Shalat, Antara Diterima Dan Tidak

Tidak ada jalan menuju kebahagiaan setiap hamba, baik di dunia maupun di akhirat melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah membentangkan jalan untuk mencapainya dan membimbing ke arah jalan tersebut. Sebaliknya, tidak ada sesuatu yang membahayakan dan memudaratkan mereka, melainkan Allah Subhanahu wata’ala telah menurunkan wahyu-Nya serta mengutus utusan-Nya untuk menjelaskan dan memperingatkan darinya. Salah satu jalan kebaikan yang sangat besar dan bernilai tinggi dalam hidup mereka adalah ketaatan dalam bentuk penghambaan dan penghinaan diri yang tinggi, serta bentuk kedekatan hamba yang paling dekat dengan Allah Subhanahu wata’ala yaitu shalat lima waktu sehari semalam. Ini semua sebagai bukti bahwa Allah Subhanahu wata’ala memuliakan setiap hamba dan tidak menciptakan mereka secara sia-sia, tanpa arti.

أَيَحْسَبُ الْإِنسَانُ أَن يُتْرَكَ سُدًى

“Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (al-Qiyamah: 36)

Ketaatan dengan Pertolongan Allah Subhanahu wata’ala

Setiap hamba semestinya mengetahui dengan diperintahkannya mereka untuk melaksanakan sesuatu atau dilarangnya mereka dari sesuatu semata-mata untuk hamba itu sendiri dan tidak ada kepentingannya bagi Allah Subhanahu wata’ala sedikit pun. Hamba itu pun harus mengetahui bahwa kemampuan dia untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya serta kemampuan dia untuk menjauh dari segala larangan, sesungguhnya itu merupakan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala semata. Tanpa hal itu, manusia tidak akan sanggup untuk melaksanakannya karena,

Pertama: Adanya hawa nafsu yang sangat berlawanan dengan niatan niatan baik setiap manusia serta selalu mendorong untuk menyelisihi segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dia akan mengundang siapa pun untuk menjadi orang yang berani meninggalkan perintah dan menjadi orang yang tidak punya malu melanggar larangan. Jika perintah dan larangan itu diserahkan pelaksanaannya semata mata pada kemampuan manusia dan tidak ada bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala, niscaya semuanya akan menjadi tersesat. Tentu saja Allah Subhanahu wata’ala menolong hamba-hamba yang dikehendaki-Nya karena karunia- Nya, dan tidak menolong yang lain karena keadilan.

وَلَوِ اتَّبَعَ الْحَقُّ أَهْوَاءَهُمْ لَفَسَدَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ بَلْ أَتَيْنَاهُم بِذِكْرِهِمْ فَهُمْ عَن ذِكْرِهِم مُّعْرِضُونَ

“Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka peringatan (al-Qur’an) tetapi mereka berpaling darinya.” (al-Mu’minun: 71)

فَإِن لَّمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka jika mereka tidak memenuhi seruanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Qashash: 50)

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.” (al- Ibanah ash-Shugra hlm. 122)

Al-Hasan rahimahullah mengatakan, “Tidak ada sebuah penyakit yang lebih dahsyat daripada penyakit hawa nafsu yang mengenai hati.” (al-Ibanah ash-Shugra hlm. 124)

Abdullah bin ‘Aun al-Bashri rahimahullah berkata, “Bila hawa nafsu telah berkuasa di dalam hati, niscaya dia akan menganggap baik segala apa yang dahulunya dipandang jelek.” (al-Ibanah as-Shugra 131) (Lihat kitab Sallus Suyuf wal Asinnah secara ringkas hlm. 24—26)

Kedua: Setan dari luar manusia yang setiap saat mengintai mereka untuk kemudian menyerunya menuju penyelisihan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setan telah menjadikan diri sebagai lawan atas siapa saja yang menaati Allah Subhanahu wata’ala, serta kawan bagi siapa yang melanggar perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala. Dialah yang mengatakan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana firman-Nya,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ () ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukum aku tersesat, aku benar benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka, dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (al-A’raf: 16—17)

Firman-Nya pula,

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata, “Ya Rabbku, karena Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya.” (al- Hijr: 39)

Dengan semuanya ini, sudah sepantasnya bagi seorang hamba bila dia menemukan dirinya menjadi orang yang mendapatkan kemudahan untuk melaksanakan ketaatan dan ringan dalam menjauhi larangan agar selalu bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena semuanya dengan bantuan-Nya. Bila seorang hamba menemukan dirinya sangat mudah untuk melanggar ketentuan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, hendaklah dia mencela dirinya sendiri. Setelah itu, dia harus berjuang untuk menundukkan hawa nafsunya di atas syariat Allah Subhanahu wata’ala dan melawan setan sebagai teman yang mengajak dia bermaksiat.

Setiap hamba semestinya mengetahui bahwa jalan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat adalah dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam serta menjalankan segala aturan Allah Subhanahu wata’ala di dalam wahyu-Nya. Karena tanpa itu semua, jangan bermimpi akan menang dalam setiap perjuangan, jangan berkhayal kejayaan, kemuliaan, kewibawaan Islam dan kaum muslimin akan kembali, serta jangan berharap akan meraih kebahagiaan dan kesenangan yang hakiki. Yang ada adalah kegagalan, kekalahan, kerendahan dan kehinaan, serta kehancuran dan kebinasaan. Cukuplah berita ilahi di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih sebagai berita yang akurat yang tidak ada kedustaan di dalamnya.

Jalan-Jalan Ketaatan dan Keikhlasan

Pintu-pintu kebaikan yang begitu banyak sungguh telah dijelaskan secara rinci dalam syariat Allah Subhanahu wata’ala dan tidak ada sesuatu yang masih tersisa. Kesempurnaan syariat-Nya juga membuktikan bahwa Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kemuliaan atas setiap hamba-Nya. Sebuah kebajikan yang besar tentunya untuk meraih nilai yang besar pula di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Nilai nilai yang besar tersebut tidak akan didapatkan melainkan pelaksanaannya harus berada di atas koridor agama.

Dengan kata lain, harus berada di atas syarat-syarat diterimanya amal. Di antara ketentuan yang harus ada dalam pengabdian setiap hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah dua hal yaitu ikhlas dan mutaba’ah (mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam). Barang siapa yang tidak ada pada amalnya kedua syarat tersebut atau salah satu di antaranya, maka jelas ditolak dan masuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَّنثُورًا

“Dan Kami sodorkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.” (al-Furqan: 23)

Kedua sifat tersebut, ikhlas dan mutaba’ah (mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah dihimpun oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِّمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia pun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kekasih-Nya.” (an-Nisa: 125)

بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

“(Tidak demikian) bahkan barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Rabbnya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (al-Baqarah: 112) (Lihat kitab Bahjatu Qulubul Abrar hlm. 14 karya al-Imam as-Sa’di rahimahullah)

Shalat, Amalan Besar yang Butuh Keikhlasan dan Mutaba’ah

Di antara sederetan kewajiban yang besar serta bernilai agung dan tinggi adalah shalat lima waktu sehari semalam. Amal besar yang tidak ada seorang muslim pun meragukannya karena dalil yang menjelaskannya sangat terang layaknya matahari di siang bolong. Oleh karena itu, jika ada orang yang mengaku muslim mengingkari dan tidak mengerjakan shalat berarti dia telah menanggalkan pakaian keislamannya, dia sadari atau tidak. Sebab, dia telah menentang hujah yang sangat terang dan jelas. Contoh perintahnya,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikan zakat, dan rukuklah bersama orangorang yang rukuk.” (al-Baqarah: 43)

Adakah dari kaum muslimin yang memahami perintah shalat di dalam ayat ini dengan makna bukan sebenarnya yaitu shalat yang telah dituntunkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam? Jika ada, berarti jelas bahwa dia adalah orang yang sesat dan jika dia tidak melaksanakannya akan bisa menjadikan dia kafir, keluar dari Islam. Karena shalat adalah amal ibadah besar kepada Allah Subhanahu wata’ala, seharusnya tidak dicari di baliknya selain wajah Allah Subhanahu wata’ala dan ridha-Nya. Itulah keikhlasan, sebab:

1. Jika melaksanakannya dan ingin semata-mata pujian dari manusia, ingin terpandang, atau ingin memiliki kedudukan di hati banyak orang, ini adalah sebuah kesyirikan, walaupun dia mengerjakannya dengan penuh ketaatan. Allah Subhanahu wata’ala bercerita tentang ibadah shalat orang-orang munafik yaitu nifak akbar (besar),

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (an-Nisa: 142)

2. Jika melaksanakannya karena Allah Subhanahu wata’ala dan ingin mendapatkan sanjungan dari manusia, ini adalah bentuk kesyirikan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, (Allah Subhanahu wata’ala berfirman,)

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ

“Aku tidak butuh kepada sekutu sekutu dalam kesyirikan. Barang siapa yang melakukan amalan dan dia menyekutukan Aku dengan selain-Ku, niscaya Aku akan biarkan dia bersama sekutunya.” (HR. Muslim) Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu secara marfu’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟ قَالُوا : بَلَى. قَالَ: الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، يَقُومُ الرَّجُلُ فَيُصَلِّي فَيَزِينُ صَلَاتَهُ لَمَّا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Maukah aku beri tahukan kepada kalian sesuatu yang lebih aku khawatirkan daripada fitnah Dajjal?” Mereka berkata, “Ya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Syirik tersembunyi, yaitu seseorang melaksanakan shalat dan memperindahnya karena ada yang melihatnya.” (HR. Ahmad)

Keikhlasan adalah dia tidak mengharapkan dalam segala jenis ibadahnya, termasuk shalat, selain ridha dan wajah Allah Subhanahu wata’ala semata. Jika seseorang telah mengerjakannya dengan landasan keikhlasan, Allah Subhanahu wata’ala akan mengganjarnya di dunia sebelum di akhirat, mengangkat namanya, berkedudukan di hadapan manusia tanpa dia mencari dan mengejarnya. Itulah ganjaran setiap kebaikan di dunia sebelum akhirat. Dari penjelasan di atas, jelaslah bahwa tidak akan merugi, baik dunia maupun akhirat, seseorang yang melaksanakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan landasan keikhlasan.

Banyak amal kecil dan ringan karena niatnya yang baik menjadi amalan yang bernilai besar dan berat. Amalan yang besar menjadi ringan bahkan nihil dari nilai, karena niatnya. Sungguh ini adalah kerugian yang nyata dan kesia-siaan yang besar. Perlu diketahui pula bahwa kebenaran niat seseorang dalam sebuah ibadahnya tidak menjamin amalnya tersebut diterima. Hal ini karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan hal ini dalam sebuah sabda beliau,

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barang siapa melakukan amalan dan tidak ada perintahnya dari kami, niscaya amal tersebut tertolak.”

Manthuq (makna lahiriah) hadits ini adalah setiap perkara bid’ah yang dibuat-buat dalam urusan agama yang tidak memiliki landasan di dalam al- Qur’an dan as-Sunnah—baik bid’ah ucapan dan keyakinan, seperti bid’ah Jahmiyah, Rafidhah, Mu’tazilah, serta selainnya, maupun bid’ah perbuatan, seperti beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan ibadah-ibadah yang tidak ada syariatnya dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya— maka semua amalan tersebut tertolak. Pelakunya tercela dan ketercelaannya sesuai dengan tingkat kebid’ahan dan jauhnya dia dari agama.

Barang siapa memberitakan tidak seperti berita Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya atau dia beribadah dengan sesuatu yang tidak ada izin dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam maka dia adalah seorang mubtadi’. Barang siapa mengharamkan perkara-perkara yang dibolehkan atau beribadah tanpa ada syariatnya, maka dia juga seorang mubtadi’. Mafhum hadits ini, barang siapa melaksanakan sebuah amalan yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya, yaitu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan keyakinan yang benar dan amal saleh, baik yang bersifat wajib maupun mustahab (sunnah), maka segala pengabdiannya diterima dan usahanya patut disyukuri.

Hadits ini menjelaskan pula bahwa setiap ibadah yang dikerjakan dalam bentuk yang dilarang maka ibadah tersebut menjadi rusak karena tidak ada perintah dari Allah Subhanahu wata’ala dan adanya larangan tersebut. Konsekuensinya adalah rusak, dan setiap bentuk muamalah yang syariat melarangnya adalah ibadah yang sia-sia dan tidak tergolong dalam kategori ibadah. (Lihat Bahjatul Qulubul Abrar hlm. 17)

Mereguk Nilai di Balik Keikhlasan

Tidak ada satu bentuk pengorbanan dalam sebuah peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala melainkan telah dipersiapkan ganjaran yang lebih besar dari apa yang telah dia korbankan. Itulah janji Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an dan melalui lisan Rasul-Nya di dalam as-Sunnah. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan secara umum jaminan nilai yang akan didapatkan pada semua bentuk peribadahan kepada Allah Subhanahu wata’ala seperti dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang orang yang sebelummu, agar kalian bertakwa.” (al-Baqarah: 21)

Dari sinilah, orang yang beriman mengetahui bahwa siapa saja mengharapkan urusannya yang sulit segera terselesaikan, problem hidupnya yang berat diringankan, dimudahkan urusan rezekinya, mulia dan bahagia, hendaklah dia mencarinya melalui jalur ibadah. Adapun tentang ibadah shalat, Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan nilai khusus padanya yaitu di samping akan menjadikan seseorang bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, juga akan menjadi benteng dari bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan dari perbuatan-perbuatan yang keji. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45)

As-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Shalat itu tidak cukup bila mendatanginya hanya dalam bentuk pelaksanaan lahiriah semata. Namun, shalat itu adalah menegakkannya baik secara lahiriah dengan menyempurnakan rukun-rukunnya, wajib-wajibnya, dan menegakkan syarat-syarat-Nya. Menegakkan secara batin artinya menegakkan ruhnya, yaitu hadirnya hati di dalam shalat tersebut, memahami apa yang diucapkan dan dilakukannya. Inilah shalat yang dimaksudkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam firman-Nya,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ

“Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran.” (al-‘Ankabut: 45) (Tafsir as-Sa’di hlm. 24)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya, apabila dikerjakan sesuai dengan perintah, niscaya shalat akan mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Jika shalat tersebut tidak mencegah dia dari kejelekan dan kemungkaran, ini pertanda bahwa dia telah menyia-nyiakan hak-hak shalat itu kendatipun dia dalam kondisi taat.”

Beliau rahimahullah juga menjelaskan, “Sesungguhnya shalat itu akan menolak adanya perkara yang dibenci yaitu kejelekan dan kemungkaran, dan sekaligus karenanya, juga akan meraih kecintaan yaitu zikrullah; dan terwujudnya kecintaan melalui (shalat) itu lebih besar dibandingkan dengan tertolaknya kejelekan. Hal ini karena zikir kepada Allah Subhanahu wata’ala adalah ibadah, dan ibadah hati sebagai tujuan dari semua bentuk peribadatan tersebut. Adapun tertahannya dia dari kejelekan sebagai tujuan yang lain.”

Beliau rahimahullah berkata, “Yang benar, makna ayat itu adalah shalat memiliki dua tujuan dan satu tujuan dari keduanya itu lebih besar daripada yang lain. Sesungguhnya shalat dapat mencegah dari kejelekan dan kemungkaran. Shalat itu sendiri mengandung makna zikir, dan shalat berikut zikir-zikirnya itu lebih besar dibandingkan keberadaannya yang dapat mencegah dari kekejian dan kemungkaran.

Ibnu Abi Dunia rahimahullah telah menyebutkan dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa beliau ditanya tentang amalan yang paling utama. Beliau rahimahullah berkata, ‘Berzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala.’ Di dalam as-Sunan dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

‘Dan dijadikannya thawaf di baitullah, sa’i antara Shafa’ dan Marwa, serta melempar jumrah, semuanya untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala’.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi, dan beliau berkata bahwa hadits ini hasan dan sahih). (Lihat Majmu’ Fatawa 10/188)

Adapun hadits yang mengatakan,

كُلُّ صَلَاةٍ لَمْ تَنْهَ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ لَمْ يَزْدَدْ صَاحِبُهَا مِنَ اللهِ إلَّا بُعْدًا

“Setiap shalat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar, tidak akan menambah bagi pelakunya selain kejauhan dari Allah Subhanahu wata’ala.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan, “Hadits ini tidak sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Lihat penjelasan tentang kelemahan haditsnya di dalam kitab Silsilah Ahadits adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah jilid 1 hadits ke-2. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Kriteria Imam dalam Shalat

Sahabat mulia, Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu bercerita,

أَتَيْنَا النَّبِيَّ, وَنَحْنُ شَبَبَةٌ مُتَقَارِبُونَ فَأَقَمْنَا عِنْدَهُ عِشْرِينَ لَيْلَةً فَظَنَّ أَنَّا اشْتَقْنَا أَهْلَنَا  وَسَأَلَنَا عَمَّنْ تَرَكْنَا فِي أَهْلِنَا فَأَخْبَرْنَاهُ وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا فَقَالَ: ارْجِعُوا إِلَى أَهْلِيكُمْ فَعَلِّمُوهُمْ وَمُرُوهُمْ وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ ثُمَّ لِيَؤُمَّكُمْ أَكْبَرُكُمْ

“Kami pernah datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saat itu, kami semua pemuda sebaya. Kami pun bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selama 20 hari 20 malam. Setelah memandang bahwa kami telah merindukan keluarga, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada kami tentang keluarga yang kami tinggalkan. Kami pun menceritakannya kepada beliau. Ternyata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang penuh kasih sayang dan kelembutan. Setelah itu beliau bersabda, ‘Pulanglah ke keluarga kalian. Tinggallah di antara mereka, ajari dan perintahkan mereka (untuk melaksanakan Islam). Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat. Jika waktu shalat telah tiba, salah seorang di antara kalian hendaknya mengumandangkan azan untuk kalian dan yang paling tua di antara kalian menjadi imam’.”

Kedudukan Hadits Malik bin al- Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Hadits di atas, dengan tambahan lafadz ( وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي ), dikeluarkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah di tiga tempat dalam Shahih al-Bukhari,

1. Kitab al-Azan (no. 631)

2. Kitab al-Adab (no. 6008)

3. Kitab Akhbarul Ahad (no. 7246)

Ketiga riwayat tersebut bersumber dari jalur Ayyub dari Abu Qilabah dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu. Mengenai sahabat yang meriwayatkan hadits di atas, beliau adalah Abu Sulaiman Malik bin al-Huwairits bin Asyam bin Zabalah bin Hasyis. Beliau berasal dari suku Sa’d bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Beliau menetap di Bashrah hingga wafatnya pada 74 H. Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu memiliki beberapa hadits di dalam Shahih al- Bukhari, seluruhnya berkenaan dengan tata cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Peristiwa datangnya Malik bin al- Huwairits radhiyallahu ‘anhu bersama rombongan dari suku Laits disebutkan oleh sebagian ahli sejarah terjadi pada tahun al- Wufud (tahun kedatangan utusan secara bergelombang dari berbagai negeri untuk menyatakan keislaman). Ibnu Sa’d rahimahullah menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi sebelum Perang Tabuk yang terjadi pada bulan Rajab tahun 9 H. (Fathul Bari, 13/292—293)

Pandangan Ulama tentang Hadits Ini

Ash-Shan’ani rahimahullah menyatakan, “Hadits ini adalah landasan yang kuat untuk menyatakan bahwa apa yang dilakukan dan yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat adalah bayan (penjelasan) tentang perintah shalat yang masih mujmal (global) di dalam al-Qur’an.” (Subulus Salam) Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Hadits ini menjelaskan tentang wajibnya seluruh perbuatan dan ucapan di dalam shalat yang tsabit (sahih) dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Yang mendukung hal ini adalah tata cara tersebut merupakan bentuk bayan (penjelasan) terhadap firman Allah Subhanahu wata’ala yang masih mujmal (global) dari ayat,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ

‘Dan dirikanlah shalat.’ (al- Baqarah: 43)

Perintah di atas adalah perintah al- Qur’an yang menunjukkan wajib. Dan bayan (penjelasan) untuk bentuk mujmal (global) yang wajib juga dihukumi wajib.” (Nailul Authar 2/175)

Adapun sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَصَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

“Dan shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku melaksanakan shalat,”

diterangkan oleh al-Imam Ibnu Hibban rahimahullah, “ (Kalimat ini) adalah bentuk perintah yang mencakup segala hal yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalatnya. Hal-hal yang dikecualikan oleh ijma’ atau riwayat, maka tidak ada dosa bagi yang meninggalkannya di dalam shalat. Adapun yang tidak dikecualikan oleh ijma’ atau riwayat, maka hal itu adalah perintah yang tidak boleh ditinggalkan oleh kaum muslimin seluruhnya, apa pun alasannya.” (al- Ihsan, 3/286)

Beberapa Hukum dan Faedah dari Hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu

Ada banyak hukum dan faedah yang dapat dipetik dari hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu antara lain,

1. Semangat setiap muslim untuk menyampaikan ilmu dan kebenaran.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah memberikan judul bab untuk hadits di atas di salah satu pembahasannya, “Motivasi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Utusan Suku Abdul Qais Agar Mereka Menghafalkan Iman dan Ilmu lalu Menyampaikannya kepada Masyarakat Mereka.” Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu  berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpesan kepada kami, ‘Pulanglah kepada keluarga kalian dan ajarkanlah ilmu kepada mereka’.”

2. Azan dan iqamat disyariatkan untuk shalat saat sedang safar.

Hukum ini diambil dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits di atas,

وَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكمْ

“Jika waktu shalat telah tiba, hendaknya salah seorang di antara kalian mengumandangkan azan untuk kalian.”

Al-Imam Bukhari rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Azan dan Iqamat bagi Musafir Apabila Mereka Berjamaah”. Dalil lain adalah hadits Abu Qatadah rahimahullah dalam riwayat Muslim (no. 681) yang secara panjang mengisahkan salah satu safar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat tertidur sampai matahari terbit. Kemudian Bilal Shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan azan. Dalil berikutnya adalah hadits ‘Uqbah bin ‘Amir Shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2203), beliau pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَعْجَبُ رَبُّكُمْ مِنْ رَاعِي غَنَمٍ فِي رَأْسِ شَظِيَّةٍ بِجَبَلٍ يُؤَذِّنُ بِالصَّلَاةِ وَيُصَلِّي فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا، يُؤَذِّنُ وَيُقِيمُ الصَّلَاةَ يَخَافُ مِنِّي، قَدْ غَفَرْتُ لِعَبْدِي وَأَدْخَلْتُهُ الْجَنَّةَ

“Rabb kalian kagum terhadap seorang penggembala kambing yang berada di puncak bukit. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat. Lalu Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman, ‘Lihatlah hamba- Ku ini. Ia mengumandangkan azan dan melaksanakan shalat karena takut kepada-Ku. Sungguh, Aku telah memberikan ampunan untuknya dan Aku akan memasukkannya ke dalam surga’.”

Al-Imam Abu Dawud rahimahullah membuat judul untuk hadits di atas, bab “Azan di Saat Safar.” Hadits ini dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam ash-Shahihah (1/65).

3. Bersikap kasih sayang dan lembut kepada sesama manusia.

Al – Imam al – Bukhari rahimahullah memberikan judul untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Bersikap Rahmat kepada Binatang dan Manusia”. Faedah ini dipahami dari keterangan Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu yang menilai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَكَانَ رَفِيقًا رَحِيمًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang penuh kasih dan kelembutan.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar radhiyallahu ‘anhu menerangkan bahwa ada dua riwayat di dalam Shahih al-Bukhari untuk lafadz

,(رَفِيقًا)

رَفِيقًا) ), dengan huruf fa’ kemudian qaf

رَقِيقًا) ), dengan huruf qaf kemudian qaf lagi. Adapun di dalam riwayat Muslim hanya dengan lafadz ( رَقِيقًا ), dengan huruf qaf kemudian qaf lagi. Namun, kedua lafadz tersebut satu makna.

4. Keterangan tentang salah satu kriteria imam shalat.

Adapun kriteria seorang muslim yang berhak menjadi imam telah dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  dalam sebuah hadits secara berurutan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ، فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ، فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً، فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا، وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ

“Yang berhak menjadi imam shalat untuk suatu kaum adalah yang paling pandai dalam membaca al-Qur’an. Jika mereka setara dalam bacaan al- Qur’an, (yang menjadi imam adalah) yang paling mengerti tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Apabila mereka setingkat dalam pengetahuan tentang sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, (yang menjadi imam adalah) yang paling pertama melakukan hijrah. Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang lebih dahulu masuk Islam.” (HR. Muslim no. 673 dari Abu Mas’ud al-Anshari radhiyallahu ‘anhu) Dalam riwayat lain, ada tambahan lafadz,

فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَكْبَرُهُمْ سِنًّا

“Jika mereka sama dalam amalan hijrah, (yang menjadi imam adalah) yang paling tua di antara mereka.”

Dengan demikian, yang paling berhak menjadi imam shalat secara berurutan adalah;

1. Yang paling pandai membaca al-Qur’an. Jika sama-sama pandai,

2. Yang paling mengerti tentang sunnah Nabi radhiyallahu ‘anhu. Jika sama-sama mengerti,

3. Yang paling pertama melaksanakan hijrah. Jika sama dalam hal hijrah,

4. Yang lebih dahulu masuk Islam. Jika bersama masuk Islam,

5. Yang lebih tua.

Selanjutnya, yang dimaksud dengan al-aqra’, apakah yang paling baik bacaannya ataukah yang paling banyak hafalannya? Jawabannya adalah yang paling baik bacaannya. Maknanya, yang bacaannya sempurna dengan pengucapan huruf sesuai dengan makhrajnya. Adapun keindahan suara bukanlah syarat. Jika ada dua orang;

1. Bacaan al-Qur’annya sangat baik.

2. Bacaannya baik, namun tidak sebaik orang pertama, hanya saja ia lebih menguasai fikih tentang shalat dibandingkan dengan orang pertama. Dalam hal ini, orang kedua lebih berhak untuk menjadi imam shalat. Pembahasan ini tidak berlaku jika pada pelaksanaan shalat berjamaah di sebuah masjid telah ditunjuk imam tetap, maka imam tetap tersebut yang paling berhak selama tidak ada uzur.

(asy-Syarhul Mumti’, Ibnu Utsaimin)

5. Riwayat ahad dapat diterima meskipun di dalam masalah akidah.

Hal ini berseberangan dengan yang diyakini oleh kaum Mu’tazilah. Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menamakan sebuah bab untuk hadits di atas pada salah satu pembahasannya, bab “Keterangan tentang Diperbolehkannya Khabar dari Satu Orang yang Jujur Tepercaya dalam Masalah Azan, Shalat, Puasa, Kewajiban- Kewajiban Islam, dan Masalah Ahkam.”

6. Perjuangan dakwah Islam tidak pernah lepas dari peran dan andil para pemuda.

Di dalam hadits di atas, suku Laits mengutus kaum muda untuk mempelajari syariat Islam agar dapat diajarkan kembali kepada masyarakatnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Ashabul Kahfi,

إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ آمَنُوا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَاهُمْ هُدًى

“Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Rabb mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.” (al-Kahfi: 13)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan (tentang Ashabul Kahfi) bahwa mereka adalah para pemuda. Kaum muda lebih mudah menerima al-haq (kebenaran) dan lebih cepat mengikuti jalan kebaikan dibandingkan dengan kaum tua. Sebab, kaum tua telah terlalu jauh dan tenggelam di dalam agama kebatilan. Oleh sebab itu, kalangan sahabat yang menyambut seruan Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya didominasi oleh kaum muda. Adapun kalangan tua Quraisy, mayoritas mereka tetap memilih agama nenek moyang. Hanya sedikit saja dari kalangan tua yang masuk Islam.” Di dalam ayat lain, tentang dakwah Nabi Musa ‘Alaihissalam, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِّن قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِّن فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِمْ أَن يَفْتِنَهُمْ ۚ

“Maka tidak ada yang beriman kepada Musa, selain pemuda-pemuda dari kaumnya (Musa) dalam keadaan takut bahwa Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya akan menyiksa mereka.” (Yunus: 83)

Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah Subhanahu wata’ala memberikan kabar, meskipun Nabi Musa ‘Alaihissalam membawa ayat-ayat yang kuat, argumen-argumen pasti, dan alasan-alasan yang jelas, tetap saja kaumnya tidak beriman kecuali sedikit sekali. Yang sedikit itu adalah kaum dzurriyah, yaitu kaum muda. Itu pun masih dibayangi oleh kecemasan dan kekhawatiran dari makar Fir’aun dan pengikutnya yang berusaha mengembalikan mereka kepada kekufuran sebagaimana dahulu.”

Mudah-mudahan beberapa pelajaran dari hadits Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu di atas bermanfaat.

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Adab-Adab di dalam Masjid

Masjid memiliki kedudukan yang sangat mulia di dalam Islam dan di mata para pemeluknya. Ia adalah tempat bersatunya jiwa-jiwa kaum mukminin dalam mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dan wadah untuk berkumpulnya jasmani mereka agar saling mempererat tali persaudaraan serta bertukar manfaat dan informasi. Di dalam masjid pula, dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendidik para sahabatnya di atas agama ini. Dari masjid beliau muncul generasi umat Islam pertama yang menebarkan cahaya ke seluruh penjuru bumi. Karena itu, masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah bisa dikatakan sebagai universitas Islam pertama, dengan guru besarnya adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat sebagai mahasiswanya. Masjid mempunyai sejarah panjang yang mampu menetaskan para ulama dan da’i yang handal keilmuannya serta mampu memberikan kontribusi yang besar bagi umat.

Karena masjid adalah sarana vital untuk membentuk karakteristik umat dan syiar Islam yang menonjol, maka sesampainya di Madinah ketika berhijrah, yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pertama kali adalah membangun masjid bersama para sahabat. Setelah berdiri tegak masjid tersebut dengan segala kesederhanaan yang ada, masjid beliau tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembinaan dan ritual keagamaan. Bahkan, dari sanalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatur urusan kenegaraan, menentukan strategi perang dan mengirim pasukan, mengobati orang yang sakit, serta menyambut delegasi asing.

Intinya, masjid adalah syiar Islam yang besar dan mempunyai peran yang sangat strategis demi tercapainya kemuliaan Islam dan muslimin. Umat Islam senantiasa mulia manakala kembali memakmurkan masjid seperti halnya generasi awal umat ini. Karena sedemikian besar kedudukan masjid, maka ada beberapa adab/sopan santun yang ditentukan oleh agama ketika seorang berada di dalamnya. Siapa saja yang mengagungkan syiar Allah Subhanahu wata’ala, maka itu pertanda ketakwaan, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ وَمَن يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِن تَقْوَى الْقُلُوبِ

“Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (al- Hajj: 32)

Adab Seorang Muslim di Dalam Masjid

Ketika seorang muslim hendak masuk masjid, dia mendahulukan kaki kanan seraya mengucapkan salam atau shalawat atas Nabi lalu membaca doa yang dituntunkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, seperti doa,

اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ

“Ya Allah, bukakan bagiku pintupintu rahmat-Mu.”

Apabila hendak keluar masjid, didahulukan kaki kiri lalu membaca salam atau shalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan-Mu/ tambahan nikmat-Mu.”

Doa di atas sangat tepat. Kala seseorang hendak masuk masjid, ia memohon rahmat Allah Subhanahu wata’ala karena akan menyibukkan diri dengan ibadah yang mendekatkan dirinya kepada Allah Subhanahu wata’ala, pahala dan surga-Nya. Ketika akan keluar, dia memohon kepada Allah Subhanahu wata’ala tambahan rezeki-Nya karena dia akan menjalani aktivitas duniawi. (lihat Faidhul Qadir 1/432) Jika seseorang telah masuk masjid, disyariatkan baginya shalat dua rakaat tahiyyatul masjid sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا دَخَلَ أَحَدُ كُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

“Apabila salah seorang di antara kalian masuk masjid, hendaknya ia shalat dua rakaat sebelum duduk.” (HR. al- Bukhari no. 444)

Yang diinginkan dari hadits ini adalah orang yang masuk masjid agar tidak duduk sampai ia shalat terlebih dahulu. Jadi, apabila ia masuk masjid lalu shalat sunnah qabliyah atau shalat wajib yang akan dia lakukan, hal itu telah mencukupinya sehingga tidak perlu shalat tahiyyatul masjid. Demikian pula apabila ia masuk dalam kondisi iqamat telah dikumandangkan, shalat fardhu yang ada telah mencukupinya dari shalat tahiyyatul masjid. (lihat Fatawa al-Lajnah ad-Daimah 7/270)

Apabila telah berada di masjid, hendaknya dia menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah yang disyariatkan, seperti zikir, membaca al-Qur’an, mempelajari ilmu, dan yang lainnya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda ketika menasihati seorang badui yang kencing di masjid, “Sesungguhnya masjidmasjid ini tidak boleh dikencingi dan dikotori. Ia tidak lain (tempat) untuk berzikir kepada Allah Subhanahu wata’ala, shalat, dan membaca al-Qur’an.” (Shahih Muslim no. 285 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Orang yang duduk menanti dikumandangkan iqamat alangkah bagusnya apabila dia berdoa karena saat itu adalah waktu yang mustajab. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الدُّعَاءُ ل يُرَدُّ بَيْنَ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ

“Doa antara azan dan iqamat tidak ditolak (oleh Allah Subhanahu wata’ala).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi 1/133 no. 212)

Ketika seorang telah shalat di suatu masjid atau tempat, lalu dia mendatangi masjid yang lain dan mendapati jamaah masjid tersebut sedang melangsungkan shalat berjamaah, hendaknya dia ikut berjamaah bersama mereka. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Apabila salah seorang dari kalian shalat di rumahnya, kemudian dia masuk masjid dan orangorang (yang di dalamnya) sedang shalat, hendaknya ia shalat bersama mereka. Shalat tersebut baginya (hukumnya) sunnah.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Kabir dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 654)

Hendaknya seseorang berusaha menempati shaf-shaf awal apabila masih ada tempat karena keutamaannya yang besar. Hal ini seperti disabdakan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوْا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوْا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوْا

“Andai manusia tahu apa yang ada pada azan dan shaf awal (yakni keutamaannya), lalu mereka tidak bisa mendapatkannya kecuali dengan undian, niscaya mereka akan berundi untuknya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Orang yang berusaha mengisi shafshaf terdepan menunjukkan bahwa dia bersemangat meraih keutamaan. Akan tetapi, caranya tidak seperti yang dilakukan sebagian orang: sengaja meletakkan sajadahnya di shaf-shaf awal, lalu keluar dari masjid dan sibuk dengan aktivitas dunia; ketika telah datang waktu shalat ia pun datang untuk menempati shaf tersebut. Hal ini tidak diperbolehkan, sebagaimana disebutkan oleh asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa-nya. Sebab, tempat yang ada di masjid tidaklah dimiliki oleh siapa pun secara khusus. Yang diinginkan adalah seseorang datang lebih awal dan menempati shaf awal, bukan sajadahnya (wallahu a’lam).

Di antara hal yang juga perlu diperhatikan oleh orang yang berada dalam masjid ialah apabila azan sudah dikumandangkan di masjid tersebut, janganlah ia keluar kecuali ada keperluan yang ia akan kembali lagi ke masjid itu, seperti mengambil air wudhu, mengganti pakaiannya yang terkena najis, dan semisalnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa yang azan telah mendapatkannya di masjid kemudian ia keluar, ia tidak keluar karena suatu keperluan, yang ia tidak ingin kembali (ke masjid) maka dia munafik.” (Shahih Sunan Ibnu Majah no. 606)

Abdurrahman bin Harmalah rahimahullah berkata, “Seorang lelaki datang kepada Sa’id bin al-Musayyib t untuk mengucapkan salam perpisahan ketika mau haji atau umrah. Sa’id berkata kepadanya, ‘Engkau jangan pergi dahulu sebelum shalat, karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidaklah keluar dari masjid setelah azan dikumandangkan selain orang munafik, kecuali seseorang yang keluar karena suatu keperluan dan ia ingin kembali lagi ke masjid.’ Lelaki tersebut berkata, ‘Sesungguhnya rekanrekan saya ada di Harrah (tempat yang tanahnya berbatu hitam di Madinah).’ Orang itu (tetap) pergi.” Abdurrahman bin Harmalah rahimahullah berkata, “Sa’id pun bertanya dan mencari berita orang tersebut, sampai dia diberi tahu bahwa orang tersebut terjatuh dari kendaraannya hingga retak pahanya.” (Sunan ad-Darimi 1/125 no. 452)

Tidak Mengganggu Orang yang Shalat atau yang Sedang Menjalankan Ketaatan Lainnya

Orang yang sedang menjalankan ibadah di dalam masjid membutuhkan ketenangan sehingga dilarang mengganggu kekhusyukan mereka, baik dengan ucapan maupun perbuatan. Di antara bentuknya adalah:

1. Melangkahi pundak-pundak mereka untuk mendapatkan shaf depan, padahal shaf telah rapat.

Bentuk lainnya, dia menggeser-geser tempat duduk saudaranya yang telah sempit sehingga ia merampas sebagian tempat duduk saudaranya. Sahabat Jabir radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwa dahulu ada seorang lelaki masuk ke masjid pada hari Jum’at dan Nabi n sedang menyampaikan khutbahnya. Orang tersebut melangkahi para manusia. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata kepadanya, “Duduklah kamu! Kamu telah menyakiti dan telah terlambat datang.” (Shahih Sunan Ibni Majah no. 923)

2. Menyuruh seorang yang duduk untuk berdiri lalu dia menempati tempat tersebut.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Janganlah salah seorang dari kalian menyuruh orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk padanya. Namun, berilah kelapangan!” (Muttafaqun ‘alaih)

Seorang muslim hendaknya menjaga perasaan orang lain dan tidak menyakitinya. Dalam hadits di atas juga ada perintah untuk melapangkan tempat duduk bagi saudaranya yang baru datang sehingga bisa mendapatkan tempat duduk. Tidak pantas seorang muslim rakus dengan tempat duduk dengan mengambil tempat yang melebihi kebutuhannya sehingga menghalangi orang lain mendapatkannya.

3. Berteriak-teriak dan membuat gaduh di dalam masjid

Sebab, masjid dibangun bukan untuk ini. Demikian pula mengganggu dengan obrolan yang keras. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Ketahuilah bahwa setiap kalian sedang bermunajat (berbisikbisik) dengan Rabbnya. Maka dari itu, janganlah sebagian kalian menyakiti yang lain dan janganlah mengeraskan bacaan atas yang lain.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim, asy-Syaikh al-Albani menyatakannya sahih dalam Shahih al-Jami’)

Apabila mengeraskan bacaan al-Qur’an saja dilarang jika memang mengganggu orang lain yang sedang melakukan ibadah, lantas bagaimana kiranya jika mengganggu dengan suarasuara gaduh yang tidak bermanfaat?! Sungguh, di antara fenomena yang menyedihkan, sebagian orang—terutama anak-anak muda—tidak merasa salah membuat kegaduhan di masjid saat shalat berjamaah sedang berlangsung. Mereka asyik dengan obrolan yang tiada manfaatnya. Terkadang mereka sengaja menunggu imam rukuk, lalu lari tergopoh-gopoh dengan suara gaduh untuk mendapatkan rukuk bersama imam. Untuk yang seperti ini kita masih meragukan sahnya rakaat shalat tersebut karena mereka tidak membaca al-Fatihah dalam keadaan sebenarnya mereka mampu.

Tetapi, mereka meninggalkannya dan justru mengganggu saudara-saudaranya yang sedang shalat. Hal ini berbeda dengan kondisi sahabat Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu yang ketika datang untuk shalat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam didapatkannya beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang rukuk lalu ia ikut rukuk bersamanya dan itu dianggap rakaat shalat yang sah.

4. Apabila Anda masuk masjid membawa senjata, pastikan bahwa Anda telah menutup bagian yang tajam, runcing, atau yang berbahaya, sehingga aman dan tidak melukai orang lain

Sahabat Jabir bin Abdullah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ada seorang lelaki masuk masjid dengan membawa anak panah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu memerintahkan orang tersebut untuk memegang bagian yang runcing dari anak panah itu.” (lihat Shahih al- Bukhari no. 451)

Membersihkan Masjid dari Kotoran

Masjid sebagai tempat yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi ini harus kita jaga kebersihannya. Oleh karena itu, dilarang meludah dan mengeluarkan dahak dan membuangnya di dalam masjid, kecuali meludah di sapu tangan atau pakaiannya. Adapun di lantai masjid atau temboknya, hal ini dilarang. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْبُزَاقُ فِي الْمَسْجِدِ خَطِيْئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا

“Meludah di masjid adalah suatu dosa, dan kafarat (untuk diampuninya) adalah dengan menimbun ludah tersebut.” (Shahih al-Bukhari no. 40)

Yang dimaksud menimbun ludah di sini adalah apabila lantai masjid itu dari tanah, pasir, atau semisalnya. Adapun jika lantai masjid itu berupa semen atau kapur, maka ia meludah di kainnya, tangannya, atau yang lain. (lihat ucapan al-Imam an-Nawawi t seputar masalah ini dalam kitabnya Riyadhush Shalihin bab “an-Nahyu ‘anil Bushaq fil Masjid”)

Apabila seseorang melihat di dalam masjid atau pada dindingnya ada dahak atau semisalnya, hendaknya dia membersihkannya. Sebab, dahulu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat dahak yang melekat pada dinding masjid lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengambil batu kerikil untuk mengeriknya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 408 dan 409)

Hadits tersebut mengandung sejumlah faedah, di antaranya adalah menghilangkan sesuatu yang kotor dari masjid, dan seorang imam/penguasa hendaknya memerhatikan kondisi masjidmasjid yang ada, serta sikap rendah hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mau turun langsung membersihkan kotoran. Dengan dibersihkannya masjid dari kotoran, maka orang yang melaksanakan ibadah padanya akan merasa nyaman, di samping pelakunya akan mendapat pahala. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda (yang artinya),

“Diperlihatkan (kepadaku) amalanamalan umatku yang baiknya dan yang buruknya. Aku melihat pada amalan kebaikannya (adalah) menyingkirkan gangguan dari jalan, dan aku melihat pada amalan jeleknya (adalah) dahak yang ada di masjid yang dia tidak menimbunnya.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Ibnu Majah dari Abu Dzar z)

Oleh karena itu, orang yang akan shalat dengan memakai sandalnya di masjid1 hendaknya sebelum masuk masjid ia membalikkan sandalnya untuk melihat apakah ada kotoran atau tidak sehingga dia bisa membuangnya terlebih dahulu.

Menjauhkan Masjid dari Bau yang Tidak Sedap

Apabila seseorang memakan makanan yang menimbulkan bau tidak sedap dan bisa mengganggu orang yang sedang beribadah di masjid maka ia dilarang masuk ke masjid. Contohnya, seseorang memakan bawang merah atau bawang putih yang masih mentah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الْبَقْلَةِ الثُّوْمِ وَالْبَصَلِ وَالْكُرَّاثِ، فَلَا يَقْرَبَنَّا فِي مَسَاجِدِنَا فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُوْ آدَمَ

“Barang siapa memakan sayuran ini: bawang putih, bawang merah, dan seledri, janganlah mendekati kami di masjid-masjid kami. Sebab, para malaikat terganggu dengan sesuatu yang mengganggu manusia.” (HR. Muslim)

Apabila seseorang dilarang masuk masjid karena mengonsumsi sesuatu yang baunya tidak sedap seperti bawang mentah, padahal bawang itu halal, lantas bagaimana halnya dengan orang yang mengisap rokok di masjid?

Menjaga dari Ucapan yang Jorok dan Tidak Layak di Masjid

Tempat yang suci tentu tidak pantas kecuali untuk ucapan-ucapan yang suci dan terpuji pula. Oleh karena itu, tidak boleh bertengkar, berteriak-teriak, melantunkan syair yang tidak baik di masjid, dan yang semisalnya. Demikian pula dilarang berjual beli di dalam masjid dan mengumumkan barang yang hilang. Nabi n bersabda (yang artinya), “Apabila kamu melihat orang menjual atau membeli di masjid maka katakanlah, ‘Semoga Allah l tidak memberi keberuntungan dalam jual belimu!’ Dan apabila kamu melihat ada orang yang mengeraskan suara di dalam masjid untuk mencari barang yang hilang, katakanlah, ‘Semoga Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengembalikannya kepadamu’.” (Shahih Sunan at-Tirmidzi, 2/63—64 no. 1321)

Beberapa Adab Lain di Dalam Masjid

1. Dilarang bermain-main di masjid selain permainan yang mengandung bentuk melatih ketangkasan dalam perang.

Hal ini sebagaimana dahulu orangorang Habasyah bermain perangperangan di masjid dan tidak dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. (lihat Shahih al-Bukhari no. 454)

2. Dibolehkan tidur di masjid.

Sebab, dahulu di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagian sahabat tidur di masjid, misalnya Ali bin Abi Thalib, Ibnu Umar, dan yang lainnya .

3. Dibolehkan makan di masjid dengan memerhatikan adab-adabnya dan tidak mengotori masjid.

4. Diharamkan lewat di depan orang yang shalat, yakni antara orang yang shalat dan sutrah (pembatas) yang di hadapannya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 510)

5. Apabila Anda shalat menghadap sutrah lalu ada orang ingin melewatinya, hendaknya ia dicegah. Apabila dia tetap memaksa untuk melewatinya, boleh didorong. (lihat Shahih al-Bukhari no.

509)

6. Tidak shalat di antara dua tiang saat shalat berjamaah karena tiangtiang itu memutus shaf (barisan) shalat, sedangkan merapikan shaf adalah perkara yang diperintahkan.

Adapun apabila shalat sunnah sendirian, boleh baginya shalat di antara dua tiang sebagaimana dahulu Nabi n shalat sunnah di dalam Ka’bah berdiri di antara dua tiang. (lihat Shahih al- Bukhari no. 505)

Demikianlah sebagian adab yang semestinya diperhatikan oleh seorang muslim ketika berada dalam masjid. Kami mengajak para pembaca untuk menelaah kitab-kitab hadits yang berkaitan dengan adab-adab dalam masjid. Ada sebuah kitab bagus yang ditulis oleh al-Imam az-Zarkasyi asy-Syafi’i yang berkaitan dengan hukum-hukum masjid dengan judul I’lamus Sajid bi Ahkamil Masajid. Demikianlah, semoga ulasan singkat ini bermanfaat.

Wallahu ta’ala a’lam bish shawab.

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Saat Terakhir Khilafah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu

Kemenangan tentara kaum muslimin yang dipimpin Khalid radhiyallahu ‘anhu disambut oleh Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan penuh syukur. Sementara itu, di Persia, kekalahan Hurmuz telah mengobarkan dendam para pembesar dan sebagian rakyatnya. Raja Ardasyir mengirim pasukan lain di bawah pimpinan Qarin bin Qaryanus. Setibanya di Madzar, datanglah sebagian pasukan Hurmuz yang tadi melarikan diri dari Khalid dan pasukannya. Pasukan muslimin di bawah pimpinan Khalid tetap mengejar, dan bertemu dengan pasukan yang dipimpin oleh al- Mutsanna. Kedua pasukan pun bergabung. Sementara itu, tentara Persia yang melarikan diri dan bergabung dengan pasukan yang dikirim Ardasyir merasa mendapat kekuatan. Mereka mulai bergerak.

Di Madzar, kedua pasukan pembela dan pemuja api, mulai berhadapan dengan tentara Allah Subhanahu wata’ala. Pertempuran pun berlangsung hebat. Meskipun perlengkapan para pemuja api itu demikian hebat dan jumlah mereka lebih banyak, mereka tetap tidak mampu menghadapi tentara Allah Subhanahu wata’ala. Ahli sejarah menyebutkan ada kira-kira 30.000 orang tentara api yang tewas di tangan tentara Allah Subhanahu wata’ala, belum lagi yang mati di sungai ketika melarikan diri. Lebar dan dalamnya sungai ats- Tsana, anak sungai Tigris, menghalangi kaum muslimin menumpas pasukan lawan. Ghanimah yang diperoleh sangat banyak.

Tawanan yang terdiri dari wanita dan anak-anak juga banyak, salah satunya adalah ayahanda Al-Hasan al-Bashri rahimahullah yang ketika itu masih beragama Nasrani. Satu demi satu benteng Persia jatuh ke tangan kaum muslimin. Terakhir, di bawah pimpinan Khalid, adalah benteng Hirah. Setelah terjadi pertempuran dan pengepungan, penduduk Hirah menyerah dan menerima salah satu dari tiga pilihan yang ditawarkan kaum muslimin. Mereka lebih memilih membayar jizyah. Kebanyakan mereka yang berada di benteng Hirah adalah orang-orang Arab yang beragama Nasrani. Melihat mereka memilih jizyah,

Khalid mencela mereka, “Kalian benarbenar bodoh, kekafiran itu seperti padang sunyi yang menyesatkan, sebodoh-bodoh orang Arab adalah mereka yang lebih memilih kekafiran.” Si Pedang Allah benar. Bahkan, di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa orang-orang kafir itu adalah orang-orang yang tidak berakal, dan lebih bodoh dari hewan ternak. Wal ‘iyadzu billahi.

Membebaskan Negeri Syam

Khalifah mulai berencana membebaskan Syam dari kesyirikan dan kezaliman. Lama beliau memikirkan, dan sama sekali belum beliau utarakan kepada ‘Umar bin al-Khaththab atau sahabat besar lainnya radhiyallahu ‘anhuma. Suatu hari, datanglah Syurahbil bin Hasanah radhiyallahu ‘anhu yang pernah memimpin kaum muslimin memerangi orangorang murtad. Setelah berhadapan dengan Khalifah, Syurahbil berkata, “Wahai Khalifah Rasulillah, apakah Anda berencana untuk mengirim pasukan ke Syam?” “Betul. Saya memang merencanakan hal itu dan belum ada yang mengetahuinya. Engkau tidak menanyakan hal ini kepada saya kecuali karena ada sebabnya?” “Betul.

Saya bermimpi, hai Khalifah Rasulullah, seakan-akan Anda berjalan bersama orang banyak di atas kharsyafah (jalan yang sulit) di sebuah bukit hingga Anda mendaki puncak yang tinggi lalu melihat ke arah orang banyak, dan Anda saat itu bersama para sahabat Anda. Kemudian Anda menuruni puncak itu ke tanah datar yang lembut. Di situ terdapat sawah ladang, perkampungan, dan benteng. Lalu Anda berkata kepada kaum muslimin, ‘Seranglah musuh-musuh Allah! Saya jamin kalian pasti memperoleh kemenangan dan ghanimah’,” tutur Syurahbil. “Sementara itu, saya ada di antara mereka sambil memegang bendera perang yang saya hadapkan ke arah penduduk kampung itu.

Kemudian mereka memintaku jaminan keamanan, dan saya memberikan jaminan keamanan untuk mereka. Kemudian saya melihat Anda telah tiba di sebuah benteng yang sangat besar, dan Allah Subhanahu wata’ala memberi Anda kemenangan, bahkan mereka pun meminta damai kepada Anda. Allah Subhanahu wata’ala meletakkan tempat duduk untuk Anda lalu Anda duduk di atasnya. Kemudian dikatakan kepada Anda, ‘Allah telah memberimu kemenangan, kamu juga sudah ditolong, maka bersyukurlah kepada Rabbmu dan kerjakanlah amal menaati- Nya.’ Kemudian dia membacakan,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ () وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

‘Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondongbondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada- Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.’ (an-Nashr: 1—3)

Kemudian saya terbangun.” Khalifah berkata kepadanya, “Benar tertidur matamu. Semoga kebaikanlah yang kamu lihat dan semoga kebaikanlah yang terjadi, insya Allah.” Kemudian beliau berkata, “Kamu sudah menyampaikan berita gembira berupa kemenangan dan berita kematian kepada saya.” Setelah itu, air mata Khalifah bercucuran, beliau pun melanjutkan, “Adapun jalan yang sulit (kharsyafah) yang kamu lihat dan kita mendakinya sampai puncak lalu melihat kepada orang banyak, artinya kita memberi kesulitan kepada pasukan ini dan musuh, dengan kesulitan yang benar-benar mereka rasakan. Kemudian kita mengalahkan musuh dan urusan kita pun menjulang.

Adapun turunnya kita dari puncak itu ke tanah yang datar dan lembut, sawah ladang, mata air, kampung, dan benteng, artinya kita mendapatkan kemudahan, dengan kesuburan dan penghidupan yang baik.” Khalifah melanjutkan, “Adapun ucapan saya kepada kaum muslimin, ‘Seranglah musuh-musuh Allah! Saya jamin kemenangan dan ghanimah bagi kalian,’ artinya dekatnya kaum muslimin kepada negeri musyrikin dan dorongan saya agar memerangi mereka dan memperoleh pahala serta ghanimah yang dibagikan dan penerimaan mereka. Adapun bendera yang ada bersamamu, dan kamu hadapkan ke kampung itu lalu kamu memasukinya, kemudian mereka meminta jaminan keamanan darimu dan kamu memberinya, artinya kamu adalah salah seorang pemimpin kaum muslimin yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan kemenangan lewat tanganmu.

Adapun benteng yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan untuk saya adalah arah yang Allah Subhanahu wata’ala bukakan untuk saya. Dan singgasana yang kamu lihat saya duduk di atasnya, artinya sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menaikkan derajatku dan merendahkan kaum musyrikin. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَرَفَعَ أَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ

‘Dan ia menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana….’ (Yusuf: 100).”

Khalifah melanjutkan, “Adapun perintah kepadaku agar menaati Allah Subhanahu wata’ala dan membacakan surat itu kepada saya, itu adalah berita kematian saya. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala memberitakan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang wafat beliau dengan turunnya surat ini, dan beliau mengetahui bahwa tanda kematiannya telah diberitakan.” Kembali air mata Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengalir, beliau pun berkata, “Benarbenar saya akan memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah yang mungkar. Saya akan benar-benar berjihad memerangi mereka yang meninggalkan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan akan saya siapkan pasukan kepada orang-orang yang menyekutukan Allah Subhanahu wata’ala di timur dan barat bumi ini sampai mereka mengucapkan, ‘Allah itu Ahad (Maha Esa), Ahad, tidak ada sekutu bagi-Nya.’ Atau, mereka menyerahkan jizyah dengan tangan mereka sendiri dalam keadaan terhina. Inilah perintah Allah Subhanahu wata’ala dan sunnah Rasul-Nya. Kalau Allah Subhanahu wata’ala mewafatkan saya, semoga Allah Subhanahu wata’ala tidak melihat saya dalam keadaan lemah dan malas, atau tidak memerlukan pahala mujahid.”

Sebuah berita gembira yang merupakan satu bagian dari empat puluh bagian nubuwah, sebagaimana diberitakan ash-Shadiqul Mashduq Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu menafsirkannya dengan tepat, karena kejadian yang disebutkan itu benar-benar dialami oleh kaum muslimin. Setelah itu, Khalifah memanggil beberapa pembesar sahabat Muhajirin dan Anshar, termasuk ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Khalifah mengutarakan kepada mereka rencananya, setelah itu meminta pendapat dan saran mereka. Ternyata, hadirin setuju dan beliau pun menyampaikannya kepada seluruh kaum muslimin.

Khalid bin al-Walid Naik Haji

Tahun 12 H. Setelah membebaskan al-Faradh dan Hirah di wilayah Persia, serta yakin bahwa musuh telah takluk, tebersit kerinduan dalam hati Khalid untuk berkunjung ke Baitullah al-Haram di Tanah Suci Makkah. Muncul keinginan Khalid untuk menunaikan ibadah haji pada tahun itu. Kepada beberapa sahabat dekatnya, Khalid mengutarakan maksudnya, dan meminta mereka untuk tidak menceritakan

hal ini kepada siapa pun, termasuk Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Para sahabatnya setuju, tetapi mereka harus segera kembali sebelum diketahui oleh Khalifah. Mereka pun sepakat, akan mencari jalan paling singkat untuk tiba di Makkah dan kembali ke Irak. Akhirnya, Khalid memerintahkan

pasukan muslimin kembali ke Hirah, dan dia sendiri menampakkan seolaholah bergerak bersama pasukan itu, di barisan paling belakang. Tanggal 25 Dzul Qa’dah tahun 12 H, Khalid segera bertolak, tanpa seorang penunjuk jalan. Dengan tekad kuat, Khalid dan para sahabatnya menembus padang pasir yang tandus. Mereka menempuh jalan yang tidak pernah dilalui oleh orang. Bukit-bukit cadas yang terjal mereka daki untuk mempersingkat waktu tiba di Makkah. Pada waktu itu, Khalifah ash-Shiddiq z juga berangkat menunaikan haji bersama kaum muslimin. Singkat cerita, Khalid dan beberapa sahabatnya itu tiba di Makkah tanpa dikenali oleh seorang pun. Mereka melihat rombongan Khalifah, tetapi Khalifah tidak mengetahui keberadaan mereka.

Setelah sempurna pelaksanaan ibadah haji, Khalid segera berangkat kembali ke pasukan muslimin yang sedang menuju Hirah. Ternyata, pasukan muslimin belum tiba di Hirah, maka Khalid dan rombongannya segera berbaur dengan pasukan. Kemudian, mereka bersamasama memasuki Hirah. Pasukan muslimin mengira bahwa selama ini Khalid tetap bersama mereka. Khalifah Abu Bakr juga tidak menyangka sama sekali. Beberapa waktu setelah itu, sampailah berita kepada beliau bahwa ketika beliau berhaji, Khalid juga berhaji dan meninggalkan pasukan muslimin. Khalifah menegur Khalid dan menghukumnya dengan mengirim Khalid untuk membantu kaum muslimin di Syam.

Kata Khalifah dalam suratnya kepada Panglima Khalid, “Berangkatlah sampai kamu bergabung dengan kaum muslimin di Yarmuk, karena mereka telah merasakan kesedihan dan membuat sedih (lawan). Jangan kamu ulangi perbuatanmu, karena tidaklah bersedih sekelompok orang dengan pertolongan Allah l, sebagaimana dirimu, dan tidak hilang kesedihan itu seperti halnya dirimu. Sebab itu, perbaikilah niat, hai Abu Sulaiman, dan sempurnakanlah, semoga Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan (pahala) untukmu. Janganlah kamu dihinggapi oleh rasa ujub sehingga kamu akan merugi dan menjadi hina. Jauhilah, jangan kamu merasa telah memberi jasa dengan amalanmu, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki karunia dan Dia pula yang memberi balasan.” Setelah itu, Khalid segera bergerak bersama sebagian kaum muslimin menuju negeri Syam.

Wasiat Khalifah

Di kota Rasul, Madinah—semoga Allah Subhanahu wata’ala selalu menjaganya. Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu jatuh sakit. Ada yang mengatakan beliau diracun oleh seorang Yahudi. Yang lain menyebutkan bahwa beliau radhiyallahu ‘anhu wafat karena mandi ketika musim dingin yang berat, hingga demam selama lima belas hari. Beberapa sahabat membesuk beliau yang sedang sakit dan menawarkan akan memanggilkan seorang tabib (semacam dokter di masa sekarang, -red.).

Namun, beliau radhiyallahu ‘anhu justru berkata, “Sudah datang tabibnya.” “Saya melakukan apa yang saya kehendaki,” lanjut beliau. Para sahabat memahami maksud beliau. Sebagian ahli sejarah meriwayatkan bahwa sebelum meninggal dunia, beliau berwasiat agar yang memandikan jenazahnya adalah istrinya, Asma’ bintu Umais radhiyallahu ‘anha, dan putranya, ‘Abdurrahman bin Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu. Beliau meminta dikafani dengan kain seperti yang dipakai untuk kafan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Khalifah meminta keluarganya agar mengembalikan sisa harta baitul mal yang pernah beliau terima ke baitul mal kembali.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Kisah Sapi Betina

Samiri telah merasakan buah dari kejahatan dan kesesatannya di dunia. Seumur hidupnya, dia selalu berkata kepada orang lain, “Jangan sentuh saya,” karena setiap kali tubuhnya disentuh, dia merasa seperti terbakar. Itulah hukuman bagi orang-orang yang melakukan kesyirikan, bahkan mengajak orang lain ke dalam kesesatan. Menurut ulama, kisah ini terjadi sesudah dihancurkannya patung anak sapi yang disembah oleh sebagian besar bani Israil yang menyertai Nabi Musa ‘Alaihissalam. Hal itu agar semakin jelas betapa rendahnya sesuatu yang mereka sembah selain Allah Subhanahu wata’ala. Ketika sapi itu sebagai makhluk yang hidup, ia tidak berdaya ketika disembelih, lebih-lebih lagi jika ia hanya sebuah benda mati, kaku, dan bisu. Mungkin—Allahu a’lam—kisah penyembelihan sapi betina ini adalah

salah satu bentuk rahmat dan karunia Allah Subhanahu wata’ala kepada bani Israil. Dengan memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi ini, akan tercabut sisa-sisa pengaruh kesyirikan dan kesesatan yang pernah mereka lakukan, yaitu menyembah patung anak sapi, serta menambah kokoh keyakinan mereka bahwa hanya Allah Subhanahu wata’ala satu-satunya yang berhak menerima peribadatan dalam bentuk apa pun. Kisah ini—kalau secara lengkap dan detail—bersumber dari sebagian cerita Israiliyat. Akan tetapi, kisah ini termasuk kisah-kisah yang boleh diriwayatkan, meskipun kebenaran ataupun kebatilannya tidak dapat kita akui secara mutlak.

Oleh sebab itu, kisah ini ataupun kisah-kisah Israiliyat lainnya harus dihadapkan kepada al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahih. Apa saja yang di dalamnya sesuai dengan al-Qur’anul Karim dan as-Sunnah yang sahih, itulah yang benar, sedangkan yang tidak sesuai, itulah yang batil dan harus ditolak. Adapun riwayat yang menceritakan secara detail tentang kisah mereka dan sampai kepada kita adalah melalui as-Suddi, Abul ‘Aliyah, dan ‘Abidah as-Salmani rahimahumullah. Riwayatriwayat ini dikeluarkan oleh imam-imam kaum muslimin, seperti Ibnu Jarir ath- Thabari, Ibnu Abi Hatim, Ibnul Mundzir, dan al-Baihaqi rahimahumullah.

Awal Kejadian

Alkisah—menurut riwayat-riwayat tersebut—, di zaman dahulu, ketika bani Israil masih bersama Nabi Musa ‘Alaihissalam, hiduplah seorang hartawan dengan kekayaan yang berlimpah. Hartawan tersebut tidak mempunyai anak yang akan mewarisi hartanya. Tetapi, ada kerabatnya yang akan mewarisi hartanya apabila dia meninggal dunia. Pada suatu hari, hartawan itu ditemukan terbunuh dan jenazahnya tergeletak di depan rumah penduduk sebuah desa. Keesokan harinya, kerabat hartawan

itu tiba di desa tersebut dan melihat jenazah hartawan itu. Kerabatnya segera menjerit dan meratap. Dia memandangi orang-orang di sekitarnya dan menuduh merekalah yang membunuh hartawan itu. Tentu saja, mereka mengingkari. Warga menjadi marah. Akhirnya, mereka ribut dan hampir berkelahi. Salah seorang cerdik pandai di kalangan masyarakat di desa itu berusaha menengahi mereka, “Untuk apa kalian berkelahi dan saling membunuh? Bukankah di tengah-tengah kita ada Rasulullah Musa ‘Alaihissalam? Mari kita menanyakan urusan ini kepada beliau.” Mereka segera menemui Nabi Musa ‘Alaihissalam dan menceritakan apa yang baru saja terjadi. Nabi Musa Alaihissalam segera berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala meminta petunjuk tentang kejadian tersebut. Allah Subhanahu wata’ala mewahyukan kepada beliau agar menyampaikan kepada bani Israil bahwa Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi. Tentu saja mereka heran, Nabi Musa ‘Alaihissalam tidak menyebutkan pelakunya, tetapi menyuruh mereka menyembelih seekor sapi. “Apakah kamu mau menjadikan kami bahan ejekan?” tanya mereka. “Aku berlindung kepada Allah (jangan sampai aku) termasuk orangorang yang jahil (bodoh),” kata Nabi Musa ‘Alahissalam.

Kemudian mereka bertanya kepada beliau, “Berapa usia sapi itu?” “Tidak muda, tidak pula tua.  Pertengahan di antara keduanya. Nah, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!” kata beliau. Mereka masih juga bertanya, “Apa warna sapi itu?” “Kuning tua, menyenangkan orang yang melihatnya,” kata beliau. Kembali mereka berkata, “Bagaimana keadaan sapi itu? Semoga kami mendapat petunjuk, insya Allah.” “Sapi itu tidak pernah digunakan untuk bekerja membajak sawah, memberi minum tanaman, dan bersih dari cacat,” kata beliau menerangkan. “ Sekarang , barulah kamu menerangkan keadaan sapi itu dengan benar,” kata mereka. Setelah mendapatkan jawaban Nabi Musa ‘Alaihissalam itu, mereka pun berkeliling mencari sapi yang dimaksud. Itulah akibat kesalahan mereka sendiri. Seandainya mereka langsung mengerjakan perintah Allah Subhanahu wata’ala yang disampaikan oleh Nabi Musa ‘Alahissalam, tentu tidak akan memberatkan dan menyusahkan mereka.

Setelah hampir putus asa mencari sapi yang dimaksud, mereka tiba di sebuah desa tempat seorang anak yatim yang hidup sederhana bersama ibunya. Ayahnya wafat ketika anak itu masih kecil. Sebelum meninggal dunia, sang ayah pernah berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memeliharakan sapinya. Itulah satusatunya kekayaan yang dimilikinya. Sapi itu dibiarkan begitu saja, tidak dilatih bekerja apa pun. Kulit sapi itu kuning tua, bersih tanpa ada warna lain sedikit pun, tidak tua dan tidak pula muda, benar-benar seperti yang diterangkan di dalam firman Allah Subhanahu wata’ala. Melihat sapi tersebut, mereka segera mendekati dan menawarnya.

Ternyata anak yatim itu tidak ingin menjualnya dengan harga biasa. Mereka terpaksa kembali menemui Nabi Musa ‘Alahissalam dan mengadukan hal__ itu. Keadaan itu seakan-akan sebagai hukuman atas sikap mereka yang enggan bersegera menjalan perintah. Akhirnya, mereka harus mau memenuhi harga yang ditetapkan anak itu, yaitu emas sebanyak yang menutupi kulit sapi tersebut. Dengan terpaksa, mereka membeli juga sapi itu dengan emas sebanyak yang diminta anak yatim tersebut.

Setelah sapi itu dibawa ke hadapan Nabi Musa ‘Alaihissalam, beliau memerintahkan sapi itu disembelih dan salah satu anggota tubuhnya dipukulkan ke jenazah tersebut. Dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, jenazah itu pun hidup kembali. Nabi Musa ‘Alahissalam bertanya kepadanya, “Siapa yang membunuhmu?” “Dia ini,” kata orang itu sambil menunjuk ke arah kerabatnya, dan setelah itu dia pun kembali menjadi mayat.

Ternyata pelaku pembunuhan itu adalah kerabatnya sendiri, tetapi mereka mengingkarinya, “Demi Allah, kami tidak membunuhnya.” Demikianlah watak bani Israil, sampai saat ini. Itulah cerita yang dinukilkan para ulama kaum muslimin dari ahli kitab. Secara umum, kisah ini diabadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam Kitab Suci-Nya, al-Qur’anul Karim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً ۖ قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۖ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ () قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ () قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا ۚ قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ () قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ () قَالَ إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيهَا ۚ قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ () وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ () فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.” Mereka berkata, “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” Musa menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.” Mereka menjawab, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.

” Musa menjawab, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orangorang yang memandangnya.” Mereka berkata, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” Musa berkata, “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, dan tidak ada belangnya.” Mereka berkata, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan.

Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota tubuh sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (al-Baqarah: 67—73)

Inilah kisah mereka yang dipaparkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan pasti benar. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ

Dan [ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya), yakni ingatlah wahai bani Israil ketika Musa berkata kepada kaumnya (firman Allah Subhanahu wata’ala);

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

(sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina).

Dalam ayat ini, Nabi Musa ‘Alaihissalam menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’alalah yang memerintahkan mereka menyembelih seekor sapi betina, bukan beliau. Semestinya, yang wajib mereka lakukan ialah segera mengerjakan perintah tersebut, bukan membantahnya. Akan tetapi, apa yang terjadi? Mereka justru mengucapkan kata-kata yang tidak beradab kepada Nabi yang mulia ini, (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

قَالُوا أَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا

“Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?” atau tertawaan orang?

Subhanallah.Mengapa harus merasa heran terhadap perintah Allah Yang Maha Mengetahui? Seolah-olah dengan pernyataan ini, mereka merasa ragu, bagaimana mungkin dengan menyembelih seekor sapi akan hilang pertikaian di antara mereka, dan pelaku pembunuhan itu akan segera diketahui? Inilah kebiasaan mereka hingga saat ini, yang selalu menilai segala sesuatunya dengan akal dan kebendaan (materi). Sok logis. Apakah mereka lupa, bagaimana Allah Yang Mahakuasa membelah laut menjadi dua belas jalan kering yang dilalui oleh setiap kabilah bani Israil? Dan itu belum lama terjadi. Padahal, mereka juga sudah melihat sendiri beberapa kejadian luar biasa selama Nabi Musa q bersama mereka. Lebih dari itu, sikap memperolokolok orang lain adalah perbuatan orang yang tidak berakal atau kurang akalnya. Para Nabiyullah r adalah manusia yang paling jauh dari perilaku ini. Sebab itu pula, Nabi Allah Musa ‘Alaihissalam berkata (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Aku berlindung kepada Allah agar tidak menjadi salah seorang dari orang-orang yang jahil.Seakan-akan Nabi Musa ‘Alaihissalam hendak mengatakan, “Aku berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk mengatakan tentang Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak diwahyukan kepadaku.” Selain itu, orang yang berakal tentu melihat bahwa termasuk aib yang sangat besar adalah meremehkan agama dan akal, serta mengolok-olok manusia seperti dia juga, walaupun dia dilebihkan dari orang lain. Wallahul muwaffiq.

Dan kata; بَقَرَةً (seekor sapi betina) pada ayat 67 ini berbentuk nakirah dalam susunan kalimat mutsbat (positif), sehingga pengertiannya bersifat mutlak, tidak ditentukan jenis, umur, warna, atau

keadaan yang lainnya. Artinya, seekor sapi betina yang mana saja mereka sembelih, sudah mencukupi, dan mereka tergolong orang-orang segera mematuhi perintah Allah Allah Subhanahu wata’ala, serta selesailah persoalan itu dengan segera. Akan tetapi, apa yang terjadi? Mereka justru mempersulit diri sendiri, maka Allah Subhanahu wata’ala menambah kesulitan tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ ۚ

Mereka menjawab, “Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu.” (al-Baqarah: 68)

Nabi Musa ‘Alaihissalam pun berkata kepada mereka—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا فَارِضٌ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَافْعَلُوا مَا تُؤْمَرُونَ

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepada kalian!”

Dalam ayat ini kembali Nabi Musa ‘alaihissalam menyandarkan bahwa yang menetapkan kriteria sapi itu adalah Allah Subhanahu wata’ala sendiri. Seharusnya, mereka segera bergerak mencari sapi dengan kriteria awal itu, karena masih mudah untuk didapatkan. Sekali lagi, lihatlah apa yang mereka lakukan? Mereka justru mempersulit diri sendiri, bukannya segera menjalankan perintah tersebut. Wallahul musta’an.

Mereka berkata—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

قَالُوا ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا لَوْنُهَا

“Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya.” (al-Baqarah: 69)

Mereka semakin menambah kesulitan mereka sendiri dengan menanyakan warnanya. Perintah pertama sebetulnya sudah cukup jelas, bahkan Nabi Musa ‘Alahissalam mengingatkan agar mereka tidak

menyanggahnya. Namun, Nabi Musa ‘Alahissalam tetap menjawab—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ صَفْرَاءُ فَاقِعٌ لَّوْنُهَا تَسُرُّ النَّاظِرِينَ

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya, lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya.” (al-Baqarah: 69)

Beliau tetap menerangkan bahwa keadaan sapi itu benar-benar dari Allah Subhanahu wata’ala. Warna yang disebutkan adalah warna sapi yang paling bagus. Mereka mulai beranjak, tetapi kembali lagi mempersulit diri sendiri dengan bertanya—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

ادْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِيَ إِنَّ الْبَقَرَ تَشَابَهَ عَلَيْنَا وَإِنَّا إِن شَاءَ اللَّهُ لَمُهْتَدُونَ

“Mohonkanlah kepada Rabbmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah akan mendapat petunjuk (untuk memperoleh sapi itu).” (al- Baqarah: 70)

Seolah-olah, menurut mereka, sapi seperti yang diterangkan itu belum jelas. Mereka ingin sapi yang dimaksud sudah tidak samar lagi sifat-sifatnya, maka mereka bertanya kembali. Seandainya mereka tidak mengucapkan, “Insya Allah,” niscaya keadaan mereka masih tetap dalam kebingungan mengenai sapi tersebut. Nabi Musa ‘Alahissalam menjawab— sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

إِنَّهُ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌ لَّا ذَلُولٌ تُثِيرُ الْأَرْضَ وَلَا تَسْقِي الْحَرْثَ

“Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman,” karena sapi itu dibiarkan dalam keadaan liar, tidak dilatih untuk bekerja.

مُسَلَّمَةٌ لَّا شِيَةَ فِيهَا

“Tidak bercacat, tidak ada belangnya,” yang mencampuri warna kuning tua tersebut.

Setelah mendapat keterangan ini, mereka pun berkata—sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala—,

قَالُوا الْآنَ جِئْتَ بِالْحَقِّ ۚ فَذَبَحُوهَا وَمَا كَادُوا يَفْعَلُونَ

“Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.” Kemudian mereka menyembelihnya dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu.

Perkataan mereka yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala ini kepada kita menunjukkan seolah-olah—menurut mereka— penjelasan Nabi Musa ‘Alaihissalam di awal tidak lengkap dan tidak benar. Mahasuci Allah. Di awal, mereka mengira Nabi Musa ‘Alaihissalam mempermainkan mereka, membodoh-bodohi mereka. Padahal,

mereka mendengar bahwa Nabi Musa q menyebutkan bahwa perintah menyembelih sapi itu langsung dari Allah Subhanahu wata’ala. Kemudian, mereka sendiri yang meminta Nabi Musa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar Allah Subhanahu wata’ala menerangkan sifat sapi tersebut. Sebetulnya, satu sifat saja (dari sapi tersebut) yang mereka tanyakan sudah cukup, dan itulah sebabnya Nabi Musa ‘Alaihissalammemperingatkan mereka agar tidak menyanggah perintah itu, hendaknya segera saja dikerjakan. Tetapi, itulah kebiasaan bani Israil sampai saat ini. Akibat pembangkangan mereka itu, hampir saja mereka tidak mau menyembelih sapi yang sudah ditemukan. Pada awal kisah ini, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ

“Dan [ingatlah], ketika Musa berkata kepada kaumnya,” yakni ingatlah wahai bani Israil, ketika Musa berkata kepada kaumnya (firman Allah Subhanahu wata’ala);

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

“Sesungguhnya Allah menyuruh kalian menyembelih seekor sapi betina.”

Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala belum menerangkan sebabnya. Seakan-akan memancing minat orang-orang yang mau memerhatikan agar menunggu dan membacanya dengan saksama sampai selesai. Wallahu a’lam.

Kemudian, pada bagian akhir kisah ini Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًا فَادَّارَأْتُمْ فِيهَا ۖ وَاللَّهُ مُخْرِجٌ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ () فَقُلْنَا اضْرِبُوهُ بِبَعْضِهَا ۚ كَذَٰلِكَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَىٰ وَيُرِيكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Dan (ingatlah), ketika kalian membunuh seorang manusia lalu kalian saling tuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. Lalu Kami berfirman, “Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!” Demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan-Nya agar kamu mengerti.” (al-Baqarah: 72—73)

Ayat yang mulia ini, menjelaskan peristiwa apa yang sebetulnya terjadi, sehingga mereka diperintah untuk menyembelih seekor sapi. Seakan-akan hendak menerangkan pula kepada kaum mukminin sifat dan watak orang-orang Yahudi terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, agar mereka tidak meniru, lalu binasa seperti mereka. Setelah sapi itu disembelih, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar memukulkan sebagian anggota tubuh sapi itu kepada mayat yang mereka perselisihkan siapa pembunuhnya. Allah Subhanahu wata’ala tidak menerangkan bagian tubuh yang mana dipukulkan kepada mayat tersebut, karena itu bukan urusan kita dan tidak ada kepentingannya. Begitu pula pemaparannya, tidak secara lengkap sebagaimana yang dinukil oleh para ulama kaum muslimin, adalah juga karena

tidak banyak faedahnya. Kami menukilnya di sini untuk memudahkan alur cerita karena sudah begitu dikenal kaum muslimin. Dan, bagaimanapun, Kalam Allah Subhanahu wata’ala pastilah yang paling jelas dan benar.

(insya Allah bersambung; Akhir Peristiwa dan Beberapa Faedah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Merenungi Ketaatan dan Kemaksiatan (2)

Sepeluh Bahan Renungan – Bagian 2

Ketiga: Seseorang merenungi kondisi dirinya, dengan mengintrospeksi amalannya, baik berupa ketaatan maupun kemaksiatannya. Seorang mukmin akan melakukan ketaatannya dengan penuh semangat, tidak mengharapkan selain wajah Allah Subhanahu wata’ala dan negeri akhirat. Apabila muncul keinginan pada sesuatu yang sifatnya duniawi, ia arahkan kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ia arahkan pada sesuatu yang diharapkan bisa membantunya dalam usaha menuju akhiratnya. Kalau memang harus mengambil duniawinya, maka pada sesuatu yang dia perhitungkan tidak akan menghambatnya dalam usahanya

menuju akhirat. Dalam semua keadaannya, dia tetap bertawakal kepada AllahSubhanahu wata’ala, berharap kepada-Nya untuk memilihkan untuknya apa yang baik dan bermanfaat baginya. Setelah itu, ia melaksanakan ketaatan dengan penuh kekhusyukan, dengan merasa bahwa Allah Subhanahu wata’alamelihat dirinya

dan melihat apa yang ada dalam dirinya, lalu melakukan ketaatan itu sesuai dengan apa yang Allah Subhanahu wata’alasyariatkan. Bersamaan dengan itu, ia seperti yang Allah Subhanahu wata’ala katakan,

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (al- Mukminun: 60)

Dia khawatir niatnya tidak ikhlas, karena niat ikhlas itu bisa jadi dari seseorang yang imannya kuat, bisa jadi pula dari orang yang imannya lemah yang ketaatannya itu hanya dalam rangka kehati-hatian. Namun, bisa jadi pula tidak ikhlas, bahkan tercampuri oleh keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi demi dunia juga. Di antaranya bertujuan meredam syahwatnya pada sesuatu yang

tidak disyariatkan (meredamnya); atau bertujuan menguatkan fisik, atau agar bermanfaat untuk badannya, seperti yang berpuasa agar sehat, shalat tarawih agar melancarkan pencernaan makanannya, dll. Contoh lainnya, melaksanakan ketaatan tetapi tujuannya adalah menyegarkan jiwa (refreshing), seperti datang shalat Jum’at dengan tujuan sambil jalan-jalan, agar bisa bertemu teman-temannya dan tahu berita mereka. Atau bertujuan untuk mencari perhatian manusia agar mereka memuji dan menyanjungnya, sehingga kedudukannya semakin tinggi. Dengan demikian, ia bisa mencapai tujuan-tujannya tanpa mereka membencinya, dan berbagai niat lainnya. Misalnya, seseorang yang berilmu yang ingin agar orang-orang melihatnya, mengagungkannya, dan meminta fatwa kepadanya, sehingga ilmunya terkenal dan semakin tinggi kedudukannya, atau tujuan-tujuan selain itu.

Seorang mukmin, walaupun niatnya sendiri telah ikhlas, dia pribadi tidak bisa meyakinkan hal itu pada dirinya. Seorang mukmin senantiasa khawatir dan takut untuk tidak melakukan ketaatan sesuai dengan yang disyariatkan. Kekhawatiran seorang mukmin senantiasa berlanjut saat menengok kembali ketaatan-kataatannya yang telah lalu. Ia hanya berharap bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah mengabulkannya dengan ampunan dan kemurahan-Nya. Ia khawatir kalau amal itu tertolak disebabkan cacat yang ada pada dirinya— walaupun ia tidak merasa—atau ada cacat pada fondasinya, yaitu iman. Inilah keadaan seorang mukmin dalam hal ketaatan, lantas bagaimana halnya dengan maksiatnya? Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِّنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُم مُّبْصِرُونَ () وَإِخْوَانُهُمْ يَمُدُّونَهُمْ فِي الْغَيِّ ثُمَّ لَا يُقْصِرُونَ

“Sesungguhnya apabila orang-orang yang bertakwa ditimpa waswas dari setan, mereka ingat kepada Allah, ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya. Dan teman-teman mereka (orang-orang kafir dan fasik) membantu setan-setan dalam menyesatkan dan mereka tidak henti-hentinya (menyesatkan).” (al- A’raf: 201—202)

Dalam diri seorang mukmin, iman bertarung dengan hawa nafsu. Terkadang setan mengendalikannya hingga melenakannya dari kekuatan iman, sehingga hawa nafsunya mengalahkannya dan menyungkurkannya. Saat berbuat maksiat, jiwanya memeranginya, sehingga kenikmatan maksiat itu tidak murni dia rasakan. Tidaklah sisi tubuhnya hampir terjatuh di atas bumi melainkan ia telah tersadar. Ia kemudian berusaha mengembalikan kekuatan imannya sehingga ia menggigit jarinya karena rasa sesal dan sedih atas kelalaiannya yang telah dimanfaatkan oleh musuhnya untuk mengalahkan dirinya. Ia bertekad untuk tidak kembali kepada kelalaiannya tersebut.

Adapun teman-teman setan, setan akan memberikan bantuannya dalam kesesatannya. Mereka pun terdukung oleh setan dalam kesesatan tersebut. Setan akan menghias-hiasi angan–angan mereka, sehingga mereka merasa puas (dengan maksiat dan kesesatannya). Di antara angan-angan setan itu adalah ia berkata (baik terucap maupun dalam batin), “Allah Subhanahu wata’ala telah takdirkan ini pada diri saya, apa yang Dia kehendaki mesti terjadi….”, “Ulama berbeda pendapat tentang hukum perbuatan ini, apakah ini dosa besar atau bukan, dan dosa kecil itu gampang urusannya….”, “Saya masih punya banyak kebaikan yang bisa menutupi dosa ini….”, “Barangkali Allah Subhanahu wata’ala mengampuni saya….”, “Barangkali fulan akan memberi saya syafaat….”, “Nanti saya akan bertobat….”, Paling bagusnya, dia hanya akan mengucap “astaghfirullah”, merasa telah bertobat, dan telah terhapus dosanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَأُضِلَّنَّهُمْ وَلَأُمَنِّيَنَّهُمْ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُبَتِّكُنَّ آذَانَ الْأَنْعَامِ وَلَآمُرَنَّهُمْ فَلَيُغَيِّرُنَّ خَلْقَ اللَّهِ ۚ وَمَن يَتَّخِذِ الشَّيْطَانَ وَلِيًّا مِّن دُونِ اللَّهِ فَقَدْ خَسِرَ خُسْرَانًا مُّبِينًا () يَعِدُهُمْ وَيُمَنِّيهِمْ ۖ وَمَا يَعِدُهُمُ الشَّيْطَانُ إِلَّا غُرُورًا () أُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَلَا يَجِدُونَ عَنْهَا مَحِيصًا () وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ وَعْدَ اللَّهِ حَقًّا ۚ وَمَنْ أَصْدَقُ مِنَ اللَّهِ قِيلًا () لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ مَن يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلَا يَجِدْ لَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلَا نَصِيرًا () وَمَن يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

(Setan berkata,) “Dan aku benarbenar akan menyesatkan mereka, akan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, akan menyuruh mereka (memotong telinga-telinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku suruh mereka (mengubah ciptaan Allah) lalu benar-benar mereka mengubahnya.” Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata. Setan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka. Mereka itu tempatnya Jahannam dan mereka tidak memperoleh tempat lari darinya.

Orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah telah membuat suatu janji yang benar. Dan siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah? (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan sesuai dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah. Barang siapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka  tidak dianiaya walau sedikit pun. (an- Nisa: 119—124)

فَخَلَفَ مِن بَعْدِهِمْ خَلْفٌ وَرِثُوا الْكِتَابَ يَأْخُذُونَ عَرَضَ هَٰذَا الْأَدْنَىٰ وَيَقُولُونَ سَيُغْفَرُ لَنَا وَإِن يَأْتِهِمْ عَرَضٌ مِّثْلُهُ يَأْخُذُوهُ ۚ أَلَمْ يُؤْخَذْ عَلَيْهِم مِّيثَاقُ الْكِتَابِ أَن لَّا يَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ وَدَرَسُوا مَا فِيهِ ۗ وَالدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Maka datanglah sesudah mereka generasi (yang jahat) yang mewarisi Taurat, yang mengambil harta benda dunia yang rendah ini, dan berkata, “Kami akan diberi ampun.” Kelak jika datang kepada mereka harta benda dunia sebanyak itu (pula), niscaya mereka akan mengambilnya (juga). Bukankah

perjanjian Taurat sudah diambil dari mereka, yaitu bahwa mereka tidak akan mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar, padahal mereka telah mempelajari apa yang tersebut di dalamnya? Dan kampung akhirat itu lebih baik bagi mereka yang bertakwa. Maka apakah kamu sekalian tidak mengerti? (al- A’raf: 169)

Dalam sebuah hadits pada kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim dari sahabat Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ، وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا

“Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya seolah-olah dia sedang duduk di bawah gunung, khawatir gunung itu akan menjatuhinya. Adapun pendosa, ia melihat dosadosanya bagaikan lalat yang hinggap pada hidungnya, lalu dia halau begitu saja.”

(diterjemahkan dan diringkas oleh al-Ustadz Qomar Suaidi ZA dari kitab al-Qaid ila Tashihil Aqaid) (Bersambung, insya Allah)

Hukum Penghasilan Praktisi Bekam

Bismillah. Bagaimana hukum menerima upah hasil membekam? Sebab, kita juga modal jarum, tisu, sarung tangan karet, dan minyak zaitun sekali pakai. Mohon jawabannya. Jazakallah. 081327xxxxxx

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah ini diperselisihkan oleh para ulama. Sebagian ahli hadits ada yang berpendapat haram dengan dalil-dalil sebagai berikut.

1. Hadits Rafi’ bin Khadij radhiyallahu ‘anhu,

ثَمَنُ الْكَلْبِ خَبِيثٌ، وَمَهْرُ الْبَغِيِّ خَبِيثٌ،وَكَسْبُ الْحَجَّامِ خَبِيثٌ

“Harga anjing adalah khabits (haram), penghasilan pelacur adalah khabits (haram), dan penghasilan praktisi bekam adalah khabits (haram).” (HR. Muslim)

Yang dimaksud dengan ‘khabits’ pada hadits ini adalah haram. Makna ini dikuatkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh ad-Daraquthni, al-Baihaqi, dan lainnya,

   مِنَ السُّحْتِ كَسْبِ الْحَجَّامِ.

“Di antara yang termasuk perkara suht (haram) adalah penghasilan praktisi bekam.”

2. Hadits Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhu,

نَهَى رَسُوْلُ اللهِ عَنْ كَسْبِ الْحَجَّامِ.

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari penghasilan praktisi bekam.” ( HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani)1

Hadits yang sama juga dikeluarkan oleh an-Nasa’i dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dinyatakan sahih oleh al-Albani.2

Larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada hadits Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah larangan yang bersifat mengharamkan. Inilah argumen pendapat yang mengharamkan. Akan tetapi, pendapat ini lemah dari berbagai sisi.

1. Larangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari penghasilan praktisi bekam tidaklah bersifat haram, tetapi makruh. Sebab, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah berbekam dan memberikan upah orang yang membekamnya itu sebagaimana disebutkan oleh hadits-hadits berikut ini.

a. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu,

احْتَجَمَ النَّبِيُّ وَأَعْطَى الَّذِي حَجَمَهُ وَلَوْ كَانَ حَرَامًا لَمْ يُعْطِهِ

“Nabi n berbekam dan memberikan upah kepada pembekamnya. Sekiranya haram, tentu Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberikan upahnya.” (Muttafaq ‘alaih)

Pada riwaya  Muslim rahimahullah lainnya,

حَجَمَ النَّبِيَّ عَبْدٌ لِبَنِي بَيَاضَةَ فَأَعْطَاهُ النَّبِيُّ , أَجْرَهُ وَكَلَّمَ سَيِّدَهُ فَخَفَّفَ عَنْهُ مِنْ ضَرِيبَتِهِ, وَلَوْ كَانَ سُحْتًا لَمْ يُعْطِهِ النَّبِيُّ

“Seorang budak milik bani Bayadhah membekam Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan upahnya dan melobi tuannya sehingga tuannya meringankan setoran kharaj3 yang harus dibayarkannya. Sekiranya haram, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak akan memberi upahnya.”

b. Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu,

احْتَجَمَ رَسُولُ اللهِ حَجَمَهُ أَبُو طَيْبَةَ فَأَمَرَ لَهُ بِصَاعَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَكَلَّمَ أَهْلَهُ فَوَضَعُوا عَنْهُ مِنْ خَرَاجِهِ وَقَالَ إِنَّ أَفْضَلَ مَا تَدَاوَيْتُمْ بِهِ الْحِجَامَةُ أَوْ هُوَ مِنْ أَمْثَلِ دَوَائِكُمْ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berbekam, dibekam oleh Abu Thaibah4, lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan agar ia diberi dua sha’ makanan (sebagai upahnya) dan melobi tuan-tuannya sehingga mereka menggugurkan setoran kharaj yang harus dibayarkannya. Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya seutama-utama cara pengobatan kalian adalah bekam atau bekam termasuk cara pengobatan kalian yang terbaik’.” (Muttafaq ‘alaih)

Kedua hadits tersebut menunjukkan halalnya penghasilan dari praktik bekam, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan upah budak yang membekamnya. Telah tsabit (tetap) pula hadits Muhayyishah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّهُ اسْتَأْذَنَ رَسُولَاللهِ , فِي إِجَارَةِ الْحَجَّامِ، ا فَنَهَاهُ عَنْهَا، فَلَمْ يَزَلْ يَسْأَلُهُ وَيَسْتَأْذِنُهُ حَتَّى أَمَرَهُ أَنْ أَعْلِفْهُ نَاضِحَكَ وَرَقِيقَكَ

“Sesungguhnya dia meminta izin kepada Nabi n tentang upah praktisi bekam5, lantas Nabi  Shallallahu ‘alaihi wasallam melarangnya. Kemudian dia senantiasa menanyakannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan meminta izin hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallammemerintahnya (bersabda), ‘Berikan untuk makan budakmu dan unta penyiram tanamanmu6’.” (HR. Malik, Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani)7 Jumhur (mayoritas) menyatakan bahwa seandainya haram, Nabi n tidak akan membedakan antara orang merdeka dan budak sahaya dalam hal kehalalan memanfaatkan penghasilan dari praktik bekam, karena seorang pemilik budak tidak boleh memberi makan budaknya dari penghasilan yang haram. Al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan ash-Shaghir (Kitab ash-Shaid wa adz- Dzaba’ih pada bab “Kasbi al- Hajjam”) menukil ucapan al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah,

“Seandainya haram, tentulah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak membolehkan Muhayyishah radhiyallahu ‘anhu memiliki sesuatu yang haram serta memberikannya untuk makan unta penyiram tanamannya dan budaknya, sedangkan budaknya tergolong hamba Allah Subhanahu wata’ala yang terikat hukum halal dan haram.”

2. Adapun pendalilan dengan kata ‘khabits’ pada hadits Rafi’ radhiyallahu ‘anhu untuk mengharamkan penghasilan praktisi bekam, hal itu tidak dapat diterima. Sebab, penggunaan kata ‘khabits’ dalam syariat memiliki tiga makna yang berbeda tergantung konteks kalimatnya.

a. bermakna haram, seperti pada firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (al- A’raf: 157)

b. bermakna buruk dan jelek, tetapi tidak haram, seperti pada firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلَّا أَن تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ

“Dan janganlah kalian memilih yang buruk-buruk lalu berinfak darinya, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.” (al-Baqarah: 267)

c. bermakna menjijikkan dan dibenci oleh jiwa, tetapi tidak haram, seperti pada hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ الشَّجَرَةِ الْخَبِيثَةِ شَيْئًا فَلاَ يَقْرَبَنَّا فِي الْمَسْجِدِ. فَقَالَ النَّاسُ: حُرِّمَتْ، فَقَالَ: أَيُّهَا النَّاسُ،  حُرِّمَتْ. فَبَلَغَ ذَاكَ النَّبِيَّ إِنَّهُ لَيْسَ بِي تَحْرِيمُ مَا أَحَلَّ اللهُ لِي، وَلَكِنَّهَا شَجَرَةٌ أَكْرَهُ رِيحَهَا.

“Barang siapa makan sedikit saja dari tumbuhan yang buruk ini (bawang merah dan bawang putih), janganlah ia mendekat kepada kami di masjid (hadir shalat). Orang-orang pun berkata, ‘Bawang telah diharamkan, bawang telah diharamkan.’ Ucapan mereka pun

sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau n bersabda. ‘Hai sekalian manusia! Tidaklah aku pernah mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah l untukku. Akan tetapi, bawang adalah tumbuhan yang aku benci baunya’.” (HR. Muslim)

Jika terdapat tiga kemungkinan makna tersebut, tidak boleh menentukan salah satunya tanpa dalil yang mendukungnya. Bahkan, telah datang hadits-hadits di atas yang menunjukkan halal penghasilan praktisi bekam yang mendukung salah satu dari tiga makna tersebut. Yaitu, bermakna buruk dan jelek, meskipun tidak haram. Begitu pula halnya hadits yang menyebutkan sifat penghasilan bekam sebagai ‘suht’—seandainya benar datangnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam—, maka penafsiran maknanya sama dengan kata ‘khabits’. Tidak bermakna haram.

3. Pendapat yang mengharamkan penghasilan dari praktik bekam bertentangan dengan kaidah syariat bahwa ‘sesuatu yang boleh dilakukan, berarti boleh mengambil upah darinya’. Alhasil, gabungan seluruh hadits yang datang dari Nabi n mengenai penghasilan praktik bekam menunjukkan halal, tetapi tergolong jelek dan buruk sehingga tidak pantas untuk dipilih sebagai pekerjaan oleh orang-orang yang memilih perkara-perkara yang bagus dan mulia. Oleh karena itu, dimakruhkan untuk menghidupi diri dan keluarganya dari penghasilan praktik bekam. Ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama dan yang masyhur pada mazhab Ahmad, yang dirajihkan (dikuatkan) oleh Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, asy-Syaukani, dan Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah. Namun, sesuatu yang dimakruhkan akan menjadi boleh tanpa kemakruhan karena tuntutan kebutuhan, jika tidak ada pilihan lain selainnya. Ibnu Taimiyah

8 Terdapat penjelasan mengenai kelemahan sebagian jalan riwayat dari hadits ini pada kitab as-Sunan al-Kubra lil

Baihaqi (Kitab al-Buyu’ pada bab “an-Nahyi ‘an Tsaman al-Kalbi”), Nashbu ar-Rayah (4/Kitab al-Buyu’, pada bab “Masa’il Mantsurah”), dan adh-Dha’ifah (8/172, no. 3693). t menerangkan, “Bagaimanapun juga, keadaan orang yang membutuhkan penghasilan dari praktik bekam berbeda halnya dengan orang yang tidak membutuhkannya. Sebagaimana kata kaum salaf,

كَسْبٌ فِيْهِ دَنَاءَةٌ خَيْرٌ مِنْ مَسْأَلَةِ النَّاسِ.

‘Penghasilan yang mengandung unsur kerendahan lebih baik daripada meminta-minta.’

Adapun pendapat yang mengatakan bahwa larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dari penghasilan praktik bekam telah mansukh (terhapus) dengan hadits-hadits yang membolehkan, pendapat ini lemah dari dua sisi:

– Penetapan terhapusnya suatu hukum yang diganti dengan hukum yang lain (an-naskhu) harus berdasarkan dalil yang memastikan hal itu. Dalam hal ini, dalil itu tidak ada. Tidak bisa

dipastikan pula bahwa hadits-hadits yang membolehkan penghasilan dari praktik bekam datangnya belakangan setelah hadits-hadits yang melarang.

An-Naskhu hanya ditempuh jika memang hadits-hadits yang seakan-akan bertentangan tidak dapat dikompromikan dengan makna yang merangkum keseluruhannya (jam’u al-adillah). Sedangkan dalam hal ini haditshadits tersebut dapat dikompromikan dengan makna yang telah kami sampaikan walhamdulillah.

Inilah yang dapat kami paparkan pada jawaban ini. Masih ada pendapatpendapat lain yang tidak sempat kami sebutkan pada pembahasan ini khawatir terlalu berpanjang lebar. Tetapi, kami berharap apa yang kami paparkan ini telah mewakili. Siapa yang ingin melihat pendapat-pendapat lainnya itu, dapat menelusurinya pada kitab-kitab fikih. Semoga jawaban ini bermanfaat bagi para pencari ilmu sebagai cahaya penerang dalam menjalani kehidupan yang fana ini. Wallahu a’lam.

_______________________

1 Lihat Shahih Ibni Majah (no. Sunan: 2195).

2 Lihat Shahih an-Nasa’i (no. Sunan: 4687).

3 Kharaj adalah akad antara tuan dengan budaknya agar budaknya membayar setoran setiap hari dari hasil kerjanya dengan nilai tertentu yang disepakati dan selebihnya untuk dirinya.

4 Kata an-Nawawi  dan Ibnu Hajar , yang benar namanya adalah Nafi’. An-Nawawi  menegaskan bahwa dia adalah seorang budak milik bani Bayadhah.

5 Pada riwayat lain, dia punya budak yang bekerja sebagai tukang bekam.

6 Nadhih (bentuk jamaknya nawadhih) adalah unta yang digunakan untuk mengangkut air guna menyirami tanaman sawah dan kebun. Lihat kitab an-Nihayah fi Gharib al-Hadits wal Atsar (5/69).

7 Lihat kitab ash-Shahihah (no. 4000).