Membingkai Keteladanan Seorang Dai

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Mengemban amanat dakwah adalah amalan yang demikian agung. Tidak semua manusia bisa melakukannya. Yang bisa pun tidak semua melakukannya dengan tuntunan dan cara yang benar. Sebab, di tengah-tengah kita, terlampau banyak yang disebut dai. Terlampau mudah pula orang menggelari seseorang dengan sebutan dai. Lanjutkan membaca Membingkai Keteladanan Seorang Dai

Sumber Kerusakan dalam Agama

‘Ali bin Qasim Hanasy rahimahullah mengatakan,

“Manusia terbagi menjadi tiga tingkatan:

1) Tingkatan tertinggi, yaitu para ulama kibar.

Mereka mengetahui yang benar dan yang batil. Jika mereka berbeda pendapat, tidak akan muncul fitnah (kerusakan) dari perselisihan tersebut, karena mereka mengetahui ilmu yang dimiliki oleh pihak yang lain.

2) Tingkatan terendah, yaitu orang awam yang berada di atas fitrah.

Mereka tidak lari dari kebenaran. Mereka hanya mengikuti orang yang mereka jadikan anutan. Jika anutan mereka berada di atas kebenaran, mereka pun serupa. Ketika anutan mereka berada di atas kebatilan, demikian pula keadaan mereka.

3) Tingkatan pertengahan.

Inilah sumber keburukan dan asal munculnya fitnah (kerusakan) dalam agama. Ilmu mereka belum mapan sehingga tidak termasuk tingkatan pertama. Akan tetapi, mereka juga tidak meninggalkan ilmu sehingga tidak tergolong tingkatan terendah.

Ketika melihat seseorang yang termasuk tingkatan pertama mengatakan sesuatu yang tidak mereka ketahui dan menyelisihi keyakinan mereka yang keliru, mereka lemparkan panah-panah kecaman terhadapnya dan menyalahkannya dengan segala ucapan yang buruk.

Dengan berbagai pemalsuan yang batil, mereka mengubah fitrah tingkatan yang terendah sehingga tidak mau menerima kebenaran. Saat itulah, muncul fitnah (kerusakan) yang besar dalam agama.”

(al-Badru ath-Thali’ karya asy-Syaukani, 1/473)

Memohon Ilmu yang Bermanfaat

اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَارْزُقْنِي عِلْمًا تَنْفَعُنِي بِهِ

“Ya Allah, berilah aku manfaat dengan apa yang telah Engkau ajarkan kepadaku; Ajarilah aku apa yang bermanfaat bagiku; Berilah aku rezeki berupa ilmu yang dengannya Engkau memberi manfaat kepadaku.” (HR. al-Hakim [1/510], al-Baihaqi dalam ad-Da’awat al-Kabir [157—158], ath-Thabarani dalam ad-Du’a [3/1405/1455]; dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahihah no. 3151)