Al-Qayyum

 

Al Qayyum

 

Al-Qayyum adalah salah satu dari al-Asma’ul Husna. Bahkan nama ini adalah salah satu Asma’ul Husna yang teragung dari nama-nama-Nya, yaitu ketika nama ini bergabung dengan nama Allah al-Hayyu. As-Sa’di rahimahullah menerangkan, “Sebagian ulama peneliti menerangkan bahwa sesungguhnya keduanya adalah al-ismul a’zham yang bila Allah ‘azza wa jalla diseru dengan menyebutnya Dia akan mengijabahi, bila dimohon dengan menyebut nama itu, maka Ia akan memberi.”

Allah ‘azza wa jalla telah menyebut nama-Nya ini dalam tiga ayat dalam al-Qur’an, ketiganya bergandengan dengan nama Allah al-Hayyu. Nama tersebut juga ada dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana akan kami sebutkan.

Asy-Syaikh al-Harras menjelaskan bahwa di antara al-Asma’ul Husna itu adalah al-Qayyum, itu adalah bentuk mubalaghah dari kata Qa’im (bentuk kata yang memberi arti yang lebih dalam sifat tersebut). Al-Qayyum memiliki dua makna:

Pertama, Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam hal eksistensinya. Demikian pula dalam sifat kesempurnaan-Nya dan perbuatan yang muncul dari-Nya. Karena ketidakbutuhan-Nya bersifat dzati (terkait langsung dengan Dzat Allah ‘azza wa jalla) sebagaimana kami telah terangkan, maka Dia tidak akan ditimpa kekurangan ataupun rasa butuh.

Kedua, Dialah yang selalu mengatur mahluk-Nya. Seluruh yang ada di alam ini membutuhkan-Nya, dengan rasa butuh yang dzati (terkait langsung dengan dzat makhluk tersebut), tidak mungkin tidak, walau sesaat saja.

Maka dari itu, makhluk butuh kepada-Nya dalam hal keberadaannya, Allah ‘azza wa jalla lah yang memberikan kepadanya sebab-sebab eksistensinya tidak ada sesuatu pun dalam alam ini seluruhnya kecuali dalam bantuan-Nya.

Dengan demikian, Dia selalu mengatur dan memerhatikan urusan makhluk-Nya, tidak mungkin Dia lalai sesaat pun dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan akan hancur tonggak-tonggaknya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari selain (Allah) Yang Maha Pemurah?” Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Rabb mereka. (al-Anbiya:42)

kemudian berfirman,

Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Jadi sifat Allah ‘azza wa jalla yang satu ini, di antara sifat-sifat-Nya yang lain yaitu sebagai al-Qayyum, memiliki urusan yang besar sebagaimana besar-Nya Pemilik sifat ini, yang sifat ini dengan maknanya yang pertama mengandung kesempurnaan ketidakbutuhan-Nya dan kebesaran-Nya. Dengan makna yang kedua, mengandung seluruh sifat kesempurnaan dalam perbuatan-Nya yang tidak ada kesempurnaan bagi-Nya kecuali dengan sifat Al-Qayyum.

Di antara asma-Nya yang Mahaindah juga adalah al-Hayyu, Yang Mahahidup, dan nama al-Hayyu telah beriringan dengan nama-Nya al-Qayyum di tiga tempat dalam al-Qur’an:

  1. Ayat kursi dalam surat al-Baqarah ayat 255,

“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia Yang Hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya).”

  1. Awal surat Ali Imran ayat 1-2,

“Alif lam mim. Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Dia. Yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya.”

  1. Surat Thaha ayat 111,

“Dan tunduklah semua muka (dengan berendah diri) kepada Rabb yang hidup kekal lagi senantiasa mengurus (makhluk-Nya). Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang melakukan kezaliman.”

Makna al-Hayyu adalah yang memiliki kehidupan yang sempurna, yang kekal abadi, yang tidak mengenai-Nya kematian ataupun fana, karena ini adalah sifat yang terkait dengan Dzat-Nya Yang Mahasuci. Sebagaimana sifat qayyum-Nya berkonsekuensi kesempurnaan seluruh perbuatan-Nya. Demikian pula sifat kehidupan-Nya yang sempurna berkonsekuensi seluruh sifat dzat-Nya yang sempurna, baik ilmu, kamampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kemuliaan, kesombongan, kebesaran, dan sebagainya.

Sifat al-Hayyu dan al-Qayyum mengandung sifat kesempurnaan seluruhnya. Keduanya ibarat dua kutub bagi seluruh langit sifat-sifat-Nya, sehingga tidak ada satu sifat pun yang keluar dari kedua sifat itu sama sekali.

Oleh karena itu, telah terdapat sebuah riwayat bahwa keduanya merupakan al-ismul a’zham, yaitu nama Allah Yang Mahaagung, yang apabila diminta dengan menyebut nama-Nya tersebut, Allah ‘azza wa jalla akan memberi; apabila dimohon dengan menyebut nama-Nya, Ia akan mengijabahi.

Kedua nama yang agung ini mengandung seluruh sifat kesempurnaan karena kehidupan merupakan syarat untuk memiliki segala kesempurnaan dalam Dzat-Nya baik itu ilmu, kemampuan, kemauan, pendengaran, penglihatan, kalam, dan seterusnya. Karena selain yang hidup tidak memiliki sifat-sifat; siapa saja yang sempurna kehidupannya, maka dia akan lebih sempurna pada tiap sifat yang kehidupan merupakan syarat bagi sifat tersebut. Adapun al-Qayyum, yang salah satu maknanya adalah yang banyak mengatur urusan makhluk-Nya yang tidak lalai dari mereka walaupun sesaat, hal itu berkonsekuensi kesempurnaan dan kelanggengan seluruh perbuatan-Nya. (Syarh Nuniyyah, 1/111—113)

Ar-Rabi rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum artinya Yang mengatur segala sesuatu, menjaganya, dan memberinya rezeki.”

Mujahid rahimahullah menafsirkannya dengan tafsir yang semakna.

Ibnu Jarir rahimahullah mengatakan, “Al-Qayyum adalah Yang melakukan penjagaan terhadap segala sesuatu, pemberian rezeki, pengaturannya, pada apa yang dia kehendaki dan Dia sukai, baik perubahan, penggantian, penambahan, maupun pengurangan.” (Tafsir ath-Thabari)

Telah disebutkan bahwa kedua nama Allah, yaitu al-Hayyu dan al-Qayyum merupakan al-ismul a’zham, nama Allah ‘azza wa jalla yang teragung. Hal itu sebagaimana terdapat dalam sebuah riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Dikisahkan bahwa dahulu dia duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ada seseorang yang shalat lalu berdoa,

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan mengimani bahwa milik-Mu segala pujian tiada sesembahan yang benar selain engkau al-Mannan, pencipta langit dan bumi, wahai yang memiliki keagungan dan kemurahan, wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Sungguh dia telah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan menyebut nama-Nya yang terbesar yang bila diminta dengannya, Dia akan mengijabahi; dan bila dimohon dengannya, Dia akan memberi.” (Sahih, HR. Abu Dawud dinyatakan sahih oleh al-Albani)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengajari putrinya untuk berdoa dengan menyebut nama itu. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Fathimah,

Apa yang menghalangimu untuk mendengar apa yang kuwasiatkan kepadamu? Hendaknya kamu ucapkan bila masuk waktu pagi dan masuk waktu sore, ‘Wahai al-Hayyu, wahai al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan, perbaikilah seluruh urusanku … Janganlah Engkau serahkan diriku padaku walaupun sekejap mata selamanya’.” (Hasan, HR. Ibnu Sunni dalam kitab Amal Yaum wal lailah dan al-Baihaqi dalam Asma’ wash-Shifat. Lihat ash-Shahihah no. 227 dan Shahihul Jami’ no. 10759)

Bahkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri mempraktikkannya sebagaimana diceritakan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu juga,

Apabila tertimpa suatu urusan yang sulit, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Wahai al-Hayyu dan al-Qayyum, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (Hasan, HR. at-Tirmidzi dan Ibnu Sunni lihat Shahilul Jami’ no. 8908 dan ash-Shahihah no. 3182)

Buah Mengimani Nama Allah Al-Qayyum

Di antara buah mengimani nama Allah al-Qayyum adalah mengetahui kebesaran Allah ‘azza wa jalla dan keagungan-Nya, segala perbuatan-Nya dalam puncak kesempurnaan, segala sifat-Nya dalam puncak keindahan dan ketinggian. Allah ‘azza wa jalla tak penah lemah, tak pernah letih, tak pernah butuh, tak pernah istirahat, tak pernah lalai walau sesaat, tak penah kantuk, dan tak pernah tidur.

Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi.” (al-Baqarah: 255)

Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikit pun tidak ditimpa keletihan.” (Qaf: 38)

Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (ar-Rahman: 29)

Dia Maha Mencipta, Maha Memiliki, Maha Mengatur, Mahatahu, Mahamampu atas segala sesuatu, Mahaperkasa, Maha Mengawasi, Maha Memberi, dan sifat kesempurnaan lainnya.

Takkan rugi dan takkan tersia-siakan siapa pun yang Rabbnya adalah Dia, yang selalu ia puja, ibadahi, mohon, tauhidkan, dan pasrahi segala urusannya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Merenungi Akibat Amal Saleh dan Akibat Maksiat (7)

 

Jurang

Renungan Ketujuh

Tak jarang, seseorang berpikir pendek ketika akan melakukan suatu perbuatan. Apalagi terdorong hawa nafsu, seolah ia menjadi buta karenanya. Yang penting tujuannya tersampaikan, meski kenikmatan sesaat. Ternyata perbuatan itu berbuntut panjang, penderitaan, kegelisahan, dan tanggung jawab di dunia ataupun akhirat.

Asy-Syaikh Abdurahman al-Mu’allimi mengatakan, “Seseorang hendaknya merenungi apa yang menjadi harapan bagi orang yang lebih mengutamakan kebenaran, yaitu keridhaan Rabb sekalian alam, bantuan-Nya yang bagus di dunia, dan kemenangan yang langgeng di akhirat.

Selain itu, renungi apa yang bakal diperoleh oleh seorang pengekor hawa nafsu, yaitu kemurkaan Allah ‘azza wa jalla, dan kemarahan-Nya di dunia, serta azab yang pedih di akhirat.”

Apakah orang yang berakal akan ridha dirinya membeli kelezatan mengikuti hawa nafsunya dengan (membayarkan) kebaikan bantuan Rabb sekalian alam, keridhaan-Nya, kedekatan kepada-Nya, serta kenikmatan yang besar di sisi-Nya? Siapkah ia menerima kemurkaan dan siksa-Nya yang pedih?

Tidak sepantasnya seseorang terjatuh pada keadaan seperti ini, walau orang yang paling dangkal akalnya sekalipun. Sama saja, apakah dia seorang yang beriman dan sangat yakin dengan akibat ini, atau yang menduga bahwa akibatnya akan begini, atau bahkan yang ragu sekalipun pada akibat tersebut dan keberadaannya.

Dua orang yang terakhir ini (saja) akan bersikap hati-hati.

Sebagaimana halnya jual beli tersebut pasti dilakukan oleh orang yang dikenal sebagai pengikut hawa nafsu, demikian pula akan dilakukan oleh orang yang lunak terhadap dirinya, tidak menegur dirinya, dan tidak berhati-hati.

Wallahul Muwaffiq.

Al-Ustadz Qomar Suaidi, Lc.

Tradisi Seputar Kelahiran

Bubur Merah Putih

Di antara tradisi yang masih tersisa di tengah-tengah masyarakat Jawa ialah tradisi terkait kelahiran. Semenjak jabang bayi masih dalam kandungan, kaum tradisionalis Jawa telah melakukan sebuah prosesi yang disebut dengan tingkeban. Prosesi ini dilakukan saat janin berada dalam kandungan berusia tujuh bulan. Setelah janin yang masih di dalam perut sang ibu mendekati kelahiran, ditunaikanlah upacara procotan. Tentunya, penunaian upacara ini diiringi maksud agar kelahiran bayi dilimpahi keselamatan. Selamat bagi sang ibu, juga selamat bagi sang bayi.

Bahkan, berkembang sebuah keyakinan pada sebagian masyarakat, apabila seseorang menghendaki keturunan laki-laki yang tampan rupawan, sang ibu didorong untuk senantiasa membaca Surat Yusuf. Apabila ia menghendaki keturunan perempuan yang cantik, dianjurkan membaca Surat Maryam. Entah, berawal dari mana keyakinan menyesatkan seperti ini mencuat pada sebagian masyarakat.

Pada tatanan masyarakat Jawa, peristiwa kelahiran adalah momentum yang sangat bernilai. Kehadiran seorang anak menjadi anugerah tiada terkira.Karena itu, perlakuan saat prosesi

kelahiran itu pun sangat penting bagi sebagian masyarakat Jawa. Brokohan, satu di antara tradisi kelahiran di seputar masyarakat Jawa. Brokohan, yang konon berasal dari kata berkah, adalah sebuah tradisi yang diselenggarakan saat jabang bayi telah hadir. Para tetangga diundang untuk mendoakan kebaikan bagi sang bayi.

Bentuk tradisi lainnya, prosesi mengebumikan ari-ari. Tradisi ini disebut pula dengan aruman atau embing-embing (mbing-mbing). Bagi kaum tradisionalis Jawa, prosesi ini dilatari tumbuhnya keyakinan bahwa ari-ari adalah saudara bayi yang lahir. Karena itu, ia harus dirawat dan dijaga sebaik mungkin. Wujud perawatannya ialah ari-ari dimasukkan ke dalam kendil yang ditutup rapat bagian atasnya, lalu dibungkus dengan kain mori. Setelah itu, ari-ari beserta kendil yang telah terbungkus kain mori dikebumikan.

Menguburkan ari-ari ini pun tidak sembarangan. Pengebumian ari-ari diletakkan di sebelah kanan depan pintu masuk (rumah). Setelah ari-ari ditanam, di atasnya diletakkan lampu sebagai simbol pepadhang (penerang) bagi bayi, lalu dipagari dan ditutup agar ari-ari merasa terlindungi. Hal ini berlangsung hingga 35 hari.

Seiring dengan itu, upacara sepasaran dilangsungkan di rumah yang baru dikaruniai bayi. Sepasaran berarti: pon, wage, kliwon, legi dan pahing, yaitu nama hari-hari berdasar kalender Jawa. Acara sepasaran ditunaikan pada hari kelima dengan acara njagongan.

Prosesi berikutnya adalah puputan atau dhautan, yaitu saat terlepasnya tali pusar sang bayi. Saat usia bayi memasuki 35 hari diadakan upacara selapanan. Acara kenduri selapanan ini biasanya dengan mengundang para tetangga sebagai wujud syukur atas hadirnya sang jabang bayi.

Tak hanya sampai di sini. Ketika bayi ini mulai menapak tanah, di kalangan sebagian masyarakat Jawa diadakan lagi prosesi upacara yang disebut tedak siten. Tedak berarti turun, sedang siten berasal dari kata ‘siti’ yang berarti tanah. Inilah di antara ritual yang masih mengental di sebagian masyarakat Jawa, terutama kaum tradisionalis yang masih bersikukuh dengan prosesi-prosesi tersebut.

Kembali Kepada Islam

Seorang muslim dituntut untuk mengamalkan ajaran Islam yang telah dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang hamba Allah—manakala telah meyakini nilai-nilai Islam sebagai ajaran yang benar—ialah mewujudkannya dalam kehidupan seharihari. Keyakinan yang tidak diajarkan dan bertentangan dengan Islam harus ditinggalkan. Sebab, pada diri seorang muslim harus terpateri sikap berserah diri, patuh, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Seorang muslim harus menegakkan tauhid dan memberantas kesyirikan, menghidupkan sunnah dan meninggalkan kebid’ahan. Segenap tradisi peninggalan nenek moyang yang bertentangan dengan nilai-nilai syariat harus dikubur. Tak selayaknya seorang muslim masih berkutat dengan nilainilai tradisi yang akan memudaratkan diri dan masyarakat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 50)

Demikianlah Allah memerintah hamba-Nya untuk meninggalkan segala ketentuan yang bertentangan dengan syariat-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman pula,

“Kami telah menurunkan kepadamu al-Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan sebagai hakim terhadap kitab-kitab yang lain itu, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (al-Maidah: 48)

Para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sosok yang wajib diteladani dalam hal mengamalkan syariat. Saat Islam mulai didakwahkan, banyak tradisi nenek moyang yang berkembang di kalangan masyarakat Arab pada masa itu. Satu di antara tradisi itu, tradisi minum arak. Setelah ayat yang mengharamkan minum khamr turun, maka secara massal minuman khamr dimusnahkan. Di jalanan minuman itu ditumpahkan. Setiap diri melakukan perubahan. Mengubah kebiasaan lama yang akrab dengan minuman memabukkan, kepada kebiasaan baru yang bebas khamr. Mereka tak merasa berat untuk meninggalkan kebiasaan yang telah mendarah daging. Semua ini karena taufik dari Allah.

Ketaatan para sahabat inilah yang patut diteladani. Mereka senantiasa menaati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam . Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.”

(al-Hasyr:7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap umatku akan masuk surga kecuali yang enggan.” Sahabat bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, ia masuk surga. Dan barang siapa bermaksiat kepadaku, sungguh ia telah enggan.” ( HR . al-Bukhari dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Demikian pula tentunya dalam menyikapi berbagai tradisi yang berkembang di masyarakat, terkhusus tradisi yang menyangkut kelahiran. Semuanya tentu harus dikembalikan kepada ajaran Islam. Apakah pelaksanaan kenduri, upacara, dan prosesi lainnya yang telah turun temurun itu tidak bertentangan dengan Islam? Sudah bebaskah segenap tradisi tadi dari keyakinan-keyakinan kesyirikan, kebid’ahan, dan hal yang bisa memudaratkan?

Islam adalah agama yang sempurna. Ajaran Islam meliputi semua sisi kehidupan masyarakat. Islam mengatur masalah kelahiran, kematian, pernikahan, perceraian, membina anak, mengatur kehidupan rumah tangga, jual-beli, hingga urusan pemerintahan. Ajaran Islam meliputi semuanya. Dalam masalah kelahiran seorang bayi, Islam menuntun umatnya agar meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di antara sifat syariat Islam adalah mudah untuk ditunaikan oleh pemeluknya. Tidak mempersulit dan membuat ribet. Simpel, praktis, dan terasa meringankan, tidak memberatkan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Kami tidak menurunkan al-Qur’an ini kepadamu agar engkau menjadi susah.” (Thaha: 2)

Firman-Nya,

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (al-Baqarah: 185)

Apabila Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan pada dua perkara, beliau memilih yang paling ringan untuk ditunaikan, selama (yang ringan itu) tidak menimbulkan dosa. Apabila bakal menimbulkan dosa, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjauhkan umat dari perkara tersebut. Dalam sebuah hadits dari Aisyah x disebutkan,

“Tiadalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dihadapkan pada pilihan antara dua perkara kecuali beliau ambil yang lebih ringan (lebih mudah) selama tidak menimbulkan dosa. Apabila mengandung unsur dosa, beliau menjauhkan manusia darinya.” (Muttafaqun ‘alaih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

“Permudahlah, jangan kalian persulit. Senangkanlah, jangan kalian (menjadikannya) lari menjauh.” ( HR . al-Bukhari no. 69)

Demikianlah sifat ajaran Islam. Begitu mudah. Begitu ringan. Di antara tuntunan Islam ketika menyambut kelahiran sang bayi ialah mengakikahinya, yaitu menyembelih kambing pada hari ketujuh, menggundul rambut kepada sang bayi, dan memberinya nama. Ini tergambar dari hadits sahabat mulia Samurah radhiallahu ‘anhu, sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Setiap anak tergadai dengan akikahnya. Disembelihkan (kambing) untuknya pada hari ketujuh, dicukur gundul (rambutnya kepalanya) dan dinamai (bayi itu dengan nama yang baik).” (HR . Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan selainnya. Lihat al- Irwa’ no. 1165)

 

Menyambut Kelahiran, MenyambutAmanat

Tentu, sebuah suka cita yang tiada terkira saat anak yang dinanti hadir di depan pelupuk mata. Kebahagiaan menggunung di hamparan kalbu, menyambut sang buah hati nan dinanti. Namun, di balik itu semua, ada satu hal yang tak boleh dilalaikan. Kehadiran anggota baru dalam keluarga berarti memikulkan satu amanat besar pada pundak orang tuanya. Amanah untuk senantiasa menjaga fitrah sang anak yang telah disematkan padanya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah . (Itulah) agama yang lurus.” (ar-Rum: 30)

 

Dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah seorang anak yang dilahirkan melainkan (dilahirkan) dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR . al-Bukhari)

Jumhur ulama menyebutkan, yang dimaksud al-fitrah pada hadits di atas adalah Islam. Karena itu, keadaan agama pada diri seorang anak sangat dipengaruhi kedua orangtuanya.

Kata asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah, hak anak-anak itu banyak. Salah satu yang terpenting yang harus diberikan kepada seorang anak ialah pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang menumbuhkan agama dan akhlak pada jiwa anak hingga mereka tumbuh dewasa. Beliau rahimahullah menukil sebuah ayat,

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari siksa api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu.” (at-Tahrim: 6)

Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap diri kalian adalah penggembala (pemimpin) dan setiap pemimpin kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang penguasa adalah pemimpin dan dia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang lelaki (ayah) adalah pemimpin bagi keluarganya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR . al-Bukhari)

Maka dari itu, anak adalah amanat yang terpikul pada pundak kedua orang tua. Amanat itu kelak akan dimintai pertanggungjawabannya pada hari kiamat. Ketika kedua orang tua memberikan pendidikan agama dan akhlak kepada anak-anaknya, maka kedua orang tua tersebut telah menunaikan amanatnya. Anak pun menjadi baik dan menjadi penyejuk mata bagi kedua orang tuanya di dunia dan di akhirat kelak. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan mereka). Setiap orang terikat dengan apa yang telah dikerjakannya.” (ath-Thur: 21)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Apabila seorang manusia meninggal dunia, terputuslah segenap amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan sepeninggalnya, dan anak salih yang mendoakan orang tuanya.” (HR . Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Terkait dengan hal itu, asy-Syaikh Ibnu al-‘Utsaimin rahimahullah mengungkapkan, “Inilah buah dari mendidik anak (ta’dibul walad). Jika mendidik dengan pendidikan yang baik niscaya (anak) akan memberi manfaat bagi kedua orang tuanya walaupun keduanya telah meninggal dunia.”

Akan tetapi, setan tentu tak akan tinggal diam. Dia selalu berusaha menggelincirkan anak keturunan Adam di mana pun mereka berada. Hal ini disebutkan oleh hadits ‘Iyadh bin Himar radhiallahu ‘anhu, “ Sesungguhnya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan lurus, lantas para setan menggelincirkan mereka.” (HR . Muslim)

Setan beserta bala tentaranya terus menggempur keimanan hamba-hamba Allah. Dengan berbagai tipu daya, mereka senantiasa berupaya menggelincirkan manusia dari jalan yang benar. Mereka membisiki hati manusia untuk menolak tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Mereka teguhkan hati sebagian manusia untuk membela dan mempertahankan tradisi-tradisi nenek moyang yang kental dengan aroma kesyirikan, kebid’ahan, dan kisahkisah khurafat. Kejahilan mereka menjadi salah satu perekat makin kokohnya cengkeraman setan.

Karena itu, marilah kita merujuk pada nilai-nilai Islam. Jangan berpaling dan mengambil nilai-nilai selain Islam. Kaum Yahudi dan Nasrani pun tak kalah sengitnya untuk menyusupkan ajaran-ajarannya ke dalam tubuh kaum muslimin. Dengan berbagai media yang mereka miliki, kaum muslimin dijejali dengan nilai kekufuran. Mereka berusaha memengaruhi kaum muslimin agar sebagian mereka merasa bangga apabila mengikuti cara pandang dan gaya hidup kaum Yahudi dan Nasrani. Wal ’iyadzu billah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sungguh, kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian (seperti) sejajarnya bulu anak panah dengan bulu anak panah (lainnya), hingga seandainya mereka masuk lubang dhab (binatang spesies reptil), niscaya kalian akan masuk juga (mengikutinya).” Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?” Jawab beliau, “Siapa lagi (kalau

bukan mereka).” (HR . al-Bukhari dan Muslim)

Di antara yang disusupkan ke dalam tubuh kaum muslimin terkait dengan kelahiran anak ialah membudayakan tradisi peringatan hari ulang tahun. Peringatan natal, yang maknanya memperingati hari kelahiran (dalam bahasa Arab: maulud), adalah termasuk kebiasaaan orang di luar Islam. Bahkan, hal itu dianggap sebagai sebuah tradisi yang bernilai ibadah. Peringatan semacam inilah yang dikembangkan di tengahtengah masyarakat. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

“Barang siapa menyerupai satu kaum, dia termasuk dari mereka (kaum tersebut).” (HR . Abu Dawud)

Saat menyambut kelahiran sang buah hati, seorang muslim yang baik tentu akan merujuk kepada apa yang telah dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Ia akan berupaya menjauhkan segala bentuk tradisi peninggalan nenek moyang yang telah turun temurun yang tak selaras dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa membimbing kita selalu. Amin.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Hukum Mengumandangkan Adzan di Telinga Bayi Saat Lahir

 

Adzan

Abu Rafi’ radhiallahu ‘anhu berkisah,

“Aku menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan seperti azan untuk shalat di telinga al-Hasan bin Ali ketika dilahirkan Fathimah.”

 

Seputar Hadits

Hadits di atas dikeluarkan oleh al-Imam Ahmad (6/9), Abu Dawud (5105), at-Tirmidzi, (1/286), al- Hakim (3/179), al-Baihaqi (9/305), dan Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir (1/121/2). Seluruh jalur riwayat, madar-nya (pusat perputaran hadits) kembali kepada jalur Sufyan dari ‘Ashim dari Ubaidullah dari Abu Rafi’. (Irwa’ul Ghalil, 1173)

Artinya, masing-masing ulama di atas meriwayatkan hadits Abu Rafi’ ini di dalam kitab-kitab mereka dengan jalur berbeda-beda. Akan tetapi, jalur periwayatan tersebut kembalinya kepada Sufyan juga.

Siapakah Sufyan yang dimaksud? Sufyan ats-Tsauri dan Sufyan bin ‘Uyainah sama-sama meriwayatkan hadits dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Akan tetapi, di dalam sanad ini yang dimaksud adalah Sufyan bin Sa’id ats-Tsauri.

Seputar Perawi Hadits

Dengan demikian, sanad hadits di atas yang perlu dibahas lebih mendetail adalah jalur Sufyan dari ‘Ashim dari Ubaidullah dari Abu Rafi’.

  • Abu Rafi’, sahabat yang meriwayatkan hadits di atas. Nama beliau diperselisihkan oleh ulama hadits. Ada yang mengatakan nama beliau Ibrahim, Aslam, Tsabit, dan ada pula yang berpendapat namanya Hurmuz. Abu Rafi’ termasuk maula (budak yang dimerdekakan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Ubaidullah adalah putra Abu Rafi’. Beliau terhitung tabi’in yang meriwayatkan hadits dari para sahabat, di antaranya adalah ayahnya, Abu Hurairah, dan Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhum. Bahkan, beliau termasuk juru tulis Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Beliau dinilai tsiqah oleh para ulama semisal Abu Hatim, al-Khathib, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sa’d.
  • ‘Ashim bin Ubaidullah bin ‘Ashim bin Umar bin Khaththab al-‘Adawi al- Madani.

Sejumlah ulama menilai ‘Ashim sebagai perawi dha’if (lemah). Bahkan, al-Imam al-Bukhari dan Abu Hatim rahimahumallah menilai beliau munkarul hadits. Al-Imam an-Nasa’i rahimahullah mengatakan, ”Kami tidak mengetahui al-Imam Malik rahimahullah meriwayatkan hadits dari seorang perawi dha’if yang masyhur kedha’ifannya selain dari ‘Ashim bin Ubaidillah. Al-Imam Malik rahimahullah meriwayatkan satu buah hadits darinya.”

  • Sufyan bin Sa’id bin Masruq ats-Tsauri, Abu Abdillah al-Kufi.

Beliau digelari Amirul Mukminin dalam bidang hadits. Sebuah gelar kelas tinggi yang menunjukkan derajat dan kedudukan beliau di kalangan ahli hadits. Gelar tersebut disematkan untuk beliau oleh sekian banyak ulama, semacam Syu’bah, Sufyan bin Uyainah, Abu ‘Ashim, Yahya bin Ma’in, dan beberapa yang lain. (Tahdzibut Tahdzib, pada biografi masing-masing)

Derajat Hadits Abu Rafi’

Al-Imam Tirmidzi rahimahullah setelah membawakan hadits Abu Rafi’ di atas mengatakan, ”Hadits ini hasan sahih.”

Asy-Syaikh al-Albani (Irwa’ul Ghalil 1173) berkomentar, “Demikianlah pendapat beliau. Padahal, para ulama sepakat menghukumi ‘Ashim bin Ubaidillah dha’if. Penilaian tertinggi untuk ‘Ashim adalah la ba’sa bihi (tidak mengapa). Itu pun yang mengucapkannya al-‘Ijli, sementara beliau termasuk ulama mutasahilin (mudah menilai tsiqah).”

Oleh sebab itu , al-Hafizh menegaskan di dalam at-Taqrib tentang kedha’ifan ‘Ashim ini. Adz-Dzahabi juga menyebutkan ‘Ashim di dalam adh-Dhu’afa. Beliau mengatakan, “Al- Imam Malik rahimahullah dan yang lainnya mendha’ifkannya.”

Adz-Dzahabi rahimahullah juga mengomentari penilaian al-Hakim terhadap hadits ini “Sanadnya sahih”, dengan mengatakan, “Ashim adalah perawi dha’if.

Asy-Syaikh al-Albani sendiri semula menyatakan hadits Abu Rafi’ ini hasan (Irwa’ul Ghalil no. 1173). Akan tetapi, di kemudian hari beliau rujuk dan menyatakan hadits ini dha’if (Shahih al-Kalimit Thayyib hlm. 162 dan Silsilah Dha’ifah 6121)

Beliau mengatakan, “… Dahulu saya menyatakan hasan hadits Abu Rafi’ di dalam al-Irwa’ (4/400/1173). Sekarang—walhamdulillah—kitab as- Syu’ab karya al-Baihaqi telah dicetak. Di sana saya menemukan sanadnya dan telah jelas bagi saya kedudukannya yang sangat lemah. Oleh sebab itu, saya menyatakan rujuk dari menilai hadits tersebut hasan.

Hadits Abu Rafi’ pun kembali dha’if sebagaimana seharusnya dari sanad hadits. Hal ini hanyalah salah satu dari puluhan contoh yang membuat saya berpendapat bahwa ilmu itu tidak bersifat jumud (kaku). Saya akan tetap terus membahas dan melakukan penelitian sampai kematian mendatangi saya. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Apakah sebelum asy-Syaikh al-Albani ada ulama hadits yang menyatakan hadits ini dha’if?

Ada. Al-Imam Ibnul Mulaqqin (al- Badrul Munir 9/348) menjelaskan, “Ibnu Hibban mengkritik ‘Ashim yang meriwayatkan hadits ini (hadits Abu Rafi’) dan hadits lainnya. Ibnul Qaththan juga menghukumi hadits ini mu’all (memiliki cacat) karena ‘Ashim. Bahkan, beliau mengatakan, ‘Sungguh, dia adalah dha’iful hadits, munkar, dan mudhtarib’.

Hadits ini juga disebutkan oleh al-Imam adz-Dzahabi rahimahullah sebagai salah satu hadits munkar yang diriwayatkan oleh ‘Ashim. (Mizanul I’tidal 4/274)

Wallahu a’lam, kesimpulannya, hadits Abu Rafi’ adalah dha’if.

 

Pendapat Ulama dalam Masalah Ini

Sebagian kaum muslimin memang melakukan amalan azan di telinga bayi saat baru dilahirkan. Bahkan, ada anggapan jika bayi tidak diazani, setan akan menjerumuskannya ke dalam kesesatan. Namun, seperti apakah pendapat para ulama dalam hal ini?

Fuqaha mazhab Syafi’i berpendapat bahwa dianjurkan azan di telinga bayi ketika lahir. Fuqaha mazhab Hanafi dan Hanbali juga berpendapat demikian.

Al-Imam Ibnu ‘Abidin rahimahullah (seorang ulama Hanafi) mengomentari pendapat al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah, “Sebab, riwayat sahih (hadits Abu Rafi’) yang tidak bertabrakan dengan dalil lain menjadi sebuah mazhab bagi seorang mujtahid, meskipun ia sendiri tidak menyatakan dengan tegas.”

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah (seorang ulama Hanbali) mengatakan,

“Sebagian ulama mengatakan disunnahkan bagi orang tua untuk mengumandangkan azan di telinga anaknya ketika baru lahir.” Setelah itu Ibnu Qudamah membawakan hadits Abu Rafi’. (al-Mughni 13/401, Mausu’ah Kuwaitiyah 2/373)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah juga menyebutkan hadits Abu Rafi’ di atas di dalam kitab beliau al-Adzkar. Setelah itu beliau mengatakan, “Sejumlah ulama dari mazhab kami (Syafi’i) berpendapat disunnahkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.”

Hadits Abu Rafi’ di atas juga disebutkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam kitab al-Kalimuth Thayyib dan Ibnul Qayyim di dalam kitab Tuhfatul Maudud. Bahkan, Ibnul

Qayyim rahimahullah membuat judul untuk hadits ini, “Disunnahkan azan di telinga kanan bayi dan iqamat di telinga kirinya.”

Jika kita memerhatikan lebih cermat dan teliti, setiap ulama yang berpendapat azan di telinga bayi ketika lahir hukumnya sunnah pasti berdalil dan beralasan dengan hadits Abu Rafi’ di atas. Padahal, kita telah membaca bersama kesimpulan bahwa hadits Abu Rafi’ adalah hadits yang dha’if.

Asy-Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad (Syarah Sunan Abi Dawud 5105) menyimpulkan, “Jika di dalam pembahasan atau bab ini (azan di telinga bayi) tidak ada hadits kecuali hadits Abu Rafi’ ini—sementara di dalam sanadnya terdapat seorang perawi dha’if yaitu ‘Ashim bin Ubaidillah—tidak ada satu pun dalil yang bisa digunakan sebagai hujah dalam masalah ini.”

Apakah beliau memiliki salaf dalam pendapat ini?

Al-Imam Malik rahimahullah berpendapat bahwa azan di telinga bayi ketika lahir hukumnya makruh. Bahkan, beliau menilainya sebagai perbuatan bid’ah. (Mausu’ah Kuwaitiyah 2/373)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin (Liqa Bab Maftuh) juga menilai hadits Abu Rafi’ dhaif.

Mungkinkah Ulama Berpendapat dengan Hadits Dha’if?

Terkadang muncul pertanyaan, “Jika memang hadits Abu Rafi’ dha’if, mengapa bisa ulama sebanyak itu berpendapat sunnahnya azan di telinga bayi dan berhujah dengan hadits Abu Rafi’?”

Hal semacam ini sangat mungkin terjadi. Orang yang mempelajari dan mendalami disiplin ilmu fikih pasti sering menemukan contoh semacam ini. Terkadang seorang ulama memegang pendapat yang bertentangan dengan hadits sahih karena hadits sahih itu belum sampai kepadanya. Ada pula seorang ulama berpendapat dengan hadits dha’if disebabkan tidak mengetahui sisi dha’ifnya. Jelasnya, ilmu Allah radhiallahu ‘anhuma yang diwariskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kita sangatlah luas, sementara yang kita ketahui hanya sedikit.

Setelah menjelaskan kelemahan hadits Abu Rafi’, al-Mubarakfuri (Tuhfatul Ahwadzi 1514) mengatakan, “Bagaimana mungkin amalan ulama berdasarkan hadits ini, sementara hadits ini dha’if? Saya menjawab, benar. Hadits ini memang dha’if. Akan tetapi, menjadi kuat dengan hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la al-Maushili dan Ibnu as-Sunni.”

Barangkali, inilah sebabnya mengapa para ulama berdalil dengan hadits Abu Rafi’. Sebab, ada beberapa riwayat yang dianggap bisa mendukung dan memperkuat hadits Abu Rafi’.

Adakah Hadits Lain yang Menguatkan Hadits Abu Rafi’?

Sebagian ulama yang berhujah dengan hadits Abu Rafi’ menyebutkan dua hadits lain untuk menguatkan dan mendukung hadits Abu Rafi’. Bagaimanakah derajat kedua hadits tersebut?

  1. Hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, dikeluarkan oleh Abu Ya’la di dalam al-Musnad (4/1602), Ibnus Sunni di dalam ‘Amalul Yaum (200/617), dan Ibnu ‘Asakir (16/182/2). Semuanya melalui jalur Yahya bin al-‘Ala ar-Razi, dari Marwan bin Salim, dari Thalhah bin Ubaidillah al-‘Uqaili, dari al-Husain bin Ali. Lafadz hadits al-Husain radhiallahu ‘anhu,

“Barang siapa lahir anaknya lalu ia mengumandangkan azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri, Ummu as-Shibyan (setan) tidak akan memudaratkannya.”

Asy-Syaikh al-Albani menilai, “Sanad hadits ini maudhu’ (palsu). Yahya bin al-‘Ala dan Marwan bin Salim adalah pemalsu hadits.”

  1. Hadits Ibnu Abbas, dikeluarkan oleh al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman (no. 8620) melalui jalur Muhammad bin Yunus, dari al-Hasan bin ‘Amr bin Saif as-Sadusi, dari al-Qasim bin Muthayyib, dari Manshur bin Shafiyyah, dari Abu Ma’bad, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan untuk al-Hasan bin Ali saat lahir. Beliau azan di telinga kanan dan iqamat di telinga kiri.”

Akan tetapi, di dalam sanad hadits ini pun terdapat dua perawi pemalsu hadits, yaitu al-Hasan bin ‘Amr dan Muhammad bin Yunus. Jadi, hadits ini pun derajatnya maudhu’ (palsu). (Silsilah adh-Dha’ifah no. 312 dan 6121)

Jelaslah sudah bahwa hadits Abu Rafi’ tetap dihukumi dha’if. Sebab, dua hadits yang disebutkan sebagai penguat malah lebih parah lagi derajatnya. Kedua hadits tersebut sama-sama palsu.

Wallahu a’lam.

 

Bagaimanakah Seharusnya?

Sebagian kalangan bersikukuh melakukan amalan ini. Alasannya, setan akan lari terbirit-birit ketika mendengar azan. Memang benar, ada sebuah hadits yang menunjukkan hal itu (hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu riwayat al-Bukhari no. 608 dan Muslim no. 389). Hanya saja, azan yang dimaksud adalah azan syar’i yang berlandaskan hadits sahih. Padahal, kita telah membaca bersama bahwa hadits azan untuk bayi lahir adalah dha’if.

Ada juga yang beralasan ingin memperdengarkan kalimat-kalimat baik untuk pertama kali di pendengaran bayi. Hanya saja, Islam mendidik dan membimbing kita untuk beramal dan beribadah berdasarkan hujah dan dalil yang kuat. Adakah hujah yang kuat untuk mengumandangkan azan di telinga bayi? Lagi pula, apakah bayi tersebut memang benar-benar bisa mendengar azan?

Bahkan, ada yang beralasan dengan tindakan Umar bin Abdul Aziz rahimahullah yang melakukan amalan ini. Jawabannya, al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah (at-Talkhis al-Habir) menyatakan, “(Pertama) saya tidak melihatnya musnad (sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam). Kedua, seandainya pun benar Umar bin Abdul Aziz rahimahullah melakukannya, tidaklah bisa diterima sebagai hujah. Sebab, ibadah harus berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah.”

Berdasarkan sedikit keterangan di atas, kita menyatakan bahwa azan di telinga bayi ketika lahir tidaklah dituntunkan oleh Islam. Sebab, tidak ditemukan dalil dan hujah yang bisa dijadikan sebagai landasan beramal.

Kita masih bisa memaklumi sebagian kaum muslimin yang masih melakukan amalan ini. Barangkali mereka belum mengetahui bahwa hadits yang dijadikan landasan adalah hadits lemah. Maka dari itu, tugas kita ialah menjelaskannya. Masalahnya, setelah seorang muslim mengetahui hadits dalam hal ini lemah, atas dasar apa ia tetap melakukannya?

Wallahul muwaffiq.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar ibnu Rifai

Kabar Gembira bagi Orang Tua

 

12375

Ar-Rahmah adalah salah satu sifat Allah ‘azza wa jalla yang mulia, sempurna, dan terkandung dua nama dari nama-nama-Nya yang husna, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim. Sifat rahmah-Nya sangat luas, meliputi seluruh makhluk-Nya yang ada di langit dan di bumi. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan kepada para hamba-Nya,

“Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu.” (al-A’raf: 156)

Para malaikat yang bertugas memikul Arsy-Nya dan yang ada di sekitarnya senantiasa pun memohon kepada-Nya agar senantiasa meluaskan rahmat-Nya.

(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan), “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (Ghafir: 7)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan di dalam tafsirnya bahwa ‘Rahmat-Ku meliputi segala sesuatu’ maksudnya meliputi alam yang tinggi dan yang rendah, yang baik dan yang jahat, yang beriman dan yang kafir, Jadi, tidak ada satu makhluk pun kecuali benar-benar telah mendapatkan rahmat, karunia, keutamaan, dan kebaikan-Nya.

Namun, rahmat (kasih sayang) yang khusus, yang membuat seorang hamba mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat, belum pasti didapatkan oleh setiap makhluk. Oleh karena itu, Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang siapa yang berhak mendapatkan rahmat yang khusus itu dalam firman-Nya, ‘… maka Aku tetapkan rahmat (yang khusus itu) bagi hamba-hamba yang bertakwa.’

Yaitu orang-orang yang bertakwa, yang takut terhadap berbagai kemaksiatan, baik yang kecil maupun yang besar. (Tafsir as-Sa’di)

Itulah rahasia yang terkandung dalam firman-Nya,

“Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (al-Ahzab:43)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan firman Allah, “Dia Maha Penyayang hanya kepada orang-orang yang beriman,” yaitu di dunia dan di akhirat. Kasih sayang-Nya di dunia terwujud dengan Dia ‘azza wa jalla menunjuki mereka kepada al-haq (kebenaran) yang tidak diketahui oleh selain mereka. Dia menjadikan mereka melihat jalan yang lurus dengan mata hati mereka. Adapun orang-orang selain mereka menyimpang dan tersesat, baik kalangan dai yang mengajak kepada kekafiran atau kebid’ahan maupun para pengikutnya.

Adapun kasih sayang-Nya bagi mereka di akhirat, Allah ‘azza wa jalla akan melimpahkan keamanan dari rasa takut yang dahsyat sekaligus memerintah para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada mereka dengan kesuksesan mendapatkan surga dan selamat dari api neraka. Namun, hal itu tidak mungkin didapatkan kecuali karena kecintaan dan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla terhadap mereka. (Tafsir Ibnu Katsir)

Kabar Gembira bagi Mereka

Di antara bukti kasih sayang Allah ‘azza wa jalla terhadap para hamba-Nya yang bertakwa dan bersabar menghadapi berbagai problem kehidupan mereka di dunia adalah kabar gembira bagi mereka dalam rangka membesarkan hati mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Rabb mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan, dan surga. Mereka memperoleh kesenangan yang kekal di dalamnya.” (at-Taubah: 21)

Allah mengutus para malaikat-Nya untuk memberi kabar gembira kepada para hamba-Nya yang istiqamah di atas jalan-Nya.

“Dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (Fushshilat: 30)

Dzat Yang Maha Penyayang memerintah Rasul-Nya untuk memberikan kabar gembira kepada para hamba-Nya yang senantiasa sabar dengan berbagai macam musibah yang menimpanya.

“Wahai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah bersama orangorang yang sabar.” (al-Baqarah: 153)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kesimpulannya, kabar gembira itu bisa terjadi pada urusan dunia dan akhirat. Maka dari itu, selayaknya seseorang senantiasa optimis dan senang dengan kebaikan, serta tidak melihat dunia yang ada di hadapannya dengan pandangan masam dan gelap hingga patah semangat dan putus asa.

Apabila dia berhasil mendapatkan kebaikan, dia mendapat ucapan selamat. Adapun kabar gembira dengan kebaikan yang dia akan dapatkan, maka berilah kabar gembira suadaramu! Jadikanlah senang hatinya! Kalau engkau melihat seseorang sedang berduka, seakan-akan dunia sempit baginya karena berbagai ujian dan cobaan yang menimpanya, sampaikanlah kepadanya untuk berbahagia dengan jalan keluar (yang sudah dekat).

Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Yakinilah, pertolongan itu (akan didapat) bersama kesabaran, jalan keluar itu bersama kesusahan, dan kemudahan itu (akan datang) bersama kesulitan.” (HR. Ahmad)

 

Tiga Golongan yang Diuji dengan Anak

  1. Orang yang Belum/Tidak Dikaruniai Anak dari Perkawinannya

Allah ‘azza wa jalla lah yang menciptakan seluruh alam semesta ini. Dia pula yang berkuasa menjadikan apa saja yang Dia kehendaki. Dia berfirman,

“Dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 50)

Pasangan suami istri yang belum dikaruniai atau tidak mendapatkan anak dari perkawinannya, kami nasihatkan untuk:

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dan mengembalikan hal itu kepada-Nya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupi (keperluan)nya.” (ath-Thalaq: 2-3)

  1. Boleh melakukan usaha-usaha medis, terapi, dan yang lainnya, sebagai upaya mendapatkan keturunan selama cara-cara tersebut tidak dilarang oleh agama dan disertai doa, karena Dia adalah Maha Pencipta. Allah ‘azza wa jalla menceritakan upaya Nabi Zakaria ‘alaihissalam mendapatkan keturunan di awal surat Maryam.

(Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Rabbmu kepada hamba-Nya, Zakaria, yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut. Ia berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, wahai Rabbku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedangkan istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi-Mu seorang putra.” (Maryam: 2-5)

  1. Kasih sayang pasangan suami istri yang belum atau tidak dikaruniai keturunan bisa dicurahkan kepada anak yatim yang dipeliharanya atau anak asuh yang menjadi tanggung jawabnya. Namun, mereka tidak boleh mengadopsi dengan menisbatkan nasab anak itu kepada mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitakan keutamaan memelihara anak-anak yatim baik dari kerabat dekat maupun bukan, dalam sabdanya,

“Penanggung jawab anak yatimyang memiliki hubungan kekerabatan atau tidakkedudukannya di surga antara aku dan dia sangat dekat, seperti jari telunjuk dengan jari tengah.” Perawi hadits ini, yaitu Malik bin Anas rahimahullah, mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengahnya. (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang menisbatkan nasab kepada selain bapak kandungnya dalam sabdanya,

“Barang siapa mengaku-aku nasab kepada orang yang bukan bapaknya padahal dia tahu bahwa orang tersebut bukan bapaknya, haram baginya surga.” (Muttafaqun alaih)

2 . Orang-orang yang mendapatkan keturunan sedikit/banyak dari perkawinannya, baik laki-laki saja, perempuan saja, maupun keduanya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya).” (asy-Syura: 49—50)

Lahirnya keturunan adalah salah satu tujuan mulia di dalam pernikahan. Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi motivasi kepada kaum pria untuk menikahi wanita subur yang memiliki potensi mempunyai anak. Beliau bersabda,

“Nikahilah wanita yang penyayang, yang berpotensi punya anak (subur), karena aku sungguh berbangga-bangga dengan banyaknya kalian di antara para nabi nanti pada hari kiamat.” (HR. Ahmad, dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Adab az-Zifaf hlm. 16)

Dari Ma’qil bin Yasar radhiallahu ‘anhu, seorang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya aku mencintai seorang wanita yang memiliki nasab dan cantik, hanya saja dia tidak bisa punya anak. Apakah aku boleh menikahinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jangan!”

Dia datang lagi untuk kedua kalinya dan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap melarangnya. Kemudian dia datang lagi ketiga kalinya, lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang semakna dengan hadits di atas. (HR. Abu Dawud dan an-Nasa’i)

Nasihat bagi orang tua yang dikaruniai anak, sedikit atau banyak, adalah sebagai berikut.

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, takwa adalah modal utama untuk menghadapi berbagai problem kehidupan, terutama dalam hal menunaikan tanggung jawab orang tua terhadap anaknya. Dengan takwa, semua urusan menjadi mudah sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaq: 4)

  1. Sabar dan ikhlas menunaikan tanggung jawabnya terhadap mereka, terutama tanggung jawab tarbiyah (mendidik) dan memberikan nafkah, karena hal itu termasuk cobaan baginya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya hartamu dan anakanakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Allah ‘azza wa jalla memerintah para hamba-Nya yang beriman untuk mentarbiyah diri, keluarga, dan anak-anaknya.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira kepada siapa saja yang senantiasa memerhatikan dan menunaikan kewajiban ini di dalam sabdanya,

“Terus-menerus ujian dan cobaan akan dihadapi orang mukmin ataupun mukminah baik yang berkaitan dengan dirinya, anaknya, maupun hartanya sampai dia bertemu dengan Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan tidak ada dosa pada dirinya.” (HR. at-Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dinyatakan hasan oleh al-Albani dalam Shahih al-Jami’ no. 5815)

Terlebih lagi mendidik anak-anak perempuan, karena lemahnya mereka dan susahnya menjaga agama maupun kehormatan mereka di zaman sekarang ini . Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi kabar gembira di dalam sabda-Nya,

“Barang siapa diuji dengan anak-anak perempuan dan dia berbuat baik kepada mereka, pada hari kiamat nanti mereka akan menjadi tameng baginya dari api neraka.” (Muttafaqun alaih dari Aisyah radhiallahu ‘anha)

  1. Senantiasa memohon pertolongan Allah ‘azza wa jalla dalam menunaikan tanggung jawab yang berat ini.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.” (an-Nahl: 127)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Semangatlah kamu untuk mendapatkan segala sesuatu yang akan bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla, dan jangan malas.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

  1. Orang-orang yang dikaruniai anak, tetapi sebagian atau seluruhnya meninggal, khususnya sebelum baligh.

Allah ‘azza wa jalla mengabarkan tentang kekuasaan-Nya yang sempurna,

“Kami tetapkan dalam rahim apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) sampailah kamu kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah dia ketahui.” (al-Hajj: 5)

Nasihat dan kabar gembira bagi mereka adalah sebagai berikut.

  1. Bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla.

Sebab, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipatgandakan pahala baginya.” (ath-Thalaq: 5)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasihati seorang wanita yang anaknya meninggal,

“Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.” (Muttafaqun alaih dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

  1. Bersabar dan mengharapkan pahala Allah ‘azza wa jalla dari musibah itu. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku tidak memiliki balasan bagi hamba-Ku yang mukmin apabila Aku mengambil kekasihnya (orang yang dicintai) dari penduduk dunia lalu dia mengharapkan balasan dengannya kecuali surga’.” (HR. al-Bukhari)

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Wanita (muslimah) mana saja yang tiga anaknya mati, maka mereka akan menjadi tameng bagi orang tuanya dari api neraka.” Ada seorang wanita bertanya, “Kalau dua anak?” Beliau menjawab, “Dua anak juga.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah dua orang muslim (suami istri) yang meninggal tiga anak yang lahir dari tulang sulbinya dan mereka belum baligh kecuali Allah ‘azza wa jalla akan memasukkan mereka dan kedua orang tuanya ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat-Nya.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Mereka (anak-anak itu) masih menunggu di salah satu pintu surga kemudian mereka diperintah, ‘Masuklah kalian ke surga.’ Mereka berkata, ‘(Kami akan menunggu) sampai bapak ibu kami datang.’ Kemudian dikatakan kepada mereka, ‘Masuklah kalian dan kedua orang tua kalian ke dalam surga dengan sebab keutamaan rahmat Allah ‘azza wa jalla’.” (HR. an-Nasa’i dan Baihaqi, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Ahkamul Janaiz hlm. 34)

Akhirnya, mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang senantiasa bersabar menghadapi berbagai ujian dan cobaan dalam kehidupan dunia ini, terkhusus dalam rumah tangga. Semoga Allah menjadikan semuanya sebagai penghapus dosa-dosa kita sehingga kita bertemu dengan-Nya dalam keadaan mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Amin.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Manusia Berharap, Allah yang Menentukan

Manusia Hamba yang Terhormat

Manusia adalah makhluk Allah ‘azza wa jalla yang paling terhormat di muka bumi ini karena Allah ‘azza wa jalla mengangkat martabat mereka serta memosisikan pada tempat yang tinggi dan terhormat di hadapan makhluk yang lain, memuji dan menyanjung mereka dalam banyak kesempatan. Merekalah yang telah dinobatkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk mengurus urusan dunia ini di hadapan para malaikat.

“Dan ingatlah di saat Rabbmu berkata kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di muka bumi’.” (al-Baqarah: 30)

Para malaikat dengan keterbatasan ilmunya tentang manusia seraya berkata,

“Apakah Engkau akan menjadikan di atasnya orang yang akan melakukan perusakan dan melakukan pertumpahan darah?” (al-Baqarah: 30)

Ini adalah batas ilmu para malaikat tentang manusia yang akan diciptakan oleh Allah ‘azza wa jalla di muka bumi, dan mereka bermaksud menyucikan dan mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dari hal seperti itu. Mereka memberitakan bahwa mereka adalah makhluk yang taat kepada Allah ‘azza wa jalla dan bebas dari perbuatan merusak, dan mereka mengatakan,

Dan kami menyucikan dengan memuji Engkau dan membersihkan Engkau.(al-Baqarah: 30)

Allah ‘azza wa jalla menjelaskan bahwa Dia Maha Mengetahui makhluk manusia, lahiriah dan batiniah mereka. Allah Maha Mengetahui kebaikan yang berlipat ganda dalam penciptaan manusia dibanding dengan kekhawatiran para malaikat atas kejelekan yang akan muncul dari mereka.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

Sesungguhnya Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak mengetahuinya.(al-Baqarah: 30)

Menjadi makhluk yang terhormat tidak otomatis menjadi yang termulia di sisi Allah ‘azza wa jalla karena jati dirinya sebagai manusia. Akan tetapi, kemuliaan itu akan diperoleh di saat manusia itu beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan beramal saleh.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (al-Bayyinah: 7)

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa.” (al-Hujurat: 13)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya Allah akan mengangkat dengan al-Qur’an ini suatu kaum dan merendahkan dengannya kaum yang lain.” (HR. Muslim no. 1353 dari sahabat Umar Ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhu) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla mengangkat derajat seorang hamba sesuai dengan berpegang teguhnya dia dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

 

Kebanyakan Manusia Memilih Kerendahan dan Kehinaan

Itulah realita yang dijelaskan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam al-Qur’an dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam as-Sunnah, mayoritas manusia memilih kerendahan dan kehinaan di dalam hidup. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba- Ku yang berterima kasih.” (Saba’: 13)

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (al-An’am: 116)

“Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” (Shad: 24)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan, dan semuanya di neraka kecuali satu, yaitu al-Jamaah.” (HR. Ibnu Majah no. 3993)

Maka dari itu, jangan heran bila kita sulit untuk mendapatkan yang satu tersebut di tengah umat ini. Jangan heran apabila seseorang dengan gampang dan mudah tersesat jalannya di dalam beragama. Kalaulah bukan karena taufik dan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla, niscaya seseorang tidak akan bertemu dan berjumpa dengan satu golongan yang selamat tersebut.

Urusan Manusia Segalanya di Tangan Allah ‘azza wa jalla

Sering sekali manusia ini mengungkapkan penolakan atas segala yang berlangsung di dalam hidup mereka, lebih-lebih bila terjadi apa yang tidak sesuai dengan harapannya. Banyak yang akan dijadikan kambing hitam, dijadikan tumpuan kesalahan, tentunya dengan mengangkat dan membersihkan dirinya bahwa bukan dia yang salah dan keliru.

Manusia seringnya berangan-angan dan bercita-cita bahkan menggantungnya setinggi langit, angan-angan pada sesuatu yang dia tidak berilmu tentangnya dan setelah itu memastikan dirinya untuk bisa menggapai segala yang dicita-citakan.

Dengan menutup mata bahwa semua perjalanan hidup yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi, ada dalam ilmu dan pengaturan Allah ‘azza wa jalla. Dia menyadari bahwa banyak peristiwa di luar dugaan dan di luar batas daya pikirnya, terjadi dengan spontan dan tanpa pendahuluan. Tentu saja, orang yang beriman kepada Allah ‘azza wa jalla akan menerima segala peristiwa di dalam hidupnya dengan lapang dada dan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam,

Musa menjawab, “Pengetahuan tentang itu ada di sisi Rabbku, di dalam sebuah kitab, Rabb kami tidak akan salah dan tidak (pula) lupa.” (Thaha: 52)

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (al-An’am: 59)

“Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi, apa yang keluar darinya, apa yang turun dari langit, dan apa yang naik kepadanya. Dan Dia-lah yang Maha Penyayang lagi Maha Pengampun. Dan orang-orang yang kafir berkata, “Hari berbangkit itu tidak akan datang kepada kami.” Katakanlah, “Pasti datang, demi Rabbku yang mengetahui yang gaib, sesungguhnya kiamat itu pasti akan datang kepadamu. Tidak ada yang tersembunyi dari-Nya sebesar zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dari itu dan yang lebih besar, melainkan tersebut dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (Saba’: 2—3)

 

Manusia Memiliki Kehendak, Allah ‘azza wa jalla Berkehendak

Termasuk prinsip Ahlus Sunnah adalah manusia memiliki kehendak dan kehendak mereka di bawah kehendak Allah ‘azza wa jalla. Prinsip ini membantah dua bentuk keyakinan sesat dan paham berbahaya:

  1. Keyakinan bahwa manusia memiliki kehendak mutlak, sanggup mewujudkan semua kehendaknya tanpa terkait dengan kehendak Allah ‘azza wa jalla. Paham dan keyakinan ini diusung dan diproklamirkan oleh kaum Qadariyah.
  2. Keyakinan bahwa manusia tidak memiliki kehendak sedikit pun dan mereka berada dalam keterpaksaan untuk berbuat segala-galanya di dalam hidup ini dan semuanya karena kehendak Allah ‘azza wa jalla. Apabila Allah ‘azza wa jalla menyiksa manusia karena dipaksa—dalam pandangan mereka—Allah ‘azza wa jalla telah berbuat zalim atas mereka. Paham ini diusung dan disuarakan oleh kaum Jabriyah.

Mari kita menyimak apa kata Rabb kita di dalam masalah ini.

“Dan kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali bila dikehendaki Allah. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (al- Insan: 30)

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (at-Takwir: 29)

“Kalau sekiranya Kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orangorang yang telah mati berbicara dengan mereka dan Kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka, niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (al-An’am: 111)

Dalil-dalil di atas menjelaskan bahwa, segala apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla pasti terjadi. Sebaliknya, apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak mungkin terjadi, dan bagaimana mungkin terjadi dalam kekuasaan-Nya apa yang tidak dikehendaki. Kalau demikian siapa lagi yang paling sesat dan paling kufur dari seseorang yang menganggap Allah ‘azza wa jalla menghendaki keimanan dari seorang kafir sementara si kafir menginginkan kekufuran, lalu kehendak sang kafir mengalahkan kehendak Allah ‘azza wa jalla, Mahatinggi Allah ‘azza wa jalla dari apa yang mereka katakan.” (Syarah Aqidah Thahawiyyah, Ibnu Abil ‘Izzi hlm. 161)

Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad bin Salamah bin Salamah al-Azdi al- Hajari al-Mishri ath-Thahawi al-Hanafi dalam Aqidah Thahawiyyah berkata,

“Segala sesuatu terjadi dalam ketentuan takdir dan kehendak Allah ‘azza wa jalla, dan kehendak-Nya pasti terlaksana, dan tidaklah terlaksana kehendak hamba kecuali apa yang Allah ‘azza wa jalla kehendaki buat mereka, sehingga apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla buat mereka pasti terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan terjadi.”

 

Jujur dalam Menggantungkan Harapan kepada Allah ‘azza wa jalla

Seringkali manusia berharap akan sebuah karunia Allah ‘azza wa jalla, namun sangat sedikit dari mereka yang mau menyambut panggilan Allah ‘azza wa jalla. Manusia juga sangat gampang dan mudah melupakan Dzat yang telah memberinya nikmat. Mudah berkeluh kesah di dalam hidup. Apabila Allah ‘azza wa jalla tidak memberikannya atau belum menganugerahkan kepadanya apa yang diharapkan, ia tampakkan kekufuran dan kekafiran.

Sebaliknya, bila Allah ‘azza wa jalla memberikan apa yang dimintanya dia justru menyombongkan diri, sehingga tidak sedikit dari mereka melontarkan ungkapan-ungkapan keangkuhan seperti; ‘Ini karena ilmu dan keahlian saya’, ‘Ini karena keturunan saya’, ‘Ini memang kesuksesan yang sudah turun-temurun’, ‘Ini karena strategi-strategi saya yang tepat dan jitu’, ‘Ini karena anak buah saya yang handal dan berpengalaman’, ‘Ini karena kemuliaan saya, maka pantas saya mendapatkannya’, dan sebagainya.

Dia tidak merasa jika semuanya ini datang dari Allah ‘azza wa jalla yang menuntutnya untuk bersyukur bila menyenangkan dan sabar bila tidak sesuai dengan harapan.

“Sesungguhnya apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami Dia bergembira ria karena rahmat itu. Jika mereka ditimpa kesusahan disebabkan perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar) karena sesungguhnya manusia itu amat ingkar (kepada nikmat).” (asy-Syura: 48)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan bahwa apabila dia mendapatkan nikmat, dia menjadi jahat dan sombong dan bila dia diuji, dia berputus asa, sebagaimana ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum wanita,

“Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian! Sebab, aku benar-benar melihat kebanyakan kalian penghuni neraka.”

Seorang wanita bertanya, “Mengapa, wahai Rasulullah?”

Beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian itu banyak mengeluh dan jelek pergaulan (bersama suami kalian) dan jika kamu (suami) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka sepanjang tahun, lalu suatu hari kamu meninggalkan kebaikan itu, wanita itu berkata, ‘Aku tidak pernah melihat kebaikan darimu sama sekali’.” (HR. Muslim no. 79, dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma dan pada no. 80 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Ini adalah kondisi kebanyakan orang, kecuali yang telah mendapatkan hidayah dari Allah ‘azza wa jalla dan mendapatkan bimbingan-Nya, serta termasuk golongan orangorang yang beriman dan beramal saleh.

Orang yang beriman itu seperti yang dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Bila dia mendapatkan kesenangan, dia bersyukur dan bila menimpanya sesuatu yang menyedihkan, dia bersabar. Itu adalah kebaikan baginya, dan hal itu tidak didapatkan selain oleh orang yang beriman’.” (HR. Muslim no. 299 dari sahabat Shuhaib bin Sinan radhiallahu ‘anhu) Lihat Tafsir Ibnu Katsir 4/121.

Berharap Keturunan, Allah ‘azza wa jalla yang Menentukan dan Memutuskan

Allah ‘azza wa jalla bercerita tentang para nabi dan rasul serta orang-orang saleh di dalam al-Qur’an bahwa mereka sangat berharap untuk mendapatkan keturunan yang baik dan beberkah. Seperti di dalam firman-Nya,

“Di sanalah Zakariya mendoa kepada Rabbnya seraya berkata, “Ya Rabbku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)

“Ya Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang saleh.” (ash-Shaffat: 100)

“Wahai Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Furqan: 74)

Ayat-ayat di atas menunjukkan bahwa para nabi dan rasul serta orangorang saleh mengharapkan keturunan yang baik di dalam hidup. Mereka menggantungkan harapannya kepada Allah ‘azza wa jalla. Karena tidak ada sesuatu yang sulit bagi Allah ‘azza wa jalla jika mengatakan kun (jadilah) maka akan terjadi apa yang diinginkan-Nya. Walaupun hal itu dalam catatan ilmu manusia tidak mungkin terjadi.

Allah ‘azza wa jalla yang memberi siapa yang dikehendaki-Nya dan tidak memberi siapa yang diinginkan-Nya, tidak ada yang sanggup menghalangi bila Dia akan memberi dan tidak ada yang akan sanggup untuk memberi, bila Allah ‘azza wa jalla menghalanginya. Allah ‘azza wa jalla-lah yang akan menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya, berkuasa atas mereka serta Dia Allah ‘azza wa jalla memutuskan di atas ilmu dan keadilan-Nya.
Dia Allah ‘azza wa jalla yang akan memberi keturunan kepada seseorang dan tidak memberinya kepada yang lain. Menjadikan seseorang wanita itu subur dan tidak subur bahkan menjadikan seseorang itu mandul. Menganugerahkan hanya anak-anak wanita kepada seseorang, seperti anugerah-Nya kepada Nabi Luth ‘alaihissalam, atau semuanya lelaki seperti anugerah-Nya kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, atau memberinya keturunan laki-laki dan wanita seperti anugerah-Nya kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah ‘azza wa jalla pula yang tidak menganugerahkan keturunan seperti kepada Nabi Yahya dan Nabi Isa ‘alaihimassalam.

Hal ini telah dijelaskan oleh Allah ‘azza wa jalla di dalam firman-Nya,

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki. Atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (asy-Syura: 49-50)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

Melaksanakan Akikah

Akikah secara bahasa berasal dari kata yang berarti memotong. Adapun secara istilah agama, akikah adalah binatang yang disembelih karena lahirnya anak, baik laki-laki maupun perempuan. (asy-Syarhul Mumti’ 7/317 cet. al-Maktabah at-Taufiqiyyah)

Akikah punya sebutan lain, yaitu nasikah atau dzabihah yang berarti sembelihan. Tiga sebutan ini ditetapkan oleh syariat sehingga tidak pantas hanya dimasyhurkan (memakai) salah satunya dan yang lain ditinggalkan. (Tuhfatul Maudud hlm. 37)

Hukum Mengakikahi Bayi

Berdasarkan dalil-dalil yang kuat, akikah disyariatkan. Hanya saja telah terjadi perbedaan pendapat di antara ulama tentang wajib dan tidaknya.

  1. Jumhur (mayoritas) ulama berpendapat bahwa akikah hukumnya sunnah.

Di antara dalil mereka adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Barangsiapa suka / ingin menasikahi/mengakikahi anaknya, hendaklah menasikahinya. Untuk anak laki-laki dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing.” (Hasan, HR. Abu Dawud, an-Nasai, dan selain keduanya)

Segi pendalilan dari hadits ini, masalah mengakikahi bayi diserahkan kepada keinginan orang tuanya sehingga menunjukkan bahwa hal itu tidak wajib. Mereka juga berdalil dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mengatakan kepada Fatimah radhiallahu ‘anha ketika melahirkan al-Hasan radhiallahu ‘anhu,

“Jangan kamu mengakikahinya, tetapi gundullah rambut kepalanya….” (Hasan, HR. Ibnu Abi Syaibah, Ahmad 6/390—392, al-Baihaqi dalam al- Kubra 9/299, dan ath-Thabarani dalam al-Kabir)

  1. Ulama yang lain mengatakan bahwa akikah itu wajib. Di antara mereka adalah Buraidah al-Aslami, al-Hasan al-Bashri, al-Laits bin Sa’d, Dawud azh- Zhahiri, dan Ibnu Hazm rahimahumullah. Landasan pendapat ini adalah perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakikahi anak, dan perintah pada dasarnya menunjukkan wajib.

Di antara dalil pendapat ini adalah:

  1. Hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah mereka untuk (mengakikahi) anak laki-laki dengan dua kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan satu kambing. (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1513)
  2. Hadits Salman bin ‘Amr adh- Dhabbi bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Bersama anak laki-laki ada akikahnya, maka alirkanlah darah (sembelihan binatang) baginya dan singkirkanlah darinya kotoran (yakni dengan menggundul rambut kepala bayi).” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1515 dan Shahih Ibnu Majah no. 3164)

Para ulama yang mengatakan wajib telah menjawab argumentasi para ulama yang mengatakan sunnah. Di antara sanggahan mereka:

  1. Hadits yang menyebutkan,

“Barang siapa ingin/suka menasikahi/ mengakikahi anaknya….” bukanlah dalil yang memalingkan hukum wajibnya akikah menjadi sunnah. Sebab, lafadz ini serupa dengan firman Allah ‘azza wa jalla,

“(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus.” (at-Takwir: 28)

Apakah mencari jalan yang lurus (istiqamah) hukumnya hanya sunnah? Tentu tidak demikian, hukumnya wajib sebagaimana diketahui dari dalil-dalil yang lain.

  1. Adapun hadits Fathimah radhiallahu ‘anha

yang menyebutkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang Fathimah radhiallahu ‘anha mengakikahi anaknya, sebabnya ialah karena anaknya telah diakikahi oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana telah disebutkan oleh hadits yang lain, sehingga tidak perlu diakikahi lagi.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengakikahi (bayi) adalah wajib, seperti telah kami sebutkan. Tidak halal bagi seorang untuk menafsirkan suatu perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa hal itu boleh ditinggalkan, kecuali dengan adanya nash (dalil) yang lain tentang hal itu….” (al-Muhalla 7/526)

Argumentasi kedua pendapat di atas masih banyak dan tidak mungkin ditampilkan secara panjang lebar di ruang yang terbatas ini. Pembaca kami persilakan melihat kitab Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim dan Ahkamul Maulud fis-Sunnah al-Muthahharah karya Salim asy-Syibli dan Muhammad ar-Rabah.

Pendapat yang mengatakan akikah hukumnya wajib itu lebih kuat. Oleh karena itu, seorang muslim—meskipun mengikuti pendapat yang mengatakan sunnah—tidak pantas meninggalkan perintah akikah ini selagi ia mampu. Hal ini demi mewujudkan sikap ittiba’ (mengikut) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang merupakan kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.

Namun, apabila seseorang tidak mampu mengakikahi anaknya karena keterbatasan dana misalnya, tidak mengapa dia tidak mengakikahi anaknya. Hal ini berlandaskan firman Allah ‘azza wa jalla,

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (al-Baqarah: 286)

Ketentuan Binatang yang Disembelih Untuk Nasikah

Akikah tidak sah kecuali dengan kambing, baik kambing domba atau kambing kacang. Hal ini berlandaskan beberapa riwayat, di antaranya hadits,

“Bagi anak laki-laki (akikah) dua kambing yang sepadan dan bagi anak perempuan satu kambing.” (HR. at- Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

Maksud “yang sepadan” adalah sepadan dari sisi umur dan bagusnya. (Faidhul Qadir dan Nailul Authar 5/158)

Terdapat atsar bahwa ketika lahir anak laki-laki Abdurrahman bin Abi Bakr ash-Shiddiq maka dikatakan kepada ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ummul mukminin, “Akikahilah ia dengan (menyembelih) unta!” Aisyah berkata, “Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi, (seperti) apa yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sabdakan (yaitu) dua kambing yang sepadan.” (HR. ath- Thahawi dan al-Baihaqi. Asy-Syaikhal-Albani berkata dalam al-Irwa’ bahwa sanadnya hasan 4/390)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

“Menurut saya, tidak sah akikah selain dengan kambing.” (Fathul Bari 9/593)

Adapun atsar yang datang dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa ia mengakikahi anaknya dengan unta, atsar ini memang sahih, diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah dalam al-Mushannaf dan ath-Thabarani dalam al-Kabir. Akan tetapi, sahabat Anas radhiallahu ‘anhu di sini tidak menyebutkan apakah itu adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ucapannya atau bukan. Jika demikian, kita mengambil yang jelas dari ucapan dan perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu akikah dengan menyembelih kambing.

Adapun hadits riwayat ath- Thabarani (yang artinya), “Barang siapa dianugerahi anak laki-laki hendaklah ia mengakikahinya dengan unta, sapi, dan kambing.” (al-Mu’jam ash-Shaghir: 45) dinyatakan maudhu’ (palsu) oleh ulama. Hadits di atas mengandung banyak cacat pada sanadnya, dan yang paling menonjol adalah adanya rawi bernama Mas’ud bin al-Yasa. Al-Hafizh al-Haitsami rahimahullah berkata, “Dia pendusta.” (lihat Irwa’ul Ghalil 4/393—394)

Menurut sebagian ulama, kambing untuk akikah memiliki kriteria seperti kambing yang sah untuk kurban, yaitu telah berumur setahun, tidak buta, tidak kurus kering, tidak pincang, tidak sakit, tidak boleh dijual sedikit pun dari daging dan kulitnya, serta boleh (namun makruh) dipatahkan tulangnya. Orang yang mengakikahi boleh makan darinya dan menyedekahkannya. (Tuhfatul Maudud hlm. 53)

Jumlah Kambing yang Disembelih

Seperti telah disebutkan bahwa untuk anak laki-laki dua kambing dan untuk anak perempuan satu kambing. Tidak ada masalah, apakah kambing yang disembelih itu jantan atau betina sebagaimana telah disebutkan yang demikian dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi 2/164—165 no. 1517)

Apabila seseorang hanya mampu mengakikahi anak laki-lakinya dengan seekor kambing, sebagian ulama mengatakan itu telah sah dan tujuan akikah telah tercapai. Akan tetapi, apabila suatu saat nanti Allah ‘azza wa jalla memberi kecukupan kepadanya, hendaknya ia menyembelih seekor kambing lagi sehingga menjadi dua kambing. Ini yang utama. (asy-Syarhul Mumti’, asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 7/318)

Waktu Akikah

Waktu penyembelihannya adalah pada hari ketujuh dihitung dari hari kelahirannya. Ini berlandaskan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelih baginya pada hari ketujuhnya.” ( HR. Abu Dawud no. 2838 dari Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu. Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1522)

Berlandaskan hadits ini dan selainnya, waktu penyembelihannya adalah pada hari ketujuh dan tidak boleh dilakukan sebelum hari ketujuh. Apabila tidak mampu menyembelih pada hari ketujuh, dia menyembelih kapan saja ia mampu sebagai sesuatu yang wajib. (al-Muhalla 7/523)

Apabila dia baru mampu menyembelih setelah hari ketujuh, ia melakukannya kapan saja ia mampu tanpa menentukan hari tertentu. Adapun yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya), “Disembelih pada hari ketujuh, hari keempat belas, dan hari kedua puluh satu,” hadits ini lemah sehingga tidak bisa menjadi landasan hukum. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam as-Sunan (9/303) dan ath-Thabarani dalam Mu’jam ash-Shaghir dari hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu. Dalam sanadnya ada rawi bernama Ismail bin Muslim al-Makki, ia dhaif (lemah). (lihat Irwaul Ghalil 4/395)

Apabila Bayi Meninggal Sebelum Hari Ketujuh, Apakah Diakikahi?

Sebagian ulama berpendapat bahwa akikah tidaklah gugur. Alasannya, dalil-dalil syariat yang ada hanyalah menunjukkan waktu penyembelihannya (yaitu hari ketujuh). Jadi, akikah tidak gugur apabila bayi itu mati sebelum hari ketujuh. Sebab, dalil-dalil tersebut secara garis besarnya menunjukkan bahwa akikah disyariatkan dengan sebab kelahiran anak dan akikah disembelih pada hari ketujuh. (lihat Fatawa al- Lajnah ad-Daimah 11/445)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah merinci tentang bayi yang (disyariatkan untuk) diakikahi, apakah disyaratkan ia lahir dalam keadaan hidup? Apakah disyaratkan juga terhadap janin yang gugur sesudah ditiup padanya ruh?

Beliau menyebutkan empat tingkatan:

  1. Janin yang gugur sebelum ditiup ruh atasnya tidak diakikahi.
  2. Janin yang keluar sudah mati dalam keadaan telah ditiup ruh atasnya, maka ada dua pendapat ulama.
  3. Janin yang lahir dalam keadaan hidup dan meninggal sebelum hari ketujuh. Dalam hal ini juga ada dua pendapat ulama. Namun, pendapat yang menyatakan diakikahi lebih kuat daripada pendapat yang mengatakan diakikahi pada tingkatan kedua.
  4. Ia lahir hidup sampai hari ketujuh dan meninggal di hari kedelapan (sebelum diakikahi), tetap diakikahi. (asy-Syarhul Mumti’ 7/320)

Siapa yang Mengakikahi Anak?

Asalnya, yang dibebani melakukan akikah adalah ayah sang bayi. Akan tetapi, apabila ayahnya sudah meninggal, sang ibu menggantikan kedudukannya. (asy-Syarhul Mumti’ 7/318)

Boleh pula bayi tersebut diakikahi oleh selain ayah dan ibunya, sebagaimana halnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan dan al-Husain radhiallahu ‘anhuma. (Sunan Abu Dawud no. 2841)

Boleh Mengakikahi Diri Sendiri

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu menyebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi dirinya sendiri setelah diutus menjadi nabi. Jalan periwayatan hadits ini dari Anas radhiallahu ‘anhu ada dua.

Jalur pertama: Dari Abdullah bin al-Muharrar, dari Qatadah, dari Anas radhiallahu ‘anhu.

Melalui jalan inilah Abdurrazzaq meriwayatkannya dalam al-Mushannaf (4/329/7960), al-Bazzar dalam Musnad-nya (2/74/1237), dan yang lainnya.

Al-Bazzar berkata, “Abdullah bin al- Muharrar menyendiri dalam meriwayatkan hadits ini dan dia dhaif jiddan (lemah sekali)….”

Jalan kedua: Dari al-Haitsam bin Jamil, ia berkata, “Abdullah bin al-Mutsanna bin Anas telah bercerita kepada kami dari Tsumamah bin Anas, dari Anas.”

Melalui jalan inilah ath-Thahawi rahimahullah meriwayatkan dalam Musykilul Atsar (1/471), ath-Thabarani dalam al- Mu’jam al-Ausath, dan lainnya. Sanad hadits ini dinyatakan hasan (bagus) oleh asy-Syaikh al-Albani dan dinyatakan kuat oleh al-Imam al-Isybili rahimahullah dalam al-Ahkam.

Sebagian salaf berpendapat bahwa hadits ini diamalkan. Di antara mereka adalah Ibnu Sirin rahimahullah. Ia berkata, “Jika aku tahu bahwa aku belum diakikahi, aku akan mengakikahi diriku sendiri.”

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata,

“Jika engkau belum diakikahi, akikahilah dirimu, meskipun engkau sudah menjadi seorang lelaki (dewasa).”

Kedua atsar di atas dinyatakan kuat oleh asy-Syaikh al-Albani (lihat as- Silsilah ash-Shahihah 6/502—506).

Membagikan Daging Akikah

Daging akikah diberikan kepada para tetangga dan orang-orang miskin. Orang yang mengakikahi dan keluarganya diperbolehkan memakan sebagian daging tersebut. Daging akikah boleh dibagikan dalam keadaan masih mentah atau sudah matang. Bahkan, boleh juga dimasak dengan dicampur sesuatu selain daging akikah. Hanya saja, dibagikan dalam keadaan matang tentu lebih baik karena tidak merepotkan para tetangga dan orang-orang miskin untuk memasaknya. Dengan demikian, diharapkan mereka lebih senang karena tidak perlu repot memasaknya. (lihat Tuhfatul Maudud hlm. 50 dan 55 cet. al-Mu’ayyad)

Dibolehkan juga dia mengundang orang untuk memakan daging akikah. Hal ini berlandaskan atsar Mu’awiyah bin Qurrah, ia berkata, “Ketika lahir anakku, Iyas, aku mengundang beberapa orang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian aku memberi mereka makan….” (Shahih al-Adab al-Mufrad no. 950)

Disebutkan dalam fatwa al-Lajnah ad-Daimah (Komite Fatwa Ulama Arab Saudi), “Orang yang mengakikahi boleh membagikan dagingnya dalam keadaan masih mentah atau sudah dimasak. (Daging itu diberikan) kepada orangorang fakir, tetangga, kerabat, dan rekan-rekan. Dia dan keluarganya boleh memakan sebagiannya. Boleh pula dia mengundang manusia, yang fakir dan yang kaya, lalu memberi mereka makanan dari daging akikah, di rumahnya atau yang semisalnya.” (Fatawa al-Lajnah, 11/443—444)

Hikmah Akikah

Akikah adalah ibadah yang sarat makna dan hikmah, di antaranya:

  1. Menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau lakukan dan beliau perintahkan umatnya untuk melakukannya.
  2. Bentuk berkurban bagi anak untuk mendekatkan diri kepada Allah ‘azza wa jalla di saat awal ia terlahir di dunia.
  3. Akikah akan melepaskan anak dari statusnya yang tergadaikan sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Semua anak tergadaikan dengan akikahnya.” (Sahih, HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan Ibnu Majah)

Ulama berbeda pendapat tentang maksud “tergadaikan” pada hadits di atas. Ada yang mengatakan bahwa anak tidak bisa memberi syafaat orang tuanya apabila tidak diakikahi. Ini adalah pendapat ‘Atha rahimahullah dan diikuti oleh al-Imam Ahmad rahimahullah. Akan tetapi, al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah tidak sependapat dengan penafsiran ini dengan beberapa alasan. Di antaranya, syafaat di hari kiamat tidak terjadi kecuali apabila yang memberi syafaat diberi izin oleh Allah ‘azza wa jalla dan yang diberi syafaat adalah orang yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla karena tauhid dan ikhlasnya. Selain itu, lafadz hadits di atas tidak menunjukkan kepada penafsiran ‘Atha rahimahullah. Ibnul Qayyim rahimahullah lebih cenderung kepada pendapat yang menyatakan bahwa yang dimaksud tergadaikan adalah terhalangi dari hal yang sedang ia usahakan untuk mendapatkannya.

Dengan diakikahi, Allah ‘azza wa jalla melepaskan anak itu dari kekangan setan yang selalu menempel pada bayi sejak lahir di dunia ini dan menusuk pinggang bayi. (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud hlm. 46—49)

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Mencukur Rambut Bayi

Pada hari ketujuh diperintahkan untuk menggundul rambut bayi. Hal ini berlandaskan beberapa hadits di antaranya,

“Setiap anak tergadaikan dengan akikahnya, akikah disembelih untuknya pada hari ketujuh, digundul kepalanya, dan diberi nama.” (Sahih, HR. Ahmad dan Ahlus Sunan yang empat dari Samurah radhiallahu ‘anhu).

Demikian pula hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan dengan kambing dan beliau bersabda, “Wahai Fathimah, gundullah kepalanya!” (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1519)

Yang dimaksud menggundul kepala bayi adalah mencukur seluruh rambut kepalanya, bukan sebagiannya. Sebab, menggundul sebagian rambut kepala dan membiarkan sebagian lainnya telah dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Shahih al-Bukhari dari hadits Ibnu Umar no. 5921)

Akan tetapi, apabila ada kebutuhan mendesak untuk menggundul sebagian kepala, seperti untuk pengobatan, hal ini tidak mengapa. (Fathul Bari 10/360)

 

Apakah Perintah Menggundul Rambut Bayi Hanya Untuk Bayi Laki-Laki?

Dalam hal ini ada dua pendapat ulama.

1 . Ada yang mengatakan dimakruhkan untuk bayi perempuan, dan ini adalah pendapat al-Mawardi.

  1. Ada juga ulama yang mengatakan sama seperti bayi laki-laki. Ini adalah pendapat sebagian ulama Hanbali. (lihat Fathul Bari 9/595)

Pendapat yang mengatakan digundul lebih kuat berlandaskan hadits,

“Hanyalah wanita itu sama seperti laki-laki.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan at-Tirmidzi dari hadits ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 333)

Dengan demikian, tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan kecuali jika memang ada dalil yang membedakannya. Misalnya, untuk tahallul (keluar) dari amalan haji dan umrah serta beberapa kondisi yang lain, wanita tidak boleh menggundul kepalanya berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Wanita tidak ada keharusan menggundul, hanyalah bagi mereka memendekkan (rambut).” ( HR. Abu Dawud dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam Shahih al- Jami’)

 

Hikmah Menggundul Rambut

Perintah agama pasti mengandung hikmah dan maslahat yang mendalam. Apa yang kita ketahui baru sekelumit dari mendalamnya hikmah Allah ‘azza wa jalla di balik perintah ini.

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

“Menggundul adalah untuk menghilangkan (rambut) yang kotor dari kepala bayi. Menggundul juga berarti membuang rambut yang lemah agar diganti dengan yang lebih kuat dan lebih kokoh. Selain itu, menggundul bisa meringankan (beban) bayi dan membuka pori-pori kepala agar uap keluar dengan mudah. Hal ini akan menguatkan penglihatan, penciuman, dan pendengarannya.” (Tuhfatul Maudud hlm. 48)

 

Bersedekah dengan Perak Seberat Rambut Bayi

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah putrinya, Fatimah radhiallahu ‘anha, untuk menyedekahkan perak atas nama anaknya seberat rambut bayi yang digundul. Ini disebutkan oleh hadits Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Ia mengatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakikahi al-Hasan radhiallahu ‘anhu dengan seekor kambing, lalu bersabda, “Wahai Fatimah, gundullah kepalanya dan bersedekahlah seberat rambutnya berupa perak.”

Ali radhiallahu ‘anhu berkata, “Kami menimbang (rambut)nya. Beratnya satu dirham atau beberapa dirham.” (Shahih Sunan at- Tirmidzi no. 1519)

Maka dari itu, menjadi keharusan bagi yang memiliki keluasan untuk menyedekahkan perak seberat rambutnya. Jika tidak mampu, Allah ‘azza wa jalla tidak membebani suatu jiwa lebih dari kemampuannya.

Hal lain yang perlu diperhatikan, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah dalam at-Talkhis (4/148), seluruh riwayat sepakat menyebutkan (sedekah dengan) perak. Tidak ada satu riwayat pun yang menyebutkan emas.

Bersedekah dengan perak ini dilakukan pada hari ketujuh, sebagaimana yang dipahami dari hadits. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad rahimahullah. (Ahkamul Maulud fis-Sunnah al-Muthahharah 79—80)

Sebagian ulama berpendapat, jika pada hari ketujuh tidak ada tukang cukur yang bisa menggundul kepalanya, berat perak yang disedekahkan bisa ditentukan dengan perkiraan. (asy-Syarhul Mumti’ 7/321)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc

Memberi Nama Anak

Pada hari ketujuh dari kelahiran bayi ia sudah harus diberi nama. Hal ini demi menjalankan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana tersebut dalam hadits Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menamai anak pada hari ketujuh. (Dinyatakan hasan oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2832 cet. al-Ma’arif)

Namun, dibolehkan memberi nama anak sebelum hari ketujuh. Landasannya adalah hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Tadi malam terlahir bagiku anak laki-laki lalu aku memberinya nama (seperti nama) bapakku, (Nabi) Ibrahim ‘alaihissalam.” (Shahih Muslim no. 2310)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Boleh menamai anak pada hari kelahirannya.” (Syarh Shahih Muslim 14/100)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

“Sesungguhnya, hakikat penamaan adalah memperkenalkan sesuatu yang diberi nama. Sebab, jika sesuatu itu ada dan tidak diketahui namanya, tentu tidak ada sesuatu yang menyebabkannya dikenal.

Maka dari itu, boleh untuk memberi nama pada hari kelahirannya, dan boleh mengakhirkannya sampai tiga hari dan sampai hari diakikahi (hari ketujuh) dan boleh (juga) sebelum itu dan setelahnya, perkaranya di sini lapang.”

Di sini, Ibnul Qayyim rahimahullah membolehkan memberi nama anak setelah hari akikah (setelah hari ketujuh), namun demi mengamalkan perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seharusnya dihari ketujuh sudah diberi nama, atau kalau seorang mau maka boleh memberi nama sebelum hari ketujuh. (Tuhfatul Maudud hlm. 71)

Siapa yang Berhak Memberi Nama?

Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan,

“Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama dalam hal ini bahwa jika terjadi perselisihan antara ayah dan ibu dalam hal penamaan anak, ayahlah yang memiliki hak.” (Tuhfatul Maudud hlm. 85)

Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Pada dasarnya (masalah) penamaan dikembalikan kepada (hak) ayah, karena dia yang memiliki hak kewalian. Akan tetapi, seyogianya sang ayah bermusyawarah dengan ibu dan saudara-saudara si bayi dalam hal ini… Telah dimaklumi, apabila seseorang bersikap lapang terhadap keluarganya dan bermusyawarah dalam urusan seperti ini, tentu itu termasuk kebaikan.

Terkadang ibu berbeda pendapat dengan ayah dalam hal pemberian nama. Jika demikian, yang dijadikan pegangan adalah pendapat ayahnya. Namun, apabila mampu memadukan dua pendapat tersebut dengan memilih nama lain yang bisa disepakati kedua belah pihak, tentu ini lebih baik. Sebab, apabila terjadi kecocokan tentu lebih baik dan enak di hati.” (asy-Syarhul Mumti’, 7/322)

Memberi Nama yang Bagus

Hendaknya orang tua atau yang berkedudukan sebagai orang tua memberi nama anaknya dengan nama-nama yang bagus, yaitu bagus secara makna dan tidak bertentangan dengan aturan agama.

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Dalam kesempatan ini hendaknya seorang memilihkan untuk anaknya nama yang nantinya anak tidak akan menanggung celaan di saat dewasa dan tidak merasa tersakiti dengan nama itu, karena terkadang seorang ayah menyukai suatu nama tertentu akan tetapi di kemudian hari sang anak merasa tersakiti dengan nama tersebut sehingga menjadi sebab anak itu terganggu. Suatu hal yang maklum bahwa menyakiti seorang mukmin itu haram, maka seseorang (hendaknya) memilihkan nama yang terbagus dan paling dicintai Allah ‘azza wa jalla….” (asy-Syarhul Mumti’ 7/320—321)

Secara fitrah, orang senang dengan sebutan yang baik serta suka mendengarkan dan melihat sesuatu yang indah sehingga sangat tidak tepat bila ada yang mengatakan, “Apa arti sebuah nama.”

Bila kita melihat sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, kita akan dapati beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai nama yang baik dengan bukti ketika ada seorang sahabat memiliki nama yang tidak baik beliau menggantinya. Dahulu sahabat ‘Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu memiliki anak perempuan yang diberi nama ‘Ashiyah ( عَاصِيَةُ ) maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nama ia dengan Jamilah جَمِيْلة) ). ‘Ashiyah artinya wanita yang bermaksiat sedangkan Jamilah artinya wanita yang cantik.

Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah meriwayatkan dari bapaknya, bapaknya dari kakeknya, bahwa ia datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka Nabi bertanya, “Siapa namamu?” Ia (kakeknya Sa’id) menjawab, “Hazn.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Engkau Sahl.” Hazn berkata, “Aku tidak akan mengubah nama yang diberikan oleh bapakku.” (Shahih al-Bukhari no. 6190)

Hazn artinya keras, kaku, dan kasar.

Adapun Sahl artinya mudah dan lunak.

Sa’id bin al-Musayyib bin Hazn rahimahullah berkata,

“Perangai kaku/keras setelah itu selalu ada di tengah-tengah (keluarga) kami.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengubah nama yang jelek dengan nama yang baik. Sebab, nama yang baik mengandung pengharapan kebaikan, sedangkan nama yang jelek menjadikan seseorang beranggapan ada kesialan pada dirinya.

Memang, nama punya pengaruh dan sarat akan makna. Coba Anda perhatikan hadits Sa’id bin al-Musayyib rahimahullah di atas, bagaimana pengaruh nama yang jelek dirasakan keluarganya. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah menyarankan kakeknya untuk mengubah namanya (Hazn) menjadi yang baik, yaitu Sahl. Ia menolaknya dengan alasan tidak mau mengubah nama yang telah diberikan kepadanya oleh orang tuanya. Karena bersikukuh dengan nama jelek yang diberikan oleh orang tuanya, pengaruh nama jelek itu dirasakan hingga oleh anak cucunya.

Dahulu ketika terjadi Perjanjian Hudaibiyah antara pihak muslimin dan kafir, delegasi kafir Quraisy datang untuk berunding dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun tidak ada yang berhasil. Sampai datang utusan dari mereka yang bernama Suhail bin ‘Amr. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Suhail datang, beliau menyatakan,

Perkara kalian telah mudah.” (Shahih al-Bukhari no. 2732)

Suhail artinya mudah.

Nama yang Paling Bagus

Disunnahkan bagi keluarga yang dianugerahi anak untuk memilihkan nama dari nama-nama yang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla dan nama-nama yang baik yang mendekatinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya nama-nama kalian yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah ‘Abdullah dan Abdurrahman.” (Shahih Muslim no. 2132 dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

Demikian pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Nama-nama yang paling dicintai oleh Allah k adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman. Nama yang paling jujur/cocok adalah Harits dan Hammam, dan yang paling jelek adalah Harb dan Murrah.” (HR. al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad dan dinyatakan sahiholeh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Adab no. 625)

Hammam artinya adalah orang yang punya tekad/kehendak, sedangkan Harits artinya adalah orang yang berusaha.

Dikatakan nama yang paling jujur karena nama tersebut sesuai dengan maknanya. Sebab, tekad adalah permulaan suatu keinginan, dan dari keinginan ini akan muncul adanya usaha. Orang yang diberi nama dengan dua nama tersebut tidak terlepas dari hakikat maknanya. Berbeda halnya dengan orang yang diberi nama selain dua nama ini. (Faidhul Qadir 1/219)

Harb artinya adalah perang dan Murrah artinya pahit.

Adapun hadits yang berbunyi,

“Nama yang paling dicintai Allah ‘azza wa jalla adalah yang menunjukkan kepada (arti) penghambaan (kepada Allah ‘azza wa jalla) dan (arti) pujian.”

Asy-Syaikh al-Albani mengatakan, tidak ada asal-usulnya. Hal ini telah ditegaskan oleh as-Suyuthi dan selainnya. (as-Silsilah adh-Dhaifah no. 411)

Alangkah bagusnya jika bayi diberi nama dengan nama-nama para nabi.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ambillah nama (seperti) namaku.” (Shahih Muslim no. 2134)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberi nama sebagian anak sahabatnya dengan nama para nabi, seperti dalam Shahih al-Bukhari (no. 6198).

Nama-Nama yang Diharamkan

Ada penamaan anak yang diharamkan agama, di antaranya:

  1. Seluruh nama yang mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, semisal Abdu Husain (hamba Husain) dan Abdur Rasul (hamba Rasul).

Nama yang mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla wajib diganti. Ibnu Hazm rahimahullah berkata,

“Mereka (ulama) sepakat tentang haramnya setiap nama yang menunjukkan penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla.” (Tuhfatul Maudud hlm. 72)

Apabila kita memiliki ayah atau kakek yang namanya mengandung bentuk penghambaan kepada selain Allah ‘azza wa jalla, sedangkan mereka telah meninggal, nama tersebut tidak harus diubah. Hal ini berlandaskan hadits,

“Saya putra Abdul Muththalib.” (Shahih al-Bukhari no. 2864)

Hal ini (tidak mengganti nama yang sudah meninggal) diperbolehkan karena bersifat pengabaran, bukan memulai membuat nama. (asy-Syarhul Mumti’ 7/320)

  1. Nama مَلِكُ الْمُلُكِ (rajanya seluruh raja), سُلْطَانُ السَّلَاطَيْن (penguasanya para penguasa), dan شَاهٍ شَاه (raja diraja) Landasannya adalah hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Orang yang paling dimurkai dan paling jelek di sisi Allah ‘azza wa jalla pada hari kiamat adalah seorang yang diberi nama مَلِكَ الْأَمْلَاكِ (raja seluruh makhluk), (padahal) tiada raja yang sesungguhnya selain Allah ‘azza wa jalla.” (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Nama سَيِّدُ النَّاسِ ( sayyidun nas/ pemimpin manusia) dan سَيِّدُ الْكُلِّ (sayyidul kulli/pemimpin seluruhnya) karena nama ini hanya untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Nama yang khusus untuk Allah ‘azza wa jalla, seperti اَلْاَحَدُ (Yang Maha Esa) dan اَلرَّزَّاقُ (Sang Pemberi Rezeki). (lihat Tuhfatul Maudud karya Ibnul Qayyim rahimahullah)

Nama-Nama yang Dimakruhkan

Yang dimaksud di sini adalah namanama yang dilarang namun tidak sampai tingkatan haram, seperti Yasar (mudah), Rabah (orang yang untung), Najah (sukses), dan Aflah (beruntung). Hal ini berlandaskan hadits Samurah bin Jundub radhiallahu ‘anhu bahwa ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami menamai budak kami dengan empat nama: (yaitu) Aflah, Rabah, Yasar, dan Nafi’.” (Shahih Muslim no. 2136)

Nama-nama di atas pada dasarnya memiliki arti yang bagus, tetapi mengandung hal lain. Misalnya, ada yang mencari seseorang yang bernama Rabah (orang yang beruntung) lalu dikatakan bahwa Rabah tidak ada. Orang yang mendengarnya bisa jadi tidak suka dengan jawaban itu, yaitu Rabah tidak ada, yang apabila diartikan menunjukkan tidak ada orang yang beruntung di sana. Hal ini dikhawatirkan akan memunculkan anggapan sial.

Al- Imam an-Nawawi rahimahullah berpendapat bahwa larangan di sini adalah makruh, bukan haram. (Syarh Shahih Muslim 14/96)

Berikut ini beberapa penamaan yang dilarang:

  1. Memberi nama anak dengan nama para setan, seperti Khinzab.
  2. Nama para thaghut dan diktator zalim, semisal Fir’aun dan Qarun.
  3. Nama yang memiliki arti yang tidak disukai oleh jiwa dan sulit diterima oleh hati orang yang mendengarnya, seperti Harb (perang), Murrah (pahit), Kalb (anjing), dan Hayyah (ular).
  4. Nama-nama malaikat.

Hal ini diperselisihkan tentang kebolehannya. Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah lebih condong bahwa hal itu makruh. (asy-Syarhul Mumti’ 7/322)

  1. Memberi nama anak dengan nama al-Qur’an dan surat al-Qur’an (selain nama-nama nabi dan rasul) seperti طَهَ (Thaha), يَس (Yasin), dan حَم (Hamim).

As-Suhaili menyebutkan bahwa al-Imam Malik rahimahullah memakruhkan memberi nama Yasin. Adapun apa yang disebutkan oleh orang-orang awam bahwa Thaha dan Yasin termasuk nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini tidak benar. Sebab, hal ini tidak disebutkan oleh hadits yang sahih, hasan, atau mursal, dan tidak ada pula penukilan dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini hanyalah huruf-huruf hijaiyah yang berada di awal beberapa surat al-Qur’an. (Tuhfatul Maudud hlm. 75—80)

  1. Penamaan yang mengandung unsur tazkiyah.

Demikian pula , dilarang memberi nama anak dengan nama yang mengandung bentuk tazkiyah (menganggap dirinya baik), seperti Mubarak (orang yang diberkahi), Muflih (orang yang sukses), dan Barrah (wanita yang baik), karena bisa jadi kenyataannya tidak seperti itu. (Tuhfatul Maudud hlm. 74)

Telah disebutkan dalam ShahihMuslim pada kitab “al-Adab” bahwa

Zainab bintu Abi Salamah dahulu bernaman Barrah (wanita yang baik) lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya dengan mengatakan,

“Janganlah kamu menganggap baik dirimu, (karena) Allah ‘azza wa jalla lebih tahu tentang orang yang baik di antara kalian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian memerintahkan untuk menggantinya dengan nama Zainab.

Al-Imam ath-Thabari rahimahullah berkata,

“Tidak sepantasnya seorang memberi nama yang jelek maknanya, mengarah pada anggapan baik terhadap diri, atau nama yang artinya celaan. Meski nama hanyalah tanda bagi seseorang yang tidak dimaksudkan artinya, tetapi sisi tidak disukainya adalah jika ada orang yang mendengarnya akan menganggap bahwa nama itu adalah sifat bagi orang tersebut. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengganti nama dengan nama lain yang jika pemilik nama itu dipanggil, nama itu benar (sesuai dengan sifatnya).(Fathul Bari 10/577, cet. as-Salafiyah)

Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah berkata setelah menukil ucapan ath-Thabari rahimahullah di atas, “Berdasarkan hal ini, tidak boleh bayi diberi nama عِزُّالدِّيْنِ (‘izzuddin/ pemulia agama), مُحْيِ الدِّيْن (muhyiddin/ orang yang menghidupkan agama), نَاصِرُالدِّيْن (nashiruddin/penolong agama), dan yang semisalnya.(ash-Shahihah 1/427 cet. Maktabah al-Ma’arif)

Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Yang Dilakukan Pada Hari Pertama Kelahiran

Mentahnik Bayi

Tahnik adalah mengunyah sesuatu kemudian meletakkannya pada bagian atas mulut bayi. Mentahnik bayi adalah sunnah menurut kesepakatan para ulama, seperti yang disebutkan oleh al-Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim (14/ 99). Di antara landasannya ialah hadits Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, ia berkata, “Telah lahir anak laki-lakiku kemudian aku bawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau pun memberinya nama Ibrahim, lalu mentahniknya dengan kurma dan mendoakan berkah untuknya.” (Shahih al-Bukhari no. 5467 dan Muslim no. 2145)

Sunnah mentahnik bayi tidak khusus bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab, apa yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lakukan pada dasarnya umatnya juga diperintah untuk mengikutinya, kecuali ada dalil kuat yang menyatakan bahwa hal itu khusus berlaku bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dalam kitabnya, Tuhfatul Maudud (hlm. 25), Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan riwayat al-Khallal bahwa ketika budak perempuan al-Imam Ahmad rahimahullah melahirkan anaknya, al-Imam Ahmad rahimahullah memberinya kurma dan mengatakan kepadanya, “Kunyahlah kurma ini dan tahniklah dia.”

Tentang hikmah mentahnik bayi, sebagian ulama mengatakan bahwa hal itu sebagai bentuk harapan agar si anak nantinya beriman. Sebab, kurma adalah buah dari pohon yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serupakan dengan seorang mukmin. Beliau juga menyerupakan seorang mukmin dengan buah kurma dari segi manisnya. Selain itu, ilmu kedokteran telah membuktikan manfaat yang besar dari tahnik, yaitu memindahkan sebagian mikroba ke dalam usus untuk membantu pencernaan makanan. Terlepas dari benar atau tidaknya, yang jelas tahnik adalah sunnah yang mustahab (disenangi) secara pasti dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Inilah pegangan kita, bukan yang lainnya. Sebab, tidak ada nash (dalil) yang menerangkan hikmahnya, maka hanya Allah ‘azza wa jalla yang mengetahuinya. (lihat Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah karya Salim Ali asy-Syibli dan Muhammad Khalifah ar-Rabah hlm. 33—34)

Yang digunakan untuk mentahnik adalah buah kurma sebagaimana disebutkan oleh riwayat.

 

Apakah Dikumandangkan Azan dan Iqamat pada Telinga Bayi Ketika Lahir?

Dalam hal ini ada tiga riwayat:

  1. Riwayat Abu Rafi’ maula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata,

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan shalat di telinga al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma ketika Fathimah radhiallahu ‘anha melahirkannya.” (HR. Abu Dawud [no. 5105], at-Tirmidzi [no. 514], dan Ahmad [6/9])

Semuanya dari jalur periwayatan Sufyan ats-Tsauri, dari ‘ Ashim bin Ubaidillah, dari Ubaidillah bin Abi Rafi’, dari bapaknya (Abu Rafi’).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata tentang ‘Ashim bin Ubaidillah, “Dia dhaif (lemah).”

  1. Hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang disebutkan dalam Syu’abul Iman karya al-Baihaqi bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumandangkan azan pada telinga al-Hasan bin Ali radhiallahu ‘anhuma ketika dilahirkan. Beliau azan pada telinga kanannya dan iqamat pada telinga kirinya.

Dalam hadits ini ada perawi bernama Hasan bin ‘ Amr. Adz-Dzahabi rahimahullah berkata tentangnya dalam al-Mizan, “Ia dinyatakan dusta oleh Ibnul Madini.” Al-Bukhari rahimahullah berkata, “Ia kadzdzab (pendusta).” Ar-Razi rahimahullah berkata, “Matruk (riwayatnya ditinggalkan).” Kesimpulannya, hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma ini maudhu’ (palsu).

  1. Hadits al-Husain bin Ali radhiallahu ‘anhuma, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa diberi anak lalu mengumandangkan azan pada telinga kanannya dan iqamat pada telinga kirinya, anaknya tidak akan tertimpa oleh Ummu Shibyan (pengikut dari kalangan jin).”

Hadits ini diriwayatkan oleh al- Baihaqi dalam Syu’abul Iman dan Ibnu as-Sunni.
Akan tetapi, dalam sanadnya ada rawi bernama Yahya bin al-‘Ala dan Marwan bin Salim. Keduanya dikenal suka memalsukan hadits.

Kesimpulannya, hadits-hadits tentang mengazankan bayi tidak kuat. Asy- Syaikh al-Albani pada beberapa kitabnya sempat menguatkan hadits Abu Rafi’ yang lemah di atas (riwayat pertama), karena menganggap ada jalan lain yang memperkuatnya, yaitu hadits Ibnu ‘Abbas (riwayat kedua). Namun, setelah beliau melakukan penelitian lagi (setelah kitab Syu’abul Iman karya al-Baihaqi tercetak) ternyata hadits Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak bisa memperkuat hadits Abu Rafi’ karena pada sanadnya ada rawi yang matruk. Dengan demikian, akhir pembahasan beliau adalah bahwa hadits Abu Rafi’ tetap dhaif (lemah) seperti disebutkan dalam as-Silsilah adh-Dhaifah (cet. Maktabatul Ma’arif 1/494 no. 321)

(Disarikan dari kitab Ahkamul Maulud fis Sunnah al-Muthahharah hlm. 34—39)

Apabila riwayatnya lemah, hadits ini tidak bisa dijadikan landasan beramal. Wallahu alam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.