Mereka Menuduh Ibnu Utsaimin

Di salah satu blog musuh dakwah tauhid disebutkan sebuat artikel dengan judul “Fatwa Sadis Imam Wahhabi Salafi Ibn Utsaimin!!” Artikel ini diposting pada 20 November 2012 oleh abusalafy. Berikut ini petikannya.

Kedangkalan Akidah Tauhid Wahhabi Salafi

Seperti biasanya, kaum Wahhâbi Salafi yang cupet cara berpikirnya, gemar mengumbar fatwa pengkafiran kepada siapa saja yang tidak meyakini penyimpangan akidah seperti yang mereka yakini. Kini giliran vonis kafir atas siapa saja yang tidak mengimani bahwa Allah “bertempat di langit”….. Demikian dijatuhkan vonis itu oleh Ibnu Utsaimin, salah seorang imam gede kaum Wahhâbi Salafi setelah kematian Bin Bâz…. Perhatikan vonis itu dalam kitab “Majmû’ Fatâwa Ibnu Utsaimin”, 1132- 1—133 pertanyaan: 55. Buku kumpulan fatwa itu disusun oleh Fahd bin Nâshir bin Ibrahim al-Salman. Cet. Dâr al Wathan. ..

Terjemahan Fatwa Bin Utsaimin: Beliau ditanya tentang ucapan sebagian orang jika ditanya, “Di mana Allah?” Lalu ia menjawab, “Allah ada di setiap tempat” atau “Allah ada Maha Ada” apakah jawaban ini benar? Maka beliau menjawab, Jawaban ini palsu/batil/keliru, tetapi tidak secara total dan tidak juga ketika diikat. Jika ia ditanya, “Di mana Allah?” hendaknya ia berkata, “Allah di langit.” Seperti wanita yang ditanya oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Di mana Allah?” lalu ia menjawab, “Di langit.” Adapun orang yang mengatakan bahwa “Allah Maha Ada” hanya itu jawabannya, maka sesungguhnya ia lari dari jawaban dan berkelit. Adapun orang yang berkata Allah Subhanahu wata’ala ada di setiap tempat dengan maksud Dzat-Nya maka ia adalah kafir. Sebab ia mendustakan nash-nash, bahkan dalil-dalil naqliyah dan aqliyah serta dalil fitrah bahwa Allah berada di atas segala sesuatu. Dan Dia (Allah) berada di atas mlangit, bersemayam di atas Asry-Nya.

Berikut ini komentar Abu Salafy.

Demikianlah dengan mudahnya Syeikh Mufti Andalan kaum Wahhâbi Salafi menjatuhkan vonis kafir atas sesiapa yang tidak meyakini bahwa “Allah bertempat di langit… bersemayam… duduk di atas Arsy-Nya”… apa dasarnya? Sederhana… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam… dan kami telah beber panjang lebar dalam seri Ternyata Tuhan Tidak Di Langit!

Dan inilah akidah tajsîm yang diyakini oleh kaum Mujassimah dan kemudian dipromosikan Ibnu Taimiyah dan setelahnya dijadikan akidah resmi kaum Wahhâbi/salafy….

Kami tidak menghiraukan penyimpangan mereka jika ia hanya mereka yakini sendiri. Akan tetapi ketika mereka meneror kaum muslimin dengan vonis kafir, maka kesesatan itu harus segera dibongkar….

Dalam kesempatan ini kami tidak bermaksud membuktikan kepalsuan akidah kaum Yahudi yang kemudian kental kita temukan dalam akidah yang diyakini kaum Wahhâbi itu… telah banyak artikel kami tentang masalah ini… namum di sini kami hanya membuktikan kepada Anda betapa mazhab Wahhâbi Salafi itu ditegakkan di atas pengkafiran kaum muslimin dengan sebab dan alasan yang sama sekali tidak dapat dibenarkan agama... di samping jelas bagi Anda betapa dangkal pemahaman agama kaum Wahhâbi Salafi!.

 

Tanggapan Penulis

Bismillah. Apa yang disampaikan oleh Ibnu Utsaimin bahwa orang yang berkata Allah Ada di setiap tempat dengan maksud Dzat-Nya maka ia adalah kafir

adalah pernyataan yang benar. Adapun yang disebutkan oleh Abu Salafy1: “Kedangkalan Akidah Tauhid Wahhabi Salafi” dan “fatwa sadis” justru menunjukkan kedangkalan ilmunya dalam memahami masalah ini. Dengan sederhananya, dia mengomentari fatwa Ibnu Utsaimin dalam hal itu bahwa alasan beliau: Sederhana… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam. Justru inilah kedangkalan. Bukankah Ibnu Utsaimin dalam fatwa yang dinukilkan sendiri oleh Abu Salafy mengatakan bahwa “Adapun orang yang berkata Allah ada di setiap tempat dengan maksud Dzat-Nya maka ia adalah kafir. Sebab ia mendustakan nash-nash, bahkan dalil-dalil naqliyah dan aqliyah serta dalil fitrah bahwa berada di atas segala sesuatu. Dan Dia (Allah) berada di atas langit, bersemayam di atas Arsy-Nya.

Sadarkah Anda saat menerjemahkan kutipan ini? Atau orang lain yang menerjemahkan dan Anda hanya main copy-paste saja? Coba Pembaca perhatikan, apa dasar yang disampaikan oleh Ibnu Utsaimin dalam pernyataan tersebut?

1. Dalil-dalil aqli

2. Dalil-dalil naqli

3. Dalil-dalil fitrah

Tiga macam dalil yang apabila dijabarkan akan mencapai jumlah yang banyak. Bagaimana bisa dia katakan bahwa alasan Ibnu Utsaimin “Sederhana… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam.” Maaf, kemana akal Anda saat membantah asy-Syaikh Utsaimin? Di sini, sedikit saya jabarkan dalildalil yang diisyaratkan oleh Ibnu Utsaimin, agar Abu Salafy—dan yang sejenisnya— tidak sesembrono itu menuduh syaikh dengan tuduhan yang sangat tidak pantas dan tidak sopan. Di antara dalil naqli adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ

“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?” (al-Mulk: 16)

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا

“Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orangorang yang kafir.” (Ali Imran: 55)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ

“Kepada-Nya lah naik perkataanperkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya.” (Fathir: 10)

إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Sesungguhnya Rabb kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia naik di atas Arsy. Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang, (masingmasing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (al-A’raf: 54)

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

“Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang naik dan tinggi di atas ‘Arsy.” (Thaha: 5 )

Masih banyak lagi. Ini baru dari ayat. Belum lagi dari hadits. Di antaranya adalah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu,

 فَكَانَتْ زَيْنَبُ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِىِّ تَقُولُ زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ، وَزَوَّجَنِى اللهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ

“Zainab bintu Jahsy dahulu berbangga terhadap para istri nabi yang lain, ‘Yang menikahkan kalian adalah keluarga kalian sendiri, sedangkan yang menikahkan aku adalah Allah dari atas tujuh langit.” Dalam riwayat lain, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala menikahkan aku di langit. Dalam lafadz yang lain, ia berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Allah menikahkan aku denganmu dari atas Arsy-Nya.” (HR. al-Bukhari)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

 أَلاَ تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ، يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً

“Tidakkah kalian percaya kepadaku padahal aku adalah orang yang dipercaya oleh Dzat yang di atas langit? Datang kepadaku berita langit, pagi dan petang hari.” __________(Muttafaqun alaihi)

Dua hadits saja yang kami keluarkan. Di kantong Ahlus Sunnah masih banyak lagi hadits tentangnya. Adapun hadits yang dia katakan “… sebuah hadis yang redaksinya masih diperselisihkan di antara para ulama Islam” hanyalah salah satu dari sekian banyak hadits yang mendasari pernyataan beliau ini, yang itu adalah keyakinan aswaja dengan pengertian Ahlus Sunnah wal Jamaah yang asli. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Muslim dan dikenal sebagai hadits Jariyah. Siapa yang mempermasalahkan redaksinya? Sekelas al-Imam Muslim kah dia sehingga mengkritik redaksi Shahih Muslim? Sebagai tambahan, hadits itu tidak hanya diriwayatkan oleh Muslim rahimahullah, tetapi juga Abu Dawud, Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Abi Ashim, dan yang lain rahimahumullah juga meriwayatkannya.

Adanya lafadz-lafadz lain dari hadits ini tidak berarti hadits ini lemah. Yang menganggap lemah hanya orang semacam al-Kautsari, pembawa bendera Jahmiyah abad ini. Adapun dalil secara aqli, beliau terangkan, “Adapun dalil secara akal, dikatakan: tanpa diragukan bahwa sifat ketinggian adalah sifat kesempurnaan dan lawannya adalah sifat kekurangan. Telah pasti bahwa Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat kesempurnaan, maka wajib ditetapkan bagi-Nya sifat ketinggian. Dengan penetapan sifat ketinggian itu Tidak ada konsekuensi sisi negatif atau kekurangan. Adapun dalil secara fitrah yang menunjukkan ketinggian Allah Subhanahu wata’ala dengan Dzat-Nya, sesungguhnya tiap orang yang berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala, baik dengan doa ibadah maupun doa permintaan, kalbunya saat itu tidak tertuju kecuali ke langit. Oleh karena itu, engkau dapati dia mengangakat kedua tangannya ke langit dengan perintah fitrahnya.

Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang dari Hamadzan kepada Abul Ma’ali al-Juwaini, “Tidaklah seorang yang tidak berpengetahuan sama sekali mengatakan, ‘Ya Rabb,’ melainkan dia dapatkan dalam kalbunya keharusan untuk mencari arah atas.’ Al-Juwaini (yang saat itu mengingkari sifat ketinggian Allah Subhanahu wata’ala) lantas menepuk kepalanya dan mengatakan, “Orang Hamadzan ini telah membuatku bingung. Orang Hamadzan ini telah membuatku bingung.’ Demikian kisah ini dinukil darinya. Sahih atau tidak kisah itu, sesungguhnya tiap orang mendapati seperti apa yang dia katakan. Dalam Shahih Muslim disebutkan dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan seseorang yang menjulurkan dua tangannya ke langit dan menyeru, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku,” sampai akhir hadits. Kemudian engkau dapati juga orang yang shalat dan kalbunya menuju ke langit, lebih-lebih saat sujud dan berkata, “Subhana rabbiyal a’la, (Mahasuci Rabbku yang Mahatinggi” karena dia tahu bahwa sesembahannya di langit.

Mahasuci Allah. Dengan demikian, nyatalah kebenaran ucapan Ibnu Utsaimin bahwa Allah di atas langit dan yang mengatakan Dzat Allah berada di tiap tempat adalah kafir. Sebab, dia telah mengingkari semua ayat dan hadits yang menunjukkan hal ini, yang sulit dihitung jumlahnya. Justru yang aneh adalah yang tidak mengafirkan orang semacam ini, jika dia mengetahui ayat-ayat dan hadits34 hadits tersebut lantas menentangnya. Berbeda halnya dengan orang yang belum memahami hal ini dan tidak mengetahui dalil, bisa jadi masih ada uzur baginya. Yang aneh adalah yang tidak meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala di atas langit, semacam Abu Salafy dalam artikelnya “Ternyata tuhan tidak di langit.” Lantas di mana menurutnya? Di mana-mana? Atau tidak dimana-mana? Sempat terbayang dalam pikiran penulis, bagaimana perasaan Abu Salafy saat berdoa? Bisa jadi, ia berdoa sambil kalbunya meraba-raba dan mencari di mana tuhannya, entah ketemu atau tidak. Seorang yang mengatakan demikian, bisa jadi ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala di mana-mana dengan Dzatnya, yang konsekuensinya Allah berada di tempattempat kotor dan najis. Na’udzubillah,

Mahasuci Allah dari hal itu. Orang yang fitrahnya sehat tidak akan menerima hal itu. Dia saja tidak mau bertempat di tempat yang kotor dan najis, lantas bagaimana dia bisa menempatkan tuhannya di tempat yang seperti itu? Itu kan kurang ajar terhadap tuhannya. Allah Subhanahu wata’ala sembahan kami tidak begitu. Bisa jadi pula, ia meyakini bahwa Allah Subhanahu wata’ala tidak bertempat di mana-mana; tidak di atas, tidak di bawah, tidak di kanan, tidak di kiri, tidak di depan, tidak di belakang, tidak di dalam alam, dan tidak pula di luarnya. Jika keyakinannya demikian, seperti yang dikatakan oleh Mahmud bin Sabaktakin, “Tolong, sebutkan perbedaan antara Rabb yang kamu sebut itu dengan sesuatu yang tidak ada!” Apa yang mereka sebutkan adalah definisi paling bagus terhadap sesuatu yang tidak ada. Inilah ta’thil (penolakan terhadap sifat-sifat Allah) yang mutlak. Maka dari itu, dahulu ulama mengatakan, “Sekte Jahmiyyah menyembah sesuatu yang tidak ada wujudnya.” Anda dari golongan mana, wahai Abu Salafy? Hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala kami mohon pertolongan.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 91

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Membayarkan Pinjaman Berbunga

Bolehkah menuruti perintah mertua untuk membayarkan pinjaman berbunga? mApakah sebaiknya dibayarkan tanpa bunganya saja? 085290XXXXXX

Jika Anda mampu, beri penjelasan kepada mertua tentang hukum meminjam uang dengan riba agar tidak terulangi lagi. Minimalnya mertua tahu bahwakita tidak mungkin disuruh  untuk hal demikian.

 

Membagikan Makanan Saat

Menempati Rumah Baru Di tempat kami, jika ada rumah/ warga baru, kebiasaannya membagikan dus berisi makanan kepada tetangga. Apakah hal tersebut termasuk bid’ah? 085229XXXXXX

Kalau niat membagikan makanan dalam rangka syukur nikmat atas rumah tersebut atau sedekah, tidak masalah. Kalau ada niat tolak bala, tolak jin penunggu rumah, atau semisalnya, termasuk khurafat dan bid’ah.

 

Makanan Acara Tahlilan

Bagaimana hukumnya memakan makanan tahlilan yang diantarkan ke rumah kita? Bagaimana kalau yang yang mengadakan tahlilan adalah orang serumah dengan kita? 085387XXXXXX

Jika makanan tahlilan dalam bentuk sembelihan, jangan dimakan. Jika dalam bentuk yang lain, ada perbedaan pendapat. Namun, sebaiknya ditinggalkan karena syubhat, hal ini sebagai sikap wara’ kita.

 

Imam Tidak Tuma’ninah

Saya singgah di masjid yang imamnya tidak tuma’ninah. Apakah saya harus membatalkan shalat dan pindah ke masjid lain? 085657XXXXXX

Jika imam tersebut tidak tuma’ninah sampai pada tingkat kita tidak mampu mengerjakan rukun dan wajib dalam shalat, shalatnya tidak sah, harus diulang. Atau cari masjid lain.

 

Warisan Orang Tua Nonmuslim

Jika orang tua murtad dan meninggal, kepada siapakah harta warisan dibagikan? 085266XXXXXX

Jika orang tua murtad, harta warisnya masuk baitul mal. Ahli warisnya yang muslim tidak mendapat bagian sedikit pun karena berbeda agama.

 

Istri Tidak Mau Belajar Al-Qur’an

Mohon nasihatnya mengenai istri yang tidak bisa membaca al-Qur’an dan tidak mau berusaha belajar. Dia sudah dinasihati berkali-kali, tetapi tidak berubah; bahkan menentang suami. Bagaimana cara mendidiknya agar segera bertobat dari kesalahannya? 085725XXXXXX

Mendidik istri harus sabar, telaten, dengan cara yang lembut, dan melihat kondisinya. Tidak bisa dipaksakan, apalagi istri yang latar belakang agamanya awam. Perlu proses panjang. Lebih baik dimulai dengan melembutkan hatinya supaya punya semangat beragama dan belajar.

 

Riba Sistem Kredit

Seseorang meminjam uang dengan pembayaran cicilan menggunakan sistem kredit yang menyebabkan peminjam dan yang meminjamkan terjatuh pada riba (jumlah total uang cicilan lebih besar dibandingkan dengan jumlah uang pinjaman). Untuk menghindari riba, orang yang meminjamkan bermaksud membelikan cincin emas seharga uang yang akan dipinjamkan sehingga si peminjam bisa menjualnya dan mendapatkan uang yang diharapkan. Bagaimana hukum sistem kredit ini? 085275XXXXXX

Hakikatnya tetap pinjaman dengan riba, emas itu hanya kamuflase saja.

 

Investasi Valas

Apa hukumnya investasi valuta asing ketika membeli dolar saat turun kemudian dijual ketika dolar naik? 085869XXXXXX

Investasi valuta asing boleh dengan syarat taqabudh (serah terima di tempat). Apabila via transfer atau semisalnya, yang tidak terjadi padanya taqabudh, termasuk riba nasi’ah.

Jika transfer untuk menghindari mudarat (misal uang dalam jumlah banyak, kita takut membawanya) bagaimana? 085869XXXXXX

Kondisi tersebut bisa disiasati dengan menggunakan cek. Menurut sebagian ulama sekarang, cek yang sah sesuai dengan ketentuan yang berlaku kedudukannya sama dengan uang.

Jika orang yang menanam modal investasi tersebut berada di Jawa dan yang menjalankan usaha investasi di Sumatra, bagaimana? 085869XXXXXX

Yang dianggap adalah orang yang bersentuhan langsung dengan akad tersebut. Status pengelola adalah wakil dari penanam modal.

 

Orang Murtad Tetap Dibunuh?

Saya memahami bahwa orang murtad tetap harus dibunuh khalifah walaupun sudah kembali masuk Islam. Apakah hal ini benar? 085657XXXXXX

Kalau orang murtad sudah tertangkap khalifah sebelum tobat, ia dibunuh karena kemurtadannya. Jika sudah bertobat sebelum tertangkap khalifah, ia kembali seperti kondisi sebelumnya saat muslim. Zaman dahulu banyak orang yang murtad lalu bertobat dan dibiarkan oleh umara.

 

Mengubah Huruf dalam Al-Qur’an?

Bagaimana hukumnya mengubah satu huruf dari al-Qur’an? Misal rabbayani menjadi rabbayana, shaghira menjadi shighara. 081541XXXXXX

Kalau yang dia maksud adalah tilawatul Qur’an, hukumnya haram, seperti tindakan Yahudi yang menambah huruf dalam ayat. Namun, jika yang dia maksud adalah doa, bukan tilawah, tidak masalah.

Al-Kautsar, Sungai di dalam Surga

إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ () فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ () إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.” (al-Kautsar: 1—3)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan, ketika Ka’ab bin Asyraf tiba di kota Makkah, orang-orang Quraisy bertanya kepadanya, Apakah engkau pemuka mereka? Tidakkah engkau melihat orang ini, yang mengaku lebih baik daripada kami?Padahal kami adalah ahli haji, pengabdi Ka’bah, dan pemberi (penyaji) minuman.’ Ka’ab berkata, ‘Kalian lebih baik darinya.’ Turunlah ayat, ‘Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak’.” Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al- Bazzar rahimahullah dan sanadnya sahih.

Mufradat Ayat

الْكَوْثَرَ

“Kenikmatan yang banyak.”

Para ulama tafsir berbeda pendapat tentang makna “al-Kautsar”:

a. Maknanya adalah sungai di dalam jannah (surga) yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini berdasarkan riwayat dari beberapa sahabat, seperti Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, ‘Aisyah , serta tabi’in seperti Mujahid dan Abul ‘Aliyah rahimahumallah.

b. Maknanya adalah kebaikan(nikmat) yang banyak. Hal ini berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Sa’id bin Jubair, Ikrimah, dan Mujahid rahimahumullah. Pada sebuah riwayat yang dikeluarkan oleh al-Bukhari rahimahullah dan yang lain, dari Abu Bisyr rahimahullah, dia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair rahimahullah tentang pendapat yang mengatakan bahwa al- Kautsar adalah sungai di jannah. Beliau menjawab, sungai di jannah termasuk bagian dari kebaikan yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Ikrimah rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak, kenabian, Islam, al-Qur’an, dan hikmah.

c. Maknanya adalah telaga di jannah. Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, dari Atha’ rahimahullah; beliau berkata bahwa makna al-Kautsar adalah telaga di jannah yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari sekian pendapat di atas, yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat yang menyatakan bahwa al-Kautsar merupakan sungai di jannah yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam al-Qur’an, Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya dengan al-Kautsar (kebaikan atau kenikmatan yang banyak) karena keagungan nilainya.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Terdapat beberapa penafsiran dari ulama salaf tentang ayat di atas.

a. Maknanya adalah meletakkan tangan kanan pada tangan (lengan) kiri di atas dada ketika shalat. Pendapat ini diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Pendapat yang semakna diriwayatkan pula dari asy-Sya’bi.

b. Maknanya adalah shalat fardhu dan mengangkat kedua tangan sejajar nahr (pangkal leher) saat membuka shalat (takbiratul ihram).

c. Maknanya adalah shalat fardhu atau shalat fajar dan menyembelih unta di Mina atau pada hari Idul Adha.

d. Maknanya adalah shalat Idul Adha dan menyembelih hewan kurban.

e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa ayat ini turun berkaitan dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, orang-orang (musyrik) pada waktu itu melaksanakan shalat dan menyembelih untuk selain Allah Subhanahu wata’ala. Maka dari itu, Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau, Jadikanlah shalat dan sembelihanmu karena Allah Subhanahu wata’ala. Sebagian ulama berpendapat, ayat ini turun saat terjadi Perjanjian Hudaibiyah, ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya dikepung dan dihalangi dari Ka’bah.

Lalu Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan agar beliau melaksanakan shalat, menyembelih unta, dan kemudian berpaling. Menurut Ibnu Jarir rahimahullah, dari semua pendapat di atas, yang paling utama dan yang benar adalah pendapat yang mengatakan bahwa maknanya adalah Jadikanlah shalatmu seluruhnya karena Rabbmu, dengan mengikhlaskannya hanya untuk-Nya, bukan untuk selain- Nya. Demikian pula sembelihanmu, jadikanlah hanya untuk-Nya, bukan untuk berhala. Bersyukurlah kepada-Nya atas kemuliaan dan kebaikan yang tidak ada tandingannya yang hanya diberikan kepadamu. Ibnu Jarir menguatkan pendapat ini karena Allah Subhanahu wata’ala telah memberitakan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang pemberian, kemuliaan, dan kenikmatan (al-Kautsar) yang dengannya Dia Subhanahu wata’ala memuliakan beliau. Tafsirnya, sesungguhnya Aku telah memberimu—wahai Muhammad—al- Kautsar, sebagai bentuk pemberian nikmat dan pemuliaan untukmu dari Kami. Maka dari itu, ikhlaskanlah ibadah hanya untuk Rabbmu. Tunaikanlah shalat dan kurban hanya untuk-Nya.

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu, dialah yang terputus.”

Maknanya, orang yang membenci dan memusuhimu, dialah yang terputus, rendah, hina, dan binasa. Tentang siapa yang dimaksud oleh ayat ini, terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan, yang dimaksud adalah al-‘Ash bin Wa’il. Ada pula yang menyatakan, dia adalah ‘Uqbah bin Abi Mu’aith. Yang lain mengatakan, mereka adalah beberapa orang dari suku Quraisy. Yang benar, menurut ath-Thabari t menurutnya, Allah l mengabarkan bahwa orang yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah yang rendah, hina, dan terputus. Hal itu menjadi ciri setiap manusia yang membenci beliau, meskipun ayat ini turun berkenaan dengan orang tertentu. (Tafsir ath-Thabari, 24/679—697)

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata dalam kitab Tafsir Juz ‘Amma, sebagian ulama berpendapat bahwa surat ini adalah surat Makkiyah, sedangkan yang lain berpendapat Madaniyah. Surat Makkiyah adalah surat yang diturunkan sebelum hijrah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam ke Madinah, baik turun di Makkah maupun di Madinah, atau di waktu safar. Jadi, surat Madaniyah adalah surat yang diturunkan setelah hijrah. Inilah pendapat yang kuat dari sekian pendapat ulama. Adapun kata al-Kautsar, dalam bahasa Arab artinya adalah kebaikan (kenikmatan) yang banyak.

Demikianlah, Allah Subhanahu wata’ala telah memberi Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam kebaikan yang banyak, di dunia dan di akhirat. Di antara kebaikan itu adalah sungai besar yang berada di jannah, yang mengalir menuju telaga Nabi. Warna airnya lebih putih daripada air susu, lebih manis daripada madu, dan lebih harum daripada minyak wangi. Telaga itu berada di tempat yang terbuka di hari kiamat. Orang-orang mukmin dari umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendatangi tempat itu. Jumlah cangkir dan keelokannya sebanyak gugusan dan keindahan bintang yang berada di langit. Barang siapa hidup di dunia menjalani agama Islam di atas syariat beliau (sesuai dengan tuntunan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam), di akhirat ia akan diizinkan mendatangi telaga tersebut. Sebaliknya, barang siapa menjalani agama Islam tidak di atas syariat beliau, di akhirat ia akandihalangi sehingga tidak bisa mendatangi telaga itu. Di antara sekian banyak kebaikan yang telah diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dunia adalah apa yang terdapat dalam hadits berikut.

أُعْطِيْتُ خَمْسًا، لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي: نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ، وَجُعِلَتْ لِيَ الْأَرْضُ مَسْجِدًا وَطَهُورًا، فَأَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي أَدْرَكَتْهُ الصَّلاَةُ فَلْيُصَلِّ، وَأُحِلَّتْ لِيَ الْمَغَانِمُ وَلَمْ تَحِلَّ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَأُعْطِيتُ الشَّفَاعَةَ، وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِهِ خَاصَّةُ وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِ عَامَّةً

“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorang nabi pun sebelumku: (1) Diberikan kemenangan kepadaku dengan sebab gentarnya musuh dari jarak perjalanan satu bulan; (2) dijadikan bumi sebagai tempat shalat dan bersuci untukku, maka siapa pun laki-laki yang sampai kepadanya waktu shalat, hendaklah ia shalat; (3) diberikan kepadaku syafaat; (4) dihalalkan untukku ghanimah; dan (5) dahulu para nabi diutus hanya kepada kaumnya saja, sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Semua ini adalah kebaikan (nikmat) yang banyak. Karena beliau diutus kepada seluruh manusia, konsekuensinya, beliaulah nabi yang paling banyak pengikutnya. Dimaklumi bersama bahwa seseorang yang mengajarkan kebaikan akan mendapat pahala seperti halnya pelakunya. Orang yang telah menuntun umat kepada kebaikan dengan jumlah yang luar biasa adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan demikian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mendapatkan bagian pahala dari setiap individu di antara umatnya. Tidak ada yang mampu menghitung jumlah umat beliau selain Allah Subhanahu wata’ala. Di antara kebaikan yang diberikan kepada beliau di akhirat adalah almaqam al-mahmud, seperti syafaat al-uzhma (syafaat yang agung).

Sebab, pada hari kiamat manusia mengalami bencana, kesulitan, dan kesusahan yang tak kuasa mereka menahannya. Akhirnya, mereka meminta syafaat. Mereka pun mendatangi Nabi Adam, lalu Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Isa ‘Alaihissalam, hingga berakhir kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau pun berdiri dan memberi syafaat. Allah Subhanahu wata’ala  pun memutuskan di antara hamba-Nya dengan syafaat beliau. Ini adalah kedudukan yang akan senantiasa dipuji oleh orang-orang yang mterdahulu hingga akhir zaman. Kedudukan ini termasuk dalam firman Allah Subhanahu wata’ala,

ڍ

عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

“Mudah-mudahan Rabbmu akan mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (al-Isra’: 79)

Al-Kautsar adalah kebaikan yang banyak. Di antaranya adalah sungai yang berada di jannah, yang juga disebut al- Kautsar. Akan tetapi, al-Kautsar tidak terbatas pada hal itu saja. Setelah menyebutkan karunia- Nya yang begitu banyak, Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka dari itu, dirikanlah shalat karena Rabbmu dan berkurbanlah.”

Maknanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala atas nikmat yang sangat agung ini, dirikanlah shalat dan berkurbanlah hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Yang dimaksud shalat di sini adalah seluruh jenis shalat. Pertama kali yang dimaksud oleh ayat ini adalah shalat yang disertai oleh berkurban, yaitu shalat Idul Adha. Meski demikian, ayat ini mencakup keseluruhan shalat. Jadi, “dirikanlah shalat karena Rabbmu,” baik yang fardhu maupun yang sunnah, demikian pula shalat ied dan shalat jumat. Makna “berkurbanlah” adalah dekatkanlah dirimu kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan cara berkurban. Kata “nahr” maknanya adalah cara penyembelihan unta (dengan menusuk/memotong aliran darah di bagian atas dada, dalam posisi hewan berdiri). Adabun “dzabh”, adalah istilah penyembelihan hewan sapi ataupun kambing (dengan memotong empat saluran pada bagian leher, dalam posisi hewan direbahkan).

Ayat ini hanya menyebutkan “nahr” karena daging unta lebih bermanfaat daripada yang lain ketika dibagikan kepada orang-orang miskin. Karena itu, pada Haji Wada’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memotong 100 ekor unta, 63 ekor beliau potong sendiri dan sisanya beliau wakilkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Seluruhnya beliau sedekahkan kecuali sedikit dari setiap unta, yang beliau ambil untuk dimasak lalu dimakan dagingnya dan diminum kuahnya. Perintah dalam ayat ini berlaku untuk beliau dan umatnya. Maka dari itu, kita wajib mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

“Sesungguhnya orang-orang yang membencimu dialah yang terputus.”

Makna syaniaka adalah orang yang membencimu, karena syanaan artinya kebencian. Contohnya adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَن صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَن تَعْتَدُوا ۘ

“Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) terhadap suatu kaum karena mereka menghalang-halangimu dari Masjidil Haram, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka).” (al Maidah: 2)

Artinya, janganlah kebencian (kalian) kepada mereka membawa kalian berbuat melampaui batas. Demikian pula firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (al-Maidah: 8)

Artinya, janganlah kebencian kepada mereka membawamu untuk meninggalkan keadilan (sikap adil). Al-abtar adalah isim tafdhil. Arti kata ini adalah terputus, yaitu terputus dari semua kebaikan. Hal ini terjadi karena orangorang kafir Quraisy mengatakan bahwa Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) adalah abtar, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya, serta dalam mengikuti ajarannya. Kata ini mereka munculkan ketika Qasim, putra beliau, meninggal. Mereka lalu mengatakan bahwa Muhammad abtar, yaitu tidak ada keturunan. Kalaupun ada, maka akan terputus keturunannya. Oleh karena itu, Allah Subhanahu wata’ala menjelaskan bahwa al-abtar adalah yang membenci Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan dialah yang akan terputus dari semua kebaikan. Tidak ada berkah pada dirinya. Hidupnya hanya berisi penyesalan. Jika hal ini berlaku atas orang yang membenci beliau, begitu pula bagi yang membenci syariat (ajaran)nya. Oleh sebab itu, barang siapa membenci syariat Rasulullah n, atau salah satu syiar Islam, atau membenci ibadah apa pun yang dilakukan oleh manusia untuk melaksanakan agama Islam, dia telah kafir, keluar dari Islam. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَرِهُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ فَأَحْبَطَ أَعْمَالَهُمْ

“Hal itu karena sesungguhnya mereka benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (al-Qur’an) lalu Allah menghapus (pahala) amal-amal mereka.” (Muhammad: 9)

Tidak ada yang menghapus amalan selain kekufuran. Barang siapa membenci kewajiban shalat, dia telah kafir, walaupun ia menjalankan shalat. Barang siapa membenci kewajiban zakat, dia telah kafir walaupun menunaikannya. Adapun yang merasa berat menjalaninya, namun tidak membencinya, dikhawatirkan pada dirinya ada salah satu perangai kemunafikan, meski tidak dikafirkan. Jadi, terdapat perbedaan antara orang yang merasa berat (tanpa membenci) dengan orang yang membenci. Dengan demikian, surat ini mengandung penjelasan tentang nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu kebaikan yang banyak. Selain itu, surat ini memuat perintah untuk mengikhlaskan shalat dan berkurban hanya untuk Allah Subhanahu wata’ala. Perintah ini berlaku dalam seluruh bentuk ibadah. Surat ini juga menjelaskan, siapa yang membenci Rasul n atau sebagian syariat beliau, dialah yang terputus, yaitu tidak ada kebaikan dan berkah pada dirinya. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Amalan-Amalan Perisai Api Neraka

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهَا جَعَلَ الْفَرَاشُ وَهَذِهِ الدَّوَابُّ الَّتِي فِي النَّارِ يَقَعْنَ فِيهَا وَجَعَلَ يَحْجُزُهُنَّ وَيَغْلِبْنَهُ فَيَتَقَحَّمْنَ فِيهَا. قَالَ: فَذَلِكُمْ مَثَلِي وَمَثَلُكُمْ أَنَا آخِذٌ بِحُجَزِكُمْ عَنِّ النَّارِ؛ هَلُمَّ عَنْ النَّارِ! هَلُمَّ عَنِ النَّارِ! فَتَغْلِبُونِي تَقَحَّمُونَ فِيهَا

“Permisalan diriku adalah seperti orang yang menyalakan api. Ketika api telah menyinari apa yang ada di sekelilingnya, berdatanganlah anai-anai dan hewanhewan yang berjatuhan ke dalamnya. Sementara itu, orang ini terus berusaha menghalangi mereka dari api, namun serangga-serangga itu mengabaikannya hingga berjatuhan ke dalamnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Itulah permisalan diriku dan diri kalian (umatku). Aku menarik ikat-ikat pinggang kalian untuk menyelamatkan dari neraka (seraya berseru,), ‘Jauhilah neraka! Jauhilah neraka!’ Namun, kalian (kebanyakan umatku) tidak menghiraukanku dan menerjang berjatuhan ke dalamnya.”

Takhrij Hadits

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas diriwayatkan oleh al-Imam Muslim rahimahullah dalam ash-Shahih Kitabul Fadhail(4/1789 no. 2284), dan al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al- Musnad (no. 27333), dari jalan Abdurrazaq bin Hammam, dari Ma’mar bin Rasyid, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Silsilah (rantai) rawi ini disepakati kesahihannya oleh al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah dan terdapat dalam shahifah (lembaran) Hammam bin Munabbih, yaitu lembaran yang semua haditsnya diriwayatkan melalui sanad Abdurrazaq bin Hammam ash-Shan’ani, dari Ma’mar bin Rasyid, dari Hammam bin Munabbih, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. Al-Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah mengeluarkan semua hadits shahifah dalam al-Musnad (2/312—319).

Sementara itu, Syaikhain, yakni al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah, hanya meriwayatkan sebagian dari haditshadits shahifah, termasuk di dalamnya hadits di atas. Sanad ini tidak diragukan kesahihannya. Al-Bukhari dan Muslim rahimahumallah mengeluarkan sanad ini dalam Shahih keduanya. Dua perawi menyertai Hammam bin Munabbih dalam meriwayatkan dari Abdurrazzaq. Mereka adalah:

1. Al-A’raj Abdurrahman bin Hurmuz, diriwayatkan oleh al-Bukhari rahimahullah dalam ash-Shahih (no. 6483) dan at-Tirmidzi rahimahullah dalam as-Sunan (no. 2874).

2. Yazid bin al-Asham Abu ‘Auf al- Kufi, dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad rahimahullah dalam al-Musnad.

Semangat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam Menyelamatkan Manusia dari Kebinasaan

Duhai, betapa indahnya permisalan yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Permisalan beliau sangat mendalam dan penuh arti. Tentu saja, bagi orang-orang yang berakal dan memiliki kalbu. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.” (al-Ankabut: 43)

Permisalan dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menunjukkan semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam membimbing umatnya agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, serta menyelamatkan mereka dari jurang kebinasaan. An-Nawawi rahimahullah dalam al- Minhaj memberikan judul bab bagi hadits ini, bab “Syafaqatuhu ‘ala ummatihi wa mubalaghatuhu fi tahdzirihim mimma yadhurruhum. (Bab “Kasih Sayang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Umatnya dan Kesungguhan Beliau Memberi Peringatan dari Segala Hal yang Membahayakan Mereka).”

Manusia Terbagi Menjadi Dua: Selamat dan Celaka Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah memperingatkan umat dari neraka dengan penuh kesungguhan, telah mengorbankan segala upaya siang dan malam, tetapi tetap saja sebagian mereka tidak taat dan memilih jalan kebinasaan. Perhatikan permisalan yang dibuat oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di saat api menyala, anai-anai atau serangga sejenisnya bersikeras menuju kebinasaan. Ia berusaha keras mengusir dan menjauhkan serangga-serangga itu dan menyelamatkan mereka dari api. Tetapi, mereka tidak menghiraukannya, justru terus menerjang sehingga banyak yang berjatuhan ke dalam api dan sedikit yang terselamatkan. Demikian pula manusia di hadapan syariat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka terbagi menjadi dua golongan. Satu golongan selamat dan golongan lainnya lebih mencintai kebinasaan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلاَّ مَنْ أَبَى. قَالُوا: وَمَنْ يَأْبَى يَا رَسُولَ اللهِ؟ مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Semua umatku akan masuk jannah, kecuali mereka yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” “Orang yang taat kepadaku akan masuk jannah, dan orang yang memaksiatiku sungguh telah enggan (masuk jannah).”

An – Nawawi rahimahullah berkata , “Maksud hadits di atas, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerupakan terjatuhnya orang-orang jahil dan menyimpang dalam neraka akhirat karena kemaksiatan-kemaksiatan dan syahwat padahal beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang mereka, seperti terjatuhnya anai-anai ke dalam api dunia karena hawa nafsu dan ketidakmampuan membedakan (api dan bukan api). Keduanya (baik manusia yang melakukan kemaksiatan maupun anai-anai yang memilih api) sama-sama bersemangat atas kebinasaan dirinya.” (Syarah Shahih Muslim) Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَرِيقًا هَدَىٰ وَفَرِيقًا حَقَّ عَلَيْهِمُ الضَّلَالَةُ ۗ إِنَّهُمُ اتَّخَذُوا الشَّيَاطِينَ أَوْلِيَاءَ مِن دُونِ اللَّهِ وَيَحْسَبُونَ أَنَّهُم مُّهْتَدُونَ

“Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka. Sesungguhnya mereka menjadikan setan-setan sebagai pelindung (mereka) selain Allah, dan mereka mengira bahwa mereka mendapat petunjuk.” (al-A’raf: 30)

Semangat Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam Memperingatkan Umatnya dari Neraka

Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru umatnya untuk menjauhkan diri dari neraka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

هَلُمَّ عَنِ النَّارِ، هَلُمَّ عَنْ النَّارِ

“Jauhilah neraka! Jauhilah neraka!”

Seruan beliau semisal dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (at-Tahrim: 6)

Saudaraku, di antara semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjauhkan manusia dari neraka ialah beliau mengabarkan tentang neraka, sifat-sifatnya, dan sifat para penghuninya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melihat neraka dalam beberapa kesempatan. Di antara kesempurnaan nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau mengabarkan sifat-sifat neraka kepada umatnya agar mereka takut dan menghindar. Akan tetapi, kebanyakan manusia mengabaikan peringatan itu. Sebagai misal, al-Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadits yang menunjukkan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihat neraka, sekaligus memperingatkan apa yang beliau lihat, yaitu pedihnya azab neraka. Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Terjadi gerhana matahari di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau pun shalat (gerhana) bersama manusia.

Beliau berdiri lama seperti membaca surat al-Baqarah, kemudian rukuk dengan lama. Setelah itu, beliau bangkit dan berdiri lama, lebih pendek dari yang pertama. Kemudian beliau rukuk dengan lama, tetapi lebih pendek dari rukuk yang pertama. Kemudian beliau sujud, lalu bangkit berdiri lama, tetapi lebih pendek dari rakaat pertama. Kemudian beliau rukuk dengan lama, tetapi lebih pendek dari rakaat pertama. Kemudian beliau bangkit dan berdiri lama tetapi lebih ringan dari sebelumnya, lalu rukuk dengan lama, tetapi lebih ringan dari yang awal. Kemudian sujud dan menyelesaikan shalatnya saat matahari telah muncul (shalat gerhana dalam hadits ini adalah dengan dua rukuk setiap rakaatnya, -red.).

Kemudian beliau berkata, ‘Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua dari sekian tanda kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala. Terjadinya gerhana atas keduanya bukanlah karena kematian atau kelahiran seseorang. Apabila kalian melihat gerhana, berzikirlah kepada Allah Subhanahu wata’ala (shalatlah)!’ Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami melihat engkau di tempat berdirimu (ketika shalat gerhana) seakanakan mengambil sesuatu, kemudian kita melihat engkau menghindar dari sesuatu? (Apa yang terjadi wahai Rasulullah?)’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda , ‘Sesungguhnya aku melihat jannah (surga), maka aku memegang seuntai anggur. Andai aku mengambilnya, sungguh kalian akan makan darinya selama dunia ini masih ada. Aku juga melihat neraka yang aku belum pernah melihat pemandangan seperti ini dan aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.’ Sahabat bertanya, ‘Apa sebabnya, wahai Rasulullah?’ ‘Mereka berbuat kekufuran,’ Sahabat bertanya, ‘Apakah kekufuran kepada Allah Subhanahu wata’ala?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Kekufuran kepada suami yakni dengan mengingkari kebaikannya. Seandainya engkau (suami) berbuat baik kepada salah seorang istri seumur hidupmu kemudian dia melihat satu kejelekan darimu, dia akan berkata, ‘Belum pernah aku melihat satu kebaikan pun darimu’.” ( HR. Muslim dalam ash-Shahih no. 907)

Hadits tentang shalat gerhana di atas menjadi salah satu dalil dari sekian banyak dalil bahwa neraka sudah ada saat ini dan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melihatnya.

Semangat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam Mengajarkan Amalan yang Menyelamatkan dari Neraka

Di samping menyebutkan sifat neraka dan memperingatkan umat darinya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sangat bersemangat mengajarkan amalan-amalan yang dapat menyelamatkan manusia darinya. Semua ini adalah bentuk kasih sayang yang besar dan tulus kepada manusia. Pada hakikatnya, semua amalan kebaikan, meski sedikit, akan menjadi benteng dari api neraka, insya Allah. Siapa yang melakukan amalan kebaikan walau seberat zarah, dia akan melihat balasan baik atas amalannya. Demikian janji Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (az-Zalzalah: 7)

 

Amalan Khusus yang Menjadi Sebab Keselamatan dari Api Neraka

Secara khusus, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyebutkan beberapa amalan sebagai benteng dari api neraka. Di antara amalan-amalan tersebut adalah:

1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wata’ala dan menjauhkan diri dari kesyirikan

Inilah pokok keselamatan dari azab Allah Subhanahu wata’ala di dunia dan di akhirat. Tauhid adalah fondasi semua amalan. Amalan seseorang tidak akan diterima tanpa tauhid. Disebutkan dalam sebuah hadits,

عَنْ مُعَاذٍ قَالَ أَنَا رَدِيفُ النَّبِيِّ فَقَالَ: يَا مُعَاذُ.  قُلْتُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. ثُمَّ قَالَ مِثْلَهُ ثَلَاثًا: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ؟ قُلْتُ: لَا. قَالَ حَقُّ اللهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا. ثُمَّ سَارَ سَاعَةً فَقَالَ: يَا مُعَاذُ. قُلْتُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ. قَالَ: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى ا إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ؟ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ

Dari Muadz bin Jabal z, beliau berkata, “Suatu saat saya dibonceng Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di atas keledai. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Wahai Muadz.’ Saya menjawab, ‘Aku selalu menyambutmu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallammengatakan hal itu tiga kali (dan saya jawab tiga kali juga). Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Tahukah engkau apa hak Allah Subhanahu wata’ala atas para hamba?’ Saya menjawab, ‘Tidak.’ Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, ‘Hak Allah Subhanahu wata’ala atas para hamba adalah mereka mengibadahi-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.’ Kemudian beliau berjalan beberapa saat, dan berkata, ‘Wahai Mu’adz.’ Dijawab, ‘Aku selalu menyambutmu.’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, ‘Tahukah kamu, apa hak mereka atas Allah Subhanahu wata’ala apabila mereka melakukannya? Allah Subhanahu wata’ala tidak akan mengazab mereka’.” (HR. al-Bukhari no. 6267)

Hadits Muadz radhiyallahu ‘anhu di atas menunjukkan betapa pentingnya seseorang memberikan curahan waktu dan upaya untuk mengenal tauhid dan syirik, kemudian mengamalkannya sepanjang hayat. Seorang muslim harus memahami dengan benar hal-hal yang membahayakan tauhidnya dan yang menyuburkan pohon tauhid dalam hatinya. Tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya kecuali dengan terus meminta kepada Allah Subhanahu wata’ala dan menempuh sebab-sebabnya, di antaranya adalah menuntut ilmu.

2 . Menjaga shalat lima waktu beserta syarat, rukun, dan kewajibannya, seperti wudhu, rukuk, dan sujud.

Dalil bahwa amalan ini termasuk benteng neraka adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ حَافَظَ عَلَى الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ عَلَى وُضُوئِهَا وَمَوَاقِيتِهَا وَرُكُوعِهَا وَسُجُودِهَا يَرَاهَا حَقًّا عَلَيْهِ حُرِّمَ عَلَى النَّارِ

“Barang siapa menjaga shalat lima waktu, menjaga wudhunya, menjaga waktu-waktunya, menjaga rukukrukuknya, dan menjaga sujud-sujudnya, yakin bahwa shalat adalah hak Allah Subhanahu wata’ala atasnya, dia diharamkan dari neraka.” (HR. Ahmad no. 17882 dari Hanzhalah al-Asadi radhiyallahu ‘anhu)

3. Berbakti kepada kedua orang tua

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ ثُمَّ رَغِمَ أَنْفُ. قِيلَ: مَنْ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ أَدْرَكَ أَبَوَيْهِ عِنْدَ الْكِبَرِ أَحَدَهُمَا أَوْ كِلَيْهِمَا فَلَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ

“Celaka, kemudian celaka, kemudian celaka.” Beliau ditanya, “Siapa yang celaka, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Orang yang menjumpai masa tua dari salah satu atau kedua orang tuanya, tetapi dia tidak masuk surga.” (HR. Muslim no. 2881 dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

4. Menjaga shalat sunnah empat rakaat sebelum dan sesudah zuhur

Ummu Habibah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ حَافَظَ عَلَى أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ قَبْلَ الظُّهْرِ وَأَرْبَعٍ بَعْدَهَا حَرُمَ عَلَى النَّارِ

‘Barang siapa menjaga empat rakaat sebelum zuhur dan empat rakaat sesudahnya, haram atasnya neraka’.” (HR. Abu Dawud no. 1269 dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al- Albani)

5. Berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari azab neraka

Anas bin Malik zberkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ الْجَنَّةُ: اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ. وَمَنِ اسْتَجَارَ مِنَ النَّارِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتِ النَّارُ: اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa meminta jannah (surga) kepada Allah Subhanahu wata’ala tiga kali, jannah akan berkata, ‘Ya Allah, masukkan dia ke dalam jannah!’ Barang siapa meminta perlindungan kepada Allah Subhanahu wata’ala dari neraka, neraka pun berkata, ‘Ya Allah, lindungilah dia dari neraka!’.” (HR. at- Tirmidzi no. 2572, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Di antara doa memohon perlindungan dari neraka adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallamsaat tasyahud akhir sebelum salam, yaitu:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada- Mu dari siksa neraka Jahanam, dari siksa kubur, dari ujian hidup dan mati, serta dari godaan Dajjal.” (HR. Muslim, Abu ‘Awanah, an-Nasai, dan Ibnul Jarud dalam al-Muntaqa. Lihat Irwaul Ghalil no. 350)

6. Dekat, lembut dengan kaum mukminin, dan berakhlak mulia

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَنْ يَحْرُمُ عَلَى النَّارِ أَوْ بِمَنْ تَحْرُمُ عَلَيْهِ النَّارُ؟ عَلَى كُلِّ قَرِيبٍ هَيِّنٍ سَهْلٍ

“Maukah kukabarkan kepada kalian tentang siapa yang diharamkan atas neraka? Yaitu setiap muslim yang dekat (dengan kaum mukminin), tenang, dan mudah (lembut akhlak dan sifatnya).” (HR. at-Tirmidzi dalam as-Sunan no. 2488. At-Tirmidzi berkata, “Hasanun gharib,” dan hadits ini dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani)

Betapa besar keutamaan ahlak yang baik dan kelembutan. Namun, subhanallah, di akhir zaman ini kebanyakan manusia bersikap kasar, termasuk terhadap kerabat dekatnya yang muslim, bahkan kepada orang tuanya sendiri. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memperbaiki diri kita. Amin.

7. Bersedekah dan bertutur kata yang baik

Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anhu berkata,

كُنْتُ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ فَجَاءَهُ رَجُلَانِ أَحَدُهُمَا  يَشْكُو الْعَيْلَةَ وَالْآخَرُ يَشْكُو قَطْعَ السَّبِيلِ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ: أَمَّا قَطْعُ السَّبِيلِ فَإِنَّهُ لَا :  يَأْتِي عَلَيْكَ إِلَّا قَلِيلٌ حَتَّى تَخْرُجَ الْعِيرُ إِلَى مَكَّةَ بِغَيْرِ خَفِيرٍ، وَأَمَّا الْعَيْلَةُ فَإِنَّ السَّاعَةَ لَا تَقُومُ حَتَّى يَطُوفَ أَحَدُكُمْ بِصَدَقَتِهِ لَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا مِنْهُ، ثُمَّ لَيَقِفَنَّ أَحَدُكُمْ بَيْنَ يَدَيْ اللهِ لَيْسَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهُ حِجَابٌ وَلَا تَرْجُمَانٌ يُتَرْجِمُ لَهُ ثُمَّ لَيَقُولَنَّ لَهُ: أَلَمْ أُوتِكَ مَالًا؟ فَلَيَقُولَنّ بَلَى. ثُمَّ لَيَقُولَنَّ: أَلَمْ أُرْسِلْ إِلَيْكَ رَسُولًا؟ فَلَيَقُولَنَّ: بَلَى. فَيَنْظُرُ عَنْ يَمِينِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ ثُمَّ يَنْظُرُ عَنْ شِمَالِهِ فَلَا يَرَى إِلَّا النَّارَ فَلْيَتَّقِيَنَّ أَحَدُكُمْ النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ

Suatu saat aku berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Tiba-tiba datang dua lelaki, yang pertama mengeluhkan kemiskinan dan yang kedua mengeluhkan gangguan perampok di perjalanan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Adapun perampok, sesungguhnya tidak lama lagi datang (waktu) yang rombongan dari Makkah keluar (melakukan safar) tanpa perlindungan (maksudnya aman, -red.). Adapun kemiskinan, (ketahuilah) sesungguhnya hari kiamat tidak akan tegak hingga (datang saat) salah seorang di antara kalian berkeliling hendak memberi sedekah, tetapi tidak dia dapati orang yang mau menerimanya. Sungguh, kalian (semua) akan berdiri di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, tidak ada hijab antara Allah Subhanahu wata’ala dan dirinya, tidak ada pula orang yang menerjemahkan untuknya. Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman kepadanya, ‘Bukankah Aku telah memberimu harta?’ Dia berkata, ‘Benar.’ Kemudian Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Bukankah Aku telah mengutus rasul kepadamu?’ Dia menjawab, ‘Benar.’ Kemudian dia melihat di sisi kanannya, dia tidak melihat selain neraka. Kemudian dia melihat sebelah kirinya, dia pun tidak melihat selain neraka. Maka dari itu, jagalah diri kalian dari neraka walaupun dengan separuh kurma (yang dia sedekahkan). Jika tidak bisa, dengan tutur kata yang baik.” (HR. al-Bukhari no. 1413)

Bahkan, dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengisahkan berita yang sangat menakjubkan. Beliau kabarkan kisah seorang wanita pezina yang diselamatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dari neraka dengan sebab memberi minum seekor anjing yang kehausan. Jika perbuatan baik kepada hewan saja dibalasi dengan kebaikan, bagaimana halnya kebaikan dan derma untuk seorang muslim?

8. Mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, mata yang terjaga di jalan Allah l, dan mata yang menunduk dari apa yang diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Ini termasuk amalan yang dijadikan oleh Allah Subhanahu wata’ala sebagai benteng dari neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

عَيْنَانِ لَا تَمَسُّهُمَا النَّارُ، عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ ا ،َّهللِ وَعَيْنٌ بَاتَتْ تَحْرُسُ فِي سَبِيلِ اللهِ

“Dua mata yang tidak akan disentuh oleh neraka: mata yang menangis takut kepada Allah Subhanahu wata’ala dan mata yang terbuka di malam hari, berjaga dalam jihad fi sabililah.” (HR. at-Tirmidzi no. 1639 dari hadits Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma)

ثَلَاثَةٌ لاَ تَرَى أَعْيُنُهُمُ النَّارَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: عَيْنٌ بَكَتْ مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَعَيْنٌ حَرَسَتْ فِي سَبِيلِ اللهِ وَعَيْنٌ غَضَّتْ عَنْ مَحَارِمِ اللهِ

“Tiga mata yang tidak akan melihat neraka pada hari kiamat: Mata yang menangis karena takut kepada Allah Subhanahu wata’ala, mata yang terjaga dalam jihad fi sabilillah, dan mata yang menundukkan dari apa yang Allah Subhanahu wata’ala haramkan.” (Lihat ash-Shahihah no. 2673)

9. Berjihad fi sabilillah

Ayat-ayat al-Qur’an dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam banyak menyebutkan besarnya pahala dan keutamaan jihad fi sabilillah. Di antara keutamaannya, Allah Subhanahu wata’alal menyelamatkan pelakunya dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنِ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللهِ حَرَّمَهُ اللهُ عَلَى النَّارِ

“Orang yang kedua kakinya dipenuhi debu karena berjihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala mengharamkan atasnya neraka.” (HR. al-Bukhari no. 907 dari Abu ‘Abs Abdurrahman bin Jabr bin ‘Amr al-Anshari radhiyallahu ‘anhu)

10. Bersabar mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala yang berupa anakanak perempuan, mendidik, dan menafkahi mereka

Memiliki anak perempuan bukan kekurangan, apalagi kehinaan, sebagaimana halnya orang-orang jahiliah dahulu merasa hina dengan kelahirannya. Anak perempuan adalah karunia besar dari Allah Subhanahu wata’ala. Barang siapa mengemban amanat ini, sungguh mereka akan menjadi benteng dari api neraka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، فَصَبَرَ عَلَيْهِنَّ وَأَطْعَمَهُنَّ وَسَقَاهُنَّ وَكَسَاهُنَّ مِنْ جِدَتِهِ كُنَّ لَهُ حِجَابًا مِنْ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa memiliki tiga anak perempuan, kemudian dia bersabar atas mereka, memberikan makan, minum, dan pakaian untuk mereka dari usahanya, sungguh mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka pada hari kiamat.” (Sahih, HR. Ibnu Majah no. 3669 dari hadits ‘Uqbah bin Amir radhiyallahu ‘anhu) Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan,

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا، فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ,فَدَخَلَ النَّبِيُّ, عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ: مَنِ ابْتُلِيَ  مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ

“Seorang perempuan dengan dua anak perempuannya masuk (ke rumahku) meminta-minta, tetapi dia tidak mendapatkan di sisiku selain sebutir kurma. Kuberikan kurma itu kepadanya. Dia belah sebiji kurma untuk kedua putrinya dan dia sendiri tidak memakan kurma tersebut. Kemudian pergilah wanita itu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam datang, kukabarkan kejadian ini. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda, ‘Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan, sungguh mereka akan menjadi pelindung dari neraka’.” (HR. al-Bukhari no. 1418)

Demikian beberapa amalan yang disebutkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai benteng dari api neraka. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memudahkan kita dalam mengamalkan dan memperoleh keutamaannya, insya Allah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Fatwa-Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin tentang Prinsip Al-Wala wal Bara

Di antara prinsip pokok dalam akidah Islam adalah mencintai orang yang seakidah dan memusuhi orang yang memusuhi akidah Islam; mencintai dan berloyalitas kepada orang yang ikhlas dan bertauhid; serta membenci orang-orang kafir musyrik. Semua hal di atas termasuk millah Ibrahim dan yang bersamanya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّىٰ تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya; ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan yang kalian sembah selain Allah. Kami ingkari (kekafiran) kalian serta telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah saja.” (al-Mumtahanah: 4)

Prinsip ini pun menjadi agama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orangorang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin (kalian). Sebagian mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orangorang yang zalim.” (al-Maidah: 51)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman mengharamkan wala’ (loyalitas) kepada semua orang kafir secara umum,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia.” (al-Mumtahanah: 1)

Bahkan , Allah Subhanahu wata’ala telah mengharamkan atas mukminin berwala’ kepada orang kafir1 walaupun mereka itu orang yang paling dekat nasabnya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ ۚ وَمَن يَتَوَلَّهُم مِّنكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah kalian jadikan bapak-bapak dan saudarasaudaramu menjadi wali(mu). Jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kalian yang menjadikan mereka wali, mereka itulah orang-orang yang zalim.” (at- Taubah: 23)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Namun, sangat disayangkan, banyak sekali kaum muslimin yang tidak mengetahui pokok agama yang agung ini. Sampai-sampai ada orang yang dianggap ulama dan dai berkata bahwasanya Nasrani adalah saudarasaudara kita. Alangkah bahayanya ucapan mereka ini. Oleh karena itu, berikut adalah beberapa penjelasan asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah tentang hal ini dalam fatwa-fatwa yang pernah beliau sampaikan. Mudahmudahan bisa menjadi bekal bagi kita dalam beramal.

Hukum Orang yang Menyatakan Tidak Boleh Mengafirkan Yahudi dan Nasrani

Asy-Syaikh ditanya tentang seorang pemberi nasihat di salah satu masjid di Eropa. Dia menyatakan bahwasanya Yahudi dan Nasrani tidak boleh tidak boleh dikafirkan.

Jawaban asy-Syaikh Ibnu Utsaimin: Ucapan seperti ini telontar dari seorang yang sesat atau kafir, karena Yahudi dan Nasrani telah dikafirkan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam kitab-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ () اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَّا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah.” Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka, bagaimana mereka sampai berpaling? Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah sesembahan yang satu, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (at-Taubah: 30—31)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang musyrik. Dalam ayat lain, dengan tegas Allah Subhanahu wata’ala menerangkan kekafiran mereka,

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ

Sesungguhnya telah kafirlah orangorang yang berkata, “Sesungguhnya Allah ialah al-Masih putra Maryam.” (al-Maidah: 72)

لَّقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan, “Allah salah seorang dari yang tiga.” (al-Maidah: 73)

لُعِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِن بَنِي إِسْرَائِيلَ عَلَىٰ لِسَانِ دَاوُودَ وَعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا وَّكَانُوا يَعْتَدُونَ

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari bani Israil melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.” (al-Maidah: 78)

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ أُولَٰئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni Ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.” (al-Bayinah: 6)

Ayat-ayat dalam masalah ini sangatlah banyak. Demikian juga dengan hadits. Barang siapa mengingkari kekafiran Yahudi dan Nasrani, berarti tidak beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendustakan beliau, di samping mendustakan Allah Subhanahu wata’ala. Mendustakan Allah Subhanahu wata’ala adalah kekufuran. Jadi, barang siapa ragu tentang kekafiran Yahudi dan Nasrani, tidak diragukan lagi kekafirannya…. (Fatawa Aqidah)

Hukum Mencintai Orang Kafir dan Lebih Mengutamakan Mereka daripada Kaum Muslimin

Asy-Syaikh ditanya tentang hukum menyayangi orang kafir dan lebih mengutamakannya daripada muslimin.

Jawaban: Tidak diragukan lagi, orang yang lebih mencintai orang kafir daripada kaum muslimin berarti telah melakukan keharaman yang besar. Sebab, mencintai kaum muslimin dan mencintai kebaikan untuk mereka, hukumnya wajib. Oleh karena itu, mencintai musuhmusuh Allah Subhanahu wata’ala melebihi kecintaan kepada muslimin adalah bahaya besar dan haram hukumnya. Bahkan, tidak diperbolehkan mencintai orang kafir walau lebih kecil dari cintanya kepada muslimin. Hal ini berdasarkan firman Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungaisungai. Mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung.” (al-Mujadilah: 22)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا عَدُوِّي وَعَدُوَّكُمْ أَوْلِيَاءَ تُلْقُونَ إِلَيْهِم بِالْمَوَدَّةِ وَقَدْ كَفَرُوا بِمَا جَاءَكُم مِّنَ الْحَقِّ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil musuh-Ku dan musuh kalian menjadi teman-teman setia yang kalian sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepada kalian.” (al-Mumtahanah: 1)

Demikian juga orang yang memuji orang kafir, menyanjung, dan mengutamakan mereka daripada kaum muslimin dalam hal amalan dan lainnya. Dia telah melakukan dosa dengan berburuk sangka kepada saudaranya yang muslim dan berbaik sangka kepada orang yang tidak berhak mendapatkannya. Seorang mukmin wajib mengutamakan kaum muslimin atas selain mereka dalam segala urusan, baik amalan maupun lainnya. Jika ada kekurangan pada kaum muslimin, hendaknya mereka dinasihati dan diingatkan tentang akibat jelek dari perbuatan zalim. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberikan hidayah kepada mereka melalui perantaraannya.

Turut Serta dengan Orang Kafir dalam Perayaan Hari Besar Mereka

Apa hukum kaum muslimin turut serta/berbaur dengan orang kafir dalam perayaan hari besar orang-orang kafir?

Jawaban: Haram hukumnya bagi kaum muslimin berbaur (turut serta) dalam perayaan hari-hari besar orang kafir. Sebab, ini termasuk membantu orang lain dalam berbuat dosa dan permusuhan. Allah Subhanahu wata’ala telah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Tolong-menolonglah kalian dalam perbuatan kebajikan dan takwa serta jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.” (al-Maidah: 2)

Jika hari-hari besar tersebut bersifat keagamaan, turut serta bersama mereka adalah bentuk setuju dan ridha dengan kekafiran mereka. Kalau tidak bersifat keagamaan, seandainya saja hari raya itu ada pada kaum muslimin, tentu tidak akan dirayakan, lebih-lebih lagi jika ada pada orang-orang kafir. Oleh karena itu, para ulama menyatakan, kaum muslimin tidak boleh turut serta dengan orang kafir dalam perayaan hari besar mereka. Sebab, hal itu adalah bentuk persetujuan dan ridha dengan kekufuran dan kebatilan mereka. Selain itu, hal itu termasuk bentuk membantu mereka dalam berbuat dosa dan permusuhan. Para ulama berselisih pendapat terkait dengan masalah menerima hadiah dari orang kafir ketika mereka merayakan hari besar mereka, apakah boleh menerimanya atau tidak? Sebagian ulama menyatakan tidak boleh menerima hadiah yang terkait dengan perayaan hari besar mereka karena hal itu adalah pertanda ridhanya. Sebagian ulama membolehkan menerimanya. Dengan syarat, apabila hadiah itu diterima tanpa menimbulkan bahaya syar’i—yakni orang kafir tersebut berkeyakinan bahwa seorang muslim yang menerima hadiah berarti ridha dengan kekafiran mereka—tidak mengapa menerimanya.

Namun, apabila akan menimbulkan bahaya syar’i, tidak menerimanya lebih utama. Alangkah baiknya apabila saya sebutkan apa yang telah diterangkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Ahkam Ahli Dzimmah, “Adapun mengucapkan selamat kepada syiar-syiar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka, hal itu disepakati keharamannya, seperti memberikan ucapan selamat di hari besar dan puasa mereka dengan mengucapkan: hari raya penuh berkah, selamat hari raya, dan ucapan semisalnya.” Orang yang mengucapkan ucapan selamat seperti ini, kalaupun selamat dari kekufuran, maka itu adalah perbuatan haram. Keadaannya seperti orang yang memberi ucapan selamat kepada seorang yang sujud kepada salib…. Banyak orang yang tidak memiliki kekokohan agama terjatuh pada perbuatan seperti ini.

Bepergian ke Negeri Kafir

Apa hukum bepergian ke negeri kafir dan hukum bepergian untuk tamasya?

Jawaban: Bepergian ke negeri kafir tidak diperbolehkan kecuali dengan tiga syarat:

1. Memiliki ilmu sehingga ia bisa menolak syubhat.

2. Memiliki agama yang baik sehingga ia bisa menjaga diri dari syahwat.

3. Memiliki keperluan untuk bepergian ke sana.

Jika tiga syarat ini tidak terpenuhi, tidak boleh bepergian ke negeri kafir. Sebab, hal itu akan menjadi kejelekan bagi dirinya atau dikhawatirkan ada keburukan yang menimpanya. Selain itu, hal ini hanya akan menghamburkan harta karena butuh biaya besar untuk bepergian ke negara-negara tersebut. Namun, jika seseorang terdesak kebutuhan yang mengharuskannya bepergian ke negeri kafir, untuk berobat atau belajar ilmu yang tidak ada di negerinya—dalam keadaan dia memiliki ilmu dan agama yang kokoh sebagaimana kita sebutkan—ia boleh berangkat ke negeri kafir.

Mengucapkan “Wahai Saudaraku” kepada Seorang Kafir

Apa hukum ucapan, “Wahai saudaraku” kepada orang kafir? Demikian juga ucapan, “Wahai teman, wahai sobat” dan hukum tertawa kepada orang kafir demi mendapatkan kecintaannya?

Jawaban: Ucapan “Wahai saudaraku” kepada seorang kafir hukumnya adalah haram. Tidak boleh dia dipanggil demikian kecuali ada hubungan saudara karena nasab atau susuan. Sebab, kalau tidak ada hubungan nasab dan susuan, tersisa hubungan saudara karena agama. Padahal seorang kafir bukanlah saudara seorang mukmin dalam agamanya. Ingatlah ucapan Nabi Nuh ‘Alahissalam,

وَنَادَىٰ نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ () قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ ۖ

Nuh berseru kepada Rabbnya sambil berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya.” Allah berfirman, “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu….” (Hud: 45—46)

Adapun memanggilnya, “Wahai sobat, wahai teman”, kalau hanya ucapan spontan untuk memanggil seseorang yang tidak diketahui namanya, tidaklah mengapa. Namun, apabila maksudnya mengharapkan kecintaan dan kedekatan orang kafir, hal ini diterangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala,

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ

“Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, anak-anak, saudarasaudara, ataupun keluarga mereka.” (al-Mujadalah: 22)

Semua ucapan lemah lembut yang bertujuan mendatangkan kecintaan tidak boleh diucapkan seorang mukmin kepada orang kafir. Demikian pula tertawa kepada mereka untuk menciptakan rasa sayang/ suka antara si mukmin dan si kafir, tidak boleh dilakukan. Engkau telah mengetahuinya dalam ayat di atas.

Hukum Mengucapkan Salam kepada Muslim dengan: السَّلاَمُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

Apa hukum mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan bentuk salam: السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى Bagaimana cara mengucapkan salam kepada orang di sebuah tempat yang ada muslim dan kafirnya?

Jawaban: Tidak boleh seorang mengucapkan salam kepada seorang muslim dengan mengucapkan,

السَّلَامُ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.”

Sebab, bentuk salam seperti ini hanyalah diucapkan oleh Rasulullah n ketika menulis surat kepada selain muslimin. Adapun kepada saudara Anda yang muslim ucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ Adapun kalau Anda ucapkan,

السَّلاَم علَىَ مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى

“Semoga keselamatan bagi orang yang mengikuti petunjuk.”

Kandungan kalimat ini berarti teman Anda bukan seorang yang mengikuti petunjuk. Apabila sekelompok orang yang hendak Anda salami adalah sekumpulan orang yang ada muslim dan Nasrani, Anda ucapkan salam yang biasa diucapkan,

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ

Namun, Anda maksudkan dengan ucapan salam ini adalah salam kepada kaum muslimin.

Mudah-mudahan beberapa fatwa asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al- ‘Utsaimin rahimahullah yang kami bawakan menjadi bekal untuk mengamalkan salah satu prinsip dalam agama kita, yaitu al-wala’ wal bara’. Walhamdulillah.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Orang-orang yang Mendapatkan Pahala Dua Kali

Sesungguhnya setiap amal kebaikan ada pahalanya. Sesuai dengan kadar ketulusan niat dan besarnya manfaat yang dihasilkan, sebesar itulah ganjaran yang akan didapatkannya. Sungguh, Allah Maha Pemurah. Ia memberi pahala amal kebaikan dua kali lipat, tiga kali lipat, bahkan lebih dari itu. Ada beberapa golongan yang mendapatkan pahala dua kali lipat yang disebutkan oleh hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلاَثَةٌ يُؤْتَوْنَ أَجْرَهُمْ مَرَّتَيْنِ: رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ  الْكِتَابِ آمَنَ بِنَبِيِّهِ وَأَدْرَكَ النَّبِيَّ, فَآمَنَ بِهِ وَاتَّبَعَهُ وَصَدَّقَهُ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَعَبْدٌ مَمْلُوْكٌ أَدَّى حَقَّ اللهِ تَعَالَى وَحَقَّ سَيِّدِهِ فَلَهُ أَجْرَانِ، وَرَجُلٌ كَانَتْ لَهُ أَمَةٌ فَغَذَاهَا فَأَحْسَنَ غِذَاءَهَا ثُمَّ أَدَّبَهَا فَأَحْسَنَ أَدَبَهَا ثُمَّ أَعْتَقَهَا وَتَزَوَّجَهَا فَلَهُ أَجْرَانِ

“Tiga orang yang mereka diberi pahala dua kali: (1) Seorang ahli kitab yang beriman kepada nabinya dan mendapati Nabi (Muhammad) Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu beriman kepada beliau, mengikutinya, dan memercayainya, maka dia mendapatkan dua pahala; (2) budak sahaya yang menunaikan kewajiban terhadap Allah l dan kewajiban terhadap tuannya, ia mendapatkan dua pahala; dan (3) seseorang yang memiliki budak perempuan lalu memberinya makan dan bagus dalam hal memberi makannya, kemudian mendidiknya dan bagus dalam mendidiknya, lalu dia memerdekakannya dan menikahinya, maka dia mendapat dua pahala.” (HR. al-Bukhari no. 3011 dan Muslim dalam Kitabul Iman, dan hadits ini lafadz Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwa ada tiga golongan manusia yang berhak meraih pahala dua kali, yaitu:

1. Seorang ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) yang beriman kepada rasul yang diutus kepadanya, mengimani kitab yang diturunkan kepada rasulnya, dan mengamalkan kandungannya. Ketika mendengar Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, dia beriman kepada beliau dan mengikuti ajarannya.

Orang yang seperti ini mendapatkan dua pahala, yaitu pahala mengimani rasul yang diutus kepadanya dan pahala mengimani rasul yang diutus setelahnya, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini tentu mendorong ahli kitab untuk bersegera memeluk agama Islam yang merupakan penutup agama-agama yang ada dan satu-satunya agama yang diterima oleh Allah l. Sungguh, mereka akan mendapatkan pahala yang mereka harapkan saat menjaga agamanya, ditambah pahala yang lain saat memeluk Islam. Sebab, Islam tidak akan mengurangi hak seorang pun, sebagaimana halnya Islam juga tidak menghalangi pahala orang yang beramal.

Jika ahli kitab menolak masuk Islam dan enggan beriman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, berarti mereka telah mengingkari kitab-kitab mereka yang menyebutkan sifat-sifat beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam secara jelas dan perintah untuk mengikutinya bila diutus kelak. Padahal, seandainya Nabi Musa ‘Alaihissalam masih hidup di kala Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam diutus, niscaya Nabi Musa ‘Alahissalam akan mengikuti beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Seandainya saudaraku, Musa, masih hidup, tidak ada kesempatan selain mengikutiku.” (HR. Ahmad dan dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Irwa al-Ghalil)

Ketika turun nanti di akhir zaman, Nabi Isa ‘Alaihissalam pun akan menjadi bagian umat ini dan berhukum dengan syariat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْمَعُ بِي أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ وَلَا نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْْ يُؤْمِنْ بِالَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ إِلَّا كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

“Tidak ada seorang pun dari umat ini yang mendengar aku (diutus), baik dia Yahudi maupun Nasrani, lantas ia mati dalam keadaan tidak beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali dia termasuk penghuni neraka.” ( Shahih Muslim,Kitabul Iman”, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Hendaknya mereka memeluk agama ini karena besarnya pahala yang telah menunggu. Lebih-lebih, orang kafir yang berbuat kebaikan di saat jahiliah lalu masuk Islam, kebaikan di masa jahiliah itu tetap dicatat sebagai pahala. Dahulu Hakim bin Hizam z bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang amal kebaikan yang ia lakukan di saat jahiliah, seperti silaturahim, memerdekakan budak, dan sedekah, apakah ada pahalanya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Engkau masuk Islam di atas kebaikankebaikan yang kaulakukan.” (Shahih al-Bukhari, Kitabuz Zakat)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Apabila seorang hamba masuk Islam kemudian baik keislamannya, Allah Subhanahu wata’ala mencatat segala kebaikan yang telah dilakukannya dan menghapus segala kejelekan yang pernah dikerjakannya.” (HR. Malik dan an-Nasai, lihat Shahih al-Jami’ no. 336)

2. Seorang budak sahaya yang menunaikan hak Allah Subhanahu wata’ala dan hak tuannya.

Dia menjadi pelayan yang taat kepada tuannya dan penjaga yang tepercaya. Dia tulus menjalankan tugas, berusaha mengembangkan harta tuannya, serta menjaga anak-anaknya. Di samping itu, ia juga mengarahkan tuannya ke arah kebaikan dan mengingatkannya dari kejelekan. Tidak hanya itu, ia juga selalu menjaga hukum-hukum Allah Subhanahu wata’ala. Kesibukannya memberi pelayanan yang terbaik kepada tuannya tidak melalaikannya dari kewajibannya kepada Sang Khalik. Apabila panggilan shalat dikumandangkan, ia bergegas mendatanginya. Seandainya disuruh oleh tuannya untuk melakukan pelanggaran agama, dia menasihati tuannya dan lebih memilih taat kepada Rabbnya. Ia melaksanakan kewajiban agama dan menjauhkan diri dari larangannya. Budak yang seperti ini akan meraih dua pahala. (Lihat kitab al-Adab an-Nabawi hlm. 100—101, karya Abdul Aziz al-Khauli)

Karena agungnya sifat budak yang seperti ini, sampai-sampai sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkeinginan meninggal dalam keadaan sebagai budak sahaya. Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, “Demi Dzat yang jiwa Abu Hurairah ada di tangan- Nya (demi Allah), kalau bukan karena jihad di jalan Allah Subhanahu wata’ala dan melaksanakan haji serta berbakti kepada ibuku, sungguh aku ingin mati dalam keadaan sebagai budak sahaya.” (HR. Muslim no. 1665)

Tidak tanggung-tanggung, karena kerinduan kepada pahala Allah Subhanahu wata’ala yang berlipat, sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ingin meninggal dalam keadaan sebagai budak sahaya. Dia tidak peduli dengan status sosial yang disandangnya asalkan Sang Maula (Allah Subhanahu wata’ala) ridha kepadanya. Seperti inilah orang yang jauh pandangannya dan tinggi seleranya. Oleh karena itu, betapa malangnya nasib orang yang mengaku merdeka dan menghirup alam kebebasan, namun senantiasa menjadi budak syahwat dan hawa nafsunya. Jangankan berpikir untuk menanam kebajikan, keluar dari lumpur kesesatan saja tidak mampu. Masihkah orang yang seperti ini dikatakan sebagai orang yang merdeka dan hidup leluasa?! Menurut kacamata syariat, kemuliaan terletak kepada ketulusan mengamalkan kebaikan dan kesiapan menerima aturan agama (takwa). Kemuliaan tidak berarti memiliki harta yang melimpah, berpenampilan serba wah, dan jabatan tinggi jabatan yang membuat ngiler orang-orang kelas bawah. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kalian.” (al-Hujarat: 13)

3 . Seorang lelaki yang memiliki budak sahaya wanita yang memerhatikan sisi pendidikan agamanya dan mencukupi kebutuhan jasmaninya. Ia bimbing budaknya kepada hal-hal yang bermanfaat, baik dari segi agama maupun dunia. Setelah itu, ia memerdekakan dan menikahinya.

Lelaki seperti ini telah mengangkat kedudukan budaknya dengan mengubah statusnya menjadi orang yang merdeka. Orang seperti ini pantas mendapatkan pahala dua kali lipat karena usahanya yang baik. Bagaimana tidak, dia telah mengeluarkan budaknya dari gelapnya kebodohan kepada cahaya ilmu. Ia mencukupi kebutuhan hidupnya secara maksimal, sedangkan budak sahaya umumnya mendapatkan perlakuan yang tidak wajar dari tuannya. Setelah budak sahaya tersebut menjadi mahal nilainya dan tinggi harganya karena kemuliaan lahiriah dan batiniah yang disandangnya, sang tuan memerdekakannya. Ia lepaskan sahaya tersebut dari belenggu perbudakan ketika ia yakin bahwa budaknya telah baik kondisinya. Padahal, jika mau menjual budak tersebut, niscaya ia akan mendapat materi yang tidak sedikit. Akan tetapi, ia dengan tulus memerdekakannya. Ia hanya mengharap, biaya dan tenaga yang telah ia keluarkan untuk memperbagus agama dan keterampilan duniawi sang budak, diganti dengan pahala dan ridha Allah Subhanahu wata’ala.

Tidak hanya itu, bahkan ia menikahinya sehingga menyejajarkannya dengan istrinya yang lain dalam masalah hak dan menyamakannya dengan wanitawanita lain yang merdeka. Padahal, sebelumnya budak wanita ini dikuasai oleh orang lain, sampai pun anak-anak kecil menyuruh dan memerintahnya serta memanggilnya sebagai budak. Namun, panggilan yang seperti itu kini sudah tidak melekat pada dirinya. Setelah penjelasan yang gamblang seperti ini, masih adakah orang yang menuduh bahwa Islam menzalimi kaum hawa dan tidak memerhatikan pendidikan para wanita?! Sungguh, amat keji bualan yang keluar dari mulutnya. Berangkat dari sini, sudah menjadi kewajiban kita untuk mendidik anak-anak kita, anak-anak kaum muslimin, baik laki-laki maupun perempuan, sehingga menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama dan masyarakatnya, setelah bermanfaat bagi dirinya.

Perlu diketahui, perbudakan akan ada selama masih ada orang kafir yang memerangi kaum muslimin. Kaum muslimin melakukan perlawanan sehingga sebagian orang kafir ada yang tertawan dan menjadi budak. Akan tetapi, ketika mereka menjadi budak lalu masuk Islam dan baik keislamannya, agama Islam menganjurkan pemiliknya untuk memerdekakannya dengan menjanjikan pahala yang besar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Lelaki mana saja yang memerdekakan seorang (budak) muslim, Allah Subhanahu wata’ala akan menyelamatkannya dari neraka setiap anggota tubuh darinya dengan anggota tubuh dari (budak)nya.” (HR. al-Bukhari no. 2517)

Sa’id bin Marjanah, perawi hadits ini, berkata, “Saya bawa hadits ini kepada Ali bin al-Husain rahimahullah lalu dia (Ali) menuju kepada budaknya yang (akan) dibeli sepuluh ribu dirham atau seribu dinar oleh Abdullah bin Ja’far, lantas memerdekakannya.” Seperti inilah bersegeranya generasi awal umat ini melakukan kebaikan kapan pun ada kesempatan. Ketika budak yang dimerdekakan itu mahal harganya dan sangat disenangi oleh pemiliknya, semakin besar pula pahala memerdekakannya. (lihat Shahih al-Bukhari no. 2518)

Islam yang indah ini juga menjadikan memerdekakan budak sebagai ketentuan dalam beberapa hukumnya. Misalnya, hukuman bagi orang yang melakukan hubungan suami istri ketika puasa di siang hari Ramadhan, di antaranya adalah memerdekakan budak. Islam juga telah memberikan bagian harta zakat untuk memerdekakan budak sahaya. Kata asy-Syaikh Muhibbuddin al- Khathib, Sungguh, ketika Islam datang, masalah perbudakan adalah aturan yang umum pada seluruh umat yang ada di muka bumi. Perbudakan di Jazirah Arab adalah yang paling minim dan  paling lembut dibandingkan dengan umat-umat yang lain. Di antara tujuan risalah (syariat) Islami yang terpenting adalah anjuran membebaskan budak dan memerdekakannya dalam berbagai kondisi dan kesempatan. Sebuah aturan yang belum pernah ada umat yang bisa menandinginya.” (Ta’liq Shahih al- Bukhari 2/213)

Golongan Lain yang Mendapat Pahala Dua Kali

Orang-orang yang mendapat pahala dua kali tidak terbatas hanya pada tiga golongan yang tersebut dalam hadits di atas. Ada beberapa golongan yang lain, di antaranya:

1. Istri-istri Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَن يَقْنُتْ مِنكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُّؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

“Barang siapa di antara kamu sekalian (istri-istri Nabi) tetap taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberinya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.” (al-Ahzab: 31)

2. Orang yang bersedekah kepada karib kerabat

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),

“Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah, dan bersedekah kepada kerabat ada dua (pahala): sedekah dan silaturrahim.” ( HR. an-Nasai dan at-Tirmidzi, lihat Shahih at-Targhib no. 879).

Ketika ditanya oleh dua wanita kalangan sahabat tentang sedekah kepada suami dan anak-anak yatim yang berada dalam asuhannya, Nabi n bersabda, “Keduanya mendapat pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala sedekah.” (Shahih Muslim, Kitab Zakat no. 1000)

3. Seorang hakim dan ulama ahli ijtihad yang keputusan/hukumnya sesuai dengan hukum Allah l setelah berusaha mencapai hukum yang benar .

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَاحَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَاحَكَمَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌوَاحِدٌ

“Ketika seorang hakim (akan) menghukumi lalu bersungguh-sungguh kemudian benar (hukumannya) maka dia mendapat dua pahala. Apabila keliru, dia mendapat satu pahala.” (HR. Muslim dan selainnya)

Dua pahala tersebut karena hukumnya sesuai dengan hukum Allah Subhanahu wata’ala dan karena usaha kerasnya untuk mencapai kebenaran. Hakim yang dimaksud dalam hadits di atas adalah yang memang memiliki ilmu alat yang cukup untuk menghukumi dan mengerti kaidah-kaidah syariat serta qiyas (kias). Adapun orang yang bodoh lantas menghukumi, dia tidak dapat pahala. Ia justru berdosa karena bukan ahlinya. (Lihat penjelasan al-Imam al-Khaththabi rahimahullah tentang masalah ini dalam ‘Aunul Ma’bud 9/488—489, Maktabah Ibnu Taimiyah)

4. Orang yang memberi contoh/ keteladanan dalam hal yang baik menurut kacamata agama

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Barang siapa memberi contoh yang baik dalam Islam, dia mendapatkan pahala (amalnya) dan pahala orang yang mengamalkannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun pahala orang yang mengikutinya.” (HR. Ahmad, Muslim, dll, dari sahabat Jarir radhiyallahu ‘anhu)

5. Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu berkata, “Dua orang lelaki keluar untuk bepergian (safar). Waktu shalat tiba padahal keduanya tidak membawa air. Keduanya lantas bertayamum dengan tanah yang suci lalu shalat. Setelah shalat, keduanya mendapatkan air pada waktu (shalat tersebut). Salah satunya mengulangi shalatnya dengan berwudhu, sedangkan yang satunya tidak mengulangi. Keduanya kemudian mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan hal tersebut. Beliau bersabda kepada orang yang tidak mengulangi shalatnya, ‘Engkau sesuai dengan sunnah dan shalatmu telah sah.’ Adapun kepada yang berwudhu dan mengulangi shalatnya, Nabi n bersabda, “Engkau mendapat pahala dua kali.” (HR. Abu Dawud dan ad-Darimi. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata, “Sanadnya lemah. Padanya ada Abdullah bin Nafi’ ash-Shaigh, ia lemah hafalannya… Tetapi, Ibnu as-Sakan meriwayatkannya dengan sanad yang sahih secara bersambung sebagaimana yang saya jelaskan dalam Shahih Abu Dawud no. 365.” Lihat ta’liq asy-Syaikh al-Albani terhadap al-Misykat, 1/166, cetakan al-Maktabul Islami)

6. Orang yang berusaha membaca al-Qur’an dengan benar meskipun terbata-bata.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِى يَقْرَؤُهُ وَيَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang pandai membaca al- Qur’an akan bersama malaikat pencatat yang mulia lagi baik. Sementara itu, yang membaca al-Qur’an dengan terbatabata dalam keadaan merasa berat, ia mendapatkan dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Dua pahala di sini yaitu pahala membaca al-Qur’an dan pahala atas kesulitan yang dihadapinya. Dengan mencermati penjelasan di atas, tentu kita semakin mengetahui besarnya kasih sayang Allah Subhanahu wata’ala terhadap para hamba-Nya. Semoga kita senantiasa mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan-Nya. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Penguasa 1/3 Belahan Dunia Dari Quraisy Al-Faruq ‘Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (2)

Gangguan Quraisy Terhadap ‘Umar

Bagaimana pun, beberapa riwayat— meskipun lemah—yang kami nukilkan dalam edisi yang lalu, saling menguatkan bahwa keislaman ‘Umar terjadi karena pengaruh ayat-ayat al-Qur’an yang didengarnya. Yang jelas, keislaman beliau z adalah anugerah Allah Subhanahu wata’ala, bagi beliau sendiri juga kaum muslimin. Setelah masuk Islam, ‘Umar bertanya kepada beberapa orang temannya, “Siapa penduduk Makkah yang paling cepat menyebarkan berita?” “Jumail bin Ma’mar al-Jumahi,” kata mereka. ‘Umar segera mencarinya dan berkata, “Hai Jumail, apakah engkau sudah tahu bahwa aku masuk Islam?” Jumail tidak menjawab sepatah kata pun, tetapi segera mengambil mantelnya dan keluar diikuti oleh ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Setibanya di Masjdil Haram, dia berteriak sekeras-kerasnya, “Hai orang-orang bagian ke-2 Quraisy, ‘Umar sudah menjadi orang Shabi’!”1 “Dia dusta. Aku sudah masuk Islam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah Subhanahu wata’ala dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Mendengar seruan ‘Umar, seluruh musyrikin Quraisy yang ada di sekitar Masjidil Haram segera menyerang ‘Umar. Dengan beringas mereka memukuli ‘Umar. Tetapi ‘Umar adalah ‘Umar, yang sudah bertekad ingin merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya kaum muslimin. Dia juga bertekad, tidak satu pun tempat yang dahulu diisinya dengan kekufuran, kecuali akan diisinya dengan keimanan.‘Umar tidak membiarkan dirinya dipukuli begitu saja, dia pun membalas pukulan mereka. Pukulan dan tendangannya mengenai beberapa orang musyrik. Tetapi, mereka seakan tiada habisnya. Satu roboh, sepuluh maju menyerang.

Sampai matahari di puncak kepala mereka, barulah mereka berhenti memukuli ‘Umar yang juga kelelahan. Melihat ‘Umar kelelahan, mereka pun mengepung ‘Umar, dan ‘Umar berkata, “Lakukanlah apa yang kalian mau!” Orang-orang musyrik itu masih mencoba mengerubuti ‘Umar. Tiba-tiba, datanglah seorang tokoh tua Quraisy dengan pakaian mentereng, berdiri di antara mereka, “Ada apa dengan kalian?” Kata mereka, “Umar ini telah menjadi Shabi’.” “Biarkan saja dia. Orang sudah memilih sesuatu untuk dirinya. Apa yang kalian inginkan? Apa kalian kira banim ‘Adi akan membiarkan anak kabilah mereka kalian perlakukan seperti ini? Tinggalkan dia!” Akhirnya, mereka meninggalkan ‘Umar yang kelelahan. Musyrikin Quraisy semakin beringas dan putus asa melihat keislaman ‘Umar.

Mereka melihat, dengan masuknya Hamzah dan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu ke dalam barisan muslimin, berarti kekuatan kaum muslimin semakin bertambah. Kaum muslimin mulai berani menampakkan syiar agama mereka secara terang-terangan. Mereka mulai berani duduk di Masjidil Haram, padahal tidak jauh di situ orang-orang musyrikin juga berkelompok-kelompok. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami selalu merasa lebih mulia sejak ‘Umar masuk Islam. Keislaman ‘Umar adalah pembebasan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kekhalifahannya adalah rahmat. Kami tidak mampu shalat di dekat Ka’bah kecuali setelah ‘Umar masuk Islam.

Sesudah beliau masuk Islam, beliaulah yang menghadang mereka sampai mereka membiarkan kami shalat.” Ibnu Ishaq rahimahullah mengatakan. “Setelah ‘Umar masuk Islam, para sahabat Rasulullah n merasa mendapat pertolongan. Begitu juga halnya ketika Hamzah masuk Islam.” An-Nawawi rahimahullah menukilkan bahwa Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Setelah ‘Umar masuk Islam, maka Islam itu seperti orang yang datang, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah dia terbunuh, maka Islam itu seperti seseorang yang pergi, semakin lama semakin jauh.”

Hijrah Ke Madinah
Semakin hari tekanan kaum musyrikin terhadap pribadi Nabi n dan kaum muslimin semakin berat. Akhirnya, Rasulullah n memerintah kaum muslimin hijrah ke Madinah. Kaum muslimin yang masih ada di Makkah mulai bersiap-siap meninggalkan tanah kelahiran mereka. Satu demi satu, rombongan demi rombongan, mulai pergi meninggalkan Makkah dengan diamdiam. Berbeda halnya dengan ‘Umar. Ibnu ‘Asakir rahimahullah menukil dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang mengatakan, “Saya tidak mengetahui ada seseorang yang hijrah kecuali sembunyi-sembunyi, selain ‘Umar bin al-Khaththab. Ketika hendak hijrah, ‘Umar menghunus pedangnya, menyandang busur dan anak panahnya, lantas mengunjungi Ka’bah. Sementara itu, beberapa pemuka Quraisy sedang duduk di halaman Ka’bah. Kemudian ‘Umar tawaf tujuh kali dan shalat di belakang Maqam Ibrahim. Setelah itu beliau mendatangi kumpulan musyrikin itu satu demi satu, dan dengan lantang ‘Umar berkata, ‘Wajah-wajah buruk. Siapa yang mau ibunya kehilangan anak, istrinya menjadi janda, dan anak-anaknya menjadi yatim, hadanglah aku di balik lembah ini.’ Ternyata, tidak ada seorang pun yang berani mengejarnya.”

Itulah ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, hijrahnya menjadi lambang kepahlawanan. Beliau berangkat hijrah setelah tersebar beritanya di tengah-tengah para pembesar Quraisy, di saat kaum muslimin hijrah dengan sembunyi-sembunyi, beliau justru mengeluarkan tantangan dan berangkat terang-terangan di bawah tatapan hampa para pembesar itu.5 Dalam riwayat lain diceritakan, ‘Umar berangkat hijrah bersama dua puluh orang lainnya. ‘Umar menceritakan, “Sebetulnya kami berjalan sembunyi-sembunyi dan berjanji untuk bertemu di Tanadhub dari Idha’ah bani Ghifar. Siapa yang tidak menepati kesepakatan, hendaknya menyusul pagi hari di Idha’ah. Ternyata, sebagian mendapat halangan (terkena cobaan), sementara saya dan ‘Ayyasy bin Abi Rabi’ah ketika itu meneruskan perjalanan sampai ke Madinah. Setibanya di al-‘Aqiq, kami berbelok ke ‘Ashabah sampai ke Quba lalu berhenti di rumah Rifa’ah bin ‘Abdul Mundzir.

Tidak lama, sampai pula dua saudara seibu ‘Ayyasy, yaitu Abu Jahl dan al- Harits bin Hisyam. Ibu mereka adalah putri Mukharribah dari bani Tamim. Adapun Nabi n masih berada di Makkah. Keduanya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Ibumu telah bernazar bahwa dia tidak akan berteduh dan tidak akan meminyaki kepalanya sampai dia melihatmu.’ Saya berkata kepada ‘Ayyasy, ‘Demi Allah, mereka berdua tidak punya keinginan lain selain mengeluarkan kamu dari agamamu. Hati-hatilah terhadap agamamu. Bawalah untaku, dia sangat cerdik, dan jangan turun dari punggungnya.’ Kata ‘Ayyasy, ‘Saya masih memiliki harta di Makkah, mungkin bisa saya ambil dan menjadi kekuatan bagi kita. Saya ingin meluluskan sumpah ibuku.’

Akhirnya, dia ikut bersama mereka berdua. Setibanya di Badhjanan, dia turun dari kendaraan. Kedua saudaranya itu menyusul dan mengikatnya dengan kuat, lalu membawanya ke Makkah. Sesampainya di Makkah, mereka berseru, ‘Hai penduduk Makkah, seperti inilah yang harus kalian lakukan terhadap orang-orang yang bodoh di antara kalian.’ Lalu mereka memenjarakannya.” Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di Madinah Tidak lama setelah ‘Umar tiba di Madinah, rombongan Rasulullah n juga tiba. Beberapa waktu kemudian, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar. Beliau mempersaudarakan mereka di atas al-haq dan saling berbagi, bahkan saling mewarisi.

Namun, yang terakhir dihapus dengan turunnya ayat tentang faraidh (waris). Persaudaraan itu juga dimaksudkan agar hilang rasa asing dari para sahabat dan saling membela satu sama lain. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan ‘Abdurrahman radhiyallahu ‘anhu dengan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu, ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dipersaudarakan dengan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, dan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dengan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Di Madinah, ‘Umar tinggal di perkampungan bani Umayyah bin Zaid bin Malik bin ‘Auf, di dataran tinggi Madinah (4 mil dari Masjid Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam). Beliau bertetangga dengan seorang sahabat Anshar dan bergantian menghadiri majelis Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Demikianlah keadaan ‘Umar di Madinah, selalu menyertai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam setiap kesempatan. Kecerdasan dan kesungguhannya meraih hidayah— setelah taufik Allah Subhanahu wata’ala—menjadikannya sangat dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tibalah Perang Badr al-Kubra. Gembong-gembong kesyirikan bertekad untuk menumpas kaum muslimin dan memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala. Dengan kekuatan 900—1.000 orang, para pemimpin dan tokoh utama mereka keluar dengan angkuh. Perlengkapan dan perbekalan yang lengkap dengan jumlah yang banyak, membuat mereka merasa yakin akan berhasil membunuh Rasulullah n sekaligus memadamkan cahaya Allah Subhanahu wata’ala.

Tetapi, Allah Subhanahu wata’ala tidak menginginkan kecuali memenangkan agama-Nya. Para pemuja berhala itu dihancurkan oleh tentara Allah Subhanahu wata’ala, baik yang berasal dari langit maupun bumi. Dengan kekuatan hanya tiga ratus orang lebih, perlengkapan seadanya, karena semula Rasulullah n dan kaum muslimin tidak berniat untuk berperang, setelah pertolongan Allah Subhanahu wata’ala, mereka berhasil meluluhlantakkan kesombongan para pengusung kesyirikan itu. Tujuh puluh orang berikut para pemimpinnya, seperti Abu Jahl, Walid bin Utbah, dan Umayyah bin Khalaf, tewas dan dilemparkan ke dalam sumur Badr. Tujuh puluh orang lainnya, ditawan oleh kaum muslimin. Perang Badr usai. Kemenangan telak berada pada tentara Allah Subhanahu wata’ala, dan itulah kepastian yang tidak tertolak. Tentara Allah Subhanahu wata’ala pasti menang, meskipun suatu ketika mereka diuji dengan kekalahan. Yang jelas, akhir yang baik dan menyenangkan pasti diraih oleh orang-orang yang bertakwa.

Mulailah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat mengurusi tawanan Perang Badr itu. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memutuskan sendiri, apa yang harus diperbuat terhadap mereka. Itulah kebiasaan yang beliau ajarkan kepada umatnya. Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memberi saran agar menerima tebusan dari keluarga tawanan untuk memperkuat kaum muslimin, juga dengan harapan suatu saat tawanan itu mendapat hidayah kepada Islam. Tidak demikian halnya dengan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Kebenciannya kepada kekafiran setelah dia mengenal dan mencintai Islam benar-benar tidak rela menyisakan segala bentuk kekafiran berdiri di hadapannya.

Dengan tegas ‘Umar berkata, “Mereka ini adalah gembong-gembong kesyirikan, wahai Rasulullah. Tebaslah leher mereka. Serahkan bani ‘Adi kepadaku agar kutebas lehernya, serahkan ‘Aqil kepada ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka telah menyakiti Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Itulah ganjaran yang pantas buat mereka.” Dengan lembut, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang sangat sayang kepada umatnya, yang sangat ingin manusia menerima hidayah dan rahmat dari Allah Subhanahu wata’ala, berkata, “Engkau wahai Abu Bakr, kalau di kalangan malaikat adalah seperti Mikail yang membawa rahmat dan hujan, menumbuhkan tanaman.

Kalau dari kalangan para nabi, engkau seperti Nabi Ibrahim dan ‘Isa e. Adapun engkau, hai ‘Umar, perumpamaanmu di kalangan malaikat adalah seperti Jibril yang membawa azab kepada para pembangkang dan pendurhaka, sedangkan dari kalangan nabi adalah seperti Nabi Nuh dan Musa ‘Alaihissalam.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun memilih pendapat Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, menerima tebusan dan membiarkan sebagian tawanan itu kembali ke kampung mereka. Ada juga tawanan yang menebus dirinya dengan mengajari anak-anak kaum muslimin membaca dan menulis.

Bahkan, ada pula yang dibebaskan tanpa membayar tebusan. Tidak lama setelah itu, ‘Umar datang ke tempat Rasulullah n. Dia terkejut melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu duduk sambil menangis tersedusedu. Sambil terheran-heran, ‘Umar bertanya, “Apa yang menyebabkan Anda dan sahabat Anda ini menangis, wahai junjungan? Ceritakanlah, kalau saya bisa menangis, saya akan menangis bersama Anda berdua. Kalau tidak, saya akan menangis karena melihat Anda berdua menangis.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan,

أَبْكِي لِلَّذِي عَرَضَ عَلَيَّ أَصْحَابُكَ مِنْ أَخْذِهِمُالْفِدَاءَ، لَقَدْ عُرِضَ عَلَيَّ عَذَابُهُمْ أَدْنَى مِنهَذِهِ الشَّجَرَةِ-شَجَرَةٍ قَرِيبَةٍ مِنْ نَبِيِّ اللهِوَأَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ {مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ } إِلَى قَوْلِه: {فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ} فَأَحَلَّ اللهُ الْغَنِيمَةَ لَهُمْ.

“Aku menangis karena tawaran sahabat-sahabatmu agar menerima tebusan dari mereka (tawanan itu). Padahal sungguh, azab mereka telah ditampakkan kepadaku lebih dekat dari pohon ini.”—pohon yang dekat dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ

‘Tidak patut bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi.’ (al-Anfal: 67) sampai (ayat 69),

فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ

‘Makanlah sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik,’ maka Allah menghalalkan ghanimah itu bagi mereka.”
Itulah salah satu kesesuaian beliau radhiyallahu ‘anhu dengan wahyu Allah Subhanahu wata’ala. Tahun berikutnya, genderang Perang Uhud mulai memanggil para mujahidin. Mereka yang tertinggal, tidak ikut dalam Perang Badr, berlombalomba mendaftarkan diri sebagai prajurit. Tidak ketinggalan Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma yang belum baligh juga mendaftarkan dirinya meskipun tidak diterima karena belum cukup umur. Ibnu ‘Umar dengan lesu kembali sambil tetap berharap suatu saat dapat tampil sebagai prajurit Islam. ‘Amr bin Jumuh radhiyallahu ‘anhu, seorang sahabat yang lain dengan terpincangpincang menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengadu, “Wahai junjungan, kata anakanak ini—kemenakannya—saya diberi keringanan untuk tidak ikut serta dalam jihad ini, benarkah demikian?” Dengan lembut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membenarkan. ‘Amr tidak mundur, dengan bersungguh-sungguh dia mendesak, “Ya Rasulullah, demi Allah, saya ingin memasuki surga dengan kakiku yang pincang ini.”

Setelah mengucapkan kalimat tersebut, ‘Amr berbalik dan segera menyiapkan perlengkapan perangnya. Tekad dan sumpahnya diluluskan oleh Allah Subhanahu wata’ala, ‘Amr gugur setelah bertempur hebat membela Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Setelah pertempuran usai, Abu Sufyan yang menjadi pemimpin Quraisy ketika itu berteriak sampai tiga kali, “Apakah Muhammad (Shallallahu ‘alaihi wasallam) masih hidup?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang menjawabnya. Abu Sufyan berteriak lagi sampai tiga kali, “Apakah putra Abu Quhafah (Abu Bakr) masih hidup?” Abu Sufyan berteriak lagi tiga kali, “Apakah Ibnul Khaththab (‘Umar) masih hidup?” Kemudian dia kembali kepada teman-temannya dan berkata, “Agaknya tiga orang ini sudah terbunuh.” ‘Umar tidak dapat menahan kemarahan, lalu membalas, “Kamu dusta, hai musuh Allah. Sesungguhnya yang kamu sebut itu semua masih hidup dan masih tersisa apa yang menyakitkanmu.” Suatu ketika, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendaki Gunung Uhud bersama Abu Bakr, ‘Umar, dan ‘Utsman , tiba-tiba gunung itu bergetar. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ وَصِدِّيقٌ وَشَهِيدَانِ

“Tenanglah, wahai Uhud, karena sesungguhnya di atasmu ini adalah nabi, shiddiq, dan dua orang syuhada.”
(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Antara Syukur dan Kufur Nikmat

Masih ingatkah Anda dengan kisah tiga orang bani Israil yang diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan penyakit yang membuat orang-orang yang di sekeliling mereka merasa jijik? Betul, salah satu di antara mereka berpenyakit belang, kulitnya rusak dan jelek; yang lain kepalanya tidak ditumbuhi rambut sama sekali; dan yang ketiga buta, tidak dapat melihat. Mereka diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan kesenangan berupa kesehatan, sembuh dari penyakit yang mereka derita, bahkan diberi-Nya pula kekayaan. Namun, di akhir cerita, orang yang terkena penyakit kulit dan botak dikembalikan oleh Allah Subhanahu wata’ala seperti semula. Adapun yang buta tetap melihat, bahkan kekayaannya diberkahi. Demikianlah yang dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak pernah mendengarnya dari seorang pendeta atau ahli ilmu mana pun. Tidak lain, hal itu berasal dari Allah Subhanahu wata’ala.

Dua orang pertama dikembalikan karena mengingkari kesenangan yang telah mereka rasakan. Itulah akibat mengkufuri nikmat. Adapun orang yang ketiga tetap dengan kesehatan dan kekayaannya. Itulah buah dari rasa syukur. Itulah sunnah Allah Subhanahu wata’ala yang membagi manusia menjadi dua golongan: yang bersyukur dan yang kafir. Tentu saja yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah kekafiran dan para pelakunya, sedangkan yang paling dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala adalah syukur dan orang-orang yang bersyukur. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنكُمْ ۖ وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ ۖ وَإِن تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ ۗ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ

“Jika kamu kafir, sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba- Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.” (az- Zumar: 7)

Iman itu terdiri atas dua bagian: syukur dan sabar. Syukur adalah pencarian terbaik orang-orang yang berbahagia. Kedudukannya di dalam agama sangat mulia. Kadang Allah Subhanahu wata’ala menggandengkannya dengan zikir atau dengan keimanan. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala mengaitkan adanya tambahan karena adanya syukur, sebagaimana firman-Nya,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Allah Subhanahu wata’ala menerangkan pula bahwa mereka yang pandai bersyukur itulah yang mengabdi dengan sebenar-benarnya kepada Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan orang-orang yang tidak tahu bersyukur kepada- Nya, tidaklah tergolong orang-orang yang beribadah kepada-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” (al-Baqarah: 172)

Semua yang dirasakan oleh manusia di dunia ini tidak lepas dari dua hal. Yang pertama, sesuai dengan keinginan jiwa manusia; dan yang kedua, tidak sesuai dengan jiwanya. Yang pertama bisa berupa kesehatan, keselamatan, kekayaan, kedudukan, dan berbagai kesenangan lainnya. Adapun yang kedua adalah kebalikan atau lawannya. Kedua hal ini diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala ke tengah-tengah manusia untuk menjadi ujian bagi mereka. Demikianlah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (al-Anbiya: 35)

Artinya, Kami memberi ujian kepada kalian dalam bentuk musibah dan kesenangan, agar Kami melihat siapa di antara kalian yang bersyukur dan siapa yang kafir. Siapa pula yang bersabar dan siapa yang berputus asa. Akan tetapi, sebagaimana kata sebagian salaf yang saleh, “Terhadap ujian berupa musibah, bisa saja seorang mukmin dan kafir itu sabar menghadapinya. Tetapi, tidak ada yang lulus menghadapi ujian yang berujud kesenangan selain orang yang benar-benar jujur dan benar keimanannya (shiddiq).” Sahabat yang mulia, ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, dengan penuh kerendahan hati, tanpa menganggap suci dirinya meski telah dipastikan masuk surga, masih mengatakan, “Kami diuji dengan kesulitan, tetapi kami mampu bersabar. Namun, ketika diuji dengan kesenangan, kami tidak sabar menghadapinya.” Kalau seorang sahabat semulia ini menyadari kelemahan dirinya, padahal beliau memiliki keutamaan yang tidak dapat ditandingi oleh orang-orang yang sesudahnya, bahkan terkenal pula sebagai orang yang dermawan dan zuhud, bagaimana kiranya dengan mereka yang hidup sesudah zaman beliau? Wallahul musta’an.

Untuk menanamkan bagaimana jelasnya hakikat syukur dan kufur, berikut buahnya masing-masing, Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya n sering membuat perumpamaan yang mudah dicerna. Perumpamaan itu kadang berupa kisah yang pernah terjadi di masa lalu. Karena Allah Subhanahu wata’aladan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menerangkannya kepada kita, sudah pasti itu semua adalah benar dan pasti terjadi di alam nyata, bukan dongeng. Bahkan, kisah tersebut sarat dengan pelajaran hidup yang berharga buat mereka yang masih mempunyai hati dan mau mencurahkan perhatiannya terhadap kisah tersebut. Sebagian perumpamaan itu telah diceritakan dalam edisi sebelumnya. Kali ini adalah kiash tentang dua orang yang punya hubungan dekat, yang satu kaya tetapi musyrik, sedangkan yang lain mukmin tetapi miskin. Dari kisah ini kita akan memahami arti syukur dan bahaya mengingkari (kufur) nikmat/kesenangan yang telah dilimpahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Musyrik yang Kaya & Fakir yang Mukmin

Al-Baghawi  rahimahullah dalam tafsirnya menukil dari ‘Abdullah bin al-Mubarak, dari Ma’mar, dari ‘Atha’ al-Khurasani yang menceritakan bahwa dahulu ada dua laki-laki yang melakukan kerja sama. Keduanya memperoleh laba sebesar delapan ribu dinar. Ada juga pendapat yang mengatakan, keduanya adalah dua bersaudara yang mendapat warisan sebanyak itu juga. Kemudian, keduanya membagi rata harta tersebut. Salah seorang dari mereka membeli tanah seharga seribu dinar. Yang lain, demi melihat temannya membeli tanah seharga seribu dinar, berkata, “Ya Allah, Si Fulan telah membeli tanah seribu dinar, maka Aku membeli tanah di surga dari-Mu seharga seribu dinar.” Dia pun bersedekah dengan seribu dinar itu. Lelaki pertama mulai membangun rumah dengan harga seribu dinar, maka lelaki kedua pun berkata pula, “Ya Allah, si Fulan telah membangun rumah seharga seribu dinar, maka Aku membeli rumah di surga dari Engkau seharga seribu dinar.” Lalu dia pun menyedekahkan seribu dinar yang kedua.

Lelaki pertama kemudian menikahi seorang wanita dengan mahar seribu dinar, maka yang kedua berkata pula, “Ya Allah, si Fulan telah menikahi seorang wanita dengan seribu dinar, maka Aku melamar dari-Mu seorang wanita surga dengan seribu dinar,” dan dia pun menyedekahkan seribu dinar berikutnya. Lelaki pertama membeli pelayan dan perabotan dengan seribu dinar. Lelaki kedua mengetahuinya dan berkata, “Ya Allah, si Fulan membeli pelayan dengan seribu dinar, maka Aku membeli dari-Mu pelayan dan perabotan dengan seribu dinar,” lalu dia pun menyedekahkan seribu dinar terakhir. Akhirnya, 4.000 dinar di tangan lelaki kedua itu habis. Dia tidak mempunyai uang sepeser pun untuk memenuhi keperluan hidupnya. Rumah, dia tidak punya, apalagi perabotannya, atau istri dan pelayan yang membantunya mengurusi rumah itu. Usaha atau ma’isyah, dia juga tidak punya. Bangkrut, itulah istilah yang lumrah diberikan kepadanya. Suatu ketika dia berniat menemui temannya, mudah-mudahan dia bisa memperoleh kebaikan dari temannya itu.

Dia pun duduk di jalan yang biasa dilalui oleh temannya. Begitu tiba di hadapannya, lelaki yang kehabisan uang itu berdiri. Lelaki yang pertama, yang telah menghabiskan hartanya untuk membeli tanah, rumah dan seterusnya, berhenti dan menatap orang yang di hadapannya. Dalam keadaan terkejut dia berkata, “Fulan? Ada apa denganmu?” “Betul,” kata lelaki kedua, “Saya ada keperluan mendesak.” “Mana hartamu, bukankah kamu sudah membawa separuhnya?” Lelaki kedua itu menceritakan apa yang dilakukannya selama ini. Lelaki pertama berkata dengan sinis, “Pergilah, aku tidak akan memberimu sepeser pun.” Dalam riwayat lain, disebutkan, bahwa lelaki kedua dibawa oleh yang pertama berkeliling melihat-lihat harta kekayaannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَاضْرِبْ لَهُم مَّثَلًا رَّجُلَيْنِ جَعَلْنَا لِأَحَدِهِمَا جَنَّتَيْنِ مِنْ أَعْنَابٍ وَحَفَفْنَاهُمَا بِنَخْلٍ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمَا زَرْعًا () كِلْتَا الْجَنَّتَيْنِ آتَتْ أُكُلَهَا وَلَمْ تَظْلِم مِّنْهُ شَيْئًا ۚ وَفَجَّرْنَا خِلَالَهُمَا نَهَرًا () وَكَانَ لَهُ ثَمَرٌ فَقَالَ لِصَاحِبِهِ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَنَا أَكْثَرُ مِنكَ مَالًا وَأَعَزُّ نَفَرًا () وَدَخَلَ جَنَّتَهُ وَهُوَ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ قَالَ مَا أَظُنُّ أَن تَبِيدَ هَٰذِهِ أَبَدًا () وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَىٰ رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا () قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا  () لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا () وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا () فَعَسَىٰ رَبِّي أَن يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِّن جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِّنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا () أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَن تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا () وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَىٰ مَا أَنفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَا لَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا () وَلَمْ تَكُن لَّهُ فِئَةٌ يَنصُرُونَهُ مِن دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مُنتَصِرًا () هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

Dan berikanlah kepada mereka perumpamaan dua orang laki-laki yang Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan Kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon kurma. Di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikit pun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, Dia mempunyai kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia, “Hartaku lebih banyak daripada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat.” Dia memasuki kebunnya dalam keadaan zalim terhadap dirinya sendiri; dia berkata, “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang. Jika sekiranya aku dikembalikan kepada Rabbku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik daripada kebunkebun itu.” Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya—ketika dia bercakap-cakap dengannya, “Apakah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi, aku (percaya bahwa) Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.

Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Rabbku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membolak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedangkan pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata, “Aduhai kiranya dahulu aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.” Dan tidak ada bagi dia segolongan pun yang akan menolongnya selain Allah; dan sekali-kali ia tidak dapat membela dirinya. Di sana, pertolongan itu hanya dari Allah yang haq. Dia adalah sebaikbaik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan. (al-Kahfi: 32—44)

Allah Subhanahu wata’ala memerintah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam membuat tamsil untuk orang-orang kafir Quraisy dan selain mereka. Tamsil itu menerangkan tentang dua orang yang bersahabat. Salah satu dari mereka adalah petani yang kaya raya dengan sawah ladang yang subur dan hasil panen yang berlimpah serta pengikut yang banyak. Yang satunya adalah lelaki miskin, serba kekurangan. Suatu ketika, petani kaya itu memasuki kebunnya bersama temannya yang miskin. Kebun itu dipenuhi anggur dan kurma yang lebat buahnya. Di selasela kebun itu, mengalir sebuah anak sungai yang jernih. Petani kaya itu dengan bangga memerhatikan anggur – anggur bergelantungan dan buah kurma yang berjuntai di tandan-tandannya. Dia pun berkata kepada temannya, “Hartaku lebih banyak darimu, demikian pula pengikutku.” Si Kaya sengaja menyebut-nyebut kekayaan dan kedudukannya untuk membanggakan dirinya, bukan sebagai tanda syukur kepada Allah Subhanahu wata’ala yang telah memberinya kenikmatan tersebut.1

Si Kaya melanjutkan, “Aku tidak yakin anggur dan kurma yang ada di kebun ini akan berhenti berbuah….” Rasa bangga dengan anggur yang berbuah lebat, daun-daunan yang hijau, air jernih yang mengalir di sela-sela tanamannya, serta kurma yang berjuntai di tandan-tandannya, membuatnya lupa bahwa dunia tidak diciptakan untuk kekal bagi siapa pun, bahkan dia pun tidak pula akan selamanya dapat merasakan lezatnya dunia. Dengan pandangannya yang sempit tentang dunia ini, dia pun berani mengingkari adanya kehidupan di seberang kematian. Dia berkata dengan sombongnya, “Aku pun tidak percaya kiamat akan terjadi. Kalaupun aku mati, pasti aku akan menerima kebaikan….” Menurut dia, andaikata kiamat itu terjadi juga, maka sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala telah memberinya kesenangan hidup selama di dunia, di akhirat pun Allah Subhanahu wata’ala pasti memberinya kesenangan. Anggapan seperti ini hampir merata ada di dalam hati orang-orang yang tidak beriman kepada hari kemudian. Mereka mengira, kalau di dunia sudah merasakan kesenangan, di akhirat juga pasti merasakannya. Atau sebaliknya, di dunia mereka dalam keadaan sengsara, di akhirat juga pasti sengsara. Temannya yang miskin kembali mengingatkan (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا

“Apakah kamu kafir kepada (Allah) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?”

Bagaimana bisa kamu tidak beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala dan hari kebangkitan, padahal Dia telah menciptakanmu dari setetes air yang hina lalu menjadikanmu manusia yang utuh dan sempurna? Dia melanjutkan (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

لَّٰكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا

 “Tetapi, aku (percaya bahwa), Dialah Allah, Rabbku, dan aku tidak mempersekutukan seorang pun dengan Rabbku.”

Meskipun aku miskin dan sangat memerlukan bantuan, aku tidak akan menyekutukan Allah Subhanahu wata’ala dengan sesuatu pun. Aku tidak akan menukar agamaku. Aku memang miskin, harta dan anak-anakku lebih sedikit daripada milikmu, tetapi aku yakin Rabbku (Allah) akan memberi aku lebih baik dari yang diberikan-Nya kepadamu dan menimpakan bencana kepada kebunmu, lalu kamu akan melihatnya berubah, hilang warna hijau dan keindahannya. Atau, airnya menyusut ke dalam tanah, hingga kamu tidak bisa mencarinya. Mengapa kamu tidak mengucapkan, ‘Masya Allah, la quwwata illa billah,’ setiap memasuki kebunmu? Bukankah tidak ada satu pun yang dapat memeliharanya selain Allah Subhanahu wata’alal?” Akan tetapi, si Kaya tidak mau memerhatikan nasihat tersebut. Suatu hari, si Kaya itu memasuki kebunnya untuk menikmati pemandangan indah yang ada di sawah ladangnya.

Begitu kakinya memasuki pintu kebun itu, dia terbelalak dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kebunnya hancur. Tidak ada lagi anggur ranum yang bergelantungan ataupun tandantandan kurma yang bernas menjuntai. Bahkan, daun-daun hijau yang menghiasi tanamannya berserakan di atas tanah. Dia pun memukulkan tapak tangannya satu sama lain karena ngeri melihat kehancuran di depan matanya. Saat itu juga dia teringat ucapan temannya, maka dia pun menyesal, “Duhai kiranya aku tidak menyekutukan Rabbku dengan sesuatu apa pun.” Tetapi, penyesalannya terlambat karena kebun itu tidak lagi bermanfaat baginya. Itulah akibat kekafirannya dan tidak bersyukur atas kesenangan yang diperolehnya. Dia menyebutnyebut kesenangan itu hanya untuk membanggakan diri terhadap orang lain, bukan untuk mengingat Allah Subhanahu wata’ala yang telah memberinya kesenangan tersebut.

Karena kesombongannya itu, Allah Subhanahu wata’ala melenyapkan keindahan kebunkebunnya dan menggantikannya dengan puing-puing serta tumpukan daun, pokok kurma, dan anggur yang tidak ada gunanya. Semua kering, hancur luluh. Itulah perumpamaan yang Allah Subhanahu wata’ala buat untuk umat manusia, baik orang-orang Quraisy yang dihadapi oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saat itu maupun yang datang setelah mereka dan bangsa lainnya. Sebuah tamsil yang menerangkan keadaan orang-orang Quraisy yang menentang nikmat paling mulia yang dilimpahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka, yaitu diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ke tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri. Mereka diingatkan akan akibat buruk yang akan mereka rasakan jika kekafiran itu terus melekat pada diri mereka. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

هُنَالِكَ الْوَلَايَةُ لِلَّهِ الْحَقِّ ۚ هُوَ خَيْرٌ ثَوَابًا وَخَيْرٌ عُقْبًا

“Di sana pertolongan itu hanya dari Allah yang haq, Dia adalah sebaik-baik pemberi pahala dan sebaik-baik pemberi balasan.”

Pada hari kiamat nanti, Allah Subhanahu wata’ala hanya akan membela orang-orang yang beriman.

Beberapa Faedah dan Hikmah

Kisah ini mengingatkan kita tentang beberapa pelajaran hidup sebagai berikut.

1. Di dalam hidup ini selalu ada ujian yang silih berganti. Ujian itu tidak hanya berupa kesulitan, tetapi juga kesenangan dan kemudahan. Kisah-kisah orangorang yang terdahulu adalah pelajaran dan peringatan bagi orang-orang yang datang belakangan.

2. Dunia ini manis dan menipu, terkhusus terhadap orang-orang yang lemah iman.

3. Rezeki itu di tangan Allah Subhanahu wata’ala. Dia-lah yang telah menciptakan manusia, sehingga tentu tidak akan membiarkan mereka sia-sia begitu saja.

4. Kewajiban untuk beriman kepada hari kebangkitan/pembalasan, bahwa setiap orang pasti akan datang menemui Allah Subhanahu wata’ala untuk dihisab dan diberi balasan sesuai dengan amalannya.

5. Kekafiran dan kemaksiatan adalah perbuatan zalim terhadap diri sendiri. Keduanya tidak akan menimbulkan mudarat kecuali terhadap diri sendiri.

6. Proses penciptaan manusia mulai dari setetes mani hingga menjadi manusia yang sempurna menunjukkan kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala sekaligus menegaskan keberhakan-Nya untuk menerima peribadatan dari seluruh makhluk-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya.

7. Disyariatkan untuk berzikir menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala ketika melihat kebaikan dan merasakan nikmat.

8. Kesyirikan dan kemaksiatan adalah sebab rusaknya harta dan hilangnya rezeki.

9. Bersyukur kepada Allah Subhanahu wata’ala akan mengundang nikmat yang berikutnya, sekaligus memelihara nikmat yang sudah ada. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Al-Fattah

Allah Subhanahu wata’ala adalah al-Fattah. Allah Subhanahu wata’ala menyebutnya sebagai salah satu dari nama-Nya yang agung dalam ayat-Nya,

قُلْ يَجْمَعُ بَيْنَنَا رَبُّنَا ثُمَّ يَفْتَحُ بَيْنَنَا بِالْحَقِّ وَهُوَ الْفَتَّاحُ الْعَلِيمُ

Katakanlah, “Rabb kita akan mengumpulkan kita semua, kemudian Dia memberi keputusan antara kita dengan benar. Dan Dialah Maha Pemberi keputusan lagi Maha Mengetahui.” (Saba’: 26)

Sebenarnya dengan nama-Nya Al- Fattah, berarti Allah Subhanahu wata’ala memiliki sifat al-fath. Kata al-fath itu sendiri memiliki beberapa makna, di antaranya:

1. Membuka, lawan dari menutup, seperti dalam firman-Nya,

حَتَّىٰ إِذَا فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا ذَا عَذَابٍ شَدِيدٍ إِذَا هُمْ فِيهِ مُبْلِسُونَ

“Hingga apabila Kami bukakan untuk mereka suatu pintu yang ada azab yang amat sangat (di waktu itulah) tiba-tiba mereka menjadi putus asa.” (al-Mu’minun: 77)

2. Memutuskan, seperti dalam firman-Nya,

رَبَّنَا افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنتَ خَيْرُ الْفَاتِحِينَ

“Ya Rabb kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan hak (adil), dan Engkaulah Pemberi keputusan yang sebaik-baiknya.” (al-A’raf: 89)

3. Mengirim, seperti dalam firman- Nya,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

4. Memenangkan, seperti dalam firman-Nya,

وَأُخْرَىٰ تُحِبُّونَهَا ۖ نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

“Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (ash-Shaf: 13)

Demikian pula firman-Nya,

إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.” (an-Nashr: 1) (Lihat Nuzhatul ‘Aun an-Nawadzir)

As-Sa’di dan al-Harras menjelaskan, Al-Fattah adalah yang menghukumi antara para hamba-Nya dengan hukum- Nya yang syar’i, hukum takdir-Nya, dan hukum pembalasan-Nya. Dengan kelembutan-Nya, Dia membuka penglihatan orang-orang yang jujur serta membuka kalbu mereka untuk mengenal-Nya, mencintai-Nya, dan kembali kepada-Nya. Ia membuka bagi hamba-Nya pintu-pintu rahmat, pintupintu rezeki yang bermacam-macam, serta menetapkan untuk mereka sebab yang mengantarkan mereka memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Pembukaan Allah Subhanahu wata’ala sendiri ada dua macam:

1. Pembukaan dengan hukum agama-Nya dan hukum balasan-Nya.

2. Pembukaan dengan hukum takdir-Nya.

Pembukaan dengan hukum agama- Nya adalah dengan hidayah-Nya kepada para hamba-Nya dan pemberian syariat kepada mereka melalui lisan para rasul- Nya dalam segala hal yang berkaitan dengan kebutuhan mereka, yang dengannya mereka dapat istiqamah di atas jalan-Nya yang lurus. Adapun pembukaan dengan hukum balasannya ialah keputusan-Nya dan pemenangan-Nya untuk para nabi- Nya dan pengikut mereka, dengan memuliakan dan menyelamatkan mereka, serta penghinaan dan hukuman yang ditimpakan atas musuh-musuh mereka. Termasuk dalam hal ini adalah keputusan- Nya di antara para hamba-Nya pada hari kiamat, saat setiap insan memperoleh balasan dari amalannya, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Adapun pembukaan-Nya dengan hukum takdir-Nya adalah apa yang Ia takdirkan atas hamba-hamba-Nya, baik berupa kebaikan maupun keburukan, manfaat maupun mudarat, pemberian maupun penghalangan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَّا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا ۖ وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah kirimkan kepada manusia berupa rahmat, tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dia-lah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (Fathir: 2)

Maka dari itu, Allah-lah Al-Fattah. Dengan inayah-Nya, terbuka seluruh yang tertutup. Dengan hidayah-Nya, tersingkap seluruh yang musykil. Seluruh kunci urusan gaib dan rezeki berada di tangan-Nya. Dia pula yang membuka perbendaharaan kedermawanan-Nya untuk para hamba-Nya yang taat. Dia juga yang membuka hal yang sebaliknya untuk musuh-musuh-Nya, dengan keutamaan dan keadilan-Nya. (Lihat Tafsir Asma’illahil Husna dan Syarh Nuniyah)

Buah Mengimani Nama Allah al-Fattah

Dengan mengimani nama Allah Al-Fattah, kita semakin mengetahui kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Hanya di tangan-Nyalah kemenangan. Oleh karena itu, kepada-Nya juga kita berdoa untuk mendapatkan kemenangan. Hanya kepada-Nya juga kita bertawakal untuk memperoleh kemenangan, tidak pada hasil usaha kita, banyaknya jumlah kita, atau kecanggihan teknologi kita. Dalam urusan rezeki pun demikian, hanya kepada-Nya kita mengharap. Di tangan-Nyalah perbendaharaan langit dan bumi, dan Dialah yang mengaturnya; membuka atau menutupnya. Maka dari itu, jangan sekali-kali seseorang mencari pesugihan dari para makhluk, sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang dengan mengunjungi tempattempat tertentu dan melakukan ritual khusus demi mendapatkan kekayaan. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَا يَمْلِكُونَ لَكُمْ رِزْقًا فَابْتَغُوا عِندَ اللَّهِ الرِّزْقَ وَاعْبُدُوهُ وَاشْكُرُوا لَهُ ۖ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

“Sesungguhnya apa yang kalian sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kalian membuat dusta. Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepada kalian, maka mintalah rezeki itu di sisi Allah. Sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada- Nya. Hanya kepada-Nya lah kalian akan dikembalikan.” (al-Ankabut: 17)

Dalam urusan nasib, mintalah hanya kepada Allah Subhanahu wata’ala akan kebaikan nasib kita di dunia dan akhirat, karena di tangan-Nyalah segala keputusan. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Manusia Terbaik dan Terburuk

Dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالْأُتْرُجَّةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَرِيحُهَا طَيِّبٌ وَالَّذِي ل يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَالتَّمْرَةِ طَعْمُهَا طَيِّبٌ وَلَا رِيحَ لَهَا

“Permisalan seorang mukmin yang membaca (mempelajari) al-Qur’an seperti buah limau, enak rasanya, dan harum baunya. Permisalan seorang mukmin yang tidak membaca al-Qur’an seperti buah kurma, enak rasanya tetapi tidak ada baunya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Dua jenis manusia ini adalah golongan manusia yang terbaik. Sebab, manusia terbagi menjadi empat jenis:

1. Manusia yang memiliki kebaikan untuk dirinya sendiri dan orang lain.

Inilah jenis manusia yang terbaik, yaitu seorang mukmin yang membaca al-Qur’an dan mempelajari ilmu agama sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri dan orang lain. Ia diberkahi di mana pun berada. Hal ini sebagaimana firman Allah  Subhanahu wata’ala tentang Nabi Isa ‘Alaihissalam,

وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkahi di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” (Maryam: 31)

2. Manusia yang memiliki kebaikan pada dirinya sendiri.

Dia adalah seorang mukmin yang tidak memiliki ilmu agama yang dapat diajarkan kepada orang lain. Dua jenis manusia ini adalah manusia yang terbaik. Sumber kebaikan yang ada pada keduanya terletak pada keimanan mereka, baik keimanan tersebut bermanfaat bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Hal ini sesuai dengan keadaan setiap mukmin.

3. Manusia yang tidak memiliki kebaikan, tetapi kejelekannya tidak  berpengaruh kepada orang lain.

4. Manusia yang memiliki kejelekan dan berpengaruh kepada orang lain.

Inilah jenis manusia yang terburuk. Allah  Subhanahu wata’ala berfirman,

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan karena mereka selalu berbuat kerusakan.” (an-Nahl: 88)

Jadi, seluruh kebaikan bersumber dari keimanan pada diri seseorang dan yang menyertai keimanan tersebut. Adapun seluruh kejelekan bersumber dari ketiadaan iman pada diri seseorang dan adanya sifat-sifat yang bertentangan dengan keimanan dalam dirinya. Wallahul muwaffiq. Ini semakna dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ

“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah  Subhanahu wata’ala dari mukmin yang lemah, dan semua (mukmin) memiliki kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam membagi orang mukmin menjadi dua golongan:

1. Golongan mukmin yang kuat beramal, kuat keimanannya, kuat memberikan manfaat kepada orang lain, dan

2. Golongan mukmin yang lemah dalam hal tersebut.

Meski demikian, beliau menjelaskan bahwa kedua golongan mukmin tersebut tetap memiliki kebaikan. Sebab, keimanan dan buah-buahnya, semuanya adalah kebaikan, walaupun setiap mukmin berbeda tingkatannya dalam kebaikan tersebut. Ini pun semisal dengan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

الْمُؤْمِنُ الَّذِي يُخَالِطُ النَّاسَ وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ خَيْرٌ مِنْ الْمُؤْمِنِ الَّذِي ل يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ

“Seorang mukmin yang berkumpul dengan manusia dan bersabar atas gangguan mereka, lebih baik daripada seorang mukmin yang tidak berkumpul dengan manusia dan tidak bersabar atas gangguan mereka.” (HR. Ibnu Majah, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahihul Jami’)

Dipahami dari hadits sahih di atas, seseorang yang tidak memiliki keimanan berarti tidak ada sedikit pun kebaikan pada dirinya. Sebab, orang yang tidak memiliki keimanan bisa jadi keadaannya selalu jelek, membahayakan dirinya sendiri dan masyarakatnya dalam segala sisi. Bisa jadi pula, dia memiliki sedikit kebaikan yang larut dalam kejelekannya. Kejelekannya akan mengalahkan kebaikannya karena ketika kebaikan terlarut dan tenggelam dalam kerusakan, ia akan menjadi kejelekan.

Kebaikan yang ada padanya akan diimbangi oleh kejelekan yang semisal. Akhirnya, gugurlah kebaikan dan kejelekan tersebut. Yang tersisa hanyalah kejelekan yang tiada lagi kebaikan untuk mengimbanginya. Siapa pun yang memerhatikan kenyataan yang ada pada manusia akan mendapati keadaan mereka sesuai dengan apa yang dikabarkan oleh Nabi n. (Diambil dari at-Taudhih wal Bayan li Syajaratil Iman hlm. 60—62, karya asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar