Sujud Tilawah

Mau tanya tentang ayat yang ada kata sajada apa disunnahkan untuk sujud? Kalau iya, lalu bacaannya apakah tiap-tiap ayat berbeda, cara melakukannya bagaimana? Terima kasih sebelumnya.
Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi
Menanggapi pertanyaan tersebut, kami sampaikan bahwa sujud tersebut dinamakan sujud tilawah, tilawah artinya bacaan atau disebut juga sujudul Qur’an. Jadi sujud tersebut adalah sujud yang disebabkan karena bacaan.
Bacaan yang dimaksud adalah bacaan pada ayat-ayat yang disebut ayat sajdah. Ayat sajdah bukanlah setiap ayat yang disebutkan padanya kata sajada (سجد), akan tetapi ayat-ayat tertentu yang Nabi n atau para sahabatnya pernah melakukan sujud tilawah padanya. Ayat-ayat tersebut kemudian dikumpulkan oleh para ulama.
Ibnu Hazm t menyimpulkan, jumlah ayat sajdah ada empat belas, yaitu:
1. Al-A’raf: 206
2. Ar-Ra’du: 15
3. An-Nahl: 49
4. Al-Isra: 107
5. Maryam: 58
6. Al-Hajj: 18
7. Al-Furqan: 60
8. An-Naml: 25—26
9. As-Sajdah: 15
10. Shad: 24
11. Fushshilat: 37
12. An-Najm: 62
13. Al-Insyiqaq: 21
14. Al-Alaq: 19
Terdapat beberapa perbedaan pendapat pada penentuan beberapa ayat, akan tetapi mayoritas yang tersebut di atas telah disepakati. Biasanya, dalam cetakan mushaf ada tanda pada tiap-tiap ayat sajdah tersebut.
Adapun bacaannya, terdapat sebuah riwayat yang menerangkannya. Aisyah x mengatakan,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ n يَقُولُ فِى سُجُودِ الْقُرْآنِ بِاللَّيْلِ يَقُولُ فِى السَّجْدَةِ مِرَارًا: سَجَدَ وَجْهِى لِلَّذِى خَلَقَهُ وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ
“Adalah Rasulullah n membaca dalam sujud al-Qur’an pada malam hari, ia membaca dalam sujud berulang-ulang, (artinya): Telah sujud wajahku untuk yang menciptakannya dan membuka penglihatan serta pendengarannya dengan kemampuan dan kekuatan-Nya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)
Ibnu Abbas c berkata,
كُنْتُ عِنْدَ النَّبِيِّ n فَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ الْبَارِحَةَ فِيمَا يَرَى النَّائِمُ كَأَنِّي أُصَلِّي إِلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ فَقَرَأْتُ السَّجْدَةَ فَسَجَدْتُ فَسَجَدَتِ الشَّجَرَةُ لِسُجُودِي فَسَمِعْتُهَا تَقُولُ: اللَّهُمَّ احْطُطْ عَنِّي بِهَا وِزْرًا وَاكْتُبْ لِي بِهَا أَجْرًا وَاجْعَلْهَا لِي عِنْدَكَ ذُخْرًا. قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ:فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ n قَرَأَ السَّجْدَةَ فَسَجَدَ فَسَمِعْتُهُ يَقُولُ فِي سُجُودِهِ مِثْلَ الَّذِى أَخْبَرَهُ الرَّجُلُ عَنْ قَوْلِ الشَّجَرَةِ.
Aku berada di sisi Nabi n, datanglah seseorang lalu berkata, “Sesungguhnya semalam aku melihat seperti halnya seorang yang bermimpi, seakan-akan aku melakukan shalat menghadap pangkal sebuah pohon. Aku membaca ayat sajdah, lalu aku sujud dan pohon itu ikut sujud. Aku mendengar pohon itu mengucap (artinya), ‘Ya Allah, gugurkanlah dariku dosaku dengan sujud ini, dan tulislah pahala bagiku dengan sujud ini, serta jadikanlah sujud ini tabungan untukku di sisi-Mu’.”
Ibnu Abbas c berkata, “Lalu aku melihat Nabi membaca ayat sajdah lalu sujud. Aku mendengar beliau mengatakan dalam sujudnya seperti yang diberitakan oleh orang tersebut tentang apa yang dibaca oleh pohon itu.”

Apakah Disyaratkan dalam Keadaan Suci ketika Melakukan Sujud?
Sujud tilawah bisa dilakukan dalam shalat, bisa pula di luar shalat. Dalam shalat, tentu dalam keadaan suci, adapun jika sujud di luar shalat tidak dipersyaratkan suci.
Al-Imam al-Bukhari t menyampaikan sebuah riwayat dalam Shahihnya dari Ibnu Umar c bahwa beliau dahulu sujud tidak dalam keadaan suci (wudhu). (“Abwabu Sujudil Qur’an”, Bab “Sujudul Muslimin Ma’al Musyrikin”)
Ibnu Hazm t mengatakan, “Sujud tilawah dilakukan dalam shalat fardhu dan sunnah, dan pada selain shalat, di setiap saat, (walaupun) saat terbit matahari, saat tenggelamnya dan saat matahari di tengah siang, menghadap kiblat atau tidak, dalam keadaan suci atau tidak.” (al-Muhalla, 5/157, “Kitabush Shalah”, bab “Sujudul Qur’an”)
Ibnu Taimiyyah t juga mengatakan dalam kitabnya, al-Ikhtiyarat, “Sujud tilawah bukanlah shalat sehingga tidak dipersyaratkan dalam hal ini syarat-syarat shalat. Bahkan, boleh dilakukan tidak dalam keadaan suci. Ibnu Umar c pun dahulu sujud tidak dalam keadaan suci. Pendapat inilah yang dipilih oleh al-Bukhari t. Akan tetapi, sujud dengan syarat-syarat shalat lebih baik. (al-Fatawa al-Kubra)

Apakah Dipersyaratkan Takbir?
Ibnu Taimiyyah t berkata, “Tidak disyariatkan padanya takbiratul ihram, tidak pula salam. Inilah sunnah yang dikenal dari Nabi n dan diamalkan oleh kebanyakan as-salaf (para pendahulu).” (al-Fatawa al-Kubra, 5/340)
Akan tetapi, tampaknya ucapan beliau ini apabila melakukan sujud di luar shalat.
Meskipun demikian, sebagian ulama berpendapat bahwa sujud ini dimulai dengan takbir, seperti Abu Qilabah dan Ibnu Sirin rahimahumallah.
Adapun di dalam shalat, para ulama juga berbeda pendapat.
1. Asy-Syaikh al-Albani menyebutkan dalam kitabnya, Tamamul Minnah, sebuah riwayat dari Abu Hanifah yang berpendapat bahwa sujud ini tanpa takbir. Inilah yang beliau pegang. Beliau mengatakan, “Sekelompok sahabat telah meriwayatkan sujud tilawah Nabi n dalam banyak ayat, dalam banyak kesempatan, namun tidak seorang pun dari mereka menyebutkan takbir untuk sujud. Oleh karena itu, kami condong kepada pendapat tidak adanya takbir.”

2. Adapun pendapat yang kedua menyebutkan adanya takbir pada saat sujud dan bangkit darinya.
Ini adalah pendapat mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Nabi n dari Abu Hurairah z berikut.
أَنَّهُ كَانَ يُصَلِّي بِهِمْ، فَيُكَبِّرُ كُلَّمَا خَفَضَ وَرَفَعَ، فَإِذَا انْصَرَفَ قَالَ: إِنِّي لَأَشْبَهُكُمْ صَلاَةً بِرَسُولِ اللهِ n
Beliau (Abu Hurairah z) shalat bersama mereka, lalu beliau mengucapkan takbir setiap kali turun dan setiap kali naik. Ketika selesai, beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah orang paling serupa shalatnya dengan Rasulullah n di antara kalian.” (Sahih, HR. al-Bukhari, “Kitabul Adzan”, Bab “Itmamut Takbir fir Ruku”)

Hukum Sujud Tilawah
Para ulama juga berbeda pendapat tentang hal ini.
1. Pendapat pertama mengatakan bahwa sujud tilawah adalah sunnah.
Yang berpegang dengan pendapat ini adalah al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, al-Auza’i, al-Laits, Dawud azh-Zhahiri, dan lain-lain.
2. Pendapat kedua, sujud tilawah adalah wajib.
Ini adalah mazhab Hanafi, dan ini yang dipilih oleh Ibnu Taimiyyah.

Yang rajih (kuat) adalah mazhab yang pertama berdasarkan dalil berikut ini.
1. Riwayat dari Atha bin Yasar t
أَنَّهُ سَأَلَ زَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ z فَزَعَمَ أَنَّهُ قَرَأَ عَلَى النَّبِيِّ n (وَالنَّجْم)ِ فَلَمْ يَسْجُدْ فِيهَا
“Ia bertanya kepada Zaid bin Tsabit z, beliau mengaku pernah membacakan kepada Nabi n surat an-Najm dan beliau tidak sujud.” (Sahih, HR. al-Bukhari, “Kitab Sujudul Qur’an” Bab “Man Qara’a as-Sajdah wa lam Yasjud”)
2. Rabi’ah t bercerita bahwa Umar z
قَرَأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِسُورَةِ النَّحْلِ حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ نَزَلَ فَسَجَدَ وَسَجَدَ النَّاسُ، حَتَّى إِذَا كَانَتِ الْجُمُعَةُ الْقَابِلَةُ قَرَأَ بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءَ السَّجْدَةَ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّا نَمُرُّ بِالسُّجُودِ فَمَنْ سَجَدَ فَقَدْ أَصَابَ، وَمَنْ لَمْ يَسْجُدْ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ. وَلَمْ يَسْجُدْ عُمَرُ z.
وَزَادَ نَافِعٌ عَنِ ابْنِ عُمَرَ c: إِنَّ اللهَ لَمْ يَفْرِضِ السُّجُودَ إِلاَّ أَنْ نَشَاءَ
“… Pada hari Jum’at membaca di atas mimbar surat an-Nahl, hingga bila sampai pada ayat sajdah beliau turun lalu sujud sehingga orang-orang pun sujud. Saat Jum’at berikutnya, beliau membaca lagi surat tersebut hingga sampai pada ayat sajdah, beliau berkata, ‘Wahai manusia, sesungguhnya kita melewati ayat sajdah. Barang siapa bersujud sungguh ia telah benar, dan barang siapa tidak bersujud maka tiada dosa baginya.’ Dan Umar sendiri tidak bersujud.
Nafi’ t menambahkan dari Ibnu Umar c, (beliau berkata), “Allah l tidak mewajibkan sujud kecuali sekehendak kita.” (Sahih, HR. al-Bukhari, “Abwabu Sujudil Qur’an”, Bab “Man Ra’a anna Allah lam Yujib as-Sujud”)

Amalan Tanpa Ilmu Laksana Fatamorgana

(ditulis oleh: Ibnu Qayyim al-Jauziyyah)

Allah l berfirman,
“Orang-orang kafir, amal-amal mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi apabila didatangi ‘air’ itu, dia tidak mendapati apa pun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih. Apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barang siapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah dia mempunyai cahaya sedikit pun.” (an-Nur: 39—40)
Allah l menyebutkan dua permisalan untuk orang-orang kafir, permisalan fatamorgana dan permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Ini karena orang-orang yang berpaling dari petunjuk dan kebenaran itu ada dua macam. Salah satunya adalah seseorang yang mengira bahwa dirinya di atas suatu kebenaran, lalu menjadi jelas baginya saat terbukti hakikatnya berbeda dengan apa yang dia kira. Inilah kondisi orang-orang yang bodoh dan kondisi para pengikut bid’ah. Mereka mengira bahwa mereka berada di atas petunjuk dan ilmu. Ketika hakikatnya tersingkap, menjadi jelas bagi mereka bahwa ternyata mereka tidak berada di atas petunjuk. Mereka juga tahu, keyakinan dan amal mereka yang berasal dari ilmu mereka, hanya fatamorgana yang berada di tanah datar, yang terlihat oleh mata yang memandangnya sebagai air padahal tiada nyatanya.
Demikian pula amalan-amalan yang bukan karena Allah l dan tidak berlandaskan perintah-Nya. Si pelaku menyangkanya bermanfaat baginya, padahal tidak demikian. Amalan inilah yang dikatakan oleh Allah l,
“Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)
Coba perhatikan, bagaimana Allah l menjadikan fatamorgana itu di atas tanah yang datar lagi kosong, tidak ada bangunan, pepohonan, dan tumbuhan. Di situlah tempat terjadinya fatamorgana: tanah yang kosong, tidak ada sesuatu. Memang, fatamorgana itu sesuatu yang tidak ada nyatanya. Permisalan ini sesuai dengan amalan dan kalbu mereka yang kosong dari iman dan hidayah.
Perhatikanlah firman-Nya,
“Orang yang dahaga menyangkanya air….”
Artinya, ketika orang yang sangat dahaga melihat fatamorgana, mengiranya sebagai air sehingga ia mengejarnya. Tetapi, ternyata ia tidak mendapatkan apa-apa. Fatamorgana itu menipunya di saat ia sangat membutuhkan air. Demikian juga keadaan mereka. Ketika amal mereka bukan karena taat kepada Rasul n dan bukan karena Allah l, amal mereka dijadikan laksana fatamorgana. Amalan itu akan ditampakkan kepada mereka saat mereka sangat kehausan dan sangat membutuhkannya, namun mereka tidak mendapatkan apa-apa. Mereka justru mendapati Allah l yang akan membalasi amal mereka dan akan memenuhi hisab mereka.
Dalam sebuah hadits tentang hari kiamat dalam kitab ash-Shahih, dari hadits sahabat Abu Sa’id al-Khudri z, dari Nabi n,
“Lalu didatangkan Jahannam dan ditampakkan laksana fatamorgana. Dikatakan kepada Yahudi, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka mengatakan ‘Kami dahulu menyembah Uzair, putra Allah.’ Lantas dikatakan kepada mereka, ‘Kalian berdusta. Allah tidak memiliki istri dan anak, lantas apa yang kalian maukan sekarang?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau beri kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan di Jahannam. Kemudian dikatakan kepada orang-orang Nasrani, ‘Apa yang kalian sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah al-Masih, putra Allah.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Kalian dusta. Allah l tidak memiliki istri atau anak, lantas apa yang kalian inginkan?’ Mereka menjawab, ‘Kami menginginkan Engkau memberi kami minum.’ Dikatakan kepada mereka, ‘Minumlah!’ Akhirnya mereka berjatuhan….”
Inilah kondisi setiap pelaku kebatilan. “Kebaikan” mereka akan mengkhianati mereka saat mereka sangat membutuhkannya, karena kebatilan itu tidak ada nyatanya. Sama dengan namanya, batil (yang dalam bahasa Arab berarti ‘sesuatu yang akan lenyap’), jika sebuah keyakinan tidak sesuai dengan (tuntunan) dan tidak benar, yang terkait dengannya juga batil.
Demikian pula jika tujuan sebuah amalan itu batil, seperti beramal karena selain Allah l atau tidak di atas perintah-Nya, amalnya batil dengan sebab kebatilan tujuannya. Pelakunya akan merasa celaka karena sia-sianya amal tersebut. Ia justru akan mendapatkan kebalikan dari apa yang dia angan-angankan… Ia tersiksa dengan lenyapnya manfaat amalannya dan perolehan yang sebaliknya. Oleh karena itu, Allah l berfirman,
“Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (an-Nur: 39)
Inilah permisalan seseorang yang dia mengira dirinya berada di atas petunjuk.
Macam yang kedua, adalah pemilik permisalan kegelapan yang bertumpuk-tumpuk. Mereka adalah orang-orang yang mengetahui kebenaran dan petunjuk, namun lebih mengutamakan kegelapan kebatilan dan kesesatan daripada kebenaran tersebut. Akhirnya, menumpuklah kegelapan tabiatnya, kegelapan jiwanya, kegelapan kebodohannya, dan kegelapan kesesatan serta hawa nafsu, yang mereka tidak mengamalkan ilmu mereka sehingga mereka menjadi bodoh.
Keadaan mereka laksana seseorang yang berada di lautan yang dalam lagi tidak bertepi, sementara itu ombak meliputinya. Di atas ombak itu ada ombak lagi. Di atasnya lagi ada awan yang gelap. Jadilah ia berada di kegelapan lautan, kegelapan ombak, dan kegelapan awan. Ini seperti kegelapan yang ia berada padanya. Kegelapan yang Allah l tidak mengeluarkannya darinya menuju cahaya iman.
Dua permisalan ini, permisalan fatamorgana yang dia kira sumber kehidupan, yaitu air, dan permisalan kegelapan-kegelapan yang berlawanan dengan cahaya, mirip dengan permisalan orang-orang munafik dan orang-orang mukmin, yaitu permisalan air dan api. Allah l menjadikan bagian bagi mukminin dari keduanya adalah kehidupan dan cahayanya, sedangkan bagian untuk munafik adalah kegelapan yang merupakan lawan dari cahaya dan kematian yang merupakan lawan dari kehidupan.
Demikian juga orang-orang kafir dalam dua permisalan ini. Bagian mereka hanyalah fatamorgana yang menipu orang yang melihatnya—sesuatu yang tidak ada kenyataannya—dan bagian mereka adalah kegelapan-kegelapan yang berlapis-lapis.
Bisa jadi, maksud ayat ini adalah keadaan salah satu dari kelompok-kelompok orang kafir. Mereka kehilangan sumber kehidupan dan cahaya karena mereka berpaling dari wahyu. Oleh karena itu, dua permisalan ini adalah untuk satu golongan.
Namun, bisa jadi pula, maksudnya adalah macam-macam keadaan orang kafir. Permisalan pertama adalah mereka yang beramal tanpa ilmu, hanya dengan kebodohan dan baik sangka terhadap para pendahulu (nenek moyangnya). Mereka mengira telah berbuat baik. Adapun permisalan kedua adalah bagi yang lebih menyukai kesesatan daripada petunjuk dan mendahulukan yang batil daripada yang haq. Mereka buta padahal sebelumnya melihatnya. Mereka pun mengingkari padahal sebelumnya mengetahui. Inilah keadaan orang-orang yang dimurkai. Adapun yang pertama adalah keadaan orang-orang yang sesat.
(diterjemahkan dan disusun dari beberapa buku Ibnul Qayyim, oleh Qomar Suaidi)

Ath Thayyib

Ath-Thayyib adalah salah satu nama Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyebutkan nama Allah subhanahu wa ta’ala ini dalam salah satu haditsnya,

“Wahai manusia, sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik dan Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kaum mukminin dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala perintahkan dengannya para rasul.

Maka Allah subhanahu wa ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Wahai para rasul, makanlah dari hal-hal yang baik dan lakukan yang baik, Aku mengetahui apa yang kalian lakukan,’ dan berkata (yang artinya), ‘Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari hal-hal yang baik yang Kami telah rezekikan pada kalian.’

Lalu beliau menyebutkan seseorang yang menempuh perjalanan panjang, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, ‘Ya Rabb! Ya Rabb!’, sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi gizi yang haram, lalu bagaimana mau dikabulkan karena itu?” (Sahih, HR. Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Makna ath-Thayyib

Al-Qadhi rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib dalam sifat Allah subhanahu wa ta’ala bermakna yang suci dari segala kekurangan dan itu bermakna al-Quddus, yang Mahasuci. Asal makna kata ath-Thayyib adalah bersih suci dan bebas dari yang kotor.” (Syarah Shahih Muslim karya an-Nawawi)

Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Ath-Thayyib di sini bermakna ath-Thahir, artinya suci dari segala kekurangan dan aib seluruhnya.” (Jami’ al-’Ulum wal Hikam)

Buah Mengimani Nama Allah ath-Thayyib

Buahnya adalah mengetahui kesucian Allah subhanahu wa ta’ala, keagungan-Nya, dan ketinggian-Nya, tiada sesembahan yang seperti-Nya, tidak memiliki kekurangan dan cacat sama sekali dari segala sisi-Nya.

Di samping itu, di antara buahnya sebenarnya telah diterangkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits di atas, yaitu bahwa Allah Yang Mahabaik tidak menerima selain yang baik.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Allah subhanahu wa ta’ala mencintai sifat-sifat-Nya, seperti disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dan mencintai pengampunan’, sabdanya yang lain, ‘Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala indah dan mencintai keindahan’, dan sabda beliau, ‘Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima melainkan yang baik’.” (ash-Shawa’iqul Mursalah 4/ 1458, dinukil dari kitab Shifatullah al-Waridah hlm. 170)

Jadi, sebuah ucapan tidak akan diterima di sisi-Nya kecuali yang baik, amal perbuatan tidak akan diterima di sisi-Nya selain yang baik, dan keyakinan pun tidak diterima di sisi-Nya melainkan yang baik. Tidak ada seorang pun yang masuk surga selain yang sudah jelas baiknya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,
Dan orang-orang yang bertakwa kepada Allah dibawa ke dalam jannah (surga) berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedangkan pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya, “Kesejahteraan (dilimpahkan) atas kalian. Kalian telah baik! Maka masukilah surga ini, sedangkan kamu kekal di dalamnya.” (az-Zumar: 73)

Maksudnya, baik kalbu kalian dengan mengenal Allah subhanahu wa ta’ala, mencintai-Nya, maupun takut kepada-Nya, baik lisan kalian dengan berzikir kepada-Nya maupun anggota badan kalian dengan taat kepada-Nya. Dengan sebab kebaikan kalian, “Masuklah kalian ke dalam jannah kekal di dalamnya,” karena surga adalah negeri yang baik tidak pantas masuk ke dalamnya selain mereka yang baik. (Tafsir as-Sa’di)

Dengan ini, dalam hal makanan pun hendaknya selalu menjaga yang baik yakni terutama halal, karena makanan akan berpengaruh pada amalan. Lihatlah bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bercerita di akhir hadits tersebut tentang seorang yang sudah berbuat baik dengan berdoa, bahkan dalam sebuah perjalanan yang panjang, dalam kondisi sangat butuh kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kusut, berdebu, membentangkan tangannya ke langit, lagi meminta-minta kepada Allah subhanahu wa ta’ala sembari merengek dengan menyebut-nyebut nama-Nya. Ini adalah keadaan yang sangat mendukung terkabulnya doa. Namun, Allah subhanahu wa ta’ala tidak menerimanya dan menolak doanya. Mengapa? Karena makanannya haram, dia tidak baik, kotor tubuhnya, tidak suci dari yang haram.

Oleh karena itu, jangankan kita, para rasul pun diperintah untuk memakan dari yang thayyib, baik, halal, seperti dalam hadits tersebut.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc

 

Sifat Shalat Nabi (21) : Tata Cara Sujud

I’tidal dalam Sujud

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Luruslah kalian dalam sujud!” (HR. al-Bukhari no. 822 dan Muslim no. 1102)

Yang dimaksud lurus dalam sujud, kata al-Qadhi Abu Bakr Ibnul Arabi rahimahullah dalam ‘Aridhatul Ahwadzi (2/66—67), adalah seimbang tumpuan pada kedua kaki, kedua lutut, kedua tangan, dan wajah. Jadi, tidak ada satu anggota sujud yang mendapat beban lebih dari yang lain. Dengan demikian, terwujudlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Aku diperintah untuk sujud di atas tujuh tulang.”

Sementara itu, apabila kedua lengan dibentangkan sebagaimana anjing membentangkan kedua kaki depannya, niscaya yang jadi tumpuan adalah kedua lengan bawah, bukan wajah. Dengan begitu, kewajiban wajah tidak tertunaikan.
Ibnu Daqiqil Id rahimahullah juga menerangkan bahwa yang dimaksud i’tidal/lurus adalah melakukan tata cara sujud sesuai dengan apa yang diperintahkan/ditetapkan oleh syariat. (Ihkamul Ahkam, hadits no. 96)

Dengan demikian, perbuatan sebagian orang yang merentangkan punggungnya dengan berlebihan sehingga hampir-hampir ia dalam posisi tiarap—dan menyangka telah menjalankan perintah untuk lurus dalam sujud—justru menyelisihi sunnah, karena tidak ada seorang pun sahabat yang menceritakan tata cara shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa beliau meluruskan punggungnya di saat sujud sebagaimana yang mereka sebutkan dalam ruku’[1]. Yang diajarkan dalam as-Sunnah hanyalah perut dijauhkan dari kedua paha, tidak menempel, sehingga punggung dalam posisi terangkat/tinggi.

Perbuatan memanjangkan punggung hingga lurus, selain menyelisihi sunnah, juga masuk kepada kebid’ahan. Selain itu, perbuatan memberi kesulitan yang sangat bagi orang yang shalat karena jika punggung lurus tentunya berat badan bertumpu pada dahi dan memberi pengaruh pada leher, sehingga akan sangat memayahkan. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah, 13/188 dan 379, asy-Syarhul Mumti’, 3/121)

Tata Cara Sujud Wanita Sama dengan Pria

Abu Dawud dalam Marasil-nya (hlm. 116—118, no. 87) meriwayatkan dari Yazid bin Abi Habib, ia menyebutkan, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua orang wanita yang sedang shalat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

‘Apabila kalian berdua sujud, tempelkanlah sebagian tubuh kalian ke bumi karena wanita tidak sama dengan lelaki dalam hal sujud’.”

Hadits ini mursal[2] sebagaimana al-Imam Abu Dawud rahimahullah membawakan hadits ini dalam kitabnya, al-Marasil. Hadits mursal bukanlah hujah. Walaupun riwayat yang mursal ini lebih baik dari sisi sanad daripada yang maushul, sebagaimana yang dinyatakan oleh al-Imam al-Baihaqi dalam as-Sunan al-Kubra (2/223), namun hadits mursal tetaplah masuk dalam kategori hadits-hadits yang lemah ketika dia berdiri sendiri. Lihat keterangan lemahnya hadits ini dalam kitab adh-Dha’ifah (no. 2652) buah karya al-Imam al-Albani rahimahullah.

Dengan demikian, tata cara sujud bagi wanita tidak berbeda dengan lelaki, berdasar hadits sahih yang sudah berulang kita bawakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan,

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat!”

  1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberdirikan kedua telapak kaki beliau.

Hal ini sebagaimana diceritakan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha saat ia kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari tempat tidurnya di suatu malam. Aisyah radhiallahu ‘anha pun mencari beliau dengan meraba-raba dalam kegelapan. Ternyata, tangannya menyentuh bagian dalam kedua telapak kaki Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dalam keadaan keduanya ditegakkan dan beliau sedang sujud. (HR. Muslim no. 1090)

Jari-jemari kaki saat sujud ini dilipat[3]. Punggung telapak kaki dan ujung-ujung jari kedua kaki dihadapkan ke arah kiblat, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Humaid as-Sa’idi radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam Shahih-nya (no. 828),

“Beliau menghadapkan ujung jari-jemari kedua kaki beliau ke arah kiblat.”
Caranya, dua telapak kaki ditegakkan di atas jari-jemari kedua kaki dan kedua tumit berada pada posisi yang tinggi sehingga punggung kedua telapak kaki bisa mengarah ke kiblat. (Fathul Bari, 2/382)

Kedua tumit ditempelkan, sebagaimana yang disebutkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha dalam Shahih Ibni Khuzaimah (no. 654), diriwayatkan pula oleh al-Hakim rahimahullah (1/228) dan ia mengatakan bahwa hadits tersebut sahih menurut syarat Syaikhain (al-Bukhari dan Muslim, -red.), namun keduanya tidak mengeluarkannya. Hal ini disepakati oleh adz-Dzahabi rahimahullah. Namun, yang benar ialah hadits ini hanya sahih sesuai syarat Muslim rahimahullah (al-Ashl, 2/737).

Adapun lafadznya adalah sebagai berikut.

“Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam—tadinya beliau bersamaku di atas tempat tidurku. Ternyata aku dapati beliau sedang sujud dengan menempelkan kedua tumit beliau dan mengarahkan ujung-ujung jari-jemari beliau ke arah kiblat….”

Sujud di Atas Tanah dan Tikar

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seringnya sujud di atas tanah karena memang masjid beliau tidak ditutupi oleh hamparan atau tikar, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak hadits. Namun, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah pula shalat di atas alas, tikar, atau khumrah yang sekadar mengalasi wajah. Dengan demikian, tidaklah terlarang apabila seseorang shalat dan sujud dengan memberi alas di bawahnya, baik berupa tikar, permadani, sajadah, maupun yang semisalnya

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah berkata, “Asalnya, sujud dilakukan dengan meletakkan anggota-anggota sujud langsung bersentuhan dengan tanah/bumi tanpa ada penghalang. Demikian yang afdal karena menunjukkan puncak ketundukan/menghinakan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, apabila seseorang sujud di atas sesuatu yang menjadi alas atau penghalang antara dia dan tanah, tidak apa-apa dan tidak ada larangannya. Shalatnya sah. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sujud dengan apa yang mudah bagi beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah sujud di atas bumi (tanpa alas) dan terkadang sujud di atas tikar.

Ulama mengatakan, “Alas yang dipakai untuk sujud orang yang shalat ada tiga macam.
1. Ia sujud di atas alas yang terpisah dari dirinya, seperti hamparan (tikar atau permadani atau yang semisalnya)

Yang seperti ini tidak apa-apa walaupun yang afdal adalah langsung di atas tanah.
2. Alas yang bersambung dengan orang yang shalat, seperti imamah/sorbannya dan ujung bajunya.

Ini juga tidak apa-apa karena para sahabat pernah melakukannya saat shalat bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Waktu itu, mereka merasakan tanah begitu panas sehingga mereka kesulitan sujud di atasnya. Boleh pula memakai alas ini guna menghindari duri atau kerikil.

  1. Alas tersebut bersambung dengan orang yang shalat dan merupakan anggota-anggota sujudnya.

Hal ini menyebabkan shalatnya tidak sah. Misalnya, ia membentangkan kedua telapak tangannya di atas tanah lantas sujud dengan meletakkan dahinya di atas telapak tangannya. (Tashilul Ilmam, 2/253)

Bekas Hitam di Dahi karena Sujud adalah Tanda Orang Saleh?
Fadhilatusy Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hal itu bukan tanda orang-orang saleh. Yang menjadi tanda justru cahaya yang tampak pada wajah (wajah yang tampak bercahaya/tidak suram dan menghitam), dada yang lapang, akhlak yang baik, dan yang semisalnya. Adapun bekas sujud yang tampak pada dahi, terkadang juga tampak pada wajah orang-orang yang hanya mengerjakan shalat fardhu karena kulitnya yang tipis, sementara itu pada wajah orang yang banyak mengerjakan shalat dan sujudnya lama terkadang tidak tampak.” (Majmu’ Fatawa, fatwa no. 523, 13/188)

 

Seseorang yang Tidak Bisa Sujud dengan Sempurna atau Tidak Bisa Sujud Sama Sekali

Hal ini terjadi misalnya karena masjid penuh sesak dan orang-orang berdesak-desakan saat mengerjakan shalat berjamaah, seperti yang terjadi di Masjidil Haram. Kalaupun sujud, maka jatuhnya di punggung orang yang shalat di depannya, bukan di tanah.

Tentang hal ini, ada tiga pendapat ulama.

  1. Ia tetap sujud di atas punggung saudaranya atau di atas kaki saudaranya apabila memang jamaah penuh sesak. Ini yang masyhur dalam mazhab al-Imam Ahmad rahimahullah.
  2. Ia cukup memberikan isyarat.
  3. Ia menanti hingga orang di depannya bangkit dari sujud, barulah ia sujud setelahnya.

Pendapat yang kuat dalam masalah ini adalah dengan memberi isyarat karena ada asalnya dalam syariat, yaitu orang yang tidak mampu sujud maka ia berisyarat. Sementara itu, orang yang disebutkan di atas, hakikatnya ia tidak mampu sujud karena tidak ada tempat berupa lantai untuk meletakkan anggota sujud.

Adapun pendapat yang menyatakan bahwa orang yang shalat disuruh sujud di atas punggung orang yang di depannya, tentu akan menimbulkan masalah, yaitu ia mengganggu dan mengacaukan kekhusyukan orang lain. Lagi pula, sujud yang dilakukan tetap tidak bisa sempurna, karena ia sujud di atas sesuatu yang tinggi (punggung orang lain).

Sementara itu, pendapat yang mengatakan menanti orang yang di depan selesai sujud, berarti orang tersebut akan tertinggal dari amalan imamnya, walaupun ada sisi kebenarannya karena adanya sebuah uzur.

Akan tetapi, pendapat yang lebih kuat adalah dengan memberi isyarat, wallahu a’lam. (Majmu’ Fatawa wa Rasail Fadhilatusy Syaikh al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah, 13/189—190, fatwa no. 525)

 

Wajib Thuma’ninah dan Menyempurnakan Sujud

Hudzaifah radhiallahu ‘anhu pernah melihat seseorang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya. Setelah orang itu selesai shalat, Hudzaifah radhiallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Engkau belum shalat. Apabila sampai engkau mati dalam keadaan shalatmu demikian, matimu tidak di atas fitrah yang ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. al-Bukhari no. 791)

Hadits ini menunjukkan wajibnya thuma’ninah dalam sujud. Apabila thuma’ninah ini hilang, shalatnya akan batal. (Fathul Bari, 2/356)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Muslim Abu Ishaq

 

[1]  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meluruskan punggung beliau saat ruku.

[2] Hadits mursal adalah hadits seorang tabi’in yang tidak bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung menyandarkan haditsnya kepada beliau, tanpa menyebutkan perantara antara dia dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun hadits maushul adalah hadits yang sanadnya bersambung.

[3] Haditsnya dikeluarkan oleh Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah.

 

Mengharap Berkah dengan Sunnah

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mencintai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalam hal ilmu maupun amalan mereka, baik lahir maupun batin. Inilah ciri khas Ahlus Sunnah yang tidak dimiliki oleh golongan-golongan lainnya.

Mengapa demikian? Karena dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka akan mendapatkan sekian banyak keutamaan. Di antaranya adalah mahabbah (kecintaan), maghfirah (ampunan), dan berkah dari Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣١

Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (ali ‘Imran: 31)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96)

Demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meriwayatkan dari Allah subhanahu wa ta’ala dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Hamba-hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, “Kalau saja penduduk negeri-negeri itu beriman dan bertakwa, maksudnya hati mereka mengimani apa yang dibawa oleh para rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian membenarkan dan mengikutinya, serta mereka bertakwa dengan melakukan ketaatan-ketaatan dan menjauhi larangan-larangan, maka sungguh Kami (Allah subhanahu wa ta’ala) akan bukakan bagi mereka berkah dari langit dan bumi; yaitu dengan air hujan (yang beberkah) dari langit dan tumbuhnya berbagai macam tumbuhan dan tanaman dari bumi.

Tidak ada jalan untuk mendapatkan keutamaan tersebut selain dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sempurna.

Rabb kita subhanahu wa ta’ala memerintahkan,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱدۡخُلُواْ فِي ٱلسِّلۡمِ كَآفَّةٗ وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٞ ٢٠٨

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 208)

Dalam ayat yang lain, Rabb kita subhanahu wa ta’ala juga memerintahkan,

مَّآ أَفَآءَ ٱللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِۦ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ كَيۡ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

“Apa yang diberikan Rasul kepada kalian maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagi kalian maka tinggalkanlah!” (al-Hasyr: 7)

Demikian pula Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai uswatun hasanah bagi hamba-hamba-Nya dalam berbagai macam perkara agama, baik akidah, ibadah, muamalah, adab, dan lainnya.

Hal ini sebagaimana firman-Nya,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا ٢١

 “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Hal yang menguatkan lagi adalah larangan menyelisihi sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena ini adalah sumber musibah di dunia dan akhirat.

Orang-orang yang mengharapkan keutamaan mahabbah, maghfirah, dan berkah akan memanfaatkan berbagai kesempatan untuk menggapai keutamaan tersebut. Sampai pun dalam hal rutinitas kehidupan mereka, seperti makan dan minumnya.
Makan dan minum bagi mereka bukan sekadar kegiatan rutinitas dalam kehidupan mereka untuk mendapatkan kenikmatan dan kepuasan dunia semata. Akan tetapi bagi mereka, makan dan minum justru kesempatan yang tidak boleh dilewatkan untuk mendapatkan keutamaan yang lebih dari itu, yaitu: mahabbah, maghfirah, dan berkah.

Mereka berusaha ketika makan dan minum disertai dengan adab mulia yang dituntunkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga mereka menjadi hamba yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala, Dzat yang senantiasa mengaruniakan rezeki kepada mereka.

Adapun adab-adab makan dan minum yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya adalah:

  1. Bersyukur dan qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang ada di hadapannya, karena tidak ada suatu kenikmatan melainkan datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

وَمَا بِكُم مِّن نِّعۡمَةٖ فَمِنَ ٱللَّهِۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فَإِلَيۡهِ تَجۡ‍َٔرُونَ ٥٣

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya). (an-Nahl: 53)

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apakah kalian senang bersungguh-sungguh dalam doa-doa, ucapkanlah, ‘Ya Allah, tolonglah kami untuk senantiasa bersyukur kepada-Mu, menyebut-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu’.” (HR. Ahmad dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam ash-Shahihul Musnad)

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang qana’ah (merasa cukup) dengan rezeki yang ada sehingga selamat dari penyakit rakus dan serakah terhadap dunia. Sungguh bahagia orang yang masuk Islam, dikaruniai rezeki yang cukup, dan Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan dia merasa cukup dengan apa yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepadanya

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntun kita untuk melihat orang yang lebih rendah dan miskin daripada kita sehingga kita senantiasa terdorong untuk bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Lihatlah orang yang lebih rendah dari kalian dan jangan kalian melihat orang yang berada di atas kalian. Dengan begitu, kalian lebih terdorong untuk tidak meremehkan nikmat-nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang ada pada kalian.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz Muslim)

  1. Tidak memakan dan meminum selain yang halal

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitab-Nya yang mulia,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ ١٧٢

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kalian menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah menceritakan bahwa ada seorang laki-laki yang sedang dalam perjalanan safarnya sampai rambut dan bajunya kusut serta berdebu. Kemudian dia menengadahkan kedua telapak tangannya ke langit (berdoa) dalam keadaan makanan (yang dimakan) haram, pakaian (yang dia pakai) haram, dan diberi makanan dengan yang haram, maka bagaimana doanya akan dikabulkan.

Dari ayat dan hadits di atas, Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya memerintahkan untuk makan, minum, dan berpakaian dengan yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan dan cara untuk mendapatkannya halal pula, karena suatu perkara yang haram akan menjadi pen yebab tidak diterimanya doa dan ibadah yang lainnya.

Demikian pula harta yang haram akan menyusahkan pemiliknya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala tatkala dia dimintai pertanggungjawaban atas harta yang ada pada dirinya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 ثُمَّ لَتُسۡ‍َٔلُنَّ يَوۡمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ ٨

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (at-Takatsur: 8)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak akan bergeser kedua telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sehingga dia akan ditanya tentang umurnya dalam perkara apa dia habiskan, ilmunya dalam perkara apa dia amalkan, hartanya dari mana dia dapatkan, ke mana dia infakkan, dan tentang badannya dalam perkara apa dia gunakan.” (HR. at-Tirmidzi)

Abu Abdillah an-Naji rahimahullah berkata, “Ada lima perkara yang dengannya amalan itu sempurna: beriman dengan mengenali Allah subhanahu wa ta’ala, mengilmui kebenaran, mengikhlaskan amalan karena Allah subhanahu wa ta’ala, beramal di atas sunnah, makan makanan halal. Apabila salah satu dari kelima perkara tadi tidak ada (hilang), maka amalan tersebut tidak akan diangkat (diterima). Penjelasannya, apabila engkau mengenali Allah subhanahu wa ta’ala dalam keadaan tidak mengilmui kebenaran, engkau tidak mendapatkan manfaat; apabila engkau mengilmui kebenaran dalam keadaan tidak mengenali Allah subhanahu wa ta’ala, engkau pun tidak akan mendapatkan manfaat.

Apabila engkau mengenali Allah subhanahu wa ta’ala dan mengilmui kebenaran tetapi tidak ikhlas, engkau tidak akan mendapatkan manfaat. Apabila engkau mengenali Allah subhanahu wa ta’ala, mengilmui kebenaran, dan ikhlas dalam beramal, tetapi tidak dibangun di atas sunnah, engkau tidak akan mendapatkan manfaat. Apabila keempat perkara tersebut telah sempurna, tetapi makanan (yang dimakan) tidak halal, engkau juga tidak akan mendapatkan manfaat.” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, 1/142)

  1. Tidak menggunakan alat-alat makan dan minum yang terbuat dari emas ataupun perak

Hudzaifah ibnul Yaman zmengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jangan kalian meminum minuman yang berada dalam bejana emas ataupun perak, dan jangan kalian memakan makanan yang ada pada piring-piring dari keduanya, karena bejana tersebut untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat.” (Muttafaqun alaih)

Al-Imam ash-Shan’ani rahimahullah berkata, “Hadits ini menunjukkan haramnya makan dan minum dengan menggunakan bejana dan piring dari emas dan perak, sama saja apakah terbuat dari emas murni atau dicampur dengan perak karena termasuk bejana dari emas atau perak. (Subulus Salam, 1/44)

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Bassam rahimahullah berkata, “Tidak ada bejana yang diharamkan (untuk digunakan) selain bejana yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bejana yang terbuat dari emas dan perak.” (Taudhihul Ahkam, 1/152)

  1. Tidak mencuci tangan atau berwudhu sebelum makan atau minum selain karena bersuci dari najis atau membersihkan kotoran

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku, Ubai bin Ka’ab, dan Abu Thalhah, duduk-duduk kemudian kami memakan daging dan roti. Setelah selesai, aku meminta air untuk berwudhu. Keduanya bertanya kepadaku, ‘Kenapa kamu berwudhu?’ Aku jawab, ‘Karena makanan yang sudah kita makan ini.’ Keduanya berkata. ‘Apakah kamu akan bewudhu karena makanan yang bagus ini? Orang yang lebih mulia darimu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) tidak berwudhu karenanya’.” (HR. Ahmad dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil dalam Shahihul Musnad)

Adapun hadits Salman radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku membaca di dalam kitab at-Taurat bahwa berkah makanan itu hilang dengan berwudhu sebelumnya. Kemudian aku ceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau bersabda, “Berkah makanan itu akan didapatkan dengan berwudhu sebelum dan sesudahnya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Hadits di atas adalah hadits yang dhaif, dinyatakan demikian oleh Abu Dawud sendiri dan al-Albani dalam Dhaif Sunnah Abi Dawud.

  1. Membaca basmalah sebelum makan, menggunakan tangan kanan dan memulai dari yang dekat

Umar bin Abi Salamah radhiallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bacalah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, kemudian makanlah dari yang paling dekat denganmu.” (Muttafaqun alaih)

Di dalam hadits yang mulia ini terdapat tiga adab makan.

  1. Membaca basmalah

Asy-Syaikh al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Membaca basmalah sebelum makan hukumnya wajib. Apabila seseorang meninggalkannya dengan sengaja, dia berdosa dan setan akan ikut makan bersamanya. Tentu tidak ada seorang muslim yang rela setan—musuhnya—bersekutu dengannya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/400)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila seseorang masuk rumahnya kemudian menyebut nama Allah tatkala masuk dan makan, maka setan akan berkata kepada teman-temannya, ‘Malam ini kalian tidak mendapat tempat bermalam dan makan.’ Namun, apabila dia masuk rumah kemudian tidak menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala tatkala masuk, maka setan akan berkata, ‘Kalian akan mendapatkan tempat bermalam.’ Apabila dia tidak menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala tatkala mau makan, maka setan akan berkata, ‘Kalian mendapatkan tempat bermalam dan makan malam’.” (HR. Muslim)

Jika seorang hamba lupa membaca bismillah sebelum makan dan minum, kemudian dia ingat di tengah-tengah makan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk membaca, “Dengan nama Allah di awal dan di akhirnya.” (HR. Abu Dawud & at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

 

2. Makan dengan tangan kanan

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Makan dengan tangan kanan hukumnya wajib. Barang siapa yang makan dengan tangan kirinya, berarti dia mendurhakai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barang siapa yang mendurhakai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sungguh dia telah mendurhakai Allah subhanahu wa ta’ala.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/400)

Makan dan minum dengan tangan kiri menyerupai setan yang dilaknat dan orang-orang kafir yang tidak beradab.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah salah seorang di antara kalian makan dan minum dengan tangan kirinya, karena setan makan dan minum dengan tangan kirinya.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma)

 

3. Memulai dari yang terdekat

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Apabila kamu makan bersama-sama, makanlah yang ada di hadapanmu, jangan yang di hadapan orang lain, karena cara demikian ini adalah adab yang jelek. Para ulama berkata, ‘Lain halnya apabila makanan yang dihidangkan itu bermacam-macam, seperti ada labu, terung, daging, dan lainnya, tidak mengapa mengambil jenis yang lain sebagaimana dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 4/400—401)

Tidak boleh dari tengah-tengah nampan yang dipakai makan berjamaah, sebagaimana bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Berkah itu akan turun di bagian tengah makanan, makanlah dari arah pinggir-pinggirnya dan jangan makan dari tengahnya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

 

4. Dengan duduk dan berjamaah

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan duduk bersimpuh dengan menegakkan dua telapak kaki sambil memakan kurma.”

Dari Abdullah bin Bisyr radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sebuah nampan yang besar dan dinamai al-Gharra’ yang mampu dipikul oleh empat orang. Setelah mereka masuk waktu pagi dan shalat dhuha, didatangkan nampan tersebut. Setelah roti dipotong dan dimasukkan ke dalam kuah, para sahabat berkumpul mengelilinginya. Tatkala jumlah mereka banyak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh di atas kedua telapak kakinya sehingga seorang Badui bertanya, “Duduk macam apa ini?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikanku seorang hamba yang mulia dan tidak menjadikanku orang yang jahat dan sombong.” (HR. Abu Dawud dan asy-Syaikh Muqbil menyebutkannya di dalam ash-Shahihul Musnad)

Dengan duduk dan berjamaah, niscaya akan menambah berkah sebagaimana nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mereka mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami makan dan tidak kunjung kenyang.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Barangkali kalian makan sendiri-sendiri?” Mereka menjawab, “Benar.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengarahkan, “Berkumpullah kalian ketika makan, sebutlah nama Allah, niscaya kalian akan diberi berkah.” (HR. Abu Dawud, dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani di Shahih Sunan Abu Dawud)

Tatkala duduk juga tidak bersandar, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku tidak makan dalam keadaan bersandar.” (HR. al-Bukhari dari Abu Juhaifah Wahb bin Abdullah radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin menjelaskan, “Maksudnya, tidak termasuk petunjukku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) makan dalam keadaan bersandar, karena dua sebab. Pertama, sebab maknawi yaitu kesombongan. Kedua, sebab yang bersifat fisik, yaitu berkaitan dengan badan berupa bahaya yang ditimbulkan karena makan dengan bersandar. Sebab, jalan makanan akan miring (disebabkan bersandar) atau tidak lurus sebagaimana mestinya sehingga bisa jadi timbul hal-hal yang membahayakan pada usus atau lambung.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/414)

 

5.Tidak mencela makanan dan minuman, disunnahkan untuk memujinya

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mencela makanan. Apabila ingin, beliau makan. Apabila tidak suka, beliau tinggalkan.” (Muttafaqun alaih)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Adab yang baik bagi setiap orang muslim apabila disuguhkan/dihidangkan kepadanya makanan, hendaknya dia menghargai nikmat Allah subhanahu wa ta’ala tersebut, bersyukur kepada-Nya, dan tidak mencelanya. Apabila dia nafsu dan ingin makan, maka hendaknya dia makan dan kalau tidak suka, tidak usah dia makan, tidak boleh mencela dan mencacinya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/405)

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada keluarganya tentang lauk makan. Mereka menjawab, “Kita tidak mempunyai lauk selain khall.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memintanya kemudian makan sambil berkata, “Sebaik-baik lauk adalah khall, sebaik-baik lauk adalah khall.” (HR. Muslim)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Al-Khall adalah masakan yang terbuat dari air kuah yang dicampur dengan kurma sehingga manis rasanya.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/405)

6. Apabila makan dengan tangan, makanlah dengan tiga jari, kemudian menjilati jari-jari itu dan membersihkan yang di piring dengan jari lalu menjilatnya

Ka’b bin Malik radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang makan dengan tiga jari, setelah selesai beliau menjilatinya.” (HR. Muslim)

Di dalam hadits Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjilati jari-jari dan piring atau nampan (selesai makan) denga cara di atas. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena sesungguhnya kalian tidak mengetahui di bagian mana yang beberkah.” (HR. Muslim)

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang mencuci atau mengusap jari-jari tersebut dengan tisu/air sebelum menjilatinya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan membersihkan tangan dengan sapu tangan atau tisu sampai dia menjilatinya, karena dia tidak tahu di bagian mana makanannya yang beberkah.” (HR. Muslim dari Jabir radhiallahu ‘anhu)

7. Tidak berlebih-lebihan dalam hal makan dan minum

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam memenuhi sebuah wadah yang lebih buruk daripada lambungnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan yang akan menegakkan punggungnya. Apabila harus lebih dari itu, sepertiga lambung untuk makanannya, sepertiganya untuk minuman, dan sepertiganya untuk napas.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Karimah radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Apabila perutnya penuh dengan makanan, sesungguhnya hal itu akan membahayakan agama dan kesehatannya (agama karena menghalanginya dari ketaatan untuk beribadah; kesehatan karena akan menjadikannya sering mengantuk dan memengaruhi jiwanya sehingga malas untuk bekerja dan berpikir).”

Demikian pula para dokter mengatakan bahwa kekenyangan akan menimbulkan berbagai macam penyakit. (Tashlihul Ilmam, 6/224)

Setelah membaca hadits ini berkata dr. Ibnu Abi Masaweh, “Kalau saja orang-orang mengamalkan hadits ini, sungguh mereka akan selamat dari berbagai macam penyakit dan apotek-apotek akan bangkrut.” (Taudhihul Ahkam, 7/378)

 

8. Mengambil makanan yang jatuh dan membersihkannya kemudian dimakan

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila sepotong makanan jatuh dari salah seorang di antara kalian, hendaknya dia ambil dan dia bersihkan dari kotoran lalu dia makan dan tidak membiarkannya untuk setan.”

Dengan kedua adab makan yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seorang muslim jauh dari tabdzir (pemborosan) yang dibenci dan dimurkai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓاْ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِۖ وَكَانَ ٱلشَّيۡطَٰنُ لِرَبِّهِۦ كَفُورٗا ٢٧

“Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.” (al-Isra: 27)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “(Sesungguhnya Allah) membenci (perbuatan kalian) yang memberitakan berita yang tidak jelas kebenaran dan manfaatnya, banyak bertanya, serta membuang-buang harta.” (Muttafaqun ‘alaihi, dari Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu)

9. Tidak bernapas /meniup dalam bejana, cangkir, atau gelas tatkala minum

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang bernapas di dalam bejana ketika minum. (HR. Muttafaqun ‘alaihi, dari Abu Qatadah radhiallahu ‘anhu)

Adapun hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bernapas tiga kali ketika minum.” (Muttafaqun alaih)

Maksudnya, kata al-Imam Nawawi rahimahullah, “Bernapas di luar bejana tatkala minum.” (Riyadhus Shalihin)

Di antara hikmahnya adalah bernapas di dalam bejana akan menimbulkan rasa jijik/tidak suka bagi orang yang akan minum setelahnya. (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/819)

 

10. Jika minum bergantian, dahulukan yang sebelah kanan

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi (hadiah) susu yang sudah dicampur dengan air dalam keadaan sebelah kanan beliau ada seorang Arab badui dan sebelah kiri beliau ada Abu Bakr radhiallahu ‘anhu. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meminumnya kemudian memberikannya kepada si badui sambil berkata, “Sebelah kanan, kemudian sebelah kanannya.”

Jika ingin memberikan kepada orang yang berada di sebelah kirinya, mintalah izin terlebih dahulu kepada orang yang ada di sebelah kanannya, karena dia lebih berhak. Hal ini sebagaimana dalam hadits Sahl bin Sa’d radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi (hadiah) sebuah minuman, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam minum sebagian darinya dalam keadaan sebelah kanannya ada seorang anak laki-laki dan sebelah kirinya ada orang yang sudah tua. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada anak laki-laki itu, “Apakah kamu memperbolehkanku memberikan ini kepada mereka?” Anak itu menjawab, “Tidak, demi Allah aku tidak akan memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meletakkan bejana itu di tangan anak tersebut. (Muttafaqun ‘alaihi)

11.Apabila makanan telah dihidangkan dan waktu shalat telah tiba, dahulukan makan kemudian shalat

Aisyah radhiallahu ‘anha berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada shalat ketika makanan telah dihidangkan dan rasa buang air besar serta buang air kecil telah mendorongnya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila telah ditegakkan shalat (maghrib) padahal makan malam telah dihidangkan, maka dahulukan makan malam.” (Muttafaqun ‘alaihi)

12.Berdoa setelah makan

Mu’adz bin Anas meriwayatkan dari ayahnya (yakni Anas radhiallahu ‘anhu), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang selesai makan kemudian berdoa, ‘Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan makanan ini kepadaku dan memberi rezeki kepadaku pula tanpa daya dan upaya dari diriku’, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Apabila diundang makan, padahal dia berpuasa dan tidak ingin membatalkan puasa sunnahnya, hendaknya dia mendoakan kebaikan bagi si pengundang sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apabila salah seorang di antara kalian diundang (makan), maka hendaknya memenuhi undangannya. Apabila dia berpuasa, hendaknya dia mendoakan kebaikan (untuk pengundang). Apabila tidak, hendaknya dia makan.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Sa’d bin Ubadah. Sa’d kemudian membawa roti dan minyak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di samping kalian, orang-orang yang baik telah makan makanan kalian, dan mudah-mudahan para malaikat bershalawat (mendoakan) kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Sebagai wujud rasa syukur kita karena Allah subhanahu wa ta’ala berterima kasihlah kepada orang yang telah berbuat baik kepada kita sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak bersyukur kepada Allah, orang yang tidak berterima kasih kepada manusia.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Dalam ash-Shahihul Musnad, asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata, “[Ini] hadits yang sahih menurut syarat Muslim.”)

Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa mengaruniakan hidayah dan taufik kepada kita semuanya untuk mencintai sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam ilmu dan amal, baik lahir maupun batin; sehingga kita tergolong hamba-hamba-Nya yang berhasil mendapatkan keutamaan-keutamaan yang dijanjikan oleh Rabbuna subhanahu wa ta’ala. Amin.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

 

Menentang Hukum Ilahi Merongrong Aqidah

Allah subhanahu wa ta’ala memiliki nama-nama yang indah dan mulia serta sifat-sifat yang tinggi dan agung. Tentang keindahan nama-nama dan ketinggian sifat-Nya, tidak ada seorang makhluk pun yang akan mengingkarinya karena mereka secara fitrah mengakui hal tersebut. Saat rusak fitrahnya, di sinilah penentangan, pengingkaran, penyimpangan, dan penyelewengan manusia terjadi.

Orang-orang yang beriman akan mengimani dan meyakininya, setelah itu mengaplikasikan segala konsekuensinya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, tidak cukup hanya sekadar mengilmui bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki nama-nama yang indah serta sifat-sifat yang tinggi dan mulia lalu tidak mewujudkannya dalam amal nyata.

Kenyataan hidup yang mereka lakoni dan segala bukti yang mereka lihat adalah wujud konkret keindahan nama-nama Allah subhanahu wa ta’ala dan ketinggian sifat-sifat-Nya. Ketika kita melihat keindahan alam ini dan mengetahui berbagai jenis makhluk yang ada, kita menyimpulkan dan mengatakan, tidak mungkin semua ini terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakannya. Keindahannya yang sangat menakjubkan ini tentu ada Yang Mahaindah yang menciptakannya.

Itulah Allah subhanahu wa ta’ala al-Jamiil dan Dialah al-Mudabbir, yang mengatur segala urusan hidup makhluk-Nya yang menghuni alam yang indah ini. Tidak ada satu pun makhluk kecuali berada dalam aturan-Nya. Segala yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi ada dalam pengaturan Allah, Yang Maha Mengatur semua urusan. Allah subhanahu wa ta’ala mengatur mereka sesuai dengan maslahat hidup setiap makhluk. Kemaslahatan mereka ada bersama aturan itu. Allah subhanahu wa ta’ala mengatur mereka di atas ilmu dan kebijaksanaan-Nya.

Dialah al-’Alim, Yang Maha Mengetahui segala apa yang terjadi di muka bumi ini. Tidak ada sesuatu pun yang luput dari pengetahuan Allah subhanahu wa ta’ala, yang rahasia atau yang bukan, yang tampak atau yang tidak tampak. Dialah al-Hakim, Yang Mahabijaksana, yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya. Dia menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dia memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberi orang yang dikehendaki-Nya. Dia menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya karena dosanya dan mengampuni siapa yang diinginkan-Nya. Karena kebijaksanaan-Nya, tidak ada satu pun makhluk yang merasa terzalimi.

Dialah al-Qadir, Yang Mahakuasa, di alam ciptaan-Nya ini. Tidak ada satu pun makhluk-Nya yang sanggup melakukan seperti yang diperbuat oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Dialah yang berkuasa atas mereka tanpa ada yang menyaingi kekuasaan-Nya. Dialah yang berkuasa dan tidak membutuhkan sekutu, pembantu, atau ajudan.

Dialah al-Bashir, Yang Maha Melihat. Ia melihat segala yang diperbuat oleh makhluk-Nya, tidak ada sesuatu pun yang tidak terlihat oleh-Nya.
Dialah ash-Shamad, Dzat tempat bergantung setiap hamba-Nya. Artinya, Dialah yang dituju dalam segala hajat mereka. Dialah ar-Rahman dan ar-Rahim, Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tiada satu makhluk pun melainkan mendapatkan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala.

Dialah ar-Razzaq, Yang Maha memberi rezeki, yang tidak ada satu pun makhluk yang melata di muka bumi ini melainkan tertuangkan padanya rezeki dari-Nya.
Dialah al-Mannan, Yang Maha Memberi, tidak ada satu makhluk pun kecuali mendapatkan karunia Allah subhanahu wa ta’ala.

وَأَنَّ ٱلَّذِينَ لَا يُؤۡمِنُونَ بِٱلۡأٓخِرَةِ أَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابًا أَلِيمٗا ١٠

“Katakanlah, ‘Berdoalah kalian kepada Allah atau kepada ar-Rahman dengan (nama) mana saja kamu menyeru-Nya maka Dia memiliki nama yang baik’.” (al-Isra’: 110)

وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠

“Dan bagi Allah nama-nama yang baik maka berdoalah kepada-Nya dengan itu.” (al-A’raf: 180)

Seluruh nama di atas adalah penghubung dan jembatan untuk menyampaikan seseorang kepada pengabdian yang mendalam, penuh ketulusan dan keikhlasan kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya.

Manusia dan Anugerah Allah subhanahu wa ta’ala

Sikap manusia terhadap anugerah Allah subhanahu wa ta’ala berbeda-beda, ada yang terpuji dan ada pula yang tercela. Yang terpuji adalah mereka yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan mengetahui bahwa nikmat tersebut bersumber dari Allah subhanahu wa ta’ala. Golongan yang tercela adalah yang kufur terhadap anugerah tersebut.

Golongan yang bersyukur akan menggunakannya dalam ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan menjadikannya sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan surga-Nya. Mereka mengetahui bahwa anugerah tersebut hanya sebuah titipan dari Allah subhanahu wa ta’ala yang di belakangnya ada pertanggungjawaban. Dengan demikian, tidak ada pintu kewajiban yang terkait dengannya melainkan dia memasuki pintu tersebut untuk melaksanakan kewajiban-kewajibannya. Golongan inilah yang dalam hidupnya menyandang banyak pujian dan sanjungan, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٞ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُۚ أَفَإِيْن مَّاتَ أَوۡ قُتِلَ ٱنقَلَبۡتُمۡ عَلَىٰٓ أَعۡقَٰبِكُمۡۚ وَمَن يَنقَلِبۡ عَلَىٰ عَقِبَيۡهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيۡ‍ٔٗاۗ وَسَيَجۡزِي ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ ١٤٤

“Tiadalah Muhammad itu melainkan seorang rasul. Telah berlalu para rasul sebelumnya, dan jika dia wafat atau terbunuh apakah kalian akan kembali menjadi kafir? Barang siapa kembali menjadi kafir setelah itu, niscaya tidak akan membahayakan Allah sedikit pun dan Allah akan membalas orang-orang yang bersyukur.” (ali ‘Imran: 144)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh menakjubkan urusan setiap mukmin, semua urusannya itu adalah baik dan hal itu tidak dimiliki selain oleh seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur, itu adalah kebaikan baginya, dan apabila ditimpa kemalangan dia bersabar, itu kebaikan pula baginya.” (HR. Muslim no. 5318 dari sahabat Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu)

As-Sa’di rahimahullah berkata, “Jadilah engkau orang yang bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala taufik-Nya, sebagaimana engkau bersyukur atas nikmat-nikmat duniawi, seperti sehatnya jasmani, di saat mendapatkan rezeki dan sebagainya. Selain itu, engkau harus bersyukur pula atas nikmat-nikmat yang bersifat agama, seperti taufik untuk menjadi orang yang ikhlas, orang yang bertakwa.

Bahkan, nikmat agama adalah nikmat yang hakiki. Ketika seseorang mengkaji dan mendalami sebuah anugerah lantas mensyukurinya, tentu hal itu akan menyelamatkannya dari bahaya sikap ujub yang telah menghinggapi kebanyakan orang karena kejahilan mereka. Apabila setiap hamba mengerti segala kondisi, niscaya dia tidak akan bersikap ujub atas nikmat, justru yang pantas baginya adalah menambah rasa syukur.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)

Adapun golongan yang kufur terhadap nikmat Allah subhanahu wa ta’ala juga beragam. Di antara bentuk kufur nikmat adalah,

  1. Menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala,

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami, ia berkata, “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui. (az-Zumar: 49)

Qarun berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (al-Qashash: 78)

  1. Menggunakan nikmat tersebut pada jalan yang tidak diridhai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik dalam bentuk tidak melaksanakan kewajiban maupun melanggar larangan-larangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Hukum Allah subhanahu wa ta’ala dalam Keluasan Anugerah-Nya

Dari sinilah kita mengetahui luasnya ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan ketinggian hikmah-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala telah mempersiapkan segala yang dibutuhkan oleh makhluk dalam hidup mereka. Allah subhanahu wa ta’ala juga telah menggariskan sebuah ketentuan yang harus dijalani oleh setiap hamba-Nya. Dialah yang telah menentukan halal dan haram dalam hidup mereka.

Kita juga menemukan bahwa halal dan haram itu sejalan dan seiring dengan kemaslahatan hidup manusia. Ketika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan tersebut, terjadilah kehancuran dan malapetaka besar dalam hidup mereka. Orang yang paling berbahagia dengan ketentuan ini adalah orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

 Allah subhanahu wa ta’ala telah menceritakan tentang mereka,

وَمَا كَانَ لِمُؤۡمِنٖ وَلَا مُؤۡمِنَةٍ إِذَا قَضَى ٱللَّهُ وَرَسُولُهُۥٓ أَمۡرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ ٱلۡخِيَرَةُ مِنۡ أَمۡرِهِمۡۗ وَمَن يَعۡصِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَٰلٗا مُّبِينٗا ٣٦

Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat, sesat yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Ulama Sunnah dan Hukum Ilahi

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Aku khawatir akan turun batu dari langit. Aku berkata, ‘Rasulullah bersabda demikian,’ namun kalian mengatakan, ‘Abu Bakr dan Umar berkata demikian’.”

Al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Tidak ada seorang pun dari kita yang ucapannya bisa diterima dan bisa ditolak, selain pemilik kuburan ini (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka harus diterima).”

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Aku heran melihat suatu kaum yang telah mengetahui kesahihan sebuah sanad, namun dia berpendapat dengan pendapat Sufyan (ats-Tsauri rahimahullah,-red). Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

لَّا تَجۡعَلُواْ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيۡنَكُمۡ كَدُعَآءِ بَعۡضِكُم بَعۡضٗاۚ قَدۡ يَعۡلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمۡ لِوَاذٗاۚ فَلۡيَحۡذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنۡ أَمۡرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمۡ فِتۡنَةٌ أَوۡ يُصِيبَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ ٦٣

‘Maka hendaklah takut orang-orang menyelisihi perintahnya (Rasulullah) untuk ditimpakan kepada mereka fitnah dan menimpa mereka azab yang pedih.’ (an-Nur: 63)

Tahukah kalian apa yang dimaksud dengan fitnah? Fitnah itu adalah kesyirikan, dan akan terjadi jika dia menolak suatu perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan terjadi penyimpangan dalam hatinya, lalu dia binasa.”

Abu Hanifah rahimahullah berkata, “Apabila datang sebuah hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka harus diterima, bila datang dari sahabat maka harus diterima, dan bila datang dari tabi’in maka kita laki-laki mereka laki-laki.”

Al-Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Telah sepakat para ulama bahwa barang siapa yang sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah jelas baginya, maka tidak boleh baginya untuk meninggalkannya karena ucapan seseorang.”

Masih banyak lagi ucapan-ucapan ulama sunnah dalam masalah sikap menerima aturan-aturan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. (Lihat Fathul Majid hlm. 463, Jami’ Bayan Ilmu wa Fadhlih 2/132, dan ‘Ilamuwaqqi’in 2/171)

Itulah sikap ulama kaum mukminin dalam menerima segala keputusan dan ketentuan serta aturan Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap tegas dan tanggap mereka merupakan jalan yang lurus yang diridhai Allah subhanahu wa ta’ala.

Menentang Hukum Ilahi Merongrong Keyakinan

Peletakan hukum syariat yang dijalani oleh setiap hamba dalam hal ibadah, muamalah, bahkan setiap sendi kehidupan mereka, yang akan memutuskan segala bentuk perselisihan yang mungkin terjadi dan yang akan mengakhirkan segala perselisihan itu adalah semata-mata hak Allah subhanahu wa ta’ala sebagai Rabb manusia dan pencipta mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfiman,

إِنَّ رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٖ ثُمَّ ٱسۡتَوَىٰ عَلَى ٱلۡعَرۡشِۖ يُغۡشِي ٱلَّيۡلَ ٱلنَّهَارَ يَطۡلُبُهُۥ حَثِيثٗا وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتِۢ بِأَمۡرِهِۦٓۗ أَلَا لَهُ ٱلۡخَلۡقُ وَٱلۡأَمۡرُۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ٥٤

“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (al-A’raf: 54)

Dialah yang mengetahui segala maslahat bagi hamba-Nya sehingga meletakkan syariat yang sesuai dengan kemaslahatan mereka. Seluruh hukum yang telah ditetapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagi mereka adalah demi kemaslahatan mereka juga, sebagaimana firman-Nya,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَطِيعُواْ ٱللَّهَ وَأَطِيعُواْ ٱلرَّسُولَ وَأُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنكُمۡۖ فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِي شَيۡءٖ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٞ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا ٥٩

“Dan jika kalian berselisih dalam satu permasalahan, maka kembalikanlah urusannya kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Itu lebih baik dan lebih bagus akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Allah subhanahu wa ta’ala juga telah mengingkari perbuatan hamba-hamba-Nya yang menjadikan selain Allah subhanahu wa ta’ala sebagai pembuat syariat,

فَفَرَرۡتُ مِنكُمۡ لَمَّا خِفۡتُكُمۡ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكۡمٗا وَجَعَلَنِي مِنَ ٱلۡمُرۡسَلِينَ ٢١

“Apakah mereka memiliki sekutu yang akan membuat syariat untuk mereka yang tidak ada izin dari Allah?” (asy-Syura: 21)

Maka dari itu, barang siapa menerima syariat yang datangnya bukan dari Allah subhanahu wa ta’ala berarti dia telah melakukan kesyirikan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Selain itu, segala aturan yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ibadah maka itu adalah perbuatan bid’ah, dan kita mengetahui bahwa segala bentuk kebid’ahan adalah sesat.

Bahkan, segala hukum yang tidak disyariatkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam segala aspek kehidupan, baik dalam bidang politik maupun hubungan antar manusia, berarti termasuk hukum thagut dan hukum jahiliah.

“Apakah hukum jahiliah yang mereka cari, dan siapakah yang paling baik hukumnya daripada (hukum) Allah bagi orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Demikian juga halnya dalam masalah halal dan haram, keduanya adalah hak mutlak bagi Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak boleh ada seorang pun yang menandingi-Nya dalam masalah ini,

وَلَا تَأۡكُلُواْ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ وَإِنَّهُۥ لَفِسۡقٞۗ وَإِنَّ ٱلشَّيَٰطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰٓ أَوۡلِيَآئِهِمۡ لِيُجَٰدِلُوكُمۡۖ وَإِنۡ أَطَعۡتُمُوهُمۡ إِنَّكُمۡ لَمُشۡرِكُونَ ١٢١

“Dan jangan kamu memakan binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya setan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, tentulah kamu menjadi orang-orang musyrik.” (al-An’am: 121)

Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan ketaatan kepada setan dan wali-walinya dalam hal penghalalan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala sebagai bentuk kesyirikan.

Demikian pula, barang siapa yang menaati ulama dan para pemimpin dalam hal pengharaman yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala atau menghalalkan apa yang diharamkan-Nya berarti telah menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah subhanahu wa ta’ala.

 Hal ini berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

ٱتَّخَذُوٓاْ أَحۡبَارَهُمۡ وَرُهۡبَٰنَهُمۡ أَرۡبَابٗا مِّن دُونِ ٱللَّهِ وَٱلۡمَسِيحَ ٱبۡنَ مَرۡيَمَ وَمَآ أُمِرُوٓاْ إِلَّا لِيَعۡبُدُوٓاْ إِلَٰهٗا وَٰحِدٗاۖ لَّآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۚ سُبۡحَٰنَهُۥ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٣١

“Dan mereka menjadikan ulama dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah dan mereka juga mempertuhankan al-Masih putra Maryam padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah yang satu dan tidak ada sesembahan yang berhak selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 31)

Dalam sebuah hadits sahih yang dikeluarkan oleh al-Imam at-Tirmidzi, Ibnu Jarir, dan selain keduanya, disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat ini di hadapan Adi bin Hatim ath-Tha’i radhiallahu ‘anhu. Ia berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak menyembah mereka.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bukankah mereka menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala lalu kalian menghalalkannya? Bukankah mereka telah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala lalu kalian mengharamkannya?”

Dia menjawab, “Ya.”

Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Itulah bentuk penyembahan kepada mereka.”

Ketaatan kepada mereka dalam hal menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah wujud peribadahan kepada mereka. Ini termasuk syirik besar yang membatalkan ketauhidan yang dituntut oleh kalimat syahadat La ilaha illallah. Padahal, salah satu makna yang terkandung dalam kalimat syahadat tersebut adalah bahwa penghalalan dan pengharaman hanyalah hak Allah subhanahu wa ta’ala.

Demikianlah hukum orang yang menaati ulama dan ahli ibadah dalam masalah halal dan haram yang menyelisihi syariat dalam keadaan dia mengetahui bentuk penyelisihan tersebut. (Lihat Aqidah at-Tauhid karya asy-Syaikh Shalih Fauzan, hlm. 149—152)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

 

Hikmah Islam dalam Halal dan Haram

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah menyampaikan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah telah melarang kalian memakan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Maka, janganlah kalian makan (lebih dari tiga hari).” (HR. al-Bukhari no. 5573 dan Muslim no. 1969)

Seputar Sanad Hadits

Al-Qadhi rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini, melalui riwayat Sufyan, memiliki ‘illah (cacat) menurut ahli hadits dalam hal rafa’nya (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sebab, para hafizh, murid-murid Sufyan tidak menyebutkannya secara rafa’.  Oleh karena itu, al-Bukhari rahimahullah tidak meriwayatkan hadits ini melalui jalan Sufyan akan tetapi meriwayatkannya dari jalan lain.

Ad-Daruquthni rahimahullah menjelaskan, ‘Riwayat ini termasuk wahm (kesalahan) Abdul Jabbar bin al-‘Ala’. Sebab, Ali al-Madini, Ahmad bin Hanbal, al-Qa’nabi, Abu Khaitsamah, Ishaq, dan yang lain meriwayatkan dari Sufyan bin Uyainah secara waqf (sampai kepada sahabat).

Hadits ini sahih secara rafa’ melalui az-Zuhri, namun bukan dari jalan Sufyan. Shalih, Yunus, Ma’mar, az-Zubaidi, dan Malik dari riwayat Juwairiyah, mereka semua meriwayatkan hadits ini dari az-Zuhri secara rafa.’ Ini adalah penjelasan ad-Daraquthni. Adapun matan hadits tetaplah sahih apa pun keadaannya. Wallahu a’lam.”

Makna Hadits

Hadits di atas dan hadits-hadits lain yang semakna menunjukkan tidak bolehnya menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Daging tersebut harus habis dikonsumsi dan dibagikan dalam waktu kurang dari tiga hari. Sejak dan hingga kapan hitungan tiga hari itu?

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menerangkan, “Ada kemungkinan, tiga hari itu terhitung dari hari menyembelih kurban. Bisa jadi juga, tiga hari tersebut terhitung dari hari Nahr (10 Dzulhijjah), meskipun waktu penyembelihannya tertunda sampai hari-hari Tasyriq, dan kemungkinan makna inilah yang paling dhahir dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Hukum ini pernah berlaku selama beberapa waktu. Hingga suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menerangkan bahwa hukum tersebut tidak lagi berlaku. Yang kemudian berlaku adalah bolehnya mengonsumsi, menyimpan, atau membagikan daging hewan kurban lebih dari tiga hari sejak saat menyembelihnya di hari Nahr. Berikut ini kami akan menyebutkan hadits-hadits yang mansukhah (telah dihapuskan hukumnya) dan hadits-hadits nasikhah (yang menghapus hukum sebelumnya dan yang berlaku seterusnya).

Hadits-Hadits Mansukhah (Telah Dihapus Hukumnya)

  1. Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Makanlah daging hewan kurban kalian dalam tiga hari saja.”
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma makan dengan menggunakan minyak zaitun sebagai lauk setelah beliau meninggalkan Mina. (HR. Bukhari no. 5574)

  1. Hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah ada orang makan daging hewan kurbannya lebih dari tiga hari.” (HR. Muslim no. 1970)

  1. Hadits Aisyah radhiallahu ‘anha. Beliau berkata, “Kami membuat dendeng dari daging hewan kurban dan menghidangkannya untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di Madinah.” Beliau lantas bersabda, ‘Jangan makan kecuali hanya dalam waktu tiga hari’.” (HR. al-Bukhari no. 5570)

 

Hadits-Hadits Nasikhah (yang Menghapus Hukum Sebelumnya dan yang Berlaku Seterusnya)

1. Hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dahulu, aku melarang kalian mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Maka, (sekarang) kalian boleh menyimpannya sesuai keinginan kalian.” (HR. Muslim 977)

2. Hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang untuk mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Setelah itu beliau bersabda, “Makanlah daging hewan kurban, jadikanlah bekal perjalanan dan simpanlah!” (HR. Muslim 1972)

3. Hadits Nubaisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, sungguhnya, aku dahulu melarang kalian untuk mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari supaya dapat mencukupi kalian. Kini, Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan kecukupan untuk kalian, maka makanlah, simpan, dan carilah pahala. Ketahuilah, sesungguhnya hari-hari ini (yakni hari–hari tasyriq) adalah hari makan, minum, dan zikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala.” (HR. Abu Dawud no. 2796, an-Nasa’i no. 4237, dan Ibnu Majah no. 3160.Dinyatakan sahih oleh al-Wadi’i dalam ash-Shahihul Musnad [2/222] dan al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah [2575])

Larangan Itu Telah Dihapuskan

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah sebelum menyebutkan hadits di atas, membuat bab dengan judul “Keterangan tentang Larangan Mengonsumsi Daging Hewan Kurban di Atas Tiga Hari, di Awal Islam, dan Keterangan tentang Dihapuskannya Hukum Tersebut, serta Diperbolehkannya (Mengonsumsi Daging Hewan Kurban) Sampai Batas Waktu yang Diinginkan.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Para ulama berselisih pandangan mengenai hukum yang ditunjukkan hadits-hadits ini.

Sebagian berpendapat, diharamkan untuk menyimpan dan makan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Hukum pengharaman ini masih tetap berlaku sebagaimana pendapat Ali dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma.

Sementara itu, mayoritas ulama menyatakan, diperbolehkan untuk makan dan menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Larangan yang ada telah dinasakh (dihapus) dengan hadits-hadits yang secara jelas menunjukkan nasakh, terutama hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Ini termasuk contoh sunnah yang dinasakh dengan sunnah lainnya.

Sebagian ulama yang lain memandang, hal ini bukanlah nasakh. Akan tetapi pengharaman yang lalu dikarenakan adanya satu ‘illah (sebab). Pada saat ‘illah tersebut hilang maka berakhirlah pengharaman itu berdasarkan hadits Salamah dan ‘Aisyah radhiallahu ‘anhuma.

Ada pendapat lain, larangan pertama menunjukkan makruh bukan pengharaman. Mereka menjelaskan, hukum makruh masih berlaku hingga hari ini, namun tidak sampai pada tingkatan haram. Meskipun sebab seperti itu terjadi lagi hari ini, lantas berdatangan orang-orang lemah dari perdesaan dan manusia pun saling berbagi. Mereka memahami hal ini dari pendapat Ali dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma.”

Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah menyimpulkan, “Yang benar adalah larangan tersebut telah dinasakh (dihapus) secara mutlak, sehingga tidak ada lagi yang tersisa hukum makruh ataupun haram. Maka, saat ini diperbolehkan untuk menyimpan daging kurban hingga lebih dari tiga hari dan diperbolehkan makan hingga kapan pun yang ia mau, berdasarkan isi hadits Buraidah yang jelas dan hadits lainnya. Wallahu a’lam.” (Syarah an-Nawawi untuk hadits no. 1969)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan (Nailul Authar 3/496), setelah menukil perbedaan pendapat di atas, “Sungguh, setelah masanya ulama berbeda pendapat, para ulama telah berijma’ tentang diperbolehkannya makan dan menyimpan daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Aku juga tidak mengetahui ada seorang ulama setelah mereka, yang tidak berpendapat seperti pendapat mereka.”

Nasakh, Bagian dari Hikmah Allah subhanahu wa ta’ala

Nasakh adalah dihapuskannya sebuah hukum dari dalil terdahulu (dalil yang mansukh) dan digantikan dengan hukum lain dari dalil yang terakhir (dalil yang nasikh).

Umat Islam memiliki kesepakatan tentang boleh dan terjadinya nasakh.Tidak hanya satu ulama yang menukil kesepakatan tersebut. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Kaum muslimin seluruhnya bersepakat tentang adanya nasakh di dalam ahkam (hukum-hukum) Allah subhanahu wa ta’ala.” (Tafsir Ibnu Katsir [1/226])

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

يَمۡحُواْ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثۡبِتُۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ ٣٩

“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nyalah terdapat Ummul Kitab.” (ar-Ra’d: 39)

Allah subhanahu wa ta’ala juga berfirman,

۞مَا نَنسَخۡ مِنۡ ءَايَةٍ أَوۡ نُنسِهَا نَأۡتِ بِخَيۡرٖ مِّنۡهَآ أَوۡ مِثۡلِهَآۗ أَلَمۡ تَعۡلَمۡ أَنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٌ ١٠٦

“Apa saja ayat yang kami nasakhkan atau Kami jadikan (manusia) lupa terhadapnya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau sebanding dengannya.” (al-Baqarah: 106)

Ayat di atas menunjukkan bahwa hukum yang terkandung di dalam dalil penasakh pasti lebih baik. Baik itu lebih ringan, lebih berat, maupun seimbang.Perintah dan larangan Allah subhanahu wa ta’ala pastinya mengandung hikmah dan maslahat.Apabila hikmah dan maslahat telah berakhir dari dalil yang pertama kemudian hikmah dan maslahat tersebut berpindah ke yang lain, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk meninggalkan dalil pertama (yang telah berakhir maslahatnya) kepada dalil baru, yang mengandung maslahat untuk saat itu.

Dalil mansukh, saat masih berlaku, tentu mengandung maslahat dan hikmah.Dalil nasikh adalah dalil yang membawa maslahat dan hikmah setelah terjadinya nasakh. (Rihlatul Hajj hlm. 61)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan tentang hikmah nasakh (al-Ushul min ‘Ilmil Ushul). Di antaranya,

  1. Perhatian Islam terhadap kemaslahatan hamba dengan menetapkan hukum syariat yang bisa memberikan manfaat terbesar untuk dunia dan agama mereka.
  2. Perkembangan tahapan dalam penetapan hukun syariat sampai benar-benar sempurna.
  3. Ujian bagi hamba agar dapat menerima dan ridha dengan adanya perubahan satu hukum ke hukum lain.
  4. Ujian bagi hamba agar dapat bersyukur jika hukum yang menggantikan lebih mudah dan agar hamba dapat bersabar jika hukum yang menggantikan lebih berat.

Apakah Nasakh Menunjukkan al-Bada’?

Ada yang menganggap, adanya nasakh apakah tidak menunjukkan sifat al-Bada’ bagi Allah subhanahu wa ta’ala?

Al-Bada’ adalah sesuatu yang muncul kemudian tanpa ada ilmu sebelumnya.Al-Imam asy-Syinqiti rahimahullah menjelaskan, “Ketahuilah bahwa keberadaan nasakh tidak mengharuskan adanya al-Bada’ yaitu ar-ra’yu al-mutajaddid (pendapat yang baru muncul). Sebab, saat Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan syariat yang pertama, Allah Maha Mengetahui bahwa Dia akan menasakhnya pada saat maslahat di dalamnya telah berakhir dan maslahat telah berpindah ke dalil penasakh. Sesuai dengan ilmu-Nya yang telah lalu bahwa Dia akan melakukannya. Sebagaimana halnya sakit setelah sehat atau sebaliknya.Kematian setelah kehidupan atau sebaliknya. Kefakiran setelah kaya atau sebaliknya, dan semisalnya.

Hal-hal ini bukanlah bentuk bada’, karena ilmu Allah subhanahu wa ta’ala telah lalu sebelumnya, Dia akan melakukannya pada waktunya sebagaimana zahirnya.” (al-Mudzakirah hlm. 122)

Nasakh Telah Dikenal Sejak Zaman Sahabat

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma bercerita,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan Madinah pada tahun al-Fath di bulan Ramadhan. Beliau tetap berpuasa sampai tiba di daerah al-Kadid, kemudian beliau berbuka.” Ia berkata, yaitu az-Zuhri, “Dan para sahabat selalu mengikuti hukum yang terbaru dan hukum yang setelahnya.” (HR. Muslim no. 1113)

Bentuk Nasakh Dalam Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dari Abul ‘Ala’ bin asy-Syikhir, ia berkata,“Sesungguhnya Rasulullah, sebagian haditsnya menasakh hadits yang lain, sebagaimana ayat al-Qur’an menasakh ayat yang lain.”

An-Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Abul ‘Ala’ namanya Yazid bin Abdillah bin as-Syikhir (dengan mengkasrah Syin), beliau seorang tabi’in. Maksud al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan ucapan Abul ‘Ala’ adalah untuk menjelaskan bahwa hadits ‘Diwajibkan mandi karena keluar mani (sehingga seandainya tidak mengeluarkan mani pun tetap wajib mandi),’ telah mansukh. Pernyataan Abul ‘Ala, ‘Sunnah menasakh sunnah’ adalah benar.

Para ulama menerangkan, sunnah menasakh sunnah terjadi dengan empat bentuk,

  1. Sunnah mutawatir (yang banyak jalan periwayatannya) menasakh sunnah mutawatir
    2. Sunnah ahad (kebalikan dari mutawatir) menasakh sunnah ahad
  2. Sunnah mutawatir menasakh sunnah ahad
  3. Sunnah ahad menasakh sunnah mutawatir

Adapun tiga bentuk pertama bisa saja terjadi, tanpa adanya khilaf. Adapun bentuk keempat, menurut jumhur, tidak bisa terjadi. Sementara itu, sebagian ulama Zhahiriyah menyatakan bisa terjadi.

 

Cara Mengetahui Nasakh

Nasakh dapat diketahui dengan beberapa cara. Antara lain,

  1. Cara yang paling jelas adalah dengan adanya keterangan nasakh secara nash di dalam dalil.

Contohnya adalah hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu dalam pembahasan kita kali ini, “Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang ziarah kuburlah! Dahulu, aku melarang kalian mengonsumsi daging hewan kurban lebih dari tiga hari. Maka, (sekarang) kalian boleh menyimpannya sesuai keinginan kalian.” (HR. Muslim no. 977)

  1. Melalui keterangan sahabat yang menjelaskan bahwa hukum yang berlaku terakhir adalah demikian.

Misalnya, ucapan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Dahulu, harta warisan diberikan kepada anak, sedangkan wasiat diberikan kepada orang tua. Lalu, Allah subhanahu wa ta’ala menasakh hal tersebut sesuai yang Dia senangi. Allah subhanahu wa ta’ala menetapkan (harta warisan) untuk anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan, untuk kedua orang tua masing-masing seperenam, untuk istri seperdelapan atau seperempat, dan untuk suami setengahnya atau seperempat.” (HR. al-Bukhari)

  1. Nasakh dapat diketahui melalui sejarah dan tarikh.
    Adapun contohnya sangat banyak.

Faedah Hadits

  1. Ketetapan hukum ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala.

Asy-Syaikh al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan. “Sebab, seluruh perkara ada di tangan Allah subhanahu wa ta’ala dan semua hukum hanyalah milik Allah subhanahu wa ta’ala. Karena, Dia adalah Rabb al-Malik. Allah subhanahu wa ta’ala berhak menetapkan syariat untuk hamba-hamba-Nya sesuai dengan hikmah dan rahmat-Nya.”(al-Ushul)

  1. Hukum yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala pasti membawa maslahat.
    Asy-Syaikh al-Utsaimin menerangkan, “Kemudian, hikmah dan rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba menjadikan-Nya menetapkan syariat untuk hamba, berdasarkan ilmu-Nya, hukum-hukum yang memberikan kemaslahatan secara dunia atau agama. Kemaslahatan itu sangat terkait dengan kondisi dan waktu. Bisa jadi, suatu hukum lebih memberikan maslahat dalam rentang waktu tertentu atau dalam kondisi tertentu. Sementara itu, di waktu dan kondisi yang lain, selain hukum tersebut lebih mendatangkan maslahat. Dan Allah, Mahaalim dan Mahahakim.” (al-Ushul)

3. Bolehnya mengonsumsi, menyimpan, atau membagikan daging kurban lebih dari tiga hari sejak disembelih di hari Nahr. Adapun larangan mengenai hal ini tidak lagi berlaku.

4. Teladan dari para sahabat di dalam berpegang dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

5. Cinta dan kasih sayang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umat ini.

6. Dalil keberadaan hukum yang dinasakh (dihapus) dalam Islam.

7. Keharusan untuk menerima dengan ridha semua hukum yang ditetapkan Islam, baik halal maupun haram.

Wallahul muwaffiq ila aqwamis sabil.

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

 

Perkara Haram adalah Apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasulnya

إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحۡمَ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيۡرِ ٱللَّهِۖ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ فَلَآ إِثۡمَ عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٌ ١٧٣

“Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut(nama) selain Allah.” (al-Baqarah: 173)

Penjelasan Mufradat Ayat

Bangkai

Mayoritas qurra’ membacanya dengan nashab (memfathah huruf ta’). Namun, sebagian mereka membaca dengan rafa’ (mendhammah ta’)—dengan alasan إِنَّمَا adalah isim maushul/kata sambung sebagai mubtada’ dan الْمَيْتَةَ sebagai khabar. Makna maitah (bangkai) adalah terlepasnya ruh (nyawa) dari jasad hewan tanpa proses penyembelihan yang syar’i.

Darah
Darah yang dimaksud adalah darah yang mengalir dari urat leher saat hewan disembelih. Ini sebagaimana firman Allah subhanahu wa ta’ala,

قُل لَّآ أَجِدُ فِي مَآ أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَىٰ طَاعِمٖ يَطۡعَمُهُۥٓ إِلَّآ أَن يَكُونَ مَيۡتَةً أَوۡ دَمٗا مَّسۡفُوحًا أَوۡ لَحۡمَ خِنزِيرٖ فَإِنَّهُۥ رِجۡسٌ أَوۡ فِسۡقًا أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ غَيۡرَ بَاغٖ وَلَا عَادٖ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ١٤٥

“Katakanlah, ‘Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, selain bangkai, darah yang mengalir, atau daging babi’.” (al-An’am: 145)

Daging babi

Ayat ini mengkhususkan keharaman babi pada dagingnya, meskipun seluruh bagian hewan ini juga haram. Sebab, keumuman apa saja dari hewan yang boleh dimakan (dagingnya), maka seluruh bagian anggota badannya mengikuti hukumnya (hukum daging). Berbeda halnya dengan pendapat mazhab Zhahiriyah yang hanya mengharamkan dagingnya.

“Dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah.”

Makna ihlal adalah mengeraskan suara. Al-Alusi rahimahullah mengatakan, “Menurut kebanyakan ahli bahasa, kata ihlal berasal dari melihat hilal. Akan tetapi, telah menjadi suatu kebiasaan, ketika hilal terlihat, mereka mengeraskan suara dengan bertakbir. Dari sinilah munculnya penamaan ihlal. Selanjutnya, nama ini dipakai untuk menyebut tindakan mengeraskan suara meskipun untuk urusan selain melihat hilal (seperti menyembelih hewan dengan menyebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala).

Kemudian beliau menjelaskan pendapat bahwa yang dimaksud dengan “disebut nama selain Allah” secara lahiriah adalah patung dan selainnya. Para ulama, seperti Atha’, Makhul, asy-Sya’bi, al-Hasan, dan Sa’id bin al-Musayyab rahimahumullah berpendapat bahwa makna “disebut nama selain Allah” adalah patung saja. Mereka memubahkan sembelihan orang Nasrani yang menyembelih dengan menyebut nama al-Masih, walaupun pendapat ini bertentangan dengan apa yang telah disepakati oleh umat bahwa sembelihan tersebut adalah haram hukumnya.

Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menerangkan bahwa makna أُهِلَّ dalam ayat ini adalah menyembelih. Mujahid rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah hewan yang disembelih untuk selain Allah subhanahu wa ta’ala. Abul ‘Aliyah rahimahullah juga mengatakan bahwa maknanya adalah sembelihan yang disebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala. (Dinukil dari Maktabah Syamilah)

Asy-Syaukani rahimahullah mengatakan, “Termasuk makna ihlal adalah ihlal shabiy, yaitu jeritan seorang bayi di saat lahir.” (Fathul Qadir, 1/314)

 

Makna dan Tafsir Ayat

Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah menerangkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menghendaki agar orang-orang yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya tidak mengharamkan atas diri mereka sesuatu yang tidak diharamkan oleh-Nya, seperti mengharamkan bahirah, saibah, dan yang lain. “Oleh karena itu, makanlah hal-hal tersebut, karena Aku (Allah subhanahu wa ta’ala) tidak mengharamkan atas kalian selain bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih disebut nama selain-Ku.”

Al-Alusi rahimahullah mengatakan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan bangkai. Makna pengharaman di sini meliputi memakannya dan memanfaatkannya (dalam bentuk lain). Adapun penyandaran kata haram kepada bangkai (zat sesuatu)—sementara itu, istilah haram adalah bagian dari hukum-hukum syariat yang menjadi salah satu sifat mukallaf, dan tidak ada kaitannya dengan zat sesuatu—mengandung isyarat tentang haramnya memanfaatkan bangkai (dalam bentuk apa pun), kecuali apabila terdapat dalil yang mengkhususkannya, seperti penyamakan kulit bangkai hewan (sebagaimana dalam hadits).

“Menyamak kulit bangkai itu ialah penyembelihan atau penyuciannya.” (HR. Ahmad dari Salamah bin Muhabbiq radhiallahu ‘anhu)

Termasuk yang dihukumi seperti hukum bangkai adalah sesuatu yang dipotong dari tubuh hewan dalam keadaan ia masih hidup. Hal ini seperti disebutkan oleh hadits Abu Waqid al-Laitsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesuatu yang dipotong dari binatang dalam keadaan ia masih hidup, maka itu adalah bangkai.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi)

Yang dikeluarkan dari hukum bangkai adalah belalang dan ikan, sebagaimana dalam hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Telah dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah. Dua bangkai itu ialah belalang dan ikan, adapun dua darah itu ialah hati dan limpa.” (Dinukil dari Maktabah Syamilah)

 

Di Antara Hal yang Diharamkan

Dalam ayat ini terdapat hukum haramnya keumuman bangkai hewan, selain yang dikecualikan, baik oleh dalil dari ayat maupun hadits. Di antaranya adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala,

أُحِلَّ لَكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَحۡرِ وَطَعَامُهُۥ مَتَٰعٗا لَّكُمۡ وَلِلسَّيَّارَةِۖ وَحُرِّمَ عَلَيۡكُمۡ صَيۡدُ ٱلۡبَرِّ مَا دُمۡتُمۡ حُرُمٗاۗ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِيٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ٩٦

“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut.” (al-Maidah: 96)

Di antaranya adalah hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma Dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah.” (HR. Ahmad dan yang lain)

Hadits Jabir radhiallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim, dalam perihal ikan ambar—salah satu jenis ikan paus. Dalam sebuah peperangan,pasukan muslimin di bawah kepemimpinan Abu Ubaidah radhiallahu ‘anhu, tengah mengalami kelaparan. Tiba-tiba mereka mendapati bangkai ikan laut yang belum pernah terlihat sebesar itu, namanya ikan ambar. Setengah bulan mereka makan darinya.

Adapun bangkai yang dimaksud dalam ayat di atas adalah bangkai hewan darat dan bangkai hewan laut. Mayoritas ulama berpendapat kepada bolehnya memakan seluruh jenis hewan laut, baik yang hidup (segar) maupun yang mati (bangkai). Sebagian ulama berpendapat, diharamkannya sebagian hewan laut sama dengan apa yang diharamkan dari hewan darat. Dengan demikian, sebagian mereka, seperti Ibnu Habib, tawaquf (tidak bisa menentukan pendapat) tentang hukum memakan babi laut. Ibnu Qasim rahimahullah berkata, “Saya menjauhinya meskipun tidak berpendapat tentang haramnya.”

Para ulama sepakat bahwa darah itu haram. Hanya saja, keumuman hukum yang terdapat dalam ayat di atas terkait dengan ayat lain, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 “Atau darah yang mengalir.” (al-An’am: 145)

Sebab, darah yang bercampur/menyatu dengan daging tidak haram hukumnya. Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ini adalah ijma’.” Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau memasak daging dan tampak warna kuning pada permukaan periuk karena darah (yang menyatu dengan daging). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memakannya dan tidak mengingkarinya.
Dihikayatkan oleh al-Qurthubi rahimahullah adanya kesepakatan umat (para ulama) tentang haramnya lemak babi. Banyak ulama yang menyebutkan bahwa lemak termasuk bagian dari daging. Beliau juga menyebutkan adanya kesepakatan para ulama bahwa seluruh bagian dari babi adalah haram kecuali bulunya (yakni tidak najis, -red.) karena diperbolehkan untuk dijadikan sebagai perhiasan.

Adapun yang dimaksud dengan haramnya memakan hewan yang disembelih dengan menyebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala, seperti menyembelih dengan menyebut nama Latta, Uzza, apabila yang menyembelih adalah penyembah berhala; atau menyebut api apabila yang menyembelih adalah Majusi. Tidak ada perbedaan hukum terkait diharamkannya hal yang seperti ini atau yang semisalnya.

Yang serupa pula hukumnya adalah sembelihan dari kalangan orang-orang yang berkeyakinan terhadap orang yang sudah mati (bisa memberi pengaruh terhadap peristiwa di dunia, baca: para pengagung/penyembah kuburan). Mereka melakukan penyembelihan di atas kuburan. Hal ini termasuk bagian menyembelih dengan menyebut nama selain Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada perbedaan antara hal ini dengan penyembelihan untuk berhala. (Lihat Fathul Qadir 1/313—314, cet. Darul Wafa’)

 

Penghalalan & Pengharaman, Hak Allah subhanahu wa ta’ala & Rasul-Nya
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin dalam penjelasan beliau terhadap kitab Bulughul Maram, menyebutkan salah satu faedah hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, “Telah dihalalkan untuk kita dua bangkai dan dua darah”, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkuasa dalam hal menghalalkan atau mengharamkan selain dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala.

Oleh karena itu, tatkala beliau melarang seseorang yang makan bawang bombai atau bawang putih untuk hadir di masjid, orang-orang berkata, “Telah diharamkan, telah diharamkan.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata,

“Wahai manusia, tidak boleh bagiku untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukku. Akan tetapi, itu adalah sebuah tanaman yang aku tidak menyukai baunya.” (HR. Muslim)

Maknanya adalah, “Bukan dariku pengharaman itu, tetapi dari Allah subhanahu wa ta’ala.”

Oleh karena itu, kita semua memahami, apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghalalkan atau mengharamkan sesuatu berarti Allah subhanahu wa ta’ala telah mengizinkannya. Bukan pula maknanya bahwa ketika beliau menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, lantas kita boleh menanyakan kepada beliau, mana dalil bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah mengharamkannya. Cukuplah sabda beliau sebagai dalil. Kita tahu bahwa apa pun yang dihalalkan atau diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, seperti pada hadits,

“Wahai manusia, tidak boleh bagiku untuk mengharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untukku. Akan tetapi, itu adalah sebuah tanaman yang aku tidak menyukai baunya.” (HR. Muslim)

Hadits di atas menunjukkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, utusan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak berkuasa untuk mengharamkan sesuatu. Hal ini juga ditunjukkan oleh al-Qur’an, seperti firman Allah subhanahu wa ta’ala,

 وَلَوۡ تَقَوَّلَ عَلَيۡنَا بَعۡضَ ٱلۡأَقَاوِيلِ ٤٤ لَأَخَذۡنَا مِنۡهُ بِٱلۡيَمِينِ ٤٥  ثُمَّ لَقَطَعۡنَا مِنۡهُ ٱلۡوَتِينَ ٤٦ فَمَا مِنكُم مِّنۡ أَحَدٍ عَنۡهُ حَٰجِزِينَ ٤٧

“Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat nadi jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang menghalangi (Kami) dari pemotongan urat nadi itu.” (al-Haqqah: 44—47)

Ini berarti bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terjaga dari mengada-ada terhadap Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, apabila Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengizinkan beliau untuk menghalalkan atau mengharamkan sesuatu, beliau tidak akan menghalalkan atau mengharamkannya. (Dinukil dari Fath Dzil Jalali wal Ikram 1/123)

Hal ini menerangkan kepada kita bahwa pengharaman sesuatu bukan hanya semata-mata yang diharamkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an, namun meliputi juga apa yang diharamkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabda-sabda beliau (hadits). Di antaranya adalah semua binatang buas yang bertaring, burung yang berkaki penyambar, keledai negeri (piaraan), dan yang lain.

Demikian pula segala sesuatu yang najis, sebagaimana kaidah yang ditetapkan oleh para ulama, yaitu “Setiap yang najis itu haram, namun tidak setiap yang haram itu najis”. Dalilnya adalah ayat yang tersebut dalam surat al-An’am: 145 di atas.

Wallahu a’lam bish-shawab.

 

Tanya Jawab Ringkas Edisi 80

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Hukum Imunisasi

Apakah hukum imunisasi dalam Islam?
087863XXXXXX

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah memperbolehkannya.

Zikir Sambil Bekerja
Bagaimana tata cara zikir pagi dan petang? Apakah diperbolehkan zikir pagi sambil mencuci piring bagi muslimah karena kalau tidak segera mencuci piring orang tua akan marah?
085227XXXXXX

Bekerja sambil berzikir diperbolehkan dengan tetap berusaha konsentrasi.

Wanita Bersisir Setiap Hari
Bolehkah seorang wanita menyisir rambutnya setiap hari?
085725XXXXXX

Diperbolehkan, insya Allah.

Hukum Pakaian Muslim yang Bercorak
Apakah seorang muslim salafy tidak layak memakai gamis/jubah bermotif sehingga dianggap seperti mengikuti selera orang keumuman? Haruskah dia mengganti pakaiannya dengan warna yang polos ketika hendak shalat walaupun ia sedang bepergian?
085711XXXXXX

Mengenai warna gamis (laki-laki), yang terpenting tidak terdapat gambar makhluk bernyawa dan tidak menyerupai corak seperti wanita. Jika gamis dianggap masih terlalu asing di masyarakat, disarankan untuk menggunakan sarung atau pakaian lain yang syar’i, seperti sirwal (celana panjang yang lebar).

Belajar Bahasa Inggris
Bolehkah mempelajari bahasa Inggris dengan tujuan memanfaatkan teknologi saat ini? Bolehkah menggunakan HP berteknologi tinggi untuk mendapatkan informasi kajian? Mengingat dampak negatif dari teknologi sekarang begitu besar.
087793XXXXXX

Boleh mempelajari bahasa Inggris dan menggunakan HP yang canggih (ponsel pintar/smartphone) asal digunakan untuk tujuan syar’i atau mubah.

Doa Khusus Antartakbir pada Shalat ‘Id
Adakah doa khusus di antara takbir pada shalat ‘ld?
087839XXXXXX

Tidak ada doa khusus dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Keyakinan Aliran MTA
Apa benar keyakinan aliran MTA bahwa mereka tidak memercayai sihir dan orang yang sudah berada di neraka tidak bisa keluar lagi?
085647XXXXXX

Keyakinan tersebut salah. Tidak mempercayai sihir adalah keyakinan Mu’tazilah yang sesat. Memasuki neraka tidak keluar lagi meskipun muslim adalah keyakinan Khawarij yang sesat.

Hukum KB untuk Menunda Kehamilan
Bagaimana hukum KB untuk menunda kehamilan dan bukan untuk membatasi menurut syariat?
085327XXXXXX

KB dengan tujuan tersebut diperbolehkan apabila memang diperlukan, dengan tetap berusaha memperbanyak keturunan.

_______________________________________________________________________________________

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Sarbini

Menambal Gigi
Apa hukumnya menambal gigi?

Boleh.

Cairan yang Keluar dari Kemaluan Wanita Setelah Jima’
Cairan keluar dari kemaluan wanita beberapa menit setelah jima, padahal si wanita sudah mandi junub. Apakah si wanita harus mandi junub lagi untuk melakukan shalat?

Jika keluar tanpa disertai syahwat (nikmat), tidak mewajibkan mandi. Hal itu bukan janabah, melainkan hadats kecil yang mengharuskan wudhu.

Qadha Puasa Ramadhan Sehari Sebelum Ramadhan
Apa hukum berpuasa sebelum Ramadhan sehari atau dua hari, karena saya membayar puasa sebelas hari juga. Syukran.

Boleh apabila puasa itu berupa puasa qadha Ramadhan yang lalu. Lihat penjelasan lebih lengkap mengenai larangan puasa sunnah sehari atau dua hari sebelum Ramadhan pada buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

Anak dari Ayah/Ibu Tiri Mahram?
Bismillah. Ustadz, saya mau tanya. Si A (laki-laki duda) menikah dengan Si B (wanita janda). Sebelum menikah, masing-masing sudah mempunyai anak. Apakah anak laki-laki Si A dan anak perempuan Si B itu mahram?

Keduanya bukan mahram.

Masa Iddah Bagi Laki-Laki
Adakah masa ‘iddah bagi laki-laki?

Tidak ada.

Menalak Istri Karena Sering Kumat
Apa hukumnya menalak istri karena si istri sering kumat, karena dahulunya pernah kesurupan jin. Perlu diketahui, pernikahan mereka baru berjalan enam bulan. Sebelumnya, ketika ta’aruf lelaki tersebut sudah diberi tahu keadaan si wanita. Mohon penjelasan dan nasihatnya. Jazakumullah.

Jika Anda bisa bersabar bersamanya tanpa terkena mudarat, hal itu lebih baik, apalagi Anda sendiri yang memilihnya dalam keadaan tahu kondisinya. Namun, jika Anda tidak sanggup lagi bersabar dan butuh mencerainya, tidak mengapa insya Allah.

Menikahi Wanita yang Sedang Mengandung Anak dari Calon Suami
Apakah sah menikah pada saat wanita yang dinikahi mengandung anak dari calon suaminya ini?
Abu Abdillah—Kalbar

Tidak sah menurut pendapat yang rajih. Masalah ini telah kami rincikan dengan dalil-dalilnya pada “Problema Anda” edisi 26 dengan judul Status Anak Zina.

Perbedaan antara Riba dan Bukan
Bagaimana mengetahui sesuatu itu termasuk riba atau bukan?
0819XXXXXX

Apabila transaksi tersebut dilarang oleh syariat. Rinciannya terdapat pada Ahkamul Buyu’, Kitab Fiqh. Pernah pula dimuat sebagiannya di Majalah Asy-Syariah edisi 28.

Seragam Sekolah
Bagaimana hukumnya seragam TK di suatu lembaga pendidikan yang bermanhaj salaf?
08532XXXXXX

Afdal tanpa seragam karena tidak ada contoh dari salaf. Namun, apabila memang terpaksa harus menggunakannya, diperbolehkan dengan syarat:
1. Tidak ada gambar makhluk bernyawa,
2. Bukan pakaian yang tasyabuh dengan orang kafir (ciri khas mereka),
3. Menutup aurat,
4. Tidak ada unsur wala’ dan bara’ karenanya.
Lebih baik semua memakai jubah putih dan yang putri memakai jubah hitam lengkap dengan cadarnya. Waffaqakumullah.

Dipaksa Jima’ Saat Berpuasa Wajib
Jika saat berpuasa wajib saya dipaksa oleh suami untuk berhubungan padahal sudah menolak sehingga saya melakukannya dengan terpaksa, apakah saya wajib membayar kafarat atau tetap meneruskan puasa?
085733XXXXXX

Jika Anda memang dipaksa dan tidak ada pilihan lain karena tidak mampu melepaskan diri, puasa Anda tidak batal (tetap diteruskan) dan tidak ada kewajiban kafarat. Wallahu a’lam.

Shalat Penderita Skizofrenia
Apakah boleh seseorang meninggalkan shalat karena menderita penyakit jiwa/skizofrenia yang membuatnya terkadang sadar dan terkadang tidak?
085292XXXXXX

Saat ia tidak sadar, ia bukan mukallaf. Saat ia sadar, ia mukallaf yang terkena kewajiban shalat.

 

Hukum Daging Impor

Daging-daging yang diimpor dari negara lain dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

1. Daging-daging tersebut berasal dari negara Islam

Dalam hal ini, daging tersebut boleh dikonsumsi, sebab asal hukumnya mereka menyembelih dengan cara Islam. Hal ini berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu ‘anha yang mengatakan bahwa mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di sini ada satu kaum yang baru saja meninggalkan kesyirikan. Mereka membawakan daging-daging untuk kami yang kami tidak tahu apakah mereka menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala atasnya atau tidak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Kalian sebutlah nama Allah dan makanlah!” (HR. al-Bukhari no. 6963)

Hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal sembelihan seorang muslim adalah halal dan menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala, meskipun kita tidak mengetahui secara persis apakah daging tersebut disembelih dengan cara yang sesuai dengan syariat atau tidak.

2. Daging-daging impor tersebut adalah daging yang tidak disyaratkan untuk disembelih, seperti ikan.

Dalam hal ini, daging tersebut halal untuk kaum muslimin, meskipun diimpor dari negara kafir yang bukan ahli kitab, seperti halnya ikan. Lain halnya apabila diketahui bahwa pada ikan yang telah dikemas dalam kotak tersebut mengandung zat-zat yang diharamkan bagi kaum muslimin, seperti lemak babi atau yang lainnya.

3. Daging-daging sembelihan tersebut diimpor dari negara kafir yang bukan ahli kitab.

Daging ini hukumnya haram untuk dimakan, sebab Allah k hanya menghalalkan sembelihan yang berasal dari ahli kitab untuk kaum muslimin, yaitu yang sejak lahir telah menisbatkan dirinya kepada agama Yahudi dan Nasrani, bukan agama lain, dan dia bukan termasuk orang yang murtad dari Islam lalu menjadi Yahudi atau Nasrani.

4. Daging sembelihan yang diimpor dari negara ahli kitab.

Adapun daging jenis ini, terbagi menjadi tiga keadaan.

a. Apa yang diketahui secara yakin bahwa ia disembelih dengan cara yang sesuai syariat, maka ini dihalalkan berdasarkan ijma’ para ulama.

b. Apa yang diyakini bahwa daging tersebut disembelih dengan cara yang tidak disyariatkan, seperti membunuhnya dengan cara dipukul hingga mati, atau dengan cara dilempar ke mesin penggiling dalam keadaan hidup-hidup, atau menyembelih dengan menyebut nama Yesus, dan yang semisalnya, yang sahih dari pendapat para ulama adalah haram. Sebab, jika diketahui bahwa seorang muslim menyembelih dengan cara yang tidak syar’i, sembelihan tersebut dihukumi bangkai dan haram untuk dikonsumsi, lebih-lebih lagi sembelihan kafir dari kalangan ahli kitab.

c. Daging yang diimpor dari negeri ahli kitab, namun tidak diketahui apakah ia disembelih secara syar’i atau tidak.

Keadaan inilah yang diperselisihkan oleh para ulama. Dalam hal ini ada dua pendapat yang masyhur.

1) Pendapat yang mengatakan bahwa hal tersebut dihalalkan.
Pendapat ini yang dikuatkan oleh asy-Syaikh Ibnu Baz dan asy-Syaikh Ibnu Utsaimin.

2) Pendapat yang mengatakan bahwa hal itu diharamkan.
Di antara ulama yang menguatkan pendapat ini adalah asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid, dan asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahumullah.

Adapun hujah atau alasan pendapat pertama bahwa hukum asal sembelihan ahli kitab adalah halal berdasarkan firman Allah subhanahu wa ta’ala

ٱلۡيَوۡمَ أُحِلَّ لَكُمُ ٱلطَّيِّبَٰتُۖ وَطَعَامُ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ حِلّٞ لَّكُمۡ وَطَعَامُكُمۡ حِلّٞ لَّهُمۡۖ وَٱلۡمُحۡصَنَٰتُ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنَٰتِ وَٱلۡمُحۡصَنَٰتُ مِنَ ٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡكِتَٰبَ مِن قَبۡلِكُمۡ إِذَآ ءَاتَيۡتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ مُحۡصِنِينَ غَيۡرَ مُسَٰفِحِينَ وَلَا مُتَّخِذِيٓ أَخۡدَانٖۗ وَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلۡإِيمَٰنِ فَقَدۡ حَبِطَ عَمَلُهُۥ وَهُوَ فِي ٱلۡأٓخِرَةِ مِنَ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٥

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi al-Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang merugi.” (al-Maidah: 5)

Maka dari itu, ayat ini menunjukkan bahwa hukum asalnya adalah halal hingga diketahui bahwa mereka menyembelihnya dengan cara yang tidak syar’i.

Dalil lainnya adalah hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya di sini ada satu kaum yang baru saja meninggalkan kesyirikan, mereka membawakan daging-daging untuk kami yang kami tidak tahu apakah mereka menyebut nama Allah atasnya atau tidak.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Kalian sebutlah nama Allah dan makanlah!” (HR. al-Bukhari no. 6963)

Hadits ini menunjukkan bahwa hukum asal sembelihan orang yang dibolehkan sembelihannya adalah halal, meskipun diragukan apakah ia menyebut nama Allah subhanahu wa ta’ala tatkala menyembelih atau tidak, dan meskipun tidak diketahui apakah ia menyembelih dengan cara syar’i atau tidak.

Adapun hujah pendapat kedua di antaranya, hukum asal mengonsumsi hewan adalah haram hingga diketahui secara meyakinkan bahwa ia disembelih dengan cara yang syar’i. Lebih-lebih lagi jika negeri tersebut diketahui mayoritas metode penyembelihannya tidak dengan cara yang syar’i.

Asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid berkata, “Daging-daging impor yang dikemas dalam kotak, jika impornya berasal dari negara Islam atau negara ahli kitab, atau mayoritas mereka ahli kitab, dan kebiasaan mereka menyembelih dengan cara yang syar’i, tidak diragukan kehalalannya. Jika daging yang diimpor tersebut berasal dari negara yang kebiasaan mereka menyembelih dengan cara mencekik, memukul kepala, dengan tegangan listrik, dan yang semisalnya, tidak diragukan tentang keharamannya.”

Beliau kemudian berkata, “Adapun jika kondisi daging tersebut dan keadaan penduduk negeri yang mengekspor daging tersebut tidak diketahui, apakah mereka menyembelihnya dengan cara yang syar’i atau tidak, dan tidak diketahui keadaan para penyembelih, tidak diragukan tentang keharaman daging yang diimpor dari negara yang tidak diketahui kebiasaan mereka dalam hal menyembelih, dengan lebih menekankan sisi larangannya. Yaitu, apabila terkumpul sesuatu yang membolehkan dan sesuatu yang melarang, lebih ditekankan sisi larangannya, baik itu dalam hal sembelihan, hewan buruan, maupun pernikahan. Hal ini sebagaimana yang telah ditetapkan oleh para ulama, di antaranya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, al-Allamah Ibnul Qayyim, al-Hafizh Ibnu Rajab, dan pengikut mazhab Hambali selain mereka. Demikian pula al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Imam an-Nawawi, dan masih banyak lagi ulama lain rahimahumullah. Mereka berdalil dengan hadits yang terdapat dalam Shahihain dan yang lainnya, dari hadits Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika engkau melepas anjingmu yang terlatih dan engkau menyebut nama Allah atasnya, makanlah! Namun, jika engkau mendapati ada anjing yang lain bersamanya, janganlah engkau memakannya!”

Hadits ini menunjukkan bahwa jika bersama anjing buruannya yang terlatih ada anjing yang lain, hendaknya dia tidak memakannya sebagai bentuk penekanan sisi pelarangan. Telah terkumpul pada buruan ini sesuatu yang membolehkan, yaitu diutusnya anjing terlatih, dan yang tidak membolehkan, yaitu ikut sertanya anjing yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melarang memakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika engkau melukainya dengan panahmu lalu ia jatuh ke air, jangan engkau memakannya!” (Muttafaq ‘alaihi)

Dalam sebuah riwayat at-Tirmidzi,

“Jika engkau mengetahui bahwa panahmu yang membunuhnya, dan engkau tidak melihat bekas gigitan hewan buas, makanlah!” (At-Tirmidzi berkata, “Hasan sahih,” dari Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu) (kitab al-Ath’imah, 163—164)

Dari pemaparan kedua pendapat di atas, tampak bahwa pendapat kedua lebih kuat dari beberapa sisi.

1. Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan daging hewan yang mati tanpa disembelih secara syar’i. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

حُرِّمَتۡ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةُ وَٱلدَّمُ وَلَحۡمُ ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ لِغَيۡرِ ٱللَّهِ بِهِۦ وَٱلۡمُنۡخَنِقَةُ وَٱلۡمَوۡقُوذَةُ وَٱلۡمُتَرَدِّيَةُ وَٱلنَّطِيحَةُ وَمَآ أَكَلَ ٱلسَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيۡتُمۡ وَمَا ذُبِحَ عَلَى ٱلنُّصُبِ وَأَن تَسۡتَقۡسِمُواْ بِٱلۡأَزۡلَٰمِۚ ذَٰلِكُمۡ فِسۡقٌۗ ٱلۡيَوۡمَ يَئِسَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن دِينِكُمۡ فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِۚ ٱلۡيَوۡمَ أَكۡمَلۡتُ لَكُمۡ دِينَكُمۡ وَأَتۡمَمۡتُ عَلَيۡكُمۡ نِعۡمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلۡإِسۡلَٰمَ دِينٗاۚ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ فِي مَخۡمَصَةٍ غَيۡرَ مُتَجَانِفٖ لِّإِثۡمٖ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٣

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang dipukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya….” (al-Maidah: 3)

Jadi, daging yang tidak jelas tersebut kembali kepada hukum asal, yaitu haram.

2. Nash-nash syar’i menunjukkan bahwa jika berkumpul antara yang membolehkan dan yang melarang, maka didahulukan yang melarang dari yang membolehkan, sebagaimana yang telah disebutkan di atas.

3. Berbagai jenis daging yang demikian banyak jumlahnya di pasaran dunia, seperti daging ayam dan yang lainnya, sangat jauh kemungkinan disembelih dengan sembelihan yang syar’i berdasarkan syarat-syaratnya.

4. Sikap meninggalkan hukum-hukum agama dan hukum-hukum syar’i telah mendominasi mayoritas manusia di zaman ini, amanah dan kejujuran pun berkurang, sehingga ucapan mereka bahwa daging itu disembelih berdasarkan syariat Islam tidak bisa dijadikan sebagai sandaran. Lebih-lebih lagi, ditemukan sebagian daging ayam yang lehernya tidak tampak bekas sembelihan. Bahkan, ada juga sebagian kotak yang tertulis “disembelih berdasarkan syariat Islam” dalam keadaan isi kotak tersebut adalah ikan yang memang tidak perlu disembelih, yang menunjukkan bahwa tulisan tersebut hanyalah sekadar bualan belaka.

5. Alasan pendapat pertama hanya berpegang kepada keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala yang menjelaskan halalnya sembelihan ahli kitab. Sementara itu, ayat tersebut telah dikhususkan oleh nash-nash lain yang menunjukkan ditekankannya sisi pengharaman daripada sisi yang membolehkan tatkala berkumpul pada satu benda. (lihat kitab al-Ath’imah, al-Allamah Shalih al-Fauzan, 165—166)

Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Mu’awiyah Askari