Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Setelah gagal menangkap panglima Sa’d di markasnya, Rustum semakin marah sekaligus cemas. Bayang-bayang kekalahan semakin menghantuinya. Dengan setengah hati dia mengatur pasukannya. Semua kekuatan dikerahkan untuk menghadapi pasukan muslimin. Tiga puluh tiga ekor gajah dikerahkan bersama pawangnya. Puluhan ribu pasukan berjalan kaki diperintahkan memasang rantai di kaki-kaki mereka, agar mereka bertempur sampai mati. Lanjutkan membaca Amirul Mukminin Umar Bin Al-Khaththab (15): Hari-hari Berdarah di Qadisiyah

Menyoal Urusan Gaib

Di antara hal yang penting dalam akidah Islam adalah beriman terhadap urusan gaib.

Telah banyak orang tersesat dalam masalah ini. Sebagian mereka terjatuh dalam kekufuran karena mengaku tahu ilmu gaib. Sebagian orang membenarkan pengakuan orang yang mengaku tahu ilmu gaib tersebut.

Tidak sedikit pula orang-orang yang tidak meyakini sebagian urusan gaib, mengingkari masalah-masalah akidah, seperti azab kubur, telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan lainnya.

  Lanjutkan membaca Menyoal Urusan Gaib

Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

لَا يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Seorang hamba, belumlah sempurna imannya, sampai aku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) lebih ia cintai dibandingkan keluarganya, harta, dan seluruh manusia”

 

Lanjutkan membaca Belajar Mencintai Ilmu Hadits dari Asy-Syaikh Muqbil

Wafat Asy-Syaikh Muqbil

Sungguh, beliau memiliki ketabahan yang luar biasa saat menghadapi sakit dan kepayahan. Dalam kondisi sakit, beliau tetap berakhlak mulia, mengajar, mengulang pelajaran, dan tetap bersenyum. Orang yang melihatnya akan menyangka bahwa beliau sehat-sehat saja.

Jika ditanya tentang keadaannya yang sedang sakit, beliau berkata, “Segala puji hanya bagi Allah. Kami tidak dapat menghitung pujian terhadap Allah.” Lanjutkan membaca Wafat Asy-Syaikh Muqbil

Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Di antara nasihat dan pengarahan beliau rahimahullah adalah sebagai berikut.

  1. Beliau sering menasihatkan agar betul-betul memerhatikan masalah akidah (iman, keyakinan).

Beliau rahimahullah pernah berkata, “Memerhatikan masalah akidah sangat penting. Tanpa akidah, seorang muslim tidak akan mampu berhadapan dengan musuhnya. Bahkan, tidak mungkin dia melakukan suatu tindakan atau aktivitas Islami. Oleh sebab itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai dakwahnya dari akidah. Hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seluruhnya adalah dakwah kepada akidah dan hukum yang disertai dengan praktik pengalamannya.”

Lanjutkan membaca Nasihat dan Pengarahan Asy-Syaikh Muqbil

Dakwah harus Memiliki Keistimewaan

Asy-Syaikh Muqbil Merintis Dakwah

Seperti yang dikatakan, asy-Syaikh Muqbil adalah mujaddid di negeri Yaman. Belum pernah ada sejak zaman Abdur Razzaq ash-Shan’ani sampai hari ini, seseorang yang menjalankan dakwah dan memperbaruinya seperti yang dilakukan oleh beliau.

Yaman adalah negeri yang keumuman penduduknya berpemahaman Syiah, Sufi, dan komunis. Membaca dan mempelajari kitab-kitab Sunnah (karya para ulama Ahlus Sunnah) terhitung sebagai dosa dan kesalahan yang tidak diampuni dan tidak dimaafkan. Bahkan, kalau ada yang berani menampakkan sunnah, mereka akan menghalalkan darahnya. Lanjutkan membaca Dakwah harus Memiliki Keistimewaan

Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Tawakal dan Kedermawanan

Kuatnya rasa tsiqah (percaya penuh) kepada Allah subhanahu wa ta’ala yang ada pada diri asy-Syaikh Muqbil menyebabkan beliau selalu menyandarkan segala urusan hanya kepada-Nya. Suatu kalimat yang sering beliau ucapkan adalah, “Kemudahan itu di tangan Allah.” Lanjutkan membaca Kepribadian asy-Syaikh Muqbil, Akhlak dan Perangai Beliau yang Mulia

Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Kecintaan terhadap ulama dan ilmu yang bermanfaat telah muncul pada diri Asy-Syaikh Muqbil sejak beliau masih kanak-kanak. Kecintaan tersebut menyatu dengan darah daging dan merasuk sampai ke tulang sumsum, sebagaimana beliau ceritakan sendiri kepada keluarganya.

Senin, akhir Shafar1420 H, saat mengajar, beliau pernah mengungkapkan kecintaannya terhadap ilmu seraya berkata, ”Alangkah indahnya ilmu. Jauh lebih indah daripada emas dan perak, lebih indah daripada wanita cantik, serta lebih indah daripada kekuasaan.”

Beliau juga berkata, “Insya Allah kami akan menuntut ilmu sampai mati.”

Segala puji bagi Allah, beliau meninggal dan tergolong sebagai ulama besar yang mulia.

  Lanjutkan membaca Kecintaan dan Perhatian asy-Syaikh Muqbil terhadap Ilmu yang Bermanfaat

Mujaddid Dakwah Salafiyah Negeri Yaman

Sesungguhnya kematian para ulama adalah salah satu tanda nubuwwah Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam. Beliau pernah bersabda,

إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu dengan sekaligus dari hamba-hamba-Nya. Akan tetapi, Dia mencabut ilmu ini dengan mematikan para ulama, hingga setelah tidak menyisakan lagi seorang ulama pun, manusia mengangkat orang-orang jahil sebagai pemimpin. Lalu mereka ditanya kemudian berfatwa tanpa ilmu. Akhirnya mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash radhiallahu ‘anhuma) Lanjutkan membaca Mujaddid Dakwah Salafiyah Negeri Yaman