Siapakah ath-Thaifah al-Manshurah?

Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar

 desert-rain

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah (no. 7311) meriwayatkan sebuah hadits dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لا يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ، حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ ا وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Pasti akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan, sampai ketetapan dari Allah ‘azza wa jalla datang menghampiri mereka. Dan mereka pun tetap di atas kemenangannya.”

 

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah (no. 1921) dengan lafadz yang sedikit berbeda. Sebagian ulama hadits (Fathul Bari hadits no. 7311) menilai riwayat di atas termasuk tsulatsiyat (hanya dipisahkan oleh tiga perawi sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) di dalam Shahih al-Imam al-Bukhari. Mengapa dinilai tsulatsiyat, sementara jumlah perawi antara al-Bukhari dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ada empat?

Hadits ini didengar oleh al-Bukhari dari guru beliau yang bernama Ubaidullah bin Musa al-‘Absi al-Kufi rahimahullah. Ternyata beliau terhitung sebagai guru al-Bukhari yang telah berusia lanjut dan termasuk dalam generasi tabi’ut tabi’in.

Ubaidullah bin Musa mendengar hadits di atas dari seorang ulama tabi’in yang bernama Ismail bin Abi Khalid rahimahullah. Guru Ismail pun seorang kibar tabi’in bernama Qais bin Abi Hazim. Qais sendiri dinyatakan oleh ulama hadits sebagai seorang mukhadram, karena pernah merasakan masa jahiliah. Ketika beliau berangkat ke Madinah untuk berbaiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di tengah perjalanan beliau mendengar berita wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Al-Mughirah bin Syu’bah radhiallahu ‘anhu, sahabat yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah seorang guru Qais bin Abi Hazim. Karena faktor kedekatan sanad inilah, sebagian ulama hadits menilai riwayat ini sebanding dan sejajar dengan riwayat tingkat tsulatsiyat.

Uniknya, seluruh perawi di dalam sanad al-Bukhari seluruhnya berasal dari kota Kufah. Wallahu a’lam.

 

Kedudukan Hadits

Hadits Thaifah di atas tidak hanya diriwayatkan oleh al-Mughirah radhiallahu ‘anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain beliau, sejumlah sahabat juga meriwayatkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Asy-Syaikh al-Muhaddits al-Albani rahimahullah (as-Silsilah ash-Shahihah nomer 270) menyebutkannya secara ringkas,

  1. Imran bin Hushain radhiallahu ‘anhu (ar-Ramahurmuzi dalam al-Muhaddits al-Fashil 1/6)
  2. Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma (al-Bukhari, Muslim, dan Ahmad)
  3. Tsauban radhiallahu ‘anhu Maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Ibnu Majah, Abu Dawud, dan al-Hakim)
  4. Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu (Muslim)
  5. Qurrah al-Muzani radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  6. Abu Umamah radhiallahu ‘anhu (Ahmad)
  7. Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu (al-Hakim)

Walaupun ditemukan beberapa perbedaan lafadz, hadits di atas tetaplah mempunyai satu makna. Beberapa tambahan lafadz juga sangat membantu untuk memahami hadits tersebut secara lebih sempurna. Mudah-mudahan dengan memadukan seluruh lafadz dan beberapa hadits yang terkait, kita akan memperoleh gambaran nyata, siapakah yang layak disebut sebagai Thaifah Manshurah?

 

Makna Hadits

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas adalah jaminan, kabar gembira, sekaligus hiburan. Kata-kata beliau adalah jaminan pasti bahwa siapa pun orangnya yang bertekad, bercita-cita, dan memiliki kesungguhan untuk memperjuangkan agama Allah ‘azza wa jalla, pertolongan-Nya akan selalu menyertai.

Hal ini sekaligus kabar gembira dan hiburan bagi mereka yang terkadang merasa terasing, dianggap aneh, bahkan merasa “sedikit” dalam jumlah, bahwa pengikut kebenaran memanglah demikian. Mereka pun selalu optimis, sebagai ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla) sekaligus al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat).

Ya, ath-Thaifah al-Manshurah memang hanya segelintir orang, komunitasnya sedikit, dan sangat kecil apabila dibandingkan dengan jumlah kaum muslimin secara keseluruhan. Namun, kenyataan ini tentu tidak perlu membuat mereka bersedih, apalagi putus asa. Ingat-ingatlah selalu, janji Allah ‘azza wa jalla adalah benar. Dia akan selalu menolong dan membela. Lebih-lebih lagi, ath-Thaifah al-Manshurah akan tetap eksis sampai hari kiamat!

Ada pertanyaan yang terselip ketika membahas hadits ini. Beberapa riwayat sahih menyebutkan bahwa hari kiamat tidak akan terjadi sampai kondisi orang-orang yang tersisa adalah orang-orang yang jahat. Bahkan, sebuah riwayat mengatakan pada saat itu, tidak ada lagi orang yang menyebut-sebut nama Allah ‘azza wa jalla. Padahal di dalam hadits ini, ath-Thaifah al-Manshurah keberadaannya akan tetap bertahan sampai hari kiamat. Bagaimana ini?

Para ulama hadits, di antaranya adalah al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim, mencoba memadukan riwayat-riwayat tersebut. Hasilnya?

Ath-Thaifah al-Manshurah sebagai sekelompok orang yang memperjuangkan kebenaran akan terus eksis di setiap masa. Namun, mendekati kebangkitan kiamat, Allah ‘azza wa jalla akan mengirimkan angin lembut yang bertiup melewati ketiak setiap orang. Angin itu akan mencabut ruh mukmin dan mukminah sehingga tidak ada lagi yang tersisa hidup kecuali orang-orang jahat. Ringkasnya, keberadaan ath-Thaifah al-Manshurah yang disebut sampai hari kiamat berbangkit maksudnya adalah sampai menjelang datangnya kiamat.

Keterangan ini didukung oleh sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam riwayat Muslim (no. 2937) dari sahabat an-Nawwas bin Sam’an radhiallahu ‘anhu. Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَبَيْنَمَا هُمْ كَذَلِكَ إِذْ بَعَثَ اللهُ رِيحًا طَيِّبَةً، فَتَأْخُذُهُمْ تَحْتَ آبَاطِهِمْ، فَتَقْبِضُ رُوحَ كُلِّ مُؤْمِنٍ وَكُلِّ مُسْلِمٍ، وَيَبْقَى شِرَارُ النَّاسِ، يَتَهَارَجُونَ فِيهَا تَهَارُجَ الْحُمُرِ، فَعَلَيْهِمْ تَقُومُ السَّاعَةُ.

“Ketika manusia dalam kondisi semacam itu, Allah ‘azza wa jalla mengirimkan angin lembut yang bertiup di bawah ketiak mereka. Lalu angin tersebut mencabut ruh setiap mukmin dan mukminah. Kemudian yang tersisa hidup hanyalah orang-orang jahat. Mereka melakukan hubungan badan di hadapan orang lain, persis yang dilakukan keledai. Kepada orang-orang semacam itulah, hari kiamat akan dibangkitkan.”

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah adalah Ahlul Hadits

Siapakah yang lebih mengerti dan memahami hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Jawabannya secara pasti dan tegas adalah para ulama hadits. Bukankah merekalah yang meriwayatkannya untuk kita? Bukankah merekalah yang menjadi mata rantai antara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kepada kita? Apakah kita akan menyerahkan kepada orang-orang yang tidak berkompeten dan berwenang sama sekali, untuk memahami hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?

Marilah kita membaca dan merenungkan pernyataan para ulama besar di bawah ini tentang siapakah ath-Thaifah al-Manshurah itu.

Al-Imam al-Khatib al-Baghdadi rahimahullah menyebutkan beberapa keterangan ulama tentang mereka di dalam kitab beliau, Syaraf Ashabil Hadits (hlm. 59—62).

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah menjelaskan, “Mereka adalah para ulama!”

Di lain kesempatan beliau menyatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Al-Imam Yazid bin Harun, Abdullah bin al-Mubarak, Ali bin Abdillah al-Madini, Ahmad bin Sinan, dan sejumlah ulama lainnya rahimahumullah mengatakan, “Mereka adalah Ashabul Hadits.”

Bahkan, secara tegas al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengatakan, “Seandainya yang dimaksud dengan ath-Thaifah al-Manshurah bukan Ashabul Hadits, aku tidak tahu lagi, siapakah mereka sesungguhnya?”

Kemudian, siapakah Ashabul Hadits itu?

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah (Syarah Shahih Muslim) menerangkan bahwa mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang gagah berani berperang, kaum fuqaha, orang-orang yang menekuni bidang hadits, ahli-ahli zuhud, penegak amar ma’ruf nahi munkar, atau pelaku-pelaku kebaikan lainnya. Bisa saja mereka berada di dalam satu wilayah atau menyebar di berbagai penjuru bumi.

Barangkali kita bisa menyimpulkannya dengan mengutip ucapan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, “Yang dimaksud oleh al-Imam Ahmad rahimahullah di atas, ath-Thaifah al-Manshurah adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah serta orang-orang yang berakidah dengan akidah ahlul hadits.”

Dengan demikian, apakah bisa diterima, jika orang yang mengejek dan menghina para ulama yang menekuni bidang hadits, mengaku sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah? Apakah pantas seseorang mengaku sebagai ath-Thaifah al-Manshurah sementara ia menyebut ulama Ahlus Sunnah dengan “ulama buatan pemerintah”, “ulama haid dan nifas”, “ilama yang tidak mengerti fiqhul waqi (fikih kekinian)”, “ulama yang kerjaannya hanya di masjid dengan haddatsana (telah menyampaikan kepada kami) dan akhbarana (telah mengabarkan kepada kami)”, dan “ulama yang tidak menghargai dan tidak peduli dengan darah kaum muslimin”?

Apakah pantas orang yang mencela ulama seperti ini untuk disebut sebagai ath-Thaifah al-Manshurah, kelompok yang ditolong Allah ‘azza wa jalla?

 

Ath-Thaifah Al-Manshurah dan Jihad Fi Sabilillah

Hadits-hadits ath-Thaifah al-Manshurah diangkat sebagai isu panas oleh kaum jihadiyin takfiriyin (sejumlah orang yang melakukan aksi kekerasan, anarki, brutal, dan membabi buta dengan mengatasnamakan jihad fi sabilillah) untuk melegitimasi dan membenarkan aksi-aksi “jihad”. Mereka menukil hadits-hadits tentang ath-Thaifah al-Manshurah.

Namun, apakah mereka benar-benar mengamalkan hadits-hadits tersebut secara kaffah? Ataukah hanya sepenggalsepenggal saja?

Memang benar! Beberapa lafadz dan riwayat hadits menyebutkan bahwa salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad di jalan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang benar. Salah satunya adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu riwayat Muslim (no. 156). Akan tetapi, kita perlu secara tenang, cermat, dan jujur, mengajukan beberapa pertanyaan sederhana berikut ini.

Salah satu ciri ath-Thaifah al-Manshurah adalah berperang dan berjihad. Namun, jihad dengan pemahaman siapa? Jihad di bawah bendera siapa? Di setiap saat ataukah pada kondisi-kondisi tertentu? Siapakah yang menjadi objek atau sasaran perang dan jihad? Di setiap tempat ataukah di lokasi-lokasi tertentu saja? Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang mesti terjawab sebelum berteriak-teriak “jihad”.

Jihad fi sabilillah adalah ibadah suci. Maka dari itu, pantas saja jika ciri ini disematkan untuk ath-Thaifah al-Manshurah. Namun, ingatlah kembali arahan dan bimbingan para ulama. Jihad fi sabilillah pun mesti dilandasi dengan ilmu, berdasarkan pemahaman Ahlus Sunnah dan Ahlul Hadits. Lihat saja sejarah Ahlul Hadits! Mereka pun tercatat sebagai kaum mujahidin. Mereka mengalirkan tinta dan darah demi agama Islam.

Jihad fi sabilillah tidak dilakukan dengan sembarangan, serampangan, asal-asalan, emosional, dan ngawur. Jihad fi sabilillah memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Wallahi wa billahi wa tallahi, seandainya jihad syar’i ditegakkan, engkau wahai para pencela Salafiyyin, akan menyaksikan betapa kecil dan kerdilnya dirimu. Engkau akan melihat singa-singa Allah ‘azza wa jalla berada di barisan terdepan. Engkau baru akan tersadar, ternyata dirimu tak bisa dibandingkan sedikit pun dengan Salafiyyin. Sebab, mereka tegak berdiri di atas ilmu. (Tentang jihad fi sabilillah, silahkan Anda membaca kembali Asy-Syari’ah pada edisi-edisi sebelumnya)

 

Pembuktian, Bukan Pengakuan!

Pasukan Panji Hitam, kelompok al-Jihad, organisasi al-Qaeda, atau apa pun namanya, bisa saja mereka menganggap dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah. Untuk urusan mengaku-aku, siapa pun bisa melakukannya. Klaim dan mengklaim juga dapat dilakukan oleh setiap orang. Akan tetapi, apakah cukup sampai di situ saja?

Tidak! Semuanya menuntut pembuktian!

Kaum Yahudi dan Nasrani juga mengklaim bahwa merekalah penduduk surga. Benarkah demikian? Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah, “Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar.” (al-Baqarah: 111)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah ketika menjelaskan hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma riwayat al-Bukhari dan Muslim, “Seandainya setiap orang diiyakan sesuai dengan pengakuannya, tentu setiap orang akan mengklaim darah dan harta orang lain. Akan tetapi, sumpah merupakan hak orang yang diklaim.”

“Hadits ini adalah kaidah besar di dalam kaidah-kaidah hukum syar’i. Kaidah ini menyebutkan bahwa klaim seseorang tidak bisa diterima begitu saja. Akan tetapi, butuh pembuktian atau pembenaran dari pihak yang diklaim.”

Bagi siapa saja yang mengaku dirinya sebagai bagian dari ath-Thaifah al-Manshurah, marilah mengukur dan menakar dirinya dengan sebuah jawaban dari asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berikut ini (Irsyadul Bariyyah hlm. 34—35), “As-Salafiyyah adalah al-Firqatun Najiyah. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka bukanlah hizb seperti yang sekarang ini terjadi dan disebut dengan hizb. Mereka adalah jamaah. Bersama-sama di atas as-Sunnah dan agama. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Pasti akan selalu ada, sekelompok orang dari umatku yang senantiasa meraih kemenangan di atas kebenaran. Tidak akan bermudarat atas mereka setiap usaha dari orang-orang yang menghina dan menyelisihi mereka.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, ‘Umat ini akan terpecah menjadi 73 kelompok. Semuanya di dalam neraka kecuali satu.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Orang-orang yang mengikuti aku dan para sahabatku seperti saat ini’.”

Asy-Syaikh al-Fauzan melanjutkan, “As-Salafiyyah adalah sejumlah orang yang berada di atas mazhab Salaf, sebagaimana ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Jadi, as-Salafiyyah bukanlah hizb seperti hizb-hizb zaman ini. As-Salafiyyah adalah jamaah yang telah ada sejak zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, turun-temurun dan akan selalu hidup. Mereka akan terus berada di atas alhaq, meraih kemenangan sampai hari kiamat sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Benarkah Anda telah mencontoh dan meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabat beliau dalam segala hal? Buktikanlah!

Wallahul Muwaffiq.

Membenci Sahabat Nabi, Tanda Kekafiran

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ وَ الذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَينَهُمْ. تَرَىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَ رِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرٍ السُجُودِ. ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَورَىةِ. وَ مَثَلُهُمْ فِى الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الكُفَّارَ. وَعَدَ اللهُ الذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرً عَظِيمًا.

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

 traditional arrows

Penjelasan Makna Ayat

مُحَمَّد رَسُولُ اللهُ

Muhammad adalah nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling masyhur. Tatkala orang-orang kafir mencela beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mengubah nama Muhammad menjadi “mudzammam” yang berarti orang yang tercela, beliau bersabda,

أَلَا تَعْجَبُونَ كَيْفَ يَصْرِفُ اللهُ عَنِّي شَتْمَ قُرَيْشٍ وَلَعْنَهُمْ؟ يَشْتِمُونَ مُذَمَّمًا وَيَلْعَنُونَ مُذَمَّمًا وَأَنَا مُحَمَّدٌ

Tafsir“Tidakkah kalian heran melihat bagaimana Allah ‘azza wa jalla memalingkan dariku cercaan kaum Quraisy dan laknat mereka? Mereka mencerca dan melaknat (dengan sebutan) Mudzammam, sedangkan aku adalah Muhammad.” (HR. al-Bukhari no. 3340, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ayat ini menjadi saksi atas kedudukan beliau sebagai rasulullah yang diutus oleh Allah ‘azza wa jalla kepada umat yang hidup di akhir zaman, yang diutus kepada seluruh makhluk dari kalangan jin dan manusia hingga akhir zaman. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Rabb (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 158)

Firman-Nya,

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata ketika menjelaskan ayat ini, “Firman Allah ‘azza wa jalla ini adalah persaksian Allah ‘azza wa jalla kepada Rasul-Nya, dengan menjelaskan, menerangkan, dan memaparkan kebenarannya dengan pemaparan yang jelas. Penjelasan ini memutus alasan antara Allah ‘azza wa jalla dan hamba-Nya, serta menegakkan hujah atas mereka. Allah ‘azza wa jalla yang menjadi saksi atas kebenaran Rasul-Nya, merupakan hal yang telah diketahui melalui berbagai jenis penjelasan, baik secara dalil aqli, dalil naqli, secara fitrah, ilmu pasti, maupun penalaran.” (Bada’i’ at-Tafsir, 2/460)

وَ الذِينَ مَعَهُ

“Dan orang-orang yang bersamanya….”

Ada tiga penafsiran para ulama dalam menjelaskan tentang siapa yang dimaksud orang-orang yang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam ayat ini:

  1. Yang dimaksud adalah sahabat yang hadir dalam peristiwa Hudaibiyah.
  2. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah adalah yang keras terhadap orang-orang kafir, yaitu mereka keras seperti singa-singa terhadap mangsanya.” (Tafsir al-Qurthubi 19/341)
  3. Para sahabat secara umum, baik yang menghadiri peristiwa Hudaibiyah maupun tidak.
  4. Seluruh kaum mukminin.

Yang tampak, ayat ini adalah sifat para sahabat secara umum, meskipun berkaitan dengan peristiwa Hudaibiyah. Asy-Syaukani rahimahullah berkata, “Yang utama adalah memahami ayat ini secara umum (yakni para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).” (Fathul Qadir 5/74)

أَشِدَّآءُ عَلَى الكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَينَهُمْ

“Keras terhadap orang-orang kafir dan saling mengasihi di antara mereka….”

Ayat ini sama seperti firman Allah ‘azza wa jalla,

Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir….” (al-Maidah: 54)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah sifat kaum mukminin yang salah satu dari mereka memiliki sifat yang keras terhadap orang-orang kafir, menyayangi dan berbuat baik kepada orang-orang yang mulia, bersikap marah dan ketus di hadapan wajah orang kafir, tersenyum dan berseri-seri di hadapan wajah saudaranya mukmin, seperti halnya firman Allah ‘azza wa jalla,

Hai orang-orang yang beriman, perangilah orang-orang kafir yang di sekitar kamu itu, dan hendaklah mereka menemui kekerasan darimu.” (at-Taubah: 123)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukminin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu jasad. Apabila salah satu anggota tubuh merasa sakit, seluruh tubuh turut merasakan dengan bergadang dan demam.” (HR. Muslim no. 2586, dari Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًاوَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ

“Seorang mukmin terhadap mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya,” lalu beliau menyela di antara jari-jemarinya. (Muttafaq ‘alaih dari Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu) (Tafsir Ibnu Katsir 13/133)

 

تَرَىهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللهِ وَ رِضْوَانًا

“Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya….”

Ini menerangkan tentang banyaknya shalat yang mereka lakukan, dengan mengharapkan keutamaan dari Allah ‘azza wa jalla dan keridhaan-Nya dengan meraih surga-Nya.

Al-Hafizh ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Allah ‘azza wa jalla menyebutkan sifat mereka, yakni banyak amalan dan shalat, yang merupakan sebaik-baik amalan, keikhlasan beramal hanya untuk Allah ‘azza wa jalla, mengharapkan ridha dan pahala yang berlipat ganda di sisi Allah ‘azza wa jalla berupa surga yang merupakan anugerah Allah ‘azza wa jalla, kelapangan rezeki kepada mereka, dan ridha-Nya kepada mereka. Ridha Allah ‘azza wa jalla sendiri lebih besar daripada kenikmatan yang awal (yaitu surga-Nya,-pen.), sebagaimana firman-Nya,

‘dan keridhaan Allah adalah lebih besar…’ (at-Taubah: 72).” (Tafsir Ibnu Katsir 13/133)

Ayat ini menunjukkan bahwa memperbanyak shalat termasuk amalan yang paling mulia, yang mengantarkan seorang hamba untuk meraih surga dan keridhaan-Nya.

Al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Tsauban radhiallahu ‘anhu, dia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang paling dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla yang memasukkan seorang hamba ke dalam surga. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ سَجْدَةً إلا رَفَعَكَ اللهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (shalat) kepada Allah ‘azza wa jalla, karena sesungguhnya tidaklah engkau melakukan satu sujud kepada Allah ‘azza wa jalla melainkan Allah ‘azza wa jalla mengangkat satu derajat dan menghapuskan darimu satu kesalahan.” (HR. Muslim, no. 488)

Al-Imam Muslim rahimahullah juga meriwayatkan dari Rabi’ah bin Ka’b al-Aslami radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya, “Mintalah sesuatu kepadaku.”

Rabi’ah menjawab, “Aku memohon untuk menjadi pendampingmu di surga.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mungkin permintaan yang lain?”

Ia menjawab, “Itulah permintaanku.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

“Bantulah aku untuk mencapai keinginanmu dengan memperbanyak sujud (shalat).” (HR. Muslim, no. 489)

 

            سِيمَاهُمْ فِى وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرٍ السُجُودِ

“Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud.”

Terdapat beberapa penafsiran ulama dalam menjelaskan tentang tanda sujud yang dimaksud di dalam ayat ini.

  1. Ada yang mengatakan, “Perilaku yang baik.” Ini diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.
  2. Sebagian ulama berkata, “Yang dimaksud adalah sifat khusyuk dan tawadhu’,” sebagaimana yang diriwayatkan dari Mujahid dan yang lainnya.
  3. Sebagian lagi mengatakan,
  4. “Dengan memperbanyak shalat akan membaguskan wajah, seperti perkataan sebagian salaf, barang siapa banyak melakukan shalat di malam hari, akan menjadi baik wajahnya di siang hari.”
  5. Sebagian lagi berkata, “Sesungguhnya amalan kebaikan memunculkan cahaya di dalam hati, sinar pada wajah, kelapangan rezeki, dan rasa cinta di dalam hati-hati manusia.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan, “Yang dimaksud ialah bahwa sesuatu yang tersimpan dalam jiwa akan tampak pada raut wajahnya. Apabila seorang mukmin memiliki isi hati yang baik dan benar bersama Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan memperbaiki penampilan lahirnya di hadapan manusia, sebagaimana yang diriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Barang siapa memperbaiki isi hatinya, Allah ‘azza wa jalla akan memperbaiki penampilan lahiriahnya’.”

Beliau kemudian berkata, “Tatkala para sahabat radhiallahu ‘anhum ikhlas dan amalan mereka saleh, setiap orang yang memandang mereka merasa takjub melihat perangai dan perilakunya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 13/134)

            ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَورَىةِ. وَ مَثَلُهُمْ فِى الإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْئَهُ فَئَازَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُرَّاعَ

“Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya.”

Sifat yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan ini ada dalam Taurat. Adapun sifat mereka yang Injil disebutkan dengan perumpamaan yang lain, yaitu tentang kesempurnaan mereka dan sikap mereka yang saling menolong, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu tumbuh berkembang menjadi muda, dan kemudian menjadi kuat dan keras, dan berdiri kokoh di atas batangnya, yang membuat kagum para penanamnya karena kesempurnaan tanaman dan keindahannya.

Demikian pula para sahabat radhiallahu ‘anhum, mereka ibarat tanaman yang selalu memberi manfaat kepada makhluk dan manusia selalu membutuhkan mereka. Kekuatan iman dan amalan yang mereka miliki bagaikan kuatnya akar dan batang pada sebuah tanaman.

Yang lebih dahulu masuk Islam menolong dan membimbing orang yang masuk Islam belakangan dalam hal menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla dan menyeru kepadanya, bagaikan tanaman yang mengeluarkan tunasnya lalu menolongnya hingga menjadi kuat.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan setelahnya,

لِيَغِيظَ بِهِمُ الكُفَّارَ

“Karena Allah ‘azza wa jalla hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin).”

Yaitu, tatkala mereka melihat persatuan para sahabat radhiallahu ‘anhum dan kokohnya mereka di atas agama, demikian pula tatkala terjadi pertempuran dalam medan perang. (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Berdasarkan ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah berpendapat kafirnya kaum Rafidhah yang membenci para sahabat radhiallahu ‘anhum. Sebab, para sahabat telah membuat mereka marah. Padahal, siapa yang marah kepada para sahabat, maka dia telah kafir berdasarkan ayat ini. Hal ini disetujui oleh sekelompok ulama.

Hadits-hadits tentang keutamaan para sahabat dan larangan mendiskreditkan mereka sangat banyak. Cukuplah pujian dan keridhaan Allah ‘azza wa jalla kepada mereka.” (Tafsir Ibnu Katsir 13/135. Lihat pula Tafsir al-Qurthubi 19/347)

وَعَدَ اللهُ الذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَ أَجْرً عَظِيمًا

“Allah ‘azza wa jalla telah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh ampunan dan pahala yang besar.”

Para sahabat radhiallahu ‘anhum adalah orang-orang yang mengumpulkan iman dengan amalan saleh, sehingga Allah ‘azza wa jalla mengumpulkan pula untuk mereka ampunan yang konsekuensinya adalah dijaga dari berbagai keburukan di dunia dan akhirat, serta pahala yang besar di dunia dan akhirat.” (Taisir al-Karim ar-Rahman)

Siapakah yang Berhak Diambil Ilmunya?

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

 Well

Berbagai kerusakan dan kehancuran terjadi dalam urusan dunia, lebih-lebih lagi urusan agama. Penyebab utamanya adalah jauhnya umat ini dari ilmu kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jauhnya mereka dari para ulama.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan mencabut ilmu dari umat manusia dengan sekali cabut. Akan tetapi, Dia akan mencabut dengan mematikan para ulama (ahlinya). Sampai apabila Dia tidak menyisakan seorang alim, umat manusia akan menjadikan orang-orang yang bodoh sebagai pimpinanpimpinan mereka. Mereka ditanya (oleh umatnya) lantas menjawab tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan dalam hadits yang lainnya tentang akibat dicabutnya ilmu.

يُقْبَضُ الْعِلْمُ وَيَظْهَرُ الْجَهْلُ وَالْفِتَنُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ

“Ilmu akan dicabut, (akibatnya) akan merebak kebodohan, berbagai fitnah,dan akan timbul banyak pembunuhan.” (Muttafaqun ‘alaih)

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah berkata, “Amalan-amalan jelek ibarat penyakit, sedangkan para ulama ibarat obatnya. Apabila para ulama rusak, siapa yang akan mengobati penyakit?” (al-Hilyah, 6/361)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Kalau tidak ada para ulama, niscaya umat manusia akan menjadi seperti binatang-binatang ternak (tidak tahu halal dan haram).” (Mukhtashar Nashihat Ahlil Hadits hlm.167)

 

Siapakah Para Ulama?

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang keutamaan mereka dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Mereka itulah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَلَكِنْ وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya para ulama itu adalah pewaris para nabi, sedangkan para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu. Barang siapa mengambilnya (warisan para nabi), berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Sifat-sifat para ulama yang pantas dijadikan sebagai ikutan dan suri teladan ialah orang-orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla, memahami kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta mengikuti diri dengan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh.

Orang-orang yang pantas dijadikan suri teladan adalah orang-orang yang mengumpulkan ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh (pada dirinya). Orang yang berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, tidak boleh diikuti. Demikian pula orang jahil yang tidak berilmu, tidak boleh diikuti.

Tidak boleh diikuti dan diteladani kecuali orang yang mengumpulkan dua hal, yaitu ilmu yang bermanfaat dan amalan yang saleh. Adapun orang yang berilmu dan tidak sengaja berbuat salah atau menyimpang dalam perjalanan atau pemikirannya, maka pantas diambil ilmunya.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 251)

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Orang alim adalah orang yang ada pada dirinya sifat-sifat berikut ini,

  • Mengikuti segala sesuatu yang ada di dalam al-Kitab dan as-Sunnah,
  • Mengaitkan pemahamannya terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf ash-shalih,
  • Komitmen dengan ketaatan dan jauh dari kefasikan, maksiat, dan dosadosa,
  • Menjauhkan dirinya dari bid’ah, kesesatan, kebodohan, dan mentahdzir (umat) darinya,
  • Mengembalikan (dalil-dalil) yang mutasyabih (samar) kepada yang muhkam (jelas pengertiannya) dan tidak mengikuti (dalil-dalil) yang mutasyabih itu,
  • Khusyuk dan tunduk terhadap perintah Allah,
  • Ahli istinbath (mengambil kesimpulan hukum dari dalil) dan memahaminya. (Syarh Qaul Ibni Sirin, 116—117)

 

Perintah Menimba Ilmu dari Mereka, Bukan dari Pihak Lain

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya dalam firman-Nya,

“Maka bertanyalah kepada ahlul dzikr jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya),

“Terjadi pada generasi sebelum kalian, ada seorang yang telah membunuh 99 jiwa. Dia bertanya-tanya tentang seorang yang paling berilmu di penduduk bumi. Ditunjukkanlah dia kepada seorang ahli ibadah.

Dia lantas menemuinya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh 99 jiwa. Apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Ahli ibadah itu menjawab, ‘Tidak.’

Akhirnya, orang itu membunuhnya sehingga genap 100 jiwa yang telah dibunuhnya. Kemudian dia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu. Ditunjukkanlah dia kepada seorang alim.

Dia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa, apakah aku masih memiliki kesempatan untuk bertobat?’

Dia (si alim) berkata, ‘Ya, siapa yang menghalangi antara dirimu dan tobat? Pergilah engkau ke sebuah negeri yang cirinya demikian dan demikian, karena masyarakat negeri itu beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla. Beribadahlah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla bersama mereka dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang jelek’.” (Muttafaqun ‘alaih)

Perhatikanlah kisah yang mulia ini. Kisah tentang akibat dari salah mengambil rujukan ilmu. Ujungnya menjadikan dia sesat (putus asa dari rahmat-Nya) dan zalim (membunuh). Sebaliknya, orang yang menuntut ilmu dari ahlinya, maka dirinya akan selamat, orang lain juga selamat dari kejelekan dan kejahatannya.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini mengandung penjelasan bahwa seorang muslim hanya akan bertanya kepada seorang alim yang terpercaya di dalam agama dan keilmuannya, lantas mengambil ilmu darinya. Seorang muslim tidak akan bertanya kepada sembarang orang.” (Fathul Bari, 6/517)

Beliau rahimahullah juga berkata, “Di dalamnya ada penjelasan bahwa kembali kepada para ulama adalah sebab keselamatan dan kebahagiaan.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Seorang murid membutuhkan ustadz dari sisi ilmu dan dari sisi amal. Oleh karena itulah, wajib bagi dia untuk betul-betul bersemangat memilih ustadz-ustadz (yang akan dia ambil ilmunya). Hendaknya dia memilih ustadz yang sudah dikenal keilmuannya, dikenal amanah dan agamanya, serta dikenal keselamatan manhaj dan pengarahannya yang benar. Dengan demikian, dia bisa menimba ilmu dari mereka sekaligus belajar dari manhajnya.” (Washaya wa Taujih li Thullabil Ilmi, hlm. 100)

 

Cara Mengenali Ahli Ilmu

Ada tiga cara untuk mengenali ahlul ilmu yang berhak diambil ilmunya.

  1. Orang-orang yang berilmu dan terkenal akan keilmuannya.
  2. Hal ini sebagaimana yang dikatakan oleh Syu’bah rahimahullah, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang masyhur/terkenal.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Jarh wa Ta’dil, 2/28)

Sebagai permisalan di masa kita adalah seperti asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz, asy-Syaikh al-Albani, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin, dll.

  1. Bertanya pada ahlul ilmi pada zaman tersebut.
  2. Orang-orang yang masyhur bahwa dia menuntut ilmu di majelis-majelis para ulama.

Syu’bah berkata, “Ambillah ilmu dari orang-orang yang terkenal (keilmuannya).” (Diriwayatkan oleh al-Khatib di dalam al-Kifayah, hlm. 161)

Ibnu Aun rahimahullah berkata, “Tidak boleh diambil ilmu ini kecuali dari orang-orang yang dipersaksikan dengan menuntut ilmu.”

 

Orang-Orang yang Tidak Boleh Diambil Ilmunya

Asy-Syaikh Ahmad bin Umar bin Salim Bazmul hafizhahullah berkata, “Memerhatikan keadaan orang-orang yang berbicara di majelis untuk memberi faedah kepada orang lain akan membuahkan pembeda yang akan memilah antara orang-orang yang berhak diambil ilmunya dan yang tidak berhak.”

Ibnu Sirin berkata rahimahullah, “(Salaf) dahulu tidak bertanya tentang sanad. Tatkala terjadi fitnah, mereka berkata, ‘Sebutkanlah kepada kami para perawi kalian.’ Setelah itu diteliti, perawi-perawi dari Ahlus Sunnah diambil haditsnya. Adapun perawi-perawi dari kalangan ahli bid’ah tidak diambil haditsnya.”

Sungguh, sebagian orang asing telah mengaku-aku berilmu. Sebagian ahlul bid’ah dan pengekor hawa nafsu juga telah berbicara di majelis-majelis untuk memberi faedah kepada umat (dengan bid’ahnya). Orang yang sebenarnya lebih membutuhkan ilmu dan dakwah daripada orang-orang yang bodoh, sudah berani naik mimbar. Sungguh, salaf ash-shalih telah memperingatkan umat dari mereka.

Ahlul ilmi dan iman yang mengikuti salaf ash-shalih dengan baik senantiasa mentahdzir umat dari orang yang semacam ini dan melarang mengambil ilmu darinya disebabkan bahaya mereka terhadap masyarakat dan kesesatan serta penyimpangan yang muncul darinya.

Selanjutnya, asy-Syaikh Ahmad Bazmul menjelaskan bahwa kita bisa menyimpulkan tentang sebab-sebab pokok orang yang tidak berhak diambil ilmunya.

  1. Jahil (orang bodoh)
  2. Menyelisihi kebenaran karena syahwat dan syubhat

Sufyan ats-Tsauri rahimahullah menggolongkan ulama menjadi tiga.

  1. Orang yang berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla (nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang mulia), tetapi tidak berilmu tentang perintah (syariat) Allah ‘azza wa jalla.
  2. Orang yang berilmu tentang perintah Allah ‘azza wa jalla dan berilmu tentang syariat-Nya. Orang ini adalah yang takut terhadap Allah ‘azza wa jalla dan itulah orang alim yang sempurna
  3. Orang berilmu tentang syariat Allah ‘azza wa jalla, namun tidak berilmu tentang Allah ‘azza wa jalla. Ini adalah orang yang tidak takut terhadap Allah ‘azza wa jalla, dan dialah alim yang jahat. (Syarh Qaul Ibni Sirin, hlm. 121—122)

Syaikhul Islam berkata, “Setiap muslim wajib memerhatikan segala sesuatu yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas mengamalkannya. Dia juga wajib memerhatikan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya lantas meninggalkannya. Inilah jalan Allah ‘azza wa jalla dan agama-Nya, yaitu ash-shirath al-mustaqim. Jalan orang-orang yang telah dikaruniai nikmat oleh Allah ‘azza wa jalla, dari kalangan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh.

Ash-shirath al-mustaqim adalah jalan yang menggabungkan antara ilmu dan amal. Ilmu yang syar’i dan amal yang syar’i. Barang siapa telah berilmu, namun tidak mengamalkan ilmunya, berarti dia adalah orang yang jahat. Barang siapa beramal tanpa ilmu, berarti dia sesat.” (Majmu’ Fatawa, 11/26)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla senantiasa melimpahkan hidayah taufik kepada kita sehingga terkumpul pada diri kita semua dua hal yang mulia, yaitu ilmu dan amal.

Amin.

Islam, Jalan dan Akidahnya

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

  Horizontal Road

Islam adalah solusi hidup sekaligus solusi mutlak untuk membebaskan diri dari kungkungan kerendahan dan kehinaan. Bahkan, Islam adalah asas yang sangat kokoh untuk meraih kesuksesan dalam hidup ini. Meniti jalan Islam adalah sebuah jaminan yang akan menyampaikan seorang hamba kepada Allah ‘azza wa jalla dan surga-Nya, sekaligus langkah yang menjamin dari berbagai kesesatan dan penyimpangan hidup dalam beragama, serta memelihara dari kecelakaan dan kebinasaan kelak di akhirat.

Manhaj dan akidahnya merupakan solusi dari berbagai bentuk krisis yang menimpa umat ini. Krisis dalam segala lini kehidupan, bahkan sampai menyentuh persoalan yang paling fundamental di dalam beragama yaitu krisis bermanhaj dan berakidah.

Para pakar, para cendekiawan dunia dan agama—menurut pandangan kaum muslimin—telah melakukan usaha yang maksimal untuk memberikan jawaban dan solusi dari beragam krisis tersebut. Mereka pun menemukan jalan buntu yang penuh dengan kerikil dan duri-duri, seakan-akan membuka benteng yang kokoh dan alot. Bagaimana bisa kaum muslimin menjawab krisis hidup, sementara mereka sendiri ditimpa oleh krisis yang lebih fatal?

Krisis akidah; Ia adalah sebuah krisis yang sangat besar dan berbahaya baik dalam eksistensi hidup di dunia maupun akhirat. Sebuah krisis yang telah menggoyahkan segala bangunan syariat yang dibangun di atasnya. Banyak syiar kemuliaan agama tumbang karena krisis ini. Sebaliknya, panji-panji iblis dan bala tentaranya semakin berkibar. Terdengar seruan-seruan kekafiran dan kesyirikan dengan lantang dan penuh keberanian.

Dengan krisis ini, seruan tauhid yang merupakan intisari dakwah para nabi dan rasul terkubur dalam reruntuhan zaman.

Krisis ini pula yang telah menyulap dan membalik barometer penilaian sehingga yang haq menjadi batil, tauhid menjadi syirik, sunnah menjadi bid’ah, halal menjadi haram, dan petunjuk menjadi kesesatan.

Betapa mengerikan akibat krisis besar ini yang telah menjerat banyak lapisan; menjerat banyak pemimpin kaum muslimin di dunia ini. Yang lebih mengherankan lagi, krisis ini bahkan menjerat orang yang dianggap tokoh agama.

Bukti nyata hal itu adalah banyaknya kuburan yang diagungkan dan dipertuhankan di negeri kaum muslimin. Tempat-tempat bertuah dan dikeramatkan, manusia yang dikultuskan dan disetarakan dengan Allah ‘azza wa jalla, para dukun, tukang ramal dan ahli nujum dipuja serta diangkat ilmunya setinggi ilmu Rabb. Tersebarlah ilmu perdukunan, ilmu sihir, ilmu nujum, dan ilmu ramal. Berbagai jimat diperdagangkan. Seruan mengembalikan ajaran-ajaran nenek moyang sebagai landasan berkeyakinan, pengambilan hukum, muamalah, pun naik ke permukaan. Dan masih banyak lagi bentuk kerusakan akidah lainnya.

Krisis manhaj; Sebuah krisis yang menumbuhkembangkan manhaj-manhaj batil di tengah kaum muslimin sehingga mereka jauh dari manhaj yang haq. Berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan adanya perpecahan umat ini menjadi 73 golongan dan yang selamat hanya satu merupakan bukti wahyu akan adanya krisis besar ini. Setiap golongan yang tersesat itu mengibarkan bendera masingmasing dengan lambang dan manhaj yang beragam.

Karena seruan 72 golongan inilah, mayoritas kaum muslimin meninggalkan jalan pendahulu yang saleh, yaitu jalan para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal Allah ‘azza wa jalla telah menjadikan jalan mereka sebagai barometer keselamatan di dunia dari berbagai kesesatan dan keselamatan di akhirat dari ancaman neraka.

Krisis amal; dengan menghidupkan syiar-syiar yang bukan ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dimasukkan ke dalam Islam, sampai pada klimaksnya, membela dan membangun jihad di atasnya. Tidak mengherankan jika tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam justru dimusuhi dan diperangi. Krisis ini sangat menyenangkan iblis dan bala tentaranya. Krisis ini juga memunculkan sikap mengadopsi sistem-sistem muamalah yang bukan dari Islam atau yang telah diharamkan oleh Islam, seperti praktik ribawi dengan segala bentuk dan cabangnya, menipu dengan segala jenisnya, berbuat curang dalam menakar dan menimbang, berdusta dengan segala bagiannya, dan sebagainya.

Krisis akhlak dan adab; yaitu meniru serta menjiplak akhlak dan adab orang-orang kafir dalam banyak hal. Mulai dari yang ringan sampai kepada yang berat, dan dari yang mudah hingga yang sulit.

Bahkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyinyalir, penjiplakan tersebut menyebabkan tampilan mereka sama dan serupa. Hal itu tidak hanya terjadi dalam masalah akhlak dan adab, namun dalam semua urusan agama.

Saudaraku, segala bentuk krisis dalam beragama ini butuh solusi yang tepat dan jalan keluar yang akan menyelesaikannya. Mungkinkah tergambar dalam benak Anda, ada jalan keluar lagi selain Islam, akidah, dan manhajnya?

Apabila tergambar ada selain Islam sebagai solusi, selain akidah dan manhajnya, berarti Anda telah terjerat perangkap dan jaring setan.

“Dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kalian berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kalian ketahui.” (al-Baqarah: 168—169)

“Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. untuk tiap-tiap umat di antara kalian, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.” (al-Maidah: 48)

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (al-A’raf: 142)

 

Meraba dan Berkhayal

Saudaraku, kita seringkali menganggap bahwa apa yang kita lakukan dan ide yang kita munculkan bisa menjawab krisis yang menimpa. Di sisi lain, kita tidak melihat dan mengkaji langkah-langkah pasti yang telah dilakukan oleh pendahulu kita yang saleh.

Seringkali kita mengukur sebuah keberhasilan itu dengan titel yang tinggi atau popularitas kita. Kita membangun berbagai bentuk pendidikan, formal atau informal, dengan berbagai jenjangnya mulai tingkat TK sampai perguruan tinggi. Sementara itu, kita tidak memerhatikan langkah pendahulu kita yang saleh. Seringkali kita mengentengkan dan meremehkan serta berbasa-basi di hadapan kesalahan yang besar menurut pandangan agama dan manhaj kita. Kita beralasan Allah Maha Pengampun, atau ini kesalahan ringan yang akan dihapuskan dengan istighfar dan kebaikan yang besar, atau yang penting akidahnya benar, dan semuanya akan terhapuskan dengan akidah yang benar, serta berbagai alasan yang menyenangkan dan menggembirakan setan. Bahkan, dengan kesalahan dan dosa tersebut, terkadang kita berbesar hati bisa mengenalkan dakwah yang benar kepada umat dan menghentikan permusuhan serta kebencian mereka terhadapnya.

Sungguh, ini adalah alasan yang tidak pernah kita dengar dari lisan pendahulu kita yang saleh. Yang mereka bimbingkan kepada kita adalah mengejar ridha, cinta, dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla semata. Mereka membimbing kita untuk mengejar keberkahan hidup dari Allah ‘azza wa jalla. Adapun dosa dan kesalahan tidak akan mendatangkan sesuatu selain kebencian dari Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam kitab Shahih-nya menulis bab “Ketakutan Seorang Mukmin untuk Terhapus Amalnya dan Dia Tidak Menyangka,” lalu membawakan ucapan-ucapan pendahulu kita yang saleh.

Ibrahim at-Taimi rahimahullah menerangkan, “Saya tidaklah melakukan koreksi terhadap ucapanku dengan amalku melainkan karena ketakutan saya menjadi munafik.”

Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah berkata, “Sungguh, saya telah bertemu dengan tiga puluh sahabat nabi. Semuanya takut kemunafikan akan menimpa diri mereka. Tidak ada seorang pun dari mereka yang berkata bahwa imannya di atas iman Jibril dan Mikail.”

Disebutkan juga sebuah riwayat dari al-Hasan, “Tiadalah yang takut darinya (kemunafikan) selain orang yang beriman. Tidaklah ada yang merasa aman darinya selain seorang munafik. Tidaklah diperingatkan dari kemunafikan dan kemaksiatan melainkan terus-menerus tanpa taubat darinya, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla, “Dan mereka tidak terus-menerus atas apa yang mereka kerjakan dan mereka mengetahui.”

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah di dalam Shahih-nya (no. 6011) mengatakan, “Telah bercerita kepadaku Abu al-Walid, dan telah menyampaikan kepadaku al-Mahdi, dari Ghailan, dari Anas, beliau berkata, ‘Sesungguhnya kalian melakukan satu perbuatan (dosa), dalam pandangan kalian lebih kecil dari rambut, sementara kami menganggapnya di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam termasuk dari perkara yang membinasakan’.

Di mana kita dengan para pendahulu kita yang saleh, yang kita menggabungkan diri di atas jalan mereka? Apa yang kita akan katakan di hadapan Rabb, jika kita digolongkan dalam barisan kaum munafik?

Pengakuan yang tidak sesuai dengan perbuatan, dan ucapan yang tidak sama dengan praktik. Apa yang kita akan perbuat, jika amal yang kita lakukan terhapuskan dalam keadan kita tidak menduga? Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi kita semuanya.

 

Wahyu, Solusi Mutlak dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya

Jalan keluar yang aman, lurus, dan pasti dari semua krisis adalah wahyu Allah ‘azza wa jalla. Mari kita dengarkan bimbingan Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hal ini.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian turut langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (al-Baqarah: 208)

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsir ayat ini menerangkan, “Allah ‘azza wa jalla berfirman memerintah kaum mukminin yang membenarkan pengutusan Rasul-Nya, agar mereka mengambil ikatan Islam dan semua syariatnya, serta mengamalkan semua perintah-Nya sesuai dengan kemampuannya, serta meninggalkan semua yang dilarang-Nya.”

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Ini adalah perintah Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk masuk ke dalam Islam secara keseluruhan, tidak meninggalkannya sedikit pun, sekaligus larangan menjadikan hawa nafsu sebagai tuhan. Apabila aturan syariat sesuai dengan hawa nafsunya, dia mengambilnya. Apabila tidak sesuai, dia menolaknya. Padahal, hawa nafsu wajib tunduk kepada agama.

Dan melakukan segala amal kebajikan yang sanggup dia lakukan. Adapun amalan yang belum sanggup dia laksanakan, dia berniat untuknya sehingga mendapatkan apa yang dia niatkan. Masuk ke dalam Islam secara menyeluruh tidak mungkin dan tidak tergambar kecuali dengan menyelisihi jalan setan.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Dan janganlah kalian mengikuti langkahlangkah setan’.”

“Jika datang kepadamu petunjukdari-Ku, lalu barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (Thaha: 123)

Solusi dari Rabb kita untuk tidak terjatuh di dalam kesesatan di dunia dan kecelakaan di akhirat ialah mengikuti petunjuk Allah ‘azza wa jalla.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah ‘azza wa jalla telah menjamin, siapa yang membaca al-Qur’an lalu mengamalkan kandungannya, tidak akan tersesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Hendaklah diketahui bahwa kebanyakan orang tersesat pada masalah ini atau lemah untuk mengetahui kebenaran, karena tidak mau mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak mendalami dan mengkaji jalan yang akan menyampaikan kepadanya. Tatkala berpaling dari kitabullah, mereka pun tersesat.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَقَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ إِنْ اعْتَصَمْتُمْ بِهِ كِتَابُ اللهِ

“Sungguh, aku telah meninggalkan di tengah kalian sesuatu dan kalian tidak akan tesesat setelahnya jika kalian berpegang teguh dengannya, yaitu kitabullah.” (HR. Muslim no. 2137 dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma)

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ

“Saya telah tinggalkan pada kalian dua hal yang kalian tidak akan tersesat jika kalian berpegang teguh dengan keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Asy-Syaikh al-Albani di dalam kitab at-Tawassul mengatakan, “Diriwayatkan oleh al-Imam Malik rahimahullah secara mursal dan al-Hakim secara bersambung dari hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dan sanadnya hasan. Ia memiliki syahid dari hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dan saya bawakan di dalam kitab ash-Shahihah no. 1761.)

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لَا يَزِيغُ عَنْهَا بَعْدِي إِلَّا هَالِكٌ

“Sungguh, saya telah meninggalkan kalian di atas (hujah) yang putih, malamnya bagaikan siangnya, dan tidak seorang pun menyimpang darinya melainkan akan binasa.” ( HR. Ibnu Majah dari Abud Darda’ radhiallahu ‘anhu dan dari ‘Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu, lihat ash- Shahihah no. 937)

 

Mencari Solusi Keselamatan Butuh Pengorbanan

Allah ‘azza wa jalla telah memberitakan bahwa Dia pasti akan menurunkan ujian dan cobaan kepada setiap hamba-Nya tanpa pandang bulu. Itu adalah kepastian hidup yang mengiringi hamba di dunia ini. Surga dan neraka yang menjadi akhir dan pengujung kehidupan manusia ini diliputi oleh berbagai ujian dan cobaan. Dua tempat yang tidak ada ketiganya di akhirat kelak, akan menjadi lambang keberhasilan hidup di dunia atau lambang kegagalan dan kecelakaan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga diliputi oleh segala yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh segala yang menggiurkan.” (HR. al-Bukhari no. 6006 dan Muslim no. 5049, dari Abu Hurairah dan Anas bin Malik radhiallahu ‘anhuma)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga, sementara belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ‘Bilakah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, ‘Sesungguhnya pertolongan Allah ‘azza wa jalla itu amat dekat’.” (al-Baqarah: 214)

Adakah keselamatan dan jaminan hidup yang paling berharga selain masuk surga? Adakah kesengsaraan yang lebih besar daripada ancaman dengan neraka?

Diperlukan pengorbanan dan perjuangan untuk meraih kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat, serta menghilangkan kenistaan dan kerendahan yang abadi. Belilah kemuliaan yang abadi itu dengan pengorbanan jiwa dan harta.

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan al-Qur’an. Siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (at-Taubah: 111)

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kalian Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih? (Yaitu) kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian. Itulah yang lebih baik bagi kalian, jika kalian mengetahui.” (ash-Shaf: 10—11)

 

Salaf ash-Shalih, Meniti Jalan Keselamatan & Menjawab Krisis Hidup

Kaum salaf yang saleh umat ini telah membuktikan bahwa agama, akidah, dan manhajnya adalah solusi mutlak dari semua krisis hidup. Tidak ada seorang pun meragukan krisis hidup yang menyelimuti kaum jahiliah. Akan tetapi, krisis besar tersebut sirna dengan agama yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Idris al-Khaulani rahimahullah telah mendengar Hudzaifah bin al-Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kebaikan. Adapun saya bertanya kepada beliau tentang kejelekan karena khawatir hal itu akan menimpaku.

Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kita berada di dalam masa jahiliah dan kejelekan, lalu Allah ‘azza wa jalla menurunkan kebaikan ini. Apakah setelah kebaikan ini ada kejelekan?’

Beliau bersabda, ‘Ya.’

‘Apakah setelah kejelekan ini akan ada kebaikan lagi?’

Beliau berkata, ‘Ya, namun ada asapnya.’

Saya bertanya, ‘Apakah asapnya itu?’

Beliau bersabda, ‘Kaum yang berjalan di atas selain jalan dan petunjukku. Kamu mengenali mereka dan kamu mengingkarinya.’

Saya berkata, ‘Apakah setelah kebaikan itu ada kejelekan lagi?

Beliau bersabda, ‘Ya, para dai yang berada di pintu neraka Jahannam dan barang siapa memenuhi ajakan mereka niscaya mereka akan melemparkannya ke dalam neraka.’

Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sebutkan sifatnya kepada kami, siapa mereka?’

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Mereka adalah satu kulit dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita.’

‘Apa perintahmu jika aku menjumpai hal itu?’

Beliau bersabda, ‘Konsekuenlah engkau bersama jamah kaum muslimin dan imam mereka.’

Saya berkata, ‘Jika mereka tidak memiliki jamaah dan imam?’

Beliau bersabda, ‘Menyingkirlah dari kelompok-kelompok itu semuanya, meski engkau harus menggigit (makan) akar kayu sampai kematian menjemput, sementara engkau tetap di atas kondisi itu’.” (HR. al-Bukhari no. 6557 dan Muslim no. 3434)

Ini adalah contoh yang sangat singkat, menggambarkan semangat mereka untuk mendapatkan jalan keluar dari krisis besar yang akan menimpa diri mereka dan orang lain. Dan masih banyak contoh lain yang tidak mungkin dibawakan dalam pembahasan yang singkat ini.

Wallahu a’lam.

Yang Berguguran dari Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 Daun Gugur

Allah ‘azza wa jalla telah menjamin untuk menjaga agama-Nya hingga bangkitnya kiamat. Tanda dan cirinya adalah Allah ‘azza wa jalla menjadikan dan membangkitkan dari umat ini sekelompok orang di atas al-haq. Mereka tidak termudarati oleh orang yang menyelisihi dan merendahkan mereka hingga hari kiamat.

Sekelompok orang ini yang tampil menghadapi dai-dai penyesat umat di sepanjang masa, tidak ada satu bid’ah pun yang muncul melainkan Allah ‘azza wa jalla memunculkan dari tokoh Ahlu Sunnah seseorang yang membantahnya, membongkar aibnya, membela sunnah dan menjaganya. Alangkah mulianya mereka.

Di antara tokoh-tokoh hizbiyin masa kini yang dengan gigihnya terus melancarkan serangan-serangan tajam terhadap dakwah salafiyah dan ulamanya dengan slogan membela sunnah dan dakwah salafiyah—secara dusta—adalah:

  1. Adnan ‘Ar’ur

Dia begitu getol membela kesesatan dan penyimpangan Sayyid Quthb, seperti wihdatul wujud, melecehkan Nabi Musa ‘alaihissalam mengingkari sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla, al-Qur’an adalah makhluk, mencela sahabat terutama Utsman radhiallahu ‘anhu, memuji Abdullah bin Saba yang berhasil menghasut umat meruntuhkan kekhilafahan Utsman radhiallahu ‘anhu, dan lainnya.

  1. Muhammad al-Maghrawi

Dia dengan getol membela sahabat dekatnya, Adnan ‘Ar’ur, ditambah lagi pemahaman takfir yang ada pada dirinya, menikam ulama Ahlus Sunnah, bahkan para nabi.

  1. Abul Hasan al-Mishri Musthafa bin Sulaiman al-Ma’ribi

Dia membela Sayyid Quthb, Ikhwanul Muslimin, Firqah Tabligh, melecehkan salafiyin dan ulamanya, mencela sahabat bahkan mengkritik tarbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dialah yang menyatakan bahwa manhaj Ahlus Sunnah adalah manhaj afyah (luas), mencakup umat dan Ahlus Sunnah. Dengan kaidah ini, dia hendak memasukkan semua sekte-sekte sesat ke dalam Ahlus Sunnah.

  1. Ali Hasan Abdul Hamid al-Halabi

Dialah yang sekarang menjadi motor pergerakan fitnah yang disebut fitnah al-Halabi, menyatukan, dan merangkul hizbiyin di atas bersatu menyerang salafiyin dan ulamanya.

Dia membuat situs السلفيين كل yang justru mengumpulkan seluruh fitnah hizbiyin. Selain itu, ia menulis banyak kitab dan makalah yang dipenuhi oleh makar, talbis (pengaburan) dan pemutarbalikan fakta, kaidah-kaidah yang batil, menerapkan kembali kaidah-kaidah Abul Hasan al-Mishri, membuat keraguan terhadap kaidah-kaidah al-jarh wat ta’dil, mengintimidasi siapa saja yang menerapkan kaidah-kaidah tersebut terhadap ahli bid’ah, dan membela dai-dai penyeru fitnah. Bahkan, ia membela risalah yang mengandung ajakan kepada wihdatul adyan (penyatuan agama) dengan cara-cara terselubung dan makar-makar yang jahat, dan lainnya.

Lihat lebih lengkap kesesatan orang ini dalam tulisan asy-Syaikh Rabi’, Bayan Man Hum Asbabul Fitan, halaqah ke-1. Para ulama kibar masa ini tampil membongkar makar dan kesesatan mereka. Di antara mereka adalah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi, masyaikh Yaman murid-murid asy-Syaikh Muqbil bin Hadi, asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri, asy-Syaikh Muhammad Bazmul, asy-Syaikh Muhammad bin Hadi, dan lainnya. Ahlus Sunnah salafiyin dari masa ke masa menjadikan para ulamanya sebagai rujukan ketika menghadapi ragam fitnah yang terjadi.

Barang siapa sejalan dengan ulama salaf dari masa ke masa dalam hal membela sunnah dan menyikapi ahli bid’ah, dia adalah salafi sunni.

Barang siapa membenci mereka dan membela dai-dai fitnah, bahkan bergabung dengan hizbiyin, dia adalah pengikut hawa nafsu.

Perlu diingat, perseteruan antara Ahlus Sunnah dan ahli bid’ah akan terus berlanjut hingga hari akhir dan akan semakin dahsyat dan samar.

Sudah menjadi sunnatullah pada para hamba-Nya, akan ada para pembela sunnah sebagaimana halnya ada pula para pembela bid’ah. Akan muncul pula orang-orang yang gugur dari manhaj salaf karena tidak istiqamah.

Semoga Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita sebagai para pembela sunnah dan manhaj dengan jujur dan tulus serta kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla keistiqamahan di atasnya.

Amin, Ya Mujibas Sailin.

Rukun Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Manhaj salaf, dakwah salafiyah, dibangun di atas dua rukun yang tidak mungkin terpisahkan, yaitu:

Striking_Match

A. At-Ta’shil

Maksudnya, menjelaskan prisip-prinsip dan pilar-pilar manhaj serta dakwah di atas dasar al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Termasuk dalam rukun ini adalah hal-hal berikut.

  1. Penjelasan tentang prinsip-prinsip dan dasar-dasar akidah Islamiah salafiyah yang terangkum dalam rukun iman yang enam.
  2. Penjelasan tentang prinsip-prinsip dan dasar-dasar ibadah yang disarikan dari syarat ikhlas dan mutaba’ah, serta yang terangkum dalam rukun Islam yang lima.
  3. Memerintahkan segala yang ma’ruf baik akidah, ibadah, adab, muamalah, maupun aspek kehidupan lainnya. Hal ini disebut dengan amar ma’ruf.
  4. Al-Wala, yaitu berloyalitas dan mencintai secara syar’i pihak-pihak yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan untuk dicintai, yaitu para nabi dan rasul, para sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in, para ulama sunnah, ulama salaf, dan kaum mukminin yang dikenal berpegang dengan sunah dan dikenal kesalehannya, serta tidak dikenal kebid’ahan, kefasikan, dan kejahatannya.
  5. At-ta’dil, yaitu memuji dan menyebutkan kebaikan dan keadilan pihak-pihak yang secara syar’i layak untuk di-ta’dil, baik kalangan para saksi, para rawi, maupun para pelaku dakwah dan kaum muslimin secara umum.

 

B. At-Tahdzir

Maksudnya, memperingatkan umat dari bahaya orang, golongan (sekte), pemahaman, kitab, dan semisalnya yang bertentangan dengan prinsip al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah. Termasuk dalam rukun ini adalah:

  1. Menjabarkan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada dasar-dasar akidah salafiyah secara detail pada setiap masalah, bab, dan sekte.
  2. Membongkar praktik-praktik dan ragam bentuk kesyirikan yang ada di tengah masyarakat.
  3. Menyingkap tabir kebid’ahan dan ragam kesesatan yang menyimpang dari sunnah.
  4. Mencegah dari segala bentuk kemungkaran, disebut nahi munkar.
  5. Al-Bara’, yaitu berlepas diri dari pihak yang diperintah oleh syariat untuk di-bara’, seperti iblis, orang kafir, zionis-salibis dan ragam sekte kafir lain, kaum zindiq (munafik), ahli bid’ah dengan beragam paham dan sektenya, serta orang-orang yang dikenal dengan kebid’ahan, kefasikan, dan kejahatannya.
  6. Al-Jarh, yaitu mengkritik atau memaparkan kejelekan, cacat, dan penyimpangan pihak-pihak yang secara syar’i layak di-jarh, baik kalangan saksi, para rawi, pelaku dakwah, maupun muslimin secara umum.

Kedua rukun di atas sering disebutkan oleh al-Qur’an dan sunnah secara bergandengan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah, sesungguhnya ia telah berpegang teguh dengan tali yang amat kuat dan tidak akan putus.” (al-Baqarah: 256)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ الْمُوَالَاةُ فِي اللهِ وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ وَالْحُبُّ فِي اللهِ وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

“Tali keimanan yang terkuat adalah berloyalitas karena Allah ‘azza wa jalla dan memusuhi karena Allah ‘azza wa jalla, cinta karena Allah ‘azza wa jalla dan benci karena Allah ‘azza wa jalla.” (HR. ath-Thabarani no. 11537 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma dengan sanad hasan li ghairihi)

Demikian pula hadits Irbadh bin Sariyah radhiallahu ‘anhu yang telah lalu,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّواعَلَيْهَا بِالنَّواجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“(Ketika itu) berpeganglah kalian dengan sunnahku dan sunnah al-Khulafa ar-Rasyidin yang terbimbing sepeninggalku. Pegangilah ia dan gigitlah dengan geraham-geraham kalian. Dan hati-hati kalian dari perkara baru dalam agama karena setiap yang bid’ah adalah sesat.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam Minhajus Sunnah (5/253) menegaskan, “Memerintahkan yang sunnah dan melarang dari bid’ah adalah amar ma’ruf nahi munkar. Itu termasuk amal saleh yang paling afdal. Maka dari itu, seharusnya dia mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla (ikhlas) dan sesuai dengan perintah (ittiba’).” (Taammulat fi Masalatil Hajr hlm. 36, asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari hafizhahullah)

Al-‘Allamah Sulaiman bin Sahman rahimahullah dalam Minhaj Ahlil Haq (hlm. 98) mengatakan,

وَمَا الدِّينُ إِلاَّ الْحُبُّ وَالْوَلاَءُ كَذَاكَ الْبَرَا مِنْ كُلِّ غَاوٍ وَآثِمُ

“Dan tidaklah agama ini melainkan cinta dan wala’, begitu pula bara’ dari setiap orang yang menyimpang dan berdosa.” (Taammulat hlm. 28).

Asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahim al-Bukhari hafizhahullah dalam risalahnya Taammulat Fi Masalatil Hajr (hlm. 28) menyimpulkan: “Kalau begitu, nash-nash dua wahyu (al-Qur’an dan sunnah), semuanya menunjukkan kewajiban menerapkan kaidah yang agung, yaitu kaidah al-wala wal bara’. Wala’ kepada keimanan dan kaum mukminin, dan bara’ dari kekufuran dan orang-orang kafir, kebid’ahan, serta ahli bid’ah.

Seseorang yang mencermati pemahaman dan amalan salaful ummah yang shalih akan mendapati adanya pernyataan tegas (nash) dari mereka tentang perkara yang penting ini, disertai praktik amalannya.”

Secara umum, hampir tidak ada pihak yang merasa gelisah, terhantui, bahkan mengingkari rukun yang pertama. Sebab, sifatnya adalah pemaparan prinsip dan dasar-dasar kebaikan dan kebenaran disertai dengan dalil-dalil yang sahih dari al-Qur’an dan as-Sunnah berikut penjelasan para ulama.

Di kancah dakwah, banyak dijumpai kaum hizbiyin yang ikut tampil menerangkannya walau hakikatnya hanya kamuflase untuk menipu umat. Mereka mengajarkan Kitab at-Tauhid karya asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, Syarah al-Aqidah ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil Izzi al-Hanafi, bahkan mengajarkan Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim dan merambah kitab Tafsir Ibnu Katsir.

Apalagi para GPS (Golongan Pengaku Salaf), kajian-kajian mereka nyaris mirip dengan kajian-kajian Ahlus Sunnah salafiyin, dari sisi kitab yang dikaji dan tampilan lahirnya.

Yang merasa gelisah dan terhantui adalah kaum Sufi dan saudara kembarnya, Rafidhah, yang tergabung dalam GAW (Gerakan Anti Wahhabi).

Akan tetapi, tatkala rukun yang kedua disuarakan dan diamalkan, atau yang pertama disertai dengan yang kedua (secara bersamaan), terjadilah ‘kegaduhan’ seolah-olah ‘kiamat’ hendak terjadi. Suara-suara sumbang dan lontaran-lontaran syubhat terdengar sangat nyaring dan bertubi-tubi. Anehnya, ini tidak hanya muncul dari mulut para GAW, tetapi muncul lebih deras dan ganas dari para GPS.

Berikut ini cuplikan syubhat dan suara-suara sumbang yang menggambarkan kegelisahan dan ketakutan mereka.

  1. “Mengapa harus dengan kalimat Manhaj? Apa tidak cukup dengan kalimat al-Haq?”
  2. “Bantah saja bid’ahnya, tidak usah menyebut orangnya!”
  3. “Cukup dibetulkan kesalahannya, tidak perlu menghukumi orangnya!”
  4. “Tidak ada hajr (pemboikotan) selain pada lima macam kebid’ahan!” Maksud mereka ialah Jahmiyah, Murji’ah, Rafidhah, Qadariyah, dan Khawarij.
  5. Hajr tidak mungkin dipraktikkan di zaman sekarang karena Ahlus Sunnah minoritas!”
  6. “Kalau tidak ada kemaslahatannya, hajr menjadi gugur dan tidak disyariatkan, kita harus memakai cara ta’lif (lembut)!”
  7. “Tidak boleh divonis bid’ah kecuali sekte-sekte dari masa lalu.”
  8. “Membicarakan yayasan-yayasan bid’ah tidak akan ditanya di alam kubur!”
  9. “Menerima dana dari yayasan bid’ah adalah kecerdasan!”
  10. “Adillah wahai, akhi! Sebutkan juga kebaikan-kebaikannya, jangan hanya menyebutkan kejelekannya! Antum zalim!”
  11. “Mereka (Ahlus Sunnah) hanya sibuk dengan tahdzir! Pekerjaannya hanya men-tahdzir.”
  12. “Tinggalkan sebab-sebab perpecahan!” Yang dimaksud adalah tidak boleh membicarakan penyimpangan dan kesesesatan hizbiyin karena akan menimbulkan perpecahan di tengah-tengah muslimin.
  13. “Kita tidak boleh taklid dengan Syaikh Fulan dan Syaikh Allan!” Maksudnya ialah menolak fatwa dan tahdzir ulama sunnah terhadap kesesatan dan penyimpangan tokoh-tokoh bid’ah.
  14. “Mereka (hizbiyin) juga mendakwahkan tauhid! Radio mereka menyerukan dakwah tauhid! Ustadz-ustadz mereka juga mengajarkan Kitab at-Tauhid!”
  15. “Tahdzir itu cukup 5-10 menit saja!” Maksudnya adalah meremehkan amalan tahdzir dan mengingkari kemungkaran terhadap bid’ah dan ahli bid’ah.

Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu tersentuh api neraka.” (Hud: 113)

Yang dimaksud orang zalim dalam ayat ini meliputi:

  1. Orang-orang yang menzalimi harta, darah, dan kehormatan orang lain dengan tindakan lalim dan semena-mena.
  2. Orang-orang yang menzalimi agama dan akidah umat, yakni para pengusung kebatilan dan ahlul bid’ah dengan berbagai kesesatan, penyimpangan, dan kebid’ahan mereka.

Al-Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjelaskan, “Ayat ini mencakup semua ragam (kezaliman) di atas. Setiap pengusung kebatilan adalah zalim. Setiap ahli bid’ah adalah zalim. Setiap orang yang menghancurkan kehormatan muslimin adalah zalim. Maka dari itu, janganlah engkau condong kepada siapa pun dari mereka karena engkau akan disentuh api neraka….” (ats-Tsabat ‘ala as-Sunnah, hlm. 16)

Yang dimaksud dengan ركون dalam ayat ini adalah kecenderungan, kecondongan, menyepakati, dan meridhai kezaliman mereka. (Tafsir as-Sadi) Ancaman yang disebutkan dalam ayat di atas ditujukan kepada orang-orang yang hanya condong dan ridha. Lantas bagaimana halnya dengan orang-orang yang memuji, membela, menyanjung, ta’awun dakwah di bawah naungan ta’awun dana, majelis bercengkrama, belajar mengambil ilmu, bermusyawarah, mendengarkan radio, membaca karya tulis, majalah, dan yang lainnya!? Bukankah ancamannya semakin keras?!

Lantas bagaimana kiranya dengan orang-orang yang melompat ke arah mereka dan menjadi bagian dari mereka?! Bagaimana kiranya dengan orangorang zalim itu sendiri?! Na’udzubillah min iqabih wa ‘adzabih (Kita berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari hukuman dan azab-Nya).

Ayat di atas tidak hanya mentahdzir umat dari kezaliman dengan beragam jenisnya dan menghukuminya sebagai orang zalim; dan hal itu tidak disebut sebagai ‘pembunuhan karakter’ atau ‘penghancuran profil’ seperti yang mereka dengungkan.[1]

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsir-nya mengatakan, “Di dalam ayat ini terdapat tahdzir terhadap sikap condong kepada setiap orang yang zalim.” Dalam manhaj nabawi, manhaj salaf, yang ditahdzir meliputi:

  1. Perbuatannya, baik itu kekufuran, kebid’ahan, penyimpangan, kemungkaran, maupun kezaliman. Dalilnya dalam al-Qur’an dan as-Sunnah sangatlah banyak.
  2. Pelakunya, baik itu orang kafir, orang munafik, ahlu bid’ah, orang zalim, maupun yang lain.
  • terkadang yang di-tahdzir adalah pelaku secara umum tanpa vonis personal.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang kafir dari ahli kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka jahannam mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah sejelek-jelek makhluk.” (al-Bayyinah: 6)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapati seorang penolong pun bagi mereka.” (an-Nisa: 145)

  • terkadang yang di-tahdzir adalah sekte dan kelompok sesatnya, sebagaimana hadits tentang perpecahan umat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas menyatakan,

كُلُّهَا فِي النَّارِ

“Semuanya di dalam neraka.”

  • terkadang pula yang di-tahdzir adalah person dan tokoh-tokoh kesesatan dan penyimpangan, apabila terdapat maslahat syar’i dan sesuai dengan persyaratan yang termaktub dalam kitab-kitab ulama. Contohnya, tahdzir Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Dzul Khuwaisirah at-Tamimi, tokoh Khawarij. Contoh lain adalah kitab-kitab salaf yang secara khusus membongkar kesesatan tokoh bid’ah tertentu, seperti “Bantahan terhadap Bisyr al-Marrisi” karya ad-Darimi, dan bantahan ulama yang lainnya sampai hari ini.
  • terkadang pula yang di-tahdzir adalah kitab-kitab, majalah, radio, majelis, dan aktivitas lainnya. Al-Imam Abu Utsman ash-Shabuni rahimahullah menjelaskan prinsip ahlul hadits, “Mereka membenci ahli bid’ah yang mengada-adakan dalam agama apa-apa yang bukan darinya, tidak mencintai mereka, tidak bersahabat dengan mereka, tidak mendengarkan ucapan mereka, tidak bermajelis dengan mereka, tidak berdebat dengan mereka dalam masalah agama, tidak berdialog dengan mereka, menjaga telinga dari mendengarkan kebatilan-kebatilan mereka yang apabila lewat di pendengaran dan bersemi di hati niscaya akan membahayakan dan mendatangkan beragam was-was dan pemikiran yang rusak. Tentang masalah ini Allah ‘azza wa jalla menurunkan firman-Nya,

“Dan apabila kamu melihat orang-orang yang memperolok-olok ayat kami maka tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain ….” (al-An’am: 68) (Aqidah Salaf hlm. 107—108)

Sikap yang ditunjukkan Ahlus Sunnah ini adalah perwujudan dari konsekuensi cinta karena Allah ‘azza wa jalla dan benci karena Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam Sufyan bin Said ats-Tsauri rahimahullah menegaskan, “Apabila engkau mencintai seseorang karena Allah ‘azza wa jalla, lantas dia melakukan kebid’ahan dalam Islam dan ternyata engkau tidak membencinya karena (bid’ahnya itu); sesungguhnya engkau tidak mencintainya karena Allah ‘azza wa jalla.” (Hilyatul ‘Auliya 7/34, Abu Nuaim al-Asbahaniy rahimahullah)

Dalam as-Siyar karya adz-Dzahabi (6/344) disebutkan, Abu Taubah al-Halabi berkata, “Teman-teman kami menceritakan kepada kami bahwasanya Tsaur (bin Yazid al-Himshi) pernah bertemu al-Auza’i lalu mengulurkan tangannya kepada beliau (untuk berjabat tangan). Namun, al-Auza’i tidak mau mengulurkan tangan kepadanya seraya berkata, ‘Wahai Tsaur, seandainya urusannya adalah dunia niscaya bisa saling mendekat. Akan tetapi, ini urusannya adalah agama!’.” (Ta’ammulat Fi Mas’alatil Hajr hlm. 30)

Tsaur bin Yazid memiliki pemahaman Qadariyah.

 

Manhaj, Terkait dengan Surga Neraka

Ayat di atas (Hud: 113) tegas menunjukkan bahwa masalah ini sangat erat kaitannya dengan surga dan neraka. Barang siapa menerapkan kaidah dan prinsip Ahlus Sunnah salafus shalih dalam hal membantah dan menyikapi ahli bid’ah, ia akan selamat dari neraka. Sebaliknya, barang siapa condong, bahkan membela mereka, ia terancam dengan neraka.

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya, “Apakah surga dan neraka terkait dengan keabsahan manhaj?”

Beliau menjawab, “Betul. Apabila manhajnya sahih, orang tersebut termasuk ahlul jannah. Apabila di atas manhaj Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan manhaj salafus shalih—bi idznillah—dia termasuk ahlul jannah. Namun, apabila di atas manhaj orangorang sesat, dia terancam dengan neraka. Jadi, keabsahan dan tidaknya sebuah manhaj sangat erat kaitannya dengan surga dan neraka.” (al-Ajwibah al- Mufidah hlm. 77—78)

Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah pada majelis di tempat peristirahatan beliau saat datang ke Tanah Air untuk acara Daurah Nasional Asatidzah di Jogja pada 1433 H (2012 M), ditanya tentang pernyataan bahwa masalah Ihya at-Turats tidak akan ditanyakan di alam kubur. Beliau dengan tegas menyatakan, “Pernyataan semacam ini tidak diucapkan selain oleh seorang ahli bid’ah!”

 

Tidak Terpaku dengan Penampilan Luar

Ketika menyikapi, membantah, dan mentahdzir hizbiyin dan ahli bid’ah, Ahlus Sunnah tidak terpana dengan penampilan zahir sebagian mereka yang sesuai dengan sunnah, ibadahnya, bacaan al-Qur’annya yang merdu, kezuhudannya atau taklim-taklimnya yang mengajarkan tauhid dan sunnah. Yang dinilai adalah hakikat keadaannya, yaitu manhaj dan akidahnya yang menyimpang.

Khawarij salah satu sekte sesat yang masih eksis dari masa lalu hingga zaman sekarang, disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan ibadah, shalat, puasa, bacaan al-Qur’an, kezuhudan, dan tampilan zahir yang sesuai dengan sunnah. Akan teapi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat keras mentahdzir mereka. Mereka dikatakan sebagai ‘anjing-anjing jahannam’, ’sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit’, dan ‘keluar dari agama seperti keluarnya panah dari buruannya’.

Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata tentang al-Harits al-Muhasibi, “Jangan engkau tertipu oleh kekhusyukan dan kelembutannya… Jangan engkau tertipu dengan kepala orang yang tertunduk (tawadhu’) karena dia adalah orang yang jelek. Jangan engkau berbicara dengannya! Tidak ada kemuliaan baginya! Apakah setiap orang yang menyampaikan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam padahal dia ahlu bid’ah engkau bermajelis dengannya?! Tidak! Tidak ada kemuliaan, tidak pula penyejuk mata!” (Thabaqat al-Hanabilah hlm. 325. Lihat Lammud Durril Mantsur hlm. 166)

Abu Zur’ah rahimahullah pernah ditanya tentang al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau menjawab, “Hati-hatilah kalian dari kitab-kitab ini! Ini adalah kitab-kitab bid’ah lagi sesat. Hendaklah engkau kembali kepada atsar, karena engkau akan mendapati padanya sesuatu yang mencukupi (sehingga) tidak memerlukan kitab-kitab ini.”

Beliau ditanya lagi, “(Akan tetapi,) dalam kitab-kitab ini ada ibrah (pelajaran yang dapat diambil).”

Jawab beliau, “Barang siapa tidak dapat mengambil ibrah dari kitabullah, dia tidak akan mendapat ibrah dari kitab-kitab ini!”

Kemudian beliau berkata, “Alangkah cepatnya orang-orang terjatuh pada kebid’ahan.” (as-Siyar 12/112, lihat Lammud Durr hlm. 149)

 

Tidak Harus Menyebut Kebaikannya

Ketika membantah dan menjelaskan penyimpangan hizbiyin, Ahlus Sunnah hanya menjabarkan sisi kesesatannya. Sebab, posisinya adalah sedang membantah dan mentahdzirnya sehingga tidak ada keharusan menyebutkan sisi kebaikan yang ada pada hizbiyin sebagaimana contoh-contoh dan dalil-dalil di atas.

Adapun muwazanah (menyebut kebaikan dan kejelekan secara berimbang) ketika membantah ahli bidah, ini adalah ciri khas kebid’ahan Sururiyin yang tidak dimiliki oleh sekte-sekte sesat lainnya. Sebuah kebid’ahan dan makar untuk mengayomi serta menghalangi tokoh-tokoh sesat dari hunjaman deras bantahan Ahlus Sunnah terhadap mereka, sekaligus meruntuhkan rukun kedua dakwah Islamiah nabawiah salafiyah, yaitu tahdzir.

Bid’ah ini telah diruntuhkan—walhamdulillah—oleh al-Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah dalam kitab beliau Manhaju Ahlis Sunnah Fi Naqdir Rijal Wal Kutub wath-Thawaif.

 

Tahdzir Sampai Kapan?

Membantah, mentahdzir dan menghajr (memboikot) ahli bid’ah hizbiyin terus berlanjut selama masih terjadi kemungkaran dan kebid’ahan, dan selama masih ada ath-Thaifah al-Manshurah, salafiyun.

Terkadang hal ini dilakukan dengan perbuatan, ucapan, dan hati. Adakalanya bahkan dengan hati saja. Apabila memungkinkan diterapkan hajr secara total dengan ragam bentuk hajr, hal itu dilakukan. Akan tetapi, apabila tidak memungkinkan karena pertimbangan maslahat-mafsadat, yang diterapkan adalah hajr pada beberapa hal yang mungkin, sementara hal yang lain tidak. Ini disebut hajr juz’i (secara parsial).

Ringkasnya, prinsip hajr dan tahdzir tidak akan pernah gugur walaupun Ahlus Sunnah lemah dan minoritas. Sebab, hal ini masih mungkin dilakukan dengan hati dalam bentuk hajr juz’i, dengan tujuan utama menjaga dan menyelamatkan diri dari kesesatan (disebut dengan hajr wiqayah).

Dasarnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيْمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, ubahlah dengan tangannya. Apabila tidak mampu, dengan lisannya. Apabila tidak mampu, dengan hatinya; dan itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim)

Ini semua membantah paham bid’ah baru yang diluncurkan oleh GPS, yaitu إسقاط الهجر (menggugurkan prinsip hajr) apabila dinilai tidak bermaslahat.

Lihat rincian masalah hajr sekaligus sanggahan atas pemahaman di atas dalam kitab Taammulat Fil Hajr, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdur Rahim al-Bukhari hafizhahullah.

 

Tahdzir=Memecah Belah Umat?

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan pernah ditanya, “Apakah mentahdzir manhajmanhaj yang menyimpang dan para dainya dianggap memecah belah kaum muslimin dan merenggangkan barisan mereka?”

Beliau menjawab, “Mentahdzir manhaj-manhaj yang menyimpang dari manhaj salaf termasuk upaya menyatukan kalimat kaum muslimin, bukan memecah belah barisan mereka. Sebab, yang memecah belah barisan muslimin (justru) manhaj-manhaj yang menyimpang dari manhaj salaf itu.

Sejak munculnya mazhab-mazhab yang menyelisihi manhaj salaf setelah tiga generasi utama, para ulama senantiasamentahdzir dan menjelaskan kebatilannya. Lihatlah kitab-kitab mereka.” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 106—107)

Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang memerintahkan bersatu di atas al-haq, tidak berpecah belah, dan mempererat ukhuwah Islamiyah di atas sunnah, Namun, Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya pula yang memerintahkan untuk mengingkari kemungkaran, membongkar kesesatan dan para pelakunya.

Tidak mungkin terjadi kontradiksi antara dua hal yang disyariatkan, tetapi justru saling melengkapi dan menguatkan.

Termasuk konsekuensi dan bukti kebenaran dan kejujuran sebuah persatuan dan ukhuwah di atas Sunnah adalah ditegakkannya prinsip al-wala’ wal bara’, mengingkari kemungkaran, tahdzir dan hajr, sesuai dengan kaidah-kaidah syar’i. (lihat al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 142)

 

Jihad yang Paling Afdal

Menegakkan rukun ke-2 dakwah salafiyah adalah amalan jihad yang paling afdal. Yang melakukannya adalah orang besar lagi mulia seperti para nabi dan rasul, para sahabat, salafus shalih dan para ulama salaf dari masa lalu hingga masa kini, sampai hari kiamat.

Mereka mengorbankan waktu, ilmu, tenaga, pikiran, harta benda, jiwa raga dan nyawa untuk Allah ‘azza wa jalla semata dalam rangka menegakkan dan membela rukun ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menyatakan, “Orang yang membantah ahli bid’ah adalah mujahid. Sampai-sampai Yahya bin Yahya menyatakan, ‘Membela sunnah lebih afdal daripada jihad.” (Majmu’ Fatawa 4/13)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah juga menegaskan, “Membongkar aurat mereka (ahli bid’ah) dan menjelaskan penyimpangan-penyimpangan dan kerusakan kaidah-kaidah mereka termasuk jihad fi sabilillah yang paling afdal.” (Shawaiq al-Mursalah 1/301)

Dalam kitabnya Syifa’ul ‘Alil (hlm. 60) Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan, “Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma adalah orang yang sangat tegas terhadap Qadariyah. Demikian pula para sahabat.” (lihat Ijma’ Ulama ‘alal Hajr hlm. 38, asy- Syaikh Khalid azh-Zhafiri)

 

Salafiyin Sibuk dengan Tahdzir?

Di antara tuduhan dusta dan keji terhadap dakwah salafiyah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah bahwa salafiyin tidak punya kesibukan selain tahdzir, bantahan, dan hajr.

Subhanallah! Karya-karya ilmiah dalam berbagai bidang ilmu yang ditulis oleh ulama salaf dari zaman dahulu hingga sekarang, apakah itu bukan sibuk dengan ilmu?!

Bantahan-bantahan terhadap ahli bid’ah yang mereka tuliskan dalam karya-karya besar ilmiah bukan disebut ilmu?! Lantas disebut apa?

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah menasihatkan, “Wahai saudara-saudaraku, belajarlah ilmu, yakni kitab-kitab rudud (bantahan terhadap ahli bid’ah) adalah salah satu sisi dari sisi-sisi ilmu yang penting. Bacalah bab shalat, bab zakat, bab haji, bab akidah, bab muamalah, dan bab bantahan terhadap ahli bid’ah….” (MajmuKutub wa Rasail 14/266)

Tuduhan-tuduhan semacam ini, baik dahulu maupun sekarang, hanya terlontar dari mulut ahli bid’ah atau orang yang hatinya memiliki syubhat.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah pernah ditanya, “Apakah salafiyin disalahkan karena sibuk dengan bantahan, dengan anggapan bahwa mereka tidak perhatian dengan ilmu?”

Beliau menjawab panjang lebar. Di antara pernyataan beliau adalah, “Apa yang dikatakan ahlul bid’ah tentang Ahlus Sunnah bahwa kesibukan mereka hanyalah membantah, (sangat) tidak benar. Mereka (Ahlus Sunnah) justru sibuk dengan ilmu yang bermanfaat.Tatkala diperlukan, mereka pun membantah ahlu ahwa wa bid’ah. Ini (justru) kemuliaan bagi mereka, karena membantah ahli bid’ah) termasuk nasihat untuk Allah ‘azza wa jalla, kitab-Nya, pemimpin muslimin, dan kaum muslimin secara umum. Ini juga termasuk upaya mereka berjalan di atas thariqah (metode) salaf dalam menjaga agama Allah ‘azza wa jalla.

Sejak dini, kaum muslimin wajib mengetahui jalan petunjuk dan jalan kesesatan. Dia harus tahu bagaimana harus berjalan di awal perjalanannya. Apabila dia (hanya) mempelajari (ilmu), namun tidak mengetahui syubhat (ahli bid’ah) dan tidak mengetahui bantahan (terhadap ahli bid’ah), dia akan sia-sia.

Bisa jadi, ada sejumlah orang yang duduk bermajelis dan belajar kepada seorang ulama, namun dia tidak tahu bid’ah dan bantahannya serta penjelasan tentangnya. Dia pun menyimpang dari manhaj ulama salaf. Maksudnya, seseorang yang hanya mengajarkan kebaikan kepada orang lain dan tidak menjelaskan tentang kejelekan, kebid’ahan, dan kesesatan, dia (seperti) orang yang bercocok tanam, kemudian datanglah hewan-hewan dan serangga-serangga yang memakan tanamannya (karena) tidak ada penjagaan.

Bantahan-bantahan terhadap ahli bid’ah adalah penjagaan, persis seperti penjagaan-penjagaan dalam bab lainnya, semisal imunisasi untuk penyakit dan vaksin-vaksin medis dari penyakit-penyakit badan. Akan tetapi, penyakit-penyakit hati dan jiwa lebih memerlukan penjagaan.

Kami tujukan ucapan ini kepada para pencari ilmu dan ulama, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah k, mengamalkan ilmu, dan beramar maruf nahi mungkar sesuai dengan kesanggupan masing-masing. Harus ada inkarul munkar….

Pelajarilah ilmu dan amalkan. Termasuk tujuan Islam dalam bab (ilmu dan amal) adalah beramar maruf nahi munkar dan menasihati kaum muslimin,setelah itu berjihad untuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla hingga engkau menghunuskan pedang fi sabilillah, (memerangi) musuhmusuh Allah ‘azza wa jalla manakala ada (penguasa) yang mengangkat bendera jihad untuk meninggikan kalimat Allah ‘azza wa jalla.” (MajmuKutub wa Rasail 14/266—268, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah)

 

Antara Tahdzir dan Menasihati

Ada sebagian pihak yang menuduh salafiyin mencari-cari kesalahan dan tidak melakukan upaya nasihat terhadap orang-orang yang terjatuh dalam kesalahan dan penyimpangan, padahal penyimpangan tersebut mereka sebarkan di dunia maya.

Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah juga pernah ditanya tentang permasalahan ini.

Beliau menjawab, “Kita sedang diuji dengan tipe orang seperti ini. Engkau dapati seseorang menyebarluaskan kebatilan, kedustaan, dan tuduhan terhadap orang lain. Terkadang dia lakukan secara khusus dan terkadang secara umum. Apabila engkau menegur atau mengkritiknya, dia menyatakan, ‘Mengapa mereka mentahdzir saya? Mengapa mereka tidak menasihati saya? Mengapa mereka tidak menjelaskan kepada saya?’

(Ini semua) adalah alasan-alasan yang rusak. Kami menuntut mereka bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan kembali kepada kebenaran dengan penuh adab dan tawadhu’ serta meninggalkan alasanalasan semacam ini.

Anggaplah orang tersebut salah, tidak berbicara dan menasihatimu. Akan tetapi, engkau kembalilah (terlebih dahulu) kepada kebenaran lalu tegurlah kesalahannya.

Akan tetapi jika engkau sebar luaskan kepada semua orang sementara engkau tetap di atas kebatilan dan kesalahanmu lantas engkau berkata, ‘Mereka belum berbuat begini, mereka telah berbuat begitu,’ ini omong kosong.

Seorang mukmin harus kembali kepada Allah k dan menerima nasihat yang tersembunyi ataupun yang terangterangan. Adapun engkau menyebarkan kesalahan-kesalahanmu di dalam kitab-kitab, kaset-kaset dan… dan… kalau seandainya engkau sembunyikan kesalahan-kesalahanmu dan engkau lakukan dalam kegelapan antara kamu dan Allah ‘azza wa jalla (yang tahu), lantas ada orang yang tahu, dia harus menasihatimu secara tersembunyi (antara engkau dan dia saja).

Adapun engkau menyebarkan ucapan-ucapan dan perbuatanmu di seluruh dunia, kemudian ada seorang muslim menyebarkan bantahan terhadapmu, tindakan seperti ini tidak masalah. Tinggalkan alasan-alasan seperti itu yang (muncul) dari kebanyakan pengusung kebatilan yang bersikukuh di atas kebatilan dan penentangannya.” (MajmuKutub wa Rasail 14/271—272)

Asy-Syaikh Khalid azh-Zhafiri hafizhahullah dalam risalahnya Ijma’ul Ulama Alal Hajr wat Tahdzir min Ahlil Ahwa (hlm. 56—57) menyatakan, “Setelah penukilan-penukilan dari ulama salaf ini yang menjelaskan dengan gamblang cara muamalah Ahlus Sunnah terhadap ahlu bid’ah, dan bahwasanya sikap tegas ketika bermuamalah dengan mereka adalah sikap terpuji, bahkan termasuk keutamaan yang mulia;

Apakah setelah semua (penjelasan) ini diperbolehkan bagi seorang Ahlus Sunnah karena perangai/akhlak salafiyah ini?! Kalau dia melakukannya, orang yang hina ini tidak tahu kalau dengan perbuatannya tersebut berarti dia telah mencela salafus shalih, yang tokohnya adalah para sahabat seperti yang telah kami nukilkan dari mereka!

Hendaklah bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla, suatu kaum yang mengaku (di atas) sunnah (namun) mereka merendahkan Ahlus Sunnah dan pihak-pihak yang membelanya di atas kebenaran dan ilmu; lantas mereka mengayomi ahli bid’ah (dari bantahan Ahlus Sunnah), dan menegakkan al-wala wal-bara’ atas mereka (ahli bid’ah)!

Sebab, dengan berbagai trik dan sikap seperti ini, mereka telah merusak (manhaj) banyak pemuda dan menghalanginya dari jalan Allah ‘azza wa jalla dan manhaj salaf. Sikap yang Islam dan pemeluknya dari kalangan sahabat, tabi’in, Ahlus Sunnah dan ulamanya, berlepas diri darinya.

Dengan sikap ini, mereka telah melakukan tindakan kriminalitas (pelanggaran) besar terhadap Islam. Maka dari itu, menempuh jalan salafus shalih dalam hal bermuamalah dengan ahli bid’ah adalah jalan menuju keselamatan dari beragam fitnah. Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar mengukuhkan kita di atas Islam dan sunnah.

Namun, ada (satu) hal yang harus diperhatikan, yaitu sikap tegas terhadap orang yang menyimpang—yang merupakan keistimewaan para ulama (sunnah)—tidak berarti mereka memiliki akhlak yang jelek atau rendah. Mereka justru menghiasi diri dengan akhlak mulia dan perangai-perangai utama seperti sabar, hilm (kelembutan perangai), penuh pertimbangan (tidak tergesa-gesa), jujur, wara’, dan lainnya. Hanya saja, mereka memandang bahwa posisi ini membutuhkan sikap yang tegas untuk mematahkan ahli bid’ah, terutama para dainya, dan memalingkan bid’ah mereka dari umat.

Tidaklah mereka (melakukan) hal tersebut kecuali karena mengetahui bahaya bid’ah-bid’ah ini, yang terkadang menjerumuskan manusia ke dalam kekufuran dan kezindikan.

Ini semua kembali kepada hikmah seorang dai dan fikihnya dalam bermuamalah.

Wallahu a’lam bish-shawab.


[1] Namun, disebut sebagai nasihat bagi umat karena agama adalah nasihat.

Mengenal Ulama Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

 Al_Quran_by_durooob

Konsekuensi dari pilar kedua adalah seorang salafi yang sesungguhnya harus mengenal para ulama dakwah salafiyah, terutama yang dikenal kegigihannya membela manhaj salaf dan kokoh keilmuannya dalam meruntuhkan paham hizbiyin ahli bid’ah.

Seorang salafi pasti mencintai, memuliakan, dan menghormati ulama dakwah salafiyah, serta menjadikan mereka sebagai marja’iyah (tempat rujukan) dalam segala persoalan. Ini sekaligus menjadi ciri dan tanda-tanda Ahlus Sunnah salafiyin.

Al-Imam Abu Muhammad al-Hasan bin Ali al-Barbahari rahimahullah menyatakan, “Apabila engkau melihat seseorang mencintai Abu Hurairah, Anas bin Malik, dan Usaid bin Hudhair g, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah, insya Allah.

Dan apabila engkau melihat seseorang mencintai Ayyub bin ‘Aun, Yunus bin Ubaid, Abdullah bin Idris al- Audi, asy-Sya’bi, Malik bin Mighwal, Yazid bin Zurai’, Muadz bin Muadz, Wahb bin Jarir, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Malik bin Anas, al-Auza’i, dan Zaidah bin Qudamah, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.

Apabila engkau melihat seseorang mencintai Ahmad bin Hanbal, al-Hajjaj bin Minhal, dan Ahmad bin Nashr, menyebut mereka dengan kebaikan dan mengambil pendapat mereka, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.” (Syarhus Sunnah hlm. 117—118)

Al-Imam Abu Utsman Ismail bin Abdurrahman ash-Shabuni rahimahullah dalam kitabnya, Aqidah Salaf wa Ashhabil Hadits (hlm. 112—113) menjabarkan, “Salah satu ciri Ahlus Sunnah adalah mencintai imam-imam sunnah, ulama sunnah, pembela-pembela dan pecinta-pecinta sunnah, serta membenci tokoh-tokoh bid’ah yang menyeru kepada neraka dan menunjukkan para pengikutnya ke negeri kehancuran.

Allah ‘azza wa jalla telah menghiasi dan menyinari hati-hati Ahlus Sunnah dengan kecintaan kepada ulama sunnah sebagai bentuk keutamaan dari-Nya ‘azza wa jalla.”

Dengan sanadnya, beliau meriwayatkan dari Abu Raja Qutaibah bin Sa’id dalam Kitab al-Iman karya beliau, disebutkan di bagian akhirnya, “Apabila engkau melihat seseorang mencintai Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, al-Auza’i, Syu’bah, Ibnul Mubarak, Abul Ahwash, Syarik, Waki’, Yahya bin Sa’id, Abdurrahman bin Mahdi, ketahuilah bahwa dia adalah Ahlus Sunnah.”

Ahmad bin Salamah rahimahullah berkata, “Saya sertakan di bawahnya dengan tulisan tanganku: Yahya bin Yahya, Ahmad bin Hanbal, dan Ishaq bin Rahawaih.”

Tatkala kami sampai pada pembahasan ini, orang Naisabur memandang ke arah kami seraya berkata, ‘Kaum itu fanatik kepada Yahya bin Yahya.’

Kami pun bertanya kepadanya (Qutaibah), ‘Wahai Abu Raja, siapa Yahya bin Yahya?’

Beliau menjawab, ‘Seorang lelaki saleh, imam kaum muslimin, Ishaq bin Rahawaih juga imam, sedangkan Ahmad bin Hanbal menurutku adalah orang yang paling besar dari semua yang telah aku sebutkan namanya.’

Saya (ash-Shabuni, -pen.) sertakan pula dengan tokoh-tokoh yang telah disebutkan Qutaibah rahimahullah (nama-nama berikut) yang barang siapa mencintai mereka berarti dia adalah Ahlus Sunnah.

Mereka adalah tokoh-tokoh ahli hadits yang dijadikan suri teladan oleh orang-orang yang dimasukkan dalam kelompok (ahli hadits), pengikut dan pembela mereka, dan banyak orang yang didapati meniti jejak langkah mereka. Di antara tokoh-tokoh itu adalah:

  • Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muthallibi, sang imam yang dikedepankan, tokoh yang diagungkan, orang yang sangat besar jasanya untuk pemeluk Islam dan Ahlus Sunnah, orang yang diberi taufik, ilham, dan diluruskan langkahnya, orang yang berbuat pada agama Allah ‘azza wa jalla dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk pembelaan dan pertolongan yang tidak bisa diperbuat oleh seorang pun dari ulama masanya dan ulama setelahnya.
  • Di antara tokoh-tokoh tersebut adalah orang-orang yang sebelum masa asy-Syafi’i, seperti Said bin Jubair, az-Zuhri, asy-Sya’bi, dan at-Taimi,
  • Dan tokoh-tokoh setelah mereka, seperti Laits bin Sa’ad al-Mishri, al-Auza’i, ats-Tsauri, Sufyan bin Uyainah al-Hilali, Hammad bin Salamah, Hammad bin Zaid, Yunus bin Ubaid, Ayyub as-Sikhtiyani, Ibnu ‘Aun, dan yang semisal mereka.
  • Dan tokoh-tokoh setelah mereka seperti, Yazid bin Harun al-Wasithi, Abdur Razzaq bin Hammam ash-Shan’ani, dan Jarir bin Abdul Hamid adh-Dhabbi.
  • Dan tokoh-tokoh setelah mereka, seperti Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli, Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Muslim bin Hajjaj al-Qusyairi, Abu Dawud as-Sijistani, Abu Zur’ah ar-Razi, Abu Hatim ar-Razi dan putranya (yaitu Abdur Rahman, -pen.), Muhammad bin Muslim bin Warah ar-Razi, Muhammad bin Aslam ath-Thusi, Abu Said Utsman bin Said ad-Darimiy as-Sijzi, al-Imam Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah an-Naisaburi—yang dikenal dengan sebutan ‘imamnya para imam’ dan sungguh beliau adalah imamnya para imam pada masanya—, Abu Ya’qub Ishaq bin Ismail al-Busti, al-Hasan bin Sufyan al-Fasawi, kakekku dari pihak kedua orang tuaku, yaitu Abu Said Yahya bin Manshur az-Zahid al-Harawi, Abu Hatim Adi bin Hamdawaih ash-Shabuni, dan kedua putranya, yaitu Saifus Sunnah Abu Abdillah ash-Shabuni dan Saifus Sunnah Abu Abdir Rahman ash-Shabuni.
  • Dan tokoh-tokoh sunnah yang selain mereka yang gigih berpegang teguh dengannya, membelanya, mendakwahkannya, dan berwala di atasnya….”

Asy-Syaikh Abdullah bin Shalfiq al-Qasimi hafizhahullah dalam kitabnya, Sallus Suyuf Wal Asinnah ‘Ala Ahlil Hawa wa Ad’iyais Sunnah (hlm. 76—79) lebih jauh menguraikan tentang ulama sunnah, ulama dakwah salafiyah, “… Seseorang yang mencermati sejarah umat Islam sejak terbitnya fajar Islam, akan mengetahui dengan jelas bagaimana Allah ‘azza wa jalla sepeninggal Nabi-nya shallallahu ‘alaihi wa sallam menjaga agamanya dengan para ulama, ulama Ahlus Sunnah, ahlu hadits. Merekalah yang melakukan rihlah (perjalanan) dari satu negeri ke negeri yang lain untuk mengumpulkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menyatukannya dalam lembaranlembaran (karya tulis) dengan beragam metode, seperti kitab musnad, majma’,mushannaf, sunan, muwaththa’, serta kitab-kitab zawaid dan mu’jam.

Mereka menjaga hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari pemalsuan para pemalsu hadits dan tadlis para mudallisin. Mereka memisahkan antara yang sahih dan yang dhaif. Mereka menyusun kaidah-kaidah ilmu hadits untuk dapat memilah hadits-hadits yang diterima dan yang ditolak. Mereka juga mengklasifikasi para rawi. Mereka pun menulis (kitabkitab) tentang rawi-rawi tsiqah, rawi-rawi dhaif, dan para pemalsu hadits, lalu menukilkan penjelasan imam al-jarh wat ta’dil tentang rawi-rawi tersebut. Bahkan, mereka mengklasifikasi riwayat-riwayat satu orang rawi, (dijelaskan) mana yang dia riwayatkan dari penduduk Syam, mana pula yang dia riwayatkan dari penduduk Irak dan penduduk Hijaz, atau yang dia riwayatkan sebelum pikun dan yang setelah pikun kalau memang dia mengalami kepikunan. Demikian seterusnya….

Sungguh, orang yang mencermati ilmu hadits ini, berbagai bidangnya, macam dan jenisnya, dan kitab-kitab yang ditulis tentangnya, dia akan sangat tercengang dengan khidmat yang begitu jauh yang dilakukan oleh ulama hadits terhadap hadits Nabi mereka.

Mereka (ulama sunnah) pula yang tampil menjelaskan akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah pada semua bab sekaligus membantah ahli bid’ah dan orang-orang yang menyimpang.

Ulama sunnah mentahdzir (memperingatkan umat) dari ahlul hawa wal bida’, melarang bermajelis dan berbicara dengan mereka, tidak menjawab salam mereka, bahkan tidak menikah/menikahkan (putrinya) dengan mereka, dalam rangka menegur serta meredam mereka dan yang semisal mereka. (Ulama sunnah) juga menulis kitab-kitab bantahan yang sangat banyak….”

Mereka (ulama sunnah) juga yang tampil mengumpulkan hadits dan atsar dalam tafsir al-Qur’an, seperti Tafsir Ibnu Abi Hatim, Tafsir ash-Shan’ani, dan Tafsir an-Nasai. Di antara mereka juga ada yang menafsirkan al-Qur’an secara sempurna, seperti Tafsir ath-Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lainnya.

Selain itu, mereka pun menyusun kaidah-kaidah dan ushul tentang tafsir al-Qur’an al-Karim sekaligus memilah antara tafsir dengan atsar dan tafsir dengan ra’yu (akal).

Merekalah juga yang menulis karyakarya dalam bidang fikih. Mereka menulis semua babnya, membahas masalahmasalahnya, menjelaskan hukum syar’i amali dengan dalil-dalilnya yang rinci dari al-Kitab, sunnah, ijma’, dan qiyas. Mereka menyusun kaidah-kaidah fikih yang mengumpulkan berbagai cabang permasalahan yang disatukan oleh sebuah illat (sebab hukum).

Mereka juga menyusun ushul fikih, yaitu kaidah-kaidah untuk mengambil istinbath hukum-hukum syar’i. Tidak lupa, mereka juga menulis karya yang sangat banyak dalam bidang ini.

Mereka pula yang menulis tentang sirah, tarikh, adab, zuhud, raqaiq, lughah, nahwu, dan beragam bidang ilmu.

Ulama adalah pewaris nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi hanya mewariskan ilmu. Sungguh, para ulama sunnah telah mengambil bagian yang sangat banyak dari ilmu tersebut. Mereka mengumpulkan ilmu tersebut, menjelaskan agama kepada umat, dan membela sunnah serta akidah umat.

Ulama tersebut semisal Ahmad bin Hanbal, ad-Darimi, al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, Ali bin al-Madini, Yahya bin Said al- Qaththan, asy-Syafi’i, Abdullah bin Mubarak, Abdurrahman bin Mahdi, Ibnu Khuzaimah, ad-Daraquthni, Ibnu Hibban, Ibnu Adi, Ibnu Mandah, al-Lalikai, Ibnu Abi Ashim, al-Khallal, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, Ibnu Abdil Barr, al-Khatib al-Baghdadi, dan banyak lagi selain mereka.

Begitu pula ulama yang berjalan di atas manhaj mereka, seperti Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya semisal Ibnul Qayyim, adz-Dzahabi, dan Ibnu Abdil Hadi. Merekalah para ulama yang telah menulis karya ilmiah yang berharga dan sangat banyak. Mereka membela akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, menerangkan agama yang sahih dengan dalil-dalil yang tegas dan bukti-bukti yang cukup. Para pencari ilmu senantiasa mengambil fikih (pemahaman) dari karya-karya ilmiah mereka dan berdalil dengannya. Bahkan, di berbagai perguruan tinggi Islam, karya-karya di atas dijadikan sebagai kurikulum resmi untuk para mahasiswanya.

Begitu pula ulama yang berjalan di atas manhaj mereka, seperti mujaddid (pembaru) dakwah tauhid, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, putra-putranya dan murid-muridnya dari kalangan ulama Najd dan ulama dunia Islam yang sejalan dengan mereka, semisal asy-Syaukani, ash-Shan’ani, ulama India, ulama Mesir seperti Muhibbuddin al-Khatib Ahmad Syakir, Muhammad Hamid al-Faqi, ulama Sudan, ulama Maroko al-‘Arabi, dan ulama Syam yang tampil menyebarkan hadits dan akidah salafiyah di negerinya dan membelanya.

Mereka semua (ulama sunnah), walhamdulillah, terus tegak di atas manhaj ini. Inilah pembenaran yang diberitakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersabda,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tampil hingga datang urusan Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan mereka tampil (di atas kebenaran).” (al-Fath, 13/293)

Dalam riwayat yang lain,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرَةً عَلَى الدِّينِ عَزِيزَةً إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Akan senantiasa ada satu kelompok dari umatku yang tampil di atas agama lagi mulia hingga bangkit hari kiamat.” (al-Ibanah, 1/200)

Di antara ulama kita di masa kini—sekadar contoh, bukan pembatasan—adalah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz, mufti Saudi Arabia, asy-Syaikh al-Muhaddits Muhammad Nashiruddin al-Albani, asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh, asy-Syaikh Shalih al-Atsram, dan para pembesar dari kalangan qadhi, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, asy-Syaikh Shalih al-Fauzan, asy-Syaikh Abdullah al-Ghudayyan, asy-Syaikh Shalih al-Luhaidan, asy-Syaikh Abdur Razzaq ‘Afifi, asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri, asy-Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad, asy-Syaikh Hammad al-Anshari, asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Muhammad Aman al-Jami, asy-Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmi, asy-Syaikh Zaid bin Muhammad bin Hadi al-Madkhali, asy-Syaikh Shalih as-Suhaimi, asy-Syaikh Shalih al-Abud, dan ulama dunia Islam selain mereka.

Kami memohon kepada Allah ‘azza wa jalla, al-Hayyu al-Qayyum, agar menjaga mereka yang masih hidup dan merahmati yang telah wafat. Semoga Allah ‘azza wa jalla menganugerahkan taufik kepada kami agar dapat meniti jejak langkah mereka dan menggabungkan kami dengan mereka semua bersama Nabi dan teladan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di surga al-Firdaus al-A’la.

Saya sertakan pula dalam risalah ini para ulama dakwah salafiyah masa ini yang dikenal keteguhan, kegigihan, dan ketabahannya membela sunnah dan manhaj salaf, selain juga dikenal tegas menyikapi hizbiyin yang menebar ragam syubhat, sabar, dan secara ilmiah meruntuhkan syubhat mereka. Di antara mereka adalah:

  • Al-Muhaddits Syaikh Muqbil Bin Hadiy al-Wadi’i Abu ‘Abdir Rahman rahimahullah . Beliau adalah seorang ahli hadits tersohor di negeri Yaman yang memiliki ribuan murid dari penjuru negeri, bahkan dari penjuru dunia Islam, bahkan dari negeri kafir, semisal Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris. Beliau adalah pendiri darul hadits di desanya, Dammaj, Provinsi Sha’dah, sekaligus tokoh dakwah salafiyah di negeri Yaman. Dakwahnya tersebar hampir ke pelosok dan bebukitan batu negeri Yaman, bahkan ke seluruh penjuru dunia melalui murid-muridnya. Yaman yang dahulu gelap gulita dengan Syi’ah dan Sufi kini terang benderang dengan sunnah.

Keteguhan beliau bermanhaj dan membela sunnah serta meruntuhkan “singgasana” ahli bid’ah menyebabkan beliau disegani dan ditakuti musuhmusuh sunnah.

Kearifan, kelembutan, perhatian, dan kasih sayang beliau kepada murid-muridnya dan salafiyin pada umumnya menjadikan beliau sebagai sosok yang dikagumi, dimuliakan, dicontoh, dan sudah dianggap sebagai “ayah” yang penyayang bagi dakwah salafiyah yang mulia ini. Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati beliau dan menempatkannya di dalam surga Firdaus al-A’la.

  • Di antara ulama dakwah salafiyah masa kini adalah Syaikh al-‘Allamah ‘Ubaid bin Sulaiman Al-Jabiri hafizhahullah

Beliau adalah sosok alim besar kota Madinah, tokoh dakwah salafiyah yang masyhur dengan uraian-uraian yang jelas, padat, singkat, dengan klasifikasi penggambaran masalah yang menyeluruh dan tepat.

Orang yang duduk dengan beliau akan merasakan nyaman, senang, dan betah walaupun masih seorang pemula dalam mencari ilmu, bahkan awam sekalipun. Sebab, majelisnya penuh dengan faedah-faedah ilmiah dan amaliah, diselingi oleh candaan ringan yang menyegarkan suasana.

Beliau menjadi momok yang menghantui hizbiyin karena bantahan-bantahan beliau yang tegas dan ilmiah terhadap syubhat mereka.

Beliau bersama ulama dakwah salafiyah lainnya, semisal pembawa bendera al-jarh wat ta’dil masa ini al-’Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, asy-Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah, dan Fadhilatus Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah, serta Samahatus Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul hafizhahullah, dan yang lainnya, tampil dengan gagah perkasa, gigih, dan tabah menyuarakan al-haq di tengah-tengah gelombang penyimpangan dan kesesatan yang sedang digelembungkan oleh hizbiyun dan para pengaku salaf.

Satu persatu fitnah yang dimunculkan dapat dipatahkan, diredam, dan dibantah oleh mereka, dengan taufik serta pertolongan Allah ‘azza wa jalla. Dimulai dari fitnah ‘Adnan ‘Ar’ur, lalu Muhammad al-Maghrawi, kemudian Abul Hasan al-Mishri al-Ma’ribi, diteruskan oleh fitnah al-Halabi, dan disambung oleh gemuruh fitnah Hajawirah (pengikut Hajuri).

Fitnah-fitnah yang menerjang dakwah salafiyah ini, walhamdulillah, dihadapi oleh ulama besar dengan sabar, hikmah, tegar, tabah, dan kokoh, bagaikan gunung tinggi menjulang tak tergoyahkan.

Mereka dan ulama dakwah salafiyah lain di seluruh penjuru dunia menjadi rujukan umat, terkhusus salafiyin dalam segala problem yang ada.

Barang siapa mencintai, menghormati, dan memuliakan mereka secara tulus dan syar’i, dia adalah Ahlus Sunnah. Sebaliknya, siapa mencela, membenci, dan merendahkan mereka, berarti dia adalah pengikut hawa nafsu. Wallahul Muwaffiq.

 

Ulama Salaf, Rujukan Umat

Secara syar’i, para ulama salaf, ulama dakwah salafiyah pada tiap generasi adalah tempat rujukan bagi umat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka bertanyalah kepada orang yang punya ilmu bila kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43 dan al-Anbiya: 7)

Mereka adalah tempat meminta fatwa, bimbingan, dan arahan. Umat mengambil ilmu dan pemahaman agama dari mereka. Di meja merekalah diletakkan semua persoalan dan problem umat.

Inilah pelajaran adab yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam firman-Nya,

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan atau ketakutan, mereka lalu menyiarkannya, jika mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (rasul & ulil amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepadamu tentulah kamu mengikuti setan kecuali sebagian kecil saja (di antaramu).” (an-Nisa’: 83)

Ibnu Hazm al-Andalusi rahimahullah menasihatkan dalam risalahnya, Mudawatun Nufus, sebagaimana dalam Majmu’ Rasail Ibnu Hazm (hlm. 411), “Apabila engkau menghadiri majelis ilmu, engkau harus hadir sebagai orang yang ingin menambah ilmu dan pahala, bukan orang yang merasa cukup dengan ilmu yang ada padanya, orang yang mencari ketergelinciran (alim) yang hendak engkau jelekkan atau keganjilan (pendapat alim) yang hendak engkau sebar luaskan. Sebab, ini adalah perbuatan orang-orang rendah, yang selamanya tidak akan beruntung, pada seorang alim.”

Ibrahim bin Abi ‘Ablah rahimahullah menyatakan, “Barang siapa membawa ilmu-ilmu yang syadz (ganjil), dia telahmemikul kejelekan yang sangat banyak.” (Siyar ‘Alamin Nubala, 6/324)

Al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah juga menegaskan, “Barang siapa mencari-cari rukhshah (keringanan) dari beragam mazhab dan ketergelinciran ahli ijtihad, berarti telah tipis/rapuh agamanya.” (as-Siyar 8/90)

Termasuk talbis (upaya pengaburan) yang dilakukan hizbiyin adalah mereka berdalil dengan ucapan para ulama untuk membenarkan kaidah-kaidah mereka yang batil.

Syaikhul Islam rahimahullah tatkala menjelaskan ahlu bid’ah berkata, “Mereka terkadang mendapati kalimat-kalimat mujmal (yang global/tidak jelas) dari ucapan sebagian ulama, lalu mereka bawa pada makna yang rusak. Ini seperti yang dilakukan oleh Nasrani tentang yang dinukil kepada mereka dari para nabi, akhirnya mereka mengikuti yang samar (mutasyabih).” (Majmu’ Fatawa 2/374)

Di antara trik yang dilakukan hizbiyin dalam melegalkan dan menguatkan penyimpangan mereka adalah menggambarkan kebenaran manhaj mereka yang menyimpang kepada alim yang tidak atau kurang mengetahui keadaan mereka sesungguhnya. Setelah mendapatkan tazkiyah atau ucapan-ucapan yang sekiranya memihak mereka dari alim tersebut, mereka pun menggunakannya untuk menghadapi ulama yang tahu keadaan mereka dan telah membongkar penyimpangan-penyimpangan mereka. Dengan cara seperti ini, banyak kalangan muslimin bahkan salafiyin tertipu oleh mereka.

Wallahul Musta’an wa ’alaihit tiklan.

Mengenal Dakwah Salafiyah

Al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Long-Road-Home

Makna Salaf

Kata ‘salaf’ ( سلف ) sesungguhnya adalah lafadz Qur’ani dan lafadz nabawi, bukan lafadz baru yang muncul di era belakangan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka kami jadikan mereka sebagai salaf dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (az-Zukhruf: 56)

Maksudnya, sebagai salaf (pendahulu) untuk dijadikan pelajaran bagi orang-orang yang datang setelah mereka.

Al-Imam al-Bukhari (no. 6285—6286) dan Muslim (2450/98) rahimahumallah meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Fathimah radhiallahu ‘anha berkata bahwa ketika memberitakan tentang ajalnya yang sudah dekat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati putrinya,

فَاتَّقِي اللهَ وَاصْبِرِي فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

“Maka bertakwalah engkau kepada Allah ‘azza wa jalla dan bersabarlah sesungguhnya sebaik-baik ‘salaf’ bagimu adalah aku.”

An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Muslim menjelaskan, “Salaf adalah yang mendahului. Makna (hadits) ini adalah aku mendahului di depanmu, nanti engkau akan menyusulku.”

Kata ‘salaf’ secara bahasa berarti berlalu/terdahulu. (al-Mishbahul Munir hlm. 285) Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab (6/330) menjelaskan, “Kata السلف والسليف والسلفة adalah sekelompok orang yang mendahului.”

Salaf bisa juga diartikan orang yang mati mendahului orang lain, baik orang tua, nenek moyangnya, maupun kerabatnya. (an-Nihayah fi Gharibil Hadits 2/390)

Adapun ‘salaf’ menurut istilah syariat memiliki dua makna dari sudut pandang yang berbeda, namun kembali kepada satu pengertian.

  1. Makna ‘salaf’ secara waktu.

Mereka adalah generasi terdahulu umat ini. Yang dimaksud adalah generasi para sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in, tiga generasi pertama umat ini yang tersebut dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

خَيْرُكُمْ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian yang setelah mereka, kemudian yang setelah mereka.” (HR. al-Bukhari no. 2651 dan Muslim no. 2535 dari Imran bin Husain radhiallahu ‘anhu)[1]

  1. Makna ‘salaf’ secara manhaj/metodologi.

Dalam Fatawa Lajnah Daimah (2/240) pertanyaan ke-2 dari fatwa no. 6149 disebutkan bahwa salaf adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari kalangan sahabat g dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka hingga hari kiamat….

Jadi, makna ‘salaf’ secara metodologi tidak terbatas waktu pada tiga generasi pertama umat ini, tetapi masuk di dalamnya siapa saja yang meniti manhaj dan jejak langkah para sahabat dari masa ke masa hingga akhir masa dan dari generasi ke generasi hingga akhir generasi.

Asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam kitabnya Hukmul Intima Ilal Firaq (hlm. 46—47) menjelaskan, ‘Apabila lafadz ini (salaf) disebutkan secara mutlak, yang dimaksud adalah setiap orang yang meneladani para sahabat walaupun di masa kini…’.”

Ucapan para ulama semuanya demikian. Jadi, lafadz ini adalah penisbatan yang tidak memiliki tanda/atribut yang keluar dari kandungan al- Kitab dan as-Sunnah. Selain itu, lafadz ini adalah penisbatan yang sekejap pun tidak akan terpisah dari generasi awal. Bahkan, lafadz ini dari mereka dan kembali kepada mereka….”

Sementara itu, kata السلفية adalah nisbat kepada سلف. Maknanya adalah mengikuti thariqah (jalan yang ditempuh) oleh salaf ash-shalih dari kalangan sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in dalam beragama secara lahir dan batin, yaitu berpegang teguh dengan kitab dan sunnah. (Aqidah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab as-Salafiyah hlm. 195 dengan penambahan dan perubahan)

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan, “Salafiyah adalah berjalan di atas manhaj salaf dari kalangan sahabat, tabi’in, serta generasi-generasi yang utama dalam hal akidah, pemahaman, dan suluk. Setiap muslim wajib menempuh manhaj ini.…” (al-Ajwibah al-Mufidah hlm. 103—104)

Adapun “mazhab salaf“ dijelaskan maknanya oleh al-Imam as-Safarini rahimahullah, “Yang dimaksud mazhab salaf adalah apa yang ada di atasnya para sahabat yang mulia radhiallahu ‘anhum, tokoh-tokoh tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik, para pengikut mereka, dan para imam agama (ulama) yang dipersaksikan keimamannya, dikenali keagungan martabat mereka dalam agama, diakui oleh generasi setelahnya, bukan orang yang tertuduh dengan suatu (paham) bid’ah atau masyhur dengan gelar yang tidak diridhai, semisal Khawarij, Rafidhah, Qadariyah, Murji’ah, Jabriyah, Jahmiyah, Mu’tazilah, Karramiyah, dan yang semisalnya.” (Lawami’ul Anwar 1/20)

Asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri menjelaskan tentang manhaj salaf, “Mengikuti (ittiba’) semua yang datang dari Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta berpegang teguh dengannya secara ucapan dan amalan. Inilah manhaj salafi dan thariqah salafi, metode yang ditempuh oleh Ahlus Sunnah wal Jamaah.” (Ushul wa Qawaid fil Manhaj as-Salafi hlm. 7)

Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam yang sahih, yang dibangun di atas dasar al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

Al-Muhaddits al-‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah menjelaskan, “Prinsip-prinsip dakwah salafiyah, seperti yang telah diketahui oleh semua pihak, berdiri di atas tiga tonggak:

  1. Al-Qur’anul Karim
  2. As-Sunnah yang sahihah.

Salafiyun di seluruh dunia fokus pada sisi ini, yaitu sunnah yang sahihah. Sebab, dengan kesepakatan ulama, sunnah telah disisipi sesuatu yang bukan darinya sejak sepuluh abad silam….

  1. Inilah yang membedakan dakwah salafiyah dengan dakwah-dakwah yang lain yang ada di permukaan bumi. Dakwah salafiyah berbeda karena tonggak ketiga ini, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah wajib dipahami dengan manhaj salaf as-shalih dari kalangan tabi’in dan para pengikut mereka, yakni tiga generasi yang dipersaksikan kebaikannya oleh hadits yang banyak dan ma’ruf.

Poin ini yang sering kita bicarakan dalam banyak kesempatan. Telah kita sertakan pula argumentasi yang cukup sehingga kita dapat memastikan bahwa siapa saja yang ingin memahami Islam dari al-Kitab dan as-Sunnah tanpa tonggak ketiga ini, sungguh dia akan mendatangkan Islam yang baru (baca: bid’ah, –pen.)….” (As’ilah Haula ad-Da’wah as-Salafiyah hlm. 22)

Salafiyyun, bentuk jamak dari kalimat سلفي (salafi), adalah setiap orang yang berpegang teguh dengan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih.

Dalam Fatawa Lajnah Daimah (2/243 soal ke-2 dari fatwa no. 1361) disebutkan, “Salafiyun adalah bentuk jamak dari salafi, nisbat kepada salaf yang telah berlalu penjelasan maknanya. Mereka adalah orang-orang yang berjalan di atas manhaj salaf, yaitu mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah, mendakwahkan dan mengamalkannya. Dengan demikian, mereka pun menjadi Ahlus Sunnah wal Jamaah.”

Samahatul ‘Allamah Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Sesungguhnya salaf adalah orang-orang yang ada pada generasi-generasi utama. Siapa saja yang meniti langkah mereka dan berjalan di atas manhaj mereka, dia adalah salafi. Siapa saja yang menyelisihi mereka pada prinsip tersebut, dia termasuk khalaf.” (Ta’liq asy-Syaikh Hamud at-Tuwaijiri atas al-Aqidah Hamawiyah hlm. 203)

Ahli hadits negeri Yaman, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, menyatakan, “Yang terpenting adalah terealisasinya nama yang mulia ini pada orang yang menisbatkan diri kepadanya. Jadi, dia tidak boleh menjadi seorang pengikut demokrasi, Sufi, atau Syi’ah. Sebab, salafi dan sunni, dua nama yang sama, disematkan pada setiap orang yang berpegang teguh dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pemahaman salafus shalih. Atas dasar itu, kedua nama di atas tidak bisa disematkan pada hizbiyin atau ahli bid’ah.

“Bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli kitab barang siapa yang mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi balasan dengan kejahatan itu.” (an-Nisa: 123) (Muqaddimah Irsyadul Bariyah hlm. 78)

Salafiyyun juga dikenal dengan sejumlah nama, semuanya kembali kepada satu manhaj.

  1. Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Dinamakan Ahlus Sunnah karena mereka mengamalkan sunnah dan teguh menetapi sunnah. Disebut ahlul jamaah karena mereka bersatu, tidak berpecah belah. Manhaj mereka satu, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka bersatu di atas al-haq dan pada satu pemimpin. Demikian uraian asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah. (al-Ajwibah al-Mufidah, hlm. 127)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan definisi Ahlus Sunnah, “Mereka adalah orang-orang yang berpegang teguh dengan kitabullah, sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa yang disepakati oleh generasi pertama (umat ini) dari kalangan Muhajirin dan Anshar; serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.” (Majmu’ Fatawa 3/375)

  1. Al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat).

Nama ini diambil dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala memberitakan perpecahan yang terjadi pada umatnya. Beliau menyebutkan bahwa yang selamat hanya satu. Maka dari itu, golongan ini dikenal dengan sebutan al-Firqah an-Najiyah (kelompok yang selamat). Najiyah (selamat) maknanya selamat di dunia dari beragam bid’ah dan selamat di akhirat dari api neraka. Demikian penjelasan asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dalam Syarah ‘Aqidah al-Wasithiyah (hlm. 31 cet. Maktabah Thabariyah).

Dalam beberapa riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kriteria al-Firqah an- Najiyah, di antaranya:

  1. Al-Jamaah, dari hadits Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma riwayat Abu Dawud dll. Lihat Silsilah Shahihah 204.
  2. Apa-apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya. Ini diambil dari hadits Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma riwayat at-Tirmidzi (no. 2650) dll. Lihat Shahihul Jami’ 5343.
  3. As-Sawad al-A’zham (jumlah mayoritas pada masa nabi). Ini diambil dari hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dll, riwayat al-Ajurri dalam asy- Syariah 29. Lihat Silsilah Shahihah pada penjelasan hadits no. 204.

Semua lafadz di atas maknanya satu, demikian penjelasan al-Imam al-Ajurri rahimahullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menegaskan, “Apabila sifat al-Firqah an-Najiyah adalah mengikuti para sahabat di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu adalah syiar Ahlus Sunnah, berarti al-Firqah an-Najiyah adalah Ahlus Sunnah.” (Minhajus Sunnah 3/457)

Dalam Majmu’ Fatawa (3/345) beliau mengatakan, “Oleh sebab itu, (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) menyebut al-Firqah an-Najiyah sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah dan merekalah al-Jumhur al-Akbar dan as-Sawadul A’zham.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya tentang al-firqah an-najiyah, dan beliau menjawab, “Mereka adalah salafiyun dan setiap orang yang berjalan di atas metode salafus shalih, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya.” (al-Firqah an-Najiyah, Muhammad Jamil Zainu)

  1. Ath-Thaifah al-Manshurah (kelompok yang ditolong).

Nama ini juga diambil dari sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي مَنْصُورِينَ لاَ يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّىتَقُومَ السَّاعَةُ.

“Akan senantiasa ada suatu kelompok dari umatku yang ditolong. Tidak membahayakan mereka orang yang merendahkan mereka, hingga (menjelang) bangkit kiamat.” (HR. Ahmad 4/436, dll., dari Qurrah bin Iyas al-Muzani radhiallahu ‘anhu. Lihat Silsilah Shahihah no. 403)

Al-Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Apabila mereka bukan ahlul hadits, aku tidak tahu siapa mereka?!”

Al-Qadhi Iyadh rahimahullah menjelaskan, “Yang dimaksud oleh (al-Imam) Ahmad adalah Ahlus Sunnah wal Jamaah dan yang meyakini akidah ahli hadits.” (Syarah Muslim lin-Nawawi 13/66—67)

Termasuk pemahaman aneh yang dimunculkan oleh Salman al-Audah—salah satu gembong Sururiyah—adalah membedakan antara al-Firqah an-Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah, lantas memasukkan sekte-sekte tak dikenal ke dalam barisan al-Firqah an-Najiyah sekaligus menyifati ahlul hadits dengan kriteria-kriteria yang mengeluarkan mereka dari al-Firqah an-Najiyah.

Pemahaman aneh ini—bihamdillah wa ‘inayatih— telah diuraikan penyimpangannya oleh pembawa bendera al-jarh wat ta’dil masa ini, al-‘Allamah asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali. Beliau bawakan penjelasan 45 ulama terdahulu hingga sekarang yang menyatakan tidak ada perbedaan antara al-Firqah an-Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah. Semuanya satu, yaitu ahli hadits, Ahlus Sunnah wal Jamaah, salafiyun. Lihat kitab beliau Ahlul Hadits Hum ath-Thaifah al-Manshurah an-Najiyah Hiwar Ma’a Salman al-Audah.

Fadhilatus Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang seseorang yang membedakan antara al-Firqah an-Najiyah dan ath-Thaifah al-Manshurah. Beliau menjawab, “Pernyataan ini tidak benar, ath-Thaifah al-Manshurah adalah al-Firqah an-Najiyahwalillahil hamd. Tidak akan ditolong (manshurah) kecuali apabila dia selamat (najiyah). Sebaliknya, tidak mungkin selamat (najiyah) kecuali apabila dia ditolong (manshurah). Kedua sifat ini saling berkaitan untuk sesuatu yang sama. Pembedaan ini bisa jadi dari seorang yang jahil (bodoh) atau dari seorang yang punya tujuan jelek, yaitu membuat para pemuda muslim ragu tentang ath-Thaifah al-Manshurah an-Najiyah.” (Ajwibah Mufidah hlm. 73—74)

Perlu dipahami, pada dasarnya kaum muslimin yang di atas as-Sunnah tidak mempunyai nama dan gelar khusus selain muslimin, mukminin, dan hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla. Tanda pengenal mereka hanyalah Islam dan sunnah. Tidak ada atribut lain yang keluar dari kandungan Islam dan sunnah.

Al-Imam Ahmad rahimahullah dalam Musnad-nya (4/130) meriwayatkan sebuah hadits yang panjang dari al-Harits al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, di dalamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَادْعُوا الْمُسْلِمِينَ بِأَسْمَائِهِمْ سَمَّاهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الْمُسْلِمِينَ الْمُؤْمِنِينَ عِبَادَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Maka panggillah kaum muslimin dengan nama-nama mereka, nama yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada mereka: al-Muslimun, al-Mukminun, hamba-hamba Allah.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu dan (begitu pula) dalam (al-Qur’an) ini.” (al-Hajj: 78)

Al-Imam Malik rahimahullah menyatakan, “Ahlus Sunnah tidak memiliki gelar (khusus) yang mereka dikenal dengannya, bukan Jahmiyah, bukan pula Qadariyah atau Rafidhah.” (Tartibul Madarik al-Qadhi ‘Iyadh 172/1)

Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang berjalan di atas manhaj nubuwah. Sekejap pun mereka tidak pernah terlepas darinya, baik dengan nama maupun simbol tertentu. Mereka tidak memiliki seseorang untuk menisbatkan diri kepadanya selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan yang meniti jejak beliau.

Mereka juga tidak mempunyai simbol dan manhaj selain manhaj nubuwah (al-Kitab dan as-Sunnah),” ujar asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hukmul Intima (hlm. 28).

Bahkan, para ulama mengecam siapa saja yang terikat dengan nama-nama selain Islam dan sunnah atau dengan seseorang selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma pernah berkata,

“Mu’awiyah berkata kapadaku, apakah engkau di atas millah (agama) ‘Ali?” Aku jawab, “Tidak, tidak pula di atas millah Utsman. Aku di atas millah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Ibanah al-Kubra, Ibnu Baththah 1/355)

Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma juga berkata, “Barang siapa berikrar dengan salah satu nama dari nama-nama yang baru (baca: bid’ah, pen.) ini, sungguh dia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya.” (al-Ibanah as-Shughra hlm. 137, Ibnu Baththah)

Malik bin Mighwal rahimahullah menyatakan, “Apabila ada seseorang yang bernama dengan selain Islam dan sunnah, gabungkanlah ia dengan agama apa pun yang engkau kehendaki.” (al-Ibanah as-Shughra hlm. 137, Ibnu Batthah)

Nama Ahlus Sunnah wal Jamaah, ahlul hadits, ahlul atsar, salafi/salafiyun, al-Firqah an-Najiyah, dan ath-Thaifah al-Manshurah dimunculkan oleh para ulama kita dengan menimbang beberapa hal.

  1. Munculnya ragam sekte sesat dalam kubu umat Islam yang semuanya mengaku sebagai muslimin dan mendakwahkan Islam.
  2. Terjadinya pengaburan tentang hakikat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tumbuh suburnya aneka paham menyimpang berwajah Islam.
  3. Upaya kelompok sesat tersebut untuk meruntuhkan pilar-pilar akidah Islam dan menebarkan opini di tengah kaum muslimin bahwa apa yang mereka dakwahkan adalah haq.

Nama-nama syar’i di atas dimunculkan dan disebarluaskan oleh para ulama dahulu hingga sekarang dengan tujuan:

  1. Menjelaskan kepada umat Islam hakikat Islam yang sahih sesuai dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang-orang yang senantiasa istiqamah meniti jejak langkah beliau.
  2. Membedakan diri dari ragam kelompok sesat dengan aneka nama dan atribut yang mereka miliki sehingga umat Islam tahu siapa ahlul haq dan siapa pula ahlul batil.

Gelar-gelar yang mulia ini berbeda dengan gelar apa pun yang ada pada kelompok manapun dari beberapa sisi:

  1. Gelar-gelar tersebut adalah penisbatan yang tidak terpisah—sekejap pun—dari umat Islam semenjak terbentuk di atas manhaj nubuwah. Gelar-gelar ini meliputi seluruh kaum muslimin di atas jalan generasi pertama dan yang mengikuti mereka dalam hal menerima ilmu, cara memahaminya, dan mendakwahkannya.
  2. Gelar-gelar tersebut mencakup Islam secara keseluruhan: al-Kitab dan as-Sunnah, tidak khusus untuk sebuah metode yang bertentangan dengan kitab dan sunnah baik secara penambahan maupun pengurangan.
  3. Gelar-gelar tersebut di antaranya ada yang ditetapkan dengan sunnah shahihah, ada pula yang tidak ditampilkan kecuali untuk menghadapi manhaj ahlul bid’ah dan sekte-sekte sesat dalam rangka membantah bid’ah mereka, membedakan diri dari mereka, tidak tercampur dengan mereka, dan memutuskan hubungan dengan mereka.

Tatkala muncul bid’ah, mereka (Ahlus Sunnah) membedakan diri dengan sunnah. Tatkala ra’yu (akal) dijadikan hakim, mereka membedakan diri dengan hadits dan atsar.

  1. Ikatan wala dan bara, cinta dan benci di kalangan mereka (Ahlus sunnah) adalah di atas Islam, bukan yang lain. Tidak di atas sebuah simbol tertentu, tidak pula di atas simbol terbatas. Yang ada hanya al-Kitab dan sunnah.
  2. Gelar-gelar tersebut tidak mengundang mereka untuk fanatik kepada seseorang tertentu selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Gelar-gelar tersebut tidak menjerumuskan kepada bid’ah, maksiat, atau pun fanatik kepada orang atau sekte tertentu.

Tatkala dikatakan “Ahlus Sunnah wal Jamaah” gelar ini akan mengandung/ merangkum semua keistimewaan di atas.

Demikian penjelasan panjang dari asy-Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hukmul Intima (hlm. 41—45).

Adapun gelar dan nama yang ada pada sekte-sekte sesat, ada beberapa sebab, di antaranya:

  1. Penisbatan kepada tokoh pencetus bid’ah[2] tersebut seperti:
  • Jahmiyah, nisbat kepada Jahm bin Shafwan.
  • Zaidiyah, nisbat kepada Zaid bin ‘Ali bin Husain.
  • Asy’ariyyah, nisbat kepada Abul Hasan al-Asy’ari pada periode ke-2 kehidupannya.[3]
  1. Gelar yang diambil dari asal-muasal bid’ah mereka. Contohnya:
  • Rafidhah, dinamakan demikian karena mereka me-rafdh (meninggalkan) Zaid bin ‘Ali atau karena merafdh( menolak) kepemimpinan Abu Bakar dan Umar radhiallahu ‘anhuma.
  • Qadariyyah, dinamakan demikian karena mereka berbicara tentang takdir dan mengingkarinya.
  • Murji’ah, karena mereka mengirja (menangguhkan/mengeluarkan) amalan dari iman.
  1. Disebabkan karena mereka keluar dari prinsip akidah Islam atau keluar dari ulama Islam. Contohnya:
  • Khawarij, karena mereka khuruj (memberontak terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu dan penguasa-penguasa setelah beliau) dan karena khuruj dari prinsip akidah Islam, yaitu mendengar dan menaati penguasa muslim.
  • Mu’tazilah, karena tokoh mereka, Wasil bin ‘Atha i’tizal (meninggalkan) majelis al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah.

Walhasil, dari penjabaran panjang ini kita dapat memetik satu kesimpulan penting, yaitu salafiyah dan dakwah salafiyah bukanlah agama baru. Ia bukan pula mazhab ke-5 seperti yang dinyatakan oleh sebagian pihak. Ia bukan sekte sesat sebagaimana kelompok-kelompok sesat lainnya, bukan pula ajaran dan pemahaman baru yang dimunculkan oleh al-Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, atau Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi rahimahullah seperti yang diopinikan oleh Gerakan Anti Wahabiyah (GAW).

Salafiyah adalah Islam itu sendiri. Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salaf as-shalih yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau amalkan beserta para sahabatnya.

Al-‘Allamah Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah pernah dengan tegas menyatakan,

مُؤَسِّسُ الدَّعْوَةِ السَّلَفِيَّةِ هُوَ رَسُولُ اللهِ

“Perintis dakwah salafiyah adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Burkan li Nasfi Jami’atil Iman, hlm. 36)

Tentu saja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merintis dakwah yang mulia ini dengan wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Beliau pula yang menyampaikan dan menjalankannya.

“Salafiyah itu datangnya dari Allah ‘azza wa jalla, para nabi, dan rasul yang menyampaikan dari Allah ‘azza wa jalla syariat yang dikehendaki-Nya. Begitu pula para da’i kebenaran setelah mereka, menyampaikan sesuai dengan syariat ini….” (Ushul wa Qawaid fi Manhaj as-Salafi hlm. 6)

Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad ad-Dailami al-Madani rahimahullah, salah seorang ulama India, menyatakan, “Sesungguhnya telah tetap dengan dalil-dalil yang pasti, jelas, dan gamblang, bahwa ahli hadits adalah kelompok yang sudah lama ada sejak zaman kenabian. Generasi pertama mereka adalah para sahabat.…” Kemudian beliau menyebutkan sepuluh bukti dalam kitabnya, Tarikh Ahlil Hadits (hlm. 22—56).

Setelah ini semua, apakah ada seseorang yang ragu atau tidak berani menisbatkan diri kepada salafiyah?! Tentu saja bukan pengakuan semata, melainkan harus disertai dengan pembuktian.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tidak ada aib atas seseorang yang menampilkan mazhab salaf dan menisbatkan diri kepadanya. Bahkan, hal itu wajib diterima menurut kesepakatan (ulama). Sebab, mazhab salaf tidak lain kecuali kebenaran.” (Majmu’ Fatawa 4/149)

Asy-Syaikh al-‘Allamah Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanya, “Apa pendapat Anda tentang seseorang yang bernama dengan salafi dan atsari, apakah termasuk tazkiyah?”

Beliau menjawab, “Apabila dia jujur (benar) sebagai atsari atau salafi, tidak mengapa. Sebagaimana halnya dahulu salaf mengatakan, ‘Fulan salafi, Fulan atsari.Ini adalah tazkiyah yang harus, tazkiyah yang wajib!” (Ceramah dengan tema “Hak Muslim” di Thaif, lihat catatan kaki Ajwibah Mufidah hlm. 17)

“Wahai para pemuda Islam (secara khusus) dan kaum muslimin (secara umum)! Sungguh, jangan sampai ada rasa berat di hati Anda semua untuk menisbatkan diri kepada salafiyah. Angkatlah kepala kalian dengan (salafiyah) ini! Suarakan kebenaran dengannya! Jangan Anda merasa kecil hati karena celaan orang (ketika memperjuangkannya)!” ujar asy-Syaikh ‘Ubaid al-Jabiri dalam kitabnya, Ushul Wa Qawaid fi Manhaj as-Salafi (hlm. 8).

Wallahul Muwaffiq.


[1] Adapun dengan lafadz خير الناس datang dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dalam riwayat al-Bukhari (no. 2652) dan Muslim (no. 2533/212).

[2] Atau yang mereka tokohkan, meski tokoh tersebut berlepas diri dari paham tersebut atau telah rujuk kepada kebenaran.

[3] Semisal Sururiyah, nisbat kepada Muhammad Surur bin Nayif Zaenal Abidin; atau Haddadiyah, nisbat kepada Abu Abdillah Mahmud al-Haddad al-Mishri.

Apa Itu Salafiyah?

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

mahiya

Pernahkah Anda mendengar nama asy-Syaikh Ubaid bin Abdullah bin Sulaiman al-Jabiri hafizhahullah? Sosok ulama Ahlus Sunnah yang pernah berkunjung ke Indonesia dua tahun silam. Penampilannya sederhana, namun memendam ilmu nan melimpah.

Alkisah, suatu pagi ada seseorang yang menawarkan diri untuk membacakan kitab yang akan dikaji di majelis asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. Mendengar permohonan tersebut, beliau hafizhahullah menjawab, “Saya adalah orang yang diperintah.”

Beliau mengatakan demikian karena beliau bukan orang yang memiliki kekuasaan untuk menentukan dan mengatur acara kajian tersebut. Beliau adalah pihak yang diundang. Jadi, segala sesuatu beliau serahkan kepada pihak penyelenggara. Demikianlah akhlak dan adab yang bisa dipetik dari kehadiran seorang ulama Ahlus Sunnah. Begitu tawadhu’. Begitu menghargai dan menghormati keberadaan pihak lain.

Berinteraksi dengan ulama tak semata meraih ilmu yang diajarkannya. Lebih dari itu, interaksi itu menjadi media pembelajaran yang sangat berguna dari sisi bentuk amalan. Seseorang akan langsung melihat contoh perilaku kebaikan pada diri ulama tersebut.

Berinteraksi dengan ulama tak semata belajar mengambil ilmu, namun mengambil pula nilai aplikatif ilmu yang diajarkan. Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bertutur,

كُنَّا لَا نَتَجَاوَزُ عَشْرَ آيَاتٍ مِنْ فَمِ رَسُولِ اللهِ حَتَّى نَتَعَلَّمَ مَعْنَاهَا وَالْعَمَلَ بِهَا. فَقَالَ :كُنَّا نَتَعَلَّمُ الْعِلْمَ وَالْعَمَلَ

Kami mempelajari tak lebih dari sepuluh ayat dari lisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga kami mempelajari makna ayat-ayat tersebut dan mengamalkannya.” “Kami mempelajari ilmu dan amal,” kata Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu.

Demikian salafu ash-shalih mengajarkan kepada kita. Sebab, sebagaimana disebutkan para ulama, sesungguhnya buah dari ilmu adalah amal. Maka dari itu, ilmu tanpa amal bagaikan pohon yang tiada berbuah. Karena itu, tak mengherankan apabila ada dari kalangan salafu ash-shalih yang hidup bersama al-Imam Ahmad rahimahullah sekadar mempelajari akhlak beliau. Tidak menulis hadits sekian tahun, hanya mempelajari bagaimana al-Imam Ahmad berperilaku dalam keseharian. Demikian pula yang dilakukan Abdullah bin Mubarak rahimahullah yang menghabiskan waktunya sekitar 30 tahun hanya untuk mempelajari adab.

Demikian penting masalah aplikasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari bagi seorang muslim. Keislaman seseorang tak sekadar dinilai dari kepiawaiannya bercakap dan memaparkan kajian. Sebab, Islam tak cukup semata dengan retorika.

Asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah mengungkapkan bahwa Yahudi disebut maghdhub ‘alaihim (mereka dimurkai) lantaran mereka tak mau mengamalkan ilmu yang dimilikinya. Sebaliknya, kaum Nasrani beramal, namun tidak dilandasi oleh ilmu. Mereka beribadah didasari kejahilan dan kesesatan. (Ithafu al-‘Uqul bi asy-Syarhi ats-Tsalati al-Ushul, hlm. 10)

Allah ‘azza wa jalla berfirman.

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (Al-Baqarah: 44)

Firman-Nya ‘azza wa jalla,

Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan.(ash-Shaff: 2—3)

Kelekatan antara ilmu dan amal tiada bisa dipisahkan. Keduanya bagai keping mata uang, tak bisa pupus salah satunya. Ketiadaan salah satuya akan membawa konsekuensi yang amat berat bagi seorang muslim. Ia bisa terjatuh menyerupai Yahudi atau Nasrani. Semoga Allah ‘azza wa jalla melindungi dan menjaga kita semua.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa kebaikan, kebahagiaan, kesalehan, dan kesempurnaan disimpul dalam dua hal, yaitu pada ilmu yang bermanfaat dan amal yang saleh. (Majmu’ Fatawa 19/169. Lihat Ma Hiya as- Salafiyyah, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari, hlm. 51).

Prinsip berilmu dan beramal adalah prinsip yang diajarkan oleh salafu ash-shalih. Siapakah salafu ash-shalih itu? Sebagaimana disebutkan oleh hadits dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha mengungkapkan,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ، ثُمَّ الثَّانِي، ثُمَّ الثَّالِثُ

Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia terbaik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Kurun di mana aku berada di dalamnya. Kemudian (generasi) yang kedua. Lantas (generasi) yang ketiga’.”

 

Arti Salaf

Salaf secara bahasa bermakna orang yang terdahulu. Hal ini sebagaimana firman-Nya,

Maka Kami jadikan mereka sebagai (kaum) terdahulu, dan pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.(az-Zukhruf: 56)

Al-Imam al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya (7/218) menyebutkan bahwa kata as-salaf dalam ayat di atas bermakna orang terdahulu dari kalangan bapak-bapak (mereka). Maknanya, Kami jadikan mereka orang-orang yang terdahulu agar bisa memberi pelajaran bagi orang-orang yang kemudian.

“… dan (diharamkan) mengumpulkan dalam pernikahan) dua perempuan bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau (terdahulu).(an-Nisa’: 23)

Dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbicara kepada putrinya, Fathimah radhiallahu ‘anha,

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

Sesungguhnya sebaik-baik salaf bagimu adalah aku.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh an-Nawawi rahimahullah menyebutkan dalam Syarhu Shahih Muslim (16/7) bahwa as-salaf ialah orang yang terdahulu. Makna dari pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah aku adalah orang yang mendahuluimu. Maka dari itu, dalam urusan agama lihatlah aku. Secara istilah, salaf bisa dilihat melalui firman Allah ‘azza wa jalla,

“Orang-orang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.(at-Taubah:100)

Kemudian sebagaimana disebut dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian orang-orang yang setelahnya, kemudian orang-orang yang berikutnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, dari Aisyah radhiallahu ‘anha diungkapkan,

أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ : سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ الْقَرْنُ الَّذِي أَنَا فِيهِ، ثُمَّ الثَّانِي، ثُمَّ الثَّالِثُ

Seseorang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapakah manusia terbaik?’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ’Kurun di mana aku berada di dalamnya. Kemudian (generasi) yang kedua. Lantas (generasi) yang ketiga.”

Dengan pemaparan di atas, maka tidak diragukan lagi bahwa yang dimaksud salafu ash-shalih adalah orang-orang terdahulu yang saleh dari generasi utama (dalam hal) ilmu dan iman, yaitu para sahabat dan dua generasi berikutnya. (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, asy-Syaikh Dr. Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari, hlm. 11—15)

 

Beragama Mengikuti Tuntunan Salaf

Saat seorang muslim shalat, salah satu yang dibaca dalam shalatnya ialah surat al-Fatihah. Ia ucapkan,

Tunjukilah kami jalan yang lurus.(al-Fatihah: 6)

Al-Imam Ibnu Jarir rahimahullah menyebutkan dalam tafsirnya (1/75) dengan sanad yang hasan, sesungguhnya Hamzah bin al-Mughirah berkata, “Aku bertanya kepada Abul ‘Aliyah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

‘Tunjukillah kami jalan yang lurus.’

Abul ‘Aliyah menjawab, ‘Itu adalah (jalan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kedua sahabat sepeninggal beliau, Abu Bakr dan Umar radhiallahu ‘anhuma.’

Lantas, Hamzah bin al-Mughirah mendatangi (dan menyampaikan hal itu) kepada al-Hasan. Jawab al-Hasan, ‘Benar’.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan barang siapa menentang Rasul (Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka jahannam, dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Wajib bagi kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah sunnah tersebut dengan gigi gerahammu. Hendaklah kalian berhatihati dari perkara yang diada-adakan dalam agama. Sebab, sesungguhnya setiap bid’ah itu sesat.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selainnya dari ‘Irbadh bin Sariyyah radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah dalam Dzammi at-Ta’wil (hlm. 7) menyebutkan, barang siapa suka menetap bersama salaf di akhirat dan menempati kedudukan yang telah dijanjikan, yaitu surga, hendaklah mengikuti mereka (salafu ash-shalih) dengan baik. Barang siapa mengikuti selain jalannya, berarti ia masuk dalam keumuman firman Allah ‘azza wa jalla di atas.”

Disebutkan lebih lanjut, “Telah ada perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah al-Khulafa (para pengganti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana halnya perintah untuk memegang teguh sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Telah dikabarkan pula bahwa mengada-adakan satu perkara dalam agama adalah bid’ah dan kesesatan, sesuatu yang tidak mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tak ada sunnah para sahabatnya.” (Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah, hlm. 29—31)

Seorang muslim yang menginginkan keselamatan hendaklah mengikuti apa yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh salafu ash-shalih. Sebab, banyak orang dan kelompok menawarkan pemahaman agama dengan mengenakan baju Islam, tetapi bukan pemahaman agama yang lurus. Mereka menawarkan pemahaman agama berdasar hawa nafsu mereka.

Di antara mereka ada yang berusaha memahami agama hanya berdasar mengikuti orang yang ditokohkan. Sebagian lagi menawarkan agama dalam rangka mengikuti tradisi semata, mengikuti nenek moyangnya yang menyelisihi syariat. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), kami mengikuti apa yang telah kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.(al-Baqarah: 170)

Sebagian mereka mengemas agamanya dengan warna akal. Segala sesuatu yang berasal dari agama mereka selaraskan dengan akal. Sesuatu yang tak sesuai dengan akal ditolak, walaupun itu berasal dari hadits yang sahih. Akal dijadikan sebagai sandaran untuk menentukan sesuatu itu sah atau tidak. Padahal Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan,

لَوْ كَانَ الدِّينُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاهُ

Seandainya agama itu dengan akal, maka mengusap khuf (sepatu atau yang sejenis) lebih utama diusap bagian bawah daripada (mengusap) bagian atasnya.” (HR. Abu Dawud dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu)

Terkait dengan hadits di atas, asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menyebutkan, penetapan satu hukum dalam agama tidaklah dengan akal. Sebuah hukum agama ditetapkan berlandaskan kepada syariat. Adapun akal tidak termasuk dalam unsur yang digunakan untuk menetapkan sebuah hukum agama. (Tashil al-Ilmam, 1/159)

Karena itu, hendaklah seseorang senantiasa mengikuti tuntunan yang telah diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini sebagaimana disebutkan oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

Katakanlah, jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosadosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(Ali Imran: 31)

Mengikuti pemahaman salafu ash-shalih dalam beragama menjadikan seorang muslim terbebas dari pemahaman yang berdasar hawa nafsu. Ia akan mengamalkan agamanya sesuai dengan tuntunan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dengan pemahaman yang benar. Ia akan terjauhkan dari pengikut hawa nafsu dan kalangan ahlu bid’ah, seperti kelompok sempalan Syi’ah, Mu’tazilah, Sufi, Islam liberal, dan yang lainnya.

 

Adab Para Penyeru Dakwah Salafiyah

Di antara adab yang harus dijunjung tinggi oleh setiap da’i Ahlus Sunnah, selain memancangkan keikhlasan dan ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ialah memiliki semangat untuk menabur hidayah dan menyampaikan agama Allah ‘azza wa jalla kepada segenap manusia. Seorang da’i hendaklah pula senantiasa mengedepankan sikap lemah lembut. Sebab, tiadalah kelemahlembutan itu ada pada sesuatu kecuali akan menjadikannya indah. Sebaliknya, apabila kelemahlembutan itu tercerabut dari sesuatu, tiada lain akan menjadikannya buruk.

Bagi yang berdakwah, bekalilah diri dengan sikap hikmah, yaitu menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Lalu sampaikanlah nasihat dalam bentuk memotivasi mengamalkan kebaikan dan memberikan peringatan untuk menjauhi hal-hal yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya. Apabila harus berdiskusi, hendaklah dengan cara yang baik. Demikian beberapa arahan dari asy-Syaikh Ubaid al-Jabiri hafizhahullah. (Ithafu al-‘Uqul hlm. 12)

Dakwah salafiyah adalah dakwah yang mulia. Dakwah yang menyeru manusia untuk senantiasa berjalan di atas tauhid dan memberantas kesyirikan serta menjauhi para pelaku kesyirikan. Dakwah yang senantiasa berupaya menghidupkan sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjauhi bid’ah dan para pelakunya. Dakwah ini merujuk kepada kalamullah dan Rasul-Nya, bukan merujuk pada pemikiran manusia, apalagi bersikap taklid dan ta’ashub (fanatik buta) pada seseorang. Namun, dalam dakwah ini, seorang muslim dididik untuk senantiasa menghormati para ulama sebagai pewaris para nabi, yang menyampaikan nilai-nilai kebenaran sesuai dengan pemahaman salafu ash-shalih.

Barang siapa meniti hidup ini dengan pemahaman agama yang benar, yang selaras dengan salafu ash-shalih, ia telah menempuh jalan kebenaran. Ia menempuh jalan keselamatan. Karena itu, orang-orang yang mengusung manhaj salaf ini disebut pula dengan al-Firqatu an-Najiyah (kelompok yang selamat). Kata al-Imam Muhammad bin Muslim az-Zuhri rahimahullah,

الْاِعْتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

Berpegang teguh dengan sunnah adalah keselamatan.” (Dikeluarkan oleh ad-Darimi dalam as-Sunan 1/44 dengan sanad yang sahih. Lihat Ma Hiya as-Salafiyyah hlm. 61).

Allahu a’lam.

Surat Pembaca Edisi 98

Suami Ideal?

Bismillah. Selesai membaca tema suami ideal, masya Allah, terkhusus tulisan al-Ustadz Mukhtar, persis seperti masa ketika masih taraf pilih-pilih. Punya suami berjenggot dan berjubah. Betapa hati dan angan terbang melayang. Setelah tersadar, ternyata, “Ah teori, jauh api dari panggang.”

Inilah dunia yang memang tak pantas kita jadikan tujuan. Satu nasihat bagi ummahat yang belum berezeki suami ideal, tunaikan kewajibanmu, dan mintalah hakmu kepada Allah l, demi suami ideal dan sempurna di akhirat kelak. Hasbunallah wa ni’mal wakil.

081329xxxxxx

 

Ayat atau Riwayat?

Bismillah, afwan pada majalah Asy Syariah edisi 95 hlm. 90 bahasan Masih Tentang Wanita Bekerja, tertulis Allah subhanahu wa ta’ala berfirman… tetapi setelah terjemahan sumbernya dari HR. Bukhari dan Muslim semestinya QS apa?

Abu Ridlo-Majalengka

085324xxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Apa yang tertulis sebenarnya adalah riwayat al-Bukhari dan Muslim tentang dialog sahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dengan seorang wanita bernama Ummu Ya’qub. Di akhir dialog, Ibnu Mas’ud kemudian mengutip surat al-Hasyr: 7 untuk membantah ucapan wanita tersebut. Bisa jadi, ketiadaan sumber ayat, menjadikan sejumlah pembaca rancu dalam memahaminya. Kami mohon maaf.

 

Koreksi

Bismillah, saya membaca Asy- Syariah edisi 97 pada hlm. 49 poin 9 tertulis, “Bahkan hukum hijrah ke negeri kafir bila seorang tidak bisa menampakkan syiar Islam di negeri tersebut.” Apakah ada kata yang kurang dari kalimat tersebut?

085797xxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Anda benar, kalimat yang benar adalah “Bahkan, haram hukum hijrah ke negeri kafir bila seorang tidak bisa menampakkan syiar Islam di negeri tersebut.” Jawaban ini sekaligus sebagai ralat.

 

Pemilu dan Demokrasi

Bismillah, mohon diangkat kembali pembahasan tentang kebobrokan sistem pemilu dan demokrasi (jual agama demi kursi), untuk mematahkan syubhat kaum hizbi di negeri ini.

Rohmadi-Banjarnegara

085328xxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.

 

Bahas Filsafat

Asy-Syariah bisa tidak kapan-kapan bahas tuntas tentang filsafat, atau jika sudah pernah edisi berapa ya?

085258xxxxxx

  • Jawaban Redaksi:

Jazakumullahu khairan atas masukan Anda.