Asal Usul Zam-zam dan Manasik Haji (bagian 1)

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits)

Sebagian ulama menyebutkan beberapa alasan Nabi Ibrahim membawa Hajar dan putranya, Isma’il q. Akan tetapi, semua itu bukan bersumber dari riwayat yang sahih dari Rasulullah n. Oleh sebab itu, kita kembalikan kepada asalnya, bahwa Nabi Ibrahim q membawa Hajar adalah karena perintah dari Allah l. Inilah yang sesuai dengan riwayat yang sahih dari Ibnu ‘Abbas c, dari Nabi n.

Hijrah ke Makkah
Wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang adalah Ummu Isma’il (Hajar). Benda itu digunakannya untuk menyembunyikan tanda-tanda (kehamilan)nya dari Sarah. Setelah Isma’il lahir, bertambahlah kecintaan Ibrahim terhadap ibu dan anak itu. Akan tetapi, rasa cinta itu tidak mampu menggeser kecintaannya kepada Allah l.
Allah l berkehendak mengatur segalanya sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. Allah Maha Melakukan apa yang diinginkan-Nya. Tidak seorang pun berhak dan pantas untuk bertanya mengapa Allah l melakukannya, tetapi merekalah yang pantas untuk ditanya mengapa berbuat ini dan itu.
Setelah jelas mendapat perintah untuk membawa Hajar dan putranya, Nabi Ibrahim q pun mulai berangkat melintasi sahara yang panas. Dari Palestina ke Makkah, menembus padang pasir dan kerikil yang membara. Waktu itu, jarak antara kedua wilayah ini ditempuh selama satu bulan perjalanan.
Berbekal tekad melaksanakan perintah Allah l, yang pasti mengandung kebaikan, Ibrahim membawa Hajar bersama putranya yang sedang disusuinya sampai di dekat Baitullah, di dekat sebatang pohon besar, di atas cikal bakal sumur Zamzam di bagian masjid yang tertinggi. Saat itu tak ada seorang pun berada di Makkah selain mereka. Tidak pula ada air.
Begitu tiba di lokasi yang kemudian dibangun di atasnya Baitullah (Ka’bah), Ibrahim segera meninggalkan keduanya sambil meletakkan sebuah kantung berisi kurma dan tempat minum. Setelah itu, Nabi Ibrahim q berbalik meninggalkan Hajar dan putranya.
Hajar heran melihat Ibrahim pergi begitu saja tanpa berkata sepatah pun. Dengan cepat dia mengejar Ibrahim sambil bertanya, “Hai Ibrahim, Anda hendak ke mana? Apakah Anda hendak meninggalkan kami di lembah yang tidak berpenghuni dan tidak ada apa-apanya?”
Ibrahim tak menoleh sedikit pun. Hajar semakin heran, tetapi tetap mengikuti langkah Ibrahim dan bertanya. Ibrahim masih diam.
Akhirnya kata Hajar, “Apakah Allah yang menyuruhmu demikian?”
“Ya,” jawab Ibrahim tegas.
Mendengar jawaban tersebut, Hajar berkata, “Kalau begitu, Dia pasti tidak akan menyia-nyiakan kami.”
Dengan tenang, Hajar kembali ke tempat semula, sedangkan Ibrahim terus berjalan. Hingga ketika tiba di dekat sebuah tikungan dan sudah tak terlihat lagi oleh mereka, Ibrahim berhenti dan memutar tubuhnya menghadap ke arah Baitullah, lalu berdoa sambil mengangkat kedua tangannya, seperti diceritakan oleh Allah l dalam firman-Nya:
“Wahai Rabb Kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Wahai Rabb Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Ibrahim: 37)
Setelah itu, Ibrahim kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Palestina.
Hajar yang ditinggalkan di tempat sunyi itu mulai menyusui Isma’il dan meminum air yang ada dalam perbekalan mereka. Tak lama, air itu mulai habis. Hajar mulai kehausan. Bayi mungil itu pun mulai kehausan.
Di lembah yang tandus dan sunyi itu, seorang wanita muda dengan bayinya menghadapi kesulitan. Kalau bukan karena keyakinannya kepada Allah l, tidak mungkin Hajar rela ditinggal sendirian oleh Ibrahim, suaminya, bersama anaknya pula, yang masih membutuhkan perawatan dan kasih sayang.
Isma’il kecil mulai menangis tak tahan merasakan panas di lembah tandus itu. Semakin pilu hati Hajar melihat keadaan anaknya, sementara dia tidak punya sesuatu untuk diberikan kepada anaknya. Air susunya sudah kering, bekal pun habis.
Hajar menoleh ke sana ke mari, mencari-cari sesuatu yang dapat menghentikan tangis anaknya. Akhirnya, dia pun beranjak dari situ karena tak tahan melihat keadaan putranya, Isma’il.
Dia memandang ke depan, dan dia lihat bukit Shafa di hadapannya adalah bukit yang terdekat dengannya. Hajar pun melangkah mendaki bukit itu. Setelah berada di atas dia memandang ke arah lembah apakah ada orang di sekitar situ? Tetapi, dia tak melihat siapa-siapa. Akhirnya, Hajar turun dari Shafa. Hingga ketika tiba di perut lembah, dia mengangkat ujung kainnya dan berjalan secepat-cepatnya sampai melewati lembah, menuju bukit Marwah yang berhadapan dengannya dan mendaki bukit itu.
Setelah tiba di atas, dia kembali melihat-lihat apakah ada orang di sekitar situ. Tujuh kali Hajar turun naik antara Shafa dan Marwah.
Perbuatan Hajar ini, akhirnya diabadikan dalam syariat Islam sebagai salah satu amalan haji dan umrah yang sangat penting, yaitu sa’i.1
Setelah berada di puncak Marwah, Hajar sayup-sayup mendengar suara, tetapi dia membantah, “Diamlah,” maksudnya ditujukan kepada dirinya sendiri (khawatir halusinasi). Kemudian dia kembali mengamati keadaan di sekelilingnya dan kembali mendengar suara.
Akhirnya Hajar berkata, “Anda sudah memperdengarkannya. Kalau memang Anda memiliki air.…”
Ketika melihat ke arah putranya, ternyata dia melihat malaikat di dekat lokasi Zamzam. Malaikat itu sedang mengorek sesuatu dengan sayapnya hingga tampaklah air. Hajar pun mendekat dan segera membendung air itu dengan tangannya. Mulailah dia menuangkan air itu ke dalam tempat minumnya, sementara air itu terus memancar sesudah diciduk.
Kata Ibnu ‘Abbas c, “Nabi n bersabda, ‘Semoga Allah l merahmati Ummu Isma’il. Seandainya dia membiarkan Zamzam—atau kata beliau, ‘Seandainya Hajar tidak menciduknya,’—pastilah Zamzam menjadi mata air yang terus mengalir.”
Hajar mulai minum sepuasnya dan menyusui putranya. Malaikat itu berkata kepadanya, “Jangan takut tersia-sia karena di sini akan dibangun Baitullah oleh anak ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan keluarganya.”
Rumah itu di tempat tinggi seperti bukit yang dilewati aliran air di kiri kanannya.
Tahun demi tahun berlalu. Isma’il semakin besar, sedangkan keadaan di sekitar itu tak banyak berubah.

Masyarakat Baru
Suatu ketika, serombongan bangsa Jurhum datang dari arah Kida’ dan singgah di bagian bawah Makkah. Tiba-tiba, mereka melihat burung-burung menuju ke satu arah. Salah seorang dari mereka mengatakan, “Burung-burung ini pasti menuju tempat air, padahal kita sudah sering melewati tempat ini dan tidak pernah ada air di sini.”
Karena penasaran, akhirnya mereka mengutus satu atau dua pencari air, dan ternyata mereka menemukannya. Mereka segera kembali dan menceritakan apa yang mereka lihat. Rombongan itu pun bersiap-siap untuk mendekat ke tempat air. Pada waktu itu, Ummu Isma’il kebetulan berada di dekat sumur Zamzam.
Melihat Hajar di sana, rombongan itu berkata, “Apakah Anda mengizinkan kami tinggal di sini?”
Hajar yang menyukai kebersamaan, segera saja menerima, “Ya, tetapi kalian tidak punya hak atas air ini.”
“Baiklah,” kata mereka.
Mereka pun turun dan menetap di sana. Sesudah itu, mereka mulai mengundang keluarga mereka dan tinggal bersama di lembah itu.
Semakin lama semakin banyaklah keluarga bangsa Jurhum itu pindah dan bermukim di sana, sementara pemuda Isma’il pun tumbuh dan belajar bahasa Arab dari mereka. Hal ini mengagumkan dan menyenangkan mereka.
Melihat Isma’il sudah beranjak menjadi pemuda gagah dan cerdas serta berbudi, mereka pun berniat menikahkannya dengan salah seorang gadis di kalangan mereka.
Tak lama, sesudah pernikahan itu Ummu Isma’il meninggal dunia. Tetapi, tidak ada riwayat menjelaskan apakah Ibrahim datang menjenguk ketika istrinya ini wafat.
Selang beberapa waktu setelah itu, datanglah Ibrahim yang ingin melihat putranya yang bertahun-tahun ditinggalkannya. Sesampainya di Makkah, Ibrahim tidak menemukan Isma’il, maka dia bertanya kepada istri Isma’il.
Wanita itu pun menjawab, “Isma’il sedang pergi mencari nafkah.” Kemudian Ibrahim menanyakan tentang penghidupan dan keadaan mereka.
Wanita itu menjawab, “Kami dalam kesulitan dan kesempitan.” Dia mengeluhkan keadaannya kepada Ibrahim. Nabi Ibrahim q melihat kekurangan pada menantunya ini. Wanita ini tidak pandai bersyukur, banyak mengeluh, dan tidak pandai menutupi kekurangan keluarga, terkhusus suami.
Ini bukanlah akhlak yang baik. Akhirnya, Nabi Ibrahim q pun berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya. Katakan kepadanya agar menukar cagak pintunya.” Lalu Nabi Ibrahim q pergi meninggalkan Makkah, kembali ke Palestina yang jaraknya satu bulan perjalanan.
Sesampainya Isma’il di rumah, dia seperti merasakan ada orang asing yang pernah datang ke rumahnya. Dia pun bertanya, “Adakah seseorang yang datang mengunjungi kalian?”
“Ya,” kata istrinya, “Seorang pria tua, begini dan begitu. Dia bertanya kepada kami tentang kamu, lalu saya ceritakan. Dia menanyakan pula bagaimana kehidupan kita, maka saya katakan kami dalam kesulitan dan kesusahan.”
“Apakah dia memesankan sesuatu?” tanya Isma’il.
“Ya. Dia menyuruhku menyampaikan salam buatmu dan berpesan agar kamu menukar cagak pintumu.”
Kata Isma’il, “Dia adalah ayahku, dan menyuruhku menceraikanmu. Susullah keluargamu.” Isma’il pun menceraikan wanita itu dan menikah lagi dengan gadis lain dari suku tersebut.
Tinggallah Nabi Ibrahim q jauh dari mereka, sebagaimana dikehendaki oleh Allah l. Kemudian, beliau kembali mengunjungi mereka, tetapi tidak bertemu dengan Isma’il. Beliau pun mendengar bahwa Isma’il sudah menikah dengan wanita lain dari suku tersebut. Karena tidak bertemu dengan putranya, beliau mendatangi menantunya dan menanyakan tentang Isma’il.
“Dia keluar mencari nafkah untuk kami,” jawab wanita itu.
“Bagaimana mata pencarian dan keadaan kalian?” tanya Ibrahim.
“Alhamdulillah. Kami, dalam keadaan baik dan lapang,” kata wanita itu.
“Apa makanan kalian?”
“Daging.”
“Apa minuman kalian?”
“Air.”
Ibrahim pun berdoa, “Ya Allah, berilah berkah untuk mereka pada daging dan air ini.”
Wanita itu ternyata seorang istri yang salehah. Tahu bagaimana bersyukur kepada Allah l, menghargai pekerjaan suaminya. Dia sudah merasa cukup dengan keadaan yang dirasakannya, bahkan menganggap sangat baik sehingga dia menampakkannya kepada orang lain.
Pada waktu itu belum ada biji-bijian. Seandainya sudah ada, tentu beliau akan mendoakannya juga.
Melihat sikap santun wanita itu, Nabi Ibrahim q berkata, “Kalau suamimu datang, sampaikan salamku kepadanya dan suruhlah dia agar meneguhkan cagak pintunya.”
Setibanya di rumah, Isma’il merasakan ada bekas-bekas orang asing datang ke rumahnya. Dia pun bertanya, “Apakah ada seseorang yang mengunjungi kalian?”
“Ya. Seorang pria tua yang gagah, dia menanyaiku tentang dirimu, lalu saya ceritakan kepadanya. Dia juga bertanya tentang kehidupan kita, maka saya ceritakan bahwa kita dalam keadaan baik.”
“Apakah dia menitipkan pesan?”
“Ya. Dia menitipkan salam buatmu dan menyuruhmu agar meneguhkan cagak pintumu.”
Isma’il pun menerangkan, “Dia adalah ayahku, dan engkau adalah cagak pintu itu. Beliau menyuruhku agar aku tetap menahanmu (sebagai istri).”

Mulai Membangun Ka’bah
Tinggallah Ibrahim jauh dari putranya Isma’il selama yang dikehendaki oleh Allah l. Beberapa waktu kemudian, beliau kembali berkunjung ke Makkah. Pada waktu itu, Isma’il sedang meruncingkan panahnya di bawah sebatang pohon besar dekat Zamzam.
Begitu melihat ayahandanya, Isma’il segera menyambut dan memeluk ayahnya.
Setelah keduanya melepaskan rindu antara ayah dan anak, Ibrahim berkata, “Hai Isma’il, sesungguhnya Allah memerintahkan sesuatu kepadaku.”
“Laksanakanlah apa yang diperintahkan Rabbmu.”
“Dan engkau membantuku?”
“Saya akan membantu ayah.”
“Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun sebuah rumah di sini,” kata Ibrahim sambil menunjuk dataran yang lebih tinggi dari sekelilingnya.
Sejak saat itu mulailah keduanya menaikkan dasar-dasar rumah itu. Isma’il membawakan batu, sementara Ibrahim memasangnya. Setelah agak tinggi, Isma’il datang membawa sebuah batu untuk tempat berdiri Ibrahim. Terus demikian; Ibrahim memasang, Isma’il memberikan batunya. Keduanya tak henti-hentinya berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah amalan ini dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Beliau berdua terus bekerja sambil mengitari rumah itu tanpa berhenti berdoa:
“Wahai Rabb kami, terimalah amalan ini dari kami, sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Itulah rumah pertama yang dibangun kembali oleh Nabi Ibrahim bersama putranya, Isma’il, sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah l.
Akan tetapi, para ulama berbeda pendapat tentang awal mula pembangunan Ka’bah. Benarkah Ibrahim yang mula-mula membangunnya ataukah sudah ada sebelum itu?
Tidak ada riwayat yang sahih yang menjelaskan bahwa malaikatlah yang membangun Ka’bah yang mulia. Kalaupun ada pendapat yang sahih sampai generasi tabi’in atau sesudah mereka (tabi’ut tabi’in), tidak lebih dari kisah Israiliyat.
(insya Allah bersambung)

 

Abu Bakr AshShidiq Masuk Islam

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Harits )

Pada suatu malam, Abu Bakr bermimpi melihat bulan turun ke Makkah lalu pecah ke seluruh rumah dan tempat di kota Makkah. Setiap rumah dimasuki oleh sekeping dari bulan itu. Abu Bakr melihat seolah-olah bulan itu menjadi satu di pangkuannya.
Setelah bangun dari tidurnya, Abu Bakr menceritakan mimpinya kepada seorang rahib di Syam, Buhaira namanya. Pendeta itu bertanya, “Dari manakah Anda?”
“Dari Makkah,” jawab Abu Bakr.
“Dari suku apa?”
“Saya dari Quraisy.”
“Apa pekerjaan Anda?”
“Saya pedagang.”
Kemudian kata Buhaira, “Kalau Allah membenarkan mimpi Anda, sesungguhnya akan diutus seorang nabi dari kaum Anda, sedangkan Anda akan menjadi pembantu utamanya di masa hidupnya, dan khalifah (pengganti) sepeninggalnya.”
Keterangan ini disimpan rapat-rapat oleh Abu Bakr, hingga tiba waktunya. Abu Bakr masih ingat—sebagaimana dikisahkan oleh as-Suyuthi—ketika dia mendengar sahabatnya, Muhammad n, mulai berdakwah, dia segera menemuinya dan berkata, “Ya Muhammad, apa buktinya ajaran yang engkau bawa ini?”
Sahabatnya, Muhammad n tersenyum sambil menjawab, “Mimpi yang engkau lihat di negeri Syam.”
Mendengat jawaban itu, Abu Bakr memeluk sahabatnya dan mencium keningnya sambil berkata, “Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasul Allah.”
Demikianlah, ketika Rasulullah n mengajak Abu Bakr kepada Islam, tanpa ragu-ragu dan menunda-nunda, Abu Bakr pun menyambut seruan tersebut. Setelah memeluk Islam, Abu Bakr menampakkannya terang-terangan, bahkan ikut berdakwah mengajak kaum kerabatnya atau orang-orang yang biasa duduk bersamanya kepada Islam. Melalui ajakan beliau, masuk Islam pula beberapa tokoh Quraisy yang termasuk sepuluh orang yang dijamin oleh Rasulullah n masuk surga tanpa hisab dan tanpa azab, sebagaimana telah diceritakan pada edisi lalu.
Kesungguhan Abu Bakr memeluk Islam tidak hanya didasari oleh mimpi, tetapi juga fitrah dan akalnya yang masih bersih. Ditambah lagi hubungan persahabatannya dengan pribadi Muhammad n yang agung, akhirnya menempatkan dirinya dalam hati Rasulullah n cukup istimewa. Di kemudian hari, ketika terjadi perselisihan antara Abu Bakr dan ‘Umar bin al-Khaththab c, Rasulullah n mengungkapkan salah satu keutamaan Abu Bakr z:
إِنَّ اللهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ فَقُلْتُمْ: كَذَبْتَ؛ وَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: صَدَقْتَ. وَوَاسَانِي بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ، فَهَلْ أَنْتُمْ تَارِكُو لِي صَاحِبِي
“Sesungguhnya Allah mengutusku kepada kalian, tetapi kalian mengatakan, ‘Engkau dusta,’ sedangkan Abu Bakr mengatakan, ‘Anda benar.’ Dia pun telah membantuku dengan diri dan hartanya, apakah kalian mau membiarkan untukku sahabatku ini?”1
Abu Bakr kembali terkenang, waktu dia berjalan-jalan di pasar ‘Ukazh. Ketika itu para penyair Arab dari berbagai suku berlomba mengungkapkan syair-syair mereka. Saat itu tampillah Qais bin Sa’idah mengucapkan syairnya dari atas untanya yang berwarna putih.
Kata Qais, “Hai manusia, dengar dan hafalkanlah. Jika kalian sudah menghafalnya, ambillah manfaatnya. Sesungguhnya, siapa yang hidup pasti mati, dan siapa yang mati, tentu lenyap. Semua yang akan terjadi pasti tiba. Sesungguhnya di langit terdapat berita, sedangkan di bumi ada pelajaran. Hamparan (bumi) yang dibentangkan, atap (langit) yang ditinggikan, bintang-bintang yang beredar, lautan yang tak pernah kering, malam yang gelap, langit yang penuh gugusan bintang. Qais bersumpah, Allah mempunyai agama yang lebih dicintai-Nya daripada agama yang kalian yakini ini. Mengapa saya lihat manusia pergi, tak pernah kembali? Apakah mereka senang tinggal lalu berdiri, ataukah mereka dibiarkan lalu tertidur?”
Pada mereka yang mula-mula pergi dari beberapa kurun ada peringatan untuk kita
Ketika kulihat tempat-tempat kematian tak ada jalan untuk kembali
Kulihat kaumku menuju ke sana, besar dan kecil
Aku pun yakin bahwa aku pasti menuju ke mana mereka kembali
Semua kejadian masa lalu terekam dalam benak Abu Bakr. Pergaulannya yang erat dengan Nabi n membuatnya banyak melihat keanggunan pribadi beliau n. Abu Bakr benar-benar mengenal Rasulullah n sebelum diutus menjadi Rasul, apalagi sesudahnya. Bagi Abu Bakr, tidak mungkin Muhammad bin ‘Abdullah ini akan berdusta atas nama Allah l, karena dia tidak pernah sekali pun berdusta kepada manusia mana pun. Tidak mungkin dia mengkhianati risalah yang diberikan oleh Allah kepadanya, karena dia tidak pernah menyelewengkan amanah yang dititipkan orang kepadanya.
Benarlah kata-kata Khadijah x tentang pribadi Rasulullah n, ketika beliau merasa gamang (cemas) melihat keadaan dirinya. Apakah dia terkena gangguan jin ataukah sedang mengalami goncangan jiwa? Tidak, orang sebaik itu tidak mungkin disia-siakan oleh Allah l.
Itulah pribadi Muhammad bin ‘Abdullah n yang dikenal oleh Abu Bakr. Karena itu, tanpa ragu-ragu sedikit pun dia menerima dakwah sahabatnya tersebut.
Dengan islamnya Abu Bakr, bertambah gembira hati Nabi n. Dalam masa pertumbuhan Islam itu, beliau z menjadi pembantu utama Rasulullah n dan teman diskusi dalam hampir setiap persoalannya.
Ilmu nasab dan sejarah Arab yang dimiliki Abu Bakr membuka peluang baginya untuk berdakwah. Beberapa pemuda Quraisy yang masih polos dan cerdas sering mendatangi majelisnya untuk menimba kedua ilmu yang di kalangan Arab ini sangat penting. Ditambah pula kedudukannya di kalangan pemuka Quraisy cukup disegani.
Mulailah Abu Bakr mengajak orang-orang yang hadir di majelisnya kepada Islam. Masuk Islam pula di tangan beliau orang-orang yang kemudian menjadi cikal bakal pembela dan pendukung utama dakwah ini, dengan jiwa raga dan harta mereka. Selain tokoh-tokoh yang dijamin masuk surga, ada pula di antara mereka al-Arqam bin Abil Arqam, yang rumahnya menjadi markas pertemuan cikal bakal masyarakat muslim, kemudian ‘Utsman bin Mazh’un, Abu Salamah bin ‘Abdul Asad g.
Meskipun demikian, Abu Bakr tidak pernah melupakan keluarganya sendiri. Masuk Islamlah Asma’, ‘Aisyah, ‘Abdullah, dan istri Abu Bakr, Ummu Ruman, serta pembantunya, ‘Amir bin Fuhairah.
Bersama Rasulullah n, Abu Bakr turut menyebarkan Islam. Semakin bertambahlah jumlah kaum muslimin.

Ujian dan Hijrah
“Tak ada seorang pun yang membawa seperti apa yang Anda bawa melainkan pasti disakiti,” kata Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah n setelah menerima wahyu yang pertama.
Itu pula yang dialami oleh setiap orang yang menapaki jalan yang dilalui oleh Rasulullah n, sampai hari kiamat.
Abu Bakr ash-Shiddiq pun tak ketinggalan mengalaminya, bahkan termasuk dalam deretan mereka yang cukup berat menerima ujian ini. Benarlah Rasulullah n ketika ditanya tentang siapa orang yang paling berat cobaannya, beliau n pun bersabda:
الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
“(Sesungguhnya yang paling berat cobaannya) adalah para nabi, kemudian yang serupa dengan mereka, dan yang serupa dengan mereka…”2
Ibnu Katsir meriwayatkan dari ‘Aisyah yang bercerita bahwa setelah mereka berjumlah 38 orang, Abu Bakr mendesak Rasulullah n agar berdakwah terang-terangan. Akan tetapi, Rasulullah n selalu menahan diri dan mengatakan, “Kita masih sedikit, hai Abu Bakr.”
Abu Bakr belum mau berhenti, tetap mendorong agar Rasulullah n mengajak kaum muslimin terang-terangan menyuarakan Islam. Akhirnya, Rasulullah n menerima ajakannya.
Keesokan harinya, kaum muslimin menyebar bersama kabilahnya masing-masing di sekeliling Masjidil Haram. Setelah berada di dekat Ka’bah, Abu Bakr berpidato dengan suara lantang, sementara Rasulullah n duduk di dekatnya. Seruan pertama yang disampaikan Abu Bakr adalah mengajak mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Belum berapa lama berbicara, kaum musyrikin marah dan menyerbu Abu Bakr dan kaum muslimin. Mereka memukuli Abu Bakr dan kaum muslimin lainnya di pelataran Masjidil Haram. Sebuah pelanggaran terhadap kehormatan Tanah Suci telah dilakukan oleh orang-orang yang mengaku memuliakannya.
Tubuh Abu Bakr diinjak-injak. Tiba-tiba datang ‘Utbah bin Rabi’ah memukuli muka Abu Bakr dengan sandal hingga darah mengucur dari hidungnya. Kaum musyrikin masih belum puas, perut Abu Bakr ditendangi dan diinjak-injak.
Banu Taym, kabilah Abu Bakr sontak meradang melihat saudara mereka dikeroyok. Beberapa orang Bani Taym menyerbu dan berhasil mengusir kaum musyrikin itu. Dengan segera mereka membopong Abu Bakr dan membawanya ke rumah. Mereka khawatir Abu Bakr tewas.
Setelah membaringkan Abu Bakr di rumahnya, Banu Taym segera berlari menuju Masjidil Haram dan berteriak lantang, “Demi Allah, kalau Abu Bakr mati, kau pasti kami bunuh, ‘Utbah bin Rabi’ah!”
Mereka pun segera kembali melihat keadaan Abu Bakr. Abu Quhafah masuk bersama beberapa tokoh Banu Taym dan mulai mengajaknya bicara. Tetapi, Abu Bakr masih terkapar pingsan.
Menjelang sore, Abu Bakr sudah mulai bisa bicara. Apa yang diucapkannya pertama kali? Bukan dirinya yang diperhatikannya, apakah masih selamat atau bagaimana keadaannya? Yang pertama ditanyakannya adalah keadaan Rasulullah n.
“Apa kabar Rasulullah n? Bagaimana keadaannya?” tanyanya kepada mereka yang hadir.
Banu Taym yang membesuknya marah dan mencelanya, mengapa mengurusi orang lain padahal dirinya sendiri sedang terkapar begitu rupa?
Akhirnya, mereka meninggalkannya sambil berpesan kepada Ummul Khair, ibunya, agar memberinya makan dan minum.
Sepeninggal mereka, sang ibu mendesak agar Abu Bakr mau menelan sesuatu. Abu Bakr bertanya lagi, “Bagaimana keadaan Rasulullah n?”
“Demi Allah, Ibu tidak tahu keadaan temanmu itu,” kata sang ibu.
“Tolong, Ibu pergi menemui Ummu Jamil bintul Khaththab. Tanyakanlah kepadanya bagaimana keadaan Rasulullah n?”
Akhirnya, sang ibu menuruti kemauan putranya dan mendatangi rumah Ummu Jamil yang tak jauh dari tempat mereka.
Setibanya di sana, Ummul Khair segera menyampaikan pesan putranya, menanyakan keadaan Rasulullah n.
Ummu Jamil tidak segera menjawab, dia malah berkata, “Saya tidak kenal dengan Muhammad atau Abu Bakr. Kalau Anda mau, biar saya ikut menemui putra Anda itu.”
“Baiklah,” kata Ummul Khair.
Akhirnya mereka bergegas kembali menemui Abu Bakr.
Sementara itu, Abu Bakr masih tergeletak tak berdaya. Begitu masuk dan melihat keadaan Abu Bakr, Ummul Jamil menjerit, “Demi Allah, mereka yang memperlakukan kamu seperti ini betul-betul jahat dan kafir. Aku berharap Allah menimpakan hukuman kepada mereka.”
Abu Bakr tidak menanggapi, tetapi malah bertanya, “Apa yang dilakukan oleh Rasulullah n?”
“Sst. Ada ibumu di sini, dia mendengar?”
“Tidak apa-apa, “kata Abu Bakr.
“Beliau selamat, tidak apa-apa.”
“Di mana beliau sekarang?”
“Di rumah al-Arqam bin Abil Arqam.”
Sambil berusaha bangkit, Abu Bakr berkata, “Demi Allah, aku tidak akan mencicipi makanan dan minuman ini sampai aku bertemu dengan Rasulullah n.”
Dengan segera, kedua wanita itu menenangkan Abu Bakr. Setelah keadaan tenang, Abu Bakr pun keluar sambil dipapah oleh keduanya menuju rumah al-Arqam.
Melihat kedatangan Abu Bakr, Rasulullah n dan para sahabat kaget. Alangkah sedihnya mereka melihat keadaan Abu Bakr. Lebih-lebih Rasulullah n. Beliau n segera mendekat lalu memeluk Abu Bakr dan menciuminya. Para sahabat pun memeluk Abu Bakr sambil menitikkan air mata.
Melihat keadaan Rasulullah n dan sahabat ternyata baik-baik saja, Abu Bakr berkata, “Bapak dan ibuku tebusanmu, ya Rasulullah. Saya tidak apa-apa selain pukulan yang diberikan orang-orang yang fasik itu ke wajahku. Inilah ibuku, yang sangat baik kepada putranya, sedangkan Anda adalah orang yang diberkahi Allah, maka berdoalah kepada Allah agar Allah menyelamatkannya dari neraka.”
Rasulullah n menuruti permintaan sahabat yang disayanginya itu. Allah l mengabulkan doa kekasih-Nya. Saat itu juga masuk Islamlah wanita yang mulia itu.
Setelah itu, Abu Bakr mulai sering datang ke rumah itu bersama sahabat lainnya.3
(insya Allah bersambung)

Catatan Kaki:

1 HR. al-Bukhari no. 3661.

2 HR. at-Tirmidzi (2/64), Ahmad (1/172) dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani.

3 Al-Bidayah wan Nihayah (3/41).

Memperbaiki Diri Sendiri

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Mu’thi, Lc.)

Sangat disayangkan, kebanyakan kita lupa dengan aib yang melekat pada diri-diri kita dan menutup mata dari kekurangan yang ada. Lebih parah lagi, ada yang bersikap sebaliknya, yaitu berbaik sangka dan menganggap diri telah bersih dan sempurna, padahal Allah l berfirman:
“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 32)
Ketika sebagian kita mendengar tentang akhlak yang mulia, ia beranggapan seolah-olah akhlak tersebut sudah ada pada dirinya dan dialah pemilik perangai mulia itu. Namun, tatkala disebutkan tentang perangai tercela, buru-buru dia menuduhkannya kepada orang lain. Seolah-olah dia jauh dari perangai tersebut.
Sikap seperti ini tidak pantas dimiliki oleh orang yang menjunjung tinggi moral dan mendambakan kesempurnaan. Sikap seperti ini akan memunculkan sikap bangga diri yang tercela dan merasa puas di atas kekurangan yang ada. Ujungnya adalah meninggalkan upaya perbaikan diri.
Tidak dimungkiri bahwa ini adalah sikap yang bodoh dan sangat keliru. Dengan sikap tidak mau tahu tentang kadar diri sendiri dan kondisinya, seseorang tidak akan melangkah maju kepada tingkat kemuliaan. (Lihat Su’ul Khuluq, Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hlm. 68—69)

Cara Mengenal Aib Diri Sendiri
Kesempurnaan yang mutlak hanya milik Allah l dan kemaksuman (terpelihara dari dosa) hanya dipunyai oleh Rasul n. Adapun diri kita adalah tidak lebih dari seorang manusia yang diliputi beragam kekurangan, baik dari sisi ilmu maupun amal. Kelemahan dalam dua sisi ini atau salah satunya menjadi faktor utama terjadinya ketergelinciran ketika menapaki kehidupan ini. Namun, hendaknya tidak dipahami bahwa seseorang baru dikatakan baik jika dia tidak mempunyai kesalahan karena hal ini mustahil, sebagaimana sabda Rasulullah n:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam (manusia) banyak melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang (mau) bertobat.” (Hadits dari sahabat Anas bin Malik z, dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2499, cet. al-Ma’arif)
Dosa dan kesalahan adalah kepastian atas manusia. Namun, yang tercela ialah manakala seseorang menunda-nunda memperbaiki diri atau bahkan tidak mau menyadari kekurangannya.
Jangan sampai hilang dari ingatan kita, manusia dicipta untuk memberikan penghambaan semata-mata untuk Allah l, sebagaimana firman-Nya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)
Inilah hikmah penciptaan manusia. Oleh karena itu, barang siapa belum mewujudkan beragam penghambaan yang harus diberikan kepada Allah l, berarti pada dirinya ada aib yang harus segera diobati. Sedikit dan banyaknya aib seseorang terkait dengan apa dan seberapa bentuk penghambaan kepada Allah l yang belum terealisasikan. Apabila ingin mengetahui kekurangan diri kita lebih jauh di hadapan syariat, hendaknya kita menelaah ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi n. Dengan cara demikian, kita akan tahu seberapa perintah Allah l dan Rasul-Nya yang masih terabaikan dan seberapa pula larangan-Nya yang dilanggar.
Memang, terkadang aib diri tidak diketahui oleh pemiliknya sehingga tidak dihiraukan. Andai seorang mengetahui aibnya, belum tentu juga mau mengobatinya karena obatnya pahit, yaitu siap menyelisihi hawa nafsunya. Seandainya dia mau bersabar dengan pahitnya obat, belum tentu juga dia mendapatkan dokter yang ahli. Dokter yang ahli dalam hal ini adalah para ulama.
Al-Imam Ibnu Qudamah t berkata, “Ketahuilah bahwa apabila seorang hamba dikehendaki kebaikan oleh Allah l, Ia akan menjadikannya orang yang mengetahui kekurangannya. Orang yang melek mata hatinya niscaya tidak akan samar atasnya segala kekurangannya. Jika telah mengetahui kekurangan dirinya, dia akan bisa mengobatinya. Namun, sayang sekali, kebanyakan orang tidak tahu kekurangannya. Seorang dari mereka bahkan bisa melihat kotoran kecil yang melekat pada mata saudaranya, namun tidak bisa melihat batang pohon yang ada di matanya sendiri.
Ada empat cara bagi orang yang ingin mengetahui tentang aib dirinya:
1. Duduk di hadapan syaikh (guru/orang alim) yang sangat paham tentang aib-aib jiwa.
Orang alim itu akan memberi tahu aib-aib dirinya beserta terapi pengobatannya. Akan tetapi, orang alim di zaman sekarang sangat jarang. Oleh karena itu, jika seseorang menemukannya, berarti dia telah mendapatkan seorang dokter yang mahir sehingga dia hendaknya tidak berpisah darinya.
2. Mencari teman yang jujur, yang melek mata hatinya, dan bagus agamanya.
Teman yang seperti ini bisa dijadikan sebagai pengawas dirinya agar mengingatkannya dari perangai dan tingkah laku yang tidak baik.
Dahulu, Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab z berkata, “Semoga Allah l memberi rahmat kepada seorang yang menunjukkan kepada kami kekurangan-kekurangan kami.”
Adalah salaf (pendahulu umat ini) mencintai orang yang mengingatkan kekurangan atau aibnya. Namun, di masa kita ini justru sebaliknya. Orang yang menunjukkan aib kita pada umumnya dijadikan orang yang paling tidak disukai. Ini menandakan lemahnya iman. Sesungguhnya, permisalan perangai jelek itu seperti kalajengking. Seandainya ada seseorang memberi tahu salah seorang kita bahwa di bawah pakaiannya ada kalajengking, niscaya dia akan berterima kasih lalu menyibukkan diri untuk membunuh kalajengking tersebut. Padahal perangai yang jelek lebih berbahaya daripada kalajengking.
3. Menggali kekurangan dirinya dari ucapan (yang keluar) dari musuhnya
Penglihatan orang yang benci akan membongkar aib orang yang dibencinya. Oleh karena itu, seseorang lebih banyak mengambil pelajaran dari musuhnya yang menyebut-nyebut aibnya daripada temannya sendiri, yang seringnya berbasa-basi dan menyembunyikan kekurangannya.
4. Berbaur dengan manusia—yang baik—sehingga apa yang dipandang tercela oleh mereka dia akan menjauhinya. (Dinukil secara ringkas dari Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 203—205)

Menuju Kesucian Diri
Seorang muslim yakin bahwa kebahagiaannya di dunia dan di akhirat tergantung pada upayanya membimbing dirinya dan membersihkannya dari kotoran. Allah l berfirman:
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9—10)
Dia berusaha membersihkan dirinya dari keyakinan yang batil dan ibadah yang menyimpang, serta akhlak dan muamalah yang tercela. Di samping itu, dia juga berusaha menghiasi dirinya dengan iman yang memancar cahayanya ke seluruh anggota tubuhnya. Oleh karena itu, ia pun lebih sibuk mengoreksi dirinya ketimbang memerhatikan aib orang lain.
Al-Imam Ibnu Hibban t mengatakan, “Orang yang berakal tidak akan samar baginya aibnya karena orang yang tidak mengenal aibnya tidak akan mengetahui kebaikan orang lain. Sesungguhnya, hukuman terberat yang dirasakan oleh seseorang adalah ketika ia tidak tahu aib dirinya sendiri yang karenanya ia tidak akan berhenti dari—kejelekan—nya dan tidak akan tahu pula kebaikan orang.” (Raudhatul ‘Uqala hlm. 22)
Sesungguhnya, sangat tercela orang yang menutup mata dari aibnya sendiri, namun ia sangat paham terhadap aib orang lain.
Abu Hurairah z berkata, “Salah seorang dari kalian melihat kotoran (kecil) yang menempel pada mata saudaranya, (namun) ia lupa dengan kayu yang ada di matanya sendiri.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 460)
Ini adalah permisalan bagi orang yang bisa melihat kekurangan orang lain yang sedikit dan mencelanya karena aib tersebut, padahal dia sendiri memiliki aib yang jauh lebih besar.
Ketika kita mengajak agar sibuk memerhatikan aib diri kita sendiri, tidak berarti menutup pintu amar ma’ruf nahi mungkar. Yang dituntut dari seorang adalah mengaca kekurangan dirinya kemudian memperbaikinya, sebagaimana pula ia punya tanggung jawab untuk memperbaiki masyarakatnya.
Seperti itulah semestinya. Agar kesucian diri bisa terwujud dan aib bisa tertambal, kiranya ada beberapa langkah yang semestinya dilakukan.
1. Tobat, yaitu seorang melepaskan diri dari segala dosa dan maksiat, menyesali semua dosa yang telah dilakukan dan bertekad hati untuk tidak mengulang di masa mendatang.
Allah l berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (at-Tahrim: 8)
2. Muraqabah, yaitu seorang menanamkan di hatinya bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah l pada setiap detik kehidupannya.
Apabila upaya itu terus dilakukan, akan sempurna keyakinannya terhadap pengawasan Allah l. Dia pun yakin bahwa Allah l mengetahui rahasia yang disembunyikan dalam dada dan apa yang dilakukannya secara lahir.
3. Muhasabah, yaitu menghitung-hitung dan mengoreksi amalannya.
Pada kehidupan di dunia ini, seorang muslim beramal siang dan malam untuk meraih keridhaan Allah l dan surga-Nya. Dunia ia jadikan sebagai lahan amal untuk meraih harapan tersebut.
Dia akan memandang hal yang diwajibkan oleh Allah l layaknya seorang pedagang yang memandang modalnya. Ia juga melihat amalan-amalan sunnah seakan-akan seorang pedagang yang melihat ada keuntungan dari pokok atau modal dagangannya. Tak lupa pula, ia memandang dosa dan kemaksiatan ibarat kerugian dalam dagangan. Lalu di sore hari dia merenung sesaat untuk memeriksa amalannya. Apabila ia melihat ada kekurangan pada perkara wajib (modal pokok), ia pun mencela dirinya lalu berusaha menambal kekurangannya. Jika bisa diganti, ia pun menggantinya. Jika tidak mungkin, ia akan menambalnya dengan memperbanyak amalan sunnah. Apabila ternyata kekurangan ada pada amalan sunnah, dia pun berusaha menggantinya dan menambalnya.
Seandainya ia melihat kerugian pada dirinya karena melakukan hal yang dilarang agama, ia akan meminta ampun kepada Allah l, menyesali perbuatannya, kembali kepada jalur yang benar, dan melakukan kebaikan yang sekiranya bisa memperbaiki apa yang telah rusak.
4. Mujahadah, yaitu berupaya mengekang hawa nafsu yang selalu mengajak kepada kejelekan.
Hawa nafsu lebih menyukai sikap bersantai-santai dan bermalas-malas serta menyimpangkan hati agar terjerumus dalam kesenangan maksiat sesaat, padahal setelahnya adalah kebinasaan.
Seorang muslim yang tahu kondisi hawa nafsu yang seperti ini niscaya akan mempersiapkan diri untuk melawannya. Apabila hawa nafsunya mendorongnya untuk bermalas-malas, ia meletihkan dirinya (dengan perkara yang positif). Apabila dirinya menginginkan syahwat (yang diharamkan), ia mengekangnya. Jika dirinya meremehkan amal ketaatan, ia menghukum dirinya dengan melakukan yang diremehkannya.
Intinya, ia mengejar apa yang tertinggal. Dengan upaya seperti ini, dirinya akan bersih. Allah l berfirman:
“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat baik.” (al-Ankabut: 69) (Disarikan dari Kitab Minhajul Muslim, al-Jazairi hlm. 91—96)
Di samping upaya di atas, kita juga hendaknya tidak lupa bermohon kepada Dzat Yang Mahakuasa agar Dia memperbaiki kondisi kita serta menambal aib dan kekurangan kita.
Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Pemandangan Surga dan Kenikmatan didalamnya

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak)

Surga adalah negeri kemuliaan yang abadi, negeri yang penuh dengan kenikmatan yang sempurna, yang tak ada cela sama sekali. Berbagai kenikmatan telah Allah l persiapkan di sana. Dalam hadits qudsi, Allah l berfirman:
“Aku telah persiapkan untuk hamba-hamba-Ku yang saleh kenikmatan yang tak pernah dilihat mata, tak pernah terdengar oleh telinga, dan tak pernah terbetik di hati manusia.” Kemudian Rasulullah n berkata, “Kalau mau, silakan kalian baca:
“Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka. (as-Sajdah: 17)’.” (HR. al-Bukhari no. 3244)
Akan tampak agungnya nikmat surga ketika dibandingkan dengan kesenangan duniawi. Kesenangan dunia dibandingkan dengan kenikmatan akhirat sangatlah rendah. Rasulullah n bersabda, “Tempat cemeti salah seorang kalian di surga lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. al-Bukhari no. 3250)
Oleh karena itu, masuk surga dan selamat dari neraka adalah kesuksesan yang agung, kemenangan yang besar. Allah l berfirman:
“Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (Ali Imran: 185)
“Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar, itu adalah keberuntungan yang besar.” (at-Taubah: 72)
Setiap muslim pastilah merindukan surga. Merindukan berbagai kenikmatan yang telah dipersiapkan oleh Allah l di sana.
Untuk semakin menambah keimanan kita tentang surga dan menambah kerinduan kita kepadanya sehingga semakin bersemangat beribadah kepada Allah l, maka kami akan paparkan sekelumit pemandangan surga dan berbagai kenikmatan yang telah disebutkan Allah l dan Rasul-Nya.

Sifat-Sifat Surga
Di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah telah banyak disebutkan sifat surga. Dalam kesempatan ini, akan kami sebutkan beberapa di antaranya.

Luas Surga
Allah l telah menjelaskan tentang luas surga dalam firman-Nya:
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran: 133)

Surga Bertingkat-Tingkat
Telah ada dalam nash yang sahih bahwa surga ada seratus tingkat, jarak antartingkat sejauh langit dan bumi. Dari Abu Hurairah z, dari Rasulullah n yang bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِهِ بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ
“Sesungguhnya di surga ada seratus tingkat yang dipersiapkan bagi para mujahidin di jalan-Nya. Jarak antatingkat seperti jarak bumi dan langit.” (HR. al-Bukhari no. 2790)

Pintu-Pintu Surga
Pintu surga ada delapan, salah satunya bernama Rayyan. Dari Sahl bin Sa’d z, dari Nabi n yang bersabda:
فِى الْجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لاَ يَدْخُلُهُ إِلاَّ الصَّائِمُونَ
“Di surga ada delapan pintu. Ada pintu yang dinamai Rayyan, tidak ada yang masuk melalui pintu tersebut melainkan orang-orang yang puasa.” (HR. Buhari: 3257)
Akan ada orang yang dipanggil untuk masuk dari semua pintu, di antara mereka adalah Abu Bakr z. (lihat Shahih al-Bukhari no. 1879 dan Shahih Muslim no. 2418)

Penjaga Surga
Allah l berfirman:
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka dibawa ke dalam surga berkelompok-kelompok (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka, berkatalah penjaga-penjaganya kepada mereka, “Keselamatan (dilimpahkan) untuk kalian. Berbahagialah kalian! Masukilah surga ini, kalian kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n berkata:
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Muhammad.” Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu.” (HR. Muslim no. 507)
Ayat dan hadits di atas menunjukkan bahwa surga ada penjaganya dari kalangan malaikat.

Yang Pertama Masuk Surga
Orang yang pertama masuk surga adalah Nabi Muhammad n dan umat pertama yang masuk surga adalah umat beliau. Dari Anas bin Malik z, ia berkata bahwasanya Rasulullah n bersabda:
آتِى بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتَفْتِحُ فَيَقُولُ الْخَازِنُ: مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ: مُحَمَّدٌ. فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لاَ أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ
Aku mendatangi pintu surga dan minta untuk dibukakan. Penjaga surga pun berkata, “Siapa kamu?” Aku menjawab, “Muhammad.” Penjaga surga berkata, “Aku telah diperintah membukanya untukmu, dan aku tidak boleh membukanya untuk orang lain sebelummu.” (HR. Muslim no. 507)
Dalil yang menyatakan bahwa umat Muhammad n yang paling dahulu masuk surga adalah hadits:
نَحْنُ الْآخِرُونَ الْأَوَّلُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَنَحْنُ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
“Kita adalah yang terakhir (masanya di dunia), tetapi yang pertama di hari kiamat. Kitalah yang akan masuk surga lebih dahulu.” (HR. Muslim)

Bangunan di Surga
Dari Ibnu Umar c:
سُئِلَ رَسُولُ اللهِ n عَنِ الْجَنَّة: كَيْفَ هِيَ؟ قَالَ: مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَحْيَى لاَ يَمُوتُ، وَيَنْعَمُ لاَ يَبْأَسُ، وَلاَ تَبْلَى ثِيَابُهُ، وَلاَ يُبْلَى شَبَابُهُ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَيْفَ بِنَاؤُهَا؟ قَالَ: لَبِنَةٌ مِنْ فِضَّةٍ، وَلَبِنَةٌ مِنْ ذَهَبٍ، مِلاَطُهَا مِسْكٌ، وَحَصْبَاؤُهَا اللُّؤْلُؤُ وَالْيَاقُوتُ، وَتُرَابُهَا الزَّعْفَرَانُ.
Rasulullah n ditanya tentang surga, “Bagaimanakah surga?” Beliau menjawab, “Barang siapa yang masuk surga akan terus hidup tak akan mati, terus akan mendapatkan kenikmatan tidak akan susah, tak akan lapuk bajunya, dan tak akan hilang masa mudanya.” Ditanyakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana bangunannya?” Beliau menjawab, “Ada yang batanya dari perak dan ada yang dari emas, (adukan) semennya adalah misik, kerikilnya adalah mutiara dan permata, dan tanahnya adalah za’faran.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam tahqiq Misykatul Mashabih)

Kemah-Kemah di Surga
Allah l berfirman:
“(Bidadari-bidadari) yang pandangan mereka hanya kepada suami dipingit dalam kemah-kemah.” (ar-Rahman: 72)
Dari Abu Bakr bin Abdullah bin Qais, dari ayahnya z, Rasulullah n bersabda:
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ خَيْمَةً مِنْ لُؤْلُؤَةٍ مُجَوَّفَةٍ، عَرْضُهَا سِتُّونَ مِيلاً
“Di surga ada kemah dari mutiara yang dilubangi, lebarnya enam puluh mil.” (HR. al-Bukhari no. 4879)

Pasar di Surga
Dari Anas bin Malik z, Rasulullah n berkata:
إِنَّ فِى الْجَنَّةِ لَسُوقًا يَأْتُونَهَا كُلَّ جُمُعَةٍ فَتَهُبُّ رِيحُ الشَّمَالِ فَتَحْثُو فِي وُجُوهِهِمْ وَثِيَابِهِمْ فَيَزْدَادُونَ حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَرْجِعُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ وَقَدِ ازْدَادُوا حُسْنًا وَجَمَالاً فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُوهُمْ: وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً. فَيَقُولُونَ: وَأَنْتُمْ وَاللهِ، لَقَدِ ازْدَدْتُمْ بَعْدَنَا حُسْنًا وَجَمَالاً
“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’.” (HR. Muslim no. 7324)

Sifat-Sifat Wanita Surga
Allah l dan Rasul-Nya telah menyebutkan sifat-sifat wanita surga, di antara sifat wanita surga:

• Akhlak dan Tubuh Mereka Telah Disucikan
Allah l berfirman:
“Bagi mereka istri-istri yang telah disucikan.” (al-Baqarah: 25)
Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di berkata, “Mereka disucikan akhlak dan tubuhnya. Lisan dan pandangan mereka telah disucikan.”

• Tidak Pernah Disentuh Pria Lain dan Tidak Memandang Pria Lain
Allah l berfirman:
“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin.” (ar-Rahman: 56)

• Usia Mereka Sebaya
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (Yaitu) kebun-kebun dan buah anggur, wanita-wanita yang sebaya.” (an-Naba: 31—33)

• Mereka Dijadikan oleh Allah l sebagai Gadis
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.” (al-Waqiah: 35—37)
Tentang ayat ini, ada dua penafsiran:
1. Maksudnya adalah bidadari.
2. Yang dimaksud adalah wanita dari kalangan bani Adam, yakni Allah l kembalikan mereka menjadi gadis.
Dalam satu riwayat disebutkan, “Pernah seorang wanita tua minta agar Rasulullah n mendoakannya masuk surga. Rasulullah n berkata, ‘Wahai Ummu Fulan, surga tidak dimasuki wanita tua.’ Wanita itu pun kembali dan menangis. Rasulullah n lalu berkata, ‘Kabarkan kepadanya, dia tak akan masuk surga dalam keadaan tua renta, karena Allah berfirman:
‘Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya.’ (al-Waqiah: 35—37).” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Mukhtashar asy-Syama’il)
Sifat-sifat di atas hanya sebagian kecil dari sifat wanita surga yang telah disebutkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah.

Makanan Ahli Surga
Allah l berfirman:
“Dan buah-buahan yang mereka pilih dan daging burung yang mereka inginkan.” (al-Waqi’ah: 20—21)

Buah-Buahan di Surga Banyak dan Tidak Terputus
Allah l berfirman:
“Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (buahnya) dan tidak terlarang mengambilnya, serta kasur-kasur yang tebal lagi empuk.” (al-Waqi’ah: 32—34)
Allah l berfirman:
“Buah-buahannya dekat, (kepada mereka dikatakan), ‘Makan dan minumlah dengan sedap disebabkan amal yang telah kamu kerjakan pada hari-hari yang telah lalu’.” (al-Haqqah: 23—24)
Dari Tsauban, Rasulullah n berkata,
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا نَزَعَ ثَمَرَةً مِنَ الْجَنَّةِ عَادَتْ مَكَانَهَا أُخْرَى
“Seorang penghuni surga jika memetik buah di surga, buah yang lain akan menempati tempatnya.” (HR. ath-Thabarani, dinyatakan sahih dalam Jami’ ash-Shagir no. 1617 dan ash-Shahihah no. 1598)

Minuman Ahli Surga
Allah l berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan minum dari gelas (berisi minuman) yang campurannya adalah air kafur. (Yaitu) mata air (dalam surga) yang darinya hamba-hamba Allah minum, yang mereka dapat mengalirkannya dengan sebaik-baiknya.” (al-Insan: 5—6)
Allah l berfirman:
“Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil.” (al-Insan: 17—18)
Abu Umamah z mengatakan, “Seorang penghuni surga ingin meminum minuman. Datanglah ceret ke tangannya kemudian ia pun minum dan ceret tersebut kembali ke tempatnya.” (Dinyatakan mauquf oleh asy-Syaikh al-Albani)
Sungai di Surga
Allah l berfirman:
“(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?” (Muhammad: 15)

Kenikmatan Tertinggi: Melihat Allah l
Kenikmatan penduduk surga yang paling agung adalah melihat wajah Allah l. Allah l berfirman:
“Wajah-wajah mereka itu berseri-seri karena melihat Rabbnya.” (al-Qiyamah: 22—23)
“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna dan tambahannya.” (Yunus: 26)
Para ahli tafsir berkata, “Al-husna adalah surga. Tambahannya adalah melihat wajah Allah l.”
Dari Shuhaib, Nabi n berkata,
إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ -قَالَ- يَقُولُ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ؟ فَيَقُولُونَ: أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا، أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنَ النَّارِ؟ قَالَ: فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنَ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ تَلاَ هَذِهِ الآيَةَ: { ﭒ ﭓ ﭔ ﭕ}
“Ketika penduduk surga masuk ke dalamnya, Allah l berfirman, ‘Kalian ingin Aku menambah (nikmat) untuk kalian?’ Penduduk surga pun berkata, ‘Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke surga dan menyelamatkan kami dari neraka?’ Rasulullah berkata, “Allah l membuka hijab (sehingga mereka melihat Allah). Tidaklah mereka diberi nikmat yang lebih mereka senangi selain melihat Rabb mereka.” Kemudian Rasulullah n membaca:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik al-husna dan tambahannya (Yunus: 26).” (HR. Muslim)
Demikianlah sebagian keindahan dan kenikmatan surga yang Allah l persiapkan.
Ya Allah, jadikanlah kami termasuk penduduk surga-Mu!

Bersegeralah ke Surga Allah l
Sahabat adalah generasi terbaik umat ini dan paling paham masalah agama, maka mereka adalah orang-orang yang paling semangat mendapatkan surga-Nya. Kita dapatkan banyak riwayat yang menunjukkan semangat para sahabat Rasulullah g untuk mendapatkan surga walau dengan mengorbankan jiwa raga dan harta mereka. Di antara kisah tersebut adalah sebagai berikut.

• Kisah Anas bin Nadhr z
Ketika di Perang Uhud, beliau melihat sebagian orang mundur. Namun, beliau tetap maju sembari berkata kepada Sa’d bin Mu’adz z, “Wahai Sa’d, demi Rabb Nadhr, aku telah mencium wangi surga di dekat Uhud.”
Anas z berkata, “Kami temukan di tubuhnya ada delapan puluh lebih tusukan pedang, tombak, atau panah. Kami dapati beliau telah meninggal dan dicacah oleh orang musyrikin. Tidak ada yang mengenalinya selain saudarinya.” (Muttafaq alaih)

• Umair bin al-Humam z
Di Perang Badar, ketika Rasulullah n berkata, “Berdirilah kalian untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi!”
Umair bin al-Humam al-Anshari z berkata, “Wahai Rasulullah, surga yang luasnya seluas langit dan bumi?”
Rasulullah n menjawab, “Ya.”
Umair berkata, “Bakh. Bakh.”
Rasulullah n berkata, “Apa yang menyebabkan kamu berkata demikian?”
Umair z berkata, “Tidak ada, demi Allah. Hanya saja aku ingin menjadi penghuninya.” Rasulullah n berkata, “Engkau termasuk penghuninya.”
Umair lalu mengeluarkan beberapa kurma dari wadahnya kemudian memakan sebagiannya dan berkata, “Kalau aku harus menghabiskan kurma-kurmaku ini, berarti hidup masih lama.” Beliau pun melemparnya dan memerangi musuh hingga meninggal. (HR. Muslim)

• Abu Dahdah z
Rasulullah n pernah berkata, “Betapa banyak kurma yang bergelantungan di pohonnya untuk Abu Dahdah di surga.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Jami’ush Shagir no. 4574)
Apa sebab beliau mendapat keutamaan ini? Dalam riwayat lain dijelaskan sebabnya. Ketika turun ayat:
“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak?” (al-Baqarah: 245)
Abu Dahdah z berkata, “Wahai Rasulullah, Allah ingin meminjam dari kita?” Rasulullah n menjawab, “Benar, wahai Abu Dahdah.” Abu Dahdah berkata, “Perlihatkanlah tanganmu kepadaku, ya Rasulullah, aku telah meminjamkan kebun kurmaku kepada Rabbku.” Ibnu Mas’ud berkata, “Kebun kurmanya berisi enam ratus pohon kurma.” (Dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam takhrij Musykilatul Faqr)

• Wanita yang Sering Tidak Sadarkan Diri
Seorang wanita datang kepada Rasulullah n dan berkata, “Wahai Rasulullah, aku sering tidak sadarkan diri (epilepsi) dan (ketika itu) tersingkap hijabku. Doakanlah aku agar disembuhkan oleh Allah.”
Rasulullah n berkata, “Jika engkau mau bersabar, engkau akan mendapatkan surga. Namun, kalau memang engkau mau didoakan, aku akan mendoakanmu.”
Wanita tadi berkata, “Kalau begitu aku akan sabar.” (Muttafaq ‘alaih)

Marilah kita bersegera mengamalkan amalan yang mengantarkan ke surga Allah l, dengan meningkatkan tauhid, iman, dan ketakwaan kita kepada Allah l serta melakukan berbagai amalan yang telah dijanjikan dengan surga-Nya.
Wallahu a’lam.

 

Mewakafkan Masjid dengan Keikhlasan dan Bimbingan

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc)

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ z قَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ: مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ.
Dari Utsman bin Affan z, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah n bersabda, ‘Barang siapa membangun masjid dengan mengharapkan wajah Allah, sungguh Allah akan membangun untuknya sebuah rumah di jannah/surga’.”
Takhrij Hadits
Hadits Amirul Mukminin Utsman bin Affan z ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya (1/453), Muslim (1/378 no. 533), dan Ibnu Hibban (4/488 no. 1609,) melalui jalan Ubaidillah al-Khaulani dari Utsman bin Affan z.
Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (1/61 & 70), at-Tirmidzi (2/134 no. 318), Ibnu Majah (1/243 no. 736) dalam Sunan keduanya, dan Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya (2/269 no. 1291), melalui jalan Abu Bakr al-Hanafi, dari Abdul Hamid bin Ja’far, dari ayahnya, dari Mahmud bin Labid, dari Utsman bin Affan z.
Hadits ini termasuk dalam deretan hadits-hadits mutawatir.1 Puluhan sahabat meriwayatkan hadits tersebut, termasuk Utsman bin Affan z. Dalam sebuah bait syair dikatakan:
مِمَّا تَوَاتَرَ حَدِيْثُ مَنْ كَذَبْ
وَمَنْ بَنَى لِلهِ بَيْتاً وَاحْتَسَبْ
Di antara yang mutawatir adalah hadits “Man kadzaba….”
dan “Barang siapa membangun sebuah rumah untuk Allah lalu mengharapkan pahalanya….”
Al-Imam as-Suyuthi t (wafat tahun 911 H) menyebutkan sahabat-sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Di antara mereka adalah al-Khulafa’ ar-Rasyidin: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib; juga Abu Hurairah, Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, Abdullah bin al-‘Abbas, Aisyah, Ummu Habibah, Abdullah bin Amr bin al-Ash, Watsilah bin al-Asqa’, Asma’ bintu Yazid, Nabith bin Syarith, Abu Umamah, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Qarshafah, Mu’adz bin Jabal, dan ‘Amr bin ‘Abasah, semoga Allah l meridhai mereka seluruhnya. (Qathful Azhar al-Mutanatsirah)2

Penjelasan Hadits
Membangun masjid termasuk wakaf dan amalan yang tidak akan terputus pahalanya dengan kematian, selama manfaatnya masih dirasakan. Mendirikan masjid termasuk sedekah jariyah yang tersebut dalam sabda Rasulullah n yang diriwayatkan banyak ahlul hadits dari Abu Hurairah z:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seorang mati, terputuslah amalannya selain tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak saleh yang selalu mendoakannya.”
Di samping pahala yang terus mengalir, Allah l juga menjanjikan pahala yang besar bagi seseorang yang membangun masjid, sebagaimana halnya yang ditunjukkan oleh hadits Utsman z di atas. Barang siapa membangun masjid karena Allah l, tidak mengharapkan pujian manusia, riya (ingin dilihat), atau sum’ah (ingin didengar), sungguh Allah l akan membangunkan baginya sebuah rumah di jannah.
Tentu, rumah itu tidak bisa dibayangkan keindahannya. Apa yang disediakan oleh Allah l tidak bisa dibandingkan dengan bangunan terindah sekalipun di dunia ini, sebagaimana ditunjukkan oleh sebuah hadits qudsi:
أَعْدَدْتُ لِعِبَادِيَ الصَّالِحِينَ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ
“Aku menyediakan bagi para hamba-Ku yang saleh, kenikmatan yang belum pernah mata melihatnya, belum pernah telinga mendengarnya, dan belum pernah pula terbetik dalam kalbu manusia.” (HR. al-Bukhari no. 3244, 4779 dan Muslim no. 2824 dari Abu Hurairah z)

Berapa pun Ukuran Masjid yang Dibangun, Allah l Akan Membalasnya
Kata (مَسْجِدًا) dalam sabda Rasulullah n di atas adalah kata nakirah (kata benda yang tidak tertentu). Ini menunjukkan bahwa semua masjid yang dibangun akan mendapatkan pahala yang dijanjikan oleh Allah l, berapa pun ukurannya, besar atau kecil.
Makna ini datang dalam lafadz hadits Anas bin Malik z:
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا صَغِيرًا كَانَ أَوْ كَبِيرًا بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid, kecil atau besar, Allah l akan membangunkan untuknya rumah di surga.” (HR. at-Tirmidzi dalam as-Sunan no. 319 dan dinyatakan dha’if [lemah] oleh asy-Syaikh al-Albani t)3
Dalam hadits lain, hadits Abu Dzar z, Rasulullah n memberikan dorongan yang kuat untuk membangun masjid walaupun kecil. Beliau n membuat permisalan yang sangat mendalam dengan sabdanya:
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا وَلَوْ مَفْحَصَ قُطَاةٍ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
“Barang siapa membangun masjid walaupun seluas peraduan (tempat mengeram) burung, Allah l akan membangun untuknya sebuah rumah di surga.” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf 1/310, Ahmad no. 2157, al-Bazzar, ath-Thabarani, dan Ibnu Hibban. Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’)
Al-Munawi t mengatakan, “Mayoritas ulama membawa hadits di atas kepada makna mubalaghah (menyangatkan) karena peraduan burung hanyalah seukuran tempat telur dan tempat tidurnya. Sebuah ukuran yang tidak cukup untuk melakukan shalat.” (at-Taisir bi Syarh al-Jami’ ash-Shaghir)
Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah berkata, “Masjid, sebagaimana diketahui, tidak mungkin berukuran sebesar peraduan (tempat mengeram) burung. Namun, sabda ini sebagai bentuk mubalaghah (perumpamaan bahwa sekecil apa pun bangunan masjid, Allah l tetap memberi pahala besar atas amalan tersebut). Sebagian ahlul ilmi mengatakan bahwa ukuran tersebut (yakni sekecil peraduan burung) mungkin saja terwujud. Hal itu terjadi manakala masjid dibangun dengan bergotong royong dengan andil yang sedikit dari setiap orang. Artinya, pembangunan masjid dilakukan oleh beberapa orang.” (Ceramah asy-Syaikh al-Abbad dalam Syarah Sunan Abi Dawud)

Membangun Masjid & Memakmurkannya dengan Amalan Saleh
Masjid adalah rumah Allah l. Disandarkan kepada-Nya karena kemuliaannya. Allah l memilih masjid sebagai tempat yang paling Dia cintai. Rasulullah n bersabda:
أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ تَعَالَى مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللهِ أَسْوَاقُهَا
“Tempat yang paling dicintai oleh Allah adalah masjid-masjidnya, sedangkan tempat yang paling Dia benci adalah pasar-pasarnya.” (HR. Muslim [1/464 no. 671] dari jalan Abdurrahman bin Mihran, maula Abu Hurairah z, dari beliau)
Hati orang-orang yang beriman selalu terkait dengan rumah-rumah Allah l. Dengan penuh harap kepada Allah l, mereka memuliakan masjid-masjid Allah l dan memakmurkannya. Allah l berfirman:
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk ditinggikan dan disebut nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan hal itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (an-Nur: 36—38)
Dalam ayat di atas, Allah l telah mengizinkan, yakni memerintahkan, agar masjid ditinggikan.
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk ditinggikan….”
Apa makna “meninggikan rumah-rumah Allah” dalam ayat ini?
Dalam kitab-kitab tafsir disebutkan dua penafsiran ayat ini.
1. Allah l memerintahkan agar masjid-masjid dibangun.4
Hal ini seperti apa yang dikabarkan oleh Allah l tentang Nabi Ibrahim dan Isma’il e ketika meninggikan Baitullah, yakni membangunnya. Allah l berfirman:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membangun) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Rabb kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 127)
Perintah dan dorongan membangun masjid banyak diriwayatkan dari Rasulullah n seperti hadits mutawatir yang sedang kita bicarakan dalam rubrik ini. Demikian pula hadits Aisyah x:
أَمَرَ رَسُولُ اللهِ n بِبِنَاءِ الْمَسَاجِدِ فِي الدُّوْرِ وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ
“Rasulullah n memerintahkan agar masjid-masjid dibangun di kabilah-kabilah (kampung-kampung). Beliau juga memerintahkan agar masjid dibersihkan dan diberi wewangian.” (HR. at-Tirmidzi dalam “Kitab al-Jumu’ah” no. 594, Sunan Abu Dawud dalam “Kitab ash-Shalah” no. 455 dan Ibnu Majah dalam “Kitab al-Masajid wal Jama’at” no. 759, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

2. Allah l memerintahkan agar masjid-masjid diagungkan, dihormati, dan dimuliakan dengan zikir, doa, dan ibadah, dibersihkan, dijaga, tidak boleh ada di dalamnya ucapan-ucapan kotor, dosa, atau kefasikan.
Al-Hasan t mengatakan, “Diagungkan maksudnya tidak disebut ucapan-ucapan yang buruk dalam masjid.”5
Makna kedua ini ditunjukkan pula oleh sabda-sabda Rasulullah n yang sangat banyak. Beliau memerintahkan kita untuk membersihkan masjid dan memberikan wewangian, seperti dalam hadits Aisyah x,
وَأَنْ تُنَظَّفَ وَتُطَيَّبَ
“Dan diperintahkan agar (masjid) dibersihkan dan diberi wewangian.”
Dahulu, di zaman Rasulullah n ada seorang wanita yang selalu membersihkan dan menyapu Masjid Nabawi.
Rasulullah n juga mengajarkan umatnya shalat tahiyatul masjid sebelum duduk di dalamnya.
Untuk memuliaan masjid, beliau juga melarang kita makan bawang lalu masuk ke masjid karena bau yang ditimbulkan akan mengganggu kaum mukminin. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Ibnu Umar c:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n قَالَ فِي غَزْوَةِ خَيْبَرَ: مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ-يَعْنِي الثُّومَ-فَلَا يَأْتِيَنَّ الْمَسَاجِدَ
Rasulullah n bersabda ketika Perang Khaibar, “Barang siapa memakan dari pohon ini—yakni bawang—, jangan sekali-kali ia mendatangi masjid-masjid.” (HR. Muslim 1/393 no. 561)
Beliau juga melarang umatnya meludah di masjid atau mengotorinya. Rasulullah n pernah bersabda:
عُرِضَتْ عَلَيَّ أَعْمَالُ أُمَّتِي حَسَنُهَا وَسَيِّئُهَا، فَوَجَدْتُ فِي مَحَاسِنِ أَعْمَالِهَا الْأَذَى يُمَاطُ عَنِ الطَّرِيقِ، وَوَجَدْتُ فِي مَسَاوِي أَعْمَالِهَا النُّخَاعَةَ تَكُونُ فِي الْمَسْجِدِ لَا تُدْفَنُ
“Ditampakkan kepadaku amalan-amalan umatku, yang baik dan yang buruk. Aku pun melihat, di antara amalan-amalan baik umatku adalah duri-duri/gangguan yang disingkirkan dari jalan. Aku juga melihat, di antara amalan jelek mereka adalah riak/dahak yang berada di masjid, namun tidak ia pendam (dibuang).” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar z)
Membersihkan masjid dari ludah atau yang semisalnya tidak hanya dilakukan oleh orang yang mengotorinya, namun juga oleh orang yang melihatnya. Dari Abdullah bin Umar c:
أَنَّ رَسُولَ اللهِ n رَأَى بُصَاقًا فِي جِدَارِ الْقِبْلَةِ فَحَكَّهُ
“Rasulullah n pernah melihat ludah menempel di dinding masjid, maka beliau mengoreknya.” (HR. Muslim 1/388 no. 547)
Di antara bentuk pengagungan kepada masjid, Rasulullah n melarang jual beli di dalam masjid.
Perintah mengagungkan masjid juga tampak dalam kisah seorang badui yang kencing di masjid Rasulullah n. Anas bin Malik z bercerita:
جَاءَ أَعْرَابِيٌّ فَبَالَ فِي طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ، فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ بِذَنُوبٍ مِنْ مَاءٍ فَأُهْرِيقَ عَلَيْهِ
“Seorang Arab badui datang lalu kencing di salah satu sisi masjid (Nabawi). Orang-orang pun bangkit untuk mencegahnya. Namun, Rasulullah n melarang para sahabat. Ketika sang badui selesai dari kencingnya, Rasulullah memerintahkan agar dibawakan satu ember air dan dituangkan pada tanah yang terkena kencing.” (HR. al-Bukhari no. 219 dan Muslim no. 284, dari Anas bin Malik z. Ada pula riwayat lain dari beberapa sahabat selain Anas z)
Pada sebagian riwayat kisah di atas, Rasulullah n menyampaikan nasihat kepada si Badui:
إِنَّ هَذِهِ الْمَسَاجِدَ لَا تَصْلُحُ لِشَيْءٍ مِنْ هَذَا الْبَوْلِ وَلَا الْقَذَرِ، إِنَّمَا هِيَ لِذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالصَّلَاةِ وَقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
“Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak pantas untuk dikotori dengan kencing dan kotoran. Masjid itu didirikan hanyalah untuk berzikir kepada Allah l, shalat, dan membaca al-Qur’an.”
Memakmurkan masjid dengan membangunnya dan dengan beribadah di dalamnya adalah tanda orang-orang yang beriman kepada Allah l dan hari akhir. Allah l berfirman:
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (at-Taubah: 18)

Membangun Masjid dengan Ikhlas dan Mutaba’ah
Pahala yang besar dari ibadah tidak akan terwujud melainkan jika diiringi keikhlasan dan sesuai dengan bimbingan Rasulullah n. Dua hal ini adalah syarat diterimanya suatu amalan.
Demikian pula membangun rumah Allah l. Ibadah ini wajib diiringi oleh keikhlasan dan bimbingan Rasulullah n. Dalam hadits Utsman bin Affan z disebutkan bahwa Nabi n bersabda:
مَنْ بَنَى لِلهِ مَسْجِدًا يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ …
“Barang siapa membangun masjid, dengannya ia mengharapkan wajah Allah….”
Mengingat pentingnya ikhlas, ulama memberikan peringatan ketika seorang membangun masjid agar tidak menulis namanya pada masjid yang ia bangun agar keikhlasannya lebih terjaga.
Ibnul Jauzi t berkata, “Siapa yang menulis namanya pada masjid yang ia bangun, dia jauh dari keikhlasan.” (Dinukil oleh al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi 2/222)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin t pernah ditanya tentang penamaan masjid dengan nama orang, misal Masjid Fulan bin Fulan.
Beliau menjawab, “Penamaan seperti itu mengandung sisi kebaikan dan sisi keburukan. Sisi kebaikannya, ketika manusia membaca nama masjid, manusia akan mendoakan pembangunnya, ‘Semoga Allah l mengampuni orang yang telah membangunnya. Semoga Allah l memberikan balasan yang baik kepadanya’, atau doa-doa yang semisal.
Di sisi lain, penamaan tersebut mengandung keburukan, yaitu dikhawatirkan munculnya riya. Hal ini manakala ia membuat penamaan itu agar manusia melihatnya. Di saat riya mengiringi sebuah amalan, sungguh ia akan menggugurkan amalan tersebut, sebagaimana telah sahih dalam riwayat Muslim dari Abu Hurairah z, Rasulullah n bersabda:
قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Allah l berfirman, “Aku adalah sesembahan yang tidak membutuhkan sekutu. Barang siapa melakukan suatu amalan yang ia menyekutukan selain-Ku dengan-Ku pada amalan itu, sungguh Aku tinggalkan ia bersama sekutunya.” (HR. Muslim no. 2985, dari siaran “Nurun ‘Ala ad-Darb”)
Di samping keikhlasan ketika membangun masjid, seorang harus memerhatikan bimbingan Rasulullah n dalam amalan yang agung ini. Menyelisihi bimbingan Rasulullah n berakibat tidak diterimanya amalan. Rasulullah n bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
“Barang siapa mengamalkan sebuah amalan yang tidak ada ajarannya dari kami, amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah x)
Di antara penyelisihan syariat dalam hal membangun masjid adalah membangun masjid di atas kuburan. Hal ini sering kita saksikan di tengah-tengah umat.
Menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid dan tempat ibadah adalah perbuatan Yahudi dan Nasrani yang dilaknat oleh Allah l. Rasulullah n bersabda:
لَعْنَةُ اللهِ عَلَى الْيَهُودِ وَالنَّصَارَى، اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
“Laknat Allah atas orang-orang Yahudi dan Nasrani. Mereka telah menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” (HR. al-Bukhari no. 435 dan Muslim no. 531 dari Ummul Mukminin Aisyah x)
Dalam hadits Jundub z, Rasulullah n bersabda:
أَلَا وَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ كَانُوا يَتَّخِذُونَ قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ، أَلَا فَلَا تَتَّخِذُوا الْقُبُورَ مَسَاجِدَ، فَإِنِّي أَنْهَاكُمْ عَنْ ذَلِكَ
“Ketahuilah, sungguh kaum yang sebelum kalian menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. Maka dari itu, janganlah kalian menjadikan kubur sebagai masjid. Sungguh, aku melarang kalian dari perbuatan itu.” (HR. Muslim no. 532)
Menjadikan kuburan orang saleh atau yang dianggap saleh sebagai masjid dan tempat ibadah adalah sebab yang mengantarkan pelakunya kepada syirik akbar.
Lihatlah apa yang terjadi di sekitar kita, di negeri ini. Kuburan para wali dijadikan tempat untuk beribadah, dijadikan masjid, dijadikan tempat untuk shalat, dijadikan tempat untuk i’tikaf, hingga manusia pun menggantungkan asa dan harapan kepada penghuni kubur. Mereka menangis dan khusyuk di sisi kuburan para wali. Mereka meyakini bahwa orang-orang yang mati itu akan menjadi perantara yang menyampaikan permohonan mereka kepada Allah l. Akhirnya, terjatuhlah banyak manusia ke dalam kesyirikan. Wal ‘iyadzu billah.
Ada seseorang yang dahulu pernah berziarah ke makam Sunan Kali Jaga, Kadilangu, Demak, bercerita kepada kami. Manusia demikian berdesak menanti giliran masuk ke dalam ruangan makam. Begitu masuk, mereka menangis, khusyuk, menyampaikan segala keluh kesah dan permohonan.
Tentang masjid-masjid yang dibangun di atas kubur, Ibnu Taimiyah t mengatakan, “Dibenci mengerjakan shalat di masjid-masjid tersebut, yakni yang dibangun di atas kubur para nabi, orang saleh, atau raja-raja. Dalam masalah ini, saya tidak tahu ada perbedaan pendapat (di kalangan ulama). Shalat (yang ditegakkan dalam masjid yang dibangun di atas kuburan) tersebut tidak sah karena adanya larangan dan laknat….” (Iqtidha’ash- Shirath al-Mustaqim 2/675)
Al-Imam al-Baihaqi6, seorang pemuka ulama mazhab Syafi’i, membuat sebuah bab dalam kitab beliau as-Sunan al-Kubra dengan judul bab “Larangan Shalat Menghadap Kubur”. Kemudian beliau meriwayatkan hadits melalui jalan beliau, dari sahabat Abu Martsad al-Ghanawi z yang berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n يَقُولُ : لاَ تَجْلِسُوا عَلَى الْقُبُورِ وَلاَ تُصَلُّوا إِلَيْهَا
Aku mendengar Rasulullah n bersabda, “Janganlah kalian duduk di atas kubur dan jangan jangan pula kalian shalat menghadapnya.”
Setelah menyebutkan hadits di atas, al-Baihaqi mengatakan, “(Hadits ini) diriwayatkan oleh al-Imam Muslim dalam ash-Shahih, dari al-Hasan bin ar-Rabi’, dari Ibnul Mubarak)
Semoga Allah l memberikan kemudahan kepada kaum muslimin untuk beribadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah n dengan penuh keikhlasan, mengharapkan wajah Allah l.
Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Catatan Kaki:

1 Istilah mutawatir secara bahasa berasal dari kata “tawatara” yang bermakna “silih berganti atau terus-menerus.” Hal ini seperti firman Allah l:
“Kemudian Kami utus (kepada umat-umat itu) rasul-rasul Kami berturut-turut.” (al-Mu’minun: 44)
Adapun secara istilah, hadits mutawatir adalah hadits yang diriwayatkan oleh banyak rawi yang secara kebiasaan tidak mungkin mereka bersepakat di atas kedustaan, dan berita tersebut bersandar kepada pancaindra, yakni benar-benar hasil pendengaran atau penglihatan mereka.
Adapun berita yang disandarkan pada persangkaan, khayalan, atau yang semisal itu, meskipun diriwayatkan oleh banyak manusia, bahkan diwariskan dari generasi ke generasi, tidaklah dikatakan sebagai berita mutawatir. Contohnya, keyakinan ahlul kitab bahwasanya Isa bin Maryam meninggal disalib. Allah l membantah keyakinan mereka yang batil ini dalam firman-Nya:
“Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keraguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu melainkan mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa.” (an-Nisa: 157)
2 Kitab Shalat hlm. 84 hadits ke-28.
3 Dinyatakan dha’if oleh asy-Syaikh al-Albani t. Meskipun lemah, hadits Abu Dzar z berikutnya menunjukkan kebenaran makna hadits tersebut. Wabillahit taufiq.

4 Makna pertama ini disebutkan oleh beberapa ahli tafsir, seperti al-Imam Mujahid t.

5 Ma’alimut Tanzil (Tafsir al-Baghawi).

6 Al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin al-Husain bin Ali al-Baihaqi. Beliau lahir tahun 384 H dan meninggal tahun 458 H, lima tahun sebelum wafatnya al-Khathib al-Baghdadi dan Ibnu Abdil Barr.

Berinfak dengan Harta yang Disukai

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari bin Jamal)

“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai. Apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”
(Ali Imran: 92)

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat
“Kebajikan (yang sempurna).”
Banyak ahli tafsir yang menerangkan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah surga. Penafsiran ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Amr bin Maimun, dan as-Suddi (Tafsir ath-Thabari dan al-Qurthubi).
Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa al-birr yang dimaksud adalah amalan saleh. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah n:
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ
“Sesungguhnya kejujuran mengantarkan kepada al-birr (amalan saleh), dan al-birr akan mengantarkan kepada surga.” (HR. al-Bukhari no. 5743 dari Abdullah bin Mas’ud z)
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan al-birr adalah ketaatan dan ketakwaan. Dengan demikian, maknanya adalah kalian tidak akan meraih kemuliaan agama dan ketakwaan hingga kalian bersedekah dalam keadaan kalian sehat dan butuh akan harta/materi, kalian berangan-angan kehidupan yang lebih panjang dan takut akan kemiskinan.” (Tafsir al-Qurthubi)
Yang jelas, semua penafsiran ini tidak saling bertentangan karena al-birr adalah sebuah nama yang mengumpulkan seluruh makna kebaikan, yang balasan dari seluruh kebaikan itu adalah surga. (Lihat Taisir al-Karim ar-Rahman)

“Kalian menafkahkan.”
Sebagian ulama memahami bahwa yang dimaksud nafkah di sini adalah zakat yang diwajibkan. Mujahid berkata, “Ayat ini telah di-mansukh (dihapus) dengan ayat zakat.”
Ada pula yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah sedekah atau berbagai bentuk amalan ketaatan yang lainnya. Al-Qurthubi t berkata, “Ini lebih mencakup.” (Tafsir al-Qurthubi)
Lalu beliau menyebutkan riwayat Sha’sha’ah bin Mu’awiyah yang mengatakan bahwa dia bertemu Abu Dzar z lalu berkata, “Sampaikanlah kepadaku sebuah hadits.”
Beliau menjawab, “Ya. Rasulullah n bersabda:
مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يُنْفِقُ مِنْ كُلِّ مَالٍ لَهُ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللهِ إِلاَّ اسْتَقْبَلَتْهُ حَجَبَةُ الْجَنَّةِ كُلُّهُمْ يَدْعُوهُ إِلَى مَا عِنْدَهُ. قُلْتُ: وَكَيْفَ ذَلِكَ؟ قَالَ: إِنْ كَانَتْ إِبِلًا فَبَعِيْرَيْنِ، وَإِنْ كَانَتْ بَقَرًا فَبَقَرَتَيْنِ
‘Tidaklah seorang hamba muslim menginfakkan dari setiap harta yang dimilikinya dua harta yang sepasang di jalan Allah, melainkan akan diterima oleh para penjaga pintu surga. Setiap mereka mengajak untuk masuk melalui pintunya.’
Aku kemudian bertanya, “Bagaimana caranya?” Beliau menjawab, “Jika berupa unta, sepasang unta, dan jika berupa sapi, sepasang sapi.” (HR. Ahmad 5/151, an-Nasai no. 3185, dan yang lainnya, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5774)
Al-Baidhawi t berkata, “(Yakni) nafkah berupa harta atau yang bersifat umum lainnya, seperti menggunakan kedudukan untuk menolong manusia, menggunakan jasmani untuk taat kepada Allah l, dan menggunakan hatinya untuk senantiasa berada di jalan-Nya. ”
Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah menambahkan, “Termasuk pula mengajarkan ilmu.” (Imdadul Qari, 1/294)

Tafsir Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di t menerangkan, “Ayat ini adalah anjuran dari Allah k kepada para hamba-Nya untuk berinfak di berbagai jalan kebaikan. Allah k menyatakan ‘kalian tidak akan meraih al-birr’, yaitu setiap kebaikan berupa berbagai ketaatan dan ganjaran yang mengantarkan pelakunya ke dalam surga.
“Hingga kalian menginfakkan apa yang kalian cintai,” yaitu harta-harta kalian yang berharga, yang disenangi oleh jiwa-jiwa kalian. Jika kalian lebih mendahulukan kecintaan kepada Allah l daripada kecintaan kepada harta, lalu kalian mengeluarkannya dengan tujuan menggapai keridhaan-Nya, hal itu menunjukkan keimanan yang jujur, ketaatan hati, dan juga kebenaran takwa kalian.
Termasuk dalam hal ini adalah menginfakkan harta yang bernilai, berinfak dalam keadaan orang yang berinfak tersebut membutuhkan apa yang diinfakkannya, dan berinfak dalam keadaan sehat. Ayat ini menunjukkan bahwa seorang hamba dinilai ketaatannya berdasarkan harta yang disenanginya yang dia infakkan, dan semakin berkurang pula ketaatannya jika infaknya semakin berkurang. ” (Taisir al-Karim ar-Rahman)
Ath-Thabari t menjelaskan dalam Tafsir-nya, “Wahai kaum mukminin, kalian tidak akan mencapai al-birr—al-birr adalah pemberian dari Allah l yang dikehendaki oleh para hamba dengan amalan ketaatan mereka kepada-Nya, beribadah, dan berharap kepada-Nya—yaitu anugerah Allah k kepada kalian dengan dimasukkannya kalian ke dalam jannah-Nya dan dipalingkan dari siksaan-Nya.
Oleh karena itu, banyak ahli tafsir yang menjelaskan bahwa al-birr yang dimaksud oleh ayat ini adalah al-jannah (surga), karena kebaikan Rabb kepada para hamba-Nya di akhirat adalah kemuliaan yang Dia berikan kepada mereka dengan memasukkan mereka ke dalam al-jannah. ” (Tafsir ath-Thabari)
Abu Bakr al-Warraq t berkata, “Ayat ini memberikan bimbingan kepada mereka untuk bersikap dermawan. Maknanya adalah kalian tidak akan meraih kebaikan-Ku untuk kalian kecuali jika kalian berbuat baik kepada saudara kalian serta berinfak kepada mereka dari harta dan kedudukan kalian. Jika kalian melakukan hal itu, kalian akan mendapatkan kebaikan dan kasih sayang-Ku.” (Tafsir al-Qurthubi)
Ayat ini semakna dengan firman-Nya:
“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (al-Insan: 8)
“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)
Adapun firman-Nya:
“Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 273)
Ayat ini sama dengan firman Allah l:
“Dan apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nazarkan, sesungguhnya Allah mengetahuinya. Orang-orang yang berbuat zalim, tidak ada seorang penolong pun baginya.” (al-Baqarah: 270)
Al-Allamah as-Sa’di t berkata, “Allah l mengabarkan bahwa apa pun yang diinfakkan atau disedekahkan, atau nazar orang yang bernazar, sesungguhnya Allah l mengetahui hal itu. Kandungan makna ilmu Allah l menunjukkan bahwa Dia membalasnya dan tidak menyia-nyiakan sedikit pun apa yang ada di sisi-Nya. Dia k mengetahui apa yang dilakukan seorang hamba berupa niat yang baik atau buruk.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Sikap Salaf dalam Mengamalkan Ayat Ini
Ayat ini dipahami oleh para ulama salaf dari generasi terbaik umat ini secara zahir sehingga mereka berusaha menginfakkan harta yang mereka senangi. Bahkan, harta tersebut adalah harta yang paling mereka sukai.
Diriwayatkan oleh an-Nasai, dari sahabat Anas bin Malik z, ia berkata, Ketika ayat ini turun:
Abu Thalhah berkata, “Sesungguhnya Rabb kami meminta kami untuk menginfakkan harta-harta kami. Aku mempersaksikan engkau, wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menjadikan tanahku ini untuk Allah l.” Rasulullah n bersabda, “Peruntukkanlah tanahmu untuk kerabatmu, untuk Hassan bin Tsabit dan Ubai bin Ka’b.” (HR. an-Nasai no. 3602 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani)
Diriwayatkan pula oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari Anas bin Malik z, ia berkata, “Abu Thalhah z adalah seorang dari kalangan Anshar yang paling banyak hartanya di Madinah berupa pohon kurma. Harta yang paling ia senangi adalah kebun kurma Bairaha’, yang menghadap ke arah masjid. Rasulullah n terkadang masuk ke dalamnya dan minum air yang segar darinya.”
Anas z mengatakan bahwa tatkala turun firman Allah l:
Abu Thalhah pun menghadap Rasulullah n lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah k berfirman:
dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’. Sungguh, ia telah menjadi sedekah karena Allah l. Aku mengharap ganjaran dan simpanan kebaikan darinya di sisi Allah k. Salurkanlah, wahai Rasulullah, sesuai dengan pandangan yang Dia l berikan kepadamu.”
Rasulullah n lalu bersabda, “Luar biasa. Itu adalah harta yang menghasilkan keuntungan besar. Itu adalah harta yang menghasilkan keuntungan besar. Sungguh, aku telah mendengar apa yang engkau katakan. Aku berpandangan agar engkau menyalurkannya kepada kerabatmu.” Abu Thalhah berkata, “Saya akan melakukannya, wahai Rasulullah.” Abu Thalhah pun menyalurkannya kepada karib kerabatnya dan anak-anak pamannya. (HR. al-Bukhari no. 1392 dari Anas bin Malik z)
Demikian pula diriwayatkan bahwa Zaid bin Haritsah z menginfakkan harta yang paling disukainya berupa seekor kuda yang diberi nama Sabal.
Abdullah bin Umar c memerdekakan budak yang disukainya, yaitu Nafi’, yang dahulu dia beli dari Abdullah bin Ja’far seharga seribu dinar. Shafiyyah bintu Ubaid berkata, “Aku menyangka bahwa dia mengamalkan firman Allah l:
Diriwayatkan oleh Syibl, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, ia berkata, “Umar bin al-Khaththab z menulis surat kepada Abu Musa al-Asy’ari z agar membeli seorang budak wanita dari tawanan Jalula’ pada saat ditaklukkannya daerah Mada’in Kisra.” Sa’d bin Abi Waqqash berkata, “Umar memanggil budak wanita tersebut. Setelah melihatnya, Umar pun terpesona. Lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah k berfirman:
Lalu Umar pun membebaskannya.”
Diriwayatkan pula dari Sufyan ats-Tsauri bahwa budak wanita Rabi’ bin Khutsaim berkata, “Jika datang kepada beliau (Rabi’) seorang pengemis, dia berkata kepadaku, ‘Berikan kepadanya gula,’ karena Rabi’ menyukai gula.” Sufyan berkata, “Dia mengamalkan firman Allah k:
Diriwayatkan pula bahwa Umar bin Abdul Aziz t membeli beberapa karung gula lalu menyedekahkannya. Lalu beliau ditanya, “Mengapa engkau tidak bersedekah dengan uangnya saja?” Beliau menjawab, “Gula adalah harta yang paling aku sukai, maka aku ingin bersedekah dengan apa yang aku sukai.”
Al-Hasan al-Bashri t berkata, “Sesungguhnya kalian tidak akan meraih apa yang kalian sukai melainkan dengan meninggalkan apa yang kalian senangi. Kalian juga tidak akan menggapai angan-angan kalian melainkan dengan bersabar atas apa yang kalian benci.” (Lihat Tafsir al-Qurthubi)
Diriwayatkan pula dari Ibnu Umar c bahwa dia berkata bahwa Umar bin Khaththab z pernah berkata kepada Rasulullah n, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seratus bagian di Khaibar yang aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih aku sukai darinya. Aku ingin menyedekahkannya.”
Rasulullah n bersabda:
احْبِسْ أَصْلَهَا وَسَبِّلْ ثَمْرَتَهَا
“Wakafkan tanahnya dan sedekahkan hasilnya!” (HR. an-Nasai no. 3603, Ibnu Majah no. 2397 dan dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Mencari Sedekah yang Lebih Afdal
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah t menjelaskan ayat ini, “Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada Allah l dengan sesuatu yang paling disenanginya, itu lebih utama daripada yang lainnya, meskipun sama nilainya. Sesungguhnya, memberi hadiah dan berkurban yang merupakan jenis ibadah jasmani dan materi, tidaklah sama seperti sedekah biasa. Bahkan, ketika dia menyembelih hewan yang paling berharga dari hartanya, hal itu lebih dicintai Allah k. Sebagian salaf berkata, ‘Janganlah salah seorang kalian menghadiahkan sesuatu untuk Allah l yang dia malu jika dia menghadiahkannya kepada seseorang yang dia muliakan.’
Allah k berfirman:
‘Wahai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu nafkahkan darinya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memicingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Mahakaya lagi Maha Terpuji.’ (al-Baqarah: 267)
Ada dua orang anak Adam yang mempersembahkan sebuah harta untuk Allah l. Disebutkan bahwa salah satu dari keduanya bersedekah dengan hartanya yang bernilai, sedangkan yang lain bersedekah dengan hartanya yang tidak bernilai. ” (Majmu’ Fatawa, 31/251)
Wallahu a’lam.

 

Tanya Jawab Ringkas edisi 75

Istri Memaksa Suami Tinggal Dekat Keluarganya

Bagaimana hukumnya seorang wanita yang memaksa suaminya tinggal di dekat keluarganya dengan alasan ingin berbakti dengan keduanya? Namun, suami tidak setuju dengan alasan tempat tersebut jauh dari ilmu syar’i. Tempat tinggal suami sudah dekat dengan majelis ilmu. Sampai-sampai si istri terkadang memboikot suami. Saya minta penjelasannya. Sebelumnya saya ucapkan jazakallah khairan.
+6281383xxxxxx

Hak suami lebih besar atas istri daripada hak orang tuanya, dan istri wajib taat kepada suami dalam hal yang ma’ruf (baik). Jika harus memilih salah satunya maka dia harus memilih suami. Istri tidak bisa memaksa suami berbuat sesuatu. Dalam kasus di atas, istri harus bersama suami dan dia bisa melakukan birrul walidain walaupun tidak dekat rumah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Hukum Bekerja di Kantor Pajak
Ana ingin bertanya tentang hukum bekerja di kantor pajak? Apakah kita boleh makan di rumah orang yang bekerja di kantor pajak (misalnya kita sedang bertamu)? Apakah hukum bekerja di kantor pajak sama dengan bekerja di bank? Mohon jawabannya segera karena ana sangat membutuhkannya. Afwan sebelumnya.
Jazakumullah khair.
+6285762xxxxxx

Bekerja di kantor pajak hukumnya sama dengan kerja di bank. Harta mereka haram atas mereka pribadi, namun halal bagi yang lain. Hanya saja, lebih wara’ tidak memakan harta mereka.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Abang Becak Tidak Puasa Ramadhan, Qadha atau Tidak?
Assalamu’alaikum. Ustadz, aku sebagai abang becak waktu Ramadhan jika sedang di rumah berpuasa. Akan tetapi, kalau sedang kerja tidak puasa karena tidak kuat. Bagaimana hukumnya, mengganti atau tidak? Mohon dijawab.
+62274xxxxxxx

Wa’alaikumus salam warahmatullah.
Anda tetap wajib qadha (mengganti), puasa tidak gugur dengan alasan tidak kuat. Mengingat profesi Anda sebagai abang becak, lebih baik saat bekerja juga diupayakan puasa. (Caranya, saat Ramadhan bekerja sekadarnya untuk mencukupi kebutuhan hari itu, lalu berhenti kerja dan tetap berpuasa.) Hal itu lebih ringan daripada puasa qadha di luar Ramadhan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi
Wanita Berjilbab Tetapi Memakai Celana Panjang
Apa hukum wanita yang berjilbab dengan bawahan memakai celana panjang? Umumnya celana panjang dipakai laki-laki. Dalam hadits, Abu Hurairah z mengatakan, “Rasulullah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita & wanita yang memakai pakaian laki-laki.” (HR. Abu Dawud & Ibnu Majah)
Agung, Sragen
+6287836xxxxxx
Jika celana panjang khusus wanita, itu lebih afdal karena lebih tertutup. (Hanya saja, ia memakainya di dalam baju kurung yang lebar dan memenuhi syarat jilbab yang syar’i. Jika ia hanya memakai celana panjang saja tanpa baju kurung, ini tidak diperbolehkan karena tetap akan menampakkan bentuk aurat.)
Adapun jika memakai celana laki-laki, haram. Ia terkena hadits tersebut. Di masyarakat kita sudah ma’ruf (dikenal) perbedaan antara celana wanita dan celana laki-laki.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi
Menjamak Shalat Fardhu Lebih dari Dua Waktu Shalat
Bismillah. Saya mau tanya, apakah Rasulullah n pernah menjamak shalat fardhu lebih dari dua waktu shalat? Jazakallahu khair atas jawabannya.
+6285768xxxxxx

Pernah, ketika perang Khandaq beliau shalat Ashar, Maghrib dan Isya pada waktu maghrib. Namun, ini bukan sunnah bagi umatnya melainkan kondisi darurat. Itu pun sebelum turun syariat shalat khauf.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Mengganti Nama dengan yang Bagus
Bismillah. Ana mau tanya, apa hukum mengganti nama dari nama jelek menjadi nama yang lebih bagus?
+6285696xxxxxx

Itu adalah sunnah Rasulullah n.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Shalat di Masjid yang Dibangun dengan Uang Riba
Apa hukum memperbaiki masjid dengan menggunakan uang hasil riba dan apa hukum shalat di dalamnya?
+6285696xxxxxx

Uang riba tidak boleh dipakai untuk sesuatu yang bersifat ibadah, tetapi untuk hal umum. Shalatnya tetap sah karena tidak ada keterkaitan antara ibadah shalat dengan perbaikan masjid dan uang riba. Istilah ulama, ‘jihatun munfakkah’. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Kemiripan Anak dengan Orang Tuanya
Bagaimana seorang anak yang masih dalam rahim ibunya kalau lahir terkadang mirip ayahnya, terkadang mirip ibunya? Juga, bagaimana anak tersebut bisa menjadi laki-laki atau perempuan? Apakah ada proses tertentu atas dasar sunnatullah? Mohon dijelaskan. Jazakallahu khairan atas jawabannya.
+6281902xxxxxx

Ada prosesnya sebagaimana dalam hadits. Yang lebih dahulu ‘keluar’ itu proses penentuan jenis kelamin, sedangkan yang lebih ‘banyak’ itu proses penentuan kemiripan.
Apabila laki-laki ‘keluar’ dahulu dan lebih ‘banyak’ maka bayinya laki-laki dan mirip dengan bapak. Apabila wanita ‘keluar’ dahulu dan lebih ‘banyak’ maka bayinya perempuan dan mirip dengan ibu. Apabila laki-laki ‘keluar’ lebih dahulu namun wanita lebih ‘banyak’ maka bayinya laki-laki dan mirip dengan ibu. Apabila wanita ‘keluar’ dahulu namun laki-laki lebih ‘banyak’ maka bayinya perempuan dan mirip dengan ayah. Semua itu dengan takdir dari Allah l, manusia hanya berusaha. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bergaul dengan Masyarakat atau Uzlah?
Bismillah. Saya mau tanya, bagaimana sikap kita yang menjadi kaum minoritas di masyarakat, apakah kita mengucilkan diri atau bersosialisasi dengan masyarakat tersebut? Sementara itu, kita telah mengetahui kebiasaan/tradisi yang ada sekarang semakin jauh dari tuntunan agama/syariat. Jazakallah khairan.
+6283863xxxxxx

Pada kondisi masyarakat sekarang, kita belum diharuskan ‘uzlah kulliyyah (pengasingan diri secara total dari masyarakat) karena masih ada kesempatan untuk berdakwah. Yang dilakukan adalah ‘uzlah juz’iyyah, yakni kita tidak mengikuti kegiatan masyarakat yang melanggar syariat dan tetap membaur dengan mereka dalam hal-hal mubah atau syar’i. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Menshalati Jenazah Orang yang Gila Sebelum Baligh
Bismillah. Ada orang gila meninggal tetapi dia gila sebelum baligh. Bagaimana hukum menshalatinya?
+623216xxxxxx

Tetap dishalatkan jenazahnya selagi dia muslim, hidup di tengah-tengah muslimin. Adapun nanti di akhirat, urusannya diserahkan kepada Allah l.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Lele Haram karena Mati Dipukul?
Saya dapat info dari kawan saya bahwa sesuai dengan surat al-Maidah ayat 3 bahwa termasuk yang dilarang untuk dimakan adalah hewan yang mati dipukul. Jadi, lele yang matinya dipukul, menurut kawan saya, hukumnya haram karena kalau kita beli lele di pasar biasanya supaya mati kepalanya dipukul. Bagaimana menurut ustadz, supaya kami merasa jelas dan tidak ragu-ragu. Terima kasih.
+6281365xxxxxx

Ayat tersebut secara umum berlaku untuk hewan yang disembelih, jika dengan cara dipukul maka haram karena tidak sesuai dengan cara penyembelihan yang syar’i. Adapun ikan dengan segala jenisnya hukumnya halal, dengan cara apa pun prosesnya karena bangkai ikan adalah halal. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Wanita Menumpang Kendaraan
Bismillah. Apa hukumnya apabila ada seorang wanita ajnabi (asing) yang mau ikut menumpang kendaraan seseorang, padahal di kendaraan tersebut tidak ada orang ketiga, yang ada hanya seorang sopir? Jazakumullahu khairan.
+6281313xxxxxx

Jelas tidak boleh karena termasuk khalwat (berduaan) yang dilarang, juga fitnah (godaan) besar. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Azan di Telinga Anak yang Baru Lahir
Ustadz, apa hukum azan di telinga anak yang baru lahir?
+6285292xxxxxx

Pendapat yang rajih adalah hadits tentang masalah tersebut tidak ada yang sahih sehingga tidak disyariatkan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Walimah Kelahiran selain Aqiqah
Adakah walimah kelahiran selain aqiqah?
+6285292xxxxxx

Tidak ada, yang disyariatkan hanya aqiqah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Keguguran
Bismillah. Bagaimana hukumnya bagi wanita yang keguguran, apakah seperti nifas atau istihadhah? Adakah batasan umur kegugurannya? Bagaimana jika seorang wanita yang tidak teratur haidnya, kadang sampai berbulan-bulan tidak haid, kemudian kata dokter ada penebalan dinding rahim. Ketika terjadi pendarahan, apakah ia dihukumi haid atau istihadhah? Jazakumullah khairan.
+628132xxxxxx

Menurut asy-Syaikh Ibnu Utsaimn, jika gugur sebelum ada ruh, bukan nifas tetapi darah rusak. Untuk kasus kedua, dilihat sifat darahnya. Jika sama seperti darah haid, itu adalah haid. Jika tidak, itu adalah pendarahan biasa. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Memegang Barang Najis Membatalkan Wudhu?
Afwan, mau tanya. Memegang barang najis membatalkan wudhu atau tidak?
6282136xxxxxx

Tidak membatalkan wudhu, tetapi harus disucikan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Wanita Haid Menyentuh Mushaf
Apa hukum wanita haid menyentuh mushaf? Jazakumullahu khairan.
+6285342xxxxxx

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini. Pendapat yang rajih (kuat) adalah boleh, namun yang afdal tanpa memegang mushaf. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Meminjam Uang di Bank karena Darurat
Afwan mau tanya. Meminjam uang di bank karena keadaan yang sangat darurat/mendesak untuk membayar utang, bagaimana hukumnya? Mohon dijawab.
+6281354xxxxxx

Tetap tidak boleh karena masih mungkin mencari pinjaman kepada pihak lain tanpa riba.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Aqiqah ketika Bayi Masih di RS
Ustadz, kalau bayi yang baru dilahirkan bermasalah sehingga harus dirawat intensif di RS (perkiraan bisa satu minggu lebih), pelaksanaan aqiqah jalan terus? Bagaimana dengan cukur rambutnya? Jazakumullahu khairan.
+6281328xxxxxx

Jalan terus karena aqiqah terkait dengan kelahiran anak. Yang bisa dilakukan, kerjakan terlebih dahulu. Yang lain menyusul. Atau aqiqah ditunda sampai semua urusan selesai, karena menurut pendapat jumhur ulama, aqiqah boleh dilakukan setelah hari ketujuh kelahiran.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Aqiqah Bayi yang Meninggal sebelum Berusia Tujuh Hari
Bagaimana kalau bayi sebelum umur tujuh hari meninggal, apakah diaqiqahi?
+6281328xxxxxx

Menurut pendapat jumhur, masih sunnah diaqiqahi karena aqiqah terkait dengan kelahiran bayi bukan karena hari ketujuh.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Tayamum Hanya untuk Sekali Shalat?
Bagaimana hukum orang sakit yang tidak bisa mandi berbulan-bulan, apakah cukup berwudhu atau tayamum saja? Setahu kami, tayamum itu hanya untuk tiap-tiap shalat (wajib), apakah boleh sekali tayamum untuk shalat tahiyatul masjid, dilanjutkan qabliah, dilanjutkan shalat fardhu, dilanjutkan ba’diah? Mohon penjelasan.
+6285756xxxxxx

Selama tidak bisa memakai air, dia melakukan tayamum dan bisa sebagai ganti wudhu untuk semua ibadah selama tidak batal. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Jazakallah khairan, ustadz. Apa setiap shalat fardhu, sunnah qabliah, dan lainnya harus tayamum untuk setiap shalat tersebut? Tampaknya akan sibuk dan orang akan berpikiran lain, apalagi suasananya dalam masjid. Barakallahufikum.
+6285756xxxxxx

Kaidahnya, tayamum menduduki posisi wudhu, selama tidak batal maka bisa untuk semua ibadah yang antum sebutkan. Tidak harus tayamum pada tiap ibadah. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sutrah di Mihrab yang Besar
Ustadz, mohon penjelasannya. Masjid kami ukuran mihrabnya sekitar 4x5m. Sewaktu shalat jamaah, apakah harus dipasang sutrah lagi untuk imam?
+6281541xxxxxx

Jika shalat di luar mihrab, tembok cukup sebagai sutrah. Namun, jika di dalam mihrab dan imam berdiri jauh dari tembok, perlu diberi sutrah lagi. Prinsipnya, harus dekat dengan sutrah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Shalat Sunnah Rawatib bagi Musafir
Benarkah seorang musafir tidak disunnahkan melakukan shalat sunah rawatib?
Abu Yusuf—Lampung
+6283168xxxxxx

Ada khilaf tentang hukum shalat sunnah bagi musafir. Yang rajih (kuat) adalah pendapat jumhur bahwa musafir boleh shalat sunnah rawatib atau yang lainnya karena Rasulullah n melakukan shalat witir dan shalat sunnah di atas kendaraan saat safar. Yang afdal tidak mengerjakannya, selain qabliah subuh dan witir. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
al-Ustadz Qomar Suaidi
Shalat Ied Melepas Alas Kaki
Ketika kita shalat ied di lapangan dan berbaur masyarakat, mana yang lebih baik, kita beralas kaki atau melepasnya seperti mereka?
+6283183xxxxxx

Dalam kondisi demikian lebih baik tanpa alas kaki karena mayoritas muslimin belum memahami sunnah shalat memakai alas kaki (sandal). Sebagaimana kaidah, menolak mafsadah lebih didahulukan daripada mendatangkan maslahat.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Shalat Ied di Masjid
Shalat ied bersama penguasa/pemerintah adalah sunnah. Bagaimana apabila penguasa shalat di masjid dan bukan karena hujan, apakah kita tetap ikut ataukah bergabung dengan muslimin yang shalat di lapangan?
+6283183xxxxxx

Selama penguasa memberi kebebasan kepada rakyat, kita memilih yang sunnah, yaitu shalat di lapangan. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Membunuh Cecak & Tokek
Apakah membunuh cecak dan tokek disyariatkan?
+6283183xxxxxx

Ya, berdasarkan hadits Aisyah x dalam masalah ini. Lihat kitab Riyadhus Shalihin.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bisnis Valas
Saat ini marak orang tertarik bisnis valuta asing dengan keuntungan 10% dari modal, dengan cara menyerahkan sejumlah uang kepada orang lain tanpa tahu proses pembelian valuta tersebut. Setiap bulan kita menerima 10% dari modal kita. Bagaimana hukumnya? Jazakumullah khairan.
Abu Yusuf—Timika
+6281354xxxxxx

Jual beli valas disyaratkan harus serah terima di tempat. Sistem online tidak boleh karena terkena riba nasiah. Adapun hakikat akad di atas adalah mudharabah. Penetapan laba dengan nominal atau persentase tertentu adalah riba karena ada unsur pertaruhan dengan spekulasi tinggi. Yang benar, laba menggunakan persentase sesuai kesepakatan tergantung untung rugi usaha yang dijalankan. Lihat masalah mudharabah di majalah Asy-Syariah edisi 28 dan 53. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Hukum Mencabut Uban
Saya selalu disuruh ibu untuk mencabuti ubannya. Apakah ada hukum mencabuti rambut yang telah beruban? Salahkah jika saya beranggapan bahwa baiknya dibiarkan tumbuh begitu saja. Syukran.
+6285299xxxxxx

Ada hadits yang memakruhkan mencabut uban, lihat kitab Riyadhus Shalihin. Ada juga syariat mengubah rambut putih dengan semir selain warna hitam. Lihat juga kitab yang sama. Waffaqakumullah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Contoh Kasus Pembagian Warisan
Seorang bapak meninggal dengan meninggalkan sejumlah harta. Ahli warisnya terdiri dari istri, dua anak perempuan, dua anak laki-laki, seorang saudara perempuan sekandung dan dua saudara laki-laki sekandung. Bagaimana pembagian harta waris tersebut? Jazakallahu khair.
+6285868xxxxxx

Istri mendapatkan 1/8 karena ada anak. Saudara dan saudari gugur karena adanya anak laki-laki. Sisa harta dibagi untuk anak laki-laki dan perempuan, dengan anak laki-laki mendapatkan dua kali lipat dari bagian anak perempuan.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Mau Jum’atan, Hujan Deras
Hujan deras, Jumatan hampir mulai? Apakah tetap ke masjid atau di rumah? Jazakumullah khairan wa barakallahu fikum.
0811xxxxxx

Ada rukhshah untuk tidak jumatan dan shalat dhuhur di rumah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Menunda Kehamilan
Bismillah, ana mau tanya bolehkah menunda kehamilan dengan cara mengeluarkan cairan sperma bukan pada tempatnya sewaktu berhubungan dengan istri. Jazakallahu khairan.
Abu Habibah—Solo
+6281393xxxxxx

Boleh karena pernah dilakukan di zaman sahabat, tetapi harus dengan ridha istri karena dia juga punya hak dapat kenikmatan.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bacaan Shalat Sambil Memegang Mushaf
Bismillah, bolehkah kita shalat sambil memegang mushaf, karena kita ingin membaca surat yang panjang tetapi kita belum hafal.
+6281311xxxxxx

Yang afdal adalah tidak, karena kita diminta membaca al-Qur’an yang mudah bagi kita dan ada larangan takalluf (membebani dari sesuatu yang belum mampu), tetapi kalau ada yang melakukan tidak diingkari karena ada sebagian salaf yang melakukannya.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Waktu Shalat Istikharah
Bismillah. Apakah shalat istikharah harus dikerjakan pada malam hari? Jazakallahu khairan wa barakallahu fik.
+6285641xxxxxx

Tidak harus, tetapi kapan saja asalkan bukan waktu terlarang untuk shalat.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Penyebab Perbedaan Penentuan Derajat Hadits
Pada edisi no. 61 dijelaskan kegunaan ilmu sanad, yaitu untuk menilai suatu hadits derajatnya sahih atau tidak. Tetapi, di rubrik “Hadits” hlm. 32, para ulama ahlul hadits berbeda pendapat dalam hal menentukan derajat hadits tersebut. Ada yang menilainya sahih, ada yang menilainya lemah. Apa penyebabnya?
+6281327xxxxxx

Penyebabnya banyak. Di antaranya perbedaan pendapat tentang sebagian ilmu musthalah, perbedaan pendapat dalam hal menilai seorang rawi, kadar ilmu dalam hal mencari penguat-penguat hadits dari sanad lain, dll. Masalah ini tergolong ijtihadiyah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin
Keuntungan Koperasi
Apakah halal uang keuntungan koperasi yang punya usaha simpan pinjam berbunga dan fotokopi? Usaha fotokopinya sangat laris tiap hari karena di lingkungan kantor pemerintah.
+6281327xxxxxx

Terjadi percampuran keuntungan, bisa diambil keuntungan tersebut dan harus dibersihkan dengan memperbanyak infak dan sedekah.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Menjadi Imam di Rumah setelah Shalat Berjamaah di Masjid
Bismillah, bolehkah setelah shalat berjamaah di masjid kita pulang terus menjadi imam bagi istri? Kalau boleh, berarti kita shalat dua kali. Jazakumullahu khairan.
+6281311xxxxxx

Boleh, shalat yang pertama dapat pahala wajib, sedangkan yang kedua dapat pahala sunnah, dengan contoh tindakan sahabat Mu’adz z.
al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Sumbangan untuk Perayaan Maulid
Bismillah. Setiap tahun di desa kami diadakan acara peringatan Maulid Nabi n dan Isra Mi’raj. Warga dimintai sumbangan uang. Apakah acara ini bid’ah? Bagaimana yang memberi sumbangan? Jazakumullahu khairan.
+628152xxxxxxx

Sumbangan tersebut tidak diperbolehkan karena acara tersebut adalah acara yang bid’ah.
al-Ustadz Qomar Suaidi

Tobat dari Zina
Seseorang ingin bertaubat dari perbuatan zinanya yang mengharuskan dia dirajam atau dicambuk. Siapa yang berhak melakukannya, mengingat di negara kita tidak ditegakkan syariat Islam? Bagaimana cara dia bertobat? Mohon jawaban dalam edisi berikutnya.
+628565xxxxxxx

Hendaknya dia diam dan bertobat dengan sungguh-sungguh, serta memperbanyak amal saleh.
al-Ustadz Qomar Suaidi

 

 

Mengambil Kembali Harta Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Seseorang yang telah mewakafkan sudah tidak memiliki harta tersebut. Oleh karena itu, harta yang telah sah ditetapkan sebagai wakaf tidak boleh diambil kembali. Bahkan, harta tersebut tidak boleh pula diambil kembali oleh yang mewakafkannya meskipun dengan mengganti uang seharga tanah tersebut. (Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 11930)
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan, “Wakaf termasuk akad yang teranggap sah dengan sekadar ucapan sehingga tidak boleh dibatalkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam sabda Nabi n (yang artinya), ‘Tidak boleh dijual bendanya, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan.’ Al-Imam at-Tirmidzi t berkata, ‘Pengamalan hadits ini dilakukan oleh ahlul ilmi’.”
Begitu pula, seandainya harta yang diwakafkan itu belum ada yang memanfaatkannya dan orang yang mewakafkan dalam keadaan membutuhkannya di masa tuanya, wakaf tetap tidak bisa diambil kembali.
Dalam Fatwa al-Lajnah no. 1307, disebutkan sebuah pertanyaan tentang hukum mengambil kembali sebagian atau seluruh tanah yang telah diwakafkan untuk permakaman karena setelah kurang lebih empat belas tahun belum ada yang dimakamkan di tanah tersebut. Padahal tanah yang diwakafkan sangat luas. Sementara itu, si wakif sudah pensiun dan tidak memiliki harta selain tanah dan rumah yang ditempatinya beserta seluruh keluarganya.
Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah menjawab, “Tidak boleh untuk mengambil kembali apa yang telah Anda wakafkan, baik seluruh tanah maupun sebagiannya karena tanah tersebut telah keluar dari kepemilikan Anda dengan sebab wakaf, untuk dimanfaatkan sesuai dengan maksud dari wakaf tersebut. Apabila dibutuhkan tanah tersebut untuk pemakaman di wilayah yang telah ditetapkan, itulah yang diinginkan. Akan tetapi, jika tidak digunakan, tanah tersebut bisa dijual dan nilainya bisa digunakan untuk dijadikan permakaman di tempat lain.
Semua ini dilakukan dengan sepengetahuan hakim di daerah tempat tanah wakaf tersebut berada. Lemahnya (keadaan ekonomi) Anda setelah Anda pensiun tidak bisa menjadi alasan dibolehkannya Anda mengambil kembali tanah yang telah Anda wakafkan.
Mohonlah kepada Allah l agar memberikan pahala kepada Anda dan menggantikan untuk Anda sesuatu yang lebih baik dari apa yang telah Anda infakkan. Mudah-mudahan Allah l memberikan taufik-Nya. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan oleh Allah l kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan orang-orang yang mengikutinya.”
Begitu pula seandainya seseorang mewakafkan mushaf, buku, dan semisalnya ke suatu masjid, namun kemudian masjid tadi roboh dan tidak bisa dimanfaatkan lagi. Mushaf dan benda lainnya yang telah diwakafkan tersebut diberikan ke masjid lain. Benda-benda tersebut tidak boleh diambil oleh orang yang mewakafkannya untuk dipakai sendiri, diberikan ke orang lain, dan semisalnya.
Dalam Fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 18644 disebutkan sebuah pertanyaan bahwa ada seorang imam masjid yang ketika masjidnya tidak bisa dipakai lagi, dia membawa buku-buku beserta rak/lemarinya ke rumahnya agar tetap terjaga dan tidak rusak. Ia akan mengembalikannya ke masjid tersebut ketika sudah bisa digunakan lagi.
Apabila masjid itu terus dalam keadaan tidak dipakai dalam jangka waktu yang lama, apakah buku-buku tersebut boleh diberikan ke masjid lain ataukah hanya boleh diberikan untuk masjid tersebut sehingga harus menunggu sampai masjid tersebut bisa dipakai kembali?
Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah ad-Daimah menjawab, “Apabila masjid tersebut diharapkan masih bisa diperbaiki dan bisa dipakai kembali oleh orang-orang untuk shalat, apa saja yang berkaitan dengan masjid tersebut, termasuk perabot dan buku-buku, dijaga sampai sempurnanya perbaikan masjid. Setelah itu, barang-barang itu diletakkan kembali di masjid tersebut. Hal ini karena benda-benda tersebut adalah wakaf yang dikhususkan untuk masjid tersebut.
Namun, jika tidak bisa diperbaiki dan tidak ada harapan bisa dipakai lagi untuk shalat, barang-barang wakaf yang dikhususkan untuk masjid tersebut dipindahkan ke masjid lain.”
Dengan demikian, apabila wakaf benar-benar telah ditetapkan, tidak boleh dijual. Bahkan, benda tersebut tidak boleh digunakan melainkan sesuai dengan yang disyaratkan oleh wakif, selama tidak ada maslahat syar’i yang lebih besar dari syarat yang ditetapkan oleh wakif. Jika demikian keadaannya, perlu ditanyakan kepada ahlul ilmi atau hakim. Saran yang mereka sampaikan diikuti.
Berbeda halnya jika benda tersebut sama sekali sudah tidak dimanfaatkan, tidak bisa ditempati, dan tidak bisa disewakan, ia boleh dijual atau ditukar dengan yang semisal di tempat lain. (Lihat adh-Dhiya’ al-Lami’)

Catatan
Tidak diperbolehkannya membatalkan wakaf ini apabila telah ditetapkan sebagai wakaf pada saat hidupnya si wakif. Jika si wakif menetapkan berlakunya wakaf tersebut setelah wafatnya, hal itu dihukumi sebagai wasiat. Dengan demikian, selama orang tersebut masih hidup, dia masih bisa mengubah wasiatnya. Bahkan, ia boleh membatalkan wakaf yang ditetapkan berlakunya setelah wafatnya. Wallahu a’lam. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 18494)

Keistimewaan Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Di antara keistimewaan wakaf dibandingkan dengan sedekah dan hibah adalah dua hal berikut ini.
1. Terus-menerusnya pahala yang akan mengalir. Ini adalah tujuan wakaf dilihat dari sisi wakif (yang mewakafkan).
2. Terus-menerusnya manfaat dalam berbagai jenis kebaikan dan tidak terputus dengan sebab berpindahnya kepemilikan. Ini adalah tujuan wakaf dilihat dari kemanfaatannya bagi kaum muslimin.
Jadi, dalam hal ini wakaf memiliki kelebihan dari sedekah lainnya dari sisi terus-menerusnya manfaat. Bisa jadi, seseorang menginfakkan hartanya untuk fakir miskin yang membutuhkan dan akan habis setelah digunakan. Suatu saat dia pun akan mengeluarkan hartanya lagi untuk membantu orang miskin tersebut. Bisa jadi pula, akan datang fakir miskin yang lainnya, namun pulang tanpa mendapatkan apa yang diinginkannya.
Adalah kebaikan dan manfaat yang besar bagi masyarakat ketika ada yang mewakafkan hartanya dan hasilnya diberikan untuk fakir miskin. Bendanya tetap ada, namun manfaatnya terus dirasakan oleh yang membutuhkan.
Di antara keistimewaan wakaf adalah terus-menerusnya manfaat hingga generasi yang akan datang tanpa mengurangi hak atau merugikan generasi sebelumnya. Demikian pula, wakif akan mendapat pahala yang terus-menerus dan berlipat-lipat.
Oleh karena itu, kita dapatkan para sahabat adalah orang-orang yang sangat bersemangat mewakafkan hartanya. Kita bisa melihat bagaimana sahabat Umar bin al-Khaththab z, sebagaimana dalam hadits yang sudah disebutkan. Beliau memiliki tanah yang sangat bernilai bagi beliau karena hasil dan manfaatnya yang begitu besar. Namun, beliau menginginkan harta itu untuk akhiratnya.
Beliau menghadap Nabi n untuk meminta petunjuk tentang hal tersebut. Nabi n menyarankan agar Umar menyedekahkannya. Sedekah tanpa dijual, ditukar, atau dipindah, yaitu dengan memanfaatkan tanah tersebut dan hasilnya disedekahkan untuk fakir miskin dan yang lainnya, sedangkan tanahnya ditahan. Tanah itu tidak bisa diambil lagi oleh pemiliknya, tidak boleh dibagikan untuk ahli warisnya, serta tidak boleh dijual dan dihibahkan.
Termasuk wakaf yang dilakukan oleh para sahabat adalah apa yang disebutkan oleh sahabat Utsman bin ‘Affan z berikut. Ketika Nabi n datang di kota Madinah dan tidak menjumpai air yang enak rasanya selain air sumur yang dinamai Rumah, beliau n bersabda:
مَنْ يَشْتَرِي بِئْرَ رُومَةَ فَيَجْعَلَ دَلْوَهُ مَعَ دِلَاءِ الْمُسْلِمِينَ بِخَيْرٍ لَهُ مِنْهَا فِي الْجَنَّةِ. فَاشْتَرَيْتُهَا مِنْ صُلْبِ مَالِي
“Tidaklah orang yang mau membeli sumur Rumah kemudian dia menjadikan embernya bersama ember kaum muslimin (yaitu menjadikannya sebagai wakaf dan dia tetap bisa mengambil air darinya) itu akan mendapat balasan lebih baik dari sumber tersebut di surga.” Utsman mengatakan, “Aku pun membelinya dari harta pribadiku.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)
Bahkan, sahabat Jabir z sebagaimana dinukilkan dalam kitab al-Mughni mengatakan,
لَمْ يَكُنْ أَحَدٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ n ذُوْ مَقْدَرَةٍ إِلاَّ وَقَفَ
“Tidak ada seorang pun di antara para sahabat Nabi yang memiliki kemampuan (untuk berwakaf) melainkan dia akan mengeluarkan hartanya untuk wakaf.”
Sebelumnya, tentu saja adalah panutan umat, Rasulullah n. Beliau adalah suri teladan dalam seluruh kebaikan, termasuk wakaf. Sahabat ‘Amr ibn al-Harits z mengatakan,
مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ n عِنْدَ مَوْتِهِ دِرْهَمًا وَلاَ دِينَارًا وَلاَ عَبْدًا وَلاَ أَمَةً وَلاَ شَيْئًا إِلاَّ بَغْلَتَهُ الْبَيْضَاءَ وَسِلاَحَهُ وَأَرْضًا جَعَلَهَا صَدَقَةً
“Setelah Rasulullah n wafat, beliau tidak meninggalkan dirham, dinar, dan budak lelaki atau perempuan. Beliau hanya meninggalkan seekor bighal (yang diberi nama) al-Baidha’, senjata, dan tanah yang telah beliau jadikan sebagai sedekah.” (HR. al-Bukhari)
Al-Imam Ibnu Hajar t dalam Fathul Bari menjelaskan riwayat ini, “Beliau n menyedekahkan manfaat dari tanahnya. Hukumnya adalah hukum wakaf.”
Kaum muslimin yang bersemangat mencontoh Rasulullah n dan menginginkan keutamaan yang besar, tidak akan menyia-nyiakan pintu kebaikan yang berupa wakaf ini, baik wakaf yang ditujukan sebagai tempat ibadah maupun yang lainnya, berupa kegiatan pendidikan, dakwah, dan sosial. Dengan izin Allah l, hal ini akan menjadi kebaikan yang besar bagi kaum muslimin dan menjadi sebab baiknya kehidupan sebuah masyarakat.
Sungguh, betapa besar manfaatnya bagi kaum muslimin ketika muncul orang-orang yang mewakafkan hartanya untuk mendirikan pondok pesantren atau tempat pendidikan yang mengajarkan hafalan al-Qur’an kepada anak-anak kaum muslimin, tajwid, dan mempelajari kandungannya.
Begitu pula ketika orang-orang mewakafkan hartanya untuk operasional belajar-mengajar di pondok-pondok pesantren dan membantu memenuhi kebutuhan para pengajar. Tidak mustahil, nantinya akan bermunculan ma’had-ma’had yang tidak lagi memungut biaya bagi yang belajar di sana.
Termasuk kebaikan yang sangat besar adalah adanya orang yang mau mewakafkan hartanya untuk tempat tinggal para penuntut ilmu dan membiayai kebutuhan mereka sehingga lebih tekun dalam menuntut ilmu dan mengajarkannya. Demikian pula, adanya orang yang mengeluarkan hartanya untuk mencetak kitab-kitab dan mewakafkannya kepada para penuntut ilmu.
Sangat diharapkan juga adanya orang yang mewakafkan hartanya dan hasilnya disalurkan kepada orang-orang yang membutuhkan dana dari kalangan fakir miskin atau untuk membiayai pengobatan orang-orang yang tertimpa musibah dan yang semisalnya.
Begitu pula, diharapkan ada orang yang mewakafkan hartanya untuk membuat sumber air/sumur, jalan umum, sarana transportasi, permakaman, dan fasilitas umum lainnya.
Seandainya orang-orang yang memiliki kemampuan mau mewakafkan hartanya, dengan izin Allah l, semua ini akan menjadi suatu kebaikan dan manfaat yang besar bagi kaum muslimin, serta bagi berlangsungnya kegiatan dakwah, pendidikan. Hal ini juga akan membantu perekonomian masyarakat, di samping berbagai manfaat lainnya.

Nazhir Wakaf dan Syarat yang ditetapkan Oleh Wakif

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Sebagaimana terkait dengan hubungan seorang hamba kepada Allah l, sesungguhnya amanat juga terkait dengan hubungan seorang hamba dan hamba Allah l lainnya.
Di antara amanat yang ada di antara kaum muslimin adalah yang terkait dengan wakaf. Oleh karena itu, amanat ini harus ditunaikan dengan sebaik-baiknya. Di antaranya, harus diingat bahwa amanat tersebut bukan hanya untuk kaum muslimin yang ada sekarang, namun juga untuk generasi yang akan datang. Oleh karena itu, pemanfaatannya tidak boleh sesuka hati.
Di antara urusan besar yang harus diperhatikan terkait dengan wakaf adalah masalah nazhir. Nazhir adalah seseorang yang diserahi amanat untuk mengurusi atau mengelola wakaf. Nazhir diberi wewenang untuk memegang hasilnya dan mengalokasikannya kepada yang berhak. Apabila wakafnya berupa bangunan misalnya, nazhir adalah orang yang diserahi wewenang untuk memegang hasilnya apabila dikontrakkan dan mengalokasikannya sebagaimana peruntukannya. Begitu pula, dia yang mengurus bangunan tersebut dan melakukan perbaikan-perbaikan ketika dibutuhkan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang nazhir, di antaranya:
a. Jika orang yang mewakafkan (wakif) telah menetapkan seseorang yang diinginkan atau menetapkan kriteria dan sifat-sifatnya, yang mengelola adalah orang yang ditetapkan atau disebutkan kriterianya tersebut.
Namun, apabila yang mewakafkan belum menetapkan nazhirnya dan wakafnya ditujukan untuk kepentingan umum, seperti masjid, secara otomatis yang menjadi nazhir adalah penguasa/pemerintah.
b. Ada beberapa kemungkinan ketika orang yang mewakafkan tidak menetapkan nazhirnya.
• Apabila wakafnya ditujukan untuk kepentingan umum, seperti wakaf untuk fakir miskin atau untuk masjid, yang menjadi nazhir adalah pemerintah.
• Jika wakafnya ditujukan kepada individu tertentu, seperti wakaf kepada anak-anaknya atau yang semisalnya, nazhirnya adalah orang yang dituju dari wakaf tersebut. (Lihat adh-Dhiya’ al-Lami’, kumpulan khutbah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t)
Dalam menjalankan tugasnya, seorang nazhir terkadang akan tersita waktu dan tenaganya. Bisa jadi pula, ia mendapatkan beban-beban berat yang harus dipikul. Oleh karena itu, dia berhak untuk meminta upah atas tanggung jawab yang dipikulnya.
Disebutkan dalam hadits, ketika sahabat ‘Umar z mewakafkan tanahnya yang ada di Khaibar, ia menetapkan adanya nazhir. Hal ini ditunjukkan dalam hadits berikut.
لاَ جُنَاحَ عَلَى مَن وَلِيَهَا أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا بِالْمَعْرُوفِ، أَوْ يُطْعِمَ صَدِيقاً، غَيْرَ مُتَمَوِّلٍ فِيهِ. وَفِي لَفْظٍ: غَيْرَ مُتَأّثِّلٍ
“Tidak mengapa bagi orang yang mengurusinya untuk memakan apa yang dihasilkan dari tanah tersebut dengan cara yang ma’ruf, boleh pula ia memberikan kepada temannya tanpa menjadikannya sebagai hartanya.”
Dalam lafadz yang lain, “Tanpa mengumpulkan modal untuk pribadi darinya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa nazhir berhak mendapatkan imbalan atas beban yang dipikulnya dalam mengurusi wakaf.
Selain itu, hadits ini juga menunjukkan bahwa seorang yang mewakafkan (wakif)diperbolehkan menetapkan syarat-syarat yang terkait dengan wakafnya selama tidak mengandung kezaliman dan tidak menyalahi syariat. Apabila syarat yang ditetapkan oleh wakif itu menyelisihi syariat, syarat tersebut tidak boleh ditunaikan.
Contohnya adalah apa yang disebutkan dalam Fatwa al-Lajnah ad-Daimah (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa) no. 15943 terkait dengan wakaf (sesuatu yang hasilnya) ditujukan untuk orang yang membaca beberapa ayat atau juz tertentu dari al-Qur’an, kemudian bacaan tersebut dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia.
Para ulama yang tergabung dalam al-Lajnah menjawab, “Setelah al-Lajnah mempelajari pertanyaan yang diajukan, jawabannya adalah bahwa syarat dari wakif untuk memberikan hasil yang bisa diambil dari wakafnya untuk orang yang membaca al-Fatihah atau beberapa juz dari al-Qur’an lantas pahalanya diberikan kepada orang yang telah meninggal dunia atau pahalanya untuk dirinya dan orang lain, adalah wakaf yang ditujukan untuk sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat.
Alasannya, bacaan al-Qur’an tidak boleh dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia karena tidak ada dalil yang menunjukkan hal tersebut, menurut pendapat yang benar dari dua pendapat ulama dalam masalah ini.
Oleh karena itu, syarat yang disebutkan oleh wakif tersebut tidak termasuk wakaf yang ditujukan untuk sesuatu yang sesuai dengan syariat. Dengan demikian, hasil yang bisa diambil dari wakaf tersebut diberikan untuk madrasah-madrasah tahfizhul Qur’an. Hal itu lebih mendekati maksud yang diinginkan oleh wakif.”
Namun, hukum asalnya adalah menjalankan apa yang disyaratkan oleh wakif dan tidak boleh menyelisihi syarat tersebut atau melakukan hal-hal yang akan meniadakan manfaat dan tujuan yang diinginkan oleh wakif. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 20038)
Oleh karena itu, meskipun wakif tidak lagi memiliki hartanya dan pengelolaan wakaf tersebut dipegang oleh nazhir, namun maksud dan keinginan wakif serta syarat-syarat yang diajukannya harus diperhatikan, selama tidak bertentangan dengan syariat.
Jadi, harta yang telah diwakafkan untuk kepentingan masjid, seperti kebun yang hasilnya untuk masjid atau yang semisalnya, hukumnya sama dengan wakaf untuk masjid. Oleh karena itu, hasilnya digunakan untuk kepentingan masjid yang telah ditetapkan. Tidak boleh hasilnya diberikan untuk fakir miskin misalnya, meskipun kebutuhan masjid sudah terpenuhi.
Seandainya ada sisa dari hasil kebun yang sudah tidak dibutuhkan oleh masjid, hendaknya dialokasikan untuk masjid yang lain. Dengan demikian, sisa dari harta yang dikhususkan untuk masjid tertentu dialokasikan untuk masjid lain yang membutuhkan. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 15651, 18416)
Begitu pula sebaliknya. Kebun yang hasilnya diwakafkan untuk fakir miskin atau untuk berbuka puasa bagi orang yang berpuasa di bulan Ramadhan misalnya, tidak boleh dialokasikan untuk kebutuhan masjid.
Demikian juga, apabila seseorang mewakafkan dua kebun dan menetapkan bahwa hasil dari kebun yang satu untuk kebutuhan masjid dan kebun yang lain untuk fakir miskin. Nazhir yang telah ditetapkan harus mengarahkan hasilnya sesuai dengan yang diinginkan oleh wakif. Namun, apabila masjid tersebut sudah tidak dimanfaatkan lagi dan semisalnya, dia bisa menghubungi qadhi (hakim)untuk menetapkan apa yang semestinya dilakukan. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 16631)