Memilih Teman Duduk

 Dari Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رَيْحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الْكِيْرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيثَةً


“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk seperti penjual misik dan pandai besi. Adapun penjual misik, boleh jadi ia memberimu misik, engkau membeli darinya, atau setidaknya engkau akan mencium bau harumnya. Adapun pandai besi, boleh jadi akan membuat bajumu terbakar atau engkau mencium bau yang tidak enak.”

 

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari  dalam ash-Shahih (no. 2101 dan 5534), Muslim t (8/37—38), Ibnu Hibban rahimahullah dalam Shahih-nya, al-Baihaqi rahimahullah dalam Syu’abul Iman, dan Ahmad rahimahullah (4/404—405), semua melalui jalan Abu Burdah rahimahullah, dari Abu Musa rahimahullah, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menyebutkan jalan-jalan lain yang dapat dirujuk dalam kitab beliau, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, hadits no. 3214.

 

Makna Hadits

Ada perkara penting yang kurang mendapat perhatian. Mengabaikan hal ini bisa menjadi bahaya laten dan bom waktu bagi yang tidak memedulikannya.

Perkara itu adalah memilih teman duduk. Wajib bagi kita memilih teman-teman yang baik, yang akan membantu kita dalam ketaatan. Demikian pula, wajib bagi kita menjauhkan diri dari orangorang fasik, ahlul bid’ah, para pemilik pemikiran-pemikiran menyimpang, dan pengikut hawa nafsu yang akan menjauhkan kita dari ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini faedah penting yang tersurat dalam hadits Abu Musa al-Asy’ari rahimahullah. Ketika menyebutkan hadits ini, al-Baihaqi t memberikan judul bab “Menjauhkan Diri dari Kaum yang Fasik, Ahlul Bid’ah, dan Siapa Saja yang Tidak Membantumu untuk Berbuat Taat kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Demikianlah yang semestinya kita tempuh, memilih sahabat yang baik sebagaimana diwasiatkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sahabat sangat memengaruhi orang yang diiringinya, dan tabiat teman dekat benar- benar menguasai tabiat temannya. Oleh karena itu, semakna dengan hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, banyak sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang kita berdekatan dengan orang-orang kafir dan tinggal bersama mereka.

Banyak kasus orang tua dikagetkan ketika dahulu sang anak demikian santun, beradab kepada orang tua, lembut dalam tutur kata, namun selepas pendidikannya di bangku kuliah, sang anak lantas durhaka kepada keduanya. Kasar, kaku, dan suka menyakiti. Jangankan tinggal serumah untuk berbuat ihsan kepada keduanya di saat kepayahan keduanya, ucapan terima kasih pun berat untuk terucap. Bahkan, di antara yang pernah terjadi, sang anak begitu mudah memberi vonis kafir kepada keduanya karena tidak mau ikut ideologinya. Lantas ia pergi meninggalkan keduanya dengan dalih berjihad dengan jalan yang dia anggap mengantarkan ke surga, padahal jalan yang ia tempuh jauh dari bimbingan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kita dikejutkan beberapa waktu lalu dengan peristiwa-peristiwa pengeboman, termasuk di beberapa tempat wilayah Kerajaan Arab Saudi. Penulis mendapat kisah dari sebagian da’i yang mendapat tugas dari pemerintah Arab Saudi untuk memberikan pengarahan di penjarapenjara kepada para pelaku pengeboman. Sungguh, pelaku-pelaku tersebut bukan orang idiot. Mereka cerdas otaknya, bahkan mahasiswa perguruan tinggi, di samping punya semangat keislaman.

Hanya saja, mereka tidak belajar di bawah bimbingan tangan para ulama. Di antara mereka ada yang belajar dari dunia maya, mengunjungi situssitus Khawarij, dan berkawan dengan orang-orang berpemahaman takfir. Sungguh, di antara mereka ada yang memiliki seorang ibu yang sudah renta di rumahnya, ditinggal telantar untuk berjihad—menurut anggapan mereka— dengan melakukan peledakan di negeri Islam. Sangat menyedihkan. Tampaknya, setiap kita wajib mulai berbenah ketika mengingat sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam dari sahabat Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السُّوءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ

“Permisalan teman duduk yang saleh dan teman duduk yang buruk itu seperti penjual misik dan pandai besi.”

Dalam hadits ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan timbangan dalam hal memilih teman. Kita diingatkan tentang timbangan tersebut, sebuah neraca yang sudah mulai pudar di zaman ini.

 

Kisah Thalq bin Habib rahimahullah

Nama ini tidak asing bagi para penuntut ilmu. Seorang pemuka tabi’in, Thalq bin Habib al-‘Anazi al-Bashri. Hadits-haditsnya diriwayatkan oleh al- Imam Muslim dalam ash-Shahih, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya rahimahumullah. Tahukah Anda bahwa dahulu beliau terpengaruh dengan mazhab Khawarij yang mereka terjatuh pada pemahaman mengafirkan para pelaku dosa besar? Mereka berkeyakinan bahwa pelaku dosa besar, seperti orang yang bunuh diri, kekal di dalam neraka. Mereka pun tidak meyakini adanya syafaat untuk pelaku dosa besar sehingga dikeluarkan dari neraka.

Dalam sebuah perjalanan, ketika Thalq bin Habib bersama kawan-kawan sepemahaman melakukan perjalanan haji atau umrah, Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan Thalq dari paham takfir tatkala bermajelis dengan sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, seorang ulama dari generasi sahabat, generasi terbaik umat ini.

Kisah beliau diriwayatkan oleh alImam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad. Dalam kisah tersebut Thalq bin Habib rahimahullah berkata,

كُنْتُ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ تَكْذِيبًا بِالشَّفَاعَةِ حَتَّى لَقِيتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ كُلَّ آيَةٍ ذَكَرَهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ فِيهَا خُلُودُ أَهْلِ النَّارِ، فَقَالَ :  يَا طَلْقُ، أَتُرَاكَ أَقْرَأَ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمَ بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ, فَاتُّضِعْتُ لَهُ؟ فَقُلْتُ: لَا،  وَاللهِ، بَلْ أَنْتَ أَقْرَأُ لِكِتَابِ اللهِ مِنِّي وَأَعْلَمُ بِسُنَّتِهِ مِنِّي. قَالَ: فَإِنَّ الَّذِي قَرَأْتَ أَهْلُهَا هُمُ الْمُشْرِكُونَ، وَلَكِنْ قَوْمٌ أَصَابُوا ذُنُوبًا فَعُذِّبُوا بِهَا ثُمَّ أُخْرِجُوا، صُمَّتَا-وَأَهْوَى بِيَدَيْهِ إِلَى أُذُنَيْهِ-إِنْ لَمْ أَكُنْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ يَقُولُ يَخْرُجُونَ مِنْ النَّارِ؛ وَنَحْنُ نَقْرَأُ مَا تَقْرَأُ

Dahulu aku termasuk orang yang paling keras pengingkarannya terhadap adanya syafaat (yakni syafaat bagi pelaku dosa besar untuk keluar dari neraka, -pen.), hingga (Allah Subhanahu wata’ala mudahkan) aku berjumpa dengan sahabat Jabir bin Abdillah z. Di hadapannya, aku bacakan semua ayat yang Allah Subhanahu wata’ala firmankan dalam al-Qur’an tentang kekekalan penghuni neraka (yakni Thalq memahami mereka yang sudah masuk neraka tidak mungkin mendapat syafaat untuk keluar termasuk pelaku dosa besar, -pen.). Seusai membacakan ayat-ayat tersebut Jabir berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada aku.” Jabir berkata, “Wahai Thalq, sesungguhnya semua ayat yang engkau baca tentang (kekekalan ahli neraka) mereka adalah musyrikin (orang-orang yang mati dalam keadaan musyrik.) Akan tetapi (yang mendapatkan syafaat adalah) kaum yang melakukan dosa besar (dari kalangan muslimin) yang diazab di neraka, kemudian mereka dikeluarkan darinya.” Jabir lalu menunjuk kepada dua telinganya dan berkata, “Sungguh tuli kedua telinga ini jika aku tidak mendengar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sabda beliau, ‘Mereka (pelaku dosa besar) keluar dari neraka (setelah diazab),’ sedangkan kita membaca ayat-ayat al-Qur’an.”

Lihatlah manfaat besar ketika seorang duduk bersama ulama, duduk dengan seorang yang baik. Membuahkan faedah besar yang dipetik seumur hidup, bahkan sesudahnya. Thalq bin Habib rahimahullah diselamatkan dari pemahaman yang salah tentang pelaku dosa besar.

 

Faedah yang Sayang Jika Dilewatkan

Dalam kisah Thalq bin Habib, ada sebuah faedah yang tidak ingin kita lewatkan. Faedah yang terulang, namun perlu selalu diingatkan, yaitu wajibnya kembali kepada para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal memahami al-Kitab dan as- Sunnah. Faedah itu ada dalam pertanyaan Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu dan jawaban Thalq bin Habib rahimahullah.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Thalq, apakah engkau menyangka dirimu lebih paham terhadap al-Qur’an dariku? Dan apakah engkau anggap dirimu lebih tahu tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dariku?” Thalq menjawab, “Tidak, demi Allah, bahkan engkau lebih paham terhadap Kitab Allah dan lebih mengetahui tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Percakapan yang sangat indah. Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu mengingatkan kepada Thalq sebelum beliau menjelaskan syubhat (kerancuan) berpikir yang ada pada diri Thalq. Beliau ingatkan bahwa para sahabat adalah orang yang paling mengerti al-Kitab dan as-Sunnah. Ini pula yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau mengabarkan akan adanya perselisihan dan perpecahan umat di akhir zaman. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umatnya untuk berpegang teguh dengan sunnah beliau dan sunnah al-Khulafaar-Rasyidin, serta memerintah mereka untuk mengikuti jalan sahabat, generasi terbaik yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala. Ketika Thalq menyadari hal itu dan mau mendengar perkataan Jabir, selamatlah beliau dari pemikiran Khawarij.1

 

Meninggalkan Majelis Ahlul Bid’ah

Di antara pokok penting yangm terkandung dari hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu— dan ini termasuk pokok Ahlus Sunnah wal Jamaah—adalah wajibnya meninggalkan ahlul bid’ah dan majelis mereka. Pokok ini ditunjukkan oleh banyak dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Di antaranya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

 “Dan apabila kamu melihat orangorang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” (al-An’am: 68)

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah (wafat 1250 H) berkata dalam tafsirnya, Fathul Qadir, “Dalam ayat ini ada nasihat (peringatan) yang agung bagi orang yang masih saja membolehkan duduk bersama ahli bid’ah yang biasa mengubah Kalam Allah, mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam, serta memahami al-Qur’an dan as-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak. Sungguh jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak mampu mengubah keadaan mereka, ia harus meninggalkan majelis mereka. Hal itu mudah baginya dan tidak sulit. Bisa jadi, para ahli bid’ah memanfaatkan hadirnya seseorang di majelis mereka, meskipun ia dapat terhindar dari syubhat yang mereka lontarkan, tetapi mereka dapat mengaburkannya kepada orang-orang awam.

Jadi, hadirnya seseorang dalam majelis ahli bid’ah adalah kerusakan yang lebih besar daripada sekadar kerusakan yang berupa mendengarkan kemungkaran. Kami telah melihat di majelis-majelis terlaknat ini—yang banyak sekali jumlahnya—dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebatilan semampu kami, dan mencapai puncak kemampuan kami.

Barang siapa mengetahui syariat yang suci ini dengan sebenar-benarnya, dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan orang yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala bisa jadi akan melakukan hal-hal yang diharamkan. Lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan  ilmunya tentang al-Qur’an dan as- Sunnah, sangat mungkin terpengaruhdengan kedustaan-kedustaan mereka  berupa kebatilan yang sangat jelas  lalu kebatilan tersebut akan tertanam di dalam hatinya sehingga sangat sulit mencari penyembuh dan pengobatannya, meskipun ia telah berusaha sepanjang hidupnya. Ia akan menemui Allah l dengan kebatilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu adalah sebesar-besar kebatilan dan sebesarbesar kemungkaran.” (Fathul Qadir)

Karena pentingnya pokok ini, menjauhkan diri dari ahlul bid’ah dan majelis-majelis mereka, para ulama memasukkan masalah ini dalam pokok keyakinan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, demikian pula ulama ahlul hadits mencantumkan bab-bab khusus terkait pokok yang agung ini.

1. Al-Imam Abu Dawud as-Sijistani rahimahullah (wafat 275 H), membuat sebuah bab dalam Sunan Abi Dawud (4/198) dengan judul “Mujanabatu Ahlil Ahwa’ wa Bughdhuhum” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu dan Membenci Mereka”).

2. Al-Imam Ibnu Baththah al-Akburi rahimahullah (wafat 387 H), dalam kitabnya al-Ibanah (2/429) mencantumkan sebuah bab berjudul “at-Tahdzir min Shuhbati Qaumin Yumridhunal Quluba wa Yufsidunal Imaan” (bab “Peringatan dan Ancaman dari Bergaul dengan Kaum yang Dapat Membuat Hati Menjadi Sakit dan Merusak Iman”).

3. Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah (wafat 458 H) dalam Kitabul I’tiqad membuat sebuah bab berjudul “an-Nahyu ‘an Mujalasati Ahlil Bida” (bab “Larangan Bermajelis dengan Ahlul Bid’ah”).

4. Al-Imam al-Baghawi rahimahullah (wafat 516 H) dalam Syarhus Sunnah (1/219) menyebutkan bab “Mujanabah Ahlil Ahwa” (bab “Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu”).

5. Al-Imam Al-Mundziri rahimahullah (wafat 656 H), dalam kitabnya at-Targhib wat Tarhib (3/378) membuat bab “at-Tarhib min Hubbil Asyrar wa Ahlil Bida” (“Ancaman Mencintai Orang- Orang yang Melakukan Kejelekan dan Bid’ah”).

6. Al-Imam an-Nawawi asy-Syafi’i rahimahullah (wafat 676 H) dalam kitabnya, al-Adzkar, menyebutkan bab “at-Tabarri min Ahlil Bid’ah wal Ma’ashi” (bab “Berlepas Diri dari Ahlul Bida’ dan Pelaku Maksiat”). Hal yang semisal ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab i’tiqad Ahlus Sunnah wal Jamaah.

 

Manusia dan Media

Ketika kita berbicara teman duduk, bukan manusia saja yang perlu diwaspadai. Termasuk media-media yang dahulu tidak terbayang akan menjadi teman dalam kesendirian. Sang anak bersendiri dengan ponsel di tangannya berselancar mengarungi samudra dunia maya. Teman duduk ini bisa menjadi bahaya laten muncul dan berkembangnya pemikiranpemikiran sesat, paham takfir, dan semisalnya. Seandainya pemerintah atau pihakpihak yang terkait mampu menutup situs-situs yang membahayakan akidah dan akhlak, tentu hal ini termasuk tugas dan kewajiban mereka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri-diri kita, masyarakat kita, pemerintah kita, dan memberikan rezeki berupa teman duduk yang baik, yang membantu kita dalam hal ketaatan dan membantu kita menjauhi kejelekan.

Walhamdulillah, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shahbihi ajma’in.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Hanya Allah Yang Berhak Menghalalkan Dan Mengharamkan

Allah Subhanahu wata’ala memiliki hak-hak yang khusus. Di antara hak khusus bagi Allah Subhanahu wata’ala adalah hak tasyri’, yakni menetapkan syariat yang wajib dijalani oleh makhluk-Nya. Di antara perkara tasyri’ adalah penetapan halal dan haram.

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 “Apakah mereka mempunyai sesembahan selain Allah yang menetapkan syariat untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak adaketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (asy-Syura: 21)

Tiada yang berhak menghalalkan dan mengharamkan selain Allah Subhanahu wata’ala. Tidak ada seorang pun yang boleh menghalalkan kecuali yang telah dihalalkan oleh Allah l dan tidak mengharamkan kecuali yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَٰذَا حَلَالٌ وَهَٰذَا حَرَامٌ لِّتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

 “Janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta, ‘ini halal dan  ini haram’, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (an-Nahl: 116)

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Masuk dalam kandungan ayat ini semua yang membuat kebid’ahan yang tidak ada sandarannya dalam syariat dan semua yang menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal dengan ra’yu (akal) dan selera hawa nafsunya.” (Tafsir al-Qur’anil Azhim)

Asy-Syaikh asy-Syinqithi rahimahullah berkata, “Salafus shalih  sangat berhati-hati dari ucapan: ini halal dan yang ini haram, karena takutnya mereka akan kandungan ayat ini.” Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Al- Imam Abu Muhammad ad-Darimi dalam Musnad-nya berkata, ‘Telah mengabarkan kepada kami Harun dari Hafsh dari al-A’mas: Aku tidak pernah mendengar Ibrahim berkata: ini halal dan ini haram, tetapi mereka berkata: mereka membencinya, mereka menyatakan sunnahnya…’.” (Tafsir Adwaul Bayan) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ أَرَأَيْتُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ لَكُم مِّن رِّزْقٍ فَجَعَلْتُم مِّنْهُ حَرَامًا وَحَلَالًا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ ۖ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ

Katakanlah, “Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal.” Katakanlah, “Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?” (Yunus: 59)

Allah Subhanahu wata’ala telah melarang menghalalkan dan mengharamkan sesuatu tanpa dalil dari al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengabarkan bahwa menghalalkan dan mengharamkan sesuatu tanpa dalil adalah kedustaan atas nama Allah Subhanahu wata’ala. Sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan pula bahwa barang siapa yang mewajibkan sesuatu tanpa dalil atau mengharamkan sesuatu tanpa dalil maka telah menjadikan dirinya sebagai sekutu bagi Allah Subhanahu wata’ala dalam perkara yang merupakan kekhususan Allah Subhanahu wata’ala, yaitu penetapan syariat. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُم مِّنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَن بِهِ اللَّهُ ۚ وَلَوْلَا كَلِمَةُ الْفَصْلِ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ ۗ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

 “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesungguhnya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang amat pedih.” (asy-Syura: 21)

Dan barang siapa yang taat kepada penetap syariat selain Allah Subhanahu wata’ala maka dia telah menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah l, berarti dia telah terjatuh dalam kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Jika kamu menaati mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Yakni janganlah kamu menaati orang yang menghalalkan sesuatu yang Allah Subhanahu wata’ala haramkan berupa bangkai. Barang

siapa yang menaati mereka maka dia adalah musyrik.

Termasuk Syirik

Allah Subhanahu wata’ala menegaskan bahwa seorang yang menaati ahbar (orang berilmu dari kalangan Yahudi) dan ruhban (tukang ibadah dari kalangan Nasrani) dalam menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh AllahSubhanahu wata’ala atau mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah Subhanahu wata’ala berarti telah menjadikan mereka sebagai Rabb selain AllahSubhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh  menyembah Ilah Yang Maha Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah:31)

Ketika ‘Adi bin Hatim mendengar ayat ini, beliau berkata, “Wahai Rasulullah, kami tidak beribadah kepada mereka.” Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada beliau, “Bukankah mereka telah menghalalkan apa yang telah Allah Subhanahu wata’ala haramkan kemudian kalian mengikuti mereka? Mereka juga mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Subhanahu wata’ala kemudian kalian pun ikut mengharamkannya?” Adi berkata, “Benar demikian.” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Itulah bentuk peribadahan kalian kepada mereka.” (HR. at-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani)

Asy-Syaikh Abdurranman bin Hasan berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa taat kepada ahbar dan ruhban dalam berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah bentuk peribadahan kepada mereka kepada selain Allah Subhanahu wata’ala dan ini merupakan syirik besar yang tidak akan Allah Subhanahu wata’ala ampuni berdasarkan akhir ayat:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ

 ‘Padahal mereka hanya disuruh menyembah Ilah Yang Esa, tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.’ (at-Taubah: 31)

Ayat yang semakna dengan ini, firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

 ‘Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawankawannya agar mereka membantah kamu dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.’ (al-An’am: 121).”

Kelompok yang Banyak Terjatuh dalam Perbuatan Ini

Perbuatan sepeti ini banyak dilakukan oleh orang-orang yang taklid kepada seorang tokoh tertentu, seperti halnya Sufi dan lainnya, tidak mau mengindahkan dalil jika menyelisihi tokoh yang ia taklidi. Inilah satu bentuk perbuatan syirik. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Di antara bentuk menjadikan ahbar dan ruhban sebagai sesembahan adalah menaati ulama yang sesat dalam perkara-perkara bid’ah dalam agama yang mereka ada-adakan, khurafat, dan kesesatan lainnya, seperti perayaan maulid, tarekat-tarekat sufi, dan tawasul kepada orang-orang mati, serta berdoa kepada mereka.” (Dari Irsyad ila Tashihil Itiqad)

Penulis at-Tamhid Syarah Kitab at-Tauhid menerangkan, “Dan (amalan seperti ini) ada di umat Islam, yaitu di kalangan sufi (shufiyah) atau orangorang yang ghuluw dalam tasawuf, ghuluw dalam mengultuskan tokoh-tokoh mereka. Mereka menaati syaikh dan wali-wali mereka yang mereka anggap wali, menaati mereka dalam merubah agama Allah l.” (at-Tamhid, dengan sedikit perubahan)

 

Hukum Menaati Ulama dan Umara’ (Penguasa)

Ketaatan kepada ulama dan umara ada dua keadaan:

1. Menaati mereka dalam perkara yang bukan maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ini hukumnya wajib.

2 . Menaati mereka dalam menghalalkan apa yang diharamkan dan mengharamkan apa yang halalkan dalam keadaan ia meyakininya, adalah kesyirikan. Adapun orang yang mengikuti mereka ada beberapa keadaan:

a. Dia mengetahui bahwa mereka menyelisihi perintah Allah Subhanahu wata’ala dan dia tetap menaatinya serta meyakini kebenarannya, maka ini adalah syirik besar yang mengeluarkan dari Islam.

b. Dia menaati mereka dalam keadaan meyakini bahwa itu adalah haram dan meyakini itu adalah salah, tetapi ia menaatinya karena hawa nafsu, maka ini adalah syirik kecil.

c. Ia tidak mengetahui bahwa mereka menyelisihi syariat Allah Subhanahu wata’ala, namun ia menyangka mereka di atas kebenaran maka ini adalah uzur kalau memang orang seperti dia tidak tahu hal itu. (Lihat I’anatul Mustafid Syarah Kitab at-Tauhid)

 

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata, “Ketahuilah bahwa mengikuti ulama dan umara dalam menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sebaliknya, ada tiga macam:

a. Mengikuti mereka dalam perkara tersebut dalam keadaan meridhai ucapan mereka, serta membenci hukum Allah Subhanahu wata’ala, maka orang ini kafir karena telah membenci apa yang Allah Subhanahu wata’ala turunkan.

b. Mengikuti mereka dalam keadaan dia ridha kepada hukum Allah Subhanahu wata’ala dan tahu bahwa hukum Allah Subhanahu wata’ala lebih baik, lebih tinggi, dan lebih bermaslahat bagi hamba dan negeri, namun karena hawa nafsu dia lebih memilihnya. Orang ini tidaklah kafir namun namun dia menjadi orang fasik pantas mendapat hukuman seperti hukuman orang bermaksiat lainnya.

c. Dia seorang yang jahil (bodoh) dan mengira itu adalah hukum Allah Subhanahu wata’ala. Golongan ini terbagi dua:

• Seorang yang memungkinkan untuk mengetahui al-haq sendirian, namun dia orang yang lalai maka dia seorang yang berdosa, karena Allah Subhanahu wata’ala telah memerintah bertanya kepada ulama ketika tidak ada.

• Dia bukan seorang alim dan tidak memungkinkan belajar, maka dia mengikuti mereka karena taklid. Dia menyangka itu adalah haq. Orang ini tidaklah berdosa karena telah melakukan apa yang diperintahkan dan dia mendapatkan uzur dalam perbuatannya. (Disadur dari al-Qaulul Mufid)

Seorang muslim hendaknya memberikan ketaatan yang mutlak hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Tidak dibolehkan menaati makhluk kecuali dalam perkara yang dibenarkan secara syar’i. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

 “Wahai orang-orang beriman, taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya, serta kepada ulil amri di antara kalian.” (an-Nisa: 59)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan untuk taat kepada ulul amri, yaitu orangorang yang mengurusi manusia baik kalangan umara, pemerintah, atau mufti (ahli fatwa), karena tidak akan lurus urusan agama dan dunia manusia kecuali dengan taat dan tunduk kepada mereka, sebagai bentuk ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mengharapkan apa yang di sisi Allah Subhanahu wata’ala, tetapi dengan syarat mereka tidak memerintah untuk berbuat maksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

 

Penyebab Maraknya Kesesatan

Pergulatan antara penganut kebenaran dan pengikut kebatilan adalah kepastian dari Allah Subhanahu wata’ala. Dengan ilmu dan kekuasaan-Nya yang sempurna Dia Subhanahu wata’ala telah menakdirkan terjadinya sampai datangnya hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan tentang awal pergulatan tersebut, yaitu antara Bapak kita, Adam ‘Alaihissalam, dan Iblis la’natullah ‘alaih. Iblis telah menyatakan permusuhan kepada manusia di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana firman-Nya (yang artinya),

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” Allah berfirman, “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barang siapa di antara mereka mengikuti kamu, benarbenar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya.”  (Dan Allah berfirman), “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan istrimu di surga serta makanlah olehmu berdua (buahbuahan) di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang lalim.”

Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepadakeduanya apa yang tertutup dari mereka, yaitu auratnya dan setan berkata, “Rabb kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).” Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya, “Sesungguhnya saya adalah termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua,” maka setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, “Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?” (al-A’raf: 16—22)

Kepastian ini juga akan dihadapi oleh seluruh nabi setelah Adam  beserta para pengikut mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

 “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan  (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indahindah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka adaadakan.” (al-An’am: 112)

Terlebih lagi pergulatan yang harus dihadapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melawan pembela kebatilan sehingga Allah Subhanahu wata’alamengibur beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana firman- Nya (yang artinya),

“Sesungguhnya, Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalimitu mengingkari ayat-ayat Allah. Sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat mengubah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita rasul-rasul itu.” (al-An’am: 33—34)

Kita meyakini bahwa perseteruan yang terjadi antara ahlul haq (pengikut kebenaran) dan ahlul batil (pengikut kebatian) di dunia fana ini terjadi dengan takdir Allah Subhanahu wata’ala dan disertai oleh hikmah- Nya yang sempurna karena Allah Subhanahu wata’ala adalah Yang Mahabijaksana. Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan hikmah tersebut dalam firman-Nya,

وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ ۗ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرً

 “Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan adalah Rabbmu Maha Melihat.” (al-Furqan: 20)

وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ

 “Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi, Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.” (al-Baqarah: 251)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di menjelaskan, “Di antara hikmah Allah menjadikan musuh-musuh bagi para nabi dan adanya pembela kebatilan yang mengajak pada kebatilannya adalah sebagai ujian dan cobaan bagi para hamba-Nya. Dengan demikian, akan terpisahkan antara yang jujur dan yang berdusta, yang berakal sehat dan yang jahil, serta yang melihat (dengan mata hatinya) dan yang buta. Selain itu, hikmah (adanya ujian dan cobaan tersebut) adalah penjelasan dan penerangan tentang kebenaran karena kebenaran akan bercahaya dan tampak jelas saat kebatilan menghadang dan memeranginya. Saat itu terpisahkanlah dalil-dalil dan saksisaksi yang menunjukkan pada kebenaran tersebut beserta hakikatnya, dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh kebatilan. Hal ini (terpisahnya kebenaran dan kebatilan) termasuk hal yang paling dicari oleh para hamba.” (Taisir al-Karimirrahman hlm. 270)

Dua Sebab Maraknya Ideologi Sempalan

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

اصْبِرُوا فَإِنَّهُ لَا يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ شَرٌّ مِنْهُ حَتَّى تَلْقَوْا رَبَّكُم

“Sabarlah kalian karena tidak datang sebuah masa kecuali yang setelahnya lebih jelek dari yang sebelumnya, sampai kalian bertemu dengan Rabb kalian.” (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pula,

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَظْهَرَ الْجَهْلُ

“Sesungguhnya termasuk tandatanda kiamat adalah dicabutnya ilmu dan merebaknya kebodohan.” (Muttafaqun alaih dari Anas bin Malik)

Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain,

إِنَّ ا لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah l tidak akan mencabut ilmu dari manusia dengan sekaligus. Akan tetapi, Dia akan mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama (ahli ilmu).Ketika Dia tidak menyisakan seorang alim pun, umat manusia akan menjadikan orang-orang jahil sebagai pemimpin mereka, kemudian para pemimpin itu ditanya. Mereka pun berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma)

Tiga hadits di atas menunjukkan bahwa merebak dan semaraknya berbagai kesesatan dalam agama ini disebabkan oleh jauhnya umat manusia dari ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah serta ahlinya (para ulama). Lebih jelasnya, kedua sebab itu adalah sebagai berikut.

1. Kebodohan

Kebodohan terhadap syariat Islam yang mulia dan sempurna adalah penyakit yang membahayakan dan membinasakan. Namun, tidak ada yang menyadari bahwa kebodohan itu adalah penyakit, selain orang yang dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا سَأَلُوا إِذَا لَمْ يَعْلَمُوا، إِنَّمَا شِفَاءُ الْعَيِّ السُّؤَالُ

“Mengapa mereka tidak bertanya ketika tidak tahu? Hanyalah obat ketidaktahuan (kebodohan) adalah bertanya.” ( HR. Abu Dawud dan

dinyatakan sahih oleh al-Albani) Asy-Syaikh Muhammad al-Imam hafizhahullah berkata (Bidayatul Inhiraf hlm. 133), “Kebodohan adalah musuh semua risalah yang dibawa oleh para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala memisalkan orang yang bodoh sebagai makhluk yang paling jelek yang berjalan di muka bumi ini. Firman-Nya,

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِندَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

 “Sesungguhnya binatang (makhluk) yang paling buruk pada sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan tuli yang tidak mengerti apa pun.” (al-Anfal: 22)

أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu).” (al-Furqan: 44)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan akibat jelek dari kebodohan dalam kitabnya, Miftah Dar as- Sa’adah (1/382), “Pohon kejahilan akan membuahkan seluruh kejelekan,__ kezaliman, permusuhan (tanpa alasan yang benar), ….

Seluruh kejelekan dan kerusakan yang telah dan akan terjadi di alam semesta ini hingga hari kiamat dan setelahnya (yakni di akhirat) disebabkan oleh penyelisihan terhadap apa yang dibawa oleh para rasul e baik dalam hal ilmu maupun amalan.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya pelopor dan perintis mazhab Syiah Rafidhah adalah seorang zindiq kafir yang memusuhi agama Islam dan kaum muslimin. Dia bukan ahli bdi’ah yang sesat karena takwil, seperti Khawarij dan Qadariyah. Meski demikian, keyakinan-keyakinan Syiah Rafidhah laris di kalangan kaum muslimin yang masih memiliki iman karena sangat bodohnya mereka.” (Minhajus Sunnah 4/363)

2. Jauhnya umat dari ulama syariat

Allah Subhanahu wata’ala menjadikan para ulama syariat sebagai para pemimpin yang harus ditaati dalam urusan yang ma’ruf sebagaimana dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

 “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an- Nisa: 59)

Mereka adalah tempat untuk mengembalikan dan mengadukan seluruh problem umat manusia, terkhusus dalam masalah agama. Umat senantiasa menunggu dan mengharapkan bimbingan dan nasihat mereka. Sebab, mereka adalah orang yang paling memahami syariat dan hal-hal yang akan bermanfaat bagiumat, baik yang terkait dengan urusan dunia maupun agama. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

 “Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau pun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa: 83)

Di samping itu, mereka adalah orang yang paling peduli dan penyayang terhadap umat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ كَمَثَلِ رَجُلٍ أَوْقَدَ نَارًا فَجَعَلَ الْجَنَادِبُ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهَا وَهُوَ يَذُبُّهُنَّ عَنْهَا وَأَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ وَأَنْتُمْ تَفَلَّتُونَ مِنْ يَدِي

“Permisalanku dengan kalian ibarat seorang yang menyalakan api (di malam hari). Lalu datanglah serangga dan kupu-kupu ingin masuk ke dalamnya dalam keadaan dia menghalanginya agar tidak masuk ke dalam api. Dan aku memegangi pinggang kalian (supaya kalian selamat) dari api (neraka), namun kalian senantiasa berusaha melepaskan diri dari kedua tanganku.” (HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rahimahullah berkata, “Para ulama lebih sayang terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada ayah dan ibu mereka.” Beliau rahimahullah ditanya, “Bagaimana itu terjadi?” Jawab beliau, “Ayah dan ibu mereka menjaga mereka (agar selamat) dari api dunia, sedangkan para ulama menjaga mereka (sehingga selamat) dari api neraka.” (Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits hlm. 167)

Itulah kedudukan mulia dan urgensi keberadaan ulama di tengah-tengah umat yang tergambarkan dalam beberapa ayat dan hadits. Lantas apa yang terjadi ketika umat jauh dari mereka? Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan tentang umat yang jauh dari ilmu dan ulama dalam hadits Abdullah bin Amr di atas. Disebutkan bahwa umat akan menjadikan orang-orang bodoh sebagai pimpinan mereka sehingga mereka sesat dan menyesatkan umat. Tidak ada musibah yang lebih dahsyat yang menimpa sebuah umat selain jauhnya mereka dari ilmu dan ulama sehingga rusaklah urusan dunia dan agama mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ

“Apabila sebuah urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, tunggulah kehancurannya.” (HR. al-Bukhari)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau bukan karena adanya ulama, sungguh umat manusia akan seperti binatang ternak.” (Mukhtashar Nashihati Ahlil Hadits)

Ada dua kemungkinan yang menyebabkan umat jauh dari ulama syariat.

a. Sedikitnya jumlah ulama dibandingkan dengan kebutuhan umat.

Hal ini adalah salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat sebagaimana disebutkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma di atas. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para dai yang mengajak umat kepada berbagai kesesatan, seperti sufi, hizbiyah (fanatisme golongan), politik, dan sebagainya.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Hati-hatilah kalian dari para dai yang menyeru kepada kesesatan. Mereka memburu para pemuda dan berusaha memutuskan hubungan para pemuda itu dengan keluarga dan masyarakatnya. Lantas mereka mencekoki para pemuda tersebut dengan berbagai pemikiran sesat. Akhirnya, Anda akan dapati seorang pemuda terpisah dari kedua orang tua dan keluarganya,lalu menjauh dari masjid-masjid kaum muslimin, shalat Jumat,dan shalat jamaah. Setelah itu tidak diketahui lagi di mana dia, sampai terdengar berita bahwa dia terbunuh bersama perusuh atau ditangkap bersama mereka oleh aparat. Inilah buah yang akan dipetik apabila para pemuda tidak memedulikan dan mengikuti nasihat para ulama.

Mereka tidak mau mengambil sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam yang memerintahkan untuk berpegang teguh dengan jamaah kaum muslimin, penguasa mereka, berbakti dan membantu kedua orang tua, dan menjaga shalat Jumat dan shalat jamaah. Tatkala mereka tidak memerhatikan hal-hal ini, niscaya mereka akan jatuh ke tangan musuh mereka. Musuh-musuh itu akan mencari mereka, lalu mencekoki dengan doktrin-doktrin yang akan menghancurkan kehidupan mereka. Kalaupun sebagian mereka masih tersisa, akan susah sekali diobati karena pemikirannya sudah rusak dan sudah dicuci otak. Mereka layaknya orang yang terkena penyakit yang belum ada obatnya semacam kanker atau lainnya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 36)

b. Dijatuhkannya kewibawaan para ulama di hadapan umat Islam dengan berbagai cara.

Di antara cara yang ditempuh adalah menjuluki ulama syariat sebagai ulama sulthan (pemerintah), ulama haid dan nifas yang tidak paham realitas, ulama antijihad, dan sebagainya. Kalau kita perhatikan, cara yang mereka lakukan untuk menjauhkan umat dari para ulamanya adalah cara-cara orang kafir yang menentang dakwah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahuwata’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya,

كَذَٰلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ ( ) أَتَوَاصَوْا بِهِ ۚ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Demikianlah tidak seorang rasul pun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan, “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.” Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu? Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (adz-Dzariyat: 52—53)

Bahkan, ketika Fir’aun berusaha menghadang dakwah tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa ‘Alaihissalam, dia mengatakan kepada umatnya,

ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

 “Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (Ghafir: 26)

Demikian pula, cara inilah yang ditempuh oleh ahli bid’ah untuk menjauhkan umat dari para ulama. Cara ini mereka warisi dari generasi ke generasi. Karena itu, al-Imam Abu Utsman Ismail ash-Shabuni mengatakan, “Ciri-ciri ahli bid’ah itu tampak sekali pada orangnya. Ciri dan tanda yang paling jelas adalah sangat kerasnya permusuhan, pelecehan, dan penghinaan mereka terhadap para pembawa hadits-hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam (yakni para ulama ahli hadits).” (‘Aqidatu as-Salaf hlm. 101)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kaum muslimin wajib menghormati para ulama karena mereka adalah pewaris para nabi. Melecehkan mereka berarti melecehkan kedudukan mereka sebagai pewaris Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus ilmu syariat yang mereka bawa. Barang siapa berani melecehkan ulama, tentu lebih berani melecehkan kaum muslimin selain mereka. Para ulama adalah orang-orang yang wajib dihormati karena ilmu dan kedudukan mereka di tengah-tengah umat, serta tanggung jawab yang mereka emban demi kebaikan Islam dan kaum muslimin. Apabila para ulama sudah tidak dipercaya, siapa lagi yang akan dipercaya? Apabila kepercayaan umat terhadap para ulama telah hilang, kepada siapa lagi kaum muslimin bisa mengadukan berbagai problem mereka? Siapa lagi yang dipercaya menjelaskan hukum-hukum syariat? Ketika semua itu terjadi, umat pun akan terlantar, kekacauan pun akan tersebar.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 188)

Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa

melimpahkan hidayah taufik kepada kita semua untuk senantiasa ikhlas, sabar, dan istiqamah untuk menuntut ilmu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah n dengan pemahaman salafus saleh, di bawah bimbingan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, agar selamat jiwa kita dan keluarga kita serta seluruh kaum muslimin. Amin. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Perang Dzatu As-Salasil (Pasukan Berantai)

Khalid tiba bersama pasukannya yang berjumlah 2.000 orang yang sebelumnya ikut memerangi orang-orang murtad. Bergabung pula 8.000 orang dari kabilah Rabi’ah. Khalid kemudian menulis surat kepada tiga orang pembesar yang ada di Irak, yang juga sudah siap berjihad, agar bersatu menyerang Irak. Ketiga pembesar itu adalah Ma’dzur bin ‘Adi al-‘Ijli, Sulma bin al-Qain at-Tamimi, dan Harmalah bin Murabthah at-Tamimi.

Surat itu diterima baik dan ketiga pembesar itu pun menggabungkan pasukan mereka yang jumlahnya bersama pasukan al-Mutsanna adalah 8.000 personil. Akhirnya, kekuatan pasukan muslimin bertambah menjadi 18.000 personil. Mereka berkumpul di Ubulla. Sebagaimana telah diceritakan, sebelum memasuki Irak, Khalid sudah menulis surat peringatan kepada Hurmuz, pemimpin Persia, di perbatasan Ubulla.

Setelah mendekati wilayah pertempuran, Khalid memecah pasukannya menjadi tiga dan memerintahkan setiap pasukan memilih jalannya sendiri-sendiri, tidak dari satu jalan saja. Strategi ini disengaja Khalid untuk menepis adanya blokade-blokade. Akhirnya, di bagian depan, berangkatlah al-Mutsanna, kemudian pasukan kedua adalah pasukan ‘Adi bin Hatim ath-Tha’i, dan terakhir adalah pasukan Khalid. Mereka bersepakat bertemu di Hudhair.

 

Pasukan Rantai

Hurmuz sudah mengetahui arah pergerakan pasukan Khalid dan tahu pula bahwa kaum muslimin berjanji untuk bertemu di Hudhair. Ia pun mempercepat gerak pasukannya untuk mendahului kaum muslimin tiba di tempat tersebut. Hurmuz menempatkan Qubbadz dan Anusyjan di bagian depan pasukan.

Sampailah berita kepada Khalid bahwa orang-orang Persia sudah bersegera menuju Hudhair. Sebab itu, Khalid membawa pasukannya menjauh dari Hudhair menuju Kazhimah, tetapi Hurmuz sudah mendahului pula dan berhenti di tempat yang cukup persediaan airnya.

Adapun Khalid berhenti di tempat yang tidak ada persediaan airnya. Khalid berkata kepada sahabat-sahabatnya, “Turunkan beban-beban kalian kemudian rebut air mereka. Demi Allah, air itu akan mengalir untuk golongan pasukan yang paling sabar dan tentara paling mulia.”

Kaum muslimin segera menurunkan beban-beban mereka dalam keadaan kuda-kuda masih berdiri tegak dan pasukan pejalan kaki mulai mendekati orang-orang kafir.

Allah Yang Maha Pemurah mulai mengirimkan awan dan menurunkan hujan di bagian belakang barisan kaum muslimin. Akhirnya, kaum muslimin menjadi kuat dengan tersedianya air yang melimpah untuk bekal mereka. Itulah sebagian bukti kebersamaan Allah Subhanahu wata’ala dengan para wali-Nya yang beriman. Akhirnya, kedua pasukan itu saling berhadapan.

Hurmuz adalah Panglima Persia yang dikenal sebagai orang yang jahat dan curang, bahkan menjadi simbol dengan kejahatannya. Hurmuz sudah mendengar ketangguhan Khalid di medan laga sehingga ia berusaha melakukan muslihat untuk menwgalahkan Khalid dan kaum muslimin dengan cepat.

Beberapa pengawalnya diperintahkan untuk maju bersamanya ke tengah-tengah lapangan antara pasukan kaum muslimin dan Persia. Hurmuz mulai berjalan ke depan dan menantang Khalid agar maju bertanding satu lawan satu dengannya. Khalid menyambut tantangan itu dan turun dari kudanya. Dengan tenang, Khalid berjalan ke tengah gelanggang sambil menghunus pedangnya. Hurmuz juga mulai maju. Tiba-tiba, begitu mendekat, Hurmuz menyerang Khalid. Tetapi, dengan enteng Khalid mengelakkan serangan lawan. Kedua pedang mulai beradu. Beberapa saat keduanya masih tangguh dan saling tebas.

Dalam satu kesempatan, Khalid berhasil menelikung Hurmuz. Tetapi, beberapa pengawal Hurmuz segera maju hendak menyergap Khalid ketika beliau lengah.

Qa’qa’ bin ‘Amr yang diturunkan dalam pasukan Khalid melihat kecurangan itu segera memacu kudanya bersama beberapa orang berkuda lainnya menyerang pengawal Hurmuz. Melihat keadaan ini, kaum muslimin di belakang Qa’qa’ segera menyerbu. Tentara Persia dengan kekuatan dan persenjataan lengkap segera menyambut serangan muslimin.

Bunyi gemerincing rantai menggema menyelingi suara takbir dan jerit kematian. Pasukan Persia memang menggunakan rantai. Mereka mengikat kaki-kaki mereka agar tidak lari dari medang perang. Inilah salah satu alasan perang ini dinamakan juga Dzatu as-Salasil (pasukan rantai).

Walaupun jumlah kaum muslimin kalah jauh dibandingkan dengan tentara Persia, tetapi semangat iman yang ada di hati mereka seakan-akan meruntuhkan gunung. Kekuatan inilah yang sesungguhnya dihadapi oleh tentara penyembah api. Bagaimana mungkin mereka menang?

Dengan cepat pertempuran itu diselesaikan oleh kaum muslimin. Puluhan ribu prajurit Persia yang bertahun-tahun terlatih dalam strategi perang yang canggih saat itu bergelimpangan sia-sia. Kenyataan ini pula menambah dendam anak cucu dinasti Sasanid hingga saat ini terhadap kaum muslimin, khususnya bangsa Arab (Quraisy, ed.).

Akhirnya, kaum muslimin memperoleh ghanimah yang berlimpah, dibawa oleh seribu ekor unta. Tetapi, kaum muslimin tidak menyerang para petani yang mereka jumpai di wilayah Persia. Para petani secara baik-baik ditawari untuk menerima Islam. Kalau mereka menerima, ada kewajiban zakat dari hasil pertanian mereka. Kalau tidak, mereka harus menyerahkan jizyah yang nilainya tetap jauh lebih kecil daripada yang dirampas oleh raja-raja Persia dari petani-petani tersebut.

Dari ghanimah tadi, seperlimanya dikirim oleh Khalid kepada Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq, sedangkan sisanya dibagi-bagi di antara para prajurit muslim.Termasuk yang dikirimkan kepada Khalifah adalah mahkota Hurmuz yang bertakhtakan permata, yang harganya mencapai seratus ribu dinar. Akan tetapi, mahkota itu justru dikembalikan Khalifah kepada Khalid sebagai hadiah untuk si Pedang Allah.

Berturut-turut, wilayah Irak mulai membuka dan menyerahkan diri kepada tentara Allah Subhanahu wata’ala. Bala bantuan yang diinginkan oleh Hurmuz terlambat datang. Bahkan, kedatangan mereka pun sia-sia karena menghadapi orang-orang yang merindukan bertemu dengan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana orang-orang Persia yang sangat mencintai hidup. Hampir 30.000 orang prajurit Persia mati di tangan kaum muslimin setelah mereka memasuki wilayah Madzar.

Jatuhnya Madzar semakin menambah kemarahan dan dendam orang-orang Persia. Raja mereka segera mengirim pasukan besar untuk menghentikan laju kaum muslimin. Tetapi, siapa yang dapat menahan tentara Allah Subhanahu wata’ala? Siapa yang dapat mencegah kekuatan iman jika sudah menerjang?

Dalam pertempuran di wilayah Waljah, kekalahan Persia demikian memalukan. Khalid bertanding dengan seorang tentara Persia yang kekuatannya setara dengan seribu prajurit. Tetapi, dengan mudah Khalid membunuhnya. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

Bani Israil Menyembah Anak Sapi

Setelah berada di Bukit Thursina, Allah Subhanahu wata’ala menerangkan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam bahwa Dia telah memberikan cobaan kepada bani Israil dan mereka pun disesatkan oleh Samiri. Nabi Musa ‘alaihis salam pun terkejut dan kecewa.

Begitu kembali dari Bukit Thur, beliau ‘alaihis salam melihat sebagian besar (sekitar 70.000 orang) bani Israil benar-benar melakukan kesyirikan, beribadah kepada patung anak sapi emas. Mereka meratap dan menari-nari di sekeliling patung itu, sehingga kemarahan beliau pun memuncak. Sambil melemparkan lembaran Taurat yang ada di tangannya ke tanah, beliau berkata sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

بِئْسَمَا خَلَفْتُمُونِي مِن بَعْدِي ۖ أَعَجِلْتُمْ أَمْرَ رَبِّكُمْ

“Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Rabbmu?” (al-A’raf: 150)

Tidak sampai di situ saja, beliau mengira bahwa saudaranya, Harun ‘alaihis salam, kurang maksimal dalam mengingatkan dan membimbing kaumnya, sehingga beliau mencari Nabi Harun ‘alaihis salam lalu menarik kepala dan janggut Nabi Harun ‘alaihis salam, seraya berkata sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ يَا هَارُونُ مَا مَنَعَكَ إِذْ رَأَيْتَهُمْ ضَلُّوا ( ) أَلَّا تَتَّبِعَنِ ۖ أَفَعَصَيْتَ أَمْرِي

“Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (Thaha: 92-93)

Nabi Harun ‘alaihis salam pun berkata kepada saudaranya, sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالَ يَا ابْنَ أُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِي وَلَا بِرَأْسِي ۖ إِنِّي خَشِيتُ أَن تَقُولَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِي

“Hai putra ibuku, janganlah kamu pegang jenggotku dan jangan (pula) kepalaku. Sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata (kepadaku), ‘Kamu telah memecah antara bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku’.” (Thaha: 94)

Memang, Nabi Harun ‘alaihis salam tidak diam begitu saja dan membiarkan mereka melakukan kesyirikan. Namun, karena bani Israil yang menyembah patung anak sapi itu menganggapnya lemah, mereka hampir membunuh beliau.

Di sisi lain, orang-orang Yahudi dan Nasrani justru menganggap bahwa Nabi Harunlah yang membuatkan patung itu untuk bani Israil. Alangkah kejinya tuduhan mereka ini.

Sangat disayangkan pula sikap sebagian kaum muslimin. Di manakah sentimen keagamaan mereka terhadap salah seorang Nabi Allah Subhanahu wata’ala yang mulia? Relakah mereka Nabi Harun ‘alaihis salam yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dilecehkan begitu rupa dan dianggap sebagai pendukung kesyirikan?

Orang-orang Yahudi tidak pernah memuliakan para nabi dan rasul yang datang kepada mereka. Jangankan terhadap para nabi dan rasul, Allah Subhanahu wata’ala juga tidak lepas dari sikap pelecehan mereka.

Lebih menyedihkan lagi, adanya sebagian kaum muslimin yang ditokohkan, menganggap diamnya Nabi Harun ‘alaihis salam adalah sikap toleran terhadap perbedaan pendapat meskipun dalam urusan tauhid dan syirik. Tidakkah dia memerhatikan alasan Nabi Harun ‘alaihis salam Tidakkah dia membaca bahwa ketika itu Nabi Musa ‘alaihis salam sedang tidak ada bersama mereka? Tidakkah dia membayangkan seandainya Nabi Harun ‘alaihis salam menumpas orang-orang musyrik itu, lalu ditanya oleh Nabi Musa ‘alaihis salam setelah tiba di tengah-tengah bani Israil, apa yang terjadi dengan bani Israil? Ke mana 70.000 orang bani Israil lainnya? Apa jawaban yang akan beliau berikan kepada Nabi Musa ‘alaihis salam melihat bani Israil musnah?

Tidakkah dia memerhatikan bagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memberi peluang sedikit pun kepada kesyirikan? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengizinkan penduduk Thaif masih menyimpan berhala pujaan  mereka meskipun hanya sehari? Tokoh itu pula yang menyatakan bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukan dalam urusan agama, tetapi tanah/wilayah. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberinya petunjuk agar bertobat.

Kepada anak-anak kaum muslimin yang tertipu oleh penampilan Yahudi dan Nasrani, masihkah mereka beriman kepada al-Qur’anul Karim? Tidakkah mereka yakin bahwa al-Qur’an ini menyempurnakan semua kitab agama yang terdahulu? Terhadap hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka berani menolaknya kalau tidak sesuai dengan al-Qur’an, meskipun sanadnya sahih, tetapi mengapa terhadap kitab-kitab yang tidak jelas kebenarannya, keasliannya, bahkan tidak mempunyai sanad yang sahih sampai kepada nabi mereka, boleh diterima mentah-mentah, tidak dihadapkan kepada al-Qur’an untuk dinilai benar atau tidaknya? Bahkan, dijadikan acuan untuk menilai dan mengoreksi ajaran Islam?

Wallahul musta’an.

Bukankah dengan jelas Allah Subhanahu wata’ala berfirman, menceritakan upaya Nabi Harun ‘alaihis salam memberi peringatan agar bani Israil tidak berbuat syirik?

وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هَارُونُ مِن قَبْلُ يَا قَوْمِ إِنَّمَا فُتِنتُم بِهِ ۖ وَإِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمَٰنُ فَاتَّبِعُونِي وَأَطِيعُوا أَمْرِي () قَالُوا لَن نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ حَتَّىٰ يَرْجِعَ إِلَيْنَا مُوسَىٰ

“Dan sesungguhnya Harun telah berkata kepada mereka sebelumnya,“Hai kaumku, sesungguhnya kamu hanya diberi cobaan dengan anak lembu itu dan sesungguhnya Rabbmu ialah Allah yang Maha Pemurah, maka ikutilah aku dan taatilah perintahku.” Mereka menjawab,“Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami.” (Thaha: 90—91)

Cukuplah Allah Subhanahu wata’ala menjadi saksi bahwa Nabi Harun ‘alaihis salam telah berusaha melarang dan mencegah mereka dengan sekeras-kerasnya.

Bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani, kalau mereka beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan memuliakan para nabi dari kalangan mereka, yang jelas-jelas penerus bapak moyang mereka -Ibrahim ‘alaihis salam– mereka semestinya mencabut tuduhan mereka terhadap Nabi Harun ‘alaihis salam. Sebab, bukan Nabi Harun ‘alaihis salam yang membuatkan patung anak sapi emas itu, bahkan beliau tidak pernah menyetujui perbuatan bani Israil yang menyembah patung anak sapi tersebut. Yahudi dan Nasrani juga harus meyakini dan menerima bahwa memang Samirilah yang menyesatkan bani Israil.

Hendaknya mereka lebih dahulu dapat membuktikan keaslian dan kemurnian kitab yang ada di tangan mereka, terutama dalam segi sanadnya. Rawi-rawinya harus bersih dari cacat sampai kepada nabi mereka, dan ini tidak mungkin mereka lakukan kecuali mengada-ada.

Sebab itu, kaum mukminin, baik dari kalangan ahli kitab yang masuk Islam maupun bukan, mereka sangat yakin bahwa kitab yang ada di tangan ahli kitab tidak lagi asli sebagaimana diturunkan kepada Nabi Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam. Oleh sebab itu, tidak mungkin kitab yang mereka anggap dari Nabi Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam tersebut dapat dijadikan acuan untuk mengoreksi al-Qur’an.

Bahkan, seharusnya al-Qur’an-lah yang mereka jadikan acuan untuk mengoreksi kitab-kitab tersebut. Dengan kenyataan tidak aslinya kitab yang ada di tangan mereka sebagaimana diterima oleh Nabi Musa dan ‘Isa ‘alaihimassalam, sudah tentu keraguan mereka tentang Samiri yang disebutkan dalam al-Qur’an tidak beralasan sama sekali.

Selain itu, apakah pantas seorang nabi yang mulia seperti Nabi Harun ‘alaihis salam menyetujui kesyirikan, bahkan mendukungnya dengan menyediakan sarananya? Mahasuci Allah, sungguh itu adalah tuduhan yang sangat keji. Siapa pun yang mengaku beriman, tentu memuliakan para nabi yang diutus oleh Allah ‘azza wa jalla.

Kita kembali kepada kisah ini.

Setelah menerima jawaban Nabi Harun ‘alaihis salam, Nabi Musa ‘alaihis salam berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala memintakan ampunan untuk dirinya dan saudaranya yang mulia ini, ‘alaihimassalam. Orang-orang yang tergoda ikut menyembah patung anak sapi itu akhirnya sadar, mereka merasa berdosa,

وَلَمَّا سُقِطَ فِي أَيْدِيهِمْ وَرَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ ضَلُّوا قَالُوا لَئِن لَّمْ يَرْحَمْنَا رَبُّنَا وَيَغْفِرْ لَنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Dan setelah mereka sangat menyesali perbuatannya dan mengetahui bahwa mereka telah sesat, mereka pun berkata, “Sungguh, jika Rabb kami tidak memberi rahmat kepada kami dan tidak mengampuni kami, pastilah kami menjadi orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 149)

Mereka pun datang menemui Nabi Musa ‘alaihis salam dan menanyakan cara bertobat dari dosa tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), maka bertobatlah kepada Bari’ (Allah Yang Menjadikan) kamu dan bunuhlah dirimu. Hal itu lebih baik bagimu pada sisi Rabb yang menjadikan kamu; maka Allah akan menerima tobatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 54)

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menerima tobat mereka setelah mereka membunuh diri mereka. Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan bahwa mereka yang bunuh diri itu hampir mencapai 70.000 orang. Kemudian, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يَا سَامِرِيُّ ( ) قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ لِي نَفْسِي ( ) قَالَ فَاذْهَبْ فَإِنَّ لَكَ فِي الْحَيَاةِ أَن تَقُولَ لَا مِسَاسَ ۖ وَإِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّن تُخْلَفَهُ ۖ وَانظُرْ إِلَىٰ إِلَٰهِكَ الَّذِي ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۖ لَّنُحَرِّقَنَّهُ ثُمَّ لَنَنسِفَنَّهُ فِي الْيَمِّ نَسْفًا ( ) إِنَّمَا إِلَٰهُكُمُ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ وَسِعَ كُلَّ شَيْءٍ عِلْمًا ( ) كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِن لَّدُنَّا ذِكْرًا ( ) مَّنْ أَعْرَضَ عَنْهُ فَإِنَّهُ يَحْمِلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وِزْرًا

Musa berkata, “Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian), hai Samiri?” Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku.” Musa berkata, “Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan, ‘Janganlah menyentuh (aku).’ Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah sesembahanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). Sesungguhnya sesembahanmu hanyalah Allah, yang tidak ada sesembahan yang haq selain Dia. Pengetahuan-Nya meliputi segala sesuatu.” (Thaha: 95-98)

Meskipun singkat, ternyata kecintaan menyembah patung anak sapi itu benar-benar meresap ke dalam hati sebagian besar bani Israil. Oleh sebab itu, Nabi Musa ‘alaihis salam menghancurkan patung itu dengan membakarnya, lalu menghamburkannya ke dalam laut sambil disaksikan oleh seluruh bani Israil. Semua itu agar mereka melihat bahwa benda yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wata’ala itu tidak berdaya apa-apa. Tidak mampu menyelamatkan dirinya sedikit pun, sehingga bagaimana mungkin dia dapat menyelamatkan orang-orang yang menyembahnya? Dengan lenyapnya wujud patung itu, hilang pula rasa cinta terhadap benda yang tidak memberi manfaat atau mudarat tersebut.

Ingat kembali kisah ‘Amr bin Jumuh radhiyallahu ‘anhu sebelum masuk Islam.

Alangkah lemah akal dan keyakinan orang-orang berbuat syirik, dan alangkah indahnya perumpamaan yang dibuat oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’anul Karim,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (al-Hajj: 73)

Jelaslah, semua yang diibadahi selain Allah ‘azza wa jalla, baik itu dari kalangan malaikat yang didekatkan maupun nabi yang diutus, tidak akan pernah mampu menciptakan sesuatu. Sudah tentu, selain dua golongan makhluk yang mulia ini tidak pula berdaya apa-apa. Adakah yang mau mengambil pelajaran?

Sekilas Tentang Samiri

Samiri ini, menurut sebagian ahli tarikh, adalah salah seorang bani Israil yang terasing di antara mereka. Ada pula yang berpendapat lain, dia termasuk penduduk Karman atau Bajarma, dan nama aslinya adalah Mikha, atau Musa bin Zhafar. Samiri adalah penisbatan kepada salah satu kabilah bani Israil.

Dahulu, Samiri bergaul dengan orang-orang yang menyembah patung anak sapi, sehingga cintanya kepada anak sapi benar-benar merasuk tulang. Setelah Fir’aun tenggelam dan bani Israil menyeberangi Laut Merah dengan selamat, mereka melewati sebuah negeri yang penduduknya menyembah anak sapi. Melihat keadaan penduduk tersebut, mereka pun berkata kepada Nabi Musa ‘alaihis salam, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَٰهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ

“Hai Musa, buatlah untuk kami satu sesembahan sebagaimana mereka mempunyai beberapa sesembahan.” (al-A’raf: 138)

Dari sinilah muncul ambisi Samiri untuk mengajak bani Israil menyembah patung anak sapi. Dia teringat ketika Jibril berada di depan pasukan Fir’aun menggiring mereka memasuki laut yang terbelah. Waktu itu Jibril berada di atas kendaraannya, dan Samiri melihat jejak kaki kuda Jibril tersebut.

Kemudian Samiri mengambil segenggam tanah bekas jejak kaki kuda itu dan menyimpannya dalam sebuah kantong. Ketika bani Israil melemparkan emas dan perhiasan mereka ke dalam api yang sedang berkobar melahap perhiasan tersebut hingga meleleh, Samiri melemparkan tanah  yang disimpannya ke tumpukan emas yang sudah meleleh dalam kobaran api itu sambil berkata, “Jadilah anak sapi!”

Dengan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala, cairan emas dan perhiasan itu menjadi patung seekor anak sapi yang mengeluarkan suara. Hal ini semakin membenamkan bani Israil ke dalam fitnah (ujian) karena kebodohan mereka. Menurut Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, patung itu bersuara karena angin yang masuk dari dubur sapi itu dan keluar dari mulut. Wallahu a’lam.

Bagaimana Samiri mengenali Jibril? Wallahu a’lam, sebagian orang menceritakan bahwa ketika Fir’aun membantai anak laki-laki bani Israil, ibu Samiri juga berusaha menyelamatkan putranya, seperti halnya ibu Nabi Musa ‘alaihis salam.

Samiri disembunyikan di dalam sebuah gua oleh ibunya lalu ditinggal pergi. Diceritakan mereka bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus Jibril merawat bayi ini untuk satu urusan yang sudah ditentukan oleh Allah ‘azza wa jalla. Sejak saat itulah Samiri mengenal Jibril. Ketika bani Israil menyeberangi laut bersama Nabi Musa dan Harun alaihimassalam, Jibril berada di depan rombongan itu di atas kudanya.

Samiri mengenalinya, lalu mengambil bekas tapak kaki kuda Jibril yang membuat tanah yang diinjaknya menghijau.

Menurut sebagian ahli kitab, nama Samiri adalah penisbatan kepada kota Samirah yang dibangun seratus tahun sesudah Nabi Musa alaihis salam. Jadi, tidak mungkin yang menyesatkan bani Israil sehingga menyembah patung anak sapi salah seorang penduduk kota yang munculnya seratus tahun kemudian.

Dari sinilah mereka menganggap al-Qur’an salah dan mengatakan bahwa Nabi Harun alaihis salam -lah yang membuat patung tersebut. Semoga Allah Subhanahu wata’ala membinasakan mereka.

Di dalam kitab-kitab Israiliyat sendiri, dia mempunyai nama yang sama dengan Nabi Harun bin ‘Imran, saudara Nabi Musa alaihis salam, yaitu Harun as-Samiri.

Dari sini pula, entah karena sengaja atau karena kebodohan, mereka menuduh Nabi Harun-lah yang menyesatkan bani Israil. Wallahul musta’an.

Yang jelas, al-Qur’anul Karim menyebut nama ini, dan berarti tokoh ini ada, entah dengan nama sebagaimana yang termaktub dalam al-Qur’anul Karim, atau dengan nama dalam bahasa Ibrani lalu disesuaikan dengan dialek Arab.

Pelajaran dari Kisah Ini

Dari rangkaian kisah bani Israil bersama Nabi Musa dan Harun ‘alaihimassalam sampai mereka disesatkan oleh Samiri ini, dapat kita petik beberapa hikmah, di antaranya sebagai berikut.

  • Luasnya kasih sayang dan karunia Allah Subhanahu wata’ala kepada bani Israil, sehingga sudah sepantasnya mereka bersyukur dan semakin taat kepada-Nya.
  • Kebenaran itu tidak diukur berdasarkan jumlah yang banyak.
  • Orang yang lama terbenam dalam kebatilan dan baru sesaat meninggalkannya, sangat dikhawatirkan sisa-sisa kebatilan itu masih bersemayam di dalam hatinya.

Keadaan ini pernah dialami oleh para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tetapi, setelah mendapat teguran keras dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka tidak lagi mempunyai keinginan untuk melakukan kesyirikan itu. Inilah salah satu keutamaan para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

  • Orang-orang yang berbuat syirik sama sekali tidak memiliki hujah yang mendukung kesyirikan mereka.
  • Syirik adalah pelanggaran terhadap hak asasi paling utama, yaitu hak Allah ‘azza wa jalla. Sebab itu, para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala selalu mengingatkan bahaya syirik ini dan melarang umatnya melakukan syirik. Tidak mungkin mereka melegalkan apalagi mendukung atau menyiapkan sarana kesyirikan, meskipun sekejap.
  • Rahmat Allah Subhanahu wata’ala terhadap umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tidak menetapkan syariat keharusan bunuh diri sebagai cara untuk bertobat.

Wallahu a’lam.

Ditulis Oleh : al Ustadz Abu Muhammad Harits

Persoalan-Persoalan Seputar Akikah

Banyak pertanyaan diajukan kepada Redaksi seputar mengakikahi diri sendiri dan mengakikahi setelah hari ke-7 kelahiran. Juga bila baru punya satu kambing untuk akikah anak laki-laki bolehkah dengan satu kambing dahulu, dan yang lain menyusul? Demikian juga apakah bayi yang meninggal diakikahi?

  1. Mengakikahi diri sendiri.

Dalam hal ini terdapat beberapa pendapat, yang terkuat dari pendapat yang ada adalah boleh. Berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menerangkan bahwa beliau mengakikahi dirinya sendiri setelah menjadi nabi.

Hadits ini sahih menurut pendapat yang paling kuat (rajih). Sebagian ulama melemahkannya, namun pendapat mereka keliru. Oleh karena itu, kami akan sedikit menyampaikan pembahasan hadits ini.

Sebenarnya hadits ini telah panjang lebar dibahas oleh asy-Syaikh al-Albani dalam kitab beliau Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 2726. Di sini saya hanya akan meringkas apa yang dijabarkan oleh beliau dan sedikit menambahkan yang perlu. Adapun bunyi hadits itu. Anas berkata,

عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا بُعِثَ نَبِيًّا

“Nabi mengakikahi dirinya setelah diutus menjadi nabi.”

Hadits ini disampaikan oleh sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu. Ada tiga rantai sanad yang sampai kepada sahabat Anas radhiyallahu ‘anhu.

  1. Al-Haitsam bin Jamil dari Abdullah bin al-Mutsanna, dari Tsumamah bin Anas, dari Anas bin Malik z. Jalur ini diriwayatkan oleh ath-Thahawi, ath-Thabarani, Ibnu Hazm, adh-Dhiya’ al-Maqdisi, Abu asy-Syaikh, dan Ibn A’yan.
  2. Isma’il bin Muslim, dari Qatadah, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
    Jalur ini diriwayatkan oleh Abu asy-Syaikh.
  3. Abdullah bin al-Muharrar, dari Qatadah, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
    Jalur ini diriwayatkan oleh Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, al-Bazzar, dan Ibnu Adi.

Untuk rantai sanad yang pertama, asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ini adalah sanad yang hasan, para rawinya adalah orang-orang yang yang telah dijadikan hujah (para periwayat tepercaya) dalam Shahih al-Bukhari, selain al-Haitsam bin Jamil. Beliau (al-Haitsam bin Jamil) sendiri adalah seorang yang tsiqah (tepercaya) dan hafizh (penghafal hadits), salah seorang guru al-Imam Ahmad rahimahullah.

Selanjutnya, Abdullah bin al-Mutsanna, beliau adalah salah seorang periwayat dalam Shahih al-Bukhari, artinya al-Bukhari rahimahullah menganggap bahwa Abdullah bin al-Mutsanna termasuk tepercaya. Namun, ternyata ada ulama lain yang membicarakan Abdullah bin al-Mutsanna ini. Karena itu, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mendudukkan perselisihan ini dengan kesimpulan bahwa al-Bukhari rahimahullah hanya memercayai sepenuhnya Abdullah bin al-Mutsanna apabila dia meriwayatkan dari pamannya. Jika tidak, al-Bukhari tidak bertumpu pada riwayatnya. Alhamdulillah, ternyata hadits yang kita bahas ini beliau riwayatkan dari pamannya, Tsumamah bin Anas, sehingga sesuai dengan syarat al-Bukhari dalam hal ini.

  1. a) Mengenai rantai sanad yang kedua, terkhusus adanya perawi yang bernama Ismail bin Muslim, maka asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Semacam sanad tersebut bisa dijadikan pendukung sehingga hadits semakin kuat dengannya.”
    Tentang Ismail bin Muslim ini, Abu Hatim—beliau termasuk ulama yang keras dalam mencacat para rawi—mengatakan, “Ismail bin Muslim tidak ditinggalkan, haditsnya dapat ditulis,” yakni untuk dukungan.

Ibnu Sa’d rahimahullah mengatakan, “Dia adalah orang yang diperhitungkan pendapat dan fatwanya, memiliki pandangan dan hafalan terhadap hadits. Karena itu, aku dahulu menulis hadits darinya karena kecerdasannya.”
Adapun Qatadah, maka jelas seorang ulama yang terkenal dan yang tepercaya.

  1. b) Mengenai rantai sanad yang ketiga, para ulama melemahkannya karena kelemahan perawinya, yaitu Abdullah bin al-Muharrar.

Dari pemaparan singkat tentang hadits ini, tampak bahwa hadits ini sahih atau hasan. Di antara ulama yang menganggap kuatnya hadits ini dari ulama terdahulu adalah adalah adh-Dhiya’ al-Maqdisi rahimahullah dalam kitabnya al-Mukhtarah, Abdul Haq al-Isybili dalam kitabnya al-Ahkam, dan Abu Zur’ah al-Iraqi dalam kitabnya Tharhu Tatsrib.

Menurut asy-Syaikh al-Albani, bisa juga dikatakan bahwa Ibnu Hazm dan ath-Thahawi termasuk yang menerima hadits ini karena mereka menyebutkan sanadnya tanpa mengkritiknya.

Adapun para ulama yang menganggap lemah hadits ini, di antaranya al-Imam Ahmad dan al-Baihaqi yang mengatakan hadits ini mungkar, juga an-Nawawi yang mengatakan batil, sesungguhnya mereka melemahkan hadits ini dari jalur rantai sanad yang ketiga. Dengan demikian, pendapat yang membolehkan mengakikahi diri sendiri adalah pendapat yang rajih (kuat).

Ini adalah pendapat Atha’, al-Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, asy-Syafi’i, dan salah satu riwayat dari al-Imam Ahmad, dan asy-Syaukani menggantungkan pendapat ini dengan kesahihan hadits. Alhamdulillah, hadits ini sahih. (lihat al-Mufashshal fi Ahkamil Aqiqah hlm. 96)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Apabila kamu belum diakikahi, akikahilah dirimu walaupun kamu lelaki.” Kata beliau, ‘walaupun kamu lelaki’ karena ada yang mengkhususkan hukum ini bagi wanita.

Muhammad bin Sirrin rahimahullah mengatakan, “Seandainya aku tahu bahwa aku belum diakikahi, tentu aku akan mengakikahi diriku.” (ash-Shahihah 6/506 qism 1)
Pendapat yang kedua, yang melarang, adalah pendapat Malikiah. Al-Imam Malik sendiri ada beberapa riwayat yang berbeda dalam hal ini. (at-Tamhid , 4/312)\

Sebagian ulama yang cenderung kepada pendapat ini mengatakan bahwa seandainya hadits ini sahih, bisa jadi ini adalah kekhususan bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, sanggahan seperti ini lemah karena kekhususan itu harus berdasarkan dalil, sementara itu di sini tidak ada dalil yang mengkhususkan hal ini untuk beliau.

  1. Mengakikahi selain hari ketujuh.

Dalam hal ini ada tiga pendapat sebagaimana disebutkan oleh Abu Zurah al-Iraqi dalam kitab Tharhu at-Tatsrib. Namun, dengan mengetahui persoalan pertama, yaitu bolehnya seseorang mengakikahi dirinya, tampak jelas bahwa diperbolehkan mengakikahi setelah hari ketujuh. Walaupun tentu sangat ditekankan untuk melakukannya pada hari ketujuh saat ada kemampuan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ

“Tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Di antara yang berpendapat bolehnya setelah hari ke-7 adalah Ibnu Sirin, asy-Syafi’i, Ibnu Hazm, dan yang lain.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Yang tampak, pengaitan akikah dengan hari ketujuh adalah sunnah. Jadi, sah saja apabila menyembelih pada hari ke-4, ke-8, ke-10, atau setelahnya. Penentuan waktu ini adalah untuk penyembelihannya, bukan untuk memasak atau memakannya.” (Tuhfatul Maudud hlm. 76)

Adapun Ibnu Hazm rahimahullah tidak membolehkan sebelum hari ketujuh.
Apakah penyembelihan itu pada hari kapan saja ataukah tiap kelipatan ketujuh?
Tampaknya, kapan saja boleh karena riwayat yang menyebutkan kelipatan ketujuh adalah lemah, sebagaimana telah diterangkan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam kitab al-Irwa’ (4/395).

  1. Hanya memiliki satu ekor kambing untuk akikah anak lelaki.

Dalam hal ini hendaknya ia menunggu sampai memiliki dua ekor kambing, dan tidak menyembelih terlebih dahulu kambing yang dia miliki. Hal ini berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ

“Untuk anak lelaki dua ekor kambing yang mukafi’ataan.” (Sahih, HR. Abu Dawud dan yang lain, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah)
Mukafi’atan dalam hadits ini ditafsirkan dengan beberapa penafsiran, di antaranya adalah mutaqaribatan, yakni seimbang.

Ada pula yang menafsirkan, ‘disembelih bersamaan’. Dawud bin Qais pernah bertanya kepada Zaid bin Aslam, ia mengatakan, “Aku bertanya kepada Zaid bin Aslam tentang makna mukafi’atan.” Beliau menjawab, “Dua kambing yang mirip, yang disembelih bersama-sama.” (Musykilul Atsar karya ath-Thahawi)

Fatwa al-Lajnah ad-Daimah tentang Akikah Janin yang Gugur dan Bayi yang Meninggal

Pertanyaan :
Janin yang gugur dari kandungan yang telah jelas bahwa dia laki-laki atau perempuan, apakah diakikahi atau tidak? Demikian juga bayi yang terlahir apabila meninggal beberapa hari setelah kelahiran sementara belum diakikahi saat dia hidup, apakah diakikahi setelah kematiannya atau tidak? Apabila telah lewat satu bulan, dua bulan, setengah tahun, satu tahun, atau bahkan lebih dari saat lahirnya bayi dan ia belum diakikahi, apakah diakikahi atau tidak?

Jawab:
Mayoritas para ulama berpendapat bahwa akikah adalah sunnah, berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari, dan Ashhabus Sunan dari Salman bin Amir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

مَعَ الْغُ مَالِ عَقِيْقَةٌ فَأُهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا، وَأَمِيطُوا عَنْهُ الْأَذَى

“Bersama seorang anak itu akikahnya, maka tumpahkan darah untuk (akikahnya) dan hilangkan rambut (kepalanya).”

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh al-Hasan dari Samurah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ غُ مَالٍ رَهِيْنَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ، وَيُحْلَقُ، وَيُسَمَّى

“Tiap anak itu tergadai dengan akikahnya yang disembelih pada hari ketujuh, digundul, dan diberi nama.” (HR. Ahmad dan Ashhabussunan, dan dinyatakan sahih oleh at-Tirmidzi)

Demikian pula hadits itu yang diriwayatkan oleh ‘Amr bin Syuaib dari ayahnya, dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يُنْسِكَ عَنْ وَلَدِهِ فَلْيَفْعَلْ، عَنِ الْغُ مَالِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ، وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Barang siapa di antara kalian ingin mengakikahi anaknya, lakukanlah. Untuk anak laki-lakinya dua ekor kambing yang seimbang dan untuk anak perempuannya satu ekor kambing.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasa’i, dengan sanad yang hasan)

Tidak ada akikah untuk janin yang gugur walaupun telah jelas apakah itu laki-laki atau perempuan, apabila gugur sebelum ditiupkan ruh padanya, karena dia tidak disebut anak atau bayi. Adapun akikah disembelih pada hari ketujuh dari kelahiran, apabila janin dilahirkan dalam keadaan hidup, lalu mati sebelum hari ketujuh, maka disunnahkan untuk diakikahi pada hari ketujuh dan diberi nama. Apabila lewat hari yang ketujuh dan belum diakikahi, Sebagian fuqaha berpendapat bahwa tidak disunnahkan untuk diakikahi setelahnya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktunya pada hari ketujuh.

Sementara itu, ulama mazhab Hanbali dan sekelompok ahli fikih berpendapat bahwa disunnahkan untuk diakikahi walaupun telah lewat satu bulan, satu tahun, atau lebih, dari kelahirannya, berdasarkan keumuman hadits-hadits dan berdasarkan apa yang diriwayatkan al-Baihaqi dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya setelah kenabian, dan ini pendapat yang lebih hati-hati.

Allah subhanahu wa ta’alalah yang memberi taufik. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam n, keluarga, dan para sahabatnya.

Komisi Tetap untuk Kajian Ilmiah dan Fatwa

Ketua: Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz; Wakil: Abdurrazzaq Afifi; Anggota: Abdullah Ghudayyan.

Dijawab oleh al Ustadz Qomar Suaidi