Tanya Jawab Ringkas Edisi 100

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

Potong Rambut Model Pemain Bola

Saya mencari nafkah dengan jasa potong rambut. Apa hukumnya jika diminta untuk memotong model rambut seperti pemain bola orang-orang kafir?

085262XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh bagi Anda memotong rambut dengan gaya orang kafir, karena termasuk ta’awun di atas dosa. Kaum muslimin tidak boleh bertasyabuh (menyerupai) dengan orang kafir.

 

Menerima Hadiah dari Pekerja Bank

Bagaimana sebaiknya apabila kita diberi hadiah dari orang yang bekerja di bank?

02470XXXXXX

 

Jawaban:

Jika diketahui bahwa penghasilan dia murni dari yang haram, sikap wara’ kita ialah tidak menerima hadiahnya.

 

Mengambil Keuntungan dari Akikah

Bolehkah mengambil keuntungan dari acara akikah? Misalnya, saya diberi sejumlah uang untuk membeli domba, kemudian memasak dan membagikannya. Keuntungan saya dapat dari uang yang diberikan dengan biaya pembuatan.

085793XXXXXX

 

Jawaban:

Jika profesi Anda adalah penjual kambing, boleh mengambil untung. Jika hanya ditunjuk sebagai wakil, hukum asalnya tidak boleh mengambil keuntungan kecuali apabila ada kesepakatan sebelumnya atau ada komisi dari orang yang menyuruh Anda.

 

Melamar Pekerjaan

Apakah melamar pekerjaan masuk dalam kategori meminta-minta?

085649XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak termasuk meminta-minta selama pekerjaan tersebut halal dan dia ahli dalam bidangnya. Lebih-lebih lagi jika murni urusan duniawi.

 

Mengucapkan Hamdalah saat Shalat

Bagaimana ketika kita shalat kemudian bersin dan mengucapkan, “Alhamdulillah,” apakah yang mendengar harus menjawabnya?

081281XXXXXX

 

Jawaban:

Pendapat sebagian ulama boleh dengan dasar hadits tentang kisah Muawiyah bin Hakam as-Sulami. Akan tetapi, yang mendengar tidak (boleh) mendoakan yang bersin.

 

Cara Masuk Islam

Apabila si fulan mengajak temannya untuk masuk Islam kemudian ia mau masuk Islam, apakah cukup baginya untuk bersyahadat di hadapan fulan saja atau ada ketentuan dan syarat lain?

08960XXXXXXX

 

Jawaban:

Seseorang yang hendak masuk Islam harus mengucapkan syahadatain di hadapan banyak muslimin dan lebih afdal di depan instansi pemerintah terkait, seperti KUA, agar keislamannya diketahui khalayak ramai.

 

Jas Hujan yang Isbal

Haruskah jas hujan dipotong agar tidak isbal?

085810XXXXXX

 

Jawaban:

Jika kita sebagai penjual jas hujan, tidak perlu memotongnya karena tinggi badan konsumen bervariasi. Jika kita adalah pembeli dan ukurannya terlalu panjang, dipotong agar tidak isbal.

 

Antara Akikah & Qurban

Mana yang didahulukan, akikah atau kurban jika waktunya bersamaan?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika akikahnya pada hari ke-7, dahulukan akikah karena waktunya terbatas. Namun, jika di luar hari ke-7, dahulukan kurban.

 

Tata Cara Takbir Idul Adha

Bagaimana tata cara takbiran yang benar menurut syariat?

08237XXXXXXX

 

Jawaban:

Takbir Idul Adha boleh dilakukan setelah selesai shalat dengan dibaca sendirian, tidak boleh dipimpin oleh imam.

 

Dana Haji di Bank Konvensional

Bolehkah berhaji dengan biaya dikelola oleh pemerintah melalui bank konvensional?

081392XXXXXX

 

Jawaban:

Diperbolehkan berhaji dengan cara tersebut karena kondisi yang tidak mungkin dihindari.

 

Kredit Motor

Bolehkah kredit sepeda motor di showroom seperti yang dilakukan kebanyakan masyarakat?

081360XXXXXX

 

Jawaban:

Kredit motor yang dilakukan kebanyakan masyarakat sekarang melalui dealer/sistem leasing adalah hal yang dilarang karena mengandung unsur riba.

 

Konsekuensi Bersyariat

Apakah setiap orang yang berusaha menempuh, menjalani, menegakkan syariat agama ini dalam kehidupannya mesti akan menghadapi hal yang tidak mengenakkan dan merisaukan hati dari orang-orang di sekitarnya?

08574XXXXXXX

 

Jawaban:

Ya, itu sebuah kepastian sebagai ujian keimanan dan keistiqamahan. Semakin tebal dan tinggi iman dan takwa seseorang, semakin berat dan banyak ujiannya.

 

Puasa 10 Hari Awal Muharram

Apakah boleh puasa pada bulan Muharram dari tanggal 1 sampai dengan 10?

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada dalil khusus puasa tanggal 1—10 Muharram. Yang ada adalah puasa Muharram secara umum dan tanggal 9—10 secara khusus.

Komisi Tambahan bagi Pekerja

Saya bekerja di pabrik (bagian produksi) dan diberi tugas tambahan. Jika ada mobil bahan baku datang, saya bertugas untuk mengeceknya. Jika sudah selesai dicek, saya mendapatkan uang dari sopir. Apakah uang tersebut halal untuk saya ambil?

08777XXXXXXX

 

Jawaban:

Komisi seperti itu hukum asalnya kembali kepada kebijakan perusahaan. Jika ada aturan yang membolehkan diambil oleh karyawan, diperbolehkan.

 

Wasiat Warisan

Apa boleh wasiat dalam bentuk harta/tanah diberikan kepada salah satu ahli waris saja (dalam kasus ini diberikan kepada cucu)?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika yang diberi termasuk ahli waris yang mendapat warisan, wasiat tersebut tidak sah. Sebab, tidak boleh berwasiat untuk ahli waris. Begitu pula jika wasiatnya lebih dari 1/3 harta waris, tidak sah walau yang diberi bukan ahli waris.

 

Amalan untuk Orang Tua yang Telah Meninggal

Amalan apa saja yang pahalanya bisa kita niatkan untuk kedua orang tua yang telah meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Amalan yang pahalanya bisa sampai kepada orang tua yang telah wafat di antaranya, doa kebaikan untuk mereka, ini yang paling dianjurkan; sedekah dan sejenisnya; qadha puasa wajib yang ditanggung oleh orang tua; haji badal; dan amal saleh secara umum. Sebab, anak adalah hasil usaha orang tua.

 

Mandi dengan Air Sisa Mandi Wanita

Bolehkah kita mandi dari sisa air yang dipakai mandi oleh seorang wanita (mahram ataupun bukan)?

085256XXXXXX

 

Jawaban:

Justru haditsnya menegaskan bahwa airnya tidak menjadi najis. Silakan lihat di Bulughul Maram pada Kitab Thaharah.

 

Upah yang Belum Ditentukan

Saya ditugaskan untuk menjaga gedung sarang walet dan tidak ada kejelasan berapa upahnya dan kapan akan digaji. Apakah perbuatan orang tersebut termasuk menzalimi saya?

085658XXXXXX

 

Jawaban:

Jika sifatnya ta’awun (menolong), tidak ada gaji. Jika sifatnya kerja, harus digaji. Jika tidak ada kesepakatan sebelumnya, nilai gaji disamakan dengan gaji keumuman penjaga walet atau semisalnya. Jika orang tersebut tidak menggaji, dia berbuat zalim.

 

Rindu Orang Tua yang Telah Wafat

Apakah boleh kita merindukan orang tua kita yang sudah lama meninggal?

08564XXXXXXX

 

Jawaban:

Boleh saja dan itu menunjukkan adanya hubungan baik dengan orang tua walau sudah wafat. Namun, jangan sampai terjatuh kepad hal yang haram. Kita gunakan untuk mendoakan kebaikan orang tua dan hal syar’i lainnya.

 

Jual-Beli pada Acara Bid’ah

Bolehkah jual-beli pada acara bid’ah (malam suro, maulid) di pasar malamnya?

083830XXXXXX

 

Jawaban:

Jika sebagai pedagang dadakan, tidak boleh. Sebab, hal itu termasuk ta’awun di atas dosa.

 

Qunut Nazilah

Apakah disyariatkan kita qunut nazilah saat ini (November 2012) mengingat agresi Israel (baca: Yahudi) kepada kaum muslimin?

081234XXXXXX

 

Jawaban:

Qunut nazilah adalah wewenang penguasa berdasarkan fatwa para ulama. Tidak boleh bagi masyarakat melakukan qunut nazilah tanpa izin pemerintah.

 

Pebisnis Hewan Kurban, Wajib Kurban?

Apakah penjual hewan kurban yang jelas berniat untuk berbisnis memiliki kewajiban untuk berkurban?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Pendapat yang rajih, berkurban tidak wajib, tetapi sunnah muakkadah. Walaupun dia juragan kambing atau pebisnis kambing.

 

Wasiat

Sahkah pemberian kakek berupa sawah (senilai sepuluh juta rupiah) khusus bagi semua cucu pertama?

081386XXXXXX

 

Jawaban:

Jika kakek masih hidup, pemberian tersebut bukan waris, melainkan hibah. Beliau berhak menghibahkan hartanya kepada siapa pun. Namun, jika diberikan kepada anak-anaknya, syaratnya wajib rata. Jika kakek sudah wafat dan mempunyai anak laki-laki, cucu-cucunya bukan ahli waris sehingga mereka bisa menerima hibah (istilah yang tepat adalah wasiat) dengan syarat tidak lebih dari 1/3 harta peninggalan.

 

Utang Uang Dihargai Emas

Suatu hari adik saya meminjam uang sebesar dua juta rupiah kepada saya. Dia nilai uang tersebut dengan emas seberat 10 gram. Lalu sekarang dia mengembalikannya sebesar lima juta rupiah, karena harga emas seberat 10 gram senilai uang tersebut. Apakah selisih 3 juta rupiah termasuk riba yang diharamkan?

082190XXXXXX

 

Jawaban:

Termasuk riba fadhl. Yang benar, utang uang dibayar uang dan utang emas dibayar emas sesuai dengan nominal dan beratnya walaupun nilainya berbeda seiring dengan berjalannya waktu.

 

Ayah Tiri Bercerai dengan Ibu, Mahram?

Mantan ayah tiri (sudah bercerai dengan ibu) apakah masih mahram?

085227XXXXXX

 

Jawaban:

Apabila ayah tiri sudah ‘berkumpul’ dengan ibunda Saudari, Anda adalah mahramnya untuk selamanya walaupun beliau sudah cerai dengan ibunda. Ini yang disebut mahram muabbad (selamanya).

 

Kesalahan terhadap Orang Lain

Kita pernah berbuat salah terhadap orang lain, sedangkan orang tersebut tidak mengetahuinya. Apakah kita boleh memberi tahu dia, padahal kejadiannya sudah berlalu? Mohon penjelasannya.

085336XXXXXX

 

Jawaban:

Kalau kesalahan kita terkait dengan kehormatan dia, tidak perlu disampaikn karena dia tidak akan mendapat manfaat. Dia justru mendapat hal yang tidak menyenangkan, karena dahulu dia tidak tahu, sekarang menjadi tahu. Cukup Anda ganti dengan menyebut kebaikan-kebaikannya di tempat yang dahulu Anda menjelekkannya. Berbeda halnya kalau kesalahan kita terkait dengan harta, harus diberitahukan dan dikembalikan karena dia mendapat faedah, dahulu hartanya hilang, sekarang kembali. Ini penjelasan Ibnul Qayyim dalam Madarij as-Salikin.

 

Akikah dengan Kambing Betina

Apakah sah akikah dengan menggunakan kambing betina?

082177XXXXXX

 

Jawaban:

Akikah menggunakan kambing betina hukumnya sah. Tidak ada dalil yang melarang; sebagaimana kurban dengan kambing betina juga sah, walaupun yang afdal adalah dengan kambing jantan.

 

Kehalalan Larva Lebah

Apakah larva lebah halal dimakan? Apakah sahih hadits yang melarang untuk membunuh lebah? Jika sahih, apakah larangan tersebut mencakup larva lebah?

085237XXXXXX

 

Jawaban:

Hadits yang melarang membunuh lebah adalah sahih. Jumhur fuqaha berpendapat bahwa hewan yang dilarang untuk dibunuh, haram dimakan. Larva lebih baik tidak dimakan karena termasuk lebah.

 

Syariat Ibadah Kurban

Apakah ibadah kurban hanya disyariatkan untuk laki-laki? Apakah orang tua yang sudah pikun masih dianjurkan untuk berkurban?

085XXXXXXX

 

Jawaban:

Kurban tidak khusus bagi laki-laki. Wanita, anak-anak, ataupun lansia juga bisa melakukannya. Yang penting memiliki kemampuan, karena ibadah ini terkait dengan kemampuan finansial.

 

Menyantuni Anak Yatim

Apakah ada dalil menyantuni anak yatim yang dikhususkan pada tanggal 10 Muharam dan keutamaan mengusap rambut anak yatim?

085624XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada dalil khusus memuliakan dan mengusap kepala anak yatim pada 10 Muharam. Memuliakan anak yatim dan menyayangi mereka adalah tindakan mulia, tetapi tidak ada waktu khusus untuk melakukannya.

 

Menyingkat Salam

Bolehkah menyingkat ucapan salam misal menjadi “ass.wr.wb” dalam surat atau sms?

085747XXXXXX

Jawaban:

Pendapat yang rajih bahwa ucapan seperti salam, shalawat, dan semisal harus ditulis lengkap dan tidak cukup dengan simbol. Kita cari keberkahannya walau panjang tulisannya.

 

Meminta Hajat ke Kuburan

Bagaimana dengan orang yang sering ke kuburan untuk meminta hajat? Apa itu merupakan kesyirikan?

081241XXXXXX

 

Jawaban:

Menjadikan makhluk yang sudah mati sebagai wasilah dalam berdoa adalah syirik akbar. Itulah bentuk kesyirikan orang kafir Quraisy yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat g.

 

Mendatangi Pilihan Lurah

Bagaimana sebaiknya sikap kami untuk memenuhi undangan pilihan lurah, apakah jika kami datang termasuk bermaksiat kepada Allah ‘azza wa jalla? Sebagian ikhwan ada yang datang dengan alasan menutup fitnah dan takut dipersulit dalam birokrasi.

085227XXXXXX

 

Jawaban:

Yang pertama dilakukan adalah memberi penjelasan kepada lurah tentang prinsip yang benar dalam masalah ini. Semoga mereka paham sehingga Anda tidak datang tanpa ada fitnah. Jika mereka tidak diterima dan akan timbul fitnah besar, kita datang tetapi dalam rangka meredam mafsadah. Berikan pula penjelasan sampai mereka maklum.

 

Berzikir dalam Hati di Kamar Mandi

Bolehkah berzikir dalam hati di dalam kamar mandi? Bolehkah berzikir dalam keadaan junub?

085327XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak diperbolehkan zikir atau menyebut nama Allah ‘azza wa jalla di tempat yang kotor atau WC. Jika harus berbuat, di dalam hati dan tidak boleh dilafalkan. Pendapat yang rajih, orang junub boleh berzikir dan membaca al-Qur’an. Namun, yang afdal adalah mandi janabah dahulu (zikir dalam keadaan suci).

 

Waktu Shalat Sunnah Qabliyah

Apakah shalat sunnah qabliyah dilakukan setelah azan dan sebelum iqamah? Bagaimana jika shalatnya sendirian di rumah, apakah juga berlaku seperti shalat sunnah qabliyah yang dilaksanakan di masjid?

087719XXXXXX

 

Jawaban:

Shalat sunnah qabliyah dilakukan setelah azan sebagai tanda telah masuk waktu dan sebelum iqamah. Sebab, shalat sunnah apapun harus dibatalkan apabila iqamat sudah dikumandangkan. Jika shalatnya munfarid (sendirian) karena sakit, ketiduran, atau uzur lain, as-Sunnah mencontohkan tetap melakukan shalat sunnah qabliyah dan ba’diyah seperti biasa. Jadi, shalat sunnahnya tidak terikat dengan iqamah masjid setempat.

 

 

Kirim SMS Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Kerusakan-kerusakan Pemilu

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

Flame

Sunnatullah yang pasti terjadi adalah bahwa segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi yang benar akan membuahkan kebenaran pula. Sebaliknya, segala sesuatu yang dibangun di atas fondasi yang salah akan membuahkan berbagai kesalahan. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.

Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.

Perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (Ibrahim: 24—26)

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ketahuilah bahwa di dalam setiap jasad itu ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, akan menjadi baiklah seluruh tubuhnya. Apabila rusak, akan rusaklah seluruh tubuhnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari an-Nu’man bin Basyir radhiallahu ‘anhu)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas dalam tafsirnya, “Demikianlah pohon iman. Pangkalnya kuat di dalam hati seorang mukmin, baik secara ilmu, keyakinan, maupun cabang-cabangnya;  berupa ucapan-ucapan yang baik, amalan yang saleh, akhlak yang diridhai, dan adab yang baik; naik terus ke langit kepada Allah ‘azza wa jalla. Muncul darinya amalan-amalan dan ucapan-ucapan yang bersumber daro iman (dalam hatinya). Dengannya, seorang mukmin akan mendapatkan manfaat sekaligus bisa memberi manfaat kepada orang lain.”

Sampai ucapan beliau, “Demikian pula kalimat kekafiran dan kemaksiatan. Ia tidak kokoh dan tidak bermanfaat di dalam hati. Ia tidak menumbuhkan selain seluruh ucapan kotor dan amalan jelek yang akan merugikan pemiliknya, sehingga tidak akan naik kepada Allah ‘azza wa jalla. Amalan saleh yang bersumber darinya tidak akan memberi manfaat kepada dirinya dan orang lain. Orangnya pun tidak akan bermanfaat.”

Demikianlah permisalan iman berikut cabang-cabangnya dan permisalan demokrasi berikut cabang-cabangnya pula. Pemilu (pemungutan suara) untuk memilih kepala daerah, presiden dan wakil presiden, atau anggota legislatif (baik tingkat daerah maupun tingkat pusat). Semua itu adalah konsekuensi dari demokrasi sehingga membuahkan berbagai hal yang batil.

 

Kerusakan yang Ditimbulkan Demokrasi

Kerusakan yang timbul akibat demokrasi dan pemungutan suara ini bukan hanya dalam urusan dunia. Agama pun menjadi taruhan demi mendapatkan kedudukan dan jabatan. Lebih buruk lagi, kerusakan dan kerugian itu tidak hanya ditanggung oleh partai dan calonnya, tetapi juga oleh bangsa dan negara ini.

Asy-Syaikh Muqbil berkata, “Dalam pemungutan suara, tidak ada urusan dunia yang didapatkan, lebih-lebih lagi urusan akhirat.” (Tuhfatul Mujib, hlm. 306)

Dengan memohon pertolongan kepada Allah ‘azza wa jalla akan kita sebutkan beberapa di antaranya karena keterbatasan tempat di majalah ini.

Kita niatkan hal ini sebagai nasihat karena Allah ‘azza wa jalla kepada kaum muslimin pada umumnya dan kepada pemerintah pada khususnya.

 

  1. Mempersekutukan Allah ‘azza wa jalla

Pemungutan suara (pemilu) termasuk mempersekutukan Allah ‘azza wa jalla dalam hal ketaatan. Pemungutan suara akan memberi peluang bagi musuh Islam untuk memalingkan kaum muslimin dari agamanya.

Barang siapa menerimanya dalam keadaan rela dan mempromosikannya karena meyakini kebenaran sistem demokrasi—yakni dibenarkan dalam Islam, bahkan sama atau lebih baik dari Islam—sungguh dia telah menaati musuh Islam dalam hal menghalalkan apa yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.[1]

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (asy-Syura: 21)

Hal itu karena sesungguhnya mereka (orang-orang munafik) berkata kepada orang-orang yang benci kepada apa yang diturunkan oleh Allah (yakni orang-orang Yahudi), “Kami akan mematuhi kamu dalam beberapa urusan,” sedangkan Allah mengetahui rahasia mereka. (Muhammad: 26)

“Dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (al-An’am: 121)

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa yang menjadi hakim dalam rapat-rapat di parlemen adalah manusia yang terkadang menolak dan menghujat hukum Allah ‘azza wa jalla. Dalam keadaan seperti ini, tidak diragukan lagi, ini adalah syirik besar. Adakah dosa yang lebih besar daripada syirik akbar atau kafir akbar? Dosa yang Allah ‘azza wa jalla firmankan dalam kitab-Nya,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa mempersekutukan Allah, sungguh ia telah tersesat sejauhjauhnya.” (an-Nisa’: 112)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya dosa apa yang paling besar? Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah ‘azza wa jalla padahal Dialah yang menciptakanmu.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

  1. Menuduh syariat Islam masih kurang dan lemah

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang kesempurnaan syariat Islam yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (al-Maidah: 3)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan dalam tafsirnya, “Ini adalah nikmat Allah ‘azza wa jalla yang paling besar terhadap umat ini. Sebab, Allah ‘azza wa jalla telah menyempurnakan agama mereka sehingga tidak membutuhkan agama dan nabi yang lain. Oleh karena itulah, Allah ‘azza wa jalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia. Maka dari itu, bagi kita, tidak ada suatu pun perkara yang halal selain apa yang beliau halalkan, dan tidak ada suatu perkara yang haram pun selain apa yang beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam haramkan. Tidak ada agama selain yang telah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam syariatkan. Segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah benar dan jujur, yang tidak ada kedustaan dan kekeliruan, sebagaimana firman-Nya,

 “Telah sempurnalah kalimat Rabbmu sebagai kalimat yang benar dan adil.” (al-An’am: 115)

Maknanya, yang benar/jujur beritanya dan adil perintah serta larangannya.  Setelah Allah ‘azza wa jalla menyempurnakan agama mereka, berarti nikmat telah sempurna atas mereka. Oleh karena itu, ridhailah Islam sebagai agama kalian karena agama Islam adalah agama yang dicintai oleh Allah ‘azza wa jalla. Dia mengutus Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang paling mulia untuk membawanya. Dia pun menurunkan kitab yang paling mulia (al-Qur’an) karenanya.

 

  1. Hilangnya prinsip al-wala’ (loyalitas) dan al-bara’ (kebencian dan permusuhan) yang haq

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orangorang itu bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, atau keluarga mereka.” (al-Mujadilah: 22)

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Tidak ada seorang hamba yang benar-benar beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan hari akhir, kecuali akan beramal sesuai dengan konsekuensi imannya; di antaranya mencintai siapa saja yang beriman dan loyal terhadap keimanannya, serta membenci siapa saja yang tidak beriman dan memusuhinya, walaupun orang tersebut paling dekat kekerabatannya dengannya.”

Inilah iman yang hakiki, yaitu iman yang buah dan tujuannya akan betul-betul didapatkan. Apabila demokrasi dan pemungutan suara diterima, prinsip yang agung ini harus ditanggalkan.

Firman-Nya ‘azza wa jalla,

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (al-Maidah: 55—56)

 

  1. Fanatisme buta terhadap partai atau calon tertentu

Fanatisme terhadap pendapat, mazhab, tokoh, pimpinan, organisasi, thariqah, atau partai diharamkan dan dilarang oleh agama Islam yang mulia.Sebab, fanatisme akan menyebabkan perselisihan dan perpecahan.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kalian dengan tali Allah dan jangan berpecah-belah.” (Ali ‘Imran: 103)

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“… Dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (ar-Rum: 31—32)

Allah ‘azza wa jalla menyucikan Nabi-Nya dari perbuatan yang hina ini dalam firman-Nya,

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agamanya dan mereka (terpecah) menjadi beberapa golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah (terserah) kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahu mereka apa yang telah mereka perbuat.” (al-An’am: 159)

Mengapa Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya mengharamkan hizbiyah dan ta’ashub? Sebab, keduanya akan menghancurkan prinsip-prinsip agama yang mulia dan menimbulkan berbagai kerusakan. Di antara kerusakan yang terjadi karena fenomena ini ialah sebagai berikut.

  • Menghancurkan prinsip ukhuwah islamiyah

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (al-Hujurat: 10)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Seorang mukmin bagi mukmin yang lain ibarat bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.” (HR. al-Bukhari)

Sebagai bukti ukhuwah yang mulia ini adalah tegaknya ta’awun/saling membantu dalam kebaikan dan ketakwaan, amar ma’ruf nahi munkar, dan berbagai urusan mulia lainnya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (at-Taubah: 71)

Kita tidak berhak mendapat kasih sayang Allah ‘azza wa jalla kecuali dengan menjaga ukhuwah ini sebagaimana yang diperintahkan oleh Rabb kita ‘azza wa jalla.

  • Tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Saling menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan, jangan tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan pelanggaran.” (al-Maidah: 2)

Berbagai kemungkaran terjadi sebelum, saat, dan setelah pemilu. Terlebih lagi bagi partai atau calon yang terpilih, berbagai kemungkaran dilakukan, di antaranya ketika merayakan pesta kemenangan dengan beragam kemaksiatan dan penghamburan harta. Apalagi kemungkaran yang mereka lakukan setelah mendapatkan kedudukan.

Apakah para pemilih sikap berlepas diri dari partai atau calon yang menjadi pilihannya tatkala berbuat kemungkaran? Apabila para pemilih itu tidak berlepas diri dari kemungkaran yang mereka lakukan, berarti mereka terus-menerus akan mendapatkan dosa. Sebab, mereka termasuk orang yang menyebabkan partai atau wakil pilihannya berbuat zalim, jahat, dan membela demokrasi. Lebih parah lagi apabila mereka menutup-nutupi kemungkaran yang dilakukan oleh anggota parlemen atau pemimpin yang menjadi pilihannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan ada para pemimpin atas kalian yang kalian mengetahui perbuatan baik mereka dan perbuatan jelek mereka. Barang siapa mengingkari perbuatan jelek mereka, berarti dia telah berlepas diri. Barang siapa membenci perbuatan jelek mereka, berarti dia selamat. Akan tetapi, masalahnya ialah orang yang meridhai dan mengikuti.” (HR. Muslim dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha)


[1] Syirik dalam hal ketaatan adalah menaati seseorang secara lahir dan batin (keyakinan) dalam hal menghalalkan apa yang Allah haramkan atau sebaliknya.

Adapun menaati secara lahiriah saja (praktik amalan), sementara secara batin (keyakinan) tetap meyakini haramnya apa yang Allah haramkan dan halalnya apa yang Allah halalkan, maka hal ini bukan kesyirikan kepada Allah, melainkan termasuk maksiat terhadap-Nya.

Contohnya, seseorang yang meyakini bahwa demokrasi halal menurut Islam, dia terjatuh dalam kesyirikan. Sementara itu, orang yang tetap meyakini haramnya demokrasi tetapi jatuh dalam praktik amalan lahiriah, dia berarti berbuat maksiat, bukan kesyirikan. (-ed.)

Taat dengan Dasar Syariat

Al-Ustadz Abul Abbas Muhammad Ihsan

kilauan-embun-pagi-21

Salah satu prinsip yang menjadi konsekuensi kalimat tauhid adalah kewajiban hamba untuk menjadikan kecintaan terhadap Allah ‘azza wa jalla sebagai kecintaan tertinggi di dalam lubuk hatinya. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (al-Baqarah: 165)

Berbeda halnya dengan orang kafir dan musyrik. Kecintaan mereka terbagi sebanyak sembahan yang mereka sembah selain Allah ‘azza wa jalla, padahal Allah ‘azza wa jalla yang menciptakan kita. Firman-Nya,

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (al-Baqarah: 165)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “Orang yang beriman sangat mencintai Allah ‘azza wa jalla dibandingkan dengan kecintaan orang musyrik terhadap sembahan mereka. Sebab, orang yang beriman memurnikan kecintaannya kepada Allah ‘azza wa jalla, sedangkan orang musyrik mempersekutukan-Nya dalam hal kecintaan. Selain itu, orang yang beriman mencintai Dzat yang berhak untuk dicintai secara hakiki (yaitu Allah ‘azza wa jalla), yang kecintaan terhadap-Nya ‘azza wa jalla adalah sumber kebaikan, kebahagiaan, dan keselamatannya. Adapun orang musyrik mencintai sesuatu yang tidak berhak dicintai, sehingga kecintaan itu menjadi sumber kesengsaraan, kerusakan, dan kekacauan urusannya.

Sebagaimana dimaklumi, kecintaan hamba terhadap sesuatu memiliki konsekuensi yang harus diwujudkan sebagai bukti kebenaran dan kejujuran cintanya itu. Maka dari itu, kecintaan tertinggi seorang mukmin terhadap Allah ‘azza wa jalla menuntutnya untuk mencintai segala sesuatu yang dicintai oleh Rabb-Nya, walaupun tidak sejalan dengan logika, perasaan, adat-istiadat, atau hawa nafsunya. Di samping itu, dia harus membenci segala yang dibenci oleh Penciptanya, walaupun seleranya sangat menyenanginya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata.” (al-Ahzab: 36)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan makna ayat di atas dalam tafsirnya, “Tidak pantas dan tidak selayaknya bagi orang beriman kecuali bersegera menerima perkara yang diridhai oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, serta menjauhi (berbagai hal yang) dimurkai oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya; dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan berbagai larangan-Nya.

Tidak sepantasnya bagi orang beriman, baik laki-laki maupun perempuan, apabila Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya telah memutuskan suatu perkara, yaitu mewajibkan atau mengharuskannya, mereka masih memiliki pilihan lain, apakah akan melakukannya atau tidak. Seorang mukmin justru harus yakin bahwa pilihan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih pantas daripada pilihannya. Tidak pantas hawa nafsunya menjadi penghalang antara dirinya dan keputusan Allah ‘azza wa jalla serta Rasul-Nya.

 

Mencintai, Menaati, dan Mengikuti Sunnah Rasul, Bukti Benarnya Kecintaan terhadap Allah ‘azza wa jalla

Sebagaimana yang dipaparkan di atas, kecintaan seorang hamba kepada Allah ‘azza wa jalla memiliki beberapa konsekuensi. Di antaranya ialah mencintai, menaati, dan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla mengabarkan hal ini di dalam firman-Nya,

Katakanlah, “Jika kamu (benarbenar) mencintai Allah ‘azza wa jalla, ikutilah aku, niscaya Allah ‘azza wa jalla mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Ali ‘Imran: 31)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata di dalam tafsirnya, “Ayat yang mulia ini menjadi hakim terhadap orang yang mengaku cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan berada di atas jalan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengakuannya adalah dusta, sampai dia mengikuti agama dan syariat yang dibawa oleh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam seluruh ucapan dan perbuatannya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai aku menjadi orang yang lebih dia cintai daripada orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari no. 14)

Al-Qur’an al-Karim mengiringkan perintah untuk menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan perintah menaati Allah ‘azza wa jalla di banyak tempat. Bahkan, Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Barang siapa menaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu), Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (an-Nisa: 80)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan rahasia ayat ini, “Setiap orang yang menaati perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berarti benar-benar menaati Allah ‘azza wa jalla. Sebab, beliau tidak memerintah dan tidak melarang kecuali dengan perintah, syariat, dan wahyu dari Allah ‘azza wa jalla. Oleh karena itu, firman Allah ‘azza wa jalla ini mengandung (dalil yang menunjukkan) kemaksuman Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah ‘azza wa jalla memerintahkan (kepada para hamba- Nya) untuk menaati beliau secara mutlak. Seandainya beliau tidak maksum (terjaga dari kesalahan dan kekeliruan) pada seluruh perkara yang beliau sampaikan dari Allah ‘azza wa jalla, niscaya Allah ‘azza wa jalla tidak akan memerintahkan untuk menaati beliau secara mutlak dan tidak memuji hal itu.”

 

Keselamatan & Kebahagiaan di Dunia & di Akhirat dengan Mengikuti Sunnah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam

Allah ‘azza wa jalla berfirman tentang Rasul-Nya,

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (asy-Syura: 52)

Barang siapa menaati beliau dan mengikuti sunnahnya, niscaya akan mendapatkan petunjuk di dunia dan di akhirat. Firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (an-Nur: 54)

Asy-Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan, “… Maknanya adalah engkau menerangkan, menjelaskan, menerangi, dan menolong mereka ke jalan yang lurus (ash-shirathal mustaqim) serta melarang dan menakut-nakuti mereka dari hal yang bertentangan dengan ash-shirathal mustaqim.”

Beliau rahimahullah juga menerangkan, “Apabila kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapatkan petunjuk menuju ash-shirathal mustaqim, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Jadi, tidak ada jalan untuk mendapatkan hidayah kecuali dengan menaati beliau. Tanpa ketaatan terhadap beliau, tidak mungkin (hidayah itu didapatkan), bahkan mustahil.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk ke dalam jannah kecuali orang yang menolak (masuk surga).” Beliau ditanya, “Siapakah yang menolak, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, niscaya dia akan masuk ke dalam jannah; dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah menolak masuk jannah.” (HR. al-Bukhari no. 6851)

Di dalam banyak ayat, Allah ‘azza wa jalla menegaskan perintah untuk taat kepada Rasul-Nya dalam bentuk ancaman. Di antaranya,

“Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (an-Nisa’: 115)

Firman-Nya,

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.” (an-Nur: 63)

Makna ayat ini, kata asy-Syaikh Sa’di rahimahullah, di dalam tafsirnya, “Barang siapa menyelisihi Rasul dan menentang syariat yang beliau bawa (dari sisi Allah ‘azza wa jalla) setelah mendapatkan kejelasan dengan dalil al-Qur’an atau sunnah, lantas dia mengikuti selain jalan orang yang beriman dalam hal akidah, keyakinan, maupun amalan; niscaya Kami akan membiarkannya dan apa yang menjadi pilihannya. Setelah itu, Kami akan menghinakannya sehingga Kami tidak akan memberinya hidayah taufik kepada kebaikan karena perbuatannya, yaitu mengetahui kebenaran lantas meninggalkannya. Jadi, balasan Allah ‘azza wa jalla terhadapnya adalah keadilan. Dia membiarkannya dalam kesesatan dan kebingungan, dan terus bertambah kesesatan itu pada dirinya. Na’udzubillah min dzalik.”

 

Ketaatan terhadap Pemerintah adalah Ibadah

Di antara sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang wajib kita pegang teguh dan dakwahkan ialah perintah untuk taat kepada pemerintah walaupun bukan sosok yang suci dari kesalahan. Telah dibahas panjang lebar pada edisi 95 Mengapa Rakyat Harus Taat? tentang kewajiban rakyat untuk taat kepada pemerintah atau penguasa yang muslim dalam hal yang ma’ruf dan sesuai dengan kemampuan.

Namun, ada hal penting yang harus kita sampaikan dan ingatkan kepada umat: Ketaatan kita terhadap pemerintah yang muslim adalah ibadah yang agung. Oleh karena itu, ketaatan tersebut dibangun di atas dua syarat yang menjadi penentu diterima atau tidaknya ibadah, yaitu ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla dan mutaba’ah (mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Allah ‘azza wa jalla memerintah hamba-Nya untuk menaati para penguasa,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah ‘azza wa jalla, taatilah Rasul-(Nya), dan ulil amri di antara kamu.” (an-Nisa’: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ وَمَنْ أَطَاعَ أَمِيرِي فَقَدْ أَطَاعَنِي وَمَنْ عَصَى أَمِيرِي فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa menaatiku, sungguh dia telah menaati Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa mendurhakaiku, sungguh dia telah mendurhakai Allah ‘azza wa jalla. Barang siapa menaati pemimpinku (penguasa muslim), sungguh dia telah menaatiku. Barang siapa mendurhakai pemimpinku (penguasa muslim), sungguh dia telah mendurhakaiku.” (Muttafaqun alaih dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

Makna ketaatan terhadap pemerintah ini tidak mutlak. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ

“Wajib atas setiap muslim untuk mendengar dan taat (terhadap pemerintah), baik pada urusan yang disukai maupun dibenci, kecuali apabila diperintah untuk bermaksiat. Apabila dia diperintah berbuat maksiat, tidak boleh mendengar dan taat (dalam hal itu).” (Muttafaqun alaih dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

 

Demokrasi Merusak Moral Generasi

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Setiap muslim wajib dengan sebab konsekuensi agamanya untuk mendengar dan taat terhadap pemerintahnya, baik pada urusan yang dia sukai maupun yang dia benci. Sampai-sampai, kalau diperintah untuk melakukan sesuatu yang dia benci, dia wajib melakukannya, walaupun dia memiliki pendapat yang lain. Walaupun tidak suka melakukannya, dia wajib melakukannya, kecuali apabila diperintah untuk berbuat maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Apabila diperintah untuk berbuat maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla, ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla harus didahulukan di atas segala bentuk ketaatan; tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepada al-Khaliq.

Hadits di atas memuat dalil yang menunjukkan kesalahan pendapat, “Kita tidak menaati pemerintah kecuali dalam hal yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla.” Makna ucapan tersebut, apabila mereka memerintah kita untuk shalat, kita shalat. Apabila mereka memerintahkan untuk membayar zakat, kita membayar zakat. Adapun apabila mereka memerintahkan urusan yang tidak adaperintahnya secara syar’i, kita tidak wajib menaati mereka. Sebab, mereka (dalam hal ini) berarti pembuat syariat. Sungguh, ini adalah pendapat batil yang menyelisihi al-Qur’an dan as-Sunnah. Sebab, kalau kita berpendapat tidak akan menaati penguasa kecuali pada urusan yang Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada kita, berarti tidak ada perbedaan antara penguasa dan pihak lain yang memerintahkan yang ma’ruf dan melarang yang mungkar, maka wajib ditaati.

Kita mengatakan, “Bahkan, kita diperintahkan menaati mereka pada urusan yang tidak Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada kita. Jika hal tersebut tidak dilarang atau diharamkan, kita wajib menaati mereka, sampai pun dalam hal tata tertib (misal: peraturan lalu lintas). Apabila mereka (pemerintah) telah membuat tata tertib (yang terkait dengan) pekerjaan, kita wajib menaatinya. Sebab, menaati mereka berarti melaksanakan perintah Allah ‘azza wa jalla dan perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta merupakan upaya menjaga stabilitas keamanan, menjauhkan diri dari sikap mendurhakai pemerintah, dan menjauhkan diri dari sikap berpecah belah. Kalau kita berpendapat tidak menaati mereka kecuali pada urusan yang telah Allah ‘azza wa jalla perintahkan kepada kita, berarti tidak ada ketaatan kepada para penguasa.

Ada sebagian peraturan—sebagai contoh—yang ditetapkan oleh pemerintah dan tidak menyelisihi syariat. Akan tetapi, syariat tidak menentukan hal itu secara pasti. Jika ada orang yang mengatakan, “Kami tidak akan menaatinya,” kita jawab, ‘Anda tetap wajib menaatinya. Apabila melanggarnya, berarti Anda berdosa dan berhak mendapatkan hukuman dari Allah ‘azza wa jalla dan hukuman dari pemerintah’.” (Syarh Riyadhus Shalihin, 2/321)

 

Hikmah Perintah Taat kepada pemerintah

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidak ada yang mampu mengatur umat manusia kecuali pemimpin/penguasa, baik penguasa yang baik maupun yang jahat.”

Mereka bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, tentang pemimpin yang baik (tentu kita maklumi). Bagaimana halnya dengan pemimpin yang jahat?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya, dengan perantaraan adanya pemimpin meski jahat, Allah ‘azza wa jalla akan menjadikan jalan itu aman, kaum muslimin bisa berjihad melawan musuh, mendapatkan fai’ (harta rampasan), hukum ditegakkan, dan ibadah haji ke baitullah ditunaikan. Seorang muslim bisa beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan aman sampai datang ajalnya.” (Diriwayatkan oleh Waki’ di dalam kitab Akhbar al-Qudhat, 1/21)

Al-‘Allamah Shadrudin as-Sulami rahimahullah menjelaskan tentang hikmah Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang memerintah hamba-Nya menaati pemerintahnya dan melarang keras sikap menyelisihi perintah-Nya. Berikut ini ucapan beliau. “Sungguh, telah diriwayatkan kepada kita hadits sahih yang sampai pada derajat mutawatir atau mendekatinya, tentang perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendengar dan taat kepada waliyul ‘amr (penguasa), menasihati dan mencintai mereka, serta mendoakan kebaikan bagi mereka. Kalau kita mau menyebutkannya, pembicaraannya akan menjadi panjang. Akan tetapi, ketahuilah–semoga Allah ‘azza wa jalla membimbing kita untuk mengikuti sunnah serta menjauhkan kita dari penyimpangan dan kebid’ahan—termasuk kaidah syariat agama yang hanif ini ialah ketaatan terhadap penguasa hukumnya wajib atas setiap rakyat. Apalagi ketaatan terhadap penguasa itu akan menyatukan urusan agama yang terpisah-pisah dan menyebabkan teraturnya seluruh urusan kaum muslimin.

Mendurhakai penguasa akan meruntuhkan pilar agama, padahal kebahagiaan tertinggi akan didapatkan dengan menaati penguasa ialah terjaga seluruh keburukan dan terselamatkan dari seluruh syubhat. (Maknanya), ketaatan kepada penguasa menjadi penjagaan dan perlindungan (dari berbagai keburukan) bagi siapa saja. Dengan ketaatan itu, akan tegak berbagai hukum, tertunaikan kewajiban, terlindungi darah (kaum muslimin), dan terjamin keamanan di jalan-jalan. Oleh karena itu, alangkah bagusnya ucapan para ulama, “Sesungguhnya ketaatan kepada penguasa adalah penerang bagi siapa saja yang menggunakan cahayanya dan perlindungan bagi siapa saja yang senantiasa menjaganya.” (Tha’atu as-Sulthan, hlm. 45)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Hadits ini dan hadits sebelumnya yang tidak disebutkan secara keseluruhan oleh pengarang (an-Nawawi rahimahullah dalam Riyadh ash-Shalihin), menunjukkan wajibnya menaati para penguasa kecuali pada urusan maksiat kepada Allah ‘azza wa jalla. Sebab, hikmah dari menaati mereka adalah kebaikan, keamanan, dan ketertiban; demikian juga tidak akan timbul kekacauan dan perbuatan mengikuti hawa nafsu.

Apabila penguasa didurhakai dalam urusan yang semestinya ditaati, akan timbul kekacauan. Setiap orang merasa bahwa pendapatnyalah yang benar, sehingga akan menghilangkan keamanan, mengacaukan berbagai urusan, dan akan menimbulkan berbagai keburukan.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 2/329)

 

Wajib Ditaati Walaupun Mendapat Kekuasaan dengan Cara yang Batil

Karena hikmah atau tujuan yang mulia inilah, Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya memerintah kaum muslimin untuk menaati penguasanya dalam hal yang ma’ruf; walaupun penguasa tersebut mendapatkan kekuasaan dengan cara yang batil, seperti kudeta/penggulingan kekuasaan, pemilu (demokrasi), dan sebagainya; atau tidak memenuhi syarat yang syar’i sebagai penguasa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

“Dengar dan taatlah, walaupun yang menjadi penguasa atas kalian adalah seorang budak Habasyah yang rambut kepalanya seperti kismis.” (HR. al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Al-Imam al-Baihaqi rahimahullah meriwayatkan dalam Manaqib asy-Syafi’i (91/448) dari Harmalah, dia berkata, “Aku mendengar al-Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata (1/448), ‘Setiap orang yang berhasil menggulingkan penguasa dengan pedang/senjata hingga disebut khalifah (penguasa) dan manusia (rakyat) bersatu atasnya, dia adalah khalifah (penguasa)’.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Sungguh, para ahli fikih telah sepakat tentang wajibnya taat kepada orang yang berhasil menjadi penguasa dengan jalan kudeta. Selain itu, wajib pula berjihad bersamanya. Sebab, ketaatan kepadanya lebih baik daripada memberontak/mendurhakai perintahnya. Sikap tersebut akan menghalangi tertumpahnya darah (kaum muslimin) dan meredam berbagai kekacauan.” (Fathul Bari, 7/13)

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah menjelaskan, “Kalau ada seseorang menjadi penguasa dengan cara memberontak, lalu berhasil mengalahkan, dan berkuasa, padahal dia bukan dari bangsa Arab, dia adalah budak Habsyi, tetap wajib atas kita untuk mendengar dan taat. Sebab, alasan (perintah mendengar dan taat kepada penguasa) hanya satu; yaitu kalau kita tidak mau mendengar dan taat, akan terjadi kekacauan aturan, hilangnya rasa aman, dan timbul suasana mencekam. Yang jelas, kita wajib mendengar dantaat kepada para pemimpin kita, kecuali apabila mereka memerintahkan untuk berbuat maksiat.” (Syarh Riyadh ash-Shalihin, 2/223)

Adapun sikap Ahlus Sunnah yang tidak ikut demokrasi dan pemilu, tidak berarti Ahlus Sunnah merencanakan dan mempersiapkan penggulingan kekuasaan (kudeta). Sikap tersebut dibangun berdasarkan keyakinan bahwa demokrasi dan pemilu adalah mungkar dan batil, bertentangan dengan al-Kitab dan as-Sunnah, sehingga kita tidak boleh taat dalam urusan yang seperti ini.

Lebih-lebih lagi pemilu adalah hak dan bukan kewajiban warga negara, sebagaimana termaktub di dalam UU No. 3 Tahun 1999 Bab V Pasal 28, “Warga negara Republik Indonesia yang selanjutnya disebut warga negara yang pada waktu pemungutan suara untuk Pemilihan Umum sudah berumur 17 (tujuh belas) tahun atau sudah/pernah kawin mempunyai hak pilih.”

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al- Wadi’i rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah, alhamdulillah, senantiasa menuntut adanya pemimpin/presiden muslim yang tidak percaya dengan demokrasi dan yang menjaga shalat. Kita tidak menginginkan pemimpin yang lain (kafir). Kita menginginkan pemimpin yang muslim. Kita katakan kepada para pemimpin, ‘Perbaikilah urusan kalian dan istiqamahlah. Kami tidak menginginkan kedudukan kalian, tetapi istiqamahlah kalian di atas al-Kitab dan as-Sunnah’.” (Tuhfatul Mujib, hlm. 246)

Beliau rahimahullah juga mengatakan bahwa Ahlus Sunnah beramal ikhlas karena Allah ‘azza wa jalla, bukan karena kursi. Lantas beliau membaca firman Allah ‘azza wa jalla,

“Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” (an-Nahl: 125)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla senantiasa melimpahkan hidayah dan taufik-Nya kepada kita dan para pemimpin kita untuk istiqamah di jalan-Nya yang mulia. Amin.

Kedaulatan Negara Berada di Tangan Partai

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

peta-indonesia

Masa orde baru, pemilihan umum (pemilu) sering didengungkan sebagai pesta demokrasi. Sebagian masyarakat menyambut gegap gempita. Walau tak sedikit yang lantas menjadi korban kebrutalan massa, namun semangat untuk membela partai tetap menyala.

Pesta demokrasi pada masa orde baru pernah ditetapkan hanya diikuti oleh tiga partai politik. Keberadaan tiga kontestan dalam pemilu tersebut lebih disebabkan kebijakan pemerintah orde baru yang melebur beberapa partai bercorak “Islam” ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Begitu pula dengan partai berbau nasionalis-marhaen yang dicelup dalam bingkai Partai Demokrasi Indonesia (PDI). Adapun Partai Golkar merupakan partai penguasa yang didukung segenap onderbouw, seperti KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia) serta dukungan kebijakan pemerintah yang menetapkan peraturan monoloyalitas PNS (Pegawai Negeri Sipil). Kebijakan-kebijakan penguasa kala itu menjadikan Golkar selalu menjadi pemenang pemilu mulai 1971, 1977, 1982, 1987, 1992, dan 1997. Bagi PPP dan PDI, keikutsertaannya dalam pemilu seakan sebagai pemanis pesta demokrasi.

Sebagai catatan sejarah, proses penyelenggaraan pemilu saat itu seringkali memakan korban. Entah itu kerusuhan yang sifatnya massif atau hanya bersifat individual. Pemilu itu sendiri mencuatkan pertarungan yang kompetitif. Satu pendukung dengan pendukung partai lainnya bisa saling berbenturan, adu jotos, bahkan saling membunuh.

Lebih dari itu, pemilu yang merupakan produk paham demokrasi tidak pernah memberi kebaikan kepada kaum muslimin. Di belahan bumi mana pun, pemilu dan demokrasi selalu menimbulkan mudarat. Keburukan demi keburukan selalu dipanen oleh sebagian kaum muslimin yang masih berkeyakinan bahwa jungkir balik dalam pesta demokrasi termasuk perjuangan mulia.

Becerminlah dari sejarah. Saat masa pemerintahan orde lama, pernah naik ke pentas politik nasional Partai Masyumi. Inilah satu-satunya partai berasas Islam yang memperjuangkan tegaknya hukum Islam di Indonesia. Walau dengan tingkat soliditas yang luar biasa, Partai Masyumi akhirnya dijegal oleh kalangan nasionalis sekuler dan kalangan komunis. Melalui Surat Keputusan Presiden (Kepres) No. 200/1960, Presiden Ir. Soekarno saat itu menekan agar Partai Masyumi membubarkan diri. Apabila tidak, akan dinyatakan sebagai partai terlarang. Dengan tekanan politik seperti itu, akhirnya Partai Masyumi membubarkan diri (Asy-Syariah, No. 49/V/1430 H/2009 hlm.17). Kandas sudah perjuangan menegakkan syariat Islam melalui jalur demokrasi. Sejarah telah mencatat tragedi memilukan ini.

Tidak hanya itu, di era reformasi sekarang pun, masih ada sebagian kaum muslimin yang coba-coba menceburkan diri ke kubangan demokrasi. Kata mereka, ingin memperjuangkan keadilan, kesejahteraan, dan kebenaran bagi masyarakat. Namun, apa yang terjadi dengan para pemeran di panggung politik ini?

Sebagian terjungkal karena korupsi. Mengapa sampai harus korupsi? Jawabannya bisa beragam. Namun, membesarkan partai, menggemukkan perolehan suara dalam pemilu, dan mempertahankan kursi di partai dan legislatif perlu biaya banyak. Karena itulah, dana pun harus didapat walau dengan cara tidak terpuji. Nas’alullaha as-salamah.

Partai yang dahulu dilabeli dengan bersih dan peduli pun kini tak lagi bisa dipercaya. Sebagian masyarakat bahkan merasa jijik. Tangan penggede partai berlumuran maksiat. Masihkah yang seperti ini dipercaya memperjuangkan Islam?

Pangkal dari musibah ini ialah karena jalan yang ditempuh telah menyelisihi syariat. Demokrasi dan pemilu telah mendorong orang-orang partai politik bergelut dengan ketidakjujuran. Demokrasi dan pemilu telah membentuk jiwa-jiwa kerdil yang dirasuki mimpi-mimpi keduniaan nan menggiurkan dan penuh tipuan.

Jadi, masih belum jerakah hidup mengusung demokrasi? Belum jerakah berpesta pora lagi mabuk kepayang dengan pemilu? Masihkah bersemangat merajut impian-impian tak pasti? Betapa kasihan, apabila demi satu kursi, dirimu terjatuh dalam beragam pelanggaran syariat. Duhai, bilakah kesadaran itu bangkit menyelimuti dirimu?

Kini, apa yang terjadi di dunia luar setelah mereka bersorak sorai menyambut pesta demokrasi? Mesir, Palestina, Turki, dan Aljazair telah menjadi saksi. Betapa demokrasi dan pemilu tiada menjanjikan apa pun selain penistaan terhadap kaum muslimin. Ya, nista, hina, dina.

 

Berdemokrasi Bakal Menuai Bencana

Di Mesir, saat pemilu dilaksanakan, partai politik Ikhwanul Muslimin berhasil memenangkan pemilu. Muhammad Mursi pun lantas menjadi presiden terpilih. Tak berapa lama setelah menduduki kursi kepresidenan yang diraih melalui pemilu, kekuatan militer menggulingkan kekuasaannya. Mursi pun dimakzulkan, lengser. Dampaknya, terjadi kericuhan di Bumi Piramid itu. Darah tertumpah. Tak sedikit nyawa melayang. Harta benda hancur begitu saja. Entah berapa besar kerugian yang diderita. Sungguh, mengikuti langgam orang kafir dalam berdemokrasi hanya menyisakan kepiluan. Demokrasi tiada memberi manfaat kepada kaum muslimin.

Di Turki, nyaris sama. Erbakan memenangi pemilu dan sempat duduk di kursi perdana menteri selama dua tahun. Namun, ia akhirnya harus menghadapi laras senjata militer. Erbakan diturunkan secara paksa. Sekali lagi, demokrasi dan pemilu tak menjanjikan kebaikan apapun selain mudarat.

Di Aljazair, karena demokrasi dan pemilu, rakyat menjadi korban pembantaian. Saat Partai FIS memperoleh kemenangan dalam pemilu, pihak militer lantas mengambil alih kekuasaan. Militer membatalkan hasil pemilu. Abbas Madani dan Ali Belhaj sebagai petinggi partai dijebloskan ke penjara. Kekacauan terjadi di mana-mana. Tak semata atribut partai yang dilarang, bahkan syiar-syiar keislaman pun dilarang oleh penguasa. Segala yang berbau Islam dienyahkan. Musibah nan teramat mengerikan. Ternyata, berdemokrasi hanya bakal menuai bencana.

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman bin Ali al-Jami rahimahullah mengatakan, pemilu merupakan ujian yang merusak hati dan menimbulkan dendam permusuhan, lalu bisa menjerumuskan pada pertumpahan darah. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah wa Annaha Laisat min al-Islam, hlm. 30)

Karena itu, sungguh sangat sulit dipercaya apabila jalur demokrasi bisa memperbaiki keadaan kaum muslimin. Demokrasi tidak akan memberikan kebaikan kepada kaum muslimin. Bahkan, jalur demokrasi dan pemilu menyebabkan kaum muslimin lemah memegang prinsip agamanya. Bagaimana tidak, saat seorang muslim larut dalam pesta demokrasi, senyatanya ia tengah luntur sikap loyalitasnya kepada al-haq dan ahlul haq. Di sisi lain, ia justru menyokong teman berbeda agama hanya karena sang teman tergabung dalam satu partai dengannya.

Bagaimana kaum muslimin tidak menuai bencana, ketika yang menentukan seseorang ditampilkan sebagai figur dalam pemilu adalah rekomendasi partai. Seorang Nasrani pun bisa tampil menjadi kandidat dari partainya selama pihak partai merekomendasi sang Nasrani. Lantas, bagaimana halnya dengan seorang muslim yang ada dalam satu partai tersebut? Apabila menolak dan tidak mendukung, berarti melawan keputusan partai. Memberi dukungan berarti telah luntur sikap al-wala’ wa albara’. Sungguh, apabila terjadi demikian, tentu merupakan bencana bagi diri dan agamanya. Nas’alullaha as-salamah.

Itulah sisi buruk sistem demokrasi bagi kaum muslimin. Sistem demokrasi hanya berlaku bagi partai politik berlabel “Islam” yang sekiranya tidak membahayakan kepentingan Barat dan tidak mematikan keberlangsungan sistem sekuler. Manakala membahayakan, maka sistem demokrasi akan menampakkan wajah aslinya sebagai monster yang haus darah. Siap memangsa dan membantai lawan. Sejarah di belahan bumi kaum muslimin telah menorehkan kesaksiannya.

 

Kedaulatan Berada di Tangan Partai

Asy-Syaikh Dr. Muhammad Aman bin Ali al-Jami rahimahullah mengemukakan, tidak diragukan lagi bahwa sistem (nizham) demokrasi merupakan sistem menyimpangdan jahil. Tidak dibenarkan bagi kita di negara Saudi Arabia, bahkan di segenap negeri Islam yang beriman dengan sistem Islam, menerapkan sistem demokrasi ini. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 14)

Menerapkan sistem demokrasi dapat menimbulkan dampak negatif, yaitu tercerabutnya tradisi keislaman di negaranegara kaum muslimin. Di Yaman, Abdul Majid az-Zindani meniupkan sistem demokrasi hingga mendorong para muslimah melenggang di dunia politik. Ini dilakukan tanpa memedulikan lagi ketentuan syariat. (Tuhfatu al-Mujib ‘ala As’ilati al-Hadhiri wa al-Gharib, asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i, hlm. 417)

Di Sudan, melalui sistem demokrasi yang diterapkan, hasil pemilu di negara tersebut memunculkan wakil presiden beragama Kristen. Hasan at-Turabi menjadi pelopor gerakan penerapan sistem menyimpang dan jahil ini.

Apa yang digembar-gemborkan sistem demokrasi bahwa kedaulatan ada di tangan rakyat nyatanya masih dipertanyakan. Walaupun rakyat melakukan pemilihan langsung wakil atau pemimpin mereka, kenyataannya justru pemimpin atau wakil rakyat tersebut ditetapkan oleh partai. Rakyat memilih setelah pilihan itu disodorkan partai. Melalui mekanisme partai inilah wakil/pemimpin dipilih.

Karena itu, tak mengherankan apabila setelah lolos dan terpilih menjadi wakil rakyat atau pemimpin, komitmen memperjuangkan partai lebih menonjol dibanding dengan komitmen untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Bisa jadi, meski dirinya memperjuangkan nasib rakyat, diharapkan juga bisa mendongkrak pamor partai di tengah masyarakat. Ujung-ujungnya, semua yang dilakukannya merupakan politik pencitraan terhadap partai yang menjadi kendaraan para politikus tersebut.

Lebih aneh lagi, seorang yang dicalonkan pada dapil (daerah pemilihan) tertentu, ternyata sang calon ini tidak berdomisili di daerah dapil itu. Bahkan, ia tidak berasal dari daerah pemilihan tersebut. Dengan kondisi semacam itu, apakah mungkin sang calon akan benar-benar memperjuangkan nasib rakyat yang memilihnya? Padahal dirinya bukan berasal dari daerah itu dan tidak mengenal secara dekat denyut kehidupan masyarakatnya.

Berapa banyak sang wakil rakyat yang tidak memiliki ikatan batin dengan rakyat yang memilihnya? Rakyat cukup disodori gambar dengan segala akting manis sang calon wakil rakyat saat menjelang pemilu. Setelah terpilih, ia pun melupakan rakyat yang memilihnya. Jangankan datang berkunjung untuk melihat langsung keadaan rakyat yang memilihnya, namanya saja sudah dilupakan orang. Kedaulatan ada di tangan partai; seperti itulah buahnya.

Kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah, “Demokrasi bermakna rakyat menghukumi dirinya dengan dirinya sendiri. Seandainya (melalui pemilu) menghasilkan suara (terbanyak) bahwa homoseksual itu halal, niscaya hasil pemilu itu lebih didahulukan daripada al-Kitab dan as-Sunnah.” (Tuhfatu al- Mujib, hlm. 431)

Karena itu, orang yang cerdas dan berakal normal akan melihat sistem demokrasi sebagai sistem yang rusak dan tidak menjanjikan kebaikan. Sungguh naif sekali apabila menentukan baik-buruk, halal-haram, ataupun benar-salah melalui pemungutan suara. Padahal Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kebenaran itu dari Rabbmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (al-Baqarah: 147)

“Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkanmu dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), ketahuilah bahwa Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. Apakah hukum jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (al-Maidah: 49—50)

Kedaulatan berada di tangan partai. Rakyat tinggal memilih wakilnya berdasar apa yang disodorkan oleh partai. Di dalam partai, tentu ada mekanisme yang mengatur sehingga Mr. Fulan yang disodorkan ke publik memiliki komitmen, loyal, dan terikat kepada partai. Jika tidak, Mr. Fulan tentu akan dicutik hingga tak berkutik.

Di sebuah negeri bersendi demokrasi, partai memegang kedaulatan. Partai memiliki kekuasaan dan pengaruh. Karena itu, banyak orang tergiur menjadi pengurus partai. Ramai-ramai mendirikan partai. Semoga Allah ‘azza wa jalla memberi hidayah.

 

Dampak Buruk Sistem Demokrasi

Di antara kerusakan yang ditimbulkan sistem demokrasi terhadap masyarakat, seseorang didorong untuk mewujudkan ambisinya menjadi pejabat publik. Padahal jabatan adalah amanat yang kelak harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat.

Lebih tragis lagi, upaya untuk meraup jabatan itu disertai janji-janji kosong yang tidak ada realitasnya. Demi meraih apa yang diinginkannya, ia tak memedulikan lagi nilai kejujuran, praktik suap, dan menyia-nyiakan harta demi memasyhurkan dirinya. Selanjutnya, kebohongan akan menjadi watak jahat yang muncul mengiringi keberhasilannya menampuk kursi jabatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihati sahabat yang mulia, Abdurrahman bin Samurah radhiallahu ‘anhu,

 يَا عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ سَمُرَةَ، لَا تَسْأَلِ الْإِمَارَةَ، فَإِنَّكَ إنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ مَسْأَلَةٍ وُكِلْتَ إِلَيْهَا، وَإِنْ أُعْطِيتَهَا عَنْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ أُعِنْتَ عَلَيْهَا

“Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kepemimpinan. Sebab, sungguh, jika engkau diberi kedudukan tanpa memintanya, niscaya engkau akan ditolong (Allah ‘azza wa jalla) atas jabatan (yang engkau emban). Adapun jika jabatan itu diperoleh dari hasil meminta, engkau bakal dibebani jabatan tersebut (tidak akan ditolong Allah ‘azza wa jalla).” (HR. al-Bukhari no. 7146 dan Muslim no. 1652)

Demokrasi telah turut andil mengobarkan ambisi merebut jabatan, meruntuhkan moral, dan menyianyiakan nikmat yang diberikan Allah ‘azza wa jalla. Padahal, kelak Allah ‘azza wa jalla akan meminta pertanggungjawaban atas nikmat-nikmat tersebut. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang telah diberikan padamu).” (at-Takatsur: 8)

Asy-Syaikh Muhammad Aman bin Ali al-Jami menyebutkan beberapa kerusakan yang bisa ditimbulkan lantaran melaksanakan sistem demokrasi di negeri kaum muslimin. Di antara kerusakan tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Muncul kebebasan berakidah. Maksudnya adalah bebas untuk memilih agama (murtad dari Islam). Sistem demokrasi membuka peluang setiap individu untuk mengubah keyakinan dan agamanya. Kebebasan ini bahkan dilindungi undang-undang.
  2. Kebebasan dalam berperilaku, kebebasan menampilkan nilai-nilai kaum kafir, dan kebebasan berekspresi.
  3. Kebebasan berpikir dan berpendapat, kebebasan mengeluarkan pemikiran dan pendapat tanpa dibatasi ketentuan yang ada; tanpa menimbang baik-buruk.

Khusus di Indonesia, kebebasan ini mencakup kebebasan “mengkritik” dan mencela pemerintah di depan publik; baik dengan cara demonstrasi, membeberkan melalui media masa, atau ceramah umum. Kebebasan berpikir dan berpendapat dalam Islam diatur sedemikian rupa.

Kebebasan berpikir dan berpendapat dalam Islam dibatasi oleh ketentuan syariat; baik dalam bentuk amar ma’ruf nahi munkar, nasihat, maupun saling mengingatkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

  مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, hendaklah berbicara yang baik atau diam.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا لَعَّانٍ وَلَا فَاحِشٍ وَلَا بَذِيءٍ

“Seorang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, melaknat, berbuat keji, dan kotor.” (HR. at-Tirmidzi, Ahmad, dan al-Hakim, beliau menyatakan sahih)

Inilah perbedaan nilai kebebasan demokrasi dan Islam. Kebebasan yang diberikan oleh Islam dibingkai dengan nilai syariat, tidak sebagaimana kebebasan yang ditentukan oleh sistem demokrasi yang bersifat mutlak tanpa ada kaidahyang melingkupinya. (Haqiqatu ad-Dimuqrathiyyah, hlm. 20—25 dinukil secara ringkas)

Menanam sistem demokrasi sama dengan menanam kebebasan tanpa batas. Sebab, demokrasi itu sendiri bermakna liberalisasi; yaitu sebuah sistem yang meniupkan hawa buruk yang bernama kebebasan mutlak tanpa batas. Buah dari itu semua, moral masyarakat akan tercabik-cabik, keimanan akan melemah dan hancur, cara berpikir masyarakat tidak terbangun secara sehat, dan ambisi untuk menekuk rival politik akan semakin liar. Demokrasi hanya menjanjikan kerusakan demi kerusakan.

Kalau mau jujur, keluhan yang tampak sekarang, senyatanya menggambarkan betapa kebejatan demokrasi telah menggerogoti sistem bermasyarakat bangsa Indonesia ini. Adapun yang bisa melihat semua kebobrokan itu hanya orang-orang yang mau berpikir secara jernih dan sehat dengan bimbingan Islam.

Wallahu a’lam.

Surat Pembaca Edisi 100

Nabi Seorang yang Ummi?

Bismillah. Pada rubrik “Hadits” Asy-Syariah no. 99 ada yang saya tidak mengerti.

Pada hadits tersebut diartikan “Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membacanya. Beliau kemudian marah….”

Pertanyaan saya:

  1. Bukankah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis). Mengapa dalam hadits ini beliau bisa membaca?
  2. Apa iya Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca sendiri kitab itu lalu beliau marah dengan bentuk kemarahan yang ditujukan pada ‘Umar radhiallahu ‘anhu? Atau mungkin ‘Umar yang membaca dan ia perdengarkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu beliau marah dan mencela ‘Umar? Konteks yang seperti ini pernah saya baca dan dengarkan di taklim-taklim para ustadz.

Abu ‘Abdillah

085258xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Berikut ini kami nukilkan jawaban dari penulis.

Hadits-hadits serupa ini banyak, seperti hadits yang menyebutkan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam menulis surat-surat kepada para raja dan pembesar. Maknanya, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan membaca dan menulis. Yang seperti ini biasa dalam bahasa, yakni perbuatan dinisbatkan pada yang memerintah. Contoh lain, Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam membangun Masjid Nabawi; apakah maknanya semua dibangun rasul? Misal yang lain, perluasan Masjid Haram dilakukan oleh Raja Fahd, apakah berarti beliau yang membangunnya sendirian?

Barakallahu fikum.

 

Penomeran Hadits

Bismillah. Untuk redaksi Majalah Asy-Syariah, mau usul kalau bisa semua hadits yang dimuat dalam majalah ini diberi nomer hadits supaya ana lebih mudah untuk tambahan ilmunya. Contoh di edisi vol. VII/No. 80/1433H/2012 hlm. 51 (Mengharap Berkah….), itu hadits-haditsnya tidak ada nomer kitab yang bersangkutan.

081322xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Walaupun tidak mudah, kami akan terus berupaya memenuhi usulan Anda. Jazakumullahu khairan atas masukannya.

 

SMS Tak Pernah Dibalas

Kami sering SMS tanya lewat redaksi, tapi sering tidak dibalas, kan kita bukan orang pondok, dangkal ilmunya. Kita kan ingin solusi agar tidak terjerumus pada hal yang dilarang. Maka dari itu, mohon bagi para asatidz yang berilmu, memberi ta’awun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan bagi yang masih jahil, semoga Allah ‘azza wa jalla membalas kebaikan yang banyak.

085728xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Kami mohon maaf jika banyak SMS masuk ke redaksi yang belum dibalas hingga kini. Hal ini dikarenakan SMS yang masuk jumlahnya ribuan. Selain itu, pertanyaan agama membutuhkan penelaahan yang tentu tidak semudah menjawab pertanyaan nonagama. Lebih-lebih tidak sedikit pertanyaan yang mengandung tingkat kesulitan yang tinggi, yang untuk menjawabnya, harus membuka kitab hadits dan perlu pengkajian mendalam. Mohon dimaklumi karena ustadz-ustadz yang mengasuh rubrik di Majalah Asy-Syariah juga memiliki kesibukan di pondok pesantren dan berdakwah baik di dalam maupun luar kota.

Menungu Hancurnya Demokrasi

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Hajatan politik bernama Pemilu benar-benar menguras energi bangsa ini. Tak hanya soal anggaran pemerintah atau dana yang dirogoh dari kantong pribadi partisipan, tetapi Juga hampir seluruh sumber daya yang ada all out dikerahkan. Semuanya demi sebuah prestise kekuasaan mengatasnamakan rakyat. Lebih-lebih persiapannya sudah dilakukan beberapa tahun sebelumnya. Pileg dan pilpres berakhir, pemilukada di depan mata. Belum pemilihan dalam lingkup lokal seperti pilkades. Ini terus berlangsung dalam siklus lima tahunan. Jadi dari tahun ke tahun, kekuasaan selalu menjadi fokus dan tema panas.

Jika sudah pernah duduk di legislatif sebelumnya, periode berikutnya pun berupaya “eksis” lagi. Demikian juga dengan jabatan kepala daerah, andaikan tidak dibatasi aturan, sangat mungkin sampai seumur hidup jabatan itu akan terus dikejar. Dahulu pernah jadi menteri, “turun pangkat” jadi gubernur/wakil gubernur atau walikota pun tak masalah, yang penting kekuasaan itu dalam genggaman. Alhasil, kutu loncat politik pun bermunculan. Idealisme atau garis ideologi partai menjadi omong kosong. Yang penting terpilih, yang penting bisa kembali duduk di lingkaran kekuasaan. Membela rakyat yang acap jadi jargon pun terbang entah ke mana.

Demokrasi menjadi kian tidak jelas, kala demi menjaring suara sebanyak-banyaknya, artis-artis dengan akhlak yang juga tidak jelas malah dimunculkan. Tidak sedikit pula caleg dengan latar belakang ekonomi lemah, nekat “maju” dengan terlilit utang besar. Tidak heran, jika segala cara kemudian dilakukan: politik uang, kampanye hitam, obral janji, hingga mendatangi dukun. Maka menjadi aneh, jika kita banyak berharap dengan orang-orang aneh semacam ini.

Itulah politik yang penuh intrik. “Wakil rakyat” akhirnya tak lebih jadi jembatan untuk memperkaya diri. Padahal ada anomali demokrasi yang jauh lebih besar dari semua itu. Demokrasi yang berakar dari filosofi Yunani, telah menuhankan suara terbanyak sebagai standar untuk mengambil keputusan “terbaik”. Suara mayoritas dan minoritas seakan-akan menjadi Rabb yang membuat syariat atau menakar sebuah kebenaran.

Prinsip-prinsip demokrasi juga memberi celah yang lebar kepada kalangan non-Islam untuk duduk di kursi pemerintahan, karena al-wala’ wal bara’ yang menjadi dasar akidah setiap muslim, dikaburkan. Tak heran, deal-deal politik atau koalisi antara partai (yang mengaku) Islam dan partai/tokoh sekular atau non-Islam menjadi biasa. Partai (yang mengaku) Islam yang memiliki caleg nonmuslim justru merasa bangga, partainya adalah partai terbuka, inklusif, dan berwawasan kebangsaan. Akhirnya, umat lagi yang jadi korban. Selain terkotak-kotak pada partai dan arus politik, sebagian umat Islam “dipaksa” menyumbang suara demi kandidat nonmuslim. Na’udzubillah.

Jangan pernah berasumsi bahwa demokrasi adalah satu-satunya sistem yang paling bisa diterima dan paling dekat dengan Islam. Jauh sekali. Kita semestinya meyakini, tujuan dan hasil yang baik harus ditempuh dengan cara/sistem yang baik pula.

Betapa banyak sistem di dunia yang akhirnya hancur luluh tertepikan zaman, gagal eksis, karena dianggap tidak bisa memberikan sesuatu yang baik. Seperti itulah nasib yang akan dialami sistem-sistem buatan manusia. Jadi, jangan pernah berharap kebaikan dari sistem yang rusak. Sembari kita terus berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla, agar Ia memberikan jalan yang terbaik, yakinlah demokrasi pun sebentar lagi akan terlumat oleh waktu.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Bahaya Memuji Ahli Bid’ah & Mendiamkan Kebid’ahan

Dalam kitabnya, Mukhtashar Firaqil Fuqaha, Abul Walid Sulaiman al-Baji menyebutkan tentang al-Qadhi Abu Bakr al-Baqillani sebagai berikut.

Abu Dzar ‘Abd bin Ahmad al-Anshari al-Harawi cenderung kepada mazhab Asy’ariyah. Aku pun bertanya kepadanya, “Dari mana engkau mendapatkan (mazhab) ini?”

Abu Dzar al-Harawi menjawab, “Dahulu aku pernah berada di Baghdad bersama dengan al-Hafizh Abul Hasan Ali bin Umar ad-Daraquthni. Kami berjumpa dengan al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin Thayyib (al-Baqillani). Ad-Daraquthni kemudian memeluk dan mencium wajah serta kedua mata orang tersebut. Setelah kami berpisah dengannya, aku bertanya kepada ad-Daraquthni, ‘Siapa orang tadi, yang aku sangka engkau tidak akan memperlakukannya demikian rupa padahal engkau adalah imam di masamu?’

Ad-Daraquthni menjawab, ‘Dia adalah imam kaum muslimin, pembela agama. Dialah al-Qadhi Abu Bakr bin ath-Thayyib’.”

Abu Dzar al-Harawi mengatakan kepada al-Baji, “Sejak saat itulah aku bolak-balik mendatanginya bersama ayahku. Aku pun mengikuti mazhabnya.” (as-Siyar, 17/558—559; Tadzkiratul Huffazh, hlm. 997; Nafhu ath-Thayyib, 2/70)

Penulis Lammud Durril Mantsur mengatakan, “Sikap diam terhadap ahli bid’ah dan tidak menjelaskan keadaan mereka akan memerdaya orang yang tidak tahu sehingga mereka jatuh dalam bid’ah tersebut. Akan lebih parah dan lebih pahit lagi apabila ahli bid’ah dipuji oleh orang yang lahiriahnya baik dan bertakwa.” (Lammud Durril Mantsur minal Qaulil Ma’tsur, Jamal bin Furaihan al-Haritsi, hlm. 187)

Fatwa Seputar Shalatnya Wanita (1)

009 - Al-Fateh-Mosque-in-Manama-Bahrain-(interior)

Wanita Sering Shalat Jamaah di Masjid

 

Pertanyaan:

Apakah wanita dibolehkan terus menerus shalat berjamaah di masjid dan apakah suaminya berhak untuk melarangnya?

 

Jawab[1]:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Wanita dibolehkan keluar rumah untuk mengerjakan shalat di masjid. Akan tetapi, shalatnya di rumahnya lebih utama karena lebih tertutup baginya dan lebih aman dari gangguan yang bisa menimpa dirinya atau menimpa orang lain karena dirinya.

Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ، وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah dari mengerjakan shalat di masjid-masjid Allah[2], namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka.”[3]

Apabila seorang wanita hendak keluar untuk shalat di masjid, tidak boleh dilarang, walaupun sebenarnya dia tetap tinggal dan shalat di rumahnya lebih utama daripada keluar untuk shalat di masjid. Namun, apabila keluar ke masjid, dia haruslah menjaga adab-adab syariat, di antaranya tidak memakai wewangian,menghindari pakaian perhiasan (pakaian yang cantik dan indah untuk berhias), tidak memakai perhiasan dan memamerkannya, tidak menampakkan sedikit pun dari anggota tubuhnya, dengan menutup wajah, dua telapak tangan dan dua telapak kaki[4]. Dan dia harus menutup dirinya dari lelaki.

Apabila semua adab-adab ini dia laksanakan, ia boleh keluar untuk shalat di masjid. Selain itu, tempatnya di dalam masjid terpisah dari lelaki, sehingga dia tidak bergabung dalam shaf lelaki dan tidak ikhtilath. Dia shalat di bagian paling belakang dari masjid. Apabila ada wanita lain bersamanya, hendaknya dia bergabung dalam shaf mereka. Jika tidak ada, dia bershaf sendiri di belakang shaf lelaki.

Jika si wanita keluar rumah tidak memerhatikan adab-adab syariat ini, suaminya boleh melarangnya keluar rumah.”

(Majmu’ Fatawa Fadhilatusy Syaikh Shalih ibn Fauzan, 1/349)


Shalat Memakai Pakaian Ketat & Tipis

 

Pertanyaan:

Apakah wanita boleh shalat dengan mengenakan celana panjang ketat (pantalon) dan bagaimana pula dengan lelaki? Apa pula hukumnya bila wanita mengenakan pakaian tipis di saat shalat namun tidak sampai menggambarkan auratnya? Berilah kami fatwa, jazakumullah khairan.

 

Jawab:

Pakaian yang sempit atau ketat, yang membentuk anggota tubuh, menampakkan bagian-bagian tubuh wanita dan lekukan-lekukannya, tidak boleh dikenakan. Lelaki pun tidak boleh memakai pakaian seperti itu, tetapi keharamannya bagi wanita lebih sangat, karena godaan yang diakibatkannya lebih besar.

Adapun tentang shalat, bila seseorang shalat dalam keadaan auratnya tertutup maka shalatnya sah, akan tetapi berdosa seseorang shalat dengan pakaian yang ketat, karena bisa jadi ada amalan shalat yang tidak dikerjakannya dengan semestinya disebabkan sempitnya pakaiannya. Ini satu sisi.

Ada sisi lain lagi sebagaimana yang telah kami sebutkan, yaitu pakaian yang ketat akan menggambarkan bentuk tubuh sehingga mengundang godaan, membuat pandangan mata tertuju/menoleh kepada si pemakai, terlebih lagi apabila dia seorang wanita. Maka dari itu, wanita wajib mengenakan pakaian yang longgar, luas lapang, yang dapat menutupi tubuhnya dan tidak membentuk tubuhnya sedikit pun, dan pandangan mata yang terfitnah tidak tertuju kepadanya[5]. Pakaiannya tidak boleh tipis atau transparan, tetapi harus pakaian yang dapat menutupi tubuhnya dengan sempurna, tidak terlihat sama sekali. Tidak boleh pula pakaian keluarnya itu pendek menampakkan betisnya, atau lengan bawahnya ataupun telapak tangannya. Tidak boleh pula dia membuka wajahnya, tapi harus menutupi seluruh tubuhnya.

Sekali lagi, pakaiannya tidak boleh tipis hingga tampak tubuh di baliknya atau warna kulitnya karena pakaian yang demikian tidak teranggap menutupi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengabarkan dalam hadits yang sahih,

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِي لَمْ أَرَهُمَا: رِجَالٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهِ النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كاَسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلاَتٌ مُمِيْلاَتٌ لاَ يَجِدْنَ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ

“Ada dua golongan dari umatku yang belum pernah aku lihat, yaitu para lelaki yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengan itu mereka memukul manusia. Dan para wanita yang berpakaian (kasiyat) tetapi telanjang, mereka miring dan memiringkan orang lain. Mereka tidak akan mendapati wanginya surga.” (HR. Muslim.)

Atau sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Makna kasiyat dalam hadits adalah para wanita itu mengenakan pakaian tetapi hakikatnya mereka telanjang. Sebab, pakaian mereka tidak menutupi aurat, hanya sekadar pakaian bermodel saja tidak menutupi tubuh yang ada di baliknya, entah karena tipis atau pendek, tidak lebar sehingga tidak cukup untuk menutupi tubuh. Para muslimah wajib memerhatikan hal ini. (1/349—350)


Wanita Shalat Jumat di Rumah

 

Pertanyaan:

Aku biasa shalat jumat sebagaimana lelaki, dengan bilangan 2 rakaat wajib dan 2 rakaat sunnah setelahnya. Akan tetapi, aku pernah membaca bahwa wanita tidak wajib shalat jumat. Apakah yang aku lakukan salah?

 

Jawab:

Apa yang Anda lakukan salah, karena tidak sah seorang wanita jumatan terkecuali apabila dia mengerjakannya di masjid berjamaah dengan para lelaki. Apabila si wanita hadir di masjid dan shalat bersama lelaki, shalatnya sah. (1/354)


[1] Semua pertanyaan dan jawaban diambil dari fatwa Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dari kitab kumpulan fatwa beliau.

[2] HR. al-Bukhari dan Muslim.

[3] Tambahan ini diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam Sunan-nya, dinyatakan sahih oleh al-Imam al-Albani dalam Shahih Abi Dawud.

[4] Karena asy-Syaikh Shalih Fauzan termasuk ulama yang berpendapat wajibnya wanita menutup seluruh tubuhnya tanpa kecuali saat keluar rumah atau di hadapan ajnabi.

[5] Pandangan mata menoleh kepadanya karena pakaian yang dikenakannya membentuk lekuk-lekuk tubuhnya disebabkan ketatnya, pandangan syahwat pun tertuju kepadanya.

Melepas Ikatan Rambut Saat Mandi

Al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Bersuci

Mandi menjadi rutinitas kita sehari-hari. Paling tidak dua kali sehari kita melakukannya, pagi dan sore. Mandi seperti ini tidak ditentukan oleh syariat. Artinya, urusannya mubah saja, mau dikerjakan, ‘silakan’; ditinggalkan pun tidak berdosa, walau sebenarnya mengerjakan yang mubah bisa mendatangkan pahala kalau disertai niat kebaikan.

Ada mandi yang diatur oleh syariat karena mengiringi urusan ibadah. Apabila mandi itu tidak dilakukan, seseorang tidak bisa menjalankan ibadah shalat dan beberapa ibadah lainnya. Mandi yang dimaksud adalah mandi selesai dari haid, nifas, dan mandi janabah.

Di sini kita tidak membicarakan secara lengkap tata cara mandi yang disebutkan. Kita membatasi satu permasalahan terkait dengan mandi-mandi tersebut, yaitu apa hukumnya wanita melepas ikatan atau gelungan rambutnya saat mandi suci dari haid, nifas, dan janabah?

Ummu Salamah radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada suaminya yang mulia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، إِنِّي امْرَأَةٌ أَشُدُّ ضُفْرَ رَأْسِي، أَفَأَنْقُضُهُ لِغُسْلِ الْجَنَابَةِ؟ قَالَ: لاَ، إِنَّماَ يَكْفِيْكِ أَنْ تَحِثِّي عَلَى رَأْسِكِ ثَلاَثَ حَثَيَاتٍ، ثُمَّ تُفِيْضِيْنَ عَلَيْكِ الْمَاءَ، فَتَطْهُرِيْنَ

“Wahai Rasulullah, saya adalah wanita yang menjalin rambut dengan kuat. Apakah saya harus melepaskan jalinan rambut tersebut saat mandi janabah?”

Rasulullah menjawab, “Tidak. Cukuplah bagimu menuangkan (air) di atas kepalamu tiga tuangan[1], lalu engkau siramkan air di atas tubuhmu, maka engkau pun suci.” (HR. Muslim no. 742)

Aisyah radhiallahu ‘anha mengisahkan bahwa Asma bintu Syakal[2] radhiallahu ‘anha pernah bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tata cara mandi suci dari haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَأْخُذُ إِحْدَاكُنَّ مَاءَهَا وَسِدْرَتَهَا فَتَطَهَّرُ فَتُحْسِنُ الطُّهُوْرَ، ثُمَّ تَصُبُّ عَلَى رَأْسِهَا فَتَدْلُكُهَا دَلْكًا شَدِيْدًا حَتَّى تَبْلُغَ شُؤُوْنَ رَأْسِهَا

“Hendaknya salah seorang dari kalian mengambil air mandi dan sidr[3], lalu bersuci dengan sebaik-baiknya[4], kemudian dia tuangkan air di atas kepalanya, lalu digosok-gosoknya dengan kuat hingga mencapai pokok rambutnya[5]….” (HR. Muslim no. 748)

Pembaca yang mulia, perhatikanlah dua hadits di atas, hadits dua ibunda kita Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dan Aisyah radhiallahu ‘anha. Yang satu berbicara tentang mandi janabah seorang wanita dan yang satu lagi tentang mandi haid.

Dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menggerai rambutnya saat mandi. Artinya, Ummu Salamah radhiallahu ‘anha boleh mandi dalam keadaan rambutnya tetap terjalin, terkepang, atau terikat.

Adapun dalam hadits Aisyah radhiallahu ‘anha, saat menyiram air ke kepala, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah wanita yang mandi haid untuk menggosok-gosokkan air tersebut dengan sangat ke kepalanya agar air sampai ke pangkal rambut.

Dari sinilah muncul perbedaan pendapat tentang hukum melepas ikatan atau jalinan rambut saat mandi janabah dan mandi haid/nifas, apakah wajib atau tidak?

 

Perbedaan Pendapat Ulama

Penulis kitab asy-Syarhul Kabir (1/189—190), al-Imam ar-Rafi’ rahimahullah, menyatakan bahwa wanita tidak wajib melepas ikatan rambutnya saat mandi janabah, dan tidak ada perselisihan dalam hal ini, kecuali dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dan an-Nakha’i rahimahullah. Tidak ada yang menyepakati keduanya menurut pengetahuan beliau. Dalilnya adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha di atas.

Al-Imam Ibnu Qudamah rahimahullah, menyatakan adanya kesepakatan imam yang empat tentang tidak wajibnya hal ini. (al-Mughni, “Kitab ath-Thaharah”)

Al-Imam at-Tirmidzi rahimahullah berkata setelah membawakan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, “Yang diamalkan oleh para ulama ialah apabila seorang wanita mandi janabah tanpa melepaskan ikatan rambutnya, maka hal itu mencukupinya setelah dia mencurahkan air ke atas kepalanya.“ (Jami’ at-Tirmidzi, 1/71)

Adapun untuk mandi haid dan nifas, ulama berselisih pendapat, apakah wajib atau tidak melepas ikatan rambut saat mandi suci.

  1. Wajib melepas ikatan rambut.

Demikian pendapat yang masyhur dari ulama mazhab Hanbali (al-Mughni), Zhahiri (al-Muhalla, 2/53) dan sebagian ulama Maliki (al-Muntaqa, 1/96). Pendapat ini dipegangi oleh al-Hasan, Thawus, dan an-Nakha’i.

  1. Mustahab, tidak wajib.

Demikian pendapat jumhur ulama, di antara mereka ialah ulama mazhab Hanafi (Fath al-Qadir, 1/59I), ulama mazhab Maliki (al-Maunah, 1/132), ulama mazhab Syafi’i ( al-Majmu, 2/187), dan satu pendapat dalam mazhab Hanbali (satu riwayat dari al-Imam Ahmad rahimahullah yang dipilih oleh al-Muwaffaq, al-Majd, pensyarahnya, dan asy-Syaikh Taqiyuddin, serta selain mereka). Demikian pendapat yang dipegangi oleh Atha, al-Hakam, dan az-Zuhri. (al-Mughni, Fathul Bari, 1/542)

Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alusy Syaikh rahimahullah, Mufti Kerajaan Saudi Arabia pada masanya, berpendapat (sebagaimana dinukil dalam Taudhihul Ahkam) bahwa yang kuat secara dalil adalah pendapat yang menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi haid, sebagaimana tidak wajib dalam mandi janabah. Hanya saja, saat mandi haid disunnahkan melepaskannya berdasarkan dalil-dalil yang ada, namun hal ini tidak wajib, dengan dalil hadits Ummu Sa lamah radhiallahu ‘anha . Pendapat ini yang dipilih oleh penulis kitab al-Inshaf. Adapun dalam mandi janabah, maka melepas ikatan rambut tidak disunnahkan sebagaimana disunnahkan dalam mandi haid.

Dalil mereka yang tidak mewajibkan adalah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang menyebutkan haid dan janabah[6]. Namun, kata al-Imam Ibnu Qayyim al- Jauziyah rahimahullah, yang sahih dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha hanyalah penyebutan janabah tanpa ada penyebutan haid, sedangkan melepas ikatan rambut untuk wanita yang mandi haid, maka tidak ada riwayat yang mahfuzh.

Al-Imam al-Albani rahimahullah berkata bahwa riwayatnya syadz. Dengan demikian, kata asy-Syaikh Alu Bassam, penulis Taudhihul Ahkam, mazhab al-Imam Ahmad rahimahullah dalam masalah ini kuat, dan memaknai dua hadits di atas dengan istihbab (hukumnya disunnahkan) adalah bagus. (Taudhihul Ahkam, 1/400—401)

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menyatakan, mazhab jumhur tentang ikatan rambut wanita yang mandi adalah jika memungkinkan sampainya air ke seluruh rambut, baik bagian luar maupun bagian dalam, tanpa harus melepas ikatan rambut tersebut (mengurai rambut) maka mengurainya tidaklah wajib.

Namun, ketika tidak memungkinkan menyampaikan air ke seluruh rambut kecuali dengan mengurai, maka mengurainya wajib, tanpa membedakan mandi janabah dengan mandi haid dan nifas.

Adapun hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha dipahami bahwa air bisa sampai ke seluruh bagian kepala dan rambut tanpa harus mengurai rambut tersebut. An-Nakha’i berpendapat wajibnya melepas ikatan rambut dalam seluruh keadaan. Al-Hasan dan Thawus berpendapat wajib ketika mandi haid dan tidak wajib saat mandi janabah dengan dalil hadits Ummu Salamahradhiallahu ‘anha. (al-Minhaj, 4/237)

Al-Imam al-Albani rahimahullah dalam kitabnya, Tamamul Minnah fi Ta’liq ‘ala Fiqhis Sunnah (hlm. 125), menyebutkan adanya perbedaan mandi janabah seorang wanita dengan mandi haidnya. Ketika mandi haid, si wanita harus menggosok-gosokkan air dengan kuat ke kepalanya, sedangkan saat mandi janabah tidak diharuskan demikian, sebagaimana hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha menunjukkan tidak wajib mengurai rambut yang terikat saat mandi janabah.

Itulah sebabnya Aisyah radhiallahu ‘anha menyatakan pengingkaran terhadap Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma ketika sampai kabar kepada Aisyah radhiallahu ‘anha bahwa Abdullah bin Amr radhiallahu ‘anhuma menyuruh kaum wanita agar melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

يَا عَجَبًا بِالْنِ عَمْرٍو هَذَا! يَأْمُرُ النِّسَاءَ إِذَا اغْتَسَلْنَ أَنْ يَنْقُضْنَ رُؤُوسَهُنَّ، أَفَلاَ يَأْمُرُهُنَّ أَنْ يَحْلِقْنَ رُؤُوسَهُنَّ؟ لَقَدْ أَغْتَسِلُ أَناَ وَرَسُوْلُ اللهِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، فَمَا أَزِيْدُ عَلَى أَنْ أُفْرِغَ  عَلَى رَأْسِي ثَلاَثَ إِفْرَغَاتٍ

“Aneh sekali Ibnu Amr itu! Dia memerintah para wanita melepaskan ikatan rambut mereka saat mandi. Mengapa dia tidak menyuruh mereka mencukur rambut sekalian? Dahulu aku pernah mandi bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana[7], dan aku tidak lebih dari sekadar menuangkan ke atas kepalaku tiga tuangan.” (HR. Muslim no. 745)

Dengan demikian kata al-Imam rahimahullah, tidak ada pertentangan di antara hadits-hadits tersebut berdasarkan perincian ini, yaitu saat mandi haid diwajibkan melepas ikatan rambut, sedangkan ketika mandi janabah tidak wajib. Di antara yang berpendapat dengan perincian ini adalah al-Imam Ahmad rahimahullah dan pendapat ini dinyatakan benar oleh Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Tahdzib as-Sunan (91/165—168). Ini juga pendapat Ibnu Hazm rahimahullah dalam al-Muhalla (2/37—40).

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan rahimahullah dalam syarahnya terhadap Bulughul Maram, yaitu Tashil al-Ilmam (1/282—284) menyatakan tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi janabah karena hal itu akan menyulitkan. Sebab, mandi ini bisa berulang-ulang dilakukan sehingga apabila si wanita harus mengurai rambutnya setiap kali mandi tentu akan menyulitkannya. Sementara itu, agama ini datang memberikan keringanan dan menghilangkan segala kesulitan dari pemeluknya. Adapun untuk mandi haid ada tiga pendapat ulama:

  1. Rambut harus diurai karena mandi haid dan nifas tidak berulang-ulang dilakukan sehingga tidak mendatangkan kesulitan apabila harus melepas ikatan rambut.

Selain itu, ada perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam agar Aisyah radhiallahu ‘anha melepas ikatan rambutnya saat mandi haid[8]. Ini adalah pendapat al-Imam Ahmad dan al-Imam Malik. (al-Mughni dan al-Mudawwanah 1/28)

  1. Tidak wajib mengurai rambut saat mandi janabah, demikian pula mandi haid dan nifas, tetapi cukup menuangkan air tiga tuangan sebagaimana disebutkan dalam hadits[9].

Ini adalah pendapat mazhab Syafi’i dan Hanafi[10] (lihat al-Umm dan al-Bahru ar-Raiq 1/54)

  1. Melepas ikatan rambut saat mandi haid dan nifas hukumnya sunnah, tidak wajib.

Pendapat ini diriwayatkan dari al- Imam Ahmad dan sekelompok ulama. (Kasysyaf al-Qana’ 1/367)

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah yang saat itu diketuai oleh Samahatusy Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengeluarkan fatwa bernomor no. 1191 menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Apakah ada perbedaan antara mandi janabah lelaki dan wanita?
  • Apakah wanita harus melepas ikatan rambutnya atau cukup baginya menuangkan air ke atas kepalanya sebanyak tiga kali berdasar hadits yang ada?
  • Apa perbedaan mandi janabah dengan mandi haid?

Al-Lajnah menjawab, tidak ada perbedaan tata cara mandi janabah lelaki dan wanita. Masing-masing tidak wajib melepas ikatan rambut saat mandi. Dia cukup menuangkan air di atas kepalanya sebanyak tiga kali, kemudian menuangkan air di atas seluruh tubuhnya, berdasarkan hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

Apabila rambut lelaki atau wanita itu dilumuri daun bidara, daun inai, atau semisalnya yang dapat menghalangi sampainya air ke kulit kepala, wajib dihilangkan. Akan tetap, apabila lumuran tersebut tipis sehingga tidak menghalangi sampainya air ke kulit kepala, tidak wajib dihilangkan[11].

Adapun tentang mandi haid wanita, ada perselisihan masalah wajib tidaknya ikatan rambut dilepas saat mandi. Pendapat yang benar ialah tidak wajib, berdasarkan sebagian riwayat hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha[12]. Namun, afdalnya dilepas dalam rangka kehatihatian dan keluar dari perselisihan serta mengumpulkan dalil-dalil yang ada.

Kesimpulan masalah ini, untuk mandi janabah tidak ada kewajiban ikatan rambut dilepas sebagaimana dipahami dengan jelas dari hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha. Yang menjadi pembahasan panjang adalah mandi haid dan nifas, antara yang mengatakan wajib dan mustahab/sunnah[13]. Wallahu a’lam.

 

Faedah Hadits Ummu Salamah

Sebelum menutup pembicaraan, kami ingin berbagi dengan pembaca yang mulia beberapa faedah hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha yang disebutkan oleh dua syaikh yang mulia, Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dan Fadhilatusy Syaikh Shalih al-Fauzan rahimahullah berikut ini.

  1. Rasa malu tidak menghalangi para wanita sahabiyah untuk bertanya tentang masalah agama mereka.
  2. Merujuk kepada ulama dan bertanya kepada mereka ketika ada urusan agama yang tidak dipahami. Sebab, seseorang tidak boleh diam dalam kebodohannya, tidak boleh pula sekadar menebak-nebak dan menduga-duga. Dia harus bertanya, namun tidak kepada orang-orang bodoh, tetapi kepada ulama. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Bertanyalah kepada ahlu adz-dzikr jika memang kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 42)

Yang dimaksud ahlu adz-dzikr adalah ulama.

  1. Wanita boleh mengikat rambut, mengepang, atau mengurainya.

Yang terlarang ialah mengumpulkan rambut di atas kepala karena bisa menjadi sebab dia menjadikan kepalanya seperti punuk unta yang miring. Sementara itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كاَسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيْلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنَمَةِ الْبُخْتِ الْمَائلَةِ، لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَا لَيُوْجَدُ مِنْ مَسِيْرَةِ كَذَا وَكَذَا

“Ada dua golongan penduduk neraka yang belum pernah aku lihat keduanya:

(1) orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang dengannya mereka memukul manusia, dan

(2) para wanita yang berpakaian tetapi telanjang, mereka miring dan memiringkan orang lain. Kepala mereka seperti punuk unta al-bukht yang miring.

Mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium wanginya, padahal wanginya surga bisa dicium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 5547)

Al-Bukht dalam hadits di atas ialah unta-unta dari timur yang memiliki dua punuk. Jadi, wanita yang mengumpulkan rambutnya di atas kepala lantas mengikatnya hingga rambutnya tampak besar, seakan-akan dia memiliki dua kepala, yaitu kepalanya yang sebenarnya dan kepala palsu dari rambutnya.

  1. Hadits ini menunjukkan bahwa istri-istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjangkan rambut sehingga bisa diikat atau dijalin. Sebab, rambut yang panjang ialah perhiasan keindahan bagi wanita sebagaimana jenggot menjadi ketampanan bagi lelaki. Maka dari itu, biarkanlah rambut itu tumbuh panjang terkecuali karena suatu kebutuhan yang tidak dapat dielakkan.
  2. Hadits ini menjadi dalil kaidah raf’ul haraj (dihilangkannya keberatan atau kesulitan) dalam syariat Islam. Ini tersirat dari tidak diwajibkannya melepas ikatan rambut saat mandi karena adanya kesulitan sebagaimana disinggung di atas. Cukup menuangkan air ke rambut kepala sebanyak tiga kali.

Bisa jadi, akan timbul pertanyaan, apakah boleh kurang dari tiga tuangan? Fadhilatusy Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan boleh, tetapi kepala yang memiliki rambut tentu perlu dibersihkan dengan sungguh-sungguh sehingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuntunkan agar dituangkan air tiga kali ke atasnya. Akan tetapi, apabila satu tuangan kita yakini dapat mencapai pokok rambut, maka tidak harus menambah lebih darinya, karena Allah ‘azza wa jalla berfirman,

“Jika kalian junub maka bersucilah (mandilah)….” (al-Maidah: 6)

(Fathu Dzil Jalal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram, hlm. 612—613; Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Sepenuh dua telapak tangan.

[2] Demikian kabar yang masyhur, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah. Adapun menurut al-Khathib al-Baghdadi rahimahullah dalam kitabnya, al-Asma’ al-Mubhamah, dan ulama yang lain, si penanya adalah Asma bintu Yazid ibnus Sakan radhiallahu ‘anha yang digelari khathibah an-nisa’, artinya kurang lebih juru bicara para wanita. Wallahu a’lam.

[3] Daun bidara dalam bahasa kita. Fungsinya sebagai pembersih seperti sabun.

[4] Menurut al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah, bersuci di sini maksudnya adalah membersihkan diri dari darah haid dan bagian tubuh yang terkena darah tersebut. Namun, yang tampak, kata al-Imam an-Nawawi rahimahullah, yang dimaksud dengan bersuci di sini adalah berwudhu sebagaimana disebutkan dalam hadits yang tentang tata cara mandi janabah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sementara itu, tata cara mandi janabah sama dengan mandi haid dan nifas. Yang membedakan hanyalah ketika mandi haid dan nifas disunnahkan mengusap bagian sekitar kemaluan yang terkena darah dengan kain atau kapas yang telah diberi misik, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Aisyah radhiallahu ‘anha (HR. al-Bukhari no. 314 dan Muslim no. 746)

Makna membaguskan atau membaikkan wudhu ialah menyempurnakan tata caranya. (al-Minhaj, 4/238—240)

[5] Bagian rambut yang paling bawah.

[6] Dari jalur Abdur Razzaq disebutkan dengan lafadz,

أَفَأَنْقُضُهُ لِلْحَيْضَةِ وَالْجَنَابَةِ؟

(HR. Muslim dalam Shahih-nya no. 743)

Namun, tambahan lafadz لِلْحَيْضَةِ ini bermasalah, sebagaimana akan disebutkan.

[7] Yang tampak, mandi Aisyah bersama Rasulullah adalah mandi janabah, sebagaimana ditunjukkan oleh hadits berikut ini. Aisyah radhiallahu ‘anha berkata,

كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ، كِلاَنَا جُنُبٌ

Aku pernah mandi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dari satu bejana. Kami berdua dalam keadaan junub.(HR. a-Bukhari no. 299)

[8] Namun, ada yang mengatakan bahwa mandi Aisyah radhiallahu ‘anha di saat itu bukanlah mandi suci dari haid, melainkan mandi untuk ihram. Sebab, semula Aisyah ingin melaksanakan haji dan berihram untuk umrah, kemudian beliau ditimpa haid sebelum sampai ke Baitullah sehingga hal tersebut menyedihkannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun berkata kepadanya, “Lakukanlah semua yang dilakukan oleh orang yang berhaji selain thawaf, sampai engkau suci dari haid.” (HR. al-Bukhari no. 294 dan Muslim no. 1411)

Ketika datang hari Arafah, Aisyah radhiallahu ‘anha masih dalam keadaan haid. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memerintahnya berihram untuk haji dan memasukkan amalan haji ke umrah, sehingga hajinya adalah haji qiran sebagai pengganti haji tamattu’.

Dengan demikian, tujuan dari perintah melepas ikatan rambut saat itu ialah membersihkan diri dalam rangka ihram, bukan bersuci dari haid karena Aisyah radhiallahu ‘anha belum selesai dari haidnya. (Tashil al-Ilmam, 1/282—284)

[9] Berdalil dengan tambahan lafadz haid dalam hadits Ummu Salamah radhiallahu ‘anha.

[10] Pendapat ini dipegangi oleh ash-Shan’ani dan asy-Syaukani (Subulus Salam dan Nailul Authar).

[11] Ada hadits yang menyebutkan masalah ini. Abu Dawud rahimahullah meriwayatkan dalam Sunannya dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau menyatakan, “Kami mandi dalam keadaan di kepala kami ada balutan, dalam keadaan kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat kami halal (tidak berihram) dan saat kami muhrim (berihram). “ (dinyatakan sahih oleh al-Imam Muqbil bin Hadi al-Wadi’i rahimahullah dalam al-Jami’ ash-Shahih, 1/547—548)

Diterangkan dalam Aunul Ma’bud yang dinukil oleh al-Imam al-Wadi`i dalam al-Jami’ ash-Shahih di atas, makna hadits ini ialah kami melumuri jalinan-jalinan rambut kami dengan wewangian, daun-daun yang berbau wangi dan selainnya, setelah itu kami mandi dalam keadaan apa yang kami lumurkan di atas rambut kami tidak hilang, tetap ada sebagaimana semula karena ikatan/jalinan rambut tersebut tidak dilepas.

[12] Namun, sudah diterangkan bahwa riwayat dengan tambahan ini adalah syadz.

[13] Kami (penyusun) sendiri lebih condong kepada pendapat jumhur yang mengatakan mustahab. Wallahu a’lam wal ‘ilmu ‘indallah. Namun, untuk keluar dari perselisihan serta kehati-hatian, ikatan/jalinan rambut dilepas agar bisa dipastikan air sampai ke kulit kepala, sebagaimana dinyatakan oleh fatwa al-Lajnah ad-Daimah di atas.

Membantu Anak Menghadapi Masalah

Sebagai orang tua, terkadang kita bertanya-tanya ketika anak kita tiba-tiba melakukan sebuah tindakan menyimpang, apa sebabnya? Ketika anak yang memasuki usia remaja mengalami problem, apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Berikut ini pemaparan asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah tentang hak anak dalam masalah tersebut. Kami bawakan dari kitab beliau, Huquq al-Aulad ‘alal Aba wal Ummahat.

Bright-mixed-colors-bright-colors

Memerhatikan Kebutuhan Anak dan Duduk Bersama Mereka untuk Menyelesaikan Problem yang Mereka Hadapi

Tidak diragukan lagi, di antara sifat seorang manusia—terkhusus anak-anak kita, yang lelaki dan perempuan—adalah selalu menghadapi masalah dan kesulitan hidup. Apalagi jika mereka sudah beranjak dewasa. Perhatian yang mereka dapatkan tidak lagi sebagaimana ketika masih pada fase kanak-kanak.

Benar bahwa mereka memiliki hak-hak yang bahkan harus sudah ditunaikan oleh orang tua sejak sebelum dilahirkan ke dunia, ketika masih berada dalam perut sang ibu, ketika menjadi bayi yang menyusu, memasuki masa kanak-kanak, fase setelahnya, kemudian memasuki masa remaja dan pemuda, lalu masa dewasa. Pada setiap fase tersebut, mereka memiliki hak yang harus dipenuhi. Hak itu pun tidak lantas berhenti ditunaikan ketika mereka memasuki fase berikutnya. Setiap fase memiliki hal-hal spesifik yang terkait dengannya. Selain itu, setiap fase juga memiliki penanganan dan metode tersendiri.

Penumbuhan yang baik sejak kecil akan bermanfaat bagi seseorang ketika dewasa. Barang siapa yang melalaikan sisi ini—yakni tarbiyah anak semasa kecil—, perilaku anak menjadi jelek ketika dewasa. Jelek pula sikapnya terhadap ayah ibunya, dan akan muncul sejenis pembangkangan. Bisa jadi, saat itu orang tua akan bertanya-tanya, apa sebabnya? Padahal, sebabnya bisa jadi terletak pada diri orang tua: mereka melalaikan tarbiyah anaknya.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud biAhkamil Maulud, hlm. 351)

Oleh karena itu, saya (asy-Syaikh Abdullah al-Bukhari, -pent.) katakan, di antara hak anak yang wajib ditunaikan oleh ayah dan ibunya ialah memberi perhatian terhadap masalah yang dihadapi oleh anak, mencari solusinya dengan akal yang bagus dan mencermatinya dengan hikmah yang sempurna.

Sebagian masalah perlu diperketat, sebagian lain perlu dibiarkan, sesuai dengan kadar masalah dan kesulitan yang dihadapi. Bisa jadi, sebenarnya tidak ada masalah, tetapi bagi si remaja hal itu menjadi urusan mengkhawatirkan yang perlu dimusyawarahkan. Dan orang terbaik yang bisa dia ajak bermusyawarah ialah kedua orang tua.

Apabila hubungan dengan orang tua telah terjalin dengan baik dan “jembatan” telah terbentang, di atas rasa percaya penuh kepada Allah ‘azza wa jalla dan kejujuran kepada-Nya ketika mendidik anak dengan baik, tentu hal ini akan sangat meringankan masalah yang dihadapi oleh anak dan membantu dirinya untuk melaluinya—dengan izin Allah. Berbeda halnya jika ternyata ada dinding penghalang dan penolakan, tentu orang tua tidak bisa ikut menyelesaikan masalah seperti itu.

Walhasil, pada masa kita ini banyak sekali hal-hal yang memalingkan dari kebenaran. Demikian pula hal-hal yang menyibukkan, lebih banyak. Hal-hal yang melalaikan pun sangat banyak. Anak-anak kita—yang lelaki dan perempuan—membutuhkan bantuan dan perhatian penuh. Mereka perlu dibiasakan merasa takut, berharap, cinta kepada Allah ‘azza wa jalla, memasrahkan diri di hadapan-Nya, dan menanamkan hal itu dalam jiwa mereka. Semua ini adalah hal penting yang wajib ditanamkan kepada anak-anak.

Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah beberapa hari dan malam yang akan terhenti. Barang siapa mempersiapkan kebaikan, dia pun akan mendapat kebaikan. Sebaliknya, siapa yang mempersiapkan keburukan, dia pun akan mendapatkan keburukan. Hendaknya seseorang tidak mencela selain dirinya sendiri.

Apabila dia telah menunaikan kewajibannya dan melakukan tanggung jawabnya di hadapan Allah ‘azza wa jalla, sungguh dia telah terbebas dari beban yang menjadi tanggung jawabnya. Allah tidak membebani sebuah jiwa selain apa yang telah Dia berikan kepadanya.

 

Menyibukkan Waktu Luang Mereka dengan Hal yang Bermanfaat

Tidak tersembunyi bagi orang yang berakal dan cerdik tentang pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. AlImam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Menyia-nyiakan waktu lebih dahsyat daripada kematian. Sebab, menyia-nyiakan waktu akan memutus Anda dari Allah dan negeri akhirat, sedangkan kematian hanya memutus Anda dari dunia dan penghuninya.” (al-Fawaid hlm. 33)

Oleh karena itu, apabila tidak diisi dengan hal yang bermanfaat, waktu akan terisi dengan hal-hal yang berbahaya dan buruk. Kita memohon perlindungan kepada Allah. Orang yang memerhatikan perjalanan hidup para salaf—semoga Allah meridhai mereka dan membuat mereka ridha—akan mendapati bahwa mereka tidak menyia-nyiakan waktu atau hari mereka dengan sesuatu yang berbahaya atau buruk.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

“Dua nikmat yang banyak manusia teperdaya padanya, kesehatan dan waktu luang.” (HR. al-Bukhari no. 6412 dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma)

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rahimahullah mengatakan, “Aku pernah mendapati beberapa kaum, yang semuanya sangat pelit terhadap umur mereka daripada dirham mereka.” (Syarhus Sunnah, al-Baghawi, 14/225)

Al-‘Allamah Muhammad bin Abdil Baqi as-Sulami rahimahullah, “Aku tidak pernah mengetahui bahwa aku menyia-nyiakan sepotong waktu dari umurku dalam hal yang sia-sia dan main-main.” (Siyar A’lam an-Nubala, adz-Dzahabi, 20/26; al-Adab asy-Syar’iyyah, Ibnu Muflih, 3/467)

Disebutkan dalam biografi Abdul Wahhab bin Abdil Wahhab bin al-Amin dalam Ma’rifat al-Qurra’ al-Kibar (2/283) karya adz-Dzahabi bahwa seluruh waktunya terjaga. Tidak berlalu sesaat pun kecuali beliau dalam keadaan membaca, berzikir, tahajud, atau tasmi’ (memperdengarkan hafalan al-Qur’an).

Dahulu, al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi, seorang ulama bahasa Arab yang masyhur mengatakan, “Waktu yang paling berat aku lalui ialah waktu untuk makan.” (al-Hatstsu ‘ala Thalabil ‘Ilmi, Abu Hilal al-‘Askari hlm. 87)

Intinya, hendaknya waktu sang anak diisi dengan hal yang bermanfaat yang faedahnya akan kembali kepada kebaikan diri mereka di dunia dan di akhirat; berupa ilmu yang bermanfaat dan mengajari mereka urusan yang agama dan akhirat.

Tidak mengapa orang tua memberi waktu khusus dan mengaturnya. Dia bisa membuat waktu-waktu—atau bisa Anda sebut jadwal—yang mengatur kegiatan mereka: kegiatan yang terkait dengan ilmu (baca: belajar), hiburan, wawasan, makan, dan seterusnya. Kegiatan-kegiatan yang mengisi waktu mereka akan bermanfaat bagi mereka, mereka pun bisa bermanfaat kelak bagi masyarakatnya. Mereka bisa menjadi batu bata yang baik dalam bangunan masyarakat ini.

Demikian pula, berbagai metode yang beragam bisa dipakai untuk mengisi waktu anak dengan hal yang bermanfaat.

Apabila kita memandang sebagian anak kita yang pikirannya menyeleweng, baik pikiran syahwat dan kebebasan maupun pikiran syubhat dan penyimpangan (dalam hal agama), kita dapati sebab terbesarnya ialah tidak adanya perhatian keluarga dari kedua orang tua dan tidak ditunaikannya hak-hak anak.

Penjelasannya mudah. Sebabnya ialah tidak adanya kesibukan untuk mengisi waktu mereka dengan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka. Atau bisa jadi, justru orang tualah yang berada dalam penyimpangan sehingga anak-anak tumbuh sebagaimana keadaan orang tuanya.

وَيَنْشَأُ نَاشِئُ الْفِتْيَانِ مِنَّا

 عَلَى مَا كَانَ عَوَّدَهُ أَبُوهُ            

Pemuda yang baru tumbuh di antara kami

               Tumbuh di atas apa yang dibiasakan oleh ayahnya

Karena teladan yang baik tidak ada, dia pun menyimpang, baik ke arah syahwat maupun syubhat. Karena itu, kita dapati sebagian ahli bid’ah mencuri waktu luang para penuntut ilmu dan pemuda di antara anak-anak kita, lalu dia mengumpulkan dan memalingkan mereka dari jalan yang lurus. Ini terjadi ketika kedua orang tua tidak menemukan atau tidak mengetahui metode untuk mengisi waktu anak-anak mereka.

Setelah beberapa waktu, tiba-tiba dia dapati anaknya menentangnya dan mendurhakainya dari sisi yang lain. Anaknya, misalnya, terpengaruh oleh pemikiran dari luar yang menyimpang dan sesat atau satu bentuk penyimpangan dalam hal akidah dan manhaj. Bisa jadi pula, si remaja menyimpang dalam hal perilaku (akhlak).

Ketika itu, sang ayah pun menjerit. Akan tetapi, (sudah terlambat), itu bukan saatnya menyesal! Jeritan ini tidak lagi bermanfaat. Tidak pula ratapan ini (bermanfaat) setelah lewat waktunya! Bisa jadi, sebabnya ada pada kedua orang tua, yaitu mereka berdua memang menyimpang. Atau bisa jadi pula tidak seperti itu, yaitu hal itu memang semata-mata ujian, namun keduanya tidak menyempatkan diri untuk berdoa secara sembunyi-sembunyi dan tidak jujur mengembalikan urusan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Betapa banyak orang yang mencelakakan anaknya, belahan jiwanya, di dunia dan di akhirat, dengan sebab tidak memberi anak pendidikan adab. Ia justru membantu anak mewujudkan segala keinginan syahwatnya. Dia menyangka bahwa dengan demikian berarti dia telah memuliakan si anak, padahal justru menghinakannya. Dia sangka bahwa dia telah memberi kasih sayang kepada anak, padahal justru menzaliminya. Akibatnya, dia pun tidak bisa mengambil manfaat dari keberadaan anak. Dia pun menyebabkan sang anak tidak mendapat bagian di dunia dan di akhirat. Apabila engkau memerhatikan kerusakan yang terjadi pada anak-anak, engkau akan melihat bahwa mayoritas penyebabnya berasal dari orang tuanya.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 351)

Beliau mengatakan pula, “Kerusakan mayoritas anak disebabkan oleh orang tua dan kelalaian mereka terhadap anak. Mereka tidak mengajari urusan agama yang wajib dan yang sunnah. Mereka menyia-nyiakan anak semasa kecilnya. Anak pun tidak bermanfaat bagi diri sendiri dan tidak bermanfaat bagi orang tuanya ketika lanjut usia. Sebagaimana ketika sebagian mereka mencela anaknya karena durhaka, anaknya menjawab, ‘Wahai ayahku, engkau telah mendurhakaiku semasa aku kecil. Maka, sekarang aku mendurhakaimu ketika engkau lanjut usia. Engkau menyia-nyiakanku sewaktu anak-anak, sekarang aku menyia-nyiakanmu saat engkau tua renta’.” (Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud, hlm. 337)

Oleh karena itu, teladan yang baik adalah sangat penting dalam hal mendidik anak. Hal ini wajib diperhatikan oleh orang tua. Orang tua hendaknya selalu berhias dengan akhlak yang baik dan perilaku yang lurus. Seseorang tidak boleh menyuruh anak lelaki atau perempuannya melakukan sesuatu sementara ia sendiri meremehkannya. Hal ini diketahui secara teori dan akal.

وَغَيرُ تَقِيٍّ يَأْمُرُ النَّاسَ باِلتُّقَى

طَبِيْبٌ يُدَاوِي وَالطَّبِيبُ عَلِيلُ             

Orang yang tidak bertakwa menyuruh manusia untuk bertakwa

       (layaknya) dokter yang mengobati, namun dia sendiri berpenyakit

Hal ini tidak mungkin. Sebab, anak-anak memiliki tabiat meniru orang tua, baik dia ingin maupun tidak. Karena itu, kita dapati bahwa penyimpangan terkadang disebabkan (pergaulan) di rumah. Si pemuda atau pemudi melihat ayah atau ibunya melakukan sesuatu, maka dia menyerapnya, baik dia tahu maupun tidak, sadar maupun tidak. Setelah itu, dia meniru perkara yang dilakukan kedua orang tuanya tersebut.

Jadi, perhatian terhadap hal ini (teladan yang baik) sangat besar pengaruhnya. Teladan yang baik merupakan suatu hal yang dituntut dan dianjurkan oleh agama kita. Agama kita memosisikan keteladanan yang baik sebagai sebab kebahagiaan bagi yang menginginkan keselamatan.

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (al-Ahzab: 21)

Jadi, barang siapa menginginkan keselamatan bagi anak-anaknya, hendaknya dia menjadi teladan yang baik, mengadakan perbaikan, lurus, menegakkan perintah Allah ‘azza wa jalla, tidak melanggar batasan-batasan Allah dan melampauinya.

“Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya.” (al-Baqarah: 229)

“Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya.” (al-Baqarah: 187)

“Dan barang siapa melanggar hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat lalim terhadap dirinya sendiri.” (ath-Thalaq: 1)

Ringkasnya, pendidikan anak adalah urusan yang penting, agung, besar, dan berat. Akan tetapi, hal itu menjadi mudah bagi orang yang diberi kemudahan oleh Allah. Karena itu, sepantasnya seorang hamba berdoa kepada Allah di awal dan di akhir, serta memohon pertolongan kepada-Nya agar memberinya petunjuk ke jalan yang lurus, memberinya karunia berupa keturunan yang baik, dan memperbaiki keadaan dirinya dan semuanya, sekarang dan masa yang akan datang.

Kita memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar memberikan karunia kepada kita dan Anda berupa keturunan yang baik, memberi manfaat, dan mengadakan perbaikan. Sesungguhnya Dia Maha Memberi dan Mahadermawan.

(diterjemahkan dari Huququl Aulad ‘alal Aba wal Ummahat, karya asy-Syaikh Abdullah bin Abdir Rahim al-Bukhari hafizhahullah, hlm. 44—50)