Perkataan Ulama Ahlussunnah Tentang Agama Syiah

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marrudzi, dari Abu Abdillah bahwa al-Imam Malik rahimahullah berkata, “Orang yang mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki bagian di dalam Islam.” (as-Sunnah, al-Khallal, 2/557)

Ibnu Katsir rahimahullah juga menyebutkan pendapat al-Imam Malik rahimahullah tatkala menerangkan tafsir surat al-Fath ayat 29, “Dari ayat ini, al-Imam Malik rahimahullah—dalam sebuah riwayat—mengambil hukum tentang kafirnya Rafidhah yang membenci para sahabat.

Sebab, para sahabat membuat mereka marah. Siapa yang marah terhadap para sahabat, dia kafir berdasarkan ayat ini. Ada sebagian ulama yang menyetujui pendapat beliau tersebut.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/362)

Al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Ucapan al-Imam Malik baik dan penakwilannya benar. Barang siapa mendiskreditkan salah seorang dari mereka (para sahabat) atau mencela riwayatnya, sungguh dia telah membantah Allah Subhanahu wata’ala dan membatalkan syariat kaum muslimin.” (Tafsir al- Qurtubi, 297/16)

Al-Khallal meriwayatkan dari Abu Bakr al-Marrudzi yang mengatakan bahwa dirinya bertanya kepada Abu Abdillah (al-Imam Ahmad rahimahullah) tentang seseorang yang mencela Abu Bakr, Umar, dan Aisyah ? Al-Imam Ahmad rahimahullah menjawab, “Aku tidak memandangnya berada di atas Islam.” Al-Imam Ahmad rahimahullah juga berkata, “Barang siapa mencela sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kami tidak merasa aman bahwa dia telah keluar dari agama.” (as-Sunnah, al-Khallal, 3/493)

Ali bin Abdush Shamad berkata, “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (yakni al-Imam Ahmad) tentang seorang  Syiah Rafidhah tetangga kami yang mengucapkan salam kepada kami, apakah boleh aku membalasnya?” Beliau menjawab, “Tidak boleh.” (as-Sunnah, al-Khallal, 3/493-494) Musa bin Harun bin Ziyad rahimahullah berkata, “Aku mendengar al-Firyabi ditanya seseorang tentang orang yang mencela Abu Bakr, dan beliau menjawab, Kafir.” (as-Sunnah, al- Khallal, 35/499)

Ahmad bin Yunus rahimahullah berkata, ”Seandainya seorang Yahudi menyembelih seekor kambing dan seorang Rafidhi juga menyembelih, aku pasti memakan sembelihan Yahudi dan tidak memakan sembelihan Rafidhi karena dia telah murtad dari Islam.” (ash-Sharimul Maslul, Ibnu Taimiyah, 3/1062)

Abdul Qahir al-Baghdadi rahimahullah berkata, “Adapun para pengikut hawa nafsu seperti al-Jawardiyah, al-Hisyamiyah, al-Jahmiyah, dan al-Imamiyah yang telah mengafirkan manusia pilihan dari kalangan para sahabat…, sesungguhnya kami mengafirkan mereka. Menurut kami, jenazahnya tidak boleh dishalati dan tidak boleh shalat bermakmum di belakangnya.” (al-Farqu Baina al-Firaq, 357)

Abu Said Abdul Karim as- Sam’ani rahimahullah berkata, “Kelompok Imamiyah (Rafidhah, -pen.) bersepakat menganggap sesat para sahabat karena mereka menyerahkan keimamahan kepada selain Ali radhiyallahu ‘anhu. Umat ini pun bersepakat mengafirkan kelompok Imamiyah karena meyakini sesatnya para sahabat, mengingkari ijma’ mereka, dan menisbatkan hal-hal yang tidak sepantasnya kepada mereka.” (al-Ansab, as-Sam’ani, 3/188)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

Tanya Jawab Ringkas Edisi 92

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Muhammad as-Sarbini.

Tata Cara Mengganti Kekurangan Rakaat Shalat

Bagaimana cara mengganti kekurangan rakaat shalat? Apakah rakaat yang didapat sebagai rakaat pertama atau sesuai rakaatnya? Apa yang dibaca pada tiap rakaat? 081392XXXXXX

Rakaat yang Anda dapatkan bersama imam adalah rakaat pertama Anda, kemudian rakaat berikutnya adalah rakaat kedua Anda. Demikian seterusnya hingga imam salam lalu Anda menyempurnakan rakaat yang tersisa.

 

Meminta Cerai Lantaran Suami Tidak Bekerja

Jika suami tidak bekerja atau berusaha untuk memenuhi kebutuhan, bolehkah meminta cerai? 0813XXXXXXXX

Jika suami tidak menjalankan kewajiban mencari nafkah untuk mencukupi istrinya, padahal dia mampu bekerja, boleh bagi istri meminta fasakh (pembatalan akad) dengan cara khulu’.

 

Menikah Setelah Ditalak Tiga

Apakah wanita yang sudah 3 kali ditalak (ba’in kubra) boleh langsung meminta dicarikan suami baru, lewat perantara, dan tidak menunggu masa iddah? Jazakumullahu khairan. 08586XXXXXXX

Harus menunggu sampai masa iddah berakhir.

 

Keringanan Mandi Wajib

Bagaimana mandi wajibnya seseorang yang tidak memungkinkan untuk mandi (misal karena sakit yang tidak boleh terkena air)? 08562XXXXXX

Wajib bersuci dari hadats besar dengan mandi menggunakan air hangat jika tidak khawatir memudaratkan dirinya (menambah parah sakit atau memperlambat kesembuhan). Jika khawatir termudaratkan oleh air hangat sekalipun, wajib bersuci dengan tayamum sebagai pengganti mandi. Begitu pula halnya dengan wudhu, jika termudaratkan oleh penggunaan air.

 

Bagaimana cara mandi junub orang yang terluka dan tidak boleh terkena air?

08587XXXXXXX

Dalam mandi janabah, wajib membasuh seluruh tubuh dengan air selain luka tersebut, tetapi luka itu wajib diusap selama tidak termudaratkan oleh usapan. Jika usapan pun akan memperparah/ memperlambat kesembuhan luka itu, bagian luka tersebut disucikan dengan tayammum. Alhasil, bagian tubuh yang tidak luka wajib dibasuh, sedangkan yang luka wajib disucikan dengan diusap (jika tidak termudaratkan) atau ditayammumkan (jika termudaratkan oleh usapan). Wallahu a’lam.

Jamak Qashar Shalat Saat Safar

Berapa hari rukhsah musafir untuk menjamak dan mengqashar shalatnya karena waktu safar yang tidak dapat dia tentukan? 089604XXXXXX

Orang yang safar untuk suatu hajat dalam jangka waktu yang tidak jelas adalah musafir yang mendapat rukshah mengqashar dan menjamak shalat selama dalam safarnya itu.

 

Qadha Shalat Isya Saat Shubuh

Bagaimana cara mengqadha shalat isya karena ketiduran pada waktu subuh? 08990XXXXXX

Yang benar, wajib mengqadha shalat isya’ tersebut langsung ketika bangun, kemudian melaksanakan shalat subuh. Barakallahu fik.

 

Bersetubuh di Luar Nikah

Apa yang harus dilakukan untuk menghapus dosanya jika seseorang

berzina dengan pacarnya? 628572XXXXXXX

Zina adalah dosa besar dan kenistaan. Bertobatlah kepada Allah l disertai meninggalkan pergaulan bebas dan pacaran yang merupakan wasilah yang telah menyeret Anda kepada zina. Perbanyaklah beribadah dan beramal saleh untuk mengimbangi kesalahan besar itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun. Wallahul musta’an.

 

Hak Waris

Budhe (kakak perempuan ibu atau bapak) meninggal. Dia tidak mempunyai anak dan suami. Hanya ibu saya masih hidup sebagai ahli waris, hak waris kepada siapa? 08213XXXXXXX

Harta seluruhnya untuk saudara perempuan mayat (ibu Anda).

 

Apakah keponakan (kami) mendapat bagian, berapa jatahnya? 08213XXXXXXX

Yang kami pahami dari pertanyaan, Budhe Anda hanya meninggalkan saudara perempuannya sekandung (ibu Anda). Jadi, dialah satu-satunya ahli waris. Bagiannya adalah setengah harta, sisanya juga diberikan kepadanya secara

radd (pengembalian harta waris yang tersisa kepada ahli waris yang ada dari kalangan kerabat). Adapun Anda selaku keponakannya, bukan ahli waris yang

berhak, istilahnya adalah dzawul arham. Adapun jika ada keponakan lainnya,

terangkan kepada kami hubungan kekerabatannya dengan mayat secara lengkap agar kami terangkan hukumnya.

 

Makanan dari Acara Bid’ah

Bolehkah memakan makanan (daging sembelihan) dari acara 40 hari orang yang meninggal? 08529XXXXXXX

Ingkari/tolak hal itu dengan hikmah (bijak) semampunya dan jangan dimakan.

 

Zakat Harta Curian

Apakah harta hasil dari korupsi atau mencuri juga wajib dizakati bila telah mencapai nishab dan haulnya? 08574XXXXXXX

Harta hasil curian atau korupsi tidak terkena zakat, karena harta itu bukan milik koruptor atau pencurinya. Kewajibannya adalah mengembalikan harta itu kepada pemiliknya yang berhak.

 

Rokok

Apakah merokok itu haram bagi seorang muslim? Karena saya bimbang tentang masalah rokok ini. Ada yang mengatakan halal, tetapi ada yang mengatakan haram? 0898XXXXXXX

Jangan bimbang lagi, ketahuilah bahwa rokok haram menurut pendapat yang benar berdasarkan dalil-dalil dengan sisi pendalilan yang benar. Lihat secara lengkap pada rubrik Problema Anda, majalah Asy-Syariah edisi 48.

 

Zakat Padi

Bagaimana cara penghitungan zakat padi? 08526XXXXXXX

Zakat padi diperselisihkan ulama, karena tidak ada dalil khusus. Kami condong pada pendapat yang tidak mewajibkan zakat padi. Bagi yang meyakini wajibnya, nishabnya sebesar 300 sha’ nabawi = 300 x 3 kg bersih (tanpa kulit) dengan rincian zakat: a) 10 %, jika tadah hujan dan semisalnya. b) 5 %, jika diairi dengan biaya besar berupa mesin, kincir air, atau semisalnya. Jika sawah disewakan, maka yang terkena kewajiban adalah pemilik hasil panen (penyewa), bukan pemilik sawah. Zakat dikeluarkan saat panen setelah pembersihan dari keseluruhan hasil panen tanpa dikurangi untuk bayar sewanya. Pada asalnya wajib dibayarkan dengan beras, bukan dengan uang. Untuk lebih rinci dan lengkap, lihat Kajian Utama pada Majalah Asy-Syari’ah edisi 54.

 

Rukun Shalat Jenazah

Rukun shalat jenazah apa saja dan berapa? 08583XXXXXXX

Rukun shalat jenazah adalah:

1. Niat

2. Berdiri

3. Empat kali takbir (takbiratul ihram dan 3 takbir setelahnya)

4. Membaca al-Fatihah pada takbir pertama.

5. Mendoakan mayat.

6. Mengucapkan salam. Adapun bershalawat setelah takbir ketiga hanya sunnah menurut pendapat yang rajih. Disunnahkan pula mendoakan

mayat pada takbir keempat menurut pendapat yang rajih. Simak secara lengkap nukilan mazhab dan dalil-dalilnya pada buku kami Panduan Mudah Mengurus Jenazah.

Beberapa Contoh Tafsir Ala Syiah

Salah satu keutamaan yang sepantasnya seorang muslim berhias dengannya ialah kejujuran. Sebaliknya, di antara seburuk-buruk perilaku yang seharusnya dijauhi oleh seorang muslim ialah berdusta. Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ البِّرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقاً، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّاباً

Wajib atas kalian untuk berlaku jujur, karena kejujuran akan menuntun kepada kebaikan, dan kebaikan akan menuntun (masuk ke dalam) surga. Seorang yang selalu jujur dan berusaha untuk berlaku jujur, akan dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang sangat jujur. Hati-hatilah kalian dari berdusa, karena dusta akan menuntun kepada kefasikan, dan kefasikan akan menuntun (masuk ke dalam) neraka. Senantiasa seseorang berdusta dan bermaksud untuk selalu dusta, hingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang pendusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu)

Ketahuilah, kedustaan yang paling besar dan paling buruk adalah berdusta atas nama Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman,

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا ۚ أُولَٰئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَىٰ رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ هَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَىٰ رَبِّهِمْ ۚ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Rabb mereka, dan para saksi akan berkata, “Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Rabb mereka.” Ingatlah, laknat Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zalim. (Hud: 18)

Ghuluw Syiah Terhadap Ahlul Bait

Di antara manusia yang paling besar kedustaannya terhadap Allah dan Rasul- Nya adalah orang-orang yang ghuluw (melampaui batas) dari kalangan Syiah, terutama dalam hal keutamaan ahlul bait. Mereka menisbatkan kepada ahlul bait hal-hal yang justru yang menurunkan kedudukannya, sampai pada tingkat menyekutukan Allah. Ini bukanlah hal yang aneh. Sebab, mereka meyakini bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu memiliki sifat rububiyah, dalam keadaan beliau z masih hidup. Ketika berkali-kali beliau radhiyallahu ‘anhu melarang mereka (dari sikap ghuluw ini) dan ternyata tidak mau berhenti, beliau memerintahkan untuk membuat parit dan dinyalakan api padanya, lalu mereka dibakar (di parit tersebut). Beliau berkata,

لَمَّا رَأَيْتُ الْأَمْرَ أَمْرًا مُنْكَرًا أَجَّجْتُ نَارِي وَدَعَوْتُ قُنْبُرًا

Tatkala aku melihat suatu perkara adalah kemungkaran Aku nyalakan api dan aku memanggil Qunbur

Maksudnya, tatkala sikap ghuluw dalam hal ini adalah perkara yang mungkar, beliau memerintahkan untuk membuat parit dan dinyalakan api padanya, lalu meminta pembantu beliau yang bernama Qunbur menyeret mereka untuk diceburkan ke dalam parit tersebut. Wallahu a’lam.

Dalam hal ini para sahabat sepakat, kecuali Ibnu Abbas. Beliau berpandangan, hukuman yang pantas bagi mereka adalah dibunuh, bukan dibakar. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

لاَ يُعَذِّبُ بِالنَّارِ إِلاَّ رَبُّ النَّارِ

Tidak boleh mengazab dengan api, kecuali Rabb pencipta api.

Semua ini dilakukan karena sikap melampaui batas yang dilarang oleh syariat (agama). Mereka berupaya kedustaan ke dalam bidang ilmu tafsir (ayat-ayat al-Qur’an). Mereka susupkan hadits-hadits palsu ke dalam bidang ilmu hadits (periwayatan). Pada dasarnya orang-orang Syiah Rafidhah tidak memiliki perhatian terhadap menghafal al-Qur’an, memahami makna dan tafsirnya, serta upaya untuk menjadikannya sebagai dalil sesuai dengan makna yang terkandung. Apabila ada dari mereka yang  kitab tafsir, mereka mengambil ilmunya dari selain mereka, sebagaimanamhalnya yang dilakukan oleh ath-Thusi dan yang lainnya.

Karena itu, dalam kitab tafsir mereka dimuat ucapan atau pendapat menurut versi Mu’tazilah. Demikian pula pembahasan-pembahasan yang bersifat pendapat. Hal yang paling menonjol dari kitab tafsir mereka adalah ucapan mereka yang mencerca sahabat, menolak pendapat mereka dan pendapat jumhur ulama,lantas mengaku-aku bahwa ucapan  merekalah yang sesuai dengan teks al-Qur’an.

Tatkala tidak memungkinkan bagi seorang pun untuk menyusupkan ke dalam al-Qur’an sesuatu pun, sebagian orang berinisiatif untuk menyebutkan ayat bersama sebab-sebab turunnya. Perlu diketahui, tidak semua ayat yang ada pada al-Quran harus ada asbab nuzulnya. Tidak ada sebuah kelompok yang sedemikian rupa menyusupkan ke dalam Islam hal-hal yang bukan darinya dan memalingkan hukum syariat, sebagaimana yang dilakukan oleh Syiah Rafidhah. Mereka memasukkan ke dalam agama ini kedustaan terhadap Rasulullah, menolak kebenaran, dan memalingkan makna ayat, tidak seperti kedustaan, penolakan, dan penyimpangan yang dilakukan oleh sekte lainnya.

Asy-Syaukani mengatakan dalam al-Fawaid al-Majmu’ah, sebagaimana yang dinukil oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab beliau, Riyadhul Jannah, “Demikianlah. Di antara kedustaan yang disebutkan oleh orang-orang (Syiah) Rafidhah dalam tafsir mereka, adalah ketika mereka menyebutkan firman Allah,

إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ

Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orangorang yang beriman yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat seraya mereka tunduk (kepada Allah).(al- Maidah: 55)

Kata mereka, ayat ini turun berkenaan dengan Ali, ketika beliau bersedekah dengan cincinnya di waktu shalat. Demikian pula firman Allah,

وَلِكُلِّ قَوْمٍ هَادٍ

Dan bagi tiap-tiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.(ar-Ra’d: 7)

dan firman Allah,

وَتَعِيَهَا أُذُنٌ وَاعِيَةٌ

Dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.(al-Haqqah:12)

Menurut mereka, semua ayat di atas sebab turunnya terkait dengan Ali. Asy-Syaukani mengatakan bahwa ini adalah riwayat yang palsu, tanpa ada keraguan dan perselisihan. Dalam tafsir mereka juga disebutkan, tatkala Allah menurunkan ayat,

مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu.(ar-Rahman: 19)

Menurut mereka, maksudnya adalah Ali dan Fatimah.

يَخْرُجُ مِنْهُمَا اللُّؤْلُؤُ وَالْمَرْجَانُ

Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.(ar-Rahman: 22)

Menurut mereka, maksudnya adalah Hasan dan Husain.

وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh).(Yasin: 12)

Kata mereka, sebab turunnya adalah pada Ali.  Penafsiran ala mereka ini hampir mirip dengan penafsiran sebagian ahli tafsir yang menyimpang dari metode penafsiran yang benar pada ayat,

الصَّابِرِينَ وَالصَّادِقِينَ وَالْقَانِتِينَ وَالْمُنفِقِينَ وَالْمُسْتَغْفِرِينَ بِالْأَسْحَارِ

(Yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) dan yang memohon ampun di waktu sahur.(Ali Imran: 17)

Menurut sebagian ahli tafsir tersebut, yang dimaksud orang yang sabar adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, orang yang benar adalah Abu Bakr, orang yang tetap taat adalahUmar, orang yang menafkahkan hartanya adalah Utsman, dan orang yang meminta ampun di waktu sahur adalah Ali. Demikian pula firman Allah dalam surat al-Fath ayat 29,

مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersamadengannya,” yaitu Abu Bakr, “adalah keras terhadap orang-orang kafir” yaitu Umar, “tetapi berkasih sayang sesama mereka” yaitu Utsman, “kalian lihat mereka rukuk” yaitu Ali. Firman Allah,

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).(Ali ‘Imran: 33)

Menurut mereka, yang dimaksud dengan keluarga Imran adalah keluarga Abu Thalib karena nama Abu Thalib adalah Imran. Masih banyak contoh kedustaan yang mereka perbuat dalam bidang ilmu tafsir. Menurut Syiah, Ibnu Abbas mengatakan bahwa tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dimi’rajkan sampai langit yang ketujuh, di setiap langit Allah memperlihatkan kepada beliau keanehan-keanehan. Keesokan harinya beliau bercerita kepada manusia tentang keajaiban tersebut. Sebagian penduduk Makkah mendustakannya dan ada pula yang membenarkan. Saat itulah ada bintang yang jatuh dari langit. Nabi bertanya, “Di rumah siapakah bintang itu jatuh? Dialah yang akan menjadi khalifah setelahku.”

Mereka pun mencari di mana bintang itu jatuh. Ternyata mereka mendapatkannya di rumah Ali bin Abi Thalib. Penduduk Makkah lantas berkata, “Muhammad telah sesat dan keliru, terbenam kepada ahli baitnya, condong kepada putra pamannya.” Saat itulah turun surat an-Najm  ayat 1—4,

وَالنَّجْمِ إِذَا هَوَىٰ () مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ () وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ () إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Tidaklah yang diucapkan itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

Ibnul Jauzi mengatakan bahwa hadits (riwayat) ini tidak diragukan kepalsuannya. Dalam sanadnya terdapat seorang yang bernama Kalbi, kata Abu Hatim ibnu Hibban, “Kalbi termasuk yang mengatakan bahwa Ali masih hidup dan akan muncul lagi di dunia.” Di antara yang menjadi bukti kepalsuan hadits ini adalah tidak masuk akal jika bintang jatuh ke dalam rumah. Demikian pula Ibnu Abbas, waktu itu beliau baru berumur dua tahun, bagaimana bisa menyaksikan kejadian al-Mi’raj dan menceritakannya?

Asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i rahimahullah mengatakan, “Cukuplah sikap ghuluw orang-orang Syiah menjadikan mereka rendah, hina, dan tersesat. Periwayatan mereka terhadap hadits seperti ini akan menjauhkan tabiat yang baik darinya, pendengaran pun tidak akan menghiraukannya. Kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disibukkan dengan urusan dakwah, sedangkan mereka menyibukkan diri dengan masalah khilafah (kepemimpinan). Seolah-olah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memiliki cita-cita selain menanamkan secara mendasar tentang khilafah kepada Ali dan keturunannya.

Cercaan Terhadap Para Sahabat

Berikut beberapa ayat yang mereka tafsirkan, dengan anggapan bahwa hal itu sesuai dengan tekstual ayat, tetapi hakikatnya adalah pemalingan makna dan kedustaan. Firman Allah,

فَقَاتِلُوا أَئِمَّةَ الْكُفْرِ

Maka perangilah pemimpinpeminpin orang-orang kafir itu.(at- Taubah: 12)

Mereka tafsirkan, Thalhah dan Zubair.

وَالشَّجَرَةَ الْمَلْعُونَةَ فِي الْقُرْآنِ

Dan (begitu pula) pohon yang terlaknat dalam al-Quran.(al-Isra’: 60)

Mereka katakan, maksudnya adalah Bani Umayyah.

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تَذْبَحُوا بَقَرَةً

Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina.(al-Baqarah: 67)

Kata mereka, maksudnya adalah ‘Aisyah.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ

Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalanmu.(az- Zumar: 65)

Kata mereka, maksudnya ialah mempersekutukan antara Abu Bakr dan Ali dalam hal kekuasaan. (Lihat Minhajus Sunnah an- Nabawiyyah, Ibnu Taimiyah; Riyadhul Jannah, Muqbil al-Wadi’i; Mauqif Ahlis Sunnah wa Syiah, Muhammad bin Abdirahman bin Qasim)

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi wasallam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Membantah Hujah Praktik Mut’ah

عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عَبَّاسٍ يُلَيِّنُ فِي مُتْعَةِ النِّسَاءِ فَقَالَ: مَهْلًا يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، فَإِنَّ رَسُولَ اللهِ, نَهَى عَنْهَا يَوْمَ خَيْبَرَ وَعَنْ لُحُومِ الْحُمُرِ الْإِنْسِيَّةِ

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pernah mendengar Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bersikap lunak tentang praktik mut’ah atas kaum wanita. Lalu, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pun menegur, “Hati-hati, wahai Ibnu Abbas! Sebab, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang praktik mut’ah pada Perang Khaibar. Demikian juga, beliau melarang untuk mengonsumsi keledai peliharaan.”

 

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu Membolehkan Mut’ah?

Awalnya, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma memang memperbolehkan nikah mut’ah (HR. al-Bukhari no. 5116 dan Muslim no. 1407). Namun, beliau diingkari oleh para sahabat, seperti Abdullah bin Umar, Abdullah bin az- Zubair, dan tentu saja Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sebagaimana halnya riwayat di atas. Dalam beberapa riwayat diterangkan bahwa pendapat Ibnu Abbas itu pun hanya dalam keadaan darurat, sebagaimana halnya hukum darah, bangkai, dan daging babi. Hanya saja, sebagian orang bermudah-mudah dengan fatwa tersebut. Akhirnya, Ibnu Abbas pun rujuk dan mencabut fatwa tersebut.

Abu ‘Awanah (al-Mustakhraj, no. 4057) meriwayatkan dengan sanad yang sahih dari ar-Rabi’ bin Sabrah, beliau berkata, “Sebelum meninggal dunia, Ibnu Abbas telah rujuk dari fatwa tersebut.” Lalu, apakah termasuk sikap adil, menisbatkan satu pendapat kepada seseorang, sementara ia sendiri telah rujuk dan mencabut pendapat tersebut?

 

Satu dari Dosa Syiah

Na’udzu billah minal hawa wal bida’! Benar-benar sebuah kejahatan dan kekejian besar! Agama diperalat sebagai alat pembenaran untuk melakukan sebuah dosa nista. Dengan iming-iming praktik mut’ah, sudah sekian banyak kaum  muda menjadi korban paham Syiah yang menyesatkan. Setumpuk hadits palsu tentang pahala dan derajat tinggi bagi pelaku mut’ah tanpa malu dan rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala disodorkan kepada kaum muda. Kejahilan akan hakikat Islam semakin memperparah kondisi mereka. Akhirnya? “Saya benar-benar menyesal! Lebih baik mati daripada hidup seperti ini. Saya menyangka praktik mut’ah adalah bagian dari syariat Islam. Ternyata, dusta kaum Syiah belaka!” sesal seorang pemuda.

Mut’ah sendiri artinya bentuk akad dengan seorang wanita untuk berhubungan suami istri, baik dalam jangka waktu tertentu maupun tidak, asalkan tidak lebih dari empat puluh lima hari, tanpa ada keharusan menafkahi, tidak menyebabkan saling mewarisi, tidak mengharuskan nasab, dan tanpa masa iddah. Bahkan, kalangan Syiah tidak mensyaratkan adanya wali dan saksi.

 

Takhrij Hadits

Hadits di atas diriwayatkan oleh al- Imam al-Bukhari (no. 1407), al-Imam Muslim (no. 4216), Ahmad (1/79), an-Nasa’i (6/125), at-Tirmidzi (no. 1121), dan Ibnu Majah (1961), lafadz hadits di atas adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumullah. Hadits di atas diriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, sahabat yang dihormati, dimuliakan, dan dijunjung tinggi oleh seluruh kaum muslimin, termasuk oleh kaum Syiah. Bahkan, menurut Syiah, Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dianggap sebagai junjungan tertinggi mereka. Lantas mengapa mereka tidak meneladani Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu yang menegaskan bahwa praktik mut’ah telah diharamkan sampai hari kiamat?

Kemudian, siapakah perawi yang menyambung mata rantai sanad hadits di atas? Tidak lain putra kandung Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu sendiri yang bernama Muhammad bin Ali bin Abi Thalib, yang lebih dikenal dengan Muhammad bin al-Hanafiyyah. Siapakah perawi yang berikutnya? Dua orang perawi. Kedua-duanya adalah putra kandung Muhammad bin al- Hanafiyyah, cucu Ali bin Abi Thalib. Pertama, Al-Hasan bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib; yang kedua adalah Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Abi Thalib. Bagi kaum Syiah yang mengaku cinta kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, buktikan kecintaan itu dengan meneladani beliau dan anak cucu beliau g yang telah melarang praktik mut’ah!

 

Hadits-Hadits tentang Mut’ah

Riwayat dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang praktik mut’ah memang berbeda-beda. Ada sebagian riwayat menunjukkan tentang haramnya praktik mut’ah, namun ada juga riwayat yang secara jelas menerangkan bolehnya praktik mut’ah. Di sini salah satu letak keanehan kaum Syiah! Mereka berargumen dengan hadits-hadits yang membolehkan praktik mut’ah, padahal mereka sendiri mencela dan menolak kitab-kitab hadits yang meriwayatkan tentang bolehnya praktik mut’ah. Bagi mereka dan yang sependapat, hanya hadits-hadits yang membolehkan praktik mut’ah saja yang diterima. Sementara itu, seorang muslim yang berusaha memahami hadits dengan bimbingan ulama, dengan mudahnya memahami riwayat-riwayat tersebut.

Jika riwayat-riwayat tersebut direkonstruksi dengan sejarah, kesimpulan akhirnya akan sejalan dengan keterangan al-Imam an Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim. Beliau mengatakan, “Pendapat yang benar dan dipilih, pengharaman dan pembolehan nikah mut’ah masing-masing terjadi sebanyak dua kali. Sebelum peristiwa Khaibar dihalalkan, kemudian pada saat perang Khaibar diharamkan. Lalu ketika terjadi Fathu Makkah—termasuk Perang Authas karena bersambung—, nikah mut’ah diperbolehkan lagi. Akan tetapi, tiga hari kemudian, nikah mut’ah diharamkan untuk selamanya sampai hari kiamat.” Sahabat Rabi’ bin Sabrah radhiyallahu ‘anhu berkata,

أَمَرَنَا رَسُولُ اللهِ, بِالْمُتْعَةِ عَامَ الْفَتْحِ حِينَ  دَخَلْنَا مَكَّةَ، ثُمَّ لَمْ نَخْرُجْ مِنْهَا حَتَّى نَهَانَا عَنْهَا

“Pada tahun Fathu Makkah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengizinkan kami untuk melakukan mut’ah ketika kami memasuki kota Makkah. Kemudian, tidaklah kami keluar meninggalkan kota Makkah kecuali dalam keadaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengharamkannya untuk kami.” (HR. Muslim no. 1406)

Pada saat itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قَدْ كُنْتُ أَذِنْتُ لَكُمْ فِي ا سْالِْتِمْتَاعِ مِنَ النِّسَاءِ، وَإِنَّ اللهَ قَدْ حَرَّمَ ذَلِكَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، فَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ مِنْهُنَّ شَيْءٌ فَلْيُخَلِّ سَبِيلَهُ وَ تَأْخُذُوا مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا

“Wahai manusia, sesungguhnya dahulu aku pernah mengizinkan kalian untuk melakukan mut’ah atas kaum wanita. Sesungguhnya Allah telah Subhanahu wata’ala mengharamkan mut’ah sampai hari kiamat. Barang siapa masih terikat mut’ah dengan wanita, tinggalkanlah dia dan janganlah kalian mengambil kembali barang yang telah diberikan.”

 

Ijma’ Ulama

Selain itu, seluruh ulama kaum muslimin telah sepakat tentang haramnya praktik mut’ah. Jadi, siapa pun yang berpendirian bolehnya praktik mut’ah, sama artinya dengan menyelisihi ijma’ kaum muslimin. Ibnu Hubairah rahimahullah menegaskan, “Alim ulama telah berijma’ bahwa nikah mut’ah hukumnya batil. Tidak ada sedikit pun perselisihan di antara mereka.” Al-Qurthubi rahimahullah menyatakan, “Seluruh riwayat bersepakat bahwa masa diperbolehkannya nikah mut’ah tidaklah terlalu lama. Kemudian, setelah itu nikah mut’ah diharamkan. Berikutnya, ulama salaf dan khalaf telah berijma’ tentang diharamkannya nikah mut’ah, kecuali kaum Rafidhah yang tidak perlu dianggap.” (Taudhihul Ahkam, karya Alu Bassam 5/294)

Selain beliau berdua, masih banyak lagi ulama yang menyatakan bahwa praktik mut’ah diharamkan secara ijma’, antara lain al-Jashash rahimahullah (Tafsir 2/153), Ibnul Mundzir rahimahullah (Majmu’ Syarhil Muhadzab, 16/254), Ibnu Abdil Barr rahimahullah (al-Istidzkar, 16/294), al-Maziri rahimahullah (al-Mu’lim, 2/131), al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah (Syarah Muslim 9/181), dan al-Hamadzani rahimahullah (al- I’tibar, hlm. 177).

 

Apakah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu yang Melarang Mut’ah?

Sebuah riwayat dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan oleh al-Imam Muslim (no. 1405).

Beliau mengatakan,

فَعَلْنَاهُمَا مَعَ رَسُولِ اللهِ, ثُمَّ نَهَانَا عَنْهُمَا  عُمَرُ فَلَمْ نَعُدْ لَهُمَا

“Kami melakukan keduanya (mut’ah dan haji tamattu’) di masa Rasulullah. Kemudian Umar melarang kami untuk melakukannya. Sejak itu, kami tidak mengulanginya lagi.”

Kaum Syiah bersandar kepada riwayat Jabir di atas untuk mempertahankan praktik mut’ah. Alasan mereka, bukan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam yang melarang, melainkan Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Lihatlah bagaimana mereka memaksakan pendapat! Padahal ketika Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu diangkat sebagai Amirul Mukminin (Ibnu Majah, 1963), beliau menyampaikan khutbah, “Sesungguhnya, dahulu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memang mengizinkan kita selama tiga hari untuk melakukan mut’ah, tetapi setelah itu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengharamkannya. Demi Allah, tidaklah aku mengetahui ada seseorang yang melakukan mut’ah dalam keadaan dia muhshan kecuali pasti akan aku rajam dia dengan batu.

Kecuali jika dia mampu mendatangkan empat saksi yang memberikan kesaksian bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menghalalkannya setelah diharamkan.” Ath-Thahawi rahimahullah (Ma’anis Sunan, 2/258) mengatakan, “Inilah Umar yang telah melarang mut’ah untuk kaum wanita di hadapan para sahabat yang lain  dan beliau tidak diingkari. Hal ini menunjukkan bahwa para sahabat sepakat dengan beliau untuk melarang mut’ah. Kesepakatan mereka ini—untuk melarang mut’ah—adalah dalil bahwa hukum diperbolehkannya mut’ah telah dihapus, sekaligus sebagai hujah.” Sebagian Ulama Membolehkan?

Di dalam beberapa referensi, memang disebutkan beberapa nama sahabat dan tabi’in yang memperbolehkan praktik mut’ah. Sebut saja Abdullah bin Mas’ud, Mu’awiyah, Abu Sa’id, Salamah dari kalangan sahabat, Amr bin Huraits, Thawus, dan Sa’id bin Jubair rahimahumullah dari kalangan tabi’in. Hanya saja, semua riwayat dari mereka tidak terlepas dari dua kemungkinan:

1. Mereka telah rujuk dan mencabut pendapat tersebut, atau

2. Diriwayatkan melalui sanad yang lemah. Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah membahas riwayat-riwayat tersebut secara rinci dalam kitab beliau Fathul Bari (10/216—218) dengan keterangan yang memuaskan. Walhamdulillah.

 

Ayat Mut’ah dalam Al-Qur’an?

Syiah masih juga memperjuangkan praktik mut’ah dengan menukil firman Allah Subhanahu wata’ala di dalam surat an-Nisa’ ayat 24,

فَمَا اسْتَمْتَعْتُم بِهِ مِنْهُنَّ فَآتُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ فَرِيضَةً ۚ

“Maka istri-istri yang telah kamu nikmati (campur) di antara mereka, berikanlah kepada mereka mut’ahnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban.”

Mayoritas ahli tafsir menerangkan bahwa ayat di atas berkenaan dengan akad nikah yang biasa dikenal, bukan praktik mut’ah. Maksudnya, jika salah seorang di antara kalian menikahi seorang wanita, hendaknya ia menyerahkan mahar untuknya. Memang ada beberapa ahli tafsir yang menyatakan bahwa ayat ini terkait dengan praktik mut’ah. Akan tetapi, mereka sendiri menegaskan bahwa hukum mut’ah telah mansukh (gugur) dengan hadits-hadits yang sahih. Wallahu a’lam.

Selain ayat di atas, kalangan Syiah juga menyebutkan beberapa ayat al- Qur’an yang diklaim sebagai landasan dari praktik mut’ah. Ayat-ayat tersebut antara lain; al-Baqarah: 236, al- Baqarah: 241, al-Ahzab: 28, dan al-Ahzab: 49.

Cukuplah sebagai jawaban untuk mereka, pernyataan tegas az-Zujjaj (Syarah an-Nasa’i karya al-Atyubi 28/), “Sesungguhnya, sebagian kalangan telah terjatuh dalam kesalahan fatal berkenaan ayat ini karena kebodohan mereka terhadap lughah (bahasa Arab).”

 

Seorang Pemuda dan Rasulullah

Sebagai bukti lain kejahatan kaum Syiah dalam praktik mut’ah, mereka sendiri—terutama kalangan tokoh dan pimpinan Syiah—akan merasa keberatan jika praktik mut’ah itu dilakukan terhadap keluarga mereka, baik ibu, istri, putri, saudara perempuan, maupun bibi mereka. Semakin jelaslah bahwa praktik mut’ah adalah praktik zina yang dilakukan atas nama agama. Na’udzu billah min dzalik. Simaklah hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu berikut ini, yang dikeluarkan oleh al- Imam Ahmad rahimahullah dan dinyatakan sahih oleh al-Albani. Seorang pemuda datang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk meminta izin agar diperbolehkan melakukan perbuatan zina.

Dengan penuh kasih sayang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengarahkan cara berpikir pemuda tersebut. Beliau bertanya, “Relakah engkau jika hal itu terjadi pada ibumu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada putrimu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ayah)? Relakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (dari jalur ibu)?” Setiap kali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya, pemuda itu pasti menjawab, “Tentu tidak! Demi Allah! Allah Subhanahu wata’ala menjadikanku sebagai tebusan Anda.”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Kalau begitu, orang-orang pun tidak rela jika hal itu terjadi pada ibu, putri, saudara perempuan, dan bibi mereka!” Oleh karena itu, siapa pun yang berpendapat tentang bolehnya praktik mut’ah, apakah ia bisa menerima jika praktik mut’ah dilakukan kepada ibu, putri, atau saudara perempuannya??? Masih banyak lagi sisi-sisi buruk dan jahat dari praktik mut’ah yang tidak dapat diuraikan dalam pembahasan ringkas ini, baik secara sosial kemasyarakatan, kesehatan, tatanan keluarga, ekonomi, pelecehan kaum wanita, dan lain-lain. Namun, sedikit keterangan di atas sebenarnya telah lebih dari cukup untuk menegaskan haramnya praktik mut’ah. Bagi orang yang berakal, tentunya! Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Kepalsuan Doktrin Imamah Syiah

Jika kita mencermati perjalanan dakwah al-haq sejak diutusnya para nabi dan rasul, akan kita temukan berbagai bentuk penentangan dan penyelisihan terhadap al-haq. Ini menjadi bukti bahwa kebanyakan hamba- Nya tidak menginginkan kelurusan hidup.  Mereka memberontak, menyerukan kebebasan beragama dan berkeyakinan, dengan slogan-slogan kekufuran. Di antara slogan itu ialah menghidupkan budaya dan peninggalan nenek moyang, serta menjaga eksistensi ajaran mereka. Dalam pandangan mereka, agama yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala itu universal dan fleksibel. Ia bisa diotakatik dan ditarik ulur sesuai dengan kondisi dan zaman yang berlangsung.

Alhasil, yang ada adalah menghakimi ajaran agama, sebagaimana halnya perbuatan orang-orang kafir terhadap agama mereka. Akibatnya, muncullah dalam tubuh kaum muslimin istilah para “pembaru”, aliran-aliran modern di dalam Islam, pemikiran dan gerakan pembaruan, periode modern dalam sejarah Islam, dan berbagai istilah lain, yang notabene semuanya mempertanyakan (menggugat) sakralisasi Islam sebagai agama wahyu. Jika kita tarik benang merah, secara jujur, akan kita dapati bahwa penolakan mereka terhadap al-haq adalah titipan Iblis la’natullah alaih.

Dakwah para nabi dan rasul yang menebar rahmat kepada segenap manusia dianggap sebagai aturan yang mengekang kebebasan, membunuh karakteristik berpikir yang hidup dan luas, serta menumpulkan ketajaman akal. Dalam anggapan mereka, wahyu menjerat semua kehendak dan keinginan. Mengapa mereka tidak berpikir ringan dan mudah, yaitu bukankah Allah Subhanahu wata’ala yang menciptakan kita? Bukankah Allah yang mengatur urusan hidup ini? Bukankah Allah Subhanahu wata’ala yang telah memenuhi segala kebutuhan mereka?

Bukankah Allah Yang Maha Mengetahui kemaslahatan hidup setiap hamba? Dzat yang seperti ini tentu Mahaadil, Mahabijaksana, dan Maha Mengetahui akan seluk-beluk maslahat dan mafsadah bagi kehidupan manusia. Sungguh, Iblis la’natullah alaih bergembira melihat perilaku hambahamba Allah itu. Sebab, memperoleh banyak sahabat untuk memenuhi isi jahannam bersama dirinya. Ia mendapat banyak teman yang akan mendapatkan murka Allah Subhanahu wata’ala, dan banyak pengikut yang merasakan azab-Nya.

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ

“Sesungguhnya setan bagi kalian adalah musuh, maka jadikanlah dia sebagai musuh kalian, dan sesungguhnya setan menyeru pengikutnya menjadi penghuni neraka Sa’ir (yang menyala-nyala).” (Fathir: 6)

Syiah Salah Satunya

Munculnya ajaran dan aliran Syiah sesungguhnya menjadi bukti nyata akan hal itu. Dengan kedok mengangkat eksistensi “ahlul bait” dan memperjuangkan hakhak mereka, agama ini dicetuskan oleh Abdullah bin Saba’, si Yahudi. Syiah pun menyasar kaum muslimin yang jahil tentang agama dengan menggugah sifat dasar pada setiap bani Adam, yaitu kerakusan hidup dan tidak pernah puas. Cukuplah untuk membuktikan hal itu adalah ajaran kebinatangan melalui hubungan seks bebas yang diseting oleh mereka sebagai bagian dari ajarannya. Kemudian perbuatan keji dan kotor itu mereka istilahkan dengan nikah mut’ah, sebuah bentuk pernikahan yang telah diharamkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul- Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kebebasan hubungan seks ala Syiah itu telah memunculkan berbagai penyakit kelamin yang mengerikan dan kotor: GO (kencing nanah), AIDS, dan sebagainya. Tidak mengherankan jika kelakuan binatang itu akan menyusup di pelosokpelosok daerah kaum muslimin yang Syiah berkembang di situ. Oleh karena itu, segenap kaum muslimin mesti mewaspadai ajaran tersebut. Cukuplah kitab suci al-Qur’an dan wahyu yang kedua, yaitu Sunnah Rasul, sebagai dasar menghukumi bahwa ajaran mereka itu sesat dan menyesatkan. Mewaspadai mereka berikut ajaran mereka termasuk pelaksanaan terhadap perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam.

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hendaklah berhati-hati orangorang yang menyelisihi perintahnya untuk tertimpa fitnah (musibah) dan azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Syiah Memorak-porandakan Umat Islam

Kaum Syiah telah terang-terangan memorak-porandakan ajaran Islam dan umat Islam. Hal itu terjadi sejak ada anggapan mereka bahwa yang berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Ali bin Abu Thalib dan 12 keturunannya yang dianggap sebagai imam-imam yang maksum (terbebas dari dosa dan kesalahan). Mereka menganggap bahwa yang berhak menjadi khalifah adalah Ali. Ini pun tidak sekadar anggapan, tetapi ada konsekuensi di belakangnya, yaitu mereka mengafirkan dan memvonis para sahabat sebagai orang-orang munafik. Menurut pandangan mereka Abu Bakr, Umar, dan Utsman, serta para sahabat yang bersama mereka, tak ubahnya komplotan penjegal, perampok, pencuri, dan perampas.

Mulla Baqir al-Majlisi berkata di dalam kitabnya, Hayatul Qulub, “Rasulullah memproklamirkan pada hari Ghadir, ‘Sesungguhnya Ali adalah waliku, wasiatku, dan pengganti setelahku.Namun, teman-temannya telah berbuat kepadanya seperti perbuatan kaum Musa. Mereka mengikuti anak sapi umat ini dan Samiri-nya. Yang aku maksudkan adalah Abu Bakr dan Umar….

Kaum munafik murka atas kekhilafahan Ali sebagai pengganti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sepeninggal beliau. Mereka melakukan kezaliman terhadap kitabullah. Mereka selewengkan, rombak, dan berbuat sesuai dengan kehendak mereka.” (Baina asy-Syiah wa Ahlis Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhahir hlm. 71)

Mereka mengafirkan Abu Bakr dan Umar dengan mengatakan, “Sesungguhnya keduanya tidak memilki nilai atau kebaikan dalam Islam, walaupun hanya sebesar biji sawi.” Tentang Utsman, mereka berkata, “Sesungguhnya dia telah berhukum dengan hukum yang tidak diturunkan oleh Allah.”

Tentang Muawiyah, mereka berkata, “Sesungguhnya dia telah memikul kedengkian yang memuncak dan kekafiran yang tersembunyi.” Tentang Aisyah, mereka berkata, “Rasulullah berkhutbah. Beliau mengisyaratkan ke arah kamar Aisyah dan mengatakan, ‘Dari sinilah fitnah muncul.Beliau mengulanginya tiga kali.” Kata mereka pula, “Rasulullah keluar dari rumah Aisyah lalu bersabda, ‘Dari  ini munculnya otak kekafiran.” Mereka mengatakan, “Sunnah Nabi diriwayatkan dari para sahabat Rasulullah, padahal mereka telah murtad semuanya, termasuk tokoh-tokoh bani Hasyim dan selainnya dari kalangan Muhajirin dan Anshar, kecuali tiga orang, yaitu Miqdad, Abu Dzar, dan Salman. Orang yang meriwayatkan dari mereka sedikit sekali. Adapun perawi-perawi dari selain mereka bertiga tidak menenteramkan hati, karena mereka kembali kafir.” (Baina asy-Syiah wa Ahlis Sunnah karya Ihsan Ilahi Zhahir hlm. 104 )

Perselisihan Syiah dalam Menetapkan Hak Imamah

Syiah telah berselisih pendapat dalam hal penetapan imamah di kalangan mereka. Perselisihannya cukup banyak dan sengit. Ini menjadi bukti goncang/ rapuhnya ajaran mereka. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa imamah tetap di tangan Ja’far bin Muhammad. Ada pula yang mengatakan bahwa imamah itu di tangan anaknya, yaitu Musa. Ada yang mengatakan bahwa imamah di tangan Abdullah bin Mu’awiyah. Ada juga yang mengatakan dengan jelas bahwa Ali telah menunjuk Hasan dan Husain.

Ada yang mengatakan, yang dimaksud ialah Muhammad bin Hanafiyyah. Ada yang berpendapat, Ali bin Husain telah berwasiat kepada putranya, Abu Ja’far. Masih banyak lagi perselisihan pendapat di kalangan mereka tentang hal ini. (Lihat Aujaz al-Khithab fi Bayan Mauqif asy-Syiah minal Ashhab 1/10 )

Saudaraku, dari perselisihan yang sangat pelik tersebut, orang yang memiliki dasar ilmu yang paling rendah pun akan bisa menyimpulkan, betapa bingungnya mereka meletakkan prinsip beragama dan betapa jauhnya mereka dari kebenaran.

Tujuan Menghalalkan Segala Cara

Syiah telah melakukan banyak manuver untuk melariskan dagangan kesesatan mereka. Intinya, bagaimana tujuan mereka bisa tercapai. Manuver-manuver sesat yang mereka lakukan di antaranya adalah menodai keabsahan al-Qur’an sebagai wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala, meragukan penukilan riwayat dari para sahabat selain tiga orang, yaitu Miqdad, Abu Dzar, dan Salman, karena mayoritas sahabat murtad dan menjadi munafik sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tanpa rasa malu, mereka menjadikan amalan kekafiran tersebut sebagai sarana menggapai tujuan. Sungguh, sangat mengherankan. Di mana mereka letakkan akal mereka? Seharusnya, mereka meragukan kebenaran ajaran mereka karena banyaknya dosa dan kemaksiatan mereka. Mereka melakukan berbagai kesyirikan dan ribuan kebid’ahan. Bukankah mereka itu yang semestinya menyandang tuduhan yang mereka sematkan kepada para sahabat yang mulia dan agung? Padahal para sahabat telah mendapatkan predikat tinggi dari Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Apalagi ajaran mereka membolehkan berdusta untuk kepentingan dakwah. Tidak hanya boleh, bahkan mereka menjadikan dusta sebagai salah satu prinsip beragama. Mereka menyebutnya taqiyah. Al-ghayah tubarrirul wasilah (Tujuan menghalalkan segala cara). Inilah kaidah Iblis dalam menentang perintah-perintah Allah Subhanahu wata’ala.

Benarkah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Mewasiatkan Khilafah Untuk Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu?

Kaum Syiah tidak akan habishabisnya menunggangi syariat Allah Subhanahu wata’ala dan mengotorinya, sampai keputusan Allah Subhanahu wata’ala datang atas mereka. Mereka akan melakukan segala cara, yang penting tujuan mereka bisa tercapai. Salah satunya adalah menukilkan riwayat-riwayat dusta dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh karena itu, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Syiah adalah kelompok yang paling pendusta.” Kaum Syiah menganggap, hadits Ghadir Khum menjelaskan bahwa Rasulullah hallallahu ‘alaihi wasallam langsung menobatkan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah sepeninggal beliau. Mereka mengatakan, penobatan tersebut di hadapan 120 ribu kaum muslimin. Ghadir Khum adalah persimpangan jalan menuju kota Madinah, Irak, Mesir, dan Yaman. Versi mereka, Malaikat Jibril ‘Alaihissalam turun membawa wahyu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang isinya,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ ۚ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika tidak kamu kerjakan apa yang diperintahkan itu, berarti kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memeliharamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.(al-Maidah: 67)

Selain itu, Jibril ‘Alaihissalam menyampaikan kepada Rasulullah n bahwa Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau agar menjadikan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai pemimpin umatnya dan sebagai pemegang wasiat beliau setelah beliau wafat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lantas menghentikan perjalanan dan memerintah orang-orang yang berada di barisan belakang untuk segera menyusul dan yang telah mendahului untuk kembali. Mereka semuanya pun berkumpul di sekeliling beliau.

Saat waktu zuhur tiba, beliau mengimami shalat dan menyampaikan pidato yang isinya adalah bahwa Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan bahwa keimamahan itu kepada Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Yang hadir diminta untuk menyampaikan kepada yang tidak hadir. Di antara ucapan beliau dalam pidato tersebut, Taatilah dan patuhilah, sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala adalah pelindung kalian, Ali adalah pemimpin kalian.

Kemudian kepemimpinan ada di tangan anak cucuku dari keturunannya hingga hari kiamat. Sabdaku dari Jibril, dari Allah Subhanahu wata’ala. Hendaknya setiap jiwa melihat apa yang telah dipersiapkan untuk hari esoknya.”

Tinjauan Ulama Sunnah Tentang Hadits Ghadir Khum Ala Syiah

a. Sahihkah riwayat hadits Ghadir Khum?

Saudaraku, kita memiliki ulamaulama sunnah yang akan menjelaskan kepada kita tentang kebenaran riwayat tersebut. Dengan demikian, kita bisa berada di atas bashirah dan mengetahui kejahatan, kerusakan, dan kesesatan agama Syiah. Hadits Ghadir Khum benar datangnya dari Rasulullah n. Sepulang beliau dari haji wada’, pada 18 Dzulhijjah, di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Ghadir Khum, antara kota Makkah dan Madinah, beliau berwasiat,

كَأَنِّي دُعِيتُ فَأَجَبْتُ وَإِنِّي تَارِكٌ فِيْكُمُ الثَّقَلَيْنِ أَحَدِهِمَا أَكْبرُ مِنَ الْآخَرِ: كِتَابُ اللهِ وَعِتْرَتِي أَهْلِ بَيْتِي، فَانْظُرُوا كَيْفَ تَخْلُفُونِي فِيهِمَا فَإِنَّهُمَا لَنْ يَتَفَرَّقَا حَتَّى يَرِدَا عَلَيَّ الْحَوْضَ ثُمَّ قَالَ: إِنَّ اللهَ مَوْ يَالَ وَأَنَا وَلِيُّ كَلِّ مُؤْمِنٍ. ثُمَّ إِنَّهُ أَخَذَ بِيَدِ عَلِيٍّ فَقَالَ: مَنْ كُنْتُ وَلِيَّهُ   فَهَذَا وَلِيُّهُ اللَّهُمَّ وَالِ مَنْ وَا هَالُ وَعَادِ مَنْ عَادَاهُ

“Seolah-olah aku dipanggil lalu aku menyambutnya. Sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua hal yang berat, yang satu lebih besar dari yang lain. Itulah kitabullah dan ‘itrati (keluargaku). Perhatikanlah apa yang kalian perbuat sepeninggalku terhadap keduanya. Sesungguhnya keduanya tidak akan berpisah hingga keduanya mendatangiku di telaga kelak.Lalu beliau berkata, “SesungguhnyaAllah adalah waliku, dan aku adalah wali setiap orang yang beriman.” Kemudian beliau memegang tangan Ali seraya berkata, “Barang siapa menjadi waliku, Ali pun menjadi walinya. Ya Allah, lindungilah orang yang melindunginya, dan musuhilah orang yang memusuhinya.”

Hadits di atas dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Silsilah ash- Shahihah no. 1750. Beliau bawakan pula syawahid (penguat-penguat) yang sangat banyak. Riwayat serupa datang dari banyak sahabat, seperti sahabat Zaid bin Arqam, Sa’d bin Abi Waqqash, Buraidah bin Hushaib, Ali bin Abu Thalib, Abu Ayyub al-Anshari, al-Bara’ bin ‘Azib, Abdulah bin Abbas, Anas bin Malik, dan Abu Hurairah g.

b. Riwayat hadits Ghadir Khum ala Syiah

Ingat, Syiah adalah kelompok yang paling pendusta, sebagaimana ungkapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di atas. Tentu saja gambaran yang melekat di benak kita, mereka akan menguatkan segala prinsip agamanya di atas standar dusta. Kedustaan adalah simbol agama dan syiar ajaran mereka. Pantaslah apabila mereka mencoba memanipulasi hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengokohkan ajaran mereka sehingga bisa mudah diterima oleh banyak pihak. Contoh konkret adalah hadits Ghadir Khum yang mereka tambah-tambahi, seperti firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَّبِّكَ ۖ وَإِن لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ

“Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu. Jika kamu tidak melakukannya, kamu tidak menyampaikan risalah-Nya.” (al-Maidah: 67)

Kata mereka, ayat ini turun pada peristiwa Ghadir Khum saat pengokohan Ali radhiyallahu ‘anhu sebagai khalifah pengganti beliau. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menjelaskan, “Ini adalah satu bentuk kedustaan. Ayat di atas sudah turun lama sebelum haji wada’. Sementara itu, peristiwa Ghadir Khum terjadi pada haji wada’, tanggal 18 Dzulhijjah, sekembalinya beliau dari menunaikan haji. Setelah itu, beliau menjalani hidup selama dua bulan. Adapun ayat yang terakhir turun adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“ Pada hari ini , Aku telah menyempurnakan agama kalian dan telah mencukupkan atas kalian nikmat- Ku.” (al-Maidah: 3)

Ayat ini turun pada 9 Dzulhijjah, dalam rentetan amalan haji wada’. Ayat ini turun saat beliau wukuf di Arafah, sebagaimana termaktub di dalam kitabkitab Shahih dan Sunan. Seluruh ahli tafsir dan ulama hadits selain mereka pun menyatakan demikian. Sementara itu, peristiwa Ghadir Khum terjadi setelah beliau kembali ke Madinah pada 18 Dzulhijjah, sembilan hari setelah haji wada’. Bagaimana bisa dikatakan bahwa ayat al-Maidah: 67 turun pada waktu itu? Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa ayat di atas turun sebelum itu. Ayat di atas termasuk ayat-ayat pertama kali turun di kota Madinah, walaupun terdapat dalam surat al-Maidah. Di samping itu, kaum Syiah juga menambahkan riwayat pada peristiwa Ghadir Khum,

هَذَا أَخِي وَوَصِيِّي وَخَلِيفَتِي فِيكُمْ فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا-يَعْنِي عَلِيًّ

“Ini adalah saudaraku, wasiatku, dan penggantiku di tengah-tengah kalian. Karena itu, dengarlah dan taatlah kepadanya, yaitu Ali.” Dengan demikian, jelaslah kepalsuan hadits ini sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama Sunnah. Lihat keterangan lebih lanjut pada Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah no. 4932.

Wilayah Imamah Ala Syiah, Angan- Angan Belaka

Dengan keterangan ini, jelaslah bahwa apa pun yang mereka serukan, akui, serta yakini, semuanya hanyalah kamuflase kesesatan. Tujuannya adalah menggiring umat kepada ideologi Abdullah bin Saba’, sebuah ajaran untuk memerangi orang-orang Islam secara umum dan Ahlus Sunnah secara khusus. Semoga Allah Subhanahu wata’ala menyelamatkan kaum muslimin dari kesesatan mereka. Amin.

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah

Taqiyah=Dusta

Makna Taqiyah

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata, “Taqiyah menurut mereka (Syiah) adalah menampakkan sesuatu dengan menyelisihi yang mereka sembunyikan atau menyatakan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan.” (asy-Syiah was- Sunnah, hlm. 100)

Taqiyah adalah perlindungan dengan maksud seseorang melindungi keselamatan  dan kehormatan diri dan harta dari bahaya musuh dengan menyembunyikan sesuatu serta melahirkan apa yang berlainan dengan hakikat (yang benar) yang tersembunyi di dalam hati. Dengan kata lain, taqiyah ialah tindakan berpura-pura atau hipokrit karena terpaksa. (Wikipedia)

Taqiyah dan Keyakinan Syiah

Muhammad bin Ali bin Husain bin Babawaih al-Qumi (salah seorang ahli hadits Syiah) berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban. Barang siapa meninggalkannya, kedudukannya seperti orang yang meninggalkan shalat.” Dia juga berkata, “Taqiyah adalah suatu kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan sampai keluar penegak keadilan (Imam Mahdi versi mereka). Barang siapa meninggalkannya sebelum penegak keadilan tersebut keluar, berarti dia keluar dari agama Allah Subhanahu wata’ala dan dari ajaran Imamiyah serta menyelisihi Allah Subhanahu wata’ala, Rasul-Nya, dan imam-imam (mereka). (al-I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1374 H)

Muhibbuddin al-Khathib rahimahullah berkata, “Sebab utama yang menghalangi terjadinya tanya jawab yang jujur dan ikhlas di antara kita dan mereka (Syiah) adalah taqiyah. Sebab, taqiyah adalah keyakinan agama yang menghalalkan mereka untuk menampakkan kepada kita segala sesuatu yang menyelisihi apa yang mereka sembunyikan di dalam hati. Karena itu, ada sebagian kita (Ahlus Sunnah) yang pada dasarnya hatinya selamat (baik) bisa tertipu oleh zahir yang mereka tampakkan karena ambisi mereka supaya dipahami dan dimengerti. Padahal mereka sendiri tidak ingin dan tidak ridha melakukannya. (al-Khuthuth al-‘Aridhah, hlm. 8—9)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir berkata (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 100), “Taqiyah adalah ajaran dan keyakinan mereka. Hakikatnya adalah menyembunyikan kebenaran dan menampakkan kebatilan. Sampai-sampai mereka membuat hadits palsu untuk melegalkannya. Mereka meriwayatkan dari Sulaiman bin Khalid, ia berkata, “Abu Abdillah (Jafar bin al-Baqir yang mereka gelari dengan ash-Shadiq), mengatakan, “Wahai Salman, sesungguhnya engkau berada di atas suatu ajaran agama yang barang siapa menyembunyikannya, niscaya Allah akan memuliakannya; dan barang siapa menampakkannya niscaya Allah akan menghinakannya’.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 222 terbitan Iran)

Selanjutnya asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan, “Setelah penjelasan ini, apakah mungkin seseorang memercayai dan membenarkan ucapan mereka, berjalan bersama dan membuat kesepakatan dengan mereka?” Sungguh benar pengakuan seorang ulama Syiah, “Sesungguhnya, mazhab Imamiyah dan mazhab Ahlus Sunnah ibarat dua mata air yang mengalir berlawanan arah. Sampai hari kiamat, dua mata air tersebut demikianlah berjauhan sehingga tidak mungkin bertemu selamalamanya.” (Mishbahu azh-Zhulam, hlm. 41—42)

Mengapa dan Sampai Kapan Bertaqiyah?

Syiah melakukan taqiyah untuk menjaga jiwa, harta, dan yang lainnya. Mereka menukil dari ‘Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, “Taqiyah termasuk amalan-amalan yang paling mulia. Dengan taqiyah, seseorang menjaga diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 163)

Al-Kulaini meriwayatkan dari Zurarah, dari Abu Jafar, dia berkata, “Taqiyah (dilakukan) pada kondisi darurat.Pelakunya lebih paham, kapan harus melakukannya.” (al-Kafi fi al-Ushul, bab at-Taqiyah) Dalam riwayat lain, Abu Jafar berkata, “Ada tiga perkara yang aku tidak akan bertaqiyah terhadapa seorang pun: minum arak (khamr), mengusap bagian atas kedua khuf, dan haji tamattu’.

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir (seorang ulama Sunni) berkomentar, “Yang benar adalah mereka berkeyakinan bahwa taqiyah itu wajib dalam seluruh perkara apakah untuk menjaga (melindungi) jiwa atau yang lainnya. Mereka membiasakan dusta, kemudian melegalisasikannya dan menyebutnya dengan nama yang lain (baca: taqiyah). Setelah itu, mereka membuat hadits-hadits palsu yang menunjukkan keutamaannya.” (asy-Syiah wa as-Sunnah, hlm. 117)

Mereka melakukan taqiyah ini sampai mati atau keluarnya imam Mahdi versi mereka. Ali bin Musa bin Jafar (imam ke-8 versi Syiah) berkata, “Tidak ada agama bagi orang yang memiliki sikap wara’ dan tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah karena yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah Subhanahu wata’ala adalah yang paling bertakwa (baca: bertaqiyah).” Lalu dia ditanya sampai kapan? Dia menjawab, “Sampai waktu yang sudah ditentukan, yaitu hari keluarnya (Imam Mahdi) yang menegakkan keadilan. Barang siapa yang meninggalkan taqiyah sebelum keluarnya Imam Mahdi, berarti dia bukan golongan kita.” (Kasyful Ghummah [sebuah buku Syiah], hlm. 241)

Dusta, Ajaran Agama Syiah

Dalam rangka melegalisasikan ajaranajarannya yang sesat dan menyesatkan, Syiah menghalalkan dusta demi agama (baca: agama Syiah) Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir menjelaskan di dalam kitabnya, asy- Syiah was-Sunnah (hlm. 100), “Tidaklah terucap kata-kata Syiah kecuali akan tergambarkan kedustaan senantiasa bersamanya, seakan-akan dua kata yang sinonim (semakna) yang tidak ada perbedaannya. Dua perkara tersebut saling menuntut dari sejak awal munculnya mazhab ini (baca: agama ini). Syiah sejak awal munculnya berasal dari kedustaan dan diiringi dengan kedustaan pula.” Tatkala Syiah adalah induknya kedustaan, maka mereka memberi label kedustaan tersebut dengan bungkus pengultusan dan pengagungan yang mereka menamainya (at-Taqiyah) yaitu nama yang bukan aslinya. Mereka menginginkan dengan taqiyah supaya bisa menampakkan segala sesuatu yang menyelisihi dengan apa yang mereka sembunyikan dan menyatakan (segala sesuatu) yang berlawanan dengan apa yang mereka rahasiakan, sampai-sampai mereka berlebih-lebihan dengan taqiyah ini sehingga mereka menjadikannya sebagai keyakinan agama mereka dan salah satu prinsip dari prinsip-prinsip ajaran agama mereka. Lalu mereka menisbatkan prinsip ini kepada salah seorang imam mereka yang ma’shum menurut mereka yaitu Abu Jafar bin Yaqub al-Kulaini, “At-Taqiyah itu termasuk agamaku (keyakinanku) dan keyakinannya bapak-bapakku. Tidak ada iman bagi orang yang tidak bertaqiyah.” (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 terbitan Iran)

Macam-Macam Kedustaan Syiah

1. Dusta atas Nama Allah Subhanahu wata’ala Rabb kita Subhanahu wata’ala mengharamkan kedustaan atas nama-Nya di dalam firman-Nya,

ۚ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِّيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (al-An’am: 144)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

إِنَّمَا يَأْمُرُكُم بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَن تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (al- Baqarah: 169)

Namun dengan larangan Allah Subhanahu wata’ala itu yang sangat keras, mereka orangorang Syiah berarti mengada-ngadakan kedustaan atas nama Rabb kita Subhanahu wata’ala dalam rangka membenarkan prinsip taqiyah yang jahat dengan tujuan menyesatkan hamba-hamba-Nya. Mereka menukilkan ucapan Abu Abdillah al-Baqir, imam ke-6 versi Syiah, yang mereka gelari ash-Shadiq, Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan? Sesungguhnya Allah  tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. tatkala ditanya tentang firman Allah Subhanahu wata’ala,

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.” (al-Hujurat: 13)

Lalu dia menjawab, “Yang beramal dengan taqiyah di antara kalian.” (al- I’tiqad, pasal at-Taqiyah terbitan Iran tahun 1347 H) Demikian juga “Imam Bukhari” mereka yang bernama Muhammad bin Yaqub al-Kulaini meriwayatkan di dalam Shahih-nya (al-Kafi fi al-Ushul, hlm. 217 yang diterbitkan di Iran) dari Abi Bashir, dari Abu Abdillah berkata, “Taqiyah itu bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.” Maka aku (Abu Bashir) bertanya, “Termasuk dari agama Allah Subhanahu wata’ala?” Lalu dia menjawab, “Ya, demi Allah, termasuk bagian dari agama Allah Subhanahu wata’ala.”

2. Dusta atas Nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengancam umatnya yang berani berdusta atas namanya dengan sabdanya,

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

“Barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “Golongan manusia yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah. Sebab, tidak ditemukan kelompok-kelompok ahli bid’ah yang lebih sering berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam daripada mereka. Hal ini ditegaskan oleh para ulama ahli hadits tatkala membahas tentang hadits palsu. Merekaberkata, ‘Sesungguhnya yang paling banyak berdusta atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah Syiah Rafidhah.’ Ini adalah realitas yang dapat diketahui oleh orang yang meneliti kitab-kitab mereka.” (Syarah Riyadhus Shalihin, 4/70)

Adapun bukti kedustaan mereka terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai berikut. Mereka menukil dari Abu Abdillah, dia berkata bahwa ketika Abdullah bin Ubai bin Salul (pemimpin munafikin)meninggal, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadiri jenazahnya. Umar berkata kepada Rasulullah, “Bukankah Allah Subhanahu wata’ala telah melarangmu dari menyalatinya?” Beliau diam. Umar bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, bukankah Allah telah melarangmu dari menshalatinya?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata kepadanya, “Celaka kamu! Apa yang kamu ketahui tentang apa yang aku ucapkan (pada doaku)? Sesungguhnya aku telah berdoa, ‘Ya Allah, penuhilah rongga perutnya dengan api neraka dan masukkanlah dia ke dalam neraka’.” Abu Abdillah berkomentar, “Dia (Umar) mendapat kejelasan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang masalah (yang mulanya) dia membencinya.” (al-Kafi fi al-Furu’, Kitab al-Janaiz hlm. 188 terbitan Iran)

Asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir mengomentarinya, “Inilah akidah Syiah dalam masalah taqiyah. Menurut mereka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memerdaya para sahabat, wal-iyadzubillah. Beliau tampakkan seolah-olah memohon ampun kepada Allah Subhanahu wata’ala untuk si munafik padahal Allah Subhanahu wata’ala telah melarangnya. Demikian pula, beliau tampakkan bahwa beliau menyelisihi perintah dan larangan Allah Subhanahu wata’ala dengan melakukan sebuah amalan yang tidak dilakukan oleh para sahabat  sesuai dengan apa yang mereka lihat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri. Sebab, mereka tidak mengetahui apakah  Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakan kebaikan ataukejelekan bagi si munafik. Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam menampilkan diri sebagai hamba yang belas kasih terhadapnya, padahal yang beliau rahasiakan adalah menyelisihi yang beliau tampakkan. Jadi, lahiriah beliau menyelisihi batinnya (berdasarkan riwayat mereka).”

Beliau berkata pula, “Anda boleh bertanya kepada mereka, apa yang menyebabkan beliau takut sehingga memaksa beliau menyalatkan jenazah Abdullah bin Ubai bin Salul si munafik, padahal waktu itu Islam dalam posisi yang sangat kuat. Demikian pula, tidaklah si munafik ini menyembunyikan kekafirannya kecuali karena takut terhadap Islam dan kekuatan Islam serta ambisi mendapatkan keuntungan pribadi dari Islam. Syiah tidaklah mengada-adakan kedustaan ini kecuali untuk melegalkan akidah mereka yang najis ini, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan taqiyah atau dusta sebagaimana halnya yang dilakukan oleh imam-imam mereka. Inilah taqiyah menurut Syiah. Taqiyah yang mereka nyatakan, Tidak dilakukan kecuali dengan menyembunyikan suatu perkara untuk menyelamatkan jiwa dan menjaga diri dari kejahatan.Adakah seorang muslim yang bimbang bahwa ini adalah kemunafikan dan kedustaan?” (asy-Syiah wa as- Sunnah, hlm. 106—107)

Ash-Shadiq meriwayatkan dari Jabir, aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang berkata bahwa Abu Thalib mati dalam keadaan kafir.” Beliau menjawab, “Wahai Jabir, Rabbmu lebih mengetahui yang gaib. Tatkala aku isra mi’raj ke langit dan sampai di Arsy, aku melihat empat cahaya. Dikatakan kepadaku, ‘Ini Abdul Muthalib, ini pamanmu Abu Thalib, ini bapakmu Abdullah, dan ini anak laki-laki pamanmu, Ja’far bin Abu Thalib.’ Aku bertanya, ‘Sembahanku, mengapa mereka bisa mendapatkan kedudukan yang mulia ini?’ Dia menjawab, ‘Mereka menyembunyikan keimanan dan menampakkan kekafiran, sampai mereka mati dalam keadaan seperti itu’.” (Jami’ al-Akhbar, hlm. 140)

Mereka membuat kedustaan atas nama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Permisalan seorang muslim yang tidak bertaqiyah seperti tubuh yang tidak berkepala.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 162)

Taqiyah dan Tauriyah

Taqiyah berbeda dengan tauriyah. Tauriyah, menurut an-Nawawi radhiyallahu ‘anhu dalam Riyadhus Shalihin, adalah memaksudkan perkataannya dengan maksud yang benar, bukan maksud dusta kalau dilihat niatnya; walaupun perkataan itu kalau dilihat zahirnya adalah dusta kalau dilihat dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara’. (Sebagai contoh) apabila seorang muslim bersembunyi dari orang zalim yang ingin membunuhnya atau mengambil hartanya dan dia menyembunyikan harta itu. Jika seorang ditanya tentang orang muslim itu, wajib dia berdusta dengan cara menyembunyikannya. Demikian pula apabila dirinya dititipi sebuah barang yang ingin dirampas oleh orang zalim, ia harus berdusta dengan menyembunyikan titipan itu. Yang lebih hati-hati dalam hal ini semuanya adalah melakukan tauriyah. (Riyadhus Shalihin, bab “Bayanu ma Yajuzu minal Kadzib”)

Dusta Atas Nama Ahlul Bait

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang tanda-tanda orang munafik yang salah satu tandanya adalah,

إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ

“Apabila berbicara, dia berdusta.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abdullan bin Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhu)

Syiah menukilkan bahwa Ali bin Abi Thalib z berkata, “Taqiyah termasuk amalan seorang mukmin yang paling mulia. Dengan taqiyah itu dia menjaga/ melindungi diri dan saudara-saudaranya dari orang-orang yang jahat.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Husain bin Ali berkata, “Kalau tidak ada taqiyah, tidak bisa dibedakan antara wali/saudara kita dengan musuh kita.” (Tafsir al-Askari, hlm. 162)

Ali bin Husain bin Ali berkata, “Allah Subhanahu wata’ala akan mengampuni dosa-dosa orang yang beriman dan akan menyucikannya dari dosa di dunia dan di akhirat, kecuali dua macam dosa, yaitu meninggalkan taqiyah dan meninggalkan hak-hak saudara.” (Tafsir al-‘Askari, hlm. 164)

Semua ini adalah nukilan dusta dari ahlul bait, padahal mereka lebih suci dari mengatakan hal tersebut.

Islam Mengajarkan Kejujuran dan Melarang Dusta

Agama Islam membawa syariat yang mulia dan sempurna. Ia senantiasa memerintah para hamba-Nya untuk berlaku jujur dan menjauhi dusta. Sebagian bukti yang menunjukkannya adalah Allah Subhanahu wata’ala memerintah hamba-hamba-Nya agar berjalan bersama dengan orang-orang jujur setelah perintah untuk bertakwa,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (at-Taubah: 119)

Orang-orang yang jujur adalah salah satu golongan yang Allah Subhanahu wata’ala janjikan bagi mereka ampunan dan pahala yang agung,

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (al- Ahzab: 35)

Demikianlah karena kejujuran akan mendatangkan ketenangan, keselamatan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Abu Muhammad al-Hasan bin Ali bin Abu Thalib berkata,

دَعْ مَا يَرِيْبُكَ إِلَى مَا :n حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ لاَ يَرِيبُكَ، فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ وَالْكَذِبَ رَيْبَةٌ

“Aku hafal dari Rasulullah, ‘Tinggalkanlah segala sesuatu yang membingungkanmu kepada yang tidak membingungkanmu, karena kejujuran itu menimbulkan ketenangan, sedangkan dusta menimbulkan kegundahan/ ketidaktenangan’.” (HR. at-Tirmidzi dan beliau menyatakan, “Ini hadits yang sahih)

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya), “Sesungguhnya kejujuran itu akan menuntun kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan menuntun untuk masukke dalam jannah. Sungguh seseorang berbuat jujur sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai orang yang sangat jujur. Sesungguhnya kedustaan itu akan menyeret pelakunya ke dalam kejahatan dan kejahatan akan menyeret pelaku ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang berbuat dusta sehingga ditetapkan di sisi Allah Subhanahu wata’ala sebagai pendusta.”

Adapun dusta adalah ciri khas orang-orang munafik sebagaimana yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wata’ala dalam firman-Nya,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orangorang munafik itu benar-benar orang pendusta. (al-Munafiqun: 1)

Ciri khas mereka yang lain adalah nifaq (kemunafikan), yaitu menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan.

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَىٰ شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Dan bila mereka kembali kepada setansetan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian denganmu, kami hanyalah berolokolok.” (al-Baqarah: 14)

Demikian pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خَصْلُةٌ مِنْهُنَّ فِيْهِ خَصْلَةٌ مِنْ نِفَاقٍ حَتَّى يَدَعَهَا: إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ

“Ada empat hal; barang siapa yang ada pada dirinya empat hal itu, berarti dia adalah orang yang munafik; dan barang siapa yang ada pada dirinya salah satu darinya, berarti ada pada dirinya perangai nifaq sehingga dia meninggalkannya. (Empat perkara tersebut adalah) apabila dia dipercaya dia khianat, apabila dia berbicara dia berdusta, apabila berjanji dia mengingkarinya, dan apabila dia berbantah-bantahan maka dia curang.” (Muttafaqun alaih)

Pembahasan ini kita akhiri dengan sebuah pertanyaan, “Apakah mungkin mempertemukan dan menyatukan antara Islam dengan Syiah atau antara Sunnah dengan Syiah?” Pertanyaan tersebut dijawab oleh seorang alim yang sangat paham dengan kesesatan dan kebobrokan Syiah, yaitu asy-Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir. Beliau katakan, “Bagaimana mungkin menyatukan orang yang jujur dengan pendusta? Perbuatan dustanya bukan karena keadaan darurat yang mengharuskan dusta, melainkan keyakinan bahwa dusta adalah kewajiban. Terlebih lagi dusta itu diyakini sebagai amalan ibadah yang agung yang dapat mendekatkan diri mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Al-Faruq ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (3)

Bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Dalam edisi yang lalu telah diceritakan sebagian sikap tegas ‘Umar terhadap orang-orang yang kafir. Begitu dalam rasa bencinya terhadap kekafiran dan segala bentuknya berikut para pengusungnya, sampaisampai beliau siap menebas leher sebagian kerabatnya sendiri yang masih kafir. Dalam edisi ini akan kami lanjutkan dengan beberapa kejadian yang menunjukkan kedudukan ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Semua itu didasari atas keilmuan dan ketakwaannya serta kejujuran iman dan persahabatannya dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Permulaan Azan

Mulailah kehidupan baru masyarakat muslim dengan hijrahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Madinah. Hal pertama yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah membangun masjid yang tidak hanya sebagai tempat untuk mengagungkan Allah Subhanahu wata’ala, tetapi juga sebagai markas pembinaan dan pendidikan masyarakat saat itu. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar, seperti saudara sekandung, saling menyayangi, saling menolong, bahkan saling mewarisi.

Setelah Masjid Nabawi berdiri, setiap waktu shalat tiba, kaum muslimin berkumpul untuk shalat bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Belum ada tanda khusus untuk mengingatkan mereka agar segera mendatangi masjid. Beberapa sahabat berbincang-bincang membahas masalah ini. Akhirnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajak mereka bermusyawarah apa yang harus mereka lakukan untuk mengingatkan kaum muslimin bahwa waktu shalat sudah tiba.

Di antara sahabat, ada yang mengemukakan pendapat agar menancapkan bendera di puncak masjid setiap waktu shalat tiba, agar apabila bendera itu terlihat, sebagian akan memanggil yang lain untuk segera ke masjid. Akan tetapi, pendapat ini tidak mengagumkan beliau n. Yang lain berpendapat agar menyalakan api setiap waktu shalattiba. Yang lain menyarankan agar menggunakan lonceng seperti perbuatan orang-orang Nasrani, dan yang lain mengusulkan agar menggunakan terompet seperti orang-orang Yahudi. Semua saran tersebut tidak disetujui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam karena menyerupai kebiasaan khusus orang-orang kafir.

Kata ‘Abdullah bin Zaid al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, “Malam itu saya bermimpi melihat seseorang berpakaian hijau membawa genta, saya pun berkata kepadanya, ‘Hai hamba Allah, juallah genta itu kepadaku.’ Orang itu bertanya, ‘Mau kamu gunakan untuk apa?’ Saya berkata, ‘Agar kami bisa memanggil orang banyak untuk shalat.’ Dia pun berkata, ‘Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik daripada itu?’ ‘Tentu,’ kata saya, kemudian dia mengajarkan beberapa kalimat azan yang dikenal sekarang ini. Setelah itu dia mundur tidak begitu jauh dan berkata, ‘Kalau hendak iqamat ucapkanlah Allahu Akbar, (dan seterusnya)’.”

“Begitu terjaga dari tidur, aku segera menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakannya kepada beliau. Beliau pun berkata, ‘Sungguh, itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Ajarkanlah kepada Bilal karena suaranya lebih nyaring daripada kamu’.” Kami pun menuju masjid dan saya mengajarkannya kepada Bilal.

Sementara itu, ‘Umar yang masih di rumahnya tersentak mendengarnazan tersebut. Dengan bergegas sambil menyeret kainnya, dia menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Demi yang mengutus Anda membawa yang haq, wahai Rasulullah. Aku bermimpi seperti yang dilihatnya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam semakin senang dengan keterangan itu dan berkata, “Alhamdulillah.”

Sejak itu , suara Bilal mengumandangkan azan menggema memenuhi angkasa Madinah, lima kali sehari semalam. Bilal tetap sebagai muazin Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sampai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam wafat. Adapun kalimat yang tertera dalam azan tersebut masih terus berkumandang hingga saat ini.

Kejujuran, Kekuatan Imannya

Adalah ‘Umar termasuk sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang dekat dan dipersaksikan oleh beliau mempunyai berbagai keutamaan dan kemuliaan. Di antara bukti kejujuran dan keimanannya ialah ucapannya ketika menyentuh dan mencium Hajar Aswad, “Demi Allah, aku benar-benar mengetahui bahwa kamu hanya sebuah batu yang tidak bisa memberi manfaat dan mudarat. Seandainya aku tidak pernah melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.”

Perkataan ini menegaskan sikap bara’-nya (berlepas diri dan benci serta menjauh) dari meminta berkah kepada sebuah batu, sekaligus menampakkan ketaatannya kepada perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Umar juga berada pada barisan depan bersama sahabat-sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang banyak melakukan ketaatan. Beliau banyak berpuasa, berdoa, bersedekah, dan shalat malam yang merupakan sebagian sifat orang-orang yang didekatkan kepada Allah Subhanahu wata’ala.

Suatu ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, “Kapan engkau mengerjakan witir?” “Saya shalat witir di awal malam,” kata Abu Bakr. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada ‘Umar, “Kapan engkau mengerjakan witir?” “Saya tidur kemudian witir di akhir malam,” jawab ‘Umar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata tentang Abu Bakr, “Dia berpegang dengan hazm (kehati-hatian).”

Adapun tentang ‘Umar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Adapun dia ini, berpegang dengan kekuatan,” karena yakin akan terbangun malam hari menunjukkan kekuatan. Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermimpi, kata beliau,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ إِذْ رَأَيْتُ قَدَحًا أُتِيتُ بِهِ فِيهِ لَبَنٌ فَشَرِبْتُ مِنْهُ حَتَّى إِنِّى لأَرَى الرِّىَّ يَجْرِى فِى أَظْفَارِى ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِى عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالُوا : فَمَا أَوَّلْتَ يَا رَسُولَ ا ؟َّهللِ قَالَ: الْعِلْمَ

“Ketika saya sedang tidur, saya melihat sebuah tempat minum diberikan kepada saya, di dalamnya ada susu. Kemudian saya meminumnya sampai saya melihat alirannya mengalir sampai di kuku-kuku saya, lalu saya memberikan sisanya kepada ‘Umar bin al-Khaththab.” Kata para sahabat, “Apa yang Anda takwilkan, ya Rasulullah?” “Ilmu,” kata beliau.

Al-Hafizh rahimahullah menyebutkan bahwa ilmu yang dimaksud adalah ilmu tentang mengatur manusia berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah. Diistimewakannya ‘Umar dengan keadaan ini karena lamanya masa pemerintahannya dibandingkan dengan Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu serta kesepakatan kaum muslimin untuk menaatinya.

Bahkan, dalam kesempatan lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Allah Subhanahu wata’ala meletakkan al-haq itu di lisan ‘Umar.” Oleh sebab itu, adalah perkara yang sangat jauh kalau yang benar itu ada pada mereka yang menyelisihi perkataan ‘Umar dalam berfatwa, memutuskan hukum, padahal tidak ada satu sahabat pun yang menggugatnya. Pernah pula Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan mimpinya,

بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ رَأَيْتُنِي فِي الْجَنَّةِ فَإِذَا امْرَأَةٌ تَتَوَضَّأُ إِلَى جَانِبِ قَصْرٍ فَقُلْتُ لِمَنْ هَذَا الْقَصْرُ فَقَالُوا لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَذَكَرْتُ غَيْرَتَهُ فَوَلَّيْتُ مُدْبِرًا فَبَكَى عُمَرُ وَقَالَ أَعَلَيْكَ أَغَارُ يَا رَسُولَ اَّهللِ

“Ketika saya bermimpi, saya melihat seakan-akan di dalam surga. Tiba-tiba ada seorang wanita sedang berwudhu disamping sebuah istana. Saya bertanya, ‘Milik siapa istana ini?’ Kata mereka, ‘Milik ‘Umar bin al-Khaththab.’ Saya teringat kecemburuannya, maka saya berbalik ke belakang.”

Kata rawi, “‘Umar pun menangis sambil berkata, ‘Apakah terhadap engkau saya cemburu, wahai Rasulullah?’.” Inilah berita gembira buat ‘Umar, berupa istana miliknya yang sudah ada di surga, dan mimpi para nabi adalah wahyu.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,“Seandainya ada nabi sepeninggalku, maka itu adalah ‘Umar.”

Antara ‘Umar dan Wahyu

Semangatnya beramal dengan didasari keikhlasan dan kejujuran dalam mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta mencintai semua yang dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala, membenci apa saja yang dibenci oleh Allah Subhanahu wata’ala menempatkannya sebagai sahabat yang dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Cintanya yang jujur kepada Islam dan kaum muslimin mendorongnya sering memberikan masukan penting kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk kepentingan Islam dan kaum muslimin.

Bahkan banyak persoalan yang beliau sampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam disetujui pula oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan menurunkan wahyu menguatkannya. Inilah beberapa hal yang mengusik pikiran ‘Umar kemudian menyampaikannya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan Allah Subhanahu wata’ala pun menurunkan wahyu menyetujuinya.

a. Tentang tawanan Perang Badrdan rampasan perangnya. Peristiwa ini telah diceritakan dalam edisi lalu. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lebih memilih saran Abu Bakr ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang juga terdorong kasih sayang beliau yang besar kepada sesama, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan firman-Nya,

مَا كَانَ لِنَبِيٍّ أَن يَكُونَ لَهُ أَسْرَىٰ حَتَّىٰ يُثْخِنَ فِي الْأَرْضِ ۚ تُرِيدُونَ عَرَضَ الدُّنْيَا وَاللَّهُ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ () لَّوْلَا كِتَابٌ مِّنَ اللَّهِ سَبَقَ لَمَسَّكُمْ فِيمَا أَخَذْتُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ () فَكُلُوا مِمَّا غَنِمْتُمْ حَلَالًا طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Tidak patut, bagi seorang nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kamu ambil. Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kamu ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik, dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Anfal: 67—69)

Kisah sebab turunnya ayat ini dinyatakan sahih oleh guru kami asy- Syaikh Muqbil bin Hadi dalam Shahihul Musnad min Asbabin Nuzul.

b. Menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. Suatu ketika, ‘Umar pernah berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Wahai Rasulullah seandainya Anda menjadikan Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat,” maka turunlah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

“Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat.” (al-Baqarah: 125)

c. Turunnya ayat hijab dan kecemburuan beliau terhadap istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. ‘Umar pernah pula menyarankan, “Wahai Rasulullah, seandainya Anda memerintahkan para istri Anda berhijab, karena yang berbicara dengan mereka itu, ada yang baik, ada pula yang jahat.”

Kemudian turunlah ayat hijab. Demikian pula ketika para istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menampakkan kecemburuan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau merasa susah, ‘Umar berkata kepada mereka, “Boleh jadi, kalau beliau menceraikan kalian, pasti Allah Subhanahu wata’ala akan memberinya ganti yang lebih baik daripada kalian,”

maka turunlah ayat 5 surat at-Tahrim.5 Itulah beberapa kejadian di mana wahyu turun menguatkan pendapat ‘Umar. Tentunya ini—setelah taufik dari Allah Subhanahu wata’ala—didorong oleh keimanan dan keikhlasan serta kejujurannya dalam mencintai Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya.

Buah Keikhlasan

Dalam sebagian riwayat, dari ibunda orang-orang yang beriman, ash-Shiddiqah (wanita yang banyak membenarkan) putri ash-Shiddiq, Habibatu (Kekasih) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau bercerita, “Pernah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk-duduk (bersama kami), tiba tiba kami mendengar suara riuh dan suara anak-anak, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri. Ternyata orang-orang Habasyah sedang bersilat ditonton oleh anak-anak di sekeliling mereka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Hai ‘Aisyah, kemarilah dan lihatlah!’ Aku pun mendekat dan meletakkan dagu di pundak Rasulullah n lalu mulai menonton dari dekat kepala beliau.

Kemudian beliau berkata kepadaku, ‘Apakah engkau sudah puas? Apakah engkau sudah puas?’ Aku pun berkata, ‘Belum, karena ingin mengetahui kedudukanku di sisi beliau.’ Tiba-tiba ‘Umar muncul. Orangorang yang ada di situ bubar. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنِّي نَألَْظُرُ إِلَى شَيَاطِينِ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ قَدْ فَرُّوا مِنْ عُمَرَ. قَالَتْ: فَرَجَعْتُ

‘Sungguh, aku benar-benar melihat setan dari kalangan jin dan manusia lari dari ‘Umar.’

Aku pun pulang.”

Di dalam Shahih al-Bukhari, dari Sa’d bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu, dia mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berkata kepada ‘Umar,

“Demi yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah setan menjumpaimu ketika menempuh satu jalan, kecuali pasti mengambil jalan lain yang tidak engkau lalui.”

Pernyataan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits ini bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebab, apabila hati itu bersih dari semua yang disenangi oleh setan, tentu akan terisi dengan keagungan sifat-sifat ilahiyah, sehingga tidak mungkin unsurunsur syaitani mampu menghadapi apalagi mengalahkannya, yang akhirnya siapa pun yang melihatnya akan merasa takut dan segan. Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, pernah mengatakan, “Tongkat kecil di tangan ‘Umar lebih menakutkan manusia daripada pedang di tangan orang selain beliau. Jika mereka ingin menyampaikan sesuatu kepadanya, mereka menemui putrinya, Hafshah, karena segan kepada beliau.”

Hal ini menegaskan keteguhan ‘Umar di dalam beragama, dan selalu dalam keadaan konsisten, hingga di hadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Umar diumpamakan seperti pedang tajam, yang jika diayunkan dia akan membelah apa yang dikenainya, dan jika tidak, dia akan diam. Namun disayangkan, setan dari kalangan manusia, yaitu orang-orang yang beragama Syiah, tidak henti-henti menghujat dan mencaci bahkan melaknat beliau. Itu semua karena watak mereka yang pengecut, selama hidup beliau, mereka tidak mampu berhadap-hadapan, padahal mereka tidak akan memperoleh apa-apa selain kebinasaan. Wallahu a’lam. (insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Hukum Membaca al-fatihah bagi makmum

Apa hukum membaca al-Fatihah dan bagaimana dengan makmum?

Secara global membaca al-Fatihah hukumnya wajib pada setiap rakaat sebagai rukun yang menentukan sahnya shalat. Ini mazhab jumhur ulama. Dalilnya adalah:

1. Hadits ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ.

“Tidak sah shalat orang yang tidak membaca al-Fatihah.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini diriwayatkan pula oleh ad-Daraquthni dengan lafadz,

لاَ تُجْزِئُ صَلاَةٌ لاَ يَقْرَأُ الرَّجُلُ فِيهَا بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Tidak sah shalat yang pelakunya tidak membaca al-Fatihah padanya.” Kata ad-Daraquthni, “Ini adalah sanad yang sahih.” Al-Albani juga menyatakannya sahih.

2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ صَلَّى صَ ةَالً لَمْ يَقْرَأْ فِيهَا بِأُمِّ الْقُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ-ثَ ثَالًا-غَيْرُ تَمَامٍ. فَقِيلَ بِألَِي هُرَيْرَة:َ إِنَّا نَكُونُ وَرَاءَ الْإِمَامِ ؟ فَقَالَ: اقْرَأْ بِهَا فِي نَفْسِكَ

“Barang siapa melaksanakan shalat tanpa membaca ummul Qur’an, shalatnya bataltiga kali, tidak sempurna.”

Lantas dikatakan kepada Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya kami biasa shalat di belakang imam (apa yang kami lakukan)?”

Kata Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, “Bacalah ummul Qur’an pada dirimu sendiri (secara berbisik).” (HR. Muslim)

Adapun dalil bahwa hal itu wajib sebagai rukun pada setiap rakaat shalat adalah,

1. Amalan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang secara kontinu membaca al-Fatihah pada seluruh rakaat shalatnya tanpa pernah meninggalkannya sama sekali, bersama sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي.

“Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. al-Bukhari dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu ‘anhu)

2. Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu di atas tentang lelaki yang tidak tahu shalat yang benar lantas Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarinya tata cara shalat yang benar termasuk membaca surat (al-Fatihah) dan bersabda kepadanya,

ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا.

“Kemudian kerjakanlah hal itu semuanya pada seluruh rakaat shalatmu.” (Muttafaq ‘alaih)

Secara detail, jumhur ulama berpendapat membaca al-Fatihah wajib sebagai rukun shalat bagi orang yang shalat sendiri dan imam. Adapun bagi makmum, mereka berselisih pendapat. Yang terbaik dari seluruh mazhab yang ada adalah:

1. Disyariatkan bagi makmum membaca al-Fatihah pada saat imam membaca secara sirr; shalat sirriyyah secara mutlak dan shalat jahriyyah rakaat ketiga dan keempat. Begitu pula pada shalat jahriyyah rakaat pertama dan kedua jika makmum tidak bisa menyimak bacaan imam karena jauh dan jika imam sengaja diam untuk memberi kesempatan makmum membacanya. Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di antara penganut mazhab ini apakah hal itu hukumnya hanya sunnah atau wajib.

a. Hal itu disunnahkan.

Ini yang masyhur dari Ahmad yang dipilih oleh al-Khiraqi dan Ibnu Qudamah. Pendapat ini berhujah bahwa bacaan imam telah mewakili bacaan makmum secara hukum berdasarkan hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ كَانَ لَهُ إِمَامٌ فَقِرَاءَتُهُ لَهُ قِرَاءَةٌ.

“Barang siapa diimami oleh seorang imam, bacaan imamnya adalah bacaan untuknya juga.” (HR. Ahmad, an- Nasa’i, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, dan al-Baihaqi. Dinyatakan hasan oleh al-Albani dengan penguat-penguatnya)

Namun, membaca al-Fatihah lebih baik baginya daripada diam saja, karena shalat itu terdiri dari gerakan dan bacaan. Adapun mengatakan makmum diam saja tanpa membaca padahal tidak pula ada bacaan imam yang disimak, hal itu nyata-nyata keliru.

b. Hal itu diwajibkan.

Ini pendapat lama asy-Syafi’i dan riwayat lain dari Ahmad yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah dan al-Albani. Pendapat ini berhujah bahwa bacaan imam hanyalah mewakili bacaan makmum secara hukum apabila makmum menyimak bacaan imamnya. Adapun tidak ada bacaan imam yang disimak karena imam membaca secara sirr atau imam menjaharkannya tetapi tidak tersimak dengan baik olehnya karena jauh, maka bacaan imam tidak dapat mewakilinya.

Dalilnya adalah hadits Jabir radhiyallahu ‘anhu di atas dengan asumsi bahwa bacaan imam mewakili bacaan makmum secara hukum jika makmum menyimak bacaan imamnya dengan baik. Hal ini sesuai dengan perintah Allah Subhanahu wata’ala pada firman-Nya,

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan apabila dibacakan al-Quran, dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kalian mendapat rahmat.” (al-A’raf: 204)

Al-Imam Ahmad—pada riwayat Abu Dawud—menukil ijma’ ulama bahwa maksud ayat ini adalah dalam shalat. Yakni, wajib bagi makmum diam untuk menyimak bacaan imamnya pada shalat jamaah. Adapun selain itu, tidak wajib. Diriwayatkan pula sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

وَإِذَا قَرَأَ فَأَنْصِتُوا.

“Dan jika imam membaca al-Qur’an, diamlah (untuk menyimaknya).”

Dengan demikian, ayat dan hadits ini menunjukkan bahwa seorang makmum pada shalat jahriyyah (rakaat pertama dan kedua) berkewajiban diam untuk menyimak bacaan imamnya secara umum baik itu al-Fatihah maupun surat setelahnya. Dengan itu makmum telah terwakili secara hukum. Lagi pula, apa gunanya imam membaca dengan jahar jika imam tidak menyimaknya melainkan sibuk dengan bacaannya sendiri?

Menurut pendapat ini, pada mulanya ada izin membaca di belakang imam kemudian hukum itu mansukh (dihapus) berdasarkan hadits Abu Hurairah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam usai melaksanakan satu shalat yang beliau jahrkan bacaannya kemudian beliau bersabda, ‘Apakah ada di antaara kalian yang membaca bersamaku tadi?’ Seorang laki-laki menjawab, ‘Ya, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Aku katakan, ‘Kenapa aku dibarengi (hingga terganggu) dalam membaca al-Qur’an?’ Ia berkata, ‘Akhirnya orang-orang berhenti membaca di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada shalat yang beliau jaharkan bacaannya ketika mereka telah mendengar larangan itu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam’.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lainnya. Dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi, dinyatakan sahih oleh Abu Hatim ar-Razi, Ibnu Hibban, Ibnul Qayyim, al-Albani, dan al-Wadi’i)

Tampak sekali bahwa pendapat ini lebih kuat daripada pendapat yang pertama.

2. Diwajibkan bagi makmum membaca al-Fatihah secara mutlak baik pada shalat sirriyyah maupun pada shalat jahriyyah.

Ini mazhab Syafi’i—sesuai pendapat asy-Syafi’i yang baru—, Ibnu Hazm, dan al-Bukhari yang dirajihkan asy- Syaukani, Ibnu Baz, Ibnu ‘Utsaimin, dan Muqbil al-Wadi’i.

Pendapat ini berdalil dengan keumuman makna hadits-hadits yang mewajibkan membaca al-Fatihah bahwa hal itu mencakup pula makmum pada setiap shalat termasuk shalat jahriyyah tanpa ada dalil kuat yang mengeluarkan makmum dari keumuman maknanya. Sebaiknya makmum membacanya saat imam diam sebelum membaca atau setelah membaca jika hal itu mungkin. Jika tidak, wajib membacanya meskipun pada saat imam membaca al-Fatihah dan surat setelahnya. Setelah membaca al-Fatihah, wajib diam untuk menyimak bacaan imamnya dan ini adalah ijma’ ulama.

Adapun pendapat bahwa bacaan imam yang disimak dengan baik oleh makmum telah mewakilinya berdasarkan hadits Jabir z, hal itu keliru. Sebab, hadits Jabir z telah dihukumi dha’if (lemah) oleh para imam ahli hadits terdahulu. Kata al-Bukhari dalam kitab “al- Qira’ah Khalfa al-Imam”, “Hadits ini tidak benar periwayatannya dari Nabi n menurut pakar ilmu hadits dari kalangan penduduk Hijaz, ‘Iraq, dan lainnya karena sanadnya mursal dan terputus dari riwayat Ibnu Syaddad dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Ad-Daraquthni dalam Sunan-nya dan al-Baihaqi dalam al-Qira’ah Khalfa al-Imam telah menyatakan hal yang sama. Kata Ibnu Hajar dalam Talkhish al- Habir (1/420, Muassasah Qurthubah), “Masyhur dari hadits Jabir, dan memiliki jalan-jalan riwayat yang lain dari sekelompok sahabat lainnya, tetapi semuanya memiliki cacat/kelemahan.” Guru besar kami, Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam Ijabatus Sa’il juga menghukuminya dha’if.

Seandainya sahih , harus dikompromikan dengan hadits-hadits yang mewajibkan al-Fatihah secara umum termasuk makmum, bahwa hal itu untuk bacaan setelah al-Fatihah. Buktinya, Nabi n telah melarang makmum membaca di belakang imam pada shalat jahriyyah kecuali al-Fatihah yang harus tetap dibaca, yaitu:

• Hadits seorang laki-laki sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَعَلَّكُمْ تَقْرَءُونَ وَالْإِمَامُ يَقْرَأُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَ ثَالًا؟ قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا لَنَفْعَلُ. قَالَ: فَ تَفْعَلُوا إِ أَنْ يَقْرَأَ أَحَدُكُمْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

“Barangkali kalian membaca dalam keadaan imam membacadua kali atau tiga kali?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, kami memang melakukannya.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika begitu, jangan kalian lakukan hal itu kecuali membaca al-Fatihah.” (HR. Ahmad, al-Bukhari dalam kitab al-Qira’ah, dan al-Baihaqi dalam kitab as-Sunan al- Kubra dari jalan Abu Qilabah dari pria sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Baihaqi menyatakan sanadnya jayyid/bagus serta dinyatakan sahih oleh al-Albani dan al-Wadi’i)

Terdapat jalan riwayat lain dari Abu Qilabah dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu yang semakna dengannya dan lafadz terakhirnya adalah:

فَلاَ تَفْعَلُوا، لِيَقْرَأْ أَحَدُكُمْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ فيِ نَفْسِهِ

“Jika begitu, jangan kalian lakukan hal itu, hendaknya salah seorang dari kalian membaca al-Fatihah pada dirinya

sendiri (berbisik).” (HR. Abu Ya’la dalam Musnad-nya dan Ibnu Hibban)

Menurut Ibnu Hibban kedua riwayat ini sahih dan mahfuzh (benar/terjaga). Guru besar kami, al-Wadi’i dalam al- Jami ash-Shahih memiliki penilaian yang sama seperti Ibnu Hibban, karena hadits ini juga dinyatakan hasan oleh beliau. Sementara itu, al-Baihaqi menilai riwayat ini syadz (ganjil/keliru).7

• Hadits ‘Ubadah bin Shamith radhiyallahu ‘anhu dengan lafadz:

“Adalah kami shalat fajar di belakang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaca dan merasa kesulitan membaca. Seusai shalat beliau n bersabda, ‘Barangkali kalian membaca di belakang imam kalian ?’ Kami menjawab, ‘Ya, kami membaca secara cepat, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Janganlah kalian melakukannya kecuali membaca al-Fatihah, karena tidak sah shalat orang yang tidak membacanya.” (HR. Ahmad, al-Bukhari pada kitab al-Qira’ah, Abu Dawud, at-Tirmidzi—dengan menghasankannya—, ad-Daraquthni, Ibnu Hibban, al-Hakim, dan al- Baihaqi)

Ibnu Baz menghukumi hadits ini sebagai hadits yang sahih. Al-Abani dalam kitab Ashlu Shifati Shalati an-Nabi menghukumi sanadnya hasan dan menukil bahwa hadits ini dinyatakan hasan oleh Ibnu Hajar dan an-Nawawi. Bahkan ia mengangkat derajatnya menjadi sahih lighairih dengan penguat-penguatnya— di antaranya adalah hadits yang telah disebutkan di atas. Sementara itu, pada kitab adh-Dha’ifah dan Dha’if Sunan Abi Dawud, beliau menegaskan bahwa hadits ini dha’if (lemah) dengan tiga cacat.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa hadits ini memiliki cacat menurut penilaian para imam pakar hadits, dilemahkan oleh Ahmad dan lainnya dengan banyak kelemahan. Adapun klaim bahwa hukum ini telah mansukh (terhapus) tidaklah benar. Sebab, hal itu adalah ucapan az-Zuhri rahimahullah—seorang tabi’in—yang tersisip dalam matan hadits (mudraj), bukan ucapan Abu Hurairah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hal ini dinyatakan oleh al-Auza’i, Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli (guru al-Bukhari), al-Bukhari dalam kitab at- Tarikh, Abu Dawud dalam Sunan-nya, Ya’qub bin Sufyan, al-Baihaqi, al-Khatib, al-Kaththabi, dan lainnya. Ini dibenarkan oleh Ibnu Taimiyah dan asy-Syaikh Muqbil al-Wadi’i dalam al-Jami’ ash-Shahih. Dengan demikian, riwayat tersebut mursal (terputus antara az-Zuhri dan Nabi n). Hal ini semakin jelas mengingat Abu

Hurairah radhiyallahu ‘anhu telah meriwayatkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai wajibnya membaca al-Fatihah dan berfatwa agar makmum membacanya secara sirr (berbisik). Bagaimana mungkin Abu Hurairah z menyuruh makmum membaca al- Fatihah secara sirr jika memang benar ia telah meriwayatkan bahwa hal itu telah mansukh? Tampaknya, pendapat ini lebih kuat daripada pendapat-pendapat sebelumnya. Akan tetapi, terdapat perbedaan pendapat di antara penganut mazhab ini apakah hukumnya sebagai rukun atau hanya wajib?

a. Menurut Ibnu Hazm, asy-Syaukani, al-Wadi’i: rukun tanpa perkecualian sama sekali.

b. Menurut mazhab Syafi’i dan Ibnu ‘Utsaimin: rukun dengan perkecualian masbuq yang ketinggalan bacaan al- Fatihah demi mengikuti imam yang telah rukuk atau sempat membaca sebagiannya bersama imam tetapi tidak selesai demi mengikuti imam yang melakukan rukuk sebelum ia menuntaskan bacaannya.

Kewajiban membaca al-Fatihah gugur atasnya dan dianggap mendapat rakaat tersebut bersama imam. Dalilnya adalah hadits Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu,

“Sesungguhnya ia sampai kepada Nabi n dalam keadaan Nabi n sedang rukuk, kemudian ia rukuk sebelum masuk shaf, kemudian ia menyampaikan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Semoga Allah Subhanahu wata’ala menambahkan semangat beribadah bagimu, tetapi jangan kamu ulangi (tergesa-gesa masuk shaf)’.” (HR. al-Bukhari)

Lahiriah hadits ini menunjukkan bahwa Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu tidak mengganti rakaat tersebut dan tidak pula diperintah  oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menggantinya. Berarti, sama halnya makmum yang masbuq mendapati imam masih berdiri dan sempat membaca al-Fatihah di belakangnya, tetapi tidak selesai demi mengikuti imam yang melakukan rukuk. Pendapat bahwa ia dianggap mendapatkan rakaat tersebut adalah pendapat jumhur ulama.

c. Pendapat yang dipilih Ibnu Baz bahwa membaca al-Fatihah bagi makmum hukumnya hanya wajib, bukan rukun.

Alasannya, ketika Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu dianggap mendapatkan rakaat yang ia tidak membaca al-Fatihah karena uzurkeharusan mengikuti imam (Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam) yang sedang rukuk, hal itu menunjukkan pada asalnya al-Fatihah bukan rukun bagi makmum. Sebab, seandainya rukun, tidak akan gugur dengan uzur apa pun dan rakaat itu harus diganti.

Jika alasan mengikuti imam yang rukuk dianggap sebagai uzur yang menggugurkan kewajiban membaca al- Fatihah bagi makmum, begitu pula halnya makmum yang lupa membaca al-Fatihah atau tidak membacanya karena tidak tahu hukum (jahil). Bahkan, keduanya lebih berhak diberi uzur daripada masbuq yang tidak sempat lagi membaca al-Fatihah untuk mengikuti rukuknya imam.

Berdasarkan hal ini, makmum yang lupa baca al-Fatihah pada sebagian rakaat shalatnya sedangkan ia bukan masbuq, ia tidak wajib sujud sahwi. Adapun jika ia masbuq satu rakaat atau lebih, ia menambah kekurangannya setelah imam salam dan wajib sujud sahwi. Lebih utama sujud sahwi sebelum salam. Pendapat terakhir inilah yang paling menakjubkan kami dan kami pilih dalam masalah ini.Wallahu a’lam.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini