Makna Hadits “Mukmin yang Kuat”

Sahihkah hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِل اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah subhanahu wa ta’ala daripada mukmin yang lemah.”

Jika sahih, apa maknanya dan kekuatan itu ditinjau dari sisi apa?

Lanjutkan membaca Makna Hadits “Mukmin yang Kuat”

Saling Menasihati, Jalan Keselamatan

KHUTBAH PERTAMA:

 إِنَّ الْحَمْدَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسۡلِمُونَ ١٠٢

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱتَّقُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفۡسٖ وَٰحِدَةٖ وَخَلَقَ مِنۡهَا زَوۡجَهَا وَبَثَّ مِنۡهُمَا رِجَالٗا كَثِيرٗا وَنِسَآءٗۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ٱلَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِۦ وَٱلۡأَرۡحَامَۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَيۡكُمۡ رَقِيبٗا ١

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَقُولُواْ قَوۡلٗا سَدِيدٗا ٧٠ يُصۡلِحۡ لَكُمۡ أَعۡمَٰلَكُمۡ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡۗ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ فَقَدۡ فَازَ فَوۡزًا عَظِيمًا ٧١

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ وَشَرَّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ. أَمَّا بَعْدُ؛

 

Ad-Din_An-Nashihah

Kaum muslimin rahimakumullah!

Pemberian paling berharga dari seseorang untuk saudaranya yang tidak bisa dinilai dengan emas dan perak adalah nasihat untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan kejelekan. Sebab, nasihat merupakan urusan yang paling pokok di dalam agama Islam, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

الدِّينُ النَّصِيحَةُ

“Agama adalah nasihat.” ( HR. Muslim dari Tamim ad-Dari radhiallahu ‘anhu)

Upaya saling menasihati dalam kebaikan merupakan salah satu jalan yang bisa menyelamatkan seseorang dari kerugian dunia dan akhiratnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

  وَٱلۡعَصۡرِ ١   إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَفِي خُسۡرٍ ٢   إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلۡحَقِّ وَتَوَاصَوۡاْ بِٱلصَّبۡرِ ٣

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran, serta nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.” (Al-‘Ashr: 1—3)

Sikap saling meminta dan saling memberi nasihat adalah interaksi kemasyarakatan kaum muslimin yang dianjurkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda menyebutkan enam perkara yang merupakan hak dan kewajiban seorang muslim atas saudaranya,

فَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ أَخُوكَ فَانْصَحْ لَهُ

“Jika saudaramu meminta nasihatmu, berilah nasihat untuknya.” (HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu)

 

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Sudah tidak asing bagi kita tentang keutamaan menyampaikan nasihat, karena nasihat adalah salah satu bentuk perwujudan amar ma’ruf nahi mungkar. Banyak sekali dalilnya baik dari al-Qur’an maupun as-Sunnah.

Akan tetapi, yang ingin kita tekankan dalam khutbah ini adalah pentingnya mendengar dan menerima nasihat serta tercelanya sikap menolak dan mengabaikan nasihat.

 nasihat

Ayyuhal muslimun rahimakumullah!

Nasihat yang benar, yang dibangun di atas al-Qur’an dan as-Sunnah, wajib didengar dan diterima, karena nasihat tersebut adalah agama dan pemberian yang sangat berharga dari saudara kita. Orang yang menerima nasihat berarti dia telah berusaha untuk menyelamatkan dirinya dari kebinasaan dan kerugian.

Sebaliknya, orang yang menolak nasihat berarti dia telah menghadapkan dirinya ke dalam jurang kebinasaan, sebagaimana yang dialami oleh umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah subhanahu wa ta’ala ketika menolak nasihat dari para nabi. Contohnya ialah kaum Tsamud ketika menolak nasihat Nabi Shalih ‘alaihissalam.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

فَأَخَذَتۡهُمُ ٱلرَّجۡفَةُ فَأَصۡبَحُواْ فِي دَارِهِمۡ جَٰثِمِينَ ٧٨ فَتَوَلَّىٰ عَنۡهُمۡ وَقَالَ يَٰقَوۡمِ لَقَدۡ أَبۡلَغۡتُكُمۡ رِسَالَةَ رَبِّي وَنَصَحۡتُ لَكُمۡ وَلَٰكِن لَّا تُحِبُّونَ ٱلنَّٰصِحِينَ ٧٩

Lalu datanglah goncangan gempa menimpa mereka sehingga mereka mati bergelimpangan di rumah mereka. Nabi Shalih pun pergi berpaling meninggalkan mereka seraya berkata, “Wahai kaumku, sungguh aku telah sampaikan risalah dari Rabbku. Aku telah berusaha untuk menyampaikan nasihatku kepada kalian. Namun, kalian tidak menyukai orang yang memberi nasihat.” (Al-A’raf: 78—79)

Di dalam ayat tersebut, terdapat anjuran untuk mencintai nasihat dan mencintai para pemberi nasihat. Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala membuka hati kita sehingga diberi kelapangan dada untuk menerima nasihat kebenaran, karena hal itu merupakan tanda keimanan.

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤۡمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيۡنَهُمۡ ثُمَّ لَا يَجِدُواْ فِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَرَجٗا مِّمَّا قَضَيۡتَ وَيُسَلِّمُواْ تَسۡلِيمٗا ٦٥

“Sungguh demi Rabbmu, tidaklah mereka beriman sampai mereka menjadikan dirimu (Nabi Muhammad) sebagai penengah dari apa yang mereka perselisihkan. Kemudian, tidaklah ada keberatan di hati mereka untuk menerima apa yang engkau putuskan dan mereka menerimanya dengan sepenuh hati.” (An-Nisa’: 65)

Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan,

ٱلَّذِينَ يَسۡتَمِعُونَ ٱلۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُۥٓۚ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ هَدَىٰهُمُ ٱللَّهُۖ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمۡ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ١٨

“Orang-orang yang mendengar perkataan lalu mengikuti yang terbaik darinya. Mereka itulah orang-orang yang telah mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wa ta’ala dan mereka itulah orang yang memiliki akal sehat.” (Az-Zumar: 18)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيم،ِ أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

 


KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَاهُ، وَأشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، أَمَّا بَعْدُ:

Jamaah Jumat rahimakumullah!

Hendaknya kita memperbanyak berdoa kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar dikaruniai hidayah dan taufik sehingga kita mudah menerima nasihat dan kebenaran. Di antara faktor yang menghalangi seseorang menerima nasihat adalah tidak mendapatkan taufik dari Allah subhanahu wa ta’ala.

 Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ ٥٦

“Sesungguhnya engkau tidak akan bisa memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai. Akan tetapi, Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (Al-Qashash: 56)

Sepantasnya pula kita sering memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari tipu daya setan yang senantiasa berusaha menghalangi manusia dari nasihat dan kebenaran. Sebab, Iblis telah menyatakan—sebagaimana yang Allah subhanahu wa ta’ala firmankan dalam al-Qur’an,

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغۡوِيَنَّهُمۡ أَجۡمَعِينَ ٨٢  إِلَّا عِبَادَكَ مِنۡهُمُ ٱلۡمُخۡلَصِينَ ٨٣

Iblis berkata, “Demi kemuliaan-Mu, aku pasti akan menyesatkan mereka semua, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih.” (Shad: 82—83)

قَالَ فَبِمَآ أَغۡوَيۡتَنِي لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَٰطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ١٦

Iblis berkata, “Karena Engkau (Allah) telah menyesatkanku, aku pasti akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus.” (Al-A’raf: 16)

Hendaknya pula kita senantiasa mengendalikan hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu sangat kuat berperan dalam menghalangi seseorang untuk menerima nasihat.

إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٞ رَّحِيمٞ ٥٣

“Sesungguhnya hawa nafsu selalu mengajak kepada kejahatan, kecuali nafsu yang mendapat rahmat dari Rabbku.” (Yusuf: 53)

 

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah!

Jauhilah sikap sombong dan angkuh, karena kesombongan menyebabkan seseorang menolak nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍالْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Seseorang yang di dalam kalbunya terdapat kesombongan sebesar biji sawi tidak akan masuk surga…. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang.” (HR. Muslim dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

 arang-api

Hadirin rahimakumullah!

Hasad (iri, dengki) juga merupakan faktor penghalang seseorang untuk menerima nasihat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

“Tinggalkanlah hasad (sifat iri), karena hasad akan memakan kebaikan-kebaikan seperti api melahap kayu bakar.”

Di antara faktor yang membantu seseorang mudah menerima nasihat adalah sifat jujur. Sebaliknya, dusta adalah sebab yang menyulitkan seseorang menerima nasihat dan kebaikan. Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

… عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ 

“Hendaknya kalian bersikap jujur, karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan, sedangkan kebaikan akan membawa ke surga…”

وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ

“Tinggalkanlah kedustaan, karena dusta akan membawa kepada kejahatan, sedangkan kejahatan akan membawa ke neraka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu)

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِ وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

“Ya Allah, perlihatkan kepada kami bahwa kebenaran itu kebenaran, dan berilah rezeki kepada kami untuk mengikutinya. Perlihatkanlah kepada kami bahwa kebatilan itu kebatilan, dan berilah rezeki kepada kami untuk menjauhinya.”

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Ishaq Abdullah Nahar

Amirul Mukminin Umar bin al-Khaththab (13) : Runtuhnya Dinasti Sasanid

Runtuhnya Dinasti Sasanid

Muharram tahun 14 H. Sa’d masih bertahan di ‘Uzaib dan memperkuat pasukan muslimin di daerah itu. Setelah itu, Sa’d mulai bertolak menuju Qadisiyah sambil tetap melaporkan situasi Qadisiyah kepada Amirul Mukminin di Madinah.

Beberapa prajurit disebar untuk mencari berita tentang pasukan Persia. Di antara mereka ada yang diutus ke Hirah. Pasukan intelijen itu segera berangkat dan tidak lama kemudian kembali membawa berita bahwa Raja Persia, Yazdajird, telah menyiapkan pasukan besar untuk mengusir pasukan muslimin dari Irak.

Yazdajird betul-betul menyiapkan semua yang dimiliki oleh Kerajaan Persia baik personil maupun perlengkapannya untuk menyerang kaum muslimin. Bahkan, tokoh-tokoh pilihan dan ahli-ahli perang Persia diturunkan untuk memperkuat pasukan, seperti Jalinus, Hurmuzan, Mahran ar-Razi, Bairuzan, dan Dzul Hajib. Yazdajird menyerahkan pimpinan tertinggi pasukan ini kepada Rustum bin al-Farrakhzad.

Sa’d mulai menceritakan keadaan Qadisiyah kepada Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab. Dalam suratnya, beliau menjelaskan bahwa Persia sudah menyiapkan pasukan besar untuk menghadapi kaum muslimin dan sudah bermarkas di Sabath.

Amirul Mukminin tetap memberi arahan, seakan-akan beliaulah yang mengatur jalannya peperangan, sedangkan Sa’d hanya melaksanakan perintah dan arahan Amirul Mukminin.

Di antara nasihat Amirul Mukmin kepada Sa’d ialah agar Sa’d dan pasukannya tidak merasa risau dan tetap yakin akan menang. “Seakan-akan dibisikkan ke dalam hatiku, bahwa engkau akan mengalahkan mereka. Mintalah pertolongan kepada Allah dan serahkanlah semua urusan ini kepada-Nya.”

Setelah itu, Amirul memerintahkan agar menepati perjanjian, tidak berbuat khianat, dan mengirim beberapa tokoh untuk mengajak pembesar Persia kepada Islam.

Berangkatlah Nu’man bin Muqarrin dan teman-temannya hingga melewati Sabath, di barat daya Madain. Setibanya di Madain, mereka bertemu dengan para panglima dan menawarkan Islam dengan lemah lembut.

“Kami mengajak anda kepada Islam. Agama yang menampakan kebaikan yang baik dan menyatakan buruknya semua yang buruk. Kalau anda menerima, kami tinggalkan pada anda Kitab Allah (al-Qur’an), agar anda berhukum dengannya dan kami biarkan anda mengatur urusan negeri anda. Kalau anda tidak menerima, anda harus menyerahkan jizyah; dan kalau tidak, anda kami perangi.”

Melihat sikap para delegasi itu, lemah lembut dalam berdialog, Yazdajird mengira itu adalah kelemahan dan dia mulai mengingatkan keadaan duta-duta itu sebelum Islam.“Dahulu kamu adalah bangsa yang paling terbelakang, sangat sedikit jumlahnya, paling lemah dan paling buruk keadaannya. Jangan mimpi ingin bertempur dengan pasukan Persia. Kalau kamu kesulitan, kami akan beri kamu makanan, pakaian, bahkan kami siapkan seorang raja untuk mengurusi kamu.”

Akhirnya, Qais bin Zurarah mulai berbicara, “Anda menyebutkan keadaan kami tanpa ilmu.” Kemudian beliau menceritakan bagaimana buruknya keadaan mereka sebelum menerima hidayah Islam. Mereka berada dalam kesesatan, perpecahan dan kehinaan, tetapi Allah menggantikan semua itu dengan Islam.

Setelah itu, bangsa Arab menjadi bangsa yang terhormat, keyakinan mereka adalah keyakinan yang paling baik, akhlak mereka adalah akhlak yang paling mulia, hati merekapun bersatu, dan kokoh di atas kebenaran.

Kemudian, kata Qais, “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya memerintahkan kami mengajak orang-orang yang ada di sekeliling kami kepada Islam. Karena itu, pilihlah apa yang kamu mau; kamu masuk Islam agar dirimu selamat, atau menyerahkan jizyah (pajak) dengan tanganmu sendiri dalam keadaan hina, atau pedang.”

Dengan berang, Yazdajird berkata, “Apakah seperti ini caranya kamu menghadapku?”

Kata Qais pula, “Saya tidak menghadapi kecuali orang yang mengajak saya bicara. Seandainya orang lain yang mengajak bicara, juga akan saya hadapi seperti ini.”

Yazdajird bertambah marah. Kesombongan bangkit, apalagi dia termasuk orang yang tidak beradab, gampang tersinggung, dan tidak suka bertukar pikiran atau bermusyawarah. Dia menyuruh para utusan itu pulang, “Kalau bukan karena utusan itu tidak boleh dibunuh, pasti kubunuh kamu. Pulanglah kamu. Aku akan kirimkan Rustum untuk mengubur kalian di parit Qadisiyah.”

Kemudian dia memerintahkan agar diambil sekeranjang tanah dan berkata, “Suruh orang yang paling mulia di antara mereka memikulnya.”

‘Ashim bin ‘Amr berkata, “Saya yang paling mulia di antara mereka.”

Lalu diapun memikul tanah itu menemui teman-temannya yang bertanya-tanya, “Untuk apa kamu membawa tanah itu?”

“Harapan positif. Allah sudah memberi kamu kekuatan menguasai tanah mereka.”

Para utusan itu kembali menemui Panglima Sa’d bin Abi Waqqash dan berkata, “Gembiralah, Allah telah memberi kita ikatan kerajaan mereka.”

Semakin hari, kaum muslimin semakin kuat dan optimis. Berbeda halnya dengan Persia, mereka semakin lemah dan bertambah lemah pula keadaan para pembesar Yazdajird melihat kegembiraan kaum muslimin mendapat sekeranjang tanah Persia.

Rustum yang berada di Sabath berangkat menemui Yazdajird untuk menanyakan, mengapa kaum muslimin kelihatan tenang, bahkan bergembira? Yazdajird menerangkan apa yang telah terjadi.

Kata Rustum menyalahkan, “Wahai Paduka, tanah itu diambil oleh orang yang paling cerdik di antara mereka. Mereka memikulnya karena tidak lain sebagai sikap optimis bahwa mereka pasti menguasai tanah Persia.”

Sambil menahan marah, Rustum keluar dan memerintahkan prajuritnya mengejar utusan yang membawa tanah itu, “Jangan sampai dia membawanya pulang ke negeri mereka. Kalau kamu gagal, pasti Allah lepaskan tanah kamu untuk mereka.”

Beberapa prajurit segera berangkat mengejar, tetapi mereka gagal dan kembali menemui Rustum. Kata Rustum, “Mereka telah pergi membawa tanah kamu. Mereka telah membawa kunci-kunci bumi Persia.”

Kejadian itu semakin menambah kekalutan dan kecemasan di kalangan Persia. Rustum sendiri adalah seorang ahli nujum dan seakan-akan telah melihat tanda-tanda kekalahan Persia. Oleh karena itu, dia berusaha mengulur-ulur waktu, agar kaum muslimin bosan dan pergi meninggalkan Persia. Ternyata, kaum muslimin semakin kuat bertahan dan tetap menunggu terjadinya pertempuran.

Di sisi lain, Rustum yang sengaja menunda-nunda, justru mendapat tekanan dari Yazdajird agar segera menyerang dan mengusir kaum muslimin. Mau tidak mau, Rustum pun berangkat bersama 60.000 tentara Persia, dengan Jalinus di bagian depan dengan jumlah yang sama.

Di sayap kanan ada Hurmuzan, sedangkan di sayap kiri ada Mahran bin Bahram ar-Razi. Pasukan ini membawa pula 30 ekor gajah. Lima belas ekor ditempatkan di bagian inti pasukan, sedangkan lima belas lainnya di kedua sayap pasukan.

Dalam perjalanannya, Rustum singgah di Kautsa dan menangkap seorang laki-laki Arab. Rustum bertanya, “Apa yang kamu cari di sini?”

Pria itu menjawab, “Kami hanya mencari apa yang telah dijanjikan oleh Allah, yaitu negerimu dan anak-anakmu, jika kamu tidak masuk Islam.”

“Kalau kalian kalah dan terbunuh?” tanya Rustum.

“Kalau kami ada yang terbunuh, kami masuk surga, sedangkan yang masih hidup, pasti Allah buktikan janji-Nya.”

“Kalau kami menjadi tawanan di tangan kalian?”

“Amalan kamu itulah yang membuat kamu tertawan, dan semoga Allah menyelamatkan kamu karenanya. Janganlah kamu terkecoh dengan orang-orang yang ada di sekitarmu. Kamu bukannya menghadapi manusia, melainkan menghadapi takdir.”

Rustum sangat marah dan membunuh orang tersebut. Setelah itu, Rustum membawa pasukannya hingga tiba di Hirah. Di tempat lain, Sa’d mulai mengirim beberapa orang tentara muslimin menuju Sawad. Rustum mengetahui hal ini, maka diapun mengirim pasukannya untuk menghadang.

Sa’d mendengar berita ini lalu mengirim ‘Ashim bin ‘Amr untuk memperkuat pasukan kecil itu. Begitu melihat pasukan ‘Ashim, tentara Persia itu lari ketakutan. ‘Ashim pun kembali ke pasukan induk dengan ghanimah.

 

“Dua Ribu” Prajurit Musuh

Kemudian, Sa’d mengirim ‘Amr bin Ma’dikariba dan Thulaihah al-Asadi untuk mengintai pasukan Persia. Setelah berjalan sejauh satu farsakh lebih, keduanya sampai di gudang senjata Persia.

‘Amr berhenti di sana, sedangkan Thulaihah terus melanjutkan pengintaiannya. Tidak lama, dia sampai di perkemahan pasukan Persia. Ketika malam mulai menjulurkan tirainya, Thulaihah mendekam di tempat persembunyiannya.

Ketika malam semakin gelap, Thulaihah mendekati tenda yang lebih bagus dan melihat seekor kuda yang baik. Perlahan, Thulaihah merayap lalu mematahkan satu atau dua tiang tenda dan membawa lari kuda itu. Pasukan yang berjumlah sekitar 70.000 orang itu tersentak.

Tiga orang prajurit Persia segera mengejar. Menjelang pagi, mereka berhasil mendekati Thulaihah. Thulaihah sengaja berhenti, menunggu mereka mendekat.

Prajurit pertama yang paling depan segera menyerang Thulaihah, tetapi dengan mudah Thulaihah membunuhnya. Begitu pula prajurit kedua. Prajurit ketiga semakin marah, dua prajurit tadi adalah sepupunya.

Dia nekat menyerang, tetapi dengan mudah serangannya dipatahkan oleh Thulaihah. Akhirnya, dia menyerah dan minta ditawan oleh Thulaihah. Thulaihah menyuruhnya berjalan di depan dan membawanya ke induk pasukan lalu menghadapkannya kepada Panglima Sa’d.

Mulanya Sa’d marah melihat ketidakdisiplinan Thulaihah, “Ke mana kamu dan apa yang kamu bawa?”

“Dia prajurit Persia, tanyailah tentang pasukan mereka.”

Prajurit itu mulai takut, tetapi dia berkata, “Apakah kamu menjamin keselamatanku kalau aku jujur?”

“Ya, jujur meskipun dalam peperangan, lebih kami sukai daripada kebohongan,” kata Sa’d.

“Aku akan ceritakan kejadian yang aku alami dengan orang ini (dia menunjuk Thulaihah) sebelum yang lainnya (boleh)?” prajurit itu mulai bercerita.

Aku sudah terjun dalam berbagai pertempuran dan sering mendengar cerita tentang para pahlawan, bahkan sudah pernah bertemu dengan mereka sejak masih belia. Sampai aku mengalami kejadian yang kamu lihat ini. Aku belum pernah mendengar ada seorang laki-laki yang sendirian menerobos perkemahan 70.000 tentara.

Dia membawa lari seekor kuda dan kami bertiga mengejarnya. Prajurit pertama, yang kekuatannya setanding dengan seribu prajurit berhasil mendekat dan menyerang orang itu, tetapi dengan mudah dia mengalahkan dan membunuhnya. Begitu pula yang kedua, yang juga mempunyai kekuatan yang setanding dengan seribu prajurit. Kemudian aku berhasil mengejarnya dan aku tidak tahu berapa yang setanding denganku. Aku sangat dendam dengan terbunuhnya dua prajurit pertama, karena mereka adalah sepupuku.

Kematian seakan membayang di mataku, maka akupun menyerah dan membiarkannya membawaku kepadamu. Pasukan Persia dipimpin langsung oleh Rustum dengan kekuatan 120. 000 orang. Para pengikut yang melayani mereka, sebanyak itu juga. Orang itu masuk Islam dan diganti namanya oleh Sa’d menjadi Muslim.

Dia kembali kepada Thulaihah dan berkata, “Demi Allah, kamu tidak akan terkalahkan selama kamu tetap seperti yang aku lihat, menepati janji, jujur, dan berupaya memperbaiki serta menyantuni orang lain. Aku tidak lagi perlu bergaul dengan orang Persia.” Laki-laki Persia, yang kemudian bernama Muslim ini gugur sebagai syahid dalam pertempuran itu.

(Insya Allah bersambung)

Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: تَلَا رَسُولُ اللهِ :

هُوَ ٱلَّذِيٓ أَنزَلَ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ مِنۡهُ ءَايَٰتٞ مُّحۡكَمَٰتٌ هُنَّ أُمُّ ٱلۡكِتَٰبِ وَأُخَرُ مُتَشَٰبِهَٰتٞۖ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٞ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَٰبَهَ مِنۡهُ ٱبۡتِغَآءَ ٱلۡفِتۡنَةِ وَٱبۡتِغَآءَ تَأۡوِيلِهِۦۖ وَمَا يَعۡلَمُ تَأۡوِيلَهُۥٓ إِلَّا ٱللَّهُۗ وَٱلرَّٰسِخُونَ فِي ٱلۡعِلۡمِ يَقُولُونَ ءَامَنَّا بِهِۦ كُلّٞ مِّنۡ عِندِ رَبِّنَاۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّآ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٧

قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ: فَإِذَا رَأَيْت الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ، فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوهُمْ

Lanjutkan membaca Kemurnian Agama Terjaga dengan Peringatan Ulama

Menjauhi Majelis Syubhat

 وَإِذَا رَأَيۡتَ ٱلَّذِينَ يَخُوضُونَ فِيٓ ءَايَٰتِنَا فَأَعۡرِضۡ عَنۡهُمۡ حَتَّىٰ يَخُوضُواْ فِي حَدِيثٍ غَيۡرِهِۦۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ ٱلشَّيۡطَٰنُ فَلَا تَقۡعُدۡ بَعۡدَ ٱلذِّكۡرَىٰ مَعَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ ٦٨

Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, tinggalkanlah mereka hingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika setan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).”  (Al-An’am: 68)

  Lanjutkan membaca Menjauhi Majelis Syubhat

Tanya Jawab Ringkas Edisi 107

Berharap Pahala=Berharap Imbalan?

Saya selalu membayangkan apa yang akan terjadi di masa depan saya. Terkadang ada ketakutan bahwa kelak hidup saya tidak seenak sekarang. Saya sangat setuju bahwa hidup di dunia ini sudah diatur oleh Allah subhanahu wa ta’ala. Apapun yang kita lakukan yang akan kita dapatkan hasilnya kelak. Saya sengaja selalu berusaha untuk melakukan hal baik sekarang, karena saya sangat berharap kelak saya akan hidup bahagia. Apakah hal ini sama seperti memberi tetapi mengharapkan imbalan?

Dijawab oleh al-Ustadz Qomar Suaidi

Lakukanlah kebaikan semampu Anda, niscaya Allah tidak akan menyianyiakan amalan Anda, asalkan kebaikan itu ada contohnya dalam syariat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan disertai niat yang ikhlas.

Perlu diketahui, tidak ada seorang pun yang masuk surga dengan sebab amalnya semata, sampaipun Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hanya saja, Allah subhanahu wa ta’ala memberi rahmat-Nya kepada beliau.

Oleh karena itu, beramallah demi mendapat rahmat Allah subhanahu wa ta’ala. Tidak ada istilah imbal-balik ketika kita beramal untuk mendapatkan pahala dari Allah. Amal kita terlalu sedikit, sedangkan nikmat-Nya terlalu banyak. Akan tetapi, dengan amal, kita akan mendapatkan rahmat-Nya.

 


Ikhtilath Saat Latihan Bela Diri

Apa boleh ikut bela diri yang pada waktu latihan antara laki-laki dengan wanita tidak dipisah?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Bela diri tanpa ada ilmu hitam atau bantuan jin, hukumnya boleh. Akan tetapi, saat mempelajarinya tidak boleh ada pelanggaran syariat, seperti ikhtilath.

 


Titip Doa di Depan Ka’bah

Apa hukum menitipkan doa lewat orang yang sedang ibadah umrah agar dia mendoakan kita di depan Ka’bah dengan doa yang kita inginkan?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Hadits yang menjelaskan titip doa kepada seseorang yang safar, haji, atau umrah adalah dhaif.

 


Oper Kontrak Rumah

Saya mengontrak rumah dua tahun. Sebelum masa kontrak selesai, saya pindah. Rumah kontrakan lama tidak boleh dioper/ditempati orang lain oleh pemilik rumah. Apakah salah jika kontrakan itu saya operkan kepada orang lain tanpa sepengetahuan pemilik rumah?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Tergantung kesepakatan sebelumnya. Jika disepakati bahwa apabila rumah kontrak tidak ditempati, dikembalikan kepada pemilik rumah dan tidak boleh dioper kepada orang lain harus ditepati. Jika tidak ada kesepakatan apapun sebelumnya, sang penyewa punya hak oper kontrak selama waktu kontrak tersisa.

 


BPJS

Apa hukumnya kita ikut BPJS? Yang saya tahu, kalau ikut BPJS setiap bulan harus mengangsur uang ke bank, padahal transaksi lewat bank biasanya ada bunganya.

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad Afifuddin

Faidah yang kita dapatkan dari asy-Syaikh Ali asy-Syarafi bahwa BPJS dengan membayar setoran tiap bulan untuk dapat layanan kesehatan saat sakit, termasuk asuransi bisnis yang ribawi. Karena itu, kita tidak boleh mengikutinya. Seorang dokter tidak boleh mengadakan BPJS dalam praktiknya. Namun, apabila dia tidak mengadakannya dan hanya buka praktik, tidak mengapa walaupun pasien membayar dengan sistem asuransi. Wallahu alam.

 


Daging Kurban Disimpan Lebih dari Tiga Hari

Bolehkah orang yang berkurban kemudian mengambil daging dan disimpan lebih dari tiga hari?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Boleh, kecuali jika daerah tempat Anda tinggal tertimpa kelaparan karena kurang makanan, maka tidak boleh.

 


Istri Diminta Keluar dari PNS

Istri saya seorang PNS. Saat diminta keluar, istri bersedia, tetapi orang tuanya tidak setuju. Apa nasihat ustadz kepada saya?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Pada asalnya istri lebih wajib taat kepada suami daripada orang tua.

 


Berkurban Tanggal 9 Dzulhijjah

Bolehkah menerima tawaran untuk menyembelih hewan kurban yang dilaksanakan pada hari Sabtu (sedangkan penetapan Idul Adha berdasarkan pemerintah jatuh pada hari Ahad -red.)?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Jangan penuhi tawaran itu demi menasihati mereka agar bersatu bersama pemerintah dalam masalah ini.

 


Berbuka Puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah

Benarkah ada hadits yang menyebutkan bahwa ketika mendengar takbir kita harus membatalkan puasa? Hari ini (9 Dzulhijjah berdasarkan penetapan pemerintah -red.) saya berniat puasa Arafah, tetapi saya mendengar sudah ada yang bertakbir. Apakah saya harus membatalkan puasa?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Jangan batalkan, yang keliru adalah mereka yang menyelisihi pemerintah dalam masalah ini.

 


Darah Sebelum dan Sesudah Kiret

Saat ini, saya telah hamil tiga bulan dan mengalami pendarahan. Dokter mengatakan bahwa sudah tidak ada harapan janin bisa berkembang dan harus dikiret. Bagaimana hukum darah sebelum dan sesudah kiret?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Jika anggota tubuh janin belum terbentuk, maka bukan nifas. Hukumnya adalah darah fasad, seperti darah istihadhah.

 


Tobat dari Membatasi Kehamilan

Saya sudah terlanjur mengikat kandungan istri saya (sehingga tidak bisa hamil). Bagaimana yang harus saya lakukan karena ketidakpahaman saya saat itu?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Anda wajib bertobat dari hal itu. Adapun ketidakpahaman Anda tentang masalah ini semoga menjadi uzur dan dimaafkan. Jika memungkinkan, segera diperbaiki kembali. Jika sudah tidak bisa lagi diperbaiki, cukup bertobat.

 


Harta Istri Pemberian Orang Tua

Saya memiliki perhiasan pribadi pemberian orang tua dan sekarang saya telah menikah. Apakah boleh saya menjual perhiasan tersebut untuk keperluan pribadi tanpa minta izin suami terlebih dahulu, karena saya khawatir hal ini jadi beban bagi suami?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Boleh, karena harta itu milik Anda. Akan tetapi, secara adab sebaiknya disampaikan kepada suami.

 


Buang Air Kecil Sambil Berdiri

Apakah ada hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah buang air kecil dengan berdiri yang tidak bertentangan dengan hadits buang air kecil dengan berjongkok?

Dijawab oleh al-Ustadz Muhammad as-Sarbini

Tidak ada larangan buang air dengan berjongkok. Adapun kencing berdiri terdapat riwayat sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau pernah melakukannya. Kesimpulan tentang masalah ini, tergantung keadaan masing-masing saat kencing, mana yang lebih sesuai baginya saat itu.

 


Kirim SMS/WA Pertanyaan ke Redaksi 081328078414 atau via email ke tanyajawabringkas@gmail.com
Jika pertanyaan Anda cukup dijawab secara ringkas, akan kami muat di rubrik ini. Namun, jika membutuhkan jawaban yang panjang lebar, akan kami muat di rubrik Problema Anda, insya Allah.
Seluruh materi rubrik Tanya Jawab Ringkas (Asy-Syariah) dapat di akses di www.tanyajawab.asysyariah.com

Melampaui Batas Ketika Mentahdzir

Ketika mentahdzir, seseorang harus bersikap adil dan meletakkan tahdzir tersebut sesuai dengan porsi dan keadaannya. Dia tidak boleh menganggap remeh tahdzir sehingga tidak mau mentahdzir dengan alasan akan menyebabkan perpecahan umat. Akhirnya, dia berdiam diri dari berbagai penyimpangan dan kesesatan yang terjadi. Akibatnya, penyimpangan dan kesesatan itu menjadi sesuatu yang dilestarikan tanpa ada yang mengingkarinya. Ini merupakan bentuk menyembunyikan ilmu yang diharamkan oleh Allah ‘azza wa jalla dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lanjutkan membaca Melampaui Batas Ketika Mentahdzir

Siapakah yang Berhak Mentahdzir?

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullah berkata tatkala menjelaskan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa agama itu nasihat, “Di antara bentuk nasihat karena Allah ‘azza wa jalla, kitab-Nya, dan Rasul-Nya (dan ini adalah kekhususan para ulama) ialah membantah hawa nafsu yang menyesatkan, dengan al-Kitab dan as-Sunnah serta menjelaskan kandungan keduanya yang menyelisihi seluruh hawa nafsu. Lanjutkan membaca Siapakah yang Berhak Mentahdzir?

Membaca Kitab Bantahan Mengeraskan Hati

Ada orang yang menganggap bahwa sering membaca kitab yang berkaitan dengan bantahan terhadap orang yang menyelisihi manhaj salaf dapat mengeraskan hati dan menyebabkan seseorang merasa imannya semakin melemah. Sebab, rudud (bantah-membantah) membahas tentang kelompok, orang yang menyimpang, dan semisalnya. Sebaliknya, dia menganjurkan untuk lebih memperbanyak kitab yang membahas masalah zuhud dan semisalnya. Lanjutkan membaca Membaca Kitab Bantahan Mengeraskan Hati

Manfaat Tahdzir

Berikut ini adalah beberapa manfaat pensyariatan tahdzir.

  1. Memelihara agama agar senantiasa terjaga dari berbagai perubahan

Dengan adanya tahdzir yang senantiasa ditegakkan oleh para nabi, rasul, dan para ulama yang menjadi pewaris para nabi; agama Allah subhanahu wa ta’ala senantiasa terjaga dan terpelihara dari berbagai perubahan yang hendak disusupkan oleh orang yang hatinya berpenyakit. Lanjutkan membaca Manfaat Tahdzir

Amalan Tahdzir Oleh Ulama Salaf

Banyak sekali bentuk dan praktik tahdzir yang dilakukan oleh para ulama salaf atas berbagai penyimpangan dan penyelisihan terhadap syariat Allah ‘azza wa jalla. Ini merupakan hal yang sangat wajar. Sebab, mereka adalah generasi terbaik umat ini yang sudah tentu memiliki sifat kecemburuan terhadap Islam yang lebih kuat dibandingkan dengan generasi setelahnya. Lanjutkan membaca Amalan Tahdzir Oleh Ulama Salaf