Tanya Jawab Ringkas Edisi 100

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Potong Rambut Model Pemain Bola

Saya mencari nafkah dengan jasa potong rambut. Apa hukumnya jika diminta untuk memotong model rambut seperti pemain bola orang-orang kafir?

085262XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh bagi Anda memotong rambut dengan gaya orang kafir, karena termasuk ta’awun di atas dosa. Kaum muslimin tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) dengan orang kafir.

 

Menerima Hadiah dari Pekerja Bank

Bagaimana sebaiknya apabila kita diberi hadiah dari orang yang bekerja di bank?

02470XXXXXX

 

Jawaban:

Jika diketahui bahwa penghasilan dia murni dari yang haram, sikap wara’ kita ialah tidak menerima hadiahnya.

 

Mengambil Keuntungan dari Akikah

Bolehkah mengambil keuntungan dari acara akikah? Misalnya, saya diberi sejumlah uang untuk membeli domba, kemudian memasak dan membagikannya. Keuntungan saya dapat dari uang yang diberikan dengan biaya pembuatan.

085793XXXXXX

 

Jawaban:

Jika profesi Anda adalah penjual kambing, boleh mengambil untung. Jika hanya ditunjuk sebagai wakil, hukum asalnya tidak boleh mengambil keuntungan kecuali apabila ada kesepakatan sebelumnya atau ada komisi dari orang yang menyuruh Anda.

 

Melamar Pekerjaan

Apakah melamar pekerjaan masuk dalam kategori meminta-minta?

085649XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak termasuk meminta-minta selama pekerjaan tersebut halal dan dia ahli dalam bidangnya. Lebih-lebih lagi jika murni urusan duniawi.

 

Mengucapkan Hamdalah saat Shalat

Bagaimana ketika kita shalat kemudian bersin dan mengucapkan, “Alhamdulillah,” apakah yang mendengar harus menjawabnya?

081281XXXXXX

 

Jawaban:

Pendapat sebagian ulama boleh dengan dasar hadits tentang kisah Muawiyah bin Hakam as-Sulami. Akan tetapi, yang mendengar tidak (boleh) mendoakan yang bersin.

 

Cara Masuk Islam

Apabila si fulan mengajak temannya untuk masuk Islam kemudian ia mau masuk Islam, apakah cukup baginya untuk bersyahadat di hadapan fulan saja atau ada ketentuan dan syarat lain?

08960XXXXXXX

 

Jawaban:

Seseorang yang hendak masuk Islam harus mengucapkan syahadatain di hadapan banyak muslimin dan lebih afdal di depan instansi pemerintah terkait, seperti KUA, agar keislamannya diketahui khalayak ramai.

 

Jas Hujan yang Isbal

Haruskah jas hujan dipotong agar tidak isbal?

085810XXXXXX

 

Jawaban:

Jika kita sebagai penjual jas hujan, tidak perlu memotongnya karena tinggi badan konsumen bervariasi. Jika kita adalah pembeli dan ukurannya terlalu panjang, dipotong agar tidak isbal.

 

Antara Akikah & Qurban

Mana yang didahulukan, akikah atau kurban jika waktunya bersamaan?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika akikahnya pada hari ke-7, dahulukan akikah karena waktunya terbatas. Namun, jika di luar hari ke-7, dahulukan kurban.

 

Tata Cara Takbir Idul Adha

Bagaimana tata cara takbiran yang benar menurut syariat?

08237XXXXXXX

 

Jawaban:

Takbir Idul Adha boleh dilakukan setelah selesai shalat dengan dibaca sendirian, tidak boleh dipimpin oleh imam.

 

Dana Haji di Bank Konvensional

Bolehkah berhaji dengan biaya dikelola oleh pemerintah melalui bank konvensional?

081392XXXXXX

 

Jawaban:

Diperbolehkan berhaji dengan cara tersebut karena kondisi yang tidak mungkin dihindari.

 

Kredit Motor

Bolehkah kredit sepeda motor di showroom seperti yang dilakukan kebanyakan masyarakat?

081360XXXXXX

 

Jawaban:

Kredit motor yang dilakukan kebanyakan masyarakat sekarang melalui dealer/sistem leasing adalah hal yang dilarang karena mengandung unsur riba.

 

Konsekuensi Bersyariat

Apakah setiap orang yang berusaha menempuh, menjalani, menegakkan syariat agama ini dalam kehidupannya mesti akan menghadapi hal yang tidak mengenakkan dan merisaukan hati dari orang-orang di sekitarnya?

08574XXXXXXX

 

Jawaban:

Ya, itu sebuah kepastian sebagai ujian keimanan dan keistiqamahan. Semakin tebal dan tinggi iman dan takwa seseorang, semakin berat dan banyak ujiannya.

 

Puasa 10 Hari Awal Muharram

Apakah boleh puasa pada bulan Muharram dari tanggal 1 sampai dengan 10?

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada dalil khusus puasa tanggal 1—10 Muharram. Yang ada adalah puasa Muharram secara umum dan tanggal 9—10 secara khusus.

Komisi Tambahan bagi Pekerja

Saya bekerja di pabrik (bagian produksi) dan diberi tugas tambahan. Jika ada mobil bahan baku datang, saya bertugas untuk mengeceknya. Jika sudah selesai dicek, saya mendapatkan uang dari sopir. Apakah uang tersebut halal untuk saya ambil?

08777XXXXXXX

 

Jawaban:

Komisi seperti itu hukum asalnya kembali kepada kebijakan perusahaan. Jika ada aturan yang membolehkan diambil oleh karyawan, diperbolehkan.

 

Wasiat Warisan

Apa boleh wasiat dalam bentuk harta/tanah diberikan kepada salah satu ahli waris saja (dalam kasus ini diberikan kepada cucu)?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika yang diberi termasuk ahli waris yang mendapat warisan, wasiat tersebut tidak sah. Sebab, tidak boleh berwasiat untuk ahli waris. Begitu pula jika wasiatnya lebih dari 1/3 harta waris, tidak sah walau yang diberi bukan ahli waris.

 

Amalan untuk Orang Tua yang Telah Meninggal

Amalan apa saja yang pahalanya bisa kita niatkan untuk kedua orang tua yang telah meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Amalan yang pahalanya bisa sampai kepada orang tua yang telah wafat di antaranya, doa kebaikan untuk mereka, ini yang paling dianjurkan; sedekah dan sejenisnya; qadha puasa wajib yang ditanggung oleh orang tua; haji badal; dan amal saleh secara umum. Sebab, anak adalah hasil usaha orang tua.

 

Mandi dengan Air Sisa Mandi Wanita

Bolehkah kita mandi dari sisa air yang dipakai mandi oleh seorang wanita (mahram ataupun bukan)?

085256XXXXXX

 

Jawaban:

Justru haditsnya menegaskan bahwa airnya tidak menjadi najis. Silakan lihat di Bulughul Maram pada Kitab Thaharah.

 

Upah yang Belum Ditentukan

Saya ditugaskan untuk menjaga gedung sarang walet dan tidak ada kejelasan berapa upahnya dan kapan akan digaji. Apakah perbuatan orang tersebut termasuk menzalimi saya?

085658XXXXXX

 

Jawaban:

Jika sifatnya ta’awun (menolong), tidak ada gaji. Jika sifatnya kerja, harus digaji. Jika tidak ada kesepakatan sebelumnya, nilai gaji disamakan dengan gaji keumuman penjaga walet atau semisalnya. Jika orang tersebut tidak menggaji, dia berbuat zalim.

 

Rindu Orang Tua yang Telah Wafat

Apakah boleh kita merindukan orang tua kita yang sudah lama meninggal?

08564XXXXXXX

 

Jawaban:

Boleh saja dan itu menunjukkan adanya hubungan baik dengan orang tua walau sudah wafat. Namun, jangan sampai terjatuh kepad hal yang haram. Kita gunakan untuk mendoakan kebaikan orang tua dan hal syar’i lainnya.

 

Jual-Beli pada Acara Bid’ah

Bolehkah jual-beli pada acara bid’ah (malam suro, maulid) di pasar malamnya?

083830XXXXXX

 

Jawaban:

Jika sebagai pedagang dadakan, tidak boleh. Sebab, hal itu termasuk ta’awun di atas dosa.

 

Qunut Nazilah

Apakah disyariatkan kita qunut nazilah saat ini (November 2012) mengingat agresi Israel (baca: Yahudi) kepada kaum muslimin?

081234XXXXXX

 

Jawaban:

Qunut nazilah adalah wewenang penguasa berdasarkan fatwa para ulama. Tidak boleh bagi masyarakat melakukan qunut nazilah tanpa izin pemerintah.

 

Pebisnis Hewan Kurban, Wajib Kurban?

Apakah penjual hewan kurban yang jelas berniat untuk berbisnis memiliki kewajiban untuk berkurban?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Pendapat yang rajih, berkurban tidak wajib, tetapi sunnah muakkadah. Walaupun dia juragan kambing atau pebisnis kambing.

 

Wasiat

Sahkah pemberian kakek berupa sawah (senilai sepuluh juta rupiah) khusus bagi semua cucu pertama?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika kakek masih hidup, pemberian tersebut bukan waris, melainkan hibah. Beliau berhak menghibahkan hartanya kepada siapa pun. Namun, jika diberikan kepada anak-anaknya, syaratnya wajib rata. Jika kakek sudah wafat dan mempunyai anak laki-laki, cucu-cucunya bukan ahli waris sehingga mereka bisa menerima hibah (istilah yang tepat adalah wasiat) dengan syarat tidak lebih dari 1/3 harta peninggalan.

 

Utang Uang Dihargai Emas

Suatu hari adik saya meminjam uang sebesar dua juta rupiah kepada saya. Dia nilai uang tersebut dengan emas seberat 10 gram. Lalu sekarang dia mengembalikannya sebesar lima juta rupiah, karena harga emas seberat 10 gram senilai uang tersebut. Apakah selisih 3 juta rupiah termasuk riba yang diharamkan?

082190XXXXXX

 

Jawaban:

Termasuk riba fadhl. Yang benar, utang uang dibayar uang dan utang emas dibayar emas sesuai dengan nominal dan beratnya walaupun nilainya berbeda seiring dengan berjalannya waktu.

 

Ayah Tiri Bercerai dengan Ibu, Mahram?

Mantan ayah tiri (sudah bercerai dengan ibu) apakah masih mahram?

085227XXXXXX

 

Jawaban:

Apabila ayah tiri sudah ‘berkumpul’ dengan ibunda Saudari, Anda adalah mahramnya untuk selamanya walaupun beliau sudah cerai dengan ibunda. Ini yang disebut mahram muabbad (selamanya).

 

Kesalahan terhadap Orang Lain

Kita pernah berbuat salah terhadap orang lain, sedangkan orang tersebut tidak mengetahuinya. Apakah kita boleh memberi tahu dia, padahal kejadiannya sudah berlalu? Mohon penjelasannya.

085336XXXXXX

 

Jawaban:

Kalau kesalahan kita terkait dengan kehormatan dia, tidak perlu disampaikn karena dia tidak akan mendapat manfaat. Dia justru mendapat hal yang tidak menyenangkan, karena dahulu dia tidak tahu, sekarang menjadi tahu. Cukup Anda ganti dengan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat yang dahulu Anda menjelekkannya. Berbeda halnya kalau kesalahan kita terkait dengan harta, harus diberitahukan dan dikembalikan karena dia mendapat faedah, dahulu hartanya hilang, sekarang kembali. Ini penjelasan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin.

 

Akikah dengan Kambing Betina

Apakah sah akikah dengan menggunakan kambing betina?

082177XXXXXX

 

Jawaban:

Akikah menggunakan kambing betina hukumnya sah. Tidak ada dalil yang melarang; sebagaimana kurban dengan kambing betina juga sah, walaupun yang afdal adalah dengan kambing jantan.

 

Kehalalan Larva Lebah

Apakah larva lebah halal dimakan? Apakah sahih hadits yang melarang untuk membunuh lebah? Jika sahih, apakah larangan tersebut mencakup larva lebah?

085237XXXXXX

 

Jawaban:

Hadits yang melarang membunuh lebah adalah sahih. Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hewan yang dilarang untuk dibunuh, haram dimakan. Larva lebih baik tidak dimakan karena termasuk lebah.

 

Syariat Ibadah Kurban

Apakah ibadah kurban hanya disyariatkan untuk laki-laki? Apakah orang tua yang sudah pikun masih dianjurkan untuk berkurban?

085XXXXXXX

 

Jawaban:

Kurban tidak khusus bagi laki-laki. Wanita, anak-anak, ataupun lansia juga bisa melakukannya. Yang penting memiliki kemampuan, karena ibadah ini terkait dengan kemampuan finansial.

 

Menyantuni Anak Yatim

Apakah ada dalil menyantuni anak yatim yang dikhususkan pada tanggal 10 Muharam dan keutamaan mengusap rambut anak yatim?

085624XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada dalil khusus memuliakan dan mengusap kepala anak yatim pada 10 Muharam. Memuliakan anak yatim dan menyayangi mereka adalah tindakan mulia, tetapi tidak ada waktu khusus untuk melakukannya.

 

Menyingkat Salam

Bolehkah menyingkat ucapan salam misal menjadi “ass.wr.wb” dalam surat atau sms?

085747XXXXXX

Jawaban:

Pendapat yang rajih bahwa ucapan seperti salam, shalawat, dan semisal harus ditulis lengkap dan tidak cukup dengan simbol. Kita cari keberkahannya walau panjang tulisannya.

 

Meminta Hajat ke Kuburan

Bagaimana dengan orang yang sering ke kuburan untuk meminta hajat? Apa itu merupakan kesyirikan?

081241XXXXXX

 

Jawaban:

Menjadikan makhluk yang sudah mati sebagai wasilah dalam berdoa adalah syirik akbar. Itulah bentuk kesyirikan orang kafir Quraisy yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat g.

 

Mendatangi Pilihan Lurah

Bagaimana sebaiknya sikap kami untuk memenuhi undangan pilihan lurah, apakah jika kami datang termasuk bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla? Sebagian ikhwan ada yang datang dengan alasan menutup fitnah dan takut dipersulit dalam birokrasi.

085227XXXXXX

 

Jawaban:

Yang pertama dilakukan adalah memberi penjelasan kepada lurah tentang prinsip yang benar dalam masalah ini. Semoga mereka paham sehingga Anda tidak datang tanpa ada fitnah. Jika mereka tidak diterima dan akan timbul fitnah besar, kita datang tetapi dalam rangka meredam mafsadah. Berikan pula penjelasan sampai mereka maklum.

 

Berzikir dalam Hati di Kamar Mandi

Bolehkah berzikir dalam hati di dalam kamar mandi? Bolehkah berzikir dalam keadaan junub?

085327XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak diperbolehkan zikir atau menyebut nama Allah ‘azza wa jalla di tempat yang kotor atau WC. Jika harus berbuat, di dalam hati dan tidak boleh dilafalkan. Pendapat yang rajih, orang junub boleh berzikir dan membaca al-Qur’an. Namun, yang afdal adalah mandi janabah dahulu (zikir dalam keadaan suci).

 

Waktu Shalat Sunnah Qabliyah

Apakah shalat sunnah qabliyah dilakukan setelah azan dan sebelum iqamah? Bagaimana jika shalatnya sendirian di rumah, apakah juga berlaku seperti shalat sunnah qabliyah yang dilaksanakan di masjid?

087719XXXXXX

 

Jawaban:

Shalat sunnah qabliyah dilakukan setelah azan sebagai tanda telah masuk waktu dan sebelum iqamah. Sebab, shalat sunnah apapun harus dibatalkan apabila iqamat sudah dikumandangkan. Jika shalatnya munfarid (sendirian) karena sakit, ketiduran, atau uzur lain, as-Sunnah mencontohkan tetap melakukan shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah seperti biasa. Jadi, shalat sunnahnya tidak terikat dengan iqamah masjid setempat.

 

 

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Kerusakan-kerusakan Pemilu

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Flame

Sunnatullah yang pasti terjadi adalah bahwa segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi yang benar akan membuahkan kebenaran pula. Sebaliknya, segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi yang salah akan membuahkan berbagai kesalahan. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Ibrahim: 24—26)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam setiap jasad itu ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, akan menjadi baiklah seluruh tubuhnya. Apabila rusak, akan rusaklah seluruh tubuhnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas dalam tafsirnya, “Demikianlah pohon iman. Pangkalnya kuat di dalam hati seorang mukmin, baik secara ilmu, keyakinan, maupun cabang-cabangnya;  berupa ucapan-ucapan yang baik, amalan yang saleh, akhlak yang diridhai, dan adab yang baik; naik terus ke langit kepada Allah ‘azza wa jalla. Muncul darinya amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang bersumber daro iman (dalam hatinya). Dengannya, seorang mukmin akan mendapatkan manfaat sekaligus bisa memberi manfaat kepada orang lain.”

Sampai ucapan beliau, “Demikian pula kalimat kekafiran dan kemaksiatan. Ia tidak kokoh dan tidak bermanfaat di dalam hati. Ia tidak menumbuhkan selain seluruh ucapan kotor dan amalan jelek yang akan merugikan pemiliknya, sehingga tidak akan naik kepada Allah ‘azza wa jalla. Amalan saleh yang bersumber darinya tidak akan memberi manfaat kepada dirinya dan orang lain. Orangnya pun tidak akan bermanfaat.”

Demikianlah permisalan iman berikut cabang-cabangnya dan permisalan demokrasi berikut cabang-cabangnya pula. Pemilu (pemungutan suara) untuk memilih kepala daerah, presiden dan wakil presiden, atau anggota legislatif (baik tingkat daerah maupun tingkat pusat). Semua itu adalah konsekuensi dari demokrasi sehingga membuahkan berbagai hal yang batil.

 

Kerusakan yang Ditimbulkan Demokrasi

Kerusakan yang timbul akibat demokrasi dan pemungutan suara ini bukan hanya dalam urusan dunia. Agama pun menjadi taruhan demi mendapatkan kedudukan dan jabatan. Lebih buruk lagi, kerusakan dan kerugian itu tidak hanya ditanggung oleh partai dan calonnya, tetapi juga oleh bangsa dan negara ini.

Asy-Syaikh Muqbil berkata, “Dalam pemungutan suara, tidak ada urusan dunia yang didapatkan, lebih-lebih lagi urusan akhirat.” (Tuhfatul Mujib, hlm. 306)

Dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla akan kita sebutkan beberapa di antaranya karena keterbatasan tempat di majalah ini.

Kita niatkan hal ini sebagai nasihat karena Allah ‘azza wa jalla kepada kaum muslimin pada umumnya dan kepada pemerintah pada khususnya.

 

  1. Mempersekutukan Allah ‘azza wa jalla

Pemungutan suara (pemilu) termasuk mempersekutukan Allah ‘azza wa jalla dalam hal ketaatan. Pemungutan suara akan memberi peluang bagi musuh Islam untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya.

Barang siapa menerimanya dalam keadaan rela dan mempromosikannya karena meyakini kebenaran sistem demokrasi—yakni dibenarkan dalam Islam, bahkan sama atau lebih baik dari Islam—sungguh dia telah menaati musuh Islam dalam hal menghalalkan apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.[1]

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)

Hal itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (yakni orang-orang Yahudi), “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,” sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad: 26)

“Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa yang menjadi hakim dalam rapat-rapat di parlemen adalah manusia yang terkadang menolak dan menghujat hukum Allah ‘azza wa jalla. Dalam keadaan seperti ini, tidak diragukan lagi, ini adalah syirik besar. Adakah dosa yang lebih besar daripada syirik akbar atau kafir akbar? Dosa yang Allah ‘azza wa jalla firmankan dalam kitab-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah tersesat sejauhjauhnya.” (an-Nisa’: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya dosa apa yang paling besar? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah ‘azza wa jalla padahal Dialah yang menciptakanmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

  1. Menuduh syariat Islam masih kurang dan lemah

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang kesempurnaan syariat Islam yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang paling besar terhadap umat ini. Sebab, Allah ‘azza wa jalla telah menyempurnakan agama mereka sehingga tidak membutuhkan agama dan nabi yang lain. Oleh karena itulah, Allah ‘azza wa jalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Maka dari itu, bagi kita, tidak ada suatu pun perkara yang halal selain apa yang beliau halalkan, dan tidak ada suatu perkara yang haram pun selain apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan. Tidak ada agama selain yang telah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar dan jujur, yang tidak ada kedustaan dan kekeliruan, sebagaimana firman-Nya,

 “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu sebagai kalimat yang benar dan adil.” (al-An’am: 115)

Maknanya, yang benar/jujur beritanya dan adil perintah serta larangannya.  Setelah Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan agama mereka, berarti nikmat telah sempurna atas mereka. Oleh karena itu, ridhailah Islam sebagai agama kalian karena agama Islam adalah agama yang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla. Dia mengutus Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mulia untuk membawanya. Dia pun menurunkan kitab yang paling mulia (al-Qur’an) karenanya.

 

  1. Hilangnya prinsip al-wala’ (loyalitas) dan al-bara’ (kebencian dan permusuhan) yang haq

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orangorang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka.” (al-Mujadilah: 22)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tidak ada seorang hamba yang benar-benar beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, kecuali akan beramal sesuai dengan konsekuensi imannya; di antaranya mencintai siapa saja yang beriman dan loyal terhadap keimanannya, serta membenci siapa saja yang tidak beriman dan memusuhinya, walaupun orang tersebut paling dekat kekerabatannya dengannya.”

Inilah iman yang hakiki, yaitu iman yang buah dan tujuannya akan betul-betul didapatkan. Apabila demokrasi dan pemungutan suara diterima, prinsip yang agung ini harus ditanggalkan.

Firman-Nya ‘azza wa jalla,

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 55—56)

 

  1. Fanatisme buta terhadap partai atau calon tertentu

Fanatisme terhadap pendapat, mazhab, tokoh, pimpinan, organisasi, thariqah, atau partai diharamkan dan dilarang oleh agama Islam yang mulia.Sebab, fanatisme akan menyebabkan perselisihan dan perpecahan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kalian dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (ar-Rum: 31—32)

Allah ‘azza wa jalla menyucikan Nabi-Nya dari perbuatan yang hina ini dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahu mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Mengapa Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya mengharamkan hizbiyah dan ta’ashub? Sebab, keduanya akan menghancurkan prinsip-prinsip agama yang mulia dan menimbulkan berbagai kerusakan. Di antara kerusakan yang terjadi karena fenomena ini ialah sebagai berikut.

  • Menghancurkan prinsip ukhuwah islamiyah

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (al-Hujurat: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari)

Sebagai bukti ukhuwah yang mulia ini adalah tegaknya ta’awun/saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, amar ma’ruf nahi munkar, dan berbagai urusan mulia lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)

Kita tidak berhak mendapat kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kecuali dengan menjaga ukhuwah ini sebagaimana yang diperintahkan oleh Rabb kita ‘azza wa jalla.

  • Tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Saling menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Berbagai kemungkaran terjadi sebelum, saat, dan setelah pemilu. Terlebih lagi bagi partai atau calon yang terpilih, berbagai kemungkaran dilakukan, di antaranya ketika merayakan pesta kemenangan dengan beragam kemaksiatan dan penghamburan harta. Apalagi kemungkaran yang mereka lakukan setelah mendapatkan kedudukan.

Apakah para pemilih sikap berlepas diri dari partai atau calon yang menjadi pilihannya tatkala berbuat kemungkaran? Apabila para pemilih itu tidak berlepas diri dari kemungkaran yang mereka lakukan, berarti mereka terus-menerus akan mendapatkan dosa. Sebab, mereka termasuk orang yang menyebabkan partai atau wakil pilihannya berbuat zalim, jahat, dan membela demokrasi. Lebih parah lagi apabila mereka menutup-nutupi kemungkaran yang dilakukan oleh anggota parlemen atau pemimpin yang menjadi pilihannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin atas kalian yang kalian mengetahui perbuatan baik mereka dan perbuatan jelek mereka. Barang siapa mengingkari perbuatan jelek mereka, berarti dia telah berlepas diri. Barang siapa membenci perbuatan jelek mereka, berarti dia selamat. Akan tetapi, masalahnya ialah orang yang meridhai dan mengikuti.” (HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha)


[1] Syirik dalam hal ketaatan adalah menaati seseorang secara lahir dan batin (keyakinan) dalam hal menghalalkan apa yang Allah haramkan atau sebaliknya.

Adapun menaati secara lahiriah saja (praktik amalan), sementara secara batin (keyakinan) tetap meyakini haramnya apa yang Allah haramkan dan halalnya apa yang Allah halalkan, maka hal ini bukan kesyirikan kepada Allah, melainkan termasuk maksiat terhadap-Nya.

Contohnya, seseorang yang meyakini bahwa demokrasi halal menurut Islam, dia terjatuh dalam kesyirikan. Sementara itu, orang yang tetap meyakini haramnya demokrasi tetapi jatuh dalam praktik amalan lahiriah, dia berarti berbuat maksiat, bukan kesyirikan. (-ed.)

Taat dengan Dasar Syariat

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

kilauan-embun-pagi-21

Salah satu prinsip yang menjadi konsekuensi kalimat tauhid adalah kewajiban hamba untuk menjadikan kecintaan terhadap Allah ‘azza wa jalla sebagai kecintaan tertinggi di dalam lubuk hatinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

Berbeda halnya dengan orang kafir dan musyrik. Kecintaan mereka terbagi sebanyak sembahan yang mereka sembah selain Allah ‘azza wa jalla, padahal Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan kita. Firman-Nya,

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (al-Baqarah: 165)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Orang yang beriman sangat mencintai Allah ‘azza wa jalla dibandingkan dengan kecintaan orang musyrik terhadap sembahan mereka. Sebab, orang yang beriman memurnikan kecintaannya kepada Allah ‘azza wa jalla, sedangkan orang musyrik mempersekutukan-Nya dalam hal kecintaan. Selain itu, orang yang beriman mencintai Dzat yang berhak untuk dicintai secara hakiki (yaitu Allah ‘azza wa jalla), yang kecintaan terhadap-Nya ‘azza wa jalla adalah sumber kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatannya. Adapun orang musyrik mencintai sesuatu yang tidak berhak dicintai, sehingga kecintaan itu menjadi sumber kesengsaraan, kerusakan, dan kekacauan urusannya.

Sebagaimana dimaklumi, kecintaan hamba terhadap sesuatu memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan sebagai bukti kebenaran dan kejujuran cintanya itu. Maka dari itu, kecintaan tertinggi seorang mukmin terhadap Allah ‘azza wa jalla menuntutnya untuk mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Rabb-Nya, walaupun tidak sejalan dengan logika, perasaan, adat-istiadat, atau hawa nafsunya. Di samping itu, dia harus membenci segala yang dibenci oleh Penciptanya, walaupun seleranya sangat menyenanginya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas dalam tafsirnya, “Tidak pantas dan tidak selayaknya bagi orang beriman kecuali bersegera menerima perkara yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta menjauhi (berbagai hal yang) dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan berbagai larangan-Nya.

Tidak sepantasnya bagi orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara, yaitu mewajibkan atau mengharuskannya, mereka masih memiliki pilihan lain, apakah akan melakukannya atau tidak. Seorang mukmin justru harus yakin bahwa pilihan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pantas daripada pilihannya. Tidak pantas hawa nafsunya menjadi penghalang antara dirinya dan keputusan Allah ‘azza wa jalla serta Rasul-Nya.

 

Mencintai, Menaati, dan Mengikuti Sunnah Rasul, Bukti Benarnya Kecintaan terhadap Allah ‘azza wa jalla

Sebagaimana yang dipaparkan di atas, kecintaan seorang hamba kepada Allah ‘azza wa jalla memiliki beberapa konsekuensi. Di antaranya ialah mencintai, menaati, dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan hal ini di dalam firman-Nya,

Katakanlah, “Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah ‘azza wa jalla, ikutilah aku, niscaya Allah ‘azza wa jalla mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, “Ayat yang mulia ini menjadi hakim terhadap orang yang mengaku cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan berada di atas jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengakuannya adalah dusta, sampai dia mengikuti agama dan syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan dan perbuatannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari no. 14)

Al-Qur’an al-Karim mengiringkan perintah untuk menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perintah menaati Allah ‘azza wa jalla di banyak tempat. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (an-Nisa: 80)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan rahasia ayat ini, “Setiap orang yang menaati perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti benar-benar menaati Allah ‘azza wa jalla. Sebab, beliau tidak memerintah dan tidak melarang kecuali dengan perintah, syariat, dan wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, firman Allah ‘azza wa jalla ini mengandung (dalil yang menunjukkan) kemaksuman Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah ‘azza wa jalla memerintahkan (kepada para hamba- Nya) untuk menaati beliau secara mutlak. Seandainya beliau tidak maksum (terjaga dari kesalahan dan kekeliruan) pada seluruh perkara yang beliau sampaikan dari Allah ‘azza wa jalla, niscaya Allah ‘azza wa jalla tidak akan memerintahkan untuk menaati beliau secara mutlak dan tidak memuji hal itu.”

 

Keselamatan & Kebahagiaan di Dunia & di Akhirat dengan Mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Rasul-Nya,

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

Barang siapa menaati beliau dan mengikuti sunnahnya, niscaya akan mendapatkan petunjuk di dunia dan di akhirat. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “… Maknanya adalah engkau menerangkan, menjelaskan, menerangi, dan menolong mereka ke jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim) serta melarang dan menakut-nakuti mereka dari hal yang bertentangan dengan ash-shirathal mustaqim.”

Beliau rahimahullah juga menerangkan, “Apabila kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk menuju ash-shirathal mustaqim, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah kecuali dengan menaati beliau. Tanpa ketaatan terhadap beliau, tidak mungkin (hidayah itu didapatkan), bahkan mustahil.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk ke dalam jannah kecuali orang yang menolak (masuk surga).” Beliau ditanya, “Siapakah yang menolak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, niscaya dia akan masuk ke dalam jannah; dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah menolak masuk jannah.” (HR. al-Bukhari no. 6851)

Di dalam banyak ayat, Allah ‘azza wa jalla menegaskan perintah untuk taat kepada Rasul-Nya dalam bentuk ancaman. Di antaranya,

“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Firman-Nya,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Makna ayat ini, kata asy-Syaikh Sa’di rahimahullah, di dalam tafsirnya, “Barang siapa menyelisihi Rasul dan menentang syariat yang beliau bawa (dari sisi Allah ‘azza wa jalla) setelah mendapatkan kejelasan dengan dalil al-Qur’an atau sunnah, lantas dia mengikuti selain jalan orang yang beriman dalam hal akidah, keyakinan, maupun amalan; niscaya Kami akan membiarkannya dan apa yang menjadi pilihannya. Setelah itu, Kami akan menghinakannya sehingga Kami tidak akan memberinya hidayah taufik kepada kebaikan karena perbuatannya, yaitu mengetahui kebenaran lantas meninggalkannya. Jadi, balasan Allah ‘azza wa jalla terhadapnya adalah keadilan. Dia membiarkannya dalam kesesatan dan kebingungan, dan terus bertambah kesesatan itu pada dirinya. Na’udzubillah min dzalik.”

 

Ketaatan terhadap Pemerintah adalah Ibadah

Di antara sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita pegang teguh dan dakwahkan ialah perintah untuk taat kepada pemerintah walaupun bukan sosok yang suci dari kesalahan. Telah dibahas panjang lebar pada edisi 95 Mengapa Rakyat Harus Taat? tentang kewajiban rakyat untuk taat kepada pemerintah atau penguasa yang muslim dalam hal yang ma’ruf dan sesuai dengan kemampuan.

Namun, ada hal penting yang harus kita sampaikan dan ingatkan kepada umat: Ketaatan kita terhadap pemerintah yang muslim adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, ketaatan tersebut dibangun di atas dua syarat yang menjadi penentu diterima atau tidaknya ibadah, yaitu ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Allah ‘azza wa jalla memerintah hamba-Nya untuk menaati para penguasa,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah ‘azza wa jalla, taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa’: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa menaatiku, sungguh dia telah menaati Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah mendurhakai Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa menaati pemimpinku (penguasa muslim), sungguh dia telah menaatiku. Barang siapa mendurhakai pemimpinku (penguasa muslim), sungguh dia telah mendurhakaiku.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Makna ketaatan terhadap pemerintah ini tidak mutlak. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (terhadap pemerintah), baik pada urusan yang disukai maupun dibenci, kecuali apabila diperintah untuk bermaksiat. Apabila dia diperintah berbuat maksiat, tidak boleh mendengar dan taat (dalam hal itu).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

 

Demokrasi Merusak Moral Generasi

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Setiap muslim wajib dengan sebab konsekuensi agamanya untuk mendengar dan taat terhadap pemerintahnya, baik pada urusan yang dia sukai maupun yang dia benci. Sampai-sampai, kalau diperintah untuk melakukan sesuatu yang dia benci, dia wajib melakukannya, walaupun dia memiliki pendapat yang lain. Walaupun tidak suka melakukannya, dia wajib melakukannya, kecuali apabila diperintah untuk berbuat maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila diperintah untuk berbuat maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla, ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla harus didahulukan di atas segala bentuk ketaatan; tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepada al-Khaliq.

Hadits di atas memuat dalil yang menunjukkan kesalahan pendapat, “Kita tidak menaati pemerintah kecuali dalam hal yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla.” Makna ucapan tersebut, apabila mereka memerintah kita untuk shalat, kita shalat. Apabila mereka memerintahkan untuk membayar zakat, kita membayar zakat. Adapun apabila mereka memerintahkan urusan yang tidak adaperintahnya secara syar’i, kita tidak wajib menaati mereka. Sebab, mereka (dalam hal ini) berarti pembuat syariat. Sungguh, ini adalah pendapat batil yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab, kalau kita berpendapat tidak akan menaati penguasa kecuali pada urusan yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada kita, berarti tidak ada perbedaan antara penguasa dan pihak lain yang memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, maka wajib ditaati.

Kita mengatakan, “Bahkan, kita diperintahkan menaati mereka pada urusan yang tidak Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada kita. Jika hal tersebut tidak dilarang atau diharamkan, kita wajib menaati mereka, sampai pun dalam hal tata tertib (misal: peraturan lalu lintas). Apabila mereka (pemerintah) telah membuat tata tertib (yang terkait dengan) pekerjaan, kita wajib menaatinya. Sebab, menaati mereka berarti melaksanakan perintah Allah ‘azza wa jalla dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merupakan upaya menjaga stabilitas keamanan, menjauhkan diri dari sikap mendurhakai pemerintah, dan menjauhkan diri dari sikap berpecah belah. Kalau kita berpendapat tidak menaati mereka kecuali pada urusan yang telah Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada kita, berarti tidak ada ketaatan kepada para penguasa.

Ada sebagian peraturan—sebagai contoh—yang ditetapkan oleh pemerintah dan tidak menyelisihi syariat. Akan tetapi, syariat tidak menentukan hal itu secara pasti. Jika ada orang yang mengatakan, “Kami tidak akan menaatinya,” kita jawab, ‘Anda tetap wajib menaatinya. Apabila melanggarnya, berarti Anda berdosa dan berhak mendapatkan hukuman dari Allah ‘azza wa jalla dan hukuman dari pemerintah’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/321)

 

Hikmah Perintah Taat kepada pemerintah

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada yang mampu mengatur umat manusia kecuali pemimpin/penguasa, baik penguasa yang baik maupun yang jahat.”

Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, tentang pemimpin yang baik (tentu kita maklumi). Bagaimana halnya dengan pemimpin yang jahat?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya, dengan perantaraan adanya pemimpin meski jahat, Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan jalan itu aman, kaum muslimin bisa berjihad melawan musuh, mendapatkan fai’ (harta rampasan), hukum ditegakkan, dan ibadah haji ke baitullah ditunaikan. Seorang muslim bisa beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan aman sampai datang ajalnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ di dalam kitab Akhbar al-Qudhat, 1/21)

Al-‘Allamah Shadrudin as-Sulami rahimahullah menjelaskan tentang hikmah Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang memerintah hamba-Nya menaati pemerintahnya dan melarang keras sikap menyelisihi perintah-Nya. Berikut ini ucapan beliau. “Sungguh, telah diriwayatkan kepada kita hadits sahih yang sampai pada derajat mutawatir atau mendekatinya, tentang perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat kepada waliyul ‘amr (penguasa), menasihati dan mencintai mereka, serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Kalau kita mau menyebutkannya, pembicaraannya akan menjadi panjang. Akan tetapi, ketahuilah–semoga Allah ‘azza wa jalla membimbing kita untuk mengikuti sunnah serta menjauhkan kita dari penyimpangan dan kebid’ahan—termasuk kaidah syariat agama yang hanif ini ialah ketaatan terhadap penguasa hukumnya wajib atas setiap rakyat. Apalagi ketaatan terhadap penguasa itu akan menyatukan urusan agama yang terpisah-pisah dan menyebabkan teraturnya seluruh urusan kaum muslimin.

Mendurhakai penguasa akan meruntuhkan pilar agama, padahal kebahagiaan tertinggi akan didapatkan dengan menaati penguasa ialah terjaga seluruh keburukan dan terselamatkan dari seluruh syubhat. (Maknanya), ketaatan kepada penguasa menjadi penjagaan dan perlindungan (dari berbagai keburukan) bagi siapa saja. Dengan ketaatan itu, akan tegak berbagai hukum, tertunaikan kewajiban, terlindungi darah (kaum muslimin), dan terjamin keamanan di jalan-jalan. Oleh karena itu, alangkah bagusnya ucapan para ulama, “Sesungguhnya ketaatan kepada penguasa adalah penerang bagi siapa saja yang menggunakan cahayanya dan perlindungan bagi siapa saja yang senantiasa menjaganya.” (Tha’atu as-Sulthan, hlm. 45)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Hadits ini dan hadits sebelumnya yang tidak disebutkan secara keseluruhan oleh pengarang (an-Nawawi rahimahullah dalam Riyadh ash-Shalihin), menunjukkan wajibnya menaati para penguasa kecuali pada urusan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, hikmah dari menaati mereka adalah kebaikan, keamanan, dan ketertiban; demikian juga tidak akan timbul kekacauan dan perbuatan mengikuti hawa nafsu.

Apabila penguasa didurhakai dalam urusan yang semestinya ditaati, akan timbul kekacauan. Setiap orang merasa bahwa pendapatnyalah yang benar, sehingga akan menghilangkan keamanan, mengacaukan berbagai urusan, dan akan menimbulkan berbagai keburukan.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 2/329)

 

Wajib Ditaati Walaupun Mendapat Kekuasaan dengan Cara yang Batil

Karena hikmah atau tujuan yang mulia inilah, Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya memerintah kaum muslimin untuk menaati penguasanya dalam hal yang ma’ruf; walaupun penguasa tersebut mendapatkan kekuasaan dengan cara yang batil, seperti kudeta/penggulingan kekuasaan, pemilu (demokrasi), dan sebagainya; atau tidak memenuhi syarat yang syar’i sebagai penguasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

“Dengar dan taatlah, walaupun yang menjadi penguasa atas kalian adalah seorang budak Habasyah yang rambut kepalanya seperti kismis.” (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan dalam Manaqib asy-Syafi’i (91/448) dari Harmalah, dia berkata, “Aku mendengar al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata (1/448), ‘Setiap orang yang berhasil menggulingkan penguasa dengan pedang/senjata hingga disebut khalifah (penguasa) dan manusia (rakyat) bersatu atasnya, dia adalah khalifah (penguasa)’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sungguh, para ahli fikih telah sepakat tentang wajibnya taat kepada orang yang berhasil menjadi penguasa dengan jalan kudeta. Selain itu, wajib pula berjihad bersamanya. Sebab, ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak/mendurhakai perintahnya. Sikap tersebut akan menghalangi tertumpahnya darah (kaum muslimin) dan meredam berbagai kekacauan.” (Fathul Bari, 7/13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kalau ada seseorang menjadi penguasa dengan cara memberontak, lalu berhasil mengalahkan, dan berkuasa, padahal dia bukan dari bangsa Arab, dia adalah budak Habsyi, tetap wajib atas kita untuk mendengar dan taat. Sebab, alasan (perintah mendengar dan taat kepada penguasa) hanya satu; yaitu kalau kita tidak mau mendengar dan taat, akan terjadi kekacauan aturan, hilangnya rasa aman, dan timbul suasana mencekam. Yang jelas, kita wajib mendengar dantaat kepada para pemimpin kita, kecuali apabila mereka memerintahkan untuk berbuat maksiat.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 2/223)

Adapun sikap Ahlus Sunnah yang tidak ikut demokrasi dan pemilu, tidak berarti Ahlus Sunnah merencanakan dan mempersiapkan penggulingan kekuasaan (kudeta). Sikap tersebut dibangun berdasarkan keyakinan bahwa demokrasi dan pemilu adalah mungkar dan batil, bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah, sehingga kita tidak boleh taat dalam urusan yang seperti ini.

Lebih-lebih lagi pemilu adalah hak dan bukan kewajiban warga negara, sebagaimana termaktub di dalam UU No. 3 Tahun 1999 Bab V Pasal 28, “Warga negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut warga negara yang pada waktu pemungutan suara untuk Pemilihan Umum sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak pilih.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al- Wadi’i rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah, alhamdulillah, senantiasa menuntut adanya pemimpin/presiden muslim yang tidak percaya dengan demokrasi dan yang menjaga shalat. Kita tidak menginginkan pemimpin yang lain (kafir). Kita menginginkan pemimpin yang muslim. Kita katakan kepada para pemimpin, ‘Perbaikilah urusan kalian dan istiqamahlah. Kami tidak menginginkan kedudukan kalian, tetapi istiqamahlah kalian di atas al-Kitab dan as-Sunnah’.” (Tuhfatul Mujib, hlm. 246)

Beliau rahimahullah juga mengatakan bahwa Ahlus Sunnah beramal ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla, bukan karena kursi. Lantas beliau membaca firman Allah ‘azza wa jalla,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita dan para pemimpin kita untuk istiqamah di jalan-Nya yang mulia. Amin.

Kedaulatan Negara Berada di Tangan Partai

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

peta-indonesia

Masa orde baru, pemilihan umum (pemilu) sering didengungkan sebagai pesta demokrasi. Sebagian masyarakat menyambut gegap gempita. Walau tak sedikit yang lantas menjadi korban kebrutalan massa, namun semangat untuk membela partai tetap menyala.

Pesta demokrasi pada masa orde baru pernah ditetapkan hanya diikuti oleh tiga partai politik. Keberadaan tiga kontestan dalam pemilu tersebut lebih disebabkan kebijakan pemerintah orde baru yang melebur beberapa partai bercorak “Islam” ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Begitu pula dengan partai berbau nasionalis-marhaen yang dicelup dalam bingkai Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Adapun Partai Golkar merupakan partai penguasa yang didukung segenap onderbouw, seperti KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) serta dukungan kebijakan pemerintah yang menetapkan peraturan monoloyalitas PNS (Pegawai Negeri Sipil). Kebijakan-kebijakan penguasa kala itu menjadikan Golkar selalu menjadi pemenang pemilu mulai 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Bagi PPP dan PDI, keikutsertaannya dalam pemilu seakan sebagai pemanis pesta demokrasi.

Sebagai catatan sejarah, proses penyelenggaraan pemilu saat itu seringkali memakan korban. Entah itu kerusuhan yang sifatnya massif atau hanya bersifat individual. Pemilu itu sendiri mencuatkan pertarungan yang kompetitif. Satu pendukung dengan pendukung partai lainnya bisa saling berbenturan, adu jotos, bahkan saling membunuh.

Lebih dari itu, pemilu yang merupakan produk paham demokrasi tidak pernah memberi kebaikan kepada kaum muslimin. Di belahan bumi mana pun, pemilu dan demokrasi selalu menimbulkan mudarat. Keburukan demi keburukan selalu dipanen oleh sebagian kaum muslimin yang masih berkeyakinan bahwa jungkir balik dalam pesta demokrasi termasuk perjuangan mulia.

Becerminlah dari sejarah. Saat masa pemerintahan orde lama, pernah naik ke pentas politik nasional Partai Masyumi. Inilah satu-satunya partai berasas Islam yang memperjuangkan tegaknya hukum Islam di Indonesia. Walau dengan tingkat soliditas yang luar biasa, Partai Masyumi akhirnya dijegal oleh kalangan nasionalis sekuler dan kalangan komunis. Melalui Surat Keputusan Presiden (Kepres) No. 200/1960, Presiden Ir. Soekarno saat itu menekan agar Partai Masyumi membubarkan diri. Apabila tidak, akan dinyatakan sebagai partai terlarang. Dengan tekanan politik seperti itu, akhirnya Partai Masyumi membubarkan diri (Asy-Syariah, No. 49/V/1430 H/2009 hlm.17). Kandas sudah perjuangan menegakkan syariat Islam melalui jalur demokrasi. Sejarah telah mencatat tragedi memilukan ini.

Tidak hanya itu, di era reformasi sekarang pun, masih ada sebagian kaum muslimin yang coba-coba menceburkan diri ke kubangan demokrasi. Kata mereka, ingin memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan kebenaran bagi masyarakat. Namun, apa yang terjadi dengan para pemeran di panggung politik ini?

Sebagian terjungkal karena korupsi. Mengapa sampai harus korupsi? Jawabannya bisa beragam. Namun, membesarkan partai, menggemukkan perolehan suara dalam pemilu, dan mempertahankan kursi di partai dan legislatif perlu biaya banyak. Karena itulah, dana pun harus didapat walau dengan cara tidak terpuji. Nas’alullaha as-salamah.

Partai yang dahulu dilabeli dengan bersih dan peduli pun kini tak lagi bisa dipercaya. Sebagian masyarakat bahkan merasa jijik. Tangan penggede partai berlumuran maksiat. Masihkah yang seperti ini dipercaya memperjuangkan Islam?

Pangkal dari musibah ini ialah karena jalan yang ditempuh telah menyelisihi syariat. Demokrasi dan pemilu telah mendorong orang-orang partai politik bergelut dengan ketidakjujuran. Demokrasi dan pemilu telah membentuk jiwa-jiwa kerdil yang dirasuki mimpi-mimpi keduniaan nan menggiurkan dan penuh tipuan.

Jadi, masih belum jerakah hidup mengusung demokrasi? Belum jerakah berpesta pora lagi mabuk kepayang dengan pemilu? Masihkah bersemangat merajut impian-impian tak pasti? Betapa kasihan, apabila demi satu kursi, dirimu terjatuh dalam beragam pelanggaran syariat. Duhai, bilakah kesadaran itu bangkit menyelimuti dirimu?

Kini, apa yang terjadi di dunia luar setelah mereka bersorak sorai menyambut pesta demokrasi? Mesir, Palestina, Turki, dan Aljazair telah menjadi saksi. Betapa demokrasi dan pemilu tiada menjanjikan apa pun selain penistaan terhadap kaum muslimin. Ya, nista, hina, dina.

 

Berdemokrasi Bakal Menuai Bencana

Di Mesir, saat pemilu dilaksanakan, partai politik Ikhwanul Muslimin berhasil memenangkan pemilu. Muhammad Mursi pun lantas menjadi presiden terpilih. Tak berapa lama setelah menduduki kursi kepresidenan yang diraih melalui pemilu, kekuatan militer menggulingkan kekuasaannya. Mursi pun dimakzulkan, lengser. Dampaknya, terjadi kericuhan di Bumi Piramid itu. Darah tertumpah. Tak sedikit nyawa melayang. Harta benda hancur begitu saja. Entah berapa besar kerugian yang diderita. Sungguh, mengikuti langgam orang kafir dalam berdemokrasi hanya menyisakan kepiluan. Demokrasi tiada memberi manfaat kepada kaum muslimin.

Di Turki, nyaris sama. Erbakan memenangi pemilu dan sempat duduk di kursi perdana menteri selama dua tahun. Namun, ia akhirnya harus menghadapi laras senjata militer. Erbakan diturunkan secara paksa. Sekali lagi, demokrasi dan pemilu tak menjanjikan kebaikan apapun selain mudarat.

Di Aljazair, karena demokrasi dan pemilu, rakyat menjadi korban pembantaian. Saat Partai FIS memperoleh kemenangan dalam pemilu, pihak militer lantas mengambil alih kekuasaan. Militer membatalkan hasil pemilu. Abbas Madani dan Ali Belhaj sebagai petinggi partai dijebloskan ke penjara. Kekacauan terjadi di mana-mana. Tak semata atribut partai yang dilarang, bahkan syiar-syiar keislaman pun dilarang oleh penguasa. Segala yang berbau Islam dienyahkan. Musibah nan teramat mengerikan. Ternyata, berdemokrasi hanya bakal menuai bencana.

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman bin Ali al-Jami rahimahullah mengatakan, pemilu merupakan ujian yang merusak hati dan menimbulkan dendam permusuhan, lalu bisa menjerumuskan pada pertumpahan darah. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah wa Annaha Laisat min al-Islam, hlm. 30)

Karena itu, sungguh sangat sulit dipercaya apabila jalur demokrasi bisa memperbaiki keadaan kaum muslimin. Demokrasi tidak akan memberikan kebaikan kepada kaum muslimin. Bahkan, jalur demokrasi dan pemilu menyebabkan kaum muslimin lemah memegang prinsip agamanya. Bagaimana tidak, saat seorang muslim larut dalam pesta demokrasi, senyatanya ia tengah luntur sikap loyalitasnya kepada al-haq dan ahlul haq. Di sisi lain, ia justru menyokong teman berbeda agama hanya karena sang teman tergabung dalam satu partai dengannya.

Bagaimana kaum muslimin tidak menuai bencana, ketika yang menentukan seseorang ditampilkan sebagai figur dalam pemilu adalah rekomendasi partai. Seorang Nasrani pun bisa tampil menjadi kandidat dari partainya selama pihak partai merekomendasi sang Nasrani. Lantas, bagaimana halnya dengan seorang muslim yang ada dalam satu partai tersebut? Apabila menolak dan tidak mendukung, berarti melawan keputusan partai. Memberi dukungan berarti telah luntur sikap al-wala’ wa albara’. Sungguh, apabila terjadi demikian, tentu merupakan bencana bagi diri dan agamanya. Nas’alullaha as-salamah.

Itulah sisi buruk sistem demokrasi bagi kaum muslimin. Sistem demokrasi hanya berlaku bagi partai politik berlabel “Islam” yang sekiranya tidak membahayakan kepentingan Barat dan tidak mematikan keberlangsungan sistem sekuler. Manakala membahayakan, maka sistem demokrasi akan menampakkan wajah aslinya sebagai monster yang haus darah. Siap memangsa dan membantai lawan. Sejarah di belahan bumi kaum muslimin telah menorehkan kesaksiannya.

 

Kedaulatan Berada di Tangan Partai

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman bin Ali al-Jami rahimahullah mengemukakan, tidak diragukan lagi bahwa sistem (nizham) demokrasi merupakan sistem menyimpangdan jahil. Tidak dibenarkan bagi kita di negara Saudi Arabia, bahkan di segenap negeri Islam yang beriman dengan sistem Islam, menerapkan sistem demokrasi ini. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 14)

Menerapkan sistem demokrasi dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu tercerabutnya tradisi keislaman di negaranegara kaum muslimin. Di Yaman, Abdul Majid az-Zindani meniupkan sistem demokrasi hingga mendorong para muslimah melenggang di dunia politik. Ini dilakukan tanpa memedulikan lagi ketentuan syariat. (Tuhfatu al-Mujib ‘ala As’ilati al-Hadhiri wa al-Gharib, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, hlm. 417)

Di Sudan, melalui sistem demokrasi yang diterapkan, hasil pemilu di negara tersebut memunculkan wakil presiden beragama Kristen. Hasan at-Turabi menjadi pelopor gerakan penerapan sistem menyimpang dan jahil ini.

Apa yang digembar-gemborkan sistem demokrasi bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat nyatanya masih dipertanyakan. Walaupun rakyat melakukan pemilihan langsung wakil atau pemimpin mereka, kenyataannya justru pemimpin atau wakil rakyat tersebut ditetapkan oleh partai. Rakyat memilih setelah pilihan itu disodorkan partai. Melalui mekanisme partai inilah wakil/pemimpin dipilih.

Karena itu, tak mengherankan apabila setelah lolos dan terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin, komitmen memperjuangkan partai lebih menonjol dibanding dengan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Bisa jadi, meski dirinya memperjuangkan nasib rakyat, diharapkan juga bisa mendongkrak pamor partai di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya, semua yang dilakukannya merupakan politik pencitraan terhadap partai yang menjadi kendaraan para politikus tersebut.

Lebih aneh lagi, seorang yang dicalonkan pada dapil (daerah pemilihan) tertentu, ternyata sang calon ini tidak berdomisili di daerah dapil itu. Bahkan, ia tidak berasal dari daerah pemilihan tersebut. Dengan kondisi semacam itu, apakah mungkin sang calon akan benar-benar memperjuangkan nasib rakyat yang memilihnya? Padahal dirinya bukan berasal dari daerah itu dan tidak mengenal secara dekat denyut kehidupan masyarakatnya.

Berapa banyak sang wakil rakyat yang tidak memiliki ikatan batin dengan rakyat yang memilihnya? Rakyat cukup disodori gambar dengan segala akting manis sang calon wakil rakyat saat menjelang pemilu. Setelah terpilih, ia pun melupakan rakyat yang memilihnya. Jangankan datang berkunjung untuk melihat langsung keadaan rakyat yang memilihnya, namanya saja sudah dilupakan orang. Kedaulatan ada di tangan partai; seperti itulah buahnya.

Kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, “Demokrasi bermakna rakyat menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri. Seandainya (melalui pemilu) menghasilkan suara (terbanyak) bahwa homoseksual itu halal, niscaya hasil pemilu itu lebih didahulukan daripada al-Kitab dan as-Sunnah.” (Tuhfatu al- Mujib, hlm. 431)

Karena itu, orang yang cerdas dan berakal normal akan melihat sistem demokrasi sebagai sistem yang rusak dan tidak menjanjikan kebaikan. Sungguh naif sekali apabila menentukan baik-buruk, halal-haram, ataupun benar-salah melalui pemungutan suara. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kebenaran itu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), ketahuilah bahwa Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 49—50)

Kedaulatan berada di tangan partai. Rakyat tinggal memilih wakilnya berdasar apa yang disodorkan oleh partai. Di dalam partai, tentu ada mekanisme yang mengatur sehingga Mr. Fulan yang disodorkan ke publik memiliki komitmen, loyal, dan terikat kepada partai. Jika tidak, Mr. Fulan tentu akan dicutik hingga tak berkutik.

Di sebuah negeri bersendi demokrasi, partai memegang kedaulatan. Partai memiliki kekuasaan dan pengaruh. Karena itu, banyak orang tergiur menjadi pengurus partai. Ramai-ramai mendirikan partai. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi hidayah.

 

Dampak Buruk Sistem Demokrasi

Di antara kerusakan yang ditimbulkan sistem demokrasi terhadap masyarakat, seseorang didorong untuk mewujudkan ambisinya menjadi pejabat publik. Padahal jabatan adalah amanat yang kelak harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.

Lebih tragis lagi, upaya untuk meraup jabatan itu disertai janji-janji kosong yang tidak ada realitasnya. Demi meraih apa yang diinginkannya, ia tak memedulikan lagi nilai kejujuran, praktik suap, dan menyia-nyiakan harta demi memasyhurkan dirinya. Selanjutnya, kebohongan akan menjadi watak jahat yang muncul mengiringi keberhasilannya menampuk kursi jabatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati sahabat yang mulia, Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu,

 يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Sebab, sungguh, jika engkau diberi kedudukan tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (Allah ‘azza wa jalla) atas jabatan (yang engkau emban). Adapun jika jabatan itu diperoleh dari hasil meminta, engkau bakal dibebani jabatan tersebut (tidak akan ditolong Allah ‘azza wa jalla).” (HR. al-Bukhari no. 7146 dan Muslim no. 1652)

Demokrasi telah turut andil mengobarkan ambisi merebut jabatan, meruntuhkan moral, dan menyianyiakan nikmat yang diberikan Allah ‘azza wa jalla. Padahal, kelak Allah ‘azza wa jalla akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat-nikmat tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang telah diberikan padamu).” (at-Takatsur: 8)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin Ali al-Jami menyebutkan beberapa kerusakan yang bisa ditimbulkan lantaran melaksanakan sistem demokrasi di negeri kaum muslimin. Di antara kerusakan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Muncul kebebasan berakidah. Maksudnya adalah bebas untuk memilih agama (murtad dari Islam). Sistem demokrasi membuka peluang setiap individu untuk mengubah keyakinan dan agamanya. Kebebasan ini bahkan dilindungi undang-undang.
  2. Kebebasan dalam berperilaku, kebebasan menampilkan nilai-nilai kaum kafir, dan kebebasan berekspresi.
  3. Kebebasan berpikir dan berpendapat, kebebasan mengeluarkan pemikiran dan pendapat tanpa dibatasi ketentuan yang ada; tanpa menimbang baik-buruk.

Khusus di Indonesia, kebebasan ini mencakup kebebasan “mengkritik” dan mencela pemerintah di depan publik; baik dengan cara demonstrasi, membeberkan melalui media masa, atau ceramah umum. Kebebasan berpikir dan berpendapat dalam Islam diatur sedemikian rupa.

Kebebasan berpikir dan berpendapat dalam Islam dibatasi oleh ketentuan syariat; baik dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar, nasihat, maupun saling mengingatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, hendaklah berbicara yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا لَعَّانٍ وَلَا فَاحِشٍ وَلَا بَذِيءٍ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berbuat keji, dan kotor.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim, beliau menyatakan sahih)

Inilah perbedaan nilai kebebasan demokrasi dan Islam. Kebebasan yang diberikan oleh Islam dibingkai dengan nilai syariat, tidak sebagaimana kebebasan yang ditentukan oleh sistem demokrasi yang bersifat mutlak tanpa ada kaidahyang melingkupinya. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 20—25 dinukil secara ringkas)

Menanam sistem demokrasi sama dengan menanam kebebasan tanpa batas. Sebab, demokrasi itu sendiri bermakna liberalisasi; yaitu sebuah sistem yang meniupkan hawa buruk yang bernama kebebasan mutlak tanpa batas. Buah dari itu semua, moral masyarakat akan tercabik-cabik, keimanan akan melemah dan hancur, cara berpikir masyarakat tidak terbangun secara sehat, dan ambisi untuk menekuk rival politik akan semakin liar. Demokrasi hanya menjanjikan kerusakan demi kerusakan.

Kalau mau jujur, keluhan yang tampak sekarang, senyatanya menggambarkan betapa kebejatan demokrasi telah menggerogoti sistem bermasyarakat bangsa Indonesia ini. Adapun yang bisa melihat semua kebobrokan itu hanya orang-orang yang mau berpikir secara jernih dan sehat dengan bimbingan Islam.

Wallahu a’lam.

Surat Pembaca Edisi 100

Nabi Seorang yang Ummi?

Bismillah. Pada rubrik “Hadits” Asy-Syariah no. 99 ada yang saya tidak mengerti.

Pada hadits tersebut diartikan “Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah….”

Pertanyaan saya:

  1. Bukankah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Mengapa dalam hadits ini beliau bisa membaca?
  2. Apa iya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sendiri kitab itu lalu beliau marah dengan bentuk kemarahan yang ditujukan pada ‘Umar radhiallahu ‘anhu? Atau mungkin ‘Umar yang membaca dan ia perdengarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau marah dan mencela ‘Umar? Konteks yang seperti ini pernah saya baca dan dengarkan di taklim-taklim para ustadz.

Abu ‘Abdillah

085258xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Berikut ini kami nukilkan jawaban dari penulis.

Hadits-hadits serupa ini banyak, seperti hadits yang menyebutkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat-surat kepada para raja dan pembesar. Maknanya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membaca dan menulis. Yang seperti ini biasa dalam bahasa, yakni perbuatan dinisbatkan pada yang memerintah. Contoh lain, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi; apakah maknanya semua dibangun rasul? Misal yang lain, perluasan Masjid Haram dilakukan oleh Raja Fahd, apakah berarti beliau yang membangunnya sendirian?

Barakallahu fikum.

 

Penomeran Hadits

Bismillah. Untuk redaksi Majalah Asy-Syariah, mau usul kalau bisa semua hadits yang dimuat dalam majalah ini diberi nomer hadits supaya ana lebih mudah untuk tambahan ilmunya. Contoh di edisi vol. VII/No. 80/1433H/2012 hlm. 51 (Mengharap Berkah….), itu hadits-haditsnya tidak ada nomer kitab yang bersangkutan.

081322xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Walaupun tidak mudah, kami akan terus berupaya memenuhi usulan Anda. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

 

SMS Tak Pernah Dibalas

Kami sering SMS tanya lewat redaksi, tapi sering tidak dibalas, kan kita bukan orang pondok, dangkal ilmunya. Kita kan ingin solusi agar tidak terjerumus pada hal yang dilarang. Maka dari itu, mohon bagi para asatidz yang berilmu, memberi ta’awun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan bagi yang masih jahil, semoga Allah ‘azza wa jalla membalas kebaikan yang banyak.

085728xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Kami mohon maaf jika banyak SMS masuk ke redaksi yang belum dibalas hingga kini. Hal ini dikarenakan SMS yang masuk jumlahnya ribuan. Selain itu, pertanyaan agama membutuhkan penelaahan yang tentu tidak semudah menjawab pertanyaan nonagama. Lebih-lebih tidak sedikit pertanyaan yang mengandung tingkat kesulitan yang tinggi, yang untuk menjawabnya, harus membuka kitab hadits dan perlu pengkajian mendalam. Mohon dimaklumi karena ustadz-ustadz yang mengasuh rubrik di Majalah Asy-Syariah juga memiliki kesibukan di pondok pesantren dan berdakwah baik di dalam maupun luar kota.

Menungu Hancurnya Demokrasi

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hajatan politik bernama Pemilu benar-benar menguras energi bangsa ini. Tak hanya soal anggaran pemerintah atau dana yang dirogoh dari kantong pribadi partisipan, tetapi Juga hampir seluruh sumber daya yang ada all out dikerahkan. Semuanya demi sebuah prestise kekuasaan mengatasnamakan rakyat. Lebih-lebih persiapannya sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pileg dan pilpres berakhir, pemilukada di depan mata. Belum pemilihan dalam lingkup lokal seperti pilkades. Ini terus berlangsung dalam siklus lima tahunan. Jadi dari tahun ke tahun, kekuasaan selalu menjadi fokus dan tema panas.

Jika sudah pernah duduk di legislatif sebelumnya, periode berikutnya pun berupaya “eksis” lagi. Demikian juga dengan jabatan kepala daerah, andaikan tidak dibatasi aturan, sangat mungkin sampai seumur hidup jabatan itu akan terus dikejar. Dahulu pernah jadi menteri, “turun pangkat” jadi gubernur/wakil gubernur atau walikota pun tak masalah, yang penting kekuasaan itu dalam genggaman. Alhasil, kutu loncat politik pun bermunculan. Idealisme atau garis ideologi partai menjadi omong kosong. Yang penting terpilih, yang penting bisa kembali duduk di lingkaran kekuasaan. Membela rakyat yang acap jadi jargon pun terbang entah ke mana.

Demokrasi menjadi kian tidak jelas, kala demi menjaring suara sebanyak-banyaknya, artis-artis dengan akhlak yang juga tidak jelas malah dimunculkan. Tidak sedikit pula caleg dengan latar belakang ekonomi lemah, nekat “maju” dengan terlilit utang besar. Tidak heran, jika segala cara kemudian dilakukan: politik uang, kampanye hitam, obral janji, hingga mendatangi dukun. Maka menjadi aneh, jika kita banyak berharap dengan orang-orang aneh semacam ini.

Itulah politik yang penuh intrik. “Wakil rakyat” akhirnya tak lebih jadi jembatan untuk memperkaya diri. Padahal ada anomali demokrasi yang jauh lebih besar dari semua itu. Demokrasi yang berakar dari filosofi Yunani, telah menuhankan suara terbanyak sebagai standar untuk mengambil keputusan “terbaik”. Suara mayoritas dan minoritas seakan-akan menjadi Rabb yang membuat syariat atau menakar sebuah kebenaran.

Prinsip-prinsip demokrasi juga memberi celah yang lebar kepada kalangan non-Islam untuk duduk di kursi pemerintahan, karena al-wala’ wal bara’ yang menjadi dasar akidah setiap muslim, dikaburkan. Tak heran, deal-deal politik atau koalisi antara partai (yang mengaku) Islam dan partai/tokoh sekular atau non-Islam menjadi biasa. Partai (yang mengaku) Islam yang memiliki caleg nonmuslim justru merasa bangga, partainya adalah partai terbuka, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Akhirnya, umat lagi yang jadi korban. Selain terkotak-kotak pada partai dan arus politik, sebagian umat Islam “dipaksa” menyumbang suara demi kandidat nonmuslim. Na’udzubillah.

Jangan pernah berasumsi bahwa demokrasi adalah satu-satunya sistem yang paling bisa diterima dan paling dekat dengan Islam. Jauh sekali. Kita semestinya meyakini, tujuan dan hasil yang baik harus ditempuh dengan cara/sistem yang baik pula.

Betapa banyak sistem di dunia yang akhirnya hancur luluh tertepikan zaman, gagal eksis, karena dianggap tidak bisa memberikan sesuatu yang baik. Seperti itulah nasib yang akan dialami sistem-sistem buatan manusia. Jadi, jangan pernah berharap kebaikan dari sistem yang rusak. Sembari kita terus berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla, agar Ia memberikan jalan yang terbaik, yakinlah demokrasi pun sebentar lagi akan terlumat oleh waktu.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Bahaya Memuji Ahli Bid’ah & Mendiamkan Kebid’ahan

Dalam kitabnya, Mukhtashar Firaqil Fuqaha, Abul Walid Sulaiman al-Baji menyebutkan tentang al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani sebagai berikut.

Abu Dzar ‘Abd bin Ahmad al-Anshari al-Harawi cenderung kepada mazhab Asy’ariyah. Aku pun bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan (mazhab) ini?”

Abu Dzar al-Harawi menjawab, “Dahulu aku pernah berada di Baghdad bersama dengan al-Hafizh Abul Hasan Ali bin Umar ad-Daraquthni. Kami berjumpa dengan al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin Thayyib (al-Baqillani). Ad-Daraquthni kemudian memeluk dan mencium wajah serta kedua mata orang tersebut. Setelah kami berpisah dengannya, aku bertanya kepada ad-Daraquthni, ‘Siapa orang tadi, yang aku sangka engkau tidak akan memperlakukannya demikian rupa padahal engkau adalah imam di masamu?’

Ad-Daraquthni menjawab, ‘Dia adalah imam kaum muslimin, pembela agama. Dialah al-Qadhi Abu Bakr bin ath-Thayyib’.”

Abu Dzar al-Harawi mengatakan kepada al-Baji, “Sejak saat itulah aku bolak-balik mendatanginya bersama ayahku. Aku pun mengikuti mazhabnya.” (as-Siyar, 17/558—559; Tadzkiratul Huffazh, hlm. 997; Nafhu ath-Thayyib, 2/70)

Penulis Lammud Durril Mantsur mengatakan, “Sikap diam terhadap ahli bid’ah dan tidak menjelaskan keadaan mereka akan memerdaya orang yang tidak tahu sehingga mereka jatuh dalam bid’ah tersebut. Akan lebih parah dan lebih pahit lagi apabila ahli bid’ah dipuji oleh orang yang lahiriahnya baik dan bertakwa.” (Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 187)

[Potret] Kisah Mualaf Suku Lauje

Kabar Tentang Para Muallaf
Akhir bulan Muharram 1435 H, seorang teman dari Poso mengabarkan bahwa beberapa orang suku terasing di Desa Dongkalan, Kecamatan Palasa, Kabupaten Parigi Moutong (PARIMO), Sulawesi Tengah telah memeluk Islam. Mereka adalah suku terasing Lauje atau yang lebih dikenal oleh warga setempat dengan sebutan “Orang Bela”, walaupun Bupati PARIMO lebih menganjurkan untuk memanggil mereka dengan sebutan “Orang Lauje Asli”, agar lebih menghargai mereka.

jalan-menuju-kampung-suku-lauje
Jalan menuju kampung muallaf suku terasing Lauje

Mereka mendiami pegunungan Pantai Timur (istilah untuk wilayah pesisir timur Provinsi Sulawesi Tengah). Mayoritas dari mereka memang sudah dikristenkan karena adanya kegiatan misionaris Kanada atau Amerika Serikat. Alhamdullillah, beberapa orang dari mereka yang tersentuh hidayah untuk memeluk Islam sehingga menjadi muallaf.

Tentu saja para muallaf ini sangat membutuhkan bimbingan demi memperkuat keimanan mereka. “Kami tidak ingin berislam sekadar Islam KTP,” kata salah seorang muallaf. Akan tetapi sayang, mereka belum mendapatkan penanganan serius. Kondisi yang seperti ini membuat mereka rentan kembali lagi kepada kekafiran. Berdasarkan pengalaman, banyak warga muallaf yang tidak terbina kembali murtad.

Perjalanan Menuju Kampung Muallaf
Mendengar berita keislaman beberapa orang tersebut, sejumlah da’i Ahlus Sunnah di Poso dan Palu menyambut bahagia dengan menemui para muallaf. Jarak dari Poso menuju menuju Kecamatan Palasa sekitar 300 km, sedangkan dari Palu sekitar 200 km. Rombongan da’i Poso sepakat untuk bertemu dengan rombongan da’i Palu di Parigi. Kemudian mereka bersama-sama menuju Kecamatan Palasa.

pemandangan-dari-lereng
Pemandangan dari lereng menuju kampung suku terasing Lauje

Dengan bermodalkan nomor HP, pada pukul 14.30 WITA, rombongan meluncur dari Parigi menuju tempat tinggal para muallaf. Pada pukul 18.30 WITA, rombongan sudah tiba di desa Dongkalan. Kemudian rombongan langsung disambut ramah oleh Pak Arsyad (lebih akrab disapa Pak Acat). Beliau merupakan warga desa Dongkalan yang sering berinteraksi dengan orang-orang Bela. Dari Pak Acat inilah informasi awal tentang para muallaf ini didapat.

Beberapa Orang Bela Menjadi Muallaf
Setiap hari Sabtu (hari pasaran Dongkalan), orang Bela turun membawa barang dagangan dari gunung, seperti: kayu manis, rotan, bawang merah, dan hasil bumi lainnya untuk dijual di pasar. Uang yang didapat mereka gunakan untuk membeli ikan asin, garam, minyak goreng, dan keperluan lainnya.

Sehari sebelum hari pasar, orang Bela yang turun gunung berinteraksi dengan kaum muslimin, termasuk Pak Arsyad. Sebagian mereka masuk Islam lantaran interaksi tersebut, tanpa paksaan. Mereka masuk Islam dengan dibimbing imam masjid setempat dengan mengucapkan dua kalimat syahadat lalu dimandikan oleh Imam Masjid. Sebagian mereka juga masuk Islam lantaran pernikahan dengan warga muslim di sekitar desa Dongkalan.

IMG-20140315-WA0005

Namun, setelah mereka masuk Islam, mereka belum mendapatkan pembinaan intensif dari tokoh setempat sehingga keadaan mereka cukup memprihatinkan. Kebanyakan mereka belum mengerti dan mengamalkan amal ibadah wajib.  Seorang warga yang sudah masuk Islam sejak satu/dua tahun lalu bahkan masih belum mengerti shalat, puasa, dan dasar-dasar Islam yang lain.

Penulis juga mendapati seseorang yang masih terbata-bata mengucapkan dua kalimat syahadat. “Kami baru bersyahadat satu kali saja pak,” ujar salah seorang muallaf.

Jumlah para muallaf desa Dongkalan hingga sekarang ada 18 KK atau sekitar 60 jiwa. Semuanya membutuhkan bimbingan. Kehidupan mereka yang di bawah garis kemiskinan membuat mereka sangat rawan untuk kembali murtad ke ajaran Nasrani.

Taklim Bersama Para Muallaf
Keesokan hari, sekitar jam 08.00 WITA, rombongan naik ke SD Punsung Lemo guna bertemu langsung dengan para muallaf dengan menggunakan motor ojek. Karena medan terjal, jalanan naik turun, dan jarak yang jauh (sekitar 8 km), tarif ojek pun menyesuaikan. Tarif pulang pergi sejumlah Rp70.000,00, sekali antar Rp40.000,00.

rumah-suku-terasing-lauje
Rumah suku terasing Lauje

Setelah menaiki banyak tanjakan, tak terlihat perkumpulan rumah layaknya perkampungan. Akan tetapi, yang terlihat rumah-rumah yang terpencar di antara kebun yang terjal. Jarang sekali didapati tanah yang rata. Itulah tempat tinggal mereka, layaknya gubuk-gubuk tempat beristirahat di kebun. Hanya saja, mereka telah mendapatkan bantuan dari pemerintah sehingga atapnya sudah terbuat dari seng dan berdinding papan. Rumah mereka yang masih asli hanya berdinding kulit kayu dan beratap daun rotan tanpa paku, sebatas diikat dengan rotan.

pelataran-rumah
Pelataran rumah

Rombongan tiba di SD Terpencil Punsung Lemo. Terlihat sekumpulan warga yang berjalan menaiki bukit. Merekalah para muallaf yang hendak menghadiri taklim (pengajian) di SD Punsung Lemo. Di antara mereka ada pula warga Bela yang memang sudah muslim sejak lahir. Tidak lama, mereka masuk ke ruangan kelas untuk mendengarkan kajian. Disampaikan saran agar jamaah wanita dipisah di ruang sebelahnya, mereka memahaminya; sementara anak-anak mereka bermain di halaman sekolah.

Taklim pun dimulai. Salah satu dari rombongan menyampaikan beberapa materi kajian Islam: Makna dan Keutamaan Dua Kalimat Syahadat, Rukun Islam, Tata Cara Thaharah, Berwudhu, Tata Cara Shalat, dan beberapa adab Islam lain. Setiap 4—5 menit penyampaian materi, Pak Andi menerjemahkannya ke bahasa Lauje, karena memang kebanyakan mereka belum paham bahasa Indonesia.

Alhamdulillah, mereka mendengarkan dengan saksama. Seusai kajian, salah satu dari rombongan membagikan mie instan kepada muallaf.

Kristenisasi di Tinombo, Palasa, dan Sekitarnya
Menurut warga, misionaris dari Kanada sudah melakukan misi kristenisasi di Pantai Timur sejak sekitar tahun 40-an. Awal mulanya, ada beberapa penginjil bule yang datang ke kecamatan Tinombo (sebelah Kec. Palasa). Mereka meminta salah seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah setempat untuk menulis kamus Inggris-Lauje sampai akhirnya mereka menguasai bahasa Lauje. Mereka kemudian menerjemahkan injil ke dalam bahasa Lauje.

Para penginjil Kanada tersebut tinggal bertahun-tahun di pegunungan suku terasing La Uje. Dahulu mereka sempat menggunakan helikopter untuk menjangkau daerah terpencil dalam menjalankan misi kristenisasi. (Alhamdulillah, sekarang helikopter tersebut sudah tidak terlihat lagi, wallahu a’lam apa sebabnya). Setelah itu, mereka mulai mendekati beberapa tokoh dan kepala suku orang Bela. Dengan diiming-imingi pakaian dan makanan, mereka berhasil mengkristenkan tokoh-tokoh orang Bela tersebut. Ketika kepala sukunya sudah masuk Kristen, dengan mudah masyarakat mengikutinya. Lebih-lebih mereka juga membagikan beras dan pakaian kepada masyarakat gunung
tersebut.

Beberapa kepala suku yang berhasil mereka rekrut ada yang dikirim ke Kanada. Akhirnya, kepala suku tersebut menjadi pendeta dan penginjil di gunung. Beberapa pemuda/pemudi orang Bela juga mereka kirim ke Perguruan Theology, seperti ke Manado, Tentena (Poso), atau tempat lainnya. Pada akhirnya mereka pulang menjadi pendeta di gunung.

Seorang Mantan Penginjil Yang Menjadi Muallaf
Setiba rombongan berada di rumah Pak Acat, beliau langsung menelepon salah satu muallaf untuk turun ke rumah beliau. Sepulang dari shalat Isya, rombongan sudah mendapati dua orang duduk di teras rumah Pak Acat. Mereka langsung menyalami keduanya, Pak Andi dan Pak Asmin.

Pak Andi adalah seorang mantan penginjil yang baru satu pekan masuk Islam. Beliau sempat mengenyam pelatihan Penginjil di Manado selama sebulan. Sementara itu, Pak Asmin sudah berislam sejak lahir, hanya saja istri beliau adalah seorang muallaf. Dalam kesempatan berjumpa dengan muallaf itu, salah seorang rombongan menawarkan untuk menyampaikan beberapa ajaran Islam. Keduanya pun mengiyakan. Sambil berbincang santai, salah seorang di antara mereka menyampaikan makna dua kalimat syahadat secara ringkas, rukun Islam lainnya, tata cara thaharah, dan adab Islam lainnya.

Dua orang tersebut mendengarkan dengan saksama. Bahkan, Pak Andi sempat merekam beberapa penjelasan tersebut dengan HP-nya. Dengan harapan bisa didengar ulang nanti di rumahnya. Kemudian mereka menyampaikan kepada Pak Andi, rencana akan naik ke gunung besok pagi, insya Allah. Rencana tersebut disambut baik Pak Andi, bahkan beliau meminta diadakan pengajaran Islam di gunung untuk warga muallaf lainnya.

Tidak berapa lama, datanglah Sekdes dan Ketua P3N. Pembicaraan beralih ke topik kondisi orang-orang Bela. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WITA, kedua orang Bela tersebut berpamitan untuk pulang ke rumahnya di gunung.

Semangat Belajar Seorang Muallaf
Walaupun malam mulai larut, Pak Andi dan Pak Asmin tetap berangkat pulang ke gunung. Dengan sebuah motor bebek, keduanya menaiki jalan terjal di kegelapan malam sejauh 8 km untuk sampai di rumahnya.

Setibanya di rumah, Pak Andi bukannya langsung tidur, tetapi membangunkan keluarganya yang sudah tertidur. “Bangun-bangun, ini ada rekaman pelajaran agama Islam dari Pak Ustadz. Mari kita dengarkan!”

Mereka pun bangun dan mendengarkan rekaman tersebut. Pak Andi mengatakan, “Kami mengulang-ulang mendengarkan rekaman tersebut hingga jam 2 malam, baru kami tidur.” Waktu itu istri Pak Andi masih Nasrani. Dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala, beberapa pekan kemudian masuk Islam. Masya Allah, demikianlah semangat seorang muallaf yang ingin mengetahui ajaran Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan iman Pak Andi sekeluarga.

Esok harinya, masih pagi sekali, Pak Andi dan Pak Asmin berjalan naik turun bukit untuk menyampaikan undangan taklim kepada para muallaf lainnya yang akan dilaksanakan di Ruang Kelas SD terpencil Punsung Lemo.

Sekilas Tentang Kampung Muallaf
Dusun Solongan dan Pungsu, adalah dua dusun yang bersebelahan, keduanya masih di bawah pemerintahan Desa Dongkalan. Solongan berjarak sekitar 8 km dari jalan poros, sementara Pungsu terletak di bawah Solongan. Mayoritas warga Solongan beragama Nasrani, sementara Pungsu mayoritas muslim. Di kedua dusun inilah para muallaf tinggal.  Warga Bela di sana hidup dari sektor pertanian.

Secara geografis, kedua dusun tersebut terletak di atas perbukitan terjal dan berbatu. Lereng-lereng gunung yang sangat terjal mereka olah menjadi kebun-kebun. Mereka bercocok tanam ubi, singkong, padi ladang, bawang, cabai, coklat atau cengkih. Pengetahuan mereka tentang pertanian sangat minim sehingga hasil panennya pun sangat terbatas. Hal inilah yang melatarbelakangi program pembinaan pertanian kepada mereka demi lebih menambah produktivitas hasil pertanian. Makanan pokok mereka adalah talas, ubi, singkong, kadang nasi.
Ubi/singkong kadang dibakar atau direbus. Lauk yang paling mereka sukai adalah ikan asin. Kalau tidak ada ikan asin mereka makan dengan lauk garam dicampur cabai.

Tidak ada masjid di sana, demikian pula gereja.

Sekilas Tentang Dusun Salamayang
Salamayang adalah dusun yang sangat terpencil, hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama setengah hari bagi orang Bela yang sudah biasa.  Adalah Pak Nani Hati, beliau adalah warga Salamayang yang sudah masuk Islam dua tahun lalu. Hanya saja, beliau masih belum mengenal Islam. Anak dan istrinya masih belum dibimbing bersyahadat oleh Imam Dongkalan.

Beliau adalah satu-satunya guru di sana. Sekolah yang beliau kelola hanya beratap terpal, berlantai papan, tanpa ada dindingnya. Jumlah siswanya 120 orang. Di sana ada 400 KK atau sekitar 3.000 jiwa yang mayoritasnya masih beragama Nasrani. Hanya saja kegiatan gereja sudah tidak aktif lagi. Dahulu pernah ada pendeta Kanada yang tinggal menetap di sana. Akan tetapi, karena suatu kasus, dia diusir dari Salamayang.

Pak Nani Hati menjelaskan bahwa jika warga Salamayang disentuh dengan bantuan, insya Allah mereka bisa diajak masuk Islam. Beliau siap menjembatani untuk sampainya program dakwah kepada suku terasing di sana.

Pernah ada seorang warga Solongan yang pernah bertemu dengan sepuluh laki-laki Salamayang yang baru pulang dari kampung Dongkalan. Ketika ditanya keperluan mereka dari Desa Dongkalan, mereka menjawab, “Kami ada 10 keluarga ingin masuk Islam, tetapi tidak ada tanggapan dari Pak Imam.” Kesepuluh keluarga ini dengan penuh kesedihan pulang ke Salamayang tidak jadi masuk Islam.

Sungguh ironis, sepuluh keluarga tersebut tidak tersalurkan keinginannya untuk memeluk Islam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mempertemukan mereka dengan hidayah.

Dari sisi mata pencaharian, mayoritas warga Salamayang bercocok tanam bawang merah. Bagi yang pernah berkunjung ke Palu, mungkin sudah mengenal oleh-oleh Bawang Goreng renyah. Dari Salamayang-lah asal bawang goreng itu ditanam. Mereka berjalan selama setengah hari memikul hasil panen dari Salamayang menuju pasar. Terkadang bawang hasil panen mereka muat dengan rakit menyusuri sungai Palasa menuju jalan raya.

Keadaan Salamayang yang sangat terpencil tersebut membuat petugas pemerintah merasa kesulitan dalam membina mereka. Pembinaan dari para misionaris Kristen yang sempat menyentuh mereka sehingga mereka sekarang memeluk agama Kristen.

Pembangunan Gereja Ilegal
Sekitar 3 tahun lalu, masyarakat Desa Dongkalan sedang disibukkan dengan kerja bakti membangun pasar Dongkalan. Mereka hampir tidak pernah naik ke kebun di gunung. Ternyata secara diam-diam, para penginjil Pantekosta di Dusun Pungsu membangun sebuah gereja, tanpa izin pemerintah dan warga setempat. Warga dikagetkan dengan adanya undangan kebaktian dari seorang pendeta perempuan bernama Selvi. Warga bertambah kaget lagi ketika jemaat gereja yang datang itu ternyata dari luar daerah, seperti dari tentena (Poso), Bondoyong (Tinombo), dan Manado.

Warga sangat tersinggung dengan perbuatan para penginjil tersebut. Spontan warga langsung naik ke gunung dan merobohkan gereja ilegal tersebut. Konon kabarnya, gereja itu adalah yang terbesar di kecamatan tersebut. Tidak lama kemudian Danramil, Camat, dan Kades naik ke lokasi. Mereka juga menyalahkan tindakan para penginjil tersebut yang membangun gereja tanpa izin pemerintah dan warga setempat.

Akhirnya, Pendeta Muda Itu Masuk Islam
Para penginjil ternyata sudah menyiapkan seorang pendeta muda perempuan untuk memimpin jemaat gereja pantekosta di dusun Pungsu. Arina, seorang gadis belia suku Bela yang telah mereka kirim ke sebuah sekolah Theology di Manado. Dia mengenyam pendidikan Pendeta sekitar 3 Tahun di Manado. Mereka harap Arina bisa melanjutkan misi di dusun Pungsu. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala memusnahkan impian mereka.

Walaupun gereja ilegal tersebut sudah dirobohkan warga, Pendeta Selvi masih ngotot terus melakukan kebaktian di rumah seorang warga. Hanya saja Pendeta Arina sudah tidak begitu aktif memimpin jemaat lagi. Entah apa yang menyebabkan pendeta Arina tidak aktif memimpin jemaat.

Karena kevakumannya, Pendeta Selvi sempat memukul Pendeta Arina. Kurang lebih dua bulan yang lalu, kaum muslimin Dongkalan mendapat kabar gembira dengan masuk Islamnya Pendeta muda Arina, menyusul dua kakaknya yang terlebih dahulu masuk Islam. Ada seorang pria muslim dari dusun Tingkulang yang mempersunting mantan Pendeta Arina. Akhirnya, mereka berdua dinikahkan
oleh imam di masjid setempat.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menambah keimanan beliau. Sekarang, mantan pendeta Arina berpindah ikut sang suami tinggal di Tingkulang.

Keinginan Membangun Masjid
Para muallaf sangat mendambakan berdirinya sebuah masjid di Dusun Pungsu-Solongan. Mereka sangat menginginkan bisa belajar Islam bersama anak dan istri mereka di masjid tersebut. Akan tetapi, karena kurang mendapat dukungan dari pihak-pihak terkait, keinginan mulia ini belum tercapai.

Sepulang rombongan da’i Ahlus Sunnah dari kampung muallaf itu, mereka terus menyampaikan kabar tentang kondisi para muallaf tersebut kepada kaum muslimin di Poso, Parigi, dan Palu. Alhamdulillah, Allah subhanahu wa ta’ala gerakkan hati kaum muslimin untuk membantu para muallaf dalam meraih cita-cita mulia tersebut.

masjid-yang-sedang-dibangun
Masjid yang sedang dibangun di tempat suku terasing Lauje

Tidak lama, terkumpullah belasan karung pakaian pantas pakai serta sejumlah dana dakwah dan pembangunan masjid. Sekarang program pembangunan masjid kayu dengan ukuran 8x8m secara bertahap. Kerangka bangunan dan atap seng sudah terpasang. Karena keterbatasan tenaga tukang, pembangunan belum berlanjut. Tahap selanjutnya adalah pemasangan lantai kayu dan dinding kayu.

Program Dakwah yang Lain
Berikut ini rencana program dakwah yang akan dilaksanakan di kampung muallaf.

1. Rencana pengadaan sarana MCK, tempat wudhu, dan pengadaan air bersih. Mengingat langkanya sumber air, pengadaan air bersih rencana diambil dari sebuah mata air di bukit yang berjarak sekitar 600 m. Dibutuhkan selang air sebanyak 12 rol dan dua buah tandon penampungan air.

2. Program pemberangkatan 5 guru ngaji setiap pekan sekali bergiliran. Mengingat jarak Poso-Palasa sekitar 300 km, dibutuhkan biaya akomodasi para ikhwah Poso yang mengajar mengaji.

3. Program pembagian santunan rutin (bulanan) kepada 18 keluarga muallaf. Banyaknya isu fitnah yang ditebarkan orang yang tidak bertanggung jawab, menyebabkan beberapa keluarga muallaf terhasut dan tidak mau menghadiri taklim lagi. Dakwah kepada mereka dilanjutkan dalam bentuk bantuan santunan rutin atau pembagian sembako dalam rangka melembutkan hati-hati mereka.

Tatkala penulis menyerahkan santunan sejumlah uang kepada seorang muallaf terlihat matanya berkaca-kaca.
Sampai sekarang, belum ada santunan rutin yang diberikan kepada tiap warga muallaf, selain pembagian pakaian pantas pakai, sabun, dan garam dapur. Itu pun baru terlaksana satu kali.

Demi meredam berbagai isu fitnah, program santunan juga ditujukan kepada beberapa tokoh adat dan kepala dusun (orang Bela yang sudah muslim sejak lahir) yang hidup di bawah garis kemiskinan.

4. Program biaya belajar santri La Uje, alhamdulillah, ada dua santri muallaf yang sudah dikirim ke Poso untuk belajar di Ma’had al-Manshurah dan Pra Tahfizh Poso. Insya Allah, ada beberapa anak muallaf lain yang ingin menyusul mereka untuk belajar di Poso.

5. Pembebasan tanah untuk tempat tinggal imam masjid dan beberapa keluarga muallaf.

6. Program pembangunan beberapa unit rumah kayu untuk beberapa orang Bela. Aji, seorang muallaf yang tinggal di dusun Silongkohung. Jika hendak ke lokasi masjid, dia mesti berjalan kaki sekitar empat puluh menit. Dia sangat menginginkan berpindah ke dekat masjid agar lebih intensif belajar Islam. Hanya saja karena terkendala biaya, Aji masih belum bisa membangun rumah dekat
masjid. Selain Aji, masih ada beberapa warga Bela yang menginginkan mendekat ke lokasi Masjid.

Setelah masjid dibangun, insya Allah akan diresmikan oleh pemerintah setempat: Camat, Kepala KUA, atau Kepala Desa. Sekaligus diadakan bakti sosial sunatan masal, pengobatan gratis, dan pembagian santunan terhadap para muallaf.

Perizinan Dakwah Kepada Para Muallaf
Sudah menjadi prinsip dakwah Ahlus Sunnah, setiap langkah dakwahnya selalu berkoordinasi dengan pemerintah. Sebagai bentuk ketaatan kepada pemerintah dalam hal ma’ruf. Para du’at yang hendak berdakwah kepada para muallaf ini menemui Kepala Desa Dongkalan, Camat, dan Kapolsek Palasa. Para pejabat tersebut secara umum mendukung program mulia ini.

Proses perizinan dilanjutkan ke tingkat lebih tinggi dengan menghadap Kapolres Parimo, Sekda Parimo, dan Kepala Kantor Kementerian Agama Kab. Parimo. Dengan kemudahan dari Allah subhanahu wa ta’ala, surat izin kegiatan dakwah dari Polres dan Kankemenag Kab. Parimo telah keluar.
Demikian gambaran singkat dakwah kepada para muallaf suku terasing Lauje.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala mengokohkan keimanan mereka semua. Amin.

(al-Ustadz Abu Hafsh Umar al-Atsari, Poso)

Bagi Anda yang ingin membantu kelanjutan program dakwah ini, dapat disalurkan melalui:

Bank BRI Poso No. Rek. 0072-01-006008-53-0  a.n. SARMIN PAROSO

ATAU

Bank Syariah Mandiri Poso No. Rek. 70-699-3950-8 a.n. ATJO ISHAK ANDI MAPATOBA

 

CP: al-Ustadz Umar Abu Hafsh (081 383 314 075)

Laporan donasi yang masuk bisa dilihat di sini.