SALAFI: Tujuan atau Penyucian Diri?

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

jalan-masih-panjang

Dakwah salaf bukanlah ruang di dalam sebuah bangunan bernama Islam. Akan tetapi, dakwah salaf adalah bangunan itu sendiri. Peletak batu pertamanya adalah Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam, bukan asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab sebagaimana sering dikicaukan oleh para penentang dakwah tauhid wa sunnah.

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab hanyalah mengembalikan gerbong Islam pada relnya, saat kereta bernama Islam itu disesaki para penumpang gelap berwajah Islam, para pedagang asongan sufi dan kuburanisme (baca: kesyirikan), para penjaja “makanan” yang menaburi racun-racun Syi’ah, Khawarij, Mu’tazilah, dan sebagainya pada “jualan”-nya.

Apa yang beliau usung sejatinya adalah gerakan pemurnian, kembali kepada ajaran yang dibawa Rasulullah n dan generasi salaf (sahabat, tabi’in, dan seterusnya). Jadi, salafiyah dan dakwah salaf bukanlah agama baru. Salafiyah adalah Islam itu sendiri. Islam yang berlandaskan al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafush shalih yang dahulu diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam dan beliau amalkan beserta para sahabatnya.

Ikatan wala dan bara, cinta dan benci di kalangan Ahlus Sunnah adalah di atas Islam, bukan yang lain. Tidak di atas sebuah simbol tertentu, tidak pula karena partai tertentu. Yang ada hanya al-Kitab dan sunnah. Juga tidak mengundang mereka untuk fanatik kepada orang tertentu selain Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam.

Seseorang yang mengaku bermanhaj salaf tidak akan membabi buta membela syaikhnya, karena semua ada timbangannya, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Di sisi lain, seorang muslim juga tidak akan menghujat ulama hanya karena tidak sejalan dengan“pemikiran”-nya yang hanya dibangun di atas fanatisme atau semangat buta, tidak di atas dalil apa pun.

Seorang muslim bukanlah orang rendah yang mau menukar agamanya dengan mi instan, mengaburkan manhajnya demi dunia. Ahlus Sunnah lebih rela disebut tidak“cerdas”, namun tidak akan rela melunturkan agamanya demi segepok dana yang tidak seberapa. Salafi tidak akan memelintir agamanya demi dunia atau memelintir kata-kata di dunia maya demi mengaburkan manhajnya. Juga jauh dari sikap membenturbenturkan fatwa antarulama demi mendapat pembenaran atas pemikirannya.

Saat sekte sesat dalam kubu umat Islam kian menjamur, yang semua mengaku mendakwahkan Islam, serta menjadikan hakikat Islam yang diajarkan oleh Rasulullah ‘alaihi ash-shalatu wa sallam kian kabur, tentu menjadi sikap yang tidak cerdas jika orang yang mengaku Ahlus Sunnah justru merangkul pihak-pihak yang bermudah-mudah terhadap kesesatan mereka.

Oleh karena itu, sudah semestinya kita menisbatkan diri kepada manhaj salaf yang sebenarnya. Ia adalah stasiun terakhir yang setiap muslim semestinya menuju ke sana. Tatkala muncul bid’ah, Ahlus Sunnah membedakan diri dengan sunnah. Tatkala ra’yu (akal) dijadikan hakim, Ahlus Sunnah membedakan diri dengan hadits dan atsar. Istilah Ahlus Sunnah, ath-Thaifah al-Manshurah, dan al-Firqatun an-Najiyah sendiri dimunculkan dan disebarluaskan oleh para ulama dahulu hingga sekarang untuk menjelaskan kepada umat Islam tentang hakikat Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi ‘alaihi ash-shalatu wa sallam dan orang-orang yang senantiasa istiqamah meniti jejak langkah beliau.

Tinggal bagaimana kejujuran kita terhadap penisbatan tersebut. Salafi bukanlah tazkiyah (penyucian), melainkan sebuah upaya, tujuan dari keislaman kita. Semoga!

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Sifat-sifat Sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah ditanya, “Kabarkanlah kepada kami tentang sifat-sifat para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam!”

Beliau rahimahullah menangis lalu berkata,
“Tampak tanda-tanda kebaikan pada tampilan luar dan perilaku mereka. Terlihat pula petunjuk dan kejujuran mereka. Mereka berpakaian kasar karena sederhana. Cara berjalan mereka menunjukkan kerendahan hati. Ucapan mereka sesuai dengan amalan. Makanan dan minuman mereka berasal dari rezeki yang baik. Tampak pula ketundukan mereka dengan melakukan amalan ketaatan kepada Rabb mereka. Mereka patuh terhadap kebenaran, baik dalam hal yang mereka sukai maupun tidak. Mereka juga menunaikan hak orang lain yang ada pada mereka.

Siang hari mereka lalui dalam keadaan haus (karena berpuasa). Tubuh mereka pun kurus.

Demi meraih ridha al-Khaliq, kemarahan makhluk mereka anggap ringan. Kemarahan tidak menyebabkan mereka melampaui batas. Kezaliman pun tidak membuat mereka sewenang-wenang (membalas). Mereka tidak pernah melampaui batasan hukum Allah ‘azza wa jalla dalam al-Qur’an.

Mereka korbankan darah ketika Allah ‘azza wa jalla meminta mereka membela (agama-Nya, -red.). Mereka serahkan harta ketika Allah ‘azza wa jalla meminjamnya (yakni berinfak fi sabilillah, -red.). Mereka tidak terhalangi oleh rasa takut kepada para makhluk.

Akhlak mereka bagus. Bahan makanan mereka dari kualitas yang rendah. Mereka merasa cukup dengan sedikit dari dunia demi akhirat mereka.”

(Hilyatul Auliya 2/150, dan Tahdzib al-Hilyah 1/336, dari Mawa’izh

al-Hasan al-Bashri, hlm. 42—44)