Bekal Wajib untuk Membahas Takdir

Maratibul Qadar (Tingkatan Beriman kepada Takdir)

Para ulama telah menjelaskan tentang wajibnya meyakini tingkatan-tingkatan beriman kepada takdir. Tanpa meyakini keempat hal tersebut, keimanan kepada takdir tidaklah sempurna.

Beriman kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala memiliki empat tingkatan.

  1. Beriman bahwa Allah Maha Mengetahui, dengan ilmu-Nya yang azali (terdahulu) dan abadi, tentang seluruh yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, kecil atau besar, yang lahir atau batin, perbuatan-perbuatan-Nya, dan perbuatan-perbuatan makhluk-Nya.
  2. Beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menulis takdir atas segala sesuatu, dalam Lauh Mahfuzh, sampai saat kebangkitan hari kiamat. Tidak ada sebuah kejadian pun, yang telah atau akan terjadi, melainkan pasti telah tertulis dan telah ditentukan takdirnya, sebelum terjadinya.

Dalil kedua tingkatan di atas adalah ayat Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun dalil dari Al-Qur’an, di antaranya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya selain Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan, serta tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

Adapun dalil dari hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di antaranya adalah sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ. قَالَ: وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ

“Allah subhanahu wa ta’ala telah mencatat takdir seluruh makhluk, lima puluh ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi.” Beliau berkata, “Arsy Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas air.” (HR. Muslim no. 2653 dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dari sahabat Imran bin Hushain z (no. 7418), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كَانَ اللهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ قَبْلَهُ، وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ

“Allah subhanahu wa ta’ala ada, tidak ada sesuatu pun sebelumnya, dan ‘Arsy Allah subhanahu wa ta’ala berada di atas air. Kemudian, Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan langit dan bumi, serta mencatat tentang segala sesuatu dalam adz-Dzikr.”

  1. Beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat masyi’ah (kehendak) yang mencakup segalanya.

Tidak ada sesuatu yang terjadi atau yang tidak terjadi, baik besar maupun kecil, lahir maupun batin, di langit maupun di bumi, melainkan dengan masyi’ah Allah subhanahu wa ta’ala, apakah tentang perbuatan-perbuatan-Nya atau perbuatan-perbuatan makhluk-Nya.

  1. Beriman bahwa Allah subhanahu wa ta’ala memiliki sifat khalq (mencipta).

Allah subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang menciptakan segalanya, besar atau kecil, lahir atau batin. Penciptaan Allah subhanahu wa ta’ala meliputi zat seluruh makhluk, sifat-sifat mereka, serta apa yang mereka perbuat, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, maupun hasil dan pengaruh perbuatan makhluk.

Dalil tingkatan ketiga dan keempat di atas adalah firman Allah subhanahu wa ta’ala:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)

“Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan(-Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)

Allah subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan sesuatu melainkan berdasarkan masyi’ah-Nya. Hal ini karena tidak ada yang dapat memaksa-Nya, dengan kesempurnaan kerajaan dan kekuasaan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menjelaskan perbuatan-Nya yang berdasarkan masyi’ah-Nya.

“Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

“Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).” (ar-Ra’d: 26)

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan bahwa perbuatan makhluk-Nya juga sesuai dengan masyi’ah-Nya.

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) melainkan jika dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 28—29)

“Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan. Akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (al-Baqarah 253)

(Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu Utsaimin, hlm. 103—104)

Iradah Allah subhanahu wa ta’ala (Kehendak Allah subhanahu wa ta’ala)

Di antara sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala yang tinggi dan suci adalah iradah (memiliki kehendak). Dengan mempelajari ayat-ayat Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para ulama menyimpulkan bahwa iradah Allah subhanahu wa ta’ala ada dua macam.

  1. Iradah kauniyah qadariyah (kehendak Allah yang terkait dengan ketetapan alam dan takdir-Nya)

Segala yang terjadi di alam semesta ini, termasuk beriman atau kafirnya seseorang, semua terjadi dengan kehendak dan ketetapan Allah. Iradah ini disebut juga dengan masyi’ah (kehendak).

Tidak ada satu pun makhluk yang dapat lepas dari iradah jenis ini. Setiap muslim atau kafir berada di bawah iradah ini. Ketaatan dan kemaksiatan, seluruhnya dengan masyi’ah Allah subhanahu wa ta’ala dan iradah-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (ar-Ra’d: 11)

“Barang siapa yang Allah menghendaki akan memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa atas orang-orang yang tidak beriman.” (al-An’am: 125)

Sifat-sifat iradah kauniyah adalah sebagai berikut.

  • Iradah kauniyah ada yang dicintai-Nya, ada juga yang tidak. Yaag dicintai-Nya misalnya keimanan seseorang, sedangkan yang tidak dicintai-Nya misalnya kekafiran seseorang.
  • Walaupun sebagian iradah kauniyah tidak dicintai oleh Allah, namun terkadang ada kebaikan yang diinginkan di baliknya. Misalnya, penciptaan Iblis dan seluruh keburukan. Tujuannya adalah memunculkan banyak kebaikan, seperti taubat dan istighfar setelah terjatuh dalam godaan Iblis, serta mujahadah (bersungguh-sungguh) melawan godaannya.
  • Iradah kauniyah pasti terjadi.
  • Iradah kauniyah terkait dengan rububiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, segala sesuatu yang terjadi terkait dengan pengaturan Allah terhadap alam ini. Pengaturan ini merupakan sifat Allah sebagai Rabb semesta alam.

  1. Iradah syar’iyah diniyah

Artinya, Allah mencintai amalan syariat yang Dia kehendaki untuk diamalkan, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan lainnya. Iradah ini disebut juga dengan mahabbah (kecintaan). Iradah ini mengandung cinta dan ridha Allah subhanahu wa ta’ala terhadap amalan-amalan tersebut.

Contohnya, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan Allah hendak menerima taubatmu ….” (an-Nisa’: 27)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan agar seseorang bertaubat dari dosa-dosanya, yang taubat ini merupakan sesuatu yang dicintai-Nya.Dengan demikian, taubat termasuk dalam iradah syar’iyah diniyah.

Sifat-sifat iradah syar’iyah adalah sebagai berikut.

  • Iradah syar’iyah seluruhnya dicintai dan diridhai-Nya.
  • Iradah syar’iyah memang diinginkan zatnya, seperti bentuk-bentuk ketaatan.

Allah subhanahu wa ta’ala mencintainya, mensyariatkan, dan meridhainya secara zatnya.

  • Iradah syar’iyah ada yang terjadi, ada pula yang tidak. Ketika Allah menghendaki agar manusia taat, ada yang melakukannya dan ada yang tidak.
    Jika iradah syar’iyah pasti terjadi, tentu umat manusia akan menjadi muslim seluruhnya.
  • Iradah syar’iyah terkait dengan uluhiyah Allah subhanahu wa ta’ala. Artinya, ibadah-ibadah yang disyariatkan merupakan bentuk penghambaan diri dan ketaatan kepada Allah.

Hubungan Iradah Kauniyah & Iradah Syar’iyah

Iradah kauniyah dan syar’iyah terwujud sekaligus pada seorang hamba yang berbuat ketaatan. Orang yang melaksanakan shalat, misalnya. Shalat adalah sesuatu yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala, maka disebut syar’iyah. Jika dia benar-benar menegakkan shalat, disebut kauniyah (karena benar-benar terjadi).

Iradah kauniyah berdiri sendiri tanpa iradah syar’iyah tergambar pada diri orang kafir. Kekafirannya adalah kauniyah karena benar-benar terjadi. Namun, kekafirannya itu bukan iradah syar’iyah karena kekafiran tidak dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Iradah syar’iyah berdiri sendiri tanpa iradah kauniyah tergambar pada keimanan, yang tidak terjadi orang kafir. Keimanan adalah sesuatu yang dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala, maka disebut iradah syar’iyah. Namun tidak terjadi karena dia kafir, maka bukan iradah kauniyah.

“Barang siapa mampu membedakan antara iradah syar’iyah dengan iradah kauniyah, ia pasti akan selamat dari banyak kerancuan yang telah menggelincirkan kaki dan menyesatkan pikiran. Barang siapa memerhatikan amalan hamba dengan kedua mata ini, ia akan mampu melihat. Barang siapa memerhatikan syariat tanpa takdir atau sebaliknya, maka ia buta.” (al-Iman bil Qadha’, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 82—84)

Takdir Baik dan Takdir Buruk

Soal: Kita meyakini keberadaan takdir buruk. Apakah tidak bertentangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Keburukan tidak (dinisbahkan) kepada-Nya”?

Jawab: Maksud takdir buruk tidaklah terkait dengan perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala dalam hal menentukan takdir. Namun, terkait dengan hal-hal yang ditakdirkan. Sama halnya dengan perbedaan khalq (perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala mencipta) dan makhluq (hal-hal yang diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala).

Marilah kita mengambil sebuah contoh. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Dalam ayat di atas, Allah subhanahu wa ta’ala memberikan penjelasan mengenai kerusakan yang terjadi, sebab dan tujuannya. Kerusakan adalah sesuatu yang buruk, sebab terjadinya adalah ulah tangan manusia. Tujuannya ialah “Supaya Allah subhanahu wa ta’ala merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Oleh karena itu, bentuk kerusakan yang terjadi, baik di daratan maupun di lautan, mengandung hikmah. Pada asalnya, kerusakan tersebut adalah sesuatu yang buruk. Namun, ia memiliki hikmah yang sangat besar. Dengan demikian, adanya hikmah tersebut menyebabkan takdir “munculnya kerusakan” menjadi sesuatu yang baik.

Demikian halnya kemaksiatan dan kekufuran. Hal tersebut merupakan takdir dari Allah subhanahu wa ta’ala. Namun, keduanya memiliki hikmah yang sungguh besar. Andai tidak terjadi kemaksiatan dan kekufuran, syariat Islam tidak akan terwujud. Jika saja tidak muncul kemaksiatan dan kekufuran, penciptaan manusia akan menjadi sia-sia.

(Syarah al-Wasithiyah, Ibnu ‘Utsaimin, hlm. 542—543)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Takdir, Wilayah Terbatas : Mendudukkan Pembahasan Takdir

Membahas masalah takdir sangatlah penting. Namun, sebagian kalangan justru keliru memahaminya dengan mengatakan, “Membahas masalah takdir hanya melahirkan keraguan dan kebingungan!”, “Membahas masalah takdir hanya akan menjadi sebab ketergelinciran dan kesesatan!”

Semua anggapan di atas tidaklah benar karena membahas masalah takdir sangatlah penting. Hal ini dibuktikan dengan beberapa hal berikut.

  1. Beriman kepada takdir merupakan salah satu rukun iman.
    Keimanan seorang hamba tidak akan mungkin sempurna melainkan dengan beriman kepada takdir. Lalu, bagaimana mungkin caranya untuk mengetahui keimanan terhadap takdir, jika tidak dibicarakan dan tidak dijelaskan?
  2. Al-Qur’an banyak menyebutkan masalah takdir serta perinciannya.
    Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk mempelajari dan merenungkan Al-Qur’an. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memerhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Shaad: 29)

Lalu, apakah alasannya mengecualikan ayat-ayat takdir dari keumuman perintah tersebut?

  1. Beriman kepada takdir disebutkan dalam hadits terbesar dalam Islam, hadits Jibril ‘alaihissalam.

Peristiwa dalam hadits tersebut terjadi pada hari-hari terakhir kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di akhir hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ

“Orang tadi adalah Jibril. Ia datang untuk memberikan pelajaran tentang agama manusia.” (HR. Muslim no. 8)

Jadi, mempelajari masalah takdir juga termasuk bagian dari agama. Hukumnya wajib, walaupun secara global.

  1. Para sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah takdir yang sangat rinci.

Sebuah hadits diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 2648) dari sahabat Jabir radhiallahu ‘anhu. Suraqah bin Malik radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ، بَيِّنْ لَنَا دِينَنَا كَأَنَّا خُلِقْنَا الْآنَ، فِيمَا الْعَمَلُ الْيَوْمَ، أَفِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ أَمْ فِيمَا نَسْتَقْبِلُ؟ قَالَ: لَا، بَلْ فِيمَا جَفَّتْ بِهِ الْأَقْلَامُ وَجَرَتْ بِهِ الْمَقَادِيرُ. قَالَ: فَفِيمَ الْعَمَلُ؟ فَقَالَ: اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ

“Wahai Rasulullah, mohon berikan penjelasan tentang agama ini kepada kami, seolah-olah kami diciptakan sekarang ini. Untuk apakah kita beramal hari ini, apakah pada hal-hal yang pena telah kering dan takdir yang berjalan, ataukah untuk yang akan datang?” Beliau menjawab, “Bahkan pada hal-hal yang pena telah kering darinya dan takdir yang berjalan.” Ia bertanya, “Lalu apa guna beramal?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beramallah kalian, karena masing-masing dipermudah (untuk melakukan sesuatu yang telah ditakdirkan untuknya).”

  1. Para sahabat menyampaikan masalah takdir kepada murid-murid mereka, kalangan tabi’in.

Mereka mengajukan pertanyaan tentang takdir untuk menguji dan mengetahui pandangan mereka. Dalam sebuah riwayat Muslim (no. 2650), Abul Aswad ad-Du’ali berkata, “Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepadaku, ‘Apa pendapatmu tentang amalan yang dikerjakan orang hari ini, yakni bekerja keras?

Apakah sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka dan sesuatu yang telah lewat takdir sebelumnya? Ataukah untuk sesuatu yang akan mereka hadapi, dari ajaran yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mereka dan hujjah telah tegak untuk mereka?’ Aku menjawab, ‘Bahkan, sesuatu yang telah ditetapkan untuk mereka.’ Beliau bertanya, ‘Kalau begitu, apakah bukan sebuah kezaliman bagi mereka?’ Abul Aswad berkata, ‘Aku pun langsung benar-benar terkejut.’ Aku berkata, ‘Segala sesuatu adalah ciptaan Allah subhanahu wa ta’ala, kekuasaan di tangan-Nya. Dia tidak ditanya tentang perbuatan-Nya, akan tetapi merekalah yang akan ditanya tentang perbuatan mereka.’ Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu berkata:

يَرْحَمُكَ اللهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ

‘Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatimu, sesungguhnya aku tidak memaksudkan dari pertanyaanku kepadamu melainkan untuk memahamkan akalmu’.”

  1. Para ulama salaf telah menulis dan menyusun tulisan tentang takdir.
    Jika kita melarang pembahasan tentang takdir, sama artinya menganggap mereka sebagai orang-orang bodoh.

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Telah pasti secara dalil qath’i, dari Al-Kitab, as-Sunnah, ijma’ sahabat, ijma’ ahlil halli wal ‘aqdi, dari generasi salaf dan khalaf, tentang ketetapan takdir. Banyak ulama yang menulis tentang takdir. Di antara kitab terbaik yang ditulis dan banyak memberikan faedah adalah kitab karya al-Hafizh al-Faqih Abu Bakr al-Baihaqi, semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.” (Syarah an-Nawawi, an-Nawawi, 1/154—155)

Pertanyaannya, bagaimana memadukan keterangan di atas dengan beberapa riwayat yang menunjukkan larangan membicarakan takdir?
Misalnya, hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu riwayat ath-Thabarani dalam kitab al-Mu’jamul al-Kabir (no. 10448) dan yang lain. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَإِذَا ذُكِرَ الْقَدَرُ فَأَمْسِكُوا

“Apabila disebut tentang takdir, tahanlah diri!” (as-Silsilah ash-Shahihah, 1/24 [34])

Atau contoh lain, hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat at-Tirmidzi (no. 2133) yang dihasankan oleh al-Albani. Di dalam hadits tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat marah saat menyaksikan para sahabat sedang berselisih tentang takdir. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حِينَ تَنَازَعُوا فِي هَذَا الْأَمْرِ، عَزَمْتُ عَلَيْكُمْ أَلَّا تَتَنَازَعُوا فِيهِ

“Sesungguhnya umat sebelum kalian binasa karena memperselisihkan masalah ini (takdir). Saya mengharuskan kalian untuk tidak berselisih tentang masalah ini!”
Menjawab pertanyaan di atas sebenarnya mudah karena ajaran Islam tidak mengandung kontradiksi.

Larangan untuk membicarakan tentang takdir hanyalah pada kondisi-kondisi berikut ini.

  1. Membica-rakan tentang takdir secara batil, tanpa ilmu dan tanpa dalil.
    Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (al-Isra’: 36)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “Maksudnya, takdir termasuk rahasia. Apabila seseorang membahasnya dan memperdalam pembahasan, ia tidak akan mungkin pernah mencapai tujuan melainkan jika dia berjalan sesuai dengan keterangan nash-nash. Pada beberapa hadits disebutkan, ‘Jika perkara takdir disebut, tahanlah diri!’ Hal ini karena jika si hamba memperdalam pembahasan tentang takdir bukan di atas ilmu, ia akan terperosok dalam kesesatan. Sebab kesesatannya, karena ia mencari ‘illah (alasan) bagi perbuatan-perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala dan membahas takdir tanpa memiliki pengetahuan tentang Al-Qur’an dan as-Sunnah.” (Syarah Lum’atul I’tiqad, al-Fauzan, hlm. 70—72)

  1. Landasan membicarakan tak-dir adalah dengan akal, karena akal manusia sangat terbatas.
  2. Tidak bersikap tunduk dan menerima ketentuan Allah subhanahu wa ta’ala tentang takdir, karena takdir termasuk perkara gaib.
  3. Membahas sisi dan aspek yang tersembunyi tentang takdir, sesuatu yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.
  4. Mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukkan ketidakpuasan terhadap nash.

Kesimpulan: Hukum Membahas tentang Takdir

  1. Jika membahasnya dengan kebenaran, dalil Al-Qur’an dan as-Sunnah, disertai keterangan para ulama, boleh dan tidak dilarang bahkan terkadang wajib.
  2. Jika membahasnya dengan kebatilan, tidak boleh dan terlarang.
    (al-Iman bil Qadha wal Qadar, Muhammad bin Ibrahim, hlm. 19—25)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Takdir Berjalan Seiring Syari’at

Kejahilan merupakan sumber segala petaka. Oleh karena itu, Islam memerintahkan pemeluknya untuk berjuang demi mengangkat kejahilan dari dirinya. Islam mengajak dan menyeru umat untuk menuntut ilmu syar’i dan memperdalam pemahamannya tentang agama. Hanya dengan ilmu, yang bersumber dari Al-Qur’an dan as-Sunnah, seorang hamba akan menggapai ketenangan dan kebahagiaan, baik dunia maupun akhirat.

Dengan sebab kejahilan, sebagian kalangan berusaha untuk “ikhtiar” dengan mendatangi dukun dan paranormal. “Untuk merubah nasib,” katanya. Padahal, mendatangi dukun atau paranormal bukan termasuk ikhtiar yang diizinkan oleh syariat. Disebabkan tidak mampu memahami takdir dan ikhtiar berikut bentuk-bentuk ikhtiar dengan baik, hal itu pun terjadi.

Atau contoh kejahilan lainnya. Munculnya anggapan, “Kalau beriman dengan takdir akan menjadi sebab kemunduran umat!” Mereka, karena kejahilan, meyakini dengan mengimani takdir akan menjadikan hamba malas untuk bekerja dan berusaha. Padahal, usaha dan bekerja keras merupakan bagian dari takdir juga. Sekali lagi, kesalahan berpikir semacam ini karena kejahilan.
Dengan memohon taufik dan kemudahan dari Allah Yang Maha Pemurah, kami akan menyumbangkan sedikit uraian tentang takdir. Semoga bermanfaat.

Urgensi Beriman Kepada Takdir

Seorang hamba harus beriman kepada takdir karena mengimani takdir termasuk bagian dari enam rukun iman. Beriman kepada takdir merupakan bentuk kesempurnaan tauhid rububiyah, wujud nyata dari hakikat tawakal seorang hamba dan sikap penyerahan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, disertai usaha untuk melakukan sebab-sebab yang dibenarkan dan bermanfaat. Dengan beriman kepada takdir, seorang hamba akan mampu meraih ketenangan dalam hidupnya. Hal ini karena ia meyakini bahwa setiap perkara yang ditakdirkan akan menimpa dirinya, tidak mungkin meleset. Sebagaimana ia meyakini pula, semua yang ditakdirkan akan luput dari dirinya, tidak akan mungkin menimpanya.

Mengimani takdir Allah subhanahu wa ta’ala akan mendidik hamba untuk tidak merasa ujub saat cita-citanya tercapai, sebab ia yakin bahwa tercapainya cita-cita tersebut karena telah ditakdirkan. Usaha yang ia lakukan tidak lain hanyalah sebab. Allah subhanahu wa ta’ala jua yang memudahkannya untuk melakukan sebab tersebut.

Beriman kepada takdir Allah subhanahu wa ta’ala akan membimbing setiap hamba untuk tidak goncang dan bersedih saat keinginannya gagal tercapai, atau saat ia menghadapi kondisi yang tidak menyenangkan. Ia telah meyakini bahwa seluruh alur kehidupan telah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Maka dari itu, ia memilih sikap ridha dan menerima selapang hati. Tentang hal di atas, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Tiada sesuatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berdukacita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (al-Hadid: 22—23)

(Taqrib at-Tadmuriyah, Ibnu Utsaimin, hlm. 113—114)

Letak Penting Syariat

Seorang hamba harus beriman kepada syariat. Syariat adalah seluruh ajaran yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa perintah, larangan, dan konsekuensi yang terkait, yaitu balasan, pahala, atau hukuman. Jadi, setiap hamba berkewajiban melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan, serta harus beriman akan adanya balasan, pahala, atau hukuman.

Hal ini karena setiap orang diciptakan dengan memiliki kehendak dan keinginan. Dengan adanya kehendak pada dirinya, seorang hamba akan berusaha memperoleh apa yang ia inginkan dan menghindari apa yang tidak ia inginkan. Namun, manusia juga memerlukan hukum-hukum untuk mengatur kehendak dan keinginannya agar ia tidak terjatuh pada hal yang akan merugikannya. Juga agar ia tidak kehilangan hal yang akan memberinya manfaat, tanpa ia sadari.

Syariat Ilahi, yang diajarkan oleh para rasul, adalah hukum-hukum tersebut. Dengan keberadaan syariat tersebut, sebuah hukum ditentukan. Akan terpisahkan antara hal yang mendatangkan manfaat dan sesuatu yang membawa kerugian, antara kebaikan dan kerusakan, karena syariat tersebut datang dari sisi Allah, Dzat Yang Maha Mengetahui, Dzat Yang Maharahmat, dan Dzat Yang Mahahikmah.

Akal manusia, walaupun mampu menentukan hal yang bermanfaat atau bermudarat, kemampuannya terbatas. Akal tidak dapat mengetahuinya secara detail dan terperinci. Hanya syariatlah yang dapat menentukannya secara sempurna.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Oleh karena itu, kami berpendapat, manfaat dan mudarat dapat diketahui oleh fitrah, diketahui oleh akal, terkadang diketahui dengan pengalaman, dan bisa diketahui melalui syariat. Syariat datang untuk mendukung fitrah, akal, dan pengalaman. Fitrah, akal, dan pengalaman pun mendukung syariat.” (Taqrib at-Tadmuriyah, hlm. 113—114)

Ditulis oleh al-Ustadz Mukhtar Ibnu Rifai

 

Kala Mujur Tak Bisa Diraih, Malang Tak Bisa Ditolak

Menakjubkan! Sebuah ungkapan yang sangat tepat kala menatap sikap hidup seorang mukmin. Betapa tidak, kala ujian hidup mendera, dunia terasa sempit mengimpit, sikap sabar membalut dirinya. Kesabaran yang menghiasi jiwa membawa seorang mukmin meraih kebaikan tiada terhingga. Sebaliknya, jika seorang mukmin hidup bertabur kesenangan, tiada kesusahan melilit dirinya, sikap syukur mengarahkannya meraup kebaikan. Hidupnya penuh makna, tidak dipoles oleh dunia yang menipu lagi melalaikan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan sikap hidup seorang mukmin tersebut dengan ungkapan, “Menakjubkan!”

Renungi dan hayati sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini.

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ؛ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Menakjubkan urusan yang menimpa seorang mukmin. Sungguh, semua urusannya membawa kebaikan untuknya. Tidak ada seorang pun yang bisa seperti itu selain seorang mukmin. Jika kegembiraan menimpa dirinya, ia bersyukur. Sikap syukurnya ini membawa kebaikan baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia pun bersabar. Sikap sabarnya ini pun membawa kebaikan untuknya.” (HR. Muslim no. 64, dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu)

“Inilah keadaan seorang mukmin,” kata asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah. Beliau menambahkan, setiap manusia tidak lepas dari qadha (ketentuan) dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala yang mencakup dua perkara: senang atau susah. Oleh karena itu, manusia terbagi menjadi dua macam: mukmin dan bukan mukmin. Seorang mukmin menganggap segala sesuatu telah ditakdirkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala baginya, sehingga hal ini baik baginya. Ketika kesusahan menimpanya, lantas dia bersabar atas takdir-Nya seraya menanti disirnakannya impitan hidup oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengharap pahala dari-Nya, hal ini membawa kebaikan baginya. Dia berharap mendapat pahala karena tergolong orang-orang yang bersabar. Jika dirinya memperoleh kesenangan dalam bentuk nikmat beragama—seperti memiliki ilmu (syariat) dan beramal saleh—dan memperoleh nikmat dunia—seperti harta, anak, dan keluarga—lantas dia bersyukur kepada-Nya dengan menjalankan ketaatan1, sikap syukur ini akan mendatangkan kebaikan untuknya. Jadilah ia memperoleh dua macam kenikmatan, yaitu nikmat beragama dan nikmat dunia. Nikmat dunia berbentuk kesenangan, sedangkan nikmat beragama berbentuk syukur. Inilah potret seorang mukmin. (Syarhu Riyadhish Shalihin, 1/79)

Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menukilkan hadits Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu di atas guna menjelaskan kewajiban seseorang yang sedang sakit untuk bersikap ridha terhadap qadha Allah subhanahu wa ta’ala, bersabar atas takdir-Nya, dan husnuzhan (berbaik sangka) kepada-Nya. Dengan bersikap demikian, ia akan mendapatkan kebaikan. (Ahkamul Jana’iz wa Bida’uha, hlm. 11)

Kebaikan demi kebaikan akan senantiasa dipetik oleh seorang mukmin. Tidak ada yang sia-sia. Ia tetap penuh optimis menatap setiap keadaan dalam hidup ini. Walau mujur tak bisa diraih, malang tak bisa ditolak, namun dengan bersabar dirinya akan tetap kukuh, tidak putus asa. Ia senantiasa bersemangat atas segala hal yang bisa bermanfaat baginya seraya memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجِزْ

“Bersemangatlah atas segala sesuatu yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur mulia yang telah memberi contoh untuk tetap bersemangat. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap menginginkan kebaikan bagi umatnya. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu bersemangat menginginkan keimanan dan keselamatan umatnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kaum kalian sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamata) kalian, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (at-Taubah: 128)

Sikap sabar dan tangguh menghadapi beragam kesulitan adalah buah dari keimanan terhadap qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Dia tidak berkeluh kesah atas apa yang menimpanya. Semua itu adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala atas dirinya. Dia meyakini bahwa pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala beriring dengan kesabaran. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (al-Insyirah: 5—6)

Demikian pula sikap syukur. Sikap ini merupakan buah dari keimanan terhadap qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Seorang mukmin tentu memahami benar bahwa segala nikmat yang ada pada dirinya merupakan pemberian Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya).” (an-Nahl: 53)

Agar nikmat yang ada padanya senantiasa bertambah, maka syukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala harus dilakukan. Allah subhanahu wa ta’ala telah menetapkan hal ini sebagaimana firman-Nya:

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian. Dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Keimanan terhadap qadha dan takdir secara benar akan menghasilkan buah yang baik, membentuk akhlak yang indah, serta akan melahirkan aktivitas peribadahan yang benar dan beragam. Semua itu akan berdampak pada individu dan masyarakat. Iman kepada qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala secara benar bisa membentuk kepribadian seorang muslim yang memancarkan cahaya kemuliaan. Tidak sebagaimana yang disalahpahami oleh sebagian orang bahwa mengimani qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala hanya akan melemahkan semangat hidup dan memadamkan kesungguhan beraktivitas. Ini terjadi pada kalangan Jabriyah. Atau sebaliknya, akibat bernafsu mengejar kemajuan hidup, tumbuh pemahaman yang salah terhadap qadha dan takdir. Iman kepada qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala dianggap sebagai penghambat kemajuan kaum muslimin. Akibatnya, seorang muslim—menurutnya—tidak perlu beriman kepada qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala. Wal ‘iyadzu billah.
Perbuatan yang menjadi sebab-sebab terjadinya satu ketentuan dari Allah subhanahu wa ta’ala tidak mesti meniadakan keimanan terhadap takdir. Bahkan, hal itu bisa menjadi penyempurna bagi keimanan terhadap qadha dan takdir.
Oleh karena itu, wajib bagi seorang hamba—seiring beriman kepada takdir—dia harus pula bersungguh-sungguh beramal. Dia dapat menempuh sebab-sebab yang bisa menyelamatkan seraya berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Kemudahan yang ada padanya menjadi sebab teraihnya kebahagiaan. Allah subhanahu wa ta’ala pun membantunya dalam hal tersebut. (Syarhu Kitab at-Tauhid min Shahih al-Bukhari, 2/629)

Nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah menaruh perhatian terhadap perkara yang dijadikan sebab syar’i dalam beragam urusan kehidupan. Bahkan, sungguh kita telah diperintah untuk beramal, berupaya mengais rezeki, menyiapkan segala sesuatunya untuk menghadapi musuh, menyiapkan bekal untuk safar, dan selainnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kalian di muka bumi.” (al-Jumu’ah: 10)

“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya.” (al-Mulk: 15)

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.” (al-Anfal: 60)

Adapun terkait dengan urusan mempersiapkan perbekalan para musafir yang akan berhaji, firman-Nya:

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (al-Baqarah: 197)

Dalam urusan (perintah) berdoa dan memohon pertolongan, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku perkenankan bagimu.” (al-Mu’min: 60)

“Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat.” (al-Baqarah: 45)

(al-Iman bil Qadha wal Qadar, Dr. Muhammad bin Ibrahim al-Hamd, hlm. 125)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah pun menyebutkan hal semisal di atas. Beliau rahimahullah berkata, “Kebanyakan manusia mengira bahwa menetapkan sebab-sebab (terjadinya sesuatu) akan meniadakan keimanan kepada qadha dan takdir. Hal ini tentu merupakan sebuah kesalahan yang sangat keji. Karena akan mengembalikan (pemahaman) terhadap takdir secara keji sekali sehingga menjadikan sebuah hikmah yang batil….”

Pernyataan ini merupakan bukti peniadaan terhadap keberadaan sebab tersebut. Karena sesungguhnya, Allah subhanahu wa ta’ala telah mengaitkan satu keadaan ke keadaan sebagian lainnya, menata sebagian dengan sebagian lainnya, dan mengadakan sebagian atas sebagian lainnya. Lantas, apakah engkau akan tetap mengatakan, wahai orang yang berprasangka lagi jahil, bahwa yang paling utama adalah mendirikan bangunan, tetapi tanpa konstruksi; mengelola bibit (biji-bijian), buah, dan tanaman, tetapi tanpa adanya ladang dan pengairan; mewujudkan adanya anak-anak dan keturunan, tetapi tanpa pernikahan; masuk surga, tetapi tanpa adanya iman dan amal saleh; masuk neraka, tetapi tanpa adanya kekufuran dan maksiat?” (al-Iman bil Qadha wal Qadar, hlm. 126)

Perkembangan bid’ah dalam hal takdir awalnya muncul di Bashrah dan Damaskus. Kemunculannya menjelang akhir masa para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti: Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Umar, Anas bin Malik, dan Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhum. Saat itu, para sahabat radhiallahu ‘anhum mengingkari pemahaman bid’ah ini dengan keras, demikian pula menyikapi secara keras terhadap para pelaku dan pengusungnya.

Orang yang pertama melontarkan pernyataan masalah qadar adalah salah satu penduduk kota Bashrah, Irak, yang bernama Sawsan. Dia adalah penjual makanan, asalnya pemeluk agama Nasrani kemudian memeluk Islam. Dari Sawsan inilah Ma’bad al-Juhani menelan pemahaman masalah takdir. Setelah itu, Ghailan bin Muslim ad-Dimasyqi mengambil pemahaman masalah qadar dari Ma’bad al-Juhani. Kedua orang ini, Ma’bad dan Ghailan, merupakan tokoh papan atas dalam menyebarkan pemahaman antitakdir. Bahkan Ghailan dihukum mati lantaran mempertahankan pemahamannya. Walaupun dia sempat bertaubat melalui Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, tetapi sepeninggal Umar bin Abdul Aziz dia kembali ke pemahamannya semula. Karena itu, dia dihukum mati. (al-Iman bil Qadha wal Qadar, hlm. 257)

Muhammad bin Syu’aib berkata, “Saya telah mendengar al-Imam al-Auza’i (imam penduduk Syam) berkata, ‘Orang yang pertama berbicara tentang qadar adalah Sawsan di Irak. Dia dahulu seorang Nasrani. Lantas memeluk Islam, kemudian menjadi Nasrani kembali. Ma’bad mengambil pemahaman tentang qadar darinya. Kemudian Ghailan al-Qadari pun mengambil pemahaman masalah qadar dari Ma’bad.’” (Siyar A’lami an-Nubala’, 4/100)

Semenjak Ma’bad al-Juhani mengumandangkan pemahaman sesat tentang masalah takdir ini, kaum muslimin pun melakukan pengingkaran terhadap pemahaman yang diusung Ma’bad.

Diriwayatkan dalam Shahih Muslim, dari Yahya bin Ya’mar, dia berkata, “Yang pertama kali melontarkan pernyataan tentang takdir adalah Ma’bad al-Juhani. Saat saya dan Humaid bin Abdirrahman al-Himyari berhaji atau umrah, saya katakan, ‘Seandainya kami bertemu dengan salah satu sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kami akan menanyakan kepadanya perihal apa yang diucapkan mereka tentang masalah takdir.’

(Ternyata) bertepatan dengan saat itu, Abdullah bin Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma masuk masjid. Kami mengapit Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma. Salah satu dari kami berada di sebelah kanan beliau, sedangkan lainnya berada di sebelah kirinya.

Karena aku mengira temanku akan menyerahkan pembicaraan kepadaku, maka aku pun berkata kepada Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma, ‘Wahai Abu Abdirrahman, sungguh telah tampak di hadapan kami manusia yang membaca Al-Qur’an dan mencari-cari ilmu yang rumit….’

Setelah menyebutkan urusan mereka, sesungguhnya mereka berkeyakinan tidak ada takdir. Sungguh perkara tersebut merupakan unuf, yaitu Allah subhanahu wa ta’ala tidak mengetahui hal itu hingga para hamba itu berbuat atau beramal.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma adalah orang yang menyelisihinya. Sungguh, seandainya salah satu dari mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud, lalu diinfakkan, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan menerimanya hingga ia beriman kepada takdir.” (HR. Muslim no. 1)

Disebutkan oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah bahwa lantaran mereka telah mendustakan takdir, terutama mereka mengingkari ilmu Allah subhanahu wa ta’ala, maka kafir. Adapun orang kafir, tentu tidak akan diterima infaknya. Sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya, kecuali karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. (at-Taubah: 54) (Lihat Ta’liq ‘ala Shahih Muslim, hlm. 92)

Pernyataan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin di atas terkait ucapan Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma:

لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُهُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا قَبِلَهُ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Sungguh seandainya salah satu di antara mereka memiliki emas sebesar Gunung Uhud lalu diinfakkan, niscaya Allah tidak akan menerimanya hingga dia beriman kepada takdir.” (HR. Muslim, no. 1)

Demikianlah sikap tegas salafush shalih terhadap para pengingkar takdir. Al-Imam Thawus rahimahullah pernah memperingatkan, “Diperingatkan (kepada kalian) terhadap perkataan Ma’bad. Karena sesungguhnya Ma’bad adalah seorang qadari (pengingkar takdir).”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah menyatakan, “Hati-hatilah kalian terhadap Ma’bad al-Juhani. Sungguh dia itu sesat dan menyesatkan.” (Siyar A’lami an-Nubala’, hlm. 100—101)

Lebih dari itu, hadits dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma menerangkan tentang al-Qadariyyah. Dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الْقَدَرِيَّةُ مَجُوسُ هَذِهِ الْأُمَّةِ، إِنْ مَرِضُوا فَلَا تَعُودُوهُمْ وَإِنْ مَاتُوا فَلَا تَشْهَدُوهُمْ

“Al-Qadariyyah adalah Majusi umat ini. Jika mereka sakit, janganlah dijenguk, dan jika mati, janganlah dipersaksikan (menghadiri jenazah mereka).” (HR. Abu Dawud no. 4691. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hadits ini hasan. Lihat Syarhu Ushul I’tiqad Ahli as-Sunnah wal Jama’ah, al-Lalikai, hlm. 299)

Era kini, bala tentara al-Qadariyah semakin mendapat angin. Senjata untuk menggempur ahlul-iman dipasok pula dari kalangan filosof. Melalui pemikiran-pemikiran filosof yang ditebar, tidak sedikit umat yang teracuni. Sebagian umat asyik berlogika filsafat, namun setelah itu berujung pada pendangkalan iman. Bahkan sampai menutup mati pintu hati dari cahaya agama. Racun filsafat telah menjadikan hati manusia kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Sikap kritis akalnya terhadap Islam menyebabkan keimanannya rusak. Akal kotor menuntun hidupnya, sementara Islam dicampakkan. Wal ‘iyadzu billah.
Sebut saja paham filsafat eksistensialisme humanisme. Paham filsafat yang digagas dari pemikiran Jean Paul Sartre, seorang didikan Yahudi Perancis di Paris ini menyebutkan bahwa manusia harus menjadi dirinya sendiri. Manusia memiliki kebebasan berkehendak dan memilih (free will). Manusia bebas menentukan dirinya sendiri. Menurut Sartre, manusia bebas karena Allah subhanahu wa ta’ala tidak ada. (Filsafat Eksistensi Karl Jaspers, Harry Hamersma, hlm. 56)

Kebebasan yang disuarakan Sartre hanyalah ingin menegaskan bahwa manusia harus menentukan dirinya sendiri sebagai wujud eksistensinya (keberadaannya) sebagai manusia. Manusia tidak boleh ditentukan oleh keadaan di luar dirinya. Eksistensi manusia tidaklah menjadi hakiki kecuali diri manusia secara mutlak bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendaknya. (al-Iman bil Qadha wal Qadar, hlm. 254)

Inilah bentuk racun yang ditebarkan Jean Paul Sartre. Dia menolak terhadap takdir dan adanya Allah subhanahu wa ta’ala. Karena baginya, manusia harus memiliki kebebasan dalam eksistensinya, tidak boleh diintervensi hal-hal dari luar dirinya, termasuk intervensi dari nilai-nilai agama yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala. Keyakinan manusia terhadap takdir hanya akan membelenggu eksistensinya sebagai manusia. Begitulah penjabaran pokok-pokok pemikiran filsafat eksistensialisme humanisme yang digaungkan oleh Jean Paul Sartre. Pemikiran yang menjadikan manusia kufur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Pemikiran yang pada akhirnya akan membuang jauh-jauh keimanan terhadap qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” (at-Tin: 4—6)

“Sucikanlah nama Rabbmu Yang Mahatinggi, yang menciptakan. Dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.” (al-A’la: 1—3)

Sehebat apa pun manusia, dia memiliki keterbatasan. Sebebas apa pun ruang yang dimiliki manusia, pasti ada batas. Segala sesuatu telah Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan berdasarkan kadarnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.” (al-Qamar: 49)

Melalui pemahaman filsafat, keimanan terhadap qadha dan takdir Allah subhanahu wa ta’ala bisa terkikis. Pemahaman Islam yang utuh pun akan bisa tercabik-cabik.
Seseorang yang menjalani filsafat secara mendalam bisa terseret dan berselancar menggunakan logikanya, memikirkan sesuatu yang di luar kapasitas akalnya. Bahkan sesuatu yang gaib pun akan direka dengan logika. Tanpa ada bimbingan Al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai pemahaman salaf ash-shalih. Tanpa disertai tuntunan para ulama rabbani yang teruji kecendekiaan dan kealimannya.
Filsafat bisa memudarkan cahaya keimanan yang telah menetap di hati. Oleh karena itu, melalui filsafat inilah musuh-musuh Islam menggempur akidah kaum muslimin agar luruh luntur. Mereka menancapkan paham rasionalitas tanpa batas dan jauh dari nilai kebenaran melalui dunia pendidikan. Oleh karena itu, lahirlah para pemikir agama yang tidak memiliki semangat beragama dalam jiwanya. Hatinya kering kerontang. Hampa, tiada cahaya keimanan membersit dari lubuk hati. Melontar pemikiran tanpa bingkai keimanan. Apa yang ditawarkan tak menjadikan hati hidup, tak menjadikan akal tunduk, tak menghujamkan keimanan yang makin kukuh tangguh. Akhir dari petualangan mengulum filsafat menjadikan akidah luntur, kufur tiada syukur. Nas’alullaha as-salamah.
Ahlus Sunnah bersaksi dan meyakini sesungguhnya kebaikan dan keburukan, manfaat dan mudarat, manis dan pahit lantaran qadha dan takdir. Tidak menyeleweng dan menyimpang dari keduanya. Ini sesuai dengan hadits Jibril saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang Islam. Jibril berkata, “Wahai Muhammad, kabarkan kepadaku tentang Islam!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah Engkau bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah, sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, Engkau tegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan berhaji ke Baitullah bila mampu menempuh perjalanannya.”

Jibril lantas berkata, “Engkau benar.” Kami pun terheran. Dia bertanya, dia pula yang membenarkannya.

Lantas Jibril bertanya kembali, “Beritahukan kepadaku tentang iman.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, serta engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.” Jibril kemudian berkata, “Engkau benar.” (Syarhu Aqidati as-Salaf Ashabil Hadits, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi Umair al-Madkhali hafizhahullah, hlm. 212)

Mengimani masalah takdir meliputi empat perkara:

  1. Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengetahui segala sesuatu, secara global maupun terperinci, azali (terdahulu) dan abadi, baik itu terkait perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala maupun perbuatan hamba-hamba-Nya.
    2. Mengimani bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah menuliskan semua hal itu di Lauhil Mahfudz. Dua perkara ini disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala pada firman-Nya:

“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.” (al-Hajj: 70)

Dalam Shahih Muslim, dari Abdillah bin Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma, dia berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah bersabda:

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah menuliskan takdir segenap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim, no. 2653, at-Tirmidzi, no. 2156, dan selain keduanya).

  1. Mengimani bahwa seluruh yang ada tidak akan terjadi melainkan atas kehendak Allah subhanahu wa ta’ala, baik segala sesuatu yang terkait dengan perbuatan Allah subhanahu wa ta’ala maupun hal-hal terkait perbuatan makhluk-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman terkait perbuatan-Nya:

“Dan Rabbmu mencipta apa yang Dia kehendaki dan memilihnya.” (al-Qashash: 68)

“Dan (Allah) memperbuat apa yang Dia kehendaki.” (Ibrahim: 27)

“Dialah yang membentukmu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.” (Ali ‘Imran: 6)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman terkait perbuatan makhluk-Nya:

“Kalau Allah menghendaki, tentu Dia memberi kekuasaan terhadap mereka, lalu pasti mereka memerangimu.” (an-Nisa’: 90)

“Jikalau Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

  1. Mengimani bahwa seluruh yang ada adalah makhluk Allah subhanahu wa ta’ala, baik zat, sifat, maupun gerakannya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Allah menciptakan segala sesuatu dan dia memelihara segala sesuatu.” (az-Zumar: 62)

“Dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.” (al-Furqan: 2)

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesungguhnya Ibrahim ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya:

“Padahal Allah-lah yang menciptakanmu dan apa yang kamu perbuat itu.” (ash-Shaffat: 96)

Mengimani takdir sebagaimana telah kami uraikan di atas, tidaklah lantas meniadakan kehendak bagi seorang hamba dalam perbuatan-perbuatan yang bersifat ikhtiar (memilih) dan kemampuan atas hal itu. Karena sesungguhnya syariat dan kenyataan yang ada memastikan adanya kehendak dan kemampuan bagi setiap orang. (Syarhu al-Ushul ats-Tsalatsah, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 191—192).

Wallahu a’lam.

 Ditulis oleh al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Catatan Kaki:

1 Karena bersyukur itu tidak semata mengucapkan, “Saya bersyukur kepada Allah.” Akan tetapi, harus ada pengamalan ketaatan kepada-Nya.

 

Surat Pembaca Edisi 71

Mengapa Sering Menyoroti Kelompok Lain?

Kenapa majalah Asy-Syari’ah/salafi sering mengungkap kekurangan tokoh jamaah lain, apakah salafi merasa paling benar (egois) padahal yang saya dengar dari jamaah lain salafi adalah bentukan dari putra mahkota Arab Saudi, agar tidak mendakwahkan masalah politik, karena dalam Islam tidak ada sistem kerajaan sehingga bisa membela kerajaan Arab, dan selalu mencari-cari kekurangan jamaah lain kemudian diajak ke salafi? Bukankah persatuan lebih penting dalam Islam? Bukankah saling melengkapi kekurangan kita lebih penting dari pada kita hanya melihat kekurangan jamaah lain.

Abu Qois-Lampung 0852699xxxxx

Jawaban Redaksi

Anda salah dalam memahami masalah ini. Mengungkapkan kesalahan atau mengkritik kesalahan seseorang /kelompok adalah kewajiban yang digariskan oleh Allah kepada kaum muslimin secara umum, bukan hanya salafi. Ini adalah bagian dari amar ma’ruf nahi mungkar yang telah kita kethaui bersama sebagai sebuah prinsip penting dalam agama ini. Tanpa adanya kritik terhadap kesalahan, maka Islam akan terkotori berbagai bid’ah.

Perlu diingat, ini bukan sikap egois atau ingin menang sendiri. Seorang salafi sejati tidak merasa maksum (terbebas dari kesalahan). Yang maksum hanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, ia merasa berkewajiban untuk melakukan kritik sebagai bentuk penunaian tanggung jawabnya di hadapan Allah.

Salafi adalah nisbah kepada generasi salaf: sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka ada jauh sebelum ada Kerajaan Arab Saudi. Kepada generasi yang paling dekat dengan kemurnian Islam inilah semestinya kita merujuk dalam hal mengaplikasikan Islam.

Salafi bukanlah kelompok atau organisasi, apalagi bentukan putra mahkota Saudi sebagaimana dituduhkan. Politik Islam adalah politik yang beretika, tidak larut dalam sistem yang disetting nonmuslim (seperti demokrasi) yang praktiknya justru mengebiri syariat Islam, namun juga tidak bermudah-mudah dalam menjatuhkan penguasa. Mendapatkan penguasa/pemerintah yang banyak kekurangannya adalah niscaya di masa kita ini, namun di sini kita dituntut bagaimana bersikap secara benar dengan tidak hanya bermodalkan semangat.

Salah satu kelompok yang sering kami singgung adalah Syiah (Rafidhah), agama yang mengafirkan hampir seluruh sahabat, menyebut istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. sebagai pelacur, acap menikam Islam dari belakang, serta menjadi otak di balik huru-hara di dalam sejarah Islam. Diamkah kita terhadap kesesatan mereka? Di manakah amar ma’ruf nahi mungkar kita di saat ada tokoh dan kelompok Islam justru mengampanyekan “persatuan” dengan merangkul Syiah?

Sebaiknya Anda membaca kembali edisi-edisi kami yang telah lalu, bagaimana hakikat dakwah salaf, mengapa kita merujuk mereka dalam memahami agama ini, dan seterusnya. Dengan merujuk merekalah kita berharap bisa mengaplikasikan Islam yang benar sebagaimana Islam yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam.

Mengimani Takdir≠Menyerah pada Nasib

 

Takdir acap dituding sebagai biang yang membelenggu cara berpikir umat. Mengimani takdir hanya membuat umat mundur dan tidak mau berusaha. Bahkan dalam beberapa tulisan orientalis, kepercayaan kepada takdir dianggap sebagai salah satu faktor kejatuhan peradaban Islam.

Umat Islam yang memercayai takdir, oleh kalangan antiislam, diibaratkan sebagai daun kering dalam embusan badai. Artinya, kaum muslimin hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan mutlak bernama takdir yang mencengkram segala sesuatu dalam hidupnya. Mereka “dipaksa” dalam setiap perilakunya, seolah-olah mengimani takdir identik dengan tidak mau berikhtiar (tidak ada kebebasan memilih).

Pertanyaannya, kalau kepercayaan kepada takdir dianggap sebagai sebab kemunduran Islam, mengapa generasi-generasi awal Islam yang keimanan mereka kepada takdir sangat kuat justru mampu membawa Islam pada puncak keemasannya? Kalau kemiskinan dianggap kemunduran dan kesuksesan duniawi dianggap kemajuan, mengapa generasi emas Islam tersebut mayoritasnya justru orang-orang miskin?

Artinya, ada kesalahpahaman dalam memahami takdir dan ada salah kaprah dalam memahami apa itu “kemajuan”. Dalam kesejarahan Islam, memang muncul dua kutub besar dalam masalah takdir. Kutub pertama: Qadariyah, Majusi umat ini, membatasi takdir pada “kebaikan” saja sementara “keburukan” di luar takdir. Sementara itu, kutub satunya: Jabriyah (determinisme), mencabut segala bentuk kebebasan pada diri manusia.

Islam (Ahlus Sunnah) sendiri berada di pertengahan di antara dua kutub ekstrem tersebut, yakni manusia wajib mengimani takdir baik atau buruk, dengan diberi kebebasan dalam menjalani (baca: memilih) hidupnya di dunia yang telah diatur rambu-rambunya dalam Islam. Siapa yang ingin selamat, tentu memilih jalan Islam. Oleh karena itu, orang-orang yang berbuat maksiat tidak bisa menyandarkan ulahnya pada takdir dengan mengabaikan sebabnya (kehendak manusia).

Orang-orang yang bunuh diri hanya karena soal “cinta”, orang-orang stres karena gagal jadi anggota dewan atau kepala daerah, ibu-ibu yang tega membuang bahkan membunuh bayi hasil hubungan gelapnya dengan orang lain, remaja-remaja bunuh diri karena hamil di luar nikah, merekalah justru orang-orang yang dihasilkan dari cara berpikir antitakdir.

Kalau mereka mau merenungi takdir, semestinya mereka akan mencoba memetik hikmahnya, memikirkan luasnya pintu taubat, dan tumbuh keinginan untuk memperbaiki diri. Ia justru lebih bisa menatap masa depan dengan selalu berharap Allah subhanahu wa ta’ala akan memberikan jalan keluar atau kemudahan dari masalah yang tengah ia hadapi.

Intinya, mengimani takdir bukan berarti menyerah pada nasib. Orang yang menyerah pada nasib memang membuat malas dan lamban, serta berhenti pada titik kegagalannya. Sementara itu, orang yang beriman pada takdir justru tak akan berlarut-larut dalam kesedihan dan tak akan tenggelam dalam kegagalan. Ia akan segera bangkit. Kala ia meraih kesuksesan atau kebahagiaan, ia pun tak berbangga diri. Ia sadar bahwa apa yang ia raih semata-mata karena takdir Allah subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam.