Hak-hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atas Umat Manusia

Sebagai penutup para nabi, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memiliki hak-hak yang besar atas umat manusia. Di antara hak-hak tersebut adalah sebagai berikut.

Wajib atas umat manusia mencintai beliau melebihi kecintaan kepada segala sesuatu, termasuk kepada dirinya.

Wajib atas umat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan kecintaan yang lebih dari kecintaan kepada yang lain. Allah Subhanahu wata’ala memberitakan bahwa lebih mencintai selain Allah Subhanahu wata’ala, Rasulullah, dan jihad fi sabililah menyebabkan kemurkaan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قُلْ إِن كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (at-Taubah: 24)

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak beriman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dia cintai daripada bapaknya, anaknya, dan seluruh manusia. (HR. al-Bukhari)

Tatkala mendengar hadits ini, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Sungguh, engkau lebih aku cintai dibanding segala sesuatu kecuali diriku.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak demikian. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan- Nya, hingga aku lebih engkau cintai melebihi dirimu sendiri.” Umar radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Allah Subhanahu wata’ala, sesungguhnya engkau sekarang lebih aku cintai melebihi diriku sendiri.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sekarang hai Umar, (telah sempurna imanmu).”

Mengimani Beliau Secara Rinci

Konsekuensi iman kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengimani beliau secara rinci. Inilah bukti kecintaan yang tulus kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Ketahuilah, barang siapa mencintai sesuatu, pasti dia akan mengutamakannya dan berusaha meneladaninya. Kalau tidak demikian, berarti kecintaannya tidak dianggap benar, hanya pengakuan belaka. Orang yang benar pengakuan cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang menampakkan tanda (bukti) kecintaan tersebut pada dirinya. Tanda cinta kepada Rasulullah adalah meneladani beliau, mengamalkan sunnahnya, mengikuti semua ucapan dan perbuatannya, melaksanakan segala perintah dan menjauhi larangannya, serta menghiasi diri dengan adab-adab yang beliau (contohkan), baik dalam keadaan susah maupun senang, dalam keadaan lapang maupun sempit.” (asy-Syifa bi Tarifi Huquqil Mushthafa, 2/24)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam al-Qur’an,

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Katakanlah, Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali Imran: 31)

Keimanan secara rinci terhadap ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam meliputi empat hal.

Pertama: Membenarkan seluruh berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Apa pun yang diberitakan oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, masuk akal atau tidak, bisa disaksikan indra atau tidak, wajib diyakini kebenarannya. Sebab, ucapan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (an- Najm: 34)

Kedua dan Ketiga: Menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengamalkan perintah-perintahnya dan meninggalkan larangannya.

Wajib bagi umat manusia menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Banyak ayat al-Qur’an yang menegaskan kewajiban ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul, dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu. (Muhammad: 33)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنتُمْ تَسْمَعُونَ

Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari- Nya dalam keadaan kamu mendengar (perintah-perintahnya). (al-Anfal: 20)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا ۚ

Apa saja yang dibawa oleh rasul maka ambillah (laksanakan) dan apa saja yang dilarangnya kepada kalian maka tinggalkanlah! (al-Hasyr: 7)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda bahwa taat kepada beliau menyebabkan seseorang masuk jannah Allah Subhanahu wata’ala.

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا:يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَنْ يَأْبَى؟ قَالَ :مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan. Mereka bertanya, Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau berkata, Siapa yang taat kepadaku, akan masuk surga, dan siapa yang tidak taat kepadaku, dialah yang enggan. (HR. al-Bukhari no. 7280 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Keempat: Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala selain dengan syariatnya, bukan dengan kebidahan.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ikutilah (apa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), jangan mengamalkan amalan-amalan baru (yang tidak ada contohnya dari Rasulullah). Sungguh (petunjuk/sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam) telah cukup bagi kalian.”

Mencintai Ahlul Bait dan Para Sahabat Beliau

Mencintai ahli bait dan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah bagian dari cinta kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan merupakan cinta yang wajib. Barang siapa membenci ahli bait atau sahabat beliau yang telah diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, ia telah membenci Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik secara langsung meupun tidak. Sebab, cinta kepada beliau berkaitan erat dengan cinta kepada mereka. Di antara ahlul bait1 adalah putra putri dan istri-istri beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallampernah bersabda tentang Aisyah Ummul Mukminin radhiyallahu ‘anha,

لاَ تُؤْذِينِي فِي عَائِشَةَ، فَإِنَّ الْوَحْيَ لَمْ يَأْتِنِي وَأَنَا فِي ثَوْبِ امْرَأَةٍ إِلاَّ عَائِشَةَ

Janganlah kalian men akitiku dalam perkara Aisyah. Sesungguhnya wahyu tidaklah turun kepadaku dalam keadaan aku berada di baju istri-istriku selain Aisyah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Orang-orang paling celaka dalam masalah ini adalah Syiah Rafidhah. Mereka mengaku mencintai ahlul bait, namun justru menjadi yang terdepan mencela ahlul bait. Semua istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka kafirkan, semua istri-istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam mereka yakini sebagai pezina, wal iyadzubillah.

Demi Allah Subhanahu wata’ala, seandainya istri-istri kita dituduh berzina, darah kita pasti mendidih. Namun, mereka sebaliknya, menginjak-injak nama baik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan keluarga beliau yang disucikan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Saudaraku yang kucintai fillah. Aisyah radhiyallahu ‘anha adalah wanita yang paling dicintai oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Amr bin al- Ash radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رَسُولَ اللهِ اسْتَعْمَلَهُ عَلَى جَيْشِ ذَاتِ السَّلَاسِلِ قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِأَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ؟ : : قَالَ عَائِشَةُ. قُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ؟ قَالَ: أَبُوهَا

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menunjuknya dalam Perang Dzat as-Salasil. Suatu kesempatan, aku datangi Rasulullah, aku bertanya, Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling engkau cintai? Beliau berkata, Aisyah. Dari kalangan lelaki siapa? Jawab beliau, Ayahnya (yakni Abu Bakr, -pen.). (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Demikian pula semua istri Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka adalah pendamping Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia dan di jannah Allah Subhanahu wata’ala. Di antara hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kita mencintai para sahabat beliau dan menjaga lisan dari mencela mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Janganlah kalian mencaci maki sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar Gunung Uhud, itu tidak akan mengalahkan satu mud (dua telapak tangan ditangkupkan, -pen.) sedekah mereka, bahkan setengahnya. ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Demikian sekelumit hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terkait dengan sahabat-sahabat beliau.

Bershalawat kepada Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan orangorang yang beriman untuk bershalawat dan salam kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Sesungguhnya Allah dan malaikatmalaikat- Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (al-Ahzab: 56)

Hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini ditegaskan oleh sabda beliau,

الْبَخِيلُ مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيَّ

Orang yang bakhil adalah orang yang ketika aku (namaku) disebut, ia tidak bershalawat kepadaku. (HR. at- Tirmidzi no. 3546, Ahmad no. 1736, dan lainnya dengan sanad yang sahih)

Ada sebuah buku yang patut kita telaah bersama terkait dengan hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ini. Risalah tersebut ditulis oleh al-Imam Ibnul Qayim rahimahullah dengan judul Jalaul Afham fi ash-Shalati was Salam ala Khairil Anam. Sesungguhnya, hak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam atas umat manusia sangat besar. Tulisan yang memuat hanya sebagian kecil dari hak-hak beliau ini semoga bisa mengingatkan kita untuk menunaikan hak-hak tersebut. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Akhir Kehidupan Pendusta Para Rasul

Rasul-rasul Allah Subhanahu wata’ala diutus membawa risalah ilahi. Manusia diuji, apakah mereka menerima seruan Allah Subhanahu wata’ala atau menolaknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah membuat sebuah perumpamaan tentang diri beliau dan umat manusia dalam sebuah hadits,

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا قَالَ فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنْ النَّارِ؛ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ، هَلُمَّ عَنْ النَّارِ؛ فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

Permisalan diriku seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, berdatanganlah serangga-serangga beterbangan mendekati api. Sementara itu, orang ini berusaha menghalangi dari api namun hewan-hewan itu tidak menghiraukan, hingga mereka berjatuhan ke dalamnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, Itulah permisalan diriku dan diri kalian. Aku memegangi ikat-ikat pinggang kalian agar kalian selamat dari neraka. Jauhilah neraka! Jauhilah dari neraka! Tetapi, kalian (kebanyakan umatku) tidak menghiraukanku, dan kalian berjatuhan ke dalam neraka.

Al-Qur’an menyebutkan kisah perjalanan hidup para nabi dan rasul dengan kaumnya. Kisah-kisah itu menjadi ibrah bagi mereka yang mau menggunakan mata dan pendengarannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولًا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ رَسُولًا () فَعَصَىٰ فِرْعَوْنُ الرَّسُولَ فَأَخَذْنَاهُ أَخْذًا وَبِيلًا

Sesungguhnya Kami telah mengutus kepada kamu (hai orang kafir Makkah) seorang rasul, yang menjadi saksi terhadapmu, sebagaimana Kami telah mengutus (dahulu) seorang rasul kepada Firaun. Firaun mendurhakai rasul itu, lalu Kami siksa dia dengan siksaan yang berat.(al-Muzzammil: 1516)

Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ () إِرَمَ ذَاتِ الْعِمَادِ () الَّتِي لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِي الْبِلَادِ () وَثَمُودَ الَّذِينَ جَابُوا الصَّخْرَ بِالْوَادِ () وَفِرْعَوْنَ ذِي الْأَوْتَادِ () الَّذِينَ طَغَوْا فِي الْبِلَادِ () فَأَكْثَرُوا فِيهَا الْفَسَادَ () فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ () إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

Apakah kamu tidak memerhatikan bagaimana Rabbmu berbuat terhadap kaum Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi, yang belum pernah dibangun (suatu kota) seperti itu di negeri-negeri lain; dan kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah; dan kaum Firaun yang mempunyai pasak-pasak (tentara yang banyak), yang berbuat sewenang-wenang dalam negeri, lalu mereka berbuat banyak kerusakan dalam negeri itu, karena itu Rabbmu menimpakan kepada mereka cemeti azab, sesungguhnya Rabbmu benarbenar mengawasi. (al-Fajr: 614)

Demikian sunnatullah, tidaklah suatu kaum mendurhakai Rasul-Nya melainkan Allah Subhanahu wata’ala menimpakan azab atas mereka. Sejarah hidup Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hendaknya selalu kita baca dan renungkan. Semua penentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memetik buah kekufurannya di dunia, seperti yang dijanjikan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. (al-Kautsar: 3)

Pertempuran hizbullah dan hizbusysyaithan di Padang Badar misalnya. Itu di antara bukti janji Allah Subhanahu wata’ala. Hari Perang Badar dikatakan sebagai Yaumul Furqan, Allah Subhanahu wata’ala memisahkan dua golongan. Allah Subhanahu wata’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan musuh-musuh Rasul dan Khalil-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mayat-mayat bergelimpangan dari barisan orang kafir Quraisy. Dedengkotdedengkot Quraisy diseret ke Sumur Badar.

Adapun mukminin, tentara-tentara Allah Subhanahu wata’ala, kesatria-kesatria Islam dengan teguh menyongsong kemenangan demi kemenangan. Dalam setiap kesempatan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala selalu menyertai Khalil-Nya, Muhammad bin Abdillah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta para sahabat yang mulia. Hingga kota Makkah dibuka dan manusia masuk ke dalam Islam dengan berbondong-bondong.

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ () وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا () فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا

Apabila telah datang pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima tobat. (an- Nashr: 13)

Sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, janji Allah Subhanahu wata’ala tetap berlaku hingga hari kiamat. Allah Subhanahu wata’ala memenangkan kaum mukminin dan membinasakan para pendurhaka Rasul. Persia, para penyembah api, dan Romawi, pemeluk agama Nasrani, dua kekuatan adidaya saat itu tumbang. Allah Subhanahu wata’ala membinasakan mereka karena tidak beriman kepada nabi dan rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala pernah menjanjikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya,

وَأُعْطِيتُ كَنْزَيْنِ الْأَحْمَرَ وَالْأَبْيَضَ

Dan aku diberi Allah Subhanahu wata’ala dua perbendaharaan: Romawi dan Persia.”

Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam terbukti setelah wafat beliau. Negara adidaya yang kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala timpakan kehinaan kepada mereka. Ayat-ayat dan hadits-hadits di atas cukup menjadi peringatan bagi mereka yang masih memiliki kalbu untuk segera menaati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendorongnya untuk mengagungkan sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam serta tidak meremehkannya. Sahabat Salamah bin al-Akwa radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, suatu saat ada seorang lelaki makan di dekat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tangan kirinya. Beliau bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu!” “Aku tidak bisa.” Demikian sang lelaki menimpali. Rasul pun bersabda,

لاَ اسْتَطَعْتَ، مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ

Engkau benar-benar tidak bisa! Tidak ada yang menghalanginya selain kesombongan.

Subhanallah, seketika itu sang pemuda tidak bisa mengangkat tangan kanannya! Lumpuh! Kisah ini diriwayatkan al- Imam Muslim rahimahullah dalam Shahih-nya no. 2021. Tidakkah kalian berhenti wahai pendurhaka Nabi, wahai musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala? Wahai orang-orang kafir, wahai para penghina nabi dan rasul, ingatlah apa yang menimpa teman dan saudara kalian yang menentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sungguh, kehancuran kalian telah dekat, jika kalian tidak segera bertobat dan memeluk Islam. Pedihnya azab pasti melingkupi jika mulut-mulut kotor dan hati yang dipenuhi hasad kepada nabi dan rasul tidak segera dibersihkan. Demikian pula kalian, wahai Syiah Rafidhah, saudara Yahudi dan Nasrani, tidakkah kalian berhenti mencela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya?! Nantikan azab Allah Subhanahu wata’ala atas kalian,

وَلَقَدِ اسْتُهْزِئَ بِرُسُلٍ مِّن قَبْلِكَ فَأَمْلَيْتُ لِلَّذِينَ كَفَرُوا ثُمَّ أَخَذْتُهُمْ ۖ فَكَيْفَ كَانَ عِقَابِ

Dan sesungguhnya telah diperolokolokkan beberapa rasul sebelum kamu, maka Aku beri tangguh kepada orangorang kafir itu kemudian Aku binasakan mereka. Alangkah hebatnya siksaan-Ku itu! (ar-Rad: 32)

Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga, dan para sahabat beliau. Walhamdulillah Rabbil alamin

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Tanya Jawab Ringkas Edisi 90

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Hidayah setelah Futur (Kejenuhan)

Bagaimana cara untuk mendapatkan hidayah setelah futur? 085750XXXXXX

Dengan mengobati futurnya, caranya: bermajelis dengan orang saleh, curhat kepada orang yang berilmu, meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan dia futur, membaca sejarah hidup Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para salaf. Jika mulai semangat, segera perbanyak zikir dan membaca al-Quran dengan tadabur. Waffaqakumullah.

_______________________________________________________________________________________

Belajar dari Orang yang Belum Jelas Akidahnya

Apakah boleh kita mengambil ilmu dari orang yang belum jelas akidahnya, tetapi mengikuti sunnah?

085654XXXXXX

Belajar ilmu agama tidak boleh serampangan, karena yang dikorbankan adalah prinsip agama kita. Belajar agama harus kepada ahlinya yang jelas keilmuan, akidah, manhaj, akhlak, dan adabnya; jangan kepada hizbiyin, orang yang berakhlak jelek, atau yang tidak jelas manhaj serta akidahnya.

______________________________________________________________________________________

Dana untuk Makanan setelah Seseorang Meninggal

Bagaimanakah hukumnya jika seorang ayah meninggal kemudian salah seorang anaknya mengeluarkan dana untuk membuat makanan yang dibagikan kepada keluarga, baik yang jauh maupun dekat? 085297XXXXXX

Kalau membuat makanan dalam rangka sedekah atau memuliakan tamu jauh, tidak masalah. Kalau untuk acara takziyah atau semisal, tidak boleh, bahkan termasuk bidah.

_______________________________________________________________________________________

Doa Iftitah

Apakah boleh kita membaca doa iftitah, Allahu akbar kabiran walhamdulillahi bukratan wa ashila? 085247XXXXXX

Itu termasuk doa iftitah yang diperbolehkan. Silakan lihat kitab Sifat Shalat Nabi karya asy-Syaikh al-Albani.

_______________________________________________________________________________________

Mengikat Rambut di Luar Shalat

Apa hukumnya seorang laki-laki mengikat rambutnya di luar shalat? 085399XXXXXX

Tindakan tersebut tasyabuh (menyerupai) wanita baik di dalam maupun di luar shalat.

_______________________________________________________________________________________

Ulama yang Tidak Menikah

Jika ada beberapa ulama (al-Imam an-Nawawi, Ibnu Taimiyah, dll.) tidak menikah, apakah mereka menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam? 08573XXXXX

Sebagian ulama tidak menikah bukan karena membenci sunnah, melainkan alasan lain, seperti tidak sempat menikah, wafat pada usia muda, sibuk dengan ilmu dan dakwah, atau kehidupannya keluar masuk penjara karena penguasa zalim/makar musuh dakwah.

_______________________________________________________________________________________

Keraguan dalam Beribadah

Bagaimana solusi bagi orang yang sering ragu dalam melakukan suatu amalan? Misal ragu jumlah membasuh telinga saat wudhu, ragu pakaian yang terkena najis. 085242XXXXXX

Keraguan diobati dengan cara dilawan. Tanamkan dalam hati bahwa yang dilakukan adalah benar dan tidak perlu diulang. Segala keraguan yang muncul setelah itu jangan dipercaya. Memang perlu perjuangan untuk menghilangkannya. Namun, kalau sudah berhasil sekali, insya Allah yang setelahnya lebih mudah. Intinya beramal dengan ilmu, jangan hiraukan semua sikap waswas. Yassarallahu umurakum.

_______________________________________________________________________________________

Majalah=Bid’ah?

Apakah majalah Asy-Syariah termasuk bid’ah? Karena pada zaman salaf tidak ada yang seperti itu?

085646XXXXXX

Dakwah Islam dikembangkan dan disiarkan dengan beragam cara yang tidak keluar dari batasan syariat; bisa dengan ceramah, dialog, khutbah, dan bisa dengan tulisan lewat karya tulis, majalah, buletin, jurnal, surat dll, bahkan bisa dengan fisik melalui jihad fi sabilillah. Fatwa ulama kibar sekarang seperti Ibnu Baz, al-Fauzan, al-Madkhali, dll menganggap majalah sebagai wasilah dakwah.

______________________________________________________________________________________

Membaca Al-Qur’an untuk Tujuan Tertentu

Bagaimana hukumnya membaca salah satu surat tertentu di dalam al- Qur’an yang dilakukan selama waktu tertentu untuk maksud tertentu pula? 085232XXXXXX

Jika amalan tersebut ada nash atau amalan salaf yang mencontohkan, diperbolehkan. Termasuk kaidah untuk mengenali bidah adalah mengamalkan amalan tertentu, pada waktu tertentu, dengan jumlah tertentu, atau maksud tertentu, tanpa ada contoh dalam syariat.

_______________________________________________________________________________________

Bermasyarakat di Lingkungan yang Kurang Baik

Di lingkungan kami, hanya saya dan suami yang bermanhaj salaf, sedangkan kami pendatang. Banyak yang memandang aneh pakaian yang saya kenakan. Di antara mereka ada yang sengaja menggunjing dan menyebarluaskan sehingga kami terkesan buruk, bahkan ada yang tak mau bertegur sapa. Dosakah jika kami mendiamkannya? Jika ada musibah (kematian) di kampung, bolehkah hanya suami saja yang bertakziyah karena saya takut dengan fitnah sebagai wanita bercadar? 085735XXXXXX

Inilah konsekuensi berpegang dengan sunnah di tengah masyarakat yang jauh dari bimbingan sunnah. Solusinya bukan dengan cara melawan mereka dengan kekerasan, melainkan dengan akhlak mulia dan kasih sayang. Sikapi mereka dengan ucapan salam, memberi hadiah, jenguk yang sakit, dll. Bermasyarakatlah dengan baik dalam hal yang maruf, insya Allah, lambat laun mereka akan melunak. Memang butuh kesabaran, ketabahan, keteguhan. Perbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala.

______________________________________________________________________________________

Menjual Barang yang Terdapat Gambar Makhluk Bernyawa

Bolehkah menjual pakaian anak yang bergambar kartun/makhluk bernyawa? Sebab, hampir semua perlengkapan anak dan bayi terdapat gambar. 083843XXXXXX

Bagaimana hukum menjual shampo, sabun mandi, dll., yang ada gambar makhluk bernyawa dalam sebuah warung atau rumah? 087811XXXXXX

Kalau yang dituju dari akad jual belinya adalah gambar bernyawa, tidak boleh. Kalau gambar selain itu, tidak masalah. Jika yang dimaksud dengan akadnya adalah hal lain yang mubah tetapi terdapat gambar padanya, hal ini boleh dan gambarnya dihilangkan.

_____________________________________________________________________________________

Hak Asuh Anak Pascacerai

Jika mantan istri menikah lagi, siapa yang berhak mengasuh anak? Bagaimana jika anak masih berusia balita atau masih menyusu? 083865XXXXXX

Jika pasutri cerai, hak asuh anak balita ada di tangan istri selama belum menikah lagi. Jika sudah menikah, hak asuh jatuh ke tangan suami. Adapun anak yang sudah baligh, ia berhak memilih antara ayah dan ibunya.

_______________________________________________________________________________________

Maksiat Saat Ibadah

Bagaimana status ibadah (terutama sunnah) yang kita lakukan dalam kondisi kita juga terjatuh dalam maksiat? Misal, kita melakukan puasa sunnah, sedangkan di tempat kerja kita terjadi ikhtilath (seperti di pasar). 087757XXXXXX

Selama ibadah yang kita lakukan tidak batal oleh salah satu pembatalnya, sah walau ada unsur maksiatnya, hanya saja berkurang pahalanya. Berbeda halnya kalau maksiat tersebut termasuk pembatal ibadah, seperti riya.

_______________________________________________________________________________________

Wali Nikah Laki-Laki

Dalam pernikahan, apakah laki-laki boleh menjadi walinya sendiri meskipun adik laki-lakinya mau menjadi walinya? 02140XXXXXX

Laki-laki tidak membutuhkan wali dalam pernikahan, yang membutuhkan adalah wanita. Wali wanita dari wali nasab; apabila tidak ada, dari wali hakim.

_______________________________________________________________________________________

Shalat Rawatib Sebelum Masuk Waktu

Bolehkah shalat rawatib sebelum masuk waktu shalat fardhu? 085810XXXXXX

Jelas tidak boleh, shalat rawatib mengikuti shalat fardhu dalam hal waktu.

_______________________________________________________________________________________

Nazhor via Webcam

Bagaimana hukum nazhor melalui webcam? 089630XXXXXX

Proses nazhor melalui webcam lebih baik ditinggalkan, karena khawatir disalahgunakan sehingga menimbulkan musibah. Saat nazhor, pihak wanita harus ditemani oleh walinya dan dengan izin wali.

Rasul Allah, Sang Penegak Hujah

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

(Mereka kami utus) selaku rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 165)

Tafsir Ayat

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ

Rasul-rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Ayat Allah Subhanahu wata’ala ini menerangkan tentang tugas yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada para rasul-Nya. Mereka adalah pembawa risalah yang haq dari Allah Subhanahu wata’ala untuk disampaikan kepada umatnya, sekaligus sebagai penegak hujah atas mereka, sehingga manusia kembali kepada jalan Allah Subhanahu wata’ala dan bimbingan-Nya. Agar mereka merasakan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat, yang itu merupakan suatu kegembiraan yang tiada akhir. Sebaliknya, mereka yang menyelisihi dan menentang para rasul-Nya, berhak mendapatkan peringatan dan ancaman berupa siksaan yang dahsyat. Mereka adalah yang telah sampai kepadanya hujah/risalah, namun enggan mengikuti petunjuk dan bimbingan rasul-Nya. Al- Allamah as-Sa’di rahimahullah berkata dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menjelaskan ayat ini, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus mereka sebagai pembawa berita gembira bagi yang taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mengikuti para rasul-Nya, berupa kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Sekaligus memberi peringatan kepada yang bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menyelisihi para rasul-Nya, berupa kesengsaraan hidup di dunia dan akhirat, agar manusia tidak lagi memiliki alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala setelah diutusnya para rasul. Agar mereka tidak lagi beralasan,

مَا جَاءَنَا مِن بَشِيرٍ وَلَا نَذِيرٍ ۖ فَقَدْ جَاءَكُم بَشِيرٌ وَنَذِيرٌ ۗ

Tidak datang kepada kami pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Maka sungguh telah datang kepada kalian pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (al-Maidah: 19)

Jadi, makhluk tidak lagi memiliki hujah dan alasan di hadapan Allah Subhanahu wata’ala dengan diutusnya para rasul secara berturut-turut, yang menjelaskan kepada mereka tentang perkara agamanya, apa saja yang diridhai dan yang dimurkai-Nya, serta menjelaskan jalan-jalan surga dan juga jalan-jalan neraka. Maka barang siapa yang kafir setelah itu, maka jangan dia mencela kecuali dirinya sendiri.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Jalan Kebenaran Hanya Melalui Rasul Allah Subhanahu wata’ala

Ayat yang mulia ini menerangkan bahwa para rasul merupakan perantara antara Allah Subhanahu wata’ala  dengan hamba-hamba- Nya dalam menyampaikan hukumhukum- Nya, sehingga bagi yang taat akan mendapatkan kabar gembira berupa kenikmatan dan kebahagiaan yang kekal abadi di dalam surga-Nya, yang hanya ditinggali oleh hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala yang senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: para nabi, para shiddiqin, orangorang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (an-Nisa: 69)

Firman-Nya,

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul- Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedangkan mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (an-Nisa:13)

Firman-Nya pula,

وَلَقَدْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَبَعَثْنَا مِنْهُمُ اثْنَيْ عَشَرَ نَقِيبًا ۖ وَقَالَ اللَّهُ إِنِّي مَعَكُمْ ۖ لَئِنْ أَقَمْتُمُ الصَّلَاةَ وَآتَيْتُمُ الزَّكَاةَ وَآمَنتُم بِرُسُلِي وَعَزَّرْتُمُوهُمْ وَأَقْرَضْتُمُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا لَّأُكَفِّرَنَّ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَلَأُدْخِلَنَّكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۚ فَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ مِنكُمْ فَقَدْ ضَلَّ سَوَاءَ السَّبِيلِ

Dan sesungguhnya Allah telah mengambil perjanjian (dari) bani Israil dan telah Kami angkat di antara mereka dua belas orang pemimpin dan Allah berfirman, Sesungguhnya Aku beserta kamu, sesungguhnya jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat  serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik sesungguhnya Aku akan menghapus dosa-dosamu. Sesungguhnya kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai. Barang siapa kafir di antaramu sesudah itu, sungguh ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (al-Maidah: 12)

Masih banyak ayat yang semakna dengan ayat-ayat ini. Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Sa’d bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu pernah berkata, “Demi Allah, kalau seandainya aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku akan memenggalnya dengan ketajaman pedang ini.”

Ucapan ini sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau bersabda,

تَعْجَبُونَ مِنْ غَيْرَةِ سَعْدٍ؟ وَاللهِ لَأَنَا أَغْيَرُ مِنْهُ، وَاللهُ أَغْيَرُ مِنِّي، وَمِنْ أَجْلِ غَيْرَةِ اللهِ حَرَّمَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَلاَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْعُذْرُ مِنَ اللهِ، وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ بَعَثَ الْمُبَشِّرِينَ وَالْمُنْذِرِينَ وَ أَحَدَ أَحَبُّ إِلَيْهِ الْمِدْحَةُ مِنَ اللهِ وَمِنْ أَجْلِ ذَلِكَ وَعَدَ اللهُ الْجَنَّةَ

Kalian merasa heran dengan kecemburuan Sad? Demi Allah, aku lebih cemburu darinya, dan Allah Subhanahu wata’ala lebih cemburu dariku. Karena kecemburuan Allah Subhanahu wata’ala, Dia mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi. Tiada satu pun yang lebih senang menerima uzur dari Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia mengutus para pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan tidak satu pun yang paling menyenangi pujian dari Allah Subhanahu wata’ala, karena itulah Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan bagi mereka surga. (Muttafaq Alaihi dari Mughirah radhiyallahu ‘anhu)

Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan. Mereka bertanya, Siapa yang enggan, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Barang siapa taat kepadaku maka dia pasti masuk surga, dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku maka dialah yang enggan. (HR. al- Bukhari no. 6851)

Diriwayatkan pula dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلاَ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari kalangan umat ini, apakah dia Yahudi atau Nasrani, yang telah mendengar tentangku, lalu dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku diutus dengannya, melainkan dia termasuk penghuni neraka. (HR. Muslim, no. 153)

Masih banyak lagi dalil yang menjelaskan tentang masalah ini. Jadi, jelas bagi kita, hidayah dan jalan yang benar hanyalah dapat ditempuh melalui jalan para rasul yang diutus Allah Subhanahu wata’ala kepada umatnya. Barang siapa menyangka bahwa ada jalan lain yang dapat mengantarkan kepada surga selain Rasul Allah Subhanahu wata’ala, sungguh dia telah sesat dan keluar dari Islam, berdasarkan dalildalil yang telah kita sebutkan.

Al-Allamah Muhammad al-Amin asy-Syinqithi rahimahullah menegaskan, “Tidaklah diragukan bagi orang yang memiliki pengetahuan dalam Islam bahwa tidak ada jalan yang dengannya dapat diketahui perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala dan larangan- Nya, segala hal yang mendekatkan diri kepada-Nya, baik dalam melakukan sesuatu ataupun meninggalkannya, melainkan harus melalui jalan wahyu. Barang siapa menyangka bahwa untuk sampai kepada amalan yang diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala tidak perlu melalui jalan para rasul dan risalah yang mereka bawa, meskipun dalam satu masalah, tidak diragukan lagi bahwa dia seorang zindiq. Ayat-ayat dan hadits sangat banyak menjelaskan hal ini. Di antaranya,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

رُّسُلًا مُّبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ ۚ

(Mereka kami utus) selaku rasulrasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. (an-Nisa: 165)

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Beliau melanjutkan, “Dengan ini engkau mengetahui bahwa apa yang disangka oleh kebanyakan orang jahil yang mengikuti tasawuf bahwa mereka dan syaikh-syaikh mereka memiliki “jalan batin” yang sejalan dengan kebenaran di sisi Allah Subhanahu wata’ala, meskipun menyelisihi yang zahir dari syariat. Seperti berbedanya apa yang dilakukan oleh Khadir ‘Alaihissalam terhadap ilmu zahir yang dimiliki Musa ‘Alaihissalam. Ini adalah perbuatan zindiq yang dapat menjerumuskan kepada kemurtadan secara menyeluruh dari agama Islam dengan alasan bahwa kebenarannya ada dalam ilmu batin yang menyelisihi ilmu zahir. (Adhwaul Bayan, asy-Syinqithi, 3/ 324)

Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan, “Berkata syaikh kami, Abul Abbas, ada satu kaum dari kalangan zindiq batiniyah yang menempuh cara tertentu dalam menetapkan hukum syar’i. Mereka berkata, ‘Hukum-hukum syar’i ini hanya diterapkan kepada para nabi dan masyarakat umum. Adapun para wali dan orang-orang khusus, mereka tidak butuh kepada nash-nash tersebut, namun cukup bagi mereka sesuatu yang terbetik di dalam hati mereka yang berupa persangkaan kuat yang ada di dalam benak mereka.’ Mereka juga berkata, ‘Hal itu disebabkan karena bersihnya hati mereka dari berbagai kotoran dan perubahan (fitrah) sehingga menyebabkan ilmuilmu ilahiyah hakikat Rabbaniyah tersingkap oleh mereka, sehingga mereka mengetahui rahasia-rahasia alam dan mengerti hukum-hukum secara terperinci, sehingga mereka tidak membutuhkan hukum-hukum syariat secara menyeluruh. Sebagaimana halnya Khadir, yang dia merasa tidak memerlukan yang zahir dari ilmu yang dimiliki oleh Musa berupa pemahaman-pemahaman, dan telah datang riwayat yang mereka nukilkan:

اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُونَ

Mintalah fatwa kepada hatimu meskipun para mufti memberi fatwa kepadamu.

Lalu berkata Syaikh kami, ‘Ini adalah ucapan zindiq dan kekufuran, dibunuh orang yang mengucapkannya dan tidak diminta bertobat, sebab dia mengingkari syariat yang diketahui secara pasti. Sebab, Allah Subhanahu wata’ala telah menetapkan sunnah- Nya dan menjalankan kebijakan-Nya, bahwa hukum-hukum-Nya tidak dapat diketahui melainkan melalui para rasul- Nya yang menjadi perantara antara Dia dan makhluk-Nya. Merekalah yang menyampaikan dari Allah Subhanahu wata’ala risalah dan wahyu-Nya yang menerangkan tentang syariat dan hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’ala telah memilih dan memberi keistimewaan kepada mereka, sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا وَمِنَ النَّاسِ

Allah memilih utusan-utusan (Nya) dari malaikat dan dari manusia. (al- Hajj: 75)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

اللَّهُ أَعْلَمُ حَيْثُ يَجْعَلُ رِسَالَتَهُ

Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan. (al-Anam: 124)

Firman-Nya,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ

Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. (al-Baqarah: 213)

Dan ayat-ayat yang lainnya. Kesimpulannya, menjadi sebuah ilmu yang pasti dan keyakinan yang jelas, demikian pula kesepakatan para ulama salaf dan khalaf, tidak ada jalan untuk memahami hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala yang seluruhnya kembali kepada perintah dan larangan-Nya, tiada satu pun dapat diketahui darinya, kecuali melalui jalan para rasul. Jadi, barang siapa menyatakan bahwa ada sebuah metode alternatif yang dengannya dapat mengetahui perintah dan larangan-Nya selain dari para rasul, sehingga dia tidak merasa membutuhkan para rasul, sungguh dia telah kafir dan boleh dibunuh—oleh pemerintah muslim. Tidak perlu pula dimintai bertobat dan diskusi. Ditambah lagi, ucapan ini sama dengan menetapkan adanya nabi setelah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah Allah Subhanahu wata’ala jadikan beliau sebagai penutup para nabi dan rasul, tidak ada nabi dan rasul setelahnya. Penjelasan tentang hal ini, bahwa orang yang berkata bahwa dia mengambil wahyu melalui hatinya, dan apa yang terbetik di dalam hatinya; itulah hukum Allah Subhanahu wata’ala sehingga dia beramal sesuai sesuai petunjuk hatinya, tidak butuh kepada kitab Allah Subhanahu wata’ala dan juga sunnah; maka sungguh dia telah menetapkan dirinya memiliki sifat kenabian, ini seperti halnya yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ رُوحَ الْقُدُسِ نَفَثَ فِي رَوْعِي

Sesungguhnya ruhul qudus (Jibril ‘Alaihissalam) telah meniupkan ke dalam sanubariku. (HR. Ibnu Abi Syaibah, 7/79, dari Abdullah bin Mas’ud z) (Tafsir Al-Qurthubi, 11/40—41)

Tiada Siksaan Tanpa Ditegakkan Hujah Risalah

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَى اللَّهِ حُجَّةٌ بَعْدَ الرُّسُلِ

 Agar tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu.

Ayat ini menerangkan bahwa Allah Subhanahu wata’ala mengutus rasul-Nya untuk membawa hujah yang akan ditegakkan kepada setiap hamba-Nya, agar siapa di antara mereka yang taat mendapatkan kebahagian hidup di dunia dan akhirat, serta siapa di antara mereka yang bermaksiat maka Allah Subhanahu wata’ala berhak menyiksa mereka untuk menegakkan keadilan-Nya. Di dalam ayat yang lain, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا

Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (al- Isra: 15)

Demikian pula firman-Nya,

ذَٰلِكَ أَن لَّمْ يَكُن رَّبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا غَافِلُونَ

Hal itu adalah karena Rabbmu tidaklah membinasakan kota-kota secara aniaya, sedangkan penduduknya dalam keadaan lengah. (al-Anam: 131)

Asy-Syinqithi rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Makna ayat ini bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan satu kaum dalam keadaan mereka lalai tanpa memberi peringatan kepada mereka, bahkan Allah Subhanahu wata’ala tidak membinasakan seorang pun melainkan setelah menghilangkan uzur bagi mereka dan setelah mendapatkan peringatan melalui lisan para rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Adhwaul Bayan, 1/493) Di dalam ayat ini, tidak disebutkan hujah apa yang disampaikan oleh para rasul kepada mereka, namun dijelaskan di dalam ayat yang lain bahwa hujah yang dimaksud adalah ayat-ayat Allah Subhanahu wata’ala. Firman-Nya,

وَلَوْ أَنَّا أَهْلَكْنَاهُم بِعَذَابٍ مِّن قَبْلِهِ لَقَالُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ مِن قَبْلِ أَن نَّذِلَّ وَنَخْزَىٰ

Dan sekiranya Kami binasakan mereka dengan suatu azab sebelum al- Quran itu (diturunkan), tentulah mereka berkata, Ya Rabb kami, mengapa tidak Engkau utus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau sebelum kami menjadi hina dan rendah? (Thaha: 134)

Juga firman-Nya,

وَلَوْلَا أَن تُصِيبَهُم مُّصِيبَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ فَيَقُولُوا رَبَّنَا لَوْلَا أَرْسَلْتَ إِلَيْنَا رَسُولًا فَنَتَّبِعَ آيَاتِكَ وَنَكُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Agar mereka tidak mengatakan ketika azab menimpa mereka disebabkan apa yang mereka kerjakan, Ya Rabb kami, mengapa Engkau tidak mengutus seorang rasul kepada kami, lalu kami mengikuti ayat-ayat Engkau dan jadilah kami termasuk orang-orang mukmin. (al-Qashash: 47)

Adapun firman-Nya,

وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Diutusnya para rasul ini menunjukkan kemuliaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebijaksanaan- Nya. Hal ini juga menunjukkan keutamaan dan kebaikan-Nya, di saat manusia sangat membutuhkan para nabi, lalu Allah Subhanahu wata’ala memberikan anugerah kepada mereka (yaitu dengan diutusnya para rasul). Bagi-Nya segala puji dan syukur.” (Taisir al-Karim ar-Rahman) Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Masuk Islamlah, Untukmu Dua Pahala

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ، وَلاَ نَصْرَانِيٌّ، ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ، إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

Demi Dzat, yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, tidak ada seorang pun dari umat ini, Yahudi atau Nasrani, yang mendengar tentang diriku lantas mati dalam keadaan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa, kecuali pasti ia termasuk penduduk neraka.

Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah di dalam Shahihnya (no. 153) dari gurunya, Yunus bin Abdil ‘A’la. Beliau berkata, “Ibnu Wahb telah mengabarkan kepada kami; ‘Amr mengabarkan bahwa Abu Yunus memperoleh hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.” Abu Yunus namanya Sulaim bin Jubair. Beliau adalah maula (mantan budak) Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Selain perawi di dalam Shahih Muslim, beliau juga perawi di dalam al-Adabul Mufrad karya al-Bukhari rahimahullah, Sunan Abu Dawud, dan Jami at-Tirmidzi. ‘Amr yang dimaksud di dalam sanad ini adalah ‘Amr bin al-Harits bin Ya’qub bin Abdillah al-Anshari, maula Qais, Abu Umayyah. Beliau termasuk dalam jajaran perawi di dalam kutubus sittah. Ibnu Wahb adalah Abdullah bin Wahb bin Muslim al-Qurasyi, maula Quraisy. Abu Muhammad al-Mishri al-Faqih. Beliau termasuk perawi di dalam kutubus sittah. Yunus bin ‘Abdil ‘A’la bin Maisarah bin Hafs ash-Shadafi. Selain al-Imam Muslim rahimahullah, an-Nasa’i dan Ibnu Majah rahimahumallah juga menyebutkan beliau sebagai perawi di dalam Sunan.

Kedudukan Hadits di dalam Islam

Asy – Syaikh al – Albani rahimahullah memberikan penjelasan mengenai hadits di atas yang diriwayatkan melalui jalur lain (Ibnu Mandah, 1/44), “Hadits ini begitu jelasnya menerangkan; siapa pun orangnya, ia mendengar tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan risalah yang beliau bawa, sampai kepadanya sesuai dengan yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, neraka adalah tempat kembalinya. Dalam hal ini, tidak ada bedanya antara Yahudi, Nasrani, Majusi, atau pemeluk agama lain. Saya yakin, andai saja ada kesempatan bagi orang-orang kafir untuk menelaah prinsip pokok, akidah, dan ibadah yang diajarkan oleh Islam, niscaya banyak di antara mereka yang bergegas memeluk Islam dengan berbondong-bondong.

Hal ini sebagaimana yang telah terjadi di awal sejarah Islam. Duhai indah rasanya, jika negaranegara Islam mau mengirimkan juru dakwah yang menyerukan Islam ke negara-negara Barat. Yang dimaksud ialah juru dakwah yang benar-benar mengerti tentang hakikat Islam dan hal-hal lain yang dianggap sebagai bagian dari Islam (padahal bukan), seperti berbagai khurafat, bidah, dan kedustaan. Hal ini tentu sangat baik jika disampaikan kepada madu. Agenda semacam ini membutuhkan seorang juru dakwah yang menguasai ilmu al-Qur’an, sunnah yang sahih, dan beberapa bahasa asing secara baik. Hal ini adalah sesuatu yang cukup sulit, hampir-hampir tidak dapat dipenuhi. Jadi, cita-cita ini memang menuntut banyak persiapan yang berat. Mudahmudahan mereka mau melakukannya.” (ash-Shahihah, 1/241) Benar sekali harapan asy-Syaikh al-Albani rahimahullah.

Ibnu Katsir rahimahullah meriwayatkan sebuah atsar, “Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu menunjuk Ibnu Abbas c sebagai pengganti untuk Amirul Haj pada musim haji. Saat itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkesempatan untuk menyampaikan khutbah. Di dalam khutbah tersebut, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma membaca surat al-Baqarah (dalam riwayat lain, surat an-Nur) lalu menafsirkannya dengan seindahindahnya. Andai saja tafsir itu didengar oleh orang-orang Romawi, Turki, dan Dailam (sebuah kota di wilayah Persia, dekat Laut Kaspia), pasti mereka masuk Islam.” (Tafsir ath-Thabari [1/81], al- Fasawi dalam Tarikh [1/495])

Mereka Pun Masuk Islam

Demikianlah, sejarah telah mencatat dengan apik dan indah tentang kisah masuk islamnya orang-orang Yahudi dan Nasrani. Yakni, mereka yang memperoleh hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala. Sebab, di dalam Taurat dan Injil yang asli, terdapat ayat-ayat yang memberitakan tentang kedatangan nabi terakhir, nabi penutup. Ciri-ciri tentang nabi tersebut disebutkan secara lengkap di dalam Taurat dan Injil. Begitu lengkapnya, sampai Allah Subhanahu wata’ala menggambarkan tentang pengetahuan mereka sebagaimana mereka mengenal anak kandungnya sendiri. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ ۖ وَإِنَّ فَرِيقًا مِّنْهُمْ لَيَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ

Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui. (al-Baqarah: 146)

Di dalam kisah perjalanan Salman al-Farisi radhiyallahu ‘anhu untuk menjemput hidayah, pendeta Nasrani terakhir yang diangkat Salman sebagai guru juga berpesan dalam wasiatnya,

أَيْ بُنَيَّ، وَاللهِ مَا أَعْلَمُهُ أَصْبَحَ عَلَى مَا كُنَّا عَلَيْهِ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ آمُرُكَ أَنْ تَأْتِيَهُ، وَلَكِنَّهُ قَدْ أَظَلَّكَ زَمَانُ نَبِيٍّ هُوَ مَبْعُوثٌ بِدِينِ إِبْرَاهِيمَ يَخْرُجُ بِأَرْضِ الْعَرَبِ مُهَاجِرًا إِلَى أَرْضٍ بَيْنَ حَرَّتَيْنِ بَيْنَهُمَا نَخْلٌ، بِهِ عَلَامَاتٌ لَا تَخْفَى يَأْكُلُ الْهَدِيَّةَ وَلَا يَأْكُلُ الصَّدَقَةَ، بَيْنَ كَتِفَيْهِ خَاتَمُ النُّبُوَّةِ، فَإِنْ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَلْحَقَ بِتِلْكَ الْبِلَادِ فَافْعَلْ

Wahai anakku, demi Allah, tidak ada lagi satu orang pun tersisa yang melaksanakan ajaran Nasrani secara murni sehingga aku bisa menyuruhmu ke sana. Akan tetapi, telah dekat denganmu diutusnya seorang nabi yang membawa ajaran seperti ajaran Ibrahim. Nabi tersebut akan muncul dari tanah Arab. Ia akan berhijrah menuju sebuah negeri yang terletak di antara dua gugusan gunung yang dipenuhi dengan kebun-kebun kurma. Nabi tersebut memiliki ciri-ciri yang tidak tersembunyi; mau memakan hadiah, tidak memakan sedekah, dan ada cap kenabian di antara dua pundaknya. Jika engkau mampu untuk berangkat menuju negeri tersebut, lakukanlah! (HR. Ahmad [5/441—444])

Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat Nabi n. Dahulu, beliau termasuk pendeta dan ahli agama di kalangan Yahudi yang sangat dihormati dan disegani. Pada saat Rasulullah tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu sangat berbahagia. Sebab, kedatangan nabi terakhir itu telah diberitakan di dalam Taurat. Namun, untuk memastikannya, Abdullah bin Salam terlebih dahulu menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara langsung dan ingin mengajukan beberapa pertanyaan. Sebab, hanya benar-benar seorang nabi yang mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Al – Imam al – Bukhari rahimahullah meriwayatkan di dalam Shahih-nya (no. 3082) dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam baru tiba di kota Madinah, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu segera datang menemui. Ia menyampaikan,

إِنِّي سَائِلُكَ عَنْ ثَلَاثٍ لَا يَعْلَمُهُنَّ إِلَّا نَبِيٌّ قَالَ: مَا أَوَّلُ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ، وَمَا أَوَّلُ طَعَامٍ يَأْكُلُهُ أَهْلُ الْجَنَّةِ، وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ الْوَلَدُ إِلَى أَبِيهِ وَمِنْ أَيِّ شَيْءٍ يَنْزِعُ إِلَى أَخْوَالِهِ؟

Sungguh, aku ingin bertanya kepadamu tentang tiga hal. Tidak ada yang mengetahuinya kecuali nabi saja. Apakah tanda pertama hari kiamat, apakah makanan pertama yang disantap penduduk surga, dan bagaimanakah proses kemiripan seorang anak kepada ayahnya atau keluarga ibunya?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Setelah selesai menjawab, Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu lantas mengucapkan kalimat syahadat. Subhanallah! Demikianlah keimanan yang dibangun di atas fondasi kejujuran. Tidak ada gengsi dan tidak mengenal malu atau takut.

Keimanan Musa dan Isa e kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Seluruh nabi dan rasul diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk membela, menolong, dan membenarkan syariat yang diemban oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala telah mengambil sumpah dan perjanjian dari seluruh nabi dan rasul. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ

(Ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan bersungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya. Allah berfirman, Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu? Mereka menjawab, Kami mengakui. Allah berfirman, Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. (Ali Imran: 81)

Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menerangkan di dalam Tafsir-nya, “Dengan demikian, telah diketahui bahwa Muhammad n adalah penutup para nabi. Seandainya seluruh nabi bertemu dengan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka diwajibkan untuk beriman kepada beliau, mengikuti, dan membelanya. Jadi, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah imam, pemimpin, dan panutan mereka.”  Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah marah saat melihat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu membawa selembar kertas Taurat. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَفِيْ شَكٍّ أَنْتَ يَا ابْنَ الخَطَّابِ؟ أَلَمْ آتِnبِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً؟ لَوْ كَانَ أَخِيْ مُوْسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِيْ

Apakah engkau sedang mengalami keraguan, wahai putra al-Khaththab? Bukankah yang aku bawa adalah ajaran yang putih bersih? Seandainya saudaraku Musa masih hidup, tentu ia tidak diperkenankan kecuali memang harus mengikutiku! ( HR. Ahmad [3/387] dengan sanad yang hasan, Irwaul Ghalil no. 1589)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah membuat sebuah judul di dalam Shahih Muslim bab “Turunnya Isa bin Maryam dengan Berhukum Berdasarkan Syariat Nabi Kita Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam”. Setelah itu, al-Imam Muslim rahimahullah menyebutkan beberapa hadits tentang hal-hal yang akan dilakukan oleh Nabi Isa ‘Alaihisslam di akhir zaman. Di antaranya, mematahkan salib, membunuh anjing, menghapuskan jizyah, dan bentuk-bentuk keadilan lainnya. Bahkan, sebagai bukti keutuhan janji Nabi Isa bin Maryam ‘Alaihisslam kepada Allah Subhanahu wata’ala, saat shalat akan ditegakkan, pemimpin kaum muslimin meminta kepada Nabi Isa ‘Alaihisslam untuk menjadi imam. Namun, beliau menolak dan meminta agar dari mereka saja yang menjadi imam shalat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَيْفَ أَنْتُمْ إِذَا نَزَلَ ابْنُ مَرْيَمَ فِيكُمْ وَإِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Bagaimanakah keadaan kalian, ketika Ibnu Maryam turun sementara imam shalat berasal dari kalian? (HR. al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Dua Pahala Untuk Mereka

Sungguh demi Allah Subhanahu wata’ala, Islam sangat menghargai dan memberikan apresiasi tinggi kepada seorang pemeluk agama ahli kitab yang kemudian beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan memeluk Islam. Allah Subhanahu wata’ala menjanjikan dua pahala untuknya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda di dalam hadits Abu Musa radhiyallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari dan Muslim,

ثَلَاثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ؛ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ فَآمَنَ بِهِ الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَّاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

Ada tiga jenis hamba yang akan diberi dua pahala: (1) Seorang pemeluk ahli kitab, ia beriman kepada nabinya lalu menemui Nabi Muhammad dan beriman kepada beliau, mengikuti dan membenarkannya, maka ia beroleh dua pahala; (2) Seorang hamba sahaya yang menunaikan hak Allah Subhanahu wata’ala dan majikannya, ia pun beroleh dua pahala; (3) Seorang hamba yang memiliki budak perempuan, ia memberikan makanan dengan baik dan mendidiknya dengan adab yang baik setelah itu ia nikahi, orang seperti ini pun mendapat dua pahala.

Lebih Mahal Daripada Unta Merah

Pembahasan di atas dapat disimpulkan menjadi beberapa poin besar:

1. Islam adalah agama terakhir yang diturunkan Allah Subhanahu wata’alauntuk umat manusia. Karena tu, setelah datangnya Islam, agama-agama samawi sebelumnya pun otomatis terhapus dan gugur.

2. Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah Subhanahu wata’ala.

3. Seluruh nabi dan rasul diharuskan oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk beriman, mengikuti dan membela Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

4. Setiap pemeluk ahli kitab yang beriman dan masuk Islam, maka ia akan beroleh pahala sebanyak dua kali.

5. Keutamaan mendakwahi pemeluk ahli kitab dan pemeluk agama lainnya. Namun, untuk mendakwahi mereka diperlukan bekal yang cukup dan matang dari segala segi dan sisi. Adapun metode, cara, dan bekal untuk mendakwahi mereka telah dijelaskan ulama secara lengkap. Oleh sebab itu, marilah kita bersungguh-sungguh mempelajari agama Islam dengan baik dan berusaha

mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya, kita dapat mendakwahkannya kepada orang lain. Ingat-ingatlah selalu sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim dari sahabat Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu,

فَوَاللهِ لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلًا وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

Demi Allah, Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada seseorang melalui sebab dirimu, lebih baik untukmu dibandingkan unta merah. Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Mereka Adalah Suri Teladan Kita

Kisah-kisah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah salah satu sumber pelajaran yang sangat berharga dan mulia bagi siapa saja yang mau mengambil manfaat. Allah Subhanahu wata’ala sering mengulang-ulang kisah mereka ‘Alaihissalam di dalam kitab-Nya yang mulia, al-Qur’an al-Karim. Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah penciptaan manusia pertama kali yaitu Adam dan Hawa ‘Alaihissalam, serta perintah-Nya kepada para malaikat dan iblis untuk sujud kepada Adam?

Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah dakwah Nabi Nuh ‘Alaihissalam bersama keluarga dan kaumnya? Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan satu surat khusus tentang kisah dakwah beliau ‘Alaihissalam, yaitu surat Nuh. Berapa kali Allah Subhanahu wata’ala mengulangulang kisah dakwah bapak para nabi, Ibrahim ‘Alaihissalam, bersama bapaknya, Azar, Raja Namrud, dan kaumnya? Demikian pula kisah-kisah para nabi dan rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, Allah Subhanahu wata’ala mengulangulangnya di dalam al-Qur’anul Karim. Allah Yang Mahabijaksana melakukannya agar menjadi pelajaran dan peringatan bagi para hamba-Nya.

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitabkitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (Yusuf: 111)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Sungguh, dalam kisah-kisah para nabi ‘Alaihissalam bersama umat mereka ada berbagai pelajaran yang baik bagi orang-orang yang berakal. Dikisahkan di dalamnya orang yang baik dan buruk. Barang siapa melakukan seperti yang mereka perbuat, niscaya dia akan mendapatkan balasan sebagaimana yang mereka dapatkan, kemuliaan (bagi orang yang mengamalkan kebaikan) ataukah kehinaan (bagi orang yang mengamalkan kejelekan).

Mereka juga bisa mendapat pelajaran dari berbagai sifat Allah Subhanahu wata’ala yang sempurna dan hikmah yang agung; yang tidak sepantasnya ada yang diibadahi selain Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada sekutu bagi-Nya.” Berbagai hal gaib yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan kepada kita dalam al-Qur’an bukanlah berita yang mengada-ada atau dusta.

Al-Qur’an membenarkan berbagai hal yang disebutkan oleh kitabkitab sebelumnya; ia selaras sekaligus mempersaksikan kebenarannya. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala memerinci segala hal yang dibutuhkan oleh para hamba-Nya, baik masalah ushul (prinsip) maupun cabang. Dengan sebab al-Qur’an, mereka mendapatkan ilmu yang benar lantas lebih memilihnya sehingga akhirnya mendapat petunjuk dan rahmat-Nya. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Wajib untuk kita yakini bahwa pujian-pujian Allah Subhanahu wata’ala terhadap salah seorang makhluk- Nya tidak dimaksudkan agar pujian itu sampai kepada kita. Akan tetapi, yang dimaksudkan adalah dua hal penting berikut.

1. Kita mencintai hamba yang dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala tersebut, sebagaimana kita membenci makhluk yang dicela oleh Allah Subhanahu wata’ala. Kita mencintai Ibrahim ‘Alaihissalam karena beliau adalah seorang imam yang hanif, senantiasa taat kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan bukanlah golongan orang musyrik. Kita membenci kaumnya karena mereka adalah orang-orang sesat. Kita mencintai para malaikat walaupun mereka bukan golongan manusia karena mereka senantiasa melaksanakan perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala. Kita membenci setan karena ia durhaka kepada Allah Subhanahu wata’ala sekaligus menjadi musuh-Nya dan musuh kita. Demikian pula kita membenci para pengikut setan karena durhaka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mereka menjadi musuh Allah Subhanahu wata’ala serta musuh kita pula.

2. Kita meneladani sifat-sifat yang dipuji oleh Allah Subhanahu wata’ala yang menjadi sebab Dia Subhanahu wata’ala memujinya.

Dengan demikian, kita pun mendapatkan pujian dari Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kadar kita mencontohnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَىٰ وَلَٰكِن تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, serta sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. ( Yusuf: 111) (al-Qaulul Mufid ala Kitabit Tauhid, 1/94)

Di antara pelajaran yang sangat mulia dan berharga adalah akhlak luhur yang telah disebutkan contohnya oleh kitab- Nya atau sunnah Rasul-Nya. Berikut ini beberapa di antaranya.

 

Ikhlas dalam Berdakwah

Dalam surat asy-Syu’ara, Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan dakwah beberapa nabi kepada umat mereka, seperti Nuh, Hud, Shalih, Luth, dan Syu’aib yang menggambarkan keikhlasan dakwah para nabi r. Asy – Syaikh as-Sa’di rahimahullah menjelaskan tentang kisah dakwah nabi Hud ‘Alaihissalam kepada kaum ‘Ad di dalam tafsirnya, “Kabilah ‘Ad mendustakan seorang rasul yang diutus kepada mereka, Hud ‘Alaihissalam. Konsekuensinya, mereka mendustakan para rasul yang lainnya ‘Alaihissalam karena dakwahnya sama.

Tatkala saudara mereka, Hud ‘Alaihissalam, berkata dengan lemah lembut dan baik kepada, ‘Mengapa kalian tidak bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala sehingga meninggalkan syirik dan peribadahan yang ditujukan kepada selain-Nya? Sebab, aku adalah rasul yang tepercaya bagi kalian. Allah Subhanahu wata’ala mengutusku sebagai bukti kasih sayang dan perhatian-Nya kepada kalian. Aku adalah orang tepercaya yang kalian telah mengetahui hal itu. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Subhanahuwata’ala dan taatlah kepadaku.’ Maknanya ‘Tunaikanlah hak Allah Subhanahuwata’ala, yaitu takwa. Tunaikanlah hakku, yaitu menaatiku semua hal yang aku perintahkan dan yang aku larang. Jadi, ini mengharuskan kalian untuk mengikuti dan menaatiku’.

Tidak ada satu penghalang pun yang menghalangi kalian untuk beriman. Aku tidak meminta upah kepada kalian dengan dakwah dan nasihatku ini, yang kalau aku meminta upah tentu kalian berat menanggung utang. Hanya saja balasan (amalku ini) menjadi tanggungan Allah Rabbul alamin, Dzat yang memelihara mereka dengan nikmat-Nya, yang mencurahkan keutamaan serta kedermawanan-Nya kepada mereka, terkhusus para wali dan nabi.

 

Kasih Sayang Terhadap Umat

Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam kitab-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

Dan tiadalah Kami mengutusmu kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (al-Anbiya: 107)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya,

Permisalan antara aku dan kalian seperti seseorang yang menyalakan api (unggun di malam hari). Mulailah serangga dan kupu-kupu malam masuk ke dalam api. Padahal si pemilik api telah menghalaunya supaya tidak masuk ke dalamnya. Aku memegang pinggang-pinggang kalian agar tidak terjatuh ke dalam api. Namun, kalian berusaha lepas dari (pegangan) kedua tanganku.

Al – Imam Ibnu Katsir t menjelaskan, “Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai bukti kasih sayang (rahmat)-Nya kepada mereka semua. Siapa yang mau menerima rahmat ini dan mensyukurinya, niscaya dia akan bahagia di dunia dan di akhirat. Namun, siapa yang menolak dan menentangnya, dia akan rugi di dunia dan di akhirat.” Di antara contoh yang menunjukkan rahmat para nabi terhadap umatnya adalah sebagai berikut.

1. Kasih sayang Nabi Nuh ‘Alaihissalam terhadap anaknya. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan dialog mereka,

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ () قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَن رَّحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

Dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab, Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah! Nuh berkata, Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orangorang yang ditenggelamkan. (Hud: 4243)

2. Kasih sayang Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam terhadap bapaknya. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ ۚ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَّبِيًّا () إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنكَ شَيْئًا

Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam al-Kitab (al- Quran) ini. Sesungguhnya ia seorang yang sangat membenarkan dan seorang nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun? (Maryam: 4142)

3. Belas kasih sayang Nabi Musa ‘Alaihissalam terhadap orang-orang yang lemah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَمَّا وَرَدَ مَاءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ أُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُونَ وَوَجَدَ مِن دُونِهِمُ امْرَأَتَيْنِ تَذُودَانِ ۖ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۖ قَالَتَا لَا نَسْقِي حَتَّىٰ يُصْدِرَ الرِّعَاءُ ۖ وَأَبُونَا شَيْخٌ كَبِيرٌ () فَسَقَىٰ لَهُمَا ثُمَّ تَوَلَّىٰ إِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata, Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)? Kedua wanita itu menjawab, Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembalapenggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, kemudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa, Ya Rabbku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku. (al- Qashash: 2324)

Demikian pula apa yang dilakukan oleh Khidir tatkala bersama Musa ‘Alaihissalam sebagaimana yang diceritakan di dalam surat al-Kahfi ayat 79.

أَمَّا السَّفِينَةُ فَكَانَتْ لِمَسَاكِينَ يَعْمَلُونَ فِي الْبَحْرِ فَأَرَدتُّ أَنْ أَعِيبَهَا وَكَانَ وَرَاءَهُم مَّلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِينَةٍ غَصْبًا

Adapun bahtera itu adalah milik orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku ingin merusak bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas setiap bahtera.

Kesabaran

Para nabi ‘Alaihissalam adalah suri teladan kita dalam menghadapi berbagai problem, baik yang berkaitan dengan dunia maupun agama. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan bersabar sebagaimana kesabaran para rasul.

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ

Maka bersabarlah kamu seperti rasul-rasul yang mempunyai keteguhan hati. (al-Ahqaf: 35)

Mereka bersabar saat berbuat taat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menahan diri dari berbagai hal yang dilarang-Nya Subhanahu wata’ala. Berikut ini sebagian contoh yang menggambarkan kesabaran mereka ‘Alaihissalam.

a. Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala untuk menyembelih anak lelaki satu-satunya saat itu, yang dicintainya, Isma’il ‘Alaihissalam. Demikian pula kesabaran Nabi Isma’il ‘Alaihissalam membantu ayahnya berbuat taat kepada Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala menceritakan peristiwa tersebut dalam firman-Nya,

فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). (ash-Shaffat: 103)

Asy-Syaikh Abdurrahman as- Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Isma’il ‘Alaihissalam menginjak masa. Umumnya, usia dewasa lebih disenangi oleh kedua orang tuanya. Sungguh, masa susah mengasuh dan mengawasi telah berlalu. Telah datang masa sang anak memberi manfaat. Ibrahim ‘Alaihissalam sebagai ayahnya berkata, ‘Sungguh aku melihat dalam mimpiku aku menyembelihmu.’ Maknanya, adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintahku untuk menyembelihmu (karena mimpi para nabi ‘Alaihissalam adalah wahyu). Pikirkanlah, apa pendapatmu? Karena perintah Allah Subhanahu wata’ala harus dilaksanakan, Isma’il ‘Alaihissalam menjawab dengan sabar dan mengharapkan pahala serta rela terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala, sekaligus dalam rangka berbuat baik kepada ayahnya. Ia katakan, ‘Wahai ayahanda, tunaikanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Engkau akan mendapati diriku, insya Allah, termasuk orang-orang yang sabar’.”

b. Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam tatkala menghadapi godaan dan makar istri pembesar. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَرَاوَدَتْهُ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا عَن نَّفْسِهِ وَغَلَّقَتِ الْأَبْوَابَ وَقَالَتْ هَيْتَ لَكَ ۚ قَالَ مَعَاذَ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ۖ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

Wanita (istri pembesar) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, Marilah ke sini. Yusuf berkata, Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik. Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung. (Yusuf: 23)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Kesabaran Nabi Yusuf ‘Alaihissalam menghadapi godaan istri pembesar dalam berbagai keadaan itu lebih sempurna daripada kesabarannya menghadapi makar saudara-saudaranya yang memasukkannya ke dalam sumur, menjualnya (sebagai budak), dan memisahkannya dengan ayahnya. Sebab, dia tidak mampu mengelak menghadapi cobaan dari saudar-saudaranya. Jadi, pada keadaan tersebut, seorang hamba tidak memiliki pilihan selain sikap sabar. Adapun kesabarannya terhadap maksiat adalah karena pilihan, keridhaan, dan kewajiban memerangi hawa nafsu. Padahal, banyak faktor yang mendukungnya bermaksiat itu:  (1) Syahwat sebagai seorang pemuda yang lazimnya memiliki nafsu kuat;  (2) seorang lajang yang tidak memiliki tempat untuk menyalurkan syahwatnya; (3) seorang asing di negeri itu; orang asing biasanya tidak malu melakukan sesuatu yang menyebabkan malu kalau dilakukan di depan teman, kenalan, dan keluarganya; (4) statusnya sebagai budak; status budak biasanya tidak menjadi penghalang untuk melakukan perbuatan itu, berbeda halnya dengan orang merdeka; (5) istri si pembesar adalah wanita yang cantik, berkedudukan, sekaligus sebagai tuannya, dalam keadaan para pelayan yang lain tidak ada; (6) wanita itu juga yang mengajaknya bermaksiat, dalam keadaan sangat bernafsu; (7) wanita itu mengancam beliau q dengan penjara dan hinaan apabila tidak mau menurutinya. Meski demikian, Yusufq memilih bersabar. Beliau lebih memilih apa yang ada di sisi Allah Subhanahu wata’ala. (Madarijus Salikin, 2/156)

c. Kesabaran Nabi Musa dan Harun ‘Alaihissalam menghadapi para penguasa yang zalim, seperti Fir’aun, Qarun, dan Haman lanatullah alaihim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِلَىٰ فِرْعَوْنَ وَهَامَانَ وَقَارُونَ فَقَالُوا سَاحِرٌ كَذَّابٌ () فَلَمَّا جَاءَهُم بِالْحَقِّ مِنْ عِندِنَا قَالُوا اقْتُلُوا أَبْنَاءَ الَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ وَاسْتَحْيُوا نِسَاءَهُمْ ۚ وَمَا كَيْدُ الْكَافِرِينَ إِلَّا فِي ضَلَالٍ

Kepada Firaun, Haman, dan Qarun; mereka berkata, (Ia) adalah seorang ahli sihir yang pendusta. Tatkala Musa datang kepada mereka membawa kebenaran dari sisi Kami, mereka berkata, Bunuhlah anak-anak orang yang beriman bersamanya dan biarkanlah hidup wanita-wanita mereka. Tipu daya orang-orang kafir itu tak lain hanyalah sia-sia (belaka). (Ghafir: 2425)

d. Kesabaran Nabi Ya’qub ‘Alaihissalam menghadapi dan menasihati anakanaknya yang berbuat zalim terhadap saudara mereka, Yusuf ‘Alaihissalam . Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاسْأَلِ الْقَرْيَةَ الَّتِي كُنَّا فِيهَا وَالْعِيرَ الَّتِي أَقْبَلْنَا فِيهَا ۖ وَإِنَّا لَصَادِقُونَ () قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنفُسُكُمْ أَمْرًا ۖ فَصَبْرٌ جَمِيلٌ ۖ عَسَى اللَّهُ أَن يَأْتِيَنِي بِهِمْ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ () وَتَوَلَّىٰ عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ

Tanyalah (penduduk) negeri yang kami berada di situ, dan kafilah yang kami datang bersamanya, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang benar. Yaqub berkata, Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu. Kesabaran yang baik itulah (kesabaranku). Semoga Allah mendatangkan mereka semua kepadaku; sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Yaqub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata, Aduhai dukacitaku terhadap Yusuf, dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap anak-anaknya). (Yusuf: 8284)

Rasa Syukur

Allah Yang Mahabijaksana tidaklah mengaruniakan satu nikmat pun kecuali agar hamba bersyukur kepada-Nya dan semakin menyempurnakan keimanan serta ketakwaan kepada-Nya Subhanahu wata’ala. Suri teladan kita adalah Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam dan Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman tentang Nabi Sulaiman ‘Alaihissalam yang meminta kepada para pembesar di kerajaan untuk mendatangkan singgasana Ratu Saba.

قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari al-Kitab, Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. Tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, Ini termasuk karunia Rabbku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri. Barang siapa ingkar, sesungguhnya Rabbku Mahakaya lagi Mahamulia.  (an-Naml: 40)

Asy – Syaikh as – Sa ’ di rahimahullah menjelaskan, “Sulaiman ‘Alaihissalam tidak tertipu (menjadi sombong dan angkuh) dengan kekayaan dan kekuasaannya. Beliau justru sadar bahwa hal itu adalah ujian dari Rabbnya sehingga khawatir kalau beliau tidak mensyukuri nikmat itu. Kemudian beliau menjelaskan bahwa rasa syukur hamba itu tidak memberikan manfaat bagi Allah Subhanahu wata’ala, tetapi bagi pelakunya.” Ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sempurna menunjukkan rasa syukurnya yang sempurna kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau radhiyallahu ‘anha berkata, Suatu malam, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri shalat dengan lama hingga kedua tumitnya pecah-pecah dan berdarah. Aku berkata, Mengapa engkau melakukan hal ini, wahai Rasulullah? Padahal telah diampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang? Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, Tidak pantaskah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?. ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Kejujuran

Kejujuran baik dalam hal ucapan, perbuatan, dan keyakinan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam kitab-Nya dan Sunnahnya. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (at-Taubah: 119)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda yang artinya, Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan itu akan menuntun ke dalam jannah. (Muttafaqun alaih dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Berikut ini kisah beberapa nabi yang menunjukkan kejujuran mereka.

a. Kejujuran Isa bin Maryam ‘Alaihissalam Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنتَ قُلْتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُونِي وَأُمِّيَ إِلَٰهَيْنِ مِن دُونِ اللَّهِ ۖ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ ۚ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ ۚ تَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِي وَلَا أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ ۚ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ  () مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَّا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنتَ أَنتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?. Isa menjawab, Mahasuci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui urusan yang gaib. Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu, Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu, dan aku menjadi saksi terhadap mereka selama aku berada di antara mereka. Setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkaulah yang mengawasi mereka. Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu. (al-Maidah: 116-117)

b. Kejujuran Adam dan Hawa ‘Alaihissalam Mereka berdua dilarang oleh Rabbnya makan dari sebuah pohon. Setelah itu, keduanya sadar dari tipu daya iblis lanatullah yang menghasut mereka berdua sehingga melanggar larangan-Nya. Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan pengakuan keduanya,

فَدَلَّاهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا الشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۖ وَنَادَاهُمَا رَبُّهُمَا أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا الشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَا إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Setan membujuk keduanya (untuk memakan buah itu) dengan tipu daya. Tatkala keduanya telah merasakan buah pohon itu, tampaklah bagi keduanya aurat-auratnya, dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka, Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon itu dan Aku katakan kepadamu, Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu berdua?. (al-Araf: 22)

c. Kejujuran seorang nabi yang diceritakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Ada seorang Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang berperang, dia berkata kepada kaumnya, Tidak boleh ikut perang bersamaku seorang lakilaki yang baru menikah dan belum membangun rumah tangganya padahal dia menginginkannya; demikian pula seorang yang harus membangun rumah dalam keadaan belum menaikkan atapnya; dan seorang yang telah membeli kambing atau unta betina yang bunting sedangkan dia menunggu kelahiran anak-anaknya. Kemudian dia berperang hingga sudah dekat desa itu pada waktu shalat ashar. Dia berkata kepada matahari, Engkau adalah makhluk yang diperintah, aku pun diperintah.

Ya Allah, tahanlah dia (matahari) untuk kami! Matahari pun tertahan (tidak segera tenggelam) sampai Allah Subhanahu wata’ala memberikan kemenangan kepadanya. Lalu nabi itu mengumpulkan ghanimah (harta rampasan perang) agar api datang membakarnya, tetapi ternyata tidak terbakar. Dia berkata, Sesungguhnya ada di antara kalian yang berkhianat. Hendaknya setiap kabilah mengirimkan wakil untuk membaiatku. Tangan seseorang menempel di tangannya. Dia berkata, Terjadi pengkhianatan di antara kalian. Hendaknya kabilahmu membaiatku! Melekatlah tangan dua atau tiga orang. Dia berkata, Terjadi di antara kalian pengkhianatan? Mereka lalu membawa emas sebesar kepala sapi betina. Dia pun meletakkannya hingga datanglah api yang membakarnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, Tidak halal harta rampasan perang bagi seorang pun sebelum kita. Allah Subhanahu wata’ala menghalalkannya bagi kita, karena mengetahui kelemahan dan kekurangan kita.

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa melimpahkan hidayah taufik-Nya kepada kita untuk berlaku ikhlas, jujur, dan rahmat dalam berdakwah; berlaku sabar dan bersyukur menghadapi berbagai ujian dan cobaan sehingga kita termasuk golongan para hamba-Nya yang istiqamah di atas jalan-Nya yang mulia. Amin ya Rabbal alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (1)

Pengantar Tiga belas tahun setelah hancurnya Tentara Bergajah, bani ‘Adi bin Ka’b, terkhusus keluarga al- Khaththab bin Nufail, kembali merayakan kegembiraan karena telah lahir seorang bayi laki-laki yang sehat. Bayi yang menjadi kebanggaan bagi setiap suku apabila wanita mereka melahirkan anak. Bayi yang akan menguatkan barisan mereka dan menaikkan pamor mereka. Bayi ini tidak hanya menjadi kebanggaan bani ‘Adi saat itu, tetapi juga di masa yang akan datang. Bayi itu kelak akan menjadi saksi bagi para penguasa dan politikus di belahan dunia mana pun. Bayi itu adalah ‘Umar bin al-Khaththab bin Nufail bin ‘Abdil ‘Uzza bin Riyah bin ‘Abdullah bin Qurth bin Razah bin ‘Adi bin Ka’b bin Luai bin Ghalib al-Qurasyi al-‘Adawi.

Nasabnya bertemu dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada Ka’b bin Luai. Ibunya bernama Hantamah bintu Hasyim bin al-Mughirah al-Makhzumi. Inilah pendapat yang dipilih oleh Ibnu ‘Abdil Barr, Ibnu Sa’d, dan Ibnu Hajar. Kulitnya putih kemerah-merahan, dadanya bidang, tubuhnya tegap, dan tingginya melebihi yang lain, seolaholah kalau berjalan bersama sahabat sahabatnya, dia seperti sedang menaiki kendaraan. Rambutnya terjurai di kedua sisi kepalanya, dan bagian atasnya botak, kumisnya lebat, sedangkan janggutnya diberi warna kuning dan rambutnya dipoles inai. Di masa jahiliah, ‘Umar sering ikut meramaikan pasar ‘Ukkazh dengan kemampuannya bergulat, bahkan sering mengalahkan lawannya. Selalu terlihat berpakaian kasar, dan biasanya dari wol dengan hampir dua puluh tambalan dari kulit. Ini juga yang diikuti oleh semua pejabatnya, yang ada di tempat (Madinah dan sekitarnya) ataupun yang ada di negeri yang jauh. Bahkan, gaya hidup sederhana ‘Umar ditiru oleh mereka, padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memberi kemenangan untuk mereka.

 

Di Masa Jahiliah

Hampir separuh usianya beliau habiskan di Makkah, pada zaman jahiliah, tumbuh di lingkungan keluarga besar bani ‘Adi bin Ka’b. Seperti kebanyakan anak-anak Quraisy lainnya, ‘Umar tidak asing dengan pemujaan terhadap berhala-berhala yang ada di sekitar Ka’bah. Bahkan, ia termasuk penganut agama paganis yang sangat fanatik. Begitu pula dengan kebiasaan minum khamr di sebagian kalangan masyarakat Quraisy. Masa kecilnya dihabiskan di tanah suci Makkah, di kaki gunung bernama al-‘Aqir, yang kemudian dinamai gunung ‘Umar. Meskipun langka, ‘Umar termasuk salah seorang yang sempat belajar membaca dan menulis. Bahkan, di masa dewasanya, termasuk orang yang andal dalam hal menilai sebuah tulisan, bermutu ataukah tidak. Ia tumbuh dengan sehat dan cerdas, serta kasar. Sikap kasar dan kaku ini, mungkin karena didikan ayahnya, al-Khaththab, yang memaksa ‘Umar menggembalakan unta-unta ayahnya di Dhajnan.

Selain itu, ‘Umar juga menggembalakan unta-unta milik kerabat ibunya dari bani Makhzum. Sejak kecil, ‘Umar tidak pernah mengenal hidup mewah. Bahkan, beliau sendiri pernah menceritakan kehidupan masa kecilnya yang penuh kesulitan dan kekerasan. Setiap hari dia harus bekerja, tidak kenal istirahat dan santai. Keadaan tersebut mendorongnya untuk sanggup memikul beban di usia yang relatif muda. Beranjak dewasa, sebagaimana pemuda Quraisy lainnya, ‘Umar juga ikut merantau berniaga. Di musim dingin, dia ikut berangkat ke Yaman, dan di musim panas menuju Syam. Keuletannya membuat ‘Umar layak menempati salah satu posisi penting dalam elite masyarakat Makkah, meskipun usianya masih muda. Karena kekayaan, kecerdasan, dan kedudukan nenek moyangnya, ‘Umar diterima dalam majelis para pemuka Quraisy. Itu pula sebabnya tugas sebagai duta diberikan kepadanya dan mereka menyetujui semua tindakannya.

 

Sebab-Sebab Keislaman

Kita kembali mengenang keadaan ketika kaum muslimin bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di awal Islam. Kaum muslimin mendapat tekanan yang semakin berat dengan ikut sertanya ‘Umar mengganggu dan menyakiti mereka. Tanpa belas kasihan, ‘Umar menyiksa seorang budak wanita bani Muammil, dan baru berhenti menyiksa setelah dia bosan dan kecapaian. Akhirnya, budak itu dibeli dan dibebaskan oleh Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Semakin hari tekanan Quraisy semakin bertambah. Melihat keadaan kaum muslimin semakin menyedihkan, tidak lagi mampu beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan tenang, Rasulullah memerintahkan mereka hijrah ke Habasyah (Etiopia). Tahun keenam setelah Nabi n diutus, ‘Umar menyerahkan tangannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyatakan sumpah setia dan keislamannya. Kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu bertakbir dan memuji Allah Subhanahu wata’ala. Kata Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, “Kami dalam keadaan lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam.

Keislaman ‘Umar adalah kemenangan, hijrahnya adalah pertolongan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.” Ada beberapa riwayat yang menerangkan sebab-sebab tumbuhnya Islam di dalam hati ‘Umar. Riwayat Anas radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan oleh al-Hakim dan al-Baihaqi, menyebutkan: Pada suatu hari ‘Umar keluar dengan menyandang sebilah pedang. Di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang laki-laki dari bani Zuhrah dan dia berkata, “Akan ke mana engkau, hai ‘Umar?” ‘Umar ketika itu menjawab, “Mau membunuh Muhammad.”

Laki-laki itu berkata lagi, “Bagaimana engkau bisa merasa aman dari bani Hasyim dan bani Zuhrah setelah membunuh Muhammad?” ‘Umar berkata pula, “Mungkin engkau sendiri sudah menukar agamamu?” Orang itu mengelak sambil mengatakan, “Maukah aku tunjukkan hal yang lebih mencengangkan? Sesungguhnya, saudarimu dan iparmu sudah memeluk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu.” Mendengar hal ini, ‘Umar segera berbalik menuju ke rumah saudari dan iparnya. Kebetulan Khabbab sedang berada di sana mengajari mereka al- Qur’an. Ketika mereka mendengar suara ‘Umar, Khabbab segera bersembunyi di dalam salah satu ruangan di rumah itu. ‘Umar pun masuk dan berkata, “Suara apa yang kudengar ini?” Waktu itu mereka sedang membaca surat Thaha. Keduanya berkata, “Tidak ada, kami hanya berbincang-bincang biasa.” Kata ‘Umar, “Jangan-jangan kalian berdua sudah masuk Islam?” Iparnya menjawab, “Hai ‘Umar, bagaimana jika al-haq itu ternyata bukan berada pada agamamu?” Mendengar hal ini ‘Umar melompat kemudian membanting dan menginjaknya dengan keras. Saudarinya segera datang membela suaminya.

Tetapi ‘Umar segera meninjunya hingga darah mengucur dari wajah saudarinya itu. Wanita itu berkata dalam keadaan sangat marah, “Apakah (kau marah) meskipun al-haq bukan berada pada agamamu? Sungguh, aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.” Mungkin melihat darah di wajah adiknya, ‘Umar merasa menyesal dan kasihan. Dia pun berkata, “Coba berikan apa yang kalian baca tadi, aku mau melihat.” Saudarinya menjawab, “Kamu itu najis. Kitab ini tidak boleh disentuh oleh orang yang najis. Pergilah bersuci!” ‘Umar pun beranjak untuk mandi. Kemudian dia mulai membaca surat Thaha sampai pada ayat,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku adalah Allah yang tidak ada Ilah selain Aku. Maka beribadahlah kepada-Ku dan tegakkanlah shalat untuk mengingat-Ku.” (Thaha: 14)

‘Umar berkata, “Tunjukkanlah kepadaku di mana Muhammad!” Ketika Khabbab mendengar hal ini, dia segera keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata, “Gembiralah, hai ‘Umar. Aku berharap engkaulah yang didoakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Ya Allah, muliakanlah Islam dengan ‘Umar bin al-Khaththab atau ‘Amru bin Hisyam’ (Abu Jahl).” Waktu itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di rumah al-Arqam bin Abil Arqam di dekat bukit ash-Shafa. ‘Umar segera berangkat ke sana. Bertepatan pula di rumah itu ada Hamzah, Thalhah, dan beberapa orang lainnya. Hamzah berkata, “Ini ‘Umar datang. Kalau Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kebaikan buat dia, maka dia selamat. Kalau tidak, membunuhnya sangat mudah bagi kita.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang berada di dalam, beliau pun diberi tahu lalu keluar.

Begitu ‘Umar masuk, beliau segera mencengkeram pakaian dan pedang ‘Umar sambil berkata, “Apakah engkau belum juga mau berhenti, hai ‘Umar, sampai Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kehinaan bagimu sebagaimana yang dialami oleh al-Walid bin Mughirah?!” ‘Umar segera berkata, “Aku bersaksi tidak ada ilah selain Allah dan engkau (Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah hamba Allah dan Rasul-Nya.” Dalam riwayat lain, Ibnu Ishaq menyebutkan sebagian sebab ‘Umar masuk Islam, dari ‘Abdullah bin ‘Amir bin Rabi’ah dari ibunya, Laila radhiyallahu ‘anha: ‘Umar adalah salah seorang pemuda Quraisy yang sangat keras memperlakukan kami karena keislaman kami. Ketika kami bersiap-siap hendak hijrah ke Habasyah, ‘Umar mendatangiku yang sudah berada di atas unta, hendak berangkat.

Dia pun berkata, “Hendak ke mana, hai Ummu ‘Abdillah?” “Kalian telah menyakiti kami karena agama kami, maka kami hendak pergi ke bumi Allah Subhanahu wata’ala yang lain. Di sana kami tidak akan disakiti karena beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala.” “Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyertai kalian,” katanya lalu dia pergi. Setelah itu, suamiku ‘Amir bin Rabi’ah tiba dari keperluannya. Saya pun menceritakan rasa iba yang kulihat pada ‘Umar tadi, padahal selama ini belum pernah seperti itu. Suamiku berkata, “Apakah engkau mengharapkan dia akan masuk Islam?” “Ya,” jawabku. “Demi Allah, dia tidak akan masuk Islam, kecuali bila keledai al-Khaththab masuk Islam.” Dia merasa putus asa mengharapkan keislaman ‘Umar karena bengisnya terhadap kaum muslimin. Riwayat lainnya, dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan, “Saya pernah keluar untuk menghadang Rasulullah n sebelum masuk Islam.

Ternyata saya dapati beliau telah lebih dahulu masuk ke Masjidil Haram. Diam-diam saya pun berdiri di belakangnya. Beliau mulai membaca surat al-Haqqah. Saya pun merasa takjub dengan susunan al-Qur’an. Dalam hati, saya berkata, ‘Demi Allah, orang ini adalah penyair, seperti kata orangorang Quraisy.’ Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca (ayat 40—41),

إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ () وَمَا هُوَ بِقَوْلِ شَاعِرٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تُؤْمِنُونَ

‘Sesungguhnya al-Qur’an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia. Dan al-Qur’an itu bukanlah perkataan seorang penyair, sedikit sekali kamu beriman kepadanya.’ Kemudian saya berkata, ‘(Orang ini) dukun.’ Beliau pun membaca (ayat 42—47),

وَلَا بِقَوْلِ كَاهِنٍ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ () تَنزِيلٌ مِّن رَّبِّ الْعَالَمِينَ () وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ () لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ () ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ () فَمَا مِنكُم مِّنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ

‘Dan bukan pula perkataan tukang tenung (dukun), sedikit sekali kamu mengambil pelajaran darinya. Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Rabb semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Sekali-kali tidak ada seorang pun dari kalian yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu,’ sampai akhir surat ini, hingga masuklah Islam ke dalam hati saya.”

Ada pula riwayat lain dari ‘Umar sendiri, beliau menceritakan: “Dahulu, saya sangat jauh dari Islam. Di zaman jahiliah, saya sangat menyukai minuman keras. Kami mempunyai majelis tempat berkumpul beberapa pemuka Quraisy, di Hazwarah (dekat tempat sa’i, dari arah terbitnya matahari, sekarang bernama Qasysyasyiyah, salah satu pasar Makkah dan telah digusur untuk perluasan Masjidil Haram, -pen.). Suatu malam, saya keluar untuk berkumpul dengan teman-teman di majelis itu. Ternyata, tidak seorang pun yang saya temui di sana. Saya berkata dalam hati, ‘Mungkin di warung tuak si Fulan.’ Saya pun ke sana untuk membeli khamr. Di sana juga tidak ada seorang pun yang saya temui. Saya coba ke Ka’bah lalu thawaf 7 kali atau 70 kali. Sesampainya di Masjidil Haram, ternyata ada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sedang shalat. Beliau menghadap ke arah Baitul Maqdis di Syam dan memosisikan Ka’bah di hadapan beliau.

Beliau berdiri di antara Hajar Aswad dan Yamani. Melihat beliau, saya berkata dalam hati, ‘Demi Allah, seandainya saya bisa mendengarkan apa yang dibacanya malam ini. Coba saya mendekat dari arah Hijr, lalu sembunyi di balik kelambu Ka’bah. Perlahan-lahan saya mulai mendekati beliau yang sedang membaca al-Qur’an. Begitu mendengar beberapa ayatnya, hati saya menjadi lembut, saya pun menangis. Islam mulai menyelinap dalam hati saya. Saya terus berdiri di sana sampai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyelesaikan shalatnya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan pulang menuju rumahnya. Diam-diam, saya mengikuti beliau. Tetapi, beliau mendengar suara saya, dan mengira bahwa saya ingin menyakiti beliau, maka beliau membentak saya, “Ada apa denganmu, hai putra al-Khaththab, malam-malam begini?” ‘Saya, datang untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta apa yang datang dari sisi Allah.’ Mendengar ucapan saya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memuji Allah Subhanahu wata’ala dan berkata, “Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberimu hidayah, hai ‘Umar.”

Kemudian beliau mengusap dada saya dan mendoakan keteguhan bagi saya. Setelah itu, saya meninggalkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau pun memasuki rumahnya. Bagaimanapun, beberapa riwayat ini saling menguatkan. Yang jelas, keislaman beliau radhiyallahu ‘anhu adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri dan juga kaum muslimin. (bersambung, insya Allah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Para Petani dan Tuan-Tuan Kebun (2)

Demikianlah keadaan mereka. Di malam hari mereka sudah berencana untuk tidak memberi bagian sedikit pun kepada orang-orang yang miskin. Esok paginya, justru mereka sendiri yang menuai kerugian dan penyesalan. Tidak ada sisa yang dapat diharapkan dari kebun yang mereka rawat selama ini. Renungkanlah, bagaimana Allah Subhanahu wata’ala membalas rencana dan niat buruk mereka.

Kandungan Kisah

Kisah ini adalah sebuah perumpamaan yang dibuat oleh Allah Subhanahu wata’ala untuk orang-orang kafir Quraisy. Allah Subhanahu wata’ala telah memberi mereka nikmat yang sangat besar dengan mengutus Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada mereka. Tetapi, mereka menerimanya dengan sikap mendustakan, menolak, bahkan memerangi beliau. Itulah sebabnya Allah Subhanahu wata’ala mengatakan, “Sesungguhnya Kami menguji mereka sebagaimana Kami telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik (hasil) nya di pagi hari.”Allah Subhanahu wata’ala berfirman bahwa sesungguhnya Dia telah menguji orangorang yang mendustakan kebaikan ini. Allah Subhanahu wata’ala memberi tempo kepada mereka dan memperbanyak mereka apa saja yang Dia kehendaki, berupa harta, anak, usia, dan lain-lain yang sesuai dengan hawa nafsu mereka. Tetapi itu bukan karena kemuliaan mereka di sisi Allah Subhanahu wata’ala, melainkan sebagai istidraj buat mereka dari arah yang tidak mereka sadari.

Jadi, tertipunya mereka dengan hal-hal tersebut sama seperti tertipunya para pemilik kebun tersebut, yaitu orangorang yang memiliki usaha bersama dalam kebun itu. Di saat kebun itu mulai ranum buahnya dan tumbuh pohonpohonnya serta tiba waktu panennya; dan mereka merasa yakin bahwa kebun itu di bawah kekuasaan serta sesuai dengan aturan mereka. Tidak pula ada yang menghalangi mereka memetik (hasil) kebun itu. Mereka pun bersumpah tanpa istitsna (mengucapkan Insya Allah, -red.) bahwa mereka pasti benar-benar akan memetik hasilnya di pagi hari. Mereka tidak sadar bahwa Allah Subhanahu wata’ala senantiasa mengawasi mereka. Bahkan, azab Allah Subhanahu wata’ala akan menggantikan mereka pada kebun itu dan mendahului mereka menuju kebun tersebut. Allah Subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Qalam ayat 19—33,

فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِّن رَّبِّكَ

Lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu.

Maksudnya, azab yang menimpa kebun itu datang pada malam hari;

وَهُمْ نَائِمُونَ

Ketika mereka sedang tidur,”

lalu menghancurkan dan merusaknya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ

Maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita,

pohon-pohon dan buah-buahannya musnah serta kering, dalam keadaan mereka tidak mengetahui kejadian yang menyakitkan ini. Pagi harinya, mereka saling memanggil untuk berangkat memetik hasil kebun mereka. Sebagian dari mereka berkata kepada yang lain (sebagaimana dalam firman Allah Subhanahu wata’ala),

أَنِ اغْدُوا عَلَىٰ حَرْثِكُمْ إِن كُنتُمْ صَارِمِينَ () فَانطَلَقُوا

Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya.

Maka pergilah mereka, menuju kebun itu,

وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ

Dalam keadaan saling berbisikbisik,”

sesama mereka, tanpa didengar oleh orang lain. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala menerangkan apa yang dibisikkan oleh mereka dengan sesama mereka,

أَن لَّا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُم مِّسْكِينٌ

Pada hari ini janganlah ada seorang miskin pun masuk ke dalam kebunmu.”

Artinya, berangkatlah lebih pagi sebelum orang-orang bertebaran. Janganlah kamu memberi kesempatan orang-orang fakir dan miskin ikut masuk ke kebun itu bersama kamu. Karena besarnya ketamakan dan kekikiran mereka, mereka saling berbisik dan mengucapkan kalimat seperti ini, khawatir kalau ada orang yang mendengarnya lalu menyampaikannya kepada orang-orang miskin. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَغَدَوْا

Dan berangkatlah mereka di pagi hari,

dalam keadaan yang sangat buruk ini, yaitu kaku, kasar, dan tidak mempunyai belas kasih sayang.

عَلَىٰ حَرْدٍ قَادِرِينَ

Dengan niat menghalangi (orangorang miskin) padahal mereka mampu (menolongnya),”

yaitu untuk menahan dan menghalangi hak Allah Subhanahu wata’ala, sambil merasa yakin akan kemampuan mereka bahwa mereka pasti akan memetik hasil kebun mereka. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَلَمَّا رَأَوْهَا

Tatkala mereka melihat kebun itu,

sebagaimana keadaan yang disebutkan oleh Allah Subhanahu wata’ala, yaitu bagai malam yang gelap gulita;

قَالُوا

Mereka berkata,

dengan penuh rasa heran dan goncang;

إِنَّا لَضَالُّونَ

Sesungguhnya kita benar-benar orang-orang yang sesat (jalan);

yakni tersesat dari kebun itu, mungkin itu kebun lain (bukan milik mereka). Tetapi, setelah mereka memastikan itulah kebun yang mereka tuju, muncullah kesadaran (akal) mereka, lalu mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

بَلْ نَحْنُ مَحْرُومُونَ

Bahkan kita dihalangi,”

dari kebun ini (untuk memetik hasilnya). Akhirnya, mereka menyadari bahwa itu adalah sebuah hukuman, maka,

قَالَ أَوْسَطُهُمْ

Berkatalah seorang yang paling baik pikirannya di antara mereka,

yakni paling adil (lurus) dan paling baik jalan (hidupnya),

أَلَمْ أَقُل لَّكُمْ لَوْلَا تُسَبِّحُونَ

Bukankah aku telah mengatakan kepadamu, hendaklah kamu bertasbih (kepada Rabbmu)?

Artinya, mengapa kalian tidak bertasbih menyucikan Allah Subhanahu wata’ala dari segala sesuatu yang tidak layak bagi- Nya, bersyukur kepada-Nya atas kenikmatan yang telah dilimpahkan-Nya kepada kalian? Termasuk di sini ialah menyucikan Allah Subhanahu wata’ala dari anggapan bahwa kemampuan yang ada pada diri kamu itu adalah sesuatu yang bebas berdiri sendiri (lepas dari kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala). Mengapakah kamu tidak mengucapkan;

إِنْ شَاءَ اللهُ

Jika Allah menghendaki,” dan menjadikan kehendakmu mengikuti (kehendak) Allah Subhanahu wata’ala? (Kalau kamu berbuat demikian), tentu tidak akan terjadi apa yang telah menimpamu. Mereka pun berkata (dalam ayat),

سُبْحَانَ رَبِّنَا إِنَّا كُنَّا ظَالِمِينَ

Mahasuci Rabb kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.

Artinya, mereka memperbaiki (sikap mereka) sesudah itu, tetapi setelah kebun mereka hancur ditimpa oleh azab yang tidak akan terangkat lagi. Itulah sebuah ketaatan yang tidak ada gunanya setelah turunnya azab. Namun, mudah-mudahan tasbih dan pengakuan mereka bahwa mereka telah berbuat zalim, berguna bagi mereka untuk meringankan dosa serta menjadi tobat bagi mereka. Sebab itulah, mereka menyesal dengan penyesalan yang sangat dalam. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

فَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ يَتَلَاوَمُونَ

Lalu sebagian mereka menghadapi sebagian yang lain seraya cela-mencela,

karena rencana yang mereka buat, yaitu menahan hak orang-orang fakir dan miskin. Tidak ada jawaban dari yang lain kecuali mengakui bahwa mereka bersalah dan berdosa. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

قَالُوا يَا وَيْلَنَا إِنَّا كُنَّا طَاغِينَ

Mereka berkata, Aduhai celakalah kita; sesungguhnya kita ini adalah orangorang yang melampaui batas,

baik terhadap hak Allah Subhanahu wata’ala maupun hak para hamba-Nya. Firman Allah Subhanahu wata’ala,

عَسَىٰ رَبُّنَا أَن يُبْدِلَنَا خَيْرًا مِّنْهَا إِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا رَاغِبُونَ

Mudah-mudahan Rabb kita memberikan ganti kepada kita dengan (kebun) yang lebih baik daripada itu; sesungguhnya kita mengharapkan ampunan dari Rabb kita.

Ayat ini menerangkan bahwa mereka berharap kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memberi mereka ganti yang lebih baik dari kebun itu bahkan berjanji bahwa mereka akan berharap hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka mendesak meminta kepada-Nya di dunia. Ada pula yang berpendapat bahwa mereka mengharapkan pahalanya di akhirat. Wallahu alam.

Bagaimanapun, seandainya mereka memang seperti yang mereka katakan, maka secara zahir—ayat ini menunjukkan bahwa—Allah Subhanahu wata’ala menggantikan untuk mereka di dunia sesuatu yang lebih baik dari kebun yang hancur itu. Sebab, siapa saja yang berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan jujur, bersandar, dan berharap kepada-Nya, pasti Allah Subhanahu wata’ala memberikan apa yang dimintanya. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman, menjelaskan apa yang terjadi,

كَذَٰلِكَ الْعَذَابُ

Seperti itulah azab.

Artinya, itulah azab duniawi bagi mereka yang menjalankan sebab-sebab yang mengundangnya. Azab itu ialah Allah Subhanahu wata’ala mencabut dari hamba itu sesuatu yang dijadikannya sarana untuk berbuat dosa dan melampaui batas, serta lebih mengutamakan kehidupan dunia. Allah Subhanahu wata’ala akan melenyapkan sarana tersebut darinya di saat dia sangat membutuhkannya. Firman Allah Subhanahu wata’alal,

وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَكْبَرُ ۚ

Dan sesungguhnya azab akhirat lebih besar,” daripada azab dunia;

لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Jika mereka mengetahui.

Sebab, apabila mereka mengetahuinya, hal itu akan mendorong mereka berhenti dari semua sebab yang akan mendatangkan azab dan siksa serta menghalangi pahala.1 Wallahul muwaffiq.

 

Beberapa Pelajaran dan Hikmah

1. Penyesalan selalu datang terlambat, tetapi kadang berguna bagi mereka yang diberi taufik untuk bertobat dan memperbaiki keadaan dirinya.

2. Di antara keistimewaan kisah Qur’ani sebagaimana pernah diuraikan adalah patut dijadikan pelajaran sepanjang masa.

3. Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa tujuan pemaparan kisah ini ialah pertama karena di awal surat, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَن كَانَ ذَا مَالٍ وَبَنِينَ () إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِ آيَاتُنَا قَالَ أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ

Karena dia mempunyai (banyak) harta dan anak. Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata, (Ini adalah) dongeng-dongengan orang-orang dahulu kala. (al-Qalam: 1415)

Maksudnya, karena Allah Subhanahu wata’ala memberinya harta, dia kufur kepada Allah Subhanahu wata’ala, padahal Allah Subhanahu wata’ala memberinya semua itu sebagai ujian, kalau dia memilih kekafiran niscaya Allah Subhanahu wata’ala menghancurkan hartanya, sebagaimana Dia menghancurkan tanaman tuan-tuan kebun itu ketika mereka melakukan ‘sedikit’ kemaksiatan. Dengan demikian, maka bagaimana pula mereka yang mengerjakan maksiat lebih besar? Seperti menentang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetap dalam kekafiran dan kedurhakaan?

4. Kisah ini menampakkan kepada kita bahwa Allah Subhanahu wata’ala menguji hamba- Nya tidak hanya dengan kesulitan, tetapi juga kesenangan. Ada yang lulus ketika menghadapi ujian berupa kesulitan, tetapi banyak juga yang gagal. Begitu pula kesenangan, ada yang berhasil menghadapinya, tetapi banyak juga yang gagal. Sebagian salaf mengatakan, “Ketika kami diuji dengan kesusahan, kami bisa bersabar. Tetapi, (ketika) diuji dengan kesenangan, kami tidak bisa bersabar.”

5. Kisah ini mengingatkan kita agar mau menerima nasihat, mengakui kesalahan, dan menyesali sikap meremehkannya.

6. Dalam kisah ini, ditampakkan bahwa tipu daya yang buruk itu justru menimpa pelakunya sendiri. Diperlihatkan pula bahwa teman sangat berpengaruh terhadap perilaku, baik ataupun buruk.

7. Menahan-nahan sedekah adalah sebab hilangnya kesenangan dan terjadinya kehancuran. Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Rakaat Kedua Shalat Nabi Shallallahu‘alaihi wasallam

Cara Bangkit ke Rakaat Berikutnya

Malik ibnul Huwairits radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Maukah kalian aku ajarkan cara shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam?” Beliau pun mencontohkan dengan melakukan shalat, namun bukan di waktu shalat. Ketika beliau mengangkat kepalanya di sujud yang kedua dalam rakaat pertama, beliau duduk sejenak, lalu bangkit bertumpu1 (dengan kedua tangannya) di atas bumi. (HR. an-Nasai no. 1153, asy-SyafiI dalam al-Umm no.199, al-Baihaqi 2/124 dan135. Hadits ini dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan an-Nasai)

Dari hadits ini dipahami, ketika bangkit dari duduk istirahat atau tasyahud awal disunnahkan bertumpu dengan kedua tangan di atas bumi sebagaimana pendapat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, Makhul, Umar ibnu Abdil ‘Aziz, al-Hasan, Ibnu Abi Zakariya, al-Qasim Abu Abdirrahman, Abu Makhramah, Malik, asy-Syafi’i, Ahmad rahimahullah, dan selainnya dari kalangan ulama. (Sunanul Kubra Bab al-Itimad bilyadain alal Ardhi idza Qama minat Tasyahud Qiyasan alan Nuhudh minar Rakal Ula dan al-Isyraf ala Madzhabil Ulama, 2/38)

Pemahaman ini disepakati oleh seluruh ulama. Hanya saja, di antara mereka para ulama ada yang berpandangan hal itu dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena faktor ketuaan, sebagaimana al-Imam Ibnul Mundzir rahimahullah dalam al- Isyraf 2/38 menukilkan pandangan tersebut dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, an-Nakhai, ats- Tsauri, dan yang lainnya. Al – Imam asy – Syafi ’i rahimahullah menyatakan dalam kitabnya al-Umm (bab “al-Qiyam minal Julus”), “Inilah yang kami pandang, sehingga kami menyuruh orang yang bangkit dari sujud atau duduk istirahat dalam shalat agar ia bertumpu dengan kedua tangannya secara bersamaan di atas permukaan bumi dalam rangka mengikuti sunnah.”

Dari Azraq ibnu Qais rahimahullah, ia menyatakan, “Aku melihat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, apabila bangkit dari dua rakaat, beliau bertumpu dengan kedua tangannya di atas permukaan bumi. Maka aku tanyakan kepada anaknya dan para sahabatnya, ‘Apakah Ibnu Umar melakukannya karena tua?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, memang demikianlah yang biasa beliau lakukan’.” (HR. al-Baihaqi 2/135, riwayat ini jayyid sebagaimana dalam adh-Dhaifah, 2/392)

Dalam riwayat ath-Thabarani rahimahullah di al-Ausath disebutkan, “Aku (Azraq) bertanya kepada Ibnu Umar, “Kenapa anda melakukan seperti ini?” Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma menjawab, “(Aku melakukannya) karena aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya.” Abu Ishaq al-Harbi dalam Gharibul Hadits meriwayatkan juga dari Azraq ibnu Qais menyatakan, “Aku pernah melihat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma melakukan ajn dalam shalat, yaitu bertumpu dengan kedua tangannya (di atas bumi) di saat bangkit. Aku pun bertanya kepadanya tentang apa yang dilakukannya, maka ia menjawab, ‘Aku pernah melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukannya’.” (sanadnya hasan sebagaimana dalam adh-Dhaifah, 2/392)

 

Makna ‘Ajn

Hadits ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma di atas menyebutkan “melakukan ajn dalam shalat”, dan kita dapatkan ulama berbeda pendapat dalam memaknakannya. Sebagian ulama memaknainya dengan makna zahirnya sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Atsir rahimahullah dalam an-Nihayah, yaitu bertumpu dengan kedua tangan di atas bumi sebagaimana seseorang yang mengadon tepung. Adapun yang lainnya, sebagaimana yang dikatakan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu (3/421), memaknakan ajn dalam shalat ialah bangkit berdiri dalam keadaan bertumpu dengan bagian dalam kedua telapak tangan sebagaimana orang yang ajiz/lemah ( الْعَاجِزُ ) bertumpu karena tua renta. Maknanya bukan ajin al-ajiin   عاَجَنَ الْعَجِينَ : orang yang mengadon ajin/adonan tepung. Pendapat ini dinukilkan juga sebelumnya dari Ibnu Shalah dan yang lainnya. (at-Talkhish, 1/423—424)

 

Hikmah Bertumpu dengan Kedua Tangan di Atas Bumi

Al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata, “Sesungguhnya (bertumpu dengan kedua tangan ke atas bumi, –pen.) itu lebih dekat ke sikap tawadhu’, mempermudah orang yang menjalankan shalat, dan lebih aman dari risiko jatuh.” (al-Umm, kitab ash-Shalah, bab “al-Qiyamu minal Julus”)

Faedah

Hadits-hadits yang menunjukkan larangan bertumpu di atas permukaan bumi lemah sebagaimana dijelaskan hal ini oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam kitabnya Silsilah al-Ahadits Adh-Dhaifah wa al-Maudhuah (no. 967, 968)

Rakaat Kedua

Saat bangkit ke rakaat kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengawalinya dengan membaca surah al-Fatihah sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

كَانَ رَسُولُ اللهِ إِذَا نَهَضَ فِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ  افْتَتَحَ الْقِرَاءَةَ بِالْحَمْدِ اللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَلَمْ يَسْكُتْ

Apabila bangkit ke rakaat kedua, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membuka bacaan dengan Alhamdulillahi rabbil alamin dan tidak diam. (HR. Muslim no. 1355)

Dalam rakaat kedua ini, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  melakukan amalan yang sama dengan apa yang beliau lakukan di rakaat pertama sampai selesai sujud yang kedua. Hanya saja beliau menjadikan rakaat kedua lebih pendek bila dibandingkan dengan rakaat pertama. Sebagaimana telah disinggung dalam pembahasan bacaan dalam shalat zuhur bahwa bacaan beliau pada rakaat kedua lebih pendek daripada rakaat pertama. Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu memberitakan,

 كَانَ النَّبِيُّ يَقْرَأُ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ  مِنَ الصَّلاَةِ الظُّهْرِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُوْرَتَيْنِ يَطُوْلُ فِي الْأُوْلى وَيُقَصِّرُ فِي الثَّانِيَةِ

Adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam dua rakaat yang awal dari shalat zuhur membaca Ummul Kitab (al-Fatihah) dan dua surat2, beliau memanjangkan bacaan pada rakaat yang pertama dan pada rakaat kedua lebih pendek. (HR. al-Bukhari no. 759 dan Muslim no. 1012)

 

Tasyahud Awal

Seusai sujud yang kedua pada rakaat kedua, Rasulullah n tidak bangkit berdiri seperti yang beliau lakukan dalam rakaat pertama, tetapi duduk untuk bertasyahud awal. Amalan ini dinamakan tasyahud karena di dalamnya ada penyebutan syahadat yang haq, yaitu mempersaksikan hanya Allah Subhanahuwata’ala sebagai satu-satunya sesembahan yang benar. Walau di saat tasyahud ada penyebutan zikir-zikir yang lain, namun karena mulianya syahadat yang disebut di dalamnya, dipakailah sebagai istilah untuk amalan shalat yang satu ini. (at-Taudihul Ahkam, 2/271) Tasyahud itu ada dua, yaitu tasyahud awal dan tasyahud akhir. Apabila shalat yang dikerjakan berjumlah dua rakaat, seperti shalat subuh, tasyahudnya hanya sekali. Adapun yang jumlahnya lebih dari dua rakaat, tasyahud dilakukan dua kali, kecuali shalat witir yang dikerjakan tiga rakaat secara langsung, dilakukan tasyahud hanya sekali, yaitu pada rakaat yang terakhir (rakaat ketiga). Hal ini untuk membedakannya dengan shalat maghrib3. Insya Allah keterangan yang berkenaan dengan shalat witir akan dibahas secara khusus dalam penjelasan tentang shalat-shalat sunnah.

 

Hukum Tasyahud Awal

Ulama bersepakat tentang disyariatkannya tasyahud awal. Akan tetapi, mereka berbeda pendapat, apakah hukumnya wajib atau sunnah? Yang memandang wajib di antaranya ialah al-Laits, Ishaq, Abu Tsaur, Dawud azh-Zhahiri, Ahmad dalam pendapatnya yang masyhur, satu pendapat asy-Syafi’I dan satu riwayat dari mazhab Hanafi, demikian pula Ibnu Hazm azh-Zhahiri dan fuqaha ahli hadits. (al-Muhalla 2/300, al-Bidayah al-Mujtahid hlm. 123, al-Hawi al-Kabir 2/132, Fathul Bari 2/401).

Dalil mereka di antaranya:

• hadits perintah kepada orang yang salah shalatnya (al-musiu shalatahu)

• hadits keseriusan pengajaran Nabi n tentang tasyahud kepada sahabat sebagaimana seriusnya beliau mengajarkan al-Qur’an kepada mereka

• amalan yang terus-menerus beliau lakukan dalam shalatnya, dan ketika terlupakan beliau pun sujud sahwi karenanya. Hal ini seperti yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Buhainah radhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى بِهِمُ الظُّهْرَ فَقَامَ فِي  الرَّكْعَتَيْنِ ا وْألُْ لَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ. فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيْمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ، فَسَجَدَ سَجَدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ ثُمَّ سَلَّمَ

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat zuhur mengimami mereka (para sahabat) shalat. Setelah rakaat kedua, beliau bangkit berdiri tanpa duduk (tasyahud awal). Orang-orang pun bangkit bersama beliau. Ketika beliau telah menyelesaikan shalat dan orang-orang menanti salam beliau, ternyata beliau bertakbir dalam keadaan duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam. Setelahnya, barulah beliau salam. (HR. al-Bukhari no. 829 dan Muslim no. 1269)

Adapun yang memandang sunnah di antaranya Malik, asy-Syafi’i, dan yang lainnya. Dalil mereka adalah ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dalam shalat saat terlupakan tasyahud awal, para sahabat mengingatkan beliau dengan bertasbih, namun beliau tetap berdiri. Seandainya tasyahud itu wajib, tentu beliau akan duduk ketika mendengar peringatan para sahabat. (al- Hawi al-Kabir 2/132, al-Muhadzdzab fi Ikhtishar as-Sunan al-Kabir lil Baihaqi 2/581)

Dari perbedaan pendapat yang ada, penulis condong kepada pendapat pertama yang menyatakan wajibnya tasyahud awal. Adapun jawaban terhadap pendapat yang kedua, apabila telah bangkit ke rakaat ketiga dan telah berdiri, apalagi sudah telanjur membaca al- Fatihah tanpa duduk untuk tasyahud awal sebelumnya karena lupa, tidak perlu duduk kembali untuk tasyahud. Amalan shalatnya tetap diteruskan dan di akhir shalat diganti dengan sujud sahwi, sebagaimana disebutkan oleh hadits Sa’d ibnu Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (1/322—323) dengan sanad yang sahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim dan disepakati oleh al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah. Wallahu taala alam bish-shawab.

 

Duduk Iftirasy pada Tasyahud Awal

Pada tasyahud awal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk iftirasy sebagaimana duduk beliau di antara dua sujud. Hal ini berdasar hadits Wail ibnu Hujr radhiyallahu ‘anhu yang dikeluarkan an-Nasa’i rahimahullah. Wail berkata,

أَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ فَرَأَيْتُهُ يَرْفَعُ يَدَيْهِ إِذَا  افْتَتَحَ الصَّلاَةَ حَتَّى يُحَاذِي مَنْكِبَيْهِ وَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ. وَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ: أَضْجَعَ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ الْيُمْنَى

Aku pernah mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Aku melihat beliau mengangkat kedua tangan saat membuka shalat, hingga dua tangan beliau setentang dengan kedua pundak beliau. Demikian pula ketika beliau hendak rukuk. Saat beliau duduk dalam rakaat kedua, beliau membaringkan kaki kiri beliau dan menegakkan kaki kanan. (Dinyatakan sahih sanadnya dalam Shahih an-Nasai no. 1159)

Demikian yang beliau amalkan pada tasyahud awal dalam shalat tiga atau empat rakaat. Sahabat Abu Humaid radhiyallahu ‘anhu menyatakan,

 أَنَا كُنْتُ أَحْفَظُكُمْ لِصَلاَةِ رَسُوْلِ اللهِ وَفِيْهِ قَالَ: فَإِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ جَلَسَ عَلَى رِجْلِهِ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ الْيُمْنَى وَ إِذَا جَلَسَ فِي الرَّكْعَةِ الآخِرَةِ قَدَّمَ رِجْلَهُ الْيُسْرَى وَ نَصَبَ ا خْألََرَى وَ قَعَدَ عَلَى مَقْعَدَتِهِ

Aku paling hafal di antara kalian tentang shalat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam…. Dalam hadits tersebut, Abu Humaid mengatakan, Apabila duduk dalam rakaat kedua, beliau duduk di atas kaki kirinya dan menegakkan kaki yang kanan. Apabila beliau duduk pada rakaat yang terakhir, beliau mengedepankan kaki beliau yang kiri dan menegakkan kaki yang lain (kaki kanan) serta duduk di atas pantat beliau. (HR. al-Bukhari no. 828)

Az-Zain ibnul Munayyir rahimahullah, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, mengatakan bahwa hadits di atas menunjukkan adanya perbedaan antara duduk tasyahud awal dan duduk tasyahud akhir. (Fathul Bari, 2/395)

Al – Imam an-Nawawi rahimahullah  menyatakan tentang perbedaan tersebut sesuai dengan zahir hadits Abu Humaid, yaitu tasyahud awal dengan duduk iftirasy dan tasyahud akhir dengan duduk tawarruk. (al-Minhaj, 4/437)

Perbedaan Pendapat dalam Masalah Duduk Tasyahud Awal Ulama dalam masalah ini terbagi menjadi empat pendapat:

1. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri, Abu Hanifah, asy-Syafi’i, Ahmad, Ishaq, ashabur ra’yi, dan yang lainnya rahimahumullah, berpendapat duduk iftirasy pada saat tasyahud awal.

2. Al-Imam Malik t dan yang lainnya menyatakan duduk tawarruk saat tasyahud awal.

3. Al-Imam al-Auza ’ i rahimahullah menyatakan iftirasy dan boleh duduk di atas kedua telapak kaki secara bersamaan.

4. Al-Imam ath-Thabari rahimahullah menyatakan iftirasy atau tawarruk semuanya sunnah karena di sini perkaranya lapang.

(al-Isyraf ‘ala Madzhibil ‘Ulama 2/40—41, at-Tahdzib fi Fiqhi al-Imam asy-Syafi’i, 2/120, Syarhus Sunnah lil Baghawi 3/172,

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari

Mandi Janabah Bagi Wanita Haid

Apa hukum mandi janabah bagi wanita yang sedang haid?

Masalah ini mungkin terjadi dalam dua bentuk:

• Seorang wanita sedang haid, kemudian ia junub di tengah berlangsungnya haid karena bercumbu dengan suaminya atau mimpi basah. Adapun senggama saat haid diharamkan.

• Seorang wanita sedang junub, kemudian keluar darah haid sebelum sempat mandi junub.

 

Adapun masalah mandinya meliputi dua pembahasan:

1. Ia tidak berkewajiban mandi dari junubnya hingga haidnya berhenti.

Kata al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam kitab al-Mughni (1/278, terbitan Darul ‘Alam al-Kutub), “Pasal, jika ada seorang wanita haid berjunub, ia tidak diwajibkan mandi hingga haidnya berhenti.

Hal ini telah ditegaskan langsung oleh Ahmad rahimahullah, dan merupakan pendapat Ishaq bin Rahawaih rahimahullah. Sebab, mandi yang dilakukan pada saat haid berlangsung tidak memberi manfaat hukum apa pun

(karena ia masih berhadats besar dengan haidnya, -pen.).” Hal ini juga telah ditegaskan oleh al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah dalam al- Umm (Kitab ath-Thaharah, pada Bab “’Illah Man Yajibu alaihi al-Ghuslu wal Wudhu) (2/95) terbitan Dar al-Wafa’.

 

2. Terdapat silang pendapat apakah sah jika ia mandi junub saat haidnya masih berlangsung.

Pendapat pertama, sah dengan alasan haid yang berlangsung tidak menghalangi terangkatnya janabah yang dialami. Hal itu berfaedah meringankan hadats besar yang dialaminya. Ini mazhab Ahmad. Apakah disukai baginya agar melakukannya? Terdapat dua riwayat yang berbeda dari al-Imam Ahmad rahimahullah. Yang menjadi mazhab bagi fuqaha Hanabilah, hal itu disukai (mustahab). Kata Ibnu Qudamah rahimahullah selanjutnya dalam al-Mughni (1/278), “Jika ia mandi junub pada masa berlangsungnya haid, mandinya sah dan hukum junub hilang darinya (ia suci dari janabahnya).

Hal ini telah ditegaskan langsung oleh Ahmad. Kata al-Imam Ahmad rahimahullah, ‘Janabahnya hilang, sedangkan haidnya tetap ada sampai darahnya berhenti.’ Al-Imam Ahmad rahimahullah juga berkata, ‘Aku tidak mengetahui ada yang berpendapat mandi junubnya tidak sah selain ‘Atha’ rahimahullah. Ia mengatakan bahwa haid yang sedang dialaminya lebih besar daripada hadatsnya, kemudian ia meralat ucapannya lantas berpendapat boleh mandi.’ Sebab, keberadaan salah satu dari dua hadats yang sedang dialami tidak menghalangi terangkatnya hadats yang lain, sebagaimana halnya jika orang yang juga berhadats kecil melakukan mandi (untuk mengangkat hadats besarnya).” Kata Ibnu Muflih rahimahullahdalam kitab al-Furu (1/260, terbitan Muassasah ar- Risalah),

“Mengenai masalah disukainya wanita yang sedang haid agar mandi janabah sebelum haidnya berhenti terdapat dua riwayat dari al-Imam Ahmad, dan hal itu sah.” Kata al-Mardawi rahimahullah dalam kitab al-Inshaf (1/240, tahqiq Muhammad Hamid al-Faqi), “Mandi junubnya sah menurut pendapat yang benar dalam mazhab Hanbali. Al-Imam Ahmad telah menegaskan langsung hal ini.

Ditegaskan kebenarannya oleh Ibnu Qudamah dalam al-Mughni dan asy-Syarh al-Kabir serta Ibnu Tamim.” Al-Mardawi juga menyebutkan bahwa Ibnu Muflih mendahulukannya dalam al- Furu. Kemudian al-Mardawi berkata, “Demikian juga, disukai (mustahab) baginya agar mandi untuk mengangkat janabahnya menurut mazhab Hanbali. Ini didahulukan oleh Ibnu Tamim. Kata penulis kitab Majma al-Bahrain, ‘Disukai baginya agar mandi junub menurut jumhur (fuqaha Hanabilah, pen) dan dipilih oleh Majduddin’.”

Pendapat kedua, tidak sah karena terhalangi oleh haid yang sedang berlangsung. Ini adalah mazhab Syafi’I dan Maliki. Al-Imam an-Nawawi rahimahullah telah menukil mazhab Syafi’i dalam al-Majmu bahwa hal itu tidak sah. An-Nawawi berkata dalam al-Majmu (2/171), “Jika seorang wanita haid kemudian mengalami junub atau ia junub kemudian datang haid, tidak sah mandi junub saat haidnya masih berlangsung lantaran hal itu tidak ada gunanya.” Mazhab Maliki telah dinukil oleh ad-Dasuqi dalam kitab Hasyiah ad- Dasuqi ala asy-Syarh al-Kabir (pada “Mawani’ al-Haidh”, 2/147, program al-Maktabah asy-Syamilah).

Ini juga adalah pendapat lain pada mazhab Hanbali yang dinukil sebagai riwayat lain dari al-Imam Ahmad. Alhasil, tampaknya pendapat yang mengatakan sah lebih kuat. Hal itu berfaedah meringankan hadats besarnya lantaran yang tersisa setelah itu hanya hadats besar dari haidnya yang wajib ia angkat sesucinya dari haid. Yang jelas, sebenarnya ia tidak diwajibkan mandi dari janabah yang dialaminya hingga haidnya berhenti lantas ia berkewajiban mandi suci dari hadats besar yang dialaminya karena junub dan haid. Wallahu alam.

Masalah ini telah dibahas oleh alim ulama dalam kitab-kitab fikih pada masalah “Jika terkumpul beberapa hadats yang mewajibkan wudhu atau mandi”. Ketentuan hukumnya sama antara wudhu dari beberapa faktor penyebab hadats kecil dan mandi dari beberapa faktor penyebab hadats besar. Masalah ini meliputi dua pembahasan.

 ______________________________________________________________________________________

Seorang wanita haid mengeluarkan mani karena bercumbu dengan suami. Apakah ketika suci cukup sekali mandi janabah? (08xxxxxxx)

1. Mandi suci dengan salah satu niat berikut:

a. Berniat untuk bersuci dari seluruh hadatsnya.

b. Berniat untuk bisa melaksanakan ibadah yang dispersyaratkan suci dari hadats, seperti shalat.

Kata Ibnu Qudamah rahimahullah dalam al-Mughni (1/292, terbitan Darul  ‘Alam al-Kutub), “Jika terkumpul dua faktor penyebab mandi dalam waktu bersamaan, seperti haid dan junub, bertemunya dua khitan (senggama) dan ejakulasi, lantas mandi dengan niat bersuci dari kedua hadats itu sekaligus, sah. Ini pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Di antaranya adalah ‘Atha, Abu az-Zinad, Rabi’ah, Malik, asy-Syafi’i, Ishaq, dan penganut rayu/logika (yaitu fuqaha mazhab Hanafi, -pen.).

Telah diriwayatkan dari al-Hasan (yaitu al-Bashri, pen) dan an-Nakha’I tentang wanita yang haid sekaligus junub bahwa ia wajib mandi dua kali.Dalil kami (yakni mazhab Hanbali yang sejalan dengan jumhur, -pen.) adalah bahwa Nabi n tidak pernah mandi dari senggama (jima’) yang dilakukannya kecuali satu kali saja. Padahal senggama yang dilakukannya mengandung dua hal lantaran senggama itu biasanya berkonsekuensi terjadinya ejakulasi, sedangkan senggama dan ejakulasi keduanya adalah faktor penyebab diwajibkannya mandi suci. Kenyataannya, satu mandi sah untuk mengangkat kedua hadats besar tersebut, seperti halnya hadats dan najis dapat terangkat sekaligus dengan sekali basuh (cuci).

Demikian pula hukumnya jika terkumpul beberapa hadats yang mewajibkan wudhu, seperti tidur, keluarnya najis, dan menyentuh wanita1, lantas ia bersuci dengan niat bersuci dari seluruh hadats itu, mengangkat hadats kecilnya, atau berniat untuk bisa melaksanakan shalat, hal itu sah.” Ini pula yang difatwakan oleh al- Lajnah ad-Da’imah yang diketuai oleh al-Imam Ibnu Baz. Al-Lajnah berfatwa dalam Fatawa al-Lajnah (5/328-329), “Barang siapa terkena kewajiban satu mandi atau lebih, cukup baginya satu kali mandi jika ia meniatkan dengannya untuk mengangkat seluruh faktor-faktor penyebab mandinya atau meniatkan untuk bisa shalat dan ibadah semacamnya, seperti meniatkan untuk bisa melakukan tawaf. Hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى

Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah dikerjakan dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya. (Muttafaq alaih)

Al-‘Utsaimin rahimahullah juga merajihkan hal ini, bahkan meskipun hanya meniatkan bersuci dari salah satunya atau mengangkat salah satu hadatsnya yang merupakan mazhab Hanbali dan Syafi’i sebagaimana akan diterangkan pada masalah kedua.

2. Mandi suci dengan niat bersuci dari salah satu hadatsnya atau mengangkat salah satu hadatsnya.

Hal itu sah dan menyucikannya dari seluruh hadats yang ada padanya. Ini mazhab Hanbali dan Syafi’i, yang dirajihkan Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah. Berikut keterangan mazhab Hanbali. Kata Ibnu Qudamah rahimahullah selanjutnya dalam al-Mughni (1/292), “Apabila mandi dengan meniatkan salah satunya saja atau seorang wanita mandi dengan hanya meniatkan bersuci dari haid tanpa meniatkan bersuci dari janabahnya, apakah mandi itu menyucikannya pula dari hadats besar lainnya yang tidak diniatkannya? Terdapat dua pendapat kuat (pada mazhab Hanbali). Salah satunya menyatakan mandi itu menyucikannya pula dari hadats besar lainnya, karena yang dikerjakannya adalah mandi yang sah dengan niat untuk mengerjakan mandi suci yang wajib, seperti halnya jika meniatkan untuk bisa melaksanakan shalat. Pendapat kedua menyatakan menyucikannya dari apa yang diniatkan tanpa selainnya (yang tidak diniatkan), berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى.

Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah dikerjakan dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya.2

Al-Mardawirahimahullah menukil dalam al-Inshaf (1/148—149) bahwa yang menjadi mazhab Hanbali (pegangan fuqaha Hanabilah) adalah pendapat yang mengatakan seluruh hadats besarnya terangkat. Begitu pula halnya dengan wudhu yang hanya diniatkan untuk mengangkat salah satu hadats kecil yang ada, hal itu menyucikan dari seluruh hadats kecil yang ada. Akan tetapi, jika disertai niat agar hadats lainnya tidak terangkat, kata al-Mardawi, “Yang benar adalah tidak terangkat dari dirinya selain yang diniatkan, dan ini lahiriah ucapan sahabat kami.”

Maksudnya, fuqaha Hanabilah. Berikut keterangan mazhab Syafi’i. Kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam al-Majmu (1/369), “Jika seorang wanita terkena kewajiban mandi suci dari janabah dan haid lantas ia mandi dengan meniatkan salah satunya, mandinya sah dan menghasilkan keduanya tanpa ada perbedaan pendapat (yakni di antara fuqaha Syafi’iyah).” Masalah ini dikupas oleh an-Nawawi rahimahullah dalam masalah wudhu dengan berbagai faktor penyebab hadats yang dialami, karena hukumnya sama. Hanya saja, dalam masalah wudhu terdapat perbedaan pendapat di antara fuqaha Syafi’i dan an-Nawawi menukil lima pendapat yang ada di antara mereka. Tetapi, yang paling benar menurut jumhur fuqaha Syafi’iyah adalah pendapat yang mengatakan wudhu sah meskipun sekiranya disertai niat agar hadats lainnya (selain yang diniatkan) tidak terangkat. Inilah yang dirajihkan oleh Ibnu ‘Utsaimin. Al-Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab asy-Syarh al-Mumti (pada Bab Furudh al-Wudhui wa Shifatihi, 1/165—166, cet. Muassasah Asam).

Beliau juga menukil perbedaan pendapat yang ada di antara ulama dalam masalah wudhu dengan berbagai faktor penyebab hadats yang ada, lantas beliau merajihkan pendapat yang sama dengan pendapat jumhur Syafi’iyah tersebut. Beliau menerangkan bahwa jika diniatkan untuk mengangkat salah satu faktor hadats yang dialami atau bersuci dari salah satunya, seluruh hadatsnya otomatis terangkat walaupun hanya ia berniat agar hadats lainnya (selain yang yang diniatkan) tidak terangkat. Sebab, hadats itu adalah satu sifat yang sama yang dialami tubuh kendati faktor penyebabnya berbilang. Hal ini tidak kontradiksi dengan hadits,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امرِئٍ مَا نَوَى.

“Sesungguhnya setiap amalan itu hanyalah dikerjakan dengan niat, dan setiap orang akan mendapatkan balasan dari apa yang diniatkannya.”

Sebab, bagaimana pun juga hadats yang dialami tubuh adalah satu sifat (keadaan) yang sama dengan berbagai faktor penyebab hadats yang beragam. Hadats sebagai sifat (keadaan) yang dialami tubuh bukanlah hal yang berbilang secara terpisah dengan berbilangnya faktor penyebabnya.

Dengan demikian, jelaslah bahwa satu wudhu meskipun dengan niat bersuci dari salah satu faktor hadats saja sudah cukup untuk mewakili dari seluruh faktor hadats yang ada, karena dengan itu tubuh menjadi suci dari hadats yang dialami dengan berbagai faktor hadats yang ada.

Kemudian pada masalah mandi, beliau menegaskan hal yang sama dengan mengatakan bahwa apa yang dikatakan pada hadats kecil itu juga dikatakan pada hadats besar.

Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini