Tanya Jawab Ringkas edisi 94

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al- Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Hadits Puasa

Ada hadits yang bunyinya, “Pembeda antara puasa kita dan puasa ahli kitab adalah makan sahur.” (HR. Muslim, Ashabu as-Sunan, dan Ahmad)

Jika kita biasa mengerjakan puasa sunnah tanpa mengerjakan makan sahur, salahkah seperti itu? 08998XXXXXX

Hadits itu hanya menunjukkan makan sahur sunnah, tidak wajib. Lihat lebih lengkap buku kami Fikih Puasa Lengkap.

 

Mengubur Ari-Ari

Apakah menguburkan ari-ari bayi harus dibungkus dengan kain kafan? Bagaimanakah cara yang syar’i? 085740XXXXXX

Ari-ari bayi dikuburkan begitu saja di sembarang tempat tanpa dikafani.

 

Anak Meninggal Usia 11 Tahun

Jika anak meninggal di usia sekitar 11 tahun dan belum diajari shalat, apakah nantinya akan ditanya di akhirat? 085260XXXXXX

Anak yang belum balig belum mukallaf, tetapi diwajibkan bagi walinya atau pendidik yang dipercayanya untuk mengajarinya shalat sejak dia mumayyiz. Anak yang meninggal sebelum balig termasuk penghuni surga jika kedua orang tuanya atau salah satunya muslim, menurut jumhur ulama. Ini hukum yg bersifat umum.

Namun, secara adab jangan memastikan anak tertentu (fulan atau allan) bahwa ia masuk surga, sebagaimana yang diajarkan Nabi n kepada ‘Aisyah ketika memastikan seorang anak yang meninggal bahwa anak itu masuk surga (HR. Muslim).

 

Menikahi Mantan Istri Saudara

Saya mempunyai saudara kembar meninggal 4 bulan lalu dengan meninggalkan seorang istri dan bayi. Bagaimana hukumnya saya menikahi janda kakak kembar saya? Mohon penjelasannya. 087764XXXXXX

Boleh menikahi janda saudara kembar Anda yang ditinggal mati olehnya setelah masa iddahnya berakhir, yaitu 4 bulan 10 hari.

 

Hak Orang Tua sebagai Wali

Seorang wanita yang hendak menikah harus dengan persetujuan wali (ayah) jika memang walinya masih ada. Bagaimana jika wali tersebut tidak penah memberi nafkah dan tidak bertanggung jawab hampir seumur hidup wanita tersebut? 081217XXXXXX

Hal itu tidak menggugurkan hak kewalian dia atas anaknya. 

 

Menghadiri Undangan

Bagaimana hukumnya memenuhi undangan seorang muslim selain walimah? Misalnya acara syukuran. 085377XXXXXX

Menghadiri undangan sesama muslim adalah hak muslim yang mengundang. Rasulullah n bersabda, “Jika ia mengundangmu, penuhilah undangannya.” Hukum menghadiri undangan selain walimahan diperselisihkan apakah wajib atau sunnah.

 

Penerima Zakat Karena Utang

Saya mempunyai utang untuk usaha dan renovasi rumah. Sekarang saya kesulitan melunasi. Apa saya digolongkan orang yang berhak menerima zakat? Apakah boleh meminta-minta zakat? 085239XXXXXX

Anda tergolong orang yang berhak menerima zakat untuk membayar utang, bukan untuk nafkah. Jika pada saat yang sama Anda miskin, Anda berhak pula mendapatkan zakat untuk nafkah Anda.

 

Belum Melaksanakan Nazar

Sebelum saya mengetahui nazar muqayyad, saya pernah melakukannya. Pada waktu saya sakit, saya bernazar untuk puasa sekian hari jika sembuh, Ketika sembuh, saya belum melaksanakan nazar saya tepat pada waktu saya sembuh. Apakah saya harus membayar kafarat nazar saya atau melaksanakan nazar saya? 083190XXXXXX

Kewajiban Anda adalah melaksanakan nazar itu sekarang, berpuasalah sejumlah hari yang Anda nazarkan sekarang juga, tanpa menundanya lagi agar tanggung jawab Anda terlepas dan meraih pahala menunaikan nazar.

 

Berdoa Pada Sujud Terakhir

Bolehkah berdoa saat sujud terakhir pada shalat fardhu? Doa apakah yang boleh dilafadzkan? 08987XXXXXX

Disyariatkan banyak berdoa dalam sujud baik pada shalat sunnah maupun shalat wajib dengan doa yang bermanfaat untuk dunia akhirat. Tidak ada dalil pengkhususan pada sujud terakhir saja, tetapi pada seluruh sujud.

 

Jual Beli Kredit yang Mengandung Ribawi

Apakah proses jual beli motor secara kredit sebagaimana yang ada pada zaman sekarang ini termasuk dalam praktik ribawi? 085730XXXXXX

Akad jual beli motor/mobil dengan cara kredit yang ada pada zaman sekarang adalah riba, dari dua sisi:

1. Ada syarat denda pada akad bagi yang menunggak. Tidak bisa dikatakan boleh dengan alasan dia akan membayarnya tanpa menunggak sehingga tidak terkena denda. Sebab, hal itu adalah akad riba dari asalnya walaupun dengan niat akan melunasinya tanpa denda. Lagi pula, siapa yang bisa memastikan peminjam tidak akan menunggak?

2. Angsuran dibayarkan ke lembaga pembiayaan (leasing) yang menalangi setiap motor/mobil yang dicicil nasabah, bukan ke dealer (penjual). Hal itu karena motor/mobil yang dikreditkan oleh dealer telah dibayar tunai oleh lembaga pembiayaan tersebut. Artinya, pembeli sebenarnya diutangisecara tidak langsung oleh lembaga pembiayaan tersebut agar bisa membeli motor/mobil yang diinginkan. Lalu pembeli membayar utang itu kepadanya dengan nilai lebih besar (harga cicil) Ini adalah rekayasa riba yang dikenal dengan istilah ‘inah model tiga pihak. Wallahu a’lam.

 

Ingat Kena Najis Setelah Shalat

Saat kita shalat, kita lupa bahwa pakaian kita kena najis dan baru ingat setelah shalat, apakah shalat tersebut harus diulangi lagi? 085381XXXXXX

Jika ingat terkena najis setelah shalat, hal itu dimaafkan dan shalat Anda sah. Adapun lupa wudhu, hal itu tidak dimaafkan dan shalat itu wajib diulangi.

 

Uang Pinjaman Dikembalikan dari Hasil Judi

Bismillah. Jika kita meminjamkan uang kepada seseorang, kemudian uang tersebut dikembalikan kepada kita dengan wujud hasil keuntungan judi, bagaimana hukum uang tersebut? 08561XXXXXX

Pada asalnya, keharaman uang dari penghasilan yang haram adalah bagi pemiliknya, tidak bagi orang lain. Hal ini ditegaskan oleh Ibnu ‘Utsaimin dalam tafsirnya. Berdasarkan hal ini, boleh menerima pembayaran utang itudari hasil judinya. Sikap wara’ adalah  menolaknya dan minta dibayar dengan harta selainnya.

 

Suami Suruh Gugurkan Kandungan

Jika suami menyuruh istri untuk menggugurkan kandungan yang berusia satu setengah bulan, apakah diperbolehkan? Sebab, pendapatan suami sedikit, banyak utang, dan masih mempunyai anak-anak kecil. 085732XXXXXX

Tidak boleh menuruti kemauan suami untuk menggugurkan kandungan, karena tidak ada kebutuhan mendesak yang menuntut. Adapun kesulitan nafkah dan mengurus anak tidak bisa dijadikan alasan.

 

Ambil Gaji di Bank

Saya bekerja di satu perusahaan dan penggajiannya melalui bank. Apakah tidak termasuk riba jika gaji saya simpan di bank dalam jangka waktu lama? Saya hanya mengambil gaji saya dan bunganya tidak saya ambil? 087841XXXXXX

Hal itu bukan riba. Akan tetapi, tidak boleh menabung di bank kecuali jika uang Anda tidak aman ketika disimpan sendiri.

Menggenggam Bara Kesabaran

Berdasarkan wahyu ilahi, lebih dari seribu tahun yang lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengabarkan sebuah kenyataan di akhir zaman dalam sabda beliau,

يَأْتِيْ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيْهِمْ عَلَى دِيْنِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الجَمْرِ

“Akan tiba suatu masa pada manusia, siapa di antara mereka yang bersikap sabar demi agamanya, ia ibarat menggenggam bara api.”

Seputar Hadits Hadits di atas diriwayatkan oleh al-Imam at-Tirmidzi (2/42) dan Ibnu Baththah di dalam al-Ibanah (1/173/2) dari sahabat mulia, Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Sanad hadits di atas memang dhaif,hanya saja ditemukan beberapa hadits lain yang bisa menguatkannya. Setelah menjelaskan hadits-hadits penguat, asy-Syaikh al-Albani (Silsilah Shahihah 2/682)

menerangkan, ”Kesimpulannya, hadits di atas dihukumi shahih tsabit dengan adanya haditshadits penguat. Sebab, tidak ada satu pun perawi di seluruh jalur periwayatan hadits yang patut dicurigai. Apalagi at- Tirmidzi dan ulama lainnya menyatakan hadits ini hasan. Wallahu a’lam.

Hadits di atas termasuk salah satu keajaiban dalam kitab Sunan karya al-Imam at-Tirmidzi. Sebab, hadits ini adalah satu-satunya sanad tsulatsi (antara Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan penulis kitab hanya dipisahkan oleh tiga perawi) di dalam Sunan at-Tirmidzi. Bayangkan saja! Al-Imam at- Tirmidzi meninggal dunia pada tahun 279 H. Lebih dari 200 tahun jarak antara beliau dengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, tetapi sanad beliau sangat indah, hanya dipisahkan oleh tiga perawi saja. Tidak seluruh kitab-kitab hadits memuat sanad tsulatsi. Di dalam Shahih al-Bukhari terdapat 22 sanad tsulatsi. Adapun dalam Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, dan Sunan an-Nasa’i tidak terdapat satu pun sanad tsulatsi. Ada lima sanad tsulatsi di dalam Sunan Ibnu Majah. Yang paling banyak, sanad tsulatsi ditemukan di dalam al-Musnad karya al-Imam Ahmad, sebanyak 331 sanad. (Tahqiqur Raghbah lil Khudair)

Menggenggam Bara Api?

Sebagai bentuk kesempurnaan iblagh risalah (penjelasan tugas kerasulan), Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam seringkali menjelaskan sesuatu dengan contoh nyata yang disaksikan di dalam kehidupan seharihari. Dengan demikian, maksud dari risalah dan nubuwah dapat dimengerti dan dipahami dengan baik. Salah satu contohnya adalah hadits Anas bin Malik di atas. Beliaum memberitakan tentang kondisi pengikut setia beliau di akhir zaman, yang mesti berkorban besar demi berdiri kokoh di atas kebenaran. Masa-masa yang dipenuhi dengan godaan syahwat dan syubhat, kejahilan yang semakin merata, ilmu yang dicabut dengan wafatnya para ulama, dan semakin lemahnya semangat untuk mencari kebenaran hakiki. Dalam kondisi semacam itu, seorang hamba yang bertekad menegakkan dinul islam secara utuh dan kaffah harus menjalani hari-hari sulit. Sulit dan beratnya menggenggam kebenaran diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sulit dan beratnya menggenggam bara api. Nas’alullahul i’anah.

Al-Imam al-Munawi rahimahumallah (Faidhul Qadir 6/590) menjelaskan hadits di atas, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan perumpamaan tentang sesuatu yang abstrak dengan hal yang nyata. Artinya, seorang hamba yang bersikap sabar untuk melaksanakan hukum-hukum al-Qur’an dan as-Sunnah, pasti akan merasakan permusuhan dan kebencian dari kalangan ahlul bid’ah dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini disamakan dengan seseorang yang menggenggam bara api dengan telapak tangannya, bahkan lebih dahsyat lagi. Hadits ini termasuk mukjizat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebab, beliau memberitakan tentang sesuatu yang bersifat gaib dan kemudian benar-benar terjadi.”

Ath-Thibi rahimahumallah (Marqatil Mafatih 15/307) menjelaskan, “Makna hadits di atas, sebagaimana halnya seseorang yang menggenggam bara api tidak mampu bersabar karena tangannya akan terbakar, demikianlah pula seorang hamba yang ingin menegakkan agama sepenuhnya. Ia akan merasa kesulitan untuk tetap tegar di atas agamanya. Sebab, maksiat lebih dominan dan mayoritas manusia adalah para pelaku maksiat. Demikian pula kefasikan telah menyebar, ditambah lagi dengan lemahnya keimanan.”

Bukan Sebatas Berita

Apakah hadits ini hanya sebatas berita saja? Tidak! Alangkah sayang dan cintanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada umat ini. Beliau mewariskan sebuah nasihat emas untuk umat agar mereka benar-benar mempersiapkan diri sebaik-baiknya di dalam menghadapi kenyataan pahit ini. Jangan terkejut! Jangan kaget! Jangan bersedih! Melewati hari-hari di dunia dalam keterasingan demi menegakkan al-Qur’an dan as-Sunnah adalah sebuah kepastian yang tidak dapat dihindari.

Jika Anda dibenci, dimusuhi, dijauhi, dan dikucilkan hanya karena ingin menjalankan ibadah sesuai tuntunan al-Qur’an, as-Sunnah, dan pemahaman Salafus Shalih, berbahagialah. Tidak perlu berkecil hati dan tidak usah bergundah gulana. Mengapa harus berkecil hati? Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda di dalam hadits Abu Hurairah

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ

“Islam mulai dalam keadaan terasing. Islam pasti akan kembali terasing sebagaimana permulaannya. Maka, Thuba untuk mereka yang terasing.” (HR. Muslim)

An-Nawawi rahimahumallah (dalam Syarah Shahih Muslim) menyebutkan beberapa penafsiran dari kata Thuba. Ada yang mengartikannya dengan kebahagiaan, penyejuk mata, kebaikan, surga, sebuah pohon di dalam surga, dan beberapa makna lain. Lalu an-Nawawi rahimahumallah menyimpulkan, Semua pendapat di atas sangat mungkin untuk dipahami dari hadits di atas. Wallahu a’lam.

Berbahagialah Anda yang hidup dalam keterasingan karena memilih hidup di dunia sebagaimana yang dituntunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kehidupan yang telah dijalani dan diteladankan pula oleh para sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, dan para pengikut mereka dengan baik.

Para Nabi Pun Merasakan

Seberat dan sesulit apapun cobaan dan ujian yang mesti dihadapi oleh seorang muslim demi menegakkan tauhid dan as-Sunnah, hakikatnya masih belum seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang pernah dihadapi dan dirasakan oleh para nabi. Ya, para nabi lebih berat cobaannya. Mereka didustakan oleh kaumnya, diusir, diancam, disakiti secara fisik, dituduhdengan keji, bahkan tidak sedikit dari mereka yang dibunuh. Oleh sebab itu, sering-seringlah membaca kisah para nabi dan rasul di dalam berdakwah menyampaikan kebenaran. Sungguh, membaca kisah-kisah mereka akan menyejukkan hati, terkhusus kisah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ ۚ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya.” (al-Anfal: 30)

Jika Anda diancam untuk dipenjarakan, diusir, bahkan dibunuh hanya karena Anda ingin menegakkan agama Islam sesuai dengan tuntunan Rasulullah n, janganlah bersedih dan berkecil hati. Sungguh, Allah pasti membela hamba-Nya yang ingin membela agama-Nya!

Pandangan Manusia Umumnya Adalah Dunia, Jangan Terpukau!

Salah satu faktor yang dapat membantu seorang muslim untuk tetap kokoh, tegar, dan tabah di atas kebenaran adalah tidak terpukau dan silau dengan kehidupan duniawi di sekelilingnya. Biarlah “keindahan” duniawi mereka kejar dengan penuh ambisi dan nafsu angkara. Adapun baginya, kehidupan akhirat lebih baik. Umar bin al-Khaththab (Shahih Muslim no. 1479) pernah menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam ruang khusus beliau. Melihat kesederhanaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan bekas tikar kasar yang tampak terlihat di pinggang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Umar radhiyallahu ‘anhu pun menangis.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada Umar tentang sebab dia menangis. Umar lalu menyampaikan kepada Rasulullah tentang kehidupan Raja Persia dan Raja Romawi yang penuh dengan kesenangan dan kelezatan duniawi. Sementara itu, beliau adalah seorang hamba terpilih dan utusan Allah Subhanahu wata’ala. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam lalu bersabda,

أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ لَهُمَا الدُّنْيَا وَلَكَ الْآخِرَةُ

“Apakah engkau tidak ridha? Dunia untuk mereka sementara kenikmatan di akhirat nanti untukmu?”

Benar. Seorang muslim yang sungguh-sungguh ingin mencontoh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti merasakan kesempitan duniawi. Bukankah memang dunia adalah penjara bagi seorang mukmin? Namun,kesempitan duniawi itu tidaklah berarti setitik pun dibandingkan ketenteraman jiwa selama hidup di dunia dan kebahagiaan hakiki di surga Allah Subhanahu wata’ala kelak. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ ۚ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan di dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.Dan karunia Rabbmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan ayat di atas, “Allah lberfirman kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Janganlah engkau terpukau dengan mereka, kaum yang berlebihan materi dan hidup dalam kemewahan, dan yang semisal mereka. Sebab, semua itu hanyalah bunga-bunga kehidupan yang akan sirna dan kenikmatan yang sementara. Kami hanya ingin menguji mereka, dan alangkah sedikitnya hamba- Ku yang pandai bersyukur’.”

Sikap Seorang Muslim

Ketika hati terasa sempit dan dada menjadi sesak karena menyaksikan pahitnya ujian dan cobaan di dunia. Ia ingin mengamalkan ajaran Islam seutuhnya, namun ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sikap apa yang harus dipilih oleh seorang muslim dalam kenyataan semacam ini? Ia tidak boleh putus asa dari rahmat Allah Subhanahu wata’ala. Ia harus yakin dan berprasangka baik bahwa Allah Subhanahu wata’ala pasti membalas dengan ganjaran terbaik. Ia harus tetap beribadah semaksimal mungkin dan memperbanyak doa kepada Allah Subhanahu wata’ala. Di balik setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Demi Allah, Dia tidak akan menyelisihi janji Nya.

Sebagai khatimah, marilah kita resapi nasihat indah penyejuk jiwa dari asy- Syaikh Abdurrahman as-Sa’di berikutini. Setelah menerangkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu di atas (dalam Bahjah Qulubil Abrar), beliau menutup kajian hadits dengan menyimpulkan, “Dalam kondisi semacam ini, seorang mukmin hanyalah bisa berdoa,

لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، حَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الوَكِيْلُ،عَلَى اللهِ تَوَكَّلْنَا، اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ، وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَبِكَ الْمُسْتَغَاثُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْم

“Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah. Cukuplah Allah bagi kami, Dialah sebaik-baik Dzat yang dipasrahi (urusan), kepada Allah sajalah kami bertawakal. Ya Allah, milik-Mulah segala pujian, kepada-Mulah tempat mengadu, Engkaulah Dzat yang dimintai pertolongan, kepada-Mulah diminta kebebasan dari kesempitan. Tidak ada usaha dan kekuatan selain dengan izin Allah, Yang Mahatinggi dan Mahaagung.”

Kemudian, ia berusaha sesuai dengan kemampuannya untuk menegakkan keimanan, nasihat, dan dakwah. Ia berusaha untuk bersikap qanaah dengan hasil yang sedikit jika tidak memungkinkan hasil yang banyak. Ia juga berusaha untuk menghilangkan keburukan dan meminimalkannya, jika selain itu tidak memungkinkan.

Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Dia akan menunjukkan jalan keluar untuknya. Barang siapa bertawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, Allah Subhanahu wata’ala cukup untuknya. Barang siapa bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, pasti Allah Subhanahu wata’alaakan memudahkan seluruh urusannya.”

Wallahul muwaffiq ila ahdas sabil.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai

Sabar Tidak Berarti Diam Dari Kemungkaran

Sabar itu pahit, namun akibatnya lebih manis daripada madu. Ungkapan yang sangat indah dan memesona apabila dicermati dan dikaji. Sabar itu memang pahit, bagaikan menggenggam bara api dan seperti diiris sembilu. Bagaimana tidak, di saat kita dihadapkan pada sesuatu yang disenangi oleh hawa nafsu, kesempatan dan peluang terbuka lebar untuk melampiaskannya, kemampuan untuk melaksanakannya ada, tidak ada mata manusia yang melihatnya, gejolak nafsu membara, oleh Allah Subhanahu wata’ala kita diperintahkan untuk mengerem diri dan menahannya. Sungguh, betapa berat.

Di saat kita berada dalam amal saleh dan ketaatan, bisa jadi amal itu berisikopada hilangnya nyawa, harta benda, dan keturunan, kita diperintahkan untuk tegar di atasnya. Tidak boleh mundur dan goyah, menerima segala kemungkinan yang akan terjadi dalam pelaksanaannya. Lebih-lebih, ketaatan tersebut sangat tidak disenangi oleh hawa nafsu serta dibenci oleh iblis dan bala tentaranya dari kalangan manusia dan jin. Sungguh, betapa berat sabar di atasnya. Di saat kita mengerahkan segala kemampuan untuk mengejar sebuah cita-cita dalam hidup ini, pengorbanan yang tidak sedikit telah dikeluarkan, usaha dengan segala cara sudah ditempuh, segala yang dibutuhkan untuk mengejar cita-cita tersebut telah dikerahkan, keberhasilan sudah di ujung tanduk dan di pelupuk mata—menurut perkiraan—, teman teman dan saudara telah menyaksikan akan terjadinya sebuah keberhasilan, sanjungan dan pujian kerap kali menyapa dan menggiurkan seolah-olah dunia berada dalam genggaman, tiba-tiba tanpa diduga terjadi sebaliknya. Kegagalan yang sangat dalam. Luluh lantak segala usaha yang kita bangun. Setelah itu Allah Subhanahu wata’ala memerintah kita untuk bersabar dan menerimanya dengan lapang dada. Itulah sabar, betapa beratnya. Sungguh, pahit dan berat, namun akibatnya di kemudian hari akan manis nan indah.

Sabar, Lentera Jiwa

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ

“Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberinya petunjuk di dalam hatinya.” (at-Taghabun: 11)

Telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Abu Hatim dari Alqamah, ia berkata, “Yaitu seseorang yang ditimpa oleh sebuah musibah dan dia mengetahui bahwa semuanya datangnya dari Allah Subhanahu wata’ala, lalu dia ridha dan menerimanya.”

Saudaraku, adakah nikmat yang lebih besar daripada nikmat hidayah yang telah merasuk dalam sanubari? Adakah nikmat yang lebih besar daripada hati yang telah dilumuri hidayah Allah Subhanahu wata’ala? Tentu, tidak ada akhir dan akibat dari kesabaran selain kebahagiaan dan kelezatan. Allah Subhanahu wata’ala  akan menggantikan dunia yang telah luput darinya dengan petunjuk di dalam hati, keyakinan yang penuh kejujuran. Allah Subhanahu wata’ala pun akan mengganti apa yang telah diambil-Nya.

Al-Imam Ahmad rahimahumallah berkata, “Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan sabar dalam sembilan puluh tempat di dalam kitab-Nya.”

Sabar, Senjata yang Ampuh dan Berharga

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Majmu’ Fatawa (10/48), menjelaskan, “Musibah-musibah adalah nikmat. Sebab, ia akan menghapus dosa-dosa dan mendorong seseorang untuk bersabar sehingga mendapatkan ganjaran. Musibah akan mengajakseseorang untuk bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dan merendah diri di hadapan-Nya, berpaling dari makhluk (yang tidakmampu berbuat apa-apa, -pen.), dan  berbagai maslahat lain. Cobaan itu sendiri berfungsi menghapuskan segala dosa dan kesalahan, dan ini sendiri sudah termasuk nikmat yang sangat besar.”

Musibah-musibah adalah rahmat dan nikmat bagi seluruh manusia, kecualiapabila musibah itu menyeretnya ke  dalam kubangan maksiat, tentu ini adalah musibah yang lebih besar lagi dibanding sebelumnya. Dari sisi inilah, yaitu akibat yang akan merusak agamanya, musibah itu menjadi kejelekan baginya. Di antara manusia ada yang ditimpa oleh kefakiran, penyakit, atau rasa sakit lalu timbullah pada dirinya kemunafikan, keluh kesah, penyakit di dalam hati, meninggalkan beberapa kewajiban, dan melaksanakan hal-hal yang diharamkan. Ini mengakibatkan kemudaratan bagi agamanya.

Karena itu, sehat lebih baik baginya ditinjau dari musibah yang terjadi setelahnya, bukan ditinjau dari esensi musibah itu sendiri. Sebagaimana halnya jika musibah itu membuahkan kesabaran dan ketaatan, berarti di dalamnya terkandung nikmat agama. Musibah itu merupakan perbuatan Allah Subhanahu wata’ala yang akan menjadi rahmat bagi si makhluk.

Allah Maha Terpuji atas semuanya. Barang siapa diuji oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan musibah dan diberi kesabaran, kesabaran itu menjadi sebuah nikmat dalam agamanya. Setelah kesalahankesalahannya dihapuskan, niscaya dia akan mendapatkan taburan rahmat. Bila dia memuji Allah Subhanahu wata’ala atas ujian yang dia derita, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memujinya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ

“Mereka mendapatkan shalawat dan rahmat dari Rabb mereka.” (al- Baqarah: 157)

Dia akan memetik buahnya, yaitudiampuni kesalahan-kesalahannya dan diangkat derajatnya. Karena itu, barang siapa menerima musibah itu dengan kesabaran yang wajib, niscaya dia akan  memperoleh semuanya.”

Sabar dan Cinta, Teman Sejoli?

Ibnul Qayyim rahimahumallah dalam kitab beliau Madarijus Salikin (2/162) menjelaskan, “Sesungguhnya kesabarandalam menanggung beban derita untuk mengejar keinginan yang dicintai Allah Subhanahu wata’ala  adalah bukti kebenaran cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dari sinilah, bisa dikatakan bahwa cinta mayoritas orang adalah dusta.

Sebab, mereka mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wata’ala, namun saat Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka dengan sesuatu yang tidak mereka sukai, mereka lepas dari hakikat cinta dan tidak ada yang kokoh bersama-Nya, selain orang-orang yang bersabar. Kalaulah tidak sabar memikul segala beban berat dan yang tidak disukai, niscaya cinta mereka adalah dusta. Jelaslah bahwa orang yang paling tinggi tingkat cintanya adalah yang paling besar tingkat kesabarannya. Berdasarkan hal ini, Allah Subhanahu wata’ala memuji secara khusus para wali dan kekasih-Nya dengan kesabaran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, tentang kekasih-Nya Ayyub ‘Alaihissalam,

إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا ۚ نِّعْمَ الْعَبْدُ ۖ إِنَّهُ أَوَّابٌ

“Sesungguhnya Kami dapati dia dalam keadaan bersabar, dia adalah sebaik-baik hamba dan sesungguhnya dia orang yang banyak bertobat.” (Shad: 44)

Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan hamba- Nya yang terbaik untuk bersabar terhadap segala hukum-Nya. Allah Subhanahu wata’alamemberitakan pula bahwa Dia yang telah menjadikan beliau bersabar. Allah Subhanahu wata’ala memuji orang-orang yang bersabar dengan sebaik-baik pujian dan telah menjamin dengan ganjaran yang besar. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan ganjaran selain orang-orang yang bersabar terbilang, sedangkan ganjaran untuk mereka tidak terbatas. Allah Subhanahu wata’ala menggandengkan sabar dengan Islam, iman, dan ihsan.Allah menjadikan sabar sebagai saudara yakin, tawakal, iman, amalan-amalan, dan takwa.

Allah Subhanahu wata’ala memberitakan bahwa orang yang bersabarlah yang akan mengambil manfaat dari ayat-ayat-Nya. Da memberitakan juga bahwa kesabaran itu benar-benar sebuah keberuntunganbagi pemiliknya, dan para malaikat mengucapkan salam kepada mereka di dalam surga karena kesabaran mereka.”

Kesabaran Sebagian Ulul ‘Azmi

Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Maka bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul. Janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)

As-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Kemudian Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan kepada Rasul-Nya untuk bersabar dari gangguan para pendusta dan penentang agar beliau terus mendakwahi mereka ke jalan Allah Subhanahu wata’ala dan mengambil ibrah dengan kesabaran ulul azmi dari para rasul—para pemimpin makhluk ini. Mereka adalah orang-orang yang memiliki azam dan keinginan yang tinggi, kesabaran yang mendalam, keyakinan yang sempurna. Mereka paling berhak untuk diteladani, diikuti langkahlangkahnya dan diterima bimbingan mereka. Rasulullah n melaksanakan perintah Rabbnya, lalu bersabar dengan kesabaran yang tidak pernah terwujud pada nabi dan rasul sebelum beliau.

Para musuhnya melemparkan panahnya dari satu busur. Mereka bangkit untuk menghadapi beliau dalam berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mereka berbuat apa saja yang bisa mereka lakukan sebagai bentuk permusuhan dan peperangan. Namun, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa tabah melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala, terus maju menghalau musuh-musuh Allah Subhanahu wata’ala, bersabar menanggung beban gangguan hingga Allah Subhanahu wata’ala mengokohkan beliau di muka bumi, memenangkan agamanya atas seluruh agama, dan memenangkan umatnya atas seluruh umat. Shalawat dan salam atas beliau. Jangan engkau tergesa-gesa terhadap para pendusta yang menantang azab Allah Subhanahu wata’ala disegerakan.

Ini merupakan bukti kejahilan dan ketololan mereka. Jangan pula sekali-kali engkau berputus asa karena kejahilan mereka. Jangan pula permintaan mereka untuk disegerakannya azab Allah Subhanahu wata’ala menyebabkanmu mendoakan kebinasaan mereka. Sesungguhnya apa yang pasti datang itu adalah dekat.

Di saat mereka melihat apa yang telah dijanjikan, mereka merasa tinggal di dunia ini hanyalah sesaat. Janganlah engkau sedih karena bernikmat-nikmatnya mereka di dunia, padahal mereka sedang berjalan menuju azab yang sangat pedih. Sementara itu, dunia ini, kenikmatan di dalamnya, syahwat-syahwatnya, hanya sementara dan penghilang dahaga yang berkamuflase. Kami telah jelaskan al-Qur’an yang agung ini dengan terang dan gamblang sebagai bekal kalian (di dunia) serta sebagai bekal untuk ke negeri akhirat. Sebaik-baik bekal adalah bekal yang akan menyampaikan ke negeri kenikmatan dan yang menjaga dari azab yang pedih.

Sungguh, al-Qur’an merupakan sebaik-baik bekal bagi setiap makhluk dan nikmat teragung yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada mereka. Tidaklah akan binasa dengan azab dan hukuman kecuali orang-orang fasik, yaitu orang-orang yang tidak memiliki kebaikan. Mereka telah keluar dari ketaatan kepada Rabb mereka dan tidak mau menerima kebenaran yang dibawa oleh para rasul. Allah Subhanahu wata’ala telah memberikan uzur kepada mereka dan memberikan peringatan, namun setelah itu mereka terus-menerus berada dalam pendustaan dan kekafiran. Kita meminta dari Allah Subhanahu wata’ala perlindungan.” (Lihat Tafsir as-Sa’di hlm. 729)

Kesabaran Nabi Nuh ‘Alaihissalam

Allah Subhanahu wata’ala banyak bercerita di dalam al-Qur’an tentang kepribadian Nabi Nuh’Alaihissalam sebagai rasul pertama kali di muka bumi ini. Ayat-ayat tersebut menggambarkan kepribadian yang tangguh, kesabaran yang tinggi, semangat yang kuat, dan tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala. Umur panjang yang dianugerahkan oleh Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam, 950 tahun, dipergunakan untuk melaksanakan tugas-tugas yangsuci, siang dan malam tanpa rasa lelah dan bosan.

Di sisi lain, keluarga beliau, yaitu istri dan anak, bangkit melakukan manuver-manuver penentangan dan pembangkangan terhadap segala yang dibawanya. Begitu pula mayoritas kaum beliau, menentang seruan beliau. Yang ada hanya kesedihan dan pasrah atas semuanya itu. Sebab, apa yang bisa diperbuat tatkala keputusan Allah Subhanahu wata’ala  berbeda dengan keinginan diri. Beban derita yang didapatinya dalam mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala tidak menyebabkan beliau putus asa dalam tugas yang berat itu. Justru sebaliknya, hal itu menambah keyakinan dan semangat beliau akan datangnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Beragam ejekan, olokan, dan cemoohan kaumnya datang silih berganti, namun tidak menggoyahkan beliau sedikit pun. Kegigihan beliau berdakwah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan kesabaran menanggung beban derita di jalan dakwah tidak menjadi penghalang beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar.

Kesabaran Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah sosok nabi yang tabah dan sabar. Hal itu tergambar dalam sirah (sejarah) hidupnya yang diceritakan oleh Allah Subhanahu wata’ala di dalam al-Qur’an.

Tatkala bertambah umur dan belum dikaruniai keturunan, beliau bermunajat kepada Allah Subhanahu wata’ala  agar mendapatkan keturunan. Allah Subhanahu wata’ala mendengar dan mengabulkan permintaannya. Tatkala si buah hati tumbuh berkembang hingga menjadi dewasa, Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau. Allah perintahkan si buah hati yang diidam-idamkannya disembelih. Bagaimanakah beliau menyikapi perintah tersebut?

Ternyata, perintah itu sedikit pun tidak menggoyahkan keimanan beliau kepada Allah Subhanahu wata’ala, tidak melemahkan dan menodai cintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Perintah itu beliau junjung tinggi dan laksanakan tanpa keraguan sedikit pun. Sungguh, sangat berat ujian menimpa beliau. Beliau lulus dan berhasil menjalani ujian tersebut. Itulah akhir bagi orang-orang yang bertakwa.

Allah Subhanahu wata’ala menguji beliau dengan kekafiran sang bapak dan penentangan kaumnya yang sangat besar. Beliau menghadapi semuanya dengan penuh keberanian, kesabaran, ketabahan, dan tawakal yang tinggi kepada Allah Subhanahu wata’ala. Sang bapak mengancam untukmerajam dan mengusirnya jika tidak berhenti dari seruannya. Kaumnya sendiri dengan angkara murka mengobarkan api menggunung untuk membakarnya. Semua itu tidak menjadikan beliau berhenti mengingkari kemungkaran dan menyeru kepada kebaikan.

Kesabaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam

Beliau adalah nabi dan rasul terakhir yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala. Beliau adalah penutup para nabi, tidak ada nabi setelah beliau. Allah Subhanahu wata’ala menyempurnakan agama-Nya dengan pengutusan beliau sekaligus sebagai penyempurna atas agama yang lain. Nasib beliau dalam dakwah tidaklah berbeda dengan para rasul sebelumnya. Bahkan, beliau mendapatkan ujian yang lebih berat dibandingkan dengan para nabi dan rasul sebelum beliau. Orang yang pernah membaca sirah beliau pasti mengetahuinya.

Siang dan malam, tanpa rasa lelah dan bosan beliau menyeru umatnya untuk menyembah Allah Subhanahu wata’ala semata. Keluarga terdekat beliau bangkit menghadang dakwahnya. Celaan dan caci makian bertubi-tubi datang dengan berbagai bentuk. Bahkan, tindak kekerasan dan ancaman kerap menimpa beliau. Sekali lagi, kemenangan bagi hamba-Nya yang bertakwa. Semuanya tidak menjadikan beliau takut untuk menyuarakan wahyu dari Allah Subhanahu wata’ala.

Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Rasululah, siapakah orang yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian orang-orang saleh, kemudian setelah mereka, kemudian setelah mereka dari kalangan manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan agamanya. Jika agamanya kokoh, bertambahlah ujian itu. Jika pada agamanya kelemahan, dikurangi ujiannya. Terus-menerus ujian itu menyertai seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi ini tanpa membawa kesalahan.” ( HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan selain mereka, dinyatakan sahih oleh asy- Syaikh al-Albani di dalam Silsilah Ahadits Shahihah no. 143)

Contoh Ujian yang Menimpa Ulama

Umat Rasulullah adalah umat terbaik di tengah umat-umat yang ada. Mereka umat terakhir, namun menjadi umat yang pertama kelak di akhirat, sebagaimana halnya nabi dan rasul mereka adalah yang terbaik dan imam para rasul. Kemurnian dan kesempurnaan agama yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dijaga dan dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala sampai akhir zaman. Allah Subhanahu wata’ala membangkitkan tokoh umat ini sebagai tentara-Nya untuk mengawal dan menjaga kesempurnaan serta kemurnian agama-Nya. Dia membangkitkan para mujaddid yang akan melakukan pembaruan terhadap syariat Allah Subhanahu wata’ala yang telah dirusak, dinodai, dikotori, dan dimatikan.

Tepatnya pada abad ke-3 H, Allah Subhanahu wata’ala memunculkan sederetan mujaddid dan mujtahid, di antaranya al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Abu Abdillah. Beliau harus berhadapan dengan tiga penguasa bani Abbasiah yang telah terperosok ke jurang kesesatan, yaitu pemahaman bahwa al-Qur’an adalah makhluk. Tiga pengausa itu adalah al- Ma’mun, al-Mu’tashim, dan al-Watsiq. Al-Baihaqi berkata, “Tidak ada khalifah sebelumnya (al-Ma’mun) kecuali berada di atas mazhab dan manhaj salaf.” Hidup di bawah kekuasaan mereka, al-Imam Ahmad rahimahumallah mendapatkan teror, ancaman, dan penyiksaan.

Mereka memaksa agar al-Imam Ahmad mau mengikrarkan, “Al-Qur’an itu makhluk.” Al-Imam Ahmad rahimahumallah kokoh dalam prinsip, “Al-Qur’an adalah kalamullah bukan makhluk.” Beliau tampil menghadapi ancaman tanpa rasa gentar dan takut, bagaikan kokohnya gunung batu yang menjulang tinggi. Bak pohon yang akarnya kokoh menancap di bumi, tidak diombang-ambingkan oleh badai. Bagaikan karang menggunung di lautan, tidak tergoyahkan oleh ombak yang dahsyat.

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah dalam kitab beliau al-Bidayah wa an-Nihayah (14/396—399) menceritakan perjalanan pahit hidup al-Imam Ahmad di bawah tekanan tiga penguasa bani Abbasiah tersebut. Semuanya menunjukkan tanda kebesaran Allah Subhanahu wata’ala  di umat ini dan akhir yang baik bersama orang-orang yang bertakwa. Allah Subhanahu wata’ala menjadi saksi. Ulamaulama di masa al-Imam Ahmad rahimahumallah, serta umat ini turut menyaksikan kekokohan, kekuatan, kesabaran, keberanian, kecerdasan, keilmuan, kezuhudan, ketakwaan, ketawadhuan, serta berbagai sifat agung dan mulia lainnya. Kesabaran beliau menanggung beban hidup dalam memperjuangkan kebenaran tidak menghalangi beliau untuk menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Abu Usamah

Agar Tetap Sabar

Kesabaran menghadapi berbagai problem kehidupan adalah kunci keselamatan dan kebahagiaan seorang hamba di dunia fana ini dan di akhirat nanti. Oleh karena itulah, Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan keutamaan bagi mereka di dunia.

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ () أُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orangorang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (al-Baqarah: 155—157)

Allah Subhanahu wata’ala Yang Maha Penyayang juga mengabarkan tentang kemuliaan yang akan mereka dapat di akhirat nanti,

أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah orang yang dibalasidengan martabat yang tinggi (dalam Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (al- Furqan: 75)

Di samping itu, orang-orang yang sabar adalah golongan yang senantiasa mendapatkan pertolongan, perlindungan, dan pembelaan dari Pencipta-Nya karena Dia mencintai mereka. Hal ini sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala beritakan di dalam firman-Nya,

وَكَأَيِّن مِّن نَّبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu, dan tidak (pula) menyerah kepada musuh. Allah menyukai orangorang yang sabar.” (Ali ‘Imran: 146)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata,

…وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ

“Sesungguhnya pertolongan itu (akan datang) bersama dengan kesabaran.” (HR. Ahmad)

Kesabaran, Bukti Kesempurnaan Iman Hamba

Al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah  menjelaskan , “ Sesungguhnya kesempurnaan seseorang itu tergantung pada dua hal:

1. Mengilmui kebenaran sehingga terbedakan dari kebatilan,

2. Lebih memilih kebenaran daripada kebatilan.

Tidaklah akan terbedakan kedudukan para hamba di sisi Allah Subhanahu wata’ala, baik di dunia maupun di akhirat, kecuali karena perbedaan kedudukan mereka dalam dua hal ini. Dengan keduanya, Allah Subhanahu wata’ala menguji para nabi-Nya, sebagaimana firman-Nya,

وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الْأَيْدِي وَالْأَبْصَارِ

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi.” (Shad: 45)

Al-aidi adalah kekuatan dalam merealisasikan kebenaran (di dalam amalan), sedangkan al-abshar adalah pandangan hati terhadap kebenaran. Allah menyebutkan dua sifat mereka, yaitu kesempurnaan dalam memahami kebenaran dan kesempurnaan dalam merealisasikannya.” (al-Jawabul Kafi, hlm. 139)

Adapun yang berkaitan dengan kesabaran, al-Imam Ibnu Qayyim rahimahumallah menjelaskan, karena sabar adalah suatu perkara yang diperintahkan, Allah Subhanahu wata’ala menjadikan kesabaran itu mempunyai sebab-sebab yang akan memudahkannya sekaligus mengantarkan (seorang hamba) untuk mendapatkan derajat kesabaran (yang mulia).

Demikianlah, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan suatu hal kecuali Dia akan menolong dan mempersiapkan berbagai sebab yang akan membantu dan memudahkannya, sebagaimana Dia tidaklah menakdirkan suatu penyakit kecuali pasti telah menentukan obat baginya, sekaligus menjamin kesembuhan orang yang menggunakan obat itu. Sabar, walaupun sulit dan berat bagi jiwa, namun sangat mungkin untuk didapatkan. Sebab atau cara untuk mendapatkannya harus memenuhi dua syarat, yaitu ilmu dan amal. Kedua unsur ini adalah asal seluruh terapi yang dipakai untuk mengobati (penyakit) hati dan jasad: unsur ilmu dan amal. Dua unsur ini akan teramu menjadi obat yang sangat ampuh dan sangat bermanfaat untuk pengobatan.

Adapun unsur ilmu, maknanya adalah memahami dan mengerti hikmah yang terkandung pada segala sesuatu yang diperintahkan, seperti kebaikan, kemanfaatan, kenikmatan, kesempurnaan. Di samping itu, memahami dan mengerti tentang hikmah yang terkandung pada segala sesuatu yang dilarang, seperti kejelekan, kerugian, atau kekurangan. Apabila seorang hamba telah memahami dan mengerti dua hal ini sebagaimana mestinya, diiringi oleh keinginan yang kuat, cita-cita yang tinggi, semangat, dan menjaga kehormatan, terbentuklah ramuan antara hal yang pertama dan yang kedua yang mengantarkannya mendapatkan derajat kesabaran. Berbagai kesulitan akan menjadi mudah, yang pahit akan berubah menjadi manis, dan kesusahan pun berubah menjadi kenikmatan. (‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 46)

Kalau kita perhatikan dan simpulkan penjelasan al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah, kesabaran itu akan menjadi mudah dan ringan kala terpenuhi tiga unsur: ilmu, amal, dan mujahadah (perjuangan dan kesungguh-sungguhan). Hanya saja, semua itu akan terwujud setelah adanya hidayah dari Allah Subhanahu wata’ala.

Sebab-Sebab yang Memudahkan Kita Bersabar

Setelah memahami penjelasan al- Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah di atas, kita akan mengulas secara terperinci tentang sebabsebab yang memudahkan seorang hamba untuk senantiasa bersabar menghadapi berbagai problem kehidupannya. Faktorfaktor tersebut akan mengantarnya mendapatkan keridhaan dan ampunan Allah Subhanahu wata’ala berdasarkan Kitabullah dan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan pemahaman salafus shalih.

1. Hidayah taufik dari Rabb-Nya

Seorang hamba tidak mampu melakukan dan mendapatkan suatu kebaikan sekecil apa pun, baik dalam urusan dunia maupun akhirat, kecuali dengan petunjuk Allah Subhanahu wata’ala. Oleh karena itu, Dia Subhanahu wata’ala memerintah para hamba-Nya untuk senantiasa berdoa dalam setiap rakaat shalat dengan doa yang paling mulia dan sempurna.

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Berilah kami hidayah ke jalan yang lurus.” (al-Fatihah: 5)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan tafsir ayat di atas, “Ya Allah, tunjukilah kami, bimbinglah kami, dan karuniakanlah hidayah taufik kepada kami ke jalan yang lurus (jalan para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh), jalan yang jelas yang mengantarkan (orangorang yang berjalan di atasnya) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan ke jannah-Nya, yaitu jalan (orang-orang yang) mengilmui kebenaran dan mengamalkannya.” (Tafsir as-Sa’di)

Para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang saleh adalah orangorang yang senantiasa bersabar di atas agama yang mulia. Karena itu, Allah Subhanahu wata’alamemerintah para hamba-Nya untuk meneladani kesabaran mereka. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَاصْبِرْ كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِل لَّهُمْ ۚ كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِّن نَّهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ الْفَاسِقُونَ

“Bersabarlah kamu seperti orangorang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi mereka. Pada hari mereka melihat azab yang diancamkan kepada mereka (merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) suatu pelajaran yang cukup, maka tidak dibinasakan melainkan kaum yang fasik.” (al-Ahqaf: 35)

Dari Abu Abdillah Khabbab bin al- Aratt radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kami mengadukan (perlakuan orang-orang musyrikin Quraisy terhadap kaum muslimin) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada waktu beliau sedang tiduran berbantal burdah di bawah naungan Ka’bah. Kami katakan, ‘Tidakkah Anda memohon pertolongan Allah Subhanahu wata’ala untuk kami? Tidakkah Anda berdoa untuk kami?’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Sungguh, orang-orang sebelum kalian ada yang disiksa dengan dikubur hidup-hidup. Ada yang digergaji dari atas kepalanya hingga terbelah menjadi dua. Ada pula yang disisir dengan sisir besi hingga terpisahlah antara daging dan tulangnya. Namun, hal itu tidak menggesernya dari agamanya’.” (HR. al-Bukhari)

2. Ilmu

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yang membuahkan khasyah (rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala semata). Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan, “Semakin seseorang mengenal Allah Subhanahu wata’ala (nama, sifat, dan perbuatan-Nya yang mulia), niscaya akan semakin takut kepada-Nya. Sebab, ilmu itu akan mengharuskan dia takut kepada-Nya sehingga dia menahan diri dari berbagai maksiat. Selain itu, ia akan terus berusaha mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Dzat yang dia takuti (yaitu Allah Subhanahu wata’ala). Hal ini adalah dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu.” (Tafsir as-Sa’di)

Di samping membuahkan rasa takut (khasyah), ilmu juga akan membuahkan raja’ (harapan), mahabbah (kecintaan), dan haya’ (rasa malu) terhadap Allah Subhanahu wata’ala. Semua itu akan memudahkan seorang hamba senantiasa sabar di atas agama. Contohnya:

• Rasa takut kepada Allah Subhanahu wata’ala menyebabkan seorang hamba mampu menahan hawa nafsunya sehingga tidak jatuh ke dalam hal yang dimurkai oleh Rabb-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya.” (an-Nazi’at: 40)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dalam hadits sahih tentang kisah tiga orang yang terjebak di dalam gua, menyebutkan bahwa salah seorang dari mereka bertawasul dengan amal salehnya ketika memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan berucap, “Ya Allah, sungguh dahulu aku mencintai seorang gadis yang cantik, ia adalah anak perempuan pamanku. Dia adalah seorang wanita yang paling aku cintai. Aku menginginkannya (bergaul layaknya seorang suami istri bersamanya).

Akan tetapi, dia tidak mau. Sampailah saat kemarau panjang menimpanya (jatuh miskin) hingga dia datang kepadaku. Aku memberinya 120 dinar kepadanya dengan syarat dia mau berduaan denganku. Dia pun mau melakukannya. Saat aku sudah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata kepadaku, ‘Bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala dan janganlah kau jatuhkan kehormatanku kecuali dengan haknya (yaitu menikahiku).’ Lalu aku tinggalkan dia padahal dia adalah seorang yang sangat aku cintai. Aku tinggalkan pula uang dinar (emas) yang telah aku berikan.” (Muttafaqun ‘alaih dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu)

• Raja’ (mengharapkan) pertemuan dengan-Nya dan mendapatkan ampunan serta keridhaan-Nya akan menyebabkannya bersemangat untuk beramal saleh dan menganggap ringan berbagai ujian dan cobaan yang menimpanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

“ Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (al-Kahfi: 110)

Allah Subhanahu wata’ala menghibur Rasul-Nya dan para sahabat yang tertimpa luka-luka tatkala berjihad di jalan-Nya,

وَلَا تَهِنُوا فِي ابْتِغَاءِ الْقَوْمِ ۖ إِن تَكُونُوا تَأْلَمُونَ فَإِنَّهُمْ يَأْلَمُونَ كَمَا تَأْلَمُونَ ۖ وَتَرْجُونَ مِنَ اللَّهِ مَا لَا يَرْجُونَ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula) sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (an-Nisa: 104)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahumallah menjelaskan di dalam tafsirnya, “Kalian (wahai para mujahidin fi sabilillah) dan mereka (musuh kalian) sama-sama terkena luka dan penderitaan karena perang. Namun, (yang berbeda adalah) kalian mengharapkan pahala, pertolongan, dan bantuan dari Allah Subhanahu wata’ala sebagaimana yang telah Dia janjikan dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya, sedangkan janji-Nya adalah benar. Adapun musuh-musuh kalian tidak memiliki harapan sedikit pun terhadap hal tersebut. Jadi, kalian adalah golongan yang lebih pantas untuk berjihad/berperang daripada mereka, lebih pantas bersemangat dalam berjihad, menegakkan dan meninggikan kalimatullah.”

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Seseorang bertanya kepada Nabi n pada waktu Perang Uhud, ‘Beri tahukanlah kepadaku, apabila aku terbunuh, di mana tempat tinggalku nanti?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Di surga.’ Lalu orang itu melemparkan beberapa butir kurma yang ada di genggaman tangannya, kemudian berperang sampai terbunuh.” (Muttafaqun ‘alaih)

Mahabbah (kecintaan) kepada Allah Subhanahu wata’ala dan segala sesuatu yang dicintai oleh-Nya.

Hal ini juga akan meringankan berbagai kesulitan dan keberatan di dalam menaati Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

Allah Subhanahu wata’ala menceritakan sikap orangorang yang berilmu dari kaum Nabi Musa ‘Alaihissalam ketika mendengar komentar orang-orang yang diperbudak oleh dunia. Ketika itu, mereka menyaksikan penampilan Qarun dengan perhiasanperhiasannya. Firman-Nya,

فَخَرَجَ عَلَىٰ قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ ۖ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ () وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ

Keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orangorang yang menghendaki kehidupan dunia, “Semoga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu,“Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Dan tidak diperoleh pahala itu kecuali olehorang-orang yang sabar.” (al-Qashash: 79—80)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahumallah menjelaskan, “Sebagian salaf berkata, ‘Bagaimana aku tidak sabar, padahal Allah Subhanahu wata’ala sungguh telah menjanjikan untukku—kalau aku sabar—tiga hal (shalawat, rahmat, dan petunjuk), yang masing-masing lebih baik daripada dunia dan seisinya’.” (‘Uddatu ash-Shabirin, hlm. 61)

• Rasa malu Seorang hamba yang beriman akan yakin bahwa Allah Subhanahu wata’ala senantiasa dekat dengan para hamba-Nya; senantiasa melihat, mendengar, dan mengetahui apa yang mereka lakukan. Ini akan menjadikan hamba tersebut malu tatkala terbetik di dalam hatinya keinginan untuk melakukan atau mengucapkan suatu hal yang dibenci atau dimurkai oleh Rabb-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَيَعْلَمُ مَا تُسِرُّونَ وَمَا تُعْلِنُونَ ۚ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

“Dia mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi, dan mengetahui apayang kamu rahasiakan dan apa yang kamu nyatakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala isi hati.” (at-Taghabun: 4)

Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman,

يَسْتَخْفُونَ مِنَ النَّاسِ وَلَا يَسْتَخْفُونَ مِنَ اللَّهِ وَهُوَ مَعَهُمْ إِذْ يُبَيِّتُونَ مَا لَا يَرْضَىٰ مِنَ الْقَوْلِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطًا

“Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah bersama mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan keputusan rahasia yang Allah tidak ridhai. Dan Allah Maha Meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.” (an-Nisa: 108)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  mengabarkan kepada kita tentang keutamaan rasa malu karena Allah Subhanahu wata’ala, dengan sabdanya,

الْحَيَاءُ لَا يَأْتِي إِ بِخَيْرٍ

“Rasa malu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Muslim)

Dari Atha’ bin Abi Rabah rahimahumallah, ia berkata, “Ibnu Abbas c berkata kepadaku, ‘Maukah aku tunjukkan seorang wanita calon penghuni surga kepadamu?’ Aku menjawab, ‘Tentu.’ Beliau berkata, ‘Suatu hari, seorang perempuan hitam datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, [Sesungguhnya aku terkena penyakit ayan (epilepsi). Jika kambuh, auratku akan tersingkap. Berdoalah kepada Allah untuk kebaikanku]. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, [Kalau kamu mau bersabar, kamu akan mendapatkan jannah. Namun, kalau yang kamu inginkan adalah aku berdoa kepada Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam agar menyembuhkanmu, (maka aku doakan).] Wanita itu berkata, ‘Aku akan berusaha sabar, tetapi aku khawatir jika penyakitku kambuh, tersingkap auratku. Berdoalah kepada Allah Subhanahu wata’ala agar tidak tersingkap auratku.’ Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mendoakannya.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala

Sadarilah bahwa kita tidak mungkin mampu bersabar di atas ketaatan, sabar menahan diri dari berbagai kemaksiatan, dan sabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan yang Allah Subhanahu wata’ala takdirkan menimpa diri, keluarga, anak keturunan, harta, atau usaha kita. Kita yakin bahwa tidak mungkin kita bisa bersabar kecuali dengan pertolongan Allah Subhanahu wata’ala semata karena kita adalah makhluk yang lemah.

Allah Subhanahu wata’alaberfirman,

وَاصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ

“Bersabarlah (hai Muhammad), dan tiadalah kesabaranmu itu kecuali dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ، احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ

“Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wata’ala daripada orang mukmin yang lemah. Namun, masing-masing memiliki kebaikan. Semangatlah untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirimu (baik urusan dunia maupun agama). Mohonlah pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala dan jangan malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

4. Beriman terhadap takdir

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (at- Taghabun: 11)

Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu menjelaskan, “(Tidak ada suatu musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah Subhanahu wata’ala) maknanya ‘dengan kehendak dan takdir- Nya’. (Barang siapa beriman kepada Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Dia akan menunjuki hatinya), maknanya barang siapa ditimpa oleh suatu musibah dan yakin bahwa musibah itu terjadi dengan ketentuan Allah Subhanahu wata’ala, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan menunjuki hatinya dan akan mengganti urusan dunia yang hilang dari dirinya dengan petunjuk dan keyakinan yang benar dalam hatinya’.” (Tafsir Ibnu Katsir)

Beriman kepada takdir Allah Subhanahu wata’ala akan membuahkan sikap yang menakjubkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang yang beriman. Sesungguhnya seluruh urusannya baik. Namun, hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali yang beriman saja. Apabila dia mendapat segala sesuatu yang menyenangkan, dia bersyukur, dan hal itu lebih baik baginya. Apabila dia ditimpa oleh perkara yang merugikan/menyedihkan, dia bersabar, dan itu lebih baik baginya.” (HR. Muslim)

5. Berbaik sangka terhadap Allah Subhanahu wata’ala

Husnuzhan (berbaik sangka terhadap Allah Subhanahu wata’ala) adalah salah satu hal mulia. Ia adalah buah dari iman kepada Allah Subhanahu wata’ala. Dengannya, hati seorang hamba senantiasa tenang dan sabar menghadapi problem kehidupannya; dalam keadaan kaya, miskin, senang, susah, sehat, sakit, sukses, gagal, dan sebagainya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Sungguh, janganlah salah seorang di antara kalian meninggal kecuali dalam keadaan dia berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu)

Ketahuilah, tidaklah Allah Subhanahu wata’ala menakdirkan satu musibah pun kepada kita kecuali karena dosa-dosa kita. Itupun demi kebaikan kita, yaitu Dia l ingin menghapus dosa-dosa kita itu dengannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الْخَيْرَ عَجَّلَ لَهُ الْعُقُوبَةَ فِي الدُّنْيَا، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِعَبْدِهِ الشَّرَّ أَمْسَكَ عَنْهُ بِذَنْبِهِ حَتَّى يُوَافِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, dia akan menyegerakan balasan bagi perbuatan dosanya di dunia ini. Apabila Allah Subhanahu wata’ala menghendaki kejelekan bagi seorang hamba, Dia akan menahan (tidak segera membalas) perbuatan dosanya sampai Dia akan membalasnya nanti pada hari kiamat.” (HR. at-Tirmidzi)

Ketahuilah, musibah itu akan menghapus dosa dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Ujian itu akan terus-menerus dihadapi oleh seorang mukmin atau mukminah; baik pada diri, anak, maupun hartanya, hingga dia akan bertemu dengan Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan tidak ada dosa padanya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)

6. Teman dan lingkungan yang baik

Allah Subhanahu wata’ala mengabarkan kepada para hamba-Nya tentang sifat rahmat-Nya yang sempurna,

يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُخَفِّفَ عَنكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنسَانُ ضَعِيفًا

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (an-Nisa:28)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahumallah menjelaskan di dalam tafsirnya, “(Keringanan tersebut) karena rahmat-Nya yang sempurna, kebaikan- Nya juga menyeluruh; karena ilmu dan hikmah-Nya (yang mengetahui) tentang kelemahan manusia dari berbagai sisi: lemah fisik, lemah keinginan, lemah tekad, lemah iman, dan lemah kesabaran. Karena itu, keadaan tersebut cocok dengan keringanan yang Allah Subhanahu wata’ala karuniakan kepada mereka.”

Karena kita adalah makhluk yang lemah keimanan, kesabaran, dan kekuatan, kita membutuhkan bantuan, pertolongan, dan kepedulian dari saudara-saudara kita lainnya. Ringkasnya, agar senantiasa sabar, kita membutuhkan teman dan lingkungan yang baik sehingga hal-hal tersebut bisa terealisasi. Allah Subhanahu wata’ala memerintahkan,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ

“Dan saling menolonglah pada kebaikan dan ketakwaan, dan jangan saling menolong pada perbuatan dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengisahkan nasihat seorang alim terhadap seorang yang telah membunuh 100 jiwa dalam rangkanmerealisasikan tobatnya kepada Allah Subhanahu wata’ala,

انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللهَ فَاعْبُدِ اللهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ

“Pergilah ke desa dengan ciriciri demikian dan demikian karena masyarakatnya beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala. Beribadahlah kepada Allah Subhanahu wata’ala semata bersama mereka dan jangan kembali ke desamu karena desamu itu desa yang jelek.” (HR. al-Bukhari dan Muslim

dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu Perhatikanlah kisah di atas. Teman dan lingkungan yang jelek akan membentuk kepribadian yang jelek, sedangkan teman dan lingkungan yang baik akan membentuk kepribadian yang baik pula, dengan izin Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena itu, carilah teman dan lingkungan yang baik demi keselamatan dan kebaikan diri serta keluarga Anda.

Pada akhirnya, tentu kita kembalikan semuanya kepada Allah Subhanahu wata’ala sembari memanjatkan doa kepada-Nya, karena hanya Dia yang bisa menjadikan kita bersabar di atas agama-Nya. Amin.

Al-Faruq Umar bin al-Khaththab (5) : Menjadi Amirul Mukminin

Kembali kaum muslimin dirundung oleh kesedihan. Seorang bapak, teman, dan teladan telah memenuhi janjinya, menemui Allah Subhanahu wata’ala. Pengganti/Khalifah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, ash- Shiddiq, sahabat yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam itu telah wafat. Saat merasakan bahwa ajalnya sudah dekat, Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu bermusyawarah dengan beberapa sahabat lainnya tentang siapa yang menggantikannya mengatur urusan kaum muslimin. Kata beliau, “Telah datang kepada saya apa yang kamu lihat, dan saya yakin sebentar lagi saya akan dipanggil, maka angkatlah seorang amir yang kamu cintai. Kalau kamu mengangkatnya saat saya masih hidup, tentu kamu tidak akan berselisih sepeninggalku.”

Beberapa sahabat yang diundang untuk bermusyawarah meninggalkan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu dan berdiskusi sesama mereka. Setelah itu, mereka datang kembali dan meminta beliau saja yang menunjuk satu calon. Melihat keadaan mereka, Abu Bakr mengira mereka berselisih, kata beliau, “Apakah ada perselisihan di antara kamu dalam masalah ini?” “Tidak,” kata mereka. “Kalau begitu, demi Allah, kamu siap untuk ridha dengan pilihanku?”

“Ya,” kata mereka.

“Beri saya kesempatan agar bisa melihat mana yang terbaik untuk Allah, agama-Nya, dan hamba-hamba-Nya.”

Setelah itu, beliau mengundang ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu dan berbincang. ‘Utsman mencalonkan ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Abu Bakr setuju dan memerintahkan menulis sebuah surat penetapannya sebagai Khalifah. Diriwayatkan pula ketika terdengar nama ‘Umar disebut sebagai calon khalifah sesudah Abu Bakr, Thalhah radhiyallahu ‘anhu datang menemui Khalifah yang terbaring lemah. Katanya, “Apakah benar ‘Umar yang dicalonkan sebagai khalifah? Anda sudah mengetahui apa yang diterima kaum muslimin darinya, padahal Anda ada bersama dia. Bagaimana keadaan mereka seandainya hanya dia yang di hadapan mereka? Dan Anda akan bertemu dengan Rabb Anda lalu menanyai Anda tentang rakyat Anda?”

Abu Bakr marah mendengar ucapan Thalhah, “Dudukkan saya. Apakah kamu mau menakut-nakuti saya dengan Allah? Kalau saya bertemu Allah Subhanahu wata’ala dan ditanya tentang urusan ini, saya akan mengatakan, ‘Saya telah mengangkat untuk golongan-Mu orang terbaik dari golongan-Mu’.”

Lepas dari itu semua, yang masyhur adalah Abu Bakr sendiri yang menetapkan pilihannya. Bisa jadi, alasannya adalah seperti yang dikemukakan dalam riwayat Thalhah di atas. Bisa jadi pula ada alasan lainnya, sebagaimana ditunjukkan dalam hadits-hadits yang menyebutkan kelayakan ‘Umar menjadi khalifah. Memang ada beberapa hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengisyaratkan kekhalifahan Abu Bakr ash-Shiddiq dan ‘Umar bin al-Khaththab sesudahnya.

Bahkan, hadits-hadits itu menegaskan bahwa keduanya berhak menjadi khalifah sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Akan tetapi, hadits-hadits tersebut tidak secara tegas menetapkan keduanya sebagai khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. Beberapa hadits itu, antara lain sebagai berikut. Dari Ibnu ‘Abbas Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia berkata,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى رَسُولَ اللهِ فَقَالَ: إِنِّي رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ فِي الْمَنَامِ ظُلَّةً تَنْطُفُ السَّمْنَ وَالْعَسَلَ فَأَرَ ى النَّاسَ يَتَكَفَّفُونَ مِنْهَا فَالْمُسْتَكْثِرُ وَالْمُسْتَقِلُّ وَإِذَا سَبَبٌ وَاصِلٌ مِنَ الْأَرْضِ إِلَى السَّمَاءِ فَأَرَاكَ أَخَذْتَ بِهِ فَعَلَوْتَ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَعَلَا بِهِ ثُمَّ أَخَذَ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَانْقَطَعَ ثُمَّ وُصِلَ. فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، وَاللهِ لَتَدَعَنِّي فَأَعْبُرَهَا. فَقَالَ النَّبِيُّ اعْبُرْهَا. قَالَ: أَمَّا الظُّلَّةُ فَالْإِسْلَامُ وَأَمَّا الَّذِي يَنْطُفُ مِنَ الْعَسَلِ وَالسَّمْنِ فَالْقُرْآنُ حَلَاوَتُهُ تَنْطُفُ فَالْمُسْتَكْثِرُ مِنَ الْقُرْآنِ وَالْمُسْتَقِلُّ وَأَمَّا السَّبَبُ الْوَاصِلُ مِنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ فَالْحَقُّ الَّذِي أَنْتَ عَلَيْهِ تَأْخُذُ بِهِ فَيُعْلِيكَ اللهُ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ مِنْ بَعْدِكَ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُ بِهِ رَجُلٌ آخَرُ فَيَعْلُو بِهِ ثُمَّ يَأْخُذُهُ رَجُلٌ آخَرُ فَيَنْقَطِعُ بِهِ ثُمَّ يُوَصَّلُ لَهُ فَيَعْلُو بِهِ، فَأَخْبِرْنِي يَا رَسُولَ اللهِ، بِأَبِي أَنْتَ، أَصَبْتُ أَمْ أَخْطَأْتُ؟قَالَ النَّبِيُّ أَصَبْتَ بَعْضًا وَأَخْطَأْتَ بَعْضًا. : قَالَ: فَوَا ،َهللِ يَا رَسُولَ اللهِ، لَتُحَدِّثَنِّي بِالَّذِي أَخْطَأْتُ. قَالَ لَا تُقْسِمْ

Ada seseorang menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Saya tadi malam melihat dalam mimpi, sebuah awan yang menaungi, mencucurkan minyak samin dan madu. Saya melihat manusia menampungnya dengan tangan mereka,ada yang banyak dan ada yang sedikit. Tiba-tiba ada tali yang menjulur dari bumi ke langit dan saya melihat Anda memegangnya lalu naik. Kemudian ada orang lain yang memegangnya lalu naik, dan ada seorang lagi memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan.”

Kata Abu Bakr, “Ya Rasulullah, ibu bapakku jadi tebusanmu, demi Allah, biarkanlah saya menakwilkannya.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Takwilkanlah!” “Adapun awan, artinya Islam, dan yang mencucurkan samin dan madu artinya adalah al-Qur’an dan  kelezatannya, maka ada yang banyak menerima al-Qur’an dan ada yang sedikit.

Adapun tali dari langit ke bumi ialah al-haq yang engkau berjalan di atasnya lalu engkau memegangnya dan Allah Subhanahu wata’ala meninggikan engkau dengannya. Kemudian ada yang memegangnya sesudah engkau lalu naik dengannya. Kemudian ada lagi yang memegangnya dan naik dengannya, lalu ada pula yang memegangnya tetapi putus kemudian disambungkan untuknya dan naik dengannya. Terangkanlah kepadaku wahai Rasulullah, bapak dan ibuku tebusanmu, apakah saya benar ataukah salah?”

Kata Nabi n, “Kamu benar sebagian dan salah pada bagian lain.” Kata Abu Bakr, “Demi Allah, wahai Rasulullah, terangkanlah kepadaku mana yang salah.” Kata beliau,”Jangan bersumpah.”

Kata Ibnu Hajar rahimahumallah, “Yang memegang tali itu satu demi satu adalah ketiga khalifah sesudah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Kemudian hadits Abu Dzar al- Ghifari radhiyallahu ‘anhu,

إِنِّي لَشَاهِدٌ عِنْدَ رَسُوْلُ اللهِ فِي حَلَقَةٍ، وَفِي   يَدِهِ حَصًى، فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، وَفِينَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ وَعُثْمَانُ وَعِلِيٌّ، فَسَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ,إِلَى أَبِي بَكْرٍ فَسَبَّحْنَ مَعَ أَبِي بَكْرٍ، سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَى النَّبِيِّ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ،  ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُمَرَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ سَمِعَ تَسْبِيحَهُنَّ مَنْ   فِي الْحَلَقَةِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ النَّبِيُّ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَسَبَّحْنَ فِي يَدِهِ، ثُمَّ دَفَعَهُنَّ إِلَيْنَا فَلَمْ يُسَبِحْنَ مَعَ أَحَدٍ مِنَّا

“Sungguh, aku benar-benar saksi di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sebuah halaqah dan di tangan beliau ada beberapa kerikil. Lalu kerikil-kerikil itu bertasbih di tangan beliau, sementara di antara kami ada Abu Bakr, ‘Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali.

Semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih tersebut. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada Abu Bakr lalu kerikil-kerikil itu bertasbih bersama Abu Bakr, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil itu.

Kemudian dia menyerahkannya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan masih bertasbih di tangan beliau. Lalu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Umar dan bertasbih di tangannya, semua yang di dalam halaqah itu mendengar tasbih kerikil tersebut.

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menyerahkannya kepada ‘Utsman bin ‘Affan dan bertasbih di tangannya, lalu beliau menyerahkannya kepada kami, tetapi tidak bertasbih bersama siapa pun di antara kami.”

Ibnu Abi ‘Ashim berdalil dengan hadits ini tentang kekhalifahan ketiga sahabat yang mulia tersebut. Akan tetapi, tidak secara tegas menunjukkan beliau menetapkan kedua sahabat yang mulia ini sebagai khalifah sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dinukil pula dari ‘Umar bin al- Khaththab radhiyallahu ‘anhu sendiri bahwa beliau mengatakan, “Andaikata saya mau menunjuk pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Abu Bakr. Tetapi, kalau saya tidak menetapkan pengganti, maka orang yang lebih baik dari saya telah melakukannya, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Demikianlah. Sebelum wafat, Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu telah menetapkan ‘Umar sebagai penggantinya untuk melanjutkan tugas mengurusi kepentingan kaum muslimin.

Bismillahirrahmanirrahim,Ini adalah keputusan Abu Bakr saat-saat terakhirnya di dunia dan akan meninggalkannya, serta awal perjalanannya menuju akhirat dan memasukinya. Saat-saat ketika orangyang kafir beriman, orang yang jahat pun bertakwa, dan pendusta berbuat jujur. Sungguh, saya telah menunjuk ‘Umar bin al-Khaththab sebagai pengganti saya. Kalau dia berbuat adil, itulah yang saya yakini tentang dia. Kalau dia berbuat zalim dan mengubah (aturan), yang baiklah yang saya harapkan dan saya mengetahui perkara gaib. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَسَيَعْلَمُ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَيَّ مُنقَلَبٍ يَنقَلِبُونَ

“Dan orang-orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.” (asy-Syu’ara’: 227)

Kemudian, secara khusus pula beliau mengingatkan ‘Umar radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah wasiat;

Wahai ‘Umar. Saya menyampaikan satu wasiat kepadamu, kalau kamu mau menerimanya. Sesungguhnya, ada hak Allah Subhanahu wata’ala di malam hari yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima kalau ditunaikan pada siang hari. Dan ada pula hak-Nya di siang hari, yang tidak Allah Subhanahu wata’ala terima, apabila ditunaikan pada malam hari.

Sungguh, Allah Subhanahu wata’ala tidak akan menerima amalan sunnah sampai yang wajib dikerjakan lebih dahulu. Beratnya timbangan amalan orangorang yang berat timbangannya di akhirat adalah karena sikap ittiba’ (mengikuti) mereka terhadap al-haq selama di dunia, sehingga hal itu terasa berat atas mereka.

Sangatlah pantas timbangan itu diletakkan padanya al-haq lalu menjadi berat. Ringannya timbangan mereka yang ringan timbangannya di akhirat adalah karena mereka mengikuti yang batil, dan diringankan (dimudahkan kebatilan itu) atas mereka di dunia.

Pantaslah timbangan yang diletakkan di dalamnya kebatilan itu menjadi ringan. Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Subhanahu wata’alaersama ayat tentang raja’. Hal itu adalah agar manusia tetap dalam keadaan berharap dan cemas, tidak sampai melemparkan mereka ke jurang kebinasaan dan mengangankan terhadap Allah Subhanahu wata’ala sesuatu yang tidak haq.

Kalau kamu menghafal wasiatku ini, tidak ada lagi perkara gaib yang lebih kamu cintai melebihi kematian, padahal dia mesti kamu hadapi. Dan kalau kamu menyia-nyiakan wasiatku ini, tidak ada sesuatu yang lebih kamu benci melebihi kematian, padahal kamu mesti merasakannya dan tidak mampu menolaknya.”

Setelah itu, pengangkatan tersebut diumumkan di Masjid Nabawi, lalu kaum muslimin satu demi satu menyatakan bai’at kepada al-Faruq radhiyallahu ‘anhu.

Kedudukan Kekhalifahan ‘Umar

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sungguh, islamnya ‘Umar adalah kemuliaan, hijrahnya adalah kemenangan dan pertolongan , sedangkan kepemimpinannya adalah rahmat.”

Dari uraian Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ini dan kenyataan sejarah tentang kepemimpinan ‘Umar dapat dikatakan bahwa kekhalifahan beliau adalah simbol keamanan dan kekuatan sebuah negara yang berdaulat serta kemuliaan umat Islam. Hal ini telah dipersaksikan oleh Rasulullah n sendiri, demikian pula para sahabat lainnya.

Suatu hari, ‘Umar berkata kepada para sahabatnya, “Siapa di antara kamu yang menghafal sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang fitnah?”

“Saya menghafalnya sebagaimana diucapkan beliau (Shallallahu ‘alaihi wasallam),” kata Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu.

“Bacakan, sungguh kamu sangat berani,” kata ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.Kata Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu ,

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

فِتْنَةُ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَجَارِهِ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصَّدَقَةُ وَالْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيُ عَنْ الْمُنْكَرِ

Kekeliruan seseorang dalam urusan keluarga, harta dan tetangganya, dihapus oleh shalat, sedekah, amar ma’ruf nahi munkar’.”

Kata ‘ Umar , “ Saya tidak memaksudkan ini, tetapi fitnah yang bergelombang seperti ombak di lautan.” Hudzaifah berkata, “Hai Amirul Mukminin, tidak ada kejelekan atasmu dari fitnah itu, karena sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada pintu yang terkunci.”

“Apakah pintu itu dibuka atau dihancurkan?” tanya ‘Umar.

“Dihancurkan,” kata Hudaaifah.

“Kalau begitu, pintu itu tidak akan tertutup lagi selama-lamanya,” kata ‘Umar. Kami berkata kepada Hudzaifah, “Apakah ‘Umar mengetahui ihwal pintu tersebut?”

“Ya, sebagaimana dia tahu setelah siang adalah malam.”

“Sungguh aku telah menyampaikan kepadanya hadits yang tidak mengadaada, maka kami segan menanyakannya. Lalu kami memerintahkan Masruq agar menanyakan kepadanya siapa pintu itu.” Kata beliau, “Pintu itu adalah ‘Umar.” Di dalam hadits ini diberitakan tidak terjadinya fitnah di masa ‘Umar radhiyallahu ‘anhu.

Bahkan, perumpamaan beliau adalah seperti pintu yang menghalangi masuknya fitnah menerpa umat Muhammad n. Kematian beliau z yang digambarkan dengan pecahnya pintu tersebut, sehingga tidak mungkin akan tertutup selamanya. Semua itu adalah isyarat bahwa kekacauan itu seperti gelombang yang menerjang umat Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan gugurnya ‘Umar sebagai syahid. Ujian pertama yang terjadi setelah kekhalifahannya adalah terbunuhnya Dzun Nurain Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu. Kemudian bermunculan hawa nafsu dan kebid’ahan melanda kaum muslimin. Wallahul Musta’an.

Dalam sebuah riwayat disebutkan pula bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

رَأَيْتُ النَّاسَ مُجْتَمِعِينَ فِي صَعِيدٍ فَقَامَ أَبُو بَكْرٍ فَنَزَعَ ذَنُوبًا أَوْ ذَنُوبَيْنِ وَفِي بَعْضِ نَزْعِهِ ضَعْفٌ وَا يَغْفِرُ لَهُ ثُمَّ أَخَذَهَا عُمَرُ فَاسْتَحَالَتْ بِيَدِهِ غَرْبًا فَلَمْ أَرَ عَبْقَرِيًّا فِي النَّاسِ يَفْرِي فَرِيَّهُ حَتَّى ضَرَبَ النَّاسُ بِعَطَنٍ

“Saya melihat manusia berkumpul di satu tanah lapang, lalu berdirilah Abu Bakr menimba satu atau dua timba, dan pada sebagian tarikannya ada kelemahan, semoga Allah Subhanahu wata’ala mengampuninya. Kemudian timba itu diambil oleh ‘Umar dan berubah menjadi timba yang sangat besar. Saya belum pernah melihat orang yang sangat kuat menarik timbanya, hingga manusia menggiring unta mereka ke tempat istirahatnya (negara bertambah luas, –red.).”8

Dalam riwayat lain disebutkan, hingga dia menguasai telaga sampai memancarkan air. Kata Ibnu Rajab, “Ini adalah isyarat bahwa ‘Umar tidak mati kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya dan urusan agama ini kokoh. Semua itu karena panjangnya masa pemerintahan beliau radhiyallahu ‘anhu dan kesungguhan beliau dalam menanganinya. Berita nubuwah itu telah menjadi kenyataan. Di zaman beliau dua kerajaan besar dihancurkan, yaitu Romawi dan Persia, hingga menimbulkan dendam berkarat di dalam dada anak cucu mereka sampai saat ini. Kekuasaan Islam semakin meluas, hingga meliputi sepertiga belahan dunia.

Beberapa sahabat juga mengakui keutamaan masa kekhalifahan beliau, seperti ungkapan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu di atas. Hudzaifah mengatakan, “Islam di masa ‘Umar seperti orang yang sedang mendekat, semakin lama semakin dekat. Tetapi, setelah beliau terbunuh, Islam seperti orang yang pergi, semakin lama semakin jauh.” Setelah ‘Umar gugur sebagai syahid, Ummu Aiman radhiyallahu ‘anha menyatakan, “Hari ini Islam menjadi lemah.” Wallahul muwaffiq.

(Insya Allah bersambung)

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Sebab yang Menguatkan Kecintaan Hamba kepada Allah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلاَ ،ِلهلِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

“Ada tiga perkara yang jika ketiganya ada pada seseorang, akan membuatnya merasakan manisnya keimanan: hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya; jika mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan dia membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci menuju api neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ

“Dan (adapun) orang-orang yang beriman, kecintaan mereka kepada Allah lebih kuat.” (al-Baqarah: 165)

Mukmin sejati yang selalu mendambakan mengecap manisnya keimanan tentu akan terus berusaha menguatkan kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyaht menyebutkan beberapa sebab yangdapat menguatkan kecintaan seorang hamba kepada Allah di dalam kitab beliau, Madarij as-Salikin. Berikut ini adalah rangkuman dari kitab tersebut yang dapat kami rumuskan. Sebab yang menumbuhkan dan membangkitkan kecintaan hamba kepada Allah ada sepuluh:

1. Membaca al-Qur’an dengan tadabbur dan memahami maknanya layaknya seseorang yang berusaha memahami dan mensyarah sebuah kitab yang telah ia hapal.

2. Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wata’ala dengan amalan sunnah setelah menyempurnakan amalan wajib. Dengan hal ini, seorang hamba akan mencapai derajat “hamba yang dicintai Allah” setelah melampaui derajat “hamba yang mencintai Allah”.

3. Senantiasa berzikir mengingat Allah dalam setiap keadaan, dengan lisan dan hati, serta dengan amalan badan dan hati. Kadar kecintaan hamba kepada Allah Subhanahu wata’ala sesuai dengan kadarzikir dan ingatnya kepada Allah Subhanahu wata’ala.

4. Selalu mengedepankan perkara yang Allah Subhanahu wata’ala cintai dibandingkan dengan perkara yang kita cintai dan inginkan saat hawa nafsu menguasai; selalu berusaha meraih perkara yang Dia Subhanahu wata’ala cintai walau jalan begitu mendaki.

5. Menyibukkan hati untuk mengenal dan mentadabburi nama-nama dan sifat-sifat Allah Subhanahu wata’ala. Ia berulang merenungi dan menyaksikan nama dan sifat-Nya. Sebab, hamba yang mengenal kesempurnaan Allah Subhanahu wata’ala dalam hal nama, sifat, dan perbuatan-Nya, pasti akan mencintai- Nya.

Para ahlu ta’thil (pengingkar namanama dan sifat-sifat Allah) dari kalangan Jahmiyah yang satu mazhab dengan Fir’aun1 pada hakikatnya adalah para pembegal yang menghalangi para hamba untuk bisa mencintai Allah. Sebab, mereka tidak mengakui nama-nama dan sifatsifat Allah yang merupakan sumber rasa cinta seorang hamba kepada Allah l. Tanpa mengenal nama dan sifat Allah Subhanahu wata’ala, mustahil seorang hamba mencapai derajat mahabbah.

6. Merenungi segala kebaikan, karunia, pemberian, dan nikmat lahirbatin yang Allah l limpahkan kepada hamba.

7. Tunduk dan luluhnya hati seutuhnya di hadapan Allah Subhanahu wata’ala, seperti saat seorang hamba tunduk luluh meminta hajatnya yang mendesak atau meminta ampunan dan bertobat kepada Allah dengan sungguh-sungguh hingga air matanya bercucuran. Ini termasuk sebab yang paling menakjubkan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

8. Beribadah seorang diri menghadap Allah Subhanahu wata’ala pada waktu sepertiga malam terakhir saat Allah Subhanahu wata’ala turun ke langit dunia; berdoa kepada-Nya dan membaca al-Qur’an, kalam-Nya yang mulia; melaksanakan tata cara ibadah yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di hadapan-Nya, kemudian menutup wirid malamnya itu dengan tobat dan istighfar.

9. Bermajlis dan berkumpul bersama orang-orang yang jujur kecintaannya kepada Allah Subhanahu wata’ala; memetik manisnya buah ucapan mereka seperti memanen buah-buahan yang telah masak. Ia tidak berbicara kecuali jika berbicara lebih bermaslahat dan bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain.

10. Menjauhi segala perkara yang memalingkan hati dari Allah Subhanahu wata’ala, seperti perbuatan maksiat, makruh, sia-sia, dsb.

Dengan perantara sepuluh sebab inilah para pecinta mencapai derajat mahabbah, yaitu kemurnian cinta hingga mereka bertemu Dzat yang mereka cintai, Allah Subhanahu wata’ala. Kunci keberhasilan semua ini ada dua:

1. Kesiapan jiwa dan roh untuk menempuh jalan cinta ini,

2. Terbukanya mata hati untuk memahami rambu-rambunya.

Wallahul muwafiq.2

Semoga Allah menjadikan ilmu kita sebagai ilmu bermanfaat yang mengantarkan kita menuju kecintaan- Nya dan keridhaan-Nya. Wallahu a’lam.

Al-Ustadz Abdul Jabbar

Bacaan-Bacaan Tasyahud

Dahulu sebelum diajari tasyahud, dalam shalat para sahabat mengucapkan,

السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، السَّلاَمُ عَلىَ جِبْرِيْلَ وَمِيْكَائِيْلَ، السَّلاَمُ عَلَى فُلاَنٍ وَفُلاَنٍ

“Keselamatan atas Allah. Keselamatan atas Jibril dan Mikail. Keselamatan atas Fulan dan Fulan (yang mereka maksudkan adalah para malaikat).”

Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menghadap mereka seraya berkata,

لاَ تَقُوْلُوا: السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلاَمُ

Janganlah kalian mengatakan, “Keselamatan atas Allah; karena Allah adalah as-Salam.”

Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari mereka bacaan tasyahud. (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)

Membaca Tasyahud Disunnahkan dengan Sirr

Abdullah ibnu Mas ’udz mengatakan, “Merupakan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, tasyahud dibaca secara sirr.” (HR. Abu Dawud no. 986, at-Tirmidzi no. 291, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan Shahih at-Tirmidzi)

Al-Imam Tirmidzi rahimahumallah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh para ulama.” (Sunan at-Tirmidzi, 1/179)

An-Nawawi rahimahumallah berkata, “Ulama sepakat disirrkannya bacaan tasyahud dan dibenci membacanya dengan jahr. Mereka berdalil dengan hadits Ibnu Mas’ud.” (al-Majmu’, 3/444)

Bacaan Tasyahud

Bacaan tasyahud yang diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bermacam-macam sehingga memberikan kelapangan kepada umat beliau untuk memilih di antara bacaanbacaan tersebut.

1. Tasyahud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu Ini adalah bacaan tasyahud yang paling sahih di antara bacaan-bacaan yang ada menurut para ulama.

Ibnu Mas’ud Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Rasulullah n mengajariku tasyahud, dalam keadaan telapak tanganku berada di antara dua telapak tangan beliau, sebagaimana beliau mengajariku surat al-Qur’an” (HR. al-Bukhari no. 6265 dan Muslim no. 899).

Adapun bacaannya adalah sebagai berikut,

التَّحِيَّاتُ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah Subhanahu wata’ala dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh1. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. al-Bukhari no. 831 dan Muslim no. 895)

Sebagian sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dengan,

السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيّ

menggantikan,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

Di antara yang meriwayatkan demikian adalah Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih al-Bukhari (no. 6265) dan selainnya, dengan jalur selain jalur riwayat di atas. Beliau berkata, “Kami mengatakan saat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ

“Keselamatan atasmu….”

Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat, kami mengatakan,

السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيّ

“Keselamatan atas Nabi….”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Menurut tambahan riwayat ini, zahirnya para sahabat mengucapkan,

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

dengan huruf kaf yang menunjukkan kata ganti orang kedua (yang diajak bicara) ketika Nabi n masih hidup. Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sudah meninggal, mereka menyebutkan dengan lafadz ghaib (kata ganti orang ketiga yang tidak hadir). Mereka mengatakan,

السَّلاَمُ عَلَي النَّبِيُّ

(lihat Fathul Bari, 11/48) Al-Imam al-Albani t mengatakan, “Dalam hal ini masalahnya lapang. Sebab, lafadz mana pun yang diucapkan oleh seorang yang shalat, asalkan itu tsabit/ pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, dia telah menepati sunnah.(al-Ashl, 3/891)

Pendapat Ibnu Utsaimin dalam Masalah Ini

Kata Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahumallah, “Menurut saya, ini adalah ijtihad Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Akan tetapi, ijtihad ini tidak benar dari tiga sisi:

1. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  mengajari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu hadits ini dan tidak mengaitkannya dengan menyatakan, “Selama aku masih

hidup (ucapkan begini…).” Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam justru memerintahkan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu untuk mengajari manusia lafadz seperti ini.

2. Orang yang mengucapkan salam kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di dalam shalat tidaklah sama dengan orang yang mengucapkan salam dalam keadaan berhadapan/ bertemu, yang saling bertemu ini tidak terjadi lagi setelah wafat beliau (karena itu lafadznya perlu diganti).

Akan tetapi, orang yang mengucapkan salam kepada beliau di dalam shalat hanyalah sebagai bentuk doa, bukan salam karena mengajak bicara.

3. Amirul Mukminin Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengajari tasyahud kepada manusia dalam posisi beliau sebagai khalifah di atas mimbar Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dengan lafadz,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ

Hal ini disaksikan oleh para sahabat  dan dalam keadaan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah wafat. Namun, tidak ada seorang pun yang mengingkari lafadz yang diajarkan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu. Di samping itu, tidak diragukan bahwa Umar radhiyallahu ‘anhu lebih berilmu dan lebih faqih daripada Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, sampai-sampai Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنْ يَكُنْ فِيْكُمْ مُحَدَّثُوْنَ فَعُمَرُ

“Jika di antara kalian ada muhaddatsun2, dia adalah Umar.” (Fathu Dzil Jalali wal Ikram bi Syarh Bulughil Maram, 3/394)

Dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah dinyatakan, “Yang benar, seorang yang shalat mengucapkan dalam tasyahudnya,

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Sebab, inilah yang tsabit dalam hadits-hadits. Adapun riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam masalah tasyahud, jika memang haditsnya sahih, hal itu merupakan ijthad dari pelakunya yang tidak bisa dipertentangkan dengan hadits-hadits yang tsabit. Seandainya hukumnya berbeda antara semasa hidup Rasulullah dan sepeninggal beliau, niscaya beliau akan menerangkannya kepada mereka.” (Fatawa al-Lajnah ad-Daimah, 7/10—11)

Hukum Tambahan Lafadz “Wa Maghfiratuh”

Rabi’ bin Haitsam pernah datang kepada Alqamah, meminta pendapat Alqamah untuk menambah setelah ‘warahmatullahi’ dengan lafadz ‘wa maghfiratuh’. Alqamah berkata, “Kita hanyalah mencukupkan dengan apa yang telah diajarkan kepada kita (dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).” (Mushannaf Abdirrazzaq ash-Shan’ani, no. 3062)

2. Tasyahud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu

Menurut al-Imam asy-Syafi’i rahimahumallah, tasyahud ini paling beliau senangi karena paling sempurna. Meski demikian, beliau,tidak mempermasalahkan orang lain yang mengamalkan tasyahud selain ini selama haditsnya sahih. (al-Umm, Bab “at-Tasyahud wash Shalah ‘alan Nabi”)

Adapun bacaannya,

التَّحِيَّاتُ الْمُبَارَكَاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ ،ِلهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan, keberkahan-keberkahan, demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah l) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 900)

3. Tasyahud Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu

Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ ،ِلهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala), demikian pula shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Muslim no. 902)

4. Tasyahud Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu

Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ الصَّلَوَاتُ الطَّيِّبَاتُ، السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan milik Allah, demikian pula shalawat (doadoa= pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala). Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Abu Daud no. 971, dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Daud)

5. Tasyahud Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu

Umar mengajarkannya kepada manusia dalam keadaan beliau berada di atas mimbar. Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ ،ِلهلِ الزَّاكِيَاتُ ،ِلهلِ الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ لهلِ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

“Semua salam/keselamatan milik Allah, amal-amal saleh yang menumbuhkan pahala untuk pelakunya di akhirat adalah untuk Allah, demikian pula ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala) dan shalawat (doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala) adalah milik Allah. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hambahamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya.” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’, no. 207)

Walaupun riwayat ini mauquf sampai Umar, namun hukumnya marfu’ sebagaimana kata Ibnu Abdil Barr rahimahumallah, “Dimaklumi, dalam urusan seperti ini tidaklah mungkin (seorang sahabat) mengatakan dengan ra’yu/akal-akalan/ pendapat pribadi.” (al-Istidzkar, 4/274)

6. Tasyahud Aisyah radhiyallahu ‘anhu

Lafadznya,

التَّحِيَّاتُ، الطَّيِّبَاتُ، الصَّلَوَاتُ، الزَّكِيَاتُ ،ِلهلِ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلاَمُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ. السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

“Semua salam/keselamatan, ucapan-ucapan yang baik (yang pantas disanjungkan kepada Allah Subhanahu wata’ala), shalawat(doa-doa pengagungan kepada Allah Subhanahu wata’ala), demikian pula amal-amal saleh yang menumbuhkan pahala untuk pelakunya di akhirat adalah untuk Allah. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Salam kesejahteraan atasmu wahai Nabi, rahmat Allah dan keberkahan-Nya. Salam kesejahteraan atas kami dan atas hamba-hamba Allah yang saleh. Salam kesejahteraan atas kalian.” (HR. Malik no. 209)

Bacaan Tasyahud Manakah yang Paling Utama?

Yang mana saja dari bacaan di atas diamalkan oleh orang yang shalat, semuanya sahih dan mencukupinya. Kata an-Nawawi rahimahumallah, “Ulama sepakat bolehnya membaca semua tasyahud yang ada, namun mereka berselisih tentang mana yang paling utama dibaca. Mazhab asy-Syafi’i rahimahumallah dan sebagian pengikut al-Imam Malik rahimahumallah berpandangan tasyahud Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu lebih utama karena ada tambahan lafadz al-mubarakat di dalamnya dan sesuai dengan firman Allah Subhanahu wata’ala,

تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً

“Tahiyyat dari sisi Allah yang mubarakah thayyibah.” (an-Nur: 61)

Selain itu, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menegaskan tasyahud yang diperolehnya dengan pernyataan, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami surat dari al- Qur’an.” Abu Hanifah dan Ahmadrahimahumallah serta jumhur fuqaha dan ahlul hadits berpendapat, tasyahud Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu lebih utama karena haditsnya paling sahih menurut ahli hadits, walaupun seluruh bacaan tasyahud di atas haditsnya yang sahih.

Al-Imam Malik rahimahumallah berkata, “Tasyahud Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu  yang mauquf3 lebih utama karena Umar mengajarkamnya kepada manusia dalam keadaan beliau di atas mimbar dan tidak ada seorang pun (yang hadir) menentangnya (menyalahkan bacaannya). Ini menunjukkan keutamaan bacaan tersebut.” (al-Minhaj, 4/336)

Kata al-Imam at-Tirmidzi rahimahumallah, hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu diriwayatkan lebih dari satu jalur dan merupakan hadits yang paling sahih dari Nabi n dalam masalah tasyahud. Inilah yang diamalkan oleh mayoritas ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan kalangan tabi’in setelah mereka. Ini adalah pendapat Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, Ahmad, dan Ishaq. (Sunan at-Tirmidzi, 1/177—178)

Kata al-Bazzar rahimahumallah, sebagaimana dinukil oleh al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahumallah dalam Fathul Bari (2/408), “Aku tidak mengetahui dalam hal tasyahud ada hadits yang lebih kokoh, lebih sahih sanadnya, dan lebih masyhur para rawinya daripada hadits ini.”

Memulai Tasyahud dengan Zikir Selain Tahiyat

Abul Aliyah berkata, “Ibnu Abbas mendengar seseorang ketika duduk dalam shalat berkata, ‘Alhamdulillah’, sebelum membaca tasyahud. Ibnu Abbas menghardiknya seraya mengatakan, ‘Mulailah dengan tasyahud ’.” (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq no. 3058)

Dalam riwayat al-Baihaqi (2/143) disebutkan, Ibnu Abbas mendengar ada seseorang berkata dalam tasyahhudnya, ‘Bismillah, at-tahiyyatu lillah’, maka Ibnu Abbas menghardiknya. Ada riwayat dari Ibnu Abbas juga, dia mendengar seseorang ketika duduk dalam shalat berkata, ‘Alhamdulillah’, sebelum  membaca tasyahud. Ibnu Abbas lalu menghardiknya dan berkata, “Mulailah dengan tasyahud.”

Al-Imam Ibnul Mundzir rahimahumallah mengatakan tentang mengawali bacaan tasyahud dengan zikir yang lain, “Tidak ada satu pun berita yang sahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan adanya bacaan tasmiyah (mengucapkan bismillah) sebelum bertasyahud. Aku tidak mengetahui penyebutan yang demikian selain hadits Aiman, dari Abu az-Zubair, dari Jabir. Namun, dikatakan bahwa Aiman keliru dalam masalah ini dan tidak ada yang meyepakatinya. Jadi, dia tidak kokoh dari sisi penukilan. Semua ulama yang kami jumpai memandang bahwa (bacaan tasyahud) dimulai dengan tasyahud (tanpa ucapan lain sebelumnya) berdasar kabar yang tsabit dari Rasulullah n. Dalam hadits Abu Musa ada dalil yang menunjukkan benarnya ucapan ini. Aku pun telah menyebutkannya dalam kitab ini. Ini adalah pendapat ulama penduduk Madinah, ulama penduduk Kufah, dan asy-Syafi’i serta pengikutnya. Seandainya seseorang ingin bertasyahud dengan menyebut nama Allah Subhanahu wata’ala sebelumnya, tidak ada dosa baginya.” (al-Ausath min as-Sunan wa al-Ijma’ wa al-Ikhtilaf, 2/382—383)

Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim al-Atsari

Menanti Setetes Embun

Sebagian dinding rumah itu nyaris rubuh. Dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu itu tak lagi tegak. Keadaannya telah lama miring. Rumah milik Suparjo, warga Dusun Muara Dua, Desa Panikel, Kecamatan Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, telah lama mengenaskan keadaannya. Saat Majalah Asy-Syariah berkunjung, Suparjo tengah merawat anaknya yang sakit. Suparjo, dalam usia 60 tahun lebih, harus berjuang menghadapi kehidupan yang keras. Suparjo adalah salah satu sosok mualaf di Kecamatan Kampung Laut. Saat belum menemukan cahaya

Islam, ia banyak mengajak warga Kampung Laut memeluk Katolik. Ia termasuk orang kepercayaan Charles Patrick Edward Burrows, pastor Paroki St. Stephanus Cilacap, Jawa Tengah. Baginya, Kampung laut, terkhusus Dusun Muara Dua, Desa Panikel, adalah wilayah jelajah pengembangan misinya. Kini, setelah cahaya Islam menembus kalbunya, Suparjo berusaha mengislamkan kembali orang-orang yang dahulu diajaknya memeluk Katolik. “Kini, kegiatan gereja Katolik di Muara Dua diisi jamaah dari luar daerah,” kata Suparjo. “Pihak paroki mendatangkan jamaah dari luar daerah dengan kendaraan,” katanya menekankan.

Keadaan masyarakat Kampung Laut yang banyak dililit kemiskinan menjadi lahan empuk bagi aksi kristenisasi. Selain misionaris dari kalangan Katolik, kalangan Kristen dari sekte Advent pun turut pula mewarnai. Setelah itu muncul dari kalangan Kristen sekte Bethel. Tak terlalu lama, jamaah Bethel langsung mendirikan gereja di Ujung Gagak dan Cibeureum. Itulah aksi nyata mereka guna melakukan pemurtadan di tengah kaum muslimin. Kecamatan Kampung Laut yang terdiri dari Desa Klaces, Panikel, Ujung Alang, dan Ujung Gagak telah lama menjadi ajang pemurtadan. Charles Patrick Edward Burrows alias Romo Carolus sejak tahun 1973 telah menyambangi Kampung Laut. Pria kelahiran Irlandia 69 tahun lalu ini sengaja menjadi Warga Negara Indonesia pada 1983. Tentu saja, agar semua aktivitasnya di Indonesia bisa mulus. Termasuk, memuluskan aksi-aksi misionarisnya. Untuk mengelabui masyarakat, ia mengemas aksi pemurtadannya dengan wujud aksi kemanusiaan. Dibentuklah  Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS), Lembaga Pendidikan Yos Sudarso, Yayasan Pembina Pendidikan Kemaritiman, Mikro Kredit Swadaya Wanita Indonesia, dan lainnya, yang merupakan kepanjangan tangan dari misi gereja.

Kampung Laut adalah sebutan untuk permukiman di seputar Segara Anakan. Letaknya di antara daratan Cilacap sebelah barat dan Pulau Nusakambangan. Jika dari arah Kota Cilacap, menuju desa Kampung Laut, yaitu Ujung Alang, bisa ditempuh sekitar 1—2 jam perjalanan. Selain itu, dari arah Ciamis, melalui Pelabuhan Majingklak bisa lebih dekat. Banyak perahu yang ditambat di pelabuhan untuk melaju ke Kampung Laut. Segara Anakan merupakan pertemuan air laut Samudra Hindia dengan air tawar dari beberapa muara sungai yang mengalir dari daratan Pulau Jawa, seperti Sungai Citandui , Sungai Cibeureum, Sungai Cikonde, Sungai Cemenang, dan lainnya. Segara Anakan dari tahun ke tahun mengalami pendangkalan akibat air sungai yang membawa lumpur.

Dari lumpur itulah terbentuk mud island (tanah timbul) yang kemudian ditumbuhi mangrove, yaitu hutan dengan jenis tetumbuhan tertentu, seperti ada apiapi (jenis avicenia, yaitu avicenia alba, avicenis marina, dan avicenia oficenalis), bogem (sconneratia alba), bakau (jenis rizophora mucronata dan rizophora apiculata), tancang (bruguirea sp), dan  ainnya. Dari mangrove tumbuh berbagai akar yang menjadi rumpon bagi udang, ikan, dan kepiting. Karena itu, ikan, kepiting, dan udang merupakan penghasilan andalan masyarakat nelayan Kampung Laut. Tak tertinggal, burung bangau, kuntul, dan hewan lainnya turut memberi corak alam Kampung laut. Melalui mangrove, Allah Subhanahu wata’ala mencurahkan rezeki bagi segenap makhluk-Nya di sana. Itulah nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang tiada terkira dan patut disyukuri.

Dibelahan wilayah lainnya, Kampung Laut menyimpan keindahan eksotik. Di tepian Solok Jero, terhampar pantai berpasir putih . Apabila dibentangkan, pantai ini bersambung ke pantai Pangandaran. Subhanallah, begitu menakjubkan. Menangkal laju kristenisasi di Kampung Laut tak semata berbekal penyajian materi bersifat fisik. Namun, gerakan harus dilakukan secara sinergi. Segenap kekuatan digabung, dikoordinasi secara rapi dan terprogram. Ma’had An-Nur Al-Atsary, Banjarsari, Ciamis, adalah yang mengawali penggalangan aksi melawan kristenisasi di Kampung Laut. Bekerja sama dengan para ustadz dan ikhwan salafiyin Cilacap, Ma’had An-Nur Al-Atsary terus melakukan pembinaan terhadap para mualaf. Tentu, seraya Masjid di Dusun Muara Dua, Desa Panikel, Kec. Kampung Laut menyalurkan berbagai bantuan dari para muhsinin kepada para mualaf. Tak hanya itu, di bawah arahan al-Ustadz Khatib Muwahhid, Ma’had an-Nur al-Atsary pun menggalang pula sinergi dengan para ustadz salafiyin dari berbagai daerah untuk diterjunkan di Kampung Laut. “Kami sadar, perjuangan ini tak bisa dilakukan sendirian,” tutur al-Ustadz Fauzan, salah seorang pengasuh di Ma’had an-Nur al-Atsary yang banyakterjun ke basis-basis kristenisasi.

T a k h a n y a setahun atau dua tahun, perjuangan i n i m e n u n t u t waktu yang lama. Keadaan keimanan para mualaf harus dikokohkan. Seraya memohon pertolongan- Nya, kajian-kajian keagamaan harus terus ditingkatkan intensitasnya. Maka dari itu, partisipasi dari para ustadz jangan sampai terhambat dan tidak berkesinambungan. Bagaimana pun, kehadiran para ustadz akan memberi dampak yang tak sedikit untuk para mualaf. Biidznillah.

Bagaimana hati ini tak trenyuh melihat sosok Suparjo yang telah berusaha mengislamkan kembali masyarakat Kampung Laut. Bagaimana pula hati  tak trenyuh melihat para mualaf mulai menyukai pakaian yang menampakkan syiar keislaman, sebuah fenomena baru nan menyejukkan hati. Begitu pula ketika melihat ibu-ibu petani di Solok Jero yang begitu antusias belajar Islam. Selepas shalat Jumat mereka menuruni perbukitan seraya membawa buku dan alat tulis. Bahkan, di tengah kegulitaan malam, berbekal obor di tangan, mereka melabuhkan hati di masjid untuk taklim. Mereka berharap bisa memahami Islam dengan baik dan benar. Setelah itu mereka beramal dengan ilmu yang telah direngkuhnya. Hati siapakah yang tak trenyuh melihat semangat belajar para mualaf begitu menyala? “Setelah Islam saya peluk, hati ini tenang,” aku Suparjo. Isi hatinya tercurah saat bincang-bincang tengah hari di beranda masjid yang belum selesai dibangun. Bangunan masjid itu berada persis di muka rumahnya. Untuk sekadar shalat lima waktu masjid itu bisa digunakan.

Meski untuk berwudhu harus menggunakan air yang menggenang tanah berlubang di halaman masjid. Air bersih termasuk masalah pokok yang dihadapi masyarakat Kampung Laut. “Saya merasa banyak saudara setelah berislam,” ungkap Suparjo lebih lanjut dengan polos. Sebuah pengakuan yang menyiratkan, betapa mereka sangat membutuhkan perhatian. Mereka menanti setetes embun yang menyegarkan jiwa. Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang artinya),

Barang siapa melepaskan satu kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan dunia, Allah Subhanahu wata’ala akan melepas satu kesulitan padanya dari berbagai kesulitan pada Hari Kiamat. Barang siapa memberi kemudahan pada seseorang yang Genangan air untuk berwudhu ditimpa kesusahan, niscaya Allah Subhanahu wata’ala akan memberi kemudahan padanya di dunia dan akhirat…. Allah Subhanahu wata’ala akan membantu seorang hamba manakala hamba tersebut mau menolong saudaranya.” (HR. al- Bukhari-Muslim)

Ketulusan hati untuk mengangkat derita mereka adalah kemestian. Ya, membantu mereka dari keterpurukan. Bukan mengeksploitasi mereka demi kepentingan-kepentingan sesaat selaras hawa nafsu. Bukan pula mengeksploitasi mereka demi popularitas dan membesarkan nama pribadi. Bukan, bukan untuk itu. “Dahulu, sempat ada tudingan miring kepada kami. Dikira kami mau menjual isu Kampung Laut,” papar dr. Ade, relawan yang membantu tim medis. Namun, seiring waktu, tudingan itu sirna. Alhamdulillah.

Betapa keikhlasan beramal menjadi perkara teramat penting. Kampung Laut ada di depan pelupuk mata. Akankah ia biarkan tergolek begitu saja? Mengerang, menanti kepastian. Akankah ia biarkan dicabik-cabik manusia tiada bermoral? Tentu tidak. Kampung Laut telah menjadi bagian dari kehidupan Islam. Ia tak boleh dibiarkan meratap sendiri. Luka mereka, duka kita. Saatnya menyeka air mata kesedihan. Basahi tubuh dengan cucuran peluh. Saat ini, berpangku tangan bukanlah sesuatu nan elok. Sebab, sesungguhnya orang-orang Nasrani tak akan tinggal diam guna menjejalkan makar pemurtadannya.

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ

Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepadamu hingga engkau mengikuti agama mereka.” (al- Baqarah: 120)

Semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa menolong dan memberi kemudahan kepada hamba-hamba-Nya yang ikhlas berjuang di jalan-Nya. Kampung Laut memanggil kita….

Wallahu a’lam.

Tim Reportase Majalah Asy-Syariah

Ceramah Setelah Penguburan Jenazah

Apakah disyariatkan memberi ceramah di perkuburan seusai penguburan jenazah?

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Masalah ini dapat diklasifikasikan menjadi dua jenis:

• Duduk bersama para hadirin untuk mengingatkan tentang kematian dan halhal setelahnya, tidak dengan cara berdiri berceramah seperti orang berkhutbah. Hal ini pernah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

• Berdiri setelah penguburan untuk memberi ceramah layaknya penceramah/ khatib di mimbar-mimbar dan masjidmasjid. Hal ini tidak disyariatkan dan tidak pernah dicontohkan sama sekali oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal itu menyelisihi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahkan sebagian ulama menghukuminya sebagai bid’ah tercela. Berikut kami nukilkan beberapa fatwa ulama besar zaman ini.

1. Fatwa al-Imam Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahumallah.

Kata al-Imam al-Albani rahimahumallah dalam Ahkam al-Jana’iz (hlm.198— 202), “Boleh duduk di sisi kuburan saat pemakaman berlangsung dengan maksud mengingatkan para hadirin tentang kematian dan hal-hal yang akan dihadapi setelahnya di alam kubur. Dalilnya adalah hadits al-Bara’ bin ‘Azib radhiyallahu ‘anhu,

خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ فِي جَنَازَةِ رَجُلٍ  مِنَ الْأَنْصَارِ، فَانْتَهَيْنَا إِلَى الْقَبْرِ وَلَمَّا يُلْحَدْ,فَجَلَسَ رَسُولُ اللهِ وَجَلَسْنَا حَوْلَهُ كَأَنَّمَا  عَلَى رُءُوسِنَا الطَّيْرُ وَفِي يَدِهِ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِي الْأَرْضِ، فَرَفَعَ رَأْسَهُ، فَقَالَ: اسْتَعِيذُوا بِاللهِ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ -مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا-…. الْحَدِيْثَ

“Kami keluar bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pada acara mengantar jenazah seorang pria dari kaum Anshar. Kami sampai ke kuburan sementara lahadnya belum siap. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dan kami pun duduk di sekeliling beliau seakan-akan di atas kepala-kepala kami ada burung. Di tangan beliau ada kayu untuk mencocok cocok di tanah saat berpikir. Kemudian beliau mengangkat kepala dan bersabda, ‘Berlindunglah kepada Allah dari azab kubur—dua kali atau tiga kali’ …. dst.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan al-Hakim. Al-Hakim menyatakannya sahih menurut syarat al-Bukhari-Muslim, dibenarkan oleh adz-Dzahabi dan al-Albani. Hadits ini dinyatakan sahih pula oleh Ibnul Qayyim dalam I’lam al-Muwaqqi’in dan Tahdzib as-Sunan)

Guru besar kami al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i juga menyatakan hadits ini hasan dalam kitab al-Jami’ ash-Shahih (2/271—275).

2. Fatwa al-Imam Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahumallah.

Kata al-Imam al-‘Utsamin rahimahumallah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (17/232—233), “Pendapat yang menyatakan tidak ada dalil dalam masalah ini adalah pendapat yang salah. Pendapat yang mengatakan disunnahkan berceramah di sisi kuburan juga tidak benar. Sebab, tidak ada hadits yang menyebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berdiri di sisi kuburan atau di perkuburan saat ada jenazah yang dikuburkan lantas berceramah dan memberi wejangan seakan-akan khatib shalat jum’at. Kami tidak pernah mendengar bahwa hal itu ada dalilnya. Bahkan, hal itu adalah bid’ah yang bisa jadi pada waktu yang akan datang menyeret kepada hal yang lebih berbahaya.”

Kemudian al-‘Utsaimin rahimahumallah berkata, “Oleh karena itu, kami berpendapat tidak boleh seseorang berdiri berceramah di perkuburan bagaikan khatib yang berkhutbah karena hal itu bukan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah sama sekali berdiri berceramah seusai pemakaman atau saat menanti pemakaman. Kami juga tidak pernah mendapati hal semacam itu dilakukan oleh ulama-ulama terdahulu, sedangkan mereka lebih dekat kepada as- Sunnah daripada kita. Tidak pula hal itu kami ketahui pernah dilakukan oleh para al-Khulafa’ ar-Rasyidun. Tidak pernah ada yang melakukan hal itu pada masa kekhalifahan Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhu. Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk kaum salaf jika sesuai dengan kebenaran.

Adapun wejangan yang sifatnya penyampaian nasihat di majelis bersama hadirin (sambil duduk bersama), hal itu tidak mengapa. Sebab, telah tsabit (tetap/ sahih) dalam kitab-kitab Sunan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah keluar ke perkuburan Baqi’ (al-Gharqad) untuk mengantar jenazah seorang pria dari kaum Anshar sedangkan lahadnya belum siap. Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam duduk dan para sahabat ikut duduk bersama beliau. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka tentang keadaan yang akan dialami manusia setelah kematiannya dan pemakamannya, tidak dalam bentuk ceramah (khutbah). Telah tetap pula dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Shahih al-Bukhari dan kitab lainnya bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallambersabda,

مَا مِنْكُمْ مِنْ نَفْسٍ إِلَّا وَقَدْ كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنَ الْجَنَّةِ وَمَقْعَدُهُ مِنَ النَّارِ. فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، أَلاَ نَتَّكِلُ؟ قَالَ: لاَ، اعْمَلُوْا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ

“Tidak seorang pun dari kalian kecuali telah dituliskan tempat duduknya di dalam surga dan tempat duduknya di dalam neraka. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bolehkah kami bersandar dengan hal itu?’ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Tidak boleh. Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan dengan apa yang telah ditakdirkan untuknya.” Alhasil, wejangan yang disampaikan dengan berdiri seperti berkhutbah ketika atau setelah pemakaman berlangsung bukan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Adapun wejangan yang tidak bersifat khutbah/ceramah, seperti halnya seorang yang duduk dikitari oleh rekan-rekannya lantas ia berbicara dengan topik pembicaraan yang sesuai dengan keadaan, hal itu bagus demi mencontoh Rasulullah n.”

Al-Imam al-‘Utsaimin rahimahumallah juga berkata dalam kitab Majmu’ Fatawa war Rasa’il (17/233—234), “Aku berpendapat bahwa kebiasaan berdiri memberi ceramah di sisi kuburan adalah menyelisihi sunnah Nabi radhiyallahu ‘anhu. Sebab, hal itu tidak pernah diamalkan di masa hidup Nabi radhiyallahu ‘anhu, padahal beliau adalah manusia yang paling menasihati hamba-hamba Allah Subhanahu wata’ala dan paling bersemangat/perhatian menyampaikan kebenaran. Kami sama sekali tidak mengetahui bahwa Rasulullah radhiyallahu ‘anhu pernah memberi wejangan sambil berdiri layaknya khatib yang berkhutbah. Hanyalah Nabi radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan nasihat (sambil duduk ketika menanti pemakaman).”

Al-‘Utsaimin rahimahumallah lalu menyebutkan hadits al-Bara’ radhiyallahu ‘anhu dan hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu di atas. Selanjutnya beliau berkata, “Adapun menjadikan hal ini sebagai kebiasaan,setiap kali ada mayat yang dikuburkan lantas ada yang tampil berdiri memberi ceramah, hal ini mutlak bukan kebiasaan salaf. Hendaknya masalah ini dikembalikan kepada sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Saya khawatir hal ini tergolong ekstrem (berdalam dalam lebih dari yang diinginkan). Sebab, pada hakikatnya kesempatan ini adalah waktu untuk khusyuk dan tenang (untuk merenung), bukan untuk menggugah perasaan. Tempat untuk berkhutbah adalah mimbar-mimbar dan masjid-masjid, sebagaimana yang senantiasa dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Tidak mungkin kita berdalil dengan sesuatu yang lebih khusus atas sesuatu yang lebih umum. Jika ada yang mengatakan, ‘Kami ingin menjadikan hal itu (yakni khutbah-khutbah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam di mimbar dan masjid) sebagai dasar masalah ini’; kami jawab, ‘Pendalilan itu tidak benar. Sebab, seandainya hal itu adalah dalil dalam masalah ini, tentulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam akan melakukannya semasa hidupnya. Tatkala beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkannya, berarti itulah yang menjadi sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.”

3. Fatwa al-Imam ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahumallah.

Kata al-Imam Ibnu Baz rahimahumallah dalam Majmu’ al-Fatawa (13/209—210) ketika ditanya tentang hukum memberi wejangan di perkuburan, “Tidak mengapa memberikan wejangan di sisi kuburan sebelum pemakaman dan hal itu tidak tergolong bid’ah. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melakukannya sebagaimana disebutkan oleh hadits ‘Ali dan al-Bara’ bin ‘Azib.” Beliau juga berfatwa pada Majmu’ al- Fatawa (13/210), “Sungguh, telah tsabit (tetap) dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau pernah lebih dari satu kali memberi wejangan di perkuburan saat para sahabat menanti dilangsungkannya pemakaman. Dari situ diketahui bahwa memberi wejangan di sisi kuburan adalah hal yang disyariatkan.

Hal itu telah dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam demi mengingatkan temtang kematian, surga, dan neraka, urusan-urusan akhirat lainnya, serta persiapan untuk berjumpa dengan Allah Subhanahu wata’ala. Semoga Allah Subhanahu wata’ala memberi taufik.” Pada kedua fatwa Ibnu Baz rahimahumallah yang kami nukil ini terdapat penegasan bahwa wejangan itu dilakukan sebelum pemakaman (yakni saat menanti pemakaman). Namun, tidak ada sama sekali pada ucapan beliau yang mengatakan bahwa wejangan itu bersifat ceramah yang disampaikan sambil berdiri di hadapan jamaah yang hadir dan dilakukan seusai pemakaman. Wallahu a’lam.

4. Terakhir, apa yang kami dapati secara pribadi ketika berguru di Darul Hadits Dammaj bersama Ayahanda tercinta, al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahumallah.

Kami tidak pernah menyaksikan praktik ceramah sambil berdiri seusai pemakaman yang sebagiannya dihadiri langsung oleh asy-Syaikh Muqbil rahimahumallah. Ini yang dimudahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala bagi kami dalam menjawab masalah yang banyak dipraktikkan oleh kaum muslimin ini seusai pemakaman jenazah. Wallahu a’lam.