Bila Suami Membiarkan Istrinya Bermaksiat

Tali pernikahan menuntut seorang suami sebagai kepala keluarga untuk memikul tanggung jawab yang tidak ringan dalam mengurusi istri dan anak-anaknya. Tanggung jawab ini tidak hanya berupa pemberian nafkah dan kebutuhan lahiriah saja. Namun lebih dari itu, yaitu memerhatikan perkara agama dengan membimbing mereka kepada ketaatan serta mencegah mereka dari kemaksiatan dan penyimpangan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Dahulu sahabat Malik bin al-Huwairits radhiallahu ‘anhu bercerita bahwa dia dan beberapa orang dari kaumnya datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menimba ilmu dan tinggal di sisi beliau selama dua puluh hari dua puluh malam. Malik bin al-Huwairits z mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang penyayang. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang bahwa kami telah merindukan keluarga, beliau menanyai kami tentang orang-orang yang kami tinggalkan. Kami pun memberi tahu beliau. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Kembalilah kalian kepada keluarga kalian. Tinggallah di tengah-tengah mereka dan ajarilah serta perintahlah mereka…’.” ( Shahih al-Bukhari, no. 631)

Orang yang terdekat dengan suami adalah anak-anak dan istrinya. Merekalah orang yang paling berhak mendapatkan arahan dan bimbingan kepada kebaikan. Inilah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggangnya (semangat beribadah) dan membangunkan keluarganya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132)

Di antara sifat kemuliaan Nabi Ismail ‘alaihissalam yang diabadikan oleh al-Qur’an,

“Dan ia menyuruh keluarganya untuk shalat dan menunaikan zakat, dan ia adalah seorang yang diridhai di sisi Rabbnya.” (Maryam: 55)

Apabila seorang suami memberi perhatian penuh terhadap istri dari sisi bimbingan agama, dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, istrinya akan menjadi penyejuk mata baginya. Wanita yang seperti ini diharapkan mampu memberikan bimbingan yang baik terhadap putra-putrinya.

Dengan demikian, ia memiliki andil mencetak generasi masa depan yang bermanfaat bagi dirinya sendiri, orang tua, masyarakat, dan agamanya.

 

Suami yang Jelek

Suami yang mencintai istrinya tidak akan membiarkannya terjerumus dalam perilaku yang menyimpang. Sebab, cinta yang sejati menuntut seseorang untuk membentengi kekasihnya dari jurang kehancuran.

Suami yang tidak peduli dengan kondisi istrinya dan membiarkannya larut dalam kenistaan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas kewajibannya dalam membimbing istrinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah penanggung jawab dan akan ditanya tentang tanggung jawabnya. Seorang penguasa adalah penanggung jawab dan kelak akan ditanya tentang tanggung jawabnya, dan seorang lelaki adalah penanggung jawab terhadap keluarganya dan ia akan ditanyai tentang tugasnya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar c)

Lelaki yang tidak peduli terhadap istrinya yang melanggar batasan-batasan agama adalah lelaki yang jelek. Ia berhak mendapatkan murka dari Allah subhanahu wa ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tiga golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala haramkan mereka dari (memasuki) surga: orang yang kecanduan khamr, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan ad-dayyuts, yaitu yang membiarkan istrinya berbuat zina.” (HR. Ahmad dalam Musnad dari Ibnu Umar c dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami no. 3052)

Al-Munawi rahimahullah menerangkan, “Tiga golongan ini dihukumi kafir jika mereka menganggap halal perbuatannya. Surga itu haram atas orang-orang kafir selama-lamanya.

Apabila mereka menganggap perbuatan itu haram, yang dimaksud dengan surga itu haram atas mereka ialah mereka terhalangi dari memasukinya sebelum dibersihkan dengan api neraka. Apabila mereka sudah bersih, baru dimasukkan ke dalam surga.” (Faidhul Qadir 3/420)

 

Kecemburuan yang Nyaris Hilang

Cemburu ada yang terpuji dan ada yang tercela. Adapun yang terpuji dalah kecemburuan seseorang ketika melihat kekasihnya berbuat yang tidak baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya cemburu ada yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala dan ada yang dibenci Allah…. Adapun cemburu yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala adalah cemburu dalam perkara yang mencurigakan, sedang cemburu yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala adalah cemburu pada perkara yang tidak mencurigakan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 2221)

Disebutkan dalam ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud (7/320) bahwa cemburu dalam perkara yang mencurigakan, seperti seorang lelaki cemburu terhadap para mahramnya bila melihat mereka melakukan perbuatan yang diharamkan, termasuk yang dicintai Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun cemburu pada perkara yang tidak mencurigakan, seperti seorang cemburu kepada ibunya jika ia dinikahi oleh ayah tiri, demikian pula kecemburuan para mahramnya, yang seperti ini termasuk yang dibenci Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, apa yang Allah subhanahu wa ta’ala halalkan bagi kita, kita wajib meridhainya.

Allah subhanahu wa ta’ala juga cemburu bila hamba-Nya berbuat maksiat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala cemburu dan sesungguhnya seorang mukmin itu cemburu. Kecemburuan Allah subhanahu wa ta’ala adalah jika seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan Allah subhanahu wa ta’ala kepadanya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ibnul Arabi rahimahullah menerangkan, “Orang mukmin yang paling kuat cemburunya adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh karena itu, beliau tegas dalam menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar dan melakukan pembalasan hukuman karena Allah subhanahu wa ta’ala. Beliau tidak peduli dalam hal ini pada celaan orang yang mencela.” (Faidhul Qadir 2/387)

Al-Munawi rahimahullah berkata, “Orang yang paling mulia dan paling tinggi tekadnya adalah orang yang paling cemburu. Seorang mukmin yang cemburu pada tempatnya telah mencocoki Allah subhanahu wa ta’ala pada salah satu sifat-Nya. Barang siapa mencocoki Allah subhanahu wa ta’ala pada salah satu sifat-Nya, sifat itu akan menjadi kendalinya dan akan memasukkannya ke (hadapan) Allah subhanahu wa ta’ala serta mendekatnya kepada rahmat-Nya.” (Tuhfatul Arus, Istambuli, hlm. 387)

Seperti inilah bimbingan Islam yang sangat mulia. Masih adakah kiranya arahan seperti ini pada hati-hati para lelaki di zaman sekarang?! Sungguh, sulit didapatkan. Justru kebanyakan mereka membawa istri atau anak-anak perempuannya ke jalan-jalan umum untuk dipamerkan dan membiarkan mereka membuka aurat di jalan-jalan hingga menjadi umpan para perampok kehormatan dan kesucian.

 

Fenomena Pembiaran Maksiat pada Istri

Entah karena takut istri atau bersikap masa bodoh, dan yang pasti karena lemahnya iman, kita dapatkan tidak sedikit lelaki yang membiarkan istrinya terpaparkan pada kemudaratan. Hal ini bisa dilihat dalam banyak hal, di antaranya:

  1. Istri dibiarkan bepergian tanpa mahram.

Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah wanita bepergian kecuali dengan mahramnya.” ( HR. Ahmad, al-Bukhari, dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Telah banyak korban berjatuhan karena melanggar aturan agama ini. Ada yang menjadi korban penipuan, perampokan, hingga pelecehan seksual.

Hukum larangan bepergian bagi wanita tanpa mahram berlaku umum, apakah bepergian dalam rangka ketaatan atau perkara yang mubah. Sesungguhnya syariat sangat sayang kepada manusia, namun amat disesalkan bahwa aturan yang mulia ini dianggap mengekang kebebasan mereka. Kadang kondisi suami lebih parah, ia justru menyuruh istrinya bekerja di luar negeri mencarikan nafkah untuknya dengan mempertaruhkan nyawa dan kehormatannya.

 

  1. Berbaurnya laki-laki dan perempuan sudah menjadi pemandangan yang dianggap lumrah.

  1. Padahal ini merupakan pintu yang lebar untuk terjadinya kekejian. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra: 32)

 

  1. Membiarkan istrinya berpenampilan seperti wanita-wanita yang fasik dan kafir, baik bentuk rambutnya, pakaiannya, gaya bicaranya, maupun yang semisalnya.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  1. “Barang siapa menyerupai suatu kaum, ia termasuk bagian mereka.” ( Abu Dawud dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. Lihat Shahih al-Jami’ no. 6149)

Lebih parah lagi, dia bangga ketika istrinya tampil di hadapan manusia dengan penampilan ala barat (kafir).

 

  1. Tidak menasihati istrinya ketika berpakaian seperti para lelaki.

Padahal wanita yang seperti ini diancam dengan laknat,

“Allah subhanahu wa ta’ala melaknat wanita yang menyerupai lelaki dan para lelaki yang menyerupai wanita.” ( HR. Ahmad dan lain-lain, serta dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’)

 

  1. Membiarkan istrinya melakukan perbuatan mungkar dan ucapan yang maksiat.

Pembiaran seperti ini terjadi terkadang dilandasi oleh keyakinan suaminya yang sesat, yaitu bahwa setiap orang punya hak untuk bersuara dan mengekspresikan kemauannya. Orang seperti ini sangat bodoh karena dia tidak tahu bahwa setiap gerak-gerik dan ucapan manusia kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah subhanahu wa ta’ala. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (al-Isra: 36)

 

  1. Membiarkan istri digoda oleh lelaki lain dan dicandai hingga sudah kelewat batas.

Misalnya, dicium oleh lelaki lain, dicolek, dan dipegang-pegang tubuh atau bajunya. Lelaki seperti ini masih bercokol pada otaknya kebiasaan jahiliah yang memandang bahwa haknya suami dari istrinya adalah bagian setengah istrinya sampai bawah, adapun setengah tubuh istri ke atas maka siapa suka dan menaruh benih cinta. (Raudlatul Muhibbin 116, cetakan Dar ash-Shuma’i)

 

  1. Mendiamkan istrinya berkhalwat (berdua-duaan) dengan lelaki yang bukan mahram.

Padahal ini termasuk jalan pintas untuk terjadinya perzinaan.

 

  1. Membiarkan istrinya dibonceng oleh lelaki yang bukan mahram dan terkadang oleh saudara laki-laki suami (ipar istri).

Padahal bermudah-mudah dalam hal ini bisa mengantarkan kepada penyimpangan istri dan tidak mustahil terjadi perselingkuhan dengan iparnya.

Masih banyak lagi bentuk ketidakberesan tingkah laku dan ucapan yang dilakukan oleh wanita yang disikapi dingin oleh suaminya. Sudah hilang darinya sifat kecemburuan dan telah lenyap jiwa kelaki-lakiannya. Yang paling mengerikan, suami yang seperti ini diancam dengan azab yang abadi, apabila ia meyakini bahwa hal tersbut halal/boleh, sebagaimana keterangan al-Munawi rahimahullah di atas.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa melimpahkan rahmat dan bimbingannya kepada kita untuk bisa menempuh jalan keselamatan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Suami, Jauhi Perangai Ini!

Amarah bis suu’ adalah salah satu predikat yang nyata tersematkan pada jiwa manusia. Ammarah bis suu’ dimaknakan dengan sifat yang selalu mengajak, mendorong, dan menggoda untuk bertindak jelek, melakukan dosa, dan “menikmati” hawa nafsu. Seperti itulah watak asli seorang manusia! Seperti itulah Allah subhanahu wa ta’ala memberitakan tentang jiwa kita! Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam,

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Rabbku. Sesungguhnya Rabbku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Yusuf: 53)

Dalam konteks sederhana hidup Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai berumah tangga, ditemukan banyak kesalahan dan keburukan dalam perangai seorang suami. Menurut syariat, hal-hal tersebut dilarang karena akan merusak keharmonisan rumah tangga yang berujung pada ketidaknyamanan dalam realisasi ibadah.

Nah, sebagai seorang suami yang ideal, ada baiknya Anda mengenali perilaku-perilaku “terlarang” berikut ini lalu menjauhinya agar Anda menjadi sosok yang dicintai, selalu dirindukan dan disayang oleh istri.

Barangkali saja, istri Anda terlihat kurang mengasihi dan mencintai Anda karena ada perilaku “terlarang” yang ada pada diri Anda. Na’udzu billah min dzalik (Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).

 

  1. Kurang Memerhatikan Hak-Hak Istri

Inilah dosa terbesar seorang suami kepada istrinya! Amanat pernikahan yang dititipkan di pundaknya diabaikan begitu saja. Seringkali seorang suami melupakan hak-hak istri karena ia hanya mengejar istrinya agar menunaikan kewajiban-kewajibannya. Tidak jarang konflik keluarga, bahkan perceraian, terjadi karena sang istri tidak tertunaikan hak-haknya dengan baik.

Padahal secara tegas Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kaum suami tentang hal ini dalam firman-Nya,

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (al-Baqarah: 228)

Kenyataannya, tidak semua suami mengerti dan memahami tentang hak-hak istrinya. Jika Anda ditanya, “Apa saja hak-hak istri yang harus Anda berikan?” kira-kira apa jawaban Anda? Tidak usah malu, tidak perlu sungkan untuk bertanya. Pelajarilah hukum-hukum agama tentang hak-hak istri. Janganlah rasa malu dan gengsi membuat kita terjatuh dalam sebuah dosa; kurang memerhatikan hak-hak istri.

Lihat saja semangat para sahabat dalam bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Al-Imam Abu Dawud rahimahullah (no. 2141) meriwayatkan dari sahabat Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu. Beliau radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Apa saja hak-hak seorang istri yang mesti dipenuhi oleh suaminya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

“Engkau beri makan istrimu jika engkau makan. Engkau beri pakaian istrimu jika engkau berpakaian. Jangan pukul wajahnya. Jangan menjelek-jelekkannya. Jangan engkau diamkan istrimu kecuali di dalam rumah.”

Apakah sebatas ini saja hak-hak istri? Tidak. Masih banyak lagi hak-hak istri yang disebutkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits-hadits yang lain. Apakah Anda telah memahami hak-hak istri secara lengkap dan utuh? Jika belum, mengapa tidak bersegera mempelajarinya? Bukankah rumah tangga yang harmonis adalah cita-cita kita semua? Jika memang demikian, tunaikanlah hak-hak istri Anda! Barakallahu fikum.

 

  1. Pemarah

Pasti Anda pernah marah kepada istri, bukan? Sejatinya, marah kepada istri sah-sah saja asalkan memiliki alasan yang tepat, cara yang benar, dan waktu yang pas. Maksudnya, marah janganlah dijadikan sebagai karakter sehari-hari ketika bersama istri.

Anda belum bisa dikategorikan suami ideal jika sering marah tanpa sebab yang jelas, melontarkan kata-kata kasar ketika marah, atau marah di sembarang waktu. Ingat, seorang wanita cenderung menyimpan luka di hati dibanding harus membalas kemarahan suami. Sudah berapa banyak luka yang Anda goreskan di hati istri?

Di mata seorang istri, suami yang mampu mengendalikan amarah sangatlah spesial. Sikap lembut dan kasih jauh lebih menghunjam dan menyentuh hati istri dibandingkan dengan dimarahi dengan kata-kata kasar, walaupun istri memang merasa bersalah.

Cobalah Anda merenungkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut ini,

“Orang yang disebut kuat itu bukan karena mampu mengalahkan lawannya (dengan kekuatan fisik). Orang kuat itu sejatinya adalah yang mampu mengendalikan diri ketika marah.” (HR. al-Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Alangkah banyak problem rumah tangga yang berawal dari marah yang tak terkendali. Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), anak-anak yang broken home, bahkan kasus perceraian, seringnya disebabkan marah yang tak terkendali. Betapa sering seorang suami mengancam istrinya untuk dicerai dengan kata dan nada yang kasar!

Memang, benar sekali kalimat bijak dari seorang sahabat Nabi, ”Aku renungkan hadits ini. Ternyata sikap marah itu menghimpun seluruh bentuk keburukan!”

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu sedang istirahat di rumah salah seorang istri beliau. Tiba-tiba seorang pelayan suruhan dari istri beliau yang lain datang sambil membawa talam berisi makanan untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Langsung saja istri beliau yang berada di samping Nabi memukul tangan pelayan tersebut sehingga talam yang dibawanya jatuh dan pecah. Apakah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam marah?

Beliau ternyata malah mengumpulkan pecahan-pecahan talam tersebut. Beliau juga mengumpulkan makanan yang jatuh berserakan sambil bersabda,

“Ibunda kalian cemburu rupanya.” (HR. al-Bukhari no. 5225 dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menahan si pelayan tersebut kemudian memberikan talam yang masih utuh milik istri beliau yang sedang cemburu sebagai pengganti. Adapun talam yang pecah disimpan di rumah istri beliau yang memecahkannya.

Subhanallah! Demikianlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meneladankan untuk kita, wahai kaum suami. Masih berniat marah kepada istri?

 

  1. Egois

Egois artinya selalu mementingkan diri sendiri. Egois adalah penyakit yang sering dialami oleh kaum suami di dalam lingkup sebuah rumah tangga. Barangkali faktor penyebab yang terbesar adalah kesan bahwa suami harus serbabisa, serba lebih baik, dan serba powerful. Padahal, rumah tangga semestinya dibangun di atas asas saling pengertian, saling memaklumi, saling mengisi, dan saling menyempurnakan.

Masih ingat dengan Perjanjian Hudaibiyah? Setelah gagal melaksanakan umrah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sekitar 1.400 orang sahabat membuat kesepakatan dengan kaum kafir Quraisy di daerah Hudaibiyah. Seusai perjanjian tersebut ditulis, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabat untuk menyembelih hewan hadyu dan mencukur rambut. Namun, saat itu tidak ada seorang pun sahabat yang bangkit melaksanakan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Meskipun perintah itu diulang sampai tiga kali, tetap saja para sahabat diam.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu masuk ke dalam tenda Ibunda Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Kepadanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi. Apa saran dan gagasan Ibunda Ummu Salamah?

“Wahai Nabiyullah, apakah Anda menginginkan hal itu? Silahkan Anda keluar kembali. Jangan Anda berbicara sepatah kata pun kepada seorang pun. Anda lakukan itu sampai Anda menyembelih sendiri unta Anda dan Anda memanggil tukang cukur agar ia mencukur Anda.” (HR. al-Bukhari no. 2731)

Inilah sosok Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Seorang suami yang tidak sungkan untuk bermusyawarah, berbagi cerita dengan istrinya. Adakah suami yang lebih baik dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Lihatlah sosok suami seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mau bermusyawarah dengan istrinya.

Setelah itu apa yang terjadi? Melihat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menyembelih dan mencukur rambut, langsung saja para sahabat bergegas untuk menyembelih dan mencukur rambut mereka.

Wahai suami ideal, buanglah jauh-jauh sifat egois dari diri kita! Istri kita pun memiliki harapan yang sama dengan harapan kita. Kebaikan dan “kesempurnaan” apa pun yang kita impikan dari istri, ingat-ingatlah bahwa istri pun mendambakan yang sama.

Cukuplah sebagai pelajaran penting untuk kita, sentuhan penuh kasih dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di dalam pernyataan beliau,

“Sungguh, aku semangat sekali berhias untuk istriku, sebagaimana halnya aku pun ingin istriku berdandan untukku. Sebab, Allah Yang Mahatinggi sebutan-Nya berfirman, ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf’.” (al-Baqarah: 228) (Tafsir ath-Thabari)

Nasihat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas bukan hanya dalam hal berpakaian! Nasihat Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas hanyalah salah satu bentuk realisasi ayat yang beliau baca. Maknanya, janganlah bersikap egois! Berikanlah hak-hak istri Anda sebagaimana Anda ingin hak-hak Anda dipenuhi oleh istri Anda.

Andai saja perangai “terlarang” ini mampu kita jauhkan sejauh-jauhnya dari rumah tangga, berharaplah dan tersenyumlah sebab sakinah, mawaddah, dan rahmah akan bertaburan di setiap sentimeter rumah Anda, insya Allah.

Semoga doa-doa penuh harap dari seluruh istri di atas muka bumi agar suaminya menjadi suami ideal, selaras, dan serasi dengan doa-doa para suami,

“Ya Allah, bantulah aku dan mudahkanlah aku untuk menjadi seorang suami yang saleh, ideal, dan istimewa untuk istriku.”

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

 

Peran Istri Mewujudkan Suami Ideal

Percaya atau tidak, kenyataannya memang demikian. Istri salihah adalah unsur penting dan salah satu komponen utama untuk menjadi suami ideal. Ibarat dua sisi mata uang, suami ideal dan istri salihah memang tidak dapat dipisahkan. Walhasil, hidup berumah tangga adalah wujud dari interaksi sederhana namun mengandung berjuta-juta warna.

Pernahkah mendengar tentang cemburu yang dirasakan oleh Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha? Biarlah kita mendengar sendiri pengakuan jujur Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, “Aku tidak pernah cemburu kepada istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana rasa cemburuku kepada Khadijah. Padahal aku belum pernah melihatnya sama sekali. Akan tetapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sering sekali mengenang Khadijah. Kadang-kadang beliau menyembelih seekor kambing lalu memotong-motongnya. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengirimnya untuk sahabat-sahabat dekat Khadijah. Terkadang aku mengatakan, ‘Seolah-olah di dunia ini tidak ada lagi wanita selain Khadijah!’.”

Bagaimanakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanggapi Ibunda ‘Aisyah? Beliau justru mengenang Ibunda Khadijah dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan Ibunda Khadijah. Bahkan, di dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibunda ‘Aisyah,

“Sungguh, aku telah diberi rezeki berupa mencintai Khadijah!” ( HR. al-Bukhari no. 3818 dan Muslim no. 2435)

Sejarah telah mengabadikan peran, jasa, dan pengorbanan Ibunda Khadijah demi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak terhitung lagi peristiwa-peristiwa penting yang telah dilewati oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara itu istri beliau—Ibunda Khadijah—berdiri di sisinya dengan tegar dan tabah. Masih ingatkah kita dengan hiburan indah dalam kata-kata penuh semangat yang diucapkan Ibunda Khadijah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Ya, saat itu beliau baru pulang ke rumah dari Gua Hira. Masih dalam suasana kekhawatiran di wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibunda Khadijah dengan pandainya menenangkan hati sang suami, “Tidak, demi Allah. Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mungkin menghinakan Anda selamanya. Anda selama ini selalu menyambung tali silaturahmi, membantu orang yang kesusahan, memberi orang yang tak punya, memuliakan tamu, dan Anda selalu menolong orang-orang yang sedang membutuhkan.”

Pantas saja jika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu terkenang dengan Ibunda Khadijah walaupun beliau telah meninggal dunia. Pantas saja apabila Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam masih terus menjalin hubungan baik dengan sahabat-sahabat dekat Ibunda Khadijah. Pantas saja demikian, sebab beliau telah menyatakan, “Sungguh, aku telah diberi rezeki berupa mencintai Khadijah!”

Jika seorang istri mendambakan suaminya menjadi ideal, bantulah dirinya untuk menemukan titik tepat guna memulai. Tebarkanlah kenyamanan dan doronglah dirinya dengan cara-cara hikmah penuh sensasi. Kirimkanlah pesan kepada suami Anda dengan tatapan mata, bukan hanya dengan kata-kata. Seolah-olah Anda tengah berpesan, ”Wahai suamiku, jadikanlah dirimu sungguh-sungguh ideal dan spesial untukku.”

Tentu berbeda rasanya bagi seorang suami ketika sang istri mengatakan, “Mengapa Abah selalu tampil tidak rapi?!” atau “Abah itu dari dulu tidak berubah-ubah, selalu asal-asalan kalau berpakaian!”

Sungguh, amat berbeda dengan pesan penuh cinta, “Sebaiknya Abah memakai pakaian yang telah saya setrika. Jadi, Abah selalu merasa saya ada di samping Abah.”

Jika Anda seorang laki-laki yang belum menikah, berusahalah untuk menemukan wanita salihah agar Anda pun terbantu untuk menjadi ideal baginya. Jika Anda telah menjadi seorang suami, tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri. Kesempatan menjadi suami ideal selalu terbuka. Apalagi istri Anda tidak pernah berhenti untuk berdoa dan berharap, “Ya Allah, bimbinglah suamiku untuk menjadi suami yang saleh.”

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Tujuh Kriteria Suami Ideal

Jika kita menyampaikan sebuah pertanyaan sederhana, “Seperti apakah kriteria seorang suami ideal itu?” bisa jadi jawabannya akan beragam. Setiap orang akan menjawab sesuai dengan impian dan dambaannya. Tidak mudah memang untuk menyempitkan makna ideal pada pribadi seorang suami, sebab seluruh kriteria yang baik-baik akan coba disematkan pada pribadinya. Menjadi suami ideal memang tidaklah mudah.

Walaupun demikian, ibarat sedang menempuh sebuah perjalanan menuju satu titik tertentu, seorang suami mesti mempunyai peta yang representatif, rute yang jelas, dan estimasi waktu yang tepat. Bagaimanapun juga, menjadi suami ideal adalah realisasi dari perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bagi seorang istri pun, suami yang nyata beritikad untuk menjadi ideal tentu sangat spesial di hatinya. Berbeda halnya dengan seorang suami yang tidak bersungguh-sungguh dalam berusaha, pasti kurang bernilai di hadapan istrinya.

Berikut ini, penulis mencoba untuk menyusun beberapa kriteria suami ideal yang didambakan oleh seorang istri. Usaha ini tentu terbilang sederhana. Membandingkan dengan pengalaman sebagian pembaca yang telah sekian lama menjalani kehidupan rumah tangga, kajian ini hanyalah ibarat menggarami lautan. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan taufik-Nya. Amin.

 Doa

  1. Gemar Beribadah

Inilah kriteria terpenting untuk menjadi suami ideal! Rumus lugasnya; jika seorang suami giat dan gemar beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala, tentu ia pun akan menjadi suami yang sangat memerhatikan hak-hak istrinya. Suasana rumah pasti menjadi tenteram, sejuk, dan nyaman ketika ibadah menjadi sumber kekuatannya.

Lihatlah bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegakkan qiyamul lail sampai telapak kaki beliau bengkak dan pecah-pecah! Lihat pula bagaimana semangat beliau untuk berpuasa! Bayangkanlah kedermawanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang senang bersedekah! Semua itu beliau lakukan dengan sepengetahuan istri-istri beliau. Istri-istri beliau pun semakin cinta kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dengan indahnya, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan seorang suami yang gemar beribadah di tengah malam dalam sabdanya,

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan rahmat-Nya kepada seorang suami yang bangun malam untuk shalat. Ia pun tak lupa membangunkan istrinya. Jika istrinya enggan, ia memercikkan air (dengan penuh cinta) di wajah istrinya.” (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Indah sekali, bukan?

Seorang istri tentu rela dan ikhlas ditinggalkan oleh suaminya hingga larut malam. Ia rela untuk tidak makan malam bersama sang suami. Ia rela memulai malamnya tanpa suami di sisinya. Sebab, sang suami bersama warga desa—misalnya—tengah beribadah dengan menggali sebuah kuburan untuk tetangganya yang meninggal dunia di sore harinya.

Namun, alangkah merana dan sedihnya hati seorang istri ketika harus menanti kedatangan sang suami sampai tertidur dengan menempelkan pipi di tangan, di atas meja makan. Harapannya tidak lebih hanyalah agar bisa makan malam bersama. Ternyata sang suami malah bercanda ria bersama teman-temannya di sebuah warung di ujung desa, tanpa memberi tahu sang istri. Nas’alullah as-salamah (Kita memohon keselamatan kepada Allah).

Tentu berbeda perasaan seorang istri yang menyaksikan sang suami memulai hari dengan melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an, dengan perasaannya ketika menyaksikan sang suami mengawali hari dengan membaca koran.

Ringkasnya, seorang suami yang gemar beribadah tentu membuahkan sensasi yang menyejukkan hati sang istri.

Green_leaf_with_water_drops_wallpaper

  1. Lembut

Karakter kedua yang banyak diharapkan kaum istri adalah suami dengan perangai yang lembut. Lembut dalam bertutur kata, lembut dalam bersikap, ataupun lembut dalam suasana tegang sekalipun.

Seorang suami yang ideal tentu tidak akan “berlindung” di balik alasan-alasan umum semacam, “Memang watakku seperti ini!”, “Aku kan berasal dari daerah ini”, atau alasan-alasan lain. Sebab, syariat Islam berlaku untuk setiap waktu dan di seluruh tempat.

Semestinya seorang suami ideal memahami bahwa wanita diciptakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan perangai yang halus, sensitif, penuh perasaan, dan mudah terluka. Dengan demikian, ia akan berusaha menyikapi istrinya dengan penuh kelembutan dan cinta.

Suatu saat, Ummu Sulaim radhiallahu ‘anha bersama beberapa istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berada di atas kendaraan. Seorang pengendali kendaraan berada di depan untuk mengatur arah gerak kendaraan tersebut. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menceritakan kepada kita tentang pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat itu kepada si pengendali,

Wahai Anjasyah, pelan-pelanlah terhadap kaca-kaca tersebut dalam mengendalikan.” (HR. Muslim no. 2323)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan, “Para ulama mengatakan, kaum wanita disebut kaca karena perasaan mereka yang lemah. Mereka disamakan dengan kaca yang lemah dan mudah pecah.” (Syarah Shahih Muslim)

Jika istri Anda sedang marah atau dalam keadaan emosi, janganlah membalas dengan sikap marah juga. Berikan senyum tulus untuknya, dekati, peluk, belai rambutnya, dan bisikkanlah kata-kata mesra. Sekeras apa pun hati seorang istri—walau seperti karang—ia pasti akan luluh dan menangis bahagia jika Anda mencurahkan sentuhan kelembutan untuknya.

Purple Ribbon

  1. Penuh Perhatian

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki banyak istri. Seperti apakah bentuk perhatian yang diberikan oleh beliau untuk para ibunda kaum muslimin? Hampir setiap hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui seluruh istri beliau di rumahnya masing-masing. Beliau mengucapkan salam, menanyakan kabar, membelai, dan mencium, namun tidak sampai berhubungan badan. Beliau melakukannya kepada seluruh istrinya, sampai beliau tiba di rumah istri yang memperoleh giliran menginap. (Lihat Aunul Ma’bud hadits no. 2135)

Setiap istri pasti selalu ingin diperhatikan secara penuh oleh suaminya. Oleh karena itu, penuh perhatian menjadi kriteria ideal seorang suami di mata seluruh istri. Untuk itu, langkah penting yang mesti dilakukan oleh seorang suami adalah mempelajari dan memahami kebiasaan-kebiasaan istrinya. Dengan demikian, seorang suami dapat menyesuaikan diri sehingga mampu bersikap secara tepat kepada istrinya.

Dalam sebuah kesempatan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan kepada ‘Aisyah, “Sungguh, aku bisa membedakan saat engkau sedang senang kepadaku atau sedang marah.

Dari mana Anda bisa mengetahuinya?” tanya ‘Aisyah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, “Jika sedang senang kepadaku, engkau selalu mengatakan, ‘Tidak, demi Rabb Muhammad!’. Namun, dalam keadaan marah, engkau akan mengucapkan, ‘Tidak, demi Rabb Ibrahim’.”

Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pun mengatakan, “Benar, demi Allah, wahai Rasulullah. Aku tidak akan meninggalkan kecuali nama Anda saja.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menerangkan, “Dari hadits ini, dapatlah dipahami bahwa seorang suami harus mempelajari perbuatan dan ucapan istrinya. Hal ini terkait dengan sikap senang dan marah seorang istri kepada suaminya. Setelah itu, suami bisa memilih sikap sesuai dengan qarinah (tandatandanya).” (Fathul Bari)

Dalam keadaan haid (menstruasi), psikis seorang istri tengah dalam kondisi labil. Pembawaannya selalu ingin marah meski ia sendiri pun tidak mengerti, apa sebabnya ia marah? Pekerjaan rumah malas diselesaikan. Mungkin makanan dan minuman yang telah dipersiapkan oleh istri pun berubah rasa. Wajah cemberut dan masam adalah ciri khas seorang istri ketika sedang menstruasi. Oleh sebab itu, sebagai suami ideal, ia harus memerhatikan siklus haid istrinya. Harapannya, saat menstruasi tiba, ia tidak akan kaget dengan muka masam sang istri.

scale-of-justice

  1. Adil ketika Menimbang

Setiap istri pasti mengakui kekurangan yang ada pada dirinya. Tidak ada istri yang sempurna tanpa cacat. Setiap istri pun ingin selalu dibimbing dan diarahkan oleh suaminya. Hal ini termasuk yang banyak diidamkan oleh kaum istri.

Seorang suami yang mampu adil di dalam menimbang kelebihan dan kekurangan istrinya. Seorang suami yang selalu menyebutkan kelebihan sang istri. Seorang suami yang mudah melupakan dan memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh istri. Suami yang selalu mengungkit-ungkit “dosa masa lalu” istri adalah suami yang dibenci oleh istri. Na’udzu billah.

Cobalah Anda, wahai suami, meresapi sepenuh hati sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu,

“(Laksanakanlah wasiat dariku) dengan bersikap baik kepada kaum istri. Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah atasnya. Jika ingin meluruskannya, engkau pasti akan mematahkannya. Jika engkau biarkan, ia tetap bengkok. (Laksanakanlah wasiat dariku) dengan bersikap baik kepada kaum istri!” (HR. Muslim no. 1468)

Sebagai manusia biasa, seorang istri pun bisa saja melakukan kesalahan. Bahkan, mungkin bagi Anda kesalahan itu amatlah besar. Namun, selama kesalahan itu masih bisa dimaklumi untuk kemudian diperbaiki, mengapa Anda tidak mencoba untuk mengingat-ingat kembali jasa, pengorbanan, dan pelayanan yang telah diberikan oleh istri selama ini?

Ingat-ingatlah ketika istri Anda bersabar melayani ketika Anda sedang terbaring sakit! Ingat-ingatlah bagaimana ia berjuang untuk mengandung, melahirkan, menyusui, dan merawat anak-anak Anda! Bayangkanlah kembali pengorbanan istri untuk bisa menerima Anda sebagai suami! Bayangkanlah kepayahan istri yang setia mempersiapkan makanan, minuman, pakaian, dan segala keperluan Anda!

Bukankah baginda dan junjungan Anda pernah bersabda,

Janganlah seorang mukmin membenci mukminah. Jika ia membenci sebuah perangainya, tentu ia senang dengan perangai yang lain.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu no. 1469)

certification criteria

  1. Tipe Pekerja Ketika di Rumah

Karakter seorang suami yang banyak diidam-idamkan oleh kaum istri! Walaupun kaum istri menyadari betapa berat tugas suami di luar rumah untuk mencari nafkah, namun pasti akan terasa spesial jika sang suami tidak segan dan sungkan melakukan pekerjaan rumah. Kaum istri tidak menuntut hal semacam ini di setiap waktu. Jika dilakukan tepat pada momentumnya, kebanggaan akan memenuhi hati seorang istri.

Ibunda ‘Aisyah pernah ditanya oleh seorang tabi’in bernama al-Aswad bin Yazid an-Nakha’i tentang rutinitas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam jika sedang berada di rumah. Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha menjawab,

Beliau selalu membantu istri-istrinya. Jika telah mendengar kumandang azan, beliau segera menyambutnya.” (HR. al-Bukhari no. 5363)

Alangkah berbunga-bunga hati seorang istri jika menyaksikan suaminya memperbaiki genteng rumah yang pecah, mengganti lampu, memperbaiki pagar rumah, mengecat dinding kamar, mencuci kendaraan, membersihkan selokan, atau aktivitas semisalnya. Istri akan memerhatikan dengan penuh kasih saat suami sedang mengerjakan hal-hal tersebut.

Apakah hal ini diperintahkan oleh syariat? Tentu! Di dalam Musnad al- Imam Ahmad (6/121) disebutkan, ketika ditanya tentang aktivitas Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah, Ibunda ‘Aisyah menjawab,

Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sendal, dan melakukan pekerjaan sebagaimana kaum laki-laki bekerja di rumah.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani di dalam ash-Shahihah no. 671 dan asy-Syaikh Muqbil di dalam ash-Shahihul Musnad 2/476)

Bahkan, di dalam riwayat lain (HR. Ahmad 6/256) ditambahkan, “Beliau juga memerah susu kambing dan melayani dirinya sendiri.

Subhanallah! Beginilah wujud tawadhu’ Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang suami.

Memang, tidak semua pekerjaan rumah harus dilakukan oleh seorang suami. Namun, pilihlah momentum dengan cerdik agar istri selalu merasa diperhatikan oleh suami.

Al-Hafizh Abul Fadhl al-‘Iraqi rahimahullah menerangkan, “Adapun membantu istri dalam tugas khusus mereka—secara zahir—tidaklah masuk dalam pengertian hadits di atas. Tidak mungkin istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan diam dan membiarkan beliau melakukannya.” (Tharhu at-Tatsrib 8/181)

  1. Pemberani

Sebagai makhluk yang lemah, seorang wanita sangat memerlukan rasa aman. Suami dengan tipe pemberani tentu menjadi pilihan setiap wanita. Wanita memang mengharapkan seorang suami yang mampu memberikan rasa nyaman, mengayomi, melindungi, dan menjaganya sepenuh hati. Setiap kali berada di samping suami, hatinya selalu merasakan ketenteraman.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah figur seorang suami yang gagah berani. Dalam hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu (riwayat al-Bukhari dan Muslim), dikisahkan bahwa suatu malam penduduk kota Madinah dikejutkan oleh suara gaduh yang berasal dari luar kota Madinah. Sejumlah sahabat bergegas berangkat menuju arah suara untuk memastikan, apa yang sedang terjadi? Di dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah kembali dari arah suara seorang diri. Dengan menunggang kuda dan membawa pedang tajam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan,

Tidak ada yang perlu kalian takutkan! Tidak ada yang perlu kalian takutkan!

Bayangkan saja! Saat larut malam, seorang istri membangunkan sang suami yang sedang tidur di sampingnya. Istrinya menyampaikan, ”Ada suara aneh dari arah dapur, Mas.” Bukannya bangun, suami justru mengatakan, “Nggak ada apa-apa.”Atau suami malah deg-degan dan kecemasan tampak di wajahnya. Bukan seperti ini yang diharapkan oleh istri!

Bukankah lebih baik lagi jika sang suami segera bangun kemudian menuju ke dapur, sehingga ia kembali menemui istrinya dan menyampaikan, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya beberapa ekor tikus saja yang menjatuhkan sebuah piring melamin.”

Alangkah bangganya seorang istri dengan suami yang demikian! Jika kepada seekor tikus saja seorang suami “takut”, bagaimana mungkin sang istri bisa merasakan kenyamanan dan perlindungan?

Ada lagi satu hal yang perlu dibudayakan oleh suami di hadapan istri; berani mengaku salah. Kebenaran tentu lebih dijunjung tinggi dibandingkan “harga diri”. Mengapa kita sebagai seorang suami terus disandera oleh gengsi, hingga sulit untuk mengucapkan maaf di hadapan istri?

Sungguh, semakin tawadhu’ seorang hamba di hadapan kebenaran, akan semakin mulia derajatnya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Berani mengaku salah tidak akan menurunkan wibawa sama sekali. Justru istri akan semakin sayang ketika suaminya berani mengaku salah.

Renungkanlah pelajaran berharga dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut! Pada saat istri beliau—Ibunda ‘Aisyah—menjadi bahan berita dusta kaum munafikin, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai seorang suami sangat bersedih. Wahyu dari langit belum juga turun. Hingga suatu saat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Ibunda ‘Aisyah dan membimbing,

Wahai ‘Aisyah, sungguh aku telah mendengar kabar demikian dan demikian. Jika dirimu memang bersih dari tuduhan itu, Allah subhanahu wa ta’ala pasti akan menyucikan dirimu. Jika dirimu memang terjatuh dalam kesalahan, beristighfar dan bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Sesungguhnya seorang hamba yang mengakui kesalahannya kemudian bertobat, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menerima tobatnya.” ( HR. Al-Bukhari no. 2661 dan Muslim no. 2770)

Apakah bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini berlaku pada kaum istri saja? Jawabannya tentu tidak! Apa beratnya meminta maaf kepada istri yang telah lama menanti sejak pagi karena suami telah berjanji akan mengantarnya ke rumah salah seorang kerabatnya? Apa susahnya untuk mengatakan, ”Maafkanlah aku, istriku. Aku memang telah berbuat salah karena melupakan janjiku padamu.”

Meminta maaf tentu lebih ringan daripada harus mencari-cari seribu alasan. Wallahul muwaffiq.

  1. Si Pecanda

Canda adalah bumbu penyedap dalam rumah tangga. Sebagian ulama menyatakan, canda itu ibarat garam dalam makanan. Jika kurang, makanan akan menjadi kurang sedap. Namun, jika berlebihan, rasa makanan pun akan menjadi rusak.

Yang dimaksud dengan canda di sini adalah canda yang secukupnya, canda yang tidak mengandung unsur dusta, canda yang berkualitas. Seorang istri sangat ingin dicandai dan diguraui oleh suaminya untuk sekadar menghilangkan penat dan beban di hati. Andakah suami si pecanda itu?

Dalam sebuah perjalanan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta kepada seluruh sahabat untuk berjalan lebih dahulu. Apa yang beliau lakukan? Ternyata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajak Ibunda ‘Aisyah untuk berlomba lari. Saat itu Ibunda ‘Aisyah yang menjadi pemenangnya. Namun, beberapa waktu kemudian setelah bertambah berat badan Ibunda ‘Aisyah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kembali mengajak Ibunda ‘Aisyah untuk berlomba lari. Kali ini Nabi Muhammad yang tampil sebagai pemenang dan beliau bersabda,

Kemenangan ini untuk menebus kekalahan yang dahulu.” (HR. Abu Dawud dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Subhanallah! Inilah rumah tangga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rumah tangga yang dipimpin oleh suami terbaik di atas muka bumi ini. Beliau bercanda dan bergurau bersama istri-istrinya. Bahkan, terkadang beliau hanya ikut tertawa ketika menyaksikan canda tawa istri-istri beliau.

Ibunda ‘Aisyah pernah membuat makanan harirah (sejenis sup). Ketika itu Ibunda Saudah sedang berada bersama di rumah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibunda ‘Aisyah mempersilakan Ibunda Saudah untuk menyantap hidangan tersebut, namun ditolak dengan halus.

Kalau tidak berkenan untuk menyantapnya, aku akan mengoleskannya di wajah Anda,” kata Ibunda ‘Aisyah kepada Ibunda Saudah.

Ibunda ‘Aisyah radhiallahu ‘anha pun mengoleskan sup itu di wajah Ibunda Saudah. Posisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sedang duduk di antara keduanya. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam? Beliau hanya tertawa menyaksikan kedua istrinya bercanda dengan saling membalas, mengoleskan sup di wajah yang lain. Sampai akhirnya terdengar suara Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, barulah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Pergilah dan bersihkanlah badan kalian. Sesungguhnya Umar akan masuk.” (HR. al-Qathi’i dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh Muqbil di dalam ash-Shahihul Musnad 2/487)

Di tengah kesibukan seorang wanita sebagai istri dan ibu, Anda sebagai suami semestinya mampu menghadirkan kejutan-kejutan kecil yang menyejukkan hati. Anda dituntut untuk bisa menawarkan hiburan-hiburan dalam bentuk canda yang mencairkan suasana.

Buatlah istri Anda tertawa bahagia! Buatlah istri Anda tersenyum ceria! Kado kecil berisi sepasang sendok garpu mungil dengan tulisan tangan “Aku Sayang Kamu” barangkali bisa Anda coba. Besar kemungkinan istri Anda akan tertawa.

Suami Adalah Qawwam

Tulisan ini memang terbilang sederhana. Tulisan seringkas ini tentu belum bisa mewakili kajian tentang kriteria suami ideal. Yang perlu digarisbawahi dan dicetak tebal adalah tidak perlu saling menyalahkan. Toh, setiap pasangan juga punya kesalahan. Apakah ada di antara kita yang selamat dari kesalahan?

Tulisan ini bukanlah alat untuk menyanjung atau menjatuhkan seseorang. Tulisan ini hanyalah secarik pembelajaran bahwa tugas seorang suami memang tidaklah mudah.

Rumah tangga sering diibaratkan sebagai biduk atau bahtera yang berlayar di atas samudra luas. Siapakah yang bertanggung jawab sepenuhnya?

Suami adalah nakhoda, istri dan anak-anak harus selalu membantu dan mendukung. Setiap orang mempunyai hak dan tanggung jawab. Seorang suami adalah qawwam. Ia harus mengingat sabda Rasulullah di dalam hadits Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma,

Seorang suami adalah pemimpin untuk seluruh anggota keluarganya dan dia akan dituntut pertanggungjawabannya tentang keluarganya.” (HR. al-Bukhari no. 893 dan Muslim no.1829)

Karena itu, kita berharap bahwa menjadi suami ideal bukanlah sekadar angan yang berkepanjangan. Amin ya Mujibas Sa’ilin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Suami Ideal, Sebuah Proses

Tema ini terhitung sensitif. Cermat adalah bekal wajib untuk melangkah demi menelusuri jejak-jejak seorang suami yang disebut ideal. Tidak mudah memang untuk menghimpun kepingan-kepingan yang terserak guna menyusunnya menjadi gambaran pribadi suami yang ideal. Sekalipun bisa dihimpun, belum tentu setiap laki-laki yang telah berstatus suami mampu mewujudkannya. Apalagi pada masa-masa sulit di akhir zaman. Zaman yang telah terpisahkan lebar dari masa-masa kenabian. Allahumma yassir (Semoga Allah memberikan kemudahan).

Suami ideal sendiri tidak hanya menjadi impian dan idaman kaum hawa. Setiap laki-laki pun bertekad untuk menjadi suami yang ideal bagi pasangan hidupnya. Hal semacam ini bisa dikatakan sebagai satu hal yang lazim dirasakan, meski tidak sempat diungkapkan secara lisan.

Hanya saja, pribadi suami seperti apakah yang bisa disebut ideal? Apakah suami ideal itu memang benar-benar ada wujudnya? Apakah mungkin seorang wanita dapat memiliki suami yang ideal? Sebuah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu (ash-Shahihah no. 284) secara ringkas namun berbobot, telah melukiskan dengan indah tentang dorongan menjadi suami yang ideal. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik dalam bersikap kepada istrinya.”

Dengan demikian, setiap suami dituntut untuk menjadi yang terbaik dalam bersikap kepada istrinya. Akan tetapi, terbaik menurut definisi siapa? Apakah berlandaskan keinginan seorang wanita yang galibnya bertumpu pada perasaan? Ataukah harus mengikuti gaya seorang laki-laki yang cenderung ingin selalu “menang” di hadapan seorang wanita?

Sekali lagi, tema ini sangat sensitif. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mencurahkan taufik untuk mengulas tema ini secara adil dan proporsional.

 

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Sosok Suami Ideal

Banyak pujian dan sanjungan yang disebutkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam kitab suci al-Qur’an. Pribadi beliau adalah pribadi yang lengkap dan utuh. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan yang membangkitkan rasa rindu untuk berjumpa dengannya. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang utusan Allah subhanahu wa ta’ala, seorang pemimpin besar, seorang sahabat yang mengesankan, seorang ayah yang baik, serta seorang imam agung, juga seorang suami yang ideal.

Allah subhanahu wa ta’ala menerangkan di dalam al-Qur’an sebagai bentuk perintah,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Sebagai seorang suami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dan sempurna. Cobalah telusuri kehidupan rumah tangga beliau!

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah suami dari seorang wanita yang berstatus janda, dan beliau pun menikahi seorang gadis remaja. Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi seorang wanita yang berasal dari satu daerah, bahkan satu suku, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menikahi wanita yang berasal dari luar daerahnya. Bukankah hal ini mengagumkan?

Beliau menjadi seorang suami sekaligus ayah dari anak-anak yang dilahirkan oleh istrinya. Istri beliau pun ada yang tidak memberikan keturunan. Bahkan, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi seorang suami dari janda yang telah dikaruniai anak. Selain wanita-wanita yang merdeka, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menjadi suami dari seorang wanita yang berstatus budak. Bukankah fakta ini sangat menakjubkan?

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjalani kehidupan selama puluhan tahun bersama seorang istri, yakni Ibunda Khadijah bintu Khuwailid radhiallahu ‘anha. Kemudian setelah Ibunda Khadijah wafat, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati hari-harinya dengan pernikahan ta’addud (poligami). Beliau pernah mengalami kehidupan rumah tangga yang berkecukupan, namun pernah pula merasakan hidup kekurangan. Tentu, kenyataan ini merupakan bukti bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah teladan terbaik dan sempurna bagi setiap suami.

Lantas apa rahasia di balik ini semua?

Apa pun warna-warni sebagai seorang suami dalam kehidupan rumah tangga, semuanya pernah dirasakan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari kondisi air yang tenang, riak-riak kecil hingga gelombang dahsyat dalam mengarungi bahtera rumah tangga, semua ada tuntunan dan jawabannya dalam Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka dari itu, untuk menjadi suami yang ideal, contohlah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Teladanilah beliau yang pernah bersabda,

“Orang yang terbaik di antara kalian adalah dia yang terbaik kepada keluarganya. Dan aku adalah yang terbaik kepada keluargaku.” (HR. at-Tirmidzi dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, dinyatakan sahih oleh al-Albani di dalam ash-Shahihah no. 285)

 

Ideal ≠ Sempurna

Satu persepsi tentang suami ideal yang mesti dihilangkan adalah gambaran suami ideal sebagai pribadi yang sempurna tanpa cacat. Ini tidak mungkin! Tidak ada seorang suami pun yang bisa 100% bersih dari kesalahan dan kekurangan, kecuali para nabi dan rasul yang memang maksum.

Jika Anda adalah seorang wanita, buanglah jauh-jauh impian untuk memiliki seorang suami yang sempurna tanpa cacat! Jika Anda seorang laki-laki, bersiap-siaplah untuk menjadi suami yang pada saatnya nanti akan tersingkap juga kekurangan dan cacatnya!

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam al-Qur’an,

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu dan manusia diciptakan bersifat lemah.” (an-Nisa: 28)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah dalam Taisir al-Karimir Rahman menjelaskan, “Artinya, Allah subhanahu wa ta’ala ingin memberikan kemudahan untuk kalian, baik dalam hal perintah maupun larangan. Jika muncul semacam kesulitan dalam beberapa bentuk syariat, Allah subhanahu wa ta’ala membolehkan untuk kalian (sesuatu yang mulanya dilarang) sesuai dengan keperluan. Seperti bangkai, darah, dan yang semisalnya jika dalam keadaan darurat. Demikian juga seperti menikahi budak bagi seseorang yang merdeka, dengan syarat-syarat yang telah disebutkan sebelumnya.

Semua itu adalah bentuk rahmat- Nya yang sempurna, kebaikan-Nya yang menyeluruh, ilmu, dan hikmah-Nya terhadap kelemahan manusia dari berbagai sisi. Manusia itu lemah fisiknya, lemah keinginannya, lemah tekadnya, lemah imannya, dan lemah kesabarannya. Oleh sebab itu, sangatlah tepat jika Allah subhanahu wa ta’ala memberikan keringanan karena kelemahan dan ketidakmampuannya dalam hal iman, sabar, dan kekuatan.”

 

Harus Ada Masa Berproses

Tidak ada seorang pun terlahir di dunia membawa status sebagai suami ideal. Untuk menjadi suami ideal harus melewati sebuah proses. Ya, suami ideal adalah sebuah proses! Jangan pernah membayangkan bahwa suami ideal itu terbentuk seketika setelah ijab kabul diikrarkan! Jangan bermimpi bahwa suami ideal itu segera terwujud dalam hitungan setahun dua tahun setelah pernikahan! Untuk menjadi suami ideal harus melewati sebuah proses.

Lukisan umum seorang suami ideal adalah seorang suami yang mampu memahami, mengerti, menerima, lalu membimbing istrinya. Suami ideal adalah suami yang bisa semaksimal mungkin menyenangkan dan membahagiakan istrinya, tanpa keinginan untuk menyakitinya.

Untuk mewujudkannya harus melewati sebuah proses panjang. Semakin langgeng usia pernikahan, seorang suami tentu akan semakin matang untuk menjadi ideal. Hanya saja, jangan jadikan masa proses sebagai alasan untuk berleha-leha!

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar Ibnu Rifai

Suami Ideal, Antara Kenyataan & Harapan

Dengan segala hikmah dan kasih sayang-Nya Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kehidupan rumah tangga sebagai kehidupan yang penuh hikmah, menyimpan segudang asa, dan menyisipkan banyak rahasia. Ada suka, ada pula duka. Walau jeram-jeram kehidupan selalu ada di hadapan, namun bunga-bunga kasih sayang dan cintalah yang kerap menjadi auranya. Dari kehidupan rumah tangga ini, lahirlah cikal bakal orang-orang besar yang mengantarkan umat menuju kejayaannya.

Itulah salah satu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah subhanahu wa ta’ala di alam semesta. Namun, hanya kaum yang berpikirlah yang dapat mencerna dan memahaminya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antara kalian rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (ar-Rum: 21)

 

Berumah Tangga, Kebutuhan Manusia yang Sangat Vital

Hidup berumah tangga merupakan kebutuhan manusia yang sangat vital. Tak heran, bila setiap pemuda dan pemudi yang memasuki usia dewasa terfitrah untuk menjalaninya. Secara manusiawi, jiwanya mendambakan seorang pendamping dalam hidupnya, membangun mahligai rumah tangga yang diliputi sakinah (ketenteraman), mawaddah (kecintaan), dan rahmah (kasih sayang).

Walaupun seseorang telah mencapai puncak keimanan yang tertinggi semisal rasul yang mulia, fitrah suci itu pun selalu bersemayam dalam kalbunya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka istri-istri dan keturunan.” (ar-Ra’d: 38)

 

Pintu Gerbang Kehidupan Rumah Tangga

Dalam pandangan Islam, hidup berumah tangga tak bisa dijalani begitu saja. Semuanya harus melalui proses nikah yang merupakan pintu gerbang kehidupan rumah tangga. Sebuah pernikahan yang dibangun di atas keridhaan keduanya (mempelai laki-laki dan wanita), diketahui/disetujui oleh wali dari pihak wanita, dengan maskawin (mahar) yang ditentukan, disaksikan minimalnya oleh dua orang saksi, dan pernikahannya tidak dibatasi dengan batasan tertentu dari masa (bukan kawin mut’ah).

Dengan itulah, hubungan sepasang insan dinyatakan sah sebagai suami-istri dalam pandangan syariat Islam dan berhak menjalani hidup bersama mengarungi bahtera rumah tangga. Demikian selektifnya Islam dalam mengesahkan hubungan sepasang insan. Semua itu menunjukkan perhatian Islam terhadap moral, kehormatan, harkat, dan martabat manusia beserta keturunannya (masa depan mereka).

Dengan nikah, akan terjaga agama dan kehormatan seseorang. Dengan nikah akan terjaga pula nasab anak keturunannya. Jiwa pun menjadi tenteram, masyarakat pun menjadi nyaman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wahai sekalian pemuda, barang siapa di antara kalian yang mampu berumah tangga hendaknya menikah, karena sesungguhnya nikah (itu) lebih menundukkan pandangan (dari sesuatu yang haram dipandang, –pen.) dan lebih menjaga kemaluan. Bagi siapa belum mampu hendaknya berpuasa, karena sesungguhnya puasa (itu) sebagai perisai baginya (dari sesuatu yang haram, pen.).” (HR. al-Bukhari no. 5065 dan Muslim no. 1400, dari sahabat Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

Manakala kehidupan rumah tangga dijalani tanpa proses nikah (kumpul kebo, selingkuh, dll.) maka ia adalah zina. Islam mengharamkan zina dengan segala jenisnya. Karena ia termasuk perbuatan yang keji dan jalan yang buruk. Bahkan Islam mengharamkan segala sesuatu yang bisa mengantarkan kepada zina seperti; pacaran, berjabat tangan dengan selain mahram, berduaan dengan selain mahram (khalwat), dll. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (al-Isra’: 32)

Dengan zina, moral dan kehormatan seseorang akan hancur. Dengan zina, nasab anak keturunan akan rusak. Dengan zina pula, penyakit kelamin yang mematikan semisal AIDS menjalar di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jiwa tak lagi tenteram, masyarakat pun tak lagi nyaman. Wallahul musta’an.

 

Memilih Pasangan Hidup

Memilih pasangan hidup termasuk masalah prinsip dalam kehidupan rumah tangga. Dalam Islam, setiap orang berhak memilih pasangan hidupnya masing-masing tanpa ada paksaan dari siapa pun. Di sisi yang lain, Islam juga memberikan batasan-batasan dan aturan yang sesuai dengan fitrah suci dan kehormatan insan yang beriman.

Islam mengharamkan nikah dengan sesama jenis; laki-laki dengan laki-laki, atau wanita dengan wanita. Allah subhanahu wa ta’ala mengutuk perbuatan tersebut dan murka terhadap pelakunya. Fitrah suci pun menolak dan membencinya. Hanya orang-orang yang jahat dan terbelenggu hawa nafsulah yang melakukannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan (kami juga telah mengutus) Luth (kepada kaumnya). (Ingatlah) tatkala dia berkata kepada mereka, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan yang keji itu (homoseksual), yang belum pernah dikerjakan oleh seorangpun (di dunia ini) sebelum kalian? Sesungguhnya kalian mendatangi laki-laki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, bahkan kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.’ Jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka (Luth dan pengikutpengikutnya) dari kota kalian ini; Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura menyucikan diri.’ Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikut-pengikutnya kecuali istrinya; dia termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan). Dan Kami turunkan kepada mereka hujan (batu); maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang jahat itu.” (al-A’raf: 80—84)

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah (kami jungkir-balikkan), dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Hud: 77—82)

Islam mengharamkan wanita mukmin menikah dengan laki-laki musyrik atau nonmuslim secara keseluruhan (termasuk ahli kitab; Yahudi dan Nashrani) walaupun dia rupawan lagi menawan. Sebagaimana pula Islam mengharamkan laki-laki mukmin menikah dengan wanita musyrik walaupun dia cantik jelita. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah kalian menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menawan hati kalian. Dan janganlah kalian menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menawan hati kalian. Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (al-Baqarah: 221)

Namun, Islam menghalalkan laki-laki mukmin menikahi wanita dari kalangan ahli kitab baik Yahudi maupun Nasrani yang menjaga kehormatannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Pada hari ini dihalalkan bagi kalian yang baik-baik, makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-kitab sebelum kalian, bila kalian telah membayar maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Barang siapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka terhapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (al-Maidah: 5)

Dalam memilih pasangan hidup ideal, Islam telah memberikan rambu-rambu yang jelas. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita dinikahi karena empat kriteria; hartanya, kedudukannya, kecantikannya, dan agamanya. Pilihlah wanita yang kuat agamanya, niscaya kamu akan meraih keberuntungan.” (HR. al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466, dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah berkata, “Makna yang benar untuk hadits ini adalah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan tentang kebiasaan yang terjadi di tengah masyarakat (dalam hal memilih pasangan hidup, –pen.). Mereka menjadikan empat kriteria tersebut sebagi acuan dalam memilih. Kriteria agama biasanya kurang diperhitungkan oleh mereka, maka pilihlah wanita yang kuat agamanya—wahai seorang yang meminta bimbingan— niscaya akan meraih keberuntungan. Ini adalah arahan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan sebagai perintah.” (Syarah Shahih Muslim 10/51)

Tak terlewatkan pula kaum wanita, karena hadits di atas juga sebagai acuan bagi mereka dalam mendapatkan pasangan hidup yang ideal.

 

Mengidentifikasi Suami Ideal

Setiap wanita pasti mendambakan suami yang ideal. Seorang yang berfungsi sebagai pemimpin, pengayom, dan pembina keluarga. Keberadaannya di tengah keluarga sebagai pelita dalam kegelapan dan embun penyejuk dalam kehausan. Sosoknya sebagai figur keteladanan bagi istri dan anak-anaknya.

Setiap wanita pasti mendambakan suami yang penuh pengertian, bijak, bergaul dengan istrinya secara patut, dan bersabar atas berbagai kekurangan yang ada padanya. Suami yang selalu membimbingnya menuju al-Jannah dan membentenginya dari azab an-Nar. Dengan itulah akan tergapai kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat. Allah subhanahu wa ta’ala Maha Mengetahui dambaan hamba-hamba-Nya dari kalangan wanita itu. Oleh karena itu, Allah subhanahu wa ta’ala menyeru kaum laki-laki terkhusus para suami untuk mewujudkan dambaan kaum wanita tersebut dengan firman-Nya,

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (lakilaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” (an-Nisa’: 34)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dari semua ini, maka dapat diketahui bahwa seorang suami layaknya pemimpin dan tuan bagi istrinya, sedangkan sang istri layaknya bawahan, pembantu dan budaknya. Tugas suami adalah menjalankan segenap tanggung jawab kepemimpinan rumah tangga yang Allah bebankan kepadanya, sedangkan istri berkewajiban menaati Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian menaati suaminya.” (Taisirul Karimirrahman, hlm. 177)

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut. Kemudian bila kalian tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kalian tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)

 

Distorsi Makna Suami Ideal

Apa yang telah disebutkan di atas merupakan rincian dari sosok suami ideal yang istiqamah di atas agamanya dan berhias dengan akhlak yang mulia. Tentu akan lebih sempurna lagi bila dia seorang yang rupawan, hartawan, atau terhormat di tengah-tengah masyarakatnya. Namun, manakala semua itu tak bisa berkumpul pada seseorang, tentu yang menjadi barometernya adalah agama dan kemuliaan akhlaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Jika datang meminang kepada kalian seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia (terimalah pinangannya). Jika kalian tidak melakukannya niscaya akan terjadi fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi.” (HR. at-Tirmidzi no. 1084, dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al- Albani dalam al-Irwa’ no. 1668 dan ash-Shahihah no. 1022)

Apabila seorang wanita hidup bersanding dengan suami ideal sebagaimana keterangan di atas niscaya akan terbantu bi’aunillah untuk menciptakan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Walaupun dengan latar belakang yang berbeda, karakter yang berbeda, dan kekurangan masing-masing.

Demikianlah gambaran tentang suami ideal menurut pandangan Islam dan fitrah yang suci. Namun dalam kehidupan sosial masyarakat ada beberapa versi tentang suami ideal yang hakikatnya adalah penyimpangan atau pemutarbalikan fakta (distorsi). Dengan kata lain, salah kaprah dalam mengidentifikasikan suami ideal.

Ada yang mengidentifikasikan suami ideal sebagai lelaki yang memiliki banyak uang, walaupun jauh dari agama. Dalam angan-angannya, uang adalah segala-galanya. Dengan uang, semuanya menjadi mudah, hidup pun akan serba berkecukupan.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Berapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya karena uang akhirnya berantakan dan kesudahannya adalah cerai. Cinta dan kasih sayangnya mengalami pasang surut seiring dengan pasang surutnya uang. Tak heran bila ada celetukan, “Ada uang abang disayang, tak ada uang abang dibuang.” Wallahul Musta’an.

Kalau sekiranya angan-angan itu dapat terwujud dalam kenyataan, sehingga hidup pun serba berkecukupan, maka keberadan sang suami yang jauh dari agama akan membawa istri dan anakanaknya— dengan harta yang dimilikinya itu—kepada pola hidup mewah yang dapat melalaikan akhirat. Target hidupnya hanyalah dunia dan dunia. Kehidupannya nyaris hampa dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Padahal kebahagiaan yang hakiki adalah di akhirat kelak.

Ada yang mengidentifikasikan suami ideal sebagai sosok yang senantiasa memanjakan istri. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang seperti itu niscaya semua keinginannya akan diperhatikan dan segala permintaannya akan dikabulkan. Dengan itu, diraihlah kebahagiaan. Laksana seorang ratu yang bebas berekspresi dan berinovasi.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Betapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah sikap memanjakan dari suami, akhirnya menjadi berantakan dan kesudahannya adalah cerai. Secara realitas, sikap memanjakan dari suami seringkali merusak mental dan akhlak sang istri. Peluang demi peluang yang diberikan kepadanya akan semakin membuatnya lupa daratan. Jiwanya sulit dikendalikan. Ingin lepas dari kewajiban ibu rumah tangga dan cenderung untuk hidup bebas. Akhirnya ketenteraman dan kenyamanan hidup berumah tangga tak lagi dirasakan. Bila demikian, cepat atau lambat suami akan kecewa. Rumah tangga pun dalam problema.

Ada yang mengidentifikasikan bahwa suami ideal adalah sosok yang rupawan, walaupun bukan orang yang taat beragama. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang rupawan niscaya rumah tangganya akan selalu bahagia dan diliputi bunga-bunga cinta.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Betapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah ketampanan suami semata akhirnya menjadi berantakan. Secara realitas, kehidupan rumah tangga tidak cukup hanya dengan modal ketampanan. Kehidupan rumah tangga membutuhkan ilmu dan akhlak mulia. Kehidupan rumah tangga membutuhkan kesejukan hati sang suami di samping kesejukan wajahnya. Tak heran, telah terjadi kasus perselingkuhan yang dilakukan oleh istri, padahal suaminya jauh lebih tampan daripada laki-laki selingkuhannya. Di antara sebabnya adalah karena sang suami tidak dapat memberikan kepuasan batin kepadanya, dan itu bisa diperoleh dari laki-laki selainnya. Lebih dari itu, ketampanan seseorang tidaklah abadi. Ia akan berangsur pudar seiring dengan bertambahnya usia.

Ada yang mengidentifikasikan bahwa suami ideal adalah seorang yang berpangkat dan berkedudukan. Menyandang gelar dan mempunyai jabatan. Walaupun jauh dari agama dan akhlak yang mulia. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang seperti ini niscaya rumah tangganya akan terhormat. Kebahagiaan pun akan selalu mengiringi.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Berapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah pangkat dan kedudukan suami lantas berakhir dengan nestapa. Secara realitas, pangkat dan kedudukan suami bukanlah jaminan kebahagiaan rumah tangga. Apalagi jika jauh dari agama dan akhlak yang mulia. Jabatan yang disandangnya pun bukanlah selamanya. Manakala masih aktif menjabat, tampak gagah dan berwibawa. Namun, semua itu akan berubah manakala pamornya menurun, atau mulai memasuki masa purna (pensiun). Kala itu sang istri akan merasakan ujian berat. Jika tak diimbangi dengan iman yang kuat dan akhlak yang mulia niscaya rumah tangga akan berantakan.

Ada yang mengidentifikasikan bahwa suami ideal adalah sosok yang sangat pengertian terhadap istri. Berjiwa besar, toleran, dan lapang dada, walaupun bukan orang yang taat beragama. Dalam angan-angannya, dengan mempunyai suami yang seperti ini niscaya rumah tangganya akan tenang dan sepi dari masalah. Kebahagiaan pun akan selalu mengiringi.

Apakah demikian kenyataannya? Tidak. Berapa banyak rumah tangga yang motivasi awalnya adalah toleransi dan kelonggaran suami, berakhir dengan berantakan. Secara realitas, kehidupan rumah tangga yang seperti ini sangat rawan masalah. Pelanggaran syar’i pun kerapkali terjadi. Istri sering keluar malam, hidup royal, dan berhubungan dengan banyak laki-laki tak jadi soal. Alhasil, apapun yang dilakukan oleh istri, tak akan dipermasalahkan. Betapa sepah kehidupan rumah tangga yang mereka jalani. Jauh dari bimbingan syar’i dan fitrah yang suci. Jauh dari manisnya cinta kasih dan kerja sama suami istri yang harmoni. Cepat atau lambat, hidup mereka akan didominasi oleh kepentingan individu dan ego pribadi. Anak-anak pun akhirnya sebagai korbannya.

Demikianlah sajian kami tentang kehidupan rumah tangga dan identifikasi suami ideal. Semoga bermanfaat bagi semuanya. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi

Surat Pembaca Edisi 97

Bantuan Dana untuk Kampung Laut
Saya membaca di Asy-Syariah tentang kisah mualaf Kampung Laut. Saya ingin membantu dana.  Bisa diberi tahu caranya?
087737xxxxxx
Zakat ke Kampung Laut
Bismillah, saya baca di majalah Asy Syariah. Saya mau zakat untuk Bapak Suparjo, dkk, di Kampung Laut,Cilacap. Saya harus menghubungi ustadz siapa, no HP nya berapa? Syukran informasinya.
08115xxxxxx

  • Jawaban Redaksi:
    Untuk mendapatkan informasi dan menyalurkan bantuan bagi mualaf Kampung Laut, Anda bisa menghubungi al-Ustadz Fauzan di Ma’had an-Nur al-Islamy, Ciamis, di no. kontak 081219209841. Barakallahu fikum.

Judul Tidak Dipahami
Bismillah. Afwan, judulnya Mengapa Rakyat Harus Taat? Mengapa bukan Mari Taat Kepada Pemerintah dalam Hal Kebaikan atau judul yang lain yang langsung bisa dipahami dan diambil faedahnya. Bukankah jika berdakwah sebaiknya menggunakan bahasa-bahasa yang mudah  dipahami? Barakallahu fikum.
085240xxxxx

  • Jawaban Redaksi:
    Kami insya Allah berupaya maksimal memilih judul yang bisa mewakili isi secara keseluruhan.  Perlu diketahui, tema kewajiban taat kepada pemerintah sebenarnya sudah pernah diangkat di edisi 5 dengan judul Menyikapi Kejahatan Penguasa dan edisi 84 dengan judul Ibadah  Bersama Pemerintah. Tema ini kami angkat kembali pada edisi 95—tentunya dengan sudut  yang berbeda—sebagai nasihat untuk umat agar selalu menaati pemerintahnya, serta  mengingatkan bahaya menjelek-jelekkan pemerintah yang masih muslim lebih-lebih  melakukan perlawanan/pemberontakan terhadap mereka. Judul Mengapa Rakyat Harus Taat, menurut kami, wallahu a’lam, sudah cukup mewakili isi kajian dan juga bisa mengundang  minat pembaca untuk membuka isi majalah. Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.  Barakallahu fikum.

 

Rubrik Resensi Buku
Afwan, ana mau saran. Gimana kalau rubriknya ditambah satu lagi, yaitu rubrik resensi buku.  Karena ana kalau ingin membeli buku, ana bingung buku apa yang mau dibeli dan apakah buku tersebut sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman salafush shalih atau tidak?  Syukran.
085756xxxxxx

Kitab-Kitab Rujukan
Bismillah, bagaimana jika Asy Syariah dalam mencantumkan kitab-kitab rujukan dibedakan dengan  kode atau lainnya antara kitab karya ulama Ahlus Sunnah dengan kitab-kitab karya ahlul bid’ah,  supaya kami yang masih awam paham mana kitab yang lurus dan yang sesat.
Ummu Rusydah
087747xxxxxx

  • Jawaban Redaksi:
    Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.

DICARI: Suami Ideal

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.

Banyak suami yang merasa telah berperan besar dengan mencari nafkah, lalu merasa mendapat pembenaran untuk tidak mau tahu dengan urusan rumah. Mengurus anak, pekerjaan rumah tangga, hingga hal-hal yang lebih kecil dari itu, seperti “wajib” dibebankan pada istri semata.

Itulah salah satu “egoisme” suami yang banyak kita jumpai dalam kehidupan rumah tangga saat ini. Terlihat sepele, namun sejatinya cukup menggerogoti harmonisasi dalam keluarga. Apalagi bara  egoisme itu terus disulut dengan sikap suami yang lebih senang menuruti kesenangan pribadi:  menonton sepak bola, memancing, main game, internetan, nongkrong bersama teman-temannya,  atau malah terlampau asyik dengan pekerjaan kantornya. Alih-alih bicara kepedulian, waktu pun  seperti tiada untuk keluarga.

Patut disadari, suami dengan segala karakternya, jelas dominan memberi warna dalam rumah  tangganya, karena ia adalah kepala rumah tangga. Pada dirinya kepemimpinan itu berada, pada  dirinya keteladanan harus ditampakkan, dan di pundaknya tugas mencari nafkah itu dibebankan. Dengan sederet tanggung jawab yang besar itu, rumah tangga jelas membutuhkan karakter suami  yang bisa memimpin, membimbing, tegas, cepat dan tepat dalam mengambil keputusan, bisa memberi teladan, tidak pantang menyerah, ulet dalam bekerja dan mencari nafkah, dan sebagainya. Sudahkah ini semua dimiliki seorang suami?

Pada kenyataannya, kita justru menjumpai yang sebaliknya. Banyak suami yang tidak punya visi  dalam berumah tangga, hingga terkesan nekat ketika memasuki gerbang pernikahan. Usaha/pekerjaan apa yang akan ditekuni, akan tinggal di mana setelah berumah tangga, seperti  jauh  dari rencana. Ada suami yang masih tinggal jadi satu dengan orang tua dalam keadaan belum punya pekerjaan, justru merasa nyaman-nyaman saja padahal segala kebutuhan rumah tangganya  masih di-support orang tuanya. Galibnya, sebagai kepala rumah tangga, ia dituntut untuk menafkahi  keluarganya, tidak berlindung di balik kata tawakal untuk menutupi kemalasan dan  keputusasaannya.

Parahnya, dalam keadaan yang serba kekurangan ini banyak suami yang justru emosional. Menuruti  emosi, ancaman cerai sedikit-sedikit ditebar. Seolah-olah cerai itu adalah perkara remeh yang tidak punya konsekuensi apa pun. Seakan-akan dengan ancaman cerai dia telah menjadi  laki-laki sejati, superior, dan membuat wanita tak berdaya. Bahkan, ada yang menjadi ringan tangan  demi menutupi “kegagalannya”.

Ada pula yang sebaliknya. Suami dikaruniai rezeki yang luas, namun dia justru pelit memberi nafkah kepada keluarganya. Bahkan, dia menyalahgunakan kepercayaan istri untuk bermaksiat di luar  rumah, berfoya-foya hingga selingkuh. Ada juga tipe suami yang tertutup, tidak mau terbuka kepada istrinya, dari soal pekerjaan atau penghasilannya, lebih-lebih uangnya ke mana saja dibelanjakan.

Padahal istri butuh tipe suami yang terbuka, mau mendengarkan dan mengajaknya bermusyawarah, perhatian, tidak otoriter, dan tidak selalu merasa benar sendiri. Akan tetapi, alih-alih penuh pengertian, sabar, dan pemaaf, banyak suami yang justru tidak mau menganggap, bahkan tidak mau mengingat jasa istri sama sekali.

Itu baru soal karakter. Pertengkaran rumah tangga yang bisa berujung perceraian juga tidak jarang dipicu dari kebiasaan sepele. Seperti suami yang jorok, kurang memerhatikan penampilan, kerapian  rambut atau pakaian, dsb.

Sederet sifat atau kebiasaan jelek suami bisa jadi akan panjang dibeberkan di sini. Intinya, sebisa  mungkin kita menghindari hal-hal yang bisa menyuntikkan kebencian dalam rumah tangga.  Menjadi ideal tidak berarti menjadi pribadi yang sempurna, tetapi ini tetap bisa diupayakan selama  kita mau berusaha, insya Allah.

Wa ‘alaikumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh.

 

Sebab Penyimpangan

Al-Imam Ibnu Baththah rahimahullah mengatakan,

“Ketahuilah, wahai saudara-saudaraku, saya telah merenungkan sebab yang mengeluarkan sekelompok orang dari as-Sunnah dan al-Jamaah, memaksa mereka menuju kebid’ahan dan keburukan, membuka pintu bencana yang menimpa hati mereka, dan menutupi cahaya kebenaran dari pandangan mereka.

Saya temukan sebabnya dari dua sisi:

  1. Mencari-cari, berdalam-dalam, dan banyak bertanya yang tidak perlu (tentang masalah tertentu), yang tidak membahayakan seorang muslim kalau ia tidak tahu, serta tidak pula bermanfaat bagi seorang mukmin seandainya ia tahu.

  2. Duduk bersama dan bergaul dengan orang yang tidak dirasa aman dari kejelekannya, yang berteman dengannya akan merusak kalbu.”

(al-Ibanah, karya Ibnu Baththah rahimahullah, 1/390)

Lanjutkan membaca Sebab Penyimpangan