Haruskah Berjamaah Di masjid

Para ulama berselisih dalam hal ini.

1 . Sebagian ulama berpendapat, shalat berjamaah di masjid hukumnya fardhu kifayah.

Maknanya, apabila ada sebagian orang yang dianggap cukup telah menunaikannya, gugurlah kewajiban tersebut atas yang lain. Selain mereka (yang tidak hadir berjamaah di masjid) boleh shalat berjamaah di rumahnya. Mereka berpendapat, shalat berjamaah di masjid adalah salah satu syiar Islam. Sementara itu, kaum muslimin masih tetap menjalankannya di sekian banyak masjid. Kalau saja masjid-masjid yang ada (di suatu negeri) tidak dipakai untuk shalat berjamaah, tidak akan tampak bahwa negeri tersebut adalah negeri Islam.

Jawaban atas pendapat ini, untuk mencapai kesempurnaan, setiap individu wajib ikut shalat di masjid. Sebab, dengan pendapat di atas, setiap orang akan memilih tinggal di rumahnya dan ia berprasangka barangkali di masjid sudah ada yang shalat berjamaah.

2. Pendapat kedua mengatakan, shalat berjamaah boleh di rumah masing – masing dan boleh meninggalkan masjid, sekalipun jaraknya dekat, meskipun masjid lebih utama.

Menurut pendapat ini, apabila seorang berpendapat bahwa mengadakan shalat berjamaah bisa dengan dua orang, meskipun salah satunya adalah wanita, seorang suami bisa shalat berjamaah bersama istrinya di rumah dan tidak harus ke masjid. Mereka berdalil dengan hadits,

وَجُعِلَتْ لِي الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا

Dijadikan untukku bumi, semuanya sebagai tempat shalat dan suci.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini dipahami bahwa bumi semuanya sebagai tempat shalat, sehingga meskipun di rumah sudah teranggap berjamaah meskipun di masjid lebih utama. Jawaban atas pendapat ini, hadits ini sama sekali tidak bisa menjadi dalil atas pendapat mereka. Sebab, hadits ini berisi penjelasan bahwa bumi semuanya adalah tempat ibadah. Ini adalah kekhususan bagi umat ini, berbeda halnya dengan umat yang lain. Mereka tidak beribadah selain di gereja, kuil, atau tempat peribadahan yang khusus.

Dengan demikian, hadits ini hanya menjelaskan bolehnya mengerjakan shalat di mana pun, dan tidak menjelaskan shalat berjamaah sah dikerjakan di mana pun. Selain itu, hadits di atas bersifat umum yang telah dikhususkan dengan beberapa dalil yang mewajibkan shalat berjamaah di masjid.

3. Ulama yang lain berpendapat, kewajiban shalat berjamaah di masjid hanya bagi yang diwajibkan. Dalilnya adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَتُقَامَ ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيُصَلِّيَ بِالنَّاسِ ثُمَّ أَنْطَلِقَ بِرِجَالٍ مَعَهُمْ حُزَمٌ مِنْ حَطَبٍ إِلَى قَوْمٍ لَا يَشْهَدُونَ الصَّلَاةَ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ بِالنَّارِ

Sungguh aku berkeinginan kuat untuk memerintahkan supaya ditegakkan shalat, lalu aku perintahkan seorang untuk mengimami manusia, kemudian aku akan mendatangi kaum yang tidak menghadiri shalat berjamaah, kemudian aku bakar rumah mereka dengan api.”

Kata “kaum” pada hadits ini berarti sejumlah orang yang memenuhi syarat untuk dikatakan berjamaah. Kalau saja diperbolehkan bagi mereka untuk shalat berjamaah di rumah, beliau tentu akan mengecualikan orang yang shalat di rumahnya. Dari sini diketahui, berjamaah di masjid menjadi sebuah keharusan. Inilah pendapat yang benar. Jika dilaksanakan selain di masjid, mereka berdosa meskipun sah shalatnya. (asy-Syarhul Mumti’ 2/374—378)

Ditulis oleh  Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Masjid Yang Di Utamakan

Yang paling utama, seseorang hendaknya shalat berjamaah di masjid yang ada di sekitar tempat tinggalnya, baik jamaahnya banyak maupun sedikit. Hal ini berdasarkan kebaikan dan kemaslahatan yang ditimbulkan. Di antaranya, ia telah ikut memakmurkan masjid tersebut, menumbuhkan kedekatan dengan imam, menjauhkan prasangka buruk yang ada pada hati seorang imam, lebih-lebih jika dirinya termasuk seorang yang dianggap oleh imam.

Berbeda halnya apabila terdapat sebuah masjid yang memiliki keutamaan daripada masjid yang lain. Misalnya, seseorang yang tinggal di Madinah atau di Makkah. Yang utama baginya adalah shalat di Masjidil Haram jika ia tinggal di Makkah; atau di Masjid Nabawi jika ia tinggal di Madinah. Berikutnya adalah masjid yang lebih banyak jamaahnya. Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى

Shalat seseorang bersama satu orang lebih baik daripada shalat sendirian. Shalatnya bersama dua orang lebih baik daripada shalatnya bersama satu orang, dan apabila yang bersamanya lebih banyak, lebih Allah Subhanahu wata’ala cintai.” (HR. Abu Dawud, Shahih al-Jami no. 2242)

Selanjutnya, masjid yang semakin jauh, berdasarkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

فَلَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ

Tidaklah dia mengayunkan satu langkahnya kecuali dengannya Allah Subhanahu wata’ala mengangkatnya satu derajat dan menghapus satu kesalahannya.”

Demikian pula hadits,

أَعْظَمُ النَّاسِ أَجْرًا فِي الصَّلَاةِ أَبْعَدُهُمْ فَأَبْعَدُهُمْ مَمْشًى

Sesungguhnya manusia yang paling agung pahalanya dalam shalat adalah orang yang paling jauh berjalan menuju padanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu)

Semakin jauh jarak masjid, semakin utama baginya karena lebih melelahkan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anhuma,

إِنَّ لَكِ مِنَ الْأَجْرِ عَلَى قَدْرِ نَصَبِكِ

Sesungguhnya pahalamu sesuai dengan kelelahanmu.” Urutan berikutnya adalah masjid yang lebih dahulu didirikan karena ketaatan lebih dahulu dikerjakan padanya. (asy-Syarh al-Mumti’ 2/377—378)

Dua Orang Terhitung Berjamaah

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bab Itsnaani Fama Fauqahuma Jamaah (Dua Orang atau Lebih Itu Berjamaah).” Kemudian beliau menyebutkan hadits Malik bin Huwairits radhiyallahu ‘anhu, datang dua orang laki-laki kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan melakukan safar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda,

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَأَذِّنَا وَأَقِيمَا، ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمَا أَكْبَرُكُمَا

“Apabila telah datang waktu shalat, kumandangkanlah azan dan iqamat, lalu salah seorang dari kalian yang lebih tua menjadi imam.”

Al-Hafizh t (al-Fath 2/163) berkata, “Penamaan shalat dua orang itu berjamaah, diambil dari pendalilan perintah adanya imam. Sebab, apabila shalat mereka berdua (berjamaah) sama kedudukannya dengan shalat mereka secara sendiri-sendiri, tentu cukup diperintahkan kepada mereka berdua untuk shalat saja (tanpa menyebut adanya imam)… Hadits ini juga menunjukkan bahwa paling sedikitnya jamaah terdiri dari imam dan makmum, mencakup keumuman apakah makmumnya seorang lelaki, anak lelaki, atau seorang wanita.” Pendalilan bahwa dua orang itu berjamaah, diambil dari kata berjamaah.

Kata ini berasal dari al-jam’u yaitu adh-dham, artinya menghimpun atau mengumpulkan. Hal ini tercapai dengan seseorang yang bersama orang yang kedua. Masalah ini juga dikuatkan dengan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau menetapkan Ibnu Abbas, Hudzaifah bin al-Yaman, dan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma melakukan shalat bersama beliau di malam hari, supaya berjamaah. Di dalam bab shalat, kata “berjamaah” dipakai untuk menunjukkan jumlah dua atau lebih, demikian pula dalam bab faraidh. Adapun selain dari dua bab ini, “berjamaah” menunjukkan jumlah tiga atau lebih. (Syarh al-Bukhari 3/77— 78)

Makmum yang sendirian (hanya satu orang) berdiri sejajar dengan imam di samping kanannya, bukan di belakangnya sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang. Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengimami shalat serta makmumnya adalah Anas dan ibu atau bibinya. Anas radhiyallahu ‘anhu berkata,

فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberdirikan aku di samping kanannya, dan wanita di belakang kami (shaf wanita di belakang dan bukan di samping).”

Demikian pula hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma,

بِتُّ عِنْدَ خَالَتِي فَقَامَ النَّبِيُّ يُصَلِّي مِنَ  اللَّيْلِ فَقُمْتُ أُصَلِّي مَعَهُ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِرَأْسِي فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ

“Aku pernah bermalam di tempat bibiku (Maimunah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Nabi n mengerjakan shalat malam dan aku ikut shalat, berdiri di samping kiri beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memegang kepalaku dan memosisikan aku di sebelah kanannya.” (HR. al-Bukhari)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata, “Bab Yaqumu an-Yamiinil Imam bihidzaihi Sawa’ Idza Kanats Nain (Seorang [Makmum] Berdiri di Sebelah Kanan Imam Persis di Sampingnya jika Mereka Hanya Berdua).”

Al-Hafizh rahimahullah (al-Fath 2/223) berkata, “Menukil ucapan Zain bin Munayyir, kata ‘bihidzaihi’ artinya memindahkan posisi makmum yang berdiri di belakang atau tidak sejajar dengan imam. Adapun kata ‘sawa’ memindahkan posisi makmum yang berdiri di sebelah imam, namun tidak merapat. Kemudian beliau menjelaskan, kata ‘sawa’ bermakna seorang makmum tidak boleh berada di depan atau di belakang imam. Menurut ulama mazhab Syafi’i, disunnahkan bagi seorang makmum berdiri tidak sejajar dengan imam (mundur sedikit).”

Beliau juga menyebutkan riwayat Ibnu Juraij rahimahullah, “Aku bertanya kepada Atha’, ‘Jika seorang shalat bersama satu orang yang lain, di mana posisinya?’ Beliau menjawab, ‘Di sebelah kanannya.’ Aku bertanya lagi, ‘Apakah berdirisama sejajar, tidak bersela dan berselisih antara satu?’

Beliau menjawab, ‘Ya.’

Kemudian aku bertanya lagi, ‘Apakah engkau menyukai bahwa seorang makmum berdiri sama persis hingga tidak ada celah (jarak) antara keduanya.’

Beliau menjawab, ‘Ya’.”

Adapun jika makmumnya dua orang, mayoritas ulama berpendapat, posisim mereka berdua berada di belakang imam. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits Anas radhiyallahu ‘anhu,

صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

“Aku dan seorang anak yatim yang tinggal di rumah kami shalat di belakang Nabi; dan ibuku, Ummu Sulaim, di belakang kami.” (HR. al-Bukhari)

Namun, Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan yang lain berpendapat, masing-masing berdiri di samping imam, satu di sebelah kanan dan yang satu di sebelah kiri.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Uzur Tidak Shalat Berjamah

An-Nawawi rahimahullah memberi judul hadits ‘Itban bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dengan bab “Rukhshati fi Takhallufi ‘Anil Jama’ati li ‘Udzrin” (“Keringanan Tidak Ikut Shalat Berjamaah karena Uzur”).

‘Itban z adalah seorang sahabatAnshar yang ikut Perang Badr. Beliau datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata,

“Wahai Rasulullah, aku sudah tidak bisa melihat dan aku mengimami shalatmkaumku. Jika hujan, terjadi banjir dilembah yang menjadi penghalang antara aku dan mereka. Aku pun tidak bisa mendatangi masjid untuk shalat bersama mereka. Aku berharap, wahai Rasulullah, engkau datang dan shalat di rumahku, di tempat yang biasa aku jadikan untuk shalat.”

Beliau berkata, “Saya akan datangmdan melakukannya, insya Allah.” Berangkatlah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu di siang hari ke rumahku. Sesampainya di tempat, beliau meminta izin untuk masuk. Aku pun mengizinkannya. Beliau pun masuk tanpa duduk terlebih dahulu lalu bertanya, “Manakah tempat yang engkau sukai untuk aku shalat padanya?”

Aku pun menunjuk ke satu sisi bagian rumah. Beliau berdiri di sana dan bertakbir. Kami pun berdiri di belakangnya (berjamaah). Setelah menyelesaikan dua rakaat beliau pun salam. An-Nawawi t berkata, “Pada hadits ini terdapat dalil tentang gugurnya kewajiban shalat berjamaah (di masjid) karena adanya uzur.” (Syarh an-Nawawi 3/171—174)

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah juga menyebutkan dalam Shahih-nya bab “Rukhshati fil Mathari wal ‘Illati an- Yushallia fi Rahlihi (“Rukhshah ketika Hujan dan Sebab Seseorang Shalat di Rumah”). Pada bab itu, beliau menyebutkan riwayat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa di suatu malam yang cukup dingin dan angin bertiup kencang, beliau azan dengan menyuarakan,

صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ

“Hendaklah kalian shalat di rumah kalian.”

Lalu beliau berkata, “Sesungguhnya, apabila malam itu dingin sekali dan hujan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan muazin untuk menyuarakan, ‘Hendaklah kalian shalat di rumah’.” Al-Hafizh rahimahullah berkata, “Judul yang disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah menunjukkan keumuman sebab seseorang shalat di rumah (tidak ikut berjamaah di masjid), baik karena hujan maupun sebab yang lain. Demikian pula, rukhshah shalat di rumah bersifat umum, apakah berjamaah atau sendirian.” Di tempat yang lain pada penjelasan bab “Apakah Seorang Imam Shalat Bersama yang Hadir”, beliau berkata, “Meskipun didapati adanya sebab rukhshah bagi seseorang untuk tidak hadir berjamaah (karena hujan), andaikata ada orang yang memaksakan diri datang ke masjid, lalu seorang imam shalat bersama mereka, hal ini tidak dibenci (boleh).

Perintah untuk shalat di rumah dalam kondisi semacam ini hukumnya mubah (diperbolehkan), bukan sunnah. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, saat beliau khutbah di hari yang bertepatan dengan turun hujan. Ketika azan sampai pada kalimat “hayya ‘alash shalah”, beliau memerintah muazin untuk menyuarakan,

الصَّلَاةُ فِي الرِّحَالِ

Shalatlah di tempat (masing-masing).”

Sebagian mereka memandang sebagian yang lain, seolah-olah mereka mengingkari hal tersebut. Lalu beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Seolah-olah kalian mengingkari hal ini. Sungguh, perkara ini telah dilakukan oleh orang yang lebih mulia dariku, yakni Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sesungguhnya shalat Jumat itu satu keharusan dan aku tidak ingin menyusahkan kalian.”

Sebab lain yang diperbolehkan bagi seorang untuk tidak hadir shalat berjamaah ialah sakit yang tidak memungkinkan dirinya untuk keluar menuju ke masjid. Dalam penjelasan terhadap Shahih al-Bukhari, bab “Hadhdhil Maridhi an Yasyhadal Jama’ati” (“Anjuran bagi Orang yang Sakit Agar Menghadiri Shalat Berjamaah”), al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menukil ucapan Ibnu Tin rahimahullah, maksud bab ini adalah dorongan dan anjuran bagi orang yang sakit agar menghadiri shalat berjamaah. Ibnu Rasyid rahimahullah mengatakan, makn bab ini ialah menjelaskan kadar yang membatasi orang yang sakit agar dapat menyaksikan shalat berjamaah. Jika telah melampaui batas, tidak disunnahkan untuk menghadirinya.

Hal ini berdasarkan kisah keluarnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menuju ke masjid dalam keadaan beliau sakit, dipapah oleh dua orang sahabat dan bersandar pada yang lain. Hal ini sebagai isyarat, kalau kondisi seorang yang sakit sampai pada tingkatan ini, tidak dianjurkan memaksakan diri untuk shalat berjamaah, kecuali jika didapati orang yang memapahnya. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ

“Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.” (al-Hajj: 78)

Setiap perkara yang menyusahkan dan membuat kepayahan membuat seseorang diberi keringanan. Jika seseorang terbebani dengan sangat berat atau tidak berat namun ia tidak mampu menahan derita, dia diberi uzur untuk tidak shalat berjamaah. (al-Fath 2/178, 184—185)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Apabila Imam Adalah Ahli Bid’ah Atau Beda Mazhab

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah menyebutkan bab “Imamatil Maftun wal Mubtadi’” (“Imam dari Seorang yang Terkena Fitnah dan Mubtadi’) lalu menyebutkan ucapan al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Shalatlah kalian (berjamaah dengannya) dan dia yang menanggung dosa kebid’ahannya.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mubtadi’ adalah seorang yang meyakini suatu perkara yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Menurut asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah, “Mubtadi’ terbagi menjadi dua:

1. Mubtadi’ yang kebid’ahannya sampai membuat pelakunya kafir keluar dari Islam. Jika demikian, dalam keadaan apa pun, seseorang tidak boleh shalat di belakangnya meskipun orang-orang mengatakan bahwa dia muslim, karena bid’ahnya mukaffirah (sampai tingkatan kufur). Bagaimana mungkin shalat di belakang seorang yang diyakini bahwa dia adalah kafir, padahal orang kafir tidak sah shalatnya.

2. Mubtadi’ yang tidak sampai taraf kekafiran, meskipun bid’ahnya dipandang besar (berat).Seseorang boleh shalat di belakangnya(menjadi makmum). Hal ini selama tidakmengandung mafsadah di kemudianhari. Misalnya, manusia atau dia yang bermakmum teperdaya oleh ahli bid’ah tersebut. Terkadang, manusia mengira bahwa dia (imam tersebut) bukan mubtadi’ ketika mereka melihat ada si Fulan dan si Fulan shalat di belakangnya. Demikian pula seseorang yang shalat di belakangnya bisa jadi tertipu dan menganggap mubtadi’ itu berada di atas kebenaran. (al-Fath 2/220, Syarh al- Bukhari Ibnu ‘Utsaimin 3/156)

Mengenai shalat di belakang seorang yang beda mazhab, Syaikhul Islam rahimahullah pernah ditanya tentang hal ini. Beliau menjawab, “Sah shalat sebagian mereka di belakang sebagian yang lain walau berbeda mazhab, sebagaimana yang dilakukan salaf dan imam mazhab yang empat. Meskipun terjadi perbedaan pendapat, tidak seorang pun di antara mereka yang berpendapat tidak bolehnya sebagian mereka shalat di belakang sebagian yang lain (yang berbeda mazhab). Barang siapa mengingkari hal ini, berarti dia adalah seorang mubtadi’ yang tersesat, menyelisihi al-Kitab dan as-Sunnah, serta kesepakatan salaf umat ini dan para pemimpinnya.

Yang menyelisihi pendapat ini hanyalah kalangan orang-orang belakangan yang sangat fanatik terhadap mazhabnya. Sebagian mereka menganggap bahwa shalat di belakang orang yang bermazhab Hanafi tidak sah, meskipun dia telah melaksanakan shalat berikut kewajiban-kewajibannya.” (Majmu’ Fatawa 23/373)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Shalat Berjamaah Yang Kedua Di Satu Masjid

Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini, ada yang melarang dan ada yang membolehkan. Di antara ulama yang berpendapat tidak bolehnya menegakkan jamaah yang kedua di satu masjid adalah Abdullah bin Mas’ud, ‘Alqamah, Salim bin Abdillah, al-Hasan al-Bashri, Abdullah bin al- Mubarak, ats-Tsauri, Abu Hanifah,asy-Syafi’i, al-Laits bin Sa’d, al- Auza’i, dan Abdurrazzaq ash-Shan’ani rahimahullah.

Asy-Syafi’i rahimahullah dalam kitabnya, al-Umm (1/181), berkata, “Apabila di satu masjid terdapat imam rawatib (tetap), lalu seorang atau beberapa orang luput dari shalat berjamaah, hendaknya mereka shalat sendiri-sendiri. Aku tidak menyukai mereka shalat berjamaah (mendirikan jamaah yang kedua). Jika mereka lakukan hal itu, tetap sah shalat berjamaahnya. Akan tetapi, aku tidak menyukainya karena hal itu termasuk perkara yang tidak dilakukan oleh salaf sebelum kami, bahkan sebagian mereka mencelanya.”

Abdurrazzaq dalam Mushannafnya (2/293) meriwayatkan ucapan al-Hasan al-Bashri rahimahullah, “Adalah para sahabat Nabi n jika masuk ke masjid dan telah ditunaikan shalat padanya, mereka shalat sendiri-sendiri.” Az-Zaila’i rahimahullah berkata dalam Nashbur Rayah (2/57), “Ada beberapa hadits yang menyebutkan ditegakkannya shalat jamaah dua kali di satu masjid.

Tentang hal ini, al-Imam Malik rahimahullah melarangnya, namun ulama lain membolehkan. Yang benar, sekian banyak ulama fikih berpendapat tidak boleh.” Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pelaksanaan shalat jamaah yang dilakukan oleh Anas bin Malik rahimahullah di masjid yang telah ditunaikan shalat menunjukkan bahwa melakukan shalat jamaah dengan bentuk seperti ini tidakmengapa (diperbolehkan), meskipun ada yang berpendapat bahwa perkara ini adalah bid’ah. (Mereka mengatakan,) apabila manusia masuk masjid dan mendapati shalat sudah selesai, hendaknya mereka shalat sendiri-sendiri. Hal ini tidaklah benar, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ صَلَاةَ الرَّجُلِ مَعَ الرَّجُلِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ وَحْدَهُ، وَصَلَاتُهُ مَعَ الرَّجُلَيْنِ أَزْكَى مِنْ صَلَاتِهِ مَعَ الرَّجُلِ، وَمَا كَثُرَ فَهُوَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ تَعَالَى

“Shalat seseorang bersama satu orang lebih utama daripada shalat sendiri, shalat (berjamaah) bersama dua orang lebih utama daripada shalat bersama satu orang, semakin banyak yang berjamaah semakin dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala.” Hadits ini berlaku umum (berlaku pula bagi jamaah yang kedua). Demikian pula hadits yang mengisahkan seseorang yang tertinggal shalat berjamaah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Siapa yang mau bersedekah kepada orang ini (yakni menemani untuk berjamaah)?”

Pada hadits di atas terdapat dalil pula atas boleh terulangnya shalat berjamaah.” Para ulama menyebutkan, dalam masalah ini terdapat tiga keadaan:

1. Masjid yang tidak memilki imam tetap, seperti masjid-masjid di tepi jalan (untuk persinggahan shalat). Pada masjid yang semacam ini boleh terulang-ulang shalat berjamaah padanya dan tidak ada problem. Setiap orang yang masuk boleh shalat berjamaah dan begitu seterusnya.

2. Masjid yang menjadikan

pengulangan shalat berjamaah sebagai sunnah yang ditetapkan. Misalnya, sebagian jamaah ada yang berpendapat sunnah untuk mengakhirkan shalat. Sebagian yang lain berpendapat sunnah untuk mengerjakan shalat di awal waktu. Pihak yang berpendapat sunnah untuk mengerjakan shalat di awal waktu datang lebih awal lalu melakukan shalat berjamaah. Kemudian datang pihak yang berpendapat sunnah untuk mengakhirkan shalat, lalu ditegakkanlah shalat berjamaah yang kedua.  Tidak diragukan, cara ini adalah bid’ah. Wajib bagi kaum muslimin untuk bersepakat.

3. Masjid yang sesekali ditegakkan jamaah kedua padanya.

Maknanya, beberapa orang masuk masjid dan menjumpai shalat sudah selesai. Hendaknya mereka shalat berjamaah dan tidak ada masalah dalam hal ini. Hanya saja, apakah mereka (yang mendirikan jamaah kedua) mendapatkan keutamaan seperti shalat jamaah yang pertama atau tidak? Yang tampak, mereka tidak mendapatkan pahala seperti jamaah yang pertama. Namun, shalat berjamaah mereka lebih utama daripada shalat sendirian.

Para ulama menyebutkan riwayat bahwa sebagian sahabat menghindari shalat berjamaah kedua di satu masjid, supaya manusia tidak bermudah-mudah dan menyepelekan urusan ini. Demikian pula jika seorang yang bermudah-mudah, bisa menjadi sebab munculnya anggapan buruk pada hati seorang imam. Mengapa senantiasa terlambat, apakah tidak mau shalat di belakangnya?! (Syarh al-Bukhari 3/64—66)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafrudin

Fatwa – Fatwa Seputar Shalat Berjamaah

Masbuk Menyempurnakan Shalat, Ada yang Bermakmum

Ketika memasuki masjid, qadarullah (sebagaimana yang ditakdirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala), saya mendapati imam telah shalat. Saya pun shalat bersama jamaah. Setelah imam salam, saya berdiri untuk menyempurnakan apa yang terluput. Tiba-tiba, seseorang masuk dan menjadikan saya sebagai imam. Bolehkah orang tersebut menjadikan saya sebagai imam?

Jawab:

Apabila seorang makmum mendapatkan sebagian shalat bersama imam lantas ia berdiri menyempurnakannya setelah imam salam, siapa pun yang ingin shalat bersamanya boleh menjadikannya sebagai imam menurut pendapat yang benar di antara beberapa pendapat ahli fikih. Sebagian mereka—ulama mazhab Hanafi dan Maliki—berpendapat, orang yang sedang menyempurnakan shalat setelah imam salam tidak boleh dijadikan sebagai imam. Perkara ini bersifat ijtihadiah karena tidak ada dalil yang tegas dalam hal ini.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Mani’. (Fatawa al-Lajnah, 7/399—400)

Shalat Fardhu Bermakmum Kepada yang Shalat Sunnah

Apabila saya sedang shalat tahiyatul masjid atau shalat sunnah, lalu seseorang masuk dan menyangka saya sedang shalat fardhu lantas langsung bermakmum kepada saya, bagaimana hukumnya? Apa yang harus saya lakukan?

Jawab:

Menurut pendapat yang paling benar di antara dua pendapat ulama, seorang yang shalat fardhu boleh bermakmum kepada orang yang sedang shalat sunnah atau bermakmum kepada orang yang shalat sendirian. Seseorang tidak boleh menolak orang yang hendak bermakmum kepadanya. Telah sahih dari Ibnu Abbas  radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat beliau sedang shalat malam sendirian, lantas ia berdiri ikut shalat di samping kiri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memindahnya ke sebelah kanan beliau dan shalat bersamanya.

Telah sahih pula bahwa dahulu Mu’adz radhiyallahu ‘anhu shalat isya berjamaah bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian pulang dan mengimami kaumnya shalat isya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkarinya.Demikian pula, beliau  Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengimami shalat khauf dua rakaat bersama sekelompok sahabat kemudian salam. Setelah itu, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat dua rakaat mengimami kelompok yang lain kemudian salam. (HR. Abu Dawud)

Pada shalat yang kedua, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat sunnah.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/405—406)

Musafir Bermakmum Kepada Orang yang Mukim

Saya menanyakan tentang shalat seorang musafir yang bermakmum kepada orang yang mukim/bukan musafir, apakah dia shalat secara sempurna (tidak qashar) bersama imam atau tidak?

Jawab:

Sah hukumnya shalat seorang musafir yang bermakmum kepada imam yang mukim. Dia harus shalat secara sempurna (tidak mengqashar) dan tidak boleh salam kecuali setelah imam salam. Sebab, terdapat dalil yang sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan hal tersebut.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/422—423)

Mendapatkan Rukuk Bersama Imam

Kami melihat banyak orang memasuki masjid ketika imam sedang rukuk. Bersamaan dengan ia melakukan takbiratul ihram, imam mengucapkan sami’allahu liman hamidah. Orang ini tidak mungkin membaca tasbih dalam rukuknya. Apakah dia teranggap mendapatkan satu rakaat meskipun tidak sempat membaca tasbih, atau dia harus menambah satu rakaat lagi setelah imam salam?

Jawab:

Siapa yang melakukan takbiratul ihram ketika imam bangkit dari rukuk, rakaat tersebut tidak teranggap. Demikian pula orang yang takbiratul ihram lalu bertakbir untuk rukuk kemudian turun ke rukuk dalam keadaan imam bangkit dari rukuk, rakaatnya tidak teranggap. Sebab, dia tidak dapat menyertai imam saat rukuk dengan kadar yang cukup agar rakaat itu teranggap. Dia harus menambah satu rakaat sebagai penggantinya setelah imam salam.

Siapa yang melakukan takbiratul ihram dan mendapatkan imam sedang rukuk, lantas ia pun rukuk dengan kadar yang cukup untuk melakukannya secara thuma’ninah, dia teranggap mendapatkan rakaat tersebut, menurut jumhur (mayoritas) ulama. Hal ini berdasarkan hadits,

إِذّا جِئْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ وَنَحْنُ سُجُودٌ فَاسْجُدُوا وَلاَ تَعُدُّوهَا شَيْئًا، وَمَنْ أَدْرَكَ الرَّكْعَةَ فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

“Jika kalian mendatangi shalat dan kami sedang sujud, sujudlah, namun hal itu janganlah dihitung. Barang siapa mendapati rakaat tersebut berarti ia mendapatkan shalat.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim dalam No.87/VIII/1433 H/2012 36 al-Mustadrak)

Demikian pula hadits,

مَنْ أَدْرَكَ رَكْعَةً مِنَ الصَّلاَة فَقَدْ أَدْرَكَ الصَّلَاةَ

“Barang siapa mendapati satu rakaat, berarti ia telah mendapatkan shalat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan. (Fatawa al-Lajnah, 7/316—317)

Terlambat Shalat Berjamaah

Bagaimana hukumnya seorang masbuk yang tertinggal dari shalat maghrib?

Jawab:

Masbuk yang tidak mendapati shalat jamaah sama sekali hendaknya mencari shalat jamaah yang lain apabila mampu. Jika tidak mendapatkan, dia shalat sendirian.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/327)

Sedang Shalat Sunnah, Iqamat Dikumandangkan

Apabila iqamat dikumandangkan dan seseorang sedang melakukan shalat sunnah dua rakaat atau tahiyatul masjid, apakah dia menghentikan shalatnya agar bisa shalat wajib berjamaah? Apabila jawabannya ya, apakah dia harus salam dua kali ketika menghentikan shalatnya atau dia hentikan tanpa salam?

Jawab:

Yang benar di antara dua pendapat ulama, hendaknya dia menghentikan shalat tersebut dan tidak perlu salam untuk keluar dari shalat tersebut. Dia langsung bergabung dengan imam.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/315)

Tidak Shalat Berjamaah Karena Ada Kemungkaran

Bagaimana hukumnya dalam agama, seseorang melihat shalat jamaah di masjid tetapi tidak ikut shalat karena melihat dan mendengar amalan-amalan yang tidak ada syariatnya dalam agama, seperti azan di dalam masjid, tambahan dalam azan, adanya halaqah zikir di dalam masjid padahal orang-orang sedang rukuk dan sujud. Apakah perbuatan saya tidak ikut shalat berjamaah ini menyebabkan saya berdosa? Lantas bagaimana yang benar?

Jawab:

Anda tidak boleh meninggalkan shalat berjamaah di masjid karena hal-hal yang Anda sebutkan. Azan di dalam masjid diperbolehkan; tambahan dalam azan tidak Anda jelaskan; mengadakan halaqah di masjid secara umum diperbolehkan apabila halaqah itu mempelajari ilmu syariat. Adapun halaqah zikir model sufi dan halaqah bid’ah yang semisalnya, wajib diingkari, namun tidak menghalangi Anda untuk menunaikan shalat berjamaah.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/306)

Shalat di Jalan Sebelah Masjid Ketika Masjid Penuh

Bagaimanakah batasan masjid menurut syariat? Apakah jalan yang bersebelahan dengan masjid termasuk masjid sehingga boleh shalat Jumat padanya ketika masjid penuh karena banyaknya jamaah, padahal masih ada masjid lain yang tidak dipenuhi oleh jamaah?

Jawab:

Batasan masjid yang menjadi tempat shalat wajib lima waktu bagi kaum muslimin adalah apa yang dilingkupi oleh bangunan, kayu, pelepah kurma, bambu, atau lainnya. Inilah masjid yang berlaku atasnya hukum-hukum masjid, semisal tidak bolehnya wanita haid, nifas, dan junub menetap di dalamnya. Orang yang datang ke masjid yang sudah penuh, boleh melakukan shalat Jumat atau shalat lainnya—baik yang wajib maupun sunnah—di luar masjid, di jalan yang terdekat dengan masjid, dan selama dia bisa mengikuti gerakan imam. Sebab, hal ini memang dibutuhkan; dengan syarat tidak di depan imam. Hanya saja tidak berlaku hukum-hukum masjid di tempat itu. Wallahu a’lam.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Mani’. (Fatawa al-Lajnah, 6/223)

Mendahului Gerakan Imam

Apa hukumnya seseorang mendahului gerakan imam? Sahkah shalatnya?

Jawab:

Haram hukumnya makmum mendahului imam, bahkan hal ini termasuk dosa besar karena adanya ancaman bagi pelakunya. Adalah sahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَمَا يَخْشَى أَحَدُكُمْ إِذَا رَفَعَ رَأْسَهُ قَبْلَ الْإِمَامِ أَنْ يُحَوِّلَ اللهُ رَأْسَهُ رَأْسَ حِمَارٍ، أَوْ أَنْ يَجْعَلَ اللهُ صُورَتَهُ صُورَةَ حِمَارٍ

“Tidakkah salah seorang dari kalian takut apabila mengangkat kepalanya mendahului imam bahwa Allah akan mengubah kepalanya menjadi kepala keledai atau mengubah wujudnya menjadi wujud keledai?” (HR. al-Bukhari)

Adapun tentang sah tidaknya shalatnya, ada perbedaan pendapat. Yang lebih kuat dalam hal ini ialah apabila seseorang mendahului imam dengan sengaja, shalatnya batal. Apabila mendahului imam secara tidak sengaja, ia kembali ke posisi sebelumnya lantas mengikuti imam.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/328—329)

Imam Sujud Sahwi, Makmum Mengikuti?

Imam melakukan kesalahan yang menyebabkannya melakukan sujud sahwi, sedangkan saya yakin shalat saya (sebagai makmum) sempurna. Imam melakukan sujud sahwi sebelum salam. Saya tidak ikut melakukan sujud sahwi kecuali setelah imam salam. Bagaimana hukum masalah ini?

Jawab:

Imam adalah teladan yang diikuti oleh para makmum. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memerintahkan mengikuti imam,

إِنَّمَا جُعِلَ الْإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا

“Imam diadakan tidak lain untuk diikuti. Apabila dia bertakbir, bertakbirlah kalian. Apabila dia rukuk, rukuklah kalian.”

Tindakan Anda yang sengaja tidak mengikuti imam dalam hal sujud sahwi, tidak diperbolehkan. Anda harus mengulangi shalat Anda tersebut.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan. (Fatawa al- Lajnah, 7/329)

Qiraah Imam Tidak Bagus

Saya shalat di rumah bersama keluarga saya. Sebab, imam di masjid melakukan lahn (kesalahan dalam qiraah) al-Qur’an hingga jelas-jelas mengubah maknanya. Hafalan saya lebih banyak dan lebih sesuai dengan kaidah-kaidah qiraah. Selain itu, pada diri saya tidak ada kemaksiatan sebagaimana yang ada pada imam tersebut—dan Allah Subhanahu wata’ala sajalah yang menyucikan hamba-Nya yang Dia kehendaki. Dia dan jamaahnya bersikeras atas keimamannya karena mereka fanatik kepadanya dan tidak menyukai saya. Sebab, mereka berbeda kabilah dengan saya.

Di samping itu juga karena pengingkaran saya terhadap kesalahan mereka. Saya sendiri sebenarnya seorang yang ditugaskan menjadi imam sebuah masjid jami’ di desa lain, hanya saja saya tidak bisa hadir setiap waktu shalat bersama jamaah saya. Bolehkah saya shalat menjadi makmum di belakang imam tersebut? Bolehkah saya mengajukan keberatan (kepada pemerintah) tentang mereka?

Jawab:

Menunaikan shalat lima waktu secara berjamaah hukumnya wajib kecuali apabila ada uzur yang menghalanginya, seperti sakit dan lainnya. Oleh karena itu, hendaknya Anda menunaikannya secara berjamaah di masjid yang Anda ditugaskan menjadi imamnya. Hal ini lebih pantas karena dengan demikian berarti Anda menunaikan dua kewajiban:

kewajiban sebagai imam yang menjadi tugas Anda dan kewajiban menunaikan shalat berjamaah. Apabila berat bagi Anda, biarkanlah tugas menjadi imam ini diemban oleh orang lain yang bisa menunaikannya sesuai dengan yang dituntut. Shalatlah di masjid yang dekat dengan rumah Anda sebagai makmum, selama imamnya tidak melakukan lahn yang mengubah makna (ayat). Jika lahn yang dilakukannya mengubah makna, hendaknya dia dinasihati. Jika tidak mau menerima dan tetap bersikeras menjadi imam bersamaan dengan adanya lahn yang mengubah makna, hendaknya dilaporkan kepada pejabat yang bertanggung jawab mengurusi keimaman masjid pada Kementerian Agama agar diperiksa.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan. (Fatawa al- Lajnah, 7/351—352)

Anak-Anak Menjadi Imam

Seseorang memasuki masjid dan mendapati sejumlah anak-anak. Yang terbesar di antara mereka berusia dua belas tahun. Sahkah keimaman anak yang berusia dua belas tahun tersebut?

Jawab:

Sah hukumnya seorang anak yang sudah berakal menjadi imam shalat berdasarkan sabda Nabi Subhanahu wata’ala,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ – الْحَدِيثَ

“Yang menjadi imam adalah yang paling banyak bacaannya terhadap Kitabullah ….”

Demikian pula hadits dalam Shahih al-Bukhari dari Umar bin Salamah al- Jarmi radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, “Ayahku kembali dari sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan bahwa dirinya mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآنًا

‘Apabila datang waktu shalat, hendaknya yang menjadi imam adalah yang paling banyak bacaan al-Qur’annya di antara kalian.’

Mereka melihat-lihat dan tidak mendapatkan seseorang yang lebih banyak bacaan al-Qur’annya daripada diriku. Mereka pun menyuruhku maju padahal usiaku masih enam belas atau tujuh belas tahun.”

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan. (Fatawa al- Lajnah, 7/393—394)

Apabila Imam Berhadats

Imam berhadats pada rakaat yang kedua dalam shalat ashar. Dia pun keluar dari shalat dan menunjuk orang lain menggantikannya. Apakah orang tersebut menyempurnakan (meneruskan) shalat atau mengulanginya dari awal?

Jawab:

Jika imam berhadats di tengahtengah shalat, disyariatkan baginya untuk menunjuk pengganti yang meneruskan shalat yang tersisa. Dengan demikian, tetap sah shalatnya dan shalat para makmum. Hal ini berdasarkan kisah Umar z ketika beliau menjadi imam dan ditusuk, beliau menunjuk Abdurrahman bin Auf sebagai imam yang menggantikannya. Abdurrahman pun menyempurnakan shalat bersama jamaah.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan. (Fatawa al-Lajnah, 7/399)

Memperlama Bacaan Shalat

Saya shalat di masjid kampung. Ketika saya shalat dan menjadi imam, mereka mengatakan, “Ringankanlah shalatnya.” …Apakah saya harus memperingan shalat atau tidak? Padahal mereka masih muda, tidak ada yang lanjut usia ataupun orang tua yang lemah. Saya shalat hanya membaca kurang dari sepuluh ayat. Bagaimana solusinya? Apa hukum hal ini dalam Islam?

Jawab:

Ketika seseorang mengimami manusia, disunnahkan agar ia memerhatikan keadaan mereka dan mengambil yang paling lemah di antara mereka sebagai ukuran. Inilah patokan yang disebutkan dalam sunnah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang suci. Shalat dengan membaca sepuluh ayat tidak tergolong memperpanjang. Biasanya, pada shalat subuh, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca surat-surat mufashshal yang panjang; pada shalat maghrib membaca surat-surat mufashshal yang pendek, meski terkadang membaca yang panjang; pada shalat isya, zuhur, dan ashar, beliau n membaca yang suratsurat mufashshal yang pertengahan. Terkadang beliau memperpanjang shalat zuhur. Surat-surat mufashshal dimulai dari surat Qaf hingga akhir surat an-Nas.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 7/412—413)

Orang yang Paling Pantas di Belakang Imam

Bolehkah imam memilihkan tempat di belakangnya bagi ulama agar ketika dia lupa ada yang mengingatkannya? Apakah hal ini dibolehkan oleh syariat?

Jawab:

Disyariatkan agar makmum yang berada di belakang imam adalah orang yang berilmu, memiliki keutamaan, serta orang yang baligh dan berilmu. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Abu Mas’ud al-Anshari  radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Hendaknya yang di belakangku adalah orang yang baligh dan berilmu, kemudian yang di bawah mereka, kemudian yang di bawah mereka.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Makna hadits di atas adalah disyariatkan bagi orang yang baligh dan berilmu untuk bersegera menuju shalat sehingga mereka berada di belakang imam. Jadi, tidak bermakna bahwa

disediakan tempat bagi mereka (di belakang imam) sampai mereka hadir.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil Ketua: Abdur Razzaq Afifi; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 8/16—17)

Posisi Anak-Anak Dalam Shaf

Apakah anak-anak yang belum baligh bisa dianggap menjadi shaf yang sempurna?

Jawab:

Apabila seorang anak lelaki mencapai usia tujuh tahun, dia terhitung dalam shalat berjamaah dan shafnya sempurna.

Wabillahit taufiq washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud. (Fatawa al-Lajnah, 8/21)

Sikap Muslimin Terhadap Film Yang Menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam

Dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alusy Syaikh, kepada segenap kaum muslimin yang membacanya, semoga Allah menyelamatkan mereka. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amma ba’du; Kita memuji Allah Subhanahu wata’ala yang telah melimpahkan nikmat kepada kita dengan menjadikan kita sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar, serta beriman kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala juga telah menganugerahkan nikmat dan keutamaan dengan menurunkan kitab-Nya yang termulia, al-Qur’an, al- Furqan, kepada kita. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” (al-Isra: 9)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَىٰ عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan al-Furqan (al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (al-Furqan:1)

Allah Subhanahu wata’ala juga memberi anugerah kepada kita—dan Dia adalah Dzat Pemilik keutamaan dan anugerah—dengan mengutus Rasul-Nya yang termulia, penutup para nabi-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, seorang nabi dari keturunan Bani Hasyim, dari suku Quraisy. Menjadi teranglah cahaya kenabian atas beliau. Allah Subhanahu wata’ala memuliakan beliau dengan menjadikan beliau sebagai rasul dan mengutusnya kepada makhluk-Nya. Allah Subhanahu wata’ala pun mengistimewakan beliau dengan berbagai karamah, sekaligus menjadi perantara (penyampai risalah) yang tepercaya antara Dia dan para hamba-Nya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan dan mengajari mereka al-Kitab dan hikmah, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

“Sungguh, Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali Imran: 164)

Dengan mengutus Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mewujudkan tauhid yang dengannya Dia menghapus kesyirikan. Allah Subhanahu wata’ala pun menjadikan cahaya yang beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bawa sebagai penerang kehidupan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (al-An’am: 122)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

Diutusnya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  adalah rahmat bagi alam semesta ini, sebagaimana firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

“Dan tiadalah Kami mengutusmu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (al-Anbiya: 107)

Dengan pengutusan beliau, terwujudlah rahmat yang sempurna yang memperbaiki kehidupan mereka di dunia dan keadaan mereka di hari kiamat,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (at- Taubah: 128)

Di samping memerintahkan pengagungan terhadap perintah Allah, syariat Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad juga membawa kasih sayang bagi seluruh hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَىٰ وَاتَّقَىٰ () وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَىٰ ()  فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَىٰ

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (al-Lail: 5—7)

Para ulama mengatakan bahwa dua pokok ini—mengagungkan perintah Allah dan membawa kasih sayang bagi para hamba-Nya—adalah sifat umum agama ini. Seiring dengan kesempurnaan agama Islam yang agung ini, yang dasar tujuannya sesuai dengan fitrah yang lurus, penuh toleransi dan kemudahan dalam hal pensyariatan, penuh keadilan dan keseimbangan dalam memenuhi hak, penuh kebaikan dalam hal bantuan dan pemberian; sungguh urusan dan keadaannya telah mencapai apa yang diliputi oleh malam dan siang. Manusia pun masuk ke dalam agama Islam secara berbondong-bondong. Dengan hikmah-Nya, Allah Subhanahu wata’ala menentukan terjadinya pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Di antara ketentuan- Nya tersebut adalah adanya orang-orang yang benci dan tidak menyukai para nabi dan rasul serta kebenaran yang jelas yang mereka ajarkan. Hal ini disebabkan buruknya hati mereka dan rusaknya fitrah mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Rabbmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.” (al-An’am: 112)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا مِّنَ الْمُجْرِمِينَ ۗ وَكَفَىٰ بِرَبِّكَ هَادِيًا وَنَصِيرًا

“Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjadi Pemberi petunjuk dan Penolong.” (al-Furqan: 31)

Yang mereka inginkan adalah,

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.” (ash-Shaf: 8)

Jadi, di antara para setan itu adalah setan dari kalangan manusia dan jin.  Sejarah mengungkapkan berbagai tipu daya, metode, ucapan, dan perbuatan yang merupakan makar dan muslihat yang mereka usahakan dalam rangka mencela hamba dan Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala telah melindungi beliau dari makar mereka dan mengembalikannya ke leher mereka. Demikianlah. Di antara upaya sesat dan putus asa mereka yang terakhir adalah apa yang menjadi berita pada hari-hari ini, yaitu penyebaran sebuah film yang berupaya menghina Nabi n. Kami ikuti pula perkembangan penolakan lembagalembaga Islam dan Negara terhadap upaya kotor yang tidak direstui oleh akal sehat dan agama tersebut. Oleh karena itu, kami ingin menjelaskan beberapa poin penting berikut kepada segenap pihak.

1. Tindakan kriminal yang buruk ini, yaitu penyebaran film yang jelek tersebut, sama sekali tidak memadaratkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  yang mulia dan agama Islam. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala  telah mengangkat kedudukan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam sekaligus menjadikan kerendahan dan kehinaan bagi orang yang menyelisihi perintah beliau. Allah telah menganugerahi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemenangan yang nyata. Allah Subhanahu wata’ala juga melindungi beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dari seluruh manusia dan memberi kecukupan kepada beliau dari orang-orang yang mengolok-olok beliau. Selain itu, Allah Subhanahu wata’ala menganugerahkan al-Kautsar kepada beliau dan menjadikan orang yang membenci beliau sebagai orang yang terputus (kebaikannya). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ () وَوَضَعْنَا عَنكَ وِزْرَكَ () الَّذِي أَنقَضَ ظَهْرَكَ () وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? Dan Kami telah menghilangkan dari padamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu? Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama) mu?” (al-Insyirah: 1—4)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا () لِّيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا () وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (al-Fath: 1—3)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman pula,

وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ

“Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.” (al-Maidah: 67)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya?” (az-Zumar: 36)

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّا كَفَيْنَاكَ الْمُسْتَهْزِئِينَ

“Sesungguhnya Kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu).” (al-Hijr: 95)

Firman-Nya yang lain,

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Semakin besar upaya jelek orang-orang jahat tersebut, akan semakin tersebar pula keutamaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan ketinggian agama Islam. Ini adalah bukti atas kebenaran ayat ayat mulia di atas.

2. Seorang muslim diperintah dan dituntut—dalam setiap hal yang dilakukannya atau ditinggalkannya—untuk selalu mengikuti petunjuk dan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Dengan demikian, pengingkaran seorang muslim terhadap tindakan kriminal ini juga wajib disesuaikan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam Kitab- Nya dan oleh Rasulullah dalam sunnah beliau. Kemurkaan dan kemarahan mereka hendaknya tidak melampaui syariat hingga menyebabkannya melakukan hal yang dilarang. Sebab, jika demikian, berarti kaum muslimin tanpa sadar benar-benar telah masuk perangkap yang menjadi tujuan film yang jelek tersebut. Haram hukumnya melibatkan orang yang tidak bersalah ke dalam kejahatan seorang kriminal dan pendosa. Haram pula hukumnya melampaui batas terhadap orang orang yang dilindungi darah dan hartanya, atau memprovokasi massa untuk membakar dan menghancurkan (bangunan).

Tindakan tindakan tersebut justru memperburuk citra agama Islam. Tidak diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala dan sama sekali tidak termasuk sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah telah mencela orang-orang yang membakar rumah mereka dengan tangan mereka sendiri, dan kita harus mengambil pelajaran dari keadaan mereka tersebut. Pada kesempatan ini, hendaknya kita juga mengingat bahwa tidaklah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam— yang berhak kita tebus dengan diri dan keluarga kita—diolok-olok kecuali semakin menekuni akhlak yang utama dan perangai yang mulia, sebagai pengamalan terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ () وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّىٰ يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ

“Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat), dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (al-Hijr: 97—99)

Sungguh, Allah Subhanahu wata’alatelah menyebutkan sifat beliau dalam firman-Nya,

وَإِنَّ لَكَ لَأَجْرًا غَيْرَ مَمْنُونٍ

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (al-Qalam: 4)

Dalam Shahih al-Bukhari dan lainnya, dari hadits Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia ditanya, “Ceritakanlah kepada kami tentang sifat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan di dalam Taurat.” Abdullah bin Amr  menjawab, “Sungguh, sifat beliau yang disebutkan dalam Taurat adalah seperti yang disebutkan dalam al-Qur’an, ‘Wahai Nabi, Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira, pemberi peringatan, dan pelindung kaum yang ummi. Engkau adalah hamba dan utusan-Ku. Aku namai engkau al-Mutawakkil. Engkau bukan orang yang kasar tutur katanya, keras perangainya, dan suka berteriak di pasar. Engkau juga tidak membalas kejelekan dengan kejelekan, tetapi dengan kebaikan. Engkau justru memaafkan dan mengampuni. Aku tidak akan mewafatkannya hingga Aku tegakkan agama yang telah bengkok itu. Melalui dia, Aku buka mata-mata yang buta, telingatelinga yang tuli, dan hati-hati yang lalai, dengan mereka mengucapkan La ilaha illallah’.”

Apabila pengingkaran yang luas di dunia Islam tidak menimbulkan tindakantindakan positif dan konstruktif, tentu hal itu tidak akan bertahan lama dan segera berakhir pengaruhnya, seakan-akan tidak terjadi apa pun sebelumnya. Oleh karena itu, bentuk pembelaan terbesar terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah meneladani petunjuk beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mengikuti sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, menyebarkan keutamaan-keutamaan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, mempelajari sejarah kehidupan beliau, dan menyebarkan kebenaran Islam serta ajaran-ajarannya.

3. Kaum muslimin harus sadar sepenuhnya bahwa perbuatan dosa dan kriminal tersebut tidaklah ditujukan untuk menghina Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karena mereka (yang melakukannya) tahu bahwa mereka sama sekali tidak bisa memberi madarat kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, yang kami ketahui dengan pasti—bukan hanya sangkaan—

dengan membaca sejarah hingga saat ini, musuh-musuh (agama) yang menyalakan gejolak ini atau provokasi lainnya, menyelipkan banyak tujuan. Di antara ambisi mereka adalah memalingkan kaum muslimin dari pekerjaan besar yang sedang mereka lakukan: membangun negara, mewujudkan persatuan, dan menggapai kemodernan serta kemajuan. Karena itu, bantahan yang gamblang terhadap penghinaan tersebut adalah kaum muslimin hendaknya terus melaju, giat, dan bertekad kuat untuk membangun dan mengembangkan negeri mereka, hingga mereka mampu menunaikan tanggung jawab dan amanah sebagai umat terbaik yang dikeluarkan untuk manusia.

4. Pada kesempatan ini, kami mendorong dan menuntut agar negara-negara serta organisasi multilateral di dunia bergerak mengajukan tuntutan pidana terhadap tindakan penghinaan kepada para nabi dan rasul, seperti Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad, Alaihissalam, yang dihormati, diagungkan dan dimuliakan oleh nurani kemanusiaan. Sungguh, negeri dua tanah suci, Kerajaan Arab Saudi, memiliki tuntutan yang lebih dalam hal ini. Kami memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala agar meliputi seluruh penjuru dunia ini dengan kebaikan, memberi taufik kepada kaum muslimin agar menyatukan langkah mereka, dan memperbaiki keadaan mereka. Sesungguhnya Dia Mahakuasa untuk mewujudkannya. Semoga shalawat dan salam selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya.

Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, Ketua Dewan Ulama Besar & Komite Penelitian Ilmiah dan Fatwa

(Sumber http://www.sahab.net/ home/?p=975)

Tanya Jawab Ringkas Edisi 87

Beda Najis & Hadats

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Apakah perbedaan antara najis dengan hadats? +6285647XXXXXX

Najis itu bendanya seperti air kencing, kotoran manusia, bangkai, dsb. Hadats itu keluarnya yang membatalkan kesucian, seperti buang air kecil (BAK), buang angin, buang air besar (BAB), dsb.

Bolehkah Meruqyah Orang Lain?

Apakah boleh membacakan ayat ayat al-Qur’an (ruqyah) kepada saudara kita yang sedang sakit parah? +6285648XXXXXX

Boleh.

Kedutan di Mata

Apakah memercayai kedutan (aliran darah yang berdenyut) di mata sebagai suatu pertanda termasuk perbuatan tathayur? +6285257XXXXXX

Ya, tathayur. 

Mandi Jum’at

Saya seorang buruh yang setiap hari Jumat sebelum berangkat kerja sudah mandi. Apakah saya harus mandi lagi ketika hendak shalat jumat atau sudah cukup dengan mandi pagi sebelum berangkat kerja? +6285725XXXXXX

Mandi tersebut sudah cukup apabila diniatkan juga sebagai mandi jumat, namun apabila Anda berkeringat atau tubuh Anda menjadi berbau, lebih baik mandi lagi walaupun mandi yang ini tidak wajib. 

Istri Ayah, Mahram bagi Anak

Bagaimana hukumnya anak laki  laki suami dari istri sebelumnya, apakah anak laki-laki itu bisa mahram dengan istri sekarang? +6289693XXXXXX

Ya, mahram. 

Zikir Setelah Shalat Atau Menjawab Azan?

Misal kita sedang berzikir setelah shalat fardhu bersamaan terdengar azan dari masjid lain, apa yang kita lakukan? +6285797XXXXXX

Zikir lebih diutamakan. 

Anak Kencing di Halaman

Apakah jika ada anak kecil kencing di halaman/tanah lalu orang tua tidak menceboki dan menyiram air kencing tadi termasuk tidak menjaga dari kencing? +6285292XXXXXX

Sudah benar, yang tidak menjaga ialah apabila tidak cebok, atau membiarkan percikan kencing tanpa mencucinya. 

Sunnah Membaca Surat al-Kahfi

Adakah sunnah membaca surat al-Kahfi setiap Jumat? +6281370XXXXXX

Ya, dianjurkan membaca surat al- Kahfi pada hari Jumat. 

Qadariyah & Jabriyah

Mengapa ada aliran sesat yang disebut qadariyah dan jabriyah? +6285290XXXXXX

Disebut Qadariyah karena menyimpang dalam masalah takdir, yakni tidak beriman kepada takdir. Adapun aliran Jabriyah maksudnya paksaan, karena mereka meyakini bahwa manusia terpaksa dengan takdir dan tidak punya kehendak. 

Bersepeda Motor Tanpa Helm

Bolehkah seorang ustadz mengendarai sepeda motor tanpa memakai helm?

+6281803XXXXXX

Di daerah wajib helm, hendaknya menaatinya, siapa pun dia. 

Hukum Sedekah Bumi

Apa hukumnya kendurian sedekah bumi? +6285292XXXXXX

Kenduri dan sedekah bumi tidak boleh, minimalnya bid’ah dan ada yang sampai pada tingkat syirik. 

Perempuan Haid Memegang Mushaf

Bagaimana hukumnya apabila seorang perempuan yang sedang haid memegang al-Qur’an?

+6287837XXXXXX

Boleh memegang mushaf al-Qur’an menurut pendapat yang kuat, apabila dibutuhkan untuk mengingat hafalan/ menghafal atau membaca sementara dia tidak hafal. 

Membantu Acara Bid’ah

Bolehkah seseorang membantu acara bid’ah seperti pengajian maulid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebagainya? Karena dia diberi amanat sebagai marbot (penjaga masjid). +628121XXXXXX

Tidak boleh, karena hal itu termasuk tolong-menolong dalam bid’ah, sehingga dia berdosa.

Hukum Memakai Peci Nasional

Bagaimana hukum memakai peci nasional (songkok)? Apakah itu termasuk tasyabuh? +6285642XXXXXX

Boleh memakai peci tersebut, itu ciri khas muslimin di negeri kita, bukan tasyabbuh. 

Niat Infak yang Berubah

Saya memiliki sejumlah uang untuk diinfakkan ke masjid, tetapi saya gunakan untuk disumbangkan ke Dammaj (Yaman, -red.). Bolehkah hal demikian? +6283830XXXXXX

Kalau baru niat, boleh. Kalau sudah diikrarkan untuk masjid, maka tidak boleh untuk yang lain. 

Status “Almarhum”

Apakah istilah almarhum (alm.) kepada orang yang sudah mati ada dalam ajaran agama Islam?

+6285649XXXXXX

Tidak ada, yang tepat hendaknya berupa doa: rahimahullah, Allah yarhamhu, atau alaihi rahmatullah (semoga Allah Subhanahu wata’ala merahmatinya). Penggunaan istilah “almarhum” cenderung mengacu pada kepastian (orang tersebut pasti dirahmati oleh Allah Subhanahu wata’ala). 

Zikir Pagi setelah Matahari Terbit

Bolehkah seseorang membaca zikir pagi sedangkan matahari telah terbit? +6281578XXXXXX

Zikir pagi waktunya sebelum terbit matahari. 

Makna Fasik

Apa arti orang fasik, apa contohnya? +622470XXXXXX

Fasik artinya pelaku dosa besar, misalnya pelaku zina, mencuri, berbohong, mabuk, dsb. 

Makna Ghulul

Apa yang dimaksud dengan ghulul? +6285359XXXXXX

Ghulul adalah mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi. 


Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Haid Lama Karena Suntik KB

Saya haid lebih dari 15 hari karena suntik KB. Bagaimana dengan kewajiban shalat? Apakah tetap shalat meski masih keluar darah atau tidak shalat sampai darah benar-benar berhenti? +6285642XXXXXX

Tidak ada batas minimal atau maksimal waktu haid. Yang dianggap adalah wujudnya darah. Selama belum suci, maka tidak boleh shalat, puasa, dan bercampur dengan suami. Waffaqakumullah. 

Zina Tangan

Apakah saling mengirim SMS dengan ajnabi (nonmahram) termasuk zina tangan? +6282137XXXXXX

Zina tangan adalah semua maksiat yang dilakukan oleh tangan, SMS kepada lain jenis termasuk salah satunya. Wallahul musta’an. 

 

Mendulang Pahala Dengan Shalat Berjamah

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al Baqarah: 43)

Tafsir Ayat

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

“Dan dirikanlah shalat.”

Berasal dari kata ) قَامَ ( yang bermakna tetap dan kokoh. Jadi, yang dimaksud ) أَقَامَ ( adalah menetapkan dan mengokohkan. Dengan demikian, menegakkan shalat maknanya adalah menunaikannya dengan melakukan rukunrukunnya, sunnah-sunnahnya, dan tata caranya yang dilakukan pada waktunya. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Menegakkan shalat adalah menyempurnakan rukuk dan sujud, bacaan, kekhusyukan, dan konsentrasi.”

Qatadah  rahimahullah berkata, “Makna menegakkan shalat adalah menjaga waktu-waktunya, wudhu, rukuk, dan sujudnya.”

Makna ini pula yang dipakai oleh Umar radhiyallahu ‘anhu tatkala menulis surat kepada para pegawainya,

إِنَّ أَهَمَّ أَمْرِكُمْ عِنْدِي الصَّلاَةُ، فَمَنْ حَفِظَهَا وَحَافَظَ عَلَيْهَا حَفِظَ دِينَهُ وَمَنْ ضَيَّعَهَا فَهُوَ لِمَا سِوَاهَا أَضْيَعُ

“Sesungguhnya urusan kalian yang terpenting bagiku adalah shalat. Barang siapa menjaga dan memeliharanya, berarti dia memelihara agamanya, dan siapa yang menelantarkannya, berarti dia lebih menelantarkan yang lainnya.” (Riwayat al-Imam Malik dalam al-Muwaththa’, no. 6, al-Baihaqi, 1/445) (Lihat Tafsir al-Qurthubi, 1/253, Fathul Qadir, 1/114, Tafsir ath-Thabari, 1/248)

Adapun shalat secara bahasa bermakna doa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka, serta mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (at-Taubah: 103)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إذا دُعِيَ أَحَدُكُمْ فَلْيُجِبْ فَإِنْ كَانَ صَائِمًا فَلْيُصَلِّ وَإِنْ كَانَ مُفْطِرًا فَلْيَطْعَمْ

“Jika salah seorang kalian diundang, hendaklah ia menjawabnya (memenuhi undangannya). Jika dia berpuasa, hendaklah ia mendoakannya, dan jika ia tidak berpuasa, hendaknya ia makan.” (HR. Muslim no. 1431)

Adapun secara istilah syariat, shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu, yang dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Para ulama berbeda pendapat tentang shalat yang dimaksud dalam ayat ini, apakah shalat wajib atau mencakup seluruh shalat, yang wajib dan yang sunnah. Pendapat kedua dikuatkan oleh al-Qurthubi rahimahullah. Beliau berkata setelah menyebutkan pendapat kedua, “Inilah pendapat yang benar karena lafadznya umum, dan orang yang bertakwa mengamalkan kedua jenis shalat tersebut.” (Tafsir al-Qurthubi, 1/261)

وَآتُوا

“Aatuu” berasal dari kata “aliitaa” ) الْإِيْتَاءُ (, maknanya memberikan dan menunaikan. Adapun “zakaah” berasal dari kata “zaka–yazku” ) زَكَا – يَزْكُو ( yang bermakna bertambah dan berkembang. Dinamakan zakat karena mengeluarkan zakat akan menyebabkan harta semakin berkah atau orang yang menunaikannya akan semakin bertambah pahala dan keutamaannya. Ada pula yang berkata bahwa zakat berasal dari “zaka” yang bermakna suci dan bersih. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَّهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka.” (at-Taubah: 103)

Terjadi silang pendapat di kalangan para ulama tentang zakat yang dimaksud dalam ayat ini:

1. Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah zakat mal yang wajib. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.

2. Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud adalah zakat fithr. Pendapat ini diriwayatkan dari al-Imam Malik rahimahullah.

Yang kuat dari dua pendapat di atas adalah pendapat pertama, dengan beberapa alasan:

• Perintah menunaikan zakat di sini digandengkan dengan perintah menegakkan shalat, yaitu shalat lima waktu.

• Zakat fithr biasanya dihubungkan dengan Ramadhan, sebagaimana yang diriwayatkan dalam hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan ayat ini menyebutkan zakat secara mutlak. (lihat Tafsir al-Qurtubi, 2/24, Fathul Qadir, 1/178)

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan rukuklah bersama orang-orang yang rukuk.”

Rukuk secara bahasa bermakna membungkuk. Setiap orang yang membungkuk kepada yang lain maka ia disebut melakukan rukuk kepada orang tersebut. Rukuk adalah salah satu perbuatan yang tidak boleh dilakukan kepada selain Allah Subhanahu wata’ala, sebab hal itu termasuk jenis ibadah, seperti halnya sujud. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, rukuklah kalian, sujudlah kalian, sembahlah Rabb kalian, dan perbuatlah kebajikan supaya kalian mendapat kemenangan.” (al-Hajj: 77)

Ada beberapa faedah dikhususkannya penyebutan rukuk di dalam ayat ini:

1. Untuk membedakan antara shalat kaum muslimin dan shalat kaum Yahudi (yang menyimpang) yang tidak ada rukuk di dalamnya.

2. Untuk menjelaskan bahwa rukuk adalah salah satu rukun shalat yang tidak sah ibadah seseorang

kecuali dengan melakukan rukuk dan menyempurnakannya. Mengungkapkan sebuah ibadah dengan menyebut salah satu amalannya, menunjukkan wajibnya amalan yang disebutkan tersebut. Seperti halnya hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji itu adalah wukuf di Arafah.” (HR. Ahmad, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, ad-Daraquthni, al-Hakim, dan yang lainnya dari Abdurrahman bin Ya’mar radhiyallahu ‘anhu) (Lihat Fathul Qadir, asy-Syaukani; Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di)

Adapun cara melakukan rukuk yang syar’i adalah membungkukkan tulang punggung, membentangkan punggung dan lehernya, serta membuka jari-jemari kedua tangannya sambil menggenggam kedua lututnya. Kemudian melakukannya dengan thuma’ninah dan membaca zikir zikir yang berasal dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (Silakan lihat hadits-hadits tentang sifat rukuk Nabi n dalam Shifat Shalat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, karya al-Allamah al-Albani rahimahullah) Ayat di atas dijadikan dalil oleh para ulama tentang disyariatkannya shalat berjamaah. Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Banyak dari kalangan ulama yang menjadikan ayat ini sebagai dalil tentang wajibnya shalat berjamaah.”

Terdapat perselisihan tentang hukum shalat berjamaah.

1. Pendapat pertama, tidak boleh ditegakkan shalat berjamaah kecuali jika imamnya seorang nabi atau shiddiq. Ibnu Abdil Bar  rahimahullah menyebutkan pendapat ini dalam kitabnya, at-Tamhid, dan beliau berkata bahwa ini pendapat bid’ah yang berasal dari kaum Khawarij yang menyelisihi jamaah kaum muslimin. (at-Tamhid, 14/140)

2. Shalat berjamaah adalah syarat sahnya shalat wajib, hukumnya fardhu ‘ain, dan tidak sah shalat seseorang jika ia mengerjakannya sendirian tanpa uzur. Pendapat ini dikuatkan oleh Dawud azh-Zhahiri dan Ibnu Hazm rahimahumallah.

3. Shalat berjamaah hukumnya fardhu ‘ain, wajib bagi yang tidak mempunyai uzur, namun bukan syarat sahnya shalat. Jika seseorang mengerjakannya sendirian tanpa uzur, shalatnya sah, namun dia berdosa karena meninggalkan kewajibannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud dan Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhuma. Ini juga merupakan pendapat Atha’, al-Auza’i, Abu Tsaur, Ahmad, dan sekelompok ulama dari mazhab Syafi’i, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnul Mundzir, dan Ibnu Hibban rahimahumullah.

4. Shalat berjamaah hukumnya fardhu kifayah. Ini adalah pendapat al-Imam asy- Syafi’i  rahimahullah dan mayoritas pengikut mazhabnya, serta pendapat ulama mazhab Maliki dan Hanafi. An-Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat ini dalam al Majmu’.

5. Shalat berjamaah hukumnya sunnah mu’akkadah, tidak sepantasnya ditinggalkan tanpa uzur syar’i. Ini adalah pendapat mayoritas fuqaha Hijaz, Irak, dan Syam, serta dikuatkan oleh asy-Syaukani dan Ibnu Abdil Bar. (Lihat perbedaan pendapat ulama tentang masalah ini dalam at-Tamhid, 14/140; al-Majmu’ karya an-Nawawi, 4/160; al-Mughni, 2/3, Nailul Authar, asy- Syaukani, 3/151, dan yang lainnya)

Selain pendapat pertama, setiap pendapat yang disebutkan di atas memiliki hujah dan argumen yang kuat, namun yang tampak lebih kuat—wallahu a’lam— adalah pendapat yang ketiga, berdasarkan dalil-dalil berikut.

1. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلَاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِّنْهُم مَّعَكَ وَلْيَأْخُذُوا أَسْلِحَتَهُمْ فَإِذَا سَجَدُوا فَلْيَكُونُوا مِن وَرَائِكُمْ وَلْتَأْتِ طَائِفَةٌ أُخْرَىٰ لَمْ يُصَلُّوا فَلْيُصَلُّوا مَعَكَ وَلْيَأْخُذُوا حِذْرَهُمْ وَأَسْلِحَتَهُمْ ۗ وَدَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ تَغْفُلُونَ عَنْ أَسْلِحَتِكُمْ وَأَمْتِعَتِكُمْ فَيَمِيلُونَ عَلَيْكُم مَّيْلَةً وَاحِدَةً ۚ وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِن كَانَ بِكُمْ أَذًى مِّن مَّطَرٍ أَوْ كُنتُم مَّرْضَىٰ أَن تَضَعُوا أَسْلِحَتَكُمْ ۖ وَخُذُوا حِذْرَكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُّهِينًا

“Dan apabila kamu berada di tengah tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) bersamamu dan menyandang senjata. Kemudian apabila mereka (yang shalat bersamamu) sujud (telah menyempurnakan satu rakaat), maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh). Hendaklah datang golongan yang kedua yang belum shalat, lalu shalatlah mereka denganmu, dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. Orang orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjata dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. Dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu.” (an-Nisa: 102)

Al-Allamah as-Sa’di  rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Ayat ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah hukumnya fardhu ‘ain, dari dua sisi:

a. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkannya dalam kondisi sulit seperti ini, di waktu yang sangat dikhawatirkan akan kedatangan musuh dan serangan mereka. Jika Allah Subhanahu wata’ala mewajibkannya dalam kondisi sulit ini, tentu diwajibkannya shalat dalam kondisi tenang dan aman, lebih utama.

b. Orang yang mengerjakan shalat khauf meninggalkan banyak syarat dan kewajiban shalat, dan dimaafkan padanya kebanyakan perbuatan (gerakan) yang hakikatnya membatalkan shalat jika dikerjakan tidak dalam kondisi khauf (takut). Tentu tidaklah hal ini diperbolehkan kecuali untuk lebih menguatkan kewajiban berjamaah. Sebab, tidak bertentangan antara yang wajib dan yang mustahab, kalaulah tidak ada kewajiban berjamaah, tidak boleh ditinggalkan hal-hal yang wajib ini karenanya.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

2. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّ ةَالِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُ فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ

“ Demi Allah yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku berkeinginan untuk memerintahkan dikumpulkannya kayu bakar, kemudian aku perintahkan untuk ditegakkan shalat, lalu dikumandangkan azan untuknya. Lantas aku perintahkan seseorang untuk mengimami manusia, kemudian aku akan mendatangi beberapa orang dan membakar rumah-rumah mereka.” Dalam riwayat lain, “Yaitu mereka tidak menghadiri shalat, maka aku akan membakar mereka.” (Muttafaq ‘alaihi)

3. Dari Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu, dia berkata bahwa ada seorang buta datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku tidak memiliki penuntun yang menuntun aku datang ke masjid.” Ia pun meminta keringanan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk shalat di rumahnya. Awalnya Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkannya. Tatkala dia hendak pulang, Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam memanggilnya dan bertanya kepadanya, “Apakah engkau mendengar panggilan untuk shalat (azan)?” Ia menjawab, “Ya.” Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Penuhilah (panggilan tersebut)!” (HR. Muslim no. 653)

4. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَلْقَى اللهَ غَدًا مُسْلِمًا فَلْيُحَافِظْ عَلَى هَؤُلَاءِ الصَّلَوَاتِ حَيْثُ يُنَادَى بِهِنَّ، فَإِنَّ اللهَ شَرَعَ لِنَبِيِّكُمْ سُنَنَ الْهُدَى وَإِنَّهُنَّ مِنْ سُنَنِ الْهُدَى  ، وَلَوْ أَنَّكُمْ صَلَّيْتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ كَمَا يُصَلِّي هَذَا الْمُتَخَلِّفُ فِي بَيْتِهِ لَتَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ، وَلَوْ تَرَكْتُمْ سُنَّةَ نَبِيِّكُمْ لَضَلَلْتُمْ، وَمَا مِنْ رَجُلٍ يَتَطَهَّرُ فَيُحْسِنُ الطُّهُورَ ثُمَّ يَعْمِدُ إِلَى مَسْجِدٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَاجِدِ إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِكُلِّ خَطْوَةٍ يَخْطُوهَا حَسَنَةً وَيَرْفَعُهُ بِهَا دَرَجَةً وَيَحُطُّ عَنْهُ بِهَا سَيِّئَةً، وَلَقَدْ رَأَيْتُنَا وَمَا يَتَخَلَّفُ عَنْهَا إِلاَّ مُنَافِقٌ مَعْلُومُ النِّفَاقِ، وَلَقَدْ كَانَ الرَّجُلُ يُؤْتَى بِهِ يُهَادَى بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ حَتَّى يُقَامَ فِي الصَّفِّ

“Barang siapa yang senang bertemu Allah Subhanahu wata’ala kelak dalam keadaan muslim, hendaklah ia memelihara shalat-shalat ini dengan menunaikannya di tempat dipanggilnya, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mensyariatkan kepada Nabi kalian sunnah-sunnah petunjuk. Dan sesungguhnya shalat-shalat ini termasuk sunnah-sunnah petunjuk. Seandainya kalian shalat di rumah rumah kalian sebagaimana orang yang tidak ke masjid ini shalat di rumahnya, berarti kalian telah meninggalkan sunnah Nabi kalian. Jika kalian meninggalkan sunnah Nabi kalian, berarti kalian telah tersesat. Tidaklah seorang lelaki bersuci dan menyempurnakan bersucinya, lalu dia berangkat ke sebuah masjid kecuali Allah Subhanahu wata’ala mencatat baginya setiap langkah yang ia langkahkan dengan satu kebaikan, mengangkat satu derajat baginya, dan menghapuskan darinya satu kesalahan. Sungguh kami melihat bahwa tidak ada yang meninggalkannya selain seorang munafik yang jelas kemunafikannya. Dahulu seseorang didatangkan untuk menghadiri jamaah, hingga dipapah oleh dua orang untuk didirikan di dalam shaf.” (HR. Muslim no. 654)

Dalil-dalil ini zahirnya menunjukkan wajibnya menegakkan shalat jamaah di masjid. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal al-Bugisi