Tanya Jawab Ringkas Edisi 095

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Wali Setelah Ayah

Siapakah yang lebih berhak menjadi wali bagi wanita yang ayahnya telah meninggal, kakak atau paman? 0857XXXXXXXX

Kakak sekandung atau seayah lebih berhak daripada paman.


Pembatal Wudhu

Apakah memegang kemaluan anak kita yang masih berumur dua tahun membatalkan wudhu 0878XXXXXXXX

Memegang kemaluan anak tidak membatalkan wudhu.


Potong Kuku Saat Haid

Apakah boleh memotong kuku dan rambut saat waktu haid? 0852XXXXXXXX

Boleh potong rambut dan kuku saat haid, tidak ada larangannya.


Menyimpan Foto di HP/Komputer

Apakah hukum menyimpan foto di dalam HP/komputer? 085710XXXXXX

Menyimpan foto makhluk bernyawa dalam HP atau komputer tanpa hajat hukumnya haram.


Nasihat bagi Bibi yang Sudah Tua

Bibi saya sudah tua dan hanya di tempat tidur saja. Apa nasihat bagi beliau? Adakah zikir yang mudah dihafal bagi beliau? 08523XXXXXXX

Nasihati agar shalat sesuai dengan kemampuannya dengan cara berbaring. Sebab, orang yang meninggalkan shalat sama sekali adalah kafir menurut salah satu pendapat ulama, dan pendapat itu kuat.


Daging Akikah

Apakah daging akikah harus habis pada waktu itu juga? 0856XXXXXXXX

Tidak harus habis hari itu juga. Boleh disimpan sesuai hajat, seperti halnya daging kurban.


Kewajiban Menafkahi Anak bagi Suami yang Dikhulu’ Istri

Apabila seorang istri meminta khulu’ kepada suami, apakah suami masih memiliki kewajiban memberi nafkah kepada anak-anak yang masih kecil? 0888XXXXXXX

Ya, wajib bagi suami memberi nafkah anak-anaknya yang masih kecil dari istri yang dikhulu’.


Madzi Membatalkan Puasa

Jika madzi keluar, apakah puasa batal? 0831XXXXXXXX

Keluarnya madzi bukan pembatal puasa.


Puasa Awal Rajab

Apakah ada perintah melaksanakan puasa pada awal bulan Rajab? 081973XXXXXX

Tidak ada anjuran khusus untuk puasa Rajab. Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahumallah menegaskan dalam kitab Tabyin al-‘Ajab bi Ma Warada fi Fadhli Rajab bahwa tidak ada hadits sahih yang bisa dijadikan hujah mengenai keutamaan bulan Rajab dan keutamaan puasa Rajab serta ibadah lainnya di bulan itu. Abu Dawud rahimahumallah meriwayatkan dari Sa’id bin Jubair rahimahumallah yang bertanya kepada Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu tentang puasa Rajab.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa sampai-sampai kami berkata, ‘Beliau tidak berbuka,’ dan beliau berbuka sampai-sampai kami berkata, ‘Beliau tidak berpuasa’.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu memberi jawaban yang bersifat umum, karena tidak ada sunnah Rasul secara khusus untuk puasa Rajab. Urusan puasa di bulan Rajab sama seperti di bulan-bulan lainnya yang tidak memiliki keutamaan khusus. Akan tetapi, ada sunnah puasa tiga hari setiap bulan dan puasa Senin-Kamis. Kecuali bulan tertentu yang dianjurkan berpuasa padanya, seperti Muharam dan Sya’ban.


Akhwat Mengurus KTP

Bagaimana solusinya jika seorang akhwat yang diharuskan membuat KTP, sedangkan petugasnya ada yang laki-laki? 0877XXXXXXX

Cari waktu saat kantor sepi dan minta pengertian agar yang menangani adalah petugas wanita disertai akhwat lain yang menutupi arah pandangan petugas lelaki dengan kain.


Makan Daging Ular

Apa hukum seseorang yang makan daging ular? 0823XXXXXXXX

Makan ular adalah perbuatan haram, karena ular termasuk binatang yang haram dimakan, karena diperintahkan dibunuh dan merupakan predator.


Memandikan Mayat yang Hancur

Jika mayat yang organ tubuhnya hancur, apakah perlu dicuci/dimandikan? 085228XXXXXX

Cukup ditayammumkan.


Mengubur Jenazah dengan Peti

Bolehkah menguburkan jenazah tanpa menyentuh tanah? Jenazah yang dimasukkan peti kebanyakan dikuburkan tanpa dikeluarkan jenazahnya. 0858XXXXXXXX

Penguburan dengan peti hukumnya makruh dan tasyabuh dengan orang kafir, kecuali dalam keadaan darurat.


Ganti Nama, Akikah Ulang?

Kalau anak sudah diakikahi, tetapi nama anak tersebut diganti/ditambah namanya, apakah anak tersebut harus diulang lagi akikahnya? 08572XXXXXXX

Tidak disyariatkan akikah lagi untuk penggantian nama.


Mahar Hafalan Al-Qur’an

Bolehkah memberi mahar hafalan al-Qur’an sedangkan pengantin perempuan sudah hafal al-Qur’an? 08573XXXXXXX

Mahar mengajarkan surat tertentu dari al-Qur’an, artinya harga pengajaran yang menguras pikiran, tenaga, dan waktu untuk mengajari sang istri sampai hafal surat itu menjadi nilai berharga yang bisa dijadikan mahar. Jadi, bukan sekadar membacakan al-Qur’an kepadanya dan itu dianggap mahar.

Membaca al-Qur’an adalah ibadah, tidak boleh mengambil harga atasnya. Berbeda halnya dengan mengajari al- Qur’an hingga bisa. Hal itu mempunyai nilai yang boleh dihargai dan dijadikan sebagi mahar. Jadi, kalau calon istri sudah hafal al-Qur’an, tidak butuh diajari lagi. Beri mahar yang lain.


Status Istri Saat Proses Khulu’

Seorang istri mengajukan khulu’. Proses pengadilan belum selesai, istri sudah tidak tinggal serumah dengan suami. Bagaimana status istri? Berapa masa iddahnya dan terhitung mulai kapan?

Hak asuh anak ada di tangan siapa? 0838XXXXXXXX

Jika suami sudah mengabulkan khulu’-nya dan melepasnya dengan pembayaran tebusan yang disepakati atau hakim telah menjatuhkan putusan, berarti sudah bukan istrinya lagi. Masalah surat-surat hanya kelengkapan saja. Tidak ada hak lagi untuk tinggal di rumah suaminya. Masa iddahnya hanya sekali haid, karena khulu’ adalah fasakh.

Namun, jika terjadi persengketaan yang belum diputuskan oleh hakim, berarti masih suami istri. Dia (istri) tidak boleh meninggalkan rumah tanpa izin suami. Hak asuh anak yang masih kecil (belum mumayyiz) pada asalnya diutamakan ibu selama belum menikah dengan lelaki lain.


Gigi Palsu & Pen Pada Mayat

Bagaimana seharusnya jika gigi palsu permanen dan pen (alat penopang tulang yang dipasang di dalam tubuh) masih terpasang pada jenazah muslim? 08157XXXXXX

Gigi palsu dan pen itu dibiarkan saja tanpa dicabut.


Shalat Tahiyatul Masjid

Bagaimana jika shalat tahiyatul masjid dikerjakan pada waktu terlarang seperti menjelang azan shalat zuhur dan magrib? 08218XXXXXXX

Shalat tahiyatul masjid dan shalat sunnah yang ada sebabnya tetap dilaksanakan meskipun pada waktuwaktu terlarang, menurut pendapat yang rajih.


Pendarahan Mengganggu Shalat

Seorang wanita mengalami pendarahan karena keguguran dengan usia janin sekitar dua bulan. Ketika dia sedang shalat, ada darah keluar. Apakah sah shalatnya? 08529XXXXXXX

Pendarahan karena keguguran usia janin dua bulan bukan nifas, menurut pendapat yang difatwakan oleh al- Lajnah ad-Da’imah dan Ibnu ‘Utsaimin. Hukumnya adalah darah fasad seperti hukum darah istihadah.


Zakat Sawit

Bagaimana zakat sawit dan berapa nishabnya? 08526XXXXXXX

Sawit tidak ada zakatnya menurut pendapat yang benar.


Sumpah Disambar Petir

Bolehkah bersumpah, “Aku rela mati disambar petir kalau aku yang melakukannya”? 0853XXXXXXXX

Tidak boleh bersumpah semacam itu. Bersumpah yang syar’i adalah bersumpah dengan bersandar pada salah satu nama atau sifat Allah, seperti Demi Allah, Demi Rabbku, Demi Rabb Penguasa Alam Semesta, Demi Dzat yang Jiwaku di Tangan-Nya, atau semisalnya.


Donor Organ Tubuh

Bolehkah seseorang mendonorkan salah satu organ tubuhnya untuk membantu orang lain, dan proses pengambilan organ dilakukan pada saat pendonor sudah meninggal? 0838XXXXXXXX

Boleh, tanpa mengambil bayaran.


Jual Beli Dua Harga

Bolehkah membeli barang dengan dua harga (secara kredit dan kontan)? 08521XXXXXXX

Seseorang boleh membelinya secara kredit dengan syarat kreditnya tidak mengandung riba, yaitu denda apabila menunggak. Hal itu bukan dua harga yang terlarang, karena bersifat pilihan sebelum akad. Saat akad hanya satu harga yang disepakati.


Perbudakan

Apabila seorang budak memiliki anak dengan tuannya, apakah anak tersebut menjadi anak tuannya atau anak budaknya dan apakah punya hak waris? 03418XXXXXX

Budak wanita yang digauli oleh tuannya dan memiliki anak, anak itu berstatus merdeka (bukan budak) sebagai anak tuannya dengan budak wanitanya. Berarti, anak itu mewarisi dari ayahnya tersebut dan sebaliknya. Namun, pada masa kita sekarang ini tidak ada perbudakan yang syar’i.


Puasa Ulang Tahun

Bolehkah seseorang berpuasa saat bertambahnya usia setiap satu tahunnya? 08529XXXXXXX

Berpuasa ulang tahun adalah bid’ah. Tidak ada dalil untuk berpuasa khusus di hari ulang tahun. Istilah ulang tahun sendiri dan perayaannya adalah tasyabbuh (meniru-niru) kebiasaan khas orang kafir yang tercela.


Zakat Penjualan Sapi

Saya mempunyai empat ekor sapi. Apabila 1 atau 2 ekor di antaranya dijual, apakah wajib dikeluarkan zakat mal? 08218XXXXXXX

Tidak, kecuali jika uang hasil penjualan sapi itu mencapai nisab zakat uang senilai harga 595 gram perak dan tersimpan selama setahun (hitungan tahun hijriah) tanpa berkurang dari nishab tersebut, wajib dikeluarkan zakatnya 2,5%.


Makanan Peringatan Kematian

Bolehkah menerima/memakan makanan yang diberikan tetangga karena peringatan meninggal anggota keluarganya? 08139XXXXXXX

Tidak boleh demi mengingkari kemungkaran peringatan kematian yang merupakan bid’ah.


Ikan yang Diberi Pakan Bangkai

Bolehkah kita memakan ikan yang diberi pakan bangkai? 08569XXXXXXX

Boleh, kecuali jika bangkainya berefek pada dagingnya berupa warna, bau, atau rasa.


Puasa Setiap Hari

Apakah kita boleh berpuasa setiap hari tanpa ada alasan, maksudnya tidak membayar hutang puasa atau mengerjakan puasa sunah? 08535XXXXXXX

Berpuasa setiap hari haram menurut pendapat yang rajih.


Menerima Hadiah dari Bank

Bolehkah kita menerima hadiah dari bank? 08783XXXXXXX

Jangan menerima hadiah dari bank. Sebab, hadiahnya mengandung unsur bujukan untuk bermuamalah dengan bank seperti menabung yang mengandung riba. Lagi pula, hadiah itu bersumber dari riba yang tidak pantas diterima oleh orang yang bersifat wara’.


Mencium Mayat yang Sudah Dimandikan

Bagaimanakah hukum mencium mayat yang sudah dimandikan? 08156XXXXXXX

Mencium jenazah yang sudah dimandikan diperbolehkan. Ada fatwa al-Lajnah ad-Daimah dalam masalah ini.


Menjual Alat Pancing

Bolehkah berjualan alat pancing? 08529XXXXXXX

Berjualan alat pancing halal.


Menikahi Wanita Hamil Karena Zina

Bagaimana hukumnya menikahi wanita yang sedang mengandung anak hasil perbuatan zina oleh pria tersebut? 081330XXXXXX

Hukumnya haram dan tidak sah. Secara lengkap bersama dalilnya dapat dilihat pada rubrik Problema Anda “Status Anak Zina” edisi 39.


Jamak-Qashar bagi Musafir

Apa boleh orang yang sedang safar (tidak dalam perjalanan) dan tidak tahu kapan dia kembali ke tempat asal menjamak-qashar shalat lima waktunya? 081336XXXXXX

Jika Anda musafir dalam perjalanan tanpa ada kepastian kapan pulang, boleh jamak-qashar sampai pulang. Namun, jika Anda telah turun menginap di suatu pemukiman kaum muslimin, wajib ikut shalat berjamaah di masjid setiap waktu shalat tanpa jamak dan qashar.

Kecuali jika ada teman musafir lainnya, boleh jamak qashar bersama. Afdalnya, shalat berjamaah di masjid dengan kaum muslimin.


Rujuk Setelah Dua Kali Talak

Apabila seorang suami telah menjatuhkan talak dua, apakah masih bisa rujuk dengan cara akad lagi? 082269XXXXXX

Jika suami telah menjatuhkan talak dua, boleh rujuk dalam masa ‘iddah dengan ucapan rujuk (kembali) atau jima’ yang diniatkan rujuk. Jika masa ‘iddah telah habis, boleh menikah kembali dengan akad baru.


Larangan Waktu Nikah

Apakah ada larangan waktu nikah secara syar’i? Misal: calon pengantin wanita yang masih haid, larangan nikah saat tanggal di atas 14 pada bulanbulan Hijriah. 085340XXXXXX

1. Boleh akad nikah meskipun pengantin wanita haid, tetapi sebaiknya ditunda sampai suci untuk maslahat malam pertama.

2. Tidak ada larangan menikah pada tanggal 1—14 Hijriah dan tanggal lainnya. Jika kebiasaan tersebut karena menganggap pernikahan pada tanggal tersebut adalah faktor kesialan rumah tangga, hal itu tergolong thiyarah; yaitu meninggalkan sesuatu khawatir bernasib sial karena bersandar kepada suatu faktor yang hakikatnya tidak demikian. Ini merupakan syirik kecil.


Hukum Nazar

Bagaimana hukum bernazar untuk sesuatu yang diinginkan?085349XXXXXX

Nazar tidak dianjurkan, bahkan hukumnya makruh. Nazar tidak bisa jadi faktor tercapainya harapan yang diinginkan, tidak berefek pada suatu takdir yang Allah kehendaki. Hal itu sebagaimana ditegaskan oleh Nabi dan beliau melarang bernazar (Hadits Ibnu ‘Umar, muttafaq ‘alaih). Rasul n sendiri dan tokoh-tokoh sahabat tidak bernazar.


Satpam Bank

Apa hukumnya kerja sebagai satpam di bank? 085255XXXXXX

Haram, karena termasuk kerjasama dalam perkara yang haram, yaitu kestabilan dan kemakmuran perbankan yang muamalahnya riba yang terlaknat.


Bacaan Shalat Sendirian

Apabila shalat sendirian di rumah karena terlambat tidak ikut berjamaah di masjid pada shalat magrib, isya’, atau shubuh, bagaimana bacaannya (al-Fatihah dan surat pendek) pada rakaat 1 dan 2? 081917XXXXXX

Dijahrkan (dikeraskan).


Puasa Untuk Diet

Bolehkah kita berpuasa berturutturut selama tiga minggu untuk menurunkan berat badan? 087829XXXXXX

Puasa adalah ibadah. Ibadah harus sesuai dengan dalil dalam 6 hal: jenis ibadah, sebabnya, kadarnya, sifatnya, waktunya, dan tempatnya. Tidak ada dalil yang menganjurkan puasa tiga minggu berturut-turut agar berat badan turun. Namun, berpuasalah dengan puasa sunnah yang diajarkan Nabi n. Bersama dengan itu, Anda akan merasakan manfaat yang banyak termasuk dalam hal kesehatan, insya Allah.


Puasa Agar Anak Lulus Ujian

Apa hukumnya berpuasa agar anak lulus ujian? 087712XXXXXX

Hal itu tidak disyariatkan.


Pengantin Baru Tunda Kehamilan

Bolehkah pengantin baru menunda kehamilan? 081938XXXXXX

Tidak mengapa jika ada kebutuhan yang menuntut hal itu, misalnya karena fisiknya sakit dan lemah yang akan bertambah parah jika hamil. Adapun jika karena khawatir tidak bisa memberi nafkah, hal itu tidak boleh.


Hukuman Pelaku Zina

Apa hukuman yang diterima kedua orang yang berzina pada masa mudanya dan sekarang telah menikah? 082330XXXXXX

Cukup bagi keduanya bertobat dengan benar dan merahasiakan aibnya di antara mereka berdua. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penerima tobat.


Zakat Harta Curian

Apakah harta hasil dari korupsi/ mencuri juga wajib dizakati bila telah mencapai nishab dan haulnya? +62XXXXXXXXX

Harta hasil curian/korupsi tidak terkena zakat, karena harta itu bukan milik koruptor/pencurinya. Kewajibannya adalah mengembalikan harta itu kepada pemiliknya yang berhak.


Hadits Keutamaan Bulan Rajab dan Sya’ban

“Allahumma bariklana fii Rajab wa Sya’ban wa balighna Ramadhan.”

“Ya Allah, Berkahi kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami ke dalam bulan Ramadhan.” Apakah hadits tersebut sahih? 0896XXXXXX

Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Bakr al-Bazzar dalam Musnad-nya dengan kelemahan yang keras sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam kitab Tabyin al-‘Ajab bi Ma Warada fi Syahri Rajab. Dikeluarkan pula oleh al-Baihaqi dan Ibnu ‘Asakir, dinyatakan dha’if (lemah) oleh al-Albani dalam kitab Dha’if al-Jami’ no. 4395. Alhasil, tidak ada hadits yang tsabit (benar) dalam hal keutaman bulan Rajab dan keutamaan ibadah secara umum di bulan Rajab, termasuk shalat dan puasa.


Shalat bagi Orang Sakit

Bolehkah shalat orang sakit diqashar atau dijamak-qashar? 085720XXXXXX

Dijamak boleh, tetapi diqashar tidak boleh. Karena qashar hanya untuk musafir.


Istri Nusyuz

Seorang istri berbuat nusyuz dan lari ke rumah orang tuanya dengan dalih istri ingin bekerja di luar rumah untuk membantu orang tuanya. Suami sudah melarangnya dengan hikmah dan istri tetap nekat. Apa yang harus suami lakukan? Apa suami mempunyai kewajiban untuk menafkahi dan membayarkan zakat fitrah istri dan anaknya? 085272XXXXXX

Nasihati dengan cara memutuskan nafkahnya dan tidak membayarkan zakat fitrahnya. Adapun anak yang dibawanya, suami tetap berkewajiban memberi nafkah dan membayarkan zakat fitrahnya (jika berpendapat bahwa zakat fitrah adalah kewajiban orang yang menanggung nafkah). Jika perlu, ancam akan dicerai jika tidak berhenti dari nusyuznya. Jika tidak ada hasilnya, tidak mengapa diceraikan untuk maslahat suami.


Qadha bagi Wanita yang Baru Melahirkan

Bagaimana jika seorang wanita mempunyai utang puasa hampir satu bulan penuh di bulan Ramadhan karena melahirkan? Kapan batas waktu mengqadhanya? 08572XXXXXX

Tidak boleh menunda qadha puasa hingga Ramadhan berikutnya tanpa uzur. Jika hal itu terjadi karena uzur, tidak berdosa. Jika terjadi tanpa uzur, berdosa. Pada kedua keadaan tersebut tetap wajib mengqadha setelah Ramadhan itu berlalu sampai selesai.


Nazar Baca Al-Qur’an 30 Juz Dalam Semalam

Seorang siswa bernazar kalau lulus sekolah, dia akan membaca al-Qur’an 30 juz dalam satu malam, kemudian dia mngatakan tidak sanggup, apa yang harus dia lakukan? 087898XXXXXX

Nazar itu akibat kebodohan mengenai syariat dari dua sisi:

1. Menyangka bahwa nazar ketaatan dapat menjadi faktor tercapainya suatu keinginan, padahal tidak demikian. Nabi telah melarang untuk bernazar dan menegaskan bahwa nazar tidak punya pengaruh secara hukum takdir Allah Subhanahu wata’ala untuk tercapainya suatu keinginan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri dan sahabat tidak pernah bernazar.

2. Bernazar akan membaca al- Qur’an (30 juz) semalam suntuk, padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang ‘Abdullah bin ‘Amr melakukan hal itu. Padahal Ibnu ‘Amr mampu melakukannya (HR. al- Bukhari).

Jadi siswa itu telah bernazar dengan nazar yang tidak dianjurkan dalam syariat, apalagi Anda tidak mampu. Alhasil hendaklah Anda membayar kafarat nazar (sumpah), yaitu memberi makan yang layak kepada 10 orang fakir miskin atau pakaian. Jika tidak mampu, berpuasalah 3 hari berturut-turut.


Wali Nikah Janda

Jika seorang janda menikah, siapakah walinya? 085222XXXXXX

Harus ada walinya. Wali yang paling berhak adalah ayah, kemudian saudara lelaki sekandung, dst. Tidak boleh dinikahkan oleh siapa saja dalam arti meskipun bukan wali.


Cairan Keputihan

Jika keputihan membatalkan wudhu, apakah kita harus mengganti celana yang terkena cairan keputihan itu dulu sebelum wudhu lagi? 085743XXXXXX

Masalah mengganti celana tergantung najis tidaknya keputihan. Keputihan diperselisihkan kenajisannya. Yang menyatakan suci berdalil dengan hukum asal sesuatu suci selama tidak ada dalil yang menyatakan najis. Apalagi jika keputihan keluarnya dari rahim, semakin jauh untuk diqiyaskan dengan air kencing.


Cara Mengetahui Hitungan Talak

Bagaimana kita mengetahui bahwa seorang suami sudah menjatuhkan talak 1, 2, atau 3 kepada istrinya? 08526XXXXXXX

Jika dia mengucapkan talak kepada istrinya pertama kali, berarti jatuh talak satu. Lalu dia rujuk pada masa ‘iddah atau menikahinya kembali (dengan akad nikah yang baru). Setelah masa ‘iddah habis, kemudian mengucapkan talak lagi, berarti jatuh talak dua. Kemudian dia rujuk di masa ‘iddah atau menikahinya kembali setelah masa ‘iddah habis, lalu mengucapkan talak lagi, berarti jatuh talak tiga. Dengan itu, keduanya bukan lagi suami-istri, tidak boleh rujuk dan menikahinya kembali, kecuali sudah dinikahi lelaki lain dan digauli olehnya kemudian berpisah dengannya, setelah itu bisa menikahinya kembali. Lihat Asy Syari’ah edisi 72 “Halal Haram Perceraian”.


Talak Orang Depresi

Apakah sah talak yang dilakukan oleh laki-laki yang depresi/stress dan menyakiti dirinya sendiri? 081520XXXXXX

Talak orang stress/depresi tidak jatuh, karena kesadarannya hilang. Hukumnya seperti orang yang terkena was-was setan yang bertindak dan berucap di luar kesadaran.


Istihadhah Boleh Digauli?

Jika istri istihadhah, apakah boleh suami menggaulinya/berjima’? 081911XXXXXX

Boleh.


Talak Via Handphone

Bila ada seorang istri mengaku telah berzina kepada suami. Kemudian suami menjatuhkan talak lewat handphone, apakah sah talaknya? 081311XXXXXX

Jika dipastikan bahwa itu benar suaminya (bukan orang yang mengaku), talak itu sah. Wallahu a’lam.

Waliyyul Amr, Rujukan Umat

وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِّنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ ۖ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ ۗ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kemenangan atau ketakutan, mereka menyiarkannya. Kalau saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Jauzi rahimahumallah dalam Zadul Masir menyebutkan bahwa ada dua pendapat tentang sebab turunnya ayat ini.

1. Berdasarkan riwayat yang hanya dikeluarkan oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, dari Umar radhiyallahu ‘anhu. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengasingkan diri dari istri-istri beliau, Umar masuk ke dalam masjid dan mendengar manusia mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menceraikan istriistrinya. Lalu beliau menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam seraya bertanya, “Apakah Anda telah menceraikan istri-istri Anda?” Nabi menjawab, “Tidak.” Umar pun keluar sambil menyeru, “Ketahuilah, Rasulullah tidak menceraikan istri-istrinya.” Lalu turunlah ayat ini.

2. Berdasarkan riwayat yang dikeluarkan oleh Abu Shalih dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus sariyyah (pasukan khusus yang jumlahnya 4 sampai 400 orang). Kemudian terdengar berita bahwa mereka menang atau kalah. Akhirnya orang-orang  membicarakan dan menyebarluaskan berita tersebut. Mereka tidak bersabar hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyampaikan berita itu, kemudian turunlah ayat ini.

Mufradat Ayat

وَإِذَا جَاءَهُمْ

Dan apabila telah datang kepada mereka.”

Mereka yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang munafik, menurut penafsiran Ibnu Abbas c dan jumhur ulama.

الْأَمْنِ

Kemenangan.

Terdapat beberapa penafsiran di kalangan ulama ahli tafsir tentang maknanya . Mayoritas mereka memaknainya dengan kemenangan dan harta rampasan perang yang diperoleh pasukan (sariyyah).

 الْخَوْفِ

Ketakutan.

Mayoritas ulama ahli tafsir memaknainya sebagai musibah atau bencana (kekalahan) yang menimpa pasukan muslimin.

أَذَاعُوا بِهِ

Mereka lalu menyiarkannya,

yaitu menyebarluaskan. Asy-Syaukani rahimahumallah berkata dalam kitab tafsirnya,

أَذَاعَ الشَّيْءَ وَأَذَاعَ بِهِ: إِذَا أَفْشَاهُ وَأَظْهَرَهُ

Adza’a artinya menyiarkan, menyebarkan, dan mengumumkan. Menurut Ibnu Jarir rahimahumallah, dhamir ha’ pada kalimat ini kembali ke amrun (berita).

وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ

Dan kalau mereka mau menyerahkannya kepada Rasul….

Maksudnya, menunggu hingga Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang menyampaikan (berita).

 وَإِلَىٰ أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ

Dan ulil amri di antara mereka.

Menurut Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, mereka seperti Abu Bakr, Umar, ‘Utsman, dan ‘Ali . Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, dan Ibnu Juraij rahimahumullah berpendapat bahwa mereka adalah para ulama.

Adapun menurut Ibnu Zaid dan Muqatil, mereka adalah para pemimpin pasukan. Asy-Syaukani rahimahumallah mengatakan bahwa mereka adalah para ulama dan orang-orang yang memiliki akal yang kokoh—yang kepada merekalah urusan kaum muslimin dikembalikan (ditanyakan)—atau para penguasa.

يَسْتَنبِطُونَهُ مِنْهُمْ

Mereka akan dapat mengetahuinya.

Kata istinbath berasal dari kata istikhraj (mengeluarkan). Az-Zajjaj mengatakan, istinbath berasal dari kata النَّبْطُ , yaitu air yang pertama kali keluar dari sumbernya ketika sumur digali.

 فَضْلُ اللَّهِ

Karunia Allah.

Ada yang memaknainya sebagai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, Islam, al-Qur’an, atau ulil amri.

 وَرَحْمَتُهُ

Dan rahmat-Nya.

Sebagian ulama memaknainya sebagai wahyu, kelembutan, kenikmatan, atau taufik.

Makna Ayat

Asy-Syaukani rahimahumallah menyatakan, kaum muslimin yang memiliki sikap lemah, ketika mendengar salah satu urusan kaum muslimin—seperti berita kemenangan mereka, terbunuhnya musuh, atau ketakutan seperti kekalahan dan terbunuhnya mereka—mereka menyiarkannya. Mereka mengira bahwa hal itu tidak bermasalah. (Alangkah baiknya) kalau mereka tidak melakukannya (yakni tidak menyiarkannya dengan segera) dan sabar menunggu hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri atau ulil amri di antara mereka yang menyampaikannya. Sebab, merekalah yang lebih mengetahui, berita mana yang seharusnya disiarkan dan berita mana yang harus disembunyikan.

Sebagian ulama tafsir memaknainya, “Kalau bukan karena karunia Allah l kepada kalian, yaitu diutusnya Rasul dan diturunkannya kitab (al-Qur’an), tentulah kalian mengikuti setan dan tetap berada di atas kekufuran, kecuali sebagian kecil saja.”

Ada pula yang memaknainya, “Mereka lalu menyiarkannya kecuali sebagian kecil saja.” Ada pula yang memaknainya, “Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya, kecuali sebagian kecil saja.”

Tafsir Ayat

Ibnu Katsir rahimahumallah mengatakan, (ayat ini mengandung) pengingkaran terhadap orang yang begitu mendapat berita (perkara) lalu tergesa-gesa memberitakan, menyiarkan, dan menyebarkan, sebelum memastikan keberadaannya. Sebab, bisa jadi berita tersebut tidak benar.

Al-Imam Muslim rahimahumallah—dalam mukadimah kitab Shahih-nya— menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

Seorang dianggap telah berdusta apabila memberitakan seluruh perkara yang ia dengar.

Riwayat ini juga dikeluarkan oleh Abu Dawud rahimahumallah dalam “Kitabul Adab”, dari jalan Muhammad bin Husain bin Asykab, dari Ali bin Hafsh, dari Syu’bah secara musnad (sanadnya sampai kepada Nabi n). Selain itu, dikeluarkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dan Abu Dawud rahimahumallah dari jalan yang lain secara mursal (sanadnya tidak sampai kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam).

Dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, disebutkan riwayat dari al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang qila wa qala (katanya dan katanya), yaitu suka menyiarkan apa yang dikatakan orang lain tanpa memastikan, mencermati, dan mencari kejelasan terlebih dahulu tentang ucapan orang lain tersebut.

Asy – Syaikh as – Sa ’di rahimahumallah mengatakan, ini adalah pengajaran dari Allah Subhanahu wata’ala kepada para hamba-Nya terhadap tindakan mereka yang tidak patut dilakukan. Seharusnya, ketika suatu perkara (berita)—yang penting; atau menyangkut kemaslahatan bersama terkait dengan kemenangan dan kegembiraan orang-orang mukmin; atau ketakutan, seperti musibah yang menimpa—sampai kepada mereka, hendaknya mereka pastikan terlebih dahulu dan tidak tergesagesa menyiarkannya. (Yang sepantasnya mereka lakukan ialah) mengembalikannya kepada Rasul n atau ulil amri di antara mereka, yaitu para pemikir, ahli ilmu, penasihat, orang yang memahami permasalahan, bagus pendapatnya, yang mengetahui urusan(dengan baik), mana yang membawa maslahat dan mana yang tidak. Jika mereka pandang menyiarkan berita mengandung kemaslahatan bagi kaum muslimin, menambah semangat dan menyenangkan mereka, serta terjaga dari musuh, mereka akan menyebarkannya.

Jika mereka pandang tidak ada maslahat, atau ada maslahat namun kemadaratan yang terjadi lebih besar, mereka tidak menyiarkannya. Ayat di atas menjadi pedoman yang mendidik, yaitu apabila terjadi penelitian tentang suatu masalah, hendaknya diserahkan kepada ahlinya dan kita tidak mendahului mereka. Hal ini lebih mendekatkan kita kepada kebenaran dan lebih patut bagi kita agar selamat dari kesalahan.

Ayat di atas juga mengandung larangan seseorang terburu-buru menyiarkan sebuah berita saat pertama kali mendengarnya. Dia diperintahkan untuk memikirkan dan memandang terlebih dahulu sebelum menyampaikannya, apakah hal itu membawa maslahat sehingga disampaikan atau tidak ada manfaat sehingga tidak boleh disebarkan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Sosok Yang Suci Bukan Syarat Penguasa Negeri

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّهُ سَتَكُونُ أُمَرَاءُ تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُونَ فَمَنْ أَنْكَرَ فَقَدْ بَرِئَ وَمَنْ كَرِهَ فَقَدْ سَلِمَ، وَلَكِنْ مَنْ رَضِيَ وَتَابَعَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلَا نُقَاتِلُهُمْ؟ قَالَ: لَا، مَا صَلَّوْا لَكُمُ الْخَمْسَ

“Sungguh akan ada pemimpin-pemimpin yang kalian kenal (kebaikan mereka, -pen.) dan kalian ingkari (kemaksiatan mereka, -pen.). Barang siapa mengingkari kemaksiatannya, dia terlepas dari tanggung jawab; dan barang siapa membencinya, dia selamat, tetapi (yang berdosa adalah) mereka yang ridha dan ikut.” Sahabat bertanya, “Bolehkah kami memerangi mereka?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak boleh, selama mereka mengerjakan shalat lima waktu bersama kalian.”

Takhrij Hadits

Hadits dengan lafadz di atas diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad rahimahumallah dalam al-Musnad (6/295), melalui jalan Yazid dari Hisyam bin Hassan dari al-Hasan dari Dhabbah bin Mihshan dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha. Sanad hadits ini sahih, semua perawinya termasuk perawi al-Bukhari dan Muslim kecuali Dhabbah bin Mihshan, dia perawi Muslim. Hadits diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Syaibah rahimahumallah dalam al-Mushannaf (15/71), at-Tirmidzi rahimahumallah no. 2265, Abu Ya’la al-Mushili rahimahumallah no. 6980, dan Abu ‘Awanah melalui jalan Yazid bin Harun. At-Tirmidzi rahimahumallah berkata, “Hadits ini hasan sahih.” Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha ini diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim dalam Shahih-nya 3/1481, Abu Dawud no. 4760, Abu ‘Awanah (4/471, 473), ath-Thabarani dalam al-Kabir No.95/VIII/1434 H/2013 43 (23/761, 762), al-Baihaqi dalam as- Sunan al-Kubra (3/367) dan (8/158), serta al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah no. 2459, semua melalui jalan Hisyam bin Hassan.

Shahabiyah Perawi Hadits

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anhua adalah Ummul Mukminin, Ibunda Kaum Mukminin, Hindun binti Abu Umayyah, Hudzaifah bin al-Mughirah al-Qurasyiah al- Makhzumiyyah. Kuniah beliau ialah Ummu Salamah, lebih masyhur dari namanya, Hindun. Beliau termasuk shahabiyah yang masuk Islam di awal-awal dakwah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, hijrah bersama suaminya Abu Salamah ke Habasyah sebagaimana keduanya juga hijrah ke Madinah. Abu Salamah, suami pertamanya adalah putra dari bibi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, sekaligus saudara sesusuan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam. Abu Salamah meninggal dalam PerangUhud pada 3 H. Selesai masa ‘iddah, pada 4 H, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menikahi Beliau wafat di kota Madinah tahun 62 H. Ummu Salamah adalah istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang terakhir meninggal, semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhainya.

Makna Hadits

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengabarkan sebuah perkara gaib dari Allah Subhanahu wata’ala terkait dengan apa yang akan menimpa kaum muslimin. Kemudian terbukti apa yang beliau kabarkan. Muncul umara (penguasa/ pemimpin) kaum muslimin yang melakukan kemungkaran dan kezaliman, di samping ada kebaikan-kebaikan pada diri mereka. Menaati penguasa kaum muslimin dalam perkara yang ma’ruf termasuk salah satu prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebagaimana hal ini ditunjukkan oleh dalil-dalil al-Kitab dan as-Sunnah. Kita tentu berharap, yang menjadi pemimpin dan penguasa kaum muslimin adalah seorang yang adil dan istiqamah di atas Islam, sebagaimana umat ini pernah merasakannya, seperti al-Khulafa ar-Rasyidin: Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib, demikian pula Mu’awiyah bin Abi Sufyan , di masa tabi’in, seperti Umar bin Abdul Aziz rahimahumallah, sebagaimana umat ini akan dipimpin oleh seorang yang adil di akhir zaman, yakni Imam Mahdi.

Akan tetapi, jika yang menjadi penguasa negeri kaum muslimin adalah pelaku berbagai kemungkaran (ahlul maksiat) dan sering berbuat zalim, masihkah mereka dianggap sebagai penguasa muslimin yang sah? Apakah tetap wajib bagi kita menaati mereka dalam hal-hal yang ma’ruf? Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha menjadi jawaban atas dua pertanyaan ini. Mereka masih sebagai pemimpin kaum muslimin. Mereka masih memiliki hak untuk ditaati dalam perkara yang ma’ruf. Perhatikan hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha di atas. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membimbing umat untuk tetap taat dan tidak memerangi pemimpin selama mereka masih menegakkan shalat, selama mereka masih muslim walaupun melakukan berbagai kemungkaran yang kita ingkari. As-Sindi rahimahumallah menjelaskan beberapa lafadz hadits Ummu Salamah. Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ( تَعْرِفُونَ وَتُنْكِرُون ) “kalian mengetahui dan kalian mengingkari,” maknanya (akan ada penguasa-penguasa) yang kalian mengenal beberapa perbuatan baik mereka dan mengingkari sebagian perbuatan buruk mereka (menyelisihi syariat).”

(Maksudnya, ada kebaikan pada penguasa kalian sebagaimana halnya ada keburukan pada mereka, -pen.). Sabda beliau, ( فَمَنْ أَنْكَرَ ) “barang siapa mengingkari,” maksudnya mengingkari perbuatan buruk mereka dengan lisan, sungguh dia telah terbebas dari ikatan kewajiban untuk nahi mungkar. Barang siapa tidak mengingkari dengan lisan, namun ada kebencian dalam hatinya, diajuga selamat dari kebinasaan. Akan tetapi, barang siapa ridha dengan tingkah laku mereka yang mungkar dan mencocokinya, dia binasa atau berserikat dengan mereka dalam kejelekan. Demikian penjelasan as-Sindi rahimahumallah.

Menasihati dengan lisan yang dimaksud adalah menasihati penguasa muslim dengan lisan secara sembunyisembunyi, tidak terang-terangan di hadapan umum semacam demonstrasi atau orasi di atas mimbar. Hal ini dituntunkan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabda beliau,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذي سُلْطَانٍ بِأَمْرٍ فَلَا يُبْدِ لَهُ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ لِيَأْخُذْ بِيَدِهِ فَيَخْلُوَ بِهِ فَإِنْ قَبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِلَّا كَانَ قَدْ أَدَّى الَّذِي عَلَيْهِ لَهُ

“Barang siapa ingin menasihati pemimpin, janganlah menampakkannya secara terang-terangan. Akan tetapi, hendaknya ia membawanya lalu menyepi dengannya (untuk menasihatinya). Jika diterima, itulah yang diharapkan. Jika tidak, dia telah menunaikan kewajiban yang ditanggungnya.” (Dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam takhrij kitab as- Sunnah no. 1097)

Demikianlah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari kita mengingkari keburukan penguasa dan menasihati mereka tidak dengan terang-terangan sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menasihatkan dengan tegas dalam hadits yang mulia ini. Kemaksuman Bukan Syarat Sahnya Seorang Penguasa Sering menjadi bahan perdebatan bahwa kezaliman penguasa, seperti korupsi, dst., adalah perkara yang membolehkan rakyat untuk melakukan pemberontakan dan melepaskan diri dari ketaatan, bahkan mengingkari kepemimpinan mereka. Semua ini adalah persangkaan batil, bagian dari bisikan-biskan iblis dan bala tentaranya.

Kemaksuman bukanlah syarat sahnya seorang sebagai waliyul amr, sebagaimana kemaksuman bukan syarat berlakunya hak mereka untuk ditaati dalam perkara yang ma’ruf. Mereka yang membolehkan pemberontakan kepada penguasa kaum muslimin dengan semata-mata kezaliman penguasa telah menyelisihi nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah. Mereka yang tidak mengakui kepemimpinan penguasa dengan sebab kemaksiatan-kemaksiatan tersebut juga telah jatuh dalam kesalahan, padahal mereka—para penguasa—masih menegakkan shalat, masih muslim. Banyak dalil menetapkan perkara ini. Di antaranya ialah hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ada di hadapan kita. Demikian pula sabda-sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut.

• Disebutkan dalam Shahih Muslim, sahabat Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمْ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَفَلَا نُنَابِذُهُمْ بِالسَّيْفِ؟ فَقَالَ: لَا مَا أَقَامُوا فِيكُمْ الصَّلَاةَ، وَإِذَا رَأَيْتُمْ مِنْ وُلَاتِكُمْ شَيْئًا تَكْرَهُونَهُ، فَاكْرَهُوا عَمَلَهُ، وَلَا تَنْزِعُوا يَدًا مِنْ طَاعَةٍ

“Sebaik-baik penguasa (pemerintah) kalian adalah pemerintah yang kalian sayangi mereka dan mereka menyayangi kalian. Kalian senantiasa mendoakan kebaikan untuk mereka, mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. (Adapun) sejahat-jahat pemerintah adalah mereka yang kalian membencinya, dan mereka membenci kalian, kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian.”

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bolehkah kami memerangi mereka dengan pedang?” Beliau berkata, “Tidak boleh, selama mereka menunaikan shalat. Apabila kalian melihat perkara yang kalian benci dari penguasa kalian, bencilah perbuatan mungkar mereka dan jangan kalian mencabut ketaatan kepada mereka.”

• Diriwayatkan pula oleh al-Imam Muslim rahimahumallah dalam Shahihnya dari sahabat Hudzaifah Ibnul Yaman radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ، وَلَايَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي جُثْمَانِ إِنْسٍ. قَالَ: قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللهِ إِنْ أَدْرَكْتُ ذَلِكَ؟ قَالَ: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُك،َ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ

“Akan muncul sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan ada pula di tengahtengah mereka orang-orang yang berhati setan namun berbadan manusia.”

Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang harus saya lakukan, wahai Rasulullah, jika saya menjumpai hal itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Engkau tetap mendengar dan taat kepada pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu dirampas, tetaplah mendengar dan taat.”

Dalam hadits ini, tampak bahwa penguasa muslim ketika itu melakukan banyak kemungkaran berupa penyelisihan syariat, sebagaimana mereka melakukan tindak aniaya. Namun Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam tetap memerintahkan kita untuk mendengar dan taat dalam perkara yang ma’ruf.

• Dalam hadits yang lain dalam Shahih al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ عَلَيْهِ فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ إِلّاَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

“Barang siapa melihat sesuatu yang dibenci (tidak disukai) dari pemimpinnya, hendaklah ia bersabar atasnya. Sebab, barang siapa memisahkan diri dari jamaah satu jengkal lantas mati, itu adalah kematian jahiliah.” ( Mutafaq ‘alaih, dan ini adalah lafadz al-Imam Muslim rahimahumallah)

• Al-Imam al-Bukhari rahimahumallah meriwayatkan hadits dalam Shahihnya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ بَعْدِي أَثَرَةً وَأُمُورًا تُنْكِرُونَهَا. قَالُوا: فَمَا تَأْمُرُنَا، يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: أَدُّو إِلَيْهِمْ حَقَّهُمْ وَسَلُوا اللهَ حَقَّكُمْ

“Sesungguhnya sepeninggalku, kalian akan melihat sikap (penguasa) yang mementingkan diri sendiri dan banyak perkara yang kalian mengingkarinya.” Para sahabat bertanya, “Apa yang akan engkau perintahkan kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah hak mereka dengan baik dan mohonlah hak kalian kepada Allah Subhanahu wata’ala.”

An-Nawawi rahimahumallah berkata “Dalam hadits ini ada perintah untuk selalu mendengar dan taat, meskipun yang menjadi pemimpin berlaku zalim dan berbuat aniaya. Ketaatan yang menjadi haknya tetap harus ditunaikan, tidak boleh memberontak kepadanya dan melepaskan ketaatan kepadanya. Adapun kezaliman yang menimpa kalian, kembalilah selalu kepada Allah Subhanahu wata’ala dalam menyingkirkannya, demikian pula hak-hak kalian yang tertahan serahkanlah urusannya kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (Syarh Shahih Muslim dengan beberapa perubahan)

Akidah Ulama Ahlus Sunnah dalam Masalah Ini

Beberapa hadits yang telah lalu menunjukkan bahwasanya kemaksuman bukan syarat sahnya seorang menjadi penguasa muslim. Demikian pula bukan syarat untuk ditaatinya seorang penguasa muslim, keberadaan mereka sebagai sosok yang selalu lurus di jalan Allah Subhanahu wata’ala. Mereka tidaklah maksum. Di atas akidah inilah, ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah berkeyakinan. Mereka tidak mensyaratkan sahnya waliyul amr sebagai seorang yang istiqamah dalam agama, sebagaimana hal itu bukan syarat untuk ditaatinya mereka dalam perkara yang ma’ruf.

• Al-Imam Abu Ja’far ath-Thahawi al-Hanafi rahimahumallah menjelaskan, di antara prinsip akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah “Kami tidak memandang bolehnya memberontak kepada para pemimpin dan pemerintah kami, meskipun mereka berbuat zalim, dan Kami tidak mendoakan kejelekan atas mereka. Kami tidak melepaskan diri dari ketaatan kepada mereka dan kami memandang ketaatan kepada mereka adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala sebagai suatu kewajiban, selama yang mereka perintahkan bukan kemaksiatan. Kami mendoakan untuk mereka kebaikan dan keselamatan.” (al-Aqidah ath-Thahawiyah)

• Al – Imam al – Ajurri rahimahumallah mengatakan, “Siapa saja yang menjadi pemimpinmu, dari bangsa Arab atau bukan, berkulit hitam atau putih, atau berasal dari bangsa non-Arab sekalipun, taatilah dalam perkara yang tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah Subhanahu wata’ala, walaupun hakmu dizalimi, punggungmu dipukul, kehormatanmu dilanggar, dan hartamu dirampas…. Akan tetapi, bersabarlah!” (asy-Syari’ah lil Imam al-Ajurri)

• Al-Imam al-Qurthubi rahimahumallah menerangkan, “Yang menjadi pegangan mayoritas ulama ialah bahwa bersabar untuk tetap taat kepada pemimpin yang jahat itu lebih utama daripada memberontaknya, karena melepaskan ketaatan dan melakukan pemberontakan terhadapnya berarti mengubah keamanan dengan ketakutan, menumpahkan darah, dan memberi peluang kepada orangorang yang jahat, menebar bahaya bagi kaum muslimin, dan menciptakan kerusakan di muka bumi.” (al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)

• Al-Imam ash-Shan’ani rahimahumallah dalam kitabnya, Subulus Salam, berkata, “Lafadz-lafadz hadits menunjukkan bahwa barang siapa memberontak kepada pemimpin yang telah disepakati oleh umat Islam dalam sebuah wilayah (negara), dia berhak dibunuh kerena telah menyusupkan kerusakan kepada masyarakat, sama saja apakah pemimpin tersebut seorang yang zalim atau adil. Dalam haditshadits lain dijelaskan, selama mereka menegakkan shalat dan selama kalian tidak melihat kekufuran yang nyata.” (Subulus Salam, 3/261)

Peringatan!

Keyakinan Ahlus Sunnah di atas tidak berarti bahwa Ahlus Sunnah membenarkan dan menyetujui kemungkaran para penguasa. Sama sekali tidak!

Bermudah-Mudah Memberikan Vonis Kafir

]Hadits Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha dan sabda-sabda Rasul Shallallahu ‘alaihi wasallam lainnya menunjukkan bahwa selagi para penguasa dalam keislaman, mereka adalah penguasa sah yang wajib kita taati dalam perkara yang ma’ruf, walaupun mereka bermaksiat, zalim, dan aniaya. Adapun jika yang menjadi penguasa, yang memerintah adalah orang-orang kafir, saat itu tidak ada lagi ketaatan. Boleh bagi kaum muslimin mengadakan pemberontakan, mengadakan kudeta kekuasaan untuk menggulingkan penguasa kafir dan menggantinya dengan penguasa muslim, tentu setelah kaum muslimin mempersiapkan kekuatan yang dengan itu insya Allah tujuan kudeta tercapai, dan setelah menempuh jalan yang paling mudah dan bermaslahat bagi kaum muslimin dalam menggulingkan penguasa kafir tersebut. Dalam sebuah riwayat, Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu berkata,

بَايَعْنَا رَسُولَ اللهِ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ  فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ، وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ، إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْراً بَوَاحاً عِنْدَكُمْ مِنَ اللهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Kami berbaiat (bersumpah setia) kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengar dan taat (kepada penguasa/pemimpin kaum muslimin) baik dalam keadaan senang atau susah dan tidak memberontak. (Rasulullah bersabda,) “Kecuali jika kalian melihat dari para penguasa kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah Subhanahu wata’ala.”

Perhatian!

Penting pula kita ungkapkan di sini meskipun sekadar isyarat, di antara tindakan berbahaya dalam masalah menentukan sikap kepada penguasa adalah tasarru’ (bermudah-mudah dan tergesa) memberikan vonis kufur. Bahkan, yang sungguh menyedihkan, di antara para aktivis pergerakan bukan hanya bermudah-mudah memberi vonis kafir kepada kepala negara. Lebih dari itu, dengan sembrono mereka memberikan hukum kafir kepada semua aparatur pemerintah dan menetapkan negara tersebut sebagai negara kafir. Allahul musta’an.

Memutuskan hukum kafir atas seseorang adalah hukum syariat yang benar-benar harus dibangun di atas ilmu. Apalagi menilai satu negeri sebagai negeri kafir. Yang berbicara masalah tersebut adalah orang-orang yang berilmu, memiliki hujah yang kuat di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Selain itu, vonis kafir tersebut tidak boleh ditujukan kepada siapa pun kecuali setelah semua sempurna syuruth at-takfir (syaratsyarat pengafiran) dan telah hilang semua mawani’ takfir (faktor yang menghalangi pengafiran). Bisa jadi, ada orang yang secara lahiriah melakukan perbuatan kekufuran, namun tidak bisa dihukumi kafir karena adanya (penghalangpenghalang) vonis kafir, atau tidak terpenuhinya syarat-syarat pengkafiran.

Khatimah

Sesungguhnya banyak syubhat (kerancuan) berpikir beberapa golongan yang menginginkan kerusakan di muka bumi—baik yang menisbatkan dirinya kepada Islam, atau agen-agen Yahudi dan sejenisnya yang terus berupaya merusak kekuatan kaum muslimin— dengan melakukan upaya pemberontakan kepada penguasa sah kaum muslimin. Di antara syubhat mereka, kebanyakan penguasa kaum muslimin saat ini bukan dari Quraisy, padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قُرَيْشٌ وُلَاةُ النَّاسِ فِي الْخَيْرِ وَالشَّرِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Quraisy adalah pemimpinpemimpin bagi manusia baik dalam kebaikan, demikian pula dalam kejelekan, hingga hari kiamat.”

Betapa dangkalnya pemahaman agama mereka. Mereka mengambil sebagian ayat dan membuang sebagian lainnya.

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (al-Baqarah: 85)

Benar, sabda Rasulullah n menetapkan bahwa Quraisy adalah pemimpin manusia, baik dalam kebaikan maupun dalam keburukan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memilih Abu Bakr ash- Shiddiq z sebagai khalifah sepeninggal beliau. Namun, harus kita ingat, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam yang mengabarkan bahwa pemimpin dari Quraisy, beliau pula yang memerintahkan kita untuk taat kepada penguasa muslim, walaupun bukan dari Quraisy. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أُوصِيْكُم بِتَقْوَى اللهَ وَالسَمْعُ وَالطَاعَة وَاِنْ كَانَ عَبْدَا حَبَشِيَا

“Aku wasiatkan kepada kamu semua supaya bertakwa kepada Allah Subhanahu wata’ala, dan patuh serta taat walaupun yang memimpin kamu adalah seorang budak Habsyi.” (HR. Ahmad)

Dalam riwayat al-Imam Muslim rahimahumallah, Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu menyebutkan,

إِنَّ خَلِيلِي أَوْصَانِي أَنْ أَسْمَعَ وَأُطِيعَ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا مُجَدَّعَ الْأَطْرَافِ

“Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam) memberi wasiat kepadaku supaya patuh dan taat walaupun yang memimpin adalah seorang hamba yang cacat (hina).” (HR. Muslim, 9/367, no. 3420)

Inilah sebagian jawaban dari beberapa kerancuan yang menyebar di tengah manusia di tengah-tengah keburukan dan musibah akhir zaman. Sungguh, tidak ada jalan keluar darinya kecuali dengan selalu berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala serta kembali kepada al- Kitab dan as-Sunnah dengan pemahaman salaful ummah.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالْحَمْدُ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

Mewaspadai Makar Setan

Di antara masalah ilmu yang harus kita yakini ialah semua perkara yang dinisbatkan kepada jahiliah itu tercela. Betapa banyak dalil yang menunjukkan hal ini. Di antara dalil tersebut adalah firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ

Tinggallah di rumah-rumah kalian. Dan janganlah kalian bertabarruj seperti tabarruj orang jahiliah dahulu.” (al- Ahzab: 33)

Demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan al-Imam Muslim rahimahumallah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar pertikaian seorang Anshar dan seorang Muhajirin dalam satu peperangan. Orang Anshar berkata, “Wahai orang-orang Anshar (minta bantuan mereka)!” Orang Muhajirin pun berkata, “Wahai orang-orang Muhajirin (minta bantuan kepada mereka)!”

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pun berkata, “Apakah seruan jahiliah kalian lakukan, padahalaku ada di antara kalian? Tinggalkanlah seruan-seruan jahiliah karena itu adalah buruk.”

Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Kesimpulannya: semua perkara jahiliah adalah tercela dan kita dilarang meniru perilaku jahiliah dalam segala hal.” (Syarah Masail Jahiliah)

 

Menghidupkan Jejak Para Nabi dan Orang-Orang Saleh adalah Amalan Jahiliah

Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahumallah berkata, “(Di antara perilaku jahiliah) adalah menjadikan jejak tempat para nabi sebagai tempat ibadah.” Beliau juga berkata, “(Di antara perilaku jahiliah adalah) mencari berkah jejak peninggalan orang–orang besar mereka, seperti darun nadwah.”

Dan berbangga-bangganya orang yang memiliki peninggalan orang besar. Seperti dikatakan kepada Hakim bin Hizam, “Kamu menjual kemuliaan Quraisy.”

Beliau menjawab, “Telah hilang semua (sebab) kemuliaan kecuali ketakwaan.” (Masail Jahiliah; masalah no. 81, 86, dan 87)

Tiga perbuatan jahiliah inilah yang sering dilakukan sekarang ini; menghidupkan dan mengenang jejak para nabi dan orang saleh serta mencari berkah dengannya. Akhirnya, orang-orang kafir berani memberikan dana yang banyak untuk melakukan proyek “jahiliah” ini. Sebab, mereka tahu ini adalah salah satu sarana menjauhkan muslimin dari agamanya. Yang dimaksud jejak di sini adalah tempat yang pernah didatangi oleh seorang nabi, orang saleh, tempat shalat, atau tempat-tempat persinggahan mereka.

Sekarang ini sering dilakukan pencarian jejak (situs) para nabi dan orang saleh kemudian dijadikan tempat kunjungan dengan niat beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di tempat-tempat tersebut. Mereka beranggapan, shalat di tempat tersebut adalah satu keutamaan. Bahkan, akhirnya sebagian orang mencari-cari dan mendatangi tempat yang pernah didatangi oleh tokoh-tokoh dari negara tertentu; melakukan napak tilas untuk mencari berkah dengan kunjungan tersebut. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

 

Contoh Tempat yang Dianggap Berkah

Di antara sekian tempat yang dijadikan tempat kunjungan dengan niat tabaruk adalah Gua Tsur dan Gua Hira. Asy-Syaikh Shalih al-Fauzan berkata, “… sekarang ini seperti yang pergi ke Gua Hira dengan alasan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam beribadah di situ sebelum diangkat jadi nabi. Mereka pergi ke sana untuk shalat dan berdoa di sana, padahal nabi saja tidak mengunjungi gua tersebut setelah diangkat menjadi nabi, juga tak ada seorang sahabat pun yang pernah ke Gua Hira karena mereka tahu hal tersebut tidak disyariatkan. Demikian pula mereka pergi ke Gua Tsur, dengan alasan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersembunyi di sana sebelum hijrah.” Namun orang-orang sekarang ini pergi ke Gua Tsur untuk shalat di sana, meletakkan wewangian di sana, dan kadang melemparkan uang ke sana. Ini semua adalah perbuatan jahiliah, jahiliahlah yang telah mengagungagungkan jejak nabi mereka. (Syarah Masail Jahiliah)

Tatkala di zaman Khalifah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu ada orang-orang yang berbolak-balik mengunjungi pohon tempat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam membaiat para sahabat Anshar.

Ketika Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu mengetahuinya beliau pun memerintahkan untuk menebang pohon tersebut. Dan beliau berkata, “Dengan amalan seperti inilah agama hancur.” Di antara tempat yang dijadikan tempat cari berkah adalah Jabal Rahmah. Sebagian rombongan umrah dari Indonesia bahkan dianjurkan oleh pembimbing mereka untuk berdoa di Jabal Rahmah, minta jodoh atau poligami.__Mudah – mudahan Allah lmemberikan taufik kepada kita dan kepada para pembimbing jamaah haji dan umrah, agar senantiasa beramal sesuai dengan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Apakah Semua Tempat yang Pernah Didatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam Disyariatkan untuk Didatangi?

Di antara perkara yang perlu diketahui, tempat yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datang untuk menunjukkan bahwa shalat di tempat tersebut disyariatkan bagi umatnya berbeda dengan tempat yang beliau singgahi dan shalat di sana secara kebetulan. Tempat pertama yang beliau datangi sebagai syariat di antaranya Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Aqsha, Ka’bah, dan Masjid Quba. Disyariatkan bagi umatnya untuk mengunjungi tempat tersebut dan mengamalkan amalan yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam di setiap tempat tersebut.

Adapun tempat yang beliau singgahi secara kebetulan, tidak disyariatkan bagi umat mengikutinya. Misalnya, Gua Tsur dan tempat lainnya yang dilalui oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam ketika hijrah ke Madinah. Haruslah dibedakan antara satu tempat yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai syariat bagi umatnya dan tempat lain yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam datangi secara kebetulan atau karena ada kebutuhan. Tempat-tempat yang dikunjungi Rasulullah n sebagai syariat bagi umatnya, disyariatkan bagi umat ini mendatanginya dengan niat ibadah, dengan catatan ibadah yang sesuai dengan yang dituntunkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Adapun tempat yang didatangi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam secara kebetulan, tidak boleh dikunjungi dengan niat ibadah. Itu adalah kebid’ahan, jalan orangorang jahiliah. Gua Hira misalnya. Tidak boleh seseorang berniat ibadah dengan mengunjungi Gua Hira. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam saja tidak mengunjunginya setelah menjadi nabi. Demikian juga para sahabatnya, tidak pernah mengunjungi Gua Hira. (Syarah Masail Jahiliah, asy-Syaikh al-Fauzan)

 

Menghidupkan Peninggalan Orang- Orang Besar, Sarana Menuju Kesyirikan

Di antara sebab kesyirikan yang saat ini gencar dilakukan adalah mencari-cari dan menghidupkan kembali peninggalanpeninggalan orang dahulu, walaupun peninggalan orang-orang kafir. Penelitian-penelitian dilakukan untuk menemukan peninggalan “bersejarah”, yang tentunya kebanyakannya adalah peninggalan orang-orang kafir, musyirikin, dan animisme. Bahkan, mereka mencaricari dan membesar-besarkan peninggalan Fira’un. Innalillahi wainnailaihi raji’un.

Tidaklah kaum Nuh ‘Alaihissalam terjatuh kecuali melalui pintu ini. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَقَالُوا لَا تَذَرُنَّ آلِهَتَكُمْ وَلَا تَذَرُنَّ وَدًّا وَلَا سُوَاعًا وَلَا يَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

Mereka berkata, Janganlah kalian meninggalkan sesembahan-sesembahan kalian; Wad, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.” (an-Nuh: 23)

Al-Imam Bukhari rahimahumallah membawakan ucapan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, “Ini adalah nama-nama orang saleh di kaum Nuh, ketika mereka meninggal maka setan pun memberikan wangsit kepada kaumnya, hendaknya kalian membuat gambargambar dan patung di majelis-majelis yang mereka bermajelis di sana dan berilah nama-nama mereka. Maka mereka pun membuatnya namun tidak menyembahnya. Hingga ketika mereka mati dan ilmu telah dilupakan, akhirnya gambar dan patung tersebut disembah.”

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Berkata salaf: ketika orang-orang saleh tersebut meninggal maka kaum mereka beritikaf dikubur-kubur mereka kemudian membuat patung-patung mereka, hingga setelah berlangsung lama, patung-patung tadi pun kemudian disembah.” Demikian juga kesyirikan di bangsa Arab adalah ketika setan memberikan wangsit kepada Amr bin Luhai untuk menggali dan membawa berhala-berhala tersebut ke Jazirah Arab.

Faedah Kisah Kaum Nuh ‘Alaihissalam Kisah kaum Nuh ‘Alaihissalam di atas mengandung banyak faedah berharga. Di antaranya:

1. Tidak boleh melakukan kebid’ahan walaupun tampaknya kebid’ahan tersebut bagus.

2. Peringatan akan bahayanya gambar makhluk bernyawa. Gambar seperti ini mengandung dua kerusakan: sarana yang mengantarkan kepada kesyirikan dan bentuk menyerupai ciptaan Allah Subhanahu wata’ala.

3. Menggantungkan gambar di tembok dan memancang patung di majelis dan lapangan adalah perkara yang akan

mengantarkan umat kepada kesyirikan.

4 . Semangat setan untuk menyesatkan bani Adam. Terkadang ia datang kepada bani Adam dengan memanfaatkan perasaan.

5. Setan tidaklah menyesatkan umat yang ada sekarang, tetapi generasi yang akan datang.

6. Tidak boleh bermudah-mudah terhadap sarana kejelekan bahkan wajib memutus dan menutupnya.

Ibnul Qayyim rahimahumallah berkata, “Berkatansalaf: ketika orangorang saleh tersebut meninggal maka kaum mereka beritikaf di kuburkubur mereka kemudian membuat patung-patung mereka, hingga setelah berlangsung lama, patung-patung tadi pun kemudian disembah.”

7. Keutamaan ulama yang mengamalkan ilmunya. (Bayan Hakikat Tauhid hlm. 10— 11 dan I’anatul Mustafid)

Mudah-mudahan tulisan yang singkat ini bisa menjadi tambahan ilmu dan amal kita semua.

Walhamdulillahi Rabbil ‘Alamin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdurrahman Mubarak

Etika Terhadap Penguasa

Suatu hal yang telah diketahui bersama bahwa urusan manusia di muka bumi ini tidak akan beres tanpa adanya penguasa yang mengatur dan mengurusi mereka. Namun pemerintah juga tidak mungkin menjalankan program-programnya yang baik tanpa ada dukungan dari rakyatnya. Oleh karena itu, Islam telah mengatur hubungan antara rakyat dengan penguasanya. Setiap pihak memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan kepada yang lain. Dengan demikian, akan terjalin komunikasi yang baik sehingga terwujud kemaslahatan bersama yaitu tegaknya agama dan lurusnya perkara dunia.

Sungguh, betapa indah kehidupanketika penguasa mencintai rakyatnya dan mengerti tanggung jawab yang dipikul di atas pundaknya lalu dijalankan dengan sepenuh ketulusan. Dengan ini rakyat akan menaruh rasa hormat dan mencintai penguasanya. Keadilan ditegakkan, Kebaikan dijunjung tinggi dan kejelekan ditumbangkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِيْنَ تُحِبُّوْنَهُمْ وَيُحِبُّوْنَكُمْ وَتُصَلُّوْنَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّوْنَ عَلَيْكُمْ وَشِرَارُأَئِمَّتِكُمْ الَّذِ يْنَ تُبْغِضُوْنَهُمْ وَيُبْغِضُوْنَكُمْ وَتَلْعَنُوْ نَهُمْ وَيَلْعَنُوْنَكُمْ

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian. Sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian; serta kalian melaknat mereka dan dari Auf bin Malik radhiyallahu ‘anhu)

Adab Rakyat Terhadap Penguasa

Karena penguasa memikul tanggung jawab yang berat dalam mengurusi perkara rakyatnya maka sudah semestinya rakyat memberikan dukungan kepada mereka dalam mewujudkan program-program yang baik. Dukungan rakyat sangat berarti sehingga penguasa semakin tulus dalam menjalankan roda kepemerintahannya. Di antara yang harus diberikan oleh rakyat kepada penguasanya adalah taat dan mendengar terhadap perintah penguasa sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa: 59)

Ketaatan kepada penguasa selalu dijalankan, baik dalam kondisi sempit atau lapang dan seperti apa pun kondisi penguasa meskipun dia berasal dari budak sahaya atau bahkan seorang muslim yang fasik. Ketaatan seorang muslim kepada penguasa semata-mata karena melaksanakan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya, serta menjaga kekondusifan suasana, bukan karena ingin cari muka, berharap materi, ataupun ambisi jabatan/ takhta. Akan tetapi, ketaatan terhadap perintah mereka pada perkara yang bukan maksiat. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda,

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wata’ala.” (HR . Ahmad dan al-Hakim dari Imran radhiyallahu ‘anhu. Shahih al-Jami’, 7520)

Rakyat juga semestinya mendudukkan penguasa pada kedudukannya dan menghormatinya. Sebab, orang yang menghormati penguasa akan dihormati oleh Allah Subhanahu wata’ala , sedangkan yang menghinakan penguasa akan dihinakan oleh Allah l. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ibnu Abi ‘Ashim dan dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Zhilalul Jannah (no. 1024).

Rakyat juga tidak boleh menggunjing penguasa.

Asy- Syaikh Shalih al-Fauzan menjelaskan,  “Membicarakan (keburukan) penguasa termasuk bentuk menggunjing dan mengadu domba. Keduanya adalah perbuatan yang sangat diharamkan setelah syirik, lebih-lebih bila yang digunjing adalah para ulama dan penguasa, tentu lebih diharamkan, karena akan timbul darinya sejumlah kerusakan yaitu: tercerai-berainya persatuan dan munculnya sikap buruk sangka dan pesimis pada jiwa-jiwa manusia.” (al- Ajwibah al-Mufidah hlm. 66—67)

Mendekati Pintu-Pintu Penguasa

Kekuasaan adalah ladang yang sangat menggoda seseorang yang berkuasa untuk memenuhi hasrat nafsunya sehingga tidak sedikit penguasa yang lemah imannya menjadikan kekuasaan sebagai jembatan untuk menzalimi manusia. Dalam benaknya tersirat kalimat “mumpung menjabat.”

Oleh karena itu, tidak pantas bagi seorang muslim untuk mendekati pintupintu penguasa kecuali ketika terpaksa dan keperluan yang mendesak. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَمَنْ أَتَى أَبْوَابَ السُّلْطَانِ افْتُتِنَ

“Barang siapa mendatangi pintupintu penguasa, dia akan terfitnah (tergoda agamanya).” (HR . ath-Thabarani dalam al-Kabir dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu dan Shahih al-Jami’ no. 6124)

Ibnu Muflih al-Hanbali rahimahumallah menerangkan, “Hadits ini dibawa (penafsirannya) kepada orang yang mendatangi penguasa untuk mencari dunia, lebih-lebih bila penguasa itu zalim. Dimaknakan pula orang yang terbiasa mendatangi pintu penguasa, karena dikhawatirkan ia akan tergoda (agamanya) dan dihinggapi sikap bangga diri.” (al-Adab asy-Syar’iyah 3/458)

Al-Munawi rahimahumallah berkata (yang maknanya) bahwa orang yang masuk kepada penguasa bisa jadi akan melihat bergelimangnya penguasa dalam beragam nikmat sehingga akan menyebabkan dirinya meremehkan nikmat yang Allah Subhanahu wata’ala berikan kepadanya. Bisa jadi pula ia melihat kemungkaran pada penguasa lalu tidak mengingkarinya, padahal itu wajib dia lakukan. Adakalanya orang yang masuk kepada mereka karena menginginkan harta benda penguasa sehingga ia mengambil sesuatu yang haram.” (Faidhul Qadir 6/122)

Karena kehati-hatian para ulama, kebanyakan mereka tidak mau masuk kepada penguasa karena agama dan ilmu adalah segala-galanya. Di antara mereka adalah al-Imam Ahmad, Sufyan ats-Tsauri, Ibnul Mubarak, al-Fudhail, dan yang lain rahimahumullah. Bahkan, Said bin Musayyib rahimahumallah berkata, “Apabila kamu melihat seorang alim masuk kepada penguasa, waspadailah dia, karena ia adalah pencuri.”

Akan tetapi, sebagian ulama memandang bolehnya masuk kepada penguasa untuk memberi nasihat dan mengingatkan mereka. Lebih-lebih jika penguasa itu adil dan baik sehingga mendukung kebaikan penguasa. Di antara ulama yang berpendapat seperti ini adalah ‘Urwah bin az-Zubair dan Ibnu Syihab ketika menyertai khalifah Umar bin Abdul Aziz rahimahumallah.” (al-Adab asy-Syar’iyyah karya Ibnu Muflih al- Hanbali 3/457—467)

Menasihati Penguasa

Mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran, dan mengingatkan orang yang lalai, adalah tugas yang mulia karena termasuk bagian dari dakwah. Hukum dalam berdakwah adalah mendahulukan sikap hikmah, kemudian mau’izhah hasanah. Sikap bijak dalam menasihati manusia berlaku terhadap siapa pun, lebih-lebih dalam manasihati penguasa. Berikut beberapa etika manasihati penguasa:

1. Sembunyi-sembunyi dan tidak terang-terangan

Hal ini berlandaskan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,

مَنْ أَرَادَ أَنْ يَنْصَحَ لِذِي سُلْطَانٍ فَلَا يُبْدِهِ عَلَانِيَةً وَلَكِنْ يَأْخُذُ بِيَدِهِ فَيَخْلُوْابِهِ فَإِنْ قُبِلَ مِنْهُ فَذَاكَ وَإِ قَدْ أَدَّى الَّذِى عَلَيْهِ

“Barang siapa ingin menasihati penguasa hendaknya tidak menampakkannya terang-terangan, tetapi ia memegang tangannya lalu menyepi dengannya. Apabila penguasa itu menerimanya, itulah (yang diharapkan). Jika tidak, dia telah menjalankan apa yang menjadi kewajibannya.” ( HR . Ibnu Abi ‘Ashim dari sahabat ‘Iyadh bin Ghunmin radhiyallahu ‘anhu, dan dinyatakan sahih sanadnya oleh asy-Syaikh al-Albani)

Cara yang seperti ini, di samping merupakan petunjuk agama, juga akan menjadikan nasihat lebih mudah diterima karena penguasa tidak merasa dicemarkan namanya. Oleh karena itu, apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang menasihati penguasa terang-terangan dan membeberkan kesalahan mereka di mimbar-mimbar, melalui surat terbuka yang bisa dibaca oleh semua orang, atau disiarkan melalui media, tentu sangat bertentangan dengan bimbingan Nabi n yang mulia.

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahumallah berkata, “Bukan cara salaf (generasi awal umat Islam yang terbaik) menyebarkan kekurangan-kekurangan penguasa dan membeberkannya di mimbar-mimbar. Sebab, hal itu bisa menyulut kudeta, tidak didengar dan tidak ditaatinya pemerintah dalam hal yang baik, serta mengarah kepada pemberontakan yang membawa madarat, bahkan tidak ada manfaatnya. Akan tetapi, cara yang tepat menurut salaf adalah memberikan nasihat (secara tertutup) antara mereka dan penguasa, mengirim surat kepadanya, atau menghubungi ulama yang bisa menyampaikan kepada penguasa sehingga penguasa tersebut akan dibimbing kepada kebaikan.” (Mu’malatul Hukkam karya, Abdus Salam Barjas hlm. 43)

2. Bersikap santun

Ketika mengingatkan penguasa dan menyampaikan aspirasi hendaknyammemiliki sikap santun. Jika ada yang mengatakan bahwa menyampaikanmaspirasi kepada penguasa dengan berorasi di depan publik dan berdemonstrasi adalah perkara yang sah-sah saja selama tidak mengganggu ketertiban umum, jawabannya bahwa aksi demonstrasi, baik itu aksi damai—katanya—maupun anarkis telah menimbulkan sekian banyak kemudaratan.

Misalnya, banyak layanan publik terganggu, para pengguna jalan terjebak aksi demo sehingga mereka harus mengalihkan rute, mengorbankan waktu dan biaya yang tidak sedikit secara siasia. Belum lagi seringkali ujungnya ialah aksi anarkis yang membawa dampak yang sangat serius. Ini hanya beberapa kebobrokan berdemonstrasi. Lebih-lebih bila dilihat dengan kacamata Islam, sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama dan adab kesopanan.

3. Tidak menggunakan katakata kasar

Cukup bagi orang yang ingin amar ma’ruf nahi mungkar terhadap penguasa untuk mengingatkan dan menasihatinya. Adapun kalimat, ‘Wahai orang zalim,’ yang seperti ini akan menimbulkan kekacauan dan kemungkaran yang lebih besar. Cara yang seperti ini tidak diperbolehkan karena akan menimbulkan mudarat yang lebih besar. (Mukhtashar Minhajul Qashidin hlm. 169)

Coba perhatikan perintah Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Musa dan Harun ‘Alaihissalam untuk mengatakan kepada Fir’aun ucapan yang lembut padahal Fir’aun tergolong orang terjahat dan terkafir. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut. Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

4. Tulus dalam memberikan nasihat dan menjaga keikhlasan hati dari niat duniawi.

Ketulusan saat memberikan nasihat akan membuahkan hasil dengan izin Allah Subhanahu wata’ala, baik cepat maupun lambat. Dahulu ‘Atha bin Abi Rabah masuk kepada Amiril Mukminin (Khalifah) Hisyam. Ia mengingatkan Khalifah tentang orang-orang yang berhak disantuni dari kaum muslimin. Ia juga mengingatkan Khalifah agar tidak membebani orang kafir dzimmi (orang kafir yang tinggal di negeri muslimin) lebih dari kemampuannya. Sang Khalifah pun mengikuti nasihatnya. Lalu Khalifah mengatakan kepadanya, “Adakah keperluan yang lain?”

‘Atha menjawab, “Ya. Wahai Amirul Mukminin, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wata’ala karena engkau dicipta sendirian, meninggal sendirian, dibangkitkan sendirian, dan dihisab sendirian. Sungguh, demi Allah, tidak ada seorang pun yang engkau lihat sekarang ikut menyertaimu nanti!”

Hisyam pun menangis, lalu Atha berdiri (untuk pergi). Ketika Atha sudah berada di pintu tiba-tiba ada seorang yang mengikutinya dengan membawa kantung. Tidak diketahui persis, apakah isinya perak atau emas.

Orang itu berkata, “Sesungguhnya Amiril Mukminin memberimu ini.” Atha lantas membacakan ayat,

وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ الْعَالَمِينَ

“Dan sekali-kali aku tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu. Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam.” (asy-Syu’ara: 127)

Kemudian ‘Atha keluar. Sungguh, demi Allah, ‘Atha tidaklah minum seteguk pun dari air yang ada di sisi mereka (majelis Khalifah), bahkan tidak pula yang kurang dari itu. (Mukhtashar Minhaj al-Qashidin hlm. 174—175)

Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Thalut VS Jalut

Berbagai kenikmatan telah banyak dirasakan oleh bani Israil, sehingga sudah sepatutnya mereka bersyukur kepada Sang Pemberi Kenikmatan tersebut, yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Ketika di Padang Tih, Allah Subhanahu wata’ala menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Saat-saat mereka kehausan, lalu meminta Nabi Musa berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala agar memberi mereka minum.Allah Subhanahu wata’ala memerintah beliau memukulkan tongkatnya ke sebuah batu hingga memancarlah 12 lubang air untuk minum dua belas suku bani Israil. Kenikmatan lain yang tak kalah pentingnya, bahkan sangat mulia, yaitu diutusnya para nabi serta dibangkitkannya para raja yang memimpin dan membimbing mereka. Setiap kali seorang nabi meninggal dunia, datanglah nabi yang lain.

Begitu seterusnya selama berabadabad. Semakin lama waktu berjalan, sejak wafatnya Nabiyullah Musa ‘Alaihissalam, digantikan pula oleh Nabi Yusya’ bin Nun yang memimpin bani Israil. Beliau pun wafat dan digantikan oleh nabi lainnya. Keadaan bani Israil semakin lemah. Pada zaman itu ada dua asbath, yang satu melahirkan nabi-nabi, yaitu dari keturunan Lewi, sedangkan yang lain menurunkan para raja, yaitu keturunan Yahuda. Akan tetapi, yang menunjuk dan menentukan raja mereka adalah wewenang para nabi, sehingga yang mengatur dan membimbing mereka sebetulnya adalah para nabi . Sepeninggal Nabi Yusya’, setelah kemenangan demi kemenangan Allah Subhanahu wata’ala berikan kepada mereka, bani Israil mulai menelantarkan ajaran dan wasiat yang pernah diberikan oleh nabi mereka, Yusya’ bin Nun.

Bahkan, sebagian mereka mulai ada yang menyembah berhala. Para hakim tidak lagi mampu menerapkan ajaran Taurat dalam memutuskan persoalan bani Israil. Tidak pula ada seorang nabi yang mengajak mereka kepada yang ma’ruf dan melarang kemungkaran. Akhirnya, Allah Subhanahu wata’ala menghukum mereka dengan memberikan kekuasaan kepada bangsa lain untuk menjajah dan merampas kekayaan mereka di negeri mereka sendiri. Sebagian mereka diusir dari kampung halaman serta dipisahkan dari istri dan anak-anak mereka. Sebagian lagi ada yang dijadikan tawanan dan budak. Dalam sebuah peperangan, Tabut dan Taurat dirampas dari tangan mereka.

Akibatnya, mereka semakin jauh dari agama mereka. Tidak pula ada yang menghafalnya kecuali segelintir orang. Karena banyaknya yang dibunuh oleh penjajah, terputuslah kenabian dari mereka. Tidak ada lagi keturunan Lewi yang melahirkan nabi-nabi, selain seorang wanita bernama Hubla. Begitu pula keturunan Yahuda yang melahirkan raja-raja, banyak pula di antara mereka yang terbunuh. Semua itu adalah buah kedurhakaan mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala dan meninggalkan syariat-Nya. Allah Subhanahu wata’ala tidak menzalimi siapa pun di antara hamba-Nya. Dalam keadaan terjepit seperti itu, mulailah mereka sadar dan kembali kepada Allah l. Mereka berdoa agar Allah Subhanahu wata’ala mengutus seorang nabi di tengah-tengah mereka. Padahal, saat itu keturunan Lewi sudah hampir punah, tinggal seorang wanita bernama Hubla yang sedang mengandung.

Mulanya, wanita ini mandul, hingga dia hampir putus asa untuk memiliki anak dari suaminya. Sementara itu, sang suami mempunyai istri lain dan melahirkan sepuluh anak laki-laki untuk suaminya. Akan tetapi,wanita itu melampaui batas terhadapnya karena merasa lebih banyak anaknya. Hubla mengadu kepada Allah l atas kekurangannya dan memohon diberi karunia seorang anak. Allah Maha Mendengar, Dia mengabulkan permintaan wanita tersebut.

Hubla akhirnya mengandung dan beberapa bulan kemudian melahirkan seorang anak. Dia menamai anak tersebut Samual; Allah l mendengar doanya. Setelah anak itu semakin besar, dia diserahkan kepada orang-orang saleh di Baitil Maqdis. Di rumah suci itulah Samual dididik dengan ajaran Taurat. Setelah Samual dewasa, Allah Subhanahu wata’ala memilih dan mengutusnya sebagai nabi agar memberi peringatan kepada bani Israil. Mulanya, bani Israil mendustakan dan mengingkari kenabiannya, tetapi kemudian mereka mengakui juga nubuwah Samual. Pada masa-masa itu, kekuasaan ‘Amaliqah (asal-usul penduduk Mesir) semakin kuat di bawah pimpinan raja mereka, Jalut (Goliat) yang berasal dari keturunan Kan’an. Seakan-akan tanpa perlawanan, mereka merajalela membantai dan menindas bani Israil.

Para pemuka bani Israil sudah tidak mampu menahan penderitaan dan kehinaan tersebut, maka mereka datang kepada Nabi Samual ‘Alaihissalam meminta beliau mengangkat seorang raja untuk mereka. Demikianlah kisahnya yang dipaparkan oleh sebagian ahli sejarah yang menukil dari cerita Israiliyat. Kisah mereka diceritakan pula di dalam al-Qur’anul Karim. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya),

Apakah kamu tidak memerhatikan pemuka-pemuka bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang nabi mereka, “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah”. Nabi mereka menjawab, “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab, “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling, kecuali beberapa orang saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang zalim.

Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.”Mereka menjawab, “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya, sedangkan dia pun tidak diberi kekayaan yang banyak?” (Nabi mereka) berkata, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi raja kalian dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Mahaluas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui. Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Rabbmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada hal itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (al-Baqarah: 246—248)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wata’ala mengisahkan kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam tentang para pemuka bani Israil yang menemui nabi mereka saat itu, yaitu Samual ‘Alaihaissalam, lalu berkata kepadanya, “Tunjuklah seorang raja untuk kamiagar kami berperang di jalan Allah Subhanahu wata’ala bersamanya.”

Akan tetapi, karena sudah memahami watak bani Israil itu, Nabi Samual berkata (sebagaimana dalam ayat),

هَلْ عَسَيْتُمْ إِن كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ أَلَّا تُقَاتِلُوا

“Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.”

Seakan – akan Nabi Samual  meragukan, jangan-jangan kalau Allah Subhanahu wata’ala memilihkan seorang raja untuk mereka, mereka justru tidak menepati janji untuk berperang bersama raja tersebut. Jadi, beliau menawarkan kepada mereka agar mereka selamat. Akan tetapi, mereka tidak mau menerimanya, bahkan tetap berpegang kepada tekad dan niat mereka. Mendengar jawaban Nabi Samual ‘Alaihissalam ini, mereka berkata (sebagaimana dalam ayat),

“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” 

Seolah-olah mereka hendak mengatakan, “Apakah yang menghalangi kami berperang, sementara kami terpaksa memilihnya. Kami diusir dari negeri kami sendiri dan anak-anak kami ditawan.Itulah yang mendorong kami berperang walaupun tidak diwajibkan atas kami.”Ketika niat mereka ternyata bukan niat yang baik, tawakal mereka kepada Allah Subhanahu wata’ala pun lemah. Tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, mereka pun berpaling. Mereka takut memerangi musuh, tidak sanggup melawan, dan tekad mereka luntur. Bahkan, sebagian besar mereka dikuasai oleh sikap lemah dan pengecut, hingga meninggalkan perintah Allah Subhanahu wata’ala.

Akan tetapi, beberapa gelintir orang di antara mereka dilindungi oleh Allah Subhanahu wata’ala dan diteguhkan serta dikuatkan hati mereka, sehingga tetap menjalankan perintah Allah Subhanahu wata’ala dan mempersiapkan diri untuk menghadapi musuh-musuh-Nya. Mendengar tuntutan dan jawaban mereka, Nabi Samual berkata, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah mengangkat Thalut menjadi raja kalian.” Para pembesar itu terkejut, bagaimana mungkin Thalut (dalam bahasa Suryani; Saul) menjadi raja bani Israil? Kata mereka kepada nabi mereka, “Bagaimana Thalut memerintah kami?Kami berasal dari keturunan Yahuda yang  melahirkan raja-raja, dan kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan darinya. Dia juga miskin, tidak diberi kekayaan yang banyak untuk mendukung kekuasaannya.”

Demikianlah menurut mereka, sebuah kerajaan atau kekuasaan harus dipegangoleh orang yang mempunyai nasab mulia dan banyak hartanya. Nabi Samual ‘Alaihaissalam berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala telah memilihnya menjadi raja kalian, sehingga kalian wajib tunduk kepada keputusan tersebut. Bahkan, Allah Subhanahu wata’ala menganugerahinya kelebihan di atas kalian berupa ilmu dan fisik, yaitu kekuatan akal pikiran dan jasmani. Dengan kedua hal inilah urusan sebuah kerajaan dapat terlaksana secara sempurna.”

Sebab itu, seandainya seorang raja hanya kuat fisiknya, tetapi lemah akalnya, tentu di kerajaannya akan terjadi kerusakan, kekalahan dan penyimpangan terhadap syariat; dia memiliki kekuatan, tetapi tidak memiliki hikmah kebijaksanaan. Selain itu, seandainya seorang raja hanya mempunyai ilmu pengetahuan tentang berbagai masalah, tetapi tidak mempunyai kekuatan untuk menerapkannya, niscaya buah pikiran itu juga tidak berguna dan tidak dapat dilaksanakan.

Allah Subhanahu wata’ala menyerahkan kerajaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, sehingga tidak perlu mengingkari kekuasaan Thalut, meskipun dia bukan keturunan Yahuda ataupun Lewi. Selain itu, kerajaan itu sebetulnya bukan warisan, melainkan di tangan Allah Subhanahu wata’ala yang Dia berikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Mahaluas karunia-Nya, sangat banyak sifat pemurah-Nya, tidak mengkhususkan rahmat dan kebaikan-Nya untuk orang tertentu, baik yang tinggi kedudukannya maupun yang rendah, tetapi Dia juga Maha Mengetahui siapa yang berhak menerima keutamaan lalu Dia melipatgandakannya. Dengan kalimat ini, keraguan yang tadi muncul, sirna dari hati mereka.

Sebab, keterangan Nabi Samual q ini menegaskan bahwa syarat untuk menjadi raja sudah lengkap pada diri Thalut. Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya, tanpa ada  yang menolaknya, bahkan tidak ada pula yang menghalangi kebaikan-Nya. Jadi, kedudukan sebagai raja yang dipegang oleh Thalut adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala, dan tentu saja Dia Maha Mengetahui kemaslahatan hambahamba- Nya. Wallahu a’lam.

Kemudian, Nabi Samual menyebutkan tanda yang dapat mereka saksikan, yaitu datangnya tabut yang mereka cari cukup lama. Di dalam tabut itu terdapat sakinah yang menenangkan hati mereka dan menenteramkan pikiran mereka, serta sisa peninggalan keluarga Nabi Musa dan Harun e yang dibawa oleh malaikat.

Raja Thalut dan Pasukannya

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُم بِنَهَرٍ فَمَن شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَن لَّمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلَّا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ ۚ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلَّا قَلِيلًا مِّنْهُمْ ۚ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لَا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ ۚ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُم مُّلَاقُو اللَّهِ كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ () وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ () فَهَزَمُوهُم بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُم بِبَعْضٍ لَّفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ () تِلْكَ آيَاتُ اللَّهِ نَتْلُوهَا عَلَيْكَ بِالْحَقِّ ۚ وَإِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata, “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orangorang yang telah minum berkata, “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdoa, “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam. Itu adalah ayat-ayat Allah. Kami bacakan kepadamu dengan hak (benar) dan sesungguhnya kamu benar-benar salah seorang di antara nabi-nabi yang diutus.” (al-Baqarah: 249—252)

Setelah Thalut menjadi raja bani Israil, dan kekuasaannya semakin kuat, mereka bersiap-siap memerangi musuh mereka. Terkumpullah hampir delapan puluh ribu pasukan bani Israil. Ketika Thalut bertolak dengan pasukan bani Israil yang sangat besar, Allah Subhanahu wata’ala menguji mereka, agar jelas siapa yang kokoh dan tenang, siapa pula yang tidak, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wata’ala akan menguji kamu dengan suatu sungai, maka siapa di antara kamu meminum airnya, ia durhaka, sehingga janganlah dia mengikuti kami karena tidak ada kesabaran dan keteguhannya, karena kedurhakaannya. Dan siapa yang tidak meminum air itu, sesungguhnya dia pengikutku, kecuali menceduk dengan seceduk tangan, tidak ada dosa atasnya berbuat demikian. Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberkahi lalu mencukupi.”

Ujian ini menampakkan hikmah Allah Subhanahu wata’ala memilih Thalut sebagai raja bani Israil. Allah Subhanahu wata’ala ingin menunjukkan kepada bani Israil bahwa Thalut memang ahli strategi perang. Beliau membawa pasukan yang sudah pernah kalah bahkan terjajah dalam sejarah peradaban mereka. Sekarang, dia mengerahkan mereka menghadapi tentara penjajah dengan kekuatan dan persenjataan lengkap. Sebab itu, tidak mungkin menghadapi tentara musuh kecuali dengan kekuatan yang melebihi lawan, dan itu hanya satu, yaitu kekuatan hati dan kemauan untuk menang. Kekuatan yang siap menundukkan keinginan syahwat dan mengalahkan desakan atau dorongan kebutuhan sesaat serta sanggup mengedepankan ketaatan terhadap pemimpin dalam semua keadaan.

Tidak ada gunanya kekuatan perlengkapan dan fisik sehebat apa pun, kalau yang memilikinya adalah orangorang yang bermental pengecut dan lemah. Lemah keinginan dan kemauannya untuk menang. Dalam ujian ini jelaslah bahwa mereka sedang kekurangan air, sehingga air yang segar itu sangat menggoda orang-orang yang kehausan. Pasir sahara yang panas, bekal yang sekadarnya, harus menghadapi musuh yang tak terkalahkan, benar-benar menambah berat ujian bani Israil ketika itu. Ujian itu menjadi saringan bagi bani Israil. Dari 80.000 prajurit, sebagian besar mereka melanggar, dan meminum air sungai sepuas-puasnya, padahal sudah dilarang. Akhirnya, mereka berbalik mundur, tidak jadi memerangi musuh mereka. Ketidaksabaran mereka menahan haus satu jam saja adalah bukti terbesar tidak adanya kesabaran mereka untuk berperang yang pasti memakan waktu lama dengan kesulitan lebih besar.

Mundurnya orang-orang tersebut dari pasukan induk, meningkatkan tawakal kepada Allah Subhanahu wata’ala, orang-orang yang tabah, semakin menambah sikap merendahkan diri, merasa hina, dan berlepas diri dari daya dan kekuatan mereka sendiri. Bahkan, berkurangnya jumlah mereka dan banyaknya musuh, semakin meningkatkan kesabaran mereka. Akan tetapi, ujian itu seakan belum berakhir. Orang-orang mukmin yang ikut bersama Thalut menyadari bahwa musuh yang akan mereka hadapi sebetulnya sangat kuat dan belum pernah kalah.

Mereka tidak melanggar janji mereka yang pernah terucap di hadapan Nabi mereka, bahwa mereka siap berperang. Akan tetapi kini, setelah menyadari bahwa musuh mereka memiliki kekuatan lebih besar dan hebat, mereka menyerah sebelum bertempur. Dari delapan puluh ribu pasukan itu, yang tersisa dan masih bertahan bersama Thalut ketika menyeberangi sungai itu, hanya sekitar 313 orang. Mereka inilah yang benar-benar memiliki kekuatan tawakal dan keimanan yang besar kepada Allah Subhanahu wata’ala

Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah Subhanahu wata’ala, yaitu orang-orang yang memiliki iman yang teguh dan keyakinan yang kuat, mereka meneguhkan yang lain, menenangkan pikiran mereka, dan memerintahkan agar bersabar, kata mereka (sebagaimana dalam ayat),

كَم مِّن فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ

“Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah,”

dengan keinginan dan kehendak-Nya. Dengan kata lain, urusan itu di Tangan Allah Subhanahu wata’ala. Orang yang mulia adalah yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wata’ala, dan orang yang hina adalah yang dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Karena itu, jumlah yang banyak tidaklah berguna sedikit pun bilam dihinakan oleh Allah Subhanahu wata’ala. Sebaliknya, jumlah yang sedikit, tidak akan hancur atau kalah bila ditolong oleh Allah Subhanahu wata’ala. Allah Subhanahu wata’ala bersama orang-orang yang sabar. Dia menolong dan memberi taufik kepada mereka. Akan tetapi, sebab yang paling utama menyebabkan turunnya pertolongan Allah Subhanahu wata’ala  adalah kesabaran hamba itu sendiri.

Akhirnya, nasihat itu masuk ke dalam hati mereka dan memberi pengaruh yang sangat besar. Itulah sebabnya, ketika mereka menghadapi Jalut dan pasukannya, Thalut dan pasukannya berdoa,

“Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami.”

Maksudnya, peliharalah hati kami, curahkanlah kesabaran untuk kami, kokohkanlah kaki kami, agar tidak goncang dan melarikan diri, serta tolonglah kami menghadapi orangorang kafir. Dari doa ini pula kita mengetahui bahwa Jalut dan tentaranya adalah orang-orang kafir. Allah Subhanahu wata’ala mengabulkan doa orangorang beriman itu, karena mereka telah menjalankan sebab-sebabnya. Allah Subhanahu wata’ala menolong mereka mengalahkan orangorang kafir itu. Dawud A’laihaissalam yang ikut dalam pasukan Thalut adalah anak bungsu Isya yang semuanya dua belas orang. Tubuhnya kecil, belum tampak layak untuk bertempur seperti prajurit lainnya.

Akan tetapi, keimanan dan keberanian Dawud jauh melebihi manusia lain. Pada waktu kedua pasukan bertemu, seperti biasa, Jalut menantang duel satu lawan satu. Pasukan Thalut tidak ada yang berani menghadapinya, padahal ketika itu Thalut telah mengumumkan bahwa siapa yang dapat membunuh Jalut akan dinikahkannya dengan putrinya dan diberinya separuh kerajaan. Bukan itu yang dicari oleh Dawud ‘Alaihissalam melainkan ridha Allah Subhanahu wata’ala. Beliau meminta izin untuk maju, tetapi dicegah oleh Thalut. Akhirnya Dawud ‘Alaihissalam maju sendiri dan menyambut tantangan Jalut dan membunuh raja kafir itu dengan keberanian, kekuatan, dan kesabarannya. Thalut dan tentaranya dimenangkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Mereka kembali ke negeri mereka dan Thalut menepati janjinya, menikahkan Dawud dengan putrinya dan membagi dua kerajaan bani Israil. Kemudian, Allah Subhanahu wata’ala memberi karunia kepada Dawud untuk menguasai bani Israil dengan hikmah, yaitu nubuwah yang meliputi syariat yang mulia dan jalan yang lurus. Setelah Allah Subhanahu wata’ala menolong mereka, tenanglah mereka di negeri-negeri mereka menyembah Allah Subhanahu wata’ala dalam keadaan aman sentosa, karena musuh mereka menjadi hina dan mereka pun berkuasa di muka bumi. Wallahu a’lam.

Beberapa Faedah

Allah Subhanahu wata’ala menggabungkan antara kerajaan dan kenabian untuk Nabi Dawud. Padahal, sebelum beliau, sudah ada nabi tetapi yang menjadi raja adalah orang lain. Sebagaimana disebutkan, bahwa asbath di kalangan bani Israil terbagi dua, yang satu menurunkan raja-raja, yang lain melahirkan para nabi. Kisah ini adalah salah satu bukti kebenaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Andaikata bukan berita yang disampaikan Allah Subhanahu wata’ala kepada beliau, tentulah beliau tidak mempunyai ilmu tentang peristiwa itu. Bahkan, tidak ada seorang pun di antara kaumnya yang mempunyai pengetahuan tentang hal ini. Di dalam kisah ini terdapat tandatanda (kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala) dan pelajaran yang dapat dipetik oleh orang-orang yang berakal sehat (Ulul Albab), antara lain sebagai berikut.

1. Kata sepakat ahlul hill wal aqdi, pembahasan dan pemahaman mereka terhadap cara agar sempurnanya urusan mereka lalu mengamalkannya, merupakan sebab utama bertambahnya kemuliaan mereka dan tercapainya tujuan mereka. Sebagaimana dialami para pembesar ini, mereka merujuk kepada nabi mereka dalam menentukan raja mereka sehingga mereka bersatu dan taat di bawah pimpinan raja tersebut.

2. Kebenaran itu, semakin dihalangi atau ditolak oleh berbagai syubhat, semakin terlihat kejelasan dan keistimewaannya. Demikian pula keyakinan terhadapnya, sebagaimana dialami oleh mereka. Ketika mereka mengingkari keberhakan Thalut menjadi raja, mereka diberi jawaban yang memuaskan dan menghilangkan keraguan serta kerancuan.

3. Ilmu dan buah pikiran, disertai kekuatan akan menyempurnakan kedudukan seorang wali (penguasa). Kehilangan salah satunya atau keduaduanya mengakibatkan kurangnya kekuasaan dan kerugian.

4. Terlalu percaya diri menyebabkan kegagalan dan kehinaan, sedangkan meminta pertolongan kepada Allah l dengan kesabaran dan bersandar kepada-Nya adalah sebab kemenangan. Yang pertama adalah seperti perkataan mereka kepada sang nabi,

“Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari kampung halaman kami dan dari anak-anak kami?” Jadi, seolah-olah hasilnya ialah ketika diwajibkan mereka berperang, mereka justru berbalik. Adapun yang kedua adalah dalam perkataan mereka (sebagaimana firman Allah Subhanahu wata’ala),

وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

Tatkala mereka tampak oleh Jalut dan tentaranya, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa, “Wahai Rabb kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orangorang kafir.” Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu). (al- Baqarah: 250)

5. Di antara hikmah Allah Subhanahu wata’ala adalah memisahkan yang buruk dari yang baik, yang jujur dari yang dusta, dan memisahkan yang tabah dari yang takut. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan membiarkan hamba-hamba-Nya sebagaimana keadaan mereka yang bercampur tanpa ada yang membedakan.

6. Di antara rahmat dan sunnah- Nya yang berlaku adalah menjauhkan bahaya orang-orang kafir dan munafik dengan kaum mukminin yang berjihad. Kalau tidak demikian, tentulah bumi akan rusak dikuasai oleh orang-orang kafir dengan syiar kekafiran mereka padanya.

Wallahul muwaffiq.

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Yang Terpenting, Selamatkan Diri Anda! : 10 Bahan Renungan

Renungan Keenam

Bisa jadi, seseorang merenungi nenek moyang atau para pendahulunya, lalu bersedih dan khawatir akan keselamatan dirinya di akhirat, karena keadaan mereka yang buruk. Bisa jadi pula, ia senang dan merasa bangga karena keadaan mereka yang baik. Janganlah demikian . Anda mempertanggungjawabkan amal Anda sendiri. Selamatkan diri Anda, itu yang terpenting.

Asy-Syaikh Abdurrahman al- Mu’allimi berkata, “Ingatlah selalu, yang terpenting bagi seseorang dan yang hendak dia pertanggungjawabkan kelak adalah keadaan dirinya sendiri. Tidak akan mencelakakan Anda—baik di sisi Allah Subhanahu wata’ala, di hadapan para ulama, tokoh agama, maupun para cendekia— apabila ada kekurangan pada guru Anda, pembimbing Anda, nenek moyang Anda, atau syaikh Anda. Para nabi saja tidak selamat dari kekurangan tersebut. Generasi paling afdal umat ini, yakni para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, nenek moyang mereka dahulu musyrik.

Padahal bisa jadi, nenek moyang Anda ada alasan dalam kekurangan itu, apabila memang mereka tidak diingatkan dalam kekurangan tersebut dan hujah pun belum tegak atas mereka. Anggaplah para pendahulu Anda berada dalam kesalahan yang tidak diampuni. Apabila Anda mengikuti dan fanatik terhadap mereka, hal itu tidak memberi manfaat kepada mereka sedikit pun. Hal itu justru sangat mencelakakan mereka, karena mereka akan ditimpa seukuran dosa yang menimpa Anda dan dosa orang yang mengikuti Anda dari kalangan anak-anak Anda dan pengikut pengikut Anda sampai hari kiamat.

Di samping tertimpa dosa Anda sendiri, Anda juga tertimpa dosa orang yang mengikuti Anda sampai hari kiamat. Tidakkah Anda memandang bahwa tindakan Anda kembali kepada kebenaran itu berarti kebaikan juga untuk para pendahulu Anda, bagaimanapun keadaan mereka?

Wallahul muwaffiq.

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Al-Qawi

Al-Qawi, Yang Mahakuat, adalah salah satu nama Allah Yang Agung. Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan nama ini dalam beberapa ayat-Nya.

إِنَّ رَبَّكَ هُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Hud: 66)

اللَّهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ

“Allah Mahalembut terhadap para hamba-Nya, Dia memberi reaeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Dialah Yang Mahakuat dan Mahaperkasa.” (asy-Syura: 19)

إِنَّهُ قَوِيٌّ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Sesungguhnya Dia Mahakuat lagi Mahakeras hukuman-Nya.” (Ghafir: 22)

Asy-Syaikh Muhammad Khalil al-Harras mengatakan, “Asma Allah al-Qawi bermakna yang memiliki kekuatan. Kekuatan Allah Subhanahu wata’ala tidak akan tertimpa oleh kelemahan, kejenuhan, dan kehilangan yang menimpa kekuatan para makhluk. Allah Subhanahu wata’ala tidak akan merasa lemah karena menciptakan sesuatu, keletihan juga tidak akan menimpa-Nya.”

Sementara itu, semua kekuatan makhluk pada hakikatnya adalah milik- Nya. Dialah yang menyimpan kekuatankekuatan pada makhluk-makhluk itu. Apabila Allah Subhanahu wata’ala berkehendak mencabutnya, tentu Dia mampu. Telah disebutkan dalam hadits bahwa kalimat berikut ini,

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ؛ كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ

“Tiada kemampuan untuk mengubah suatu keadaan dan tiada pula kekuatan melainkan dengan pertolongan Allah l,” adalah salah satu simpanan dari simpanan-simpanan dalam surga. (Sahih, HR . al-Bukhari dan yang lain)

Dalam kisah pemilik dua kebun yang disebutkan dalam surat al-Kahfi, seseorang menasihati saudaranya,

وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ۚ إِن تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنكَ مَالًا وَوَلَدًا

“Mengapa kamu tidak mengucapkan tatkala kamu memasuki kebunmu, ‘Masya Allah, laa quwwata illa billah (Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah).’ Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. (al-Kahfi: 39)

Demikian pula dalam surat al- Baqarah,

وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (al-Baqarah: 165)

Buah Mengimani Nama Allah al-Qawi

Allah Subhanahu wata’ala sesembahan kita Mahakuat. Kekuatan kita berasal dari-Nya. Oleh karena itu, kita senantiasa memohon kekuatan dari-Nya dan mensyukuri pemberian-Nya. Tanpa bantuan-Nya, kita adalah makhluk yang sangat lemah. Kita juga harus menyadari bahwa selaku makhluk Allah Subhanahu wata’ala, kita tidak boleh merasa sombong dengan kekuatan yang dimiliki. Sebesar apa pun kekuatan kita, toh itu adalah pemberian Allah Subhanahu wata’ala. Suatu saat nanti, Allah Subhanahu wata’ala akan mencabutnya dari kita.

Lihatlah nasib raja-raja yang sombong di muka bumi ini, Fir’aun, Namrud, dan yang lainnya. Lihatlah nasib para diktator di muka bumi ini. Di manakah mereka sekarang? Menjadi apa mereka sekarang? Itulah kekuatan manusia. Oleh karena itu, janganlah seseorang semena-mena dengan kekuatan yang dia miliki lantas menindas orang-orang yang lemah dan menzalimi sesama manusia.

Hanya Allah Subhanahu wata’ala lah yang memiliki kekuatan yang mutlak, Dialah sembahan kita. Adapun sembahan selain Allah Subhanahu wata’ala, dia lemah, tidak memliki kekuatan yang hakiki. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٌ فَاسْتَمِعُوا لَهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ لَن يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ۖ وَإِن يَسْلُبْهُمُ الذُّبَابُ شَيْئًا لَّا يَسْتَنقِذُوهُ مِنْهُ ۚ ضَعُفَ الطَّالِبُ وَالْمَطْلُوبُ () مَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekalikali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu.Amat lemahlah yang menyembah danamat lemah (pulalah) yang disembah. Mereka tidak mengenal Allah dengan sebenar-benarnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (al-Hajj: 73—74)

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Akikah dengan Selain Kambing

Apakah akikah dapat digantikan dengan hewan lain selain kambing? Jika bisa, apakah ada dasarnya? Syukran.Abu Hafidh s*******@ymail.com

Akikah dengan selain kambing tidak boleh, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan dengan kambing. Ini yang dipahami oleh Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana dalam riwayat berikut ini.

عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قَالَتِ امْرَأَةٌ عِنْدَ عَائِشَةَ: لَوْ وَلَدَتِ امْرَأَةُ فَلَانٍ نَحْرَنَا عَنْهُ جَزُورًا. قَالَتْ عَائِشَةُ: لاَ، وَلَكِنَّ السُّنَّةَ عَنِ الْغُلَامِ شَاتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ وَاحِدَةٌ

Dari ‘Atha, seseorang berkata di hadapan Aisyah, “Seandainya istri fulan melahirkan, kami akan menyembelihkan seekor unta untuknya.” Aisyah berkata, “Tidak, sunnahnya untuk anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak wanita satu ekor.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, “Ucapan Aisyah, ‘Tidak,’ adalah penegasan bahwa akikah tidak boleh dengan selain kambing.” (ash-Shahihah, no. 2720)

Dalam riwayat lain, dari jalan Ibnu Abi Mulaikah, ia mengatakan,

نُفِسَ لِعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ غُلَامٍ،فَقِيلَ لِعَائِشَةَ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، عِقِي  عَنْهُ جَزُورًا. فَقَالَتْ: مَعَاذَ اللهِ، وَلَكِنْ مَا قَالَ  رَسُولُ اللهِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ.

Anak Abdurrahman bin Abi Bakr lahir. Dikatakan kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, akikahilah dengan seekor unta.” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah, tetapi (bukankah) Rasulullah mengatakan, ‘Dua kambing yang seimbang?’.”

Ada pendapat lain yang mengatakan bolehnya akikah dengan unta atau sapi. Pendapat ini diriwayatkan dari Anas bin Malik dan sahabat Abu Bakrah lalu dipegangi oleh mayoritas para ulama. Diriwayatkan bahwa Anas dan Abu Bakrah mengakikahi anaknya dengan unta. Dasar pendapat ini—menurut Ibnul Mundzir—bisa jadi karena Nabi bersabda,

…فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا …

“Maka tumpahkanlah darah untuknya.”

Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menyebutkan darah hewan tertentu. Hewan apapun yang disembelih untuk akikah anak itu maka mencukupi. Dasar yang kedua, hadits,

مَنْ وُلِدَ لَهُ غُلَامٌ فَلْيَعُقَّ عَنْهُ مِنَ الْإِبِلِ أَوْ الْبَقَرِ أَوِ الْغَنَمِ

“Barang siapa yang dilahirkan seorang anak laki-laki baginya, akikahilah dia dengan unta, sapi, atau kambing.”

Jawaban atas dalil tersebut adalah sebagai berikut.

Adapun yang pertama, sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut masih global. Sementara itu, riwayat yang menyebutkan kambing telah menerangkan maksud darah tersebut, yaitu darah kambing. Tentu saja dalil yang menjelaskan dan memperinci lebih utama dipakai.

Adapun dalil kedua adalah hadits yang batil karena dalam sanadnya ada rawi bernama Mas’adah, dia adalah rawi yang kadzdzab (pendusta) sebagaimana dikatakan oleh al-Haitsami. (ash-Shahihah, no. 2720, Tuhfatul Maudud dan sumber lainnya)

 

PASIEN MEMINTA DIAKHIRI HIDUP NYA (EUTA NASIA )

Saya meminta fatwa kepada Anda—dengan izin Allah—tentang sebuah pembahasan yang saya dengar dari sebuah program siaran kesehatan yang saya dengarkan. Apakah boleh orang yang mengidap penyakit yang secara medis tidak ada harapan sembuh untuk meminta dipercepat kematiannya? Apakah boleh permintaannya itu dikabulkan dalam rangka meringankan rasa sakit yang dideritanya? Narasumber waktu itu mengatakan bahwa penderita kanker—misalnya—yang tidak memiliki harapan sembuh lebih baik dia mati. olehkah permintaan si sakit dikabulkan dan kita membunuhnya untuk meringankan sakit dan derita yang berkepanjangan? Narasumber membicarakan tentang sebuah buku yang berjudul “Hak-Hak Asasi”. Dia mengatakan bahwa di antara hak asasi manusia adalah menentukan sendiri kapan hidupnya berhenti—apabila kehidupannya menyiksa dan menjadi derita bagi dirinya serta orang lain. Bagaimana pandangan agama tentang masalah ini? Jazakumullah khairan.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Orang yang sakit diharamkan mempercepat kematiannya baik dengan cara bunuh diri maupun menggunakan obat-obatan yang menyebabkan kematian. Haram pula hukumnya bagi dokter atau petugas medis lainnya untuk mengabulkan permintaannya, meski penyakitnya tidak memiliki harapan sembuh. Siapa yang menolongnya melakukan perbuatan tersebut, sungguh telah berserikat menanggung dosanya. Sebab, dia telah sengaja dan tanpa hak menjadi sebab terbunuhnya jiwa yang tidak boleh dibunuh.

Dalil-dalil dengan tegas menunjukkan diharamkannya perbuatan membunuh jiwa tanpa hak. Allah Subhanahu wata’ala  berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ

“Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar.” (al-An’am: 151)

وَلَا تَقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا () وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ عُدْوَانًا وَظُلْمًا فَسَوْفَ نُصْلِيهِ نَارًا ۚ وَكَانَ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barang siapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukkannya ke dalam neraka. Yangmdemikian itu adalah mudah bagi Allah.” (an-Nisa: 29—30)

Dalam sebuah hadits sahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجْأَبُهَا بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ شَرِبَ سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا وَمَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ يَتَرَدَّى فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sebuah benda tajam, benda itu akan berada di tangannya membelah perutnya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama. Barang siapa membunuh dirinya dengan meminum racun, dia senantiasa meminumnya di neraka Jahannam dalam jangka waktu yang sangat lama. Barang siapa membunuh dirinya yang menjatuhkan diri dari puncak gunung, dia akan senantiasa menjatuhkan dirinya di neraka Jahannam dalam waktu yang sangat lama.” (Muttafaqun ‘alaih)

Diriwayatkan dari Abu Qilabah, dari Tsabit bin adh-Dhahhak radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِشَيْءٍ عُذِّبَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Barang siapa membunuh dirinya dengan sesuatu, ia akan diazab dengan benda itu pada hari kiamat.” (HR. al- Jamaah)

Jundub bin Abdillah al-Bajali radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ بِهِ جُرْحٌ فَجَزِعَ فَأَخَذَ سِكِّينًا فَحَزَّ بِهَا يَدَهُ فَمَا رَقَأَ الدَّمُ حَتَّى مَاتَ قَالَ اللهُ تَعَالَى: بَادَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Pada umat sebelum kalian ada seorang lelaki yang terluka. Dia merasa putus asa lantas mengambil pisau untuk memotong tangannya. Darah pun terus mengalir hingga ia mati. Allah Subhanahu wata’ala berfirman, ‘Hamba-Ku telah lancang mendahului-Ku dalam hal jiwanya. Aku haramkan surga atasnya’.” (Muttafaqun ‘alaih, dan ini lafadz al-Bukhari)

Oleh karena itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang seseorang menginginkan kematian disebabkan musibah yang menimpanya dalam hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ مِنْ ضُرٍّ أَصَابَهُ، فَإِنْ كَانَ ل بُدَّ فَاعِلًا، فَلْيَقُلْ: اللَّهُمَّ أَحْيِنِي مَا كَانَتِ الْحَيَاةُ خَيْرًا لِي، وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَت الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي

ِ

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian karena musibah yang menimpanya. Apabila memang dia harus melakukannya, katakanlah, ‘Ya Allah, hidupkanlah aku apabila hidup memang lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku apabila kematian lebih baik bagiku’.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim, ini lafadz al-Bukhari)

Al-Bukhari juga mengeluarkan sebuah riwayat dengan lafadz yang berbeda dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وَ يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ

“Janganlah salah seorang dari kalian menginginkan kematian. Bisa jadi, dia telah berbuat baik (selama ini) sehingga akan bertambah kebaikannya (dengan tetap hidup); bisa jadi pula, dia selama ini berbuat buruk sehingga (dengan tetap hidup) akan bisa memperbaiki diri.”

Apabila sekadar menginginkan kematian dan memintanya kepada Allah Subhanahu wata’ala itu dilarang, terlebih lagi seseorang sengaja mengajukan diri agar dirinya dibunuh atau ikut serta dalam proses pembunuhan itu. Hal ini tentu melanggar batasan Allah dan merusak kehormatan- Nya. Sebab, melakukan perbuatan ini berarti tidak sabar dan menentang terhadap ketentuan dan takdir-Nya. Selain itu, perbuatan ini juga mengandung makna lancang dan mendahului hikmah Allah ketika memberi musibah berupa kebaikan dan keburukan dalam rangka menguji hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً

“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya).” (al-Anbiya: 35)

Allah l telah menguji sebagian hamba-Nya dengan sakit—dan Dia Maha Memiliki hikmah dalam segala perbuatan- Nya, Mahatahu apa yang terbaik bagi hamba—yang justru hal itu lebih baik bagi hamba, menambah perbuatan baiknya dan kekuatan imannya, lebih mendekatkan dirinya kepada AllahS ubhanahu wata’ala dengan rasa tenang, tunduk, merendahkan diri di hadapan-Nya, tawakal dan berdoa hanya kepada-Nya.

Karena itu, apabila seseorang ditimpa musibah berupa penyakit, seyogianya dia (1) mengharap pahala dan (2) bersabar terhadap musibah yang menimpanya— karena di antara jenis-jenis kesabaran adalah sabar terhadap musibah yang menimpa. Dengan demikian, dirinya akan diridhai oleh Allah Subhanahu wata’ala, ditambah bagi amalan baiknya, diangkat derajatnya di akhirat. Semua ini ditunjukkan oleh riwayat Shuhaib z, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

عَجِبْتُ مِنْ أَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَ الْمُؤْمِنِ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ لِأَحَدٍ إِ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ فَصَبَرَ كَانَ ذَلِكَ لَهُ خَيْرًا

“Aku kagum dengan keadaan seorang mukmin. Sungguh, urusan seorang mukmin itu baik seluruhnya, dan hal ini tidak didapatkan oleh seorang pun selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan, ia bersyukur; hal ini baik baginya. Apabila ditimpa musibah, dia bersabar; ini pun baik baginya.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya, Ahmad dalam al-Musnad, dan ini lafadz al- Imam Ahmad)

Hal ini juga ditunjukkan oleh firman Allah Subhanahu wata’ala,

وَالصَّابِرِينَ عَلَىٰ مَا أَصَابَهُمْ

“Orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka.” (al-Hajj: 35)

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ () الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

“Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (al- Baqarah: 155—156)

وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ

“Laki-laki dan perempuan yang sabar.” (al-Ahzab: 35)

Demikian pula ditunjukkan oleh hadits Anas, ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَم الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya pahala itu sesuai dengan besarnya cobaan. Sungguh, apabila Allah Subhanahu wata’ala mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Barang siapa ridha (terhadap ujian itu), dia akan mendapatkan ridha (Allah) juga. Barang siapa marah (terhadap ujian itu), dia pun mendapatkan kemarahan (Allah).” (HR. at-Tirmidzi dalam Jami’-nya, beliau mengatakan, “Hasan gharib dari jalur ini.”)

Demikian pula hadits Mush’ab bin Sa’d dari ayahnya radhiyallahu ‘anhu, ia mengatakan,

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً؟ قَالَ: الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ، فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ، فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلَاؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلَاءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الْأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Aku berkata, “Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling keras cobaannya?” Beliau menjawab, “Para nabi, kemudian yang semisalnya, kemudian yang semisalnya. Seseorang diuji sesuai dengan kekuatan agamanya. Apabila agamanya kuat, ujian yang menimpanya pun keras. Apabila agamanya ada kelemahan, dia diuji sesuai dengan keadaan agamanya. Senantiasa cobaan menimpa seorang hamba hingga menjadikannya berjalan di muka bumi tanpa ada satu (dosa) kesalahan pun pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi, beliau katakan, “Ini hadits hasan sahih.”)

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يَزَالُ الْبَلَاءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِي نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Senantiasa cobaan menimpa seorang mukmin dan mukminah, pada dirinya, anaknya, dan hartanya; hingga ia bertemu Allah tanpa membawa satu  kesalahan pun.” (HR. at-Tirmidzi)

Oleh karena itu, seseorang yang tertimpa musibah penyakit diharamkan berusaha membunuh dirinya. Sebab, kehidupan dirinya bukanlah miliknya. Kehidupannya itu milik Allah yang telah menentukan berbagai takdir dan jangka waktu. Selain itu, jika telah mati, seorang hamba tidak lagi bisa beramal. Dari kehidupan yang dijalaninya, seorang mukmin diharapkan mendapatkan yang lebih baik. Bisa jadi, ia akan bertobat kepada Allah Subhanahu wata’ala dari dosa-dosanya yang telah lalu, kemudiaan mempersiapkan bekal amal saleh: shalat, puasa, zakat, haji, zikir, berdoa kepada Allah, dan membaca al-Qur’an. Dengan demikian, dia akan mencapai derajat tertinggi di sisi Allah.

Di samping itu pula, seorang yang sakit akan dituliskan baginya pahala amalan yang biasa ia lakukan semasa sehatnya. Hal ini disebutkan oleh haditshadits yang sahih. Adapun dokter dan tenaga medis yang mau menerima permintaan si sakit untuk membunuh dirinya dan menolongnya melakukannya, mereka berdosa.

Pandangan mereka sangat pendek, ini menunjukkan kebodohan mereka. Sebab, mereka hanya memandang kehidupan manusia dan kelanjutannya dari sisi kelayakan dan kekuatan hidup secara fisik, memiliki kemampuan, bisa bersenang-senang, dan berlaku sombong.

Mereka tidak memandang kehidupannya akan berlanjut hingga bertemu Rabbnya dengan membawa bekal amal saleh, kalbu yang lembut luluh, tunduk, tenang, dan merendahkan diri di hadapan-Nya. Keadaan hamba yang seperti ini lebih disukai dan lebih dekat kepada Allah daripada seseorang yang sombong, melampaui batas, dan menggunakan kekuatan fisiknya dalam hal yang dimurkai oleh Allah. Allah Subhanahu wata’ala pun Mahamampu untuk menyembuhkannya. Apa yang sekarang mustahil menurut pandangan manusia, bisa jadi mudah pengobatannya pada masa yang akan datang, dengan takdir Allah, Dzat yang tidak ada sesuatu pun di langit dan di bumi yang mampu melemahkan-Nya. Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad, wa alihi shahbihi wa sallam.

Ketua: Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz; Wakil: Abdul Aziz Alu asy-Syaikh;

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Shalih al-Fauzan, Bakr Abu Zaid. (Fatawa al-  Lajnah 25/85—91, fatwa no. 19165)

 

BEDAH MAYAT & OTOPSI JENAZAH

Kami mengharapkan jawaban tentang hukum Islam terhadap mahasiswa kedokteran yang ketika masa kuliahnya melakukan praktikum bedah mayat. Selain itu mereka harus menyingkap aurat wanita atau sebagiannya. Mereka mengatakan bahwa hal tersebut dalam rangka mempelajari kedokteran dan harus dilakukan agar mereka tidak menjadi dokter yang bodoh (tentang anatomi) dan tidak bisa mengobati penyakit yang diderita wanita. Apabila ini terjadi, tentulah para wanita muslimah akan ditangani oleh dokter-dokter Nasrani atau yang lain.

Al-Lajnah ad-Daimah menjawab: Pertama; tentang operasi bedah mayat, telah keluar ketetapan dari Haiah Kibarul Ulama (Dewan Ulama Besar) Kerajaan Arab Saudi yang garis besarnya sebagai berikut. Masalah ini terbagi tampak memiliki tiga keadaan:

a. Bedah mayat (otopsi) untuk meneliti sebuah kasus kriminalitas.

b. Otopsi untuk meneliti sebuah penyakit yang mewabah dalam rangka menemukan prosedur perlindungan (masyarakat) dari penyakit tersebut.

c. Bedah mayat untuk kepentingan ilmu pengetahuan, yakni kegiatan belajar dan mengajar. Setelah komisi yang terkait bertukar pikiran, beradu argumentasi, dan mempelajari masalah di atas, forum  mengeluarkan ketetapan sebagai berikut. Tentang dua keadaan yang pertama (yakni poin a dan b), forum memandang bahwa pembolehannya bisa mewujudkan banyak maslahat dalam bidang keamanan dan pengadilan, serta perlindungan masyarakat dari penyakit yang mewabah. Efek negatif tindakan otopsi tersebut akan tertutup oleh sekian banyak maslahat yang nyata dan berdampak luas.

Oleh karena itu, forum sepakat menetapkan bolehnya pembedahan mayat untuk dua tujuan ini, baik mayat tersebut terlindungi (oleh hukum syariat, –pent.) maupun tidak. Adapun terkait dengan jenis bedah mayat yang ketiga, yaitu untuk kepentingan ilmiah, dengan mempertimbangkan bahwa:

• syariat Islam membawa terwujudnya maslahat dan memperbanyaknya,

• syariat Islam mencegah mafsadat dan mempersedikitnya,

• bolehnya dilakukan sebuah tindakan yang lebih kecil kerusakannya untuk menghilangkan hal yang kerusakannya lebih besar,

• apabila dua hal yang bermaslahat ternyata kontradiktif, dipilih yang lebih banyak efek positifnya,

• pembedahan terhadap hewan tidak bisa menggantikan pembedahan mayat,

• operasi bedah mayat berefek positif terhadap kemajuan berbagai bidang ilmu kedokteran; maka forum memandang bolehnya operasi bedah mayat manusia secara global. Di sisi lain, forum mempertimbangkan:

• perhatian syariat Islam terhadap kemuliaan seorang muslim yang telah meninggal sebagaimana saat hidupnya; sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Ibnu Majah, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

كَسْرُ عَظْم الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا

“Mematahkan tulang mayat (hukumnya) seperti mematahkannya saat ia hidup.”

• pembedahan mayat mengandung perendahan terhadap kemuliaan seorang muslim,

• kebutuhan operasi bedah mayat muslim bisa diganti dengan mayat yang tidak dilindungi (oleh syariat); maka forum memandang hendaknya dicukupkan dengan operasi bedah terhadap mayat yang semacam ini dan tidak melakukannya terhadap mayat yang dilindungi (oleh syariat), dalam keadaan yang telah disebutkan.

Wallahul muwaffiq, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Haiah Kibarul Ulama

Kedua; tentang menyingkap aurat wanita, apabila ada wanita lain yang bisa melakukannya, seorang lelaki tidak boleh melakukannya. Apabila tidak ada wanita yang bisa melakukannya—sementara ada faktor yang mengharuskan aurat si wanita disingkap—seorang lelaki muslim boleh melakukannya sekadarnya, dalam rangka mengetahui penyakit si wanita. Apabila mayatnya adalah wanita nonmuslim atau yang tidak dilindungi (oleh syariat), tidak ada halangan auratnya disingkap dalam rangka kegiatan belajar mengajar dan mengetahui penyakit-penyakit yang diderita wanita sekaligus cara penyembuhannya, berdasarkan ketetapan Haiah Kibarul Ulama yang disebutkan di atas.

Wabillahi at-taufiq, wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa alihi wa shahbihi wa sallam. Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-‘Ilmiyyah wal Ifta (Komite Tetap untuk Pembahasan Ilmiah dan Fatwa)

Ketua: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Wakil: Abdur Razzaq Afifi

Anggota: Abdullah bin Ghudayyan, Abdullah bin Qu’ud (Fatawa al-Lajnah 25/93—95,

pertanyaan ke-4 dari fatwa no. 3685)

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc