Berjuta Cinta dalam Bayang-Bayang Pedang

Dari Abdullah bin Umar rahimahumullah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

بُعِثْتُ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ بِالسَّيْفِ حَتىَّ يُعْبَدَ اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ وَجُعِلَ رِزْقِيْ تَحْتَ ظِلِّ رُمْحِيْ وَجُعِلَ الذُّلُّ وَالصِّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِيْ وَمَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Aku diutus menjelang hari kebangkitan dengan pedang supaya hanya Allah semata yang di ibadahi, tiada sekutu bagi-Nya. Rezekiku diletakkan di bawah naungan pedangku. Kerendahan dan kehinaan ditetapkan bagi siapa saja yang menyelisihi perintahku. Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian dari mereka.”

Benarkah Islam agama yang penuh rahmah dan kasih sayang? Benarkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan cinta dan kedamaian kepada umat manusia? Jika memang benar, mengapa kehidupan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenuhi dengan cerita perang dan pertempuran? Itulah sebuah syubhat yang diungkap untuk mencitrakan Islam sebagai agama yang buas dan penuh kebencian. Maka dari itu, hadits di atas hanya sebagian penggalannya yang dibahas untuk sedikit menjawab syubhat tersebut.

Hadits tersebut dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (no. 5114, 5115, 5667), al-Khatib dalam al-Faqih wal Mutafaqqih (2/73), dan Ibnu Asakir (1/19/96) dari jalan Abdurrahman bin Tsabit bin Tsauban dari Hassan bin ‘Athiyyah dari Abu Munib al-Jarasyi.

Asy-Syaikh al-Albani menjelaskan dalam Jilbab Mar’ah Muslimah (203— 204), “Hadits ini sanadnya hasan. Mengenai Ibnu Tsauban, memang ada pembicaraan, namun tidak memudaratkan. Al-Imam al-Bukhari rahimahumullahtelah menyebutkan sebagian dari hadits di atas secara mu’allaq di dalam Shahihnya (6/75).”

Al-Hafizh rahimahumullah menjelaskan dalam syarahnya, “Hadits ini adalah bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad dari jalan Abu Munib… dan hadits ini mempunyai penguat yang mursal dengan sanad yang hasan, dikeluarkan oleh Ibnu Abi Syaibah dari jalan al-‘Auza’i dari Sa’id bin Jabalah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara keseluruhan.”

Tujuan Berperang

Perang, dalam perspektif Islam, memiliki tujuan dan cita-cita mulia, antara lain:
1. Membebaskan manusia dari peribadahan kepada makhluk menuju peribadahan kepada Allah Subhanahuwata’ala , Dzat yang menciptakan dan memberikan rezeki untuk mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dans upaya agama itu semata-mata untuk Allah.” (al- Anfal: 39)

2. Menghapuskan kezaliman dan mengembalikan setiap hak kepada pemiliknya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuasa menolong mereka itu.” (al-Hajj: 39)

الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِم بِغَيْرِ حَقٍّ إِلَّا أَن يَقُولُوا رَبُّنَا اللَّهُ ۗ

“(Yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, selain karena mereka berkata,‘Rabb kami hanyalah Allah’.” (al-Hajj: 40)

3. Menghinakan orang-orang kafir, menghukum, dan melemahkan kekuatan mereka. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللَّهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِينَ () وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ ۗ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu. Allah akan menghinakan mereka, menolong kamu dari mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman,serta Allah akan menghilangkan panas hati orang orang mukmin. Dan Allah menerima taubat orang-orang yang dikehendaki- Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Maha bijaksana.” (at-Taubah: 14-15) (al-Mulakhas Fiqhi, al-Fauzan, 1/379—380)

Beberapa Adab dalam Berperang

Sebagai bukti bahwa Islam mengajarkan cinta kasih, tidak asal membunuh, dan tidak menekankan kebencian, adalah adab-adab yang dibimbingkan oleh Rasulullah n pada setiap peperangan. Di antaranya adalah,

1. Islam selalu menawarkan pilihan pilihan sebelum berperang, yaitu masuk Islam atau membayar jizyah (semacam upeti) dengan mereka tetap menjalankan agama masing-masing.

Di dalam hadits Buraidah radhiyallahu anhu, beliau bercerita, “Dahulu, kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengangkat seorang panglima untuk sebuah pasukan perang, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memberikan wasiat secara khusus untuk bertakwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dan berbuat baik kepada kaum muslimin yang menyertainya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

“Berperanglahdengan menyebut nama Allah Subhanahuwata’ala  di jalan- Nya! Perangilah orang-orang yang kufur terhadap Allah Subhanahuwata’ala! Janganlah kalian berbuat ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi), berkhianat, mencincang jasad musuh, dan janganlah membunuh anak-anak. Jikaengkauberjumpamusuhdarikaum musyrikin, tawarkan kepada mereka tiga hal. Apa pun yang mereka pilih darimu, terimalahdantahanlahdirimu dari mereka.” (Shahih Muslim, 1731)

Ketiga hal tersebut adalah: masuk Islam, membayar jizyah, atau berperang. Sama juga dengan pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu sebelum menyerang benteng Khaibar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ

“Berangkatlah dengan hati-hati hingga engkau berada didepan benteng mereka. Kemudian, ajaklah mereka ke dalam Islam! Sampaikan kepada mereka akan kewajiban mereka terhadap hak Allah Subhanahuwata’ala . Demi Allah, (seandainya) Allah Subhanahuwata’ala memberikan hidayah kepada seseorang melalui sebab dirimu, itulebih baik bagimu daripada unta merah.”(HR. al-Bukhari no. 2942, Muslimno. 2406)

2. Islam tidak mengajarkan untuk berharap bertemu dengan musuh. Namun, jika telah berjumpa haruslah bersabar. Di dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ فَإذَِا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا

“Janganlah kalian berharap-harap bertemu dengan musuh. Akan tetapi, jika kalian telah bertemu dengan musuh,bersabarlah!” (HR. al-Bukhari no. 3025 dan Muslim no. 1741)

3. Dilarang membunuh kaum wanita dan anak-anak. Ibnu Umar radhiyallahu anhu bercerita tentang seorang wanita yang ditemukan terbunuh dalam sebuah peperangan yang diikuti oleh Rasululllah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari pembunuhan terhadap kaum wanita dan anak-anak (HR. al-Bukhari no. 3013 dan Muslim no. 1745).

4. Dilarang berbuat khianat, mencincang ,dan mencacat jasad musuh, serta ghulul (mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi).
Dalilnya adalah hadits Buraidah radhiyallahu anhu pada poin pertama.

5. Dilarang membunuh musuh yang dalam keadaan tidak berdaya.

Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beristirahat di bawah naungan sebuah pohon dalam Perang Dzatur Riqa’. Datang seorang musuh dengan menghunus pedang sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang tertidur. Saat Nabi terbangun, orang itu bertanya, “Apakah engkau takut kepadaku?” Jawab Nabi, “Tidak!” Orang itu bertanya lagi, “Siapa yang akan menghalangiku dari membunuhmu?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Allah Subhanahuwata’ala.” Seketika itu, pedang yang ia bawa terjatuh lalu diambil oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau balik bertanya, “Siapakah yang akan menghalangiku dari membunuhmu?”Lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajaknya masuk Islam. Ia menolak, tetapi berjanji untuk tidak lagi ikut memerangi kaum muslimin. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membiarkannya pergi.

Orang itu kembali ke kaumnya dan mengatakan, “Aku datang kepada kalian setelah bertemu dengan manusia terbaik.” (HR. al- Bukhari no. 4139 dan Muslim no. 843)

Latar Belakang Perang di Masa Nabi n Sejarah perang di masa Nabi Muhammad n selalu diawali oleh sikap-sikap kaum musyrikin yang mengganggu ketenteraman kaum muslimin, pengkhianatan mereka, dan kezaliman mereka. Perang terjadi setelah tiga belas tahun lamanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum muslimin bersabar atas kezaliman dan kejahatan kaum musyrikin selama di Makkah. Berikut ini beberapa latar belakang perang yang terjadi pada masa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

1. Perang Badar

Semua berawal dari rongrongan kaum musyrikin Quraisy yang berusaha membuat makar untuk menghancurkan kaum muslimin. Mereka mengirim suratsurat kepada kaum musyrikin di Yatsrib (Madinah) untuk berusaha menekan, memerangi, dan mengusir kaum muslimin dari kota Madinah. Mereka diancam akan dibunuh dan perempuan-perempuan mereka akan dihalalkan jika tidak memerangi kaum muslimin. Kaum muslimin pun berusaha balas menekan. Di antara bentuknya adalah melakukan penghadangan terhadap kafilah-kafilah dagang kaum musyrikin Quraisy.

Hingga suatu saat, kafilah dagang yang dipimpin oleh Abu Sufyan berhasil lepas dari pengintaian kaum muslimin. Ia pun mengirimkan berita kepada kaum musyrikin di Makkah tentang usaha penghadangan kaum muslimin. Berangkatlah kurang lebih 1.000 orang pasukan dengan perlengkapan dan peralatan perang, di atas keangkuhan dan kesombongan. Sementara itu, kaum muslimin hanya membawa perlengkapan dan peralatan seadanya, itu pun dengan jumlah pasukan kurang lebih tiga ratus orang. Terjadilah peperangan yang kemudian dimenangi oleh kaum muslimin.

2. Perang Bani Nadhir

Bermula dari kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ke bani Nadhir untuk menghitung/ menentukan tebusan atas kesalahan seorang sahabat yang membunuh dua orang Yahudi. Namun, orangorang bani Nadhir justru berencana mempergunakan kesempatan tersebut untuk membunuh Rasulullah n secara diam-diam. Akan tetapi, malaikat Jibril  memberitahukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang rencana mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bergegas kembali ke Madinah lalu memerintahkan Muhammad bin Maslamah untuk menyampaikan kepada bani Nadhir agar mereka segera meninggalkan tempat mereka dalam waktu sepuluh hari. Jika tidak, mereka akan diperangi. Karena hasutan dari orang-orang Yahudi lainnya, mereka pun menolak tawaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka justru mempersiapkan diri untuk berperang melawan kaum muslimin.

Setelah dikepung selama enam malam, bani Nadhir kemudian menyerah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengusir mereka dari Madinah dan memberikan kemurahan sehingga mereka bisa membawa barang dan harta, selain senjata. Allah Subhanahuwata’ala menceritakan hal ini dalam surat al-Hasyr.

3. Perang Ahzab Perang ini terjadi karena persekongkolan dan makar jahat kaum musyrikin Makkah, kabilah Ghathafan, kaum Yahudi, dan kabilah-kabilah lainnya. Mereka bersepakat untuk bersatu dan bersama-sama menyerang kota Madinah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para sahabat untuk menentukan strategi di dalam menghadapi pasukan gabungan tersebut. Jadi, Perang Ahzab adalah perang yang terjadi karena kaum muslimin membela diri dan mempertahankan kota Madinah.

4. PerangBaniQuraizhah Bani Quraizhah adalah kabilah Yahudi yang melakukan pengkhianatan terhadap kaum muslimin. Pada saat kaum muslimin sedang sibuk melawan pasukan gabungan dalam Perang Ahzab di sebelah utara Madinah, bani Quraizhah yang berada di sebelah selatan Madinah malah menyatakan perang.

Padahal, tidak ada yang menghalangi antara bani Quraizhah dengan lokasi perlindungan kaum wanita dan anak-anak kaum muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersedih, pun para sahabatnya. Setelah Allah Subhanahuwata’ala memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam peristiwa Perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berangkat menuju tempat tinggal bani Quraizhah untuk menghukum mereka atas pengkhianatan yang mereka lakukan.

5. Perang Mu’tah

Perang ini terjadi karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah saat mendengar utusan beliau, sahabat al-Harits bin ‘Amr, yang membawa surat untuk penguasa negeri Basra malah dibunuh dan dipenggal kepalanya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan pasukan terdiri dari 3.000 orang dengan pimpinan secara bergantian Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah. Itu pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan untuk menyampaikan tawaran Islam kepada mereka terlebih dahulu. Jika menolak, mereka boleh diperangi.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Berperanglahkaliandengannama Allah Subhanahuwata’ala  dandijalan Allah Subhanahuwata’ala. Bunuhlah orangy angm elakukank ekufurank epada Allah Subhanahuwata’ala. Janganlah kalian menipu dan mencuri harta rampasan perang. Jangan pula membunuh anak-anak, kaum wanita, dan orang-orang tua. Janganlah kalianmerusak tempat ibadahmereka, menebangpohonkurma, danpohon apapun,serta janganlah merobohkan bangunan!”

6. Fathu Makkah

Inilah peristiwa penaklukan kota Makkah. Bermula dari pengkhianatan kaum musyrikin Quraisy yang secara diam-diam membantu sekutu mereka, bani Bakr, untuk menyerang bani Khuza’ah. Padahal Khuza’ah adalah sekutu kaum muslimin. Sementara itu, dalam Perjanjian Hudaibiyah telah disepakati masa gencatan senjata. Ternyata, orangorang bani Bakr telah membunuh lebih dari dua puluh orang bani Khuza’ah. Khuza’ah lalu menyampaikan berita itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bergeraklah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat untuk menaklukan kota Makkah.

Setelah kota Makkah ditaklukkan, apa yang beliau lakukan? Beliau mengatakan kepada kaum Quraisy yang dahulu memusuhi dan memerangi kaum muslimin, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian. Bubarlah, karenakalianadalah orang-orang yang bebas!”

Sungguh Sangat Berbeda!

Sungguh sangat berbeda! Peperangan yang dikenal dan terjadi pada masa jahiliah adalah peperangan yang dipenuhi oleh kekejaman, kekerasan, perampokan, penghancuran kehormatan, pemusnahan ladang dan kebun, pembunuhan terhadap anak-anak, tanpa kasih sayang dan rasa perikemanusiaan.
Adapun Islam, peperangan adalah sarana untuk menebarkan kasih sayang dan keadilan, menolong orang-orang yang terzalimi, dan menegakkan kalimat Allah Subhanahuwata’ala sehingga peribadahan benarbenar menjadi hanya untuk Allah Subhanahuwata’ala.

Lihatlah adab-adab berperang yang diajarkan oleh Islam. Betapa rahmat dan penuh cinta! Bandingkanlah! Selama tidak lebih dari delapan tahun peperangan yang dijalankan di masa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, korban terbunuh hanya sebatas 1.000 orang dari kalangan kaum muslimin, kaum musyrikin, Yahudi, dan Nasrani.

Dengan rentang waktu yang relatif singkat dan korban jiwa yang relatif kecil, kaum muslimin mampu menundukkan hampir seluruh Jazirah Arab dan menciptakan keamanan serta ketenteraman. Adapun peperangan di zaman jahiliah sangat jauh berbeda. Korban begitu banyak, dilatarbelakangi oleh dendam dan benci, penuh ketakutan dan tidak berakhir.

Misalnya, perang antara bani Bakr dan kabilah Taghlib yang terjadi selama empat puluh tahun dengan korban sekitar 70.000 orang! Atau perang antara Aus dan Khazraj yang terjadi hampir seratus tahun. Sungguh sangat berbeda! Bandingkanlah dengan peperangan yang dilakukan dan dijalani oleh kaum kafir Barat! Dalam Perang Dunia Pertama, yang hanya berlangsung kurang lebih selama empat tahun, minimalnya ada 40 juta orang tewas.

Mayoritasnya adalah warga sipil yang tidak terlibat dalam peperangan secara langsung. Sekitar 9 juta orang tewas akibat kekurangan pangan, kelaparan, pembunuhan massal, dan terlibat secara tidak langsung dalam pertempuran. Dalam perang ini, senjata kimia digunakan untuk pertama kalinya, pemboman atas warga sipil dari udara dilakukan, dan banyak pembunuhanmassal.

Bandingkan juga dengan Perang Dunia Kedua! Perang terbesar dalam sejarah manusia yang melibatkan kaum kafir Barat yang hanya terjadi dalam waktu enam tahun, telah memakan korban 70 juta orang tewas, mayoritasnya masyarakat sipil. Dalam dua perang dunia ini, mencuat nama-nama penjahat perang semacam Hitler, Mussolini, Lenin, Stalin, dan lainnya. Demikian juga kejahatankejahatan yang tercatat dalam sejarah hitam dunia. Tokyo dibom bakar oleh sekutu yang mengakibatkan 90.000 orang tewas akibat kebakaran hebat di seluruh kota.

Hiroshima dan Nagasaki dibom atom yang mengakibatkan korban dan kerugian besar. Hal-hal yang sangat tidak beradab dan tidak berperikemanusiaan telah dipertontonkan oleh kaum kafir Barat. Atau juga kejahatan yang dilakukan oleh Slobodan Milosevic yang melakukan genosida (pembantaian etnis secara massal) terhadap kaum muslimin di Bosnia.

Belum lagi kejahatan kaum kafir Barat terhadap kaum muslimin di Afghanistan, Palestina, Chechnya, dan banyak daerah lain. Sebelumnya lagi, dalam catatan Perang Salib. Sejarah telah mencatat kekejaman dan kejahatan yang dilakukan oleh kaum Salibis terhadap kaum
muslimin.

Pembunuhan terhadap wanita dan anak-anak, pembakaran masjid dan bangunan lainnya, pemerkosaan, tindakan keji dan bengis, serta perbuatan bengis lainnya. Kita harus bertanya, “Siapakah yang patut dianggap sebagai kaum yang jahat dan tidak berperikemanusiaan? Siapa pula yang pantas dinilai sebagai kaum yang penuh rahmat dan kasih sayang? Kaum muslimin yang mengajarkan adab adab penuh cinta dan kasih sayang di dalam berperang; ataukah kaum kafir Barat yang menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan?” Alhamdulillah, Islam adalah agama yang mengajarkan rahmat dan kasih sayang.

Al-Qur’an, sunnah, dan sejarah Nabi Muhammad n menjadi bukti hal tersebut. Meskipun ada kelompok kelompok atau individu-individu yang melakukan kejahatan lalu menisbatkan dirinya kepada Islam, sesungguhnya Islam berlepas diri dari mereka. Wallahulmusta’an, walhamdulillah
Rabbil ‘alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibn Rifa’i

Berani Dan Optimis Melalui Tawakal

Orang yang paling minim tingkat ilmunya tidak meragukan keluasan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia ini. Setiap makhluk merasakan dan mendapatkannya. Namun, semua itu tidaklah sebanding dengan keluasan rahmat-Nya di akhirat kelak.

Di dunia, Allah Subhanahuwata’ala menurunkan satu dari seratus rahmat-Nya dan 99 rahmat dipersiapkan bagi orang yang beriman kelak di hari kiamat. Tentu merugi dan celaka jika seseorang terlalaikan oleh satu rahmat dan melupakan rahmat yang akan didapatkan kelak di akhirat.

Seseorang dengan mudah bisa mendapatkan keluasan rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia, akan tetapi untuk mendapatkan yang 99 tersebut membutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit. Dengan mengetahui luasnya rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala di dunia ataupun di akhirat, menjadikan seseorang berani sekaligus berharap (raja’) di dalam hidup. Berani untuk menghadapi segala risiko dalam usaha meraih rahmat yang luas tersebut dan berharap karena Allah Yang Maha Pemurah akan mencurahkan rahmat- Nya kepada siapa pun.

Di sinilah letak keistimewaan hidup orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Kala menjalani hidup, dadanya senantiasa lapang dan luas, karena diamengetahui rahasia hidup ini dan rahasia kebahagiaan di atasnya. Mereka berani dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi dalam menjalankan roda ketaatan dan berharap dalam keluasan rahmat, pengampunan, dan kedermawanan Allah Subhanahuwata’ala.

 Namun orang orang yang beriman tersebut sebelum menjadi orang yang berani dan berharap, mereka telah berkarya besar sembari menyandarkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala dalam segala usahanya.

Yang Menjadikan Dada Lapang

1. Tauhid

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumullah mengatakan, “Hal terbesar yang akan menjadikan dada lapang adalah ketauhidan. Berdasarkan kesempurnaannya, kekuatannya, dan bertambahnya, kelapangan dada akan mengalami yang serupa. Allah SSubhanahu wa ta’ala berfirman,

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ ۚ

“Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk ( menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?” (az-Zumar: 22)

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ

 “Barang siapa yang Allah kehendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah Subhanahu wa ta’ala kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit.” (al-An’am 125)

Petunjuk dan tauhid adalah sebab yang paling besar bagi lapangnya dada, sebagaimana syirik dan kesesatan sebagai sebab terbesar dada menjadi sempit dan sulit.

2. Iman

Termasuk perkara yang akan menjadikan dada itu lapang adalah cahaya iman yang diletakkan oleh Allah Subhanahuwata’ala di dalam hati. Dengannya dada menjadi lapang, menjadikan hati selalu dalam kebahagiaan. Jika cahaya iman tersebut sirna, dadanya akan menjadi sempit dan sulit, berada dalam kungkungan yang paling sempit dan sulit. Seorang hamba akan mendapatkan kelapangan dada sesuai dengan bagian yang dia dapatkan dari cahaya tersebut, sebagaimana halnya cahaya yang bisa diraba serta kegelapan yang bisa di indra akan menjadikan dada lapang dan dada sempit.

3. Ilmu

Ilmu akan menjadikan dada lapang dan menjadikannya luas, bahkan melebihi luasnya dunia. Sementara itu, kejahilan akan mewariskan dada yang sempit, kerdil, dan tertutup. Di saat ilmu seorang hamba bertambah luas, maka bertambah lapang dadanya.

Tentu saja, hal ini tidak mencakup semua ilmu, tetapi hanya ilmu yang diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu ilmu yang bermanfaat. Pemilik ilmu yang bermanfaat adalah orang yang paling lapang dadanya, paling luas hatinya, paling baik akhlaknya, dan paling bagus kehidupannya.

4. Bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Bertobat kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, mencintai- Nya setulus hati, memasrahkan diri kepada-Nya, dan bernikmat-nikmat beribadah kepada-Nya, akan menjadikan dada lapang. Sebagian mereka terkadang mengucapkan, “Jika saya di dalam surga dalam kondisi ini, niscaya saya berada dalam kehidupan yang baik.”

5. Cinta kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Sungguh, cinta kepda Allah Subhanahu wa ta’ala memiliki pengaruh menakjubkan bagi lapangnya dada, baiknya jiwa, dan lezatnya hati. Tidak ada yang mengetahuinya selain orang yang bisa merasakannya. Saat cinta itu kuat dan keras, niscaya dada itu akan menjadi lapang dan luas. Tidaklah dada menjadi sempit kecuali tatkala melihat orang-orang yang telanjang dari semuanya ini. Memandang mereka akan menjadikan mata kita penuh kotoran dan bergaul dengan mereka menjadikan ruh kita panas.

Termasuk perkara besar yang akan menyebabkan dada sesak adalah berpaling dari Allah Subhanahu wa ta’ala, bergantungnya hati kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala, lalai dari menginga Allah Subhanahu wa ta’ala, dan mencintai selain Allah Subhanahu wa ta’ala. Barang siapa mencintai sesuatu selain Allah Subhanahuwata’ala, niscaya Allah Subhanahuwata’ala akan mengazabnya dengan sesuatu (selain Allah) tersebut, yang akibatnya hatinya terbelenggu dalam mencintai selain AllahSubhanahu wa ta’ala. Akhirnya, tidak ada orang yang paling celaka di muka bumi ini daripada dirinya, tidak ada yang paling tertutup akalnya, yang paling jelek kehidupannya, dan yang paling lelah hati daripada dirinya.

6. Zikir kepada Allah Subhanahuwata’ala

Zikir kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dalam segala kondisi dan di setiap tempat. Maka dari itu, zikir itu memiliki pengaruh menakjubkan terhadap lapangnya dada dan nikmatnya hati. Tentunya, sikap lalai memiliki pengaruh yang menakjubkan dalam menyempitkan dada, terbelenggu dan tersiksanya.

7. Berbuat Baik kepada Makhluk

Berbuat baik kepada setiap makhluk dan memberikan manfaat kepada mereka dengan segala yang memungkinkan seperti dengan harta, kedudukan, dan yang bermanfaat untuk badan (jasmani), serta berbagai bentuk kebaikan lainnya. Seorang yang dermawan dan senang berbuat baik adalah orang yang paling lapang dadanya, yang paling baik jiwanya, dan yang paling tenteram hatinya.

Sementara itu, sifat bakhil yang tidak ada padanya kebaikan adalah orang yang paling sempit dadanya, paling jelek kehidupannya, serta yang paling besar keperihan dan kesedihan hidupnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempermisalkan dalam riwayat yang sahih orang yang bakhil dan rajin bersedekah seperti halnya dua orang yang memiliki dua tameng besi.

Di saat orang yang gemar bersedekah mengeluarkan sedekahnya, maka melebarlah tameng itu dan meluas, hingga menutupi pakaian dan anggota badannya. Adapun apabila orang bakhil ingin bersedekah, tetaplah setiap lingkara  besi pada posisinya, tidak meluas. Demikianlah permisalan orang yang beriman dan gemar untuk bersedekah, lapang hatinya. Demikian pula pemisalan orang yang bakhil, sempit dadanya dan tersekap hatinya.

8. Keberanian

Seseorang yang memiliki jiwa pemberani akan memiliki dada yang lapang, luwes perangainya, dan terbuka hatinya. Sementara itu, seorang yang penakut berada dalam kondisi dada yang sempit dan yang paling kerdil hatinya. Dia tidak memiliki kebahagiaan, kesenangan, kelezatan, dan kenikmatan selain sebagaimana halnya binatang.

Oleh karena itu, kebahagiaan ruh, kelezatannya, kenikmatannya, dan kewibawaannya, menjadi sesuatu yang haram didapatkan orang yang memiliki sifat penakut, sebagaimana halnya terhalangi bagi orang yang bakhil, orang yang berpaling dari Allah SSubhanahu wa ta’ala, lalai dari berzikir kepada-Nya, jahil tentang Allah Subhanahu wa ta’ala, nama-nama-Nya, sifat-sifat- Nya, dan tentang agama-Nya, serta menggantungkan hatinya kepada selain Allah Subhanahu wa ta’ala.

Semua bentuk kenikmatan ini akan menjadi kebun dari salah satu kebun surga di dalam kubur. Demikian halnya kesempitan dada dan kerdilnya hati akan berubah menjadi azab dan belenggu di dalam kubur. Keberadaan seseorang di alam kubur bagaikan keberadaan hati di dalam dada, akankah bernikmat atau mendapat siksaan, terbelenggu atau mendapatkan kemerdekaan? Tidak ada yang menjadi penghalang jika dada tersebut menjadi lapang, sebagaimana tidak ada yang akan menjadikan dada tersebut sempit, karena semuanya itu akan sirna dengan sirnanya sebab-sebabnya. Segala sifat yang akan menyentuh dan hinggap di dalam hati, maka itulah yang akan menjadikan dada tersebut lapang atau sempit. Inilah yang menjadi barometernya, wallahulmusta’an.”(Zadul Ma’ad 2/23)

Berani dan Berharap, Sebuah Pengorbanan dan Perjuangan

Berani dan berharap dalam hidup adalah dua senyawa yang jika bertemu dan berbaur, akan menjadi sebuah akhlak yang sangat terpuji. Sifat berani adalah sifat terpuji yang mengandung segala akhlak yang terpuji lainnya.

Keberanian adalah buah dari iman seseorang kepada Allah Subhanahu wa ta’ala. Terlebih jika dia mengimani adanya hari kebangkitan dan hari kiamat. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memuji sifat berani di jalan-Nya sebagaimana dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Abu Musa radhiyallahu anhu, ia berkata, “Dikatakan, ‘Ya Rasulullah, seseorang berperang dengankeberanian, berperang karena kebangsaan, berperang dengan landasanriya, siapakah diantara mereka Yang benar-benar berjuang di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala?’

Beliau menjawab, “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah Subhanahu wa ta’ala, sesungguhnya dialah yang berada di atas jalan Allah Subhanahu wa ta’ala.” Kesempurnaan sifat keberanian itu ada pada sifat al-hilm yang artinya sabar, tidak tergesa-gesa, cerdas, dan tangkas, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ وَإِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي

 “Bukanlah yang dinamakan kuat itu adalah orang yang bisa membanting lawan, tetapiyang dikatakan kuat adalah orang yang bisa menahan diritatkala marah.” (Majmu’ Fatawa 15/432)

Berharap adalah buah dari ilmu tentang sifat rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala, seperti pengampunan, kelembutan, maaf, dan kebaikan. Berharap terhadap pahala yang ada di sisi-Nya termasuk amalan hati yang paling besar dan pendorong kepada ketaatan yang paling kuat. Kekuatan berharap di dalam hati tergantung pada kekuatan ilmu kita kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya.

Ibnul Qayyim rahimahumullah berkata , “Kuatnya berharap itu tergantung pada kekuatan pengetahuan tentang Allah Subhanahu wa ta’ala, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, serta pengetahuan bahwa rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala mengalahkan murka-Nya. Tanpa ruh berharap, niscaya akan lenyaplah ubudiyah hati dan anggota badan. Akan hancur pula tempat-tempat menyebut nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala.”

Berharap itu adalah sebuah ibadah yang tidak boleh lepas dari kehidupan seorang muslim, baik saat melakukan kebaikan maupun melakukan kejelekan. Saat dia melakukan kebaikan, dia berharap bahwa amalnya diterima, yang wajib atau yang sunnah. Adapun saat dia melakukan kejelekan, dia berharap diterima tobatnya dan dimaafkan kesalahan-kesalahannya. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 218)

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ

Katakanlah,“Hai hamba-hamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Alah mengampuni dosa-dosa semuanya.” (az-Zumar: 53)

Maksud ayat ini adalah bagi orang yang bertobat. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wa ta’ala mengumumkan bagi orang yang berbuat dosa, apa pun perbuatan dosa tersebut. Artinya, Allah Subhanahuwata’ala akan mengampuni dengan taubat yang baik, bagi siapa pun yang berdosa atas dosa apa pun, dan ini khusus taubat sebagai sebab pengampunan. Sampai-sampai ulama berselisih pendapat dalam hal mana yang lebih utama antara dua orang yang berharap tersebut. Sebagian mereka mengatakan lebih utama berharapnya orang yang berbuat baik, karena kuatnya sebab-sebab berharap itu pada dirinya.

Sebagian lagi mengatakan yang lebih utama adalah berharapnya orang yang berbuat salah untuk bertobat karena berharapnya itu bersih dari amalan yang jelek dan selalu dibarengi melihat kesalahannya. Namun, yang tampak adalah keutamaan tersebut tidak ditinjau dari sisi berharap itu, tetapi keutamaan tersebut sangatlah tergantung pada apa yang terdapat di dalam hati pemiliknya yaitu sifat takwa di saat dia berharap. Barang siapa lebih bertakwa, tentu berharapnya lebih afdal, apakah di saat dia berbuat baik ataupun berbuat salah. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kalian.” (al-Hujurat: 13)

Dari penjelasan di atas, tampak jelas tentang berharap yang terpuji berupa bentuk berharapnya orang yang berbuat amalan agar amalnya diterima, atau berharapnya orang yang bertaubat agar taubatnya diterima. Adapun berharap yang kosong dari karya nyata (amal) dan terus dalam kemaksiatan lalu bersandar kepada pengampunan Allah Subhanahu wa ta’ala maka sikap ini adalah maghrur (tertipu) dan merasa aman dari azab Allah Subhanahuwata’ala.”

أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ

 “Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiada yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (al- A’raf: 99)

Sebab, hukuman orang yang berbuat maksiat adalah istidraj (dibiarkan) atas kemaksiatannya, pada akhirnya dibinasakan setelahnya.” (Atsar al- Matsalul al-‘A’la hlm. 25)

Ilmu, Fondasi Akhlak yang Agung

Ibnu Qayyim rahimahumullah berkata , “Pengetahuan seorang hamba tentang keesaan AllahSubhanahu wa ta’ala dalam hal menolak mudarat, mendatangkan manfaat, memberi, tidak memberi, menciptakan, memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan akan membuahkan ubudiyah tawakal batiniah.

Konsekuensi tawakal dan buahbuahnya jelas sekali. Pengetahuan dia tentang Allah Maha Mendengar, Melihat, dan tentang ilmu AllahSubhanahu wa ta’ala yang tidak tersembunyi bagi-Nya sesuatu pun yang paling kecil, baik di langit maupun di bumi. Allah Subhanahuwata’ala mengetahui yang tersembunyi dan yang tampak. Allah l juga mengetahui mata yang berkhianat dan segala yang tersembunyi di dalam dada. Semua ini akan membuahkan terjaganya lisan, anggota badan, dan pikirannya dari segala yang tidak diridhai oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Dia menjadikan semua anggota tubuhnya tergantung kepada apa yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa ta’ala dan diridhai-Nya. Semua ini juga akan melahirkan rasa malu di dalam batin yang akan membuahkan sikap menjauhkan diri dari segala yang diharamkan dan segala yang jelek. Mengenal AllahSubhanahu wa ta’ala bahwa dia adalah Dzat yang Mahakaya, dermawan, mudah memberi, banyak kebaikannya, dan penyayang; akan melahirkan harapan yang luas lalu membuahkan segala bentuk ubudiyah lahiriah dan batiniah.

Semuanya tergantung pada pengetahuan dan ilmunya. Demikian pula pengetahuan seorang hamba tentang keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala, kemuliaan-Nya akan membuahkan ketundukan, ketenteraman, dan kecintaan yang akan melahirkan segala bentuk pengabdian lahiriah kepada Allah l dan itulah konsekuensinya.

Demikian pula tatkala berilmu tentang kesempurnaan dan keindahan, serta ketinggian sifatsifat- Nya akan melahirkan kecintaan yang khusus dalam semua bentuk ubudiyah. Oleh karena itu, semua bentuk pengabdian akan kembali kepada namanama dan sifat-sifat AllahSubhanahu wa ta’ala. Semua bentuk peribadahan terikat dengan semua di atas sebagaimana terikatnya ciptaan dengan-Nya.

Di alam ini, seluruh ciptaan dan perintah Allah Subhanahu wa ta’ala adalah konsekuensi dari nama-nama dan sifatsifat- Nya. Allah Subhanahu wa ta’ala tidak akan menjadi mulia karena ketaatan mereka dan tidak akan hina karena kemaksiatan mereka. Renungilah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Shahih al-Bukhari, yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayatkan dari Rabbnya,

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّونِي

 “Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak mampu berbuat mudarat terhadap-Ku hingga mencelakai- Ku. Kalian juga tidak dapat berbuat kemanfaatan bagi-Ku hingga memberiku manfaat.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkannya setelahnya,

يَا عِبَادِي، إِنَّكُمْ تُخْطِئُونَ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَأَنَاأَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيْعًا فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ

“Hai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan kesalahan dimalam hari dan sianghari, sementara Aku adalah pengampundosa, maka minta ampunlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku akan mengampuni kalian.”

Ini mengandung makna bahwa apa yang diperbuat oleh Allah Subhanahu wa ta’ala terhadap mereka dalam hal mengampuni kesalahankesalahan mereka, dikabulkannya permintaan mereka, dan dilepaskannya mereka dari segala bentuk malapetaka, tidak berarti Allah mengambil manfaat darimereka.(Madarijus Salikin 2/90)

Koreksilah Berharapmu dan Perbaruilah Cintamu

Berharap itu sumbernya adalah menyaksikan janji-janji Allah Subhanahu wa ta’ala dan berbaik sangka kepada AllahSubhanahu wa ta’ala, serta menyaksikan segala apa yang dipersiapkan oleh Allah l bagi orang yang mengutamakan Allah Subhanahu wa ta’ala, Rasulullah n, dan negeri akhirat. Berharap menjadikan petunjuk sebagai hakim terhadap hawa nafsunya, dan wahyu atas ra’yu-nya (pendapatnya), sunnah atas bid’ah, dan menjadikan hakim segala apa yang telah dilalui oleh para sahabat atas adat istiadat yang berlaku.

Sementara itu, cinta itu sumbernya adalah menyaksikan nama-nama Allah Subhanahu wa ta’ala dan sifat-sifat-Nya sebagaimana menyaksikan segala nikmat dan pemberian-Nya. Apabila mengingat dosa-dosanya, ia berbalut rasa takut; apabila mengingat rahmat Allah Subhanahu wa ta’ala, luas pengampuan, dan maaf-Nya, dia berbalut rasa berharap; dan apabila mengingat keindahan dan keagungan Allah Subhanahu wa ta’ala, kesempurnaan-Nya, kebaikan dan nikmat-Nya, ia akan berbalut rasa cinta.

Oleh karena itu, hendaklah setiap hamba menimbang imannya dengan tiga hal ini (takut, berharap, dan cinta) agar dia mengetahui kadar iman yang dimilikinya. Sesungguhnya, hati itu terfitrah dengan Ramah Lingkungan cinta kepada keindahan dan cinta kepada Pemberi Keindahan, dan Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Dzat Yang Mahaindah, keindahan yang sempurna dari segala sisi.

 Indah pada Dzat-Nya, indah pada sifat-Nya, indah pada perbuatan-perbuatan-Nya, dan indah pada nama-nama-Nya. Jika berkumpul keindahan seluruh makhluk pada seseorang lalu dibandingkan dengan keindahan Allah Subhanahu wa ta’ala, perbandingannya lebih lemah daripada pancaran cahaya lentera yang paling lemah di hadapan pancaran sinar matahari. (Madarijus Salikin 3/288)

Sifat berharap yang penuh kejujuran memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan seorang muslim. Berharap akan membangkitkan dan mendorong untuk bertobat dengan benar, mendorong untuk beramal saleh berharap keberuntungan dengan surga Allah Subhanahuwata’ala, melihat-Nya, dan mendengar pembicaraan-Nya. Berharap yang jujur akan menjaga akidah seorang muslim dari bergantung kepada makhluk mengharapkan keberkahan dari mereka, atau syafaat, atau jalan keluar dari malapetaka. Oleh karena itu, pada kehidupan seorang muslim yang jujur, Anda tidak menjumpai penampilan-penampilan syirik dalam harapan, seperti mencari berkah melalui kedudukan para nabi, dengan para wali, dan melalui kuburan-kuburan mereka; atau mencari berkah di sumber mata air, gua, atau tempat sejenisnya.

Sebab, seorang muslim mengetahui dengan keyakinan yang benar bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah Dzat yang tunggal dalam hal mendatangkan manfaat dan menolak mudarat. Dia mengimani bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat tempat menggantungkan harapan segala yang dicita-citakannya berupa kebaikan dunia dan akhirat. (Atsaral-Matsalulal-A’la hlm. 25)

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Ramah Lingkungan

Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah syariat yang paling sempurna. Seluruh aspek kehidupan manusia telah diatur di dalamnya dengan sangat rapi. Yang demikian karena Allah Subhanahuwata’ala telah mengutus beliau untuk seluruh manusia dan sebagai penutup para nabi, sehingga syariatnya akan senantiasa ada hingga akhir zaman serta selalu relevan untuk dijalankan di setiap waktu dan tempat. Allah Subhanahuwata’ala menyebutkan kesempurnaan agama ini dalam firman-Nya,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

 “TelahKu- sempurnakan untuk kamu agamamu ,telah Ku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telahKu- ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Kesempurnaan agama adalah anugerah Ilahi yang tak terhingga. Oleh karena itu, dahulu orang-orang Yahudi iri kepada kita dengan ayat tersebut. Mereka berkata, “Andaikata ayat ini turun kepada kami (orang-orang Yahudi), niscaya kami akan jadikan (hari turunnya) sebagai hari raya.”(Shahihal-Bukhari no. 4606)

Lihatlah wahai saudaraku, bagaimana orang-orang Yahudi mengetahui besarnya ayat yang menyebutkan kesempurnaan agama Islam ini, sehingga mereka iri kepada kita dan berandai-andai sekiranya ayat tersebut turun kepada mereka.

Sebegitu besarnya nikmat yang Allah Subhanahuwata’ala limpahkan kepada muslimin. Namun amat disayangkan, sebagian muslimin justru tidak tahu yang demikian sehingga ada yang minder dengan Islamnya, sedangkan sebagian yang lain justru menambah nambah dalam agama ini sesuatu yangbukan bersumber dari Islam.

Kesempurnaan Islam telah diakui oleh orang-orang nonmuslim seperti telah tersebut di atas. Demikian pula tersebutdalam Shahih Muslim pada kitab “ath-Thaharah” bahwa orang-orang musyrik mengatakan kepada sahabat Salman al-Farisi radhiyallahu anhu, “Kami melihat Nabi kalian mengajari kalian segala sesuatu sampai pun (adab) ketika buang air?” Salman berkata, “Benar. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami dari bercebok dengan tangan kanan kami atau buang air dengan menghadap kiblat.”

Dengan menjalankan konsep yang dibawa oleh Islam, kebahagiaan hidup di tengah-tengah masyarakat akan menjadi kenyataan. Sebab, konsep tersebut datang dari Dzat yang menciptakan alam semesta dan tahu persis apa yang menjadi maslahat hamba-hamba-Nya.

Menjaga Nikmat dengan Selalu Taat

Keberkahan hidup terdapat dalam merealisasikan takwa kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan mengerjakan perintah-Nya,menjauhi larangan-Nya, dan mempercayai berita yang datang dari-Nya. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

 “Dan jika sekiranya penduduk negeri negeri itu beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96)

Allah Subhanahuwata’ala juga berfirman,

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ

“Barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata, “Tidak tersesat di dunia dan tidak sengsara di akhirat.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Apabila ketakwaan mendatangkan keberkahan, sebaliknya kemaksiatan adalah sumber berbagai bencana. Kesenangan hidup berubah menjadi penderitaan, keindahan alam menjadi rusak, dan ketenangan terusik. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

 “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Agar Lingkungan Tetap Nyaman dan Sehat

Di antara sisi yang mendapatkan perhatian Islam adalah mewujudkan kenyamanan dan kebersihan lingkungan. Hal ini akan tampak jelas dengan contoh contoh berikut.

 1. Dilarang buang air besar dan kecil ditengah jalan dan naungan yang biasa dijadikan untuk berteduh. Dalam hal ini telah datang hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اتَّقُوْا اللَّعَّانَيْنِ.قَالُوْا وَمَااللَّعَّانَانِ يَارَسُوْلَ اللَّهِ؟ قَالَ: الََّذِى يَتَخَلَّى فِى طَرِيْقِ النَّاسِ أَوْظِلِّهِمْ

“Hindarkanlah dua hal yang mendatangkan laknat.” Para sahabat bertanya,“Apa dua hal yang mendatangkan laknat, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda,“Orang yang buang air pada jalan (tempat lalu lalang) manusia atau tempat bernaungnya mereka.” (Shahih Muslim no. 269dan Sunan Abu Daud no. 25)

Disebutkan pula dalam riwayat lain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hindarkanlah tiga perbuatan yang akan mendatangkan kutukan: buang air disumber air, ditempat berteduh, dan ditengah-tengah jalan.” (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih Sunan Ibnu Majah no. 266)

Orang yang melakukan hal tersebut biasanya mendapatkan kutukan dan kecaman dari masyarakat karena mereka merasa terganggu dengan adanya sesuatu yang najis yang bisa mengenai tubuh mereka, dan tentu saja mereka merasa jijik karenanya.

Sebagian ulama menerangkan bahwa yang dimaksud dengan jalan adalah yang biasa dilalui, bukan jalan yang sudah tidak difungsikan lagi. Demikian pula tempat-tempat yang biasa digunakan untukberteduh.(‘AunulMa’bud, 1/47)

Bentuk menyakiti orang pada tiga perbuatan tadi sangat nyata. Orang yang buang air pada sumber-sumber air telah mencemari kebersihannya yang bisa menebarkan penyakit. Di samping itu, orang yang akan menggunakannya akan merasa jijik sehingga menghalangi beberapa keperluan mereka.

Demikian pula tempat yang biasa dijadikan sebagai tempat berteduh. Sama saja apakah itu halte tempat untuk menunggu kendaraan, atau pohon yang biasa digunakan orang untuk berteduh dari teriknya matahari, dan tempat beristirahat di bawahnya.

2. Dilarang melemparkan sesuatu dijalankaum musliminyangbisa menimbulkan mudarat. Contohnya, melempar kulit buah yang rawan menimbulkan kecelakaan dengan terpelesetnya tunggangan/kendaraan.

Demikian pula meletakkan pecahan kaca dan duri yang bisa melukai orang yang melaluinya atau sisa-sisa material bangunan yang akan mengganggu para pengguna jalan. Orang yang melakukan hal itu telah melakukan tindak kejahatan meskipun sebagian orang melakukannya tanpa ada niatan mengganggu. Ia dihukumi telah melakukan kejahatan karena perbuatannya menjadi faktor termudaratinya orang lain. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh menimbulkan mudarat dan tidak boleh menimpakan mudarat.”(HR. Ibnu Majah)

Tersebut dalam kaidah fikih,

لِلْمُتَسَبِّبِ حُكْمُ الْمُبَاشِرِ

“Orang yang menjadi sebab (terjadinya sesuatu) memiliki hukum (seperti) orang yang melakukan sesuatu.”

Apabila seperti itu keadaannya, lalu bagaimana dengan orang yang memang sengaja menimpakan mudarat? Dalam kesempatan ini, kami mengingatkan sebagian orang yang membuka jasa penambalan ban sebagaimana pemberitaan media ada dari mereka yang sengaja menebarkan ranjau paku di jalan sekitar tempat usahanya.

Kami katakan, “Wahai Saudara, takutlah Saudara kepada Allah Subhanahuwata’ala yang selalu memantau perbuatanmu. Andaikata orang tidak tahu perbuatanmu, tetapi Dia (Allah Subhanahuwata’ala) tidak lalai barang sekejap pun dan akan membalas kejahatanmu. Anda telah melakukan kejahatan besar yang bisa menyebabkan hilangnya nyawa, kerugian materi, cedera yang bisa membuat cacat seumur hidup, mengganggu kenyamanan, serta membuang waktu dan kesempatan orang lain dengan percuma. Mana kasih sayang Anda terhadap sesama, dan mana bentuk rasa takut Anda kepada Sang Pencipta?!

Saudara, berhentilah dari menzalimi orang dan bertobatlah sebelum terlambat. Saudara harus tahu bahwa perbuatanmu merupakan salah satu kezaliman yang akan disegerakan di dunia hukumnya. Apa Saudara kira dengan cara ini Saudara menjadi kaya?! Tidak. Akan dilenyapkan hasil yang haram ini pada saatnya nanti dan Saudara akan menyesal karena menanggung dosa dan cela.”

Untuk Saudara, kami akan sampaikan firman Allah Subhanahuwata’ala dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila Saudara masih punya iman dan takwa. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا

 “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (al- Ahzab: 58)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ آذَى الْمُسْلِمِيْنَ فِى طُرُقِهِمْ وَجَبَتْ عَلَيْهِ

 “Barang siapa menyakiti kaum musliminp adaja lanm ereka,ia b erhak mendapatkank utukanm ereka.”( HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al- Albani dalam Shahih al-Jami’)

Kami juga mengharap pemerintah terus memantau para pengganggu ketertiban ini dan menindak mereka agar rasa aman dan nyaman rakyat—yang menjadi tanggung jawab pemerintah—bisa terwujud. Korban yang berjatuhan telah banyak dan kita tentu tidak ingin ada lagi yang menjadi korban kejahatan ini. Kami juga mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berperan aktif menyadarkan orang yang melakukan praktik yang bertentangan dengan nilai-nilai keagamaan dan norma-norma kemasyarakatan ini.

Setiap individu masyarakat seharusnya sadar bahwa menjaga keramahan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kepedulian terhadap lingkungan bukan sekadar adat kebiasaan, bahkan termasuk perkara yang diatur dalam agama. Untuk mereka kami suguhkan hadiah berikut.

Dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu anhu, ia berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, tunjuki aku kepada suatu amalan yang akan memasukkan aku ke dalam surga.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أمَِطِ الْأَذَى عَنْ طَرِيْقِ النَّاسِ

‘Singkirkan gangguan dari jalan manusia’.” (Shahihal-Adabulal-Mufrad no. 168)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda (yang artinya), “Seorang lelaki melewati duri di jalan lalu dia berkata,‘Aku akan singkirkan duri ini agar tidak membahayakan seorang muslim. Dia pun diampuni (oleh Allah).” (Shahihal-Adabal-Mufrad no. 169)

Dari sini, jelas bahwa mencegah/ menyingkirkan gangguan yang akan menimpa manusia termasuk dari misi Islam yang agung yang pelakunya berhak memperoleh penghargaan. Masih terkaitan dengan kenyamanan jalan, seseorang dilarang mengemudikan kendaraan secara ugal-ugalan yang bisa membahayakan diri dan orang lain, baik kalangan pengguna jalan maupun yang lainnya. Allah l berfirman,

وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan.” (al-Baqarah: 195)

Seseorang juga semestinya meminimalisir bisingnya suara kendaraannya agar tidak menyakiti yang mendengarnya. Patuhilah ramburambu lalu lintas karena itu dibuat untuk kemaslahatan bersama. Adapun berjualan di jalan umum yang memang lebar, tidak menyempitkan orang lain, dan tidak mengganggu pengguna jalan, hal ini dibolehkan. (al-Mughni, Ibnu Qudamah 8/161)

Namun, tentu dengan tetap melihat aturan pemerintah setempat yang mengatur lokasi berjualan agar terwujud ketertiban. Apabila ada satu kelompok masyarakat yang mendirikan bangunan di jalan umum, seyogianya hal itu dicegah meskipun jalannya lebar. Sebab, fungsi jalan adalah untuk lalu lalang orang, bukan untuk bangunan.

 Dengan demikian,bangunan yang telah didirikan di atasnya semestinya dirobohkan (dipindahkan), sekalipun itu masjid. Apabila ada orang yang memanfaatkan jalan untuk meletakkan barang-barang atau alat-alat/material bangunan yang sifatnya sementara dan akan dipindahkan segera, ia diberi kelapangan selama tidak mengganggu para pengguna jalan. (al-Ahkam as- Sulthaniyah, karya al-Qadhi Abu Ya’la al-Hanbali hlm. 306)

Masuk pula di sini adalah talang air rumah yang menjorok ke jalan umum. Intinya, fasilitas umum yang disediakan oleh pemerintah dan pihak lainnya hendaknya kita jaga kenyamanannya. Jangan sampai manusia terhalangi memanfaatkannya sebagaimana fungsinya.

Dalam hal ini, ada beberapa adab yang berkaitan dengan jalan, yang jika dilakukan akan berbuah kebaikan, di antaranya adalah sebagai berikut.

1. Saling menebar salam.

2. Menundukkan pandangan dari sesuatu yang tidak boleh dilihat.

3. Membantu orang yang membutuhkan, seperti menyeberangkan orang yang lemah dan mengangkatkan barang di atas kendaraan.  Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda (yang artinya), “Hindari duduk-duduk dijalan. Apabila kalian tidak mau kecuali duduk (di situ), maka berikanlah haknya jalan, (yaitu): menundukkan pandangan, mencegah gangguan, menjawab salam, memerintahkan kepada yang baik, dan mencegah dari yang mungkar.”( HR. Ahmad, al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud dari sahabat Abu Sa’id radhiyallahu anhu)

Jangan pula ada yang mengubahubah papan petunjuk arah yang ada di jalan atau mencurinya, karena akan menyebabkan para pengguna jalan yang melewatinya tersesat. Orang seperti ini akan mendapat kutukan dari Allah Subhanahuwata’ala sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Allah melaknat orang yang mengubah-ubah tanda-tanda/rambu rambu bumi.”( Shahih Muslimn o.1 978 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu)

3. Menjaga keharmonisan hidup bertetangga Tetangga

 Anda adalah orang yang tinggal dekat dengan rumah Anda. Mereka mempunyai hak yang besar untuk diperlakukan secara baik. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَا نَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْاَخِرِفَلْيُحْسِنْ

 “Barang siapa beriman kepada Allah Subhanahuwata’ala dan hari akhir, hendaknya ia berbuat baik kepada tetangganya.” (HR. al-Bukhari)

Mereka termasuk orang yang cepat memberikan bantuan dan pertolongan kepada Anda di saat membutuhkan. Oleh karena itu, manakala Anda menyakiti mereka, Anda terancam dengan siksa api neraka. Telah tersebut dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa ditanyakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang seorang wanita, yang ia rajin shalat malam, puasa pada siang hari, melakukan (kebaikan) dan bersedekah, namun dia juga mengganggu tetangganya dengan lisannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Tidak ada kebaikan padanya,ia termasuk penghuni neraka.” (Shahihal-Adabal-Mufrad no. 88)

Hadits ini menunjukkan besarnya hak tetangga dan bahayanya menyakiti mereka. Bahkan, saking besarnya hak tetangga, seseorang tidak dikatakan mukmin yang sempurna apabila membiarkan tetangganya kelaparan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ الَّذِى يَشْبَعُ وَجَارُهُ جَائِعٌ

“Bukanlah seorang mukmin yang ia kenyang sedangkan tetangganya kelaparan.” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 82 dari Ibnu az-Zubair radhiyallahu anhu)

Saudaraku yang dimuliakan Allah Subhanahuawata’ala, kita semua tahu bahwa harta yang melimpah dan kedudukan terpandang yang dimiliki seseorang menjadi kurang berarti manakala ia bertetangga dengan orang yang suka mengganggu anak dan istrinya, mencuri hartanya, dan mengusik ketenangannya.  Oleh karena itu, dahulu dikatakan,

الْجَارُ قَبْلَ الدَّارِ

“Cari tetangga yang baik dahulu sebelum membuat rumah.”

Agar ketenangan dalam hidup bertetangga terus berlangsung, kiranya ada beberapa perkara yang semestinya diperhatikan, di antaranya:

1. Tidak menggali sumur dekat dengan sumur tetangganya sehingga mengakibatkan sumur tetangga hilang airnya. (al-Mughni, 8/181)

2. Dilarang membuka lubang angin yang darinya dia bisa melihat secara langsung ke dalam rumah tetangganya atau membangun bangunan yang tinggi yang bisa menutupi rumah tetangga dan tidak mendapatkan sinar matahari dan menghalangi masuknya cahaya. (al-Wafi’ Syarah al-Arba’in, 235)

3. Dilarang melakukan suatu aktivitas di tempatnya sendiri (rumah atau pekarangannya) apabila itu menimbulkan mudarat yang nyata terhadap tetangganya. Misalnya, ia menumbuk gandum di dekat tembok tetangganya sehingga mengakibatkan tembok tetangganya retak-retak dan terancam roboh; atau meletakkan sesuatu yang busuk baunya, seperti bangkai di pekarangan rumahnya, sehingga bau busuknya tercium oleh tetangga.

Masuk pula di sini adalah seseorang yang mengoperasikan sebuah alat yang sangat keras bunyinya saat orang-orang sedang beristirahat di tengah malam tanpa ada keterpaksaan yang mengharuskan demikian. Adapun meletakkan kayu atau mengikatkan tali jemuran pakaian pada tembok tetangga, hal ini dibolehkan selama tembok tetangga itu kuat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يَمْنَعُ جَارٌ جَارَهُ أنَْ يَغْرِزَ خَشَبَةً فِى جِدَارِهِ

“Janganlah seorang tetangga melarang tetangganya untuk menancapkan papan kayu pada temboknya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu )

Adapun membuang atau menimbun benda berbau di tanahnya lantas merembes ke tanah orang lain sehingga bangunan menjadi rapuh dan terancam roboh karenanya, hal ini dilarang. (al-Majmu’, 16/134)

Apabila seseorang memiliki pohon yang dahannya menyebar hingga melewati tembok orang lain atau di atas rumah tetangga, tetangganya berhak meminta pemilik pohon tersebut agar memotong dahannya. (al-Ahkam as-Sulthaniyah, karya Abu Ya’la hlm. 300—301)

Ini adalah sebagian kecil dari perkara yang menunjukkan keindahan dan kesempurnaan Islam. Ini adalah bukti nyata bahwa Islam tidak hanya mementingkan kebersihan hati saja, tetapi juga indahnya lahiriah. Sebelum kami akhiri pembahasan ini, kami mengajak kepada segenap muslimin pada khususnya untuk selalu menjaga ketenangan, kenyamanan, kebersihan, dan kesehatan.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kaum muslimin meninggalkan rokok dan petasan yang mudaratnya sangat besar. Demikian pula hendaknya mereka menjaga fasilitas-fasilitas umum agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, tidak termasuk orang yang beretika luhur apabila, misalnya, seseorang buang air di toilet umum lantas tidak menyiram kotorannya atau membersihkannya. Semoga Allah Subhanahuwata’ala selalu membimbing kita kepada jalan yang lurus dan mulia. Amiin.

Al-Ustadz Abdul Mu’thi, Lc.

Mengumpulkan Al-Qur’an

Kisah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu anhu

Di Masa Nubuwah

Sejak al-Qur’anul Karim turun, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah membiasakan para sahabat mengumpulkan al-Qur’an, menuliskannya, bahkan memerintahkannya dan mendiktekannya. Tidak hanya itu, beliau  shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengajari para sahabat radhiyallahu anhuma cara membacanya secara tepat dan menerangkan pula makna-maknanya serta memberi contoh penerapannya. Setelah 23 tahun mengajarkan al- Qur’an, beliau pun meninggalkan dunia yang fana ini dalam keadaan al-Qur’anul Karim ini sudah dihafal oleh sebagian besar sahabatnya dan dipahami makna maknanya oleh mereka.

Semoga Allah Subhanahuwata’ala melimpahkan shalawat dan salam- Nya untuk beliau. Al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih menunggu kemungkinan adanya nasikh (yang menghapus [hukum atau bacaan] ayat sebelumnya). Setelah berhenti masa turunnya al-Qur’an dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah Subhanahuwata’ala mengilhamkan kepada para al-Khulafa ar-Rasyidin untuk mengumpulkannya. Allah Subhanahuwata’ala memenuhi janji-Nya yang pasti dan benar—bahkan Dia tidak pernah menyalahi janji—bahwa Dia menjamin akan memelihara Kitab-Nya untuk umat ini, sebagaimana firman-Nya,

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al- Hijr: 19)

Inilah janji Allah Subhanahuwata’ala, bahwa Dia akan memelihara Kitab Suci yang mulia ini, baik di saat turunnya maupun setelahnya. Pada saat turunnya, Allah Subhanahuwata’ala memeliharanya dari setan yang ingin mencurinya, sedangkan setelah turunnya, Allah Subhanahuwata’ala meletakkannya di dada Rasul- Nya  shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian di dada umatnya. Termasuk di sini, Allah Subhanahuwata’ala memeliharanya dari perubahan terhadap lafadznya, apakah dengan penambahan ataukah pengurangan.

 Allah Subhanahuwata’ala memelihara pula makna-maknanya, maka tidak ada seorang pun yang berusaha menyelewengkan maknanya melainkan Allah Subhanahuwata’ala membangkitkan sebagian hamba-Nya yang akan menjelaskan mana yang haq. Segala puji dan syukur hanya milik Allah Subhanahuwata’ala.

Badruddinaz –Zarkasyi rahimahumullah menukilkan bahwa penulisan al-Qur’an bukanlah perkara muhdats (bid’ah dalam masalah agama). Sebab, semasa hidupnya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu memerintahkan agar para sahabat menuliskannya. Bahkan, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mempunyai beberapa orang penulis wahyu di antara para sahabat radhiyallahu anhuma.

Akan tetapi, penulisan tersebut masih terserak-serak di beberapa tempat. Ada yang ditulis di pelepah pelepah kurma, lempengan-lempengan batu, lembaranlembaran kulit, tulang-tulang binatang ternak kalau sudah kering, dan kayu kayu tempat duduk yang diletakkan di punggung-punggung unta.

Pengumpulan al-Qur’an sendiri bisa bermakna menghafalnya dan membacanya tanpa melihat tulisannya. Bisa juga bermakna penulisannya, baik huruf, kata, maupun surat-suratnya. Jadi, yang pertama adalah pengumpulan di dalam dada, sedangkan yang kedua adalah pengumpulan di lembaran-lembaran kertas atau mushaf.

Pengumpulan al-Qur’anul Karim dalam bentuk penulisan terjadi tiga kali pada masa generasi pertama. Yang pertama pada masa Rasulullah n, yang kedua pada masa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu anhu, dan yang ketiga terjadi pada masa ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu. Pada masa Khalifah ‘Utsman inilah dibuat beberapa mushaf lalu dikirim ke seluruh penjuru di mana kaum muslimin berada. Pada masa inilah muncul berbagai penilaian yang membuat kabur persoalan ini bagi sebagian besar kaum muslimin.

Masa Khalifah Abu Bakr

Dalam Perang Yamamah—yang diceritakan dalam edisi lalu—banyak sahabat yang menghafal al-Qur’an gugur sebagai syuhada. Melihat keadaan ini, ‘Umar al-Faruq radhiyallahu anhu segera menemui Khalifah dan berkata, “Sebagaimana Anda ketahui, dalam Perang Yamamah ini telah gugur banyak para penghafal al-Qur’an. Saya khawatir, kalau terjadi peristiwa seperti ini, banyak al-Qur’an yang akan hilang. Menurut saya, sebaiknya Anda segera memberi perintah agar kaum muslimin mengumpulkan al-Qur’an.”

Abu Bakr ash-Shiddiq segera menjawab, “Bagaimana mungkin aku mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” ‘Umar z mengajukan beberapa alasan hingga memantapkan hati Abu Bakr menerima sarannya. Setelah hati Abu Bakr dilapangkan oleh Allah Subhanahuwata’ala untuk menerima kebenaran yang disampaikan ‘Umar, keduanya berangkat mencari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu. Setelah itu, Khalifah Abu Bakr berkata kepada Zaid, “Tadi ‘Umar menemuiku dan mengatakan bahwa para penghafal al-Qur’an dalam Perang Yamamah banyak yang gugur dan ia khawatir kalau terjadi peperangan di beberapa tempat lagi akan menjadi sebab banyaknya al-Qur’an yang hilang, lalu ia menyarankan agar aku memerintahkan agar al-Qur’an dikumpulkan. Saya katakan kepadanya bahwa bagaimana mungkin kita mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah adalah baik.

Dia pun menerangkan beberapa alasan sampai Allah Subhanahuwata’ala melapangkan hatiku menerimanya.” Kemudian Abu Bakr melanjutkan, “Dan engkau, Zaid, adalah seorang pemuda yang cerdas, kami tidak mencurigaimu. Apalagi engkau pernah menulis wahyu untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Carilah ayat-ayat al-Qur’an yang terserak-serak itu dan kumpulkanlah.”

Mendengar penuturan Khalifah ini, Zaid berkata, “Demi Allah, seandainya Anda berdua menugaskan saya memindahkan sebuah gunung, itu lebih mudah daripada mengerjakan apa yang Anda berdua perintahkan kepada saya.” “Bagaimana mungkin saya mengerjakan sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” lanjut Zaid.

Khalifah dan sahabatnya, al-Faruq, tidak henti-hentinya menerangkan kepada Zaid kebaikan dan maslahat yang besar dari pekerjaan tersebut. Akhirnya, Allah Subhanahuwata’ala membukakan hati Zaid untuk menerima penjelasan mereka berdua, lalu ia pun mengerjakannya.

Ketika itu, Zaid bin Tsabit berusia 22 tahun. Beliau pernah ditugaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempelajari bahasa Ibrani (bahasa ibu orang-orang Yahudi). Mulailah Zaid mengumpulkan al- Qur’an. Zaid sendiri adalah seorang penghafal al-Qur’an, bahkan beliau menyimpan catatan al-Qur’an itu untuk dirinya, namun beliau tidak mengandalkan apa yang beliau hafal dan beliau tulis.

Hal itu karena pekerjaan beliau ini bukan sekadar mengumpulkan al-Qur’an, melainkan juga meneliti dan memastikan kevalidan apa yang ditulisnya pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Khalifah sendiri menugaskan ‘Umar dan Zaid radhiyallahu anhu agar duduk di pintu masjid, kemudian kalau ada yang membawakan dua saksi tentang Kitab Allah, tulislah.

Keduanya segera menjalankan tugas, dan ‘Umar pun berkata, “Siapa yang pernah menerima dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagian al-Qur’an hendaklah dia menemui kami membawa al-Qur’an tersebut.” Demikian pula Zaid yang ditugaskan oleh Khalifah. Zaid segera mendatangi para sahabat untuk menanyai mereka ayat yang ada pada mereka.

Akhirnya, beliau pun mendapatkan al-Qur’an itu dari pelepah-pelepah kurma, lempenganlempengan batu, dan hafalan para sahabat, sampai beliau menerima ayat terakhir surat at-Taubah (128 sampai selesai) dari Khuzaimah bin Tsabit .

Jadi, tujuan mereka sebetulnya ialah tidak menuliskan sesuatu dari al-Qur’an selain apa yang pernah mereka tulis di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bukan sekadar hafalan. Pekerjaan Zaid bin Tsabit ini berlangsung hampir lima belas bulan, sejak Pertempuran Yamamah hingga akhir tahun 11 H atau awal 12 H, dan selesai sebelum wafatnya Abu Bakr ash-Shiddiq adhiyallahu anhu, pada malam Selasa, 17 Jumadi Tsani 13 H.

Mengapa Khalifah dan al-Faruq memilih Zaid yang masih belia, bukan sahabat yang lainnya? Sebagian sejarawan menyebutkan beberapa alasan, berdasarkan perkataan Khalifah ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari t dalam Shahihnya, yaitu sebagai berikut.

1. Zaid adalah salah seorang sahabat yang hafal al-Qur’an sejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.

2. Zaid menyaksikan pembacaan terakhir al-Qur’anul Karim ini lalu Al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena masih menunggu kemungkinan adanya nasikh (yang menghapus [hukum atau bacaan] ayat sebelumnya).membacakannya kepada kaum muslimin sampai beliau wafat. Sebab itulah, Khalifah dan ‘Umar menjadikannya sebagai acuan.

3. Zaid termasuk salah seorang penulis wahyu yang diakui oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan yang paling terkenal dan paling sering.

4. Zaid mempunyai kecerdasan dan sikap wara’ yang tinggi, demikian pula akhlaknya yang mulia, agamanya yang kokoh, dan bisa menjaga amanat.

5. Usianya yang masih muda, sehingga lebih semangat dan rajin serta lebih giat menjalan tugasnya. Bisa dipertimbangkan juga, selain hal-hal di atas, tulisannya yang bagus dan jelas, karena ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, ia yang sering diminta menulis wahyu atau risalah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Setelah selesai mengumpulkan al- Qur’an di dalam lembaran-lembaran kertas, Khalifah Abu Bakr meminta pendapat sebagian sahabat tentang namanya. Ada yang berpendapat namanya adalah sifr, ada pula yang menamakannya mushaf. Yang terakhir inilah yang dipilih oleh Khalifah ash- Shiddiq dan berlaku sampai sekarang.

Inilah salah satu kebaikan dan jasa Abu Bakr ash-Shiddiq Radhiyallahu anhu, sampai ‘Ali bin Abi Thalib z mengatakan, “Semoga Allah Subhanahiwata’ala merahmati Abu Bakr, beliaulah yang pertama kali mengumpulkan al- Qur’an dalam lembaran mushaf.” Dengan pernyataan tegas ‘Ali Radhiyallahu anhu ini masih ada segolongan orang yang menyatakan bahwa yang pertama mengumpulkan al-Qur’an adalah ‘Ali Radhiyallahu anhu. Sekiranya ada yang sahih riwayat tentang beliau  dalam masalah ini, kemungkinan maknanya adalah pengumpulan dalam bentuk hafalan, atau beliau mengumpulkannya dengan cara lain dan tujuan lain.

 Bahkan, sebagian mufasir dari kalangan Syi’ah menyatakan bahwa ‘Ali Radhiyallahu anhu mengumpulkannya berdasarkan waktu turunnya, nama orang-orang yang turun al-Qur’an itu tentang mereka, takwil ayat-ayat mustasyabih, penentuan nasikhmansukhnya, manayangumum dan khususnya, serta menjelaskan ilmuilmu yang terkait dengan ayat tersebut dan cara membacanya.

Seandainya pendapat ini sahih dan tampaknya yang benar adalah sebaliknya tidak juga menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang pertama mengumpulkan al-Qur’an. Mengapa tidak? Karena Ibnu Sirin pernah bertanya kepada ‘Ikrimah, salah seorang murid Ibnu ‘Abbas, “Apakah para sahabat mengumpulkannya sebagaimana turunnya, yang pertama, kemudian yang berikutnya?” Kata ‘Ikrimah, “Seandainya jin dan manusia bersatu melakukannya, mereka tetap tidak mampu.”

Akhirnya, sejak itu mushaf tersebut berada di tangan Khalifah hingga beliau wafat. Kemudian, berada di tangan ‘Umar selama hidupnya dan setelah itu di tangan Hafshah bintu ‘Umar. Mushaf tersebut tetap di tangan Ummul Mukminin Hafshah sampai diminta oleh Khalifah ‘Utsman untuk disalin dan dibuat beberapa kopiannya lalu disebarkan ke beberapa penjuru wilayah Islam.

Setelah itu, mushaf tersebut disimpan ‘Abdullah bin ‘Umar Radhiyallahu anhu, tetapi kemudian diminta oleh Marwan bin al-Hakam ketika pulang menguburkan jenazah Ummul Mukminin Hafshah Radhiyallahu anhu, lalu merobeknya karena khawatir ada sesuatu yang berbeda dengan salinan mushaf yang dibuat oleh ‘Utsman bin ‘Affan Radhiyallahu anhu. Wallahu a’lam. (insyaAllah bersambung)

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Duduk di antara Dua Sujud

 

Sujud yang Lama

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan sujud beliau mendekati lamanya ruku’ beliau, namun terkadang beliau sangat lama sujudnya karena ada satu perkara/kejadian. Syaddad ibnul Had radhiyallahu anhu menceritakan, “Pada waktu salah satu shalat siang (Zhuhur atau Ashar), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju kami dalam keadaan menggendong Hasan atau Husain radhiyallahu anhu .

Beliau lalu maju untuk mengimami jamaah shalat, sementara cucu beliau diletakkan di sisi telapak kakinya yang kanan. Beliau bertakbir untuk shalat. Di saat sujud, beliau melakukannya dengan demikian panjang, hingga aku mengangkat kepalaku di antara manusia untuk mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.

Ternyata si cucu menunggangi pundak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud. Aku kembali kepada sujudku. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan shalatnya, orang-orang pun bertanya, “Wahai Rasulullah, Anda sujud dalam shalat ini demikian panjangnya hingga kami menyangka telah terjadi suatu perkara atau turun wahyu kepada Anda!” Beliau menjawab, “Semua itu tidak terjadi, melainkan karena anakku1 ini menunggangiku. Aku tidak suka menyudahi kesenangannya sampai ia sendiri menyelesaikan hajatnya.” (HR. an-Nasa’i no. 1141, Ahmad 3/493, 6/467, al-Hakim 3/164, sanadnyasahih di atas syarat syaikhani, kata al- Hakim, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.Hadits ini dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

Keutamaan Sujud

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ رَحْمَةَ مَنْ أَرَادَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ،

“Ketika Allah Subhanahuwata’ala ingin merahmati siapa saja yang dikehendaki-Nya diantara penghuni neraka, Ia   memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan dari dalam neraka orang yang dahulunya pernah beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala .Para malaikat pun mengeluarkan orang-orang yangdemikian. Para malaikat mengenali mereka dengan bekas-bekas (tanda) sujud.Allah Subhanahuwata’ala mengharamkan bagi api neraka melahap bekas sujud. Mereka itu keluar dari neraka. Seluruh bagian tubuh bani Adam( yang masuk neraka) dilahap oleh api neraka terkecuali bekas sujud.” (Potongan hadits yang panjang tentang hari kebangkitan dan syafaat yang dibawakan oleh Abu Hurairah radhiyallahu anhu , dikeluarkan oleh al-Bukhari no. 6573 dan Muslim no. 450).

Tsauban radhiyallahu anhu maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajarkan suatu amalan yang paling dicintai Allah Subhanahuwata’ala atau amalan yangbisa memasukkannya ke dalam surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ لِلهِ، فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لله

“Hendaknya engkau memperbanyak sujud kepada Allah Subhanahuwata’ala ,karena tidaklah engkau sujud kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan satu sujud saja melainkan Allah Subhanahuwata’ala akan mengangkat derajatmu karenanya dengan satu derajat  dan Diahapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim no. 1093)

Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiyallahu anhu berkata, “Aku pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku siapkan air wudhu beliau dan air untuk keperluan buang hajat beliau. Beliau lalu bertanya, ‘Mintalah sesuatu.’ Aku katakan, ‘Aku minta agar aku bisa menemanimu di surga.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Atau permintaan yang lain?’ ‘Itu saja yang kuminta,’ jawab Rabi’ah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ

‘Kalau begitu bantulah aku dengan engkau banyak melakukan sujud (dengan shalat)’.” (HR. Muslim no. 1094)

Bangkit dari Sujud

Seraya bertakbir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dari sujudnya, dan beliau perintahkan hal ini kepada orang yang salah shalatnya.

Duduk di antara Dua Sujud

Setelah mengangkat kepalanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk bersimpuh dengan menjulurkan telapak kaki kiri dan duduk di atas kaki kirinya dengan tenang/ thuma’ninah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Maimunah bintu al-Harits radhiyallahu anha yang dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumullah no. 1108. Demikian pula hadits Aisyah radhiyallahu anha yang menyebutkan,

وَكَانَ يَفْتَرِشُ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَيَنْصِبُ رِجْلَهُ الْيُمْنَى

“Beliau menjulurkan ( telapak) kaki kirinya dan menegakkan (telapak) kaki kanannya.”(HR. Muslim no. 1110)

Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhu berkata,

مِنْ سُنَّةِ الصَّلاَةِ أَنْ تَنْصِبَ الْقَدَم الْيُمْنَى

“Termasuk sunnah shalat adalah menegakkan telapak kaki yangkanan, menghadapkan jari-jemari kaki ke arah kiblat, dan duduk diatas kaki kiri.” (HR. an-Nasa’i no. 1157, 1158, dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasa’i dan al-Irwa’ no. 317)

Duduk seperti inilah yang diistilahkan duduk iftirasy. Terkadang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk iq’a, sebagaimana dalam hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma Thawus pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiyallahu anhu tentang iq’a di atas dua tumit, maka beliau menjawab bahwa duduk seperti itu sunnah. (HR. Muslim no. 1198)

Thawus rahimahumullah berkata, “Aku melihat tiga Abdullah: Ibnu Umar, Ibnu Abbas, dan Ibnuz Zubair melakukannya.” Ini dilakukan pula oleh Salim, Nafi’, Thawus, Atha’, dan Mujahid. Al-Imam Ahmad radhiyallahu anhu menyatakan pula, “Penduduk Kufah melakukannya.” (al-Isyraf‘alaMadzahibil‘Ulama, 2/35—36)

Tata cara duduk iq’a ditunjukkan oleh riwayat al-Baihaqi. Disebutkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan dua tumit beliau dan bagian dalam (yang dipakai untuk menapak) kedua telapak kaki atau duduk bertumpu di atas ujung-ujung jari kedua kaki. Duduk iq’a ini diamalkan oleh kebanyakan salafus shalih. At-Tirmidzi rahimahumullah menerangkan, “Sebagian ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpegang dengan hadits ini (hadits Ibnu Abbas), sehingga mereka memandang tidak apa-apa duduk iq’a. Ini adalah pendapat sebagian penduduk Makkah dari kalangan ahli fikih dan ilmu.” (Sunan at-Tirmidzi, kitabash-Shalah, bab“Fi ar-Rukhshah fil Iq’a”)

Sementara itu, sebagian ulama lain tidak menyenangi iq’a, di antara mereka adalah Ali radhiyallahu anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu . Ibnu Umar radhiyallahu anhu pernah pula mengatakan kepada anak-anaknya, “Jangan kalian meneladani aku dalam hal iq’a, karena aku melakukannya hanyalah ketika usiaku telah lanjut.” Ibrahim ibnu Yazid an-Nakha’i rahimahumullah berkata, “Mereka membenci amalan iq’a dalam shalat.”

Ini juga pendapat al-Imam Malik, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, ashabur ra’yi, dan kebanyakan ulama. (al-Isyraf ‘ala Madzahibil ‘Ulama, 2/36)

Sebagian ulama yang lain menyatakan boleh memilih. Dia bisa menjulurkan kaki kirinya dan menegakkan kaki kanannya (duduk iftirasy), bisa pula duduk iq’a di atas kedua tumitnya. Iftirasy dan iq’a keduanya sunnah, hanya saja iftirasy lebih dikenal dan lebih banyak yang memberitakannya, sebagaimana diriwayatkan dan dibenarkan oleh sepuluh orang sahabat. Ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamshallallahu ‘alaihi wa sallam sering melakukannya dan terkenal di kalangan para sahabat. Jadi, iftirasy lebih utama dari iq’a, walaupun duduk iq’a ini pernah dilakukan oleh beliau pada satu keadaan. (al-Ashl, 2/806—807)

Inilah pendapat yang kuat dalam masalah ini, wallahua’lambish-shawab. Adapun ahlul ilmi yang berpendapat makruhnya duduk iq’a berhujah dengan hadits-hadits yang melarang iq’a, yaitu hadits riwayat at-Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu , Ibnu Majah dari hadits Anas bin Malik radhiyallahu anhu , Ahmad bin Hanbal dari riwayat Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu dan Abu Hurairah radhiyallahu anhu , al-Baihaqi dari riwayat Samurah radhiyallahu anhu dan Anas radhiyallahu anhu .

Semua sanadnya dhaif, sebagaimana dinyatakan demikian oleh al-Imam an- Nawawi rahimahumullah dalam al-Minhaj/Syarhu Muslim (5/22) dan asy-Syaukani rahimahumullah dalam Nailul Authar (2/143), selain dua hadits berikut.

1. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata,

ثلاَثٍ: عَنْ نَقْرَةٍ �َ عَنْ n نَهَانِي رَسُوْلُ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangku dari tiga hal (dalamshalat): mematuk seperti patukan ayam jantan, duduk iq ’a seperti iq’a anjing, dan menoleh seperti tolehan serigala.” (HR. Ahmad 2/265, hadits ini hasan lighairihi sebagaimana dalam Shahih at-Targhib no. 555)

2. Hadits Samurah bin Jundub radhiyallahu anhu ,ia berkata,

عَنِ الْإِقْعَاءِ فِي الصَّلاَةِ n نَهَى رَسُوْلُ اللهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari duduk iq’a dalam shalat.” (HR. al-Hakim 1/272)

Dalam sanadnya ada al-Hasan al-Bashri rahimahumullah yang meriwayatkan dari Samurah radhiyallahu anhu, sementara itu Hasan al-Bashri adalah rawi yang banyak melakukan tadlis dalam periwayatannya sebagaimana disebutkan dalam at-Taqrib dengan membawa kalimat periwayatan yang memungkinkan tadlis itu bisa terjadi dari sisi beliau, seperti riwayat di atas.

Lebih-lebih lagi, riwayat beliau dari Samurah radhiyallahu anhu bermasalah—apakah beliau mendengarkannya secara langsung atau tidak—kecuali hadits akikah yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahumullah dalam Shahih-nya yang al-Hasan secara terang-terangan menyatakan mendengar hadits ini dari Samurah radhiyallahu anhu.

Adapun yang beliau tidak secara terang-terangan menyatakan mendengar maka tidak bisa menjadi hujah sebagaimana hadits ini. Karena itulah, al-Imam an- Nawawi rahimahumullah menyatakannya lemah. Jadi, yang tertinggal sekarang adalah hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang berderajathasan. Sebenarnya, hadits Abu Hurairah di atas tidaklah bertentangan dengan hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma tentang sunnahnya iq’a karena yang dilarang dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu anhu adalah iq’a yang khusus, yaitu iq’a anjing; menempelkan dua pantatnya ke bumi/tanah dan menegakkan keduabetisnya serta meletakkan kedua tangan di atas bumi.

Demikian yang ditafsirkan oleh ahli bahasa, di antaranya Abu Ubaid dalam kabar yang diriwayatkan al-Baihaqi. Dengan demikian iq’a yang terlarang ini berbeda dengan iq’a yang ditetapkan dalam as-Sunnah.

Dengan demikian, hadits-hadits yang ada dalam masalah iq’a ini, yang satu menyatakan sunnah dan yang lainnya melarang, bisa dipadukan. Demikian diterangkan oleh al- Baihaqi, diikuti oleh Ibnu ash-Shalah, an-Nawawi, dan para muhaqqiq selain mereka—semoga Allah Subhanahuwata’ala merahmatimereka semua. (al-Ashl, 2/806)

A l – Imaman – Nawawi rahimahumullah menyatakan, yang benar iq’a itu ada dua macam. Yang satu dibenci, yaitu seperti duduknya anjing; dan yang kedua sunnah, yaitu duduk (menempatkan pantat) di atas dua tumit, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dan itulah yang dilakukanoleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Minhaj, 5/22—23) Wallahu ta’ala a’lam.

Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim

10 Bahan Renungan

Marilah kita duduk sesaat, tinggalkan segala kesibukan pikiran. Sejenak kita merenung, niscaya kita akan mendapat manfaat, insya Allah. Pertama, merenungi mulianya kebenaran dan rendahnya kebatilan.

Caranya adalah dengan merenungi keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, Rabb sekalian alam,bahwa Dia mencintai kebenaran dan membenci kebatilan. Barang siapa mengikuti kebenaran, ia berhak memperoleh ridha-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala pun akan menjadi penolongnya di duniadan akhirat, sehingga Allah subhanahu wa ta’ala akan memilihkan segala sesuatu yang Dia  ketahui baik dan mulia baginya hingga Allah subhanahu wa ta’ala mewafatkannya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga akan mengangkat derajatnya, mendekatkannya kepada-Nya, serta menempatkannya di sisi-Nya dalam keadaan mulia, diberi nikmat yang langgeng dan kemuliaan yang abadi, yang angan-angan tidak akan mampu membayangkan kebesarannya.

Adapun seseorang yang condong kepada kebatilan, dia berhak mendapat kemurkaan Rabb sekalian alam dan hukuman-Nya. Barang siapa di antara Asy-Syaikh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’allimi  rahimahullah. mereka diberi-Nya sedikit kenikmatan dunia, hal itu sesungguhnya karena rendahnya dia di sisi-Nya, untuk menambahnya semakin jauh dari-Nya dan agar Allah subhanahu wa ta’ala melipatgandakan untuknya siksaan di akhirat dengan siksaan yang pedih lagi kekal dan tidak dapat dibayangkan kedahsyatannya oleh akal siapapun.

Kedua, merenungi perbandingan kenikmatan dunia dengan ridha Rabbul Alamin beserta kenikmatan akhirat. Juga perbandingan kesengsaraan dunia dengan murka Rabb sekalian alam dan siksaan akhirat. Juga mentadaburi firman Allah subhanahu wa ta’ala,

  وَلَمَّا جَآءَهُمُ ٱلۡحَقُّ قَالُواْ هَٰذَا سِحۡرٞ وَإِنَّا بِهِۦ كَٰفِرُونَ ٣٠  وَقَالُواْ لَوۡلَا نُزِّلَ هَٰذَا ٱلۡقُرۡءَانُ عَلَىٰ رَجُلٖ مِّنَ ٱلۡقَرۡيَتَيۡنِ عَظِيمٍ ٣١  أَهُمۡ يَقۡسِمُونَ رَحۡمَتَ رَبِّكَۚ نَحۡنُ قَسَمۡنَا بَيۡنَهُم مَّعِيشَتَهُمۡ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَرَفَعۡنَا بَعۡضَهُمۡ فَوۡقَ بَعۡضٖ دَرَجَٰتٖ لِّيَتَّخِذَ بَعۡضُهُم بَعۡضٗا سُخۡرِيّٗاۗ وَرَحۡمَتُ رَبِّكَ خَيۡرٞ مِّمَّا يَجۡمَعُونَ ٣٢  وَلَوۡلَآ أَن يَكُونَ ٱلنَّاسُ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ لَّجَعَلۡنَا لِمَن يَكۡفُرُ بِٱلرَّحۡمَٰنِ لِبُيُوتِهِمۡ سُقُفٗا مِّن فِضَّةٖ وَمَعَارِجَ عَلَيۡهَا يَظۡهَرُونَ ٣٣  وَلِبُيُوتِهِمۡ أَبۡوَٰبٗا وَسُرُرًا عَلَيۡهَا يَتَّكِ‍ُٔونَ ٣٤  وَزُخۡرُفٗاۚ وَإِن كُلُّ ذَٰلِكَ لَمَّا مَتَٰعُ ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَاۚ وَٱلۡأٓخِرَةُ عِندَ رَبِّكَ لِلۡمُتَّقِينَ ٣٥

Tatkala kebenaran (al-Qur’an) itu datang kepada mereka, mereka berkata, “Ini adalah sihir dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang mengingkarinya.” Dan mereka berkata, “Mengapa al Qur’an ini tidak diturunkan  kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu?” Kami telah menentukan antara mereka penghidupa nmereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. dan rahmat Rabbmu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan. Dan sekiranya bukan karena hendak menghindari manusia menjadi umat yang satu (dalam kekafiran), tentulah Kami buatkan bagi orang orang yang kafir kepada Rabb Yang Maha Pemurah loteng-loteng perak bagi rumah mereka dan (juga) tangga tangga (perak) yang merekame naikinya. Dan (Kami buatkan pula) pintu-pintu (perak) bagi rumah-rumah mereka dan (begitu pula) dipan-dipan yang mereka bertelekan di atasnya. Dan ( Kami buatkan pula) perhiasan-perhiasan (dari emas untuk mereka). Dan semuanya itu tidak lain hanyalah kesenangan kehidupan dunia, dan kehidupan akhirat itu disisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (az-Zukhruf: 30—35)

Dipahami dari ayat di atas, apabila manusia tidak jadi satu umat, tentu Allah subhanahu wa ta’ala akan memberi ujian bagi kaum mukminin dengan sesuatu yang luar biasa, di antaranya dengan kafakiran yang sangat, mudarat, rasa takut, kesedihan, dan selain itu. Cukup (bukti) bagi Anda bahwa Allah subhanahu wa ta’ala menguji para nabi-Nya dan orang-orang pilihannya.

Dari Ka’ab bin Malik radhiyallahu anhu ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yangartinya),

“… permisalan seorang mukmin bagaikan ranting yang lentur dari sebuah pohon, angin menggerakkannya, terkadang membuatnya miring dan terkadang menegakkannya sampai kering. Adapun permisalan orang fajir adalah bagaikan pohon khamah yang kaku, tegak pada pangkalnya, tidak ada yang bisa menggerakkannya sehingga (bila tumbang) tumbangnya sekaligus.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maksudnya, ini sebagai pendidikan bagi kaum muslimin, agar seorang mukmin tetap merasa tenang dengan kepenatan kehidupan dan musibahnya, menghadapinya dengan ridha, sabar, dan berharap pahala di sisi Rabbnya, dengan kalbu yang tulus, tidak menganganangankan berbagai nikmat duniawi, serta tidak iri kepada pemiliknya.

Kemudian ia tidak merasa tenteram dengan keselamatan dan nikmat (yang sementara ini ada pada dirinya) serta tidak terus condong kepadanya. Bahkan ia menyambut semua itu dengan tetap merasa khawatir dan penuh kehati-hatian, disertai rasa takut. Khawatir bilamana semua itu ternyata disediakan untuknyakarena adanya cacat pada imannya.

Oleh karena itu, jiwanya berkeinginan menyalurkan nikmat-nikmat itu menuju jalan Allah subhanahu wa ta’ala , tidak merasa tenteram dengan kelonggarannya dan juga tidak akan kikir, tidak bangga diri dengan karunia yang diberikan kepadanya, tidak sombong, dan tidak teperdaya.

Hadits tersebut tidak menyinggung keadaan orang-orang kafir karena hujah terhadapnya telah jelas bagaimana pun keadaannya.

Dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu anhu, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Siapakah di antara manusia yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى

“Para nabi kemudian yang serupa dengan mereka, kemudian yang serupa dengan mereka berikutnya, sehingga seseorang diuji sesuai dengan kadar agamanya. Bila agamanya kokoh, maka ujiannya semakin menguat. Tapi bila agamanya tipis maka dia pun akan diuji sesuai dengannya. Maka ujian itu akan terus menimpa seorang hamba sehingga Allah subhanahu wa ta’ala akan biarkan dia berjalan di muka bumi dalam keadaan tidak punya salah.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, dan ad-Darimi)

Sungguh, Nabi Ayyub Alaihissalam telah diuji dengan ujian yang telah banyak kita dengar. Nabi Ya’qub Alaihissalam diuji dengan kehilangan dua putranya, dan sungguh pengaruhnya begitu besar pada kalbunya sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala kisahkan dalam kitab-Nya,

وَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ يَٰٓأَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَٱبۡيَضَّتۡ عَيۡنَاهُ مِنَ ٱلۡحُزۡنِ فَهُوَ كَظِيمٞ ٨٤

Dan Ya’qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, “Aduhai duka citaku terhadap Yusuf,” dikedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf: 84)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah diuji dengan ujian seperti yang telah kita baca pada kisah perjalanan hidup beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah subhanahu wa ta’ala bebankan kepada beliau tugas untuk mengajak kaumnya agar meninggalkan tradisi yang mereka tumbuh di atasnya, yang mereka ikuti dari nenek moyang mereka, baik berupa perbuatan syirik maupun kesesatan.

Dengan tegas beliau mengajak mereka secara sembunyi ataupun dengan terang-terangan, siang dan malam berkeliling di tempat-tempat perkumpulan mereka dan desa-desa mereka. Terus beliau melakukan itu selama tiga belas tahun, sedangkan mereka justru menyakiti beliau dengan sekeras kerasnya.

Padahal, sebelum itu, beliau telah hidup di tengah-tengah mereka selama empat puluh tahun atau lebih, dan beliau tidak pernah tahu ada yang mengganggu beliau. Beliau berasal dari kabilah yang mulia, di rumah keluarga yang terhormat, serta beliau pun tumbuh di atas akhlak yang mulia, karenanya beliau dihormati manusia dan dimuliakan manusia.

Beliau juga pada puncak rasa malu, ghirah, dan kemuliaan jiwa. Barang siapa yang seperti ini keadaannya tentu terasa sangat pedih saat diganggu, sangat berat baginya untuk maju menghadapi beragam gangguan, semakin terasa berat cobaan itu dengan jenis gangguannya. Yang ini merendahkannya, yang itu mencelanya, yang lain meludahi mukanya, dan yang ini berusaha menginjak lehernya saat beliau bersujud kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Sementara itu, yang lain meletakkan ari-ari unta di atas punggung beliau saat sujud, yang ini memegang kerah bajunya dan mencekiknya, serta yang ini menusuk hewan tunggangannya sehingga tunggangannya memelantingkan beliau. Bahkan, pamannya sendiri selalu mengikutinya ke mana dia pergi untuk mengganggunya dan memperingatkan orang-orang darinya serta mengatakan bahwa dia (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) adalah pendusta, orang gila.

Ada pula yang menghasut orang orang bodoh untuk mengganggu beliau sehingga melemparinya dengan batu sampai kedua kaki beliau bercucuran darah. Mereka memboikotnya bersama keluarganya dalam waktu lama di sebuah lembah agar mati kelaparan. Mereka menyiksa para pengikutnya dengan siksaan yang beraneka ragam. Di antara mereka ada yang mereka baringkan di atas pasir yang panas saat terik matahari tanpa diberi air.

Ada pula di antara mereka yang dilempar ke dalam api sehingga tidak ada yang memadamkannya selain punggungnya. Bahkan, di antara mereka ada seorang wanita yang mereka siksa agar mau kembali ke agamanya. Ketika mereka putus asa dari kembalinya wanita itu, salah seorang dari mereka menikamnya pada kemaluannya sehingga mati.

Semua itu tidak lain karena beliau mengajak mereka untuk keluar dari kegelapan menuju cahaya, dari kerusakan menuju kebaikan, dari kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala menuju keridhaan-Nya, dari siksa- Nya yang kekal menuju kenikmatan-Nya yang abadi. Tetapi mereka tidak menoleh kepada semua itu, padahal bukti begitu nyata. Keinginan mereka, yang penting menyelisihi kemauan muslimin.

Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diuji dengan wafatnya kedua orang tuanya saat beliau masih kecil, lalu kakeknya, lalu pamannya yang dahulu melindunginya, lalu istrinya yang selama itu menenteramkannya dan meringankan bebannya. Kemudian cobaan terus menimpanya—dan perincian masalah ini panjang—padahal beliau adalah pemuka anak Adam, bahkan yangpaling dicintai oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Perhatikanlah ini semua, agar kita mengetahui dengan sebenar-benarnya bahwa apa yang kita perebutkan matimatian berupa kenikmatan dunia berikut kedudukannya, ternyata tidak ada artinya di hadapan keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan kenikmatan yang abadi di sisi-Nya. Apa yang kita hindari, seperti kesengsaraan dunia dan kesusahannya, ternyata juga tidak berarti apa-apa dibandingkan dengan kemurkaan Allah subhanahu wa ta’ala, kemarahan-Nya, dan kekekalan di neraka jahannam.

Anas bin Malik radhiyallahu anhu meriwayatkan, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya), “Didatangkan orang yang paling merasakan nikmat dari pendudukdunia dari penghuni neraka pada hari kiamat, lalu dicelupkan di dalam neraka satu kali celupan, lalu dikatakan kepadanya‘,Wahai anak Adam, apakahkamupernahsekalisajamelihat keindahan, apakah pernah sedikit saja melewatimus uatuk enikmatan?Maka ia menjawab,‘ Tidak, demi Allah, wahai Rabbku.’ Di datangkan pula orang yang palingsengsara selama di dunia dari penduduksurgalalu dicelupkandengan satu kali celupan disurga, kemudian dikatakan kepadanya,‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat kesengsaraan sedikit saja? Apakah pernah melewatimu kesusahan sedikit saja? Ia menjawab,‘ Tidak, demi Allah, wahai Rabbku, tidak pernah melewatiku kesengsaraan sama sekali dan aku tidak pernah melihat kesusahan samasekali’.” (Sahih, HR. Muslim) (insya Allah bersambung)

(diterjemahkan oleh Qomar Suaidi ZA dari kitab al-Qa’idila Tashihil‘Aqaid)

 

Batasn Laba Maksimum dalam Penjualan

Apakah termasuk riba apabila kita membelis ebuah barang dan kita menjualnya dengan harga dua kali lipat dari harga belinya?

085340XXXXXX

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Dalam syariat yang agung ini tidak ada penentuan batas laba maksimum dalam penjualan suatu barang. Maka dari itu, hal itu kembali kepada kebiasaan yang berlaku di pasar-pasar kaum muslimin. Menurut al-Lajnah ad-Da’imah (diketuai Ibnu Baz), “Laba penjualan seorang pedagang tidak dibatasi secara syariat dengan persentase tertentu. Akan tetapi, tidak boleh menipu pembeli dengan cara menjual dengan harga yang melebihi harga standar di pasaran.

Disyariatkan bagi seorang muslim untuk tidak mengambil laba terlalu besar, tetapi menjadi orang yang bersifat toleran (berlapang dada) dalam menjual dan membeli berdasarkan anjuran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersifat toleran (berlapang dada) dalam muamalah.”

Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah berkata dalam FathDzilJalal walIkram—memetik faedah dari hadits ‘Urwah al-Bariqi radhiyallahu anhu yang diberi uang satu dinar oleh Nabi  shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membeli seekor kambing, lalu ia berhasil membeli dua ekor dengan uang itu, kemudian menjual salah satunya dengan harga satu dinar, sehingga dia membawakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seekor kambing dan uang satu dinar—, “

Di antara faedah hadits ini adalah bahwasanya pengambilan laba dalam jual beli tidak punya batas maksimum. Oleh karena itu, boleh bagi seorang penjual mengambil laba senilai 1/10 dari harga barangnya, 1/5, 1/4, atau lebih besar dari itu.

Namun, hal itu dengan syarat tidak melakukan penipuan harga. Adapun jika hal itu dengan cara penipuan harga, haram mengambil laba melebihi kewajaran di pasaran. Lain halnya jika hal itu dihasilkan dengan cara usaha (tanpa unsur penipuan harga), yaitu dikarenakan harga pasaran barang itu naik; penjual pertama menjual kepadanya dengan harga murah karena bersikap toleran kepadanya, atau seseorang membeli darinya dengan harga mahal karena bersikap toleran kepadanya.

Jika demikian, hal itu tidak mengapa. Boleh jadi, penjual pertama mengetahui bahwa barang dagangan itu harga pasarannya dua puluh, lalu ia menjualnya kepada Anda seharga sepuluh. Jika Anda menjualnya dengan harga standar di pasaran, berapa harganya? Harganya dua puluh atau lebih.

Hal itu tidak mengapa, karena penjual pertama menjualnya dengan harga murah kepada Anda lantaran sikap tolerannya. Boleh jadi pula, pembeli tahu bahwa harganya sepuluh (misalnya), tetapi ia ingin memberi manfaat kepada Anda dengan membelinya seharga dua puluh, hal itu pun tidak mengapa. Walaupun pada kedua contoh tersebut harga pasarannya tidak mengalami lonjakan di pasaran.”

Jadi, yang tidak boleh adalah menipu pembeli yang tidak tahu harga pasaran dan tidak pandai menawar sehingga mengeruk darinya laba sebesar-besarnya melebihi kebiasaan yang berlaku di pasar-pasar kaum muslimin. Ini yang dikenal dalam ilmu fikih sebagai penjualan kepada al-mustarsil.

Terdapat dua tafsir mengenai makna al-mustarsil:

1. Orang yang tidak tahu harga barang di pasaran.

2. Orang yang tidak bisa menawar barang, tetapi menuruti ucapan penjual. Ini yang datang dari al-Imam Ahmad rahimahumullah. Alhasil, al-mustarsil adalah orang yang tidak tahu harga pasaran dan tidak pandai menawar harga.

Ibnu Taimiyah rahimahumullah menerangkan setelah menyebutkan kedua tafsir tersebut, “Maka dari itu, ia tidak boleh ditipu dengan pengambilan laba yang sangat merugikannya, baik yang ini (makna pertama) maupun yang itu (makna kedua).”

Ibnu Taimiyah rahimahumullah berkata, “Tidak boleh menjual kepada al-mustarsil kecuali dengan harga wajar, sebagaimana penjualan kepada yang lainnya (yang tahu harga). Tidak boleh bagi seorang penjual menipu orang yang menurutinya dengan mengeruk laba yang sangat besar melebihi kewajaran. Ada sebagian ulama membatasinya sebesar 1/3 dari harga barang. Ada yang membatasinya dengan 1/6 dari harga barang. Ada pula yang mengatakan bahwa hal itu kembali kepada kebiasaan yang berlaku.

Apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat dalam pengambilan laba jual beli mereka kepada orang yang pandai menawar, senilai itu pulalah laba yang diambil dari al-mustarsil.” Pendapat yang terakhir inilah yang benar, bahwa hal itu kembali kepada kebiasaan yang adadi pasar-pasar kaum muslimin.

Ibnu Qudamah, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah menegaskan bahwa almustarsil yang dirugikan melebihi harga wajar, memiliki hak khiyar al-ghabn, yaitu hak orang yang rugi karena tertipu dalam transaksi jual beli untuk memilih antara meneruskan akad tersebut atau melakukan fasakh (pembatalan akad).

Ini adalah mazhab Ahmad dan Malik. Dalilnya adalah penetapan khiyar al-ghabn oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada kasus talaqqi ar-rukban, yaitu menghadang kafilah yang datang ke suatu negeri sebelum masuk pasar agar dibeli murah jauh di bawah harga standar. Jika ia telah masuk pasar lantas mengetahui bahwa dirinya tertipu, ia berhak memilih antara meneruskan akad atau membatalkannya. Adapun hadits Abu Umamah radhiyallahu anhu:

غَبْنُ الْمُسْتَرْسِلِ حَرَامٌ.

“Menipual-mustarsiladalah perbuatan haram.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

dan hadits Jabir, Anas, dan ‘Ali radhiyallahu anhu  :

غَبْنُ الْمُسْتَرْسِلِ رِبًا.

“Menipua l-mustarsila dalahr iba.” (HR. al-Baihaqi)

Keduanya hadits yang dha’if (lemah), bukan hujah.3 Adapun pendapat asy-Syafi’i dan Malik yang menyatakan transaksi itu telah terjadi dan sah tanpa adanya hak khiyar baginya, adalah pendapat yang lemah. Wallahu a’lam.4