Jika Penguasa Mengakhirkan Waktu Sholat

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku,

يَا أَبَا ذَرٍّ، إِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا فَإِنْ أَنْتَ أَدْرَكْتَهُمْ فَصَلِّ الصَّ ةَالَ لِوَقْتِهَا-وَرُبَّمَا قَالَ: فِي رَحْلِكَ-ثُمَّ ائْتِهِمْ فَإِنْ وَجَدْتَهُمْ قَدْ صَلُّوا كُنْتَ قَدْ صَلَّيْتَ وَإِنْ وَجَدْتَهُمْ لَمْ يُصَلُّوا صَلَّيْتَ مَعَهُمْ فَتَكُونُ لَكَ نَافِلَةً.

“Wahai Abu Dzar, sungguh akan muncul di tengah kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya. Jika engkau dapatkan mereka, shalatlah engkau pada waktunya.’ -atau beliau mengatakan-, ‘Shalatlah di rumahmu, kemudian datangilah mereka. Jika kalian dapatkan mereka sudah selesai menunaikan shalat, engkau telah tunaikan shalat sebelumnya. Seandainya engkau dapatkan mereka belum shalat, shalatlah bersama mereka dan shalat itu adalah nafilah (sunnah) bagimu’.”

Takhrij Hadits

Hadits Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam  al-Musnad (5/169) melalui jalan Isma’il bin Ibrahim bin Miqsam yang dikenal dengan Ibnu ‘Ulayyah, dari Shalih bin Rustum Abu ‘Amir al-Khazzaz, dari Abu‘Imran al-Jauni, dari Abdullah bin Shamit dari sahabat Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya (1/448 no. 648), Abu Dawud dalam Kitab Shalat bab “Idza Akhkhara al-Imam ash-Shalah ‘anil Waqti” (“Jika Imam mengakhirkan Shalat dari Waktunya”) no. 431, at-Tirmidzi (1/232 no. 176), an-Nasai no. 858, Ibnu Majah no. 1257, ad-Darimi no. 1229 bab “ash-Shalah Khalfa man Yuakhkhiru ash-Shalah ‘an Waqtiha” (“Shalat di Belakang Orang yang Mengakhirkan Shalat dari Waktunya), dan ath-Thahawi (1/263), semua meriwayatkan melalui jalan Abu ‘Imranal-Jauni dari Abdullah bin ash-Shamit dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu.

Tentang hadits ini, at-Tirmidzi rahimahullah berkata,“Haditsun hasanun (hadits ini hasan).” Beliau juga berkata, “Dan dalam bab ini diriwayatkan pula dari Abdullah bin Mas’ud dan ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu.”

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu memiliki banyak syawahid sebagaimana disebutkan oleh at-Tirmidzi, di antaranya,

Pertama: Hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasai, dan Ibnu Majah secara marfu’, diriwayatkan pula secara mauquf oleh al-Imam Ahmad dan Muslim. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم : كَيْفَ بِكُمْ إِذَا أَتَتْ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُصَلُّونَ الصَّلاَةَ لِغَيْرِ مِيقَاتِهَا؟ قُلْتُ: فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ، يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : صَلِّ الصَّلَاةَ لِمِيقَاتِهَا، وَاجْعَلْ صَلَاتَكَ مَعَهُمْ سبحة.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepadaku, ‘Apa yang kalian lakukan seandainya datang kepada kalian  penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat, tidak pada waktunya? Aku menjawab, ‘Wahai Rasulullah, apa yang engkau perintahkan kepadaku seandainya zaman itu menjumpaiku?’ Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Shalatlah engkau pada waktunya, dan jadikanlah shalatmu bersama mereka sebagai amalan sunnah’.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud)

Kedua: Hadits Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Abu Dawud dan Ibnu Majah. Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قَالَ رَسُولُ اللهِ صل الله عليه وسلم : إِنَّهَا سَتَكُونُ عَلَيْكُمْ بَعْدِي أُمَرَاءُ تُشْغِلُهُمْ أَشْيَاءُ عَنِ الصَّلاَةِ لِوَقْتِهَا حَتَّى يَذْهَبَ وَقْتُهَا ، فَصَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا.فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، أُصَلِّي مَعَهُمْ؟ قَالَ: نَعَمْ، إِنْ شِئْتَ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Sungguh sepeninggal ku akan ada ditengah kalian penguasa yang oleh berbagai urusan hingga melalaikan shalat pada waktunya hingga habis waktunya, maka shalatlah kalian pada waktunya.’ Salah seorang sahabat bertanya,‘Wahai Rasulullah, apakah aku shalat bersama mereka?’ Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,‘Ya, jika engkau suka’.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud)

Ketiga: Hadits Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

سَيَكُونُ مِنْ بَعْدِي أَئِمَّةٌ يُمِيتُونَ الصَّلَاةَ عَنْ مَوَا قِيتِهَا فَصَلُّوا الصَّلَاةَ لِوَقْتِهَا وَاجْعَلُوا صَلَا تَكُمْ مَعَهُمْ سبحة

“Akan ada sepeninggalku penguasa-penguasa yang mematikan shalat dari waktu-waktunya, maka shalatlah kalian pada waktunya dan jadikanlah shalat kalian bersama mereka sebagai shalat sunnah.” (HR. Ahmad, 4/124)

Berita Gaib yang Terwujud

Perkara gaib adalah mutlak milik Allah Subhanahu wata’ala. Tidak ada yang mengetahui sedikit pun dari perkara gaib di antara makhluk-makhluk-Nya, baik malaikat, nabi, maupun rasul, apalagi selain mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan pada sisi Allahlah kunci-kunci semua yang gaib, tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (al-Lauh al-Mahfuz).” (al-An’am: 59)

Adapun apa yang diberitakan para rasul tentang perkara gaib, bukan karena mereka mengetahui perkara gaib, namun mereka kabarkan berdasar wahyu Allah Subhanahu wata’ala yang Allah Subhanahu wata’ala wahyukan kepada mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَىٰ غَيْبِهِ أَحَدًا () إِلَّا مَنِ ارْتَضَىٰ مِن رَّسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Rabb) yang mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” (al-Jin: 26-27)

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu termasuk berita-berita gaib yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kabarkan sebagai salah satu mukjizat dan tanda kenabian. Beliau kabarkan munculnya penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat, berita itu pun terjadi.

Makna Mengakhirkan Shalat

Apa maksud sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka mengakhirkan shalat?” Apakah makna mereka mengakhirkan shalat hingga keluar dari waktunya secara keseluruhan, seperti mengakhirkan shalat ashar hingga tenggelam matahari dan masuk waktu Maghrib? Atau maknanya mengakhirkan shalat dari awal waktu (waktu ikhtiyar) dan menunaikannya di akhir waktu (waktu idhthirar)?

Sebagaimana diketahui bahwa waktu shalat ada dua: (1) waktu ikhtiyar, yaitu awal waktu yang seorang muslim seharusnya melaksanakan shalat di waktu tersebut; (2) waktu idhthirar yaitu waktu yang masih diperbolehkan seseorang menunaikan shalat dalam keadaan darurat (memiliki uzur).

Shalat isya dan ashar misalnya, keduanya memiliki dua waktu tersebut. Waktu ikhtiyar untuk shalat isya adalah sejak masuk waktu isya’ hingga pertengahan malam, adapun selepas pertengahan malam hingga terbit fajar adalah waktui dhthirar. Waktu ikhtiyar untuk shalat ashar dimulai semenjak bayangan sesuatu sama dengan dirinya hingga bayangan sesuatu tersebut menjadi dua kali lipat dirinya. Adapun waktu idhtirar dimulai sejak bayangan sesuatu dua kali dirinya hingga tenggelam matahari.

Kita kembali kepada hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyifati para penguasa yang akan datang dengan sebuah sifat,

سَيَكُونُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ يُؤَخِّرُونَ الصَّلاَةَ عَنْ مَوَاقِيتِهَا

“Sungguh akan muncul di hadapan kalian penguasa-penguasa yang mengakhirkan shalat dari waktu-waktunya.”

Maksud dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Mereka mengakhirkan shalat.” Adalah mengakhirkan shalat dari waktu ikhtiyar dan melakukannya di waktu idhthirar, bukan maknanya mengakhirkan hingga keluar waktu shalat dan masuk waktu shalat berikutnya.

An-Nawawi rahimahullah menerangkan, maksud sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam haditshadits ini

( يُؤَخِّرُونَ الصَّ ةَالَ عَنْ وَقْتِهَا)

“mereka mengakhirkan shalat dari waktunya”, yakni waktu ikhtiyar, bukan maksudnya mereka mengakhirkan hingga habis waktunya. Riwayat-riwayat yang dinukilkan tentang penguasa-penguasa yang telah lalu, yang mereka lakukan adalah mengakhirkan shalat dari waktu yang ikhtiyar dan tidak ada satu pun dari mereka mengakhirkannya hingga habis semua waktu. Oleh karena itu, berita-berita Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang penguasa yang mengakhirkan shalat ini dibawa kepada kenyataan yang telah terjadi.” (al-Minhaj dan al-Majmu’ [3/48])

Apa Yang Kita Lakukan Jika Penguasa Mengakhirkan Shalat dari Waktu Ikhtiyar?

Hadits Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu adalah nash yang memutuskan permasalahan ini; kita diperintahkan untuk shalat tepat pada waktunya, yakni di waktu ikhtiyar walaupun secara munfarid di rumah, kemudian shalat kembali berjamaah bersama penguasa di akhir waktu. Semua ini untuk menjaga persatuan umat.

Al-Allamah al-Albani rahimahullah berkata, “Jika sudah menjadi kebiasaan para penguasa mengakhirkan shalat dari waktu ikhtiyar, keharusan seorang muslim adalah tetap shalat pada waktunya di rumahnya kemudian (mengulangi) shalat bersama penguasa ketika mereka shalat. Shalat kedua ini adalah sunnah baginya….” (Lihat ats-Tsamaral-Mustathab [1/86])

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Dalam hadits ini (ada faedah) bahwasanya jika seorang penguasa mengakhirkan shalat dari waktu yang awal (dan melakukannya di akhir waktu) disunnahkan bagi makmum untuk melakukan shalat di awal waktu secara munfarid (bersendiri) kemudian mengulangi shalat bersama dengan imam….” (al-Minhaj)

Apa Hikmahnya?

Perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas mengandung hikmah yang sangat besar, di antaranya menjaga ijtima’ul kalimah (persatuan kaum muslimin).

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad hafizhahullah menerangkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan bahwasanya akan muncul sepeninggal beliau penguasa-penguasa yang mereka mengakhirkan shalat dari waktunya, kemudian beliau memberikan arahan (bimbingan) kepada orang yang (mau) mengikuti petunjuk beliau agar ia melakukan shalat pada waktunya kemudian melakukannya berjamaah bersama penguasa, dengan itu tercapailah dua keutamaan, keutamaan shalat di awal waktu, serta keutamaan persatuan umat dan merapatkan barisan. (Muhadharah Syarah Sunan Abi Dawud)

Persatuan dan Meninggalkan Perpecahan adalah Pokok Penting dalam Agama

Ayat-ayat al-Qur’an dan haditshadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjukkan pokok yang sangat agung ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu (masa jahiliah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hati kalian, lalu menjadilah kalian karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kalian telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kalian darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada kalian, agar kalian mendapat petunjuk.” (Ali Imran: 103)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَا ثًا، أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئاً، وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا، وَأَنْ تُنَاصِحُوا مِنْ وَلاَّهُ اللهُ أَمْرَكُمْ

“Sesungguhnya Allah ridha bagi kalian tiga hal : kalian beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun, kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya dan tidak berpecah-belah, kalian menasihati orang yang Allah menjadikannya sebagai penguasa kalian….” (HR. Ahmad)

Ayat-ayat dan hadits-hadits yang menetapkan pokok ini sangat banyak di dalam al-Qur’an, namun betapa banyak umat Islam yang lupa akan pokok yang agung ini, hingga umat pun bercerai-berai dalam firqah-firqah yang demikian banyak.

Hanya dengan kembali kepada al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman sahabat sajalah umat akan kembali bersatu.

Menaati Penguasa dalam Perkara yang Ma’ruf, Sebab Persatuan Umat

Hadits Abu Dzar al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan atau menganjurkan setiap insan muslim menjaga persatuan di bawah penguasa muslim dan tidak melakukan perkara-perkara yang menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslimin dengan menentang penguasa muslim.

Sebagaimana dimaklumi, keberadaan penguasa (waliyul amri) adalah perkara yang sangat mendesak dan harus ada, untuk mengurusi perkara-perkara agama seperti puasa, ied, haji, dan jihad fi sabilillah, demikian pula untuk tertanganinya urusan dunia kaum muslimin.

Karena pentingnya pemimpin, para sahabat memandang untuk segera menetapkan kekhilafahan sebelum memakamkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebelum berkobar fitnah karena kekosongan kepemimpinan, terpilihlah Abu Bakr ash-Shiddiq z sebagai khalifah dengan ijma’ (kesepakatan) seluruh sahabat radhiyallahu ‘anhum. Sejarah pun mencatat betapa besar jasa Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam meredam badai fitnah yang menimpa umat pasca-wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.1

Tanpa penguasa, kaum muslimin tidak akan terurusi urusan dunia sebagaimana tidak akan terurusi urusan agama mereka, bahkan sudah barang tentu kekacauan dan ketidakstabilan akan muncul dengan dahsyat. Kemudian, keberadaan penguasa tidak akan berarti dan maslahat tidak akan terwujud kecuali jika mereka ditaati, tentunya dalam perkara yang ma’ruf.

Oleh karena itulah menaati pemerintah termasuk salah satu pokok-pokok penting akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” (an- Nisa: 59)2

Beribadah Bersama Pemerintah

Termasuk bentuk ketaatan yang diperintahkan adalah menunaikan ibadah yang sifatnya jama’i bersama mereka seperti shalat, puasa, hari raya dan jihad, meskipun mereka adalah penguasa yang fasik.

Beribadah bersama penguasa meskipun mereka fasik adalah salah satu pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah sebagaimana dinukilkan dalam kitab-kitab akidah salaf.

AL Imam al Barbahari rahimahullah (329 H) berkata, “Haji dan jihad terus berlangsung bersama pemimpin (penguasa/pemerintah). Dan shalat Jum’at di belakang mereka boleh.”

Al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ibrahim al-Isma’ili rahimahullah (371 H) berkata, “Ahlul hadits (Ahlus Sunnah wal Jamaah) berkeyakinan (boleh dan sahnya) shalat Jum’at dan selainnya di belakang seluruh penguasa muslim yang baik atau jahat; karena Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan shalat Jum’at untuk kita datangi dengan perintah yang mutlak3, dan Allah Maha Mengetahui bahwa para penegak shalat Jum’at di antara mereka ada yang fasik dan jahat, namun Allah Subhanahu wata’ala tidak mengkhususkan waktu tertentu, tidak pula mengecualikan perintah tersebut.4

Maksud ucapan al-Isma’ili, seandainya shalat di belakang pemerintah yang jahat tidak boleh dan tidak perlu dipenuhi seruannya, niscaya perintah Allah Subhanahu wata’ala tidak bersifat mutlak. Dua nukilan di atas kiranya cukup untuk menunjukkan kesepakatan Ahlus Sunnah dalam pokok yang agung ini, dan seandainya perkataan imam-imam Ahlus Sunnah kita nukilkan sebagian besarnya niscaya akan menjadi sebuah pembahasan yang sangat panjang.

Puasa dan Ied bersama Pemerintah

Di antara ibadah yang dilakukan bersama pemerintah adalah shaum (puasa) dan hari raya sebagaimana telah dibahas pada rubrik-rubrik yang lain. Kami tambahkan di sini beberapa hal. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الصَّوْمُ يَوْمَ تَصُومُونَ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ تُفْطِرُونَ، وَالْأَضْحَى يَوْمَ تُضَحُّونَ.

“Hari berpuasa adalah hari yang manusia berpuasa, hari berbuka adalah hari yang manusia berbuka,  dan hari menyembelih adalah hari yang manusia menyembelih.” (HR. at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Silsilah ash-Shahihah 1/389 no. 224)

At-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah meriwayatkan hadits, “Sebagian ahul ilmi menafsirkan hadits ini: Makna hadits bahwasanya puasa dan berbuka adalah bersama jamaah (muslimin) dan mayoritas manusia.”

Ash-Shan’ani rahimahullah berkata dalam kitabnya Subulus Salam (72/2),“Dalam hadits ini ada dalil bahwasanya yang dijadikan patokan penentuan ied adalahmenyesuaikan dengan manusia  (bersama penguasa), dan seseorang yang bersendiri melihat hilal ied wajib atasnya tetap menyesuaikan manusia serta mengikuti keputusan masyarakat dalam shalat, berbuka, dan menyembelih.”

Asy-Syaikh al-Albani berkata, “Makna inilah5 yang dipahami dari hadits. Diperkuat bahwasanya Aisyah radhiyallahu ‘anha berhujah dengan makna ini kepada Masruq6 ketika suatu saat Masruq tidak melakukan puasa Arafah (yang ditentukan penguasa ketika itu) hanya karena kekhawatiran (janganjangan) hari itu adalah hari nahr (ied). Aisyah radhiyallahu ‘anha menjelaskan kepadanya bahwa pendapatnya (yakni Masruq) tidak dianggap (dalam masalah ini), (muslimin). Beliau lalu berkata,

النَّحْرُ يَوْمَ يَنْحَرُ النَّاسُ، وَالْفِطْرُ يَوْمَ يُفْطِرُ النَّاسُ

“Hari nahr adalah hari yang manusia menyembelih kurban-kurban mereka dan hari berbuka adalah hari yang manusia berbuka’.” (Riwayat ini jayyid sanadnya dengan riwayat sebelumnya)

Al-Albani rahimahullah selanjutnya berkata, “Inilah makna yang sesuai dengan syariat yang penuh kebaikan yang salah satu tujuannya adalah mempersatukan manusia dan merapatkan shaf-shaf mereka serta menjauhkan umat dari semua perkara yang memecah belah persatuan berupa pendapat-pendapat pribadi (golongan).

Syariat tidak menganggap pendapat pribadi dalam ibadah-ibadah jama’i -meskipun benar menurut pendapatnya- seperti puasa, penetapan ied, dan shalat jamaah. Tidakkah Anda perhatikan bagaimana para sahabat? Mereka shalat di belakang sahabat lainnya dalam keadaan ada di antara mereka yang berpendapat menyentuh wanita, zakar, dan keluarnya darah membatalkan wudhu sedangkan lainnya tidak menganggapnya membatalkan wudhu; di antara mereka ada yang menyempurnakan shalat dalam safar, di antara mereka ada yang mengqasharnya; sungguh perbedaan mereka ini tidak menghalangi mereka untuk bersatu di belakang satu imam dan menganggap sahnya shalat bersamanya (meskipun ada perbedaan-perbedaan tersebut), karena mereka mengetahui bahwasanya perpecahan dalam agama lebih jelek dari perbedaan dalam sebagian pendapat.

Bahkan, sampai sebagian mereka benar-benar tidak memedulikan pendapat pribadinya yang menyelisihi al-Imam al-A’zham (amirul mukminin) dalam perkumpulan yang besar seperti (berkumpulnya seluruh kaum muslimin dalam ibadah haji) di Mina, mereka (sahabat) benar-benar meninggalkan pendapat pribadi di saat berkumpulnya manusia. Semua itu untuk menghindari akibat buruk yang mungkin terjadi dengan sebab mengamalkan pendapat pribadi.

Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan (dalam Sunan-nya [1/307]) bahwa Utsman shalat di Mina empat rakaat. Berkatalah Ibnu Mas’ud mengingkari perbuatan Utsman, “Aku shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam (di Mina) dua rakaat (yakni diqashar), bersama Abu Bakr dua rakaat, bersama Umar juga dua rakaat, bersama Utsman di awal pemerintahannya juga demikian. Namun, kemudian ia sempurnakan (empat rakaat)….” Akan tetapi, Ibnu Mas’ud tetap shalat empat rakaat (di belakang Utsman). Beliau pun ditanya, “Engkau salahkan Utsman, tetapi engkau shalat di belakangnya?!”

Ibnu Mas’ud menjawab,

الْخِلَافُ شَرٌّ

“Perselisihan itu kejelekan.”

Yang semisal dengan ini diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah (5/155) dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhai segenap sahabat. Renungkanlah hadits ini dan atsar sahabat yang telah disebutkan, wahai orang yang terus-menerus bercerai-berai dalam shalat-shalat mereka dan tidak mau bermakmum kepada imam-imam masjid, seperti shalat witir di bulan Ramadhan dengan alasan imam-imam masjid berbeda mazhabnya dengan mazhab mereka!

Sebagian mereka merasa bangga dengan ilmu falak, lalu berpuasa dan beridul fitri mendahului atau lebih akhir dari jamaah kaum muslimin (bersama pemerintahnya). Ia lebih menganggap pendapatnya dan amalannya tanpa memedulikan penyelisihannya terhadap kaum muslimin dan pemerintahnya.

Hendaknya mereka merenungkan ilmu apa yang saya sebutkan. Semoga mereka mendapatkan obat atas kejahilan dan ujub yang bersarang dalam dada mereka.

Semoga mereka mau menjadi satu shaf  bersama saudara-saudaranya kaum muslimin, karena Tangan Allah bersama jamaah.” (Diringkas dengan beberapa perubahan dari Silsilah ash-Shahihah). Wallahu a’lam.

Di Bawah Naungan Keindahan & Kesempurnaan Syariat Allah Subhanahu wata’ala

Kemaslahatan Hidup dalam Syariat yang Bijaksana

Allah Subhanahu wata’ala telah menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-sebaik makhluk di dunia ini. Segala yang terkait dengan hidupnya telah Dia persiapkan. Tidak ada sekecil apa pun yang mereka butuhkan dalam hidup, kecuali telah dipenuhi oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Tidak ada seorang dari mereka yang dizalimi oleh Allah Subhanahu wata’ala. Namun, berapa dari manusia yang mengetahui bahwa hal itu adalah pemberian ilahi untuk disyukuri? Yang terjadi, kebanyakan mereka justru kufur terhadapnya.

Sebelum Allah Subhanahu wata’ala menciptakan mereka, bahkan sebelum Allah Subhanahu wata’ala menciptakan langit dan bumi dengan jarak lima puluh ribu tahun, Allah Subhanahu wata’ala telah mencatat dan menulis ketentuan hidup mereka. Apa yang akan mereka kerjakan, apa yang akan mereka dapatkan, semuanya ada dalam catatan dan tidak ada yang luput darinya.

كَتَبَ اللهُ مَقَادِيرَ الْخَ ئَالِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah Subhanahu wata’ala telah menulis takdir-takdir makhluk sebelum Allah Subhanahu wata’ala menciptakan langit dan bumi 50.000 tahun.” (HR. Muslim no. 4797 dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma)

Dialah yang berbuat, Dialah yang berkehendak dan Dialah yang Mahabijaksana dalam segala-galanya.

إِنَّ رَبَّكَ فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

Sesungguhnya Rabbmu Maha Berbuat apa yang Dia inginkan.” (Hud: 107)

وَمَا اللَّهُ يُرِيدُ ظُلْمًا لِّلْعَالَمِينَ

“Dan Allah tidak menginginkan kezaliman sedikit pun terhadap alam ini.” (Ali Imran: 108)

Keindahan dan kebijaksanaan Allah Subhanahu wata’ala yang terhampar di alam ini yang disaksikan secara kasatmata, yang bisa dirasa dan diraba oleh pancaindra, yang diakui oleh fitrah dan diyakini oleh hati, benar-benar membuktikan bahwa Dialah Zat yang satu yang telah mengaturnya serta Dialah Zat Yang Mahabijaksana yang telah menentukan dan menciptakannya.

Keadilan dan kebijaksanaan-Nya dalam pengaturan dan pencatatan takdir setiap makhluk-Nya menunjukkan keadilan dan kebijaksanaan Allah Subhanahu wata’ala dalam menentukan aturan hidup di dalam syariat-Nya.

Segala hal yang terkait dengan hidup ini ada aturannya di dalam syariat Allah Subhanahu wata’ala yang bila dikaji dengan dasar iman dan ilmu yang lurus, niscaya kita akan menemukan bentuk keadilan yang tiada tara. Kesempurnaan aturan di dalam syariat ini sangatlah sesuai dengan kemaslahatan hamba-hamba-Nya.

Allah Subhanahu wata’ala telah menentukan syariat yang khusus bagi kaum pria, tidak untuk kaum wanita, begitu juga sebaliknya. Namun, keumuman syariat-Nya diperuntukkan bagi keduanya, pria atau wanita. Di dalam penentuan kekhususan itu benar-benar Allah Maha Bijaksana sehingga tidak ada satu makhluk pun yang dizalimi oleh satu aturan pun. Dia juga telah menentukan kodrat yang berbeda antara kaum pria dan wanita dengan kebijaksanaan-Nya. Maka dari itu, saat wanita atau kaum pria mencoba untuk melakukan perubahan kodrat pria ke wanita atau sebaliknya, kita menemukan adanya kecaman dari Zat yang Maha Bijaksana dan dari Rasul-Nya. Di antaranya,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. al-Bukhari no. 5435 dan Ibnu Majah no. 1894 dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

Allah Subhanahu wata’ala juga mengecam saat kaum wanita mencoba mengambil alih posisi yang itu dipikul oleh kaum pria menurut pandangan syariat-Nya, seperti sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Tidak akan beruntung suatu kaum jika mereka menyerahkan urusannya kepada kaum wanita.” (HR. al-Bukhari no. 4073 dan 6570 dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu)

Meluruskan Paham, Menyatukan Tujuan

Keadilan Allah Subhanahu wata’ala dalam takdir dan syariat-Nya mendapat protes dari sebagian hamba-Nya, jika tidak dikatakan mayoritas mereka. Hal ini terbukti dengan kelangkaan orang yang benar-benar lurus dalam memahami Islam dan mengamalkannya, serta langkanya orang yang berakidah yang benar.

Karena itu, saat mendapatkan ujian berupa musibah, sebagian orang enggan untuk mengembalikannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ironisnya, mereka mengangkat tandingan-tandingan bagi Allah Subhanahu wata’ala, seperti paranormal alias dukun, kuburan, atau tempat yang dikeramatkan. Bukankah ini bentuk kezaliman terhadap Zat Yang Maha Adil? Bukankah ini bentuk protes terhadap syariat-Nya yang telah melarang berbuat syirik?

Usaha yang dilakukan oleh hamba-Nya dalam menambah dan mengurangi keabsahan, kesempurnaan, dan keindahan syariat-Nya dengan menghidupkan berbagai bid’ah, juga merupakan bentuk protes mereka terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala yang adil dan sempurna ini.

Demikian juga mengubah kodrat dari wanita ke pria dan sebaliknya, juga merupakan bentuk protes mereka terhadap takdir Allah Subhanahu wata’ala Kapan manusia tidak lagi menuntut?  Tentu saat mereka masuk ke liang lahad dan mengerti tempat yang akan dihuninya, surga atau neraka.

Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk berbuat adil dan melarang mereka untuk berbuat zalim. Adil dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wata’ala, dengan dirinya, dan di saat bermuamalah dengan orang lain. Sebagaimana yang telah ditegaskan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

وَأَقْسِطُوا ۖ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

“Dan hendaklah kamu berlaku adil! Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil.” (al-Hujurat: 9)

Bentuk keadilan dalam bermuamalah dengan Allah Subhanahu wata’ala adalah Anda mengetahui bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Anda banyak nikmat, lalu Anda mensyukurinya. Allah Subhanahu wata’ala telah menjelaskan kepada

Anda kebenaran dan jalan-jalan yang akan menyampaikan kepada diri-Nya dan surga-Nya, lalu Anda menerima dan melaksanakannya. Bentuk keadilan Anda terhadap orang lain adalah Anda bermuamalah bersama mereka dengan jalan yang Anda suka jika mereka bermuamalah dengan Anda.

Perintah dari Allah Subhanahu wata’ala untuk berbuat adil diselewengkan kalimatnya dengan bahasa yang indah namun berlintah, yaitu istilah “kesetaraan”. Penyelewengan ini telah menelan banyak korban kaum muslimin tanpa disadari. Sebab, istilah ini termasuk slogan orang-orang kafir untuk menghancurkan Islam. Kaum komunis telah berusaha dengan slogan ini menjerat orang-orang Islam agar meninggalkan keadilan agamanya dan meluluhlantakkan mereka.

Dengan slogan “persamaan hak”, mereka menafikan adanya jurang pemisah antara hak pria dan wanita. Artinya, menurut mereka, pria dan wanita memiliki hak yang sama; hak pemerintah dengan rakyat juga sama sehingga tidak ada kekuasaan pemerintah atas rakyatnya; hak ayah atas anaknya sehingga ayah tidak memiliki kekuasaan untuk mengatur, memerintah, dan melarang anaknya.

Sungguh, slogan ini telah diadopsi oleh orang Islam dan mereka mengumandangkannya untuk menggugat, memprotes keadilan Allah Subhanahu wata’ala, di dalam syariat-Nya. (lihat faedah ringkas dengan ringkas SyarahAqidah Wasithiyyah asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin hlm. 189)

Tidak Puas dengan Syariat-Nya, Sebuah Malapetaka

Menyibak berkah di dalam syariat Allah Yang Mahabijaksana sangat erat hubungannya dengan sikap keistiqamahan menjalankan syariat Allah Subhanahu wata’ala secara kaffah (menyeluruh), menerima semua yang datang dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sungguh, generasi pertama umat inilah yang pertama kali mengantongi banyak berkah dalam kehidupan. Mereka adalah generasi yang aslam (paling selamat), ahkam (paling kokoh), dan a’lam (yang paling mumpuni ilmunya) tentang agama Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus generasi yang paling tinggi tingkat pengamalannya terhadap Islam.

Adapun generasi kita adalah generasi yang sangat alot dan manja. Alot dari menerima kebenaran yang datang dari Allah Subhanahu wata’ala, manja karena tidak mau menerima risiko apabila berada di atas kebenaran. Akibatnya, generasi ini berada dalam keadaan yang menyedihkan dan memilukan. Banyak syariat yang ditolak dan ditentangnya tanpa rasa takut sedikit pun.

Tidakkah cukup bagi Anda jika syariat yang Anda tolak itu datang dari Allah Yang Mahabijaksana, atau Anda masih menyangka ada syariat al-hakim yang perlu direvisi?

Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya kesyirikan dengan segala macamnya? Bagaimana pendapat Anda bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan segala bentuk kebid’ahan dalam agama dengan segala bentuknya? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya khamr, judi, dan mengundi nasib? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya riba? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya ikhtilath (campur baur) pria dan wanita? Bagaimana pendapat Anda tentang haramnya zina? Bagaimana pendapat Anda tentang syariat Allah Subhanahu wata’ala agar wanita itu tinggal di rumah-rumah mereka? Bagaimana pendapat Anda tentang kewajiban mencari nafkah itu ada di pundak kaum pria? Bagaimana pendapat Anda tentang syariat wanita berpergian jauh/safar harus bersama mahramnya? Bagaimana pendapat Anda jika agama telah mengharamkan berjabat tangan antara pria dan wanita yang bukan mahram? Bagaimana pendapat Anda tentang syariat talak (perceraian) ada di tangan suami? Apa komentar Anda jika Allah Subhanahu wata’ala telah membolehkan bagi kaum pria untuk beristri lebih dari satu?

Apa dan bagaimana komentar Anda terhadap syariat-syariat-Nya yang lain? Masih adakah syariat Allah Subhanahu wata’ala yang perlu direvisi menurut Anda yang mungkin tidak sesuai dengan hikmah penciptaan manusia ini? Atau masih adakah aturan agama yang mengatur kehidupan kaum wanita dan mengatur batas-batas pergaulan mereka yang mengandung ketidakadilan?

Atau, Anda akan mengatakan, “Kami mendengar dan patuh, semuanya untuk kemaslahatan kami”?

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah beliau takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur : 63)

Ibnu Katsir rahimahullah di dalam tafsirnya mengatakan, “Hendaklah takut orangorang yang menyalahi perintahnya. Artinya, perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, jalan, manhaj, sunnah, dan syariat beliau. Jadi, semua ucapan dan perbuatan diukur dengan ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatannya. Apabila sesuai, akan diterima. Jika tidak, tentu ditolak, siapa pun yang mengucapkan dan melakukannya, sebagaimana dalam riwayat sahih dalam kitab Shahihain dan selain keduanya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa melakukan sesuatu yang tidak ada bimbingannya dariku, amalnya ditolak.”

Hendaklah takut orang-orang yang menyelisihi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik penyelisihan batiniah maupun lahiriah, apabila hati mereka ditimpa fitnah yang berupa kekafiran, kefasikan, dan kebid’ahan, atau mereka ditimpa oleh azab yang pedih di dunia dalam bentuk pembunuhan, dihukum had, dipenjarakan,dan sebagainya.(Lihat TafsirIbnu Katsir 4/89)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَجُعِلَ الذِّلَّةُ وَالصَّغَارُ عَلَى مَنْ خَالَفَ أَمْرِي

“Dijadikan rendah dan hina orang yang menyelisihi perintahku.” (HR. Ahmad no. 4868 dari sahabat Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Bingung, Akhir Ilmu Filsafat

Sungguh telah berlalu orang-orang yang telah mencoba memperlihatkan ketidakpuasan mereka dengan syariat agama yang lurus dan manhaj Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang ma’shum (terpelihara dari kesalahan dan kekeliruan) lalu mengambil jalur yang lain sehingga menjadi orang yang merana dalam kebimbangan dan kebingungan.

Inilah Abu Hasan al-Asy’ari rahimahullah. Beliau tumbuh di tengah aliran Mu’tazilah selama empat puluh tahun dan mendebat (siapa pun) di atas aliran tersebut, lalu berlepas diri darinya dan tampil menjelaskan kesesatan Mu’tazilah serta membantahnya dengan keras.

Inilah Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah. Bersama dengan kecerdasannya yang sangat, keahliannya dan kepintarannya dalam masalah ilmu kalam dan filsafat, kezuhudan, melatih diri (kontemplasi), tasawuf, ternyata semua masalah ini berakhir pada sikap tawaqquf (terbungkam) dan bingung. Di akhir hayatnya, dia memberi arahan ke jalan ahli kasyaf, walaupun setelah itu dia kembali ke jalan ahli hadits dan menulis Iljamul ‘Awam ‘an ‘Ilmil Kalam.

Lain halnya dengan Abu Abdillah Muhammad bin Umar ar-Razi rahimahullah. Dia berkata di dalam kitabnya, Aqsamul Ladzdzat, “Sungguh saya telah mendalami ilmu kalam dan jalan ilmu filsafat. Saya tidak menemukan sesuatu yang bisa menyembuhkan sakit dan menghilangkan dahaga. Saya justru menemukan jalan yang benar adalah jalan al-Qur’an. Saya membaca dalam hal itsbat (menetapkan nama dan sifat Allah Subhanahu wata’ala),

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Ar-Rahman (Allah Yang Maha Pemurah), yang beristiwa’ di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ

“Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh diangkat.” (Fathir: 10)

Dan saya membaca tentang nafi (meniadakan sifat-sifat yang tidak patut bagi Allah Subhanahu wata’ala),

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.” (asy-Syura: 11)

وَلَا يُحِيطُونَ بِهِ عِلْمًا

“Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Thaha: 110)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا

“Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan dia (yang patut disembah)?” (Maryam: 65)

Lalu dia berkata, “Barang siapa mencoba seperti percobaanku, dia akan tahu seperti apa yang aku tahu.”

Beliau sering melantunkan syair berikut,

Akhir dari mendahulukan akal adalah kebingungan

Dan kebanyakan usaha manusia ini sesat

Ruh-ruh kita berada dalam kengerian jasad

Dan hasil dari dunia kita adalah menyakitkan dan sia-sia

Kami tidak menemukan dalam pencarian sepanjang umur

Melainkan hanya mengumpulkan kata Fulan dan kata Allan

Inilah Abul Ma’ali al-Juwaini. Ia meninggalkan apa yang dahulu dianut dan didalaminya, lalu memilih jalan salaf. Dia berkata, “Wahai para murid kami, jangan kalian menyibukkan diri dengan ilmu kalam. Jika saya mengetahui bahwa ilmu kalam akan menyampaikan saya kepada kondisi ini, niscaya saya tidak akan menyibukkan diri dengannya.”

Dia juga berkata saat meninggal, “Sungguh, saya telah menyelami lautan samudra. Saya meninggalkan orang-orang Islam dan ilmu mereka, dan saya masuk ke dalam apa yang mereka larang. Sekarang, jika Allah Subhanahu wata’ala tidak menyelamatkanku dengan rahmat-Nya, celakalah Ibnu Juwaini. Inilah saya, meninggal di atas akidah ibuku, (atau dia berkata) di atas akidah orang-orang tua Naisabur.”

Demikian pula yang diucapkan oleh Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Karim asy-Syahrastani rahimahullah. Beliau memberitakan bahwa dirinya tidak menemukan di sisi ahli filsafat dan ahli kalam selain kebingungan dan penyesalan.

Terkadang, beliau melantunkan, “Sungguh saya berkeliling di beberapa madrasah dan saya arahkan pandangan kepada orang-orang pintarnya. Saya tidak melihat kecuali mereka meletakkan telapak tangan di bawah dagunya dalam kebingungan atau menggeletukkan giginya karena menyesal.” (Majmu’ Fatawa, 4/72)

Keberanian & Kesabaran Menjalankan Syariat

Sikap menerima dan patuh dalam menjalankan syariat adalah sikap dan perilaku orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka menyambut dengan cepat segala apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam hidupnya, bahkan dia melakukan perlombaan untuk meraih dan mendapatkan yang lebih baik dan bernilai di hadapan Allah Subhanahu wata’ala. Suri teladan mereka adalah para rasul Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (al-Anbiya: 90)

Hidupnya dipersembahkan untuk Allah Subhanahu wata’ala karena dia mengetahui bahwa dia pasti akan kembali kepada-Nya dan akan disodorkan kepadanya dua pertanyaan: Apa yang dahulunya kalian sembah? Dan bagaimana tanggapanmu terhadap rasul yang diutus?

Al-Imam Qatadah dan Abu ‘Aliyah berkata, “Dua kalimat yang akan ditanya umat terdahulu dan belakangan, “Apa yang dahulunya kalian sembah? Dan bagaimana tanggapan kamu kepada para rasul?”

فَوَرَبِّكَ لَنَسْأَلَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ () عَمَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Maka demi Rabbmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua. Tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu.’ (al-Hijr : 92-93)

فَلَنَسْأَلَنَّ الَّذِينَ أُرْسِلَ إِلَيْهِمْ وَلَنَسْأَلَنَّ الْمُرْسَلِينَ

“Sesungguhnya Kami akan menanyai umat-umat yang telah diutus rasul-rasul kepada mereka dan sesungguhnya Kami akan menanyai (pula) rasul-rasul (Kami).” (al-A’raf: 6)

لِّيَسْأَلَ الصَّادِقِينَ عَن صِدْقِهِمْ ۚ وَأَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا أَلِيمًا

“Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang jujur tentang kejujuran mereka.” (al-Ahzab: 8)

Pertanyaan pertama tentang keikhlasan dan yang kedua tentang mutaba’ah (lihat Ighatsatul Lahafan 1/83, Madarijus Salikin 1/341).

Dia meyakini dunia yang ditempatinya ini akan berakhir, tidak ada kekekalan kecuali di sisi Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada keabadian kecuali kelak di akhirat. Bila dia menemukan di alam hidupnya ada satu bagian dari syariat belum dikerjakannya maka dia menengadahkan tangannya meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala kekuatan untuk bisa melaksanakan syariat tersebut. Dia mengetahui bahwa di dalam syariat itu terdapat kemaslahatan bagi manusia secara menyeluruh, terkhusus bagi orangorang yang beriman kepadanya. Apakah sikap beriman jika menerima satu syariat dan menolak yang lain? Apakah sikap orang yang beriman dengan sempurna jika ada satu syariat masih mengganjal di hati alias tidak menerima?

Orang yang beriman menyadari bahwa Allah Subhanahu wata’ala mensyariatkan di atas ilmu dan kebijaksanaan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui segala aturan yang mendatangkan maslahat dan yang akan menyebabkan adanya mudarat.

Saudaraku, lapangkan dada Anda untuk menerima segala ketentuan Allah Subhanahu wata’ala di dalam syariatnya. Apabila Anda menemukan ada tuntunan yang berat untuk Anda kerjakan, koreksilah iman Anda, koreksi hati dan jiwa Anda. Mengapa?

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا () وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (asy-Syams: 9-10)

Ikhlaskan hati, dan khusyukkan jiwa untuk meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala agar mendapatkan keberkahan hidup, bantuan dan pertolongan-Nya untuk menjalankan syariat-Nya.

Jangan mencela, jangan membenci, dan jangan melecehkan! Kitalah yang pantas untuk dicela.

Oleh : al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Tunaikan Kewajibanmu, Engkau akan Dapatkan Hakmu

Allah Subhanahu wata’ala adalah satu-satunya sesembahan kita yang berhak menerima berbagai peribadahan. Dia Subhanahu wata’ala adalah Zat yang memiliki nama-nama dan sifat-sifat yang sempurna, sehingga semua perbuatan-Nya senantiasa mengandung hikmah dan keadilan.

Di antara bukti yang menunjukkannya, Allah Subhanahu wata’ala menjadikan dunia yang fana ini sebagai medan ujian dan cobaan bagi seluruh hamba-Nya. Siapa di antara mereka yang taat dan siapa yang bermaksiat; siapa di antara mereka yang berhak mendapatkan rahmat-Nya dan siapa yang berhak mendapatkan kemurkaan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan hal itu di dalam firman-Nya,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (al-Mulk: 2)

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan sebagian kita sebagai ujian dan cobaan bagi sebagian yang lainnya, sebagaimana firman-Nya,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا

“Dan Kami jadikan sebagiankamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)

Termasuk ujian dan cobaan dari Allah Subhanahu wata’ala yang diberitakan dalam ayat ini adalah para penguasa bagi rakyatnya. Tujuannya, menurut Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya, adalah “maukah kalian bersabar, sehingga kalian menegakkan kewajiban-kewajiban, yang dengan sebab itu Allah Subhanahu wata’ala akan memberi pahala, ataukah kalian justru tidak mau bersabar hingga mengakibatkan kalian mendapat siksa?”

Di antara kewajiban kaum muslimin terhadap para penguasanya berdasarkan syariat Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya adalah sebagai berikut.

Mencintai Mereka Karena Allah Subhanahu wata’ala

Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk mencintai mereka karena-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan bahwa di antara sifat pemimpin yang baik adalah dicintai oleh rakyatnya, sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,

>خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ وَ يُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَ شِرَا رُ أَ ئِمَّتِكُمْ الَّذِ يْنَ تُبْغِضُو نَهُمْ وَ يُبْغِضُو نَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَ نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ : لَا ، مَا أَقَامُوا فِيكُمُ الصَّلَاةَ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian cintai dan yang mencintai kalian, mereka mendoakan kebaikan bagi kalian dan kalian mendoakan kebaikan bagi mereka. Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah para pemimpin yang kalian benci dan yang membenci kalian, kalian melaknati (mendoakan keburukan) bagi mereka dan mereka melaknati kalian.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab,“Tidak, selama mereka menegakkan shalat di antara kalian.” (HR. Muslim dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

>Oleh karena itu, hendaknya kaum muslimin secara umum dan para dai secara khusus menebarkan dan menguatkan kecintaan mereka terhadap para penguasa karena Allah Subhanahu wata’ala, seperti kata al-‘Allamah Ibnu Jama’ah al-Kinani rahimahullah, “Di antara sepuluh hak penguasa adalah kembalinya hati yang sempat membencinya dan terkumpulnya kecintaan rakyat kepadanya. Sebab, kedua hal ini mengandung kemaslahatan dan kebaikan bagi umat, serta akan menjadikan teraturnya urusan agama.” (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 55)

Kecintaan kaum muslimin terhadap para penguasa karena Allah Subhanahu wata’ala akan terealisasi dengan :

  • Membantu mereka dalam rangkamenegakkankewajiban mereka karena Allah Subhanahu wata’ala.

Al-‘Allamah Ibnu Jama’ah rahimahullah berkata, “Di antara hak-hak penguasa atas rakyatnya adalah memikul tanggung jawabnya terhadap umat dan menolongnya sesuai dengan kemampuannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

تَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

“Dan tolong-menolonglah dalam kebaikan dan ketakwaan, janganlah tolong-menolong dalam dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Yang paling berhak untuk dibantu dalam urusan tersebut adalah para penguasa. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 55)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seluruh anak Adam, kepentingan-kepentingan mereka, baik yang berkaitan dengan dunia maupun akhirat, tidak akan menjadi sempurna kecuali dengan bersatu, saling membantu, dan juga saling menolong. Mereka saling membantu dalam upaya meraih hal yang bermanfaat bagi mereka dan saling menolong dalam upaya menepis berbagai macam perkara yang akan membahayakan mereka. Oleh karena itulah, dikatakan bahwa manusia memiliki tabiat-tabiat yang berdekatan (antara satu dengan lainnya).

Apabila mereka berkumpul, pasti mereka memiliki kepentingan bersama yang harus mereka tunaikan untuk meraih hal yang bermanfaat bagi mereka dan juga memiliki urusan yang harus mereka hindari, karena perkara itu merugikan mereka sehingga mereka harus menaati pemimpinnya agar tercapai tujuannya.” (al-Hisbah, hlm. 2)

  • Bermuamalah bersama mereka dengan adab mulia, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kedua nabi-Nya, Musa dan Harun ‘alaihimas salam untuk mendakwahi Fir’aun la’natullah dalam firman-Nya,

اذْهَبْ أَنتَ وَأَخُوكَ بِآيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي () اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ () فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu beserta saudaramu dengan membawa ayat-ayat-Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat-Ku. Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kalian berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 42-44)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam Tafsir-nya, “Ayat ini mengandung pelajaran yang agung. Fir’aun la’natullah berada pada puncak kezaliman dan kesombongan, sedangkan Musa ‘alaihis sallam adalah pilihan Allah Subhanahu wata’ala di antara para hamba-Nya. Meskipun demikian, Allah Subhanahu wata’ala memerintah Nabi-Nya untuk tidak berbicara dengan Fir’aun kecuali dengan lemah lembut sebagaimana yang dikatakan oleh Yazid ar-Raqasyi tatkala menjelaskan ayat tersebut.

Asy-Syaikh Abdussalam bin Barjas rahimahullah mengatakan, terdapat larangan mencela para penguasa secara khusus karena akan menyulut api fitnah dan membuka pintu kerusakan terhadap umat.

Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah berkata, “Senantiasa umat manusia berada dalam kebaikan selama  mereka memuliakan sulthan (pemimpinnya) dan para ulama. Karena apabila mereka memuliakan keduanya, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memperbaiki urusan dunia dan akhiratnya. Apabila mereka melecehkan keduanya, niscaya mereka akan mendatangkan kerusakan urusan dunia dan akhiratnya.” (Tafsir al-Qurthubi, 5/260)

  • Menasihati mereka dalam urusan agama dan dunia dengan cara yang baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: لِلهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Untuk Allah Subhanahu wata’ala, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan kaum muslimin seluruhnya.” (HR. Muslim dari Tamim ad-Dari)

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Perbuatan menyebarkan kekurangan/aib para penguasa dan menyebutkannya melalui mimbar tidak termasuk manhaj salaf. Sebab, hal itu akan menimbulkan kekacauan, ketidaktaatan masyarakat dalam urusan yang baik serta pembicaraan yang membahayakan dan tidak ada manfaatnya (bagi mereka).”

Akan tetapi, cara yang tepat menurut salaf adalah menasihatinya dengan sembunyi-sembunyi (rahasia), dengan surat, atau dengan menghubungi para ulama yang akan mengarahkan mereka kepada kebaikan. Mengingkari kemungkaran seperti mengingkari zina, minum khamr, atau riba tanpa menyebutkan pelakunya. Cukup mengingkari macam-macam kemaksiatan dan memperingatkan umat darinya tanpa menyebutkan pelakunya, baik pelakunya dari kalangan penguasa atau selainnya.

Setelah mereka (ahlul fitnah) berhasil membuka pintu kejelekan itu pada zaman ‘Utsman dan mereka mengingkari ‘Utsman dengan terang-terangan. Lengkaplah fitnah, peperangan, dan kerusakan yang tidak akan berhenti karena dampak jelek yang ditimbulkannya sampai hari ini, sehingga muncullah fitnah antara Ali dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma, terbunuhnya ‘Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhuma karenanya, serta terbunuhnya sekian banyak para sahabat radhiyallahu ‘anhum dengan sebab mengingkari kemungkaran dan membeberkan kekurangan dengan terangterangan.

Pada akhirnya, orang yang paling mereka benci adalah pemimpin mereka dan pada puncaknya mereka membunuh pemimpin itu. (Huququ ar-Ra’i wa ar-Ra’iyah karya Ibnu‘Utsaimin, hlm. 27-28)

Mendengar dan Taat dalam Perkara yang Bukan Maksiat

Mendengar dan taat terhadap para penguasa kaum muslimin dalam perkara yang bukan maksiat adalah perkara yang telah disepakati kewajibannya menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Ini adalah salah satu prinsip yang membedakan mereka dengan ahlul bid’ah. Hampir tidak ada sebuah tulisan dalam permasalahan akidah Ahlus Sunnah kecuali di dalamnya dibahas dengan jelas tentang wajibnya mendengar dan taat kepada penguasa, walaupun mereka sewenang-wenang, zalim, fasik, dan jahat. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 59)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yangberiman, taatilah Allah, rasul, dan pemimpin kalian.” (an-Nisa’: 59)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib bagi setiap muslim untuk mendengar dan taat (kepada pemimpinnya) baik pada perkara yang disenangi maupun yang dibenci, kecuali kalau dia diperintah untuk berbuat maksiat.  Apabila dia diperintah untuk berbuat maksiat, tidak boleh mendengar dan taat (pada perkara itu).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma)

Dari ‘Alqamah bin Wa’il al-Hadhrami, dari ayahnya, beliau berkata, “Salamah bin Yazid al-Ju’fi radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Wahai Nabi Allah! Apa pendapatmu apabila yang memimpin kami adalah para penguasa yang meminta kami memenuhi hak mereka, tetapi mereka menghalangi hak kami. Apa yang engkau perintahkan kepada kami?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berpaling darinya, kemudian berulang dua atau tiga kali, sehingga al-Asy’ats bin Qais radhiyallahu ‘anhu menariknya dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,‘Dengar dan taatilah, hanyalah dibebankan kepada mereka segala sesuatu yang wajib mereka tunaikan dan kepada kalian segala sesuatu yang wajib kalian tunaikan’.” (HR. Muslim)

Maknanya, Allah Subhanahu wata’ala telah membebankan dan mewajibkan para penguasa untuk berbuat adil terhadap rakyatnya. Apabila mereka tidak melaksanakannya, maka mereka berdosa. Demikian pula Allah ‘azza wa jalla telah mewajibkan kepada rakyat untuk mendengar dan taat kepada mereka. Apabila mereka telah menunaikan kewajiban itu, maka mereka akan mendapatkan pahala. Kalau tidak melaksanakannya, maka mereka berdosa. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 66)

Adapun perkataan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Tidak boleh mendengar dan taat” bermakna pada perkara yang diperintahkan dan perbuatan maksiat saja. Apabila dia memerintahkan untuk menjalankan perekonomian dengan cara riba, agar membunuh seorang muslim tanpa alasan yang benar, atau semisalnya, maka harus mendurhakai perintah tersebut dan tidak boleh melaksanakannya.

Tidak boleh pula hadits itu dipahami bahwa jika seorang pemimpin memerintahkan perbuatan maksiat berarti tidak boleh ditaati secara mutlak pada seluruh perintahnya, tetap wajib untuk didengar dan ditaati, selain dalam urusan maksiat, maka tidak boleh mendengar dan taat. (Tahdzibur Riyasah, hlm. 113-114)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Para penguasa, walaupun binatang tunggangan itu bisa menari-nari dengan mereka dan rakyat berjalan di belakang mereka karena kemaksiatan itu dianggap ringan di dalam hati mereka, syariat tetap mengharuskan kita untuk menaatinya dan melarang kita untuk memberontaknya. Kita diperintahkan untuk menepis kejahatan mereka dengan tobat dan doa. Barang siapa yang menginginkan kebaikan, maka harus berpegang teguh dengan kebenaran dan mengamalkannya serta tidak menyelisihinya.” (Adab alhasanal-Bashri li Ibnil Jauzi, hlm. 121)

Sabar Menghadapi Kesewenangwenangan Mereka

Allah Subhanahu wata’ala dengan keadilan yang sempurna telah menakdirkan bahwa kemaksiatan dan kedurhakaan terhadap Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya adalah sumber kerusakan dan kehancuran di dunia serta kerugian dan kecelakaan di akhirat. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (ar-Rum: 41)

Dengan ayat ini kita yakin bahwa berbagai kezaliman dan kesewenangwenangan yang dilakukan oleh sebagian para penguasa itu semuanya terjadi dengan sebab dosa dan kesalahan kita.

Sungguh, al-Hasan al-Bashri menceritakan bahwa Malik bin Dinar memberitakan bahwa al-Hajjaj berkata, “Ketahuilah, tatkala kalian melakukan suatu dosa yang baru, Allah Subhanahu wata’ala akan mengadakan perkara yang baru pula pada penguasa sebagai balasan.” Sungguh telah sampai berita kepadaku bahwa ada seorang yang berkata kepada al-Hajjaj, ‘Sungguh engkau telah melakukan perbuatan demikian dan demikian kepada umat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,’ lantas dia menjawab, ‘Tentu, hanya saja aku adalah balasan bagi penduduk Irak tatkala mereka mengada-adakan perkara yang baru dalam agama mereka dan meninggalkan sebagian syariat yang dibawa oleh Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wasallam.’

Beliau rahimahullah juga berkata, ‘Sungguh telah sampai kepadaku berita bahwa ada seorang yang menulis surat kepada sebagian orang-orang saleh mengadukan tentang kesewenang-wenangan yang dilakukan oleh aparat negara.’ Kemudian dia menjawab, ‘Wahai saudaraku, telah sampai suratmu kepadaku yang kamu sebutkan tentang kesewenang-wenangan yang menimpamu dan sebagian aparat negara. Sudah sepantasnya orang yang telah melakukan suatu perbuatan maksiat kemudian mengingkari balasan/hukumannya dan tidaklah aku meyakini tentang perkara yang menimpamu itu kecuali kejelekan yang ditimbulkan oleh dosa-dosa. Wassalam’.”(Adab al-Hasan al-Bashri li Ibnil Jauzi, hlm. 119—120)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Kesewenang-wenangan dan kezaliman yang dilakukan oleh para penguasa, yang bersumber dari takwil -yang dibolehkan ataupun yang tidak- tidak boleh (menjadi alasan) untuk mengadakan kudeta, karena sikap ini termasuk kezaliman dan kesewenangwenangan.

Seperti kebiasaan yang dilakukan oleh mayoritas jiwa -berusaha menghilangkan keburukan dengan cara yang lebih buruk dan berusaha menghilangkan permusuhan dengan cara permusuhan yang lebih buruk- memberontak kepada penguasa akan menimbulkan kezaliman dan kerusakan yang lebih besar daripada kezaliman yang mereka lakukan.

Sikapilah dengan sabar, sebagaimana harus sabar tatkala memerintahkan perkara yang ma’ruf dan melarang yang mungkar atas kezaliman yang dilakukan oleh orang diperintah dan dilarang pada banyak tempat, seperti pada ayat al-Qur’an. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpakamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (Luqman: 17)

Perintahkan yang ma’ruf dan laranglah yang mungkar, sabarlah atas segala sesuatu yang menimpamu. (Majmu’ Fatawa, 28/179)

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan nikmat yang dilimpahkan kepada bani Israil dengan sebab kesabaran mereka menghadapi Fir’aun dan tentaranya dengan bimbingan Nabi Musa ‘alaihis sallam,

وَأَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِينَ كَانُوا يُسْتَضْعَفُونَ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ

“Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Rabbmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka.” (al-Araf: 137)

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kaum muslimin semuanya, sehingga termasuk orang-orang yang sabar. Amin.

Doa yang Mulia bagi Penguasa

Kebaikan dan keadilan para penguasa adalah harapan setiap muslim yang cemburu terhadap agamanya. Sebab, kebaikan dan keadilan mereka berarti kebaikan bagi para hamba dan negerinegerinya. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu tatkala menjelang meninggalnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Ketahuilah, bahwa umat manusia itu akan senantiasa berada dalam kebaikan selama para penguasa dan para pemberi petunjuknya (ulama) istiqamah memerhatikan mereka.”

Atsar di atas diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Sunan-nya kitab Ahlul Baqi pada bab “Fadhlul Imamul ‘Adil” dengan sanad yang sahih.

Di dalam Sunan itu pula, ada atsar dari al-Qasim bin Mukhaimirah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kebaikan dan kerusakan zaman kalian tergantung pada penguasa kalian. Apabila penguasa kalian baik, akan baik zaman kalian. Apabila penguasa kalian rusak, rusak pula zaman kalian.”

Kebaikan para penguasa itu kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala semata. Allah Subhanahu wata’ala yang memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus. Maka dari itu, setiap mukmin yang beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan hari akhir wajib mendoakan kebaikan bagi para penguasa agar mendapatkan hidayah, taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan berjalan di jalan yang diridhai, karena manfaatnya akan kembali kepada seluruh orang yang beriman di dunia dan di akhirat. (Mu’amalatul Hukkam, hlm. 131)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Sesungguhnya saya mendoakan kebaikan bagi pemimpin itu agar senantiasa lurus, mendapatkan hidayah, taufik, dan pertolongan pada waktu malam dan siang. Aku berkeyakinan hal itu wajib bagiku.” (as-Sunnah lil Khallal, 14)

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Kalau saja aku memiliki satu doa yang mustajab, maka aku tidak akan panjatkan kecuali untuk kebaikan imam (pemimpin).”

Beliau rahimahullah ditanya, “Bagaimana hal itu, wahai Abu Ali?” Beliau rahimahullah menjawab, “Apabila aku panjatkan doa itu untuk diriku, kebaikannya hanya untukku. Namun, apabila aku panjatkan doa itu untuk kebaikan imam, kebaikan imam akan mengakibatkan kebaikan hamba dan negara.” (Hilyatul Auliya’, 8/91)

Setelah meriwayatkan hadits Tamim ad-Dari radhiyallahu ‘anhu yang marfu’, “Agama itu nasihat,” Abu ‘Utsman Sa’id bin Ismail rahimahullah berkata, “Nasihatilah penguasa, perbanyaklah doa kebaikan, dan bimbingan dalam ucapan, perbuatan, dan keputusan hukum baginya. Sebab, apabila mereka baik, menjadi baiklah hamba-hamba dengan sebab kebaikan mereka. Takutlah kamu untuk mendoakan kejelekan bagi mereka dengan laknat.  Itu hanya akan menambah kejelekan dan musibah bagi kaum muslimin. Akan tetapi, doakan kebaikan bagi mereka, agar bertobat sehingga mereka akan meninggalkan keburukan. Akhirnya, terangkatlah musibah itu dari kaum muslimin.” (Riwayat al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman, 13/99)

Perhatian ulama terhadap masalah ini terbukti dengan :

1. Memasukkan anjuran doa kebaikan bagi para penguasa dalam kitab-kitab akidah salaf yang ringkas, seorang muslim dituntut untuk meyakininya. Sebab, hal itu dibangun di atas hujah-hujah yang syar’i dari al-Kitab, as-Sunnah, dan ijma’ para imam muslimin.

2. Sebagian ulama menulis dalam kitab khusus membahas hal itu, seperti al-Imam al-‘Allamah Yahya bin Manshur al-Harrani al-Hanbali, yang terkenal dengan sebutan Ibnul Hubasyi rahimahullah, mengarang kitab yang berjudul “Da’aimul Islam fi Wujubi ad-Du’ailil Imam”.

3. Sebagian ulama ahli tahqiq menjadikan doa kebaikan bagi para penguasa sebagai salah satu ciri seorang sunni salafi. Sebaliknya, mendoakan keburukan atas nama para penguasa menjadi salah satu ciri ahlul bid’ah yang sesat.

Al-Imam al-Barbahari rahimahullah di dalam kitab SyarhusSunnah berkata,“Apabila engkau melihat seseorang mendoakan kejelekan bagi penguasa, ketahuilah bahwa dia pengekor hawa nafsu. Apabila engkau melihat seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa dia pengikut sunnah, insya Allah.” Wallahu a’lam.

Oleh : al Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Melintasi Laut Merah

 

Tentara Fir’aun semakin dekat. Bani Israil pun bertambah takut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَىٰ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ () قَالَ كَلَّا ۖ إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ () فَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ أَنِ اضْرِب بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۖ فَانفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ

“Maka setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah pengikut pengikut Musa,‘ Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Musa menjawab,‘Sekali-kali tidak akan tersusul. Sesungguhnya Rabbku bersamaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku.’ Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah lautan itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan adalah seperti gunung yang besar.” (asy-Syu’ara: 61—63)

Itulah jawaban tegas Nabi Musa ‘alaihis salam. Tidak mungkin akan terjadi sesuatu yang kalian takutkan karena Allah Subhanahu wata’ala lah yang memerintahkanku membawa kalian ke sini. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menyalahi janji-Nya.

Ibnu Katsir rahimahullah menukil riwayat bahwa di barisan bani Israil itu ada Nabi Harun dan Yusya’ bin Nun. Di bagian belakang, ada salah seorang pengikut Fir’aun yang sudah beriman. Pengikut Fir’aun yang beriman itu bertanya, “Wahai Nabi Allah, apakah ke sini Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Anda membawa kami?”

“Ya,” jawab Nabi Musa ‘alaihis salam. Akhirnya, orang-orang yang beriman itu merasa tenang. Mereka yakin pertolongan Allah Subhanahu wata’ala akan segera tiba.

Fir’aun dan bala tentaranya semakin dekat. Pada saat itulah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan Nabi Musa ‘alaihis salam memukul laut itu dengan tongkatnya. Serta-merta, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, laut itu terbelah menjadi dua belas jalanan yang kering. Air laut yang terbelah itu masing-masing membentuk dinding setinggi gunung yang menjulang.

Melihat dua belas jalan membentang di hadapan mereka, sedangkan air laut membentuk dinding setinggi gunung memisahkan masing-masing jalan itu, bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa

dan Harun segera masuk ke celah-celah dinding ‘kaca’ dan melintasi jalan tersebut. Dua belas jalan itu sesuai dengan jumlah suku bani Israil, dan masing-masing sudah tahu jalan mana yang dilewati oleh sukunya.

Dinding-dinding air itu seolah-olah kaca tembus pandang, sehingga bani Israil dapat melihat saudaranya yang sedang berjalan di bagian yang lain.

Di belakang mereka, di tepi pantai Laut Merah, Allah Subhanahu wata’ala menggerakkan Fir’aun dan bala tentaranya mendekati laut yang masih mengering membentuk jalan. Fir’aun dan pasukannya yang tetap mengejar, segera menerobos masuk ke laut yang sudah membentuk jalan itu.

Sementara itu, Nabi Musa, Nabi Harun, dan bani Israil sudah tiba di seberang laut tersebut. Begitu seluruh bani Israil telah menapakkan kakinya di seberang -Fir’aun yang masih berada di tengah, demikian pula pasukannya, tidak ada yang tertinggal- muncullah rasa takut dalam hati Fir’aun dan pengikutnya. Tetapi, terlambat, untuk kembali sudah tidak mungkin, maju juga tidak.

Dalam keadaan demikian, dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, laut itu pun bertaut kembali. Dinding-dinding ‘kaca’ yang tadi tegak menjulang setinggi gunung, bergerak sambil mengeluarkan suara kematian, mengempas dan membenamkan Fir’aun dan pasukannya ke dasarnya. Jerit kematian bersama ringkik kuda yang ketakutan tenggelam dalam deru air yang bergemuruh dahsyat. Tidak ada yang selamat. Semua tenggelam, mati. Keadaan pun menjadi sunyi, sepi. Di sela-sela riak dan gelombang Laut Merah itu….

Hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُودُهُ بَغْيًا وَعَدْوًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ آمَنتُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا الَّذِي آمَنَتْ بِهِ بَنُو إِسْرَائِيلَ وَأَنَا مِنَ الْمُسْلِمِينَ () آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ () فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Dan Kami memungkinkan bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka). Hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia,‘Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan (Ilah) yang dipercayai oleh bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (Yunus: 90-92)

Ternyata, dalam keadaan panik, napas tinggal satu-satu, Fir’aun berusaha bertahan dan berkata, “Saya percaya bahwa tidak ada Ilah melainkan (Ilah) yang dipercayai oleh bani Israil,” tetapi ucapan itu tidak berguna, dia pun mati terbenam. Jasadnya ditemukan dalam keadaan terdampar di wilayah Mesir, kemudian diawetkan dan masih utuh hingga saat ini.

Demikianlah, bani Israil telah diselamatkan Allah Subhanahu wata’ala dari kehinaan dan kekejaman Fir’aun. Allah Subhanahu wata’ala menghancurkan musuh mereka bahkan memperlihatkan kepada mereka kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya yang tenggelam di Laut Merah. Tidak hanya itu, jasad Fir’aun yang telah kehilangan nyawa, Allah Subhanahu wata’ala tunjukkan dan Allah Subhanahu wata’ala abadikan agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi orangorang yang datang sesudahnya.

Setelah melihat sendiri kehancuran musuh mereka, bani Israil merasa puas dan lega. Dengan penuh rasa syukur, Nabi Musa ‘alaihis salam membawa mereka meninggalkan tempat tersebut.

Nabi Musa membawa bani Israil menjauh dari tepi Laut Merah. Di depan, mulai tampak tanda-tanda kehidupan. Atap-atap rumah penduduk daerah itu mulai terlihat.

Di sebuah tempat, masih dalam perjalanan, mereka melihat penduduk negeri yang akan mereka lewati itu sedang tirakat, beribadah kepada berhalaberhala mereka.

Melihat perbuatan penduduk negeri itu, bani Israil berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ () إِنَّ هَٰؤُلَاءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَّا كَانُوا يَعْمَلُونَ () قَالَ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِيكُمْ إِلَٰهًا وَهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ

“Hai Musa, buatlah untuk kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.” Musa menjawab,“Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui. Sesungguhnya atas mereka itu, akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang selalu mereka kerjakan.” Musa menjawab, “Patutkah aku mencari satu sesembahan (ilah) untuk kamu selain Allah, padahal Dialah yang telah melebihkan kamu atas segala umat?” (al-A’raf: 138-140)

Mendengar teguran keras Nabi Musa ‘alaihis salam ini, mereka terdiam dan tidak jadi melanjutkan keinginan tersebut. Seandainya mereka tetap melanjutkan keinginan itu, pasti mereka ditimpa azab; dihancurkan, sebagaimana dalam ayat tersebut. Beliau mengingatkan mereka akan karunia Allah Subhanahu wata’ala yang telah menyelamatkan mereka dari kekejaman Fir’aun, bahkan memperlihatkan bagaimana Allah Subhanahu wata’ala membinasakan Fir’aun dan bala tentaranya, serta melebihkan mereka dari seluruh manusia pada masa itu.

Ribuan tahun kemudian, sebagian sahabat yang baru masuk Islam, ada yang meminta hal yang sama kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu ‘anhu menceritakan, “Kami berangkat bersama Rasululah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju Hunain, sementara kami baru saja meninggalkan kekafiran (baru masuk Islam) dan orang-orang musyrik mempunyai sebatang pohon sidr (bidara) yang selalu mereka i’tikaf (tirakat) di dekatnya. Mereka biasa menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon itu, yang namanya Dzatu Anwath.

Kami pun melewati pohon seperti itu, lalu kami berkata,‘YaRasulullah, buatkanlah untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka mempunyai Dzatu Anwath.”

Serta-merta Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Allahu Akbar, sungguh ini (ucapan kalian ini) adalah sunnah (jalan hidup, kebiasaan), kalian telah berkata – demi yang jiwaku di Tangan-Nya- sebagaimana yang dikatakan bani Israil (dalam ayat),

يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ ۚ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

‘Ya Musa, buatkanlah kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.’ Musa menjawab,‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui. Sungguh, kalian benar-benar akan mengikuti jalan hidup orang-orang sebelum kalian’.”1

Benarlah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Berita nubuwah yang tidak mungkin disanggah dengan akal secerdas apa pun. Berita yang keluar dari manusia terbaik, yang tidak berbicara dengan hawa nafsunya, bahwa dari kalangan umat ini pasti akan ada yang mengikuti cara hidup orangorang sebelum mereka, baik itu Yahudi dan Nasrani maupun Persia dan Romawi.

Akan tetapi, ada satu hal yang harus dicermati, bahwa meskipun hadits tersebut sahih, ada pula hadits lain yang juga sahih, yang menegaskan tidak semua umat beliau terjerumus melakukan perbuatan yang meniru orang-orang Yahudi, Nasrani, Romawi, dan Persia.

Itulah orang-orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala; orang-orang yang senantiasa berpegang teguh dengan Kitab Allah Subhanahu wata’ala dan sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Insya Allah bersambung)

Oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

———————————————————————–

1 HR. at-Tirmidzi (2180) dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah (Shahih Sunan at-Tirmidzi [1/235]).

Al-Aliim

Al-‘Alim الْعَلِيمُadalah salah satu al-Asmaul Husna. Nama yang mulia ini tersebut dalam banyak ayat dan hadits, di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“(Allah menjadikan hal) itu agar kamu tahu, sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Maidah: 97)

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي ۖ إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

“(Ingatlah), ketika istri ‘Imran berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di BaitulMaqdis). Oleh karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Ali Imran: 35)

Adapun dalam hadits, di antaranya dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

كَانَ النَّبِىُّ صل الله عليه وسلم يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الْعَلِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الْأَرْضِ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيم

“Di saat kesusahan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan (yang artinya),“Tiada sesembahan yang benar selain Allah Yang Maha Berilmu, Yang Maha Penyabar, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb Arsy yang agung, tiada sesembahan yang benar selain Allah, Rabb langit-langit, Rabb bumi, dan Rabb Arsy yang mulia.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Ibnul Qayyim t berkata,

Dialah Yang Maha Berilmu, ilmu-Nya meliputi segala yang berada di alam baik yang tersembunyi maupun yang tampak

Dalam segala sesuatu ada ilmu-Nya, Yang Maha suci

Dialah yang meliputi segala sesuatu dan tidak memiliki sifat lupa

Dan Dia mengetahui apa yang akan terjadi besok, dan apa yang telah terjadi

Serta yang sedang terjadi pada waktu ini.

Juga, Ia mengetahui urusan yang belum terjadi

Seandainya terjadi, bagaimana terjadinya sesuatu yang mungkin tersebut.

Asy-Syaikh Muhammad Khalil Harras menerangkan ucapan Ibnul Qayyim di atas, “Ini adalah penjelasan yang paling bagus dan paling lengkap tentang asma Allah al-‘Alim. Beliau menyebutkan cakupan ilmu Allah Subhanahu wata’ala atas segala hal yang dapat diketahui, baik yang wajib (harus ada), yang mumtani’ (tidak mungkin ada/terjadi), atau yang mumkinat (mungkin ada).

Adapun yang wajib ada, sesungguhnya Ia mengetahui diri Dzat-Nya yang mulia, sifat-sifat-Nya yang suci, yang menurutakal tidak mungkin tidak ada pada Zat Allah Subhanahu wata’ala, bahkan wajib ada dan tetap pada-Nya.

Adapun yang mumtani’ (tidak mungkin ada/terjadi), maka Allah Subhanahu wata’ala Maha Mengetahui saat tidak terjadinya. Allah Subhanahu wa ta’ala juga mengetahui akibat dari adanya atau terjadinya seandainya hal itu terjadi. Contohnya, Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan akibat dari adanya tuhan-tuhan yang lain bersama-Nya dalam firman-Nya,

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Sekiranya ada di langit dan di bumi sesembahan-sesembahan selain Alah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari apa yang mereka sifatkan.” (al-Anbiya: 22)

Ini adalah kerusakan yang tidak terjadi. Sebab, hal itu adalah akibat dari sesuatu yang mustahil, yaitu adanya sesembahan lain bersama Allah Subhanahu wata’ala. Apabila hal yang mustahil ini terjadi, akan terjadi pula kerusakan tersebut, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala yang lain,

مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُ مِنْ إِلَٰهٍ ۚ إِذًا لَّذَهَبَ كُلُّ إِلَٰهٍ بِمَا خَلَقَ وَلَعَلَا بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada tuhan beserta-Nya, setiap tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain. Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan itu.” (al-Mu’minun: 91)

Perginya setiap tuhan dengan ciptaannya dan sebagian tuhan-tuhan itu akan mengalahkan yang lain adalah akibat adanya sesembahan yang lain bersama Allah Subhanahu wata’ala. Dan ini adalah sebuah hal yang mustahil. Apabila hal ini terjadi, tentu akibatnya juga akan terjadi.

Ini adalah pemberitaan dari-Nya -dalam bentuk pengandaian- tentang sesuatu yang muncul akibat dari adanya sesembahan-sesembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, seandainya hal itu terjadi.

Adapun hal-hal yang mungkin terjadi (mumkinat), yaitu yang mungkin menurut akal terjadinya atau tidak terjadinya, Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang ada dan apa yang tidak ada, yang terjadi dan yang tidak, dari hal-hal yang hikmah Allah Subhanahu wata’ala menuntut tidak terjadinya. Ilmu-Nya mencakup seluruh alam semesta, yang atas dan yang bawah. Tiada suatu tempat atau waktu pun yang lepas dari ilmu Allah Subhanahu wata’ala. Ia mengetahui yang gaib dan yang tampak, yang lahir dan yang batin, serta yang jelas dan yang tersembunyi.

Ilmu-Nya tidak ditimpa oleh kelalaian atau kelupaan, sebagaimana firman-Nya yang menceritakan ucapan Musa ‘alaihis salam,

قَالَ عِلْمُهَا عِندَ رَبِّي فِي كِتَابٍ ۖ لَّا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنسَى

“Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thaha: 52)

Demikian pula, ilmu-Nya meliputi seluruh alam semesta yang atas dan yang bawahnya berikut segala makhluk yang ada beserta zatnya, sifatnya, perbuatannya, serta seluruh urusannya. Allah Subhanahu wata’ala juga tahu apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi, yang tiada ujungnya. Allah Subhanahu wata’ala mengetahui apa yang tidak terjadi, pun seandainya terjadi -yakni apabila hal itu ditakdirkan terjadi- Ia tahu bagaimana cara terjadinya.

Allah Subhanahu wata’ala juga tahu keadaan para mukallaf sejak Dia menciptakan mereka, setelah mewafatkan mereka, dan setelah menghidupkan mereka kembali. Ilmu-Nya telah mencakup perbuatan mereka seluruhnya, yang baik dan yang buruk, serta balasan atas amal-amal tersebut beserta perincian hal tersebut di negeri kekal abadi.

Adapun dalil aqli atas ilmu Allah Subhanahu wata’ala ada beberapa hal.

1. Adalah mustahil untuk mengadakan/menciptakan sesuatu tanpa ilmu. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala menciptakan sesuatu dengan kehendak-Nya, dan kehendak-Nya terhadap sesuatu mengandung pengetahuan terhadap apa yang dikehendaki-Nya, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ

 “Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui; dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui?” (al-Mulk: 14)

2. Kekokohan, kedetailan, keajaiban ciptaan, dan kecermatan dalam penciptaan yang ada pada makhluk-makhluk, ini menjadi bukti bahwa Penciptanya sangat berilmu, karena secara kebiasaan tidak mungkin itu semua terjadi dari selain Dzat yang tidak berilmu.

3. Di antara makhluk ada yang berilmu, dan ilmu adalah sifat kesempurnaan. Seandainya Allah Subhanahu wata’ala tidak berilmu, berarti ada di antara makhluk ada yang lebih sempurna dari-Nya.

4. Ilmu yang ada pada makhluk sesungguhnya berasal dari Penciptanya. Dengan demikian, Pemberi kesempurnaan itu lebih berhak menyandang kesempurnaan tersebut, karena sesuatu yang tidak memiliki tidak mungkin bisa memberi. (Syarah Nuniyyah, 2/73-75)

Buah Mengimani Nama Allah al-Aliim

Di antara buahnya adalah mengetahui keagungan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengetahui  segala sesuatu sampai hal-hal yang terkecil, baik yang di dasar lautan maupun yang di dalam bumi, juga yang ada dalam lubuk hati. Bagaimanapun amal dan ucapan kita, Allah Maha Mengetahuinya. Tentu hal ini menuntut kita semua untuk takut kepada-Nya dalam segala keadaan dan di setiap tempat. Walaupun kita melakukannya di malam hari, di tempat yang gelap dan sepi, Allah Subhanahu wata’ala sangat mengetahuinya.

Ingatlah bahwa balasan Allah Subhanahu wata’ala sudah menanti. Rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan taufik-Nya selalu kita harapkan agar Dia selalu membimbing kita ke jalan yang lurus. Wallahul muwaffiq.

Oleh : al Ustadz Qomar Suadi, Lc.

Suami Taat Beribadah, Tidak Memperhatikan Istri

Pertanyaan :

Saya membaca majalah Asy-Syariah dalam rubrik “Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah” tentang istri yang rajin beribadah, namun enggan taat kepada suami. Yang saya ingin tanyakan, bagaimana jika suami yang taat ibadah namun tak peduli dengan istri, tiap malam istri tidur sendirian. Bagaimana jika istri juga tidak ridha, diterimakah amal ibadah suami, sedangkan istri tersakiti batinnya? Bukankah berumah tangga itu termasuk ibadah?

Jawab :

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Soal suami yang taat ibadah namun kurang perhatian terhadap istri; tentang ibadahnya, apabila memang terpenuhi syarat, rukun, dan kewajibannya, maka tetap diterima. Namun, sikapnya yang

tidak memerhatikan istri juga tidak dibenarkan. Coba perhatikan riwayat berikut ini.

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma ia berkata, “Ayahku menikahkan aku dengan seorang wanita yang bernasab mulia, maka ayah senantiasa mengontrol menantunya. Ayah menanyakan tentang suaminya (yakni anaknya, -red). Menantunya pun menjawab, “Dia sebaik-baik pria, tidak pernah meniduri kasur kami, dan tidak pernah membuka-buka tutup sejak kami datang.” Maka setelah hal itu berlangsung lama pada dirinya, ayah melaporkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka beliau berkata, “Pertemukan aku dengannya.” Setelah itu aku bertemu dengan beliau. Beliau bertanya kepadaku, “Bagaimana kamu berpuasa?” “Setiap hari,” jawabku. “Bagaimana kamu mengkhatamkan al-Qur’an?” tanya beliau. “Tiap malam,” jawabku. “Kalau begitu puasalah tiap bulan tiga hari dan khatamkan al-Qur’an tiap bulan.” Aku menjawab,“Aku mampu lebih banyak dari itu.” “Puasalah tiga hari setiap sepekan,” perintah beliau.“Aku mampu lebih banyak dari itu,” jawabku. “Berbukalah dua hari dan berpuasalah satu hari,” jawabku. “Puasalah dengan puasa yang paling utama, puasa Dawud, puasa satu hari dan tidak puasa satu hari, dan khatamkanlah al-Qur’an tiap tujuh malam satu kali.”

Dalam riwayat yang lain beliau berkata,

أَلَمْ أُخْبَرْ أَنَّكَ تَصُومُ وَلاَ تُفْطِرُ، وَتُصَلِّى وَلاَ تَنَامُ، فَصُمْ وَأَفْطِرْ، وَقُمْ وَنَمْ، فَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَظًّا، وَإِنَّ لِنَفْسِكَ وَأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَظًّا

“Tidakkah disampaikan berita kepadaku bahwa kamu puasa terus dan tidak pernah tidak puasa, shalat malam terus dan tidak pernah tidur? Maka (sekarang) puasalah kamu dan juga tidak puasa (dihari lain,-pen), shalat malamlah dan juga tidurlah. Sesungguhnya matamu punya hak atas dirimu, tubuhmu dan keluargamu juga punya hak atas dirimu.”

Dalam kejadian yang lain diriwayatkan, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhuma. Suatu saat, Salman mengunjungi Abu Darda’. Maka Salman melihat Ummu Darda’ berpakaian lusuh. Salman pun mengatakan kepadanya, “Mengapa kamu demikian?” Ia menjawab, “Saudaramu Abu Darda’ tiada hasrat kepada dunia.” Maka Abu Darda’ datang lalu membuatkan makanan untuk Salman. Salman mengatakan kepada Abu Darda’, “Makanlah!” “Aku berpuasa,” jawabnya. Salman menukas, ”Aku tidak akan makan sampai engkau mau makan.” Akhirnya dia makan. Maka ketika malam harinya, Abu Darda bangun, Salman mengatakan kepadanya, “Tidurlah!” Maka Abu Darda’ tidur lagi, lalu bangun lagi, maka Salman mengatakan lagi kepadanya, “Tidurlah.” Maka ketika pada akhir malam Salman mengatakan, “Bangunlah sekarang”, lalu keduanya melakukan shalat. Selanjutnya Salman mengatakan kepadanya,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ. فَأَتَى النَّبِىَّ صل الله عليه وسلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ، فَقَالَ النَّبِىُّ صل الله عليه وسلم :صَدَقَ سَلْمَانُ

“Sesungguhnya Rabbmu punya hak atas dirimu, dirimu sendiri punya hak atas dirimu, dan keluargamu punya hak atas dirimu, maka berikan hak kepada tiap-tiap yang memilikinya.” Lantas Abu Darda datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menyebutkan hal itu kepadanya, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,“Salman benar.” (Sahih, HR. al-Bukhari)

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dalam riwayat Daraquthni ada tambahan,

فَصُمْ وَأَفْطِرْ وَصَلِّ وَنَمْ وَائْتِ أَهْلَكَ

“Puasalah dan juga jangan puasa (dihari lain, –pen.), shalatlah dan juga tidurlah, serta gauli istrimu’.”

Lalu Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan bahwa dalam kisah tersebut ada pelajaran:

  • Disyariatkannya seorang wanita berhias untuk suaminya.
  • Ada hak wanita atas suaminya yaitu kebaikan dalam hal bergaul.
  • Bisa diambil pula dari kisah tersebut, adanya hak bagi istri untuk digauli. Sebab, Salman radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Keluargamu juga punya hak atas dirimu.” Lalu Salman mengatakan, “gauli istrimu.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pun menyetujui penegasan Salman tersebut.

Dari kisah di atas berikut sejumlah faedah yang dipetik, menunjukkan bahwa seorang suami punya kewajiban untuk menunaikan hak istrinya dalam hal “mencampurinya”. Tidak dibenarkan ia menyepelekan hak tersebut walaupun dengan alasan sibuk dengan ibadah, apalagi dengan alasan yang lain.

Oleh karena itu, Ibnu Taimiyah rahimahullah berpandangan, wajib atas suami untuk menggauli istrinya seukuran kebutuhannya dan selama hal itu tidak memayahkan fisik suami, serta tidak menyibukkannya dari mencari rezeki.

Beliau ditanya tentang seorang suami yang tahan untuk tidak menggauli istrinya satu atau dua bulan, apakah ia berdosa atau tidak? Apakah seorang suami dituntut untuk melakukannya?

Jawab beliau, “Wajib atas seorang suami untuk menggauli istrinya dengan baik, dan itu termasuk hak istri yang paling ditekankan atas suami, melebihi hak makannya. Dan menggauli itu wajib. Ada pendapat yang mengatakan wajibnya adalah di tiap empat bulan satu kali. Pendapat lain, ‘Sesuai dengan kebutuhan istrinya dan sesuai dengan kemampuan suami’ dan ini yang lebih sahih dari dua pendapat ini.” (Majmu’ Fatawa, 32/271)

Beliau juga mengatakan, “… Maka wajib atas masing-masing suami dan istri untuk menunaikan haknya kepada pihak lain dengan penuh kerelaan dan lapang dada. Karena sesungguhnya istri punya hak atas suami dalam hartanya yaitu mahar dan nafkah yang baik, serta hak pada tubuhnya yaitu percampuran dan kenikmatan, yang kalau suami bersumpah untuk tidak menggaulinya, (istri) berhak untuk pisah dengan kesepakatan muslimin. Demikian pula bila suami terputus “alatnya” atau impoten, dan tidak mungkin menggaulinya, maka wanita boleh meminta pisah. Dan menggaulinya itu wajib menurut mayoritas para ulama.

Ada juga pendapat lain, itu tidak wajib, cukup hal itu sesuai dorongan nafsu manusiawinya saja. Yang benar, menggauli adalah wajib sebagaimana ditunjukkan oleh al-Qur’an, as-Sunnah, dan pokok-pokok agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengatakan kepada Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma –ketika beliau memperbanyak puasa dan shalat-, “Sesungguhnya istrimu punya hak atas dirimu.”

Kemudian ada yang berpendapat, “Yang wajib atasnya untuk menggaulinya adalah satu kali dalam empat bulan.”

Pendapat lain mengatakan, “Wajib menggaulinya dengan cara yang baik sesuai dengan kekuatan suami dan kebutuhan istri, sebagaimana wajibnya menafkahi dengan cara yang baik juga demikian.”

Pendapat ini yang lebih benar. Suami boleh menikmatinya kapan suami mau selama tidak mencelakakannya dan tidak menyibukkannya dari yang wajib, maka wajib bagi wanita untuk mempersilakannya juga…. (Majmu’ Fatawa, 28/383—384)

Ada juga beberapa pendapat yang lain, tapi itu lemah.

Yang perlu diingat bahwa suatu perbuatan yang wajib, bila kita mengamalkan sebagai ketundukan kita kepada kewajiban tersebut, hal itu adalah ibadah kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan tentu mendapatkan pahala. Sebaliknyabila kita meninggalkannya kita akan mendapatkan dosa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

…وَفِي بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةً، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ الله؛ أَيَأْتِي أَحَدُنا شَهوَتَهُ، وَيَكُونُ لَهُ فِيهَا أَجْرٌ؟! قَالَ: أَرَأَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِي حَرَامٍ؛ أَكَانَ عَلَيْهِ وِزْرٌ؟ فَكَذَلِكَ إذَا وَضَعهَا فِي الْحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرٌ

“..Dan pada ‘percampuran’ seseorang dari kalian ada sedekahnya.” Maka para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah seseorang dari kita yang mendatangi syahwatnya lalu dia dapat pahala karenanya?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan,“Bagaimana menurut kalian, bila ia meletakkannya pada tempat yang haram, bukankah ia akan mendapatkan dosa? Maka demikian pula bila ia meletakkannya pada yang halal maka ia akan mendapatkan pahala.” (Sahih, HR. Muslim)

Semoga kita semua menjadi suami yang bertanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sebelum di hadapan manusia. Allah Subhanahu wata’ala sajalah yang memberi taufik.