utama dakwah ini, dengan jiwa raga dan harta mereka. Selain tokoh-tokoh yang dijamin masuk surga, ada pula di antara mereka al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya menjadi markas pertemuan cikal bakal masyarakat muslim, kemudian ‘Utsman bin Mazh’un, Abu Salamah bin ‘Abdul Asad g.
Meskipun demikian, Abu Bakr tidak pernah melupakan keluarganya sendiri. Masuk Islamlah Asma’, ‘Aisyah, ‘Abdullah, dan istri Abu Bakr, Ummu Ruman, serta pembantunya, ‘Amir bin Fuhairah.
Bersama Rasulullah n, Abu Bakr turut menyebarkan Islam. Semakin bertambahlah jumlah kaum muslimin.

Ujian dan Hijrah
“Tak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang Anda bawa melainkan pasti disakiti,” kata Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah n setelah menerima wahyu yang pertama.
Itu pula yang dialami oleh setiap orang yang menapaki jalan yang dilalui oleh Rasulullah n, sampai hari kiamat.
Abu Bakr ash-Shiddiq pun tak ketinggalan mengalaminya, bahkan termasuk dalam deretan mereka yang cukup berat menerima ujian ini. Benarlah Rasulullah n ketika ditanya tentang siapa orang yang paling berat cobaannya, beliau n pun bersabda:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“(Sesungguhnya yang paling berat cobaannya) adalah para nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, dan yang serupa dengan mereka…”2
Ibnu Katsir meriwayatkan dari ‘Aisyah yang bercerita bahwa setelah mereka berjumlah 38 orang, Abu Bakr mendesak Rasulullah n agar berdakwah terang-terangan. Akan tetapi, Rasulullah n selalu menahan diri dan mengatakan, “Kita masih sedikit, hai Abu Bakr.”
Abu Bakr belum mau berhenti, tetap mendorong agar Rasulullah n mengajak kaum muslimin terang-terangan menyuarakan Islam. Akhirnya, Rasulullah n menerima ajakannya.
Keesokan harinya, kaum muslimin menyebar bersama kabilahnya masing-masing di sekeliling Masjidil Haram. Setelah berada di dekat Ka’bah, Abu Bakr berpidato dengan suara lantang, sementara Rasulullah n duduk di dekatnya. Seruan pertama yang disampaikan Abu Bakr adalah mengajak mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Belum berapa lama berbicara, kaum musyrikin marah dan menyerbu Abu Bakr dan kaum muslimin. Mereka memukuli Abu Bakr dan kaum muslimin lainnya di pelataran Masjidil Haram. Sebuah pelanggaran terhadap kehormatan Tanah Suci telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memuliakannya.
Tubuh Abu Bakr diinjak-injak. Tiba-tiba datang ‘Utbah bin Rabi’ah memukuli muka Abu Bakr dengan sandal hingga darah mengucur dari hidungnya. Kaum musyrikin masih belum puas, perut Abu Bakr ditendangi dan diinjak-injak.
Banu Taym, kabilah Abu Bakr sontak meradang melihat saudara mereka dikeroyok. Beberapa orang Bani Taym menyerbu dan berhasil mengusir kaum musyrikin itu. Dengan segera mereka membopong Abu Bakr dan membawanya ke rumah. Mereka khawatir Abu Bakr tewas.
Setelah membaringkan Abu Bakr di rumahnya, Banu Taym segera berlari menuju Masjidil Haram dan berteriak lantang, “Demi Allah, kalau Abu Bakr mati, kau pasti kami bunuh, ‘Utbah bin Rabi’ah!”
Mereka pun segera kembali melihat keadaan Abu Bakr. Abu Quhafah masuk bersama beberapa tokoh Banu Taym dan mulai mengajaknya bicara. Tetapi, Abu Bakr masih terkapar pingsan.
Menjelang sore, Abu Bakr sudah mulai bisa bicara. Apa yang diucapkannya pertama kali? Bukan dirinya yang diperhatikannya, apakah masih selamat atau bagaimana keadaannya? Yang pertama ditanyakannya adalah keadaan Rasulullah n.
“Apa kabar Rasulullah n? Bagaimana keadaannya?” tanyanya kepada mereka yang hadir.
Banu Taym yang membesuknya marah dan mencelanya, mengapa mengurusi orang lain padahal dirinya sendiri sedang terkapar begitu rupa?
Akhirnya, mereka meninggalkannya sambil berpesan kepada Ummul Khair, ibunya, agar memberinya makan dan minum.
Sepeninggal mereka, sang ibu mendesak agar Abu Bakr mau menelan sesuatu. Abu Bakr bertanya lagi, “Bagaimana keadaan Rasulullah n?”
“Demi Allah, Ibu tidak tahu keadaan temanmu itu,” kata sang ibu.
“Tolong, Ibu pergi menemui Ummu Jamil bintul Khaththab. Tanyakanlah kepadanya bagaimana keadaan Rasulullah n?”
Akhirnya, sang ibu menuruti kemauan putranya dan mendatangi rumah Ummu Jamil yang tak jauh dari tempat mereka.
Setibanya di sana, Ummul Khair segera menyampaikan pesan putranya, menanyakan keadaan Rasulullah n.
Ummu Jamil tidak segera menjawab, dia malah berkata, “Saya tidak kenal dengan Muhammad atau Abu Bakr. Kalau Anda mau, biar saya ikut menemui putra Anda itu.”
“Baiklah,” kata Ummul Khair.
Akhirnya mereka bergegas kembali menemui Abu Bakr.
Sementara itu, Abu Bakr masih tergeletak tak berdaya. Begitu masuk dan melihat keadaan Abu Bakr, Ummul Jamil menjerit, “Demi Allah, mereka yang memperlakukan kamu seperti ini betul-betul jahat dan kafir. Aku berharap Allah menimpakan hukuman kepada mereka.”
Abu Bakr tidak menanggapi, tetapi malah bertanya, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah n?”
“Sst. Ada ibumu di sini, dia mendengar?”
“Tidak apa-apa, “kata Abu Bakr.
“Beliau selamat, tidak apa-apa.”
“Di mana beliau sekarang?”
“Di rumah al-Arqam bin Abil Arqam.”
Sambil berusaha bangkit, Abu Bakr berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencicipi makanan dan minuman ini sampai aku bertemu dengan Rasulullah n.”
Dengan segera, kedua wanita itu menenangkan Abu Bakr. Setelah keadaan tenang, Abu Bakr pun keluar sambil dipapah oleh keduanya menuju rumah al-Arqam.
Melihat kedatangan Abu Bakr, Rasulullah n dan para sahabat kaget. Alangkah sedihnya mereka melihat keadaan Abu Bakr. Lebih-lebih Rasulullah n. Beliau n segera mendekat lalu memeluk Abu Bakr dan menciuminya. Para sahabat pun memeluk Abu Bakr sambil menitikkan air mata.
Melihat keadaan Rasulullah n dan sahabat ternyata baik-baik saja, Abu Bakr berkata, “Bapak dan ibuku tebusanmu, ya Rasulullah. Saya tidak apa-apa selain pukulan yang diberikan orang-orang yang fasik itu ke wajahku. Inilah ibuku, yang sangat baik kepada putranya, sedangkan Anda adalah orang yang diberkahi Allah, maka berdoalah kepada Allah agar Allah menyelamatkannya dari neraka.”
Rasulullah n menuruti permintaan sahabat yang disayanginya itu. Allah l mengabulkan doa kekasih-Nya. Saat itu juga masuk Islamlah wanita yang mulia itu.
Setelah itu, Abu Bakr mulai sering datang ke rumah itu bersama sahabat lainnya.3
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 3661.

2 HR. at-Tirmidzi (2/64), Ahmad (1/172) dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

3 Al-Bidayah wan Nihayah (3/41).

Memperbaiki Diri Sendiri

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

Sangat disayangkan, kebanyakan kita lupa dengan aib yang melekat pada diri-diri kita dan menutup mata dari kekurangan yang ada. Lebih parah lagi, ada yang bersikap sebaliknya, yaitu berbaik sangka dan menganggap diri telah bersih dan sempurna, padahal Allah l berfirman:
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32)
Ketika sebagian kita mendengar tentang akhlak yang mulia, ia beranggapan seolah-olah akhlak tersebut sudah ada pada dirinya dan dialah pemilik perangai mulia itu. Namun, tatkala disebutkan tentang perangai tercela, buru-buru dia menuduhkannya kepada orang lain. Seolah-olah dia jauh dari perangai tersebut.
Sikap seperti ini tidak pantas dimiliki oleh orang yang menjunjung tinggi moral dan mendambakan kesempurnaan. Sikap seperti ini akan memunculkan sikap bangga diri yang tercela dan merasa puas di atas kekurangan yang ada. Ujungnya adalah meninggalkan upaya perbaikan diri.
Tidak dimungkiri bahwa ini adalah sikap yang bodoh dan sangat keliru. Dengan sikap tidak mau tahu tentang kadar diri sendiri dan kondisinya, seseorang tidak akan melangkah maju kepada tingkat kemuliaan. (Lihat Su’ul Khuluq, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hlm. 68—69)

Cara Mengenal Aib Diri Sendiri
Kesempurnaan yang mutlak hanya milik Allah l dan kemaksuman (terpelihara dari dosa) hanya dipunyai oleh Rasul n. Adapun diri kita adalah tidak lebih dari seorang manusia yang diliputi beragam kekurangan, baik dari sisi ilmu maupun amal. Kelemahan dalam dua sisi ini atau salah satunya menjadi faktor utama terjadinya ketergelinciran ketika menapaki kehidupan ini. Namun, hendaknya tidak dipahami bahwa seseorang baru dikatakan baik jika dia tidak mempunyai kesalahan karena hal ini mustahil, sebagaimana sabda Rasulullah n:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang (mau) bertobat.” (Hadits dari sahabat Anas bin Malik z, dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2499, cet. al-Ma’arif)
Dosa dan kesalahan adalah kepastian atas manusia. Namun, yang tercela ialah manakala seseorang menunda-nunda memperbaiki diri atau bahkan tidak mau menyadari kekurangannya.
Jangan sampai hilang dari ingatan kita, manusia dicipta untuk memberikan penghambaan semata-mata untuk Allah l, sebagaimana firman-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)
Inilah hikmah penciptaan manusia. Oleh karena itu, barang siapa belum mewujudkan beragam penghambaan yang harus diberikan kepada Allah l, berarti pada dirinya ada aib yang harus segera diobati. Sedikit dan banyaknya aib seseorang terkait dengan apa dan seberapa bentuk penghambaan kepada Allah l yang belum terealisasikan. Apabila ingin mengetahui kekurangan diri kita lebih jauh di hadapan syariat, hendaknya kita menelaah ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n. Dengan cara demikian, kita akan tahu seberapa perintah Allah l dan Rasul-Nya yang masih terabaikan dan seberapa pula larangan-Nya yang dilanggar.
Memang, terkadang aib diri tidak diketahui oleh pemiliknya sehingga tidak dihiraukan. Andai seorang mengetahui aibnya, belum tentu juga mau mengobatinya karena obatnya pahit, yaitu siap menyelisihi hawa nafsunya. Seandainya dia mau bersabar dengan pahitnya obat, belum tentu juga dia mendapatkan dokter yang ahli. Dokter yang ahli dalam hal ini adalah para ulama.
Al-Imam Ibnu Qudamah t berkata, “Ketahuilah bahwa apabila seorang hamba dikehendaki kebaikan oleh Allah l, Ia akan menjadikannya orang yang mengetahui kekurangannya. Orang yang melek mata hatinya niscaya tidak akan samar atasnya segala kekurangannya. Jika telah mengetahui kekurangan dirinya, dia akan bisa mengobatinya. Namun, sayang sekali, kebanyakan orang tidak tahu kekurangannya. Seorang dari mereka bahkan bisa melihat kotoran kecil yang melekat pada mata saudaranya, namun tidak bisa melihat batang pohon yang ada di matanya sendiri.
Ada empat cara bagi orang yang ingin mengetahui tentang aib dirinya:
1. Duduk di hadapan syaikh (guru/orang alim) yang sangat paham tentang aib-aib jiwa.
Orang alim itu akan memberi tahu aib-aib dirinya beserta terapi pengobatannya. Akan tetapi, orang alim di zaman sekarang sangat jarang. Oleh karena itu, jika seseorang menemukannya, berarti dia telah mendapatkan seorang dokter yang mahir sehingga dia hendaknya tidak berpisah darinya.
2. Mencari teman yang jujur, yang melek mata hatinya, dan bagus agamanya.
Teman yang seperti ini bisa dijadikan sebagai pengawas dirinya agar mengingatkannya dari perangai dan tingkah laku yang tidak baik.
Dahulu, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab z berkata, “Semoga Allah l memberi rahmat kepada seorang yang menunjukkan kepada kami kekurangan-kekurangan kami.”
Adalah salaf (pendahulu umat ini) mencintai orang yang mengingatkan kekurangan atau aibnya. Namun, di masa kita ini justru sebaliknya. Orang yang menunjukkan aib kita pada umumnya dijadikan orang yang paling tidak disukai. Ini menandakan lemahnya iman. Sesungguhnya, permisalan perangai jelek itu seperti kalajengking. Seandainya ada seseorang memberi tahu salah seorang kita bahwa di bawah pakaiannya ada kalajengking, niscaya dia akan berterima kasih lalu menyibukkan diri untuk membunuh kalajengking tersebut. Padahal perangai yang jelek lebih berbahaya daripada kalajengking.
3. Menggali kekurangan dirinya dari ucapan (yang keluar) dari musuhnya
Penglihatan orang yang benci akan membongkar aib orang yang dibencinya. Oleh karena itu, seseorang lebih banyak mengambil pelajaran dari musuhnya yang menyebut-nyebut aibnya daripada temannya sendiri, yang seringnya berbasa-basi dan menyembunyikan kekurangannya.
4. Berbaur dengan manusia—yang baik—sehingga apa yang dipandang tercela oleh mereka dia akan menjauhinya. (Dinukil secara ringkas dari Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 203—205)

Menuju Kesucian Diri
Seorang muslim yakin bahwa kebahagiaannya di dunia dan di akhirat tergantung pada upayanya membimbing dirinya dan membersihkannya dari kotoran. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)
Dia berusaha membersihkan dirinya dari keyakinan yang batil dan ibadah yang menyimpang, serta akhlak dan muamalah yang tercela. Di samping itu, dia juga berusaha menghiasi dirinya dengan iman yang memancar cahayanya ke seluruh anggota tubuhnya. Oleh karena itu, ia pun lebih sibuk mengoreksi dirinya ketimbang memerhatikan aib orang lain.
Al-Imam Ibnu Hibban t mengatakan, “Orang yang berakal tidak akan samar baginya aibnya karena orang yang tidak mengenal aibnya tidak akan mengetahui kebaikan orang lain. Sesungguhnya, hukuman terberat yang dirasakan oleh seseorang adalah ketika ia tidak tahu aib dirinya sendiri yang karenanya ia tidak akan berhenti dari—kejelekan—nya dan tidak akan tahu pula kebaikan orang.” (Raudhatul ‘Uqala hlm. 22)
Sesungguhnya, sangat tercela orang yang menutup mata dari aibnya sendiri, namun ia sangat paham terhadap aib orang lain.
Abu Hurairah z berkata, “Salah seorang dari kalian melihat kotoran (kecil) yang menempel pada mata saudaranya, (namun) ia lupa dengan kayu yang ada di matanya sendiri.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 460)
Ini adalah permisalan bagi orang yang bisa melihat kekurangan orang lain yang sedikit dan mencelanya karena aib tersebut, padahal dia sendiri memiliki aib yang jauh lebih besar.
Ketika kita mengajak agar sibuk memerhatikan aib diri kita sendiri, tidak berarti menutup pintu amar ma’ruf nahi mungkar. Yang dituntut dari seorang adalah mengaca kekurangan dirinya kemudian memperbaikinya, sebagaimana pula ia punya tanggung jawab untuk memperbaiki masyarakatnya.
Seperti itulah semestinya. Agar kesucian diri bisa terwujud dan aib bisa tertambal, kiranya ada beberapa langkah yang semestinya dilakukan.
1. Tobat, yaitu seorang melepaskan diri dari segala dosa dan maksiat, menyesali semua dosa yang telah dilakukan dan bertekad hati untuk tidak mengulang di masa mendatang.
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (at-Tahrim: 8)
2. Muraqabah, yaitu seorang menanamkan di hatinya bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah l pada setiap detik kehidupannya.
Apabila upaya itu terus dilakukan, akan sempurna keyakinannya terhadap pengawasan Allah l. Dia pun yakin bahwa Allah l mengetahui rahasia yang disembunyikan dalam dada dan apa yang dilakukannya secara lahir.
3. Muhasabah, yaitu menghitung-hitung dan mengoreksi amalannya.
Pada kehidupan di dunia ini, seorang muslim beramal siang dan malam untuk meraih keridhaan Allah l dan surga-Nya. Dunia ia jadikan sebagai lahan amal untuk meraih harapan tersebut.
Dia akan memandang hal yang diwajibkan oleh Allah l layaknya seorang pedagang yang memandang modalnya. Ia juga melihat amalan-amalan sunnah seakan-akan seorang pedagang yang melihat ada keuntungan dari pokok atau modal dagangannya. Tak lupa pula, ia memandang dosa dan kemaksiatan ibarat kerugian dalam dagangan. Lalu di sore hari dia merenung sesaat untuk memeriksa amalannya. Apabila ia melihat ada kekurangan pada perkara wajib (modal pokok), ia pun mencela dirinya lalu berusaha menambal kekurangannya. Jika bisa diganti, ia pun menggantinya. Jika tidak mungkin, ia akan menambalnya dengan memperbanyak amalan sunnah. Apabila ternyata kekurangan ada pada amalan sunnah, dia pun berusaha menggantinya dan menambalnya.
Seandainya ia melihat kerugian pada dirinya karena melakukan hal yang dilarang agama, ia akan meminta ampun kepada Allah l, menyesali perbuatannya, kembali kepada jalur yang benar, dan melakukan kebaikan yang sekiranya bisa memperbaiki apa yang telah rusak.
4. Mujahadah, yaitu berupaya mengekang hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan.
Hawa nafsu lebih menyukai sikap bersantai-santai dan bermalas-malas serta menyimpangkan hati agar terjerumus dalam kesenangan maksiat sesaat, padahal setelahnya adalah kebinasaan.
Seorang muslim yang tahu kondisi hawa nafsu yang seperti ini niscaya akan mempersiapkan diri untuk melawannya. Apabila hawa nafsunya mendorongnya untuk bermalas-malas, ia meletihkan dirinya (dengan perkara yang positif). Apabila dirinya menginginkan syahwat (yang diharamkan), ia mengekangnya. Jika dirinya meremehkan amal ketaatan, ia menghukum dirinya dengan melakukan yang diremehkannya.
Intinya, ia mengejar apa yang tertinggal. Dengan upaya seperti ini, dirinya akan bersih. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69) (Disarikan dari Kitab Minhajul Muslim, al-Jazairi hlm. 91—96)
Di samping upaya di atas, kita juga hendaknya tidak lupa bermohon kepada Dzat Yang Mahakuasa agar Dia memperbaiki kondisi kita serta menambal aib dan kekurangan kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pemandangan Surga dan Kenikmatan didalamnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Surga adalah negeri kemuliaan yang abadi, negeri yang penuh dengan kenikmatan yang sempurna, yang tak ada cela sama sekali. Berbagai kenikmatan telah Allah l persiapkan di sana. Dalam hadits qudsi, Allah l berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” Kemudian Rasulullah n berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca:
“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (as-Sajdah: 17)’.” (HR. al-Bukhari no. 3244)
Akan tampak agungnya nikmat surga ketika dibandingkan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan dunia dibandingkan dengan kenikmatan akhirat sangatlah rendah. Rasulullah n bersabda, “Tempat cemeti salah seorang kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari no. 3250)
Oleh karena itu, masuk surga dan selamat dari neraka adalah kesuksesan yang agung, kemenangan yang besar. Allah l berfirman:
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (Ali Imran: 185)
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 72)
Setiap muslim pastilah merindukan surga. Merindukan berbagai kenikmatan yang telah dipersiapkan oleh Allah l di sana.
Untuk semakin menambah keimanan kita tentang surga dan menambah kerinduan kita kepadanya sehingga semakin bersemangat beribadah kepada Allah l, maka kami akan paparkan sekelumit pemandangan surga dan berbagai kenikmatan yang telah disebutkan Allah l dan Rasul-Nya.

Sifat-Sifat Surga
Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah telah banyak disebutkan sifat surga. Dalam kesempatan ini, akan kami sebutkan beberapa di antaranya.

Luas Surga
Allah l telah menjelaskan tentang luas surga dalam firman-Nya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Surga Bertingkat-Tingkat
Telah ada dalam nash yang sahih bahwa surga ada seratus tingkat, jarak antartingkat sejauh langit dan bumi. Dari Abu Hurairah z, dari Rasulullah n yang bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat yang dipersiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya. Jarak antatingkat seperti jarak bumi dan langit.” (HR. al-Bukhari no. 2790)

Pintu-Pintu Surga
Pintu surga ada delapan, salah satunya bernama Rayyan. Dari Sahl bin Sa’d z, dari Nabi n yang bersabda:
فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ
“Di surga ada delapan pintu. Ada pintu yang dinamai Rayyan, tidak ada yang masuk melalui pintu tersebut melainkan orang-orang yang puasa.” (HR. Buhari: 3257)
Akan ada orang yang dipanggil untuk masuk dari semua pintu, di antara mereka adalah Abu Bakr z. (lihat Shahih al-Bukhari no. 1879 dan Shahih Muslim no. 2418)

Penjaga Surga
Allah l berfirman:
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam surga berkelompok-kelompok (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka, berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka, “Keselamatan (dilimpahkan) untuk kalian. Berbahagialah kalian! Masukilah surga ini, kalian kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n berkata:
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Muhammad.” Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu.” (HR. Muslim no. 507)
Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa surga ada penjaganya dari kalangan malaikat.

Yang Pertama Masuk Surga
Orang yang pertama masuk surga adalah Nabi Muhammad n dan umat pertama yang masuk surga adalah umat beliau. Dari Anas bin Malik z, ia berkata bahwasanya Rasulullah n bersabda:
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Muhammad.” Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu.” (HR. Muslim no. 507)
Dalil yang menyatakan bahwa umat Muhammad n yang paling dahulu masuk surga adalah hadits:
نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
“Kita adalah yang terakhir (masanya di dunia), tetapi yang pertama di hari kiamat. Kitalah yang akan masuk surga lebih dahulu.” (HR. Muslim)

Bangunan di Surga
Dari Ibnu Umar c:
سُئِلَ رَسُولُ اللهِ n عَنِ الْجَنَّة: كَيْفَ هِيَ؟ قَالَ: مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَحْيَى لاَ يَمُوتُ، وَيَنْعَمُ لاَ يَبْأَسُ، وَلاَ تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلاَ يُبْلَى شَبَابُهُ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ بِنَاؤُهَا؟ قَالَ: لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ، وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، مِلاَطُهَا مِسْكٌ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ، وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ.
Rasulullah n ditanya tentang surga, “Bagaimanakah surga?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang masuk surga akan terus hidup tak akan mati, terus akan mendapatkan kenikmatan tidak akan susah, tak akan lapuk bajunya, dan tak akan hilang masa mudanya.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana bangunannya?” Beliau menjawab, “Ada yang batanya dari perak dan ada yang dari emas, (adukan) semennya adalah misik, kerikilnya adalah mutiara dan permata, dan tanahnya adalah za’faran.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam tahqiq Misykatul Mashabih)

Kemah-Kemah di Surga
Allah l berfirman:
“(Bidadari-bidadari) yang pandangan mereka hanya kepada suami dipingit dalam kemah-kemah.” (ar-Rahman: 72)
Dari Abu Bakr bin Abdullah bin Qais, dari ayahnya z, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ، عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلاً
“Di surga ada kemah dari mutiara yang dilubangi, lebarnya enam puluh mil.” (HR. al-Bukhari no. 4879)

Pasar di Surga
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n berkata:
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً. فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً
“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim no. 7324)

Sifat-Sifat Wanita Surga
Allah l dan Rasul-Nya telah menyebutkan sifat-sifat wanita surga, di antara sifat wanita surga:

• Akhlak dan Tubuh Mereka Telah Disucikan
Allah l berfirman:
“Bagi mereka istri-istri yang telah disucikan.” (al-Baqarah: 25)
Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di berkata, “Mereka disucikan akhlak dan tubuhnya. Lisan dan pandangan mereka telah disucikan.”

• Tidak Pernah Disentuh Pria Lain dan Tidak Memandang Pria Lain
Allah l berfirman:
“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (ar-Rahman: 56)

• Usia Mereka Sebaya
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, wanita-wanita yang sebaya.” (an-Naba: 31—33)

• Mereka Dijadikan oleh Allah l sebagai Gadis
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (al-Waqiah: 35—37)
Tentang ayat ini, ada dua penafsiran:
1. Maksudnya adalah bidadari.
2. Yang dimaksud adalah wanita dari kalangan bani Adam, yakni Allah l kembalikan mereka menjadi gadis.
Dalam satu riwayat disebutkan, “Pernah seorang wanita tua minta agar Rasulullah n mendoakannya masuk surga. Rasulullah n berkata, ‘Wahai Ummu Fulan, surga tidak dimasuki wanita tua.’ Wanita itu pun kembali dan menangis. Rasulullah n lalu berkata, ‘Kabarkan kepadanya, dia tak akan masuk surga dalam keadaan tua renta, karena Allah berfirman:
‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.’ (al-Waqiah: 35—37).” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il)
Sifat-sifat di atas hanya sebagian kecil dari sifat wanita surga yang telah disebutkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

Makanan Ahli Surga
Allah l berfirman:
“Dan buah-buahan yang mereka pilih dan daging burung yang mereka inginkan.” (al-Waqi’ah: 20—21)

Buah-Buahan di Surga Banyak dan Tidak Terputus
Allah l berfirman:
“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, serta kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (al-Waqi’ah: 32—34)
Allah l berfirman:
“Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu’.” (al-Haqqah: 23—24)
Dari Tsauban, Rasulullah n berkata,
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا نَزَعَ ثَمَرَةً مِنَ الْجَنَّةِ عَادَتْ مَكَانَهَا أُخْرَى
“Seorang penghuni surga jika memetik buah di surga, buah yang lain akan menempati tempatnya.” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Jami’ ash-Shagir no. 1617 dan ash-Shahihah no. 1598)

Minuman Ahli Surga
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (al-Insan: 5—6)
Allah l berfirman:
“Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.” (al-Insan: 17—18)
Abu Umamah z mengatakan, “Seorang penghuni surga ingin meminum minuman. Datanglah ceret ke tangannya kemudian ia pun minum dan ceret tersebut kembali ke tempatnya.” (Dinyatakan mauquf oleh asy-Syaikh al-Albani)
Sungai di Surga
Allah l berfirman:
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad: 15)

Kenikmatan Tertinggi: Melihat Allah l
Kenikmatan penduduk surga yang paling agung adalah melihat wajah Allah l. Allah l berfirman:
“Wajah-wajah mereka itu berseri-seri karena melihat Rabbnya.” (al-Qiyamah: 22—23)
“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna dan tambahannya.” (Yunus: 26)
Para ahli tafsir berkata, “Al-husna adalah surga. Tambahannya adalah melihat wajah Allah l.”
Dari Shuhaib, Nabi n berkata,
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ -قَالَ- يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا، أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ: { ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ}
“Ketika penduduk surga masuk ke dalamnya, Allah l berfirman, ‘Kalian ingin Aku menambah (nikmat) untuk kalian?’ Penduduk surga pun berkata, ‘Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Rasulullah berkata, “Allah l membuka hijab (sehingga mereka melihat Allah). Tidaklah mereka diberi nikmat yang lebih mereka senangi selain melihat Rabb mereka.” Kemudian Rasulullah n membaca:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna dan tambahannya (Yunus: 26).” (HR. Muslim)
Demikianlah sebagian keindahan dan kenikmatan surga yang Allah l persiapkan.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penduduk surga-Mu!

Bersegeralah ke Surga Allah l
Sahabat adalah generasi terbaik umat ini dan paling paham masalah agama, maka mereka adalah orang-orang yang paling semangat mendapatkan surga-Nya. Kita dapatkan banyak riwayat yang menunjukkan semangat para sahabat Rasulullah g untuk mendapatkan surga walau dengan mengorbankan jiwa raga dan harta mereka. Di antara kisah tersebut adalah sebagai berikut.

• Kisah Anas bin Nadhr z
Ketika di Perang Uhud, beliau melihat sebagian orang mundur. Namun, beliau tetap maju sembari berkata kepada Sa’d bin Mu’adz z, “Wahai Sa’d, demi Rabb Nadhr, aku telah mencium wangi surga di dekat Uhud.”
Anas z berkata, “Kami temukan di tubuhnya ada delapan puluh lebih tusukan pedang, tombak, atau panah. Kami dapati beliau telah meninggal dan dicacah oleh orang musyrikin. Tidak ada yang mengenalinya selain saudarinya.” (Muttafaq alaih)

• Umair bin al-Humam z
Di Perang Badar, ketika Rasulullah n berkata, “Berdirilah kalian untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi!”
Umair bin al-Humam al-Anshari z berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”
Rasulullah n menjawab, “Ya.”
Umair berkata, “Bakh. Bakh.”
Rasulullah n berkata, “Apa yang menyebabkan kamu berkata demikian?”
Umair z berkata, “Tidak ada, demi Allah. Hanya saja aku ingin menjadi penghuninya.” Rasulullah n berkata, “Engkau termasuk penghuninya.”
Umair lalu mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya kemudian memakan sebagiannya dan berkata, “Kalau aku harus menghabiskan kurma-kurmaku ini, berarti hidup masih lama.” Beliau pun melemparnya dan memerangi musuh hingga meninggal. (HR. Muslim)

• Abu Dahdah z
Rasulullah n pernah berkata, “Betapa banyak kurma yang bergelantungan di pohonnya untuk Abu Dahdah di surga.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shagir no. 4574)
Apa sebab beliau mendapat keutamaan ini? Dalam riwayat lain dijelaskan sebabnya. Ketika turun ayat:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak?” (al-Baqarah: 245)
Abu Dahdah z berkata, “Wahai Rasulullah, Allah ingin meminjam dari kita?” Rasulullah n menjawab, “Benar, wahai Abu Dahdah.” Abu Dahdah berkata, “Perlihatkanlah tanganmu kepadaku, ya Rasulullah, aku telah meminjamkan kebun kurmaku kepada Rabbku.” Ibnu Mas’ud berkata, “Kebun kurmanya berisi enam ratus pohon kurma.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam takhrij Musykilatul Faqr)

• Wanita yang Sering Tidak Sadarkan Diri
Seorang wanita datang kepada Rasulullah n dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku sering tidak sadarkan diri (epilepsi) dan (ketika itu) tersingkap hijabku. Doakanlah aku agar disembuhkan oleh Allah.”
Rasulullah n berkata, “Jika engkau mau bersabar, engkau akan mendapatkan surga. Namun, kalau memang engkau mau didoakan, aku akan mendoakanmu.”
Wanita tadi berkata, “Kalau begitu aku akan sabar.” (Muttafaq ‘alaih)

Marilah kita bersegera mengamalkan amalan yang mengantarkan ke surga Allah l, dengan meningkatkan tauhid, iman, dan ketakwaan kita kepada Allah l serta melakukan berbagai amalan yang telah dijanjikan dengan surga-Nya.
Wallahu a’lam.

 

Mewakafkan Masjid dengan Keikhlasan dan Bimbingan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ z قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ: مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.
Dari Utsman bin Affan z, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Barang siapa membangun masjid dengan mengharapkan wajah Allah, sungguh Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di jannah/surga’.”
Takhrij Hadits
Hadits Amirul Mukminin Utsman bin Affan z ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (1/453), Muslim (1/378 no. 533), dan Ibnu Hibban (4/488 no. 1609,) melalui jalan Ubaidillah al-Khaulani dari Utsman bin Affan z.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/61 & 70), at-Tirmidzi (2/134 no. 318), Ibnu Majah (1/243 no. 736) dalam Sunan keduanya, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (2/269 no. 1291), melalui jalan Abu Bakr al-Hanafi, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari ayahnya, dari Mahmud bin Labid, dari Utsman bin Affan z.
Hadits ini termasuk dalam deretan hadits-hadits mutawatir.1 Puluhan sahabat meriwayatkan hadits tersebut, termasuk Utsman bin Affan z. Dalam sebuah bait syair dikatakan:
مِمَّا تَوَاتَرَ حَدِيْثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى لِلهِ بَيْتاً وَاحْتَسَبْ
Di antara yang mutawatir adalah hadits “Man kadzaba….”
dan “Barang siapa membangun sebuah rumah untuk Allah lalu mengharapkan pahalanya….”
Al-Imam as-Suyuthi t (wafat tahun 911 H) menyebutkan sahabat-sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Di antara mereka adalah al-Khulafa’ ar-Rasyidin: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib; juga Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin al-‘Abbas, Aisyah, Ummu Habibah, Abdullah bin Amr bin al-Ash, Watsilah bin al-Asqa’, Asma’ bintu Yazid, Nabith bin Syarith, Abu Umamah, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Qarshafah, Mu’adz bin Jabal, dan ‘Amr bin ‘Abasah, semoga Allah l meridhai mereka seluruhnya. (Qathful Azhar al-Mutanatsirah)2

Penjelasan Hadits
Membangun masjid termasuk wakaf dan amalan yang tidak akan terputus pahalanya dengan kematian, selama manfaatnya masih dirasakan. Mendirikan masjid termasuk sedekah jariyah yang tersebut dalam sabda Rasulullah n yang diriwayatkan banyak ahlul hadits dari Abu Hurairah z:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang mati, terputuslah amalannya selain tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.”
Di samping pahala yang terus mengalir, Allah l juga menjanjikan pahala yang besar bagi seseorang yang membangun masjid, sebagaimana halnya yang ditunjukkan oleh hadits Utsman z di atas. Barang siapa membangun masjid karena Allah l, tidak mengharapkan pujian manusia, riya (ingin dilihat), atau sum’ah (ingin didengar), sungguh Allah l akan membangunkan baginya sebuah rumah di jannah.
Tentu, rumah itu tidak bisa dibayangkan keindahannya. Apa yang disediakan oleh Allah l tidak bisa dibandingkan dengan bangunan terindah sekalipun di dunia ini, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah hadits qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku menyediakan bagi para hamba-Ku yang saleh, kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia.” (HR. al-Bukhari no. 3244, 4779 dan Muslim no. 2824 dari Abu Hurairah z)

Berapa pun Ukuran Masjid yang Dibangun, Allah l Akan Membalasnya
Kata (مَسْجِدًا) dalam sabda Rasulullah n di atas adalah kata nakirah (kata benda yang tidak tertentu). Ini menunjukkan bahwa semua masjid yang dibangun akan mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Allah l, berapa pun ukurannya, besar atau kecil.
Makna ini datang dalam lafadz hadits Anas bin Malik z:
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا صَغِيرًا كَانَ أَوْ كَبِيرًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid, kecil atau besar, Allah l akan membangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. at-Tirmidzi dalam as-Sunan no. 319 dan dinyatakan dha’if [lemah] oleh asy-Syaikh al-Albani t)3
Dalam hadits lain, hadits Abu Dzar z, Rasulullah n memberikan dorongan yang kuat untuk membangun masjid walaupun kecil. Beliau n membuat permisalan yang sangat mendalam dengan sabdanya:
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا وَلَوْ مَفْحَصَ قُطَاةٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid walaupun seluas peraduan (tempat mengeram) burung, Allah l akan membangun untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 1/310, Ahmad no. 2157, al-Bazzar, ath-Thabarani, dan Ibnu Hibban. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)
Al-Munawi t mengatakan, “Mayoritas ulama membawa hadits di atas kepada makna mubalaghah (menyangatkan) karena peraduan burung hanyalah seukuran tempat telur dan tempat tidurnya. Sebuah ukuran yang tidak cukup untuk melakukan shalat.” (at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir)
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, “Masjid, sebagaimana diketahui, tidak mungkin berukuran sebesar peraduan (tempat mengeram) burung. Namun, sabda ini sebagai bentuk mubalaghah (perumpamaan bahwa sekecil apa pun bangunan masjid, Allah l tetap memberi pahala besar atas amalan tersebut). Sebagian ahlul ilmi mengatakan bahwa ukuran tersebut (yakni sekecil peraduan burung) mungkin saja terwujud. Hal itu terjadi manakala masjid dibangun dengan bergotong royong dengan andil yang sedikit dari setiap orang. Artinya, pembangunan masjid dilakukan oleh beberapa orang.” (Ceramah asy-Syaikh al-Abbad dalam Syarah Sunan Abi Dawud)

Membangun Masjid & Memakmurkannya dengan Amalan Saleh
Masjid adalah rumah Allah l. Disandarkan kepada-Nya karena kemuliaannya. Allah l memilih masjid sebagai tempat yang paling Dia cintai. Rasulullah n bersabda:
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, sedangkan tempat yang paling Dia benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim [1/464 no. 671] dari jalan Abdurrahman bin Mihran, maula Abu Hurairah z, dari beliau)
Hati orang-orang yang beriman selalu terkait dengan rumah-rumah Allah l. Dengan penuh harap kepada Allah l, mereka memuliakan masjid-masjid Allah l dan memakmurkannya. Allah l berfirman:
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan hal itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (an-Nur: 36—38)
Dalam ayat di atas, Allah l telah mengizinkan, yakni memerintahkan, agar masjid ditinggikan.
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk ditinggikan….”
Apa makna “meninggikan rumah-rumah Allah” dalam ayat ini?
Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan dua penafsiran ayat ini.
1. Allah l memerintahkan agar masjid-masjid dibangun.4
Hal ini seperti apa yang dikabarkan oleh Allah l tentang Nabi Ibrahim dan Isma’il e ketika meninggikan Baitullah, yakni membangunnya. Allah l berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Perintah dan dorongan membangun masjid banyak diriwayatkan dari Rasulullah n seperti hadits mutawatir yang sedang kita bicarakan dalam rubrik ini. Demikian pula hadits Aisyah x:
أَمَرَ رَسُولُ اللهِ n بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّوْرِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ
“Rasulullah n memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di kabilah-kabilah (kampung-kampung). Beliau juga memerintahkan agar masjid dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR. at-Tirmidzi dalam “Kitab al-Jumu’ah” no. 594, Sunan Abu Dawud dalam “Kitab ash-Shalah” no. 455 dan Ibnu Majah dalam “Kitab al-Masajid wal Jama’at” no. 759, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

2. Allah l memerintahkan agar masjid-masjid diagungkan, dihormati, dan dimuliakan dengan zikir, doa, dan ibadah, dibersihkan, dijaga, tidak boleh ada di dalamnya ucapan-ucapan kotor, dosa, atau kefasikan.
Al-Hasan t mengatakan, “Diagungkan maksudnya tidak disebut ucapan-ucapan yang buruk dalam masjid.”5
Makna kedua ini ditunjukkan pula oleh sabda-sabda Rasulullah n yang sangat banyak. Beliau memerintahkan kita untuk membersihkan masjid dan memberikan wewangian, seperti dalam hadits Aisyah x,
وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ
“Dan diperintahkan agar (masjid) dibersihkan dan diberi wewangian.”
Dahulu, di zaman Rasulullah n ada seorang wanita yang selalu membersihkan dan menyapu Masjid Nabawi.
Rasulullah n juga mengajarkan umatnya shalat tahiyatul masjid sebelum duduk di dalamnya.
Untuk memuliaan masjid, beliau juga melarang kita makan bawang lalu masuk ke masjid karena bau yang ditimbulkan akan mengganggu kaum mukminin. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar c:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ: مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ-يَعْنِي الثُّومَ-فَلَا يَأْتِيَنَّ الْمَسَاجِدَ
Rasulullah n bersabda ketika Perang Khaibar, “Barang siapa memakan dari pohon ini—yakni bawang—, jangan sekali-kali ia mendatangi masjid-masjid.” (HR. Muslim 1/393 no. 561)
Beliau juga melarang umatnya meludah di masjid atau mengotorinya. Rasulullah n pernah bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا، فَوَجَدْتُ فِي مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الْأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيقِ، وَوَجَدْتُ فِي مَسَاوِي أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةَ تَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ لَا تُدْفَنُ
“Ditampakkan kepadaku amalan-amalan umatku, yang baik dan yang buruk. Aku pun melihat, di antara amalan-amalan baik umatku adalah duri-duri/gangguan yang disingkirkan dari jalan. Aku juga melihat, di antara amalan jelek mereka adalah riak/dahak yang berada di masjid, namun tidak ia pendam (dibuang).” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar z)
Membersihkan masjid dari ludah atau yang semisalnya tidak hanya dilakukan oleh orang yang mengotorinya, namun juga oleh orang yang melihatnya. Dari Abdullah bin Umar c:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ
“Rasulullah n pernah melihat ludah menempel di dinding masjid, maka beliau mengoreknya.” (HR. Muslim 1/388 no. 547)
Di antara bentuk pengagungan kepada masjid, Rasulullah n melarang jual beli di dalam masjid.
Perintah mengagungkan masjid juga tampak dalam kisah seorang badui yang kencing di masjid Rasulullah n. Anas bin Malik z bercerita:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ
“Seorang Arab badui datang lalu kencing di salah satu sisi masjid (Nabawi). Orang-orang pun bangkit untuk mencegahnya. Namun, Rasulullah n melarang para sahabat. Ketika sang badui selesai dari kencingnya, Rasulullah memerintahkan agar dibawakan satu ember air dan dituangkan pada tanah yang terkena kencing.” (HR. al-Bukhari no. 219 dan Muslim no. 284, dari Anas bin Malik z. Ada pula riwayat lain dari beberapa sahabat selain Anas z)
Pada sebagian riwayat kisah di atas, Rasulullah n menyampaikan nasihat kepada si Badui:
إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak pantas untuk dikotori dengan kencing dan kotoran. Masjid itu didirikan hanyalah untuk berzikir kepada Allah l, shalat, dan membaca al-Qur’an.”
Memakmurkan masjid dengan membangunnya dan dengan beribadah di dalamnya adalah tanda orang-orang yang beriman kepada Allah l dan hari akhir. Allah l berfirman:
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

Membangun Masjid dengan Ikhlas dan Mutaba’ah
Pahala yang besar dari ibadah tidak akan terwujud melainkan jika diiringi keikhlasan dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah n. Dua hal ini adalah syarat diterimanya suatu amalan.
Demikian pula membangun rumah Allah l. Ibadah ini wajib diiringi oleh keikhlasan dan bimbingan Rasulullah n. Dalam hadits Utsman bin Affan z disebutkan bahwa Nabi n bersabda:
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ …
“Barang siapa membangun masjid, dengannya ia mengharapkan wajah Allah….”
Mengingat pentingnya ikhlas, ulama memberikan peringatan ketika seorang membangun masjid agar tidak menulis namanya pada masjid yang ia bangun agar keikhlasannya lebih terjaga.
Ibnul Jauzi t berkata, “Siapa yang menulis namanya pada masjid yang ia bangun, dia jauh dari keikhlasan.” (Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/222)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t pernah ditanya tentang penamaan masjid dengan nama orang, misal Masjid Fulan bin Fulan.
Beliau menjawab, “Penamaan seperti itu mengandung sisi kebaikan dan sisi keburukan. Sisi kebaikannya, ketika manusia membaca nama masjid, manusia akan mendoakan pembangunnya, ‘Semoga Allah l mengampuni orang yang telah membangunnya. Semoga Allah l memberikan balasan yang baik kepadanya’, atau doa-doa yang semisal.
Di sisi lain, penamaan tersebut mengandung keburukan, yaitu dikhawatirkan munculnya riya. Hal ini manakala ia membuat penamaan itu agar manusia melihatnya. Di saat riya mengiringi sebuah amalan, sungguh ia akan menggugurkan amalan tersebut, sebagaimana telah sahih dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah l berfirman, “Aku adalah sesembahan yang tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang ia menyekutukan selain-Ku dengan-Ku pada amalan itu, sungguh Aku tinggalkan ia bersama sekutunya.” (HR. Muslim no. 2985, dari siaran “Nurun ‘Ala ad-Darb”)
Di samping keikhlasan ketika membangun masjid, seorang harus memerhatikan bimbingan Rasulullah n dalam amalan yang agung ini. Menyelisihi bimbingan Rasulullah n berakibat tidak diterimanya amalan. Rasulullah n bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada ajarannya dari kami, amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah x)
Di antara penyelisihan syariat dalam hal membangun masjid adalah membangun masjid di atas kuburan. Hal ini sering kita saksikan di tengah-tengah umat.
Menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid dan tempat ibadah adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani yang dilaknat oleh Allah l. Rasulullah n bersabda:
لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 531 dari Ummul Mukminin Aisyah x)
Dalam hadits Jundub z, Rasulullah n bersabda:
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketahuilah, sungguh kaum yang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. Maka dari itu, janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. Sungguh, aku melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim no. 532)
Menjadikan kuburan orang saleh atau yang dianggap saleh sebagai masjid dan tempat ibadah adalah sebab yang mengantarkan pelakunya kepada syirik akbar.
Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kita, di negeri ini. Kuburan para wali dijadikan tempat untuk beribadah, dijadikan masjid, dijadikan tempat untuk shalat, dijadikan tempat untuk i’tikaf, hingga manusia pun menggantungkan asa dan harapan kepada penghuni kubur. Mereka menangis dan khusyuk di sisi kuburan para wali. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang mati itu akan menjadi perantara yang menyampaikan permohonan mereka kepada Allah l. Akhirnya, terjatuhlah banyak manusia ke dalam kesyirikan. Wal ‘iyadzu billah.
Ada seseorang yang dahulu pernah berziarah ke makam Sunan Kali Jaga, Kadilangu, Demak, bercerita kepada kami. Manusia demikian berdesak menanti giliran masuk ke dalam ruangan makam. Begitu masuk, mereka menangis, khusyuk, menyampaikan segala keluh kesah dan permohonan.
Tentang masjid-masjid yang dibangun di atas kubur, Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Dibenci mengerjakan shalat di masjid-masjid tersebut, yakni yang dibangun di atas kubur para nabi, orang saleh, atau raja-raja. Dalam masalah ini, saya tidak tahu ada perbedaan pendapat (di kalangan ulama). Shalat (yang ditegakkan dalam masjid yang dibangun di atas kuburan) tersebut tidak sah karena adanya larangan dan laknat….” (Iqtidha’ash- Shirath al-Mustaqim 2/675)
Al-Imam al-Baihaqi6, seorang pemuka ulama mazhab Syafi’i, membuat sebuah bab dalam kitab beliau as-Sunan al-Kubra dengan judul bab “Larangan Shalat Menghadap Kubur”. Kemudian beliau meriwayatkan hadits melalui jalan beliau, dari sahabat Abu Martsad al-Ghanawi z yang berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ : لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا
Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan jangan pula kalian shalat menghadapnya.”
Setelah menyebutkan hadits di atas, al-Baihaqi mengatakan, “(Hadits ini) diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam ash-Shahih, dari al-Hasan bin ar-Rabi’, dari Ibnul Mubarak)
Semoga Allah l memberikan kemudahan kepada kaum muslimin untuk beribadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah n dengan penuh keikhlasan, mengharapkan wajah Allah l.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Istilah mutawatir secara bahasa berasal dari kata “tawatara” yang bermakna “silih berganti atau terus-menerus.” Hal ini seperti firman Allah l:
“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut.” (al-Mu’minun: 44)
Adapun secara istilah, hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak rawi yang secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan, dan berita tersebut bersandar kepada pancaindra, yakni benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan mereka.
Adapun berita yang disandarkan pada persangkaan, khayalan, atau yang semisal itu, meskipun diriwayatkan oleh banyak manusia, bahkan diwariskan dari generasi ke generasi, tidaklah dikatakan sebagai berita mutawatir. Contohnya, keyakinan ahlul kitab bahwasanya Isa bin Maryam meninggal disalib. Allah l membantah keyakinan mereka yang batil ini dalam firman-Nya:
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu melainkan mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (an-Nisa: 157)
2 Kitab Shalat hlm. 84 hadits ke-28.
3 Dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani t. Meskipun lemah, hadits Abu Dzar z berikutnya menunjukkan kebenaran makna hadits tersebut. Wabillahit taufiq.

4 Makna pertama ini disebutkan oleh beberapa ahli tafsir, seperti al-Imam Mujahid t.

5 Ma’alimut Tanzil (Tafsir al-Baghawi).

6 Al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi. Beliau lahir tahun 384 H dan meninggal tahun 458 H, lima tahun sebelum wafatnya al-Khathib al-Baghdadi dan Ibnu Abdil Barr.

Berinfak dengan Harta yang Disukai

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal)

“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
(Ali Imran: 92)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Kebajikan (yang sempurna).”
Banyak ahli tafsir yang menerangkan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah surga. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Amr bin Maimun, dan as-Suddi (Tafsir ath-Thabari dan al-Qurthubi).
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa al-birr yang dimaksud adalah amalan saleh. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah n:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada al-birr (amalan saleh), dan al-birr akan mengantarkan kepada surga.” (HR. al-Bukhari no. 5743 dari Abdullah bin Mas’ud z)
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah ketaatan dan ketakwaan. Dengan demikian, maknanya adalah kalian tidak akan meraih kemuliaan agama dan ketakwaan hingga kalian bersedekah dalam keadaan kalian sehat dan butuh akan harta/materi, kalian berangan-angan kehidupan yang lebih panjang dan takut akan kemiskinan.” (Tafsir al-Qurthubi)
Yang jelas, semua penafsiran ini tidak saling bertentangan karena al-birr adalah sebuah nama yang mengumpulkan seluruh makna kebaikan, yang balasan dari seluruh kebaikan itu adalah surga. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman)

“Kalian menafkahkan.”
Sebagian ulama memahami bahwa yang dimaksud nafkah di sini adalah zakat yang diwajibkan. Mujahid berkata, “Ayat ini telah di-mansukh (dihapus) dengan ayat zakat.”
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sedekah atau berbagai bentuk amalan ketaatan yang lainnya. Al-Qurthubi t berkata, “Ini lebih mencakup.” (Tafsir al-Qurthubi)
Lalu beliau menyebutkan riwayat Sha’sha’ah bin Mu’awiyah yang mengatakan bahwa dia bertemu Abu Dzar z lalu berkata, “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits.”
Beliau menjawab, “Ya. Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُنْفِقُ مِنْ كُلِّ مَالٍ لَهُ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلاَّ اسْتَقْبَلَتْهُ حَجَبَةُ الْجَنَّةِ كُلُّهُمْ يَدْعُوهُ إِلَى مَا عِنْدَهُ. قُلْتُ: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: إِنْ كَانَتْ إِبِلًا فَبَعِيْرَيْنِ، وَإِنْ كَانَتْ بَقَرًا فَبَقَرَتَيْنِ
‘Tidaklah seorang hamba muslim menginfakkan dari setiap harta yang dimilikinya dua harta yang sepasang di jalan Allah, melainkan akan diterima oleh para penjaga pintu surga. Setiap mereka mengajak untuk masuk melalui pintunya.’
Aku kemudian bertanya, “Bagaimana caranya?” Beliau menjawab, “Jika berupa unta, sepasang unta, dan jika berupa sapi, sepasang sapi.” (HR. Ahmad 5/151, an-Nasai no. 3185, dan yang lainnya, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5774)
Al-Baidhawi t berkata, “(Yakni) nafkah berupa harta atau yang bersifat umum lainnya, seperti menggunakan kedudukan untuk menolong manusia, menggunakan jasmani untuk taat kepada Allah l, dan menggunakan hatinya untuk senantiasa berada di jalan-Nya. ”
Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah menambahkan, “Termasuk pula mengajarkan ilmu.” (Imdadul Qari, 1/294)

Tafsir Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t menerangkan, “Ayat ini adalah anjuran dari Allah k kepada para hamba-Nya untuk berinfak di berbagai jalan kebaikan. Allah k menyatakan ‘kalian tidak akan meraih al-birr’, yaitu setiap kebaikan berupa berbagai ketaatan dan ganjaran yang mengantarkan pelakunya ke dalam surga.
“Hingga kalian menginfakkan apa yang kalian cintai,” yaitu harta-harta kalian yang berharga, yang disenangi oleh jiwa-jiwa kalian. Jika kalian lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah l daripada kecintaan kepada harta, lalu kalian mengeluarkannya dengan tujuan menggapai keridhaan-Nya, hal itu menunjukkan keimanan yang jujur, ketaatan hati, dan juga kebenaran takwa kalian.
Termasuk dalam hal ini adalah menginfakkan harta yang bernilai, berinfak dalam keadaan orang yang berinfak tersebut membutuhkan apa yang diinfakkannya, dan berinfak dalam keadaan sehat. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba dinilai ketaatannya berdasarkan harta yang disenanginya yang dia infakkan, dan semakin berkurang pula ketaatannya jika infaknya semakin berkurang. ” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Ath-Thabari t menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Wahai kaum mukminin, kalian tidak akan mencapai al-birr—al-birr adalah pemberian dari Allah l yang dikehendaki oleh para hamba dengan amalan ketaatan mereka kepada-Nya, beribadah, dan berharap kepada-Nya—yaitu anugerah Allah k kepada kalian dengan dimasukkannya kalian ke dalam jannah-Nya dan dipalingkan dari siksaan-Nya.
Oleh karena itu, banyak ahli tafsir yang menjelaskan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah al-jannah (surga), karena kebaikan Rabb kepada para hamba-Nya di akhirat adalah kemuliaan yang Dia berikan kepada mereka dengan memasukkan mereka ke dalam al-jannah. ” (Tafsir ath-Thabari)
Abu Bakr al-Warraq t berkata, “Ayat ini memberikan bimbingan kepada mereka untuk bersikap dermawan. Maknanya adalah kalian tidak akan meraih kebaikan-Ku untuk kalian kecuali jika kalian berbuat baik kepada saudara kalian serta berinfak kepada mereka dari harta dan kedudukan kalian. Jika kalian melakukan hal itu, kalian akan mendapatkan kebaikan dan kasih sayang-Ku.” (Tafsir al-Qurthubi)
Ayat ini semakna dengan firman-Nya:
“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insan: 8)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)
Adapun firman-Nya:
“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 273)
Ayat ini sama dengan firman Allah l:
“Dan apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nazarkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim, tidak ada seorang penolong pun baginya.” (al-Baqarah: 270)
Al-Allamah as-Sa’di t berkata, “Allah l mengabarkan bahwa apa pun yang diinfakkan atau disedekahkan, atau nazar orang yang bernazar, sesungguhnya Allah l mengetahui hal itu. Kandungan makna ilmu Allah l menunjukkan bahwa Dia membalasnya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun apa yang ada di sisi-Nya. Dia k mengetahui apa yang dilakukan seorang hamba berupa niat yang baik atau buruk.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Sikap Salaf dalam Mengamalkan Ayat Ini
Ayat ini dipahami oleh para ulama salaf dari generasi terbaik umat ini secara zahir sehingga mereka berusaha menginfakkan harta yang mereka senangi. Bahkan, harta tersebut adalah harta yang paling mereka sukai.
Diriwayatkan oleh an-Nasai, dari sahabat Anas bin Malik z, ia berkata, Ketika ayat ini turun:
Abu Thalhah berkata, “Sesungguhnya Rabb kami meminta kami untuk menginfakkan harta-harta kami. Aku mempersaksikan engkau, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menjadikan tanahku ini untuk Allah l.” Rasulullah n bersabda, “Peruntukkanlah tanahmu untuk kerabatmu, untuk Hassan bin Tsabit dan Ubai bin Ka’b.” (HR. an-Nasai no. 3602 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik z, ia berkata, “Abu Thalhah z adalah seorang dari kalangan Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah berupa pohon kurma. Harta yang paling ia senangi adalah kebun kurma Bairaha’, yang menghadap ke arah masjid. Rasulullah n terkadang masuk ke dalamnya dan minum air yang segar darinya.”
Anas z mengatakan bahwa tatkala turun firman Allah l:
Abu Thalhah pun menghadap Rasulullah n lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah k berfirman:
dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh, ia telah menjadi sedekah karena Allah l. Aku mengharap ganjaran dan simpanan kebaikan darinya di sisi Allah k. Salurkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan pandangan yang Dia l berikan kepadamu.”
Rasulullah n lalu bersabda, “Luar biasa. Itu adalah harta yang menghasilkan keuntungan besar. Itu adalah harta yang menghasilkan keuntungan besar. Sungguh, aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpandangan agar engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Abu Thalhah berkata, “Saya akan melakukannya, wahai Rasulullah.” Abu Thalhah pun menyalurkannya kepada karib kerabatnya dan anak-anak pamannya. (HR. al-Bukhari no. 1392 dari Anas bin Malik z)
Demikian pula diriwayatkan bahwa Zaid bin Haritsah z menginfakkan harta yang paling disukainya berupa seekor kuda yang diberi nama Sabal.
Abdullah bin Umar c memerdekakan budak yang disukainya, yaitu Nafi’, yang dahulu dia beli dari Abdullah bin Ja’far seharga seribu dinar. Shafiyyah bintu Ubaid berkata, “Aku menyangka bahwa dia mengamalkan firman Allah l:
Diriwayatkan oleh Syibl, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab z menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari z agar membeli seorang budak wanita dari tawanan Jalula’ pada saat ditaklukkannya daerah Mada’in Kisra.” Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Umar memanggil budak wanita tersebut. Setelah melihatnya, Umar pun terpesona. Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah k berfirman:
Lalu Umar pun membebaskannya.”
Diriwayatkan pula dari Sufyan ats-Tsauri bahwa budak wanita Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Jika datang kepada beliau (Rabi’) seorang pengemis, dia berkata kepadaku, ‘Berikan kepadanya gula,’ karena Rabi’ menyukai gula.” Sufyan berkata, “Dia mengamalkan firman Allah k:
Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Abdul Aziz t membeli beberapa karung gula lalu menyedekahkannya. Lalu beliau ditanya, “Mengapa engkau tidak bersedekah dengan uangnya saja?” Beliau menjawab, “Gula adalah harta yang paling aku sukai, maka aku ingin bersedekah dengan apa yang aku sukai.”
Al-Hasan al-Bashri t berkata, “Sesungguhnya kalian tidak akan meraih apa yang kalian sukai melainkan dengan meninggalkan apa yang kalian senangi. Kalian juga tidak akan menggapai angan-angan kalian melainkan dengan bersabar atas apa yang kalian benci.” (Lihat Tafsir al-Qurthubi)
Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar c bahwa dia berkata bahwa Umar bin Khaththab z pernah berkata kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seratus bagian di Khaibar yang aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih aku sukai darinya. Aku ingin menyedekahkannya.”
Rasulullah n bersabda:
احْبِسْ أَصْلَهَا وَسَبِّلْ ثَمْرَتَهَا
“Wakafkan tanahnya dan sedekahkan hasilnya!” (HR. an-Nasai no. 3603, Ibnu Majah no. 2397 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Mencari Sedekah yang Lebih Afdal
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan ayat ini, “Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah l dengan sesuatu yang paling disenanginya, itu lebih utama daripada yang lainnya, meskipun sama nilainya. Sesungguhnya, memberi hadiah dan berkurban yang merupakan jenis ibadah jasmani dan materi, tidaklah sama seperti sedekah biasa. Bahkan, ketika dia menyembelih hewan yang paling berharga dari hartanya, hal itu lebih dicintai Allah k. Sebagian salaf berkata, ‘Janganlah salah seorang kalian menghadiahkan sesuatu untuk Allah l yang dia malu jika dia menghadiahkannya kepada seseorang yang dia muliakan.’
Allah k berfirman:
‘Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ (al-Baqarah: 267)
Ada dua orang anak Adam yang mempersembahkan sebuah harta untuk Allah l. Disebutkan bahwa salah satu dari keduanya bersedekah dengan hartanya yang bernilai, sedangkan yang lain bersedekah dengan hartanya yang tidak bernilai. ” (Majmu’ Fatawa, 31/251)
Wallahu a’lam.

 

Tanya Jawab Ringkas edisi 75

Istri Memaksa Suami Tinggal Dekat Keluarganya

Bagaimana hukumnya seorang wanita yang memaksa suaminya tinggal di dekat keluarganya dengan alasan ingin berbakti dengan keduanya? Namun, suami tidak setuju dengan alasan tempat tersebut jauh dari ilmu syar’i. Tempat tinggal suami sudah dekat dengan majelis ilmu. Sampai-sampai si istri terkadang memboikot suami. Saya minta penjelasannya. Sebelumnya saya ucapkan jazakallah khairan.
+6281383xxxxxx

Hak suami lebih besar atas istri daripada hak orang tuanya, dan istri wajib taat kepada suami dalam hal yang ma’ruf (baik). Jika harus memilih salah satunya maka dia harus memilih suami. Istri tidak bisa memaksa suami berbuat sesuatu. Dalam kasus di atas, istri harus bersama suami dan dia bisa melakukan birrul walidain walaupun tidak dekat rumah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Hukum Bekerja di Kantor Pajak
Ana ingin bertanya tentang hukum bekerja di kantor pajak? Apakah kita boleh makan di rumah orang yang bekerja di kantor pajak (misalnya kita sedang bertamu)? Apakah hukum bekerja di kantor pajak sama dengan bekerja di bank? Mohon jawabannya segera karena ana sangat membutuhkannya. Afwan sebelumnya.
Jazakumullah khair.
+6285762xxxxxx

Bekerja di kantor pajak hukumnya sama dengan kerja di bank. Harta mereka haram atas mereka pribadi, namun halal bagi yang lain. Hanya saja, lebih wara’ tidak memakan harta mereka.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Abang Becak Tidak Puasa Ramadhan, Qadha atau Tidak?
Assalamu’alaikum. Ustadz, aku sebagai abang becak waktu Ramadhan jika sedang di rumah berpuasa. Akan tetapi, kalau sedang kerja tidak puasa karena tidak kuat. Bagaimana hukumnya, mengganti atau tidak? Mohon dijawab.
+62274xxxxxxx

Wa’alaikumus salam warahmatullah.
Anda tetap wajib qadha (mengganti), puasa tidak gugur dengan alasan tidak kuat. Mengingat profesi Anda sebagai abang becak, lebih baik saat bekerja juga diupayakan puasa. (Caranya, saat Ramadhan bekerja sekadarnya untuk mencukupi kebutuhan hari itu, lalu berhenti kerja dan tetap berpuasa.) Hal itu lebih ringan daripada puasa qadha di luar Ramadhan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi
Wanita Berjilbab Tetapi Memakai Celana Panjang
Apa hukum wanita yang berjilbab dengan bawahan memakai celana panjang? Umumnya celana panjang dipakai laki-laki. Dalam hadits, Abu Hurairah z mengatakan, “Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita & wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)
Agung, Sragen
+6287836xxxxxx
Jika celana panjang khusus wanita, itu lebih afdal karena lebih tertutup. (Hanya saja, ia memakainya di dalam baju kurung yang lebar dan memenuhi syarat jilbab yang syar’i. Jika ia hanya memakai celana panjang saja tanpa baju kurung, ini tidak diperbolehkan karena tetap akan menampakkan bentuk aurat.)
Adapun jika memakai celana laki-laki, haram. Ia terkena hadits tersebut. Di masyarakat kita sudah ma’ruf (dikenal) perbedaan antara celana wanita dan celana laki-laki.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi
Menjamak Shalat Fardhu Lebih dari Dua Waktu Shalat
Bismillah. Saya mau tanya, apakah Rasulullah n pernah menjamak shalat fardhu lebih dari dua waktu shalat? Jazakallahu khair atas jawabannya.
+6285768xxxxxx

Pernah, ketika perang Khandaq beliau shalat Ashar, Maghrib dan Isya pada waktu maghrib. Namun, ini bukan sunnah bagi umatnya melainkan kondisi darurat. Itu pun sebelum turun syariat shalat khauf.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Mengganti Nama dengan yang Bagus
Bismillah. Ana mau tanya, apa hukum mengganti nama dari nama jelek menjadi nama yang lebih bagus?
+6285696xxxxxx

Itu adalah sunnah Rasulullah n.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Shalat di Masjid yang Dibangun dengan Uang Riba
Apa hukum memperbaiki masjid dengan menggunakan uang hasil riba dan apa hukum shalat di dalamnya?
+6285696xxxxxx

Uang riba tidak boleh dipakai untuk sesuatu yang bersifat ibadah, tetapi untuk hal umum. Shalatnya tetap sah karena tidak ada keterkaitan antara ibadah shalat dengan perbaikan masjid dan uang riba. Istilah ulama, ‘jihatun munfakkah’. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Kemiripan Anak dengan Orang Tuanya
Bagaimana seorang anak yang masih dalam rahim ibunya kalau lahir terkadang mirip ayahnya, terkadang mirip ibunya? Juga, bagaimana anak tersebut bisa menjadi laki-laki atau perempuan? Apakah ada proses tertentu atas dasar sunnatullah? Mohon dijelaskan. Jazakallahu khairan atas jawabannya.
+6281902xxxxxx

Ada prosesnya sebagaimana dalam hadits. Yang lebih dahulu ‘keluar’ itu proses penentuan jenis kelamin, sedangkan yang lebih ‘banyak’ itu proses penentuan kemiripan.
Apabila laki-laki ‘keluar’ dahulu dan lebih ‘banyak’ maka bayinya laki-laki dan mirip dengan bapak. Apabila wanita ‘keluar’ dahulu dan lebih ‘banyak’ maka bayinya perempuan dan mirip dengan ibu. Apabila laki-laki ‘keluar’ lebih dahulu namun wanita lebih ‘banyak’ maka bayinya laki-laki dan mirip dengan ibu. Apabila wanita ‘keluar’ dahulu namun laki-laki lebih ‘banyak’ maka bayinya perempuan dan mirip dengan ayah. Semua itu dengan takdir dari Allah l, manusia hanya berusaha. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bergaul dengan Masyarakat atau Uzlah?
Bismillah. Saya mau tanya, bagaimana sikap kita yang menjadi kaum minoritas di masyarakat, apakah kita mengucilkan diri atau bersosialisasi dengan masyarakat tersebut? Sementara itu, kita telah mengetahui kebiasaan/tradisi yang ada sekarang semakin jauh dari tuntunan agama/syariat. Jazakallah khairan.
+6283863xxxxxx

Pada kondisi masyarakat sekarang, kita belum diharuskan ‘uzlah kulliyyah (pengasingan diri secara total dari masyarakat) karena masih ada kesempatan untuk berdakwah. Yang dilakukan adalah ‘uzlah juz’iyyah, yakni kita tidak mengikuti kegiatan masyarakat yang melanggar syariat dan tetap membaur dengan mereka dalam hal-hal mubah atau syar’i. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Menshalati Jenazah Orang yang Gila Sebelum Baligh
Bismillah. Ada orang gila meninggal tetapi dia gila sebelum baligh. Bagaimana hukum menshalatinya?
+623216xxxxxx

Tetap dishalatkan jenazahnya selagi dia muslim, hidup di tengah-tengah muslimin. Adapun nanti di akhirat, urusannya diserahkan kepada Allah l.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Lele Haram karena Mati Dipukul?
Saya dapat info dari kawan saya bahwa sesuai dengan surat al-Maidah ayat 3 bahwa termasuk yang dilarang untuk dimakan adalah hewan yang mati dipukul. Jadi, lele yang matinya dipukul, menurut kawan saya, hukumnya haram karena kalau kita beli lele di pasar biasanya supaya mati kepalanya dipukul. Bagaimana menurut ustadz, supaya kami merasa jelas dan tidak ragu-ragu. Terima kasih.
+6281365xxxxxx

Ayat tersebut secara umum berlaku untuk hewan yang disembelih, jika dengan cara dipukul maka haram karena tidak sesuai dengan cara penyembelihan yang syar’i. Adapun ikan dengan segala jenisnya hukumnya halal, dengan cara apa pun prosesnya karena bangkai ikan adalah halal. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Wanita Menumpang Kendaraan
Bismillah. Apa hukumnya apabila ada seorang wanita ajnabi (asing) yang mau ikut menumpang kendaraan seseorang, padahal di kendaraan tersebut tidak ada orang ketiga, yang ada hanya seorang sopir? Jazakumullahu khairan.
+6281313xxxxxx

Jelas tidak boleh karena termasuk khalwat (berduaan) yang dilarang, juga fitnah (godaan) besar. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Azan di Telinga Anak yang Baru Lahir
Ustadz, apa hukum azan di telinga anak yang baru lahir?
+6285292xxxxxx

Pendapat yang rajih adalah hadits tentang masalah tersebut tidak ada yang sahih sehingga tidak disyariatkan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Walimah Kelahiran selain Aqiqah
Adakah walimah kelahiran selain aqiqah?
+6285292xxxxxx

Tidak ada, yang disyariatkan hanya aqiqah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Keguguran
Bismillah. Bagaimana hukumnya bagi wanita yang keguguran, apakah seperti nifas atau istihadhah? Adakah batasan umur kegugurannya? Bagaimana jika seorang wanita yang tidak teratur haidnya, kadang sampai berbulan-bulan tidak haid, kemudian kata dokter ada penebalan dinding rahim. Ketika terjadi pendarahan, apakah ia dihukumi haid atau istihadhah? Jazakumullah khairan.
+628132xxxxxx

Menurut asy-Syaikh Ibnu Utsaimn, jika gugur sebelum ada ruh, bukan nifas tetapi darah rusak. Untuk kasus kedua, dilihat sifat darahnya. Jika sama seperti darah haid, itu adalah haid. Jika tidak, itu adalah pendarahan biasa. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Memegang Barang Najis Membatalkan Wudhu?
Afwan, mau tanya. Memegang barang najis membatalkan wudhu atau tidak?
6282136xxxxxx

Tidak membatalkan wudhu, tetapi harus disucikan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Wanita Haid Menyentuh Mushaf
Apa hukum wanita haid menyentuh mushaf? Jazakumullahu khairan.
+6285342xxxxxx

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini. Pendapat yang rajih (kuat) adalah boleh, namun yang afdal tanpa memegang mushaf. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Meminjam Uang di Bank karena Darurat
Afwan mau tanya. Meminjam uang di bank karena keadaan yang sangat darurat/mendesak untuk membayar utang, bagaimana hukumnya? Mohon dijawab.
+6281354xxxxxx

Tetap tidak boleh karena masih mungkin mencari pinjaman kepada pihak lain tanpa riba.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Aqiqah ketika Bayi Masih di RS
Ustadz, kalau bayi yang baru dilahirkan bermasalah sehingga harus dirawat intensif di RS (perkiraan bisa satu minggu lebih), pelaksanaan aqiqah jalan terus? Bagaimana dengan cukur rambutnya? Jazakumullahu khairan.
+6281328xxxxxx

Jalan terus karena aqiqah terkait dengan kelahiran anak. Yang bisa dilakukan, kerjakan terlebih dahulu. Yang lain menyusul. Atau aqiqah ditunda sampai semua urusan selesai, karena menurut pendapat jumhur ulama, aqiqah boleh dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Aqiqah Bayi yang Meninggal sebelum Berusia Tujuh Hari
Bagaimana kalau bayi sebelum umur tujuh hari meninggal, apakah diaqiqahi?
+6281328xxxxxx

Menurut pendapat jumhur, masih sunnah diaqiqahi karena aqiqah terkait dengan kelahiran bayi bukan karena hari ketujuh.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Tayamum Hanya untuk Sekali Shalat?
Bagaimana hukum orang sakit yang tidak bisa mandi berbulan-bulan, apakah cukup berwudhu atau tayamum saja? Setahu kami, tayamum itu hanya untuk tiap-tiap shalat (wajib), apakah boleh sekali tayamum untuk shalat tahiyatul masjid, dilanjutkan qabliah, dilanjutkan shalat fardhu, dilanjutkan ba’diah? Mohon penjelasan.
+6285756xxxxxx

Selama tidak bisa memakai air, dia melakukan tayamum dan bisa sebagai ganti wudhu untuk semua ibadah selama tidak batal. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Jazakallah khairan, ustadz. Apa setiap shalat fardhu, sunnah qabliah, dan lainnya harus tayamum untuk setiap shalat tersebut? Tampaknya akan sibuk dan orang akan berpikiran lain, apalagi suasananya dalam masjid. Barakallahufikum.
+6285756xxxxxx

Kaidahnya, tayamum menduduki posisi wudhu, selama tidak batal maka bisa untuk semua ibadah yang antum sebutkan. Tidak harus tayamum pada tiap ibadah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sutrah di Mihrab yang Besar
Ustadz, mohon penjelasannya. Masjid kami ukuran mihrabnya sekitar 4x5m. Sewaktu shalat jamaah, apakah harus dipasang sutrah lagi untuk imam?
+6281541xxxxxx

Jika shalat di luar mihrab, tembok cukup sebagai sutrah. Namun, jika di dalam mihrab dan imam berdiri jauh dari tembok, perlu diberi sutrah lagi. Prinsipnya, harus dekat dengan sutrah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir
Benarkah seorang musafir tidak disunnahkan melakukan shalat sunah rawatib?
Abu Yusuf—Lampung
+6283168xxxxxx

Ada khilaf tentang hukum shalat sunnah bagi musafir. Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur bahwa musafir boleh shalat sunnah rawatib atau yang lainnya karena Rasulullah n melakukan shalat witir dan shalat sunnah di atas kendaraan saat safar. Yang afdal tidak mengerjakannya, selain qabliah subuh dan witir. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi
Shalat Ied Melepas Alas Kaki
Ketika kita shalat ied di lapangan dan berbaur masyarakat, mana yang lebih baik, kita beralas kaki atau melepasnya seperti mereka?
+6283183xxxxxx

Dalam kondisi demikian lebih baik tanpa alas kaki karena mayoritas muslimin belum memahami sunnah shalat memakai alas kaki (sandal). Sebagaimana kaidah, menolak mafsadah lebih didahulukan daripada mendatangkan maslahat.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Shalat Ied di Masjid
Shalat ied bersama penguasa/pemerintah adalah sunnah. Bagaimana apabila penguasa shalat di masjid dan bukan karena hujan, apakah kita tetap ikut ataukah bergabung dengan muslimin yang shalat di lapangan?
+6283183xxxxxx

Selama penguasa memberi kebebasan kepada rakyat, kita memilih yang sunnah, yaitu shalat di lapangan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Membunuh Cecak & Tokek
Apakah membunuh cecak dan tokek disyariatkan?
+6283183xxxxxx

Ya, berdasarkan hadits Aisyah x dalam masalah ini. Lihat kitab Riyadhus Shalihin.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bisnis Valas
Saat ini marak orang tertarik bisnis valuta asing dengan keuntungan 10% dari modal, dengan cara menyerahkan sejumlah uang kepada orang lain tanpa tahu proses pembelian valuta tersebut. Setiap bulan kita menerima 10% dari modal kita. Bagaimana hukumnya? Jazakumullah khairan.
Abu Yusuf—Timika
+6281354xxxxxx

Jual beli valas disyaratkan harus serah terima di tempat. Sistem online tidak boleh karena terkena riba nasiah. Adapun hakikat akad di atas adalah mudharabah. Penetapan laba dengan nominal atau persentase tertentu adalah riba karena ada unsur pertaruhan dengan spekulasi tinggi. Yang benar, laba menggunakan persentase sesuai kesepakatan tergantung untung rugi usaha yang dijalankan. Lihat masalah mudharabah di majalah Asy-Syariah edisi 28 dan 53. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Hukum Mencabut Uban
Saya selalu disuruh ibu untuk mencabuti ubannya. Apakah ada hukum mencabuti rambut yang telah beruban? Salahkah jika saya beranggapan bahwa baiknya dibiarkan tumbuh begitu saja. Syukran.
+6285299xxxxxx

Ada hadits yang memakruhkan mencabut uban, lihat kitab Riyadhus Shalihin. Ada juga syariat mengubah rambut putih dengan semir selain warna hitam. Lihat juga kitab yang sama. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Contoh Kasus Pembagian Warisan
Seorang bapak meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta. Ahli warisnya terdiri dari istri, dua anak perempuan, dua anak laki-laki, seorang saudara perempuan sekandung dan dua saudara laki-laki sekandung. Bagaimana pembagian harta waris tersebut? Jazakallahu khair.
+6285868xxxxxx

Istri mendapatkan 1/8 karena ada anak. Saudara dan saudari gugur karena adanya anak laki-laki. Sisa harta dibagi untuk anak laki-laki dan perempuan, dengan anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian anak perempuan.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Mau Jum’atan, Hujan Deras
Hujan deras, Jumatan hampir mulai? Apakah tetap ke masjid atau di rumah? Jazakumullah khairan wa barakallahu fikum.
0811xxxxxx

Ada rukhshah untuk tidak jumatan dan shalat dhuhur di rumah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Menunda Kehamilan
Bismillah, ana mau tanya bolehkah menunda kehamilan dengan cara mengeluarkan cairan sperma bukan pada tempatnya sewaktu berhubungan dengan istri. Jazakallahu khairan.
Abu Habibah—Solo
+6281393xxxxxx

Boleh karena pernah dilakukan di zaman sahabat, tetapi harus dengan ridha istri karena dia juga punya hak dapat kenikmatan.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bacaan Shalat Sambil Memegang Mushaf
Bismillah, bolehkah kita shalat sambil memegang mushaf, karena kita ingin membaca surat yang panjang tetapi kita belum hafal.
+6281311xxxxxx

Yang afdal adalah tidak, karena kita diminta membaca al-Qur’an yang mudah bagi kita dan ada larangan takalluf (membebani dari sesuatu yang belum mampu), tetapi kalau ada yang melakukan tidak diingkari karena ada sebagian salaf yang melakukannya.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Waktu Shalat Istikharah
Bismillah. Apakah shalat istikharah harus dikerjakan pada malam hari? Jazakallahu khairan wa barakallahu fik.
+6285641xxxxxx

Tidak harus, tetapi kapan saja asalkan bukan waktu terlarang untuk shalat.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Penyebab Perbedaan Penentuan Derajat Hadits
Pada edisi no. 61 dijelaskan kegunaan ilmu sanad, yaitu untuk menilai suatu hadits derajatnya sahih atau tidak. Tetapi, di rubrik “Hadits” hlm. 32, para ulama ahlul hadits berbeda pendapat dalam hal menentukan derajat hadits tersebut. Ada yang menilainya sahih, ada yang menilainya lemah. Apa penyebabnya?
+6281327xxxxxx

Penyebabnya banyak. Di antaranya perbedaan pendapat tentang sebagian ilmu musthalah, perbedaan pendapat dalam hal menilai seorang rawi, kadar ilmu dalam hal mencari penguat-penguat hadits dari sanad lain, dll. Masalah ini tergolong ijtihadiyah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Keuntungan Koperasi
Apakah halal uang keuntungan koperasi yang punya usaha simpan pinjam berbunga dan fotokopi? Usaha fotokopinya sangat laris tiap hari karena di lingkungan kantor pemerintah.
+6281327xxxxxx

Terjadi percampuran keuntungan, bisa diambil keuntungan tersebut dan harus dibersihkan dengan memperbanyak infak dan sedekah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Menjadi Imam di Rumah setelah Shalat Berjamaah di Masjid
Bismillah, bolehkah setelah shalat berjamaah di masjid kita pulang terus menjadi imam bagi istri? Kalau boleh, berarti kita shalat dua kali. Jazakumullahu khairan.
+6281311xxxxxx

Boleh, shalat yang pertama dapat pahala wajib, sedangkan yang kedua dapat pahala sunnah, dengan contoh tindakan sahabat Mu’adz z.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sumbangan untuk Perayaan Maulid
Bismillah. Setiap tahun di desa kami diadakan acara peringatan Maulid Nabi n dan Isra Mi’raj. Warga dimintai sumbangan uang. Apakah acara ini bid’ah? Bagaimana yang memberi sumbangan? Jazakumullahu khairan.
+628152xxxxxxx

Sumbangan tersebut tidak diperbolehkan karena acara tersebut adalah acara yang bid’ah.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Tobat dari Zina
Seseorang ingin bertaubat dari perbuatan zinanya yang mengharuskan dia dirajam atau dicambuk. Siapa yang berhak melakukannya, mengingat di negara kita tidak ditegakkan syariat Islam? Bagaimana cara dia bertobat? Mohon jawaban dalam edisi berikutnya.
+628565xxxxxxx

Hendaknya dia diam dan bertobat dengan sungguh-sungguh, serta memperbanyak amal saleh.
al-Ustadz Qomar Suaidi

 

 

Mengambil Kembali Harta Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Seseorang yang telah mewakafkan sudah tidak memiliki harta tersebut. Oleh karena itu, harta yang telah sah ditetapkan sebagai wakaf tidak boleh diambil kembali. Bahkan, harta tersebut tidak boleh pula diambil kembali oleh yang mewakafkannya meskipun dengan mengganti uang seharga tanah tersebut. (Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 11930)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan, “Wakaf termasuk akad yang teranggap sah dengan sekadar ucapan sehingga tidak boleh dibatalkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi n (yang artinya), ‘Tidak boleh dijual bendanya, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan.’ Al-Imam at-Tirmidzi t berkata, ‘Pengamalan hadits ini dilakukan oleh ahlul ilmi’.”
Begitu pula, seandainya harta yang diwakafkan itu belum ada yang memanfaatkannya dan orang yang mewakafkan dalam keadaan membutuhkannya di masa tuanya, wakaf tetap tidak bisa diambil kembali.
Dalam Fatwa al-Lajnah no. 1307, disebutkan sebuah pertanyaan tentang hukum mengambil kembali sebagian atau seluruh tanah yang telah diwakafkan untuk permakaman karena setelah kurang lebih empat belas tahun belum ada yang dimakamkan di tanah tersebut. Padahal tanah yang diwakafkan sangat luas. Sementara itu, si wakif sudah pensiun dan tidak memiliki harta selain tanah dan rumah yang ditempatinya beserta seluruh keluarganya.
Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah menjawab, “Tidak boleh untuk mengambil kembali apa yang telah Anda wakafkan, baik seluruh tanah maupun sebagiannya karena tanah tersebut telah keluar dari kepemilikan Anda dengan sebab wakaf, untuk dimanfaatkan sesuai dengan maksud dari wakaf tersebut. Apabila dibutuhkan tanah tersebut untuk pemakaman di wilayah yang telah ditetapkan, itulah yang diinginkan. Akan tetapi, jika tidak digunakan, tanah tersebut bisa dijual dan nilainya bisa digunakan untuk dijadikan permakaman di tempat lain.
Semua ini dilakukan dengan sepengetahuan hakim di daerah tempat tanah wakaf tersebut berada. Lemahnya (keadaan ekonomi) Anda setelah Anda pensiun tidak bisa menjadi alasan dibolehkannya Anda mengambil kembali tanah yang telah Anda wakafkan.
Mohonlah kepada Allah l agar memberikan pahala kepada Anda dan menggantikan untuk Anda sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah Anda infakkan. Mudah-mudahan Allah l memberikan taufik-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan oleh Allah l kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan orang-orang yang mengikutinya.”
Begitu pula seandainya seseorang mewakafkan mushaf, buku, dan semisalnya ke suatu masjid, namun kemudian masjid tadi roboh dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Mushaf dan benda lainnya yang telah diwakafkan tersebut diberikan ke masjid lain. Benda-benda tersebut tidak boleh diambil oleh orang yang mewakafkannya untuk dipakai sendiri, diberikan ke orang lain, dan semisalnya.
Dalam Fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 18644 disebutkan sebuah pertanyaan bahwa ada seorang imam masjid yang ketika masjidnya tidak bisa dipakai lagi, dia membawa buku-buku beserta rak/lemarinya ke rumahnya agar tetap terjaga dan tidak rusak. Ia akan mengembalikannya ke masjid tersebut ketika sudah bisa digunakan lagi.
Apabila masjid itu terus dalam keadaan tidak dipakai dalam jangka waktu yang lama, apakah buku-buku tersebut boleh diberikan ke masjid lain ataukah hanya boleh diberikan untuk masjid tersebut sehingga harus menunggu sampai masjid tersebut bisa dipakai kembali?
Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah menjawab, “Apabila masjid tersebut diharapkan masih bisa diperbaiki dan bisa dipakai kembali oleh orang-orang untuk shalat, apa saja yang berkaitan dengan masjid tersebut, termasuk perabot dan buku-buku, dijaga sampai sempurnanya perbaikan masjid. Setelah itu, barang-barang itu diletakkan kembali di masjid tersebut. Hal ini karena benda-benda tersebut adalah wakaf yang dikhususkan untuk masjid tersebut.
Namun, jika tidak bisa diperbaiki dan tidak ada harapan bisa dipakai lagi untuk shalat, barang-barang wakaf yang dikhususkan untuk masjid tersebut dipindahkan ke masjid lain.”
Dengan demikian, apabila wakaf benar-benar telah ditetapkan, tidak boleh dijual. Bahkan, benda tersebut tidak boleh digunakan melainkan sesuai dengan yang disyaratkan oleh wakif, selama tidak ada maslahat syar’i yang lebih besar dari syarat yang ditetapkan oleh wakif. Jika demikian keadaannya, perlu ditanyakan kepada ahlul ilmi atau hakim. Saran yang mereka sampaikan diikuti.
Berbeda halnya jika benda tersebut sama sekali sudah tidak dimanfaatkan, tidak bisa ditempati, dan tidak bisa disewakan, ia boleh dijual atau ditukar dengan yang semisal di tempat lain. (Lihat adh-Dhiya’ al-Lami’)

Catatan
Tidak diperbolehkannya membatalkan wakaf ini apabila telah ditetapkan sebagai wakaf pada saat hidupnya si wakif. Jika si wakif menetapkan berlakunya wakaf tersebut setelah wafatnya, hal itu dihukumi sebagai wasiat. Dengan demikian, selama orang tersebut masih hidup, dia masih bisa mengubah wasiatnya. Bahkan, ia boleh membatalkan wakaf yang ditetapkan berlakunya setelah wafatnya. Wallahu a’lam. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 18494)

Keistimewaan Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Di antara keistimewaan wakaf dibandingkan dengan sedekah dan hibah adalah dua hal berikut ini.
1. Terus-menerusnya pahala yang akan mengalir. Ini adalah tujuan wakaf dilihat dari sisi wakif (yang mewakafkan).
2. Terus-menerusnya manfaat dalam berbagai jenis kebaikan dan tidak terputus dengan sebab berpindahnya kepemilikan. Ini adalah tujuan wakaf dilihat dari kemanfaatannya bagi kaum muslimin.
Jadi, dalam hal ini wakaf memiliki kelebihan dari sedekah lainnya dari sisi terus-menerusnya manfaat. Bisa jadi, seseorang menginfakkan hartanya untuk fakir miskin yang membutuhkan dan akan habis setelah digunakan. Suatu saat dia pun akan mengeluarkan hartanya lagi untuk membantu orang miskin tersebut. Bisa jadi pula, akan datang fakir miskin yang lainnya, namun pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Adalah kebaikan dan manfaat yang besar bagi masyarakat ketika ada yang mewakafkan hartanya dan hasilnya diberikan untuk fakir miskin. Bendanya tetap ada, namun manfaatnya terus dirasakan oleh yang membutuhkan.
Di antara keistimewaan wakaf adalah terus-menerusnya manfaat hingga generasi yang akan datang tanpa mengurangi hak atau merugikan generasi sebelumnya. Demikian pula, wakif akan mendapat pahala yang terus-menerus dan berlipat-lipat.
Oleh karena itu, kita dapatkan para sahabat adalah orang-orang yang sangat bersemangat mewakafkan hartanya. Kita bisa melihat bagaimana sahabat Umar bin al-Khaththab z, sebagaimana dalam hadits yang sudah disebutkan. Beliau memiliki tanah yang sangat bernilai bagi beliau karena hasil dan manfaatnya yang begitu besar. Namun, beliau menginginkan harta itu untuk akhiratnya.
Beliau menghadap Nabi n untuk meminta petunjuk tentang hal tersebut. Nabi n menyarankan agar Umar menyedekahkannya. Sedekah tanpa dijual, ditukar, atau dipindah, yaitu dengan memanfaatkan tanah tersebut dan hasilnya disedekahkan untuk fakir miskin dan yang lainnya, sedangkan tanahnya ditahan. Tanah itu tidak bisa diambil lagi oleh pemiliknya, tidak boleh dibagikan untuk ahli warisnya, serta tidak boleh dijual dan dihibahkan.
Termasuk wakaf yang dilakukan oleh para sahabat adalah apa yang disebutkan oleh sahabat Utsman bin ‘Affan z berikut. Ketika Nabi n datang di kota Madinah dan tidak menjumpai air yang enak rasanya selain air sumur yang dinamai Rumah, beliau n bersabda:
مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ. فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي
“Tidaklah orang yang mau membeli sumur Rumah kemudian dia menjadikan embernya bersama ember kaum muslimin (yaitu menjadikannya sebagai wakaf dan dia tetap bisa mengambil air darinya) itu akan mendapat balasan lebih baik dari sumber tersebut di surga.” Utsman mengatakan, “Aku pun membelinya dari harta pribadiku.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Bahkan, sahabat Jabir z sebagaimana dinukilkan dalam kitab al-Mughni mengatakan,
لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n ذُوْ مَقْدَرَةٍ إِلاَّ وَقَفَ
“Tidak ada seorang pun di antara para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan (untuk berwakaf) melainkan dia akan mengeluarkan hartanya untuk wakaf.”
Sebelumnya, tentu saja adalah panutan umat, Rasulullah n. Beliau adalah suri teladan dalam seluruh kebaikan, termasuk wakaf. Sahabat ‘Amr ibn al-Harits z mengatakan,
مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ n عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلاَ دِينَارًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ وَسِلاَحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً
“Setelah Rasulullah n wafat, beliau tidak meninggalkan dirham, dinar, dan budak lelaki atau perempuan. Beliau hanya meninggalkan seekor bighal (yang diberi nama) al-Baidha’, senjata, dan tanah yang telah beliau jadikan sebagai sedekah.” (HR. al-Bukhari)
Al-Imam Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari menjelaskan riwayat ini, “Beliau n menyedekahkan manfaat dari tanahnya. Hukumnya adalah hukum wakaf.”
Kaum muslimin yang bersemangat mencontoh Rasulullah n dan menginginkan keutamaan yang besar, tidak akan menyia-nyiakan pintu kebaikan yang berupa wakaf ini, baik wakaf yang ditujukan sebagai tempat ibadah maupun yang lainnya, berupa kegiatan pendidikan, dakwah, dan sosial. Dengan izin Allah l, hal ini akan menjadi kebaikan yang besar bagi kaum muslimin dan menjadi sebab baiknya kehidupan sebuah masyarakat.
Sungguh, betapa besar manfaatnya bagi kaum muslimin ketika muncul orang-orang yang mewakafkan hartanya untuk mendirikan pondok pesantren atau tempat pendidikan yang mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada anak-anak kaum muslimin, tajwid, dan mempelajari kandungannya.
Begitu pula ketika orang-orang mewakafkan hartanya untuk operasional belajar-mengajar di pondok-pondok pesantren dan membantu memenuhi kebutuhan para pengajar. Tidak mustahil, nantinya akan bermunculan ma’had-ma’had yang tidak lagi memungut biaya bagi yang belajar di sana.
Termasuk kebaikan yang sangat besar adalah adanya orang yang mau mewakafkan hartanya untuk tempat tinggal para penuntut ilmu dan membiayai kebutuhan mereka sehingga lebih tekun dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya. Demikian pula, adanya orang yang mengeluarkan hartanya untuk mencetak kitab-kitab dan mewakafkannya kepada para penuntut ilmu.
Sangat diharapkan juga adanya orang yang mewakafkan hartanya dan hasilnya disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan dana dari kalangan fakir miskin atau untuk membiayai pengobatan orang-orang yang tertimpa musibah dan yang semisalnya.
Begitu pula, diharapkan ada orang yang mewakafkan hartanya untuk membuat sumber air/sumur, jalan umum, sarana transportasi, permakaman, dan fasilitas umum lainnya.
Seandainya orang-orang yang memiliki kemampuan mau mewakafkan hartanya, dengan izin Allah l, semua ini akan menjadi suatu kebaikan dan manfaat yang besar bagi kaum muslimin, serta bagi berlangsungnya kegiatan dakwah, pendidikan. Hal ini juga akan membantu perekonomian masyarakat, di samping berbagai manfaat lainnya.

Nazhir Wakaf dan Syarat yang ditetapkan Oleh Wakif

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Sebagaimana terkait dengan hubungan seorang hamba kepada Allah l, sesungguhnya amanat juga terkait dengan hubungan seorang hamba dan hamba Allah l lainnya.
Di antara amanat yang ada di antara kaum muslimin adalah yang terkait dengan wakaf. Oleh karena itu, amanat ini harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Di antaranya, harus diingat bahwa amanat tersebut bukan hanya untuk kaum muslimin yang ada sekarang, namun juga untuk generasi yang akan datang. Oleh karena itu, pemanfaatannya tidak boleh sesuka hati.
Di antara urusan besar yang harus diperhatikan terkait dengan wakaf adalah masalah nazhir. Nazhir adalah seseorang yang diserahi amanat untuk mengurusi atau mengelola wakaf. Nazhir diberi wewenang untuk memegang hasilnya dan mengalokasikannya kepada yang berhak. Apabila wakafnya berupa bangunan misalnya, nazhir adalah orang yang diserahi wewenang untuk memegang hasilnya apabila dikontrakkan dan mengalokasikannya sebagaimana peruntukannya. Begitu pula, dia yang mengurus bangunan tersebut dan melakukan perbaikan-perbaikan ketika dibutuhkan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang nazhir, di antaranya:
a. Jika orang yang mewakafkan (wakif) telah menetapkan seseorang yang diinginkan atau menetapkan kriteria dan sifat-sifatnya, yang mengelola adalah orang yang ditetapkan atau disebutkan kriterianya tersebut.
Namun, apabila yang mewakafkan belum menetapkan nazhirnya dan wakafnya ditujukan untuk kepentingan umum, seperti masjid, secara otomatis yang menjadi nazhir adalah penguasa/pemerintah.
b. Ada beberapa kemungkinan ketika orang yang mewakafkan tidak menetapkan nazhirnya.
• Apabila wakafnya ditujukan untuk kepentingan umum, seperti wakaf untuk fakir miskin atau untuk masjid, yang menjadi nazhir adalah pemerintah.
• Jika wakafnya ditujukan kepada individu tertentu, seperti wakaf kepada anak-anaknya atau yang semisalnya, nazhirnya adalah orang yang dituju dari wakaf tersebut. (Lihat adh-Dhiya’ al-Lami’, kumpulan khutbah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t)
Dalam menjalankan tugasnya, seorang nazhir terkadang akan tersita waktu dan tenaganya. Bisa jadi pula, ia mendapatkan beban-beban berat yang harus dipikul. Oleh karena itu, dia berhak untuk meminta upah atas tanggung jawab yang dipikulnya.
Disebutkan dalam hadits, ketika sahabat ‘Umar z mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar, ia menetapkan adanya nazhir. Hal ini ditunjukkan dalam hadits berikut.
لاَ جُنَاحَ عَلَى مَن وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقاً، غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ. وَفِي لَفْظٍ: غَيْرَ مُتَأّثِّلٍ
“Tidak mengapa bagi orang yang mengurusinya untuk memakan apa yang dihasilkan dari tanah tersebut dengan cara yang ma’ruf, boleh pula ia memberikan kepada temannya tanpa menjadikannya sebagai hartanya.”
Dalam lafadz yang lain, “Tanpa mengumpulkan modal untuk pribadi darinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa nazhir berhak mendapatkan imbalan atas beban yang dipikulnya dalam mengurusi wakaf.
Selain itu, hadits ini juga menunjukkan bahwa seorang yang mewakafkan (wakif)diperbolehkan menetapkan syarat-syarat yang terkait dengan wakafnya selama tidak mengandung kezaliman dan tidak menyalahi syariat. Apabila syarat yang ditetapkan oleh wakif itu menyelisihi syariat, syarat tersebut tidak boleh ditunaikan.
Contohnya adalah apa yang disebutkan dalam Fatwa al-Lajnah ad-Daimah (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa) no. 15943 terkait dengan wakaf (sesuatu yang hasilnya) ditujukan untuk orang yang membaca beberapa ayat atau juz tertentu dari al-Qur’an, kemudian bacaan tersebut dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia.
Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah menjawab, “Setelah al-Lajnah mempelajari pertanyaan yang diajukan, jawabannya adalah bahwa syarat dari wakif untuk memberikan hasil yang bisa diambil dari wakafnya untuk orang yang membaca al-Fatihah atau beberapa juz dari al-Qur’an lantas pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia atau pahalanya untuk dirinya dan orang lain, adalah wakaf yang ditujukan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat.
Alasannya, bacaan al-Qur’an tidak boleh dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut, menurut pendapat yang benar dari dua pendapat ulama dalam masalah ini.
Oleh karena itu, syarat yang disebutkan oleh wakif tersebut tidak termasuk wakaf yang ditujukan untuk sesuatu yang sesuai dengan syariat. Dengan demikian, hasil yang bisa diambil dari wakaf tersebut diberikan untuk madrasah-madrasah tahfizhul Qur’an. Hal itu lebih mendekati maksud yang diinginkan oleh wakif.”
Namun, hukum asalnya adalah menjalankan apa yang disyaratkan oleh wakif dan tidak boleh menyelisihi syarat tersebut atau melakukan hal-hal yang akan meniadakan manfaat dan tujuan yang diinginkan oleh wakif. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 20038)
Oleh karena itu, meskipun wakif tidak lagi memiliki hartanya dan pengelolaan wakaf tersebut dipegang oleh nazhir, namun maksud dan keinginan wakif serta syarat-syarat yang diajukannya harus diperhatikan, selama tidak bertentangan dengan syariat.
Jadi, harta yang telah diwakafkan untuk kepentingan masjid, seperti kebun yang hasilnya untuk masjid atau yang semisalnya, hukumnya sama dengan wakaf untuk masjid. Oleh karena itu, hasilnya digunakan untuk kepentingan masjid yang telah ditetapkan. Tidak boleh hasilnya diberikan untuk fakir miskin misalnya, meskipun kebutuhan masjid sudah terpenuhi.
Seandainya ada sisa dari hasil kebun yang sudah tidak dibutuhkan oleh masjid, hendaknya dialokasikan untuk masjid yang lain. Dengan demikian, sisa dari harta yang dikhususkan untuk masjid tertentu dialokasikan untuk masjid lain yang membutuhkan. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 15651, 18416)
Begitu pula sebaliknya. Kebun yang hasilnya diwakafkan untuk fakir miskin atau untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan misalnya, tidak boleh dialokasikan untuk kebutuhan masjid.
Demikian juga, apabila seseorang mewakafkan dua kebun dan menetapkan bahwa hasil dari kebun yang satu untuk kebutuhan masjid dan kebun yang lain untuk fakir miskin. Nazhir yang telah ditetapkan harus mengarahkan hasilnya sesuai dengan yang diinginkan oleh wakif. Namun, apabila masjid tersebut sudah tidak dimanfaatkan lagi dan semisalnya, dia bisa menghubungi qadhi (hakim)untuk menetapkan apa yang semestinya dilakukan. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 16631)