Hukum Menelaah Taurat dan Injil

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الَّله أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَتَى النَّبِيَّ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النَّبِيُّ فَغَضِبَ فَقَالَ: أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ  لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhuma, Suatu saat ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan membawa sebuah kitab yang ia dapatkan dari sebagian Ahli Kitab. Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah dan bersabda, “Apakah engkau termasuk orang yang bingung, wahai Ibnul Khaththab? Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih. Jangan kalian bertanya sesuatu kepada mereka (Ahlul Kitab) karena (boleh jadi) mereka mengabarkan al-haq kepada kalian namun kalian mendustakan al-haq tersebut, atau mereka mengabarkan satu kebatilan lalu kalian membenarkan kebatilan tersebut. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenan baginya melainkan dia harus mengikutiku.”

 

Horizontal Road

Takhrij Hadits

Hadits yang mulia ini hasan. Diriwayatkan al-Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnad-nya (3/387 no. 14623), melalui jalan guru beliau Suraij bin an-Nu’man dari Husyaim dari Mujalid dari asy-Sya’bi dari Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma.

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah (10/27), ad-Darimi (1/115), Ibnu Abdil Barr dalam Jami’ Bayan al-Ilm hlm. 339, al-Baghawi dalam Tafsir-nya, Ma’alim at-Tanzil (1/197), dan dalam Syarhus Sunnah (1/270).

Dalam riwayat al-Baghawi, Umar radhiallahu ‘anhu berkata,

إِنَّا نَسْمَعُ أَحَادِيثَ مِنْ يَهُودٍ تَعَجَّبْنَا، أَفَتَرَى أَنْ نَكْتُبَ بَعْضَهَا؟

“Sesungguhnya kami mendengar beberapa ucapan orang Yahudi yang kami kagum padanya, apakah menurutmu boleh kami mencatat sebagiannya?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

أَمُتَهَوِّكُونَ أَنْتُمْ كَمَا تَهَوَّكَتِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً، وَلَوْ كَانَ مُوسَى حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلاَّ اتِّبَاعِي

“Apakah kalian adalah orang-orang yang bingung seperti bingungnya Yahudi dan Nasrani? Sungguh, aku telah membawa untuk kalian syariat yang putih dan bersih. Seandainya Musa ‘alaihissalam hidup sekarang ini, maka tidak diperkenankan baginya kecuali harus mengikutiku.”

Sanad hadits Jabir radhiallahu ‘anhu di atas dha’if (lemah) dengan sebab Mujalid. Al-Haitsami berkata, “Dalam hadits ini ada Mujalid bin Sa’id, dia dilemahkan oleh Ahmad, Yahya bin Sa’id, dan selainnya.” (Majma’ Zawaid, 1/174)

Hadits ini memiliki banyak syawahid (penguat) di antaranya riwayat dalam Musnad Abu Ya’la al-Mushili (2/426—427), dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Irwaul Ghalil (6/338—340 no. 1589; 6/34—38 no. 1589).

 

Makna Hadits

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah semulia-mulianya pendidik, sebagaimana sahabatsahabat beliau adalah seutama-utamanya generasi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian bersemangat dalam menanamkan akidah kepada umatnya. Beliau dorong mereka untuk memusatkan perhatian dan mencurahkan segala upaya dalam mempelajari al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai rujukan utama agama.

Beliau juga memberikan peringatan keras dari perkara-perkara yang bisa memalingkan manusia dari al-Qur’an. Termasuk apa yang ada dalam hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma.

Inilah salah satu pilar terjaganya syariat Islam, terjaganya al-Qur’an dan as-Sunnah; semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebarkan risalah dan semangat para sahabat dalam mempelajari juga menyebarkan al-Qur’an dan as-Sunnah ke seluruh penjuru dunia.

Hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma juga mengandung larangan bagi seorang muslim untuk membaca, menelaah, atau mencatat berita-berita Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani.

Ya, hadits di atas lahiriahnya larangan dari membaca dan mempelajari Taurat dan Injil, agar seseorang tidak dipalingkan dari mempelajari al-Qur’an dan agar selamat dari kebatilan yang telah disisipkan dalam Injil dan Taurat, yang sudah tidak murni lagi seperti di zaman Nabi Musa dan Isa ‘alihima assalam.[1]

 Tarbiyah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam benar-benar membekas pada diri-diri sahabat. Segenap waktu dan tenaga mereka curahkan untuk mempelajari al-Qur’an dari segala sisinya, dan mereka tidak disibukkan oleh membaca kitab-kitab dan berita Ahlul Kitab.

Pesan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga diajarkan sahabat kepada murid-murid mereka, para tabiin. Dalam sebuah atsar disebutkan,

أَنَّ أَباَ قُرَّةٍ الْكِنْدِي أَتَى ابْنَ مَسْعُودٍ بِكِتَابٍ، فَقَالَ: إِنِّي قَرَأْتُ هَذَا بِالشَّامِ فَأَعْجَبَنِي، فَإِذَا هُوَ كِتَابٌ مِنْ كُتُبِ أَهْلِ الْكِتَابِ، فَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ: إِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِاتِّبَاعِهِمْ الْكُتُبَ وَتَرْكِهِمْ كِتَابَ اللهِ. فَدَعاَ بِطَسْتٍ وَمَاءٍ فَوَضَعَهُ فِيهِ وَأَمَاثَهُ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْتُ سَوَادَ الْمِدَادِ

Abu Qurrah al-Kindi menjumpai Ibnu Mas’ud dengan membawa sebuah kitab. Abu Qurrah berkata, “Aku membaca kitab ini di Syam, aku pun terkagum, ternyata ini salah satu kitab dari kitabkitab Yahudi dan Nasrani!”

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh umat-umat sebelum kalian binasa karena sibuk dengan kitab-kitab (yang telah bercampur dengan kebatilan, -pen.) dan meninggalkan Kitab Allah!”

Kemudian Ibnu Mas’ud minta didatangkan baskom berisi air dan beliau rendam kitab itu di dalamnya, beliau remas-remas hingga aku lihat air menghitam karena tinta.

 

Bukan Berarti Semua yang datang dari Ahlul Kitab Batil

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Umar radhiallahu ‘anhu dan umatnya membaca atau menukil sebagian dari isi kitab yang datang dari ahli kitab tersebut, bukan karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari kebenaran yang kadang mereka sampaikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang karena beliau telah membawa syariat yang sempurna yang telah cukup bagi umatnya sehingga tidak perlu mengambil alternatif lainnya.

Sebagai penutup para rasul, Allah ‘azza wa jalla menjadikan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai penutup seluruh syariat. Sudah menjadi sebuah kepastian bahwasanya Allah ‘azza wa jalla menurunkan al-Qur’an sebagai kitab yang sempurna, menerangkan segala yang dibutuhkan, cocok di setiap zaman dan keadaan, dan dijaga kemurniannya hingga kiamat kelak.

Segala sesuatu dalam syariat nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah Allah ‘azza wa jalla terangkan dengan jelas dan terang seperti yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan dalam hadits di atas,

لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيَّةً

“Sungguh aku telah datang kepada kalian dengan membawa agama yang putih bersih.”

Demikianlah al-Qur’an, tidak ada satu kebaikan pun kecuali al-Qur’an telah menyebutkannya, menjelaskannya, dan mendorong manusia untuk mencapainya. Tidak pula ada kejelekan kecuali al-Qur’an telah memperingatkan darinya dan menjelaskan tentang kejelekannya.

Semua kebaikan yang ada dalam kitab-kitab atau syariat yang telah lalu pun telah termuat dalam al-Qur’an sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu. Maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang….(al-Maidah: 48)

Alasan lain beliau melarang umat membaca buku-buku ahlul kitab, kekhawatiran beliau akan terjatuhnya umat ini dalam penyimpangan, menganggap kebenaran yang mereka bawa sebagai kebatilan, dan menganggap kebatilan yang mereka bawa sebagai kebenaran.

Pembaca rahimakumullah, hadits Jabir radhiallahu ‘anhu dalam majelis kali ini adalah salah satu dalil yang menunjukkan tidak diperbolehkanmya seorang membaca kitab Taurat dan Injil yang saat ini telah berubah jauh dari aslinya dan memuat kebatilan yang bersumber dari tangantangan manusia.

Secara lebih rinci, dalam masalah ini sesungguhnya ada dalil lain yang secara lahiriah menunjukkan bolehnya membaca Taurat dan Injil. Tentu saja sepintas dalil tersebut bertolak belakang dengan hadits Jabir. Oleh karena itu, ada baiknya kita ketengahkan dua kelompok dalil tersebut kemudian kita melihat cara mengompromikannya, wa billahit taufiq.

 

Dalil-Dalil yang Secara Lahiriah berisi Larangan Membaca Taurat dan Injil

Dalil pertama adalah hadits Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhuma tentang kisah Umar radhiallahu ‘anhu yang telah kita jelaskan takhrij haditsnya.

Dalil kedua,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ أَهْلُ الْكِتَابِ يَقْرَءُونَ التَّوْرَاةَ بِالْعِبْرَانِيَّةِ وَيُفَسِّرُونَهَا بِالْعَرَبِيَّةِ لِأَهْلِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: لَا تُصِدِّقُوا أَهْلَ  الْكِتَابَ وَلَا تُكَذِّبُوهُمْ، وَقُولُوا: آمَنَّا بِاللهِ وَمَا أُنْزِلَ الْآيَةُ

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Dahulu Ahlul kitab membaca Taurat dengan bahasa Ibrani dan mereka tafsirkan dengan bahasa Arab kepada ahlul Islam (muslimin).” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian percayai mereka jangan pula kalian dustakan namun katakanlah (seperti dalam ayat):

Katakanlah (hai orang-orang mukmin), ‘Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’kub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidakmembeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’ (al-Baqarah: 136)

Hadits ini sahih, diriwayatkan oleh al-Bukhari melalui jalan Yahya bin Abi Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. (Fathul Bari 5/291 dan 8/170) Diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra (10/163).

Dalil ketiga,

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِينَ، كَيْفَ تَسْأَلُونَ أَهْلَ الْكِتَابِ وَكِتَابُكُمُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى نَبِيِّهِ أَحْدَثُ الْأَخْبَارِ باِللهِ تَقْرَءُونَهُ لَمْ يشب وَقَدْ حَدَّثَكُمُ اللهُ أَنَّ أَهْلَ الْكِتَابِ بَدَّلُوا مَا كَتَبَ اللهُ وَغَيَّرُوا بِأَيْدِيهِمُ الْكِتَابَ، فَقَالُوا: هُوَ مِنْ عِنْدِ اللهِ، لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا؛ أَفَلَا يَنْهَاكُمْ مَا جَاءَكُمْ مِنَ الْعِلْم عَنْ مُسَاءَلَتِهِمْ وَلاَ وَاللهِ مَا رَأَيْنَا مِنْهُمْ رَجُلًا قَطُّ يَسْأَلُكُمْ عَنِ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَيْكُمْ

Dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Wahai sekalian kaum muslimin, mengapa kalian bertanya kepada Ahlul Kitab sementara Kitab kalian (al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kitab yang terbaru (terakhir turun) dari sisi Allah, dan kalian membacanya, bukankah Allah telah mengabarkan bahwa Ahlul Kitab telah mengubahrubah syariat yang Allah wajibkan atas mereka, dan mereka ubah kitab Allah dengan tangan-tangan mereka kemudian mereka berkata (seperti yang Allah ‘azza wa jalla kabarkan). Apakah tidak ada ilmu yang datang kepada kalian yang melarang kalian dari bertanya-tanya kepada Ahlul Kitab? Tidak! Demi Allah, aku tidak pernah melihat salah satu dari mereka (Ahlul Kitab) bertanya kepada kalian tentang al-Qur’an! (Mengapa kalian justru bertanya kepada mereka? –pen)

Atsar Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ini diriwayatkan al-Bukhari (Fathul Bari 5/291), dari guru beliau Yahya bin Bukair, diriwayatkan pula oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan al-‘Ilm (2/41).

Dalil keempat,

لَا تَسْأَلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ فَإِنَّهُمْ لَنْ يَهْدُوكُمْ وَقَدْ ضَلُّوا

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Jangan kalian bertanya kepada Ahlul Kitab karena mereka tidak akan membimbing kalian bahkan mereka telah sesat.”

Atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ini diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam Jami Bayan al-Ilm (2/41). Berkata Ibnu Hajar al-Asqalani, “Diriwayatkan oleh Abdur Razaq melalui jalan Huraits bin Dhahir, dan diriwayatkan pula oleh Sufyan ats-Tsauri melalui jalan ini dan sanad haditsnya hasan.” (Fathul Bari 6/334)

Atsar Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu ini sebenarnya diriwayatkan secara marfu’ dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun yang benar riwayatnya mauquf, Allahu a’lam.

 

Dalil-Dalil yang Secara Lahiriah Menunjukkan Bolehnya Membaca Taurat dan Injil

“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (Yunus: 94)

Berkatalah orang-orang kafir, “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul.”  Katakanlah, “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu dan antara orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.” (ar-Ra’d: 43)

عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِي، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَال: قَالَ رَسُولُ اللهِ : بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آَيَةً، وَحَدِّثُوا عَن بَنِي إِسْرَائِيلَ وَلَا حَرَجَ، وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

Dari Abu Kabsyah as-Saluli dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sampaikan dariku walaupun satu ayat, sampaikan berita dari Bani Israil, tidak mengapa. Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, hendaknya dia menempatkan dirinya dalam neraka.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Hadits hasan sahih.”)

عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ: لَقِيتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرِو بْنَ الْعَاصِ قُلْتُ: أَخْبِرْنِي عَنْ صِفَةِ رَسُولِ اللهِ فِي التَّوْرَاةِ. قَالَ: أَجَلْ، وَاللهِ، إِنَّهُ لَمَوصُوفٌ فِي التَّوْرَاةِ بِبَعْضِ صِفَتِهِ فِي الْقُرْآنِ: يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَحِرْزًا لِلْأُمِّيِّيْنَ، أَنْتَ عَبْدِي وَرَسُولِي، سَمَّيْتُكَ الْمُتَوَكِّلَ، لَيْسَ بِفَظٍّ وَلَا غَلِيظٍ وَلاَ صَخَّابٍ فِي الْأَسْوَاقِ، وَلَا يَدْفَعُ بِالسَّيِّئَةِ السَّيِّئَةَ وَلَكِنْ يَعْفُو وَيَغْفِرُ، وَلَنْ يَقْبِضَهُ اللهُ حَتَّى يُقِيمَ بِهِ الْمِلَّةَ الْعَوْجَاءَ بِأَنْ يَقُولُوا: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَيَفْتَحُ بِهَا أَعْيُنًا عُمْيًا وَأَذَانًا صُمًّا وَقُلُوبًا غُلْفًا.

Dari Atha’ bin Yasar, Aku bertemu dengan Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma, aku bertanya, “Kabarkan kepadaku tentang sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Taurat.”

Kata Abdullah bin Amr, “Baiklah, demi Allah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disebut sifatnya dalam at-Taurat dengan sebagian sifat yang telah tersebut dalam al-Qur’an,  ‘Wahai nabi, sesungguhnya kami utus engkau sebagai saksi, pemberi kabar gembira, dan peringatan.’ (al- Ahzab: 45)

‘Juga sebagai pelindung bagi kaum yang ummi. Engkau adalah hamba-Ku dan Rasul-Ku. Aku beri nama engkau al-Mutawakkil, bukan seorang yang keras dan kasar, tidak pula berkata kotor di pasar-pasar, tidak membalas kejelekan dengan kejelekan tetapi memaafkan, dan Allah ‘azza wa jalla tidak mewafatkannya hingga Allah ‘azza wa jalla tegakkan dengan beliau agama dan manusia mengucapkan kalimat: Laa ilaahailallah… dengan diutusnya ia, Allah ‘azza wa jalla bukakan mata-mata yang buta, telinga telinga yang tuli dan hati-hati yang terkunci…’.”

Atsar ini diriwayatkan al-Bukhari di dua tempat dalam Shahih-nya, pertama dalam Kitab al-Buyu’ (Perdagangan) Bab “Dibencinya Sakhab/Membuat Kegaduhan/Berteriak dalam Pasar”; kedua dalam kitab at-Tafsir no. 4838 no. 2125. Lihat Fathul Bari (4/343), beliau keluarkan pula dalam al-Adabul Mufrad. Diriwayatkan pula oleh al-Imam Ahmad dalam al-Musnad (2/174 no. 6622).

 

Bagaimana Memahami Dalil-Dalil yang Sepertinya Berlawanan?

Dalil-dalil di atas secara lahiriah mengandung kontradiksi, walaupun pada hakikatnya tidak. Sebagian dalil menunjukkan dilarangnya membaca, mendengar berita-berita dari Bani Israil, dan apa yang ada dalam kitab mereka; sementara dalil-dalil lainnya secara lahiriah menunjukkan boleh.

Sebaik-baik jalan dalam memahami dalil-dalil di atas adalah menjamak (menggabungkan) semua dalil yang ada sehingga dengan demikian akan terkumpullah semua dalil.

Hukum membaca kitab yang ada pada ahlul kitab sangat tergantung dengan tiga perkara: kondisi sang pembaca, maksud dan tujuan sang pembaca, serta jenis berita yang ada pada ahlul kitab.

Ditinjau dari keadaan orang yang membaca, hukumnya berbeda antara orang yang memiliki ilmu yang kokoh dan orang yang jahil atau penuntut ilmu biasa.

Orang-orang yang rasikh (kokoh) dalam ilmunya, sangat mendalam dalam ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta mengerti syubhat (kerancuan) yang ada pada ahlul kitab; golongan inilah yang dikatakan boleh bagi mereka untuk menelaah Taurat dan Injil dari tinjauan pembacanya. Itu pun masih harus melihat tujuan dari dia membaca. Adapun mereka yang tidak tergolong sebagai ulama tidak diperbolehkan untuk membaca Taurat dan Injil.

Adapun ditinjau dari maksud atau tujuan membaca Taurat dan Injil, bagi mereka yang membacanya dengan tujuan mengagungkan apa yang ada dalam Taurat dan Injil (padahal di dalamnya mengandung kebatilan yang disisipkan manusia), atau hanya sekadar mengisi waktu sehingga menyibukkannya dari mempelajari al-Kitab dan as-Sunnah yang seperti ini haram atasnya membaca Taurat dan Injil.

Adapun mereka yang membaca dari kalangan ulama dengan maksud mengetahui kebatilan yang ada dalam kitab Taurat dan Injil yang telah diubah, memberikan peringatan kepada manusia dari kebatilan yang ada di dalamnya, atau untuk membantah Ahlul Kitab dalam rangka mendakwahi mereka untuk beriman kepada al-Qur’an, maka yang seperti ini diperbolehkan insya Allah, sebagaimana dilakukan sebagian ulama Islam seperti Ibnu Hazm, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, dan lainnya.

Adapun dari sisi berita yang ada pada ahlul kitab, sesungguhnya berita Ahlul Kitab ada tiga jenis.

  1. Berita yang boleh dibenarkan dan boleh diriwayatkan, yaitu berita-berita yang ada pada kitab-kitab mereka dan sesuai dengan apa yang ada dalam syariat kita.
  2. Berita yang haram diriwayatkan kecuali dengan syarat penjelasan kebatilan dan kedustaannya, yaitu apa yang menyelisihi syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti ayat-ayat Taurat dan Injil yang berisi pelecehan dan celaan kepada para nabi dan rasul, serta semua berita yang didustakan al-Qur’an.
  3. Berita yang kita tawaqquf, yaitu berita yang didiamkan oleh syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jenis ketiga ini tidak dibenarkan dan tidak didustakan, boleh diriwayatkan dan disebut, hanya saja tidak untuk diyakini, tetapi sekadar sebagai pelengkap.

Dengan rincian tersebut tidak lagi ada pertentangan antara dalil-dalil dalam masalah ini. Walhamdulillah.

 

Fatwa Asy-Syaikh Shalih Al-Utsaimin tentang Hukum Membaca Injil

Asy-Syaikh Utsaimin ditanya, “Bolehkah seorang muslim menekuni (mempelajari) Injil agar dia bisa mengetahui firman Allah ‘azza wa jalla kepada hamba dan Rasul-Nya Isa alaihis sholatu wassalam?”

Beliau menjawab, “Tidak boleh menekuni (mempelajari) sesuatu pun dari kitab-kitab yang mendahului al-Qur’an, berupa Injil atau Taurat atau selain keduanya karena dua sebab:

  1. Sesungguhnya semua hal yang bermanfaat dalam (kitab-kitab terdahulu) telah Allah ‘azza wa jalla jelaskan dalam al-Qur’anul Karim.
  2. Sesungguhnya di dalam al-Qur’an telah terdapat perkara yang mencukupi dari semua kitab ini, berdasarkan firman-Nya,

“Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya.” (Ali ‘Imran: 3)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan Kami telah turunkan kepadamual-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan.” (al-Ma’idah: 48)

Karena sesungguhnya semua yang ada dalam kitab-kitab terdahulu berupa kebaikan pasti ada dalam al-Qur’an. Adapun perkataan penanya bahwa dia ingin untuk mengetahui firman Allah ‘azza wa jalla kepada hamba dan Rasul-Nya ‘Isa, maka yang bermanfaat bagi kita darinya telah dikisahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam al-Qur’an sehingga tidak perlu lagi untuk mencari selainnya.

Lebih-lebih Injil yang ada sekarang telah berubah, dan di antara bukti akan perubahan itu adalah bahwa dia (sekarang) ada empat Injil yang satu dengan yang lainnya saling bertentangan, bukan satu Injil sehingga tidak dapat dijadikan sandaran.

Adapun seorang penuntut ilmu yang memiliki ilmu yang dengannya dia bisa mengetahui yang benar dari kebatilan, maka tidak ada larangan (baginya) untuk mengetahuinya (Injil) untuk membantah apa yang terdapat di dalamnya berupa kebatilan dan untuk menegakkan hujah atas para penganutnya. (Majmu’ al-Fatawa)

Beberapa Faedah Hadits

  1. Hadits di atas menunjukkan kesempurnaan syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu al-Qur’an sebagai kitab terakhir dan Sunnah beliau, semua kebaikan telah ada dalam syariat yang beliau bawa.
  2. Bantahan sekaligus peringatan kepada mereka yang suka merujuk atau meneaah kitab-kitab ahlul bid’ah dan berpaling dari al-Qur’an dan as-Sunnah.

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)

  1. Kewajiban bagi seluruh manusia beriman dan mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan seandainya Nabi Musa ‘alaihissalam masih hidup beliau harus mengikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Ahlul kitab tidak beriman (kafir) hingga mau mengikuti Kitab al-Qur’an dan as-Sunnah, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seandainya Nabi Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya beliau mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam hadits lain beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُودِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun dari umat ini yang telah mendengar keberadaanku, baik Yahudi maupun Nasrani, yang mereka meninggal namun tidak beriman dengan apa yang aku sampaikan dengannya kecuali ia termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim no. 153 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Bantahan bagi agama Syiah Rafidhah yang mengatakan adanya kitab baru selain al-Qur’an yang akan diterapkan di akhir zaman. Secara tegas Syi’ah Rafidhah meyakini bahwa Mahdi versi mereka akan berhukum dengan hukum baru bukan hukum Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dengan kitab yang baru.

Dalam kitab Biharul Anwar—salah satu referensi Rafidhah karya al-Majlisi (52/354) diriwayatkan sebuah berita palsu,

عَنْ أَبِي بَصِيرٍ قَالَ: قَالَ أَبُو جَعْفَرٍ: يَقُومُ الْقَّائِمُ بِأَمْرٍ جَدِيدٍ وَكِتَابٍ جَدِيدٍ وَقَضَاءٍ جَدِيدٍ عَلَى الْعَرَبِ ….

Dari Abu Bashir, telah berkata Abu Ja’far ‘alaihissalam, “Al-Qaaim (al-Mahdi) akan muncul dengan perkara yang baru, dengan kitab baru, dan dengan hukum/keputusan yang baru atas orang-orang ‘Arab….” (Biharul Anwar)

Tidak diragukan bahwa keyakinan Syiah seperti ini adalah keyakinan yang kufur. Jangankan Imam Mahdi, Nabi Musa ‘alaihissalam saja seandainya beliau masih hidup harus mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan Nabi Isa yang turun di akhir zaman akan menegakkan hukum al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

  1. Hadits ini menunjukkan keutamaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena semua nabi dan rasul harus mengikuti syariat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan membela beliau.
  2. Menegaskan salah satu kaidah dalam menerima berita israiliat (berita yang berasal dari ahlul kitab) untuk tawaqquf dalam berita yang tidak ada kejelasan dalam syariat ini kedustaan atau kebenarannya.

Jika seorang dengan mudah menerima berita kemudian membenarkan atau menyalahkan, bisa jadi dia membenarkan yang salah atau mendustakan yang benar.

  1. Hadits ini mengandung perintah agar kita berhati-hati dari teman duduk yang tidak baik, demikian pula dalam memilih bacaan dan referensi-referensi ilmu syariat mengajarkan untuk kita selektif, lebih-lebih di zaman ini.
  2. Di antara bahaya membaca kitab-kitab terdahulu, Taurat dan Injil: bisa jadi di sana ada kebenaran kemudian kita dustakan atau sebaliknya ada kedustaan lalu kita benarkan, yang demikian itu karena kitab terdahulu telah terjadi banyak perubahan oleh tangan-tangan manusia sebagaimana Allah ‘azza wa jalla
  3. Peringatan bagi orang-orang yang bermudah-mudah melakukan studi perbandingan agama dengan menelaah kitab-kitab terdahulu yang sudah banyak penyimpangan, padahal dia tidak memiliki bekal ilmu yang cukup.
  4. Niat yang baik tidak cukup untuk menjadikan suatu amalan menjadi baik. Di samping niat yang baik, harus disertai dengan kesesuaian dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  5. Bersumpah dalam menyampaikan ilmu, memberikan fatwa atau nasihat-nasihat penting.
  6. Amar ma’ruf nahi munkar.
  7. Marah karena Allah ‘azza wa jalla dalam menyampaikan peringatan.
  8. Menggabungkan shalawat dan salam untuk selain Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana dalam hadits ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menggabungkan shalawat dan salam untuk Nabi Musa ‘alaihissalam.
  9. Kaidah saddu adz-dzarai’, menutup celah-celah yang bisa mengantarkan kepada kejelekan.
  10. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengingkari bahwa ahli kitab terkadang menyampaikan sesuatu yang benar sebagaimana dalam sabda beliau,

فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ

“Mereka mengabarkan kepada kalian berupa kebenaran.”

Jadi, tidak ada persangkaan sama sekali bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak kebenaran yang dibawa oleh ahli kitab, hanya karena beliau melarang Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu menukil sebagian yang datang dari mereka. Harus dibedakan antara masalah “menerima kebenaran”, dan masalah “dari siapa ilmu itu diambil atau dinukil.”

Sejelek apa pun ahlul bid’ah, masih mungkin ada kebaikan padanya. Namun, apakah kemudian kita duduk bermajelis dengan mereka untuk mencari kebenaran yang ada pada mereka? Tentu tidak!

Semua kebaikan telah ada pada Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan kita diperintahkan untuk tidak duduk dengan ahlul bid’ah karena mafsadahnya lebih besar dari manfaatnya. Sahabat Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata,

لاَ تُجَالِسْ أَهْلَ الْأَهْوَاءِ فَإِنَّ مُجَالَسَتَهُمْ مُمْرِضَةٌ لِلْقَلْبِ

“Janganlah kalian bermajelis, bergaul dengan ahli bid’ah (para pengikut hawa nafsu) karena bermajelis dengan mereka membuat hati berpenyakit.”[2]

 

وَصَلّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ


[1] Sebagaimana telah kita bahas dalam “Kajian Utama” tentang perubahan yang terjadi dalam Taurat dan Injil.

[2] al-Ibanah al-Kubra, karya Ibnu Baththah (2/438 no. 371)

Akibat Mengimani Sebagian Kitab dan Mengingkari Sebagian Lainnya

Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

susun puzzle

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antaramu melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Makna خِزْيٌ dalam ayat di atas adalah kerendahan dan kenistaan.

 

Tafsir Ayat

Berikut ini pernyataan Ibnu Katsir tentang tafsir ayat di atas.

Allah berfirman (pada ayat ini) mengingkari tindakan orang-orang Yahudi Madinah yang hidup di zaman Rasulullah karena mereka membantu peperangan yang terjadi antara Aus dan Khazraj. Aus dan Khazraj (orang-orang Anshar) di masa jahiliah adalah para penyembah berhala dan sering terjadi peperangan di antara mereka. Beliau juga menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa mereka adalah pelaku kesyirikan,penyembah berhala, tidak mengenal surga dan neraka, tidak mengenal hari kebangkitan, kiamat, tidak mengenal al-Kitab, dan halal-haram. Sementara itu, orang-orang Yahudi Madinah terbagi menjadi tiga suku, yaitu Bani Qainuqa’ dan Bani Nadhir yang bersekutu dengan Khazraj, serta Bani Quraizhah yang bersekutu dengan Aus.

Beliau juga memaparkan riwayat dari Asbath dari as-Suddi bahwa Bani Quraizhah bersekutu dengan Aus, sedangkan Bani Nadhir bersekutu dengan Khazraj.

Apabila perang berkecamuk (antara Aus dan Khazraj), masing-masing pihak (dari kabilah Yahudi) membantu sekutunya memerangi lawan. Akibatnya,ketika kabilah Yahudi membunuh lawan, terkadang yang mereka bunuh adalah Yahudi lain yang berpihak kepada lawan (artinya, mereka membunuh saudara sebangsa). Padahal tindakan itu diharamkan atas mereka berdasarkan tuntunan agama dan kitab mereka: mengusir sebagian Yahudi dari kampung halamannya dan merampas perkakas rumah, perhiasan, serta harta.

Jika peperangan telah berhenti, pihak yang kalah menebus tawanan. Hal ini berdasarkan hukum yang terdapat di dalam Taurat. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain?

Berdasarkan bimbingan dan konteks ayat ini, terdapat celaan terhadap orang Yahudi ketika mereka menjalani apa yang diperintahkan dalam kitab Taurat yang mereka yakini kebenarannya, yaitu penentangan terhadap syariat dalam keadaan mereka mengetahui dan mempersaksikannya.

Asy-Syinqithi rahimahullah mengatakan bahwa berdasarkan lafadz sebelumnya (dalam ayat ini) tampak dengan jelas bahwa sebagian perkara yang diimani oleh mereka (Bani Israil) yang ada dalam al-Kitab adalah penebusan tawanan. Adapun sebagian perkara yang mereka ingkari adalah pengusiran, pembunuhan, dan bantu-membantu dalam hal dosa dan permusuhan. (Hal ini tersebut dalam ayat sebelumnya,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan darimu dari kampung halamannya, kamu bantu-membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan kepadamu; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu.” (al-Baqarah: 84—85, -pen.)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa beberapa perbuatan yang disebutkan dalam ayat ini adalah tindakan yang dilakukan oleh orang-orang yang hidup di zaman (turunnya) wahyu di Madinah (orang-orang Yahudi, -pen.). Sebelum diutusnya Nabi Muhammad, orang-orang dari suku Aus dan Khazraj—mereka adalah kaum Anshar—menyekutukan Allah (musyrik). Ketika berperang, mereka berada di atas kebiasaan jahiliah.

Kemudian turunlah kepada mereka tiga kelompok dari kelompok Yahudi, yaitu Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Bani Qainuqa’. Setiap kelompok Yahudi tersebut mengadakan perjanjian persahabatan (bersekutu) dengan kelompok penduduk Madinah (suku Aus dan suku Khazraj, -pen.). Ketika terjadi perang saudara di antara mereka (Aus dan Khazraj), sebagian Yahudi berpihak kepada sekutunya melawan (musuhnya) yang juga dibantu oleh pihak Yahudi yang lain (Bani Quraizhah membantu suku Aus dan Bani Nadhir membantu suku Khazraj, -pen.). Akhirnya, terjadilah Yahudi membunuh Yahudi. Jika terjadi pengusiran, mereka pun mengusir pihak lain dari kampung halamannya atau menerima tebusan sampai perang berhenti. Antara kedua belah pihak terjadi tawan-menawan. Jika ada orang Yahudi yang tertawan, kedua belah pihak bersepakat menebusnya, meskipun sebelumnya mereka saling berperang.

Tiga hal di atas (tidak boleh membunuh, tidak mengusir, dan tidak menawan sesama Yahudi) seluruhnya diwajibkan atas mereka. Diwajibkan atas mereka untuk tidak menumpahkah darah, tidak mengusir sebagian yang lain, dan apabila mereka mendapati tawanan, hendaknya mereka menebusnya.

Dari ketiga hal tersebut hanya satu yang mereka tunaikan, yaitu yang terakhir (menebus tawanan). Akan tetapi, dua hal lain mereka ingkari, yaitu dua yang pertama (untuk tidak membunuh dan tidak mengusir).

Hal ini diingkari oleh Allah sebagaimana dalam firman-Nya,

Apakah kamu mengimani sebahagian al-Kitab,” yaitu dengan menebus tawanan;

dan ingkar terhadap sebahagian yang lain,” yaitu dengan membunuh dan mengusir.

Dalam ayat ini terdapat dalil terbesar bahwa iman menuntut adanya mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, dan bahwa segala hal yang diperintahkan adalah perkara keimanan.

Firman Allah, “Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kalian melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia.”

Kenistaan hidup telah menimpa mereka. Allah ‘azza wa jalla menghinakan mereka dan menguasakan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam atas mereka ketika di dunia. Sebagian mereka pun terbunuh, sebagian mereka tertawan dan sebagian yang lain terusir. Adapun pada hari kiamat nanti, mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.

 

Alasan Mereka Mengimani dan Mengingkari Sebagian Al-Kitab

As-Sa’di rahimahullah mengatakan, “Pada ayat berikutnya Allah memberitakan tentang sebab pengingkaran mereka terhadap sebagian al-Kitab dan mengimani sebagiannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat.(al-Baqarah: 86)

Mereka (orang Yahudi) mengira bahwa apabila tidak membantu sekutunya (dalam peperangan), hal itu menjadi sebuah cacat dan aib bagi mereka. Dengan demikian, mereka lebih memilih neraka daripada harus menanggung keaiban. Oleh karena itu, Allah berfirman,

Maka tidak akan diringankan siksa mereka.(al-Baqarah: 86)

Siksa itu justru tetap ada dan sangat keras serta sedikit pun mereka tidak pernah mengalami kesenangan (keadaan lega).

Dan mereka tidak akan ditolong.(al-Baqarah: 86)

Maksudnya, tidak akan dijauhkan dari keburukan.

 

Beberapa Faedah Ayat

  1. Disyariatkan untuk memberi peringatan dan nasihat kepada manusia dengan hal-hal yang dapat menjadi sebab hidayah bagi mereka.
  2. Umat Islam juga akan menghadapi bahaya berupa kenistaan dalam kehidupan dunia dengan sebab menerapkan sebagian hukum syariat dan meninggalkan sebagian yang lain.
  3. Kekufuran bagi orang yang memilih sebagian hukum syariat lantas mengamalkan apa yang sesuai dengan hawa nafsunya, kemudian meninggalkan perkara syariat yang tidak cocok dengan hawa nafsunya.
  4. Kekufuran bagi orang yang tidak menjalankan agama Allah karena berpaling dan tidak perhatian kepadanya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Tanya Jawab Ringkas – Seputar Shalat dan Hukum Karma

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

menara_masjid_nabi

Keutamaan Shalat Sendiri bagi Wanita dan Cara Membaca Surat Al-Fatihah pada Shalat

Apakah wanita dalam mengerjakan shalat tarawih lebih utama dengan shalat berjamaah dibandingkan sendiri di rumah? Bagaimana cara membaca surat al-Fatihah pada shalat berjamaah?

08126XXXXXXX

  • Jawaban:

Kaum pria dan wanita tidak wajib tarawih, hukumnya hanya sunnah. Lebih utama bagi wanita shalat di rumahnya daripada di masjid. Membaca al-Fatihah wajib bagi makmum, boleh membacanya sebelum imam, bersamaan dengan imam, maupun setelah imam secara sirr.

 

Tidur sebelum Shalat Malam

Apakah ketika ingin shalat malam diharuskan untuk tidur sebelumnya?

08227XXXXXXX

  • Jawaban:

Tidak, tetapi sebaiknya tidur dahulu agar bangun pada akhir malam dengan tubuh yang segar dan siap bertahajjud dengan khusyuk. Jangan sampai shalat dalam kondisi mengantuk sehingga tidak khusyuk dan pahala yang diraihnya sedikit atau bahkan tidak ada, karena pahala shalat itu sesuai kadar kekhusyukan.

 

Shalat Tahajud setelah Witir dan Wirid yang Dianjurkan

Bolehkah ikut shalat witir berjamaah setelah tarawih dan kemudian bangun lagi tahajud (tanpa witir)? Apa wirid yang dianjurkan setiap selesai 2 rakaat tarawih?

08525XXXXXXX

  • Jawaban:
  1. Cukup bagi Anda tarawih dan witir bersama imam, semoga ditulis bagi Anda shalat malam sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits Abu Dzar, “Barang siapa shalat malam (tarawih) bersama imam hingga selesai, ditulis baginya sebagai shalat malam.”
  2. Tidak ada zikir khusus setiap kali usai dari dua rakaat, tetapi setelah salam dari rakaat terakhir witir yang menutup shalat malam (tahajjud atau tarwih) disunnahkan membaca, “Subhanal Malikil Quddus,” 3X dan yang ketiga dipanjangkan dengan suara keras. Wallahu a’lam.

45

Cara Jamak Qashar Shalat Maghrib dan Isya

Bagaimana cara mengerjakan shalat maghrib dan isya bagi yang sedang safar? Safar dimulai setelah ashar dan sampai tujuan kira-kira subuh.

08213XXXXXXX

  • Jawaban:

Laksanakan shalat maghrib 3 rakaat dan isya’ 2 rakaat (qashar) dengan cara dijamak pada waktu maghrib atau isya, tergantung pada kondisi dan tuntutan maslahat safar Anda.

Hukum Karma

Saya mau tanya tentang fatwa adanya hukum karma dalam Islam. Bagaimana menurut Islam sebenarnya?

08522XXXXXXX

  • Jawaban:

Pada prinsipnya hukum karma adalah konsep ajaran Hindu dan Budha yang bermakna akan terlahir (menjelma) kembali ke dunia dengan penderitaan akibat dosa yang dilakukannya hingga dirinya terbebas dari ikatan karma dan meraih kebebasan. Ini adalah akidah kufur yang batil dan bertentangan dengan ajaran Islam yang suci.

Selanjutnya, kita tidak butuh pembahasan filsafat dalam mengait-ngaitkan hukum karma dengan ajaran Islam yang telah sempurna dengan al-Qur’an dan as-Sunnah. Islam mengajarkan bahwa seorang yang mati dengan berpisahnya ruh dari jasad, beralih ke kehidupan alam barzakh (kubur) hingga dibangkitkan kembali di hari kiamat untuk menjalani kehidupan akhirat yang kekal abadi dalam neraka atau surga—rincian hal ini ada dalam al-Qur’an dan as-Sunnah.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan bahwa musibah yang menimpa manusia di dunia ini adalah akibat dari dosanya sendiri agar dia bertobat dan berbenah diri. Wallahu a’lam.

 

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Tanya Jawab Ringkas – Seputar Pernikahan

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

recycled-playstation2-chair

Mahram

Apakah istri dari kakak angkat adalah mahram?

082XXXXXXXXX

  • Jawaban:

Istri kakak angkat bukan mahram. Begitu pula istri kakak nasab, bukan mahram.

 

Istri yang Tidak Bisa Mencintai Suami

Apakah seorang istri yang tidak bisa mencintai suaminya lagi termasuk istri yang durhaka?

0853XXXXXXXX

  • Jawaban:

Cinta suami adalah masalah kalbu (hati) yang di luar kemampuan manusia untuk mengaturnya. Dengan demikian, istri yang tidak bisa mencintai suaminya tidak tercela dan durhaka. Akan tetapi, jika hal itu menyeretnya berbuat nusyuz, yaitu durhaka kepada suami dengan tidak memberi hak suami yang wajib, itulah yang tercela. Oleh karena itu, istri yang tidak mencintai suaminya dan tidak mampu bersabar bersamanya lantas khawatir hal itu akan menjadikannya berbuat nusyuz, boleh minta khulu’. Namun, jika suaminya menyayanginya dan dia sendiri mampu bersabar, lebih baik tetap bersamanya.

 

Nikah Siri, Wali Hakim

Apakah seorang wanita boleh nikah siri dengan wali hakim meskipun ayahnya masih ada?

08965XXXXXXX

  • Jawaban:

Tidak boleh, kecuali dengan alasan yang syar’i yang menjadikan gugur perwalian sang ayah.

 

Harta Gonogini

Saya menikah dengan istri (janda) yang tidak membawa harta apa-apa. Kami berjuang keras sampai bisa memiliki rumah. Jadi, harta kami harta gono gini. Bagaimana cara pembagiannya?

08574XXXXXXX

  • Jawaban:

Jika demikian, persentase pembagian harta antara Anda dengan istri Anda sesuai kesepakatan kalian berdua saat bekerja.

 

Status Nikah Pasca Cerai

Saya baru menikah beberapa bulan. Saya menjalani poligami sebagai istri ke-2 dan sedang hamil. Sebelumnya, saya berstatus janda yang ditalak 1 selama 3 tahun. Saat masa iddah, saya tidak dinafkahi dan menggantung status saya selama 3 tahun. Pada saya pribadi, mantan mengatakan sudah tak ada minat untuk kembali lagi dalam 3 waktu:

  1. ketika belum cerai, saya minta tolong jangan dicerai,
  2. Ketika masa idah, saya minta dirujuk, dan
  3. setelah setahun cerai, saya minta dinikahi lagi.

Bagaimana status pernikahan saya yang sekarang dengan status cerainya demikian? Bagaimana status anak yang saya kandung?

  • Jawaban:

Kami simpulkan bahwa Anda ditalak 1 oleh mantan suami dan telah berlalu 3 tahun tanpa dirujuk, lantas menikah dengan suami baru sebagai istri kedua dan sedang hamil. Ini sebatas pertanyaan dalam SMS yang sampai kepada kami. Kami katakan bahwa pernikahan Anda yang sekarang sebagai istri kedua sah dan bayi yang Anda kandung sah sebagai anak kalian berdua; karena Anda menikah setelah keluar dari masa iddah. Masa iddah Anda dari talak tersebut telah habis dengan melewati haid 3 kali. Adapun dia tidak merujuk Anda pada masa iddah, itu haknya. Adapun dia tidak menafkahi, itu kezaliman. Wallahu a’lam.

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Tanya Jawab Ringkas – Seputar Puasa dan Hari Raya

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

ilustrasi-puasa 

Hari Berpuasa

“Hari berpuasa adalah hari ketika kalian semua berpuasa (bersama pemerintah), hari Idul Fitri adalah hari ketika kalian semua beridul fitri (bersama pemerintah), dan hari Idul Adha adalah hari ketika kalian semua ber-Idul Adha (bersama pemerintah).” (HR. at-Tirmidzi 697)

Apakah hadits ini sahih? Siapa yang dimaksud pemerintah?

08562XXXXXXX

  • Jawaban:

Ya, hadits tersebut sahih dan merupakan dalil yang menguatkan berpuasa dan berhari raya bersama pemerintah, sebagaimana telah kami terangkan pada buku kami Fikih Puasa Lengkap.

Pemerintah yang berijtihad menetapkan masuk-keluarnya Ramadhan serta hari raya berdasarkan ru’yah hilal atau menggenapkan bulan menjadi 30 tatkala hilal tidak terlihat. Alhamdulillah, pemerintah kita termasuk dalam jenis ini.

 

Sirine Tanda Berbuka Puasa

Di sebagian tempat, tanda ifthar biasanya dengan sirine atau dentuman meriam, apakah tanda ini dihukumi seperti azan maghrib sehingga kita boleh berbuka?

08180XXXXXXX

  • Jawaban:

Jika tanda itu bertepatan dengan terbenamnya matahari yang diketahui secara yakin atau dengan dugaan kuat berdasarkan jadwal jam buka puasa hasil ijtihad ahli hisab, boleh berbuka saat itu.

 

Berbuka dengan Yang Manis

Apakah ada dalil tentang saat berbuka puasa harus dengan makanan yang manis terlebih dahulu?

08527XXXXXXX

  • Jawaban:

Tidak ada dalil yang mengharuskan (mewajibkan) hal itu, tetapi ada dalil yang menganjurkan berbuka dengan kurma segar; jika tidak ada, dengan kurma kering; jika tidak ada, dengan air. Hukumnya hanya sunnah sebagaimana kata jumhur ulama.

 

Puasa Ikut Pemerintah, Id Ikut Muhamadiyah

Bolehkah puasa ikut pemerintah, tetapi shalat id ikut Muhamadiyah di lapangan (mendahului pemerintah)? Karena jika ikut pemerintah shalat Idnya dilaksanakan di masjid yang merupakan perbuatan bid’ah.

08585XXXXXXX

  • Jawaban:

Yang benar adalah puasa dan ‘Id bersama pemerintah walaupun pemerintah shalat ‘Id di masjid. Shalat ‘Id di masjid tidak mutlak bid’ah. Menurut guru kami yang mulia, al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, “Shalat ‘Id di masjid padahal ada mushalla (tanah lapang) menyelisihi sunnah. Adapun berkeyakinan shalat ‘Id di masjid lebih utama, itu adalah bid’ah.” Namun, shalat ‘Id bersama Muhammadiyah berarti bergabung shalat dengan hizbiyun yang membangun amalannya berdasarkan bid’ah hisab dan mengajak kaum muslimin untuk keluar dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam—yakni bahwa penetapan puasa dan ‘Id adalah wewenang pemerintah, bukan pribadi dan golongan.

Sunnah Puasa Syawal

Apakah disunnahkan puasa pada hari kedua setelah idul fitri?

08528XXXXXXX

  • Jawaban:

Yang disunnahkan adalah puasa 6 hari pada bulan Syawal mulai tanggal 2 Syawal hingga akhir Syawal, terserah dimulai puasa pada hari ke berapa.

 

Wanita Hamil Berpuasa

Apa boleh wanita hamil (dua bulan kehamilan) berpuasa?

08532XXXXXXX

  • Jawaban:

Wanita hamil wajib berpuasa, kecuali jika kondisinya lemah sehingga puasa berat baginya dan ia mengkhawatirkan dirinya atau risiko pada janin; boleh berbuka dan wajib mengqadha di luar bulan Ramadhan.

 

Mencium Parfum Saat Berpuasa

Apa hukumnya mencium parfum saat berpuasa?

08234XXXXXXX

  • Jawaban:

Boleh mencium dan mengenakan parfum saat puasa, karena tidak ada zat berwujud yang dihirup melalui hidung, tetapi hanya sebatas bau harum. Untuk lebih lengkapnya, silakan membaca buku kami “Fikih Puasa Lengkap”.

 

Jualan Kue Saat Ramadhan

Bagaimana jika kita berjualan kue basah pada pagi hari bulan Ramadhan dengan keliling rumah warga, apakah termasuk perbuatan ta’awun dalam perbuatan dosa?

08775XXXXXXX

  • Jawaban:

Insya Allah tidak mengapa, kecuali jika Anda mengetahui atau menduga kuat (tanpa bertanya kepada yang bersangkutan) bahwa keluarga atau orang itu tidak berpuasa tanpa uzur, maka tidak boleh menjual kepadanya.

 

Kafarat Jima’

Apa kafarat jima’ saat berpuasa pada bulan Ramadhan?

08572XXXXXXX

  • Jawaban:

Kafaratnya adalah berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, memberi makan 60 fakir miskin dengan makanan pokok (beras) mentah atau yang sudah dimasak seukuran yang mengenyangkan sekali makan.

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Golongan yang Menyimpang dalam Iman Kepada Kitab

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

jalan

Iblis tidak pernah menghentikan makarnya, menyesatkan manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Segala upaya dia lakukan agar manusia berpaling dari agama Allah ‘azza wa jalla, berpaling dari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Terjatuhlah manusia dalam kesesatan. Sungguh, tidak sedikit manusia mendustakan firman Allah ‘azza wa jalla secara keseluruhan atau parsial, bukan hanya dari kalangan non-Islam, kelompok-kelompok yang menisbatkan dirinya kepada Islam pun banyak di antara mereka terjerumus pada penyimpangan-penyimpangan dalam masalah iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

 

Ahlul Kitab, Yahudi, dan Nasrani

Mereka adalah kaum yang mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla yang ada di tengah mereka. Taurat dan Injil mereka ubah, mereka tambahi, mereka kurangi dan mereka sembunyikan al-haq atau mereka campur antara yang haq dan yang batil.

Demikian perlakuan ahlul kitab terhadap Taurat dan Injil sebagaimana telah kita baca ayat-ayat al-Qur’an yang mengabarkan sifat mereka yang sangat tercela, menodai kehormatan Taurat dan Injil dengan mengubah keduanya.

Adapun terhadap al-Qur’an, mereka mendustakannya walaupun sesungguhnya mereka dalam keadaan yakin akan kebenaran a-Qur’an.

Dahulu, sebelum diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ahlu kitab selalu menyebut-nyebut kedatangan rasul yang terakhir, bahkan mereka mengatakan itu di hadapan Aus dan Khazraj. Namun, setelah datang kepada mereka al-Qur’an, mereka kafir sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalam firman-Nya,

“Dan setelah datang kepada mereka al-Qur’an dari Allah ‘azza wa jalla yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yangingkar itu.” (al-Baqarah: 89)

 

Tarekat Tijaniyyah

Tijaniyyah adalah salah satu tarekat sufi yang dinisbatkan kepada pendirinya; Ahmad al-Tijani yang dilahirkan tahun 1150 H (1737 M) di salah satu perkampungan di Aljazair. Tarekat Tijaniyyah sebagai salah satu dari ratusan tarekat sufi sesungguhnya memiliki penyimpangan baik dalam masalah, akidah, ibadah, maupun muamalah. Di antaranya penyimpangan dalam keyakinan mereka terhadap al-Qur’an.

Tijaniyah meyakini bahwa di antara zikir-zikir atau wirid-wirid mereka lebih utama dari al-Qur’an. Tijaniyah memiliki shalawat khusus untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka sebut sebagai shalawat Fatih.

Shalawat Fatih cukup populer pula diamalkan di sebagian kalangan di tanah air. Lafadz shalawat ini adalah sbb:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْفَاتِحِ لِمَا اُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلى صِرَاطِك الْمُسْتَقِيْم وَعَلى الِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.

Ya Allah, limpahkanlah rahmat, keselamatan, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang membuka segala sesuatu yang tertutup, yang menutup sesuatu yang terdahulu, yang menolong kebenaran dengan kebenaran, yang memberikan petunjuk pada jalan-Mu yang lurus. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan rahmat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, dan para sahabatnya dengan kekuasaan dan ukuran Allah Yang Mahaagung

Sang pendiri, Ahmad at-Tijani berkata, “Barang siapa membaca shalawat Fatih sekali lebih afdal daripada mengkhatamkan al-Qur’an 6.000 kali.”

Dengan nama Allah, adakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan shalawat ini? Dari mana kalian mengetahui shalawat bid’ah ini memiliki keutamaan seperti seorang khatam al-Qur’an 6.000 kali? Ucapan at-Tijani tidak lain adalah kedustaan, mensyariatkan apa yang tidak rasul syariatkan.

Coba bandingkan dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau pernah mengabarkan bahwa surat al-Ikhlas setara dengan sepertiga al-Qur’an. Beliau bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Dzat Yang Jiwaku di Tangan-Nya, sungguh surat al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.” (HR. al-Bukhari dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu no. 5014)

Surat al-Ikhlas adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, dan dalam hadits di atas beliau bersumpah bahwa al-Ikhlas sebanding dengan sepertiga al-Qur’an.

Bandingkan sabda Rasulullah dengan ucapan mereka bahwa shalawat Fatih senilai dengan 6.000 khatam al-Qur’an. Luar biasa! Betapa “hebat” sang pendiri tarekat! Dengan mudah membuat kalimat-kalimat yang lebih besar pahalanya dibanding surat al-Ikhlas yang merupakan kalam Allah ‘azza wa jalla, yang nabi saja tidak mengucapkannya dan tidak diamalkan para sahabat nabi.

Betapa beraninya Ahmad at-Tijani berbicara perkara gaib, berbicara tentang pahala di sisi Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan sandaran.

Demikianlah ketika seorang sudah berkeyakinan adanya bid’ah hasanah, setiap orang bebas membuat dan berkreasi dalam syariat ini semaunya yang penting baik menurut akalnya, otaknya, kelompoknya, akibatnya: Islam akan berubah! Allahul musta’an.

 

Kaum Sufi Ekstrem

Orang-orang sufi ekstrem adalah model kesekian dari manusia-manusia yang mengingkari kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Sisi penyimpangan mereka, mereka mengaku memiliki ilmu yang dikatakan dengan “ilmu Laduni”.

Ilmu Laduni di kalangan sufi adalah sumber syariat. Ilmu Laduni menurut mereka adalah wahyu yang mereka dapatkan langsung dari Allah ‘azza wa jalla. Dengan dalih ilmu laduni itulah kaum sufi dengan seenaknya membuat syariat, dan mereka sandarkan kepada Allah ‘azza wa jalla, yakni mereka menerima langsung dari Allah ‘azza wa jalla.

Sungguh para sahabat, bersepakat bahwa wahyu Allah ‘azza wa jalla telah terputus dengan wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, wahyu terputus dan Islam telah sempurna.

Kaum sufi ekstrem tidak menjadikan al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai satu-satunya sumber pengambilan ilmu, sumber akidah. Mereka juga menjadikan ilmu Laduni sebagai sumber syariat, demikian pula mimpi-mimpi. Bahkan, menurut mereka seorang bisa bebas dari ikatan syariat, tidak lagi terikat dengan al-Kitab dan as-Sunnah.

 

Syiah Rafidhah

Penyimpangan Syiah Rafidhah dari jalan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam demikian banyak, sehingga siapa saja yang mau melihat penyimpangan Syiah Rafidhah dengan timbangan al-Qur’an dan as-Sunnah akan tampak dengan terang bahwa mereka bukanlah bagian dari kaum muslimin.

Ya, Syiah Rafidhah pada hakikatnya adalah agama tersendiri yang dibangun di atas kekufuran kepada Allah ‘azza wa jalla. Mereka telah menghancurkan segala sendi-sendi Islam termasuk dalam masalah iman kepada kitab, mereka telah menyimpang dari jalan kaum muslimin.

Di antara penyimpangan tersebut: Mereka meyakini bahwa al-Qur’an yang berada di tengah kaum muslimin, yang dibaca dan dihafalkan selama ini, bukan al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan, tidak sesuai dengan aslinya dan telah diubah oleh para sahabat.

Al-Qur’an yang sesungguhnya akan dikeluarkan nanti di akhir zaman, dan saat ini dibawa Imam Mahdi mereka yang bersembunyi di dalam Sirdab Samura’.

Dengan lancangnya mereka meyakini bahwa para sahabat telah mengubah al-Qur’an. Al-Qur’an yang ada sekarang ini bukan lagi wahyu Allah ‘azza wa jalla yang diturunkan, namun ayat-ayat yang telah didustakan, ditambah dan dikurangi. Di sisi mereka al-Qur’an tidak bisa dijadikan sebagai hujah dan pegangan, al-Qur’an bukan lagi kitab hidayah, mereka pun dengan seenaknya mempermainkan al-Qur’an.

Menurut mereka, al-Qur’an yang benar adalah al-Qur’an Fathimah yang disimpan oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu, padahal sahabat Ali sendiri tidak pernah mengatakan beliau menyimpannya. Keyakinan ini bukan sekadar tuduhan kepada Syiah Rafidhah. Namun keyakinan ini tertulis jelas dalam kitab-kitab induk syiah Rafidhah.

Dalam kitab al-Kafi, Abu Ja’far Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini meriwayatkan bahwasanya Abu Abdullah Ja’far ash-Shadiq berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an yang dibawa Jibril kepada Muhammad (ada) 17.000 ayat.” (al-Kafi [2/634])

Dari Abu Abdillah ia berkata, “… Sesungguhnya di sisi kami ada mushaf Fathimah ‘alaihassalam. Mereka tidak tahu apa mushaf Fathimah itu. Abu Bashir berkata, ‘Apa mushaf Fathimah itu?’ Ia (Abu Abdillah) berkata, ‘Mushaf tiga kali lipat dari apa yang terdapat di dalam mushaf kalian. Demi Allah, tidak ada padanya satu huruf pun dari al-Qur’an kalian…’.” ( al-Kafi [1/239—240] dinukil dari kitab asy-Syi’ah wal-Qur’an, hlm. 31—32, karya Ihsan Ilahi Zhahir)

Bahkan orang yang mereka anggap sebagai ahli hadits, Husain bin Muhammad at-Taqi an-Nuri ath-Thabrisi menyempurnakan kekafiran kaum syiah Rafidhah dengan menulis sebuah kitab berjudul Fashlul Khithab fii Itsbati Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab. Kitab yang dikarangnya pada tahun 1292 H mengumpulkan sekian banyak riwayat dari para imam mereka yang maksum (menurut mereka), yang menetapkan bahwa al-Qur’an yang ada ini telah mengalami perubahan dan penyimpangan.

Betapa kafir dan dungunya mereka, sungguh seorang yang masih memiliki sedikit akal, akan menyimpulkan bahwa apa yang mereka ucapkan ini sesungguhnya justru celaan dan tikaman kepada Ali bin Abi Thalib, ahlul bait, dan bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Celaan kepada Ali karena secara langsung atau tidak langsung mereka telah menuduh Ali telah berkhianat kepada umat dengan menyembunyikan al-Qur’an yang benar.

Wahai Syiah Rafidhah, bukankah Ali bin Abi Thalib ketika itu menjadi khalifah? Kenapa Ali takut kepada manusia untuk menampakkan al-haq? Demikian pula al-Hasan, al-Husain tidak menampakkan al-Qur’an yang benar menurut versi kalian?

Kalian juga telah mencela Allah ‘azza wa jalla karena makna ucapan kalian bahwa al- Qur’an yang ada sekarang bukan wahyu yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan kalian berkata bahwa Allah berdusta, tidak memenuhi janjinya untuk menjaga al- Qur’an, lemah tidak bisa menghadapi manusia yang mengubah-ubah al-Qur’an, dan membiarkan manusia selama 1.435 tahun dalam kesesatan tidak mengerti kitab mereka. Wahai Syiah Rafidhah, tidakkah kalian berakal?

Wahai Rafidhah, di mana al-Qur’an Fathimah yang kalian sangkakan itu? Empat belas abad berlalu disembunyikan oleh ahlul bait? Bukankah mereka maksum (terbebas dari dosa) menurut kalian? Apakah menyembunyikan al-Qur’an bukan kesalahan mereka yang sangat besar? Menyembunyikan al-Qur’an artinya membiarkan manusia dalam kesesatan, tidak punya pegangan hidup.

Mana Imam Mahdi kalian yang bersembunyi di Sirdab, apakah ia tidak berani keluar untuk segera menyampaikan al-Qur’an Fathimah itu setelah berabadabad manusia dalam ketidaktahuan terhadap kitab Rabb mereka? Bukankah sekarang kalian sudah punya Negara Iran dengan nuklirnya yang bisa melindungi al-Mahdi kalian? Sungguh, ini celaan kalian kepada sahabat Ali bin Abi Thalib, al-Hasan, al-Husain, serta ahlul bait! Bahkan celaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Mereka, orang-orang Syiah juga tersesat dalam metode penafsiran al-Qur’an Mereka tafsirkan seenak mereka dengan penafsiran Bathiniyyah.

Demikian beberapa kelompok yang tersesat dalam masalah iman kepada kitab. Semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang benar sebagai perkara yang benar dan Allah ‘azza wa jalla beri kita kemampuan untuk mengikutinya, dan semoga Allah ‘azza wa jalla tampakkan kepada kita yang batil sebagai perkara yang batil dan Allah ‘azza wa jalla mudahkan kita meninggalkannya. Amin.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Antara al-Qur’an, Taurat, dan Injil

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

gradient

Al-Qur’an di tengah kitab-kitab yang telah Allah ‘azza wa jalla turunkan sebelumnya memiliki banyak keistimewaan.

Al-Qur’an adalah hakim yang akan menilai kemurnian kitab-kitab sebelumnya, dan memilah antara yang haq dan batil yang telah disisipkan dalam kitab-kitab tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan Kami telah turunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah ‘azza wa jalla turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu merekadengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu….” (al-Maidah: 48)

Keistimewaan berikutnya, al-Qur’an adalah kitab yang sempurna, menerangkan segala sesuatu: akidah, ibadah, muamalah, akhlak, aturan yang terkait dengan individu, keluarga, masyarakat, atau tatanan kenegaraan.

Sebagaimana al-Qur’an juga bersifat universal, berlaku untuk jin dan manusia, dari segala ras dan suku bangsa. Al-Qur’an juga Allah ‘azza wa jalla tetapkan sebagai kitab yang kekal dan menjadi pedoman hingga akhir zaman. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla menjamin penjagaannya dari segala macam perubahan hingga akhir zaman, baik perubahan lafadz maupun makna. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan adz-Dzikra (al-Qur’an) dan Kami pula yang akan menjaganya.” (al-Hijr: 9)

Siapa pun yang adil dari kalangan non-Islam akan mengakui keotentikan al-Qur’an, suatu kenyataan yang mengagumkan dan tidak terbayangkan dalam benak-benak manusia.

Sejak zaman diturunkannya al-Qur’an, Allah ‘azza wa jalla telah menyiapkan berbagai bentuk penjagaan hingga saat ini hingga hari kiamat kelak, di saat Allah ‘azza wa jalla mengizinkan ayat-ayat al-Qur’an terangkat dan tidak lagi tertulis dalam mushaf, tidak pula tersisa dalam dada, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَدْرُسُ الْإِسْلَامُ كَمَا يَدْرُسُ وَشْيُ الثَّوْبِ حَتَّى لَا يُدْرَى مَا صِيَامٌ وَلَا صَلَاةٌ وَلَا نُسُكٌ وَلَا صَدَقَةٌ، وَلَيُسْرَى عَلَى كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي لَيْلَةٍ فَلَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ مِنْهُ آيَةٌ، وَتَبْقَى طَوَائِفُ مِنَ النَّاسِ الشَّيْخُ الْكَبِيرُ وَالْعَجُوزُ يَقُولُونَ: أَدْرَكْنَا آبَاءَنَا عَلَى هَذِهِ الْكَلِمَةِ؛ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، فَنَحْنُ نَقُولُهَا

“Islam akan hilang sebagaimana hilangnya hiasan (bordir) pada baju, ketika itu tidak dikenal lagi puasa, shalat, haji, dan zakat. Sungguh akan diangkat al-Qur’an di satu malam hingga tidak tersisa satu ayat pun di muka bumi. Di muka bumi masih ada sekelompok manusia tua renta, mereka berkata, ‘Kita pernah dapati nenek moyang kita berada di atas kalimat: Laa ilaa ha illa llah, kita pun mengatakannya’.”

Hadits ini dikeluarkan Ibnu Majah dalam as-Sunan (2/1344—1345 no. 4049) Kitab al-Fitan (Fitnah-Fitnah) bab “Diangkatnya al-Qur’an dan ilmu.” Dikeluarkan pula oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak (4/473, 545) dari Hudzaifah bin al-Yaman. Al-Hakim berkata, “Hadits ini sahih menurut syarat Muslim.” Al-Bushiri berkata dalam kitabnya Mishbah az-Zujajah (2/307), “Sanad hadits ini sahih dan rawi-rawinya tsiqat.”[1]

Pada masa turunnya al-Qur’an, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat mengajarkan al-Qur’an kepada manusia. Jangankan kepada para sahabat, kepada orang-orang kafir dan munafik pun Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersemangat menyampaikan risalah Allah ‘azza wa jalla kepada mereka, agar mereka mendapatkan hidayah. Inilah awal fondasi penjagaan al-Qur’an, semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan al-Qur’an dengan pengorbanan harta, jiwa, dan raga.

Di setiap tahunnya, di bulan Ramadhan, Jibril ‘alaihissalam selalu mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengkhatamkan al-Qur’an yang telah diturunkan kepada beliau.

Di sisi lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendorong umatnya untuk mencurahkan segenap perhatian kepada al-Qur’an seraya mengingatkan janji Allah ‘azza wa jalla akan pahala besar di sisi-Nya bagi mereka yang mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an. Generasi terbaik umat ini pun segera menyambut seruan Rasul, siang dan malam mereka mempelajari al-Qur’an, menghafalkan, mentadabburi maknanya, sekaligus mengamalkannya.

Penjagaan al-Qur’an juga telah tampak di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bentuk upaya penulisan wahyu yang diturunkan walaupun dengan media yang sangat sederhana, tulang, kulit, batu tulis, pelepah pohon. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk beberapa sahabat melaksanakan tugas penulisan wahyu ini, seperti Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu Darda, Muadz bin Jabal, dan lainnya g.[2]

Penulisan al-Qur’an dilakukan dengan sangat ketat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan upaya agar tidak tercampur antara kalam Allah ‘azza wa jalla dan ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

لَا تَكْتُبُوا عَنِّي شَيْئًا إِلَّا الْقُرْآنَ، فَمَنْ كَتَبَ عَنِّي شَيْئًا غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ

“Janganlah kalian menulis apapun dariku. Barang siapa telah menulis dariku selain al-Qur’an, hendaknya dia menghapusnya.” (HR . ad-Darimi)

Di masa kekhilafahan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu dengan ijma’ (kesepakatan) sahabat dilakukanlah penyalinan ayat-ayat al-Qur’an yang telah tertulis di berbagai media pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, disalin dalam bentuk lembaran-lembaran, dalam keadaan al-Qur’an telah dihafal oleh para sahabat dalam dada-dada mereka. Dengan upaya ini, tidak ada satu pun yang tertinggaldari ayat kecuali telah tersalin dalamlembaran-lembaran tersebut.

Di masa Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu, lembaran-lembaran yang telah dikumpulkan di masa Abu Bakr dibukukan sebagai mushaf dan dikenal dengan Mushaf Utsmani sebagai kitab induk, kemudian disebarkan ke seluruh penjuru negeri Islam.

Meskipun telah dibukukan, para sahabat dan para tabi’in terus sibuk mengajarkan al-Qur’an dengan cara Talaqqi dan ‘Ardh (mengambil al-Qur’an langsung dari lisan-lisan guru) sehingga al-Qur’an benar-benar dibaca sesuai dengan apa yang dibaca Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allahu Akbar! Lembaran-lembaran ini tidak cukup menceritakan sebab-sebab yang telah Allah ‘azza wa jalla mudahkan sebagai bukti janji-Nya untuk menjaga al-Qur’an. Sungguh, manusia dari masa ke masa hingga saat ini menyaksikan bagaimana al-Qur’an dihafal jutaan umat Islam, al-Qur’an masih diambil dengan cara Talaqqi dan Ardh hingga sanad masih bersambung hingga saat ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada satu pun kesalahan kecuali pasti diluruskan, dan tidak ada satu pun upaya mengubah al-Qur’an kecuali pasti terbongkar makarnya.

Inilah yang menjadikan teolog Kristiani dan Yahudi merasa geram dan hasad menyaksikan penjagaan al-Qur’an yang luar biasa, yang itu tidak mereka dapatkan dalam at-Taurat dan Injil.

Wahai Ahlul Kitab, tidakkah kalian berpikir dan bersegera beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Qur’an?

 

Taurat dan Injil Telah Diubah

Berbeda dengan al-Qur’an, Taurat dan Injil serta kitab-kitab sebelum al-Qur’an, Allah ‘azza wa jalla tidak menjamin keotentikannya. Tidak ada jaminan dari Allah ‘azza wa jalla bahwa Dia akan menjaganya. Allah ‘azza wa jalla bebankan penjagaan itu kepada manusia, sebagaimana firman-Nya ‘azza wa jalla,

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” (al-Maidah: 44)

Sudah barang tentu manusia tidak mampu menjaga kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, bahkan Allah ‘azza wa jalla telah kabarkan dalam al-Qur’an bahwa kitab-kitab tersebut telah banyak diubah oleh tangan-tangan manusia.

Mungkin di antara hikmah, ketika Allah ‘azza wa jalla tidak menghendaki Taurat dan Injil sebagai kitab yang terakhir, Allah ‘azza wa jalla tidak menjamin keotentikan keduanya. Berbeda dengan al-Qur’an, karena Allah ‘azza wa jalla tetapkan sebagai kitab pegangan sepanjang zaman, tentu Allah ‘azza wa jalla menjamin kemurniannya hingga akhir zaman.

Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin bahwasanya kitab-kitab sebelum al-Qur’an telah mengalami perubahan-perubahan baik dalam bentuk pengurangan, penambahan, penyimpangan makna, maupun bentuk perubahan lainnya.

Taurat dan Injil saat ini adalah kitab yang sudah tidak sesuai dengan aslinya, bukan lagi murni Taurat yang diturunkan kepada Musa ‘alaihissalam atau Injil yang diturunkan kepada Isa ‘alaihissalam. Telah bercampur di dalamnya antara kebenaran dan kebatilan yang dikerjakan tangan-tangan manusia.

 

Nash-Nash Al-Qur’an yang Menunjukkan Perubahan Taurat dan Injil

Sejenak kita telaah beberapa dalil al-Qur’an yang menunjukkan adanya perubahan dan penyimpangan yang dilakukan oleh ahlul kitab dalam dua kitab suci: Taurat dan Injil. Di antara firman Allah ‘azza wa jalla yang menunjukkan adanya perubahan tersebut adalah:

“Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.” (an-Nisa: 46)

Celakalah bagi orang-orang yang menuliskan al-Kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian mengatakan ini semua dari sisiAllah.” (al-Baqarah: 79)

Dan mereka tidak menghormati Allah ‘azza wa jalla dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, “Allah ‘azza wa jalla tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah, “Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?” Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkannya)”, kemudian (sesudah kamu menyampaikan al-Qur’an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya. (al-An’am: 91)

“Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampuradukkan yang haq dengan yang batil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahui?” (Ali Imran: 71)

“(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Maidah: 13)

Ayat-ayat di atas adalah sebagian dari al-Qur’an yang membongkar makar Ahlul Kitab terhadap kitab Taurat dan Injil. Mereka mencampur aduk antara yang haq dan batil, menyembunyikan al-haq, mengubah-ubah ayat, bahkan mereka membuat-buat ayat dan berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla lalu mereka katakan ini adalah dari Allah ‘azza wa jalla.

Bahkan dengan berani mereka berusaha menyembunyikan al-haq di hadapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara yang mereka sembunyikan adalah apa yang mereka yakini tentang kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berita tentang kerasulan beliau tertera dalam kitab terdahulu seperti at-Taurat dan Injil hingga mereka mengenal nabi yang terakhir sebagaimana mereka mengenal anak-anak mereka sebagaimana Allah ‘azza wa jalla firmankan,

“Orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang telah Kami beri al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan sesungguhnya sebagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahui.” (al- Baqarah: 146)

Nabi Isa ‘alaihissalam telah mengabarkan diutusnya nabi yang terakhir, dijelaskan nama dan sifat-sifatnya seperti Allah lsebutkan dalam al-Qur’an,

Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata, “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah ‘azza wa jalla kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (Shaff: 6)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa di antara kandungan Taurat dan Injil adalah kabar gembira akan kemunculan nabi terakhir dan penyebutan sifat-sifatnya. Namun, karena kebencian dan hasad, mereka sembunyikan berita tersebut. Mereka ubah kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla dengan tangan mereka.

Cukuplah ayat ayat al-Qur’an dan hadits di atas menunjukkan banyaknya perubahan yang terjadi pada Taurat dan Injil.[3]

 

Bukti-Bukti Lain Perubahan dalam Taurat dan Injil

Selain dalil dari al-Qur’an ada beberapa bukti lain yang sangat kuat dan tidak bisa dimungkiri akan adanya perubahan-perubahan yang terjadi dalam Taurat dan Injil. Di antara bukti tersebut adalah:

 

Pertama: Naskah-naskah Taurat dan Injil yang berada di tangan ahli kitab sekarang ini dipastikan bukan naskah asli, karena tidak tertulis dengan bahasa yang digunakan Nabi Isa atau Musa ‘alaihima assalam.

Yang ada saat ini adalah bahasa terjemah. Dan sudah menjadi suatu kemestian bahwa bahasa terjemah akan mengubah keaslian bahasa kitab tersebut, dan pasti akan terjadi sekian banyak versi penerjemahan bersama berjalannya waktu dan berkembangnya bahasa.

Hal ini tidak terjadi dengan al-Qur’an. Kitab suci al-Qur’an terjaga dengan tetap tertulisnya dalam bahasa asli diturunkan dengan huruf-hurufnya yaitu bahasa Arab.

 

Kedua: Injil atau Taurat yang ada saat ini terdapat dalam keduanya banyak ucapan manusia, sehingga tidak lagi dapat dipastikan mana yang bersumber dari Allah ‘azza wa jalla.

Ahlul kitab adalah kaum yang gemar menulis dari tangan lalu mereka katakan, “Ini adalah dari sisi Allah ‘azza wa jalla.” Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalam firman-Nya,

Celakalah bagi orang-orang yang menuliskan al-Kitab dengan tangan-tangan mereka kemudian mengatakan ini semua dari sisi Allah.” (al-Baqarah: 79)

 

Ketiga: Tidak ada sanad yang menyambungkan kitab Taurat atau Injil kepada Nabi Musa atau Isa ‘alaihima assalam. Penulisan Taurat dan Injil yang beredar saat ini terputus jauh masanya dengan masa Musa dan Isa ‘alaihima assalam.

At-Taurat ditulis ulang beberapa abad setelah wafatnya Nabi Musa ‘alaihissalam hingga dipastikan tidak bersambung kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Demikian pula Injil, injil-injil yang ada tidak disandarkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam. Injil yang ada sekarang bukan hasil pendiktean Nabi Isa ‘alaihissalam kepada mereka, namun tulisan yang disandarkan kepada setiap penulis atau pengarangnya, seperti Matius, Markus, Lukas, Yohanes, dan telah bercampur dengan ucapan-ucapan ahli tafsir dan ahli tarikh mereka.

Asal mulanya jumlah Injil sangat banyak, puluhan naskah Injil. Kaum Nasrani pun tidak mengambil semua Injil yang ada. Yang dipilih dan dicetak dalam Bibel hanya empat: Markus, Matius, Lukas, Yohanes.

 

Keempat: Banyak perbedaan dan kontradiksi yang terjadi dalam naskah Injil dan Taurat.

Kontradiksi antara satu ayat dan ayat lain baik dalam Taurat atau Injil adalah bukti jelas bahwa di dalamnya memang terdapat banyak perubahan. Dalam Injil misalnya, tentang Yesus, apakah datang membawa kedamaian atau kerusakan? Injil Matius (5:9) dan Yohanes (3:17) menyebutkan bahwa Yesus menyelamatkan dunia, sementara dalam Matius (10:34—36) Yesus dikatakan membawa onar, pedang, dan kekacauan keluarga.

Tentang disalibnya Yesus, terjadi kontradiksi dalam Injil mengenai saat disalibnya Yesus. Dalam Injil Markus (15:25) dikatakan Yesus disalib jam sembilan. Sementara itu, dalam Injil Yohanes (19:14) jam 12 Yesus belum lagi disalib.[4]

Tentang hukum bersunat (khitan) pun terjadi kontradiksi yang luar biasa. Sunat itu wajib sebagaimana dapat dilihat pada Kejadian (17:10—14), (17:14), Yesus tidak membatalkan sunat (Matius 5:17—20, Lukas 2:21), Yesus juga disunat (Lukas 2:21). Bahkan, disebutkan bahwa orang-orang yang tidak disunat tidak dapat diselamatkan (Kisah Para Rasul 15:1—2).

Semua berita tersebut menunjukkan diwajibkannya sunat bagi mereka ahli Kitab, sebagaimana dalam syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan, ini adalah syariat nenek moyang para nabi, yakni Ibrahim. Sunat adalah perkara yang wajib dan menjadi salah satu sunnah fitrah. Selain itu, sunat penuh dengan maslahat dunia dan akhirat. Namun, sungguh mengherankan dalam Galatia (5:6), Korintus (7:18— 19), Paulus mengatakan sunat tidak wajib, tidak berguna dan tidak penting.

Di antara empat “Injil” saja ditemukan banyak kontradiksi. Apalagi jika dikumpulkan Injil-Injil yang lain. Di kota Paris, ibu kota Prancis terdapat sebuah perpustakaan milik salah seorang pangeran. Tersimpan di perpustakaan tersebut sebuah naskah Injil yang ditulis oleh Barnaba. Kitab ini telah dicetak ulang oleh perpustakaan al-Manar setelah diterjemahkan dalam bahasa Arab. Isi Injil Barnaba sangat berbeda dengan apa yang tertulis dalam empat naskah injil yang terpilih.

Dalam Taurat pun demikian. Sangat banyak kontradiksi dan pertentangan yang signifikan. Seandainya Injil dan Taurat yang ada sekarang masih otentik seperti aslinya sebagaimana al-Qur’an, pasti tidak akan terjadi kontradiksi sebagaimana sifat ini ada pada al-Qur’an. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka apakah mereka tidak memerhatikan al-Qur’an? Seandainya al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapati pertentangan yang banyak di dalamnya.” (an-Nisa: 82)

 

Kelima: Naskah Taurat dan Injil yang ada saat ini memuat berbagai akidah yang rusak dan menyelisihi fitrah tentang Allah ‘azza wa jalla, tentunya hal ini menjadi bukti ketidakmurnian Taurat dan Injil yang ada.

Taurat dan Injil yang saat ini beredar dan menjadi pegangan menggambarkan sifat-sifat buruk dan lemah bagi Allah ‘azza wa jalla dan sifat-sifat yang Allah ‘azza wa jalla disucikan darinya.

Disebutkan bahwa Allah ‘azza wa jalla berkelahi dengan Nabi Ya’qub ‘alaihissalam semalam suntuk, Allah ‘azza wa jalla pun dikalahkan oleh Nabi Ya’kub ‘alaihissalam.

Disebutkan pula bahwa Allah ‘azza wa jalla menyesal dan pilu karena telah menciptakan manusia akhirnya cenderung berbuat jahat, Allah ‘azza wa jalla pun menangis hingga sakit matanya hingga para malaikat menjenguknya. (Kejadian 6: 5—8)

Ahlul kitab, Yahudi dan Nasrani memang kaum yang gemar menyifati Allah ‘azza wa jalla dengan sifat-sifat yang negatif sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan dalamal-Qur’an, Allah ‘azza wa jalla dikatakan fakir, bakhil, punya anak dan istri. Na’udzubillahi mindzalik.

Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla miskin dan kami kaya.” Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka), “Rasakanlah olehmu azab yang membakar.” (Ali Imran: 181)

Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah ‘azza wa jalla terbelenggu”, sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah ‘azza wa jalla terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. (al-Maidah: 64)

 

Keenam: Di antara bukti adanya perubahan dalam Taurat dan Injil adalah banyaknya pelecehan atau tuduhan-tuduhan buruk kepada para nabi dan rasul. Padahal mereka adalah teladan manusia dan Allah ‘azza wa jalla tetapkan kemaksuman atas mereka.

Berikut beberapa ayat Injil atau Taurat yang berisi pelecehan kepada nabi dan rasul:

  1. Dikatakan bahwa Nabi Isa (Yesus) adalah orang bodoh, idiot, dan emosional. Pada waktu bukan musim buah ara, Yesus mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Markus 11:12—14).
  2. Disebutkan pula bahwa Nabi Nuh mabuk-mabukan sampai teler dan telanjang bugil (Kejadian 9: 18—27).
  3. Tertera juga bahwa Nabi Luth menghamili kedua putri kandungnya sendiri dalam dua malam secara bergiliran (Kejadian 19: 30—38).

Pelecehan demi pelecehan tertuju pada para nabi baik dalam Injil maupun Taurat, Nabi Harun dikatakan dialah yang membuat patung sapi dan menyembahnya bersama Bani Israil, dikabarkan pula bahwa Nabi Sulaiman murtad di akhir hayatnya, menyembah berhala-berhala dan membuat tempat-tempat peribadatan berhala, menyembah beberapa berhala untuk menyenangkan hati istrinya, Nabi Dawud berzina dengan istri Auria.

Pelecehan-pelecehan terhadap para nabi dan rasul yang seperti itu dapat diketahui dengan mudah dalam naskah Injil dan Taurat saat ini, yang sangat tidak pantas untuk dikisahkan dan disebutkan.

Seandainya tuduhan tersebut diarahkan kepada bapak dan ibu mereka niscaya mereka akan meradang dan meluapkan kemarahan. Tetapi aneh, ketika nabi dan rasul dilecehkan sedikit pun tidak ada kecemburuan.

Tidak cukupkah ini sebagai bukti untuk menunjukkan diubahnya Taurat dan Injil??

 

Ketujuh: Pengakuan tokoh-tokoh agama mereka akan perubahan dan ketidakaslian Taurat dan Injil.

Dr. G.C. Van Niftrik dan Dr. B.J. Bolland. Keduanya mengatakan, “Kita tidak usah malu-malu, bahwa terdapat berbagai kekhilafan dalam Bibel; kekhilafan-kekhilafan tentang angka-angka perhitungan; tahun dan fakta….”

Dr. Welter Lemp berkata, “Susunan semesta alam diuraikan dalam kitab Kejadian I tidak dapat dibenarkan lagi oleh ilmu pengetahuan modern.” “Pandangan Kejadian I dan seluruh al-Kitab tentang susunan semesta alam adalah berdasarkan ilmu kosmografi bangsa Babel. Pandangan itu sudah ketinggalan zaman.”

Sebenarnya, tidak perlu seorang Teolog Nasrani berbicara, kaum awam nasrani pun seandainya mereka membaca Bibel akan terheran dengan beragam kontradiksi yang tidak mungkin dikompromikan.

Mungkin inilah salah satu alasan kenapa keumuman kaum Nasrani dilarang untuk membaca kitab mereka dengan serius. Pembacaan al-Kitab dibatasi pada para penginjil.

 

Kedelapan: Taurat dan Injil yang ada saat ini banyak bertentangan dengan kenyataan-kenyataan ilmiah.

Telah kita baca perkataan Welter sebagai pengakuannya akan ketidakcocokan Injil dengan ilmu pengetahuan. Demikian pula seorang ilmuwan Maurice Bucaille menyebutkan banyak contoh dalam bukunya La Bible, Le Coran et la Science diterbitkan dalam bahasa Arab dengan judul Al-Qur’an al-Karim at-Taurat wal Injil wal-‘Ilm.

Seandainya Taurat dan Injil masih sesuai dengan aslinya niscaya tidak akan menyelisihi hakikat-hakikat ilmiah.

Lihatlah al-Qur’an dan Hadits, betapa semua yang tertera dalam dua wahyu ini mengagumkan para pembacanya. Bukan hanya kaum muslimin. Ilmuwan kafir pun sebenarnya terheran dan tercengang, namun demikianlah ketika hati telah terkunci, dan mata telah buta. Mereka tidak mau menerima Islam dan tidak mau beriman dengan al-Qur’an.

Kesimpulannya, berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan bukti-bukti lain menetapkan adanya perubahan dalam taurat dan injil, maka menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk meyakini bahwa Taurat dan Injil yang ada saat ini tidak lagi murni berisi firman-firman Allah ‘azza wa jalla. Taurat dan Injil yang ada sekarang sudah berubah dan bercampur antara yang haq dan batil. Sulit untuk dibedakan mana yang merupakan terjemahan dari firman Allah ‘azza wa jalla dan mana yang merupakan buatan manusia.

 

Faedah

Yang menjadi tolok ukur penilaian berita dalam Taurat dan Injil adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Apa yang dibenarkan al-Qur’an dari berita ahlil kitab kita pun membenarkannya, apa yang didustakan al-Qur’an dan as-Sunnah kita pun mendustakannya. Adapun berita yang tidak ada penjelasan dalam al-Qur’an atau as-Sunnah tentang benar tidaknya, kita mendiamkannya.

Di pengujung pembahasan ini sejenak kita renungkan beberapa ayat al-Qur’an yang mengabarkan kepada kita sebagian dari apa yang tertulis dalam kitab Taurat dan Injil yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada nabi Musa dan Isa ‘alaihima assalam.

Maksud dari penukilan ini adalah mengingatkan kepada seluruh manusia bahwa segala kebaikan yang ada dalam kitab-kitab sebelum al-Qur’an sudah terangkum dalam al-Qur’an, semua yang menjadi maslahat bagi manusia tidak sedikit pun al-Qur’an meninggalkannya.

Di antara isi Taurat dan Injil adalah sifat-sifat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau g. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Muhammad itu adalah utusan Allah ‘azza wa jalla dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orangorang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah ‘azza wa jalla dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah ‘azza wa jalla hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah ‘azza wa jalla menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al-Fath: 29)

Di antara isi Taurat adalah hukum Qisash, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (at-Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya. Barang siapa yang melepaskan (hak kisas) nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.” (al-Maidah: 45)

Sebagian dari kandungan Shuhuf Ibrahim dan Musa disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam beberapa ayat berikut.

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), dan dia ingat nama Rabbnya, lalu dia sembahyang. Tetapi kamu (orangorang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu, (yaitu) Kitab-kitab Ibrahim dan Musa.” (al-A’la: 14—19)

Juga firman Allah ‘azza wa jalla, “Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (Yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. Dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Rabbmulah kesudahan (segala sesuatu).” (an-Najm: 36—42)


[1] Riwayat-riwayat yang semakna dengan hadits ini dapat dirujuk dalam al-Mustadrak (4/504, 506) Sunan ad-Darimi 2/315, Tafsir ath-Thabari 15/106, ad-Dur al-Mantsur 4/201—201.

[2] Termasuk sekretaris Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mencatat wahyu adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma setelah keislamannya. Kepercayaan besar dari Rasul-Nya ini menjadi bantahan bagi kebusukan mulut kaum Syiah Rafidhah yang mencela sahabat-sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pembelaan kepada sahabat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu dapat dibaca kembali di majalah Asy-Syariah edisi 78.

[3] Pembahasan ini dapat dilihat lebih luas dalam Majmu’ al-Fatawa (13/102—105), al-Jawab ash-Shahih (1/356, 367) (2/5) (3/246), keduanya karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. LIhat pula Fathul Bari (17523—526).

[4] Berita disalibnya Yesus dalam Injil adalah berita dusta yang telah didustakan oleh al-Qur’an. Nabi Isa tidak disalib, tidak pula dibunuh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa sat ini Nabi Isa ‘alaihissalam berada di langit dan akan turun nanti di muka bumi menegakkan syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pokok-pokok Keimanan Kepada Kitab

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

lili

Iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla tentu bukan sekadar mengatakan, “Saya telah mengimani kitab-kitab-Nya.”

Sebuah hadits sangat penting kita ingatkan di awal kajian ini, yaitu sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada sahabat Abu Ruqayyah Tamim ad-Dari radhiallahu ‘anhu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ (ثَلَاثًا). قُلنَا: لِمَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ

“Agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat, agama itu adalah nasihat.” Kami (sahabat) bertanya, “Untuk siapa?” Beliau bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, pemimpinpemimpin umat Islam, dan untuk seluruh muslimin.” (HR . Muslim)

Hadits ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kewajiban yang sangat besar terhadap kitab Allah ‘azza wa jalla. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwasanya agama adalah nasihat (ketulusan dan kemurnian dalam menunaikan hak), di antaranya ketulusan dan kemurnian dalam menunaikan hak-hak kitab Allah ‘azza wa jalla.

Pembaca rahimakumullah, iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla mengandung beberapa perkara yang wajib diyakini dan diamalkan sebagaimana ditunjukkan dalam nash-nash al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara perkara yang harus kita imani dan kita amalkan sebagai bukti keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sebagai berikut.

 

Pertama: Meyakini dengan pasti tanpa sedikit pun keraguan bahwa kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla semuanya turun dari sisi Allah ‘azza wa jalla.

“Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, kitab yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya dan kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Barang siapa ingkar terhadap Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, dan hari akhir maka dia telah tersesat dalam kesesatan yang jauh.” (an-Nisa’: 136)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dia menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta menurunkan Taurat dan Injil.” (Ali ‘Imran: 3)

 

Kedua: Meyakini nama-nama kitab yang Allah ‘azza wa jalla telah kabarkan kepada kita, seperti al-Qur’an yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, at-Taurat kepada Nabi Musa ‘alaihissalam,  al-Injil kepada Nabi Isa bin Maryam ‘alaihissalam, az-Zabur kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam, demikian pula shuhuf Ibrahim dan shuhuf Musa.

Adapun kitab-kitab yang tidak Allah ‘azza wa jalla sebutkan, kita mengimaninya secara global bahwa Allah ‘azza wa jalla telah menurunkan kitab-kitab-Nya kepada para nabi dan rasul sebagaimana Allah ‘azza wa jalla kabarkan,

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan).” (al-Hadid: 25)

Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Manusia itu adalah umat yang satu.[1] (Setelah timbul perselisihan), maka Allah ‘azza wa jalla mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah ‘azza wa jalla menurunkan bersama mereka kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia dalam perkara yang mereka perselisihkan.” (al-Baqarah: 213)

 

Ketiga: Meyakini bahwa kitab-kitab tersebut, adalah kalam (firman) Allah ‘azza wa jalla, bukan mahluk.[2]

Artinya, kita meyakini bahwa Allah ‘azza wa jalla berbicara (berfirman) secara hakiki sesuai dengan kehendak-Nya. Ya, Allah ‘azza wa jalla berfirman sesuai dengan kehendak-Nya, kapan Allah ‘azza wa jalla berbicara (berfirman), kepada siapa Allah ‘azza wa jalla berfirman, dan dengan bahasa apa Allah ‘azza wa jalla berfirman, dengan perantara atau tidak dengan perantara, semua itu kembali kepada masyi’ah (kehendak Allah ‘azza wa jalla).

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah ‘azza wa jalla berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu, di belakang tabir, atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Mahatinggi lagi Mahabijaksana.” (asy-Syura: 51)

Allah ‘azza wa jalla telah berkehendak menurunkan kalam-Nya berupa at-Taurat kepada Musa ‘alaihissalam tidak kepada yang lainnya, demikian pula Allah ‘azza wa jalla telah berkehendak menurunkan Kalam-Nya kepada Isa berupa Injil, tidak kepada yang lainnya dengan bahasa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki.

Sebagaimana Allah ‘azza wa jalla telah menghendaki menurunkan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bahasa Arab dalam kurun 23 tahun.

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa al-Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (Yusuf: 2)

“Dan demikianlah Kami menurunkan al-Qur’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali di dalamnya sebagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau (agar) al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (Thaha: 113)

Allah ‘azza wa jalla berfirman, yang firman-Nya didengar oleh Jibril ‘alaihissalam, kemudian Jibril sampaikan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti apa yang dia dengar dari Allah ‘azza wa jalla kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan kepada umatnya seperti apa yang beliau dengar dari Jibril, demikianlah wahyu dan itulah kalam Allah ‘azza wa jalla.

Al-Qur’an adalah kalam Allah ‘azza wa jalla, baik yang tertulis dalam mushaf, dihafalkan dalam dada, dilafadzkan dengan lisan, direkam dalam kaset-kaset, maupun diperdengarkan dalam siaran-siaran radio, semua itu kalam Allah ‘azza wa jalla bukan perkataan Jibril bukan pula perkataan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam seperti dalam firman-Nya,

“Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar kalam (firman) Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui.” (at-Taubah: 6)

Bahkan, Allah ‘azza wa jalla mengancam neraka Saqar bagi mereka yang mengatakan bahwa al-Qur’an bukan ucapan Allah ‘azza wa jalla, Allah ‘azza wa jalla akan siksa mereka yang mengatakan al-Qur’an hanyalah ucapan manusia, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. (al-Muddatstsir: 24—26)

 

Keempat: Beriman bahwa seluruh kitab Allah ‘azza wa jalla inti kandungannya adalah menyeru kepada tauhid, mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah ‘azza wa jalla semata, serta mengingkari segala bentuk kesyirikan dan segala bentuk peribadatan kepada selain Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah ‘azza wa jalla (saja), dan jauhilah Thaghut itu!” (an-Nahl: 36)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (az-Zumar: 65)

Katakanlah (hai Muhammad), “Telah diwahyukan kepadaku bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (al-Qur’an), lalu mereka berkata, ‘Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seorang pun dengan Rabb kami’.” (Jin: 1—2)

 

Kelima: Beriman bahwasanya seluruh kitab Allah ‘azza wa jalla, di samping mengajarkan pokok yang sama yaitu tauhid, juga berisi hukum-hukum ibadah seperti shalat, zakat, puasa, dan jenis ibadah lainnya. Meskipun tentunya ada perbedaan dari sisi tata caranya sesuai dengan zaman dan keadaan kaum yang diturunkan kepada mereka kitab-kitab tersebut.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Dan Kami telah memberikan kepadanya (Ibrahim) Ishaq dan Ya’kub, sebagai suatu anugerah (dari Kami). Dan masing-masing Kami jadikan orangorang yang saleh. Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada mereka mengerjakan kebajikan, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami lah mereka selalu menyembah.” (al-Anbiya: 72—73)

Berkata Isa, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku memiliki berkah di manapun aku berada dan memerintahku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 30-31)

Dua ayat di atas menunjukkan bahwa shalat dan zakat termasuk ajaran nabi-nabi terdahulu. Demikian pula puasa sebagaimana ditunjukkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orangorang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 183)

 

Keenam: Beriman bahwa seluruh kitab Allah ‘azza wa jalla menyeru kepada keadilan, kebaikan, dan akhlak-akhlak mulia, serta mengajak manusia untuk mengikuti kebaikan, petunjuk, dan cahaya.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.(al-Hadid: 25)

 

Ketujuh: Mengamalkan semua hukum yang belum dihapuskan dalam kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, dengan penuh keridhaan dan penuh ketundukan, sama saja apakah kita mengetahui hikmahnya atau tidak mengetahui hikmahnya. Wajib bagi seluruh manusia hingga akhir zaman mengamalkan semua yang diwahyukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam al-Qur’an berupa hukum-hukum, jika hukum tersebut selama belum dihapus.

Tentang ayat-ayat yang telah Allah ‘azza wa jalla hapus hukumnya, Allah ‘azza wa jalla mendatangkan yang serupa atau yang lebih baik dari sebelumnya.

 “Ayat mana saja yang Kami nasakhkan, atau Kami jadikan lupa kepadanya, Kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tiadakah kamu mengetahui bahwa sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu?” (al-Baqarah: 106)

Terkait dengan kitab-kitab terdahulu seperti at-Taurat dan Injil, hukum-hukum Allah ‘azza wa jalla pada kitab-kitab tersebut telah dihapus dengan turunnya al-Qur’an, di samping kitab Taurat dan Injil yang ada bercampur dengan buatan manusia, maka tidak seorang pun diperkenankan untuk beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla setelah diturunkannya al-Qur’an melainkan dengan petunjuk al-Qur’an.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menyeru Ahlul Kitab untuk beriman kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengikuti al-Qur’an yang beliau bawa. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Wahai ahli kitab, telah datang kepada kalian rasul Kami yang menjelaskan kepada kalian kebanyakan dari apa yang kalian sembunyikan dari isi kitab dan Dia mengampuni kebanyakannya,  telah datang kepada kalian dari Allah ‘azza wa jalla sebuah cahaya dan kitab yang jelas, dengannya Allah ‘azza wa jalla menunjuki siapa pun yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan-jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan (kesesatan) kepada cahaya (petunjuk) dengan izin dari-Nya, juga menunjuki kepada jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15—16)

Suatu saat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu membawa beberapa lembar dari kitab-kitab terdahulu maka beliau pun bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ مُوسَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ حَيًّا مَا وَسِعَهُ إِلَّا أَنْ يَتَّبِعَنِي

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam masih hidup niscaya tidak diperkenankan baginya melainkan dia harus mengikutiku.” (HR . Ahmad, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam al-Irwa no. 1589)

Hadits ini diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu, dan akan datang pembahasan khusus tentang hadits ini dalam pembahasan hukum menelaah kitab-kitab terdahulu pada rubrik “Hadits”, insya Allah.

Walhasil, kewajiban manusia terkait dengan mengamalkan hukum-hukum yang ada dalam kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah wajib beramal dengan hukum-hukum yang ditetapkan oleh al-Qur’an.

 

Kedelapan: Membenarkan setiap berita yang terdapat pada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Semua berita dalam al-Qur’an wajib bagi manusia membenarkannya baik terkait dengan perkara gaib yang telah lalu maupun yang akan datang.

Adapun berita-berita yang berada dalam kitab-kitab sebelum al-Qur’an seperti Taurat dan Injil, karena kedua kitab ini telah diubah oleh tangan manusia sehingga bercampur antara yang haq dan batil, maka di hadapan kita ada tiga jenis berita:

  1. Jika berita tersebut dibenarkan oleh al-Qur’an, kita pun membenarkan.
  2. Apabila berita tersebut didustakan al-Qur’an maka kita dustakan, seperti berita bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam telah meninggal disalib dalam keadaan berbaju sangat minim, terhinakan di hadapan manusia. Berita ini kita pastikan kedustaannya, karena Allah ‘azza wa jalla telah mendustakan keyakinan kaum Nasrani dalam masalah ini.

Dan karena ucapan mereka, “Sesungguhnya Kami telah membunuh al-Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah,” padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah ‘azza wa jalla telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (an-Nisa: 157—158)

  1. Berita-berita yang tidak ada pembenaran atau pendustaan dari al-Qur’an dan as-Sunnah kita tidak memberikan komentar terhadapnya, karena bisa jadi berita itu benar atau termasuk dari berita yang telah dimanipulasi oleh ahlul kitab.

Wallahu a’lam.


[1] Awalnya, manusia seluruhnya berada di atas Islam, di atas agama tauhid seperti bapak mereka, Adam. Namun kemudian muncullah kesyirikan kerusakan terbesar di muka bumi. Maka Allah ‘azza wa jalla utus para nabi dan rasul dengan seruan yang sama menegakkan tauhid dan memerangi kesyirikan.

[2] Berbeda dengan jalan orang-orang Mu’tazilah dan yang sependapat dengan mereka bahwa al-Qur’an adalahmakhluk.

Urgensi Iman Kepada Kitab-kitab Allah

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

Al_Quran_by_durooob

Mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah perkara yang sangat pokok dalam kehidupan. Betapa celakanya seorang hamba ketika tidak beriman dan tidak berpegang teguh dengan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, lebih-lebih al-Qur’an sebagai kitab terakhir yang menasakh (menghapus) kitab-kitab sebelumnya.

Saudaraku fillah, iman kepada kitab demikian penting. Sangat banyak sisi yang menunjukkan betapa urgennya iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla sebagaimana ditunjukkan dalam banyak ayat al-Qur’an dan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, di antaranya sebagai berikut.

 

Pertama: Iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla merupakan salah satu rukun iman.

Dalilnya adalah hadits Jibril ‘alaihissalam yang masyhur. Beliau datang kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya tentang iman, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنْ تُؤْمِنَ بِالَّهلِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Hendaklah engkau beriman kepada Allah, beriman kepada para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para utusan-Nya, hari akhir, dan hendaklah engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”

Dalam surat an-Nisa, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, dan kepada kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan sebelumnya. Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 136)

Iman adalah pokok kebajikan, tanpa iman tidak ada kebajikan pada seseorang, Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitabkitab, nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 177)

 

Kedua: Iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sifat para nabi dan rasul serta pengikut mereka, kaum mukminin.

Ini di antara sisi yang menunjukkan betapa pentingnya iman kepada kitab. Perhatikan firman Allah ‘azza wa jalla berikut.

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang pun (dengan yang lain) dari rasul rasul-Nya”, dan mereka mengatakan, “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa), “Ampunilah kami, wahai Rabb kami, dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (al-Baqarah: 285)

Sifat ini tampak dalam kehidupan ar-Rasul dan kaum mukminin. Semangat mereka membaca, mentadabburi dan mengamalkan al-Qur’an. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan umat akan pokok ini dalam zikir-zikir beliau, seperti doa sebelum tidur berikut ini.

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ، لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku tundukkan wajahku kepada-Mu, dan aku serahkan segala urusanku kepada-Mu, aku sandarkan punggungku kepada-Mu, dengan penuh harap dan rasa takut kepada-Mu, Tidak ada tempat kembali dan tempat keselamatan dari kemurkaan-Mu kecuali dengan mendekat kepada-Mu. Aku beriman dengan kitab-Mu yang Engkau turunkan dan aku beriman dengan Nabi-Mu yang Engkau utus.”(HR . al-Bukhari)[1]

 

Ketiga: Allah ‘azza wa jalla memuji para rasul yang telah menyampaikan risalah-risalah (kitab) Allah ‘azza wa jalla, dan tidak menyembunyikan satu huruf pun.

Pujian tersebut menunjukkan betapa pentingnya iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla dan kemuliaan menyampaikan risalah Allah ‘azza wa jalla kepada manusia. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tidak ada suatu keberatan pun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah ‘azza wa jalla baginya. (Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah ‘azza wa jalla itu suatu ketetapan yang pasti berlaku, (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah Pembuat Perhitungan.” (al-Ahzab: 38—39)

Pujian kepada para rasul juga mengandung pujian bagi para ulama yang menyampaikan al-Qur’an dan hadits kepada umat manusia, sebagaimana tampak dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya kepada manusia. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Hadits sahih dari Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu)

Pujian Allah ‘azza wa jalla ini tentulah menunjukkan urgensi keimanan kepada kitab Allah ‘azza wa jalla.

 

Keempat: Seorang dinilai kafir dan sesat di sisi Allah ‘azza wa jalla jika tidak mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, sehingga Allah ‘azza wa jalla haramkan Jannah atas mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Barang siapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (an-Nisa’: 136)

Karena kekafiran itulah Allah ‘azza wa jalla haramkan Jannah atas mereka yang mendustakan ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak(pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (al-A’raf: 40)

 

Kelima: Beriman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sebab keselamatan di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, kufur kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah sebab azab dan kebinasaan.

Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam banyak ayat al-Qur’an azab dan kebinasaan yang menimpa umat terdahulu sebagai akibat pendustaan mereka terhadap kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.

Maka Saleh meninggalkan mereka seraya berkata, “Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu risalah Rabbku, dan aku telah memberi nasihat kepadamu, tetapi kamu tidak menyukai orang-orang yang memberi nasihat.” (al-A’raf: 79)

Demikian pula azab akhirat, sebabnya tidak lain adalah mendustakan kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Lalu dia berkata, “(Al-Qur’an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.” Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. (al-Muddatstsir: 24—26)

Dalam ayat di atas, Allah ‘azza wa jalla kabarkan bahwa orang-orang yang kufur terhadap al-Qur’an dan merendahkannya dengan perkataan, “Al-Qur’an hanyalah ucapan manusia” akan Allah ‘azza wa jalla campakkan ia ke dalam neraka Saqar setelah kehinaan yang dia sandang dalam kehidupan dunia.

Allah ‘azza wa jalla benar-benar mengazab mereka dalam neraka dengan azab yang pedih. Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Apakah kamu tidak melihat kepada orang-orang yang membantah ayat-ayat Allah? Bagaimanakah mereka dapat dipalingkan? (Yaitu) orang-orang yang mendustakan al-Kitab (al-Qur’an) dan wahyu yang dibawa oleh rasul-rasul Kami yang telah Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui, ketika belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret, ke dalam air yang sangat panas, kemudian mereka dibakar dalam api.” (Ghafir: 69—72)

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

Berkatalah ia, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”

Allah ‘azza wa jalla berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamu pun dilupakan.” (Thaha: 124—126)

 

Keenam: Keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla memiliki buah yang sangat banyak yang akan dipetik bagi mereka yang mengimaninya di samping keutamaan-keutamaan yang telah disebut di atas.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menyebutkan beberapa buah yang akan dipetik dari keimanan seseorang kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, tentunya hal ini menunjukkan betapa pentingnya iman kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla. Di antara buah keimanan kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla adalah:

  • Seorang yang beriman kepada kitab Allah ‘azza wa jalla akan melihat betapa besar perhatian dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kepada para hamba-Nya yang lemah, dengan menurunkan untuk setiap kaum kitab yang membimbing mereka, hingga Allah ‘azza wa jalla turunkan al-Qur’an sebagai kitab yang terakhir.
  • Dengan mengimani kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla, seorang akan mengetahui betapa sempurnanya hikmah Allah ‘azza wa jalla, yang Allah ‘azza wa jalla menetapkan hukum syariat yang sesuai dengan masing-masing kaum dan keadaan mereka. Hingga diturunkannya al-Qur’an yang berisi hukum yang terus relevan hingga akhir zaman, dan menghapus hukum-hukum yang telah lalu.
  • Dengan beriman kepada al-Kitab seseorang akan selamat dari penyimpangan-penyimpangan akal pemikiran, karena dia terus terbimbing dan selalu berpegang dengan petunjuk dari langit.

Kemudahan untuk berjalan di atas jalan yang lurus, jelas tanpa kegoncangan dan kebengkokan, sejenak kita bayangkan seandainya masing-masing manusia diberi kebebasan untuk menentukan jalan kepada Allah ‘azza wa jalla, niscaya hidupnya akan penuh dengan kebingungan, tetapi Allah ‘azza wa jalla pancangkan jalan yang lurus dan lebar di hadapan manusia berupa al-Kitab.

  • Dengan iman kepada kitab, akan muncul kebahagiaan dalam jiwa dan kelapangan dada atas karunia yang demikian besar dan nikmat yang demikian agung sebagaimana Allah ‘azza wa jalla perintahkan dalam firman-Nya,

Katakanlah, “Dengan karunia Allah ‘azza wa jalla dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah ‘azza wa jalla dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Yunus: 58)

  • Dengan iman kepada kitab, seseorang akan terus bertambah imannya, bertambah rasa syukur atas nikmat yang sangat besar ini, dan semakin besar kecintaan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Selamatnya seseorang dari kerancuan dan kerusakan pemikiran dan kerusakan akidah, dengan keimanannya kepada kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla.[2]


[1] Diriwayatkan dari al-Bara bin ‘Azib radhiallahu ‘anhu. Di awal hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika engkau hendak tidur, berwudhulah sebagaimana wudhumu untuk shalat kemudian tidurlah dengan sisi tubuhmu yang kanan kemudian berdoalah dengan doa ini.”

Di akhir hadits Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ

“Jika engkau mati di malam itu, engkau mati di atas fitrah (yakni Islam), dan jadikanlah kalimat ini akhir perkataanmu.”

[2] Rasail fil ‘Aqidah Al-Islamiyah, hlm. 23 karya asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah.

Bersyukur atas Cahaya yang Allah Turunkan

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc.

grassland-e1300853042245 

Alhamdulillahi rabbil ’alamin. Segala puji bagi Allah ‘azza wa jalla atas segala anugerah-Nya yang sangat mahal kepada kita berupa iman kepada-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,  rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan takdir.

Demi Dzat yang jiwa kita di Tangan Allah ‘azza wa jalla, kalau bukan hidayah dan keutamaan dari-Nya, niscaya kita termasuk hamba-hamba Allah ‘azza wa jalla yang sesat lagi merugi.

“Maka kalau tidak ada karunia Allah ‘azza wa jalla dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah: 64)

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَا عِبَادِي، كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلاَّ مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ

“Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua sesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah kepada-Ku niscaya aku beri kalian hidayah.” (HR. Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari Jundub bin Junadah radhiallahu ‘anhu)

Dunia adalah negeri persinggahan. Ibarat seorang penunggang kuda yang berteduh di bawah sebuah pohon. Sejenak dia beristirahat lalu meninggalkan pohon tersebut untuk melanjutkan perjalanan.

Seperti itulah dunia. Manusia dan jin diciptakan tidak lain hanyalah untuk beribadah kepada-Nya, menunaikan ajal yang telah Allah ‘azza wa jalla tetapkan, kemudian melanjutkan perjalanan menuju negeri akhirat untuk menuai apa yang dahulu dia amalkan.

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (adz-Dzariyat: 56)

Di antara rahmat Allah ‘azza wa jalla, Dia mengutus para nabi dan rasul agar memberi peringatan dan kabar gembira kepada manusia. Allah ‘azza wa jalla juga menurunkan kitab-kitab-Nya bersama mereka sebagai petunjuk jalan bagi manusia di tengah gulita, dan lentera benderang di tengah kegelapan.

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (al-Baqarah: 185)

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi).” (al-Maidah: 44)

Manusia pun Allah ‘azza wa jalla perintahkan untuk beriman kepada cahaya yakni kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka berimanlah kamu kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya dan kepada cahaya (al-Qur’an) yang telah Kami turunkan. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (at-Taghabun: 8)

Dan katakanlah, “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla dan aku diperintahkan supaya berlaku adil di antara kalian.” (asy-Syura: 15)

Allah ‘azza wa jalla perintahkan pula agar manusia berpegang teguh dan menggenggam kuat kitab-kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan.

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.” (al-Baqarah: 63)

Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا، كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِي

“Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang kalian tidak akan sesat jika berpegang teguh dengan keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnahku.” (HR. al-Hakim dan beliau nyatakan sahih)

Demi Allah, diutusnya para rasul dan diturunkannya kitab Allah ‘azza wa jalla bersama mereka adalah nikmat yang sangat besar.

Namun, sadarkah kita akan nikmat ini? Sadarkah manusia bahwasanya sebelum diutusnya nabi dan diturunkannya kitab, mereka dalam kesesatan yang nyata?

“Sungguh Allah ‘azza wa jalla telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah ‘azza wa jalla mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, serta mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan al-Hikmah (al-Hadits). Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (Ali ‘Imran: 164)

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang mengenal nikmat-Mu dan mensyukurinya. Jadikan pula kami hamba-hamba-Mu yang beriman kepada kitab-kitab-Mu. Amin, ya Mujibas Sailin.

 

Mengenal Kitab-Kitab yang Allah ‘azza wa jalla Turunkan

Kitab Allah ‘azza wa jalla adalah semua kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada rasul-Nya sebagai rahmat Allah ‘azza wa jalla atas umat manusia dan sebagai petunjuk atas mereka, agar meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.[1]

Tidaklah ada satu umat pun melainkan Allah ‘azza wa jalla utus di tengah mereka rasul yang menyampaikan risalah Allah ‘azza wa jalla berupa al-Kitab, sebagai pegangan dan pedoman hidup mereka.

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca (keadilan).”

Kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla ada yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan namanya dan ada yang tidak,  sebagaimana para nabi dan rasul ada yang Allah ‘azza wa jalla sebutkan nama mereka dan banyak yang tidak Allah ‘azza wa jalla sebut.

Kitab yang disebutkan dalam al-Qur’an adalah: Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim, Shuhuf Musa, dan al-Qur’an. At-Taurat, adalah kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam adapun al- Injil adalah kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Isa ‘alaihissalam.

Tentang at-Taurat dan Injil, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami ikutkan atas jejak mereka dengan Nabi Isa bin Maryam yang membenarkan kitab yang turun sebelumnya seperti Taurat, dan Kami berikan dia Injil yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, membenarkan kitab yang ada sebelumnya seperti Taurat dan sebagai petunjuk serta nasihat bagi orang bertakwa.” (al-Maidah: 46)

Kitab ketiga di antara kitab yang Allah ‘azza wa jalla sebut namanya adalah az-Zabur, sebuah kitab yang Allah ‘azza wa jalla turunkan kepada Nabi Dawud ‘alaihissalam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan Kami turunkan untuk Nabi Dawud kitab yang bernama Zabur.” (an-Nisa: 163)

Kitab keempat dan kelima adalah Shuhuf Ibrahim dan Shuhuf Musa, Allah ‘azza wa jalla sebutkan dalam beberapa ayat dalam al-Qur’an di antaranya,

“Sesungguhnya yang demikian terdapat dalam shuhuf yang pertama yaitu shuhufnya (Nabi) Ibrahim dan (Nabi) Musa.” (al-A’la: 18—19)

Adapun al-Qur’an, kitab ini Allah ‘azza wa jalla turunkan sebagai kitab yang terakhir dan akan terus terjaga hingga akhir zaman. Setelah tangan-tangan manusia mengubah kitab-kitab Allah ‘azza wa jalla yang telah lalu, kembalilah mereka tersesat dalam lumpur jahiliah.

Di saat itulah, Allah ‘azza wa jalla mengutus kekasih-Nya, Muhammad bin Abdillah al-Hasyimi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menurunkan al-Qur’an al-Karim bersama beliau.

Inilah kitab yang membenarkan apa yang sudah dijelaskan pada kitab-kitab sebelumnya, memperbarui serta mengoreksi ajaran-ajaran sebelumnya yang telah diubah dan dirusak oleh kaumnya. Al-Qur’an adalah mukjizat paling agung yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepada Nabi-Nya.[2]

Semua kitab Allah ‘azza wa jalla, baik yang disebutkan maupun yang tidak disebutkan, wajib kita imani sebagai kalam Allah ‘azza wa jalla yang wajib dipegang teguh oleh masing-masing nabi dan kaumnya, hingga datang syariat al-Qur’an yang wajib dipegang oleh seluruh manusia kapan pun dan di mana pun. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.” (al-Baqarah: 136)


[1] Rasail fil ‘Aqidah, asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin.

[2] Lihat kembali pembahasan rubrik “Kajian Utama” Al-Qur’an, Bukti Abadi Kenabian edisi 93 (hlm. 35) yang bertema Mukjizat dan Karamah di Tengah Penyimpangan Akidah.