Syarat dan Rukun Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Al-Imam an-Nawawi t menyebutkan dalam kitab beliau Raudhatuth Thalibin bahwa rukun wakaf ada empat, yaitu:
1. Al-waqif (orang yang mewakafkan),
2. Al-mauquf (harta yang diwakafkan),
3. Al-mauquf ‘alaih (pihak yang dituju dari wakaf tersebut), dan
4. Shighah (lafadz dari yang mewakafkan).

Adapun penjelasan dari keempat rukun tersebut sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab para ulama di antaranya adalah sebagai berikut.

Al-Waqif (Orang yang Mewakafkan)
Disyaratkan agar wakif adalah:
a. Orang yang berakal dan dewasa pemikirannya (rasyid).
Oleh karena itu, jika ada orang gila yang mengatakan, “Aku wakafkan rumahku”, wakafnya tidak sah.
b. Sudah berusia baligh dan bisa bertransaksi.
Jika ada anak kecil yang belum baligh meskipun sudah mumayyiz mengatakan, “Aku wakafkan rumahku untuk penuntut ilmu”, wakafnya tidak sah.
c. Orang yang merdeka (bukan budak).
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menyebutkan dalam Mulakhas Fiqhi, “Disyaratkan bagi orang yang wakaf, ia adalah orang yang transaksinya diterima (bisa menggunakan harta), yaitu dalam keadaan sudah baligh, merdeka, dan dewasa pemikirannya (rasyid). Maka dari itu, tidak sah wakaf yang dilakukan oleh anak yang masih kecil, orang yang idiot, dan budak.” (al-Mulakhash)
Asy-Syaikh al-‘Utsaimin t menegaskan, “Seandainya dia adalah seorang yang baligh, berakal namun dungu yaitu tidak bisa menggunakan hartanya (karena tidak normal berpikirnya), tidak sah wakafnya karena dia tidak bisa menggunakan hartanya. Oleh karena itu, sebagaimana tidak sah ketika dia menjual hartanya maka sedekah dia dengan hartanya lebih pantas untuk tidak diperbolehkan.” (asy-Syarhul Mumti’)

Wakaf Orang yang Terlilit Utang
Apakah disyaratkan orang yang wakaf adalah orang yang tidak terlilit utang yang bisa menyita seluruh hartanya?
Dalam hal ini ada khilaf di antara ulama. Asy-Syaikh al-‘Utsaimin t mengatakan, “Yang benar dalam masalah ini, tidak sah sedekahnya, karena orang yang terlilit utang yang akan menyita seluruh hartanya adalah orang yang sedang tersibukkan dengan utang. Sementara itu, membayar utang hukumnya adalah wajib sedangkan bersedekah hukumnya adalah sunnah. Maka tidak mungkin kita menggugurkan yang wajib karena amalan yang sunnah.” (asy-Syarhul Mumti’)

Al-Mauquf (Harta yang Diwakafkan)
Berdasarkan jenis benda yang diwakafkan, maka wakaf terbagi menjadi tiga macam:
a. Wakaf berupa benda yang diam/tidak bergerak, seperti tanah, rumah, toko, dan semisalnya. Telah sepakat para ulama tentang disyariatkannya wakaf jenis ini.
b. Wakaf benda yang bisa dipindah/bergerak, seperti mobil, hewan, dan semisalnya. Termasuk dalil yang menunjukkan bolehnya wakaf jenis ini adalah hadits:
وَأَمَّا خَالِدٌ فَقَدْ احْتَبَسَ أَدْرَاعَهُ وَأَعْتُدَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
“Adapun Khalid maka dia telah mewakafkan baju besinya dan pedang (atau kuda)-nya di jalan Allah l.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Hewan termasuk benda yang bisa dimanfaatkan. Kalau berupa hewan tunggangan maka bisa dinaiki dan kalau berupa hewan yang bisa diambil susunya maka bisa dimanfaatkan susunya.”
c. Wakaf berupa uang.
Tentang wakaf ini, asy-Syaikh Muhammad al-‘Utsaimin t mengatakan, “Yang benar adalah boleh mewakafkan uang untuk dipinjamkan bagi yang membutuhkan. Tidak mengapa ini dilakukan dan tidak ada dalil yang melarang. Semua ini dalam rangka menyampaikan kebaikan untuk orang lain.” (Lihat Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah edisi 77, Taudhihul Ahkam, dan asy-Syarhul Mumti’)
Wakaf uang dengan maksud seperti ini juga disebutkan kebolehannya dalam Fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 1202.

Di antara hal yang juga harus diperhatikan dari harta yang akan diwakafkan adalah:
1. Harta tersebut telah diketahui dan ditentukan bendanya.
Sesuatu yang diwakafkan adalah sesuatu yang sudah jelas dan ditetapkan. Bukan sesuatu yang belum jelas bendanya, karena kalau demikian, tidak sah wakafnya. Misalnya, Anda mengatakan, “Saya wakafkan salah satu rumah saya.”
Wakaf seperti ini tidak sah karena rumah yang dia wakafkan belum ditentukan, kecuali kalau mewakafkan sesuatu yang belum ditentukan namun dari benda yang sama jenis dan keadaannya. Pendapat yang benar dalam masalah ini adalah jika keadaan benda tersebut sama, wakafnya sah. Contohnya, seseorang memiliki dua rumah yang sama dari segala sisinya. Kemudian dia mengatakan, “Saya wakafkan salah satu rumah saya kepada fulan.” Yang demikian ini tidak mengapa….” (Lihat asy-Syarhul Mumti’)

2. Benda tersebut adalah milik yang mewakafkan.
Tidak boleh mewakafkan harta yang sedang dijadikan jaminan/digadaikan kepada pihak lain. (Lihat Fatwa al-Lajnah ad-Daimah no. 17196)

3. Harta yang diwakafkan adalah benda yang bisa diperjualbelikan dan bisa terus dimanfaatkan dengan tetap masih ada wujud bendanya.
Hal ini bukan berarti harta yang telah diwakafkan boleh diperjualbelikan. Bahkan, para ulama dalam al-Lajnah ad-Daimah sebagaimana pada fatwa no. 8376, 19300, dan yang lainnya menyebutkan bahwasanya tidak diperbolehkan atau diharamkan menjual buku atau kitab yang diwakafkan. Seseorang yang mengambilnya harus memanfaatkannya atau dia berikan kepada orang yang akan memanfaatkannya. Tidak boleh baginya untuk menukarnya dengan uang atau buku lainnya kecuali kalau dengan buku lainnya yang juga telah diwakafkan.
Namun yang dimaksud dari poin yang ketiga ini adalah bahwa benda yang hendak diwakafkan adalah sesuatu yang jenisnya bisa diperjualbelikan.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t berkata, “Adapun sesuatu yang tidak ada manfaatnya, tidak sah wakafnya, sebagaimana tidak sah untuk diperjualbelikan. Apa faedahnya dari sesuatu yang diwakafkan namun tidak ada manfaatnya? Seperti seseorang yang mewakafkan keledai yang sudah sangat tua. Maka wakaf tersebut tidak ada manfaatnya karena tidak bisa ditunggangi dan tidak bisa dimanfaatkan untuk membawa beban, bahkan akan merugikan karena harus memberi makan hewan tersebut….” (asy-Syarhul Mumti’)
Sebagian ulama menerangkan bahwa harta yang diwakafkan haruslah benda yang manfaatnya harus terus-menerus. Berdasarkan pendapat ini, jika harta yang diwakafkan berupa sesuatu yang manfaatnya terbatas waktunya, wakafnya tidak sah.
Misalnya, seseorang menyewa rumah untuk jangka waktu sepuluh tahun. Selanjutnya dia mewakafkan rumah tersebut pada seseorang. Dalam hal ini, wakafnya tidak sah karena manfaatnya tidak terus-menerus, tetapi hanya selama waktu sewa saja. Di sisi lain, rumah tersebut adalah rumah sewaan dan tidak dimiliki oleh yang menyewa. Jadi, si penyewa hanya memiliki manfaat dan tidak memiliki bendanya.
Di samping itu, sebagian ulama juga menerangkan bahwa harta yang tidak mungkin untuk dimanfaatkan melainkan dengan menghabiskan bendanya (seperti makanan, red.) maka tidak sah wakafnya. Di antara dalil yang disebutkan oleh para ulama tentang hal ini adalah hadits:
إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا
“Jika engkau mau, engkau tahan harta tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa wakaf tidak bisa melainkan untuk aset yang bisa ditahan bendanya.
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah ketika menjelaskan tentang syarat sahnya wakaf, menyebutkan, “(Disyaratkan) agar aset/benda yang diwakafkan adalah sesuatu yang bisa dimanfaatkan dengan pemanfaatan yang terus-menerus dan tetap/masih ada bendanya. Karena itu, tidak sah wakaf dari harta yang akan lenyap setelah dimanfaatkan, seperti makanan….” (al-Mulakhas)

Al-Mauquf ‘alaih (Pihak yang Dituju/Dimaksud dari Wakaf)
Dipandang dari sisi pemanfaatannya, maka wakaf terbagi menjadi dua:
1. Wakaf yang sifatnya tertuju pada keluarga (individu).
Orang yang mewakafkan menginginkan agar manfaatnya diberikan kepada orang-orang yang dia ingin berbuat baik kepadanya dari kalangan kerabatnya. Tidak diragukan lagi bahwa wakaf ini termasuk kewajiban yang terkandung dalam keumuman ayat yang memerintahkan berbuat baik kepada kerabat.
2. Wakaf untuk amalan-amalan kebaikan.
Wakaf ini diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat di suatu negeri. Inilah jenis wakaf yang paling banyak dilakukan, seperti untuk masjid, madrasah, dan semisalnya. (Lihat Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah edisi 77)
Pembagian wakaf di atas—wallahu a’lam—ditunjukkan dalam hadits:
فَتَصَدَّقَ بهَا عُمَرُ فِي الفُقَرَاءِ، وَفِي القُرْبَى، وَفِي الرِّقَابِ، وَفِي سَبيلِ اللهِ، وَابْنِ السَّبِيْلِ، وَالضَّيْفِ
“Maka bersedekahlah Umar dengannya (tanah di Khaibar) yang manfaatnya diperuntukkan kepada fakir miskin, kerabat, memerdekakan budak, jihad, musafir yang kehabisan bekal, dan tamu.” (HR. al-Bukhari-Muslim)
Perlu diketahui pula bahwa wakaf pada dasarnya dimaksudkan untuk berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah l, karena seorang yang mewakafkan hartanya menginginkannya sebagai amalan yang tidak ada hentinya setelah wafatnya. Orang yang mewakafkan hartanya tentunya menginginkan dirinya akan terus memperoleh pahala sampaipun telah meninggal dunia.
Dibangun di atas alasan ini, maka seseorang tidak diperbolehkan untuk mewakafkan sesuatu dalam perkara yang diharamkan. Misalnya, mewakafkan untuk sebagian anaknya saja dan tidak pada sebagian yang lainnya. Seperti mengatakan, “Harta ini saya wakafkan untuk anak laki-laki saya si fulan, atau untuk anak perempuan saya si fulanah tanpa untuk yang lainnya.”
Hal ini menunjukkan dia melebihkan salah satu anaknya dalam pemberian dari yang lainnya dan ini adalah perbuatan yang diharamkan. Sebagaimana telah dimaklumi, tidak mungkin untuk mendekatkan diri pada Allah l dengan perbuatan kemaksiatan. (Lihat Fatwa al-Lajnah no. 255, 17, 4412)
Asy-Syaikh as-Sa’di t berkata sebagaimana dinukil oleh penulis kitab Taudhihul Ahkam, “Disyaratkannya untuk kebaikan dan untuk mendekatkan diri kepada Allah l pada amalan wakaf menunjukkan bahwa wakaf untuk sebagian ahli waris tanpa untuk sebagian lainnya adalah haram dan tidak sah.”
Al-Imam Ibnul Qayyim t berkata, “Wakaf yang berupa bangunan yang dikeramatkan, adalah harta yang tidak ada pemiliknya, maka diarahkan penggunaannya untuk kepentingan kaum muslimin. Hal ini karena wakaf tidak sah kecuali untuk mendekatkan diri kepada Allah l serta dalam bentuk ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, tidaklah sah wakaf untuk pembangunan tempat yang dikeramatkan. Begitu pula kuburan yang diberi lampu di atasnya, yang diagungkan, atau yang dituju dalam bernazar atau dalam menjalankan ibadah haji serta diibadahi selain Allah l dan dijadikan sesembahan selain Allah l. Ini semua adalah perkara yang tidak ada satu pun yang menyelisihinya dari kalangan para ulama dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka.” (Lihat Zadul Ma’ad jilid 3)

Termasuk Syarat yang Batil
Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan t berkata, “(Termasuk dari syarat sahnya wakaf adalah) agar wakaf tersebut untuk suatu kebaikan karena maksud dari wakaf adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah l. Misalnya, wakaf untuk masjid, jembatan, fakir miskin, sumber air, buku-buku agama, dan kerabat. Tidak sah wakaf untuk selain kebaikan, seperti wakaf untuk tempat-tempat ibadah orang kafir, buku-buku ahlul bid’ah, wakaf untuk kuburan yang dikeramatkan dengan memberi lampu di atasnya atau dengan diberi wewangian, atau wakaf untuk penjaganya, karena semua itu merupakan bentuk membantu kemaksiatan dan syirik, serta kekufuran.

Lafadz (Ikrar) untuk Mengungkapkan Wakaf
Adapun lafadz yang dengannya wakaf akan teranggap sah, para ulama membaginya menjadi dua bagian:
1. Lafadz yang sharih, yaitu lafadz yang dengan jelas menunjukkan wakaf dan tidak mengandung makna lain.
2. Lafadz kinayah, yaitu lafadz yang mengandung makna wakaf meskipun tidak secara langsung dan memiliki makna lainnya, namun dengan tanda-tanda yang mengiringinya menjadi bermakna wakaf.
Untuk lafadz yang pertama, maka cukup dengan diucapkannya akan berlaku hukum wakaf. Adapun lafadz yang kedua ketika diucapkan akan berlaku hukum wakaf jika diiringi dengan niat wakaf atau lafadz lain yang dengan jelas menunjukkan makna wakaf. (Lihat asy-Syarhul Mumti’)
Para ulama telah sepakat bahwasanya yang harus ada adalah lafadz dari yang mewakafkan. Jadi, wakaf adalah akad yang sah dengan datang dari satu arah. Adapun lafadz penerimaan (qabul) dari yang dituju dari wakaf tersebut tidak menjadi rukunnya. (Lihat Majalah al-Buhuts al-Islamiyyah edisi 77)

 

Dasar Hukum Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Disyariatkannya wakaf di antaranya ditunjukkan oleh dalil-dalil sebagai berikut.

1. Dalil dari al-Qur’an
Secara umum wakaf ditunjukkan oleh firman Allah l:
“Kalian sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kalian menafkahkan sebagian harta yang kalian cintai dan apa saja yang kalian nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (Ali ‘Imran: 92)
Begitu pula ditunjukkan oleh firman-Nya:
“Apa saja harta yang baik yang kalian infakkan, niscaya kalian akan diberi pahalanya dengan cukup dan kalian sedikit pun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (al-Baqarah: 272)

2. Dalil dari al-Hadits
Asy-Syaikh Muhammad ibn Shalih al-’Utsaimin t mengatakan, “Yang menjadi pijakan dalam masalah ini (wakaf) adalah bahwasanya Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab z memiliki tanah di Khaibar. Tanah tersebut adalah harta paling berharga yang beliau miliki. Beliau pun datang menemui Rasulullah n untuk meminta pendapat beliau n tentang apa yang seharusnya dilakukan (dengan tanah tersebut)—karena para sahabat g adalah orang-orang yang senantiasa menginfakkan harta yang paling mereka sukai. Nabi n memberikan petunjuk kepada beliau untuk mewakafkannya dan mengatakan,
إِنْ شِئْتَ حَبَسْتَ أَصْلَهَا، وَتَصَدَقْتَ بِهَا
“Jika engkau mau, engkau tahan harta tersebut dan engkau sedekahkan hasilnya.” (HR. Bukhari-Muslim)
Ini adalah wakaf pertama dalam Islam. Cara seperti ini tidak dikenal di masa jahiliah.” (Lihat asy-Syarhul Mumti’)
Disyariatkannya wakaf juga ditunjukkan oleh hadits:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ اِنْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ إِلاّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالحِ يَدْعُوْ لَهُ
“Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputus darinya amalnya kecuali dari tiga hal (yaitu): dari sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, al-Imam an-Nawawi t berkata terkait dengan hadits ini, “Di dalam hadits ini ada dalil yang menunjukkan tentang benar/sahnya wakaf dan besarnya pahalanya.” (al-Minhaj, Syarh Shahih Muslim)

3. Ijma’
Disyariatkannya wakaf ini juga ditunjukkan oleh ijma’, sebagaimana diisyaratkan oleh al-Imam at-Tirmidzi t ketika menjelaskan hadits Umar z tentang wakaf.
Beliau berkata, “Ini adalah hadits hasan sahih. Para ulama dari kalangan para sahabat Nabi n dan yang lainnya telah mengamalkan hadits ini. Di samping itu, kami tidak menjumpai adanya perbedaan pendapat di kalangan orang-orang yang terdahulu di antara mereka tentang dibolehkannya mewakafkan tanah dan yang lainnya.” (Jami’ al-Imam at-Tirmidzi)
Wallahu a’lam.

 

SERTIFIKASI WAKAF

Sengketa dalam hal wakaf, berupa diambilnya kembali harta yang diwakafkan, disitanya sebagian aset pondok pesantren, penggusuran masjid, dan semisalnya, bisa saja terjadi. Maka dari itu, untuk tertibnya administrasi dan kepastian hak jika terjadi sengketa hukum, pemerintah memandang perlu adanya sertifikasi wakaf.
Sertifikasi ini sebagaimana disebutkan oleh beberapa sumber dilakukan secara bersama oleh Kementerian Agama dan Badan Pertanahan Nasional. Oleh karena itu, keberadaan sertifikasi wakaf perlu diperhatikan oleh kaum muslimin. Meskipun—wallahu a’lam—hal ini tidak berkaitan dengan sah atau tidak sahnya wakaf. Namun, hal ini tidak bertentangan dengan tujuan syariat menjaga aset kaum muslimin, bahkan akan memberikan kejelasan tentang identitas kepemilikan dari harta benda wakaf tersebut.
Oleh karena itu, sudah semestinya individu atau lembaga yang mengelola wakaf berusaha menjalani proses yang telah ditetapkan oleh pemerintah dalam hal sertifikasi wakaf ini. Terlebih jika hal ini diharuskan oleh pemerintah, tentu harus ditaati.
Wallahu a’lam.

Memahami Definisi Wakaf

(ditulis oleh: Al-Ustadz Saifuddin Zuhri, Lc.)

Wakaf secara bahasa bermakna الْحَبْسُ yang artinya tertahan. Adapun secara istilah syariat, sebagian ulama menyebutkan bahwa wakaf adalah:
تَحْبِيْسُ الْأَصْلِ وَتَسْبِيْلُ اْلمَنْفَعَةِ
“Menahan suatu benda dan membebaskan/mengalirkan manfaatnya.”
Maksud dari definisi di atas adalah sebagai berikut.
1. Menahan adalah kebalikan dari membebaskan. Dengan demikian, menahan bendanya berarti menahan atau membekukan benda dari berbagai bentuk kepemilikan.
2. Yang dimaksud dengan benda dalam definisi di atas adalah segala sesuatu yang bisa diambil manfaatnya, dengan mempertahankan bendanya (tidak habis/hilang bendanya setelah diambil manfaatnya). Contohnya, rumah, pohon, tanah, mobil, dan semisalnya.
Asy-Syaikh Abdullah al-Bassam t mengatakan, “Benda yang hilang/habis zatnya setelah dimanfaatkan disebut sebagai sedekah, bukan wakaf.” (Taudhihul Ahkam)
3. Kalimat “membebaskan manfaatnya” ialah untuk membedakan antara wakaf dengan gadai dan yang semisalnya. Gadai, meskipun memiliki kesamaan dalam hal menahan bendanya, namun memiliki perbedaan dalam hal tidak diambil manfaatnya.
4. Manfaat yang dimaksud dalam definisi di atas adalah penggunaan dan hasil dari benda tersebut, seperti hasil panen, uang yang dihasilkan dari pemanfaatannya sebagai tempat tinggal, dan yang semisalnya. Oleh karena itu, hibah tidak masuk dalam definisi ini. Hibah adalah pemberian bendanya, sedangkan wakaf hanyalah mengambil manfaat atau hasil dari harta tersebut.
Contohnya, seseorang mewakafkan rumahnya untuk orang-orang miskin. Harta yang berupa rumah tersebut ditahan sehingga tidak dijual, diberikan, atau diwariskan. Manfaatnya diberikan untuk orang miskin secara mutlak. Siapa saja yang tergolong orang miskin berhak untuk memanfaatkannya. (Lihat al-Mughni, Minhajus Salikin, asy-Syarhul Mumti’, dan Mulakhas al-Fiqhi)

Kapan Seseorang Telah Teranggap Mewakafkan Hartanya?
Wakaf akan terjadi atau teranggap sah dengan salah satu dari dua cara berikut.
1. Ucapan yang menunjukkan wakaf, seperti, “Saya wakafkan bangunan ini,” atau, “Saya jadikan tempat ini sebagai masjid.”
2. Perbuatan yang menunjukkan wakaf, seperti menjadikan rumahnya sebagai masjid dengan cara mengizinkan kaum muslimin secara umum untuk shalat di dalamnya; atau menjadikan tanahnya menjadi permakaman dan membolehkan setiap orang mengubur jenazah di tempat tersebut.
Ketika seseorang membangun masjid dan mengatakan kepada orang-orang secara umum (disertai niat berwakaf), “Shalatlah di tempat ini!”, berarti dia telah mewakafkan tempat tersebut meskipun dia tidak mengucapkan, “Saya wakafkan tempat ini untuk masjid.”
Jika yang ia inginkan dari perbuatan tersebut sekadar meminjamkan tempat yang dia bangun untuk shalat, dia harus menulis bahwa tempat tersebut hanya dipinjamkan, sewaktu-waktu dibutuhkan akan diambil kembali. Jadi, jika seseorang membangun tempat shalat di kebunnya dan suatu saat ada orang yang shalat di tempat tersebut, tempat tersebut tidak teranggap sebagai wakaf untuk masjid.
Begitu pula ketika seseorang memagar tanahnya dan mengatakan, “Barang siapa yang ingin memakamkan jenazah silakan memakamkannya di tempat ini.” Perbuatan tersebut menunjukkan wakaf meskipun dia tidak menulis di pintu masuk kebunnya bahwa kebun tersebut adalah permakaman. (Lihat asy-Syarhul Mumti’ dan Mulakhash Fiqhi)

Saat Cinta Bersemi di Hati

(ditulis oleh: Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah t berkata, “Cinta adalah kepergian hati mencari yang dicinta, seraya lisannya terus-menerus menyebut yang dicinta. Adapun lisan senantiasa menyebut yang dicinta, tak ragu lagi karena dirinya tengah dirundung cinta yang teramat sangat, maka ia akan banyak menyebutnya.” (Madariju as-Salikin, 3/15)
Cinta yang merasuk ke dalam diri akan mendorong seseorang berkiprah. Melangkah mencari yang dicinta. Berupaya untuk senantiasa memenuhi apa yang diinginkan oleh cintanya. Berusaha agar selalu menuai ridha dari kekasih.
Cinta mendorong seseorang untuk berbulat tekad mempersembahkan apa yang dimiliki. Apatah hendak dikata, kala cinta telah meluap di hati. Sikap dan perilaku pun akan terbingkai karenanya. Tanpa cinta, hidup terasa hambar. Tiada bermakna, bagai pohon yang tak pernah disirami air kehidupan. Cinta nan bertumpu kebenaran mengantarkan hidup seseorang pada jalan yang lurus.
Beribadah kepada Allah l harus dilandasi cinta (mahabbah) pula. Tentu pula selain itu, dilandasi dengan sikap takut (khauf) dan mengharap (raja’). Tiga hal ini harus terkumpul dan tak boleh sirna salah satu di antaranya. Karena, barang siapa yang beribadah hanya dengan dilandasi sikap takut, maka ia beribadah di atas jalan kaum Khawarij. Mereka beribadah kepada Allah l hanya dilandasi sikap khauf, mengambil nash-nash yang berisi ancaman, sedangkan nash-nash yang berisi janji, ampunan (maghfirah), dan rahmat ditinggalkan.
Adapun yang beribadah hanya dilandasi dengan sikap raja’, maka ia beribadah di atas jalan yang ditempuh oleh kaum Murji’ah. Mereka beribadah atas dasar mengharap tanpa ada landasan rasa takut dari berbuat dosa dan maksiat. Karena, bagi kalangan Murji’ah, iman cukup hanya di hati. Amal perbuatan tidak terangkum dalam iman.
Adapun orang yang beribadah hanya dilandasi dengan sikap cinta (mahabbah) saja, ia beribadah di atas landasan kaum Sufi. Tidak ada hakikat ibadah melainkan didasari oleh tiga hal di atas. Satu di antaranya adalah cinta.
Perlu ditelisik bahwa cinta (mahabbah) ada empat macam. Pertama, mahabbah syirkiyah adalah cinta kepada berhala, patung, dan segala sesuatu yang disembah (diibadahi) selain Allah l.
“Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)
Kedua, mahabbah muharramah adalah mencintai sesuatu yang Allah l memurkainya. Mencintai hal yang dicegah, dilarang, dan diharamkan, seperti mencintai orang musyrik dan kafir.
Ketiga, mahabbah thabi’iyah adalah cinta seseorang terhadap anak-anaknya, kedua orang tuanya, istrinya, dan teman-temannya.
Keempat, mahabbah wajibah adalah mencintai para wali Allah l, mencintai karena Allah l, dan berloyalitas karena Allah l. (Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan hafizhahullah, Ba’dhu Fawaid Surah al-Fatihah, hlm. 185—194)
Cinta nan tulus akan mengarahkan seorang hamba pada ibadah yang murni. Cinta nan tulus menjadi salah satu faktor yang mengantarkan seorang hamba meraih kelezatan manisnya iman. Rasulullah n bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيْمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Tiga hal yang apabila ada pada diri seorang hamba, niscaya dia akan merasakan manisnya iman: barang siapa yang menjadikan Allah l dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selain keduanya; seseorang yang mencintai saudaranya, tidaklah dia mencintai melainkan karena Allah l; seseorang yang tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah l menyelamatkannya sebagaimana dia tidak suka jika dilemparkan ke dalam api neraka.” (HR. Muslim no. 43 dari Anas bin Malik z)
Demikian pula, keimanan seorang hamba tidak akan bisa sempurna dan baik manakala tidak melebihkan takaran cintanya kepada Rasulullah n. Cinta kepada Rasulullah n harus lebih tinggi dibandingkan dengan cinta yang diberikan kepada keluarga, harta, dan segenap manusia. Rasulullah n bersabda:
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
“Tidaklah seorang di antara kalian beriman hingga dia menjadikan aku lebih dia cintai dari keluarganya, hartanya, dan segenap manusia.” (HR. Muslim no. 44 dari Anas bin Malik z)
Al-Qadhi bin ‘Iyadh t mengatakan bahwa termasuk mencintai Rasulullah n adalah menolong sunnahnya, membela syariat (yang dibawanya). Tidaklah sempurna iman seseorang melainkan dengan hal itu. Tidak sah pula cinta seseorang kecuali dengan meninggikan kedudukan Nabi n atas orang tua dan anak. (al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/205)
Dalam kerangka cinta itu pula, sahabat bertanya kepada Rasulullah n mengenai amalan apa saja yang paling dicintai Allah k. Abdullah bin Mas’ud z bertanya kepada Rasulullah n:
أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيٌّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ.
“Amalan apakah yang paling dicintai Allah k?” Rasulullah n menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian apa?” “Berbuat baik kepada kedua orang tua.” “Kemudian apa?” Beliau n menjawab, “Jihad di jalan Allah l.” (HR. al-Bukhari no. 5970)
Dorongan cinta telah melambungkan semangat beramal untuk sesuatu yang lebih baik, lebih dicintai, dan lebih utama. Saat cinta bersemi di hati, hasrat untuk meraup pahala sedemikian membumbung tinggi. Cinta telah membasuh hati dan menjadikannya jernih saat menatap hidup, karena cinta telah melumpuhkan gejolak syahwat nan membinasakan. Akhirnya, yang ada hanyalah menghaturkan segenap amal hanya bagi Allah l semata. Tiada bagi selain-Nya. Yang ada hanyalah bagi-Nya. Seraya amal itu dititi di atas ittiba’ terhadap Rasul-Nya n.
Ibnu Katsir t menuturkan perihal sifat orang yang memiliki kedudukan tertinggi dengan firman-Nya:
“Mereka memberikan makanan yang disukainya….” (al-Insan: 8)
“… dan memberikan harta yang dicintainya….” (al-Baqarah: 177)
Sungguh, mereka adalah orang-orang yang menyedekahkan sesuatu yang mereka cintai. Walaupun kadang mereka membutuhkannya, tetapi hal itu tidak dipentingkannya. Mereka lebih mengutamakan orang lain dibandingkan dengan diri mereka sendiri. Yang termasuk dalam kedudukan tertinggi ini adalah Abu Bakr ash-Shiddiq z. Beliau menyerahkan segenap harta yang dimilikinya. Rasulullah n bertanya kepadanya, “Apakah yang telah engkau sisakan untuk keluargamu?” Abu Bakar z menjawab, “Aku tinggalkan Allah l dan Rasul-Nya untuk mereka.” (HR. at-Tirmidzi no. 3675)
Begitu pula dengan air minum yang ditawarkan kepada ‘Ikrimah dan para sahabatnya g saat Perang Yarmuk. Masing-masing lebih mendahulukan teman lainnya padahal mereka dalam keadaan terluka. Mereka sangat memerlukan air, semuanya. Saat air minum tersebut diserahkan kepada salah satu dari mereka, lantas orang ini melihat temannya yang membutuhkan air. Air itu lalu diberikan kepada teman lainnya. Saat teman yang membawa air ingin meminumnya, dia melihat ada teman lainnya yang membutuhkan air pula hingga dia memberikan air tersebut kepada teman yang lainnya. Sampai akhirnya, air minum tersebut hendak disampaikan kepada yang lain, tetapi orang tersebut telah meninggal. Ketiga orang yang terluka tersebut seluruhnya meninggal dunia dan tidak ada seorang pun yang sempat meminum air tersebut.
Seseorang datang kepada Rasulullah n dan berkata, “Wahai Rasulullah, berilah saya makanan.” Beliau kemudian mengutusnya ke rumah istrinya, tetapi di rumah ternyata tidak ditemukan makanan. Nabi n bersabda, “Adakah seseorang yang mau menjamu tamu pada malam ini? Semoga Allah merahmatinya.” Seseorang dari kalangan Anshar berdiri kemudian ia menjawab, “Saya, wahai Rasulullah.”
Laki-laki Anshar itu pulang dan menemui istrinya seraya berkata, “Ini adalah tamu Rasulullah n. Jangan remehkan dia.”
Istrinya menukas, “Demi Allah, aku tidak memiliki makanan selain yang tersisa untuk anak-anak.”
Suaminya berkata, “Jika anak-anak menginginkan makan malam, tidurkanlah mereka. Kemarilah, padamkan lampu. Biarkan perut-perut kita tak terisi makanan pada malam ini.”
Malam itu mereka tak menyantap makanan untuk makan malam.
Keesokan harinya, laki-laki itu menjumpai Rasulullah n. Rasulullah n bersabda, “Sungguh Allah k telah takjub—atau tertawa—terhadap fulan dan fulanah.” Kemudian turunlah ayat:
“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan ini). Barang siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9) (HR. al-Bukhari no. 4889. Lihat Tafsir Ibnu Katsir, VII/42—43)
Dalam riwayat Muslim, laki-laki Anshar yang dimaksud adalah Abu Thalhah z.
Di zaman yang telah dipengaruhi pemahaman individualis ini, masih adakah bentuk perilaku di atas? Perilaku para sahabat yang mulia yang senantiasa mendahulukan teman, meski mereka sendiri membutuhkannya, tidak berarti harus memelihara sikap kikir. Sungguh beruntung orang yang terjaga dari sikap kikir dan bakhil. Firman-Nya:
“Dan barang siapa yang dipelihara dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyr: 9)
Cinta juga mendorong seseorang untuk menggerus sifat individualis dan menunjukkan sikap kebersamaan. Hadits Abu Hurairah z menggambarkan hal ini.
أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى فَأَرْصَدَ اللهُ تَعَالَى عَلَى مَدْرَجَتِهِ مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ. قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا عَلَيْهِ؟ قَالَ: لاَ، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ تَعَالىَ. قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتُهُ فِيْهِ
Ada seorang lelaki mengunjungi temannya di satu desa. Allah lalu memerintahkan malaikat mendatangi lelaki tersebut di tengah perjalanannya. Saat bertemu, malaikat itu bertanya kepada si lelaki, “Kemana engkau hendak pergi?” Jawab lelaki itu, “Aku akan mengunjungi saudaraku di jalan Allah di desa ini.” Malaikat bertanya lagi, “Apakah engkau merasa berutang budi atas kebaikannya?” Lelaki itu menjawab, “Tidak. Aku berkunjung semata-mata lantaran mencintainya karena Allah.” Malaikat pun berkata, “Sesungguhnya, aku adalah utusan Allah kepadamu bahwa Allah mencintaimu seperti halnya engkau mencintai saudaramu itu karena Allah.” (HR. Muslim)
Oleh karena itu, Islam mendorong setiap pemeluknya untuk senantiasa memerhatikan keadaan orang-orang yang kurang mampu. Tidak luput pula, setiap muslimah hendaknya membelanjakan harta yang dimilikinya. Rasulullah n bersabda:
يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ مِنَ الْإِسْتِغْفَارِ، فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ. قَالَتِ امْرَأَةٌ مِنْهُنَّ: مَا لَنَا أَكْثَرُ أَهْلِ النَّارِ؟ قَالَ: تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ
“Wahai kaum wanita, bersedekahlah dan perbanyaklah istighfar (memohon ampun kepada Allah l). Sungguh, aku telah melihat kebanyakan dari kalian adalah penghuni neraka. Lantas, ada seorang wanita menukas dengan bertanya, ‘Mengapa kami (kaum wanita) kebanyakan menghuni neraka?’ Nabi n menjawab, ‘Kalian banyak melaknat dan mengingkari (kebaikan) suami’.” (HR. Muslim no. 79)
Islam adalah agama yang menebar rahmat. Hak-hak individu tetap dijaga, tetapi tidak lantas menjadi individualis. Kepekaan terhadap fenomena sosial tetap ditumbuhkan pada diri seorang muslim. Kepedulian terhadap fakir, miskin, dan anak-anak yatim menjadi barometer kualitas keagamaan. Semakin tajam seseorang menghayati dan memahami Islam, semakin tajam pula tingkat kepedulian sosialnya. Hal ini karena ajaran agama Islam tidak hanya dalam tataran teori, lebih dari itu harus diawalkan dalam kehidupan nyata. Memberi sedekah, menyantuni anak yatim, dan memberi makan orang miskin merupakan amalan yang dijunjung tinggi dalam Islam. Firman Allah l:
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1—3)
Firman-Nya:
“Adapun terhadap anak yatim, janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Sedangkan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardik.” (adh-Dhuha: 9—10)
Oleh karena itu, sangat tidak terpuji sekali apabila ada seseorang yang memupuk sikap ego yang tinggi. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli terhadap sesama. Memupuk egoisme akan merusak tatanan sosial, bisa menimbulkan kecemburuan sosial, dan kehidupan bermasyarakat. Akhirnya, kriminalitas yang membahayakan merajalela. Lantaran terjadi ketimpangan sosial, tidak mustahil terlahirlah dunia hitam: premanisme, pelacuran, dan kejahatan lainnya, wal ‘iyyadzubillah. Mendistribusikan sesuatu yang bernilai kepada sekelompok masyarakat yang tidak mampu merupakan langkah bijak memupus kesenjangan sosial. Rasulullah n dan para sahabat yang mulia telah memberikan teladan perihal tersebut.
Dalam sebuah hadits Abdullah bin ‘Umar c disebutkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab z mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Kemudian ‘Umar z mendatangi Nabi n. ‘Umar hendak meminta pendapat perihal tanah tersebut kepada Nabi n. ‘Umar berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendapatkan bagian tanah di Khaibar. Tidaklah aku dapati harta yang lebih berharga darinya, menurutku. Saran apa yang engkau berikan terkait tanah ini?”
Nabi n bersabda, “Jika engkau mau, tetapkanlah tanah tersebut sebagai barang sedekah.”
‘Umar z lalu menyedekahkan tanah tersebut dengan status tanah itu tidak boleh diperjualbelikan, tidak boleh dihibahkan, dan tidak boleh diwariskan. ‘Umar bin Khaththab z menyedekahkan tanah tersebut (yang hasilnya) diperuntukkan bagi orang-orang fakir, karib kerabat, para budak sahaya, orang yang berada di jalan Allah l, ibnu sabil, dan tamu. (HR. al-Bukhari no. 2737)
Apa yang diperbuat ‘Umar bin Khaththab z merupakan langkah nyata memupus egoisme dan sikap bakhil. Tindakan ‘Umar bin al-Khaththab z merupakan teladan dalam menumbuhkan kepedulian sosial. Para ulama menjadikan hadits ‘Abdullah bin ‘Umar c di atas sebagai landasan wakaf. Barang yang disedekahkan ‘Umar bin al-Khaththab z adalah jenis barang yang bisa dimanfaatkan dalam kurun waktu yang lama. Ini tergambar dalam hadits Abu Hurairah z, sesungguhnya Nabi n bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Jika seseorang meninggal dunia, terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah yang terus mengalir (pahalanya), ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakan orang tuanya.” (HR. Muslim no. 4199)
Karena itu, yang menjadi salah satu syarat sah wakaf, barang yang diwakafkan tergolong yang bisa dimanfaatkan secara terus-menerus dan tahan lama (baqa’). Wakaf menjadi tidak sah manakala barang yang diwakafkan tersebut musnah/habis setelah diambil manfaatnya seperti makanan. (Asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah al-Fauzan, Mulakhkhas al-Fiqhi, hlm. 165)
Memberikan sesuatu yang berharga yang menjadi milik sendiri adalah termasuk prinsip kebaikan. Allah l berfirman:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi, sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)
Agar apa yang disedekahkan benar-benar menjadi kebaikan yang bernilai guna, syariat membimbing seseorang untuk tidak mengungkit-ungkit sedekah yang telah diberikan. Hal ini bisa melenyapkan pahala sedekahnya. Apalagi diiringi dengan menyakiti perasaan penerima. Sungguh, hal seperti ini merupakan tindakan yang tidak terpuji. Allah l telah memperingatkan melalui firman-Nya:
“Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Baqarah: 264)
Dari Abi Dzar z, Rasulullah n bersabda:
ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَا يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ : الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ
“Tiga macam orang yang Allah l tidak akan berbicara dengannya pada hari kiamat, tak akan melihat mereka dan membersihkannya. Mereka mendapatkan siksa yang pedih. Yaitu, orang yang mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan, orang yang memanjangkan kainnya hingga melebihi mata kaki, dan orang yang menuntut tambahan harga (dari) barang dagangannya dengan mengucapkan sumpah dusta.” (HR. Muslim no. 171)
Sedekah yang diiringi dengan mengungkit-ungkit apa yang telah diberikan akan sangat mengerikan. Sedekah yang telah dilakukan menjadi batal, pahala yang hendak dituai pun menjadi sirna. Bahkan, di akhirat kelak Allah l tidak akan berbicara dengannya, melihat, dan membersihkannya. Allah l akan menghukumnya dengan siksa yang pedih. Wal ‘iyadzu billah.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin t menjelaskan bahwa yang dimaksud ‘Allah l tidak akan berbicara pada mereka’ adalah berbicara dalam rangka keridhaan. Karena Allah l pun berbicara dengan para penghuni neraka—dan mereka sudah berada di neraka—sebagaimana firman Allah l:
“Allah berfirman, ‘Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan-Ku’.” (al-Mu’minun: 108)
Ini ditujukan pada mereka (penduduk neraka), akan tetapi bukan dalam kerangka jalan yang diridhai. Adapun ‘Allah tidak akan melihat mereka’, maksudnya tidak melihat kepada mereka dengan pandangan khusus, yaitu pandangan penuh rahmat. Adapun memandang secara umum, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat terhadap segala sesuatu. Sedangkan ‘Allah tidak membersihkan mereka’, maksudnya tidak membersihkannya dan memuji mereka dalam kebaikan. Bahkan, Allah l berbuat yang sebaliknya pada mereka. Nas’alullaha al-‘afiyah. (at-Ta’liq ‘ala Shahih Muslim, 1/349—350)
Karenanya, ikhlaskanlah segala sesuatu yang telah diserahkan di jalan Allah l. Dengan itu, diharapkan Allah l membalas segenap kebaikan yang telah diamalkan. Tanpa harus mengungkit-ungkit dan menyakiti orang yang menerima pemberian sedekah tersebut.
Wallahu a’lam.

Surat Pembaca edisi 75

Sajikan “Jejak” dengan Tuntas
Saya semakin cinta majalah ini. Mengikuti rubrik “Jejak”, besar harapan saya agar Asy-Syari’ah menyajikan tuntas mulai dari kronologi sejarah Islam sampai karakter tokoh-tokohnya, seilmiah dan seobjektif mungkin, agar penasaran dan ketidaktahuan di dada ini terjawab. Semoga.
Khodijah-0852277xxxxx

Insya Allah, jazakillahu khairan.

“Khutbah Jumat” Dibukukan
Bismillah, ana usul kalau rubrik “Khutbah Jumat” dibukukan.
0857439xxxxx

Usulan antum insya Allah sudah masuk dalam agenda kami, jazakumullahu khairan.

Ibadah-Ibadah Batiniah
Tolong dibahas ibadah-ibadah batiniah seperti ikhlas, tawakal, khusyu’, dan lain-lain.
0852271xxxxx

Ibadah-ibadah batiniah seperti ikhlas, tawakal, dan sebagainya, insya Allah sudah kami sajikan di edisi-edisi awal kami, silakan dibuka kembali. Jazakumullahu khairan.

Tidak Ada Bahasan ash-Shirath?
Afwan pada edisi 73 “Menyusuri Alam Akhirat” kok tidak ada tema tentang ash-shirath (jembatan antara surga dan neraka)?
Abu Umamah-Semarang
0813267xxxxx
Tentang ash-shirath, memang kami singgung sedikit sekali. Kami memohon maaf jika hal ini kurang berkenan di hati pembaca. Jazakumullahu khairan.

Terjemahan Hadits Kurang
Bismillah. Afwan, terjemahan hadits yang ada di halaman 53 kemudian bersambung ke halaman 108 sepertinya kurang. Mohon ditinjau ulang.
Yasin-Ulujami – 0858798xxxxx

Anda benar, kesalahan ini terjadi karena pemotongan artikel untuk halaman sambungan. Terjemahan selengkapnya: Akan diserukan bagi penduduk jannah, “Sungguh, untuk kalian kesehatan maka kalian tidak akan sakit selama-lamanya. Bagi kalian kehidupan…. Jawaban ini sekaligus ralat dari kami. Jazakumullahu khairan.

Hipnotis, Teori Darwin, dan Teori Revolusi Bumi
Tolong dibahas tentang hipnotis apakah termasuk sihir? Tolong dibahas tentang teori evolusi Darwin? Tolong dibahas tentang teori matahari mengelilingi bumi dan teori bumi mengelilingi matahari?
Heri-0813274xxxxx

Bantahan terhadap teori evolusi Darwin dan teori bumi mengelilingi matahari, insya Allah sudah kami singgung, meski bukan dalam bentuk bahasan secara khusus. Adapun tentang hipnotis, hipnoterapi, dan yang semacamnya, mohon maaf belum bisa kami angkat dalam waktu dekat. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

Mari Berwakaf!

Wakaf seolah tenggelam oleh “popularitas” sedekah. Padahal wakaf juga punya keistimewaan tersendiri. Memang, jika bicara nilai aset, umumnya nilai harta benda wakaf lebih besar daripada sedekah. Apalagi dalam pemahaman masyarakat umum, wakaf identik dengan benda tidak bergerak seperti tanah atau bangunan, sehingga kemampuan berwakaf tentu tak setinggi kemampuan bersedekah. Padahal, jika kita bisa memahami apa yang dimaksud wakaf, ada banyak cara untuk kita bisa berwakaf, baik dengan benda bergerak selain uang maupun benda bergerak berupa uang. Adapun nilainya, tergantung kemampuan kita, meskipun di sini bukan soal kecil atau besar, tapi nilai keikhlasan kita kepada Allah l.
Dengan kata lain, wakaf sesungguhnya meliputi benda-benda secara luas selama dalam kepemilikan wakif (yang mewakafkan) dan bukan benda habis pakai. Manfaatnya juga terus bisa dirasakan dari generasi ke generasi, seperti buku-buku agama, majalah-majalah Islami, mushaf al-Qur’an, dan sebagainya.
Dalam praktiknya, terkadang kita justru mengecilkan itu semua hanya karena “bukan uang” atau melihat “nilai rupiah”-nya yang sangat kecil. Padahal, bisa jadi tanpa kita sadari, hanya dari beberapa majalah Islami yang barangkali sudah kusam yang kita berikan kepada sebuah masjid, itu menjadi wasilah (sarana) jamaah masjid tersebut untuk mendapatkan hidayah untuk memahami agama ini dengan benar. Demikian juga dari sebuah al-Qur’an mungil yang kita wakafkan ke sebuah masjid, namun menjadi ladang pahala yang terus-menerus mengalir karena terus-menerus dibaca oleh jamaah yang berkunjung ke masjid tersebut. Subhanallah!
Dahulu, ikrar wakaf cukup bermodalkan lisan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman sekaligus pergeseran dalam cara pandang soal keduniaan, wakaf sering terseret dalam ranah hukum. Banyak kasus harta benda wakaf yang hilang setelah kalah dalam sengketa hukum melawan anak cucu wakif. Oleh karena itu, benda wakaf dipersyaratkan dikuasai secara sah oleh wakif, serta bebas dari segala sitaan, perkara, sengketa, dan tidak dijaminkan.
Kita tentu menyambut baik program pemerintah untuk sertifikasi wakaf, melalui kerjasama Kantor Kementerian Agama Kab/Kota dan Kantor Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kab/Kota—untuk benda wakaf berupa tanah—dan instansi berwenang lainnya dalam hal benda wakaf berupa benda tidak bergerak selain tanah atau benda bergerak selain uang. Sertifikasi wakaf ini membuat benda wakaf punya kekuatan hukum. Aset umat bisa dipertahankan, untuk kemudian dikelola sesuai dengan amanat wakif serta dikembangkan sesuai dengan peruntukannya secara produktif dan profesional.
Karena wakaf sudah menyangkut lintas generasi, umat pun butuh nazhir-nazhir yang profesional. Yang tidak mengurusi wakaf sekadar pekerjaan paruh waktu, tetapi benar-benar menjalankan tugas secara profesional, tentunya dengan pemberian hak-hak yang pantas. Yang diharapkan, nazhir bisa benar-benar mengadministrasikan, mengelola, mengembangkan, mengawasi, dan melindungi harta benda wakaf untuk kesejahteraan umat.
Tinggal sekarang, sejauh mana kepedulian umat untuk berwakaf. Sekali lagi wakaf bukan cuma tanah, banyak hal yang bisa kita wakafkan. Oleh karena itu, mari berwakaf!

KAIDAH MEMPERLAKUKAN ORANG LAIN

Al-Hakim t berkata, “Ketulusan dalam hal bergaul dengan makhluk adalah engkau senang apabila mereka memperlakukanmu sebagaimana engkau memperlakukan mereka.”

Abu Bakr bin ‘Ayyasy t mengatakan, “Raihlah keutamaan dengan cara engkau mengutamakan orang lain. Sesungguhnya, manusia memperlakukan dirimu sebagaimana engkau memperlakukan mereka.”

Umar ibnul Khaththab z berkata, “Ada tiga hal yang akan membuat kecintaan saudaramu kepadamu menjadi tulus: engkau mengucapkan salam ketika bertemu dengannya, melapangkan majelis untuknya, dan memanggilnya dengan nama yang paling disenanginya.”

(Adabul ‘Isyrah wa Dzikru ash-Shuhbah wal Ukhuwwah, Abul Barakat al-Ghazzi)