Fatwa Seputar Shalatnya Wanita (2)

TIDAK MENYADARI ADA NAJIS PADA PAKAIAN SAAT SHALAT

Ada seseorang shalat lima waktu dari shalat Subuh sampai shalat Isya dalam keadaan pada pakaiannya ada najis sementara dia tidak menyadarinya. Apakah dia harus mengulang shalatnya? Atau apa yang harus dilakukannya?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah menjawab sebagai berikut.

“Orang yang telah mengerjakan shalat lima waktu dalam keadaan pada pakaiannya ada najis tanpa diketahuinya, maka shalatnya sah, tidak perlu diulangi. Argumennya di antaranya adalah saat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabat beliau dalam keadaan memakai sendal, tiba-tiba Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melepas sendal beliau. Para sahabat pun mengikuti beliau, melepas sendal mereka.

Setelah salam, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menanyai mereka, “Mengapa kalian melepas sendal kalian?”

Mereka menjawab, “Kami melihat Anda melepas sendal anda, maka kami pun melepas sendal-sendal kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ جِبْرَائِيْلَ أَتَانِي فَأَخْبَرَنِي أَنَّ فِيْهِمَا قَذَرًا

“Sesungguhnya Jibril datang kepadaku lalu mengabariku bahwa pada kedua sendalku ada kotoran/najis.”[1]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikabarkan oleh Jibril q tentang adanya kotoran pada kedua sendal beliau. Beliau kemudian melepaskan keduanya di tengah shalat tanpa mengulang shalat yang telah dikerjakan saat masih memakai dua sendal yang terdapat najis tersebut.

Perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini menunjukkan bahwa ketika seorang muslim shalat dalam keadaan tidak menyadari pada pakaiannya ada najis dan baru mengetahuinya setelah selesai shalat, tidak diharuskan baginya mengulang shalat. Sebab, dia dalam posisi beruzur, dan shalatnya saat itu sah.

Dari sini ulama membedakan antara najis dan janabah atau hadats kecil atau hadats besar. Jika seseorang shalat dalam keadaan junub (berhadats besar, –pen.), ia wajib mengulangi shalatnya (setelah mandi janabah, –pen.).

Demikian pula seseorang yang shalat dalam keadaan berhadats kecil (seperti buang angin, buang air kecil, atau besar, –pen.), kemudian ingat bahwa dia telah mengerjakan satu shalat fardhu atau lebih dalam keadaan berhadats kecil atau besar, ia wajib mengulang shalatnya.

Pernah terjadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah siap memimpin shalat setelah diserukannya iqamah. Tatkala shaf telah lurus, beliau berkata, “Tetaplah kalian di tempat kalian!” Kemudian beliau pergi, lalu mandi (karena janabah) dan kembali lagi. Setelah itu, beliau mengimami mereka.

Ulama memandang bahwa hadats besar dan kecil membatalkan shalat. Apabila seseorang shalat lalu ingat bahwa dia sedang berhadats besar atau kecil, shalatnya dia batalkan[2]. Setelah (bersuci), dia mengulangi shalatnya dari awal.

Adapun najis, hukumnya sebagaimana yang telah kami sebutkan.”

(Pertanyaan dalam kitab ‘Aun al-Bari bi Bayan Ma Tadhammanahu Syarhus Sunnah lil Imam al-Barbahari, 2/650—651)

SYARAT WANITA JADI IMAM

Apa syarat-syarat wanita bisa menjadi imam bagi sesama wanita di dalam shalat?

Jawab:

Samahatusy Syaikh Abdullah bin Humaid[3] rahimahullah menjawab, “Apabila si wanita paling bagus dan paling pandai membaca Kitabullah, tidak ada larangan baginya menjadi imam para wanita sebagaimana lelaki[4]. Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh Ummu Waraqah radhiallahu ‘anha mengimami orang-orang di rumahnya.”

(Fatawa Nur ‘ala ad-Darb, sebagaimana dinukil dalam Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah fil ‘Aqaid wal Ibadat wal Mu’amalat wal Adab, 1/419)

WANITA MENGIMAMI ANAK LELAKI

Apa hukumnya wanita mengimami anak lelaki?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Muhammad ibnu Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjawab sebagai berikut.

“Yang benar, wanita tidak boleh mengimami lelaki, baik si lelaki masih kecil maupun sudah besar. Berdasarkan hal ini, apabila seorang wanita ingin menegakkan shalat berjamaah, hendaknya dia menjadikan anak lelaki kecil (yang ada bersamanya untuk shalat) sebagai imam dan dia shalat di belakang si anak. Sebab, anak lelaki dibolehkan menjadi imam, meskipun dalam shalat fardhu.

Hal ini telah pasti haditsnya dari ‘Amr ibnu Salamah al-Jurmi, beliau berkata, “Ayahku berkata, ‘Aku benar-benar datang dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam — karena ayahnya adalah salah seorang utusan yang menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada tahun 9 H. Beliau berkata, “Aku benar-benar datang kepada kalian dari sisi Nabi. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا حَضَرَتِ الصَّلاَةُ فَلْيُؤَذِّنْ لَكُمْ أَحَدُكُمْ وَ لْيَؤُمَّكُمْ أَكْثَرُكُمْ قُرْآناً

‘Apabila telah datang waktu shalat, hendaknya salah seorang dari kalian mengumandangkan azan dan hendaknya mengimami kalian orang yang paling banyak hapalan Qur’annya di antara kalian’.”

Ayahku berkata, “Mereka pun melihat siapa di antara mereka yang paling banyak hafalannya. Ternyata mereka tidak dapati orang yang paling banyak hafalannya daripada aku. Mereka mengedepankan aku (sebagai imam), padahal di saat itu usiaku baru 6 tahun atau 7 tahun.” (Shahih al-Bukhari no. 3402)

Hadits di atas menjadi dalil bolehnya anak kecil menjadi imam dalam shalat fardhu.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Ibnu Utsaimin, 15/147)

SHALAT TARAWIH DI RUMAH ATAU DI MASJID?

Manakah yang lebih utama bagi wanita apakah shalat tarawih di rumahnya ataukah di masjid bersama kaum muslimin?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menjawab sebagai berikut.

“Yang afdal bagi wanita adalah shalat di rumahnya. Namun, ia boleh shalat di masjid bersama jamaah, baik shalat fardhu, shalat tarawih, shalat kusuf, maupun shalat jenazah, dengan syarat dia mengenakan hijab yang sempurna dan jauh dari perbuatan berhias, baik pada tubuh maupun pakaiannya, serta tidak memakai wewangian pada tubuh dan pakaiannya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمْنَعُوا إِماءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ وَبُيُوْتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ وَلْيَخْرُجْنَ تَفِلاَتٍ.

“Janganlah kalian melarang hamba-hamba perempuan Allah subhanahu wa ta’ala dari masjid-masjid Allah. Namun rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka. (Kalaupun mereka keluar ke masjid), hendaknya mereka keluar dalam keadaan tafilat.” (HR. Abu Dawud no. 567 dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu. Adapun baris pertama diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan Muslim dari hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhu)

Makna tafilat dalam hadits adalah tidak berhias dan tidak memakai wewangian.

Hadits ini menunjukkan boleh wanita keluar shalat ke masjid dengan syarat yang disebutkan, yaitu dia berpegang dengan rasa malu dan menutup diri, tidak berhias, tidak memakai wewangian dan bershaf di belakang jamaah laki-laki.

Namun, bersamaan dengan keharusannya berpegang dengan syarat yang disebutkan, shalatnya di rumahnya lebih baik baginya karena lebih memberikan penjagaan kepadanya, dia tidak terfitnah dan tidak menjadi fitnah.

Adapun apabila si wanita tidak memegangi syarat yang ada, maka keluarnya ke masjid hukumnya haram, dia berdosa, walaupun tujuannya untuk mengerjakan shalat.” (al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/180-181)

MENGIKUTI BACAAN IMAM DENGAN MELIHAT MUSHAF

Bolehkah seorang wanita atau lelaki yang sedang shalat mengikuti bacaan imam dalam shalat tarawih dengan melihat mushaf, baik yang mengikuti ini mengeraskan suaranya maupun hanya membaca dalam hati?

Jawab:

Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah al-Fauzan hafizhahullah menjawab sebagai berikut.

“Tidak boleh bagi makmum lelaki ataupun wanita mengikuti bacaan imam dengan melihat mushaf. Sebab, hal itu akan menyibukkannya dari amalan shalat tanpa kebutuhan. Ini yang tampak dari perbuatan sebagian pemuda sekarang ini, padahal ini bukanlah termasuk amalan salaf menurut apa yang kuketahui. Perbuatan ini wajib ditinggalkan dan dilarang.

Ulama berbeda pendapat tentang hukum imam membaca al-Qur’an di dalam shalat (qiraah dalam shalat) dengan melihat mushaf pada saat dibutuhkan. Lantas, bagaimana halnya dengan makmum?”

(al-Muntaqa min Fatawa asy-Syaikh Shalih bin Fauzan, 3/204)


[1] HR. Abu Dawud no. 650 dari hadits Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu; dinyatakan sahih oleh al-Hakim dalam al-Mustadrak dan disepakati oleh adz-Dzahabi; dinyatakan sahih sanadnya oleh Ibnu Katsir dalam Tuhfah ath-Thalib hlm. 135 dan penulis Fathul Bari (1/348) menukilkan pensahihan Ibnu Khuzaimah terhadap hadits ini. tersebut.

[2] Untuk menghilangkan hadatsnya dengan mandi kalau berhadats besar atau wudhu apabila berhadats kecil.

[3] Beliau adalah asy-Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdil Aziz bin Abdirrahman bin Husain bin Humaid dari Bani Khalid. Lahir di Riyadh pada 1329 H dan wafat 1402 H. Kehilangan penglihatan di usia kanak-kanak tidak mengendurkan semangat beliau untuk menuntut ilmu. Beliau menimba ilmu dari ulama besar di negerinya, di antaranya asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim alusy Syaikh rahimahullah, mufti Kerajaan Saudi di zamannya. Semasa hidupnya, beliau diamanahi beberapa tugas dakwah yang dengannya beliau berkhidmat kepada Islam dan kaum muslimin. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala merahmati beliau dengan rahmat-Nya yang luas.

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللهِ. فَإِنْ كَانُوْا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءٌ, فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ . فَإِنْ كَانُوْا فِي السُّنَّةِ سَوَاءٌ, . فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً . فَإِنْ كاَنوُاْ فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءٌ, فَأَقْدَمُهُمِ سِلْمًا

Yang mengimami suatu kaum adalah yang paling pandai membaca Kitabullah di antara mereka. Jika mereka semua-sama dalam hal membaca Kitabullah, maka yang jadi imam adalah yang paling berilmu tentang as-Sunnah. Jika mereka juga sama, maka yang paling dahulu berhijrah. Jika mereka sama dalam hal berhijrah, maka yang terdahulu masuk Islam.(HR. Muslim)

Menjaga Diri Dari Ujian & Godaan

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

debu

Anda pernah menghadapi soal-soal tes yang diujikan oleh penguji Anda? Bagaimana rasanya menghadapi ujian tersebut, menegangkan bukan? Akan tetapi, alhamdulillah kita tidak mesti menghadapinya. Kalaupun harus menjalani tes seperti itu karena satu urusan, sebagai pelajar misalnya, itu pun tidak setiap hari. Betul bukan?

Nah, ada ujian yang mau tidak mau akan kita jumpai, siapa pun kita.

Ketahuilah wahai saudariku, dunia yang sedang kita huni ini adalah ujian yang sesungguhnya. Tentu saja, kita diuji bukan dengan soal tes tertulis atau tes lisan, melainkan dengan beragam kesenangan dan kesulitan. Apakah kita bersyukur ataukah kita bersabar? Siapakah yang memberi ujian tersebut? Jelas jawabannya, Allah subhanahu wa ta’ala.

Allah berfirman, Alif laam miim. Apakah manusia mengira mereka akan dibiarkan berkata, “Kami telah beriman,” sementara mereka belum diuji? (al-Ankabut: 1—2)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tatkala para rasul diutus kepada manusia, mereka berada di antara dua perkara. Bisa jadi, mereka berkata, “Kami beriman,” atau berkata, “Kami enggan beriman.” Barang siapa mengaku beriman, dia akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.”

Ujian yang dihadapi oleh seorang mukmin dalam kehidupan dunia ini bisa jadi besar dan bisa pula kecil. Bisa jadi datang dari dalam (internal kaum muslimin) dan dari luar (dari nonmuslim).

Karena dahsyatnya akibat ujian ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memperingatkan kita dalam sabda beliau,

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الْمَرْءُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيْعُ أَحَدُكُمْ دِيْنَهُ بِعَرَضٍ قَلِيْلٍ مِنَ الدُّنْيَا

“Bersegeralah kalian beramal, sebelum datang ujian seperti potongan malam yang gelap. Ketika itu seseorang di pagi hari beriman, namun di sore harinya dia kafir. Ada yang sorenya beriman, ketika pagi hari dia telah kafir; salah seorang dari kalian menjual agamanya dengan harta dunia yang sedikit.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan dengan rinci ujian tersebut. Beliau telah pula memberikan solusinya, dan melarang kita menceburkan diri ke dalamnya. Beliau telah menerangkan sebab-sebab terjadinya, di antaranya:

  1. Sedikitnya ilmu dan tersebarnya kebodohan
  2. Ditinggalkannya aturan Islam
  3. Banyaknya diperbuat dosa dan maksiat
  4. Adanya pelanggaran kehormatan

Dua sahabat mulia, Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dan Abu Musa al-Asy’ari radhiallahu ‘anhu, memberitakan bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda,

إِنَّ بَيْنَ يَدَيِ السَّاعَةِ أَيَّامًا يَنْزِلُ فِيْهَا الْجَهْلُ وَيُرْفَعُ الْعِلْمُ وَيَكْثُرُ الْهَرْجُ؛ الْهَرْجُ الْقَتْلُ

“Menjelang hari kiamat akan ada hari-hari yang di dalamnya turun kebodohan, ilmu diangkat (hilang), dan banyak al-harj. Al-Harj adalah pembunuhan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ujian dan godaan akan sampai pada puncaknya hingga seorang muslim berangan-angan mati daripada hidup dipenuhi ujian. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتَّى يَمُرَّ الرَّجُلُ بِقَبْرِ الرَّجُلِ فَيَقُوْلُ: يَا لَيْتَنِي كُنْتُ مَكَانَهُ

Tidak akan tegak hari kiamat sampai seseorang melewati kubur orang lain lantas berkata, “Duhai kiranya aku yang menempati tempatnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Di masa fitnah (ujian) berkecamuk, akal manusia hilang. Mereka dikuasai olehnya, tercampur dan kaburlah yang baik dari yang buruk. Sampai-sampai seorang yang membunuh tidak tahu untuk apa dia membunuh, dan orang yang dibunuh pun tidak tahu sebab dia dibunuh.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menyampaikan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لاَ تَذْهَبُ الدُّنْيَا حَتَّى يَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ يَوْمٌ لاَ يَدْرِي الْقَاتِلُ فِيْمَ قَتَلَ وَلاَ الْمَقْتُوْلُ فِيْمَ قُتِلَ

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah dunia ini hilang sampai datang kepada manusia suatu hari di mana orang yang membunuh tidak tahu untuk apa dia membunuh dan orang yang dibunuh tidak tahu mengapa dia dibunuh.” (HR. Muslim)

Hati-hati dari Dua Macam Ujian

Ujian dan godaan itu bisa berupa syubhat (kerancuan pemikiran) dan bisa berupa syahwat (keinginan hawa nafsu).

  1. Ujian syubhat datang dari arah keyakinan (i’tiqad) dan ibadah yang berdampak pada kebimbangan dan keguncangan.

Selanjutnya, syubhat mengantarkan pelakunya kepada perbuatan bid’ah dalam agama dan menggiringnya kepada suul khatimah (akhir hidup yang buruk). Na’udzu billah.

  1. Godaan syahwat datang dari jalan harta, ketenaran, dan hal-hal lain yang dapat dirasakan indra.

Dalam menghadapi dua ujian ini, manusia terbagi dua:

  1. Orang yang imannya kokoh dan tidak terguncang ketika godaan menghampiri.

Dia menolak syubhat dengan al-haq yang ada padanya. Demikian pula ketika syahwat mengajak pada maksiat dan dosa atau hal yang memalingkan dari perintah Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya, dia pun beramal dengan kandungan imannya dan memerangi syahwatnya. Hal ini menunjukkan kejujuran dan kesahihan imannya.

  1. Syubhat yang datang berdampak pada munculnya keraguan dalam kalbunya.

Ketika syahwat menghampiri, dia menceburkan dirinya dalam maksiat atau berpaling dari kewajiban. Hal ini menunjukkan kelemahan imannya.

Di antara doa yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum mengucapkan salam di dalam shalat adalah memohon perlindungan dari fitnah kehidupan.

“(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari)… dari fitnah kehidupan…”

Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Fitnah kehidupan adalah ujian yang menguji manusia dalam hidupnya. Ujian ini beredar di atas dua hal: (1) kebodohan, syubhat/kerancuan, dan tidak mengetahui al-haq/kebenaran. Orang yang keadaannya demikian akan terjatuh dalam kebatilan. Akibatnya, dia pun binasa; (2) syahwat, yaitu hawa nafsu. Seseorang sebenarnya mengetahui al-haq, tetapi dia tidak menginginkannya. Yang dia inginkan hanyalah kebatilan.” (Syarhu Riyadhish Shalihin, 3/559)

Berbagai Ujian yang Datang

Harta, kedudukan, anak, dan istri termasuk ujian dalam kehidupan, karena manusia akan diuji dengan halhal tersebut.

Seorang muslim akan diuji dan dicoba dengan harta. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

Dan di antara mereka ada orang-orang yang telah berjanji kepada Allah, “Sungguh jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya, pastilah kami akan bersedekah dan pastilah kamitermasuk orang-orang yang saleh.”

Setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian karunia-Nya, merekakikir dengan karunia itu dan berpaling. Memang mereka itu adalah orang-orang yang suka membelakangi kebenaran. (at-Taubah: 75—76)

“Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian hanyalah cobaan bagi kalian.Dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Seorang muslim akan diuji dengan kedudukan, maka ada di antara mereka yang berambisi memperolehnya walauharus mengorbankan agamanya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Rabb mereka di pagi dan senja hari karena mengharapkan keridhaan-Nya. Dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia….” (al-Kahfi: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan bahaya dua ujian ini (harta dan kedudukan/tahta) dalam sabda beliau yang agung,

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ بِغَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

“Tidaklah dua serigala lapar yang dilepas di sekawanan kambing lebih merusak kawanan tersebut daripada rusaknya agama seseorang karena rakusnya terhadap harta dan kemuliaan (kedudukan).” (HR. Ahmad dalam Musnadnya 3/460, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 5496)

Maksud hadits di atas, ambisi seseorang untuk beroleh kedudukan dan harta lebih merusak agamanya daripada kerusakan yang ditimbulkan oleh dua serigala lapar yang dilepas di tengah sekawanan kambing. Anda bisa membayangkan serigala yang lapar ketika berhasil beroleh mangsanya. Tentu dia akan mencabik-cabik mangsanya tanpa ampun dan tanpa belas kasih.

Berbeda halnya dengan orang yang berambisi terhadap dunia. Dia tidak akan berhenti memangsa, karena dunia tidak pernah membuatnya kenyang. Dia terus memburu dan memburu dunia tanpa peduli halal haram hingga rusaklah agamanya. Sungguh mengerikan akibatnya.

Seorang muslim akan diuji dengan istri dan anak-anaknya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri kaliandan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah dari mereka….” (at-Taghabun: 14)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْوَلَدُ مَجْبَنَةٌ مَبْخَلَةٌ مَحْزَنَةٌ

“Anak itu membuat seseorang menjadi penakut, pelit, dan sedih.” (HR. Abu Ya’la, 2/305, dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’ no. 3073)

Seseorang diuji dengan istri dan anaknya, apakah dia perintah mereka untuk taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala atau tidak? Apakah dia telah berusaha melindungi mereka dari api neraka? Apakah dia memerintah mereka mengerjakan shalat pada waktunya? Apakah dia melarang mereka berteman dan duduk-duduk dengan orang yang jelek?

Ujian bagi seorang muslim bisa pula datang dari orang-orang zalim. Semakin kuat imannya, semakin besar pula cobaannya. Kita teringat kisah umat terdahulu yang dikisahkan oleh Allah dalam surat al-Buruj berikut ini.

“Binasalah orang-orang yang membuat parit, yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, ketika mereka duduk-duduk di sekitarnya, sedangkan mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Mereka tidaklah menyiksa orang-orang yang beriman itu melainkan karena orang-orang itu beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Terpuji. Dzat Yang memiliki kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (al-Buruj: 4—9)

Luar biasa ujian sakitnya fisik yang mendera mereka demi mempertahankan keimanan dan keyakinan. Bagaimana halnya dengan kita?

Para sahabat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah merasakan ujian keimanan dari orang-orang kafir. Bilal bin Abi Rabah, Khabbab ibnul Art, Ammar bin Yasir dan kedua orang tuanya—semoga Allah meridhai mereka semuanya—termasuk deretan dari sekian namayang harus menanggung siksa demi mempertahankan keimanan mereka.

Khabbab radhiallahu ‘anhu misalnya, orang-orang kafir menyiksanya dengan menempelkan punggung Khabbab di batu yang panas membakar hingga hilang daging yang ada di punggungnya.

Said bin Jubair rahimahullah, seorang tabi’in yang mulia, pernah bertanya kepada Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, “Apakah orang-orang musyrik dahulu menyiksa orang-orang beriman dengan siksaan yang sampai pada taraf mereka diberi uzur untuk berpura-pura meninggalkan keimanan mereka?”

Dijawab oleh Ibnu Abbas, “Ya, demi Allah! Orang-orang kafir dahulu memukuli orang-orang beriman, membuat mereka kelaparan dan kehausan (tidak diberi makan dan minum). Sampai-sampai di antara mereka ada yang tidak bisa duduk dengan lurus karena hebatnya rasa sakit yang dirasakannya. Karena siksaan demikian keras, mereka terpaksa mengikuti kemauan orang-orang kafir.

Orang-orang kafir berkata kepada mereka yang disiksa, ‘Latta dan Uzza adalah sembahanmu selain Allah?!’

Yang disiksa pun terpaksa menjawab, ‘Ya.’

Sampai-sampai ketika ada seekor kumbang melewati mereka, orang-orang kafir berkata, ‘Kumbang ini adalah sesembahanmu selain Allah?!’

Dia pun terpaksa menjawab, ‘Ya’.

Mereka menjawab demikian karena sudah tidak mampu lagi menanggung sakitnya siksaan. Demikianlah perbuatan orang-orang kafir, orang-orang zalim, dan orang-orang yang melampaui batas terhadap orang-orang beriman di setiap zaman sampai datangnya hari kiamat.

Hudzaifah ibnul Yaman radhiallahu ‘anhu berkata, “Aku adalah orang yang paling tahu tentang fitnah yang akan terjadi antara masaku dan hari kiamat. “ (Diriwayatkan oleh al-Imam Muslim)

Di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, saat orang-orang bertanya tentang kebaikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hudzaifah radhiallahu ‘anhu bertanya tentang keburukan karena khawatir tertimpa oleh kejelekan tersebut. (HR. al-Bukhari)

Tameng dari Ujian & Godaan

Berikut ini beberapa hal yang dengan izin Allah akan menjaga diri kita dari fitnah:

  1. Menguatkan keimanan dalam jiwa dan beramal untuk menambah keimanan.
  2. Mempersenjatai diri dengan ilmu yang bermanfaat, banyak berzikir, dan terus-menerus dalam keadaan berzikir.
  3. Bersegera dan tidak menunda-nunda beramal saleh.
  4. Mengenali jalan orang-orang yang beriman dan berusaha mengikutinya. Di sisi lain, mengenali jalan orang-orang pendosa agar bisa menjauhinya.
  5. Berpegang dengan al-Qur’an dan as-Sunnah, serta ikhlas dalam melakukannya.
  6. Tolong-menolong dalam hal kebaikan dan takwa.
  7. Menjauhi perpecahan dan perselisihan.

Tatkala para rasul diutus kepada manusia, mereka berada di antara dua perkara. Bisa jadi, mereka berkata, “Kami beriman,” atau berkata, “Kami enggan beriman.” Barang siapa mengaku beriman, dia akan diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk membedakan siapa yang jujur imannya dan siapa yang dusta.

  1. Mensyukuri kenikmatan yang dianugerahkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, baik dengan ucapan maupun perbuatan.
  2. Berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari fitnah.
  3. Memerangi hawa nafsu dan kebid’ahan, serta menjaga diri dari syubhat.
  4. Menolak syahwat, sangat berhati-hati darinya dan menjauh dari tempat-tempatnya.
  5. Berteman dengan orang-orang yang baik dan menjauh dari orangorang yang jelek.

Inilah yang bisa kami kumpulkan dari sebab-sebab menjaga diri dari fitnah. Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua. Amin.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Si Tumit Tinggi

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

 hak-tinggi

Berbusana modis ala zaman ‘sesuai anggapan mereka’ lengkap dengan sepatu berhak tinggi merupakan pemandangan yang terlalu sering dan sangat biasa terlihat di luar sana. Seakan-akan semua itu merupakan penampilan yang harus diikuti oleh perempuan modern.

Sepatu berhak tinggi yang dianggap kelayakan dari sebuah penampilan ini sungguh merupakan musibah, karena terlalu banyak perempuan (baca: muslimah) yang tergoda untuk memakainya. Padahal kalau mau dirunut, budaya memakai alas kaki “kelebihan hak” ini bukanlah dari Islam. Lantas, budaya dari mana? Kita pun teringat dengan perempuan Bani Israil atau Yahudi, bagaimana mereka mengada-ada dalam berhias sehingga terjatuh dalam pelanggaran syariat.

Sebagai contoh, akan kita bawakan beberapa kabar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar sahabat tentang hal tersebut.

Sahabat yang mulia, Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu, menyampaikan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkisah,

كَانَتِ امْرَأَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيْلَ قَصِيْرَةٌ تَمْشِي مَعَ امْرَأَتَيْنِ طَوِيْلَتَيْنِ، فَاتَّخَذَتْ رِجْلَيْنِ مِنْ خَشَبٍ وَخَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ مُغْلَقٍ مُطْبَقٍ، ثُمَّ حَشَتْهُ مِسْكًا وَهُوَ أَطْيَبُ الطِّيْبِ، فَمَرَّتْ بَيْنَ الْمَرْأَتَيْنِ فَلَمْ يَعْرِفُوْهَا

“Ada seorang wanita bertubuh pendek dari kalangan Bani Israil berjalan bersama dua wanita yang berpostur tinggi. Yang bertubuh pendek memakai dua kaki dari kayu (semacam sandal atau sepatu untuk menambah tingginya) dan mengenakan cincin dari emas yang digantung, yang ditutup. Kemudian dia memenuhinya dengan misik yang merupakan minyak wangi paling harum. Lalu dia lewat di antara dua wanita yang tinggi sementara mereka tidak mengenalinya.” (HR. Muslim, kitab al-Alfazh, no. 5842)

Said ibnul Musayyab rahimahullah, tokoh ulama tabi’in, berkata, “Muawiyah radhiallahu ‘anhu datang ke Madinah, lalu berkhutbah dan mengeluarkan gelungan rambut[1].

Beliau pun berkata,

مَا كُنْتُ أَرَى أَنَّ أَحَدًا يَفْعَلُهُ إِلاَّ الْيَهُوْدُ، إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ بَلَغَهُ فَسَمَّاهُ الزُّوْرَ

‘Semula aku tidak mengira bahwa ada seseorang yang melakukannya[2] selain Yahudi. Sesungguhnya telah sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (berita) tentang menyambung rambut, maka beliau menamakannya dengan kedustaan’.” (HR. Muslim, kitab al-Libas, no. 5545)

Abdur Razzaq ash-Shan’ani rahimahullah, alim dari negeri Yaman pada masanya, membawakan riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha yang berkata,

كَانَ نِسَاءُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يَتَّخِذْنَ أَرْجُلاً مِنْ خَشَبٍ يَتَشَرَّفْنَ لِلرِّجَالِ فِي الْمَسَاجِدِ، فَحَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِنَّ الْمَسَاجِدَ وَسُلِّطَتْ عَلَيِهْنَّ الْحَيْضَةُ

“Dahulu para perempuan Bani Israil mengenakan kaki-kaki dari kayu agar mereka terlihat lebih tinggi oleh para lelaki di masjid-masjid. Allah subhanahu wa ta’ala kemudian mengharamkan bagi mereka mendatangi masjid dan ditimpakan kepada mereka haid.” (Mushannaf Abdur Razzaq 3/149)

Kata Ibnu Hajar rahimahullah, “Sanadnya sahih.”

Beliau rahimahullah juga berkata, “Walaupun hadits ini mauquf (ucapan sahabat, yaitu Aisyah radhiallahu ‘anha), tetapi hukumnya marfu’ (sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam). Sebab, urusan seperti ini tidak bisa dikatakan bersumber dari pendapat sendiri atau akal-akalan. Maksud ‘ditimpakan kepada mereka haid’ dalam hadits di atas adalah masa haid perempuan Bani Israil panjang. Mereka harus menjalani waktu yang lama untuk sampai kepada masa suci. Hal ini termasuk hukuman yang ditimpakan akibat perbuatan mereka yang disebutkan dalam hadits.” (Fathul Bari, 2/407)

Maksud ‘kaki-kaki dari kayu’ menjadi lebih jelas dengan atsar dari sahabat yang mulia, Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, yang diriwayatkan oleh Ishaq ibnu Rahuyah rahimahullah dalam Musnadnya (2/147),

كَانَ نِسَاءُ بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ يَتَّخِذْنَ قَوَالِبَ

Kata قَوَالِب adalah bentuk jamak dari قاَلِبٌ , artinya ‘sandal dari kayu’. (Lisanul ‘Arab, maddah qalaba, 1/689)

Berita tentang perbuatan perempuan Yahudi dan kerusakan yang mereka adaadakan adalah bukti bahwa sumber mayoritas kejelekan dan kerusakan di muka bumi ini adalah mereka, bangsa Yahudi.

Kita tidak heran dengan ulah bangsa yang dimurkai[3] dan dilaknat ini[4] karena mereka memang cinta kerusakan dan membenci perbaikan, cinta kekafiran dan benci kepada keimanan berikut ahlul iman[5], kecuali mereka yang Allah subhanahu wa ta’ala muliakan dengan mendapat petunjuk.[6]

Karena ulah kaum perempuan Yahudi tersebut, kaum lelaki mereka tergoda. Kita pun teringat dengan hadits yang menyatakan bahwa bencana pertama yang menimpa Bani Israil bersumber dari kaum perempuannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فَاتَّقُوْا الدُّنْيَا وَاتَّقُوْا النِّسَاءَ، فَإِنَّ أوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيِلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ

“Hati-hatilah kalian dari dunia dan hati-hatilah dari wanita[7], karena sesungguhnya awal bencana yang menimpa Bani Israil adalah pada godaan wanita.” (HR. Muslim, kitab adz-Dzikr wa ad-Du’a, no. 6883)

Nah, sepatu tinggi ternyata diadopsi dari kaki kayu yang dibuat oleh perempuan Yahudi untuk mengesankan tubuhnya lebih tinggi dari yang sebenarnya. Kita katakan seperti ini karena merekalah yang pertama kali berhias dan tampil di hadapan lelaki dengan model seperti itu, sebagaimana tersebut dalam hadits.

Jadi, memakai sandal atau sepatu tinggi berarti bertasyabbuh (menyerupai atau meniru) dengan Yahudi, padahal mereka adalah orang-orang kafir penghuni neraka. Tasyabbuh dengan ashabun nar (penghuni neraka) dalam hal yang merupakan kekhususan mereka adalah terlarang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan dalam haditsnya,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Siapa yang menyerupai suatu kaum maka dia bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, kitab al-Libas, no. 4031. Dinyatakan sahih dalam Shahih al-Jami’, 2/1059)

Menyerupai orang kafir secara lahiriah akan mengantarkan kepada penyerupaan secara batin. Tasyabbuh dengan orang yang buruk adalah keburukan dan sebaliknya tasyabbuh dengan orang yang baik adalah kebaikan.

Apabila ada yang bertanya, “Bagaimana apabila perempuan yang mengenakan sepatu tinggi tersebut tidak berniat tasyabbuh sama sekali?”

Ucapan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitabnya, al-Iqtidha’, berikut ini adalah jawabannya. Beliau rahimahullah menyatakan bahwa termasuk tasyabbuh dengan orang kafir ialah melakukan sesuatu yang asalnya merupakan perbuatan mereka.

Berdasarkan hal ini, wanita yang memakai sepatu tinggi berarti ber-tasyabbuh dengan wanita kafir, walaupun tujuannya bukan meniru mereka. Hanya saja, karena asal perbuatan tersebut diambil dari mereka, jadilah yang berbuat terjatuh dalam tasyabbuh.

Ternyata, bukan hanya kerusakan tasyabbuh yang dihindari dari pemakaian sepatu berhak tinggi ini. Namun, ada kerusakan atau pelanggaran lain pada pemakaiannya. Apakah itu? Perempuan yang keluar rumah memakai sepatu atau sandal bertumit tinggi telah melanggar salah satu adab syar’i bagi muslimah saat keluar rumah.

Adab yang dimaksud adalah tidak bersengaja memperdengarkan suara langkah kaki atau apa yang tersembunyi di baliknya dari perhiasan yang dikenakan, seperti suara gelang kaki. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan….” (an-Nur: 31)

Apabila perempuan bersepatu tinggi melangkah, satu, dua, tiga langkah, dan seterusnya…. Apakah Anda mendengar suara sepatunya? Ya…. tuk…tuk…tuk atau suara semacam itu. Belum lagi apabila dia mengenakan gelang kaki, tentu lebih ramai lagi suaranya.

Kata Ummu Abdillah al-Wadi’iyah hafizhahallah, seorang penuntut ilmu senior dari negeri Yaman, putri al-Muhaddits asy-Syaikh Muqbil bin Hadi al-Wadi’I rahimahullah, “Kita ditimpa bencana di zaman ini dengan al-ka’bul ‘ali (alas kaki bertumit tinggi). Kita dapati perempuan mengenakannya. Saking tingginya sandal tersebut, sampai memiliki suara (saat dipakai melangkah). Kadang si perempuan bertingkah genit ketika berjalan.[8]

Sungguh benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita itu aurat. Jika dia keluar rumah, setan memerhatikannya dan menghiasinya (dalam pandangan lelaki[9]).” (HR. at-Tirmidzi, kitab ar-Radha’, no. 1173, dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh al-Albani rahimahullah dalam al-Misykat no. 3109 dan al-Irwa’ no. 273.  Lihat Nashihati lin Nisa’, hlm. 99)

Ada lagi satu madarat ketika perempuan mengenakan alas kaki yang tinggi. Si perempuan menghadapkan dirinya kepada bahaya, yaitu bisa saja terpeleset jatuh saat berjalan karena hak tinggi yang dikenakannya. Apalagi ketika dia berjalan terburu-buru.

Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wa al-Ifta’ ketika ditanya tentang hukum memakai sepatu hak tinggi bagi wanita memberikan jawaban sebagai berikut.

“Memakai sepatu hak tinggi tidak diperbolehkan. Sebab, perempuan yang memakainya bisa terjatuh. Sementara itu, syariat ini memerintah manusia untuk menjauhi segala yang berbahaya, semisal keumuman firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Janganlah kalian menjatuhkan diri-diri kalian kepada kebinasaan.” (al- Baqarah: 195)

“Janganlah kalian membunuh diri-diri kalian.” (an-Nisa: 29)

Selain itu, sepatu ini menampakkan perawakan si perempuan lebih dari yang semestinya (tampak lebih tinggi) sehingga ada unsur tadlis (menipu, menampakkan kepalsuan).

Di samping itu, mengenakan sepatu tinggi berarti memperlihatkan sebagian perhiasaan perempuan mukminah (di hadapan lelaki yang tidak halal melihatnya)[10]. Hal ini dilarang berdasar firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Janganlah mereka (para perempuan) menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami-suami mereka, ayah-ayah mereka, mertua lelaki mereka, anak-anak lelaki mereka, anak-anak lelaki dari suami mereka, saudara-saudara lelaki mereka, anak-anak lelaki dari saudara-saudara lelaki mereka (keponakan), anak-anak lelaki dari saudara-saudara perempuan mereka, atau perempuan-perempuan mereka.” (an-Nur: 31) (Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, hlm. 475)

Yang jelas, seorang muslimah yang taat bukanlah pengikut setiap gaya dan mode yang ditawarkan di luar sana. Seorang muslimah sejati bukanlah seseorang yang latah atau ikut-ikutan dengan manusia di sekitarnya.

Dia adalah seseorang yang selalu berpegang dan terikat dengan aturan agamanya. Dia selalu memerhatikan, apakah sesuatu itu sesuai dengan ketentuan agamanya atau tidak? Adakah pelanggaran ataukah tidak? Apabila ternyata melanggar dan berbahaya, dia tidak merasa berat untuk meninggalkannya.

Nasihat untuk muslimah, jadilah seorang yang memerhatikan perhiasan untuk negeri akhiratmu, beroleh keridhaan sang Rabb. Sebab, sebentar lagi akan tiba hari perjumpaan dengan-Nya.

Janganlah perhatian diri hanya tertuang untuk berhias di negeri dunia hingga tidak peduli, apakah melanggar aturan Rabb atau tidak. Agama kita tidak melarang berhias dan berpenampilan, namun tentu dengan sesuatu yang tidak melanggar syariat dan mengandung dosa.

Wallahu a’lam bish-shawab.


[1] Rambut palsu ini biasa dipakai oleh wanita untuk disambungkan dengan rambut aslinya.

[2] Menyambung rambut.

[3] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman menyebutkan doa orang-orang beriman yang memohon kepada-Nya ash-shirathal mustaqim dan berlindung dari jalan Yahudi,

… bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai….(al-Fatihah)

[4] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang Yahudi,

Telah dilaknat orang-orang kafir dari Bani Israil lewat lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu karena mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Mereka tidak saling melarang terhadap perbuatan mungkar yang mereka lakukan. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. Kamu lihat kebanyakan dari mereka berloyalitas dengan orang-orang kafir. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka dan mereka akan kekal dalam azab.(al-Maidah: 7880)

[5] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 “Sungguh-sungguh kamu akan mendapati manusia yang paling sengit permusuhannya terhadap orang-orang

yang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.(al-Maidah: 82)

[6] Di antara orang-orang Yahudi yang beroleh kemuliaan dengan petunjuk tersebut ialah Ummul Mukminin Shafiyyah bintu Huyai radhiallahu ‘anha dan sahabat yang mulia, Abdullah bin Salam radhiallahu ‘anhu. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala meridhai mereka semuanya.

[7] Maknanya, hindarilah, jangan sampai kalian para lelaki tergoda dengan perempuan. (al-Minhaj, 17/58)

[8] Karena sepatu yang tinggi mendorong pemakainya berlenggak-lenggok ketika berjalan, dan ini bisa kita buktikan.

[9] Akibatnya lelaki tergoda dengannya.

[10] Dalam hal ini sepatu tinggi tersebut merupakan perhiasan si perempuan yang sengaja dipakainya untuk memberi nilai lebih atau menambah indah penampilannya.

Cinta Bukan Kuasa Kita

al-Ustadzah Ummu Ishaq al-Atsariyah

Perkara yang paling disenangi oleh Iblis dan bala tentaranya adalah memisahkan orang-orang yang saling mencintai.

 Mawaddah

Cinta itu datang dari dalam kalbu. Allah subhanahu wa ta’ala lah yang menganugerahkannya kepada hamba-hamba-Nya. Suami istri dalam ikatan pernikahan yang sah bisa saling mencinta karena Dia Yang Mahakuasa yang menumbuhkannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian pasangan-pasangan dari diri-diri kalian agar kalian merasa tenang kepadanya dan Dia menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang….” (ar-Rum: 21)

Cinta bukanlah kuasa kita, melainkan anugerah-Nya semata. Maka dari itu, tidak salah kalau dikatakan, cinta itu tak dapat dipaksakan, walaupun kita bisa belajar untuk mencinta dan dicinta. Seorang suami yang memiliki lebih dari satu istri (berpoligami) tidak bisa disalahkan manakala dia mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain. Dia tidak mungkin kuasa menyamakan cinta dan berlaku adil di dalamnya karena ini di luar kemampuannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sang teladan, sangat berlaku adil di antara istri-istri beliau dalam perkara yang tampak. Namun, bukan rahasia bahwa cinta beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seorang istrinya yang bernama Aisyah bintu Abi Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhuma melebihi cinta beliau kepada istri-istri yang lain.

Amr Ibnul Ash radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku memimpin sebuah pasukan. Di antara anggota pasukan ada Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar ibnul Khaththab radhiallahu ‘anhuma. Ketika pulang dari memimpin pasukan tersebut, aku bertanya kepada beliau,

يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيْكَ؟ قَالَ: وَمَا تُرِيْدُ؟ قُلْتُ: أُحِبُّ أَنْ أَعْلَمَ. قَالَ: عَائِشَةُ. قُلْتُ: إِنَّمَا أَعْنِي مِنَ الرِّجَالِ. قَالَ: أَبُوْهَا

‘Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling Anda cintai?’

Beliau balik bertanya, ‘Apa yang kamu inginkan?’

‘Saya ingin sekali mengetahuinya,’ jawabku.

‘Aisyah,’ kata beliau.

‘Maksud saya dari kalangan lelaki,’ kataku menjelaskan.

‘Ayah Aisyah,’ tukas beliau.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus Fathimah radhiallahu ‘anha , putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam , untuk menemui ayahnya guna meminta keadilan beliau dalam permasalahan ‘Aisyah radhiallahu ‘anha. Sebab, mereka mengetahui besarnya kedudukan ‘Aisyah di hati beliau dan besarnya cinta beliau kepadanya[1].

Fathimah pun minta izin masuk menemui ayahnya yang sedang berbaring bersama ‘Aisyah di dalam selimutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengizinkan.

Fathimah berkata, “Wahai Rasulullah, istri-istrimu mengutusku untuk menemuimu guna meminta keadilan kepadamu dalam hal putri Abu Quhafah (yakni ‘Aisyah)”[2].

‘Aisyah terdiam mendengar hal tersebut. Rasulullah pun shallallahu ‘alaihi wa sallam berucap,

أَلَسْتِ تُحِبِّيْنَ مَا أُحِبُّ؟ قَالَتْ: بَلَى. قَالَ: فَأَحِبِّي هَذِهِ

Wahai putriku, bukankah engkau mencintai apa yang aku cintai?”

Fathimah menjawab, “Ya.”

Rasulullah bersabda, “Kalau begitu cintailah dia ini (Aisyah).” (HR. Muslim)

Pernah Anda dengar kisah Barirah dan suaminya, Mughits?

Setelah Barirah merdeka dari perbudakan, sementara suaminya masih berstatus budak, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan kepada Barirah, apakah meneruskan pernikahannya atau mengakhirinya. Barirah akhirnya memilih lepas dari Mughits. Ketika itu, tampaklah Mughits berjalan di belakang Barirah, mantan istrinya, dalam keadaan air mata Mughits berlinang membasahi kedua pipinya, menangisi perpisahan mereka.

Melihat hal tersebut, bersabdalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيْثٍ بَرِيْرَةَ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيْرَةَ مُغِيْثًا؟ ثُمَّ قَالَ لَهَا: لَوْ رَاجَعْتِهِ. فَقَالَتْ: أَتَأْمُرُنِي؟ فَقَالَ: إِنَّمَا أَنَا شَافِعٌ قَالَتْ: لاَ حَاجَةَ لِي فِيْهِ

“Wahai Ibnu Abbas, tidakkah engkau takjub melihat cinta Mughits kepada Barirah, dan kebencian Barirah kepada Mughits?”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Barirah, “Seandainya engkau mau kembali kepada Mughits.”

“Apakah Anda memerintah saya untuk berbuat demikian?” tanya Barirah.

“Saya hanya pemberi syafaat,” jawab beliau.

“Saya tidak berminat kepadanya,” kata Barirah. (HR. al-Bukhari)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan komentar terhadap hadits Barirah di atas, “Ini adalah syafaat dari pemuka para pemberi syafaat untuk orang yang mencinta kepada orang yang dicintainya. Ini adalah syafaat yang paling utama dan paling besar pahalanya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Sebab, syafaat ini mengandung penyatuan orang-orang yang bercinta di atas apa yang Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya cintai (cinta dalam pernikahan).

Oleh sebab itu, perkara yang paling disenangi oleh Iblis dan bala tentaranya adalah memisahkan orang-orang yang saling mencintai.” (Raudhah al-Muhibbin)

Hal ini sebagaimana berita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ إِبْلِيْسَ يَضَعُ عَرْشَهُ عَلَى الْمَاءِ ثُمَّ يَبْعَثُ سَرَايَاهُ، فَأَدْنَاهُمْ مِنْهُ مَنْزِلَةً أَعْظَمُهُمْ فِتْنَةً، يَجِيئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: فَعَلْتُ كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: مَا صَنَعْتَ شيْئًا. قَالَ: ثُمَّ يَجِيئُ أَحَدُهُمْ فَيَقُوْلُ: مَا تَرَكْتُهُ حَتىَّ فَرَّقْتُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ امْرَأَتِهِ. قَالَ: فَيُدْنِيْهِ مِنْهُ وَيَقُوْلُ: نِعْمَ أَنْتَ.

Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian mengirim tentara-tentaranya. Yang paling dekat di antara mereka dengan Iblis adalah yang paling besar fitnah yang ditimbulkannya.

Salah seorang dari mereka datang seraya berkata, “Aku telah melakukan ini dan itu.”

Iblis menjawab, “Engkau belum melakukan apa-apa.”

Datang lagi yang lain seraya berkata, “Tidaklah aku meninggalkan dia (manusia yang digodanya) hingga aku berhasil memisahkan dia dengan istrinya.”

Iblis pun mendekatkan anak buahnya tersebut kepadanya dan memujinya dengan berkata, “Ya, engkaulah.” (HR. Muslim)

Ketik ada seorang lelaki mengadukan istrinya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa istrinya ‘tidak menolak tangan orang yang menyentuhnya’, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menitahkan,

طَلِّقْها .قَالَ: إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَتْبَعَهَا نَفْسِي.فَقَالَ: اسْتَمْتِعْ بِهَا.

“Kalau begitu, ceraikan istrimu tersebut.”

Si lelaki menjawab, “Aku khawatir jiwaku akan terus-menerus mengikutinya.”[3]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika demikian, bersenang-senanglah dengannya.” (HR. Ahmad, an-Nasa’i, dll.)

Dalam riwayat lain ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh si lelaki menceraikan istrinya, dia menjawab, “Saya tidak bisa bersabar (berpisah) darinya.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun menyarankan, “Kalau begitu tahanlah istrimu (tidak dicerai).” (Din yatakan sahih sanadnya oleh al-Imam al-Albani rahimahullah dalam Shahih Sunan an-Nasa’i)

Al-Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang si lelaki mencintai istrinya padahal keadaan istrinya demikian. Sebab, cintanya tersebut bukan kuasa dia.”

Terkait dengan keputusan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar si lelaki tetap mempertahankan istrinya, tidak menceraikannya, sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin menolak mafsadat (kerusakan) yang lebih besar yang akan timbul dengan melakukan mafsadat yang lebih ringan.

Ketika si lelaki mengadu bahwa dia tidak bisa bersabar bila berpisah dengan istrinya dan bisa jadi cintanya akan menyeretnya kepada maksiat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan si lelaki untuk tetap mempertahankan istrinya guna menjaga rasa dalam kalbunya dan mencegah mafsadat yang dikhawatirkannya. Walaupun dia terpaksa menanggung mafsadat yang diadukannya, yaitu istrinya tidak menolak tangan lelaki yang menyentuhnya.

Banyak tafsiran tentang makna ‘tidak menolak tangan lelaki yang menyentuh’ ini. Di antaranya disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah sebagai berikut. Si lelaki tidaklah mengadukan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa istrinya berzina dengan setiap lelaki yang menginginkannya. Sebab, kalau itu yang diadukannya, niscaya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak akan menyuruhnya mempertahankan perempuan yang suka berzina. Selain itu, berarti si lelaki adalah dayyuts[4], karena membiarkan istrinya berzina.

Namun, yang diadukan oleh si lelaki adalah istrinya tidak menarik jiwanya dari orang yang menggodanya (tidak tegas), membiarkan tangan lelaki mencoleknya, menarik bajunya, dan yang semisalnya. Sebab, ada perempuan yang lemah lembut ketika berbicara dengan lelaki, suka bercanda, dan semisalnya; dalam keadaan dia menjaga diri dan menolak ketika ada yang mengajaknya berzina.[5] (Raudhah al-Muhibbin, hlm. 130)

Cinta adalah anugerah, telah kita maklumi. Namun, alasan ini tidak berarti seseorang menganggap sah-sah saja mencintai lawan jenis di luar pernikahan, toh cinta itu datang sendiri, Allah subhanahu wa ta’ala yang memberi. Sungguh ini hias-hiasan syaitan.

Mengapa? Karena cinta lawan jenis yang Allah subhanahu wa ta’ala perkenankan dan ridhai hanyalah cinta yang tumbuh dalam ikatan pernikahan yang sah. Adapun di luar itu adalah percintaan yang diharamkan oleh syariat.

Ketahuilah, di antara sumber datangnya cinta terhadap lawan jenis adalah pandangan yang terus-menerus. Satu pandangan diikuti oleh pandangan berikutnya, dan seterusnya. Demikian pula ikhtilath, campur baur lelaki perempuan yang bukan mahram tanpa ada pemisah.

Karena khawatir menjerumuskan dalam cinta yang terlarang, syariat mengharamkan segala perantara yang mengantarkan kepadanya, di antaranya melarang memandang lawan jenis yang tidak halal untuk dipandang. Apabila tidak sengaja, pandangan harus segera dipalingkan. Di samping itu, syariat melarang ikhtilath lelaki dan perempuan yang bukan mahram.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.


[1] Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

 “Kalian tidak akan mampu untuk berbuat adil di antara para istri walaupun kalian sangat ingin untuk berlaku adil.(an-Nisa: 129)

[2] Mereka meminta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyamakan di antara mereka dalam hal cinta. (Syarhu Shahih Muslim, 15/205)

‘Abidah as-Salmani rahimahullah mengatakan, “Yakni kalian tidak bisa berlaku adil dalam masalah cinta dan jima’.”

Namun, apabila seorang suami memungkinkan baginya berlaku adil dalam hal jima’, itu lebih baik dan lebih utama. (al-Mughni, 7/35)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Seorang suami tidak boleh melebihkan salah seorang istrinya dalam hal pembagian. Akan tetapi, apabila ia mencintai salah seorang istrinya melebihi yang lain, begitu pula ia menggaulinya lebih dari yang lain, tidak ada dosa atasnya dalam hal ini.” (al-Fatawa, 32/269)

[3] Karena sangat mencintainya, sebagaimana pengakuan si suami dalam riwayat lain, “Saya memiliki istri, dia adalah orang yang paling saya cintai.”

[4] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang dayyuts ini,

ثَلاَثٌ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ: مُدْمِنُ الْخَمْرِ، وَالْعَاقُّ، وَالدَّيُّوْثُ الَّذِي يُقِرُّ الْخَبَثَ فِي أَهْلِهِ.

“Ada tiga golongan yang Allah subhanahu wa ta’ala mengharamkan surga atas mereka, yaitu; pecandu khamr (miras), anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan dayyuts yang membiarkan kemaksiatan pada keluarganya.” (Hadits ini dinyatakan hasan dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib no. 2512)

[5] Intinya, si istri tidak sampai berzina sehingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam masih memperkenankan si suami untuk mempertahankan pernikahannya. Seandainya si istri berzina, tidak mungkin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memutuskan demikian. Sebab, perempuan pezina hanya untuk lelaki pezina, sebagaimana tersebut dalam al-Qur’an.

Kitab yang Menjelaskan Manhaj Salaf

Apa kitab-kitab yang Anda sarankan untuk dibaca para penuntut ilmu dan kitab apa yang menjelaskan manhaj salaf?

quran_cover 

Jawab:

Saya nasihatkan untuk diri saya dan saudara-saudara saya, yang pertama untuk mempelajari Kitabullah, karena di dalamnya ada petunjuk dan cahaya; itulah pokok ajaran Islam.

Berikutnya, mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena itu merupakan penjelasan bagi al-Qur’an.

Selanjutnya, mempelajari petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan dua kitab shahih (Shahih Bukhari dan Muslim), kitab sunan yang empat (Sunan Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah), kitab-kitab Musnad, dan kitab-kitab Jami’ dalam bab hadits.

Saya wasiatkan kepada para penuntut ilmu agar mempelajari tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sahih dari beliau; mempelajari sebagian kitab-kitab induk, dan lebih memfokuskan lagi kitab induk tersebut dalam mempelajarinya. Sebab, kitab induk tersebut mengandung pengajaran terhadap pokok agama, seperti kitab Shahih Bukhari pada Kitabul Ilmi dan Kitabul Iman.

Dalam Kitabul Iman yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahih-nya, beliau menyebutkan sekumpulan hadits untuk menerangkan manhaj Ahlus Sunnah dalam hal iman dan amal. Beliau rahimahullah menyebutkan bantahan terhadap golongan Murji’ah, kelompok sesat yang menyelisihi Ahlus Sunnah dalam pokok ajaran ini.

Demikian pula, seseorang hendaknya memfokuskan dalam Kitab al-I’thisam, Kitab Akhbarul Ahad, dan Kitabut Tauhid dari Shahih al-Bukhari. Sebab, pembahasan-pembahasan di dalamnya sangat terkait dengan pokok-pokok agama penting yang wajib kita pelajari setelah kitabullah ‘azza wa jalla.

Hendaknya dia berkonsentrasi pula dalam mempelajari bab sunnah, yakni Aqidah dari kitab Sunan Abi Dawud yang terletak pada akhir kitab. Ini juga merupakan pokok agama yang sangat penting. Yang disebutkan dalam Sunan Abi Dawud dalam bab-bab ini sesuai dengan yang disebutkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam kitabnya. Abu Dawud mengisyaratkan dalam kitab tersebut adanya bid’ah, seperti bid’ah Jahmiyah, Khawarij, dan lainnya. Beliau juga memilah dan menjelaskan perbedaan prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan manhaj atau keyakinan yang menyimpang.

Oleh karena itu, pokok agama dalam bab ini hendaknya dipelajari. Kitab al-Ittiba’ dalam Sunan Ibnu Majah dan kitab Khalqu Af’al al-‘Ibad karya al-Imam al-Bukhari hendaknya dipelajari.

Dengan demikian, seseorang akan mengetahui prinsip-prinsip agung yang menjadi keyakinan Ahlus Sunnah wal Jamaah dan akidah kelompok yang menyimpang dari akidah salafus shalih, semacam akidah Jahmiyah dan lainnya.

Pelajari pula kitab Syarhus Sunnah karya al-Baghawi juz pertama. Juz pertama kitab tersebut lebih ditekankan, karena isinya menekankan masalah akidah dan keyakinan. Demikian pula kitab as-Sunnah karya al-Khallal dan kitab as-Sunnah karya al-Lalika’i rahimahumullah, yakni Syarhu I’tiqad Ahli Sunnah, kitab al-Hujjah karya al-Ashfahani, al-Ibanah karya Ibnu Baththah, dan yang semacamnya.

Setelah itu, buku-buku Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim, karena di dalam kitab mereka ada keterangan yang memuaskan terhadap pokok agama dan cabangnya. Ini adalah perkara ilmu.

Ini adalah perkara ilmiah yang menghidupkan ilmu tersebut. Pelajari al-Qur’an, akidah, manhaj, dan pokok agama, serta cabangnya seolah-olah dipelajari langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan mempelajari buku-buku akidah yang kami sebutkan, seseorang seakanakan mempelajari langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian pula mempelajari seluruh kitab yang kami sebutkan, seolah-olah Anda mempelajarinya langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat g, dan orang-orang yang berjalan di atas manhaj mereka.

Tidaklah Ibnu Taimiyah menonjol, luas ilmunya, dan mapan dalam menerangkan kebenaran kecuali setelah mempelajari kitab-kitab itu. Kita pun harus mempelajari kitab dan bab dari kitab yang disebutkan di atas.

Berikutnya, kita pelajari tuntunan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita melihat dan mempelajari kitab fikih, tafsir, dan hadits. Semua adalah kitab penting. Akan tetapi, bab akidah perlu difokuskan lebih khusus; terlebih pada zaman sekarang, yang banyak penyimpangan dalam pokok agama yang dilakukan oleh ahli bid’ah, baik dalam hal pemikiran, politik, tasawuf, atau ahli bid’ah Syiah Rafidhah maupun yang lain. Mereka memiliki banyak kegiatan dan gerakan di masa ini yang sangat mengherankan. Terlebih lagi, mereka memiliki dan menggunakan banyak sarana untuk menyebarkan pemikiran mereka yang rusak.

Bid’ah, khurafat, dan berbagai kekacauan ini dapat kita hancurkan dengan ilmu yang diambil dari kitabullah, sunnah Rasul-Nya, pemahaman salaf, serta dari kitab-kitab yang telah kita sebutkan, yang mengandung ajaran al-Qur’an, hadits, dan pemahaman as-salafus shalih.

Kita memohon kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar memberi kami dan kalian semua pemahaman yang benar terhadap agama Allah subhanahu wa ta’ala. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

“Barang siapa yang Allah inginkan baginya kebaikan, Allah pahamkan baginya urusan agama.”

(diterjemahkan dari Majmu’ Kutub wa Rasail asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah [15/79—81], oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

Al-Muhyi

Al-Ustadz Qomar Suaidi

Al-Muhyi

Al-Muhyi adalah salah satu nama Allah subhanahu wa ta’ala. Nama ini berarti Yang Maha Menghidupkan. Allah subhanahu wa ta’ala telah menyebutkan nama ini dalam surat Fushilat ayat 39.

“Dan sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan)-Nya bahwa kamu melihat bumi itu kering tandus. Apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bergerak dan subur. Sesungguhnya Rabb Yang Menghidupkannya tentu dapat menghidupkan yang mati; sesungguhnya Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Tentang al-Muhyi (Yang Maha Menghidupkan) dan al-Mumit (Yang Maha Mematikan), terjadi perselisihan di kalangan ulama tentang kedudukannya sebagai nama dan sifat Allah. Sebagian ulama memasukkan keduanya sebagai Asmaul Husna. Di antara mereka ialah al-Qurthubi, Ibul Arabi, dan az-Zajjaj. Adapun dari kalangan ulama masa kini ialah asy-Syaikh Zaid al-Madkhali.

Al-Baihaqi mengatakan dalam kitab al-I’tiqad bahwa al-Muhyi adalah Yang menghidupkan mani yang mati lalu menjadikannya makhluk hidup; Yang menghidupkan jasmani yang sudah hancur dengan mengembalikan ruh padanya saat terjadinya kebangkitan; Yang menghidupkan kalbu dengan cahaya ilmu; Yang menghidupkan bumi setelah kematiannya dengan menurunkan hujan padanya, serta menurunkan rejeki. Dia subhanahu wa ta’ala mematikan, yakni mematikan makhluk yang hidup; dan dengan kematian itu Dia melemahkan makhluk yang kuat.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.” (ar-Rum: 54)

“Mengapa kamu kafir kepada Allah? Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu. Kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali. Kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah: 28)

“Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi). Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat mengingkari nikmat.” (al-Hajj: 66)

 

Buah Mengimani Nama Allah al-Muhyi

Dengan mengimani bahwa Allahlah yang Maha Menghidupkan, kita mengetahui betapa besarnya kemampuan Allah karena Dialah yang menghidupkan segala sesuatu. Dengan air, Dia jadikan segala sesuatu yang hidup. Firman Allah,

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?” (al-Anbiya’: 30)

Maksudnya, asal-usul segala sesuatu yang hidup adalah air; demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullah.

Lihatlah sebagai contoh, bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan sebuah padang yang tandus, dengan Allah turunkan hujan padanya lantas tumbuhlah rerumputan dan pepohonan. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air di bumi kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air itu tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya. Lalu ia menjadi kering lalu kamu melihatnya kekuning-kuningan. Kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada hal tersebut benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (az-Zumar: 21)

Lihatlah pula bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan semua yang melata di atas bumi dari air,

“Dan Allah telah menciptakan semua jenis hewan dari air. Sebagian dari hewan itu ada yang berjalan di atas perutnya dan sebagian berjalan dengan dua kaki, sedang sebagian (yang lain) berjalan dengan empat kaki. Allah menciptakan apa yang dikehendaki-Nya, sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (an-Nur: 45)

Lihatlah bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia,

“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim), sampai waktu yang ditentukan. Lalu Kami tentukan (bentuknya), maka Kami-lah sebaik-baik yang menentukan.” (al-Mursalat: 20—23)

“Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan. Di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Kamu lihat bumi ini kering. Kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai tumbuh-tumbuhan yang indah.” (al-Hajj: 5)

Pada ayat itu pula, Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan bagaimana Dia menghidupkan kembali orang yang telah mati. Tak lain, hal itu semacam Allah menciptakannya dari ketiadaan menjadi seorang sosok manusia. Oleh karena itu, untuk menghidupkannya kembali, amatlah mudah bagi Allah subhanahu wa ta’ala.

“Dan Dialah yang menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan) nya kembali, dan menghidupkan kembali itu adalah lebih mudah bagi-Nya. Dan bagi-Nya lah sifat yang Mahatinggi di langit dan di bumi; dan Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (ar-Rum: 27)

Hal itu juga sebagaimana Allah subhanahu wa ta’ala menghidupkan padang yang tandus, menjadi subur dengan diturunkannya hujan padanya. Apabila segala kehidupan makhluk yang hidup adalah pemberian- Nya, maka Dialah yang Mahahidup dan tidak akan mati. Bertawakallah pada-Nya,

“Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Mahahidup (Kekal) Yang Tidak Mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa para hamba-Nya.” (al-Furqan: 58)

Bersyukurlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang menghidupkan kita setelah kematian kita; hanya kepada-Nyalah kita kembali.

Wallahul Muwaffiq.

Akibat Buruk Kemaksiatan

Al-Ustadz Abu Muhammad Abdul Jabbar

Kemaksiatan memiliki sekian banyak dampak buruk dan tercela yang merusak hati dan jasmani, di dunia maupun di akhirat; yang hanya Allah subhanahu wa ta’ala saja yang mengetahuinya.

Di antaranya sebagai berikut.

 Tirai

  1. Terhalang mendapatkan ilmu.

Ilmu adalah cahaya yang dimasukkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ke dalam hati seorang hamba, sedangkan maksiat akan memadamkan cahaya tersebut.

Tatkala al-Imam asy-Syafi’i duduk dan membacakan kitab di hadapan al-Imam Malik, beliau (al-Imam Malik) kagum dengan kecerdasan dan kesempurnaan pemahamannya.

Al-Imam Malik berkata kepada al-Imam asy-Syafi’i, “Sungguh, aku melihat bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah memberikan cahaya di hatimu. Janganlah engkau memadamkannya dengan kemaksiatan.”

Al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku mengeluhkan kepada al-Imam Waki’ tentang buruknya hapalanku. Beliau kemudian membimbingku agar meninggalkan kemaksiatan. Beliau berkata, ‘Ketahuilah! Sesungguhnya ilmu itu adalah keutamaan, sedangkan keutamaan Allah subhanahu wa ta’ala itu tidak diberikan kepada orang yang bermaksiat’.”

 

  1. Terhalang mendapatkan rezeki.

Diriwayatkan di dalam al-Musnad, “Sesungguhnya seorang hamba akan terhalang dari mendapatkan rezeki karena dosa yang dia kerjakan.”

Ketakwaan akan mendatangkan rezeki, sedangkan meninggalkannya akan mendatangkan kefakiran. Tidak ada sesuatu yang bisa mendatangkan rezeki yang semisal dengan meninggalkan kemaksiatan.

 

  1. Menimbulkan rasa gundah dan gelisah di dalam hati.

Hal ini dirasakan oleh pelaku maksiat ketika menjalin hubungan antara dirinya dan Allah. Ia merasakan kegelisahan yang sama sekali tidak sebanding dengan kenikmatan yang ia dapat dari kemaksiatan.

Kalaupun terkumpul padanya berbagai kenikmatan dunia, semua itu tidak bisa mengobati kegelisahan yang ia rasakan. Tidaklah ada yang bisa merasakan hal ini kecuali orang yang dalam hatinya masih ada kehidupan; sebagaimana sakitnya luka tidak bisa dirasakan oleh seorang yang telah mati.

Seandainya tidak ada alasan seorang meninggalkan kemaksiatan selain khawatir ditimpa kegelisahan ini, tentu orang yang berakal akan memilih untuk meninggalkannya.

Suatu ketika ada seseorang yang mengeluh kepada sebagian orang bijak tentang kegelisahan yang dia rasakan. Orang bijak itu berkata, “Jika dosa-dosa itu telah membuatmu gelisah, tinggalkanlah dosa itu jika kau mau, niscaya engkau akan merasakan ketenangan.”

Sungguh, tidak ada sesuatu yang terasa lebih pahit di dalam hati seseorang melebihi rasa gelisah akibat perbuatan dosa yang dia kerjakan.

 

  1. Muncul rasa gelisah tatkala bermuamalah dengan manusia, terkhusus orang saleh di antara mereka.

Jika kegelisahan itu semakin kuat, ia akan semakin menjauh dari mereka. Ia pun akan menjauh dari majelis mereka, terhalang dari barakah kebaikan mereka, dan semakin dekat dengan golongan setan sesuai dengan kadar jauhnya dari golongan Allah.

Akibatnya, kegelisahan itu semakin menguat hingga menguasai dirinya. Kegelisahan itu akan terasa tatkala dia bermuamalah dengan istri, anak, kerabat, bahkan dengan jiwanya sendiri. Engkau akan melihat dia benci terhadap dirinya sendiri.

Sebagian salaf berkata, “Sungguh, tatkala aku bermaksiat kepada Allah, aku melihat dampak buruknya pada tingkah laku istriku dan tungganganku.”

 

  1. Segala urusannya menjadi terasa sulit.

Tidaklah dia menghadapi suatu masalah kecuali dia merasa bahwa semua jalan keluar telah tertutup atau semakin sulit.

Hal ini sebagaimana orang yang bertakwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala akan dijadikan urusannya menjadi mudah. Adapun orang yang tidak bertakwa kepada Allah akan dijadikan sulit segala urusannya.

Sungguh mengherankan! Bagaimana bisa seorang hamba mendapati pintu kebaikan tertutup untuknya dan jalan kebaikan terasa sulit baginya, sedangkan dia tidak tahu mengapa hal itu bisa menimpanya?

 

  1. Kegelapan yang sangat dia rasakan di dalam hatinya sebagaimana dia merasakan gelapnya malam yang telah gulita.

Kegelapan maksiat di hatinya seperti gelapnya malam pada pandangan mata. Sebab, sesungguhnya ketaatan adalah cahaya dan kemaksiatan adalah kegelapan. Tatkala kegelapan itu semakin bertambah, bertambah pula rasa bimbangnya. Akhirnya, dia terjatuh dalam kebid’ahan, kesesatan, dan perkara yang membinasakannya yang tidak dia sadari.

Bagaikan seorang buta, ia keluar dan berjalan seorang diri di kegelapan malam. Kegelapan itu menguat sampai tampak pada matanya, dan terus bertambah hingga tampak pada wajahnya. Wajahnya pun menjadi hitam yang dapat dilihat oleh setiap orang.

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Sesungguhnya kebaikan itu akan memunculkan sinar pada wajah, cahaya dalam hati, kelapangan rezeki, kekuatan badan, dan kecintaan di hati manusia. Sebaliknya, kejelekan itu akan menimbulkan kesuraman pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan, kurangnya rezeki, dan kebencian di hati manusia.”

 

  1. Melemahkan hati dan badan.

Kelemahan hati akibat kemaksiatan sangatlah tampak. Bahkan, kemaksiatan itu akan terus melemahkan hati sampai hilang kehidupan dalam hati tersebut secara menyeluruh.

Adapun lemahnya badan akibat kemaksiatan, hal itu karena kekuatan orang yang beriman bersumber dari hatinya. Semakin kuat hatinya, semakin kuat pula badannya.

Meski orang fajir tampak kuat badannya, dia akan menjadi lemah tatkala membutuhkan kekuatannya. Seolah-olah, kekuatan itu mengkhianatinya saat dia sangat membutuhkannya. Perhatikanlah bagaimana kekuatan pasukan Persia dan Romawi yang seolah-olah mengkhianati mereka di saat mereka membutuhkannya. Justru orang-orang berimanlah yang menguasai mereka dengan sebab kekuatan badan dan hati mereka.

 

  1. Menghalangi dari ketaatan.

Seandainya tidak ada hukuman untuk sebuah dosa kecuali pelakunya terhalang dari mengerjakan satu amal saleh menuju amal saleh berikutnya, sungguh dengan sebab dosa tersebut ia telah terhalang dari amal saleh yang banyak. Padahal setiap amal saleh itu lebih baik baginya daripada dunia dan seisinya.

Hal ini seperti orang yang memakan satu makanan yang mengakibatkan kemudaratan yang panjang untuk dirinya, dan membuatnya terhalang memakan sekian banyak makanan lain yang lebih baik.

Wallahu a’lam.

Ujian Nabi Sulaiman, bagian ke-2

bagian ke-2

Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Traditional-Arabic-Chair 

Keistimewaan Nabi Sulaiman

Setelah Allah subhanahu wa ta’ala memuji-muji Nabi Dawud ‘alaihissalam, menerangkan apa yang diterima dan dirasakan oleh beliau, Allah subhanahu wa ta’ala memuji pula putra Nabi Dawud, yaitu Sulaiman ‘alaihissalam. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman.” (Shad: 30)

Maksudnya, Kami memberinya karunia kepda Dawud berupa Sulaiman, dan Kami jadikan pandangan matanya sedap kepada Sulaiman.

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah sebaik-baik hamba Allah subhanahu wa ta’ala, karena beliau memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji. Beliau adalah hamba yang selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Terkait dengan hal ini, sebagian ulama menafsirkan firman Allah subhanahu wa ta’ala,

“Dan Kami karuniakan kepada Dawud, Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya), (Ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore,

Maka ia berkata, ‘Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.’

‘Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.’ Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. (Shad: 30-33)

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Dia adalah sebaik-baik hamba” adalah Sulaiman ‘alaihissalam, karena memang memiliki sifat yang mengharuskannya dipuji, bahwa dia,

“Sesungguhnya dia amat taat (kepada Rabbnya),” selalu kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap keadaannya, dengan pengabdian, inabah, cinta, zikir, doa, dan merendahkan diri serta bersungguh-sungguh mencari ridha Allah subhanahu wa ta’ala, bahkan mendahulukannya dari segala sesuatu.

Oleh sebab itulah, ketika diperlihatkan kepadanya kuda-kuda pacuan yang bagus dan tenang, yang selalu mengangkat salah satu kakinya ketika berdiri tegak, sehingga menjadi pemandangan yang menarik, keindahan yang menakjubkan, khususnya bagi mereka yang sangat memerlukannya, seperti para raja. Kuda-kuda itu tidak henti-hentinya diperlihatkan kepada beliau sampai matahari terbenam, hingga beliau lupa shalat dan zikir di sore hari.

Akhirnya, beliau pun berkata dalam keadaan menyesali yang telah lalu, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, karena apa yang telah melalaikan beliau dari zikir kepada-Nya, serta demi mendahulukan cintanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala daripada cinta kepada yang lain,

“Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda).”

Kata أَحْبَبَتُ (menyukai) mengandung makna آثَرْتُ (mementingkan). Artinya, aku lebih mementingkan kesenangan الخَيْرِ (terhadap barang yang baik), yang umumnya berupa harta, sedangkan di sini maknanya ialah kuda;

“Sehingga aku lalai mengingat Rabbku sampai kuda itu hilang dari pandangan.”

Firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku,” mereka pun membawanya kembali;

فَطَفِقَ  “Lalu,” mulailah

“Ia potong kaki dan leher kuda itu.”

Artinya, beliau mulai menebaskan pedangnya ke kaki dan leher kuda itu. Ibnu Jarir rahimahullah dalam tafsirnya memilih pendapat Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma yang menafsirkan ayat ini dengan mengusap leher dan kaki kuda tersebut. Tidak mungkin beliau ‘alaihissalam akan menyiksa hewan dan membuang harta tanpa alasan selain hanya lalai shalat karena memerhatikan kuda yang tidak berdosa itu.

Akan tetapi, Ibnu Katsir rahimahullah mengomentarinya sebagai berikut.

Pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Jarir ini perlu diteliti kembali, karena bisa jadi dalam syariat mereka boleh berbuat demikian. Apalagi jika dilakukan dengan alasan marah karena Allah subhanahu wa ta’ala, karena membuatnya lalai hingga habis waktu shalat.

Oleh sebab itulah, ketika beliau tinggalkan semua itu karena Allah subhanahu wa ta’ala, Allah subhanahu wa ta’ala menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik, yaitu angin yang bertiup menurut perintahnya ke tempat-tempat yang pulang pergi jauhnya sebulan perjalanan.

Wallahu a’lam.

Telah dipaparkan pada edisi sebelumnya bahwa dunia ini adalah ladang ujian bagi setiap manusia. Adapun yang paling berat ujiannya adalah para nabi, kemudian yang paling mulia sesudah mereka dan berikutnya.

Itulah sunnatullah pada hamba-hamba-Nya. Bahkan, setiap mereka yang telah menyatakan diri beriman, tidak akan lepas dari berbagai ujian, besar ataupun kecil, banyak ataupun sedikit.

Kadang, ada manusia yang lolos menghadapi ujian berupa kesulitan, tetapi gagal menghadapi ujian berupa kesenangan. Begitu pula sebaliknya, dan ada pula yang berhasil menghadapi dua bentuk ujian tersebut.

Firman Allah subhanahu wa ta’ala pada surat Shad ayat 34,

“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman,” yakni Kami menimpakan bala dan cobaan kepadanya,

“dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit),”

Ahli tahqiq meriwayatkan tentang maksud ayat ini dalam beberapa bentuk, di antaranya;

  1. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam baru memiliki seorang putra setelah berkuasa selama dua puluh tahun. Kemudian, para setan berkata, “Kalau anak itu hidup, kita tidak pernah lepas dari petaka dan penindasan, maka kita harus membunuh anak itu.”

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengetahui rencana mereka, lalu memerintahkan awan untuk menjaganya dari gangguan setan. Tidak lama ternyata anak itu tergeletak di atas kursi beliau dalam keadaan mati. Nabi Sulaiman sadar akan kekeliruannya, yaitu tidak bertawakal kepada Rabbnya menghadapi gangguan setan. Beliau akhirnya meminta ampunan kepada Rabbnya dan bertobat.

  1. Riwayat kedua, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyebutkan bahwa NabiSulaiman ‘alaihissalam berkata, “Malam ini saya akan menggiliri tujuh puluh istri saya—ada yang menyebutkan seratus, ada pula yang mengatakan seribu. Semua akan melahirkan penunggang kuda yang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala,” Beliau lupa mengucapkan, “Insya Allah.”

Mulailah beliau mendatangi istrinya satu per satu malam itu juga. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang mengandung, kecuali seorang istri yang melahirkan anak yang cacat.

Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Yang jiwaku di Tangan-Nya, andaikata beliau mengatakan ‘Insya Allah’, niscaya benar-benar akan lahir anak-anak yang menjadi mujahid di jalan Allah subhanahu wa ta’ala sebagai ahliahli berkuda, semuanya.”

  1. Ada juga riwayat yang ketiga yang menyebutkan beliau sakit berat hingga terduduk di kursinya tanpa daya.
  2. Yang masyhur di kalangan jumhur ulama adalah kisah Israiliyat yang menyebutkan bahwa Nabi Sulaiman ‘alaihissalam diuji oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan kehilangan kekuasaannya selama empat puluh hari.

Namun, dalam kisah tersebut banyak kejanggalan yang tidak sesuai dengan kedudukan beliau sebagai Nabi Allah subhanahu wa ta’ala.

Kata Ibnu Katsir rahimahullah, “Sanad kisah ini kuat sampai pada Ibnu ‘Abbas, tetapi lahiriahnya dinukil beliau—kalaupun sahih—dari ahli kitab, sedangkan di kalangan ahli kitab itu ada kelompok yang tidak meyakini kenabian Sulaiman ‘alaihissalam. Jadi, yang tampak adalah bahwa mereka berdusta terhadap beliau.

Sebab itulah di dalam riwayat tersebut terdapat berita yang mungkar, bahkan yang paling beratnya adalah cerita tentang istri-istri Nabi Sulaiman yang didatangi oleh setan. Sebab, yang masyhur adalah bahwa jin/setan itu tidak diberi kekuasaan mendekati mereka, bahkan Allah subhanahu wa ta’ala melindungi mereka dari setan tersebut, sebagai kemuliaan dan penghormatan terhadap Nabi-Nya ‘alaihissalam.”[1]

Oleh sebab itu, sebagian ahli tahqiq menguatkan bahwa ujian yang dimaksud adalah apa yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, sebagaimana dalam bentuk kedua di atas.

Kata para ‘ulama, “Asy-Syiqq adalah jasad yang diletakkan di atas kursi Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sebagai hukuman atas kelalaian beliau mengucapkan ‘Insya Allah,’ karena sangat antusias dan dikalahkan oleh harapan yang sangat besar.”

 

Beberapa Faedah

Dalam kisah ini ada beberapa faedah, di antaranya sebagai berikut.

  1. Allah ‘azza wa jalla mengisahkan kejadian ini kepada Nabi-Nya, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai hiburan bagi beliau, menguatkan hati beliau, dan menenteramkan jiwa beliau serta menerangkan hebatnya ibadah dan kesabaran mereka dalam ketaatan, hingga mendorong beliau untuk berlomba dengan mereka.
  2. Kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam setiap urusan adalah sifat para nabi dan hamba Allah ‘azza wa jalla yang istimewa. Hendaknya orang yang datang sesudah mereka mengikuti petunjuk dengan apa yang telah mereka peroleh.
  3. Karamah yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalam dengan menundukkan para jin untuk bekerja atas perintah beliau dan di bawah pengawasan beliau.
  4. Nikmat paling besar yang diberikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada seorang hamba adalah ilmu yang bermanfaat, mengenali hukum, dan kemampuan memutuskan perselisihan di antara manusia.
  5. Perhatian dan kasih sayang Allah subhanahu wa ta’ala kepada para wali dan hamba pilihan-Nya, ketika muncul kekurangan dari mereka dengan memberikan ujian dan petaka yang menghilangkan kejelekan dari mereka, sehingga dengan ujian itu mereka justru kembali kepada keadaan yang lebih sempurna dari sebelumnya.
  6. Para nabi itu maksum (terjaga) dari dosa. Namun, mungkin saja muncul dari mereka dosa, sebagaimana tabiat manusia. Akan tetapi, Allah subhanahu wa ta’ala segera menegur mereka dengan kelembutan-Nya.
  7. Istighfar dan ibadah, terutama shalat, termasuk amalan yang menghapus dosa.
  8. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam adalah salah satu tanda kemuliaan Nabi Dawud ‘alaihissalam sekaligus karunia yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada beliau. Inilah salah satu karunia Allah subhanahu wa ta’ala yang paling besar kepada seorang hamba, yaitu anak yang saleh.

Inilah yang selalu diharapkan dan senantiasa diminta oleh para nabi dan orang-orang yang saleh yang mengikuti mereka.

  1. Pujian Allah subhanahu wa ta’ala untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam karena beliau senantiasa kembali kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ketaatan. Itulah salah satu kebaikan Allah subhanahu wa ta’ala kepada hamba-Nya, Dia memberi mereka taufik untuk beramal saleh dan akhlak yang mulia, kemudian memuji mereka ketika mereka mengerjakannya.
  2. Ditundukkannya setan hanya untuk Nabi Sulaiman ‘alaihissalam, tidak untuk siapa pun sesudah beliau, sebagaimana permintaan beliau kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan berita dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  3. Nabi Sulaiman adalah seorang raja sekaligus nabi, melakukan apa saja yang diinginkannya, tetapi tidak ada yang diinginkan beliau selain berbuat adil. Berbeda halnya dengan nabi yang statusnya hamba Allah subhanahu wa ta’ala biasa, bukan seorang raja, karena dia berbuat menurut perintah Allah subhanahu wa ta’ala, sebagaimana keadaan Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  4. Nabi Sulaiman memiliki kekuasaan yang hebat dan jumlah pasukan yang besar. Akan tetapi, hati beliau selalu terikat kepada akhirat, sebagaimana doa beliau yang disebutkan dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Ia berkata, “Wahai Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang jua pun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (Shad: 35)

Ini menunjukkan pula bolehnya meminta kekuasaan dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, tetapi dengan syarat adanya kesiapan dan kekuatan menunaikan haknya.

Wallahu a’lam.


[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir tentang ayat ini.

Meruntuhkan Kesombongan Dinasti Sasanid

Meruntuhkan Kesombongan Dinasti Sasanid

Baiknya rakyat baru terwujud jika pemimpinnya telah memperbaiki dirinya. Walau tidak mutlak, tetapi kalimat ini banyak benarnya. Sebab, bisa jadi pula jika rakyat itu rusak iman dan akhlaknya, Allah subhanahu wa ta’ala akan pilihkan bagi mereka pemimpin yang sama seperti mereka. Bahkan, bisa jadi lebih jahat, sebagai hukuman terhadap mereka.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman, “Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan.” (al-An’am: 129)

Demikianlah sunnatullah, Dia menjadikan sebagian orang zalim itu menguasai orang yang zalim lainnya, mengajaknya kepada kejahatan, membuatnya tidak memerhatikan kebaikan, bahkan membuat mereka meninggalkan kebaikan itu. Itu semua adalah sebagian hukuman yang Allah subhanahu wa ta’ala timpakan kepada mereka.

Oleh karena itu, kaum muslimin di mana saja mereka bermukim, mendapati penguasa mereka berbuat zalim terhadap mereka, hendaklah mereka menyadari keadaan diri mereka sendiri lebih dahulu, sebelum mereka menyalahkan penguasa mereka. Sebagaimana dalam ayat yang mulia ini, bisa jadi penguasa yang mereka anggap berbuat zalim terhadap mereka, merampas hak-hak mereka, tidak mengayomi mereka, tidak membimbing mereka kepada yang haq, adalah hukuman atas kezaliman yang telah mereka lakukan lebih dahulu.

Kemaksiatan dan pelanggaran terhadap syariat Allah subhanahu wa ta’ala yang mereka lakukan akhirnya membuahkan kejelekan demi kejelekan, sampai munculnya penguasa yang menimpakan kejelekan yang lebih berat kepada mereka. Wallahul musta’an.

Ketika kaum muslimin yang ditinggalkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Abu Bakr radhiallahu ‘anhu masih berpegang teguh dengan agamanya, menjalankan sunnah Nabi-Nya, Allah subhanahu wa ta’ala memilihkan untuk mereka pemimpin yang setara dengan mereka. Sama baiknya, bahkan lebih, baik dalam hal ilmu, iman, takwa, maupun amal.

Itulah ‘Umar bin al-Khththab radhiallahu ‘anhu. Dia telah memperbaiki dirinya lebih dahulu sejak mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikrarkan keislamannya. Demikian pula selama menyertai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mendampingi Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu.

‘Umar selalu memperbaiki hubungan antara dia dan Rabbnya k. Kaum muslimin juga telah memperbaiki hubungan mereka dengan Allah subhanahu wa ta’ala, juga dengan sesama mereka, maka Allah subhanahu wa ta’ala membalas kebaikan mereka dengan memilihkan seorang pemimpin yang sebaik mereka, bahkan lebih.

‘Umar sangat takut kalau dia ditanya oleh Allah subhanahu wa ta’ala bagaimana bisa jiwa seorang muslim melayang begitu saja. Sering beliau terlihat mengantuk di siang hari, hingga ada yang menyarankan agar beliau tidur saja.

“Kalau aku tidur lelap di malam hari, hilang bagianku dengan Allah subhanahu wa ta’ala. Kalau aku tidur di siang hari, telantarlah urusan rakyat yang menjadi tanggung jawabku,”

Tidak hanya urusan rakyat di dalam kota Madinah yang menjadi perhatian beliau, tetapi juga pasukan muslimin yang sedang berjihad di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, meninggalkan keluarga dan kampung halamannya. Beliau selalu mengingatkan para panglima agar jangan membawa pasukannya ke dalam bahaya.

Pernah diceritakan, salah seorang prajurit muslim mengalami kelumpuhan karena kedinginan. Berita itu sampai kepada Amirul Mukminin. Beliau kemudian berkata kepada Jarir bin ‘Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, yang menjadi komandan, “Hai Jarir, ini sum’ah (agar didengar dan dipuji orang). Sesungguhnya siapa yang berbuat sum’ah, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala perdengarkan.”

Maksudnya, seseorang berangkat pada musim dingin agar disebut-sebut bahwa dirinya berperang di musim dingin.

Begitu besar perhatian beliau terhadap jiwa pasukan muslimin, sampai-sampai beliau melarang mereka mengendarai kapal dan bertempur di laut. Ketika Mu’awiyah mendesak untuk berperang di laut, ‘Umar bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash bagaimana naik kapal. ‘Amr menerangkan, “Seperti seekor ulat di atas sebatang ranting, kalau oleng, ulat itu tenggelam….”

Kemudian beliau menulis surat kepada Mu’awiyah, “Demi yang mengutus Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa al-haq, Aku tidak akan membawa seorang muslimin pun dengan kapal.”

Cintanya yang besar kepada seorang muslim dan antusiasnya atas keselamatan mereka membawa kepada keadaan yang mengherankan kaum muslimin; baik yang berada bersama beliau di Madinah, maupun yang sedang berada jauh di negeri lain, berhadapan dengan musuh-musuh Allah subhanahu wa ta’ala.

Suatu ketika, Amirul Mukminin berdiri menyampaikan khutbah Jum’at di Masjid Nabawi. Belum lama berkhutbah, beliau berseru, “Ke gunung itu, ke gunung itu, wahai pasukan. Siapa yang mengambil serigala sebagai penggembala, berarti dia zalim.”

Kaum muslimin yang sedang mendengarkan khutbah tercengang keheranan. Ada apa dengan Amirul Mukminin? Mereka tidak paham apa maksud beliau berkata demikian? Siapa yang dimaksud?

Selesai shalat, ‘Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa yang Anda serukan ini?”

“Apakah kamu mendengarnya?” beliau balik bertanya.

Kata ‘Ali, “Ya. Saya dan semua yang di Masjid mendengarnya.”

“Muncul dalam batinku, orang-orang yang musyrik itu menyerang saudara-saudara kita dan mendesak mereka, sementara mereka (kaum muslimin) melewati sebuah gunung. Kalau mereka menuju ke gunung itu tentu mereka bisa menyerang siapa saja yang mereka temui dan pasti mereka menang. Kalau mereka melampauinya, niscaya mereka binasa, maka terucaplah olehku kalimat tadi.”

Sebulan kemudian, datanglah seorang kurir membawa berita gembira, lalu dia menyebutkan bahwa pada hari Jum’at itu, ketika mereka melewati sebuah gunung, mendengar suara yang mirip dengan suara ‘Umar yang menyerukan, “Ke gunung itu, ke gunung itu, wahai pasukan.” Mereka segera ke gunung itu, lalu Allah memberi kemenangan kepada mereka.

Itulah ‘Umar radhiallahu ‘anhu. Semasa hidup Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beberapa wahyu turun menyetujui pendapatnya. Firasatnya sering terbukti terhadap beberapa kejadian. Namun, beliau tidak selalu mengandalkan firasatnya memutuskan persoalan. Sebaliknya, beliau sering bermusyawarah dengan para sahabat.

Nun, di negeri seberang, dari balik gunung-gunung batu dan padang sahara, terdengar berita bahwa bangsa Persia telah bersiap-siap menyerang kaum muslimin. Amirul Mukminin segera mengumpulkan para sahabatnya untuk bermusyawarah. Beliau berniat memimpin sendiri pasukan kaum muslimin.

Akan tetapi, beberapa sahabat senior melarang beliau berbuat demikian. Mereka meminta agar Amirul Mukminin tetap di Madinah dan menunjuk seseorang untuk menjadi panglima kaum muslimin menghadapi Persia.

Siapakah dia?

Waktu itu, Sa’d bin Abi Waqqash sedang bertugas menarik zakat di Hawazin. Beliau menulis surat kepada Amirul Mukminin melaporkan tugasnya, bertepatan saat Amirul Mukminin sedang berdiskusi dengan para sahabatnya tentang siapa yang layak ditunjuk sebagai panglima.

Saat mereka berdiskusi, tiba-tiba ‘Abdurrahman bin ‘Auf berseru, “Saya menemukan calonnya, wahai Amirul Mukminin.”

“Siapa?” tanya ‘Umar.

“Si Singa, Sa’d bin Abi Waqqash,” jawab ‘Abdurrahman.

Ketika semua menyetujui Sa’d sebagai panglima, ‘Umar berkata, “Dia memang pemberani, juga ahli pedang dan panah.”

Setelah itu, Amirul Mukminin memerintahkan agar Sa’d segera pulang ke Madinah. Begitu keduanya bertemu, ‘Umar berkata, “Saya ingin memberimu tugas besar.”

“Kalau menarik zakat atau jizyah, saya tidak mau. Kalau berperang, saya siap,” jawab Sa’d dengan gagah.

“Memang untuk perang.”

Akhirnya, Sa’d menerima tugas panglima itu dalam keadaan menyadari betul bahaya besar yang akan dihadapi, karena mereka akan melawan para Kisra Persia, yang terkenal sebagai ahli-ahli perang. Wallahu a’lam.

(insya Allah bersambung)

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits

Debat dalam Urusan Agama, Jaring dan Perangkap Setan

Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman

 jaring

Renungan

Tidak henti-hentinya musibah itu datang menimpa kaum muslimin. Satu musibah disusul dengan musibah yang lain. Namun, musibah yang paling mengerikan dan yang paling menakutkan adalah musibah yang menimpa agama dan keyakinan mereka. Sebab, musibah tersebut di dunia akan mengakibatkan orang tersesat, dan kelak di akhirat mendapatkan azab dan murka Allah subhanahu wa ta’ala.

Musibah seperti tanah longsor, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya, akan berakibat hancurnya tatanan kehidupan, rusaknya lahan, dan sandang pangan; hancurnya negeri dan hilangnya tempat tinggal, bahkan berakibat hilangnya nyawa, dan sebagainya.

Berbeda halnya apabila musibah itu menimpa agama dan keyakinan. Tidak hanya berakibat rusaknya dunia semata, tetapi juga akan merusak masa depan kita dalam kehidupan yang abadi dan kekal di akhirat.

Coba bandingkan antara dua jenis musibah tersebut mana yang lebih besar? Orang yang telah merasakan sedikit manisnya ilmu sunnah tentu akan menjawab musibah yang menimpa agamalah yang lebih besar.

Saudaraku… Betapa sering kita menemukan seseoang hidup dengan jasad yang sehat, tegar, segar, dan bugar. Namun, kenyataannya dia tidak berdaya dan tidak memiliki kemampuan untuk menggunakannya pada ketaatan di dalam hidupnya. Justru seseorang itu tampil melakukan perusakan di muka bumi dengan berbagai jenis kemaksiatan. Itulah musibah bila menimpa agama dan keyakinan.

Banyaknya tempat yang dikeramatkan, kuburan yang dianggap berkah tempat mengadukan segala urusan hidup, dan para dukun tempat mengundi nasib menjadi pusat keramaian. Itulah bila musibah menimpa agama dan keyakinan. Tersebarnya perjudian, perampokan, pembunuhan, penjarahan, perzinaan, kezaliman, pemerasan, penipuan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya; juga karena musibah yang menimpa agama dan keyakinan.

Kesimpulannya, segala bentuk kerusakan di daratan dan di lautan itu semua akibat musibah yang menimpa agama dan keyakinan. Sekali lagi, coba bandingkan antara dua jenis musibah tersebut dan bandingkan pula mana kerusakan yang lebih menakutkan dan mengerikan? Tentu kita akan menjawab, musibah yang menimpa agama dan keyakinan.

Yang lebih menyedihkan, pada saat musibah ini melanda kaum muslimin kita menemukan tidak adanya lagi semangat dari kaum muslimin untuk mau belajar tentang agamanya yang haq.

Banyak orang tua yang sudah tidak memiliki ghirah kepada agama untuk mencari solusi dalam semua musibah sehingga anak keturunannyalah yang harus menelan pahit akibat ulah kedua orang tuanya. Di sisi lain, seruan menuju kekufuran, penyimpangan dalam agama, dan kesesatan sangat gencar.

Melihat fenomena seperti ini, kita hanya bisa berucap, “Allahul musta’an wa ilaihil musytaka (kepada Allah subhanahu wa ta’ala kita meminta bantuan dan kepaada-Nya pula kita mengeluhkan),” sambil kita berusaha melakukan yang terbaik di dalam hidup yaitu melindungi diri dan keluarga kita sebagaimana pesan Allah subhanahu wa ta’ala di dalam al-Qur’an,

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.” (at-Tahrim: 6)

As-Sa’di rahimahullah mengatakan di dalam tafsir beliau, “Wahai segenap orang yang telah dianugerahi Allah subhanahu wa ta’ala keimanan, bangkitlah kalian untuk melaksanakan konsekuensi dan syarat-syarat iman tersebut, menjaga diri dengan melaksanakan petuah-petuah Allah subhanahu wa ta’ala dengan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, bertobat dari segala yang menyebabkan murka Allah subhanahu wa ta’ala dan azab-Nya; melindungi keluarga dengan cara membimbing adab mereka, mengajari dan mendidik mereka agar mau melaksanakan perintah Allah subhanahu wa ta’ala.

Seorang hamba tidaklah akan selamat kecuali dengan melaksanakan segala apa yang diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala atas dirinya dan pada siapa pun yang masuk dalam tanggungan hidupnya seperti istri, anak-anak, dan selain mereka.”

 

Seruan Kebatilan Sangat Gencar

Kita semua mengetahui pelopor kesesatan dan penyesatan hamba Allah subhanahu wa ta’ala, itulah iblis la’natullah yang tidak akan berhenti mengajak dan menarik hamba-hamba Allah subhanahu wa ta’ala menuju langkah dan jalannya.

“Sesungguhnya setan itu musuh kalian, maka jadikanlah mereka musuh dan setan itu menyeru pengikutnya agar menjadi penduduk neraka Sa’ir.” (Fathir: 6)

Dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ خَطًّا وَقَالَ: هَذَا سَبِيلُ اللهِ. ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ يَسَارِهِ وَقَالَ: هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ

“Rasululah telah menggaris satu garisan lalu berkata, ‘Ini adalah jalan Allah subhanahu wa ta’ala.’ Lalu beliau membuat garis yang banyak dari kanan dan kiri lalu berkata, ‘Ini adalah jalan-jalan, yang setiap dari jalan tersebut setan menyeru kepadanya’.” ( HR. Ahmad 3928, dan dinyatakan sahih oleh asy-Syaikh Albani dalam takhrij beliau terhadap kitab Syarah al-‘Aqidah ath-Thahawiyah karya Ibnu Abil ‘Izzi)

وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ وَإِنَّهُمْ أَتَتْهُمْ الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا أَحْلَلْتُ لَهُمْ وَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ سُلْطَانًا.

“Sesungguhnya Aku telah menciptakan para hamba-Ku dalam keadaan lurus semua, lalu setan mendatangi mereka dan setelah itu memalingkan mereka dari agama mereka. Mengharamkan bagi mereka apa yang aku telah halalkan dan memerintahkan mereka untuk menyekutukan-Ku yang Aku tidak pernah menurunkan bukti (pembenaran)nya.” (HR. Muslim no. 5109)

Dengan ajakan dan seruan ini, tidak sedikit hamba Allah subhanahu wa ta’ala memenuhinya, bahkan mayoritas mereka menyambutnya, berjalan di atas langkah-langkahnya sekaligus menjadi penyeru dan pelaris dagangan iblis di tengah umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri telah menyinyalir hal ini dan menjelaskannya melalui sabda beliau sebagaimana dalam hadits iftiraqul ummah,

أَلَا إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ، ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

 وَإِنَّهُ سَيَخْرُجُ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ تَجَارَى بِهِمْ تِلْكَ الْأَهْوَاءُ كَمَا يَتَجَارَى الْكَلبُ لِصَاحِبِهِ لَا يَبْقَى مِنْهُ عِرْقٌ وَلَا مَفْصَلٌ إِلاَّ دَخَلَهُ

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari ahli kitab telah terpecah menjadi 72 sekte. Umat ini akan terpecah menjadi 73 aliran, 72 golongan berada di dalam neraka dan satu di dalam surga. Itulah al-jama’ah.

Sesungguhnya akan keluar dari umatku kaum yang penyakit hawa nafsu telah berjangkit pada diri mereka sebagaimana penyakit rabies menjangkiti seseorang sehingga tidak tersisa satu urat dan persendian pun melainkan akan dimasukinya.” (Shahihul Jami’ no. 2641 dari Mu’awiyah radhiallahu ‘anhu)

Saudaraku…

  1. Coba bandingkan antara 72 golongan yang tersesat dan 1 yang selamat, berarti mayoritas umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada dalam kesesatan.
  2. Setiap muncul seruan kebatilan dan kesesatan bahkan seruan kekafiran, selalu membawa para pengikut dan anak buah.
  3. Para penyeru dan para pecundang kebatilan itu dalam setiap masa selalu berada pada label yang paling tinggi dan dalam papan teratas.
  4. Kendatipun demikian akan tetap ada para pejuang kebenaran serta orang-orang yang menolak ajakan dan seruan iblis dan balatentaranya, dan jumlah mereka sangatlah sedikit.
  5. Mahalnya keselamatan dari musibah yang menimpa agama dan keyakinan, karena itu dengan hidayah dan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tanpa itu, seseorang tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dari banyaknya seruan kesesatan dan kekufuran, serta tidak mungkin akan bisa melepaskan diri bila telah terjaring dalam perangkap kebatilan.
  6. Musuh kebenaran sepanjang masa sangatlah banyak, sehingga ahlul haq dituntut untuk selalu menenteng “senjata” dalam hidup, dan tidak ada senjata yang paling ampuh sesungguhnya melainkan ilmu agama.

Gencarnya seruan menuju kebatilan dan kekufuran, serta lemahnya pertahanan kaum muslimin untuk menangkal ajakan mereka, mendorong kita untuk berusaha mencari jalan keselamatan dan berusaha menggabungkan diri dalam satu golongan yang selamat sebagaimana dalam hadits di atas.

Golongan yang selamat itu adalah golongan yang meniti jejak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan jalan para sahabat beliau dalam beragama—mengilmui dan mengamalkannya.

 

Perangkap-Perangkap Kebatilan

Saudaraku, kebatilan itu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang suci dan lurus sebagaimana sebelumnya bertentangan dengan kitab suci al-Qur’an dan as-Sunnah yang sahihah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu kenapa kebatilan tersebut mudah dan gampang diterima oleh kaum muslimin? Ada beberapa sisi yang perlu dikoreksi dalam hal ini.

Kemungkinan orang tersebut jahil, tidak mengetahui tentang kebenaran agamanya, sehingga dengan mudah dan gampang terbelenggu oleh jejaring kesesatan tersebut.

Sangat licinnya pelaris kesesatan tersebut sehingga gampang dan mudah kaum muslimin terpeleset dan terjebak di dalam pusarannya.

Kamuflase para penyeru kesesatan tersebut di hadapan kaum muslimin dengan penampilan yang sangat heroik, sehingga banyak kaum muslimin teperdaya padahal mereka itu tak ubahnya singa yang siap menerkam mangsanya.

Mereka membalik kenyataan sesungguhnya, sehingga tidak mengherankan jika kebenaran berubah menjadi kebatilan dan kebatilan menjadi kebenaran. Mereka mencitrakan ahlul haq seolah-olah tidak bisa diterima oleh fitrah banyak orang, bertentangan dengan adat-istiadat yang berlaku, tidak bisa diterima oleh akal, serta dianggap asing dari masyarakat.

Berbicara tentang perangkap kesesatan, sesungguhnya ahlul batil memiliki perangkap yang banyak, jitu dan bagus, karena mereka memiliki ilmu tentang hal itu. Mereka terdidik dalam madrasah yang sangat istimewa, yaitu madrasah kedustaan, penipuan, pengaburan, dan pemutarbalikan fakta.

Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah menjelaskan, “Hizbiyah ini dibangun dan didirikan di atas kedustaan, penipuan, pengaburan, dan pemutarbalikan fakta. Ahli ilmu wajib membongkar kedok mereka dan memperingatkan kaum muslimin darinya. Sungguh, hizbiyah itu telah merusak pemuda kaum muslimin dan menyia-nyiakan umur mereka, mencabik-cabik persatuan mereka sehingga menjadi bersekte-sekte dan berkelompok-kelompok. Hizbiyah telah menyibukkan mereka dari menghadapi lawan mereka.” (Risalah an-Nushhul Amin, hlm. 19)

Berdasarkan ucapan beliau, jelas bahwa ahli kebatilan memiliki ranjau yang mematikan dan perangkap yang jitu serta penjaring yang kuat dan berbahaya. Ada empat perangkap untuk mengelabui mangsa lalu menjebaknya dalam kail maut mereka. Mereka siap berdusta kendati berdusta itu hukumnya haram dalam agama. Mereka menempuh jalan berdusta untuk melariskan kesesatan mereka.

Padahal kita tidak mengetahui agama membolehkan dusta kecuali pada tiga kondisi:

  1. Saat ingin mendamaikan dua orang yang berselisih;
  2. Ucapan seorang suami kepada istrinya atau sebaliknya untuk menumbuhkan keridhaannya;
  3. Ketika dalam peperangan; sebagaimana dijelaskan oleh riwayat al-Imam al-Bukhari dan Muslim serta selain keduanya.

Ringkasnya, mereka menempuh segala cara untuk menebar kesesatan kendati harus menempuh langkah-langkah kaum Yahudi dan Nasrani yang sudah jelas diharamkan di dalam agama atau menempuh langkah-langkah iblis la’natullah ‘alaih.

 

Menempuh Langkah Jidal (Debat)

Perdebatan dalam agama ada dua macam:

 

  1. Yang dibolehkan, bahkan disyariatkan.

Hal ini apabila debat tersebut dilakukan dengan niat untuk mencari kebenaran, dan tentang hal-hal yang bisa diketahui kebenarannya melalui perdebatan.

Jadi, perdebatan tersebut bukan tentang hal-hal gaib yang seseorang tidak mengetahuinya selain dengan menerima berita dari wahyu, bukan pula tentang hal-hal yang tidak perlu diperdebatkan.

Selain itu, perdebatan tersebut harus dilakukan dengan adab yang baik.

 

  1. Yang dilarang.

Debat yang dilarang ialah yang tidak memenuhi syarat-syarat di atas. Contohnya, berdebat hanya untuk mempertahankan pendapat, mencari kemenangan, membuat keraguan, atau dalam urusan gaib yang tidak bisa diketahui kebenarannya melalui perdebatan.

Salah satu langkah yang ditempuh oleh para pengusung kesesatan guna memperkenalkan dan melariskan kesesatannya adalah melakukan perdebatan jenis yang kedua.

Mereka tidak segan mendatangi ahlul haq untuk mendebatnya dengan cara yang sangat licin dan licik. Mereka melakukannya untuk menebar bara kerusakan di tengah kaum muslimin dan memancing orang yang lemah hatinya terseret pada kesesatan mereka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ أَبْغَضَ الرِّجَالِ إِلَى اللهِ الْأَلَدُّ الْخَصِمُ

“Orang yang paling sangat dibenci oleh Allah subhanahu wa ta’ala adalah seseorang yang sangat keras membantah (berdebat).” (HR. al-Bukhari no. 2277 dan Muslim no. 4821 dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha)

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوا عَلَيْهِ إِلَّا أُوتُوا الْجَدَلَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: بَلْ هُمْ قَوْمٌ خَصِمُونَ.

“Tidaklah satu kaum itu tersesat setelah mereka mendapatkan hidayah kecuali mereka diberikan ilmu debat. Kemudian beliau membacakan ayat, ‘Namun mereka adalah kaum yang suka mendebat’.” (HR. Ibnu Majah no. 47 dari Abu Umamah radhiallahu ‘anhu)

Abu Bakr Muhammad bin Husain al-Ajurri rahimahullah menjelaskan, “Saat ahli ilmu dari kalangan tabi’in dan para imam muslimin setelahnya mendengar (nash yang menjelaskan tentang haramnya berdebat), mereka tidak melakukan hal itu dalam agama. Bahkan, mereka tidak mau berdialog dalam hal agama. Mereka memperingatkan kaum muslimin dari berdebat dan berdialog, serta memerintahkan mereka agar berpegang dengan sunnah dan apa yang telah ditempuh oleh para sahabat g. Inilah langkah ahlul haq, yaitu orang yang telah mendapatkan taufik Allah subhanahu wa ta’ala.” (asy-Syari’ah, hlm. 61)

Muslim bin Yasar rahimahullah berkata, “Hati-hati kalian dari berdebat. Sebab, hal itu adalah waktu kejahilan seorang alim, dan dengan cara ini setan mencari ketergelincirannya.”

Abu Qilabah rahimahullah berkata, “Jangan kalian duduk bersama ahlul ahwa’ (pengekor hawa nafsu) dan jangan berdialog bersama mereka. Sebab, saya tidak merasa aman mereka mencampakkan kalian dalam kesesatan atau mengaburkan kepada kalian urusan agama kalian yang telah menimpa mereka.”

Mu’awaiyah bin Qurrah rahimahullah berkata, “Berdebat dalam urusan agama akan membatalkan amalan-amalan.”

Sallam bin Abi Muthi’ rahimahullah bercerita, “Seorang pengikut hawa nafsu berkata kepada Ayyub as-Sikhtiyani, ‘Wahai Abu Bakr (kuniah Ayyub), saya mau bertanya kepadamu tentang satu kalimat.’ Ayyub berpaling dan hanya mengisyaratkan dengan tangannya, (tidak berbicara sedikit pun) walaupun setengah kalimat.”

Yahya bin Sa’id berkata, “Umar bin Abdul ‘Aziz berucap, ‘Barang siapa menjadikan agamanya sebagai ajang perdebatan, dia akan sering berpindah (keyakinan)’.”

Hisyam bin Hassan berkata, “Seseorang mendatangi al-Hasan lalu berkata, ‘Wahai Abu Sa’id, kemarilah, saya mau mendebatmu dalam urusan agama.’ Al-Hasan berkata, ‘Adapun saya telah berilmu tentang agamaku. Jika kamu tersesat, carilah agamamu’.”

Isma’il bin Kharijah bercerita, “Dua orang dari kalangan pengikut hawa nafsu menemui Muhammad bin Sirin, lalu berkata, ‘Wahai Abu Bakr, kami akan menyampaikan kepadamu satu hadits.’ Beliau menjawab, ‘Tidak.’ ‘Kalau begitu kami bacakan kepada Anda satu ayat dari kitabullah?’ Beliau tetap menjawab, ‘Tidak. Menyingkirlah kalian dariku atau aku yang akan pergi’.”

Sufyan bin ‘Amr bin Qais berkata, “Saya berkata kepada al-Hakam, ‘Dengan apa seseorang itu cepat terjatuh dalam kubangan hawa nafsu?’ Beliau menjawab, ‘Berdebat’.” (Lihat asy-Syari’ah karya al-Imam Ajurri bab “Dzammul Jidal Wal Khushumat Fiddin”)

Saudaraku, apabila kita nukilkan ucapan salafus shalih tentang peringatan keras mereka dari berdebat dalam urusan agama, niscaya tidak akan cukup ruangan ini,

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لاَ يُتْرَكُ جُلُّهُ

“Apa yang tidak bisa diraih semuanya, tidak ditinggal mayoritasnya.”

Alhamdulillah, ahlul haq sepanjang masa tidak berhenti memperingatkan umat tentang bahaya sebuah kesesatan dan para pengusungnya.

Mereka adalah bala tentara yang dipersiapkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala untuk menjaga dan melindungi agama-Nya.

Mereka tetap menyuarakan kebenaran di mana pun mereka berada, dan mengingkari kebatilan bagaimanapun risikonya.

Mereka tidak gentar dan takut terhadap caci makian orang. Tidak pula mereka mundur karena banyaknya orang yang memusuhi dan menyelisihi mereka.

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَذَلَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ كَذَلِكَ.

“Akan terus ada sekelompok kecil dari umatku memperjuangkan alhaq, yang tidak akan membahayakan mereka siapa pun yang menghinakan dan menyelisihi mereka sampai datang keputusan Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka tetap berada di atas kondisi itu.”

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan kita termasuk barisan pembela agama-Nya yang diliputi oleh berkah dan membangkitkan kita dalam barisan mereka yang mendapatkan jaminan ridha Allah subhanahu wa ta’ala dan surganya. Amin.

Tanya Jawab Ringkas Edisi 102

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini.

Salah Baca Surat, Sujud Sahwi?

Apakah ada sujud sahwi setelah salam bagi imam yang lupa/salah dalam membaca surat setelah al-Fatihah?

0811XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak ada.

 

Waktu Akikah

Jika bayi lahir tanggal 30 Agustus jam dua malam, kapan tanggal akikahnya?

085786XXXXXX

 

Jawaban:

Dasar pertanyaan Anda salah. Hukum-hukum dalam syariat Islam semuanya berdasarkan perhitungan bulan Qamariah (tahun Hijriah) bukan Masehi. Pergantian tanggal dalam bulan Qamariah dimulai sejak terbenamnya matahari, dan siangnya mengikutinya.

Akikah disunnahkan pada hari ketujuh. Rumusnya, hari lahir dikurangi satu. Jika lahir malam Kamis, terhitung hari Kamis; dikurangi satu, berarti akikahnya hari Rabu.

 

Tidak Sempat Qadha Puasa Karena Praktikum Kuliah

Sewaktu saya (perempuan) kuliah, saya pernah tidak menjalankan puasa Ramadhan 3—5 hari. Karena sibuk praktikum, saya tidak dapat mengganti puasa tersebut pada bulan lain sampai beberapa tahun kemudian. Apakah saya masih wajib membayar fidyah dan ganti puasa tersebut?

082271XXXXXX

 

Jawaban:

Jika praktikum itu tidak menyebabkan Anda pada kondisi sangat tersiksa oleh puasa, khawatir binasa, atau termudaratkan karenanya, Anda tidak punya uzur untuk berbuka. Bahkan, kuliah dan praktikum itu bukan hal yang wajib bagi Anda untuk dijadikan alasan berbuka karena sampai pada kondisi tersebut. Jika demikian, yang rajih, orang yang berbuka tanpa uzur tidak disyariatkan mengqadha apalagi membayar fidyah. Hal itu adalah dosa besar, wajib bagi pelakunya bertobat dan memperbanyak puasa sunnah serta amalan sunnah lainnya untuk mengimbanginya.

 

Cara Pemberian Kafarat Puasa

Apakah boleh pembayaran kafarat memberi makan 60 orang miskin diberikan kepada satu orang karena dia benar-benar membutuhkan? Bolehkah kita berikan dalam bentuk uang?

085728XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak boleh dan tidak sah memberikan kafarat kepada satu orang miskin saja, walaupun ia sangat butuh; kafarat harus diberikan kepada 60 fakir miskin. Selain itu, kafarat tidak boleh dan tidak sah dibayarkan dalam bentuk uang; harus dalam bentuk makanan pokok (beras atau nasi) sebagaimana perintah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Antara Puasa Syawal dan Puasa Qadha Ramadhan

Manakah yang afdal dikerjakan puasa enam hari pada bulan Syawal atau puasa qadha puasa Ramadhan?

085869XXXXXX

 

Jawaban:

Yang benar, dahulukan puasa qadha, karena hukumnya wajib, sedangkan puasa Syawal hukumnya sunnah. Bahkan, fadhilah puasa enam hari Syawal tidak berlaku bagi orang yang belum menyelesaikan puasa Ramadhan karena belum mengqadhanya.

Bagaimana jika sudah telanjur puasa Syawal terlebih dahulu, dalam keadaan baru mengetahui bahwa yang lebih rajih demikian. Bagaimana halnya dengan hadits Aisyah yang mengqadha puasa sampai bulan Sya’ban?

08586XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap dapat pahala, insya Allah. Tidak ada dalil pada hadits qadha Aisyah tersebut. Sebab, jika puasa qadha yang bersifat wajib saja ditunda oleh beliau karena kepentingan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, terlebih lagi puasa sunnah 6 hari bulan Syawal, besar kemungkinan Aisyah tidak melakukannya. Wallahu a’lam.

 

Belum Hapal Bacaan Shalat

Saya seorang muslim yang melakukan shalat tetapi belum hapal bacaannya. Apakah shalat saya itu sah?

085768XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib mempelajarinya semampu Anda, terutama bacaan al-Fatihah yang merupakan rukun shalat sendiri dan wajib bagi makmum. Jika Anda telah berusaha semampunya dan shalat dengan kemampuan yang ada, insya Allah sah. Teruslah belajar untuk menyempurnakannya, Allah tidak membebani hamba-Nya lebih dari kemampuannya.

 

Nazar Puasa Seumur Hidup

Sewaktu saya masih menderita penyakit kulit, saya bernazar untuk berpuasa seumur hidup (jika sembuh). Apakah saya wajib memenuhi nazar tersebut?

089682XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa seumur hidup hukumnya haram. Dengan demikian, nazar Anda tergolong nazar maksiat yang tidak boleh ditunaikan dan wajib ditebus dengan kafarat menurut pendapat yang rajih. Kafaratnya adalah kafarat sumpah, yaitu:

  • Memberi makan sepuluh fakir miskin dengan makanan yang layak (pertengahan) dari yang Anda nafkahkan kepada keluarga, atau memberi pakaian.
  • Jika tidak mampu melaksanakan pilihan pertama, berpuasa tiga hari berturut-turut.

Lain kali jangan bernazar, karena bernazar hukumnya makruh dan tidak pernah menjadi faktor tercapainya suatu maksud. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dan tidak pernah melakukannya. Begitu pula para sahabat tidak berlomba-lomba melakukannya.

 

Konsultasi Nama Anak

Insya Allah sebentar lagi saya punya momongan. Saya masih awam bahasa Arab. Seandainya diberi nama Abdan Syakur Wafi, mohon dijelaskan artinya.

08572XXXXXX

 

Jawaban:

Abdan Syakur Wafi artinya hamba yang banyak bersyukur lagi menunaikan. Sebaiknya, nama itu satu kata saja, meniru nama salah satu nabi atau sahabat, atau nama Abdu digandengkan setelahnya dengan salah satu asma Allah, seperti Abdusy Syakur atau semisalnya. Tidak mengapa nama selain itu yang bermakna baik, selama tidak mengandung rekomendasi terhadapnya.

34

Hukum Makan Burung Berparuh Panjang

Apa hukum memakan burung bangau dan sejenisnya yang berparuh panjang?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Burung bangau dan semacamnya yang berparuh panjang dan makan ikan hukumnya halal, karena bukan predator yang memburu mangsa dengan cakarnya.

 

Shalat di Dalam Penjara

Seseorang berada di lapas (lembaga pemasyarakatan/penjara). Jika hendak melaksanakan shalat di dalam kamar, apakah dia perlu azan dan iqamat?

085397XXXXXX

 

Jawaban:

Jika di sekitar penjara ada masjid yang azannya menjangkau penjara—yaitu seandainya azan itu tanpa mikrofon, di keheningan, tanpa ada gedung penghalang—dia tidak wajib azan lagi, cukup iqamat. Akan tetapi, tetap disunnahkan untuk azan. Jika tidak demikian keadaannya, ia wajib azan dan iqamat setiap kali hendak shalat.

 

Jual Beli Emas

Jika kita ingin menjual emas pada saat harga emas sedang naik, kemudian kita menerima selisih kelebihan dari harga penjualan saat membelinya; apakah tergolong riba?

085758XXXXXX

 

Jawaban:

Jual beli emas dengan uang rupiah boleh ada selisih harga (mengambil keuntungan, ed.) dengan syarat serah terima langsung (taqabudh), tidak ada yang ditunda serah terimanya.

 

Utang Ditanggung Ahli Waris?

Apabila suami meninggal dunia dalam keadaan mempunyai utang dan meninggalkan seorang istri dan beberapa orang anak, apakah yang menanggung utang suami adalah para ahli warisnya (anak dan istri)? Apakah seseorang yang mempunyai utang boleh dishalatkan waktu meninggal?

087737XXXXXX

 

Jawaban:

Jika ia meninggalkan harta waris, wajib dibayarkan dari harta waris itu sebelum dibagi oleh ahli warisnya, meski habis untuk membayar utang. Jika tidak mempunyai harta peninggalan, ahli warisnya tidak berkewajiban membayarnya, tetapi sebaiknya mereka membayarkannya jika mampu.

Seseorang yang meninggal dan mempunyai utang tetap dishalati.

 

Musafir Shalat Maghrib Berjamaah dengan Jamaah Isya’

Ketika saya safar, dalam perjalanan masuk waktu isya. Shalat maghrib dijamak dengan shalat isya. Berhubung shalat berjamaah dengan jamaah setempat, saat saya duduk tasyahud akhir rakaat ketiga dari shalat maghrib, imam bangkit. Setelah itu, bagaimana cara pelaksanaan shalat isya?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Anda wajib duduk tasyahud di akhir rakaat ketiga. Setelah itu, Anda punya dua pilihan:

  1. Memperlama doa untuk menunggu sampai imam duduk tasyahud juga, lalu salam bersamanya.
  2. Berniat keluar dari jamaah dan menyelesaikan shalat sendiri dengan cepat agar dapat melanjutkan shalat isya secara berjamaah dengan imam, jika diduga kuat bisa bergabung dengannya sebelum i’tidal.

 

Mantan Mertua Masih Mahram?

Apakah mantan istri/suami dan mertua masih mahram?

08123XXXXXX

 

Jawaban:

Mantan istri/suami masih mahram dengan mertuanya.

 

Contoh Kasus Waris

Ayah kami menikah dengan seorang wanita dan tidak mempunyai anak dari pernikahan itu. Kemudian ayah kami meninggal dengan meninggalkan harta bersama istrinya tersebut berupa tanah, rumah, dan kendaraan. Apakah kami (dua bersaudara, laki-laki dan perempuan) berhak atas harta tersebut? Bagaimana pembagiannya?

085646XXXXXX

 

Jawaban:

Kalian sebagai anak-anaknya berhak, istri yang ditinggalkannya juga berhak. Pastikan dari harta itu yang merupakan milik ayah kalian untuk dibagi dengan rincian:

  • istri mendapat 1/8;
  • 2 anak (laki-laki dan perempuan) mendapat sisanya dengan perbandingan untuk laki-laki 2 bagian, perempuan 1 bagian. Wallahu a’lam.

 

Shalat Bagi Penderita Alzheimer

Apakah lansia yang menderita penyakit alzheimer boleh meninggalkan kewajiban shalat? Karena beliau benar-benar sudah banyak lupa dengan rukun shalat.

082182XXXXXX

 

Jawaban:

Orang yang kehilangan akal karena gila atau pikun tidak terkena kewajiban shalat, puasa, dan lainnya.

 

Larangan Mengucapkan Hari Raya Agama Lain

Tolong jelaskan dalil larangan mengucapkan selamat hari raya agama lain seperti galungan, kuningan, nyepi, dll.

081337XXXXXX

 

Jawaban:

Hari raya Islam hanya ada dua, Idul Fithri dan Idul Adha. Adapun hari raya selain Islam tidak boleh diikuti. Kita tidak boleh berpartisipasi dan memberi ucapan selamat. Ini termasuk dalam prinsip alwala’ al-bara’ (mencintai dan memusuhi) karena Allah dan di jalan Allah.

 

18 Tahun Belum Bayar Fidyah

Saya belum membayar fidyah sewaktu menyusui anak pada bulan Ramadhan 18 tahun yang lalu. Bolehkah kita membayarkannya kepada keluarga kita yang tidak mampu?

085381XXXXXX

 

Jawaban:

Jika Anda berkeyakinan ibu menyusui membayar fidyah, boleh memberikan kepada keluarga yang tidak mampu. Namun, yang benar wanita menyusui tidak boleh berbuka kecuali jika khawatir terhadap bayinya atau dirinya berdasarkan indikasi yang ada; kewajibannya adalah qadha, bukan fidyah.

 

Jejaring Sosial

Mohon nasihatnya bagi ikhwan dan akhwat yang sering menggunakan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, dan lainnya, dengan dalih untuk berdakwah atau menambah ilmu. Akan tetapi, mereka malah terjerumus dalam ikhtilath dan perkataan sia-sia dengan saling memberi komentar terhadap lawan jenis dan menceritakan masalah masing-masing. Hal ini juga sering menimpa orang yang sudah berkeluarga sehingga tidak jarang menimbulkan perselisihan suami-istri.

0896XXXXXXX

 

Jawaban:

Kami nasihatkan bagi mereka yang terjerumus dalam keburukan facebook dan semacamnya agar bertakwa kepada Allah. Barang siapa terfitnah dengan ‘pergaulan’ facebook dan semacamnya, hendaklah dia bertakwa dan malu akan hal itu. Ketahuilah, malu itu merupakan keimanan.

Masih banyak media lain yang aman untuk menuntut ilmu dan berdakwah. Berkah itu dari Allah semata.

 

Suami Marah, Menawarkan Cerai

Apabila suami saya sedang marah sering berkata, “Bagaimana kalau kita cerai saja,” apakah dengan kalimat tersebut sudah jatuh talak?

082326XXXXXX

 

Jawaban:

Tampaknya kalimat itu masih sebatas tawaran atau ancaman kepada istri, dia belum mantap untuk menjatuhkan talak. Dengan demikian, talak belum jatuh dengan ucapan itu belaka.

 

Cukur Rambut dan Potong Kuku Sebelum Niat Kurban

Seseorang memasuki bulan Dzulhijjah dan belum memiliki niat untuk berkurban sebab belum ada dana. Dia sudah mencukur rambut atau potong kuku. Kemudian dia mendapatkan rejeki sehingga bisa berkurban. Bolehkah?

085292XXXXXX

 

Jawaban:

Tidak mengapa, karena dia melakukannya sebelum berniat. Larangan berlaku sejak berniat berkurban.

 

Rasul Tidak Puasa Arafah

Apakah Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah/sempat melakukan puasa Arafah? Sebab, sebagian orang tidak mau puasa dengan alasan Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukannya.

08233XXXXXXX

 

Jawaban:

Rasul tidak melakukan puasa Arafah ketika berhaji (hajjatul wada’) dan hal itu menunjukkan tidak disunnahkan bagi jamaah haji di Arafah. Adapun bagi orang lainnya yang tidak berhaji, terdapat hadits sahih yang menganjurkannya dengan keutamaan menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya dan setelahnya. Lihat buku kami, Fikih Puasa Lengkap.

 

Gabung Niat Puasa Arafah dengan Senin-Kamis

Bolehkah menggabungkan niat puasa Senin-Kamis dengan puasa Arafah yang bertepatan dengan hari Kamis?

082134XXXXXX

 

Jawaban:

Puasa Senin-Kamis dan puasa Arafah adalah puasa sunnah khusus yang diperintahkan. Jadi, tidak boleh digabung niatnya. Jika hari Arafah jatuh pada hari Kamis, berpuasalah dengan niat puasa Arafah.

 

Larangan Memotong Kuku dan Rambut Bagi yang Akan Berkurban

Jika suami akan berkurban, apakah anak dan istri terkena hukum larangan memotong kuku, rambut, dll.?

085275XXXXXX

37

Jawaban:

Pemahaman tersebut salah. Yang benar adalah hadits Ummu Salamah dalam Shahih Muslim yang melarang hal itu bagi yang berniat berkurban. Adapun keluarganya tidak terkena hukum tersebut.

 

Zakat Usaha

Saya mendirikan usaha menjual kayu kelapa, bambu, tepas, dan kayu. Apakah usaha saya terkena zakat jika sudah cukup satu tahun?

081263XXXXXX

 

Jawaban:

Zakat usaha/dagang tidak ada menurut pendapat yang rajih. Namun, uang hasil usaha tersebut jika mencapai nishab perak (harga 595 gr perak) lantas nishab itu bertahan setahun, wajib dikeluarkan zakatnya sebesar 1/40 (2,5%).

Dinasihatkan bagi para pengusaha yang sukses agar banyak bersedekah dan berinfak.

 

Zakat Fitrah

Nenek saya janda dan mempunyai sawah yang dikerjakan oleh orang lain. Hasilnya bisa digunakan untuk keperluan harian. Apakah nenek saya berhak mendapat zakat fitrah?

081329XXXXXX

 

Jawaban:

Jika nenek Anda miskin, hasil sawah itu belum mencukupinya, ia berhak mendapat zakat. Namun, seseorang tidak tidak boleh menyalurkan zakat kepada kerabat yang dia tanggung nafkahnya.

 

Haji dengan Uang Riba

Bagaimana hukumnya jika naik haji dengan uang riba yang sudah dibayarkan dan akan berangkat tiga tahun lagi? Bagaimana cara bertobat dari perbuatan tersebut?

085279XXXXXX

 

Jawaban:

Bertobatlah kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menyesal, berhenti dari hal itu dan bertekad tidak akan mengulanginya. Ambil uang riba itu dan bersihkan diri Anda darinya dengan cara menghabiskannya untuk pembangunan fasilitas umum, seperti jalan umum, selokan, WC umum, dan yang semisalnya.

 

Mimisan Sewaktu Shalat

Bagaimana jika ketika kita shalat, hidung kita mimisan? Apakah shalat kita batal?

085710XXXXXX

 

Jawaban:

Tetap lanjutkan shalat Anda. Darah mimisan tidak membatalkan wudhu dan shalat, bukan pula najis menurut pendapat yang rajih.

 

Anak Menjadi Wali Nikah Ibu

Apakah anak kandung laki-laki dewasa bisa menjadi wali nikah ibunya?

085866XXXXXX

 

Jawaban:

Ya. Jika ayah wanita itu sudah tidak ada atau ada halangan syar’i untuk menjadi wali, tugas wali beralih kepada anak tersebut.

 

Shalat dalam Keadaan Junub karena Lupa

Seseorang dalam keadaan junub kemudian shalat fardhu. Kondisi dia pada saat itu dalam keadaan sakit (demam). Ia ingat setelah masuk dua kali shalat fardhu. Apakah shalat yang dilakukannya sah? Jika harus mengqadha, bagaimana caranya?

38

Jawaban:

Shalat fardhu yang dilaksanakan tanpa mandi karena lupa, wajib diqadha. Jika demam dan akan termudaratkan oleh air (tambah sakit atau memperlama kesembuhan), boleh tayammum.

Cara mengqadhanya digabung keduanya pada waktu zhuhur. Jadi,  setelah shalat zhuhur, langsung qadha zhuhur lalu qadha ashar.

 

Shaf Anak dalam Shalat Jamaah

Bolehkah anak usia lima tahun berada di shaf orang dewasa saat shalat berjamaah? Ia sudah bisa berwudhu tetapi belum paham bacaan shalat. Apakah syarat seorang anak sudah boleh bershaf bersama orang dewasa saat shalat berjamaah?

 

Jawaban:

Syaratnya adalah usia tamyiz, biasanya tujuh tahun dan dia telah bersuci dari hadats. Wallahu a’lam.

 

Shalat Setelah Keguguran

Jika seorang wanita keguguran pada usia kehamilan empat bulan dan dikuret, apakah dia boleh shalat lima waktu?

 

Jawaban:

Janin yang berusia empat bulan sepertinya belum berbentuk fisik manusia yang terdiri dari kepala, jari, dst. Jika benar demikian, bukan termasuk nifas menurut pendapat yang terkuat. Hukumnya adalah darah fasad seperti istihadhah, tetap wajib shalat.

 

Hukum Sembelihan

Hukum sembelihan bila terputus salah satu dari al-wadjan saja, maka tidak sah. (Syarh Bulugh, 6/52-53) Apakah maksud tidak sah pada kalimat di atas bermakna haram dimakan walau telah membaca takbir waktu menyembelih?

 

Jawaban:

Terpotongnya kedua wadjan (urat/pembuluh darah besar) yang berada di leher adalah syarat sahnya sembelihan, tetapi tidak harus putus. Jika yang terpotong hanya salah satunya, sembelihan tidak sah dan haram dimakan. Ini menurut pendapat yang rajih dan lebih hati-hati. Wallahu a’lam.

 

Bekerja di Koperasi Simpan-Pinjam

Jika kita bekerja di koperasi simpan-pinjam (riba) yang mempunyai usaha lain berupa wisma/hotel, dengan laba mayoritas berasal dari koperasi riba, apakah hal ini diperbolehkan? Apa boleh pula bekerja sebagai karyawan wisma?

 

Jawaban:

Jika perputaran usaha wisma/hotel itu juga bermodal dari dana hasil riba itu, haram bekerja di situ. Apalagi jika pada usaha wisma itu terjadi ikhtilat/perbauran karyawan wanita dan pria, hal itu haram dari sisi lainnya.

 

Gadai Motor Riba

Saat ini saya sedang terjerat riba. BPKB motor saya gadaikan 4 juta. Untuk melunasinya, saya harus membayar 4 juta (pokok) dan 150 ribu (bunga). Uang tersebut saya gunakan untuk modal dagang. Apakah modal dan keuntungan dagangan saya halal? Saya ingin segera melunasinya sebisa mungkin karena takut sekali terjatuh dalam dosa.

 

Jawaban:

Jika Anda melakukan itu dalam keadaan tidak tahu hukumnya, ada uzur bagi Anda. Jika sudah tahu hukumnya haram, wajib bertobat. Baik yang pertama maupun yang kedua, upayakan menasihati/melobi pihak yang mengutangi agar menggugurkan tuntutan bunga (riba) itu. Jika berhasil, itulah yang diinginkan. Jika tidak berhasil, tetap lunasi dengan terpaksa dan dia yang menanggung dosanya. Wallahu a’lam.

 

Mahar Kitab, Harus Diajarkan?

Apakah seseorang yang menikah dengan mahar sebuah kitab harus memberikan faidah/mengajarkan kitab tersebut?

 

Jawaban:

Tidak harus, karena kitab itu sendiri sudah berharga.

 

Hak Tinggal Pascacerai

Jika istri minta cerai dari suaminya, siapakah yang berhak untuk tinggal di rumah, istri atau suami?

 

Jawaban:

Yang berhak tinggal di rumah itu adalah yang mempunyai rumah. Jika yang mempunyai adalah suami, berarti istri yang keluar; begitu pula sebaliknya.

 

Hukum Wudhu setelah Mandi Wajib

Bagaimana hukum wudhu sebelum mandi wajib? Apakah kita harus wudhu lagi setelah itu karena akan melaksanakan shalat?

 

Jawaban:

Wudhu atau mendahulukan anggota wudhu sebelum mandi wajib, hanya sunnah. Jika hal itu diamalkan dan tidak berhadats setelahnya, itu sudah cukup tanpa perlu berwudhu lagi.

 

Mengubur Janin

Bagaimana cara menanam/mengubur janin keguguran yang baru berusia dua bulan?

 

Jawaban:

Tidak disyariatkan dikuburkan, cukup dipendam di mana saja.

 

Utang Puasa karena Sakit

Ibu kami utang puasa 25 hari karena sakit. Sekarang beliau masih dalam pengobatan pasca operasi (tumor ganas) hingga dua bulan ke depan, sedangkan beliau belum mampu mengqadhanya. Padahal bulan Ramadhan akan segera. Bagaimana solusinya?

 

Jawaban:

Jika dokter spesialis mengatakan masih ada harapan sembuh dan tidak ada keharusan untuk selalu minum obat pada siang hari, tunggu saja sampai sembuh. Setelah itu ibu Anda mengqadha seluruh utang puasa di luar Ramdhan walaupun melewati sekian kali Ramadhan. Hal ini disebabkan adanya uzur.

 

Kembalian Pembeli yang Tertunda

Bagaimana hukumnya jika dalam transaksi jual-beli ada uang kembalian pembeli yang ditunda kembaliannya oleh penjual?

 

Jawaban:

Boleh. Yang tidak boleh apabila menukar uang dengan uang, karena diharuskan serah-terima dengan tuntas di majelis itu sebelum berpisah, tanpa ada yang tersisa/tertunda, di samping nilainya harus sama.

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com

Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.

Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Kedustaan di Balik Kedok Cinta

Al-Ustadz Abu Ismail Muhammad Rijal, Lc

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ عَنِ الْكَلِمَاتِ الَّتِي تَلَقَّاهَا آدَمُ مِنْ رَبِّهِ فَتَابَ عَلَيْهِ، قَالَ:

سَأَلَهُ بِحَقِّ مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ فَتَابَ عَلَيْهِ وَغُفِرَ لَهُ

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang kalimat-kalimat yang diterima Adam dari Rabbnya sehingga Allah mengampuninya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘(Kalimat-kalimat itu adalah), ‘Adam memohon kepada Allah dengan hak Muhammad, Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, lalu Allah mengampuni Adam’.”

 hadits-palsu

Derajat Hadits

Hadits ini maudhu’ (palsu), hasil kedustaan Syiah Rafidhah atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abul Faraj Ibnul Jauzi menyebutkan hadits di atas dalam al-Maudhu’at (1/316) melalui jalan ad-Daruquthni, beliau berkata,

تَفَرَّدَ بِهِ حُسِيْنٌ الْاَشْقَرُ رَوَى الْمَوْضُوعَاتِ عَنِ الْأَثْبَاتِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ وَلَيْسَ بِثِقَةٍ وَلَا مَأْمُون

“Husain al-Asyqar bersendiri dari ‘Amr bin Tsabit. Husain biasa meriwayatkan hadits-hadits palsu dari orang-orang tsiqah, sementara ‘Amr tidak tsiqah dan tidak tepercaya.”

Yahya bin Ma’in berkata, “Amr bin Tsabit bukan orang yang bisa dipercaya.”

Ibnu Hibban al-Busti berkata, “Dia memalsukan hadits-hadits dari perawi-perawi yang tsiqah.”

Ibnu Katsir rahimahullah, ketika menafsirkan surat asy-Syura ayat 23 mengatakan tentang ‘Amr bin Tsabit, “Dia seorang Syi’ah pendusta.”

Hadits Ibnu Abbas disebutkan pula oleh Ibnu ‘Araq al-Kinani dalam kitabnya, Tanzih asy-Syari’ah (1/413), dan beliau sandarkan riwayatnya kepada ad-Daruquthni.

As-Suyuthi membawakan hadits ini dalam kitabnya ad-Dur al-Mantsur  (1/147), hanya saja beliau mendiamkan hadits dan tidak memberikan komentar. Beliau menyebutkan pula hadits ini dalam kitabnya, al-La’ali’ al-Mashnu’ah (1/44) dan menghukuminya sebagai hadits maudhu’ (palsu).

Al-Kinani menyebutkan jalan lain untuk hadits ini dalam Tanzih asy-Syariah (1/395) melalui jalan Muhammad bin ‘Ali bin Khalaf al-‘Aththar, dari Husain al-Asyqar. Beliau nisbatkan jalan ini kepada Ibnu an-Najjar. Sayang, jalan ini tidak berfaedah. Sebab, Ibnu Adi menyatakan tentang Muhammad bin Ali bin Khalaf al-Aththar, “Dia muttaham bil kadzib (Tertuduh berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Walhasil, hadits di atas maudhu’, dipalsukan oleh orang-orang Syiah.

 

Makna Hadits

Di balik hadits-hadits palsu berisi pujian kepada Ahlul Bait inilah, Rafidhah menyembunyikan kesesatan dan kekufuran mereka. Hadits ini juga mengandung kemungkaran dan penyelisihan terhadap al-Qur’an dan as-Sunnah.

Lahiriah hadits ini berisi pujian kepada Ali, Fathimah, al-Hasan, dan al-Husain. Rafidhah memalsukannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini menunjukkan bahwa Adam telah mengenal Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain, bahkan beliau bertawasul dengan hak mereka untuk mendapatkan ampunan Allah subhanahu wa ta’ala.

Sungguh, tidak ada satu hadits sahih pun mengajarkan kita bertawasul dengan orang-orang saleh ketika berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Hadits di atas, di samping palsu juga mengantarkan kepada kesyirikan. Sebab, doa ini berisi tawasul dengan orang-orang yang gaib (tidak ada); Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ali, Hasan, Husain, dan Fathimah belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan.

Asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah berkata, “Hadits ini dan yang semisalnya adalah hadits palsu yang dipakai oleh tukang khurafat untuk dijadikan landasan dalam membolehkan berdoa kepada orang-orang yang telah mati.” (ath-Thali’ah, hlm. 230)

Di antara perkara yang menunjukkan kedustaan hadits ini, al-Qur’an telah menafsirkan kalimat-kalimat yang Allah subhanahu wa ta’ala wahyukan kepada Adam, yang dengannya beliau berdoa dan Allah subhanahu wa ta’ala ampuni dosa beliau.

Allah subhanahu wa ta’ala mengisahkan Adam dalam al-Qur’an bagaimana beliau berdosa kemudian Allah subhanahu wa ta’ala mengajarinya kalimat yang dengannya Allah subhanahu wa ta’ala mengampuni beliau. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam surat al-Baqarah,

Lalu keduanya digelincirkan oleh setan dari surga itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman, “Turunlah kamu, sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan.” Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Rabbnya, maka Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang. (al-Baqarah: 36—37)

Menurut hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma di atas, kalimat yang Adam terima adalah tawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahli bait Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang belum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan! Hal ini menyelisihi al-Qur’an.

Syaikhul Islam berkata, “Adapun kalimat-kalimat (yang diucapkan Adam) telah disebutkan penafsirannya dalam al-Qur’an, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala,

Keduanya berkata, “Wahai Rabb kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (al-A’raf: 23)

Dimaklumi bahwa orang yang lebih rendah dari Adam (kedudukannya), baik dari kalangan orang kafir maupun fasik, jika bertobat kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan tobat nashuha, Allah subhanahu wa ta’ala akan menerima tobatnya tanpa harus bertawassul kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan siapa pun. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kita tidak pernah memerintah seorang pun bertobat dengan semisal doa ini.” (al-Muntaqa, hlm. 459)

Menjadi teranglah, di samping hadits di atas terdapat rawi pendusta dari orang Rafidhah, juga menyelisihi al-Qur’an dan petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berdoa.

 

Ahlus Sunnah berlepas diri dari jalan Rafidhah yang membangun agama mereka di atas kedustaan. Mereka mengangkat sebagian ahlul bai setinggi-tingginya melebihi derajat para nabi dan rasul, sementara sebagian ahli bait Rasulullah n, mereka hinakan dan kafirkan.

 

Syiah dan Pemalsuan Hadits

Sekte sesat dan aliran sempalan dalam Islam tidak sekadar menawarkan dagangannya begitu saja.

Untuk menjual kesesatan dan melariskannya, mereka hiasi semua kebatilan dengan ayat al-Qur’an atau hadits sahih yang mereka simpangkan pemahamannya. Bahkan, dengan lancang mereka berani berdusta atas nama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ketinggalan Syiah Rafidhah. Mereka termasuk kelompok yang terdepan dalam hal memalsukan sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Pemalsuan hadits yang dilakukan oleh Rafidhah merupakan perkara yang disepakati ahlul hadits, sebagaimana tampak dalam beberapa ucapan ulama berikut.

Abdullah ibnul Mubarak al-Marwazi berkata bahwa Abu ‘Ishmah pernah bertanya kepada Abu Hanifah, “Dari siapakah engkau izinkan aku mendengar (mengambil) hadits?”

Beliau berkata, “Dari semua orang yang adil dalam hawa nafsunya, kecuali Syi’ah, karena prinsip mereka adalah menganggap sesat semua sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (al-Kifayah, hlm. 203)

Dari Yunus bin Abdul A’la berkata, dari Asyhab, al-Imam Malik ditanya tentang Rafidhah, maka beliau berkata, “Jangan kamu ajak bicara, jangan pula kamu riwayatkan dari mereka karena mereka selalu melakukan kedustaan.” (al-Muntaqa, hlm. 21)

Dari Harmalah bin Yahya, al-Imam asy-Syafi’i berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang pun dari pengikut hawa nafsu yang lebih dusta dalam persaksian selain Rafidhah.” (al-Kifayah, hlm. 202)

Yazid bin Harun berkata, “Semua mubtadi’, selama tidak menyerukan kebid’ahannya, masih boleh ditulis haditsnya, kecuali Rafidhah, karena mereka sungguh selalu berdusta.” (al-Muntaqa, hlm. 22)

Demikianlah di antara upaya Syiah Rafidhah menghancurkan Islam. Mereka menebarkan pemikiran kufur dan sesat serta memalsukan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil atas kesesatan mereka.

Akan tetapi, alhamdulillah, rahmat Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa meliputi kaum mukminin. Allah subhanahu wa ta’ala membangkitkan para ulama Ahlus Sunnah yang sangat mendalam ilmunya. Mereka pun berjihad dengan menerangkan kepada umat tentang hadits yang didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Benarkah Rafidhah Mencintai Ahlul Bait?

Dusta! Pengakuan Rafidhah mencintai ahlul bait hanyalah kedustaan. Menurut versi mereka, yang termasuk ahlul bait adalah Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan keturunannya. Sebatas itu saja ahlul bait.

Adapun istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pada hakikatnya termasuk ahlu bait Rasul, istri-istri Rasul di dunia dan di surga, mereka keluarkan dari barisan ahlul bait. Mereka mencela para istri Rasul, bahkan mereka kafirkan. Terlebih lagi Aisyah dan Hafshah, putri dua sahabat yang paling mereka benci: Abu Bakr dan Umar.

Ruqayyah dan Ummu Kultsum, dua putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau nikahkan dengan Utsman pun dikeluarkan dari ahlul bait lantaran menjadi istri Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu—yang sangat mereka benci dan kafirkan. Di antara merekaada yang berkata bahwa Ruqayyah dan Ummu Kultsum bukan anak Khadijah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun dari suami sebelumnya.

Inilah kedustaan pertama mereka dalam hal pengakuan kecintaan kepada ahlul bait. Mereka membenci bahkan mengafirkan sebagian ahlul bait, namun mencintai sebagian yang lain. Adapun Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah kaum yang mencintai seluruh ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedustaan kedua, Rafidhah telah melampaui batas dalam hal menyanjung ahlul bait. Mereka agungkan ahlul bait setinggi-tingginya, bahkan hingga mengangkat derajat ahlul bait melebihi derajat para nabi dan rasul. Mereka sekutukan Allah subhanahu wa ta’ala dengan ahlul bait versi mereka. Hal ini sebagaimana mereka melampaui batas terhadap imam mereka.

Semua kebatilan mereka didasari kedustaan. Mereka berdalil hadits dha’if, bahkan maudhu’ (palsu). Demikianlah Syi’ah Rafidhah, pengikut Abdullah bin Saba’ al-Yahudi, mengaku-aku cinta kepada ahlul bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun, semua itu hanyalah topeng untuk menutupi kebusukan mereka.

Mereka berani berdusta atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena memang syiar agama Rafidhah adalah kedustaan yang dilapisi dengan kemunafikan.[1]

 

Hadits-Hadits Palsu Tentang Ahlul Bait

Banyak sendi Islam mereka robohkan dalam kehidupan.

Hampir seluruh sahabat Rasul mereka kafirkan. Abu Bakr dan Umar mereka sebut dua berhala Quraisy. Demikian pula sahabat-sahabat lain, mereka hina dan caci maki[2]. Padahal hanya melalui jalan para sahabat, Islam disampaikan kepada umat.

Apa artinya? Artinya, semua riwayat sahabat tertolak karena mereka orang kafir.

Al-Qur’an mereka nyatakan telah dikhianati oleh para sahabat. Al-Qur’an yang ada saat ini, yang berada di tangan-tangan kaum muslimin, mereka anggap bukan lagi firman Allah subhanahu wa ta’ala yang diturunkan kepada manusia.

Untuk menutup kebusukan makar mereka terhadap Islam, Rafidhah bersembunyi di balik topeng kecintaan kepada ahlul bait. Mereka menyanjung dan memuji ahlul bait. Mereka bangun opini bahwa merekalah pembela Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarganya, merekalah pemegang estafet agama Rasul. Padahal yang ada adalah kekafiran dan jauhnya mereka dari Islam.

Hadits Ibnu Abbas di atas adalah contoh pertama dari hadits-hadits yang dibuat Rafidhah demi kepentingan mereka. Berikut ini kami tampilkan beberapa hadits palsu buatan agama Syiah Rafidhah yang sering mereka munculkan. Semoga apa yang kami paparkan dapat menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk lebih berhati-hati dari makar Rafidhah.

 

Hadits Kedua

أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْم،ِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْعِلْمَ فَلْيَأْتِهِ مِنْ بَابِهِ

“Aku adalah kota ilmu, sedangkan ‘Ali adalah pintunya. Barang siapa menginginkan ilmu, hendaknya dia mendatangi dari pintunya.”

Ini adalah hadits yang batil, karena tidak bersumber dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik sanad maupun matannya. Para imam ahli hadits menolak hadits tersebut. Di antara mereka ialah al-Imam al-Bukhari, Abu Zur’ah, at-Tirmidzi, al-Uqaili, Ibnu Hibban, ad-Daruquthni, Ibnul Adi, Ibnul Jauzi, al-Baghawi, an-Nawawi, Ibnu Daqiqil Ied, dan Ibnu Taimiyah.

Hadits ini palsu. Adz-Dzahabi menyatakan maudhu’ (palsu). Al-Albani menjelaskan kepalsuan hadits ini dalam adh-Dha’ifah (6/518, no. 2955) dan dalam Dha’iful Jami’ (no. 13220).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata, “Hadits ‘Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya….’ Tergolong maudhu’ (palsu). (Hadits ini) disebutkan oleh Ibnul Jauzi (dalam kitabnya al-Maudhu’at –pen.). Beliau kemudian menerangkan bahwa seluruh sanadnya palsu. Selain itu, kedustaan juga tampak dari matan hadits itu sendiri. Sebab, apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah kota ilmu dan tidak ada pintunya kecuali satu, dan tidak ada yang menyampaikan ilmu dari beliau (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam –pen.) kecuali satu orang (yakni Ali –pen), tentu urusan Islam akan rusak….” (Minhajus Sunnah, 4/138—139, dinukil dari adh-Dha’ifah)

Di samping itu, hadits ini juga bermakna bahwa semua riwayat sahabat diingkari, kecuali melalui jalan Ali bin Abi Thalib. Hal ini tentu merupakan makar lain di balik pemalsuan hadits ini, Allahul Musta’an.

 

Hadits Ketiga

السُّبَّقُ ثَلَاثَةٌ : فَالسَّابِقُ إِلَى مُوسَى يُوشَعُ بْنُ نُونٍ، وَالسَّابِقُ إِلَى عِيسَى صَاحِبُ يَاسِينَ، وَالسَّابِقُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيٌّ

“Pendahulu ada tiga. Pendahulu yang memenuhi panggilan (seruan) Musa adalah Yusya’ bin Nun. Pendahulu yang memenuhi seruan Isa adalah orang yang disebutkan dalam surat Yasin. Pendahulu yang memenuhi seruan Muhammad adalah Ali bin Abi Thalib.”

Al-‘Uqaili meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, adh-Dhu’afa al-Kabir, demikian pula ath-Thabarani (2/111), melalui jalan al-Husain bin Abi as-Sirri al-Asqallani, dari Husain al-Asyqar, dari Sufyan bin Uyainah, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sanad riwayat ini sangat dha’if, bahkan al-Uqaili menempatkan hadits di atas dalam deretan hadits maudhu’ (palsu).

Dalam sanadnya terdapat Husain al-Asyqar. Dia adalah Ibnu Hasan al-Kufi, pengikut Syiah yang sesat. Telah lalu beberapa ucapan ulama tentang Husain al-Asyqar.

Al-Imam al-Bukhari rahimahullah berkata dalam kitab Tarikh ash-Shaghir (hlm. 2300, “Ia telah meriwayatkan hadits-hadits mungkar.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya (3/570) berkata, “Ini adalah hadits mungkar yang tidak diketahui sanadnya kecuali dari jalan Husain al-Aysqar, yang telah dikenal oleh kalangan muhadditsin sebagai pengikut Syiah. Karena itu, ditinggalkan riwayatnya.”

 

Hadits Keempat

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ مَرْفُوعاًخُلِقْتُ أَنَا وَعَلِيٌّ مِنْ نُورٍ، وَكُنَّا عَنْ يَمِينِ الْعَرْشِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ اللهُ آدَمَ بِأَلْفَيْ عَامٍ، ثُمَّ خَلَقَ اللهُ آدَمَ فَانْقَلَبْنَا فِي أَصْلَابِ الرِّجَالِ، ثُمَّ جَعَلْنَا فِي صُلْبِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، ثُمَّ شَقَّ اسْمَيْنَا مِنَ اسْمِهِ؛ فَاللهُ الْمَحْمُودُ وَأَنَا مُحَمَّدٌ، وَاللهُ الْأَعْلَى وَعَلِيٌّ عَلِيًّا

Dari Abu Dzar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku dan Ali diciptakan dari cahaya. Dahulu kami berdua berada di sebelah kanan al-‘Arsy dua ribu tahun sebelum Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam. Lalu Allah subhanahu wa ta’ala ciptakan Adam kami pun berpindah pada sulbi manusia, diletakkanlah kami pada sulbi Abdul Muththalib. Kemudian Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan nama kami dari nama-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah al-Mahmud dan aku bernama Muhammad, Allah bernama al-A’la maka ‘Ali bernama Ali.

Hadits ini di antara hadits palsu yang dibuat kaum Rafidhah. Dalam sanad hadits ini terdapat seorang Rafidhah, Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan al-Ghafiqi.

Ibnul Jauzi berkata dalam kitabnya al-Maudhu’at, “Hadits ini dipalsukan oleh Ja’far bin Ammad, dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.”

Hadits ini disebutkan juga oleh asy-Syaukani dalam al-Fawaid al-Majmu’ah (343 no. 40). Beliau berkata, “Hadits ini maudhu’, dipalsukan oleh Ja’far bin Ahmad bin Ali bin Bayan, seorang Rafidhah, pemalsu hadits.”

Ibnu ‘Adi berkata, “Huwa kadzdzab yadha’ul hadits (Dia tukang dusta dan pemalsu hadits).” (Su’alat Hamzah as-Sahmi, 190)

Ibnu Hajar berkata, “Ibnu Yunus menyebutkan rawi ini dan berkata, ‘Dia seorang Rafidhah tukang pemalsu hadits.” (Lisanul Mizan, 2/108)

 

Hadits Kelima

          وَعَنِ بْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ حُبُّ عَلِيٍّ يَأْكُلُ الذُّنُوبَ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Mencintai Ali akan memakan (menghapuskan) dosa-dosa sebagaimana api melahap kayu bakar.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir. (Tarikh Dimasyq, 52/13 no.131)

Hadits ini juga disebutkan dalam Kanzul ‘Ummal.

Asy-Syaukani mengatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh al-Khatib dari Ibnu Abbas dengan marfu’, hadits ini batil. (al-Fawaid al-Majmu’ah, 367 no. 58)

Asy-Syaikh al-Albani juga mengatakan dalam Silsilah adh-Dhaifah no. 1206, “Hadits ini batil.”

 

Hadits Keenam

وَعَنْ أَبِي بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ : إِنَّ اللهَ أَمَرَنِي بِحُبِّ أَرْبَعَةً :  وَأَخْبَرَنِي أَنَّهُ يُحِبُّهُمْ قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: عَلِيٌّ مِنْهُمْ يَقُولُ ذَلِكَ ثَلَاثاً وَأَبُو ذَرٍّ، وَسَلْمَانُ، وَالْمِقْدَادُ

Dari Abu Buraidah dari ayahnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan aku mencintai empat orang, dan mengabarkan kepadaku bahwa Dia mencintai mereka.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Siapakah mereka, wahai

Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka, Ali termasuk mereka; juga Abu Dzar, Salman, dan al-Miqdad.” (Diriwayatkan Ibnu Majah no. 149, at-Tirmidzi no. 3718, dan al-Hakim 4649).

Di dalam sanadnya ada Sulaiman bin Isa bin Najih as-Sijzi.

Ibnul Jauzi rahimahullah menukil dari Abu Hatim ar-Razi yang berkata, “Dia kadzdzab (pendusta hadits Rasul).”

Ibnu ‘Adi berkata, “Yadha’ul Hadits (Dia biasa memalsukan hadits).”

 

Hadits Ketujuh

وَعَنْ حُجْرِ بْنِ عَنْبَسٍ قَالَوَقَدْ كَانَ أَكَلَ الدَّمَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَشَهِدَ مَعَ عَلِيٍّ الْجَمَلَ وَصِفِّينَ، قَالَ: خَطَبَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ فَاطِمَةَ إِلَى رَسُولِ اللهِ : فَقَالَ النَّبِيُّ هِيَ لَكَ يَا عَلِيُّ، لَسْتَ بِدَجَّالٍ

“Dari Hujr bin ‘Anbas—dahulu dia pemakan darah di masa jahiliah, dan ia menyertai Ali dalam Perang Jamal dan Shiffin, berkata, Abu Bakr dan Umarmeminang Fatimah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam namun Rasulullah bersabda, Fathimah untukmu wahai Ali, karena engkau bukan dajjal (pendusta).”

Hadits ini maudhu’ (palsu), diriwayatkan oleh Muhammad bin Sa’d dalam ath-Thabaqat al-Kubra (8/19). Di dalam sanadnya ada Musa bin Qais Abu Muhammad al-Farra’ al-Kufi.

Ibnu Hajar berkata, “Dia memiliki laqab (julukan) ‘ushfur al-jannah, dia jujur namun tertuduh berpemahaman Syiah’.” (at-Taqrib)

Al-Uqaili berkata tentangnya, “Minal ghulat fi ar-rafdh (Dia termasuk yang sangat ekstrem dalam agama Rafidhah).” (adh-Dhu’afa, 4/164)

Ibnul Jauzi menyebutkan hadits ini dalam kitabnya al-Maudhu’at. Beliau berkata, “Hadits ini palsu, dipalsukan oleh Musa bin Qais, seorang Rafidhah ekstrem. Ia berjuluk ushfur al-jannah (burung pipit surga). Namun, ia—insya Allah—(lebih tepat dijuluki) himar annar (keledai neraka). Sungguh, dalam pujiannya kepada Ali dalam hadits ini, dia menyembunyikan celaan terhadap Abu Bakr dan Umar.”

Benar ucapan Ibnul Jauzi. Rafidhah terus mencela Abu Bakr, Umar, dan para sahabat, bahkan mengafirkan mereka. Karena itu, mereka bersembunyi di balik pengakuan dusta mencintai ahlul bait.

Dalam hadits ini mereka memuji Ali. Namun, terselip di dalamnya celaan kepada Abu Bakr dan Umar, dengan menuduh keduanya sebagai dajjal. Allahul Musta’an.


[1] Mizanul I’tidal (1/ 6)

[2] Di antara sahabat yang mereka hujat adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma. Pembelaan terhadap beliau dari hujatan Rafidhah dapat dilihat kembali pada Majalah Asy-Syariah edisi 78.

Ayat-ayat Buatan Syiah Rafidhah

Al-Ustadz Abu Muawiyah Askari bin Jamal

 “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (al-Hijr: 9)

 

Penjelasan Beberapa Mufradat Ayat

إٍنَّ نَحْنُ

Penyebutan “Kami” di sini tidak menunjukkan jamak, namun Allah ‘azza wa jalla menyebutkan dalam bentuk pengagungan terhadap diri-Nya sendiri.

الذِّكْرَ

Yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim, sebagaimana yang diterangkan oleh al-Qurthubi rahimahullah.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dhamir pada لَهُ kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana firman Allah ‘azza wa jalla,

“Dan Allah menjagamu dari manusia.” (al-Maidah: 67)

Makna yang pertama (kata ganti tersebut kembali kepada al-Qur’an) lebih sesuai, dan itu yang tampak dalam konteks ayat ini. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid 8, hlm. 246)

 

Tafsir Ayat

Al-Allamah Abdur Rahman as-Sa’di rahimahullah menjelaskan ayat ini,

“Sesungguhnya Kami menurunkan adz-dzikr,” yaitu al-Qur’an yang mengandung peringatan bagi segala masalah dan dengan dalil yang jelas; dan menjadi peringatan bagi orang yang menjadikannya sebagai peringatan.

“Dan sesungguhnya Kami yang akan menjaganya”, yaitu menjaganya saat diturunkan dan setelah diturunkan.

Pada saat diturunkan, Kami menjaganya dari pencurian berita yang dilakukan oleh setiap setan yang terkutuk. Setelah diturunkan, Allah ‘azza wa jalla menyimpannya dalam hati Rasul-Nya. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menitipkannya ke dalam hati umatnya. Allah ‘azza wa jalla memelihara lafadznya dari perubahan, baik berupa penambahan, pengurangan, maupun pengubahan makna.

Tidaklah seseorang yang melakukan perubahan makna lafadz al-Qur’an kecuali Allah ‘azza wa jalla akan bangkitkan seseorang yang akan menjelaskan antara yang haq dari yang batil. Ini adalah tanda kekuasaan Allah ‘azza wa jalla yang paling agung dan nikmat-Nya yang terbesar kepada para hamba-Nya yang mukmin. (Taisir al-Karim ar-Rahman, as-Sa’di rahimahullah)

Qatadah rahimahullah dan Tsabit al-Bunani rahimahullah mengatakan, “Allah ‘azza wa jalla menjaganya dari para setan yang hendak menambah kebatilan di dalamnya dan menghilangkan sebuah kebenaran darinya. Allah ‘azza wa jalla yang akan menjaganya sehingga al-Qur’an al-Karim senantiasa terpelihara.” (Tafsir al-Qurthubi, jilid 12 hlm. 180)

Oleh karena itu, sudah menjadi kesepakatan Ahlus Sunnah bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah kalamullah yang terjaga dan terpelihara. Tidak ada satu pun yang ditambah atau dikurangi.

Ibnu Qudamah rahimahullah berkata, “Para ulama sepakat bahwa barang siapa mengingkari satu surat, satu ayat, satu kata, atau satu huruf dalam al-Qur’an yang telah disepakati, sesungguhnya dia kafir.” (Fathu Rabbil Ibad Syarah Lum’atul I’tiqad, karya Fahd al-’Adani, hlm. 231)

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata, “Barang siapa mengingkari satu huruf dari al-Qur’an, sungguh dia telah mengkufuri seluruhnya.” (Diriwayatkan Abdur Razzaq dalam Mushannaf-nya, no. 15946)

 palsu

Syi’ah Meyakini Adanya Perubahan Al-Qur’an

Berbeda halnya dengan keyakinan agama Syi’ah tentang al-Qur’an al-Karim. Mereka justru meyakini bahwa al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kaum muslimin adalah al-Qur’an yang telah berubah. Bahkan, mereka berkeyakinan bahwa terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim tersebut berdasarkan riwayat yang mutawatir menurut versi mereka. Mereka dengan lancangnya berani membuat ayat dengan menambah lafadz yang terdapat dalam firman-Nya, lalu menisbatkannya sebagai firman Allah ‘azza wa jalla.

Berikut beberapa riwayat mereka yang menunjukkan keyakinan adanya perubahan dalam al-Qur’an al-Karim.

  • Al-Kulaini meriwayatkan dari jalur Hisyam bin Salim, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, berkata, “Sesungguhnya al-Qur’an al-Karim yang dibawa oleh Jibril ‘alaihissalam kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumlah 17.000 ayat.” (Ushul al-Kafi, Kitab Fadhlul Qur’an, Bab “an-Nawadir”, 2/134)
  • Diriwayatkan pula oleh al-Kulaini dalam al-Kafi dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah Ja’far ash-Shadiq, ia berkata, “Sesungguhnya kami memiliki mushaf Fatimah. Tahukah mereka, apa itu mushaf Fatimah?”

Aku bertanya, “Apa itu mushaf Fatimah?”

Ia menjawab, “Mushaf Fatimah lebih banyak tiga kali lipat dibandingkan al-Qur’an kalian ini. Demi Allah, tidak ada satu huruf pun seperti yang terdapat dalam al-Qur’an kalian.” (al-Kafi, 1/457)

  • Bahkan, mereka menganggap bahwa riwayat-riwayat yang menunjukkan terjadinya perubahan al-Qur’an al-Karim adalah riwayat mutawatir yang tidak dapat ditolak.

Abul Hasan al-Amili mengatakan, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir yang akan disebutkan dan berita lainnya, yaitu telah terjadi perubahan pada al-Qur’an yang ada di tangan-tangan kita sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya setelah beliau wafat menghilangkan banyak kata dan ayatnya.” (Muqaddimah kedua dalam Tafsir Mir’atul Anwar Wa Misykatul Atsar, hlm. 36)

  • Ni’matullah al-Jazairi juga berkata, “Sesungguhnya menerima pernyataan mutawatir-nya wahyu ilahi dan menetapkan bahwa seluruhnya telah turun dibawa oleh Ruh al-Amin (Jibril -pen.) akan menyebabkan ditolaknya berbagai riwayat yang masyhur, bahkan mutawatir; yang menunjukkan dengan jelas terjadinya perubahan dalam al-Qur’an baik ucapan, kata, maupun i’rab-nya. Sementara itu, para sahabat kami telah sepakat akan keabsahan dan kebenaran riwayat tersebut.” (al-Anwar an-Nu’maniyah, 2/357)
  • Bahkan, Hasyim al-Husaini al-Bahrani menegaskan adanya perubahan dalam al-Qur’an dalam mukadimah tafsirnya. Ia berkata, “Ketahuilah, kebenaran yang tidak dapat dimungkiri berdasarkan berita mutawatir berikut ini dan yang lainnya bahwa al-Qur’an yang ada di tangan kita telah berubah sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang-orang yang mengumpulkannya telah menghilangkan banyak kata dan ayatnya. Al-Qur’an yang terpelihara dari perubahan yang sesuai dengan apa yang diturunkan Allah ‘azza wa jalla adalah yang dikumpulkan oleh Ali ‘alaihissalam. Ia ‘alaihissalam menjaganya hingga sampai kepada anaknya, Hasan ‘alaihissalam, dan begitu seterusnya hingga sampai ke tangan al-Qaim (Imam Mahdi mereka, pent.); dan hari ini ada di tangannya—semoga Allah memberi shalawat kepadanya.” (Mukadimah al-Burhan, hlm. 36)
  • Lebih dari itu, dia mengatakan, “Menurut saya, kejelasan pendapat ini (yaitu pendapat adanya perubahan al-Qur’an al-Karim, pent.), setelah meneliti riwayat dan memeriksa atsar, memungkinkan untuk dihukumi bahwa keyakinan ini ialah bagian yang pasti dalam mazhab Syi’ah dan kerusakan terbesar yang ditimbulkan akibat dirampasnya kekhilafahan. Maka dari itu, perhatikanlah.” (al-Burhan, Muqaddimah Pasal ke-4, hlm. 49)
  • Bahkan, seorang yang dikenal sebagai muhaddits kaum Syi’ah, yang bernama Husain bin Muhammad an-Nuri ath-Thabarsi, menulis sebuah kitab khusus yang berjudul Fashlul Khithab fi Itsbati Tahrifi Kitab Rabbil Arbab”, artinya pencetus pernyataan yang menetapkan adanya perubahan dalam kitab Rabb seluruh rabb. Maksudnya adalah kitabullah, al-Qur’an al-Karim. Di dalamnya ia menetapkan adanya perubahan di dalam al-Qur’an al-Karim.

 

Contoh Perubahan Ayat Al-Qur’an Yang Dilakukan Oleh Syiah Rafidhah

Berikut ini beberapa contoh ayat yang diubah oleh kaum Syiah Rafidhah.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فِي وِلَايَةِ عَلِيٍّ وَوِلَايَةِ الْأَئِمَّةِ مِنْ بَعْدِهِ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيما

“Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya dalam hal kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya, sungguh dia telah menang dengan kemenangan yang besar.”

“Demikianlah diturunkan.” (al-Kafi, Jilid 2, hlm. 372)

Ayat yang benar, tidak ada tambahan “terhadap kepemimpinan Ali dan kepemimpinan para imam setelahnya”, sebagaimana yang disebutkan dalam surah al-Ahzab: 71.

  • Diriwayatkan dari Abdullah bin Sinan dari Abu Abdillah tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

وَلَقَدْ عَهِدْنَا إِلَى آدَمَ مِنْ قَبْلُ كَلِمَاتٍ فِي مُحَمَّدٍ وَعَلِيٍّ وَفَاطِمَةَ وَالْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ وَالْأَئِمَّةِ مِنْ ذُرِّيَّتِهِمْ فَنَسِيِ

“Sungguh Kami telah menjanjikan kepada Adam dari sebelumnya beberapa kalimat tentang Muhammad, Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, dan para imam setelahnya dari keturunan mereka lalu dia melupakannya.”

“Demikianlah ayat ini diturunkan kepada Muhammad.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 379)

Yang diberi tanda adalah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat Thaha ayat 115.

  • Diriwayatkan dari Jabir, Jibril ‘alaihissalam turun kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa ayat berikut,

وَإِن كُنتُمْ فِى رَيْبٍ مّمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فِي عَلِيٍّ فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مّن مِّثْلِهِ

“Jika kalian masih ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami tentang Ali, datangkanlah satu surah yang semisalnya.” ( al-Kafi, jilid 2, hlm. 381)

Yang diberi tanda ialah tambahan dari Syiah. Lihat al-Qur’an al-Karim surat al-Baqarah ayat 23.

  • Diriwayatkan dari Abu Bashir, dari Abu Abdillah q, tentang firman Allah ‘azza wa jalla,

فَلَنُذِيقَنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ بِتَرْكِهِمْ وِلاَيَةَ أمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ عَذَاباً شَدِيداً فِيْ الدُنْيا وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَسْوَأَ الَّذِى كَانُواْ يَعْمَلُونَ

“Kami akan menjadikan orang-orang kafir karena meninggalkan kepemimpinan Amirul mukminin merasakan siksaan yang pedih di dunia dan Kami akan membalas mereka dengan yang paling buruk disebabkan apa yang telah mereka amalkan.” (al-Kafi, jilid 2, hlm. 390)

Yang diberi tanda adalah tambahan pemalsuan ayat kaum Syiah. Lihat al- Qur’an al-Karim surat Fushshilat ayat 27.

  • Diriwayatkan oleh as-Sari, dari Muhammad bin Sinan, dari Abu Khalid al-Qimath, dari Humran bin A’yan; Aku mendengar Abu Abdillah ‘alaihissalam membaca,

إِنَّ للهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَءالَ إِبْرَاهِيمَ وَءَالَ عِمْرَانَ وآلَ مُحَّمَدٍ عَلَى الْعَلَمِينَ.

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim, keluarga Imran, dan keluarga Muhammad dari seluruh alam.”

Lalu ia berkata, “Demikian, demi Allah, diturunkan.” (Fashlul Khithab, hlm. 212)

  • Diriwayatkan pula dari Abu Hamzah dari Abu Ja’far, Jibril turun membawa ayat demikian,

فَأَبَى أَكْثَرُ النَّاسِ بِوِلاَيَةِ عَلِيٍّ إِلاَّ كُفُورًا.

“Mayoritas manusia enggan terhadap kepemimpinan Ali melainkan mengingkari.”

Ia berkata pula, Jibril turun membawa ayat ini demikian,

وَقُلِ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فِيْ وِلاَيَةِ عَلِيٍّ فَمَن شَآء فَلْيُؤْمِنْ وَمَن شَآء فَلْيَكْفُرْ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ آلَ مُحَمَّدٍ نَارًا

Dan katakanlah, “Kebenaran itu datangnya dari Rabb-mu tentang kepemimpinan Ali, barang siapa ingin (beriman), hendaklah ia beriman; dan barang siapa ingin (kafir) biarlah ia kafir. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang menganiaya keluarga Muhammad itu neraka.”

Abu Abdillah berkata, “Demikianlah ayat ini turun.” (al-Kafi, 2/396)

Masih banyak lagi tuduhan yang disebutkan dalam kitab mereka bahwa telah terjadi banyak perubahan ayat al-Qur’an al-Karim.

Bahkan, mereka mengklaim adanya sebuah surat yang disebut surat al-Wilayah, yang menerangkan tentang kepemimpinan Ali radhiallahu ‘anhu. Bunyinya sebagai berikut.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا آمِنُوا بِالنَّبِيِّ وَالوَلِيِّ اللَّذَيْنِ بَعَثْنَاهُمَا يَهْدِيَانِكُمْ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيم.ِ نَبِيٌّ وَوَلِيٌّ بَعْضُهُمَا مِنْ بَعْضٍ وَأَنَا الْعَلِيمُ الْخَبِيرُ. إِنَّ الَّذِينَ يُوفُونَ بِعَهْدِ اللهِ لَهُمْ جَنَّاتُ النَّعِيم.ِ وَالَّذِينَ إِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا كَانُو بِآيَاتِنَا مُكَذِّبُونَ. إِنَّ لَهُمْ فِي جَهَنَّمَ مَقَاماً عَظِيماً إِذَا نُودِيَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَيْنَ الظَّالِمُونَ الْمُكَذِّبُونَ لِلْمُرْسَلِينَ. مَا خَلَفْتُهُمُ الْمُرْسَلِينَ إِلاَّ بِالْحَقِّ وَمَا كَانَ اللهُ لِيُظْهِرَهُمْ إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَعَلِيٌّ مِنَ الشَّاهِدِينَ.

“Wahai orang-orang yang beriman kepada Nabi dan wali yang Kami mengutus keduanya. Keduanya membimbing kalian menuju jalan yang lurus. Nabi dan Wali sebagian mereka terhadap sebagian yang lain, dan Aku adalah yang Maha berilmu dan Maha Mengabarkan.

Sesungguhnya orang-orang yang menunaikan janji Allah, bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Dan orang-orang yang apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami, maka mereka terhadap ayat-ayat Kami mendustakannya. Sesungguhnya bagi mereka di dalam jahannam mendapatkan tempat yang besar.

 Jika diseru kepada mereka pada hari kiamat, ‘Di manakah orang-orang zalim yang mendustakan para rasul,’ tidaklah Aku menggantikan mereka para rasul melainkan dengan kebenaran dan tidaklah Allah menampakkan mereka hingga waktu yang dekat, dan bertasbihlah memuji Rabb-mu dan Ali termasuk yang menjadi saksi.” (Fashlul Khithab, hlm.180)

 

Begitulah, mereka mengarang dan membuat ayat dan surat yang datang dari kantong mereka sendiri, tanpa ada kejelasan sanadnya yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh mirip ayat dan surat palsu buatan Syiah dengan ayat dan surat yang dibuat oleh Musailamah al-Kadzdzab yang mengaku sebagai utusan Allah.

Disebutkan oleh para ahli sejarah bahwa Amr bin Ash pernah mendatangi Musailamah pada masa jahiliah. Musailamah adalah sahabat Amr pada masa jahiliah, dan ketika itu Amr belum masuk Islam.

Musailamah berkata kepada Amr, “Celaka engkau, wahai Amr! Apa yang telah diturunkan kepada sahabat kalian -maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam-pada masa ini?”

Amr menjawab, “Sungguh, aku mendengar para sahabatnya membaca surat yang agung dan pendek.”

Ia bertanya, “Apa itu?”

Amr kemudian membaca,

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Musailamah berpikir sesaat lalu berkata, “Telah diturunkan kepadaku yang semisalnya.

Amr radhiallahu ‘anhu bertanya, “Apa itu?

Musailamah membaca,

يَا وَبْرُ، يَا وَبْرُ، إِنَّمَا أَنْتَ أُذُنَانِ وَصَدْرٌ وَسَائِرُكَ حَقْرٌ وَنَقْرٌ

“Hai marmut, hai marmut, sesungguhnya engkau hanyalah dua telinga dan dada, selainnya hanyalah kehinaan dan paruh.”

“Bagaimana menurutmu, hai Amr?”

Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, sungguh engkau mengetahui bahwa aku benar-benar tahu bahwa sesungguhnya engkau berdusta.” (Tafsir Ibnu Katsir, 7/345)

Sungguh benar firman Allah ‘azza wa jalla,

Dan siapakah yang lebih lalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata, “Telah diwahyukan kepadaku.” Padahal tidak ada diwahyukan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.”

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata), “Keluarkanlah nyawamu.”

Pada hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (al-An’am: 93)

Firman-Nya, “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak mendapat keberuntungan.” (al-An’am: 21)

Sesungguhnya Syiah termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Allah ‘azza wa jalla ini.

Wallahul Muwaffiq

Trik dan Tipu Daya Syiah di Indonesia

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

syiah-berdarah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Rafidhah (Syiah) adalah kelompok yang tidak memiliki andil apa pun selain menghancurkan Islam, memutuskan ikatannya, dan merusak kaidah-kaidahnya.” (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah)

Sejarah telah mencatat bahwa kelompok Syiah begitu fanatik kepada Persia yang memusuhi bangsa Arab. Oleh karena itu, sangat besar kebencian mereka kepada sahabat Umar Ibnu Khaththab radhiallahu ‘anhu. Sebab, di masa kekhalifahannya negara Persia itu ditaklukkan. Bahkan, hingga hari ini Syiah selalu merayakan hari-hari besar yang merupakan budaya Persia, seperti Norouz atau Nowruz.

Kelompok Syiah telah banyak merugikan Islam. Mereka benci luar biasa kepada Ahlus Sunnah. Cukuplah menjadi bukti dan diketahui bahwa tiga ratus ribu jiwa dari kalangan Ahlus Sunnah yang ada di Teheran, ibukota Iran, tidak memiliki satu pun masjid.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Sesungguhnya penyebab utama fitnah (kejelekan) dan bencana itu adalah Syiah dan yang bergabung bersamanya. Mayoritas pedang yang terhunus di dalam (sejarah) Islam adalah dari arah mereka. Kezindiqan (kemunafikan) telah menyelimuti mereka. Kelompok Syiah memberikan loyalitas kepada musuh agama ini—musuh agama yang diketahui oleh setiap orang—yaitu Yahudi, Nasrani, dan musyrikin. Mereka malah memusuhi wali-wali Allah subhanahu wa ta’ala, orang-orang pilihan yang menganut agama ini dan orang-orang yang bertakwa….

Selain itu, kelompok Syiah mempunyai andil besar ketika dahulu orang-orang Nasrani menguasai Baitul Maqdis, hingga akhirnya kaum muslimin dapat meraihnya kembali.” (Minhajus Sunnah)

Demi menguatkan eksistensinya di tengah-tengah kaum muslimin, dan agar dianggap sebagai salah satu mazhab yang diterima di dalam Islam, Syiah melakukan berbagai makar dan tipu daya. Salah satunya adalah dengan membuka kesempatan bagi para pemuda untuk melanjutkan studinya ke Qum, Iran. Bahkan, Pemerintah Iran menyediakan beasiswa untuk pelajar Indonesia.

Pada 15 April 2005, website nuonline.com memberitakan bahwa Pemerintah Iran menawarkan beasiswa kepada NU. Bahkan, telah ada MoU ilegal yang ditandatangani oleh oknum petinggi NU. Namun, alhamdulillah, pada 2011 Dewan Syuriah PBNU membatalkan MoU itu dengan alasan tidak ada izin dari Dewan Syuriah terlebih dahulu.

Selain pemberian beasiswa, ada beberapa trik dan strategi yang dijalankan dalam dakwah Syiah di Indonesia, antara lain:

 

  1. Mengedepankan tema persatuan atau ukhuwah Islamiah.

Dalam kajian-kajian, taklim, buku-buku, dan orasi, Syiah selalu tidak meninggalkan tema ini. Haidar Bagir misalnya, salah seorang pentolan Syiah, pendiri penerbitan buku Syiah (Mizan), menulis tanggapan terhadap orang-orang yang mengkritik Syiah di Indonesia, “Orang-orang yang pandangannya didengar oleh para pengikut Syiah di negeri ini, hendaknya mereka meyakinkan para pengikutnya untuk dapat membawa diri dengan sebaik-baiknya serta mengutamakan persaudaraan dan toleransi terhadap saudara-saudaranya yang merupakan mayoritas di negeri ini.” (http://insistnet.com/menagih-janji-kaum-Syiah/, diakses pada tanggal 03 Maret 2014)

Agar perkembangan Syiah berjalan mulus, Husein al-Habsyi juga ikut mengampanyekan kerukunan umat. Ketika ditanya oleh seorang mahasiswa di Yogyakarta, Husein pernah mengatakan, “Menjawab pertanyaan saudara ini, saya kira mengafirkan sesama muslim, bukan saja tidak dibenarkan oleh syariat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi juga tidak pantas dan tidak menguntungkan, baik di pihak Syi’ah maupun Ahlus Sunnah, bahkan bisa melemahkan keduanya. Siapa di antara kita kaum muslimin—apalagi saudara mahasiswa ini—yang belum mendengar tentang kristenisasi yang galak dan dahsyat seperti sekarang ini. Mereka sebelum ini sudah bersatu dan segala aliran; Katolik, Protestan, Advent, ditambah dengan kaum musyrikin, Zionis dan Yahudi, mereka semua sudah bersatu, sedangkan kaum Nasrani bergabung dan satu dewan gereja….”

Husein juga mengatakan, “Sedangkan kita—maaf—secara tidak sadar membantu mereka mengeluarkan saudara-saudara dan generasi kita yang sekarang ini dari umat dan agama Islam. Jadi, mereka akan mudah mengkristenkan kita, sedangkan kita mengkafirkan saudara kita sendiri. Adakah fanatisme yang lebih berat daripada ini? Kita sekarang ini tidak perlu Syiah atau Sunnah menjadi bahan gaduh di antara kita, kaum muslimin. Kita perlu Islam yang bersumberkan al-Qur’an dan al-Hadits diterapkan pada diri kita. Kita memerlukan ukhuwah, memerlukan pengumpulan dana, serta seluruh masyarakat dan organinasi Islam untuk menebus jutaan pemuda muslim yang sekarang di ambang pintu Nasrani untuk dikristenkan.”

 

  1. Menampilkan pustaka atau tokoh Syiah dengan wajah Sunni.

Prof. Dr. Muhammad Baharun menulis, kitab-kitab seperti Muruj al-Dzahabi oleh Ali bin Husein al-Masoudi, Kifayat al-Thalib fi Manaqib Ali bin Abi Thalib, dan al-Bayan fi al-Akhbar Shaib al-Zaman oleh Abu Abdillah Fakhruddin Muhammad bin Yusuf al-Kanji, Syarh Nahj al-Balaghah oleh Ibnu Abi al-Hadid, Syawahid al-Tanzil oleh al-Hakim al-Kaskani, dan Yanabi’ al-Mawaddah oleh Sulaiman bin Ibrahim al-Qanduzi, adalah buku-buku Syiah. Pengarangnya mengaku Sunni agar bukunya dapat diakses oleh pengikut Ahlus Sunnah wal Jamaah.

Kerap kali dijumpai, pengikut Syiah menolak mengaku sebagai Syi’i. Akan tetapi, terkadang mereka lebih suka disebut pengikut mazhab Ahlu Bait daripada pengikut Syiah. Beberapa acara publik terkadang menampilkan tokoh yang tidak memiliki kapasitas, namun diminta untuk berbicara tentang ukhuwah Sunnah-Syiah. Hal ini adalah taktik pengelabuan untuk menutupi wajah Syiah yang sesungguhnya.

 

  1. Memberikan imej netral dan melakukan pendekatan.

Hal ini dilakukan di antaranya melalui pendekatan akhlak, memberi jasa bantuan dana, serta janji-janji kerjasama apabila umat bersedia bergabung ke dalam institusi tertentu. Kini Syiah menggerakkan dunia pendidikan, menyediakan dan menyelenggarakan training-training metode pendidikan. Dengan dukungan aktivis liberal, digulirkan wacana Syiah dan Ahlus Sunnah sama-sama, tidak boleh menyalahkan Syiah. Wacana yang dikedepankan adalah Syiah itu sama-sama muslim. Perbedaan antara Syiah dan Ahlus Sunnah sebatas perbedaan ijtihad politik.

Ketika muncul pro-kontra terkait berdirinya Majelis Ukhuwah Sunni-Syiah Indonesia pada 17 Juli 2011, Jalaluddin Rakhmat mengatakan, “Masalah ajaran itu masing-masing. Lakum dinukum wa liya din, bagimu agamamu bagiku agamaku. Ingat menjalin ukhuwah Islamiah adalah perintah Allah subhanahu wa ta’ala dalam al-Qur’an.”

Dalam kesempatan lain, ia mengatakan, “Bila ada yang pro, syukurilah. Kalau ada yang kontra, jangan jawab dengan permusuhan, namun dengan amal shalih.” (http://news.detik.com/read/2011/07/17/172951/1682998/486/1/majelis-sunni-Syiah-dideklarasikan-di-jawa-barat)

 

  1. Mengampanyekan keterbukaan pemikiran.

Suatu hari, Jalaluddin Rakhmat pernah ditanya tentang filosofi di balik berdirinya Yayasan Muthahhari, yayasan yang menaungi SMU Plus Muthahhari, Bandung.

Waktu itu ia menjawab, “Yayasan Muthahhari tidak didirikan untuk menyebarkan Syiah dan sampai sekarang lembaga ini tidak menyebarkan Syiah. Di situ ada SMU. Mereka belajar fikih empat mazhab (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi). Mereka tidak mempelajari fikih Syiah secara khusus. Dari Muthahhari juga keluar jurnal al-Hikmah, yang banyak menerjemahkan pikiran-pikiran Syi’ah. Tetapi, sekali lagi hanya bersifat pemikiran saja, fikihnya tidak ada. Belakangan al-Hikmah sedikit menampilkan pemikiran Syiah. Malah lebih banyak menampilkan pemikiran-pemikiran kalangan orientalis. Sehingga Yayasan Muthahhari, dengan melihat isi al-Hikmah seperti itu, layaklah disebut sebagai ‘agen zionisme Barat’.

Jadi, mungkin lebih layak Muthahhari ketimbang Paramadina atau Ulumul Qur’an. Jadi, itu yang pertama: Muthahhari tidak didirikan untuk menjadi markas Syi’ah. Lalu, kalau begitu, mengapa diambil nama Muthahhari? Itu karena tiga pertimbangan.

Pertama, Muthahhari itu seorang pemikir Syiah yang sangat non-sectarian, yang sangat terbuka. Ia sangat apresiatif terhadap pemikiran Sunni. Ia tidak pernah menyerang Sunni. Ia lebih banyak belajar dari Sunni. Karena itu, kita ambil tokoh Muthahhari sebagai tokoh yang bersikap non-sectarian, terbuka terhadap berbagai pemikiran, bukan karena Syi’ahnya.

Kedua, Muthahhari itu orang yang dibesarkan dalam sistem pendidikan Islam tradisional, tetapi setidak-tidaknya cukup well informed tentang khazanah pemikiran Barat. Ia menjembatani dikotomi antara intelektual dan ulama. Kita pilih ia, antara lain karena pertimbangan itu, bukan karena Syi’ah. Karena misi Yayasan Muthahhari yang kedua adalah menjembatani antara intelektual dan ulama. Di Indonesia ini banyak cendekiawan yang menulis tentang Islam, tetapi tidak punya dasar dan tradisi Islam tradisional, sebagaimana juga banyak ulama Islam tradisional yang tidak mempunyai wawasan kemodernan. Muthahhari mencerminkan keduanya.”

 

5 . Mendekati NU dan Muhammadiyah sebagai backing.

Di Bandung, dua organisasi massa Islam terbesar di Indonesia itu menolak MUI mengeluarkan fatwa sesat Syiah. Sebuah website Syiah pernah memuat berita berikut, “Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Abdul Muthi, menolak adanya fatwa sesat terhadap Syiah dari lembaga keagamaan mana pun di Indonesia, termasuk Majelis Ulama Indonesia. Menurut dia, fatwa sesat dari MUI di sejumlah daerah, seperti Jawa Timur dan Sulawesi Selatan, terbukti menjadi alat melegitimasikan kekerasan terhadap pengikut Syiah dan memicu konflik horizontal antar umat Islam. ‘Fatwa dari mana pun harus tidak untuk mengkafirkan dan menyesatkan,’ ujar Muthi kepada Tempo, Kamis, 19 Desember 2013.

Muthi menanggapi desakan sebagian pihak yang mendesak MUI DIY mengeluarkan fatwa sesat terhadap aliran Syiah di Yogyakarta. Pihak tersebut mengklaim telah mencatat 10 organisasi berhaluan Syiah di DIY.

Menurut Muthi, fatwa sesat itu berpotensi besar menimbulkan persoalan kebangsaan serius di Indonesia. Lembaga seperti MUI di daerah mana pun sebaiknya tidak lagi mengeluarkan fatwa penyesatan, khususnya untuk Syiah. Alasannya, hal itu memperbesar konflik antar umat Islam. ‘Umat Islam sudah mengalami banyak situasi sulit dan persoalan, jangan ditambah dengan masalah-masalah seperti ini,’ ujar dia. Dia menyarankan MUI Pusat maupun daerah menghindari fatwa semacam pengadil kebenaran atau kesesatan akidah dan keyakinan setiap kelompok umat Islam mana pun.

Sebaliknya, dia menambahkan, MUI mengambil posisi tegas untuk memediasi perbedaan dan pertentangan pendapat antarorganisasi Islam di Indonesia. ‘MUI harus berperan sebagai pemersatu umat Islam,’ kata Muthi. Muthi tidak sepakat dengan pendapat pihak tersebut mengenai salah satu alasan desakannya, yakni buku terbitan MUI Pusat yang berjudul Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia. Menurut dia, buku itu keluar justru sebagai pernyataan sikap MUI Pusat untuk menolak memberikan fatwa penyesatan ke Syiah Indonesia. ‘Umat Islam harus bisa memberikan sumbangan konstruktif untuk Indonesia,’ kata dia.

Sikap serupa muncul dari Pengurus Wilayah NU Daerah Istimewa Yogyakarta. Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (NU) Daerah Istimewa Yogyakarta, KH. Asyhari Abta, menyatakan MUI DIY tidak perlu menggubris permintaan pihak tersebut.

Kiai dari Pesantren Yayasan Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta ini menganggap fatwa sesat malah bisa memicu konflik antarkelompok berbeda paham agama. “Bisa memperuncing perbedaan dan memicu tabrakan antarkelompok,” ujar dia.

Asyhari mengatakan, sekalipun MUI DIY menemukan ada indikasi penyimpangan upaya maksimal hanya perlu dilakukan dengan dialog dan nasihat. Penyesatan pada ajaran malah bisa mendorong tudingan sesat ke kelompok-kelompok lain. “Sesat atau tidak sesat itu keputusannya di Allah Subhanahu Wataala,” ujar dia.

Segala trik, makar, dan tipudaya Syiah ini tentu tidak lepas dari keyakinan para penganut Syiah tentang taqiyyah. Mereka meyakini bahwa sembilan puluh persen persoalan agama ini ada dalam taqiyyah. Tidak ada agama bagi siapa yang tidak ber-taqiyyah. Taqiyyah itu dalam segala sesuatu kecuali yang berhubungan dengan minuman anggur dan mengusap dua khuf.

Al-Kulaini dalam Ushulul Kafi—sebuah kitab hadits milik Syiah—mengutip riwayat dari Abu Abdillah, ia berkata, “Jagalah agama kalian dan halangi diri kalian dengan taqiyyah, karena tidak ada keimanan bagi yang tidak bertaqiyyah.” (Ushul al-Kafi, hlm. 482—483)

Taqiyyah sendiri bermakna mengatakan atau mengerjakan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diyakini dengan tujuan menjaga bahaya yang mengancam diri dan harta atau demi menjaga kemuliaan. (asy-Syi’ah fi al-Mizan, hlm. 47)

Bahkan, Syiah mengaku bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan taqiyyah ketika meninggalnya Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh munafikin. Syiah mengklaim bahwa Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menyalati jenazahnya, lalu Umar berkata, “Bukankah Allah subhanahu wa ta’ala telah melarangmu untuk berdiri di kuburan orang munafik ini?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Celaka kau, Umar, apa kamu tahu apa yang aku ucapkan? Sesungguhnya aku katakan, ‘Ya Allah, nyalakanlah api di bagian perutnya, penuhilah kuburannya dengan api dan bagian dinding-dindingnya dengan api’.” (Furu’ al-Kafi, Kitabul Jana’iz, hlm. 188)

Lihatlah, bagaimana lancangnya dan beraninya Syiah melakukan kedustaan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Intinya, Syiah menganggap bahwa taqiyyah adalah kewajiban, ajaran Syiah tidak akan tegak kecuali dengannya. Mereka menjadikan taqiyyah sebagai fondasinya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Mereka mengamalkan taqiyyah terkhusus ketika melalui situasi-situasi yang sulit. Maka dari itu, waspadalah selalu dari kelompok Syiah, wahai kaum muslimin!

Bagaimana pun besarnya makar dan tipu daya Syiah terhadap Islam, Allah subhanahu wa ta’ala akan tetap menjaganya. Oleh karena itu, hal ini jangan menjadikan kaum muslimin ragu terhadap agamanya. Yakinlah bahwa Allah subhanahu wa ta’ala akan menghancurkan, membongkar, dan membalas makar mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya itu.” (al-Anfal: 30)

Dan di kota itu ada sembilan orang laki-laki yang berbuat kerusakan di bumi, mereka tidak melakukan perbaikan. Mereka berkata, “Bersumpahlah kamu dengan (nama) Allah, bahwa kita pasti akan menyerang dia bersama keluarganya pada malam hari, kemudian kita akan mengatakan kepada ahli warisnya (bahwa) kita tidak menyaksikan kebinasaan keluarganya itu, dan sungguh, kita orang yang benar.” Dan mereka membuat tipu daya, dan Kami pun menyusun tipu daya, sedang mereka tidak menyadari. Maka perhatikanlah bagaimana akibat dari tipu daya mereka, bahwa Kami membinasakan mereka dan kaum mereka semuanya. Maka itulah rumah-rumah mereka yang runtuh karena kezaliman mereka. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mengetahui.” (an-Naml: 48—52)

Mereka Membela Syiah

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

syiah-sesat

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.

Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA; Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi; Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin; Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA; pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri. Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII.

Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri. Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.[1]

Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”

Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.[2]

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.

Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam[3].” (cet. 1 hlm. 265)

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.

Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.

Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr.

Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.

Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.

Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.

Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat g, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g.  Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu. Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)


[1] Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)

[2] Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.

Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)

[3] Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)

Pendekatan Sunni Syiah di Indonesia

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

Bright-mixed-colors-bright-colors

Salah satu bentuk gencarnya Syiah mengampanyekan pahamnya sekaligus usaha mereka melegalisasi keyakinannya adalah melalui seruan Taqrib Baina Sunni wa Syi’i (Pendekatan Antara Sunni dan Syi’ah). Sebenarnya gagasan ini adalah misi lama dari Khomeini, dan setelah dua puluh tahun meninggalnya, pendekatan antara Sunni-Syiah terus berjalan.

Sebelumnya, di Mesir upaya taqrib ini telah digagas. Sebuah lembaga yang bernama “Dar al-Taqrib bayna al-Madzahib al-Islamiyah”, didirikan oleh Mahmud Syaltut, Wakil Rektor Universitas al-Azhar pada 1957 M. Lembaga ini adalah sebuah institusi yang berusaha mewujudkan pendekatan dan persaudaraan serta menghilangkan perselisihan dan perpecahan yang ada antara Ahlus Sunnah dan Syiah. Lembaga ini juga memiliki misi memperkuat hubungan antara mazhab-mazhab Islam; sebuah pusat pergerakan yang pada akhirnya menjadi dasar pikiran berdirinya “Majma-e Jahoni-e Taghrib-e Mazaheb-e Islami” (Forum Internal Pendekatan Mazhab-Mazhab Islam) di Iran. Selain Mahmud Syaltut, Muhammad Mustafa Maraghi, Ayatullah Burujerdi, Hasan al-Banna juga menjadi penggagas ide pendekatan antara Sunni-Syiah.

Senin, 5 Nopember 2012, Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar bekerjasama dengan Kedutaan Besar Republik Iran, mengadakan seminar internasional dengan tema “Persatuan Umat Islam Dunia (International Seminar of Islamic World Unity)” di Auditorium Al-Jibra Kampus II UMI.

Yang menjadi narasumber pada seminar tersebut adalah pihak pemerintah diwakili oleh Wakil Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA; Nahdatul Ulama (NU) diwakili oleh mantan ketuanya selama dua periode, Dr. K.H. Hasyim Muzadi; Muhammadiyyah diwakili oleh Ketua Umum Muhammadiyyah saat ini, Dr. Din Syamsuddin; Majelis Ulama Pusat, diwakili oleh sang motor penggerak persaudaraan Sunni-Syiah, Prof. Dr. Umar Shihab, MA; pihak Syiah sendiri diwakili oleh Sekjen Majma’ Taqrib Bayna Madzahib, Muhammad Ali Taskhiri, Maulawi Ishak Madani, dan Dr. Mazaheri. Seminar tersebut juga dihadiri oleh Dubes Iran untuk Indonesia, Mahmoud Farazandeh. Tampil pula Prof. Dr. Ghalib MA, Wakil Koordinator Kopertis Wilayah VIII.

Nama-nama yang tercantum di atas secara umum menyerukan persatuan sebagaimana tema seminar itu sendiri. Dubes Iran dalam sambutannya mengajak para peserta untuk bercermin pada ritual haji. Para hujjaj mengenakan baju dengan warna yang sama, shalat di mesjid yang sama, menghadap pada kiblat yang sama, serta bersama-sama berthawaf di sekeliling Ka’bah. Inilah contoh konkret bahwa pada dasarnya umat Islam itu memiliki kesamaan yang sangat esensial.[1]

Adapun Wamenag RI, Nasaruddin Umar, mengutip sebuah perkataan, “Orang yang sering menyalahkan orang lain adalah orang yang sedang belajar, tetapi orang yang tidak mau menyalahkan orang lain adalah orang yang telah khatam belajar.”

Adapun Prof. Din Syamsuddin, memandang pentingnya persatuan Sunni-Syiah, karena umat Islam saat ini berada dalam kubang keterbelakangan, hanya sibuk menyalahkan antara satu dan yang lain, serta mengklaim hanya dirinyalah yang benar lalu tidak mau menerima kebenaran orang lain. Orang-orang seperti ini, menurut Ketua Muhammadiyyah ini, nanti akan menjadi orang kecele di surga.[2]

Pada Konferensi Islam Sedunia yang berlangsung pada 4—6 Mei 2008 lalu di Teheran, yang dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai belahan dunia, Din Syamsuddin yang berbicara pada sesi pertama bersama enam tokoh lainnya, menegaskan bahwa antara Sunni dan Syiah ada perbedaan tetapi hanya pada wilayah cabang (furu’iyat), tidak pada wilayah dasar agama (akidah). Keduanya berpegang pada akidah Islamiah yang sama, walau ada perbedaan derajat penghormatan terhadap Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Oleh karena itu, lanjutnya, kedua kelompok harus terus melakukan dialog dan pendekatan. Seandainya tidak dicapai titik temu, perlu dikembangkan sikap tasamuh atau toleransi.

Tokoh lain yang tidak boleh dilupakan, yang begitu semangat menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah, adalah Quraish Shihab. Dalam bukunya yang berjudul Sunni-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?, ia mengatakan, “Kesamaan-kesamaan yang terdapat pada dua mazhab ini berlipat ganda dibandingkan dengan perbedaan-perbedaan dan sebab-sebabnya. Perbedaan antara kedua mazhab, di mana pun ditemukan adalah perbedaan cara pandang dan penafsiran, bukan perbedaan dalam hal ushul (prinsip-prinsip dasar keimanan), tidak juga dalam rukun-rukun Islam[3].” (cet. 1 hlm. 265)

Sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa Islam telah merumuskan jalan kepada umatnya untuk membangun persatuan dan kesatuannya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (Ali Imran: 103)

Ayat ini adalah perintah untuk berpegang teguh kepada tali Allah subhanahu wa ta’ala, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah, serta bersatu di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala. Tidaklah terjadi perpecahan dan perbedaan melainkan karena jauh dari pemahaman atau keyakinan ini.

Bahkan, Allah subhanahu wa ta’ala telah menjelaskan bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah harus dijadikan sandaran oleh umat Islam ketika terjadi perselisihan dan perbedaan cara pandang atau penafsiran. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan/ulama) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Hal itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (an-Nisa: 59)

Akan tetapi, metode ini tentu hanya akan berlaku bagi penganut Islam yang sesungguhnya, yang berjalan di atas petunjuk Allah subhanahu wa ta’ala.

Adapun orang yang mengaku beragama Islam padahal sejatinya musuh Islam, maka wajib dibongkar keadaannya, agar umat Islam tahu tentang permusuhannya terhadap Islam, dan tidak ada celah baginya untuk menempuh metode ini.

Sunni atau Sunnah dan Syiah atau tepatnya Rafidhah, adalah dua kutub yang berlawanan, dua kelompok yang berbeda dan dua ideologi yang bertentangan. Antara keduanya tidak akan ada titik temu.

Mazhab Ahlus Sunnah berdiri di atas keyakinan mengutamakan para sahabat secara umum, dan mengutamakan sahabat Abu Bakr dan Umar atas seluruh umat, serta meyakini bahwa khalifah setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abu Bakr.

Begitupun dalam soal tauhid, mazhab mereka adalah beribadah hanya kepada Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang maksum (terjaga dari kesalahan) selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada yang maksum dari umat ini selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun Rafidhah, mazhabnya berdiri di atas kebencian kepada para sahabat, bahkan memvonis mereka semua sebagai orang fasik dan kafir, kecuali beberapa orang saja.

Maka dari itu, seruan pendekatan antara Sunni-Syiah, atau Sunnah dan Rafidhah, menyerupai seruan pendekatan antara Nasrani dan Islam. Sudah pasti, kekafiran dan keislaman adalah dua hal yang berlawanan, tidak akan bersama. Demikian pula halnya antara sunnah dan bid’ah.

Kelompok Rafidhah adalah kelompok yang paling jelek di tengah-tengah umat ini. Di samping prinsip-prinsip dasarnya adalah kekufuran, kelompok ini juga diwarnai oleh prinsip-prinsip dasar Mu’tazilah dan Tasawuf, yaitu praktik syirik di kuburan. Kelompok Rafidhah dibangun di atas dasar keyakinan ekstrem kepada ulama dan imam-imamnya. Mereka membangun kubah di atas kuburan-kuburannya dan melakukan ritual haji ke kuburan-kuburannya, persis seperti ritual haji ke Baitullah al-Haram.

Maka dari itu, yang menyuarakan pendekatan antara Sunnah dan Syiah, boleh jadi tidak mengetahui hakikat kedua mazhab itu, atau berpura-pura tidak tahu dan bodoh. Umumnya, orang yang menyuarakan pendekatan Sunni-Syiah itu membuat pengaburan, penipuan, dan pembodohan. Apabila ada dari kalangan Sunni yang melakukannya, mereka adalah orang-orang yang tertipu. Ia mengira bahwa perselisihan dan perbedaan antara Sunnah dan Syiah layaknya perbedaan antara mazhab-mazhab fikih, seperti Hambali, Syafi’i, Maliki, dan Hanafi.

Asy-Syaikh al-Allamah Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah berkata, “Pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah adalah hal yang tidak mungkin karena akidah yang berbeda. Akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah mentauhidkan Allah subhanahu wa ta’ala dan mengikhlaskan ibadah hanya untuk Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada sesuatu pun yang diibadahi bersama Allah subhanahu wa ta’ala, baik malaikat yang terdekat maupun nabi yang diutus, dan meyakini bahwa hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang mengetahui perkara gaib.

Termasuk akidah Ahlus Sunnah adalah mencintai para sahabat g, dan meyakini bahwa mereka makhluk yang paling baik setelah para nabi, dan yang paling baik di antara mereka adalah Abu Bakr ash-Shiddiq, kemudian Umar, kemudian Utsman, kemudian Ali g.  Adapun Rafidhah, menyelisihi semua itu. Jadi, tidak mungkin menyatukan keduanya. Sebagaimana tidak mungkin menyatukan antara Yahudi dan Nasrani, musyrikin dan Ahlus Sunnah, maka demikian pula tidak mungkin adanya pendekatan antara Rafidhah dan Ahlus Sunnah, karena perbedaan akidah seperti yang telah dijelaskan di atas.” (Majmu’ul Fatawa Ibnu Baz)


[1] Sesungguhnya, prinsip yang benar dalam menilai antara sesuatu dan yang lain bukan melihat dari sisi kesamaannya. Jika demikian, antara Islam dan Yahudi pun ada kesamaan. Akan tetapi, kita justru melihat kepada perbedaan-perbedaan yang mendasar. Dan antara Sunnah dan Syiah terdapat perbedaan mendasar yang sangat banyak,. Rukun Islam dan dan rukun iman pun sudah berbeda. (-ed.)

[2] Prinsip mengkritik sesuatu yang keliru adalah prinsip yang benar menurut agama dan akal sehat, dan ini disepakati oleh semua orang yang berakal. Sebab, tanpa kritik ini, semua yang salah bisa dianggap benar.

Pernyataan di atas sangat berbahaya dalam bidang apapun, terlebih lagi dalam hal agama. (-ed.)

[3] Ucapan ini jelas keliru. Sebab, rukun-rukun Islam menurut Syiah berbeda dengan rukun-rukun Islam menurut kaum muslimin yang lain. LIhat Rubrik Kajian Utama, Asy Syariah edisi 092, “Syiah dan Imamah”. (-ed.)

Syiah di Indonesia

Al-Ustadz Abu Hamzah Yusuf

bahaya-syiah

Bermula dari kepulangan Khomeini ke Iran pada 1 Februari 1978 dari pengasingannya di Paris, Khomeini langsung menyerukan penggulingan Perdana Menteri Shapour Bachtiar, yang menjadi kepanjangan tangan Shah Iran. Khomeini seakan-akan menjadi antitesa dari rezim Shah Iran yang disokong oleh Amerika Serikat. Ia seolah menjadi tokoh anti-Amerika dan Barat.

Karena itu, banyak kalangan muda di dunia Islam yang tertindas oleh rezim-rezim yang menjadi kaki tangan Amerika Serikat dan Barat, menemukan bentuknya yang baru, dan sosok Khomeini sepertinya menjadi pahlawan mereka. Kemudian dengan penuh semangat mereka mengidentikkan diri mereka ke dalam revolusi “Islam” Iran ala Khomeini. Inilah awal masuknya pengaruh Iran ke dunia Islam.

Sejatinya, revolusi “Islam” Iran itu tidak lain hanyalah revolusi kaum Syiah yang ingin meluaskan pengaruhnya ke dunia Islam sehingga banyak muncul kekuatan politik baru yang bercorak ideologi Syiah.

Sejarah Syiah di Indonesia memiliki alur yang sangat abu-abu. Banyak sekali klaim-klaim sejarah yang dimotori oleh kaum Syiah sendiri. Sampai hari ini, ada beberapa pihak yang menyimpulkan bahwa Syiah masuk ke Indonesia pada abad ke-12 Masehi, dibawa oleh bangsa Persia. Akan tetapi, hal ini kemudian dianulir oleh Syiah.

Salah seorang tokoh Syiah, Jalaluddin Rakhmat, ketika ditanya tentang kapan kali pertama Syiah masuk Indonesia, menjawab, “Tidak ada yang tahu pasti karena tidak pernah ada sejarah yang mencatatnya. Tapi saya duga, Islam yang pertama kali masuk ke Aceh sekitar abad ke-8 atau waktu Dinasti Abbasiyah. Ketika itu orang Hadramaut dari Arab masuk ke Aceh untuk berdakwah. Tapi mereka tidak menunjukkan dirinya Syiah, melainkan bertaqiyyah (berpura-pura) menjadi pengikut mazhab Syafi’i.” (www.tempo.co)

Demikianlah klaim Jalaluddin Rakhmat. Tentu, ini hanyalah sebuah klaim yang tidak bisa kita terima begitu saja. Sebab, orang-orang Hadramaut lebih dikenal sebagai penganut mazhab Syafi’i dalam hal fikih dan berpemahaman sufi.

Sebenarnya, pada 1976 di Indonesia telah berdiri sebuah yayasan yang menjadi corong Syiah, yaitu Yayasan YAPI (Yayasan Pesantren Islam di Bangil) yang didirikan oleh Husein al-Habsyi. Santri pada pesantren ini kemudian dituntut untuk mengkaji akidah Syiah secara mendalam. Lulusan pesantren ini pun banyak memotori dakwah Syiah di beberapa tempat di Indonesia dengan “visi” terselubung.

Sementara itu, 1979 adalah tahun terjadinya revolusi Iran. Perlu dicatat bahwa sebelum itu, beberapa orang Indonesia sudah ada yang belajar di Qum, Iran. Tempat ini merupakan wadah atau sebagai madrasah Syiah terbesar ke-4 di dunia, setelah Najaf dan Karbala di Irak, dan Mashad di Iran sendiri.

Ditinjau dari perjalanan sejarah, komunitas Syiah di Indonesia dapat dikategorikan dalam tiga generasi, yaitu:

  1. Generasi utama.

Sebelum meletus revolusi Iran pada 1979, Syiah sudah di Indonesia, baik Imamiyah, Zaidiyah, maupun Ismailiyah. Mereka menyimpan keyakinan itu hanya untuk diri mereka sendiri dan untuk keluarga yang sangat terbatas. Karena itu, mereka bersikap sangat ekslusif, tidak atau belum punya semangat menyebarkan ajarannya kepada orang lain.

  1. Generasi kedua.

Generasi ini didominasi oleh kalangan intelektual, kebanyakan berasal dari perguruan tinggi. Dari segi struktur sosial, generasi ini berasal dari kelompok menengah ke atas, mayoritasnya adalah mahasiswa dan akademis perguruan tinggi.

Sebagian referensi menyebutkan bahwa dakwah yang berporos di lingkungan mahasiswa terjadi pada rentang tahun 1970—1980-an. Mereka tertarik dengan pemikiran-pemikiran Syiah. Bersamaan dengan itu mahasiswa pun tertarik pada pemikiran Hasan al-Banna, Abul A’la al-Maududi, Sayyid Quthub, dan Ikhwanul Muslimin.

  1. Generasi ketiga.

Kelompok ini—terutama lulusan Qum di Iran—mulai mempelajari fikih Syiah, bukan lagi sebagai pemikiran. Mereka cenderung berkonflik dengan kelompok lain, bersemangat misionaris yang tinggi dalam menyebarkan ajarannya. dan cenderung memosisikan diri sebagai representasi orisinal tentang paham Syiah dan atau sebagai pemimpin Syiah di Indonesia.

 

Perkembangan Syiah di Indonesia

Setelah berhasilnya Revolusi Iran, berbagai varian tulisan yang berbau Iran mulai didistribusikan. Akibatnya, secara independen akidah Syiah tersiar di belantara nusantara. Tulisan-tulisan tokoh Syiah membanjiri toko-toko buku di Indonesia. Dikupaslah seputar revolusi Iran, Khomeini, dan filsafat Syiah yang miring, oleh penerjemah-penerjemah Indonesia.

  1. Penerbitan Buku

Salah satu penerbit yang kemudian memfasilitasi buku-buku terjemahan Syiah adalah Mizan, yang dipelopori oleh Haidar Bagir, Ali Abdullah, dan Zainal Abidin. Mereka semua merupakan lulusan dari ITB. Mizan sendiri dibentuk pada 7 Maret 1983. Buku yang pertama kali diterbitkan sebanyak 2.000—3.000 eksemplar, berjudul Dialog Sunni-Syiah, Surat Menyurat antara asy-Syaikh al-Misyri al-Maliki, Rektor al-Azhar di Kairo Mesir dan as-Sayyid Syarafuddin al-Musawi al-Amili, Seorang Ulama Besar Syiah. Buku ini kemudian banyak menjadi perhatian saat itu.

Penerbit Syiah ini banyak dibantu oleh ayah Haidar Bagir, yaitu Muhammad al-Bagir al-Habsyi, yang dikenal sebagai tokoh yang mengidolakan Syiah. Pada akhirnya, penerbit Mizan banyak berperan dalam menerbitkan buku-buku pemikiran Syiah pada dekade 1980—1990, sehingga masyarakat pun mencap Mizan sebagai corong Syiah.

Kemudian Syiah menerbitkan sejumlah majalah dan buletin, hingga kini yang tersebar di antaranya; Majalah al-Quds, diterbitkan oleh Kedutaan Besar Iran di Jakarta dalam bahasa Indonesia; Majalah al-Mawaddah, diterbitkan oleh IJABI Cabang Bandung, Jabar; Majalah al-Hikmah, diterbitkan Yayasan al-Muthahhari Bandung; Bulletin al-Jawad dan al-Ghadir, diterbitkan oleh Yayasan al-Jawad Jakarta; Bulletin at-Tanwir, diterbitkan oleh Yayasan al-Muthahhari, dan majalah serta buletin lainnya yang tersebar di Nusantara.

 

  1. Pendirian Yayasan

Pada 3 Oktober 1988, Haidar Bagir, Agus Effendi, Ahmad Tafsir, dan Ahmad Muhajir, serta Jalaludin Rakhmat, mendirikan Yayasan Muthahhari. Jalaludin Rakhmat pada awalnya aktif berbicara seputar pemikiran Hasan al-Banna, Sayyid Quthub, dan Said Hawwa. Akan tetapi, pertemuannya dengan Husein al-Habsyi membuatnya berafiliasi kepada Syiah dan mulai aktif berbicara seputar akidah Syiah.

Orientasi dari Yayasan Muthahhari adalah SMA Muthahhari. Maka dari itu, SMA ini kemudian dikenal sebagai sekolah modern milik Syiah yang pertama di Kota Kembang Bandung.

Hingga 2001, Syiah telah mendirikan 36 yayasan di Indonesia dan terus bertambah sampai sekarang. Di antara yayasan yang telah mereka dirikan ialah Yayasan Fatimah, Condet Jakarta; Yayasan Al-Muntazhar, Jakarta; Yayasan Mulla Shadra, Bogor; YAPI, Bangil; Yayasan Al-Itrah dan Yayasan Al-Hujjah, Jember; Yayasan Madina Ilmu, Bogor; Yayasan Al-Baro’ah Tasikmalaya; Yayasan As-Salam, Majalengka; Yayasan Al-Mujtaba, Purwakarta; Yayasan Rausyan Fikr, Jogya; Yayasan Al-Ishlah, Cirebon; Yayasan Al-Wahdah, Solo; Yayasan Al-Amin, Semarang; Yayasan Safinatunnajah, Wonosobo; Yayasan Pintu Ilmu, Palembang; Yayasan Al-Hakim, Lampung; Yayasan Ulul Albab, Aceh; Yayasan Arridho, Banjarmasin; dan lainnya.

 

  1. Pendirian Pesantren

Selanjutnya, pada 1989, berdiri pesantren Al-Hadi di Pekalongan, Jawa Tengah, yang didirikan oleh Ahmad Baragbah dan Hasan Musawa. Pendirian ini didesak guna menjembatani para pelajar Syiah untuk bisa melanjutkan studi ke Qum, Iran.

Kini diperkirakan ada 7.000-an mahasiswa Indonesia yang dikirim ke Iran untuk belajar, di samping ribuan lainnya yang sudah pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan, dan kegiatan lainnya. Di antara tempat pengajian, sekolah, dan pesantren milik Syiah adalah MT. Ar-Riyahi; Pengajian Ummu Abiha, Pondok Indah Jakarta; Pengajian Al-Bathul, Cililitan Jakarta; Majlis Ta’lim Al-Idrus, Purwakarta; Majlis Ta’lim An-Nur, Tangerang; MT Al-Jawad, Tasikmalaya; dan Majlis Ta’lim Al-Alawi, Probolinggo. Dalam kategori pesantren, tercatat Pesantren YAPI, Bangil; Pesantren Al-Hadi, Pekalongan; SMA PLUS MUTHAHHARI, di Bandung dan Jakarta; ICAS (Islamic College for Advanced Studies), Jakarta cabang London; Sekolah Lazuardi dari Pra-TK sampai SMP, Jakarta; Sekolah Tinggi Madina Ilmu, Depok; dan Madrasah Nurul Iman, Sorong.

 

  1. Pendirian Ormas

Pada 1998, turunnya Presiden Soeharto dari tampuk kekuasaan atau era reformasi membawa dampak yang cukup signifikan bagi pemekaran Syiah di Indonesia. Hal itu menjadi jalan mulus untuk menanam bibit Syiah di Indonesia. Bahkan, pada orde Gus Dur, berdirilah untuk pertama kalinya ormas Syiah secara resmi yang bernama IJABI (Ikatan Jama’ah Ahlul Bait Indonesia).

Ormas IJABI tepatnya berdiri pada tahun 2000 di Bandung dengan Jalaludin Rakhmat menjabat Ketua Dewan Syura IJABI dan Dimitri Mahayana sebagai Ketua Dewan Tanfidziyyah. Posisi IJABI kemudian semakin kokoh setelah organisasi tersebut mendapatkan pengakuan legal formal dari Pemerintah Indonesia pada 11 Agustus 2000.

Sampai tahun 2008, anggota yang terdaftar mencapai jumlah 2,5 juta orang di 84 cabang dan 145 subcabang IJABI yang tersebar di 33 provinsi di Indonesia. Pada kongres pertamanya di Bandung, Jalaludin Rakhmat memberikan klaim bahwa organisasi tersebut memiliki tiga setengah juta pengikut di seluruh Indonesia.

Organisasi lainnya yang didirikan Syiah antara lain Ikatan Pemuda Ahlulbait Indonesia (IPABI), Bogor; HPI—Himpunan Pelajar Indonesia—Iran; Shaf Muslimin Indonesia, Cawang; MMPII, Condet; FAHMI (Forum Alumni HMI), Depok; Himpunan Pelajar Indonesia di Republik Iran (ISLAT); Badan Kerja Sama Persatuan Pelajar Indonesia Se-Timur Tengah dan sekitarnya (BKPPI); dan Komunitas Ahlul Bait Indonesia (TAUBAT).

Kemudian pada 2011, di Bandung, kembali jamaah Syiah memprakarsai berdirinya Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) yang kemudian menjadi wadah sosial antara Sunni dan Syiah dalam versi yang ‘abu-abu’.

Gerakan Menyusup Kaum Pendusta

Al-Ustadz Abulfaruq Ayip Syafruddin

Apel-beda-warna

Berdusta (taqiyah) merupakan keyakinan yang dibenarkan dalam agama Syiah. Keyakinan ini ditanamkan sedemikian rupa kepada para penganut Syiah hingga mereka mengamalkan akidah taqiyah ini. Bagi mereka, taqiyah bukan sebuah dosa. Ia justru dinilai sebagai ibadah. Terlebih dalam situasi yang tepat untuk bertaqiyah.

Sebagai penyeru agama syiah, Jalaluddin Rakhmat, dalam “Ideologi Syi’ah Melacak Latar Belakang Revolusi Islam Di Iran” membenarkan akidah taqiyah ini. Katanya, “Keyakinan ini menyebabkan sepanjang sejarah, kaum Syi’ah menentang setiap kekuatan politik yang tidak sepenuhnya melaksanakan syariat Islam. Sesuai dengan kondisi, penentangan ini boleh bersifat pasif (taqiyah) atau aktif (dengan revolusi seperti yang telah terjadi).”

Pernyataan Jalaluddin Rakhmat ini terkait sikapnya memperjuangkan kekuasaan yang sesuai garis imamah kaum Syiah. Jalaluddin Rakhmat termasuk pengagum revolusi kaum Syiah di Iran yang berhasil menggulingkan kekuasaan Syah Iran, Reza Pahlevi. (Islam Alternatif Ceramah-Ceramah Di Kampus, hlm. 245)

Sejak revolusi kaum Syiah berlangsung di negeri Iran, penyebaran paham agama Syiah mendapat suntikan kekuatan. Poster-poster Khomeini dengan berbagai ukuran merebak di kalangan aktivis pergerakan, tak terkecuali di Indonesia. Demam revolusi mewabah para aktivis pergerakan. Revolusi kaum Syiah di Iran seakan-akan menginspirasi semangat para pemuda Islam di Indonesia untuk menggulingkan kekuasaan yang kala itu masih di tampuk pemerintahan Orde Baru. Kantor Kedutaan Besar Iran di Indonesia menjadi markas penyebaran paham Syiah kala itu. Banyak umat Islam yang berdecak kagum terhadap revolusi ala kaum Syiah Iran tersebut.

Namun, seiring perjalanan waktu, sebagian kaum muslimin di Indonesia mulai tersadar. Revolusi yang mengusung nama Islam yang digembar-gemborkan kaum Syiah ternyata dusta. Bukan Islam yang mereka usung, melainkan akidah Syiah dengan segala kesesatannya yang mereka taburkan ke dalam benak para aktivis pergerakan Islam.

 

Upaya Menyusupkan Paham

Hangatnya revolusi kaum Syiah di Iran benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menularkan virus sesat kaum Syiah. Beberapa pemuda, di antaranya dari Solo, Pekalongan, dan kota lainnya di Indonesia diberangkatkan ke Iran.

Sejak saat itu, gelombang pengiriman anak muda yang dibius ajaran sesat Syiah terus berlangsung. Dari merekalah kemudian bercokol satu demi satu markas penyebaran Syiah di Indonesia. Lampung, Bandung, Pekalongan, Jepara, Yogyakarta, Bangil, dan beberapa kota lainnya mulai unjuk taring. Mereka suarakan paham Syiah. Walau di antara mereka, kala itu, ada yang masih menyembunyikan kesyiahannya alias bertaqiyah. Ada juga yang lantaran semangat langsung mendendangkan paham Syiah ke tengah-tengah masyarakat.

Generasi awal ini terolong militan. Untuk kalangan intelektual, terkhusus di kampus, sosok Jalaluddin Rakhmat tak bisa diabaikan peranannya. Melalui sekolah menengah yang dirintisnya, Jalaluddin Rakhmat giat melakukan kaderisasi kesyiahan. Berbagai beasiswa ditawarkan kepada tunas muda tersebut untuk melanjutkan studi ke Qum atau perguruan tinggi di kota lainnya di Iran. Seiring dengan itu, di barisan media masa, Surat Kabar Republika pun kerap menjadi corong menyusupkan paham Syiah. Tak jarang, Republika menuai protes lantaran dimanfaatkan oleh segelintir orang yang mengemudikan kebijakannya ke arah pemahaman Syiah.

Melalui media buku, surat kabar, dan lainnya kerap diusung tema-tema mendekatkan antara Sunni-Syiah. Mereka berupaya menghembuskan titik kesamaan antara Sunni-Syiah. Di antaranya, disebutkan bahwa “baik Sunni maupun Syiah sama-sama menyembah Allah,” “Allah dan Rasul Syiah sama dengan Sunni,” dan ungkapan-ungkapan lainnya yang menjadikan umat tertipu. Syubhat (kesamaran) inilah yang bisa menggelincirkan akidah seorang muslim sehingga berubah menjadi seorang Syi’i (penganut agama Syiah).

Padahal, apa yang ada di dalam ajaran Islam sangat jauh berbeda dengan apa yang ada dalam agama Syiah. Perbedaan tersebut justru terkait masalah yang bersifat prinsip. Misal, dalam ajaran Islam, seorang muslim diajarkan untuk tidak mencela seorang pun dari sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

لاَ تَسُبُّوا أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَوْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيفَهُ

“Janganlah kalian mencela seorang pun dari sahabatku. Sungguh, andai ada seorang dari kalian yang menginfakkan emas semisal Gunung Uhud, yang demikian itu belum bisa menyamai sesuatu yang telah mereka infakkan (walau) satu mud (segenggam) atau seperduanya.” ( HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bagaimana bisa dikatakan ada titik dekat antara Islam dan Syiah? Seorang muslim menghormati sahabat yang mulia, Muawiyah radhiallahu ‘anhuma, sedangkan orang Syiah mencelanya, bahkan mengafirkannya.

Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam dengan Syiah? Padahal Islam mengajarkan penghormatan terhadap sahabat yang mulia, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, sedangkan Syiah mencercanya dengan segala penghinaan yang mendalam. Bahkan, mereka menyebut beliau munafik dan murtad.

Islam mengajari umatnya untuk memuliakan Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha, sedangkan Syiah menuduhnya sebagai pelacur.

Islam mengajari kita untuk memuliakan Abu Bakr ash-Shiddiq dan Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhuma, sementara Syiah mencaci maki dan mengafirkan keduanya, serta menggelari keduanya dengan gelar buruk, “dua berhala Quraisy”.

Padahal para sahabat yang dicerca oleh orang Syiah adalah orang-orang yang meriwayatkan hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas, jika mereka bukan orang-orang terpercaya, bagaimana halnya dengan hadits-hadits yang diriwayatkan oleh mereka?

Ini sebuah tipu daya musuh Islam. Sungguh, orang-orang Syiah adalah musuh Islam dan kaum muslimin. Mereka menebarkan berbagai kerusakan ke dalam tubuh umat. Berbagai kerusakan itu mereka susupkan melalui beragam cara.

 

Menyusup ke Kalangan Intelektual dan Masyarakat

Dalam rangka mendekatkan pemahaman Syiah kepada masyarakat, pemerintah Syiah Iran melakukan langkah-langkah pendekatan ke berbagai ormas Islam. Salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia berhasil dirangkul.

Untuk hal ini, pemerintah Syiah Iran mengutus pejabat setingkat menteri guna mengunjungi pimpinan tertinggi ormas Islam. Langkah ini pun diikuti para pengurus organisasi Syiah di daerah untuk berdialog dengan pimpinan daerah ormas Islam.

Penyebaran ajaran Syiah makin meruyak ke kalangan intelektual melalui pendirian Iran Corner. Di beberapa perguruan tinggi berlabel Islam, Iran Corner dijadikan semacam syiahisasi berbaju pertukaran budaya. Paham Syiah langsung ditebarkan di jantung kalangan akademisi yang memang rentan disusupi pemahaman agama warna-warni.

Tak kurang dari 12 Iran Corner berhasil didirikan di perguruan-perguruan tinggi berlabel Islam. Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, UIN Ciputat adalah beberapa perguruan tinggi yang telah berhasil dirangkul oleh negara Syiah Iran. Program ini akan terus bergulir sebagai manifestasi dari tekad kaum Syiah untuk menebar pemahaman Syiah Rafidhahnya di Indonesia.

Sisi lain, berbagai yayasan dan pondok pesantren Syiah pun tak tinggal diam. Mereka menggarap kalangan kaum muslimin menengah ke bawah. Melalui pendekatan kemasyarakatan, mereka mengajak kaum muslimin untuk bersatu. Awal dakwah mereka mengesampingkan perbedaan paham yang ada. Mereka mengusung jargon bahwa tuhan mereka sama, nabi mereka sama, kiblatnya pun sama, serta unsur-unsur yang sama lainnya. Apabila diungkit tentang nikah mut’ah dan kesesatan lainnya, mereka pun akan bertaqiyah. Dusta dalam hal ini adalah ibadah menurut keyakinan mereka.

Beberapa waktu lalu sebagian kaum muslimin sempat dihebohkan dengan munculnya nama Jalaluddin Rakhmat di jajaran caleg salah satu partai politik. Bahkan, rumor dirinya akan menduduki jabatan menteri agama sempat pula merebak. Kemunculan Jalaluddin Rakhmat di barisan partai politik tanpa embel-embel agama ini tentu memiliki target dan tujuan tersendiri.

Seiring maraknya intimidasi terhadap kalangan Syiah di berbagai daerah, tentu Jalaluddin Rakhmat telah berkalkulasi menetapkan pilihannya pada salah satu partai politik. Setidaknya, partai politik yang dijadikan pilihannya memiliki satgas yang tersebar di berbagai daerah. Lebih dari itu, partai politik ini memiliki masa fanatik yang lumayan solid. Dengan figur Jalaluddin Rakhmat, kaum Syiah di daerah bisa menyusup dan berlindung di balik kandang banteng.

Setelah melebur, ke depan akan teropini, bahwa mengganggu orang Syiah sama dengan mengganggu kader partai. Itu berarti akan berhadapan dengan kekuatan satgas dan masa fanatik partai politik satu ini. Implikasi semacam ini tentu yang diharap. Akhirnya, kaum Syiah yang masih minoritas di berbagai daerah bisa terlindungi.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,  “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui.” (al-‘Ankabut: 41)

Lebih dari itu, hal ini diharap bisa memengaruhi para pengikut partai politik satu ini untuk menjadi penganut Syiah atau bersimpati pada kaum Syiah. Nas’alullaha as-salamah.

Menilik perjalanan sejarah, sungguh tidak mengherankan apabila kaum Syiah melakukan gerakan penyusupan. Infiltrasi model Syiah telah ada pendahulunya.

Runtuhnya Daulah Abbasiyah, ratusan ribu kaum muslimin tertumpah darah hingga memerahkan air sungai Dajlah di Baghdad, Irak, serta berikutnya air sungai itu berganti warna biru lantaran kitab-kitab karya ulama dibuang ke sana, merupakan akibat ulah penyusup Syiah. Muhammad bin al-Alqami dan Nashiruddin ath-Thusi, keduanya penganut Syiah Rafidhah yang mendendam kepada Ahlus Sunnah, berhasil menyusup ke pemerintahan Bani Abbasiyah dan menjadi menteri kepercayaan. Dari sanalah keduanya menyusun makar hingga pasukan Tartar pimpinan Hulagu Khan berhasil masuk Baghdad dan melakukan perbuatan keji. (Lihat Asy-Syariah, edisi 101)

Gerakan penetrasi ke berbagai perguruan tinggi, pemerintahan, ormas-ormas Islam merupakan salah satu strategi dakwah kaum Syiah di Indonesia. Melalui strategi dakwah semacam itu, kaum Syiah berupaya mendekatkan ajarannya kepada umat. Dengan demikian, umat tidak merasa asing dengan paham Syiah, dan akan menganggap bahwa Syiah adalah salah satu mazhab sebagaimana mazhab lainnya yang diakui oleh Ahlus Sunnah. Akhirnya, paham Syiah tidak lagi dianggap sebagai paham sempalan yang sesat dan menyesatkan.

 

Syiah Itu Radikal

Radikalisme melekat kuat dalam ajaran Syiah. Para ulama mereka mengajarkan kepada penganutnya bahwa seluruh sahabat telah murtad kecuali tiga orang saja, yaitu Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi. (al-Kulaini dalam al-Kafi 8/245, lihat Taudhihu an-Naba’ ‘an Mu’assisi asy-Syi’ah Abdullah bin Saba’, hlm. 121)

Sikap radikal ini ditanamkan sedemikian rupa sehingga bagi penganut syiah hanya ada ahlu bait dan sahabat yang disebutkan saja yang patut mereka cintai. Selain yang disebutkan di atas, para sahabat lainnya dianggap manusia tercela.

Radikalisme dalam ajaran Syiah tergambar dari ungkapan yang ditulis Jalaluddin Rakhmat saat mengungkap makna syahadah. Kata Jalaluddin Rakhmat, “Syahadah, atau mencari kematian di dalam jihad fi sabilillah, sebenarnya merupakan salah satu nilai penting dalam perjuangan hidup seorang muslim. Akan tetapi, nilai syahadah di kalangan kaum Syiah merupakan nilai yang relatif lebih meresap daripada yang diresapi oleh kaum Sunni. Ini tercermin dalam slogan-slogan saat terjadinya revolusi Iran, ‘Mihrab Syi’ah adalah mihrab darah,’ ‘Dalam hidup Syiah, tiap hari merupakan Asyura; setiap tempat adalah Karbala,’ atau seperti diucapkan Husein, Imam Syiah yang ketiga, ‘Kematian bagiku hanyalah kebahagiaan (Inni laa aral mauta illas sa’adah)’.” (Islam Alternatif, hlm. 245—246)

Bau amis darah menyengat kuat dalam paham Syiah. Sejarah telah membuktikan betapa kaum Syiah telah menulis perjalanan sejarah umat inidengan darah. Sebuah radikalisme telah dipertontonkan secara vulgar di hadapan umat. Karena itu, kewaspadaan terhadap bahaya laten kaum Syiah juga perlu ditingkatkan.

Sejarah berdarah yang telah ditoreh oleh Syiah jangan sekali-kali dilupakan. Sedikit saja kaum Syiah memiliki kekuatan, niscaya kaum muslimin bisa mendapat perlakuan tidak patut. Dalam keadaan lemah saja kaum Syiah berani mencerca para sahabat yang dimuliakan oleh kaum muslimin. Apalagi ketika kekuatan itu ada pada mereka. Entah, apa yang akan diperbuat mereka terhadap kaum muslimin. Nas’alullaha as-salamah.

Kaum Syiah merasa lebih agung dan tinggi kedudukannya dibanding dengan umat lainnya. Bahkan, para imam Syiah memiliki derajat dan kedudukan yang lebih tinggi dibanding dengan para nabi dan rasul sekalipun. Dalam kitab al-Hukumah al-Islamiyyah (hlm. 47-48), Khomeini mengungkapkan, “Kedudukan para imam kami lebih tinggi daripada kedudukan para nabi dan rasul.”

Maka dari itu, dengan segala paham sesat dan menyesatkan, akankah paham Syiah dibiarkan? Kaum Syiah di Indonesia benar-benar memanfaatkan celah kebebasan beragama dan berkeyakinan yang ada di Indonesia, walau harus mencela para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, walau dengan cara merendahkan martabat para nabi dan rasul, sebagaimana diungkapkan oleh Khomeini. Masihkah mereka layak mendapat tempat di negeri ini?

Siapa pun kita, selama mencintai Islam sebagai agamanya, hendaknya mewaspadai gerakan kaum Syiah ini. Jangan sampai terulang lagi sejarah yang bersimbah darah. Wallahu a’lam.

 

Teror Ala Syiah

Pemerintah Malaysia menyikapi secara tegas pemahaman dan penganut syiah. Pihak pemerintah memberi label kepada komunitas Syiah di Malaysia sebagai gerakan yang mempunyai elemen militan. Bahkan, pernah beberapa orang ditahan unit anti terorisme, dan mereka mengaku sebagai pengikut Syiah.

Sebagai sebuah paham, Syiah memiliki doktrin yang menjadikan pengikutnya bersikap militan dan radikal. Revolusi di Iran yang dilakukan kaum Syiah memberi gambaran betapa radikalisme kaum Syiah sedemikian kuat.

Penyanderaan terhadap staf kedutaan Amerika Serikat di Teheran juga memberi sinyal kuat unsur radikalisme dalam komunitas Syiah. Drama penyanderaan yang berawal 4 Nopember 1979 tersebut berlangsung selama 444 hari. Penyanderaan ini didukung pihak pemerintah Iran, bahkan di bawah kendali langsung Khomeini.

Aksi-aksi teror biasanya didukung oleh pemahaman radikal yang membabi buta. Saat musim haji pun, sekelompok pengikut Syiah memanfaatkannya untuk melakukan demo. Khomeini pernah memerintah jamaah haji Iran untuk melakukan demo terhadap pemerintah Saudi. Tragedi 31 Juli 1987 menewaskan ratusan orang. Sebuah tindakan tak patut dilakukan oleh kaum Syiah di Tanah Haram. Kekhusyukan beribadah sirna akibat radikalisme membabi buta yang dilakukan para pengikut syiah. Sejarah tentu mencatat tragedi menyedihkan ini.

Dalam perjalanan sejarah, aksi kaum Syiah diwarnai merah darah. Tengoklah apa yang terjadi di Suriah. Pemerintahan Syiah membantai sekian banyak manusia. Darah tertumpah di bumi Syam. Sebuah tragedi yang memilukan.

Mewaspadai gerakan kaum Syiah tentu bukan sesuatu yang berlebihan. Sebab, fakta sejarah telah mengungkapkan tentang perbuatan licik kaum Syiah yang berakhir dengan aksi teror dan banjir darah. Katanya, mereka mencintai Husain, cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nyatanya, sejarah mengungkap bahwa kaum Syiahlah yang membunuh Husain di Karbala. Mereka licik. Sejarah pun diputarbalikkan. (Lihat Asy Syariah edisi 101)

Lebih dari itu, mewaspadai gerakan kaum Syiah merupakan upaya membentengi umat dari pemahaman sesat yang dijejalkan ke tengah-tengah umat.

Apabila dusta menjadi inti ajarannya, lantas kebaikan apa yang bisa diperoleh darinya? Apabila mut’ah dilegalkan, lantas kehidupan bermasyarakat yang bagaimana yang hendak dibentuk? Apabila para imam mereka lebih tinggi kedudukannya dibandingkan dengan para nabi dan rasul, lantas agama model apakah yang akan ditanamkan pada umat?

Kerusakan demi kerusakanlah yang akan dituai manakala ajaran Syiah ini menjalar di tubuh umat. Islam justru berlepas diri dari model pemahaman yang diyakini oleh kaum Syiah. Ingatlah, tangan Abdullah bin Saba yang keturunan Yahudi, saat melahirkan agama Syiah ini dilumuri darah.

Maka dari itu, tidak berlebihan apabila umat Islam tetap harus mewaspadai ajaran sesat satu ini. Nas’alullaha as-salamah.

Wallahu a’lam.

Surat Pembaca Edisi 102

Alaihissalam Untuk Ulama Syiah?

Pada Asy Syariah edisi 101 vol. IX hlm. 26, tertulis “Imam Maulana al-Kazhim ‘alaihissalam”. Pertanyaan saya, siapa Imam Maulana al-Kazhim? Mengapa ditulis alaihissalam?

08139XXXXXXX

  • Jawaban Redaksi:

Redaksi menerima beberapa SMS serupa. Sebenarnya, kami hanya menukilkan apa adanya dari kitab-kitab Syiah, bukan untuk mendukung mereka. Bagaimanapun juga, kami ucapkan jazakumullah khairan kepada para pembaca yang telah memberi masukan tentang hal ini. Insya Allah pada edisi-edisi mendatang, penukilan semacam ini akan kami ubah. Barakallahu fikum.

 

Lafadz Hadits Keliru

Saya mau memberi masukan untuk Majalah Asy Syariah edisi vol.IX/no.100/1435/2014. Barangkali lafadz yang benar pada hlm. 61, hiya adharru bukan adharra. Berikutnya pada hlm. 63, tertulis wallau amrahum imra’atan, seharusnya imra’atun. Wallahu a’lam.

  • Jawaban Redaksi:

Untuk lafadz hadits pada hlm. 61, Anda benar. Memang ada lafadz lain menggunakan adharra, tetapi tanpa lafadz hiya.

Adapun lafadz hadits pada hlm. 63, sudah benar seperti itu, imra’atan. Karena kata imra’atan di sini sebagai maf’ul bih tsani. Barakallahu fikum.

 

Ada Kata yang Hilang?

Pada Asy Syariah no. 101, halaman 36, kalimat terakhir, apakah ada kata yang hilang?

08157XXXXXXX

  • Jawaban Redaksi:

Benar, seharusnya kalimat tersebut berbunyi, “Sungguh, ini bukanlah kebohongan pertama yang dilakukan oleh para penjahat Syiah yang tidak memiliki kasih sayang.”

 

Tanya Jawab Melalui Telepon

Saya ingin memberi masukan kepada Asy Syariah. Bagaimana kalau diadakan dua kali sebulan tanya jawab via telepon langsung? Ini sangat penting khususnya di wilayah yang belum ada ustadz yang kokoh keilmuannya. Harap solusinya.

08239XXXXXX

  • Jawaban Redaksi:

Saran Anda sebenarnya sangat bagus. Hanya saja, karena keterbatasan yang ada, kami memohon maaf belum bisa mewujudkan saran Anda dalam waktu dekat. Sampai saat ini, kami hanya bisa membuka tanya jawab melalui SMS atau WA melalui nomor redaksi. Itupun tidak bisa kami jawab langsung. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita semua.

 

Ayat Tidak Tercantum?

Pada Asy Syariah edisi 101, Rubrik Fatawa al-Mar’ah al-Muslimah, catatan kaki no. 2 tertulis, “Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,” tetapi firman-Nya tidak tertulis?

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, sebenarnya ayatnya ada di halaman 97. Akan tetapi, karena kami kurang teliti mengatur tata letak sehingga timbul kebingungan ketika dibaca. Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan yang Anda alami.

Indonesia Waspada Syiah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Pascareformasi, aliran-aliran sesat kian menggeliat. Arus keterbukaan yang kebablasan membuat mereka kian berani menampakkan keyakinannya. Lebih-lebih, dengan kedok kebebasan beragama dan berkeyakinan, lembaga-lembaga pengecer “HAM” siap pasang badan membela mereka. Setidaknya adalah apa yang telah kita lihat, kelompok-kelompok ini telah membentuk organisasi resmi untuk mewadahi pengikutnya. Tidak ketinggalan, adalah agama Syiah.

Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) adalah organisasi penganut Syiah yang diklaim telah tersebar di 33 provinsi di Indonesia dengan keanggotaan lebih dari tiga juta orang. Jika klaim ini benar, maka tentunya ini menjadi catatan bagi umat Islam, bahwa Syiah telah demikian berkembang di negara kita.

Ada banyak kondisi mengapa Syiah bisa sedemikian pesat. Selain banyaknya anggapan bahwa Syiah dianggap mazhab kelima, ada ajaran Syiah yang selaras dengan syahwat. Yaitu nikah (baca: zina) mut’ah. Tak heran, jika “dakwah” Syiah getol menyasar ke mahasiswi atau orang-orang yang memiliki anak perempuan. Karena jika objek dakwahnya sudah menjadi Syiah, otomatis pintu untuk melakukan zina mut’ah terbuka lebar. Melalui ajaran ini, yang memberi kemudahan untuk menyalurkan syahwat, membuat para pendakwah Syiah kian mudah menjerat masyarakat.

Pernyataan tokoh-tokoh “Islam” yang mengamini Syiah, menutup mata atas kesesatan Syiah, menyamakannya dengan Islam, atau menyerukan persatuan Islam dan Syiah, juga memberi angin segar bagi tumbuh dan berkembangnya Syiah. Lebih ironi lagi, Jalaludin Rakhmat yang merupakan pentolan Syiah, karena dibesarkan media, telah dianggap sebagai cendekiawan “muslim” di negeri ini.

Melalui tulisan, dakwah Syiah juga sudah lama membanjiri media, lebih-lebih pasca-Revolusi Iran. Tak hanya majalah atau buletin, Mizan, corong Syiah yang kini telah menjadi penerbit terkemuka di negeri ini telah memenuhi toko-toko buku dengan buku-buku berbau Syiah.

Tak cukup di dunia nyata, di dunia maya, Syiah terus menabuh genderang perang. Website atau blog para penganut Syiah Indonesia menjamur dan demikian mudah diakses oleh siapa pun. Ini tentu sangat miris. Apalagi kaderisasi Syiah terus berjalan. Ratusan mahasiswa Indonesia yang belajar di Iran dengan beasiswa pemerintah setempat, tentu menjadi bahaya laten di kemudian hari. Lebih-lebih kader-kader lama sudah tersebar ke mana-mana karena di bidang pendidikan, Syiah sudah lama menancapkan kukunya di tanah air, yakni Pesantren YAPI (Yayasan Pesantren Islam) yang sudah berdiri di Bangil, Jawa Timur, sejak tahun 1970-an.

Perkembangan demi perkembangan Syiah Indonesia ini memang patut diwaspadai. Tidak menutup kemungkinan, na’udzubillah, kalau Syiah telah menjadi besar di negeri kita ini, muslim (Ahlus Sunnah) akan menjadi sasaran kekejaman Syiah, seperti muslim Yaman yang diserang pasukan al-Hutsi dan muslim Irak yang dibantai pasukan al-Mahdi.

Maka dari itu, tidak ada kata lain, terhadap Syiah kita harus terus memasang status waspada.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته