Sepuluh Hak yang Harus Dipenuhi (2)

           Telah kita bicarakan dari ayatul huquq al-’asyrah ini hak Allah dan hak kedua orang tua. Masih tersisa delapan hak yang akan kita bawakan semuanya secara ringkas dalam pembahasan kali ini.

Purple Ribbon 

Hak Karib Kerabat

Karib kerabat adalah orang yang memiliki hubungan nasab dengan kita, baik dari pihak ayah maupun ibu. Mereka adalah kakek dan nenek, saudara sekandung, saudara seayah atau seibu dan anak-anak mereka (keponakan), paman, bibi dan anak-anak mereka.

Silaturahim dengan mereka harus dijaga, tidak diperkenankan untuk diputus. Allah ‘azza wa jalla akan menyambung hubungan dengan orang yang menyambung hubungan rahimnya. Sebaliknya, Allah ‘azza wa jalla akan memutus orang yang memutus hubungan rahimnya. Hal ini disebutkam dalam hadits qudsi yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari rahimahullah dalam kitab Shahihnya,

Allah berfirman kepada rahim, “Siapa yang menyambungmu, Aku akan menyambungnya. Siapa yang memutusmu, Aku akan memutusnya.”

Abdullah ibnu ‘Amr c menyampaikan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Orang yang menyambung hubungan (silaturahim) bukanlah yang membalas dengan yang setimpal. Akan tetapi, orang yang menyambung hubungan adalah orang yang bila terputus hubungan rahimnya, dia menyambungnya.” (HR. al-Bukhari)

Hadits di atas menunjukkan bahwa menyambung hubungan dengan kerabat yang menyambung hubungan dengan kita disebut sebagai mukafaah, bukan silaturahim. Sebab, silaturahim hakikatnya adalah menyambung hubungan rahim dengan kerabat yang semula terputus.

Yang disebut silaturahim adalah apa yang menurut ‘urf atau kebiasaan masyarakat muslimin setempat sebagai silaturahim, karena al-Qur’an dan as-Sunnah tidak menerangkan macam, jenis, dan kadarnya.

Ahlul ilmi menyebutkan bahwa di antara bentuk silaturahim tersebut ialah berbuat baik kepada karib kerabat, misalnya dengan memberi nafkah kepada mereka yang membutuhkan sesuai dengan kemampuan dan kelapangan si pemberi, mengunjungi mereka, memberikan kebahagiaan kepada mereka, menghormati dan menunjukkan penghargaan kepada mereka.

 

Hak Anak Yatim & Orang Miskin

Anak yatim adalah anak kecil yang ayahnya meninggal sebelum dia baligh. Berbuat baik kepada anak yatim ialah dengan menjadi pengganti ayah mereka dalam hal memberikan perhatian dan menutupi kebutuhannya. Adapun orang miskin adalah orang yang tidak mendapati nafkah yang bisa mencukupinya. Berbuat baik kepadanya orang miskin diwujudkan dengan memberikan apa yang bisa mencukupinya.

Terpenuhinya hak keduanya akan meringankan derita dan kesusahan dua golongan yang lemah ini di tengahtengah masyarakat muslimin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri diperintah oleh Allah untuk berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Adapun anak yatim janganlah engkau memberatkannya. Dan adapun seorang peminta maka janganlah engkau menghardiknya.” (adh-Dhuha: 9-10)

Di antara sifat orang yang mendustakan agama adalah orang yang tidak menghiraukan anak yatim dan tidak mengajak orang lain untuk memberi makan orang-orang miskin, sebagaimana firman-Nya,

“Tahukah kamu, (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (al-Ma’un: 1-3)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sekali-kali tidak, bahkan kalian tidak memuliakan anak yatim dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang-orang miskin.” (al-Fajr: 17-18)

Ayat di atas menunjukkan bahwa hak orang miskin adalah diberi makanan dan dipenuhi kebutuhannya, sedangkan anak yatim diberikan pemuliaan. Orang yang memelihara anak yatim akan beroleh janji berikut ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sambil memberi isyarat dengan jari telunjuk dan ibu jari beliau,

“Aku dan orang yang memelihara/menanggung anak yatim[1] di surga (dekatnya) seperti ini[2].” (HR. al-Bukhari)

Berbuat baik kepada golongan yang lemah ini akan menumbuhkan rasa kasih sayang dalam kalbu, kelunakan dan kelembutan hati, serta perasaan inabah/kembali dengan bertobat kepada Allah. Hal ini tidak bisa dirasakan kecuali oleh orang yang telah mencobanya. Dengan mengasihi mereka yang lemah, tentu kasih Allah pun akan diperoleh, sebagaimana dalam hadits,

“Orang-orang yang penyayang akan disayang/dirahmati oleh ar-Rahman (Dzat Yang Maha Penyayang). Sayangilah makhluk yang ada di bumi niscaya Yang di langit akan menyayangi kalian.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi. Derajatnya sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jami’, no. 3522)

 

Hak Tetangga yang Ada Hubungan Dekat / Kerabat dan Tetangga yang Jauh / Bukan Kerabat

Tetangga adalah orang yang tinggal bersebelahan atau dekat dengan tempat tinggal kita. Tetangga itu, kata ahlul ilmi, terbagi tiga,

  1. Tetangga beragama Islam yang ada hubungan kerabat. Dia memiliki tiga hak: hak sebagai tetangga, sebagai kerabat, dan hak sebagai muslim.
  2. Tetangga muslim yang bukan kerabat. Dia memiliki dua hak: hak sebagai tetangga dan hak sebagai muslim.
  3. Tetangga yang kafir Dia memiliki hak sebagai tetangga. Apabila ada hubungan kerabat dengannya, dia memiliki hak tambahan sebagai kerabat.

Jibril terus-menerus berpesan kepada Rasulullah tentang hak tetangga sampai-sampai beliau menyangka akan turun wahyu yang menyebutkan hak tetangga untuk turut mendapat warisan. (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di antara bentuk memenuhi hak tetangga adalah berbuat baik kepada mereka dengan menghadiahkan apa yang mungkin dihadiahkan, walaupun hanya mengirimkan kuah masakan daging atau selainnya, sebagaimana pesan Rasulullah kepada Abu Dzar radhiallahu ‘anhu,

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak makanan berkuah, perbanyaklah airnya, dan jangan lupa untuk mengirimkannya kepada tetanggamu.” (HR. Muslim)

Diharamkan bagi kita menyakiti tetangga, baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan. Dengan ucapan, misalnya membuat suara gaduh yang mengganggu ketenangan tetangga, atau memutar radio/tape recorder dengan keras, walaupun yang diputar adalah kaset kajian/ceramah Islam atau tilawah al-Qur’an. Apalagi jika yang diputar adalah musik. Adapun dengan perbuatan, seperti melempar kotoran atau sampah di halaman tetangga, mengetuk pintu rumah mereka dengan keras, membiarkan dahan pohon kita merusak genting/atap rumah tetangga, dan sebagainya.

Barangsiapa mengganggu tetangganya, dia tidak memiliki sifat orang-orang beriman. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman. Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman. Demi Allah, tidaklah seseorang itu beriman.”

Ada yang bertanya, “Siapa orang itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat Muslim, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya.”

 

Hak Teman Sejawat

Hak berikutnya yang tersebut dalam ayat al-huquq al-’asyrah adalah hak shahib bil janbi. Ahli tafsir menyebutkan maknanya adalah istri. Ada pula yang mengatakan kawan dalam safar dan ada pula yang berpendapat teman yang salih. Kata ahli tafsir yang lain, maknanya adalah teman dudukmu saat mukim dan kawanmu ketika safar.

Seorang teman memiliki hak tambahan selain hak Islam (hak sebagai seorang muslim), berupa hak untuk dibantu dalam urusan agama dan dunianya, mendapat nasihat, setia kepadanya (tidak berkhianat) dalam keadaan lapang atau sempit, ketika senang atau susah, menyenangi untuknya apa yang disenangi untuk dirinya, dan membenci untuknya apa yang dibenci oleh dirinya. Semakin dekat pertemanan atau persahabatan, maka semakin ditekankan hak tersebut dan semakin bertambah.

 

Hak Ibnu Sabil

Ibnu sabil adalah tamu atau musafir yang melintas melewati tempat Anda. Apabila si musafir kehabisan bekal dalam safarnya, berbuat baik kepadanya dilakukan dengan memberinya zakat atau sedekah yang cukup untuk menyampaikannya ke tujuan, walaupun dia adalah orang yang berharta di negeri tempat tinggalnya.

Ibnu sabil memiliki hak terhadap kaum muslimin karena musafir biasanya memiliki kebutuhan/keperluankeperluan. Selain itu, dia adalah orang asing yang perlu dibantu untuk menunaikan maksud/tujuannya, atau sebagian dari tujuannya. Dia pantas dimuliakan dan dibuat tidak merasa asing di negeri yang sebenarnya asing (bukan negerinya sendiri).

 

Hak Hamba Sahaya

Perbudakan dalam Islam memang ada, namun jangan dibayangkan di benak kita gambaran yang kelam penuh kelaliman. Sungguh, semua itu tidak didapatkan dalam Islam. Perbudakan tidak manusiawi yang sarat kezaliman itu hanyalah ada di luar Islam, agama kekafiran yang memperbudak manusia dan memperlakukannya layaknya binatang.

Islam sebagai agama yang dipenuhi keadilan memberikan hak kepada budak atau hamba sahaya dan menanggungkan kewajiban kepada tuan pemiliknya untuk berbuat baik kepadanya. Banyak nash dalam al-Qur’an dan as-Sunnah yang menunjukkan keharusan memperhatikan hak hamba sahaya ini. Satu bukti Islam tidak mengabaikan hak hamba sahaya adalah adanya dorongan untuk memerdekakannya. Bahkan, dalam Islam, banyak perkara pelanggaran yang ditebus dengan memerdekakan budak, seperti melanggar sumpah, tidak memenuhi nazar, dan bersetubuh di siang hari Ramadhan.

Ketika Rasulullah memberi Abu Dzar radhiallahu ‘anhu seorang hamba sahaya, beliau berpesan, “Terimalah wasiatku dalam urusan budak ini agar engkau berbuat baik dan bermuamalah kepadanya dengan baik pula.”

Ternyata Abu Dzar radhiallahu ‘anhu memerdekakan hamba sahaya tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apa yang engkau perbuat terhadap hamba sahayamu?”

Abu Dzar radhiallahu ‘anhu menjawab, “Anda memerintahku berbuat baik kepadanya, maka saya memerdekakannya.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Adab al-Mufrad no. 121)

Rasulullah pernah bersabda kepada pemilik hamba sahaya tentang urusan hamba sahaya mereka, “Berilah para hamba sahaya makanan yang biasa kalian makan. Berilah mereka pakaian yang kalian pakai.” (HR. Muslim)

Pemilik hamba sahaya diperintah untuk tidak membebani hamba sahayanya pekerjaan yang di luar kemampuan mereka. Dalam hal ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hamba sahaya memiliki hak untuk beroleh makanan dan pakaian. Dia tidak boleh dibebani pekerjaan yang tidak dia sanggupi.” (HR. Muslim)

Cukuplah ayat-ayat berikut ini menunjukkan mahasinul Islam (kebaikan Islam) kepada hamba sahaya dengan memberi dorongan untuk memerdekakannya, di samping menyebut tentang berbuat baik kepada anak yatim dan orang miskin,

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) dia menempuh ‹aqabah (jalan yang mendaki lagi sukar)? Tahukah kamu , apakah ‹aqabah itu? (Yaitu) melepaskan (memerdekakan) budak dari perbudakan, atau memberi makan pada hari kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir.” (al-Balad: 11-16)

Allah menawarkan, tidakkah kita ingin menempuh jalan menuju kesuksesan dan kebaikan? Kemudian Allah menerangkan jalan tersebut, yaitu membebaskan atau memerdekakan hamba sahaya dari perbudakan.

Banyak pula hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan keutamaan memerdekakan budak. Satu di antaranya ialah hadits berikut ini.

“Siapa yang memerdekakan hamba sahaya yang beriman (dari perbudakan), maka itu menjadi tebusannya dari api neraka.” (HR Ahmad, Abu Dawud, dan an-Nasa’i. Derajatnya sahih sebagaimana dalam Shahih al-Jami’ no. 6050)

Jalan kebaikan lain yang Allah tawarkan dalam ayat di atas ialah memberi makan anak yatim yang ada hubungan kerabat dan orang miskin yang tidak memiliki apa-apa pada hari terjadi kelaparan.

Satu lagi yang menunjukkan keluhuran ajaran Islam, Islam menjadikan hamba sahaya sebagai saudara pemiliknya. Karena itu, layaknya saudara, ia harus diperlakukan dengan baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang maknanya, “Mereka adalah saudara-saudara kalian yang Allah jadikan mereka di bawah kekuasaan kalian….” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Sumber:

  • al-Qur’an al-Karim
  • Muhadharat fil ‘Aqidah wad Da’wah, asy-Syaikh

Shalih Fauzan

  • Shahih al-Adab al-Mufrad
  • Shahih al-Jami’ ash-Shaghir, al-Albani
  • Syarhu Riyadhish Shalihin, Ibnu Utsaimin
  • Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di
  • Tafsir Ibnu Katsir

[1] Memelihara dan menanggung anak yatim adalah dengan menunaikan segala sesuatu yang dapat memberikan kemaslahatan dan kebaikan bagi agama dan dunia si yatim. Untuk urusan agamanya adalah dengan memberikan pendidikan, bimbingan, pengajaran, dan semisalnya. Adapun untuk urusan dunianya, dengan memberinya makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, dan semisalnya.

 [2] Seperti dekatnya ibu jari dan jari telunjuk.

Tidak Ada Pertentangan di Antara Ayat Al-Qur’an

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dia juga berfirman,

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Apa makna kedua ayat ini? Bagaimana menggabungkan keduanya, karena seakan-akan bertentangan?

 ContradictionPic

Jawab [1]:

Tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini, wahai saudaraku. Allah ‘azza wa jalla menerangkan kepada kita bahwa musibah yang menimpa kita karena sebab perbuatan kita dan Dia menerangkan pula bahwa apa yang terjadi itu adalah dengan ketetapan dan takdir-Nya.

Katakanlah, “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami….” (at-Taubah: 51)

Ilmu Allah, ketetapan, dan kitabah-Nya (penulisan takdir di Lauh Mahfuzh sebagaimana yang diperintahkan kepada qalam/pena) telah mendahului segala sesuatu. Namun Allah ‘azza wa jalla mengaitkan perkara yang memudaratkan kita karena sebab maksiat-maksiat yang kita lakukan, walaupun semua itu juga sudah tertulis dan sudah ditakdirkan. Sebab, kita memiliki upaya, kita yang berbuat, dan kita sendiri yang memilih.

Segala sesuatu terjadi dengan takdir-Nya, sama saja apakah berupa ketaatan ataupun kemaksiatan. Namun, maksiat yang terjadi pada kita itu adalah usaha kita dan amalan kita, karenanya kita akan dihukum. Kita memiliki akal, keinginan, kemampuan, dan amalan. Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan apa saja musibah yang menimpa kalian maka hal itu disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari kesalahan-kesalahan kalian.” (asy-Syura: 30)

Dalam ayat yang lain,

“Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari kesalahan/ulah dirimu sendiri.” (an-Nisa: 79)

Takdir dan amal usaha tidaklah saling bertentangan. Takdir itu telah terdahulu dan Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang ditetapkan-Nya. Perbuatan yang terjadi adalah amal usaha kita, seperti maksiat berupa zina, minum khamr, meninggalkan shalat, berbuat durhaka, dan memutus hubungan rahim. Semuanya kita yang berbuat, bukan siapa-siapa, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman karena sikap kita yang meremehkan. Kita sadar bahwa kita bisa memilih tanpa paksaan dalam berbuat, sehingga perbuatan yang ada pantas bila disandarkan kepada kita walaupun memang ilmu Allah ‘azza wa jalla, penulisan, dan ketetapan-Nya telah jauh mendahului.

Takdir tidak boleh menjadi alasan atas perbuatan tercela dan kemungkaran yang dilakukan seorang hamba. Allah ‘azza wa jalla memiliki hikmah yang tinggi dalam apa yang telah lewat pada takdir-Nya, ilmu, dan kitabah-Nya. Kita akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan kita dan sikap kita yang menggampangkan berbuat dosa. Kita bisa disiksa karena perbuatan tersebut terkecuali bila Allah ‘azza wa jalla mengampuni.

Dengan demikian, Anda sekarang telah mengetahui tidak adanya pertentangan antara kedua ayat yang ditanyakan. Yang satu menunjukkan bahwa amalan itu merupakan hasil usaha kita, sehingga kita pantas mendapatkan hukuman bila perbuatan yang dilakukan bukan amalan yang salih. Semua itu adalah amalan kita dengan pilihan kita sendiri.

Ayat yang lain menunjukkan musibah yang terjadi itu telah terdahulu dalam ilmu Allah ‘azza wa jalla, kitabah, dan takdir-Nya. Ada hadits yang sahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bunyinya,

“Sungguh, Allah ‘azza wa jalla telah menetapkan takdir-takdir makhluk sebelum Dia menciptakan langit-langit dan bumi 50 ribu tahun dan arsy-Nya di atas air.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Allah Yang Maha Memiliki hikmah lagi Maha Mengetahui, Dia mengetahui segala sesuatu, ilmu-Nya telah mendahului segala sesuatu, dan Dia telah mencatat segala sesuatu. Dalam satu ayat, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Tidak ada satu bencana pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (al-Hadid: 22)

Penulisan takdir Allah ‘azza wa jalla telah terdahulu, ilmu-Nya pun telah terdahulu, demikian pula ketetapan-Nya. Amal kita dihitung untuk kita, disandarkan kepada kita, dicatat untuk kita, karena amal tersebut adalah hasil usaha kita, yang kita lakukan dengan pilihan kita, tanpa ada pemaksaan. Karena itu, perbuatan kita yang baik, berupa ketaatan, macam-macam kebaikan dan zikir, dibalas dengan balasan yang baik pula. Sebaliknya kita pantas mendapatkan hukuman atas amalan buruk yang kita lakukan, apakah berupa kedurhakaan, zina, mencuri, seluruh maksiat, dan perbuatan penyelisihan. Wallahul musta’an. (hlm. 128-130)


[1] Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Allah ‘azza wa jalla Menghalangi Antara Seseorang & Kalbunya

Apa makna firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan ketahuilah sesungguhnya Allah menghalangi antara seseorang dan kalbunya.” (al-Anfal: 24)

 Tirai

Jawab [1]:

Makna ayat ini sesuai dengan zahirnya. Allah ‘azza wa jalla berbuat apa saja terhadap hamba-hamba-Nya. Ada yang diberi taufik dan dilapangkan kalbunya untuk menerima keimanan dan diberi hidayah kepada Islam. Terkadang ada yang Allah ‘azza wa jalla jadikan rasa berat dalam kalbunya dan sulit menerima agama Allah ‘azza wa jalla, yang jelas menjadi penghalang baginya untuk menerima Islam.

Allah ‘azza wa jalla memang menghalangi antara seseorang dan kalbunya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa yang Allah kehendaki untuk diberikan petunjuk niscaya Dia melapangkan dadanya kepada Islam. Dan siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah dia sedang mendaki ke langit.” (al-An’am: 125)

Allah ‘azza wa jalla lah yang berbuat sekehendaknya terhadap hamba-hamba- Nya sebagaimana yang diinginkan-Nya. Ada yang dilapangkan kalbunya menerima iman dan petunjuk. Ada pula yang tidak mendapatkan taufik. (hlm. 131)


 

Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.

Menghilangkan Pengaruh Sihir

Pertanyaan:

Saya seorang istri yang telah menikah sejak 17 tahun silam. Saya memiliki enam anak. Kehidupan bahagia dalam masa pernikahan ini hanya saya rasakan selama lima tahun awal, sedangkan sisanya saya jalani dengan perasaan benci terhadap suami. Saya tidak suka dia mempergauli saya sebagaimana pergaulan suami istri. Saya tidak sanggup tidur bersamanya. Saya menyangka apa yang saya alami ini karena pengaruh sihir. Saya pun pergi ke tukang sihir dan ‘orang pintar’ untuk melepaskan pengaruh sihir tersebut. Mereka memberi saya beberapa ramuan. Namun, saya tidak mendapatkan manfaat apa pun dan tidak lagi percaya dengan seorang pun dari mereka. Lalu saya pergi ke dokter jiwa, namun juga tidak ada perkembangan. Saya ingin suami saya dan tidak menginginkan seorang pun selainnya. Hampir-hampir rumah tangga saya mengalami kehancuran. Apabila seperti ini keadaan saya, apa yang harus saya lakukan? Barakallahu fikum.

 Separate

Jawab:

Penyakit seperti yang Anda ceritakan yang terjadi waktu-waktu terakhir kehidupan pernikahan Anda, bisa jadi memang karena pengaruh sihir, karena ‘ain (penyakit karena pandangan mata hasad ataupun kagum), atau sebab penyakit lain. Anda tidak boleh mendatangi tukang sihir dan dukun untuk bertanya kepada mereka. Karena itu, kepergian Anda ke tukang sihir dan dukun adalah perkara yang tidak dibolehkan dalam agama ini. Anda telah berbuat kesalahan sehingga harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla. sebab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Siapa yang mendatangi ‘arraf lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu maka tidak akan diterima shalatnya selama 40 malam.” (HR. Muslim dalam Shahihnya)

‘Arraf adalah orang yang mengaku-aku tahu urusan gaib dengan bantuan jin atau perantara lain yang tersembunyi atau samar. Bertanya kepadanya tentang yang demikian tidak boleh, demikian pula membenarkannya; berdasar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapa yang mendatangi ‘arraf atau dukun, lalu membenarkan apa yang diucapkannya maka sungguh dia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Untuk berobat, Anda bisa datang ke dokter yang dikenal tahu cara mengobati penyakit/masalah yang sedang Anda hadapi dengan memakai obat-obat yang memang diketahui sebagai obat, baik dengan suntikan, tablet/kapsul, atau yang lainnya.

Anda bisa pula berobat kepada seorang pembaca al-Qur’an atau wanita salehah yang bisa membacakan al-Qur’an untuk Anda (meruqyah). Apabila ada wanita yang bisa mengobati Anda, dia didahulukan daripada berobat kepada lelaki. Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menghilangkan sakit/masalah Anda lewat bantuan si peruqyah. Kalau tidak ada wanita yang bisa meruqyah Anda, tidak apa-apa berobat kepada lelaki yang membacakan al-Qur’an untuk Anda tanpa khalwat (berdua-duaan dengan si peruqyah). Harus ada yang menemani Anda, apakah ibu, saudara lelaki, ayah, atau semisal mereka. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kemanfaatan dengannya.

Adapun meruqyah sakit yang diderita bisa dengan membacakan surat al-Fatihah, ayat kursi, ayat penangkal sihir yang dikenali dalam surat al-A’raf, Yunus, Thaha, al-Kafirun, al-Ikhlash, al-Falaq, dan an-Nas. Surat-surat dan ayat-ayat tersebut dibacakan di air (yang diletakkan dalam wadah), setelahnya dibacakan doa, seperti

“Ya Allah, Rabb manusia, hilangkanlah gangguan ini, sembuhkanlah, Engkau-lah Dzat Yang Maha Menyembuhkan, tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit.”

“Dengan nama Allah, aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakiti/mengganggumu, dan dari kejelekan seluruh jiwa atau mata yang hasad, Allah akan menyembuhkanmu, dengan nama Allah aku meruqyahmu.”

Doa-doa ini diulang sebanyak tiga kali. Doa ini tsabit (pasti kabarnya) dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah itu sebagian air yang sudah diruqyah diminum oleh si penderita dan sisanya untuk mandi. Cara seperti ini sudah terbukti mujarab—dengan izin Allah ‘azza wa jalla—dalam pengobatan sihir.

Cara ini juga bisa untuk mengobati suami yang “tertahan” dari menggauli istrinya dan pengobatan ‘ain. ‘Ain juga diobati dengan cara ruqyah, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Tidak ada ruqyah (yang paling tampak pengaruh/manfaatnya) daripada ruqyah terhadap penyakit ‘ain atau hummah.”

Pengobatan bisa juga dilakukan dengan campuran air dengan tujuh lembar daun bidara hijau yang sudah ditumbuk/dihaluskan. Kami telah melakukan hal ini pada banyak orang dan Allah ‘azza wa jalla memberikan manfaat dengannya. Ulama telah menyebutkan cara pengobatan seperti ini, di antaranya ialah al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alusy Syaikh rahimahullah, penulis kitab Fathul Majid, Syarhu Kitab at-Tauhid. Beliau menyebutkan hal ini dalam bab Ma Ja’a fi an-Nusyrah. Apabila Anda memiliki kitabnya, silakan melihat dan membacanya.

Anda tidak boleh bertanya atau meminta obat kepada tukang sihir, dukun, dan tukang ramal. Anda tidak boleh membenarkan omongan mereka. Bertanyalah kepada ulama yang sebenarnya dan para pembaca al-Qur’an yang dikenal dengan kebaikan. Mereka bisa membacakan untuk Anda bacaan-bacaan yang telah disebutkan. Anda bisa juga bertanya kepada wanita-wanita salihah dari kalangan pengajar/guru dan selain mereka yang dikenal dengan kebaikan hingga mereka bisa melakukannya pada Anda. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan anugerah berupa kesembuhan dengan sebab-sebab ini.

Di antara yang sepantasnya Anda amalkan adalah berdoa. Anda mohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar Dia menghilangkan apa yang menimpa Anda, karena Allah ‘azza wa jalla itu harus dimintai. Dia ‘azza wa jalla berfirman,

Dan Rabbmu berfirman, “Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi permintaan/doa kalian. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah (berdoa) kepada-Ku, akan Aku masukkan ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (Ghafir: 60)

Dia ‘azza wa jalla berfirman pula,

“Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, jawablah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi semua perintah-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (al-Baqarah: 186)

Anda harus memohon kesembuhan hanya kepada Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula suami Anda memohon kesembuhan Anda kepada Allah ‘azza wa jalla, karena seorang mukmin seharusnya mendoakan kebaikan untuk saudaranya. Demikian pula ayah dan ibu Anda. Doa adalah senjata orang yang beriman. Allah ‘azza wa jalla telah mejanjikan pengabulan doa, maka Anda harus berdoa dan bersungguhsungguh dalam berdoa. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberikan kesembuhan.

Saya nasihatkan pula kepada Anda agar meniup pada dua telapak tangan Anda yang dibentangkan (seperti posisi mengangkat tangan saat berdoa) ketika hendak tidur dan membaca al-Ikhlas, al-Falaq, dan an-Nas, masing-masing 3 kali. Lalu Anda usapkan kedua telapak tangan tersebut ke kepala, wajah, dan dada (serta anggota tubuh yang lain yang dapat dijangkau) sebanyak 3 kali (pada setiap bacaan/tiupan). Cara ini juga termasuk sebab kesembuhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengamalkannya. Di saat sakit2 beliau melakukannya ketika hendak tidur, sebagaimana berita yang sahih dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha.

 

(Semua fatwa yang dibawakan kali ini diambil dari kitab Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, Masalah Akidah, dari jawaban Samahatusy Syaikh al-Imam Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullah.)

Wallahu a’lam.

Untukmu Muslimah, Nasihat Penuh Hikmah dari ‘Alim Rabbani (2)

Wanita adalah bagian penting dari masyarakat manusia. Baiknya wanita akan membaikkan masyarakat dan sebaliknya. Bila wanita rusak, maka masyarakatnya pun akan menemui kehancuran. Karena itulah wanita harus terus beroleh bimbingan dan arahan sepanjang perjalanan kehidupan. Upaya ulama yang dahulu dan belakangan tidak kurang-kurang dalam hal ini, termasuk salah seorang alim rabbani yang walhamdulillah masih ada di tengah kita, Fadhilatusy Syaikh Shalih ibnu Fauzan al-Fauzan, semoga Allah ‘azza wa jalla memanjangkan umur beliau dalam kebaikan dan memberkahinya. Berikut ini kelanjutan dari wejangan beliau.

Islam mengharamkan terjadinya khalwat/bersepi-sepi atau berduaannya lelaki dengan wanita yang bukan mahramnya. Sebab, hal itu akan mendorong keduanya jatuh ke dalam perbuatan keji. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan,

“Hati-hati kalian dari masuk ke tempat para wanita (ajnabiyah).” Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana menurut Anda dengan alhamwu[1]?”

Rasulullah menjawb, “Al-Hamwu adalah maut.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Uqbah ibnu Amir radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutnya dengan kematian karena bahayanya lebih besar. Mengapa demikian? Karena karib kerabat suami dengan mudah keluar masuk ke rumah kita tanpa ada pengingkaran. Berbeda halnya apabila yang keluar masuk itu lelaki lain yang bukan kerabat.

Dengan demikian, kebiasaan membebaskan saudara dan paman suami serta kerabat suami untuk berduaan, bersalaman, dan berjabat tangan dengan istri adalah perbuatan yang batil dan mungkar.

Yang diajarkan oleh syariat justru lelaki ajnabi tidak boleh masuk ke dalam rumah yang di situ hanya ada seorang wanita, tidak ada bersamanya orang lain yang bisa menghilangkan makna berkhalwat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia telah memperingatkan,

“Tidakkah seorang lelaki bersepi-sepi dengan seorang wanita (ajnabiyah) terkecuali yang ketiganya adalah setan.” (HR. at-Tirmidzi dari Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu. Dinyatakan sahih dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi.)

Termasuk khalwat yang diharamkan yang terjadi di zaman kita ini adalah wanita bepergian dalam mobil hanya berduaan dengan sopirnya yang duduk di belakang setir, apakah si wanita diantar ke pasar, ke sekolah, ataupun untuk ibadah ke masjid.

Khalwat yang diharamkan ini, sama saja apakah yang terjadi di rumah, di dalam mobil atau di mana saja, harus diperingatkan kepada para wanita muslimah secara khusus di masa kita sekarang ini di mana banyak didapatkan wanita keluar dari rumahnya untuk bekerja, untuk belanja, ziarah ke tempat karib kerabatnya, atau kepentingan yang selainnya.

Wanita muslimah memang tidak sepantasnya sering keluar rumah kecuali karena ada kebutuhan yang mengharuskannya keluar rumah. Kalaupun dia keluar maka harus mengenakan hijabnya yang sempurna dan tidak memakai wangi-wangian.

Allah ‘azza wa jalla memerintahkan kepada wanita-wanita terbaik, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang merupakan qudwah hasanah dengan perintah berikut ini,

Tetaplah kalian tinggal di rumah-rumah kalian.” (al-Ahzab: 33)

Tinggal di rumah akan lebih menjaga si wanita. Sampai-sampai wanita lebih disenangi mengerjakan shalat di rumahnya, tidak keluar ke masjid, padahal masjid merupakan rumah ibadah dan tempat yang suci, tetapi keluar menujunya memperhadapkan si wanita kepada keburukan. Karena itulah, shalatnya wanita di rumahnya lebih utama daripada shalatnya di masjid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah kalian mencegah hamba-hamba perempuan Allah ‘azza wa jalla dari masjid-masjid Allah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu.)

Dalam riwayat Abu Dawud ada tambahan, “… namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.” (Dinyatakan sahih dalam Shahih Abi Dawud dan al-Misykat no. 1062.)

Maksudnya shalat mereka di rumah mereka lebih baik daripada shalat di masjid. Kalaupun mereka hendak keluar ke masjid, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

“Akan tetapi hendaknya mereka keluar dalam keadaan nafilat.” (HR. Ahmad (2/438), Abu Dawud, dll., dinyatakan hasan sahih dalam Shahih Abi Dawud.)

Nafilat maksudnya tidak berhias dan tidak memakai wangi-wangian. Banyak wanita pada hari ini suka keluar rumah tanpa ada kebutuhan kecuali sekadar jalan-jalan di pasar dengan berdandan, harum semerbak, dan memamerkan kecantikan wajahnya. Yang ngobrol bebas dengan lelaki, bergurau, dan tertawa. Entah di mana rasa malumu, wahai wanita muslimah? Tidakkah Anda bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla?

Bila wanita hendak keluar dari rumahnya, dia harus mengenakan pakaian yang menutupi auratnya, lebar dan lapang, tanpa ada hiasan padanya, tidak membentuk lekuk tubuhnya atau menampakkan apa yang ada di balik pakaiannya.

Wanita muslimah hendaknya berhati-hati dari apa yang diberitakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Dua golongan dari penduduk neraka, yang aku belum melihat keduanya (sekarang), yaitu satu kaum yang bersama mereka ada cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia. (Yang kedua) para wanita yang berpakaian tetapi hakikatnya telanjang, mumilat, mailat[2]. Kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Mereka tidak akan masuk surga, dan tidak akan mencium wangi surga, padahal wangi surga didapatkan dari jarak sekian dan sekian.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Para wanita yang berpakaian tapi hakikatnya telanjang,” maksudnya mereka memakai pakaian namun tidak menutupi tubuh. Bisa jadi karena pendeknya sehingga tubuhnya ada yang terbuka, atau pakaian itu panjang namun tipis sehingga tidak menutupi apa yang ada di baliknya. Hal ini bisa disaksikan di negeri-negeri yang tidak berpegang dengan adab Islam. Ini merupakan kebiasaan jahiliah yang jauh dari bimbingan Islam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian bertabarruj seperti tabarrujnya orang-orang jahiliah yang terdahulu.” (al-Ahzab: 33)

Tabarruj adalah wanita menampakkan perhiasannya di hadapan lelaki ajnabi. Yang dituntut dari wanita saat keluar rumah adalah tidak tabarruj, walaupun dia wanita yang sudah tua. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan wanita-wanita tua yang telah terhenti dari haid dan mengandung (menopause) yang tidak ada lagi keinginan untuk menikah, maka tidak ada dosa atas mereka untuk menanggalkan pakaian luar mereka[3] tanpa bermasud tabarruj/ mempertontonkan perhiasan.” (an-Nur: 60)

Bila wanita tua yang sudah tidak memiliki keinginan untuk menikah saja dilarang bertabarruj, lantas bagaimana halnya dengan wanita yang masih muda? Bagaimana pula dengan wanita yang berparas rupawan, yang lelaki pasti tertarik bila melihatnya? Bagaimana kiranya kalau wanita-wanita ini yang bertabarruj?

Karena itu, wanita yang takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan berharap negeri akhirat hendaknya tidak bermudah-mudah dalam masalah hijab dan bergampang-gampang mengenakan pakaian yang ada hiasannya saat keluar rumah, sebagaimana yang dilakukan oleh banyak wanita pada hari ini. Demikian pula memakai wangi-wangian, bercampur baur dengan lelaki, dan bersenda gurau dengan mereka. Allah ‘azza wa jalla berfirman kepada istri-istri Nabi-Nya,

“Janganlah kalian melembutkan suara ketika berbicara (dengan ajnabi) sehingga berkeinginan buruklah orang yang di hatinya ada penyakit.” (al-Ahzab: 32)

Bila wanita terpaksa harus berbicara dengan lelaki yang bukan mahramnya, hendaknya dia berkata dengan ucapan yang biasa, tidak mendayu-dayu, dengan bergurau, dan tertawa.

Yang keluar dari lisannya hanya suara yang datar, ucapan sebatas keperluan, baik bertanya maupun menjawab, tidak bertele-tele, dengan suara yang dilemahlembutkan, berirama, dan dimerdukan, hingga orang yang di hatinya ada penyakit syahwat punya keinginan jelek padanya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al-Ahzab: 32)

Wanita muslimah pada hari ini harus bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam urusan diri mereka dan urusan masyarakat mereka. Mereka wajib memberikan perhatian terhadap tarbiyah anak-anak mereka, putra ataupun putri, karena merekalah yang bertanggung jawab di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk memberikan perhatian kepada anak-anak.

Mereka harus mendidik putri-putri mereka agar berakhlak mulia, beradab yang baik, menutup aurat, dan menjaga kehormatan diri.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang apa yang dipimpinnya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Sebagaimana yang kita maklumi, dalam syariat Islam ini selain ada perintah juga ada larangan. Termasuk perkara yang dilarang oleh Allah ‘azza wa jalla adalah mengubah-ubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla. Hal ini memang diinginkan oleh setan sebagaimana yang diikrarkannya di hadapan Rabbul ‘Alamin,

“Dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah, lalu benar-benar mereka akan mengubahnya.” (an-Nisa:119)

Dalam tafsir ayat di atas disebutkan bahwa yang dimaukan dengan merubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla di antaranya adalah perbuatan namsh[4], wasym[5], wasyr[6], dan washl[7].

Dalam hadits dinyatakan,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat perempuan yang menyambung rambut dan perempuan yang minta disambungkan rambutnya, serta melaknat perempuan yang membuat tato dan perempuan yang minta dibuatkan tato.” (HR. al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma)

Alqamah rahimahullah berkata,

‘“Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu melaknat perempuan yang mentato dan minta ditato, perempuan yang mencabut rambut pada wajahnya (alisnya), perempuan yang minta dicabut rambut pada wajahnya (alisnya), dan perempuan yang mengikir giginya[8] agar terlihat bagus; para perempuan yang mengubah ciptaan Allah ‘azza wa jalla.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu memberitakan bahwa wanita-wanita tersebut dilaknatnya karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melaknat mereka yang melakukannya untuk dirinya sendiri dan mereka yang melakukannya terhadap wanita lain.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melaknat wanita yang melakukan niyahah/meratapi mayat dengan ucapan ataupun perbuatan dan orang yang sengaja mendengarkannya[9]. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat wanita yang berteriak-teriak ketika ditimpa musibah (shaliqah), merobek bajunya (syaqah), dan memotong rambutnya (haliqah) sebagai tanda berdukacita[10].

Perbuatan seperti ini termasuk dosa besar. Buktinya ialah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan azab yang akan diterima oleh wanita yang berbuat demikian, bila dia tidak bertobat. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita yang melakukan niyahah bila tidak bertobat sebelum matinya, akan dibangkitkan pada hari kiamat dengan mengenakan gamis dari ter dan pakaian dari kudis.”( HR. Muslim dari Abu Malik al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu)

Dahulu orang-orang jahiliah ketika ada musibah kematian biasa mengupah wanita-wanita yang melakukan niyahah ini. Yang seperti ini jelas keharamannya. Lalu, apakah tidak boleh menangis saat ditimpa musibah? Jawabannya, boleh asalkan menangis biasa tidak dengan suara keras. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri pernah menangis ketika mendapat musibah kematian dan beliau mengatakan,

“Ini adalah kasih sayang yang Allah ‘azza wa jalla jadikan di kalbu para hamba-Nya.”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhu)

Adapun berkeluh kesah, marah, menyesali, dan meratap, justru memudaratkan mayat di dalam kuburnya, sebagaimana dalam hadits,

“Mayat itu diazab di kuburnya karena niyahah yang dilakukan kepadanya.[11]”( HR. al-Bukhari dan Muslim dari hadits Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu.)

Yang dituntut kala ada musibah justru sabar dan mengharapkan pahala. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” Mereka itulah yang beroleh shalawat dan rahmat dari Rabb mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. (al-Baqarah: 155-157)

Sebagai akhir, kita simpulkan bahwa wanita memiliki tanggung jawab dan tuntutan dalam kehidupan di dunia ini. Dia diberi beban, diperintah, dilarang, diberi pahala, dan diberi hukuman. Di pundaknya ada tanggung jawab yang besar. Tidaklah umat terdahulu ataupun yang belakangan binasa kecuali karena sebab para wanita secara umum (ketika mereka melanggar syariat).

Wanita menjadi perantara paling berbahaya yang dimanfaatkan oleh setan untuk merusak umat manusia, apabila ia tidak menjaga dirinya baik-baik dan tidak dijaga oleh masyarakatnya. Pembicaraan tentang wanita sebenarnya masih panjang, namun cukuplah apa yang telah kami sampaikan di sini.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

(Dinukil Ummu Ishaq al-Atsariyah dari kitab Muhadharat fil Aqidah wad Da’wah, 3/290-299, dengan ringkasan dan sedikit perubahan)


[1] Al-Laits ibnu Sa’d mengatakan al-hamwu adalah saudara ipar/adik ataupun kakak laki-laki suami, dan yang serupa mereka dari kalangan kerabat suami (yang bukan mahram istri) seperti sepupu (anak paman suami) dan semisalnya. (Ucapan ini dibawakan al-Imam Muslim rahimahullah dalam Shahihnya)

Adapun ayah-ayah suami dan anak-anak suami tidak termasuk di dalamnya sehingga mereka boleh berduaan dengan istri. (al-Minhaj, 14/378)

 [2] Mailat maknanya wanita-wanita yang meninggalkan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dan apa yang semestinya mereka jaga. Mumilat adalah mengajarkan orang lain perbuatan mereka yang tercela. Ada pula yang mengatakan makna mailat adalah wanita-wanita yang berjalan dengan congkak, mumilat adalah memiringkan/menggerak-gerakkan pundak mereka (ketika berjalan).

Makna yang lain, mailat adalah wanita-wanita yang menyisir rambut mereka dengan model sisiran miring/belah samping sebagaimana model sisiran wanita pelacur (pada zaman dahulu, -ed.). Mumilat adalah wanita-wanita yang menyisiri orang lain dengan model sisiran demikian. (al-Minhaj, 14/336)

 [3] Pakaian luar yang kalau dibuka tidak sampai menampakkan aurat.

[4] Namsh adalah menghilangkan rambut pada wajah/alis apakah dengan gunting, dicukur atau dengan cara apa pun yang dengannya bisa menghilangkan rambut tersebut.

[5] Wasym adalah membuat tato.

[6] Wasyr adalah mengikir gigi agar terlihat bagus padahal sebenarnya tidak bermasalah, tidak ada cacat padanya, dan tidak ada penyakit.

[7] Washl adalah menyambung rambut dengan rambut palsu sehingga orang menyangka itu rambut aslinya.

[8] Adapun memperbaiki gigi yang penampakannya buruk tidak apa-apa karena termasuk pengobatan atau menghilangkan cacat, bukan untuk menambah kecantikan.

[9] HR. Ahmad (3/65) dan Abu Dawud, dari hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu. Namun, hadits ini dinyatakan lemah sanadnya dalam Dhaif Abi Dawud.

[10] Dalam hadits disebutkan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berlepas diri dari shaliqah, haliqah, dan syaqah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Abu Musa radhiallahu ‘anhu)

[11] Tentang makna hadits ini ada beberapa pendapat, namun yang paling dekat kepada kebenaran ada dua:

Pertama: pendapat jumhur ulama, yaitu hadits ini dibawa pemahamannya kepada orang yang memang berpesan agar nantinya bila dia mati mayatnya diratapi. Atau dia tidak berpesan kepada karib kerabatnya untuk tidak diratapi saat mati padahal dia tahu kebiasaan manusia di tempatnya melakukan niyahah ketika ada musibah kematian. Adapun bila dia sudah berpesan namun tetap dilakukan niyahah maka dia tidak menanggung hukuman apa-apa.

Kedua: Makna diazab di dalam kubur adalah dia merasa sakit mendengarkan tangisan keluarganya, merasa kasihan dan sedih. Ini terjadi di alam barzakh, bukan pada hari kiamat. Demikian pendapat yang dipegangi ath-Thabari dan selainnya. Pendapat ini yang didukung oleh Ibnu Taimiyah dan murid beliau, Ibnul Qayyim. Kata al-Imam al-Albani, yang rajih/lebih kuat adalah pendapat jumhur. (lihat Ahkamul Janaiz, hlm. 41—42)

Hukuman yang Mendidik

Acapkali seorang pendidik -baik orang tua maupun guru- harus menghadapi anak didiknya dengan menjatuhkan hukuman. Tentu saja disertai harapan, tindakannya ini bisa menghentikan kesalahan sang anak. Alangkah baiknya bila setiap pendidik memerhatikan metode pengajaran yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang, kembali kita telaah nasihat asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah.

Tanda Seru

Ada bentuk-bentuk hukuman yang mendidik, yang bisa diharapkan keberhasilannya. Seyogianya setiap pendidik menerapkan hukuman seperti ini terhadap anak yang kurang beradab dalam mengikuti pelajaran atau memandang remeh gurunya. Ini merupakan metode pendidikan yang aman dari dampak negatif dan bisa diharap keberhasilannya—dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla tentunya.

 

Nasihat dan Arahan

Ini adalah metode yang amat mendasar dalam pendidikan dan pengajaran. Kalaupun tanpa disertai metode lain, metode ini pun sudah cukup. Metode inilah yang diterapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap anak-anak dan orang dewasa.

  1. Nasihat kepada anak-anak

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melihatseorang anak yang tangannya berkeliling mengambil makanan. Beliau pun mengajarinya cara makan yang benar,

“Nak, ucapkanlah bismillah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang dekat denganmu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Jangan ada seorang pun yang menyatakan bahwa metode seperti ini hanya sedikit memberikan pengaruh terhadap anak-anak. Saya sendiri (asy-Syaikh bin Jamil Zainu –pen.) pernah mengalaminya berkali-kali. Ternyata metode seperti ini memberikan pengaruh yang paling baik.

Pernah ada seorang anak yang mencela agama temannya. Saya pun mendekatinya dan bertanya kepadanya, “Siapa namamu, nak? Kelas berapa dan dari sekolah mana?”

Setelah dia menjawab, saya pun bertanya, “Siapa yang menciptakanmu?”

“Allah,” jawabnya.

“Siapa yang memberimu pendengaran dan penglihatan? Siapa pula yang memberimu makanan berbagai buah-buahan dan sayur-sayuran?” tanya saya lagi.

“Allah,” jawabnya.

Saya tanya lagi, “Lalu apa kewajibanmu terhadap yang memberimu semua nikmat ini tadi?”

“Bersyukur kepada-Nya,” jawab anak itu lagi.

“Apa yang tadi baru saja kaukatakan kepada temanmu?” tanya saya.

Dia pun merasa malu. “Tadi temanku itu yang nakal kepadaku!”

Saya jelaskan kepadanya, “Memang, sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla tidak akan menerima perbuatan zalim, bahkan melarangnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

‘… dan janganlah kalian berbuat melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat melampaui batas.’ (al-Baqarah: 190).”

“Tetapi, sebenarnya siapa yang membisiki temanmu itu hingga memukulmu?”

Dia menjawab, “Setan.”

“Kalau begitu, seharusnya kau mencela setannya!” kata saya.

Dia pun mengatakan kepada temannya, “Semoga setanmu itu

dilaknat!”

Kemudian saya menasihatinya, “Sekarang kau harus bertobat kepada Allah dan memohon ampun pada-Nya, karena mencela agama itu perbuatan kufur.”

Dia segera mengatakan, “Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahaagung, dan aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang layak disembah kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah!”

Saya pun mengucapkan terima kasih kepadanya dan memintanya tidak mengulangi perbuatannya itu serta menasihati teman-temannya apabila ada di antara mereka yang mencela agama.

Suatu kali, saya sedang berjalan bersama seorang guru. Tiba-tiba kami melihat seorang anak kecil buang air kecil di tengah jalan. Guru itu pun berteriak, “Celaka kamu! Celaka kamu! Jangan kaulakukan!”

Anak kecil itu ketakutan. Dia segera memutus kencingnya dan lari.

Melihat itu, kukatakan kepada guru tadi, “Engkau telah menyia-nyiakan kesempatan kita untuk memberikan nasihat kepada anak itu.”

“Apa boleh kubiarkan anak itu kencing di tengah jalan di depan orang banyak?” katanya.

“Apakah engkau mau melakukan sesuatu yang tidak seperti apa yang kaulakukan tadi?” kata saya, “Biarkan anak itu sampai selesai buang air, lalu panggil dia kemari. Aku akan memperkenalkan diri, lalu akan kukatakan padanya, ‘Nak, jalanan ini tempat orang lalu lalang. Jadi, tidak boleh buang air kecil di sini. Di dekat sini ada tempat buang air. Jangan pernah kau ulangi lagi perbuatan seperti ini, supaya kau jadi anak yang baik. Semoga engkau mendapatkan petunjuk dan taufik’.”

Mendengar penjelasan itu, guru tadi menyatakan, “Ini metode yang bijaksana dan amat berfaedah.”

Kujelaskan padanya, “Ini metode pendidik seluruh manusia, Muhammad bin Abdillah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu saya sebutkan kepadanya kisah seorang Arab gunung yang amat masyhur itu.

 

  1. Nasihat kepada yang telah baligh

Contoh nasihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang teramat besar pengaruhnya bagi orang yang menerimanya adalah kisah A’rabi (Arab gunung) yang diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Suatu ketika, kami berada di masjid bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba datang seorang A’rabi, lalu buang air kecil sambil berdiri di masjid. Para sahabat pun berteriak menegur, “Jangan! Jangan!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan kalian putuskan dia! Biarkan dia!”

Para sahabat membiarkan orang itu hingga selesai buang air kecil. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil A’rabi itu dan menasihatinya, “Sesungguhnya masjid-masjid itu tidak sepantasnya untuk buang air kecil ataupun buang air besar. Masjid itu hanyalah untuk berzikir kepada Allah, shalat, dan membaca al- Qur’an.”

Beliau mengatakan kepada para sahabatnya, “Sesungguhnya aku diutus sebagai pemberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan. Guyurlah bekas air kencing itu dengan seember air!”

Mendengar ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, A’rabi itu berdoa, “Ya Allah, kasihilah diriku dan Muhammad, dan jangan Engkau kasihi seorang pun selain kami berdua!”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihatkan, “Engkau telah menyempitkan yang luas.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Menunjukkan Wajah Masam

Kadangkala, bisa pula seorang pendidik menunjukkan muka masam terhadap muridnya saat mereka gaduh, untuk menjaga jalannya pelajaran dan menjaga wibawanya. Ini lebih baik daripada menggampangkan perbuatan mereka yang seperti itu, namun akhirnya langsung menghukum mereka.

 

Memberi Peringatan Keras

Banyak guru yang mengambil jalan dengan memberi peringatan keras terhadap muridnya yang banyak tanya untuk mengulur waktu pelajaran, bermaksud meremehkan gurunya, atau melakukan kesalahan lainnya. Ketika guru telah memberi peringatan keras dan bersuara lantang, murid itu pun akan terdiam dan duduk dengan santun.

Metode ini dilakukan oleh Rasulullah ketika melihat seseorang menggiring badanah1. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegur, “Tunggangi unta itu!” [1]

“Sesungguhnya unta ini badanah,” jawab orang itu.

Rasulullah menegur lagi, “Tunggangi!”

Akhirnya orang itu menunggangi badanahnya, berjalan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sementara sandalnya dia letakkan di leher untanya. (HR. al-Bukhari)

 

Menyuruh Murid Menghentikan Perbuatannya

Ketika melihat ada murid-muridnya yang bercakap-cakap saat pelajaran berlangsung, guru bisa menyuruh mereka untuk diam dengan suara yang lantang. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh seseorang yang bersendawa di hadapan beliau,

“Tahanlah sendawamu di hadapan kami!” (Hadits hasan, lihat Shahihul Jami’ no. 4367)

 

Berpaling

Bisa pula seorang pendidik berpaling dari anaknya atau muridnya jika melihatnya berkata bohong, memaksa meminta sesuatu yang tidak semestinya diberikan, atau kesalahankesalahan yang lain. Si anak akan merasakan sikap tidak peduli dari sang guru atau sang ayah, sehingga akan tersadar dari kesalahannya.

 

Hajr (Mendiamkan)

Seorang pendidik bisa mendiamkan anak atau muridnya jika mereka meninggalkan shalat, menonton film, atau melakukan perbuatan yang menyelisihi adab belajar. Hajr ini paling lama tiga hari, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Sahih, lihat Shahihul Jami’ no. 753)

Tindakan hajr ini mengandung pendidikan adab, baik bagi anak maupun murid. Seorang penyair pernah mengatakan,

Wahai kalbu, bersabarlah dengan hajr dari orang yang kau cinta

jangan kau putus asa karenanya, karena pendidikan kesantunan ada padanya

 

Teguran Keras

Jika nasihat dan arahan tidak memberikan hasil, pendidik boleh menegur anak atau muridnya dengan keras ketika melakukan suatu kesalahan besar.

 

Duduk Qurfusha’

Apabila seorang guru kewalahan mengatasi murid yang malas, tebal muka, atau yang semisalnya, sang guru bisa memerintahnya untuk bangkit dari tempat duduknya dan menyuruhnya duduk qurfusha’ di depan kelas, di atas kedua telapak kakinya sambil mengangkat kedua tangannya ke atas. Ini bisa membuat lelah si murid dan menjadi hukuman baginya. Di samping itu, lebih utama daripada menghukumnya dengan tangan atau tongkat.

 

Hukuman dari Ayah

Apabila seorang murid terus menerus mengulangi kesalahannya, hendaknya guru menulis surat kepada wali murid tersebut dan menyerahkan hukumannya kepada sang wali terhadap si murid setelah menasihatinya. Dengan demikian, lengkaplah kerjasama antara sekolah dan rumah tangga dalam mendidik anak.

 

Menggantungkan Tongkat

Disenangi apabila seorang pendidik—baik guru maupun ayah— menggantungkan cambuk yang bisa digunakan untuk memukul dinding agar anak-anak bisa menyaksikannya dan merasa takut terhadap hukuman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Gantungkanlah cambuk di tempat yang bisa dilihat oleh anggota keluarga kalian, karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka.” (Dinyatakan hasan oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 4022)

Ucapan beliau, “bisa dilihat oleh anggota keluarga”, maksudnya agar menjadi rintangan bagi mereka melakukan berbagai kejelekan, karena takut tertimpa hukuman sebagai akibatnya.

Ucapan beliau, “karena hal itu merupakan pendidikan adab bagi mereka”, maksudnya bisa membuat mereka bersikap santun, berakhlak dengan akhlak yang mulia dan menyandang berbagai keutamaan yang sempurna. (Faidhul Qadir, al-Munawi, 4/325)

 

Pukulan Ringan

Seorang pendidik boleh memukul dengan ringan, jika segala cara di atas tidak memberi manfaat. Lebih-lebih lagi dalam hal penunaian shalat bagi seorang anak yang telah berusia sepuluh tahun, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Ajari anak-anak kalian shalat ketika telah berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat ketika telah berusia sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka.” (Sahih, HR. al-Bazzar dan yang lainnya)

Tentu amat indah pengajaran apabila disertai metode yang sesuai syariat. Karena itu, bekal berharga seperti ini sudah semestinya dimiliki oleh seorang pendidik sejati.

Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.

(Dinukil dan diterjemahkan dengan sedikit perubahan dari kitab Nida’ ilal Murabbiyyin wal Murabbiyyat karya asy-Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu rahimahullah oleh Ummu ‘Abdirrahman bintu ‘Imran)


[1] Badanah adalah unta yang hendak dijadikan sebagai hadyu dalam ibadah haji.

Menikah, Memperbanyak Umat Rasul

 

 Janur Kuning

Pernikahan dalam Islam sebagai satu sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia memiliki banyak tujuan yang bermanfaat bagi insan. Di antara tujuannya yang paling agung adalah mendapatkan keturunan.

Mengapa dikatakan paling agung? Karena anak-anak yang terlahir dari pernikahan yang syar’i akan melanggengkan keberadaan manusia di muka bumi, selama umur bumi masih ada. Selain itu, anak-anak tersebut akan memperbanyak umat manusia, terkhusus umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi dorongan untuk hal tersebut dalam titahnya yang agung,

“Nikahilah perempuan yang wadud, yang walud karena aku membanggakan banyaknya kalian[1].” (HR. an-Nasa’i, al- Imam al-Albani rahimahullah menyatakan derajat hadits ini hasan sahih sebagaimana dalam Irwa’ul Ghalil no. 1784 dan Adab az-Zifaf hlm. 61)

Wadud adalah sangat mencintai suami[2]. Adapun walud adalah banyak melahirkan atau subur rahimnya[3]. Lalu apa hubungannya sifat wadud dengan walud? Karena rasa cinta adalah perantara menuju hubungan yang menjadi sebab terciptanya keturunan. (Sunan an-Nasa’i dengan Hasyiyah al- Imam as-Sindi, 6/66)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda demikian karena kata Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, “Datang seorang lelaki menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia berkata, ‘Aku menyenangi seorang wanita yang punya nasab yang mulia dan punya kedudukan (di mata manusia), hanya saja dia mandul[4]. Apakah boleh saya menikahinya?’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang si lelaki untuk menikahi wanita tersebut. Sampai-sampai dia datang meminta izin untuk ketiga kalinya, namun tetap saja Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan justru mengucapkan titah di atas.”

Di kali lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mendorong para sahabatnya untuk “mencampuri” istri-istri mereka sepulang dari safar, dengan tujuan salah satunya adalah akan didapatkan anak dari hubungan tersebut. Kata beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Janganlah kalian terburu-buru menemui keluarga kalian sampai kalian tiba di waktu malam, yakni isya (awal malam), agar para istri (yang mendengar kepulangan kalian) sempat merapikan/menyisiri rambutnya yang acak-acakan dan yang belum mencukur rambut kemaluannya sempat pula melakukannya[5]. Kemudian (setelah bertemu istri kalian) al-kais, al-kais.” (HR. al-Bukhari no. 5245 dan Muslim no. 3625)

Al-Kais yang dimaksud di sini adalah mencampuri istri, demikian kata al- Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dan selainnya. (Fathul Bari, 9/424)

Maknanya adalah dorongan untuk mendapatkan keturunan (dari hubungan tersebut). (al-Minhaj, 10/296)

Apabila Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menghendaki umat beliau menjadi umat yang terbanyak dibanding umat nabi-nabi selain beliau, tentu keinginan yang menyelisihinya berupa ‘pembatasan keturunan’ tidaklah pantas. Menetapkan jumlah anak harus sekian dan sekian adalah aturan yang menyimpang dari syariat.

Kalau alasan ekonomi yang dikemukakan, ‘zaman semakin sulit, susah memberi makan’, ‘takut tidak bisa memberi makan’, ‘sekarang lagi krisis moneter’, atau ‘sedang masa krisis ekonomi’, telah dijawab oleh firman Allah ‘azza wa jalla,

“Janganlah kalian membunuh anakanak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Allah ‘azza wa jalla yang memiliki nama ar-Razzaq (Dzat Yang Maha Memberikan rezeki)-lah yang menanggung rezeki hamba-hamba-Nya, baik di langit maupun di bumi, dan apa yang ada di antara keduanya.

“Dan tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberikan rezekinya.” (Hud: 6)

“Dan berapa banyak binatang yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri, Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepada kalian.” (al-Ankabut: 60)

Bukankah sejak janin berusia empat bulan dalam kandungan ibunya telah ditetapkan rezekinya sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu?

Karena itu, harus diyakini tanpa keraguan bahwa setiap anak lahir membawa rezekinya masing-masing. Orang tuanya tidak perlu mengkhawatirkan rezeki mereka. Berbeda halnya kalau pengaturan jarak untuk ‘punya anak lagi’ atau pembatasan ‘tidak bisa punya anak lagi’ karena alasan yang dibolehkan oleh syariat, sebagaimana akan dijelaskan.

 

Hukum Pemutusan Keturunan

Memutus keturunan sama sekali hukumnya haram sebagaimana pernyataan para ulama karena menentang apa yang diinginkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari umat beliau. Selain itu, perbuatan tersebut termasuk sebab kelemahan dan kehinaan kaum muslimin. Apabila kaum muslimin jumlahnya banyak, itu adalah kemuliaan dan ketinggian bagi mereka.

Karena itulah, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan anugerah-Nya kepada bani Israil ketika Dia ‘azza wa jalla memperbanyak jumlah mereka,

“Kami jadikan kalian kelompok yang lebih besar.” (al-Isra: 6)

Nabi Syu’aib q mengingatkan kaumnya tentang nikmat Allah ‘azza wa jalla atas mereka dengan banyaknya jumlah mereka,

“Ingatlah waktu dahulu kalian berjumlah sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kalian.” (al-A’raf: 86)

Kenyataan membuktikan hal ini. Umat yang banyak tidak akan tergantung dan membutuhkan yang selain mereka. Karena itu, mereka berwibawa di hadapan musuh-musuhnya.

Oleh karena itu, seseorang tidak boleh melakukan sesuatu yang mengarah pada memutus keturunan sama sekali, kecuali karena alasan darurat, mau tidak mau harus

dilakukan. Misalnya, jika seorang wanita berisiko kematian apabila sampai hamil, menurut keterangan dokter muslim yang tepercaya. Keadaan seperti ini adalah darurat, tidak apa-apa dilakukan terhadap si ibu. Inilah uzur yang membolehkan pemutusan keturunan (tidak punya anak lagi).

Demikian pula apabila rahim ibu mengalami gangguan/penyakit yang apabila hamil dikhawatirkan akan memudaratkan dirinya dan rahimnya terpaksa diangkat, yang seperti ini tidak apa-apa. (Fatawa Ibnu Utsaimin, 2/836)

 

Hukum Pembatasan Keturunan

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah pernah ditanya tentang pembatasan jumlah anak. Beliau menegaskan, “Membatasi keturunan karena khawatir rezeki yang sempit tidaklah dibolehkan, karena rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla, Dialah yang menentukan ajal dan rezeki hambahamba- Nya. Tidak ada satu anak pun yang lahir melainkan telah ditentukan rezekinya sebagaimana telah ditentukan ajalnya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang memberikan rezeki kepada kalian dan kepada mereka.” (al-An’am: 151)

Perbuatan membatasi keturunan serupa dengan perbuatan orang-orang jahiliah yang membunuh anak-anak mereka karena takut fakir. Hanya saja, perbuatan orang-orang belakangan dalam bentuk mencegah punya anak karena takut miskin, sedangkan orangorang jahiliah benar-benar membunuh anak mereka yang sudah lahir karena takut miskin.

Bagaimana pun keadaannya, alasannya sama dan tentu hal semisal ini tidak dibolehkan. Yakinlah rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla. Perbuatan membatasi keturunan karena takut miskin adalah sikap berburuk sangka kepada Allah ‘azza wa jalla. Yang wajib bagi kita, orang tua, adalah bertawakal kepada Allah ‘azza wa jalla. Percayalah bahwa Allah ‘azza wa jalla memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batasan. Karena itu, berbaik sangkalah kepada Rabbmu. Jangan sampai berbagai bisikan dan kekhawatiran yang tidak sepantasnya mengusikmu, sedangkan engkau tidak tahu mana yang baik dan bermaslahat bagimu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal sesuatu itu amat baik bagi kalian. Dan bisa jadi kalian menyukai sesuatu padahal dia amat buruk bagi kalian. Allah-lah Yang Maha Mengetahui sementara kalian tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)

Di kesempatan lain, Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Menginginkan anak dan keturunan adalah hal yang disyariatkan. Hal itu akan memperbanyak jumlah umat Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri memberikan anjuran agar seorang lelaki menikahi perempuan yang subur rahimnya. Kata beliau, ‘Aku berbangga-bangga di hadapan umat yang lain dengan banyaknya kalian pada hari kiamat’.”

Jadi, menginginkan anak adalah hal yang disyariatkan bagi kaum muslimin dan sepantasnya menjadi perhatian dan semangat (orang-orang didorong untuk memperbanyak keturunan).

Adapun membatasi keturunan, ini adalah pemikiran buruk yang disisipkan oleh musuh-musuh Islam yang ingin melemahkah kaum muslimin dan meminimalkan jumlah mereka.

Membatasi keturunan tidak dibolehkan oleh Islam karena bertentangan dengan tujuan syar’i, yaitu memperbanyak individu umat Islam dan memperbanyak orang-orang yang beramal di tengah masyarakat.

Membatasi keturunan berarti juga mengurangi kemampuan manusia yang telah Allah ‘azza wa jalla ciptakan mereka untuk memakmurkan alam ini. Dengan banyaknya keturunan anak manusia, akan tercapai kemaslahatan bagi individu, masyarakat, dan umat.

Pemikiran untuk membatasi keturunan yang disusupkan ke tengah-tengah kaum muslimin berhasil memengaruhi sebagian orang yang lalai atau lemah iman. Mereka terpengaruh dan mengikutinya (bahkan turut mempropagandakannya dan menjadi pendukungnya di garis depan). Padahal yang wajib atas mereka adalah menghapus pemikiran ini dari benak mereka (dan dari orang lain). Semestinya mereka justru bersemangat punya keturunan yang banyak. Rezeki anak-anak itu di tangan Allah ‘azza wa jalla.

Banyaknya keturunan akan mendatangkan kebaikan, karena Allah ‘azza wa jalla tidaklah menciptakan satu jiwa kecuali telah menciptakan rezekinya. Selain itu, Dia memudahkan kemaslahatan bagi jiwa tersebut. Adapun keluhan atau ancaman dengan krisis ekonomi dan (teori bahwa) banyaknya penduduk akan berdampak kurangnya pangan dan rezeki, adalah wahyu dari setan dan pengikutnya yang tidak beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan takdir-Nya.

Orang-orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla bersandar dan bertawakal kepada-Nya. Karena itu, Allah ‘azza wa jalla menyatakan,

“Siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi orang tersebut jalan keluar. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (ath-Thalaq: 2-3)

Kebiasaan orang-orang musyrikin dahulu mereka membunuh anak-anak mereka karena takut miskin maka Allah ‘azza wa jalla melarang dengan firman-Nya,

“Dan janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan juga kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Hal ini menunjukkan rezeki itu di tangan Allah ‘azza wa jalla dan setiap jiwa telah Dia ‘azza wa jalla tentukan rezekinya. Memperbanyak keturunan akan memperbanyak rezeki, meningkatkan produksi/hasil, dan memperbanyak orang-orang yang bekerja (untuk memakmurkan alam ini), atau orang-orang yang beramal. (al- Muntaqa, 4/172—173)

 

Hukum Pengaturan Jarak Kehamilan

Apabila pengaturan ‘punya anak’ atau menunda kehamilan karena faktor kesehatan istri, seperti tidak bisa menanggung kehamilan atau tidak boleh melahirkan karena sakit yang dideritanya, tidak apa-apa dia menggunakan ‘sesuatu’ yang bisa mencegah kehamilan dalam jangka waktu tertentu (tidak selamanya) hingga hilang kondisi yang memberatkannya untuk menanggung kehamilan dan persalinan.

Perbuatan seperti ini termasuk penjagaan dan pengobatan, bukan pembatasan keturunan atau tidak ingin punya keturunan (lagi) karena takut miskin. (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, 3/157)

Al-Imam al-Albani rahimahullah berfatwa tentang pengaturan keturunan bahwa hal tersebut termasuk problem yang menimpa kaum muslimin pada hari ini di negeri-negeri Islam. Apabila pengaturan tersebut dilakukan karena mengikuti saran dokter muslim yang pakar dalam bidangnya, yang benar-benar ingin memberikan nasihat yang baik, untuk menjaga kesehatan istri yang terganggu karena sering melahirkan, banyak anaknya, hal ini adalah uzur yang membolehkan.

Namun, apabila pendorong untuk melakukan pengaturan tersebut adalah karena takut miskin, perhitungan materi yang layaknya dilakukan oleh orang-orang kafir, tentu tidak dibolehkan. Sampai-sampai salah seorang yang melakukan pengaturan keturunan ini menyatakan, “Aku dan istriku sudah berdua. Aku cukup punya dua anak.”

Masing-masing melakukan perhitungan jumlah penghasilannya, berapa anggota keluarga yang bisa dihidupi dengan penghasilan sejumlah itu? Hal ini tidak dibolehkan oleh Islam karena faktor melakukan pengaturan keturunan muncul dari perbuatan orang jahiliah yang telah dinasihatkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

“Janganlah kalian membunuh anak-anak kalian karena takut miskin. Kamilah yang akan memberi rezeki kepada mereka dan kepada kalian.” (al-Isra: 31)

Lebih-lebih lagi kaum muslimin, seharusnya mengimani bahwa anak itu datang (lahir ke dunia) dalam keadaan rezekinya bersamanya, karena sebelum si anak lahir ke alam dunia, saat dia masih berada dalam perut ibunya telah dicatat rezekinya. Pembatasan anak karena alasan materi tidaklah diperkenankan selama-lamanya. (al-Hawi min Fatawa asy-Syaikh al-Albani, hlm. 332-333)

 

Obat Pencegah Kehamilan

Samahatul Walid al-Imam Ibnu Baz rahimahullah menyatakan, seorang wanita tidak boleh mengonsumsi obat-obatan pencegah kehamilan. Sebab, Allah ‘azza wa jalla justru mensyariatkan sebaliknya, yaitu berupaya mendapatkan keturunan dan memperbanyak umat Islam. Umat sangat membutuhkan jumlah yang banyak untuk bisa menegakkan ibadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berjihad fi sabilillah, dan melindungi eksistensi muslimin, dengan izin dan taufik Allah ‘azza wa jalla.

Demikian pula apabila seseorang memiliki anak yang banyak, dengan jarak kelahiran yang dekat dan menyusahkan ibu apabila hamil lagi, tidak apa-apa si ibu memakai obat-obatan pencegah kehamilan dalam masa tertentu, seperti setahun atau dua tahun selama masa penyusuan. Dengan demikian, urusannya menjadi ringan dan dia bisa mendidik anak-anaknya dengan semestinya.

Adapun seorang wanita menggunakan obat-obatan pencegah kehamilan karena ingin berkonsentrasi pada profesi/pekerjaannya, mengejar karir, atau yang semisalnya, sebagaimana yang dilakukan oleh para wanita pada hari ini, tidaklah dibolehkan. (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 285-286)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Ditulis oleh Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah


[1] Di hadapan para nabi pada hari kiamat, sebagaimana ditunjukkan oleh riwayat Ibnu Hibban.

[2] Hal ini tercapai dengan menikahi wanita yang masih gadis/perawan. Karena sebelumnya si gadis tidak mengenal selain lelaki yang menikahinya, sehingga cintanya kepada suaminya adalah cinta yang awal; atau dia baru mengenal cinta dengan pernikahannya tersebut sehingga benar-benar mencintai suaminya. Berbeda halnya apabila yang dinikahi adalah janda, bisa jadi cintanya sudah atau masih terpaut pada suami yang sebelumnya.

[3] Hal ini bisa diketahui dengan melihat ibu si wanita atau saudara perempuannya, atau karib kerabatnya yang perempuan, apakah mereka punya banyak anak atau tidak.

Untuk melihat apakah seorang wanita bersifat wadud—memiliki rasa cinta yang lebih kepada suami—bisa pula diketahui dengan melihat karib kerabatnya, ibunya misalnya, bagaimana cinta ibunya kepada ayahnya.

[4] Bisa jadi, si lelaki mengetahui wanita tersebut mandul karena tidak mengalami haid, atau si wanita pernahmenikah dengan lelaki lain dan tidak punya keturunan. (Hasyiyah as-Sindi)

[5] Istri sempat berdandan menata dirinya dan menghilangkan apa yang tidak pantas terlihat oleh suami dalam rangka menyambut kedatangan sang suami, sehingga suami tidak kecewa ketika melihatnya.

Dikisahkan bahwa mereka hendak datang tiba-tiba di awal siang. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencegah mereka dan memerintahkan agar mereka menundanya hingga akhir siang. Dengan demikian, berita kedatangan mereka telah sampai kepada istri-istri mereka sehingga para istri telah bersiap untuk menyambut suaminya. (Tuhfatul Ahwadzi)

Dalam Fathul Bari (9/391) dijelaskan, perintah untuk masuk menemui keluarga di waktu malam ketika pulang bepergian yang ada pada hadits ini dan larangan masuk menemui keluarga di waktu malam pada hadits yang lain, bisa dikompromikan Perintah dalam hadits ini yang dimaksud adalah masuk pada awal malam, sedangkan larangan dalam hadits yang lain ialah masuk pada tengah malam.

Bisa juga dikompromikan bahwa perintah masuk menemui keluarga di malam hari ini bagi orang yang telah mengabari keluarganya tentang kepulangannya, sedangkan larangan dalam hadits lain berlaku bagi orang yang belum memberitahu keluarganya tentang kepulangannya.

Bani Israil Terdampar di Padang Tiih (1)

Kisah ini terjadi setelah Bani Israil menyeberang lautan dan dihancurkannya patung anak sapi dari emas yang disembah oleh sebagian besar mereka. Kemudian, Bani Israil dibawa oleh Nabi Musa ‘alaihissalam menuju Tanah Air mereka yang telah dijanjikan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk mereka, yaitu Palestina.

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain. Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.”

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orangorang yang gagah perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum mereka ke luar daripadanya. Jika mereka ke luar daripadanya, pasti kami akan memasukinya.”

Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya, “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu. Apabila kamu memasukinya, niscaya kamu akan menang. Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar orang yang beriman.”

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya. Karena itu, pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”

Berkatalah Musa, “Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. Sebab itu, pisahkanlah antara kami dan orang-orang yang fasik itu.”

Allah berfirman, “(Jika demikian), sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun. (Selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka dari itu, janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu.” (al-Maidah: 20—26)

Allah ‘azza wa jalla mengingatkan Bani Israil akan nikmat-Nya yang sangat besar, Dia menyelamatkan mereka dari musuh mereka, yaitu Fir’aun, bahkan menyenangkan hati mereka dengan melihat sendiri kebinasaan Fir’aun dan bala tentaranya dalam satu hari. Tidak ada satupun musuh mereka itu yang selamat.

Tidak hanya itu, jenazah Fir’aun yang sudah mati diperlihatkan pula oleh Allah ‘azza wa jalla, hingga saat ini, sebagai hiburan bagi Bani Israil, sekaligus peringatan bagi para penguasa di seluruh dunia sesudahnya. Kemudian, Nabi Musa ‘alaihissalam membawa mereka menuju tanah air mereka, Baitul Maqdis. Tanah suci yang ditinggalkan oleh bapak moyang mereka, Ya’qub (Israil) ‘alaihissalam. Belum berapa lama, setelah melewati sebuah negeri, Bani Israil melihat penduduknya sedang tirakat di sekitar berhala. Menyaksikan hal itu, terbit keinginan mereka, dan segera mereka utarakan kepada Nabi Musa ‘alaihissalam.

Nabi Musa ‘alaihissalam menegur mereka dengan keras. Bani Israil tidak lagi meminta hal itu kepada Nabi Musa ‘alaihissalam. Akan tetapi, dalam empat puluh hari, ketika mereka ditinggal oleh Nabi Musa ‘alaihissalam yang memenuhi panggilan dari Allah ‘azza wa jalla untuk bertemu dengan-Nya di bukit Thursina, tujuh puluh ribu orang ikut teperdaya oleh Samiri dan terjerumus dalam perbuatan syirik akbar tersebut.

Allah ‘azza wa jalla yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang mengilhamkan tobat kepada mereka dan menerima tobat tersebut. Dikisahkan, tujuh puluh ribu orang yang dihukum mati oleh saudara mereka sendiri dihidupkan kembali oleh Allah ‘azza wa jalla.

Wallahu a’lam.

Sesudah itu, patung anak sapi yang disembah oleh sebagian besar Bani Israil itu dibakar musnah dan abunya dibuang ke laut. Bani Israil sekali lagi dihadapkan kepada kenyataan bahwa memang tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Patung anak sapi yang selama ini mereka puja-puja tidak lebih dari sebuah benda mati, tidak bisa menjawab perkataan mereka, tidak pula mampu bersuara sedikit pun.

Kemarahan Nabi Musa ‘alaihissalam sudah pupus, beliau mengambil Taurat yang sempat dilemparkannya. Beberapa lembaran yang berukuran besar. Ada yang menyebutkan asalnya adalah permata surga. Di dalam tulisannya terdapat hidayah yang menerangkan mana yang hak mana yang batil, mana amalan yang baik, mana pula yang buruk, serta petunjuk kepada semua kebaikan. Lembaran itu juga sarat dengan akhlak dan adab yang luhur dan berisi pula rahmat serta kebahagiaan bagi yang mengamalkannya, memahami hukum dan makna-maknanya.

Akan tetapi, tidak semuanya siap dan mau menerima hidayah dan rahmat Allah tersebut. Sebab, yang hanya mau menerimanya ialah orang-orang yang takut dan tunduk merendahkan dirinya kepada Rabb (Yang Mencipta, Menguasai, Memberi rezeki, Mengatur, dan Memelihara)nya.

Nabi Musa ‘alaihissalam mulai menerangkan kepada mereka kandungan Taurat yang beliau terima. Mulanya mereka menolak dan merasa perintah atau larangan tersebut sangat berat. Dengan sabar Nabi Musa ‘alaihissalam mengingatkan mereka bahwa itu semua ketetapan Allah ‘azza wa jalla, tetapi mereka tidak peduli dan masih menyanggah Nabi Musa ‘alaihissalam. Tiba-tiba, gunung yang ada di dekat mereka melayang tinggi di atas mereka seperti payung.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengangkat bukit ke atas mereka seakanakan bukit itu naungan awan dan mereka yakin bahwa bukit itu akan jatuh menimpa mereka. (Dan Kami katakan kepada mereka), “Peganglah dengan teguh apa yang telah Kami berikan kepadamu, serta ingatlah selalu (amalkanlah) apa yang tersebut di dalamnya supaya kamu menjadi orang-orang yang bertakwa.” (al-A’raf: 171)

Sebagian ahli tafsir menerangkan bahwa dalam ayat ini seakan-akan dikatakan kepada mereka,”Kalau kamu tidak menerima Taurat dan kandungannya, gunung ini akan dihempaskan kepada kamu.”

Melihat bayangan hitam bukit Thursina di atas kepala mereka, Bani Israil ketakutan dan segera menjatuhkan diri bersujud sambil mengintip ke arah gunung itu. Mereka sangat khawatir gunung itu menimpa mereka. Akhirnya, mereka menerima ketetapan Taurat yang disampaikan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam.

Cara sujud sambil mengintip ke langit, menjadi kebiasaan mereka turuntemurun. Kata mereka, “Tidak ada sujud yang lebih agung daripada sujud yang karenanya azab itu terangkat dari kami.”

Demikianlah keadaan mereka. Akan tetapi, hal itu tidak bertahan lama, karena dalam ayat lain, Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan,

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkatkan gunung (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman), “Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya, agar kamu bertakwa.”

Kemudian kamu berpaling setelah (adanya perjanjian) itu, maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.” (al-Baqarah: 63—64)

Ingatlah; (ketika Kami mengambil janji dari kamu), yaitu janji yang berat dan diperkuat dengan ancaman yang menakut-nakuti mereka, yaitu terangkatnya bukit Thursina di atas kepala mereka, lalu diperintahkan kepada mereka: (Peganglah apa yang Kami berikan kepadamu), yaitu Taurat, (teguh-teguh), yakni dengan bersungguh-sungguh dan bersabar melaksanakan perintah Allah, (dan ingatlah selalu apa yang ada di dalamnya), yaitu apa yang ada di dalam Kitabmu, dengan membaca dan mempelajarinya, (agar kamu bertakwa); menjaga diri dari azab dan murka Allah, atau menjadi orang yang bertakwa.

Akan tetapi, sesudah penekanan yang luar biasa ini, (Kemudian kamu berpaling), sehingga kamu pantas merasakan hukuman yang sangat berat. Akan tetapi, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Maka kalau tidak ada karunia Allah dan rahmat-Nya atasmu, niscaya kamu tergolong orang-orang yang rugi.”

Sampailah mereka di sebuah desa yang dekat dengan Baitul Maqdis. Nabi Musa ‘alaihissalam memberikan wejangan kepada mereka dan mengingatkan agar mereka maju untuk berjihad. Kata beliau, “Ingatlah nikmat Allah yang telah dilimpahkan-Nya kepada kalian.” Sebab, mengingat-ingat nikmat itu menjadi pendorong untuk mencintai Allah ‘azza wa jalla Yang telah melimpahkan kenikmatan itu, sekaligus menumbuhkan semangat beribadah kepada-Nya.

Beliau melanjutkan, “Ingatlah pula ketika Allah mengangkat nabi-nabi di antaramu, yang mengajak kamu kepada hidayah (petunjuk), memperingatkan kamu agar menjauhi hal-hal yang rendah, mendorong kamu kepada kebahagiaanmu yang abadi dan mengajari kalian hal-hal yang belum kalian ketahui.”

“Dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, yang mampu mengatur diri sendiri, lepas dari penindasan musuh kamu, sehingga kamu dapat menjalankan agama kamu dengan leluasa.”

“Dia memberikan kepadamu berbagai kenikmatan agama dan dunia yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun di antara umat-umat yang lain.”

Mereka dilebihkan dari bangsa lain yang ada pada zaman itu, karena pada masa itu, Bani Israil adalah orang-orang yang beriman. Sebab itu pula ditetapkan bagi mereka kemenangan atas musuh-musuh mereka dari bangsa ‘Amaliqah.

Kemudian, beliau mengatakan kepada mereka, “Hai kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu.”

Nabi Musa ‘alaihissalam menerangkan kepada mereka berita yang menenteramkan hati mereka, kalau mereka betul-betul beriman dan meyakini kebenaran berita dari Allah, bahwa Allah telah menentukan mereka memasukinya dan pasti menang melawan musuh-musuh mereka.

Nabi Musa mengingatkan mereka agar tidak berbalik, mundur sehingga menjadi orang-orang yang merugi. Rugi dunia karena kehilangan kesempatan meraih kemenangan yang sudah pasti dan rugi akhirat, karena tidak memperoleh pahala, bahkan justru menerima azab dan hukuman karena mendurhakai perintah.

Apa yang terjadi? Apa jawaban mereka?

Mereka memberikan jawaban yang menampakkan betapa lemahnya hati mereka, rapuhnya jiwa mereka, dan tidak adanya perhatian serta antusias mereka memenuhi perintah Allah dan Rasul-Nya ‘alaihissalam.

Allah ‘azza wa jalla berfirman menerangkan jawaban mereka,

Mereka berkata, “Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah perkasa.” (al-Maidah: 22)

Ternyata mereka menolak dan memberikan alasan. Seakan-akan mereka hendak mengatakan, “Negeri yang engkau perintahkan kami memasukinya ini, di dalamnya ada orang-orang yang berperawakan mengerikan dan memiliki kekuatan yang dahsyat. Kami tidak sanggup menghadapi mereka. Tidak mungkin pula kami memasukinya selama mereka ada di sana. Kalau mereka sudah keluar, barulah kami memasukinya.”

Perkataan mereka sebagaimana dalam ayat ini, semakin menegaskan sifat dasar mereka, yaitu pengecut dan kurangnya keyakinan mereka terhadap Allah. Sebab, kalau mereka memiliki akal, tentu mereka mengerti bahwa mereka dan musuh mereka sama-sama manusia, anak-anak Adam ‘alaihissalam. Yang kuat adalah orang yang diberi kekuatan dari sisi Allah, karena memang tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Andaikata mereka memiliki keyakinan seperti ini, pasti mereka ditolong dan menang melawan musuh mereka, sebab Allah k sudah menjanjikan hal itu secara khusus kepada mereka.

Melihat keengganan Bani Israil untuk menaati Allah dan Rasul-Nya, bangkitlah dua orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, termasuk orang-orang yang takut kepada ketetapan dan siksa Allah. Ada yang menyebutkan bahwa keduanya adalah Yusya’ bin Nun ‘alaihissalam dan Kalib bin Yufana.

Mereka berkata mengingatkan kaum mereka, “Serbulah mereka melalui gerbang kota itu, dengan tiba-tiba. Desaklah mereka dan jangan beri mereka kesempatan. Sebab, apabila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang, tanpa harus bersusah payah bertempur dengan mereka. Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, setelah menjalankan sebab-sebabnya. Akan tetapi, jangan kalian bertumpu kepada sebab-sebab itu, karena semua itu tidak ada artinya jika tidak diizinkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Itupun kalau kamu benarbenar orang yang beriman, karena kalau kamu benar-benar beriman kepada Allah, mengakui kebenaran janji-Nya, hal itu pasti menumbuhkan tawakal kepada-Nya.”

Akan tetapi, rasa takut agaknya sudah menguasai hati sebagian mereka, kecuali yang dirahmati oleh Allah ‘azza wa jalla. Mereka tetap tidak peduli dengan nasihat kedua orang yang mulia itu. Kata mereka, sebagaimana dalam ayat,

Mereka berkata, “Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.”

Di saat-saat genting seperti ini, dalam situasi yang seharusnya mereka membela dan menolong Nabi mereka, mereka justru menghina dan mengolok-olok Allah k dan Rasul-Nya ‘alaihissalam.

Dari sini jelaslah perbedaan antara umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umat-umat yang lain. Maha Benarlah Allah ‘azza wa jalla dengan firman-Nya,

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (Ali ‘Imran: 110)

Mereka adalah sebaik-baik manusia yang dilahirkan untuk seluruh umat manusia dan paling bermanfaat bagi sesama manusia. Alangkah indahnya ucapan mereka, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meminta pendapat mereka dalam peristiwa Badr Kubra. Kafilah dagang Quraisy yang mereka kejar telah lolos, sekarang harus menghadapi pasukan Quraisy yang datang lengkap bersama para pemuka mereka. Silih berganti para sahabat mengemukakan pendapatnya, tetapi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam masih menawarkan kepada mereka. Seakan-akan ingin menyelami kesiapan sahabat-sahabat Anshar, apakah baiat mereka di ‘Aqabah (I dan II) hanya terbukti bila beliau berada di perkampungan mereka, sedangkan jika di luar Madinah, mereka tidak menjalankannya?

Sahabat-sahabat Anshar tanggap terhadap apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Agaknya kami yang Anda maksud, wahai Rasulullah?”

“Betul.”

“Kami telah beriman dan membenarkan Anda, dan telah kami saksikan bahwa apa yang Anda bawa adalah hak. Karena itu, kami telah menyerahkan janji dan sumpah setia kami kepada Anda agar tetap mendengar dan menaati Anda. Sebab itu, berangkatlah, wahai Rasulullah, menuju apa yang Anda mau, niscaya kami tetap bersama Anda. Demi Dzat Yang mengutus Anda membawa al-haq, andaikata Anda membawa kami menyelami lautan, niscaya kami akan menyelam bersama Anda dan tidak akan ada seorang pun tertinggal di antara kami. Kami tidak benci andaikata bertemu musuh esok hari. Kami adalah orang-orang yang jujur dan tabah dalam peperangan. Semoga Allah memperlihatkan kepada Anda apa yang menyenangkan hati Anda dari kami. Berangkatlah dengan berkah Allah, wahai Rasulullah.”

“Kami tidak akan berkata seperti ucapan Bani Israil kepada Nabi mereka, Musa ‘alaihissalam, ‘Pergilah kamu bersama Rabbmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini.’ Akan tetapi, berperanglah Anda, dan kami akan berperang pula bersama Anda, di kanan dan kiri Anda, juga di depan dan di belakang Anda.”

Wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berseri-seri, sangat senang mendengar ucapan tersebut dan memberikan kabar gembira kepada mereka akan janji kemenangan dari Allah ‘azza wa jalla.

Berbeda jauh dengan ucapan Bani Israil ini. Mendengar ucapan buruk mereka, Nabi Musa ‘alaihissalam marah. Beliau bersujud bersama Nabi Harun memohon ampunan kepada Allah. Yusya’ dan Kalib juga sedih dan marah melihat perilaku buruk saudara-saudara mereka. Akhirnya, Nabi Musa ‘alaihissalam mendoakan mereka, sebagaimana ayat,

“Wahai Rabbku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu.”

Seakan-akan beliau berkata,”Wahai Rabbku, tidak ada yang menaatiku dalam melaksanakan perintah Allah dan menyambut seruanku di antara mereka selain aku dan saudaraku Harun. Aku bukan penindas atau pemaksa mereka, maka putuskanlah persoalan antara kami dan mereka, dengan menurunkan hukuman yang sesuai dengan hikmah-Mu terhadap orang-orang fasik itu.”

Dari sini, jelaslah bahwa ucapan mereka adalah dosa besar yang menyebabkan mereka dihukumi sebagai orang-orang yang fasik.

Allah ‘azza wa jalla mengabulkan doa Rasul-Nya ‘alaihissalam. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“(Jika demikian), sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu.”

Itulah hukuman yang mereka rasakan di dunia. Allah mengharamkan mereka memasuki Tanah Suci yang telah ditetapkan-Nya bagi mereka, selama empat puluh tahun. Akhirnya, selama empat puluh tahun itu, mereka hanya berputar-putar di padang Tiih, tidak menemukan jalan dan tidak pernah merasa tenang. Mudah-mudahan itu menjadi kaffarah (penghapus) dosa-dosa mereka, sekaligus menjauhkan mereka dari hukuman yang lebih berat.

Bisa jadi, salah satu hikmahnya adalah agar mayoritas mereka yang mengolok-olok Allah dan Rasul-Nya serta menolak jihad itu lenyap dan digantikan oleh orang-orang yang masih baik dan lurus hatinya. Sebab, munculnya ucapan bernada ejekan itu hanya muncul dari hati yang lemah dan tidak ada kesabaran serta keteguhan di dalamnya. Tidak ada kemauan dan cita-cita yang tinggi serta tekad yang kuat untuk meraih kemenangan.

Bisa jadi pula, dalam rentang waktu sekian lama, akan lahir dan muncul generasi baru yang akal dan jiwa mereka terbina serta terasah untuk mengalahkan musuh-musuh mereka.  Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (6)

Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Islamnya ‘Umar adalah pembukaan, hijrahnya adalah kemenangan, dan kepemimpinannya adalah rahmat.” Pada edisi yang lalu telah dinukil sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengisyaratkan bahwa ‘Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu tidaklah meninggal dunia kecuali setelah dia meletakkan segala sesuatunya pada tempatnya. Pada edisi ini, kita akan menelusuri sebagian liku-liku kehidupan beliau yang sarat dengan keteladanan, terkhusus bagi para penguasa sepeninggal beliau.

Sungguh, apabila dikenang sikap tegas dalam memegang kebenaran, ‘Umar pasti disebut-sebut. Jika diingat keadilan dalam memutuskan dan bersikap, nama ‘Umar pasti diingat. Setiap kali kita menyebut kasih sayang kepada orangorang yang lemah dan miskin, beliaulah contoh nyata dalam tindakan. Kalau kita bangga dengan berbagai penaklukan dan pembebasan, beliaulah pahlawan.

Semua kebaikan ada padanya. Pria yang tidak pernah duduk di madrasah atau kursus ilmu-ilmu sosial, politik, dan pemerintahan ini, ternyata mampu menjadi penguasa sepertiga belahan dunia. Sepuluh tahun memegang kendali urusan kaum muslimin, baik bangsa Arab maupun ajamnya, tidak menyisakan celah untuk menjadi sasaran cemoohan dan kritikan.

Jenius yang sangat berhati-hati memegang amanah yang dipikulkan di pundaknya. Sampai-sampai sebagian sahabat besar berkata, “Demi Allah, hai Amirul Mukminin, Anda memberi beban berat kepada khalifah sepeninggal Anda.”

Benar. Mereka yang melihat kesungguhan ‘Umar mengurusi kepentingan kaum muslimin secara khusus atau rakyat secara umum, akan merasa takut dan enggan untuk memikul amanah ini. Betapa tidak, hampir tidak ada dalam benak beliau mengambil keuntungan dunia ketika menjalankan pemerintahannya, mengurusi kepentingan rakyat, khususnya kaum muslimin. Bahkan, beliau tidak rela keluarga beliau menanggung beban seperti yang dirasakannya. Cukup satu ‘Umar memikulnya. Pernah suatu ketika, beliau terlihat mengantuk. Sebagian sahabatnya menegur beliau agar menjaga istirahat yang cukup. Apa jawab pria jenius berhati lembut ini?

“Kalau malam hari aku tidur, pasti aku kehilangan bagianku dari Rabbku. Dan kalau aku tidur di siang hari, pasti aku tidak bisa menjalankan tugasku mengurusi kepentingan orang banyak.”

Subhanallah. Adakah penguasa atau pemimpin yang memikirkan ucapan ini? Semoga Allah memberi hidayah dan taufik kepada mereka yang mengurusi kepentingan kaum muslimin serta memperbaiki kekeliruan mereka.

Wallahul Muwaffiq.

Kekuasaan yang Membawa Rahmat

Setelah selesai dibai’at, ‘Umar duduk di mimbar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kaum muslimin duduk rapi di hadapan beliau. Beliaupun berdiri, membuka dengan pujian dan sanjungan kepada Allah ‘azza wa jalla, shalawat dan salam untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertasyahud (mengucapkan syahadat).

Ternyata, yang pertama diucapkan oleh beliau adalah doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku orang yang keras, maka lembutkanlah aku. Aku lemah, maka kuatkanlah aku. Aku kikir, maka jadikanlah aku dermawan.”1[1]

Melalui jalur asy-Sya’bi, disebutkan bahwa setelah dibai’at sebagai khalifah, ‘Umar naik mimbar, lalu berkata, “Jangan sampai Allah melihatku merasa pantas menempati posisi Abu Bakr.” Lalu dia turun satu tingkat dari tempat yang biasa diduduki oleh Abu Bakr.

Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, beliau berpidato,

“Bacalah al-Quran, niscaya kalian dikenal dengannya. Amalkanlah al-Qur’an, niscaya kalian menjadi ahlinya. Timbanglah diri-diri kalian sebelum kalian ditimbang. Berhiaslah menghadapi hari

‘ardhul akbar (kiamat), ketika kalian dihadapkan kepada Allah, tidak ada satupun yang tersembunyi dari kalian sedikit pun. Sungguh, tidak akan sampai hak orang-orang yang mempunyai hak, untuk ditaati dalam bermaksiat kepada Allah. Ketahuilah, sesungguhnya aku menempatkan diriku dalam urusan harta Allah ini seperti wali anak yatim. Kalau aku merasa cukup, aku menahan diri, dan kalau aku mempunyai keperluan, aku memakannya dengan cara yang baik.”2[2]

Pernyataan sederhana tetapi tegas, dan beliau telah menepati kata-katanya, hingga akhir hayatnya. Semoga Allahmeridhai beliau.

Sebagian ahli sejarah menerangkan bahwa perbedaan isi khutbah beliau adalah karena beberapa kemungkinan, di antaranya adalah perbedaan dalam penyampaian dari sebagian orang yang meriwayatkannya, sesuai dengan yang diingat oleh mereka.

Wallahu a’lam.

Ada pula yang menyebutkan bahwa banyak kaum muslimin merasa khawatir dengan ketegasan dan kekerasan watak ‘Umar, sebagaimana yang diungkapkan oleh Thalhah bin ‘Ubaidillah kepada Khalifah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, jika riwayat itu sahih. Ketika sampai berita ini kepada ‘Umar, beliau segera berpidato menyampaikan keadaan dirinya, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu meninggalkan dunia dalam keadaan ridha kepadanya.

Kemudian beliau mengatakan, “Sikap tegas dan keras itu hanya tertuju kepada mereka yang zalim dan melanggar hak orang lain. Aku tidak akan membiarkan siapapun menzalimi orang lain, atau melanggar haknya sampai aku letakkan pipinya di tanah dan menginjaknya sampai dia tunduk kepada yang hak. Dengan kekerasanku itu, aku akan menyerahkan pipiku kepada mereka yang menjaga kehormatan dan menahan dirinya. Kalian semua punya hak yang harus aku tunaikan; pertama, aku tidak akan menyembunyikan hak kalian sedikitpun, begitu pula rampasan perang yang diberikan oleh Allah untuk kalian, tidak aku tahan. Aku akan mengeluarkannya dengan cara yang benar, dan andaikata jatuh ke tanganku, niscaya aku salurkan pada haknya. Aku juga akan menambah jatah pemberian untuk kalian insya Allah dan menutupi kebutuhan kalian. Hak kalian yang harus aku tunaikan juga ialah bahwa aku tidak akan menggiring kalian kepada kebinasaan.

Kalau kalian tidak ada di tempat, akulah yang menjaga keluarga kalian sampai kalian kembali kepada mereka. Maka dari itu, bertakwalah wahai hambahamba Allah, dan bantulah aku menahan diri kalian terhadapku. Bantulah aku menghadapi diriku dengan amar ma’ruf nahi mungkar, memberikan nasihat dalam urusan yang Allah tugaskan aku mengatur urusan kalian.

Aku ucapkan perkataan ini dan aku mohon ampunan kepada Allah untukku dan untuk kamu sekalian.”

Melalui khutbah ini, beliau menyadarkan kita bahwa kekuasaan yang diberikan kepadanya adalah amanat yang berat dan beliau merasa yakin pasti akan dimintai pertanggungjawabannya. Beliau merasa yakin pula bahwa ini semua adalah ujian, bukan sebuah kehormatan dan kemuliaan.

Kerendahan hati beliau terlihat dengan merelakan diri melayani dan memuliakan orang-orang yang menahan diri dan memelihara kehormatan mereka. Akan tetapi, terhadap orang-orang yang zalim dan melanggar hak orang lain, beliau tidak akan memberikan apapun selain hukuman.

Melalui khutbah ini pula beliau mengisyaratkan dan memperingatkan para pejabatnya bahwa dia akan selalu mengawasi mereka dalam menjalankan tugas, meskipun jauh dari pandangan mata beliau. Dalam khutbah ini pula beliau menuntut kepada rakyatnya, agar tidak segan-segan menyampaikan nasihat dan meluruskan beliau jika terlihat menyimpang dari tugasnya. Beliau juga menuntut mereka agar menahan diri dari kekurangan yang mungkin muncul dari beliau, dengan tetap mendengar dan taat kepada beliau.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits


[1] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

[2] Al-Muhib ath-Thabari dalam Riyadhun Nadhrah (1/190).

Perbedaan Hukum Bersuci dari Hadats & dari Najis

Bismillah. Pada Asy-Syariah edisi 94 halaman 42 dinyatakan,

apabila lupa terkena najis, dimaafkan dan shalatnya sah. Akan

tetapi, apabila lupa berwudhu, tidak dimaafkan dan shalat wajib

diulang. Apa yang membedakan kedua hukum ini padahal

penyebabnya sama, yaitu lupa syarat shalat? Apakah ada lupa

yang dimaafkan dan yang tidak? Mohon penjelasan.

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

thaharah

Bersuci dari hadats besar dan kecil adalah syarat sahnya shalat. Ibnul Mundzir rahimahullah telah menukil ijma’ ulama mengenai hal ini selama ada jalan untuk bersuci dari hadats. Begitu pula an-Nawawi rahimahullah telah menukil ijma’ dalam masalah ini. Dalilnya adalah hadits Ibnu ‘Umar radhiallahu ‘anhuma dengan lafadz,

“Shalat tidak akan diterima tanpa bersuci dari hadats.” (HR. Muslim)

Demikian pula hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

“Shalat orang yang berhadats tidak akan diterima hingga dia berwudhu.” (Muttafaq ‘alaih)

Pada riwayat al-Bukhari rahimahullah ada tambahan lafadz,

Seorang pria dari Hadramaut berkata, “Wahai Abu Hurairah, apakah hadats itu?” Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Buang angin tanpa bunyi atau buang angin dengan bunyi.”

Apa yang disebutkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu hanya contoh, karena hadats kecil tidak terbatas dengan buang angin saja.

Ini adalah nash yang sangat gamblang bahwa bersuci dari hadats adalah syarat sahnya shalat. Oleh karena itu, tidak dimaafkan karena tidak tahu atau lupa. Apabila seseorang lupa mandi atau wudhu lantas shalat, ia wajib mengulang shalat-shalat yang telah dilaksanakan tanpa bersuci itu. Apabila shalat tanpa mandi atau wudhu karena tidak tahu hukum, seseorang wajib mengulang shalat yang masih tersisa waktunya saat itu, tidak meliputi shalat-shalat sebelumnya yang telah lewat waktunya.

Adapun hukum bersuci dari najis yang mengenai tubuh, pakaian, dan tempat shalat, terdapat silang pendapat yang cukup kuat di antara ulama. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat wajib sebagai syarat sahnya shalat, tetapi mereka berbeda pendapat apakah shalatnya diulang atau tidak apabila terjadi karena lupa atau tidak tahu. Yang benar, pendapat yang mengatakan dimaafkan jika lupa atau tidak tahu.

Ini adalah riwayat yang terkuat dan termasyhur dari Malik, pendapat lama asy-Syafi’i, dan salah satu riwayat dari Ahmad. Pendapat ini yang dirajihkan oleh Ibnul Mundzir dan an-Nawawi dari kalangan fuqaha mazhab Syafi’i, serta Ibnu Taimiyah, as-Sa’di, dan Ibnu ‘Utsaimin dari kalangan fuqaha mazhab Hanbali.

Di antara dalil-dalil yang menunjukkan kewajiban bersuci dari najis adalah:

  • Seluruh hadits yang mewajibkan istinja (cebok dengan air) dan istijmar (bersuci dengan batu atau semisalnya) dari najis yang keluar melalui qubul (lubang kemaluan depan) dan dubur (lubang kemaluan belakang), yang hal itu bertujuan untuk membersihkan tempat keluarnya najis. Hadits-hadits tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim.
  • Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma mengenai dua penghuni kubur yang disiksa dalam kuburnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Adapun salah satunya, ia disiksa karena tidak memerhatikan kesucian dirinya dari air kencingnya (tidak peduli terkena air kencingnya dan tidak membersihkan air kencing yang mengenainya).” (Muttafaq ‘alaih)

  • Hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu,

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat, tiba-tiba beliau melepaskan kedua sendal yang dikenakannya dan meletakkannya di samping kirinya. Ketika para sahabat melihat hal itu, serta-merta mereka ikut melepaskan sendal-sendal mereka. Seusai shalat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian melepaskan sendal-sendal kalian?”

Mereka berkata, “Kami melihat Anda melepaskan sendal, lantas kami pun melepaskannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan mengabarkan kepadaku bahwa pada kedua telapak sandalku ada najis yang menempel,” lalu beliau bersabda, “Jika salah seorang dari kalian datang ke masjid, hendaklah dia memeriksa kedua telapak sendalnya. Apabila dia melihat ada najis yang menempel, hendaklah dia menggosokkannya (pada riwayat Ahmad: hendaklah dia menggosokkannya ke tanah), kemudian shalat dengannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, al-Hakim, dan lainnya, dinyatakan sahih oleh al-Hakim menurut syarat Muslim, disetujui oleh adz-Dzahabi, al-Albani, dan al-Wadi’i)1[1]

  • Hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang seorang a’rabi (Arab badui) yang buang air kecil dalam masjid Nabawi dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Biarkan dia dan guyurkan di atas kencingnya setimba air, karena sesungguhnya kalian diutus untuk memberi kemudahan dan tidak diutus untuk memberi kesulitan.” (HR. al-Bukhari)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu (Muttafaq ‘alaih).

Dalil-dalil di atas menunjukkan wajibnya membersihkan tubuh, pakaian, dan tempat shalat dari najis, yaitu tempat diletakkannya anggota tubuh dan yang bersentuhan dengan pakaian dalam shalat.

Barang siapa sengaja melaksanakan shalat dalam keadaan ada najis di tubuh, pakaian, atau tempat shalatnya, shalatnya tidak sah. Sebab, hal itu adalah perintah khusus dalam shalat, dan melalaikannya berarti melaksanakan shalat dengan sifat yang menyelisihi apa yang diperintahkan Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda pada hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha,

“Barang siapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami, hal itu tertolak.” (HR. Muslim)

Akan tetapi, jika terjadi tanpa sengaja karena lupa atau tidak tahu, hal itu adalah uzur yang dimaafkan dan shalatnya sah. Dalilnya adalah hadits Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhuma di atas yang menunjukkan bahwa hal itu dimaafkan jika terjadi karena tidak tahu lantaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melanjutkan shalatnya, tidak mengulanginya dari awal. Begitu pula halnya jika terjadi karena lupa berdasarkan kesamaan makna antara tidak tahu dan lupa secara metode qiyas (analogi).

Perbedaan masalah ini dengan bersuci dari hadats dari segi makna adalah karena bersuci dari hadats sifatnya perintah melakukan sesuatu, yaitu kewajiban bersuci dari hadats. Adapun bersuci dari najis sifatnya perintah menghindari sesuatu yang terlarang, yaitu haramnya shalat dengan terkena najis pada tubuh, pakaian, ataupun tempat shalat. Dengan demikian, keduanya tidak dapat disamakan hukumnya.

Adapun pendapat yang dipilih oleh asy-Syaukani dalam Nailul Authar dan ad-Darari bahwa hukumnya wajib tetapi shalat tetap sah dengan melalaikannya—meskipun pelakunya berdosa—ini adalah pendapat yang lemah. Sebab, hal itu adalah perintah khusus dalam shalat, dan melalaikannya berarti melaksanakan shalat dengan sifat yang menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Lebih-lebih lagi riwayat ketiga dari Malik bahwa hukumnya hanya sunnah, ini jelas-jelas lemah dan bertentangan dengan perintah Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk bersuci dari najis dalam shalat.[2]

Wallahu a’lam


[1] Lihat kitab Irwa’ al-Ghalil (no. 284) dan al-Jami’ ash-Shahih (1/459—460)

[2] Lihat kitab al-Ijma’ (no. 1), al-Muhalla (no. 343 & 344), Bidayah al-Mujtahid (1/116—117), al-Majmu’ (3/139—140, 163), al-Mughni (2/464—466), al-Ikhtiyarat (hlm. 66—67), Nailul Authar (“Kitab ash-Shalah”, Bab “Ijtinab an-Najasat fi ash-Shalah”), ad-Darari (hlm. 57), al-Mukhtarat al-Jaliyyah (hlm. 34), dan asy-Syarh al-Mumti’ (2/90—91, 219—221, 228—230).

Al-Qayyum

 

Al Qayyum

 

Al-Qayyum adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Bahkan nama ini adalah salah satu Asma’ul Husna yang teragung dari nama-nama-Nya, yaitu ketika nama ini bergabung dengan nama Allah al-Hayyu. As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Sebagian ulama peneliti menerangkan bahwa sesungguhnya keduanya adalah al-ismul a’zham yang bila Allah ‘azza wa jalla diseru dengan menyebutnya Dia akan mengijabahi, bila dimohon dengan menyebut nama itu, maka Ia akan memberi.”

Allah ‘azza wa jalla telah menyebut nama-Nya ini dalam tiga ayat dalam al-Qur’an, ketiganya bergandengan dengan nama Allah al-Hayyu. Nama tersebut juga ada dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana akan kami sebutkan.

Asy-Syaikh al-Harras menjelaskan bahwa di antara al-Asma’ul Husna itu adalah al-Qayyum, itu adalah bentuk mubalaghah dari kata Qa’im (bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam sifat tersebut). Al-Qayyum memiliki dua makna:

Pertama, Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam hal eksistensinya. Demikian pula dalam sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan yang muncul dari-Nya. Karena ketidakbutuhan-Nya bersifat dzati (terkait langsung dengan Dzat Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana kami telah terangkan, maka Dia tidak akan ditimpa kekurangan ataupun rasa butuh.

Kedua, Dialah yang selalu mengatur mahluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini membutuhkan-Nya, dengan rasa butuh yang dzati (terkait langsung dengan dzat makhluk tersebut), tidak mungkin tidak, walau sesaat saja.

Maka dari itu, makhluk butuh kepada-Nya dalam hal keberadaannya, Allah ‘azza wa jalla lah yang memberikan kepadanya sebab-sebab eksistensinya tidak ada sesuatu pun dalam alam ini seluruhnya kecuali dalam bantuan-Nya.

Dengan demikian, Dia selalu mengatur dan memerhatikan urusan makhluk-Nya, tidak mungkin Dia lalai sesaat pun dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka. (al-Anbiya:42)

kemudian berfirman,

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Jadi sifat Allah ‘azza wa jalla yang satu ini, di antara sifat-sifat-Nya yang lain yaitu sebagai al-Qayyum, memiliki urusan yang besar sebagaimana besar-Nya Pemilik sifat ini, yang sifat ini dengan maknanya yang pertama mengandung kesempurnaan ketidakbutuhan-Nya dan kebesaran-Nya. Dengan makna yang kedua, mengandung seluruh sifat kesempurnaan dalam perbuatan-Nya yang tidak ada kesempurnaan bagi-Nya kecuali dengan sifat Al-Qayyum.

Di antara asma-Nya yang Mahaindah juga adalah al-Hayyu, Yang Mahahidup, dan nama al-Hayyu telah beriringan dengan nama-Nya al-Qayyum di tiga tempat dalam al-Qur’an:

  1. Ayat kursi dalam surat al-Baqarah ayat 255,

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”

  1. Awal surat Ali Imran ayat 1-2,

“Alif lam mim. Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

  1. Surat Thaha ayat 111,

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Rabb yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.”

Makna al-Hayyu adalah yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang kekal abadi, yang tidak mengenai-Nya kematian ataupun fana, karena ini adalah sifat yang terkait dengan Dzat-Nya Yang Mahasuci. Sebagaimana sifat qayyum-Nya berkonsekuensi kesempurnaan seluruh perbuatan-Nya. Demikian pula sifat kehidupan-Nya yang sempurna berkonsekuensi seluruh sifat dzat-Nya yang sempurna, baik ilmu, kamampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, kebesaran, dan sebagainya.

Sifat al-Hayyu dan al-Qayyum mengandung sifat kesempurnaan seluruhnya. Keduanya ibarat dua kutub bagi seluruh langit sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada satu sifat pun yang keluar dari kedua sifat itu sama sekali.

Oleh karena itu, telah terdapat sebuah riwayat bahwa keduanya merupakan al-ismul a’zham, yaitu nama Allah Yang Mahaagung, yang apabila diminta dengan menyebut nama-Nya tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan memberi; apabila dimohon dengan menyebut nama-Nya, Ia akan mengijabahi.

Kedua nama yang agung ini mengandung seluruh sifat kesempurnaan karena kehidupan merupakan syarat untuk memiliki segala kesempurnaan dalam Dzat-Nya baik itu ilmu, kemampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kalam, dan seterusnya. Karena selain yang hidup tidak memiliki sifat-sifat; siapa saja yang sempurna kehidupannya, maka dia akan lebih sempurna pada tiap sifat yang kehidupan merupakan syarat bagi sifat tersebut. Adapun al-Qayyum, yang salah satu maknanya adalah yang banyak mengatur urusan makhluk-Nya yang tidak lalai dari mereka walaupun sesaat, hal itu berkonsekuensi kesempurnaan dan kelanggengan seluruh perbuatan-Nya. (Syarh Nuniyyah, 1/111—113)

Ar-Rabi rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum artinya Yang mengatur segala sesuatu, menjaganya, dan memberinya rezeki.”

Mujahid rahimahullah menafsirkannya dengan tafsir yang semakna.

Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum adalah Yang melakukan penjagaan terhadap segala sesuatu, pemberian rezeki, pengaturannya, pada apa yang dia kehendaki dan Dia sukai, baik perubahan, penggantian, penambahan, maupun pengurangan.” (Tafsir ath-Thabari)

Telah disebutkan bahwa kedua nama Allah, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum merupakan al-ismul a’zham, nama Allah ‘azza wa jalla yang teragung. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dikisahkan bahwa dahulu dia duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada seseorang yang shalat lalu berdoa,

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan mengimani bahwa milik-Mu segala pujian tiada sesembahan yang benar selain engkau al-Mannan, pencipta langit dan bumi, wahai yang memiliki keagungan dan kemurahan, wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menyebut nama-Nya yang terbesar yang bila diminta dengannya, Dia akan mengijabahi; dan bila dimohon dengannya, Dia akan memberi.” (Sahih, HR. Abu Dawud dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajari putrinya untuk berdoa dengan menyebut nama itu. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang kuwasiatkan kepadamu? Hendaknya kamu ucapkan bila masuk waktu pagi dan masuk waktu sore, ‘Wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku … Janganlah Engkau serahkan diriku padaku walaupun sekejap mata selamanya’.” (Hasan, HR. Ibnu Sunni dalam kitab Amal Yaum wal lailah dan al-Baihaqi dalam Asma’ wash-Shifat. Lihat ash-Shahihah no. 227 dan Shahihul Jami’ no. 10759)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktikkannya sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu juga,

Apabila tertimpa suatu urusan yang sulit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Wahai al-Hayyu dan al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Sunni lihat Shahilul Jami’ no. 8908 dan ash-Shahihah no. 3182)

Buah Mengimani Nama Allah Al-Qayyum

Di antara buah mengimani nama Allah al-Qayyum adalah mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dan keagungan-Nya, segala perbuatan-Nya dalam puncak kesempurnaan, segala sifat-Nya dalam puncak keindahan dan ketinggian. Allah ‘azza wa jalla tak penah lemah, tak pernah letih, tak pernah butuh, tak pernah istirahat, tak pernah lalai walau sesaat, tak penah kantuk, dan tak pernah tidur.

Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255)

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

Dia Maha Mencipta, Maha Memiliki, Maha Mengatur, Mahatahu, Mahamampu atas segala sesuatu, Mahaperkasa, Maha Mengawasi, Maha Memberi, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Takkan rugi dan takkan tersia-siakan siapa pun yang Rabbnya adalah Dia, yang selalu ia puja, ibadahi, mohon, tauhidkan, dan pasrahi segala urusannya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Merenungi Akibat Amal Saleh dan Akibat Maksiat (7)

 

Jurang

Renungan Ketujuh

Tak jarang, seseorang berpikir pendek ketika akan melakukan suatu perbuatan. Apalagi terdorong hawa nafsu, seolah ia menjadi buta karenanya. Yang penting tujuannya tersampaikan, meski kenikmatan sesaat. Ternyata perbuatan itu berbuntut panjang, penderitaan, kegelisahan, dan tanggung jawab di dunia ataupun akhirat.

Asy-Syaikh Abdurahman al-Mu’allimi mengatakan, “Seseorang hendaknya merenungi apa yang menjadi harapan bagi orang yang lebih mengutamakan kebenaran, yaitu keridhaan Rabb sekalian alam, bantuan-Nya yang bagus di dunia, dan kemenangan yang langgeng di akhirat.

Selain itu, renungi apa yang bakal diperoleh oleh seorang pengekor hawa nafsu, yaitu kemurkaan Allah ‘azza wa jalla, dan kemarahan-Nya di dunia, serta azab yang pedih di akhirat.”

Apakah orang yang berakal akan ridha dirinya membeli kelezatan mengikuti hawa nafsunya dengan (membayarkan) kebaikan bantuan Rabb sekalian alam, keridhaan-Nya, kedekatan kepada-Nya, serta kenikmatan yang besar di sisi-Nya? Siapkah ia menerima kemurkaan dan siksa-Nya yang pedih?

Tidak sepantasnya seseorang terjatuh pada keadaan seperti ini, walau orang yang paling dangkal akalnya sekalipun. Sama saja, apakah dia seorang yang beriman dan sangat yakin dengan akibat ini, atau yang menduga bahwa akibatnya akan begini, atau bahkan yang ragu sekalipun pada akibat tersebut dan keberadaannya.

Dua orang yang terakhir ini (saja) akan bersikap hati-hati.

Sebagaimana halnya jual beli tersebut pasti dilakukan oleh orang yang dikenal sebagai pengikut hawa nafsu, demikian pula akan dilakukan oleh orang yang lunak terhadap dirinya, tidak menegur dirinya, dan tidak berhati-hati.

Wallahul Muwaffiq.

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Tradisi Seputar Kelahiran

Bubur Merah Putih

Di antara tradisi yang masih tersisa di tengah-tengah masyarakat Jawa ialah tradisi terkait kelahiran. Semenjak jabang bayi masih dalam kandungan, kaum tradisionalis Jawa telah melakukan sebuah prosesi yang disebut dengan tingkeban. Prosesi ini dilakukan saat janin berada dalam kandungan berusia tujuh bulan. Setelah janin yang masih di dalam perut sang ibu mendekati kelahiran, ditunaikanlah upacara procotan. Tentunya, penunaian upacara ini diiringi maksud agar kelahiran bayi dilimpahi keselamatan. Selamat bagi sang ibu, juga selamat bagi sang bayi.

Bahkan, berkembang sebuah keyakinan pada sebagian masyarakat, apabila seseorang menghendaki keturunan laki-laki yang tampan rupawan, sang ibu didorong untuk senantiasa membaca Surat Yusuf. Apabila ia menghendaki keturunan perempuan yang cantik, dianjurkan membaca Surat Maryam. Entah, berawal dari mana keyakinan menyesatkan seperti ini mencuat pada sebagian masyarakat.

Pada tatanan masyarakat Jawa, peristiwa kelahiran adalah momentum yang sangat bernilai. Kehadiran seorang anak menjadi anugerah tiada terkira.Karena itu, perlakuan saat prosesi

kelahiran itu pun sangat penting bagi sebagian masyarakat Jawa. Brokohan, satu di antara tradisi kelahiran di seputar masyarakat Jawa. Brokohan, yang konon berasal dari kata berkah, adalah sebuah tradisi yang diselenggarakan saat jabang bayi telah hadir. Para tetangga diundang untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Bentuk tradisi lainnya, prosesi mengebumikan ari-ari. Tradisi ini disebut pula dengan aruman atau embing-embing (mbing-mbing). Bagi kaum tradisionalis Jawa, prosesi ini dilatari tumbuhnya keyakinan bahwa ari-ari adalah saudara bayi yang lahir. Karena itu, ia harus dirawat dan dijaga sebaik mungkin. Wujud perawatannya ialah ari-ari dimasukkan ke dalam kendil yang ditutup rapat bagian atasnya, lalu dibungkus dengan kain mori. Setelah itu, ari-ari beserta kendil yang telah terbungkus kain mori dikebumikan.

Menguburkan ari-ari ini pun tidak sembarangan. Pengebumian ari-ari diletakkan di sebelah kanan depan pintu masuk (rumah). Setelah ari-ari ditanam, di atasnya diletakkan lampu sebagai simbol pepadhang (penerang) bagi bayi, lalu dipagari dan ditutup agar ari-ari merasa terlindungi. Hal ini berlangsung hingga 35 hari.

Seiring dengan itu, upacara sepasaran dilangsungkan di rumah yang baru dikaruniai bayi. Sepasaran berarti: pon, wage, kliwon, legi dan pahing, yaitu nama hari-hari berdasar kalender Jawa. Acara sepasaran ditunaikan pada hari kelima dengan acara njagongan.

Prosesi berikutnya adalah puputan atau dhautan, yaitu saat terlepasnya tali pusar sang bayi. Saat usia bayi memasuki 35 hari diadakan upacara selapanan. Acara kenduri selapanan ini biasanya dengan mengundang para tetangga sebagai wujud syukur atas hadirnya sang jabang bayi.

Tak hanya sampai di sini. Ketika bayi ini mulai menapak tanah, di kalangan sebagian masyarakat Jawa diadakan lagi prosesi upacara yang disebut tedak siten. Tedak berarti turun, sedang siten berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Inilah di antara ritual yang masih mengental di sebagian masyarakat Jawa, terutama kaum tradisionalis yang masih bersikukuh dengan prosesi-prosesi tersebut.

Kembali Kepada Islam

Seorang muslim dituntut untuk mengamalkan ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang hamba Allah—manakala telah meyakini nilai-nilai Islam sebagai ajaran yang benar—ialah mewujudkannya dalam kehidupan seharihari. Keyakinan yang tidak diajarkan dan bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan. Sebab, pada diri seorang muslim harus terpateri sikap berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim harus menegakkan tauhid dan memberantas kesyirikan, menghidupkan sunnah dan meninggalkan kebid’ahan. Segenap tradisi peninggalan nenek moyang yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat harus dikubur. Tak selayaknya seorang muslim masih berkutat dengan nilainilai tradisi yang akan memudaratkan diri dan masyarakat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Demikianlah Allah memerintah hamba-Nya untuk meninggalkan segala ketentuan yang bertentangan dengan syariat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

“Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (al-Maidah: 48)

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang wajib diteladani dalam hal mengamalkan syariat. Saat Islam mulai didakwahkan, banyak tradisi nenek moyang yang berkembang di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. Satu di antara tradisi itu, tradisi minum arak. Setelah ayat yang mengharamkan minum khamr turun, maka secara massal minuman khamr dimusnahkan. Di jalanan minuman itu ditumpahkan. Setiap diri melakukan perubahan. Mengubah kebiasaan lama yang akrab dengan minuman memabukkan, kepada kebiasaan baru yang bebas khamr. Mereka tak merasa berat untuk meninggalkan kebiasaan yang telah mendarah daging. Semua ini karena taufik dari Allah.

Ketaatan para sahabat inilah yang patut diteladani. Mereka senantiasa menaati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

(al-Hasyr:7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, ia masuk surga. Dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh ia telah enggan.” ( HR . al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula tentunya dalam menyikapi berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat, terkhusus tradisi yang menyangkut kelahiran. Semuanya tentu harus dikembalikan kepada ajaran Islam. Apakah pelaksanaan kenduri, upacara, dan prosesi lainnya yang telah turun temurun itu tidak bertentangan dengan Islam? Sudah bebaskah segenap tradisi tadi dari keyakinan-keyakinan kesyirikan, kebid’ahan, dan hal yang bisa memudaratkan?

Islam adalah agama yang sempurna. Ajaran Islam meliputi semua sisi kehidupan masyarakat. Islam mengatur masalah kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, membina anak, mengatur kehidupan rumah tangga, jual-beli, hingga urusan pemerintahan. Ajaran Islam meliputi semuanya. Dalam masalah kelahiran seorang bayi, Islam menuntun umatnya agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara sifat syariat Islam adalah mudah untuk ditunaikan oleh pemeluknya. Tidak mempersulit dan membuat ribet. Simpel, praktis, dan terasa meringankan, tidak memberatkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah.” (Thaha: 2)

Firman-Nya,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan pada dua perkara, beliau memilih yang paling ringan untuk ditunaikan, selama (yang ringan itu) tidak menimbulkan dosa. Apabila bakal menimbulkan dosa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umat dari perkara tersebut. Dalam sebuah hadits dari Aisyah x disebutkan,

“Tiadalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan pada pilihan antara dua perkara kecuali beliau ambil yang lebih ringan (lebih mudah) selama tidak menimbulkan dosa. Apabila mengandung unsur dosa, beliau menjauhkan manusia darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“Permudahlah, jangan kalian persulit. Senangkanlah, jangan kalian (menjadikannya) lari menjauh.” ( HR . al-Bukhari no. 69)

Demikianlah sifat ajaran Islam. Begitu mudah. Begitu ringan. Di antara tuntunan Islam ketika menyambut kelahiran sang bayi ialah mengakikahinya, yaitu menyembelih kambing pada hari ketujuh, menggundul rambut kepada sang bayi, dan memberinya nama. Ini tergambar dari hadits sahabat mulia Samurah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya. Disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ketujuh, dicukur gundul (rambutnya kepalanya) dan dinamai (bayi itu dengan nama yang baik).” (HR . Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan selainnya. Lihat al- Irwa’ no. 1165)

 

Menyambut Kelahiran, MenyambutAmanat

Tentu, sebuah suka cita yang tiada terkira saat anak yang dinanti hadir di depan pelupuk mata. Kebahagiaan menggunung di hamparan kalbu, menyambut sang buah hati nan dinanti. Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang tak boleh dilalaikan. Kehadiran anggota baru dalam keluarga berarti memikulkan satu amanat besar pada pundak orang tuanya. Amanah untuk senantiasa menjaga fitrah sang anak yang telah disematkan padanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah . (Itulah) agama yang lurus.” (ar-Rum: 30)

 

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang anak yang dilahirkan melainkan (dilahirkan) dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR . al-Bukhari)

Jumhur ulama menyebutkan, yang dimaksud al-fitrah pada hadits di atas adalah Islam. Karena itu, keadaan agama pada diri seorang anak sangat dipengaruhi kedua orangtuanya.

Kata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, hak anak-anak itu banyak. Salah satu yang terpenting yang harus diberikan kepada seorang anak ialah pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang menumbuhkan agama dan akhlak pada jiwa anak hingga mereka tumbuh dewasa. Beliau rahimahullah menukil sebuah ayat,

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap diri kalian adalah penggembala (pemimpin) dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki (ayah) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR . al-Bukhari)

Maka dari itu, anak adalah amanat yang terpikul pada pundak kedua orang tua. Amanat itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Ketika kedua orang tua memberikan pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anaknya, maka kedua orang tua tersebut telah menunaikan amanatnya. Anak pun menjadi baik dan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya di dunia dan di akhirat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan mereka). Setiap orang terikat dengan apa yang telah dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah segenap amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan sepeninggalnya, dan anak salih yang mendoakan orang tuanya.” (HR . Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Terkait dengan hal itu, asy-Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, “Inilah buah dari mendidik anak (ta’dibul walad). Jika mendidik dengan pendidikan yang baik niscaya (anak) akan memberi manfaat bagi kedua orang tuanya walaupun keduanya telah meninggal dunia.”

Akan tetapi, setan tentu tak akan tinggal diam. Dia selalu berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam di mana pun mereka berada. Hal ini disebutkan oleh hadits ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu, “ Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, lantas para setan menggelincirkan mereka.” (HR . Muslim)

Setan beserta bala tentaranya terus menggempur keimanan hamba-hamba Allah. Dengan berbagai tipu daya, mereka senantiasa berupaya menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Mereka membisiki hati manusia untuk menolak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Mereka teguhkan hati sebagian manusia untuk membela dan mempertahankan tradisi-tradisi nenek moyang yang kental dengan aroma kesyirikan, kebid’ahan, dan kisahkisah khurafat. Kejahilan mereka menjadi salah satu perekat makin kokohnya cengkeraman setan.

Karena itu, marilah kita merujuk pada nilai-nilai Islam. Jangan berpaling dan mengambil nilai-nilai selain Islam. Kaum Yahudi dan Nasrani pun tak kalah sengitnya untuk menyusupkan ajaran-ajarannya ke dalam tubuh kaum muslimin. Dengan berbagai media yang mereka miliki, kaum muslimin dijejali dengan nilai kekufuran. Mereka berusaha memengaruhi kaum muslimin agar sebagian mereka merasa bangga apabila mengikuti cara pandang dan gaya hidup kaum Yahudi dan Nasrani. Wal ’iyadzu billah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh, kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian (seperti) sejajarnya bulu anak panah dengan bulu anak panah (lainnya), hingga seandainya mereka masuk lubang dhab (binatang spesies reptil), niscaya kalian akan masuk juga (mengikutinya).” Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau

bukan mereka).” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Di antara yang disusupkan ke dalam tubuh kaum muslimin terkait dengan kelahiran anak ialah membudayakan tradisi peringatan hari ulang tahun. Peringatan natal, yang maknanya memperingati hari kelahiran (dalam bahasa Arab: maulud), adalah termasuk kebiasaaan orang di luar Islam. Bahkan, hal itu dianggap sebagai sebuah tradisi yang bernilai ibadah. Peringatan semacam inilah yang dikembangkan di tengahtengah masyarakat. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Barang siapa menyerupai satu kaum, dia termasuk dari mereka (kaum tersebut).” (HR . Abu Dawud)

Saat menyambut kelahiran sang buah hati, seorang muslim yang baik tentu akan merujuk kepada apa yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan berupaya menjauhkan segala bentuk tradisi peninggalan nenek moyang yang telah turun temurun yang tak selaras dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita selalu. Amin.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Hukum Mengumandangkan Adzan di Telinga Bayi Saat Lahir

 

Adzan

Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu berkisah,

“Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan seperti azan untuk shalat di telinga al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fathimah.”

 

Seputar Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (6/9), Abu Dawud (5105), at-Tirmidzi, (1/286), al- Hakim (3/179), al-Baihaqi (9/305), dan Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (1/121/2). Seluruh jalur riwayat, madar-nya (pusat perputaran hadits) kembali kepada jalur Sufyan dari ‘Ashim dari Ubaidullah dari Abu Rafi’. (Irwa’ul Ghalil, 1173)

Artinya, masing-masing ulama di atas meriwayatkan hadits Abu Rafi’ ini di dalam kitab-kitab mereka dengan jalur berbeda-beda. Akan tetapi, jalur periwayatan tersebut kembalinya kepada Sufyan juga.

Siapakah Sufyan yang dimaksud? Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin ‘Uyainah sama-sama meriwayatkan hadits dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Akan tetapi, di dalam sanad ini yang dimaksud adalah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri.

Seputar Perawi Hadits

Dengan demikian, sanad hadits di atas yang perlu dibahas lebih mendetail adalah jalur Sufyan dari ‘Ashim dari Ubaidullah dari Abu Rafi’.

  • Abu Rafi’, sahabat yang meriwayatkan hadits di atas. Nama beliau diperselisihkan oleh ulama hadits. Ada yang mengatakan nama beliau Ibrahim, Aslam, Tsabit, dan ada pula yang berpendapat namanya Hurmuz. Abu Rafi’ termasuk maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Ubaidullah adalah putra Abu Rafi’. Beliau terhitung tabi’in yang meriwayatkan hadits dari para sahabat, di antaranya adalah ayahnya, Abu Hurairah, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Bahkan, beliau termasuk juru tulis Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau dinilai tsiqah oleh para ulama semisal Abu Hatim, al-Khathib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’d.
  • ‘Ashim bin Ubaidullah bin ‘Ashim bin Umar bin Khaththab al-‘Adawi al- Madani.

Sejumlah ulama menilai ‘Ashim sebagai perawi dha’if (lemah). Bahkan, al-Imam al-Bukhari dan Abu Hatim rahimahumallah menilai beliau munkarul hadits. Al-Imam an-Nasa’i rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui al-Imam Malik rahimahullah meriwayatkan hadits dari seorang perawi dha’if yang masyhur kedha’ifannya selain dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Al-Imam Malik rahimahullah meriwayatkan satu buah hadits darinya.”

  • Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Abu Abdillah al-Kufi.

Beliau digelari Amirul Mukminin dalam bidang hadits. Sebuah gelar kelas tinggi yang menunjukkan derajat dan kedudukan beliau di kalangan ahli hadits. Gelar tersebut disematkan untuk beliau oleh sekian banyak ulama, semacam Syu’bah, Sufyan bin Uyainah, Abu ‘Ashim, Yahya bin Ma’in, dan beberapa yang lain. (Tahdzibut Tahdzib, pada biografi masing-masing)

Derajat Hadits Abu Rafi’

Al-Imam Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits Abu Rafi’ di atas mengatakan, ”Hadits ini hasan sahih.”

Asy-Syaikh al-Albani (Irwa’ul Ghalil 1173) berkomentar, “Demikianlah pendapat beliau. Padahal, para ulama sepakat menghukumi ‘Ashim bin Ubaidillah dha’if. Penilaian tertinggi untuk ‘Ashim adalah la ba’sa bihi (tidak mengapa). Itu pun yang mengucapkannya al-‘Ijli, sementara beliau termasuk ulama mutasahilin (mudah menilai tsiqah).”

Oleh sebab itu , al-Hafizh menegaskan di dalam at-Taqrib tentang kedha’ifan ‘Ashim ini. Adz-Dzahabi juga menyebutkan ‘Ashim di dalam adh-Dhu’afa. Beliau mengatakan, “Al- Imam Malik rahimahullah dan yang lainnya mendha’ifkannya.”

Adz-Dzahabi rahimahullah juga mengomentari penilaian al-Hakim terhadap hadits ini “Sanadnya sahih”, dengan mengatakan, “Ashim adalah perawi dha’if.

Asy-Syaikh al-Albani sendiri semula menyatakan hadits Abu Rafi’ ini hasan (Irwa’ul Ghalil no. 1173). Akan tetapi, di kemudian hari beliau rujuk dan menyatakan hadits ini dha’if (Shahih al-Kalimit Thayyib hlm. 162 dan Silsilah Dha’ifah 6121)

Beliau mengatakan, “… Dahulu saya menyatakan hasan hadits Abu Rafi’ di dalam al-Irwa’ (4/400/1173). Sekarang—walhamdulillah—kitab as- Syu’ab karya al-Baihaqi telah dicetak. Di sana saya menemukan sanadnya dan telah jelas bagi saya kedudukannya yang sangat lemah. Oleh sebab itu, saya menyatakan rujuk dari menilai hadits tersebut hasan.

Hadits Abu Rafi’ pun kembali dha’if sebagaimana seharusnya dari sanad hadits. Hal ini hanyalah salah satu dari puluhan contoh yang membuat saya berpendapat bahwa ilmu itu tidak bersifat jumud (kaku). Saya akan tetap terus membahas dan melakukan penelitian sampai kematian mendatangi saya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Apakah sebelum asy-Syaikh al-Albani ada ulama hadits yang menyatakan hadits ini dha’if?

Ada. Al-Imam Ibnul Mulaqqin (al- Badrul Munir 9/348) menjelaskan, “Ibnu Hibban mengkritik ‘Ashim yang meriwayatkan hadits ini (hadits Abu Rafi’) dan hadits lainnya. Ibnul Qaththan juga menghukumi hadits ini mu’all (memiliki cacat) karena ‘Ashim. Bahkan, beliau mengatakan, ‘Sungguh, dia adalah dha’iful hadits, munkar, dan mudhtarib’.

Hadits ini juga disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah sebagai salah satu hadits munkar yang diriwayatkan oleh ‘Ashim. (Mizanul I’tidal 4/274)

Wallahu a’lam, kesimpulannya, hadits Abu Rafi’ adalah dha’if.

 

Pendapat Ulama dalam Masalah Ini

Sebagian kaum muslimin memang melakukan amalan azan di telinga bayi saat baru dilahirkan. Bahkan, ada anggapan jika bayi tidak diazani, setan akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Namun, seperti apakah pendapat para ulama dalam hal ini?

Fuqaha mazhab Syafi’i berpendapat bahwa dianjurkan azan di telinga bayi ketika lahir. Fuqaha mazhab Hanafi dan Hanbali juga berpendapat demikian.

Al-Imam Ibnu ‘Abidin rahimahullah (seorang ulama Hanafi) mengomentari pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Sebab, riwayat sahih (hadits Abu Rafi’) yang tidak bertabrakan dengan dalil lain menjadi sebuah mazhab bagi seorang mujtahid, meskipun ia sendiri tidak menyatakan dengan tegas.”

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (seorang ulama Hanbali) mengatakan,

“Sebagian ulama mengatakan disunnahkan bagi orang tua untuk mengumandangkan azan di telinga anaknya ketika baru lahir.” Setelah itu Ibnu Qudamah membawakan hadits Abu Rafi’. (al-Mughni 13/401, Mausu’ah Kuwaitiyah 2/373)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah juga menyebutkan hadits Abu Rafi’ di atas di dalam kitab beliau al-Adzkar. Setelah itu beliau mengatakan, “Sejumlah ulama dari mazhab kami (Syafi’i) berpendapat disunnahkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.”

Hadits Abu Rafi’ di atas juga disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab al-Kalimuth Thayyib dan Ibnul Qayyim di dalam kitab Tuhfatul Maudud. Bahkan, Ibnul

Qayyim rahimahullah membuat judul untuk hadits ini, “Disunnahkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.”

Jika kita memerhatikan lebih cermat dan teliti, setiap ulama yang berpendapat azan di telinga bayi ketika lahir hukumnya sunnah pasti berdalil dan beralasan dengan hadits Abu Rafi’ di atas. Padahal, kita telah membaca bersama kesimpulan bahwa hadits Abu Rafi’ adalah hadits yang dha’if.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad (Syarah Sunan Abi Dawud 5105) menyimpulkan, “Jika di dalam pembahasan atau bab ini (azan di telinga bayi) tidak ada hadits kecuali hadits Abu Rafi’ ini—sementara di dalam sanadnya terdapat seorang perawi dha’if yaitu ‘Ashim bin Ubaidillah—tidak ada satu pun dalil yang bisa digunakan sebagai hujah dalam masalah ini.”

Apakah beliau memiliki salaf dalam pendapat ini?

Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa azan di telinga bayi ketika lahir hukumnya makruh. Bahkan, beliau menilainya sebagai perbuatan bid’ah. (Mausu’ah Kuwaitiyah 2/373)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (Liqa Bab Maftuh) juga menilai hadits Abu Rafi’ dhaif.

Mungkinkah Ulama Berpendapat dengan Hadits Dha’if?

Terkadang muncul pertanyaan, “Jika memang hadits Abu Rafi’ dha’if, mengapa bisa ulama sebanyak itu berpendapat sunnahnya azan di telinga bayi dan berhujah dengan hadits Abu Rafi’?”

Hal semacam ini sangat mungkin terjadi. Orang yang mempelajari dan mendalami disiplin ilmu fikih pasti sering menemukan contoh semacam ini. Terkadang seorang ulama memegang pendapat yang bertentangan dengan hadits sahih karena hadits sahih itu belum sampai kepadanya. Ada pula seorang ulama berpendapat dengan hadits dha’if disebabkan tidak mengetahui sisi dha’ifnya. Jelasnya, ilmu Allah radhiallahu ‘anhuma yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita sangatlah luas, sementara yang kita ketahui hanya sedikit.

Setelah menjelaskan kelemahan hadits Abu Rafi’, al-Mubarakfuri (Tuhfatul Ahwadzi 1514) mengatakan, “Bagaimana mungkin amalan ulama berdasarkan hadits ini, sementara hadits ini dha’if? Saya menjawab, benar. Hadits ini memang dha’if. Akan tetapi, menjadi kuat dengan hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Maushili dan Ibnu as-Sunni.”

Barangkali, inilah sebabnya mengapa para ulama berdalil dengan hadits Abu Rafi’. Sebab, ada beberapa riwayat yang dianggap bisa mendukung dan memperkuat hadits Abu Rafi’.

Adakah Hadits Lain yang Menguatkan Hadits Abu Rafi’?

Sebagian ulama yang berhujah dengan hadits Abu Rafi’ menyebutkan dua hadits lain untuk menguatkan dan mendukung hadits Abu Rafi’. Bagaimanakah derajat kedua hadits tersebut?

  1. Hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, dikeluarkan oleh Abu Ya’la di dalam al-Musnad (4/1602), Ibnus Sunni di dalam ‘Amalul Yaum (200/617), dan Ibnu ‘Asakir (16/182/2). Semuanya melalui jalur Yahya bin al-‘Ala ar-Razi, dari Marwan bin Salim, dari Thalhah bin Ubaidillah al-‘Uqaili, dari al-Husain bin Ali. Lafadz hadits al-Husain radhiallahu ‘anhu,

“Barang siapa lahir anaknya lalu ia mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, Ummu as-Shibyan (setan) tidak akan memudaratkannya.”

Asy-Syaikh al-Albani menilai, “Sanad hadits ini maudhu’ (palsu). Yahya bin al-‘Ala dan Marwan bin Salim adalah pemalsu hadits.”

  1. Hadits Ibnu Abbas, dikeluarkan oleh al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman (no. 8620) melalui jalur Muhammad bin Yunus, dari al-Hasan bin ‘Amr bin Saif as-Sadusi, dari al-Qasim bin Muthayyib, dari Manshur bin Shafiyyah, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan untuk al-Hasan bin Ali saat lahir. Beliau azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.”

Akan tetapi, di dalam sanad hadits ini pun terdapat dua perawi pemalsu hadits, yaitu al-Hasan bin ‘Amr dan Muhammad bin Yunus. Jadi, hadits ini pun derajatnya maudhu’ (palsu). (Silsilah adh-Dha’ifah no. 312 dan 6121)

Jelaslah sudah bahwa hadits Abu Rafi’ tetap dihukumi dha’if. Sebab, dua hadits yang disebutkan sebagai penguat malah lebih parah lagi derajatnya. Kedua hadits tersebut sama-sama palsu.

Wallahu a’lam.

 

Bagaimanakah Seharusnya?

Sebagian kalangan bersikukuh melakukan amalan ini. Alasannya, setan akan lari terbirit-birit ketika mendengar azan. Memang benar, ada sebuah hadits yang menunjukkan hal itu (hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389). Hanya saja, azan yang dimaksud adalah azan syar’i yang berlandaskan hadits sahih. Padahal, kita telah membaca bersama bahwa hadits azan untuk bayi lahir adalah dha’if.

Ada juga yang beralasan ingin memperdengarkan kalimat-kalimat baik untuk pertama kali di pendengaran bayi. Hanya saja, Islam mendidik dan membimbing kita untuk beramal dan beribadah berdasarkan hujah dan dalil yang kuat. Adakah hujah yang kuat untuk mengumandangkan azan di telinga bayi? Lagi pula, apakah bayi tersebut memang benar-benar bisa mendengar azan?

Bahkan, ada yang beralasan dengan tindakan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang melakukan amalan ini. Jawabannya, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (at-Talkhis al-Habir) menyatakan, “(Pertama) saya tidak melihatnya musnad (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kedua, seandainya pun benar Umar bin Abdul Aziz rahimahullah melakukannya, tidaklah bisa diterima sebagai hujah. Sebab, ibadah harus berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Berdasarkan sedikit keterangan di atas, kita menyatakan bahwa azan di telinga bayi ketika lahir tidaklah dituntunkan oleh Islam. Sebab, tidak ditemukan dalil dan hujah yang bisa dijadikan sebagai landasan beramal.

Kita masih bisa memaklumi sebagian kaum muslimin yang masih melakukan amalan ini. Barangkali mereka belum mengetahui bahwa hadits yang dijadikan landasan adalah hadits lemah. Maka dari itu, tugas kita ialah menjelaskannya. Masalahnya, setelah seorang muslim mengetahui hadits dalam hal ini lemah, atas dasar apa ia tetap melakukannya?

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Kabar Gembira bagi Orang Tua

 

12375

Ar-Rahmah adalah salah satu sifat Allah ‘azza wa jalla yang mulia, sempurna, dan terkandung dua nama dari nama-nama-Nya yang husna, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat rahmah-Nya sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya yang ada di langit dan di bumi. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya,

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf: 156)

Para malaikat yang bertugas memikul Arsy-Nya dan yang ada di sekitarnya senantiasa pun memohon kepada-Nya agar senantiasa meluaskan rahmat-Nya.

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa ‘Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu’ maksudnya meliputi alam yang tinggi dan yang rendah, yang baik dan yang jahat, yang beriman dan yang kafir, Jadi, tidak ada satu makhluk pun kecuali benar-benar telah mendapatkan rahmat, karunia, keutamaan, dan kebaikan-Nya.

Namun, rahmat (kasih sayang) yang khusus, yang membuat seorang hamba mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, belum pasti didapatkan oleh setiap makhluk. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang siapa yang berhak mendapatkan rahmat yang khusus itu dalam firman-Nya, ‘… maka Aku tetapkan rahmat (yang khusus itu) bagi hamba-hamba yang bertakwa.’

Yaitu orang-orang yang bertakwa, yang takut terhadap berbagai kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar. (Tafsir as-Sa’di)

Itulah rahasia yang terkandung dalam firman-Nya,

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzab:43)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan firman Allah, “Dia Maha Penyayang hanya kepada orang-orang yang beriman,” yaitu di dunia dan di akhirat. Kasih sayang-Nya di dunia terwujud dengan Dia ‘azza wa jalla menunjuki mereka kepada al-haq (kebenaran) yang tidak diketahui oleh selain mereka. Dia menjadikan mereka melihat jalan yang lurus dengan mata hati mereka. Adapun orang-orang selain mereka menyimpang dan tersesat, baik kalangan dai yang mengajak kepada kekafiran atau kebid’ahan maupun para pengikutnya.

Adapun kasih sayang-Nya bagi mereka di akhirat, Allah ‘azza wa jalla akan melimpahkan keamanan dari rasa takut yang dahsyat sekaligus memerintah para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan kesuksesan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka. Namun, hal itu tidak mungkin didapatkan kecuali karena kecintaan dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla terhadap mereka. (Tafsir Ibnu Katsir)

Kabar Gembira bagi Mereka

Di antara bukti kasih sayang Allah ‘azza wa jalla terhadap para hamba-Nya yang bertakwa dan bersabar menghadapi berbagai problem kehidupan mereka di dunia adalah kabar gembira bagi mereka dalam rangka membesarkan hati mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya.” (at-Taubah: 21)

Allah mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada para hamba-Nya yang istiqamah di atas jalan-Nya.

“Dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

Dzat Yang Maha Penyayang memerintah Rasul-Nya untuk memberikan kabar gembira kepada para hamba-Nya yang senantiasa sabar dengan berbagai macam musibah yang menimpanya.

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah bersama orangorang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kesimpulannya, kabar gembira itu bisa terjadi pada urusan dunia dan akhirat. Maka dari itu, selayaknya seseorang senantiasa optimis dan senang dengan kebaikan, serta tidak melihat dunia yang ada di hadapannya dengan pandangan masam dan gelap hingga patah semangat dan putus asa.

Apabila dia berhasil mendapatkan kebaikan, dia mendapat ucapan selamat. Adapun kabar gembira dengan kebaikan yang dia akan dapatkan, maka berilah kabar gembira suadaramu! Jadikanlah senang hatinya! Kalau engkau melihat seseorang sedang berduka, seakan-akan dunia sempit baginya karena berbagai ujian dan cobaan yang menimpanya, sampaikanlah kepadanya untuk berbahagia dengan jalan keluar (yang sudah dekat).

Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Yakinilah, pertolongan itu (akan didapat) bersama kesabaran, jalan keluar itu bersama kesusahan, dan kemudahan itu (akan datang) bersama kesulitan.” (HR. Ahmad)

 

Tiga Golongan yang Diuji dengan Anak

  1. Orang yang Belum/Tidak Dikaruniai Anak dari Perkawinannya

Allah ‘azza wa jalla lah yang menciptakan seluruh alam semesta ini. Dia pula yang berkuasa menjadikan apa saja yang Dia kehendaki. Dia berfirman,

“Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 50)

Pasangan suami istri yang belum dikaruniai atau tidak mendapatkan anak dari perkawinannya, kami nasihatkan untuk:

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan mengembalikan hal itu kepada-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 2-3)

  1. Boleh melakukan usaha-usaha medis, terapi, dan yang lainnya, sebagai upaya mendapatkan keturunan selama cara-cara tersebut tidak dilarang oleh agama dan disertai doa, karena Dia adalah Maha Pencipta. Allah ‘azza wa jalla menceritakan upaya Nabi Zakaria ‘alaihissalam mendapatkan keturunan di awal surat Maryam.

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra.” (Maryam: 2-5)

  1. Kasih sayang pasangan suami istri yang belum atau tidak dikaruniai keturunan bisa dicurahkan kepada anak yatim yang dipeliharanya atau anak asuh yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, mereka tidak boleh mengadopsi dengan menisbatkan nasab anak itu kepada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan keutamaan memelihara anak-anak yatim baik dari kerabat dekat maupun bukan, dalam sabdanya,

“Penanggung jawab anak yatimyang memiliki hubungan kekerabatan atau tidakkedudukannya di surga antara aku dan dia sangat dekat, seperti jari telunjuk dengan jari tengah.” Perawi hadits ini, yaitu Malik bin Anas rahimahullah, mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menisbatkan nasab kepada selain bapak kandungnya dalam sabdanya,

“Barang siapa mengaku-aku nasab kepada orang yang bukan bapaknya padahal dia tahu bahwa orang tersebut bukan bapaknya, haram baginya surga.” (Muttafaqun alaih)

2 . Orang-orang yang mendapatkan keturunan sedikit/banyak dari perkawinannya, baik laki-laki saja, perempuan saja, maupun keduanya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya).” (asy-Syura: 49—50)

Lahirnya keturunan adalah salah satu tujuan mulia di dalam pernikahan. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepada kaum pria untuk menikahi wanita subur yang memiliki potensi mempunyai anak. Beliau bersabda,

“Nikahilah wanita yang penyayang, yang berpotensi punya anak (subur), karena aku sungguh berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di antara para nabi nanti pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Adab az-Zifaf hlm. 16)

Dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, seorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintai seorang wanita yang memiliki nasab dan cantik, hanya saja dia tidak bisa punya anak. Apakah aku boleh menikahinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan!”

Dia datang lagi untuk kedua kalinya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Kemudian dia datang lagi ketiga kalinya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang semakna dengan hadits di atas. (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Nasihat bagi orang tua yang dikaruniai anak, sedikit atau banyak, adalah sebagai berikut.

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, takwa adalah modal utama untuk menghadapi berbagai problem kehidupan, terutama dalam hal menunaikan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Dengan takwa, semua urusan menjadi mudah sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

  1. Sabar dan ikhlas menunaikan tanggung jawabnya terhadap mereka, terutama tanggung jawab tarbiyah (mendidik) dan memberikan nafkah, karena hal itu termasuk cobaan baginya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya hartamu dan anakanakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya yang beriman untuk mentarbiyah diri, keluarga, dan anak-anaknya.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada siapa saja yang senantiasa memerhatikan dan menunaikan kewajiban ini di dalam sabdanya,

“Terus-menerus ujian dan cobaan akan dihadapi orang mukmin ataupun mukminah baik yang berkaitan dengan dirinya, anaknya, maupun hartanya sampai dia bertemu dengan Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan tidak ada dosa pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5815)

Terlebih lagi mendidik anak-anak perempuan, karena lemahnya mereka dan susahnya menjaga agama maupun kehormatan mereka di zaman sekarang ini . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira di dalam sabda-Nya,

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan dan dia berbuat baik kepada mereka, pada hari kiamat nanti mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

  1. Senantiasa memohon pertolongan Allah ‘azza wa jalla dalam menunaikan tanggung jawab yang berat ini.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semangatlah kamu untuk mendapatkan segala sesuatu yang akan bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan jangan malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Orang-orang yang dikaruniai anak, tetapi sebagian atau seluruhnya meninggal, khususnya sebelum baligh.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna,

“Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kamu kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah dia ketahui.” (al-Hajj: 5)

Nasihat dan kabar gembira bagi mereka adalah sebagai berikut.

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (ath-Thalaq: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati seorang wanita yang anaknya meninggal,

“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” (Muttafaqun alaih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

  1. Bersabar dan mengharapkan pahala Allah ‘azza wa jalla dari musibah itu. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku tidak memiliki balasan bagi hamba-Ku yang mukmin apabila Aku mengambil kekasihnya (orang yang dicintai) dari penduduk dunia lalu dia mengharapkan balasan dengannya kecuali surga’.” (HR. al-Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita (muslimah) mana saja yang tiga anaknya mati, maka mereka akan menjadi tameng bagi orang tuanya dari api neraka.” Ada seorang wanita bertanya, “Kalau dua anak?” Beliau menjawab, “Dua anak juga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah dua orang muslim (suami istri) yang meninggal tiga anak yang lahir dari tulang sulbinya dan mereka belum baligh kecuali Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka dan kedua orang tuanya ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mereka (anak-anak itu) masih menunggu di salah satu pintu surga kemudian mereka diperintah, ‘Masuklah kalian ke surga.’ Mereka berkata, ‘(Kami akan menunggu) sampai bapak ibu kami datang.’ Kemudian dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian dan kedua orang tua kalian ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat Allah ‘azza wa jalla’.” (HR. an-Nasa’i dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hlm. 34)

Akhirnya, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa bersabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan dalam kehidupan dunia ini, terkhusus dalam rumah tangga. Semoga Allah menjadikan semuanya sebagai penghapus dosa-dosa kita sehingga kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Manusia Berharap, Allah yang Menentukan

Manusia Hamba yang Terhormat

Manusia adalah makhluk Allah ‘azza wa jalla yang paling terhormat di muka bumi ini karena Allah ‘azza wa jalla mengangkat martabat mereka serta memosisikan pada tempat yang tinggi dan terhormat di hadapan makhluk yang lain, memuji dan menyanjung mereka dalam banyak kesempatan. Merekalah yang telah dinobatkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk mengurus urusan dunia ini di hadapan para malaikat.

“Dan ingatlah di saat Rabbmu berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi’.” (al-Baqarah: 30)

Para malaikat dengan keterbatasan ilmunya tentang manusia seraya berkata,

“Apakah Engkau akan menjadikan di atasnya orang yang akan melakukan perusakan dan melakukan pertumpahan darah?” (al-Baqarah: 30)

Ini adalah batas ilmu para malaikat tentang manusia yang akan diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, dan mereka bermaksud menyucikan dan mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dari hal seperti itu. Mereka memberitakan bahwa mereka adalah makhluk yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan bebas dari perbuatan merusak, dan mereka mengatakan,

Dan kami menyucikan dengan memuji Engkau dan membersihkan Engkau.(al-Baqarah: 30)

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui makhluk manusia, lahiriah dan batiniah mereka. Allah Maha Mengetahui kebaikan yang berlipat ganda dalam penciptaan manusia dibanding dengan kekhawatiran para malaikat atas kejelekan yang akan muncul dari mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak mengetahuinya.(al-Baqarah: 30)

Menjadi makhluk yang terhormat tidak otomatis menjadi yang termulia di sisi Allah ‘azza wa jalla karena jati dirinya sebagai manusia. Akan tetapi, kemuliaan itu akan diperoleh di saat manusia itu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan beramal saleh.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (al-Bayyinah: 7)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan al-Qur’an ini suatu kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain.” (HR. Muslim no. 1353 dari sahabat Umar Ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengangkat derajat seorang hamba sesuai dengan berpegang teguhnya dia dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

 

Kebanyakan Manusia Memilih Kerendahan dan Kehinaan

Itulah realita yang dijelaskan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam as-Sunnah, mayoritas manusia memilih kerendahan dan kehinaan di dalam hidup. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba- Ku yang berterima kasih.” (Saba’: 13)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” (Shad: 24)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, dan semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-Jamaah.” (HR. Ibnu Majah no. 3993)

Maka dari itu, jangan heran bila kita sulit untuk mendapatkan yang satu tersebut di tengah umat ini. Jangan heran apabila seseorang dengan gampang dan mudah tersesat jalannya di dalam beragama. Kalaulah bukan karena taufik dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla, niscaya seseorang tidak akan bertemu dan berjumpa dengan satu golongan yang selamat tersebut.

Urusan Manusia Segalanya di Tangan Allah ‘azza wa jalla

Sering sekali manusia ini mengungkapkan penolakan atas segala yang berlangsung di dalam hidup mereka, lebih-lebih bila terjadi apa yang tidak sesuai dengan harapannya. Banyak yang akan dijadikan kambing hitam, dijadikan tumpuan kesalahan, tentunya dengan mengangkat dan membersihkan dirinya bahwa bukan dia yang salah dan keliru.

Manusia seringnya berangan-angan dan bercita-cita bahkan menggantungnya setinggi langit, angan-angan pada sesuatu yang dia tidak berilmu tentangnya dan setelah itu memastikan dirinya untuk bisa menggapai segala yang dicita-citakan.

Dengan menutup mata bahwa semua perjalanan hidup yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, ada dalam ilmu dan pengaturan Allah ‘azza wa jalla. Dia menyadari bahwa banyak peristiwa di luar dugaan dan di luar batas daya pikirnya, terjadi dengan spontan dan tanpa pendahuluan. Tentu saja, orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla akan menerima segala peristiwa di dalam hidupnya dengan lapang dada dan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam,

Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thaha: 52)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Rabbku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Saba’: 2—3)

 

Manusia Memiliki Kehendak, Allah ‘azza wa jalla Berkehendak

Termasuk prinsip Ahlus Sunnah adalah manusia memiliki kehendak dan kehendak mereka di bawah kehendak Allah ‘azza wa jalla. Prinsip ini membantah dua bentuk keyakinan sesat dan paham berbahaya:

  1. Keyakinan bahwa manusia memiliki kehendak mutlak, sanggup mewujudkan semua kehendaknya tanpa terkait dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. Paham dan keyakinan ini diusung dan diproklamirkan oleh kaum Qadariyah.
  2. Keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kehendak sedikit pun dan mereka berada dalam keterpaksaan untuk berbuat segala-galanya di dalam hidup ini dan semuanya karena kehendak Allah ‘azza wa jalla. Apabila Allah ‘azza wa jalla menyiksa manusia karena dipaksa—dalam pandangan mereka—Allah ‘azza wa jalla telah berbuat zalim atas mereka. Paham ini diusung dan disuarakan oleh kaum Jabriyah.

Mari kita menyimak apa kata Rabb kita di dalam masalah ini.

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al- Insan: 30)

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 29)

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orangorang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-An’am: 111)

Dalil-dalil di atas menjelaskan bahwa, segala apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla pasti terjadi. Sebaliknya, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak mungkin terjadi, dan bagaimana mungkin terjadi dalam kekuasaan-Nya apa yang tidak dikehendaki. Kalau demikian siapa lagi yang paling sesat dan paling kufur dari seseorang yang menganggap Allah ‘azza wa jalla menghendaki keimanan dari seorang kafir sementara si kafir menginginkan kekufuran, lalu kehendak sang kafir mengalahkan kehendak Allah ‘azza wa jalla, Mahatinggi Allah ‘azza wa jalla dari apa yang mereka katakan.” (Syarah Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil ‘Izzi hlm. 161)

Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Salamah al-Azdi al- Hajari al-Mishri ath-Thahawi al-Hanafi dalam Aqidah Thahawiyyah berkata,

“Segala sesuatu terjadi dalam ketentuan takdir dan kehendak Allah ‘azza wa jalla, dan kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tidaklah terlaksana kehendak hamba kecuali apa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki buat mereka, sehingga apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla buat mereka pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.”

 

Jujur dalam Menggantungkan Harapan kepada Allah ‘azza wa jalla

Seringkali manusia berharap akan sebuah karunia Allah ‘azza wa jalla, namun sangat sedikit dari mereka yang mau menyambut panggilan Allah ‘azza wa jalla. Manusia juga sangat gampang dan mudah melupakan Dzat yang telah memberinya nikmat. Mudah berkeluh kesah di dalam hidup. Apabila Allah ‘azza wa jalla tidak memberikannya atau belum menganugerahkan kepadanya apa yang diharapkan, ia tampakkan kekufuran dan kekafiran.

Sebaliknya, bila Allah ‘azza wa jalla memberikan apa yang dimintanya dia justru menyombongkan diri, sehingga tidak sedikit dari mereka melontarkan ungkapan-ungkapan keangkuhan seperti; ‘Ini karena ilmu dan keahlian saya’, ‘Ini karena keturunan saya’, ‘Ini memang kesuksesan yang sudah turun-temurun’, ‘Ini karena strategi-strategi saya yang tepat dan jitu’, ‘Ini karena anak buah saya yang handal dan berpengalaman’, ‘Ini karena kemuliaan saya, maka pantas saya mendapatkannya’, dan sebagainya.

Dia tidak merasa jika semuanya ini datang dari Allah ‘azza wa jalla yang menuntutnya untuk bersyukur bila menyenangkan dan sabar bila tidak sesuai dengan harapan.

“Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. Jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (asy-Syura: 48)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa apabila dia mendapatkan nikmat, dia menjadi jahat dan sombong dan bila dia diuji, dia berputus asa, sebagaimana ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum wanita,

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian! Sebab, aku benar-benar melihat kebanyakan kalian penghuni neraka.”

Seorang wanita bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian itu banyak mengeluh dan jelek pergaulan (bersama suami kalian) dan jika kamu (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang tahun, lalu suatu hari kamu meninggalkan kebaikan itu, wanita itu berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Muslim no. 79, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dan pada no. 80 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah kondisi kebanyakan orang, kecuali yang telah mendapatkan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla dan mendapatkan bimbingan-Nya, serta termasuk golongan orangorang yang beriman dan beramal saleh.

Orang yang beriman itu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Bila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan bila menimpanya sesuatu yang menyedihkan, dia bersabar. Itu adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak didapatkan selain oleh orang yang beriman’.” (HR. Muslim no. 299 dari sahabat Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/121.

Berharap Keturunan, Allah ‘azza wa jalla yang Menentukan dan Memutuskan

Allah ‘azza wa jalla bercerita tentang para nabi dan rasul serta orang-orang saleh di dalam al-Qur’an bahwa mereka sangat berharap untuk mendapatkan keturunan yang baik dan beberkah. Seperti di dalam firman-Nya,

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.” (ash-Shaffat: 100)

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa para nabi dan rasul serta orangorang saleh mengharapkan keturunan yang baik di dalam hidup. Mereka menggantungkan harapannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Karena tidak ada sesuatu yang sulit bagi Allah ‘azza wa jalla jika mengatakan kun (jadilah) maka akan terjadi apa yang diinginkan-Nya. Walaupun hal itu dalam catatan ilmu manusia tidak mungkin terjadi.

Allah ‘azza wa jalla yang memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberi siapa yang diinginkan-Nya, tidak ada yang sanggup menghalangi bila Dia akan memberi dan tidak ada yang akan sanggup untuk memberi, bila Allah ‘azza wa jalla menghalanginya. Allah ‘azza wa jalla-lah yang akan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berkuasa atas mereka serta Dia Allah ‘azza wa jalla memutuskan di atas ilmu dan keadilan-Nya.
Dia Allah ‘azza wa jalla yang akan memberi keturunan kepada seseorang dan tidak memberinya kepada yang lain. Menjadikan seseorang wanita itu subur dan tidak subur bahkan menjadikan seseorang itu mandul. Menganugerahkan hanya anak-anak wanita kepada seseorang, seperti anugerah-Nya kepada Nabi Luth ‘alaihissalam, atau semuanya lelaki seperti anugerah-Nya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, atau memberinya keturunan laki-laki dan wanita seperti anugerah-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ‘azza wa jalla pula yang tidak menganugerahkan keturunan seperti kepada Nabi Yahya dan Nabi Isa ‘alaihimassalam.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam firman-Nya,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 49-50)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Melaksanakan Akikah

Akikah secara bahasa berasal dari kata yang berarti memotong. Adapun secara istilah agama, akikah adalah binatang yang disembelih karena lahirnya anak, baik laki-laki maupun perempuan. (asy-Syarhul Mumti’ 7/317 cet. al-Maktabah at-Taufiqiyyah)

Akikah punya sebutan lain, yaitu nasikah atau dzabihah yang berarti sembelihan. Tiga sebutan ini ditetapkan oleh syariat sehingga tidak pantas hanya dimasyhurkan (memakai) salah satunya dan yang lain ditinggalkan. (Tuhfatul Maudud hlm. 37)

Hukum Mengakikahi Bayi

Berdasarkan dalil-dalil yang kuat, akikah disyariatkan. Hanya saja telah terjadi perbedaan pendapat di antara ulama tentang wajib dan tidaknya.

  1. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa akikah hukumnya sunnah.

Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa suka / ingin menasikahi/mengakikahi anaknya, hendaklah menasikahinya. Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing.” (Hasan, HR. Abu Dawud, an-Nasai, dan selain keduanya)

Segi pendalilan dari hadits ini, masalah mengakikahi bayi diserahkan kepada keinginan orang tuanya sehingga menunjukkan bahwa hal itu tidak wajib. Mereka juga berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan kepada Fatimah radhiallahu ‘anha ketika melahirkan al-Hasan radhiallahu ‘anhu,

“Jangan kamu mengakikahinya, tetapi gundullah rambut kepalanya….” (Hasan, HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad 6/390—392, al-Baihaqi dalam al- Kubra 9/299, dan ath-Thabarani dalam al-Kabir)

  1. Ulama yang lain mengatakan bahwa akikah itu wajib. Di antara mereka adalah Buraidah al-Aslami, al-Hasan al-Bashri, al-Laits bin Sa’d, Dawud azh- Zhahiri, dan Ibnu Hazm rahimahumullah. Landasan pendapat ini adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakikahi anak, dan perintah pada dasarnya menunjukkan wajib.

Di antara dalil pendapat ini adalah:

  1. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk (mengakikahi) anak laki-laki dengan dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing. (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1513)
  2. Hadits Salman bin ‘Amr adh- Dhabbi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersama anak laki-laki ada akikahnya, maka alirkanlah darah (sembelihan binatang) baginya dan singkirkanlah darinya kotoran (yakni dengan menggundul rambut kepala bayi).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1515 dan Shahih Ibnu Majah no. 3164)

Para ulama yang mengatakan wajib telah menjawab argumentasi para ulama yang mengatakan sunnah. Di antara sanggahan mereka:

  1. Hadits yang menyebutkan,

“Barang siapa ingin/suka menasikahi/ mengakikahi anaknya….” bukanlah dalil yang memalingkan hukum wajibnya akikah menjadi sunnah. Sebab, lafadz ini serupa dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (at-Takwir: 28)

Apakah mencari jalan yang lurus (istiqamah) hukumnya hanya sunnah? Tentu tidak demikian, hukumnya wajib sebagaimana diketahui dari dalil-dalil yang lain.

  1. Adapun hadits Fathimah radhiallahu ‘anha

yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Fathimah radhiallahu ‘anha mengakikahi anaknya, sebabnya ialah karena anaknya telah diakikahi oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah disebutkan oleh hadits yang lain, sehingga tidak perlu diakikahi lagi.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakikahi (bayi) adalah wajib, seperti telah kami sebutkan. Tidak halal bagi seorang untuk menafsirkan suatu perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa hal itu boleh ditinggalkan, kecuali dengan adanya nash (dalil) yang lain tentang hal itu….” (al-Muhalla 7/526)

Argumentasi kedua pendapat di atas masih banyak dan tidak mungkin ditampilkan secara panjang lebar di ruang yang terbatas ini. Pembaca kami persilakan melihat kitab Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim dan Ahkamul Maulud fis-Sunnah al-Muthahharah karya Salim asy-Syibli dan Muhammad ar-Rabah.

Pendapat yang mengatakan akikah hukumnya wajib itu lebih kuat. Oleh karena itu, seorang muslim—meskipun mengikuti pendapat yang mengatakan sunnah—tidak pantas meninggalkan perintah akikah ini selagi ia mampu. Hal ini demi mewujudkan sikap ittiba’ (mengikut) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Namun, apabila seseorang tidak mampu mengakikahi anaknya karena keterbatasan dana misalnya, tidak mengapa dia tidak mengakikahi anaknya. Hal ini berlandaskan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

Ketentuan Binatang yang Disembelih Untuk Nasikah

Akikah tidak sah kecuali dengan kambing, baik kambing domba atau kambing kacang. Hal ini berlandaskan beberapa riwayat, di antaranya hadits,

“Bagi anak laki-laki (akikah) dua kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu kambing.” (HR. at- Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Maksud “yang sepadan” adalah sepadan dari sisi umur dan bagusnya. (Faidhul Qadir dan Nailul Authar 5/158)

Terdapat atsar bahwa ketika lahir anak laki-laki Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq maka dikatakan kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ummul mukminin, “Akikahilah ia dengan (menyembelih) unta!” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, (seperti) apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan (yaitu) dua kambing yang sepadan.” (HR. ath- Thahawi dan al-Baihaqi. Asy-Syaikhal-Albani berkata dalam al-Irwa’ bahwa sanadnya hasan 4/390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Menurut saya, tidak sah akikah selain dengan kambing.” (Fathul Bari 9/593)

Adapun atsar yang datang dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa ia mengakikahi anaknya dengan unta, atsar ini memang sahih, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan ath-Thabarani dalam al-Kabir. Akan tetapi, sahabat Anas radhiallahu ‘anhu di sini tidak menyebutkan apakah itu adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ucapannya atau bukan. Jika demikian, kita mengambil yang jelas dari ucapan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu akikah dengan menyembelih kambing.

Adapun hadits riwayat ath- Thabarani (yang artinya), “Barang siapa dianugerahi anak laki-laki hendaklah ia mengakikahinya dengan unta, sapi, dan kambing.” (al-Mu’jam ash-Shaghir: 45) dinyatakan maudhu’ (palsu) oleh ulama. Hadits di atas mengandung banyak cacat pada sanadnya, dan yang paling menonjol adalah adanya rawi bernama Mas’ud bin al-Yasa. Al-Hafizh al-Haitsami rahimahullah berkata, “Dia pendusta.” (lihat Irwa’ul Ghalil 4/393—394)

Menurut sebagian ulama, kambing untuk akikah memiliki kriteria seperti kambing yang sah untuk kurban, yaitu telah berumur setahun, tidak buta, tidak kurus kering, tidak pincang, tidak sakit, tidak boleh dijual sedikit pun dari daging dan kulitnya, serta boleh (namun makruh) dipatahkan tulangnya. Orang yang mengakikahi boleh makan darinya dan menyedekahkannya. (Tuhfatul Maudud hlm. 53)

Jumlah Kambing yang Disembelih

Seperti telah disebutkan bahwa untuk anak laki-laki dua kambing dan untuk anak perempuan satu kambing. Tidak ada masalah, apakah kambing yang disembelih itu jantan atau betina sebagaimana telah disebutkan yang demikian dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/164—165 no. 1517)

Apabila seseorang hanya mampu mengakikahi anak laki-lakinya dengan seekor kambing, sebagian ulama mengatakan itu telah sah dan tujuan akikah telah tercapai. Akan tetapi, apabila suatu saat nanti Allah ‘azza wa jalla memberi kecukupan kepadanya, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sehingga menjadi dua kambing. Ini yang utama. (asy-Syarhul Mumti’, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 7/318)

Waktu Akikah

Waktu penyembelihannya adalah pada hari ketujuh dihitung dari hari kelahirannya. Ini berlandaskan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelih baginya pada hari ketujuhnya.” ( HR. Abu Dawud no. 2838 dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1522)

Berlandaskan hadits ini dan selainnya, waktu penyembelihannya adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh dilakukan sebelum hari ketujuh. Apabila tidak mampu menyembelih pada hari ketujuh, dia menyembelih kapan saja ia mampu sebagai sesuatu yang wajib. (al-Muhalla 7/523)

Apabila dia baru mampu menyembelih setelah hari ketujuh, ia melakukannya kapan saja ia mampu tanpa menentukan hari tertentu. Adapun yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya), “Disembelih pada hari ketujuh, hari keempat belas, dan hari kedua puluh satu,” hadits ini lemah sehingga tidak bisa menjadi landasan hukum. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan (9/303) dan ath-Thabarani dalam Mu’jam ash-Shaghir dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Dalam sanadnya ada rawi bernama Ismail bin Muslim al-Makki, ia dhaif (lemah). (lihat Irwaul Ghalil 4/395)

Apabila Bayi Meninggal Sebelum Hari Ketujuh, Apakah Diakikahi?

Sebagian ulama berpendapat bahwa akikah tidaklah gugur. Alasannya, dalil-dalil syariat yang ada hanyalah menunjukkan waktu penyembelihannya (yaitu hari ketujuh). Jadi, akikah tidak gugur apabila bayi itu mati sebelum hari ketujuh. Sebab, dalil-dalil tersebut secara garis besarnya menunjukkan bahwa akikah disyariatkan dengan sebab kelahiran anak dan akikah disembelih pada hari ketujuh. (lihat Fatawa al- Lajnah ad-Daimah 11/445)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah merinci tentang bayi yang (disyariatkan untuk) diakikahi, apakah disyaratkan ia lahir dalam keadaan hidup? Apakah disyaratkan juga terhadap janin yang gugur sesudah ditiup padanya ruh?

Beliau menyebutkan empat tingkatan:

  1. Janin yang gugur sebelum ditiup ruh atasnya tidak diakikahi.
  2. Janin yang keluar sudah mati dalam keadaan telah ditiup ruh atasnya, maka ada dua pendapat ulama.
  3. Janin yang lahir dalam keadaan hidup dan meninggal sebelum hari ketujuh. Dalam hal ini juga ada dua pendapat ulama. Namun, pendapat yang menyatakan diakikahi lebih kuat daripada pendapat yang mengatakan diakikahi pada tingkatan kedua.
  4. Ia lahir hidup sampai hari ketujuh dan meninggal di hari kedelapan (sebelum diakikahi), tetap diakikahi. (asy-Syarhul Mumti’ 7/320)

Siapa yang Mengakikahi Anak?

Asalnya, yang dibebani melakukan akikah adalah ayah sang bayi. Akan tetapi, apabila ayahnya sudah meninggal, sang ibu menggantikan kedudukannya. (asy-Syarhul Mumti’ 7/318)

Boleh pula bayi tersebut diakikahi oleh selain ayah dan ibunya, sebagaimana halnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma. (Sunan Abu Dawud no. 2841)

Boleh Mengakikahi Diri Sendiri

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi nabi. Jalan periwayatan hadits ini dari Anas radhiallahu ‘anhu ada dua.

Jalur pertama: Dari Abdullah bin al-Muharrar, dari Qatadah, dari Anas radhiallahu ‘anhu.

Melalui jalan inilah Abdurrazzaq meriwayatkannya dalam al-Mushannaf (4/329/7960), al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/74/1237), dan yang lainnya.

Al-Bazzar berkata, “Abdullah bin al- Muharrar menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini dan dia dhaif jiddan (lemah sekali)….”

Jalan kedua: Dari al-Haitsam bin Jamil, ia berkata, “Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas telah bercerita kepada kami dari Tsumamah bin Anas, dari Anas.”

Melalui jalan inilah ath-Thahawi rahimahullah meriwayatkan dalam Musykilul Atsar (1/471), ath-Thabarani dalam al- Mu’jam al-Ausath, dan lainnya. Sanad hadits ini dinyatakan hasan (bagus) oleh asy-Syaikh al-Albani dan dinyatakan kuat oleh al-Imam al-Isybili rahimahullah dalam al-Ahkam.

Sebagian salaf berpendapat bahwa hadits ini diamalkan. Di antara mereka adalah Ibnu Sirin rahimahullah. Ia berkata, “Jika aku tahu bahwa aku belum diakikahi, aku akan mengakikahi diriku sendiri.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Jika engkau belum diakikahi, akikahilah dirimu, meskipun engkau sudah menjadi seorang lelaki (dewasa).”

Kedua atsar di atas dinyatakan kuat oleh asy-Syaikh al-Albani (lihat as- Silsilah ash-Shahihah 6/502—506).

Membagikan Daging Akikah

Daging akikah diberikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Orang yang mengakikahi dan keluarganya diperbolehkan memakan sebagian daging tersebut. Daging akikah boleh dibagikan dalam keadaan masih mentah atau sudah matang. Bahkan, boleh juga dimasak dengan dicampur sesuatu selain daging akikah. Hanya saja, dibagikan dalam keadaan matang tentu lebih baik karena tidak merepotkan para tetangga dan orang-orang miskin untuk memasaknya. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih senang karena tidak perlu repot memasaknya. (lihat Tuhfatul Maudud hlm. 50 dan 55 cet. al-Mu’ayyad)

Dibolehkan juga dia mengundang orang untuk memakan daging akikah. Hal ini berlandaskan atsar Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “Ketika lahir anakku, Iyas, aku mengundang beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku memberi mereka makan….” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 950)

Disebutkan dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah (Komite Fatwa Ulama Arab Saudi), “Orang yang mengakikahi boleh membagikan dagingnya dalam keadaan masih mentah atau sudah dimasak. (Daging itu diberikan) kepada orangorang fakir, tetangga, kerabat, dan rekan-rekan. Dia dan keluarganya boleh memakan sebagiannya. Boleh pula dia mengundang manusia, yang fakir dan yang kaya, lalu memberi mereka makanan dari daging akikah, di rumahnya atau yang semisalnya.” (Fatawa al-Lajnah, 11/443—444)

Hikmah Akikah

Akikah adalah ibadah yang sarat makna dan hikmah, di antaranya:

  1. Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau lakukan dan beliau perintahkan umatnya untuk melakukannya.
  2. Bentuk berkurban bagi anak untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla di saat awal ia terlahir di dunia.
  3. Akikah akan melepaskan anak dari statusnya yang tergadaikan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Semua anak tergadaikan dengan akikahnya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

Ulama berbeda pendapat tentang maksud “tergadaikan” pada hadits di atas. Ada yang mengatakan bahwa anak tidak bisa memberi syafaat orang tuanya apabila tidak diakikahi. Ini adalah pendapat ‘Atha rahimahullah dan diikuti oleh al-Imam Ahmad rahimahullah. Akan tetapi, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tidak sependapat dengan penafsiran ini dengan beberapa alasan. Di antaranya, syafaat di hari kiamat tidak terjadi kecuali apabila yang memberi syafaat diberi izin oleh Allah ‘azza wa jalla dan yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla karena tauhid dan ikhlasnya. Selain itu, lafadz hadits di atas tidak menunjukkan kepada penafsiran ‘Atha rahimahullah. Ibnul Qayyim rahimahullah lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud tergadaikan adalah terhalangi dari hal yang sedang ia usahakan untuk mendapatkannya.

Dengan diakikahi, Allah ‘azza wa jalla melepaskan anak itu dari kekangan setan yang selalu menempel pada bayi sejak lahir di dunia ini dan menusuk pinggang bayi. (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud hlm. 46—49)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Mencukur Rambut Bayi

Pada hari ketujuh diperintahkan untuk menggundul rambut bayi. Hal ini berlandaskan beberapa hadits di antaranya,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, akikah disembelih untuknya pada hari ketujuh, digundul kepalanya, dan diberi nama.” (Sahih, HR. Ahmad dan Ahlus Sunan yang empat dari Samurah radhiallahu ‘anhu).

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan dengan kambing dan beliau bersabda, “Wahai Fathimah, gundullah kepalanya!” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1519)

Yang dimaksud menggundul kepala bayi adalah mencukur seluruh rambut kepalanya, bukan sebagiannya. Sebab, menggundul sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian lainnya telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih al-Bukhari dari hadits Ibnu Umar no. 5921)

Akan tetapi, apabila ada kebutuhan mendesak untuk menggundul sebagian kepala, seperti untuk pengobatan, hal ini tidak mengapa. (Fathul Bari 10/360)

 

Apakah Perintah Menggundul Rambut Bayi Hanya Untuk Bayi Laki-Laki?

Dalam hal ini ada dua pendapat ulama.

1 . Ada yang mengatakan dimakruhkan untuk bayi perempuan, dan ini adalah pendapat al-Mawardi.

  1. Ada juga ulama yang mengatakan sama seperti bayi laki-laki. Ini adalah pendapat sebagian ulama Hanbali. (lihat Fathul Bari 9/595)

Pendapat yang mengatakan digundul lebih kuat berlandaskan hadits,

“Hanyalah wanita itu sama seperti laki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 333)

Dengan demikian, tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan kecuali jika memang ada dalil yang membedakannya. Misalnya, untuk tahallul (keluar) dari amalan haji dan umrah serta beberapa kondisi yang lain, wanita tidak boleh menggundul kepalanya berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita tidak ada keharusan menggundul, hanyalah bagi mereka memendekkan (rambut).” ( HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al- Jami’)

 

Hikmah Menggundul Rambut

Perintah agama pasti mengandung hikmah dan maslahat yang mendalam. Apa yang kita ketahui baru sekelumit dari mendalamnya hikmah Allah ‘azza wa jalla di balik perintah ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

“Menggundul adalah untuk menghilangkan (rambut) yang kotor dari kepala bayi. Menggundul juga berarti membuang rambut yang lemah agar diganti dengan yang lebih kuat dan lebih kokoh. Selain itu, menggundul bisa meringankan (beban) bayi dan membuka pori-pori kepala agar uap keluar dengan mudah. Hal ini akan menguatkan penglihatan, penciuman, dan pendengarannya.” (Tuhfatul Maudud hlm. 48)

 

Bersedekah dengan Perak Seberat Rambut Bayi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah putrinya, Fatimah radhiallahu ‘anha, untuk menyedekahkan perak atas nama anaknya seberat rambut bayi yang digundul. Ini disebutkan oleh hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan radhiallahu ‘anhu dengan seekor kambing, lalu bersabda, “Wahai Fatimah, gundullah kepalanya dan bersedekahlah seberat rambutnya berupa perak.”

Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami menimbang (rambut)nya. Beratnya satu dirham atau beberapa dirham.” (Shahih Sunan at- Tirmidzi no. 1519)

Maka dari itu, menjadi keharusan bagi yang memiliki keluasan untuk menyedekahkan perak seberat rambutnya. Jika tidak mampu, Allah ‘azza wa jalla tidak membebani suatu jiwa lebih dari kemampuannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Talkhis (4/148), seluruh riwayat sepakat menyebutkan (sedekah dengan) perak. Tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan emas.

Bersedekah dengan perak ini dilakukan pada hari ketujuh, sebagaimana yang dipahami dari hadits. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah. (Ahkamul Maulud fis-Sunnah al-Muthahharah 79—80)

Sebagian ulama berpendapat, jika pada hari ketujuh tidak ada tukang cukur yang bisa menggundul kepalanya, berat perak yang disedekahkan bisa ditentukan dengan perkiraan. (asy-Syarhul Mumti’ 7/321)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Memberi Nama Anak

Pada hari ketujuh dari kelahiran bayi ia sudah harus diberi nama. Hal ini demi menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menamai anak pada hari ketujuh. (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2832 cet. al-Ma’arif)

Namun, dibolehkan memberi nama anak sebelum hari ketujuh. Landasannya adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tadi malam terlahir bagiku anak laki-laki lalu aku memberinya nama (seperti nama) bapakku, (Nabi) Ibrahim ‘alaihissalam.” (Shahih Muslim no. 2310)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Boleh menamai anak pada hari kelahirannya.” (Syarh Shahih Muslim 14/100)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya, hakikat penamaan adalah memperkenalkan sesuatu yang diberi nama. Sebab, jika sesuatu itu ada dan tidak diketahui namanya, tentu tidak ada sesuatu yang menyebabkannya dikenal.

Maka dari itu, boleh untuk memberi nama pada hari kelahirannya, dan boleh mengakhirkannya sampai tiga hari dan sampai hari diakikahi (hari ketujuh) dan boleh (juga) sebelum itu dan setelahnya, perkaranya di sini lapang.”

Di sini, Ibnul Qayyim rahimahullah membolehkan memberi nama anak setelah hari akikah (setelah hari ketujuh), namun demi mengamalkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya dihari ketujuh sudah diberi nama, atau kalau seorang mau maka boleh memberi nama sebelum hari ketujuh. (Tuhfatul Maudud hlm. 71)

Siapa yang Berhak Memberi Nama?

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

“Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini bahwa jika terjadi perselisihan antara ayah dan ibu dalam hal penamaan anak, ayahlah yang memiliki hak.” (Tuhfatul Maudud hlm. 85)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pada dasarnya (masalah) penamaan dikembalikan kepada (hak) ayah, karena dia yang memiliki hak kewalian. Akan tetapi, seyogianya sang ayah bermusyawarah dengan ibu dan saudara-saudara si bayi dalam hal ini… Telah dimaklumi, apabila seseorang bersikap lapang terhadap keluarganya dan bermusyawarah dalam urusan seperti ini, tentu itu termasuk kebaikan.

Terkadang ibu berbeda pendapat dengan ayah dalam hal pemberian nama. Jika demikian, yang dijadikan pegangan adalah pendapat ayahnya. Namun, apabila mampu memadukan dua pendapat tersebut dengan memilih nama lain yang bisa disepakati kedua belah pihak, tentu ini lebih baik. Sebab, apabila terjadi kecocokan tentu lebih baik dan enak di hati.” (asy-Syarhul Mumti’, 7/322)

Memberi Nama yang Bagus

Hendaknya orang tua atau yang berkedudukan sebagai orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang bagus, yaitu bagus secara makna dan tidak bertentangan dengan aturan agama.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Dalam kesempatan ini hendaknya seorang memilihkan untuk anaknya nama yang nantinya anak tidak akan menanggung celaan di saat dewasa dan tidak merasa tersakiti dengan nama itu, karena terkadang seorang ayah menyukai suatu nama tertentu akan tetapi di kemudian hari sang anak merasa tersakiti dengan nama tersebut sehingga menjadi sebab anak itu terganggu. Suatu hal yang maklum bahwa menyakiti seorang mukmin itu haram, maka seseorang (hendaknya) memilihkan nama yang terbagus dan paling dicintai Allah ‘azza wa jalla….” (asy-Syarhul Mumti’ 7/320—321)

Secara fitrah, orang senang dengan sebutan yang baik serta suka mendengarkan dan melihat sesuatu yang indah sehingga sangat tidak tepat bila ada yang mengatakan, “Apa arti sebuah nama.”

Bila kita melihat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan dapati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai nama yang baik dengan bukti ketika ada seorang sahabat memiliki nama yang tidak baik beliau menggantinya. Dahulu sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memiliki anak perempuan yang diberi nama ‘Ashiyah ( عَاصِيَةُ ) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama ia dengan Jamilah جَمِيْلة) ). ‘Ashiyah artinya wanita yang bermaksiat sedangkan Jamilah artinya wanita yang cantik.

Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya, bahwa ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Ia (kakeknya Sa’id) menjawab, “Hazn.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau Sahl.” Hazn berkata, “Aku tidak akan mengubah nama yang diberikan oleh bapakku.” (Shahih al-Bukhari no. 6190)

Hazn artinya keras, kaku, dan kasar.

Adapun Sahl artinya mudah dan lunak.

Sa’id bin al-Musayyib bin Hazn rahimahullah berkata,

“Perangai kaku/keras setelah itu selalu ada di tengah-tengah (keluarga) kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik. Sebab, nama yang baik mengandung pengharapan kebaikan, sedangkan nama yang jelek menjadikan seseorang beranggapan ada kesialan pada dirinya.

Memang, nama punya pengaruh dan sarat akan makna. Coba Anda perhatikan hadits Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah di atas, bagaimana pengaruh nama yang jelek dirasakan keluarganya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menyarankan kakeknya untuk mengubah namanya (Hazn) menjadi yang baik, yaitu Sahl. Ia menolaknya dengan alasan tidak mau mengubah nama yang telah diberikan kepadanya oleh orang tuanya. Karena bersikukuh dengan nama jelek yang diberikan oleh orang tuanya, pengaruh nama jelek itu dirasakan hingga oleh anak cucunya.

Dahulu ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah antara pihak muslimin dan kafir, delegasi kafir Quraisy datang untuk berunding dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak ada yang berhasil. Sampai datang utusan dari mereka yang bernama Suhail bin ‘Amr. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Suhail datang, beliau menyatakan,

Perkara kalian telah mudah.” (Shahih al-Bukhari no. 2732)

Suhail artinya mudah.

Nama yang Paling Bagus

Disunnahkan bagi keluarga yang dianugerahi anak untuk memilihkan nama dari nama-nama yang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla dan nama-nama yang baik yang mendekatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah ‘Abdullah dan Abdurrahman.” (Shahih Muslim no. 2132 dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah k adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman. Nama yang paling jujur/cocok adalah Harits dan Hammam, dan yang paling jelek adalah Harb dan Murrah.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinyatakan sahiholeh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Adab no. 625)

Hammam artinya adalah orang yang punya tekad/kehendak, sedangkan Harits artinya adalah orang yang berusaha.

Dikatakan nama yang paling jujur karena nama tersebut sesuai dengan maknanya. Sebab, tekad adalah permulaan suatu keinginan, dan dari keinginan ini akan muncul adanya usaha. Orang yang diberi nama dengan dua nama tersebut tidak terlepas dari hakikat maknanya. Berbeda halnya dengan orang yang diberi nama selain dua nama ini. (Faidhul Qadir 1/219)

Harb artinya adalah perang dan Murrah artinya pahit.

Adapun hadits yang berbunyi,

“Nama yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah yang menunjukkan kepada (arti) penghambaan (kepada Allah ‘azza wa jalla) dan (arti) pujian.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, tidak ada asal-usulnya. Hal ini telah ditegaskan oleh as-Suyuthi dan selainnya. (as-Silsilah adh-Dhaifah no. 411)

Alangkah bagusnya jika bayi diberi nama dengan nama-nama para nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ambillah nama (seperti) namaku.” (Shahih Muslim no. 2134)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi nama sebagian anak sahabatnya dengan nama para nabi, seperti dalam Shahih al-Bukhari (no. 6198).

Nama-Nama yang Diharamkan

Ada penamaan anak yang diharamkan agama, di antaranya:

  1. Seluruh nama yang mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, semisal Abdu Husain (hamba Husain) dan Abdur Rasul (hamba Rasul).

Nama yang mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla wajib diganti. Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

“Mereka (ulama) sepakat tentang haramnya setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla.” (Tuhfatul Maudud hlm. 72)

Apabila kita memiliki ayah atau kakek yang namanya mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, sedangkan mereka telah meninggal, nama tersebut tidak harus diubah. Hal ini berlandaskan hadits,

“Saya putra Abdul Muththalib.” (Shahih al-Bukhari no. 2864)

Hal ini (tidak mengganti nama yang sudah meninggal) diperbolehkan karena bersifat pengabaran, bukan memulai membuat nama. (asy-Syarhul Mumti’ 7/320)

  1. Nama مَلِكُ الْمُلُكِ (rajanya seluruh raja), سُلْطَانُ السَّلَاطَيْن (penguasanya para penguasa), dan شَاهٍ شَاه (raja diraja) Landasannya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang paling dimurkai dan paling jelek di sisi Allah ‘azza wa jalla pada hari kiamat adalah seorang yang diberi nama مَلِكَ الْأَمْلَاكِ (raja seluruh makhluk), (padahal) tiada raja yang sesungguhnya selain Allah ‘azza wa jalla.” (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Nama سَيِّدُ النَّاسِ ( sayyidun nas/ pemimpin manusia) dan سَيِّدُ الْكُلِّ (sayyidul kulli/pemimpin seluruhnya) karena nama ini hanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Nama yang khusus untuk Allah ‘azza wa jalla, seperti اَلْاَحَدُ (Yang Maha Esa) dan اَلرَّزَّاقُ (Sang Pemberi Rezeki). (lihat Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim rahimahullah)

Nama-Nama yang Dimakruhkan

Yang dimaksud di sini adalah namanama yang dilarang namun tidak sampai tingkatan haram, seperti Yasar (mudah), Rabah (orang yang untung), Najah (sukses), dan Aflah (beruntung). Hal ini berlandaskan hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menamai budak kami dengan empat nama: (yaitu) Aflah, Rabah, Yasar, dan Nafi’.” (Shahih Muslim no. 2136)

Nama-nama di atas pada dasarnya memiliki arti yang bagus, tetapi mengandung hal lain. Misalnya, ada yang mencari seseorang yang bernama Rabah (orang yang beruntung) lalu dikatakan bahwa Rabah tidak ada. Orang yang mendengarnya bisa jadi tidak suka dengan jawaban itu, yaitu Rabah tidak ada, yang apabila diartikan menunjukkan tidak ada orang yang beruntung di sana. Hal ini dikhawatirkan akan memunculkan anggapan sial.

Al- Imam an-Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa larangan di sini adalah makruh, bukan haram. (Syarh Shahih Muslim 14/96)

Berikut ini beberapa penamaan yang dilarang:

  1. Memberi nama anak dengan nama para setan, seperti Khinzab.
  2. Nama para thaghut dan diktator zalim, semisal Fir’aun dan Qarun.
  3. Nama yang memiliki arti yang tidak disukai oleh jiwa dan sulit diterima oleh hati orang yang mendengarnya, seperti Harb (perang), Murrah (pahit), Kalb (anjing), dan Hayyah (ular).
  4. Nama-nama malaikat.

Hal ini diperselisihkan tentang kebolehannya. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah lebih condong bahwa hal itu makruh. (asy-Syarhul Mumti’ 7/322)

  1. Memberi nama anak dengan nama al-Qur’an dan surat al-Qur’an (selain nama-nama nabi dan rasul) seperti طَهَ (Thaha), يَس (Yasin), dan حَم (Hamim).

As-Suhaili menyebutkan bahwa al-Imam Malik rahimahullah memakruhkan memberi nama Yasin. Adapun apa yang disebutkan oleh orang-orang awam bahwa Thaha dan Yasin termasuk nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini tidak benar. Sebab, hal ini tidak disebutkan oleh hadits yang sahih, hasan, atau mursal, dan tidak ada pula penukilan dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini hanyalah huruf-huruf hijaiyah yang berada di awal beberapa surat al-Qur’an. (Tuhfatul Maudud hlm. 75—80)

  1. Penamaan yang mengandung unsur tazkiyah.

Demikian pula , dilarang memberi nama anak dengan nama yang mengandung bentuk tazkiyah (menganggap dirinya baik), seperti Mubarak (orang yang diberkahi), Muflih (orang yang sukses), dan Barrah (wanita yang baik), karena bisa jadi kenyataannya tidak seperti itu. (Tuhfatul Maudud hlm. 74)

Telah disebutkan dalam ShahihMuslim pada kitab “al-Adab” bahwa

Zainab bintu Abi Salamah dahulu bernaman Barrah (wanita yang baik) lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dengan mengatakan,

“Janganlah kamu menganggap baik dirimu, (karena) Allah ‘azza wa jalla lebih tahu tentang orang yang baik di antara kalian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan untuk menggantinya dengan nama Zainab.

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata,

“Tidak sepantasnya seorang memberi nama yang jelek maknanya, mengarah pada anggapan baik terhadap diri, atau nama yang artinya celaan. Meski nama hanyalah tanda bagi seseorang yang tidak dimaksudkan artinya, tetapi sisi tidak disukainya adalah jika ada orang yang mendengarnya akan menganggap bahwa nama itu adalah sifat bagi orang tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti nama dengan nama lain yang jika pemilik nama itu dipanggil, nama itu benar (sesuai dengan sifatnya).(Fathul Bari 10/577, cet. as-Salafiyah)

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata setelah menukil ucapan ath-Thabari rahimahullah di atas, “Berdasarkan hal ini, tidak boleh bayi diberi nama عِزُّالدِّيْنِ (‘izzuddin/ pemulia agama), مُحْيِ الدِّيْن (muhyiddin/ orang yang menghidupkan agama), نَاصِرُالدِّيْن (nashiruddin/penolong agama), dan yang semisalnya.(ash-Shahihah 1/427 cet. Maktabah al-Ma’arif)

Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Yang Dilakukan Pada Hari Pertama Kelahiran

Mentahnik Bayi

Tahnik adalah mengunyah sesuatu kemudian meletakkannya pada bagian atas mulut bayi. Mentahnik bayi adalah sunnah menurut kesepakatan para ulama, seperti yang disebutkan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (14/ 99). Di antara landasannya ialah hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Telah lahir anak laki-lakiku kemudian aku bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun memberinya nama Ibrahim, lalu mentahniknya dengan kurma dan mendoakan berkah untuknya.” (Shahih al-Bukhari no. 5467 dan Muslim no. 2145)

Sunnah mentahnik bayi tidak khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada dasarnya umatnya juga diperintah untuk mengikutinya, kecuali ada dalil kuat yang menyatakan bahwa hal itu khusus berlaku bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud (hlm. 25), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan riwayat al-Khallal bahwa ketika budak perempuan al-Imam Ahmad rahimahullah melahirkan anaknya, al-Imam Ahmad rahimahullah memberinya kurma dan mengatakan kepadanya, “Kunyahlah kurma ini dan tahniklah dia.”

Tentang hikmah mentahnik bayi, sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu sebagai bentuk harapan agar si anak nantinya beriman. Sebab, kurma adalah buah dari pohon yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serupakan dengan seorang mukmin. Beliau juga menyerupakan seorang mukmin dengan buah kurma dari segi manisnya. Selain itu, ilmu kedokteran telah membuktikan manfaat yang besar dari tahnik, yaitu memindahkan sebagian mikroba ke dalam usus untuk membantu pencernaan makanan. Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas tahnik adalah sunnah yang mustahab (disenangi) secara pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pegangan kita, bukan yang lainnya. Sebab, tidak ada nash (dalil) yang menerangkan hikmahnya, maka hanya Allah ‘azza wa jalla yang mengetahuinya. (lihat Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah karya Salim Ali asy-Syibli dan Muhammad Khalifah ar-Rabah hlm. 33—34)

Yang digunakan untuk mentahnik adalah buah kurma sebagaimana disebutkan oleh riwayat.

 

Apakah Dikumandangkan Azan dan Iqamat pada Telinga Bayi Ketika Lahir?

Dalam hal ini ada tiga riwayat:

  1. Riwayat Abu Rafi’ maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan shalat di telinga al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma ketika Fathimah radhiallahu ‘anha melahirkannya.” (HR. Abu Dawud [no. 5105], at-Tirmidzi [no. 514], dan Ahmad [6/9])

Semuanya dari jalur periwayatan Sufyan ats-Tsauri, dari ‘ Ashim bin Ubaidillah, dari Ubaidillah bin Abi Rafi’, dari bapaknya (Abu Rafi’).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang ‘Ashim bin Ubaidillah, “Dia dhaif (lemah).”

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang disebutkan dalam Syu’abul Iman karya al-Baihaqi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma ketika dilahirkan. Beliau azan pada telinga kanannya dan iqamat pada telinga kirinya.

Dalam hadits ini ada perawi bernama Hasan bin ‘ Amr. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya dalam al-Mizan, “Ia dinyatakan dusta oleh Ibnul Madini.” Al-Bukhari rahimahullah berkata, “Ia kadzdzab (pendusta).” Ar-Razi rahimahullah berkata, “Matruk (riwayatnya ditinggalkan).” Kesimpulannya, hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ini maudhu’ (palsu).

  1. Hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa diberi anak lalu mengumandangkan azan pada telinga kanannya dan iqamat pada telinga kirinya, anaknya tidak akan tertimpa oleh Ummu Shibyan (pengikut dari kalangan jin).”

Hadits ini diriwayatkan oleh al- Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ibnu as-Sunni.
Akan tetapi, dalam sanadnya ada rawi bernama Yahya bin al-‘Ala dan Marwan bin Salim. Keduanya dikenal suka memalsukan hadits.

Kesimpulannya, hadits-hadits tentang mengazankan bayi tidak kuat. Asy- Syaikh al-Albani pada beberapa kitabnya sempat menguatkan hadits Abu Rafi’ yang lemah di atas (riwayat pertama), karena menganggap ada jalan lain yang memperkuatnya, yaitu hadits Ibnu ‘Abbas (riwayat kedua). Namun, setelah beliau melakukan penelitian lagi (setelah kitab Syu’abul Iman karya al-Baihaqi tercetak) ternyata hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak bisa memperkuat hadits Abu Rafi’ karena pada sanadnya ada rawi yang matruk. Dengan demikian, akhir pembahasan beliau adalah bahwa hadits Abu Rafi’ tetap dhaif (lemah) seperti disebutkan dalam as-Silsilah adh-Dhaifah (cet. Maktabatul Ma’arif 1/494 no. 321)

(Disarikan dari kitab Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah hlm. 34—39)

Apabila riwayatnya lemah, hadits ini tidak bisa dijadikan landasan beramal. Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.