Waktu Shalat Isyraq

  1. Bismillah. Afwan nanya kalau waktu syuruq jam 5.45 kapan kita shalat isyraqnya? Khawatirnya kita shalat di waktu yang terlarang (matahari terbit). Jazakallahu khairan wa barakallahu fik.

  2. Bismillah, bolehkah kita setelah shalat shalat subuh di rumah duduk ibadah sampai waktu syuruq, terus shalat isyraq, walaupun tidak dapat pahala seperti umrah, tetapi bolehkah shalat isyraq di rumah?

 

Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad as-Sarbini

Syariat shalat isyraq datang pada hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَلَّى الْغَدَاةَ فِي جَمَاعَةٍ ثُمَّ قَعَدَ يَذْكُرُ اللهَ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَتْ لَهُ كَأَجْرِ حَجَّةٍ وَعُمْرَةٍ، تَامَّةٍ تَامَّةٍ تَامَّةٍ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah (di masjid), lalu duduk berzikir hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, adalah hal itu berpahala seperti pahala satu haji dan satu umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (HR. at-Tirmidzi)

Kata at-Tirmidzi, “Ini adalah hadits hasan gharib. Aku telah bertanya kepada Muhammad bin Isma’il (yakni al-Imam al-Bukhari, pen) prihal Abu Zhilal. Ia menjawab, ‘Muqaribul hadits (riwayat haditsnya mendekati).’ Kata Muhammad, ‘Namanya adalah Hilal’.”

Kata al-Albani, “Akan tetapi, jumhur ahli hadits menvonis Abu Zhilal sebagai rawi yang dha’if (lemah riwayatnya). Oleh karena itu, adz-Dzahabi menyatakan dalam kitabnya yang berjudul al-Mughni, ‘Mereka mendha’ifkan Abu Zhilal’.”

Namun, menurut al-Albani terdapat beberapa syahid (penguat) dari riwayat yang lain. Hal itu beliau sebutkan dalam kitab ash-Shahihah (no. 3403) dan menghukuminya sebagai hadits hasan dalam kitab Shahih Sunan at-Tirmidzi (no. 586) dan hasan lighairih (hasan karena penguatnya) dalam kitab Shahih at-Targhib wat Tarhib (no. 464).

Di antara penguatnya adalah hadits Abu Umamah radhiallahu ‘anhu dengan lafadz,

مَنْ صَلَّى صَلاَةَ الصُّبْحِ فِيْ مَسْجِدِ جَمَاعَةٍ يَثْبُتُ فِيْهِ حَتَّى يُصَلِّيَ سَبْحَةَ الضُّحَى كَانَ كَأَجْرِ حَاجٍّ أَوْ مُعْتَمِرٍ تَامًّا حَجَّتُهُ وَعُمْرَتُهُ.

“Barang siapa shalat subuh berjamaah di masjid jami’, kemudian tetap tinggal di tempatnya hingga melaksanakan shalat dhuha (dua rakaat), adalah hal itu berpahala seperti pahala orang berhaji atau berumrah dengan haji dan umrah yang sempurna.” (HR. ath-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir)

Abul Hasan ‘Ubaidullah al-Mubarakfuri menukil dalam kitab Mir’atul Mafatih Syarhu Misykatil Mashabih[1] bahwa ath-Thibi berkata, “Maknanya adalah lalu shalat setelah matahari meninggi seukuran batang tombak agar waktu terlarang telah berakhir. Shalat ini dinamakan shalat isyraq dan merupakan awal shalat dhuha.”

Begitu pula keterangan imam-imam ahli fikih di masa ini, seperti Ibnu ‘Utsaimin dan Ibnu Baz.

Kata asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha. Namun, jika kamu menunaikannya di awal waktu saat matahari terbit dan telah meninggi (dari ufuk) seukuran batang tombak (menurut pandangan kasat mata), itu dinamakan shalat isyraq. Apabila ditunaikan di akhir waktu atau di pertengahan waktu, itu dinamakan shalat dhuha.

Akan tetapi, shalat isyraq tergolong shalat dhuha, karena ulama –rahimahumullah– mengatakan bahwa waktu shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak sampai menjelang zawal (matahari bergeser ke ke arah barat).”[2]

Ibnu ‘Utsaimin juga berkata, “Shalat isyraq adalah shalat yang dilaksanakan setelah matahari meninggi seukuran batang tombak. Lamanya menurut perhitungan jam sekitar lima belas menit atau semisal itu. Itu adalah shalat isyraq dan merupakan shalat dhuha, karena pelaksanaan shalat dhuha dimulai sejak matahari meninggi seukuran batang tombak hingga menjelang zawal. Shalat dhuha lebih utama dilaksanakan di akhir waktu daripada di awal waktu.

Kesimpulannya, dua rakaat shalat isyraq adalah dua rakaat shalat dhuha. Hanya saja, jika disegerakan pelaksanaannya di awal waktu, yaitu saat matahari meninggi seukuran batang tombak, itu adalah shalat isyraq dan dhuha. Jika diakhirkan pelaksanaannya di akhir waktu, itu adalah shalat dhuha, bukan shalat isyraq.”[3]

Ibnu ‘Utsaimin menerangkan perbedaan istilah syuruq dan isyraq. Syuruq artinya terbitnya matahari tanpa meninggi seukuran batang tombak. Isyraq artinya terbitnya matahari dengan meninggi seukuran batang tombak.[4]

Kata asy-Syaikh Ibnu Baz, “Shalat isyraq adalah shalat dhuha di awal waktu. Yang lebih utama adalah dilaksanakan ketika waktu dhuha telah meninggi dan terik matahari amat panas. Hal itu sebagaimana sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam,

صَلاَةُ الْأَوَّابِيْنَ حِيْنَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ

“Shalat orang-orang yang gemar bertobat adalah ketika anak-anak onta kepanasan dari teriknya matahari.” (HR. Muslim)

Maknanya adalah ketika panas terik matahari menyengat anak-anak onta. Inilah makna hadits tersebut. Shalat dhuha setidaknya dua rakaat.”[5]

Kata asy-Syaikh Muhammad bin ‘Umar Bazamul dalam kitabnya yang bertajuk Bughyatul Mutathawwi’ fi Shalatit Tathawwu’, Shalatul Isyraq, “Telah tsabit (tetap) penamaan shalat dhuha yang dilaksanakan di awal waktu sebagai shalat isyraq dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma. ‘Abdullah bin Harits bin Naufal meriwayatkan,

أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ كَانَ لَا يُصَلِّي الضُّحَى. فَأَدْخَلْتُهُ عَلَى أُمِّ هَانِئٍ، فَقُلْتُ: أَخْبِريْ هَذَا بِمَا أَخْبَرْتِنِيْ

بِهِ. فَقَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ: دَخَلَ عَلَيَّ رَسُوْلُ اللهِ يَوْمَ الْفَتْحِ فِيْ بَيْتِيْ، فَأَمَرَ بِمَاءٍ، فَصَبَّ فِيْ قَصْعَةٍ، ثُمَّ أَمَرَ بِثَوْبٍ، فَأَخَذَ بَيْنِيْ وَبَيْنَهُ، فَاغْتَسَلَ، ثُمَّ رَشَّ نَاحِيَةَ الْبَيْتِ، فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، وَذَلِكَ مِنَ الضُّحَى، قِيَامُهُنَّ وَرُكُوعُهُنَّ وَسُجُودُهُنَّ وَجُلُوسُهُنَّ سَوَاءٌ، قَرِيبٌ بَعْضُهُنَّ مِنْ بَعْضٍ.

فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ وَهُوَ يَقُولُ: لَقَدْ قَرَأْتُ مَا بَيْنَ اللَّوْحَيْنِ، مَا عَرَفْتُ صَلاَةَ الضُّحَى إِلَّا الْآنَ: { يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ }، وَكُنْتُ أَقُولُ: أَيْنَ صَلاَةُ الْإِشْرَاقِ؟ ثُمَّ قَالَ بَعْدُ: هُنَّ صَلاَةُ الْإشْرَاقِ.

Sesungguhnya Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma tidak pernah shalat dhuha. Lantas aku membawanya masuk ke Ummu Hani’, aku berkata, “Beritakan padanya apa yang kamu beritakan padaku.”

Ummu Hani’ berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui aku di rumahku pada hari penaklukan kota Mekah, lalu memerintahkan agar disiapkan air, lalu beliau menuangnya ke dalam bejana, lalu memerintahkan disiapkan pakaian, lalu mengambil tempat terpisah antara dirinya dan aku, lalu beliau mandi, lalu memerciki salah satu sudut rumah, lalu shalat delapan rakaat. Itu adalah shalat dhuha. Lama berdirinya, rukuknya, dan sujudnya hampir sama.”

Kemudian Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma keluar seraya berkata, “(Demi Allah) sungguh aku telah membaca di mushaf, tetapi tidaklah aku mengetahui shalat dhuha kecuali sekarang. (Allah berfirman),

يُسَبِّحۡنَ بِٱلۡعَشِيِّ وَٱلۡإِشۡرَاقِ ١٨

“Gunung-gunung itu bertasbih di pagi hari dan petang hari.” (Shad: 18)

Adalah aku sebelumnya bertanyatanya, ‘Mana shalat isyraq itu?’ Ternyata itulah shalat isyraq.” (Dikeluarkan oleh ath-Thabari dalam Tafsir-nya dan al- Hakim[6]

Dari keterangan di atas tampaklah jawaban untuk pertanyaan pertama bahwa Anda bisa melaksanakan shalat isyraq ketika telah berlalu sekitar lima belas menit (seperempat jam) dari waktu syuruq (terbitnya matahari).

Adapun jawaban pertanyaan kedua, kami nukil fatwa al-Imam Ibnu Baz ketika ditanya dengan pertanyaan yang teksnya sebagai berikut, “Apakah tinggal di rumah setelah shalat fajar untuk membaca al-Qur’an hingga matahari terbit, kemudian shalat dua rakaat syuruq, akan mendapat pahala yang sama yang diraih dengan berdiam menunggu di masjid? Kami berharap dari kemuliaan Anda agar memberi faidah dalam masalah ini. Semoga Allah memanjangkan umur Anda di atas ketaatan kepada-Nya.”

Asy-Syaikh Ibnu Baz menjawab, “Amal tersebut memiliki kebaikan yang banyak dan pahala yang besar. Akan tetapi, lahiriah hadits-hadits yang datang tentang hal itu menunjukkan bahwa amalan di atas tidak mendapat pahala yang dijanjikan untuk orang yang duduk di tempat shalatnya di masjid.

Namun, jika dia shalat subuh di rumah karena uzur sakit atau takut, kemudian duduk di tempat shalatnya berzikir atau baca Qur’an hingga matahari meninggi, kemudian shalat dua rakaat, ia meraih pahala yang dijanjikan dalam hadits-hadits itu lantaran dia beruzur tatkala shalat di rumahnya.

Demikian pula halnya jika seorang wanita duduk di tempat shalatnya (di rumah) setelah shalat subuh, berzikir atau membaca Qur’an hingga matahari meninggi lalu shalat dua rakaat, sesungguhnya ia mendapatkan pahala tersebut yang dijanjikan dalam hadits-hadits itu, bahwa Allah ‘azza wa jalla menuliskan bagi orang yang melakukannya pahala berhaji dan umrah yang sempurna.

Hadits-hadits dalam hal itu jumlahnya banyak, saling menguatkan satu sama lainnya dan tergolong dalam jenis hadits hasan lighairih (hasan karena penguatnya). Hanya Allah yang memberi taufik.”[7]

Wallahu a’lam.


[1] Pada Kitab ash-Shalah, Bab adz-Dzikri ba’da ash-Shalah, al-Fashlu ats-Tsani (3/328).

[2] Lihat kitab Liqa’ Bab al-Maftuh (141/25).

[3] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/305).

[4] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa war Rasa’il (14/298-299).

[5] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/400-401).

[6] Kata guru besar kami al-Imam al-Muhaddits Muqbil bin Hadi al-Wadi’i dalam Tatabbu’ Auham al-Hakim (4/142, no. 6952), “Asal hadits ini dalam Shahih Muslim dari riwayat Ummu Hani’.”

[7] Lihat kitab Majmu’ al-Fatawa li Ibni Baz (11/403-404).

Al-Matin

Al-Matin adalah salah satu nama Allah al-Husna. Nama ini disebutkan di salah satu ayat pada surat adz-Dzariyat.

 إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلرَّزَّاقُ ذُو ٱلۡقُوَّةِ ٱلۡمَتِينُ ٥٨

“Sesungguhnya Allah, Dialah Maha Pemberi Rezeki, Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (adz-Dzariyat: 58)

Al-Matin dalam bahasa bermakna syiddah wal quwwah (kekuatan yang sangat dahsyat). Disebutkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma sebagaimana dalam riwayat ath-Thabari dalam tafsirnya bahwa al-Matin bermakna asy-Syadid, yakni Yang Sangat Kuat.

Al-Azhari dalam kitabnya, Tahdzibul Lughah, ketika menafsirkan firman Allah di atas, Dzul Quwwah bermakna Yang Memiliki Kemampuan yang Sangat Kuat. Al-Matin yang merupakan sifat Allah bermakna al-Qawi (Yang Mahakuat).

Semakna dengan itu disebutkan oleh Ibnu Manzhur dalam Lisanul Arab.

 al-matin

Buah Mengimani Nama Allah Al-Matin

Dengan mengimani nama Allah ‘azza wa jalla, al-Matin, kita akan sangat tunduk kepada Allah ‘azza wa jalla, karena mengimani betapa besar kekuatan Allah ‘azza wa jalla dan betapa lemahnya seluruh makhluk, termasuk kita semua. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَخُلِقَ ٱلۡإِنسَٰنُ ضَعِيفٗا ٢٨

“Dan manusia itu diciptakan dalam keadaan lemah.” (an-Nisa: 28)

Lihatlah bagaimana kekuatan Allah yang sedikit digambarkan. Dia-lah yang menahan langit-langit dan bumi sehingga keduanya tidak hancur dan bergeser. Allah berfirman,

إِنَّ ٱللَّهَ يُمۡسِكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ أَن تَزُولَاۚ وَلَئِن زَالَتَآ إِنۡ أَمۡسَكَهُمَا مِنۡ أَحَدٖ مِّنۢ بَعۡدِهِۦٓۚ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورٗا ٤١

“Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorang pun yang dapat menahan keduanya selain Allah. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (Fathir: 41)

Allah ‘azza wa jalla pula yang menciptakan langit dan bumi. Sungguh, penciptaan keduanya merupakan penciptaan yang luar biasa dengan bukti yang dapat kita lihat, langit yang begitu luas lagi kokoh, bahkan terdapat tujuh lapis. Begitu pula bumi yang kita pijak, yang terhampar luas dengan berbagai kandungan yang ada di dalamnya. Ini semua menunjukkan kebesaran dan kekuatan Penciptanya.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ بِغَيۡرِ عَمَدٖ تَرَوۡنَهَاۖ وَأَلۡقَىٰ فِي ٱلۡأَرۡضِ رَوَٰسِيَ أَن تَمِيدَ بِكُمۡ وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٖۚ وَأَنزَلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجٖ كَرِيمٍ ١٠

هَٰذَا خَلۡقُ ٱللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ ٱلَّذِينَ مِن دُونِهِۦۚ بَلِ ٱلظَّٰلِمُونَ فِي ضَلَٰلٖ مُّبِينٖ ١١

“Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam jenis binatang. Dan Kami turunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan padanya segala macam tumbuh-tumbuhan yang baik.

Inilah ciptaan Allah, maka perlihatkanlah olehmu kepadaku apa yang telah diciptakan oleh sembahan-sembahan (mu) selain Allah, sebenarnya orang-orang yang lalim itu berada di dalam kesesatan yang nyata.” (Luqman: 10-11)

لَخَلۡقُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ أَكۡبَرُ مِنۡ خَلۡقِ ٱلنَّاسِ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ ٥٧

“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Ghafir: 57)

Namun, disayangkan, manusia tidak mengagungkan Allah ‘azza wa jalla dengan pengagungan yang sebenar-benarnya. Banyak manusia yang secara tidak langsung—dengan perbuatannya—seolah-olah menganggap ketidakmampuan Allah ‘azza wa jalla. Dia banyak bermaksiat dan menganggap seolah-olah Allah ‘azza wa jalla tidak mampu mengazabnya. Berbagai maksiat mereka lakukan, sampai mereka melakukan kemaksiatan terbesar, syirik kepada Allah dan berbagai jenis kekafiran. Tidak sedikit di antara mereka yang menantang kekuatan Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَمَا قَدَرُواْ ٱللَّهَ حَقَّ قَدۡرِهِۦ وَٱلۡأَرۡضُ جَمِيعٗا قَبۡضَتُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦۚ سُبۡحَٰنَهُۥ وَتَعَٰلَىٰ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٦٧

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Rabb dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.” (az-Zumar: 67)

Terkait dengan ayat ini, tersebut pula dalam hadits yang menggambarkan kekuatan Allah ‘azza wa jalla, dalam riwayat al-Bukhari hadits ke-4437 Program Maktabah Syamilah. Dari Abdullah radhiallahu ‘anhu,

جَاءَ حَبْرٌ إِلَى رَسُولِ اللهِ فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ،  إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَجْعَلُ السَّمَوَاتِ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْأَرْضِينَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْجِبَالَ وَالشَّجَرَ عَلَى إِصْبَعٍ، وَالْمَاءَ وَالثَّرَى عَلَى إِصْبَعٍ، وَسَائِرَ الْخَلْقِ عَلَى إِصْبَعٍ، ثُمَّ يَهُزُّهُنَّ فَيَقُولُ: أَنَا الْمَلِكُ. قَالَ: فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ تَصْدِيقًا لِقَوْلِ الْحَبْرِ.

Seorang ulama Yahudi datang kepada Rasulullah dan berkata, “Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah k pada hari kiamat menjadikan langit-langit pada satu jari-Nya; bumi-bumi pada satu jari-Nya; gunung dan pohon pada satu jari-Nya; air dan tanah pada satu jari-Nya; serta seluruh makhluk pada satu jari-Nya, lalu Dia menggoyangkan mereka semua. Lalu Allah ‘azza wa jalla berkata, ‘Akulah Sang Raja’.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa hingga terlihat gigi geraham beliau dalam rangka membenarkan ucapan ulama Yahudi tersebut.

Beliau lalu membacakan ayat di atas.

Wallahu a’lam.

Ditulis Oleh: Al-Ustadz Qomar Suaidi

Kenalilah Teman Pergaulanmu

Sebuah nasehat dari al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah

Sudah semestinya seorang hamba bergaul sebatas kebutuhan. Ia kelompokkan manusia dalam pergaulannya menjadi empat golongan. Jika golongan tersebut dicampurkan dan tidak dibeda-bedakan, dia akan dimasuki berbagai kejelekan.

 

Golongan pertama adalah seseorang yang bergaul dengan kita ibarat nutrisi yang masuk dalam tubuh kita. Kita senantiasa membutuhkannya siang dan malam. Jika dia sudah mengambil kebutuhan pergaulan tersebut, ia tinggalkan. Apabila ia butuhkan kembali, dia bergaul lagi; dan seterusnya.

Golongan yang seperti ini adalah golongan yang sangat bernilai. Mereka adalah para ulama yang berilmu tentang Allah, perintah-Nya, tipu daya musuh-musuh-Nya, serta penyakit kalbu dan obatnya. Mereka benar-benar orang yang mempunyai keyakinan yang baik terhadap Allah ‘azza wa jalla, kitab-kitab, para rasul, dan terhadap makhluk-Nya. Berbaur denganmereka adalah keuntungan yang murni.

 

Golongan kedua adalah orang yang bergaul dengan kita ibarat obat. Dia membutuhkannya saat sakit. Ketika kita dalam keadaan sehat, kita tidak membutuhkan bergaul dengannya. Yang dimaksud adalah orang yang kita butuhkan dalam hal maslahat duniawi dan menegakkan urusan yang kita perlukan (muamalah, serikat kerja, atau saran duniawi). Jika telah selesai kebutuhan bergaul dengan mereka, namun kita tetap bergaul dengan mereka, pergaulan ini termasuk golongan ketiga.

 

Golongan ketiga adalah orang yang bergaul dengan kita ibarat penyakit dengan berbagai tingkatan keparahannya. Ada di antara orang yang bergaul dengan kita ibarat penyakit yang ganas dan tidak bisa disembuhkan. Mereka ini adalah orang yang tidak mendatangkan keuntungan agama maupun dunia bagi kita apabila kita bergaul dengannya. Bergaul dengan orang seperti ini hanya akan mendatangkan kerugian, baik agama maupun dunia, atau bahkan keduanya. Apabila pergaulan kita dengan golongan ini semakin kuat dan lekat, akan menyebabkan kematian yang menakutkan bagi kita, yakni kematian kalbu. Pergaulan dengan mereka ibarat sakit gigi; akan menjadi sangat sakitdalam keadaan tertentu. Ketika gigi tersebut lepas, hati kita akan menjadi tenang dari sakit gigi itu. Ada pula di antara mereka yang bergaul dengan kita ibarat penyakit demam.

 

Golongan keempat adalah orang yang bergaul dengan kita dan mengakibatkan kebinasaan. Pergaulan dengan mereka ibarat memakan racun. Jika racun tersebut bertepatan dengan adanya penawar dalam tubuh kita, kita akan selamat. Namun, jika tidak, saatnya kita ditakziahi. Betapa banyak golongan ini di tengah manusia. Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak memperbanyak mereka.

Yang dimaksud dengan golongan ini adalah ahli bid’ah, orang yang mengikuti jalan kesesatan, menghambat sunnah Rasulullah, dan mengajak pada amalan serta keyakinan yang berbeda dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Mereka adalah orang yang menghalangi dari jalan Allah ‘azza wa jalla dan menginginkan jalan yang bengkok. Mereka menjadikan sunnah sebagai bid’ah, bid’ah sebagai sunnah. Mereka menganggap hal yang ma’ruf sebagai yang mungkar, dan sebaliknya. Jika kita memurnikan tauhid di tengah-tengah mereka, mereka akan mengatakan bahwa kita tidak menghormati para wali dan orang-orang saleh. Jika kita memurnikan mutaba’ah (mengikuti) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka akan mengatakan bahwa kita menyia-nyiakan dan tidak mengikuti para imam dan tidak mengikuti mereka.

(Diringkas dari Badai’ul Fawaid hlm. 498-499, jilid ke-2, oleh al-Ustadz Qomar Suaidi)

Tanya Jawab Ringkas Edisi 103

Pada rubrik Tanya Jawab Ringkas edisi ini, kami muat beberapa jawaban dari al-Ustadz Muhammad Afifuddin.

 

Jual-Beli Dropship

Apa hukumnya jual beli dengan skema dropship?

 

Jawaban:

Dalam soal di atas, ada dua masalah:

Pertama, jual-beli sistem sampling barang. Pendapat yang rajih adalah boleh dengan syarat sampling harus sesuai dengan keadaan riil barang, sesuai dengan yang diminta pembeli. Jika ada yang berbeda, pembeli mempunyai hak khiyar, yaitu melanjutkan atau membatalkan akad. Jika barang tersebut termasuk ashnaf ribawiyah seperti emas dan perak, harus ada taqabudh. Jika tidak, termasuk riba nasiah. Akad yang mudah dan syar’i dalam hal ini ada dua cara.

  1. Sistem salam, yaitu menyerahkan uang sesuai dengan harga yang disepakati di muka. Akad untuk barang yang disepakati sesuai dengan sifat, jumlah/takaran, dan waktu pengiriman terima yang disepakati. Jika ketentuan di atas tidak terpenuhi, pembeli punya hak khiyar. Untuk itu kedua pihak harus saling percaya, karena rawan manipulasi.
  2. Sistem ‘urbun, yaitu pembeli menyerahkan DP untuk barang dengan sifat yang disepakati. Jika barang sudah ada, baru dilunasi pembayarannya. Jika pembeli menggagalkan akad, DP menjadi hak penjual. Jika penjual tidak bisa mendatangkan barang, DP harus kembali.

 

Kedua, pengiriman barang. Yang syar’i, penjual harus menerima terlebih dahulu barang yang dia pesan dari suplier kemudian dia kirim ke pembelinya. Jika dikirim langsung dari suplier ke pembeli, hukumnya haram berdasarkan hadits,

نَهَى رَسُولُ اللهِ عَنْ بَيْعِ مَا لَمْ يُقْبَضْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli sesuatu yang belum dimiliki.”

Dalam soal di atas, transaksi tersebut termasuk dalam larangan hadits di atas kecuali kalau penjual posisinya hanya sebagai makelar bagi supplier, maka tidak ada masalah.

Solusi untuk kasus di atas adalah penjual menunjuk seorang untuk menerima barang dari supplier lalu dia serahkan kepada sang pembeli.

 

Memelihara Burung dalam Sangkar

Bagaimana hukum memelihara burung di dalam sangkar?

Jawaban:

Memelihara burung di dalam sangkar diperbolehkan dengan syarat

  • harga burung tidak sangat mahal. Sebab, hal ini termasuk membuang harta (israf);
  • memberi makan-minum burung tersebut, serta
  • merawatnya dengan baik. Dalilnya adalah kisah Abu Umair radhiallahu ‘anhu yang memelihara burung.

 

Harta Anak Yatim

Saya mempunyai anak yatim mendapat sumbangan dari dermawan hingga terkumpul 25 juta rupiah. Kemudian uang tersebut digunakan untuk membeli tanah dan dijual. Uang penjualan tanah akan digunakan untuk membeli rumah dan tanah. Bolehkah hal yang demikian?

Jawaban:

Harta yang dimiliki anak yatim pada prinsipnya diatur oleh walinya untuk kemaslahatan yatim. Segala upaya yang membawa kemaslahatannya diperbolehkan bahkan dianjurkan termasuk upaya yang disebutkan di atas.

 

Perlindungan Nonmuslim di Negara Indonesia

Apakah jaminan keselamatan dari pemerintah muslim kepada orang kafir yang masuk dari luar negeri atau yang sudah bersama kita dalam satu negara termasuk jaminan keamanan dalam melaksananakan prosesi peribadatan mereka?

Jawaban:

Secara hukum fikih terkait ahlu dzimmah (kafir yang satu negara dengan muslim), ibadah mereka harus dilakukan secara tersembunyi dan tidak boleh menampilkan petinggi mereka.

Namun, kondisi NKRI tidak sepenuhnya islami. Tindakan pemerintah mengamankan ibadah mereka karena adanya oknum yang mengganggu dengan pengeboman atau semisalnya yang secara syariat tindakan oknum tersebut juga tidak dibenarkan.

Adapun aparatnya, jika penyebabnya karena bertugas, tidak masalah. Namun, jika mendukung acara tersebut, jelas tidak boleh; tetapi bukan berarti disikapi dengan tindakan yang melanggar agama.

 

Judi Terselubung

Kami biasa melakukan pertandingan olahraga dengan menyewa lapangan. Tim yang kalah akan membayar sewa lapangan tersebut. Apakah ini termasuk perjudian?

Jawaban:

Pertandingan dengan sistem seperti ini termasuk judi. lbnul Qayyim menjelaskan masalah ini dalam al-Furusiyyah.

 

Menepuk Pundak Imam

Ketika seorang mendapati imam sendirian dan ada makmum yang ingin bergabung, apakah disyariatkan untuk menepuk pundaknya?

Jawaban:

Tidak masalah bagi makmum untuk menepuk pundak imam apalagi imam tidak tahu ada yang makmum di belakangnya.

 

Hukum Akikah

Bagaimana hukum akikah?

Jawaban:

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Ada yang berpendapat wajib, ada pula yang berpendapat sunnah muakkadah. Yang terakhir adalah pendapat jumhur ulama.

 

Hukum Lomba Kontes Binatang

Bagaimana hukum melombakan binatang seperti lomba burung berkicau atau ayam ketawa yang hadiahnya diambil dari uang pendaftaran?

Jawaban:

Perlombaan semacam itu jelas termasuk judi yang haram, di sisi lain tidak ada kemanfaatan yang didapat.

44

Harta Waris Pasangan yang Tidak Memiliki Keturunan

Sepasang suami-istri tidak memiliki keturunan. Mereka sama-sama bekerja hingga mempunyai harta dalam rumah tangganya. Kesepakatan berdua bahwa harta yang dimiliki adalah milik bersama. Bagaimana pembagian waris bila suami yang meninggal dan pembagian waris bila istri yang meninggal?

Jawaban:

Harta dibagi dua terlebih dahulu baru setelah itu harta yang mati yang dibagi. Suami/istri yang masih hidup mendapat bagian harta warisan tersebut.

 

Shalawat dan Doa setelah Shalat

Apakah duduk setelah shalat membaca shalawat wirid dan doa termasuk bid’ah?

Jawaban:

Kalau yang dibaca adalah zikir/wirid yang dicontohkan dalam sunnah, maka hal itu sangat dianjurkan. Namun bila yang dibaca adalah wirid yang tidak ada sunnahnya, maka termasuk bid’ah. Adapun doa setelah shalat, jika dijadikan sebagai kebiasaan, maka tidak ada sunnahnya; tetapi bila sesekali, maka diperbolehkan.

 

Hukum Mempelajari Tafsir Jalalain

Apa hukum mempelajari tafsir Jalalain?

Jawaban:

Sebagian ulama mengajarkannya, seperti asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin. Akan tetapi, dipersyaratkan bagi yang mempelajari adalah orang yang memahami tafsir, mengetahui penyimpangan Jalalain untuk diluruskan.

 

Waktu Tepat untuk Berdoa

Jika kita punya hajat tertentu, kapan waktu yang tepat untuk berdoa?

Jawaban:

Bisa saat sujud atau pada waktu mustajab seperti waktu sahur; atau tempat mustajab seperti raudhah di Masjid Nabawi.

 

Karyawan Berjualan di dalam Perusahaan

Perusahaan tempat saya bekerja melarang karyawannya berjualan di dalam perusahaan tersebut, tetapi ada saja karyawan yang tetap berjualan, apakah boleh hal yang demikian?

Jawaban:

Tidak boleh, karena kaum muslimin berjalan sesuai kesepakatan di antara mereka.

 

Memberi Makan Hewan dengan Semut

Bagaimana hukum memberi makan burung piaraan dengan anakan semut rangrang (kroto)? Padahal dalam riwayat hadits terdapat larangan untuk membunuh semut.

Jawaban:

Benar, sebaiknya tidak memberi makan burung dengan kroto karena larangan dalam hadits.

 

Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

 

Tiga Hal yang Menyelamatkan

Ketika Iblis dikutuk oleh Allah ‘azza wa jalla dan dikeluarkan dari jannah (surga) karena membangkang terhadap perintah-Nya, ia bersumpah di hadapan Allah ‘azza wa jalla untuk menyesatkan bani Adam dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Tujuannya agar mereka menjadi teman-temannya dalam api neraka.

Ancaman Iblis ini tidak hanya isapan jempol, tetapi ia buktikan dengan mengirim bala tentaranya ke seluruh penjuru bumi. Disesatkannya bani Adam dengan beragam bujuk rayu dan janji-janji yang menipu. Tiada yang selamat dari kejahatan Iblis beserta kroni-kroninya kecuali orang yang mendapat perlindungan dari Allah ‘azza wa jalla.

Akan tetapi, Allah Maha Pengasih terhadap hamba-Nya. Tidak dibiarkan para hamba menjadi santapan empuk makhluk jahat tersebut. Melalui lisan Rasul-Nya, Allah ‘azza wa jalla telah menjelaskan jalan-jalan keselamatan dari kejelekan Iblis, bahkan kejelekan dunia dan akhirat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ : خَشْيَةُ اللهِ تَعَالَى فِي السِّرِّوَالْعَلَانِيَّةِ، وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ، وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى

“Tiga hal yang menyelamatkan: takut kepada Allah ‘azza wa jalla saat sendirian dan di hadapan orang,bersikap adil saat senang dan marah dan bersikap pertengahan di saat fakir dan kaya.” (HR. Abu asy-Syaikh dalam at-Taubikh dan ath-Thabarani dalam al-Ausath dari Anas radhiallahu ‘anhu. Asy-Syaikh al-Albani menyatakan hasan dengan banyaknya jalan periwayatan. Lihat ash-Shahihah no. 1082)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berkata, “Empat perkara yang siapa memilikinya akan dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla dari setan dan dicegah dari api neraka, yaitu mampu mengendalikan dirinya di saat senang, pada saat takut, saat dorongan syahwat, dan saat marah.” (al-Wafi fi Syarhil Arba’in hlm. 103)

 Tiga-Jari

Takut kepada Allah

Seperti telah disebutkan di atas bahwa manusia menjadi target setan untuk disesatkan dari jalan Allah ‘azza wa jalla. Apabila seseorang tidak memiliki perisai yang tangguh, akan sangat mudah bagi setan untuk mencelakakannya.

Di antara perisai yang kuat adalah sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dalam segala keadaan. Ketika seorang memiliki sikap takut kepada Allah ‘azza wa jalla dan merasa selalu diawasi oleh-Nya, dia akan menjalankan perintah-perintah agama dan menjauhi larangan-larangannya. Dengan demikian, dia akan selamat dan sukses dunia serta akhiratnya.

Akan tetapi, rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla tidak akan muncul kecuali dari orang yang mengenal keagungan Allah ‘azza wa jalla, kerasnya siksa dan kemampuan-Nya untuk membalas perbuatan hamba- Nya. Tanpa mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sebenar-benar pengenalan, maka rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla mustahil akan muncul, sebagaimana dikatakan, “Tak kenal maka tak sayang.”

Allah ‘azza wa jalla berfirman.

        إِنَّمَا يَخۡشَى ٱللَّهَ مِنۡ عِبَادِهِ ٱلۡعُلَمَٰٓؤُاْۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ ٢٨

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.” (Fathir: 28)

Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kenal dengan Allah ‘azza wa jalla, maka beliau adalah orang yang paling takut kepada-Nya. Orang yang membaca sirah/perjalanan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menemukan buktinya. Apabila dalam shalat beliau membaca ayat yang berkaitan dengan azab, beliau memohon perlindungan kepada Allah ‘azza wa jalla dari azab. Bahkan, beliau terkadang menangis dalam shalatnya.

Orang yang mengenal Allah ‘azza wa jalla dengan sepenuh pengenalan akan merasa ucapan dan perbuatannya selalu dipantau, baik ketika sendirian maupun di hadapan orang. Inilah rasa takut yang benar, bukan seperti umumnya orang yang menampakkan seolah-olah takut dan taat kepada Allah ‘azza wa jalla ketika di hadapan banyak orang, namun saat sendiri berani bermaksiat kapada Allah ‘azza wa jalla.

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang takut kepada-Nya saat sendirian, sebagaimana firman-Nya,

إِنَّ ٱلَّذِينَ يَخۡشَوۡنَ رَبَّهُم بِٱلۡغَيۡبِ لَهُم مَّغۡفِرَةٞ وَأَجۡرٞ كَبِيرٞ ١٢

“Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Rabbnya yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar.” (al-Mulk: 12)

Rasa takut kepada Allah ‘azza wa jalla merupakan faktor pendorong yang kuat untuk meninggalkan larangan Allah ‘azza wa jalla.

Sebagian salaf berkata, “Orang yang takut bukan (hanya) yang menangis dan menitikan air mata. Orang yang takut (sesungguhnya) ialah orang yang meninggalkan apa yang perkara haram yang ia sukai padahal dia mampu untuk menjalankannya.”

Dari penjelasan ini, kita mengetahui sangat besar pula pahala orang yang melakukan ketaatan kepada Allah ‘azza wa jalla dengan sembunyi-sembunyi, hanya antara ia dan Allah ‘azza wa jalla. Demikian pula orang yang meninggalkan yang haram dalam kondisi sunyi padahal ia mampu melakukannya. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim tentang tujuh golongan yang dinaungi dengan naungan Allah ‘azza wa jalla pada hari yang tiada naungan selainnaungan-Nya.

Di antara mereka ialah seorang yang berzikir mengingat Allah ‘azza wa jalla saat sendirian lalu meneteskan air matanya, dan seseorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya. Dalam hadits tersebut juga disebutkan tentang seorang lelaki yang diajak berbuat zina oleh seorang wanita yang cantik dan bangsawan lantas ia berkata, “Aku takut kepada Allah ‘azza wa jalla, Rabb alam semesta.”

 

Bersikap Adil Saat Senang dan Marah

Hal ini tidak mudah tentunya, karena umumnya manusia menjadi buta dan tuli apabila mencintai sesuatu. Maksudnya, ia tidak memandang kejelekan yang ada pada yang dicintainya sebagai suatu kejelekan, sebagaimana ia tuli dan tidak bisa mendengarkan nasihat tentangbahayanya apa yang ia cintai. Berbeda halnya dengan seseorang yang membenci sesuatu (walaupun menurut timbangan syariat bukan sesuatu yang harus dibenci), ia akan mencari-cari kelemahan yang dibencinya.

Karena itu, sikap yang adil dan berucap yang benar menjadi sesuatu yang sangat langka kita jumpai di tengahtengah masyarakat. Bagaimana tidak?! Tidak jarang kita dapati di tengah-tengah masyarakat, orang yang berlaku zalim terhadap orang lain karena cintanya terhadap orang tersebut. Segala kritikan membangun yang diarahkan kepada orang yang dicintainya akan dia tolak mentah-mentah. Terkadang dia justru melakukan perlawanan secara fisik demi membela orang yang dicintainya, meskipun ia salah secara timbangan agama. Inilah yang dinamakan fanatik buta.

Misal yang sangat nyata adalah para pengagum Sayid Quthub. Mereka membela Sayid Quthub mati-matian, seolah-olah ia seorang nabi yang maksum. Namun, di sisi lain mereka menjelek-jelekkan para ulama, semisal asy-Syaikh Rabi’, yang membeberkan kekeliruan Sayid Quthub dalam kitab-kitabnya, terutama kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an, yang lebih memiliki corak tafsir secara sastra. Asy-Syaikh Rabi’ melakukan kritikan terhadap kesalahan-kesalahan Sayid Quthub seperti ini sebagai wujud membentengi umat dari kebatilan dan agar kesalahan-kesalahan Sayid Quthub tidak diikuti.

Demikian pula, kadang ada orang tua yang melebihkan pemberian kepada anak yang dicintainya daripada anak-anaknya yang lain hingga timbul keretakan di tengah-tengah keluarga. Ini sebabnya karena tidak mengikuti bimbingan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperturuti nafsu yang sesat.

Seperti itu pula halnya, sulit bagi seseorang untuk bersikap adil di kala ia marah. Sebab, saat marah, biasanya orang lebih suka memperturuti hawa nafsunya dan sulit mengendalikan dirinya. Orang yang marah fisiknya goncang dan benaknya kacau. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang hakim memutuskan perkara dalam keadaan marah, sebagaimana hadits riwayat Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasai dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu.

Sikap adil dan ucapan yang benar hendaknya selalu dipegang erat oleh seorang muslim, baik terhadap kawan maupun lawan, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla. Hal ini tentu menjadi salah satu di antara sekian banyak keindahan agama Islam ini. Sejarah menjadi saksi tentang indahnya Islam yang bisa dirasakan oleh kaum muslimin, bahkan oleh orang kafir sekalipun.

Disebutkan dalam hadits sahih riwayat al-Bukhari dan Muslim bahwa dahulu ada seorang wanita dari kabilah Makhzum mencuri dan akan dipotong tangannya. Keluarga wanita tersebut tidak ingin tangan wanita itu dipotong. Mereka pun mencari seorang sahabat agar menyampaikan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya wanita itu tidak dipotong tangannya. Mereka menemukan sahabat yangdicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Usamah bin Zaid radhiallahu ‘anhuma, dan meminta kepadanya untuk menyampaikan pesan mereka kepadaNabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Usamah menyampaikan pesan mereka. Nabi pun menegurnya seraya mengatakan, “Seandainya Fathimah binti Muhammad mencuri, niscaya akan aku potong tangannya.”

Di kala seorang marah, sulit baginya untuk mengontrol ucapan dan perbuatannya. Karena itu, dahulu dikatakan, “Kemarahan awal timbulnya seperti kegilaan, dan ujungnya hanyalah penyesalan.”

Allah ‘azza wa jalla memuji orang yang menahan amarahnya dan mempersiapkan bagi mereka surga yang penuh kenikmatan. Firman Allah ‘azza wa jalla,

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِي ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلۡكَٰظِمِينَ ٱلۡغَيۡظَ وَٱلۡعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلۡمُحۡسِنِينَ ١٣٤

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 133—134)

Syariat memandang bahwa orang yang memperturuti nafsu amarahnya dan tidak mampu mengendalikan dirinya adalah orang lemah yang telah dikuasai oleh kejelekan.

Apabila dirunut, marah itu timbulnya dari setan. Maka dari itu, ketika marah seseorang dianjurkan berta’awudz (berlindung) kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan.

Al-Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan bahwa dahulu ada dua orang sahabat bertengkar di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Salah satunya mencela temannya dalam kondisi marah dan wajahnya memerah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya aku tahu suatu kalimat yang apabila ia ucapkan niscaya akan hilang darinya apa yang ia alami. Seandainya ia membaca,

أَعُوذُ باِللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“Aku berlindung kepada Allah ‘azza wa jalla dari setan yang terkutuk.”

Malik bin Dinar berkata, “Sejak aku mengenal orang, aku tidak memedulikan pujian mereka dan tidak pula celaan mereka. Sebab, aku tidak melihat kecuali orang yang berlebih-lebihan ketika memuji atau mencela.” (Syarh Hadits “Allahumma bi’ilmikal ghaib” karya Ibnu Rajab hlm. 47)

 

Bersikap Sederhana Saat Miskin dan Kaya

Sikap seperti ini juga tidak semudah yang dibayangkan. Saat miskin, terkadang seorang berbuat sesuatu yang melanggar aturan agama, misalnya mencari penghasilan dengan cara-cara yang dilarang. Demikian pula terkadang ia menjadi kikir untuk beramal dan berinfak karena takut hartanya habis. Sebaliknya ketika seorang kondisinya kaya, ia cenderung berfoya-foya dan melampaui batas, bahkan menggunakan nikmat untuk bermaksiat.

Seorang muslim dibimbing untuk bersikap lurus dalam dua keadaan tersebut. Dia memandang bahwa nikmat adalah ujian, sebagaimana penyakit dan kefakiran adalah cobaan.

Seorang mukmin sejati akan selalu meniru kehidupan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang terkumpul padanya sikap syukur dan sabar. Apabila punya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak kikir barang sedikit pun. Bahkan, orang yang meminta kepadanya tidak akan pulang dengan tangan hampa. Di kala punya, beliau memberi dengan pemberian orang yang tidak takut fakir karena percaya kepada Allah ‘azza wa jalla. Ketika haji wada’ beliau berkurban dengan seratus ekor unta.

Sikap yang pertengahan seperti ini pula yang beliau contohkan. Di saat sulit dan sempit beliau bersabar dan tidak mengeluh. Beliau tinggal beserta keluarganya sekian hari lamanya tanpa ada yang dimakan selain kurma dan yang diminum hanya air biasa. Ketika beliau mendatangi sebagian istrinya pada suatu hari dan menanyakan adakah makanan pada mereka, lalu dijawab bahwa tidak ada, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalau begitu, aku berpuasa.”

Ibnu Rajab rahimahullah berkata, “Apabila seseorang itu fakir, (hendaknya) ia tidak kikir karena takut hartanya habis, namun juga tidak boros sehingga terbebani dengan sesuatu yang sulit baginya.”

Hal ini sebagaimana bimbingan Allah ‘azza wa jalla kepada Nabi-Nya dalam firman-Nya,

وَلَا تَجۡعَلۡ يَدَكَ مَغۡلُولَةً إِلَىٰ عُنُقِكَ وَلَا تَبۡسُطۡهَا كُلَّ ٱلۡبَسۡطِ فَتَقۡعُدَ مَلُومٗا مَّحۡسُورًا ٢٩

“Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu (kikir) dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya (berlebihan dalam membelanjakan) karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (al-Isra’: 29)

Apabila seorang itu kaya, janganlah kekayaannya mendorongnya bersikap boros dan melampaui batas. Hendaknya ia tetap bersikap pertengahan. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَٱلَّذِينَ إِذَآ أَنفَقُواْ لَمۡ يُسۡرِفُواْ وَلَمۡ يَقۡتُرُواْ وَكَانَ بَيۡنَ ذَٰلِكَ قَوَامٗا ٦٧

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (al-Furqan: 67)

Meskipun saat kaya seorang muslim melebihkan pembelanjaan hartanya dibandingkan ketika fakir, tetapi ia sederhana dan tidak berlebih-lebihan. Tidak seperti kebanyakan orang kaya yang kekayaannya menyeretnya kepada sikap melampaui batas…

Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu pernah ditegur oleh (orang) pada masa kekhalifahannya karena berpakaian sederhana. Ali radhiallahu ‘anhu menjawab bahwa hal ini lebih jauh dari sikap sombong dan lebih tepat agar beliau dicontoh oleh muslim yang lain.

Demikian pula Umar bin Abdul Aziz rahimahullah pernah ditegur di masa kepemimpinannya tentang sikap membatasi (nafkah) atas dirinya (sederhana). Beliau berkata, “Sungguh, kesederhanaan yang paling utama adalah ketika seorang itu kaya, dan pemberian maaf yang paling utama adalah ketika seorang mampu membalas.” (Syarh hadits Allahumma bi’ilmika al-ghaib hlm. 46—47)

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

 

Ditulis Oleh: Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.

Bahaya Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Alangkah banyak sekarang ini orang-orang yang lancang, tanpa rasa takut mereka berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla atau atas nama agama, tanpa ilmu. Padahal Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah perkara yang lebih besar dari kesyirikan. Berikut ini kami bawakan nukilan penjelasan Ibnul Qayyim rahimahullah terkait hal di atas.

Allah ‘azza wa jalla telah mengharamkan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam fatwa dan memutuskan hukum, serta menjadikannya sebagai perkara haram yang paling besar, bahkan pada tingkatan tertinggi. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, mensekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Allah ‘azza wa jalla menyebutkan urutan perkara yang diharamkannya menjadi empat tingkatan. Allah ‘azza wa jalla memulai dengan yang paling ringan, yaitu fawahisy (perbuatan keji). Urutan kedua ialah yang lebih keras keharamannya, yaitu dosa dan perbuatan zalim. Urutan ketiga, yang lebih besar keharamannya dari dua hal sebelumnya, yaitu perbuatan syirik. Allah ‘azza wa jalla menyebutkan pada urutan keempat, sesuatu yang lebih besar keharamannya dari semua hal di atas, yaitu berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Hal ini mencakup berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dalam hal nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan dalam agama serta syariat-Nya. (I’lamul Muwaqqi’in)

 

Setan Memerintah Manusia Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Perlu diingat, setan terus berupaya menyesatkan bani Adam. Di antara langkah mereka menyesatkan bani Adam adalah membisikkan dan memerintahkan seseorang untuk berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوّٞ مُّبِينٌ ١٦٨

إِنَّمَا يَأۡمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلۡفَحۡشَآءِ وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ١٦٩

“Wahai manusia, makanlah oleh kalian apa yang di bumi yang halal dan baik, janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan, karena dia adalah musuh yang nyata bagi kalian.

Dia hanyalah memerintahkan kalian untuk berbuat jelek dan kekejian dan agar kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-Baqarah: 169)

Asy-Syaikh Abdurahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu termasuk perkara haram yang paling besar. Ini merupakan jalan setan yang dia serukan. Ini adalah jalan setan dan bala tentaranya yang mereka serukan. Mereka mengerahkan makar dan tipu muslihat mereka. Hal tersebut (mereka lakukan) untuk menyesatkan makhluk dengan cara apa pun yang mereka bisa.” (Tafsir as-Sa’di)

 

Barang siapa berfatwa tanpa ilmu, berarti telah berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan terjatuh ke dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

halal-haram 

Bentuk Nyata Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Banyak bentuk amaliah yang menunjukkan seorang terjatuh dalam perbuatan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Di antaranya:

  1. Seseorang berkata bahwa ini halal dan itu haram, tanpa didasari ilmu.

Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَلَا تَقُولُواْ لِمَا تَصِفُ أَلۡسِنَتُكُمُ ٱلۡكَذِبَ هَٰذَا حَلَٰلٞ وَهَٰذَا حَرَامٞ لِّتَفۡتَرُواْ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَفۡتَرُونَ عَلَى ٱللَّهِ ٱلۡكَذِبَ لَا يُفۡلِحُونَ ١١٦

“Jangan katakan atas sesuatu yang disipati oleh lisan kalian yang dusta; ini halal dan ini haram, untuk mengadakan kedustaan atas nama Allah. Sesungguhnya orang yang berdusta atas nama Allah tidak akan mendapatkan kemenangan.” (an-Nahl: 116)

 

  1. Berbagai bentuk kebid’ahan

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Masuk dalam bab ini ialah semua yang melakukan kebid’ahan yang tidak ada sandaran syar’i padanya, atau menghalalkan sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla haramkan, atau mengharamkan apa yang Allah ‘azza wa jalla bolehkan, dengan berlandaskan ra’yu (akal pikiran) dan keinginannya semata.” (Tafsir Ibnu Katsir)

 

  1. Menafikan apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan, melakukan tahrif dan takwil batil terhadap ayat-ayat tentang nama dan sifat Allah ‘azza wa jalla

Asy-Syaikh Khalil Harras rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu adalah bab yang luas. Masuk padanya semua pemberitaan (mengatasnamakan) tentang Allah ‘azza wa jalla dalam keadaan tanpa dalil dan hujah. Misalnya, menafikan apa yang Allah ‘azza wa jalla tetapkan dan menetapkan apa yang Allah ‘azza wa jalla nafikan, atau berbuat ilhad terhadap ayat-ayat Allah ‘azza wa jalla dengan men-tahrif dan menakwilnya.” (Syarah al-‘Aqidah al-Wasithiyah hlm. 146)

Asy-Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Masuk ke dalam bab ini ialah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tentang syariat dan takdir-Nya. Barang siapa menyifati Allah ‘azza wa jalla dengan sesuatu yang tidak disifati oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya untuk Diri-Nya, atau menafikan sifat yang ditetapkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya, berarti dia telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.

Barang siapa menyangka bahwa Allah ‘azza wa jalla memiliki tandingan berupa berhala, yang mampu mendekatkan orang yang beribadah kepada Allah ‘azza wa jalla, berarti dia telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Barang siapa berkata bahwa Allah ‘azza wa jalla menghalalkan itu, mengharamkan ini, memerintahkan itu, dan melarang ini tanpa bashirah, berarti telah berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu….” (Tafsir as-Sa’di surat al-Baqarah: 169)

 

  1. Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla terkait Dzat, nama, sifat, dan perbuatan Allah ‘azza wa jalla, serta hukum-hukum-Nya

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu terkait Dzat-Nya, namanama-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan, dan hukum-hukum-Nya adalah termasuk perintah-perintah setan.” (Tafsir surat al-Baqarah: 169, 2/240)

 

  1. Berfatwa tanpa ilmu

Al-Imam asy-Sya’bi rahimahullah berkata, “Sungguh, ada di antara kalian yang berfatwa tentang sebuah masalah, yang apabila masalah itu ditanyakan kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu niscaya beliau akan bermusyawarah dengan para sahabat yang ikut Perang Badr.”

Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin berkata, “Saya ingin memberikan peringatan kepada seluruh saudaraku kaum muslimin agar tidak berfatwa tanpa ilmu. Sebab, berfatwa tanpa ilmu adalah pelanggaran besar yang telah Allah ‘azza wa jalla gandengkan dengan kesyirikan dalam firman-Nya,

قُلۡ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلۡفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنۡهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلۡإِثۡمَ وَٱلۡبَغۡيَ بِغَيۡرِ ٱلۡحَقِّ وَأَن تُشۡرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمۡ يُنَزِّلۡ بِهِۦ سُلۡطَٰنٗا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ ٣٣

“Katakanlah (wahai Muhamad), sesungguhnya Rabbku telah mengharamkan perbuatan keji yang yang tampak ataupun tidak, (juga mengharamkan) dosa, berbuat zalim tanpa sebab yang haq, menyekutukan Allah dengan sesuatu yang tidak pernah ada dalil dari Allah dan kalian berkata atas nama Allah sesuatu yang tidak kalian tahu ilmunya.” (al-A’raf: 33)

Sebab, firman Allah ‘azza wa jalla,

وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ

itu mencakup berkata tentang nama-nama Allah ‘azza wa jalla, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan hukumhukum-Nya, tanpa ilmu.”

Barang siapa berfatwa tanpa ilmu, berarti telah berdusta atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu dan terjatuh ke dalam hal yang Allah ‘azza wa jalla haramkan.

Maka dari itu, dia harus bertobat kepada Allah ‘azza wa jalla dan menahan diri. Hendaknya dia berhenti dari perbuatan menghalangi manusia dari jalan Allah ‘azza wa jalla.

 

Upaya Agar Terhindar dari Berkata Atas Nama Allah Tanpa Ilmu

Banyak upaya yang bisa kita lakukan agar terhindar dari perbuatan di atas. Di antara sebab yang terpenting adalah:

 

  1. Terus memperdalam ilmu agama

Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata, “Berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu sangatlah besar bahaya dan kerusakannya. Sebab, seorang yang berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu akan menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, akan melarang yang haq dan memerintahkan yang batil, karena kebodohannya.

Maka dari itu, para ulama dan penuntut ilmu wajib menjauhkan diri dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu. Hendaknya mereka memiliki perhatian penuh pada dalil-dalil syar’i. Dengan demikian, mereka berlandaskan ilmu ketika menyeru dan melarang sesuatu, serta tidak terjatuh dalam perbuatan berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.” (Fatawa Ibn Baz, 4/82)

 

  1. Menjauhkan diri dari rasa cinta ketenaran, senang ditokohkan, dan senang kedudukan

Di antara usaha yang bisa kita lakukan adalah menghiasi diri dengan akhlak terpuji, seperti tawadhu, disertai dengan menjauhkan diri dari akhlak-akhlak yang jelek. Sebab, ada beberapa akhlak yang jelek menyeret pada perbuatan yang haram ini.

Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Mayoritas sebab yang membawa seorang berbuat demikian (berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu) adalah senang kemuliaan, ditokohkan, dan ingin kedudukan.” (Tafsir surat al-Baqarah: 169)

 

  1. Berani menyatakan “Wallahu a’lam (Allah lebih tahu), saya tidak tahu”

Di antara upaya untuk menghindarkan diri dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu ialah menghiasi diri dengan ucapan, “Allahu a’lam, saya tidak tahu.”

Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, para sahabat beliau, dan para ulama kita.

Ketika malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kapankah hari kiamat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” (HR. Muslim)

Demikian juga ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu, “Tahukah engkau, siapa yang bertanya tadi?” Umar bin al-Khaththab menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” (HR. Muslim)

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu, “Tahukah engkau, apa hak Allah ‘azza wa jalla atas hamba-Nya dan apa hak hamba atas Allah ‘azza wa jalla?”

Muadz bin Jabal radhiallahu ‘anhu menjawab, “Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”

Dengan membiasakan diri berterus terang menyatakan tidak tahu dalam masalah yang memang dirinya tidak mengetahui ilmunya, seseorang akan terjaga dari berkata atas nama Allah ‘azza wa jalla tanpa ilmu.

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan kepada kita taufik untuk mengamalkan ilmu yang telah kita ketahui serta menjadikannya bermanfaat di dunia dan akhirat.

Wallahu a’lam.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abdur Rahman Mubarak

Menjadi Ahli Hadits – Sebuah Doa Untuk Anak

Dikisahkan bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma di masa kecilnya pernah menginap di rumah Maimunah bintu al-Harits radhiallahu ‘anha, bibinya. Maimunah sendiri adalah salah satu istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ibunda kaum muslimin. Saat itu Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma menyiapkan air untuk wudhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah mendengar jawaban Maimunah bahwa Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma lah yang melakukannya, beliau pun berdoa untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma,

اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيْلَ

“Ya Allah, buatlah dia menjadi faqih di dalam agama ini, dan ajarilah dia ilmu ta’wil (ilmu tafsir al-Qur’an).”

 

Takhrij Hadits

Apabila dicermati, doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma ada dalam dua permohonan; menjadi faqih di dalam agama Islam dan menguasai ilmu tafsir. Sebagian orang menyangka bahwa kedua doa Rasulullah di atas diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dan Muslim. Apakah memang demikian?

Hadits dengan lafadz di atas, dengan menyebutkan dua permohoan doa sekaligus, diriwayatkan oleh at-Thabarani (3/164/2), Abu Ali ash-Shawwaf dalam kitab al-Fawaid (3/166—167), ad-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (2/226) dengan dua sanad, dari Syibl bin Abbad, dari Sulaiman al-Ahwal, dari Said bin Jubair, dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma.

Sementara itu, al-Imam al-Bukhari (no. 75) dan Muslim (no. 2477) hanya meriwayatkan lafadz pertama, yakni permohonan menjadi faqih di dalam agama. Adh-Dhiya’ menyatakan, “Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkan lafadz wa ‘allimhu at ta’wiil. Tambahan lafadz ini adalah tambahan yang hasan.”

Al-Albani menambahkan, “Al-Hakim menyatakan sahih (3/534) dan disepakati oleh adz-Dzahabi.”

Setelah menyebutkan beberapa bentuk lafadz lain, asy-Syaikh al-Albani menyimpulkan (Silsilah ash-Shahihah no. 2589), “Secara umum, dengan lafadz demikian hadits ini sahih. Di dalam syarah ath-Thahawiyah hlm. 234, penulis menyandarkan lafadz ini kepada al-Bukhari. Ini adalah wahm (kekeliruan), sebagaimana telah saya ingatkan dalam takhrij hadits di sana.”

 Doa

Mendoakan Anak

Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya. Sekian banyak dalil menyebutkan pentingnya orang tua sering mendoakan kebaikan untuk anak. Selain sebagai tanda kasih orang tua dan hak seorang anak, doa kebaikan menjadi salah satu sebab kebahagiaan anak di dunia dan akhirat kelak.

Selain itu, Islam juga melarang orang tua mendoakan kejelekan untuk anaknya. Apapun alasannya hal tersebut tidak boleh dilakukan. Senyatanya, dalam kehidupan sehari-hari, tidak jarang kita menemui orang tua yang saat emosi dan marah melaknat atau mendoakan kejelekan untuk anaknya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ، وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ، لَا تُوَافِقُوا مِنَ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ، فَيَسْتَجِيبُ لَكُم

“Janganlah kalian mendoakan kejelekan untuk diri sendiri! Janganlah mendoakan kejelekan untuk anak-anak kalian! Janganlah mendoakan kejelekan untuk harta milik kalian! Jangan sampai kalian (berdoa) dan tepat pada waktu yang ditentukan Allah ‘azza wa jalla untuk dikabulkan doa padanya, lantas doa kalian diwujudkan.” (HR . Muslim no. 3009, dari Jabir bin Abdillah)

Di dalam syarah Riyadhus Shalihin, asy-Syaikh Muhammad bin al-Utsaimin menyatakan, “Seandainya engkau menegur anakmu dengan mengatakan, ‘Kemari! Mengapa engkau melakukan perbuatan ini?! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak melimpahkan taufik untukmu! Semoga Satu hal penting yang sering dilupakan oleh orang tua adalah mendoakan kebaikan untuk anaknya.

Allah ‘azza wa jalla tidak membuatmu beruntung! Semoga Allah ‘azza wa jalla tidak menjadikanmu baik!’, dikhawatirkan bertepatan dengan waktu istijabah (dikabulkannya doa). Semua hal ini haram, tidak boleh!”

Alangkah lebih baiknya jika orang tua, pengajar atau siapa pun, ketika melihat dan bergaul dengan anak-anak untuk sering-sering mendoakan kebaikan. Barangkali saja tepat pada waktu istijabah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sering mendoakan kebaikan untuk anak-anak kecil semasa hidupnya. Salah satu contohnya adalah doa beliau untuk Abdullah bin Abbas di dalam hadits kita ini.

 

Doa Rasulullah Terkabul?

Doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas pada waktunya benar-benar terkabul. Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma dikenal dan diakui sebagai ahli tafsir terkemuka di kalangan sahabat. Referensi-referensi Islam dipenuhi dengan riwayat, pendapat, dan fatwa Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Untuk menggambarkan profil Ibnu Abbas, kami akan menukilkan sedikit biografi beliau dari karya monumental al-Imam adz-Dzahabi yang berjudul Siyar A’lam an-Nubala.

Nama lengkap beliau adalah Abul Abbas Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib al-Hasyimi. Adz-Dzahabi menyebutnya dengan Habrul Ummah (Tinta Umat)[1], Faqiihul ‘Ashr (Tokoh Fiqih di Masanya), dan Imam at-Tafsir (Pemuka Utama dalam Tafsir). Secara garis nasab, Ibnu Abbas merupakan sepupu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu Abbas dilahirkan di sebuah lembah bernama Syi’b Abu Yusuf, sebuah daerah milik bani Hasyim. Syi’ib adalah lembah yang pernah digunakan oleh Rasulullah dan bani Hasyim untuk menetap ketika kaum kafir Quraisy melakukan blokade. Menurut pendapat yang dikuatkan oleh Ibnu Abdil Barr dan al-Hafizh Ibnu Hajar, Ibnu Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Oleh sebab itu, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Ibnu Abbas telah berusia 13 tahun.

Secara fisik, Ibnu Abbas memiliki perawakan yang tegap, dada bidang, berwibawa, gagah rupawan, cerdas , berkulit putih, dan berpostur tinggi. Apabila Ibnu Abbas berjalan dan melewati rumah-rumah, orang dapat mengenalnya hanya dengan mencium harum wangi yang berasal dari tubuhnya.

Walaupun hanya sekitar tiga puluh bulan bermulazamah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, riwayat hadits Ibnu Abbas menyentuh bilangan 1.660 hadits. Di dalam ash-Shahihain ada 75 hadits; 120 hadits hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari, sementara al-Imam Muslim ada 9 hadits yang hanya beliau yang meriwayatkan.

Selain meriwayatkan hadits langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Ibnu Abbas juga berguru dari Umar bin Khaththab, Ali bin Abi Thalib, Muadz bin Jabal, al-Abbas ayahnya, Abdurrahman bin Auf, Abu Sufyan, Abu Dzar, dan sahabat-sahabat lainnya g. Secara lebih khusus, Ibnu Abbas belajar al-Qur’an beserta ilmu-ilmu terapannya dari sahabat Ubai bin Ka’b dan Zaid bin Tsabit radhiallahu ‘anhuma.

Melihat nama-nama besar sahabat tempat Ibnu Abbas berguru dan menimba ilmu, maka tidaklah heran jika sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu menyanjung, “Andai Ibnu Abbas berusia seperti kami (sezaman sahabat senior), tentu tidak ada seorang pun yang mampu menyainginya.” Dalam kesempatan lain, Ibnu Mas’ud memuji, “Sebaik-baik penafsir al-Qur’an adalah Ibnu Abbas.”

Siapakah sahabat yang paling mengerti dan memahami tentang al-Qur’an berikut kandungan maknanya? Di antara mereka adalah Ibnu Abbas. Sahabat Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma mengakuinya dengan mengatakan, “Ibnu Abbas adalah orang yang paling mengerti tentang ayat-ayat al-Qur’an yang diturunkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk Nabi Muhammad.”

Pengakuan akan keilmuan Ibnu Abbas juga datang dari gurunya sendiri, Ubai bin Ka’b radhiallahu ‘anhu. Ubai pernah berkata, “Anak muda ini kelak akan menjadi tinta umat ini. Aku menyaksikan kecerdasan dan kepintaran terpancar dari dirinya. Sungguh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla agar menjadikannya faqih di dalam agama.”

Amirul Mukminin Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu ‘anhuma juga mengakui taraf keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma yang amat tinggi. Suatu saat Mu’awiyah berbicara kepada Ikrimah rahimahullah, mantan budak milik Ibnu Abbas sekaligus muridnya, “Demi Allah! Maula-mu (mantan majikanmu) adalah orang yang paling faqih di antara orang-orang yang telah meninggal, juga dibandingkan dengan orang-orang yang masih hidup.”

Demikianlah para sahabat memuji, menyanjung, dan mengakui keilmuan Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma. Kemampuannya di dalam bidang tafsir, kefaqihannya dalam banyak masalah agama telah menempatkan beliau pada posisi istimewa di kalangan sahabat. Hal ini merupakan bukti bahwa doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beliau sungguh-sungguh dikabulkan oleh Allah ‘azza wa jalla.

Sebagai salah satu indikator keluasan ilmu Ibnu Abbas adalah sebuah keterangan dari Ibnu Hazm di dalam kitabnya, al-Ihkam. Di sana Ibnu Hazm mengatakan, “Abu Bakr Muhammad bin Musa bin Ya’qub bin al-Makmun, seorang ulama besar Islam, mengumpulkan fatwa-fatwa Ibnu Abbas dalam dua puluh jilid kitab.”

Subhanallah! Fatwa Ibnu Abbas terhimpun dalam dua puluh jilid kitab? Sungguh, telah dikabulkan doa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam! Fatwa-fatwa Ibnu Abbas yang dibangun di atas ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan bukti kuat akan keluasan dan kedalaman ilmu beliau. Semoga Allah ‘azza wa jalla meridhai beliau.

 

Menuju Ahli Tafsir

Usia Ibnu Abbas masih 13 tahun ketika Rasulullah wafat. Akan tetapi, semangat juangnya untuk menimba dan mencari ilmu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Ibnu Abbas sempat mengajak seorang kawannya dari kaum Anshar untuk berkeliling belajar dari seorang sahabat ke sahabat lainnya. Namun, ajakan itu ditolak. Katanya, buat apa belajar sementara sahabat-sahabat Nabi g masih banyak yang hidup. Apakah orang-orang akan bertanya kepada kita?

Namun, semangat Ibnu Abbas selalu bergelora. Digambarkan oleh beliau sendiri, untuk bisa memperoleh sebuah riwayat, beliau terkadang harus rela menunggu sampai tertidur di depan rumah sahabat yang dituju. Usia muda, semangat tinggi, kecerdasan yang luar biasa ditambah lisan yang selalu bertanya, pada akhirnya membuat Ibnu Abbas menjadi salah satu sumber rujukan utama dalam masalah agama.

Bagaimana tidak menjadi seorang pemuka agama yang mumpuni, ilmu yang dihimpun dan dikumpulkan oleh Ibnu Abbas benar-benar berkualitas. Buktinya? Ibnu Abbas pernah menyatakan, “Sungguh! Untuk satu masalah saja, terkadang saya menanyakan jawabannya kepada tiga puluh orang sahabat Nabi.”

Kawannya yang sempat menolak ajakan Ibnu Abbas lalu berkomentar, “Anak muda yang satu ini memang lebih cerdas daripada saya.”

Dari beberapa hal di atas, seharusnya membuka harapan baru untuk anak-anak kita kelak. Kesempatan untuk menjadi seorang ahli tafsir, seseorang yang memahami makna dan kandungan al-Qur’an secara luas masih selalu ada. Asalkan kita sebagai orangtua atau pengajar selalu menanamkan semangat dan menaburkan benih motivasi dalam dada mereka. Menjadi seorang ahli tafsir? Mengapa tidak?

 

Warisan Ahli Tafsir, Murid-Murid Ahli Tafsir

Keilmuan Ibnu Abbas dalam hal menafsirkan al-Qur’an kemudian diwarisi oleh murid-muridnya. Oleh sebab itu, mayoritas tokoh dan pemuka ahli tafsir di kalangan tabi’in adalah murid-murid Ibnu Abbas. Tidak ada satu pun ayat al-Qur’an yang ditafsirkan lalu dituliskan di dalam karya-karya tafsir kecuali pasti tersebut salah satu dari nama murid-murid Ibnu Abbas.

Siapa yang tidak mengenal Mujahid bin Jabr? Seorang ahli tafsir yang disebut oleh ats-Tsauri, “Jika datang tafsir dari Mujahid, peganglah kuat-kuat!”

Siapa yang tidak mengenal Sa’id bin Jubair? Muhammad bin Sirin, Ikrimah, Thawus, Atha’ bin Yasar, asy-Sya’bi, Amr bin Dinar, Urwah bin az-Zubair, dan Arbadah at-Tamimi Shahibut Tafsir? Mereka semua adalah murid-murid utama Ibnu Abbas yang dikenal sebagai ahli tafsir juga.

Bagaimanakah Ibnu Abbas dalam pandangan murid-muridnya? Abu Wa’il bercerita, “Ibnu Abbas pernah menyampaikan khutbah untuk kami. Saat itu, beliau menjadi Amirul Hajj. Beliau membacakan surat an-Nur dan menafsirkannya. Sampai-sampai aku berkata, ‘Aku tidak pernah mendengar khutbah seindah ini. Andai khutbah ini didengar oleh orang-orang Persia, Romawi, dan Turki, niscaya mereka akan masuk Islam’.”

Mujahid memuji, “Aku tidak pernah melihat orang semacam Ibnu Abbas. Beliau adalah tinta umat ini.” Di waktu lain Mujahid menjelaskan, “Ibnu Abbas digelari dengan al-Bahr (Samudra) karena banyaknya ilmu yang dimiliki.”

Pujian yang sama juga dilayangkan oleh Ikrimah, murid beliau yang lain. Katanya, “Ibnu Abbas benar-benar samudra ilmu.”

Thawus menggambarkan untuk kita tentang keilmuan Ibnu Abbas di tengahtengah para sahabat. Kata Thawus, “Aku pernah bertemu sekitar lima ratus orang sahabat Nabi. Jika mereka berbeda pendapat, Ibnu Abbas selalu berusaha untuk meyakinkan mereka pada satu pendapat sampai akhirnya mereka pun sepakat dengan pendapat Ibnu Abbas.”

 

Ibnu Abbas di Mata Khalifah Umar bin al-Khaththab

Kefaqihan dan keluasan ilmu tafsir yang dimiliki Ibnu Abbas adalah alasan yang membuat Khalifah Umar bin al-Khaththab menunjuk beliau sebagai salah satu anggota Syura. Semula, sebagian sahabat kurang bisa menerima keputusan Umar. “Kalau anak muda ini bisa masuk dalam Syura, anak-anak kita yang seumur dengannya pun seharusnya bisa,” kata mereka.

Suatu saat, Khalifah Umar hendak menunjukkan bukti di hadapan seluruh anggota Syura bahwa Ibnu Abbas memang layak berada di sana. Umar lalu bertanya tentang makna firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat an-Nashr. Sebagian sahabat diam, meski ada juga yang berusaha menjawab.

Di akhir diskusi, Umar bin al-Khaththab mempersilakan Ibnu Abbas untuk menjawab. Kata Ibnu Abbas, “Yang dimaksud adalah ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah ‘azza wa jalla memberitahukannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Setelah mendengar jawaban Ibnu Abbas, Umar menanggapi, “Aku pun tidak memahami ayat tersebut kecuali seperti yang engkau pahami!”

Dalam waktu yang berbeda, seorang utusan dari daerah datang bertemu dengan Khalifah Umar. Di dalam laporannya, utusan tersebut menceritakan semangat kaum muslimin di daerahnya yang begitu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an. Ibnu Abbas secara terus terang menyatakan tidak senang dengan fenomena tersebut. Namun, Umar tidak menerima keberatan yang dinyatakan oleh Ibnu Abbas.

Ibnu Abbas kemudian pulang ke rumah dalam keadaan sedih atas sikap Umar. Beliau berbaring sampai disangka jatuh sakit oleh sebagian anggota keluarganya. Akhirnya datang panggilan dari Umar untuk Ibnu Abbas agar datang menghadap. Berbicara berdua, Umar menanyakan tentang pernyataan Ibnu Abbas di hadapan utusan tersebut. Apa alasannya?

Ibnu Abbas lalu menjelaskan, “Jika orang-orang terlalu cepat mempelajari dan menghafal al-Qur’an, mereka akan mengklaim saling benar. Apabila hal itu terjadi, mereka akan berdebat. Setelah itu mereka akan berselisih. Pada akhirnya mereka akan saling membunuh.”

Kata Umar menilai keterangan Ibnu Abbas, “Sungguh menakjubkan pikiranmu! Sungguh, selama ini aku menyembunyikan perasaan semacam itu dari orang-orang, sampai akhirnya engkau pun mengutarakannya.”

 

Doakanlah Kebaikan!

Kekhawatiran Ibnu Abbas akhirnya benar-benar nyata terjadi. Akibat dari berbicara tentang al-Qur’an tanpa landasan ilmiah hanya akan menimbulkan kekacauan dalam beragama. Menafsirkan al-Qur’an sesuai dengan hawa nafsu, kepentingan kelompok, atau kesenangan pribadi terlihat jelas pada kelompok-kelompok sempalan Islam. Serahkan

tafsir al-Qur’an pada ahlinya!

Sungguh benar ucapan sahabat Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu yang pernah menggambarkan semacam ini. Sebagian muridnya bertanya, kapankah hal itu terjadi?

Ibnu Mas’ud menjawab,

إِذَا كَثُرَ قُرَّاؤُكُمْ وَقَلَّ فُقَهَاؤُكُمْ، وَكَثُرَ أُمَرَاؤُكُمْ وَقَلَّ أُمَنَاؤُكُمْ، وَالْتُمِسَتِ الدُّنْيَا بِعَمَلِ الْآخِرَةِ، وَتُفُقِّهَ لِغَيْرِ الدِّينِ

“Apabila ahli membaca al-Qur’an banyak jumlahnya, tetapi yang mengerti tentang fiqihnya hanya sedikit. Banyak pemimpin bermunculan, namun yang bersikap amanah amat jarang. Dunia dicari dengan mengorbankan agama, dan orang belajar tetapi tidak tulus demi agama.” (Riwayat al-Hakim 4/514 dan ad-Darimi 1/64)

Mudah-mudahan Allah ‘azza wa jalla memberikan taufik dan hidayah-Nya agar kaum muslimin kembali kepada paham Salafus Shalih dalam hal menafsirkan al-Qur’an. Semoga kita dan anak-anak kita kelak selalu istiqamah mempelajari al-Qur’an, mencintai, mengamalkan, mengajarkan, dan mendakwahkannya.

Seperti Ibnu Abbas! Walaupun telah buta di masa tuanya, Ibnu Abbas tetap mengajarkan al-Qur’an beserta tafsirnya. Ibnu Abbas adalah figur panutan kita dalam ilmu tafsir. Semoga Allah meridhai beliau dan orang tuanya.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Nasim Mukhtar bin Rifai


[1] Kata hibr dengan meng-kasrah huruf ha, maknanya tinta atau ulama. Adapun dengan habr maknanya ialah ulama. (Mishbahul Munir, al-Fayyumi)

Bahasa Arab Semata Tidaklah Cukup

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ ٨٢

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapatkan keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(al-An’am: 82)

 pintu-gelap

Sebab Turunnya Ayat

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu, para sahabat merasa berat ketika ayat ini turun. Mereka lalu menyampaikan (apa yang mereka pahami tentang makna ayat tersebut) kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Siapakah di antara kita yang tidak pernah berbuat zalim (menganiaya) terhadap diri sendiri?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya (penafsirannya) bukanlah seperti yang kalian maksud. Tidakkah kalian mendengar apa yang dikatakan oleh seorang hamba yang saleh pada firman Allah ‘azza wa jalla,

إِنَّ ٱلشِّرۡكَ لَظُلۡمٌ عَظِيمٞ ١٣

Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) benar-benar kezaliman yang besar.(Luqman: 13)”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan bahwa yang dimaksud dengan kezaliman (dalam ayat ini) adalah syirik.

Al-Khaththabi rahimahullah mengatakan bahwa para sahabat g memahami kesyirikan (memiliki makna) yang lebih besar daripada sekadar kezaliman. Mereka memahami makna ‘zhulm’ (kezaliman) dalam ayat ini ialah selain syirik, yaitu kemaksiatan. Kemudian mereka menanyakan hal tersebut sehingga turunlah ayat ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Pendapat al-Khaththabi ini perlu ditinjau ulang. Yang tampak bagi saya, mereka (para sahabat) memahami kata ‘zhulm’ dengan makna yang umum, baik syirik maupun yang lainnya (kemaksiatan). Sebab, kata ‘zhulm’ berbentuk nakirah (tidak tertentu) dalam konteks nafi (kalimat peniadaan, sehingga bermakna umum). Akan tetapi, makna yang umum di sini ditinjau dari sisi zahirnya.

Ternyata, (keumuman makna yang) dipahami sebatas yang tampak dari ayat (mencakup syirik dan kemaksiatan) bukan itu yang dikehendaki dalam ayat ini, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kata tersebut tergolong dalam bab ‘sesuatu yang umum, namun dimaksudkan untuk hal yang khusus’. Dengan demikian, maksud kezaliman di sini ialah jenis yang tertinggi darinya, yaitu syirik.” (Fathul Bari, 1/109—111)

 

Penjelasan Mufradat Ayat

وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ

Tidak mencampuradukkan.”

Maknanya adalah لَمْ يَخْلِطُوا  , yaitu tidak mencampurkan.

Muhammad bin Ismail at-Taimi berkata, “(Ada kemungkinan maknanya) ialah mencampurkan antara keimanan dan kesyirikan, meskipun ini makna yang tidak bisa dibayangkan. Yang dimaksud ialah tidak terkumpul pada mereka dua sifat, yakni kekufuran setelah keimanan; tidak akan terjadi kemurtadan. Bisa jadi pula, maknanya ialah mereka tidak mengumpulkan antara keimanan dan kekufuran secara lahir dan batin, yaitu tidak terdapat kemunafikan.”

بِظُلۡمٍ

Dengan kezaliman.”

Maknanya adalah ‘dengan syirik’. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh hadits di atas. Pada riwayat yang lain, para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah di antara kita yang tidak menzalimi dirinya?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “(Maknanya) bukan seperti yang kalian katakan. Makna ayat ‘mereka tidak mencampuradukkan keimanan dengan kezaliman’, ialah dengan kesyirikan. Tidakkah kalian mendengar apa yang diucapkan Luqman?”

Lalu beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan ayat, “Sesungguhnya kesyirikan itu benar-benar kezaliman yang besar.”

Penafsiran ini juga diriwayatkan dari Abu Bakr ash-Shiddiq, Umar, Ubay bin Ka’b, Salman, Hudzaifah, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, ‘Amr bin Syarahbil, Abu Abdurrahman as-Sulami, Mujahid, ‘Ikrimah, an-Nakha’i, adh-Dhahhak, Qatadah, as-Suddi, dan selain mereka. (Fathul Bari, 1/111; Ibnu Katsir, 2/145)

 

Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.

 

Kandungan Ayat

Seperti yang terdapat dalam riwayat di atas, ketika ayat itu turun, para sahabat radhiallahu ‘anhum merasa berat.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata, “Yang menyebabkan mereka merasa berat adalah sangkaan mereka bahwa kezaliman yang harus ditiadakan adalah kezaliman seorang hamba terhadap dirinya. (Maknanya,) tidak ada yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk kecuali orang yang sama sekali tidak melakukan kezaliman terhadap dirinya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa makna (yang benar) ialah sebagaimana yang ditunjukkan oleh Kitabullah, yaitu syirik merupakan kezaliman. Barang siapa tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kezaliman (yakni syirik), ia termasuk golongan yang mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk, sebagaimana yang terjadi pada orang-orang pilihan, seperti firman Allah,

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ فَمِنۡهُمۡ ظَالِمٞ لِّنَفۡسِهِۦ وَمِنۡهُم مُّقۡتَصِدٞ وَمِنۡهُمۡ سَابِقُۢ بِٱلۡخَيۡرَٰتِ بِإِذۡنِ ٱللَّهِۚ ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡفَضۡلُ ٱلۡكَبِيرُ ٣٢

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan ada di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Hal itu sudah karunia yang amat besar.” (Fathir: 32)

Hal ini tidaklah bertentangan dengan ayat lain yang menerangkan bahwa seseorang yang meninggal dunia dalam keadaan belum bertobat dari kezaliman dirinya sendiri—yakni berbuat dosa—akan dihukum. Firman Allah,

(فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ (٧)  وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُ  (٨

Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah,  niscaya dia akan melihat (balasannya) pula.(az-Zalzalah: 7—8)

Abu Bakr ash-Shiddiq radhiallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan kejelekan?”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Wahai Abu Bakr, bukankah kamu pernah ditimpa letih (sakit), sedih, dan cobaan? Dengan itulah kalian mendapatkan balasan.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan, seorang mukmin yang jika meninggal masuk ke dalam jannah (surga), terkadang kejelekannya dibalas sewaktu di dunia dengan ditimpa berbagai musibah. Barang siapa selamat dari tiga jenis kezaliman: syirik, menzalimi orang, dan menzalimi diri sendiri selain kesyirikan, ia akan mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Barang siapa tidak selamat dari berbuat kezaliman, ia akan mendapatkan jaminan dan petunjuk yang tidak sempurna. Maknanya, ia pasti akan masuk ke dalam jannah, sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat lain. Allah ‘azza wa jalla memberikan hidayah kepada jalan yang lurus, yang kesudahannya berakhir masuk ke jannah. Akan tetapi, jaminan keamanan dan petunjuk yang didapatnya tidak sempurna, sesuai dengan kadar berkurangnya keimanannya akibat kezaliman yang dia lakukan.

Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang menafsirkan makna kezaliman) dengan syirik tidaklah bermakna bahwa siapa yang tidak melakukan syirik akbar lantas mendapat jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna. Sebab, sekian banyak hadits dan dalil yang ada dalam al-Qur’an menjelaskan bahwa para pelaku dosa besar (muslim yang tidak berbuat syirik) akan menghadapi keadaan yang menakutkan (mencemaskan). Mereka tidak mendapatkan jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna.

Dengan sebab keduanya (jaminan keamanan dan petunjuk yang sempurna), seseorang mendapatkan petunjuk menuju ash-shirath al-mustaqim, yaitu jalan orang-orang yang telah Allah ‘azza wa jalla anugerahkan nikmat kepada mereka, tanpa harus mengalami proses azab terlebih dahulu.

Namun, pada diri mereka (yang melakukan kezaliman selain syirik akbar) ada pokok hidayah dan pokok kenikmatan sehingga mereka akan dimasukkan ke dalam jannah.

Jadi, jika makna syirik dalam pembahasan ini diartikan dengan syirik besar, maksudnya adalah orang yang tidak berbuat syirik (besar) akan aman dari ancaman yang ditimpakan kepada kaum musyrikin, yaitu azab di dunia dan di akhirat.

Adapun jika yang dimaksud syirik di sini adalah jenisnya (semua jenis syirik), maknanya adalah seseorang menzalimi diri sendiri. Contohnya, kekikiran karena cinta harta akan mendorong seseorang membenci hal yang wajib (semisal menunaikan zakat, -ed.), ini tergolong dalam syirik ashghar. Seseorang mencintai sesuatu yang Allah ‘azza wa jalla benci sehingga hawa nafsu lebih dia kedepankan daripada cintanya kepada Allah, ini syirik ashghar, dan yang semisalnya.

Orang yang semacam ini akan kehilangan jaminan keamanan dan hidayah sesuai dengan kadar kezaliman yang dilakukannya. Oleh karena itu, dari tinjauan dan sisi inilah para ulama salaf memasukkan perbuatan dosa sebagai bentuk syirik.

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “(Jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum atas tafsir ayat di atas) merupakan jawaban yang menenteramkan dan melegakan. Sebab, kezaliman mutlak yang sempurna adalah syirik. Syirik adalah menempatkan peribadahan tidak pada tempatnya.” (Fathul Majid, hlm. 48—50)

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, hadits yang menerangkan asbabun nuzul ayat ini mengandung beberapa faidah sebagai berikut:

  1. Suatu kalimat dimaknai umum hingga datang dalil yang mengkhususkannya.
  2. Bentuk kalimat nakirah dalam konteks nafi, mengandung makna umum.
  3. Pengkhususan menerangkan hal yang umum, dan yang rinci menerangkan hal yang global.
  4. Sebuah lafadz (kata) dapat dibawa kepada makna yang berbeda dengan makna yang tampak secara zahir, untuk sebuah kemaslahatan dalam rangka menolak pendapat yang bertentangan (keliru).
  5. Kezaliman itu bertingkat-tingkat, terjadi perbedaan (antara satu dan yang lain).
  6. Kemaksiatan tidak disebut sebagai kesyirikan.
  7. Seorang yang tidak menyekutukan Allah dengan apapun mendapat jaminan keamanan dan mendapat petunjuk.

Jika muncul pertanyaan, seorang pelaku dosa kadang harus diazab, jaminan keamanan dan petunjuk apakan yang diperoleh? Jawabannya adalah dia akan mendapatkan jaminan untuk tidak kekal di dalam api neraka. Dia akan masuk ke dalam jannah. (Fathul Bari, 1/111)

Wallahu a’lam. Wal ‘ilmu ‘indallah.

 

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Ubaidah Syafruddin

Kitab-kitab Tafsir Ahlussunnah dan Keistimewaannya

Dari uraian sebelumnya, jelas bagi kita bahwa secara umum, manhaj tafsir al-Qur’an terbagi dua; tafsir bil ma’tsur dan tafsir bir ra’yi (dirayah, ijtihad). Kedua manhaj tafsir ini mempunyai tokoh dengan kitab tafsir mereka masing-masing. Akan tetapi, yang akan dikemukakan di sini hanya tafsir yang disusun oleh ulama ahlis sunnah yang dikenal keilmuan dan ketakwaan mereka serta keteguhan mereka dalam mengamalkan ilmu yang mereka miliki.

Adapun kitab tafsir di luar ahlis sunnah, baik yang dibuat para pengikut hawa nafsu maupun kebid’ahan, tidak dipaparkan di sini. Sebab, ahli bid’ah dan para pengikut hawa nafsu tidak ada tujuan mereka selain menyelewengkan makna ayat dari yang haq untuk membela keyakinan mereka yang rusak.

Telah pula dijelaskan bahwa yang menjadi patokan benar tidaknya tafsir yang ada adalah sesuai atau tidaknya tafsir tersebut dengan manhaj salafus saleh g. Sebab, salaf kita yang saleh, yaitu para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang-orang yang paling tahu, sesudah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kandungan al-Qur’an dan paling semangat mengamalkannya. Wallahu a’lam.

 al-quran

Kitab-kitab Tafsir Ahlis Sunnah

  1. Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari, yang diberi judul Jami’ul Bayan fi Tafsiril Quran.

Tafsir ini ditulis oleh Abu Ja’far Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir bin Ghalib ath-Thabari yang lahir tahun 224 H di Thabristan.

Beliau adalah salah seorang imam kaum muslimin yang dijadikan rujukan karena keilmuannya. Dalam bidang tafsir, beliau dikatakan sebagai Bapak Tafsir al-Qur’an, demikian pula di bidang sejarah (tarikh).

Tafsir Ibnu Jarir adalah tafsir yang paling kokoh dan terkenal, bahkan menjadi rujukan pertama bagi mufasir yang menekuni tafsir bir riwayah. Namun, pada saat yang sama, tafsir ini juga merupakan rujukan bagi tafsir ‘aqli karena adanya upaya ijtihad di dalamnya.

Para ulama sepakat menilai tinggi kedudukan tafsir Ibnu Jarir ini.

As-Suyuthi menyebutkan bahwa Kitab Tafsir ath-Thabari adalah kitab tafsir yang paling besar dan paling utama. Sebab, Ibnu Jarir memberikan arahan bagi setiap pendapat, melakukan pentarjihan, menerangkan segi-segi i’rab (kedudukan kata dalam tata bahasa Arab), dan melakukan istinbath (pengambilan hukum dari dalil).

Al-Imam an-Nawawi rahimahullah menerangkan bahwa umat ini sepakat bahwa belum ada yang menyusun tafsir sehebat Tafsir ath-Thabari.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga memuji, “Adapun kitab tafsir yang ada di tangan manusia, yang paling sahih adalah Tafsir ath-Thabari. Beliau menyebutkan pendapat para salaf dengan sanad yang jelas dan tidak ada kebid’ahan di dalamnya; serta tidak menukil dari orangorang yang tertuduh seperti Muqatil bin Sulaiman dan al-Kalbi.”

Manhaj yang diikuti Ibnu Jarir dalam tafsirnya ialah, jika hendak menafsirkan ayat, beliau menyebutkan, “Pendapat mengenai takwil firman Allah ‘azza wa jalla ini adalah demikian dan demikian.”

Kemudian, beliau menafsirkan ayat itu dengan berpegang pada pendapat sahabat dan tabi’in dengan sanadnya. Beliau memaparkan sejumlah riwayat mengenai ayat yang dibahas, sekaligus membandingkannya satu sama lain dan mentarjih salah satunya.

Tidak jarang pula beliau mengoreksi beberapa sanad dari periwayatan tersebut. Rawi yang dipandang tsiqah, beliau nyatakan tsiqah, yang dha’if, beliau tolak riwayatnya.

Meskipun dalam tafsir ini tercantum juga berita Israiliyat, beliau sering menyusulkan pembahasan dan kritikan.

Dalam masalah akidah, beliau menyanggah pendapat ahli kalam dan menguatkan mazhab ahlis sunnah wal jama’ah.

Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir al-Qurthubi

Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Abi Bakr bin Farh al-Anshari al-Khazraji al-Andalusi al-Qurthubi, seorang imam yang menguasai berbagai disiplin ilmu.

Dikenal dengan Jami’ Ahkamil Quran. Kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kitab ini jauh lebih baik dari Tafsir az-Zamakhsyari, lebih dekat kepada jalan ahlil kitab was sunnah serta lebih jauh dari kebid’ahan.

Tafsir beliau boleh dikatakan sebagai sebuah ensiklopedi dengan berbagai disiplin ilmu di dalamnya.

Di antara keistimewaannya ialah tafsir dengan pembahasan fikih yang sangat luas, menyandarkan hadits kepada yang mengeluarkannya.

Di dalam tafsir ini, beliau sedikit menukil kisah Israiliyat dan hadits palsu tanpa mengomentarinya.

Akan tetapi, ketika riwayat seperti ini menodai kesucian malaikat dan kemaksuman seorang nabi, beliau menyanggahnya dan menyatakan kebatilannya atau kelemahan riwayat tersebut. Sebagaimana yang beliau terangkan tentang kisah Harut dan Marut.

Meskipun judul kitab beliau menitikberatkan pembahasan fikih, beliau juga menafsirkan al-Qur’an secara menyeluruh. Beliau menerangkan kata yang asing (gharib) dan menjelaskan macam-macam qira’at dan i’rab. Beliau juga mengutip pendapat ulama terdahulu yang tsiqah, khususnya para penulis kitab tentang hukum.

Dalam masalah akidah dan manhaj, beliau juga menyerang pemikiran Mu’tazilah, Qadariyah, Rafidhah, ahli filsafat, dan kaum tarekat sufiyah yang keterlaluan (melampaui batas). Akan tetapi, semua itu beliau tulis dengan bahasa yang halus, walaupun bernada kritik terhadap tokoh tertentu.

Di antara kekurangannya ialah menukil riwayat Israiliyat tanpa mengomentarinya, kemudian menukil dari beberapa sumber lain tanpa menyebutkan namanya.

Demikian pula riwayat yang lemah dan palsu, masih mengisi halaman kitab besar ini.

 

  1. Tafsir Ibnu Katsir

Beliau adalah ‘Imaduddin Abul Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir. Seorang hafizh dan imam kaum muslimin. Belajar dari Ibnu Taimiyah dan banyak mengadopsi pemikirannya.

Para ulama mengakui keluasan ilmu beliau baik dalam hadits, sejarah dan tafsir.

Kitab beliau al-Bidayah wan Nihayah adalah rujukan utama tentang sejarah Islam. Kitab tafsirnya, Tafsirul Quranil ‘Azhim adalah tafsir yang paling terkenal dari sejumlah kitab tafsir bil ma’tsur yang menjadi rujukan. Sebab, Ibnu Katsir sangat menguasai berbagai disiplin ilmu, seperti tentang sunnah, sejarah orang-orang terdahulu dan yang kemudian.

Dalam tafsirnya ini, beliau selalu mencantumkan hadits yang marfu’, mengemukakan perkataan salafussaleh, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in dan imam-imam sesudah mereka yang mumpuni dalam bidang tafsir.

Di antara keistimewaannya ialah beliau sering memperingatkan akan riwayat Israiliyat yang munkar yang ada dalam sejumlah kitab tafsir bil ma’tsur. Kadang beliau juga mendiskusikan beberapa pendapat mazhab fikih dengan dalil masing-masing mazhab.

Di samping menyandarkan pendapat tentang tafsir yang beliau pilih kepada yang mengucapkannya, beliau juga melakukan kritik terhadap rawi yang menyampaikan. Karena itu, beliau menyatakan sahih yang beliau anggap kuat dan melemahkan yang cacat.

Termasuk keistimewaannya yang menonjol ialah perhatiannya terhadap apa yang dikenal sebagai tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an. Selain itu, beliau menjauhi pembahasan tentang i’rab dan ilmu lain yang tidak begitu diperlukan dalam menafsirkan al-Qur’an.

 

  1. Tafsir asy-Syinqithi

Yang dikenal dengan Adhwaul Bayan fi Idhahil Quran bil Qur’an. Penulisnya adalah asy-Syaikh Muhammad al-Amin bin Muhammad al-Mukhtar al-Jakni asy-Syinqithi.

Dia menguasai ilmu-ilmu alat yang diperlukan seorang mufasir, seorang ahli usul fikih dari kalangan mazhab Maliki. Akan tetapi, beliau tidak terbelenggu oleh taklid buta.

Tafsir ini adalah kitab tafsir yang cukup lengkap, tidak hanya membahas tentang tafsir ayat al-Qur’an semata, tetapi juga sejumlah ilmu syariat lainnya, seperti ilmu usul fikih, hadits, akidah, bahasa Arab, dan balaghah.

Keistimewaannya, beliau menerangkan metode istinbath hukum fikih melalui suatu ayat kemudian menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan ulama. Beliau kemukakan dalil mereka dan mendiskusikannya lalu merajihkan pendapat yang paling kuat dalilnya tanpa fanatik terhadap mazhab tertentu.

Inilah yang beliau terangkan dalam mukadimah kitab beliau Adhwaul Bayan, yaitu memaparkan hukum yang terkait dengan ayat tertentu berikut dalilnya dari as-Sunnah dan pendapat para ulama. Kemudian merajihkan mana yang menurut beliau paling kuat dalilnya.

Hampir tidak ada satu pun ayat yang dilewati beliau kecuali beliau keluarkan dari ayat tersebut sebagian hukum fikihnya yang bermacam-macam.

Misalnya, dari firman Allah ‘azza wa jalla, Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” (al-Baqarah: 30)

Beliau mengeluarkan imamah dan hukumnya.

Ketika mendiskusikan beberapa masalah fikih, beliau sebutkan pendapatnya dan menerangkan apa yang beliau pilih dengan menyebut, “Yang tampak menurut saya adalah….” atau, “Inilah yang tampak, yang tidak boleh beralih kepada yang lain….” atau, “Yang benar dalam masalah ini ialah….” dsb.

Kitab ini tidak termasuk kitab tafsir bir ra’yi, tetapi merupakan istinbath dari al-Qur’an dengan berpegang pada kitab ulama terdahulu dan merajihkan yang beliau pandang kuat.

Hampir sebagian besar beliau mengambilnya dari tafsir al-Qurthubi.

Wallahu a’lam.

 

  1. Tafsir as-Sa’di

Beliau adalah asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashr Alu Sa’di, ulama dari ‘Unaizah.

Tafsir beliau yang berjudul Taisir Karimir Rahman fi Tafsir Kalimil Mannan adalah kitab tafsir yang ringkas.

Meskipun kecil, kitab ini mencakup sebagian pembahasan yang pernah diterangkan ulama dalam tafsir mereka. Kitab ini sesuai dengan judulnya, ringkas dan mudah. Beliau memaparkannya dengan bahasa yang memikat dan jelas yang mencakup semua yang dimaksud oleh ayat yang sedang ditafsirkan baik makna maupun hukum, melalui teks (manthuq) maupun hal-hal yang tersirat (mafhum), tanpa memperluas atau istithrad (membakukan), menyebutkan kisah dan dongeng Israiliyat, serta hikayat sebuah perkataan, sehingga keluar dari tujuan sebenarnya.

Dalam tafsir ini, beliau hanya memfokuskan diri pada makna yang dimaksud oleh suatu ayat dengan ungkapan yang mudah dipahami oleh semua yang membacanya bagaimanapun status keilmuannya.

Beliau lebih memerhatikan pemantapan akidah salaf, mengarahkan kepada Allah ‘azza wa jalla, memetik kesimpulan hukum syar’i, kaidah usul fikih, faedah fikih dan faedah lainnya, yang tidak ditemukan pada tafsir lainnya. Di samping itu, beliau juga memerhatikan penafsiran ayat sifat sesuai dengan tuntutan akidah salaf, berbeda dengan penakwilan sebagian ahli tafsir.

Jauh dari keterangan yang bertele-tele dan panjang lebar yang tidak ada faedahnya, serta membuang-buang waktu dan mengeruhkan pikiran.

Menjauhi pemaparan tentang perselisihan kecuali yang sangat kuat dan perlu disebutkan. Keistimewaan ini penting bagi pembaca sehingga kokoh pemahamannya terhadap sesuatu.

Berjalan di atas manhaj salaf dalam ayat-ayat sifat, tanpa tahrif (menyelewengkan makna) dan takwil yang menyelisihi apa yang dikehendaki Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya, dan ini adalah pilar dalam membina akidah.

Tajamnya penarikan faedah, hukum, hikmah yang ditunjukkan oleh suatu ayat. Hal ini terlihat jelas dalam sebagian ayat, seperti ayat tentang wudhu pada surat al-Maidah, dengan menguraikan lima puluh hikmah, juga sebagaimana dalam kisah Nabi Dawud ‘alaihissalam dan Sulaiman pada surat Shad.

Kitab ini adalah kitab tafsir dan tarbiyah (pendidikan, pembinaan) akhlak yang mulia, sebagaimana terlihat ketika beliau menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat al-A’raf ayat 199,

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.”

Masih banyak tafsir lainnya yang menjadi rujukan kaum muslimin.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar

Madzhab Tafsir dan Konsekuensinya

Setelah berakhirnya masa sahabat dan kemenangan kaum muslimin dalam membebaskan beberapa kota besar di sekitar Jazirah Arab, datanglah murid-murid mereka yang mengambil ilmu tentang Kitab Allah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari mereka. Masing-masing tingkatan tabi’in itu mempelajari ilmu dari sahabat yang ada di tengah-tengah mereka.

Akhirnya, muncul beberapa madrasah tafsir sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Ketiga madrasah tersebut (Makkah, Madinah, dan Irak) mempunyai pengaruh besar terhadap perkembangan tafsir, khususnya tafsir bil ma’tsur. Hal ini sebagaimana diisyaratkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Adapun tafsir, maka yang paling tahu adalah penduduk Makkah, karena mereka adalah murid-murid Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma.”

Pada akhir dinasti Umayyah, awal munculnya dinasti ‘Abbasiyah, tafsir masih dalam bentuk riwayat (bil ma’tsur). Baru pada pertengahan masa ‘Abbasiyah, setelah berkembangnya mazhab fikih, akidah, dan spesialisasi keilmuan, muncul berbagai penafsiran dengan ra’yu.

Sebagian mereka berusaha menarik makna ayat untuk mendukung mazhab yang dianutnya, baik dalam masalah akidah maupun fikih.

Alhasil, setiap kelompok menafsirkan al-Qur’anul Karim dengan penafsiran yang berbeda satu sama lain. Tidak jarang penafsiran itu tidak diterima oleh kelompok lainnya yang berbeda mazhab dan akidah.

Semua itu adalah sebuah keniscayaan dalam menafsirkan al-Qur’an. Ketika seorang mufasir menggunakan manhaj yang berbeda dengan mufasir lain, maka akan melahirkan tafsir yang berbeda pula. Sebagai contoh, menafsirkan al-Qur’an dengan pendekatan filsafat akan lahir produk yang bercorak filosofis. Demikian juga ketika upaya penafsiran terhadap ayat al-Qur’an tersebut menggunakan pendekatan fikih atau sufistik, maka akan menghasilkan tafsir fikih dan sufistik.

Wallahu a’lam.

 quran

Sebab Kesalahan dan Contohnya

Kita tidak meragukan bahwa semua yang terkait dengan tafsir telah cukup lengkap dipaparkan oleh ulama kaum muslimin pada masa awal pembukuan berbagai khazanah ilmu Islam. Jasa mereka cukup besar, hingga patut dihargai, karena orang yang datang sesudah mereka tidak perlu menempuh kesulitan yang berarti untuk meneliti dan menyingkap makna al-Qur’anul Karim.

Meskipun besar jasa dan pengorbanan serta khidmat mereka terhadap Kitab Allah, kita tetap yakin bahwa kesempurnaan hanya milik Allah ‘azza wa jalla.

Semoga Allah ‘azza wa jalla merahmati al-Imam Malik yang pernah menyebutkan, “Semua orang bisa diterima dan ditolak perkataannya, kecuali pemilik kubur ini (beliau menunjuk ke arah kubur Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

Sebab itu, selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ma’shum, bisa diterima perkataan mereka jika sesuai dengan yang haq dan ditolak apabila bertentangan dengan yang haq. Asas dan kaidah ilmu pengetahuan seperti akar atau fondasi bagi bangunan ilmu yang berdiri di atasnya. Berpegang kepada kaidah dan asas ini akan menguatkan ilmu tersebut dan mengembangkannya secara baku sehingga jelas perbedaan mana yang benar dari yang salah.

Secara ringkas, salah adalah lawan dari benar, atau menyelisihi manhaj yang selamat dan jalan yang lurus, atau menyelisihi hakikat yang sesungguhnya.

Sebuah kesalahan bisa karena sengaja, bisa pula tidak; apakah karena lupa, ataupun tidak mengetahui. Akan tetapi, yang paling baik adalah mereka yang menyadari kesalahannya lalu bertaubat dan memperbaiki diri serta tidak mengulangi kesalahan tersebut.

Dari hasil penelitian, munculnya kesalahan banyak terjadi pada tafsir bir ra’yi yang menyimpang dari manhaj salafussaleh dalam menafsirkan al-Qur’anul Karim. Kesalahan tersebut adalah karena mereka menafsirkan nash al-Qur’anul Karim dengan penalaran (logika) semata dan hawa nafsu tanpa bersandar kepada pokok dan syarat yang wajib dipenuhi oleh seorang mufasir.

Akhirnya, penafsiran dan penakwilan mereka terhadap ayat al-Qur’an berlawanan dengan hakikat risalah al-Qur’an, tidak sesuai dengan petunjuk (hidayah)-nya, tidak pula mencapai tujuannya yang mulia, dan tidak sesuai pula dengan tujuan utama diturunkannya kitab yang mulia ini.

Tidak ada satu pun kelompok bid’ah dan pengikut hawa nafsu kecuali melakukan kesalahan dengan membawakan ayat al-Qur’an kepada makna yang mendukung kesesatan mereka dan membela mazhab mereka. Fakta paling jelas adalah tafsir mereka yang tersebar dan disusun berdasarkan keyakinan yang palsu dan mazhab yang menyimpang.

Tidak pula satu pun di antara mereka yang menjadikan nash al-Qur’an sebagai pendukung kesesatan mereka, kecuali di dalam al-Qur’an pula terdapat bantahannya.

Tentang mereka ini, Syaikhul Islam mengatakan, “Mereka menggunakan istilah al-Qur’an dan as-Sunnah, lantas memberinya makna yang sesuai dengan keyakinan mereka. Kemudian mereka berdialog dengan istilah tersebut dan menjadikan apa yang dikehendaki oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasul-Nya sejenis dengan kehendak mereka.”[1]

Mereka menuntut ilmu agama tetapi tidak melalui jalannya yang benar. Sebab, mereka kembali bersandar kepada akal dan pikiran serta penalaran mereka. Apabila mendengar sebagian ayat atau hadits, mereka membenturkannya dengan penilaian akal mereka. Jika sesuai dan menguatkan mereka, tentu mereka menerimanya, kalau tidak sesuai dengan akal mereka, ayat atau hadits itu mereka tolak. Seandainya harus mereka terima juga (hadits atau ayat), mereka akan berusaha menakwilkannya dengan penakwilan yang jauh dan makna yang tidak disukai. Akhirnya mereka menyimpang dari al-haq, menyeleweng, dan membuang yang haq itu ke belakang punggung mereka; serta menempatkan sunnah di bawah tapak kaki mereka.[2]

Intinya, golongan seperti mereka ini lebih dahulu mempunyai sebuah keyakinan atau ideologi. Kemudian mereka membawa lafadz al-Qur’an kepada keyakinan itu, dalam keadaan tidak ada yang mendahului mereka (yang mereka ikuti) sebelum itu di kalangan salaf, baik sahabat, tabi’in yang mengikuti para sahabat dengan baik, maupun para imam kaum muslimin….[3]

Ada beberapa sebab yang memicu terjadinya kesalahan dalam menafsirkan.Secara ringkas, sebagai berikut.

 

  1. Melakukan ijtihad padahal ada nash yang menafsirkan ayat yang dibahas

Seperti ditegaskan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, bahwa semua makna yang menyelisihi al-Kitab (al-Qur’anul Karim) dan as-Sunnah adalah batil dan hujah yang mentah.[4]

Sebagai contoh, mereka yang mengingkari ru’yah (melihat Allah ‘azza wa jalla) yang disebutkan dalam firman Allah ‘azza wa jalla,

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya.” (Yunus: 26)

Tambahan ini adalah ru’yah (melihat Wajah Allah ‘azza wa jalla). Inilah prinsip akidah yang diyakini oleh salafus saleh (sahabat dan tabi’in).[5]

Adapun al-Jubbai, pimpinan Mu’tazilah, menafsirkannya sebagai tambahan pahala.

 

  1. Berpegang kepada hadits lemah dan palsu

Telah dijelaskan bahwa jalan kedua dalam menafsirkan al-Qur’an adalah dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yang dimaksud adalah dengan hadits-hadits yang maqbul (hasan dan sahih). Artinya, mufasir hendaknya memastikan atau menguatkan dugaan bahwa tafsir tersebut memang berasal dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Yang jelas, al-Qur’anul Karim tidak memerlukan kedustaan dan hal yang dibuat-buat untuk menerangkan keutamaannya, apalagi penjelasan maknanya. Sebagai contoh di sini ialah tafsir firman Allah ‘azza wa jalla,

Dialah (Allah) yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, istrinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Rabbnya seraya berkata, “Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.” Tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Mahatinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan. (al-A’raf: 189-190)

Yang dimaksud adalah Adam dan Hawa.[6]

Al-Imam at-Tirmidzi yang meriwayatkannya menyebutkan bahwa hadits hasan gharib (3077). Asy-Syaikh al-Albani menyatakannya lemah (Shahih Dha’if Sunan at-Tirmidzi).

 

  1. Bersandar kepada kisah Israiliyat

Telah dijelaskan pengertian Israiliyat dan pembagiannya. Sebagai contoh ialah ketika menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla surat al-Maidah ayat 21—22, sebagian ahli tafsir mengisahkan pertemuan beberapa utusan Nabi Musa q dengan orang-orang Jabbarin yang ada di negeri yang diperintahkan untuk dimasuki Bani Israil. Ternyata tinggi orang-orang tersebut lebih dari tiga ribu hasta.[7]

 

  1. Berpedoman kepada prasangka dan cerita hikayat

Kisah al-‘Utbi tentang istighatsah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tawasul dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dinukil oleh al-Qurthubi, an-Nasafi, dan Abu Hayyan al-Andalusi dalam tafsir mereka tentang firman Allah ‘azza wa jalla surat an-Nisa’ ayat 64.

Sanad kisah ini tidak sahih, matannya menyelisihi riwayat yang sahih yang menunjukkan kepada tawasul yang terlarang.

 

  1. Hanya bertumpu kepada bahasa dan meninggalkan atsar yang sahih

Asy-Syaikh Muhammad Bazmul dalam Syarah Muqaddimah fi Ushulit Tafsir menyebutkan bahwa tidak semua yang berlaku secara bahasa, boleh untuk dijadikan tafsir.

Berpegang dengan atsar salaf yang saleh dalam tafsir adalah perkara yang jelas dan tidak terbantah, karena hal yang telah dijelaskan. Sebagai contoh, penafsiran terhadap firman Allah ‘azza wa jalla dalam surat Ali ‘Imran ayat 39,

Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, ketika ia tengah berdiri melakukan salat di mihrab (katanya), “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang saleh.”

bahwa kalimat dari Allah ‘azza wa jalla ini adalah Kitab Allah, karena hanya berpegang kepada bahasa, tidak melihat susunan dan sebab turunnya ayat. Sebab itu, para ulama menyebutkan bahwa menguasai bahasa Arab saja tidak cukup untuk menjadi bekal dalam menafsirkan firman Allah ‘azza wa jalla.

 

  1. Bertumpu pada simbol atau kiasan (majaz) dan tamsil

Para ulama berbeda pendapat ada tidaknya majaz (kiasan) dalam al-Qur’anul Karim dan as-Sunnah. Syaikhul Islam merajihkan tidak adanya majaz dalam bahasa al-Qur’an secara mutlak.

Mereka yang berpegang dengan majaz ini menjadikannya jalan untuk membelokkan makna ayat tentang sifat-sifat Allah ‘azza wa jalla ketika mereka tidak mampu untuk mengingkarinya.

 

  1. Bersandar kepada ilmu kalam dan filsafat

Seperti Ibnu Sina yang menafsirkan ‘Arsy sebagai falak yang sembilan sedangkan malaikat yang memikulnya adalah falak yang delapan.[8]

Atau, tafsir mereka tentang malaikat sebagai kekuatan kebaikan dalam diri seseorang, sedangkan setan adalah kekuatan dorongan kejelekan dalam dirinya.

 

  1. Bersandar hanya kepada logika dan mendahulukannya dari atsar yang sahih

Seperti yang dilakukan orang-orang yang menolak tafsir al-Qur’anul Karim dengan hadits yang sahih. Ketika mereka tidak mampu menolaknya, mereka menakwilkannya.

Misalnya, mereka yang membatasi makanan yang diharamkan hanya empat yang disebutkan dalam al-Qur’an. Sebetulnya, selain berpegang dengan akal, mereka mengacu pada pengertian lahiriah bahasa. Tidak melihat dalil lain yang menerangkan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang yang tidak hanya menafsirkan makna ayat al-Qur’an, tetapi juga menetapkan hukum yang tidak ada di dalam al-Qur’an. Dan itu semua adalah ketetapan dan izin dari Allah ‘azza wa jalla.

Prinsip mereka, apabil akal bertentangan dengan wahyu, dahulukan akal daripada wahyu. Wallahul Musta’an. Lihat pembahasan yang telah lewat tentang manhaj tafsir yang benar.

 

  1. Mengambil tafsir dari ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu

Semua yang menyelisihi petunjuk Allah ‘azza wa jalla, Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan jalan orang yang beriman (yang pertama adalah para sahabat radhiallahu ‘anhum –red.) adalah ahli bid’ah dan pengikut hawa nafsu.

Pengertian ini tidak hanya mencakup ahli bid’ah seperti Syi’ah, Khawarij, atau sufi, tetapi juga orang yang berjalan di atas pemahaman sekuler, liberalis, sosialis komunis, dsb. Wallahu a’lam.

Selain itu, termasuk salah satu bentuk kesalahan tafsir adalah adanya pendapat yang syadz (nyeleneh) di dalam menafsirkan al-Qur’an. Ibnu Hazm mendefinisikan syadz ini sebagai sebuah pendapat yang menyelisihi al-haq. Semua yang bertentangan dengan hal yang sudah benar dalam satu masalah, dikatakan syadz. Karena tidak mungkin al-haq itu disebut syadz, maka yang ada hanya al-haq dan yang batil, sehingga sah dikatakan bahwa syadz itu batil.[9]

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Al-Ustadz Abu Muhammad Harits Abrar


[1] Bughyatul Murtad, hlm. 235 dalam Asbabul Khatha’ fit Tafsir (1/17)

[2] Mukhtashar Shawa’iqul Mursalah (2/492) dalam Asbabul Khatha’ fit Tafsir (1/17)

[3] Syarah Muqaddimah fi Ushulit Tafsir, hlm. 184

[4] Asbabul Khatha’, hlm. 96

[5] Syarh ‘Aqidah Ahlis Sunnah al-Lalikai (2/455) dalam Asbabul Khatha’, hlm. 96

[6] Asbabul Khatha’, hlm. 143

[7] Lihat Tafsir ath-Thabari, Ibnu Abi Hatim, dan al-Baghawi

[8] Risalah Ibnu Sina dalam Asbabul Khatha’, hlm. 276

[9] Al-Ihkam fi Ushulil Ahkam