Mencari Jalan Menuju Kebaikan

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.(al-Maidah: 35)

 


Tafsir Ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّه

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah….”

Ini merupakan perintah dari Allah ‘azza wa jalla kepada seluruh kaum mukminin untuk senantiasa bertakwa kepada-Nya, dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ

“Hendaknya kalian mencari wasilah menuju kepada-Nya.”

Para ulama tafsir menyebutkan dua makna tentang makna wasilah di dalam ayat ini.

 

  1. Pendekatan diri (qurbah), yaitu bentuk pendekatan diri (kepada Allah subhanahu wa ta’ala) yang sepantasnya bagi seseorang untuk mencarinya.

Qatadah rahimahullah berkata, “Dekatkanlah diri kalian kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan taat kepada-Nya dan beramal dengan sesuatu yang mendatangkan ridha-Nya.”

Yang semakna dengan ini juga dijelaskan oleh Abu Wail, Hasan al-Bashri, Mujahid, Qatadah, Atha’, as-Suddi, Ibnu Zaid, dan Abdullah bin Katsir.

Semisal dengan ayat ini yang disebutkan Allah ‘azza wa jalla dalam firman-Nya,

قُلِ ٱدۡعُواْ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِهِۦ فَلَا يَمۡلِكُونَ كَشۡفَ ٱلضُّرِّ عَنكُمۡ وَلَا تَحۡوِيلًا ٥٦ أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ وَيَرۡجُونَ رَحۡمَتَهُۥ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُۥٓۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحۡذُورٗا ٥٧

Katakanlah, “Panggillah mereka yang kamu anggap (tuhan) selain Allah, maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya dari padamu dan tidak pula memindahkannya.”

Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabbmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (al-Isra: 56—57)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Al-Wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla untuk engkau berusaha mencarinya. Allah memberitakan pula tentang para malaikat dan para nabi-Nya bahwa mereka senantiasa mencarinya, adalah sesuatu yang dijadikan sebagai pendekatan diri kepada-Nya berupa amalan yang wajib atau yang mustahab (sunnah).

Wasilah inilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada kaum mukminin untuk senantiasa mencarinya, yang mencakup hal yang wajib dan mustahab.

Adapun yang bukan hal wajib dan bukan mustahab, tidak termasuk ke dalamnya, seperti hal yang haram, makruh, atau mubah.

Yang wajib dan mustahab adalah yang disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan perintahnya yang mencakup perintah wajib dan mustahab. Inti dari semua itu adalah beriman dengan apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Inti dari wasilah yang diperintahkan oleh Allah ‘azza wa jalla kepada makhluk-Nya untuk mencarinya adalah menjadikan wasilah menuju kepada-Nya dengan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada wasilah yang akan menyampaikan seseorang kepada Allah ‘azza wa jalla kecuali hal tersebut.” (Qa’idah Jalilah fit Tawassul wal Wasilah, hlm. 79, tahqiq al-Allamah Rabi’ bin Hadi)

 tali-terikat

  1. Wasilah bermakna “buktikanlah kecintaanmu kepada Allah”, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Zaid. (Zadul Masir, karya Ibnul Jauzi)

Di antara makna al-wasilah adalah sebuah kedudukan yang paling mulia di dalam surga yang telah dipersiapkan Allah ‘azza wa jalla untuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini diriwayatkan oleh al-Imam Bukhari rahimahullah dari Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa mengucapkan tatkala mendengarkan panggilan azan,

اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدِّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ، آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ

‘Ya Allah, Rabb seruan yang sempurna ini, dan shalat yang ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada sebuah kedudukan yang terpuji yang telah Engkau janjikan.’ halal baginya syafaatku pada hari kiamat.” (HR. al-Bukhari)

Al-Wasilah yang disebutkan dalam hadits ini dijelaskan dalam riwayat lainnya dalam Shahih Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiallahu ‘anhuma. Ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengarkan muadzin, ucapkanlah seperti yang diucapkan oleh muadzin kemudian bershalawatlah untukku. Sebab, sesungguhnya siapa yang bershalawat kepadaku sekali, Allah ‘azza wa jalla bershalawat kepadanya sepuluh kali.

Lalu mintalah untukku al-wasilah, karena sesungguhnya ia adalah sebuah kedudukan dalam surga yang tidak sepantasnya diberikan kecuali kepada salah seorang hamba Allah ‘azza wa jalla. Aku berharap akulah yang akan mendapatkannya. Barang siapa memohon untukku al-wasilah, halal baginya syafaatku.” (HR. Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Wasilah ini merupakan kekhususan bagi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau telah memerintah kita untuk memohon kepada Allah ‘azza wa jalla agar wasilah ini diberikan kepada beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa kedudukan itu tidak diberikan kecuali kepada seseorang dari hamba Allah ‘azza wa jalla dan berharap agar dialah hamba yang akan meraihnya.

Wasilah inilah yang diperintahkan kepada kita untuk memintanya kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau memberitakan kepada kita bahwa siapa yang memintakan wasilah untuknya, sungguh telah halal syafaat baginya pada hari kiamat. Sebab, balasan itu sesuai dengan jenis amalan yang dikerjakan.

Tatkala mereka berdoa untuk Nabi-Nya, mereka pun berhak mendapatkan balasan dari Rasul, yaitu doa beliau untuk mereka. Sebab, syafaat merupakan salah satu jenis dari doa, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Barang siapa bershalawat untukku sekali, Allah ‘azza wa jalla akan bershalawat untuknya sepuluh kali’.” (Qa’idatun Jalilah fit Tawassul wal-Wasilah, 84)

 

Makna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Sebagai Wasilah untuk Mendekatkan Diri kepada Allah ‘azza wa jalla

Dalam bertawassul kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada dua makna yang sahih dan dibenarkan dalam syariat berdasarkan kesepakatan kaum muslimin, yaitu:

  1. Bertawassul dengan beriman kepada beliau sebagai seorang rasul dan taat kepadanya.

Ini merupakan prinsip iman dan agama Islam. Tidak sempurna keimanan seseorang kecuali dengannya, dan tidak seorang pun dari kaum muslimin yang mengingkarinya.

  1. Bertawassul dengan doa beliau dan syafaatnya.

Kedua hal ini diperbolehkan berdasarkan kesepakatan kaum muslimin.

Rantai

Di antara dalil yang menunjukkan bolehnya hal ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Imam al-Bukhari dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa saat mereka tertimpa musim paceklik, Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu meminta hujan melalui perantara Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Beliau berkata, “Ya Allah, sesungguhnya kami dahulu bertawassul kepada-Mu dengan perantaraan Nabi kami, lalu Engkau turunkan hujan kepada kami. Sesungguhnya, kami bertawassul kepada-Mu melalui paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan kepada kami.”

Hujan pun diturunkan kepada mereka. (HR. al-Bukhari no. 1010)

Yang dimaksud dalam hadits ini adalah bertawassul dengan doa dan syafaat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun bertawassul dengan doa yang dilakukan oleh paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abbas bin Abdul Muththalib radhiallahu ‘anhu.

Jadi, yang dimaksud dalam hadits ini bukan berdoa meminta hujan dengan bertawassul menyebut diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti yang dipahami oleh sebagian orang yang keliru dalam memahami makna hadits ini. Sebab, kalau yang dimaksud dalam hadits ini berdoa meminta hujan dengan bertawassul dalam doa tersebut menyebutkan diri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tentu mereka tidak akan berpaling dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pamannya, Abbas radhiallahu ‘anhu, setelah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal.

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, mereka beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu. Jelas hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud adalah bertawassul dengan doa Abbas radhiallahu ‘anhu untuk meminta hujan kepada Allah ‘azza wa jalla.

Hal yang seperti ini sering dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum. Di antara yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu. Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang berkhutbah di masjid pada hari Jumat, seorang lelaki masuk ke masjid lalu berkata, “Wahai Rasulullah, hewan-hewan ternak binasa, perjalanan terputus (disebabkan khawatir binasanya kendaraan mereka, atau melemahnya karena kurangnya makanan –pen.). Berdoalah kepada Allah subhanahu wa ta’ala agar menurunkan hujan kepada kami.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tangannya, lalu berdoa, “Ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan, ya Allah, turunkan kepada kami hujan.” (Muttafaq alaihi)

Tawassul inilah yang dimaksud dalam hadits Umar bin al-Khaththab radhiallahu ‘anhu di atas, yaitu meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam semasa hidupnya agar berdoa meminta turunnya hujan. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, mereka pun beralih kepada Abbas radhiallahu ‘anhu agar beliau berdoa meminta hujan untuk kaum muslimin.

Hal ini lebih dikuatkan oleh riwayat dari Aisyah radhiallahu ‘anha. Disebutkan dalam riwayat itu, manusia mengeluh kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang tertahannya hujan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas memerintahkan agar mimbar dikeluarkan dan diletakkan di tanah lapang. Beliau menjanjikan hari tertentu kepada manusia untuk mereka keluar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar saat dhuha lalu duduk di atas mimbar, bertakbir, memuji Allah ‘azza wa jalla, dan berkata, “Sesungguhnya kalian mengeluhkan kekeringan yang menimpa daerah kalian, dan lambatnya hujan turun kepada kalian, dan sungguh Allah memerintah kalian untuk berdoa kepada-Nya, dan menjanjikan kepada kalian untuk mengabulkannya.” Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa kepada Allah ‘azza wa jalla dan shalat memimpin manusia. Allah ‘azza wa jalla kemudian menurunkan hujan kepada mereka hingga air mengalir. (HR. Abu Dawud, dinyatakan sahih oleh al-Albani dalam kitabnya, at-Tawassul, hlm. 54)

Adapun bertawassul dengan diri/bagian tubuh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atau berdoa dengan mengucapkan, “Aku memohon kepada-Mu, ya Allah, melalui hak Nabi-Mu, atau melalui kemuliaan Nabi-Mu,” dan yang semisalnya, hal ini sama sekali tidak disyariatkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tidak diamalkan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Tawassul dengan bersumpah kepada Allah ‘azza wa jalla dengan berwasilah kepada bagian tubuh Nabi dan meminta dengan berwasilah kepada bagian tubuh beliau tidak pernah dilakukan oleh para sahabat radhiallahu ‘anhum, baik dalam meminta hujan maupun yang semisalnya.

Para sahabat tidak melakukan ini pada masa hidup beliau atau setelah meninggalnya. Tidak di sisi kuburannya dan tidak pula di selain kuburannya. Tidak diketahui hal ini dalam doa-doa yang masyhur di antara mereka.

Yang ada hanyalah penukilan tentang hal tersebut dalam hadits-hadits lemah yang marfu’ dan yang mauquf, atau penukilan dari orang yang ucapannya bukan merupakan hujah.” (Qa’idah Jalilah, hlm. 86)

وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

Di antara sekian banyak ibadah yang mendekatkan hamba kepada-Nya, Allah ‘azza wa jalla mengkhususkan jihad di jalan-Nya.

Berjihad ialah mengerahkan kemampuan untuk memerangi orangorang kafir, dengan harta, jiwa, pikiran dan lisan; serta beramal untuk menolong agama Allah ‘azza wa jalla dengan segala yang mampu dilakukan oleh hamba.

(Allah mengkhususkan jihad) karena ibadah ini termasuk ketaatan yang paling agung dan pendekatan diri yang paling utama. Orang yang mampu menegakkan amalan ini tentu lebih mampu menegakkan amalan lainnya.

لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ ٣٥

“Semoga kalian meraih keberuntungan,”

Jika kalian bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dengan meninggalkan maksiat, lalu mencari wasilah menuju Allah ‘azza wa jalla dengan mengamalkan ketaatan dan berjihad di jalan-Nya dengan mengharapkan keridhaan-Nya.

Al-Falah (keberuntungan) adalah kemenangan dan keberhasilan dalam segala yang dicari dan yang diinginkan. Adapun an-najah adalah selamat dari hal-hal yang ditakuti. Hakikatnya adalah kebahagiaan abadi dan kenikmatan yang tidak akan sirna.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, al-Allamah as-Sa’di rahimahullah)

Ditulis oleh al-Ustadz Abu Muawiyah Askari

Tanya Jawab Ringkas Edisi 110

Berikut ini adalah jawaban dari al-Ustadz Muhammad as-Sarbini.

Dzunub

Suami Sering Maksiat Via Internet, Istri Minta Khulu’

Bolehkah istri minta khulu’ dengan alasan suami sering bermaksiat melalui media internet? Hal ini menyebabkan istri tidak kuat dan sering tidak memenuhi kewajibannya.

  • Jawaban:

Jika demikian, istri boleh minta khulu’.


Hukum Menghilangkan Tahi Lalat

Apa hukum menghilangkan tahi lalat pada wajah agar terlihat lebih cantik?

  • Jawaban:

Haram mengubah ciptaan Allah. Syukuri apa yang Allah subhanahu wa ta’ala berikan kepada Anda. Sebagian orang justru merasa cantik dengan tahi lalatnya.


 

Anak Perempuan yang Masih Kecil dalam Shaf Laki-Laki

Ada seorang bapak yang mengajak anak perempuan yang masih kecil untuk shalat dan ikut dalam barisan shaf laki-laki. Apakah hal ini diperbolehkan?

  • Jawaban:

Tentu saja tidak boleh. Jika anak wanita itu belum mumayyiz (belum 7 tahun), dia memutus shaf, karena shalatnya tidak sah. Mestinya dia letakkan di depannya untuk menjaganya, tidak masuk shaf. Jika sudah mumayyiz, seharusnya dia shalat di shaf wanita. Wallahu a’lam.


 

Wanita yang Dinikahkan Wali Hakim

Bagaimana hukumnya jika ada seorang wanita yang ingin menikah tanpa menghadirkan wali nikahnya? Sebenarnya, wali wanita itu dapat menghadiri akad nikahnya. Namun, karena alasan tertentu, wanita tersebut hanya menggunakan wali hakim.

  • Jawaban:

Jika alasannya tidak syar’i, pernikahan itu tidak sah. Wali hakim hanya berlaku bagi wanita yang tidak mempunyai wali secara fisik dan makna.


 

Cara Membersihkan Najis & Waktu Shalat Rawatib

  1. Bagaimana cara membersihkan najis akibat percikan air kencing? Sebab, kita tidak tahu bagian tubuh mana yang terkena percikannya. Apakah cukup dengan berwudhu atau harus dibersihkan menggunakan air bersih (bukan wudhu)?
  2. Apakah diperbolehkan jika seseorang shalat rawatib tidak pada waktu shalat? Misal, jika waktu shalat Maghrib pada pukul 18.00, seseorang shalat Maghrib pada pukul 18.15, apakah orang tersebut masih dapat menunaikan shalat rawatib?
  • Jawaban:
  1. Jika demikian, wajib mencuci seluruh bagian tubuh yang diduga terkena percikan air kencing.
  2. Shalat sunnah rawatib mengikuti shalat wajib. Selama belum masuk waktu shalat berikutnya, menunaikan rawatib ba’diyyah hukumnya sah.

Status Anak Susuan

Jika anak susuan perempuan telah minum ASI hingga kenyang sampai lima kali, ia adalah mahram bagi anak lelaki dari ibu yang menyusui. Apakah anak perempuan susuan tersebut juga menjadi mahram bagi suami?

  • Jawaban:

Suami ibu susuannya juga menjadi mahramnya. Statusnya adalah bapak susuan.


 

Pengajian Hari Tertentu

Bolehkah menghadiri pengajian dalam rangka merayakan hari kemerdekaan?

  • Jawaban:

Jika menyakini hal tersebut memiliki keutamaan atau dilakukan dalam peringatan hari kemerdekaan, itu bid’ah, seperti halnya berkumpul untuk pengajian demi memperingati maulid dan Isra’ Mi’raj. Wallahu a’lam.


 

Berhaji Tanpa Mahram

Apa hukum pergi haji tanpa mahram? Bagaimana sikap seorang anak jika orang tuanya bersikeras ingin pergi haji tanpa mahram karena uangnya sudah cukup, sedangkan anaknya ingin menemani tetapi tidak memiliki biaya?

  • Jawaban:

Tidak boleh. Anaknya hendaknya berusaha menahan dan menasihatinya. Semoga orang tua mendapat petunjuk dan mengurungkan niat sampai ada mahramnya.


 

Telat Bangun Shalat Subuh

Jika kita bangun kesiangan saat pukul 06.00, apakah masih boleh shalat subuh?

  • Jawaban:

Jika kesiangan hingga matahari terbit karena tertidur (tidak sengaja), wajib diqadha dengan tata cara shalat yang sama. Jika sengaja menunda waktu shalat, wajib bertobat dan tidak disyariatkan qadha.


 

Menahan Amarah saat Berpuasa

Ketika kita berpuasa dan tidak bisa menahan amarah, apakah kita tidak akan mendapatkan pahala puasa?

  • Jawaban:

Jika Anda marah bukan karena Allah dalam rangka amar ma’ruf nahi mungkar, hal itu akan mengurangi pahala puasa.


 

Mimpi Berkumpul

Saya bermimpi berkumpul dengan seorang wanita. Namun, tidak sampai menyebabkan mani keluar. Apakah saya harus mandi wajib?

  • Jawaban:

Tidak. Lihat secara lengkap rincian masalah mimpi basah dan hukumnya dalam buku kami, “Panduan Syari Cara Bersuci”.


 

Menggugat Cerai Suami

Saya ingin menggugat cerai suami saya yang sudah 13 tahun tidak ada kabar. Apa saja yang perlu saya siapkan?

  • Jawaban:

Adukan kasus Anda ke pihak pengadilan dengan membawa bukti surat nikah dan KK. Hakim akan memutuskan perkaranya setelah itu.

Ngalap Berkah Kiai dengan Dalil dan Analogi Batil

Menyedihkan, negeri yang mayoritas penduduknya muslim, tetapi fenomena kesyirikan dalam soal “tabaruk” sangat banyak dijumpai.

Sebagian komunitas meyakini bahwa mata air tertentu memiliki berkah. Manusia pun berdatangan untuk singgah berendam (kungkum), mandi, atau meminumnya dengan berbagai harapan, untuk dirinya, keluarga, kesembuhan penyakit, kelancaran usaha, dan seterusnya.

Apakah Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa air tersebut diberkahi? Adakah izin dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya bertabaruk dengan air tersebut? Tidak diragukan semua perbuatan dan keyakinan terhadap mata air tersebut adalah bentuk kesyirikan. Lanjutkan membaca Ngalap Berkah Kiai dengan Dalil dan Analogi Batil

Memohon Barakah Hanya Kepada Allah

Betapa indah pengajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Betapa besar semangat beliau menanamkan akidah tauhid kepada umatnya.

Saudaraku, perhatikanlah! Di saat air keluar deras dari jari-jemari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, segera beliau ingatkan umat ini bahwa barakah dari Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun beliau, tidak ada sedikit pun mampu memberi manfaat atau mudarat. Lanjutkan membaca Memohon Barakah Hanya Kepada Allah

Barakah & Tabarruk Dalam Tinjauan Syariat

Lafadz “barakah” atau “berkah” dengan berbagai pecahan katanya banyak kita jumpai dalam al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah an-Nabawiyah. Sebuah ayat Allah subhanahu wa ta’ala menyebutkan bahwa iman dan takwa adalah sebab keberkahan sebuah negeri. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَلَوۡ أَنَّ أَهۡلَ ٱلۡقُرَىٰٓ ءَامَنُواْ وَٱتَّقَوۡاْ لَفَتَحۡنَا عَلَيۡهِم بَرَكَٰتٖ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ وَلَٰكِن كَذَّبُواْ فَأَخَذۡنَٰهُم بِمَا كَانُواْ يَكۡسِبُونَ ٩٦

“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raf: 96) Lanjutkan membaca Barakah & Tabarruk Dalam Tinjauan Syariat

Tabarruk, Antara Pelanggaran Agama & Komoditi Bisnis

Roda zaman berputar tiada henti, menorehkan sejarah dan meninggalkan cerita. Manusia selaku aktor, bergelut dan berkiprah pada setiap zamannya. Generasi demi generasi datang silih berganti, mengisi lembar kehidupan. Dengan takdir Ilahi, semuanya pasti meninggalkan dunia yang fana ini. Lanjutkan membaca Tabarruk, Antara Pelanggaran Agama & Komoditi Bisnis

Surat Pembaca Edisi 110

Kambing atau Tongkat?

Dalam Majalah Asy Syariah edisi 109 hlm. 26 tertulis, “Itu adalah tongkat, meskipun bisa terbang.” Padahal lafadz Arabnya “’Anzun wa lau thaarat.”

Bukankah arti yang tepat adalah, “Itu kambing (betina) walaupun bisa terbang”? Wallahu a’lam.

085790xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Anda benar. Tersamarkan bagi kami antara عنز (kambing betina) dan عنزة (tombak pendek berukuran antara tongkat dan tombak, sebagaimana dalam al-Qamus al-Muhith). Jazakallah khairan atas koreksi Anda.

 


Hamba Hanyalah Alat?

Pada Majalah Asy Syariah edisi 109 hlm. 67, dikatakan bahwa para hamba hanyalah alat. Bukankah ini akidah Jahmiyah? Mohon nasihat antum.

081340xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Berikut ini kami nukilkan teks asli dari kitab Jamial-Masail (hlm. 168) karya Ibnu Taimiyah rahimahullah.

فما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن، فلا يتحرك في العالم العلوي والسفلي ذرة إلا بإذنه ومشيئته، فالعباد آلة

Dalam artikel yang telah termuat ada kesalahan penerjemahan dari kami, yaitu kalimat, “Para hamba hanyalah alat.” Yang benar, “Para hamba adalah alat.”

Pernyataan bahwa hamba adalah alat, bukanlah akidah Jahmiyah. Sebab, pernyataan ini tidak meniadakan adanya kehendak pada diri seorang hamba.

Jazakallah khairan wa barakallahu fik.

 


Bahas BPJS

Saya membaca Majalah Asy Syariah edisi 108 Vol. IX/1436 H/2015, berkenaan dengan haramnya asuransi kesehatan (BPJS).

Mohon dijelaskan lebih lanjut tentang hukum asal keharamannya dan syaratsyarat diharamkannya asuransi kesehatan.

085259xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Alhamdulillah, pembahasan tentang asuransi, termasuk asuransi kesehatan secara umum, telah kami angkat pada Rubrik “Kajian Utama” edisi 29. Anda bisa merujuk pada pembahasan tersebut. Anda bisa pula membacanya pada website kami, www.asysyariah.com.

 

Insya Allah pembahasan tentang BPJS secara khusus kami rencanakan akan diangkat pada edisi 111 mendatang. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala memudahkan kami untuk mewujudkannya.

 


Makna Hadits Kurang Jelas

Pada Rubrik Kajian Utama edisi 108, hlm. 14, ada terjemahan hadits, “…betapa banyak orang yang membawa fikih, namun tidak faqih….” Apakah tidak ada penjelasan maknanya?

081390xxxxxx

 

  • Jawaban Redaksi:

Berikut ini penjelasan asy-Syaikh as-Sindi tentang hadits tersebut dalam syarahnya terhadap Sunan Ibnu Majah.

Maksud “orang yang membawa fikih” adalah yang menghafal dalil-dalil yang menjadi sumber pengambilan hukum fikih. Akan tetapi, dia “tidak fakih”, yaitu tidak mampu mengambil kesimpulan hukum fikih dari dalil-dalil yang dihafalnya.

Barakallahu fikum.

Cara Salah Cari Berkah

السلام عليكم ورحمة الله و بركاته

Berkah adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala semata. Dialah satu-satunya Dzat yang segala kebaikan dan berkah ada di Tangan-Nya. Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi tempat yang Dia kehendaki, seperti Makkah, Madinah, Baitul Maqdis, masjid-masjid atau tempat mana pun. Ayat-ayat al-Qur’an juga menunjukkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satu-satunya Dzat yang memberkahi hamba yang Dia kehendaki, seperti para nabi dan rasul.

Segala sesuatu yang mengandung berkah, semua telah dijelaskan secara gamblang dalam al-Qur’an, hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan riwayat-riwayat para sahabat. Maka dari itu, ketika sesuatu telah dijelaskan oleh nas atau syariat, semestinya kita tidak perlu repot mencari-cari apalagi sibuk mencari pembenaran sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syariat. Tak perlu membela diri demi “menghalalkan” air Ponari, tidak perlu galau dengan kotoran kerbau, tidak perlu kurang kerjaan dengan berendam di sebuah petilasan, juga tidak perlu menjadi bodoh karena berebut puntung rokok seorang tokoh.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah subhanahu wa ta’ala yang paling mulia dan kekasih Allah subhanahu wa ta’ala saja tidak mampu mendatangkan sedikit pun kebaikan atau menolak mudarat atas diri beliau, lebih-lebih atas orang lain. Saat air keluar dari jari-jemari Rasulullah yang digunakan untuk berwudhu dan minum oleh ribuan sahabat radhiallahu ‘anhum, Rasulullah tegas mengatakan, “Berkah itu dari Allah.”

Artinya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu mengingatkan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala adalah satusatu- Nya Dzat yang memiliki berkah, dan Dialah satu-satunya Dzat yang memberkahi. Hanya dari Dialah dimohon berkah. Ini juga akidah yang diyakini para sahabat, manusia-manusia terbaik setelah para nabi dan rasul.

Maka dari itu, manusia-manusia selain mereka yang tidak dijamin masuk surga, tapi justru berlumur dosa, lebih tidak bisa untuk memberikan berkah, apalagi memutuskan sesuatu mengandung berkah atau tidak. Dikemanakan ayat atau hadits yang berbicara bahwa yang memberikan berkah adalah hak Allah subhanahu wa ta’ala?

Keyakinan dari mana bahwa para tokoh atau kyai yang kita agungkan setinggi langit itu mempunyai berkah dari jasadnya? Apakah para tokoh yang kita sematkan hak-hak ilahiah memang dijamin masuk surga sehingga kita rela berebut bekas air minumnya? Apakah pantas orang yang melakukan kesyirikan dan kebid’ahan kita agung-agungkan sedemikian rupa?

Sadarkah kita, dosa syirik menganga lebar di depan kita jika kita salah cari berkah?! Kebenaran adalah apa yang berasal dari Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya. Syariat kita yang sempurna tidak memberi celah sedikit pun bagi kita untuk membuat syariat atau “berkah-berkah” baru di luar yang telah digariskan syariat.

Syirik adalah dosa yang tidak terampuni kecuali dengan tobat. Maka dari itu, cari berkah jangan asal. Neraka siap mengancam jika kita salah cari berkah.

والسلام عليكم ورحمة الله و بركاته